EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Agribisnis

Disusun Oleh : Kamarullah M. Nur NIM. 06750030

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2008

TESIS EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

Disusun oleh: KAMARULLAH M. NUR NIM. 06750030

SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Pembimbing Utama

Anggota Tim Penguji

Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si

Ir. Harpowo, MP.

Pembimbing

Pendamping

Ir. Dyah Erni W, MM

Ir. Istis Baroh, MP

Tesis ini telah diterima sebagai salah satu prasyarat Untuk memperoleh gelar Magister Tanggal ………………..

Dr. Achmad Habib, MA Direktur

ABSTRAK

Kamarullah M. Nur. Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah. Dibimbing oleh Jabal Tarik Ibrahim dan Dyah Erni. W. Kata Kunci : Pedet Jantan, Pemasaran Pemeliharaan pedet jantan sapi perah bagi petani peternak kurang menguntungkan bahkan dapat mempengaruhi pendapatan dan menambah biaya produksi, sehingga kebiasaan petani peternak menjual pedet jantan yang dimiliki setelah berumur 2 – 4 bulan dengan harga yang relatif murah, karena penentuharga ada pada pedagang perantara (blantik). Hal ini dapat terjadi karena pengetahuan tentang pemasaran produk-produk peternakan terutama tentang harga pedet jantan sapi perah tidak diketahui secara pasti dan mudah oleh petani peternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat efisiensi pemasaran Pedet jantan sapi perah di Kota Batu. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah secara tepat dan efisien harus diketahui oleh petani peternak sehingga dapat memperoleh harga jual yang layak. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola saluran pemasaran, berapa margin pemasaran, share harga dan keuntungan serta efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di lihat dari market structure, market conduct dan market performance (SCP). Jumlah responden adalah 60 orang yang terdiri dari 30 orang responden petani peternak sapi perah yang merupakan anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu dan 30 orang responden mewakili lembaga pemasaran yang ditentukan secara acak sederhana sesuai proporsi dan menyebar di tiga wilayah kecamatan yaitu Batu, Bumiaji dan Junrejo Kota Batu. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis konsentrasi rasio, analisis elastisitas transmisi harga, dan analisis deskriptif – Hay and Morris. Metode yang digunakan adalah purposive atau dengan cara sengaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemasaran pedet jantan sapi perah berada pada pasar persaingan sempurna dan petani peternak sudah memperoleh harga yang layak, sedangkan keuntungan tertinggi diperoleh oleh pedagang perantara/blantik.

Malang. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu.M.. Ir. Ungkapan terima kasih juga ananda sampaikan kepada Bapak. dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tesis ini.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ini berhasil diselesaikan. dan seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya.Si dan Ibu Ir. Ibu (Alm) dan istri tercinta anak-anakku tersayang. Jabal Tarik Ibrahim M. selaku Ketua Jurusan Program Agribisnis Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Penelitian ini dilaksanakan sejak April 2008. Nopember 2008 Penulis . Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Pemkot Batu. M. masing-masing selaku Pembimbing utama dan pembimbing. serta Ir. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. MP. Dyah Erni W. Dengan judul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah pada anggota Gabungan Kelompok Tani Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu Kota Batu Jawa Timur.. penyuluh THL – TBPP yang telah membantu pengambilan data dalam penelitian. Sutawi. Penghargaan penulis sampaikan juga kepada anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu.

Malang. kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. 25 Nopember 2008 Kamarullah M. Nur .SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis yang berjudul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah” ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain.

Pada tahun 2007 penulis mendapat ijin belajar dari Pemkot Batu di Pasca Sarjana Program Magister Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang. HM. Pendidikan sarjana Muda di tempuh di Program Studi Produksi Ternak. lulus tahun 1986. . Penulis adalah PNS pada Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005. Obi Kabupaten Maluku Utara 2002 – 2004. Pendidikan Sarjan di tempuh di Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Obi Maluku Utara. Kasi Pemantauan Kualitas Lingkungan merangkap PLT Kabid Pemantauan dan Pemulihan pada BAPEDALDA Propinsi Maluku Utara 1999 – 2002. Akademis Peternakan Brahma Putra Yogyakarta. lulus tahun 1992. Camat Kec. Sebelumnya adalah fungsional guru pada SPP Negeri Ambon 1992 – 1999. Kamarullah dan Almarhumah Djubaidah Sangadji. 16 Pebruari 1958 sebagai anak ke 3 (tiga) dari pasangan H.

...............................................1 1............2......2........................................................3 2...................................................................2 2............................4 Manfaat ................. 2...........................1 Telaah Penelitian ....................... Tujuan Penelitian ............................... DAFTAR TABEL ..............................................................................4 Hipotesis ...............3 PENDAHULUAN 1 4 4 5 i ii iii iv v vi ix x xi Latar Belakang ............................. Struktur Pasar ...... 2.............. DAFTAR GAMBAR ................................................................................................6 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran ................................................................................... Perilaku Pasar ..4 2....... DAFTAR LAMPIRAN ....................................................... KATA PENGANTAR . 6 8 8 11 15 24 27 28 33 37 2...................................................................................................................................................................................... Rumusan Masalah .. ABSTRAK ......................................................2 1......................................................... 1............................... II TINJAUAN PUSTAKA 2..............................................................................................2 Landasan Teori .......................................2..... DAFTAR ISI .. RIWAYAT HIDUP ......................................... SURAT PERNYATAAN .5 2........................ 2..............................................................................................................................................2.........................................2............................................................. Tampilan Pasar ................................................. I 1....................................... Margin Pemasaran .............. ...............3 Kerangka pemikiran .....................................2.... Efisiensi Pemasaran ...................................................................................................DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN ...............1 2.........

..............4 Definisi Operasional ...1 5.............................3......2.............. 5............... 38 39 40 40 41 42 42 3......4 Sistem Pemasaran Ternak .........III............ Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden ..............3...........................................................6 5..........................................................................1....................... 4.................................................5..........................1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian ...3 Karakteristik Responden ...................... Topografi ....................... 4.....................1...........................1...........................3........................................2 Sistem Pemeliharaan Ternak ...... 59 60 56 57 58 49 50 50 51 53 55 ..............................................5....... 4.............2 Metode Pengambilan Sampel .. 3......................................................................................................... Kondisi Pendapatan Petani Ternak dari Setiap Ekor Pedet yang Dijual .........................................1...3............1 Letak dan Luas Wilayah ............1 Analisis Struktur Pasar ...................... METODE PENELITIAN 3....... 3............. 5..................1 Data Populasi Ternak ...............4 Curah Hujan .................3 Metode Pengumpulan Data .1 Analisis Efisiensi Pemasaran .........................................1 Keadaan Umum Daerah Penelitian ................5 5..............................................4 Umur Responden ............. 3........................................................... 5........... Pendidikan Responden ........................1..........1.......................... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5............................ 3.........3...................................................................... 5..............................................................3 5.............................. Jumlah Pemilikan Ternak ... Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi .........................................................2 4...3 4............................. 3.2 Keadaan Umum Peternakan .........7 Status Pemilikan Ternak .. 5.................3.....3................................... 45 45 46 46 47 47 48 4... V............. Jenis Tanah ............2 5.......................................................5 Metode Analisis Data ................... IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4................... Batas Wilayah .................

.........1 Kesimpulan ............................ DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 79 80 ..5.................................................. KESIMPULAN DAN SARAN 6................5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah ....5...............2 5......5............ 6............. Analisis Perilaku Pasar ...................................1 5...... 5.....5... Analisis Tampilan Pasar ..............................................................................................................................2 Saran ..........3 Analisis Struktur Pasar ......................................... 62 62 67 72 VI..

...........................................9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 ........................................ Tabel 5.....................................5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 .............. 15 Tabel 5..11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ............1 Rincian Jumlah Anggota Rum ah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 .................................2 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah ................ Tabel 5...3 Jumlah Pemilikan dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah dari Petani Peternak Tahun 2008 ........................... Tabel 5...........................4 Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006 – 2008 .......7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa di Kota Batu Tahun 2008 ........8 Perbandingan Perbedaan Share Harga yang Diterima Petani Menggunakan LSD ...... Tabel 5................DAFTAR TABEL Tabel 1 Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat .................... Tabel 5.............................................................6 Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ......... Tabel 5....... Tabel 5............... 77 75 76 74 73 68 67 59 61 58 57 ............ Tabel 5. Tabel 5......................... Tabel 5............................................10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah ..................................................

............................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah ........................ 15........................................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah ...................................................................................... 4.............................. 7................................................................. 3.............................................. 9................................ 10 18 19 20 22 23 31 38 51 10....................................................................... Grafik Pasar Monopsoni .......................... Grafik Keadaan Pasar Persaingan Sempurna ......................... Turunan dan Margin Pemasaran ........................................... 14..... 5... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah ....... Grafik Mekanisme Pasar ................................................... Diagram Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ..................................................................................................................... Diagram Karakteristik Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ..................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah ..... Peta Lokasi Penelitian ............... 16............ 11. 8........................... Grafik Pasar Monopolistik ................................ Grafik Fungsi Primer........................................................ 62 56 55 54 54 53 52 52 ............................................ 6.................................... 13......... Diagram Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur .............. Grafik Pasar Monopoli ...................................................DAFTAR GAMBAR 1... Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ..................... 2......................................................................... 17. Grafik Perusahaan pada Kondisi Oligopoli ........... Diagram Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur ..................................................... 12......................

4. Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Karakterik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah 5. 6. 2. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Jantan Sapi Perah 7. 9. Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Hasil Analisis Varian Share Harga Post Hoc Test 10. 8.DAFTAR LAMPIRAN 1. 3. Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah .

2006). mendapat perhatian yang cukup besar dari Pemerintah. Usaha peternakan sapi perah yang di kembangkan oleh koperasi dan swasta.I. . telah dikelola secara komersial. PENDAHULUAN 1. Kota batu dengan penduduk 172.735 dan 37. Kota Batu termasuk salah satu daerah di Jawa timur yang selama ini telah mengembangkan usaha peternakan khususnya sapi perah.335 ekor (Anonymous. Hal ini selain sebagai sumber protein hewani dalam upaya perbaikan gizi masyarakat. peningkatan sumber daya manusia juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani (Anonymous. 2007). Namun di tingkat petani masih sebagai usaha skala keluarga dengan kepemilikan rata-rata 2–3 ekor setiap keluarga.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan yang merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian dan pembangunan Nasional. Pengembangan usaha peternakan rakyat khususnya usaha peternakan sapi perah juga termasuk dalam rencana pengembangan secara baik dan diperluas. karena selain sebagai usaha pokok masyarakat juga limbah dari usaha peternakan tersebut diharapkan akan bermanfaat dalam rangka mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. khusus petani peternak sapi perah yang bergabung dalam gabungan kelompok tani sapi perah Batu Bersatu sebanyak 576 anggota dengan penyebaran populasi sapi perah sebanyak 6. sehingga manajemen yang diterapkan juga seadanya.000 kepala keluarga adalah petani. melalui Pemda Kota Batu dicanangkan sebagai kota Agropolitan dengan penekanan pembangunan bertumpuk pada sektor pertanian secara luas.

selanjutnya Fanani (2000) mengatakan bahwa pada prinsipnya pemasaran adalah pengalihan barang dari produsen ke konsumen. Pemasaran merupakan aspek penting dalam proses produksi. sehingga upaya-upaya untuk mendapat efisiensi dalam pemasaran perlu mendapat perhatian semua pihak. 2008). Keterampilan petani untuk menuju pelaksanaan pemasaran yang efisien memang terbatas hanya mempraktekkan unsur-unsur manajemen saja. untuk itu perlu dilakukan pengamatan dalam sistem pemasaran pedet jantan sapi perah sehingga masyarakat pemilik ternak dapat mengetahui secara transparan sistem pemasaran ternak khususnya pemasaran pedet jantan sapi perah. 1976) mengatakan bahwa blantik adalah cengkau. secara khusus pemasaran adalah hasil telaah atau evaluasi terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis dari produsen ke konsumen melalui pedagang perantara (Anonymous. Pada sistem pengolahan sapi perah di tingkat petani peternak keberadaan pedet jantan atau anak sapi yang berumur 0 – 7 bulan menjadi beban tersendiri dalam biaya produksi. domba dan sebagainya. apalagi pemahaman informasi pasar masih rendah sehingga kesempatan-kesempatan ekonomi menjadi sulit untuk dicapai (Soekartawi. kambing. Fungsi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu selama ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan.7 persen. Dan salah satu lembaga pemasaran atau pelaku pasar sistem tata niaga pedet jantan sapi perah adalah pedagang perantara atau blantik. lembu.Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005 secara bertahap berupaya terus meningkatkan populasi ternak sapi perah melalui bantuan langsung masyarakat (BLM) maupun kegiatan proyek pengadaan lainnya yang disebarkan kepada petani peternak. 1993). pengantara jual beli sapi. kuda. Perkembangan sapi perah setiap tahun ada kenaikan 5 . Dalam pemasaran ternak sapi pada umumnya proses pembentukan atau penentuan harga selalu dikaitkan dengan urgensi kebutuhan uang tunai dari petani . Dalam kamus Bahasa Indonesia (Poerwadarminto. ketersediaan pasar dapat memacu berkembangnya program dalam menerapkan teknologi sistem usaha tani. 1989). aliran barang tersebut dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran yang tergantung dari sistem yang berlaku dan aliran barang yang dipasarkan. Populasi pedet jantan sapi perah tahun 2008 yaitu sebanyak 259 ekor (Anonymouse. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah harus diketahui oleh petani peternak secara mudah dan bebas sehingga petani peternak dapat memperoleh kepastian harga untuk menentukan layak atau tidak ternaknya di jual. untuk itu biasanya pedet jantan sapi perah dijual setelah berumur 2 – 3 bulan yang langsung dibeli oleh blantik dengan harga yang tidak menentu hal ini dapat terjadi karena informasi tentang pemasaran pedet jantan sapi perah tidak diketahui oleh petani peternak secara pasti.

1.peternak. ia hanya bertindak sebagai price taker (penerima harga) saja. maka masalah yang perlu disimak dan dicermati serta dicarikan solusinya adalah sebagai berikut : 1. market conduct. 1.3. bahkan tidak jarang terjadi praktek-praktek pemasaran yang merugikan petani peternak oleh para pedagang perantara atau blantik. bila petani peternak sangat membutuhkan uang tunai.2 Berapa margin pemasaran.2. dan market performance (SCP). share harga dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu. 1.2.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1.1 Bagaimana pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu.2. 1.3 Bagaimana efisiensi pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu dilihat dari analisis market structur.2 Rumusan Masalah Bertitiktolak pada latar belakang penelitian ini. karena bargaining position (posisi dalam tawar menawar) lemah. .1 Untuk mengidentifikasi pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu.

1.2 Untuk mengetahui tentang keberadaan margin pemasaran. 1. dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.3.3.3 Untuk menghitung efisiensi pamasaran dari pedet jantan sapi perah dilihat dari analisis market structur. market conduct dan market performance (SCP) . share harga.

4.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah 1.4. . 1.4.4.1 Sebagai bahan informasi kepada petani sapi perah dalam memasarkan ternak khususnya pedet jantan sapi perah melalui jalur mana yang akan digunakan agar efisien. Sebagai khasanah ilmu pengetahuan khusunya dalam bidang pemasaran pedet jantan sapi perah.2 Sebagai bahan kajian lebih lanjut bagi Dinas Pertanian Kota Batu dalam upaya perbaikan lembaga petani sekaligus penataan efisiensi jalur pemasaran ternak sapi pada umumnya 1.3 Sebagai bahan acuan dalam rangka penyusunan rancangan penyuluhan 1.1.4.

baik secara vertikal maupun horizontal sehingga struktur pasar yang ada mengarah kepada pasar monopsoni. biaya produksi. dalam kondisi seperti ini pembeli bertindak selaku price setter (penentu harga) sedangkan petani hanya sebagai price taker karena bargaining positionnya lemah. keuntungan tataniaga dan efisiensi tataniaga dengan hasil yang cukup baik. perilaku dan tampilan pasar. khususnya yang menyangkut analisis struktur.II. struktur. . margin pemasaran dan fasilitas pemasaran di provinsi Lampung. Pellokila. perilaku dan tampilan pasar diperoleh hasil bahwa pasar rumput laut di Bali cenderung ke arah persaingan tidak sempurna (imperfect market) yakni pasar oligopsoni. Sementara itu penelitian tentang struktur pasar dalam pemasaran buah anggur di Bali yang dilakukan oleh Wardhana (1993) diketahui bahwa struktur pasar buah anggur yang dihasilkan di Bali adalah oligopsoni. perilaku dan tampilan pasar dari pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya transaksi dari pedet jantan sapi perah di Kota Batu. Idrus dan Widyantara (1996) melakukan penelitian tentang pemasaran panili di Bali dengan hasil sebagai berikut: pasar panili di Bali tidak terintegrasi. TINJAUAN PUSTAKA 2. Penelitian lain yang juga dilakukan di Bali oleh Darma Setiawan (1997) tentang analisis pemasaran rumput laut yang mengkaji tentang struktur. Oleh karena itu penulis respek untuk melakukan penelitian tentang bagaimana. Walaupun sebenarnya sudah banyak dilakukan penelitian tentang komoditas-komoditas pertanian lainnya di daerah lain di seluruh nusantara ini. margin tataniaga.1 Telaahan Penelitian Terdahulu Penelitian tentang analisis pemasaran ternak terutama pemasaran pedet jantan sapi perah belum banyak dilakukan. seperti Asmarantaka (1985) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara harga jagung yang diterima petani. dkk (1993) meneliti tentang pemasaran permintaan daging sapi di kota Administratif Kupang melalui analisis biaya tataniaga.

Sedangkan menurut hasil penelitian Kiptiyah dan Semaoen (1994) tentang pemasaran bunga potong di Jawa Timur bahwa nilai korelasi antara harga di tingkat konsumen dan harga di tingkat produsen untuk setiap jenis bunga berkisar antara 0. Berdasarkan telaahan terhadap beberapa hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar korelasi antara harga konsumen dan harga produsen maka kedua pasar tersebut semakin kuat terintegrasi. maka secara umum dapat dikatakan bahwa struktur pasar komoditas pertanian mengarah kepada pasar persaingan tidak sempurna yakni monopsoni atau oligopsoni yang pada hakekatnya sangat merugikan petani dalam memasarkan komoditas yang dihasilkannya.2.957.Penelitian Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi. 2.2 Landasan Teoritis 2. pada hakekatnya bahwa pemasaran atau tataniaga merupakan aktivitas yang ditujukan terhadap barang dan jasa sehingga dapat berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen. Relatif rendahnya harga yang diterima petani ini disebabkan oleh tingginya biaya pemasaran dan margin keuntungan pemasaran yang diterima pedagang. 1996) tentang analisis keterpaduan pasar pada sistem pemasaran komoditas pangan strategis diperoleh hasil bahwa berdasarkan analisis biaya dan margin pemasaran diketahui bahwa harga rata-rata yang diterima petani di bawah 50 persen dari harga di tingkat pengecer (konsumen). .1 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran Definisi tentang pemasaran atau tataniaga telah banyak dikemukakan oleh para ahli ekonomi.584 – 0. (Anonymous.

c) skala produksi dan posisi keuangan produsen. pengolahan. Fungsi-fungsi pemasaran ini dilakukan oleh lembaga pemasaran sebagai upaya pemindahan barang dan jasa dari sektor produksi ke sektor konsumsi. 1995). Lokasi fisik sebagai tempat terjadinya pembelian dan penjualan disebut pasar.Kohl dan Uhl (1980) mendefinisikan pemasaran sebagai tampilan aktivitas bisnis yang terlibat dalam arus barang dan jasa dari pintu gerbang usahatani (farm gate) sampai ke tangan konsumen. maka secara tegas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pada pemasaran adalah agar barang dan atau jasa yang dihasilkan oleh petani maupun perusahaan sebagai produsen sampai ke konsumen. ini merupakan pengertian sederhana/sempit. Panjang pendeknya rantai pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas tergantung dari : a) jarak antara produsen dan konsumen. pengangkutan dan c) fungsi fasilitas yang meliputi standarisasi dan grading. penanggungan resiko. Pengertian pasar dalam arti luas atau pengertian menurut teori ekonomi adalah pertemuan antara penawaran dan permintaan atau perpotongan antara kurva penawaran dan kurva permintaan. Dikemukakan lebih lanjut oleh Saefuddin (1982) bahwa rantai pemasaran atau saluran pemasaran merupakan aliran yang dilalui oleh barang dan jasa dari produsen melalui lembaga pemasaran sampai barang dan jasa tersebut tiba di tangan konsumen. b) fungsi fisik meliputi pengumpulan. b) cepat atau tidaknya komoditas tersebut menjadi rusak. . Pola rantai pemasaran untuk komoditas pertanian berbeda dengan pola rantai pemasaran untuk produk/komoditas industri. sebagaimana yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini. di mana pada titik potong tersebut terbentuklah harga yang merupakan keseimbangan antara jumlah yang ditawarkan oleh produsen dan jumlah yang diminta atau diinginkan konsumen (Lipsey. Kenyataan menunjukkan bahwa pasar itu terpisah dalam ruang (market spatial) dan akan terjadi ketidakseimbangan pasar apabila di antara dua daerah. Menurut Saefuddin (1982) bahwa pemasaran merupakan aktivitas yang berkaitan dengan bergeraknya barang dan jasa dari produsen ke konsumen. pembiayaan dan informasi harga. 1985 dalam Widiyantara. Menyimak definisi pemasaran di atas. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan arus perpindahan barang dari daerah excess supply ke daerah excess demand pada akhirnya akan terjadi keseimbangan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar barang dan jasa dapat berpindah dari sektor produksi ke sektor konsumsi disebut sebagai fungsi pemasaran. di mana daerah yang satu mengalami kesulitan produksi (excess supply) sedangkan daerah yang lain mengalami kekurangan permintaan (excess demand). Fungsi pemasaran yang dimaksud tersebut meliputi: a) fungsi pertukaran yang meliputi pembelian dan penjualan.

namun belakangan telah banyak digunakan untuk menganalisis produk-produk pertanian (Alhusniduki. Selanjutnya setelah terjadi perdagangan dengan asumsi bahwa tidak ada biaya transfer yang dikeluarkan oleh pedagang maka akan terjadi kenaikan harga di X karena sebagian produk di bawa ke Y oleh pedagang. perpindahan produk akan terus berlanjut dari pasar dengan harga produk yang lebih rendah ke pasar di mana harga produk tersebut lebih tinggi. Selanjutnya apabila ada biaya transfer atau pajak maupun kendala lainnya.2. Performance). Perdagangan akan terhenti atau telah tercapai keseimbangan apabila perbedaan harga antara dua pasar tersebut hanya sebesar biaya transfer (Azzaino. perilaku dan tampilan pasar atau yang dikenal dengan analisis S – C – P (Structure.1 Mekanisme Pasar Berdasarkan grafik 2. Proses perdagangan akan berhenti pada saat harga pokok di X sama dengan harga pokok produk tersebut di Y. Conduct. 2) output meningkat dan input tetap. 2. Efisiensi Pemasaran Problematika utama dalam pemasaran komoditas pertanian adalah bagaimana upaya yang seharusnya dilakukan agar jasa lembaga pemasaran memuaskan petani produsen dan konsumen produk pertanian.2. harga di X sebesar Px (gambar a) lebih murah dari harga barang di Y (gambar b) atau dapat dinyatakan sebagai berikut Px < Py. artinya bahwa dalam pengaliran produk pertanian dari petani produsen sampai di konsumen secara efisien. 1981). 1991).1 di atas diketahui bahwa sebelum terjadi perdagangan. Untuk mengetahui efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan pengukuran: 1) efisiensi teknis/operasional yang mengukur produktifitas pelaksanaan jasa . 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan persentase kenaikan input dan 4) output berkurang dengan persentase yang lebih rendah dari persentase penurunan input.D S Py D S Pz D S Px 0 Qx (a) Q 0 Qy (b) Q Q 0 (c) Qz Gambar 2. maka harga pokok di Y akan turun. Dalam menganalisis hasil penelitian ini dilakukan dengan pendekatan organisasi pasar yang meliputi struktur. Kohl dan Url (1980) mendefinisikan efisiensi pemasaran sebagai peningkatan ratio output dan input yang dapat dicapai dengan cara: 1) output tetap/konstan sedangkan input berkurang. Pada awalnya analisis ini hanya digunakan untuk menganalisis organisasi pasar dalam sektor industri di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat.

yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. Menurut Soekartawi (1993) bila keuntungan yang diperoleh sebagai akibat pengaruh harga maka dapat dikatakan bahwa pengalokasian faktor produksi memenuhi efisiensi harga. Sementara itu menurut Tornek dan Robinson (1977) bahwa efisiensi pemasaran itu dapat dibedakan menjadi efisiensi operasional dan efisiensi alokatif atau efisiensi harga. Margin pemasaran ini terdiri dari biaya pemasaran (marketing cost) dan keuntungan . maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni. Yang sering menjadi indikator dalam mencermati efisiensi operasional adalah margin pemasaran. Apabila tidak terjadi seperti ini. Efisiensi teknis dinyatakan dalam ratio output pemasaran terhadap inputnya: Output Pemasaran Efisiensi Operasional = Input Pemasaran Prinsipnya pengukuran efisiensi ini adalah kegiatan fisik. misalnya output per jam kerja. Menurut Mubyarto (1991) bahwa suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila memenuhi 2 syarat : Pertama mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya dan kedua mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat dalam produksi dan pemasaran barang itu. Sebenarnya dalam pemasaran pengukuran efisiensi operasional sama artinya dengan pengurangan biaya. yakni perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima pada tingkat petani. Efisiensi operasional atau efisiensi teknis penekanannya pada kemampuan meminimumkan biaya-biaya dalam melakukan fungsi pemasaran.pemasaran di dalam perusahaan dan 2) efisiensi alokatif (efisiensi harga) yang mengukur bagaimana harga pasar mencerminkan biaya produksi dan biaya pemasaran secara memadai pada sistem pemasaran secara keseluruhan. Sedangkan dalam efisiensi harga atau efisiensi ekonomis adalah pada kemampuan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. Dalam efisiensi alokatif diasumsikan bahwa output dan input berbentuk fisik yang tetap.

Oleh karena itu margin pemasaran dan korelasi harga sebagai indikator efisiensi pemasaran tidak lagi saling melengkapi sehingga diperlukan indikator lain. Sedangkan efisien harga ditunjukkan oleh korelasi antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen. Input adalah berbagai ramuan dari tenaga kerja. Bila disimak dari efisiensi operasional maupun efisiensi harga. maka Saefuddin (1982) menyatakan bahwa ada dua konsep yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran yakni konsep input output ratio dan konsep S-P-C (Structure. Kendati demikian hal ini bukanlah merupakan suatu patokan harga mati yang tidak dapat diganggu gugat. maka suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila untuk suatu komoditas yang mengalir melalui berbagai lembaga pemasaran dari produsen ke konsumen diperlukan margin pemasaran yang rendah dan tingkat korelasi yang tinggi. tampilan dan perilaku.pemasaran (marketing profit). Apabila terjadi suatu perubahan yang menyebabkan biaya input untuk menghasilkan suatu . sebab dapat saja terjadi bahwa pada kasus tertentu margin pemasaran tinggi dan korelasi harga juga tinggi. dan manajemen yang digunakan oleh lembagalembaga pemasaran dalam proses pemasaran. Performance dan Conduct) atau struktur. Sehubungan dengan hal di atas. maka margin pemasaran semakin besar yang menyebabkan sistem pemasaran menjadi tidak efisien. Sedangkan yang dimaksudkan dengan output adalah kepuasan konsumen terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Menurut Azzano (1982) bahwa untuk melihat efisiensi harga digunakan analisis integrasi pasar secara vertikal. Dua pasar dikatakan terintegrasi apabila perubahan harga dari salah satu pasar disalurkan/diteruskan ke pasar lainnya. Semakin besar biaya pemasaran dan atau semakin besar keuntungan pemasaran suatu komoditas.

dan lebih banyak digunakan di negara-negara maju terutama Amerika Serikat. 2. dkk (1991) bahwa kelemahan karena adanya penambahan biaya pemasaran seringkali diperlukan penambahan jasa kepada konsumen.3 Struktur Pasar Struktur dimaksudkan sebagai karakteristik organisasional suatu pasar yang dalam prakteknya adalah menentukan hubungan antara pembeli dan penjual di pasar.2. perilaku pasar (market conduct) dan tampilan pasar (market performance). Menurut Alhusniduki. 1984). Sedangkan apabila terjadi perubahan yang menyebabkan adanya penurunan biaya input tetapi tidak mempertahankan atau tidak diikuti dengan peningkatan kepuasan konsumen maka dikatakan terjadi penurunan efisiensi. Karena itu pendekatan yang lebih tepat. tetapi penambahan jasa tidak selalu dicerminkan dalam pertambahan nilai produk yang dipasarkan. Struktur pasar ini dapat dibedakan . dengan penjual potensial yang akan masuk pasar. Penggunaan konsep efisiensi seperti ini sangat sulit karena adanya kesulitan dalam mengukur tingkat kepuasan (Atmakusuma. dan kini mulai digunakan di negara-negara yang sedang berkembang dalam mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan analisis struktur pasar (market structure). sehingga standar dalam pendekatan ini tidak ada. distribusi perusahaan dengan berbagai ukuran dan diferensiasi produk serta syarat-syarat keluar masuk pasar. Sebaliknya dengan menurunnya nilai produk mungkin disebabkan oleh penurunan harga di tingkat konsumen.barang dan atau jasa meningkat dengan tidak mengurangi kepuasan konsumen dikatakan sebagai peningkatan efisiensi. Menurut Azzaino (1981) struktur pasar adalah suatu dimensi yang menjelaskan definisi industri dan perusahaan mengenai jumlah yang ada di pasar.

menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna yang meliputi pasar monopoli/monopsoni dan pasar oligopoli/oligopsoni. Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat Karakteristik Struktural Struktur Pasar Jumlah Bentuk Sisi Penjual Jumlah Perusahaan Produk Pembeli Banyak Standar Persaingan Persaingan Murni murni Banyak Berbeda Persaingan Persaingan Monopolistik Monopsonistik Sedikit Standar Oligopoli Oligopsoni Murni Murni Sedikit Berbeda Oligopoli Oligopsoni Diferensiasi Diferensiasi Satu Unik Monopoli Monopsoni Taken dan Asnawi (1977) membedakan struktur pasar atas persaingan sempurna dan persaingan tidak sempurna. pasar monopsoni. Sexton. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku pedagang dan tampilannya. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensiasi produk. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. dan pasar oligopsoni. yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. Dahl dan Hammond (1977) membedakan struktur pasar hasil pertanian sebagai berikut: Tabel 1. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. Pasar dengan persaingan tidak sempurna dibedakan menjadi pasar monopoli. King dan Carman. pasar oligopoli. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. monopsoni dan oligopsoni. 1991 menyatakan bahwa untuk mengetahui dua . Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. pasar monopoli. Struktur pasar menurut Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. 2) konsentrasi pembeli. Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda.

Biaya yang dikeluarkan tersebut meliputi biaya tetap (BT). Apalagi koefisien regresinya sama dengan satu. maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika lebih besar dari satu maka pasar cenderung ke erah monopsoni. Produsen terdiri dari banyak sekali petani yang menghasilkan beras terstandar untuk dijual di pasar. bukan hanya saat ini tetapi juga pada waktu yang akan datang. biaya varibel (BV) dan biaya marginal (BM). Suatu contoh dapat diberikan di sini adalah petani padi yang menghasilkan beras. sedangkan apabila koefisien regresinya lebih kecil dari satu.pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan harga di tingkat pasar ke-i sebagai variabel terikat dan harga di tingkat ke-i + 1 dan selisih biaya transportasi sebagai variabel bebas. Homogenitas di sini dimaksudkan sebagai karakteristik teknis maupun jasa yang diperlukan pemasarannya sama. (2) Produk yang dihasilkan adalah homogen. Suatu pasar dikatakan berada dalam keadaan persaingan sempurna apabila memenuhi syarat-syarat berikut: (1) jumlah pembeli dan penjual sangat banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan. Sebaliknya harga pokok yang dihasilkan . Petani di sini seperti halnya pimpinan perusahaan yang menghadapi berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan padi. (4) informasi pasar sempurna dan diperoleh secara gratis. (3) mobilitas faktor produksi ke dalam pasar tidak ada hambatan sama sekali.

oleh karena itu hanya menerima harga berlaku di pasar (hanya bertindak sebagai price taker). maka petani akan berproduksi pada titik Q pada saat BM = MR.2 di atas. petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu. maka produsen lain akan masuk pasar sampai BM = MR = BR. Bentuk pasar dengan persaingan monopolistik. Untuk meningkatkan pendapatan. Keadaan Pasar Persaingan Sempurna Keterangan : BR = Biaya rata-rata BM = Biaya marginal MR = Penerimaan Marginal Berdasarkan grafik 2. sebaliknya bila harga turun maka petani atau produsen akan keluar dari pasar sampai BM = MR = BR kembali. Kondisi seperti ini petani tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga pasar. satu-satunya adalah dengan menekan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk (biaya produksi). Keadaan ini dapat digambarkan dengan grafik seperti di bawah ini dengan kurva-kurva: biaya rata-rata (BR) dan biaya marginal (BM) (Masyrofie. Apabila harga naik.dalam hal ini beras adalah tetap. mungkin bisa dilihat dari pasar pakan ternak. Dalam keadaan pasar persaingan sempurna. 1993). Produk ini untuk kebutuhan yang sama tetapi dapat saja terjadi perbedaan konsentrasi bahan yang digunakan atau mungkin pula pembeli yakin bahwa pakan yang dihasilkan peruashaan A berbeda dari . Karenanya dalam pasar persaingan sempurna biaya ratarata adalah terendah. (tentunya dengan asumsi bahwa tidak campur tangan pemerintah). Keadaan ini merupakan keseimbangan jangka panjang. P BM BR H d = H = MR 0 Q Jumlah Gambar 2.2.

Hal ini dapat terjadi karena perusahaan lain tidak dapat memasuki pasar tersebut. c) hak paten. Akan tetapi produknya yang berbeda-beda dari perusahaan lain. dan harga produk sebesar H. Harga BM H BR D MR 0 Q1 Jumlah Grafik 2. suatu perusahaan kecil akan dapat beroperasi sebagaimana perusahaan monopoli. kendati kenyataannya sama saja. b) menguasai teknik produksi yang spesifik. Pasar monopoli adalah suatu struktur pasar dengan hanya satu perusahaan yang menjual produk di pasar. d) mendapatkan lisensi dari pemerintah dan e) skala perusahaan besar. Pasar Monopolistik Keterangan : BM = Biaya Marginal BR = Biaya rata-rata MR = Marginal Revenue Jumlah permintaan yang terjadi adalah sebesar OQ1 pada BM = MR. Bagaimana seorang monopolis mendapatkan laba maksimum dapat dilihat pada grafik berikut ini. iklan atau aktivitas promosi lainnya.yang dihasilkan perusahaan B. Melalui perbedaan produk. Mereka akan mempunyai BM dan BR sebagai kendala biaya dalam persaingan murni. Produsen dapat merubah harga dengan merubah produksi.3. maka bentuk kurva permintaannya menurun dari kiri atas ke kanan bawah (D). Oleh karena itu pembeli mau saja membeli dalam keadaan harga yang berbeda yang ditawarkan oleh produsen yang berbeda-beda. Sukirno (1995) menyatakan bahwa ada beberapa hal suatu perusahaan bersifat monopoli antara lain : a) menguasai bahan baku yang strategis untuk menghasilkan produk yang akan dijual. Bentuk pasar monopolistik ini dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini. Hal ini berarti bahwa mereka harus menerima harga yang rendah kalau akan menambah produk yang akan ditawarkan untuk meningkatkan volume penjualan. .

Perbedaan harga H1 dan H2 adalah keuntungan monopolis. Suatu perusahaan monopsoni yang bermaksud memaksimumkan keuntungannya. Suatu pasar dikatakan sebagai pasar monopsoni apabila di dalam pasar tersebut hanya terdapat satu pembeli.4 Pasar Monopoli Keterangan : BTR BM MR Hrg = Harga = Biaya Total Rata-Rata = Biaya Marginal = Marginal Revenue Pada grafik 2. sedangkan harga dari input ditentukan oleh titik-titik sepanjang kurva penawaran. hal inilah yang menyebabkan inefisiensi karena faktor-faktor penyebab monopoli sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. Hal ini dapat dijumpai pada pemasaran hasil pertanian di tingkat petani produsen. maka penggunaan input sampai pada suatu jumlah di mana nilai produk marginal dari faktor produksi tersebut (NPMF) sama dengan biaya faktor marginalnya (NPMF = BFM). sedangkan penjual atau produsennya banyak. Ditetapkannya harga sejumlah produk (Q) sebesar H1.4 nampak bahwa keuntungan maksimum tercapai pada saat BM = PM dengan jumlah produksi dan permintaan pasar sebesar OQ pada harga H1. Padahal dalam keadaan keuntungan maksimum (BM = MR) harga produk yang sebenarnya hanya sebesar H3. Makin besar pembelian monopsoni akan suatu produk maka harga produk tersebut makin tinggi dan sebaliknya. MRP adalah tambahan terhadap total revenue sebagai sumbangan dalam menggunakan satu input. perusahaan berada dalam keadaan kelebihan laba (excess profit) yaitu seluas daerah H1H2AB. yang berarti bahwa harga produk dipengaruhi oleh pembelian monopsoni. Dalam struktur pasar ini kurva penawarannya mempunyai slope positif. sedangkan BFM adalah tambahan terhadap biaya total sebagai akibat . Apabila monopolis memproduksi sebanyak Q akan dijual dengan harga yang lebih tinggi yakni H1.BM Hrg H1 A BTR H2 H3 B C MR 0 Q1 Jumlah D Grafik 2.

Pasar oligopoli adalah suatu keadaan pasar di mana hanya terdapat beberapa penjual dan masing-masing pengusaha berusaha untuk mempengaruhi harga pasar. kerugian akan bertambah dalam menambah produksi dengan menggunakan input tersebut. Karena itu. 1981). Jadi keuntungan akan maksimum dalam menggunkan input jika berproduksi pada BFM = MRP. akan tetapi juga harus memperhatikan tindakan rivalnya. kurva permintaan akan putus (kinked demand curve) karena setiap pesaing gagal mengikuti kenaikan harga. .5 Pasar Monopsoni Pada gambar di atas.tambahan penggunaan satu satuan input. penambahan dalam penggunaan input akan tetap meningkatkan keuntungan. Hal inilah yang menyebabkan ketidakberlanjutan kurva MR (grafik 5). Oleh karena itu selama MRP > BFM. bila MRP < BFM. Jadi H2 adalah harga keseimbangan pasar input yang berhubungan penggunaan input sebanyak OQ (Azzaino. Harga H1 H2 H3 F E BFM S MRP 0 Q Q1 Quantity Grafik 2. Sebaliknya. berhubungan dengan titik F pada kurva penawaran. Dalam hal ini. Kesamaan ini terjadi pada titik potong E dalam gambar di bawah ini. bahkan selalu bersesuaian dalam keadaan harga turun. OQ adalah jumlah input yang digunakan. OQ satuan input akan ditawarkan pada harga H2 per satuan. baik dalam bentuk produksi maupun aktivitas penjualan produk serta harga.

A F' BM H1 B BR C A' H2 D MR 0 Q E F Quantity Grafik 2. Jika oligopsonis meningkatkan harga pembelian inputnya. 1995). sedangkan rivalnya tidak ikut menaikkan harga maka kurva permintaan yang dihadapi oleh oligopolis adalah AB (relatif mendatar). Akan tetapi apabila oligopolis menaikkan harga. bukan kelanjutan kurva AB dan Q bertambah banyak.6: Perusahaan pada kondisi oligopoli Pada waktu H1. Jika oligopolis menurunkan harga maka harga akan mengikuti kurva permintaan BF. perusahaan menjual produk sebanyak OQ. maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dengan . Oligopolis yakin bahwa apabila ia menurunkan harga penjualan maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dalam penurunkan harga dan jumlah penjualan akan meningkat sesuai dengan kurva permintaan BF. Kurva permintaan untuk penurunan harga ini lebih curam dari pada kurva permintaan pada saat kenaikan harga. Pada pasar oligopsoni akan terjadi sebaliknya. Pada kondisi seperti ini produk dijual dengan harga H1 dengan jumlah produk sebanyak OQ. Jadi kurva ABF adalah kurva permintaan oligopolis (Sudarsono. Oligopolis akan mencapai keuntungan maksimum pada saat BM = BR. Kurva permintaan marginal (PM) merupakan kurva terputus ACDF.

sosial dan bisnis. budaya. Dalam kaitan dengan pengaruh. persepsi. b) konsentrasi pembeli merupakan kebalikan dari konsentrasi penjual yaitu apabila konsentrasi pembeli 82% berarti 82% dari produk yang ada dikuasai oleh 4 perusahaan tersebut.4 Perilaku Pasar Perilaku pasar merupakan pola tingkah laku lembaga pemasaran dalam menyesuaikan diri dengan pasar di mana ia melaksanakan pembelian dan penjualan produk.manikkan harga pembelian input. ekonomi. baik individu maupun lingkungan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas maka Lawang (1986) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa perilaku manusia bila dikaitkan dengan pertukaran. Menurut Abbot dan Mahekam (1990) bahwa ada strategi pokok dalam mengukur struktur pasar yaitu : 1) ukuran relatif dari perusahaan dan 2) hubungan bisnis dari perusahaan. apakah bebas ataukah berada dalam suatu sistem manajemen.2. Sekelompok atau seseorang . Sedangkan apabila terjadi sebaliknya maka rivalnya tidak akan menurunkan harga pembeliannya. yaitu apabila 4 : 10 perusahaan menjual 82% dari total produk (konsentrasi produk 82%) berarti dalam industri atau perusahaan 82% aktivitas ekonomi dikendalikan oleh 4 perusahaan tersebut. 2. c) kendala masuk pasar dan d) diferensiasi produk. Purcell (1979) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : a) konsentrasi penjual. belajar dan sikap. maka perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor biaya. Sedangkan yang termasuk dalam pengaruh lingkungan adalah pengaruh keluarga. Dahl dan Hammond (1977). motivasi. Clindiff (1988) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa ada dua pengaruh pokok yang mempengaruhi pembeli yakni pengaruh individu dan pengaruh lingkungan. Yang termasuk dalam pengaruh individu adalah kebutuhan. imbalan dan keuntungan.

3) praktek-praktek penentuan harga bebas dari kolusi dan taktik-taktik yang tidak jujur. kota dan provinsi. Yang dimaksud dengan integrasi adalah penggabungan kegiatan dalam pemasaran dalam satu sistem manajemen. 4) kebijaksanaan harga yang mendorong perbaikan mutu produk dan meningkatkan kepuasan konsumen. Sementara itu menurut Alhusniduki (1991) bahwa analisis integrasi pasar secara horizontal digunakan untuk melihat apakah mekanisme harga berjalan secara serentak atau tidak. kecamatan. kemungkinan imbalan yang akan diterima/diperoleh dan bentuk keuntungan diperoleh atau diharapkan. 1986). Saefuddin (1982) mengemukakan salah satu kriteria yang cocok untuk merumuskan suatu situasi pasar yang dapat mengoptimumkan keuntungan sosial dan memaksimumkan efisiensi pemasaran adalah perilaku pasar yang meliputi: 1) praktek-praktek penentuan harga yang mendorong terjadinya grading dan standarisasi produk. atau antara lembaga tingkat bawah dengan lembaga perantara yang di atasnya. Makna penting dari integrasi vertikal yakni akan menurunkan biaya pemasaran sehingga menguntungkan konsumen. maupun perdagangan gelap. Sedangkan analisis integrasi pasar secara vertikal digunakan untuk melihat secara kasar keadaan pasar pada tingkatan lokal. 2) seragamnya biaya pemasaran. Dengan demikian maka integrasi vertikal merupakan penggabungan proses dan fungsi dua atau lebih lembaga pemasaran pada tahap distribusi ke dalam satu sistem manajemen.mempunyai perilaku tertentu merupakan refleksi dari pertimbanganpertimbangan terhadap biaya yang telah dikeluarkan. kabupaten. Alat analisis yang digunakan adalah korelasi harga antara pasar yang satu dengan yang lainnya. Sebaliknya integrasi horizontal akan dapat memperkuat posisi produsen atau perusahaan dan menghindarkan persaingan dengan perusahaan sejenis (Hanafiah dan Saefuddin. Perilaku pasar dapat juga dilihat dari integrasi pasar. Secara teoritis kalau pasar berjalan secara bersaing sempurna. yang meliputi integrasi vertikal dan integrasi horizontal. Selain itu analisis mampu menjelaskan kekuatan tawar menawar antara petani dengan lembaga pemasaran. Sedangkan integrasi horizontal adalah penggabungan dua atau lebih lembaga pemasaran yang melakukan fungsi yang sama pada tahap distribusi yang sama pula ke dalam satu sistem manajemen. maka: (1) Pj = (b1 + b2) + Pi dimana : Pj = Harga pada tingkat pasar ke-i Pi = Harga pada tingkat pasar ke-i+1 b1 = Biaya pemasaran (biaya transportasi) = Keuntungan lembaga pemasaran b2 Dengan asumsi bahwa b1 dan b2 adalah konstan terhadap satuan komoditas yang dijual maka Pj = a + Pi (2) .

tidak adanya keuntungan monopsoni. maka dapat disimpulkan jika: a1 < 1 → Terjadi monopoli penjualan dari lembaga pemasaran dari tingkat pasar yang satu dengan tingkat pasar yang di atasnya a1 = 1 → Pasar berjalan dalam keadaan bersaing sempurna a1 > 1 → Terjadi monopsoni pembelian dari lembaga pemasaran yang di atas dengan yang di bawahnya. Secara matematis dapat dinyatakan: Pf Fs = x 100% (4) Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Share keuntungan. margin. seperti upaya promosi. keuntungan investasi dan pengembangan produk. maka: Pj = a0 + a1P1 (3) Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. perbaikan sistem pemasaran yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat.Oleh karena itu jika pasar berada dalam keadaan bersaing sempurna. Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share).5 Tampilan Pasar Tampilan pasar merupakan hasil akhir yang timbul akibat penyesuaianpenyesuaian yang dilakukan oleh lembaga pemasaran pada struktur pasar tertentu di mana mereka beroperasi.2. 2. Stiffel (1975) menyatakan bahwa tampilan pasar adalah hubungan struktur pasar dengan perilaku pasar dalam hal kebijaksanaan harga dan produk. lembaga pemasaran ke-i : Ki Ski = x 100% (5) Pr − Pf Ki = Pji – Pbi – bij (6) Dimana : Ski = Share keuntungan lembaga pemasaran Ki = Keuntungan lembaga pemasaran . Tampilan pasar dapat pula dipengaruhi oleh persaingan non harga. Azzaino. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen. (1981) menyatakan bahwa tampilan pasar dapat dilihat dari tingkat harga. lebih mudah diperbaiki dan sebagainya. Tampilan ini dapat diukur dari efisiensi penggunaan sumber daya. adanya perbaikan produk sehingga lebih tahan lama.

1984). maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar.2. . tetapi biaya pemasaran tepat. kendatipun jumlah yang dipasarkan atau ditawarkan berubah dan pada kondisi yang lain margin pemasaran itu berubah. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik. turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil. Bila harga konsumen itu kecil. Jika fungsi penawaran elastisitas sempurna (horizontal) maka margin pemasaran konstan walaupun permintaan meningkat. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen. Dikatakan pula bahwa margin pemasaran dapat menjadi konstan pada kondisi-kondisi tertentu.6 Margin Pemasaran Margin pemasaran dimaksudkan sebagai perbedaan harga suatu komoditas yang diterima produsen dengan harga yang dibayar konsumen. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar (Atmakusuma. Margin pemasaran terdiri dari biaya untuk menyalurkan atau mendistribusikan atau memasarkan dan keuntungan lembaga pemasaran.Pji Pbi Pr Pf bij = Harga jual lembaga pemasaran ke-i = Harga beli lembaga pemasaran ke-I = Harga beli konsumen = Harga jual petani = Biaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran 2. misalnya harga suatu barang naik.

dan ditentukan oleh faktor-faktor berikut : (a) harga modal dari barang. (b) jumlah komoditas yang dijual dan (c) keuntungan yang diperhitungkan sebagai cadangan dari penanggungan resiko. memperkuat posisi tawar menawar (bargainning position) dari produsen dan 3) stabilitas harga produk. Untuk mengurangi margin pemasaran dapat dilakukan dengan : 1) mengurangi biaya pemasaran. (2) adanya perlakuan pengolahan hasil. 2) memperbaiki sistem informasi pasar. permintaan dan tidak tergantung pada harga barang. apabila dibandingkan dengan perubahan harga. (4) kesediaan membayar dari pada konsumen terhadap suatu komoditas yang ingin dibelinya. maka margin pemasaran berikut pendistribusian akan berlainan. (3) adanya organisasi yang terorganisir dan tidak terorganisir. Keuntungan lembaga pemasaran merupakan bagian dari margin pemasaran. misalnya untuk komoditas pertanian dengan sifat yang cepat membusuk atau perishable mempunyai resiko besar sehingga margin pemasaran yang lebih besar dari pada komoditas yang tahan lama.Apabila harga suatu komoditas tetap. maka margin itu sebenarnya relatif stabil atau auflexility marketing margin. Hal ini disebabkan oleh besarnya biaya pemasaran yang ditentukan oleh jumlah atau volume penawaran barang. karena (1) sifat komoditas itu sendiri. Mengurangi biaya pemasaran dapat ditempuh dengan cara : 1) mengoptimumkan jumlah dan besarnya lembaga pemasaran yang menyelenggarakan fungsi- .

7 Fungsi Primer. pedagang perantara. Turunan dan Margin Pemasaran Thomek dan Robinson (1977) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima produsen. pedagang besar. misalnya monopsoni. oligopoly dan sebagainya. 2) memperbaiki cara kerja dari setiap lembaga pemasaran. . iklim usaha yang baik dan dengan cara menyederhanakan sistem distribusi barang. 2) memperbaiki struktur pasar yang bersaing terlalu hebat. sewa. Di dalam margin pemasaran terdapat dua komponen yaitu 1) biaya pemasaran (marketing cost) yaitu imbalan terhadap faktor-faktor yang dipakai dalam proses pemasaran terdiri dari upah. Harga Sd Sp Pr Penawaran Turunan Penawaran Primer Pf Dd Dp Permintaan Primer Permintaan Turunan 0 Q Jumlah Gambar 2. bunga dan keuntungan. 2) marketing charge yaitu imbalan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga pemasaran mulai dari pedagang pengumpul. atau disebut juga sebagai pungutan balas jasa bagi lembaga pemasaran. Usaha perbaikan biaya pemasaran dan tingkat keuntungan lembaga tersebut akan dapat meningkatkan efisiensi pemasaran.7). misalnya dengan cara self service. Keuntungan lembaga pemasaran yang berlebihan dapat pula diperkecil dengan cara : 1) memperbaiki resiko teknis dan ekonomis. processor maupun pengecer (grafik 2.fungsi pemasaran.

Dengan adanya resiko-resiko tersebut maka kualitas maupun kuantitas produk tersebut berkurang/menurun. maka keadaan margin perhitungan sama dengan margin pada komoditas tersebut dijual kepada konsumen (margin sebenarnya). Utamanya pemenuhan kebutuhan protein hewani yang berasal dari daging sapi maupun susu sapi segar yang meningkat setiap tahun. harga komoditas tersebut tetap. Dengan demikian permintaan primer merupakan permintaan konsumen (Pr) sedangkan permintaan turunan (Pd) merupakan permintaan yang dihadapi oleh petani. maka margin perhitungan akan lebih besar dari margin sebenarnya. Sebaliknya jika selama periode pengadaan mulai dari produsen sampai ke konsumen terjadi perubahan harga. akibat sifat komoditas pertanian yang mudah rusak maka dalam proses tataniaga misalnya proses pengumpulan. Sedangkan permintaan turunan merupakan hubungan antara harga dan jumlah dalam mana petani bersedia menjual produknya. Penawaran primer (Sp) merupakan penawaran yang terjadi di tingkat produsen. maka diperkirakan akibat yang terjadi sebagai berikut: (a) harga di tingkat konsumen (Pr) naik margin perhitungan lebih kecil dari margin sebenarnya. 2.7 di atas. Atmakusuma (1984) menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perhitungan margin tataniaga (pemasaran) adalah : 1) Waktu (time lag). maka semakin tinggi pula kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarga.Berdasarkan grafik 2. Adanya perubahan kualitas tersebut merupakan margin kualitas (quality margin) dan juga mengakibatkan margin perhitungan lebih rendah dari margin sebenarnya.3 Kerangka Pemikiran Seiring dengan semakin meningkatkanya kesejahteraan masyarakat. Begitupun dengan penawaran turunan (Sd) adalah penawaran yang terjadi di tingkat konsumen yang dilakukan oleh pedagang maupun oleh processor. Akibat terpisahnya pusat produksi dengan pusat konsumsi mengakibatkan pengadaannya di konsumen membutuhkan waktu. Permintaan primer merupakan permintaan atas harga dan jumlah pada tingkat konsumen. pengangkutan atau penyimpanan sering terjadi resiko rusak/susut sebagai akibat atau pengaruh iklim/cuaca atau hama/penyakit. Sebagai konsekwensi dari faktor waktu inilah menyebabkan perbedaan margin pada waktu pengumpulan dan pada waktu penjualan. Artinya selama periode pengadaan. (b) harga di tingkat konsumen (Pr) turun. . 2) Faktor resiko. terlihat bahwa margin pemasaran merupakan perbedaan harga konsumen (Pr) yang juga sebagai permintaan primer dengan harga yang diterima produsen (Pf) juga sebagai permintaan turunan dari suatu komoditas.

(Anonymouse. Vincent (1996) mengemukakan bahwa permintaan suatu barang atau jasa pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1) harga dari barang atau jasa itu sendiri.335 ekor melalui dinas pertanian Kota Batu telah merencanakan untuk dikembangkan dan ditingkatkan terus populasi peternakan sapi rakyat sampai mencapai ± 15. 2) pendapatan konsumen. Bertolak dari rencana pengembangan dan peningkatan populasi sapi perah itulah maka peluang untuk penambahan pedet jantan sapi perah melalui kelahiran akan sangat memungkinkan di masa yang akan datang.000 ekor yang akan disebar kepada petani peternak melalui Gabungan Kelompok Tani secara bertahap untuk 5 – 10 tahun ke depan bila kita inginkan petani peternak di Kota Batu sejahtera. Walau demikian kebutuhan susu secara nasional masih di impor sebesar 65-70 persen sehingga peluang untuk meningkatkan populasi sapi perah masih terbuka luas (Anonymous. Berkaitan dengan prediksi ke depan itu maka salah satu aspek yang sangat menentukan adalah pemasaran yang merupakan fokus utama dalam penelitian ini yakni bagaimana struktur. menjadikan Jawa Timur sebagai wilayah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kebutuhan susu segar nasional yaitu 41. Gaspersz. 2008). Kota Batu yang merupakan salah satu wilayah pengembangan sapi perah di Jawa Timur dengan populasi saat ini 6. perilaku dan tampilan pasar terhadap pemasaran pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.000 ekor lebih pada tahun 2006 yang tersebar di 34 wilayah kabupaten kota. 2006). 3) harga barang-barang atau .Jawa Timur yang merupakan salah satu setra produksi susu dengan jumlah populasi sapi perah sebanyak 134.15 persen.

8) atribut atau fetures dari produk tersebut dan 9) faktor-faktor spesifik lain yang berkaitan dengan permintaan terhadap produk itu. 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dari persentase peningkatan input dan 4) output menurun dengan persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan persentase penurunan input. tingkat pendapatan dan ketersediaan dari barang atau jasa itu di masa yang akan datang. Efisiensi operasional diukur dengan ratio output pemasaran dengan inputnya. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan yang tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni. Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda (Teken dan Asnawi. 1977). Menurut Kohl dan Downey (1977). Struktur pasar menurut . 6) banyaknya konsumen potensial. Apabila tidak terjadi seperti ini. 5) selera konsumen. Efisiensi operasional = Output pemasaran input pemasaran Selanjutnya efisiensi alokatif mengasumsikan bahwa output dan input dalam bentuk fisik tetap yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran.jasa yang berkaitan. 4) ekspektasi konsumen yang berkaitan dengan harga barang atau jasa. efisiensi pemasaran adalah peningkatan ratio output input yang dapat dicapai dengan : 1) output tetap sedangkan input berubah. Struktur pasar dapat dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna. 2) output berubah sedangkan input tetap.(7) pengeluaran iklan. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk.

Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual.Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. King dan Carman. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. 1991) menyatakan bahwa untuk mengetahui dua pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan model persamaan sebagai berikut ini: PA = βo + β1PB + β2Tc + εt dimana PA = harga di tingkat pasar ke-1 PB = harga di tingkat pasar ke-I+1 βo = intersep β1 = koefisien regresi Tc = Selisih biaya transport εt = galat (7) Apabila koefisien β1 = 1 maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna. (Sexton. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. 2) konsentrasi pembeli. monopsoni dan oligopsoni. pasar monopoli. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensial produk. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika β1 > 1 pasar cenderung ke arah monopsoni. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku dagang dan tampilannya yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. . sedangkan bila β1 < 1.

4 Hipotesis 1. sedangkan pola saluran yang paling dominan adalah pola saluran pemasaran dari petani langsung ke blantik (pedagang perantara). Untuk mengukur tampilan pasar dilakukan dengan: 1) efisiensi pemasaran. . 3) analisis elastisitas transmisi harga. 2. 6) penggunaan input optimum dan 7) integrasi pasar yang dilakukan melalui integrasi secara vertikal dan integrasi secara horizontal. Margin pemasaran. 4) fungsi keuntungan pemasaran. 3. Harga pedet jantan sapi perah rata-rata lebih murah di tingkat pedagang perantara atau blantik. 2. 4. share harga dan keuntungan pemasaran dari pedet jantan sapi perah lebih tinggi di tingkat pedagang perantara atau blantik dibanding pemasaran langsung di pasar hewan. Terjadi beberapa pola saluran pemasaran pedet jantan sapi perah. 5) fungsi suplai output petani. 2) margin pemasaran. Sistim pemasaran pedet jantan sapi perah yang dilakukan petani peternak di Kota Batu belum efisien.Tampilan pasar tergantung pada tingkat efisiensi dan produktifitas dari suatu perusahaan.

Desa Junrejo . Sedangkan penentuan lokasi penelitian di tingkat desa/kelurahan ditentukan berdasarkan tingkat kepadatan populasi sapi perah.Desa Tulungrejo . Junrejo Kec.1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu yang meliputi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Andhini Sejahtera yang tersebar di 9 desa/kelurahan pada 3 kecamatan dalam wilayah Kota Batu. diambil seluruhnya yaitu Kecamatan Junrejo.Desa Oro-oro Ombo . Bumiaji .Desa Dadaprejo . METODE PENELITIAN 3.Desa Tlekun .Kelurahan Songgokerto . Penentuan lokasi dengan cara purposive atau dengan cara sengaja yaitu untuk wilayah kecamatan.Desa Gunungsari .III. Batu Kec. Secara skematis lokasi penelitian disajikan sebagaimana skema berikut: Peta Lokasi Penelitian KOTA BATU Kec.Desa Sumberejo . Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji.Desa Giripurno .

populasi yang jumlahnya 100 .50 persen dan populasi yang jumlahnya lebih dari 1000 ekor dapat digunakan sampel 10 . Cara penentuan responden dengan purposive sampling yaitu petani peternak pemilik pedet jantan sapi perah.1000 ekor dapat digunakan sampel 15 . 10 responden di kecamatan Batu dan 10 responden di kecamatan Bumiaji. (2003) yaitu dengan mengambil sampel sebagai berikut. yaitu suatu teknik pengambilan atau penentuan sampel dengan tujuan tertentu dengan syarat ciri dan sifat populasi telah diketahui sebelumnya. dengan syarat peternak yang dijadikan responden mempunyai ternak lebih dan 3 ekor. dengan penentuan jumlah peternak sebagai responden 30 orang untuk peternak sapi perah. untuk populasi ternak yang jumlahnya kurang dari 100 ekor. sampel yang digunakan paling kurang 50 persen.15 persen. sehingga didapat 10 responden di Kecamatan Junrejo.peternak responden dan lembaga-lembaga pemasaran dengan cara mengajukan pertanyaan yang . Untuk menentukan petani . Sedang penentuan jumlah responden pada tiap desa dengan cara proporsional purposive.peternak responden dilaksanakan secara purposive sampling. 3.3. sehingga diperoleh 30 peternak sapi perah. hal ini sesuai dengan Surachman (1989) dalam Sumarto.2 Metode Pengambilan Sampel Populasi pedet jantan tahun 2008 di wilayah kota Batu perah sebanyak 259 ekor.3 Metode Pengumpulan Data Pengambilan data primer langsung dari petani . Hal ini sesuai dengan Arikunto (1997) dalam Sunarto (2002).

3. Biaya Pemasaran (marketing cost) adalah semua biaya yang dikeluarkan petani penggemukan.). Margin Pemasaran (marketing margin) adalah perbedaan harga di tingkat. pedagang pengumpul dan pedagang perantara/blantik./ekor). 3. . 5. 2. pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) mulai dari pintu gerbang petani peternak sampai di tangan konsumen yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). petani penggemukan. dinyatakan dalam jumlah satuan rupiah per ekor (Rp. 4. Share harga yang diterima petani (farmer’s share) adalah bagian harga yang diterima petani peternak dari harga yang dibayar petani penggemukan. Harga di tingkat petani peternak adalah harga jual pedet jantan sapi perah yang merupakan hasil transaksi antara petani peternak dengan petani penggemukan.telah dipersiapkan dalam bentuk kuesioner. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan masalah yang diteliti mulai dari tingkat desa sampai tingkat kota Batu. pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) pedet jantan sapi perah.4 Definisi Operasional 1. pedagang pengumpul dan pedagang Perantara (blantik) dan dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp. Keuntungan Pemasaran (merkezing profit) adalah selisih margin pemasaran dengan biaya pemasaran dinyatakan dalam rupiah (Rp).

Penampilan data nilai jual pedet jantan sapi perah merupakan hasil wawancara dari petani peternak responden dan lembaga-lembaga seluler pemasaran. Biaya transportasi adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh pedagang untuk mengangkut ternak dari daerah asal/tempat petani peternak sampai pasar ternak dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp) 10. Jumlah pemilikan pedet adalah jumlah pedet jantan sapi perah yang dimiliki petani peternak termasuk jumlah pedet yang sudah dijual dalam 2 tahun terakhir ini dan dinyatakan dalam satuan ekor. 8. Responden adalah petani peternak atau salah satu anggotanya yang tinggal dalam satu atap/rumah baik sebagai anak atau istri yang dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. . 7. Pada tahap pertama adalah untuk menganalisis : a) efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah yang selama ini dilakukan oleh petani peternak.7 bulan baik sapi sapi perah.6.5 Metoda Analisis Data Metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini secara garis besar dilakukan untuk menjawab tujuan dari pada penelitian ini. 9. Pedet jantan adalah anak sapi yang berumur 0 . b) menganalisis pengaruh cara pembayaran dan perbedaan jarak tempat tinggal petani peternak dan pasar hewan yang diterima petani peternak. 3.

Hay dan Morris dalam Widiyantana (1995) menyatakan bahwa . sebagaimana yang dikemukakan oleh Saefuddin (1982) bahwa untuk mengetahui efisiensi pemasaran di negara-negara yang sedang berkembang lebih tepat digunakan pendekatan struktur.5. perilaku dan tampilan pasar.1 Analisis Struktur Pasar Pendekatan yang dipergunakan untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi di Kota Batu adalah a) analisis konsentrasi ratio (Kr). perilaku dan tampilan pasar (S-C-P). Namun demikian secara empiris pendekatan yang sering digunakan oleh para peneliti untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah pendekatan struktur.5. Analisis Konsentrasi Ratio Yang dimaksudkan dengan konsentrasi ratio dalam penelitian ini adalah jumlah pedet jantan sapi perah dan pedet jantan sapi potong yang dibeli oleh pedagang tertentu dibandingkan dengan jumlah yang diperdagangkan.1.3. b) analisis elastisitas transmisi harga dan c) analisis deskriptif a. Conduct dan Performance (S-C-P) 3.1 Analisis Efisiensi Pemasaran Sesungguhnya sampai dengan saat ini belum ada indikator yang pasti/baku yang dapat dipergunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran. Oleh karena itu dalam menganalisis efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu digunakan pendekatan Structure.

Kr = Jumlah yang dibeli × 100% Jumlah yang diperdagangkan Dikemukakan pula bahwa apabila terdapat satu pedagang yang mempunyai Kr minimal 95% maka pasar cenderung ke pasar persaingan monopsoni. b. Transmisi Harga Untuk melihat hubungan elastisitas harga di tingkat petani dengan elastisitas harga di tingkat pedagang perantara. Apabila terdapat empat pedagang yang mempunyai Kr minimal 80% maka pasar tersebut mempunyai tendensi ke persaingan oligopsoni dengan konsentrasi tinggi.konsentrasi ratio (Kr) dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut. 2002) adalah: Et = dPn/dPf. Sedangkan apabila terdapat delapan pedagang dengan Kr minimal 80% maka tendensi pasar tersebut mengarah ke struktur pasar oligopsoni dengan konsentrasi sedang. maka dilihat elastisitas transmisi harganya. Model yang digunakan menurut (Sudiyono.Pf/Pr Dimana: Et d Pr d Pf Pr Pt’ : Elastisitas transmisi harga : Perubahan harga di tingkat pengecer : Perubahan harga di tingkat petani : Harga di tingkat pengecer : Harga di tingkat petani (8) .

minimum. LSD Uji LSD didalam penelitian ini memanfaatkan fasilitas uji lanjut dari analisis varian yang pada apalikasinya memanfaatkan program aplikasi SPSS 15.Kemudian margin pemasaran (M) merupakan fungsi linier dari harga di tingkat pengecer yaitu: M= a+ b Pr. Penerapan uji LSD dimaksudkan sebagai uji bandingan untuk mengetahui signifikansi perbedaan volume perdagangan pedet sapi perah jantan dan harga jual pedet sapi perah jantan. . maka Pr = Pr + a± b Pr atau dapat ditulis Pr = (Pf+ a) / (1-b) Persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi: Et = 1/(1 . ratarata. Analisis deskriptif yang dipergunakan meliputi nilai maksimum. d.b). dan prosentase.Pf/Pr c. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dipergunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden.

2006). menjadikan kota Batu memiliki alam yang subur. dengan luas wilayah masing-masing kecamatan sebagai berikut: (1) kecamatan Batu 46.1. Luas wilayah Kota Batu 19. (2) kecamatan Junrejo 26.1 Letak dan Luas Wilayah Kota Batu terletak pada 122°. Secara administrasi kota dibagi menjadi 3 wilayah kecamatan yang meliputi 20 desa dan 4 kelurahan.72 ha atau 0.8°. 45 .234 ha (13%) dan (3) kecamatan Bumiaji 130. indah dan dingin (Anonymous. 2006). Dari sisi geografi posisi kota Batu berada pada ketinggian 700 in . 4.1600 m dpl.189 ha (64%). dan secara umum dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu.26’ LS. daerah lereng dan berbukit dengan proporsi lebih luas yang diikuti dengan dataran rendah yang lebih sempit (anonymous.42 peran dan total luas wilayah Jawa Timur.1 Topografi Topograti kota Batu sebagian besar wilayah perbukitan dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi sampai sedang.377 ha (23%).57’ BT dan 7°.122°.17’ .BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.44’ . dan total luas wilayah Kota Batu.908.

(3) jenis tanah alluvial yaitu.86 ha.4. 4.19 ha dan kecamatan Bumiaji 2. musim hujan dan musim kemarau. meliputi kecamatan Batu 239. 2006).25 ha dan kecamatan Bumiaji 1. kecamatan Junrejo 741. Ini berarti lebih basah dibanding tahun sesudahnya. dan (4) jenis tanah latosol meliputi kecamatan Batu 260.34 ha. meliputi: kecamatan Batu 1.00 ha dan kecamatan Bumiaji 408. jenis tanah yang cukup subur. (2) Jenis tanah kambisol yaitu.04 ha. 2006). Sementara pada periode sebelumnya. Kondisi cuaca relatif lebih kering dari tahun 2006 sampai 2007 dibanding tahun-tahun sebelumnya.89 ha.5 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 128 hari.526.85 ha.831. Kota Batu mengikuti perubahan putaran 2 iklim. kecamatan Junrejo 1. .31 ha. rata-rata tinggi curah hujan mencapai 111 mm/bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 108 hari. Kecamatan Junrejo 217.1.61 ha (Anonymous.873. kecamatan Junrejo 199. meliputi kecamatan Batu 889. dengan rata-rata curah hujan 97.395.85 ha.1.3 Jenis Tanah Kondisi kesuburan tanah dibagi menjadi 4 jenis tanah yaitu: (1) jenis tanah Andosal merupakan tanah paling subur. Musim hujan dimulai pada bulan September dan diakhiri pada bulan Juni. namun hari hujan lebih sedikit (Anonymous.395.93 ha dan kecamatan Bumiaji 1. jenis tanah yang kurang subur dan mengandung kapur.2 Curah Hujan Seperti tempat lain di Indonesia.

Sehingga dibandingkan dengan usaha ternak yang lain maka ternak sapi perah sangat baik dikembangkan di Kota Batu. Ternak sapi perah perkembangannya cukup baik di Kota Batu.4. Usaha peternakan rakyat di Kota Batu menempati posisi kedua setelah usaha tani tanaman.4 Batas Wilayah Batas-batas wilayah Kota Batu adalah: Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Mojokerto dan kabupaten Pasuruan. Jenis-jenis ternak yang dipelihara meliputi. 2006). Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Malang. kambing perah. sapi perah. Dengan demikian posisi kota Batu sangat strategis sekali karena di semua wilayah perbatasan ini telah tersedia jalan raya yang dapat mendukung mobilitas kegiatan pembangunan pertanian terutama dalam pemasaran produk pertanian (Anonymous. ayam ras. sapi potong. ayam buras. 2006).2 Keadaan Umum Peternakan Masyarakat Kota Batu sudah sejak lama memelihara serta membudidayakan ternak. kelinci.1. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Malang. 4. karena selain didukung oleh iklim yang cocok juga memiliki kepastian dalam pemasaran hasil produksi. Hal ini . puyuh dan itik serta ternak kuda sebagai transportasi wisata (Anonymous. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Blitar dan kabupaten Malang. kambing/domba.

787 : 3. .000 Sumber : Dinas Pertanian Kota Batu Triwulan I 2008 Kaitannya dengan perkembangan ternak sapi perah maka usaha ternak sapi perah ke depan memiliki prospek untuk ditingkatkan.800 : 52.500 ha sejak tahun 1999.400 : 77.2.mengingat kota Batu termasuk kota tujuan wisata sehingga kebutuhan akan susu segar oleh hotel dan restoran dan usaha-usaha yang bergerak di bidang jasa makanan sangat mendukung perkembangan usaha sapi perah baik saat ini maupun masa yang akan datang.1 Data Populasi Ternak Populasi ternak di kota Batu sesuai data Populasi ternak sampai semester I tahun 2008 adalah: Sapi perah Sapi potong Kambing Domba Kelinci Ayam Petelur Ayam Pedaging Ayam Buras Burung Puyuh : 6. Dan tak kalah penting limbah dari pertanian juga merupakan alternatif lain sebagai bahan pakan ternak sapi perah. 4.703 : 7.688 : 86.374 : 25.335 : 2. hal ini karena ketersediaan makanan ternak yang disebar oleh dinas pertanian kota Batu kepada masyarakat dalam bentuk paket-paket proyek sebanyak 1.365 : 2.

V.Desa Sumberejo .Desa Giripurno .Desa Gunungsari . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan harga pedet jantan sapi perah antara harga di tingkat petani peternak dengan harga yang terjadi di tingkat lembaga pemasaran maka dilakukan juga penelitian pada masing-masing lembaga tersebut yaitu 10 responden petani penggemukan. Adapun lokasi daerah penelitian adalah : Kecamatan Junrejo .Desa Tulungrejo . Sebagai responden adalah anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Batu Bersatu sebanyak 30 responden.Desa Dadaprejo .Desa Junrejo .1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu Jawa Timur yang tersebar pada 9 desa/kelurahan di 3 kecamatan yang ada di kota Batu.Kelurahan Songgokerto Kecamatan Bumiaji . 10 responden pedagang pengumpul dan 10 responden pedagang perantara (blantik).Desa Oro-Oro Ombo .Desa Tlekung Kecamatan Batu . sehingga jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 60 orang.

2 Sistem Pemeliharaan Ternak Pada umumnya pemeliharan ternak sapi perah di Kota Batu telah dilakukan secara intensif dimana Kehidupan dan berproduksi secara keseluruhan dilaksanakan di dalam kandang dan ditangani oleh peternak dan keluarganya. Khusus tentang tenaga kerja secara umum semuanya menggunakan anggota keluarga. baik secara perorangan maupun berkelompok telah melakukan kerja sama dengan PT Perhutani sebagai pemilik lahan hutan untuk disewakan kepada petani peternak untuk menanam tanaman hijau makanan ternak. . karena selain kepemilikan ternak rata-rata 3 . sehingga dalam melakukan penjualan pedet dan ternak masyarakat lainnya. dan dari pengamatan lebih banyak petanipeternak menggunakan mobil pick up. namun sebagian besar petani peternak di Kota Batu.0. (HMT) dan ini sangat mendukung aktifitas kegiatan usaha peternakan sapi perah yang dikembangkan di Kota Batu. juga bahwa usaha tani ternak rata-rata masih menjadi usaha sampingan dan usaha keluarga. dapat dilakukan dengan menggunakan mobil.5 Ha untuk setiap petani. 5.5 ekor setiap keluarga. Walaupun rata-rata kepemilikan lahan untuk kebun HMT sangat sempit antara 0.3 .Secara umum prasarana transportasi tidak ada kendala.

00 35.3 Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari petani peternak sapi perah 30 orang. serta pedagang perantara atau blantik sebanyak 10 orang.00 40. Visualisasi karakteristik petani penggemukan sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: .00 45. dengan rata-rata umur 40 tahun (39.00 47.00 51.00 52.00 33. Dari 10 responden yang.00 46.52 tahun. 35.1 Umur Responden Rata-rata umur responden petani peternak sapi perah berkisar antara 31 .00 48.00 Rata-rata umur responden petani penggemukan berkisar antara 34 .00 55.00 38. petani penggemukan 10 orang.3.00 32.00 34.83 tahun).3%.5. 5.1 Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 36. pedagang pengumpul 10 orang.00 37. Dari 30 responden yang diteliti petani peternak yang terbanyak berumur 32 tahun.00 39. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5.55 tahun. dan 45 tahun yang masing masing sebesar 13. dengan rata-rata umur 39 tahun.

Dari 10 responden yang diteliti pedagang pengumpul yang terbanyak berumur 41 tahun yaitu sebesar 20%.00 36.00 45.00 52.00 Responden yang berprofesi sebagi pedagang pengumpul berkisar antara 36 .00 40.00 52.00 38.Diagram 5.00 41.00 37.3 Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur umur Umur 36.00 35.00 40.00 34.00 37. dengan rata-rata umur 41 tahun. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5.52 tahun.00 39.00 43. .00 Sedangkan untuk responden pedagang perantara/ blantik yang termuda berusia 31 tahun dan yang paling tua berusia 52 tahun.00 45.00 39.2 Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.

Visualisasi umur pedagang perantara dapat dilihat dalam diagram pie sebagai berikut: Diagram 5.2 Pendidikan Responden Responden dalam penelitian ini mempunyai latar belakang pendidikan formal yang bervariasi mulai dari sekolah dasar hingga perguruan Tinggi.4 Karakteristik Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 39.00 5.00 37.Pedagang perantara yang paling banyak berusia 45 tahun yaitu 20%. Visualisasi tingkat pendidikan formal untuk petani peternak dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut: .00 45.00 36.00 40.3.00 52.00 35.00 34.

Diagram 5.5 di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal terbanyak yang pernah ditempuh oleh peternak sapi perah adalah SLTP yaitu sebanyak 15 responden atau 20%. sedangkan yang paling sedikit adalah yang pernah menempuh pendidikan formal dibangku Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 1 orang atau 3.5 Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA PT Diagram 5. Visualisasi tingkat pendidikan formal petani penggemukan ditampilkan dalam diagram pie berikut: Diagram 5.3%.6 Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah .

Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh petani penggemukan tidak jauh berbeda dengan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul. diagram tingkat pendidikan pedagang pengumpul dapat dilihat sebagai berikut: Diagram 5.Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram pie di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal petani penggemukan bervariasi antara SD hingga SLTA.7 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah . Petani penggemukan yang paling banyak adalah yang pernah menempuh pendidikan di bangku SLTP yaitu sebanyak 7 orang atau 70%. Dan yang paling sedikit adalah tamatan sekolah dasar yaitu sebanyak 1 orang responden atau 10%.

Diagram 5.00 3.00 .00 2.Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal pedagang pengumpul bervariasi antara SD.8 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan 1. dan SLTA. SLTP. Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul yang paling banyak adalah bangku SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%.

7 30 100 10 100 Sumber : Diolah dari data primer 2008 10 100 10 100 .7 3 30 13 43.3 10 10 6 20 2 6. Sebagai perbandingan rincian jumlah ART pada penelitian ini seperti pada tabel berikut ini: Tabel 5.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden Jumlah anggota rumah tangga pada responden berkisar antara 3-7 orang.3 6 60 7 23.Diagram diatas menggambarkan tingkat pendidikan formal pedagang perantara atau blantik. 5.3. sedangkan yang paling sedikit adalah SD yaitu sebanyak 1 responden atau 10%.1 : Rincian Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 Responden Jumlah ART Petani Peternak F 3 4 5 6 7 Jumlah Petani Penggemukan F % Pedagang Pengumpul F 4 4 2 Pedagang Perantara/ Blantik F 4 5 1 - % % 40 40 20 % 40 50 10 2 6. Tingkat pendidikan formal yang paling banyak pernah ditempuh oleh pedagang perantara adalah SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%.

5.00 II 6-11 13 30. Sedangkan yang dimaksud dengan lama pemeliharaan adalah waktu yang diperlukan seorang petani peternak dalam memelihara ternak sapi terhitung mulai memelihara. Dengan demikian pengelolaan sapi perah selama ini tidak menggunakan tenaga kerja dari luar karena sudah dipenuhi oleh anggota rumah tangga sendiri.Petani peternak. Jumlah anggota rumah tangga yang paling banyak adalah 4 orang.2 Pengalaman Berusaha Dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah Periode Kisaran Lama Pemeliharaan waktu Responden (th) Jumlah %) (org) Responden : Petani Peternak Sapi Perah I 2-5 15 50.33 30 100.33 IV >17 1 3.00 . pedagang pengumpul.3% hingga 60%. dan pedagang perantara atau blantik dalam penelitian ini semua telah berkeluarga. petani penggemukan.3. Tabel 5. yang berkisar antara 43.4 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Yang dimaksud dengan pengalaman berusaha ternak sapi perah dan sapi perah sampai dengan saat penelitian ini dilaksanakan dan mungkin akan terus berlanjut di masa-masa yang akan datang atau dengan kata lain sudah berapa lama petani peternak memelihara ternak sapi.34 III 12-16 1 3.

3.00 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Menyimak tabel 2 diatas dan keterangan saat wawancara selama penelitian bahwa keseluruhan petani peternak responden dalam pemeliharaan ternak sapi merupakan hasil pengembangan ternak milik sendiri yang merupakan peninggalan orang tua. .00 II 13-20 2 20. Peternak sapi perah Yang dimaksud dengan jumlah pemilikan ternak adalah jumlah ternak sapi perah yang dimiliki peternak responden di wilayah penelitian dan jumlah pedet jantan yang dapat dijual.Responden Lembaga Pemasaran I 4-12 7 70. namun masih rendah dalam meningkatkan mutu dan kualitas usaha tani.3. 5. rata-rata responden telah menguasai. sehingga dari sisi teknis budidaya ternak. karena sistem yang digunakan masih bersifat tradisional.00 10 100. Dari hasil wawancara saat penelitian bahwa status ternak sapi dari petani peternak responden adalah kepemilikan hak milik sendiri yang dikembang responden ternak sapi perah. 5.6 Jumlah Pemilikan Ternak a. seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini.00 III > 21 1 10.5 Status Pemilikan Ternak Yang dimaksud dengan status kepemilikan ternak adalah kedudukan atau posisi terhadap ternak sapi yang sedang dipelihara.

pemeliharaan 2–4 .03 13.00%) yang diikuti dengan skala pemilikan 6-8 ekor ternak.66 13 10 < 0 0 0 Jumlah 30 100 29 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Pada tabel di atas untuk petani peternak sapi perah responden memiliki atau memelihara ternak sapi perah berkisar pada 4-5 ekor ternak lebih banyak (50.3 4 9-10 2 6.7 Kondisi Pendapatan Petani Peternak Dari Setiap Ekor Pedet Yang Dijual Hasil temuan dalam penelitian ini pada peternak sapi perah.79 44.34 31.99 3 4-6 15 50 9 6-9 10 33. dan untuk penjualan pedet terbanyak terdapat pada pemilikan 9-10 ekor ternak (44.Tabel 5.3. Pada dua tahun terakhir hal ini berlaku untuk semua strata pemilikan ternak.83 0 100 0-3 3 9.83%) jumlah pemilikan sebagaimana yang diperlihatkan pada tabel 4 diatas sudah termasuk jumlah pedet yang dijual. rata-rata selama pemeliharaan pedet jantan berdasarkan lama pemeliharan sampai dijual adalah untuk periode pemeliharan 0–2 bulan membutuhkan biaya Rp 530.000. 5.3: Jumlah Pemilikan Dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah Dari Petani Peternak Tahun 2008 Strata Pemilikan (ST)(Ekor) Responden Jumlah % Penjualan Jumlah % 10.

000.000 untuk 1 mobil pick up/truk. .000 – Rp 75. karena rata-rata penjualan pedet setiap kali hanya 1 ekor ternak.bulan membutuhkan biaya Rp 595. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata petani peternak sapi perah menjual pedetnya ke blantik karena alasan selain langsung memperoleh uang serta juga tidak mau direpotkan dengan biaya transportasi. dan periode pemeliharaan 4–7 bulan sebesar Rp 670. Perlu diketahui bahwa pengggunaan pakan hijauan pada periode umur pemeliharaan ini rata-rata belum digunakan. Sedangkan biaya transportasi dalam pengangkutan ternak dari kandang ke pasar hewan rata-rata antara Rp 50.000.

Fenomena lain dari penjualan .230.00 2.189.66 3. pemasaran pedet jantan sapi perah rata-rata tidak mengalami kendala.4 Sistem Pemasaran Ternak Pada prinsipnya. karena alasan cepat mendapat hasil penjualan atau uang kontran.22 4.154.154.480.189. Sementara saluran pemasaran dari ternak pedet jantan sapi perah masih didominasi oleh Pedagang Peranta (blantik).00 4.470.44 4.500.00 2.44 4.55 3.190.22 3. karena harga dalam tabel di atas tidak termasuk biaya transport dan retribusi sehingga petani peternak memilih penjualan melalui blantik lebih dominan.44 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Penggemukan Sumber : Diolah dari data primer 2008 Bila diperhatikan selisih harga antara penjualan melalui blantik dan penjualan langsung ke pasar ternak tidak berbeda jauh.55 3. 5.097.Tabel 5. tetapi berdasarkan taksiran dan umur ternak.4: Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006-2008 Jual Melalui Tahun 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 Harga Jual Rata-rata 2.44 2.222.231. namun disayangkan bahwa dalam menentukan harga belum menggunakan berat hidup.

5. perilaku.7% Pedagang Pengumpul Petani penggemukan Pasar Hewan 5. Analisis transmisi harga .. Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Peternak 65% 12.5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Untuk mengetahui efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu dapat dilakukan dengan struktur. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa kecenderungan peternak menjual ternak-ternak mereka pada saat lebaran dan hajatan keluarga. tetapi juga dapat dilihat dari elastisitas harga dan konsentrasi pasar.1 Analisis Struktur Pasar Untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi dalam hal ini pedet jantan sapi perah di Kota Batu tidak hanya dengan melihat banyak penjual dan pembeli di pasar. dan tampilan pasar (SCP) 5. a.3% 12% Blantik 10.ternak adalah bila terjadi musim kemarau karena kekurangan bahan pakan sehingga kecenderungan peternak menjual ternak-ternaknya.

maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 853 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22. dan pedagang perantara/blantik. petani penggemukan.218) (0.492) =0.130 + 0. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 1. pedagang pengumpul.492 yang .853.038) =(5.853 lnPp Se tstat R2 ttabel Pf Pp = (136.580) (22.Analisis transmisi harga atau disebut juga analisis fleksibelitas transmisi harga dilakukan untuk mengetahui respon harga pedet jantan sapi perah ditingkat peternak karena perubahan harga yang terjadi di tingkat.90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang pengumpul (Rp/ekor) Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0.654 =1. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan harga pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPf = 760.000.

jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai

η = 0,654, dapat diartikan bahwa perubahan harga pada tingkat
petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan harga pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPf = 780,790 + 0,852 lnPg Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (138,191) (0,039) =(5,650) (22,039) =0,644 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat petani penggemukan (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,852, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 852 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,039 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,644, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan

mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 64, 4%. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk

pedagang perantara atau blantik adalah: LnPf = 773,158 + 0,850 lnPb Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (135,742) (0,038) =(5,696) (22,485) =0,654 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang perantara (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,850, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 850 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,485 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,654, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas harga pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul, petani penggemukan, maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda. Tiap perubahan harga Rp 1000 rupiah akan meningkatkan harga pedet pada petani peternak sekitar Rp 850. Dari hasil analisis regresi linear di atas menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke erah persaingan sempurna. Selain itu indikasi bahwa pasar pedet sapi perah jantan ke arah sempurna adalah jumlah pembeli dan penjual cukup banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan; Dalam keadaan pasar persaingan sempurna, petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu.

b. Analisis konsetrasi ratio (Kr) Yang dimaksud dengan konsentrasi ratio adalah berapa persen volume transaksi yang dikuasai oleh beberapa pedagang. Rata-rata volume transaksi antara pedagang yang satu dengan yang lain tidak sama kemampuannya. Ada yang mampu membeli rata-

rata hanya 6 ekor setiap bulan dan ada yang mampu membeli sampai 30 ekor setiap bulan .

baik secara kualitatif maupun secara .82 7.85 7.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.93. hal ini disebabkan oleh jumlah pedagang dipasar hewan jumlahnya lebih banyak dibanding dengan jumlah petani penggemukan.5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.96 6.81 12. kemudian pasar blantik sebesar 24.36 6. Adanya perbedaan konsentrasi ini juga disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah pedagang yang ada.9 4.58 6.44.44 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Apabila disimak tabel di atas Konsentrasi rasio paling besar terdapat pada pasar hewan yaitu sebesar 40.19 4.26 % 26.06 5 4.97 15.Tabel 5.96 7.2 Analisis Perilaku Pasar Analisis perilaku pasar dilakukan untuk mengetahui praktek-praktek penentuan harga dalam pasar.42 % 19 15 13 11 10 9. Sebagai misal rasio konsentrasi pada petani penggemukan lebih kecil dari rasio konsentrasi pasar hewan.58 8.67 5.55 15. 5.89 8. dan konsentrasi paling kecil pada petani penggemukan sebesar 14.5.26.19 4.19 4.44 100 100 % 22.22 14.93 5 3.37.15 6.27 8. Sedangkan untuk Blantik konsentrasi volume paling besar dibanding pedagang lainnya karena petani peternak lebih suka menjual pedet sapi perahnya ke blantik dengan alasan cepat mendapat hasil penjualan. Dilihat dari konsentrasi volume perdagangan yang pada keseluruhan pedagang tidak ada yang mencapai 80% maka struktur pasar pedet sapi perah jantan di kota Batu mengarah pada persaingan Oligopson.11 8.89 8.97 20.6 4.15 6.93 5.44 100 14. pedagang pengumpul 20.11 8.9 6.6 100 % 21.93 5.67 5.2 6.15 11.36 11.79 132 100 24.59 11.93 13.59 11.42 4.42 113 99.33 7.22 14.81 12.

640) .355) (17. sedangkan penentuan harga secara kuantitatif dapat dijelaskan dengan analisis regresi linear sederhana. Tabel 5. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20.44 40. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna karena selisih konsentrasi tidak terlalu besar dan tidak mencapai angka 80.93 14.26.93 dan petani penngemukan sebesar 14. Praktek penentuan harga secara kualitatif dapat dijelaskan secara deskriptif.37 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan volume perdagangan pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPt Se tstat = 12.331 + 3.6 : Volume Transaksi Dan Konsentrasi Ratio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Pasar Pedagang Pengumpul Petani Pengemukan Blantik Pasar Hewan Volume Transaksi 113 77 130 218 Konsentrasi Rasio 20.26 24.6 di atas menggambarkan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24.kuantitatif.209) =(4.688 lnPp = (2.44.832) (0.

688.975.R2 ttabel Pt Pp =0. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan sapi perah total 97.308) (0. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 3.436) (9.228.4%.929 + 5. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan Volume perdagangan pedet jantan sapi perah di tingkat pedagang pengumpul sebesar 1 ekor. maka akan meningkatkan volume perdagangan total sekitar 3 sampai 4 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 17.578) =(2.334 lnPg = (5.227) .228 = Volume Perdagangan pedet Sapi Perah Total = Volume perdagangan di tingkat pedagang pengumpul Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung.975 = 2.640 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. Sedangkan nilai η = 0. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan volume perdagangan pedet sapi perah jantan pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPt Se tstat = 12.

334.228 = Volume perdagangan pedet sapi perah jantan total = Volume perdagangan di tingkat petani penggemukan Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 5.169 + 4.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .329) =(-0.227 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.035) (12.951 =2.914. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume di tingkat petani penggemukan sebesar 1 ekor. maka akan meningkatkan volume perdagangan sapi perah jantan total sebesar 5 – 6 ekor.228. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pedet sapi perah pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan total sebesar 91.R2 ttabel Pt Pg =0. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pedagang perantara atau blantik adalah: LnPt Se tstat R2 ttabel Pt = -0. 4%. besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 9.914 =2.861) (0. Sedangkan nilai η = 0.104 lnPb = (4.470) =0.

Sedangkan nilai η = 0.206) =(-1.890 lnPh Se tstat R2 ttabel Pt = (4. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pasar hewan adalah: LnPh = -8.951.995 + 2.833) (13.961 =2. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat blantik sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 4 – 5 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.228.907) (0. Secara logis konstata yang bernilai negatif tidak ditafsirkan karena tanpa ada pedagang perantarapun masih ada perdagangan pedet sapi perah.944) =0. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat blantik akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 95.14%.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .Pg = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pedagang perantara Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 4.104.

Sedangkan nilai η = 0. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat pasar hewan akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 96.5.228.890. petani penggemukan. 5.Ph hewan = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pasar Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 2. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat pasar hewan sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 2 – 3 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.1%. maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. Tiap perubahan karena hampir secara keselurauhan berpengaruh lebih dari 90 % hal ini menunjukan adanya persaingan yang sempurna. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas perubahan volume perdagangan pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul.951. digunakan pendekatan atau .3 Analisis Tampilan Pasar Untuk mengetahui tampilan pasar ternak sapi perah di Kota Batu yang dilakukan petani peternak.

776 Taraf Nyata 95% Batas Batas Bawah Atas 93. Secara matematis dapat dinyatakan: Fs = Pf x 100% Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Hasil Perhitungan share harga ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.983 104.7 di atas terlihat bahwa rata-rata share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98.analisis farmers share atau share harga yang diterima petani peternak Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share). Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga ditunjukan dalam tabel hasil uji LSD sebagai berikut: .084 93.312 98.908 Standar Error 2.157.761 103.458 104.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak.084 dan tertinggi Rp 104.533 hingga Rp 99.357 Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Blantik Sumber : Diolah dari data primer 2008 Berdasarkan tabel 5.776 2.533 98. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen.862 93.776 2.7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa Di Kota Batu Tahun 2008 Ratarata 99.

95% Confidence Interval Sig.9283 7.92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -. Error Pedagang Pengumpul Penggemukan . Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen.92624 Petani Pedagang Perantara/ .924 -7. .0815 -8.0815 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Hasil Uji LSD pada tabel 5.Tabel 5.3029 8.4854 . Lower Bound Upper Bound .9283 8.918 . bahkan seluruhnya berada di atas 0.8. Analisis Margin Pemasaran Margin pemasaran adalah perbedaan harga di tingkat konsumen yang dalam penelitian ini adalah harga pedagang perantara dengan harga yang diterima oleh produsen atau petani peternak.4039 3.4039 3. pedagang pengumpul.1108 6. Bila harga konsumen itu kecil.7786 3.3322 7. Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0.843 -6.3746 3.3029 -8.05.3746 3.8 Perbandingan perbedaan share harga yang diterima petani menggunakan LSD Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.92624 Pedagang Perantara/ -. maupun pedagang perantara tidak terdapat perbedaan yang signifikan. a.843 .8 di atas menginformasikan bahwa share harga yang diterima petani baik melalui petani penggemukan.3322 8.918 .92624 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.1108 -7.92624 Blantik Petani Penggemukan .92624 Based on observed means.924 .7786 3.4854 -8.

687 111.511 2430.594 5572.261 1629.177 3437.4 Bulan 3 .687 111.573 1992.927 4426.750 Std.511 3485.687 111. Error 111. Jika pada tahun 2006 harga pedet usia 0.687 111.7 Bulan 0 .927 4461. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik.687 111.417 dengan estimasi harga terendah Rp.083 5353.239 5134.4 Bulan 3 .500 4242.2 bulan rata-rata Rp 1. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 .417 2211.687 111.239 2999. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah.2 Bulan 2 .410.823 1990.9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 5.156 2993.667 3266.4 Bulan 3 .333 4207.344 3431.844 2429.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.656 4022. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar. misalnya harga suatu barang naik.000 3212. tetapi biaya pemasaran tepat.823 3047.2 Bulan 2 .687 111.906 2007 2008 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5. Perubahan harga pedet sapi perah jantan berdasarkan umurnya dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.083 3218.7 Bulan 0 .turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil.9 di atas memberi gambaran bahwa harga pedet sapi perah jantan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.687 111. maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar.489 3987. .2 Bulan 2 .667 2210.7 Bulan Mean 1410.

659 209.585 203.858 .118 -225.299 Pedagang Pengumpul -2.363 -104. .363 -498.733 -222.a .299 Petani Penggemukan 15.299 Petani Penggemukan 310.005 .733 225.1.299 Blantik 2.474 -85.880 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.852* 105. pada tahun 2007 meningkat menjadi rata-rata Rp 2.229 498.216 dan harga tertinggi Rp 1. Sedangkan perbandingan harga pedet jantan sapi perah ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.299 Petani Penggemukan Pasar Hewan -310.006 .10 di atas menunjukan perbedaan rata-rata harga pedet sapi perah tanpa memperhitungkan biaya transportasi.10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std. serta perbedaan keadaan sapi perah yang diperdagangkan.299 Pedagang Pengumpul -18.741* 105.844 dan harga tertinggi Rp.299 Blantik Pasar Hewan -294.511 187.192 501.299 Blantik 294. 2.889 105.573.299 Blantik -15.192 -209.003 . Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).926 105.926 105.548 190.880 .005 .210.000 dengan estimasi harga terendah Rp 1.229 -203. The mean difference is significant at the . Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.299 Based on estimated marginal means *.429.889 105.852* 105. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85.05 level.815* 105.696 Sig.511 -501.437 104.585 -187.006 .474 88.978 .851 dengan harga jual ke pedagang pengumpul.548 -517.299 Petani Penggemukan 18.963 105.118 517.299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291.191.437 -88.858 .003 .978 . Jika harga pedet sapi perah di pasar hewan diasumsikan sebagai harga dari peternak ke konsumen maka ada selisih harga rata-rata sebesar Rp 291. a.156 adanya perbedaan variasi harga ini juga disebabkan adanya perbedaan saluran perdagangan.629.815* 105.963 105.990.696 222.741* 105.659 -190.

188.00 Rp8.000.200.740 ke petani penggemukan.278 Rp3.00 Rp3.00 Rp3.667 Rp110.519 42.000.000 Rp25.00 Rp25.000 Rp269.000.12 Estimasi Harga Jual Rp3.00 Rp3.560. b.000 Rp249. dan selisih Rp 310.5 Rp1.560.301.296 25.094.560.778 Rp100.000.11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang Dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 Komponen Biaya Komponen Biaya Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Harga Beli Transport Jumlah Harga Beli Transport Retribusi KTA Jumlah Harga Beli Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Rp1.000 Rp3.010.000 Rp85.000.172.700.04 Petani Penggemukan Rp3.519 Keuntungan Rupiah Share Rp473.667 Rp3.000.466.704 Rp75.870 100 Sumber : Diolah dari data primer.000 Rp93. 2008 .34 Jual Melalui Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Rp3.814 dengan harga jual ke pedagang perantara/ blantik.290.500 Rp100.000 Rp85.483.000 Rp2.000 Rp3.00 Rp1. Tabel 5.191.722 8. Share Keuntungan Pedagang Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah distribusi keuntungan diantara lembaga pemasaran.333 24.704 Rp3.selisih harga sebesar Rp 294.

04% dari margin pada tingkat pedagang perantara. Hal ini menyebabkan margin pemasaran semakin besar. Struktur pasar yang ada mengarah ke persaingan duopsoni menyebabkan pedagang perantara mampu mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tingginya Keuntungan pedagang perantara ini mungkin disebabkan oleh karena dalam menjual ternaknya petani peternak tidak menggunakan standar harga yang ada. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24.. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. .Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Rata-rata dalam penentuan harga hanya berdasar kebiasaan dan taksir saja. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. Dengan demikian petani peternak sebagai pemilik pedet jantan sapi perah belum memperoleh harga yang layak dan wajar sesuai dengan jerih payah yang mereka keluarkan.5 dari margin. sedangkan harga di tingkat petani peternak cenderung tetap bahkan menurun. dan petani penggemukan 8.12.

Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24. Hasil analisis konsentrasi rasio menunjukan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24.VI. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0.12. 2.04%dari margin pada tingkat pedagang perantara. hal ini juga berarti bahwa harga di tingkat pedagang terintegrasi secara sempurna dengan harga di tingkat petani peternak.157. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20.533 hingga Rp 99. bahkan seluruhnya berada di atas 0. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. dan petani .084 dan tertinggi Rp 104. Share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98.8.26.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93. Hasil analisis regresi linear menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.93 dan petani penggemukan sebesar 14.44.1 Kesimpulan 1. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak. KESIMPULAN DAN SARAN 6.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke arah persaingan sempurna.05. 3. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna.

12. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24. 4. dan petani penggemukan 8. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. sehingga tidak menimbulkan biaya-biaya ekstra yang dapat merugikan petani peternak. c) Perlu dilakukan pembayaran segera setelah ternak sapi perah ditimbang. 6.penggemukan 8. b) Diperlukan campur tangan pemerintah dalam mendukung diberlakukannya standar harga berdasarkan berat hidup ternak. maka upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mendekatkan atau menyiapkan tempat penimbangan ternak ke tempat tinggal petani peternak.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang disarikan dari penelitian ini.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara. d) Perlu dipertimbangkan agar Gapoktan dapat berfungsi sebagai salah satu lembaga perantara dan atau sekaligus bertindak selaku pedagang perantara . karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. Hasil perhitungan share keuntungan. maka diharapkan kepada: a) Petani agar dalam menjual ternaknya menggunakan standar harga yang telah ada yakni berdasarkan berat badan hidup ternak.5 dari margin. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang.5 dari margin. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien.

dalam pemasaran ternak sapi perah maupun produk-produk peternakan pada umumnya di Kota Batu. .

Dirjen Pendidikan Tinggi. _________. Anonymous. W. Fanani. Malang. Azzaino. Agribisnis. Market and Price Analysis. Tataniaga Peternakan. Universitas Brawijaya. Batu Dalam Angka Badan Perencanaan Daerah. 1997. Asmarantaka. 2006. Pengantar Tataniaga Pertanian. Leuthold dan Mohamed Sarhan. I Made. 1985. R. Bahan Penataran Perguruan Tinggi Swasta Bidang Pertanian Program Kajian Agribisnis. Y. 1991. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur. 2006. Jakarta. Universitas Lampung. Darma Setiawan. American Journal of Agricultural Economics. _________. 2000. 1977. Hamdi. 1993. Merle D. Proposal Pemasaran Bidang Peternakan Pasca Tahun 2000. Philip. Z. Analisis Pemasaran Jagung di Daerah Sentra Produksi Lampung. 1981. Bogor. Tesis S2 Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. & Bruce L. Ramond M. The Agricultural Industries. Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian. 1996. Institut Pertanian Bogor. Jurusan Sosial Ekonomi. 2008. Basis Risk: Measurement and Analysis of Basis Fluctuation for Selected Livestock . Z. 1991. Benson. McGRAW-Hill Book Company. _________. Kota Batu.DAFTAR PUSTAKA Alhusniduki. Atmakusuma. Fakultas Peternakan IPB. Analisis Pemasaran Rumput Laut (Eucheuma Sp. 1984. Spatial Market Integration. Tataniaga Pertanian. Dahl. _________. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Faminow. Tesis S2 Fakultas Pascasarjana IPB. Garcia. Bogor. Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi.) Pada Sentra Produksi Rumput Laut di Kecamatan Nusa Penida Bali. Direktorat Perguruan Tinggi Swasta. Laporan Triwulan Dinas Pertanian Kota Batu. Dale C. Departemen Pertanian. (1994). Volume 72 Number 1 February 1990.

International Student Edition. 1989. 1991a. Macmillan Publishing Company. Koutsoyiannis. 1982. A. Ekonometrika Terapan. Teknik Penarikan Contoh untuk Penelitian Survei. Fifth End. James. Richard E. Hiersieifer. Komisariat PERHEPI Surakarta. Pustaka Gramedia Jakarta. 1994. Ekonomi Manajerial. _______________. Idrus.Markets. 1996. Lintasan Ekonomi. New York. Industrial Economic and Organization. Buku dua. Microeconomic Theory. 1995. Laporan Penelitian Universitas Brawijaya Malang. McGRAW-Hill International Company. Majalah Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Alih Bahasa Kusnedi. Penerbit Tarsito Bandung. Vincent. M. Buku Satu.. Thirt Edition. Kiptiyah. . S. Morris. 9 – 11 Agustus 1996. J. Ekonometrika Terapan. American Journal of Agricultural Economics. J. Penerbit Tarsito Bandung. Marketing of Agricultural Product. McGRAQ-Hill International Book Company. Teori Harga dan Aplikasinya. Volume 66 Number 4 November 1994. (Southeast Asian Reprint). Iksan Semaoen. Modern Microeconomics. Handerson. 1980. Damodar. Penerbit Erlangga Jakarta. Makalah pada Kongres XI dan Kongres XII PERHEPI. 1996. Penerbit Tarsito Bandung. Hay. M. Collar. Oxford University Press. Second Ed. M. 1991. International Student Edition. Penerbit PT. Basic Econometrics. Second Edition. Penerapan Konsep-konsep Ekonomi dalam Bisnis Total.N. I Wayan Widyantara. _______________. Quandt. Pemasaran Panili di Bali.. Denpasar. _______________. 1985. 1980. 1991b. Konsumsi dan Pemaaran Bunga di Jawa Timur. Perilaku dan Penampilan Pasar. Kajian Keragaan Pasar dan Prospek Daya Saing Komoditas Jambu Mete. 1996. Theory and Evidence. Kohls & Url. Gujarati. Gaspersz.

Laporan Penelitian. Cristina. Pengantar Pemasaran Pertanian. Prospek Pengembangan pada PJPT II. M. Prospek Usaha Sapi Potong oleh Gerakan Koperasi Menghadapi Era Pasar Bebas. Porwadarminto.an). Al. dan T. LeRoy. Mubyarto. American Journal of Agricultural Economics. Rochadi. Analisis Permintaan Daging Sapi di Kota Administratif Kupang. Udiantono. Kamus Umum Bahasa Indonesia. F. 1995. 1991. Liliwen. 1993. Tawaf. Raja Grafinda Persada Jakarta Bekerjasama dengan McGRAW-Hill Inc.Lalus. Penerbit Yayasan Citra Insan Pembaru Kupang. 1994. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. et. Alo. 1993. Laporan Hasil Penelitian. dkk. 1985. Petzel. Sampling Design and Procedures. Volume 66 Number 4 November 1984. Sulaeman dan Tonton S. Ch. ________.. Gregor Neonbasu. Strategi Pengembangan Industri Peternakan Sapi Potong Berskala Kecil dan Menengah. Mosher. UQ (Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur. Kontribusi Usaha Ternak Terhadap Pendapatan Rumahtangga Petani Lahan Kering di Kabupaten Kupang. Pembinaan. PT. Depdikbud. R. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. Universitas Brawijaya Malang. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. Bahasa. Penerbit Yasaguna Jakarta. 1993. Meiners. dkk. Market Integration. Tawaf H. 1976. Program Pascasarjana. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. A. Prospek Pembangunan Dinamika dan Tantangan Pembangunan Nusa Tenggara Timur. Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong di Indonesia dalam Era Pasar Bebas di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. M. Pengembangan. Pellokila. CIDES (Center for Information and Development Studies. Parel. H. Agroindustri Sapi Potong. Rochadi. 1994. Miller. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. . Masyrofie. Roger E. Jakarta. T. LP3ES Jakarta. Monke E. 1999. Teori Ekonomi Mikro Intermediate. Papers on Survey Research Metodology. 1973. 1994. PPA (Pusat Pengembangan Agribisnis). Diktat Pemasaran Hasil Pertanian.

Sadono (1995). Raja Grafindo Persada Jakarta. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Raja Grafindo Persada Jakarta. 1989. Soekartawi. Malang. Iksan. Pengantar Ekonomi Mikro. Universitas Indonesia Jakarta. Teori Ekonomi Mikro. B. Buku Dua. 1981/1982. I. Sudiyono. Penerbit PT. Penerbit LP3ES Jakarta. Universitas Indonesia Jakarta. LP3ES. Supranto. Richard J. Sudarsono. Ahmad. Volume 73 Number 4 November 1991. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. American Journal of Agricultural Economics. CV. Market Integration. Teori dan Aplikasinya. Marketing Margin. Penerbit PT. Power and Risk. 1993. Edisi Pertama. King. Hoy F. Stiffel. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. J. 1990. Bogor. Ifar. Schroeter. 1983. Edisi Revisi. Masri. Subagiyo. Jakarta. Relevance of Ruminant in Upland Mixed Farming System in East Java Indonesia. 1975. Printed by: Ponsen en Looijen BV. Rajawali. Celery. _________. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. 1989. Carman. S.Saefuddin. Armand. Asnawi. Volume 73 Number 3 August 1991. Sukirno. American Journal of Agricultural Economics. 1977. 1991. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. 1995. Universitas Muhammadiyah. Volume 57 Number 4 November 1975. 1984. Edisi Kedua. Pemasaran Produk Pertanian. Pengantar Pemasaran Pertanian. Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. Ekonometrik. Soekartawi. Fakultas Pertanian. Effiency of Arbitrage and Imperfect Competition : Metodology and Application to U. Ekonometrik. 1996. 1991. C. Teori dan Aplikasi. Metode Penelitian Survai. Fakultas Pertanian IPB. Teken. Sexton. Teori Ekonomi Mikro. American Journal of Agricultural Economics. Buku Satu. Laurence D. L.S. Semaoen. Joh and Jeffrey M. Singarimbun. 1996. Perlof. Sofian Effendi. Jakarta. . Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Imperfect Competition in a Vertical Market Network: The Case of Rubber in Thailand.

Tomek. Studi Analisis Keterpaduan Pasar pada Sistem Pemasaran Komoditas Strategis. 1993. Agricultural Product Prices. Ithaca and London. 1977. . Lembaga Penelitian IPB (1996) Bekerja Sama dengan Kantor Menteri Negara Urusan Pangan. Wardana. William G. Tesis S2 Universitas Gajah Mada KPK Universitas Brawijaya Malang.Tim Peneliti dari Pusat Studi dan Kebijakan Pangan dan Gizi. Cornell University Press. Ketidakstabilan Harga Anggur di Tingkat Petani di Kecamatan Grokgak Kabupaten Buleleng. I Made.

7 3.3 13.3 3.3 13.00 39.00 40.00 51.3 6.3 13.3 10.3 100.00 45.3 10.7 80.0 Cumulative Percent 3.7 46.7 100.3 6.3 3.3 86.3 3.3 13.3 3.0 Valid 31.7 3.0 83.3 3.00 33.3 100.00 34.00 Total .7 93.00 37.3 3.3 13.00 48.3 3.Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Frequency Table Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 30 0 Lama Beternak Sapi Perah 30 0 N Valid Missing Pekerjaan 30 0 Umur 30 0 Pendidikan 30 0 Jumlah Ternak 30 0 Umur Frequenc y 1 4 1 1 4 3 2 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 30 Percent 3.7 20.0 6.00 38.7 3.3 16.0 23.00 36.3 96.0 Valid Percent 3.7 53.3 3.3 36.3 3.00 47.3 56.3 3.3 76.3 3.00 55.3 3.3 3.3 3.7 60.0 6.3 3.00 52.0 63.3 13.00 32.3 3.00 46.00 35.7 3.

3 100.3 93.7 43.3 20.3 23.00 5.7 50.3 23.7 3.00 3.0 Cumulative Percent 30.0 50.0 6.0 Cumulative Percent 6.7 43.0 80.7 100.00 4.0 50.0 Valid Percent 6.0 6.0 Valid SD SLT P SLT A PT Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequenc y 2 13 7 6 2 30 Percent 6.7 3.0 16.3 20.0 73.3 100.00 Total .7 100.Pendidikan Frequenc y 9 15 5 1 30 Percent 30.0 Valid 2.00 7.0 96.3 100.0 Valid Percent 30.0 16.7 100.

Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table
Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

34.00 35.00 36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 7 2 10 Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Valid Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 80.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 3 6 1 10 Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Valid Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 30.0 90.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table

Umur Frequency 1 1 1 1 1 2 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 41.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Valid Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 70.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 4 2 10 Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Valid Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 40.0 80.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies

0 10.0 100.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 Valid 31.00 35.0 10.0 10.00 Total Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.00 52.0 100.0 50.0 10.2000 1.00 4.0 90.00 5.0 40.0 10.0 100.0 10.0 Cumulative Percent 40.00 45.00 Pendidikan 10 0 2.0 10.0 10.0 90.0 30.0 20.0 10.0 60.00 37.0 10.00 40.0 30.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 100.00 5.0 50.0 100.0 20.00 Frequency Table Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 2 1 10 Percent 10.00 39.0 10.0 70.0 60.00 Total Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Regression .00 52.00 3.0 70.0 Cumulative Percent 10.00 N Mean Minimum Maximum Valid Missing Umur 10 0 39.0 10.0 Valid SD SLTP SLTA Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 5 1 10 Percent 40.4000 31.0 10.00 34.7000 3.00 36.0 20.0 50.0 100.0 Valid 3.0 Cumulative Percent 10.0 Valid Percent 40.Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0 3.0 100.0 30.0 60.

853 . Error Beta 760.809a R Square . Harga Melalui Pedagang Pengumpul ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531918651 1051457. .492 Sig. . Predictors: (Constant).000 a.580 22.809 t 5. Enter a.000a Regression Residual Total a.130 136. Error of the Estimate 1025.000 . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Pedagang Pengumpul Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.887 Sig.654 Adjusted R Square .652 Std.40583 a. b.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Pedagang Pengumpu a l Variables Removed Method .218 . Harga Melalui Pedagang Pengumpul b.114 F 505. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression . All requested variables entered. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . Predictors: (Constant).038 .

091 Sig.650 22.000 a.852 . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R .191 . Error of the Estimate 1040. Harga Melalui Petani Penggemukan ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 523752211 1081928.642 Std.802 t 5. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression .15811 a.039 . b.790 138. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Petani Penggemukan Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.000 .802a R Square . Predictors: (Constant).000a Regression Residual Total a. . All requested variables entered. Enter a. Error Beta 780. . Predictors: (Constant). Harga Melalui Petani Penggemukan b.002 Sig.644 Adjusted R Square .903 F 484.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Petani Penggemu a kan Variables Removed Method .

577 Sig.652 Std. .227 F 505.696 22. Error of the Estimate 1025.000a Regression Residual Total a. Harga Melalui Blantik ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531805793 1051878.038 Standardized Coefficients Beta .808a R Square .61115 a.000 a.808 t 5. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . b.850 .Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melaluia Blantik Variables Removed . . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Blantik Unstandardized Coefficients B Std. Predictors: (Constant). Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan .485 Sig. Predictors: (Constant).742 . Harga Melalui Blantik b.654 Adjusted R Square . Method Enter a. Error 773.000 .157 135. All requested variables entered.

b.041 . Error of the Estimate 9.378 83.956a R Square .956 t 2.436 9. Method Enter a. All requested variables entered.14209 a.578 a. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std. .000a Regression Residual Total a. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .334 .000 df 1 8 9 Mean Square 7115.378 668.929 5.578 F 85. Predictors: (Constant). Petani Penggemukan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7115.622 7784.903 Std. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta .135 Sig. Petani Penggemukan b.000 .914 Adjusted R Square .308 Petani Penggemukan 5.Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Sapi Perah Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Petani Penggemu a kan Variables Removed . Error 1 (Constant) 12. Predictors: (Constant). .227 Sig.

000a Regression Residual Total a. .177 Sig.002 .975 Adjusted R Square . . Error of the Estimate 4.898 195.987 t 4.640 Sig.000 df 1 8 9 Mean Square 7588. All requested variables entered.972 Std. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .987a R Square .Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pedagang a Pengumpul Variables Removed .832 Pedagang Pengumpul 3.209 a. Method Enter a. b. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta .331 2.388 F 311. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std.102 7784. Predictors: (Constant).355 17. Pedagang Pengumpul ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7588.000 .898 24. Error 1 (Constant) 12. Predictors: (Constant). Pedagang Pengumpul b.93839 a.688 .

833 13.499 38.836 Sig. Predictors: (Constant). .907 2. All requested variables entered.499 305. .17961 a. Pasar Hewan b. Dependent Variable: Volume Total . Method Enter a.000 a. Pasar Hewan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7478.995 4.961 Adjusted R Square .104 .Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pasar a Hewan Variables Removed .000a Regression Residual Total a. Error -8. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .501 7784. Predictors: (Constant).956 Std.890 .188 F 195. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Pasar Hewan Unstandardized Coefficients B Std.000 df 1 8 9 Mean Square 7478. b. Error of the Estimate 6.994 Sig.980 t -1.980a R Square .206 Standardized Coefficients Beta .

035 12.89991 a. All requested variables entered. Blantik ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7403.861 4.329 Standardized Coefficients Beta . Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Blantik Unstandardized Coefficients B Std.951 Adjusted R Square . Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .000a Regression Residual Total a.169 4. Dependent Variable: Volume Total .973 . Blantik b. Error -.130 380. .000 df 1 8 9 Mean Square 7403. Method Enter a.000 a. b. Predictors: (Constant). Error of the Estimate 6.499 Sig.975 t -. Predictors: (Constant).104 .470 Sig.975a R Square .870 7784.609 F 155.945 Std.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered a Blantik Variables Removed . .130 47.

6 2 347352590.483 (Adjusted R Squared = .00 1.821 7663.040 .000 .943 242.000 .370 6 59540.007 .444 4 727111.111 Umur * Jual 13916356.052 4.159 1.00 4.000 Estimated Marginal Means .00 3.048 .147E+010 1 11471940750 Umur 726994625.00 3.000 1.185 12 43098.619 Intercept 1.Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Univariate Analysis of Variance Between-Subjects Factors Umur 1.00 Value Label 0 . R Squared = .000 .7 Bulan 2006 2007 2008 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak N 360 360 360 360 360 360 270 270 270 270 Tahun Jual Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Harga Type III Sum Source of Squares df Mean Square Corrected Model 1457574917a 35 41644997.549 .63 3 6058626.000 .543 Umur * Tahun 2908444.029 Sig.765 Error 1562734333 1044 1496871.00 2.00 2.4 Bulan 3 .48 6 2319392. .747 Tahun * Jual 357245.465) F 27.746 .00 1.967 Total 1.449E+010 1080 Corrected Total 3020309250 1079 a.486 1.0 2 363497312.2 Bulan 2 .00 2.00 3.3 Jual 18175879.895 Umur * Tahun * Jual 517185.838 232.5 Tahun 694705180.

192 3 .7 Bulan 0 .115 3332. Tahun .7 Bulan Mean 2279.083* 91.4 Bulan 0 .4 Bulan 1077.6E+009 1044 Mean Square 363497312.05 level.3E+008 2 Error 1.113 3083.2 Bulan 2007.192 3 .000 .192 2 .967 F 242.219 2.583 3210.030 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Umur (J) Umur Std.893 1109. The mean difference is significant at the .2 Bulan 2 . 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1109.774 -751.857 -1828.000 .083* 91.947 4160.976 751. Error 0 .143 1256.000 .917* 91.887 3336.a .192 2 .024 -898.4 Bulan -930.838 Sig.167 Std.024 Sig.893 -2186.192 Based on estimated marginal means *. Error 64. Umur Estimates Dependent Variable: Harga Umur 0 .229 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3186.7 Bulan -1077.2 Bulan 2 .000 a.482 64. Error 37.833* 91.192 3 .500 Std.053 2406. . Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 7. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments). Grand Mean Dependent Variable: Harga Mean 3259.976 2186.000 .857 898.2 Bulan 930.417 4287.970 4414.482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2153.4 Bulan 3 .482 64. 3.774 -1256.5 1496871.917* 91.143 1828.7 Bulan -2007.000 .1.833* 91.000 The F tests the effect of Umur.

532 746.9E+008 2 Error 1.6E+009 1044 Mean Square 347352590.674 3318.192 .192 .192 .482 64. Error Sig.192 .05 level.998 3348.667 3188.252 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Tahun (J) Tahun Std.218 -1217.482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2169.278* 91. Jual Estimates Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak Mean 3483.519 3191.218 -746. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.338 1104.414 3629.563 3337. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 6.000 2008 2006 1963.458 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3337. Error 64.a 2006 2007 -925.412 859.135 -859.532 2142.882 .135 a.600 3334.458 74.000 Based on estimated marginal means *.780 3094.192 .278* 91.482 64.338 -2142.058 4133.254 1784.254 1217.623 3045.194* 91.458 74.472* 91.472* 91.052 Sig.412 -1784.000 The F tests the effect of Tahun.000 2007 1038.000 2007 2006 925. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1104. 4.3 1496871.778 Std.192 4386.000 2008 -1963. .967 F 232. Error 74.Estimates Dependent Variable: Harga Tahun 2006 2007 2008 Mean 2296.194* 91.722 Std. The mean difference is significant at the .000 2008 -1038.458 74.704 3172.771 3042. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).192 .528 4259.720 2422.250 3221.808 3026.

299 Petani Peternak 310.333 4207.852* 105. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).852* 105.656 4022.978 .192 501.118 -225.741* 105. The mean difference is significant at the .363 -104.696 222.880 .963 105. Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.344 3431.687 111.858 .005 .687 111.000 3212.967 F 4. 5.733 225.2 Bulan 2 . Error 111.363 -498.667 2210.05 level.687 111.7 Bulan Mean 1410.548 -517.978 . Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 .083 5353.687 111.7 Bulan 0 . This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.7 Bulan 0 .2 Bulan 2 .156 2993.299 Pedagang Pengumpul -2.511 -501.4 Bulan 3 .548 190.858 .005 .299 Petani Peternak Pasar Hewan -310.003 .696 Sig.239 5134.733 -222. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85.823 1990.417 2211.926 105.750 Std.511 3485.659 -190.299 Petani Peternak 15.573 1992.006 .844 2429.177 3437.927 4426.741* 105.889 105.687 111.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std.007 The F tests the effect of Jual.229 498.4 Bulan 3 .667 3266.261 1629.594 5572.299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291.006 .4 Bulan 3 .889 105.229 -203.489 3987.2 Bulan 2 .687 111.963 105.118 517.474 88.500 4242.299 Petani Peternak 18.474 -85.299 Blantik -15.880 a.823 3047.a .003 .299 Blantik 294. .239 2999.511 187.437 104.048 Sig.927 4461.192 -209.437 -88.659 209.299 Based on estimated marginal means *.585 -187. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 18175880 3 Error 1.6E+009 1044 Mean Square 6058626.083 3218.299 Pedagang Pengumpul -18.511 2430.815* 105.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.543 1496871.585 203.687 111.815* 105.299 Blantik 2.687 111.299 Blantik Pasar Hewan -294.906 2007 2008 .926 105.

163 4400.333 3155.965 128.274 2516.965 128.965 128.000 2230.496 3408.333 3340.274 2581.060 1969.444 Std.000 4470.4 Bulan 3 .222 2256.444 4189.965 128.940 3443. Jual * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Umur 0 .060 4529.965 128.385 4442.000 4782. Error 128.615 3226.171 2936.385 3407.556 4147.965 128.4 Bulan 3 .051 3409.7 Bulan Pedagang Pengumpul 0 . Error 128.163 3350.615 2901.393 2902. Jual * Tahun Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 Mean 2500.222 3154.4 Bulan 3 .496 2523.222 Std.615 2903.607 2484.965 128.163 4325.111 3190.222 2270.2 Bulan 2 .965 128.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2247.385 4442.940 4443.965 128.965 128.444 2231.282 3936.504 1978.965 128.2 Bulan 2 .556 3154.060 4216.726 2844.7 Bulan Mean 2328.000 2222.965 128.2 Bulan 2 .282 2017.051 2509.940 3593.940 3733.444 4190.965 128.504 .965 128.965 128.504 3936.060 3819.965 128.282 2003.504 3936.163 5035.965 128.333 2263.4 Bulan 3 .222 4189.965 128.556 3156.282 7.7 Bulan Blantik 0 .965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2075.7 Bulan Petani Peternak 0 .274 4401.111 4148.940 4723.2 Bulan 2 .556 3480.060 1977.163 2475.171 3895.6.965 128.496 2483.667 3097.000 4072.615 3894.965 128.282 2901.496 2753.393 2010.385 3407.965 128.965 128.393 3086.

667 3065.374 223.000 5791.979 2766.000 3946.374 223.312 3720.7 Bulan 0 .7 Bulan 0 .688 1878.4 Bulan 3 .374 223.7 Bulan Mean 1440.021 4596.000 3258.374 223.667 3770.4 Bulan 3 .374 223.688 3643.7 Bulan 0 .688 3643.374 223.2 Bulan 2 .4 Bulan 3 .312 1746.000 2291.688 2623.000 3160.374 223.000 Std.2 Bulan 2 .374 223.312 2721.312 2820. Jual * Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 Umur 0 .021 1861.979 3331.4 Bulan 3 .000 4158.374 223.979 2626.000 3160.646 4766.646 2766. Error 223.374 223.7 Bulan 0 .2 Bulan 2 .7 Bulan 0 .021 1816.333 3161.688 3598.312 1848.000 2185.021 5651.646 2680.979 4775.374 223.354 4384.374 223.374 223.646 3921.979 3680.374 223.646 1745.312 2675.374 223.312 940.354 2729.7 Bulan 0 .688 1838.374 223.021 3806.374 223.667 5213.333 2251.333 5205.333 3118.333 1400.688 3643.979 2930.688 3598.646 1746.000 4151.333 5205.312 3680.2 Bulan 2 .646 4346.4 Bulan 3 .000 2286.312 1710.667 1423.000 2148.2 Bulan 2 .000 1378.312 3720.2 Bulan 2 .374 223.4 Bulan 3 .374 223.374 223.4 Bulan 3 .021 4596.021 4556.2 Bulan 2 .312 1853.374 223.312 3508.2 Bulan 2 .374 223.4 Bulan 3 .021 3696.021 4556.688 4798.7 Bulan 0 .374 223.333 2185.312 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 .354 3599.021 2586.646 2766.021 3556.374 223.374 223.688 2623.374 223.979 985.7 Bulan 0 .2 Bulan 2 .646 2723.4 Bulan 3 .021 2621.021 3551.646 4766.646 961.354 2689.374 223.688 5643.000 4158.7 Bulan 0 .688 5223.8.354 4589.2 Bulan 2 .312 2721.333 3205.000 3113.354 6229.333 3205.333 2183.374 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1001.7 Bulan 0 .374 223.2 Bulan 2 .374 223.646 1716.688 5643.354 2724.374 223.688 2593.333 4785.688 4208.333 4360.000 4118.667 3205.4 Bulan 3 .4 Bulan 3 .7 Bulan 0 .312 3713.667 3368.374 223.374 223.688 3503.2 Bulan 2 .4 Bulan 3 .374 223.374 223.667 4118.646 1813.333 2155.312 5353.374 223.

Post Hoc Tests Umur
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I-J) -930,8333* -2007,9167* 930,8333* -1077,0833* 2007,9167* 1077,0833*

(I) Umur 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan

(J) Umur 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan

Std. Error 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -1109,7735 -751,8931 -2186,8569 -1828,9765 751,8931 1109,7735 -1256,0235 -898,1431 1828,9765 2186,8569 898,1431 1256,0235

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Tahun
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean 95% Confidence Interval Difference (I) Tahun (J) Tahun Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound (I-J) 2006 2007 -925,2778* 91,19186 ,000 -1104,2180 -746,3376 2008 -1963,4722* 91,19186 ,000 -2142,4124 -1784,5320 2007 2006 925,2778* 91,19186 ,000 746,3376 1104,2180 2008 -1038,1944* 91,19186 ,000 -1217,1347 -859,2542 2008 2006 1963,4722* 91,19186 ,000 1784,5320 2142,4124 2007 1038,1944* 91,19186 ,000 859,2542 1217,1347 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Jual
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291,8519* Blantik 294,8148* Petani Peternak 310,7407* Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291,8519* Blantik 2,9630 Petani Peternak 18,8889 Blantik Pasar Hewan -294,8148* Pedagang Pengumpul -2,9630 Petani Peternak 15,9259 Petani Peternak Pasar Hewan -310,7407* Pedagang Pengumpul -18,8889 Blantik -15,9259 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Std. Error 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929

Sig. ,006 ,005 ,003 ,006 ,978 ,858 ,005 ,978 ,880 ,003 ,858 ,880

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 85,2295 498,4742 88,1925 501,4372 104,1184 517,3631 -498,4742 -85,2295 -203,6594 209,5853 -187,7335 225,5112 -501,4372 -88,1925 -209,5853 203,6594 -190,6964 222,5483 -517,3631 -104,1184 -225,5112 187,7335 -222,5483 190,6964

Hasil Analisis Varian Share Harga Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors Jual Melalui 1,00 2,00 Value Label Pedagang Pengumpul Petani Penggemuk an Pedagang Perantara/ Blantik N 270 270

3,00

270

Descriptive Statistics Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Mean Pedagang Pengumpul 99,3117 Petani Penggemukan 98,5332 Pedagang Perantara/ 98,9078 Blantik Total 98,9176 Std. Deviation 45,48216 45,10136 46,26509 45,56346 N 270 270 270 810

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Share Harga Type III Sum of Squares Source df Mean Square Corrected Model 81,868a 2 40,934 Intercept 7925596,149 1 7925596,149 Jual 81,868 2 40,934 Error 1679425,723 807 2081,073 Total 9605103,740 810 Corrected Total 1679507,590 809 a. R Squared = ,000 (Adjusted R Squared = -,002)

F ,020 3808,419 ,020

Sig. ,981 ,000 ,981

Estimated Marginal Means
1. Grand Mean Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval Mean Std. Error Lower Bound Upper Bound 98,918 1,603 95,771 102,064

2. Jual Melalui
Estimates Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Pedagang Perantara/ Blantik Mean 99,312 98,533 98,908 Std. Error 2,776 2,776 2,776 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 93,862 104,761 93,084 103,983 93,458 104,357

918 -8.928 Pedagang Perantara/ -.073 F .375 3.020 Sig. .924 -7.868 2 Error 1679425.485 Pedagang Perantara/ .934 2081.081 Based on estimated marginal means a. Lower BoundUpper Bound Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .404 3.111 7. .375 3.081 7.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval for Mean a Difference Difference a (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.926 .926 .981 The F tests the effect of Jual Melalui.924 -8.332 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -. Error Sig.926 .779 3.485 6.111 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.404 3. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).928 8. Univariate Tests Dependent Variable: Share Harga Sum of Squares df Contrast 81.926 .926 .303 Blantik Petani Penggemukan .843 -6.332 8.843 -8. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.303 8.7 807 Mean Square 40.926 .918 -7.779 3.

95% Confidence Interval Sig.92624 Blantik Petani PenggemukanPedagang Pengumpul -.918 .3029 -8.4854 -8.1108 -7.4039 3.9283 7.3746 3.Post Hoc Tests Jual Melalui Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I-J) (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui Std.92624 Pedagang Perantara/ .92624 Based on observed means.9283 8.92624 Blantik Petani Penggemukan .92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.918 .4039 3.0815 . Error Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .843 -6.843 .3322 8.3029 8.7786 3.0815 -8.924 .924 -7.4854 .1108 6.3746 3.3322 7.7786 3.92624 Pedagang Perantara/ -. Lower Bound Upper Bound .

Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Pedagang Pengumpul Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 2006 2-4 bulan 1200 800 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4250 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4950 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2100 2000 2000 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 950 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2250 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 5800 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 0 -2 bulan 950 800 800 800 600 600 900 800 1250 900 1500 1250 1600 1500 1500 2600 2250 2250 2250 2250 2250 2500 1000 900 1000 .

26 27 28 29 30 900 1000 1000 900 900 1500 1500 1500 1500 1500 2500 2000 2000 2000 2000 1500 1500 1500 1450 1450 2500 2500 2500 2500 2500 3250 3000 3000 3000 3000 2500 2500 2500 2500 2500 3500 3500 3500 3500 3500 4000 4000 4000 4150 4100 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Petani Penggemukan Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 800 1200 800 2400 1200 3000 2400 4000 3500 2750 4000 3700 4000 47bulan 2400 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4800 4800 4800 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 1400 5200 6000 5200 4900 6000 6000 6000 6000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 0 -2 bulan 1900 2800 750 700 600 600 750 600 1200 800 1500 1250 1400 1400 1400 2500 2250 2200 .

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 2250 2250 2250 2500 1000 900 900 900 1000 1000 900 900 3500 4000 3400 3400 3400 3400 1400 1400 1400 1400 1400 1400 4800 4000 4000 1800 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 6400 4900 4900 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Blantik Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 0 -2 bulan 2000 3000 800 700 600 600 800 600 1200 900 .

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1500 1250 1500 1500 1500 2500 2250 2250 2250 2250 2250 2500 900 900 900 900 900 1000 900 900 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4250 5000 4400 4000 5200 5000 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Pasar Hewan Tahun 2006 No Res 1 2 3 0 -2 bulan 800 600 600 2-4 bulan 1000 700 800 47bulan 2100 1000 2000 2007 0 -2 bulan 1500 900 1500 2-4 bulan 2000 1500 1800 47bulan 3000 2000 3000 2008 0 -2 bulan 2500 1500 2500 2-4 bulan 3000 2500 2800 47bulan 4000 3000 4000 .

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 500 500 600 500 500 1000 1000 800 1500 1750 2000 1500 2250 2250 2000 2000 2000 2000 2250 2000 2000 2000 2000 800 1500 1500 600 600 700 1000 600 2000 2100 2000 2000 3000 1500 3000 3500 3750 3500 3000 3400 3500 3500 3500 3500 3500 3500 1750 2000 2000 1500 1500 1500 4000 1500 4000 4400 4500 4000 4500 5000 4500 5000 5000 5000 4500 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 2500 3000 3100 1000 900 900 1000 900 2000 2000 1500 2500 2750 3000 2500 3250 3250 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 1500 2500 2500 3500 1500 1000 1000 2000 1500 3000 3100 4000 4000 4000 4500 4000 4500 4750 4500 4000 4400 4500 4500 4500 4500 4500 4500 2750 3000 3000 4250 2500 2500 2500 5000 2500 5000 5500 5500 5000 5500 6000 5500 6000 6000 6000 5750 6100 6100 6000 6000 6000 6000 6000 3500 4000 4100 5000 2000 1500 1500 2000 1500 3000 3000 3500 3500 3750 4000 3500 4250 4250 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 2500 3500 3500 4500 2500 2000 2000 3000 2500 4000 4000 5000 5000 5000 5500 5000 5500 5750 5500 5000 5500 5500 5500 5500 5500 5500 5500 3750 4000 4000 5000 3500 3500 3500 6000 3500 6000 6500 6500 6500 6500 7000 6500 7000 7000 7000 6750 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 4500 5000 5000 6000 30 2500 3250 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan .

15 6.93 5.42 4.9 6.85 7.89 8.27 8.93 5.58 6.36 6.81 12.59 11.67 5.44 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.2 6.79 100 .11 8.6 100 % 21.89 8.96 6.67 5.59 11.06 3.6 4.97 15.33 7.11 8.93 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.Lampiran Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 14 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 5 113 20.82 7.42 99.96 7.22 14.19 4.55 15.93 13.15 11.44 100 100 % 22.97 % 19 15 13 11 10 9.15 6.19 4.81 12.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 5 132 24.42 4.22 14.36 11.44 100 % 26.19 4.9 4.58 8.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful

Master Your Semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master Your Semester with a Special Offer from Scribd & The New York Times

Cancel anytime.