Anda di halaman 1dari 22

STATUS ORANG SAKIT

ANAMNESE PRIBADI Nama Umur Jenis Kelamin Agama Suku Pekerjaan Alamat No. MR Tanggal Masuk : Ny. S : 64 tahun : Perempuan : Islam : Jawa : Ibu Rumah Tangga : Secang : 07-64-96 : 23 Oktober 2012

ANAMNESE PENYAKIT Keluhan Utama RPS : Pandangan kedua mata kabur : Hal ini dialami ODS sejak 1 tahun yang lalu dan penglihatan ODS kabur secara perlahan. ODS sering merasa silau bila terkena sinar matahari. Mata perih (+), mata merah (-), mata terasa gatal (-), mata berair (+), pasien mengaku lebih jelas melihat di malam hari. RPD : a. Pasien pernah mengalami gangguan penglihatan sejak setahun yang lalu b. Riwayat penyakit gula (DM) disangkal c. Riwayat darah tinggi (hipertensi) disangkal d. Riwayat memakai kacamata minus, kacamata plus, kacamata baca disangkal e. Riwayat kelainan mata sejak lahir disangkal f. Riwayat adanya trauma pada mata seperti mata terkena bahan-bahan kimia, terbentur benda tumpul atau benda tajam disangkal g. Riwayat mengalami sakit pada mata disangkal

RPO

: a. Riwayat alergi disangkal b. Riwayat operasi yang berhubungan dengan mata disangkal

RPK

: a. Riwayat penyakit gula (DM) disangkal

b. Riwayat darah tinggi (hipertensi) disangkal c. Tidak ada anggota keluarga yang sakit seperti ini RSE : Suami pasien bekerja sebagai petani, pasien periksa ke poli dengan biaya ditanggung sendiri. Kesan ekonomi Kurang.

STATUS PRESENT Kesadaran Tekanan darah Frekuensi nadi Frekuensi nafas Temperatur : Compos Mentis : 120/80 mmHg : 78 x/menit : 18 x/menit : 36,5 oC Cyanosis Anemia Dyspnoe Edema Ikterus : (-) : (-) : (-) : (-) : (-)

STATUS GENERALISATA Kepala Mata Hidung Telinga Mulut Leher Toraks Abdomen Inguinal Genetalia : Dalam Batas Normal : Lihat status ophthalmicus : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal. : Dalam Batas Normal. : Dalam Batas Normal. : Dalam Batas Normal. : Dalam Batas Normal

Ekstremitas Superior Ekstremitas Inferior

: Dalam Batas Normal : Dalam Batas Normal

STATUS OPHTHALMICUS No 1 2 3 Pemeriksaan Visus Gerakan Bola Mata Suprasilia Palpebra Superior : - Edema - Hematom - Entropion - Ektropion - Silia - Ptosis Palpebra Inferior : - Edema - Hematom - Entropion - Ektropion - Silia Konjungtiva - Hiperemi - Injeksi konjungtiva - Injeksi siliar - Sekret Kornea - Kejernihan - Mengkilat - Edema - Lacrimasi - Infiltrat - Keratik presipitat - Ulkus - Sikatrik - Flouresin Test Oculus Dexter 1/300 nc Baik ke segala arah Normal Oculus Sinister 2/60 nc Baik ke segala arah Normal

Trikiasis ( - ) -

Trikiasis ( - ) -

Trikiasis ( - )

Trikiasis ( - )

+ + Tidak dilakukan pemeriksaan

+ + Tidak dilakukan pemeriksaan

Fistel Test

Tidak dilakukan Pemeriksaan

Tidak dilakukan pemeriksaan

COA Iris

Kedalaman Hifema Hipopion Efek tyndall

Normal -

Dangkal -

- Kripte - Edema - Sinekia Pupil Lensa -

Normal -

Normal -

10

Bentuk diameter reflek pupil sinekia Isokoris kejernihan iris shadow Bentuk

Bulat 2mm + + Keruh Normal

Bulat 2mm + _ + Keruh + Normal

11

12

Corpus vitreum - Kejernihan Retina - Fundus Refleks - Papil N II TIO

Tidak dapat dinilai

Tidak dapat dinilai

13

+ Suram Tidak dapat dinilai Normal

+ Suram Tidak dapat dinilai Normal

14

Gambar

Keruh

keruh

DIAGNOSIS BANDING Oculus Dexter 1. OD Katarak insipien Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+), Iris Shadow (-) dan COA Normal (+) 2. OD Katarak imatur Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+), Iris Shadow (-) dan COA Normal (+) 3. OD Katarak matur Ditegakan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh seluruhnya (+), Iris Shadow (-) dan COA Normal (+) 4. OD Katarak hipermatur Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+), Iris Shadow (-) dan COA Normal (+) 5. OD Katarak akibat terinduksi obat Disingkirkan karena dari hasil anamnesis tidak ditemukan adanya pengobatan tertentu yang dapat mengakibatkan kekeruhan lensa, seperti penggunaan kortikosteroid jangka panjang ataupun phenotiazine. 6. OD Katarak akibat trauma Disingkirkan karena dari hasil anamnesis tidak ditemukan riwayat adanya trauma pada mata 7. OD Katarak komplikata

Disingkirkan karena dari hasil anamnesis pasien tidak ada keturunan penyakit gula (DM) atau sedang mengalami sakit gula (DM)

Oculus Sinister 1. OS Katarak Insipien Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+), COA dangkal (+), dan iris shadow (+) 2. OS Katarak Imatur Ditegakan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+), COA dangkal (+) dan Iris Shadow (+) 3. OS Katarak Matur Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan kekeruhan lensa tidak seluruhnya, COA dangkal (+) dan Iris Shadow (+) 4. OS Katarak Hipermatur Disingkirkan karena dari hasil pemeriksaan didapatkan lensa keruh (+), dangkal (+) dan Iris Shadow (+) 5. Katarak akibat terinduksi obat Disingkirkan karena dari hasil anamnesis tidak ditemukan adanya pengobatan tertentu yang dapat mengakibatkan kekeruhan lensa, seperti penggunaan kortikosteroid jangka panjang ataupun phenotiazine. 6. OD Katarak akibat trauma Disingkirkan karena dari hasil anamnesis tidak ditemukan riwayat adanya trauma pada mata 7. OD Katarak komplikata Disingkirkan karena dari hasil anamnesis pasien tidak ada keturunan penyakit gula (DM) atau sedang mengalami sakit gula (DM) COA

PEMERIKSAAN PENUNJANG 1. Pemeriksaan Laboratorium a. Pemeriksaan Darah Lengkap

b. Pemeriksaan GDS, GDP, GDPP

DIAGNOSIS KERJA OD Katarak Matur OS Katarak Imatur

TERAPI Medikamentosa Topikal : o Cendo Lyteers ED BT.1 S.3dd.gtt.1 ODS Oral : o Neurodex tab no.X S. 1dd. Tab 1 Operatif EKEK (Ekstraksi Katarak Ekstra Kapsular) + Penanaman IOL (Intra Okular Lensa) OD

EDUKASI a. Berikan penjelasan bahwa pada Katarak tidak ada jalan lain selain Operasi agar dapat membantu dalam perbaikan penglihatan kembali. b. Obat-obatan hanya diberikan sementara untuk mengurangi gejala-gejala yang ada tanpa membantu dalam perbaikan penglihatan kembali. c. Memberi nasihat kepada pasien agar ikut dalam program Jamkesmas atau Jamkesda agar dapat keringanan biaya d. Jangan memaksakan diri untuk membaca terlalu lama, agar tidak pusing.

PROGNOSA

Prognosis Quo ad visam Quo ad sanam Quo ad functionam Quo ad vitam Quo ad kosmetikam

Oculus Dexter Dubia ad Bonam Bonam Dubia ad Bonam Bonam Bonam

Oculus Sinister Dubia ad Bonam Bonam Dubia ad Bonam Bonam Bonam

KOMPLIKASI Katarak dapat menyebabkan uveitis dan glaukoma sekunder.Uveitis dapat terjadi pada katarak stadium hipermatur akibat pencairan dan pengeluaran masa lensa ke bilik mata depan (COA). Protein lensa dianggap sebagai benda asing oleh tubuh sehingga timbul reaksi inflamasi di uvea (uveitis). Akibat lanjut dari uveitis ini dapat terjadi trabekulitis, sinekia (anterior/posterior) dan glaukoma sekunder. Glaukoma sekunder dapat terjadi pada katarak stadium immatur dan hipermatur. Pada stadium immatur, hidrasi lensa menyebabkan lensa lebih mencembung dan akan mendorong iris kedepan sehingga akan mempersempit sudut iridokorneal, selanjutnya dapat menghambat outflow humor akuos. Pada stadium hipermatur, masa lensa yang keluar dapat menyumbat jaringan trabekulum sehingga outflow humor akuos juga terganggu.

RUJUKAN Dalam kasus ini tidak dilakukan Rujukan ke Disiplin Ilmu Kedokteran Lainnya, karena dari pemeriksaan klinis dan laboratorium tidak ditemukan kelainan yang berkaitan dengan Disiplin Ilmu Kedokteran lainnya.

FOLLOW UP TANGGAL 29 OKTOBER 2011 Status present


Keadaan Umum Tekanan Darah Frekuensi Nadi Frekuensi Nafas Temperatur : Compos Mentis : 120/70 mmhg : 80 x/menit : 24 x/menit : 36,5c

Status Opthalmicus
Visus Palpebra superior Palpebra inferior Conj. Tarsalis superior Conj. Tarsalis inferior Conj. Bulbi Cornea COA Iris Pupil Lensa

: Oculi Dextra
: 6/60 (bedside) : oedem (-) : oedem (-) : hiperemis (+) : hiperemis (+) : inj. Konjunctiva (+) : jahitan (+) : normal : coklat : Bulat, 2-3 mm, RC (+) : IOL (+)

Oculi Sinistra
1/300 (bedside) oedem (-) oedem (-) hiperemis (-) hiperemis (-) hiperrmis (-) jernih normal coklat Bulat, 2-3 mm, RC (+) keruh

Diagnosa: Pseudophakia OD + Katarak senilis matur OS Terapi : Medikamentosa


Bed rest Amoxicillin tab 3x500mg Dexamethason tab 3x4 mg Asam mefenamat tab 3 x 500 mg C. Polydex ED 4xgttI OD

Operasi - EKEK + IOL OS

KATARAK
Katarak adalah keadaan kekeruhan pada lensa yang dapat terjadi akibat hidrasi (penambahan cairan) lensa, denaturasi protein lensa atau akibat kedua-duanya. Biasanya kekeruhan mengenai kedua mata dan berjalan progresif ataupun dapat tidak mengalami perubahan dalam waktu yang lama. Katarak umumnya merupakan penyakit pada usia lanjut, akan tetapi dapat juga akibat kelainan kongenital, atau penyulit penyakit mata lokal menahun. Bermacam-macam penyakit mata dapat mengakibatkan katarak seperti glaukoma, ablasi, uveitis dan retinitis pigmentosa. Katarak dapat berhubungan proses penyakit intraokuler lainnya. Katarak dapat disebabkan bahan toksik khusus (kimia dan fisik). Keracunan beberapa jenis obat dapat menimbulkan katarak seperti eserin (0,25-0,5%), kortikosteroid, ergot, antikolinesterase topikal. Kelainan sistemik atau metabolik yang dapat menimbulkan katarak adalah diabetes melitus, galaktosemi dan distrofi miotonik. Katarak dapat ditemukan dalam keadaan tanpa adanya kelainan mata atau sistemik (katarak senil, juvenil, herediter) atau kelainan kongenital mata.3 Katarak disebabkan oleh berbagai faktor seperti :3 Fisik Kimia Penyakit predisposisi Genetik dan gangguan perkembangan Infeksi virus di masa pertumbuhan janin Usia

Penglihatan normal

Penglihatan pada orang dengan katarak

http://www.nei.nih.gov/health/cataract/cataract_facts.asp II.1 KLASIFIKASI KATARAK A. Berdasarkan usia, katarak dapat diklasifikasikan dalam :2,3 Katarak kongenital, katarak yang sudah terlihat pada usia di bawah 1 tahun Katarak Infantile Katarak juvenil, katarak yang terjadi sesudah usia 1 tahun Katarak Pre-senilis Katarak senil, katarak setelah usia 50 tahun Bila mata sehat dan tidak terdapat kelainan sistemik maka hal ini biasanya terdapat pada hampir semua katarak senil, katarak herediter dan kongenital. Katarak kongenital Katarak kongenital adalah katarak yang mulai terjadi sebelum atau segera setelah lahir dan bayi berusia kurang dari 1 tahun. Katarak kongenital merupakan penyebab kebutaan pada bayi yang cukup berarti terutama akibat penanganannya yang kurang tepat. Katarak kongenital digolongkan dalam katarak :3 Kapsulolentikular dimana pada golongan ini termasuk katarak kapsular dan katarak polaris Lentikular, yang termasuk dalam golongan ini katarak yang mengenai korteks atau nukleus lensa Dalam kategori ini termasuk kekeruhan lensa yang timbul sebagai kejadian primer atau berhubungan dengan penyakit ibu dan janin lokal atau umum. Untuk mengetahui penyebab katarak kongenital diperlukan pemeriksaan riwayat prenatal infeksi ibu seperti rubela pada kehamilan trimester pertama dan pemakaian obat selama kehamilan. Kadang-kadang pada ibu hamil terdapat riwayat kejang, tetani, ikterus atau hepatosplenomegali. Bila katarak disertai uji reduksi pada urine yang positif, mungkin katarak ini terjadi akibat galaktosemia. Sering katarak kongenital ditemukan pada bayi prematur dan gangguan sistem saraf seperti retardasi mental. Hampir 50% dari katarak kongenital adalah sporadik dan tidak diketahui penyebabnya.

Pemeriksaan darah pada katarak kongenital perlu dilakukan karena ada hubungan katarak kongenital dengan diabetes melitus, kalsium dan fosfor. 3 Penanganan tergantung pada unilateral dan bilateral, adanya kelainan mata lain dan saat terjadinya katarak. Katarak kongenital prognosisnya kurang memuaskan karena bergantung pada bentuk katarak dan mungkin sekali pada mata tersebut telah terjadi ambliopia. Bila terdapat nistagmus maka keadaan ini menunjukkan hal yang buruk pada katarak kongenital.3 Pada pupil mata bayi yang menderita katarak kongenital akan terlihat bercak putih atau suatu leukokoria. Penyulit yang dapat terjadi adalah makula lutea yang tidak cukup mendapat rangsangan. Makula tidak akan berkembang sempurna hingga walaupun dilakukan ekstraksi katarak maka visus biasanya tidak akan mencapai 5/5. Hal ini disebut ambliopia sensoris (amblyopia ex anopsia). Katarak kongenital dapat menimbulkan komplikasi lain berupa nistagmus dan strabismus.3 Katarak kongenital sering ditemukan pada bayi yang dilahirkan oleh ibu-ibu yang menderita penyakit rubela, galaktosemia, homosisteinuria, diabetes melitus, hipoparatiroidism,

homosisteinuri, toksoplasmosis, inklusi sitomegalik dan histoplasmosis. Penyakit lain yang menyertai katarak kongenital biasanya merupakan penyakit-penyakit herediter seperti mikroftalmus, aniridia, koloboma iris, keratokonus, iris heterokromia, lensa ektopik, displasia retina dan megalokornea.3 Tindakan pengobatan pada katarak kongenital adalah operasi. Operasi katarak kongenital dilakukan bila refleks fundus tidak tampak. Biasanya bila katarak bersifat total, operasi dapat dilakukan usia 2 bulan atau lebih muda bila telah dapat dilakukan pembiusan. Tindakan bedah pada katarak kongenital yang umum dikenal adalah disisio lensa, ekstraksi liliar, ekstraksi dengan aspirasi.3

Katarak juvenil Katarak yang lembek dan terdapat pada orang muda, yang mulai terbentuknya pada usia kurang dari 9 tahun dan lebih dari 3 bulan. katarak juvenil biasanya merupakan kelanjutan katarak kongenital.3 Katarak juvenil biasanya merupakan penyulit penyakit sistemik ataupun metabolik dan penyakit sistemik lainnya seperti : 1. Katarak metabolik

o Katarak diabetik dan galaktosemik o Katarak hipokalsemik (tetanik) o Katarak defisiensi gizi o Katarak aminoasiduria (termasuk sindrom Lowe dan homosistinuria) o Penyakit Wilson o Katarak berhubungan dengan penyakit metabolik lain 2. Otot Distrofi miotonik (umur 20 sampai 30 tahun)

3. Katarak traumatik 4. Katarak komplikata Kelainan kongenital dan herediter (siklopia, koloboma, mikroftalmus, aniridia, pembuluh hialoid persisten, heterokromia iridis) Katarak degeneratif (dengan miopia dan distrofi vitreoretinal, seperti Wagner dan retinitis pigmentosa dan neoplasma) Katarak anoksik Toksik (kortikosteroid sistemik atau topikal, ergot, naftalein, dinitrofenol, triparanol (MER-29), antikolinesterase, klorpromazin, miotik, klorpromazin, busulfan dan besi) Lain-lain kalinan kongenital, sindrom tertentu, disertai kelainan kulit, tulang (disostosis kraniofasial, osteogenesis imperfecta, khondrodistrofia kalsifikans kongenital pungtata) dan kromosom Katarak Senil Katarak senil adalah semua kekeruhan lensa yang terdapat pada usia lanjut yaitu usia di atas 50 tahun. Penyebabnya sampai sekarang tidak diketahui secara pasti. Perubahan lensa pada usia lanjut :3 1. Kapsul Menebal dan kurang elastis (1/4 dibanding anak) Mulai presbiopia Bentuk lamel kapsul berkurang atau kabur Katarak radiasi

Terlihat bahan granular 2. Epitel makin tipis Sel epitel (germinatif) pada ekuator bertambah besar dan berat Bengkak dan vakuolisasi mitokondria yang nyata 3. Serat lensa Lebih ireguler Pada korteks jelas kerusakan serat sel Brown sclerotic nucleus, sinar ultraviolet lama kelamaan merubah protein nukleus (histidin, triptofan, metionin, sistein dan tirosin) lensa, sedang warna coklat protein lensa nukleus mengandung sedikit histidin dan triptofan dibanding normal 4. Korteks tidak berwarna karena : Kadar asam askorbat tinggi dan menghalangi fotooksidasi Sinar tidak banyak mengubah protein pada serat muda Kekeruhan lensa dengan nukleus yang mengeras akibat usia lanjut yang biasanya mulai terjadi pada usia lebih dari 60 tahun. Pada katarak senil sebaiknya disingkirkan penyakit mata lokal dan penyakit sistemik seperti diabetes melitus yang dapat menimbulkan katarak komplikata. B. Berdasarkan Maturitas2 Katarak insipien. Pada stadium ini akan terlihat kekeruhan mulai dari tepi ekuator berbentuk jeriji menuju korteks anterior dan posterior (katarak kortikal). Vakuol mulai terlihat di dalam korteks. Pada katarak subkapsular posterior, kekeruhan mulai terlihat anterior subkapsular posterior, celah terbentuk antara serat lensa dan korteks berisi jaringan degeneratif (benda Morgagni) pada katarak insipien. Kekeruhan ini dapat menimbulkan poliopia oleh karena indeks refraksi yang tidak sama pada semua bagian lensa. Bentuk ini kadang-kadang menetap untuk waktu yang lama.3 Katarak imatur. Pada stadium ini kekeruhan belum mengenai seluruh lapisan lensa.2,3 Pada katarak imatur akan dapat bertambah volume lensa akibat meningkatnya tekanan osmotik bahan lensa yang degeneratif.3 Katarak matur. Pada katarak matur kekeruhan telah mengenai seluruh masa lensa.2,3 Kekeruhan ini bisa terjadi akibat deposisi ion Ca yang menyeluruh. Bila katarak imatur atau intumesen tidak dikeluarkan maka cairan lensa akan keluar, sehingga lensa kembali pada ukuran

yang normal. Akan terjadi kekeruhan seluruh lensa yang bila lama akan mengakibatkan kalsifikasi lensa. Bilik mata depan akan berukuran kedalaman normal kembali, tidak terdapat bayangan iris pada lensa yang keruh, sehingga uji bayangan iris negatif.3 Katarak intumesen. Kekeruhan lensa disertai pembengkakan lensa akibat lensa yang degeneratif menyerap air. Masuknya air ke dalam celah lensa mengakibatkan lensa menjadi bengkak dan besar yang akan mendorong iris sehingga bilik mata menjadi dangkal dibanding dengan keadaan normal.3 Keadaan ini bisa menyababkan glaukoma sekunder pada orang-orang yang mempunyai predisposisi, contoh bilik mata dangkal, sudut sempit, karena dengan perubahan lensa sedikit saja bisa menutup sudut sehingga secara akut bisa terjadi gangguan filtrasi dan meyebabkan tekanan meningkat secara mendadak.2 Katarak intumesen biasanya terjadi pada katarak yang berjalan cepat dan mengakibatkan miopia lentikular. Pada keadaan ini dapat terjadi hidrasi korteks hingga lensa akan mencembung dan daya biasnya akan bertambah, yang memberikan miopisasi. Pada pemeriksaan slitlamp terlihat vakuol pada lensa disertai peregangan jarak lamel serat lensa.3 Katarak hipermatur. Katarak hipermatur adalah katarak yang mengalami proses degenerasi lanjut, dapat menjadi keras atau lembek dan mencair. Masa lensa yang berdegenerasi keluar dari kapsul lensa sehingga lensa menjadi mengecil, berwarna kuning dan kering. Pada pemeriksaan terlihat bilik mata dalam dan lipatan kapsul lensa. Kadang-kadang pengkerutan berjalan terus sehingga hubungan dengan zonula zinn menjadi kendor. Bila proses katarak berjalan lanjut disertai dengan kapsul yang tebal maka korteks yang berdegenerasi dan cair tidak dapat keluar, maka korteks akan memperlihatkan bentuk sebagaisekantong susu disertai dengan nukleus yang terbenam di dalam korteks lensa karena lebih berat.3 Katarak Morgagni Merupakan kelanjutan dari katarak hipermatur, di mana korteks benar-benar mencair, sehingga nukleus seolah-olah tenggelam dalam masa korteks. Nukleus biasa lebih di bawah sehingga saat korteks mencair nukleus tampak tenggelam. Kapsul sudah berkerut.2 Perbedaan stadium katarak senil3 Insipien Kekeruhan Cairan lensa Ringan Normal Imatur Sebagian Bertambah (cairan masuk) Matur Seluruh Normal Hipermatur Masif Berkurang (air+masa lensa

keluar) Iris Bilik mata depan Sudut bilik mata Shadow test Penyulit Normal Normal Normal Normal Negatif Terdorong Dangkal Sempit Positif Glaukoma Normal Normal Normal Normal Negatif Tremulans Dalam Terbuka Pseudopositif Uveitis & glaukoma C. Berdasarkan morfologi2 1. Katarak kapsular a. Kapsular Anterior Kongenital ada membran di depan pupil yang persisten sehingga lensa menjadi keruh. Acquired ( didapat ) berhubungan dengan sinekhia posterior akibat uveitis, Chlorpromazine ( intoksikasi ), pseudoexfoliation syndrome. b. Kapsular Posterior Kongenital 2. Katarak Subkapsular Biasanya dimulai dengan kekeruhan yang sedikit persis di bawah kapsul, biasa di bagian belakang sehingga akan sangat mengganggu cahaya yang masuk melalui lensa ke retina dan umumnya terjadi pada dua mata walaupun mungkin ada satu mata yang lebih parah dibanding mata yang lain dan sangat mengganggu pada saat membaca. Katarak jenis ini keluhannya paling banyak. a. Subkapsular Posterior Komplikasi dari penyakit metabolik seperti DM, penggunaan steroid, radiasi, dan lain-lain. Berhubungan dengan usia ( pada orang tua ) b. Subkapsular Anterior

Pasca glaukoma akut, intoksikasi amiodarone, pemakaian miotik terlalu lama, dan Wilsons disease. 3. Katarak Nuklear Berhubungan dengan proses degeneratif, namun bisa juga kongenital karena infeksi dari Rubella dan karena Galaktosemia. Menjadi lebih rabun jauh sehingga mudah melihat dekat, pasien lebih enak membaca. Melihat pada malam hari atau lampu redup akan terganggu.

4. Katarak kortikal Umumnya bersifat kongenital. Penglihatan jauh dan dekat terganggu. Biasanya tidak berhubungan dengan tajam penglihatan.

5. Katarak Lamelar 6. Katarak Sutural Karena letak kekeruhan ini tidak tepat mengenai media penglihatan maka tidak mengganggu penglihatan.4 Bersifat kongenital. Katarak Sekunder Katarak sekunder terjadi akibat terbentuknya jaringan fibrosis pada sisa lensa yang tertinggal, paling cepat keadaan ini terlihat sesudah 2 hari EKEK. Bentuk lain yang merupakan proliferasi epitel lensa pada katarak sekunder berupa mutiara Elschnig dan cincin Soemmering. Katarak sekunder merupakan fibrin sesudah suatu peradangan dan hasil degenerasi atau degenerasi lensa yang tertinggal sesudah suatu operasi katarak ekstra kapsular atau sesudah suatu trauma yang memecah lensa.3 Cincin Soemmering mungkin akan bertambah besar oleh karena daya regenerasi epitel yang terdapat di dalamnya. Cincin Soemmering terjadi akibat kapsul anterior yang pecah dan traksi ke arah pinggir-pinggir melekat pada kapsula posterior meninggalkan daerah yang jernih di tengah dan membentuk gambaran cincin. Pada pinggir cincin ini tertimbun serabut lensa epitel yang berproliferasi.3 Mutiara Elschnig adalah epitel subkapsular yang beproliferasi dan membesar sehingga tampak sebagai busa sabun atau telur kodok. Mutiara ini mungkin akan menghilang dalam beberapa tahun oleh karena pecah dindingnya.

Pengobatan katarak sekunder adalah pembedahan seperti disisio katarak sekunder, kapsulotomi, membranektomi, atau mengeluarkan seluruh membran keruh.3 Katarak Komplikata Katarak komplikata merupakan katarak akibat penyakit mata lain seperti radang, dan proses degenerasi seperti ablasi retina, retinitis pigmentosa, glaukoma, tumor intra okular, iskemia okular, nekrosis anterior segmen, buftalmos, akibat suatu trauma dan pasca bedah mata. Katarak komplikata dapat juga disebabkan oleh penyakit sistemik endokrin (diabetes melitus, hipoparatiroid, galaktosemia dan miotonia distrofi) dan keracunan obat (tiotepa intravena, steroid lokal lama, steroid sistemik, oral kontrasepsi dan miotika antikolinesterase).3 Katarak komplikata memberikan tanda khusus dimana mulai katarak selamanya di daerah bawah kapsul atau pada lapis korteks, kekeruhan dapat difus, pungtata ataupun linear. Dapat berbentuk rosete, retikulum dan biasanya terlihat vakuol. Ada 2 bentuk yaitu bentuk yang disebabkan kelainan pada polus posterior mata dan akibat kelainan pada polus anterior bola mata. Katarak pada polus posterior terjadi akibat penyakit koroiditis, retinitis pigmentosa, ablasi retina, kontusio retina dan miopia tinggi yang mengakibatkan kelainan pada badan kaca. Biasanya kelainan ini berjalan aksial yang biasanya tidak berjalan cepat di dalam nukleus, sehingga sering terlihat nukleus lensa tetap jernih. Katarak akibat miopia tinggi dan ablasi retina memberikan gambaran agak berlainan. Katarak akibat kalainan polus anterior bola mata biasanya akibat kelainan kornea berat, iridosiklitis, kelainan neoplasma dan glaukoma. Pada iridosiklitis akan mengakibatkan katarak subkapsularis anterior. Pada katarak akibat glaukoma akan terlihat katarak disimanata pungtata subkapsularis anterior (katarak Vogt).3 Katarak Traumatik1 Paling sering disebabkan oleh trauma benda asing pada lensa atau trauma tumpul pada bola mata. Peluru senapan angin dan petasan merupakan penyebab tersering. Lensa menjadi putih segera setelah masuknya benda asing karena lubang pada kapsul lensa menyebabkan humor aqueus dan kadang-kadang vitreus masuk ke dalam struktur lensa. II.2 GEJALA KATARAK2 Gejala Subjektif

Penurunan penglihatan secara perlahan Silau Seperti melihat kabut Melihat sore hari lebih enak Miopisasi

Gejala Objektif

Kelainan refraksi Kekeruhan lensa Tekanan intraokular normal Tidak ada gangguan lapangan pandang

II.3 DIAGNOSIS3 Pemeriksaan yang dilakukan pada pasien katarak adalah slitlamp, funduskopi pada kedua mata bila mungkin, tonometer, selain itu pemeriksaan prabedah yang diperlukan lainnya seperti adanya infeksi pada kelopak mata, konjungtiva, karena dapat merupakan penyulit yang berat berupa panoftalmitis pascabedah. Pada katarak sebaiknya dilakukan pemeriksaan tajam penglihatan sebelum dilakukan pembedahan untuk melihat apakah kekeruhan sebanding dengan turunnya tajam penglihatan

II. 4 DIFFERENTIAL DIAGNOSIS - Leukokoria - Fibroplasti retrolensa - Ablasi retina - Membrana pupil iris persistans - Oklusi pupil - Retinoblastoma

II. 5 KOMPLIKASI KATARAK2 Komplikasi yang sering timbul akibat katarak adalah: Glaukoma

Ada beberapa fase dari katarak yang bisa menimbulkan glaukoma, yaitu: 1. Phocomorpic Glaucoma Lensa lebih besar karena menyarap air sehingga pada orang dengan predisposisi tertentu akan menyebabkan bilik matanya menjadi dangkal dan jaringan trabekulum bisa tertutup akibat irisnya maju. Bisa menimbulkan glaukoma sekunder sudut tertutup. Glaukomanya mirip dengan glaukoma akut, tapi glaukomanya sekunder. 2. Phacolytic Glaucoma Terjadi pada katarak hipermatur di mana protein lensa keluar dari kapsul, bisa ke bilik mata depan dan menyumbat trabekulum sehingga menyebabkan tekanan intraokular meningkat. Pada kasus ini glaukomanya sudut terbuka, tetapi tersumbat oleh protein-protein lensa. 3. Phacotoxic Glaucoma Lensa sudah keriput sehingga bisa maju ke depan atau ke belakang. Kalau lebih ke arah anterior maka keadaan ini bisa menyebabkan blokade pupil yang bisa menyebabkan glaukoma sekunder sudut tertutup. Uveitis Protein lensa keluar dan dianggap benda asing, sehingga tubuh berusaha menghancurkannya. Keadaan ini menimbulkan reaksi uveitis. Subluksasi dan Dislokasi lensa Terjadi pada stadium hipermatur, di mana pada stadium ini zonulnya menjadi kaku dan rapuh sehingga bisa lepas dari lensa. Lensa bisa subluksasi atau dislokasi.

II.6 PROGNOSIS Prognosis penglihatan untuk pasien anak-anak yang memerlukan pembedahan tidak sebaik prognosis untuk pasien katarak senilis. Adanya ambliopia dan kadang-kadang anomali saraf optikus atau retina membatasi tingkat pencapaian pengelihatan pada kelompok pasien ini.

Prognosis untuk perbaikan ketajaman pengelihatan setelah operasi paling buruk pada katarak kongenital unilateral dan paling baik pada katarak kongenital bilateral inkomplit yang proresif lambat. Keberhasilan tanpa komplikasi pada pembedahan dengan EKEK atau fakoemulsifikasi menjanjikan prognosis dalam penglihatan dapat meningkat hingga 2 garis pada pemeriksaan dengan menggunakan snellen chart.

II.7 PENCEGAHAN Umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambahnya umur yang tidak dapat dicegah. Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui adanya katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun. Pada saat ini dapat dijaga kecepatan berkembangnya katarak dengan: - Tidak merokok, karena merokok mengakibatkan meningkatkan radikal bebas dalam tubuh, sehingga risiko katarak akan bertambah - Pola makan yang sehat, memperbanyak konsumsi buah dan sayur - Lindungi mata dari sinar matahari, karena sinar UV mengakibatkan katarak pada mata - Menjaga kesehatan tubuh seperti kencing manis dan penyakit lainnya

DAFTAR PUSTAKA
1. Shock JP, Richard AH, MD. Lensa. Dalam : Whitcher John P, Paul Riordan Eva, editor. Oftalmologi Umum; edisi ke-17. Jakarta: Penerbit buku Kedokteran EGC, 2010 : 169177. 2. Rahmadani, Siti. Diktat Kuliah Ilmu Penyakit Mata Tingkat IV. Jakarta: 2007. 3. Ilyas S. Penglihatan Turun Perlahan Tanpa Mata Merah. Dalam: Ilmu Penyakit Mata; edisi ke-3. Cetakan I. Jakarta: FKUI, 2006: 200-211. 4. Ilyas S. Lensa Mata. Dalam: Ilmu Penyakit Mata Untuk Dokter Umum dan Mahasiswa Kedokteran; edisi ke-2. Cetakan I. Jakarta: FKUI, 2002: 143-157. 5. http://www.nei.nih.gov/health/cataract/cataract_facts.asp 6. http://medicastore.com/penyakit/65/Katarak.html