Anda di halaman 1dari 8

IDENTIFIKASI SENYAWA ALKALOID Ageratum conyzoides.

Linn Nurul Utami * dan Mukhlis Robara**

DARI

EKSTRAK

HEKSANA

DAUN

(*)Jurusan Kimia FMIPA UNILA. Jl. Prof. Dr Sumantri Brojonegoro No 1, 35145. Telepon ; 701609, ext :706. Email : nutami@gmail.com; (**) Alumni Jurusan Kimia FMIPA UNILA

ABSTRACT
Alkaloid compounds have been isolated from hexane extract of Ageratum conyzoides. Linn leaves. The isolation steps were started from maseration followed by purification using column chromatography method. The purification product was whitist amorf crystal (29.9 mg). Analysis by thin layer chromatography indicated that the crystal contained only one alkaloid. However, having anylised by UV-Vis spectroscopy and Gas - Chromatography - Mass Spectroscopy, the crystal contained eleven compounds in which four of them were alkaloids and as major components. The alkaloids were predicted to be isomers containing some functional groups which were hydroxyl, carbonyl, secondary N-H, and heteroaromatic. The alkaloids had molecular weight of 432 Key words : Ageratum conyzoides, alkaloid, isomer

PENDAHULUAN
Masyarakat Indonesia sudah biasa menggunakan obat-obatan tradisional yang umumnya berasal dari tumbuhan untuk mencegah dari serangan penyakit atau mengobati penyakit. Aplikasi dari obat-obatan ini bisa dengan cara meminum ekstrak air dari tanaman tersebut atau meletakkan simplisia yang sudah ditumbuk halus pada daerah di tubuh yang sakit. Kurangnya informasi ilmiah mengenai komponen-kompenen kimia yang terdapat dalam tanaman untuk obat tradisional ini mengakibatkan nilai ekonomi dari tanaman-tanaman ini sangat rendah. Selain itu penggunaannya yang biasanya menggunakan dosis sembarang bisa mengakibatkan efek yang tidak diinginkan. Situasi ini mendorong penulis untuk meneliti tanaman yang sudah dikenal baik oleh masyarakat sebagai obat tradisional. Salah satu tanaman yang telah digunakan sebagai obat tradisional adalah Ageratum conyzoides Linn., yang memiliki nama daerah bandotan, babandotan (Sunda), badotan dan wedusan (Jawa). Di Indonesia, tanaman ini digolongkan sebagai gulma sehingga sering dimusnahkan. Namun beberapa kelompok masyarakat kita menggunakan tanaman ini sebagai obat tradisional untuk menyembuhkan berbagai macam penyakit: luka koreng di kulit, malaria, influenza, radang paruparu dan tumor ((Djauharia dan Hernani, 2004). Di negara lain di Asia, Africa dan Amerika Latin , tanaman ini juga digunakan sebagai obat tradisional dengan beragam aplikasi, seperti obat demam, rematik, sakit kepala, dan sakit perut, obat pneumonia (Ming, 1999), obat diarrhea, diabetes, HIV/AIDS (Igoli, 2005). Ming (1999) juga mengatakan bahwa beberapa penyelidikan farmakologi telah dilakukan oleh beberapa peneliti . Misalnya, ekstrak eter dan kloroform memiliki efek inhibitor terhadap perkembangan in vitro Staphilococcus aureus, ekstrak metanol dari seluruh bagian tanaman menunjukkan aksi inhibitor tehadap perkembangan Staphylococus aureus, Bacillus subtilis, Eschericichia coli, and Pseudomonas aeruginosa. Selain itu, ekstrak air dari tanaman ini memiliki aksi analgesik yang efektif pada tikus dan antispasmotik. Ming (1999) juga melaporkan bahwa telah dilakukan penyelidikan pemanfaatan aktivitas biologi A. conyzoides yang bisa digunakan di bidang pertanian. Aktivitas biologi yang paling penting dari spesies ini adalah sebagai insektisida, baik dari ekstrak nonpolarnya heksana maupun ekstrak
Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2008

135

polarnya (metanol). Sifat insektisida ini disebabkan oleh adanya senyawa kromen yaitu prekosen I dan II. Beberapa penelitian yang telah dilakukan juga berhasil mengisolasi senyawa metabolit sekunder. Vyas dan Mulchandani (1986) dalam Ming (1999),berhasil mengisolasi senyawa golongan kromen, yaitu : prekosen I dan prekosen II yang dapat menghambat hormon juvenil dalam serangga. Iqbal, et.al., (2004) berhasil mengisolasi prekosen II dari ekstrak n-heksana pucuk daun A.conyzoides yang memiliki aktivitas antijamur. Almaqboul et.al., 1985 dalam Iqbal, et.al., 2004 membuktikan bahwa ekstrak kasar metanol dari semua bagian tanaman menghambat bakteri Staphylococcus aureus, Bacillus subtilis, Eschericia coli dan Pseudomonas aeruginosa. Trigo et.al.,(1988) dalam Ming (1999) berhasil mengisolasi 1,2-desifropirrolizidinic dan lycopsamine dari tanaman A. conyzoides yang bersifat hepatotoksik. Wiedenfeld dan Roeder (1991) dalam Wiedenfeld et.al., (2003) berhasil mengekstrak lycopsamine, O7acetyllycopsamine, dan O7-acetylintermedine dari ekstrak n-heksana tanaman A. conyzoides, namun tidak dilaporkan aktivitas biologi dari senyawa-senyawa tersebut . Uji pendahuluan terhadap berbagai ekstrak baik nonpolar, semipolar maupun polar dari daun A.conyzoides yang dilakukan penulis mengindikasikan bahwa tanaman ini mengandung banyak alkaloid, sehingga masih dimungkinkan untuk menemukan dan mengisolasi senyawa alkaloid lainnya dari tanaman ini. Dari penelitian ini diketahui bahwa ekstrak n-heksana selain mengandung alkaloid, komponen-komponen lainnya juga tidak banyak jumlahnya (matriknya sederhana) sehingga ekstrak ini dipilih untuk diisolasi alkaloidnya dengan alasan metoda isolasinya tidak akan sulit. Alkaloid adalah basa organik yang mengandung amina sekunder, tersier atau siklik. Diperkirakan ada 5500 alkaloid telah diketahui, dan alkaloid adalah yang containing Some 5500 alkaloids are known, yang merupakan golongan senyawa metabolit sekunder terbesar dari tanaman, Tidak ada satupun definisi yang memuaskan tentang alkaloid, tetapi alkaloid umumnya mencakup senyawasenyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya sebagai bagian dari sistem siklik. Secara kimia, alkaloid adalah golongan yang sangat heterogen berkisar dari senyawa-senyawa yang sederhana seperti coniine sampai ke struktur pentasiklik strychnine. Banyak alkaloid adalah terpenoid di alam dan beberapa adalah steroid. Lainnya adalah senyawasenyawa aromatik, contohnya colchicine (Makkar, et.al., 1993) Diketahui bahwa senyawa alkaloid yang berasal baik dari tanaman maupun hewan menunjukkan beragam aktivitas biologi. Di Brazil, beberapa perusahaan farmasi telah menggunakan tanaman ini sebagai bahan baku fitokimia. Kebutuhannya senantiasa meningkat setiap tahun sehingga mendorong para peneliti untuk mengembangkan penelitian tanaman ini terutama di bidang pertanian dan obat- obatan. Penggunaan tanaman ini secara tradisional dan dapat menyembuhkan berbagai jenis penyakit menunjukkan bahwa A. conyzoides bisa menjadi sumber ekonomi yang penting bagi Indonesia. Dari penelusuran beberapa pustaka dan uji pendahuluan yang telah dilakukan penulis, maka penelitian ini dilakukan yang bertujuan untuk mengisolasi senyawa golongan alkaloid dari ekstrak n-heksana. Senyawa yang dihasilkan diharapkan bisa memberikan informasi tambahan tentang senyawa alkaloid dalam tanaman ini yang kemudian bisa dilakukan uji aktivitas biologinya agar tanaman ini bisa dimanfaatkan lebih lanjut sebagai biosida dan obat-obatan

BAHAN DAN METODE


Waktu dan Tempat Penelitian Penelitian ini dilakukan dari bulan April sampai dengan bulan Desember 2004 di Laboratorium Penelitian Kimia Organik, Laboratorium Biokimia, dan Laboratorium Instrumentasi Jurusan Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Universitas Lampung (UNILA). Analisis spektrofotometri dilakukan di Laboratorium Instrumentasi Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung Jawa Barat

136

PROSIDING

Alat -alat Beberapa alat gelas yang umum digunakan di laboratorium kimia, bejana kromatografi lapis tipis, seperangkat alat kromatografi kolom, penguap putar vakum, spektrometer UV-Vis Shimadzu Mini Seri 1240, spektrometer FTIR Shimadzu series 8400, dan spektrometer GC-MS Shimadzu QP 5050A Bahan-bahan Sampel : daun A.conyzoides (937 g) yang telah dikeringanginkan dan dibuat serbuk. Sampel ini diambil dari Desa Bogorejo, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Lampung Selatan. Beberapa pelarut organik : metanol, DCM, etilasetat, n-heksana, dan kloroform (berkualitas teknis dan p.a). Beberapa pereaksi : CeSO4, Dragendorff, HNO3/etanol, dan lain-lain : silika gel 60 MERCK (0.063-0.200 mm),plat silika Kiesel 60 F254, dan akuades. Prosedur Penelitian Ekstraksi dan Pemurnian Sampel daun A.conyzoides dimaserasi dengan pelarut n-heksana selama 2 x 24 jam. Ekstrak yang dihasilkan dipekatkan dengan penguap putar vakum. Ekstrak diuji dengan metoda kromatografi lapis tipis (KLT) untuk mengetahui adanya senyawa alkaloid menggunakan pelarut penampak noda CeSO4, Dragendorff dan lampu UV. Ekstrak pekat n-heksana difraksinasi dan refraksinasi dengan metoda kromatografi kolom menggunakan beberapa sistem pelarut sampai diperoleh senyawa alkaloid yang murni dan berbentuk kristal. Semua fraksi hasil fraksinasi dan refraksinasi dianalisis dengan metoda KLT menggunakan beberapa sistem pelarut pengembang dan pelarut penampak noda CeSO4 dan, Dragendorff, juga lampu UV untuk melihat sifat UV aktifnya. Pada kristal digunakan larutan penampak noda lain untuk melengkapi identifikasi alkaloid yaitu HNO3 dalam etanol. Analis Spektroskopi. Isolat dianalisis dengan metode spektroskopi ultraungu-tampak, infra merah dan spektroskopi massa yang digabungkan dengan kromatografi gas (KG-MS). Analisis spektroskopi ultraungutampak digunakan untuk mengidentifasi gugus fungsi dari ikatan rangkap terkonjugasi, spektroskopi infra merah dilakukan untuk mengetahui lebih lengkap tentang gugus-gugus fungsi lain yang terdapat dalam senyawa tersebut, dan metoda spektrsokopi massa untuk mengetahui bobot molekul senyawa yang dihasilkan dan pola fragmentasinya yang akan membimbing ke struktur senyawa tersebut

HASIL DAN PEMBAHASAN


Ekstraksi dan Pemurnian. Ekstrak n-heksana hasil maserasi daun A. conyzoides dikeringkan dengan penguap putar vakum dan menghasilkan ekstrak pekat sebanyak 26.82 gram. Setelah dianalisis dengan metoda KLT menggunakan pelarut pengembang DCM : EtAst (4:1) dan pereaksi penampak noda CeSO4 dan Dragendorff ekstrak ini mengandung alkaloid. Dari identifikasi menggunakan lampu UV, diketahui bahwa senyawa alkaloid tersebut bersifat UV aktif. Kandungan alkaloid dalam ekstrak ini juga tidak begitu tinggi yang ditunjukkan oleh lemahnya intensitas warna yang ditunjukkan. Sebanyak 12.773 gram ekstrak pekat tersebut menjalani proses pemurnian. Metoda yang digunakan adalah kromatografi kolom dengan elusi landaian menggunakan sistem pelarut : heksana : DCM (1:1), DCM : EtAst (4:1 dan 1;1), etil asetat dan methanol. Dari fraksinasi pertama ini dihasilkan sembilan fraksi dan setiap fraksi dianalisis dengan metoda KLT yang sama untuk mengetahui adanya alkaloid. Tiga fraksi (fraksi 4,5, dan 6) menunjukkan adanya alkaloid dengan
Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2008

137

fraksi 4 mengandung alkaloid lebih banyak dibandingkan dua fraksi lainnya. Fraksi ini dikeringkan dan diperoleh ekstrak pekat sebanyak 1.7383 gram. Senyawa alkaloid dalam fraksi ini terdapat pada kisaran nilai Rf 0.19 0.36 dan konsentrasinya cukup kecil yang ditunjukkan intensitas warna noda yang lemah. Refraksinasi dilakukan terhadap fraksi 4 tersebut di atas dengan metoda yang sama. Jumlah sampel yang difraksinasi adalah 1.6958 gram dan pelarut yang digunakan adalah DCM : EtAst (19:1, 9:1, 1:1) dan metanol. Dari proses ini diperoleh 32 fraksi yang kemudian dianalisis dengan metoda KLT yang sama. Senyawa alkaloid terdapat pada fraksi 18-29 sehingga semua fraksi ini disatukan, dipekatkan dan didapat berat sebesar 0.5961 gram. Fraksi gabungan ini dianalisis dengan metoda KLT dengan pelarut pengembang n-heksana:EtAst (1:1) dan diketahui ada beberapa senyawa alkaloid yang memiliki nilai Rf berkisar antara 0.06 0.43. Fraksi gabungan ini dimurnikan lebih lanjut dengan metoda yang sama. Jumlah sampel adalah 0.5912 gram dan pelarut yang digunakan adalah n-heksana : EtAst (3:2). Fraksi yang dihasilkan berjumlah 64 fraksi. Hasil analisis KLT menunjukkan senyawa alkaloid berada dalam fraksi 11-59 dan senyawa alkaloid dengan Rf yang sama terdapat dalam fraksi 11-29. Fraksi-fraksi ini kemudian disatukan dan diperoleh berat sebesar 0.169 gram. Sebanyak 0.1184 gram fraksi ini dimurnikan lebih lanjut dengan pelarut n-heksana:EtAst (7:3) dan dihasilkan 31 fraksi. Senyawa alkaloid terdapat pada fraksi 7-27 dan pada fraksi 16-20 terlihat adanya kristal. Fraksi 16-20 ini juga memiliki kromatogram yang sama sehingga bisa digabungkan, dipekatkan dan didapat berat sebesar 66.4 mgram. Hasil analisis dengan metoda KLT menggunakan larutan pengembang nheksana-EtAst (3:2) dan dua jenis larutan penampak noda : Dragendorff dan HNO3/etanol, menunjukkan bahwa noda yang dihasilkan adalah benar alkaloid. Intensitas warna yang kuat setelah diidentifikasi dengan larutan CeSO4 menunjukkan bahwa senyawa alkaloid merupakan komponen yang dominan. Analisis dengan Metode Spektroskopi. A. Spektroskopi Ultraungu- Tampak. Spektrum Ultraungu-Tampak dari senyawa isolat ditunjukkan oleh Gambar 1. Spektrum ini menunjukkan ada serapan pada beberapa panjang gelombang yaitu absorbansi 0.539 pada 239 nm, 0.558 pada 321 nm, dan 0395 pada 275 nm. Serapan ini terjadi disebabkan adanya transisi elektronik *, n *, dan n *. Hal ini memberikan keterangan bahwa senyawa isolat mengandung gugus ikatan rangkap terkonjugasi dan/atau aromatik, juga gugus C=O (Silverstein, et.al., 1993)

Gambar 1. Spektrum ultraungu-tampak senyawa isolat

138

PROSIDING

B. Spektroskopi Inframerah Spektrum inframerah memberikan informasi lebih lengkap tentang gugus fungsional yang terkandung dalam struktur senyawa isolat. Spektrum senyawa isolat ditunjukkan oleh Gambar 2.

Gambar 2. Spektrum inframerah senyawa isolat Serapan pada 3073.3 cm-1 diduga merupakan serapan untuk uluran C-H dari suatu aromatik yang diperkuat dengan adanya serapan pada 840,9 cm-1 yang diduga akibat vibrasi tekuk C-H aromatik keluar bidang. Serapan pada 1635,5 cm-1 diduga merupakan serapan vibrasi ulur dari gugus C=O keton yang berkonjugasi dengan ikatan rangkap (Silverstein et al, 1986). Serapanserapan ini mendukung hasil analisis spektrum ultraungu-tampak sebelumnya. Serapan pada 2939.3 cm-1 dan 2839.0 cm-1 mengindikasikan adanya vibrasi uluran C-H metil dan/atau metilena. Sedangkan serapan pada 3429.2 cm-1 diduga merupakan serapan dari N-H sekunder yang bertumpangsuh dengan serapan gugus OH. Adanya serapan pada 1589.2 cm-1 merupakan serapan untuk vibrasi tekuk N-H yang mendukung adanya gugus gugus N-H sekunder. Sedangkan serapan pada 1126.4 cm-1 diduga merupakan serapan dari uluran C-O. C. Spektroskopi Massa. Dalam analisis ini, metode spektroskopi massa digabungkan dengan metoda kromatografi gas. Senyawa isolat dianalisis terlebih dulu menggunakan metoda kromatografi gas yang selanjutnya setiap komponen dianalisis menggunakan spektroskopi massa. Kromatogram KG dari senyawa hasil isolasi ditunjukkan oleh Gambar 3.

Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2008

139

Gambar 3. Kromatogram kromatografi gas senyawa isolat Kromatogram KG menunjukkan bahwa senyawa ini memiliki 11 komponen dengan 4 komponen dominan yang memiliki waktu retensi (tR) yang sangat berdekatan (hanya berbeda 0.1 menit). Lima senyawa memiliki konsentrasi <1,00 % yaitu senyawa 1,2,3 dan 10. Senyawa 4 dan 5 memiliki konsentrasi 2.03% dan 6.80%. Empat senyawa sisanya yaitu senyawa 6,7,8 dan 9 memiliki konsentrasi 28.92%, 12.02%, 30.17% dan 17.43% secara berturut-turut sehingga merupakan komponen yang dominan dalam isolat tersebut. Keempat senyawa ini merupakan senyawa-senyawa yang memberikan noda bulat dan lebar pada kromatogram KLT dan merupakan alkaloid. Waktu retensi yang hampir sama menunjukkan bahwa keempat senyawa tersebut memiliki kepolaran yang serupa yang dimungkinkan oleh adanya hubungan keisomeran satu sama lain. Sifat keisomeran dari keempat senyawa tersebut ditunjukkan oleh spektrum massanya yang ditunjukkan oleh Gambar 4. Keempat senyawa tersebut memiliki pola fragmentasi yang serupa dan memberikan bobot molekul yang sama yaitu ,m/e =432. Bobot molekul [M] bernilai genap menunjukkan bahwa dalam struktur senyawa tersebut mengandung atom N dalam jumlah genap. Selanjutnya tidak ada puncak [M+2] mengindikasikan bahwa tidak ada atom halogen dalam strukturnya( Silverstein, et.al., 1991) Keempat senyawa memiliki puncak dasar, m/e 417 yang merupakan hasil dari fragmentasi M-CH3 . Puncak-puncak fragmen yang sama dan selalu muncul pada keempat senyawa tersebut adalah m/e 432,418, 417, 374, 356,197,149, 83, 69, 43. Puncak-puncak fragmen yang lain hanya berbeda sedikit, seperti puncak pada m/e 225 pada senyawa 6,7dan 9, sedangkan pada senyawa 8 terekam pada m/e 224. Terdapat pula puncak yang kemungkinan sama namun tidak terekam nilainya pada senyawa lain, seperti puncak fragmen pada m/e 109 yang terdapat pada senyawa 7,8, dan 9, namun pada senyawa 6 tidak muncul walaupun terdapat puncak yang diduga sama. Perbedaan lainnya adalah pada senyawa 6,7 dan 8 terdapat puncak fragmen pada m/e 401 sedangkan pada senyawa 9 muncul pada m/e 389. Kemungkinan pola fragmentasi untuk senyawa 6,7, dan 8 adalah sebagai berikut :
H2 C H2 C H N

CH3

- CH3

H2 C

H2 C

NH

m/e 432

m/e 417

Fragmentasi selanjutnya dengan melepas dengan melepas NH2, yang menghasilkan fragmen pada m/e 401. Kemudian lepasnya C2H3 menghasilkan puncak dengan m/e 374 yang pola fragmentasinya adalah sebagai berikut :
H2 C H2 C

NH

- NH2

H2 C

CH

- C2H3

Z m/e 174

m/e 417

m/e 401

Sedangkan untuk senyawa 9 memberikan pola fragmentasi yang diduga sebagai berikut :

140

PROSIDING

Z CH3

H2 C

H N

CH3

- CH3

Z CH3

H2 C

NH

m/e 432
H2 C

m/e 417
- CH3

Z CH3

NH

- CHNH2

CH

Z m/e 374

m/e 417

m/e 389

Puncak fragmen pada m/e 356 menginformasikan adanya gugus OH dalam struktur senyawa yang berasal dari lepasnya gugus H2O dengan BM 18 dari m/e 374. Puncak pada m/e 83 dan 55 pada senyawa 7,8,9 diduga adanya gugus keton siklik. Sedangkan puncak fragmen pada m/e 83 dan 57 dalam senyawa 6 menunjukkan adanya gugus keton alifatik. Tidak adanya puncak fragmen pada m/e 77 dan/atau 91 menunjukkan bahwa struktur tidak memiliki gugus aromatik benzena, namun karena data spektrum IR menunjukkan adanya serapan aromatik, maka diduga ada gugus heteroromatik. Berdasarkan data-data spektroskopi tersebut di atas maka dapat disimpulkan bahwa senyawasenyawa alkaloid hasil isolasi memiliki gugus fungsi hidroksil, karbonil, amina sekunder dan heteroaromatik. Keempat senyawa tersebut memiliki hubungan keisomeran dan bobot molekul 432.

Senyawa 9

Gambar 4. Spektrum massa empat senyawa alkaloid yang terdapat dalam senyawa isolat

Seminar Hasil Penelitian & Pengabdian kepada Masyarakat, Unila, 2008

141

SIMPULAN
Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa : 1. Isolat yang diperoleh dari ekstrak heksana daun A. conyzoides. Linn berbentuk kristal amorf berwarna putih dengan berat 29.9 mg. 2. Kristal tersusun dari sebelas komponen dengan empat senyawa alkaloid sebagai komponen yang dominan. 3. Keempat senyawa alkaloid dalam kristal memiliki hubungan keisomeran. 4. Analisis spektroskopi Ultra Ungu-Tampak dan KG-MS menunjukkan bahwa keempat senyawa alkaloid tersebut memiliki bobot molekul 432 dan dalam strukturnya terdapat gugus-gugus fungsi: hidroksi, amina sekunder, karbonil, dan heteroaromatik. SARAN Dari hasil penelitian yang telah diperoleh maka penulis menyarankan untuk : 1. Melakukan pemurnian lebih lanjut terhadap kristal yang mengandung alkaloid hasil isolasi. 2. Melakukan analisis spektroskopi RMI untuk mendapatkan struktur lengkap senyawa alkaloid yang sudah teridentifikasi. 3. Mempelajari aktivitas biologi senyawa alkaloid yang diperoleh agar diketahui potensinya sebagai bahan baku obat.

DAFTAR PUSTAKA
Akinyemi, K.O., Oladapo, O., Okawaaraa, C.E., Ibe, C.C. and Fasure, K.A., 2005 . Screening of Crude Extracts of Six Medicinal Plants Used in South West Nigerian Unorthodox Medicine for Antimethicilin Resistant Staphylococcus aureus activity. BMC Complementary and Alternative Medicine, 5 :6 Djauharia, E. dan Hernani. 2004. Gulma Berkhasiat Obat. Penebar Swadaya Jakarta. 128 hlm Gritter, R..J., Bobbit, J.M., Schwarting, A.E., 1991, Pengantar Kromatografi. Penerjemah: Kosasih Padmawinata. Penerbit ITB. Bandung, 266 hlm Igoli, J.O., Ogaji, O.G., Anyiin, T.A., and Igoli, N.P., 2005. Traditional Medicines Practices Among The Igede People of Nigeria, Part II. African Journal of Traditional CAM, 2 (2) : p. 134 - 152 Makkar, H. P.S,Siddhuraju, P., and K. Becker, K. 1993. Plant Secondary Metabolites, Methods in Molecular Biology, vol. 393 Humana Press Inc., Totowa, NJ. P. 107 Ming, L.C., 1999. Ageratum conyzoides : A Tropical Source of Medicinal and Agricultural Products. In Janic J. (Ed.). Perspective on New Crops and New Uses. ASHS Press. Virginia, USA. P. 469-473 Silverstein, R.M., Bassler, G.C., Morrill, T.C.,1991. Spectrometric Identification of Organic Compounds, Fifth Edition, John Wiley and Sons, 419 pp. Wiedenfeld, H., Pietrosiuk, A., Furmanowa, M., and Roeder, E., 2003. Pyrrolizidine Alkaloids from Lithospermum canescens Lehm. Z. Naturforsch. 58c. p.173-176

142

PROSIDING