EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Agribisnis

Disusun Oleh : Kamarullah M. Nur NIM. 06750030

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2008

TESIS EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

Disusun oleh: KAMARULLAH M. NUR NIM. 06750030

SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Pembimbing Utama

Anggota Tim Penguji

Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si

Ir. Harpowo, MP.

Pembimbing

Pendamping

Ir. Dyah Erni W, MM

Ir. Istis Baroh, MP

Tesis ini telah diterima sebagai salah satu prasyarat Untuk memperoleh gelar Magister Tanggal ………………..

Dr. Achmad Habib, MA Direktur

ABSTRAK

Kamarullah M. Nur. Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah. Dibimbing oleh Jabal Tarik Ibrahim dan Dyah Erni. W. Kata Kunci : Pedet Jantan, Pemasaran Pemeliharaan pedet jantan sapi perah bagi petani peternak kurang menguntungkan bahkan dapat mempengaruhi pendapatan dan menambah biaya produksi, sehingga kebiasaan petani peternak menjual pedet jantan yang dimiliki setelah berumur 2 – 4 bulan dengan harga yang relatif murah, karena penentuharga ada pada pedagang perantara (blantik). Hal ini dapat terjadi karena pengetahuan tentang pemasaran produk-produk peternakan terutama tentang harga pedet jantan sapi perah tidak diketahui secara pasti dan mudah oleh petani peternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat efisiensi pemasaran Pedet jantan sapi perah di Kota Batu. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah secara tepat dan efisien harus diketahui oleh petani peternak sehingga dapat memperoleh harga jual yang layak. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola saluran pemasaran, berapa margin pemasaran, share harga dan keuntungan serta efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di lihat dari market structure, market conduct dan market performance (SCP). Jumlah responden adalah 60 orang yang terdiri dari 30 orang responden petani peternak sapi perah yang merupakan anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu dan 30 orang responden mewakili lembaga pemasaran yang ditentukan secara acak sederhana sesuai proporsi dan menyebar di tiga wilayah kecamatan yaitu Batu, Bumiaji dan Junrejo Kota Batu. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis konsentrasi rasio, analisis elastisitas transmisi harga, dan analisis deskriptif – Hay and Morris. Metode yang digunakan adalah purposive atau dengan cara sengaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemasaran pedet jantan sapi perah berada pada pasar persaingan sempurna dan petani peternak sudah memperoleh harga yang layak, sedangkan keuntungan tertinggi diperoleh oleh pedagang perantara/blantik.

Si dan Ibu Ir. M. serta Ir. Nopember 2008 Penulis . selaku Ketua Jurusan Program Agribisnis Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang. Jabal Tarik Ibrahim M.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ini berhasil diselesaikan. dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tesis ini. penyuluh THL – TBPP yang telah membantu pengambilan data dalam penelitian. masing-masing selaku Pembimbing utama dan pembimbing. Ir.. Dengan judul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah pada anggota Gabungan Kelompok Tani Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu Kota Batu Jawa Timur.. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr.M. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu. Malang. Penghargaan penulis sampaikan juga kepada anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu. Dyah Erni W. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Pemkot Batu. dan seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. Ibu (Alm) dan istri tercinta anak-anakku tersayang. Penelitian ini dilaksanakan sejak April 2008. MP. Sutawi. Ungkapan terima kasih juga ananda sampaikan kepada Bapak.

Nur . Malang. 25 Nopember 2008 Kamarullah M. kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis yang berjudul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah” ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain.

Camat Kec. lulus tahun 1986.RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Obi Maluku Utara. Obi Kabupaten Maluku Utara 2002 – 2004. Pendidikan sarjana Muda di tempuh di Program Studi Produksi Ternak. Kasi Pemantauan Kualitas Lingkungan merangkap PLT Kabid Pemantauan dan Pemulihan pada BAPEDALDA Propinsi Maluku Utara 1999 – 2002. . Penulis adalah PNS pada Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005. 16 Pebruari 1958 sebagai anak ke 3 (tiga) dari pasangan H. HM. Sebelumnya adalah fungsional guru pada SPP Negeri Ambon 1992 – 1999. lulus tahun 1992. Pada tahun 2007 penulis mendapat ijin belajar dari Pemkot Batu di Pasca Sarjana Program Magister Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang. Akademis Peternakan Brahma Putra Yogyakarta. Pendidikan Sarjan di tempuh di Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Kamarullah dan Almarhumah Djubaidah Sangadji.

.................3 PENDAHULUAN 1 4 4 5 i ii iii iv v vi ix x xi Latar Belakang .................................................................................................................. 2................. I 1................................................................. DAFTAR GAMBAR ............................................................................ Perilaku Pasar .....................................................................................................................................................................................................................1 1................................................... 6 8 8 11 15 24 27 28 33 37 2.................. Rumusan Masalah ...................... 1. Struktur Pasar ......4 2............................... DAFTAR TABEL ....3 Kerangka pemikiran ..2..................................1 Telaah Penelitian ............ ABSTRAK ...........2... DAFTAR ISI .....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................................................. Tujuan Penelitian .......................................................... SURAT PERNYATAAN ...................... .2.2 1..................................... 2... Tampilan Pasar ......................................................................................................6 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran .............................................................................................................................................................................. Margin Pemasaran ........................... 2...................................................................4 Manfaat .............................................................................................1 2.......................2..................2............................................................................. Efisiensi Pemasaran ....................................... KATA PENGANTAR ................................4 Hipotesis ........................................2 2............ RIWAYAT HIDUP ......2 Landasan Teori .........................2.............3 2........... II TINJAUAN PUSTAKA 2............... DAFTAR LAMPIRAN ...............5 2...............................................

1...................................................................................... 3....4 Definisi Operasional ............... 4...............1 Keadaan Umum Daerah Penelitian ...................1...............3.................................................. 45 45 46 46 47 47 48 4. 5.................. 5...... Topografi ..1..............7 Status Pemilikan Ternak ....................................5.......................4 Sistem Pemasaran Ternak ................... HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5..................................4 Umur Responden ..................................1.............................................................................2 5...2 Sistem Pemeliharaan Ternak .............5... 3.......4 Curah Hujan ....... Jumlah Pemilikan Ternak ....3...............1.........................1 Data Populasi Ternak .......................................1 5.......................................................6 5......1 Analisis Struktur Pasar ..... IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4................................................................................ Kondisi Pendapatan Petani Ternak dari Setiap Ekor Pedet yang Dijual ... 3................................... 59 60 56 57 58 49 50 50 51 53 55 .. 4.......................................3... 5...3 4......................................... 5...................3.............3 Metode Pengumpulan Data .................... 38 39 40 40 41 42 42 3............................................................................... Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden ............. 4............1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian ............2 4............................................................1.2 Keadaan Umum Peternakan ..................3 5........................................ Pendidikan Responden ........................... 3....................................3..............3 Karakteristik Responden . METODE PENELITIAN 3................................1 Analisis Efisiensi Pemasaran ....................................2....... 5.............................. Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi ........................................ Jenis Tanah ........................1 Letak dan Luas Wilayah ...................III................................2 Metode Pengambilan Sampel ............................ 3................................3.................. Batas Wilayah ....5 5.................................. V..5 Metode Analisis Data .........3................................

................5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah ..........5.........................................................................1 5........ Analisis Tampilan Pasar .......................3 Analisis Struktur Pasar .............. DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 79 80 ............................5.........................5......2 Saran .................. 5................. 62 62 67 72 VI...................... 6.........1 Kesimpulan ................... Analisis Perilaku Pasar .. KESIMPULAN DAN SARAN 6.....................5.................................2 5.......................................

....................... Tabel 5........ Tabel 5.............. Tabel 5.... Tabel 5......... Tabel 5.................................................................... Tabel 5.. Tabel 5......11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ..................................1 Rincian Jumlah Anggota Rum ah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 .............................. 15 Tabel 5....... Tabel 5.................4 Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006 – 2008 ...............7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa di Kota Batu Tahun 2008 ................................................................6 Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ................................2 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah ..................................8 Perbandingan Perbedaan Share Harga yang Diterima Petani Menggunakan LSD ................................ Tabel 5....... 77 75 76 74 73 68 67 59 61 58 57 ...........9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 ...DAFTAR TABEL Tabel 1 Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat ................................................ Tabel 5.................5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 ............10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah ....3 Jumlah Pemilikan dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah dari Petani Peternak Tahun 2008 ..................................

......................................... 5......................... Diagram Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur ........... 3....................................................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah ........................ 7......... Diagram Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ...................................................................................DAFTAR GAMBAR 1............................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah ............... Grafik Pasar Monopolistik .......... Diagram Karakteristik Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur .......................... Peta Lokasi Penelitian .. Diagram Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur .............................. Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah .................................................................................................... 12. Grafik Fungsi Primer......... 8.................................................................................. 15............................................................... 2..................... 17.............................................. 14................................................................................... 9....................................... 13......................................................................................... Grafik Mekanisme Pasar ................................ Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 .. 6............................................... 11.............................................. Grafik Keadaan Pasar Persaingan Sempurna ........ 62 56 55 54 54 53 52 52 .................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah ................................. Grafik Pasar Monopoli .... 10 18 19 20 22 23 31 38 51 10................................. 16...... 4. Grafik Perusahaan pada Kondisi Oligopoli ................ Turunan dan Margin Pemasaran . Grafik Pasar Monopsoni ....................................................................

Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Karakterik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah 5.DAFTAR LAMPIRAN 1. 8. 6. Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Hasil Analisis Varian Share Harga Post Hoc Test 10. Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah . 3. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Jantan Sapi Perah 7. 9. 4. 2.

Usaha peternakan sapi perah yang di kembangkan oleh koperasi dan swasta.335 ekor (Anonymous. 2006). melalui Pemda Kota Batu dicanangkan sebagai kota Agropolitan dengan penekanan pembangunan bertumpuk pada sektor pertanian secara luas. 2007). Namun di tingkat petani masih sebagai usaha skala keluarga dengan kepemilikan rata-rata 2–3 ekor setiap keluarga. sehingga manajemen yang diterapkan juga seadanya. Pengembangan usaha peternakan rakyat khususnya usaha peternakan sapi perah juga termasuk dalam rencana pengembangan secara baik dan diperluas.735 dan 37. Kota batu dengan penduduk 172. . khusus petani peternak sapi perah yang bergabung dalam gabungan kelompok tani sapi perah Batu Bersatu sebanyak 576 anggota dengan penyebaran populasi sapi perah sebanyak 6. karena selain sebagai usaha pokok masyarakat juga limbah dari usaha peternakan tersebut diharapkan akan bermanfaat dalam rangka mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. peningkatan sumber daya manusia juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani (Anonymous. Hal ini selain sebagai sumber protein hewani dalam upaya perbaikan gizi masyarakat.000 kepala keluarga adalah petani. mendapat perhatian yang cukup besar dari Pemerintah. telah dikelola secara komersial. PENDAHULUAN 1.I.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan yang merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian dan pembangunan Nasional. Kota Batu termasuk salah satu daerah di Jawa timur yang selama ini telah mengembangkan usaha peternakan khususnya sapi perah.

2008). untuk itu perlu dilakukan pengamatan dalam sistem pemasaran pedet jantan sapi perah sehingga masyarakat pemilik ternak dapat mengetahui secara transparan sistem pemasaran ternak khususnya pemasaran pedet jantan sapi perah. secara khusus pemasaran adalah hasil telaah atau evaluasi terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis dari produsen ke konsumen melalui pedagang perantara (Anonymous. Dalam kamus Bahasa Indonesia (Poerwadarminto. aliran barang tersebut dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran yang tergantung dari sistem yang berlaku dan aliran barang yang dipasarkan. ketersediaan pasar dapat memacu berkembangnya program dalam menerapkan teknologi sistem usaha tani.7 persen. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah harus diketahui oleh petani peternak secara mudah dan bebas sehingga petani peternak dapat memperoleh kepastian harga untuk menentukan layak atau tidak ternaknya di jual. sehingga upaya-upaya untuk mendapat efisiensi dalam pemasaran perlu mendapat perhatian semua pihak. Keterampilan petani untuk menuju pelaksanaan pemasaran yang efisien memang terbatas hanya mempraktekkan unsur-unsur manajemen saja. lembu. 1989). apalagi pemahaman informasi pasar masih rendah sehingga kesempatan-kesempatan ekonomi menjadi sulit untuk dicapai (Soekartawi. Pemasaran merupakan aspek penting dalam proses produksi. selanjutnya Fanani (2000) mengatakan bahwa pada prinsipnya pemasaran adalah pengalihan barang dari produsen ke konsumen. kuda. Dalam pemasaran ternak sapi pada umumnya proses pembentukan atau penentuan harga selalu dikaitkan dengan urgensi kebutuhan uang tunai dari petani . Pada sistem pengolahan sapi perah di tingkat petani peternak keberadaan pedet jantan atau anak sapi yang berumur 0 – 7 bulan menjadi beban tersendiri dalam biaya produksi. 1993).Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005 secara bertahap berupaya terus meningkatkan populasi ternak sapi perah melalui bantuan langsung masyarakat (BLM) maupun kegiatan proyek pengadaan lainnya yang disebarkan kepada petani peternak. untuk itu biasanya pedet jantan sapi perah dijual setelah berumur 2 – 3 bulan yang langsung dibeli oleh blantik dengan harga yang tidak menentu hal ini dapat terjadi karena informasi tentang pemasaran pedet jantan sapi perah tidak diketahui oleh petani peternak secara pasti. Populasi pedet jantan sapi perah tahun 2008 yaitu sebanyak 259 ekor (Anonymouse. pengantara jual beli sapi. domba dan sebagainya. 1976) mengatakan bahwa blantik adalah cengkau. Dan salah satu lembaga pemasaran atau pelaku pasar sistem tata niaga pedet jantan sapi perah adalah pedagang perantara atau blantik. kambing. Fungsi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu selama ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan. Perkembangan sapi perah setiap tahun ada kenaikan 5 .

1.1 Bagaimana pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu.peternak.2 Rumusan Masalah Bertitiktolak pada latar belakang penelitian ini. karena bargaining position (posisi dalam tawar menawar) lemah.2. 1.1 Untuk mengidentifikasi pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1. share harga dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu.2.3 Bagaimana efisiensi pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu dilihat dari analisis market structur. maka masalah yang perlu disimak dan dicermati serta dicarikan solusinya adalah sebagai berikut : 1. bila petani peternak sangat membutuhkan uang tunai.3.2. dan market performance (SCP). 1. 1. market conduct.2 Berapa margin pemasaran. ia hanya bertindak sebagai price taker (penerima harga) saja. . bahkan tidak jarang terjadi praktek-praktek pemasaran yang merugikan petani peternak oleh para pedagang perantara atau blantik.

3 Untuk menghitung efisiensi pamasaran dari pedet jantan sapi perah dilihat dari analisis market structur. dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.3. share harga.1.3. 1. market conduct dan market performance (SCP) .2 Untuk mengetahui tentang keberadaan margin pemasaran.

1.4.1 Sebagai bahan informasi kepada petani sapi perah dalam memasarkan ternak khususnya pedet jantan sapi perah melalui jalur mana yang akan digunakan agar efisien.1. Sebagai khasanah ilmu pengetahuan khusunya dalam bidang pemasaran pedet jantan sapi perah.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah 1.4.3 Sebagai bahan acuan dalam rangka penyusunan rancangan penyuluhan 1. .4.4.4.2 Sebagai bahan kajian lebih lanjut bagi Dinas Pertanian Kota Batu dalam upaya perbaikan lembaga petani sekaligus penataan efisiensi jalur pemasaran ternak sapi pada umumnya 1.

baik secara vertikal maupun horizontal sehingga struktur pasar yang ada mengarah kepada pasar monopsoni. margin tataniaga.II. . keuntungan tataniaga dan efisiensi tataniaga dengan hasil yang cukup baik. perilaku dan tampilan pasar. perilaku dan tampilan pasar dari pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya transaksi dari pedet jantan sapi perah di Kota Batu. khususnya yang menyangkut analisis struktur. dkk (1993) meneliti tentang pemasaran permintaan daging sapi di kota Administratif Kupang melalui analisis biaya tataniaga. Sementara itu penelitian tentang struktur pasar dalam pemasaran buah anggur di Bali yang dilakukan oleh Wardhana (1993) diketahui bahwa struktur pasar buah anggur yang dihasilkan di Bali adalah oligopsoni. Idrus dan Widyantara (1996) melakukan penelitian tentang pemasaran panili di Bali dengan hasil sebagai berikut: pasar panili di Bali tidak terintegrasi. TINJAUAN PUSTAKA 2. Penelitian lain yang juga dilakukan di Bali oleh Darma Setiawan (1997) tentang analisis pemasaran rumput laut yang mengkaji tentang struktur. perilaku dan tampilan pasar diperoleh hasil bahwa pasar rumput laut di Bali cenderung ke arah persaingan tidak sempurna (imperfect market) yakni pasar oligopsoni.1 Telaahan Penelitian Terdahulu Penelitian tentang analisis pemasaran ternak terutama pemasaran pedet jantan sapi perah belum banyak dilakukan. Oleh karena itu penulis respek untuk melakukan penelitian tentang bagaimana. Pellokila. struktur. biaya produksi. dalam kondisi seperti ini pembeli bertindak selaku price setter (penentu harga) sedangkan petani hanya sebagai price taker karena bargaining positionnya lemah. seperti Asmarantaka (1985) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara harga jagung yang diterima petani. Walaupun sebenarnya sudah banyak dilakukan penelitian tentang komoditas-komoditas pertanian lainnya di daerah lain di seluruh nusantara ini. margin pemasaran dan fasilitas pemasaran di provinsi Lampung.

1996) tentang analisis keterpaduan pasar pada sistem pemasaran komoditas pangan strategis diperoleh hasil bahwa berdasarkan analisis biaya dan margin pemasaran diketahui bahwa harga rata-rata yang diterima petani di bawah 50 persen dari harga di tingkat pengecer (konsumen). . Sedangkan menurut hasil penelitian Kiptiyah dan Semaoen (1994) tentang pemasaran bunga potong di Jawa Timur bahwa nilai korelasi antara harga di tingkat konsumen dan harga di tingkat produsen untuk setiap jenis bunga berkisar antara 0.1 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran Definisi tentang pemasaran atau tataniaga telah banyak dikemukakan oleh para ahli ekonomi.957.584 – 0. 2.2. (Anonymous. Relatif rendahnya harga yang diterima petani ini disebabkan oleh tingginya biaya pemasaran dan margin keuntungan pemasaran yang diterima pedagang. Berdasarkan telaahan terhadap beberapa hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas. maka secara umum dapat dikatakan bahwa struktur pasar komoditas pertanian mengarah kepada pasar persaingan tidak sempurna yakni monopsoni atau oligopsoni yang pada hakekatnya sangat merugikan petani dalam memasarkan komoditas yang dihasilkannya. pada hakekatnya bahwa pemasaran atau tataniaga merupakan aktivitas yang ditujukan terhadap barang dan jasa sehingga dapat berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar korelasi antara harga konsumen dan harga produsen maka kedua pasar tersebut semakin kuat terintegrasi.Penelitian Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi.2 Landasan Teoritis 2.

1985 dalam Widiyantara. pengangkutan dan c) fungsi fasilitas yang meliputi standarisasi dan grading. pembiayaan dan informasi harga. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan arus perpindahan barang dari daerah excess supply ke daerah excess demand pada akhirnya akan terjadi keseimbangan. maka secara tegas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pada pemasaran adalah agar barang dan atau jasa yang dihasilkan oleh petani maupun perusahaan sebagai produsen sampai ke konsumen. di mana pada titik potong tersebut terbentuklah harga yang merupakan keseimbangan antara jumlah yang ditawarkan oleh produsen dan jumlah yang diminta atau diinginkan konsumen (Lipsey. . 1995). di mana daerah yang satu mengalami kesulitan produksi (excess supply) sedangkan daerah yang lain mengalami kekurangan permintaan (excess demand). Panjang pendeknya rantai pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas tergantung dari : a) jarak antara produsen dan konsumen.Kohl dan Uhl (1980) mendefinisikan pemasaran sebagai tampilan aktivitas bisnis yang terlibat dalam arus barang dan jasa dari pintu gerbang usahatani (farm gate) sampai ke tangan konsumen. Lokasi fisik sebagai tempat terjadinya pembelian dan penjualan disebut pasar. pengolahan. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar barang dan jasa dapat berpindah dari sektor produksi ke sektor konsumsi disebut sebagai fungsi pemasaran. Dikemukakan lebih lanjut oleh Saefuddin (1982) bahwa rantai pemasaran atau saluran pemasaran merupakan aliran yang dilalui oleh barang dan jasa dari produsen melalui lembaga pemasaran sampai barang dan jasa tersebut tiba di tangan konsumen. Menyimak definisi pemasaran di atas. Pola rantai pemasaran untuk komoditas pertanian berbeda dengan pola rantai pemasaran untuk produk/komoditas industri. c) skala produksi dan posisi keuangan produsen. Kenyataan menunjukkan bahwa pasar itu terpisah dalam ruang (market spatial) dan akan terjadi ketidakseimbangan pasar apabila di antara dua daerah. Fungsi-fungsi pemasaran ini dilakukan oleh lembaga pemasaran sebagai upaya pemindahan barang dan jasa dari sektor produksi ke sektor konsumsi. Pengertian pasar dalam arti luas atau pengertian menurut teori ekonomi adalah pertemuan antara penawaran dan permintaan atau perpotongan antara kurva penawaran dan kurva permintaan. ini merupakan pengertian sederhana/sempit. b) fungsi fisik meliputi pengumpulan. Menurut Saefuddin (1982) bahwa pemasaran merupakan aktivitas yang berkaitan dengan bergeraknya barang dan jasa dari produsen ke konsumen. penanggungan resiko. sebagaimana yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini. b) cepat atau tidaknya komoditas tersebut menjadi rusak. Fungsi pemasaran yang dimaksud tersebut meliputi: a) fungsi pertukaran yang meliputi pembelian dan penjualan.

Dalam menganalisis hasil penelitian ini dilakukan dengan pendekatan organisasi pasar yang meliputi struktur. Kohl dan Url (1980) mendefinisikan efisiensi pemasaran sebagai peningkatan ratio output dan input yang dapat dicapai dengan cara: 1) output tetap/konstan sedangkan input berkurang. artinya bahwa dalam pengaliran produk pertanian dari petani produsen sampai di konsumen secara efisien.1 Mekanisme Pasar Berdasarkan grafik 2.D S Py D S Pz D S Px 0 Qx (a) Q 0 Qy (b) Q Q 0 (c) Qz Gambar 2.2. Performance). namun belakangan telah banyak digunakan untuk menganalisis produk-produk pertanian (Alhusniduki. 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan persentase kenaikan input dan 4) output berkurang dengan persentase yang lebih rendah dari persentase penurunan input. Proses perdagangan akan berhenti pada saat harga pokok di X sama dengan harga pokok produk tersebut di Y. perpindahan produk akan terus berlanjut dari pasar dengan harga produk yang lebih rendah ke pasar di mana harga produk tersebut lebih tinggi. harga di X sebesar Px (gambar a) lebih murah dari harga barang di Y (gambar b) atau dapat dinyatakan sebagai berikut Px < Py. Selanjutnya apabila ada biaya transfer atau pajak maupun kendala lainnya. 2.2. 2) output meningkat dan input tetap. maka harga pokok di Y akan turun. Selanjutnya setelah terjadi perdagangan dengan asumsi bahwa tidak ada biaya transfer yang dikeluarkan oleh pedagang maka akan terjadi kenaikan harga di X karena sebagian produk di bawa ke Y oleh pedagang. Untuk mengetahui efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan pengukuran: 1) efisiensi teknis/operasional yang mengukur produktifitas pelaksanaan jasa . Conduct. Efisiensi Pemasaran Problematika utama dalam pemasaran komoditas pertanian adalah bagaimana upaya yang seharusnya dilakukan agar jasa lembaga pemasaran memuaskan petani produsen dan konsumen produk pertanian. 1991).1 di atas diketahui bahwa sebelum terjadi perdagangan. Pada awalnya analisis ini hanya digunakan untuk menganalisis organisasi pasar dalam sektor industri di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat. 1981). Perdagangan akan terhenti atau telah tercapai keseimbangan apabila perbedaan harga antara dua pasar tersebut hanya sebesar biaya transfer (Azzaino. perilaku dan tampilan pasar atau yang dikenal dengan analisis S – C – P (Structure.

Sedangkan dalam efisiensi harga atau efisiensi ekonomis adalah pada kemampuan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen. Menurut Mubyarto (1991) bahwa suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila memenuhi 2 syarat : Pertama mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya dan kedua mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat dalam produksi dan pemasaran barang itu. Efisiensi operasional atau efisiensi teknis penekanannya pada kemampuan meminimumkan biaya-biaya dalam melakukan fungsi pemasaran.pemasaran di dalam perusahaan dan 2) efisiensi alokatif (efisiensi harga) yang mengukur bagaimana harga pasar mencerminkan biaya produksi dan biaya pemasaran secara memadai pada sistem pemasaran secara keseluruhan. Menurut Soekartawi (1993) bila keuntungan yang diperoleh sebagai akibat pengaruh harga maka dapat dikatakan bahwa pengalokasian faktor produksi memenuhi efisiensi harga. yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. Dalam efisiensi alokatif diasumsikan bahwa output dan input berbentuk fisik yang tetap. Sementara itu menurut Tornek dan Robinson (1977) bahwa efisiensi pemasaran itu dapat dibedakan menjadi efisiensi operasional dan efisiensi alokatif atau efisiensi harga. Margin pemasaran ini terdiri dari biaya pemasaran (marketing cost) dan keuntungan . misalnya output per jam kerja. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. Efisiensi teknis dinyatakan dalam ratio output pemasaran terhadap inputnya: Output Pemasaran Efisiensi Operasional = Input Pemasaran Prinsipnya pengukuran efisiensi ini adalah kegiatan fisik. Yang sering menjadi indikator dalam mencermati efisiensi operasional adalah margin pemasaran. Apabila tidak terjadi seperti ini. Sebenarnya dalam pemasaran pengukuran efisiensi operasional sama artinya dengan pengurangan biaya. yakni perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima pada tingkat petani. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni.

Input adalah berbagai ramuan dari tenaga kerja. Kendati demikian hal ini bukanlah merupakan suatu patokan harga mati yang tidak dapat diganggu gugat. Menurut Azzano (1982) bahwa untuk melihat efisiensi harga digunakan analisis integrasi pasar secara vertikal. Sedangkan yang dimaksudkan dengan output adalah kepuasan konsumen terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut.pemasaran (marketing profit). sebab dapat saja terjadi bahwa pada kasus tertentu margin pemasaran tinggi dan korelasi harga juga tinggi. Bila disimak dari efisiensi operasional maupun efisiensi harga. maka suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila untuk suatu komoditas yang mengalir melalui berbagai lembaga pemasaran dari produsen ke konsumen diperlukan margin pemasaran yang rendah dan tingkat korelasi yang tinggi. Apabila terjadi suatu perubahan yang menyebabkan biaya input untuk menghasilkan suatu . tampilan dan perilaku. maka Saefuddin (1982) menyatakan bahwa ada dua konsep yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran yakni konsep input output ratio dan konsep S-P-C (Structure. Performance dan Conduct) atau struktur. Dua pasar dikatakan terintegrasi apabila perubahan harga dari salah satu pasar disalurkan/diteruskan ke pasar lainnya. Oleh karena itu margin pemasaran dan korelasi harga sebagai indikator efisiensi pemasaran tidak lagi saling melengkapi sehingga diperlukan indikator lain. Semakin besar biaya pemasaran dan atau semakin besar keuntungan pemasaran suatu komoditas. Sedangkan efisien harga ditunjukkan oleh korelasi antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen. Sehubungan dengan hal di atas. dan manajemen yang digunakan oleh lembagalembaga pemasaran dalam proses pemasaran. maka margin pemasaran semakin besar yang menyebabkan sistem pemasaran menjadi tidak efisien.

Struktur pasar ini dapat dibedakan . dkk (1991) bahwa kelemahan karena adanya penambahan biaya pemasaran seringkali diperlukan penambahan jasa kepada konsumen. perilaku pasar (market conduct) dan tampilan pasar (market performance). distribusi perusahaan dengan berbagai ukuran dan diferensiasi produk serta syarat-syarat keluar masuk pasar. dengan penjual potensial yang akan masuk pasar.barang dan atau jasa meningkat dengan tidak mengurangi kepuasan konsumen dikatakan sebagai peningkatan efisiensi. tetapi penambahan jasa tidak selalu dicerminkan dalam pertambahan nilai produk yang dipasarkan. 1984).3 Struktur Pasar Struktur dimaksudkan sebagai karakteristik organisasional suatu pasar yang dalam prakteknya adalah menentukan hubungan antara pembeli dan penjual di pasar. Menurut Alhusniduki. Karena itu pendekatan yang lebih tepat. Sedangkan apabila terjadi perubahan yang menyebabkan adanya penurunan biaya input tetapi tidak mempertahankan atau tidak diikuti dengan peningkatan kepuasan konsumen maka dikatakan terjadi penurunan efisiensi. Menurut Azzaino (1981) struktur pasar adalah suatu dimensi yang menjelaskan definisi industri dan perusahaan mengenai jumlah yang ada di pasar. sehingga standar dalam pendekatan ini tidak ada. Sebaliknya dengan menurunnya nilai produk mungkin disebabkan oleh penurunan harga di tingkat konsumen. Penggunaan konsep efisiensi seperti ini sangat sulit karena adanya kesulitan dalam mengukur tingkat kepuasan (Atmakusuma. 2.2. dan lebih banyak digunakan di negara-negara maju terutama Amerika Serikat. dan kini mulai digunakan di negara-negara yang sedang berkembang dalam mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan analisis struktur pasar (market structure).

3) kendala masuk pasar dan 4) diferensiasi produk.menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna yang meliputi pasar monopoli/monopsoni dan pasar oligopoli/oligopsoni. Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda. Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. monopsoni dan oligopsoni. pasar oligopoli. pasar monopsoni. King dan Carman. Pasar dengan persaingan tidak sempurna dibedakan menjadi pasar monopoli. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat Karakteristik Struktural Struktur Pasar Jumlah Bentuk Sisi Penjual Jumlah Perusahaan Produk Pembeli Banyak Standar Persaingan Persaingan Murni murni Banyak Berbeda Persaingan Persaingan Monopolistik Monopsonistik Sedikit Standar Oligopoli Oligopsoni Murni Murni Sedikit Berbeda Oligopoli Oligopsoni Diferensiasi Diferensiasi Satu Unik Monopoli Monopsoni Taken dan Asnawi (1977) membedakan struktur pasar atas persaingan sempurna dan persaingan tidak sempurna. Dahl dan Hammond (1977) membedakan struktur pasar hasil pertanian sebagai berikut: Tabel 1. yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku pedagang dan tampilannya. pasar monopoli. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. dan pasar oligopsoni. Struktur pasar menurut Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. Sexton. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. 2) konsentrasi pembeli. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. 1991 menyatakan bahwa untuk mengetahui dua .

(2) Produk yang dihasilkan adalah homogen. Suatu pasar dikatakan berada dalam keadaan persaingan sempurna apabila memenuhi syarat-syarat berikut: (1) jumlah pembeli dan penjual sangat banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan. Biaya yang dikeluarkan tersebut meliputi biaya tetap (BT). Petani di sini seperti halnya pimpinan perusahaan yang menghadapi berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan padi. Suatu contoh dapat diberikan di sini adalah petani padi yang menghasilkan beras. Produsen terdiri dari banyak sekali petani yang menghasilkan beras terstandar untuk dijual di pasar. (4) informasi pasar sempurna dan diperoleh secara gratis. maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna. Sebaliknya harga pokok yang dihasilkan . Homogenitas di sini dimaksudkan sebagai karakteristik teknis maupun jasa yang diperlukan pemasarannya sama. Apalagi koefisien regresinya sama dengan satu. sedangkan apabila koefisien regresinya lebih kecil dari satu. biaya varibel (BV) dan biaya marginal (BM). maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika lebih besar dari satu maka pasar cenderung ke erah monopsoni. (3) mobilitas faktor produksi ke dalam pasar tidak ada hambatan sama sekali.pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan harga di tingkat pasar ke-i sebagai variabel terikat dan harga di tingkat ke-i + 1 dan selisih biaya transportasi sebagai variabel bebas. bukan hanya saat ini tetapi juga pada waktu yang akan datang.

Karenanya dalam pasar persaingan sempurna biaya ratarata adalah terendah. sebaliknya bila harga turun maka petani atau produsen akan keluar dari pasar sampai BM = MR = BR kembali. Kondisi seperti ini petani tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga pasar. mungkin bisa dilihat dari pasar pakan ternak.2. Produk ini untuk kebutuhan yang sama tetapi dapat saja terjadi perbedaan konsentrasi bahan yang digunakan atau mungkin pula pembeli yakin bahwa pakan yang dihasilkan peruashaan A berbeda dari .dalam hal ini beras adalah tetap. Keadaan Pasar Persaingan Sempurna Keterangan : BR = Biaya rata-rata BM = Biaya marginal MR = Penerimaan Marginal Berdasarkan grafik 2. Keadaan ini merupakan keseimbangan jangka panjang. (tentunya dengan asumsi bahwa tidak campur tangan pemerintah). Apabila harga naik. 1993). Keadaan ini dapat digambarkan dengan grafik seperti di bawah ini dengan kurva-kurva: biaya rata-rata (BR) dan biaya marginal (BM) (Masyrofie. oleh karena itu hanya menerima harga berlaku di pasar (hanya bertindak sebagai price taker). Untuk meningkatkan pendapatan. P BM BR H d = H = MR 0 Q Jumlah Gambar 2. petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu. satu-satunya adalah dengan menekan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk (biaya produksi). Bentuk pasar dengan persaingan monopolistik. maka petani akan berproduksi pada titik Q pada saat BM = MR.2 di atas. maka produsen lain akan masuk pasar sampai BM = MR = BR. Dalam keadaan pasar persaingan sempurna.

maka bentuk kurva permintaannya menurun dari kiri atas ke kanan bawah (D). kendati kenyataannya sama saja. d) mendapatkan lisensi dari pemerintah dan e) skala perusahaan besar. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan lain tidak dapat memasuki pasar tersebut. Sukirno (1995) menyatakan bahwa ada beberapa hal suatu perusahaan bersifat monopoli antara lain : a) menguasai bahan baku yang strategis untuk menghasilkan produk yang akan dijual. Bentuk pasar monopolistik ini dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini. Harga BM H BR D MR 0 Q1 Jumlah Grafik 2. Oleh karena itu pembeli mau saja membeli dalam keadaan harga yang berbeda yang ditawarkan oleh produsen yang berbeda-beda.3. dan harga produk sebesar H. Bagaimana seorang monopolis mendapatkan laba maksimum dapat dilihat pada grafik berikut ini. Mereka akan mempunyai BM dan BR sebagai kendala biaya dalam persaingan murni. Pasar Monopolistik Keterangan : BM = Biaya Marginal BR = Biaya rata-rata MR = Marginal Revenue Jumlah permintaan yang terjadi adalah sebesar OQ1 pada BM = MR. b) menguasai teknik produksi yang spesifik. . Melalui perbedaan produk. Akan tetapi produknya yang berbeda-beda dari perusahaan lain. Pasar monopoli adalah suatu struktur pasar dengan hanya satu perusahaan yang menjual produk di pasar. suatu perusahaan kecil akan dapat beroperasi sebagaimana perusahaan monopoli.yang dihasilkan perusahaan B. Produsen dapat merubah harga dengan merubah produksi. c) hak paten. iklan atau aktivitas promosi lainnya. Hal ini berarti bahwa mereka harus menerima harga yang rendah kalau akan menambah produk yang akan ditawarkan untuk meningkatkan volume penjualan.

sedangkan harga dari input ditentukan oleh titik-titik sepanjang kurva penawaran.BM Hrg H1 A BTR H2 H3 B C MR 0 Q1 Jumlah D Grafik 2. Hal ini dapat dijumpai pada pemasaran hasil pertanian di tingkat petani produsen. Makin besar pembelian monopsoni akan suatu produk maka harga produk tersebut makin tinggi dan sebaliknya. MRP adalah tambahan terhadap total revenue sebagai sumbangan dalam menggunakan satu input. maka penggunaan input sampai pada suatu jumlah di mana nilai produk marginal dari faktor produksi tersebut (NPMF) sama dengan biaya faktor marginalnya (NPMF = BFM). Ditetapkannya harga sejumlah produk (Q) sebesar H1. yang berarti bahwa harga produk dipengaruhi oleh pembelian monopsoni. hal inilah yang menyebabkan inefisiensi karena faktor-faktor penyebab monopoli sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya.4 nampak bahwa keuntungan maksimum tercapai pada saat BM = PM dengan jumlah produksi dan permintaan pasar sebesar OQ pada harga H1. Perbedaan harga H1 dan H2 adalah keuntungan monopolis. Dalam struktur pasar ini kurva penawarannya mempunyai slope positif. Suatu perusahaan monopsoni yang bermaksud memaksimumkan keuntungannya. sedangkan penjual atau produsennya banyak. Suatu pasar dikatakan sebagai pasar monopsoni apabila di dalam pasar tersebut hanya terdapat satu pembeli. sedangkan BFM adalah tambahan terhadap biaya total sebagai akibat . Apabila monopolis memproduksi sebanyak Q akan dijual dengan harga yang lebih tinggi yakni H1. Padahal dalam keadaan keuntungan maksimum (BM = MR) harga produk yang sebenarnya hanya sebesar H3. perusahaan berada dalam keadaan kelebihan laba (excess profit) yaitu seluas daerah H1H2AB.4 Pasar Monopoli Keterangan : BTR BM MR Hrg = Harga = Biaya Total Rata-Rata = Biaya Marginal = Marginal Revenue Pada grafik 2.

Kesamaan ini terjadi pada titik potong E dalam gambar di bawah ini. Sebaliknya. baik dalam bentuk produksi maupun aktivitas penjualan produk serta harga. Karena itu. Jadi H2 adalah harga keseimbangan pasar input yang berhubungan penggunaan input sebanyak OQ (Azzaino. Jadi keuntungan akan maksimum dalam menggunkan input jika berproduksi pada BFM = MRP. berhubungan dengan titik F pada kurva penawaran.5 Pasar Monopsoni Pada gambar di atas. bila MRP < BFM. OQ adalah jumlah input yang digunakan.tambahan penggunaan satu satuan input. kurva permintaan akan putus (kinked demand curve) karena setiap pesaing gagal mengikuti kenaikan harga. Dalam hal ini. OQ satuan input akan ditawarkan pada harga H2 per satuan. kerugian akan bertambah dalam menambah produksi dengan menggunakan input tersebut. penambahan dalam penggunaan input akan tetap meningkatkan keuntungan. Harga H1 H2 H3 F E BFM S MRP 0 Q Q1 Quantity Grafik 2. Pasar oligopoli adalah suatu keadaan pasar di mana hanya terdapat beberapa penjual dan masing-masing pengusaha berusaha untuk mempengaruhi harga pasar. Oleh karena itu selama MRP > BFM. bahkan selalu bersesuaian dalam keadaan harga turun. . 1981). akan tetapi juga harus memperhatikan tindakan rivalnya. Hal inilah yang menyebabkan ketidakberlanjutan kurva MR (grafik 5).

Pada kondisi seperti ini produk dijual dengan harga H1 dengan jumlah produk sebanyak OQ.6: Perusahaan pada kondisi oligopoli Pada waktu H1. Jika oligopolis menurunkan harga maka harga akan mengikuti kurva permintaan BF.A F' BM H1 B BR C A' H2 D MR 0 Q E F Quantity Grafik 2. 1995). bukan kelanjutan kurva AB dan Q bertambah banyak. sedangkan rivalnya tidak ikut menaikkan harga maka kurva permintaan yang dihadapi oleh oligopolis adalah AB (relatif mendatar). Kurva permintaan marginal (PM) merupakan kurva terputus ACDF. perusahaan menjual produk sebanyak OQ. Jadi kurva ABF adalah kurva permintaan oligopolis (Sudarsono. maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dengan . Jika oligopsonis meningkatkan harga pembelian inputnya. Akan tetapi apabila oligopolis menaikkan harga. Kurva permintaan untuk penurunan harga ini lebih curam dari pada kurva permintaan pada saat kenaikan harga. Oligopolis yakin bahwa apabila ia menurunkan harga penjualan maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dalam penurunkan harga dan jumlah penjualan akan meningkat sesuai dengan kurva permintaan BF. Pada pasar oligopsoni akan terjadi sebaliknya. Oligopolis akan mencapai keuntungan maksimum pada saat BM = BR.

budaya. apakah bebas ataukah berada dalam suatu sistem manajemen. Clindiff (1988) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa ada dua pengaruh pokok yang mempengaruhi pembeli yakni pengaruh individu dan pengaruh lingkungan. imbalan dan keuntungan. c) kendala masuk pasar dan d) diferensiasi produk. b) konsentrasi pembeli merupakan kebalikan dari konsentrasi penjual yaitu apabila konsentrasi pembeli 82% berarti 82% dari produk yang ada dikuasai oleh 4 perusahaan tersebut. 2. Dahl dan Hammond (1977). Menurut Abbot dan Mahekam (1990) bahwa ada strategi pokok dalam mengukur struktur pasar yaitu : 1) ukuran relatif dari perusahaan dan 2) hubungan bisnis dari perusahaan. ekonomi. sosial dan bisnis. belajar dan sikap. maka perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor biaya. yaitu apabila 4 : 10 perusahaan menjual 82% dari total produk (konsentrasi produk 82%) berarti dalam industri atau perusahaan 82% aktivitas ekonomi dikendalikan oleh 4 perusahaan tersebut. Sekelompok atau seseorang . persepsi.manikkan harga pembelian input. motivasi. Sedangkan apabila terjadi sebaliknya maka rivalnya tidak akan menurunkan harga pembeliannya. Dalam kaitan dengan pengaruh. Yang termasuk dalam pengaruh individu adalah kebutuhan. Purcell (1979) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : a) konsentrasi penjual.4 Perilaku Pasar Perilaku pasar merupakan pola tingkah laku lembaga pemasaran dalam menyesuaikan diri dengan pasar di mana ia melaksanakan pembelian dan penjualan produk.2. Sedangkan yang termasuk dalam pengaruh lingkungan adalah pengaruh keluarga. baik individu maupun lingkungan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas maka Lawang (1986) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa perilaku manusia bila dikaitkan dengan pertukaran.

kecamatan. Sebaliknya integrasi horizontal akan dapat memperkuat posisi produsen atau perusahaan dan menghindarkan persaingan dengan perusahaan sejenis (Hanafiah dan Saefuddin. Alat analisis yang digunakan adalah korelasi harga antara pasar yang satu dengan yang lainnya. Saefuddin (1982) mengemukakan salah satu kriteria yang cocok untuk merumuskan suatu situasi pasar yang dapat mengoptimumkan keuntungan sosial dan memaksimumkan efisiensi pemasaran adalah perilaku pasar yang meliputi: 1) praktek-praktek penentuan harga yang mendorong terjadinya grading dan standarisasi produk. yang meliputi integrasi vertikal dan integrasi horizontal. atau antara lembaga tingkat bawah dengan lembaga perantara yang di atasnya. Selain itu analisis mampu menjelaskan kekuatan tawar menawar antara petani dengan lembaga pemasaran. Secara teoritis kalau pasar berjalan secara bersaing sempurna. Sedangkan analisis integrasi pasar secara vertikal digunakan untuk melihat secara kasar keadaan pasar pada tingkatan lokal. 4) kebijaksanaan harga yang mendorong perbaikan mutu produk dan meningkatkan kepuasan konsumen. Perilaku pasar dapat juga dilihat dari integrasi pasar. Sedangkan integrasi horizontal adalah penggabungan dua atau lebih lembaga pemasaran yang melakukan fungsi yang sama pada tahap distribusi yang sama pula ke dalam satu sistem manajemen. kemungkinan imbalan yang akan diterima/diperoleh dan bentuk keuntungan diperoleh atau diharapkan. Dengan demikian maka integrasi vertikal merupakan penggabungan proses dan fungsi dua atau lebih lembaga pemasaran pada tahap distribusi ke dalam satu sistem manajemen. Yang dimaksud dengan integrasi adalah penggabungan kegiatan dalam pemasaran dalam satu sistem manajemen. 3) praktek-praktek penentuan harga bebas dari kolusi dan taktik-taktik yang tidak jujur. kota dan provinsi. 2) seragamnya biaya pemasaran.mempunyai perilaku tertentu merupakan refleksi dari pertimbanganpertimbangan terhadap biaya yang telah dikeluarkan. Makna penting dari integrasi vertikal yakni akan menurunkan biaya pemasaran sehingga menguntungkan konsumen. kabupaten. Sementara itu menurut Alhusniduki (1991) bahwa analisis integrasi pasar secara horizontal digunakan untuk melihat apakah mekanisme harga berjalan secara serentak atau tidak. maupun perdagangan gelap. maka: (1) Pj = (b1 + b2) + Pi dimana : Pj = Harga pada tingkat pasar ke-i Pi = Harga pada tingkat pasar ke-i+1 b1 = Biaya pemasaran (biaya transportasi) = Keuntungan lembaga pemasaran b2 Dengan asumsi bahwa b1 dan b2 adalah konstan terhadap satuan komoditas yang dijual maka Pj = a + Pi (2) . 1986).

5 Tampilan Pasar Tampilan pasar merupakan hasil akhir yang timbul akibat penyesuaianpenyesuaian yang dilakukan oleh lembaga pemasaran pada struktur pasar tertentu di mana mereka beroperasi.2. lebih mudah diperbaiki dan sebagainya. Secara matematis dapat dinyatakan: Pf Fs = x 100% (4) Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Share keuntungan. keuntungan investasi dan pengembangan produk. lembaga pemasaran ke-i : Ki Ski = x 100% (5) Pr − Pf Ki = Pji – Pbi – bij (6) Dimana : Ski = Share keuntungan lembaga pemasaran Ki = Keuntungan lembaga pemasaran . (1981) menyatakan bahwa tampilan pasar dapat dilihat dari tingkat harga. seperti upaya promosi. 2. Azzaino. tidak adanya keuntungan monopsoni. maka: Pj = a0 + a1P1 (3) Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen. Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share). Tampilan ini dapat diukur dari efisiensi penggunaan sumber daya. Stiffel (1975) menyatakan bahwa tampilan pasar adalah hubungan struktur pasar dengan perilaku pasar dalam hal kebijaksanaan harga dan produk.Oleh karena itu jika pasar berada dalam keadaan bersaing sempurna. Tampilan pasar dapat pula dipengaruhi oleh persaingan non harga. margin. adanya perbaikan produk sehingga lebih tahan lama. perbaikan sistem pemasaran yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. maka dapat disimpulkan jika: a1 < 1 → Terjadi monopoli penjualan dari lembaga pemasaran dari tingkat pasar yang satu dengan tingkat pasar yang di atasnya a1 = 1 → Pasar berjalan dalam keadaan bersaing sempurna a1 > 1 → Terjadi monopsoni pembelian dari lembaga pemasaran yang di atas dengan yang di bawahnya.

kendatipun jumlah yang dipasarkan atau ditawarkan berubah dan pada kondisi yang lain margin pemasaran itu berubah. . turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil. Dikatakan pula bahwa margin pemasaran dapat menjadi konstan pada kondisi-kondisi tertentu. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen.2.6 Margin Pemasaran Margin pemasaran dimaksudkan sebagai perbedaan harga suatu komoditas yang diterima produsen dengan harga yang dibayar konsumen. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik.Pji Pbi Pr Pf bij = Harga jual lembaga pemasaran ke-i = Harga beli lembaga pemasaran ke-I = Harga beli konsumen = Harga jual petani = Biaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran 2. misalnya harga suatu barang naik. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar (Atmakusuma. maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar. Jika fungsi penawaran elastisitas sempurna (horizontal) maka margin pemasaran konstan walaupun permintaan meningkat. tetapi biaya pemasaran tepat. Margin pemasaran terdiri dari biaya untuk menyalurkan atau mendistribusikan atau memasarkan dan keuntungan lembaga pemasaran. Bila harga konsumen itu kecil. 1984). Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah.

apabila dibandingkan dengan perubahan harga. Keuntungan lembaga pemasaran merupakan bagian dari margin pemasaran. dan ditentukan oleh faktor-faktor berikut : (a) harga modal dari barang. (3) adanya organisasi yang terorganisir dan tidak terorganisir. Untuk mengurangi margin pemasaran dapat dilakukan dengan : 1) mengurangi biaya pemasaran. misalnya untuk komoditas pertanian dengan sifat yang cepat membusuk atau perishable mempunyai resiko besar sehingga margin pemasaran yang lebih besar dari pada komoditas yang tahan lama. permintaan dan tidak tergantung pada harga barang. Hal ini disebabkan oleh besarnya biaya pemasaran yang ditentukan oleh jumlah atau volume penawaran barang. 2) memperbaiki sistem informasi pasar. maka margin pemasaran berikut pendistribusian akan berlainan. (2) adanya perlakuan pengolahan hasil. memperkuat posisi tawar menawar (bargainning position) dari produsen dan 3) stabilitas harga produk. (b) jumlah komoditas yang dijual dan (c) keuntungan yang diperhitungkan sebagai cadangan dari penanggungan resiko. Mengurangi biaya pemasaran dapat ditempuh dengan cara : 1) mengoptimumkan jumlah dan besarnya lembaga pemasaran yang menyelenggarakan fungsi- . maka margin itu sebenarnya relatif stabil atau auflexility marketing margin. karena (1) sifat komoditas itu sendiri. (4) kesediaan membayar dari pada konsumen terhadap suatu komoditas yang ingin dibelinya.Apabila harga suatu komoditas tetap.

iklim usaha yang baik dan dengan cara menyederhanakan sistem distribusi barang. pedagang besar. Turunan dan Margin Pemasaran Thomek dan Robinson (1977) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima produsen. oligopoly dan sebagainya. Harga Sd Sp Pr Penawaran Turunan Penawaran Primer Pf Dd Dp Permintaan Primer Permintaan Turunan 0 Q Jumlah Gambar 2. Di dalam margin pemasaran terdapat dua komponen yaitu 1) biaya pemasaran (marketing cost) yaitu imbalan terhadap faktor-faktor yang dipakai dalam proses pemasaran terdiri dari upah.7). sewa. 2) marketing charge yaitu imbalan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga pemasaran mulai dari pedagang pengumpul. misalnya dengan cara self service. misalnya monopsoni. . pedagang perantara.7 Fungsi Primer. Usaha perbaikan biaya pemasaran dan tingkat keuntungan lembaga tersebut akan dapat meningkatkan efisiensi pemasaran. 2) memperbaiki cara kerja dari setiap lembaga pemasaran. bunga dan keuntungan. Keuntungan lembaga pemasaran yang berlebihan dapat pula diperkecil dengan cara : 1) memperbaiki resiko teknis dan ekonomis. 2) memperbaiki struktur pasar yang bersaing terlalu hebat. processor maupun pengecer (grafik 2.fungsi pemasaran. atau disebut juga sebagai pungutan balas jasa bagi lembaga pemasaran.

7 di atas.3 Kerangka Pemikiran Seiring dengan semakin meningkatkanya kesejahteraan masyarakat. Penawaran primer (Sp) merupakan penawaran yang terjadi di tingkat produsen. maka diperkirakan akibat yang terjadi sebagai berikut: (a) harga di tingkat konsumen (Pr) naik margin perhitungan lebih kecil dari margin sebenarnya. Dengan adanya resiko-resiko tersebut maka kualitas maupun kuantitas produk tersebut berkurang/menurun. pengangkutan atau penyimpanan sering terjadi resiko rusak/susut sebagai akibat atau pengaruh iklim/cuaca atau hama/penyakit. Utamanya pemenuhan kebutuhan protein hewani yang berasal dari daging sapi maupun susu sapi segar yang meningkat setiap tahun. (b) harga di tingkat konsumen (Pr) turun. Begitupun dengan penawaran turunan (Sd) adalah penawaran yang terjadi di tingkat konsumen yang dilakukan oleh pedagang maupun oleh processor. maka semakin tinggi pula kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarga. Sebagai konsekwensi dari faktor waktu inilah menyebabkan perbedaan margin pada waktu pengumpulan dan pada waktu penjualan. maka margin perhitungan akan lebih besar dari margin sebenarnya.Berdasarkan grafik 2. Akibat terpisahnya pusat produksi dengan pusat konsumsi mengakibatkan pengadaannya di konsumen membutuhkan waktu. Sedangkan permintaan turunan merupakan hubungan antara harga dan jumlah dalam mana petani bersedia menjual produknya. Dengan demikian permintaan primer merupakan permintaan konsumen (Pr) sedangkan permintaan turunan (Pd) merupakan permintaan yang dihadapi oleh petani. 2) Faktor resiko. Sebaliknya jika selama periode pengadaan mulai dari produsen sampai ke konsumen terjadi perubahan harga. Artinya selama periode pengadaan. 2. Atmakusuma (1984) menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perhitungan margin tataniaga (pemasaran) adalah : 1) Waktu (time lag). Permintaan primer merupakan permintaan atas harga dan jumlah pada tingkat konsumen. Adanya perubahan kualitas tersebut merupakan margin kualitas (quality margin) dan juga mengakibatkan margin perhitungan lebih rendah dari margin sebenarnya. . akibat sifat komoditas pertanian yang mudah rusak maka dalam proses tataniaga misalnya proses pengumpulan. maka keadaan margin perhitungan sama dengan margin pada komoditas tersebut dijual kepada konsumen (margin sebenarnya). terlihat bahwa margin pemasaran merupakan perbedaan harga konsumen (Pr) yang juga sebagai permintaan primer dengan harga yang diterima produsen (Pf) juga sebagai permintaan turunan dari suatu komoditas. harga komoditas tersebut tetap.

2008). 2006). Vincent (1996) mengemukakan bahwa permintaan suatu barang atau jasa pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1) harga dari barang atau jasa itu sendiri. Kota Batu yang merupakan salah satu wilayah pengembangan sapi perah di Jawa Timur dengan populasi saat ini 6. perilaku dan tampilan pasar terhadap pemasaran pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.15 persen. Berkaitan dengan prediksi ke depan itu maka salah satu aspek yang sangat menentukan adalah pemasaran yang merupakan fokus utama dalam penelitian ini yakni bagaimana struktur. 3) harga barang-barang atau .335 ekor melalui dinas pertanian Kota Batu telah merencanakan untuk dikembangkan dan ditingkatkan terus populasi peternakan sapi rakyat sampai mencapai ± 15.000 ekor lebih pada tahun 2006 yang tersebar di 34 wilayah kabupaten kota. (Anonymouse. 2) pendapatan konsumen.Jawa Timur yang merupakan salah satu setra produksi susu dengan jumlah populasi sapi perah sebanyak 134. Gaspersz. Bertolak dari rencana pengembangan dan peningkatan populasi sapi perah itulah maka peluang untuk penambahan pedet jantan sapi perah melalui kelahiran akan sangat memungkinkan di masa yang akan datang.000 ekor yang akan disebar kepada petani peternak melalui Gabungan Kelompok Tani secara bertahap untuk 5 – 10 tahun ke depan bila kita inginkan petani peternak di Kota Batu sejahtera. menjadikan Jawa Timur sebagai wilayah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kebutuhan susu segar nasional yaitu 41. Walau demikian kebutuhan susu secara nasional masih di impor sebesar 65-70 persen sehingga peluang untuk meningkatkan populasi sapi perah masih terbuka luas (Anonymous.

5) selera konsumen. Apabila tidak terjadi seperti ini. 4) ekspektasi konsumen yang berkaitan dengan harga barang atau jasa.jasa yang berkaitan. 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dari persentase peningkatan input dan 4) output menurun dengan persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan persentase penurunan input. efisiensi pemasaran adalah peningkatan ratio output input yang dapat dicapai dengan : 1) output tetap sedangkan input berubah. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan yang tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni.(7) pengeluaran iklan. Efisiensi operasional = Output pemasaran input pemasaran Selanjutnya efisiensi alokatif mengasumsikan bahwa output dan input dalam bentuk fisik tetap yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. Struktur pasar menurut . tingkat pendapatan dan ketersediaan dari barang atau jasa itu di masa yang akan datang. 6) banyaknya konsumen potensial. 2) output berubah sedangkan input tetap. Struktur pasar dapat dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna. Menurut Kohl dan Downey (1977). Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda (Teken dan Asnawi. Efisiensi operasional diukur dengan ratio output pemasaran dengan inputnya. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. 8) atribut atau fetures dari produk tersebut dan 9) faktor-faktor spesifik lain yang berkaitan dengan permintaan terhadap produk itu. 1977).

Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. . monopsoni dan oligopsoni. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. sedangkan bila β1 < 1. 1991) menyatakan bahwa untuk mengetahui dua pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan model persamaan sebagai berikut ini: PA = βo + β1PB + β2Tc + εt dimana PA = harga di tingkat pasar ke-1 PB = harga di tingkat pasar ke-I+1 βo = intersep β1 = koefisien regresi Tc = Selisih biaya transport εt = galat (7) Apabila koefisien β1 = 1 maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna.Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. 2) konsentrasi pembeli. King dan Carman. (Sexton. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika β1 > 1 pasar cenderung ke arah monopsoni. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensial produk. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku dagang dan tampilannya yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. pasar monopoli. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna.

share harga dan keuntungan pemasaran dari pedet jantan sapi perah lebih tinggi di tingkat pedagang perantara atau blantik dibanding pemasaran langsung di pasar hewan. Sistim pemasaran pedet jantan sapi perah yang dilakukan petani peternak di Kota Batu belum efisien. 2. 3. 3) analisis elastisitas transmisi harga. Terjadi beberapa pola saluran pemasaran pedet jantan sapi perah. 6) penggunaan input optimum dan 7) integrasi pasar yang dilakukan melalui integrasi secara vertikal dan integrasi secara horizontal.4 Hipotesis 1. 4) fungsi keuntungan pemasaran. Untuk mengukur tampilan pasar dilakukan dengan: 1) efisiensi pemasaran. Harga pedet jantan sapi perah rata-rata lebih murah di tingkat pedagang perantara atau blantik. Margin pemasaran. sedangkan pola saluran yang paling dominan adalah pola saluran pemasaran dari petani langsung ke blantik (pedagang perantara).Tampilan pasar tergantung pada tingkat efisiensi dan produktifitas dari suatu perusahaan. 2) margin pemasaran. . 2. 4. 5) fungsi suplai output petani.

diambil seluruhnya yaitu Kecamatan Junrejo.Desa Oro-oro Ombo .Desa Tlekun .Desa Tulungrejo .Kelurahan Songgokerto . Junrejo Kec. METODE PENELITIAN 3.Desa Giripurno . Penentuan lokasi dengan cara purposive atau dengan cara sengaja yaitu untuk wilayah kecamatan.III. Bumiaji .Desa Junrejo .Desa Gunungsari . Secara skematis lokasi penelitian disajikan sebagaimana skema berikut: Peta Lokasi Penelitian KOTA BATU Kec.Desa Dadaprejo .1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu yang meliputi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Andhini Sejahtera yang tersebar di 9 desa/kelurahan pada 3 kecamatan dalam wilayah Kota Batu. Batu Kec. Sedangkan penentuan lokasi penelitian di tingkat desa/kelurahan ditentukan berdasarkan tingkat kepadatan populasi sapi perah.Desa Sumberejo . Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji.

1000 ekor dapat digunakan sampel 15 . (2003) yaitu dengan mengambil sampel sebagai berikut. sehingga didapat 10 responden di Kecamatan Junrejo.50 persen dan populasi yang jumlahnya lebih dari 1000 ekor dapat digunakan sampel 10 . yaitu suatu teknik pengambilan atau penentuan sampel dengan tujuan tertentu dengan syarat ciri dan sifat populasi telah diketahui sebelumnya. Hal ini sesuai dengan Arikunto (1997) dalam Sunarto (2002). Untuk menentukan petani . 3. Cara penentuan responden dengan purposive sampling yaitu petani peternak pemilik pedet jantan sapi perah.3 Metode Pengumpulan Data Pengambilan data primer langsung dari petani . dengan syarat peternak yang dijadikan responden mempunyai ternak lebih dan 3 ekor.2 Metode Pengambilan Sampel Populasi pedet jantan tahun 2008 di wilayah kota Batu perah sebanyak 259 ekor. populasi yang jumlahnya 100 .3.peternak responden dilaksanakan secara purposive sampling. 10 responden di kecamatan Batu dan 10 responden di kecamatan Bumiaji. untuk populasi ternak yang jumlahnya kurang dari 100 ekor. dengan penentuan jumlah peternak sebagai responden 30 orang untuk peternak sapi perah. Sedang penentuan jumlah responden pada tiap desa dengan cara proporsional purposive.15 persen.peternak responden dan lembaga-lembaga pemasaran dengan cara mengajukan pertanyaan yang . sehingga diperoleh 30 peternak sapi perah. hal ini sesuai dengan Surachman (1989) dalam Sumarto. sampel yang digunakan paling kurang 50 persen.

4 Definisi Operasional 1. 5. pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) mulai dari pintu gerbang petani peternak sampai di tangan konsumen yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) pedet jantan sapi perah./ekor). petani penggemukan. Margin Pemasaran (marketing margin) adalah perbedaan harga di tingkat. 2. Keuntungan Pemasaran (merkezing profit) adalah selisih margin pemasaran dengan biaya pemasaran dinyatakan dalam rupiah (Rp). dinyatakan dalam jumlah satuan rupiah per ekor (Rp.telah dipersiapkan dalam bentuk kuesioner. 4. pedagang pengumpul dan pedagang Perantara (blantik) dan dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp. pedagang pengumpul dan pedagang perantara/blantik. Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan masalah yang diteliti mulai dari tingkat desa sampai tingkat kota Batu. Share harga yang diterima petani (farmer’s share) adalah bagian harga yang diterima petani peternak dari harga yang dibayar petani penggemukan. 3. Biaya Pemasaran (marketing cost) adalah semua biaya yang dikeluarkan petani penggemukan.). Harga di tingkat petani peternak adalah harga jual pedet jantan sapi perah yang merupakan hasil transaksi antara petani peternak dengan petani penggemukan. . 3.

9.7 bulan baik sapi sapi perah. Penampilan data nilai jual pedet jantan sapi perah merupakan hasil wawancara dari petani peternak responden dan lembaga-lembaga seluler pemasaran. Jumlah pemilikan pedet adalah jumlah pedet jantan sapi perah yang dimiliki petani peternak termasuk jumlah pedet yang sudah dijual dalam 2 tahun terakhir ini dan dinyatakan dalam satuan ekor.6.5 Metoda Analisis Data Metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini secara garis besar dilakukan untuk menjawab tujuan dari pada penelitian ini. . Biaya transportasi adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh pedagang untuk mengangkut ternak dari daerah asal/tempat petani peternak sampai pasar ternak dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp) 10. 8. Pedet jantan adalah anak sapi yang berumur 0 . Responden adalah petani peternak atau salah satu anggotanya yang tinggal dalam satu atap/rumah baik sebagai anak atau istri yang dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. b) menganalisis pengaruh cara pembayaran dan perbedaan jarak tempat tinggal petani peternak dan pasar hewan yang diterima petani peternak. 3. 7. Pada tahap pertama adalah untuk menganalisis : a) efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah yang selama ini dilakukan oleh petani peternak.

3. Oleh karena itu dalam menganalisis efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu digunakan pendekatan Structure.1 Analisis Struktur Pasar Pendekatan yang dipergunakan untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi di Kota Batu adalah a) analisis konsentrasi ratio (Kr).5. perilaku dan tampilan pasar (S-C-P).1 Analisis Efisiensi Pemasaran Sesungguhnya sampai dengan saat ini belum ada indikator yang pasti/baku yang dapat dipergunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran. sebagaimana yang dikemukakan oleh Saefuddin (1982) bahwa untuk mengetahui efisiensi pemasaran di negara-negara yang sedang berkembang lebih tepat digunakan pendekatan struktur. Hay dan Morris dalam Widiyantana (1995) menyatakan bahwa . perilaku dan tampilan pasar. Conduct dan Performance (S-C-P) 3.5. Analisis Konsentrasi Ratio Yang dimaksudkan dengan konsentrasi ratio dalam penelitian ini adalah jumlah pedet jantan sapi perah dan pedet jantan sapi potong yang dibeli oleh pedagang tertentu dibandingkan dengan jumlah yang diperdagangkan. Namun demikian secara empiris pendekatan yang sering digunakan oleh para peneliti untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah pendekatan struktur. b) analisis elastisitas transmisi harga dan c) analisis deskriptif a.1.

maka dilihat elastisitas transmisi harganya.Pf/Pr Dimana: Et d Pr d Pf Pr Pt’ : Elastisitas transmisi harga : Perubahan harga di tingkat pengecer : Perubahan harga di tingkat petani : Harga di tingkat pengecer : Harga di tingkat petani (8) . Sedangkan apabila terdapat delapan pedagang dengan Kr minimal 80% maka tendensi pasar tersebut mengarah ke struktur pasar oligopsoni dengan konsentrasi sedang. b. 2002) adalah: Et = dPn/dPf. Model yang digunakan menurut (Sudiyono. Kr = Jumlah yang dibeli × 100% Jumlah yang diperdagangkan Dikemukakan pula bahwa apabila terdapat satu pedagang yang mempunyai Kr minimal 95% maka pasar cenderung ke pasar persaingan monopsoni. Apabila terdapat empat pedagang yang mempunyai Kr minimal 80% maka pasar tersebut mempunyai tendensi ke persaingan oligopsoni dengan konsentrasi tinggi. Transmisi Harga Untuk melihat hubungan elastisitas harga di tingkat petani dengan elastisitas harga di tingkat pedagang perantara.konsentrasi ratio (Kr) dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut.

Pf/Pr c. maka Pr = Pr + a± b Pr atau dapat ditulis Pr = (Pf+ a) / (1-b) Persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi: Et = 1/(1 . LSD Uji LSD didalam penelitian ini memanfaatkan fasilitas uji lanjut dari analisis varian yang pada apalikasinya memanfaatkan program aplikasi SPSS 15.Kemudian margin pemasaran (M) merupakan fungsi linier dari harga di tingkat pengecer yaitu: M= a+ b Pr. d. minimum. . dan prosentase. ratarata. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dipergunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden. Penerapan uji LSD dimaksudkan sebagai uji bandingan untuk mengetahui signifikansi perbedaan volume perdagangan pedet sapi perah jantan dan harga jual pedet sapi perah jantan. Analisis deskriptif yang dipergunakan meliputi nilai maksimum.b).

BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.189 ha (64%).122°. Luas wilayah Kota Batu 19.8°.377 ha (23%). Dari sisi geografi posisi kota Batu berada pada ketinggian 700 in .1 Topografi Topograti kota Batu sebagian besar wilayah perbukitan dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi sampai sedang.72 ha atau 0.1600 m dpl. menjadikan kota Batu memiliki alam yang subur.1 Letak dan Luas Wilayah Kota Batu terletak pada 122°. dan total luas wilayah Kota Batu. 45 . 2006). 2006).908. 4.42 peran dan total luas wilayah Jawa Timur. dan secara umum dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu.44’ .234 ha (13%) dan (3) kecamatan Bumiaji 130. dengan luas wilayah masing-masing kecamatan sebagai berikut: (1) kecamatan Batu 46.17’ .1.57’ BT dan 7°. (2) kecamatan Junrejo 26.26’ LS. daerah lereng dan berbukit dengan proporsi lebih luas yang diikuti dengan dataran rendah yang lebih sempit (anonymous. indah dan dingin (Anonymous. Secara administrasi kota dibagi menjadi 3 wilayah kecamatan yang meliputi 20 desa dan 4 kelurahan.

Kota Batu mengikuti perubahan putaran 2 iklim. .93 ha dan kecamatan Bumiaji 1.395.1. 4. (2) Jenis tanah kambisol yaitu.61 ha (Anonymous. Kondisi cuaca relatif lebih kering dari tahun 2006 sampai 2007 dibanding tahun-tahun sebelumnya. 2006). Ini berarti lebih basah dibanding tahun sesudahnya. kecamatan Junrejo 199. jenis tanah yang cukup subur.85 ha.5 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 128 hari. Kecamatan Junrejo 217. meliputi: kecamatan Batu 1.3 Jenis Tanah Kondisi kesuburan tanah dibagi menjadi 4 jenis tanah yaitu: (1) jenis tanah Andosal merupakan tanah paling subur. Sementara pada periode sebelumnya. meliputi kecamatan Batu 889. rata-rata tinggi curah hujan mencapai 111 mm/bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 108 hari.831. kecamatan Junrejo 1. 2006).00 ha dan kecamatan Bumiaji 408. (3) jenis tanah alluvial yaitu.34 ha. musim hujan dan musim kemarau. dengan rata-rata curah hujan 97. Musim hujan dimulai pada bulan September dan diakhiri pada bulan Juni.04 ha.85 ha. namun hari hujan lebih sedikit (Anonymous.86 ha.4.395.31 ha. meliputi kecamatan Batu 239. jenis tanah yang kurang subur dan mengandung kapur.89 ha.2 Curah Hujan Seperti tempat lain di Indonesia. kecamatan Junrejo 741.1.19 ha dan kecamatan Bumiaji 2. dan (4) jenis tanah latosol meliputi kecamatan Batu 260.873.526.25 ha dan kecamatan Bumiaji 1.

Dengan demikian posisi kota Batu sangat strategis sekali karena di semua wilayah perbatasan ini telah tersedia jalan raya yang dapat mendukung mobilitas kegiatan pembangunan pertanian terutama dalam pemasaran produk pertanian (Anonymous.4. sapi potong. 4. 2006). Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Malang. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Malang. Usaha peternakan rakyat di Kota Batu menempati posisi kedua setelah usaha tani tanaman. ayam ras.2 Keadaan Umum Peternakan Masyarakat Kota Batu sudah sejak lama memelihara serta membudidayakan ternak. sapi perah. Sehingga dibandingkan dengan usaha ternak yang lain maka ternak sapi perah sangat baik dikembangkan di Kota Batu. Ternak sapi perah perkembangannya cukup baik di Kota Batu. ayam buras. karena selain didukung oleh iklim yang cocok juga memiliki kepastian dalam pemasaran hasil produksi. Jenis-jenis ternak yang dipelihara meliputi. Hal ini . kambing/domba. puyuh dan itik serta ternak kuda sebagai transportasi wisata (Anonymous.4 Batas Wilayah Batas-batas wilayah Kota Batu adalah: Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Mojokerto dan kabupaten Pasuruan.1. 2006). kambing perah. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Blitar dan kabupaten Malang. kelinci.

mengingat kota Batu termasuk kota tujuan wisata sehingga kebutuhan akan susu segar oleh hotel dan restoran dan usaha-usaha yang bergerak di bidang jasa makanan sangat mendukung perkembangan usaha sapi perah baik saat ini maupun masa yang akan datang.400 : 77.787 : 3.800 : 52.335 : 2.703 : 7. .1 Data Populasi Ternak Populasi ternak di kota Batu sesuai data Populasi ternak sampai semester I tahun 2008 adalah: Sapi perah Sapi potong Kambing Domba Kelinci Ayam Petelur Ayam Pedaging Ayam Buras Burung Puyuh : 6.688 : 86.365 : 2.500 ha sejak tahun 1999.000 Sumber : Dinas Pertanian Kota Batu Triwulan I 2008 Kaitannya dengan perkembangan ternak sapi perah maka usaha ternak sapi perah ke depan memiliki prospek untuk ditingkatkan. 4.2. Dan tak kalah penting limbah dari pertanian juga merupakan alternatif lain sebagai bahan pakan ternak sapi perah. hal ini karena ketersediaan makanan ternak yang disebar oleh dinas pertanian kota Batu kepada masyarakat dalam bentuk paket-paket proyek sebanyak 1.374 : 25.

1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu Jawa Timur yang tersebar pada 9 desa/kelurahan di 3 kecamatan yang ada di kota Batu. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan harga pedet jantan sapi perah antara harga di tingkat petani peternak dengan harga yang terjadi di tingkat lembaga pemasaran maka dilakukan juga penelitian pada masing-masing lembaga tersebut yaitu 10 responden petani penggemukan.Desa Giripurno .Desa Oro-Oro Ombo .Desa Junrejo .Desa Gunungsari .Kelurahan Songgokerto Kecamatan Bumiaji .Desa Tlekung Kecamatan Batu .Desa Tulungrejo . 10 responden pedagang pengumpul dan 10 responden pedagang perantara (blantik). sehingga jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 60 orang. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.Desa Dadaprejo . Adapun lokasi daerah penelitian adalah : Kecamatan Junrejo . Sebagai responden adalah anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Batu Bersatu sebanyak 30 responden.V.Desa Sumberejo .

baik secara perorangan maupun berkelompok telah melakukan kerja sama dengan PT Perhutani sebagai pemilik lahan hutan untuk disewakan kepada petani peternak untuk menanam tanaman hijau makanan ternak.Secara umum prasarana transportasi tidak ada kendala. dan dari pengamatan lebih banyak petanipeternak menggunakan mobil pick up. juga bahwa usaha tani ternak rata-rata masih menjadi usaha sampingan dan usaha keluarga. . 5.3 .5 Ha untuk setiap petani. Khusus tentang tenaga kerja secara umum semuanya menggunakan anggota keluarga.5 ekor setiap keluarga. namun sebagian besar petani peternak di Kota Batu.2 Sistem Pemeliharaan Ternak Pada umumnya pemeliharan ternak sapi perah di Kota Batu telah dilakukan secara intensif dimana Kehidupan dan berproduksi secara keseluruhan dilaksanakan di dalam kandang dan ditangani oleh peternak dan keluarganya. sehingga dalam melakukan penjualan pedet dan ternak masyarakat lainnya. dapat dilakukan dengan menggunakan mobil. (HMT) dan ini sangat mendukung aktifitas kegiatan usaha peternakan sapi perah yang dikembangkan di Kota Batu. karena selain kepemilikan ternak rata-rata 3 . Walaupun rata-rata kepemilikan lahan untuk kebun HMT sangat sempit antara 0.0.

00 33. 35.00 51.00 45.00 39. serta pedagang perantara atau blantik sebanyak 10 orang.00 Rata-rata umur responden petani penggemukan berkisar antara 34 .00 32.00 48.00 40.3. dengan rata-rata umur 39 tahun.1 Umur Responden Rata-rata umur responden petani peternak sapi perah berkisar antara 31 . 5.00 37.1 Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur umur Umur 31. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5. Dari 10 responden yang. dengan rata-rata umur 40 tahun (39.3%.5.00 55. Dari 30 responden yang diteliti petani peternak yang terbanyak berumur 32 tahun.52 tahun. dan 45 tahun yang masing masing sebesar 13. pedagang pengumpul 10 orang.00 36.00 35.00 47. petani penggemukan 10 orang.55 tahun.83 tahun).00 52.00 38.00 46. Visualisasi karakteristik petani penggemukan sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: .3 Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari petani peternak sapi perah 30 orang.00 34.

00 45.00 43.2 Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 Responden yang berprofesi sebagi pedagang pengumpul berkisar antara 36 . Dari 10 responden yang diteliti pedagang pengumpul yang terbanyak berumur 41 tahun yaitu sebesar 20%.00 52.00 40.00 Sedangkan untuk responden pedagang perantara/ blantik yang termuda berusia 31 tahun dan yang paling tua berusia 52 tahun.00 34.00 37. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5.00 39.00 52.Diagram 5.00 37.00 40.00 35. .3 Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur umur Umur 36.00 36. dengan rata-rata umur 41 tahun.00 41.00 45.00 39.52 tahun.00 38.

00 36.3. Visualisasi tingkat pendidikan formal untuk petani peternak dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut: .2 Pendidikan Responden Responden dalam penelitian ini mempunyai latar belakang pendidikan formal yang bervariasi mulai dari sekolah dasar hingga perguruan Tinggi.00 37.Pedagang perantara yang paling banyak berusia 45 tahun yaitu 20%. Visualisasi umur pedagang perantara dapat dilihat dalam diagram pie sebagai berikut: Diagram 5.00 52.00 5.00 34.4 Karakteristik Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 39.00 45.00 35.00 40.

5 di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal terbanyak yang pernah ditempuh oleh peternak sapi perah adalah SLTP yaitu sebanyak 15 responden atau 20%.5 Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA PT Diagram 5. Visualisasi tingkat pendidikan formal petani penggemukan ditampilkan dalam diagram pie berikut: Diagram 5.6 Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah .Diagram 5.3%. sedangkan yang paling sedikit adalah yang pernah menempuh pendidikan formal dibangku Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 1 orang atau 3.

Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh petani penggemukan tidak jauh berbeda dengan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul.Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram pie di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal petani penggemukan bervariasi antara SD hingga SLTA.7 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah . Dan yang paling sedikit adalah tamatan sekolah dasar yaitu sebanyak 1 orang responden atau 10%. Petani penggemukan yang paling banyak adalah yang pernah menempuh pendidikan di bangku SLTP yaitu sebanyak 7 orang atau 70%. diagram tingkat pendidikan pedagang pengumpul dapat dilihat sebagai berikut: Diagram 5.

00 . Diagram 5. dan SLTA. Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul yang paling banyak adalah bangku SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%.8 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan 1.Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal pedagang pengumpul bervariasi antara SD. SLTP.00 2.00 3.

Tingkat pendidikan formal yang paling banyak pernah ditempuh oleh pedagang perantara adalah SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%.1 : Rincian Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 Responden Jumlah ART Petani Peternak F 3 4 5 6 7 Jumlah Petani Penggemukan F % Pedagang Pengumpul F 4 4 2 Pedagang Perantara/ Blantik F 4 5 1 - % % 40 40 20 % 40 50 10 2 6.7 3 30 13 43. 5.7 30 100 10 100 Sumber : Diolah dari data primer 2008 10 100 10 100 . Sebagai perbandingan rincian jumlah ART pada penelitian ini seperti pada tabel berikut ini: Tabel 5. sedangkan yang paling sedikit adalah SD yaitu sebanyak 1 responden atau 10%.3 10 10 6 20 2 6.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden Jumlah anggota rumah tangga pada responden berkisar antara 3-7 orang.Diagram diatas menggambarkan tingkat pendidikan formal pedagang perantara atau blantik.3 6 60 7 23.3.

petani penggemukan. Sedangkan yang dimaksud dengan lama pemeliharaan adalah waktu yang diperlukan seorang petani peternak dalam memelihara ternak sapi terhitung mulai memelihara. yang berkisar antara 43.4 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Yang dimaksud dengan pengalaman berusaha ternak sapi perah dan sapi perah sampai dengan saat penelitian ini dilaksanakan dan mungkin akan terus berlanjut di masa-masa yang akan datang atau dengan kata lain sudah berapa lama petani peternak memelihara ternak sapi.3. Tabel 5.2 Pengalaman Berusaha Dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah Periode Kisaran Lama Pemeliharaan waktu Responden (th) Jumlah %) (org) Responden : Petani Peternak Sapi Perah I 2-5 15 50.33 30 100. pedagang pengumpul.00 II 6-11 13 30.33 IV >17 1 3. Dengan demikian pengelolaan sapi perah selama ini tidak menggunakan tenaga kerja dari luar karena sudah dipenuhi oleh anggota rumah tangga sendiri. dan pedagang perantara atau blantik dalam penelitian ini semua telah berkeluarga.34 III 12-16 1 3.Petani peternak.3% hingga 60%. Jumlah anggota rumah tangga yang paling banyak adalah 4 orang.00 . 5.

seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini.5 Status Pemilikan Ternak Yang dimaksud dengan status kepemilikan ternak adalah kedudukan atau posisi terhadap ternak sapi yang sedang dipelihara. 5. Peternak sapi perah Yang dimaksud dengan jumlah pemilikan ternak adalah jumlah ternak sapi perah yang dimiliki peternak responden di wilayah penelitian dan jumlah pedet jantan yang dapat dijual.6 Jumlah Pemilikan Ternak a.3.Responden Lembaga Pemasaran I 4-12 7 70. Dari hasil wawancara saat penelitian bahwa status ternak sapi dari petani peternak responden adalah kepemilikan hak milik sendiri yang dikembang responden ternak sapi perah. 5. rata-rata responden telah menguasai.00 10 100.00 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Menyimak tabel 2 diatas dan keterangan saat wawancara selama penelitian bahwa keseluruhan petani peternak responden dalam pemeliharaan ternak sapi merupakan hasil pengembangan ternak milik sendiri yang merupakan peninggalan orang tua. namun masih rendah dalam meningkatkan mutu dan kualitas usaha tani. . sehingga dari sisi teknis budidaya ternak. karena sistem yang digunakan masih bersifat tradisional.00 II 13-20 2 20.3.00 III > 21 1 10.

000. pemeliharaan 2–4 . Pada dua tahun terakhir hal ini berlaku untuk semua strata pemilikan ternak.83%) jumlah pemilikan sebagaimana yang diperlihatkan pada tabel 4 diatas sudah termasuk jumlah pedet yang dijual.83 0 100 0-3 3 9.7 Kondisi Pendapatan Petani Peternak Dari Setiap Ekor Pedet Yang Dijual Hasil temuan dalam penelitian ini pada peternak sapi perah.00%) yang diikuti dengan skala pemilikan 6-8 ekor ternak. dan untuk penjualan pedet terbanyak terdapat pada pemilikan 9-10 ekor ternak (44.79 44.99 3 4-6 15 50 9 6-9 10 33.03 13. 5.3 4 9-10 2 6.3. rata-rata selama pemeliharaan pedet jantan berdasarkan lama pemeliharan sampai dijual adalah untuk periode pemeliharan 0–2 bulan membutuhkan biaya Rp 530.3: Jumlah Pemilikan Dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah Dari Petani Peternak Tahun 2008 Strata Pemilikan (ST)(Ekor) Responden Jumlah % Penjualan Jumlah % 10.34 31.Tabel 5.66 13 10 < 0 0 0 Jumlah 30 100 29 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Pada tabel di atas untuk petani peternak sapi perah responden memiliki atau memelihara ternak sapi perah berkisar pada 4-5 ekor ternak lebih banyak (50.

bulan membutuhkan biaya Rp 595.000 – Rp 75. .000. Sedangkan biaya transportasi dalam pengangkutan ternak dari kandang ke pasar hewan rata-rata antara Rp 50. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata petani peternak sapi perah menjual pedetnya ke blantik karena alasan selain langsung memperoleh uang serta juga tidak mau direpotkan dengan biaya transportasi.000. karena rata-rata penjualan pedet setiap kali hanya 1 ekor ternak. Perlu diketahui bahwa pengggunaan pakan hijauan pada periode umur pemeliharaan ini rata-rata belum digunakan.000 untuk 1 mobil pick up/truk. dan periode pemeliharaan 4–7 bulan sebesar Rp 670.

Tabel 5.55 3. namun disayangkan bahwa dalam menentukan harga belum menggunakan berat hidup. Fenomena lain dari penjualan .189.22 3.231.00 4.154. pemasaran pedet jantan sapi perah rata-rata tidak mengalami kendala. tetapi berdasarkan taksiran dan umur ternak.22 4.154.189. 5.222.470.500.44 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Penggemukan Sumber : Diolah dari data primer 2008 Bila diperhatikan selisih harga antara penjualan melalui blantik dan penjualan langsung ke pasar ternak tidak berbeda jauh.097.230.4: Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006-2008 Jual Melalui Tahun 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 Harga Jual Rata-rata 2.4 Sistem Pemasaran Ternak Pada prinsipnya.480.00 2. karena alasan cepat mendapat hasil penjualan atau uang kontran. Sementara saluran pemasaran dari ternak pedet jantan sapi perah masih didominasi oleh Pedagang Peranta (blantik).44 4.00 2.55 3.44 4.190.44 2. karena harga dalam tabel di atas tidak termasuk biaya transport dan retribusi sehingga petani peternak memilih penjualan melalui blantik lebih dominan.66 3.

dan tampilan pasar (SCP) 5. Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Peternak 65% 12. Analisis transmisi harga .3% 12% Blantik 10.. a.1 Analisis Struktur Pasar Untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi dalam hal ini pedet jantan sapi perah di Kota Batu tidak hanya dengan melihat banyak penjual dan pembeli di pasar.5. tetapi juga dapat dilihat dari elastisitas harga dan konsentrasi pasar. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa kecenderungan peternak menjual ternak-ternak mereka pada saat lebaran dan hajatan keluarga. perilaku.ternak adalah bila terjadi musim kemarau karena kekurangan bahan pakan sehingga kecenderungan peternak menjual ternak-ternaknya.7% Pedagang Pengumpul Petani penggemukan Pasar Hewan 5.5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Untuk mengetahui efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu dapat dilakukan dengan struktur.

654 =1. petani penggemukan.580) (22. pedagang pengumpul.492) =0. maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 853 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22. dan pedagang perantara/blantik. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan harga pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPf = 760.492 yang . berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 1.90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang pengumpul (Rp/ekor) Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung.853.218) (0.130 + 0.000. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0.Analisis transmisi harga atau disebut juga analisis fleksibelitas transmisi harga dilakukan untuk mengetahui respon harga pedet jantan sapi perah ditingkat peternak karena perubahan harga yang terjadi di tingkat.853 lnPp Se tstat R2 ttabel Pf Pp = (136.038) =(5.

jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai

η = 0,654, dapat diartikan bahwa perubahan harga pada tingkat
petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan harga pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPf = 780,790 + 0,852 lnPg Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (138,191) (0,039) =(5,650) (22,039) =0,644 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat petani penggemukan (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,852, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 852 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,039 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,644, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan

mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 64, 4%. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk

pedagang perantara atau blantik adalah: LnPf = 773,158 + 0,850 lnPb Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (135,742) (0,038) =(5,696) (22,485) =0,654 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang perantara (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,850, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 850 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,485 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,654, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas harga pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul, petani penggemukan, maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda. Tiap perubahan harga Rp 1000 rupiah akan meningkatkan harga pedet pada petani peternak sekitar Rp 850. Dari hasil analisis regresi linear di atas menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke erah persaingan sempurna. Selain itu indikasi bahwa pasar pedet sapi perah jantan ke arah sempurna adalah jumlah pembeli dan penjual cukup banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan; Dalam keadaan pasar persaingan sempurna, petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu.

b. Analisis konsetrasi ratio (Kr) Yang dimaksud dengan konsentrasi ratio adalah berapa persen volume transaksi yang dikuasai oleh beberapa pedagang. Rata-rata volume transaksi antara pedagang yang satu dengan yang lain tidak sama kemampuannya. Ada yang mampu membeli rata-

rata hanya 6 ekor setiap bulan dan ada yang mampu membeli sampai 30 ekor setiap bulan .

5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.6 4.89 8. baik secara kualitatif maupun secara .19 4.67 5.15 6.11 8.58 8.9 4. pedagang pengumpul 20.42 4.19 4.44 100 14. Adanya perbedaan konsentrasi ini juga disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah pedagang yang ada.58 6.89 8.36 11.26.97 20. hal ini disebabkan oleh jumlah pedagang dipasar hewan jumlahnya lebih banyak dibanding dengan jumlah petani penggemukan.81 12.11 8.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.36 6.44 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Apabila disimak tabel di atas Konsentrasi rasio paling besar terdapat pada pasar hewan yaitu sebesar 40.42 % 19 15 13 11 10 9.81 12.96 7.2 6.79 132 100 24.6 100 % 21.44.9 6.82 7.93 13.37.42 113 99.19 4.67 5.97 15.15 11. 5. dan konsentrasi paling kecil pada petani penggemukan sebesar 14. Sedangkan untuk Blantik konsentrasi volume paling besar dibanding pedagang lainnya karena petani peternak lebih suka menjual pedet sapi perahnya ke blantik dengan alasan cepat mendapat hasil penjualan.5. Dilihat dari konsentrasi volume perdagangan yang pada keseluruhan pedagang tidak ada yang mencapai 80% maka struktur pasar pedet sapi perah jantan di kota Batu mengarah pada persaingan Oligopson.44 100 100 % 22.93 5.93 5 3.96 6.93.22 14. Sebagai misal rasio konsentrasi pada petani penggemukan lebih kecil dari rasio konsentrasi pasar hewan.93 5.59 11.Tabel 5.55 15.27 8.33 7.22 14.2 Analisis Perilaku Pasar Analisis perilaku pasar dilakukan untuk mengetahui praktek-praktek penentuan harga dalam pasar.06 5 4.59 11.15 6.26 % 26. kemudian pasar blantik sebesar 24.85 7.

6 di atas menggambarkan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24. Tabel 5.44.355) (17.209) =(4. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20.26.44 40.331 + 3. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan volume perdagangan pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPt Se tstat = 12.832) (0.37 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.640) . Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna karena selisih konsentrasi tidak terlalu besar dan tidak mencapai angka 80. sedangkan penentuan harga secara kuantitatif dapat dijelaskan dengan analisis regresi linear sederhana.26 24.kuantitatif. Praktek penentuan harga secara kualitatif dapat dijelaskan secara deskriptif.93 14.6 : Volume Transaksi Dan Konsentrasi Ratio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Pasar Pedagang Pengumpul Petani Pengemukan Blantik Pasar Hewan Volume Transaksi 113 77 130 218 Konsentrasi Rasio 20.688 lnPp = (2.93 dan petani penngemukan sebesar 14.

R2 ttabel Pt Pp =0. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan volume perdagangan pedet sapi perah jantan pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPt Se tstat = 12.578) =(2.308) (0.436) (9.929 + 5. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan Volume perdagangan pedet jantan sapi perah di tingkat pedagang pengumpul sebesar 1 ekor.688.640 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.228 = Volume Perdagangan pedet Sapi Perah Total = Volume perdagangan di tingkat pedagang pengumpul Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung.227) .228. Sedangkan nilai η = 0.334 lnPg = (5.4%. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan sapi perah total 97. maka akan meningkatkan volume perdagangan total sekitar 3 sampai 4 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 17.975 = 2.975. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 3.

228 = Volume perdagangan pedet sapi perah jantan total = Volume perdagangan di tingkat petani penggemukan Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 5.861) (0. Sedangkan nilai η = 0.228.951 =2.169 + 4.334.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .470) =0. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume di tingkat petani penggemukan sebesar 1 ekor. maka akan meningkatkan volume perdagangan sapi perah jantan total sebesar 5 – 6 ekor.104 lnPb = (4.914.914 =2. besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 9. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pedet sapi perah pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan total sebesar 91.035) (12. 4%.R2 ttabel Pt Pg =0.227 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.329) =(-0. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pedagang perantara atau blantik adalah: LnPt Se tstat R2 ttabel Pt = -0.

470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.14%. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat blantik sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 4 – 5 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.206) =(-1.951. Sedangkan nilai η = 0.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .890 lnPh Se tstat R2 ttabel Pt = (4.833) (13.104.Pg = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pedagang perantara Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 4.944) =0. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pasar hewan adalah: LnPh = -8. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat blantik akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 95.995 + 2.961 =2.907) (0.228. Secara logis konstata yang bernilai negatif tidak ditafsirkan karena tanpa ada pedagang perantarapun masih ada perdagangan pedet sapi perah.

890.951.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. digunakan pendekatan atau .Ph hewan = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pasar Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 2.5.3 Analisis Tampilan Pasar Untuk mengetahui tampilan pasar ternak sapi perah di Kota Batu yang dilakukan petani peternak. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat pasar hewan akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 96. Sedangkan nilai η = 0. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat pasar hewan sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 2 – 3 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.228.1%. Tiap perubahan karena hampir secara keselurauhan berpengaruh lebih dari 90 % hal ini menunjukan adanya persaingan yang sempurna. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas perubahan volume perdagangan pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul. petani penggemukan. 5. maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda.

analisis farmers share atau share harga yang diterima petani peternak Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share).312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93.533 hingga Rp 99. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga ditunjukan dalam tabel hasil uji LSD sebagai berikut: .983 104.908 Standar Error 2. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen. Secara matematis dapat dinyatakan: Fs = Pf x 100% Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Hasil Perhitungan share harga ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.862 93.357 Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Blantik Sumber : Diolah dari data primer 2008 Berdasarkan tabel 5. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak.776 Taraf Nyata 95% Batas Batas Bawah Atas 93.776 2.157.084 93.776 2.084 dan tertinggi Rp 104.458 104.312 98.761 103.7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa Di Kota Batu Tahun 2008 Ratarata 99.533 98.7 di atas terlihat bahwa rata-rata share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98.

92624 Blantik Petani Penggemukan . bahkan seluruhnya berada di atas 0.7786 3.92624 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.92624 Pedagang Perantara/ -. Analisis Margin Pemasaran Margin pemasaran adalah perbedaan harga di tingkat konsumen yang dalam penelitian ini adalah harga pedagang perantara dengan harga yang diterima oleh produsen atau petani peternak. Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0.3322 8.7786 3.3029 8. Bila harga konsumen itu kecil.1108 6.924 -7.843 .8.3322 7. .92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -. maupun pedagang perantara tidak terdapat perbedaan yang signifikan.3746 3. pedagang pengumpul.3029 -8. a. Error Pedagang Pengumpul Penggemukan .918 . Lower Bound Upper Bound .8 di atas menginformasikan bahwa share harga yang diterima petani baik melalui petani penggemukan.8 Perbandingan perbedaan share harga yang diterima petani menggunakan LSD Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.4039 3. 95% Confidence Interval Sig.4854 .0815 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Hasil Uji LSD pada tabel 5.92624 Based on observed means.3746 3.92624 Petani Pedagang Perantara/ .9283 7.4039 3.9283 8.05.0815 -8.843 -6.4854 -8.1108 -7. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen.918 .924 .Tabel 5.

tetapi biaya pemasaran tepat. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah.4 Bulan 3 .667 3266.687 111. Perubahan harga pedet sapi perah jantan berdasarkan umurnya dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5. . misalnya harga suatu barang naik.417 dengan estimasi harga terendah Rp.687 111.4 Bulan 3 .2 bulan rata-rata Rp 1.4 Bulan 3 .turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil.844 2429.656 4022.239 5134.2 Bulan 2 .511 3485.573 1992.906 2007 2008 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.687 111.489 3987. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik.750 Std.417 2211.927 4426.083 5353.2 Bulan 2 .667 2210.687 111. Jika pada tahun 2006 harga pedet usia 0.239 2999.927 4461.500 4242.333 4207.511 2430.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.7 Bulan 0 .261 1629.000 3212.177 3437.344 3431.687 111.7 Bulan 0 .156 2993. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar.083 3218.687 111.9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 5.823 3047.410. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 .687 111.9 di atas memberi gambaran bahwa harga pedet sapi perah jantan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.594 5572.687 111.7 Bulan Mean 1410.2 Bulan 2 .823 1990. Error 111. maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar.

851 dengan harga jual ke pedagang pengumpul.429. The mean difference is significant at the .733 225.437 -88.585 -187.889 105.005 .299 Petani Penggemukan Pasar Hewan -310.10 di atas menunjukan perbedaan rata-rata harga pedet sapi perah tanpa memperhitungkan biaya transportasi.880 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.a .299 Pedagang Pengumpul -18.363 -104.1.229 498. pada tahun 2007 meningkat menjadi rata-rata Rp 2.696 222.299 Based on estimated marginal means *. 2.474 -85.299 Petani Penggemukan 18.118 -225.191.299 Blantik Pasar Hewan -294.05 level.741* 105.216 dan harga tertinggi Rp 1.990.10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).299 Petani Penggemukan 310.978 .963 105.815* 105. Sedangkan perbandingan harga pedet jantan sapi perah ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.852* 105.733 -222.229 -203.978 .696 Sig. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85.858 .741* 105.548 190.844 dan harga tertinggi Rp.629.858 . Jika harga pedet sapi perah di pasar hewan diasumsikan sebagai harga dari peternak ke konsumen maka ada selisih harga rata-rata sebesar Rp 291. .118 517.926 105.659 -190.963 105.548 -517.299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291. a.210.511 -501.299 Pedagang Pengumpul -2.192 501. serta perbedaan keadaan sapi perah yang diperdagangkan.511 187.474 88.437 104.299 Blantik 2.156 adanya perbedaan variasi harga ini juga disebabkan adanya perbedaan saluran perdagangan.815* 105.299 Petani Penggemukan 15.006 .006 .852* 105.192 -209.659 209.363 -498. Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.889 105.003 .000 dengan estimasi harga terendah Rp 1.003 .573.005 .585 203.880 .299 Blantik -15.299 Blantik 294.926 105.

000 Rp85.191.290.00 Rp8.000 Rp249.704 Rp75.519 Keuntungan Rupiah Share Rp473.188.04 Petani Penggemukan Rp3.278 Rp3.000 Rp85.700.667 Rp3.000 Rp25.000.560.560.000.000 Rp93.296 25.11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang Dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 Komponen Biaya Komponen Biaya Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Harga Beli Transport Jumlah Harga Beli Transport Retribusi KTA Jumlah Harga Beli Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Rp1.704 Rp3.814 dengan harga jual ke pedagang perantara/ blantik.34 Jual Melalui Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Rp3.200.519 42.000.740 ke petani penggemukan.000 Rp3.483.00 Rp1.172.000.000. 2008 .333 24. dan selisih Rp 310.00 Rp3. Tabel 5. Share Keuntungan Pedagang Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah distribusi keuntungan diantara lembaga pemasaran.5 Rp1. b.selisih harga sebesar Rp 294.500 Rp100.778 Rp100.870 100 Sumber : Diolah dari data primer.560.12 Estimasi Harga Jual Rp3.00 Rp3.000 Rp2.000.094.301.466.010.00 Rp25.667 Rp110.722 8.000 Rp269.00 Rp3.000 Rp3.

Rata-rata dalam penentuan harga hanya berdasar kebiasaan dan taksir saja.Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24. Struktur pasar yang ada mengarah ke persaingan duopsoni menyebabkan pedagang perantara mampu mendapatkan keuntungan yang lebih besar. sedangkan harga di tingkat petani peternak cenderung tetap bahkan menurun. Dengan demikian petani peternak sebagai pemilik pedet jantan sapi perah belum memperoleh harga yang layak dan wajar sesuai dengan jerih payah yang mereka keluarkan.12. Tingginya Keuntungan pedagang perantara ini mungkin disebabkan oleh karena dalam menjual ternaknya petani peternak tidak menggunakan standar harga yang ada.5 dari margin. dan petani penggemukan 8. Hal ini menyebabkan margin pemasaran semakin besar. .. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang.

bahkan seluruhnya berada di atas 0. 2.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93.26.VI. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak. Hasil analisis regresi linear menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1. 3. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24.93 dan petani penggemukan sebesar 14.084 dan tertinggi Rp 104. Share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0. hal ini juga berarti bahwa harga di tingkat pedagang terintegrasi secara sempurna dengan harga di tingkat petani peternak. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke arah persaingan sempurna. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna. KESIMPULAN DAN SARAN 6.05.8.533 hingga Rp 99.04%dari margin pada tingkat pedagang perantara.44. Hasil analisis konsentrasi rasio menunjukan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24.157.1 Kesimpulan 1.12. dan petani .

c) Perlu dilakukan pembayaran segera setelah ternak sapi perah ditimbang. Hasil perhitungan share keuntungan.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara.penggemukan 8. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24.5 dari margin. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. sehingga tidak menimbulkan biaya-biaya ekstra yang dapat merugikan petani peternak.12. 4. dan petani penggemukan 8.5 dari margin. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang disarikan dari penelitian ini. 6. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. maka diharapkan kepada: a) Petani agar dalam menjual ternaknya menggunakan standar harga yang telah ada yakni berdasarkan berat badan hidup ternak. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. b) Diperlukan campur tangan pemerintah dalam mendukung diberlakukannya standar harga berdasarkan berat hidup ternak. maka upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mendekatkan atau menyiapkan tempat penimbangan ternak ke tempat tinggal petani peternak. d) Perlu dipertimbangkan agar Gapoktan dapat berfungsi sebagai salah satu lembaga perantara dan atau sekaligus bertindak selaku pedagang perantara .

.dalam pemasaran ternak sapi perah maupun produk-produk peternakan pada umumnya di Kota Batu.

Dirjen Pendidikan Tinggi. 1993. Anonymous. _________. Jakarta. Faminow. 2006. Leuthold dan Mohamed Sarhan. Direktorat Perguruan Tinggi Swasta. R. Analisis Pemasaran Jagung di Daerah Sentra Produksi Lampung. W. Malang. Dale C. Hamdi. Tataniaga Pertanian. I Made. Z. 1991. 1991. Laporan Triwulan Dinas Pertanian Kota Batu. Merle D. Tataniaga Peternakan. Pengantar Tataniaga Pertanian. 2006. Benson. Darma Setiawan. Spatial Market Integration. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Dahl. 1996. Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi. Bahan Penataran Perguruan Tinggi Swasta Bidang Pertanian Program Kajian Agribisnis. American Journal of Agricultural Economics. Azzaino. Universitas Brawijaya. Proposal Pemasaran Bidang Peternakan Pasca Tahun 2000. Y. Bogor. Kota Batu. Fanani. _________. Z. Asmarantaka. Institut Pertanian Bogor. Fakultas Peternakan IPB. Departemen Pertanian. _________. Tesis S2 Fakultas Pascasarjana IPB.) Pada Sentra Produksi Rumput Laut di Kecamatan Nusa Penida Bali. Jurusan Sosial Ekonomi. 1984. 1985. Philip. Batu Dalam Angka Badan Perencanaan Daerah. Analisis Pemasaran Rumput Laut (Eucheuma Sp. _________. Market and Price Analysis. Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian.DAFTAR PUSTAKA Alhusniduki. 1997. Garcia. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur. 2000. Universitas Lampung. McGRAW-Hill Book Company. 1981. & Bruce L. Tesis S2 Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Basis Risk: Measurement and Analysis of Basis Fluctuation for Selected Livestock . 1977. (1994). Atmakusuma. The Agricultural Industries. Bogor. 2008. Agribisnis. Volume 72 Number 1 February 1990. Ramond M.

Penerbit Erlangga Jakarta. Laporan Penelitian Universitas Brawijaya Malang.N. International Student Edition.. Richard E. Oxford University Press. 1982. Penerbit Tarsito Bandung. Quandt. Modern Microeconomics. James. 1980. Kohls & Url. Penerapan Konsep-konsep Ekonomi dalam Bisnis Total. Konsumsi dan Pemaaran Bunga di Jawa Timur. 1980. Penerbit Tarsito Bandung. Volume 66 Number 4 November 1994. Ekonometrika Terapan. Kiptiyah. _______________. Teori Harga dan Aplikasinya. I Wayan Widyantara. Marketing of Agricultural Product. S. Buku dua. (Southeast Asian Reprint). New York. Ekonomi Manajerial.. Kajian Keragaan Pasar dan Prospek Daya Saing Komoditas Jambu Mete. Gaspersz. J. A. Penerbit PT. Denpasar. Pustaka Gramedia Jakarta. 1985. Koutsoyiannis. Basic Econometrics. _______________. Lintasan Ekonomi. Industrial Economic and Organization. Makalah pada Kongres XI dan Kongres XII PERHEPI. McGRAW-Hill International Company. Second Edition. M. 1996. Handerson. International Student Edition. Hiersieifer. Thirt Edition. J. 1989. Pemasaran Panili di Bali.Markets. 1991a. Perilaku dan Penampilan Pasar. American Journal of Agricultural Economics. M. 1995. Morris. Majalah Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Hay. Penerbit Tarsito Bandung. 1994. 1996. Gujarati. . M. McGRAQ-Hill International Book Company. Alih Bahasa Kusnedi. Teknik Penarikan Contoh untuk Penelitian Survei. 1996. Buku Satu. Komisariat PERHEPI Surakarta. Macmillan Publishing Company. 1991. Damodar. Ekonometrika Terapan. Theory and Evidence. Microeconomic Theory. _______________. 1991b. Iksan Semaoen. Collar. Fifth End. Second Ed. Idrus. 9 – 11 Agustus 1996. Vincent.

Porwadarminto. Agroindustri Sapi Potong. Analisis Permintaan Daging Sapi di Kota Administratif Kupang. Pengembangan. Program Pascasarjana. Parel. Tawaf H. Laporan Penelitian. F. 1973. 1999.an). 1994. Strategi Pengembangan Industri Peternakan Sapi Potong Berskala Kecil dan Menengah. T. Rochadi. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. A. Tawaf. Gregor Neonbasu. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Ch. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Miller. PT. Roger E. 1995. Kamus Umum Bahasa Indonesia. UQ (Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur. Penerbit Yasaguna Jakarta. 1976. American Journal of Agricultural Economics. Raja Grafinda Persada Jakarta Bekerjasama dengan McGRAW-Hill Inc. CIDES (Center for Information and Development Studies. Pembinaan. Liliwen. 1985. R. Volume 66 Number 4 November 1984. ________. Sulaeman dan Tonton S. Bahasa. Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong di Indonesia dalam Era Pasar Bebas di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. 1993. LeRoy. dan T. Kontribusi Usaha Ternak Terhadap Pendapatan Rumahtangga Petani Lahan Kering di Kabupaten Kupang. Pengantar Pemasaran Pertanian. Diktat Pemasaran Hasil Pertanian. . H. LP3ES Jakarta. Pellokila. et. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. Mubyarto. 1994.. Depdikbud. 1994. Laporan Hasil Penelitian. Prospek Usaha Sapi Potong oleh Gerakan Koperasi Menghadapi Era Pasar Bebas. Prospek Pembangunan Dinamika dan Tantangan Pembangunan Nusa Tenggara Timur.Lalus. Jakarta. Masyrofie. 1991. Pengantar Ekonomi Pertanian. Papers on Survey Research Metodology. Prospek Pengembangan pada PJPT II. dkk. Penerbit Yayasan Citra Insan Pembaru Kupang. PPA (Pusat Pengembangan Agribisnis). Universitas Brawijaya Malang. Market Integration. M. Sampling Design and Procedures. dkk. 1993. Meiners. Alo. Teori Ekonomi Mikro Intermediate. Al. 1993. 1994. M. Udiantono. Petzel. Rochadi. Mosher. Cristina. Monke E.

American Journal of Agricultural Economics. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. American Journal of Agricultural Economics. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. _________. Sadono (1995). Universitas Indonesia Jakarta. 1981/1982. Edisi Pertama. Subagiyo. 1989. Teken. Armand. Penerbit PT. Semaoen. Hoy F. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Laurence D. I. Rajawali. 1996. 1991. S. LP3ES. . Bogor. 1984. Carman. Soekartawi. Teori dan Aplikasi.S. Pengantar Pemasaran Pertanian. Raja Grafindo Persada Jakarta. C. Imperfect Competition in a Vertical Market Network: The Case of Rubber in Thailand. Volume 73 Number 3 August 1991. Singarimbun. Volume 57 Number 4 November 1975. Supranto. Soekartawi. Ifar.Saefuddin. Richard J. Printed by: Ponsen en Looijen BV. 1989. Penerbit LP3ES Jakarta. Pengantar Ekonomi Mikro. Sudarsono. Edisi Revisi. 1977. 1996. Perlof. Fakultas Pertanian IPB. Metode Penelitian Survai. 1990. Asnawi. 1995. J. Relevance of Ruminant in Upland Mixed Farming System in East Java Indonesia. Jakarta. 1975. King. Raja Grafindo Persada Jakarta. Sukirno. L. Edisi Kedua. Iksan. Malang. Teori Ekonomi Mikro. Universitas Muhammadiyah. Power and Risk. Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. Buku Dua. Pemasaran Produk Pertanian. Penerbit PT. Schroeter. Stiffel. Sexton. Masri. 1991. Celery. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. CV. Ahmad. Teori Ekonomi Mikro. American Journal of Agricultural Economics. Universitas Indonesia Jakarta. Sudiyono. Teori dan Aplikasinya. Buku Satu. Fakultas Pertanian. Market Integration. Jakarta. Joh and Jeffrey M. Ekonometrik. Sofian Effendi. Effiency of Arbitrage and Imperfect Competition : Metodology and Application to U. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Ekonometrik. Volume 73 Number 4 November 1991. 1983. 1993. B. Marketing Margin.

Cornell University Press. I Made. 1993.Tim Peneliti dari Pusat Studi dan Kebijakan Pangan dan Gizi. Agricultural Product Prices. Ketidakstabilan Harga Anggur di Tingkat Petani di Kecamatan Grokgak Kabupaten Buleleng. Studi Analisis Keterpaduan Pasar pada Sistem Pemasaran Komoditas Strategis. Lembaga Penelitian IPB (1996) Bekerja Sama dengan Kantor Menteri Negara Urusan Pangan. . Ithaca and London. Tesis S2 Universitas Gajah Mada KPK Universitas Brawijaya Malang. Wardana. William G. Tomek. 1977.

0 83.00 36.7 3.00 55.7 80.0 6.0 Valid 31.3 3.00 51.3 13.7 3.00 48.00 34.00 39.3 13.3 13.3 10.0 Valid Percent 3.7 46.00 46.0 63.3 100.00 52.00 38.00 33.00 37.3 3.00 45.3 10.3 6.3 3.00 32.7 3.7 53.Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Frequency Table Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 30 0 Lama Beternak Sapi Perah 30 0 N Valid Missing Pekerjaan 30 0 Umur 30 0 Pendidikan 30 0 Jumlah Ternak 30 0 Umur Frequenc y 1 4 1 1 4 3 2 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 30 Percent 3.0 23.00 35.0 6.7 3.7 60.3 3.3 13.3 3.3 3.0 Cumulative Percent 3.3 3.3 3.3 16.3 76.3 100.3 13.3 3.00 47.3 3.00 40.3 3.3 3.7 100.3 6.00 Total .3 3.3 3.3 3.3 56.3 86.3 3.7 20.3 13.7 93.3 36.3 96.

Pendidikan Frequenc y 9 15 5 1 30 Percent 30.3 23.3 20.7 43.7 100.7 3.0 50.0 Valid Percent 30.00 5.0 6.0 Valid Percent 6.3 100.3 23.0 Cumulative Percent 6.7 100.3 20.0 Cumulative Percent 30.00 7.7 3.0 50.7 50.3 93.3 100.0 80.7 100.0 Valid 2.0 Valid SD SLT P SLT A PT Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequenc y 2 13 7 6 2 30 Percent 6.0 16.0 96.0 16.00 Total .0 6.7 43.3 100.0 73.00 3.00 4.

Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table
Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

34.00 35.00 36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 7 2 10 Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Valid Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 80.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 3 6 1 10 Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Valid Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 30.0 90.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table

Umur Frequency 1 1 1 1 1 2 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 41.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Valid Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 70.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 4 2 10 Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Valid Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 40.0 80.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies

0 100.00 4.0 20.0 10.4000 31.00 37.0 10.00 45.0 100.0 10.00 34.0 30.0 10.0 50.00 5.0 50.0 10.00 40.0 20.0 60.00 Frequency Table Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 2 1 10 Percent 10.0 90.0 100.00 52.0 Valid Percent 10.0 90.0 60.Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0 3.2000 1.0 10.0 100.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 50.0 Cumulative Percent 40.00 Pendidikan 10 0 2.0 10.0 30.0 70.00 Total Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.00 35.00 N Mean Minimum Maximum Valid Missing Umur 10 0 39.0 10.0 30.0 70.0 Valid SD SLTP SLTA Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 5 1 10 Percent 40.0 20.0 10.00 36.0 10.0 100.00 52.0 100.7000 3.00 39.0 10.0 40.0 10.0 10.0 Cumulative Percent 10.00 5.0 Valid 3.0 10.0 Valid Percent 40.0 Valid Percent 10.0 10.0 100.00 Total Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Regression .0 10.0 100.0 60.00 3.0 Valid 31.

580 22.853 .218 . Error of the Estimate 1025.114 F 505.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Pedagang Pengumpu a l Variables Removed Method .492 Sig. All requested variables entered. Predictors: (Constant). . Predictors: (Constant).000 a.038 . Harga Melalui Pedagang Pengumpul b.654 Adjusted R Square .887 Sig.000a Regression Residual Total a.652 Std. Enter a. . Harga Melalui Pedagang Pengumpul ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531918651 1051457.809 t 5. Error Beta 760. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R .130 136. b. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression .809a R Square .40583 a.000 . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Pedagang Pengumpul Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.

000a Regression Residual Total a.039 .642 Std.191 .802a R Square . Error of the Estimate 1040. . Enter a.000 . Harga Melalui Petani Penggemukan ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 523752211 1081928. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . Harga Melalui Petani Penggemukan b. All requested variables entered.802 t 5. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Petani Penggemukan Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Petani Penggemu a kan Variables Removed Method . . Error Beta 780. Predictors: (Constant).091 Sig.644 Adjusted R Square .790 138.650 22. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression . b.000 a. Predictors: (Constant).002 Sig.15811 a.852 .903 F 484.

Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan . Harga Melalui Blantik b. . Error of the Estimate 1025.000a Regression Residual Total a.850 . Predictors: (Constant). Harga Melalui Blantik ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531805793 1051878.000 .652 Std. All requested variables entered.577 Sig.654 Adjusted R Square . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Blantik Unstandardized Coefficients B Std. Predictors: (Constant).696 22. Method Enter a.227 F 505.157 135.038 Standardized Coefficients Beta .Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melaluia Blantik Variables Removed .485 Sig.000 a.61115 a. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . b.808a R Square .742 . .808 t 5. Error 773.

Petani Penggemukan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7115.622 7784.903 Std.000 .436 9.14209 a.956a R Square . Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .135 Sig. All requested variables entered.578 F 85. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta . Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std.000a Regression Residual Total a.308 Petani Penggemukan 5.227 Sig. Method Enter a.578 a. Error 1 (Constant) 12.914 Adjusted R Square .378 83. Error of the Estimate 9.Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Sapi Perah Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Petani Penggemu a kan Variables Removed .378 668.929 5. Predictors: (Constant). .041 . . b. Petani Penggemukan b.000 df 1 8 9 Mean Square 7115.334 . Predictors: (Constant).956 t 2.

331 2.000 .898 195. .Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pedagang a Pengumpul Variables Removed .102 7784. .898 24.987 t 4.209 a. Method Enter a.000 df 1 8 9 Mean Square 7588. All requested variables entered.972 Std.688 .640 Sig.93839 a.355 17. Pedagang Pengumpul ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7588. Error 1 (Constant) 12. Predictors: (Constant).177 Sig.832 Pedagang Pengumpul 3. b.987a R Square .388 F 311.975 Adjusted R Square . Pedagang Pengumpul b. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .000a Regression Residual Total a. Error of the Estimate 4. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta . Predictors: (Constant). Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std.002 .

956 Std.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pasar a Hewan Variables Removed . Predictors: (Constant). Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Pasar Hewan Unstandardized Coefficients B Std. Pasar Hewan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7478.188 F 195.000 df 1 8 9 Mean Square 7478.890 .980a R Square .104 .206 Standardized Coefficients Beta .501 7784. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .994 Sig.980 t -1. Error of the Estimate 6.995 4.833 13.907 2.17961 a. Error -8. Predictors: (Constant). b. Method Enter a. .499 305. Pasar Hewan b.961 Adjusted R Square .836 Sig.000 a. .000a Regression Residual Total a. Dependent Variable: Volume Total . All requested variables entered.499 38.

609 F 155.035 12. Method Enter a.975 t -.130 47. Predictors: (Constant).861 4.870 7784. Dependent Variable: Volume Total .104 .130 380.975a R Square .Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered a Blantik Variables Removed . Predictors: (Constant).951 Adjusted R Square .000a Regression Residual Total a.89991 a. . Error of the Estimate 6. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Blantik Unstandardized Coefficients B Std.945 Std.000 df 1 8 9 Mean Square 7403. All requested variables entered.499 Sig. Blantik ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7403.000 a.329 Standardized Coefficients Beta .973 . Blantik b. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .470 Sig. Error -. b.169 4. .

052 4.967 Total 1.543 Umur * Tahun 2908444.159 1. .048 .2 Bulan 2 .6 2 347352590.000 Estimated Marginal Means .838 232.0 2 363497312.00 Value Label 0 .00 2.63 3 6058626.444 4 727111.5 Tahun 694705180.549 .000 . R Squared = .Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Univariate Analysis of Variance Between-Subjects Factors Umur 1.4 Bulan 3 .746 .449E+010 1080 Corrected Total 3020309250 1079 a.00 1.48 6 2319392.040 .007 .000 .765 Error 1562734333 1044 1496871.00 3.185 12 43098.00 4.00 2.000 .147E+010 1 11471940750 Umur 726994625.943 242.00 3.00 3.111 Umur * Jual 13916356.747 Tahun * Jual 357245.821 7663.3 Jual 18175879.465) F 27.00 1.029 Sig.00 2.7 Bulan 2006 2007 2008 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak N 360 360 360 360 360 360 270 270 270 270 Tahun Jual Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Harga Type III Sum Source of Squares df Mean Square Corrected Model 1457574917a 35 41644997.619 Intercept 1.000 1.000 .370 6 59540.483 (Adjusted R Squared = .486 1.895 Umur * Tahun * Jual 517185.

500 Std.192 3 .192 2 . Tahun .5 1496871.000 .030 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Umur (J) Umur Std.947 4160.976 2186.2 Bulan 930.a . .976 751. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.482 64.192 Based on estimated marginal means *.4 Bulan -930.4 Bulan 1077.417 4287.000 .2 Bulan 2007.893 1109.000 .970 4414. Error 37.774 -1256. The mean difference is significant at the .05 level.000 a.113 3083.000 The F tests the effect of Umur. Grand Mean Dependent Variable: Harga Mean 3259. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 7.7 Bulan -1077. Umur Estimates Dependent Variable: Harga Umur 0 .192 3 . Error 64.219 2.583 3210.167 Std.917* 91.917* 91.143 1256.000 .7 Bulan 0 .2 Bulan 2 . Error 0 .192 3 .4 Bulan 3 .482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2153.053 2406.1.7 Bulan Mean 2279.887 3336.4 Bulan 0 .857 -1828.774 -751.833* 91.192 2 .6E+009 1044 Mean Square 363497312. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).893 -2186.143 1828.3E+008 2 Error 1.000 .857 898.083* 91.838 Sig.024 Sig.115 3332.833* 91.967 F 242. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1109.083* 91.229 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3186. 3.024 -898.7 Bulan -2007.482 64.2 Bulan 2 .

458 74.218 -1217.722 Std.000 2008 2006 1963.278* 91.192 . This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.254 1784.250 3221.052 Sig. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1104.458 74.623 3045.194* 91.000 Based on estimated marginal means *.192 .192 .780 3094.563 3337. .532 746.720 2422. Error 74. Jual Estimates Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak Mean 3483.135 -859.3 1496871.338 -2142.058 4133.600 3334.519 3191.000 The F tests the effect of Tahun.414 3629.667 3188. The mean difference is significant at the .482 64.704 3172.6E+009 1044 Mean Square 347352590.192 4386.000 2008 -1038.252 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Tahun (J) Tahun Std.778 Std. 4.458 74. Error 64. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 6.882 .192 .338 1104.135 a. Error Sig.482 64. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).771 3042.412 859.254 1217.000 2007 2006 925.Estimates Dependent Variable: Harga Tahun 2006 2007 2008 Mean 2296.674 3318.528 4259.412 -1784.05 level.967 F 232.278* 91.9E+008 2 Error 1.472* 91.a 2006 2007 -925.000 2007 1038.192 .998 3348.000 2008 -1963.458 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3337.192 .532 2142.808 3026.472* 91.482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2169.218 -746.194* 91.

844 2429.585 203.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std.229 -203.548 -517.239 5134.4 Bulan 3 .659 209.299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85.489 3987.511 187.858 .733 225.2 Bulan 2 . Error 111.750 Std. 5.906 2007 2008 .048 Sig.299 Petani Peternak 15. .6E+009 1044 Mean Square 6058626.823 3047.687 111.7 Bulan Mean 1410.299 Pedagang Pengumpul -18.299 Petani Peternak 18.511 2430.437 -88. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.548 190.659 -190.363 -104.573 1992.696 222.299 Petani Peternak 310.880 a.687 111.177 3437.006 . The mean difference is significant at the .656 4022.474 88. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 18175880 3 Error 1.687 111.741* 105.a .299 Pedagang Pengumpul -2.687 111.963 105.299 Based on estimated marginal means *.299 Blantik -15.005 .417 2211.926 105.007 The F tests the effect of Jual.741* 105.118 -225.003 .083 3218.003 .333 4207.687 111.927 4461.889 105.687 111.967 F 4.239 2999. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).978 .594 5572.7 Bulan 0 .229 498.815* 105.005 .05 level.192 501.363 -498.2 Bulan 2 .2 Bulan 2 .000 3212.437 104.500 4242.083 5353.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.667 3266.687 111.687 111.696 Sig.889 105.963 105.299 Blantik 2.667 2210.156 2993.852* 105.858 .299 Petani Peternak Pasar Hewan -310.261 1629.926 105.4 Bulan 3 .511 -501.118 517.299 Blantik Pasar Hewan -294.733 -222.543 1496871.192 -209.4 Bulan 3 .006 .511 3485.7 Bulan 0 .978 .823 1990.815* 105.299 Blantik 294.344 3431. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 . Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.880 .585 -187.927 4426.474 -85.852* 105.

171 3895.444 4189.607 2484.615 2903.163 2475.282 3936.965 128.333 3155.060 3819.496 2753.556 3154.965 128.496 3408.274 4401.965 128.496 2483.333 3340.385 3407.111 4148.940 3733.060 4216.965 128.965 128.965 128.163 3350.060 1977.222 Std.060 1969.7 Bulan Petani Peternak 0 .000 2222.496 2523.444 4190.965 128.940 4443.556 3480.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2075.4 Bulan 3 .965 128.2 Bulan 2 .111 3190.965 128.615 3226.965 128.222 3154.2 Bulan 2 .222 2256.726 2844.060 4529.504 3936.385 3407.163 5035.444 Std.965 128.556 3156.940 3593.7 Bulan Pedagang Pengumpul 0 .667 3097.965 128.615 3894.000 4470.385 4442.393 3086.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2247.393 2902.940 4723.504 .000 2230.222 2270.940 3443.171 2936.163 4325.051 3409.222 4189.965 128.2 Bulan 2 .282 2901.965 128.385 4442. Error 128.393 2010.965 128.333 2263.965 128.274 2516.965 128. Jual * Tahun Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 Mean 2500.4 Bulan 3 .6.7 Bulan Mean 2328.7 Bulan Blantik 0 .282 7.4 Bulan 3 .282 2017.965 128.504 1978.965 128. Jual * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Umur 0 .556 4147. Error 128.965 128.444 2231.2 Bulan 2 .000 4072.615 2901.965 128.000 4782.274 2581.504 3936.282 2003.051 2509.163 4400.4 Bulan 3 .965 128.

312 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 .021 4596.7 Bulan 0 .000 4158.374 223.312 3720.646 1746.333 4360.646 4346.646 4766.4 Bulan 3 .7 Bulan 0 .374 223.667 3065.688 2623.374 223.688 4208.646 2766.374 223.688 1838.374 223.374 223.354 6229.000 3258.021 5651.979 3331.000 4151.646 2766.667 1423.333 3205.374 223.374 223.021 4556.667 5213.979 985.688 5643.4 Bulan 3 .312 940.333 5205.646 1716.312 1853.646 3921.000 3160.688 3598.333 3161.374 223.021 4556.374 223.021 3696.2 Bulan 2 .4 Bulan 3 .000 2185.2 Bulan 2 .374 223.312 3720.646 2723.688 4798.2 Bulan 2 .2 Bulan 2 .000 Std.646 4766.374 223.374 223.021 3551.354 2689.354 4589.688 3598.4 Bulan 3 .4 Bulan 3 .374 223.374 223.688 1878.2 Bulan 2 .000 2148.312 3508.7 Bulan 0 .021 3806.667 3368.4 Bulan 3 .374 223.374 223.7 Bulan 0 .688 3643.688 5643.021 2621.000 3946.374 223.374 223.312 2721. Jual * Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 Umur 0 .7 Bulan 0 .333 2183.000 3160.7 Bulan 0 .646 2680.646 1745.333 3205.374 223.333 5205.354 2724.2 Bulan 2 .354 3599.312 1746.646 961.312 3713.979 2766.688 5223.688 3643.021 1816.000 3113.374 223.688 3643.4 Bulan 3 .374 223.4 Bulan 3 .8.7 Bulan 0 .2 Bulan 2 .374 223.333 3118.374 223.312 2675.2 Bulan 2 .7 Bulan 0 .312 1848.4 Bulan 3 .000 4118.7 Bulan Mean 1440.2 Bulan 2 .000 5791.312 2820.688 3503.354 4384.374 223.021 2586.667 3770.374 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1001.2 Bulan 2 .000 4158.7 Bulan 0 .374 223.979 2626.688 2623.374 223.021 4596.374 223.333 4785. Error 223.312 2721.979 3680.374 223.021 1861.374 223.4 Bulan 3 .000 2286.374 223.667 4118.7 Bulan 0 .374 223.374 223.333 2251.021 3556.7 Bulan 0 .312 3680.2 Bulan 2 .312 5353.979 2930.374 223.646 1813.979 4775.312 1710.4 Bulan 3 .667 3205.4 Bulan 3 .354 2729.333 2185.688 2593.000 1378.333 2155.2 Bulan 2 .000 2291.374 223.333 1400.

Post Hoc Tests Umur
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I-J) -930,8333* -2007,9167* 930,8333* -1077,0833* 2007,9167* 1077,0833*

(I) Umur 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan

(J) Umur 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan

Std. Error 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -1109,7735 -751,8931 -2186,8569 -1828,9765 751,8931 1109,7735 -1256,0235 -898,1431 1828,9765 2186,8569 898,1431 1256,0235

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Tahun
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean 95% Confidence Interval Difference (I) Tahun (J) Tahun Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound (I-J) 2006 2007 -925,2778* 91,19186 ,000 -1104,2180 -746,3376 2008 -1963,4722* 91,19186 ,000 -2142,4124 -1784,5320 2007 2006 925,2778* 91,19186 ,000 746,3376 1104,2180 2008 -1038,1944* 91,19186 ,000 -1217,1347 -859,2542 2008 2006 1963,4722* 91,19186 ,000 1784,5320 2142,4124 2007 1038,1944* 91,19186 ,000 859,2542 1217,1347 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Jual
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291,8519* Blantik 294,8148* Petani Peternak 310,7407* Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291,8519* Blantik 2,9630 Petani Peternak 18,8889 Blantik Pasar Hewan -294,8148* Pedagang Pengumpul -2,9630 Petani Peternak 15,9259 Petani Peternak Pasar Hewan -310,7407* Pedagang Pengumpul -18,8889 Blantik -15,9259 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Std. Error 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929

Sig. ,006 ,005 ,003 ,006 ,978 ,858 ,005 ,978 ,880 ,003 ,858 ,880

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 85,2295 498,4742 88,1925 501,4372 104,1184 517,3631 -498,4742 -85,2295 -203,6594 209,5853 -187,7335 225,5112 -501,4372 -88,1925 -209,5853 203,6594 -190,6964 222,5483 -517,3631 -104,1184 -225,5112 187,7335 -222,5483 190,6964

Hasil Analisis Varian Share Harga Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors Jual Melalui 1,00 2,00 Value Label Pedagang Pengumpul Petani Penggemuk an Pedagang Perantara/ Blantik N 270 270

3,00

270

Descriptive Statistics Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Mean Pedagang Pengumpul 99,3117 Petani Penggemukan 98,5332 Pedagang Perantara/ 98,9078 Blantik Total 98,9176 Std. Deviation 45,48216 45,10136 46,26509 45,56346 N 270 270 270 810

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Share Harga Type III Sum of Squares Source df Mean Square Corrected Model 81,868a 2 40,934 Intercept 7925596,149 1 7925596,149 Jual 81,868 2 40,934 Error 1679425,723 807 2081,073 Total 9605103,740 810 Corrected Total 1679507,590 809 a. R Squared = ,000 (Adjusted R Squared = -,002)

F ,020 3808,419 ,020

Sig. ,981 ,000 ,981

Estimated Marginal Means
1. Grand Mean Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval Mean Std. Error Lower Bound Upper Bound 98,918 1,603 95,771 102,064

2. Jual Melalui
Estimates Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Pedagang Perantara/ Blantik Mean 99,312 98,533 98,908 Std. Error 2,776 2,776 2,776 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 93,862 104,761 93,084 103,983 93,458 104,357

843 -6. Error Sig.926 .332 8.868 2 Error 1679425.918 -8. Lower BoundUpper Bound Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .928 8.928 Pedagang Perantara/ -.924 -8.485 6. Univariate Tests Dependent Variable: Share Harga Sum of Squares df Contrast 81.375 3.332 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.779 3. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.111 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.111 7. .485 Pedagang Perantara/ .375 3.779 3.7 807 Mean Square 40.918 -7.404 3.926 .926 .303 8.081 7.981 The F tests the effect of Jual Melalui.926 .926 .843 -8.081 Based on estimated marginal means a.020 Sig.924 -7.073 F . Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).Pairwise Comparisons Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval for Mean a Difference Difference a (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.303 Blantik Petani Penggemukan . .934 2081.926 .404 3.

Lower Bound Upper Bound .924 .7786 3.9283 8.0815 .92624 Pedagang Perantara/ .3029 -8.843 -6.92624 Blantik Petani PenggemukanPedagang Pengumpul -.3322 7.92624 Based on observed means.4854 .918 .4854 -8.4039 3. 95% Confidence Interval Sig.3746 3. Error Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .92624 Blantik Petani Penggemukan .7786 3.9283 7.4039 3.Post Hoc Tests Jual Melalui Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I-J) (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui Std.3746 3.924 -7.0815 -8.3029 8.918 .3322 8.1108 -7.1108 6.92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.843 .92624 Pedagang Perantara/ -.

Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Pedagang Pengumpul Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 2006 2-4 bulan 1200 800 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4250 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4950 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2100 2000 2000 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 950 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2250 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 5800 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 0 -2 bulan 950 800 800 800 600 600 900 800 1250 900 1500 1250 1600 1500 1500 2600 2250 2250 2250 2250 2250 2500 1000 900 1000 .

26 27 28 29 30 900 1000 1000 900 900 1500 1500 1500 1500 1500 2500 2000 2000 2000 2000 1500 1500 1500 1450 1450 2500 2500 2500 2500 2500 3250 3000 3000 3000 3000 2500 2500 2500 2500 2500 3500 3500 3500 3500 3500 4000 4000 4000 4150 4100 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Petani Penggemukan Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 800 1200 800 2400 1200 3000 2400 4000 3500 2750 4000 3700 4000 47bulan 2400 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4800 4800 4800 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 1400 5200 6000 5200 4900 6000 6000 6000 6000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 0 -2 bulan 1900 2800 750 700 600 600 750 600 1200 800 1500 1250 1400 1400 1400 2500 2250 2200 .

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 2250 2250 2250 2500 1000 900 900 900 1000 1000 900 900 3500 4000 3400 3400 3400 3400 1400 1400 1400 1400 1400 1400 4800 4000 4000 1800 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 6400 4900 4900 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Blantik Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 0 -2 bulan 2000 3000 800 700 600 600 800 600 1200 900 .

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1500 1250 1500 1500 1500 2500 2250 2250 2250 2250 2250 2500 900 900 900 900 900 1000 900 900 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4250 5000 4400 4000 5200 5000 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Pasar Hewan Tahun 2006 No Res 1 2 3 0 -2 bulan 800 600 600 2-4 bulan 1000 700 800 47bulan 2100 1000 2000 2007 0 -2 bulan 1500 900 1500 2-4 bulan 2000 1500 1800 47bulan 3000 2000 3000 2008 0 -2 bulan 2500 1500 2500 2-4 bulan 3000 2500 2800 47bulan 4000 3000 4000 .

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 500 500 600 500 500 1000 1000 800 1500 1750 2000 1500 2250 2250 2000 2000 2000 2000 2250 2000 2000 2000 2000 800 1500 1500 600 600 700 1000 600 2000 2100 2000 2000 3000 1500 3000 3500 3750 3500 3000 3400 3500 3500 3500 3500 3500 3500 1750 2000 2000 1500 1500 1500 4000 1500 4000 4400 4500 4000 4500 5000 4500 5000 5000 5000 4500 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 2500 3000 3100 1000 900 900 1000 900 2000 2000 1500 2500 2750 3000 2500 3250 3250 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 1500 2500 2500 3500 1500 1000 1000 2000 1500 3000 3100 4000 4000 4000 4500 4000 4500 4750 4500 4000 4400 4500 4500 4500 4500 4500 4500 2750 3000 3000 4250 2500 2500 2500 5000 2500 5000 5500 5500 5000 5500 6000 5500 6000 6000 6000 5750 6100 6100 6000 6000 6000 6000 6000 3500 4000 4100 5000 2000 1500 1500 2000 1500 3000 3000 3500 3500 3750 4000 3500 4250 4250 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 2500 3500 3500 4500 2500 2000 2000 3000 2500 4000 4000 5000 5000 5000 5500 5000 5500 5750 5500 5000 5500 5500 5500 5500 5500 5500 5500 3750 4000 4000 5000 3500 3500 3500 6000 3500 6000 6500 6500 6500 6500 7000 6500 7000 7000 7000 6750 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 4500 5000 5000 6000 30 2500 3250 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan .

19 4.9 6.96 6.58 6.89 8.89 8.36 11.22 14.93 13.97 15.11 8.58 8.55 15.Lampiran Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 14 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 5 113 20.44 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.11 8.44 100 % 26.97 % 19 15 13 11 10 9.93 5.67 5.15 6.79 100 .42 4.82 7.9 4.81 12.33 7.06 3.42 4.36 6.19 4.42 99.19 4.81 12.59 11.85 7.67 5.15 6.6 100 % 21.6 4.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 5 132 24.27 8.15 11.59 11.93 5.44 100 100 % 22.2 6.96 7.93 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.22 14.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful