Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN A.

Latar Belakang Agitasi merupakan psikopatologi yang sering ditemui pada berbagai gangguan psikiatrik, misalnya skizofrenia, skizoafektif, gangguan bipolar, atau demensia. Pada pasien dengan skizofrenia, agitasi sering terjadi selama fase akut. Pada agitasi terlihat adanya ansietas yang disertai dengan kegelisahan motorik, meningkatnya respons terhadap stimulus internal atau eksternal, iritabilitas, peningkatan aktivitas verbal atau motorik yang tidak bertujuan. Agitasi merupakan gejala yang sangat menakutkan karena sering meningkat menjadi perilaku atau tindakan kekerasan (violent) dan destruktif. Kekerasan yaitu agresif fisik yang dapat mencederai orang lain. Yang sering menjadi korban kekerasan adalah keluarga, petugas medik atau pasien lainnya. Oleh karena itu, intervensi yang cepat sangat diperlukan untuk mencegah pasien melukai dirinya, keluarga atau orang lain.

B. Masalah Bagian - bagian permasalahan yang akan menjadi pokok pembicaraan di dalam makalah ini adalah : 1. Apa pengertian Agitasi ? 2. Apa saja penyebab agitasi ? 3. Bagaimana gejala penyerta agitasi ? 4. Bagaimana Neurofisiologi agitasi ? 5. Bagaimana diagnosis agitasi ? 6. Apa saja komplikasi agitasi ? 7. Bagaimana tata laksana agitasi ? C. Tujuan 1. Untuk mengetahui pengertian Agitasi. 2. Untuk mengetahui apa saja penyebab agitasi 3. Unttuk mengetahui gejala penyerta agitasi 4. Untuk mengetahui Neurofisiologi agitasi 5. Untuk mengetahui diagnosis agitasi 6. Untuk mengetahui apa saja komplikasi agitasi 7. Untuk mengetahui tata laksana agitasi

BAB II PEMBAHASAN A. Pengertian Agitasi (keresahan atau kegelisahan) adalah suatu bentuk gangguan yang menunjukkan aktivitas motorik berlebihan dan tak bertujuan atau kelelahan, biasanya dihubungkan dengan keadaan tegang dan ansietas. Pada beberapa literatur dikatakan bahwa agitasi adalah gangguan psikomotor yang memiliki karakterisasi peningkatan aktivitas motor dan psikologi pada pasien (adanya irritabilitas). Adanya gerakan berjalan bolak-balik dalam satu ruang tanpa alasan, gerakan memeras-meras tangan, melepas baju dan memakainya lagi dalam kondisi terbalik, dan tindakan motorik dan tak beralasan lainnya. Pada keadaan yang parah, gerakan yang ditimbulkan bisa membahayakan orang lain, seperti merobek-robek, menggigit kuku jari dan menggigit bibir sendiri yang menimbulkan potensi pendarahan akibat trauma. Agitasi psikomotor ini merupakan tipikal symptom yang dapat dijumpai pada kelainan depresi mayor atau kelainan obsesi dan terkadang dijumpain pada gangguan bipolar, meskipun kelainan ini merupakan akibat dari kelebihan stimulus yang diterima. Usia pertengahan (dekade ke 2 dan 3) dan usia tua merupakan usia yang penuh dengan resiko terjadinya kelainan ini. Gejala ini bisa saja timbul sendiri atau disertai oleh kelainan mental lainnya seperti ansietas berat dan delirium. Kebanyakan agitasi merupakan tanda dari disfungsi otak atau insufisiensi serebral akut. Keadaan ini banyak dijumpai pada kasus gawat darurat, biasanya pada orang dewasa, dan disebabkan oleh berbagai faktor, diantaranya bisa karena suatu penyakit (gangguan metabolik, sepsis-assocated enselopathy, pengobatan) dan faktor eksternal (keributan, ketidaknyamanan, rasa sakit). Agitasi merupakan masalah yang gawat dengan tingkat morbiditas dan mortalitas yang cukup besar (dihubungkan penyebab gangguan metabolik). Adanya gejala penyerta yang biasanya menyertai gejala ini seperti delirium memperburuk prognosis pasien. Agitasi bisa disebabkan oleh berbagai penyebab diantaranya akibat efek samping penggunaan obat antipsikotik.

B. Etiologi Berikut merupakan penyebab dari agitasi : 1. Meminum alcohol lebih dari 15 gelas (5/hari)Kelebihan alcohol per minggu untuk laki-laki dan wanita sebanyak 8 gelas. (4/hari). Alkohol yang mengandung bahan toxic merusak sistem saraf dan mengakibatkan agitasi berat. 2. Kaffein 3. Kokain, obat halusinasi, ephedrine 4. Ketergantungan kokain 5. Hyperthyroidism 6. Nicotine withdrawal 7. Opiate withdrawal 8. Theophylline atau pengobatan lainnya efek neurologis 9. Defisiensi vitamin B6 Pada beberapa kasus, mekanisme pasti penyebab masalah mental ini belum memiliki karakteristik, kecuali yang berhubungan dengan penyebab metabolik seperti adanya tanda hipoglikemia atau hypoxemia yang memiliki dasar penyebab organik. Pada pemeriksaan EEG, terlihat abnormalitas pada otak yang mengarah pada disfungsi neurologi difus. C. Gejala penyerta agitasi akut Disamping agitasi, beberapa gangguan mental dapat kita observasi, seperti ansietas dan delirium. Sampai sekarang belum diketahui bagaimana pola variasi disfungsi otak dapat menimbulkan perbedaan gangguan mental antara satu pasien dengan pasien lainnya. Beberapa pasien hanya menunjukkan agitasi, sedangkan yang lain bisa disertai dengan dua gejala penyerta. Delirium (kebingungan), ansietas, hiperaktivitas yang ekstrim, dan memusuhi orang lain bisa berupa gejala penyerta pada agitasi yang ekstrim. Agitasi bisa datang secara tiba-tiba atau pada waktu tertentu. Gejala ini bisa berakhir dalam beberapa menit, beberapa minggu dan bahkan berbulan-bulan. Rasa nyeri atau sakit, stress, dan demam bisa meningkatkan gejala agitasi. Perlu diingat bahwa agitasi sendiri bukan merupakan tanda dari masalah kesehatan. Meskipun begitu, jika ada suatu symptom lain terjadi, agitasi bisa menjadi tanda (sign ) dari penyakit tersebut. Ketika agitasi mengakibatkan perubahan kesadaran dan kewaspadaan dalam

berberapa jam, para dokter menyebutkan itu adalah delirium (harus dirawat). Penyebab umumnya berupa penyalahgunaan alcohol dan infeksi (biasanya pada orang tua). Agitasi biasanya berkaitan dengan timbulnya gejala berikut: 1. Bipolar disorder Gangguan ini biasanya terjadi pada usia 15-25 tahun. Gangguan ini ditandai dengan mood atau kondisi yang bergairah yang tiba-tiba bisa menjadi depresi. Perubahan mood diantara keduanya bisa berlangsung sangat cepat pada satu pembicaraan. Penyebab utamanya adalah gangguan pada bagian otak pengatur mood. 2. Dementia (seperti Alzheimer's disease) Penyakit ini biasanya mengenai umur 60 tahun. Alzheimer merupakan salah satu kondisi demensia yang cepat memburuk secara gradual. Penyebabnya adanya gangguan pada memori, berpikir, dan tingkah laku. Kehilangan memori seperti masalah lupa pada bahasa sendiri, ketidakmampuan memutuskan sesuatu, adil dan bekripribadian merupakan bagian dari diagnosisnya. 3. Depresi Gangguan yang ditandai dengan perasaan sedih, tidak senang, merasa bersalah, dan menyendiri. Gejala ini biasanya timbul dalam waktu relatif singkat. Agitasi merupakan salah satu symptom dari gejala depresi yang biasanya disebabkan stress dan lingkungan yang tidak menyenangkan. Simptom dari depresi adalah a. Masalah pada tidur atau kelebihan tidur b. Perubahan nafsu makan yang dramatis, sering disertai dengan penurunan berat badan c. Kelelahan dan kurang energi d. Merasa dirinya tidak beharga, membenci diri sendiri, dan menyalahkan diri sendiri yang tidak sesuai keadaan sebenarnya e. Masalah konsenstrasi yang ekstrim f. Agitasi, irritability, dan gelisah g. Tidak mau beraktivitas dan berdiam diri h. Berputus asa i. Perasaan ingin mati dan bunuh diri

Tipe-tipe dari depresi diantaranya : Major depression bila lima atau lebih symptom diatas selama 2 minggu sedangkan jika hanya 2-4 yang muncul maka disebut minor depression. Atypical depression berlangsung pada 1/3 pasien dengan symptom oversleeping dan makan terlalu banyak. Dysthymia berlangsung selama 2 tahun

4. Ansietas Ansietas adalah sensasi takut difus, yang tidak berkaitan dengan bahaya yang sebenarnya. Sensasi ini sering timbul pada pasien akibat situasi stress seperti nyeri, ribut, dan kehilangan kontrol tubuh. Ansietas bisa dianggap sebagai fenomena normal pada pasien. Akan tetapi, kejadian ansietas yang terlihat tidak proposional dengan penyebabnya atau berlebihan dapat dianggap ansietas yang patologis. Ansietas dapat juga dikaitkan dengan gejala pemberat, dysautonomia atau kehilangan kontrol diri yang berat. Pasien tersebut relatif susah untuk diobati diakibatkan pasien inkooperatif. 5. Delirium Delirium adalah perubahan akut pada status mental, atau fluktuasi mood, yang dihubungkan dengan pemikiran yang tidak terorganisasi, bingung, dan perubahan level dari kesadaran. Fenomena ini sering dihubungkan dengan kebingungan akut dan gejala yang banyak ditemui di ICU berupa kondisi akut. Terjadi perubahan kognitif yang bervariasi dari hari kehari dan mencapai puncaknya pada saat malam hari. Symptom ini biasanya bersifat reversible yang berlangsung beberapa hari atau beberapa minggu meskipun pada beberapa pasien dapat terjadi kegagalan otak permanen. Ilusi dan halusinasi juga terjadi pada pasien. Florid delirium dengan agitasi yang parah pada pasien delirium aktif sangat mudah diidentifikasi. Akan tetapi, delirium dapat menampakkan gejala diam dan tenang (delirium hipoaktif). Keduannya hampir sama frekuensi ditemukannya pada ICU.

D. Neurofisiologi Masih terdapat banyak perdebatan mengenai peningkatan aktivitas dopaminergik yang diikuti dengan deplesi neurotransmitter kolinergik. Beberapa obat memiliki kemampuan antikolinergik dan pada kondisi klinis dapat dijumpai delirium pada penggunaan obat tersebut, seperti obat antiaritmia, antibiotik (penicillin, rimfampin). Maka dari itu, pada pasien yang mengalami agitasi, terutama yang disertai dengan delirium penggunaan obatnya perlu dimonitor. Yang menarik, pusat inflamasi juga terpicu pada perangsangan sistem saraf. Hal ini menunjukkan bahwa ada korelasi antara jejas pada sistem saraf dan inflammatory pathway. Jalur inflamasi semakin memperparah jejas pada neuronal yang meningkatkan disfungsi neuronal (peran immunomodulasi). Selain itu, terdapat peran dopaminserotonin, dan GABA.

E. Diagnosis 1. Psikosis akut 2. Skizoprenia Kelainan mental pada pasien yang tidak bisa membedakan antara pengalaman yang nyata atau tidak nyata, tidak bisa berpikit logik, tidak memiliki respon emosi yang normal, dan tidak bisa berprilaku normal pada situasi sosial. Agitasi merupakan gejala dari skizoprenia. Kelainan ini biasanya mengenai usia kurang dari 45 tahun. Berbagai penyebab yang dapat mengakibatkan kelainan ini, berupa infeksi dalam rahim yang mengenai daerah otak yang mengolah informasi terutama korteks serebri. Faktor genetik bisa juga menjadi penyebab. Demikian juga dengan faktor psikologis dan sosial yang bisa mempengaruhi tingkat keparahan dan menghindari kejadian schizophrenia berulang. Banyak symptom yang menyertai penyakit ini dan berjalan lambat dalam beberapa bulan bahkan beberapa tahun. Gejala pyscotic mulai tampak pada perjalanan penyakit seperti afek datar, catatonik, delusi, halusinasi, dan masalah berpikir (seperti melihat dan berpikir ada bayangan-bayangan gaib). Berikut beberapa tipe berserta dengan gejala yang timbul : a. Tipe katatonik ditandai dengan Agitasi Penurunan kesensitivan terhadap nyeri Tidak bisa mengurus diri sendiri Perasaan negatif

Gangguan motorik Otot mengalami rigiditas Stupor

b. Tipe paranoid Marah Kecemasan Kurang bisa mengutarakan pikirannya Delusi adanya penyiksaan diri sendiri dan pada laki-laki merasa hebat

c. Disorganized type: Tingkah laku seperti ini deh (child-like Child-like (regressive) behavior Delusi Flat affect Halusinasi Tertawa tidak pada tempatnya Social withdrawal

Untuk keperluan diagnosis yang diperlukan dapat berupa : 1. Untuk melihat apakah agitasi disebabkanPemeriksaan hitung sel darah oleh infeksi atau tidak dan melihat keseimbangan sel imun (apakah ada reaksi inflamasi) pada pasien. 2. CT scan kepala,X-ray tenggkorak, melihat apakah terdapat trauma yang menekandan MRI kepala (jika perlu) serebri, apakah ada infeksi pada otak, mengevaluasi gangguan berpikir dan tingkah laku, dan tumor. untuk Lumbar puncture or spinal tap melihat apakah ada infeksi (cairan keruh), gangguan neurologis, dan evaluasi kerusakan otak atau spinal. 3. Tanda vital (temperature, denyut, pernapasan, dan tekanan darah) 4. Penyalahgunaan Narkoba Agitasi juga bisa disebabkan oleh penyalahgunaan obat narkotika melalui efeknya terhadap neuronal. 5. Psikosis organik Adanya kelainan metabolik seperti hiperglikemia dan hypoxemia.

F. Komplikasi

1. Confusion (kebingungan) Ketidakmampuan berpikir dengan kecepatan normal, termasuk memiliki disorientasi pikiran dan susah untuk mengingat, berkonsentrasi, dan membuat keputusan yang bisa berlangsung cepat ataupun lambat tergantung dari penyebab. Kebanyakan bersifat temporer sedangkan beberapa permanen dan tidak bisa disembuhkan. Biasanya terjadi pada usia menengah sampai tua dan sering menunjukkan agresivitas. 2. Hiperaktivitas Adanya gerakan berulang-ulang dan terjadi peningkatan gerakan motorik yang sangat berlebihan. 3. Merasa dimusuhi Merasa orang lain bertindak jahat pada pasien dan selalu berpikir negatif terhadap seseorang.

G. Tata laksana Masih banyak yang harus diketahui mengenai pencegahan maupun terapi bagi agitasi. Pertama, tidak diketahui apakah waktu terdeteksi dan terapi pada kondisi pasien bisa mempengaruhi kesehatan pasien selanjutnya. Indikasi dan tipe terapi tergantung pada apakah kelainan agitasi yang disertai delirium ini yang menyebabkan kerusakan pada otak (otak sebagai korban pasif dari kelainan organ lain) atau kelainan pada otak (otak sebagai pemicu aktif) yang menyebabkan disfungsi organ ekstraserebral. Kedua pertanyaan itu penting untuk menentukan tindakan terapi. Ada dua tata laksana bisa dilakukan di rumah dan dirumah sakit. 1. Home care Lingkungan yang tenang, cukup penerangan, tidur yang berkualitas, dan pengurangan stress dapat mengurangi gejala-gejala agitasi. Jangan menahan kemauan pasien agitasi secara berlebihan karena dapat meperburuk keadaannya, misalnya jika ia ingin bergerak berlari, biarkan saja asalkan itu masih dalam batasbatas wajar (tidak ingin terjun). Selain itu, dalam menghadapi pasien agitasi bertindaklah secara bijak dan wajar karena dengan bersikap demikian pasien akan mudah mengungkapkan perasaanya, memperbaiki mood dan keparahan agitasi. 2. Rumah sakit Dokter biasanya akan menanyakan beberapa pertanyaan anamnesis dan melakukan pemeriksaan fisik. Beberapa tipe pertanyaan.

a.

Tipe Apakah anda banyak berbicara akhir-akhir ini Apakah anda merasa pernah melakukan sesuatu yang tidak bertujuan (seperti memijit dan melangkah bolak balik)? Apakah kamu pernah merasa gelisah yang tak wajar?

b. Waktu Apakah agitasi berlangsung singkat atau lama?? jika lama, berapa hari?

c. Faktor yang mempengaruhi atau memperburuk Apakah trauma mempengaruhi?? atau ada kejadian yang diingat bisa memicu agitasi? Apakah sedang menerima pengobatan steroid atau obat tiroid? Banyaknya alcohol yang diminum? Banyaknya konsumsi caffeine? Apakah menggunakan obat-obatan narkotika?

d. Other Simptom apa lagi yang mungkin muncul? Apakah ada rasa bingung, hilang ingatan, hiperaktivitas, atau merasa dimusuhi?

BAB III

PENUTUP A. Kesimpulan Agitasi (keresahan atau kegelisahan) adalah suatu bentuk gangguan yang menunjukkan aktivitas motorik berlebihan dan tak bertujuan atau kelelahan, biasanya dihubungkan dengan keadaan tegang dan ansietas. B. Saran Dengan adanya pembuatan makalah ini diharapkan kita semua dapat mengetahui konsep dasar agitasi dan penatalaksanaannya, serta dapat membantu kita dalam menangani klien dengan penyakit tersebut pada saat praktek dilapangan.

DAFTAR PUSTAKA

1. Kamus Kedokteran Dorland ed.29.EGC:Jakarta 2. Chevroled, Jean Cloud, Joliet, Phillip. 2007. Clinical review :Agitation and delirium in the critically-Significance and Management. Journal of Critical Care, 11:214 3. Moore DP, Jefferson JW. Handbook of Medical Psychiatry. 2nd ed. Philadelphia, Pa: Mosby; 2004:chap 155.