EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Agribisnis

Disusun Oleh : Kamarullah M. Nur NIM. 06750030

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2008

TESIS EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

Disusun oleh: KAMARULLAH M. NUR NIM. 06750030

SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Pembimbing Utama

Anggota Tim Penguji

Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si

Ir. Harpowo, MP.

Pembimbing

Pendamping

Ir. Dyah Erni W, MM

Ir. Istis Baroh, MP

Tesis ini telah diterima sebagai salah satu prasyarat Untuk memperoleh gelar Magister Tanggal ………………..

Dr. Achmad Habib, MA Direktur

ABSTRAK

Kamarullah M. Nur. Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah. Dibimbing oleh Jabal Tarik Ibrahim dan Dyah Erni. W. Kata Kunci : Pedet Jantan, Pemasaran Pemeliharaan pedet jantan sapi perah bagi petani peternak kurang menguntungkan bahkan dapat mempengaruhi pendapatan dan menambah biaya produksi, sehingga kebiasaan petani peternak menjual pedet jantan yang dimiliki setelah berumur 2 – 4 bulan dengan harga yang relatif murah, karena penentuharga ada pada pedagang perantara (blantik). Hal ini dapat terjadi karena pengetahuan tentang pemasaran produk-produk peternakan terutama tentang harga pedet jantan sapi perah tidak diketahui secara pasti dan mudah oleh petani peternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat efisiensi pemasaran Pedet jantan sapi perah di Kota Batu. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah secara tepat dan efisien harus diketahui oleh petani peternak sehingga dapat memperoleh harga jual yang layak. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola saluran pemasaran, berapa margin pemasaran, share harga dan keuntungan serta efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di lihat dari market structure, market conduct dan market performance (SCP). Jumlah responden adalah 60 orang yang terdiri dari 30 orang responden petani peternak sapi perah yang merupakan anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu dan 30 orang responden mewakili lembaga pemasaran yang ditentukan secara acak sederhana sesuai proporsi dan menyebar di tiga wilayah kecamatan yaitu Batu, Bumiaji dan Junrejo Kota Batu. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis konsentrasi rasio, analisis elastisitas transmisi harga, dan analisis deskriptif – Hay and Morris. Metode yang digunakan adalah purposive atau dengan cara sengaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemasaran pedet jantan sapi perah berada pada pasar persaingan sempurna dan petani peternak sudah memperoleh harga yang layak, sedangkan keuntungan tertinggi diperoleh oleh pedagang perantara/blantik.

Penghargaan penulis sampaikan juga kepada anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu. dan seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tesis ini. Malang. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Nopember 2008 Penulis .M. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Pemkot Batu. Ibu (Alm) dan istri tercinta anak-anakku tersayang. penyuluh THL – TBPP yang telah membantu pengambilan data dalam penelitian. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu. Dengan judul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah pada anggota Gabungan Kelompok Tani Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu Kota Batu Jawa Timur. selaku Ketua Jurusan Program Agribisnis Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang. MP. Jabal Tarik Ibrahim M. masing-masing selaku Pembimbing utama dan pembimbing.. Sutawi.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ini berhasil diselesaikan. Ir. Ungkapan terima kasih juga ananda sampaikan kepada Bapak. M.Si dan Ibu Ir. Penelitian ini dilaksanakan sejak April 2008.. Dyah Erni W. serta Ir.

25 Nopember 2008 Kamarullah M.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis yang berjudul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah” ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. Malang. kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka. Nur .

RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Obi Maluku Utara. Pada tahun 2007 penulis mendapat ijin belajar dari Pemkot Batu di Pasca Sarjana Program Magister Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang. . lulus tahun 1992. Penulis adalah PNS pada Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005. Pendidikan sarjana Muda di tempuh di Program Studi Produksi Ternak. Sebelumnya adalah fungsional guru pada SPP Negeri Ambon 1992 – 1999. lulus tahun 1986. Camat Kec. Akademis Peternakan Brahma Putra Yogyakarta. 16 Pebruari 1958 sebagai anak ke 3 (tiga) dari pasangan H. Kasi Pemantauan Kualitas Lingkungan merangkap PLT Kabid Pemantauan dan Pemulihan pada BAPEDALDA Propinsi Maluku Utara 1999 – 2002. HM. Pendidikan Sarjan di tempuh di Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. Obi Kabupaten Maluku Utara 2002 – 2004. Kamarullah dan Almarhumah Djubaidah Sangadji.

..........2..................... DAFTAR LAMPIRAN ...........2..........................................................3 Kerangka pemikiran ..............1 1......................................... DAFTAR TABEL ............................................................ Perilaku Pasar .5 2............................................................................................................................................................................ RIWAYAT HIDUP .................................................................................. SURAT PERNYATAAN ...........................................................................................2 2..... Tampilan Pasar ............................................................................................................1 Telaah Penelitian ..............3 2................................................................................................ 1.... 2...... II TINJAUAN PUSTAKA 2..........................4 Manfaat ..................... I 1.................................................. 6 8 8 11 15 24 27 28 33 37 2........................................................................ Struktur Pasar ........................................................2.2.......4 Hipotesis ............................ ABSTRAK ..... 2.............................. Margin Pemasaran ................................................................................................................2...............................................................................6 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran ...............................................................2....3 PENDAHULUAN 1 4 4 5 i ii iii iv v vi ix x xi Latar Belakang ............................................................ DAFTAR ISI ............................................................................... DAFTAR GAMBAR ...2 Landasan Teori ........................................................................................ Efisiensi Pemasaran .................... 2...............................2 1...DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN .................................. Tujuan Penelitian ......... ....................... Rumusan Masalah ..... KATA PENGANTAR ...............4 2............1 2...........................

.. 5...............................5......................................1 Analisis Efisiensi Pemasaran ..........................................3............3...... Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden . 38 39 40 40 41 42 42 3............3.............5 5... 5.... Jenis Tanah ..................................................................................................................2 Metode Pengambilan Sampel .7 Status Pemilikan Ternak .............................................6 5...............1 Letak dan Luas Wilayah ......2 Keadaan Umum Peternakan .............................III....... 59 60 56 57 58 49 50 50 51 53 55 ................... 4. Batas Wilayah .......1..............1 Data Populasi Ternak .....................................................................................................4 Definisi Operasional .............3 Karakteristik Responden .......................................................................2. 5............. Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi . 3....................... 4...............................4 Curah Hujan .............................................. V................. Pendidikan Responden ..... Kondisi Pendapatan Petani Ternak dari Setiap Ekor Pedet yang Dijual ...................................................1..............2 Sistem Pemeliharaan Ternak ..........................................3...................................................... 3..............................................4 Sistem Pemasaran Ternak .......................... 5.................2 4............................1 Analisis Struktur Pasar .....................1 5.............................................3..... 45 45 46 46 47 47 48 4....5...........................3 5................4 Umur Responden .................................... 3....... METODE PENELITIAN 3........................ HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5.3 Metode Pengumpulan Data .....1 Keadaan Umum Daerah Penelitian ....................3........1....... 5..........1.................................................. IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.......... Jumlah Pemilikan Ternak .................1....... 3.. Topografi ......................................................3 4............3...........................................................................................................................2 5........... 4.........................1...... 3..1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian .............5 Metode Analisis Data ..........

..........................................................................1 Kesimpulan ...............5....................3 Analisis Struktur Pasar ... 5........2 Saran .5..........................................5......... Analisis Perilaku Pasar ..................... Analisis Tampilan Pasar ............................................2 5.............................5............. 6.................................. 62 62 67 72 VI.......5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah ..............1 5......... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 79 80 .......................... KESIMPULAN DAN SARAN 6..............

.................. Tabel 5. Tabel 5...................................... 15 Tabel 5....................................4 Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006 – 2008 ................................................3 Jumlah Pemilikan dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah dari Petani Peternak Tahun 2008 ........ Tabel 5.................... Tabel 5..2 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah ..................5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 .. Tabel 5...........1 Rincian Jumlah Anggota Rum ah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 ...................................... 77 75 76 74 73 68 67 59 61 58 57 .........................10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah .........7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa di Kota Batu Tahun 2008 ... Tabel 5.......................................... Tabel 5...................... Tabel 5.......................... Tabel 5..8 Perbandingan Perbedaan Share Harga yang Diterima Petani Menggunakan LSD ........9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 .................6 Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ......................DAFTAR TABEL Tabel 1 Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat ............................................................................................11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ........ Tabel 5...................

........ 2..... 12...................................... Diagram Karakteristik Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ....... Turunan dan Margin Pemasaran .............................. 5............................. Grafik Fungsi Primer................................................................................................................................................................... 13.... 7........................................... 6................................ 10 18 19 20 22 23 31 38 51 10......................... Grafik Pasar Monopoli ............. 17............................ Diagram Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ......... 8... Grafik Keadaan Pasar Persaingan Sempurna ..........................................DAFTAR GAMBAR 1................................ Grafik Mekanisme Pasar ......................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah ...................................................................................... 62 56 55 54 54 53 52 52 .................................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah ................................. 3.. Grafik Pasar Monopsoni ............. Peta Lokasi Penelitian ................... 4.................................................... 14... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah ................................ 9.................................. Diagram Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur ................................................................................................. 16.............................................................. Grafik Perusahaan pada Kondisi Oligopoli ............................................................... Diagram Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur .......... Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 .................... 11....................... Grafik Pasar Monopolistik .............................................................. Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah ...................... 15.......

9.DAFTAR LAMPIRAN 1. Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Karakterik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah 5. 8. 4. 2. 3. 6. Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah . Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Hasil Analisis Varian Share Harga Post Hoc Test 10. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Jantan Sapi Perah 7.

mendapat perhatian yang cukup besar dari Pemerintah. . 2007). Namun di tingkat petani masih sebagai usaha skala keluarga dengan kepemilikan rata-rata 2–3 ekor setiap keluarga. melalui Pemda Kota Batu dicanangkan sebagai kota Agropolitan dengan penekanan pembangunan bertumpuk pada sektor pertanian secara luas.735 dan 37.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan yang merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian dan pembangunan Nasional. sehingga manajemen yang diterapkan juga seadanya.000 kepala keluarga adalah petani. Pengembangan usaha peternakan rakyat khususnya usaha peternakan sapi perah juga termasuk dalam rencana pengembangan secara baik dan diperluas. 2006). peningkatan sumber daya manusia juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani (Anonymous. Kota batu dengan penduduk 172. Kota Batu termasuk salah satu daerah di Jawa timur yang selama ini telah mengembangkan usaha peternakan khususnya sapi perah. PENDAHULUAN 1.335 ekor (Anonymous. Usaha peternakan sapi perah yang di kembangkan oleh koperasi dan swasta. karena selain sebagai usaha pokok masyarakat juga limbah dari usaha peternakan tersebut diharapkan akan bermanfaat dalam rangka mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. Hal ini selain sebagai sumber protein hewani dalam upaya perbaikan gizi masyarakat.I. khusus petani peternak sapi perah yang bergabung dalam gabungan kelompok tani sapi perah Batu Bersatu sebanyak 576 anggota dengan penyebaran populasi sapi perah sebanyak 6. telah dikelola secara komersial.

Perkembangan sapi perah setiap tahun ada kenaikan 5 . lembu.7 persen. Fungsi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu selama ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan. sehingga upaya-upaya untuk mendapat efisiensi dalam pemasaran perlu mendapat perhatian semua pihak. Pada sistem pengolahan sapi perah di tingkat petani peternak keberadaan pedet jantan atau anak sapi yang berumur 0 – 7 bulan menjadi beban tersendiri dalam biaya produksi. Dalam pemasaran ternak sapi pada umumnya proses pembentukan atau penentuan harga selalu dikaitkan dengan urgensi kebutuhan uang tunai dari petani . 2008). Keterampilan petani untuk menuju pelaksanaan pemasaran yang efisien memang terbatas hanya mempraktekkan unsur-unsur manajemen saja. 1989). pengantara jual beli sapi. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah harus diketahui oleh petani peternak secara mudah dan bebas sehingga petani peternak dapat memperoleh kepastian harga untuk menentukan layak atau tidak ternaknya di jual. domba dan sebagainya. ketersediaan pasar dapat memacu berkembangnya program dalam menerapkan teknologi sistem usaha tani. 1993). secara khusus pemasaran adalah hasil telaah atau evaluasi terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis dari produsen ke konsumen melalui pedagang perantara (Anonymous. Pemasaran merupakan aspek penting dalam proses produksi. Dan salah satu lembaga pemasaran atau pelaku pasar sistem tata niaga pedet jantan sapi perah adalah pedagang perantara atau blantik. untuk itu perlu dilakukan pengamatan dalam sistem pemasaran pedet jantan sapi perah sehingga masyarakat pemilik ternak dapat mengetahui secara transparan sistem pemasaran ternak khususnya pemasaran pedet jantan sapi perah. kambing. aliran barang tersebut dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran yang tergantung dari sistem yang berlaku dan aliran barang yang dipasarkan.Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005 secara bertahap berupaya terus meningkatkan populasi ternak sapi perah melalui bantuan langsung masyarakat (BLM) maupun kegiatan proyek pengadaan lainnya yang disebarkan kepada petani peternak. untuk itu biasanya pedet jantan sapi perah dijual setelah berumur 2 – 3 bulan yang langsung dibeli oleh blantik dengan harga yang tidak menentu hal ini dapat terjadi karena informasi tentang pemasaran pedet jantan sapi perah tidak diketahui oleh petani peternak secara pasti. apalagi pemahaman informasi pasar masih rendah sehingga kesempatan-kesempatan ekonomi menjadi sulit untuk dicapai (Soekartawi. Populasi pedet jantan sapi perah tahun 2008 yaitu sebanyak 259 ekor (Anonymouse. Dalam kamus Bahasa Indonesia (Poerwadarminto. selanjutnya Fanani (2000) mengatakan bahwa pada prinsipnya pemasaran adalah pengalihan barang dari produsen ke konsumen. 1976) mengatakan bahwa blantik adalah cengkau. kuda.

1.2. 1.1 Bagaimana pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu. market conduct. . maka masalah yang perlu disimak dan dicermati serta dicarikan solusinya adalah sebagai berikut : 1. bila petani peternak sangat membutuhkan uang tunai. share harga dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu.3.1 Untuk mengidentifikasi pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu.3 Bagaimana efisiensi pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu dilihat dari analisis market structur.peternak. 1.2. karena bargaining position (posisi dalam tawar menawar) lemah. dan market performance (SCP).2 Berapa margin pemasaran. ia hanya bertindak sebagai price taker (penerima harga) saja. bahkan tidak jarang terjadi praktek-praktek pemasaran yang merugikan petani peternak oleh para pedagang perantara atau blantik. 1.2.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1.2 Rumusan Masalah Bertitiktolak pada latar belakang penelitian ini.

1.3 Untuk menghitung efisiensi pamasaran dari pedet jantan sapi perah dilihat dari analisis market structur. market conduct dan market performance (SCP) .3.3. dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.2 Untuk mengetahui tentang keberadaan margin pemasaran. share harga. 1.

1.4.4.2 Sebagai bahan kajian lebih lanjut bagi Dinas Pertanian Kota Batu dalam upaya perbaikan lembaga petani sekaligus penataan efisiensi jalur pemasaran ternak sapi pada umumnya 1.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah 1.4.1 Sebagai bahan informasi kepada petani sapi perah dalam memasarkan ternak khususnya pedet jantan sapi perah melalui jalur mana yang akan digunakan agar efisien.3 Sebagai bahan acuan dalam rangka penyusunan rancangan penyuluhan 1. Sebagai khasanah ilmu pengetahuan khusunya dalam bidang pemasaran pedet jantan sapi perah. .4.4. 1.

struktur. baik secara vertikal maupun horizontal sehingga struktur pasar yang ada mengarah kepada pasar monopsoni. keuntungan tataniaga dan efisiensi tataniaga dengan hasil yang cukup baik. margin pemasaran dan fasilitas pemasaran di provinsi Lampung. dkk (1993) meneliti tentang pemasaran permintaan daging sapi di kota Administratif Kupang melalui analisis biaya tataniaga. Oleh karena itu penulis respek untuk melakukan penelitian tentang bagaimana. Sementara itu penelitian tentang struktur pasar dalam pemasaran buah anggur di Bali yang dilakukan oleh Wardhana (1993) diketahui bahwa struktur pasar buah anggur yang dihasilkan di Bali adalah oligopsoni. seperti Asmarantaka (1985) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara harga jagung yang diterima petani. . perilaku dan tampilan pasar diperoleh hasil bahwa pasar rumput laut di Bali cenderung ke arah persaingan tidak sempurna (imperfect market) yakni pasar oligopsoni.1 Telaahan Penelitian Terdahulu Penelitian tentang analisis pemasaran ternak terutama pemasaran pedet jantan sapi perah belum banyak dilakukan. TINJAUAN PUSTAKA 2.II. perilaku dan tampilan pasar. Penelitian lain yang juga dilakukan di Bali oleh Darma Setiawan (1997) tentang analisis pemasaran rumput laut yang mengkaji tentang struktur. biaya produksi. Pellokila. Walaupun sebenarnya sudah banyak dilakukan penelitian tentang komoditas-komoditas pertanian lainnya di daerah lain di seluruh nusantara ini. perilaku dan tampilan pasar dari pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya transaksi dari pedet jantan sapi perah di Kota Batu. margin tataniaga. Idrus dan Widyantara (1996) melakukan penelitian tentang pemasaran panili di Bali dengan hasil sebagai berikut: pasar panili di Bali tidak terintegrasi. dalam kondisi seperti ini pembeli bertindak selaku price setter (penentu harga) sedangkan petani hanya sebagai price taker karena bargaining positionnya lemah. khususnya yang menyangkut analisis struktur.

2.2 Landasan Teoritis 2.584 – 0. 1996) tentang analisis keterpaduan pasar pada sistem pemasaran komoditas pangan strategis diperoleh hasil bahwa berdasarkan analisis biaya dan margin pemasaran diketahui bahwa harga rata-rata yang diterima petani di bawah 50 persen dari harga di tingkat pengecer (konsumen). Relatif rendahnya harga yang diterima petani ini disebabkan oleh tingginya biaya pemasaran dan margin keuntungan pemasaran yang diterima pedagang.Penelitian Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi. 2. .1 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran Definisi tentang pemasaran atau tataniaga telah banyak dikemukakan oleh para ahli ekonomi. (Anonymous. pada hakekatnya bahwa pemasaran atau tataniaga merupakan aktivitas yang ditujukan terhadap barang dan jasa sehingga dapat berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar korelasi antara harga konsumen dan harga produsen maka kedua pasar tersebut semakin kuat terintegrasi. Sedangkan menurut hasil penelitian Kiptiyah dan Semaoen (1994) tentang pemasaran bunga potong di Jawa Timur bahwa nilai korelasi antara harga di tingkat konsumen dan harga di tingkat produsen untuk setiap jenis bunga berkisar antara 0. maka secara umum dapat dikatakan bahwa struktur pasar komoditas pertanian mengarah kepada pasar persaingan tidak sempurna yakni monopsoni atau oligopsoni yang pada hakekatnya sangat merugikan petani dalam memasarkan komoditas yang dihasilkannya.957. Berdasarkan telaahan terhadap beberapa hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas.

Kondisi seperti ini akan mengakibatkan arus perpindahan barang dari daerah excess supply ke daerah excess demand pada akhirnya akan terjadi keseimbangan. di mana daerah yang satu mengalami kesulitan produksi (excess supply) sedangkan daerah yang lain mengalami kekurangan permintaan (excess demand). pembiayaan dan informasi harga. sebagaimana yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini. Fungsi-fungsi pemasaran ini dilakukan oleh lembaga pemasaran sebagai upaya pemindahan barang dan jasa dari sektor produksi ke sektor konsumsi. Panjang pendeknya rantai pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas tergantung dari : a) jarak antara produsen dan konsumen. . Menurut Saefuddin (1982) bahwa pemasaran merupakan aktivitas yang berkaitan dengan bergeraknya barang dan jasa dari produsen ke konsumen. pengolahan. Kenyataan menunjukkan bahwa pasar itu terpisah dalam ruang (market spatial) dan akan terjadi ketidakseimbangan pasar apabila di antara dua daerah. Dikemukakan lebih lanjut oleh Saefuddin (1982) bahwa rantai pemasaran atau saluran pemasaran merupakan aliran yang dilalui oleh barang dan jasa dari produsen melalui lembaga pemasaran sampai barang dan jasa tersebut tiba di tangan konsumen. maka secara tegas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pada pemasaran adalah agar barang dan atau jasa yang dihasilkan oleh petani maupun perusahaan sebagai produsen sampai ke konsumen. b) cepat atau tidaknya komoditas tersebut menjadi rusak. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar barang dan jasa dapat berpindah dari sektor produksi ke sektor konsumsi disebut sebagai fungsi pemasaran. ini merupakan pengertian sederhana/sempit. c) skala produksi dan posisi keuangan produsen. b) fungsi fisik meliputi pengumpulan. Pengertian pasar dalam arti luas atau pengertian menurut teori ekonomi adalah pertemuan antara penawaran dan permintaan atau perpotongan antara kurva penawaran dan kurva permintaan. 1985 dalam Widiyantara. Menyimak definisi pemasaran di atas.Kohl dan Uhl (1980) mendefinisikan pemasaran sebagai tampilan aktivitas bisnis yang terlibat dalam arus barang dan jasa dari pintu gerbang usahatani (farm gate) sampai ke tangan konsumen. penanggungan resiko. Fungsi pemasaran yang dimaksud tersebut meliputi: a) fungsi pertukaran yang meliputi pembelian dan penjualan. 1995). Pola rantai pemasaran untuk komoditas pertanian berbeda dengan pola rantai pemasaran untuk produk/komoditas industri. di mana pada titik potong tersebut terbentuklah harga yang merupakan keseimbangan antara jumlah yang ditawarkan oleh produsen dan jumlah yang diminta atau diinginkan konsumen (Lipsey. pengangkutan dan c) fungsi fasilitas yang meliputi standarisasi dan grading. Lokasi fisik sebagai tempat terjadinya pembelian dan penjualan disebut pasar.

2. Selanjutnya apabila ada biaya transfer atau pajak maupun kendala lainnya. 1991).2.2. namun belakangan telah banyak digunakan untuk menganalisis produk-produk pertanian (Alhusniduki. 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan persentase kenaikan input dan 4) output berkurang dengan persentase yang lebih rendah dari persentase penurunan input. Efisiensi Pemasaran Problematika utama dalam pemasaran komoditas pertanian adalah bagaimana upaya yang seharusnya dilakukan agar jasa lembaga pemasaran memuaskan petani produsen dan konsumen produk pertanian. 2) output meningkat dan input tetap. 1981). Selanjutnya setelah terjadi perdagangan dengan asumsi bahwa tidak ada biaya transfer yang dikeluarkan oleh pedagang maka akan terjadi kenaikan harga di X karena sebagian produk di bawa ke Y oleh pedagang. Perdagangan akan terhenti atau telah tercapai keseimbangan apabila perbedaan harga antara dua pasar tersebut hanya sebesar biaya transfer (Azzaino. harga di X sebesar Px (gambar a) lebih murah dari harga barang di Y (gambar b) atau dapat dinyatakan sebagai berikut Px < Py. artinya bahwa dalam pengaliran produk pertanian dari petani produsen sampai di konsumen secara efisien. Untuk mengetahui efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan pengukuran: 1) efisiensi teknis/operasional yang mengukur produktifitas pelaksanaan jasa . Kohl dan Url (1980) mendefinisikan efisiensi pemasaran sebagai peningkatan ratio output dan input yang dapat dicapai dengan cara: 1) output tetap/konstan sedangkan input berkurang. Proses perdagangan akan berhenti pada saat harga pokok di X sama dengan harga pokok produk tersebut di Y. perpindahan produk akan terus berlanjut dari pasar dengan harga produk yang lebih rendah ke pasar di mana harga produk tersebut lebih tinggi. Performance). Dalam menganalisis hasil penelitian ini dilakukan dengan pendekatan organisasi pasar yang meliputi struktur.1 di atas diketahui bahwa sebelum terjadi perdagangan. maka harga pokok di Y akan turun. perilaku dan tampilan pasar atau yang dikenal dengan analisis S – C – P (Structure.D S Py D S Pz D S Px 0 Qx (a) Q 0 Qy (b) Q Q 0 (c) Qz Gambar 2. Conduct. Pada awalnya analisis ini hanya digunakan untuk menganalisis organisasi pasar dalam sektor industri di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat.1 Mekanisme Pasar Berdasarkan grafik 2.

yakni perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima pada tingkat petani. Menurut Mubyarto (1991) bahwa suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila memenuhi 2 syarat : Pertama mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya dan kedua mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat dalam produksi dan pemasaran barang itu. Efisiensi operasional atau efisiensi teknis penekanannya pada kemampuan meminimumkan biaya-biaya dalam melakukan fungsi pemasaran. Apabila tidak terjadi seperti ini. Margin pemasaran ini terdiri dari biaya pemasaran (marketing cost) dan keuntungan . Menurut Soekartawi (1993) bila keuntungan yang diperoleh sebagai akibat pengaruh harga maka dapat dikatakan bahwa pengalokasian faktor produksi memenuhi efisiensi harga. Efisiensi teknis dinyatakan dalam ratio output pemasaran terhadap inputnya: Output Pemasaran Efisiensi Operasional = Input Pemasaran Prinsipnya pengukuran efisiensi ini adalah kegiatan fisik. Yang sering menjadi indikator dalam mencermati efisiensi operasional adalah margin pemasaran. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. Sedangkan dalam efisiensi harga atau efisiensi ekonomis adalah pada kemampuan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen. misalnya output per jam kerja. Sementara itu menurut Tornek dan Robinson (1977) bahwa efisiensi pemasaran itu dapat dibedakan menjadi efisiensi operasional dan efisiensi alokatif atau efisiensi harga. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni.pemasaran di dalam perusahaan dan 2) efisiensi alokatif (efisiensi harga) yang mengukur bagaimana harga pasar mencerminkan biaya produksi dan biaya pemasaran secara memadai pada sistem pemasaran secara keseluruhan. Sebenarnya dalam pemasaran pengukuran efisiensi operasional sama artinya dengan pengurangan biaya. Dalam efisiensi alokatif diasumsikan bahwa output dan input berbentuk fisik yang tetap.

Sedangkan yang dimaksudkan dengan output adalah kepuasan konsumen terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Bila disimak dari efisiensi operasional maupun efisiensi harga. Oleh karena itu margin pemasaran dan korelasi harga sebagai indikator efisiensi pemasaran tidak lagi saling melengkapi sehingga diperlukan indikator lain. Dua pasar dikatakan terintegrasi apabila perubahan harga dari salah satu pasar disalurkan/diteruskan ke pasar lainnya. tampilan dan perilaku. maka suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila untuk suatu komoditas yang mengalir melalui berbagai lembaga pemasaran dari produsen ke konsumen diperlukan margin pemasaran yang rendah dan tingkat korelasi yang tinggi. Sedangkan efisien harga ditunjukkan oleh korelasi antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen. Sehubungan dengan hal di atas. Semakin besar biaya pemasaran dan atau semakin besar keuntungan pemasaran suatu komoditas. maka Saefuddin (1982) menyatakan bahwa ada dua konsep yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran yakni konsep input output ratio dan konsep S-P-C (Structure. Input adalah berbagai ramuan dari tenaga kerja.pemasaran (marketing profit). dan manajemen yang digunakan oleh lembagalembaga pemasaran dalam proses pemasaran. Kendati demikian hal ini bukanlah merupakan suatu patokan harga mati yang tidak dapat diganggu gugat. maka margin pemasaran semakin besar yang menyebabkan sistem pemasaran menjadi tidak efisien. Performance dan Conduct) atau struktur. sebab dapat saja terjadi bahwa pada kasus tertentu margin pemasaran tinggi dan korelasi harga juga tinggi. Apabila terjadi suatu perubahan yang menyebabkan biaya input untuk menghasilkan suatu . Menurut Azzano (1982) bahwa untuk melihat efisiensi harga digunakan analisis integrasi pasar secara vertikal.

tetapi penambahan jasa tidak selalu dicerminkan dalam pertambahan nilai produk yang dipasarkan.2. dan lebih banyak digunakan di negara-negara maju terutama Amerika Serikat. Menurut Alhusniduki. dan kini mulai digunakan di negara-negara yang sedang berkembang dalam mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan analisis struktur pasar (market structure). Sedangkan apabila terjadi perubahan yang menyebabkan adanya penurunan biaya input tetapi tidak mempertahankan atau tidak diikuti dengan peningkatan kepuasan konsumen maka dikatakan terjadi penurunan efisiensi. distribusi perusahaan dengan berbagai ukuran dan diferensiasi produk serta syarat-syarat keluar masuk pasar. Sebaliknya dengan menurunnya nilai produk mungkin disebabkan oleh penurunan harga di tingkat konsumen. 1984). sehingga standar dalam pendekatan ini tidak ada. Menurut Azzaino (1981) struktur pasar adalah suatu dimensi yang menjelaskan definisi industri dan perusahaan mengenai jumlah yang ada di pasar. perilaku pasar (market conduct) dan tampilan pasar (market performance).3 Struktur Pasar Struktur dimaksudkan sebagai karakteristik organisasional suatu pasar yang dalam prakteknya adalah menentukan hubungan antara pembeli dan penjual di pasar. Penggunaan konsep efisiensi seperti ini sangat sulit karena adanya kesulitan dalam mengukur tingkat kepuasan (Atmakusuma. dengan penjual potensial yang akan masuk pasar. Karena itu pendekatan yang lebih tepat. dkk (1991) bahwa kelemahan karena adanya penambahan biaya pemasaran seringkali diperlukan penambahan jasa kepada konsumen. 2.barang dan atau jasa meningkat dengan tidak mengurangi kepuasan konsumen dikatakan sebagai peningkatan efisiensi. Struktur pasar ini dapat dibedakan .

Dahl dan Hammond (1977) membedakan struktur pasar hasil pertanian sebagai berikut: Tabel 1. monopsoni dan oligopsoni. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. pasar monopoli. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku pedagang dan tampilannya. Struktur pasar menurut Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. pasar monopsoni. pasar oligopoli.menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna yang meliputi pasar monopoli/monopsoni dan pasar oligopoli/oligopsoni. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensiasi produk. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat Karakteristik Struktural Struktur Pasar Jumlah Bentuk Sisi Penjual Jumlah Perusahaan Produk Pembeli Banyak Standar Persaingan Persaingan Murni murni Banyak Berbeda Persaingan Persaingan Monopolistik Monopsonistik Sedikit Standar Oligopoli Oligopsoni Murni Murni Sedikit Berbeda Oligopoli Oligopsoni Diferensiasi Diferensiasi Satu Unik Monopoli Monopsoni Taken dan Asnawi (1977) membedakan struktur pasar atas persaingan sempurna dan persaingan tidak sempurna. 2) konsentrasi pembeli. King dan Carman. Pasar dengan persaingan tidak sempurna dibedakan menjadi pasar monopoli. 1991 menyatakan bahwa untuk mengetahui dua . Sexton. yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda. dan pasar oligopsoni. Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah.

Suatu pasar dikatakan berada dalam keadaan persaingan sempurna apabila memenuhi syarat-syarat berikut: (1) jumlah pembeli dan penjual sangat banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan. Produsen terdiri dari banyak sekali petani yang menghasilkan beras terstandar untuk dijual di pasar. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika lebih besar dari satu maka pasar cenderung ke erah monopsoni. Suatu contoh dapat diberikan di sini adalah petani padi yang menghasilkan beras. bukan hanya saat ini tetapi juga pada waktu yang akan datang. Biaya yang dikeluarkan tersebut meliputi biaya tetap (BT). Homogenitas di sini dimaksudkan sebagai karakteristik teknis maupun jasa yang diperlukan pemasarannya sama. (4) informasi pasar sempurna dan diperoleh secara gratis. maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna.pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan harga di tingkat pasar ke-i sebagai variabel terikat dan harga di tingkat ke-i + 1 dan selisih biaya transportasi sebagai variabel bebas. (3) mobilitas faktor produksi ke dalam pasar tidak ada hambatan sama sekali. Sebaliknya harga pokok yang dihasilkan . Petani di sini seperti halnya pimpinan perusahaan yang menghadapi berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan padi. Apalagi koefisien regresinya sama dengan satu. (2) Produk yang dihasilkan adalah homogen. sedangkan apabila koefisien regresinya lebih kecil dari satu. biaya varibel (BV) dan biaya marginal (BM).

(tentunya dengan asumsi bahwa tidak campur tangan pemerintah). sebaliknya bila harga turun maka petani atau produsen akan keluar dari pasar sampai BM = MR = BR kembali. maka produsen lain akan masuk pasar sampai BM = MR = BR. maka petani akan berproduksi pada titik Q pada saat BM = MR. satu-satunya adalah dengan menekan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk (biaya produksi). Untuk meningkatkan pendapatan. 1993). petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu. P BM BR H d = H = MR 0 Q Jumlah Gambar 2. mungkin bisa dilihat dari pasar pakan ternak. Produk ini untuk kebutuhan yang sama tetapi dapat saja terjadi perbedaan konsentrasi bahan yang digunakan atau mungkin pula pembeli yakin bahwa pakan yang dihasilkan peruashaan A berbeda dari . Keadaan ini merupakan keseimbangan jangka panjang.2 di atas. oleh karena itu hanya menerima harga berlaku di pasar (hanya bertindak sebagai price taker). Keadaan ini dapat digambarkan dengan grafik seperti di bawah ini dengan kurva-kurva: biaya rata-rata (BR) dan biaya marginal (BM) (Masyrofie. Bentuk pasar dengan persaingan monopolistik.dalam hal ini beras adalah tetap. Karenanya dalam pasar persaingan sempurna biaya ratarata adalah terendah.2. Keadaan Pasar Persaingan Sempurna Keterangan : BR = Biaya rata-rata BM = Biaya marginal MR = Penerimaan Marginal Berdasarkan grafik 2. Kondisi seperti ini petani tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga pasar. Dalam keadaan pasar persaingan sempurna. Apabila harga naik.

iklan atau aktivitas promosi lainnya. Bentuk pasar monopolistik ini dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini.yang dihasilkan perusahaan B.3. Bagaimana seorang monopolis mendapatkan laba maksimum dapat dilihat pada grafik berikut ini. maka bentuk kurva permintaannya menurun dari kiri atas ke kanan bawah (D). suatu perusahaan kecil akan dapat beroperasi sebagaimana perusahaan monopoli. Harga BM H BR D MR 0 Q1 Jumlah Grafik 2. dan harga produk sebesar H. d) mendapatkan lisensi dari pemerintah dan e) skala perusahaan besar. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan lain tidak dapat memasuki pasar tersebut. kendati kenyataannya sama saja. Oleh karena itu pembeli mau saja membeli dalam keadaan harga yang berbeda yang ditawarkan oleh produsen yang berbeda-beda. Pasar monopoli adalah suatu struktur pasar dengan hanya satu perusahaan yang menjual produk di pasar. . Mereka akan mempunyai BM dan BR sebagai kendala biaya dalam persaingan murni. Hal ini berarti bahwa mereka harus menerima harga yang rendah kalau akan menambah produk yang akan ditawarkan untuk meningkatkan volume penjualan. Melalui perbedaan produk. Produsen dapat merubah harga dengan merubah produksi. b) menguasai teknik produksi yang spesifik. Sukirno (1995) menyatakan bahwa ada beberapa hal suatu perusahaan bersifat monopoli antara lain : a) menguasai bahan baku yang strategis untuk menghasilkan produk yang akan dijual. Pasar Monopolistik Keterangan : BM = Biaya Marginal BR = Biaya rata-rata MR = Marginal Revenue Jumlah permintaan yang terjadi adalah sebesar OQ1 pada BM = MR. Akan tetapi produknya yang berbeda-beda dari perusahaan lain. c) hak paten.

Makin besar pembelian monopsoni akan suatu produk maka harga produk tersebut makin tinggi dan sebaliknya. Suatu perusahaan monopsoni yang bermaksud memaksimumkan keuntungannya. Suatu pasar dikatakan sebagai pasar monopsoni apabila di dalam pasar tersebut hanya terdapat satu pembeli. Hal ini dapat dijumpai pada pemasaran hasil pertanian di tingkat petani produsen. Ditetapkannya harga sejumlah produk (Q) sebesar H1.4 Pasar Monopoli Keterangan : BTR BM MR Hrg = Harga = Biaya Total Rata-Rata = Biaya Marginal = Marginal Revenue Pada grafik 2. sedangkan harga dari input ditentukan oleh titik-titik sepanjang kurva penawaran. sedangkan penjual atau produsennya banyak. Apabila monopolis memproduksi sebanyak Q akan dijual dengan harga yang lebih tinggi yakni H1. maka penggunaan input sampai pada suatu jumlah di mana nilai produk marginal dari faktor produksi tersebut (NPMF) sama dengan biaya faktor marginalnya (NPMF = BFM).4 nampak bahwa keuntungan maksimum tercapai pada saat BM = PM dengan jumlah produksi dan permintaan pasar sebesar OQ pada harga H1.BM Hrg H1 A BTR H2 H3 B C MR 0 Q1 Jumlah D Grafik 2. MRP adalah tambahan terhadap total revenue sebagai sumbangan dalam menggunakan satu input. Perbedaan harga H1 dan H2 adalah keuntungan monopolis. yang berarti bahwa harga produk dipengaruhi oleh pembelian monopsoni. Padahal dalam keadaan keuntungan maksimum (BM = MR) harga produk yang sebenarnya hanya sebesar H3. perusahaan berada dalam keadaan kelebihan laba (excess profit) yaitu seluas daerah H1H2AB. Dalam struktur pasar ini kurva penawarannya mempunyai slope positif. hal inilah yang menyebabkan inefisiensi karena faktor-faktor penyebab monopoli sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. sedangkan BFM adalah tambahan terhadap biaya total sebagai akibat .

Jadi H2 adalah harga keseimbangan pasar input yang berhubungan penggunaan input sebanyak OQ (Azzaino. Kesamaan ini terjadi pada titik potong E dalam gambar di bawah ini. baik dalam bentuk produksi maupun aktivitas penjualan produk serta harga. 1981). akan tetapi juga harus memperhatikan tindakan rivalnya. Jadi keuntungan akan maksimum dalam menggunkan input jika berproduksi pada BFM = MRP. kurva permintaan akan putus (kinked demand curve) karena setiap pesaing gagal mengikuti kenaikan harga. . bila MRP < BFM. berhubungan dengan titik F pada kurva penawaran. kerugian akan bertambah dalam menambah produksi dengan menggunakan input tersebut. Harga H1 H2 H3 F E BFM S MRP 0 Q Q1 Quantity Grafik 2.5 Pasar Monopsoni Pada gambar di atas. penambahan dalam penggunaan input akan tetap meningkatkan keuntungan.tambahan penggunaan satu satuan input. OQ adalah jumlah input yang digunakan. Oleh karena itu selama MRP > BFM. bahkan selalu bersesuaian dalam keadaan harga turun. OQ satuan input akan ditawarkan pada harga H2 per satuan. Dalam hal ini. Hal inilah yang menyebabkan ketidakberlanjutan kurva MR (grafik 5). Sebaliknya. Karena itu. Pasar oligopoli adalah suatu keadaan pasar di mana hanya terdapat beberapa penjual dan masing-masing pengusaha berusaha untuk mempengaruhi harga pasar.

Kurva permintaan untuk penurunan harga ini lebih curam dari pada kurva permintaan pada saat kenaikan harga. Jika oligopolis menurunkan harga maka harga akan mengikuti kurva permintaan BF. Akan tetapi apabila oligopolis menaikkan harga. Pada pasar oligopsoni akan terjadi sebaliknya. Kurva permintaan marginal (PM) merupakan kurva terputus ACDF.A F' BM H1 B BR C A' H2 D MR 0 Q E F Quantity Grafik 2. perusahaan menjual produk sebanyak OQ. 1995). Jika oligopsonis meningkatkan harga pembelian inputnya. Pada kondisi seperti ini produk dijual dengan harga H1 dengan jumlah produk sebanyak OQ.6: Perusahaan pada kondisi oligopoli Pada waktu H1. Oligopolis akan mencapai keuntungan maksimum pada saat BM = BR. Oligopolis yakin bahwa apabila ia menurunkan harga penjualan maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dalam penurunkan harga dan jumlah penjualan akan meningkat sesuai dengan kurva permintaan BF. bukan kelanjutan kurva AB dan Q bertambah banyak. Jadi kurva ABF adalah kurva permintaan oligopolis (Sudarsono. maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dengan . sedangkan rivalnya tidak ikut menaikkan harga maka kurva permintaan yang dihadapi oleh oligopolis adalah AB (relatif mendatar).

Purcell (1979) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : a) konsentrasi penjual. belajar dan sikap. motivasi. yaitu apabila 4 : 10 perusahaan menjual 82% dari total produk (konsentrasi produk 82%) berarti dalam industri atau perusahaan 82% aktivitas ekonomi dikendalikan oleh 4 perusahaan tersebut. Sedangkan yang termasuk dalam pengaruh lingkungan adalah pengaruh keluarga. budaya. ekonomi. apakah bebas ataukah berada dalam suatu sistem manajemen. baik individu maupun lingkungan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas maka Lawang (1986) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa perilaku manusia bila dikaitkan dengan pertukaran. c) kendala masuk pasar dan d) diferensiasi produk. Dalam kaitan dengan pengaruh. persepsi. b) konsentrasi pembeli merupakan kebalikan dari konsentrasi penjual yaitu apabila konsentrasi pembeli 82% berarti 82% dari produk yang ada dikuasai oleh 4 perusahaan tersebut. Menurut Abbot dan Mahekam (1990) bahwa ada strategi pokok dalam mengukur struktur pasar yaitu : 1) ukuran relatif dari perusahaan dan 2) hubungan bisnis dari perusahaan. Dahl dan Hammond (1977). imbalan dan keuntungan. sosial dan bisnis. Clindiff (1988) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa ada dua pengaruh pokok yang mempengaruhi pembeli yakni pengaruh individu dan pengaruh lingkungan.4 Perilaku Pasar Perilaku pasar merupakan pola tingkah laku lembaga pemasaran dalam menyesuaikan diri dengan pasar di mana ia melaksanakan pembelian dan penjualan produk. maka perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor biaya.manikkan harga pembelian input. 2.2. Yang termasuk dalam pengaruh individu adalah kebutuhan. Sedangkan apabila terjadi sebaliknya maka rivalnya tidak akan menurunkan harga pembeliannya. Sekelompok atau seseorang .

1986). Sementara itu menurut Alhusniduki (1991) bahwa analisis integrasi pasar secara horizontal digunakan untuk melihat apakah mekanisme harga berjalan secara serentak atau tidak. 3) praktek-praktek penentuan harga bebas dari kolusi dan taktik-taktik yang tidak jujur. Yang dimaksud dengan integrasi adalah penggabungan kegiatan dalam pemasaran dalam satu sistem manajemen. Alat analisis yang digunakan adalah korelasi harga antara pasar yang satu dengan yang lainnya. maupun perdagangan gelap.mempunyai perilaku tertentu merupakan refleksi dari pertimbanganpertimbangan terhadap biaya yang telah dikeluarkan. yang meliputi integrasi vertikal dan integrasi horizontal. atau antara lembaga tingkat bawah dengan lembaga perantara yang di atasnya. Saefuddin (1982) mengemukakan salah satu kriteria yang cocok untuk merumuskan suatu situasi pasar yang dapat mengoptimumkan keuntungan sosial dan memaksimumkan efisiensi pemasaran adalah perilaku pasar yang meliputi: 1) praktek-praktek penentuan harga yang mendorong terjadinya grading dan standarisasi produk. kota dan provinsi. maka: (1) Pj = (b1 + b2) + Pi dimana : Pj = Harga pada tingkat pasar ke-i Pi = Harga pada tingkat pasar ke-i+1 b1 = Biaya pemasaran (biaya transportasi) = Keuntungan lembaga pemasaran b2 Dengan asumsi bahwa b1 dan b2 adalah konstan terhadap satuan komoditas yang dijual maka Pj = a + Pi (2) . Sedangkan analisis integrasi pasar secara vertikal digunakan untuk melihat secara kasar keadaan pasar pada tingkatan lokal. Selain itu analisis mampu menjelaskan kekuatan tawar menawar antara petani dengan lembaga pemasaran. kecamatan. Dengan demikian maka integrasi vertikal merupakan penggabungan proses dan fungsi dua atau lebih lembaga pemasaran pada tahap distribusi ke dalam satu sistem manajemen. Perilaku pasar dapat juga dilihat dari integrasi pasar. 4) kebijaksanaan harga yang mendorong perbaikan mutu produk dan meningkatkan kepuasan konsumen. Sedangkan integrasi horizontal adalah penggabungan dua atau lebih lembaga pemasaran yang melakukan fungsi yang sama pada tahap distribusi yang sama pula ke dalam satu sistem manajemen. kemungkinan imbalan yang akan diterima/diperoleh dan bentuk keuntungan diperoleh atau diharapkan. kabupaten. 2) seragamnya biaya pemasaran. Sebaliknya integrasi horizontal akan dapat memperkuat posisi produsen atau perusahaan dan menghindarkan persaingan dengan perusahaan sejenis (Hanafiah dan Saefuddin. Secara teoritis kalau pasar berjalan secara bersaing sempurna. Makna penting dari integrasi vertikal yakni akan menurunkan biaya pemasaran sehingga menguntungkan konsumen.

Tampilan pasar dapat pula dipengaruhi oleh persaingan non harga. lebih mudah diperbaiki dan sebagainya.2.5 Tampilan Pasar Tampilan pasar merupakan hasil akhir yang timbul akibat penyesuaianpenyesuaian yang dilakukan oleh lembaga pemasaran pada struktur pasar tertentu di mana mereka beroperasi. margin. (1981) menyatakan bahwa tampilan pasar dapat dilihat dari tingkat harga. Secara matematis dapat dinyatakan: Pf Fs = x 100% (4) Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Share keuntungan. Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share). Azzaino.Oleh karena itu jika pasar berada dalam keadaan bersaing sempurna. seperti upaya promosi. keuntungan investasi dan pengembangan produk. 2. lembaga pemasaran ke-i : Ki Ski = x 100% (5) Pr − Pf Ki = Pji – Pbi – bij (6) Dimana : Ski = Share keuntungan lembaga pemasaran Ki = Keuntungan lembaga pemasaran . tidak adanya keuntungan monopsoni. Tampilan ini dapat diukur dari efisiensi penggunaan sumber daya. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen. Stiffel (1975) menyatakan bahwa tampilan pasar adalah hubungan struktur pasar dengan perilaku pasar dalam hal kebijaksanaan harga dan produk. perbaikan sistem pemasaran yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. maka: Pj = a0 + a1P1 (3) Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. adanya perbaikan produk sehingga lebih tahan lama. maka dapat disimpulkan jika: a1 < 1 → Terjadi monopoli penjualan dari lembaga pemasaran dari tingkat pasar yang satu dengan tingkat pasar yang di atasnya a1 = 1 → Pasar berjalan dalam keadaan bersaing sempurna a1 > 1 → Terjadi monopsoni pembelian dari lembaga pemasaran yang di atas dengan yang di bawahnya.

kendatipun jumlah yang dipasarkan atau ditawarkan berubah dan pada kondisi yang lain margin pemasaran itu berubah. Jika fungsi penawaran elastisitas sempurna (horizontal) maka margin pemasaran konstan walaupun permintaan meningkat. . Dikatakan pula bahwa margin pemasaran dapat menjadi konstan pada kondisi-kondisi tertentu. Bila harga konsumen itu kecil. misalnya harga suatu barang naik. 1984). turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil. Margin pemasaran terdiri dari biaya untuk menyalurkan atau mendistribusikan atau memasarkan dan keuntungan lembaga pemasaran. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar (Atmakusuma.Pji Pbi Pr Pf bij = Harga jual lembaga pemasaran ke-i = Harga beli lembaga pemasaran ke-I = Harga beli konsumen = Harga jual petani = Biaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran 2.6 Margin Pemasaran Margin pemasaran dimaksudkan sebagai perbedaan harga suatu komoditas yang diterima produsen dengan harga yang dibayar konsumen. tetapi biaya pemasaran tepat. maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah.2.

apabila dibandingkan dengan perubahan harga. Mengurangi biaya pemasaran dapat ditempuh dengan cara : 1) mengoptimumkan jumlah dan besarnya lembaga pemasaran yang menyelenggarakan fungsi- . (2) adanya perlakuan pengolahan hasil. permintaan dan tidak tergantung pada harga barang. Keuntungan lembaga pemasaran merupakan bagian dari margin pemasaran. maka margin itu sebenarnya relatif stabil atau auflexility marketing margin. misalnya untuk komoditas pertanian dengan sifat yang cepat membusuk atau perishable mempunyai resiko besar sehingga margin pemasaran yang lebih besar dari pada komoditas yang tahan lama. 2) memperbaiki sistem informasi pasar. dan ditentukan oleh faktor-faktor berikut : (a) harga modal dari barang. (b) jumlah komoditas yang dijual dan (c) keuntungan yang diperhitungkan sebagai cadangan dari penanggungan resiko. Untuk mengurangi margin pemasaran dapat dilakukan dengan : 1) mengurangi biaya pemasaran. (3) adanya organisasi yang terorganisir dan tidak terorganisir. (4) kesediaan membayar dari pada konsumen terhadap suatu komoditas yang ingin dibelinya. maka margin pemasaran berikut pendistribusian akan berlainan. Hal ini disebabkan oleh besarnya biaya pemasaran yang ditentukan oleh jumlah atau volume penawaran barang.Apabila harga suatu komoditas tetap. karena (1) sifat komoditas itu sendiri. memperkuat posisi tawar menawar (bargainning position) dari produsen dan 3) stabilitas harga produk.

Harga Sd Sp Pr Penawaran Turunan Penawaran Primer Pf Dd Dp Permintaan Primer Permintaan Turunan 0 Q Jumlah Gambar 2. iklim usaha yang baik dan dengan cara menyederhanakan sistem distribusi barang. oligopoly dan sebagainya. atau disebut juga sebagai pungutan balas jasa bagi lembaga pemasaran. Keuntungan lembaga pemasaran yang berlebihan dapat pula diperkecil dengan cara : 1) memperbaiki resiko teknis dan ekonomis. sewa. pedagang perantara. bunga dan keuntungan. misalnya monopsoni.fungsi pemasaran.7 Fungsi Primer. 2) memperbaiki struktur pasar yang bersaing terlalu hebat. Di dalam margin pemasaran terdapat dua komponen yaitu 1) biaya pemasaran (marketing cost) yaitu imbalan terhadap faktor-faktor yang dipakai dalam proses pemasaran terdiri dari upah. pedagang besar. 2) memperbaiki cara kerja dari setiap lembaga pemasaran. .7). processor maupun pengecer (grafik 2. 2) marketing charge yaitu imbalan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga pemasaran mulai dari pedagang pengumpul. misalnya dengan cara self service. Usaha perbaikan biaya pemasaran dan tingkat keuntungan lembaga tersebut akan dapat meningkatkan efisiensi pemasaran. Turunan dan Margin Pemasaran Thomek dan Robinson (1977) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima produsen.

. Dengan adanya resiko-resiko tersebut maka kualitas maupun kuantitas produk tersebut berkurang/menurun. 2. (b) harga di tingkat konsumen (Pr) turun. akibat sifat komoditas pertanian yang mudah rusak maka dalam proses tataniaga misalnya proses pengumpulan. maka margin perhitungan akan lebih besar dari margin sebenarnya. Sebagai konsekwensi dari faktor waktu inilah menyebabkan perbedaan margin pada waktu pengumpulan dan pada waktu penjualan. maka diperkirakan akibat yang terjadi sebagai berikut: (a) harga di tingkat konsumen (Pr) naik margin perhitungan lebih kecil dari margin sebenarnya. Dengan demikian permintaan primer merupakan permintaan konsumen (Pr) sedangkan permintaan turunan (Pd) merupakan permintaan yang dihadapi oleh petani. pengangkutan atau penyimpanan sering terjadi resiko rusak/susut sebagai akibat atau pengaruh iklim/cuaca atau hama/penyakit. Sebaliknya jika selama periode pengadaan mulai dari produsen sampai ke konsumen terjadi perubahan harga. Permintaan primer merupakan permintaan atas harga dan jumlah pada tingkat konsumen. terlihat bahwa margin pemasaran merupakan perbedaan harga konsumen (Pr) yang juga sebagai permintaan primer dengan harga yang diterima produsen (Pf) juga sebagai permintaan turunan dari suatu komoditas. Sedangkan permintaan turunan merupakan hubungan antara harga dan jumlah dalam mana petani bersedia menjual produknya. 2) Faktor resiko.7 di atas.Berdasarkan grafik 2. Begitupun dengan penawaran turunan (Sd) adalah penawaran yang terjadi di tingkat konsumen yang dilakukan oleh pedagang maupun oleh processor. Adanya perubahan kualitas tersebut merupakan margin kualitas (quality margin) dan juga mengakibatkan margin perhitungan lebih rendah dari margin sebenarnya. harga komoditas tersebut tetap. Utamanya pemenuhan kebutuhan protein hewani yang berasal dari daging sapi maupun susu sapi segar yang meningkat setiap tahun. Penawaran primer (Sp) merupakan penawaran yang terjadi di tingkat produsen. maka keadaan margin perhitungan sama dengan margin pada komoditas tersebut dijual kepada konsumen (margin sebenarnya). Atmakusuma (1984) menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perhitungan margin tataniaga (pemasaran) adalah : 1) Waktu (time lag). Akibat terpisahnya pusat produksi dengan pusat konsumsi mengakibatkan pengadaannya di konsumen membutuhkan waktu.3 Kerangka Pemikiran Seiring dengan semakin meningkatkanya kesejahteraan masyarakat. Artinya selama periode pengadaan. maka semakin tinggi pula kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarga.

Vincent (1996) mengemukakan bahwa permintaan suatu barang atau jasa pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1) harga dari barang atau jasa itu sendiri.000 ekor lebih pada tahun 2006 yang tersebar di 34 wilayah kabupaten kota. 2) pendapatan konsumen. Walau demikian kebutuhan susu secara nasional masih di impor sebesar 65-70 persen sehingga peluang untuk meningkatkan populasi sapi perah masih terbuka luas (Anonymous. Berkaitan dengan prediksi ke depan itu maka salah satu aspek yang sangat menentukan adalah pemasaran yang merupakan fokus utama dalam penelitian ini yakni bagaimana struktur. 2006). (Anonymouse.335 ekor melalui dinas pertanian Kota Batu telah merencanakan untuk dikembangkan dan ditingkatkan terus populasi peternakan sapi rakyat sampai mencapai ± 15. menjadikan Jawa Timur sebagai wilayah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kebutuhan susu segar nasional yaitu 41.000 ekor yang akan disebar kepada petani peternak melalui Gabungan Kelompok Tani secara bertahap untuk 5 – 10 tahun ke depan bila kita inginkan petani peternak di Kota Batu sejahtera. Kota Batu yang merupakan salah satu wilayah pengembangan sapi perah di Jawa Timur dengan populasi saat ini 6. Bertolak dari rencana pengembangan dan peningkatan populasi sapi perah itulah maka peluang untuk penambahan pedet jantan sapi perah melalui kelahiran akan sangat memungkinkan di masa yang akan datang.15 persen. perilaku dan tampilan pasar terhadap pemasaran pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu. 3) harga barang-barang atau . 2008). Gaspersz.Jawa Timur yang merupakan salah satu setra produksi susu dengan jumlah populasi sapi perah sebanyak 134.

8) atribut atau fetures dari produk tersebut dan 9) faktor-faktor spesifik lain yang berkaitan dengan permintaan terhadap produk itu. 2) output berubah sedangkan input tetap. Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda (Teken dan Asnawi. Struktur pasar dapat dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna. Efisiensi operasional = Output pemasaran input pemasaran Selanjutnya efisiensi alokatif mengasumsikan bahwa output dan input dalam bentuk fisik tetap yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. tingkat pendapatan dan ketersediaan dari barang atau jasa itu di masa yang akan datang. 4) ekspektasi konsumen yang berkaitan dengan harga barang atau jasa. 1977). efisiensi pemasaran adalah peningkatan ratio output input yang dapat dicapai dengan : 1) output tetap sedangkan input berubah. 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dari persentase peningkatan input dan 4) output menurun dengan persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan persentase penurunan input. Efisiensi operasional diukur dengan ratio output pemasaran dengan inputnya. Apabila tidak terjadi seperti ini. 5) selera konsumen. Menurut Kohl dan Downey (1977). Struktur pasar menurut .jasa yang berkaitan. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. 6) banyaknya konsumen potensial. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan yang tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni.(7) pengeluaran iklan.

persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. King dan Carman. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika β1 > 1 pasar cenderung ke arah monopsoni.Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensial produk. sedangkan bila β1 < 1. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. 1991) menyatakan bahwa untuk mengetahui dua pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan model persamaan sebagai berikut ini: PA = βo + β1PB + β2Tc + εt dimana PA = harga di tingkat pasar ke-1 PB = harga di tingkat pasar ke-I+1 βo = intersep β1 = koefisien regresi Tc = Selisih biaya transport εt = galat (7) Apabila koefisien β1 = 1 maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku dagang dan tampilannya yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. (Sexton. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. pasar monopoli. monopsoni dan oligopsoni. 2) konsentrasi pembeli. .

2) margin pemasaran. 2. . sedangkan pola saluran yang paling dominan adalah pola saluran pemasaran dari petani langsung ke blantik (pedagang perantara). 6) penggunaan input optimum dan 7) integrasi pasar yang dilakukan melalui integrasi secara vertikal dan integrasi secara horizontal. 3) analisis elastisitas transmisi harga.4 Hipotesis 1. Sistim pemasaran pedet jantan sapi perah yang dilakukan petani peternak di Kota Batu belum efisien. 2. 3. 5) fungsi suplai output petani.Tampilan pasar tergantung pada tingkat efisiensi dan produktifitas dari suatu perusahaan. 4. share harga dan keuntungan pemasaran dari pedet jantan sapi perah lebih tinggi di tingkat pedagang perantara atau blantik dibanding pemasaran langsung di pasar hewan. 4) fungsi keuntungan pemasaran. Untuk mengukur tampilan pasar dilakukan dengan: 1) efisiensi pemasaran. Terjadi beberapa pola saluran pemasaran pedet jantan sapi perah. Margin pemasaran. Harga pedet jantan sapi perah rata-rata lebih murah di tingkat pedagang perantara atau blantik.

Junrejo Kec. Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji.Desa Gunungsari . diambil seluruhnya yaitu Kecamatan Junrejo. Secara skematis lokasi penelitian disajikan sebagaimana skema berikut: Peta Lokasi Penelitian KOTA BATU Kec.Desa Tulungrejo . Sedangkan penentuan lokasi penelitian di tingkat desa/kelurahan ditentukan berdasarkan tingkat kepadatan populasi sapi perah. Bumiaji .Desa Sumberejo .Desa Giripurno .1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu yang meliputi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Andhini Sejahtera yang tersebar di 9 desa/kelurahan pada 3 kecamatan dalam wilayah Kota Batu.Desa Oro-oro Ombo .Desa Junrejo .Kelurahan Songgokerto .Desa Dadaprejo .Desa Tlekun .III. Penentuan lokasi dengan cara purposive atau dengan cara sengaja yaitu untuk wilayah kecamatan. Batu Kec. METODE PENELITIAN 3.

sehingga didapat 10 responden di Kecamatan Junrejo. Hal ini sesuai dengan Arikunto (1997) dalam Sunarto (2002).1000 ekor dapat digunakan sampel 15 .peternak responden dan lembaga-lembaga pemasaran dengan cara mengajukan pertanyaan yang . Sedang penentuan jumlah responden pada tiap desa dengan cara proporsional purposive.peternak responden dilaksanakan secara purposive sampling. 10 responden di kecamatan Batu dan 10 responden di kecamatan Bumiaji. populasi yang jumlahnya 100 .3 Metode Pengumpulan Data Pengambilan data primer langsung dari petani . (2003) yaitu dengan mengambil sampel sebagai berikut. 3. dengan penentuan jumlah peternak sebagai responden 30 orang untuk peternak sapi perah. Cara penentuan responden dengan purposive sampling yaitu petani peternak pemilik pedet jantan sapi perah. sampel yang digunakan paling kurang 50 persen.2 Metode Pengambilan Sampel Populasi pedet jantan tahun 2008 di wilayah kota Batu perah sebanyak 259 ekor. Untuk menentukan petani . yaitu suatu teknik pengambilan atau penentuan sampel dengan tujuan tertentu dengan syarat ciri dan sifat populasi telah diketahui sebelumnya. untuk populasi ternak yang jumlahnya kurang dari 100 ekor. hal ini sesuai dengan Surachman (1989) dalam Sumarto. dengan syarat peternak yang dijadikan responden mempunyai ternak lebih dan 3 ekor.15 persen.50 persen dan populasi yang jumlahnya lebih dari 1000 ekor dapat digunakan sampel 10 .3. sehingga diperoleh 30 peternak sapi perah.

pedagang pengumpul dan pedagang perantara/blantik. Biaya Pemasaran (marketing cost) adalah semua biaya yang dikeluarkan petani penggemukan. Harga di tingkat petani peternak adalah harga jual pedet jantan sapi perah yang merupakan hasil transaksi antara petani peternak dengan petani penggemukan. 2. .4 Definisi Operasional 1. pedagang pengumpul dan pedagang Perantara (blantik) dan dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp. Share harga yang diterima petani (farmer’s share) adalah bagian harga yang diterima petani peternak dari harga yang dibayar petani penggemukan. Keuntungan Pemasaran (merkezing profit) adalah selisih margin pemasaran dengan biaya pemasaran dinyatakan dalam rupiah (Rp). 3. dinyatakan dalam jumlah satuan rupiah per ekor (Rp./ekor). 3. 5. Margin Pemasaran (marketing margin) adalah perbedaan harga di tingkat. pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) mulai dari pintu gerbang petani peternak sampai di tangan konsumen yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan masalah yang diteliti mulai dari tingkat desa sampai tingkat kota Batu. 4. pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) pedet jantan sapi perah.). petani penggemukan.telah dipersiapkan dalam bentuk kuesioner.

8. Responden adalah petani peternak atau salah satu anggotanya yang tinggal dalam satu atap/rumah baik sebagai anak atau istri yang dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. b) menganalisis pengaruh cara pembayaran dan perbedaan jarak tempat tinggal petani peternak dan pasar hewan yang diterima petani peternak. . 3. 7. Pedet jantan adalah anak sapi yang berumur 0 . Pada tahap pertama adalah untuk menganalisis : a) efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah yang selama ini dilakukan oleh petani peternak. 9.6. Biaya transportasi adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh pedagang untuk mengangkut ternak dari daerah asal/tempat petani peternak sampai pasar ternak dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp) 10.7 bulan baik sapi sapi perah. Penampilan data nilai jual pedet jantan sapi perah merupakan hasil wawancara dari petani peternak responden dan lembaga-lembaga seluler pemasaran. Jumlah pemilikan pedet adalah jumlah pedet jantan sapi perah yang dimiliki petani peternak termasuk jumlah pedet yang sudah dijual dalam 2 tahun terakhir ini dan dinyatakan dalam satuan ekor.5 Metoda Analisis Data Metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini secara garis besar dilakukan untuk menjawab tujuan dari pada penelitian ini.

perilaku dan tampilan pasar (S-C-P). Oleh karena itu dalam menganalisis efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu digunakan pendekatan Structure. perilaku dan tampilan pasar. b) analisis elastisitas transmisi harga dan c) analisis deskriptif a. Analisis Konsentrasi Ratio Yang dimaksudkan dengan konsentrasi ratio dalam penelitian ini adalah jumlah pedet jantan sapi perah dan pedet jantan sapi potong yang dibeli oleh pedagang tertentu dibandingkan dengan jumlah yang diperdagangkan.1.5. sebagaimana yang dikemukakan oleh Saefuddin (1982) bahwa untuk mengetahui efisiensi pemasaran di negara-negara yang sedang berkembang lebih tepat digunakan pendekatan struktur.5.3. Conduct dan Performance (S-C-P) 3. Hay dan Morris dalam Widiyantana (1995) menyatakan bahwa .1 Analisis Struktur Pasar Pendekatan yang dipergunakan untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi di Kota Batu adalah a) analisis konsentrasi ratio (Kr).1 Analisis Efisiensi Pemasaran Sesungguhnya sampai dengan saat ini belum ada indikator yang pasti/baku yang dapat dipergunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran. Namun demikian secara empiris pendekatan yang sering digunakan oleh para peneliti untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah pendekatan struktur.

konsentrasi ratio (Kr) dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut. maka dilihat elastisitas transmisi harganya. b. Kr = Jumlah yang dibeli × 100% Jumlah yang diperdagangkan Dikemukakan pula bahwa apabila terdapat satu pedagang yang mempunyai Kr minimal 95% maka pasar cenderung ke pasar persaingan monopsoni.Pf/Pr Dimana: Et d Pr d Pf Pr Pt’ : Elastisitas transmisi harga : Perubahan harga di tingkat pengecer : Perubahan harga di tingkat petani : Harga di tingkat pengecer : Harga di tingkat petani (8) . Transmisi Harga Untuk melihat hubungan elastisitas harga di tingkat petani dengan elastisitas harga di tingkat pedagang perantara. Apabila terdapat empat pedagang yang mempunyai Kr minimal 80% maka pasar tersebut mempunyai tendensi ke persaingan oligopsoni dengan konsentrasi tinggi. Model yang digunakan menurut (Sudiyono. 2002) adalah: Et = dPn/dPf. Sedangkan apabila terdapat delapan pedagang dengan Kr minimal 80% maka tendensi pasar tersebut mengarah ke struktur pasar oligopsoni dengan konsentrasi sedang.

Analisis deskriptif yang dipergunakan meliputi nilai maksimum. Penerapan uji LSD dimaksudkan sebagai uji bandingan untuk mengetahui signifikansi perbedaan volume perdagangan pedet sapi perah jantan dan harga jual pedet sapi perah jantan. maka Pr = Pr + a± b Pr atau dapat ditulis Pr = (Pf+ a) / (1-b) Persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi: Et = 1/(1 . .Kemudian margin pemasaran (M) merupakan fungsi linier dari harga di tingkat pengecer yaitu: M= a+ b Pr. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dipergunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden. ratarata.Pf/Pr c. dan prosentase. minimum.b). d. LSD Uji LSD didalam penelitian ini memanfaatkan fasilitas uji lanjut dari analisis varian yang pada apalikasinya memanfaatkan program aplikasi SPSS 15.

menjadikan kota Batu memiliki alam yang subur.234 ha (13%) dan (3) kecamatan Bumiaji 130.1600 m dpl. Luas wilayah Kota Batu 19.57’ BT dan 7°. 2006). dan total luas wilayah Kota Batu.122°.377 ha (23%).44’ . (2) kecamatan Junrejo 26. daerah lereng dan berbukit dengan proporsi lebih luas yang diikuti dengan dataran rendah yang lebih sempit (anonymous. indah dan dingin (Anonymous.72 ha atau 0. Dari sisi geografi posisi kota Batu berada pada ketinggian 700 in .1 Topografi Topograti kota Batu sebagian besar wilayah perbukitan dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi sampai sedang.BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4. dengan luas wilayah masing-masing kecamatan sebagai berikut: (1) kecamatan Batu 46.1.26’ LS.8°. 4.908.189 ha (64%). dan secara umum dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu.42 peran dan total luas wilayah Jawa Timur. Secara administrasi kota dibagi menjadi 3 wilayah kecamatan yang meliputi 20 desa dan 4 kelurahan. 2006).1 Letak dan Luas Wilayah Kota Batu terletak pada 122°.17’ . 45 .

Kondisi cuaca relatif lebih kering dari tahun 2006 sampai 2007 dibanding tahun-tahun sebelumnya.85 ha.19 ha dan kecamatan Bumiaji 2.25 ha dan kecamatan Bumiaji 1.4.1.526. namun hari hujan lebih sedikit (Anonymous. (3) jenis tanah alluvial yaitu. Ini berarti lebih basah dibanding tahun sesudahnya. Kecamatan Junrejo 217. musim hujan dan musim kemarau. 4.61 ha (Anonymous. kecamatan Junrejo 1.1.2 Curah Hujan Seperti tempat lain di Indonesia. (2) Jenis tanah kambisol yaitu.34 ha. Musim hujan dimulai pada bulan September dan diakhiri pada bulan Juni. 2006).395.93 ha dan kecamatan Bumiaji 1. rata-rata tinggi curah hujan mencapai 111 mm/bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 108 hari. meliputi kecamatan Batu 889.873. . meliputi kecamatan Batu 239. Sementara pada periode sebelumnya.86 ha. Kota Batu mengikuti perubahan putaran 2 iklim.04 ha. jenis tanah yang kurang subur dan mengandung kapur. jenis tanah yang cukup subur.3 Jenis Tanah Kondisi kesuburan tanah dibagi menjadi 4 jenis tanah yaitu: (1) jenis tanah Andosal merupakan tanah paling subur.395.5 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 128 hari. 2006). kecamatan Junrejo 199.89 ha. dengan rata-rata curah hujan 97. kecamatan Junrejo 741.831. meliputi: kecamatan Batu 1.85 ha.00 ha dan kecamatan Bumiaji 408. dan (4) jenis tanah latosol meliputi kecamatan Batu 260.31 ha.

Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Blitar dan kabupaten Malang. 4. kelinci. Usaha peternakan rakyat di Kota Batu menempati posisi kedua setelah usaha tani tanaman. Dengan demikian posisi kota Batu sangat strategis sekali karena di semua wilayah perbatasan ini telah tersedia jalan raya yang dapat mendukung mobilitas kegiatan pembangunan pertanian terutama dalam pemasaran produk pertanian (Anonymous. 2006). kambing perah. puyuh dan itik serta ternak kuda sebagai transportasi wisata (Anonymous. Sehingga dibandingkan dengan usaha ternak yang lain maka ternak sapi perah sangat baik dikembangkan di Kota Batu.2 Keadaan Umum Peternakan Masyarakat Kota Batu sudah sejak lama memelihara serta membudidayakan ternak.4 Batas Wilayah Batas-batas wilayah Kota Batu adalah: Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Mojokerto dan kabupaten Pasuruan. sapi potong. sapi perah. ayam ras. karena selain didukung oleh iklim yang cocok juga memiliki kepastian dalam pemasaran hasil produksi. Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Malang.1. Jenis-jenis ternak yang dipelihara meliputi. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Malang. ayam buras. Ternak sapi perah perkembangannya cukup baik di Kota Batu. kambing/domba. 2006).4. Hal ini .

688 : 86.mengingat kota Batu termasuk kota tujuan wisata sehingga kebutuhan akan susu segar oleh hotel dan restoran dan usaha-usaha yang bergerak di bidang jasa makanan sangat mendukung perkembangan usaha sapi perah baik saat ini maupun masa yang akan datang.400 : 77.703 : 7. .800 : 52.000 Sumber : Dinas Pertanian Kota Batu Triwulan I 2008 Kaitannya dengan perkembangan ternak sapi perah maka usaha ternak sapi perah ke depan memiliki prospek untuk ditingkatkan.787 : 3.365 : 2.335 : 2.2. 4. hal ini karena ketersediaan makanan ternak yang disebar oleh dinas pertanian kota Batu kepada masyarakat dalam bentuk paket-paket proyek sebanyak 1.1 Data Populasi Ternak Populasi ternak di kota Batu sesuai data Populasi ternak sampai semester I tahun 2008 adalah: Sapi perah Sapi potong Kambing Domba Kelinci Ayam Petelur Ayam Pedaging Ayam Buras Burung Puyuh : 6.374 : 25.500 ha sejak tahun 1999. Dan tak kalah penting limbah dari pertanian juga merupakan alternatif lain sebagai bahan pakan ternak sapi perah.

Kelurahan Songgokerto Kecamatan Bumiaji . 10 responden pedagang pengumpul dan 10 responden pedagang perantara (blantik). HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5. Sebagai responden adalah anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Batu Bersatu sebanyak 30 responden.1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu Jawa Timur yang tersebar pada 9 desa/kelurahan di 3 kecamatan yang ada di kota Batu.Desa Tlekung Kecamatan Batu .Desa Junrejo . sehingga jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 60 orang. Adapun lokasi daerah penelitian adalah : Kecamatan Junrejo .Desa Giripurno .Desa Oro-Oro Ombo .V.Desa Tulungrejo . Sedangkan untuk mengetahui perbedaan harga pedet jantan sapi perah antara harga di tingkat petani peternak dengan harga yang terjadi di tingkat lembaga pemasaran maka dilakukan juga penelitian pada masing-masing lembaga tersebut yaitu 10 responden petani penggemukan.Desa Gunungsari .Desa Dadaprejo .Desa Sumberejo .

dapat dilakukan dengan menggunakan mobil.Secara umum prasarana transportasi tidak ada kendala.5 Ha untuk setiap petani.3 . sehingga dalam melakukan penjualan pedet dan ternak masyarakat lainnya. Khusus tentang tenaga kerja secara umum semuanya menggunakan anggota keluarga. karena selain kepemilikan ternak rata-rata 3 . namun sebagian besar petani peternak di Kota Batu. juga bahwa usaha tani ternak rata-rata masih menjadi usaha sampingan dan usaha keluarga. .5 ekor setiap keluarga.2 Sistem Pemeliharaan Ternak Pada umumnya pemeliharan ternak sapi perah di Kota Batu telah dilakukan secara intensif dimana Kehidupan dan berproduksi secara keseluruhan dilaksanakan di dalam kandang dan ditangani oleh peternak dan keluarganya. dan dari pengamatan lebih banyak petanipeternak menggunakan mobil pick up. baik secara perorangan maupun berkelompok telah melakukan kerja sama dengan PT Perhutani sebagai pemilik lahan hutan untuk disewakan kepada petani peternak untuk menanam tanaman hijau makanan ternak. (HMT) dan ini sangat mendukung aktifitas kegiatan usaha peternakan sapi perah yang dikembangkan di Kota Batu. 5.0. Walaupun rata-rata kepemilikan lahan untuk kebun HMT sangat sempit antara 0.

52 tahun.00 39.00 Rata-rata umur responden petani penggemukan berkisar antara 34 .00 45.00 36.5.3 Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari petani peternak sapi perah 30 orang.00 38.00 40.1 Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur umur Umur 31. serta pedagang perantara atau blantik sebanyak 10 orang. pedagang pengumpul 10 orang.00 46. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5. Dari 30 responden yang diteliti petani peternak yang terbanyak berumur 32 tahun. Visualisasi karakteristik petani penggemukan sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: .00 33. 35. 5. petani penggemukan 10 orang.00 48.00 52.00 37.00 55. dengan rata-rata umur 40 tahun (39. dan 45 tahun yang masing masing sebesar 13. Dari 10 responden yang.83 tahun).1 Umur Responden Rata-rata umur responden petani peternak sapi perah berkisar antara 31 .00 34. dengan rata-rata umur 39 tahun.3.00 51.00 32.00 35.3%.55 tahun.00 47.

00 45.00 38.00 52.00 Responden yang berprofesi sebagi pedagang pengumpul berkisar antara 36 .2 Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 45.00 36.00 39.00 43.00 34.00 40.00 39. Dari 10 responden yang diteliti pedagang pengumpul yang terbanyak berumur 41 tahun yaitu sebesar 20%.3 Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur umur Umur 36. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5.Diagram 5.00 52.00 35. dengan rata-rata umur 41 tahun.00 Sedangkan untuk responden pedagang perantara/ blantik yang termuda berusia 31 tahun dan yang paling tua berusia 52 tahun.00 41.52 tahun.00 40. .00 37.00 37.

2 Pendidikan Responden Responden dalam penelitian ini mempunyai latar belakang pendidikan formal yang bervariasi mulai dari sekolah dasar hingga perguruan Tinggi. Visualisasi tingkat pendidikan formal untuk petani peternak dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut: .00 5.3.00 45.00 39.4 Karakteristik Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 34.00 52.Pedagang perantara yang paling banyak berusia 45 tahun yaitu 20%. Visualisasi umur pedagang perantara dapat dilihat dalam diagram pie sebagai berikut: Diagram 5.00 36.00 37.00 35.00 40.

3%. sedangkan yang paling sedikit adalah yang pernah menempuh pendidikan formal dibangku Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 1 orang atau 3.5 di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal terbanyak yang pernah ditempuh oleh peternak sapi perah adalah SLTP yaitu sebanyak 15 responden atau 20%. Visualisasi tingkat pendidikan formal petani penggemukan ditampilkan dalam diagram pie berikut: Diagram 5.5 Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA PT Diagram 5.6 Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah .Diagram 5.

7 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah .Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram pie di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal petani penggemukan bervariasi antara SD hingga SLTA. Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh petani penggemukan tidak jauh berbeda dengan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul. Petani penggemukan yang paling banyak adalah yang pernah menempuh pendidikan di bangku SLTP yaitu sebanyak 7 orang atau 70%. diagram tingkat pendidikan pedagang pengumpul dapat dilihat sebagai berikut: Diagram 5. Dan yang paling sedikit adalah tamatan sekolah dasar yaitu sebanyak 1 orang responden atau 10%.

00 . Diagram 5. dan SLTA.00 3.Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal pedagang pengumpul bervariasi antara SD.8 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan 1. Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul yang paling banyak adalah bangku SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%. SLTP.00 2.

Diagram diatas menggambarkan tingkat pendidikan formal pedagang perantara atau blantik.3 6 60 7 23.7 30 100 10 100 Sumber : Diolah dari data primer 2008 10 100 10 100 .1 : Rincian Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 Responden Jumlah ART Petani Peternak F 3 4 5 6 7 Jumlah Petani Penggemukan F % Pedagang Pengumpul F 4 4 2 Pedagang Perantara/ Blantik F 4 5 1 - % % 40 40 20 % 40 50 10 2 6. Sebagai perbandingan rincian jumlah ART pada penelitian ini seperti pada tabel berikut ini: Tabel 5.3 10 10 6 20 2 6. Tingkat pendidikan formal yang paling banyak pernah ditempuh oleh pedagang perantara adalah SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%. sedangkan yang paling sedikit adalah SD yaitu sebanyak 1 responden atau 10%.7 3 30 13 43.3.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden Jumlah anggota rumah tangga pada responden berkisar antara 3-7 orang. 5.

Jumlah anggota rumah tangga yang paling banyak adalah 4 orang.4 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Yang dimaksud dengan pengalaman berusaha ternak sapi perah dan sapi perah sampai dengan saat penelitian ini dilaksanakan dan mungkin akan terus berlanjut di masa-masa yang akan datang atau dengan kata lain sudah berapa lama petani peternak memelihara ternak sapi.3% hingga 60%. yang berkisar antara 43.2 Pengalaman Berusaha Dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah Periode Kisaran Lama Pemeliharaan waktu Responden (th) Jumlah %) (org) Responden : Petani Peternak Sapi Perah I 2-5 15 50.33 IV >17 1 3. dan pedagang perantara atau blantik dalam penelitian ini semua telah berkeluarga. petani penggemukan.34 III 12-16 1 3. Dengan demikian pengelolaan sapi perah selama ini tidak menggunakan tenaga kerja dari luar karena sudah dipenuhi oleh anggota rumah tangga sendiri. Tabel 5.3.00 . pedagang pengumpul. 5. Sedangkan yang dimaksud dengan lama pemeliharaan adalah waktu yang diperlukan seorang petani peternak dalam memelihara ternak sapi terhitung mulai memelihara.Petani peternak.00 II 6-11 13 30.33 30 100.

Dari hasil wawancara saat penelitian bahwa status ternak sapi dari petani peternak responden adalah kepemilikan hak milik sendiri yang dikembang responden ternak sapi perah. 5.00 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Menyimak tabel 2 diatas dan keterangan saat wawancara selama penelitian bahwa keseluruhan petani peternak responden dalam pemeliharaan ternak sapi merupakan hasil pengembangan ternak milik sendiri yang merupakan peninggalan orang tua. rata-rata responden telah menguasai.00 10 100. . karena sistem yang digunakan masih bersifat tradisional. Peternak sapi perah Yang dimaksud dengan jumlah pemilikan ternak adalah jumlah ternak sapi perah yang dimiliki peternak responden di wilayah penelitian dan jumlah pedet jantan yang dapat dijual. namun masih rendah dalam meningkatkan mutu dan kualitas usaha tani. 5. seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini.6 Jumlah Pemilikan Ternak a.3.00 II 13-20 2 20.Responden Lembaga Pemasaran I 4-12 7 70.00 III > 21 1 10.5 Status Pemilikan Ternak Yang dimaksud dengan status kepemilikan ternak adalah kedudukan atau posisi terhadap ternak sapi yang sedang dipelihara. sehingga dari sisi teknis budidaya ternak.3.

79 44.00%) yang diikuti dengan skala pemilikan 6-8 ekor ternak.3.34 31. pemeliharaan 2–4 .3 4 9-10 2 6.7 Kondisi Pendapatan Petani Peternak Dari Setiap Ekor Pedet Yang Dijual Hasil temuan dalam penelitian ini pada peternak sapi perah. Pada dua tahun terakhir hal ini berlaku untuk semua strata pemilikan ternak. 5.03 13.99 3 4-6 15 50 9 6-9 10 33.83%) jumlah pemilikan sebagaimana yang diperlihatkan pada tabel 4 diatas sudah termasuk jumlah pedet yang dijual.66 13 10 < 0 0 0 Jumlah 30 100 29 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Pada tabel di atas untuk petani peternak sapi perah responden memiliki atau memelihara ternak sapi perah berkisar pada 4-5 ekor ternak lebih banyak (50.000. rata-rata selama pemeliharaan pedet jantan berdasarkan lama pemeliharan sampai dijual adalah untuk periode pemeliharan 0–2 bulan membutuhkan biaya Rp 530.Tabel 5.83 0 100 0-3 3 9. dan untuk penjualan pedet terbanyak terdapat pada pemilikan 9-10 ekor ternak (44.3: Jumlah Pemilikan Dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah Dari Petani Peternak Tahun 2008 Strata Pemilikan (ST)(Ekor) Responden Jumlah % Penjualan Jumlah % 10.

bulan membutuhkan biaya Rp 595. Sedangkan biaya transportasi dalam pengangkutan ternak dari kandang ke pasar hewan rata-rata antara Rp 50.000 untuk 1 mobil pick up/truk.000 – Rp 75. dan periode pemeliharaan 4–7 bulan sebesar Rp 670. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata petani peternak sapi perah menjual pedetnya ke blantik karena alasan selain langsung memperoleh uang serta juga tidak mau direpotkan dengan biaya transportasi.000. .000. Perlu diketahui bahwa pengggunaan pakan hijauan pada periode umur pemeliharaan ini rata-rata belum digunakan. karena rata-rata penjualan pedet setiap kali hanya 1 ekor ternak.

Tabel 5.4 Sistem Pemasaran Ternak Pada prinsipnya.44 4. pemasaran pedet jantan sapi perah rata-rata tidak mengalami kendala.55 3. namun disayangkan bahwa dalam menentukan harga belum menggunakan berat hidup.230.097.222.22 3.189.44 2.231.470.00 4.44 4.189.480. tetapi berdasarkan taksiran dan umur ternak. karena alasan cepat mendapat hasil penjualan atau uang kontran.4: Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006-2008 Jual Melalui Tahun 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 Harga Jual Rata-rata 2.154. Sementara saluran pemasaran dari ternak pedet jantan sapi perah masih didominasi oleh Pedagang Peranta (blantik).66 3.55 3.22 4.44 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Penggemukan Sumber : Diolah dari data primer 2008 Bila diperhatikan selisih harga antara penjualan melalui blantik dan penjualan langsung ke pasar ternak tidak berbeda jauh.190.00 2. karena harga dalam tabel di atas tidak termasuk biaya transport dan retribusi sehingga petani peternak memilih penjualan melalui blantik lebih dominan.154. 5. Fenomena lain dari penjualan .500.00 2.

a. dan tampilan pasar (SCP) 5. Analisis transmisi harga .5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Untuk mengetahui efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu dapat dilakukan dengan struktur.5. perilaku. Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Peternak 65% 12. tetapi juga dapat dilihat dari elastisitas harga dan konsentrasi pasar.ternak adalah bila terjadi musim kemarau karena kekurangan bahan pakan sehingga kecenderungan peternak menjual ternak-ternaknya.1 Analisis Struktur Pasar Untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi dalam hal ini pedet jantan sapi perah di Kota Batu tidak hanya dengan melihat banyak penjual dan pembeli di pasar.7% Pedagang Pengumpul Petani penggemukan Pasar Hewan 5. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa kecenderungan peternak menjual ternak-ternak mereka pada saat lebaran dan hajatan keluarga.3% 12% Blantik 10..

petani penggemukan.580) (22.654 =1. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 1.492 yang .492) =0. maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 853 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22.Analisis transmisi harga atau disebut juga analisis fleksibelitas transmisi harga dilakukan untuk mengetahui respon harga pedet jantan sapi perah ditingkat peternak karena perubahan harga yang terjadi di tingkat. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan harga pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPf = 760. dan pedagang perantara/blantik.853 lnPp Se tstat R2 ttabel Pf Pp = (136.90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang pengumpul (Rp/ekor) Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0.853. pedagang pengumpul.038) =(5.130 + 0.000.218) (0.

jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai

η = 0,654, dapat diartikan bahwa perubahan harga pada tingkat
petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan harga pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPf = 780,790 + 0,852 lnPg Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (138,191) (0,039) =(5,650) (22,039) =0,644 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat petani penggemukan (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,852, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 852 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,039 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,644, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan

mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 64, 4%. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk

pedagang perantara atau blantik adalah: LnPf = 773,158 + 0,850 lnPb Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (135,742) (0,038) =(5,696) (22,485) =0,654 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang perantara (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,850, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 850 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,485 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,654, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas harga pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul, petani penggemukan, maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda. Tiap perubahan harga Rp 1000 rupiah akan meningkatkan harga pedet pada petani peternak sekitar Rp 850. Dari hasil analisis regresi linear di atas menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke erah persaingan sempurna. Selain itu indikasi bahwa pasar pedet sapi perah jantan ke arah sempurna adalah jumlah pembeli dan penjual cukup banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan; Dalam keadaan pasar persaingan sempurna, petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu.

b. Analisis konsetrasi ratio (Kr) Yang dimaksud dengan konsentrasi ratio adalah berapa persen volume transaksi yang dikuasai oleh beberapa pedagang. Rata-rata volume transaksi antara pedagang yang satu dengan yang lain tidak sama kemampuannya. Ada yang mampu membeli rata-

rata hanya 6 ekor setiap bulan dan ada yang mampu membeli sampai 30 ekor setiap bulan .

Adanya perbedaan konsentrasi ini juga disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah pedagang yang ada.44.19 4. hal ini disebabkan oleh jumlah pedagang dipasar hewan jumlahnya lebih banyak dibanding dengan jumlah petani penggemukan.59 11.5.58 8.11 8.42 4.42 113 99.79 132 100 24. Sebagai misal rasio konsentrasi pada petani penggemukan lebih kecil dari rasio konsentrasi pasar hewan.6 4.97 20. Sedangkan untuk Blantik konsentrasi volume paling besar dibanding pedagang lainnya karena petani peternak lebih suka menjual pedet sapi perahnya ke blantik dengan alasan cepat mendapat hasil penjualan.44 100 14.5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.33 7.15 11.22 14.58 6.44 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Apabila disimak tabel di atas Konsentrasi rasio paling besar terdapat pada pasar hewan yaitu sebesar 40.93 5 3.36 11.26.19 4.6 100 % 21.2 6.93 5.89 8.55 15. kemudian pasar blantik sebesar 24.81 12.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22. 5.85 7.42 % 19 15 13 11 10 9.15 6.Tabel 5.27 8.97 15. pedagang pengumpul 20.67 5.22 14.81 12.15 6.36 6.9 4.59 11.26 % 26.19 4.93 5. Dilihat dari konsentrasi volume perdagangan yang pada keseluruhan pedagang tidak ada yang mencapai 80% maka struktur pasar pedet sapi perah jantan di kota Batu mengarah pada persaingan Oligopson. baik secara kualitatif maupun secara .96 7.2 Analisis Perilaku Pasar Analisis perilaku pasar dilakukan untuk mengetahui praktek-praktek penentuan harga dalam pasar.11 8.82 7.93 13.96 6. dan konsentrasi paling kecil pada petani penggemukan sebesar 14.89 8.44 100 100 % 22.67 5.9 6.37.06 5 4.93.

37 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.26 24.93 dan petani penngemukan sebesar 14.640) . Praktek penentuan harga secara kualitatif dapat dijelaskan secara deskriptif.93 14.6 : Volume Transaksi Dan Konsentrasi Ratio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Pasar Pedagang Pengumpul Petani Pengemukan Blantik Pasar Hewan Volume Transaksi 113 77 130 218 Konsentrasi Rasio 20. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan volume perdagangan pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPt Se tstat = 12.44 40.kuantitatif.331 + 3.688 lnPp = (2.832) (0.355) (17. Tabel 5.26. sedangkan penentuan harga secara kuantitatif dapat dijelaskan dengan analisis regresi linear sederhana.44. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20.209) =(4.6 di atas menggambarkan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna karena selisih konsentrasi tidak terlalu besar dan tidak mencapai angka 80.

578) =(2.688.334 lnPg = (5.640 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.929 + 5.R2 ttabel Pt Pp =0. maka akan meningkatkan volume perdagangan total sekitar 3 sampai 4 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 17.227) . dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan sapi perah total 97.975.436) (9.228 = Volume Perdagangan pedet Sapi Perah Total = Volume perdagangan di tingkat pedagang pengumpul Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung.228.975 = 2. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan Volume perdagangan pedet jantan sapi perah di tingkat pedagang pengumpul sebesar 1 ekor.4%. Sedangkan nilai η = 0. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan volume perdagangan pedet sapi perah jantan pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPt Se tstat = 12.308) (0. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 3.

951 =2.914 =2.228.169 + 4.334.228 = Volume perdagangan pedet sapi perah jantan total = Volume perdagangan di tingkat petani penggemukan Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 5. Sedangkan nilai η = 0.035) (12.329) =(-0.227 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.104 lnPb = (4.R2 ttabel Pt Pg =0.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .914. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pedagang perantara atau blantik adalah: LnPt Se tstat R2 ttabel Pt = -0. besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 9. 4%. maka akan meningkatkan volume perdagangan sapi perah jantan total sebesar 5 – 6 ekor. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume di tingkat petani penggemukan sebesar 1 ekor. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pedet sapi perah pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan total sebesar 91.470) =0.861) (0.

907) (0.206) =(-1.14%.228. Sedangkan nilai η = 0. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pasar hewan adalah: LnPh = -8.104. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat blantik akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 95.961 =2.944) =0.833) (13.890 lnPh Se tstat R2 ttabel Pt = (4.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .995 + 2.Pg = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pedagang perantara Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 4. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat blantik sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 4 – 5 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.951. Secara logis konstata yang bernilai negatif tidak ditafsirkan karena tanpa ada pedagang perantarapun masih ada perdagangan pedet sapi perah.

Sedangkan nilai η = 0. maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda. Tiap perubahan karena hampir secara keselurauhan berpengaruh lebih dari 90 % hal ini menunjukan adanya persaingan yang sempurna.951.1%.5.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. digunakan pendekatan atau . berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat pasar hewan sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 2 – 3 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12. petani penggemukan.3 Analisis Tampilan Pasar Untuk mengetahui tampilan pasar ternak sapi perah di Kota Batu yang dilakukan petani peternak.890. 5. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat pasar hewan akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 96.Ph hewan = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pasar Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 2.228. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas perubahan volume perdagangan pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul.

357 Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Blantik Sumber : Diolah dari data primer 2008 Berdasarkan tabel 5.7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa Di Kota Batu Tahun 2008 Ratarata 99.908 Standar Error 2. Secara matematis dapat dinyatakan: Fs = Pf x 100% Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Hasil Perhitungan share harga ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.862 93.533 98.776 2.157. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga ditunjukan dalam tabel hasil uji LSD sebagai berikut: .776 2.312 98.776 Taraf Nyata 95% Batas Batas Bawah Atas 93.983 104.458 104.084 93. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak.761 103. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93.analisis farmers share atau share harga yang diterima petani peternak Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share).7 di atas terlihat bahwa rata-rata share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98.084 dan tertinggi Rp 104.533 hingga Rp 99.

924 -7.8 Perbandingan perbedaan share harga yang diterima petani menggunakan LSD Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.3322 7.8.924 .843 -6.Tabel 5.1108 -7. Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0.918 .7786 3. bahkan seluruhnya berada di atas 0.92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -. Bila harga konsumen itu kecil. 95% Confidence Interval Sig.05.92624 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.4854 . Error Pedagang Pengumpul Penggemukan .92624 Blantik Petani Penggemukan .92624 Petani Pedagang Perantara/ .4854 -8. a. Lower Bound Upper Bound .92624 Pedagang Perantara/ -.4039 3.9283 8.3322 8.92624 Based on observed means.3029 -8. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen.0815 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Hasil Uji LSD pada tabel 5.843 . .8 di atas menginformasikan bahwa share harga yang diterima petani baik melalui petani penggemukan.1108 6.3746 3.3746 3.918 .4039 3.3029 8.0815 -8. Analisis Margin Pemasaran Margin pemasaran adalah perbedaan harga di tingkat konsumen yang dalam penelitian ini adalah harga pedagang perantara dengan harga yang diterima oleh produsen atau petani peternak.9283 7.7786 3. maupun pedagang perantara tidak terdapat perbedaan yang signifikan. pedagang pengumpul.

7 Bulan 0 .417 2211. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar.500 4242.239 2999.906 2007 2008 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.489 3987.2 bulan rata-rata Rp 1.2 Bulan 2 .239 5134.687 111.823 1990.656 4022.333 4207.417 dengan estimasi harga terendah Rp.511 3485.083 3218.4 Bulan 3 . tetapi biaya pemasaran tepat.687 111.511 2430.000 3212.687 111.667 2210.turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil.927 4461.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.573 1992.750 Std.687 111.177 3437.083 5353. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 .4 Bulan 3 .687 111.687 111.844 2429.344 3431. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik.156 2993.823 3047.2 Bulan 2 .687 111.927 4426.7 Bulan Mean 1410.9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 5. maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar.261 1629. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah. misalnya harga suatu barang naik.410.667 3266. Jika pada tahun 2006 harga pedet usia 0.594 5572. Perubahan harga pedet sapi perah jantan berdasarkan umurnya dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5. Error 111.4 Bulan 3 .9 di atas memberi gambaran bahwa harga pedet sapi perah jantan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan.687 111. .2 Bulan 2 .7 Bulan 0 .

299 Petani Penggemukan Pasar Hewan -310.363 -104.006 .815* 105. pada tahun 2007 meningkat menjadi rata-rata Rp 2.192 -209.299 Pedagang Pengumpul -2.858 .229 -203.299 Blantik 294.191.852* 105.229 498.299 Pedagang Pengumpul -18.978 .851 dengan harga jual ke pedagang pengumpul.585 -187.216 dan harga tertinggi Rp 1.659 209.1.118 517.585 203.926 105.741* 105.629. a.573.a .880 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.000 dengan estimasi harga terendah Rp 1. serta perbedaan keadaan sapi perah yang diperdagangkan. Jika harga pedet sapi perah di pasar hewan diasumsikan sebagai harga dari peternak ke konsumen maka ada selisih harga rata-rata sebesar Rp 291.889 105.005 .659 -190. Sedangkan perbandingan harga pedet jantan sapi perah ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.741* 105.511 -501.733 225.852* 105.844 dan harga tertinggi Rp. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85. 2.978 .10 di atas menunjukan perbedaan rata-rata harga pedet sapi perah tanpa memperhitungkan biaya transportasi.696 Sig.299 Petani Penggemukan 18.003 .299 Blantik -15.299 Based on estimated marginal means *.696 222.880 .733 -222.006 .299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291.156 adanya perbedaan variasi harga ini juga disebabkan adanya perbedaan saluran perdagangan.05 level.299 Blantik Pasar Hewan -294.963 105.926 105.437 104.429.299 Blantik 2. The mean difference is significant at the .990.548 -517.10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std.474 -85. .299 Petani Penggemukan 15.548 190.963 105.889 105.210.118 -225.437 -88.003 .474 88.299 Petani Penggemukan 310.511 187. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).192 501.363 -498.858 . Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.815* 105.005 .

00 Rp25.191.000.000 Rp269.560.519 42.778 Rp100.010.5 Rp1.000.814 dengan harga jual ke pedagang perantara/ blantik.278 Rp3.560.870 100 Sumber : Diolah dari data primer.704 Rp3.483.301.333 24. dan selisih Rp 310.00 Rp3.04 Petani Penggemukan Rp3. Share Keuntungan Pedagang Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah distribusi keuntungan diantara lembaga pemasaran.188.290.selisih harga sebesar Rp 294.740 ke petani penggemukan.000.500 Rp100. Tabel 5.34 Jual Melalui Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Rp3.704 Rp75.000 Rp3.000 Rp85.667 Rp110.667 Rp3.000 Rp85. 2008 .466.000 Rp2.094.00 Rp3.519 Keuntungan Rupiah Share Rp473.000.00 Rp3.722 8.00 Rp1.000.000 Rp25.700.560.000 Rp249.000 Rp3.12 Estimasi Harga Jual Rp3.11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang Dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 Komponen Biaya Komponen Biaya Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Harga Beli Transport Jumlah Harga Beli Transport Retribusi KTA Jumlah Harga Beli Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Rp1.000 Rp93. b.172.296 25.000.200.00 Rp8.

sedangkan harga di tingkat petani peternak cenderung tetap bahkan menurun. .Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24.12. Dengan demikian petani peternak sebagai pemilik pedet jantan sapi perah belum memperoleh harga yang layak dan wajar sesuai dengan jerih payah yang mereka keluarkan. Struktur pasar yang ada mengarah ke persaingan duopsoni menyebabkan pedagang perantara mampu mendapatkan keuntungan yang lebih besar. Tingginya Keuntungan pedagang perantara ini mungkin disebabkan oleh karena dalam menjual ternaknya petani peternak tidak menggunakan standar harga yang ada.5 dari margin.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara. Hal ini menyebabkan margin pemasaran semakin besar.. Rata-rata dalam penentuan harga hanya berdasar kebiasaan dan taksir saja. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. dan petani penggemukan 8.

VI. hal ini juga berarti bahwa harga di tingkat pedagang terintegrasi secara sempurna dengan harga di tingkat petani peternak.157. dan petani . Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak.04%dari margin pada tingkat pedagang perantara.084 dan tertinggi Rp 104.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke arah persaingan sempurna.533 hingga Rp 99.1 Kesimpulan 1. Hasil analisis konsentrasi rasio menunjukan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24.8.26.05. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0.93 dan petani penggemukan sebesar 14. bahkan seluruhnya berada di atas 0.12. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Hasil analisis regresi linear menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20. 3. KESIMPULAN DAN SARAN 6. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24.44. 2. Share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98.

Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien.12. maka upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mendekatkan atau menyiapkan tempat penimbangan ternak ke tempat tinggal petani peternak.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara. b) Diperlukan campur tangan pemerintah dalam mendukung diberlakukannya standar harga berdasarkan berat hidup ternak. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang.5 dari margin. dan petani penggemukan 8. c) Perlu dilakukan pembayaran segera setelah ternak sapi perah ditimbang. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. d) Perlu dipertimbangkan agar Gapoktan dapat berfungsi sebagai salah satu lembaga perantara dan atau sekaligus bertindak selaku pedagang perantara . Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang disarikan dari penelitian ini. 6.penggemukan 8. Hasil perhitungan share keuntungan. maka diharapkan kepada: a) Petani agar dalam menjual ternaknya menggunakan standar harga yang telah ada yakni berdasarkan berat badan hidup ternak.5 dari margin. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. sehingga tidak menimbulkan biaya-biaya ekstra yang dapat merugikan petani peternak. 4.

.dalam pemasaran ternak sapi perah maupun produk-produk peternakan pada umumnya di Kota Batu.

1996. Tataniaga Pertanian. Darma Setiawan. Atmakusuma. Fanani. Departemen Pertanian. _________. Pengantar Tataniaga Pertanian. Ramond M. & Bruce L.DAFTAR PUSTAKA Alhusniduki. Merle D. Spatial Market Integration. 2008. Garcia. 1981. 2006. Fakultas Peternakan IPB. I Made. Anonymous. 1984. Azzaino. 1977. Direktorat Perguruan Tinggi Swasta. Batu Dalam Angka Badan Perencanaan Daerah. Asmarantaka. The Agricultural Industries.) Pada Sentra Produksi Rumput Laut di Kecamatan Nusa Penida Bali. Y. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Volume 72 Number 1 February 1990. W. Z. (1994). Tesis S2 Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Dirjen Pendidikan Tinggi. Bogor. Bahan Penataran Perguruan Tinggi Swasta Bidang Pertanian Program Kajian Agribisnis. Jakarta. Universitas Lampung. Dale C. Hamdi. 1991. Basis Risk: Measurement and Analysis of Basis Fluctuation for Selected Livestock . _________. 1991. R. Dahl. 1997. Malang. Bogor. 1985. 2006. American Journal of Agricultural Economics. Analisis Pemasaran Rumput Laut (Eucheuma Sp. _________. Faminow. Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian. Universitas Brawijaya. Z. Kota Batu. Benson. Proposal Pemasaran Bidang Peternakan Pasca Tahun 2000. Philip. Market and Price Analysis. _________. Institut Pertanian Bogor. Jurusan Sosial Ekonomi. Laporan Triwulan Dinas Pertanian Kota Batu. Tesis S2 Fakultas Pascasarjana IPB. Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi. 1993. McGRAW-Hill Book Company. Leuthold dan Mohamed Sarhan. Tataniaga Peternakan. 2000. Agribisnis. Analisis Pemasaran Jagung di Daerah Sentra Produksi Lampung.

1995. Ekonometrika Terapan. Gaspersz. Makalah pada Kongres XI dan Kongres XII PERHEPI. Alih Bahasa Kusnedi. Hay. 1985. James. Marketing of Agricultural Product. Collar. 1996. 9 – 11 Agustus 1996. Buku Satu. M.. Teori Harga dan Aplikasinya. 1980. Morris. _______________. Lintasan Ekonomi. Richard E. Perilaku dan Penampilan Pasar. Fifth End. Denpasar. . J. McGRAQ-Hill International Book Company.N. Gujarati. Pustaka Gramedia Jakarta. Kohls & Url. McGRAW-Hill International Company. Basic Econometrics. Industrial Economic and Organization. Iksan Semaoen. Modern Microeconomics. Komisariat PERHEPI Surakarta. (Southeast Asian Reprint). Pemasaran Panili di Bali. Buku dua. 1989. Theory and Evidence. M. Microeconomic Theory. _______________. New York. Second Edition. Penerbit Tarsito Bandung. 1980. Majalah Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Penerbit Erlangga Jakarta. Damodar. 1991. Oxford University Press. Kajian Keragaan Pasar dan Prospek Daya Saing Komoditas Jambu Mete.Markets. Ekonomi Manajerial. Second Ed. Quandt. Thirt Edition. Penerbit PT. _______________. Laporan Penelitian Universitas Brawijaya Malang. Kiptiyah. Idrus. Penerbit Tarsito Bandung. A. Koutsoyiannis. 1991a. Vincent. Penerbit Tarsito Bandung. Konsumsi dan Pemaaran Bunga di Jawa Timur. S. I Wayan Widyantara. International Student Edition. Penerapan Konsep-konsep Ekonomi dalam Bisnis Total. Volume 66 Number 4 November 1994. 1994. Teknik Penarikan Contoh untuk Penelitian Survei.. 1996. International Student Edition. Hiersieifer. 1996. 1991b. Handerson. J. M. Ekonometrika Terapan. American Journal of Agricultural Economics. 1982. Macmillan Publishing Company.

Parel. dkk. Mosher. et. 1993. . Petzel. 1999. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong di Indonesia dalam Era Pasar Bebas di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. 1995. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. Penerbit Yayasan Citra Insan Pembaru Kupang. Diktat Pemasaran Hasil Pertanian. Porwadarminto. LeRoy. Prospek Pembangunan Dinamika dan Tantangan Pembangunan Nusa Tenggara Timur. Miller. Pellokila. Sampling Design and Procedures.an). PPA (Pusat Pengembangan Agribisnis). Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Pengantar Ekonomi Pertanian.Lalus. Analisis Permintaan Daging Sapi di Kota Administratif Kupang. ________. A. 1985. Teori Ekonomi Mikro Intermediate. 1994. Prospek Pengembangan pada PJPT II. Tawaf H. Pembinaan. Volume 66 Number 4 November 1984. Al. Bahasa. 1993. Strategi Pengembangan Industri Peternakan Sapi Potong Berskala Kecil dan Menengah. R. 1976. Universitas Brawijaya Malang. 1994. 1993. F. Sulaeman dan Tonton S. PT. Agroindustri Sapi Potong. 1991. Rochadi. Jakarta. Raja Grafinda Persada Jakarta Bekerjasama dengan McGRAW-Hill Inc. Roger E. Depdikbud. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Mubyarto. Pengembangan. Program Pascasarjana. Pengantar Pemasaran Pertanian. Penerbit Yasaguna Jakarta. Rochadi. Tawaf. American Journal of Agricultural Economics. T. Kontribusi Usaha Ternak Terhadap Pendapatan Rumahtangga Petani Lahan Kering di Kabupaten Kupang. Ch. M. 1994. Masyrofie. Laporan Penelitian. Gregor Neonbasu. Market Integration. 1973. Monke E. Liliwen. dan T. Meiners. dkk. 1994. M. UQ (Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur. Cristina. Laporan Hasil Penelitian. Udiantono. H. Prospek Usaha Sapi Potong oleh Gerakan Koperasi Menghadapi Era Pasar Bebas. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. Papers on Survey Research Metodology.. LP3ES Jakarta. CIDES (Center for Information and Development Studies. Alo.

_________. Marketing Margin. Edisi Kedua. J. 1991. Sudiyono. Malang. Masri. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Power and Risk. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. Pengantar Ekonomi Mikro. Bogor. Effiency of Arbitrage and Imperfect Competition : Metodology and Application to U. Teori dan Aplikasi. I. Soekartawi. S. Soekartawi. Volume 73 Number 4 November 1991. Universitas Indonesia Jakarta. CV. Market Integration. Penerbit PT. Teori dan Aplikasinya. Relevance of Ruminant in Upland Mixed Farming System in East Java Indonesia. Sofian Effendi. American Journal of Agricultural Economics. Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. 1991. Teken. Pengantar Pemasaran Pertanian. Singarimbun.S. American Journal of Agricultural Economics. Penerbit LP3ES Jakarta. Stiffel.Saefuddin. Printed by: Ponsen en Looijen BV. Imperfect Competition in a Vertical Market Network: The Case of Rubber in Thailand. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Iksan. 1996. Armand. 1989. Sadono (1995). Edisi Pertama. C. 1977. Sexton. Perlof. Richard J. Supranto. 1989. Penerbit PT. Hoy F. 1993. Pemasaran Produk Pertanian. Raja Grafindo Persada Jakarta. Sudarsono. Rajawali. Volume 73 Number 3 August 1991. Volume 57 Number 4 November 1975. Celery. Metode Penelitian Survai. Laurence D. American Journal of Agricultural Economics. L. Teori Ekonomi Mikro. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Edisi Revisi. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Semaoen. Ahmad. 1984. Jakarta. King. LP3ES. Jakarta. 1995. Carman. B. 1983. Fakultas Pertanian IPB. Buku Dua. Buku Satu. Asnawi. Ekonometrik. Universitas Muhammadiyah. Raja Grafindo Persada Jakarta. 1990. 1996. Joh and Jeffrey M. Teori Ekonomi Mikro. Schroeter. 1981/1982. Ifar. Universitas Indonesia Jakarta. Ekonometrik. . Subagiyo. Fakultas Pertanian. Sukirno. 1975.

Tomek. Tesis S2 Universitas Gajah Mada KPK Universitas Brawijaya Malang. Cornell University Press. 1977. . Wardana. Ithaca and London. William G. Lembaga Penelitian IPB (1996) Bekerja Sama dengan Kantor Menteri Negara Urusan Pangan. Studi Analisis Keterpaduan Pasar pada Sistem Pemasaran Komoditas Strategis. Ketidakstabilan Harga Anggur di Tingkat Petani di Kecamatan Grokgak Kabupaten Buleleng. I Made. 1993. Agricultural Product Prices.Tim Peneliti dari Pusat Studi dan Kebijakan Pangan dan Gizi.

0 Cumulative Percent 3.7 93.7 3.3 100.00 37.3 10.7 100.00 48.3 3.3 3.3 13.3 3.3 76.3 10.3 3.7 60.3 3.3 3.00 45.00 55.3 13.7 3.3 3.3 13.00 51.3 3.3 3.3 3.00 32.Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Frequency Table Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 30 0 Lama Beternak Sapi Perah 30 0 N Valid Missing Pekerjaan 30 0 Umur 30 0 Pendidikan 30 0 Jumlah Ternak 30 0 Umur Frequenc y 1 4 1 1 4 3 2 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 30 Percent 3.7 20.00 46.7 53.3 100.0 23.0 63.3 6.7 3.00 47.3 3.3 3.00 34.3 3.0 6.3 86.7 3.3 13.00 Total .0 6.3 3.3 36.00 36.3 3.3 13.3 6.0 83.3 3.3 96.00 39.7 46.00 52.7 80.0 Valid 31.00 40.3 16.3 13.00 33.00 35.00 38.0 Valid Percent 3.3 56.

0 Cumulative Percent 6.0 96.00 Total .0 6.00 7.0 Valid Percent 6.7 3.3 23.7 43.0 73.3 93.7 50.0 Valid 2.0 6.7 3.00 4.7 43.00 5.0 Valid Percent 30.3 100.3 100.00 3.3 100.0 16.Pendidikan Frequenc y 9 15 5 1 30 Percent 30.0 80.3 23.0 50.7 100.3 20.7 100.3 20.0 Cumulative Percent 30.7 100.0 50.0 16.0 Valid SD SLT P SLT A PT Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequenc y 2 13 7 6 2 30 Percent 6.

Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table
Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

34.00 35.00 36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 7 2 10 Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Valid Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 80.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 3 6 1 10 Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Valid Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 30.0 90.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table

Umur Frequency 1 1 1 1 1 2 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 41.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Valid Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 70.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 4 2 10 Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Valid Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 40.0 80.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies

0 10.00 5.00 4.00 Frequency Table Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 2 1 10 Percent 10.4000 31.0 Valid 31.00 52.0 100.00 34.0 Valid Percent 40.0 10.00 Pendidikan 10 0 2.0 10.0 20.0 100.00 3.0 10.0 60.Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0 3.0 10.0 100.00 39.0 Valid Percent 10.00 37.0 90.00 5.0 70.0 30.0 10.0 10.00 52.0 Valid Percent 10.0 10.0 50.0 100.0 30.0 Valid SD SLTP SLTA Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 5 1 10 Percent 40.0 10.0 100.0 60.0 20.0 10.0 90.0 Valid 3.0 100.0 10.7000 3.0 10.00 N Mean Minimum Maximum Valid Missing Umur 10 0 39.0 100.00 Total Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.0 20.0 70.0 10.0 Cumulative Percent 10.0 40.00 Total Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Regression .0 30.0 60.00 35.0 10.00 36.0 100.0 10.00 45.0 Cumulative Percent 10.0 50.0 10.2000 1.0 50.00 40.0 Cumulative Percent 40.0 100.

580 22. Harga Melalui Pedagang Pengumpul b.809 t 5.40583 a.000 a. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Pedagang Pengumpul Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.114 F 505. b.218 . Error of the Estimate 1025.130 136. Predictors: (Constant). All requested variables entered. .853 . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . Error Beta 760.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Pedagang Pengumpu a l Variables Removed Method .809a R Square .000a Regression Residual Total a.887 Sig.038 . Harga Melalui Pedagang Pengumpul ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531918651 1051457. Enter a.652 Std.492 Sig. .654 Adjusted R Square . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression . Predictors: (Constant).000 .

802 t 5.000 a.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Petani Penggemu a kan Variables Removed Method .15811 a.790 138.802a R Square .191 .039 .650 22.903 F 484. Harga Melalui Petani Penggemukan b. Error of the Estimate 1040.642 Std. All requested variables entered. Error Beta 780. .852 . Predictors: (Constant). Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Petani Penggemukan Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.002 Sig.091 Sig. Predictors: (Constant). Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression .000 .644 Adjusted R Square . Harga Melalui Petani Penggemukan ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 523752211 1081928.000a Regression Residual Total a. . Enter a. b.

Error 773.808a R Square .577 Sig.485 Sig. b. Predictors: (Constant).654 Adjusted R Square .850 .000 . Harga Melalui Blantik ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531805793 1051878.000a Regression Residual Total a.000 a. Method Enter a. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R .696 22.157 135. All requested variables entered. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Blantik Unstandardized Coefficients B Std. .227 F 505. Predictors: (Constant). Error of the Estimate 1025. . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan . Harga Melalui Blantik b.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melaluia Blantik Variables Removed .61115 a.652 Std.038 Standardized Coefficients Beta .742 .808 t 5.

227 Sig.308 Petani Penggemukan 5.578 F 85. Predictors: (Constant). Method Enter a.000a Regression Residual Total a. Petani Penggemukan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7115.334 .041 .436 9.135 Sig. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta . All requested variables entered.622 7784. Petani Penggemukan b. Error 1 (Constant) 12.956 t 2.903 Std.14209 a.378 83. .578 a.956a R Square .914 Adjusted R Square . Error of the Estimate 9.378 668.Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Sapi Perah Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Petani Penggemu a kan Variables Removed . . Predictors: (Constant).000 .000 df 1 8 9 Mean Square 7115. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std. b.929 5. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .

Error 1 (Constant) 12. .000 .209 a.102 7784.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pedagang a Pengumpul Variables Removed .832 Pedagang Pengumpul 3.987a R Square .000 df 1 8 9 Mean Square 7588.898 195. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta .177 Sig. Pedagang Pengumpul b. Predictors: (Constant).640 Sig.688 . b. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std. Predictors: (Constant).388 F 311.000a Regression Residual Total a. Method Enter a.975 Adjusted R Square .355 17.972 Std. All requested variables entered. Pedagang Pengumpul ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7588.987 t 4.93839 a.331 2.898 24. . Error of the Estimate 4. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .002 .

833 13. .188 F 195. . Error -8.104 .961 Adjusted R Square .907 2.995 4.17961 a. All requested variables entered.000 a. Dependent Variable: Volume Total .890 . Predictors: (Constant).956 Std.980 t -1. Pasar Hewan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7478. b.000a Regression Residual Total a. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Pasar Hewan Unstandardized Coefficients B Std.501 7784. Predictors: (Constant). Error of the Estimate 6.499 305.994 Sig.000 df 1 8 9 Mean Square 7478. Pasar Hewan b.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pasar a Hewan Variables Removed .499 38.836 Sig. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R . Method Enter a.206 Standardized Coefficients Beta .980a R Square .

Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Blantik Unstandardized Coefficients B Std.973 . All requested variables entered.975 t -. Predictors: (Constant). Blantik ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7403.329 Standardized Coefficients Beta .035 12. Blantik b.130 47.89991 a.000a Regression Residual Total a.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered a Blantik Variables Removed . .975a R Square .499 Sig.470 Sig.861 4.870 7784. b.000 df 1 8 9 Mean Square 7403.130 380. Predictors: (Constant). Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .609 F 155.000 a.104 . Method Enter a. Error of the Estimate 6. Error -.951 Adjusted R Square . Dependent Variable: Volume Total .169 4.945 Std. .

Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Univariate Analysis of Variance Between-Subjects Factors Umur 1.00 3.6 2 347352590.00 1.747 Tahun * Jual 357245.370 6 59540.483 (Adjusted R Squared = .000 .00 2.765 Error 1562734333 1044 1496871.007 .040 .00 3.967 Total 1.2 Bulan 2 .029 Sig.7 Bulan 2006 2007 2008 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak N 360 360 360 360 360 360 270 270 270 270 Tahun Jual Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Harga Type III Sum Source of Squares df Mean Square Corrected Model 1457574917a 35 41644997.00 Value Label 0 .00 4.00 2.943 242.000 .159 1.048 .111 Umur * Jual 13916356.838 232.00 1.619 Intercept 1.821 7663.63 3 6058626.3 Jual 18175879.549 .147E+010 1 11471940750 Umur 726994625.0 2 363497312.465) F 27.895 Umur * Tahun * Jual 517185.052 4.00 3.746 .000 1.5 Tahun 694705180.486 1. .444 4 727111.4 Bulan 3 .000 . R Squared = .000 .48 6 2319392.00 2.449E+010 1080 Corrected Total 3020309250 1079 a.185 12 43098.000 Estimated Marginal Means .543 Umur * Tahun 2908444.

000 a. .6E+009 1044 Mean Square 363497312.976 2186.113 3083. Grand Mean Dependent Variable: Harga Mean 3259.115 3332.000 .833* 91.417 4287. Tahun .a .000 The F tests the effect of Umur.000 .482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2153. Umur Estimates Dependent Variable: Harga Umur 0 .857 -1828. The mean difference is significant at the .024 -898.583 3210.976 751.7 Bulan -2007. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).887 3336. Error 37. 3.030 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Umur (J) Umur Std.7 Bulan 0 .4 Bulan 3 .192 Based on estimated marginal means *.219 2.7 Bulan -1077. Error 0 .2 Bulan 2 .838 Sig.05 level.774 -1256.143 1256.4 Bulan 0 .500 Std.229 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3186. Error 64.000 .192 3 .2 Bulan 2007.000 .2 Bulan 2 .482 64.917* 91.4 Bulan 1077.2 Bulan 930.024 Sig.893 1109.4 Bulan -930.192 3 . 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1109. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 7.192 3 .083* 91.967 F 242.167 Std.192 2 .970 4414.893 -2186.833* 91.482 64.7 Bulan Mean 2279.947 4160.774 -751.917* 91.143 1828.5 1496871.083* 91.857 898.1.192 2 .000 . This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.3E+008 2 Error 1.053 2406.

6E+009 1044 Mean Square 347352590.135 a.482 64. 4.000 2007 2006 925.338 -2142.458 74.623 3045.052 Sig.338 1104.674 3318.192 .482 64.667 3188.532 2142.a 2006 2007 -925.278* 91.472* 91.254 1784.192 4386.532 746.192 .722 Std.9E+008 2 Error 1. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).528 4259.192 .194* 91.000 2007 1038.472* 91.563 3337.412 -1784.998 3348.780 3094.704 3172.194* 91.967 F 232. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 6.218 -746.482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2169.458 74.278* 91.135 -859.808 3026. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1104.720 2422.3 1496871.882 .250 3221.218 -1217. Error Sig.000 2008 2006 1963. Jual Estimates Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak Mean 3483.519 3191.458 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3337.414 3629.192 .05 level.412 859.192 .Estimates Dependent Variable: Harga Tahun 2006 2007 2008 Mean 2296. The mean difference is significant at the .778 Std. Error 74.000 2008 -1038.771 3042.254 1217. Error 64.458 74.058 4133.192 .600 3334.000 Based on estimated marginal means *. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means. .000 2008 -1963.000 The F tests the effect of Tahun.252 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Tahun (J) Tahun Std.

7 Bulan Mean 1410.261 1629.585 203.437 104.659 209.118 -225.687 111.299 Pedagang Pengumpul -18.299 Blantik 2.667 3266.299 Petani Peternak Pasar Hewan -310.299 Blantik -15. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 18175880 3 Error 1.585 -187.687 111.363 -104.963 105.823 1990.192 501. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).229 498.156 2993.880 a.511 187.741* 105.299 Petani Peternak 15.118 517.474 -85.344 3431.437 -88.858 .823 3047. 5.006 . 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85. The mean difference is significant at the .696 Sig.2 Bulan 2 .299 Petani Peternak 18.4 Bulan 3 .511 3485.299 Blantik 294.083 3218.239 2999. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 .7 Bulan 0 .687 111.880 .927 4426.963 105.007 The F tests the effect of Jual.687 111.05 level.192 -209.299 Based on estimated marginal means *.2 Bulan 2 .229 -203.687 111.363 -498.687 111. Error 111.852* 105.005 .852* 105.733 225.4 Bulan 3 . .687 111.299 Pedagang Pengumpul -2.733 -222.906 2007 2008 .815* 105.511 -501.7 Bulan 0 .299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291.2 Bulan 2 .299 Petani Peternak 310.967 F 4.6E+009 1044 Mean Square 6058626.500 4242.000 3212.889 105.417 2211.003 .489 3987. Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.889 105.656 4022.548 190.474 88.844 2429.511 2430.177 3437.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std.239 5134.696 222.750 Std.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.978 .4 Bulan 3 .815* 105.a .594 5572.083 5353.978 .003 .048 Sig.927 4461.006 .926 105.858 .573 1992.333 4207.005 .667 2210.741* 105.299 Blantik Pasar Hewan -294. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.659 -190.543 1496871.926 105.687 111.548 -517.

965 128.4 Bulan 3 .496 3408.393 3086.4 Bulan 3 . Jual * Tahun Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 Mean 2500.163 3350.385 3407.163 5035.965 128.965 128.965 128.171 3895.7 Bulan Pedagang Pengumpul 0 .222 3154.000 2222.965 128.111 4148.965 128.274 2516.000 4782.504 .7 Bulan Blantik 0 . Jual * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Umur 0 .504 3936.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2247.060 1977.7 Bulan Petani Peternak 0 .726 2844.060 3819.385 3407.965 128.2 Bulan 2 .000 4072.444 2231.051 3409.940 3593.333 2263.163 4400.965 128.000 2230.607 2484.111 3190.4 Bulan 3 .615 2901.282 2901.274 2581.171 2936.282 2017. Error 128.2 Bulan 2 .504 1978.444 4189.965 128.965 128. Error 128.965 128.940 3733.333 3340.2 Bulan 2 .556 4147.965 128.7 Bulan Mean 2328.496 2523.385 4442.274 4401.965 128.940 4723.965 128.965 128.965 128.940 4443.060 4529.496 2753.615 3894.965 128.965 128.444 Std.282 2003.4 Bulan 3 .282 3936.667 3097.393 2902.2 Bulan 2 .444 4190.222 2256.000 4470.556 3156.163 4325.222 2270.556 3480.222 4189.393 2010.504 3936.6.163 2475.385 4442.333 3155.060 4216.965 128.051 2509.496 2483.615 3226.965 128.060 1969.965 128.615 2903.282 7.940 3443.556 3154.965 128.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2075.222 Std.

374 223.646 4766.4 Bulan 3 .312 1746.2 Bulan 2 .000 Std.333 5205.312 3713.688 3598.646 2680.688 2623.000 3160.4 Bulan 3 .000 2286.4 Bulan 3 . Error 223.374 223.979 2626.333 4785.7 Bulan 0 .979 3331.2 Bulan 2 .688 4798.374 223.374 223.374 223.374 223.688 3643.354 3599.2 Bulan 2 .2 Bulan 2 .374 223.2 Bulan 2 .333 3205.374 223.021 4596.374 223.374 223.4 Bulan 3 .374 223.374 223.333 2183.312 3720.667 3770.021 3696.312 5353.312 3508.374 223.646 1745.374 223.2 Bulan 2 .000 5791.312 1848.688 2623.4 Bulan 3 .667 1423.374 223.688 5643.374 223. Jual * Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 Umur 0 .7 Bulan Mean 1440.021 1861.688 2593.000 4118.021 4596.7 Bulan 0 .374 223.333 5205.312 2820.333 3205.374 223.4 Bulan 3 .646 1716.354 6229.354 2724.4 Bulan 3 .374 223.646 2766.000 3258.667 3368.354 2729.000 4158.688 1838.7 Bulan 0 .021 4556.333 2155.021 2586.374 223.021 4556.7 Bulan 0 .333 3118.688 3643.312 2721.7 Bulan 0 .8.312 2675.374 223.667 4118.000 3946.021 3556.2 Bulan 2 .979 985.312 1710.000 2148.646 1746.7 Bulan 0 .312 2721.667 3065.4 Bulan 3 .979 4775.354 2689.374 223.021 1816.4 Bulan 3 .021 5651.646 4766.7 Bulan 0 .374 223.333 2185.688 5643.979 2930.688 3503.374 223.000 4151.646 3921.000 2185.667 5213.688 4208.4 Bulan 3 .646 1813.333 2251.2 Bulan 2 .979 2766.688 3643.374 223.7 Bulan 0 .2 Bulan 2 .688 1878.7 Bulan 0 .374 223.312 940.354 4384.688 3598.4 Bulan 3 .000 3113.374 223.646 2766.374 223.354 4589.312 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 .312 3720.374 223.000 4158.000 1378.333 3161.667 3205.021 3806.312 1853.374 223.979 3680.7 Bulan 0 .374 223.000 2291.021 2621.374 223.312 3680.7 Bulan 0 .374 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1001.688 5223.4 Bulan 3 .646 961.646 4346.374 223.374 223.2 Bulan 2 .333 1400.2 Bulan 2 .000 3160.021 3551.646 2723.333 4360.374 223.2 Bulan 2 .

Post Hoc Tests Umur
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I-J) -930,8333* -2007,9167* 930,8333* -1077,0833* 2007,9167* 1077,0833*

(I) Umur 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan

(J) Umur 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan

Std. Error 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -1109,7735 -751,8931 -2186,8569 -1828,9765 751,8931 1109,7735 -1256,0235 -898,1431 1828,9765 2186,8569 898,1431 1256,0235

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Tahun
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean 95% Confidence Interval Difference (I) Tahun (J) Tahun Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound (I-J) 2006 2007 -925,2778* 91,19186 ,000 -1104,2180 -746,3376 2008 -1963,4722* 91,19186 ,000 -2142,4124 -1784,5320 2007 2006 925,2778* 91,19186 ,000 746,3376 1104,2180 2008 -1038,1944* 91,19186 ,000 -1217,1347 -859,2542 2008 2006 1963,4722* 91,19186 ,000 1784,5320 2142,4124 2007 1038,1944* 91,19186 ,000 859,2542 1217,1347 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Jual
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291,8519* Blantik 294,8148* Petani Peternak 310,7407* Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291,8519* Blantik 2,9630 Petani Peternak 18,8889 Blantik Pasar Hewan -294,8148* Pedagang Pengumpul -2,9630 Petani Peternak 15,9259 Petani Peternak Pasar Hewan -310,7407* Pedagang Pengumpul -18,8889 Blantik -15,9259 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Std. Error 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929

Sig. ,006 ,005 ,003 ,006 ,978 ,858 ,005 ,978 ,880 ,003 ,858 ,880

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 85,2295 498,4742 88,1925 501,4372 104,1184 517,3631 -498,4742 -85,2295 -203,6594 209,5853 -187,7335 225,5112 -501,4372 -88,1925 -209,5853 203,6594 -190,6964 222,5483 -517,3631 -104,1184 -225,5112 187,7335 -222,5483 190,6964

Hasil Analisis Varian Share Harga Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors Jual Melalui 1,00 2,00 Value Label Pedagang Pengumpul Petani Penggemuk an Pedagang Perantara/ Blantik N 270 270

3,00

270

Descriptive Statistics Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Mean Pedagang Pengumpul 99,3117 Petani Penggemukan 98,5332 Pedagang Perantara/ 98,9078 Blantik Total 98,9176 Std. Deviation 45,48216 45,10136 46,26509 45,56346 N 270 270 270 810

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Share Harga Type III Sum of Squares Source df Mean Square Corrected Model 81,868a 2 40,934 Intercept 7925596,149 1 7925596,149 Jual 81,868 2 40,934 Error 1679425,723 807 2081,073 Total 9605103,740 810 Corrected Total 1679507,590 809 a. R Squared = ,000 (Adjusted R Squared = -,002)

F ,020 3808,419 ,020

Sig. ,981 ,000 ,981

Estimated Marginal Means
1. Grand Mean Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval Mean Std. Error Lower Bound Upper Bound 98,918 1,603 95,771 102,064

2. Jual Melalui
Estimates Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Pedagang Perantara/ Blantik Mean 99,312 98,533 98,908 Std. Error 2,776 2,776 2,776 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 93,862 104,761 93,084 103,983 93,458 104,357

485 6.926 .779 3.843 -8.926 .928 Pedagang Perantara/ -.081 7. . Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).926 .926 .073 F .843 -6.332 8.081 Based on estimated marginal means a.303 Blantik Petani Penggemukan .924 -8. Error Sig.934 2081.375 3.924 -7.7 807 Mean Square 40.779 3.020 Sig.404 3.303 8.868 2 Error 1679425.926 .404 3.981 The F tests the effect of Jual Melalui.918 -7.111 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.918 -8. .332 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.926 . Univariate Tests Dependent Variable: Share Harga Sum of Squares df Contrast 81.375 3.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval for Mean a Difference Difference a (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std. Lower BoundUpper Bound Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .111 7.928 8. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.485 Pedagang Perantara/ .

0815 -8.918 .3746 3.92624 Based on observed means.92624 Blantik Petani Penggemukan .92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.3746 3.1108 -7. 95% Confidence Interval Sig.1108 6.7786 3.4854 . Lower Bound Upper Bound .3322 7.924 .843 -6.4039 3.0815 .918 .3322 8.4039 3.92624 Pedagang Perantara/ .3029 8.Post Hoc Tests Jual Melalui Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I-J) (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui Std. Error Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .924 -7.92624 Pedagang Perantara/ -.4854 -8.9283 8.92624 Blantik Petani PenggemukanPedagang Pengumpul -.843 .7786 3.3029 -8.9283 7.

Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Pedagang Pengumpul Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 2006 2-4 bulan 1200 800 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4250 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4950 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2100 2000 2000 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 950 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2250 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 5800 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 0 -2 bulan 950 800 800 800 600 600 900 800 1250 900 1500 1250 1600 1500 1500 2600 2250 2250 2250 2250 2250 2500 1000 900 1000 .

26 27 28 29 30 900 1000 1000 900 900 1500 1500 1500 1500 1500 2500 2000 2000 2000 2000 1500 1500 1500 1450 1450 2500 2500 2500 2500 2500 3250 3000 3000 3000 3000 2500 2500 2500 2500 2500 3500 3500 3500 3500 3500 4000 4000 4000 4150 4100 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Petani Penggemukan Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 800 1200 800 2400 1200 3000 2400 4000 3500 2750 4000 3700 4000 47bulan 2400 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4800 4800 4800 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 1400 5200 6000 5200 4900 6000 6000 6000 6000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 0 -2 bulan 1900 2800 750 700 600 600 750 600 1200 800 1500 1250 1400 1400 1400 2500 2250 2200 .

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 2250 2250 2250 2500 1000 900 900 900 1000 1000 900 900 3500 4000 3400 3400 3400 3400 1400 1400 1400 1400 1400 1400 4800 4000 4000 1800 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 6400 4900 4900 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Blantik Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 0 -2 bulan 2000 3000 800 700 600 600 800 600 1200 900 .

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1500 1250 1500 1500 1500 2500 2250 2250 2250 2250 2250 2500 900 900 900 900 900 1000 900 900 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4250 5000 4400 4000 5200 5000 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Pasar Hewan Tahun 2006 No Res 1 2 3 0 -2 bulan 800 600 600 2-4 bulan 1000 700 800 47bulan 2100 1000 2000 2007 0 -2 bulan 1500 900 1500 2-4 bulan 2000 1500 1800 47bulan 3000 2000 3000 2008 0 -2 bulan 2500 1500 2500 2-4 bulan 3000 2500 2800 47bulan 4000 3000 4000 .

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 500 500 600 500 500 1000 1000 800 1500 1750 2000 1500 2250 2250 2000 2000 2000 2000 2250 2000 2000 2000 2000 800 1500 1500 600 600 700 1000 600 2000 2100 2000 2000 3000 1500 3000 3500 3750 3500 3000 3400 3500 3500 3500 3500 3500 3500 1750 2000 2000 1500 1500 1500 4000 1500 4000 4400 4500 4000 4500 5000 4500 5000 5000 5000 4500 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 2500 3000 3100 1000 900 900 1000 900 2000 2000 1500 2500 2750 3000 2500 3250 3250 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 1500 2500 2500 3500 1500 1000 1000 2000 1500 3000 3100 4000 4000 4000 4500 4000 4500 4750 4500 4000 4400 4500 4500 4500 4500 4500 4500 2750 3000 3000 4250 2500 2500 2500 5000 2500 5000 5500 5500 5000 5500 6000 5500 6000 6000 6000 5750 6100 6100 6000 6000 6000 6000 6000 3500 4000 4100 5000 2000 1500 1500 2000 1500 3000 3000 3500 3500 3750 4000 3500 4250 4250 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 2500 3500 3500 4500 2500 2000 2000 3000 2500 4000 4000 5000 5000 5000 5500 5000 5500 5750 5500 5000 5500 5500 5500 5500 5500 5500 5500 3750 4000 4000 5000 3500 3500 3500 6000 3500 6000 6500 6500 6500 6500 7000 6500 7000 7000 7000 6750 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 4500 5000 5000 6000 30 2500 3250 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan .

67 5.59 11.79 100 .37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 5 132 24.Lampiran Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 14 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 5 113 20.97 % 19 15 13 11 10 9.06 3.93 13.9 4.93 5.6 100 % 21.55 15.44 100 100 % 22.27 8.42 99.89 8.19 4.93 5.36 11.11 8.97 15.44 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.96 7.9 6.19 4.33 7.22 14.11 8.67 5.19 4.42 4.42 4.15 6.93 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.58 6.59 11.82 7.6 4.89 8.44 100 % 26.81 12.2 6.85 7.22 14.36 6.15 11.58 8.81 12.96 6.15 6.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Special offer for students: Only $4.99/month.

Master your semester with Scribd & The New York Times

Cancel anytime.