P. 1
KARSINOMA REKTI

KARSINOMA REKTI

|Views: 233|Likes:
Dipublikasikan oleh amaliaturrahmah

More info:

Published by: amaliaturrahmah on Jan 02, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PPTX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/06/2015

pdf

text

original

Karsinoma Rekti

Oleh: Amaliaturrahmah Pembimbing: Dr. Syaiful Mukhtar, Sp.B-KBD

Karsinoma rekti  tumor ganas terbanyak di antara tumor ganas saluran cerna

di dunia  urutan ke-3 dalam frekuensinya

2006-2010, kanker kolo rectal di RS. AWS Samarinda 160 orang, jumlah pria 81: wanita 65 orang, >> Adeno Ca (130 orang), >> 31-40 tahun.

merupakan salah satu jenis kanker yang tercatat sebagai penyakit mematikan di dunia

Diagnosis karsinoma rekti pada umumnya tidaklah sulit  kenyataannya penderita sering terdiagnosis pada stadium lanjut  pembedahan kuratif seringkali tidak dapat dilakukan

jika penderita telah terdeteksi secara dini menderita karsinoma rekti sebelum stadium lanjut  kemungkinan untuk sembuh bisa mencapai 50%.
Upaya untuk menurunkan angka kematian akibat kanker rekti  deteksi secara dini. angka kemungkinan 5-year survival rates pada stadium dini  58,9 sampai 78,8% dan berkurang seiring dengan meningkatnya stadium  hanya 7% saja pada stadium akhir

Tujuan dari penulisan referat ini adalah untuk menambah pengetahuan mengenai karsinoma rekti sehingga dokter muda dapat mengenali penyakit ini dan menangani sesuai dengan kompetensinya

 Anatomi

rektum

Rektum (Bahasa Latin: regere, “meluruskan, mengatur”) adalah sebuah ruangan yang berawal dari ujung usus besar (setelah kolon sigmoid) dan berakhir di anus. Organ ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan sementara feses.

Fungsi rektum antara lain:  Menerima feces dari usus besar  Menahan feces sampai pengeluaran terjadi

      

Di dunia kanker kolorektal  peringkat ke-3 pada tingkat insiden dan mortalitas. 2002 >1 juta insiden kanker kolorektal dengan tingkat mortalitas lebih dari 50%. Karsinoma rekti  tumor ganas terbanyak di antara tumor ganas saluran cerna penyebab kematian ke-4 dari kematian karena kanker di seluruh dunia ±135.000 kasus baru kanker kolorektal terjadi di AS/tahun, dan menyebabkan angka kematian sekitar 55.000 insiden pria : wanita = 3 : 1 histopatologis dari kanker kolorektal sebesar 96% berupa adenocarcinoma, 2% karsinoma lainnya (termasuk karsinoid tumor), 0,4% epidermoid carcinoma, dan 0,08% berupa sarcoma. Sebagian besar terdapat di rektum (51,6%), diikuti oleh kolon sigmoid (18,8%), kolon descendens (8,6%), kolon transversum (8,06%), kolon ascendens (7,8%), dan multifokal (0,28%)


 

2006-2010: di RS. AWS Samarinda 160 orang, jenis kelamin pria 81 : wanita 65 orang, jenis terbanyak didapatkan hasil Adeno Ca 130 orang, Mucinous Ca Signet ring cell Ca, Lymphoma,Carcinoid cell Ca, Sarcoma. >>usia 31-40 tahun.14

1.

2.

3.

4.

5. 6. 7.

Faktor genetik seperti familial adenomatous polyposis (FAP) dan hereditary nonpolyposis colorectal cancer (HNPCC) Inflamatory bowel disease seperti penyakit crohn dan kolitis ulseratif. Riwayat keluarga yang menderita kanker kolorektal. Riwayat menderita polip, kanker ovarium, endometriosis, dan kanker payudara. Umur di atas 40 tahun. Diet tinggi lemak rendah serat Gaya Hidup

Pada mukosa rektum yang normal, sel-sel epitelnya akan mengalami regenerasi setiap 6 hari

Pada keadaan patologis terjadi perubahan genetik yang mengganggu proses differensiasi dan maturasi dari sel-sel  replikasi tak terkontrol

Peningkatan jumlah sel akibat replikasi tak terkontrol mengaktivasi K- ras onkogen dan mutasi gen p53  mencegah terjadinya apoptosis dan memperpanjang hidup sel

ANAMNESA  Diare palsu atau “spurious diarrhoea”  BAB berlendir  Feses pipih seperti kotoran kambing  Penurunan berat badan  Perdarahan bercampur tinja PEMERIKSAAN FISIK untuk mencari kemungkinan metastase seperti pembesaran KGB atau hepatomegali rectal touche

Rektum

Perdarahan rektum
Darah di feses Perubahan pola defekasi Pasca defekasi masih ada perasaan tidak puas atau penuh

Penemuan tumor pada colok dubur
Penemuan tumor pada rektosigmoidoskopi

 Biopsi

 Pemeriksaan

Tumor marker : CEA (Carcinoma Embryonic Antigen), CA 242, CA 19-9  Fecal occult blood test (FOBT)  Foto rontgen dengan barium enema  Rectosigmoidoscopy  Colonoscopy  Virtual colonoscopy (CT colonography)  Imaging Tehnik(MRI,CT scan, Endoskopi UltraSound )

Cara pemeriksaan Colok dubur Rektosigmoidoskopi Foto kolon dengan barium kontras Kolonoskopi

Persentase 40% 75% 90% 100% (hampir)

Stadium DUKES 1. Dukes A, tumor di mukosa usus 2. Dukes B1,tumor sampai muskulus propia, 3. Dukes B2,tumor menembus muskulus propia 4. Dukes C, kelenjar regional 5. Dukes D, tumor sudah mengenai organ lain. Berdasarkan sistem TNM
TNM Stadium Modified Dukes Stadium
A B1

Deskripsi

T1 N0 M0 T2 N0 M0

Tumor terbatas pada submucosa Tumor terbatas pada muscularis propria

T3 N0 M0 T2 N1 M0
T3 N1 M0 T4 Any T, M1

B2 C1
C2 C2 D

Penyebaran transmural T2, pembesaran kelenjar mesenteric
T3, pembesaran kelenjar mesenteric Penyebaran ke organ yang berdekatan Metastasis jauh

Penatalaksanaan
1. Pembedahan Operasi merupakan pilihan utama 2. Radiasi 3. Kemoterapi

Eksisi lokal Eksisi lokal jika kanker ditemukan pada stadium paling dini
Low anterior resection (LAR) u/ lesi yang terletak di tengah atau 1/3 atas rektum. Untuk masa tumor > 5 cm dari anokutan dipertimbangkan LAR sehingga tidak perlu kolostomi (5 s/d 15 cm dari garis dentate) reseksi abdominoperineal Quenu-MilesTumor 1/3 distal, yang berjarak <5cm dari anal verge

Low anterior resection

Gambar 14. A, Low anterior resection; B,C, coloanal anastomosis; D, j pouch construction creating a reservoir.

Abdominoperineal resection (Miles procedure)

Gambar 15. Abdominoperineal resection with colostomy

Radiasi  neoadjuvant  stage 2 dan 3, kombinasi dengan kemoterapi menurunkan angka kekambuhan sampai 49% dan menurunkan angka kematian sampai 24%

Kemoterapi  neoadjuvant  stage 2 dan 3  5FU, Leucovorin, Levamisole  menurunkan angka kekambuhan 15% dan angka kematian 10%

Secara keseluruhan 5-year survival rates untuk kanker rektal adalah sebagai berikut :
Stadium Stadium Stadium Stadium I - 72% II - 54% III - 39% IV - 7%

Anamnesis dan pemeriksaan fisik dilakukan pada hari Kamis, 21 Oktober 2011 di ruang perawatan Flamboyan RSUD AW.Sjahranie Samarinda Identitas Pasien  Nama  Umur  Jenis Kelamin  Alamat Bengalon  Pekerjaan  Suku  Status  Agama

: Tn. S : 59 tahun : Laki-laki : Jl. Tepian Langsat Kecamatan : Wakar perkebunan kelapa sawit : Jawa : Menikah : Islam

Buang air besar berdarah

Mual +, muntah (-), << BB 4842, demam (-)

± 3 bulan yll nyeri di anusnya jika habis mengejan kuat ketika BAB, darah yang keluar menyembur jika pasien buang angin atau mengejan dengan kuat. mengkonsumsi obat ambeien, perbaikan(-)

BAB berdarah ± 10 bulan, ampas kotoran, berwarna merah dan berlendir. Darah ± 1 sendok makan , nyeri (+), mules ingin buang air besar dengan frekuensi 3-4 kali sehari, kotoran kambing. Pasien mengaku sering merasa tidak puas setelah BAB dulcolax/3 hari

 Menurut

pengakuan pasien, sejak ± 2 tahun yang lalu pasien sudah mengalami kesulitan buang air besar. BAB terasa keras, sehingga pasien harus mengejan agar kotoran bisa keluar. Pasien juga melihat adanya guratan tipis berwarna merah pada kotoran yang keluar, namun tidak dihiraukan oleh pasien karena tidak ada keluhan nyeri pada perut maupun anus.

Riwayat penyakit keluarga:
Pasien mengakui di keluarganya ada juga yang memiliki kebiasaan sulit buang air besar, namun untuk riwayat kanker di keluarga pasien mengaku tidak mengetahuinya.

Riwayat kebiasaan
Pasien tinggal di hutan dan bekerja sebagai wakar di perkebunan sawit, sehingga jarang makan sayur dan seringkali hanya makan telur dan mie instan.  Pasien mengaku tidak pernah merokok ataupun mengkonsumsi minuman keras.

Keadaan umum  Keadaan sakit : sakit ringan  Kesadaran : compos mentis, E4V5M6  Status habitus : atletikus Vital sign  Tekanan darah : 120/80 mmHg  Nadi : 78 x/menit  Pernafasan : 20 x/menit  Suhu aksiler : 36,7oC

Kepala/leher Mata: •Konjunctiva anemis (-/-) •Sklera ikterik (-/-) •Katarak (-/-) •Pterigium (-/-) •Pupil isokor 4 mm/4 mm Hidung: •bentuk simetris •pernafasan cuping hidung (-/-)

Mulut:  bibir sianosis (-)  lidah kotor (-)  karies pada gigi (-)  pembesaran tosil (-)  hiperemis faring (-) Leher:  Peningkatan JVP (-)  Pembesaran KGB (-)  Deviasi trakea (-)

Thorax paru:  I : bentuk dan pergerakan dinding dada simetris  Pa : gerak nafas simetris, fremitus raba D=S  Pe : sonor pada seluruh lapangan paru, batas paru hepar pada ICS 6, peranjakan hepar pada ICS 7  A : vesikuler pada seluruh lapangan paru, rhonki , wheezing
Thorax jantung:  I : Ictus cordis tampak pada ICS V, 2 cm dari MCL sinistra  Pa : Ictus cordis teraba pada ICS V, 2 cm dari MCL sinistra  Pe : batas jantung kanan pada ICS III PSL dekstra Batas jantung kiri pada ICS V MCL sinistra  A : S1 & S2 normal, tunggal, murmur dan gallop (-)

Abdomen: I : flat, simetris, peristaltik tak tampak  Pa : soefl, nyeri tekan ulu hati (-), nyeri ketuk hepar (-), nyeri tekan pada abdomen kiri bawah, hepar, lien, dan ginjal tak teraba  Pe : timpani, ruang trobe kosong, shifting dullness (-) A : bising usus normal Ektrimitas superior: akral hangat, edema (-/-)  Ekstrimitas inferior: akral hangat, edema (-/-)

Pemeriksaan penunjang  Rectal touche:  Spinchter ani menjepit kuat, mukosa licin, teraba massa lunak dan hilang pada penekanan di arah jam 6 dan 9, hanskun: darah (+), lendir (+), feses (-)
 

Colonoscopy: Colon descendens, transversum, dan ascendens normal. Pada kedalaman 10 cm terlihat massa berbenjol. Massa ada yang keras, ada yang rapuh dan mudah berdarah. Hasil biopsy Adenokarsinoma colon berdifferensiasi baik.

 

Leukosit

: 5100

Hb
HCT Trombosit

: 9.5 gr/dl
: 36,5 % : 223000

GDS
SGOT SGPT Bil total Bil direk Bil indirek

: 151
: 31 : 33 : 0,5 : 0,2 : 0,3

Protein total Albumin Globumin Kolesterol Asam urat Ureum Kreatinin CRP CEA

: 6,3 : 3,1 : 3,2 : 181 : 4,6 : 20,0 : 0,8 : < 6 mg/L : 1,23 ng/ml

22 Agustus 2011

S : Nyeri perut bawah

Infus RL 20 tpm


O : TD=120/80, N=80x/menit,
RR=18x/menit, T=36,8oC A : Hematoschezia + suspek colitis ani menjepit


Cek CEA dan CRP
RT, jika hemoroid  konsul bedah, jika bukan hemoroid  colonoscopy hari sabtu

Spinchter

kuat, Konsul bedah, jawaban:

mukosa licin, teraba massa lunak RT : massa kenyal dan hilang pada penekanan di Perianal : fistel (+) arah jam 11 arah jam 6 dan 9, hanskun: darah Dx : suspek hemoroid interna + fistel (+), lendir (+), feses (-) perianal

Usul : colonoscopy + biopsy
   

23 Agustus 2011

S : Nyeri perut bawah (+), nyeri pada anus habis BAB (+), BAB campur darah berwarna merah hati (+)

Infus RL 20 tpm Kalnex 500 mg/8 jam Pro colonoscopy

 

O : TD=120/80, N=78x/menit, RR=20x/menit, T=36,7oC A : Hematoschezia + suspek colitis + suspek hemoroid

24 Agustus 2011

  

S : Nyeri perut bawah dan anus saat BAB (+), perut terasa cepat penuh jika makan O : TD=110/70, N=68x/menit, RR=20x/menit, T=36,8oC A : Hematoschezia + suspek colitis + suspek hemoroid

   

Infus RL 20 tpm Kalnex 500 mg/8 jam Pro colonoscopy Diet bubur kecap mulai besok

25 Agustus 2011

  

S : Nyeri perut bawah dan anus saat BAB (+), BAB kotoran bercampur darah (+) O : TD=110/70, N=80x/menit, RR=20x/menit, T=36,8oC A : Hematoschezia + suspek colitis + suspek hemoroid

   

Infus RL 20 tpm Kalnex 500 mg/8 jam Pro colonoscopy Diet bubur kecap

26 Agustus 2011

S : Nyeri perut bawah dan anus saat BAB (+), BAB kotoran bercampur darah sudah berkurang

   

Infus RL 20 tpm Kalnex 500 mg/8 jam Pro colonoscopy Diet bubur kecap

 

O : TD=110/70, N=80x/menit, RR=20x/menit, T=36,8oC A : Hematoschezia + suspek colitis + suspek hemoroid

27 2011

Agustus   

S : BAB berdarah (-), badan lemas  (+), pusing (+) O : TD=110/80, N=78x/menit, RR=20x/menit, T=36,5oC A : Hematoschezia + suspek colitis + suspek hemoroid    

Infus RL 20 tpm Kalnex 500 mg/8 jam Diet bubur kecap Fleet enema + fleet phosposoda Besok colonoscopy

28

Agustus   

S : BAB berdarah (-), badan lemas 

Infus RL 20 tpm

2011

(+), pusing (+)
O : TD=110/70, N=80x/menit, RR=20x/menit, T=36,8oC A : Ca Rekti S : BAB ada sedikit darah keluar campur lendir, badan lemas (+), pusing (-)   O : TD=110/70, N=82x/menit, RR=22x/menit, T=36,8oC A : Ca Rekti


Kalnex 500 mg/8 jam
Tunggu hasil biopsi

29 2011

Agustus 

  

Infus RL 20 tpm Kalnex 500 mg/8 jam Tunggu hasil biopsi

Kasus Pasien berusia 59 tahun.

Teori Karsinoma rekti banyak terjadi pada usia > 50 tahun yaitu sebanyak 90%, sedangkan yang berumur < 40 tahun hanya 5%.

Pasien mengaku, seringkali mules Pada karsinoma rekti seringkali ditemukan
ingin buang air besar dengan “diare palsu” yaitu keluhan BAB yang frekuen

frekuensi 3-4 kali sehari, namun namun hanya sedikit yang keluar disertai dengan ampas kotoran tetap tidak mau keluar, darah lendir serta adanya rasa tidak puas setelah

hanya sedikit darah saja yang keluar BAB.
dan nyeri pada perut bagian bawah selalu muncul. Pasien mengaku

sering merasa tidak puas setelah

buang air besar.

Kalaupun ada kotoran yang keluar Tinja

seperti

kotoran

kambing

biasanya

hanya sedikit sekali, seperti kotoran ditemukan pada pasien dengan karsinoma rekti kambing. stadium lanjut dan berbentuk anuler. dasarnya, penderita keganasan akan

Pasien mengaku mengalami penurunan Pada

berat badan dalam beberapa bulan mengalami penurunan berat badan, terutama terakhir, dari 48 kg menjadi 42 kg. pada stadium lanjut.

Pasien tinggal di hutan dan bekerja Salah satu faktor resiko terjadinya karsinoma sebagai wakar di perkebunan sawit, rekti adalah kebiasaan mengkonsumsi makanan sehingga jarang makan sayur dan tinggi lemak dan rendah serat. seringkali hanya makan telur dan mie instan.

Pasien bekerja sebagai wakar (petugas Penelitian terbaru menemukan bahwa bekerja
keamanan pada malam hari). pada giliran atau shift malam minimal 3 hari dalam sebulan selama resiko 15 tahun dapat kanker

meningkatkan kolorektal.

terjadinya

Kasus

Teori rekti seringkali bersifat

Tidak ditemukan kelainan pada anggota tubuh Karsinoma

lain kecuali pada pemeriksaan rectal touche asimptomatis dimana rasa nyeri dan gejala didapatkan sebagian berupa massa lunak yang lainnya dirasakan pasien ketika kanker sudah hilang pada penekanan. dalam stadium lanjut.

Pada pasien ini dilakukan pemeriksaan rectal Pemeriksaan paling mudah untuk mendeteksi touche pada awalnya dan kemudian dilakukan karsinoma rekti adalah rectal touche atau colonoscopy. colok dubur, namun ketepatan diagnosisnya hanya 40% sehingga untuk memastikan adanya karsinoma rekti perlu dilakukan tindakan colonoscopy yang memiliki tingkat keakuratan diagnostik sebesar hampir 100%. Pada pasien ini didapatkan hasil CEA 1,23 Pada pasien-pasien dengan keganasan di (tidak meningkat) daerah gastrointestinal akan mengalami

peningkatan kadar CEA.

Pada pasien ini tidak dapat dilakukan staging karena pemeriksaan yang kurang lengkap Seharusnya dapat diketahui mengenai sudah sampai mana keganasan menembus dinding kolon, sehingga dapat ditentukan stagingnya dan dapat disesuaikan dengan penentuan penatalaksanaannya serta perkiraan untuk prognosisnya.

Kasus

Teori

Pilihan utama terapi pada pasien Pembedahan ada terapi pilihan ini adalah pembedahan, namun utama pada kanker kolorektal. tidak dilakukan karena pasien

menolak.

5.1 Kesimpulan  Kanker kolorektal menduduki peringkat ketiga jenis kanker yang paling sering terjadi di dunia. Di seluruh dunia 9,5% pria penderita kanker terkena kanker kolorektal, sedangkan pada wanita angkanya mencapai 9,3% dari total jumlah penderita kanker.  Karsinoma rektal umumnya didahului oleh kondisi pramaligna seperti adenomatous, villous polyp, familial adenomatous polyposis dan kolitis ulseratif  Gambaran histopatologis yang paling sering dijumpai adalah tipe adenocarcinoma (90-95%), adenocarcinoma mucinous (17%), signet ring cell carcinoma (2-4%), dan sarcoma (0,1-3%).

Skrening awal untuk mengarahkan diagnosa Karsinoma kolorektal penting dilakukan untuk meningkatkan survivalnya. Skrening awal yang dapat dilakukan yaitu: pemeriksaan darah samar di feses, sigmodoskopi, kombinasi darah samar feses dan sigmoidoskopi, kolonoskopi, dobel kontras barium enema. Operasi merupakan terapi utama untuk kuratif, namun bila sudah dijumpai penyebaran tumor maka pengobatan hanya bersifat operasi paliatif untuk mencegah obstruksi, perforasi dan perdarahan.

 

  

Bowo : mengapa pada pria angka insidensi lebih banyak dibanding wanita ? Tidak ada alasan yang bisa menyebutkan bahwa mengapa ca colo recti terbanyak pada laki-laki, hanya saja alasan yang mungkin menguatkannya adalah dimana beberapa faktor resik seperti merokok, mengkonsumsi alkohol, serta bekerja dengan shift di malam hari, lebih banyak ditemukan pada laki-laki Fransiska : 1. Apa hubungan fx resiko polip, ca ovarium, endometriosis thdp ca recti? mutasi pada gen regulasi pertumbuhan sel yaitu proto-onkogen, gen penekan tumor (Tumor Suppresor Gene = TSG), dan gen gatekeeper, merupakan sebuah proses yang menjadikannya malignansi hiperplasia sel mukosa, adenoma formation, perkembangan dari displasia menuju transformasi maligna dan invasif kanker
6% dari adenomatous polip berupa high grade displasia dan 5% didalamnya berupa invasif karsinoma pada saat terdiagnosa. Potensi malignansi dari adenoma berkorelasi dengan besarnya polip, tingkat displasia, dan umur. Polip yang diameternya lebih besar dari 1 cm, berdisplasia berat dan secara histologi tergolong sebagai villous adenoma dihubungkan dengan risiko tinggi untuk menjadi kanker kolorektal, sedangkan Untuk kejadian ca varium dan endometriosis dikaitkan adanya metastase ke colon

2. Bagaimana mengetahui limfonodi yang terlibat dalam metastase ca recti?

  

 

 


3. Pada pasien, mgp tdk dpt ditentukan staging nya, pemeriksaan apa yg kurang lengkap? CT scan Pemeriksaan CT scan dapat digunakan selain untuk mengetahui adanya metastase ke organ-organ lain dapat juga untuk mengetahui apakah tumor sudah mengecil setelah pemberian kemoterapi dan untuk mendeteksi rekurensi. Endoskopi ultrasonografi Pemeriksaan endoskopi ultrasonografi dilakukan untuk mendeteksi ukuran tumor, letak tumor apakah masih sebatas jaringan mukosa atau sudah penetrasi ke submukosa dan jaringan lainnya. Foto rontgen thorax Foto rontgen thorax dilakukan untuk mendeteksi apakah keganasan sudah menyebar ke paru-paru atau mediastinum dan rongga thorax lainnya. USG abdomen USG abdomen dilakukan untuk mendeteksi apakah keganasan sudah bermetastase ke liver dan organ intraabdomen lainnya

Adel : Apa indikasi terapi radiasi yang internal dan eksternal, dan berapa lama diberikan radiasi ? Radiasi awal  ckp meluas duke C atau D, diberikan dulu radiasi lalu dilakukan operasi kemudian di lakukan radiasi lagi  sandwich prosedure Bs terjadi colitis radiasi Aryo : klo kita selaku dr umum, apa yg bs dilakukan pd kasus2 dgn ca recti? Ca recti  kompetensi 3A  mampu menegakkan diagnosa kemudian merujuk

Fidya : klo sdh dilakukan operasi (colon sigmoid yg disambung ke anus) kpn pasien boleh makan ? Puasa klo berhari2 mematikan vili2 usus Ketika BU (+)  dpt diberi minum, LAR bisa dilindungi dgn anal tube, jangan pakai serat (inumon  memperbaiki imunitas usus, dipeptiven (isi as.amino, dll)  mmpercpt penyembuhan pd pasien. Berikan rendah sisa  jd BAB hari ke 4/5. Psg anal tube biasanya 1 mgg  saat BAB peregangan udh kembali

Anis : faktor resiko gaya hidup, maksudnya spt apa? Pembagian screening berdsrkn apa? Junk food  karsinogenik (cr pembuatan) krn angka ca recti meningkat pd usia 30 thn jadi screening dpt dimulai dini (usia 30 thn) Bowo : kpn dilakukan rectosigmoidokopi, colonoscopy utk screening?

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->