Anda di halaman 1dari 6

PENCACAH GEIGER MULLER

Sonya Rahayu (0910441022) Laboratorium Fisika Atom dan Inti Jurusan Fisika Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Andalas, Limau Manis, Padang Abstrak Eksperimen Pencacah Geiger Muller telah dilakukan di Laboratorium Fisika Atom dan Inti, jurusan Fisika, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Andalas. Eksperimen ini bertujuan untuk menentukan koefisien absorbsi dari aluminium untuk partikel beta dan radiasi gamma. Eksperimen ini menggunakan sumber radioaktif Ra-226 dan Sr-90. Pencacah Geiger Muller adalah sebuah alat pengukur radiasi ionisasi. Geiger counter ditembakkan pada sumber radiaktif lalu data yang didapat diamati pada data studio. Berdasarkan data hasil eksperimen diperoleh bahwa jumlah cacahan radiasi unsur Ra-226 lebih besar dibandingkan jumlah cacahan radiasi. Ketebalan shielding juga berpengaruh terhadap koefisien absorbsi dari material yang digunakan. Semakin tebal shielding yang digunakan, maka akan semakin kecil koefisien absorbsi material tersebut. Kata kunci : Pencacah Geiger Muller, sumber radioaktif, radiasi ionisasi. I. PENDAHULUAN Radiasi adalah setiap proses dimana energi bergerak melalui media atau melalui ruang dan akhirnya diserap oleh benda lain. Radiasi ionisasi dan radiasi non-ionisasi. Beberapa jenis radiasi memiliki energi yang cukup untuk mengionisasi partikel. Tiga jenis utama radiasi ditemukan oleh Ernest. Radiasi alfa () adalah radiasi yang memancarkan partikel alfa. Partikel alfa dapat dihentikan dengan selembar kertas karena masasa partikel yang sangat tinggi sehingga memiliki sedikit energi dan jarak yang rendah. Radiasi beta () adalah radiasi yang memancarkan partikel beta (elektron atau positron). Radiasi beta ada dua yaitu radiasi minus (-) terdiri dari sebuah elektron yang penuh energi. Elektron sering kali dapat dihentikan dengan beberapa sentimeter logam. Radiasi ini terjadi ketika peluruhan neutron menjadi proton dalam nukleus, melepaskan partikel beta dan sebuah antineutrino. Radisi beta plus (+) adalah emisi positron. Radiasi + tidak terjadi dalam isolasi karena memerlukan energi, massa neutron lebih besar dari massa proton. Peluruhan + hanya dapat terjadi didalam nukleus ketika energi yang mengikat dari nukleus induk lebih kecil dari nukleus. Perbedaan antara energi ini masuk kedalam reaksi konversi proton menjadi neutron, positron dan antineutrino dan ke energi kinetik dari partikel-partikel. Radiasi gamma atau sinar gamma adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi
1|Page

oleh radioaktifitas atau proses nuklir atau subatomik lainnya seperti penghancuran elektronpositron. Pencacah Geiger Muller adlah sebuah alat pengukur radiasi ionisasi. Alat ini

ditemukan oleh ilmuan Jerman pada tahun 1928. Pencacah Geiger Muller dapat digunakan untuk mendeteksi radiasi alfa dan beta. Pada saat kondisi tertentu, pencacah Geiger Muller juga dapat digunakan untuk mendeteksi sinar gamma, walau kesensitivitasnya akan

berkurang/melemah untuk energi radiasi gamma yang tinggi dengan detektor tipe tertentu, berdasarkan fakta bahwa kepadatan gas didalam alat biasanya rendah, membiarkan energi gama yang paling tinggi untuk melewati dan menerobos tanpa diketahui, menurunkan satuan energi dalam cahaya energi adalah lebih mudah untuk mendeteksi, diserap oleh detektor. Pencacah Geiger Muller tidak bisa digunakan untuk mendeteksi neutron. Sebuah variasi tabung Geiger Muller adalah digunakan untuk mengukur sebuah neutron, dimana gas yang digunakan adalah Boron Trifluida dan sebuah plastik secukupnya untuk memperlambat gerak neutron. Ini menciptakan suatu sinar gamma didalam detektor dan dengan begitu neutron dapat dihitung. Setiap inti mempunyai kemungkinan yang sama untuk meluruh. Namun tidak semua inti meluruh pada saat tertentu. Sampel bahan radioaktif (radioisotop) memancarkan radiasi secara acak. Inti radioaktif akan meluruh dengan memancarkan radiasi. Radiasi yang menjadi lebih baik

dipancarkan dapat berupa partikel alfa, beta atau sinar gamma. Untuk sorotan sorotan sempit dari radiasi dan , intensitas yang ditransmisikan

melalui medium absorbsi yang bervariasi memenuhi hukum eksponensial : ...(1) Dengan adalah intensitas sinar datang, adalah intensitas sinar yang

ditransmisikan, dengan x adalah ketebalan medium yang dilalui dan suatu konstanta didefinisikan sebagai koefisien absorbsi linier dari medium untuk radiasi tertentu, dengan satuan . Radiasi dari sumber radium, melebihi jarak partikel alpha. Intensitas dapat diukur dengan sebuah tabung GM yang dihubungkan dengansebuah pengukur skala. Dengan c adalah sebagai nilai rata rata yang diamati (setelah pengoreksian nilai rata rata) belakangnya) adalah penjumlahan radiasi yang disebabkan oleh partikel beta C1 dan sinar gamma C2. Untuk berbagai jarak partikel beta :
2|Page

...(2) Dan untuk sinar gamma : ...(3) Dimana A dan B adalah konstan. Dengan membuat plot log10C1 dan log10C2 terhadap x, grafik yang mendekati garis lurus didapatkan karena :

Kemiringan pada garis garis ini adalah berasal dari koefisien distribusi yang dapat dihitung.

dan

yang

II. METODE PERCOBAAN Eksperimen pencacah Geiger - Muller dimulai dengan menghidupkan tabung GeigerMuller dan selanjutnya akan terdengar bunyi klik yang keluar dari tabung tersebut, tabung Geiger- Muller kemudian dihubungkan pada data studio dan sensor terhadap jumlah cacahan radiasi dibuka pada layar komputer dalam bentuk grafik. Langkah pertama yang dilakukan adalah mengukur jumlah cacahan dari radiasi alam atau radiasi latar. Jumlah cacahan dari radiasi latar diukur dengan menghidupkan tabung Geiger- Muller dan kemudian dilakukan pengamatan pada grafik yang terbentuk pada data studio di layar komputer dan deteksi terhadap jumlah cacahan radiasi latar ini dilakukan selama 180 detik. Setelah mengukur jumlah cacahan dari radiasi latar, langkah selanjutnya adalah mengukur jumlah cacahan dari unsur radioaktif. Adapun unsur radioaktif yang digunakan adalah Ra-226 dan Sr-90. Unsur radioaktif yang akan diukur jumlah cacahannya untuk yang pertama adalah Ra-226. Jumlah cacahan radiasi Ra-226 diukur dengan membuka tutup dari unsur tersebut dan meletakkannya tepat dibawah tabung Geiger- Muller dan data pengamatan untuk grafik yang baru dibuka pada data studio. Pengukuran terhadap jumlah cacahan radiasi Ra-226 juga dilakukan selama 180 detik. Setelah itu, jumlah cacahan radiasi Ra-226 kembali diukur tetapi dengan menggunakan shielding. Adapun variasi ukuran ketebalan shielding yang digunakan ada 3 yaitu dengan tebal 0,33 mm, 1,15 mm, dan 1,95 mm. Ketiga shielding digunakan pada saat pengukuran dan untuk setiap pemakaian shielding terhadap pengukuran jumlah cacahan radiasi Ra-226 juga menggunakan waktu 180 detik.
3|Page

Unsur radioaktif yang kedua yang juga akan diukur jumlah cacahan radiasinya adalah unsur Sr-90. Pengukuran jumlah cacahan radiasi Sr-90 ini memiliki langkah yang sama dengan pengukuran jumlah cacahan radiasi Ra-226.

III. PEMBAHASAN Pada eksperimen ini, ada beberapa hal yang dapat dianalisa dari hasil eksperimen yang telah dilakukan. Pertama, kaitan antara nomor massa dari sumber radioaktif dengan jumlah cacahan yang terdeteksi Geiger counter. Kaitannya adalah semakin besar nomor massa dari sebuah sumber radioaktif, maka semakin banyak jumlah cacahan yang terdeteksi oleh Geiger counter. Hubungan pemberian shielding pada pratikum ini adalah akan Ketebalan

menghasilkan jumlah cacahan yang terdeteksi adalah berbanding terbalik.

shielding yang digunakan adalah 0,33 mm, 1,15 mm, dan 1,95 mm. Semakin tebal shielding yang digunakan, maka semakin besar jumlah cacahan yang terdeteksi. Hal ini terjadi karena shielding yang digunakan disini akan menyerap sebagian radiasi yang dihasilkan oleh unsur radioaktif sehingga alat pencacah akan menangkap radiasi yang lebih sedikit. Eksperimen ini dilakukan untuk mengukur daya serap suatu penghalang untuk mengetahui koefisien serapan dari aluminium untuk sinar gamma. Ketebalan tersebut

mempengaruhi daya serapan. Aluminium adalah bahan yang cukup baik sebagai penyerap. Hal ini karena pengaruh nilai isotop yang mempunyai nomor massa yang tinggi akan lebih besar menyerap intensitas bahannya dibandingkan dengan unsur yang mempunyai nomor massa kecil. Hal ini menyebabkan jumlah cacahan pada Ra-226 lebih besar daripada Sr-90. Ketebalan shielding juga berpengaruh terhadap koefisien absorpsi dari material yang digunakan. Semakin tebal shielding yang digunakan, maka akan semakin kecil koefisien absorpsi material tersebut. Hal ini terjadi karena semakin tebal suatu shielding, maka

kemampuannya untuk menyerap radiasi akan semakin berkurang. Harga koefisien absorpsi () tergantung pada energi foton dan sifat material penyerap, sehingga intensitas radiasi akan menurun secara eksponensial terhadap tebal penyerap x. Dalam eksperimen pencacah Geiger Muller ini dapat juga dilihat hubungan antara frekuensi cacahan muncul dengan Geiger counts yang terdeteksi. Hubungan ini dapat dilihat pada grafik dibawah ini :

4|Page

Radiasi Sr-90
100 90 80 70 60 50 40 30 20 10 0 0 1 2 3 4 5 Geiger Counts (counts/sample)

Frekuensi (Hz)

Series1

Radiasi Ra-226
70 60 Frekuensi (Hz) 50 40 30 20 10 0 0 2 4 6 8 Geiger Counts (counts / sample) Series1

Dapat dilihat dari grafik bahwa hubungan frekuensi cacahan muncul dengan Geiger counts pada Sr-90 adalah semakin kecil nilai cacahan yang muncul maka akan semakin sering cacahan tersebut muncul / frekuensi munculnya semakin besar. Pada Ra-226 didapat hasil pada nilai cacahan kecil juga akan lebih sering muncul tetapi setiap nilai cacahan 2 akan mengalami kenaikan dari nilai cacahan sebelumnya. Tetapi, setelah nilai cacahan 2 itu, nilai cacahan mulai menurun lagi. Semakin besar nilai cacahan, maka akan semakin jarang

muncul / frekuensi munculnya semakin kecil. Hal ini dipengaruhi oleh nomor massa sumber radioaktif. Semakin besar nomor massa, maka akan semakin besar cacahan yang terdeteksi oleh Geiger counter. Terbukti pada Sr-90 nilai cacahan tertinggi 5, sedangkan pada Ra-226 nilai cacahan tertinggi adalah 7.

5|Page

IV. PENUTUP Pada eksperimen ini didapat kesimpulan bahwa semakin besar nomor massa dari sebuah sumber radioaktif, maka semakin banyak jumlah cacahan yang terdeteksi oleh Geiger counter. Sedangkan pemberian shielding menghasilkan jumlah cacahan yang terdeteksi

semakin kecil. Semakin tebal shielding yang digunakan, maka akan semakin kecil jumlah cacahan yang terdeteksi. Ketebalan shielding juga berpengaruh terhadap koefisien absorpsi dari material yang digunakan. Semakin tebal shielding yang digunakan, maka akan semakin kecil koefisien absorpsi material tersebut. Semakin besar nomor massa, maka akan semakin besar cacahan yang terdeteksi oleh Geiger counter.

REFERENSI Beiser, A. 1983. Konsep Fisika Modern, Edisi Ketiga. Jakarta : Erlangga. Krane, K. 1992. Fisika Modern. Jakarta : Salemba, Universitas Indonesia. Muttaqin, Afdhal. 2007. Pedoman Fisika Eksperimen I. Padang : Universitas Andalas. Tipler, Paul A. 2001. Fisika untuk Sains dan Teknik. Jakarta : Erlangga.

6|Page