Anda di halaman 1dari 142

MELATIH PARA PEMIMPIN UNTUK MELAKUKAN SEMBILAN HAL

Bab 1 Menantikan Tuhan Pendahuluan Apakah anda terpanggil untuk menjadi pemimpin gereja tetapi takut bahwa ketidakmampuan anda akan menghambat anda untuk menjadi berhasil? Apakah anda merasa terlalu lemah untuk menjadi seorang pemimpin yang kuat? Barangkali anda sudah dibawa ke posisi kepemimpinan dan sedang menghadapi frustasi atau bahkan kegagalan. Jika demikian, berbesar hatilah. Allah mempunyai kabar baik untuk Anda.

A. ALLAH MEMAKAI YANG LEMAH "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya" (Yes 40:29). Jika Allah memanggil seseorang untuk menjadi seorang pemimpin, Ia tidak memilihnya berdasarkan kepandaiannya, kecakapannya ataupun pendidikannya. Kenyataannya, hal-hal inilah yang boleh jadi diubahkan Allah (atau kadang-kadang dihancurkan) sebelum Ia dapat memakai kita. Alkitab mengatakan "Aku akan membinasakan hikmat orang-orang berhikmat dan kearifan orang-orang bijak akan Kulenyapkan" (1Kor 1:19). Rasul Paulus berkata: "Sebab yang bodoh dari Allah lebih besar hikmatnya daripada manusia dan yang lemah dari Allah lebih kuat daripada manusia. Ingat saja, saudara-saudara, bagaimana keadaan kamu, ketika kamu dipanggil: menurut ukuran manusia tidak banyak orang yang bijak, tidak banyak orang yang berpengaruh, tidak banyak orang yang terpandang. Tetapi apa yang bodoh bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan orangorang yang berhikmat, dan apa yang lemah bagi dunia, dipilih Allah untuk memalukan apa yang kuat, dan apa yang tidak terpandang dan yang hina bagi dunia, dipilih Allah, bahkan apa yang tidak berarti, dipilih Allah untuk meniadakan apa yang berarti" (1Kor 1:25-28). Inilah yang Rasul Paulus ajarkan kepada kita: Melalui kelemahan, keraguan dan kegagalan kita, Allah menyatakan hikmatNya. Melalui ketidakberdayaan kita, Allah menyatakan kuasaNya. KuasaNya justru menjadi sempurna di dalam kelemahan kita. Seorang sahabat saya, Pdt. Jack Hayford, menceritakan pengalamannya kepada saya. Sementara ia melayani di Jepang, Tuhan memberikan kesan kepadanya dari Firman Tuhan: "Dari mulut bayi-bayi dan anak-anak yang menyusu telah Kau letakkan dasar kekuatan karena lawanMu, untuk membungkamkan musuh dan pendendam" (Mzm 8:3).

Waktu itu ia sedang memberikan pelajaran di hadapan para pendeta di Jepang bahwa Tuhan memakai puji-pujian dari mulut bayi-bayi dan anakanak yang menyusu untuk mengalahkan musuh-musuhNya (Mat 21:16). Sepertinya Allah ingin mempermalukan setan dengan memakai mahkluk ciptaanNya yang terlemah (anda dan saya bayi-bayiNya, anak-anakNya) untuk membungkamkan (mengalahkan) musuh dan pendendam.Dalam perjalanan pulang dari Jepang, Tuhan memberi sebuah visi kepadanya. Ia melihat sekelompok anak-anak sedang menggembalakan kawanan domba yang sedang mengembik dan dalam keadaan tidak berdaya. Anak-anak itu sedang memuji Tuhan dan bersukacita di dalam Dia. Waktu Jack merenungkan hal ini, Tuhan berbicara kepadanya demikian: "Aku telah memilih lambang anak domba dan domba untuk menggambarkan umatKu karena mereka adalah lambang kelemahan dan mereka tidak mampu untuk memimpin atau menyelamatkan diri mereka sendiri. Tetapi Aku akan mengambil sekelompok anak yang memuji-muji yang sedang menggiring kawanan domba itu dan menggunakan anak-anak tersebut untuk menaklukkan setan, mengalahkan dari segala penjuru." Saya percaya Pendeta Hayford benar. Allah memakai yang lemah untuk membinasakan musuh-musuhNya. Ini berarti Ia dapat memakai anda dan saya.

B. ORANG-ORANG YANG ALLAH PILIH Saya sering terheran-heran dengan orang-orang yang Allah pilih untuk melakukan tugas-tugas khusus, misalnya: 1. Paulus Ia mengutus Paulus kepada orang-orang kafir penyembah berhala dan yang tidak berpendidikan. Paulus telah mempelajari Firman Tuhan di bawah pendidikan Gamaliel (yang merupakan seorang guru besar dari kaum Farisi). Sebagai seorang calon Sanhedrin (majelis Yahudi yang menafsirkan hukumhukum agama di Israel) Paulus telah menghafalkan dan mengutip (tanpa salah) 5 kitab pertama dari Perjanjian Lama (yang disebut Pentateuch). Ia adalah seorang Yahudi dari latar belakang yang berpendidikan dan terpandang. Dari sudut pandangan manusia, tak seorangpun yang lebih cocok daripada Paulus untuk tugas menginjili orang-orang Yahudi. Tetapi kepada siapa Paulus diutus Allah untuk melayani? Bukan kepada orang-orang Yahudi yang berpendidikan, tetapi kepada orang-orang kafir yang bersahaja, yang tidak terpandang. Jelas bahwa orang-orang kafir ini tidak dapat menghargai pendidikan tinggi Paulus maupun keahliannya dalam hukum-hukum Yahudi.

Semua kekuatan alami Paulus, semua pendidikannya, kepandaiannya dan kecakapannya harus disisihkan. Tuhan harus menyisihkan semuanya itu dengan membawanya ke padang gurun Arab (seperti nenek moyangnya, Musa) dan di situ ia dilepaskan dari semua hal yang ia dapat banggakan (lihat Gal 1:17). "Di padang gurun, di tanah yang tandus dan yang lekak-lekuk, di tanah yang sangat kering dan gelap, di tanah yang tidak dilintasi orang dan yang tidak didiami manusia" (Yer 2:6). Paulus telah belajar bahwa keberhasilannya sebagai seorang pelayan Kristus hanyalah melalui menyerahkan "apa yang dahulu merupakan keuntungan sekarang dianggap rugi agar dapat memperoleh Kristus" (lihat Flp 3:7,8). Ia telah belajar memberitakan Injil " tidak dengan kata-kata hikmat yang meyakinkan, tetapi dengan keyakinan akan kekuatan Roh" (1Kor 2:4). Untuk meyakinkan orang-orang bahwa Yesus adalah Juruselamat mereka, Paulus lebih menekankan pada pekerjaan Roh yang penuh mujizat melalui dia daripada kemampuan dirinya sebagai seorang ahli pidato atau pengkhotbah. Kita juga harus melakukan hal yang sama. 2. Petrus Walaupun Petrus membuka pintu iman bagi orang-orang kafir, (Kis 10) ia tetap tinggal di Yerusalem di antara orang-orang Yahudi yang paling terkemuka dalam kerajaan Romawi sebagai "Rasul bagi orang Yahudi" (lihat Gal 2:8). Apa yang menyebabkan Petrus beroleh kecakapan untuk tugas ini? Sudah pasti bukan karena pendidikan secara akademis. Alkitab menjelaskan mengenai dia sebagai orang yang " biasa dan tidak terpelajar" (Kis 4:13). Ia hanya nelayan biasa, namun Allah memberinya kecakapan untuk melakukan tugas itu oleh kuasa Roh Kudus.

C. BAGAIMANA KELEMAHAN DAPAT DIUBAH MENJADI BERKAT "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya" (Yes 40:29). Ada satu cerita mengenai seorang buta yang bersahabat karib dengan seorang yang timpang. Apa yang menyebabkan persahabatannya tak terpisahkan? Si timpang dapat melihat dengan jelas tetapi ia tidak dapat berjalan. Si buta mempunyai kaki yang kuat, tetapi tidak dapat melihat. Si timpang menawarkan kemampuannya melihat kepada Si buta; sebaliknya Si buta membalasnya dengan kemampuannya berjalan/bergerak.

Si buta akan menggendong Si timpang di atas punggungnya. Si timpang memberi petunjuk tentang jalan mana yang harus ditempuh dan memberi peringatan adanya rintangan-rintangan di jalan yang dapat menyebabkan mereka jatuh. Kelemahan dan kebutuhan mereka masing-masing telah mempersatukan mereka dan masing-masing mendapat manfaat dari kekuatan yang lain. 1. Bergantung lebih lagi kepada Allah. Demikian juga kebutuhan dan ketimpangan rohani kita harus mendorong kita pada hubungan yang bergantung kepada Allah melalui doa, supaya kekuatanNya dapat menggantikan kelemahan kita. Ada seorang pengarang lagu yang membuat syair lagu yang begitu indah: KekuatanNya menjadi sempurna di dalam kelemahan KuasaNya bukanlah untuk yang kuat Ia memberikan lebih banyak anugerah Kepada mereka yang lemah KekuatanNya menjadi sempurna dalam kelemahan. Kelemahan-kelemahan pribadi yang menjadikan kita sadar akan kurangnya kemampuan atau kekuatan kita untuk menjadi seorang pemimpin seharusnya menyebabkan kita untuk mengarahkan hati kita kepada Tuhan dalam doa (kadang-kadang juga dengan puasa). "Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya" (Yes 40:29). Sikap ketergantungan kepada Allah akan menarik perhatianNya dan menarik Dia dekat kepada kita, dan menyebabkan Dia menyatakan kuasaNya secara mulia melalui kita. Kelemahan/kekurangan kita akan nampak sebagai berkat yang terselubung jika hal-hal itu membawa kita bergantung kepada Kristus. Sebaliknya jika kita tenggelam dalam rasa mengasihani diri, membenci diri, hanya melihat ke dalam diri kita sendiri, menyelidiki diri terus untuk mengerti persoalanpersoalan kita, semuanya hanya akan berakhir dengan perasaan rendah diri. 2. Peganglah Firman Tuhan Apa yang para ahli ilmu jiwa sebutkan sebagai rasa rendah diri biasanya adalah rasa sadar diri yang terlalu kuat. Hal itu dapat berakibat kita akan berkata "saya bukan orang yang baik! Saya ini seorang yang gagal, tak

berartiTuhan tidak pernah memakai saya." Pandangan terhadap diri yang sedemikian ini hanya akan membawa kepada keputusasaan. Saya pernah mendengar Billy Graham mengatakan: "Tuhan tidak pernah dapat memakai seorang hamba yang tawar hati/putus asa." Ini benar! Kita harus mengatasi sikap sedemikian dengan kata-kata pengakuan kita (Why 12:11). Dengan mengatakan tentang diri kita apa yang Alkitab katakan mengenai kita, kita akan menjadi pemenang-pemenang. Alkitab mengatakan "Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan (kemampuan) kepadaku." (Flp 4:13). "Sesungguhnya Aku telah memberikan kuasa kepada kamu untuk menginjak ular dan kalajengking dan kuasa untuk menahan kekuatan musuh, sehingga tidak ada yang akan membahayakan kamu." (Luk 10:19). Melalui Allah kita, kita akan bertindak berani. Dialah yang akan menghancurkan musuh-musuh kita. Kita akan menyanyi, dan bersorak kemenangan. Kristus Raja! Kristus Raja! Kita tidak boleh mencampuradukkan rasa rendah diri dengan kerendahan hati yang disebutkan dalam Alkitab. Keduanya jelas berbeda. 3. Mendekatlah dalam Doa Jenis kelemahan yang Allah berkenan adalah yang membawa pada suatu rasa ketergantungan kepadaNya. Jika kita berdoa "Aku memerlukan Engkau, O, Tuhan dan tak dapat melakukannya tanpa Engkau" Allah akan bertindak untuk kita. Kita menjadi seperti raja Daud yang berdoa "Jiwaku merindukan Engkau, ya Tuhan." Perasaan membutuhkan seperti ini membantu perkembangan hidup doa dan ibadah yang sehat. Kebalikannya, sadar diri yang terlalu kuat akan melumpuhkan kita. Menjadi suatu penghambat untuk mengalirnya kuasa Allah melalui kita. Tinggalkan sifat kedagingan ini dan berpalinglah daripadanya. Sadarilah bahwa Tuhan itu kekuatan hidupmu dan anda tidak perlu takut (Mzm 27:1). Ia akan menyatakan diriNya sebagai Allah yang kuat bagi mereka yang menghormati, menyembah dan bergantung kepadaNya. 4. Mengganti Kekuatan Anda Dengan KekuatanNya

"Orang-orang muda menjadi lelah dan lesu dan teruna-teruna jatuh tersandung, tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru." (Yes 40:30,31). Kata kunci dari ayat ini adalah "mendapat kekuatan baru" yang lebih baik diterjemahkan "mengganti". Waktu kita menanti-nantikan Tuhan, Ia akan mengambil kekuatan kita dan menggantikannya dengan kekuatanNya sendiri. Itu bukan berarti gabungan kekuatan kita dengan kekuatanNya, tetapi penggantian yang sempurna dari kekuatanNya. Tuhan berkata "Jika engkau merasa kuat sendiri, Aku tidak dapat memakai engkau. Jika engkau dapat melakukannya sendiri, engkau tidak memerlukan Aku." Apa yang Allah minta agar kita lakukan sebelum Ia "mengganti" kekuatan kita?" a. Mengakui Kebutuhan Anda. Raja Daud menulis "Orang yang tertindas ini berseru, dan TUHAN mendengar; Ia menyelamatkan dia dari segala kesesakannya." (Mzm 34:7). Asaf mengakui kelemahannya dan kebutuhannya akan Allah dalam kata-kata ini: "Aku dungu dan tidak mengerti, seperti hewan aku di dekatMu" (Mzm 73:22). Baik Asaf maupun Daud menerima kekuatan Allah karena mereka dengan rendah hati mau mengakui kebutuhan mereka dan kelemahan mereka. Ada janji yang luar biasa bagi siapa saja yang mau melakukan hal yang sama: "Orang-orang sengsara dan orang-orang miskin sedang mencari air, tetapi tidak ada, lidah mereka kering kehausan; tetapi Aku, TUHAN, akan menjawab mereka, dan sebagai Allah orang Israel Aku tidak akan meninggalkan mereka. Aku akan membuat sungai-sungai memancar di atas bukit-bukit yang gundul, dan membuat mata-mata air membual di tengah dataran; Aku akan membuat padang gurun menjadi telaga dan memancarkan air dari tanah kering. Aku akan menanam pohon aras di padang gurun, pohon penaga, pohon murad dan pohon minyak; Aku akan menumbuhkan pohon sanobar di padang belantara dan pohon berangan serta pohon cemara di sampingnya, supaya semua orang melihat dan mengetahui, memperhatikan dan memahami, bahwa tangan TUHAN yang membuat semuanya ini, dan yang Mahakudus, Allah Israel, yang menciptakannya (Yes 41:17-20). 1. Paulus Sebagai Contoh. Paulus menjumpai bahwa jika ia mau mengakui bidang-bidang kebutuhan dan kelemahan dalam hidupnya, hal ini

akan berakibat kekuatan Allah terjadi atasnya dalam ukuran yang lebih besar. Ia menulis, "Supaya aku jangan meninggikan diri karena penyataanpenyataan yang luar biasa itu, maka aku diberi suatu duri di dalam dagingku, yaitu seorang utusan iblis untuk menggocoh akuTentang hal itu aku sudah tiga kali berseru kepada Tuhan, supaya utusan iblis itu mundur dari padaku. Dan bagaimana Allah menjawab permohonan Paulus untuk keringanan dari penderitaan dan kelemahan ini? "Cukuplah kasih karuniaKu bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasaKu menjadi sempurna." Sekarang anda dapat mengerti mengapa Paulus dapat berkata, "Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku. Karena itu aku senang dan rela di dalam kelemahan, di dalam siksaan, di dalam kesukaran, di dalam penganiayaan dan kesesakan oleh karena Kristus. Sebab jika aku lemah, maka aku kuat" (2Kor 12:7,910). Inilah prinsip kuasa Injil bekerja. Jika kita lemah, merasakan kebutuhan yang besar akan Allah, hal ini membuat kita bergantung sepenuhnya kepada Dia. Hal ini menyebabkan kita banyak melewatkan waktu dalam doa. Akibatnya? Kita kuat!

D. BELAJAR MENANTIKAN ALLAH "Orang yang menanti-nantikan Tuhan mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah" (Yes 40:31). 1. Dua Dasar Pemikiran. Apa yang Alkitab maksudkan dengan " menanti-nantikan Tuhan?" Ada dua pemikiran yang termasuk dalam "menantikan waktu Allah" yaitu: a. Menantikan waktuNya Allah. Berarti, tidak mengambil sesuatu tindakan besar sampai Allah menunjukkan kepada anda itulah waktunya untuk bertindak. b. Menantikan dalam doa dan puasa. Melewatkan waktu di hadirat Allah dalam doa dan juga berpuasa. 2. Sabar menunggu waktu Allah Saya ingin menyaksikan kesaksian pribadi saya kepada saudara. Tuhan memanggilku dalam pelayananNya pada tahun 1948, pada waktu aku berusia 16 tahun di sebuah gereja di Hollywood sebelah Utara, California.

Aku telah dilahirkan baru dan dipenuhi Roh Kudus namun belum mengerti perlunya secara total menyerahkan kehendak dan rencanaku kepada Tuhan. Aku belum begitu tertarik pada penyerahan orang Kristen untuk kehidupan yang mendalam. Aku telah memutuskan apa yang ingin kulakukan dengan hidupku dan tidak pernah ada dalam rencanaku untuk menjadi seorang pendeta atau utusan Injil. Selama musim panas pada tahun 1948 itu tangan Tuhan terasa berat di atas kehidupanku. Banyak peristiwa terjadi yang membuat aku merasa seakanakan didesak untuk bergumul di atas lantai untuk berdoa. Banyak kali aku meniarap di atas lantai dengan bercucuran air mata. Aku menangis dalam doa kepada Allah. Kalau melihat kembali ke belakang, kupikir banyak air mataku hanyalah air mata karena melawan kehendak Allah. Aku menginginkan jalan-jalanku dan Allah menghendaki jalan-jalanNya. Konflik kehendak ini, kehendakku lawan kehendak Allah menyebabkan suatu pergumulan sampai mati di dalam diriku; yaitu kematian dari kehendakku. Setelah 3 bulan mengalami konflik rohani yang hebat, aku menyerahkan hidupku untuk melakukan apa yang Allah inginkan. Ia menghendaki agar aku pergi ke seluruh dunia dan memberitakan Injil. a. Pergilah Sekarang! Ketika akhirnya aku menyerah pada kehendak Allah, aku berkata kepada Tuhan: "Aku akan pergi ke mana Engkau kehendaki aku pergi, Tuhan, dan aku akan mengatakan apa yang Kau kehendaki aku katakan. Aku akan menjadi sebagaimana yang Kau kehendaki." Dengan penyerahan sepenuhnya pada kehendak Allah aku siap untuk PERGI SEKARANG JUGA! Tak boleh membuang waktu! Silahkan Tuhan! Sekarang juga! Aku siap! Waktunya sudah dekat! Sekarang sudah zaman nuklir! Dunia sudah hampir berakhir! Aku siap untuk mengabarkan Injil ke seluruh dunia kalau perlu sendiripun aku siap!". Dalam semangat dan optimisme masa mudaku (dan juga kurangnya pengertian) aku berharap dapat menjadi seorang pemenang dunia yang mengagumkan yang langsung jadi (instant)! Waktu itu pikiranku dipengaruhi oleh teologia dari gerejaku. Pendeta kami menekankan kedatangan Tuhan Yesus yang segera tiba. Kedatangan Tuhan Yesus yang kedua kali selalu dikhotbahkan dari atas mimbar. Jika bukan oleh pendetanya, tentu oleh para penginjil tamu yang datang. Aku mengharapkan Yesus segera datang. Aku ingat pernah pada musim panas tahun 1948 kepada para remaja di sebuah kelas Sekolah Minggu diajukan pertanyaan: "Berapa lama lagi Tuhan

akan datang kembali?" Tak seorangpun di antara 50 remaja di kelas itu percaya bahwa Tuhan akan menunda kedatanganNya melewati tahun 1950. Ketika perang dunia kedua baru saja berakhir, konflik di Korea mulai bergolak, ancaman nuklir semakin nyata, aku merasa bahwa apapun yang Allah ingin lakukan harus kulakukan sekarang juga. Tidak boleh tunggutunggu waktu lagi! Dengan suatu amanat untuk membawa Injil ke seluruh dunia dan hanya 2 tahun yang tersisa untuk mengerjakan hal itu, aku harus mulai sesegera mungkin! Bagaimana tanggapan Allah terhadap perasaan mendesak yang ada di dalamku itu? b. Belajar menanti! Aku telah belajar bahwa apapun interpretasiku terhadap kejadian-kejadian di dunia ini, apapun perasaan mendesak di dalamku Allah bertindak pada waktuNya, bukan waktuku. Kalau anda rasanya sudah gatal untuk bertindak, rasanya memang sulit sekali untuk menanti. Aku sebetulnya belum dipersiapkan (dilatih) untuk pergi dan berkhotbah. Benar, aku memang telah dipanggil. Tetapi panggilan Allah dan pengutusan Allah adalah dua hal yang berbeda. Pada waktu itu aku tidak menyadarinya namun Allah sedikitpun tidak merasa kuatir dengan situasi dunia pada tahun 1948. Aku kuatir, namun Ia tidak. Ia telah merencanakan persiapanku dan latihanku. Semua kekuatiranku dan ketidaksabaranku tidak menyebabkan Dia mempercepat jadwal acaraNya barang semenitpun. Aku tidak menyadarinya pada waktu itu tetapi aku telah berusaha sedapatdapatnya memasuki peperangan dan berperang dengan kekuatan diriku. Allah tahu bahwa aku akan binasa jika aku pergi tanpa persiapan. Karena itu Ia telah membuat aku menanti sampai aku telah mendapat latihan dan pengalaman. Melalui tahun-tahun menantikan Allah, aku telah belajar bahwa aku tak pernah boleh"melanggar titah Tuhan, Allahku." (Bil 22:18). c. Allah mengatur waktu. Alkitab berkata " setelah genap waktunya, Allah mengutus AnakNya" (Gal 4:4). Allah mengatur waktu dan musim. Ia mempunyai waktuNya sendiri untuk mengutus Yesus ke dalam dunia. Ia mempunyai waktuNya sendiri untuk segala sesuatu. Nantikanlah waktu Allah. Jangan mendahului dan jangan ketinggalan. Nantikanlah Tuhan. Ia akan menyatakan waktuNya kepadamu. Waktu dan musim ada dalam kuasa Bapa sendiri (Kis 1:7). Baiklah kita belajar menantikan Dia dengan sabar. Ia akan menyatakan waktu dan musimNya kepada kita jika kita ingin mengetahuinya. 3. Menantikan Allah dengan Doa dan Puasa

"Janganlah mendapat malu oleh karena aku orang-orang yang menantikan Engkau, ya Tuhan, Allah semesta alam!" (Mzm 69:7). Jika kita ingin menukar kekuatan kita yang terbatas dengan kuasaNya yang tak terbatas, kita harus membina suatu kebiasaan beribadah yang konsisten/tetap setiap hari. Mendisiplin diri untuk waktu doa (dan puasa) yang tetap adalah salah satu hal yang tersulit bagi kebanyakan para pemimpin gereja. Tekanan jadwal acara dan kegiatan yang begitu padat setiap hari cenderung merampas kita dari waktu ibadah yang sangat penting bersama dengan Tuhan. a. Bagaimana waktu ibadah setiap hari dapat membantu kita? Cobalah eksperimen ini. Penuhilah sebuah tempayan dengan air. Begitu penuhnya sehingga bila diberi setetes air lagi saja, pasti akan luber. Lalu mulailah masukkan batu-batu kira-kira sebesar tangan anda ke dalamnya. Apa yang terjadi? Dengan setiap batu yang masuk ke dalam tempayan itu, sejumlah air yang sama akan tumpah ke luar dari tempayan itu. Begitulah caranya mengganti kekuatan kita dengan Allah. Kita dipenuhi dengan air kekuatan diri kita sendiri. Waktu kita melewatkan waktu dalam doa, Tuhan mulai menjatuhkan batu-batu kekuatan dan kuasaNya. Batu-batu anugerah ini menggantikan air dari sikap aku dapat mengerjakannya tanpa Allah.Kemampuan IlahiNya memenuhi hidup kita, dan ketidakberdayaan kita digantikan oleh kekuatanNya. Bagaimana aku dapat menyebabkan kekuatan Allah memenuhi hidupku? Ini adalah suatu proses alami supra alami. Jika anda melewatkan waktu setiap hari dalam doa, hal ini akan menjadi seperti suatu proses pertumbuhan. Seorang anak tidak akan bertumbuh dan menjadi kuat dengan memikirkan tentang itu ataupun berusaha memaksa dia untuk bertumbuh. Itu adalah suatu proses alami yang terjadi sebagai akibat dari makan dan latihan yang teratur. Begitu juga jika seorang pemimpin gereja mau melewatkan waktu setiap hari membaca Alkitab dan berdoa, pemberian makanan secara rohani ini akan menyebabkan pertumbuhan kekuatan Allah di dalam kehidupannya. Penggantian kekuatan anda dengan Dia akan terjadi secara bertahap dan tetap. b. Bagaimana Seharusnya Melaksanakan Waktu Ibadahku? Garis besar berikut ini diambil dari seri khotbah yang berjudul "Membaharui

Kebiasaan Ibadah kita." Saya membuktikannya sebagai hal yang sangat menolong dalam hidup ibadahku secara pribadi. 1. Akuilah Dosamu. Mintalah Tuhan mengingatkan setiap dosa yang belum diakui. Akui dosa-dosa ini kepada Tuhan dan mintalah serta terimalah pengampunan dan penyucianNya (1Yoh 1:9,10). 2. Pujilah Tuhan. Kemudian, ambillah waktu untuk mengucap syukur dan memuji Allah karena Siapa Dia dan untuk apa yang Ia telah lakukan. (Mzm 100). 3. Serahkan hari itu kepada Tuhan. Katakan kepada Tuhan betapa anda sangat membutuhkan pengarahan dan bimbinganNya. Mintalah bimbinganNya dan taati setiap perintah yang Allah berikan kepada anda sementara anda berdoa. 4. Berdoalah untuk pasangan anda, anak-anak dan anggota keluarga anda. Berdoalah untuk anggota-anggota gereja anda dan para pemimpinnya. Berdoalah untuk saudara-saudara seiman di bagian benua lain. Berdoalah untuk anak-anak piatu dan janda-janda (yang tanpa kepala keluarga). 5. Berdoalah untuk para pemimpin bangsamu. Berdoalah untuk para pemimpin rohanimu. Berdoalah untuk suku-suku dan bahasa di dunia ini yang memerlukan Injil. Berdoalah untuk para utusan Injil dan untuk penginjilan kepada bangsa-bangsa lain. 6. Berdoalah dalam Bahasa yang lain. Dalam semua doa-doa ini, biarlah tindakan Roh Kudus ada di atas anda dan anda dapat juga berdoa dalam bahasa Roh dan berdoalah juga untuk dapat menafsirkannya ke dalam bahasa yang lain. (1Kor 14:13,14). 7. Tuliskan dan Lakukan apa yang Tuhan berikan kepadamu. Tulislah kesan-kesan yang datang pada anda dari Tuhan selama waktu doa anda. Lakukan tindakan ketaatan sebagai tanggapan terhadap segala sesuatu yang Allah berikan kepada anda dalam doa. c. Bagaimana kesulitan itu dapat menolong kita? Petrus memperingatkan kita, " janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu" (1Ptr 4:12). Seorang rekan hamba Tuhan yang lebih tua berkata kepadaku beberapa tahun yang lalu demikian: "Saudara Ralph, jika anda terus berusaha untuk terus maju dengan Tuhan, dunia ini akan menentang anda. Jika anda berusaha lebih dalam dengan Tuhan, tabiat kedaginganmu akan menolakmu. Jika anda berusaha lebih tinggi dalam Tuhan, penguasa-

penguasa di udara dan penghulu-penghulu kegelapan akan memerangi anda." Jangan heran jika kita akan mengalami perlawanan ketika memutuskan untuk mengadakan waktu ibadah setiap hari untuk menantikan Tuhan. Jika anda sungguh-sungguh ingin mencari wajah Allah, harapkanlah perlawanan dan ujian-ujian. Sangat menghibur untuk mengetahui bahwa meskipun ada ujian-ujian dan kesulitan, "Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah." (Rm 8:28). Pada saat kita menantikan Allah, Ia menyalakan api ujian dan pencobaan sehingga hidup kita mulai menjadi panas. Jika kita telah mencapai titik didih, ada 2 akibat: 1. Kotoran-kotoran dosa dan keakuan dibersihkan. 2. Kuasa Allah mulai bekerja di dalam kita. Kuasa Allah mulai bekerja di dalam kita dan melalui kita dengan konsekuensi supra alami yang membangkitkan semangat. Jika anda menempatkan panci masak yang berisi air di atas api, air itu akan mendidih. Anda tidak dapat mempercepat atau mencegah air itu mendidih dengan mengamati air itu, dengan mengaduknya atau mengabaikannya. Apapun yang anda lakukan, air itu akan mendidih jika sudah mencapai suhu didihnya. Mendidihnya air itu merupakan akibat dari panas terhadap air itu, bukan akibat dari beberapa tindakan kita terhadap air itu sendiri. Begitu juga, jika kita melewati api kesulitan atau sengsara, hal-hal itu terjadi di dalam kita tanpa usaha dari diri kita. Hal-hal itu merupakan hasil tambahan dari panas Allah yang dikenakan pada air tabiat manusia. Kita mengalami perubahan di dalam. Motivasi kita dimurnikan. Kerinduan kita akan dosa dihanguskan. "Barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa" (1Ptr 4:1).

Bab 2 Mendengar Suara Allah Pendahuluan Apakah Allah masih berbicara pada masa kini? Mungkinkah mendengar suara Allah? Para pemimpin Kristen masih sering bingung mengenai hal ini. Beberapa orang percaya bahwa Allah dapat membimbing kita dan memberikan petunjuk ketika kita membutuhkannya. Yang lain berkata bahwa Allah hanya berbicara kepada kita melalui apa yang kita baca di dalam Alkitab. Saya percaya bahwa Allah tetap berbicara kepada kita pada masa kini melalui Roh KudusNya sebagaimana Ia pernah lakukan pada zaman Alkitab. Bagaimana dengan anda? Tulisan-tulisan palsu, terutama tulisan-tulisan Yahudi mengenai nabi-nabi Perjanjian Lama menceritakan tentang sebuah sekte kaum Farisi yang muncul 800 tahun (atau lebih) sebelum Kristus. Sekte ini mengajarkan bahwa apa yang Allah ingin katakan telah dikatakan melalui tulisan-tulisan Musa. Suara atau tulisan nabi-nabi lainnya dianggap tidak sah. Mereka hanya menerima 5 kitab pertama dari Alkitab. Tidak lebih dari itu! Nampaknya banyak pemimpin gereja mempercayai doktrin yang sama seperti itu (dengan beberapa perubahan). Misalnya, teologia Farisi modern mengajarkan bahwa Allah hanya berbicara kepada kita sekarang dengan apa yang tertulis di dalam Alkitab. Allah tidak berbicara lagi selain itu. Sementara memang benar bahwa Alkitab adalah buku yang telah rampung dan tak seorangpun boleh menambahi sesuatu di dalamnya, pemikiran bahwa kita melayani ALLAH YANG BISU (yang tak dapat berbicara) adalah juga teologia yang keliru. Banyak yang mati-matian mempertahankan apa yang telah Allah katakan (berabad-abad yang lampau) tetapi " menolak Dia yang berfirman (di dalam zaman kita sekarang ini) dari sorga" (Ibr 12:25). Tujuh kali kita diperingatkan "Siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar apa yang dikatakan Roh kepada jemaat-jemaat" (Why 2:7 3:22).

A. PERLUNYA MENDENGAR Yesus berkata: "Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman yang keluar dari mulut Allah" (Mat 4:4). Kata "ke luar" (=berjalan terus, sedang berjalan), menerangkan suatu keadaan masa kini dan suatu proses yang terus berlanjut. Itu berarti sesuatu yang telah terjadi di masa lalu, sedang terjadi masa kini, dan akan terjadi di masa depan. Ayat ini dapat diterjemahkan, "Manusiahidupdengan setiap Firman yang telah diucapkan dan terus akan diucapkan dari mulut Allah". Allah, yang

telah berbicara pada abad-abad yang lampau, tengah berbicara pada masa kini dan akan terus berbicara di masa depan. ALLAH BUKANLAH ALLAH YANG BISU! Ini tidak berarti bahwa Alkitab masih tetap ditulis dan kita perlu menambahinya. Saya TIDAK percaya hal itu. Namun Alkitab mengajar kita, bahwa Allah menghendaki suatu umat yang "diam bersama-sama dan hidup bersama-sama", (2Kor 6:16). "surat Kristus, yang dikenal dan yang dapat dibaca oleh semua orang" (2Kor 3:2,3). O, betapa kita perlu mendengar suaraNya. Kita hanya dapat hidup (memiliki hidup dan berkat Tuhan dalam gereja kita pada masa kini) dengan mendengarkan setiap Firman yang terus ke luar dari mulut Allah ke dalam hati kita. 1. Mengetahui Kehendak Allah Setiap pemimpin gereja menghadapi pertanyaan ini: Apa yang Allah harapkan untuk saya lakukan dan apa yang harus saya serahkan kepada Allah untuk dilakukan? Di manakah tanggung jawabku berakhir dan Allah mulai dengan tanggung jawabNya? Di satu pihak, Firman Tuhan berkata, "Bukan dengan keperkasaan dan bukan dengan kekuatan, melainkan dengan RohKu, firman Tuhan semesta alam" (Za 4:6). Beberapa orang berpendapat bahwa Allah akan melakukan semuanya dengan RohNya dan kita tidak perlu melakukan suatupun. Di lain pihak, Yesus berkata "Adapun hamba yang tahu akan kehendak tuannya, tetapi yang tidak mengadakan persiapan atau tidak melakukan apa yang dikehendaki tuannya, ia akan menerima banyak pukulan" (Luk 12:47). Yesus membandingkan ini dengan hamba yang tidak mengetahui kehendak tuannya. Hamba itu akan menerima sedikit pukulan" (ayat 48). Kedua-duanya akan menerima pukulan. Jika anda tahu dan tidak melakukan, dan jika anda tidak mengetahui dan tidak melakukan. Allah menghendaki para pemimpin gereja yang tahu dan melakukan kehendak tuannya. Kehendak Tuhan menetapkan batas tanggung jawab kita. Jika kita tidak tahu kehendakNya, kita akan mengalami hukuman yang lebih ringan, tetapi kita dihukum. Agar dapat melakukan kehendak Allah kita harus mengetahui kehendakNya. Untuk mengetahui kehendakNya kita harus mendengar suaraNya. Sangat sederhana! a. Kesaksian Pribadi. Ketika saya masih berada dalam pendidikan di sebuah Institut untuk menjadi utusan Injil, pada musim panas tahun 1951, saya pergi dari rumah ke rumah, berusaha untuk menjumpai seseorang yang dapat dibawa kepada Kristus. Untuk mengetuk pintu, saya memakai pembungkus di buku-buku jari saya.

Saya telah megikuti pelajaran bagaimana caranya memenangkan jiwa yang memberikan garis besar bagaimana membawa orang-orang kepada Kristus. Saya telah diajar untuk menunjukkan kepada orang-orang yang belum bertobat hal-hal sebagai berikut: o Saudara adalah seorang berdosa (Rm 3:23) o Upah dosa itu maut (Rm 6:23) o Yesus telah menanggung hukuman dosa saudara di atas kayu salib (1Ptr 2:24) o Terimalah Yesus dan saudara akan diselamatkan (Yoh 1:12) Baiklah saya meyakinkan anda, semua hal yang disebutkan tadi benar. Inilah yang perlu diketahui oleh semua orang bagaimana dapat diselamatkan. Jika mereka percaya hal ini dengan segenap hati mereka, mereka dilahirkan kembali dari atas oleh kuasa Roh Kudus yang memperbarui kembali. Namun tak seorangpun yang saya ajak bicara dilahirkan kembali selama musim panas itu. Tak seorangpun yang mau menerima Yesus. Apakah saya melakukan hal yang salah? Saya bersandar pada suatu formula/rumusan, suatu metode dan bukan pada pimpinan Roh Kudus. Saya tidak mendengarkan suara Allah yang mengarahkan dan usaha saya merupakan kegagalan belaka. Beberapa tahun kemudian, waktu mengamati Pendeta Heeley memimpin sejumlah jiwa kepada Kristus, saya menjumpai apa yang salah dalam pendekatan saya kepada jiwa-jiwa. Di manapun Pendeta Heeley pergi, ia selalu membawa orang-orang kepada Kristus. Jika Pendeta Heeley ingin cukur, ia berdoa dulu "Tuhan, pimpinlah saya ke tukang cukur yang memerlukan Engkau dan yang siap menerima Engkau." Lalu dia masuk ke mobilnya dan pergi ke beberapa tukang cukur. Jika ia merasakan suatu perasaan di dalam rohnya bahwa ia telah menemukan orang yang dimaksud, ia akan masuk ke tempat tukang cukur itu, dengan berharap penuh dapat membawa tukang cukur itu kepada Kristus. Dan jarang sekali ia gagal. Jika Pendeta Heeley ingin membeli bensin untuk mobilnya, atau barangbarang keperluan rumah tangga untuk istrinya, juga selalu sama. Ia akan berdoa mohon pengarahan dari Roh Kudus, dan kemudian mendengarkan suara Allah yang lembut yang memberi pengarahan. Ia selalu menjumpai orang-orang berdosa yang telah siap untuk menerima Juru Selamat jika ia mengikuti pimpinan Roh. Saya bertanya kepadanya suatu hari, "Metode apa yang anda gunakan ketika anda berbicara dengan orang-orang, Pak Heeley?" "Saya tidak punya metode apapun," jawabnya, "saya mendengarkan suara Roh untuk memimpin saya dalam hal apa yang perlu saya katakan kepada orang-orang. Saya tak

pernah mengatakan hal yang sama dua kali. Tuhan menolong saya untuk mengetahui kebutuhan mereka dan berbicara kepada mereka mengenai hal itu dengan cara yang penuh kasih dan perhatian sehingga mereka tahu bahwa saya memperhatikan dan Allah juga memperhatikan. Pendeta Heeley lahir dan dibesarkan di Kanada namun tidak pernah mendengar Injil sampai ia berusia 40 tahun. Ia dibimbing kepada Kristus oleh seorang penginjil keliling yang telah menyatakan perhatian yang penuh kasih kepadanya. Pendeta Heeley bagaikan bapa rohani, berkeliling ke seluruh dunia, menyatakan perhatian yang penuh kasih kepada orang-orang dan membawa mereka kepada Kristus. Rahasianya? Ia mendengar dan mentaati suara Allah. Saya telah berusaha untuk meniru cara Pendeta Heeley sejak saya bertemu dengannya. Saya telah membuktikan bahwa Allah akan memimpin saudara jika saudara sungguh-sungguh menginginkan Ia melakukan hal yang sama kepada saudara. Dengarlah suara Allah dan Ia akan memimpin saudara dengan lembut kepada orang-orang yang memerlukan keselamatan dan yang siap untuk menerima seorang Juru Selamat. Bukan saja dalam soal memenangkan jiwa, tetapi dalam setiap bidang pelayanan kita, kita perlu mendengar suara Allah. Namun hal-hal apa yang merintangi kita?

B. HAMBATAN-HAMBATAN UNTUK MENDENGAR 1. Hati yang tidak berkenan kepada Allah "Karena mata Tuhan menjelajah seluruh bumi untuk melimpahkan kekuatanNya kepada mereka yang bersungguh hati terhadap Dia" (2Taw 16:9). Orang-orang pada zaman Alkitab mengerti bahwa hati adalah tempat kedudukan dari: 1) emosi atau kasih sayang. 2) motif, 3). kehendak. Tuhan sungguhsungguh memperhatikan hal-hal ini. a. Mengasihi dunia. Jika kasih kita pada hal-hal di dunia dan bukan pada hal-hal di sorga, hal ini melukai hati Tuhan (1Yoh 2:15). Alkitab mengatakan agar kita mengasihi Tuhan dengan segenap hati, jiwa, akal budi dan kekuatan kita (Mat 22:37). b. Motivasi tidak murni. Jika motif kita tidak murni seperti nabi Bileam (Bil 23) maka Allah akan menghukum kita. Bileam menukar karunia Allah yang penuh mujizat itu dengan uang dan kemasyuran. c. Kepura-puraan. Ananias dan Safira (Kis 5) berpura-pura mempersembahkan semua uang mereka untuk pekerjaan Tuhan tetapi

sebenarnya mereka menahan sebagian bagi dirinya sendiri. Karena maksud/kehendak mereka salah Tuhan telah membunuh mereka. O! Betapa kita perlu menjaga kasih, motif dan kehendak hati kita supaya hal-hal itu senantiasa murni. Tuhan mengetahui hati kita bukan? "Manusia melihat apa yang di depan mata, tetapi Tuhan melihat hati" (1Sam 16:7). Kita tidak dapat menyembunyikan hal-hal ini dari Tuhan. Dan jika kita tidak menjaga hati kita benar di hadapan mataNya, kita tidak akan mendengar suara Allah. 2. Kekerasan hati "Pada hari ini, jika kamu mendengar suaraNya, janganlah keraskan hatimu" (Ibr 4:7). Organisasi yang saya dirikan (World MAP) mengadakan seminar keluarga setiap musim panas di Amerika bagian Barat dan Kanada. Kami sering menyisihkan satu hari untuk berdoa dan puasa selama minggu-minggu itu. Menjadi kebiasaan kami untuk memilih 3 pasangan suami istri yang sudah dewasa rohani dan menjadikan mereka tim doa. Kami juga mempunyai lima sampai enam tim doa untuk melayani orang-orang selama hari doa dan puasa itu. Tim doa ini menempatkan kursi-kursi mereka dalam sebuah lingkaran. Mereka yang ingin didoakan duduk di tengah-tengah lingkaran ini. Kami mendorong tim-tim ini untuk berdoa di dalam Roh (dalam bahasa Roh) 1Kor 14:13-14, dan berharap agar Roh Kudus memberikan pertolongan supra alami kepada mereka untuk melayani orang-orang yang datang untuk didoakan. a. Tidak bersedia mengampuni, menghentikan suara Allah. Seorang ibu datang dalam lingkaran doa di mana isteri saya dan saya ikut di dalamnya. Dia menderita penyakit tulang yang menyebabkan punggung dan tangannya menderita sakit yang luar biasa. Jari-jarinya bengkok dan tidak dapat diluruskan. Dia berkata bahwa Tuhan telah berhenti berbicara kepadanya. Dia sudah tidak mendengar suara Allah selama delapan bulan. Waktu tim mulai berdoa dalam Roh ada suatu gambaran dalam pikiran saya tentang suatu ladang jagung yang telah diambil tuaiannya. Tanahnya begitu keras dan kering dan tangkai-tangkai jagungnya sudah menjadi layu. Waktu saya memikirkan apa artinya gambaran ini bagi kebutuhan ibu tersebut, saya merasa Roh Kudus mulai berbicara kepada saya, "Inilah gambaran dari hati ibu tersebut. Hati yang keras dan kering." Saya berdoa, "Mengapa Tuhan?" Roh menjawab, "Suaminya telah berlaku tidak baik kepadanya dan dia tidak mau mengampuni suaminya.

Kegagalannya untuk mengampuni telah menyebabkan kekerasan hatinya. Dan karena ia tidak mengampuni suaminya dia juga tidak dapat diampuni. Semua hal ini telah menyebabkan frustrasi yang mendalam di dalam hatinya. Dan hal ini menyebabkan penyakit tulang yang dideritanya." Saya tidak selalu yakin bahwa saya mendengarkan suara Allah jika ada sesuatu seperti ini terjadi. Jadi untuk membuktikan apakah ini benar dari Roh Kudus atau imajinasi saya sendiri, saya menceritakan kepada ibu tadi mengenai penglihatan saya. Saya menceritakan kepadanya apa yang saya pikir Allah mengatakannya kepada saya mengenai keadaannya. Kemudian saya bertanya kepadanya, "Apakah hal ini benar?" Dia menangis tersedusedu dan menjawab, "Ya Bapak Ralph, semuanya benar." b. Pengampunan membawa suara Allah kembali. Belas kasihan Tuhan memenuhi hati saya terhadap ibu ini. Dengan air mata bercucuran saya berkata, "Ibu, Yesus sangat mengasihimu dan ingin menyembuhkan engkau dan ingin berbicara kepadamu. Ucapkan kata-kata pengampunanmu. Utarakan saja dan Katakan,"saya mengampuni suami saya dari semua hal jahat yang telah dia lakukan terhadap saya." Jika engkau melakukan hal itu Allah akan menyembuhkan engkau dan hatimu akan dilembutkan. Jika engkau memiliki hati yang lembut (dan bukannya hati yang keras) Tuhan akan kembali berbicara kepadamu." Dia melakukan sebagaimana yang saya utarakan dan dalam waktu 3 menit semua penyakit tulangnya telah lenyap. Rasa kaku dan sakit di belakang punggungnya telah disembuhkan. Jari-jarinya sudah menjadi bebas dan dia dapat membengkokkan jarinya seperti orang-orang lain yang normal. Beberapa hari kemudian dia menceriterakan kepada saya dengan air mata penuh kesukaan, "Bapak Ralph, Tuhan telah berbicara kepadaku lagi. Ia begitu baik!" Kemudian saya ketahui bahwa ia adalah seorang pendeta dari sebuah gereja yang baik. Cerita ini menggambarkan betapa pentingnya memiliki hati yang benar di hadapan Allah. Hati yang keras, hati yang tidak percaya, dan berbagai "kondisi hati" lainnya dapat menghambat kita untuk mendengar suara Allah. 3. Kondisi belum dilahirkan baru. Saya sudah mengadakan perjalanan kepada lebih dari seratus bangsa. Saya berkeliling dunia sedikitnya sekali setahun. Lebih dari 32 ribu orang telah mendaftarkan diri dalam Seminar Pembaharuan Rohani untuk para pemimpin gereja yang diadakan oleh World MAP. Salah satu dari masalah besar yang saya hadapi dalam perjalanan adalah para pemimpin gereja yang belum dilahirkan kembali. Para pendeta yang belum pernah dilahirkan kembali oleh Roh Allah. Tidak mengherankan kalau mereka tidak mendengar suara Allah.

200 tahun yang lalu, John Wesley, pendiri dari gereja Methodist, kembali ke Inggris dari perjalanannya misinya di Koloni Georgia. Dia berada di sana berusaha untuk meringankan perlakuan yang tidak manusiawi terhadap narapidana. Dalam perjalanan di kapal, seorang Misi Moravia dari Bavaria bercakap-cakap dengan John Wesley. "John Wesley, apakah anda sudah dilahirkan kembali?" "Saya ini seorang pendeta Amerika yang sudah ditahbiskan," Ia menjawab. "Bukan itu yang saya maksudkan John, apakah anda sudah dilahirkan baru oleh Roh Allah?" John menjawab, "Saya telah bekerja di antara narapidana, menolong yang miskin dan melakukan semua perbuatan baik sejak saya lulus dari Seminari." Orang Moravia ini tetap mendesak dia. "John Wesley! Yesus berkata engkau harus dilahirkan kembali." Diperhadapkan terus-menerus dengan pertanyaan ini, John Wesley melewatkan sebagian besar waktunya untuk membaca kembali Perjanjian Barunya. Dia menghadapi ayat-ayat seperti "Roh itu bersaksi bersama dengan roh kita bahwa kita adalah anak-anak Allah" (Rm 8:16). Dia berpikir, "Apa yang Paulus maksudkan?" Roh itu bersaksi bersama-sama roh kitaApa artinya itu? Ia membaca 1Yoh 5:10"barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya." Ia berpikir-pikir lagi, "Saya tidak pernah mengalami kesaksian apapun di dalam hati saya seperti yang dikatakan oleh Yohanes. Apakah saya sudah dilahirkan kembali?" Makin ia berbicara kepada orang Moravia itu dan membaca Perjanjian Barunya, makin ia diyakinkan bahwa ia belum memiliki "iman yang menyelamatkan" a. Iman yang menyelamatkan atau persetujuan intelek. Pada suatu hari dia membaca Yak 2:19, "Setan-setanpun juga percaya akan hal itu dan mereka gemetar." John Wesley mulai melihat adanya perbedaan di antara iman yang menyelamatkan dengan persetujuan secara intelek terhadap fakta-fakta sejarah yang dicatat dalam Alkitab mengenai Yesus. Setan-setan percaya akan fakta-fakta tetapi tidak memiliki iman yang menyelamatkan. Setelah diyakinkan bahwa gerejanya, para profesor di Seminarinya, dan para pengurus misinya telah membiarkannya dengan tidak menjadikan dia yakin bahwa ia sudah dilahirkan kembali oleh Roh Allah John memulai penyelidikannya untuk suatu kebenaran rohani.

Tidak lama kemudian setelah tiba di Inggris, John pergi ke suatu cabang misi yang kecil pada suatu malam untuk mendengarkan khotbah. Duduk sambil mendengarkan Injil diberitakan dengan jelas dan kesederhanaan, Wesley selanjutnya menyaksikan demikian, "Hati saya sungguh-sungguh dihangatkan." Dia pulang dari kebaktian itu dengan suatu damai yang melebihi segala akal sukacita yang tidak terkatakan dan penuh kemuliaan! Akhirnya dia mengalami kesukaan dari kelahiran baru secara Roh. Ia sekarang mengetahui apa yang Paulus, Yohanes dan Yakobus maksudkan. Akhirnya ia mengetahui perbedaan di antara kebenaran rohani dan persetujuan secara intelek dengan Injil. Dia melewatkan tahun-tahun berikutnya dalam pelayanan menunjukkan kepada orang-orang dan para pendeta betapa pentingnya mengetahui bahwa kita sudah dilahirkan kembali. b. Anda harus mengetahui bahwa anda telah diselamatkan. Bagaimana dengan anda? Apakah anda sudah mengetahui bahwa anda telah dilahirkan kembali? Anda dapat mengetahui! Mengapa anda tidak minta Tuhan Yesus masuk ke dalam hati anda? Berdoalah doa yang sederhana ini: "Tuhan Yesus! Saya mengakui bahwa Engkau menanggung dosa-dosaku di atas kayu salib untuk menyelamatkan saya dari dosa. Saya percaya bahwa Engkau telah bangkit dari kematian dan telah didudukkan di sebelah kanan Allah Bapa di Sorga. Saya mempercayai Engkau dan hanya darahMu yang telah membayar tunai dosa-dosaku. Saya berbalik dari dosa-dosaku. Saya menerima Roh KudusMu yang bersaksi dengan rohku bahwa saya adalah seorang anak Allah. Semua ini saya minta dalam nama Tuhan Yesus Kristus. Amin!" Jika anda berdoa dengan tulus, Yesus akan masuk dalam hati anda. Sekarang pergilah dan ceritakanlah kepada seseorang yang lain "Saya telah menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamatku dan saya tahu, saya sudah diselamatkan dan dalam perjalanan ke sorga." Alkitab mengatakan "Sebab jika kamu mengaku dengan mulutmu bahwa Yesus adalah Tuhan dan percaya dalam hatimu, bahwa Allah telah membangkitkan Dia dari antara orang mati maka kamu akan diselamatkan. Karena dengan hati orang percaya dan dibenarkan, dan dengan mulut orang mengaku dan diselamatkan" (Rm 10:9-10). Sekarang karena anda telah dilahirkan kembali, dan anda tahu bahwa memang anda demikian, anda adalah seorang calon bagi Tuhan untuk mulai berbicara dengan anda. Anda dapat mendengar suaraNya. Yesus berkata "Domba-dombaKu mendengarkan suaraKu dan Aku mengenal mereka, dan mereka mengikut Aku" (Yoh 10:27). Ketika Yesus masuk dalam hati anda Ia menyucikannya dan membebaskannya dari dosa dan kegelapan dan menyingkirkan hati yang

keras dan memberikan anda suatu hati yang lembut, hati daging sehingga anda dapat mendengar suaraNya. "Aku akan mentahirkan kamuKamu akan Kuberikan hati yang baru, dan roh yang baru di dalam batinmu dan Aku akan menjauhkan dari tubuhmu hati yang keras dan Kuberikan kepadamu hati yang taat. Rohku akan Kuberikan diam di dalam batinmu dan Aku akan membuat kamu hidup menurut segala ketetapanKu dan tetap berpegang pada peraturan-peraturanKu dan melakukannya" (Yeh 36:25-27). 4. Ketidaktaatan Menghambat Allah Berbicara Judson Cornwall menceritakan bahwa satu kali ia berdoa sungguh-sungguh, mohon Tuhan berbicara kepadanya. Tuhan pada akhirnya berkata, "Judson, mengapa Aku harus berbicara kepadamu lagi, jika engkau tidak mentaati apa yang telah Kukatakan saat terakhir Aku berbicara kepadamu?" Pendeta Cornwall langsung bangkit dan melakukan apa yang Tuhan telah katakan kepadanya waktu yang lalu. Barulah ia mulai dapat mendengar suara Allah kembali. "Jadi iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus" (Rm 10:17). Iman dapat didefinisikan sebagai "Tindakan ketaatan terhadap apa yang Allah katakan." Mendengar suara Allah tidak berarti sekedar mendengar dengan telinga anda. Itu berarti menanggapi dengan ketaatan terhadap apa yang Ia katakan. Ketika putra saya berusia sekitar 9 tahun, saya berkata kepadanya, "Anakku, bawalah kantong sampah ini ke keranjang sampah," Ia menjawab, "Baik ayah!" Tigapuluh menit kemudian saya kembali dan sampah itu masih tetap di sana. Apakah ia mendengarkan saya? Tidak sama sekali dalam pengertian Alkitab. Sampai ia mentaati saya, ia belum mendengar saya. Saya memanggil anak saya lagi dan menunjukkan kepadanya apa yang saya kehendaki dan membuatnya mengerti. Barulah ia mendengar saya, dan mengeluarkan sampah itu. Iman timbul dari pendengaranfirman Allah yaitu mendengar dan dengan taat menanggapi apa yang Allah katakan. a. Kesombongan Menghambat Ketaatan Suatu hambatan besar untuk ketaatan kita adalah KESOMBONGAN. Saya pernah mendengar penginjil terkenal Oral Roberts berkata, "Setiap kali aku berjalan ke depan mimbar untuk mendoakan orang-orang sakit, aku harus memakukan kesombonganku di atas kayu salib sekali lagi karena aku tahu

bahwa hanya sedikit dari mereka yang aku doakan akan mengalami kesembuhan." Sekalipun menghadapi orang yang ragu-ragu, yang suka mengolok dan para wartawan yang suka mengkritik, Oral Roberts terus bertekun melakukan apa yang ia dengar dari Allah untuk dia lakukan. Karena kesetiaannya kepada panggilan yang tidak populer ini, beribu-ribu orang disembuhkan dan pelayanan kesembuhan dijalankan lebih luas lagi melalui Gereja. Banyak dari kita tidak mau melakukan apa yang Allah katakan kepada kita karena kita takut apa yang orang lain akan pikirkan tentang kita jika kita mentaati Tuhan. "Takut kepada orang mendatangkan jerat" (Ams 29:25). "Takut akan orang" adalah pernyataan lain dari kesombongan. Pada dasarnya kita tidak melakukan apa yang kita tahu Allah ingin kita lakukan karena KESOMBONGAN. Pikiran daging kita berpikir, "Jika kita mencoba melakukan apa yang Allah katakan dan kemudian gagal, bagaimana pendapat orang-orang? Rekanrekan Pendeta tidak akan memahami saya. Denominasi saya tidak menyetujui apa yang Allah katakan agar aku melakukannya. Semua pemikiran ini berakar dari "takut akan orang" KESOMBONGAN! Banyak yang rindu melakukan kehendak Allah terhambat karena takut akan orang. Saya seringkali ditanya, "Bapak Ralph, bagaimana bapak dapat yakin bahwa Allah berbicara kepada bapak?" Saya menjawab "Saya tidak dapat selalu yakin. Sering juga saya tidak merasa yakin. Saya mengujinya. Saya mencheck semua fakta dengan orangorang lain yang terlibat." Alkitab mengatakan "ujilah segala sesuatu" (1Tes 5:21). Satu-satunya cara agar anda dapat membuktikan sesuatu adalah mengujinya. Saya sering gagal dalam menguji tetapi salah satu unsur iman adalah resiko. Anda harus bersedia menanggung resiko menjadi orang yang bodoh demi Kristus." Jangan biarkan kesombongan melumpuhkan anda. Berusahalah melakukan apa yang Allah ingin kaulakukan. Walaupun mungkin anda akan mengalami kegagalan, pasti ada keberhasilannya juga. Ambillah resiko. Melangkahlah dalam iman dan usahakan hal-hal yang besar untuk Allah. b. Prasangka Menghambat Ketaatan Salah satu dari cerita-cerita yang paling menarik dalam Alkitab adalah 2 Raja-raja pasal 5. Dengan jelas menggambarkan bagaimana prasangka menghambat kita untuk mendengar dan mentaati suara Tuhan.

1) Naaman hampir kehilangan berkat. Naaman adalah seorang panglima Raja Aram yang mempunyai seorang gadis pelayan bangsa Israel, seorang tawanan perang. Naaman mempunyai penyakit yang tak dapat diobati, yaitu kusta. Gadis ini menceritakan kepadanya mengenai seorang nabi di Israel yang bernama Elisa yang memiliki kuasa dari Allah untuk menyembuhkan orang-orang. Melalui saluran diplomatik, Naaman menghubungi Raja Israel dan telah membuat persiapan untuk mengunjungi Elisa. Ketika Naaman tiba di rumah Elisa yang sangat sederhana, nabi ini mengutus hambanya untuk mengatakan kepada Panglima Naaman apa yang Allah katakan ia harus lakukan. "Pergilah mandi tujuh kali dalam sungai Yordan, maka tubuhmu akan pulih kembali, sehingga engkau menjadi tahir" (ayat 10). Naaman menjadi sangat marah dan berkata "Aku sangka bahwa setidaktidaknya ia datang ke luar dan memanggil nama Tuhan, Allahnya, lalu menggerak-gerakkan tangannya diatas penyakit itu dan dengan demikian menyembuhkan penyakit kustaku" (Perhatikan prasangkanya tentang bagaimana ia akan disembuhkan). "Bukankah Abana dan Parpar, sungai-sungai di Damsyik, lebih baik dari segala sungai di Israel? Bukankah aku dapat mandi di sana dan menjadi tahir?" Kemudian berpalinglah ia dan pergi dengan panas hati. Tetapi pegawai-pegawainya datang mendekat serta berkata kepadanya: "Bapak, seandainya nabi itu menyuruh perkara yang sukar kepadamu, bukankah bapak akan melakukannya? Mengapa Bapak tidak mau mentaatinya (kata kunci) sedangkan permintaannya hanyalah untuk mandi di sana dan menjadi tahir?" Dengan bujukan ini, turunlah Naaman ke sungai Yordan dan membenamkan dirinya tujuh kali sebagaimana yang diperintahkan oleh nabi itu. Ketika ia mentaatinya, pulihlah tubuhnya seperti tubuh seorang anak dan ia menjadi tahir. Naaman hampir saja kehilangan berkat yang ia cari. Mengapa? Karena suatu prasangka terlebih dahulu tentang bagaimana Allah akan menyembuhkan dia. Prasangka dan kesombongan menghalangi ketaatannya. Anda lihat, suatu prasangka berakar dari kesombongan. Seperti suatu pernyataan: "Saya mengetahui segala sesuatu. Saya dapat melihat hal-hal sebelum hal-hal itu terjadi sebagaimana hal-hal itu akan terjadi." (sifat seperti Tuhan). Jika hal-hal tidak terjadi sebagaimana yang kita sangka hal itu akan terjadi hal itu akan merendahkan gambaran diri kita yang tadinya menyangka bisa seperti Tuhan (penuh kesombongan) sehingga kita, seperti Naaman, pergi

dengan gusar sebab Allah tidak menyesuaikan diri dengan prasangka kita tentang bagaimana Ia akan melakukan hal itu. 2)pola Allah untuk kehidupan anda. Teologia kita (suatu prasangka tentang Allah) seringkali berada dalam konflik dengan bimbingan Roh dalam hidup kita dan jika hal itu terjadi kita menghadapi bahaya besar akan kehilangan kehendak Allah. Ketika Tuhan mulai mendorong saya untuk memulai pelayanan World MAP saya menolak dengan protes. Selama 11 tahun saya telah memulai gerejagereja baru dan menggembalakannya. Sekarang Tuhan mengatakan kepadaku untuk melakukan sesuatu, yang berarti saya harus meninggalkan tugas penggembalaan gereja. Saya mendebat, "Tuhan, ini tidak Alkitabiah. Setiap hal yang Kaulakukan dan akan melakukan, Engkau harus melakukannya melalui gereja lokal." Itulah teologi saya waktu itu. Saya memprotes Tuhan. "Ide mengenai World MAP ini tidak sesuai dengan pola di dalam buku Kisah Para Rasul. Saya tentunya diharapkan melakukan hal-hal sesuai dengan pola!" (Ibr 8:5 merupakan ayat favorit saya waktu itu). Satu Minggu pagi ketika saya berjalan menuju mimbar untuk berkhotbah, Tuhan berbicara kepada saya, "Mengapa engkau tidak membaca bagian akhir dari ayat itu?" Saya tahu apa yang Allah maksudkan. Bacalah bagian akhir dari Ibr 8:5. "Tuhan, mengapa saya harus membaca bagian akhir dari ayat itu? Saya telah membacanya beratus-ratus kali. Saya telah berkhotbah dari ayat itu berkali-kali. Tuhan, saya tahu ayat itu dari depan sampai belakang. Mengapa saya harus membaca bagian akhir dari ayat itu lagi?" Suara Tuhan didalam hati saya tetap mendesak, "Bacalah bagian akhir dari ayat itu." Saya buka Alkitab saya dan saya membaca, "Ingatlah, demikian firmanNya, bahwa engkau membuat semuanya itu menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu di atas gunung itu." (Ibr 8:5b). Kata-kata ini memukul saya seperti dinamit: "Yang telah ditunjukkan kepadamu." "Buatlah SEMUANYA menurut contoh yang telah ditunjukkan kepadamu." Teologia saya didasarkan pada pola yang telah ditunjukkan kepada Musa, Daud, Gereja mula-mula tetapi Tuhan mengatakan, "Kamu harus melakukannya menurut contoh yang telah Aku tunjukkan kepadamu." Nuh membangun bahtera karena itulah contoh yang Kuberikan kepada Nuh. Musa membangun tabernakel karena itulah contoh yang Kubuat bagi Musa. Salomo membangun bait Allah karena Aku mengatakannya demikian. Petrus, Paulus, Yakobus dan Yohanes melakukan hal-hal yang telah Kuberikan kepada mereka, Itulah pola/contoh untuk kehidupan mereka.

"Engkau harus melakukan apa yang Aku katakan kepadamu untuk kaulakukan dalam cara yang Kuberitahukan. Itulah yang akan menjadi contoh bagi kehidupanmu." Akhirnya saya mengerti. Saya harus mendengar dan mentaati suara Allah. Saya tidak dapat melakukan hal-hal karena "denominasi saya melakukannya demikian," atau karena "hal itu selalu dikerjakan demikian." Saya harus mentaati Allah. Dan sahabat, itu tetap merupakan persoalan, bukan? Allah mempunyai rencana untuk masing-masing kita. Pelayanan yang Ia berikan kepada Billy Graham adalah seperti Yohanes Pembaptis di mana Alkitab menyaksikan "Yohanes memang tidak membuat satu tandapun." (Yoh 10:41). Kenneth Hagin dan Oral Robert lebih menyerupai Stefanus, yang " mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak" (Kis 6:8). Ketiga penginjil besar ini melakukan apa yang Allah katakan kepada mereka untuk dilakukan tetapi masing-masing sangat berbeda. Masing-masing kita harus mendengar dan mentaati suara Allah. Itulah yang akan membedakan anda dari ribuan orang lain yang tidak mau mendengar suara Allah. Kebanyakan tidak mau mendengar dan mentaati suara Allah. Tetapi anda harus! Jangan biarkan prasangka anda atau tradisi denominasi anda menghambat anda untuk melakukan apa yang Allah katakan kepada anda. Dengarlah dan taatilah suara Allah. Beberapa orang akan mengejek, menentang atau mengkritik anda. Yang lain akan meragukan atau menentang anda. Kesombongan anda akan dilukai. Tetapi biarkan saja. Lakukan kehendak Allah! 3)pengalaman di Pulau Khushan. Pada tahun 1962 saya bekerja sama dengan seorang hamba Tuhan lain mengadakan penginjilan di sebuah pulau kecil di pantai sebelah Timur Zhejiang. Seorang petobat dari kebaktiankebaktian yang pernah saya selenggarakan 3 tahun sebelumnya telah mendahului kami ke pulau ini dan telah memulai sebuah jemaat. Sesuai dengan tradisi penginjil, saya berkhotbah dengan sungguh-sungguh selama beberapa malam namun tanpa melihat seorangpun bertobat kepada Kristus. Rekan Penginjil saya dan saya menjadi frustrasi dan hampir putus asa, lalu kami mengumumkan untuk mengadakan persekutuan doa setiap pagi pukul 04.00. Dengan jalan ini, kami dapat berdoa dengan anggotaanggota sebelum mereka keluar mencari nafkah. Kami mengharapkan 10 sampai 12 anggota gereja yang hadir. Betapa terkejutnya ketika kami melihat bahwa gereja kecil itu penuh dengan sekitar 100 orang yang hadir (sebanyak yang kami lihat dalam kebaktian malamnya).

Tentunya setiap orang tahu tidak ada kebaktian kebangunan rohani pada pukul 04.00 pagi tetapi rupanya demikianlah yang terjadi. Tuhan menggoncangkan prasangka saya tentang mendengar dan mentaati suaraNya. Kami memulai jam doa itu dengan satu nyanyian pendek: Bersihkanlah jiwaku, bersihkanlah jiwaku Roh yang manis, bersihkanlah jiwaku Aku bersandar sepenuh, waktu aku duduk di bawah kakiNya Roh yang manis, bersihkanlah jiwaku. Setelah menyanyi beberapa kali, salah seorang ibu mulai bernubuat. Katakatanya terputus-putus. Dia terbata-bata seakan-akan mengalami kesulitan yang besar untuk mengeluarkan kata-kata. Hal ini membuat saya tidak tenang tetapi saya pikir, "Biarlah jiwa yang malang ini berusaha toh tidak akan mengganggu." Tiga kali ia mengulangi kata-kata ini, "Tanggalkanlah kasutmu karena tanah tempat engkau berdiri itu adalah kudus." Apa yang saya dengar hanyalah seorang wanita yang saya rasa kasihan, mengucapkan kata-kata yang rasanya tidak cocok untuk saat seperti ini. Rekan saya, Pendeta Heeley, mendengar sesuatu yang berbeda dengan saya. Ia mendengar suara Roh Kudus memanggil orang-orang berdosa untuk bertobat (Saya senang karena ia memiliki pendengaran rohani yang lebih baik daripada saya). Ia bangkit dan mulai berbicara dengan tenang. "Sekarang saudara-saudara, saya percaya bahwa Tuhan baru saja berbicara kepada kita dan kita perlu menanggapinya. Saya tidak tahu apakah Tuhan secara harfiah menghendaki agar kita menanggalkan sepatu kita atau tidak. Tetapi jika memang demikian toh tidak ada salahnya untuk kita melakukannya." Dengan merasa sedikit bodoh, kami mulai menanggalkan sepatu kami. Pendeta Heeley melanjutkan, "Apa yang Tuhan mungkin maksudkan adalah demikian. Kita harus menanggalkan sepatu lama dari kehidupan berdosa dan melangkah pada jalan kehidupan yang benar. Kita harus meninggalkan hidup lama kita yang penuh ikatan dan pemberontakan, lalu melangkah pada hidup baru yang penuh kebebasan dan ketaatan kepada Yesus. "Jika saudara ingin melakukannya sekarang juga tanggalkan sepatu anda, majulah ke depan supaya kami dapat berdoa bersama."

Betapa terkejutnya saya, sementara semua khotbah penginjilan saya yang rasanya serba super itu tidak menghasilkan apa-apa pendengaran rohani yang peka dari Pendeta Heeley dan tanggapannya kepada suara Allah justru mengakibatkan sesuatu. Orang-orang mulai maju ke depan dari segala penjuru. Lalu salah satu dari pengalaman yang mengagumkan yang pernah saya saksikan terjadilah. Waktu mereka maju ke depan, seperti ada sebuah garis yang tidak nampak di bangku yang terdepan. Ketika mereka yang maju ke depan untuk menerima Kristus melewati garis itu, mereka jatuh tiarap seperti dipukul oleh malaikat yang tidak kelihatan. Orang-orang Indian Meksiko yang biasanya seperti tak pernah tersentuh perasaannya itu terhampar di lantai, menangis dan terisak-isak karena dukacita dan pertobatan dari dosa-dosa mereka, seakan-akan hati mereka hancur. Saya pikir ketika sekitar setengah lusin orang terjatuh, hal ini akan menjadikan orang-orang lain takut dan mereka akan kembali dan lari keluar meninggalkan kebaktian. Tetapi tidak! Mereka tetap maju di depan sampai hampir semua orang berdosa dalam kebaktian itu bertobat dan menerima karunia keselamatan (lebih dari 50 orang yang datang kepada Kristus) Wow! Siapa yang pernah mendengar cara memenangkan jiwa seperti itu? Siapa yang pernah mendengar metode penginjilan seperti ini? Namun anda lihat, rahasianya adalah di dalam "memiliki telinga untuk mendengar apa yang dikatakan oleh Roh." Dengan malu saya mengakui bahwa saya tidak mendengarkan Roh di dalam hal apa yang terjadi dalam kebaktian. Tetapi syukur kepada Tuhan rekan saya mendengarnya! Ia mentaati Tuhan, sehingga kebangunan rohani yang besar terjadilah, yang sempat menggoncangkan pulau itu dari ujung yang satu ke ujung yang lain. Oh Tuhan! Lepaskanlah aku dan ketidaktaatanku, prasangkaku, tradisiku dan kekerasan hatiku yang menghambat aku dan mendengar dan mentaati suaraMu. Amin!

Bab 3 Mentaati Suara Allah "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus" (Rm 10:17).

A. LOGOS DAN RHEMA Ada dua kata Yunani yang diterjemahkan sebagai firman yaitu "LOGOS" dan "RHEMA". Logos menunjuk pada "Firman" yang tertulis, Rhema menunjuk pada "Firman" yang hidup atau yang memberi hidup. (Catatan Pengarang: Contoh-contoh berikut ini bukan berarti pemakaian yang sangat tepat dari kata-kata Yunani ini, melainkan sebagai contoh saja untuk menjelaskan tentang logosdan rhema). Yesus berkata, "Ada tertulis (logos): Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap Firman (rhema) yang keluar dari mulut Allah." (Mat 4:4). Dikatakan mengenai orang-orang di Berea, "Orang-orang Yahudi di kota itu lebih baik hatinya daripada orang-orang Yahudi di Tesalonika, karena mereka menerima firman (rhema) itu dengan segala kerelaan hati dan setiap hari mereka menyelidiki Kitab Suci (logos) untuk mengetahui, apakah semuanya itu benar demikian" (Kis 17:11). Ayat-ayat ini menggambarkan ikatan yang tak terpisahkan di antara logos dan rhema. Kedua kata ini selalu bekerja bersama-sama. Kita harus mengetahui Kitab Suci (logos) untuk mengetahui apakah firman (rhema) yang datang kepada kita itu sungguh-sungguh dari Tuhan ataukah dari roh yang lain. Roh Kudus (rhema) dan Alkitab (logos) selalu sesuai. Yesus berkata mengenai orang-orang Saduki, "Kamu sesat, sebab kamu tidak mengerti Kitab Suci (logos) maupun Kuasa Allah (rhema)!". (Mat 22:29). Orang-orang Saduki di zaman Yesus tidak mengerti baik logos maupun rhema. Banyak pemimpin gereja juga tidak mengerti Kitab Suci maupun Kuasa Allah. Pemimpin-pemimpin dan jemaat seperti itu menyebabkan Allah ingin memuntahkannya (Why 3:15). Ada pemimpin-pemimpin gereja yang mengetahui Kitab Suci, tetapi tidak mengerti kuasa Allah. Mereka seringkali kering. Ada juga beberapa pemimpin gereja yang mengetahui kuasa Allah tetapi tidak mengerti Kitab Suci. Mereka seringkali menjadi sombong. Jika saudara mengetahui baik Kitab Suci maupun kuasa Allah maka baik saudara maupun gereja saudara akan bertumbuh.

1. Rhema yang berasal dari Allah Rhema biasanya merupakan komunikasi dari Allah yang diberikan untuk menjawab suatu situasi khusus. Waktu kita membaca Alkitab dan satu ayat tertentu tiba-tiba begitu hidup (ada kuasa), kita menerima rhema (firman yang hidup) untuk kebutuhan pribadi kita. Jika kita sedang berdoa mohon hikmat Allah atau jawaban Allah untuk suatu masalah yang sulit dipecahkan dan tiba-tiba Tuhan memberikan jawabanNya dalam hati kita dengan begitu jelas dan praktis sehingga dapat memberikan jalan keluar bagi masalah itu, itulah rhema. Jika kita sedang di tengah-tengah kegiatan pelayanan dan kita mendapatkan kesan yang tiba-tiba untuk mengambil suatu tindakan khusus yang akhirnya berakibat berkat yang besar, itulah rhema. Peringatan: kita tidak boleh berkesimpulan bahwa setiap dorongan, kesan atau perasaan adalah rhema. Rhema tidak akan bertentangan dengan Kitab Suci (logos), Firman Allah yang kekal. Jika saya sakit, saya dapat membuka Alkitab saya dan membaca " oleh bilur-bilurNya kamu telah sembuh" (1Ptr 2:24). Saya mempunyai Firman (Logos) yang memberitahukan saya bahwa adalah kehendak Tuhan untuk menyembuhkan saya. Tetapi boleh jadi saya tidak disembuhkan ketika saya membaca ayat itu. a. Petrus dan Orang Lumpuh. Orang lumpuh (Kis 3) yang sudah bertahun-tahun diletakkan dekat pintu gerbang Bait Allah, tidak disembuhkan oleh Yesus, yang sering masuk ke luar Bait Allah. Petrus, yang masih segar karena pengalaman Pentakostanya, pergi ke Bait Allah untuk berdoa. Ketika si lumpuh ini meminta sedekah, Petrus menerima rhema untuk dia: Lihatlah kepada kami. Emas dan perak tidak ada padaku, tetapi apa yang kupunyai, kuberikan kepadamu: Demi nama Yesus Kristus, orang Nazaret itu, berjalanlah!" Seketika itu juga, si lumpuh melonjak berdiri lalu berjalan kian ke mari dan mengikuti Petrus ke dalam Bait Allah, berjalan dan melompat-lompat serta memuji Allah. Si lumpuh ini mungkin juga tahu ayat Alkitab yang mengatakan "Aku Tuhanlah yang menyembuhkan engkau" (Kel 15:26). Namun ia tidak disembuhkan sampai Petrus mendengar suara Allah dan mengucapkan firman yang memberi hidup (rhema) kepadanya. "Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh Firman Kristus" (Rm 10:17). Jika Allah berbicara kepada saudara timbullah iman. Jika saudara mentaati apa yang Allah telah katakan, mujizat akan terjadi pada saudara seperti yang mereka alami juga pada zaman Alkitab.

b. Mujizat di Hebei. Kira-kira 15 tahun yang lalu saya berada di Mexico melayani di Ciudad Obregon dengan Penginjil D Sousa dari Panama. Ia mengajak saya untuk mengunjungi seseorang yang sakit yang tidak dapat bangkit dari tempat tidurnya. Ketika kami sampai di rumah orang tersebut dan mulai berdoa untuknya, saya merasa Roh Kudus memberikan suatu firman untuk disampaikan kepada orang itu. Saya berkata kepada Bapak D Sousa, "Dapatkah Bapak menterjemahkan berita dari Tuhan ini ke dalam bahasa Spanyol? "Ya, silahkan," jawabnya. "Katakan kepada saudara ini bahwa Tuhan berkata jika ia tidak mau bertobat, ia akan mati." Bapak D Sousa menyampaikan berita ini kepada orang tersebut, yang kemudian menjadi hancur hati dan menangis sejadi-jadinya. Ia menangis dan berdoa begitu keras, sehingga ranjang tempat ia berbaring menjadi bergoyang-goyang. Fiman Tuhan (rhema) datang lagi kepada saya, "Peganglah tangan orang ini dan katakan kepadanya untuk bangkit dan berjalan dalam nama Yesus." Kembali Peng-Injil D Sousa menterjemahkan. Saya pegang tangan orang itu dan mulai mengangkat dia perlahan-lahan dari tempat tidurnya. Dengan perlahan-lahan ia bangkit dan berdiri,dan seketika itu juga ia mulai berteriak dan melompat-lompat ke sekeliling kamarnya. Ia telah disembuhkan secara ajaib dalam tempo yang sangat singkat. Saya ketahui kemudian bahwa ia adalah seorang anggota jemaat yang sudah murtad, dan sebelum pertobatannya ia adalah seorang gangster/bandit yang sangat terkenal karena jahatnya dan telah membunuh banyak orang. Ia sudah jauh dari Tuhan dan sekarang ia mengalami sakit jantung dan ginjal yang sudah parah. Begitu parah penyakitnya sehingga dokter telah berpesan agar tak seorangpun boleh menggerakkan atau membangunkannya karena hal itu akan membunuh dia. (Saya gembira saya tidak mengetahui hal itu sebab boleh jadi waktu itu saya akan takut untuk mentaati Allah). Malam itu, ia berada di Gedung Olah Raga (di mana kebaktian kebangunan rohani & kesembuhan ilahi diselenggarakan) dan memberikan kesaksiannya. Karena ia begitu terkenal di masyarakat itu, kesan/pengaruh dari kesaksiannya sungguh besar. Banyak orang datang kepada Kristus untuk diselamatkan dan mengalami kesembuhan sebagai akibat dari kesaksiannya. B. HUBUNGAN PERSEKUTUAN BUKAN SUATU RUMUS

Kita perlu menyadari bahwa firman Allah yang memberi hidup jarang muncul sebagai jawaban dari rumus-rumus atau bentuk-bentuk keagamaan. Yesus menyembuhkan seorang buta dengan mengaduk tanah dengan ludahNya, lalu mengoleskannya pada mata orang buta itu. Kemudian orang buta itu disuruh pergi ke Kolam Siloam untuk membasuh matanya, dan ia disembuhkan (Yoh 9). Jika saya mengaduk tanah dengan ludah dan mengoleskannya pada mata orang-orang buta, barangkali yang terjadi adalah adanya lumpur di mata mereka. Jika Allah mengatakan kepadaku untuk melakukan demikian (sebagaimana Ia mengatakannya kepada Yesus) maka orang buta itu dapat disembuhkan. Jadi bukan suatu rumusan tertentu. Melainkan mendengar suara Allah dan mengambil langkah ketaatan sebagai tanggapan kita terhadap apa yang Allah katakan. Dalam kesempatan lain, Yesus menyembuhkan orang buta dengan cara yang lain. (Mat 9:29 Mrk 10:52). Hubungan yang benar dengan BapaNya yang di sorga adalah rahasia dari pelayanan Yesus. Yesus berkata, " Aku senantiasa berbuat apa yang berkenan kepadaNya" (Yoh 8:29). Karena kondisi hati Yesus senantiasa benar dengan Bapanya yang di sorga, Ia dapat dengan mudah mendengar dan mentaati suara BapaNya. Yesus menjelaskan hal itu demikian, "Anak tidak dapat mengerjakan sesuatu dari diriNya sendiri, jikalau tidak Ia melihat Bapa mengerjakannya; sebab apa yang dikerjakan Bapa, itu juga yang dikerjakan Anak" (Yoh 5:19). Yesus mengetahui Kitab Suci. Ia mempermalukan orang-orang cerdikcendekiawan di Bait Allah waktu usia 12 tahun dengan pengetahuan AlkitabNya. Tetapi rahasia pelayananNya adalah dalam kepekaanNya terhadap suara Bapa mengerjakan apa yang Ia lihat Bapa mengerjakanNya, dengan cara yang sama sebagaimana Ia lihat BapaNya mengerjakan hal itu. Jika Yesus perlu mendengar dari BapaNya, Ia pergi ke tempat yang sunyi untuk berdoa (dan kadang-kadang dengan berpuasa). Saudara ingat pelayanan Yesus diawali dengan doa puasa selama 40 hari. Setelah itu sering kita jumpai Dia berdoa semalam-malaman (misalnya sebelum Ia memilih 12 muridNya). Kita sering menjumpaiNya ke tempat yang sunyi untuk berdoa. Dari kehidupan ibadah seperti itulah timbul kepekaan untuk mendengar suara Bapa. Apakah saudara selalu mengembangkan hubungan saudara dengan Bapa dalam waktu-waktu doa dan puasa? Jika belum, mengapa saudara tidak mencobanya dan melihat apa yang akan terjadi? Saudara akan menjadi terheran-heran.

C. HAL YANG NYATA BUKAN PENGGANTINYA

Saya harap sekolah-sekolah Alkitab dan seminari-seminari Alkitab dalam kurikulumnya lebih menekankan kepada para mahasiswanya mengenai bagaimana bertindak di dalam karunia-karunia Roh Kudus dan bagaimana mendengar suara Allah. 1. Perkataan Allah dan RohNya, bukan pengetahuan secara Akademi. Syukur kepada Tuhan untuk orang-orang seperti Dr. John Wimber (Quaker), Dr. Peter Wagner (Injili konservatif), Dr. Donald Mc Gavran (Protestan). Orang-orang yang berani ini merupakan tokoh-tokoh di sekolah Misi Seminari Theologia Fuller di Pasadena, California. Mereka telah merintis penyelidikan/studi seperti "Pelajaran Missi 510 Tandatanda & Mujizat dan Pertumbuhan Gereja." Dalam pelajaran ini para mahasiswa diajar bagaimana berdoa untuk kesembuhan orang yang sakit, mengusir setan, dan memberitakan Injil dengan disertai tanda-tanda mujizat untuk meneguhkan pemberitaan Firman. Namun ini merupakan kekecualian dan bukan peraturan. Kebanyakan di Seminari-seminari atau Sekolah-sekolah Alkitab, lebih banyak waktu diberikan untuk Ilmu Filsafat, Kesusasteraan, Sejarah, Ilmu Jiwa dan macam-macam pokok pelajaran yang hanya bermanfaat sedikit dalam menyiapkan para pemimpin gereja untuk menghadapi peperangan rohani bila mereka telah pergi keluar memberitakan Injil. Pokok-pokok pelajaran ini tidak akan menghasilkan orang-orang yang menyala-nyala di dalam Roh yang dapat mengusir kuasa kegelapan yang ada di mana-mana. Kita perlu orang-orang seperti Filipus, yang pergi ke Samaria dan memberitakan Kristus. Alkitab berkata, "Ketika orang banyak itu mendengar pemberitaan Filipus dan melihat tanda-tanda yang diadakannya, mereka semua dengan bulat hati menerima apa yang diberitakannya itu. Sebab dari banyak orang yang kerasukan roh jahat keluarlah roh-roh itu sambil berseru dengan suara keras, dan banyak juga orang lumpuh dan orang timpang yang disembuhkan" (Kis 8:6,7). Sekolah-sekolah Alkitab kita harus menghasilkan orang-orang yang beriman seperti Stepanus dan Filipus orang-orang yang berani menantang kuasa kegelapan dan berkemenangan. Maka kita akan melihat "Injil Kerajaan ini akan diberitakan di seluruh dunia menjadi kesaksian bagi semua bangsa" (Mat 24:14). 2. Iman, bukan kebanggaan Jika kita terus menggantikan rhema dari Allah dengan pengetahuan secara akademis, kita sudah pasti akan gagal. Salah satu bahaya besar dari pendidikan yang tinggi adalah kecenderungan orang-orang menjadi sombong, sedangkan tujuan sebenarnya adalah menghasilkan orang-orang

yang beriman. Rasul Paulus berkata, "pengetahuan membuat orang menjadi sombong, tetapi kasih membangun" (1Kor 8:1). Janganlah kita menyembah pada mezbah pengetahuan duniawi. Janganlah menaruhkan iman kita pada kepandaian akademis mau pun teknologis yang hanya dapat memberikan rasa senang, tetapi sebetulnya tidak menghasilkan buah; hanya merupakan pengganti dari kuasa Allah di dalam kehidupan dan pelayanan kita. Lebih baik kita berusaha menjadi pendengar dan pelaku dari Firman Tuhan. Marilah kita belajar mendengar dari Allah.

D. BERITA BUKAN BANGUNAN Pemimpin-pemimpin gereja di negara Barat sering mengimbangi kurangnya kuasa dan kemampuan mereka untuk mendengar suara Allah dengan menanamkan jutaan dollar pada tempat-tempat suci dan bangunan gereja yang megah. Mereka mengira bahwa hal ini akan memberikan kesan kepada dunia dan menarik banyak orang datang ke gereja mereka. Kalau saudara mempelajari sejarah gereja, saudara dapat menjumpai bahwa makin mundur suatu gereja, makin banyak pemimpin gereja yang mengusahakan gedung-gedung yang megah yang hanya sedikit saja menolong orang-orang ataupun yang betul-betul memberitakan Injil. Bangunan-bangunan ini seakan-akan hanya melayani satu tujuan utama, yaitu mendatangkan kebanggaan kepada para pemimpin gereja dan anggota jemaat. Kalau melihat bagaimana gereja bertindak, akan menjadi berbedalah bunyi amanat Yesus yang terakhir, dan dapat dibaca demikian: "Pergilah ke seluruh dunia dan bangunlah gereja besar untuk setiap orang." Prioritas utama dari kebanyakan pemimpin gereja adalah membangun lumbung yang lebih besar. 1. Prioritas Allah Apa yang Yesus katakan sebenarnya demikian: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:15). Allah memberikan prioritas kepada berita bukan pada bangunan gedung. Allah menekankan hal menolong orang-orang. Manusia lebih menekankan pada gedung/bangunan. Salah satu bentuk ketidakadilan yang terbesar yang pernah saya saksikan adalah umat yang kelaparan ditangga-tangga gedung gereja yang megah dan mewah. Mimbar yang disalut emas dan permata yang cukup untuk memberi makan suatu bangsa sedangkan yang kelaparan dan sudah hampir mati ada dekat pintu masuk gereja. Apa yang Allah pikirkan tentang hal ini?

Tak seorangpun dapat menghindari untuk membandingkan ulah para pemimpin gereja dengan Tuhan kita. Ia memilih sebuah kandang sebagai tempat kelahirannya, hidup sebagai bagian dari keluarga tukang kayu yang miskin di Nazaret, dan memberitahukan kita bahwa Ia telah datang untuk memberitakan Injil kepada orang-orang miskin. Ia tidak mempunyai tempat untuk membaringkan kepalaNya selama bertahun-tahun pelayananNya. Pada saat kematianNya Ia dibungkus dengan kain kafan yang dipinjam. TubuhNya dibaringkan dalam kuburan orang lain selama jam-jam kemenangan yang penuh kemuliaan atas kematian, neraka dan kubur. Demi kita Ia telah mati menjadi miskin. Dari manakah para pemimpin gereja menerima otoritas/wewenang untuk menghambur-hamburkan kekayaan Gereja untuk mendirikan gereja-gereja yang mewah dan megah sedangkan 2 biliun penduduk tetap menunggu untuk mendengar Injil? Tak ada catatan mengenai pembangunan gereja secara besar-besaran sampai abad ketiga ketika Constantine, Kaisar Romawi Kristen yang pertama, mencampurkan Gereja dengan Politik. Pengaruh Constantine sungguh merugikan secara rohani dan membahayakan bagi gereja. kuasa Allah mulai hilang. Apa yang pernah menjadi organisme yang hidup menyebarkan kehidupan dan berkat kemana-mana, menjadi organisasi yang mati" suatu bentuk tanpa kuasa" miskin dari firman dan kuasa Allah. Paulus memperingatkan kita, "Jauhilah mereka itu" (2Tim 3:5). 2. Gereja di Cina: Sebagai contoh Cina mempunyai kasus studi yang menarik mengenai apa yang dapat terjadi jika suatu gereja bebas dari keinginan untuk mendirikan bangunan-bangunan gereja yang serba mewah. Sejak sebelum perubahan yang terjadi pada tahun 1950, Allah telah membangkitkan pekerjaan-pekerjaanNya diantara penduduk asli di Cina yang menyatakan bahwa Allah menaruh perhatian khusus kepada bangsa Cina dan kebudayaannya. Lebih baik daripada bersandar pada cara Barat dalam melakukan sesuatu, mereka mulai melihat bahwa banyak aspek dalam kebudayaan Cina yang sesuai dengan Firman Tuhan, misalnya kekokohan dan struktur kekeluargaan dalam sebuah keluarga Cina dan pentingnya menjadikan rumah sendiri sebagai tempat penyembahan. Sehingga sejak waktu itu, banyak kegerakan dimulai pada saat umat percaya di Cina bertemu dalam rumah mereka untuk menyembah dan berdoa bersama kepada Allah yang hidup dalam suasana kekeluargaan.

Sekarang kita dapat mengerti mengapa setelah terjadi perubahan di tahun 1950 (ketika itu semua penginjil Barat dipaksa keluar dari Cina) berjuta-juta saudara-saudari kita dari seluruh pelosok telah dijamah oleh Tuhan bukan melalui katedral ala Barat, tetapi melalui pertumbuhan jaringan yang meluas dari gereja-gereja rumah di Cina. Setelah perubahan di tahun 1950 itu, orang Kristen di Cina mulai membagikan iman mereka kepada kaum keluarga dan teman teman mereka. Melalui "penginjilan keluarga" (yaitu penginjilan yang berkembang dari keluarga kepada keluarga) sebuah mujizat pertumbuhan gereja mulai melanda gereja-gereja di Cina. Setelah 120 tahun kegiatan misi Barat, ada kira-kira 2 juta orang Kristen di Cina pada tahun 1952. 20 tahun kemudian (1972) ketika Cina terbuka lagi untuk Barat, ada sekitar 20 juta orang Kristen di Cina. Tahun 1990, dari sumber-sumber yang dapat dipercaya, dikatakan bahwa orang Kristen di Cina sudah mencapai 40 sampai 50 juta orang. Mengapa terjadi pertumbuhan yang begitu pesat? Terlepas dari uang misi Barat (yang sering merupakan pengaruh yang menguasai), gereja-gereja Cina dengan cepat menyesuaikan diri dengan metode-metode yang lebih cocok dengan kebudayaan mereka. Ketika gereja-gereja besar ditutup, gereja-gereja di Cina kembali pada praktek Perjanjian Baru yaitu kebaktiankebaktian rumah tangga. Orang-orang percaya mulai berfungsi sebagai satu keluarga, dengan akibat-akibat yang begitu dramatis dalam penginjilan. Karena gereja di Cina diringankan dari beban ekonomi untuk bangunanbangunan yang megah, mereka dapat mengumpulkan uang mereka untuk menolong orang-orang dan untuk memberitakan Injil. Prioritasnya menjadi Penyebaran Injil bukan perluasan bangunan. 3. Bagikan Berita itu Gereja Perjanjian Baru tidak pernah mengutarakan sepatah katapun tentang membangun bangunan gereja (begitu juga dalam Perjanjian Lama). Namun itulah salah satu prioritas utama di kebanyakan gereja Barat atau organisasi misi. Penekanan dalam Perjanjian Baru adalah untuk memberitakan Injil. "Merekapun pergilah memberitakan Injil ke segala penjuru, dan Tuhan turut bekerja dan meneguhkan Firman itu dengan tanda-tanda yang menyertainya" (Mrk 16:20). "Sebab aku mempunyai keyakinan yang kokoh dalam Injil, karena Injil adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya" (Rm 1:16).

"Dan dalam pemberitaan itu aku menganggap sebagai kehormatanku, bahwa aku tidak melakukannya di tempat-tempat, di mana nama Kristus telah dikenal orangkami memberitakan Kristus yang disalibkanKristus adalah kekuatan Allah dan hikmat Allah." (Rm 15:20 1Kor 1:23-24). Bangunan-bangunan gereja yang menghamburkan banyak uang tidak akan menyebabkan orang berdosa menjadi orang percaya atau jiwa yang terhilang dapat diselamatkan. Hanya kuasa Allah yang dapat menyelamatkan yang terhilang. Upacara-upacara keagamaan yang mati tidak akan membawa orang-orang kepada Kristus yang hidup, yang telah menang atas kematian, neraka dan kubur. Tetapi pemberitaan Injil sepenuhnya dapat membawa orang-orang kepada Kristus yang hidup. Paulus menulis " oleh kuasa tanda-tanda dan mujizat-mujizat dan oleh kuasa Rohaku telah memberitakan sepenuhnya Injil Kristus" (Rm 15:19). Saya ingin menambahkan: Injil masih belum sepenuhnya dikhotbahkan, kecuali dilengkapi dengan kenyataan dari kasih Allah dalam bentuk mujizat dan tanda-tanda heran. 4. Suatu Kuburan Rohani Bertahun-tahun yang lalu, saya berjalan masuk ke sebuah gereja yang besar di Australia Asia. Gereja itu dapat menampung 2500 orang, ada paduan suara pemuda yang dapat menyanyi lagu-lagu yang merdu, ada organ yang besar yang dapat memenuhi tempat itu dengan bunyi yang megah, dan ada pendeta-pendeta yang berpendidikan tinggi yang membawakan khotbah dan doa. Secara lahiriah nampaknya sangat berkesan. Hanya ada satu masalah mereka memiliki segala sesuatu, tetapi tidak memiliki orang-orang! Dan kota ini sebetulnya berpenduduk lebih dari 5 juta jiwa! Saya menghadiri kebaktian Rabu malam di gereja besar tersebut. Paduan Suara pemuda menyanyi, organis memainkan lagu-lagu pujian, pendeta membacakan doa dan khotbah. Semuanya mengambil waktu satu setengah jam. Di samping saya ada 2 orang lagi dalam gereja itu, 2 wanita yang berambut putih. Kami bertiga duduk mengikuti upacara keagamaan dari kekristenan yang mati itu yang berpura-pura menjadi gambaran dari Kristus. Gereja ini terletak di atas tanah yang harganya meliputi jutaan dollar. Akan lebih baik jika menjual seluruh tanah itu, menutup kuburan rohani ini dan kuburkan saja semua hal yang menghina terhadap Kristus yang hidup dan berkuasa, yang matanya menyala-nyala bagaikan api, yang kakinya bersinar seperti tembaga yang berkilauan, yang memegang semua kuasa di sorga dan di bumi dan berjanji akan memuntahkan setiap sistim gereja yang menyebarkan Injil yang suam-suam.

Di gereja tersebut, ada seorang pendeta diselamatkan dan dipenuhi Roh Kudus. Ia mulai menyelenggarakan kebaktian-kebaktian kesembuhan dan beratus-ratus orang mulai berdatangan setiap hari Selasa malam dalam Kebaktian doa untuk kesembuhan. Peraturan gereja tidak mengijinkan kebaktian-kebaktian semacam itu diadakan di gereja besar. Dia tidak mendapat ijin sehingga ia mengadakan kebaktian-kebaktiannya di sebuah gereja kecil terlalu kecil untuk dapat menampung yang sakit dan yang lemah, yang datang untuk keselamatan dan kesembuhan. 5. PRIORITASKAN SUMBER-SUMBER Para pemimpin gereja percayalah padaku! Ada suatu keinginan yang tidak suci di kalangan gereja-gereja Barat untuk membangun gereja-gereja yang besar dan mewah. Jika kita membangun gereja sedemikian dengan biaya yang seharusnya dikeluarkan untuk pemberitaan Injil, hal ini akan melukai hati Tuhan yang memberikan amanatNya sejak 2000 tahun yang lalu: "Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk" (Mrk 16:15). Sampai kita meluruskan prioritas itu, semua yang lain yang kita kerjakan adalah kayu, rumput kering atau jerami (1Kor 3:12). Dua biliun orang yang masih menunggu untuk mendengar! Allah berkata, "Aku akan menuntut pertanggungan jawab atas nyawanya daripadamu" (Yeh 3:20). Setelah sepenuhnya memberitakan Injil di seluruh kerajaan Romawi, Paulus dapat menyaksikan "bahwa aku bersih, tidak bersalah terhadap siapapun yang akan binasa" (Kis 20:26). Apakah kita juga demikian? Saya kira tidak! Kita harus meluruskan kembali prioritas kita untuk melakukan apa yang Ia telah katakan melalui RohNya untuk kita lakukan. Saya tidak menentang bangunan gereja yang memang bermanfaat. Saya hanya menentang hal menggunakan uang untuk suatu proyek mewah yang hanya memuaskan ego kita di mana uang itu seharusnya dapat digunakan untuk menolong yang miskin dan menyebarkan injil.

E. KESIMPULAN Orang Afrika mengisahkan suatu cerita tentang seekor tikus yang bersahabat dengan seekor gajah yang kesepian. Tikus ini selalu menaiki punggung gajah, tepat di belakang telinganya. Di situ ia dapat duduk dan ngobrol dengan gembira dengan kawannya si gajah, menemaninya waktu mereka berjalan bersama-sama. Suatu hari mereka tiba di sebuah jembatan. Jembatan itu nampaknya cukup kokoh, sehingga gajah berjalan melaluinya, dan merekapun menyeberangi

sungai. Waktu tiba di seberang, tikus itu berkata kepada si gajah, "Bukan main! Kita benar-benar menggoncangkan jembatan itu, bukan?" Saudara dan saya seperti tikus kecil itu. Kita telah digabungkan/disatukan dengan Allah yang Mahakuasa. Dengan diri kita sendiri seperti tikus itu kita tidak dapat menggoncangkan apapun. Tetapi bekerja bersama Allah, dengan belajar dan mendengarkan suaraNya, kita dapat menghancurkan si ular tua itu, si setan, dan dapat membebaskan para tawanan dosa, penyakit dan kemiskinan (Rm 16:20). Ingatlah: 1. Pengetahuan Akademis Memang berguna dalam beberapa hal, namun tak dapat menghasilkan kuasa Allah yang membawa keselamatan dan kesembuhan, ataupun menghasilkan pemimpin-pemimpin yang dibutuhkan gereja masa kini. Ingatlah bahwa kebanyakan dari murid Yesus adalah "orang-orang biasa yang tidak terpelajar. Tetapi mereka mengenal keduanya sebagai pengikut Yesus" (Kis 4:13). Jadi ambillah banyak waktu bersama Yesus dalam doa dan puasa. Lihatlah perbedaannya nanti. 2. Firman Allah (Rhema) dan rencanaNya yang unik Begitu unik untuk setiap situasi, pribadi maupun organisasi. Pola-pola, metode-metode, formula-formula dan tradisi-tradisi jika tidak digerakkan oleh Roh Kudus dapat menjadi penghambat-penghambat bagi pendengaran kita dan ketaatan kita pada suara Allah. 3) Rencana Allah bagi hidupmu jauh lebih besar dari pada rencanamu sendiri Nantikanlah Tuhan dalam doa sampai saudara mendapat pengertian yang jelas tentang rencana Allah itu. Mari kita berdoa Tuhan Yesus, aku ingin mendengar suaraMu. Biarlah iman timbul dalam hatiku sekarang dengan mendengarkan suaraMu. Aku menyerahkan hidupku, gerejaku, pelayananku kepadaMu. Bimbinglah aku dengan firmanMu (rhema) dan kebenaran (logos). Amin! Sekarang dengarkan dengan tenang! Apa yang Ia katakan kepadamu? Saudara hanya perlu mohon kepadaNya untuk berbicara kepada saudara. Berhentilah dan dengarkanlah untuk 1 atau 2 menit. Maria, Ibu Yesus,

mengatakan sesuatu yang perlu kita perhatikan: "Apa yang dikatakan kepadamu, buatlah itu!" (Yoh 2:5).

Bab 4 Bertekun Dengan Sabar Pendahuluan Seorang sahabat saya, Bob Mumford, ditanya oleh seorang mahasiswa muda dari seminari, apakah bukti mula-mula bahwa anda dipenuhi dengan Roh Kudus dan dipanggil untuk pelayanan? Tanpa kebimbangan sedikitpun dia menjawab, "KESUSAHAN!" Apa yang dia katakan itu berdasarkan kebenaran Alkitab. Yohanes Pembaptis mengatakan mengenai Yesus, "Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus dan dengan apitetapi debu jerami itu akan dibakarnya" (Luk 3:16,17). "Baptisan dengan api" disini sesungguhnya berbicara mengenai kesusahan, kesulitan-kesulitan (tantangan-tantangan) dan ujian-ujian. Watchman Nee, yang dikenal sebagai "rasulnya daratan Cina," mengatakan, "Tanda yang pertama bagi seorang rasul adalah bahwa dia merupakan seorang yang tetap berdiri, manakala yang lain-lain jatuh berguguran karena berbagai tekanan, kekecewaan atau keadaan yang tidak berpengharapan." Jelas bahwa Wacthman Nee mengambil kesimpulan ini dari ucapan Paulus sehubungan dengan peperangan rohani, " tetap berdiri, sesudah kamu menyelesaikan segala sesuatu jadi berdirilah tegap" (Ef 6:13,14). Untuk dapat tetap berdiri pada saat setiap orang sudah mulai berjatuhan, menuntut adanya sikap untuk rela bertahan melalui kesabaran. Barangkali ini merupakan karakteristik tunggal yang paling penting dari seorang pemimpin besar. Jika kita membaca kisah mengenai "Pahlawanpahlawan Iman" di dalam Ibrani pasal 11, kita sungguh kagum karena kenyataan ini: Mereka yang menerima pujian tertinggi adalah orang-orang yang mempergunakan iman mereka untuk bertahan dengan sabar menghadapi kesukaran-kesukaran dan penghinaan-penghinaan yang sungguh keterlaluan. Catatan yang ditulis mengenai pahlawan-pahlawan ini sungguh menggetarkan, " ada pula orang-orang lain, yang beriman kepada Allah dan dipukuli sampai mati. Mereka lebih suka mati daripada dibebaskan tetapi harus menyangkal Allah. Mereka percaya bahwa mereka akan bangkit kembali kepada suatu kehidupan yang lebih baik kemudian hari. "Ada pula yang diejek, dicambuki sampai punggungnya luka-luka dan ada yang dibelenggu dalam penjara di bawah tanah. Beberapa orang mati karena dilempari batu dan beberapa orang lagi digergaji menjadi dua. Yang lain dijanjikan kebebasan jika mereka mau meninggalkan iman mereka. Beberapalapar, sakit dan diperlakukan dengan sewenang-wenang. Dunia ini

tidak layak bagi mereka" (Ibr 11:35-38 tlb) Dunia ini tidak layak bagi orang-orang kudus seperti itu. Sungguh orang-orang yang luar biasa! Tidakkah anda bersedia seperti mereka? Pasal ini akan menolong anda untuk menjadi seorang "pahlawan iman" jika anda bersedia membayar harganya.

A. SIAPAKAH YANG MENGUJI DAN MENCOBAI KITA? Siapakah yang mendatangkan ujian-ujian serta cobaan-cobaan di dalam kehidupan orang Kristen? Apakah hal itu datang dari Allah atau dari setan? Pemikiran yang cukup populer adalah menyalahkan setan bila kita mengalami kesakitan atau penderitaan apa saja sebagai orang-orang Kristen. Dan kadang-kadang setan terlibat di dalam ujian-ujian dan cobaan-cobaan kita. Namun Raja Daud mempunyai satu pandangan yang berbeda mengenai sumber cobaan yang datang kepada pemimpin-pemimpin di dalam persiapan mereka untuk pelayanan Allah. "Tuhan menguji orang benar" (Mzm 11:5). Kita semua dapat memuji Allah bahwa seringkali kita tidak berhadapan dengan setan di dalam cobaan-cobaan dan masalah-masalah yang kita alami. Kita justru berhadapan dengan Allah, atau dengan kesalahankesalahan yang kita lakukan sendiri. 1. Penderitaan Ayub diijinkan Allah Kita dapat belajar satu pelajaran yang penting dari penderitaan Ayub. Alkitab memberitahukan kita bahwa setan minta ijin dari Allah untuk menguji Ayub. (Ayb 1). Tetapi perhatikan, Ayub tidak pernah menyalahkan setan. Dia berkata, "tangan Allah telah menimpa (menjamah) aku" (Ayb 19:21). "Sekalipun Allah membunuhku, aku tetap percaya dan berserah kepadaNya" (Ayb 13:15 dalam terjemahan lain) Meskipun Ayub sebenarnya diserang oleh setan, dia berhadapan dengan Allahnya dan bukan dengan setan. Dia menolak untuk menyinggungnyinggung mengenai setan di dalam setiap percobaan dan penderitaannya. Sungguh menggembirakan untuk mengetahui bahwa Allah berada di pihak kita. Bila kita menempatkan diri kita di dalam tanganNya, Dia selalu beserta kita, tidak peduli bagaimanapun situasi dan keadaan yang kita hadapi. "Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu" (1Kor 10:13). Allah selalu "turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah" (Rm 8:28).

2. Kita memang sudah dijanjikan Ujian dan Aniaya Petrus memberitahukan kita, "Janganlah kamu heran akan nyala api siksaan yang datang kepadamu sebagai ujian, seolah-olah ada sesuatu yang luar biasa terjadi atas kamu" (1Ptr 4:12). Paulus menulis kepada seorang pemimpin muda gereja yang sedang bertumbuh, "Memang setiap orang yang mau hidup beribadah di dalam Kristus Yesus akan menderita aniaya" (2Tim 3:12). Yesus berkata, "Berbahagialah orang yang dianiaya oleh sebab kebenaran, karena merekalah yang empunya kerajaan Sorga" (Mat 5:10). Saya masih ingat betapa bersemangatnya saya ketika pada usia enam belas tahun pada akhirnya saya menyerahkan kehidupan saya kepada Tuhan untuk pelayananNya. Saya berpikir Tuhan dan saya akan menjadikan dunia ini "berapi-api". Belum sampai beberapa bulan berlalu saya menyadari bahwa saya seperti "sedang memegang ekor harimau." Sungguh membuat saya gentar untuk tidak kehilangan semangat agar terus memegangnya, tetapi jika saya lepaskan, maka hal itu berarti malapetaka. Allah sudah mengunci saya ke dalam satu progam persiapan untuk pelayanan yang melibatkan "KESUSAHAN". Dan saya tidak dapat menghindar ataupun melarikan diri dari hal itu. Saya merasa seperti Paulus, " orang yang dipenjarakan karena Kristus Yesus" (Ef 3:1). 3. Allah dan Rajawali Di tengah-tengah ujian dan kekacauan yang menghadang jalan saya, Tuhan memberikan kepada saya banyak kekuatan dan semangat melalui janji-janji ini, " tetapi orang-orang yang menanti-nantikan Tuhanseumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya" (Yes 40:31). "Laksana rajawali menggoyang bangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya, mengembangkan sayapnya, menampung seekor, dan mendukungnya di atas kepaknya, demikianlah TUHAN sendiri menuntun dia" (Ul 32:11). Kedua ayat ini menolong saya untuk mengatasi persoalanpersoalan dan kekecewaan-kekecewaan. Untuk sungguh dapat memahami dan menghargai sepenuhnya penghiburan yang luar biasa dari janji ini, seseorang perlu mengetahui sesuatu mengenai induk rajawali dan cara yang diperlukan oleh si induk rajawali ini di dalam membesarkan dan melatih anak-anaknya yang masih muda. Burung rajawali membuat sarangnya di batu-batu terjal yang tinggi, di sisi sebuah gunung. Induk rajawali ini menyusun potongan-potongan ranting dari semak-semak berduri yang dapat melindungi dengan aman telur-telurnya. Kemudian bahan- bahan halus yang digabungkan dengan bulu-bulu yang

berasal dari dadanya sendiri dipergunakan untuk melapisi sarang tersebut. Bentuk dan susunan sarang yang sedemikian ini merupakan tempat perlindungan yang nyaman bagi anak-anak rajawali yang masih muda. a. Sarang yang nyaman. Ketika telur-telur itu sudah menetas, maka rajawali-rajawali kecil tersebut berada di tempat ketinggian yang jauh dari semua bahaya dan berada di dalam kehangatan yang menyenangkan. Induknya memberi makan, melindungi dan memperhatikan setiap kebutuhan mereka. Seperti itulah cara Allah di dalam memperlakukan kita sebagai "bayi-bayi di dalam Kristus". Kita sampai pada pengenalan akan anugerah, kasih, pengampunan dan penyediaan yang berkelimpahan dari seorang Bapa yang baik dan penuh belas kasihan. Kita senang sekali menikmati tempat yang serba aman dan menyenangkan itu, belajar dan menikmati "susu murni Firman Allah" (1Ptr 2:2). b. Yang nyaman itu disingkirkan. Tetapi, akan tiba saatnya dalam saat pertumbuhan di mana si induk rajawali ini, "menggoyang bangkitkan isi sarangnya, melayang-layang di atas anak-anaknya." Ini berarti si induk rajawali itu sedang menyingkirkan bulu-bulu hangat yang tadinya melapisi sarangnya dan mendatangkan kenyamanan itu. Dengan mengepakngepakkan sayapnya besar dan berat itu, semua bahan-bahan lapisan yang menyenangkan itu diporak-porandakan. Hal ini menyebabkan rajawalirajawali muda itu langsung terkena ranting-ranting yang berduri dengan duri-duri yang tajam dan menyakitkan. Berusaha bagaimanapun, rajawali-rajawali muda ini tidak dapat lagi menemukan tempat yang empuk, hangat dan menyenangkan. Dimana-mana keadaannya berdesak-desakan dan tidak menyenangkan karena rajawalirajawali muda itu saling bersaing untuk mendapatkan tempat yang sama. Omelan dan teriakan mulai memenuhi udara. Ujian dan pencobaan mulai merisaukan rajawali-rajawali muda ini yang sampai saat ini belum pernah mengalami kesakitan apapun bentuknya. Walaupun rajawali-rajawali muda ini tidak mengerti sama sekali semua hal yang terjadi atas mereka, si induk rajawali mempunyai sebuah rencana. Dialah yang menjadikan sarang itu tempat yang tidak lagi menyenangkan bagi mereka, sehingga rajawali-rajawali muda ini mau tidak mau akan meninggalkan sarang itu untuk berlatih terbang. Di dalam kehidupan rohani, sebagaimana halnya dengan kehidupan alami, ada satu prinsip atau semboyan: "Tidak ada penderitaan tidak ada kemenangan!" Kita semua pada dasarnya sama seperti rajawali-rajawali kecil itu. Walaupun Alkitab memberitahukan bahwa kita hanyalah pengembara di dunia ini yang bukan merupakan tanah air kita, kenyataannya kita menyenangi hal-hal

yang enak dan mudah. Kita suka untuk tetap tinggal dekat mata air kecil kita dan menikmati hari-hari serta hangatnya sinar matahari. Kita merasa senang di tempat kita berada. Kita tidak ingin pindah tempat dan memasuki pengalaman padang gurun dengan kesukaran-kesukaran dan kesulitankesulitan, menuju tanah perjanjian kita. Kita mendengar Firman dan menikmati khotbah-khotbah. Kadang-kadang kita mendapatkan kesenangan di bumi ini. Kehidupan ini baik dan menyenangkan. Pada waktu Allah berbicara kepada kita, kita begitu dikuasai dan dipengaruhi oleh kesenangan kita, sehingga kita tidak dapat mendengar Dia. Tetapi kemudian Allah menetapkan bahwa sudah tiba saatnya bagi kita untuk bertumbuh dan segala sesuatunya berubah secara mendadak. Tiba-tiba saja masalah-masalah, kesakitan dan penderitaan menimpa kita. Kita mulai "menengking setan," bersungut-sungut dan menangis, tetapi tidak ada hasilnya. Pada saat kesakitan dan penderitaan sudah melaksanakan tugasnya dalam hal mengalihkan perhatian kita, pada waktu kita sekali lagi bersedia untuk menanti dan mendengarkan suaraNya, Dia menunjukkan kepada kita apa yang selanjutnya ada di dalam agendaNya bagi kita. Allah akan mengajar kita " untuk naik membumbung tinggi dengan sayap bagaikan rajawali." c. Pelajaran Terbang. Induk rajawali itu selanjutnya, "mengambil mereka dan mendukung mereka dengan kedua belah sayapnya." Pada taraf ini dalam proses latihan, si anak-anak rajawali merasa senang karena dapat keluar dari sarang yang penuh duri itu. Memang perlu sedikit bujukan untuk membawa rajawali-rajawali kecil ini berada di punggung induknya dan mencengkeramkan kaki mereka erat-erat pada ujung sayap yang kokoh dari induk mereka. Rajawali-rajawali muda ini akan menerima pelajaran terbang yang pertama kalinya. Dengan rajawali kecil mencengkeram kuat pada punggung induknya, si induk melompat dari sarangnya dan untuk pertama kalinya rajawali kecil itu mengarungi angkasa. Induk rajawali itu membumbung tinggi, terus, terus, "sampai dia dan si rajawali kecil berada sekitar beberapa ribu meter di atas lembah yang berada di bawah." "Menyenangkan sekali!" pikir si rajawali muda. "Sekarang tiba saatnya untuk terbang, rajawali kecil!" Tanpa memberi peringatan terlebih dahulu, induk rajawali itu secara tiba-tiba menukik turun dan melakukan terbang jungkir-balik dan si rajawali muda itu diombangambingkan angin untuk memulai terbang. Merasa ngeri, si rajawali kecil ini berjuang dengan susah payah, dengan kikuk mencoba mengepakkan sayap barunya, berusaha sebisa-bisanya untuk mengontrol nasibnya. Menurun, menurun dan terus menurun si rajawali kecil ini terjungkir-balik, nampaknya siap untuk mengalami kehancuran.

Bertepatan dengan saat di mana semua harapan sudah lenyap, maka si rajawali kecil ini merasakan punggung induknya yang kuat itu menopang cakar-cakar kakinya, ketika induk rajawali itu melayang tepat di bawah si rajawali kecil ini, menyangga kejatuhannya. Dan sekali lagi dia memperkuat cengkeraman cakarnya pada punggung induknya, dan merasa aman lagi. Sekali lagi induk rajawali itu membumbung tinggi, terus ke atas, dan mengulangi lagi seperti yang dilakukan semula. Setiap kali meluncur jatuh ke bawah si rajawali kecil ini belajar lebih baik, sampai akhirnya dia dapat melayang dan " membumbung tinggi dengan sayapnya, sebagai burung rajawali." Betapa menyenangkan dan mengesankan untuk terbang dengan kedua sayapnya sendiri, dari pada berada di punggung induknya. Sebagaimana halnya dengan rajawali-rajawali kecil tadi, kita menanggapi panggilan Allah untuk pelayanan, " membumbung tinggi, dengan sayap bagaikan rajawali." Kita memikirkan hal ini sebagai ide yang luar biasa. Tidak lama lagi kita akan "naik terbang." Tetapi Allah di dalam kasih dan kemurahanNya menyembunyikan kita dari kekuatiran, kesakitan dan penderitaan yang termasuk di dalam persiapan dan latihan kita. Kita tidak mengetahui berapa harga yang harus dibayar untuk kesemuanya itu. Allah mengijinkan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan untuk mengembangkan/membentuk kita di dalam pekerjaan duniawi kita sampai kesakitan atau penderitaan mendorong kita untuk secara sepenuh berserah dan pergi ke sekolah Alkitab atau Seminari. Pada waktu kita lulus, dengan semangat yang tinggi kita berharap mengalami keberhasilan dan kemuliaan secepatnya. Untuk jangka waktu yang singkat segala sesuatunya nampak berjalan dengan baik; kemudian tiba-tiba saja terjadi sesuatu yang tidak menyenangkan. Masalah-masalah mulai timbul ditengah-tengah jemaat. Segala sesuatu yang dimulai selalu saja salah. Orang-orang yang seharusnya menjadi sahabat-sahabat kita tidak lagi dekat dengan kita. Kita saksikan bagaimana mereka mulai menjauhkan diri dari kita "karena mereka tidak mau bersama-sama lagi dengan seorang yang kalah." Apakah ini yang anda alami? Apa yang terjadi? Kita sedang belajar untuk terbang. Tantangan dan kesulitan ini mendorong kita bertumbuh dalam iman dan lebih bersandar pada Roh Kudus. Kita belajar naik terbang mengatasi semua kesulitan. Kita belajar apa yang dimaksudkan oleh Paulus, " tetap berdiri, sesudah menyelesaikan segala sesuatu." Bilamana segala sesuatunya di sekeliling kita berjatuhan, kita belajar tetap tegak berdiri di atas Batu Karang kita, Yesus Kristus.

B. MENGAPA ALLAH MENGIJINKAN UJIAN DAN PENCOBAAN?

1. Tekanan Menghasilkan Kelegaan. "Di dalam kesesakan Engkau memberi kelegaan kepadaku" (Mzm 4:2). Mazmur ini ditulis oleh Daud sesudah mengalami kegagalan yang terbesar di dalam kehidupannya peristiwa pembunuhan dan perzinahannya dengan Batsyeba (2Sam 11). Karena dosanya, Tuhan mendatangkan hukuman-hukuman yang dahsyat atas Daud. Satu diantaranya terjadi melalui tindakan Absalom, anaknya merampas takhtanya dan menyebabkan Daud melarikan diri dari kerajaannya. Melarikan diri untuk menyelamatkan hidupnya dan menderita tekanan-tekanan yang sungguh berat, mendatangkan "perkembangan" bagi Daud. Walaupun masalahnya merupakan akibat dari perbuatannya sendiri, Allah di dalam anugerahNya mempergunakan saat-saat hukuman tersebut untuk menjadikan Daud seorang yang lebih baik untuk tugas-tugas yang akan dihadapinya di masa mendatang. Jika kita menyadari kegagalan kita dan bertobat (mengakuinya dan berpaling dari dosa-dosa kita), Tuhan dengan kemurahanNya memakai pukulan dan penderitaan itu untuk menjadikan kita pemimpin-pemimpin yang lebih baik. 2. Ujian-ujian Membuat Kita Rendah Hati. Allah ingin mengetahui apakah kita melayani Dia karena kita mengasihi Dia ataukah kita melayani Dia karena berkat-berkat yang Dia berikan kepada kita. Yesus mendapatkan bahwa beberapa orang mengikuti Dia "karena roti dan ikan" (yaitu atas dasar apa yang mereka dapatkan dari Dia, bukan karena mereka mengasihi Dia). Musa menggambarkan tindakan Allah di dalam membawa anak-anakNya (umat Israel) keluar dari Mesir: " yang memimpin engkau melalui padang gurun yang besar dan dahsyat itu, dengan ular-ular yang ganas serta kalajengkingnya dan tanahnya yang gersang, yang tidak ada air. Dia yang membuat air keluar bagimu dari gunung batu yang keras, dan yang di padang gurun memberi engkau makan manna, yang tidak dikenal oleh nenek-moyangmu, supaya direndahkanNya hatimu dan dicobaiNya engkau, hanya untuk berbuat baik kepadamu akhirnya" (Ul 8:15,16). Mengapa Allah mengijinkan ujian-ujian dan cobaan-cobaan sedemikian? "Untuk berbuat baik kepadamu pada akhirnya" Jika Allah merencanakan untuk memberkati atau memberikan kelegaan kepada seorang pelayan atau suatu jemaat, pertama-tama Dia membawa mereka ke dalam kekecewaan yang paling dalam, ke dalam keadaan yang tidak ada harapan sama sekali. Dia melakukan hal itu " agar engkau tidak beranggapan bahwa segala sesuatu yang engkau dapatkan itu karena kekuatan dan kepandaianmu sendiri." (Ul 8:17).

Bilamana Allah memberikan kelegaan atau keberhasilan, sering kesombongan timbul dan kita beranggapan bahwa semua keberhasilan dan berkat-berkat itu dialami karena kepandaian kita ataupun karena karuniakarunia yang kita miliki. Adalah kemurahan Allah untuk menyelamatkan kita dari kesombongan sehingga Ia mengijinkan kita mengalami saat-saat yang berat dan tidak menyenangkan sebelum dicurahi dengan kelegaan dan berkat. Hal ini terjadi di dalam kehidupan Ayub. Setan berkata kepada Allah, "Ayub melayani Engkau hanya karena sudah Kau berkati dengan berkat-berkat rohani yang begitu banyak dan berlimpah-limpah. Cobalah ambil semua berkat dan kekayaannya itu, maka Ayub akan mengutukiMu." Allah menanggapi tantangan setan dengan memberi ijin untuk mengambil semua yang dimiliki Ayub. Sesudah setan membinasakan semua ternak Ayub, anak-anaknya dan semua harta kekayaan yang dimilikinya, bagaimanakah tanggapan Ayub atas kesemuanya itu? Ayub "sujud dan menyembah" (Ayb 1:20). Ayub membuktikan bahwa tuduhan setan tidaklah benar dan bahwa kasihnya kepada Allah adalah murni, Dia masih tetap menyembah Allah walaupun ternaknya, rumahnya, anak-anaknya dan kekayaannya semua diambil. Ayub berkata, "Sekalipun Allah membunuhku, aku akan tetap percaya dan berharap kepadaNya" (Ayb 13:15). Pada akhirnya Allah memberikan kembali kepada Ayub dua kali lipat dari apa yang pernah dimiliki sebelumnya (Ayb 42:10). Ayub menerima dua kali lipat karena ia telah membuktikan bahwa ia setia kepada Allah, walaupun mengalami ujian dan cobaan yang dahsyat. " turutilah teladan penderitaan dan kesabaran para nabi yang telah berbicara demi nama Tuhankamu telah mendengar tentang ketekunan Ayub dan kamu telah tahu apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya, karena Tuhan maha penyayang dan penuh belas kasihan" (Yak 5:10 11 tlb). 3. Penderitaan dapat meningkatkan Kuasa Allah di dalam kita Jika anda minta kuasa Allah di dalam kehidupan anda, anda harus mengerti apa persyaratannya untuk memiliki kuasa Allah itu. Daud berkata, "Ia telah mematahkan kekuatanku di jalan" (Mzm 102:24). Jika anda meminta kuasa Allah Dia menanggapi, "Apakah kamu sungguh-sungguh? Jika kamu bersedia untuk dipatahkan kekuatanmu (bersandar total pada Tuhan), dan mengijinkan penderitaan, ujian dan cobaan terjadi atasmu, maka Aku akan memberikan kuasa itu kepadamu." a. Pengalaman Paulus"saya hanya akan membanggakan betapa lemahnya saya dan betapa besarnya Allah yang menggunakan kelemahan seperti itu bagi kemuliaanNyapengalaman-pengalaman itu hebat sekali, maka Allah

takut kalau-kalau saya menjadi besar kepala karenanya. Jadi diberikanlah kepada saya suatu penyakit yang sampai sekarang menjadi duri di dalam daging, yaitu utusan iblis untuk menyakiti dan mengganggu saya, dan menurunkan harga diri saya. "Sudah tiga kali saya memohon supaya Allah menyembuhkan saya. Setiap kali Ia berkata: Tidak! Tetapi Aku menyertai engkau. Hanya itu yang kauperlukan. KuasaKu dapat diperlihatkan dengan jelas di dalam orang yang lemah." " karena saya tahu bahwa semua itu bagi kepentingan Kristus, maka saya tidak berkecil hati mengenai "duri itu, dan mengenai penghinaan, kesukaran serta penganiayaan. Sebab apabila saya lemah, saya menjadi kuat. Makin sedikit yang saya miliki, makin banyak saya menggantungkan diri kepadaNya. (2Kor 12:5,7- 10 tlb) Paulus mengajar kepada kita beberapa pelajaran yang penting mengenai ujian dan cobaan di dalam kehidupan seorang pemimpin. Diantaranya adalah: 1. Berhati-hatilah dengan kesombongan. Pengalaman-pengalaman rohani yang nyata pada saat-saat berdoa dapat menjadikan kita sombong. 2. Bergantunglah sepenuh kepada Allah. Ketidaksenangan kita tidaklah penting bagi Allah bila dibandingkan dengan karakter kita. Jika kesombongan kita perlu disingkirkan, Allah akan mengirim seorang utusan setan untuk menjadikan kita lemah, sehingga kita akan bersandar kepadaNya. 3. Bersukacitalah dalam ujian. Hanya melalui kerendahan hati dan kelemahan sajalah kuasa Allah dapat dinyatakan di dalam kehidupan kita. Dengan demikian kita dapat bersukacita di dalam penderitaan, kesukaran dan aniaya, karena kita tahu bahwa semuanya itu akan menyebabkan dicurahkannya kuasa dan kemuliaan Allah di dalam hidup kita. Jika kita mulai mencari kuasa, kemuliaan dan kehidupan Roh agar dinyatakan melalui kita, maka tanggapan Allah atas permohonan kita tidak datang menurut cara yang kita harapkan. Kita berdoa untuk kesabaran, dan Dia mengirim kesusahan. Mengapa? Karena, "kesengsaraan menimbulkan ketekunan/kesabaran" (Rm 5:3). Dia menjawab doa kita, tetapi tidak dengan cara sebagaimana yang kita inginkan. Kita harus menyadari bahwa melalui hal-hal yang tidak menyenangkan dan memberatkan itu dapat saja "Allah mengerjakan di dalam kita kemauan maupun pekerjaan menurut kerelaanNya." (Flp 2:13). 4. Penderitaan Memisahkan Yang Terpilih dari Yang Dipanggil "Aku telah memilih (menguji) engkau dalam dapur kesengsaraan" (Yes 48:10). Di dalam ayat ini, kata "memilih/menguji" dipergunakan dalam

pengertian "menilai," sebagaimana halnya dengan ujian atau tes yang diselenggarakan di sekolah. Jika kita menerima pelajaran dan mengikuti ujian di sekolah, maka kita akan diberi nilai oleh guru, berdasarkan pemeriksaan dari hasil yang sudah kita kerjakan. Jika kita lulus kita akan naik ke tingkat berikutnya, yang lebih sukar dan menantang. Bagaimana Allah menentukan lulus tidaknya saya? Dia menguji saya melalui api kesengsaraan. Tanggapan saya terhadap ujian dan frustrasi dinilai. Allah mengawasi bagaimana saya bereaksi terhadap tekanan-tekanan yang berat dan keadaan-keadaan yang sulit. Jika kita menanggapi dengan benar, Dia berkata, "Sabaslah kamu hai hambaKu yang baik dan setiawan. Sekarang kamu siap untuk melangkah ke tingkat berikutnya, tingkat yang lebih sulit lagi." Tidak saya maksudkan di sini bahwa bekerja bagi Tuhan hanyalah berupa penderitaan yang terus menerus dan bekerja tanpa ada istirahat, kelonggaran atau pahala. Melalui anugerah Allah, berkat-berkat besar dilimpahkan bagi mereka yang memberikan hidup mereka untuk pelayananNya. Tetapi sementara kita belajar dan bertumbuh, Dia menghadapkan kita dengan tugas-tugas yang semakin sukar dan terus menerus diuji, dinilai dan dipilih. "Banyak yang dipanggil tetapi sedikit yang dipilih" (Mat 20:16). Mengapa sedikit yang dipilih? Karena kita dinilai di dalam api kesengsaraan, dan beberapa saja dari kita yang lulus dari ujian untuk kepemimpinan ini. Ada satu pertanyaan yang sungguh tegas dan penuh kuasa di dalam kitab Wahyu mengenai mereka yang Tuhan Yesus ijinkan untuk terus maju dalam kemenangan bersama Dia. "Mereka akan berperang melawan Anak Domba. Tetapi Anak Domba akan mengalahkan mereka, karena Ia adalah Tuhan di atas segala tuan dan Raja di atas segala Raja. Mereka yang bersama-sama dengan Dia juga akan menang, yaitu mereka yang terpanggil, yang telah dipilih dan yang setia." (Why 17:14). Tiga persyaratan sungguh diperlukan. Pertama-tama anda harus dipanggil dan kemudian dipilih, dan sudah membuktikan diri bahwa anda setia. Penderitaan, ujian dan kesengsaraan menandai jalan-jalan yang akan dilalui oleh mereka yang menjadi bagian dari kumpulan ini. Mereka sudah membuktikan diri mereka layak untuk dipilih dan sudah menunjukkan kesetiaan mereka kepada Tuhan, walaupun hal itu berarti hidup penuh risiko. 5. Belajar Taat Melalui Penderitaan "Dan sekalipun Ia adalah Anak, Ia telah belajar menjadi taat dari apa yang telah dideritaNya" (Ibr 5:8).

"Karena Tuhan menghajar orang yang dikasihiNya, dan Ia menyesah orang yang diakuiNya sebagai anaktetapi jikalau kamu bebas dari ganjaran maka kamu bukanlah anak, tetapi anak-anak gampang." (Ibr 12:6,8). "Karena barangsiapa telah menderita penderitaan badani, ia telah berhenti berbuat dosa, supaya waktu yang sisa jangan kamu pergunakan menurut keinginan manusia, tetapi menurut kehendak Allah. "Janganlah ada di antara kamu yang harus menderita karena sebagai pembunuh atau pencuri atau penjahat atau pengacau. "Karena itu baiklah juga mereka yang harus menderita karena kehendak Allah, menyerahkan jiwanya, dengan selalu berbuat baik, kepada Pencipta yang setia." (1Ptr 4:1,2,15,19). Saya seringkali berharap ada jalan untuk mendapatkan kemenangan tanpa melalui penderitaan; cara untuk belajar tanpa mengalami penderitaan ataupun hajaran tetapi nampaknya tidak ada jalan lain. Kita justru lebih memilih untuk menikmati pelayanan yang berhasil tanpa harus mengalami penderitaan, padahal penderitaan itulah yang menyebabkan pelayanan kita menjadi berhasil. Jika Allah mempergunakan penderitaan yang menyakitkan untuk menyempurnakan Yesus, bukanlah terlebih lagi untuk kita? Karena itu marilah kita dengan penuh sukacita menerima disiplin dari Tuhan. Sebab dengan ini kita tahu bahwa kita adalah anak-anakNya dan bukan anak-anak gampang. (Catatan Penulis: Paulus menerapkan hal ini dalam pengertian rohani. Di bawah hukum Taurat, anak-anak gampang atau haram tidak mempunyai hak untuk pelayanan keimaman ataupun jabatan raja (Ul 23:2). Ketetapanketetapan Perjanjian Baru berdasarkan anugerah, sehingga anak-anak yang dilahirkan di luar ikatan perkawinan mendapat perlakuan yang sama sebagaimana halnya dengan anak-anak yang lain). 6. Cobaan-Cobaan Menghasilkan Ketekunan dan Kedewasaan. "Saudara-saudaraku, anggaplah sebagai suatu kebahagiaan, apabila kamu jatuh ke dalam berbagai-bagai pencobaan, sebab kamu tahu, bahwa ujian terhadap imanmu itu menghasilkan ketekunan. Dan biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna dan utuh tak kekurangan suatu apapun." (Yak 1:2-4). Banyak pemimpin-pemimpin nampaknya menjadi "artis-artis yang melarikan diri" manakala ketaatan terhadap kehendak Allah menuntut adanya penderitaan ataupun ujian-ujian. Yakobus mengajarkan kepada kita bahwa

daripada melarikan diri untuk menghindar dari berbagai-bagai pencobaan, kita harus menyambutnya dengan sukacita. Perhatikan, " biarkanlah ketekunan itu memperoleh buah yang matang, supaya kamu menjadi sempurna (dewasa). "Hal ini berarti bahwa kita tidak dapat mempercepat prosesnya. Berbagai-bagai pencobaan tidak dapat mengakibatkan hasil yang segera.Jika pencobaan-pencobaan yang hebat tiba, kita tidak cukup hanya menghadapinya saja, tetapi juga harus sabar, bertahan dan tekun di dalamnya. a. Kepompong dan Kupu-kupu. Seseorang pada suatu hari menemukan sebuah kepompong yang jatuh dari sebuah pohon. Kupu-kupu sedang dalam tahap untuk keluar, oleh karena itu dia berhenti untuk menyaksikan. Kupukupu tersebut berjuang keras sekitar empat puluh lima menit. Pada waktu itu hanya bagian kepala dan sebuah sayapnya yang menyembul keluar dari kepompong itu. Dengan perkiraan akan menolong kupu-kupu yang berjuang keras itu dapat mempercepat prosesnya, dia mengambil pisau cukur yang tajam, memotong kepompong itu menjadi terbuka untuk mengeluarkan larva kupu-kupu tersebut. Yang mengejutkannya adalah bahwa hanya sebagian saja yang sudah keluar dengan usaha keras itulah yang sudah jadi, sedangkan bagian yang dia potong tadi ternyata masih belum selesai prosesnya dan belum siap untuk keluar. Bukannya menolong larva itu menjadi kupu-kupu, justru dia sudah merusak prosesnya. Kupu-kupu yang baru separoh jadi itu segera saja mati. Kita para pemimpin gereja sering berbuat kesalahan yang sama. Kita melihat saudara kita berjuang dan bergumul dengan kesukaran-kesukaran. Kita merasa kasihan terhadap mereka dan berusaha untuk menolong mereka keluar dari kesukaran-kesukaran tersebut, hanya untuk mendapatkan bahwa mereka tidak lama kemudian jatuh lagi ke dalam persoalan yang sama. Jika saja kita membiarkan mereka mengalami penderitaan untuk beberapa saat lamanya, dan belajar dari pelajaran yang Allah berusaha untuk mengajar kepada kepada mereka maka yang terjadi tentunya akan lebih baik bagi mereka dan juga bagi gereja. c. Tiga penyebab dari ujian-ujian. Usaha-usaha yang dilakukan tidak pada waktunya sehubungan dengan keadaan-keadaan yang tidak menyenangkan yang dialami oleh seseorang, akan merusak terlaksanakannya pembentukan Allah. Jika orang-orang datang kepada kita dengan tangisan di tengah-tengah api pencobaan yang mereka hadapi, biarlah kita berdoa mohon hikmat agar dapat membedakan apakah penderitaan yang mereka alami ini: o merupakan pembentukan Allah

o akibat dari kesalahan mereka sendiri o serangan dari setan yang tidak berada di dalam kehendak Allah. 1). Jika itu pembentukan dari Allah: Tunduklah. Jika itu pembentukan dari Allah, tolonglah mereka untuk, "menyerahkan diri mereka dan tunduk kepada Allah" (Yak 4:7) dan bersandar pada anugerahNya untuk melalui pencobaan-pencobaan itu dengan kemenangan. 2). Jika hal itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri, Belajarlah. Jika hal itu terjadi karena kesalahan mereka sendiri, cobalah menolong mereka untuk belajar dari hal ini. 3). Jika hal itu merupakan serangan setan., Berperanglah. Jika hal itu merupakan serangan setan yang tidak merupakan kehendak Allah, masuklah ke dalam peperangan, lawanlah dan usirlah setan, "ia akan lari dari padamu." (Yak 4:7). 7. Penderitaan menguji iman kita terhadap Firman Allah "Semua Firman Allah adalah murni (Ams 30:5). "Janji Tuhan adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah. (Mzm 12:7). Bandingkanlah ayat-ayat ini dengan Mazmur 105:19, "Sampai saat FirmanNya sudah genap, dan janji TUHAN membenarkannya (Yusuf)." Yusuf mendekam sekitar sepuluh sampai dua belas tahun di penjara Mesir karena menolak ajakan isteri Potifar untuk berzinah dengannya. Isteri Potifar memfitnahnya, seolah-olah Yusuflah yang mau berbuat kurang ajar terhadap dia. Untuk ini, Yusuf menderita bertahun-tahun di dalam penjara karena kebenaran. Allah sudah berjanji untuk menjadikan dia seorang penguasa. Menurut anda apa yang akan terjadi dengan seorang pemimpin berada di dalam penjara selama sepuluh sampai dua puluh tahun, padahal dia sudah diberi janji sedemikian? Saya tahu apa yang akan terjadi dengan diri saya, seandainya berada dalam keadaan seperti itu. Hal itu akan membuat saya frustrasi dan tertekan. Namun Allah mengijinkan Yusuf mengalami semuanya itu. Mengapa? Agar Firman Allah kepadanya dapat dibuktikan sungguh "teruji bagaikan perak, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah." (Mzm 12:7). Setiap tokoh iman mengalami pencobaan-pencobaan yang luar biasa dahsyatnya sebagai akibat dari mendengarkan instruksi-instruksi Allah. Proses untuk mewujudkan apa yang Allah sampaikan kepada mereka sungguh menuntut harga yang mahal.

a. Nuh diperintahkan untuk membuat sebuah bahtera. Hal ini mendatangkan ejekan dan cemoohan dari orang-orang. Hanya keluarganya dan beberapa binatang pilihan tertentu yang diselamatkan. b. Abraham diberi janji, " kamu akan menjadi bapa bagi banyak bangsa dan diberi nama Abraham yang artinya "BAPA SEJUMLAH BESAR BANGSA. (Kej 17:4,5). Dapatkah anda membayangkan bagaimana tetangga-tetangga Abraham akan mentertawakan dia? "Berapa anak yang kau punyai hai "bapa sejumlah besar bangsa? mereka akan mengajukan pertanyaan sinis sedemikian. Abraham tentunya akan menundukkan kepalanya dan berdiam diri. Dia tidak mempunyai seorang anakpun. "Kami mendengar kamu akan menjadi bapa dari sejumlah besar bangsa. Kamu sudah berusia sembilan puluh sembilan tahun. Kapan hal itu akan terjadi?" Mereka terus menerus mengolok. Abraham tidak mempunyai jawaban. Dia menanggung olokan dan ejekan yang menimpa setiap orang yang sudah "mendapat firman dari Allah." Percayalah! Setiap perkataan Allah akan dimurnikan (diuji). c. Musa tahu bahwa dia ditetapkan untuk melepaskan rakyatnya dari perbudakan di Mesir. Ketika dia mencoba melakukan tugasnya itu. Bahkan saudara-saudaranya sendiri, orang-orang Israel, berbalik darinya sehingga ia melarikan diri ke padang gurun selama empat puluh tahun. Menurut pendapat anda, apa yang ada dalam pikiran Musa selama tahuntahun tersebut? Saya pikir tentunya pemikiran-pemikiran seperti inilah yang memenuhi benaknya: "Tuhan, di dalam usaha untuk taat kepadaMu, saya sudah melepaskan hak saya untuk mewarisi takhta Firaun. Setidak-tidaknya saya dapat menduduki jabatan sebagai seorang perdana menteri di Mesir. Tetapi sekarang, waktu saya mencoba untuk mengikuti panggilanMu saya menjadi seorang pengembara dan terbuang di padang gurun, hanya menggembalakan beberapa saja dari domba-domba mertuaku. Tuhan, apa yang Engkau lakukan terhadapku?" Dapatkah anda membayangkan apa yang dapat dihasilkan selama empat puluh tahun untuk suatu penglihatan, nampaknya visi itu tidak akan pernah dapat terwujud, dan apa faedahnya bagi orang itu sendiri? Kita tahu bahwa keyakinan terhadap dirinya sendiri sudah menjadi goyah, dia gemetar dan gagap kalau berkata-kata. Dia perlu didampingi Harun saudaranya, sebagai jurubicara untuk dia. Ini terjadi sebagai akibat dari adanya konflik batin yang dalam dan tekanan berat. Jika saja cukup waktu dan tempat, kita dapat mempelajari Daud, Nehemia, Yohanes Pembaptis, Paulus dan banyak yang lain lagi. Semua mereka memiliki "perkataan TUHAN" yang diberikan kepada mereka. Kemudian iman mereka terhadap firman (perkataan) itu diperhadapkan pada ujian-ujian

yang hebat melalui penderitaan, salah pengertian dan pencobaan-pencobaan besar yang tidak menyenangkan. Sahabatku, tidak ada jalan lain menuju kepemimpinan. "Jika kita menderita, maka kita akan memerintah bersama-sama dengan Dia". (2Tim 2:12). Paulus berkata, "Karena mengajarkan kebenaran-kebenaran inilah aku berada di sini, dalam kesukaran dan dipenjarakan seperti seorang penjahat. Aku terbelenggu, tetapi Firman Allah tidak terbelenggu. Aku rela menderita demi keselamatan dan kemuliaan kekal di dalam Kristus Yesus bagi mereka yang telah dipilih Allah. "Aku terhibur oleh kebenaran ini: bahwa apabila kita menderita dan mati untuk Kristus, itu berarti kita akan memulai suatu kehidupan bersama dengan Dia di sorga. Dan bila kita menganggap pelayanan kita untuk Dia sekarang ini berat, ingatlah bahwa pada suatu waktu kita akan duduk dan memerintah bersama dengan Dia. "Tetapi bila kita berputus asa dalam penderitaan dan menyangkal Kristus, Ia juga akan menyangkal kita. Tetapi sekalipun pada waktu kita ini demikian lemah sehingga tidak beriman, Ia tetap setia dan menolong kita, karena Ia tidak dapat menyangkal kita yang merupakan bagian dari diriNya sendiri; dan janji-janjiNya kepada kita akan selalu dilaksanakanNya." (2Tim 2:9-13 tlb).

C. MEMELIHARA SIKAP YANG BENAR. Memelihara sikap yang positif di tengah-tengah penderitaan yang besar merupakan kunci untuk kehidupan Kristen yang berhasil. "Tetapi syukur bagi Allah, yang dalam Kristus selalu membawa kami di jalan kemenanganNya" (2Kor 2:14). Paulus tidak menulis kata-kata ini hanya dengan berteori. Dia sudah mengalami dan mempraktekkan apa yang dia katakan. Anda masih ingat bahwa dialah yang mengusir setan yang merasuk seorang budak perempuan di Filipi. Hal ini mengakibatkan "Orang banyak segera bangkit menentang Paulus dan Silas, dan para hakim memerintahkan supaya pakaian mereka dilucuti dan mereka didera dengan tongkat pemukul. Berkali-kali tongkat pemukul itu melukai punggung mereka yang tak berbaju. Kemudian mereka dijebloskan ke dalam penjara. Kepala penjara diancam dengan hukuman mati kalau mereka sampai melarikan diri. Karena itu, ia tidak mau mengambil risiko. Ia menyekap mereka di sel sebelah dalam dan memasung kaki mereka. "Pada kira-kira tengah malam, Paulus dan Silas berdoa serta menyanyi memuji Tuhan dan para tawanan yang lain sedang mendengarkan" (Kis

16:22-25 tlb) Tuhan, setia pada janjiNya, mengelilingi Paulus dan Silas dengan " nyanyian kelepasan" (Mzm 32:7). Apa yang terjadi sebagai akibat dari menaikkan "nyanyian kelepasan"? Tuhan mendatangkan gempa bumi yang membebaskan bukan hanya Paulus dan Silas, tetapi semua tahanan yang lain juga. Kepala penjara bertobat dan membawa Paulus serta Silas ke rumahnya, menerima mereka sebagai tamunya. Sebagai akibatnya sebuah gereja yang cukup kuat didirikan di Filipi. Anugerah yang diberikan kepada Paulus dan Silas untuk berdoa dan menaikkan pujian di tengah-tengah situasi sedemikian sungguh merupakan suatu mujizat. Tetapi Dia akan melakukan hal yang sama untuk anda dan saya jika kita mau berjalan di dalam Roh dan tidak bersungut-sungut, mengomel terhadap Allah atau orang lain manakala ujian dan cobaan-cobaan datang. Sadarilah tangan Allah di setiap pencobaan yang datang kepada anda. 2. Jangan bersungut-sungut kepada Allah Tanggapan anda atas keadaan-keadaan yang menimpa anda akan menentukan apakah anda akan menjadi lebih baik atau pahit. Si "aku" lah yang menjadikannya berbeda. Allah menghendaki agar anda menyadari, "bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku" (Gal 2:20). Jika anda bersedia untuk memelihara "sikap sebagaimana Kristus" di dalam menanggapi kesusahan dan mengatakan kepada Tuhan, "Saya melihat tanganMu di dalam semua ini, TUHAN: terima kasih atas pembentukanMu pada diriku, untuk pengajaranMu kepadaku," maka andapun akan menerima anugerah khusus dari Tuhan yang akan membawa anda melalui semuanya itu dalam kemenangan. Paulus menyebutkan kembali lima dosa yang menyebabkan kegagalan Israel di padang gurun. Berikut ini yang kelima, "Janganlah menggerutu mengenai Allah dan perlakuanNya terhadap saudara, seperti yang dilakukan oleh beberapa di antara mereka, sehingga Allah menyuruh malaikatNya membinasakan mereka" (1Kor 10:10 tlb) 3. Pandanglah Penderitaan Itu Sebagai Hambamu Ketika mengingat kembali beberapa dari penderitaannya untuk Kristus, Paulus berkata, "Sebab penderitaan ringan yang sekarang ini, mengerjakan bagi kami kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya, jauh lebih besar dari pada penderitaan kami" (2Kor 4:17). Paulus melihat penderitaan-penderitaannya "mengerjakan bagi dirinya" begitulah karena penderitaan-penderitaan itu bagi Paulus adalah hamba-

hambanya, melakukan apa yang dikehendaki Allah, mengerjakan "kemuliaan kekal yang melebihi segala-galanya." Bersediakah anda semua yang mengalami kelelahan, ujian-ujian dan cobaancobaan serta berbagai macam penderitaan menyadari, "kesulitan-kesulitan akan segera berlalu, tetapi kesukaan yang akan datang kekal untuk selama-lamanya" (2Kor 4:18 tlb). Allah sangat mengasihi anda. Besar sekali pahala anda di sorga jika anda bersedia bertekun sampai pada akhirnya. Seorang utusan Injil yang sudah lanjut usia yang berada sendirian di kepulauan Maui, satu kali menulis: Dia adalah Tuhan yang empunya samudera raya, Tuhan yang empunya semua kepulauan.Angin ada di dalam kekuasaanNya dan tunduk pada perintahNya. Dia mendatangkan hujan, Dia mencurahkan butiran-butiran salju. Dia dapat menguasai badai dan topan. Beberapa orang berseru-seru dan bersungut atas badai yang menakutkan, waktu mereka berlayar di gejolak ribut kehidupan. Jangan bertempur melawan angin, tetapi ramahlah kepadanya bagaikan sahabat, maka hidup anda akan menikmati limpahan anugerah. Karena hal membentangkan layar, bukan ganasnya badai topan, yang akan membawa anda selamat berlayar sampai tujuan. Pelabuhan yang teduh akan kita capai, hanya dengan sedikit keringat, jika topan menjadi hamba kita. Teruslah berlayar, pelaut yang lelah, Tuhan menantimu, untuk menyambutmu di pelabuhan yang teduh. Arahkan matamu senantiasa pada sumber kekuatan dan pertolonganmu, jangan menggerutu karena kesulitan, yang sebetulnya mempersiapkan campur tanganNya. Ya, kehidupan yang penuh dengan badai dan topan dapat ditundukkan melalui sikap yang benar. Sebagaimana angin bermanfaat untuk pelayaran, maka badai ujian dan pencobaan akan menolong menghasilkan kedewasaan yang mempersiapkan kita untuk kepemimpinan di bumi ini, dan untuk pelabuhan dan rumah kita yang kekal, yaitu surga.

D. RINGKASAN

Sebagai ringkasan kita sudah mempelajari beberapa prinsip yang penting: 1. Kedewasaan dan Latihan Penderitaan dan ujian dapat merupakan tangan kemurahan Allah, yang membentuk kita, melatih kita dan mendewasakan kita. 2. Allah sedang bekerja melalui kita Allah bekerja dengan leluasa di dalam kita, manakala kita diuji melalui masamasa penderitaan cobaan dan tantangan. 3. Lulus atau gagal dalam ujian Di dalam api penderitaan beberapa orang akan gagal dan beberapa lagi akan berhasil mengatasi ujian-ujian itu dan ditinggikan. Mereka yang berhasil adalah mereka yang dipilih untuk mendengar kata-kata penghiburan "Kamu sudah menunjukkan kesetiaanmu di dalam perkara-perkara yang kecil: aku akan menjadikan kamu penguasa atas perkara-perkara yang besar."

Bab 5 Belajar Dari Kehidupan Yusuf Pendahuluan Beberapa tahun yang lalu David Edwards, Pimpinan dari Institut Alkitab Elim di Lima, New York, menjadi Pembicara dalam sebuah seminar yang diselenggarakan oleh World MAP dan membawakan tentang kehidupan Yusuf. Ia berkata. "Kehidupan Yusuf dapat diringkaskan dengan tiga kata dalam bahasa Inggris, yaitu Pitted, Potted dan Putted yang artinya "Dimasukkan dalam lobang, dikurung dan ditempatkan/dipromosikan." Ketiga kata ini telah menjadi kerangka/garis besar dari Bab ini. Waktu saya masih seorang pemuda, saya sering menangis kalau saya membaca kisah tentang kehidupan Yusuf (Kejadian pasal 37 sampai 49). Bertahun-tahun saya tidak mengerti apa yang sedang terjadi dan apa sebabnya. Mengapa kisah tentang Yusuf begitu mengharukan hatiku? Pada usia sekitar enam belas sampai tiga puluh tahun, pelayanan saya yang mulamula sangat berkembang. Dalam tahun-tahun itu, saya mulai menyadari bahwa pola kehidupan saya mirip sekali dengan Yusuf. Ada suatu kesejajaran yang begitu dekat, karena begitu miripnya. Seakan-akan secara misterius Tuhan telah merencanakan hidup saya mirip dengan apa yang dialami Yusuf. Pada usia 53 tahun (saat artikel ini ditulis), saya lebih diyakinkan dari sebelumnya bahwa hal ini memang benar. Selama melayani lebih dari tigapuluh lima tahun, saya telah berbicara dengan sejumlah pemimpin gereja yang telah mengalami pengalaman yang mirip dengan Yusuf dan saya. Para pemimpin ini sangat sadar akan adanya kekuatan yang tidak dapat diterangkan dengan kata-kata, yang telah membentuk kehidupan dan pelayanan mereka. Karena alasan ini, saya merasa bahwa penyelidikan yang teliti mengenai persiapan Yusuf menjadi pemimpin akan menjadi suatu penyelidikan yang sangat berharga. Hal ini akan menolong anda mengerti apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi waktu Allah menyiapkan anda untuk kepemimpinan dan memperbesar tanggung-jawab anda. Waktu anda membaca apa yang akan saya paparkan selanjutnya, saya harap anda menerima banyak kekuatan dari kehidupan Yusuf sebagaimana saya sendiri juga telah menerimanya.

A. PITTED (DIMASUKKAN KEDALAM LUBANG) 1. Panggilan Pertama

Seperti saya, waktu masih remaja Yusuf telah menerima pernyataan dari Allah mengenai panggilannya. Pada usia tujuh belas tahun, Yusuf diberi mimpi-mimpi oleh Tuhan. Mimpi ini menunjukkan bahwa Yusuf telah ditetapkan untuk peran kepemimpinan yang membawa dia ke tempat utama, yang akan berakibat bahwa dia dapat menolong banyak orang lain. Seperti saya, Yusuf tidak dapat menutup mulutnya dan hal ini menyebabkan kesulitan besar dengan saudara-saudaranya. Mimpinya tidak dihargai sedikitpun oleh mereka. Boleh jadi ada sedikit kesombongan rohani pada Yusuf, walaupun Alkitab tidak mengatakan mengenai hal ini. Karena dia adalah anak yang lahir ketika bapanya sudah berusia lanjut, Israel mengasihi Yusuf lebih dari anak-anaknya yang lain. Ia telah membuatkan Yusuf baju panca warna. Lengan bajunya sampai di pergelangan tangan dan jubahnya sampai ke mata kakinya, seperti pakaian yang biasa dikenakan oleh pangeran-pangeran di istana raja. Sebaliknya, kakak-kakaknya semua mengenakan baju seragam pendek dan celana para gembala, pakaian orang yang biasa tinggal di padang. Semua hal ini telah menjadikan kakak-kakaknya merasa jengkel dan iri atas perlakuan dan status yang istimewa dari Yusuf. Pada suatu hariIsrael, ayah mereka, mengutus Yusuf untuk melihat kakakkakaknya dan melaporkan bagaimana keadaan ternaknya. Ketika kakakkakaknya melihat Yusuf datang, mereka berkomplot untuk membunuh dia dengan cara sedemikian rupa sehingga akan nampak seperti hanya suatu kecelakaan. Kakak yang tertua, Ruben, mencegah dan menyarankan agar mereka melemparkan Yusuf ke dalam sumur kosong di dekat situ saja. Dengan demikian Yusuf telah dimasukkan dalam lobang(bahasa Inggris: pitted). 2. Percobaan dan Rintangan Masa ini dalam kehidupan Yusuf merupakan ciri dari mereka yang terpanggil untuk melayani pada usia yang masih sangat muda. Saya mengalaminya tepat setelah lulus dari tingkat duabelas (rupanya kalau di Indonesia lulus SMA), saya pergi dan bergabung dengan saudara-saudara saya di sebuah sekolah untuk melatih calon utusan Injil di mana mereka akan dipersiapkan untuk pergi ke ladang-ladang pelayanan di seluruh dunia. Dalam tahun-tahun tersebut saya sering mendapat kesulitan, sebab kebanyakan dari siswa-siswa itu mengalami baptisan Roh Kudus. Karena saya berasal dari "denominasi Pentakosta," sering saya dianggap sebagai biang keladinya dan saya sering dipanggil untuk menjelaskan apa peran saya dalam hal-hal yang sedang terjadi itu.

Kenyataannya, saya hanya berbicara kepada siswa-siswa yang datang kepada saya yang menanyakan tentang Roh Kudus. Dari belasan orang yang telah dipenuhi Roh Kudus selama tahun itu, hanya tiga atau empat orang saja yang telah datang kepada saya. Yang lainnya dipenuhi sementara mereka menyepi ke gunung sendirian untuk berdoa dan berpuasa. Tuhan melihat kerinduan hati mereka dan memenuhi mereka. Dalam tahun-tahun berikutnya, saya bekerja keras untuk menyelesaikan tugas-tugas saya. Karena saya pernah punya pengalaman menjalankan alatalat percetakan, selama berminggu-minggu saya bekerja dengan suka-cita menolong di bagian percetakan. Kecakapan alami saya untuk barang-barang mekanik menyebabkan berminggu-minggu selanjutnya saya bekerja menolong mengubah pesawat muatan menjadi pesawat penumpang untuk mengangkut para utusan Injil ke seluruh dunia. Ketika tiba waktunya menyeleksi siswa-siswa untuk tugas sebagai utusan Injil, saya diberi secarik kertas untuk ditanda-tangani. Saya diminta untuk berjanji tidak akan pernah lagi mengajar atau berkhotbah tentang Baptisan Roh Kudus. Sudah tentu saya tidak dapat menandatangani janji semacam itu. Saya harus bersikap benar terhadap Alkitab dan terhadap panggilan Tuhan atas hidup saya. Karena menolak, saya dimohon untuk pergi. Hancur hati karena perlakuan ini (seperti dimasukkan lobang sumur), saya pergi dengan kecewa dan hati yang susah. Bahkan tak seorang pun yang ingat untuk mengucapkan terima kasih atas semua hal yang telah saya lakukan. Walaupun demikian saya tetap mengasihi mereka. Beberapa tahun kemudian, saya menyumbangkan uang ke dana umum dari missi ini dan menyokong para utusan Injil mereka.

B. POTTED (DIKURUNG) Sementara saudara-saudara Yusuf sedang membicarakan apa yang akan dilakukan terhadapnya, serombongan saudagar dari Midian lewat. Yehuda mengusulkan, "Mengapa kita tidak menjual saja Yusuf kepada orangorang Midian ini?" "Ide yang bagus sekali!" sambut yang lainnya secara serempak. Dan itulah yang mereka perbuat. Yusuf dijual dengan harga dua puluh syikal perak, harga seorang budak.

Di Mesir, di pasar penjualan budak, seorang yang bernama Potifar, kepala pengawal Firaun, membeli Yusuf sebagai budaknya. Dalam waktu singkat Potifar menyadari bahwa Tuhan memberkati segala sesuatu atas segala usahanya. 1. Tuduhan Palsu Yusuf adalah seorang pemuda yang cakap, dan istri Potifar mulai menaruh hati kepada Yusuf dan selalu membujuknya untuk tidur bersamanya. Yusuf menolak, tetapi dia menangkap Yusuf dan memaksa Yusuf bersetubuh dengan dia. Namun Yusuf segera lari meninggalkan dia. Istri Potifar menarik baju Yusuf sehingga baju itu terlepas daripadanya dan Yusuf lari dari rumah itu. Malam itu, istri Potifar menceritakan kepada suaminya bahwa Yusuf berusaha untuk memperkosa dia. Hal ini menjadikan Potifar murka dan segera ia menyuruh agar Yusuf dijebloskan ke dalam penjara. "Mereka mengimpit kakinya dengan belenggu, lehernya masuk ke dalam besi" (Mzm 105:18). Lewat fitnah yang disampaikan oleh istri Potifar ia telah dimasukkan dalam penjara! (Potted). Dapatkah anda merefleksikan kembali tahun-tahun awal pelayanan anda yang mirip dengan persoalan ini? Barangkali sekarang anda sedang mengalami pengalaman dimasukkan dalam lobang atau dikurung. Anda tahu, tentu ada alasannya. 2. Allah sedang bekerja Saya jumpai sangat menarik bila memperhatikan apa yang dikatakan Alkitab, "DiutusNyalah seorang mendahului mereka: Yusuf, yang dijual menjadi budakuntuk menyelamatkan umatNya dari kelaparan" (Mzm 105:17). Allah mengutus Yusuf? Saya pikir saudara-saudaranya yang berusaha membunuh dia dan telah menjualnya sebagai budak. Ya, itulah kisah yang dilihat oleh manusia. Tetapi dari sudut pandangan Allah, Ia (Tuhan) selalu ada di situ sepanjang waktu, mengajarkan segala hal bersama-sama untuk kebaikan Yusuf dan keluarganya yang terpilih. Jika saja kita mengerti hal ini apabila ujian-ujian, penolakan, salah pengertian maupun ketidak-adilan terjadi dalam hidup kita. Tuhan bekerja dalam semuanya itu. Jika hal itu terjadi bukan karena kesalahan kita sendiri, dan bukan penderitaan karena ketidak taatan kita, kita dapat mengetahui bahwa Ia mengerjakan semua hal yang nampaknya melawan kita untuk kebaikan kita dan juga untuk kebaikan orang-orang lain. 3. Kesaksian pribadi sebagai contoh

Saya tak pernah lupa ketika saya "dikurung". Setelah Sekolah untuk melatih calon Utusan Injil itu menolak pengangkatan saya, melalui pengaturanNya Tuhan membuka jalan bagi saya untuk pindah dari California ke bagian lain di Amerika Serikat. Di situ saya dan istri saya memulai mendirikan gereja baru. Dalam lubuk hati saya, saya ingin sekali pergi ke bangsa-bangsa lain di dunia ini dan memberitakan Injil sebagaimana saya telah dipanggil untuk hal ini. Tetapi tidak ada jalan lain dan sayapun belum siap (satu kenyataan yang belum saya sadari pada waktu itu). Karena tidak dapat pergi, saya putuskan untuk menolong mengirim orangorang lain. Jadi saya selalu mencari kesempatan untuk menantang orangorang tentang kebutuhan yang besar dari berjuta-juta orang yang belum pernah mendengar Injil di Asia, Afrika dan Amerika Latin. Dengan cara ini saya berharap dapat membangkitkan orang-orang untuk memberikan lebih banyak bagi kegiatan misi melalui gereja mereka. Saya juga berpikir bahwa beberapa gereja tertentu dapat mengirim lebih banyak dari jemaatnya untuk menginjili dunia ini. a. Ijin Diberikan Kira-kira setahun kemudian (1957) direktur dari kebaktian penginjilan itu (yang mengurusi surat kepercayaan pendeta dari denominasi saya) menghubungi saya untuk menetapkan tanggal dilaksanakannya Kebaktian Penginjilan Misi itu. Itu terjadi kira-kira 6 bulan kemudian, yaitu awal Februari 1958. Dengan penuh harapan saya menghubungi pemimpin-pemimpin dari denominasi lain untuk mendapat dukungan dan kerja sama dari mereka. Kebanyakan dari mereka dengan senang hati menyetujui untuk mengajak jemaat mereka menghadiri kebaktian tersebut. b. Lalu Terjadilah Hanya beberapa minggu saja sebelum kebaktian besar-besaran itu diadakan, saya diundang menghadiri suatu rapat dimana saya diberitahukan oleh beberapa pendeta dari denominasi saya bahwa saya harus meletakkan jabatan sebagai ketua kebaktian penginjilan itu dan dimohon tidak menghadiri kebaktian-kebaktian tersebut. Ketika saya bertanya apa alasannya, saya diberitahu bahwa itu disebabkan karena penginjilan misi itu tidak mendapat surat kepercayaan dari denominasi kami. Ia bukanlah pendeta yang dipilih/ditetapkan. Saya sungguh terhenyak dan mohon waktu untuk berdoa dan berpuasa mencari kehendak Tuhan dalam persoalan ini.

Saya menjadi kecil hati karena saya menyadari bahwa saya berada dalam situasi yang tidak memungkinkan. Pimpinan dari denominasi saya yang telah memberikan izin kepada saya, sakit kanker yang sudah parah dan tidak dapat menolong saya. Wakilnya telah menerima tugas di gereja yang lebih besar di kota lain dan telah pergi. Pimpinan-pimpinan lokal telah diganti. Ketiga pemimpin dari denominasi saya yang telah memberikan izin 18 bulan sebelumnya sudah tidak ada lagi, dan saya betul-betul merasa sendiri. Lebih menyulitkan lagi, oposisi itu merupakan suatu tindakan yang tidak resmi yang dilakukan oleh beberapa pendeta saja. Mereka telah membentuk satu kelompok yang mengeluarkan keputusan bahwa "setiap pendeta (dari denominasi saya) yang menghadiri kebaktian penginjilan itu akan dicabut surat kepercayaannya sebagai pendeta." Saya menelpon kantor pusat dari denominasi ini, beratus-ratus mil jauhnya, dan menanyakan pada para pimpinan di pusat mengenai hal ini. Mereka menjelaskan bahwa pimpinan pimpinan setempat ini telah bertindak di luar undang-undang dan peraturan daerah dari denominasi kami; jadi gerakan mereka tidak dapat didukung. Namun saya dapat dipecat bila saya mengajukan tentang tindakan mereka ke kantor pusat. Tetapi segi praktis dari dilema saya ini sungguh membuat saya susah. Pertama, saya tidak mau bertengkar atau berkelahi dengan siapapun terutama dengan saudara-saudara dari denominasi saya sendiri. Saya berada di bawah perintah tegas dari Firman Tuhan, "Jauhilah segala pertengkaran jagalah supaya jangan ada kepahitan yang berakar di antara saudarasaudara, sebab kalau ada, hal itu akan menyebabkan banyak kesulitan yang merusak kehidupan rohani banyak orang." (Ibr 12:14-15 FAYH). Kedua, meletakkan jabatan sebagai Ketua Kebaktian Penginjilan sungguh tidak mungkin untuk dua alasan. Pertama: akan mempunyai pengaruh yang negatif pada kebaktian itu, dimana beratus-ratus dollar telah dikeluarkan untuk pembayaran-pembayaran di muka. Kedua: Saya telah berjanji bahwa saya akan melayani dengan sekuat kemampuan saya. Jika seorang Kristen berkata ia akan melakukan sesuatu, harus ditepati. Ia harus melakukannya. Jadi saya tidak dapat menarik janji saya lagi. Tatkala saya meneruskan waktu doa dan puasa saya, Tuhan mulai memberikan ayat-ayat Firman Tuhan untuk menolong saya mengerti apa yang sedang terjadi. "Tetapi kepada orang inilah Aku memandang: kepada orang yang tertindas dan patah semangat, dan yang gentar kepada FirmanKuDengarkanlah Firman Tuhan, hai kamu yang gentar kepada FirmanNya! Saudara-

saudaramu, yang membenci kamu, yang mengucilkan kamu oleh karena kamu menghormati namaKu, telah berkata: "Baiklah Tuhan menyatakan kemuliaanNya, supaya kami melihat sukacitamu! Tetapi mereka sendirilah yang mendapat malu. (Yes 66:2,5). Dari ayat ini saya diyakinkan dua hal Pertama: apapun yang terjadi, saya tetap harus memelihara sikap rendah hati dan tidak akan membalas kemarahan dan kesombongan mereka dengan sikap yang sama. Kedua: saya yakin bahwa saya akan dikeluarkan dari denominasi saya. Pada suatu hari Tuhan memberikan pengarahan yang begitu spesifik dan supra alami sehingga sungguh menguasai saya. Suatu pernyataan yang jelas dan teliti mengenai keseluruhan situasi saya tahu dengan tepat apa yang akan terjadi dan apa yang harus saya lakukan. Dalam kesempatan ini, berita Tuhan datang kepada saya dari 3 Yohanes. Kitab ini mengisahkan tentang seorang bernama Diotrefes. Mengenai dia kita membaca demikian: "Ia bukan saja tidak mau menerima penginjil-penginjil yang sedang dalam perjalanan mereka, melainkan juga melarang orangorang lain menerima mereka, dan bila mereka tidak menurut, ia berusaha mengasingkan mereka dari gereja." (2Yoh 10 FAYH). Saya tidak punya cukup waktu dan tempat untuk menjelaskan hal itu semua, namun satu hal sudah pasti, saya dikurung(potted). Dengan hati yang sangat sedih, saya duduk dan menulis kepada para pimpinan denominasi saya menjelaskan semua hal. Saya meyakinkan mereka tentang kasih saya, dan mengapa saya tidak mempunyai pilihan lain kecuali menyerahkan diri untuk dipecat. Saya melampirkan surat kepercayaan saya sebagai pendeta. Itulah satu-satunya cara agar situasi dapat diselesaikan dengan cara damai. Tuhan menunjukkan kepada saya bahwa saya seperti Yunus, ketika ia sedang dalam perjalanan ke Tarsis dengan kapal. Dalam situasi itu Yunus ada di luar kehendak Allah. Jika Yunus dilemparkan ke laut, akan menyebabkan air laut menjadi tenang kembali, dan situasi dapat menjadi beres. Dengan mengirimkan surat kepercayaan saya itu, saya membiarkan diri saya dilempar ke luar, dan sebagaimana Tuhan telah memberitahu saya, hal itu akan membawa ketenangan/damai. Laut yang bergelora menjadi tenang kembali. c. Kecewa dan Tidak Berpengharapan Namun bagi saya hal ini juga mendatangkan perasaan kecewa dan tak berdaya bahwa saya tidak akan pernah dapat menggenapi panggilan saya selama lebih dari sepuluh tahun.

Secara diam-diam, saya hanya punya satu-satunya harapan, yaitu bahwa pada suatu hari, setelah saya membangun beberapa gereja untuk denominasi saya, mereka akan menyetujui saya sebagai calon missi/utusan Injil mereka. Di bawah naungan mereka, saya dapat pergi ke luar ke bagianbagian dunia yang belum pernah dicapai oleh Injil dan berusaha menjangkau jiwa-jiwa yang terhilang bagi Yesus. Kini lenyaplah semua pengharapan! Hal ini tidak pernah akan terjadi. Pada hari saya mengirimkan surat kepercayaan itu, saya berkata kepada istri saya, "Rose, tidak ada jalan lain bagi saya untuk dapat menggenapi panggilan Tuhan untuk memberitakan Injil ke seluruh dunia. Boleh jadi saya keliru waktu itu, yaitu sebelas tahun yang lalu, ketika saya mulai mentaati apa yang saya kira merupakan panggilan Allah. Nampaknya sudah tidak mungkin dapat terjadi sekarang." Dari sudut pandangan secara alami, hal itu memang benar. d. Allah memiliki rencana Saat itu merupakan hari-hari yang paling kelabu dalam hidup saya. Barulah beberapa tahun kemudian saya betul-betul mengerti, bahwa, seperti Yusuf dan kakak-kakaknya, beberapa orang telah "mereka-rekakan yang jahat terhadap aku, tetapi Allah telah mereka-rekanya untuk kebaikanyakni memelihara hidup suatu bangsa yang besar." (Kej 50:20). Waktu saya terus mencari Allah, Ia memberitahu saya agar " sungguhpun aku bebas terhadap semua orang, aku menjadikan diriku hamba dari semua orang, supaya aku boleh memenangkan sebanyak mungkin orang" (1Kor 9:18-19). Pada waktu itu saya tak pernah bermimpi bahwa Tuhan telah mempunyai rencana yang begitu besar untuk hidupku dan pelayananku. Tak pernah terpikir oleh saya bahwa Tuhan akan membuka pintu-pintu bagi kami di seluruh dunia ini, melewati tembok-tembok denominasi. 1) "Pelayanan Yusuf". Saya selalu mencoba untuk menghormati saudarasaudara saya yang telah membuat saya menaruh dendam yang salah kepadanya atas kejadian yang terjadi. Namun demikian saya menyarankan bahwa dari tindakan saya menarik diri itu kiranya dapat menjadi pelajaran bagi siapa saja yang akan mengambil tindakan yang sama seperti saya. Mengenai Yusuf telah dinubuatkan, "Berkat,akan turun ke atas kepala Yusuf, ke atas batu kepala orang yang teristimewa di antara saudarasaudaranya." (Kej 49:26). Yusuf tidak menjadi orang yang istimewa karena pilihannya sendiri, tetapi karena pengaturan Ilahi. Seperti saya, ia tidak mempunyai pilihan; tentunya ia ingin tinggal dengan aman di antara keluarga di bawah perlindungan ayahnya, tetapi Allah mempunyai rencana yang lain untuk Yusuf.

Firman Tuhan mengenai dia menunjukkan bahwa dia akan menjadi "pohon buah-buahan yang muda pada mata air; dahan-dahannya naik mengatasi tembok" (Kej 49:22). Tembok-tembok denominasi tidak pernah dapat menutup Pelayanan Yusuf. Dahan-dahannya selalu naik ke atas sehingga setiap orang yang membutuhkan naungannya, atau yang lelah dan lapar, dapat bernaung di bawah dahan-dahan yang berdaun rindang dan berbuah lebat. Buah dan naungan dari dahan-dahan yang mengatasi tembok dapat diperoleh tanpa bayar karena anda tahu, tidak ada cap denominasi yang dapat diletakkan pada buah yang diambil dari dahan yang naik mengatasi tembok. Dalam kebiasaan Perjanjian Lama dan peraturan Imamat, dahan dan buah yang mengatasi tembok adalah milik umum setiap orang dapat mengambilnya dengan bebas. Negara Perancis masih menerapkan hukum pertanian ini secara Alkitabiah sehingga para petaninya diberkati oleh karena hal itu. Seruannya seperti pada zaman dahulu, "Ayo, hai semua orang yang haus, marilah dan minumlah air, dan hai orang yang tidak mempunyai uang, marilah! Terimalah gandum tanpa uang pembeli dan makanlah, juga anggur dan susu tanpa bayaran!" (Yes 55:1). Untuk "Pelayan Yusuf" inilah Tuhan mempersiapkan saya. Tetapi pada waktu itu, saya belum menyadari sepenuhnya arti dari apa yang telah terjadi. Perasaan ditolak, kesepian dan terasing sangat sulit bagi saya pada waktu itu (tentunya juga bagi Yusuf). Namun Tuhan telah menempatkan saya dalam keadaan itu. Tak ada satupun yang dapat saya lakukan untuk keluar dari keadaan itu (kecuali saya bermaksud memberontak terhadap kehendak Allah). 4. Diuji melalui Firman "Sampai saat FirmanNya sudah genap, dan janji Tuhan membenarkannya" (Mzm 105:19). Sepuluh atau dua belas tahun di dalam penjara dengan rantai pada pergelangan tangan dan kalung besi di sekitar leher dapat menghancurkan hidup siapapun juga. Yusuf berada dalam struktur keadaan yang direncanakan oleh Arsitek Ilahi. Namun tanpa memiliki pengetahuan yang pasti tentang hal ini membuat hidupnya nampak tak berpengharapan. Kalau saja ia tahu hal ini dengan pasti, boleh jadi kesusahan dan masa menunggu masih dapat ditolerir. Apa yang dia miliki hanyalah mimpi itu yang menunjukkan bahwa Yusuf akan menderita penolakan dari saudara-saudaranya dan akan dilemparkan ke dalam sumur. Tak ada petunjuk dalam pernyataan dari Tuhan bahwa ia akan

dijual sebagai budak, difitnah, dan melewatkan waktu bertahun-tahun di penjara. Tentunya ia berpikir-pikir, "Apa yang sedang terjadi? Mengapa semua hal ini terjadi padaku?" Ketika martir pertama, Stefanus, memberikan pembelaannya sebelum ia mati, ia mengemukakan juga tentang kesengsaraan Yusuf. "Allah melepaskannya (Yusuf) dari segala penindasan (Kis 7:10). Ya, ia mengalami penindasan! Penindasan yang tak dapat dilukiskan! Ia tidak melakukan sesuatu hal yang salah di rumahnya ataupun di rumah Potifar. Namun ia menjadi budak yang dipenjarakan tanpa harapan untuk dapat dikeluarkan. Ia justru mempertahankan kesucian dan kemurnian moral. Upahnya adalah hukuman seumur hidup tanpa grasi/janji apapun, di penjara bawah tanah yang panas, penuh kutu, penuh kotoran dan berbau busuk. Kebanyakan dari kita tidak pernah memikirkan lebih jauh penderitaan yang tentunya dirasakan oleh Yusuf dalam tahun-tahun ia terasing dan kesepian itu. Barangkali makanannya hanyalah bubur, dan pemuas dahaganya hanyalah air yang berasal dari Sungai Nil yang kotor itu. Ia adalah korban dari pengerjaan dan persiapan Tuhan. Ia, seperti kebanyakan dari anda, telah dipilih oleh Allah untuk kepemimpinan, dan ini merupakan sekolahNya. Sebelum Allah selesai dengan Yusuf, ia akan menerima beberapa gelar di "Sekolah PukulanPukulan Keras."

C. PUTTED (Ditempatkan/Dipromosikan) Saya kira hal yang luar biasa bagi saya tentang Yusuf adalah kelenturannya kemampuannya yang luar biasa untuk tetap memelihara hubungan dengan Tuhan dalam keadaan-keadaan seperti itu. Bahwa ia bebas dari kepahitan, kebencian dan kemarahan merupakan petunjuk kuat bahwa ia dipelihara oleh mujizat yang luar biasa dari anugerah Allah (suatu kemampuan yang dimungkinkan). 1. Pelayanan yang setia Setelah sepuluh tahun Yusuf dipenjarakan, dua rekan narapidana mendapat mimpi. Yusuf dapat langsung menafsirkan mimpi kedua rekannya ini. Sekalipun di lobang penjara, setelah bertahun-tahun lamanya, karunia Allah tetap bekerja dalam diri Yusuf. Sungguh mengagumkan! Menjadi jurukunci yang setia terhadap karunia Tuhan yang unik inilah yang akhirnya membawa Yusuf untuk dipromosikan/ditinggikan.

Yusuf memberitahu arti mimpi dari si Juru minuman. Juru minuman ini dikembalikan ke dalam pangkatnya yang dahulu, membuktikan kebenaran dari karunia nubuat Yusuf. Yusuf minta kepada Juru minuman ini agar menceritakan kepada Firaun mengenai hal ihwalnya agar ia dapat dikeluarkan dari penjara. Tetapi si Juru minuman yang kurang tahu berterima kasih ini segera melupakan Yusuf. Dalam waktu itu, Juru roti dihukum gantung, persis seperti yang diceritakan oleh Yusuf waktu ia menafsirkan mimpinya. Dua tahun berlalu. Pada suatu hari Firaun mendapat mimpi yang sungguh menggelisahkan hatinya. Karena tak seorangpun berhasil menafsirkan mimpi itu, ia mengancam akan membunuh semua ahli-ahli di Mesir. Juruminuman ini tiba-tiba teringat pada Yusuf. Barangkali ia dapat menafsirkan mimpi Firaun. Karena permohonan Firaun agar Yusuf dipanggil, Yusuf kemudian disuruh mandi, bercukur dan berganti pakaian, lalu dihadapkan di muka Firaun. Waktu mendengar tentang mimpi ini, dengan segera Yusuf memberikan artinya. Yaitu tujuh tahun kelimpahan yang akan diikuti tujuh tahun kekeringan. Yusuf juga memberikan kepada Firaun suatu rencana empat belas tahun yang dapat mengurangi pengaruh dari masa sengsara itu. 2. Dipromosikan Firaun begitu terkesan oleh Yusuf, sehingga ia menjadikannya sebagai orang kedua setelah dia, atas seluruh wilayah Mesir. Hanya Firaun sajalah yang memiliki wewenang yang lebih besar. "Dengan ini aku melantik engkau menjadi kuasa atas seluruh tanah Mesir." Sesudah itu Firaun menanggalkan cincin meterainya dari jarinya dan mengenakannya pada jari Yusuf; dipakaikannyalah kepada Yusuf pakaian dari-pada kain halus dan digantungkannya kalung emas pada lehernya. (Kej 41:41). Akhirnya terjadilah! Yusuf ditempatkan/ dipromosikandi atas takhta Mesir. Tahun-tahun yang menyakitkan, kesepian, penjara, rantai dan besi telah berakhir. Saatnya telah tiba! Hari di mana janji Tuhan pada akhirnya mulai digenapi. 3. Hari Pelantikan Kita Saya tahu bahwa bagi mereka yang telah meninggalkan semua untuk mengikuti Kristus, hari pelantikan menantikan masa berikutnya di mana kita

akan memerintah bersama dengan Dia. Namun percayalah, apa yang kita alami sekarang menentukan besarnya pahala kita pada hari itu. Tetapi saya juga tahu bahwa sekalipun dalam kehidupan ini, Yesus menjanjikan bapa-bapa dan ibu-ibu, kakak laki-laki dan kakak perempuan, bahkan rumah dan tanah bagi semua yang telah meninggalkan ini untuk mengikut Kristus. (Mat 19:29). Ada hari-hari sorga di atas bumi bagi mereka yang dipanggil, dipilih dan didapati setia seperti Yusuf.

D. KESIMPULAN "Jangan sesat! apa yang ditabur orang, itu juga yang akan dituainya. Sebab barangsiapa menabur dalam dagingnya, ia akan menuai kebinasaan dari dagingnya, tetapi barang siapa menabur dalam Roh, ia akan menuai hidup yang kekal dari Roh itu. Janganlah kita jemu-jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika kita tidak menjadi lemah. Karena itu, selama masih ada kesempatan bagi kita, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman." (Gal 6:710). "Karena itu saudara-saudaraku yang kekasih, berdirilah teguh, jangan goyah, dan giatlah selalu dalam pekerjaan Tuhan! Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia" (1Kor 15:58).

Bab 6 Menghindari Kejatuhan Pendahuluan Allah mencari orang-orang yang dapat diangkatNya menjadi pemimpin. Setiap gerakan baru dari Roh Kudus ditandai dengan bangkitnya pemimpinpemimpin baru, yang dipersiapkan dan dipilih Allah untuk tugas itu. Kembali pencurahan Roh yang segar sudah diambang pintu. Suatu perubahan besar dalam tanda-tanda kehidupan manusia sedang terjadi sekarang. Allah membutuhkan orang-orang yang bersedia berdiri di antarabagi Dia dan mendirikan tembok, (Yeh 22:30) orang-orang yang selalu ingin mengetahui jalan-jalan dan Firman Tuhan dan berkata, "Inilah jalan, berjalanlah mengikutinya" (Yes 30:21). Pasal ini menjelaskan harganya dan jerat-jerat yang mungkin terjadi di dalam menghasilkan orang-orang yang dimaksud. Jika anda ingin menjadi salah seorang yang terpilih untuk memimpin dalam kebangunan rohani yang akan datang, anda perlu mengetahui prinsip-prinsipnya dalam pasal ini. Ringkasan dari pasal-pasal sebelumnya Apa yang saya bagikan dalam pasal ini berdasarkan pada anggapan bahwa anda telah membaca, mengerti dan mulai mempraktekkan hal-hal yang sudah diringkaskan dalam pasalpasal terdahulu. Bab 1 berkenaan dengan kebutuhan setiap pemimpin rohani untuk menantikan Tuhan. (Yes 40:31). Inilah yang merupakan prioritas pertama bagi seorang pemimpin rohani. Waktu anda menantikan Tuhan, Ia akan mengambil kekuatan anda dan menggantinya dengan kekuatanNya sendiri. Suatu penukaran telah terjadi. Bab 2 menjelaskan tentang perlunya mendengar suara Allah. Satu prinsip yang penting untuk pelayanan yang berhasil adalah bahwa orang itu hidup sesuai dengan "setiap Firman yang keluar dari mulut Allah" Hati kita harus murni dan berserah kepada Tuhan sebelum kita dapat mendengar Dia. Kemudian, waktu kita mendengar dan mentaatiNya, iman kita akan bertumbuh. Waktu iman kita bertumbuh, kita akan mendengar Dia berbicara kepada kita tentang hal-hal besar yang Ia ingin lakukan melalui kita. Bab 3 Dan 4 memaparkan proses dengan mana Allah memakai kesulitankesulitan yang kita alami untuk membuktikan dan menguji FirmanNya yang memberi petunjuk dan pengarahan kepada kita. Melalui dapur penderitaan kita bergerak maju dari "orang yang di panggil" menjadi "orang yang dipilih." Pengujian seperti itu perlu karena mempersiapkan kita untuk menghadapi peperangan rohani yang dahsyat yang akan kita alami dalam kepemimpinan rohani.

Dalam Bab 5 Yusuf menjadi contoh utama dari hal ini: Allah mengijinkan keadaan-keadaan membawanya ke liang tutupan Firaun untuk membina wataknya. Kemudian ia di lepaskan dari penjara, dihadapkan di muka Firaun, dijadikan Perdana Menteri Mesir. Perubahan ini, dari kesulitan-kesulitan dalam penjara ke tempat tanggung jawabnya yang baru dapat dengan mudah menimbulkan suatu kesombongan dalam diri Yusuf, karena menjadi orang penting dan terutama. Tetapi Allah telah mengerjakan kerendahan hati di dalam diri Yusuf di liang tutupan penjara itu, dan hal ini menyelamatkannya dari jerat kesombongan.

A. PERSIAPAN UNTUK SUATU PELAYANAN 1. Berapa Lama Berlangsungnya Barangkali sekarang anda bertanya, "Tetapi berapa lama proses ini berlangsung? Berapa lama Allah menyiapkan saya untuk menjadi seorang pemimpin?" Tidak ada batasan berapa lamanya waktu itu. Musa dipersiapkan selama 40 tahun di padang gurun yang sunyi sambil menjaga domba-domba mertuanya, yaitu Jitro. Hanya empat belas tahun setelah pertobatannya, Paulus dibebaskan dan diutus menjadi seorang pemimpin (Kis 13:1-3). Namun Paulus telah bertahun-tahun dididik dalam soal-soal Firman Tuhan sebelum pertobatannya. Dari waktu mimpinya sampai ia menjadi Perdana Menteri Mesir ada jangka waktu tiga belas tahun dalam kehidupan Yusuf.Dua hal yang menentukan berapa lamanya Allah menyiapkan anda menjadi seorang pemimpin: o Besarnya pelayanan yang Allah sediakan bagi anda, dan o Caranya anda menanggapi pekerjaanNya waktu Ia menyiapkan anda a. Mekanik atau Dokter? Beberapa banyak Allah ingin bekerja melalui anda dan berapa banyak anda ingin bekerja untuk Allah menentukan intensitas/hebatnya pekerjaan Allah.Sama juga dengan apa yang terjadi di dunia: seseorang dapat menjadi seorang mekanik mobil yang baik dengan hanya beberapa tahun saja di sekolah, tetapi anda tidak dapat menjadi seorang dokter atau ahli bedah yang baik tanpa melalui tahun-tahun persiapan dan sekolah yang padat dan sulit. Jika anda ingin Allah memakai anda di dalam pelayanan yang utama dan penuh kuasa dengan banyak hal yang menyakitkan. Makin besar tanggung jawab anda, makin sulit persiapannya. Membutuhkan lebih banyak panas untuk memurnikan sebuah bejana yang terbuat dari emas untuk kemuliaan

Tuhan dari pada membuat sebuah bejana tanah liat untuk pemakaian seharihari. b. Keras kepala atau Taat? Faktor kedua adalah tanggapan anda terhadap pekerjaan Allah waktu Ia mempersiapkan anda. Jika anda lambat untuk belajar apa yang Allah sedang ajarkan kepada anda, hal ini akan memperpanjang waktu dan kerasnya persiapan itu. Tukang besi harus memakai palu yang berat dan api yang panas sekali untuk membentuk besi yang keras. Tukang emas hanya perlu memberi sedikit tekanan saja untuk membentuk emas yang lebih mudah dibengkokkan/ dibentuk. Rahasianya adalah menjadi responsif/cepat tanggap, mudah dibentuk dan taat kepada Tuhan. Jika Ia memberikan satu pelajaran dalam kehidupan anda, pelajarilah itu dengan cepat. Jangan bersikap keras kepala. Jika demikian, Allah akan menggunakan banyak palu dan api untuk membentuk anda menjadi seorang pemimpin. 2. Kejatuhan Pemimpin Sungguh bodoh bila menyangka bahwa sekali anda menjadi seorang pemimpin anda tidak perlu lagi bertumbuh secara rohani. Berpikir sedemikian akan menyebabkan kejatuhan dari banyak pemimpin. Pada tahun 1948 ada gerakan Roh Kudus yang luar biasa yang melanda Amerika Serikat. Tahun-tahun berikutnya di penghujung Perang Dunia ke II merupakan saat-saat di mana Allah bekerja dengan penuh kuasa di dalam gerejaNya. Pada tahun 1950 makin banyak lagi, sampai lebih dari 50 hamba-hamba Tuhan yang besar. Kebanyakan dari mereka adalah penginjil-penginjil kebangunan Rohani dan kesembuhan yang pengaruhnya melanda seluruh dunia. Yang disebut di atas masih tetap bertahan. Tetapi mana lagi yang lain sekarang? Mengapa hanya sedikit yang tertinggal? Daftar orang-orang yang jatuh makin panjang. Banyak dari mereka yang telah berhasil melewati program persiapan Allah, jatuh dalam mempertahankan panggilan mereka. Banyak kejatuhan terjadi diantara mereka yang langsung menjadi pemimpin terkemuka daripada mereka yang memang telah dipersiapkan untuk menjadi pemimpin. Rasul Paulus mengetahui hal ini. "Tetapi aku melatih tubuhku dan menguasainya seluruhnya, supaya sesudah memberitakan Injil kepada orang lain, jangan aku sendiri ditolak" (1Kor 9:27). Banyak yang bercita-cita untuk menjadi pemimpin berpikir, "Sekali saya sudah mencapai posisi pemimpin, saya pulang ke rumah Bapa dengan bebas!" Tidak benar! Sebagai seorang pemimpin, seseorang lebih mudah

mendapat serangan rohani dan kegagalan karena ia berada di tempat utama dan mudah dilihat orang. 3. Nilai yang Tinggipersiapan untuk menjadi seorang pemimpin mencakup banyak waktu mencucurkan air mata dan ujian-ujian yang menyakitkan. (lihat Ibr 5:7-8). Ini karena anda dilatih untuk bertahan terhadap tekanantekanan yang dahsyat yang menimpa seorang pemimpin. Kepemimpinan Kristen bukanlah hal yang penuh kesenangan/glamour; tetapi adalah suatu peperangan. Anda berperang dengan setan dan dunia. Anggota-anggota keluarga anda bisa salah mengerti terhadap anda, sahabat-sahabat dan saudara-saudara seiman juga bersikap demikian. Seiring dengan ini, anda juga akan sering mengalami celaan dari orang-orang karena mereka iri hati dan takut. Kisah tercatat dalam Alkitab mengenai Musa di dalam Kitab Bilangan, merupakan gambaran yang tepat tentang apa yang tercakup di dalam kepemimpinan. Musa bertanggung jawab untuk jemaat yang terdiri dari dua setengah juta manusia. Mereka merupakan kelompok yang terdiri dari para pengeluh, penggerutu, dan para pemberontak yang suka mencemarkan nama orang. Mereka ingin menyaksikan mujizat tetapi tidak lama kemudian menuntut sesuatu yang lain lagi. Bahkan saudara laki-laki dan saudara perempuan Musa sendiripun mencela dia dan menentang kepemimpinannya (dan sebagai akibatnya mereka dihukum). Tak mengherankan bila Allah mempersiapkan Musa selama empat puluh tahun sebelum ia berada di posisi kepemimpinan. Jika Musa tidak melewatkan waktu selama empat puluh tahun di padang gurun yang sunyi bersama domba-domba mertuanya, ia tidak pernah akan menjadi pemimpin besar seperti itu. Musa dan Elia adalah dua orang yang nampak di Bukit Pemuliaan bersama Yesus. Dari hal ini (dan bagian Firman Tuhan lain) kita mengambil kesimpulan bahwa mereka adalah dua pemimpin terbesar dan terpenting dalam Perjanjian Lama. Sejumlah tekanan yang diderita seorang hamba Allah dalam kepemimpinan dengan jelas dipaparkan melalui kehidupan Musa dan Elia. a. Musa Sekalipun Musa telah mengalami tahun-tahun persiapan yang lama, tekanan itu begitu dahsyatnya sampai Musa mohon agar Allah membunuhnya. Seseorang tidak mungkin berdoa demikian jika hidupnya tidak sangat sengsara. "Lalu berkatalah Musa kepada Tuhan: Mengapa Kauperlakukan hambaMu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mataMu,

sehingga Engkau membebankan tanggung jawab atas seluruh bangsa ini? Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Pangkulah dia seperti pak pengasuh memangku anak yang menyusu, berjalan ke tanah yang Kau janjikan dengan bersumpah kepada nenek moyangnya? Dari manakah aku mengambil daging untuk diberikan kepada seluruh bangsa ini? Sebab mereka menangis kepadaku dengan berkata: Berilah kami daging untuk dimakan. Aku seorang diri tidak dapat memikul tanggung jawab atas seluruh bangsa ini, sebab terlalu berat bagiku. Jika Engkau berlaku demikian kepadaku, sebaiknya Engkau membunuh aku saja, jika aku mendapat kasih karunia di mataMu, supaya aku tidak harus melihat celakaku." (Bil 11:1115). Hanya mereka yang sudah tiba sampai pengalaman itu, mengetahuinya. Kepemimpinan selalu dibarengi dengan beban-beban yang sangat berat. Musa menjadi begitu tawar hati dan putus asa menghadapi situasi itu, sehingga ia ingin mati saja. b. Elia Elia juga mengalami kelemahan seperti ini dalam pelayanannya. Terjadinya setelah kemenangannya yang terbesar, yaitu ketika ia minta api turun dari surga dan api itu telah membunuh 400 nabi-nabi Baal. Sungguh tak beruntung, lembah kekecewaan sering mengikuti pengalaman puncak gunung dari suatu kemenangan besar. "Ketika Ahab memberitahukan kepada Izebel segala yang dilakukan Elia dan perihal Elia membunuh semua nabi itu dengan pedang, maka Izebel menyuruh seorang suruhan mengatakan kepada Elia: "Beginilah kiranya para allah menghukum aku, bahkan lebih lagi dari pada itu, jika besok kira-kira pada waktu ini aku tidak membuat nyawamu sama seperti nyawa salah seorang dari mereka itu." Maka takutlah ia, lalu bangkit dan pergi menyelamatkan nyawanya; dan setelah sampai ke Betsyeba, yang termasuk wilayah Yehuda, ia meninggalkan bujangnya di sana. Tetapi ia sendiri masuk ke padang gurun sehari perjalanan jauhnya, lalu duduk di bawah sebuah pohon arar. Kemudian ia ingin mati, katanya: Cukuplah itu! Sekarang, ya Tuhan, ambillah nyawaku, sebab aku ini tidak lebih baik daripada nenek moyangku (1Raj 19:1-4). Tuhan menjawab doa Elia dan membebaskan dia. Ia diangkat ke sorga dalam sebuah kereta beberapa minggu setelah ia menyampaikan doa ini. Bagi saya; ini merupakan suatu pernyataan yang besar dari kasih dan pengertian Allah terhadap pemimpin-pemimpinNya, dan Ia menghormati Musa dan Elia dengan mengijinkan mereka berada pada saat kemuliaanNya (lihat Mat 17).

Ya, ada harga yang harus dibayar untuk menjadi seorang pemimpin. Jika persiapannya nampak sulit, ingatlah hal ini: tekanan-tekanan yang berlaku bagi para pemimpin utama lebih sulit dari pada latihan yang membawa anda ke sana.

B. MUSUH KITA YANG BERBAHAYA Musuh yang paling berbahaya bagi seorang pemimpin gereja adalah dirinya sendiri. Kedagingannya dan tabiat dosa yang diam di dalam dirinya merupakan musuh yang jahat dan licik. Dibandingkan dengan ini, musuhmusuh yang luar lebih mudah untuk diperangi. Pasal-pasal berikutnya akan membahas secara panjang lebar mengenai pokok-pokok di bawah ini, tetapi baiklah kita melihat secara singkat terlebih dahulu. 1. Tiga Jerat Utama Kepemimpinan Tiga bidang dosa yang merupakan akar dari kejatuhan Pemimpin Kristen adalah cinta wanita (imoralitas, hubungan seks yang tidak sah), cinta uang (keinginan untuk menjadi kaya) dan cinta kedudukan/takhta (sombong). Pengalaman hanya meneguhkan kesaksian Firman Tuhan: "Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, Yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia." (1Yoh 2:15,16). Tidak seorangpun yang kebal terhadap dosa-dosa ini. Saya tidak beranggapan bahwa diri saya sendiri kebal terhadap dosa-dosa itu dan saya juga belum pernah berjumpa dengan seorangpun yang kebal terhadap dosa tersebut. Justru ada banyak kegagalan di antara para pemimpin Kristen disebabkan oleh hal-hal tadi. Setiap pemimpin yang bijaksana tahu bahwa jika ia tidak melatih untuk menguasai dirinya, ia dapat jatuh ke dalam salah satu jerat itu, atau mungkin dua, bahkan ketiga-tiganya. Tak dapat diragukan bahwa ketiga hal ini merupakan beberapa dari dosa-dosa yang disebutkan dalam Ibr 12:1 Menurut 1Yoh 2:15, kurangnya kasih kepada Bapa memberi kesempatan bagi kasih kepada dunia untuk berkembang. Hal ini membuat anda mudah diserang dalam bidang-bidang tersebut jika anda berada dalam posisi kepemimpinan.

Latihan dan persiapan yang benar dalam kepemimpinan mencakup hal mengembangkan kepercayaan yang mutlak kepada Tuhan dan FirmanNya. Jika anda hidup dalam iman, anda tidak akan goyah. Anda akan mampu menghindari jerat-jerat dosa seks, ketamakan dan kesombongan. Tiga bidang dosa ini berasal dari rasa tidak aman (kurang iman dan kepercayaan di dalam Tuhan). a. Imoralitas. Imoralitas biasanya merupakan akibat perkawinan yang tidak kokoh disebabkan oleh rendahnya penghargaan terhadap diri. Hal ini menyebabkan anda sadar diri, berpusat pada diri sendiri dan mementingkan diri. Pasangan yang tidak berbahagia akan menyerang balik dan pemimpin merasa tersingkir dari kasih istrinya sehingga jatuh di tangan seseorang yang nampaknya lebih mengerti dan mengasihi. 1) Keluarga: Prioritas utama. Pemimpin harus mengusahakan waktu bersama-sama dengan istrinya dan anak-anaknya. Ia harus aktif memperhatikan anggota-anggota keluarganya. Banyaknya tekanan dan jadwal yang padat karena tanggung-jawab gereja dan masalah-masalah akan melanggar prioritas utama ini. 2) Nasihat Untuk Istri. Istri juga harus memberikan perhatian, kepekaan dan dukungan kepada suaminya. Pemimpin selalu digempur oleh tekanantekanan tugas yang selalu makin bertambah. Ia boleh jadi merasa tidak mampu untuk menangani semuanya dan menjadi frustrasi dan takut, merasa terisolir dan kesepian. Pada waktu-waktu seperti itu, perkataan yang baik dan sentuhan yang lembut membuat suatu perbedaan besar dalam dunia si pemimpin gereja yang sudah begitu letih itu. Pengertian dan dukungan dari istri dapat menyelamatkan dia dan pelayanannya. 3) Goresan Yang Tak Terhapuskan. Kegagalan secara moral sungguh berbahaya. Salomo berkata mengenai seseorang yang jatuh dalam perzinahan, "Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan." (Ams 6:33). Hal itu akan merintangi pelayanan anda sepanjang sisa hidup anda. Pengampunan dan anugerah pemulihan Allah selalu dapat diperoleh, tetapi siksa dan malu terus menjadi akibatnya. Melalui kegagalan moral anda akan kehilangan semua yang telah anda capai pada tahun-tahun persiapan anda untuk menjadi seorang pemimpin. b. Ketamakan. Ketamakan (cinta uang) berasal dari kurangnya keyakinan akan penyediaan Allah. Sebagai seorang pemimpin rohani anda harus " mencari dahulu kerajaan Allah dan kebenaranNya." Jika anda melakukan hal ini, Yesus berkata, "semuanya itu akan ditambahkan kepadamu."

Ia akan menambahkan kepadamu makanan, pakaian, kesehatan, rumah, kebutuhan transport yang anda butuhkan jika anda mempraktekkan prinsipprinsip kemakmuran yang terdapat dalam Alkitab ini dengan setia. Prinsip ini adalah sebagai berikut: "Berilah dan kamu akan diberi" (Luk 6:38). 1) Belajar untuk Memberi. Sampai anda belajar secara tetap memberikan perpuluhan (10%) dari pendapatan anda kepada Tuhan, anda tak akan pernah mengalami penyediaan Allah bagi kebutuhan-kebutuhan anda. Anda akan mematahkan kutuk kemiskinan dengan memberikan perpuluhan dari berkat Allah yang anda terima. Berikan kepada misi penginjilan, menolong janda-janda, anak-anak piatu, orang-orang miskin di sekitar anda, dan Tuhan berjanji "Aku akan membukakan tingkap-tingkap langit dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan." (Mal 3:7-11). 2) Mengajar Anggota Jemaat untuk Memberi. Sekali anda mulai mempraktekkan hal ini, mulailah mengajarkan kepada anggota-anggota jemaat anda untuk melakukan hal yang sama. Apabila mereka belajar membawa perpuluhan mereka kepada Gereja dan membawanya setiap Minggu, kutuk kemiskinan akan dipatahkan dari mereka juga. Memberi bagi pekerjaan Tuhan mematahkan cengkeram dosa cinta akan uang. Praktekkan hal itu secara tetap dan hal ini akan menyelamatkan anda dari banyak kehancuran hati. Selamatkan diri anda dari kemiskinan. Selamatkan jemaat anda dari kemiskinan dengan mengajarkan pada mereka tentang hal memberi juga. Kita akan belajar lebih banyak lagi tentang dosa imoralitas dan ketamakan dalam 2 pasal berikutnya. c. Jerat Kesombongan. Kesombongan adalah akibat dari kurangnya keyakinan tentang panggilan anda dan penghargaan terhadap diri. Kesombongan adalah kegagalan yang paling mudah dilihat oleh orang lain. Namun merupakan hal yang tersulit untuk dilihat oleh diri kita sendiri. Kesombongan tampak dalam sikap. Menyombongkan diri justru menyiarkan rasa tidak aman itu. Seseorang yang mempunyai pelayanan yang berhasil tidak perlu menyiarkan tentang hal itu. "Biarlah orang lain memuji engkau dan bukan mulutmu" (Ams 27:2). Jika seseorang merasa perlu mengiklankan bahwa ia adalah seorang rasul misalnya, hal itu berarti bahwa ia meragukan dirinya sendiri dan meragukan orang lain akan berpikir demikian, kecuali ia mengatakan sesuatu tentang hal itu. Menyombongkan diri adalah suatu bukti yang nyata bahwa seseorang penuh dengan kesombongan dan rasa tidak aman.

1) Seorang Pemimpin bukanlah seorang Tuan."aku menasihatkan para penatua/pemimpin di antara kamujanganlah berlaku sebagai tuan atas kawanan domba Allah yang ada padamu, tetapi jadilah teladan bagi kawanan domba itu" (1Ptr 5:1-2 terjemahan yang lebih jelas dari bahasa Inggris). Pemimpin-pemimpin yang benar bukanlah tuan-tuan. Mereka berfungsi sebagai para pelayan dari umat Allah. Kepemimpinan gereja bukanlah tempat untuk menjadi tuan, tetapi tempat untuk hamba/pelayan yang rendah hati. Persiapan Allah adalah untuk mengajar kita memiliki sikap seorang hamba. Yesus adalah orang yang paling rendah hati di antara sekalian manusia. Seperti Yesus, seorang pemimpin yang benar tidak akan menghindari tugas tertentu karena ia merasa bahwa tugas itu terlalu rendah untuk seorang pemimpin. Seorang pemimpin yang yakin (punya rasa aman dalam dirinya) tidak merasa terancam oleh pekerjaan kasar atau kewajiban yang sederhana. Paulus menulis tentang Yesus, " walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diriNya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diriNya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib." (Flp 2:6-8). Yesus begitu yakin akan siapa Dia, sehingga Ia tidak perlu meninggikan diriNya. Yoh 13 menjadikan hal ini lebih jelas: "Yesus tahu, bahwa BapaNya telah menyerahkan segala sesuatu kepadaNya dan bahwa Ia datang dari Allah dan kembali kepada Allah. Lalu bangunlah Yesus dan menanggalkan jubahNya. Ia mengambil sehelai kain lenan dan mengikatkannya pada pinggangNya, kemudian Ia menuangkan air ke dalam sebuah basi, dan mulai membasuh kaki murid-muridNya lalu menyekanya dengan kain yang terikat pada pinggangNya itu." (ayat 3-5). Perhatikan kata "tahu". Karena Yesus tahu siapa Dia, Ia dapat mengambil tempat pelayanan yang terendah tanpa merasa terancam akan "citraNya sebagai seorang pemimpin besar". Bandingkan ini dengan pemimpin gereja masa kini dengan jubah istimewa dan kadang-kadang bermegah-megah. Mencuci kaki adalah salah satu tugas yang paling rendah dalam kebudayaan pada zaman Yesus. Itulah tugas yang biasanya dilakukan oleh seorang budak. Sama seperti kita melayani seorang tamu dengan ramah tamah, begitu juga pada zaman Yesus pelayan rumah biasanya mencuci kaki tamutamunya.

Mencuci kaki adalah tugas yang tak seorangpun menginginkannya. Jalanjalan di kota biasanya berdebu, namun kotoran di jalan raya lebih lagi daripada debu. Sarana pengangkutan pada masa itu adalah onta, keledai, kuda dan bagal. Dapat dibayangkan bagaimana jalan-jalan penuh dengan kotoran binatang. Kaki para pelancong tentunya penuh dengan kotoran dan debu. Pekerjaan mencuci kaki dibebankan pada budak yang paling rendah karena pekerjaan itu berurusan dengan kotoran-kotoran dari jalan. Pekerjaan ini sungguh dianggap rendah. Tetapi justru untuk tugas inilah Tuhan kita yang penuh kemuliaan rela melakukannya. Protes keras dari murid-murid mudah dimengerti. Bagaimana Yesus dapat melakukan hal ini? Bagaimana dapat Dia, Guru dan Raja mereka, mencuci kotoran dari kaki para pengikutNya? Ia dapat melakukan hal itu karena Ia yakin siapa diriNya. Ia tahu Bapa telah memberikan segala sesuatu kepadaNya. Ia tahu bahwa Ia datang dari Allah (Bapa) dan Ia adalah Anak Allah dan Mesias yang dijanjikan. Ia tahu Ia akan kembali kepada Bapa setelah Ia mengalahkan dosa, maut, neraka dan kubur. Ia perlu membuktikan tentang diriNya kepada orang lain. HidupNya telah menjadi bukti siapakah Dia bagi mereka yang punya kemampuan melihat secara rohani. 2) Tidak ada pekerjaan yang terlalu rendah. Waktu itu hari Jumat malam. Camp musim panas di pantai sebelah barat akan dimulai pada hari Senin. Hujan terakhir turun, tilpon tidak henti-hentinya berdering. Sekretaris sibuk kerja lembur. Segala sesuatu nampaknya tergesa-gesa, harus memburu waktu. Pada titik puncaknya, saluran WC macet, bahkan sudah meluap. Sebetulnya sudah waktu untuk berhenti kerja malam itu, sebab esoknya hari Sabtu merupakan hari kerja penuh yang sudah menanti, namun WC yang sudah meluap ini perlu perhatian segera. Coba terka siapa yang melakukan hal itu? Anda dapat menebaknya sendiri! Saya harus melakukan tugas itu, karena tak seorangpun yang dapat. Semua yang lain sudah pergi untuk menyediakan tempat berkemah. Tidak mungkin kami mendapat seorang tukang batu pada Jumat malam yang sudah larut itu. Saya mengenakan pakaian kerja saya dan mulai menggali pipanya untuk menemukan dan membersihkan yang menyumbat. Sementara saya berlutut di atas air selokan yang berlumpur, salah seorang dari penyumbang utama kami datang untuk membawa persembahannya.

Ia belum pernah datang ke kantor kami sebelumnya. Karena belum mengenal saya ia bertanya di mana ia dapat menjumpai Bapak Mahoney. Saya jawab, "yang ada dihadapan anda ini." "AndaBapak Mahoney," dia ternganga hampir tak percaya. Ia sungguh-sungguh "shock" menjumpai saya melakukan tugas semacam itu. Tanggung jawab membutuhkan hal itu. Konperensi tidak dapat dimulai jika team pekerja tidak datang pada hari Sabtu! Mereka tidak dapat bekerja jika selokan meluap sampai masuk ke kantor maka saya harus melakukan tugas itu dan bagi saya tidak menjadi soal melakukan hal itu. Seseorang yang belum siap untuk membersihkan WC (jika situasi menuntut hal itu) belum siap untuk kepemimpinan rohani. Berpikir bahwa tugas yang tak menyenangkan itu merendahkan martabat anda berarti kehilangan seluruh makna kepemimpinan. Jika anda belum cukup yakin di dalam Tuhan untuk bersedia membersihkan selokan yang macet, maka setan dengan mudah akan menggeser anda dari tempat kepemimpinan. Seorang pemimpin harus bersedia berlutut di hadapan para pengikutnya untuk membasuh kaki mereka jika ia ingin seperti Yesus. Karena ia tahu dengan yakin bahwa Ia adalah Anak Allah, Yesus bebas untuk melayani dalam cara apapun yang perlu. Ini sangat berlawanan dengan pemimpin yang masih belum dewasa, tidak rohani, dan masih haus kedudukan. 3) Raihlah tanggungjawab. Seseorang pernah berkata, "Jika anda melihat seseorang berusaha untuk mendapat kekuasaan, perhatikan dia, ia akan menimbulkan masalah. Jika anda melihat seseorang berusaha untuk melaksanakan tanggung jawab, promosikan/tinggikan dia, ia akan menjadi berkat." Kita harus mencapai tanggung jawab, bukan kekuasaan. Dalam kepemimpinan gereja, cinta kedudukan (takhta) menghancurkan banyak pelayan Tuhan. Paulus berkata, "Orang yang menghendaki jabatan penilik jemaat menginginkan pekerjaan yang indah." Tetapi, jika keinginan anda untuk kedudukan dan kekuasaan dan bukan tanggung jawab, kejatuhan anda sudah dapat dipastikan sebagaimana halnya kejatuhan setan. Pemimpin gereja dapat menang bila ia tetap sadar akan kesombongan yang tinggal di dalam dirinya. (Rm 7:14-24). Ia hidup dalam sikap hati yang bertobat, berusaha untuk meningkatkan pelayanan, dan menghindari hal-hal yang cenderung membuat dia berpikir lebih tinggi daripada yang seharusnya ia pikir.

C. KESOMBONGAN: DOSA YANG SESUNGGUHNYA

1. Gejala Kesombongan Gejala-gejala kesombongan yang halus mudah diketahui dengan satu kali saja anda dapat mengetahuinya. Ada tiga petunjuk di sini: a). "Saya lebih penting". Berpikir bahwa orang-orang atau tugas-tugas tertentu "lebih rendah dari anda" atau berpikir bahwa anda lebih penting dari pada yang lain karena anda ada di tempat kepemimpinan. b). "Saya ingin dilayani". Menerima penghormatan khusus sebagai seorang pemimpin dan dilayani oleh orang-orang lain dan bukannya mengabdikan diri untuk melayani mereka. c). "Saya yang terbaik". Paulus memperingatkan kita agar "tidak memikirkan hal-hal yang lebih tinggi daripada yang patut kamu pikirkan" (Rm 12:3). Kesombongan mulai menguasai kita jika kita menghargai diri kita lebih tinggi dari pada seharusnya. Kebenaran-kebenaran ini dan yang serupa ini memperingatkan kita bahwa kita sudah mulai diracuni oleh dosa yang halus ini, yaitu kesombongan. Allah membenci kesombongan karena itulah asal mula dosa. Setan jatuh karena kesombongan. "Engkau sombong karena kecantikanmu,ke bumi kau Kulempar (Yeh 28:17). Hawa jatuh karena bujukan setan terhadap kesombongan, " kamu akan menjadi seperti Allah" (Kej 3:5). Kesombongan pasti membawa kejatuhan kita. "Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan" (Ams 16:18). 2. Kesombongan itu berbahaya Kesombongan itu berbahaya karena terlalu halus. Kesombongan itu seperti semak-semak di kebun sayur: akan bertumbuh dan mengambil alih jika kita tidak mengambil tindakan positif untuk mencegahnya. Mungkin anda mulai sebagai seorang pemimpin yang rendah hati dan beranggapan bahwa anda telah menguasai kerendahan hati. Ketika anda bangga dengan kerendahan hati anda, anda sama sekali tidak rendah hati. Kesombongan adalah pembinasa. Itulah sebabnya merupakan kehendak Allah bagi seorang yang masih baru untuk mengambil tanggung jawab sedikit demi sedikit sehingga ia dapat bertumbuh pada tanggung jawab yang lebih besar tanpa bahaya akan dihancurkan oleh kesombongan. "Seorang penilik jemaatjanganlah seorang yang baru bertobat, agar jangan ia menjadi sombong dan kena hukuman iblis" (1Tim 3:2,6). 3. Menghindari Jerat Kesombongan

Jika kesombongan sulit untuk dibedakan dan merupakan musuh yang sangat licik bagaimana kita dapat berjaga-jaga terhadap hal ini? Bagaimana kita dapat melindungi diri kita dari dosa yang licik seperti ular ini? Ada beberapa langkah yang harus kita ambil untuk terhindar dari perangkap jerat utama bagi para pemimpin: a) Tinggallah dekat dengan Allah. Peliharalah hubungan yang dekat/akrab dengan Tuhan Yesus melalui disiplin doa setiap hari, penyelidikan Alkitab yang tekun, dan merenungkan FirmanNya dengan ketetapan hati. Hal ini akan terus menjaga anda berpusat pada kemuliaanNya dan dengan demikian menolong anda untuk tetap memelihara pandangan yang sederhana mengenai pentingnya diri anda sendiri. b) Berdoa dan berpuasa. Jika ada kesombongan dalam hidup anda, bereskan hal itu. Daud berkata, "Aku menyiksa diriku dengan berpuasa, (Mzm 35:13). c) Dekatlah dengan yang lain. Kepemimpinan mengisolir anda dari orangorang. Alkitab mengatakan agar kita harus "bertekun dalam persekutuan" (Kis 2:42). Peliharalah selalu hubungan yang dekat dengan orang-orang yang anda ijinkan untuk bicara dalam hidup anda kalau perlu untuk mengoreksi anda. Pemimpin yang tidak menerima masukan yang jujur secara tetap dari sahabat-sahabat yang dapat dipercayainya akan kehilangan perspektifnya dan membuka celah untuk kesombongan. Karena Yeremia juga pernah menguatkan hal ini: "Betapa liciknya hati, lebih licik daripada segala sesuatu"; (Yer 17:9) kita pasti akan tersesat karena kesombongan jika kita tidak memiliki perlindungan terhadap hal ini. d) Jangan berjuang untuk Posisi.mazmur 75:7 memberitahukan kita "ditinggikan itu datang dari Allah". Allah akan mempromosikan/meninggikan anda ke tempat kepemimpinan yang telah Ia tetapkan untuk anda tak peduli bagaimanapun keadaan anda. Ia tahu di mana anda berada dan Ia akan meninggikan anda pada saatnya (I Prt 5:1-6). e) Berusahalah untuk menjadi hamba bagi yang lain. Seorang hamba yang baik berjuang untuk menjadikan mereka yang dilayaninya sukses. Jika mereka sukses, anda sendiri sudah sukses/berhasil. Jika anda memusatkan pada sukses anda sendiri, kesombongan dengan mudah akan menjangkiti anda (lihat Flp 2:4). f) Laksanakan pelayanan mencuci kaki. Kapan saja seseorang ditetapkan/dilantik ke dalam pelayanan, salah satu dari tanggung jawabnya pertama-tama adalah membasuh kaki dari orang yang akan dilayaninya. Jika gerejanya besar, maka sekelompok pemimpin akan mewakili jemaat dan pendeta itu membasuh kaki mereka.

Kapan saja terjadi pertikaian dalam gereja, pelayanan mencuci kaki merupakan obat penawarannya yang terbaik, karena menghancurkan kesombongan yang berada di balik pertikaian itu. Wanita membasuh kaki wanita, pria membasuh kaki pria.

D. PENUTUP Agar terhindar dari kejatuhan karena kesombongan bacalah doa ini dengan keras kepada Tuhan sekarang juga: Tuhan Yesus, Engkau berjanji bahwa Engkau akan memimpin aku di jalan yang lurus dan melindungi aku dari segala kejahatan. Jadikan aku hamba sebagaimana yang Kau kehendaki. Jagalah aku dari dosa-dosa imoralitas, ketamakan dan kesombongan. Selidikilah hatiku dan nyatakanlah kepadaku jika ada dosa-dosa yang belum kusadari. Buatlah aku senantiasa terbuka terhadap setiap koreksi yang diberikan oleh orang lain. Berikan aku anugerah untuk menerima hajaranMu. Terima kasih untuk pertolonganMu menjadikan daku seorang hamba yang rendah hati seperti Engkau sendiri. Amin!

Bab 7 " Menjauhi Perzinahan" Pendahuluan Kesempatan untuk melayani Allah sebagai seorang pemimpin belum pernah sebesar sekarang ini kebutuhannya. Kita berada di ambang pintu "penuaian jam ke sebelas" di mana semakin banyak jiwa dituai ke dalam kerajaan Allah bila dibandingkan dengan penuaian sejak hari Pentakosta sampai sekarang ini. Allah mencari orang-orang yang bersedia untuk meninggalkan "sifat kekanak-kanakan" dari dunia ini. Yesus menawarkan kuk dari suatu kehidupan yang berdisiplin bagi mereka yang bersedia untuk bergabung ke dalam barisan orang- orang perkasaNya. Lebih banyak orang yang jatuh ketika mereka sudah menjadi pemimpin, daripada waktu mereka masih dalam persiapan untuk kepemimpinan. Setan sudah bertekad untuk menghancurkan siapapun di dalam kepemimpinan Kristen dan dia sudah menemukan seorang sahabat yang bersedia di dalam sifat kedagingan kita. Sementara Allah melatih pria dan wanita untuk berdiri dengan penuh kemenangan di tempat kepemimpinan, Dia juga melengkapi mereka untuk melakukan peperangan melawan setan dan mengalahkannya. Walaupun demikian, banyak yang jatuh ke dalam godaan-godaan moral dan semakin menambah panjangnya daftar orang-orang yang telah menjadi korban di dalam kerajaan secara rohani. Maksud saya pada bagian ini adalah untuk menunjukkan bagaimana dapat menghindari tragedi yang sebenarnya tidak perlu terjadi dan menjelaskan suatu prinsip penting untuk dapat mengatasi hal-hal tersebut, khususnya bagi kaum pria.

A. IMMORALITAS: KEJATUHAN SEORANG PEMIMPIN Kenajisan moral selalu menjadi penyebab kejatuhan para pemimpin Kristen, tetapi belum pernah menjadi masalah yang begitu besar seperti sekarang ini. Serangan terhadap keluarga dan hubungan perkawinan belum pernah begitu hebat seperti masa kini. Radio, televisi, surat-surat kabar dan majalah-majalah dunia kebanyakan mengajarkan mengenai moralitas yang membenarkan hubungan seks sebelum nikah, perzinahan dan homoseksualitas. Dosa-dosa yang pada abad-abad lampau telah menghancurkan bangsa-bangsa dan peradaban dunia sekarang ini justru diagung-agungkan sebagai gaya hidup bebas yang

baru. Di beberapa negara, buku-buku porno dijual di banyak tempat sehingga anak-anak yang masih belum tahu apa-apa dapat membelinya. Banjir kenajisan moral sudah melanda bumi ini. Nubuat Paulus yang mengatakan bahwa pada akhir zaman laki-laki akan kehilangan kasih yang wajar, sudah digenapi. Hampir sebagian besar dunia mencemoohkan pernikahan yang kudus dan mendengungkan kehidupan bersama tanpa nikah dan hubungan seksual dengan siapa saja. Media yang anti Allah menyatakan ketidaksusilaan moral sebagai sesuatu yang normal. Namun sejarah dan Alkitab menunjukkan bahwa suami dan istri yang hidup di dalam kesetiaan pernikahan adalah satu-satunya cara kehidupan yang normal. Semua ini makin meningkatkan tekanan yang dihadapi oleh seorang pemimpin Kristen. Karena kedudukannya, dia terlibat di dalam berbagai situasi yang menghadapkan dia pada godaan seksual dan kegagalan. Standar moral yang makin memburuk semakin menjadikannya mudah untuk ditaklukkan oleh godaan. 1. Sebab-Sebab Imoralitas a. Kejatuhan Pribadi. Jika seorang pria jatuh ke dalam perzinahan, seringkali hal ini menunjukkan kurangnya penghargaan terhadap diri sendiri. Rasa tidak aman (kurang iman dan keyakinan di dalam Allah) merupakan akar dari berbagai penyimpangan dalam kehidupan seks. Beberapa pria merasa bahwa mereka harus membuktikan bahwa diri mereka diinginkan oleh lawan jenis mereka yaitu dengan jalan bermain api. Main mata, bercumbu, sering membawa kepada kejatuhan tragis yang panjang, yaitu perzinahan/persundalan. Jika kita tidak memiliki keyakinan mengenai siapakah kita ini, atau tidak memiliki kepastian mengenai panggilan kita, kita akan jatuh dalam dosa kesombongan dan ambisi untuk menjadi yang terutama. Kita mencoba menutupi kekurangan-kekurangan kita dengan menyombongkan diri tentang diri kita sendiri dan mengucapkan hal-hal yang kita kira dapat meninggikan harkat kita di mata orang lain. Jenis lain dari kurangnya keyakinan diri ini menyebabkan kejatuhan seksual. b. Pernikahan Yang Tak Harmonis Dan Kelemahan Moral. Sebagaimana halnya dengan kesombongan, kelemahan moral berakar dari ketidakyakinan pribadi, hanya saja disini sehubungan dengan ketidak pastian/ ketidak harmonisan di dalam hubungan pernikahan kita. Bukan suatu rahasia bila pria atau wanita Allah dapat jatuh ke dalam dosa seksual. Hal itu dapat saja terjadi dari waktu ke waktu, dan biasanya karena

alasan-alasan yang sama. Beberapa dosa disebutkan sama seringnya dengan dosa ini di sepanjang Alkitab. Salomo menasehati kepada "anak muda," memperingatkan agar berhati-hati di dalam hubungannya dengan wanita-wanita. Paulus berbicara mengenai perlunya memiliki hubungan yang hangat, penuh kasih dengan isteri anda sebagai satu cara untuk menghindari perzinahan (1Kor 7:1-7). Namun masih saja para pelayan Tuhan gagal untuk mencamkan nasihatnasihat praktis ini dan terjerumus ke dalam jebakan setan. Tragisnya hal-hal ini justru terjadi pada saat ladang pelayanan di dunia ini memerlukan lebih banyak orang untuk tetap kuat berdiri dan membawa masuk tuaian besar jiwa-jiwa. Kehendak Allah bagi manusia adalah untuk hidup setia dengan satu isteri. Pelanggaran apapun terhadap ketetapan ini adalah dosa. Alkitab mengajarkan kepada kita bahwa kita akan mendapat kesukaan dan kepuasan yang besar di dalam hubungan pernikahan yang dipelihara sebagaimana mestinya. Allah sudah menjadikan pria dan wanita sedemikian rupa untuk menemukan suatu ikatan emosional, teman pendamping dan mendapat kepuasan yang mereka rindukan di dalam pernikahan. Sebaliknya, tidak akan ada kepuasan di dalam perzinahan. Kedua-duanya akan dipenuhi oleh ketakutan, rasa bersalah, kekosongan dan kekecewaan. Ikatan kasih dan perjanjian saling menyerahkan diri di dalam pernikahan yang kudus mendatangkan kepuasan yang tidak dimiliki oleh mereka yang melakukan perzinahan. Saya perlu menegaskan sekali lagi bahwa hanya pernikahan yang dipelihara sebagaimana mestinya, yang dapat memberi kepuasan. Pernikahan yang dipenuhi dengan perkelahian dan kepahitan adalah pernikahan yang tidak dipelihara sebagaimana mestinya. Setan mudah sekali menempatkan jebakannya bagi para pemimpin yang gagal untuk memberikan perhatian sebagaimana mestinya terhadap kebutuhankebutuhan untuk menciptakan suatu kehidupan rumah tangga yang aman dan tenteram.

B. MAKSUD ALLAH DI DALAM PERNIKAHAN Allah berkata, "Tidak baik, kalau manusia itu seorang diri saja. Aku akan menjadikan penolong baginya, yang sepadan dengan dia" (Kej 2:18). 1. Kita Akan Saling Menolong Allah menetapkan pernikahan karena seorang pria maupun seorang wanita tidak sempurna tanpa yang lain. Mereka masing-masing membutuhkan seorang penolong untuk

memungkinkan mereka bertahan di dalam menghadapi serangan dahsyat yang dibawa oleh kehidupan ini. "Berdua lebih baik daripada seorang diriKarena kalau mereka jatuh, yang seorang mengangkat temannya, tetapi hai orang yang jatuh, yang tidak mempunyai orang lain untuk Mengangkatnya!dan bilamana seorang dapat dikalahkan, dua orang akan dapat bertahan" (Pkh 4:9-12). Ini meringkaskan apa yang Allah maksudkan di dalam pernikahan, yang satu mengangkat yang lain dan masing-masing saling menolong. Pada waktu Allah menjadikan seorang perempuan untuk laki-laki, dimaksudkan agar dia menjadi seorang penolong. Sayangnya, Hawa bukannya menolong laki-laki untuk dapat memenuhi maksud Allah, justru dia menolong laki-laki itu untuk gagal. Setan mendapatkan seorang penolong di dalam Hawa. setan tidak dapat menghancurkan Adam secara langsung, karena itu dia bekerja melalui seorang perempuan "untuk menolong". Hawa adalah seorang penolong, tetapi dia menolong maksud setan dan bukan maksud Allah atau Adam. Saya kenal seorang pelayan Tuhan yang beberapa tahun yang lalu mempunyai panggilan dan urapan Allah yang luar biasa dalam hidupnya. Tuhan membuka pintu-pintu pelayanan baginya yang hampir-hampir sulit untuk dipercayai. Kebaktian-kebaktian di seberang lautan sudah ditentukan waktunya untuk pelayanannya dengan satu tujuan untuk mengubah jalan kehidupan rohani dari jutaan orang. Tetapi berkali-kali hal yang sama sebagaimana di atas terulang kembali. Kira-kira seminggu sebelum dia berangkat untuk pelayanan, isterinya mulai "mengobarkan neraka" dengannya sehubungan dengan kepergiannya. Sikap isteri ini mempengaruhi anak-anak mereka dan mereka mendukung si isteri di dalam melawan hamba Tuhan ini, sehingga pada akhirnya si suami membatalkan pertemuan yang sudah dijadwalkan. Hal ini terjadi berulang-ulang sehingga akhirnya orang-orang mulai kehilangan kepercayaan terhadap saudara yang kekasih ini. Mereka mengira dia tidak dapat dipercaya. Dia bukan seorang yang berpegang pada katakatanya. Dia tidak melaksanakan apa yang dia sudah janjikan. Mereka tidak mengetahui bahwa hamba Tuhan ini dinetralisir oleh seorang isteri yang sebagai Hawa, mengijinkan setan memakai dirinya untuk membatalkan pelayanan yang penuh kuasa. Saya yakin sepenuhnya bahwa banyak yang masih berada di bawah kekuasaan setan akan dilepaskan dan dimenangkan bagi Kristus, jika saudara tadi pergi ke luar dan menangani kebangunan rohani besar tersebut.

Saya bertanya-tanya sampai sejauh mana suami-suami menetralisir pelayanan isteri-isteri mereka, dan isteri-isteri sudah menetralisir pelayanan dari sang suami, tanpa sadar telah menjadi "penolong-penolong" setan hanya untuk alasan-alasan kepentingan diri mereka sendiri. 2. Kita Harus Saling Bertanggung Jawab Di dalam suratnya yang pertama, Petrus secara beruntun menulis mengenai hubungan pernikahan dari orang Kristen (1Ptr 3). Sungguh menarik perhatian bahwa setiap kali kalau Alkitab membahas mengenai pernikahan, hampir selalu dimulai dengan peranan dan tanggung jawab isteri, dan kemudian baru membahas mengenai peranan suami. Tak diragukan lagi, hal ini karena "perempuan (Hawa) itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa" (1Tim 2:14). Dari sini, ada beberapa dasar atau titik tolak untuk suatu pandangan bahwa isteri mempunyai prioritas tanggung jawab untuk bertindak dan bersikap sebagaimana mestinya di dalam pernikahan. Jika ia berbuat demikian, maka hal ini dapat mendatangkan suasana rumah tangga yang lebih positif dan harmonis sehingga maksud Allah akan lebih mendapat kesempatan untuk digenapi. Jika ia tidak berbuat demikian, setan dapat berhasil menguasai, sebagaimana halnya terhadap Hawa. Setan, melalui Hawa, menetralisir panggilan dan pelayanan Adam, sehingga akhirnya Adam jatuh. Tidak seorang suamipun dibenarkan untuk mempergunakan hal di atas dan memakainya sebagai alasan untuk kesalahannya sendiri, atau kegagalannya dalam memenuhi tanggung jawabnya di dalam pernikahan. Pria/suami mempunyai tanggung- jawab yang sama, bahkan lebih besar lagi dari perempuan. "Demikian juga kamu hai suami-suami, hiduplah bijaksana dengan isterimu, sebagai kaum yang lebih lemah! Hormatilah mereka sebagai teman pewaris dari kasih karunia, yaitu kehidupan, supaya doamu jangan terhalang" "Dan akhirnya, hendaklah kamu semua seia sekata, seperasaan, mengasihi saudara-saudara, penyayang dan rendah hati, dan janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan, atau caci-maki dengan mencaci-maki, tetapi sebaliknya, hendaklah kamu memberkati, karena untuk itulah kamu dipanggil, yaitu untuk memperoleh berkat" (1Ptr 3:7-9). Suami dan isteri kedua-duanya saling membagi tanggung jawab untuk memelihara suasana rumah tangga yang dipenuhi dengan kasih, dan saling memperhatikan. Isteri melalui sikapnya yang tunduk pada suami, disertai roh yang lemah lembut dan tenteram sedangkan suami melalui tanggung

jawabnya untuk melihat bahwa semua kebutuhan praktis dari anggotaanggota keluarganya diperhatikan juga.

C. PERMAINAN NETRAL UNTUK SETAN Jika keharmonisan pernikahan terganggu, maka pertolongan dan dorongan semangat yang seharusnya diperoleh oleh suami dari si isteri lenyaplah. Perasaan ditolak, tidak diperhatikan, dan kegagalan mulai berkembang. Dalam keadaan itu, pasangan dari pernikahan itu menjadi pasangan si setan. Contoh situasi berikut ini menunjukkan bagaimana hal itu seringkali terjadi: 1. Setan menaruh Perangkap Anda adalah seorang pendeta dan Allah mulai memberkati. Pelayanan anda semakin meluas dan bertumbuh. Pada waktu yang sama kebutuhan mempergunakan waktu untuk memenuhi berbagai tuntutan gereja pun semakin meningkat. Masalah ini biasanya muncul dengan segera, terutama bagi mereka yang tidak dapat mengatur waktu dengan baik dan tidak tahu bagaimana caranya mendelegasikan tanggung jawab.Anda semakin dibebani banyak pekerjaan dan lambat laun anda mendapatkan diri anda lebih banyak berada di luar rumah dan nampak kekurangan waktu. Waktu yang anda pergunakan di rumah tidaklah sesantai seharusnya. Anda sering dikuasai oleh hal-hal yang terjadi dalam pelayanan, atau anda mungkin lebih banyak memikirkan mengenai rencana-rencana agar lebih berhasil di dalam pemberitaan Injil atau di dalam pengajaran Alkitab. a. Kesombongan dalam Pelayanan. Anda merasa mendapatkan kepuasan baru sehubungan dengan apa yang terjadi dalam pelayanan anda. Hal ini tidak aneh karena Allah sudah menetapkan manusia untuk mendapatkan kepuasan pribadi melalui pekerjaan yang untuk itu dia sudah dipanggil untuk melakukan. Sementara anda menyadari bahwa Allah makin memakai anda dengan luar biasa, anda mendapatkan kepuasan pribadi yang semakin meningkat dari pekerjaan anda, yang belum pernah anda alami sebelumnya. Tidak demikian halnya dengan perempuan. Walaupun perempuan memang mendapatkan kepuasan dari pekerjaannya, kepuasannya yang paling besar berasal dari dikasihi dan diperhatikan oleh suaminya. Sementara anda makin terlibat di dalam pelayanan anda yang luar biasa itu, beberapa bahaya yang serius dapat saja mulai bermunculan. Ada masa dimana memakai waktu sebanyak-banyaknya di dalam pekerjaan tidak dapat dihindari, tanggung jawab anda sebagai seorang pendeta atau pengajar menuntut hal itu. Tetapi kesombongan dapat saja mulai memainkan peranannya di dalam perubahan waktu anda ini. Mungkin anda mulai dihinggapi perasaan bahwa anda sungguh orang penting yang sangat dibutuhkan untuk keberhasilan pelayanan anda; bahwa tanpa anda gereja tidak akan dapat berjalan. Jika

anda gagal di dalam tugas untuk melatih dan melengkapi orang lain di dalam pelayanan, (Ef 4:11) anda akan mulai mengambil alih banyak tugas, melebihi yang dapat dilakukan oleh seorang manusia. Di sinilah anda mulai ke luar dari jalur yang sebenarnya, sukar untuk membedakannya dimana perasaan syukur bahwa Allah sedang memakai anda berbalik menjadi kesombongan. Anda menjadi tertipu, karena mempercayai bahwa anda sebenarnya sumber dari keberhasilan anda. Anda menjadi bangga dengan kesibukan anda, merasa diri penting dan beranggapan bahwa anda adalah orang besar. b. Sedikit Waktu di Rumah. Sementara itu situasi rumah tangga andapun mulai berubah. Bukan saja sudah sedikit sekali waktu di rumah tetapi juga waktu yang anda pergunakan di rumah, tidak memiliki mutu sebagaimana sebelumnya. Anda juga mungkin gagal untuk menyadari bahwa isteri andapun tidaklah sebahagia sebagaimana sebelumnya. Komunikasi anda dengannya sudah menjadi semakin dangkal. Ketika baru menikah, anda sungguh mengasihi dia dan menunjukkan hal itu, tetapi sekarang dia merasa bahwa kedudukannya sudah menjadi yang sekunder dari bagian-bagian yang lain di dalam kehidupan anda. Pada suatu hari ketika anda tiba di rumah, isteri anda marah-marah, bersungut-sungut dan mengajukan beberapa tuntutan pada anda. Jika isteri anda tipe perempuan pendiam, boleh jadi ia menarik diri, menjadi murung dan sedih. Dia menginginkan lebih banyak waktu dan perhatian anda. Anda tidak menyadarinya, tetapi pelayanan dan kedudukan di dalam kepemimpinan yang semula menjadi sukacita kalian berdua, sekarang berubah menjadi saingan dan musuh isteri anda. Isteri anda merasa bahwa dia harus berkompetisi dengan pelayanan anda, untuk mendapatkan kasih dan komitmen anda. c. Ditolak oleh Istri. "Dia melawan kehendak Allah!" Anda mungkin berpikir demikian. Walaupun anda berusaha untuk berbaik dan mengasihi dia, sejak saat itu pernikahan anda mulai memburuk. Anda merasa bahwa isteri anda itu musuh, karena mengajukan tuntutan-tuntutan yang tidak adil atas anda dan memberi ancaman-ancaman yang tidak pada tempatnya. "Pilih salah satu, pelayanan atau saya!". Seolah-olah isteri anda berkata demikian. Seorang isteri yang berhikmat dan bijaksana akan menyadari apa yang terjadi. Dia akan mencoba untuk meyakinkan suaminya akan kasih dan dukungannya. Kemudian dia akan menjelaskan betapa dia sudah merasa terluka, dan mohon kepada suaminya untuk mencoba memahami dan mengerti kebutuhannya.

Sayangnya, sang isteri yang merasa sangat disakiti, tidak mau lagi mengemukakan alasan-alasannya. Sebaliknya, dia begitu dikuasai oleh kemarahan dan penolakan sehingga masalahnya lebih kacau lagi. Pada saat anda sampai pada suatu tempat di mana impian dan pelayanan anda sudah mulai berkembang, nampak bahwa isteri anda berbalik meninggalkan anda. Sudah jelas hubungan seks andapun menjadi makin buruk. Anda tidak lagi merasa aman atau diperlukan di rumah. Rumah tidak lagi merupakan tempat perteduhan sebagaimana seharusnya, dan tidak lagi menyenangkan untuk berada di sana. Walaupun hal ini menyebabkan sesuatu yang menyakitkan, anda seakan-akan dapat menghindarinya dengan semakin menenggelamkan diri dalam pelayanan anda. Segera anda akan menyadari bahwa kepuasan yang anda dapatkan di dalam pelayanan, tidak dapat menolong mengatasi perasaan bahwa anda telah ditolak oleh isteri anda. Rasa tidak aman anda menjadi semakin bertumbuh, sehingga anda mulai merasa tidak bahagia dengan keadaan anda pada umumnya, dan setan mulai memasang jeratnya yang terakhir. Sementara situasi rumah tangga anda menjadi semakin buruk, maka hal-hal yang di luar kesadaran mulai terjadi. Penolakan isteri anda telah melukai harga diri anda, tetapi anda juga gagal untuk melihat bahwa sebenarnya anda sendiripun ikut menciptakan persoalan. Anda bahkan tidak dapat menyadari bahwa hal ini sebagian besar merupakan tanggung jawab anda. Sebagai akibatnya anda menyalahkan ketidak sediaan isteri anda untuk memahami anda. Anda bahkan mungkin merasa bahwa isteri anda sudah memutuskan untuk tidak lagi mengasihi anda. Anda merasa disakiti. Anda memerlukan keyakinan kembali. Mungkin tanpa sadar anda merasa perlu untuk menegaskan kejantanan anda dan membuktikan bahwa penolakan isteri anda sebagaimana yang anda lihat tidak membatalkan kejantanan anda. 2. Jebakan Itu Terbuka Sebagai pemimpin gereja, anda menangani banyak bimbingan. Disepanjang masa-masa pelayanan bimbingan ini, banyak orang membina hubungan yang dekat dengan anda. Kebanyakan dari mereka adalah wanita-wanita. a. Si Penerima Bimbingan. Pada suatu malam yang naas, hal itu terjadi! Anda sudah melihat dan bertemu berkali-kali dengan wanita muda itu dari jemaat anda. Meskipun dia merupakan salah seorang yang paling rohani di dalam gereja, sebenarnya dia sudah lama menjadi korban dari suatu pernikahan yang belum pada saatnya dengan seorang yang belum percaya, suami yang pemabuk.

Dia minta bimbingan dan nasehat dari anda karena dia membutuhkan sesuatu untuk membangun imannya dan tetap bertumbuh dalam kedewasaan di balik situasi rumah tangganya yang sulit untuk ditanggungnya. Nasehat dan bimbingan anda telah banyak mendatangkan ketenangan dan pertolongan bagi dirinya. Anda telah mengembangkan suatu hubungan saling mempercayai; bahkan mungkin juga anda sudah memberitahu kepadanya tentang persoalan dan sakit hati anda sendiri. Di dalam percakapan anda dengan dia, anda mendapatkan dia sebagai seorang yang dapat dan mau memahami persoalan-persoalan dan masalah-masalah andabahkan lebih dapat dan bersedia memahami daripada isteri anda sendiri. b. Yang Tidak Diharapkan Terjadi. Barangkali situasi rumah tangga anda menjadi semakin parah dalam beberapa hari terakhir ini, atau anda sudah merasa bahwa sikap yang melawan dari isteri anda telah melampaui batas. Dan untuk beberapa alasan, situasi dalam bimbingan ini secara emosional menjadi lebih hangat dan menyenangkan dari pada biasanya. Apapun alasan dan penyebabnya, hal yang tak diharapkan terjadilah. Entah melalui sentuhan-sentuhan yang tidak disengaja atau melalui adanya pengertian, melalui saling pandang dengan penuh arti menimbulkan adanya komunikasi yang sulit untuk dipahami, dan hal itu membangkitkan dorongan emosional. Anda sudah berada dalam keadaan lemah karena situasi rumah tangga anda. Kewaspadaan anda menurun dan kini anda sendiri tidak terlindung. Setan mulai membuka jebakannya dan tiba-tiba saja anda mendapatkan diri anda sudah berada dalam keadaan saling berpelukan. Ini menjadi awal dari serentetan pertemuan perzinahan. Anda sudah jatuh dalam dosa seksual! c. Bisa Terjadi Pada Siapa Saja. Kisah ini adalah kisah imajinasi! Diketengahkan berdasarkan kisah-kisah yang serupa yang dikemukakan oleh para pendeta dan pemimpin gereja, yang sudah mengorbankan pelayanan seumur hidup mereka di atas altar hubungan seksual yang serampangan dan sia-sia. Kendatipun perinciannya tidak tepat seperti yang terjadi, namun prinsip-prinsipnya seperti itu. Hal itu dapat terjadi terhadap siapapun yang tidak berhati-hati. Korban dari jebakan yang jahat dari setan ini mungkin berusaha untuk membenarkan dirinya, menyalahkan isterinya atau orang yang dibimbingnya ataupun sejumlah hal yang lain. Jika dia bijaksana, dia akan bertobat dan menempatkan kesalahan pada tempat yang seharusnya: yaitu pada hawa nafsunya sendiri. Sebagaimana dalam kasus ini, kompromi moral biasanya merupakan akibat rasa tidak

aman dalam hubungan pernikahan. Rasa tidak aman ini biasanya merupakan akibat dari kurangnya perhatian anda terhadap isteri dan keluarga.

D. HUBUNGAN YANG PALING PENTING Hubungan paling penting bagi seorang pendeta, disamping hubungannya dengan Tuhan adalah hubungannya dengan isterinya. "Untuk itulah," demikian Allah berfirman, "seorang laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya menjadi sedaging" (Kej 2:24). Jika Allah sudah memilih seorang laki-laki untuk hidup dengan seorang isteri maka tanggung jawabnya yang pertama adalah terhadap isterinya itu. Allah tidak menghendaki sesuatupun berada ditengah-tengah hubungan tersebut. Allah yang sama yang sudah memanggil anda masuk ke dalam pelayanan, memberi kepada anda isteri anda, dan memerintahkan anda untuk mengasihi isteri anda. (Ef 5:25). Dia memerintahkan agar perhatian yang anda berikan terhadap isteri anda lebih besar dari segala sesuatu yang lain, kecuali untuk Dia. Sadarilah hal ini! Bagi isteri anda, tidak ada bedanya apakah pekerjaan anda yang mencuri kasih dan perhatian anda terhadapnya, ataukah perempuan lain yang mencuri kasih dan perhatian anda terhadapnya. Sebagai isteri dia kehilangan kasih dan komitmen anda karena kedua hal tersebut, dan perasaan sakitnya sama. 1.Kasihilah Isterimu Sama Seperti Kristus Telah Mengasihi SidangNya. Allah tidak hanya memberitahukan kepada kita untuk mengasihi isteri kita, Dia juga memberitahukan kita bagaimana mengasihinya. "Hai suami, kasihilah isterimu sebagaimana Kristus telah mengasihi jemaat dan telah menyerahkan diriNya baginya untuk menguduskannyasupaya dengan demikian Ia menempatkan jemaat di hadapan diriNya dengan cemerlang tanpa cacat atau kerut atau yang serupa itu" "Sebab itu laki-laki akan meninggalkan ayahnya dan ibunya dan bersatu dengan isterinya, sehingga keduanya itu menjadi satu daging." (Ef 5:2531). Tuntunan Allah yang semula adalah bahwa seorang laki-laki meninggalkan ibu-bapanya dan menyerahkan dirinya kepada isterinya. Bilamana laki-laki dan perempuan belajar untuk saling menyerahkan diri satu terhadap yang

lain, maka akan terwujudlah di dalam pernikahan, kasih yang tidak dapat anda jumpai di tempat lain manapun. Hal ini berarti bahwa anda dan saya sebagai pemimpin-pemimpin gereja, pertama-tama harus mengorbankan hidup kita untuk isteri-isteri kita. Mengorbankan hidup kita untuk pelayanan kita, untuk jemaat kita, atau segala sesuatu yang lain dengan mengorbankan keluarga kita akan melanggar ketentuan Allah. Karena hal ini akan membuka pintu yang melaluinya setan akan masuk dan menghancurkan kita. a. Peliharalah Janjimu. Pada waktu anda menikah dengan isteri anda, anda berjanji bahwa anda akan mengasihi dan memperhatikan isteri anda dengan setia sepanjang hidup anda. Jika anda melanggar janji ini dan kehilangan pandangan mengenai prioritas anda, anda akan melukai isteri anda dan ia menjadi bersikap pahit terhadap anda. Hal ini akan membawa kepada penolakan terhadap anda dan godaan terhadap harga diri anda yang terluka. Kendatipun demikian, jika anda memelihara janji dan komitmen anda terhadap isteri anda, anda akan mendapatkan bahwa anda dapat membangun pernikahan yang kokoh dan menyediakan bagi anda suatu perlindungan yang kuat untuk menghadapi strategi setan di dalam usahanya untuk menggoda anda agar mau berkompromi secara moral. Allah tidak menghendaki kita menuruti begitu saja kemauan dan keinginan daging dari isteri-isteri kita. Baik para suami maupun para isteri dipanggil untuk saling menolong yang lain agar bertumbuh di dalam anugerah dan kedewasaan Kristen. Meskipun demikian, kita perlu berhati-hati bahwa di dalam hal tidak memanjakan isteri kita, jangan kita gagal untuk mengasihi dan memperhatikannya sebagaimana seharusnya. b. Bangunlah Suatu Dasar Yang Kuat. Isteri anda bukanlah satu-satunya yang akan memperoleh manfaat apabila anda mengasihi dia sebagaimana Kristus mengasihi GerejaNya. Anda juga akan memperoleh manfaatnya. Seorang isteri akan mengasihi dan menghargai suami yang mengasihinya. Tunduk bukanlah sesuatu yang sulit bagi para wanita yang diperlakukan sebagaimana mestinya oleh suami-suami mereka. Setiap laki-laki yang mengasihi isterinya dan memberikan perhatian kepadanya, dan sering bercakap-cakap secara intim, membangun pernikahan di atas dasar yang kokoh, yang menjadikan mereka aman terhadap serangan-serangan setan.

"Tetapi, mengingat bahaya percabulan, baiklah setiap laki-laki mempunyai isterinya sendiri, dan setiap perempuan mempunyai suaminya sendiri". (1Kor 7:2). Suami yang mengasihi isterinya tidak mudah mengalami godaan seksual, karena hubungan seks dengan isterinya sendiri sudah terpenuhi. Paulus mengetahui hal ini dan menasihatkan agar setiap laki-laki dan perempuan memenuhi kewajiban mereka masing-masing. Hubungan seks yang tidak susila tidak mempunyai daya tarik bagi pemimpin Kristen yang memenuhi kewajibannya dan telah dipuaskan dalam rumah tangganya sendiri. Sebaliknya, laki-laki atau perempuan yang mengabaikan hak-hak yang harus digenapi oleh mereka masing-masing sebagai suami isteri, sama saja dengan mengundang masalah di dalam hidup pernikahan mereka. Seks tidak boleh dipergunakan sebagai hukuman, untuk menguasai atau hanya untuk kepuasan diri sendiri saja.

E. LANGKAH-LANGKAH KEMENANGAN Semua ini dapat dimengerti dan kita tahu bahwa semua itu ada di dalam Alkitab. Tetapi bilamana para pelayan Tuhan mengalami keberhasilan di dalam pelayanan, dan kesombongan mereka dikenyangkan dengan banyak pujian, maka perasaan bahwa dirinya penting dapat mulai merusakkan perkawinan mereka. 1. Prioritas Utama Saudara Haruslah Istri Saudara Di dalam saat seperti itulah anda perlu untuk senantiasa ingat bahwa perempuan yang anda nikahi itu masih tetap merupakan prioritas pertama anda. Tidak peduli betapapun berhasilnya atau pentingnya pelayanan anda menurut pandangan anda, jelas anda akan gagal jika anda melupakan tanggung jawab yang Allah berikan kepada anda terhadap isteri anda. Amsal tidak berdiam diri sehubungan dengan jenis keadaan seperti ini: "Siapa melakukan zinah tidak berakal budi; orang yang berbuat demikian merusak diri. Siksa dan cemooh diperolehnya, malunya tidak terhapuskan." "Karena cemburu adalah geram seorang laki-laki, ia tidak kenal belas kasihan pada hari pembalasan dendam; ia tidak akan mau menerima tebusan suatupun, dan ia akan tetap bersikeras, betapa banyakpun pemberianmu" (Ams 6:32-35). Allah akan mengampuni dan melupakan dosa dari seorang pemimpin yang jatuh tapi sungguh-sungguh bertobat. Tetapi, tidak demikian dengan orangorang atau masyarakat. Mereka akan mengingatnya sampai akhir hidup mereka dan banyak yang tidak akan pernah mengampuni orang yang telah membuat mereka jatuh karena kegagalan moralnya.

Pemimpin sedemikian siang dan malam akan dihantui oleh pemikiran "seandainya aku tidak berbuat dosa tentu keadaannya akan lain." 2. Jauhilah Kompromi Moral Sepanjang Perjanjian Lama dan Baru, hamba-hamba Allah sudah diperingatkan baik oleh Firman maupun lewat teladan bahwa kita harus menjauhkan diri dari kompromi moral. Amsal mengulangi kembali berita Ini:"siapa melakukan zinah tidak berakal budi, ia benar-benar bodoh" a. Anak-anak Elimendatangkan hukuman Allah atas diri mereka sendiri karena mereka berbuat dosa dengan perempuan- perempuan yang melayani di pintu perkemahan. b. Simsonjatuh dan menyia-nyiakan hidupnya karena perzinahannya dengan Delila. c. Daudseorang yang dekat di hati Allah, menderita sepanjang sisa hidupnya karena perzinahannya dengan Betsyeba. d. Salomopenulis kitab Amsal dan yang memperingatkan kita sehubungan dengan konsekwensi yang menyakitkan dari percabulan dan perzinahan, kehilangan perkenan Allah karena ketidak-susilaannya. Ya, disamping itu semua, banyak pemimpin gereja jatuh, karena mereka menyerah pada dorongan hawa nafsu mereka. Tetapi anda tidak perlu jatuh seperti mereka. Ada beberapa hal yang dapat anda lakukan, yang menjamin anda terlindung dari dosa ini, yang merusak hamba-hamba Allah yang kurang berwaspada. Telah kita bahas mengenai perlunya mengasihi isteri kita. Hal ini meletakkan dasar bangunan dari benteng pertahanan kita untuk melawan dan menghadapi dosa yang mengerikan ini, tetapi ada bahan-bahan lain yang membentuk tembok-tembok keliling. 3. Buat Keputusan Untuk Tetap Tinggal Dalam Kekudusan Buatlah keputusan akhir bahwa anda tidak akan melakukan percabulan atau perzinahanbahwa anda akan memelihara kesucian di dalam pelayanan anda kepada Allah. Orang yang mempelajari ilmu jiwa mengatakan bahwa sekali seseorang sudah mengambil keputusan tegas tentang sesuatu, maka dia tidak pernah akan mengubahnya! Alkitab berbicara mengenai hal ini ketika berbicara mengenai "pertobatan yang tidak akan disesalkan" (2Kor 7:10). Sekali kita membuat keputusan

tegas untuk berbalik dari dosa dalam tingkatan tertentu, sehingga kita akan mengubah pikiran kita sehubungan dengan keputusan itu, kita sudah melakukan "pertobatan yang tidak akan disesali." Banyak dari kita percaya bahwa kita tak dapat bermain-main dengan dosa percabulan dan perzinahan, tetapi sering kita menyimpannya di sudut kecil pikiran kita untuk bermain-main dengan hal ini. Kita tidak secara total menyingkirnya dari pemikiran kita, juga kita tidak menantang setan setiap kali dia membujuk kita. Dengan berbuat demikian pada dasarnya anda menabur benih yang akan merusak diri anda sendiri. Tidak peduli betapa kecilnya ataupun tidak berartinya menurut anda bagi setan untuk mendapatkan tempat berpijak yang diinginkannya. 4. Bentengi Pikiran-Pikiran Anda. Buatlah keputusan yang positif dan tegas untuk tidak mengisi pikiran dengan hal-hal yang tidak suci. Alkitab mengatakan, "Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan" (Ams 4:23). Bukan hanya bahwa kita harus menetapkan kehendak kita untuk kudus dan murni, tetapi kita juga harus "menetapkan pengawalan" pada pintu gerbang pikiran kita untuk menyingkirkan pikiran-pikiran yang tidak suci. Pernah dikatakan bahwa anda tidak dapat melarang burung-burung berterbangan di atas kepala anda, tetapi anda dapat mencegah mereka untuk membuat sarang di rambut kepala anda. Jika musuh menanamkan pikiran-pikiran kotor di dalam pikiran anda, tolaklah segera pada waktu itu juga. "Sebab itu siapkanlah akal budimu". (1Ptr 1:13). Hal itu berarti mengikat pikiran-pikiran yang tidak susila dan berkuasa atasnya. Jangan ijinkan pikiran anda menjadi keranjang sampah dari si iblis. Hamba-hamba Allah sering diserang oleh pemikiran-pemikiran yang tidak suci, tetapi mereka harus dengan segera menyingkirkan pikiran-pikiran tidak suci tersebut, jika mereka ingin memelihara pikiran mereka tetap murni dan bersih. Sebagai seorang yang menyerahkan diri pada pelayanan Allah, anda tidak dibenarkan untuk terus menikmati pikiran-pikiran yang tidak suci. Pikiran-pikiran tidak suci itu dapat saja masuk tanpa diundang, tetapi anda harus mengusirnya ke luar seperti yang anda lakukan terhadap seorang pencuri atau pembunuh. Jika kita tetap menyenangi pikiran-pikiran yang tidak suci dan kompromi moral, kita memberi tempat berpijak kepada setan sehingga satu saat dapat menyebabkan kejatuhan kita. "Karena dari hati (pikiran) timbul segala pikiran jahatperzinahan, percabulanItulah yang menajiskan orang." (Mat 15:19,20).

Jika anda tidak bersedia melakukan komitmen dan tidak memutuskan sekali untuk selamanya untuk "menjauhi perzinahan", jangan masuk ke dalam pekerjaan Tuhan. Lakukan hal-hal lain yang anda kehendaki, tetapi ke luar saja dari pelayanan. 5. Larilah Dari Percobaan. Hamba Allah yang ingin melindungi dirinya harus "menjauhkan diri dari segala jenis kejahatan" (1Tes 5:22). Kita tidak dapat melibatkan diri di dalam kegiatan atau tempat-tempat di mana ada kejahatan. Pada waktu Allah menciptakan anda, Dia memberikan kekuatan di dalam anda yang menjamin kesinambungan keturunan umat manusia. Anda tidak dapat mempergunakannya di luar ikatan yang sah yang sudah ditetapkan Allah bagi kita di dalam FirmanNya. Sungguh bodoh bila menempatkan diri anda di dalam suatu posisi di mana anda nampak seperti mau membangkitkan kekuatan dinamis ini melalui tingkah laku atau keadaan sekitar anda. Beberapa orang Kristen merasa bahwa karena iman mereka di dalam Yesus mereka kebal terhadap godaan seksual. Ini jelas suatu kebodohan! Kita diberitahu untuk melawan iblis dan mengusir dia, dan kita diberitahu untuk "menjauhkan diri dari perzinahan" (Yak 4:7 1Kor 6:18). Kita memiliki kuasa atas segala roh-roh jahat, dan setan-setan ada di bawah kekuasaan mereka yang bergerak di dalam kuasa dinamis Roh Kudus. Tetapi Allah memberikan instruksi yang jelas, yaitu bilamana ada pencobaan seks, kita harus menjauhinya dan segera lari dari padanya. Yusuf merupakan contoh bagaimana Allah menghendaki agar kita menghadapi/ mengalahkan godaan seksual. Pada waktu isteri Potifar berusaha membujuk Yusuf untuk berbuat zinah dengannya, Alkitab memberitahu kita bahwa Yusuf berbalik dan melarikan diri dari padanya, meninggalkan jubahnya di tangan isteri Potifar. (Kej 39:12). Seperti itulah kita harus melakukan! Melarikan diri dari perzinahan bukan hanya berlari untuk melepaskan diri dari rayuan atau bujukan yang menjerat kita. Hal itu berarti menjaga diri kita dari keadaan untuk terjebak atau masuk ke dalam godaan seksual. Bagi kita yang ada di dalam pelayanan Kristen, ini berarti saat-saat kita membimbing seseorang yang berlainan jenis. a. Jangan Sekali-kali Sendirian. Saya mengenal seorang penginjil, ia tidak akan pernah sendirian dengan lawan jenisnya. Kemana saja ia pergi, ia selalu ditemani kalau tidak oleh isterinya tentu oleh salah satu anggota pria dari teamnya. Pendeta-pendeta yang bijaksana dan

yang bertekad untuk memelihara kesucian tidak pernah akan membiarkan dirinya berada dalam situasi di mana setan dapat dengan mudah mendapat jalan masuk kepadanya. Jika membimbing seseorang yang berlainan jenis, selalu sertakan seseorang di dekat anda dan jangan sekali-kali sendirian di tempat tertutup. Biarkan pintu kamar bimbingan itu terbuka, atau pergunakan kamar bimbingan yang ada jendelanya, di mana staff pendeta yang lain dapat mengawasinya. Usahakanlah agar tidak mungkin terjadi dosa, dan hal itu tidak akan dapat terjadi. Paulus berkata "janganlah merawat tubuhmu untuk memuaskan keinginannya". (Rm 13:14). Ini berarti tidak melakukan sesuatu atau berada di dalam keadaan manapun yang dapat membangkitkan sifat kedagingan anda dan memberi kesempatan kepada daging untuk menguasai kelakuan anda. Sebagaimana sudah saya katakan sebelumnya, Allah sudah menempatkan di dalam kita suatu keinginan yang kuat untuk melipat gandakan diri kita. Dia juga menciptakan suatu hubungan yang unik di mana dorongan keinginan dapat dan harus dikontrol sebagaimana mestinya. Adalah bodoh bila menempatkan diri kita ke dalam posisi di mana justru dorongan itu semakin bernyala-nyala dan tidak dapat dipadamkan. Jika anda bermain-main dengan api, sudah pasti anda akan terbakardan parah. 6. Buatlah Perhitungan Kita harus menyadari bahwa setiap laki-laki dan perempuan menghadapi godaan yang sama. Kejatuhan dalam hal ini tidak boleh dianggap hal yang lumrah dan pasti akan tersiar ke mana-mana. Sebagai seorang pelayan anda akan sering menjadi patah semangat oleh pekerjaan anda. Jika anda tidak berhati-hati, anda akan beranggapan bahwa tak seorangpun yang mengalami penderitaan seperti yang anda alami. Ini merupakan tipu daya setan. Waspadalah dan jagalah dirimu. Ijinkanlah Allah memimpin anda kepada seorang saudara (atau saudari jika anda seorang wanita) yang anda dapat percayai, dan yang dapat memahami anda untuk dapat menolong di dalam peperangan ini. Alkitab mengatakan bahwa berdua lebih baik daripada seorang diri. Yesus menegaskan hal ini dengan mengutus murid-muridNya berdua-dua. Memiliki seseorang yang dapat menolong anda pada waktu anda terjerat pada saatsaat lemah merupakan perlindungan yang luar biasa, teristimewa dalam masalah seksual ini, di mana semua orang memiliki saat-saat kelemahan.

F. RINGKASAN

Jatuh di dalam dosa seksual akan merusak pelayanan anda dan meninggalkan bekas yang tidak dapat hilang selama-lamanya di dalam jiwa anda. Walaupun banyak yang jatuh ke dalam dosa ini, anda tidak perlu ikut jatuh juga. Periksalah kembali langkah-langkah yang dapat anda lakukan untuk menjaga diri anda terhadap serangan anak panah dari si jahat. 1. Kasihilah Isterimu. Akar dari hampir semua kegagalan seksual adalah rasa tidak aman di dalam pernikahan anda. Peliharalah kehidupan rumah tangga anda dan belajarlah untuk mengasihi isteri anda sebagaimana Kristus mengasihi GerejaNya. Jangan lupa bahwa anda telah berjanji untuk mengasihi isteri anda seumur hidup anda. 2. Bentengi Pikiran-Pikiran Anda. Tetapkan pikiran anda sekarang ini juga bahwa anda tidak akan pernah bersedia untuk memberi tempat pada pikiran-pikiran yang kotor. Jangan ijinkan pikiran-pikiran yang tidak suci atau kompromi moral memasuki pikiran anda. Jika ada dalam pikiran, jangan sampai dibiarkan tinggal dan menguasai anda. 3. Jangan Beri Peluang Kepada Setan Jauhilah situasi atau keadaan yang dapat menyebabkan anda digodai. Waspadalah dan jagalah diri anda dari jerat-jerat setan. Jangan biarkan dia mengambil kesempatan terhadap anda dalam jam-jam bimbingan, atau pada saat anda sedang menghadapi lawan jenis anda secara berkesinambungan. Jangan takut menghadapi saat-saat demikian, tetapi hadapilah dengan bijaksana dan penuh hikmat. 4. Carilah Pertolongan Pada Saat Yang Sukar Biarlah seorang sahabat dekat seorang yang anda percayai dan hormati dijadikan seorang yang kepadanya anda dapat membagi beban sehubungan dengan hal tersebut di dalam kehidupan anda. Jika anda menghadapi godaan, datanglah kepadanya untuk mohon dukungan doa. Adalah bodoh jika anda menghadapinya sendirian, jika sebenarnya anda tidak perlu menghadapinya sendirian. Yesus tidak mencobai kita. Dia akan selalu menolong kita di dalam cobaan dan godaan-godaan, bila kita datang dan berseru kepadaNya. Dia menghendaki kita menjadi kudus, murni dan mengalahkan semua kejahatan.

G. KESIMPULAN

Naikkanlah doa ini sekarang juga sementara anda bertekad untuk memelihara kedua tangan anda bersih dan menjaga kemurnian hati di dalam pelayanan kepada Raja anda: Ya Tuhan Yesus, aku tahu Engkau telah memanggilku ke dalam pelayanan dan Engkau menghendaki agar aku tetap menjaga kesucian.Aku memuji dan berterima kasih kepadaMu karena Engkau tidak pernah berkompromi dalam soal moral dan kendatipun Engkau dicobai dalam banyak hal bahkan dalam satu hal inipun Engkau tidak berbuat dosa. Ketika Engkau memintaku untuk menjauhkan diri dari semua nafsu kedagingan dan penyalahgunaan seksual, bukan karena Engkau menghendaki agar aku tidak menikmati kesukaan dan kepuasan dalam kehidupan ini. Tetapi karena Engkau menghendaki agar aku dapat mengetahui kehidupan berkelimpahan yang sesungguhnya. Oleh karena itu, aku menerima kekuatanMu dan kebenaranMu untuk berjalan di dalam kekudusan dan menolak berbagai bentuk kompromi moral. Aku tidak akan berkompromi dengan kenajisan seksual. Dengan kekuatan dan kuasaMu aku akan menjauhkan diri dari segala jenis dosa moral, aku akan menolak semua pikiran dan bujukan-bujukan yang tak senonoh. Aku memilih untuk berjalan di dalam kuasaMu dan terlepas dari noda-noda yang berasal dari perzinahan. Amin!

Bab 8 Ketamakan Adalah Penyembahan Berhala Pendahuluan Uanglah yang nampaknya menjadi penyebab utama kejatuhan seorang pemimpin rohani bilamana dibandingkan dengan hal-hal lain. Uang memang diperlukan untuk hidup. Uang sungguh merupakan berkat yang besar didalam pekerjaan Tuhan. Kendatipun demikian menuntut adanya tanggung jawab karena uang itu lebih jahat daripada hal yang lain. Bagaimana mungkin sesuatu dapat baik dan jahat pada waktu yang bersamaan? Dalam pasal ini, saya mau membagikan prinsip-prinsip Alkitabiah mengenai bagaimana mengelola keuangan. Allah memperhatikan mengenai cara bagaimana anda menggunakan uang yang Dia percayakan di tangan anda, tidak peduli apakah uang itu jumlahnya besar atau kecil. Dalam ukuran tertentu, bagaimana cara anda memegang uang akan menentukan berhasil atau tidaknya anda sebagai seorang pemimpin.

A. KEUANGAN DAN HUBUNGAN KITA DENGAN ALLAH Kita harus belajar untuk berhati-hati dengan penggunaan uang kita karena melaluinya setan menghancurkan banyak pemimpin. Uang mempunyai arti rohani yang besar. Yesus mengajarkan banyak hal mengenai uang dan bagaimana uang dapat mempengaruhi hubungan manusia dengan Allah. Barangkali ayat yang sangat dikenal sehubungan dengan hal ini adalah, "Janganlah kamu mengumpulkan harta di bumi; di bumi ngengat dan karat merusakkannya dan pencuri membongkar serta mencurinya. Tetapi kumpulkan bagimu harta di sorga; di sorga ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya. Karena di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada" "Tak seorangpun dapat mengabdi kepada dua tuan. Karena jika demikian ia akan membenci yang seorang dan mengasihi yang lain, atau ia akan setia kepada yang seorang dan tidak mengindahkan yang lain. Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon" (Mat 6:19-24). Tiga hal nampak menonjol, pada waktu kita membaca ayat-ayat ini: 1. Harta Dunia Tidak Menentu Harta duniawi itu tidak menentu. Inflasi ekonomi dapat menurunkan nilainya dan pencuri dapat mencurinya, entahkah pencurinya itu manusia ataukah suatu badan. Harta benda sorgawi merupakan satu-satunya penanaman modal dengan disertai jaminan kembali untuk sepanjang kekekalan.

2. Dimanakah Perhatian Utama Kita? Bagaimana kita menggunakan uang kita menunjukkan dimana perhatian utama kita. Jika kita menghabiskan semua uang kita hanya untuk kepentingan diri sendiri, maka kita mengasihi diri kita sendiri di atas segalanya. Jika kita menanamkan 10% (sepersepuluh) atau lebih dari uang kita untuk pemberitaan Injil, kita menunjukkan bahwa kita mengasihi Allah dan Injil. 3. Anda Tidak Dapat Melayani Allah Dan Mamon Anda tidak dapat melayani Allah dan Mamon (uang) pada waktu yang sama. "Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dankepada Mamon(uang)". (Tetapi anda dapat melayani Allah dengan Mamon!) Apakah Yesus yang menjadi Tuhanmu, ataukah uang! Anda tidak dapat merangkap kedua-duanya. Arah kehidupan anda dan bentuk pelayanan anda akan menentukan apakah karena Yesus ataukah karena hubungan anda dengan uang yang satu atau yang lain! "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." "Karena akar segala kejahatan ialah cinta uang. Oleh sebab memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka. Tetapi engkau hai manusia Allah, jauhilah semuanya itu" (1Tim 6:9-11 niv).

B. UANG: JERAT DARI SETAN Uang memiliki jerat di dalamnya! Jika anda tidak menggunakannya dengan benar, anda akan dijeratnya dengan melalui mengasihinya. Setan yang adalah penguasa di udara, mempergunakan uang sebagai salah satu jeratnya yang paling berhasil. 1. Mamon: Illah Yang Disembah Di dalam Mat 6:24, Yesus mengajarkan mengenai dua tuan yang harus dipilih: Allah atau Mamon. Mamon adalah nama illah kafir, sebagai illah kekayaan dan kemakmuran. Dengan menggunakan itu, Yesus juga menunjukkan bahwa ada pemerintahan setan yang mengontrol sebagian besar dari kekayaan dunia ini. 2. Beberapa Akan Menjual Jiwanya

Ketika saya berada di Nikaragua pada tahun 1959, dikisahkan kepada saya suatu kisah menarik oleh salah seorang percaya dari gereja di Blue Fields. Dia berkata bahwa sejumlah orang di pesisir pantai Timur Nikaragua "menjual jiwa mereka kepada setan." Ketika saya bertanya apa yang dia maksudkan dengan hal itu, dia menjelaskan: Beberapa yang mau menjadi kaya akan berdoa kepada setan dan "menjual nyawa mereka kepadanya" sebagai ganti untuk kekayaan dan kemakmuran. Menurut penjelasan saudara itu, maka roh setan itu sungguhsungguh menampakkan diri kepada mereka, sementara mereka berdoa kepada setan. Hal ini akan menyebabkan mereka menjadi kaya raya. Tetapi biasanya pada usia sekitar 45 tahun, setan itu akan datang dan menuntut apa yang sudah mereka jual kepadanya, yaitu nyawa mereka. Mereka yang menyaksikan kematian orang-orang tersebut mengatakan bahwa mereka akan menjerit, memohon untuk diberi kesempatan beberapa tahun lagi, meminta untuk dibebaskan dari jilatan api neraka. Mereka akan dimakan cacing dan ulat dan mengalami kematian yang mengerikan seperti yang dialami oleh Herodes, yang " dimakan oleh ulat dan cacing, dan mati". (Kis 12:23). Seperti itulah upah dari mereka yang melayani illah Mamon.

C. BERHATI-HATILAH DENGAN CINTA AKAN UANG Uang adalah perlu. Dengan uang kita dapat membeli hal-hal yang kita perlukan untuk hidup. Banyak orang, karena tidak mempunyai cukup uang, menderita kelaparan, kemiskinan dan sakit penyakit. Jadi, kemiskinan pada dasarnya adalah kutukan, bukan berkat. Sebaliknya, orang lain yang mempunyai lebih dari yang mereka butuhkan seringkali tamak/ serakah dan kadang-kadang menyebabkan penderitaan orang-orang yang miskin. Tetapi uang itu sendiri tidak menyebabkan kejahatan yang seringkali terjadi sebagai akibat dari salah mempergunakannya. Cinta akan uanglah yang merupakan akar dari segala macam kejahatan. Bahayanya bukan dalam hal memiliki uang, tetapi di dalam hal mencintai uang itu. 1.Kita Akan Taat Kepada Yang Kita Kasihi. Yesus mengatakan, kita akan taat terhadap apa yang kita cintai (Yoh 14:15). Jika kita mencintai Dia, kita akan memelihara perintah-perintahNya; jika kita mencintai diri kita sendiri, kita akan mentaati keinginan daging kita dan mempergunakan uang untuk diri kita sendiri. Yang menentukan kebaikan dan keberadaan kita adalah apa yang kita cintai.

Rm 6:16 mengatakan, "Apakah kamu tidak tahu, bahwa apabila kamu menyerahkan dirimu kepada seseorang sebagai hamba untuk mentaatinya, kamu adalah hamba orang itu, yang harus kamu taati, baik dalam dosa yang memimpin kamu kepada kebenaran." Ini membawa kita selangkah lebih jauh: Bukan saja kita taat terhadap apa yang kita cintai, kita juga menjadi hamba dari apa saja, atau siapa saja yang kita taati secara terus menerus. 2. Uang Dikontrol Oleh Mamon Marilah kita melihat apa maksud dari semuanya ini. Uang di dalam suasana zaman yang jahat sekarang ini berada di bawah kontrol penguasa jahat, yang Yesus sebut sebagai Mamon. Jika kita mencintai uang, kita akan secara terus menerus mentaati apa yang dikatakan oleh cinta kita kepada uang yang mendikte kita. Jika kita terus menerus mentaati apa yang di katakan oleh cinta kita kepada uang, kita akan diperbudak olehnya dan berada di bawah kontrol dan kuasa kejahatan rohani. Tidaklah secara kebetulan saja orang-orang yang mencintai uang jatuh ke dalam segala macam kejahatan. Pada saat seseorang mencintai uang dia mulai mentaati apa yang didiktekan oleh kejahatan rohani dengan hawa nafsunya. Inilah sebabnya mengapa cinta akan uang merupakan akar dari segala macam kejahatan. Beberapa tahun yang lalu seorang pendeta di Amerika Utara meninggalkan isterinya dan mengambil perempuan lain yang sudah menikah dengan seorang laki-laki di gerejanya. Seorang sahabat saya, yang memiliki jubah pelayanan kenabian yang kuat di dalam pelayanannya, menangis mendoakan dia. Dia berdoa, "Tuhan, mengapa Andreas (bukan nama sebenarnya) jatuh ke dalam perzinahan ini?" Tuhan menjawab, "Andreas mencintai uang. Cinta akan uang bagaikan akar yang melubangi tempat saluran dosa dan membawa masuk segala jenis kejahatan ke dalam kehidupan. Dan inilah yang terjadi dengan Andreas." Rasul Paulus memperingatkan, "Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan." "Karena akar segala kejahatan adalah cinta akan uang. Sebab oleh memburu uanglah beberapa orang telah menyimpang dari iman dan menyiksa dirinya dengan berbagai-bagai duka." (1Tim 6:9,10). 3.Anda Tidak Dapat Mengasihi Tuhan dan Mamon Tidak mengherankan bahwa kuasa rohani dan kekayaan besar nampak sering bertentangan. Yesus berkata, "Alangkah sukarnya orang yang beruang masuk ke dalam kerajaan Allah!" (Mrk 10:23).

Ada seorang pemimpin muda bertanya kepada Yesus, katanya: "Guru yang baik, apa yang harus kuperbuat untuk memperoleh hidup yang kekal?" Jawab Yesus: "Mengapa Kau katakan Aku baik? Tak seorangpun yang baik selain dari Allah saja." "Engkau tentu mengetahui segala perintah Allah: Jangan berzinah, jangan membunuh, jangan mencuri, jangan mengucapkan saksi dusta, hormatilah ayahmu, hormatilah ibumu." Kata orang itu, "Semuanya itu telah kuturuti sejak masa mudaku." Mendengar hal itu Yesus berkata kepadanya: "Masih tinggal satu hal lagi yang harus kaulakukan: Juallah segala yang kaumiliki dan bagikanlah itu kepada orang-orang miskin, maka engkau akan beroleh harta di sorga. Kemudian datanglah kemari dan ikutilah Aku." (Luk 18:18-22). Ketika si pemimpin muda itu mendengar hal ini, dia menjadi sangat sedih karena dia sangat kaya. Barangkali dia telah berjuang sepanjang hidupnya untuk menjadi kaya. Menjadi kaya adalah suatu hal yang sangat menguasainya, yang dijadikan sasaran utamanya. Dan sekarang Yesus memberitahu kepadanya bahwa untuk masuk ke dalam kerajaan Allah dan mendapatkan kehidupan kekal, dia harus melepaskan semua kekayaannya itu.: "Lepaskan semua kekayaanmu dan ijinkan Aku memerintah hidupmu!" Pemimpin muda itu menjadi sangat sedih, karena dia sangat mencintai uangnya lebih dari mengasihi Yesus. Dia mengira dapat mengasihi Yesus dan mengasihi uangnya. Dia mendapatkan bahwa ternyata tidak dapat memiliki kedua-duanya. 4.Ketamakan adalah Penyembahan Berhala "Karena itu matikanlah dalam dirimu segala sesuatu yang duniawi, yaitu percabulan, kenajisan, hawa nafsu, nafsu jahat dan juga keserakahan (ketamakan), yang sama dengan penyembahan berhala. Semuanya itu mendatangkan murka Allah" (Kol 3:5). Kita biasanya berpikir bahwa penyembahan berhala itu menyembah patung-patung buatan. Tetapi sebenarnya lebih dari itu. Musa berbicara mengenai hal penyembahan berhala kepada Israel, "mereka mempersembahkan korban kepada roh-roh jahat yang bukan Allah, kepada allah yang tidak mereka kenal, allah baru yang belum lama timbul, yang kepadanya nenek moyangmu tidak gentar." (Ul 32:17). Bagi seseorang untuk bersujud di hadapan sebuah patung atau berhala dan menyembahnya adalah sama dengan menyembah roh jahat yang tinggal di dalam patung ukiran tersebut. Itulah sebabnya mengapa penyembahan berhala merupakan dosa yang sangat serius, dan mengapa hukuman Allah ditimpakan begitu hebatnya. Pada waktu Paulus mengatakan bahwa ketamakan adalah penyembahan berhala, dia mengatakan hal yang sama. Ketamakan atau keserakahan

adalah cinta akan uang. Kalau kita mencintai uang, kita menyembahnya dan menyembah roh jahat yang berada di balik uang tersebut. Nama Mamon seringkali dipergunakan sebagai sinonim atau kata lain dari uang atau kekayaan. Cinta akan uang yang terus menerus membawa seseorang ke dalam ketaatan langsung terhadap yang mendiktekan, yaitu kuasa setan, yang memiliki kekuasaan rohani. Sikap yang salah terhadap uang merupakan bahaya bagi seorang pemimpin Kristen. Memiliki uang tidak membahayakan. Sebaliknya, keinginan untuk memiliki semua uang akan mendatangkan dosa. 5. Uang Dapat Menjadi Berkat Allah memberkati umatNya dengan uang, seringkali memberi kepada mereka dengan berkelimpahan untuk melaksanakan maksudNya di bumi. Ketika umat Israel keluar dari Mesir, mereka membawa serta dengan mereka hampir semua emas dan perak. Sesudah sepuluh bala, orang-orang Mesir begitu tidak tahan lagi untuk melihat mereka pergi dan memberi mereka "emas, perak, serta kain-kain". (Kel 12:35). "DituntunNya mereka keluar membawa perak dan emas". (Mzm 105:37). a. Musa. Pada waktu Musa mendirikan Tabernakel (Kemah Sembahyang) di padang gurun, nilainya bermilyard-milyard rupiah, didirikan dengan persembahan sukarela dari umat Israel yang mempersembahkan semua harta kekayaan mereka untuk mendirikan Kemah Sembahyang tersebut. Ini merupakan satu contoh sempurna bagaimana Allah menghendaki untuk membiayai proyek-proyekNya. Dia memberkati umatNya dengan uang agar mereka dapat mempergunakannya untuk maksudNya. Allah seringkali membangkitkan orang-orang dan menjadikan mereka sangat kaya. Ayub sungguh sangat kaya. Dia mempunyai "tujuh ribu ekor kambing domba, tiga ribu ekor unta, lima ratus pasang lembu, lima ratus keledai betina, dan budak-budak dalam jumlah yang sangat besar, sehingga orang itu adalah yang terkaya dari semua orang di sebelah timur" (Ayb 1:3 tlb) b. Abraham dikenal disepanjang dunia kuno karena kekayaannya. Dia bahkan memiliki tentara pribadinya sendiri. c. Daud dan Salomo. Tidak seorangpun yang memiliki kekayaan lebih daripada Daud dan anaknya, Salomo. Kekayaan pribadi Salomo mencapai bermilyard-milyard rupiah. Allah mampu memberikan kekayaan kepada mereka karena mereka menggunakannya untuk kerajaan Allah.

Kekayaan mereka melayani mereka; mereka tidak melayani kekayaan mereka. Mereka mempergunakannya untuk maksud-maksud Allah, dan bukan untuk kepentingan mereka sendiri. Sungguh sayang pada akhir hidupnya hati Salomo menyimpang, karena dia mempunyai banyak isteri. 6. Pertanyaan Penting Untuk Ditanyakan Bagaimana hubungan anda dengan uang anda? Anda memiliki uang anda, atau uang anda yang memiliki anda? Anda atau Tuhan yang menentukan bagaimana anda mempergunakan uang anda? Adakah jumlah uang yang anda miliki menentukan kebahagiaan anda? gaya hidup anda? Bagaimana anda mempergunakan uang anda? Apakah anda memberi kepada Allah hanya kalau anda kelebihan? Jika anda tidak mempunyai banyak uang, apakah anda selalu memikirkannya? Dan memimpikannya untuk mendapatkan lebih banyak lagi? Apakah keinginan anda untuk uang mengontrol/menguasai anda? Kendatipun pertanyaanpertanyaan ini membuat kita tidak senang, tetapi membuat kita sadar bagaimana seharusnya kita bersikap terhadap uang kita. Hal ini sungguh benar teristimewa bagi mereka yang memimpin kawanan domba Allah. Tahukah anda bahwa ketamakan, atau cinta akan uang, menyebabkan jatuhnya banyak para pelayan Injil? Cinta akan uang merupakan salah satu dari tiga dosa yang paling sering menyebabkan jatuhnya para pelayan Tuhan (1. Wanita; 2.takhta; 3.harta) 7. Harta Dapat Menjadi Bahaya Memiliki uang dapat membangkitkan dosa-dosa dan kelemahan yang menggagalkan kita untuk membereskan di dalam kehidupan kita. a. Dosa dan Kelemahan Dapat Mengguncangkan. Paulus berbicara mengenai kebenaran hukum Allah, "Karena aku juga tidak tahu apa itu keinginan, kalau hukum Taurat tidak mengatakan: "Jangan mengingini. Tetapi dalam perintah itu dosa mendapatkan kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan (Rm 7:7). "Tetapi dalam perintah itu dosa mendapat kesempatan untuk membangkitkan di dalam diriku rupa-rupa keinginan; sebab tanpa hukum Taurat dosa itu mati". (Rm 7:8). Sama halnya dengan uang sebagaimana dengan Taurat. Paulus mendapatkan bahwa kebenaran dan perintah-perintah yang baik dari Taurat membangkitkan dosa yang ada di dalam dirinya. Uang itu sendiri tidak jahat. Tetapi pada waktu kita mempunyai uang, maka uang itu potensial sekali untuk membangkitkan ketamakan, pementingan diri sendiri dan keserakahan.

Pada saat Tuhan mulai memberkati seorang pendeta, dia akan melayani di dalam kuasa dan anugerah Allah. Berkat ini biasanya mendatangkan kenaikan pemasukan uang ke dalam gereja. Ketika pendeta itu terus menerima berkat dari Tuhan, maka sifat dosanya dapat saja timbul dan dia mulai menjadi tamak dan menyalahgunakan uang Tuhan. Uang yang diberikan kepadanya untuk kebaikan menjadi suatu godaan jahat dan merusak pelayanan dan pendeta itu sendiri. b. Kepentingan Diri Sendiri Akan Dinyatakan. "Tetapi," barangkali anda bertanya, "bagaimana saya dapat mengetahui apakah saya akan mempunyai masalah dengan uang banyak, kecuali saya memilikinya?" Saya dapat mengatakan apa yang dilakukan seseorang dengan jutaan dengan melihat apa yang dia lakukan dengan ribuan. "Barangsiapa setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkaraperkara besar. Dan barangsiapa tidak benar dalam perkara-perkara kecil, ia tidak benar juga dalam perkara-perkara besar." (Luk 16:10). Bagaimana anda menggunakan uang dalam jumlah kecil, menunjukkan bagaimana anda akan menggunakan uang dalam jumlah yang besar. Pada tahun 1950, ketika saya berada di pusat latihan untuk menjadi seorang utusan Injil, saya dipindahkan ke sebuah asrama yang disebut sebagai "tempat pengujian calon utusan Injil". Ada tujuh belas orang termasuk saya yang tinggal di asrama tersebut. Latihan untuk melayani sebagai tukang masak untuk minggu itu adalah membeli makanan. Setiap orang dianjurkan untuk memberikan iuran sekitar lima ribu rupiah perminggu untuk "dana persediaan makanan" Ini akan menyediakan sekitar delapan puluh lima ribu rupiah untuk uang belanja tujuh belas siswa selama satu minggu. Sesudah beberapa minggu, hanya tiga saja dari kami yang tujuh-belas ini yang masih terus memberikan iuran dengan setia untuk dana persediaan makanan. Semua yang lain memberikan macam-macam alasan mengapa mereka tidak memberikan iuran mereka. Hal ini sungguh mengesankan bagi saya, karena minggu itu adalah tanggung jawab saya untuk memberi makan sebanyak tujuh belas orang hanya dengan persediaan uang sebesar lima belas ribu rupiah. Dalam tahun itu, terjadi kebakaran hutan yang sangat parah tidak jauh dari tempat latihan tersebut dan siswa-siswa diminta untuk ikut membantu memadamkan api. Pekerjaan itu sungguh berat dan melelahkan, tetapi imbalan yang diberikan ternyata cukup lumayan. Mereka yang ikut membantu memadamkan api mendapat imbalan sekitar enam puluh ribu rupiah per harinya.

Ketika kobaran itu sudah dapat diatasi, beberapa dari siswa-siswa di asrama saya itu pulang dari berbelanja di kota dengan membawa kamera baru, senapan untuk berburu dan berbagai peralatan untuk menangkap ikan. "Sebagai utusan Injil kita akan memotret sebaik-baiknya, berburu sendiri dan menangkap ikan sendiri!" demikian bayangan pikiran mereka. Tetapi tahukah anda ketika mereka kembali pada kegiatan rutin sehari-hari di asrama pusat latihan, tidak ada lagi dari mereka yang memasukkan uang ke dalam "dana persediaan makanan" sebagaimana yang pernah mereka lakukan sebelumnya. Hanya tiga orang saja dari tujuh belas orang itu dapat menjadi utusan Injil. Saya yakin anda dapat menebak, siapa sajakah tiga orang itu. Walaupun mereka dapat memberikan alasan bahwa membeli kamera dan peralatanperalatan itu baik, pada dasarnya mereka sudah menunjukkan kepada orang lain, bahwa hati mereka sebenarnya dikuasai oleh sifat mementingkan diri sendiri, dan seorang yang mementingkan diri sendiri tidak pernah akan dapat menjadi seorang utusan Injil yang baik. 8.Tiga Kelemahan Yang Perlu Diperhatikan Biasanya tiga kelemahan inilah yang menunjukkan kepada kita, jika kita mempunyai masalah cinta akan uang: o mementingkan diri o penata layanan yang tidak baik, dan o tidak suka memberi kepada Allah a. Mementingkan Diri. Ada banyak pendeta di Amerika yang menggunakan uang Tuhan untuk membeli hal hal yang tidak perlu, seperti mobil dan rumah mewah, atau membangun gedung gereja yang sangat mentereng. "Allah menghendaki agar kita hidup seperti anak-anak Raja!" demikian kata mereka. Pemikiran demikian sama saja dengan pemikiran mementingkan diri seperti pemikiran kawan-kawan saya di pusat latihan utusan Injil tadi. Membeli kamera seharga seratus lima puluh ribu atau membangun rumah ibadah sampai multi milyard rupiah adalah sama saja; perbedaannya hanyalah dalam hal jumlah uang yang dipergunakan. Seorang pelayan Tuhan yang mengatakan, "Tidak ada sesuatupun yang terlalu baik bagi hamba Allah sementara dia mempergunakan uang Allah untuk hal-hal yang tidak perlu bagi dirinya, hanya membenarkan diri saja sehubungan dengan sifat mementingkan dirinya. Di pusat latihan untuk utusan Injil, dia lebih memilih untuk membeli kamera dari pada memasukkan uangnya ke "dana untuk persediaan makanan".

Seorang yang setia dengan hal yang kecil, akan setia dengan hal yang besar, dan seorang yang tidak setia dalam hal yang kecil juga tidak akan setia dengan jumlah yang banyak. Apakah anda ingin mengetahui bagaimana anda akan mempergunakan sejumlah uang yang besar jika Tuhan akan memberikannya kepada anda? Lihat saja cara bagaimana anda menggunakan apa yang ada pada anda sekarang. Jika anda lebih mementingkan diri dengan apa yang anda miliki sekarang, anda juga akan lebih mementingkan diri dengan puluhan juta rupiah yang akan dipercayakan pada anda. Kecuali anda bertobat, uang akan selalu menjadi masalah bagi anda, tidak peduli berapa besar atau kecil jumlahnya. b. Penata layanan Yang Tidak Baik. Cara kedua kita dapat membedakan apakah kita mempunyai masalah dengan cinta akan uang adalah kegagalan kita untuk menyadari bahwa apa yang kita miliki bukanlah milik kita sendiri. Ciri dari Gereja mula-mula adalah, "tidak seorangpun yang berkata, bahwa sesuatu dari kepunyaannya adalah miliknya sendiri" (Kis 4:32). Apa yang kita miliki adalah milik Allah dan kita hanyalah juru kunciNya. "Yang akhirnya dituntut dari pelayan-pelayan yang demikian adalah, bahwa mereka ternyata dapat dipercayai" (1Kor 4:2). Satu hari kelak kita harus memberikan pertanggungan jawab kepada Allah tentang cara bagaimana kita mempergunakan apa yang telah Dia percayakan kepada kita: bukan hanya uang, tetapi juga talenta, waktu dan hubungan, semua akan berada di bawah penelitian cermat dari FirmanNya. Jika hal ini sungguh menguasai kita sebagaimana seharusnya, maka pemikiran kita akan benar dan tidak tergoyangkan sedikitpun sebagaimana kenyataan yang dimiliki oleh orang-orang pada Gereja mula-mula terhadap Tuhan. Tidak perlu banyak usaha untuk meyakinkan kita bahwa Allah menghendaki agar kita mempergunakan uang, semua sebagaimana yang dikehendaki oleh hati dan pikiran kita secara duniawi untuk mempergunakan uang itu. Tetapi bila kita menyadari bahwa kita akan berhadapan dengan pandanganNya yang senantiasa menyelidik, yang mengetahui segala sesuatu dan yang kepadaNya kita akan memberikan pertanggungan jawab, maka alasan-alasan yang kita kemukakan untuk tidak mempergunakan bagiNya nampak sedikit lemah. Sangat mudah bagi kita untuk beranggapan bahwa hal-hal yang kita inginkan itu sama dengan apa yang kita perlukan dan kehilangan kemampuan untuk melihat perbedaannya. Marilah kita berdoa agar Tuhan berkenan menolong kita untuk senantiasa memelihara perspektif yang benar sehubungan dengan hal ini.

c. Tidak Memberi Kepada Allah. Akhirnya, merupakan bukti yang jelas bahwa kita mencintai uang, jika kita gagal untuk belajar rajin dan berdisiplin di dalam hal memberi. Kesetiaan di dalam memberikan perpuluhan dan persembahan bukanlah suatu pilihan di dalam kerajaan Allah. Jika anda belum memberikan perpuluhan, mulailah memberi perpuluhan dengan segera. Sepuluh persen dari segala sesuatu yang anda terima adalah milik Allah. Rajinlah di dalam hal ini, karena gagal dalam melakukan hal ini sama saja dengan merampok Allah (Mal 3:8-10). Dia tidak memberkati "pencuri-pencuri" di dalam pelayanan. Kita seringkali berpikir, "Uang saya sedikit sekali dan banyak kebutuhan jadi saya tidak dapat memberikan perpuluhan." Yang benar adalah bahwa kita tidak bersedia memberikan perpuluhan. Pertanyaan yang sebenarnya menurut Mal 3:9 adalah: "Apakah aku menginginkan 100% penghasilanku dengan kutukan ataukah 90% dari penghasilan dengan disertai berkat?" Sekali kita mulai memberikan perpuluhan, kita perlu mulai untuk memberikan persembahan tambahan. Yesus berkata, "Berilah dan kamu akan diberi: suatu takaran yang baik, yang dipadatkan, yang digoncang dan yang tumpah keluar akan dicurahkan ke dalam ribaanmu. Sebab ukuran yang kamu pakai untuk mengukur, akan diukurkan kepadamu" (Luk 6:38). Yesus berbicara mengenai prinsip yang sangat penting di dalam pernyataannya mengenai hal memberi tersebut. Jika anda memberi kepada pekerjaan Tuhan sebanyak satu sendok teh, maka Allah akan memberkati anda sebanyak satu sendok teh juga. Jika anda memberi pada pekerjaan Tuhan secangkir penuh, maka Allah juga akan memberkati secangkir penuh; jika anda memberi pada pekerjaan Tuhan seember penuh, maka Tuhan juga akan memberkati anda seember penuh. "Sebab ukuran yang kamu pakai untuk memberi besar atau kecil akan dipakai mengukur kembali untuk kamu." Ketika saya berada di Papua Nugini beberapa tahun yang lalu, saya menantang para utusan Injil dan pendeta-pendeta Nasional untuk mengajar kepada orang- orang Kristen di situ memberi perpuluhan dan persembahan. "Oh!" mereka berkata, "Orang-orang di sini terlalu miskin untuk memberi!" Meskipun Papuan Nugini bukan salah satu negara yang terkaya di dunia, tetapi keadaannya lebih baik dari negara-negara kebanyakan lainnya. Saya tidak melihat adanya orang-orang yang kelaparan, sebagaimana yang saya saksikan di banyak bangsa lain. Orang-orang di Papuan Nugini berpakaian bagus dan nampak dalam keadaan sehat.

Saya berkata kepada para pemimpin, "Masalahnya bukanlah kemiskinan finansiil. Tetapi kemiskinan rohani. Orang-orang akan menjadi seperti anda, para pemimpin. Anda tidak punya iman untuk memberi karena itu orangorang juga tidak punya iman untuk memberi."

D. MEMBERI: SUMBER DARI BERKAT-BERKAT ALLAH Memberi adalah masalah iman, bukan masalah apa yang kita miliki. Sebagai contoh, berikut ini prinsip rohani yang dapat membuat anda tidak setuju, kecuali anda mempunyai iman. Sesudah anda memberikan seribu rupiah untuk perpuluhan dari pendapatan anda sebesar sepuluh ribu rupiah, maka sisa yang sembilan ribu rupiah itu dengan berkat Allah atasnya akan mencukupi semua kebutuhan anda daripada sepuluh ribu rupiah tanpa berkat Allah. (Periksalah ulang dan baca sekali lagi) Tidak ada guru matematika di dunia ini (kecuali dia adalah orang Kristen yang tahu memberikan perpuluhan) akan menyetujui prinsip ini. Pengertian alami manusia akan mengatakan, "Sepuluh ribu rupiah akan lebih mencukupi kehidupan anda, daripada sembilan ribu rupiah." Hal ini benar kecuali mujizat Allah dalam hal melipat gandakan jumlah sembilan ribu rupiah yang masih sisa. (Hal itu akan terjadi, jika anda memberikan perpuluhan secara teratur) Ketika seorang anak kecil di dalam Alkitab memberi dengan iman kepada Yesus lima ketul roti dan dua ekor ikan, yang dia berikan adalah semua yang dipunyainya. (Yoh 6:9). Apa yang terjadi dengan anak kecil itu? Apakah dia kelaparan? Tidak! Ketika Yesus memberkati persembahan kecil itu, maka lima ketul roti dan dua ekor ikan itu memberi makan cukup sebanyak lima ribu orang, dan anak kecil tadi! Kemudian Yesus menyuruh untuk mengumpulkan kembali sisa roti dan ikan yang masih ada dan terkumpullah dua belas bakul penuh. Si anak kecil memberi lima ketul roti dan dua ekor ikan dan mendapatkan kembali dua belas bakul roti dan ikan. Begitulah cara Allah melipat gandakan kembali berkat dan kekayaan kepada si pemberi. Saya menjelaskan prinsip ini kepada para pemimpin di Papuan Nugini. Saya minta kepada mereka, kalau diijinkan saya akan berkhotbah mengenai hal persembahan pada kebaktian Minggu pagi, sesudah diadakan pungutan persembahan. Mereka setuju. Mereka mengumpulkan persembahan minggu pagi dan sekitar dua ratus ribu rupiah diberikan oleh sebanyak dua ratus orang yang hadir pada jam itu.

1. Iman dan Memberi. Saya berdiri dan menjelaskan kepada orang-orang bahwa Allah meminta kepada kita untuk memberi karena Dia ingin memberkati kita. Allah bukannya miskin atau kekurangan, Dia tidak memerlukan uang kita tetapi, kita memerlukan berkat-berkatNya. "Tetapi tanpa iman tidak mungkin berkenan kepada Allah, karena barangsiapa berpaling kepada Allah, ia harus percaya" (Ibr 11:6). Kita tidak akan pernah memiliki berkat-berkatNya tanpa iman. Allah meminta kepada kita untuk memberi dengan maksud mengajar kita beriman. Diperlukan iman untuk memberi. Karena itu kalau kita memberi, kita melatih iman kita. Hal ini memperkenankan Allah, karenanya Dia memberkati kita. Jika anda tidak memerlukan berkat-berkat Allah, jika anda tidak menginginkan berkat-berkat Allah, maka jangan memberi. Simpan saja uang anda, dan kutuk yang menyertai ketiadaan iman akan menjadi bagian anda. Sebaliknya anda dapat memberikan uang anda kepada Allah dan menantikan Dia " membukakan bagimu tingkap-tingkap langit, dan mencurahkan berkat kepadamu sampai berkelimpahan" (Mal 3:10). a. Mempraktekkan Prinsip Tersebut. Sesudah berkhotbah saya bertanya kepada orang-orang, "Jika pagi ini saya mengkhotbahkan keselamatan, apa yang kalian harapkan dari saya untuk saya lakukan selanjutnya?" Mereka berkata, "Bapak akan memberi kesempatan pada orang-orang berdosa untuk memperoleh keselamatan." Saya bertanya lagi kepada mereka, "Jika saya berkhotbah mengenai kesembuhan pagi ini, apa yang kalian kehendaki untuk saya lakukan selanjutnya?" Mereka menjawab, "Engkau harus berdoa untuk yang sakit dan memberi kesempatan kepada mereka untuk disembuhkan." Kemudian saya lanjutkan, "Pagi ini saya sudah berkhotbah mengenai persembahan, apa yang harus saya lakukan?" "Ambil persembahan!" mereka berteriak. Itulah yang saya lakukan. Ketika persembahan selesai dipungut dan dihitung, jumlah persembahan seluruhnya adalah satu juta dua ratus ribu rupiah. Ini berarti enam kali dari persembahan yang pertama, dan jumlah sebanyak itu diberikan oleh "orang-orang Papuan Nugini yang miskin!" Saya berkata kepada para pemimpin, "Anda lihat sekarang! Sebab-sebab mengapa orang-orang tidak memberi adalah karena mereka menantinantikan anda mengajar kepada mereka Firman Allah. "Iman datang melalui

pendengaranyaitu Firman Allah" (Rm 10:17). Pada waktu iman mereka bekerja, mereka akan memberi. Saya mengulangi hal ini lagi di gereja kedua di pedalaman dengan hasil yang sama. Para utusan Injil dan pemimpin-pemimpin Nasional sungguh takjub melihat betapa besarnya jumlah persembahan, manakala orang-orang itu memberi di dalam iman. b. Perpuluhan Ganda. Allah menantang saya untuk memberikan perpuluhan ganda (20% dari penghasilan pribadi), ketika saya mendapat gaji sekitar sepuluh ribu rupiah per minggu (di gereja pertama yang saya gembalakan). Melalui pengalaman itu, saya belajar prinsip-prinsip yang baru saja saya bagikan kepada anda. Allah menepati FirmanNya kepadaku. Dia memberkati saya, keluarga saya dan pelayanan saya dengan begitu banyak mujizat penyediaan dariNya sampai saya tidak dapat mengingat semua berkat itu. 2. Ukuran Pemberian Kita Pemberi terbesar di dalam Alkitab adalah seorang janda yang hanya memiliki dua peser dan dia memberikannya. Yesus berkata, " sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu" (Luk 21:3). Allah mengukur pemberian kita dengan apa yang masih ada pada kita, bukan berdasarkan apa yang kita masukkan dalam persembahan. Saya sudah bertemu dengan banyak pemimpin gereja di seluruh dunia yang menghendaki anggota-anggota mereka mendukung mereka dan gereja. Tetapi mereka sendiri tidak memberikan perpuluhan ataupun persembahan. Mereka mengeluh tentang bagaimana mereka selalu saja kekurangan. Tidak heran! Mereka tidak akan pernah memiliki berkat-berkat yang dijanjikan kepada para pemberi sampai mereka mempraktekkan apa yang mereka khotbahkan. Ketamakan dapat dengan mudah menguasai kita jika kita tidak belajar mengenai prinsip yang penting ini di dalam perekonomian kerajaan: "Berilah, maka akan diberikan kepadamu!" Jika kita mempertahankan kehidupan kita, dapat dipastikan kita akan kehilangan kehidupan itu, (Luk 17:33) dan jika kita mempertahankan uang kita, akan berakhir dengan kehilangan uang itu juga. Dengan memberikan apa yang kita punyai kita akan mengalami peningkatan dari Allah seperti yang belum pernah kita alami sebelumnya. Banyak dari kita mempunyai sedikit sekali karena kita tidak murah hati dengan apa yang kita punyai. Yesus berkata, "Berilah, maka kamupun akan

diberi." Tidak ada cara yang lebih baik untuk mengalahkan ketamakan selain belajar memberi dengan murah hati dengan apa yang anda miliki. 3. Prinsip-Prinsip Kerajaan Sikap kita terhadap uang adalah sangat penting. Jika kita setia untuk belajar dan mengamati beberapa prinsip dasar perekonomian kerajaan, kita akan melihat bagaimana masalah-masalah keuangan kita mulai lenyap. a. Semua Uang Adalah Milik Allah"tuhanlah yang empunya bumi serta segala isinya!" (Mzm 24:1 50:12). "KepunyaanKulah perak dan kepunyaanKulah emas, demikianlah Firman Tuhan semesta alam" (Hag 2:9). Bahkan uang yang dimiliki oleh orang-orang berdosapun pada dasarnya adalah milik Tuhan dan pada suatu saat nanti akan dialihkan kepada umat Allah. (Hag 2:8,9 Ams 13:22 28:8). Allah menjadikan segala sesuatu yang bernilai dan tidak pernah melepaskan tanggung jawab pemilikan terhadap semuanya itu. Di dalam dunia yang jatuh dan dikuasai oleh dosa ini, hampir semua kekayaan dikuasai oleh orang-orang berdosa. Hal ini karena sistem dunia berada di bawah kontrol penguasa-penguasa yang jahat secara rohani. Tetapi satu saat kelak Allah akan berfirman dan semua kekayaan dunia akan dicurahkan ke dalam kerajaan Allah. b. Allah Memberi Kepada Kita Uang. Tuhan sudah berjanji untuk memelihara anak-anakNya dengan makanan, pakaian, tempat tinggal dan kebutuhan-kebutuhan hidup yang lain. Kita menjalankan tugas kita sebagai pelayan kepada Tuhan. Allah menyediakan penghasilan kita melalui pekerjaan kita. Allah memberi kita uang agar kita memiliki cukup untuk melaksanakan maksudNya di muka bumi. Kita harus menggunakan uang yang Ia berikan dengan kebijaksanaan juru kunci yang baik. Tetapi sering kita membalikkan hal ini. Ia ingin kita mempergunakan uang sebagai alat untuk mengasihi sesama, tetapi sering kita mengasihi uang kita dan justru memperalat sesama kita. Dapatkah anda membayangkan apa yang akan terjadi jika kita semua mulai menyerahkan diri kita pada pimpinan Tuhan sehubungan dengan cara kita mempergunakan uang yang Allah sudah percayakan di tangan kita? Jika kita semua sebagai orang-orang Kristen bekerja keras dan memperoleh uang sehingga kita dapat mempraktekkan kemurahan hati di antara satu dengan yang lain, tidak akan ada kekurangan lagi di antara umat Allah, di manapun!

c. Salah satu dari keduanya, entahlah Allah atau cinta akan uang yang akan menentukan bagaimana kita akan hidup dan melayani. Ada sejumlah besar pemimpin gereja yang memutuskan di mana dan untuk siapa mereka akan mengajar dan berkhotbah berdasarkan berapa banyak jumlah yang dibayarkan kepada mereka untuk pelayanan-pelayanan mereka. Inilah yang disebut oleh Yesus sebagai "orang upahan" di dalam Yohanes pasal 10. Seorang "upahan" menjalankan pekerjaannya berdasarkan upah yang dibayarkan kepadanya. Dia tidak punya komitmen atau pengabdian kepada domba-domba yang berada di bawah pemeliharaannya. Dia hanya memperhatikan jumlah yang akan diterimanya. Tidak ada yang lebih tidak etis. Tidak ada yang lebih merusak, selain taktik sedemikian dan mereka banyak tersebar di mana-mana. Praktek-praktek sedemikian segera saja menunjukkan mana yang "upahan" dan mana "yang mengupah" dan kedua-duanya akan mengambil tanda dari binatang itu. " dan tidak ada seorangpun yang dapat membeli(mengupah) atau menjual(orang upahan) selain dari mereka yang memakai tanda itu, yaitu nama binatang" (Why 13:17). "Lalu aku melihat takhta-takhta dan orang-orang yang duduk di atasnya; kepada mereka diserahkan kuasa untuk menghakimi. Aku juga melihat jiwajiwa mereka, yang telah dipenggal kepalanya karena kesaksian tentang Yesus dan karena Firman Allah; yang tidak menyembah binatang itu dan patungnya dan yang tidak juga menerima tandanya pada dahi dan tangan mereka; dan mereka hidup kembali dan memerintah sebagai raja bersamasama dengan Kristus untuk masa seribu tahun". (Why 20:4). 1) Tidak Ada Orang Upahan. Tidak ada pengupah atau orang upahan di dalam kumpulan pemerintahan kudus pada waktu itu. "Para pedagang" keagamaan ini akan menjadi bagian dari orang-orang mati yang hidup kembali manakala pemerintahan seribu tahun sudah berakhir. Mereka akan dibangkitkan pada waktu itu untuk memberi pertanggungan jawab di hadapan Dia, "yang menghakimi orang yang hidup dan yang mati". Paulus bertanya, "Siapakah yang dianggap layak untuk memberitakan Injil?" Dia menjawab pertanyaannya di dalam kata-kata ini, "Hanya mereka, sebagaimana halnya kita, orang-orang yang memiliki ketulusan dan pengabdian, yang diutus oleh Allah, berbicara dengan kuasa Kristus." "Kami tidak seperti orang-orang memberitakan Injil dengan maksud-maksud untuk mencari keuntungan, dan orang-orang seperti itu jumlahnya tidak sedikit" (2Kor 3:17 tlb) Begitu banyak yang mau "menjual belikan" Firman Allah.

Zakharia menubuatkan mengenai hari penuh kemuliaan ketika "segala kuali di Yerusalem dan di Yehuda akan menjadi kudus bagi Tuhan semesta alam; semua orang yang mempersembahkan korban akan datang mengambilnya dan memasak di dalamnya. Dan tidak ada lagi pedagang di rumah TUHAN semesta alam pada waktu itu." (Za 14:21). Imam-imam yang korup pada zaman Zakharia mengadakan "transaksi" dengan pedagang-pedagang lokal untuk menjual "binatang-binatang yang ditetapkan sebagai korban persembahan kudus" dan kuali-kuali yang dipergunakan untuk mempersiapkan korban di Bait Allah. Imam-imam yang korup ini mendapat "bagian" dari setiap penjualan. Terhadap pedagang-pedagang korup inilah Zakharia menegur habis-habisan (sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus lima abad kemudian). Tidak pernah Yesus menunjukkan kemarahan sedemikian seperti yang Dia lakukan terhadap mereka yang "berjual-beli di Bait Allah". Dia mengambil cambuk dan mengusir mereka ke luar. "RumahKu akan disebut rumah doa bagi segala bangsatetapi kamu telah menjadikannya sarang penyamun" (Mrk 11:17). Pada awal dan akhir pelayananNya, Yesus menyucikan Bait Allah, dengan mengusir keluar "pedagang-pedagang," yang berjual beli di dalamnya. Saya percaya ini adalah nubuatan mengenai zaman gereja. Oleh karena itu, wahai para pemimpin WASPADA! "Dengan tidak memandang lagi zaman kebodohan, maka sekarang ini Allah memberitakan kepada manusia bahwa di mana-mana semua harus bertobat!". (Kis 17:30). Pendeta-pendeta dan penginjil-penginjil Nasional, jangan menjual karunia anda kepada siapapun, tidak peduli berapapun dia mau membayar untuk anda. Seorang hamba Allah yang sejati akan selalu berkata kepada para pengupah tersebut, "Binasalah kiranya uangmu itu bersama dengan engkau, karena engkau menyangka bahwa engkau dapat membeli karunia Allah dengan uang" (Kis 8:20). 2) Carilah Dahulu Kerajaan Allah. Allah akan memelihara anda. Jika anda bersedia untuk "mencari terlebih dahulu Kerajaan Allah dan kebenarannya, maka semuanya itu akan ditambahkan kepadamu." (Mat 6:33). Seorang pekerja layak mendapat upahnya tetapi tidak harus menjadi seorang upahan. Seorang gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-domba. Orang upahan melihat serigala (si pengupah) datang dan meninggalkan domba-domba. (lihat Yoh 10:12-13).

Ini tidak terbatas pada para pemimpin gereja. Banyak orang Kristen yang bukan pemimpin memilih ke mana mereka hidup, dan apa yang akan mereka lakukan dengan kehidupan itu, berdasarkan jumlah uang yang diberikan kepada mereka. Mereka tidak "mencari terlebih dahulu kerajaan Allah" ataupun kehendak Allah di dalam hal ini. Menurut Yesus, itulah cara hidup orang-orang yang tidak beriman. Hal itu adalah dosa. Jika anda hidup dengan cara itu, anda akan kehilangan kehendak Allah. 4. Allah Rindu Untuk Memberkati Kita. Yesus berkata jika kita mencari kerajaanNya terlebih dahulu, Dia akan menambahkan segala sesuatu. Mungkin saja Dia menguji kita untuk sementara waktu, tetapi Dia akan memberkati mereka yang menempatkan Allah dan kerajaanNya sebagai yang pertama di dalam kehidupan mereka. Allah menghendaki agar kita baik-baik (kecukupan/kelimpahan) di dalam setiap dimensi kehidupan kita (3Yoh 2). Tetapi, sering kita menghalangi terjadinya kelimpahan dalam keuangan kita karena kita melanggar ketentuan-ketentuan yang merupakan prinsip- prinsip dasar di dalam hal mempergunakan uang kita. Salah satu sebab beberapa mengalami kemiskinan dan kekurangan adalah karena kegagalan mereka untuk memberikan uang bagi pekerjaan Allah, kuatir akan semakin kekurangan jika mereka memberi untuk penyebaran Injil. Kebebasan yang sebenarnya dari masalah keuangan akan terjadi hanya jika kita mempergunakan uang kita sesuai dengan cara Allah. a. Praktekkanlah Prinsip-Prinsip Kerajaan. Di lain pihak, para pendeta di negara-negara yang boleh dikatakan paling miskin di dunia menyaksikan bagaimana Allah memberkati mereka dan jemaat yang mereka gembalakan dalam hal keuangan. Mengapa? Karena mereka mempraktekkan prinsipprinsip keuangan kerajaan sebagaimana diketengahkan di atas, dengan memberi dari kekurangan mereka dengan penuh sukacita. Cara untuk menyebabkan terjadinya hal ini pertama-tama adalah mulai memberikan persembahan perpuluhan kepada gereja lokal, dan memberi kepada dana pengutusan Injil, atau orang-orang maupun organisasi Kristen yang memerlukannya. Ubahlah doa-doa anda dari doa-doa yang hanya mementingkan diri sendiri dan mulailah berdoa kepada Allah untuk memohonkan berkat bagi orang lain. Bukankah sehubungan dengan hal ini, Yakobus mengatakan, "Atau kamu berdoa juga, tetapi kamu tidak menerima apa-apa, karena kamu salah berdoa, sebab yang kamu minta itu hendak kamu habiskan untuk memuaskan hawa nafsumu." (Yak 4:3).

Allah tidak akan menjawab doa-doa kita untuk sejumlah tambahan uang jika kita hanya bermaksud untuk menghabiskannya bagi kepentingan diri kita sendiri. Dia hanya akan memberikan sumber yang lebih besar kepada kita kalau kita sudah bertobat dari kepentingan diri sendiri dan menjadi pribadipribadi yang suka memberi.

E. KESIMPULAN Ketamakan adalah penyembahan berhala karena bila kita dikuasai oleh ketamakan, kita melayani apa yang menjadi keinginan kita sebagai hal yang pertama. Jadi lebih mentaati apa yang dikatakan oleh daging daripada pimpinan Tuhan. Ketamakan adalah cara yang halus untuk menempatkan sesuatu sebelum Allah di dalam kehidupan kita. Kita menempatkan kemauan diri kita sendiri lebih dahulu dari kepentingan Allah dan orang-orang lain, dan secara bodoh kita menjadi budak Mamon. Kita harus menghadapinya dengan jujur; Kita adalah tamak sampai pada tingkatan kita mengijinkan cinta akan uang menguasai kita. Cinta akan uang adalah akar dari segala kejahatan. Dengan membiarkan uang memerintah kita untuk apa yang harus dikerjakan, kita menolak untuk mendengarkan Allah terlebih dahulu. Jika bukan Allah sebagai yang mengajar kita bagaimana cara mempergunakan uang, maka setan yang akan mengajar kita! Perekonomian dunia ini didasarkan atas ketamakan. Hampir semua penyebab peperangan adalah ketamakan dari bangsa-bangsa. Hampir semua tindak kejahatan merupakan akibat dari seseorang yang mau memuaskan ketamakannya dengan mengorbankan orang lain. Kelompok-kelompok utama dari penduduk dunia ini terbagi-bagi menurut pendekatan mereka terhadap sistem perekonomian. Tetapi orang Kristen dapat dibebaskan dari kontrol dunia untuk keuangannya bila ia setia untuk berjalan sesuai dengan prinsip-prinsip perekonomian Allah. Marilah kita lihat kembali secara singkat: 1. Putuskan untuk melayani Allah dan bukan Mamon! Yesus menjelaskan hal ini: "Kalian tidak dapat melayani Allah dan Mamon." Anda harus memilih salah satu. Putuskan sekali untuk selama-lamanya, bahwa anda tidak akan memberi ijin kepada keuangan untuk mengontrol setiap keputusan yang anda buat. Aturlah keuangan anda berdasarkan doa sebagaimana yang anda lakukan dengan bagian-bagian lain dari kehidupan dan pelayanan anda.

2. Bertindaklah tegas terhadap setiap unsur cinta akan uang yang ada dalam hidup anda! "Cinta akan uang adalah akar dari semua kejahatan". (1Tim 6:10). Sampai tingkatan mana cinta akan uang diberi kesempatan untuk tetap ada di dalam diri anda, si jahat akan selalu hadir di dalam kehidupan anda. Jika anda mencintai uang, anda membuka diri pada aktivitas kuasa setan yang berdiri di belakangnya. Paulus menasehati Timotius "jauhkanlah dirimu dari semua hal itu, hai manusia Allah" (1Tim 6:11). 3. Ambillah ketetapan untuk hidup sesuai dengan prinsip-prinsip Allah sehubungan dengan hal keuangan! Kebebasan keuangan hanya dapat dialami oleh mereka yang taat kepada Anak Allah, yang sungguh-sungguh membebaskan. Mulailah berjalan di dalam kuasa kerajaanNya dengan mengikuti prinsip-prinsip Allah sepenuhnya: Memberi!"berilah dan kepadamu akan diberi!" Tetapkanlah sekali dan untuk selamanya untuk mematahkan kutuk kemiskinan dengan memberikan persembahan perpuluhan, entah anda merasa dapat atau tidak untuk melakukannya. Sepuluh persen adalah milik Allah dan jika anda gagal untuk memberikannya dengan rajin dan tekun, maka "perusak" itu akan datang dan merampasnya dari anda dengan harga pengumpulan yang lebih tinggi di atasnya. Persembahan secara sukarela merupakan bagian lainnya yang penting yang Allah kehendaki untuk anda praktekkan. Bermurah hatilah terhadap orang lain, maka Allahpun akan bermurah hati terhadap anda. 4. Jangan Menjadi Seorang Upahan! Taatilah Tuhan dan carilah petunjuk dari padaNya dan bukan dari "Pengupah-pengupah" yang akan merusak anda dan pelayanan anda. Jangan jatuh iman. Allah adalah setia. Dia akan menyediakan semua kebutuhan anda. Pokoknya janganlah biarkan sejumlah uang yang ditawarkan kepada anda menentukan bagaimana anda akan hidup atau melayani. Jangan jadi orang upahan! Jadilah hamba Allah, dan jangan menjadi hamba uang! Kita hanya dapat melayani satu illah! Entahkah itu Yesus atau Mamon? Anda harus menentukan pilihan, karena anda tidak dapat melayani Allah dan Mamon! Naikkanlah doa-doa berikut ini

Tuhan Yesus, aku berterima kasih kepadaMu, karena Engkau setia dan telah berjanji untuk memberi segala sesuatu yang aku butuhkan untuk kehidupan ini dan untuk kehidupan yang baik di dalam Engkau. Terima kasih bahwa Engkau sudah menunjukkan kepadaku, bahwa dengan melayani uang, sebenarnya aku melayani setan. Aku menegaskan dihadapanMu sekarang ini juga bahwa Engkau sajalah Allahku. Aku memilih mempercayai Engkau untuk segala kebutuhanku. Aku tahu Engkau akan menyediakan semuanya, jika aku melayani Engkau dengan uang yang ada padaku. Tuhan, aku mempercayaiMu untuk kekuatan dan anugerah yang kubutuhkan untuk memelihara komitmen ini terhadap kehendak Allah. Terima kasih untuk langkah-langkah memperoleh kebebasan keuangan yang sejati ini. Di dalam nama Yesus. Amien!

Bab 9 Menerima Tiga Macam Urapan Pendahuluan Allah menghendaki saudara menjadi seorang yang mendatangkan hasil dan pengaruh yang besar dalam dunia saudara! Tetapi bagaimana saudara dapat menjadi pemimpin yang demikian? Pasal-pasal terdahulu sudah memusatkan pada hal-hal praktis di mana para pemimpin harus menyesuaikan hidupnya dengan standard Alkitab. Dari sinilah kita memulainya. Kita harus benar dalam soal uang, hidup dengan rendah hati, dan menolak kompromi moral. Tetapi meskipun sudah melakukan itu semua, kita masih dapat gagal untuk menjadi berhasil di dalam pelayanan kita. Bukan pendidikan, bukan juga kemampuan dan keahlian khusus yang akan mendatangkan kepada pelayanan saudara, kuasa yang harus dipunyai untuk merubah dan membaharui kehidupan banyak orang. Lalu apa? Urapan sepenuh dari Roh Kudus saja yang memberikan kepada saudara urapan suci surgawi yang diperlukan untuk mewujudkan fungsi saudara. Allah sudah menjadikan kita "suatu kerajaan dan imam-imam bagi Allah". (Why 1:6). Dia ingin agar kita memiliki kuasa raja-raja dan kesucian imamimam. Kita harus mengalami urapanNya secara penuh untuk memiliki hal ini. Di dalam bagian ini saya akan menunjukkan kepada saudara bagaimana "urapan itu" akan membawa kelepasan, kekuatan dan keselamatan bagi umat Allah. Hal itu terjadi "Melalui Urapan" Kristus di dalam bahasa Gerika (dan Mesias di dalam bahasa Ibrani) berarti "Yang Diurapi". Yesus memperkenalkan pelayananNya dengan memproklamirkan, "Roh Tuhan ada padaku, oleh sebab Ia telah mengurapi Aku, untuk memberitakan pembebasanuntuk memulihkan kembali penglihatan orang-orang butauntuk membebaskan" (Luk 4:18,19). Yesus menjadikan hal itu jelas, dan hal itu terjadi karena Roh Tuhan mengurapi Dia; hal itulah yang menyebabkanNya mampu untuk memiliki pelayanan yang berhasil. Ketentuan yang sama berlaku untuk Saudara dan saya. Yesaya berbicara mengenai kuasa yang membebaskan dari urapan ini di dalam kata-kata, "beban yang menindas akan dihancurkan karena urapan" (Yes 10:27). Ada sebuah nyanyian yang indah yang bertolak dari perkataan ini: Melalui urapan, Yesus mematahkan kuk yang menekan,

Melalui Roh Kudus dan kuasa, sebagaimana dikatakan para nabi. Ini adalah hari dari hujan akhir, Tuhan bekerja dengan penuh kuasa lagi, Dan urapan akan mematahkan kuk yang menekan. Oh! Sungguh hal itu benar! Kita harus memiliki Roh Kudus yang datang atas kita dan memberi pada kita urapan penuh untuk memimpin umat Allah dan menggenapi kehendak Allah di dalam generasi kita. Apakah urapan ini? Apa yang Alkitab katakan sehubungan dengan hal itu? Bagaimana urapan itu datang atas pemimpin-pemimpin pada berbagai angkatan yang sudah lewat?

A. TIGA JENIS URAPAN Kita mengenal adanya tiga urapan khusus dari Perjanjian Lama: o Urapan untuk penderita kusta. o Urapan untuk Imam dan o Urapan untuk Raja. 1. Urapan untuk Penderita Kusta Penyakit kusta atau lepra merupakan penyakit yang paling mengerikan pada zaman Palestina kuno. Keadaan yang menakutkan ini secara perlahan-lahan menguasai tubuh korban tanpa dapat dicegah lagi. Pada akhirnya jari-jari tangan dan kaki serta bagian-bagian penting lainnya dari kaki dan tangan akan mati, membusuk dan terlepas. Si penderita kusta yang malang itu dikucilkan oleh masyarakat. Untuk mencegah orang lain datang mendekatinya, maka ke mana saja ia pergi penderita kusta ini diminta untuk berteriak, "NAJIS, NAJIS!" Korban dari penyakit yang mengerikan ini hanya dapat mengharapkan kematian yang menyakitkan secara perlahan-lahan. Kusta merupakan gambaran dari dosa, suatu contoh pelajaran yang melaluinya Roh Kudus secara dramatis menggambarkan akibat dari dosa yang mengerikan di dalam kehidupan seseorang. Kusta menunjukkan dosa dan sifat setan yang sebenarnya. "Pencuri datang hanya untuk mencuri dan membunuh dan membinasakan". (Yoh 10:10). Kusta, sebagaimana halnya

dengan setan dan dosa, akan mencuri kehidupan kita, bahkan membunuh kita dan membinasakan pelayanan kita. a. Hukum Pentahiran. Seseorang mungkin bertanya-tanya mengapa Musa menetapkan ketentuan yang kelihatannya bertele-tele untuk pentahiran penderita kusta dan pemulihannya. Sesudah ketentuan-ketentuan tersebut dibuat, tidak dijumpai satu kasuspun di mana ada orang Israel yang disembuhkan dari penyakit kusta dalam sepanjang Perjanjian Lama. Lalu mengapa Allah memerintahkan Musa untuk menetapkan ketentuanketentuan tersebut? Alasannya adalah karena Allah menempatkan suatu pelajaran yang "tersembunyi" atau "pengertian rohani" di dalam ketentuan-ketentuan ini yang Dia kehendaki untuk kita pelajari. Marilah kita meneliti hal-hal yang telah diperinci dalam Imamat pasal 14. Hukum atau ketentuan yang dibuat oleh Musa untuk menyatakan bahwa si penderita kusta itu sembuh atau tahir, adalah gambaran Perjanjian Lama dari pentahiran Perjanjian Baru terhadap dosa melalui Yesus Kristus. Semua unsur dari pengalaman keselamatan kita ada di sana: 1. Penumpahan Darah. Seekor burung melambangkan kesalahan karena dosa. Penumpahan dan penggunaan darah (menggambarkan Yesus menumpahkan darahNya untuk menanggung dosa dan membayar hukuman bagi dosa kita). 2. Pertobatan dan pengakuan (menggambarkan apa yang harus kita lakukan untuk dibenarkan atau dinyatakan benar, pada waktu kita dilahirkan kembali). 3. Air yang mengalir (menggambarkan baptisan air). 4. Diurapi dengan minyak. Orang kusta diurapi dengan minyak. (menggambarkan pekerjaan Roh Kudus di dalam pengalaman keselamatan kita). b. Hukum Penyucian Harus Diterapkan Dalam Hidup Kita. Oleh karena itu, sebagaimana digambarkan di dalam ketentuan-ketentuan untuk pentahiran penderita kusta, maka pada saat kita percaya kepada Yesus, kita seharusnya: 1. Bertobat dari dosa. Bertobat (berpaling dari dosa dan pemberontakan kita lalu berbalik kepada Allah dan mentaati FirmanNya). 2. Akuilah dosa-dosamu. Mengakui dosa-dosa kita kepada Allah dan menerima pengampunanNya. Jika kita melakukan hal ini dengan sungguhsungguh dari dalam hati kita, kita diselamatkan (disembuhkan) dari dosa

3. Dibaptiskan Air. Selanjutnya kita mentaati Yesus dengan memberi diri dibaptiskan dalam air. 4. Terimalah Urapan Roh Kudus. Kita mengalami urapan Roh Kudus yang memberi kesaksian bersama-sama dengan roh kita bahwa kita adalah anakanak Allah. (Rm 8:16). c. Diurapi dengan Minyak. Mengurapi berarti menaruh minyak atas sesuatu atau memisahkan untuk maksud tertentu dengan mempergunakan minyak. Sesudah si penderita kusta diselamatkan dan mentaati ketentuanketentuan untuk pentahiran, dia mempersembahkan dirinya kepada imamimam Lewi untuk diurapi dengan minyak. Minyak adalah lambang Perjanjian Lama untuk Roh Kudus! Mengurapi seseorang dengan minyak menggambarkan Roh Kudus datang atasnya untuk suatu maksud khusus yang telah ditetapkan. Si penderita kusta, yang semula dijangkiti kusta yang mengerikan itu, pada waktu dilepaskan dari berbagai macam pengaruhnya, kemudian diurapi dengan minyak untuk menunjukkan bahwa dia sudah dipulihkan sepenuhnya untuk menempati kembali kedudukannya sebagai anggota dari keluarga Israel. Setiap orang berdosa mengalami urapan penderita kusta manakala dia dilahirkan kembali dari Roh. "Yesus menjawab, Dengan sesungguhsungguhNya Kuberitahukan kepadamu, bahwa kalau orang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah" (Yoh 3:5,6 tlb). Semua yang percaya kepada Yesus dan menyerahkan jalan hidup mereka kepada TuhanNya, mengalami ukuran tertentu dari urapan Roh Kudus. Rm 8:9 mengatakan, "Tetapi jika orang tidak memiiki Roh Kristus, ia bukan milik Kristus."1 Korintus 12:3 menambahkan, " dan tidak ada seorangpun, yang dapat mengaku, Yesus adalah Tuhan, selain oleh Roh Kudus." Ayat-ayat ini menunjukkan bahwa tidak seorangpun dapat dilahirkan baru tanpa mengalami pekerjaan dari Roh Kudus. Ada urapan yang penuh ketika seorang dibaptiskan oleh Roh Kudus, yang mana akan dibicarakan lebih lanjut dalam bagian "Urapan Raja". Urapan ini berbeda dengan pekerjaan awal dari keselamatan. Namun keduanya termasuk dalam pekerjaan dan pelayanan dari Roh Kudus. 1) Tiga Daerah Kehidupan Yang Terkena."imam harus mengambil sedikit dari darah tebusan salah itu dan harus membubuhnya pada cuping telinga

kanan dari orang yang akan ditahirkan, dan pada ibu jari tangan kanan dan pada ibu jari kaki kanannya." "Imam harus mengambil sedikit dari minyakharus membubuh sedikit pada cuping telinga kanan orang itu, pada ibu jari kaki kanannya, di tempat mana darah tebusan salah dibubuhkanDan apa yang tinggal dari minyak itu harus dibubuhkan pada kepala orang yang akan ditahirkan itu." (Im 14:14-18). Penting untuk diperhatikan bahwa darah tebusan salah dan urapan minyak ditempatkan pada telinga, tangan dan kaki. Ini menunjukkan bahwa keselamatan dan pengalaman urapan (kesembuhan kita dari kusta dosa) mempengaruhi tiga daerah penting di dalam kehidupan kita: a. Pendengaran Pendengaran kita terhadap suara Tuhan (telinga kita) b. Pelayanan Pelayanan kita terhadap Juru Selamat kita (kedua belah tangan kita) c. Perjalanan Perjalanan (tingkahlaku) kita bersama Dia (kaki kita). Jika kita tidak mendengar suaraNya (lihat Bab 2), pelayanan kita tidak akan berbuah-buah. Jika kita tidak mengikuti Yesus di dalam pelayanan, maka perjalanan hidup kita dengan Tuhan tidak akan digenapi. Kita memerlukan darah untuk mentahirkan (menyucikan) pendengaran kita, dan kehidupan kita. Kita memerlukan urapan Roh Kudus untuk mendengar, untuk melayani dan untuk hidup sebagaimana seharusnya. Kedua-duanya, baik darah Yesus dan urapan Roh Kudus merupakan bagian yang sangat diperlukan dari "keselamatan kita yang begitu besar" (Ibr 2:3). 2. Urapan Untuk Imam. Di dalam Keluaran pasal 29 dan 30 dan di dalam Imamat pasal 8 kita belajar mengenai pengudusan Harun dan anak-anakNya untuk tugas pelayanan imamat. a. Pentahbisan Imam-Imam. Sebagaimana halnya dalam urapan untuk penderita lepra, gambar dan lambang dari rencana keselamatan terdapat di dalam ketentuan-ketentuan yang berlaku dalam hal dikuduskan untuk pelayanan keimaman. 1) Korban Domba Tak Bercacat. Harun dan anak-anaknya memasuki pintu kemah Musa dan berdiri pada mezbah tembaga. Di sini mereka mencurahkan darah dari domba yang tidak bercacat-cela sebagai korban persembahan untuk pengampunan dosa. Dengan ini mereka mengalami pengampunan dari hukuman dosa yang adalah kematian (Rm 6:23). Hal ini berhubungan dengan hal dilahirkan kembali, atau pembenaran.

2) Dicuci Dengan Air. Selanjutnya, mereka bergerak maju ke kolam pembasuhan, di mana mereka dibasuh seluruhnya. Di sini mereka mengalami kelepasan dari semua pengotoran, kebiasaan atau kuasa dosa. Hal ini bertalian erat dengan apa yang akan terjadi dalam baptisan orang percaya di dalam air. 3) Jubah Imam dan Minyak Urapan. Kemudian mereka datang ke pintu "kemah pertemuan" di mana mereka menerima pakaian imamat mereka. Upacara ini diakhiri dengan pengurapan minyak atas mereka. Kel 30:30 mengatakan, " engkau harus juga mengurapi dan menguduskan Harun dan anak-anaknya supaya mereka memegang jabatan imam bagiKu." b. Diurapi Untuk Menguduskannya. Mengenai penggunaan urapan minyak kudus ayat 29 menjelaskan, "Haruslah kau kuduskan semuanya,sehingga menjadi maha kudus; setiap orang yang kena kepadanya akan menjadi kudus." Jelas dari ayat-ayat itu bahwa apapun yang dijamah oleh urapan kudus adalah kudus. Pada waktu Musa menuangkan minyak di atas kepala Harun dan anak-anaknya, mereka itu kudus bagi Tuhan. Ini adalah urapan untuk kekudusan yaitu dipisahkan bagi Allah untuk melayani Dia melalui kehidupan dan sikap yang benar. Jadi, urapan keimaman mengajar kepada kita mengenai pengabdian pada kehidupan yang benar dan kudus sesudah kita dilahirkan kembali. Mulai saat itu, semua imam diurapi untuk kekudusan dengan cara yang sama. Ada banyak hal yang tidak dapat dilakukan oleh imam karena kekudusan dari jabatannya. Karena urapannya, banyak hal akan mengotori orang lain. 1) Dipisahkan untuk Allah. Upacara ini menempatkan Harun dan anakanaknya secara menyeluruh dipisahkan sebagai imam-imam bagi Tuhan. Mereka dikuduskan untuk jabatan itu. Sebagaimana urapan penderita kusta melambangkan pembenaran kita, maka urapan imam menggambarkan keberadaan kita yang dipisahkan untuk pelayanan Tuhan dan kehidupan yang kudus. Why 1:6 mengatakan, Dia "telah membuat kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam-imam bagi Allah, BapaNya."1 Petrus 2:9 mengatakan, " kamulah bangsa terpilih, imamat yang rajani," Orang-orang percaya di dalam Yesus Kristus sudah dipanggil untuk berjalan di hadapan Allah sebagai seorang imam yang kudus. 2) Kekudusan dan Kuasa. Saya mendengar apa yang dikatakan oleh Bishop Synan (seorang yang takut akan Allah) beberapa tahun yang lalu,

"Kalau kita mulai berbicara kepada Allah mengenai KUASA, Dia mulai berbicara kepada kita mengenai KEKUDUSAN!" Betapa sungguh benar apa yang dikatakannya itu! Kita harus diselamatkan bukan hanya dari hukuman dosa dan rasa bersalah, tetapi dari pengotoran dosa, kuasa dosa dan kebiasaan dosa di dalam hidup kita. " engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umatNya dari dosa mereka." (Mat 1:21). Beberapa pengkhotbah mengatakan, "Kita diselamatkan di dalam dosa." Alkitab mengatakan kita diselamatkan dari dosa. Kita diselamatkan TIDAK UNTUK BERDOSA! Kita diselamatkan tidak untuk mempraktekkan perbuatanperbuatan dosa. "Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari iblis". (1Yoh 3:8). Oh! betapa kita sangat memerlukan urapan imamat ini untuk kekudusan. "Ya Allah, kami memohon kepadaMu untuk mencurahkan atas kami urapan itu dalam ukuran yang tanpa batas." Jika kita tidak mau dihancurkan oleh kuasaNya yang bekerja di dalam kita, kita harus memiliki kekudusanNya dinyatakan melalui kita. 3. Urapan Untuk Raja Urapan yang ketiga di dalam Perjanjian Lama adalah urapan untuk raja. Urapan untuk raja Israel yang pertama, yaitu Saul, diungkapkan dalam katakata berikut ini, "Lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia sambil berkata, "Bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi raja atas umatNya Israel? (1Sam 10:1). Kita membaca mengenai peristiwa yang sama untuk kedua kalinya tatkala Daud diurapi sebagai raja untuk menggantikan Saul. "Maka Isai ayah Daud menjemput dia dan membawanya (Daud) kepada Samuel. Ia kemerahmerahan, matanya indah dan parasnya elok. Lalu TUHAN berfirman: "Bangkitlah, urapilah dia, sebab inilah dia." Samuel mengambil tabung tanduk berisi minyak itu dan mengurapi Daud di tengah-tengah saudara-saudaranya. Sejak hari itu dan seterusnya berkuasalah Roh Tuhan atas Daud."(1Sam 16:12,13) a. Pelimpahan Kuasa dan Otoritas. Urapan Raja adalah untuk memberikan kuasa dan otoritas (wibawa) pada jabatan raja. Dengan urapan ini, Roh Allah datang ke atas raja sehingga ia dapat memerintah umat Allah, yaitu Israel.

Kegenapan Perjanjian Baru sehubungan dengan otoritas (wibawa) dan kuasa sebagai hasil dari urapan raja terdapat di dalam Kisah Para Rasul 1:8, "Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu." Baptisan di dalam Roh Kudus adalah jelas merupakan pasangan atau imbangan dari URAPAN RAJA. "Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan Roh itu kepada mereka untuk mengatakannyaDan dengan kuasa yang besar rasul-rasul memberi kesaksian tentang kebangkitan Tuhan Yesusdan oleh rasul-rasul diadakan banyak tanda dan mujizat di antara orang banyak" (Kis 2:4 4:33 5:12). 4.Ketiga urapan berbicara mengenai Ketiga urapan yang sudah kita lihat di dalam Perjanjian Lama, berbicara mengenai: o Pembenaran: keadaan sudah diampuni, atau pembenaran; o Pengudusan: kekudusan hati, atau penyucian; o Otoritas (wibawa) dan kuasa. Allah menghendaki agar kita menikmati buah dari ketiga urapan tersebut di dalam kehidupan dan pelayanan kita. Marilah kita mempelajari beberapa tokoh di dalam Alkitab yang menikmati "ketiga urapan" atau "urapan sepenuh" ini.

B. CONTOH-CONTOH DARI KETIGA URAPAN 1. Melkisedek "Kekuatanmu akan dibaharui dari hari ke hariEngkau adalah imam untuk selama-lamanya, seperti Melkisedek" (Mzm 110:3,4 FAYH) Dibawah skema Musa, seseorang harus merupakan anggota dari suku Lewi untuk menjadi seorang imam. Pada waktu Yesus datang, Dia dilahirkan dari garis keturunan suku Yehuda, suku yang darinya raja-raja itu berasal. (lihat Kej 49:8-10). Hak apa yang dimiliki Yesus (atau sehubungan dalam hal ini saudara dan saya) untuk menjabat sebagai imam dalam pelayanan? Dia berasal dari suku yang tidak semestinya menduduki jabatan tersebut. Rasul Paulus mengatasi dilema ini dalam suratnya kepada orang-orang Ibrani. Dia menjelaskan bahwa pelayanan keimaman Yesus (sebagaimana halnya dengan kita) didasarkan atas ketetapan yang sudah ditentukan oleh ketentuan keimaman menurut peraturan Melkisedek (lihat Ibr 7).

Melkisedek merupakan salah satu tokoh yang misterius di dalam literatur Alkitab. Namanya di dalam bahasa Ibrani berarti "Raja Kebenaran". Dia juga raja dari sebuah kota yang dikenal dengan sebutan Salem (selanjutnya diberi nama Yerusalem yang dalam bahasa Ibrani berarti kota damai). Jadi menurut terjemahannya Dia adalah Raja Damai dan Raja Kebenaran. Melkisedek juga sebagai Imam Allah Yang Maha Tinggi yang memberkati Abraham sesudah dia mengalahkan raja-raja. Abraham bahkan memberikan sepersepuluh dari rampasan perang kepadanya (Kej 14:1820). Melkisedek berfungsi sebagai seorang nabi, imam dan raja. Dengan demikian, dia adalah satu contoh yang tepat (gambaran nubuatan) dari Yesus, Raja yang akan datang. Apa yang menjadikan Melkisedek seorang nabi, imam dan raja? Urapan yang ada atas dirinya itulah. Dia "berfungsi di dalam urapan." Allah menjadikan Melkisedek demikian melalui urapan yang dicurahkan kepadanya. Demikian juga cara kerja Yesus, imam besar pengakuan kita. Demikian jugalah otoritas yang dijalankan oleh setiap hamba Allah yang penuh dengan Roh Allah. Kita melaksanakan hak-hak kenabian, keimaman dan rajani hanya melalui urapan yang kudus. 2. MUSA Musa adalah orang lainnya yang menikmati "urapan tiga ganda ini". Allah memakai Musa untuk membebaskan umatNya dari Mesir. Kemudian melalui Musa, Allah memberikan Hukum Taurat kepada Israel. Musa memimpin mereka selama empat puluh tahun. Dia hanya dapat melakukan hal itu karena dia memiliki di dalam dirinya urapan khusus dari Tuhan. Dia memiliki di dalam dirinya urapan sebagai seorang nabi, imam dan raja. Sebagai seorang imam dia menjadi pengantara bagi Israel dan mengajar mereka tentang jalan kebenaran. Dia juga memerintah atas mereka sebagai seorang raja. Urapan yang luar biasa untuk doa dan kuasa menandai kehidupannya. Dia memiliki urapan yang sepenuh. Dia adalah orang yang menjalankan hak-hak keimaman untuk menghampiri Tuhan disamping otoritas sebagai seorang raja dan imam besar untuk memerintah umatnya. Yang menarik adalah bahwa Musa tidak diberi gelar imam atau raja. Tetapi ia berfungsi di dalam dua kapasitas tersebut. 3. Hakim-Hakim "Hakim-hakim" adalah pria dan wanita yang memiliki "urapan tiga ganda" ini.

Saya perlu memberikan penjelasan sehubungan dengan konsep yang salah tentang hakim-hakim. Mereka adalah "penyelamat-penyelamat" dalam hal bahwa mereka menyelamatkan bangsa dari musuh-musuh mereka. Mereka adalah "pelepas-pelepas" dalam pengertian bahwa mereka melepaskan bangsa Israel dari penindas mereka. Mereka adalah "hakim-hakim" hanya dalam pengertian bahwa mereka memberikan nasihat-nasihat dan petunjukpetunjuk kepada bangsa itu. Mereka bukanlah "hakim-hakim" yang duduk di kursi pengadilan di ruang persidangan dan menetapkan keputusan hukum yang sah. Sesudah Musa meninggal, Yosua dan para hakim (pelepas-pelepas) yang menggantikan dia, memiliki "tiga urapan ganda" untuk melepaskan Israel dari musuh-musuh yang menindas mereka dan membawa mereka kembali pada pembaharuan rohani berkenaan dengan hubungan mereka dengan Allah. Mereka seringkali berfungsi sebagai imam, membawa umat kembali kepada Allah dan Allah kembali kepada umat. Mereka berfungsi sebagai raja-raja dengan membangkitkan dan memimpin pasukan yang akan menumbangkan para penindas. Mereka memimpin dengan hukum-hukum dan ketetapan yang benar. Tetapi mereka tidak diberi gelar sebagai "imam" atau "raja" mereka hanya berfungsi sebagai imam dan raja di dalam urapan mereka. Ketika Roh Allah datang atas mereka sehubungan dengan kebutuhan yang sangat mendesak di dalam kehidupan bangsa Israel, mereka akan melaksanakan tindakan-tindakan yang Allah kehendaki untuk mereka lakukan. Metode informal untuk melaksanakan hal-hal ini menjaga kepemimpinan dari menjadi melembaga dan mendatangkan beban bagi bangsa Israel. Pemerintahan dan keagamaan yang melembaga seringkali terbukti sebagai kutukan bagi orang bersangkutan baik di dalam bangsa maupun gereja. 4. Samuel Samuel muncul sebagai yang terakhir dari urutan panjang orang-orang yang memiliki "urapan tiga ganda". Selama 1000 tahun (dari Melkisedek sampai Samuel) Allah telah menempatkan "urapan tiga ganda" atas orang-orang ini untuk menyediakan kepemimpinan bagi umat pilihanNya. Sebagaimana Musa, Yosua dan para Hakim sebelumnya, Samuel juga dibangkitkan oleh Allah untuk suatu kebutuhan yang muncul di Israel. Samuel, di dalam melanjutkan kebiasaan yang sudah ditetapkan, tidak mengenakan gelar imam atau raja. Kendati pun demikian, fungsi dari seorang nabi, imam dan raja terbukti di dalam kehidupannya.

Pada waktu Israel perlu mendengar dari Tuhan, Samuel diurapi untuk menyampaikan nubuat. Karena keimaman Lewi sudah menjadi korup, Samuel memberikan persembahan dan menjadi perantara untuk umat. Samuel juga menyediakan kepemimpinan yang sangat dibutuhkan oleh Israel. Sebagaimana halnya dengan Melkisedek, Musa dan hakim-hakim yang lain, Samuel melayani dibawah urapan sepenuh sebagai nabi, imam dan raja. Kehidupan orang-orang yang diurapi ini kudus di hadapan Tuhan dan pelayanan-pelayanan mereka membawa kuasa dan wibawa yang tidak dapat dibantah lagi dari kekuasaan serta wibawa raja-raja. Mereka juga berfungsi di dalam pelayanan keimaman sebagaimana mereka diurapi oleh Allah. Tetapi milenium (1000 tahun) ini akan sampai pada akhirnya. Angin perubahan meniup dengan kuatnya di dalam Israel. Orang-orang menjadi tidak puas dengan jalan Allah. Orang-orang menghendaki terjadinya perubahan segera yang mempunyai pengaruh yang dramatis dalam cara bagaimana urapan itu datang ke atas manusia.

C. URAPAN YANG TERBAGI Sebagai akibatnya urapan harus dibagi di antara orang-orang yang bergelar "raja-raja" dan yang lain yang bergelar "imam-imam". Raja-raja akan dibinasakan oleh urapan untuk raja karena tidak adanya kekudusan. Imamimam Lewi akan mengambil urapan imam dan menyalah gunakannya, karena tidak adanya wibawa dan kuasa di dalam kehidupan mereka. 1. Israel Menghendaki Seorang Raja Salah satu dari pasal-pasal yang paling menyedihkan di dalam sejarah Israel dimulai ketika Israel menuntut seorang pemimpin yang akan mendapatkan sebutan raja. Allah memperingati Israel melalui Samuel. &" Inilah yang menjadi hak raja yang akan memerintah kamu itu: anak-anakmu laki-laki akan diambilnya dan dipekerjakannya pada keretanya dan pada kudanya, dan mereka akan berlari di depan keretanyamereka akan membajak ladangnya dan mengerjakan penuaian baginya" "Dari kambing dombamu akan diambilnya sepersepuluh, dan kamu sendiri akan menjadi budaknya. Pada waktu itu kamu akan berteriak karena rajamu yang kamu pilih itu (1Sam 8:10-18) Sebagai akibatnya, tua-tua Israel justru memperhatikan dan menguatirkan tingkah laku dari anak-anak Samuel. Mereka tidak dapat mempercayai bahwa Allah akan menyediakan seorang pemimpin lain yang memiliki "urapan tiga berganda"; oleh karena itu mereka menghadap Samuel dan berkata, "Engkau sudah tua dan anak-anakmu tidak hidup seperti engkau;

maka angkatlah sekarang seorang raja atas kami untuk memerintah kami, seperti pada segala bangsa-bangsa lain" (1Sam 8:5). Permintaan ini sangat mendukakan hati Samuel, tetapi Allahlah yang paling didukakan dengan hal itu. Dia berkata kepada Samuel, "Dengarkanlah perkataan bangsa itu dalam segala hal yang dikatakan mereka kepadamu, sebab bukan engkau yang mereka tolak, tetapi Akulah yang mereka tolak, supaya jangan Aku menjadi raja atas mereka." "Tepat seperti yang dilakukan mereka kepadaKu,demikianlah juga dilakukan mereka kepadamu. Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka" (1Sam 8:7,8,22). Orang-orang merasa senang karena mereka berhasil mengajukan hal itu kepada Allah. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa yang mereka pilih itu merupakan tragedi. Walaupun Samuel sudah memperingati mereka, mereka menolak untuk mendengarkan dan Allah memberikan apa yang menjadi keinginan hati mereka. Allah berketetapan untuk membiarkan mereka bertindak menurut kemauan hati mereka. Dia memerintahkan kepada Samuel, "Dengarkanlah permintaan mereka dan angkatlah seorang raja bagi mereka." Saya seringkali mengatakan, "kadang-kadang, hukuman terbesar yang Allah dapat kirimkan kepada kita adalah, dengan memberikan kepada kita jalan kita sendiri." Tegas! Tetapi benar. a. Urapan Hanya Untuk Kuasa."lalu Samuel mengambil buli-buli berisi minyak, dituangnyalah ke atas kepala Saul, diciumnyalah dia, sambil berkata, bukankah Tuhan telah mengurapi engkau menjadi rajaatas umatNya Israel? Engkau akan memegang tampuk pemerintahan atas umat Tuhan" (1Sam 10:1). Mengapa Saul kemudian ditolak sebagai raja? Karena ternyata dia menjadi tidak sabar di dalam menanti Samuel, dan secara lancang mengambil alih jabatan imam dan mempersembahkan korban (1Sam 13:8-14). Waktu Saul mencoba untuk berfungsi dalam hal yang dia tidak diurapi untuk itu, maka pada saat itu juga dia dihukum dan ditolak. Hal ini menggambarkan arti yang sebenarnya. Ketika Israel menuntut untuk memiliki seorang Raja, urapan itupun dibagi. Raja hanya memiliki satu bagian urapan saja. Pemimpin Israel tidak lagi memiliki urapan nabi, imam dan raja. Dia hanya memiliki urapan raja untuk berkuasa (memerintah) tidak urapan keimaman untuk melayani Allah dengan ketaatan dan kekudusan. Bukan kehendak Allah bagi Israel untuk mempunyai seorang raja "sebagaimana halnya dengan bangsa-bangsa Lain."pola Allah untuk kepemimpinan sudah muncul melalui Melkisedek, Musa, Yosua, para hakim dan Samuel.

Dia sudah begitu setia untuk membangkitkan pemimpin-pemimpin yang memiliki urapan sepenuh dariNya dan memimpin Israel baik sebagai imam dan raja. Tetapi Israel justru lebih memilih seorang raja, "sebagaimana halnya dengan bangsa-bangsa lain." Mereka menolak pemerintahan Allah yang teokratis; mereka menolak Allah sebagai raja mereka. Dan Allah memberikan kepada mereka, apa yang menjadi keinginan hati mereka. Pemerintah teokratis yang benar memiliki urapan Allah yang penuh. Dia memerintah sebagai seorang nabi, imam dan raja. Tetapi dengan pemilihan Israel untuk memiliki seorang raja "sebagaimana halnya dengan bangsabangsa lain", maka seorang manusia mulai memerintah atas umat Allah dengan urapan yang sebagian saja, hanya memiliki kekuasaan dan wibawa saja. Dan hal itu tidak lagi dikendalikan dengan kekudusan dan karakter (watak) yang baik. Pembagian urapan ini tidak merupakan kehendak Allah yang tertinggi bagi umatNya. b. Tidak Ada Kekudusan Membawa Kejatuhan. Allah tahu bahwa tidak ada seorangpun yang dapat memerintah dengan urapan untuk seorang raja, kecuali diimbangi dengan urapan imamat, yang mendatangkan kekudusan di hadapan Tuhan. Hampir semua raja-raja di Israel dan Yehuda gagal di dalam kepemimpinannya karena tidak adanya kekudusan di dalam kehidupan mereka. Tuhan menolak Saul dari kedudukannya sebagai raja karena ketidak taatan dan kelancangan untuk melakukan pelayanan yang untuk itu dia tidak diurapi. Pada akhirnya Saul menghabisi hidupnya sendiri. Pemerintahan Daud menjadi goncang karena perzinahannya dengan Batsyeba. Pemerintahan Salomo sampai pada puncak kemerosotan karena ketidak kudusannya dan penyembahannya terhadap berhala. Pada akhirnya Israel dipisahkan dari Yehuda dan sesudah sekitar 200 tahun menjadi tawanan terutama sebagai akibat dosa ketidak kudusan raja-raja yang memerintah atasnya. Raja-raja Israel membawa di dalam pemerintahan mereka otoritas Allah. Mereka tidak berjalan di dalam kekudusanNya. Ini membawa hukuman Allah terhadap bangsa itu, yang menyebabkan mereka diserakkan sampai ke ujung-ujung bumi. Jadi era yang paling tragis di dalam sejarah Israel yang menyakitkan berakhir dalam kecelaan dan kekalahan. 2. Imam-Imam Tanpa Kuasa. Sesudah rakyat menuntut seorang raja, mereka mulai mengalami tekanan yang bermacam-macam. Tekanan tentang kekudusan secara hukum tapi

tanpa kuasa dan otoritas Allah telah menggantikan kepemimpinan seperti Samuel yang tidak mementingkan diri, penuh kemurahan dan kasih. Orang-orang Farisi pada jaman Yesus merupakan kelanjutan puncak dari kekeliruan ini. Imam-imam yang memiliki urapan sebagian, "tetapi tanpa kuasa" ini tidak berdiri di hadapan Allah dan membela rakyat sebagaimana Musa. Ketika Allah bermaksud untuk memusnahkan Israel karena dosa dan ketidak taatan mereka, maka pembelaan Musa menyelamatkan bangsa itu (Kel 32:30-35). Sebaliknya, denominasi Farisi, dengan segala kesombongan sekte dan legalisme mereka, mulai memegang peranan sebagai pengaruh yang menguasai hidup keagamaan dari bangsa itu. a. Tuntutan Legalistik. Orang-orang Farisi menuntut adanya ketaatan yang ketat terhadap Hukum Taurat. Mereka kehilangan pandangan mengenai maksud dari Taurat dan secara total bertumbuh di dalam ketidak pekaan terhadap kebutuhan manusia. Legalistik yang tidak lentur ini menuntut pengikut-pengikutnya untuk mentaati ketentuan-ketentuan keagamaan yang tidak Alkitabiah, yang menjadikan mereka tidak berbelas kasihan, penuh dendam dan pongah. Mereka kehilangan pandangan tentang kenyataan bahwa semua orang adalah berdosa dan memerlukan belas kasihan Allah. Mereka menjatuhkan hukuman dan kematian terhadap siapapun yang mereka dapati melakukan tindakan-tindakan yang melanggar salah satu dari perintah-perintah itu. Hal itu mendorong mereka ke dalam kemunafikan yang tidak ada bandingnya di dalam sejarah keagamaan. Yesus secara langsung menegur "guru-guru dan ahli taurat ini." Mereka membuat hukum-hukum yang mereka sendiri tidak dapat mentaatinya, dan menghukum orang lain yang gagal di dalam mentaati hukum-hukum tersebut. "Ahli-ahli Taurat dan orang-orang Farisi telah menduduki kursi Musa; sebab itu turutilah dan lakukanlah segala sesuatu yang mereka ajarkan kepadamu, tetapi janganlah kamu turuti perbuatan-perbuatan mereka, karena mereka mengajarkannya tetapi tidak melakukannya "Semua pekerjaan yang mereka lakukan hanya dimaksud supaya dilihat orangmereka suka duduk di tempat terhormat dalam perjamuan dan di tempat terdepan di rumah ibadat, mereka suka menerima penghormatan di pasar dan suka dipanggil Rabi" (Mat 23:2-7).

Seseorang pernah berkata "Jurang pemisah di antara apa yang kita katakan dan apa yang kita lakukan merupakan ukuran dari kesesatan kita". Allah kiranya menolong kita! Tetapi hal itu benar. b. Kesombongan Rohani. Orang-orang Farisi "Yang pamer kekudusan ini" dibentuk oleh kesombongan rohani mereka. Menekankan kekudusan dan pengetahuan Alkitab, tanpa adanya kuasa Roh Allah di dalam kehidupan saudara untuk mewujudkan hal itu, adalah suatu kesalahan yang sangat besar. Paulus memperingatkan kita untuk menolak pemimpin-pemimpin agama dan denominasi yang demikian itu, yang sudah terjerat oleh kegagalan berikut ini: "Manusia akan mencintai dirinya sendiri, dan menjadi hamba uang. Mereka akan membual dan menyombongkan diri,tidak tahu mengasihi tidak dapat mengekang diri,lebih menuruti hawa nafsuSecara lahiriah mereka menjalankan ibadah mereka, tetapi pada hakekatnya mereka memungkiri kekuatannyaJauhilah mereka itu!". (2Tim 3:2-5). Kegagalan raja-raja yang membawa kuasa Allah tanpa urapan imamat untuk kehidupan kudus menyebabkan ditimpakannya hukuman awal dari Allah atas Israel. Imam-imam Farisi membawa urapan imam, tetapi tanpa kuasa Allah. Hal ini menghasilkan suatu agama yang didasarkan pada penampilan kekudusan secara lahiriah tanpa adanya perubahan hati. Sistem yang menekan ini mendatangkan hukuman Allah yang final atas Israel. Kedua-duanya gagal untuk melaksanakan rencana Allah di muka bumi. D. PEMULIHKAN KETIGA URAPAN Umat Allah sudah melalui penderitaan besar di bawah pemerintah raja-raja Israel yang tidak benar. Mereka sudah mengalami hukuman Allah sebagai akibat dari kekeliruan pemimpin-pemimpin mereka. 1. Janji Allah Untuk Memulihkan. Jadi, janji Allah membawa pengharapan besar kepada mereka: "Aku akan mengembalikan para hakimmu seperti dahulu, dan para penasihatmu seperti semula. Sesudah itu engkau akan disebutkan kota keadilan, kota yang setia.". (Yes 1:26). Bagi suatu umat yang selama berabad-abad hanya mengenal kepemimpinan dengan urapan yang sebagian saja, hal ini merupakan suatu janji pemulihan yang penuh dengan kemuliaan. Allah berjanji untuk memberikan kepada mereka pemimpin-pemimpin yang akan memerintah mereka dengan urapan sama sebagaimana hakim-hakim mereka yang pertama. Orang-orang seperti Musa, Yosua, dan Samuel.

Tema yang seringkali dicanangkan di dalam pemberitaan Yesaya: "Sesungguhnya seorang raja akan memerintah menurut kebenaran, dan pemimpin-pemimpin akan memimpin menurut keadilan. Dan mereka masing-masing akan seperti tempat perteduhan terhadap angin dan tempat perlindungan terhadap angin ribut, seperti aliran-aliran di tempat kering, seperti naungan batu yang besar di tanah yang tandus." (Yes 32:1,2). Identitas dari Raja Kebenaran ini tidak salah lagi muncul mana kala kita membaca lebih lanjut dalam Alkitab: "Sebab seorang anak telah lahir untuk kita, seorang putera telah diberikan untuk kita; lambang pemerintahan ada di atas bahunya, dan namanya disebutkan orang: Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal, Raja Damai" (Yes 9:5). Raja Damai juga akan memiliki urapan sepenuh Allah, yaitu urapan Raja, Nabi dan Imam."tongkat kekuatanmu akan diulurkan Tuhan dari Sion: memerintahlah di antara Musuhmu!tuhan telah bersumpah, dan Ia tidak akan menyesal: "Engkau adalah imam untuk selama-lamanya menurut Melkisedek (Mzm 110:2,4). Dia yang akan datang membawa urapan sepenuh Allah, baik sebagai Raja, maupun Imam dan Nabi. Dia akan membawa "tongkat yang kuat" dan memerintah sebagai seorang Raja Kebenaran. Dia akan menjadi seorang "Imam selama-lamanya menurut peraturan Melkisedek." Urapannya demikian besarnya sehingga Dia akan dikenal sebagai "Yang Diurapi" (Mesias dalam Ibrani Kristus dalam Gerika). 2.Janji Allah Digenapi Dalam Yesus Kristus Janji Allah untuk memulihkan urapan sepenuh sudah digenapi dalam Yesus Kristus. Dia "diurapi dengan minyak kesukaan lebih daripada yang lain." (Ibr 1:9 tlb) Yesus memerintah sebagai "Imam Besar Kita", (Ibr 3:1) dan sebagai "Raja di atas segala Raja dan Tuhan di atas segala tuan" (Why 17:14). Dia sendiri saja yang memiliki "segala kuasa di sorga dan bumi". (Mat 28:18). Dia saja yang "membenarkan dan menguduskan dan menebus kita". (1Kor 1:30). "Kerukunan, keharmonisan, adalah seperti minyak yang baik (urapan) di atas kepala meleleh ke janggut, yang meleleh ke janggut Harun dan ke leher jubahnya." (Mzm 133:2). Sebuah gambaran yang indah dan mengenai kebenaran dinyatakan melalui ayat di atas. Urapan yang datang pada imam besar mengalir dari kepala sampai ke seluruh tubuhnya. a. Kita Harus Membawa UrapanNya. Sekarang kita ingat bahwa kita adalah anggota-anggota dari Tubuh Kristus (1Kor 12:27). Kita tahu bahwa Yesus adalah kepala dan imam besar (Ef 1:22 Ibr 3:1). Di sini, "ketiga

urapan" yang dicurahkan dari Dia mengalir turun ke atas kita sebagai anggota-anggota dari TubuhNya. Kita dapat mengambil bagian dari urapan yang sama yang ada di dalam Dia. Dia adalah gambaran puncak dari urapan Allah yang Allah kehendaki untuk kita miliki. Sebagai pemimpin-pemimpin gereja kita membawa urapanNya, urapan untuk hidup di dalam kebenaran, kehidupan yang kudus dan urapan untuk menyembuhkan orang sakit, mengusir setan, dan memberitakan Kabar Baik mengenai kerajaan Allah sampai ke Ujung bumi. Singkatnya suatu urapan kuasa. Di dalam 1Ptr 2:9 dikatakan bahwa kita adalah " imamat rajani" (imamimam raja). "Yang telah menjadikan kita menjadi suatu kerajaan, menjadi imam- imam bagi Allah" (Why 1:6 5:10). 3.Bagaimana Menerima "Ketiga Urapan" tersebut a. Dilahirkan Kembali. Jika saudara belum dilahirkan kembali, ikutilah langkah-langkah sebagaimana yang diketengahkan garis besarnya di dalam bagian awal dari pasal ini dan bacalah bagian dari pasal 2 "Pelayan-pelayan Yang Belum dilahirkan kembali". Saudara akan mendapatkan "urapan bagi penderita kusta" bagian pertama dari ketiga urapan. b. Dibaptiskan Air. Jika saudara belum dibaptiskan ke dalam air, ambillah langkah tersebut. Pada waktu saudara dibaptiskan, ketahuilah bahwa Allah berkehendak untuk mengerjakan hal-hal yang luar biasa (supra alami) di dalam hati saudara. Biasakanlah untuk melawan dosa dan mematahkannya dari kehidupan saudara, sejak saudara "dikuburkan bersama dengan Kristus melalui baptisan air" (Rm 6:4). "Karena kita tahu, bahwa manusia lama kita telah turut disalibkan, supaya tubuh dosa kita hilang kuasanya, agar jangan kita menghambakan diri lagi kepada dosa. Sebab siapa yang telah mati, ia telah bebas dari dosa". (Rm 6:6,7 tlb) Di dalam baptisan air yang Alkitabiah saudara dapat menerima "urapan keimaman" berjalan dalam kehidupan baru, bebas dari kekuasaan dosa. Harapkanlah hal itu untuk terjadi, pada waktu saudara diselam ke dalam baptisan air. c. Dibaptiskan Roh Kudus. "Urapan raja" saudara untuk wewenang dan kuasa berasal dari Yesus. Yohanes memberitahu kepada kita. "Sebab di dalam diri kamu tetap ada pengurapan yang telah kamu terima daripadaNya" (1Yoh 2:27). Sebagaimana telah dinyatakan, itu mengalir dari kepala ke seluruh tubuh. "Aku membaptiskan dengan airtetapi Dia akan membaptiskan kamu dengan Roh Kudus dan api" (Mat 3:11). Yohanes

menunjukkan di sini bahwa Yesus akan membaptiskan dengan cara yang sama sebagaimana yang dia lakukan, tetapi di dalam Roh Kudus dan bukan di dalam air. 1. Merindukan Baptisan Roh kudus. Calon-calon berdatangan kepadanya berkeinginan untuk dibaptiskan di dalam air. Saudara harus datang kepada Yesus, merindukan baptisan Roh. 2. Biarkan Yesus Yang Membaptiskan. Mereka mengijinkan Yohanes untuk membaptiskan mereka-mereka tidak mencoba untuk membaptiskan diri mereka sendiri. Saudara harus mengijinkan Yesus membaptiskan saudara di dalam Roh Kudus. Pada hari Pentakosta, " Roh memenuhi tempat di mana mereka berkumpul". (Kis 2:2). Kenyataan bahwa mereka berkumpul dan duduk, memudahkan bagi Yesus untuk membaptiskan mereka-mereka tidak sedang berada dalam suasana emosional keagamaan, yaitu mengusahakan untuk membaptiskan diri mereka sendiri. 3. Ditenggelamkan Dalam Roh Kudus. Yohanes membaptiskan mereka di dalam air. Mereka diselamkan dalam air sungai Yordan. Yesus akan membaptiskan saudara di dalam Roh Kudus. Yesus adalah Pembaptis, Roh Kudus merupakan air secara rohani yang ke dalamnya Yesus menyelamkan saudara. Sebagaimana pada hari Pentakosta, angkatlah suaramu dalam doa dan pujian untuk Yesus dan terimalah Roh Kudus di dalam nama Yesus. Pada saat Roh Kudus memenuhi saudara, ijinkanlah Dia mengaruniakan kepadamu bahasa surgawi untuk doa-doamu dan pujian-pujianmu kepada Bapa surgawi kita. Sementara Roh memberikan kepada saudara kata-kata untuk dikatakan, ucapkanlah itu dengan iman kepada Allah. Saudara tidak akan dapat mengerti kata-kata itu tetapi Bapa surgawi akan mengerti. "Lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya" (Kis 2:4). Saudara lakukan juga hal yang sama sekarang ini juga! Di dalam baptisan ini, permulaan dari "urapan raja" akan terjadi. Kemudian sebagaimana halnya dengan urapan-urapan yang lain dari Roh, semuanya akan bertumbuh dan meningkat sementara saudara berjalan dengan Tuhan. HALLELUYAH!

E. KESIMPULAN Melalui artikel-artikel yang lalu kita sudah mempelajari bahwa Allah ingin melatih kita untuk menanti di hadapanNya dan mendengarkan suaraNya. Kita sudah diajar bagaimana memandang kesusahan sebagai alatNya untuk

memurnikan. Kita sudah belajar bagaimana menghindari jerat-jerat kesombongan, dosa seks, dan cinta akan uang. Kita sudah sampai pada pengertian bahwa mereka yang Dia panggil, harus dimurnikan dan dilatih oleh Roh Kudus di dalam sekolah ujian dan latihanlatihan. Semakin besar tanggung jawab saudara, semakin keras pembentukanNya terhadap saudara. 1. Kita Memerlukan Urapan Sepenuh Walaupun demikian, jika kita sudah mempelajari hal-hal ini, namun gagal untuk memimpin umat Allah dalam urapan sepenuh yang sudah kita lihat di dalam Yesus Kristus, semuanya itu akan menjadi tak berarti. Tanpa urapan Roh Allah atas pelayanan kita, kita tidak dapat berhasil dalam menginjili, mengajar, berkhotbah, melakukan pelayanan kelepasan maupun kesembuhan, atau pun melakukan "hal-hal yang lebih besar" yang dijanjikan kepada kita sebagai pemimpin-pemimpin gereja. Semua yang kita kerjakan akan merupakan hasil dari kekuatan daging dengan buah yang tidak kekal. Sangat penting bagi para pemimpin gereja untuk berjalan di dalam kekudusan dan dalam kebergantungan pada kuasa Roh. Kuasa rohani yang terus menerus hanya dapat ditemukan di dalam suatu kehidupan yang kudus dan semua yang berjalan di dalam kekudusan dapat memiliki kuasa Allah di dalam kehidupan mereka. Kita harus mengalami kedua-duanya. Menekankan kekudusan tanpa kuasa Allah akan menjadikan kita steril dan hanya berpegang pada aturan-aturan saja. Di pihak lain, untuk meminta kuasa Allah tetapi mengesampingkan kekudusan, akan menempatkan kita ke dalam kedudukan di mana urapan yang kita bawa akan menghancurkan kita (lihat Mat 7:21-23). 2.Kita Harus Memelihara Urapan Yang Sepenuh Yohanes memberitahu kepada kita "Urapan yang kamu terima dari Dia tinggal tetap di dalam kamuDan urapanNya itu mengajar kepadamu tentang segala sesuatu, dan pengajaranNya itu benarurapanNya itu mengajar kamu untuk tetap tinggal di dalam Dia" "Anak-anakku tinggallah di dalam Dia, supaya apabila Ia menyatakan diriNya, kita beroleh keberanian percaya dan tidak usah malu terhadap Dia pada hari kedatanganNya" (1Yoh 2:27,28). Kata "tetap tinggal" nampaknya merupakan kuncinya. "Tinggallah di dalam Aku dan Aku di dalam kamu. Sama seperti ranting tidak dapat berbuah dari dirinya sendiri, kalau ia tidak tinggal pada pokok anggur, demikian juga kamu tidak berbuah jikalau tidak tinggal di dalam Aku."

"Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa. Barangsiapa tidak tinggal di dalam Aku, ia dibuang ke luar seperti ranting dan menjadi kering, kemudian dikumpulkan orang dan dicampakkan ke dalam api lalu dibakar." "Jikalau kamu tinggal di dalam Aku dan FirmanKu tinggal di dalam kamu, mintalah apa saja yang kamu kehendaki, dan kamu akan menerimanya.". (Yoh 15:4-7). a. Tinggallah Tetap Dalam Yesus. Bagaimana kita dapat memimpin dengan sebaik-baiknya melalui urapan yang sepenuh? Tinggallah di dalam Yesus! Tinggal berarti "tetap tinggal; terus menerus ada, berada di tempat itu." Paulus mengatakannya demikian: "Kamu telah menerima Kristus Yesus, Tuhan kitahendaklah hidupmu tetap di dalam Diaberakar di dalam Dia dibangun di atas Dia, bertambah teguh dalam imanhendaklah hatimu melimpah dengan syukur" (Kol 2:6-7 niv). Ketidak tergantungan dan merasa mampu mandiri merupakan tanda kedewasaan. Tetapi hal itu dapat mengganggu hubungan rohani kita dengan Yesus. Dia berkata, "Tetaplah tinggal di dalam Aku!" Bergantunglah kepadaKu." Bagi ranting untuk tetap tinggal di dalam pokok anggur berarti senantiasa melekat, sehingga kehidupan pokok anggur itu dapat terus mengalir ke dalamnya. Kelebatan buahnya bergantung pada hubungan yang vital dengan Yesus. Demikian juga kita harus tetap dalam hubungan yang dekat dengan Yesus. Jika itu kita lakukan, kehidupanNya, urapanNya akan senantiasa mengalir kepada kita dan melalui kita. Marilah kita menjadi seperti Maria yang memilih untuk duduk dekat kakiNya dan mendengarkan kata-kataNya (Luk 10:38-42). Maka kita akan keluar melayani dengan urapan yang penuh dari jabatan Yesus sebagai raja dan imam. Penyembahan dan pujian akan menjadi nafas kita yang terutama. Kita akan dilengkapi dengan kuasaNya dan karuniakaruniaNya untuk membebaskan orang lain ke dalam kebebasan yang sama. Betapa kelirunya, betapa tragisnya, bagi seseorang yang atasnya Allah sudah meletakkan tanganNya, untuk menerima urapan dan ternyata mempergunakannya untuk kepentingannya sendiri. Jangan lakukan hal itu! Jadilah senantiasa sebagai seorang yang "Memperkenankan Yesus."

Anda mungkin juga menyukai