P. 1
Thesis

Thesis

|Views: 234|Likes:
Dipublikasikan oleh Citra Dewi
c
c

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Citra Dewi on Jan 02, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/30/2014

pdf

text

original

EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

TESIS

Untuk memenuhi sebagian persyaratan Untuk mencapai derajat Sarjana S-2 Program Studi Agribisnis

Disusun Oleh : Kamarullah M. Nur NIM. 06750030

PROGRAM PASCA SARJANA UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH MALANG 2008

TESIS EFISIENSI PEMASARAN PEDET JANTAN SAPI PERAH

Disusun oleh: KAMARULLAH M. NUR NIM. 06750030

SUSUNAN DEWAN PENGUJI

Pembimbing Utama

Anggota Tim Penguji

Dr. Ir. Jabal Tarik Ibrahim, M.Si

Ir. Harpowo, MP.

Pembimbing

Pendamping

Ir. Dyah Erni W, MM

Ir. Istis Baroh, MP

Tesis ini telah diterima sebagai salah satu prasyarat Untuk memperoleh gelar Magister Tanggal ………………..

Dr. Achmad Habib, MA Direktur

ABSTRAK

Kamarullah M. Nur. Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah. Dibimbing oleh Jabal Tarik Ibrahim dan Dyah Erni. W. Kata Kunci : Pedet Jantan, Pemasaran Pemeliharaan pedet jantan sapi perah bagi petani peternak kurang menguntungkan bahkan dapat mempengaruhi pendapatan dan menambah biaya produksi, sehingga kebiasaan petani peternak menjual pedet jantan yang dimiliki setelah berumur 2 – 4 bulan dengan harga yang relatif murah, karena penentuharga ada pada pedagang perantara (blantik). Hal ini dapat terjadi karena pengetahuan tentang pemasaran produk-produk peternakan terutama tentang harga pedet jantan sapi perah tidak diketahui secara pasti dan mudah oleh petani peternak. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi tingkat efisiensi pemasaran Pedet jantan sapi perah di Kota Batu. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah secara tepat dan efisien harus diketahui oleh petani peternak sehingga dapat memperoleh harga jual yang layak. Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana pola saluran pemasaran, berapa margin pemasaran, share harga dan keuntungan serta efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di lihat dari market structure, market conduct dan market performance (SCP). Jumlah responden adalah 60 orang yang terdiri dari 30 orang responden petani peternak sapi perah yang merupakan anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu dan 30 orang responden mewakili lembaga pemasaran yang ditentukan secara acak sederhana sesuai proporsi dan menyebar di tiga wilayah kecamatan yaitu Batu, Bumiaji dan Junrejo Kota Batu. Analisis data dilakukan dengan pendekatan analisis konsentrasi rasio, analisis elastisitas transmisi harga, dan analisis deskriptif – Hay and Morris. Metode yang digunakan adalah purposive atau dengan cara sengaja. Hasil analisis menunjukkan bahwa pemasaran pedet jantan sapi perah berada pada pasar persaingan sempurna dan petani peternak sudah memperoleh harga yang layak, sedangkan keuntungan tertinggi diperoleh oleh pedagang perantara/blantik.

masing-masing selaku Pembimbing utama dan pembimbing. Ir. Penghargaan penulis sampaikan juga kepada anggota Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu. Ungkapan terima kasih juga ananda sampaikan kepada Bapak. dan seluruh keluarga atas segala doa dan kasih sayangnya. Dengan judul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah pada anggota Gabungan Kelompok Tani Gapoktan Sapi Perah Batu Bersatu Kota Batu Jawa Timur. MP. Dyah Erni W. dan semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian Tesis ini. Kepala Dinas Pertanian Kota Batu. Penelitian ini dilaksanakan sejak April 2008. Terima kasih juga penulis sampaikan kepada Pemkot Batu. Jabal Tarik Ibrahim M... selaku Ketua Jurusan Program Agribisnis Pasca Sarjana Universitas Muhammadiyah Malang. serta Ir.Si dan Ibu Ir. penyuluh THL – TBPP yang telah membantu pengambilan data dalam penelitian.KATA PENGANTAR Puji syukur penulis panjatkan kepada Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya ini berhasil diselesaikan. Ibu (Alm) dan istri tercinta anak-anakku tersayang. Terima kasih penulis ucapkan kepada Bapak Dr. Nopember 2008 Penulis . Malang. M.M. Sutawi.

kecuali yang secara tertulis dikutip dalam naskah ini dan disebutkan dalam daftar pustaka.SURAT PERNYATAAN Dengan ini saya menyatakan bahwa dalam Tesis yang berjudul “Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah” ini tidak terdapat karya yang pernah diajukan untuk memperoleh gelar kesarjanaan di suatu Perguruan Tinggi dan sepanjang pengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis atau diterbitkan oleh orang lain. Nur . 25 Nopember 2008 Kamarullah M. Malang.

Penulis adalah PNS pada Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005. Camat Kec. lulus tahun 1992. Pendidikan sarjana Muda di tempuh di Program Studi Produksi Ternak. .RIWAYAT HIDUP Penulis dilahirkan di Obi Maluku Utara. Kamarullah dan Almarhumah Djubaidah Sangadji. Obi Kabupaten Maluku Utara 2002 – 2004. 16 Pebruari 1958 sebagai anak ke 3 (tiga) dari pasangan H. Kasi Pemantauan Kualitas Lingkungan merangkap PLT Kabid Pemantauan dan Pemulihan pada BAPEDALDA Propinsi Maluku Utara 1999 – 2002. lulus tahun 1986. Pada tahun 2007 penulis mendapat ijin belajar dari Pemkot Batu di Pasca Sarjana Program Magister Agribisnis Universitas Muhammadiyah Malang. Sebelumnya adalah fungsional guru pada SPP Negeri Ambon 1992 – 1999. Pendidikan Sarjan di tempuh di Program Studi Produksi Ternak Fakultas Pertanian Universitas Islam Malang. HM. Akademis Peternakan Brahma Putra Yogyakarta.

.....DAFTAR ISI HALAMAN JUDUL LEMBAR PERSETUJUAN ................................................................. Struktur Pasar ... Rumusan Masalah ..........4 Hipotesis ............................................................................ Tampilan Pasar ......................................1 1....................................................................................... DAFTAR GAMBAR .................................................................................................................... DAFTAR ISI .............. Tujuan Penelitian ............ KATA PENGANTAR ........................................................... Margin Pemasaran .................6 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran ..............2 Landasan Teori .................................................................................................................................2 2.............................................. 2.........................................................2.......................2........................................... I 1....................................2................................2.... ............................................... DAFTAR TABEL ...............................................................................................................5 2................................................................................................................. Perilaku Pasar ....................................3 PENDAHULUAN 1 4 4 5 i ii iii iv v vi ix x xi Latar Belakang ................... DAFTAR LAMPIRAN ............................................................................. 2...................................2 1..................2....................................................1 2........................... II TINJAUAN PUSTAKA 2.......3 Kerangka pemikiran ......................................................................1 Telaah Penelitian ... RIWAYAT HIDUP ...4 Manfaat ...2................................................................................................ 6 8 8 11 15 24 27 28 33 37 2.......................3 2.......... ABSTRAK ..........................................4 2........ Efisiensi Pemasaran . 1............................................................ 2...... SURAT PERNYATAAN ....

.............................2 5...1 5...................... 4.6 5......2 Keadaan Umum Peternakan ..................4 Sistem Pemasaran Ternak ..................III....... 5........................................... 3......4 Curah Hujan ....5 Metode Analisis Data . 5..............2 4....................................................2 Metode Pengambilan Sampel . Pendidikan Responden ........ HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5............ Jenis Tanah .............. 5.3.............................................................. Jumlah Pemilikan Ternak ................................................................. 4..............................2.............................................................................5............ METODE PENELITIAN 3.................... 4..................................................................................................4 Definisi Operasional .......................1...................................................................................3 4....3 5...... 3.....................3.....1 Letak dan Luas Wilayah ... 38 39 40 40 41 42 42 3........... 59 60 56 57 58 49 50 50 51 53 55 ...............................2 Sistem Pemeliharaan Ternak ................................................ 3........................ 5...........................................1 Keadaan Umum Daerah Penelitian ............................1 Analisis Efisiensi Pemasaran ........3 Karakteristik Responden ...............7 Status Pemilikan Ternak ........ 3...............................5 5...................................1.................3...3........................1 Data Populasi Ternak .......................................1..1.....1....................... 3.................1.. 45 45 46 46 47 47 48 4..............................................................3............................... Batas Wilayah ....................................................................5.........4 Umur Responden ........3 Metode Pengumpulan Data ........ IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.............. Topografi .................................... V..............................................3. Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi ............................................ 5............1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian ... Kondisi Pendapatan Petani Ternak dari Setiap Ekor Pedet yang Dijual ........................................1 Analisis Struktur Pasar ......... Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden ....3......................

... DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN 79 80 .............................. KESIMPULAN DAN SARAN 6.....5..................5..............................5......................... 6...........................5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah .......................................... 62 62 67 72 VI...............................................................................................3 Analisis Struktur Pasar ........5............1 5........... Analisis Perilaku Pasar ........ Analisis Tampilan Pasar ..2 5................................2 Saran ........................1 Kesimpulan ........ 5...

........2 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah ................................8 Perbandingan Perbedaan Share Harga yang Diterima Petani Menggunakan LSD .....11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ...................................... Tabel 5...............................4 Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006 – 2008 ....... 15 Tabel 5...................... Tabel 5.... Tabel 5............ Tabel 5........DAFTAR TABEL Tabel 1 Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat ........................................... Tabel 5.............. Tabel 5......... 77 75 76 74 73 68 67 59 61 58 57 .................1 Rincian Jumlah Anggota Rum ah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 .. Tabel 5....... Tabel 5.............................................................6 Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ..........5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 ................................... Tabel 5............... Tabel 5..7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa di Kota Batu Tahun 2008 ...........................9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 ..............3 Jumlah Pemilikan dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah dari Petani Peternak Tahun 2008 ......10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah ..........................................................................................................

............. Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 ..................... 10 18 19 20 22 23 31 38 51 10............ Diagram Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ........................................................................ Grafik Fungsi Primer................................................... 8............. 9......... Peta Lokasi Penelitian ......................................................................................... Grafik Pasar Monopoli ........... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah ..................................................................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah ..................... 62 56 55 54 54 53 52 52 .............................. 13........ Grafik Pasar Monopolistik ....................... Diagram Karakteristik Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur ........................ 14........................... 6..............DAFTAR GAMBAR 1...................................... Turunan dan Margin Pemasaran ................................... Diagram Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah .. Diagram Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah ............................................................... 5......................... Diagram Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur ................................. Grafik Pasar Monopsoni .............. Grafik Perusahaan pada Kondisi Oligopoli ........ 15......................................................................................... 16....... 2........... 7.......... 3.......................... Diagram Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur .... 4.......... 11........................................................................... 12............................................................................................. 17............................................................... Grafik Mekanisme Pasar ................................... Grafik Keadaan Pasar Persaingan Sempurna ................................................................

DAFTAR LAMPIRAN 1. 2. 6. Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Karakterik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah Karakteristik Responden Pedagang Perantara/Blantik Pedet Jantan Sapi Perah 5. 9. 8. Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Jantan Sapi Perah 7. 3. Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah . 4. Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Hasil Analisis Varian Share Harga Post Hoc Test 10.

Hal ini selain sebagai sumber protein hewani dalam upaya perbaikan gizi masyarakat. Usaha peternakan sapi perah yang di kembangkan oleh koperasi dan swasta. 2007).335 ekor (Anonymous. peningkatan sumber daya manusia juga dapat meningkatkan kesejahteraan petani (Anonymous. khusus petani peternak sapi perah yang bergabung dalam gabungan kelompok tani sapi perah Batu Bersatu sebanyak 576 anggota dengan penyebaran populasi sapi perah sebanyak 6.1 Latar Belakang Pembangunan peternakan yang merupakan bagian integral dari pembangunan sektor pertanian dan pembangunan Nasional. . Namun di tingkat petani masih sebagai usaha skala keluarga dengan kepemilikan rata-rata 2–3 ekor setiap keluarga. 2006). melalui Pemda Kota Batu dicanangkan sebagai kota Agropolitan dengan penekanan pembangunan bertumpuk pada sektor pertanian secara luas. Pengembangan usaha peternakan rakyat khususnya usaha peternakan sapi perah juga termasuk dalam rencana pengembangan secara baik dan diperluas. Kota batu dengan penduduk 172.735 dan 37.000 kepala keluarga adalah petani.I. sehingga manajemen yang diterapkan juga seadanya. Kota Batu termasuk salah satu daerah di Jawa timur yang selama ini telah mengembangkan usaha peternakan khususnya sapi perah. mendapat perhatian yang cukup besar dari Pemerintah. PENDAHULUAN 1. karena selain sebagai usaha pokok masyarakat juga limbah dari usaha peternakan tersebut diharapkan akan bermanfaat dalam rangka mendukung pembangunan pertanian berkelanjutan. telah dikelola secara komersial.

kambing. 1993). Dalam kamus Bahasa Indonesia (Poerwadarminto. lembu. Populasi pedet jantan sapi perah tahun 2008 yaitu sebanyak 259 ekor (Anonymouse. Dalam pemasaran ternak sapi pada umumnya proses pembentukan atau penentuan harga selalu dikaitkan dengan urgensi kebutuhan uang tunai dari petani . 1989). aliran barang tersebut dapat terjadi karena adanya lembaga pemasaran yang tergantung dari sistem yang berlaku dan aliran barang yang dipasarkan. secara khusus pemasaran adalah hasil telaah atau evaluasi terhadap aliran produk secara fisik dan ekonomis dari produsen ke konsumen melalui pedagang perantara (Anonymous. untuk itu perlu dilakukan pengamatan dalam sistem pemasaran pedet jantan sapi perah sehingga masyarakat pemilik ternak dapat mengetahui secara transparan sistem pemasaran ternak khususnya pemasaran pedet jantan sapi perah. Informasi dan pemahaman tentang pemasaran pedet jantan sapi perah harus diketahui oleh petani peternak secara mudah dan bebas sehingga petani peternak dapat memperoleh kepastian harga untuk menentukan layak atau tidak ternaknya di jual. kuda. domba dan sebagainya. selanjutnya Fanani (2000) mengatakan bahwa pada prinsipnya pemasaran adalah pengalihan barang dari produsen ke konsumen. sehingga upaya-upaya untuk mendapat efisiensi dalam pemasaran perlu mendapat perhatian semua pihak. Perkembangan sapi perah setiap tahun ada kenaikan 5 . Dan salah satu lembaga pemasaran atau pelaku pasar sistem tata niaga pedet jantan sapi perah adalah pedagang perantara atau blantik.7 persen. 1976) mengatakan bahwa blantik adalah cengkau. Fungsi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu selama ini tidak berjalan sesuai yang diharapkan.Pemerintah daerah melalui Dinas Pertanian Kota Batu sejak tahun 2005 secara bertahap berupaya terus meningkatkan populasi ternak sapi perah melalui bantuan langsung masyarakat (BLM) maupun kegiatan proyek pengadaan lainnya yang disebarkan kepada petani peternak. Pemasaran merupakan aspek penting dalam proses produksi. untuk itu biasanya pedet jantan sapi perah dijual setelah berumur 2 – 3 bulan yang langsung dibeli oleh blantik dengan harga yang tidak menentu hal ini dapat terjadi karena informasi tentang pemasaran pedet jantan sapi perah tidak diketahui oleh petani peternak secara pasti. pengantara jual beli sapi. Pada sistem pengolahan sapi perah di tingkat petani peternak keberadaan pedet jantan atau anak sapi yang berumur 0 – 7 bulan menjadi beban tersendiri dalam biaya produksi. 2008). Keterampilan petani untuk menuju pelaksanaan pemasaran yang efisien memang terbatas hanya mempraktekkan unsur-unsur manajemen saja. apalagi pemahaman informasi pasar masih rendah sehingga kesempatan-kesempatan ekonomi menjadi sulit untuk dicapai (Soekartawi. ketersediaan pasar dapat memacu berkembangnya program dalam menerapkan teknologi sistem usaha tani.

maka masalah yang perlu disimak dan dicermati serta dicarikan solusinya adalah sebagai berikut : 1. bila petani peternak sangat membutuhkan uang tunai.3 Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah 1. 1. 1.2.2.2 Berapa margin pemasaran.1 Untuk mengidentifikasi pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu. karena bargaining position (posisi dalam tawar menawar) lemah.peternak. dan market performance (SCP). bahkan tidak jarang terjadi praktek-praktek pemasaran yang merugikan petani peternak oleh para pedagang perantara atau blantik. share harga dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu. 1.2 Rumusan Masalah Bertitiktolak pada latar belakang penelitian ini.3 Bagaimana efisiensi pemasaran pedet jantan sapi Perah di Kota Batu dilihat dari analisis market structur. 1.3. market conduct.2. . ia hanya bertindak sebagai price taker (penerima harga) saja.1 Bagaimana pola saluran pemasaran pedet jantan sapi Perah yang terbentuk di Kota Batu.

3.3 Untuk menghitung efisiensi pamasaran dari pedet jantan sapi perah dilihat dari analisis market structur.1. market conduct dan market performance (SCP) . 1. dan keuntungan pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.2 Untuk mengetahui tentang keberadaan margin pemasaran. share harga.3.

4. Sebagai khasanah ilmu pengetahuan khusunya dalam bidang pemasaran pedet jantan sapi perah.3 Sebagai bahan acuan dalam rangka penyusunan rancangan penyuluhan 1. . 1.4.4.4 Manfaat Penelitian Adapun manfaat dan kegunaan yang diharapkan dari penelitian ini adalah 1.4.1.1 Sebagai bahan informasi kepada petani sapi perah dalam memasarkan ternak khususnya pedet jantan sapi perah melalui jalur mana yang akan digunakan agar efisien.2 Sebagai bahan kajian lebih lanjut bagi Dinas Pertanian Kota Batu dalam upaya perbaikan lembaga petani sekaligus penataan efisiensi jalur pemasaran ternak sapi pada umumnya 1.4.

1 Telaahan Penelitian Terdahulu Penelitian tentang analisis pemasaran ternak terutama pemasaran pedet jantan sapi perah belum banyak dilakukan. Pellokila. Walaupun sebenarnya sudah banyak dilakukan penelitian tentang komoditas-komoditas pertanian lainnya di daerah lain di seluruh nusantara ini. Idrus dan Widyantara (1996) melakukan penelitian tentang pemasaran panili di Bali dengan hasil sebagai berikut: pasar panili di Bali tidak terintegrasi.II. margin tataniaga. khususnya yang menyangkut analisis struktur. perilaku dan tampilan pasar. perilaku dan tampilan pasar diperoleh hasil bahwa pasar rumput laut di Bali cenderung ke arah persaingan tidak sempurna (imperfect market) yakni pasar oligopsoni. biaya produksi. Penelitian lain yang juga dilakukan di Bali oleh Darma Setiawan (1997) tentang analisis pemasaran rumput laut yang mengkaji tentang struktur. baik secara vertikal maupun horizontal sehingga struktur pasar yang ada mengarah kepada pasar monopsoni. . dalam kondisi seperti ini pembeli bertindak selaku price setter (penentu harga) sedangkan petani hanya sebagai price taker karena bargaining positionnya lemah. seperti Asmarantaka (1985) yang melakukan penelitian tentang hubungan antara harga jagung yang diterima petani. Oleh karena itu penulis respek untuk melakukan penelitian tentang bagaimana. margin pemasaran dan fasilitas pemasaran di provinsi Lampung. perilaku dan tampilan pasar dari pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi terjadinya transaksi dari pedet jantan sapi perah di Kota Batu. struktur. dkk (1993) meneliti tentang pemasaran permintaan daging sapi di kota Administratif Kupang melalui analisis biaya tataniaga. keuntungan tataniaga dan efisiensi tataniaga dengan hasil yang cukup baik. TINJAUAN PUSTAKA 2. Sementara itu penelitian tentang struktur pasar dalam pemasaran buah anggur di Bali yang dilakukan oleh Wardhana (1993) diketahui bahwa struktur pasar buah anggur yang dihasilkan di Bali adalah oligopsoni.

2.584 – 0.1 Pengertian Pemasaran dan Rantai Pemasaran Definisi tentang pemasaran atau tataniaga telah banyak dikemukakan oleh para ahli ekonomi. Hal ini menunjukkan bahwa semakin besar korelasi antara harga konsumen dan harga produsen maka kedua pasar tersebut semakin kuat terintegrasi. maka secara umum dapat dikatakan bahwa struktur pasar komoditas pertanian mengarah kepada pasar persaingan tidak sempurna yakni monopsoni atau oligopsoni yang pada hakekatnya sangat merugikan petani dalam memasarkan komoditas yang dihasilkannya. . pada hakekatnya bahwa pemasaran atau tataniaga merupakan aktivitas yang ditujukan terhadap barang dan jasa sehingga dapat berpindah dari tangan produsen ke tangan konsumen.2 Landasan Teoritis 2. 2. Relatif rendahnya harga yang diterima petani ini disebabkan oleh tingginya biaya pemasaran dan margin keuntungan pemasaran yang diterima pedagang. 1996) tentang analisis keterpaduan pasar pada sistem pemasaran komoditas pangan strategis diperoleh hasil bahwa berdasarkan analisis biaya dan margin pemasaran diketahui bahwa harga rata-rata yang diterima petani di bawah 50 persen dari harga di tingkat pengecer (konsumen). Berdasarkan telaahan terhadap beberapa hasil penelitian yang telah dikemukakan di atas. (Anonymous. Sedangkan menurut hasil penelitian Kiptiyah dan Semaoen (1994) tentang pemasaran bunga potong di Jawa Timur bahwa nilai korelasi antara harga di tingkat konsumen dan harga di tingkat produsen untuk setiap jenis bunga berkisar antara 0.957.Penelitian Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi.

pengolahan. 1985 dalam Widiyantara. Kondisi seperti ini akan mengakibatkan arus perpindahan barang dari daerah excess supply ke daerah excess demand pada akhirnya akan terjadi keseimbangan. Lokasi fisik sebagai tempat terjadinya pembelian dan penjualan disebut pasar. pembiayaan dan informasi harga. Fungsi pemasaran yang dimaksud tersebut meliputi: a) fungsi pertukaran yang meliputi pembelian dan penjualan. b) cepat atau tidaknya komoditas tersebut menjadi rusak. Pengertian pasar dalam arti luas atau pengertian menurut teori ekonomi adalah pertemuan antara penawaran dan permintaan atau perpotongan antara kurva penawaran dan kurva permintaan. maka secara tegas dapat dikatakan bahwa tujuan dari pada pemasaran adalah agar barang dan atau jasa yang dihasilkan oleh petani maupun perusahaan sebagai produsen sampai ke konsumen. Menyimak definisi pemasaran di atas. pengangkutan dan c) fungsi fasilitas yang meliputi standarisasi dan grading. Panjang pendeknya rantai pemasaran yang dilalui oleh suatu komoditas tergantung dari : a) jarak antara produsen dan konsumen. Kegiatan-kegiatan yang dilakukan agar barang dan jasa dapat berpindah dari sektor produksi ke sektor konsumsi disebut sebagai fungsi pemasaran. Menurut Saefuddin (1982) bahwa pemasaran merupakan aktivitas yang berkaitan dengan bergeraknya barang dan jasa dari produsen ke konsumen. Kenyataan menunjukkan bahwa pasar itu terpisah dalam ruang (market spatial) dan akan terjadi ketidakseimbangan pasar apabila di antara dua daerah. di mana daerah yang satu mengalami kesulitan produksi (excess supply) sedangkan daerah yang lain mengalami kekurangan permintaan (excess demand). di mana pada titik potong tersebut terbentuklah harga yang merupakan keseimbangan antara jumlah yang ditawarkan oleh produsen dan jumlah yang diminta atau diinginkan konsumen (Lipsey.Kohl dan Uhl (1980) mendefinisikan pemasaran sebagai tampilan aktivitas bisnis yang terlibat dalam arus barang dan jasa dari pintu gerbang usahatani (farm gate) sampai ke tangan konsumen. ini merupakan pengertian sederhana/sempit. sebagaimana yang diperlihatkan pada grafik di bawah ini. 1995). . b) fungsi fisik meliputi pengumpulan. Fungsi-fungsi pemasaran ini dilakukan oleh lembaga pemasaran sebagai upaya pemindahan barang dan jasa dari sektor produksi ke sektor konsumsi. c) skala produksi dan posisi keuangan produsen. Pola rantai pemasaran untuk komoditas pertanian berbeda dengan pola rantai pemasaran untuk produk/komoditas industri. Dikemukakan lebih lanjut oleh Saefuddin (1982) bahwa rantai pemasaran atau saluran pemasaran merupakan aliran yang dilalui oleh barang dan jasa dari produsen melalui lembaga pemasaran sampai barang dan jasa tersebut tiba di tangan konsumen. penanggungan resiko.

perilaku dan tampilan pasar atau yang dikenal dengan analisis S – C – P (Structure. 1981).1 di atas diketahui bahwa sebelum terjadi perdagangan.D S Py D S Pz D S Px 0 Qx (a) Q 0 Qy (b) Q Q 0 (c) Qz Gambar 2. Pada awalnya analisis ini hanya digunakan untuk menganalisis organisasi pasar dalam sektor industri di negara-negara industri maju seperti Amerika Serikat. Efisiensi Pemasaran Problematika utama dalam pemasaran komoditas pertanian adalah bagaimana upaya yang seharusnya dilakukan agar jasa lembaga pemasaran memuaskan petani produsen dan konsumen produk pertanian. Kohl dan Url (1980) mendefinisikan efisiensi pemasaran sebagai peningkatan ratio output dan input yang dapat dicapai dengan cara: 1) output tetap/konstan sedangkan input berkurang. namun belakangan telah banyak digunakan untuk menganalisis produk-produk pertanian (Alhusniduki. Selanjutnya apabila ada biaya transfer atau pajak maupun kendala lainnya. Perdagangan akan terhenti atau telah tercapai keseimbangan apabila perbedaan harga antara dua pasar tersebut hanya sebesar biaya transfer (Azzaino. maka harga pokok di Y akan turun. Performance). Untuk mengetahui efisiensi pemasaran dapat dilakukan dengan pengukuran: 1) efisiensi teknis/operasional yang mengukur produktifitas pelaksanaan jasa . 2.2.1 Mekanisme Pasar Berdasarkan grafik 2.2. 2) output meningkat dan input tetap. 1991). Proses perdagangan akan berhenti pada saat harga pokok di X sama dengan harga pokok produk tersebut di Y. Dalam menganalisis hasil penelitian ini dilakukan dengan pendekatan organisasi pasar yang meliputi struktur. Conduct. harga di X sebesar Px (gambar a) lebih murah dari harga barang di Y (gambar b) atau dapat dinyatakan sebagai berikut Px < Py. Selanjutnya setelah terjadi perdagangan dengan asumsi bahwa tidak ada biaya transfer yang dikeluarkan oleh pedagang maka akan terjadi kenaikan harga di X karena sebagian produk di bawa ke Y oleh pedagang. artinya bahwa dalam pengaliran produk pertanian dari petani produsen sampai di konsumen secara efisien. 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dibandingkan dengan persentase kenaikan input dan 4) output berkurang dengan persentase yang lebih rendah dari persentase penurunan input. perpindahan produk akan terus berlanjut dari pasar dengan harga produk yang lebih rendah ke pasar di mana harga produk tersebut lebih tinggi.

Efisiensi teknis dinyatakan dalam ratio output pemasaran terhadap inputnya: Output Pemasaran Efisiensi Operasional = Input Pemasaran Prinsipnya pengukuran efisiensi ini adalah kegiatan fisik. Yang sering menjadi indikator dalam mencermati efisiensi operasional adalah margin pemasaran. Sebenarnya dalam pemasaran pengukuran efisiensi operasional sama artinya dengan pengurangan biaya. yakni perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen akhir dengan harga yang diterima pada tingkat petani. yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. Margin pemasaran ini terdiri dari biaya pemasaran (marketing cost) dan keuntungan . Sementara itu menurut Tornek dan Robinson (1977) bahwa efisiensi pemasaran itu dapat dibedakan menjadi efisiensi operasional dan efisiensi alokatif atau efisiensi harga. Menurut Soekartawi (1993) bila keuntungan yang diperoleh sebagai akibat pengaruh harga maka dapat dikatakan bahwa pengalokasian faktor produksi memenuhi efisiensi harga. Efisiensi operasional atau efisiensi teknis penekanannya pada kemampuan meminimumkan biaya-biaya dalam melakukan fungsi pemasaran. Sedangkan dalam efisiensi harga atau efisiensi ekonomis adalah pada kemampuan keterkaitan harga dalam mengalokasikan komoditas dari produsen ke konsumen. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. Apabila tidak terjadi seperti ini. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni. Menurut Mubyarto (1991) bahwa suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila memenuhi 2 syarat : Pertama mampu menyampaikan hasil-hasil dari produsen ke konsumen dengan biaya yang semurah-murahnya dan kedua mampu mengadakan pembagian yang adil dari keseluruhan harga yang dibayar konsumen akhir kepada semua pihak yang terlibat dalam produksi dan pemasaran barang itu. Dalam efisiensi alokatif diasumsikan bahwa output dan input berbentuk fisik yang tetap.pemasaran di dalam perusahaan dan 2) efisiensi alokatif (efisiensi harga) yang mengukur bagaimana harga pasar mencerminkan biaya produksi dan biaya pemasaran secara memadai pada sistem pemasaran secara keseluruhan. misalnya output per jam kerja.

maka Saefuddin (1982) menyatakan bahwa ada dua konsep yang dapat digunakan untuk mengukur efisiensi pemasaran yakni konsep input output ratio dan konsep S-P-C (Structure. Sehubungan dengan hal di atas. maka suatu sistem pemasaran dikatakan efisien apabila untuk suatu komoditas yang mengalir melalui berbagai lembaga pemasaran dari produsen ke konsumen diperlukan margin pemasaran yang rendah dan tingkat korelasi yang tinggi. Bila disimak dari efisiensi operasional maupun efisiensi harga. dan manajemen yang digunakan oleh lembagalembaga pemasaran dalam proses pemasaran. Sedangkan yang dimaksudkan dengan output adalah kepuasan konsumen terhadap barang dan jasa yang dihasilkan oleh lembaga tersebut. Dua pasar dikatakan terintegrasi apabila perubahan harga dari salah satu pasar disalurkan/diteruskan ke pasar lainnya. Menurut Azzano (1982) bahwa untuk melihat efisiensi harga digunakan analisis integrasi pasar secara vertikal.pemasaran (marketing profit). Oleh karena itu margin pemasaran dan korelasi harga sebagai indikator efisiensi pemasaran tidak lagi saling melengkapi sehingga diperlukan indikator lain. Sedangkan efisien harga ditunjukkan oleh korelasi antara harga di tingkat konsumen dengan harga di tingkat produsen. Input adalah berbagai ramuan dari tenaga kerja. maka margin pemasaran semakin besar yang menyebabkan sistem pemasaran menjadi tidak efisien. Apabila terjadi suatu perubahan yang menyebabkan biaya input untuk menghasilkan suatu . Kendati demikian hal ini bukanlah merupakan suatu patokan harga mati yang tidak dapat diganggu gugat. sebab dapat saja terjadi bahwa pada kasus tertentu margin pemasaran tinggi dan korelasi harga juga tinggi. Semakin besar biaya pemasaran dan atau semakin besar keuntungan pemasaran suatu komoditas. Performance dan Conduct) atau struktur. tampilan dan perilaku.

1984). dkk (1991) bahwa kelemahan karena adanya penambahan biaya pemasaran seringkali diperlukan penambahan jasa kepada konsumen. perilaku pasar (market conduct) dan tampilan pasar (market performance). Struktur pasar ini dapat dibedakan . Sedangkan apabila terjadi perubahan yang menyebabkan adanya penurunan biaya input tetapi tidak mempertahankan atau tidak diikuti dengan peningkatan kepuasan konsumen maka dikatakan terjadi penurunan efisiensi. dan kini mulai digunakan di negara-negara yang sedang berkembang dalam mengukur efisiensi pemasaran adalah dengan analisis struktur pasar (market structure). 2. Penggunaan konsep efisiensi seperti ini sangat sulit karena adanya kesulitan dalam mengukur tingkat kepuasan (Atmakusuma. Sebaliknya dengan menurunnya nilai produk mungkin disebabkan oleh penurunan harga di tingkat konsumen. Menurut Alhusniduki. dan lebih banyak digunakan di negara-negara maju terutama Amerika Serikat. dengan penjual potensial yang akan masuk pasar. Menurut Azzaino (1981) struktur pasar adalah suatu dimensi yang menjelaskan definisi industri dan perusahaan mengenai jumlah yang ada di pasar. distribusi perusahaan dengan berbagai ukuran dan diferensiasi produk serta syarat-syarat keluar masuk pasar.2. tetapi penambahan jasa tidak selalu dicerminkan dalam pertambahan nilai produk yang dipasarkan.barang dan atau jasa meningkat dengan tidak mengurangi kepuasan konsumen dikatakan sebagai peningkatan efisiensi. Karena itu pendekatan yang lebih tepat.3 Struktur Pasar Struktur dimaksudkan sebagai karakteristik organisasional suatu pasar yang dalam prakteknya adalah menentukan hubungan antara pembeli dan penjual di pasar. sehingga standar dalam pendekatan ini tidak ada.

pasar oligopoli. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku pedagang dan tampilannya. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. 2) konsentrasi pembeli.menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna yang meliputi pasar monopoli/monopsoni dan pasar oligopoli/oligopsoni. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. Pasar dengan persaingan tidak sempurna dibedakan menjadi pasar monopoli. pasar monopoli. pasar monopsoni. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. Struktur pasar menurut Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda. Sexton. Struktur Pasar Bahan Makanan dan Serat Karakteristik Struktural Struktur Pasar Jumlah Bentuk Sisi Penjual Jumlah Perusahaan Produk Pembeli Banyak Standar Persaingan Persaingan Murni murni Banyak Berbeda Persaingan Persaingan Monopolistik Monopsonistik Sedikit Standar Oligopoli Oligopsoni Murni Murni Sedikit Berbeda Oligopoli Oligopsoni Diferensiasi Diferensiasi Satu Unik Monopoli Monopsoni Taken dan Asnawi (1977) membedakan struktur pasar atas persaingan sempurna dan persaingan tidak sempurna. Dahl dan Hammond (1977) membedakan struktur pasar hasil pertanian sebagai berikut: Tabel 1. dan pasar oligopsoni. 1991 menyatakan bahwa untuk mengetahui dua . Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. King dan Carman. monopsoni dan oligopsoni. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensiasi produk.

biaya varibel (BV) dan biaya marginal (BM). Suatu contoh dapat diberikan di sini adalah petani padi yang menghasilkan beras. maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna. Sebaliknya harga pokok yang dihasilkan . Petani di sini seperti halnya pimpinan perusahaan yang menghadapi berbagai macam biaya yang harus dikeluarkan untuk menghasilkan padi. (4) informasi pasar sempurna dan diperoleh secara gratis. Suatu pasar dikatakan berada dalam keadaan persaingan sempurna apabila memenuhi syarat-syarat berikut: (1) jumlah pembeli dan penjual sangat banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan. Biaya yang dikeluarkan tersebut meliputi biaya tetap (BT). (2) Produk yang dihasilkan adalah homogen.pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan harga di tingkat pasar ke-i sebagai variabel terikat dan harga di tingkat ke-i + 1 dan selisih biaya transportasi sebagai variabel bebas. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika lebih besar dari satu maka pasar cenderung ke erah monopsoni. (3) mobilitas faktor produksi ke dalam pasar tidak ada hambatan sama sekali. Homogenitas di sini dimaksudkan sebagai karakteristik teknis maupun jasa yang diperlukan pemasarannya sama. Apalagi koefisien regresinya sama dengan satu. Produsen terdiri dari banyak sekali petani yang menghasilkan beras terstandar untuk dijual di pasar. sedangkan apabila koefisien regresinya lebih kecil dari satu. bukan hanya saat ini tetapi juga pada waktu yang akan datang.

mungkin bisa dilihat dari pasar pakan ternak. petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu.dalam hal ini beras adalah tetap. Produk ini untuk kebutuhan yang sama tetapi dapat saja terjadi perbedaan konsentrasi bahan yang digunakan atau mungkin pula pembeli yakin bahwa pakan yang dihasilkan peruashaan A berbeda dari . oleh karena itu hanya menerima harga berlaku di pasar (hanya bertindak sebagai price taker). Bentuk pasar dengan persaingan monopolistik. Keadaan ini dapat digambarkan dengan grafik seperti di bawah ini dengan kurva-kurva: biaya rata-rata (BR) dan biaya marginal (BM) (Masyrofie.2 di atas. sebaliknya bila harga turun maka petani atau produsen akan keluar dari pasar sampai BM = MR = BR kembali. Karenanya dalam pasar persaingan sempurna biaya ratarata adalah terendah. maka petani akan berproduksi pada titik Q pada saat BM = MR. Kondisi seperti ini petani tidak mempunyai kekuatan untuk mempengaruhi harga pasar. Keadaan ini merupakan keseimbangan jangka panjang. Dalam keadaan pasar persaingan sempurna. 1993). (tentunya dengan asumsi bahwa tidak campur tangan pemerintah).2. maka produsen lain akan masuk pasar sampai BM = MR = BR. P BM BR H d = H = MR 0 Q Jumlah Gambar 2. Apabila harga naik. Untuk meningkatkan pendapatan. satu-satunya adalah dengan menekan biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk (biaya produksi). Keadaan Pasar Persaingan Sempurna Keterangan : BR = Biaya rata-rata BM = Biaya marginal MR = Penerimaan Marginal Berdasarkan grafik 2.

kendati kenyataannya sama saja. Bagaimana seorang monopolis mendapatkan laba maksimum dapat dilihat pada grafik berikut ini. Sukirno (1995) menyatakan bahwa ada beberapa hal suatu perusahaan bersifat monopoli antara lain : a) menguasai bahan baku yang strategis untuk menghasilkan produk yang akan dijual. Melalui perbedaan produk. c) hak paten. Akan tetapi produknya yang berbeda-beda dari perusahaan lain. d) mendapatkan lisensi dari pemerintah dan e) skala perusahaan besar. Harga BM H BR D MR 0 Q1 Jumlah Grafik 2. iklan atau aktivitas promosi lainnya. Hal ini dapat terjadi karena perusahaan lain tidak dapat memasuki pasar tersebut. Bentuk pasar monopolistik ini dapat ditunjukkan pada grafik di bawah ini. dan harga produk sebesar H. suatu perusahaan kecil akan dapat beroperasi sebagaimana perusahaan monopoli. Produsen dapat merubah harga dengan merubah produksi.3.yang dihasilkan perusahaan B. maka bentuk kurva permintaannya menurun dari kiri atas ke kanan bawah (D). Hal ini berarti bahwa mereka harus menerima harga yang rendah kalau akan menambah produk yang akan ditawarkan untuk meningkatkan volume penjualan. b) menguasai teknik produksi yang spesifik. . Pasar Monopolistik Keterangan : BM = Biaya Marginal BR = Biaya rata-rata MR = Marginal Revenue Jumlah permintaan yang terjadi adalah sebesar OQ1 pada BM = MR. Mereka akan mempunyai BM dan BR sebagai kendala biaya dalam persaingan murni. Oleh karena itu pembeli mau saja membeli dalam keadaan harga yang berbeda yang ditawarkan oleh produsen yang berbeda-beda. Pasar monopoli adalah suatu struktur pasar dengan hanya satu perusahaan yang menjual produk di pasar.

MRP adalah tambahan terhadap total revenue sebagai sumbangan dalam menggunakan satu input. yang berarti bahwa harga produk dipengaruhi oleh pembelian monopsoni. Dalam struktur pasar ini kurva penawarannya mempunyai slope positif. Suatu pasar dikatakan sebagai pasar monopsoni apabila di dalam pasar tersebut hanya terdapat satu pembeli. sedangkan harga dari input ditentukan oleh titik-titik sepanjang kurva penawaran. Apabila monopolis memproduksi sebanyak Q akan dijual dengan harga yang lebih tinggi yakni H1. maka penggunaan input sampai pada suatu jumlah di mana nilai produk marginal dari faktor produksi tersebut (NPMF) sama dengan biaya faktor marginalnya (NPMF = BFM). Padahal dalam keadaan keuntungan maksimum (BM = MR) harga produk yang sebenarnya hanya sebesar H3.BM Hrg H1 A BTR H2 H3 B C MR 0 Q1 Jumlah D Grafik 2. Hal ini dapat dijumpai pada pemasaran hasil pertanian di tingkat petani produsen. perusahaan berada dalam keadaan kelebihan laba (excess profit) yaitu seluas daerah H1H2AB.4 Pasar Monopoli Keterangan : BTR BM MR Hrg = Harga = Biaya Total Rata-Rata = Biaya Marginal = Marginal Revenue Pada grafik 2.4 nampak bahwa keuntungan maksimum tercapai pada saat BM = PM dengan jumlah produksi dan permintaan pasar sebesar OQ pada harga H1. Ditetapkannya harga sejumlah produk (Q) sebesar H1. Perbedaan harga H1 dan H2 adalah keuntungan monopolis. hal inilah yang menyebabkan inefisiensi karena faktor-faktor penyebab monopoli sebagaimana yang telah dijelaskan sebelumnya. sedangkan penjual atau produsennya banyak. sedangkan BFM adalah tambahan terhadap biaya total sebagai akibat . Makin besar pembelian monopsoni akan suatu produk maka harga produk tersebut makin tinggi dan sebaliknya. Suatu perusahaan monopsoni yang bermaksud memaksimumkan keuntungannya.

Sebaliknya. kurva permintaan akan putus (kinked demand curve) karena setiap pesaing gagal mengikuti kenaikan harga. penambahan dalam penggunaan input akan tetap meningkatkan keuntungan. Pasar oligopoli adalah suatu keadaan pasar di mana hanya terdapat beberapa penjual dan masing-masing pengusaha berusaha untuk mempengaruhi harga pasar. baik dalam bentuk produksi maupun aktivitas penjualan produk serta harga. Hal inilah yang menyebabkan ketidakberlanjutan kurva MR (grafik 5). bila MRP < BFM. Kesamaan ini terjadi pada titik potong E dalam gambar di bawah ini. Harga H1 H2 H3 F E BFM S MRP 0 Q Q1 Quantity Grafik 2.tambahan penggunaan satu satuan input. bahkan selalu bersesuaian dalam keadaan harga turun. . Jadi keuntungan akan maksimum dalam menggunkan input jika berproduksi pada BFM = MRP.5 Pasar Monopsoni Pada gambar di atas. OQ adalah jumlah input yang digunakan. Dalam hal ini. kerugian akan bertambah dalam menambah produksi dengan menggunakan input tersebut. akan tetapi juga harus memperhatikan tindakan rivalnya. berhubungan dengan titik F pada kurva penawaran. OQ satuan input akan ditawarkan pada harga H2 per satuan. 1981). Jadi H2 adalah harga keseimbangan pasar input yang berhubungan penggunaan input sebanyak OQ (Azzaino. Karena itu. Oleh karena itu selama MRP > BFM.

Oligopolis yakin bahwa apabila ia menurunkan harga penjualan maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dalam penurunkan harga dan jumlah penjualan akan meningkat sesuai dengan kurva permintaan BF. Oligopolis akan mencapai keuntungan maksimum pada saat BM = BR. perusahaan menjual produk sebanyak OQ.6: Perusahaan pada kondisi oligopoli Pada waktu H1. Jika oligopsonis meningkatkan harga pembelian inputnya. Jika oligopolis menurunkan harga maka harga akan mengikuti kurva permintaan BF. Akan tetapi apabila oligopolis menaikkan harga. Kurva permintaan untuk penurunan harga ini lebih curam dari pada kurva permintaan pada saat kenaikan harga.A F' BM H1 B BR C A' H2 D MR 0 Q E F Quantity Grafik 2. Kurva permintaan marginal (PM) merupakan kurva terputus ACDF. Pada pasar oligopsoni akan terjadi sebaliknya. sedangkan rivalnya tidak ikut menaikkan harga maka kurva permintaan yang dihadapi oleh oligopolis adalah AB (relatif mendatar). 1995). bukan kelanjutan kurva AB dan Q bertambah banyak. Pada kondisi seperti ini produk dijual dengan harga H1 dengan jumlah produk sebanyak OQ. Jadi kurva ABF adalah kurva permintaan oligopolis (Sudarsono. maka rivalnya akan mengikuti jejaknya dengan .

maka perilaku tersebut dipengaruhi oleh faktor biaya. Clindiff (1988) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa ada dua pengaruh pokok yang mempengaruhi pembeli yakni pengaruh individu dan pengaruh lingkungan. persepsi. Dahl dan Hammond (1977). c) kendala masuk pasar dan d) diferensiasi produk. Purcell (1979) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : a) konsentrasi penjual. b) konsentrasi pembeli merupakan kebalikan dari konsentrasi penjual yaitu apabila konsentrasi pembeli 82% berarti 82% dari produk yang ada dikuasai oleh 4 perusahaan tersebut. baik individu maupun lingkungan sebagaimana yang telah dikemukakan di atas maka Lawang (1986) dalam Widiyantara (1995) menyatakan bahwa perilaku manusia bila dikaitkan dengan pertukaran.4 Perilaku Pasar Perilaku pasar merupakan pola tingkah laku lembaga pemasaran dalam menyesuaikan diri dengan pasar di mana ia melaksanakan pembelian dan penjualan produk. Sekelompok atau seseorang . Sedangkan yang termasuk dalam pengaruh lingkungan adalah pengaruh keluarga. imbalan dan keuntungan. apakah bebas ataukah berada dalam suatu sistem manajemen. motivasi. sosial dan bisnis. 2. Sedangkan apabila terjadi sebaliknya maka rivalnya tidak akan menurunkan harga pembeliannya. Yang termasuk dalam pengaruh individu adalah kebutuhan. budaya. belajar dan sikap. ekonomi.manikkan harga pembelian input. Menurut Abbot dan Mahekam (1990) bahwa ada strategi pokok dalam mengukur struktur pasar yaitu : 1) ukuran relatif dari perusahaan dan 2) hubungan bisnis dari perusahaan. Dalam kaitan dengan pengaruh.2. yaitu apabila 4 : 10 perusahaan menjual 82% dari total produk (konsentrasi produk 82%) berarti dalam industri atau perusahaan 82% aktivitas ekonomi dikendalikan oleh 4 perusahaan tersebut.

4) kebijaksanaan harga yang mendorong perbaikan mutu produk dan meningkatkan kepuasan konsumen. yang meliputi integrasi vertikal dan integrasi horizontal. Sementara itu menurut Alhusniduki (1991) bahwa analisis integrasi pasar secara horizontal digunakan untuk melihat apakah mekanisme harga berjalan secara serentak atau tidak. kemungkinan imbalan yang akan diterima/diperoleh dan bentuk keuntungan diperoleh atau diharapkan. maka: (1) Pj = (b1 + b2) + Pi dimana : Pj = Harga pada tingkat pasar ke-i Pi = Harga pada tingkat pasar ke-i+1 b1 = Biaya pemasaran (biaya transportasi) = Keuntungan lembaga pemasaran b2 Dengan asumsi bahwa b1 dan b2 adalah konstan terhadap satuan komoditas yang dijual maka Pj = a + Pi (2) . 1986). Saefuddin (1982) mengemukakan salah satu kriteria yang cocok untuk merumuskan suatu situasi pasar yang dapat mengoptimumkan keuntungan sosial dan memaksimumkan efisiensi pemasaran adalah perilaku pasar yang meliputi: 1) praktek-praktek penentuan harga yang mendorong terjadinya grading dan standarisasi produk. Dengan demikian maka integrasi vertikal merupakan penggabungan proses dan fungsi dua atau lebih lembaga pemasaran pada tahap distribusi ke dalam satu sistem manajemen. Secara teoritis kalau pasar berjalan secara bersaing sempurna. kota dan provinsi. Selain itu analisis mampu menjelaskan kekuatan tawar menawar antara petani dengan lembaga pemasaran. Sebaliknya integrasi horizontal akan dapat memperkuat posisi produsen atau perusahaan dan menghindarkan persaingan dengan perusahaan sejenis (Hanafiah dan Saefuddin. maupun perdagangan gelap. Alat analisis yang digunakan adalah korelasi harga antara pasar yang satu dengan yang lainnya.mempunyai perilaku tertentu merupakan refleksi dari pertimbanganpertimbangan terhadap biaya yang telah dikeluarkan. atau antara lembaga tingkat bawah dengan lembaga perantara yang di atasnya. Sedangkan integrasi horizontal adalah penggabungan dua atau lebih lembaga pemasaran yang melakukan fungsi yang sama pada tahap distribusi yang sama pula ke dalam satu sistem manajemen. Yang dimaksud dengan integrasi adalah penggabungan kegiatan dalam pemasaran dalam satu sistem manajemen. Sedangkan analisis integrasi pasar secara vertikal digunakan untuk melihat secara kasar keadaan pasar pada tingkatan lokal. 2) seragamnya biaya pemasaran. kabupaten. Makna penting dari integrasi vertikal yakni akan menurunkan biaya pemasaran sehingga menguntungkan konsumen. kecamatan. Perilaku pasar dapat juga dilihat dari integrasi pasar. 3) praktek-praktek penentuan harga bebas dari kolusi dan taktik-taktik yang tidak jujur.

adanya perbaikan produk sehingga lebih tahan lama. keuntungan investasi dan pengembangan produk. Stiffel (1975) menyatakan bahwa tampilan pasar adalah hubungan struktur pasar dengan perilaku pasar dalam hal kebijaksanaan harga dan produk.2. Tampilan ini dapat diukur dari efisiensi penggunaan sumber daya. tidak adanya keuntungan monopsoni. maka: Pj = a0 + a1P1 (3) Berdasarkan kenyataan tersebut di atas. margin. Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share). lebih mudah diperbaiki dan sebagainya. Azzaino.Oleh karena itu jika pasar berada dalam keadaan bersaing sempurna. lembaga pemasaran ke-i : Ki Ski = x 100% (5) Pr − Pf Ki = Pji – Pbi – bij (6) Dimana : Ski = Share keuntungan lembaga pemasaran Ki = Keuntungan lembaga pemasaran . 2. perbaikan sistem pemasaran yang dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen.5 Tampilan Pasar Tampilan pasar merupakan hasil akhir yang timbul akibat penyesuaianpenyesuaian yang dilakukan oleh lembaga pemasaran pada struktur pasar tertentu di mana mereka beroperasi. Secara matematis dapat dinyatakan: Pf Fs = x 100% (4) Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Share keuntungan. Tampilan pasar dapat pula dipengaruhi oleh persaingan non harga. seperti upaya promosi. maka dapat disimpulkan jika: a1 < 1 → Terjadi monopoli penjualan dari lembaga pemasaran dari tingkat pasar yang satu dengan tingkat pasar yang di atasnya a1 = 1 → Pasar berjalan dalam keadaan bersaing sempurna a1 > 1 → Terjadi monopsoni pembelian dari lembaga pemasaran yang di atas dengan yang di bawahnya. (1981) menyatakan bahwa tampilan pasar dapat dilihat dari tingkat harga.

Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik. 1984). maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar. .Pji Pbi Pr Pf bij = Harga jual lembaga pemasaran ke-i = Harga beli lembaga pemasaran ke-I = Harga beli konsumen = Harga jual petani = Biaya yang dikeluarkan lembaga pemasaran 2. Bila harga konsumen itu kecil. kendatipun jumlah yang dipasarkan atau ditawarkan berubah dan pada kondisi yang lain margin pemasaran itu berubah. turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil. Margin pemasaran terdiri dari biaya untuk menyalurkan atau mendistribusikan atau memasarkan dan keuntungan lembaga pemasaran. misalnya harga suatu barang naik. tetapi biaya pemasaran tepat. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen.6 Margin Pemasaran Margin pemasaran dimaksudkan sebagai perbedaan harga suatu komoditas yang diterima produsen dengan harga yang dibayar konsumen. Jika fungsi penawaran elastisitas sempurna (horizontal) maka margin pemasaran konstan walaupun permintaan meningkat.2. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah. maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar (Atmakusuma. Dikatakan pula bahwa margin pemasaran dapat menjadi konstan pada kondisi-kondisi tertentu.

(3) adanya organisasi yang terorganisir dan tidak terorganisir. dan ditentukan oleh faktor-faktor berikut : (a) harga modal dari barang. permintaan dan tidak tergantung pada harga barang. Untuk mengurangi margin pemasaran dapat dilakukan dengan : 1) mengurangi biaya pemasaran. Mengurangi biaya pemasaran dapat ditempuh dengan cara : 1) mengoptimumkan jumlah dan besarnya lembaga pemasaran yang menyelenggarakan fungsi- . (b) jumlah komoditas yang dijual dan (c) keuntungan yang diperhitungkan sebagai cadangan dari penanggungan resiko. (4) kesediaan membayar dari pada konsumen terhadap suatu komoditas yang ingin dibelinya. maka margin pemasaran berikut pendistribusian akan berlainan. Hal ini disebabkan oleh besarnya biaya pemasaran yang ditentukan oleh jumlah atau volume penawaran barang. Keuntungan lembaga pemasaran merupakan bagian dari margin pemasaran. karena (1) sifat komoditas itu sendiri. misalnya untuk komoditas pertanian dengan sifat yang cepat membusuk atau perishable mempunyai resiko besar sehingga margin pemasaran yang lebih besar dari pada komoditas yang tahan lama. maka margin itu sebenarnya relatif stabil atau auflexility marketing margin. 2) memperbaiki sistem informasi pasar. (2) adanya perlakuan pengolahan hasil. memperkuat posisi tawar menawar (bargainning position) dari produsen dan 3) stabilitas harga produk.Apabila harga suatu komoditas tetap. apabila dibandingkan dengan perubahan harga.

Harga Sd Sp Pr Penawaran Turunan Penawaran Primer Pf Dd Dp Permintaan Primer Permintaan Turunan 0 Q Jumlah Gambar 2. processor maupun pengecer (grafik 2. .7 Fungsi Primer. oligopoly dan sebagainya. Usaha perbaikan biaya pemasaran dan tingkat keuntungan lembaga tersebut akan dapat meningkatkan efisiensi pemasaran. Keuntungan lembaga pemasaran yang berlebihan dapat pula diperkecil dengan cara : 1) memperbaiki resiko teknis dan ekonomis. 2) memperbaiki cara kerja dari setiap lembaga pemasaran. iklim usaha yang baik dan dengan cara menyederhanakan sistem distribusi barang.fungsi pemasaran. 2) memperbaiki struktur pasar yang bersaing terlalu hebat. Di dalam margin pemasaran terdapat dua komponen yaitu 1) biaya pemasaran (marketing cost) yaitu imbalan terhadap faktor-faktor yang dipakai dalam proses pemasaran terdiri dari upah. pedagang perantara.7). 2) marketing charge yaitu imbalan terhadap jasa yang diberikan oleh lembaga pemasaran mulai dari pedagang pengumpul. pedagang besar. misalnya monopsoni. bunga dan keuntungan. atau disebut juga sebagai pungutan balas jasa bagi lembaga pemasaran. Turunan dan Margin Pemasaran Thomek dan Robinson (1977) menyatakan bahwa margin pemasaran adalah perbedaan harga yang dibayar oleh konsumen dengan harga yang diterima produsen. sewa. misalnya dengan cara self service.

Sebaliknya jika selama periode pengadaan mulai dari produsen sampai ke konsumen terjadi perubahan harga. maka margin perhitungan akan lebih besar dari margin sebenarnya. terlihat bahwa margin pemasaran merupakan perbedaan harga konsumen (Pr) yang juga sebagai permintaan primer dengan harga yang diterima produsen (Pf) juga sebagai permintaan turunan dari suatu komoditas. 2) Faktor resiko.3 Kerangka Pemikiran Seiring dengan semakin meningkatkanya kesejahteraan masyarakat. 2. maka semakin tinggi pula kesadaran akan pentingnya pemenuhan gizi bagi keluarga. Adanya perubahan kualitas tersebut merupakan margin kualitas (quality margin) dan juga mengakibatkan margin perhitungan lebih rendah dari margin sebenarnya. Utamanya pemenuhan kebutuhan protein hewani yang berasal dari daging sapi maupun susu sapi segar yang meningkat setiap tahun. Begitupun dengan penawaran turunan (Sd) adalah penawaran yang terjadi di tingkat konsumen yang dilakukan oleh pedagang maupun oleh processor. Dengan demikian permintaan primer merupakan permintaan konsumen (Pr) sedangkan permintaan turunan (Pd) merupakan permintaan yang dihadapi oleh petani. maka diperkirakan akibat yang terjadi sebagai berikut: (a) harga di tingkat konsumen (Pr) naik margin perhitungan lebih kecil dari margin sebenarnya. Akibat terpisahnya pusat produksi dengan pusat konsumsi mengakibatkan pengadaannya di konsumen membutuhkan waktu. Dengan adanya resiko-resiko tersebut maka kualitas maupun kuantitas produk tersebut berkurang/menurun. Sedangkan permintaan turunan merupakan hubungan antara harga dan jumlah dalam mana petani bersedia menjual produknya. harga komoditas tersebut tetap. maka keadaan margin perhitungan sama dengan margin pada komoditas tersebut dijual kepada konsumen (margin sebenarnya). pengangkutan atau penyimpanan sering terjadi resiko rusak/susut sebagai akibat atau pengaruh iklim/cuaca atau hama/penyakit. Artinya selama periode pengadaan.Berdasarkan grafik 2.7 di atas. Penawaran primer (Sp) merupakan penawaran yang terjadi di tingkat produsen. . Permintaan primer merupakan permintaan atas harga dan jumlah pada tingkat konsumen. akibat sifat komoditas pertanian yang mudah rusak maka dalam proses tataniaga misalnya proses pengumpulan. Atmakusuma (1984) menyatakan bahwa faktor-faktor yang berpengaruh terhadap perhitungan margin tataniaga (pemasaran) adalah : 1) Waktu (time lag). Sebagai konsekwensi dari faktor waktu inilah menyebabkan perbedaan margin pada waktu pengumpulan dan pada waktu penjualan. (b) harga di tingkat konsumen (Pr) turun.

menjadikan Jawa Timur sebagai wilayah yang memberikan kontribusi terbesar terhadap kebutuhan susu segar nasional yaitu 41.15 persen.Jawa Timur yang merupakan salah satu setra produksi susu dengan jumlah populasi sapi perah sebanyak 134. Vincent (1996) mengemukakan bahwa permintaan suatu barang atau jasa pada dasarnya dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain: 1) harga dari barang atau jasa itu sendiri. 2008).335 ekor melalui dinas pertanian Kota Batu telah merencanakan untuk dikembangkan dan ditingkatkan terus populasi peternakan sapi rakyat sampai mencapai ± 15. 3) harga barang-barang atau . 2006). Kota Batu yang merupakan salah satu wilayah pengembangan sapi perah di Jawa Timur dengan populasi saat ini 6. Berkaitan dengan prediksi ke depan itu maka salah satu aspek yang sangat menentukan adalah pemasaran yang merupakan fokus utama dalam penelitian ini yakni bagaimana struktur. 2) pendapatan konsumen. Bertolak dari rencana pengembangan dan peningkatan populasi sapi perah itulah maka peluang untuk penambahan pedet jantan sapi perah melalui kelahiran akan sangat memungkinkan di masa yang akan datang. Walau demikian kebutuhan susu secara nasional masih di impor sebesar 65-70 persen sehingga peluang untuk meningkatkan populasi sapi perah masih terbuka luas (Anonymous. (Anonymouse. perilaku dan tampilan pasar terhadap pemasaran pedet jantan sapi perah dan faktor-faktor yang mempengaruhi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu.000 ekor lebih pada tahun 2006 yang tersebar di 34 wilayah kabupaten kota. Gaspersz.000 ekor yang akan disebar kepada petani peternak melalui Gabungan Kelompok Tani secara bertahap untuk 5 – 10 tahun ke depan bila kita inginkan petani peternak di Kota Batu sejahtera.

Pada kondisi pasar yang berbeda sistem pemasarannya pun berbeda (Teken dan Asnawi. 2) output berubah sedangkan input tetap. tingkat pendapatan dan ketersediaan dari barang atau jasa itu di masa yang akan datang. Harga yang dibayar oleh konsumen terhadap barang yang dibeli harus mencerminkan secara tepat semua biaya dan harga produk. Menurut Kohl dan Downey (1977). 5) selera konsumen. Struktur pasar menurut . 3) output meningkat dengan persentase yang lebih besar dari persentase peningkatan input dan 4) output menurun dengan persentase yang lebih kecil dibandingkan dengan persentase penurunan input.jasa yang berkaitan. maka pasar tersebut berada dalam keadaan persaingan yang tidak sempurna seperti monopoli/oligopoli maupun monopsoni/oligopsoni. Apabila tidak terjadi seperti ini. 1977). Struktur pasar dapat dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna dan pasar persaingan tidak sempurna. Efisiensi operasional diukur dengan ratio output pemasaran dengan inputnya.(7) pengeluaran iklan. 4) ekspektasi konsumen yang berkaitan dengan harga barang atau jasa. efisiensi pemasaran adalah peningkatan ratio output input yang dapat dicapai dengan : 1) output tetap sedangkan input berubah. Efisiensi operasional = Output pemasaran input pemasaran Selanjutnya efisiensi alokatif mengasumsikan bahwa output dan input dalam bentuk fisik tetap yang berhubungan dengan pencerminan biaya output yang bergerak melalui sistem pemasaran. 6) banyaknya konsumen potensial. 8) atribut atau fetures dari produk tersebut dan 9) faktor-faktor spesifik lain yang berkaitan dengan permintaan terhadap produk itu.

pasar monopoli. 3) kendala masuk pasar dan 4) diferensial produk. b) elastisitas suplai dan c) keadaan masuk pasar. sedangkan bila β1 < 1. Dahl dan Hammond (1977) menyatakan bahwa untuk mengukur struktur pasar dapat dilakukan dengan : 1) konsentrasi penjual. maka pasar cenderung ke arah monopoli dan jika β1 > 1 pasar cenderung ke arah monopsoni. pasar monopoli dan persaingan monopolistik. Koutsoyiannis (1982) membedakan struktur pasar menjadi pasar persaingan sempurna. King dan Carman. 2) konsentrasi pembeli. . 1991) menyatakan bahwa untuk mengetahui dua pasar terintegrasi atau tidaknya dapat dilakukan dengan analisis regresi dengan model persamaan sebagai berikut ini: PA = βo + β1PB + β2Tc + εt dimana PA = harga di tingkat pasar ke-1 PB = harga di tingkat pasar ke-I+1 βo = intersep β1 = koefisien regresi Tc = Selisih biaya transport εt = galat (7) Apabila koefisien β1 = 1 maka dapat dikatakan bahwa pasar dalam keadaan persaingan sempurna. Struktur pasar persaingan sempurna dapat dilihat dari koefisien regresi harga antara tingkat pasar tertentu dengan tingkat pasar yang lebih rendah. Sedangkan menurut Handerson dan Quandt (1980) struktur pasar terdiri dari pasar persaingan sempurna. monopsoni dan oligopsoni. (Sexton.Miller dan Meiners (1994) dibedakan menjadi pasar persaingan sempurna. Sedangkan menurut Stiffel (1975) bahwa struktur pasar menunjukkan karakteristik yang mempengaruhi perilaku dagang dan tampilannya yang dapat dilihat dari 3 unsur masing-masing : a) ratio konsentrasi. persaingan monopolistik dan pasar oligopoli.

.Tampilan pasar tergantung pada tingkat efisiensi dan produktifitas dari suatu perusahaan. 5) fungsi suplai output petani. 4) fungsi keuntungan pemasaran. Margin pemasaran. Sistim pemasaran pedet jantan sapi perah yang dilakukan petani peternak di Kota Batu belum efisien. 4. 2) margin pemasaran. Untuk mengukur tampilan pasar dilakukan dengan: 1) efisiensi pemasaran. 3. 2.4 Hipotesis 1. 3) analisis elastisitas transmisi harga. Harga pedet jantan sapi perah rata-rata lebih murah di tingkat pedagang perantara atau blantik. 2. 6) penggunaan input optimum dan 7) integrasi pasar yang dilakukan melalui integrasi secara vertikal dan integrasi secara horizontal. share harga dan keuntungan pemasaran dari pedet jantan sapi perah lebih tinggi di tingkat pedagang perantara atau blantik dibanding pemasaran langsung di pasar hewan. Terjadi beberapa pola saluran pemasaran pedet jantan sapi perah. sedangkan pola saluran yang paling dominan adalah pola saluran pemasaran dari petani langsung ke blantik (pedagang perantara).

Desa Tlekun . Bumiaji . Secara skematis lokasi penelitian disajikan sebagaimana skema berikut: Peta Lokasi Penelitian KOTA BATU Kec.Desa Sumberejo . Penentuan lokasi dengan cara purposive atau dengan cara sengaja yaitu untuk wilayah kecamatan. Junrejo Kec.Desa Dadaprejo . diambil seluruhnya yaitu Kecamatan Junrejo.Desa Junrejo .Kelurahan Songgokerto .Desa Oro-oro Ombo .Desa Giripurno . METODE PENELITIAN 3.Desa Gunungsari .1 Metode Penentuan Lokasi Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu yang meliputi anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Andhini Sejahtera yang tersebar di 9 desa/kelurahan pada 3 kecamatan dalam wilayah Kota Batu. Kecamatan Batu dan Kecamatan Bumiaji.Desa Tulungrejo . Batu Kec. Sedangkan penentuan lokasi penelitian di tingkat desa/kelurahan ditentukan berdasarkan tingkat kepadatan populasi sapi perah.III.

3.peternak responden dan lembaga-lembaga pemasaran dengan cara mengajukan pertanyaan yang . (2003) yaitu dengan mengambil sampel sebagai berikut. dengan syarat peternak yang dijadikan responden mempunyai ternak lebih dan 3 ekor.3 Metode Pengumpulan Data Pengambilan data primer langsung dari petani . dengan penentuan jumlah peternak sebagai responden 30 orang untuk peternak sapi perah. hal ini sesuai dengan Surachman (1989) dalam Sumarto. sehingga diperoleh 30 peternak sapi perah. sampel yang digunakan paling kurang 50 persen.15 persen.2 Metode Pengambilan Sampel Populasi pedet jantan tahun 2008 di wilayah kota Batu perah sebanyak 259 ekor. Untuk menentukan petani . 10 responden di kecamatan Batu dan 10 responden di kecamatan Bumiaji. Sedang penentuan jumlah responden pada tiap desa dengan cara proporsional purposive. Cara penentuan responden dengan purposive sampling yaitu petani peternak pemilik pedet jantan sapi perah. Hal ini sesuai dengan Arikunto (1997) dalam Sunarto (2002). sehingga didapat 10 responden di Kecamatan Junrejo. untuk populasi ternak yang jumlahnya kurang dari 100 ekor.1000 ekor dapat digunakan sampel 15 . populasi yang jumlahnya 100 .3. yaitu suatu teknik pengambilan atau penentuan sampel dengan tujuan tertentu dengan syarat ciri dan sifat populasi telah diketahui sebelumnya.50 persen dan populasi yang jumlahnya lebih dari 1000 ekor dapat digunakan sampel 10 .peternak responden dilaksanakan secara purposive sampling.

pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) pedet jantan sapi perah. 4. pedagang pengumpul dan pedagang perantara (blantik) mulai dari pintu gerbang petani peternak sampai di tangan konsumen yang dinyatakan dalam rupiah (Rp). . Sedangkan data sekunder diperoleh dari instansi-instansi yang terkait dengan masalah yang diteliti mulai dari tingkat desa sampai tingkat kota Batu. Keuntungan Pemasaran (merkezing profit) adalah selisih margin pemasaran dengan biaya pemasaran dinyatakan dalam rupiah (Rp).4 Definisi Operasional 1./ekor). 3. Harga di tingkat petani peternak adalah harga jual pedet jantan sapi perah yang merupakan hasil transaksi antara petani peternak dengan petani penggemukan. dinyatakan dalam jumlah satuan rupiah per ekor (Rp. Share harga yang diterima petani (farmer’s share) adalah bagian harga yang diterima petani peternak dari harga yang dibayar petani penggemukan.). 2. 5.telah dipersiapkan dalam bentuk kuesioner. petani penggemukan. Margin Pemasaran (marketing margin) adalah perbedaan harga di tingkat. pedagang pengumpul dan pedagang Perantara (blantik) dan dinyatakan dengan satuan rupiah (Rp. pedagang pengumpul dan pedagang perantara/blantik. 3. Biaya Pemasaran (marketing cost) adalah semua biaya yang dikeluarkan petani penggemukan.

Jumlah pemilikan pedet adalah jumlah pedet jantan sapi perah yang dimiliki petani peternak termasuk jumlah pedet yang sudah dijual dalam 2 tahun terakhir ini dan dinyatakan dalam satuan ekor.7 bulan baik sapi sapi perah. Pedet jantan adalah anak sapi yang berumur 0 . . 9. Responden adalah petani peternak atau salah satu anggotanya yang tinggal dalam satu atap/rumah baik sebagai anak atau istri yang dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan data yang dibutuhkan dalam penelitian ini. 3.5 Metoda Analisis Data Metoda analisis yang digunakan dalam penelitian ini secara garis besar dilakukan untuk menjawab tujuan dari pada penelitian ini.6. Biaya transportasi adalah semua biaya yang dikeluarkan oleh pedagang untuk mengangkut ternak dari daerah asal/tempat petani peternak sampai pasar ternak dinyatakan dalam satuan rupiah (Rp) 10. 7. Pada tahap pertama adalah untuk menganalisis : a) efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah yang selama ini dilakukan oleh petani peternak. Penampilan data nilai jual pedet jantan sapi perah merupakan hasil wawancara dari petani peternak responden dan lembaga-lembaga seluler pemasaran. b) menganalisis pengaruh cara pembayaran dan perbedaan jarak tempat tinggal petani peternak dan pasar hewan yang diterima petani peternak. 8.

Analisis Konsentrasi Ratio Yang dimaksudkan dengan konsentrasi ratio dalam penelitian ini adalah jumlah pedet jantan sapi perah dan pedet jantan sapi potong yang dibeli oleh pedagang tertentu dibandingkan dengan jumlah yang diperdagangkan.3. perilaku dan tampilan pasar. Conduct dan Performance (S-C-P) 3.1 Analisis Struktur Pasar Pendekatan yang dipergunakan untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi di Kota Batu adalah a) analisis konsentrasi ratio (Kr).5. Hay dan Morris dalam Widiyantana (1995) menyatakan bahwa . perilaku dan tampilan pasar (S-C-P). Namun demikian secara empiris pendekatan yang sering digunakan oleh para peneliti untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah pendekatan struktur.1.1 Analisis Efisiensi Pemasaran Sesungguhnya sampai dengan saat ini belum ada indikator yang pasti/baku yang dapat dipergunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran. sebagaimana yang dikemukakan oleh Saefuddin (1982) bahwa untuk mengetahui efisiensi pemasaran di negara-negara yang sedang berkembang lebih tepat digunakan pendekatan struktur. b) analisis elastisitas transmisi harga dan c) analisis deskriptif a.5. Oleh karena itu dalam menganalisis efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di Kota Batu digunakan pendekatan Structure.

2002) adalah: Et = dPn/dPf. maka dilihat elastisitas transmisi harganya.Pf/Pr Dimana: Et d Pr d Pf Pr Pt’ : Elastisitas transmisi harga : Perubahan harga di tingkat pengecer : Perubahan harga di tingkat petani : Harga di tingkat pengecer : Harga di tingkat petani (8) . Apabila terdapat empat pedagang yang mempunyai Kr minimal 80% maka pasar tersebut mempunyai tendensi ke persaingan oligopsoni dengan konsentrasi tinggi. Sedangkan apabila terdapat delapan pedagang dengan Kr minimal 80% maka tendensi pasar tersebut mengarah ke struktur pasar oligopsoni dengan konsentrasi sedang. Kr = Jumlah yang dibeli × 100% Jumlah yang diperdagangkan Dikemukakan pula bahwa apabila terdapat satu pedagang yang mempunyai Kr minimal 95% maka pasar cenderung ke pasar persaingan monopsoni. Model yang digunakan menurut (Sudiyono.konsentrasi ratio (Kr) dapat diketahui dengan menggunakan rumus berikut. Transmisi Harga Untuk melihat hubungan elastisitas harga di tingkat petani dengan elastisitas harga di tingkat pedagang perantara. b.

LSD Uji LSD didalam penelitian ini memanfaatkan fasilitas uji lanjut dari analisis varian yang pada apalikasinya memanfaatkan program aplikasi SPSS 15.b). d. dan prosentase. Analisis Deskriptif Analisis deskriptif dipergunakan untuk mendeskripsikan karakteristik responden. .Kemudian margin pemasaran (M) merupakan fungsi linier dari harga di tingkat pengecer yaitu: M= a+ b Pr. Analisis deskriptif yang dipergunakan meliputi nilai maksimum.Pf/Pr c. maka Pr = Pr + a± b Pr atau dapat ditulis Pr = (Pf+ a) / (1-b) Persamaan di atas dapat ditulis kembali menjadi: Et = 1/(1 . minimum. Penerapan uji LSD dimaksudkan sebagai uji bandingan untuk mengetahui signifikansi perbedaan volume perdagangan pedet sapi perah jantan dan harga jual pedet sapi perah jantan. ratarata.

908.377 ha (23%).42 peran dan total luas wilayah Jawa Timur. 2006). indah dan dingin (Anonymous.1 Topografi Topograti kota Batu sebagian besar wilayah perbukitan dan dikelilingi oleh gunung-gunung yang tinggi sampai sedang.44’ .BAB IV GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN 4.1600 m dpl. (2) kecamatan Junrejo 26.189 ha (64%).26’ LS. Secara administrasi kota dibagi menjadi 3 wilayah kecamatan yang meliputi 20 desa dan 4 kelurahan.72 ha atau 0.17’ .1. daerah lereng dan berbukit dengan proporsi lebih luas yang diikuti dengan dataran rendah yang lebih sempit (anonymous.57’ BT dan 7°. menjadikan kota Batu memiliki alam yang subur. dengan luas wilayah masing-masing kecamatan sebagai berikut: (1) kecamatan Batu 46. 2006). Dari sisi geografi posisi kota Batu berada pada ketinggian 700 in . 45 . 4.8°.1 Letak dan Luas Wilayah Kota Batu terletak pada 122°. Luas wilayah Kota Batu 19. dan total luas wilayah Kota Batu. dan secara umum dibagi menjadi 2 bagian utama yaitu.122°.234 ha (13%) dan (3) kecamatan Bumiaji 130.

(2) Jenis tanah kambisol yaitu. jenis tanah yang kurang subur dan mengandung kapur. Ini berarti lebih basah dibanding tahun sesudahnya.89 ha. kecamatan Junrejo 741.1. kecamatan Junrejo 1.1.85 ha. Kota Batu mengikuti perubahan putaran 2 iklim.00 ha dan kecamatan Bumiaji 408. 4.19 ha dan kecamatan Bumiaji 2.395.31 ha. kecamatan Junrejo 199. musim hujan dan musim kemarau.3 Jenis Tanah Kondisi kesuburan tanah dibagi menjadi 4 jenis tanah yaitu: (1) jenis tanah Andosal merupakan tanah paling subur.04 ha. 2006).395. meliputi kecamatan Batu 889. Musim hujan dimulai pada bulan September dan diakhiri pada bulan Juni.2 Curah Hujan Seperti tempat lain di Indonesia.526.873. Kondisi cuaca relatif lebih kering dari tahun 2006 sampai 2007 dibanding tahun-tahun sebelumnya. . meliputi: kecamatan Batu 1.831. jenis tanah yang cukup subur.5 mm/bulan dengan rata-rata hari hujan 128 hari. (3) jenis tanah alluvial yaitu. rata-rata tinggi curah hujan mencapai 111 mm/bulan dengan jumlah hari hujan sebanyak 108 hari. 2006).85 ha.25 ha dan kecamatan Bumiaji 1.4. namun hari hujan lebih sedikit (Anonymous.86 ha. dengan rata-rata curah hujan 97.34 ha.61 ha (Anonymous. dan (4) jenis tanah latosol meliputi kecamatan Batu 260. meliputi kecamatan Batu 239. Kecamatan Junrejo 217. Sementara pada periode sebelumnya.93 ha dan kecamatan Bumiaji 1.

Dengan demikian posisi kota Batu sangat strategis sekali karena di semua wilayah perbatasan ini telah tersedia jalan raya yang dapat mendukung mobilitas kegiatan pembangunan pertanian terutama dalam pemasaran produk pertanian (Anonymous. Sebelah selatan berbatasan dengan kabupaten Blitar dan kabupaten Malang. Hal ini . 4. sapi potong. 2006). Sehingga dibandingkan dengan usaha ternak yang lain maka ternak sapi perah sangat baik dikembangkan di Kota Batu.4. ayam ras. Ternak sapi perah perkembangannya cukup baik di Kota Batu.2 Keadaan Umum Peternakan Masyarakat Kota Batu sudah sejak lama memelihara serta membudidayakan ternak. Usaha peternakan rakyat di Kota Batu menempati posisi kedua setelah usaha tani tanaman. puyuh dan itik serta ternak kuda sebagai transportasi wisata (Anonymous. kelinci. ayam buras. kambing perah. Sebelah barat berbatasan dengan kabupaten Malang.1. Sebelah timur berbatasan dengan kabupaten Malang. Jenis-jenis ternak yang dipelihara meliputi. kambing/domba. 2006).4 Batas Wilayah Batas-batas wilayah Kota Batu adalah: Sebelah utara berbatasan dengan kabupaten Mojokerto dan kabupaten Pasuruan. sapi perah. karena selain didukung oleh iklim yang cocok juga memiliki kepastian dalam pemasaran hasil produksi.

.365 : 2.374 : 25.703 : 7.2.500 ha sejak tahun 1999.335 : 2. Dan tak kalah penting limbah dari pertanian juga merupakan alternatif lain sebagai bahan pakan ternak sapi perah.800 : 52. 4.mengingat kota Batu termasuk kota tujuan wisata sehingga kebutuhan akan susu segar oleh hotel dan restoran dan usaha-usaha yang bergerak di bidang jasa makanan sangat mendukung perkembangan usaha sapi perah baik saat ini maupun masa yang akan datang.787 : 3.000 Sumber : Dinas Pertanian Kota Batu Triwulan I 2008 Kaitannya dengan perkembangan ternak sapi perah maka usaha ternak sapi perah ke depan memiliki prospek untuk ditingkatkan.688 : 86.1 Data Populasi Ternak Populasi ternak di kota Batu sesuai data Populasi ternak sampai semester I tahun 2008 adalah: Sapi perah Sapi potong Kambing Domba Kelinci Ayam Petelur Ayam Pedaging Ayam Buras Burung Puyuh : 6.400 : 77. hal ini karena ketersediaan makanan ternak yang disebar oleh dinas pertanian kota Batu kepada masyarakat dalam bentuk paket-paket proyek sebanyak 1.

1 Keadaan Umum Daerah Penelitian Penelitian ini dilakukan di Kota Batu Jawa Timur yang tersebar pada 9 desa/kelurahan di 3 kecamatan yang ada di kota Batu. Sedangkan untuk mengetahui perbedaan harga pedet jantan sapi perah antara harga di tingkat petani peternak dengan harga yang terjadi di tingkat lembaga pemasaran maka dilakukan juga penelitian pada masing-masing lembaga tersebut yaitu 10 responden petani penggemukan.Desa Dadaprejo .Desa Tulungrejo .Desa Gunungsari . HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 5. Sebagai responden adalah anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Sapi Perah Batu Bersatu sebanyak 30 responden.Desa Tlekung Kecamatan Batu .Desa Junrejo . sehingga jumlah keseluruhan responden dalam penelitian ini adalah 60 orang.Desa Giripurno .Kelurahan Songgokerto Kecamatan Bumiaji . 10 responden pedagang pengumpul dan 10 responden pedagang perantara (blantik). Adapun lokasi daerah penelitian adalah : Kecamatan Junrejo .Desa Sumberejo .V.Desa Oro-Oro Ombo .

Secara umum prasarana transportasi tidak ada kendala. baik secara perorangan maupun berkelompok telah melakukan kerja sama dengan PT Perhutani sebagai pemilik lahan hutan untuk disewakan kepada petani peternak untuk menanam tanaman hijau makanan ternak. . Walaupun rata-rata kepemilikan lahan untuk kebun HMT sangat sempit antara 0. Khusus tentang tenaga kerja secara umum semuanya menggunakan anggota keluarga.5 ekor setiap keluarga.0. dan dari pengamatan lebih banyak petanipeternak menggunakan mobil pick up. 5.2 Sistem Pemeliharaan Ternak Pada umumnya pemeliharan ternak sapi perah di Kota Batu telah dilakukan secara intensif dimana Kehidupan dan berproduksi secara keseluruhan dilaksanakan di dalam kandang dan ditangani oleh peternak dan keluarganya. juga bahwa usaha tani ternak rata-rata masih menjadi usaha sampingan dan usaha keluarga. namun sebagian besar petani peternak di Kota Batu.3 . (HMT) dan ini sangat mendukung aktifitas kegiatan usaha peternakan sapi perah yang dikembangkan di Kota Batu. karena selain kepemilikan ternak rata-rata 3 . dapat dilakukan dengan menggunakan mobil. sehingga dalam melakukan penjualan pedet dan ternak masyarakat lainnya.5 Ha untuk setiap petani.

Visualisasi karakteristik petani penggemukan sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: . dengan rata-rata umur 40 tahun (39.00 35.00 34. 5.00 52.00 36.00 39.5.00 48.83 tahun). dengan rata-rata umur 39 tahun.00 33. Dari 30 responden yang diteliti petani peternak yang terbanyak berumur 32 tahun.3%.00 47.00 45.00 46. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5.00 40.3 Karakteristik Responden Responden dalam penelitian ini terdiri dari petani peternak sapi perah 30 orang.1 Karakteristik Petani Peternak Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 Rata-rata umur responden petani penggemukan berkisar antara 34 .55 tahun. Dari 10 responden yang.00 37.52 tahun.3.1 Umur Responden Rata-rata umur responden petani peternak sapi perah berkisar antara 31 . petani penggemukan 10 orang. serta pedagang perantara atau blantik sebanyak 10 orang. 35.00 51. pedagang pengumpul 10 orang.00 55.00 32.00 38. dan 45 tahun yang masing masing sebesar 13.

00 40.52 tahun.00 39.00 37.00 45. .00 34.00 43.00 45.3 Karakteristik Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Berdasarkan Umur umur Umur 36.00 35.00 39. Dari 10 responden yang diteliti pedagang pengumpul yang terbanyak berumur 41 tahun yaitu sebesar 20%.00 Sedangkan untuk responden pedagang perantara/ blantik yang termuda berusia 31 tahun dan yang paling tua berusia 52 tahun. dengan rata-rata umur 41 tahun.00 37. Visualisasi karakteristik petani peternak sapi perah berdasarkan umur dapat dilihat dalam diagram pie berikut: Diagram 5.00 Responden yang berprofesi sebagi pedagang pengumpul berkisar antara 36 .00 41.2 Karakteristik Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.Diagram 5.00 38.00 40.00 52.00 52.00 36.

00 45.00 34. Visualisasi umur pedagang perantara dapat dilihat dalam diagram pie sebagai berikut: Diagram 5.4 Karakteristik Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Berdasarkan Umur umur Umur 31.00 40.2 Pendidikan Responden Responden dalam penelitian ini mempunyai latar belakang pendidikan formal yang bervariasi mulai dari sekolah dasar hingga perguruan Tinggi.00 5.00 36.3.00 35.00 39.00 52.00 37.Pedagang perantara yang paling banyak berusia 45 tahun yaitu 20%. Visualisasi tingkat pendidikan formal untuk petani peternak dapat dilihat dalam diagram sebagai berikut: .

sedangkan yang paling sedikit adalah yang pernah menempuh pendidikan formal dibangku Perguruan Tinggi yaitu sebanyak 1 orang atau 3.Diagram 5.5 Tingkat Pendidikan Formal Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA PT Diagram 5.6 Tingkat Pendidikan Formal Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah . Visualisasi tingkat pendidikan formal petani penggemukan ditampilkan dalam diagram pie berikut: Diagram 5.3%.5 di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal terbanyak yang pernah ditempuh oleh peternak sapi perah adalah SLTP yaitu sebanyak 15 responden atau 20%.

Petani penggemukan yang paling banyak adalah yang pernah menempuh pendidikan di bangku SLTP yaitu sebanyak 7 orang atau 70%.7 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah . diagram tingkat pendidikan pedagang pengumpul dapat dilihat sebagai berikut: Diagram 5. Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh petani penggemukan tidak jauh berbeda dengan tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul.Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram pie di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal petani penggemukan bervariasi antara SD hingga SLTA. Dan yang paling sedikit adalah tamatan sekolah dasar yaitu sebanyak 1 orang responden atau 10%.

Pendidikan Pendidikan SD SLTP SLTA Diagram di atas menggambarkan bahwa tingkat pendidikan formal pedagang pengumpul bervariasi antara SD. Tingkat pendidikan formal yang pernah ditempuh oleh pedagang pengumpul yang paling banyak adalah bangku SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%.00 . SLTP. dan SLTA.00 2.00 3. Diagram 5.8 Tingkat Pendidikan Formal Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah Pendidikan Pendidikan 1.

Tingkat pendidikan formal yang paling banyak pernah ditempuh oleh pedagang perantara adalah SLTP yaitu sebanyak 6 responden atau 60%.7 30 100 10 100 Sumber : Diolah dari data primer 2008 10 100 10 100 .3 6 60 7 23.3 Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden Jumlah anggota rumah tangga pada responden berkisar antara 3-7 orang.1 : Rincian Jumlah Anggota Rumah Tangga Responden di Wilayah Penelitian Tahun 2008 Responden Jumlah ART Petani Peternak F 3 4 5 6 7 Jumlah Petani Penggemukan F % Pedagang Pengumpul F 4 4 2 Pedagang Perantara/ Blantik F 4 5 1 - % % 40 40 20 % 40 50 10 2 6. 5. sedangkan yang paling sedikit adalah SD yaitu sebanyak 1 responden atau 10%.3 10 10 6 20 2 6. Sebagai perbandingan rincian jumlah ART pada penelitian ini seperti pada tabel berikut ini: Tabel 5.Diagram diatas menggambarkan tingkat pendidikan formal pedagang perantara atau blantik.7 3 30 13 43.3.

00 .00 II 6-11 13 30.3. 5. Tabel 5. Sedangkan yang dimaksud dengan lama pemeliharaan adalah waktu yang diperlukan seorang petani peternak dalam memelihara ternak sapi terhitung mulai memelihara.Petani peternak.3% hingga 60%. petani penggemukan.4 Pengalaman Berusaha dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Yang dimaksud dengan pengalaman berusaha ternak sapi perah dan sapi perah sampai dengan saat penelitian ini dilaksanakan dan mungkin akan terus berlanjut di masa-masa yang akan datang atau dengan kata lain sudah berapa lama petani peternak memelihara ternak sapi. dan pedagang perantara atau blantik dalam penelitian ini semua telah berkeluarga.34 III 12-16 1 3. yang berkisar antara 43.33 IV >17 1 3. Jumlah anggota rumah tangga yang paling banyak adalah 4 orang.33 30 100. pedagang pengumpul.2 Pengalaman Berusaha Dan Lama Pemeliharaan Ternak Sapi Perah Periode Kisaran Lama Pemeliharaan waktu Responden (th) Jumlah %) (org) Responden : Petani Peternak Sapi Perah I 2-5 15 50. Dengan demikian pengelolaan sapi perah selama ini tidak menggunakan tenaga kerja dari luar karena sudah dipenuhi oleh anggota rumah tangga sendiri.

sehingga dari sisi teknis budidaya ternak. namun masih rendah dalam meningkatkan mutu dan kualitas usaha tani. . 5. Peternak sapi perah Yang dimaksud dengan jumlah pemilikan ternak adalah jumlah ternak sapi perah yang dimiliki peternak responden di wilayah penelitian dan jumlah pedet jantan yang dapat dijual.00 III > 21 1 10.3.5 Status Pemilikan Ternak Yang dimaksud dengan status kepemilikan ternak adalah kedudukan atau posisi terhadap ternak sapi yang sedang dipelihara.6 Jumlah Pemilikan Ternak a.00 II 13-20 2 20.00 10 100.3.Responden Lembaga Pemasaran I 4-12 7 70.00 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Menyimak tabel 2 diatas dan keterangan saat wawancara selama penelitian bahwa keseluruhan petani peternak responden dalam pemeliharaan ternak sapi merupakan hasil pengembangan ternak milik sendiri yang merupakan peninggalan orang tua. Dari hasil wawancara saat penelitian bahwa status ternak sapi dari petani peternak responden adalah kepemilikan hak milik sendiri yang dikembang responden ternak sapi perah. 5. seperti ditunjukkan pada tabel berikut ini. rata-rata responden telah menguasai. karena sistem yang digunakan masih bersifat tradisional.

3: Jumlah Pemilikan Dan Jumlah Penjualan Pedet Jantan Sapi Perah Dari Petani Peternak Tahun 2008 Strata Pemilikan (ST)(Ekor) Responden Jumlah % Penjualan Jumlah % 10.3. pemeliharaan 2–4 .34 31. 5.83 0 100 0-3 3 9. Pada dua tahun terakhir hal ini berlaku untuk semua strata pemilikan ternak.79 44.3 4 9-10 2 6.66 13 10 < 0 0 0 Jumlah 30 100 29 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Pada tabel di atas untuk petani peternak sapi perah responden memiliki atau memelihara ternak sapi perah berkisar pada 4-5 ekor ternak lebih banyak (50.03 13.7 Kondisi Pendapatan Petani Peternak Dari Setiap Ekor Pedet Yang Dijual Hasil temuan dalam penelitian ini pada peternak sapi perah. rata-rata selama pemeliharaan pedet jantan berdasarkan lama pemeliharan sampai dijual adalah untuk periode pemeliharan 0–2 bulan membutuhkan biaya Rp 530.00%) yang diikuti dengan skala pemilikan 6-8 ekor ternak.Tabel 5.83%) jumlah pemilikan sebagaimana yang diperlihatkan pada tabel 4 diatas sudah termasuk jumlah pedet yang dijual.000.99 3 4-6 15 50 9 6-9 10 33. dan untuk penjualan pedet terbanyak terdapat pada pemilikan 9-10 ekor ternak (44.

000. Dalam penelitian ini ditemukan bahwa rata-rata petani peternak sapi perah menjual pedetnya ke blantik karena alasan selain langsung memperoleh uang serta juga tidak mau direpotkan dengan biaya transportasi. Sedangkan biaya transportasi dalam pengangkutan ternak dari kandang ke pasar hewan rata-rata antara Rp 50. . dan periode pemeliharaan 4–7 bulan sebesar Rp 670.000 – Rp 75.000. karena rata-rata penjualan pedet setiap kali hanya 1 ekor ternak. Perlu diketahui bahwa pengggunaan pakan hijauan pada periode umur pemeliharaan ini rata-rata belum digunakan.bulan membutuhkan biaya Rp 595.000 untuk 1 mobil pick up/truk.

Sementara saluran pemasaran dari ternak pedet jantan sapi perah masih didominasi oleh Pedagang Peranta (blantik).222.480.55 3.500. karena alasan cepat mendapat hasil penjualan atau uang kontran. pemasaran pedet jantan sapi perah rata-rata tidak mengalami kendala.097.189.44 4.66 3.00 2.154. 5.00 2.44 2.55 3.189.44 4.470.22 3.44 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Penggemukan Sumber : Diolah dari data primer 2008 Bila diperhatikan selisih harga antara penjualan melalui blantik dan penjualan langsung ke pasar ternak tidak berbeda jauh.4: Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Tahun 2006-2008 Jual Melalui Tahun 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 2006 2007 2008 Harga Jual Rata-rata 2.00 4. namun disayangkan bahwa dalam menentukan harga belum menggunakan berat hidup.154. tetapi berdasarkan taksiran dan umur ternak.190.22 4.231. karena harga dalam tabel di atas tidak termasuk biaya transport dan retribusi sehingga petani peternak memilih penjualan melalui blantik lebih dominan.4 Sistem Pemasaran Ternak Pada prinsipnya. Fenomena lain dari penjualan .Tabel 5.230.

dan tampilan pasar (SCP) 5.ternak adalah bila terjadi musim kemarau karena kekurangan bahan pakan sehingga kecenderungan peternak menjual ternak-ternaknya.5. Dalam penelitian ini juga ditemukan bahwa kecenderungan peternak menjual ternak-ternak mereka pada saat lebaran dan hajatan keluarga. tetapi juga dapat dilihat dari elastisitas harga dan konsentrasi pasar. perilaku. a.1 Analisis Struktur Pasar Untuk mengetahui struktur pasar ternak sapi dalam hal ini pedet jantan sapi perah di Kota Batu tidak hanya dengan melihat banyak penjual dan pembeli di pasar. Skema Saluran Pemasaran Ternak Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Peternak 65% 12. Analisis transmisi harga .3% 12% Blantik 10.7% Pedagang Pengumpul Petani penggemukan Pasar Hewan 5..5 Analisa Efisiensi Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Untuk mengetahui efisiensi pemasaran pedet jantan sapi perah di kota Batu dapat dilakukan dengan struktur.

pedagang pengumpul.038) =(5. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0. maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 853 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22.492) =0.218) (0. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat pedagang pengumpul sebesar Rp 1. petani penggemukan.000.130 + 0.492 yang .90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang pengumpul (Rp/ekor) Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung.654 =1.580) (22. dan pedagang perantara/blantik. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan harga pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPf = 760.853.Analisis transmisi harga atau disebut juga analisis fleksibelitas transmisi harga dilakukan untuk mengetahui respon harga pedet jantan sapi perah ditingkat peternak karena perubahan harga yang terjadi di tingkat.853 lnPp Se tstat R2 ttabel Pf Pp = (136.

jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai

η = 0,654, dapat diartikan bahwa perubahan harga pada tingkat
petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan harga pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPf = 780,790 + 0,852 lnPg Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (138,191) (0,039) =(5,650) (22,039) =0,644 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat petani penggemukan (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,852, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 852 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,039 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,644, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan

mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 64, 4%. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk

pedagang perantara atau blantik adalah: LnPf = 773,158 + 0,850 lnPb Se tstat R2 ttabel Pf Pg = (135,742) (0,038) =(5,696) (22,485) =0,654 =1,90 = Harga ditingkat peternak (Rp/ekor) = Harga di tingkat pedagang perantara (Rp/ekor) Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 0,850, berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan harga di tingkat petani penggemukan sebesar Rp 1.000, maka akan meningkatkan harga pada tingkat petani peternak sebesar Rp 850 besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 22,485 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 1,90. Sedangkan nilai η = 0,654, dapat diartikan bahwa

perubahan harga pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan harga pada tingkat petani peternak sebesar 65, 4%.

Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas harga pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul, petani penggemukan, maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda. Tiap perubahan harga Rp 1000 rupiah akan meningkatkan harga pedet pada petani peternak sekitar Rp 850. Dari hasil analisis regresi linear di atas menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke erah persaingan sempurna. Selain itu indikasi bahwa pasar pedet sapi perah jantan ke arah sempurna adalah jumlah pembeli dan penjual cukup banyak sehingga peranan pembeli maupun penjual secara individual tidak mampu mempengaruhi harga pasar yang ada dengan meningkatkan jumlah pembelian maupun jumlah penjualan; Dalam keadaan pasar persaingan sempurna, petani tidak mungkin dapat mempengaruhi harga pasar secara individu.

b. Analisis konsetrasi ratio (Kr) Yang dimaksud dengan konsentrasi ratio adalah berapa persen volume transaksi yang dikuasai oleh beberapa pedagang. Rata-rata volume transaksi antara pedagang yang satu dengan yang lain tidak sama kemampuannya. Ada yang mampu membeli rata-

rata hanya 6 ekor setiap bulan dan ada yang mampu membeli sampai 30 ekor setiap bulan .

2 Analisis Perilaku Pasar Analisis perilaku pasar dilakukan untuk mengetahui praktek-praktek penentuan harga dalam pasar.82 7.27 8. 5.6 4.9 6.81 12.42 % 19 15 13 11 10 9.97 20.96 7.59 11.58 6.11 8. Dilihat dari konsentrasi volume perdagangan yang pada keseluruhan pedagang tidak ada yang mencapai 80% maka struktur pasar pedet sapi perah jantan di kota Batu mengarah pada persaingan Oligopson.67 5.44.11 8.44 100 100 % 22.81 12. dan konsentrasi paling kecil pada petani penggemukan sebesar 14. kemudian pasar blantik sebesar 24.15 6.93 13. Sedangkan untuk Blantik konsentrasi volume paling besar dibanding pedagang lainnya karena petani peternak lebih suka menjual pedet sapi perahnya ke blantik dengan alasan cepat mendapat hasil penjualan.06 5 4.55 15.97 15.26.79 132 100 24.5 Volume Transaksi dan Konsentrasi Ratio Pedagang Perantara Di Kota Batu Tahun 2008 Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40. Adanya perbedaan konsentrasi ini juga disebabkan oleh adanya perbedaan jumlah pedagang yang ada.59 11.93.19 4.36 11.5.19 4.22 14.89 8.42 4.44 100 14.93 5 3.85 7.22 14.15 6.67 5. baik secara kualitatif maupun secara .44 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Apabila disimak tabel di atas Konsentrasi rasio paling besar terdapat pada pasar hewan yaitu sebesar 40.58 8.93 5.42 113 99.33 7. Sebagai misal rasio konsentrasi pada petani penggemukan lebih kecil dari rasio konsentrasi pasar hewan.93 5.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.2 6.89 8.36 6. pedagang pengumpul 20.37.15 11.Tabel 5.6 100 % 21.19 4.96 6.9 4. hal ini disebabkan oleh jumlah pedagang dipasar hewan jumlahnya lebih banyak dibanding dengan jumlah petani penggemukan.26 % 26.

688 lnPp = (2. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna karena selisih konsentrasi tidak terlalu besar dan tidak mencapai angka 80.44 40. sedangkan penentuan harga secara kuantitatif dapat dijelaskan dengan analisis regresi linear sederhana.26 24. Hasil analisis regresi linear sederhana dengan menggunakan bantuan program komputer SPSS untuk perubahan volume perdagangan pada tingkat pedagang pengumpul diperoleh persamaan sebagai berikut : LnPt Se tstat = 12. Praktek penentuan harga secara kualitatif dapat dijelaskan secara deskriptif.6 di atas menggambarkan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24.832) (0.kuantitatif.37 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.209) =(4.640) . Tabel 5.93 14.331 + 3.44.26.355) (17. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20.93 dan petani penngemukan sebesar 14.6 : Volume Transaksi Dan Konsentrasi Ratio Antara Saluran Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah Di Kota Batu Tahun 2008 Pasar Pedagang Pengumpul Petani Pengemukan Blantik Pasar Hewan Volume Transaksi 113 77 130 218 Konsentrasi Rasio 20.

308) (0. Sedangkan nilai η = 0.975.640 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 3.975 = 2.334 lnPg = (5.688.228 = Volume Perdagangan pedet Sapi Perah Total = Volume perdagangan di tingkat pedagang pengumpul Karena persamaan di atas maka elastisitas dapat dihitung.227) .228. maka akan meningkatkan volume perdagangan total sekitar 3 sampai 4 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 17.4%. Hasil analisis regresi sederhana untuk perubahan volume perdagangan pedet sapi perah jantan pada tingkat petani penggemukan diperoleh persamaan sebagai berikut: LnPt Se tstat = 12.436) (9. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan Volume perdagangan pedet jantan sapi perah di tingkat pedagang pengumpul sebesar 1 ekor. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan sapi perah total 97.R2 ttabel Pt Pp =0.578) =(2.929 + 5.

227 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pedagang perantara atau blantik adalah: LnPt Se tstat R2 ttabel Pt = -0.228 = Volume perdagangan pedet sapi perah jantan total = Volume perdagangan di tingkat petani penggemukan Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 5.169 + 4.914.104 lnPb = (4.228. 4%.470) =0.329) =(-0.914 =2. besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 9.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total . berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume di tingkat petani penggemukan sebesar 1 ekor.951 =2.R2 ttabel Pt Pg =0. Sedangkan nilai η = 0. maka akan meningkatkan volume perdagangan sapi perah jantan total sebesar 5 – 6 ekor.334. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan pedet sapi perah pada tingkat petani penggemukan akan mempengaruhi perubahan volume perdagangan total sebesar 91.861) (0.035) (12.

951.228.833) (13.14%. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat blantik sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 4 – 5 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.228 = Volume Perdagangan Sapi perah total .995 + 2.890 lnPh Se tstat R2 ttabel Pt = (4.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2.944) =0. Sedangkan nilai η = 0.Pg = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pedagang perantara Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 4. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat blantik akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 95.961 =2.907) (0. Secara logis konstata yang bernilai negatif tidak ditafsirkan karena tanpa ada pedagang perantarapun masih ada perdagangan pedet sapi perah.206) =(-1.104. Sedangkan persamaan regresi sederhana untuk pasar hewan adalah: LnPh = -8.

5.228. Tiap perubahan karena hampir secara keselurauhan berpengaruh lebih dari 90 % hal ini menunjukan adanya persaingan yang sempurna.951. digunakan pendekatan atau .890.470 yang jauh lebih besar dari ttabel yang besarnya 2. maupun melalui blantik tidak terlalu jauh berbeda. dapat diartikan bahwa perubahan volume perdagangan sapi perah pada tingkat pasar hewan akan mempengaruhi perubahan volume total pada tingkat petani peternak sebesar 96. berdasarkan angka ini dapat diketahui bahwa jika terjadi perubahan volume perdagangan di tingkat pasar hewan sebesar 1ekor maka akan meningkatkan volume perdagangan total sebesar total 2 – 3 ekor besarnya pengaruh perubahan ini dapat dianggap signifikan apabila memperhatikan nilai tstat sebesar 12.3 Analisis Tampilan Pasar Untuk mengetahui tampilan pasar ternak sapi perah di Kota Batu yang dilakukan petani peternak.Ph hewan = Volume Perdagangan Sapi perah di tingkat pasar Hasil perhitungan menunjukkan koefisien regresi 2. Sedangkan nilai η = 0.5. petani penggemukan. Dari uraian di atas dapat diketahui bahwa elasitisitas perubahan volume perdagangan pedet sapi perah yang dijual ke pedagang pengumpul.1%.

analisis farmers share atau share harga yang diterima petani peternak Tampilan pasar ini juga dapat diukur dari bagian harga yang diterima oleh petani (farmer’s share).7 Share Harga Ternak Sapi Perah Yang Diterima Petani Peternak Untuk Setiap Desa Di Kota Batu Tahun 2008 Ratarata 99.084 dan tertinggi Rp 104. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga ditunjukan dalam tabel hasil uji LSD sebagai berikut: .776 Taraf Nyata 95% Batas Batas Bawah Atas 93.084 93.533 hingga Rp 99.776 2.908 Standar Error 2.776 2.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93.7 di atas terlihat bahwa rata-rata share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98.458 104.357 Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Blantik Sumber : Diolah dari data primer 2008 Berdasarkan tabel 5.862 93.312 98. Secara matematis dapat dinyatakan: Fs = Pf x 100% Pr Dimana : Fs = Farmer’s share Pf = Harga jual di tingkat petani Pr = Harga jual di tingkat pengecer Hasil Perhitungan share harga ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.983 104. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak.761 103.157.533 98. Bagian harga yang diterima merupakan ratio antara harga penjualan petani dengan harga penjualan pengecer atau harga konsumen.

918 . .3322 7.92624 Blantik Petani Penggemukan . Bila harga konsumen itu kecil. Error Pedagang Pengumpul Penggemukan .92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.4854 .0815 -8.92624 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.Tabel 5. 95% Confidence Interval Sig.92624 Petani Pedagang Perantara/ .843 .7786 3.9283 7.8 di atas menginformasikan bahwa share harga yang diterima petani baik melalui petani penggemukan.3322 8.8.1108 -7.8 Perbandingan perbedaan share harga yang diterima petani menggunakan LSD Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.4039 3.924 . Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0. a.92624 Pedagang Perantara/ -.918 .4854 -8.05.924 -7.7786 3. pedagang pengumpul. maupun pedagang perantara tidak terdapat perbedaan yang signifikan.0815 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Hasil Uji LSD pada tabel 5. Pada umumnya margin pemasaran bersifat dapat berubah menurut waktu dan keadaan ekonomi dan tergantung pula pada harga yang dibayar konsumen.1108 6. Lower Bound Upper Bound .3746 3. Analisis Margin Pemasaran Margin pemasaran adalah perbedaan harga di tingkat konsumen yang dalam penelitian ini adalah harga pedagang perantara dengan harga yang diterima oleh produsen atau petani peternak.92624 Based on observed means. bahkan seluruhnya berada di atas 0.3029 8.3029 -8.9283 8.3746 3.4039 3.843 -6.

489 3987.500 4242.9 di atas memberi gambaran bahwa harga pedet sapi perah jantan dari tahun ke tahun mengalami peningkatan. misalnya harga suatu barang naik.083 3218. . maka harga yang diterima produsen menjadi lebih besar.083 5353.000 3212. Jika pada tahun 2006 harga pedet usia 0.239 5134.2 Bulan 2 .823 3047.417 2211.417 dengan estimasi harga terendah Rp. maka produsen akan menerima harga yang relatif lebih besar.4 Bulan 3 .667 3266.594 5572.344 3431.687 111. Biasanya margin pemasaran itu bersifat fleksibel secara relatif atau tidak banyak berubah.656 4022.511 2430.667 2210.156 2993. Dan bila harga yang dibayar oleh konsumen naik.9 Harga Pedet Sapi Perah Jantan Berdasarkan Umurnya Tahun 2006-2008 5.687 111.410. Error 111. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 .7 Bulan Mean 1410.844 2429.927 4461.177 3437.687 111.2 Bulan 2 .687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.333 4207.2 Bulan 2 .927 4426.823 1990.511 3485.2 bulan rata-rata Rp 1.7 Bulan 0 .687 111. Perubahan harga pedet sapi perah jantan berdasarkan umurnya dari tahun 2006 sampai dengan tahun 2008 ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.239 2999.687 111. tetapi biaya pemasaran tepat.750 Std.906 2007 2008 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.4 Bulan 3 .261 1629.7 Bulan 0 .turun/berkurang maka produsen menerima harga yang relatif rendah/kecil.573 1992.687 111.687 111.687 111.4 Bulan 3 .

003 .299 Based on estimated marginal means *.210.978 .659 -190.880 .851 dengan harga jual ke pedagang pengumpul.629.192 -209.815* 105. Sedangkan perbandingan harga pedet jantan sapi perah ditampilkan dalam tabel sebagai berikut: Tabel 5.733 225.474 -85.696 Sig.1.963 105.005 .299 Blantik -15.548 190.585 203.858 .10 Perbandingan Harga Pedet Sapi Perah Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std.474 88. serta perbedaan keadaan sapi perah yang diperdagangkan.192 501.659 209.889 105.852* 105.858 .191.156 adanya perbedaan variasi harga ini juga disebabkan adanya perbedaan saluran perdagangan.000 dengan estimasi harga terendah Rp 1. 2. .05 level.585 -187.696 222.844 dan harga tertinggi Rp.299 Petani Penggemukan 15.548 -517.926 105.299 Blantik 294.006 . Jika harga pedet sapi perah di pasar hewan diasumsikan sebagai harga dari peternak ke konsumen maka ada selisih harga rata-rata sebesar Rp 291.229 -203.926 105.299 Petani Penggemukan Pasar Hewan -310.003 .437 -88. Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.10 di atas menunjukan perbedaan rata-rata harga pedet sapi perah tanpa memperhitungkan biaya transportasi. The mean difference is significant at the .741* 105.299 Petani Penggemukan 18. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85.880 Sumber : Diolah dari data primer 2008 Tabel 5.429.216 dan harga tertinggi Rp 1.511 187.741* 105.978 . a.363 -104. pada tahun 2007 meningkat menjadi rata-rata Rp 2.006 .733 -222.815* 105.118 -225.229 498.573.299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291.299 Blantik Pasar Hewan -294.118 517.852* 105.005 .299 Petani Penggemukan 310.990.437 104.a .299 Pedagang Pengumpul -18.963 105.889 105.299 Pedagang Pengumpul -2.363 -498. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).299 Blantik 2.511 -501.

667 Rp110.000.296 25.778 Rp100.000 Rp3.870 100 Sumber : Diolah dari data primer.000 Rp249.000.010.selisih harga sebesar Rp 294.000.519 42.00 Rp25. Share Keuntungan Pedagang Salah satu pendekatan yang digunakan untuk mengetahui efisiensi pemasaran adalah distribusi keuntungan diantara lembaga pemasaran.094. dan selisih Rp 310.00 Rp1.560. b.000. 2008 .172. Tabel 5.700.000.560.11 Distribusi Keuntungan (Profit Margin) Pedagang Dalam Pemasaran Pedet Jantan Sapi Perah di Kota Batu Tahun 2008 Komponen Biaya Komponen Biaya Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Harga Beli Transport Jumlah Harga Beli Transport Retribusi KTA Jumlah Harga Beli Pakan Obat Tenaga Kerja Transport Jumlah Rp1.278 Rp3.333 24.000 Rp93.560.00 Rp3.814 dengan harga jual ke pedagang perantara/ blantik.00 Rp3.704 Rp3.000 Rp2.000 Rp269.740 ke petani penggemukan.704 Rp75.5 Rp1.301.00 Rp8.500 Rp100.519 Keuntungan Rupiah Share Rp473.00 Rp3.000 Rp85.34 Jual Melalui Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Rp3.000.667 Rp3.722 8.200.000 Rp25.191.188.04 Petani Penggemukan Rp3.466.000 Rp3.000 Rp85.483.12 Estimasi Harga Jual Rp3.290.

Rata-rata dalam penentuan harga hanya berdasar kebiasaan dan taksir saja. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien.5 dari margin. sedangkan harga di tingkat petani peternak cenderung tetap bahkan menurun. Struktur pasar yang ada mengarah ke persaingan duopsoni menyebabkan pedagang perantara mampu mendapatkan keuntungan yang lebih besar.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara. . dan petani penggemukan 8. Hal ini menyebabkan margin pemasaran semakin besar. Tingginya Keuntungan pedagang perantara ini mungkin disebabkan oleh karena dalam menjual ternaknya petani peternak tidak menggunakan standar harga yang ada.. Dengan demikian petani peternak sebagai pemilik pedet jantan sapi perah belum memperoleh harga yang layak dan wajar sesuai dengan jerih payah yang mereka keluarkan.Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25.12.

Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Indikasi bahwa tidak ada perbedaan yang signifikan share harga Hal ini ditandai dengan nilai signifikansi yang seluruhnya jauh lebih besar dari 0. Share harga yang diterima petani peternak di daerah penelitian ini sebesar Rp 98. hal ini juga berarti bahwa harga di tingkat pedagang terintegrasi secara sempurna dengan harga di tingkat petani peternak. Hasil analisis konsentrasi rasio menunjukan bahwa konsentrasi rasio tertinggi ada pada pedagang perantara yaitu sebesar 24.533 hingga Rp 99. Hasil analisis regresi linear menunjukan bahwa pengaruh peningkatan harga terhadap petani peternak relatif sama yaitu Rp 850 tiap perubahan kenaikan harga Rp 1.084 dan tertinggi Rp 104.26. dan petani .VI. kemudian diikuti oleh pedagang pengumpul sebesar 20. 2.312 dengan share harga terendah sebesar Rp 93.44.93 dan petani penggemukan sebesar 14. Hal ini menunjukan bahwa konsentrasi mengarah pada pasar persaingan sempurna.000 Hal ini menunjukan bahwa pasar cenderung ke arah persaingan sempurna.12. 3.05.1 Kesimpulan 1. Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24. bahkan seluruhnya berada di atas 0.8. Hal ini mengindikasikan bahwa petani peternak di daerah ini sudah menerima harga yang layak. KESIMPULAN DAN SARAN 6.157.04%dari margin pada tingkat pedagang perantara.

Sedangkan keuntungan pedagang pengumpul sebesar 24.04% dari margin pada tingkat pedagang perantara.12. b) Diperlukan campur tangan pemerintah dalam mendukung diberlakukannya standar harga berdasarkan berat hidup ternak. Keuntungan pedagang perantara merupakan yang terbesar yakni 25. Hasil perhitungan share keuntungan. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. 6. dan petani penggemukan 8.5 dari margin. karena distribusi keuntungan yang tidak merata antara para pedagang. sehingga tidak menimbulkan biaya-biaya ekstra yang dapat merugikan petani peternak. d) Perlu dipertimbangkan agar Gapoktan dapat berfungsi sebagai salah satu lembaga perantara dan atau sekaligus bertindak selaku pedagang perantara . c) Perlu dilakukan pembayaran segera setelah ternak sapi perah ditimbang.2 Saran Berdasarkan kesimpulan yang disarikan dari penelitian ini. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien. 4. maka upaya yang perlu dilakukan adalah dengan mendekatkan atau menyiapkan tempat penimbangan ternak ke tempat tinggal petani peternak. maka diharapkan kepada: a) Petani agar dalam menjual ternaknya menggunakan standar harga yang telah ada yakni berdasarkan berat badan hidup ternak.penggemukan 8.5 dari margin. Hal ini menunjukkan bahwa sistem pemasaran pedet di Kota Batu belum efisien.

dalam pemasaran ternak sapi perah maupun produk-produk peternakan pada umumnya di Kota Batu. .

Malang. Institut Pertanian Bogor. Laporan Triwulan Dinas Pertanian Kota Batu. Atmakusuma. Departemen Pertanian. 1997. Dahl. Dale C. Faminow. W. _________. Y. Direktorat Perguruan Tinggi Swasta. Asmarantaka. Bogor. McGRAW-Hill Book Company. R. Benson. Market and Price Analysis. Badan Pendidikan dan Latihan Pertanian. Pengantar Tataniaga Pertanian. 1977. 1984. Jurusan Sosial Ekonomi. Philip. 2008. Fanani. 1991. Volume 72 Number 1 February 1990. Garcia. Darma Setiawan. & Bruce L. Anonymous. Tataniaga Pertanian. Analisis Pemasaran Jagung di Daerah Sentra Produksi Lampung. Merle D. 1991. 1993. _________. Spatial Market Integration.DAFTAR PUSTAKA Alhusniduki. 2006. Tesis S2 Fakultas Pascasarjana IPB. Kota Batu. 2000. The Agricultural Industries. Bogor. (1994). Tataniaga Peternakan. Basis Risk: Measurement and Analysis of Basis Fluctuation for Selected Livestock . American Journal of Agricultural Economics. Universitas Lampung. 1996. Z. Agribisnis. 2006. Fakultas Peternakan IPB. I Made. 1981. Dirjen Pendidikan Tinggi. Bahan Penataran Perguruan Tinggi Swasta Bidang Pertanian Program Kajian Agribisnis.) Pada Sentra Produksi Rumput Laut di Kecamatan Nusa Penida Bali. _________. Azzaino. _________. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. Z. Jakarta. Universitas Brawijaya. Batu Dalam Angka Badan Perencanaan Daerah. 1985. Tesis S2 Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. Leuthold dan Mohamed Sarhan. Ramond M. Dinas Peternakan Propinsi Jawa Timur. Hamdi. Analisis Pemasaran Rumput Laut (Eucheuma Sp. Proposal Pemasaran Bidang Peternakan Pasca Tahun 2000. Tim Pusat Studi Kebijakan Pangan dan Gizi.

J. Macmillan Publishing Company. 1996. 1991. S. Teknik Penarikan Contoh untuk Penelitian Survei. Damodar. Microeconomic Theory. Marketing of Agricultural Product. Penerbit Tarsito Bandung. Konsumsi dan Pemaaran Bunga di Jawa Timur. 1985. _______________.N. Penerapan Konsep-konsep Ekonomi dalam Bisnis Total. Basic Econometrics. 1991b. Collar. Penerbit Tarsito Bandung. Denpasar. Hiersieifer. Fifth End. M. M. Kohls & Url. Idrus. Alih Bahasa Kusnedi. Ekonomi Manajerial. Majalah Ilmiah Fakultas Ekonomi Universitas Brawijaya Malang. Buku Satu. New York.. Iksan Semaoen. 1994. I Wayan Widyantara. Richard E. McGRAQ-Hill International Book Company. Teori Harga dan Aplikasinya. Pustaka Gramedia Jakarta. Oxford University Press. Laporan Penelitian Universitas Brawijaya Malang. 1996. Koutsoyiannis. Modern Microeconomics. International Student Edition. Gujarati. Handerson. Volume 66 Number 4 November 1994. Morris. A. Perilaku dan Penampilan Pasar.Markets. McGRAW-Hill International Company. Lintasan Ekonomi. J. _______________. 1989. Kajian Keragaan Pasar dan Prospek Daya Saing Komoditas Jambu Mete. International Student Edition. 1982. . Second Ed. Vincent. Industrial Economic and Organization. Thirt Edition. M. Makalah pada Kongres XI dan Kongres XII PERHEPI. Penerbit Erlangga Jakarta. 1996. (Southeast Asian Reprint). 1995. 1991a. 9 – 11 Agustus 1996. American Journal of Agricultural Economics. Buku dua. Quandt. Komisariat PERHEPI Surakarta. Gaspersz. Pemasaran Panili di Bali. Theory and Evidence. Penerbit Tarsito Bandung.. Kiptiyah. 1980. Ekonometrika Terapan. Penerbit PT. Ekonometrika Terapan. 1980. James. Second Edition. _______________. Hay.

Pengantar Pemasaran Pertanian. 1994. Kontribusi Usaha Ternak Terhadap Pendapatan Rumahtangga Petani Lahan Kering di Kabupaten Kupang. H. Tawaf. Depdikbud. Sulaeman dan Tonton S. Miller. ________. Prospek Pembangunan Dinamika dan Tantangan Pembangunan Nusa Tenggara Timur.. Penerbit Yayasan Citra Insan Pembaru Kupang. Sampling Design and Procedures. Makalah yang disampaikan pada Seminar Nasional Pengembangan Sapi Potong di Indonesia dalam Era Pasar Bebas di Fakultas Peternakan Universitas Brawijaya Malang. Program Pascasarjana. dkk. Diktat Pemasaran Hasil Pertanian. 1994. Cristina. 1985. Analisis Permintaan Daging Sapi di Kota Administratif Kupang. R. Volume 66 Number 4 November 1984. LP3ES Jakarta. Agroindustri Sapi Potong. Papers on Survey Research Metodology. 1991. Jakarta. Gregor Neonbasu. Prospek Pengembangan pada PJPT II. American Journal of Agricultural Economics. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. Petzel. 1994. Penerbit Yasaguna Jakarta. Al. Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Brawijaya Malang. Menggerakkan dan Membangun Pertanian. LeRoy. PT. Laporan Hasil Penelitian. dan T. 1994. Pengantar Ekonomi Pertanian. PPA (Pusat Pengembangan Agribisnis). Mubyarto. Meiners. 1993. Rochadi. 1999. 1973. Porwadarminto. Ch. Universitas Brawijaya Malang. Udiantono. CIDES (Center for Information and Development Studies. 1993. Kamus Umum Bahasa Indonesia. 1976. et. 1993. dkk. M. Market Integration. Liliwen. Tawaf H.an). Teori Ekonomi Mikro Intermediate. Bahasa. Parel. Laporan Penelitian. Raja Grafinda Persada Jakarta Bekerjasama dengan McGRAW-Hill Inc. Fakultas Peternakan Universitas Nusa Cendana Kupang. Masyrofie. Alo. Pembinaan. Roger E. 1995. Monke E.Lalus. Strategi Pengembangan Industri Peternakan Sapi Potong Berskala Kecil dan Menengah. Pengembangan. Rochadi. Prospek Usaha Sapi Potong oleh Gerakan Koperasi Menghadapi Era Pasar Bebas. . M. Mosher. T. UQ (Jurnal Ilmu dan Kebudayaan Ulumul Qur. Pellokila. A. F.

Universitas Indonesia Jakarta. Masri. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Edisi Revisi. Prinsip Dasar Ekonomi Pertanian. Singarimbun. Laurence D. Ekonometrik. 1991. Effiency of Arbitrage and Imperfect Competition : Metodology and Application to U. Sudiyono. Relevance of Ruminant in Upland Mixed Farming System in East Java Indonesia.S. Soekartawi. Buku Dua. Program Pascasarjana Universitas Brawijaya Malang. 1991. Iksan. Schroeter. Hoy F. Teori Ekonomi Mikro. Pengantar Teori Mikro Ekonomi. CV. Fakultas Pertanian IPB. Volume 73 Number 3 August 1991. Fakultas Pertanian Institut Pertanian Bogor. _________. Buku Satu. Teori dan Aplikasi. S. Raja Grafindo Persada Jakarta. Ekonometrik. I. Supranto. Asnawi. Manajemen Pemasaran Hasil-hasil Pertanian. C. 1983. 1981/1982. Perlof. 1990. Sukirno. Edisi Pertama. Sadono (1995). Ifar. 1984. Metode Penelitian Survai. Power and Risk. Pengantar Ekonomi Mikro. Sexton. American Journal of Agricultural Economics. Semaoen. Pengantar Pemasaran Pertanian. Teori dan Aplikasinya. 1975. Armand. Penerbit PT. King. 1989. Sudarsono. 1993. Rajawali. American Journal of Agricultural Economics. Ahmad. LP3ES. Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi. Raja Grafindo Persada Jakarta. Fakultas Pertanian. Universitas Indonesia Jakarta. Pemasaran Produk Pertanian. Penerbit PT. Subagiyo. Volume 73 Number 4 November 1991. Joh and Jeffrey M. American Journal of Agricultural Economics. Teken. Malang. Carman. 1977. . 1996. Marketing Margin. Penerbit LP3ES Jakarta. Bogor. Edisi Kedua. Imperfect Competition in a Vertical Market Network: The Case of Rubber in Thailand. 1989. 1995. B. J. Market Integration. Stiffel. Celery. 1996. Soekartawi. Jakarta. Printed by: Ponsen en Looijen BV. Teori Ekonomi Mikro. Volume 57 Number 4 November 1975. L. Richard J. Sofian Effendi.Saefuddin. Universitas Muhammadiyah. Jakarta.

. Agricultural Product Prices. Lembaga Penelitian IPB (1996) Bekerja Sama dengan Kantor Menteri Negara Urusan Pangan. Tomek. 1993. 1977. Studi Analisis Keterpaduan Pasar pada Sistem Pemasaran Komoditas Strategis. I Made. Ketidakstabilan Harga Anggur di Tingkat Petani di Kecamatan Grokgak Kabupaten Buleleng. Tesis S2 Universitas Gajah Mada KPK Universitas Brawijaya Malang. Cornell University Press. Ithaca and London. Wardana.Tim Peneliti dari Pusat Studi dan Kebijakan Pangan dan Gizi. William G.

3 13.3 3.00 38.00 32.0 23.3 3.3 96.7 53.0 Valid 31.00 47.0 63.00 48.3 3.00 35.00 39.00 55.0 83.00 46.3 3.00 51.3 3.3 3.7 3.3 3.3 3.3 3.3 10.00 Total .7 100.00 33.3 86.3 3.3 3.3 6.0 6.3 6.3 13.7 46.3 100.00 45.00 40.3 10.3 13.Lampiran Karakteristik Responden Petani Peternak Pedet Jantan Sapi Perah Frequency Table Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 30 0 Lama Beternak Sapi Perah 30 0 N Valid Missing Pekerjaan 30 0 Umur 30 0 Pendidikan 30 0 Jumlah Ternak 30 0 Umur Frequenc y 1 4 1 1 4 3 2 1 1 1 4 1 1 1 2 1 1 30 Percent 3.0 Cumulative Percent 3.7 93.7 80.0 6.3 3.3 3.3 3.3 13.3 3.7 60.7 20.00 37.0 Valid Percent 3.7 3.7 3.3 13.3 16.3 3.3 76.3 100.3 56.3 13.00 36.00 34.3 36.00 52.7 3.

7 50.0 Cumulative Percent 30.0 Valid SD SLT P SLT A PT Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequenc y 2 13 7 6 2 30 Percent 6.0 16.7 43.0 50.3 100.0 Cumulative Percent 6.7 3.0 Valid Percent 30.00 3.7 100.3 93.0 6.3 20.7 100.0 Valid 2.0 50.00 Total .7 100.Pendidikan Frequenc y 9 15 5 1 30 Percent 30.0 73.7 43.00 4.0 Valid Percent 6.0 16.00 5.3 23.7 3.0 96.3 23.0 80.3 20.3 100.0 6.3 100.00 7.

Karakteristik Responden Petani Penggemukan Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table
Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 60.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

34.00 35.00 36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 7 2 10 Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Valid Percent 10.0 70.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 80.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 3 6 1 10 Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Valid Percent 30.0 60.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 30.0 90.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Pengumpul Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies
Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0

N

Valid Missing

Umur 10 0

Pendidikan 10 0

Frequency Table

Umur Frequency 1 1 1 1 1 2 1 1 1 10 Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Valid Percent 10.0 10.0 10.0 10.0 10.0 20.0 10.0 10.0 10.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 20.0 30.0 40.0 50.0 70.0 80.0 90.0 100.0

Valid

36.00 37.00 38.00 39.00 40.00 41.00 43.00 45.00 52.00 Total

Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Valid Percent 10.0 60.0 30.0 100.0 Cumulative Percent 10.0 70.0 100.0

Valid

SD SLTP SLTA Total

Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 4 2 10 Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Valid Percent 40.0 40.0 20.0 100.0 Cumulative Percent 40.0 80.0 100.0

Valid

3.00 4.00 5.00 Total

Karakteristik Responden Pedagang Perantara/ Blantik Pedet Jantan Sapi Perah
Frequencies

0 100.0 70.0 10.0 50.0 20.00 34.00 52.Statistics Jumlah Anggota Rumah Tangga 10 0 3.0 100.0 Valid Percent 40.0 10.0 10.00 52.0 10.0 100.0 60.00 39.0 Valid Percent 10.0 100.0 30.0 10.0 100.0 10.00 35.0 10.4000 31.00 36.00 3.0 70.0 100.0 100.00 Pendidikan 10 0 2.0 10.0 10.0 Valid Percent 10.0 50.0 Cumulative Percent 40.00 Frequency Table Umur Frequency 1 1 1 1 1 1 1 2 1 10 Percent 10.0 90.00 37.0 Valid SD SLTP SLTA Total Jumlah Anggota Rumah Tangga Frequency 4 5 1 10 Percent 40.00 40.0 10.0 10.0 10.00 Total Pendidikan Frequency 1 6 3 10 Percent 10.0 Valid 31.0 10.00 N Mean Minimum Maximum Valid Missing Umur 10 0 39.0 100.2000 1.0 10.0 10.00 45.0 60.0 90.0 60.00 4.0 20.0 100.00 5.0 30.00 Total Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Harga Pedet Sapi Perah Regression .0 Cumulative Percent 10.7000 3.0 Cumulative Percent 10.0 40.0 20.00 5.0 30.0 50.0 Valid 3.0 10.

Error Beta 760.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Pedagang Pengumpu a l Variables Removed Method .000 a.114 F 505.887 Sig. All requested variables entered.853 . Harga Melalui Pedagang Pengumpul b.130 136. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Pedagang Pengumpul Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.038 .580 22.000 .654 Adjusted R Square . Predictors: (Constant). b. Enter a. Predictors: (Constant). Error of the Estimate 1025.809 t 5.492 Sig.000a Regression Residual Total a. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R .652 Std. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression .809a R Square .218 . Harga Melalui Pedagang Pengumpul ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531918651 1051457.40583 a. . .

191 .000a Regression Residual Total a.15811 a. Harga Melalui Petani Penggemukan ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 523752211 1081928.642 Std.802 t 5. Predictors: (Constant).650 22. .Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melalui Petani Penggemu a kan Variables Removed Method .002 Sig. Predictors: (Constant). Error Beta 780. Error of the Estimate 1040. b.903 F 484.790 138. All requested variables entered.091 Sig.000 a. .039 . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R .644 Adjusted R Square .852 . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Regression . Harga Melalui Petani Penggemukan b.000 . Enter a.802a R Square . Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Petani Penggemukan Unstandardized Standardized Coefficients Coefficients B Std.

Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan Model Summary Mode l 1 R . Harga Melalui Blantik ANOVAb Mode l 1 Sum of Squares 5E+008 3E+008 8E+008 df 1 268 269 Mean Square 531805793 1051878.227 F 505. b. Error 773. .654 Adjusted R Square .577 Sig.61115 a.850 .038 Standardized Coefficients Beta . Predictors: (Constant).000 a.742 .808 t 5. All requested variables entered.Variables Entered/Removed b Mode l 1 Variables Entered Harga Melaluia Blantik Variables Removed .808a R Square .696 22. Predictors: (Constant).485 Sig. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan a Coefficients Mode l 1 (Constant) Harga Melalui Blantik Unstandardized Coefficients B Std.000 .000a Regression Residual Total a. Error of the Estimate 1025.652 Std. Harga Melalui Blantik b. Method Enter a.157 135. Dependent Variable: Harga Jual Ke Pasar Hewan . .

Predictors: (Constant).000a Regression Residual Total a.956 t 2.578 F 85. b. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta . . Error 1 (Constant) 12.956a R Square .Hasil Analisis Regresi Linear Sederhana Volume Perdagangan Pedet Sapi Perah Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Petani Penggemu a kan Variables Removed .308 Petani Penggemukan 5.227 Sig.622 7784. Petani Penggemukan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7115.14209 a. Petani Penggemukan b.041 .914 Adjusted R Square . Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .135 Sig. .903 Std.578 a.378 668.334 .378 83. Error of the Estimate 9. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std.929 5. Predictors: (Constant). Method Enter a.000 df 1 8 9 Mean Square 7115.000 . All requested variables entered.436 9.

Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Unstandardized Coefficients Model B Std. Error 1 (Constant) 12. Predictors: (Constant).000a Regression Residual Total a.975 Adjusted R Square .000 df 1 8 9 Mean Square 7588.832 Pedagang Pengumpul 3.93839 a.898 195.000 . Predictors: (Constant).640 Sig.002 .209 a. Error of the Estimate 4. Pedagang Pengumpul b.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pedagang a Pengumpul Variables Removed .898 24.972 Std. Dependent Variable: Volume Total Standardized Coefficients Beta .388 F 311.688 . Method Enter a.177 Sig. Pedagang Pengumpul ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7588. Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .987 t 4. All requested variables entered.987a R Square . b. .102 7784. .355 17.331 2.

Dependent Variable: Volume Total .501 7784. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Pasar Hewan Unstandardized Coefficients B Std.000 df 1 8 9 Mean Square 7478. .907 2.188 F 195. All requested variables entered.206 Standardized Coefficients Beta . Error -8.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered Pasar a Hewan Variables Removed .499 305.980 t -1. Method Enter a.995 4. Predictors: (Constant).17961 a. Pasar Hewan b. Error of the Estimate 6.836 Sig.000a Regression Residual Total a. b. Pasar Hewan ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7478.000 a. .890 .980a R Square .104 . Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R .961 Adjusted R Square .499 38. Predictors: (Constant).833 13.956 Std.994 Sig.

975 t -.130 47. Predictors: (Constant).104 .035 12.951 Adjusted R Square .973 .499 Sig.169 4.329 Standardized Coefficients Beta .975a R Square . Dependent Variable: Volume Total Model Summary Model 1 R . .000 a.609 F 155. Blantik b. Dependent Variable: Volume Total . All requested variables entered. b. Predictors: (Constant).130 380.000 df 1 8 9 Mean Square 7403.Regression b Variables Entered/Removed Model 1 Variables Entered a Blantik Variables Removed .470 Sig.89991 a.861 4. Dependent Variable: Volume Total a Coefficients Model 1 (Constant) Blantik Unstandardized Coefficients B Std.000a Regression Residual Total a. . Method Enter a. Error -. Error of the Estimate 6.870 7784.945 Std. Blantik ANOVAb Model 1 Sum of Squares 7403.

5 Tahun 694705180.00 4.549 .Hasil Analisis Varian Perbandingan Harga Pedet Jantan Sapi Perah Univariate Analysis of Variance Between-Subjects Factors Umur 1.543 Umur * Tahun 2908444.483 (Adjusted R Squared = .029 Sig.4 Bulan 3 .000 .449E+010 1080 Corrected Total 3020309250 1079 a.00 3.00 3.00 1.185 12 43098.895 Umur * Tahun * Jual 517185.048 .2 Bulan 2 .747 Tahun * Jual 357245.765 Error 1562734333 1044 1496871.943 242.111 Umur * Jual 13916356.3 Jual 18175879. R Squared = . .6 2 347352590.48 6 2319392.000 1.000 .0 2 363497312.746 .159 1.370 6 59540.000 .967 Total 1.00 2.00 Value Label 0 .821 7663.465) F 27.00 1.000 Estimated Marginal Means .052 4.007 .619 Intercept 1.00 2.7 Bulan 2006 2007 2008 Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak N 360 360 360 360 360 360 270 270 270 270 Tahun Jual Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Harga Type III Sum Source of Squares df Mean Square Corrected Model 1457574917a 35 41644997.000 .040 .838 232.444 4 727111.486 1.147E+010 1 11471940750 Umur 726994625.00 3.00 2.63 3 6058626.

229 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3186.192 3 .000 The F tests the effect of Umur.970 4414. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).024 -898. The mean difference is significant at the . Error 0 . .417 4287.7 Bulan -2007.976 2186.774 -751.083* 91.833* 91.000 .917* 91.833* 91. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 7.113 3083. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means. Error 64. Tahun .053 2406.000 .000 .893 1109.482 64.500 Std.143 1256.4 Bulan -930.2 Bulan 930.967 F 242.893 -2186. 3.4 Bulan 3 . 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1109.4 Bulan 0 .1.192 3 .219 2.192 2 .7 Bulan -1077.05 level.000 a.2 Bulan 2 .000 .083* 91. Umur Estimates Dependent Variable: Harga Umur 0 .192 Based on estimated marginal means *.5 1496871.583 3210.167 Std.6E+009 1044 Mean Square 363497312.887 3336.143 1828.024 Sig.7 Bulan Mean 2279.838 Sig.857 -1828.482 64.000 .4 Bulan 1077.115 3332.774 -1256.3E+008 2 Error 1. Error 37.030 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Umur (J) Umur Std.2 Bulan 2 .482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2153.192 2 .2 Bulan 2007.7 Bulan 0 .192 3 .947 4160.976 751.a . Grand Mean Dependent Variable: Harga Mean 3259.917* 91.857 898.

192 .9E+008 2 Error 1.000 The F tests the effect of Tahun.412 859.674 3318.528 4259. Error 64.458 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 3337.458 74.771 3042.135 -859.458 74.704 3172.278* 91.882 .192 4386.000 2007 2006 925.720 2422. 4. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.519 3191.563 3337.252 Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I-J) (I) Tahun (J) Tahun Std.052 Sig.532 2142.6E+009 1044 Mean Square 347352590.338 1104.194* 91.482 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2169.338 -2142.623 3045.a 2006 2007 -925.458 74.000 2008 -1038.192 . . 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound -1104.218 -1217. Jual Estimates Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Pedagang Pengumpul Blantik Petani Peternak Mean 3483.412 -1784.722 Std. The mean difference is significant at the .778 Std.192 .278* 91. Error 74.218 -746.000 2008 -1963.194* 91.000 Based on estimated marginal means *.254 1217.808 3026.192 .250 3221.Estimates Dependent Variable: Harga Tahun 2006 2007 2008 Mean 2296.780 3094. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 6.192 .192 .482 64.414 3629.058 4133.3 1496871.600 3334.532 746.667 3188.482 64.135 a. Error Sig.967 F 232.000 2008 2006 1963.472* 91.05 level.000 2007 1038.998 3348. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).472* 91.254 1784.

687 111.906 2007 2008 .261 1629.363 -104.585 203.511 2430.823 3047.118 -225.880 . This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.239 5134.005 .4 Bulan 3 .963 105.192 -209.474 -85.005 .967 F 4.003 .511 3485.696 222.229 -203. 95% Confidence Interval for a Difference Lower Bound Upper Bound 85.437 -88.741* 105.815* 105.239 2999.889 105.543 1496871.548 190.500 4242.573 1992.927 4426.489 3987.733 225.858 .048 Sig.858 .344 3431.299 Petani Peternak Pasar Hewan -310.687 111.687 111.299 Blantik 2.687 111.4 Bulan 3 .2 Bulan 2 .299 Petani Peternak 15.687 111.656 4022.299 Petani Peternak 18.083 5353.333 4207. Error Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291.585 -187.299 Blantik Pasar Hewan -294.7 Bulan 0 .000 3212.852* 105.852* 105.6E+009 1044 Mean Square 6058626.926 105.299 Pedagang Pengumpul -18.7 Bulan Mean 1410.815* 105.118 517.a .844 2429.299 Blantik 294. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments).299 Pedagang Pengumpul -2.363 -498.4 Bulan 3 .659 209.474 88.299 Blantik -15.667 3266.156 2993. 5.437 104.2 Bulan 2 .006 .05 level.548 -517.667 2210.741* 105.687 111.594 5572.511 -501.299 Petani Peternak 310.978 .417 2211.7 Bulan 0 .733 -222.659 -190.823 1990.687 111. Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Tahun 2006 Umur 0 . Error 111.963 105.750 Std.177 3437.007 The F tests the effect of Jual.299 Based on estimated marginal means *.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Harga Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Std.978 .687 111.696 Sig.192 501.2 Bulan 2 . . The mean difference is significant at the .889 105.299 Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291.511 187.006 .927 4461.083 3218.229 498.687 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1191.926 105. Univariate Tests Dependent Variable: Harga Sum of Squares df Contrast 18175880 3 Error 1.003 .880 a.

163 4325.607 2484.7 Bulan Mean 2328.6.965 128.556 3480.060 4216.163 5035.965 128.615 2903.965 128.444 4189.274 4401.163 2475.504 3936.965 128.060 1969.556 4147.496 2523.222 2256.615 3894.444 2231.333 3155.282 2003.965 128.000 4072.274 2581.965 128.667 3097.726 2844.282 2901.051 2509.7 Bulan Pedagang Pengumpul 0 .504 .965 128.222 4189.111 4148.965 128. Error 128.615 3226.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2075.965 128.965 128.385 4442.282 3936.940 3593.965 128.4 Bulan 3 .282 2017.965 128.000 4470.171 3895.333 2263.222 Std.2 Bulan 2 .504 3936.051 3409.060 1977.2 Bulan 2 .4 Bulan 3 .7 Bulan Blantik 0 .965 128.2 Bulan 2 .393 2902.060 4529. Error 128.163 3350.111 3190.444 Std.940 3733.393 3086.940 4723.940 4443.965 128.171 2936.504 1978.965 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 2247.965 128. Jual * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Umur 0 .965 128.965 128.556 3156.496 2753.2 Bulan 2 .965 128.4 Bulan 3 .496 2483.393 2010.333 3340.965 128.385 3407.556 3154.7 Bulan Petani Peternak 0 .000 4782.965 128.444 4190.222 3154.4 Bulan 3 .222 2270.615 2901.496 3408.282 7.940 3443.000 2222.965 128.000 2230.274 2516.965 128.385 4442.385 3407. Jual * Tahun Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 Mean 2500.163 4400.060 3819.

312 1853.374 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 1001.646 4766.374 223.4 Bulan 3 .374 223.2 Bulan 2 .374 223.688 5643.021 1816.374 223.374 223.374 223.646 4766.021 3556.374 223.2 Bulan 2 .374 223.000 4118.021 4556.646 2723.000 2291.312 2007 2008 Pedagang Pengumpul 2006 2007 2008 Blantik 2006 2007 2008 Petani Peternak 2006 2007 2008 .333 3205.7 Bulan 0 .000 1378.688 5643.688 3598.354 4384.646 1745.979 4775.354 6229.312 940.688 2623.4 Bulan 3 .021 1861.2 Bulan 2 .4 Bulan 3 .2 Bulan 2 .021 3696.646 1716.312 2721.4 Bulan 3 .354 3599.4 Bulan 3 .7 Bulan 0 .979 2626.7 Bulan 0 .374 223.374 223.688 4798.354 2729.374 223.7 Bulan 0 .688 2623.2 Bulan 2 .312 2820.979 3680.374 223.374 223.333 5205.000 3946.688 1878.021 2621.667 3770.000 3160.374 223.374 223.333 1400.354 2689.312 1746.979 2766.374 223.688 3643.667 3065.7 Bulan 0 .646 2680.021 3551.688 5223.000 4151.000 2185.646 3921.667 4118.979 3331.2 Bulan 2 .979 2930.2 Bulan 2 .2 Bulan 2 .374 223.667 5213.354 4589.333 4360.4 Bulan 3 .312 3508.646 1813.646 2766.374 223.374 223.333 3161.021 4596.4 Bulan 3 .4 Bulan 3 .333 2251.333 2155.7 Bulan 0 .312 3713.374 223.688 1838. Error 223.000 2148.000 3258.312 2675.688 2593.374 223.646 2766.312 2721.374 223.333 5205.688 3643.000 3160.374 223.333 2185.312 3720.374 223.374 223.4 Bulan 3 .374 223.2 Bulan 2 .688 3503.021 4556.2 Bulan 2 .667 3205.000 2286.7 Bulan 0 .021 5651.312 5353.667 3368.646 4346.000 5791.4 Bulan 3 .374 223.7 Bulan Mean 1440.2 Bulan 2 .000 3113.374 223.333 2183.021 3806.646 1746.7 Bulan 0 .000 Std.7 Bulan 0 .4 Bulan 3 .7 Bulan 0 .374 223.374 223.374 223.312 1848.312 1710.2 Bulan 2 .688 4208.021 2586.646 961.374 223.333 4785.000 4158. Jual * Tahun * Umur Dependent Variable: Harga Jual Pasar Hewan Tahun 2006 Umur 0 .000 4158.8.021 4596.688 3598.4 Bulan 3 .312 3720.374 223.374 223.667 1423.374 223.688 3643.333 3118.354 2724.7 Bulan 0 .333 3205.979 985.312 3680.

Post Hoc Tests Umur
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I-J) -930,8333* -2007,9167* 930,8333* -1077,0833* 2007,9167* 1077,0833*

(I) Umur 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan

(J) Umur 2 - 4 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 3 - 7 Bulan 0 - 2 Bulan 2 - 4 Bulan

Std. Error 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186 91,19186

Sig. ,000 ,000 ,000 ,000 ,000 ,000

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound -1109,7735 -751,8931 -2186,8569 -1828,9765 751,8931 1109,7735 -1256,0235 -898,1431 1828,9765 2186,8569 898,1431 1256,0235

Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Tahun
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean 95% Confidence Interval Difference (I) Tahun (J) Tahun Std. Error Sig. Lower Bound Upper Bound (I-J) 2006 2007 -925,2778* 91,19186 ,000 -1104,2180 -746,3376 2008 -1963,4722* 91,19186 ,000 -2142,4124 -1784,5320 2007 2006 925,2778* 91,19186 ,000 746,3376 1104,2180 2008 -1038,1944* 91,19186 ,000 -1217,1347 -859,2542 2008 2006 1963,4722* 91,19186 ,000 1784,5320 2142,4124 2007 1038,1944* 91,19186 ,000 859,2542 1217,1347 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Jual
Multiple Comparisons Dependent Variable: Harga LSD Mean Difference (I) Jual (J) Jual (I-J) Pasar Hewan Pedagang Pengumpul 291,8519* Blantik 294,8148* Petani Peternak 310,7407* Pedagang Pengumpul Pasar Hewan -291,8519* Blantik 2,9630 Petani Peternak 18,8889 Blantik Pasar Hewan -294,8148* Pedagang Pengumpul -2,9630 Petani Peternak 15,9259 Petani Peternak Pasar Hewan -310,7407* Pedagang Pengumpul -18,8889 Blantik -15,9259 Based on observed means. *. The mean difference is significant at the ,05 level.

Std. Error 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929 105,29929

Sig. ,006 ,005 ,003 ,006 ,978 ,858 ,005 ,978 ,880 ,003 ,858 ,880

95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 85,2295 498,4742 88,1925 501,4372 104,1184 517,3631 -498,4742 -85,2295 -203,6594 209,5853 -187,7335 225,5112 -501,4372 -88,1925 -209,5853 203,6594 -190,6964 222,5483 -517,3631 -104,1184 -225,5112 187,7335 -222,5483 190,6964

Hasil Analisis Varian Share Harga Univariate Analysis of Variance
Between-Subjects Factors Jual Melalui 1,00 2,00 Value Label Pedagang Pengumpul Petani Penggemuk an Pedagang Perantara/ Blantik N 270 270

3,00

270

Descriptive Statistics Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Mean Pedagang Pengumpul 99,3117 Petani Penggemukan 98,5332 Pedagang Perantara/ 98,9078 Blantik Total 98,9176 Std. Deviation 45,48216 45,10136 46,26509 45,56346 N 270 270 270 810

Tests of Between-Subjects Effects Dependent Variable: Share Harga Type III Sum of Squares Source df Mean Square Corrected Model 81,868a 2 40,934 Intercept 7925596,149 1 7925596,149 Jual 81,868 2 40,934 Error 1679425,723 807 2081,073 Total 9605103,740 810 Corrected Total 1679507,590 809 a. R Squared = ,000 (Adjusted R Squared = -,002)

F ,020 3808,419 ,020

Sig. ,981 ,000 ,981

Estimated Marginal Means
1. Grand Mean Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval Mean Std. Error Lower Bound Upper Bound 98,918 1,603 95,771 102,064

2. Jual Melalui
Estimates Dependent Variable: Share Harga Jual Melalui Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan Pedagang Perantara/ Blantik Mean 99,312 98,533 98,908 Std. Error 2,776 2,776 2,776 95% Confidence Interval Lower Bound Upper Bound 93,862 104,761 93,084 103,983 93,458 104,357

485 Pedagang Perantara/ .924 -7.918 -7.934 2081.926 .485 6.375 3.404 3. Univariate Tests Dependent Variable: Share Harga Sum of Squares df Contrast 81.843 -6.404 3.926 .020 Sig.926 .303 8.918 -8.073 F .928 8.Pairwise Comparisons Dependent Variable: Share Harga 95% Confidence Interval for Mean a Difference Difference a (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui (I-J) Std.111 Blantik Petani Penggemukan Pedagang Pengumpul -.981 The F tests the effect of Jual Melalui.926 . Error Sig.081 7. This test is based on the linearly independent pairwise comparisons among the estimated marginal means.843 -8.926 .081 Based on estimated marginal means a.868 2 Error 1679425.779 3. .926 .375 3.7 807 Mean Square 40.332 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.779 3. Lower BoundUpper Bound Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .924 -8.332 8.928 Pedagang Perantara/ -.111 7. Adjustment for multiple comparisons: Least Significant Difference (equivalent to no adjustments). .303 Blantik Petani Penggemukan .

3029 8.92624 Blantik Pedagang Perantara/ Pedagang Pengumpul -.3322 7.4854 -8.924 .7786 3.0815 -8.1108 -7.Post Hoc Tests Jual Melalui Multiple Comparisons Dependent Variable: Share Harga LSD Mean Difference (I-J) (I) Jual Melalui (J) Jual Melalui Std.92624 Pedagang Perantara/ .7786 3. 95% Confidence Interval Sig.843 .1108 6.3746 3.3029 -8.3746 3.924 -7.92624 Blantik Petani PenggemukanPedagang Pengumpul -.3322 8.4039 3.9283 8.843 -6. Lower Bound Upper Bound .92624 Pedagang Perantara/ -.92624 Based on observed means.92624 Blantik Petani Penggemukan .918 .4854 .918 .0815 .4039 3.9283 7. Error Pedagang Pengumpul Petani Penggemukan .

Harga Jual Pedet Jantan Sapi Perah Pedagang Pengumpul Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 2006 2-4 bulan 1200 800 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4250 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4950 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2100 2000 2000 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 950 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2250 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 5800 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 0 -2 bulan 950 800 800 800 600 600 900 800 1250 900 1500 1250 1600 1500 1500 2600 2250 2250 2250 2250 2250 2500 1000 900 1000 .

26 27 28 29 30 900 1000 1000 900 900 1500 1500 1500 1500 1500 2500 2000 2000 2000 2000 1500 1500 1500 1450 1450 2500 2500 2500 2500 2500 3250 3000 3000 3000 3000 2500 2500 2500 2500 2500 3500 3500 3500 3500 3500 4000 4000 4000 4150 4100 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Petani Penggemukan Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 800 1200 800 2400 1200 3000 2400 4000 3500 2750 4000 3700 4000 47bulan 2400 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 4250 5000 4400 4000 5200 4800 4800 4800 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 1400 5200 6000 5200 4900 6000 6000 6000 6000 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 0 -2 bulan 1900 2800 750 700 600 600 750 600 1200 800 1500 1250 1400 1400 1400 2500 2250 2200 .

19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 2250 2250 2250 2500 1000 900 900 900 1000 1000 900 900 3500 4000 3400 3400 3400 3400 1400 1400 1400 1400 1400 1400 4800 4000 4000 1800 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 6400 4900 4900 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Blantik Tahun No Res 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 2006 2-4 bulan 1200 600 1000 800 700 700 1200 700 2400 1200 47bulan 2500 700 2000 1150 1700 1500 4000 1200 4300 4500 0 -2 bulan 3000 4000 1600 1150 1000 900 1200 800 2200 1200 2007 2-4 bulan 3200 1000 2000 1500 1200 1500 2200 1500 3500 3200 47bulan 3500 1500 3000 2550 2700 2500 5000 2200 5300 5500 0 -2 bulan 4000 5000 2700 2150 1700 1700 2200 1700 3300 3200 2008 2-4 bulan 4250 2000 3000 2650 2200 2500 3200 2700 4300 4200 47bulan 4500 2500 4200 3650 3700 3700 7000 3400 6300 6700 0 -2 bulan 2000 3000 800 700 600 600 800 600 1200 900 .

11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 1500 1250 1500 1500 1500 2500 2250 2250 2250 2250 2250 2500 900 900 900 900 900 1000 900 900 3000 2500 4000 3500 2750 4000 3700 4000 3500 4000 3500 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4250 5000 4400 4000 5200 5000 5000 5000 5500 4000 4000 2000 2150 2000 2000 2500 2000 2000 2000 2000 2500 2250 3500 2500 2500 3500 3250 3250 3250 3250 3250 3500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 1500 4000 3500 5000 4500 3750 5000 4750 5000 4500 5000 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5250 6000 5400 5000 6100 6150 6150 6000 6500 5000 5000 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 3500 3250 4500 3500 3250 4500 4250 4250 4250 4250 4500 4500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 2500 5000 4750 6000 5000 4750 6000 5750 6000 5500 6000 5500 5500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 3500 6250 7250 6500 6250 7250 7250 7250 7000 7500 6000 6000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan Pasar Hewan Tahun 2006 No Res 1 2 3 0 -2 bulan 800 600 600 2-4 bulan 1000 700 800 47bulan 2100 1000 2000 2007 0 -2 bulan 1500 900 1500 2-4 bulan 2000 1500 1800 47bulan 3000 2000 3000 2008 0 -2 bulan 2500 1500 2500 2-4 bulan 3000 2500 2800 47bulan 4000 3000 4000 .

4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 500 500 600 500 500 1000 1000 800 1500 1750 2000 1500 2250 2250 2000 2000 2000 2000 2250 2000 2000 2000 2000 800 1500 1500 600 600 700 1000 600 2000 2100 2000 2000 3000 1500 3000 3500 3750 3500 3000 3400 3500 3500 3500 3500 3500 3500 1750 2000 2000 1500 1500 1500 4000 1500 4000 4400 4500 4000 4500 5000 4500 5000 5000 5000 4500 5000 5000 5000 5000 5000 5000 5000 2500 3000 3100 1000 900 900 1000 900 2000 2000 1500 2500 2750 3000 2500 3250 3250 3000 3000 3000 3000 3250 3000 3000 3000 3000 1500 2500 2500 3500 1500 1000 1000 2000 1500 3000 3100 4000 4000 4000 4500 4000 4500 4750 4500 4000 4400 4500 4500 4500 4500 4500 4500 2750 3000 3000 4250 2500 2500 2500 5000 2500 5000 5500 5500 5000 5500 6000 5500 6000 6000 6000 5750 6100 6100 6000 6000 6000 6000 6000 3500 4000 4100 5000 2000 1500 1500 2000 1500 3000 3000 3500 3500 3750 4000 3500 4250 4250 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 4000 2500 3500 3500 4500 2500 2000 2000 3000 2500 4000 4000 5000 5000 5000 5500 5000 5500 5750 5500 5000 5500 5500 5500 5500 5500 5500 5500 3750 4000 4000 5000 3500 3500 3500 6000 3500 6000 6500 6500 6500 6500 7000 6500 7000 7000 7000 6750 7000 7000 7000 7000 7000 7000 7000 4500 5000 5000 6000 30 2500 3250 4000 Sumber : diolah dari data sumber 2008 Hitungan dalam ribuan .

89 8.9 6.22 14.44 120 80 68 60 48 44 36 32 28 24 540 Kr % 22.97 15.44 100 % 26.15 11.82 7.Lampiran Volume Transaksi dan Konsentrasi Rasio Total Transaksi F Petani Penggemukan F 20 10 10 10 8 5 3 2 5 4 77 14 Pedagang Pengumpul F 30 18 15 10 9 9 7 5 5 5 113 20.93 Pasar Hewan F 41 32 28 25 22 20 15 15 10 10 218 40.33 7.81 12.59 11.67 5.44 100 100 % 22.15 6.97 % 19 15 13 11 10 9.79 100 .42 99.67 5.93 5.6 100 % 21.93 13.11 8.42 4.15 6.19 4.81 12.19 4.11 8.58 6.9 4.89 8.36 11.93 5.59 11.58 8.22 14.85 7.96 7.6 4.55 15.2 6.19 4.37 Blantik F 29 20 15 15 9 10 11 10 8 5 132 24.36 6.06 3.42 4.96 6.27 8.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->