Anda di halaman 1dari 10

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada

Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Peningkatan Pengetahuan dan Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Masyarakat Dusun Sumberbendo, Desa Jogoroto, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang
Abstrak :

Peningkatan Pengetahuan dan Pelaksanaan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) Masyarakat Dusun Sumberbendo, Desa Jogoroto, Kecamatan Jogoroto, Kabupaten Jombang

Haryanto Husein, dr., MS., AFK.,AKK Lilik Djuari, dr., Mkes., AKK Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

KEPANITERAAN BKKM Periode29 Maret 2010 s/d 17 April 2010 PENGENALAN MEDAN Suatu masalah kesehatan harus ditangani secara holistik. Penanganan masalah secara holistik menurut konsep Triangle of Epidemiology diartikan sebagai penanganan tehadap masalah dengan mempertimbangkan host, agent, dan environment sebagai faktor determinan masalah. Ketiga faktor determinan tersebut memliki peran dalam proses terjadinya masalah sehingga harus dipertimbangkan dalam setiap upaya promotif, prevetif, kuratif maupun rehabilitatif.

Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di wilayah kerja Puskesmas Mayangan harus dipandang sebagai hasil interaksi faktor host, agent, dan environment di wilayah tersebut. Faktor host yang mungkin berperan antara lain imunitas pejamu, higiene pribadi, pemahaman terhadap penyakit demam berdarah, pengetahuan dan pelaksanaan pencegahan penyakit tersebut. Faktor agen penyakit yang berperan yaitu potensi virus dengue dalam menimbulkan gejala penyakit. Jenis virus dengue yang berbeda dapat memiliki patogenisitas yang berbeda. Faktor lingkungan yang terlibat dalam terjadinya masalah DBD antara lain kondisi geografis, kondisi demografis, dan kondisi lingkungan biologis yaitu kepadatan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama virus dengue.
Page 1

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Pendekatan kedokteran komunitas memungkinkan tercapainya solusi yang holistik. Metode ini terdiri dari empat tahap yaitu pengenalan medan, diagnosis komunitas, terapi komunitas, dan evaluasi. Pengenalan medan dilakukan untuk mengidentifikasi faktor determinan yang terlibat dalam masalah KLB DBD di wilayah Puskesmas Mayangan. Diagnosis komunitas dilakukan untuk menemukan solusi yang tepat bagi permasalahan. Tahap terapi komunitas dilaksanakan untuk menerapkan solusi, sedangkan tahap evaluasi digunakan untuk menilai keberhasilan program terapi komunitas.

DIAGNOSA KOMUNITAS Tujuan program tersebut adalah meningkatkan angka bebas jentik di Dusun Sumberbendo. Program ini dirancang menyesuaikan hasil survey dan hasil lokakarya, untuk mengatasi kendala-kendala tercapainya ABJ sesuai target. Upaya pemberantasan jentik tersebut adalah bagian dari upaya pengendalian vektor penular DBD. Angka Bebas Jentik (ABJ) yang tinggi diharapkan dapat meminimalkan keberadaan vektor DBD.

TERAPI KOMUNITAS

Fokus permasalahan yang ditangani di Dusun Sumberbendo adalah rendahnya Angka Bebas Jentik (ABJ). Program terapi komunitas yang dilakukan di Dusun Sumberbendo meliputi: a.

Penyuluhan kepada kader kesehatan dan kader jumantik. Penyuluhan ini selain bertujuan untuk penyegaran kembali tentang PSN dan pengetahuan tentang gejala demam berdarah kepada kader, juga untuk pengenalan program dan pengambilan kesepakatan mengenai teknis pengadaan bendera dan kartu. b.

Page 2

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Pembuatan leaflet tentang PSN 3M dan pengenalan gejala Demam Berdarah.

Pemasangan bendera ini terutama ditujukan untuk mengatasi penolakan masyarakat akan kehadiran jumantik dan menggunakan rasa malu yang ada di masyarakat jika ketahuan bahwa rumahnya berjentik, sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan PSN. Sedangkan Kartu Menuju Bebas Jentik dapat digunakan untuk evaluasi kedisiplinan jumantik dan kedisiplinan masyarakat untuk mengusahakan rumahnya bebas jentik.

Pengadaan 500 Kartu Menuju Bebas Jentik untuk percontohan diberikan Dusun Sumberbendo oleh peserta CPS. Diharapkan untuk selanjutnya, pengadaan bendera dan kartu dapat dilakukan secara swadaya. c.

Pembuatan “Kartu Menuju Bebas Jentik”

Leaflet PSN 3M digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyuluhan tentang PSN dan gejala penyakit demam berdarah. Dengan leaflet, diharapkan masyarakat dapat lebih mudah mengingat dan dapat membaca kembali tentang PSN dan gejala penyakit demam berdarah sehingga tidak perlu bertanya kepada jumantik sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga jumantik untuk memberikan penyuluhan. d.

Pertemuan informal dengan kader kesehatan, kader jumantik dan Kepala Dusun Sumberbendo untuk sosialisasi program e.

Pengadaan bendera anti jentik.

Page 3

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Pengadaan 50 bendera anti jentik, yang disepakati berwarna oranye, dilaksanakan oleh CPS bekerjasama dengan kader sebagai percontohan. Diharapkan untuk selanjutnya kader dapat mengadakan bendera anti jentik secara mandiri.

EVALUASI

Adequacy of effort kegiatan terapi komunitas adalah sebesar 77,8%. Beberapa kegiatan terapi komunitas belum dapat dilaksanakan dengan adalah: a.

Sosialisasi sekaligus persiapan realisasi Program BATIK SIP kepada warga Dusun Sumberbendo pada minggu IV bulan April 2010 b.

Penyuluhan perorangan pada warga mengenai PSN 3M dan pengenalan gejala dini Demam Berdarah c.

Page 4

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Pemasangan bendera anti jentik warna oranye pada rumah warga yang terdapat jentik maupun yang menolak untuk diperiksa jentiknya, dan melepas bendera pada rumah warga yang sudah bebas jentik d.

Pemeriksaan jentik pada semua rumah warga dan pencatatan hasil pemeriksaan jentik pada “Kartu Menuju Bebas Jentik”

Efektifitas terapi komunitas yang diukur dengan indikator Angka Bebas Jentik (ABJ) pasca terapi belum dapat dihitung mengingat program direncanakan untuk dilaksanakan mulai bulan April minggu IV sesuai dengan jadwal pemeriksaan jentik berkala dan kesepakatan dari kader Jumantik

Terapi komunitas yang menyeluruh terhadap permasalahan DBD di Dusun Sumberbendo diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan PSN sehingga hasil akhir yang didapat adalah peningkatan ABJ.

Untuk mengatasi hal ini, Kepala Desa Jogoroto diharapkan merintis terbentuknya sebuah peraturan desa yang dapat menjamin konsistensi pelaksanaan PSN di wilayah Desa Jogoroto. Pelaksanaan program PSN dan program pendukungnya akan lebih konsisten jika ada peraturan yang mengikat warga.

Page 5

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Outcome yang diharapkan dari kegiatan kedokteran komunitas ini adalah terbentuknya masyarakat Dusun Sumberbendo yang sehat dan mandiri. Masyarakat sehat berarti masyarakat yang memiliki bio-psiko-sosial yang sehat. Mandiri berarti masyarakat yang mampu memprakarsai dan menyelenggarakan upaya yang mendukung terbentuknya masyarakat sehat.

Suatu masalah kesehatan harus ditangani secara holistik. Penanganan masalah secara holistik menurut konsep Triangle of Epidemiology diartikan sebagai penanganan tehadap masalah dengan mempertimbangkan host, agent, dan environment sebagai faktor determinan masalah. Ketiga faktor determinan tersebut memliki peran dalam proses terjadinya masalah sehingga harus dipertimbangkan dalam setiap upaya promotif, prevetif, kuratif maupun rehabilitatif.

Kejadian Luar Biasa (KLB) DBD di wilayah kerja Puskesmas Mayangan harus dipandang sebagai hasil interaksi faktor host, agent, dan environment di wilayah tersebut. Faktor host yang mungkin berperan antara lain imunitas pejamu, higiene pribadi, pemahaman terhadap penyakit demam berdarah, pengetahuan dan pelaksanaan pencegahan penyakit tersebut. Faktor agen penyakit yang berperan yaitu potensi virus dengue dalam menimbulkan gejala penyakit. Jenis virus dengue yang berbeda dapat memiliki patogenisitas yang berbeda. Faktor lingkungan yang terlibat dalam terjadinya masalah DBD antara lain kondisi geografis, kondisi demografis, dan kondisi lingkungan biologis yaitu kepadatan nyamuk Aedes aegypti sebagai vektor utama virus dengue.

Pendekatan kedokteran komunitas memungkinkan tercapainya solusi yang holistik. Metode ini terdiri dari empat tahap yaitu pengenalan medan, diagnosis komunitas, terapi komunitas, dan evaluasi. Pengenalan medan dilakukan untuk mengidentifikasi faktor determinan yang terlibat dalam masalah KLB DBD di wilayah Puskesmas Mayangan. Diagnosis komunitas dilakukan untuk menemukan solusi yang tepat bagi permasalahan. Tahap terapi komunitas dilaksanakan untuk menerapkan solusi, sedangkan tahap evaluasi digunakan untuk menilai keberhasilan program terapi komunitas.

Page 6

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Fokus permasalahan yang ditangani di Dusun Sumberbendo adalah rendahnya Angka Bebas Jentik (ABJ). Program terapi komunitas yang dilakukan di Dusun Sumberbendo meliputi: f.

Penyuluhan kepada kader kesehatan dan kader jumantik. Penyuluhan ini selain bertujuan untuk penyegaran kembali tentang PSN dan pengetahuan tentang gejala demam berdarah kepada kader, juga untuk pengenalan program dan pengambilan kesepakatan mengenai teknis pengadaan bendera dan kartu. g.

Pembuatan leaflet tentang PSN 3M dan pengenalan gejala Demam Berdarah.

Pemasangan bendera ini terutama ditujukan untuk mengatasi penolakan masyarakat akan kehadiran jumantik dan menggunakan rasa malu yang ada di masyarakat jika ketahuan bahwa rumahnya berjentik, sehingga mendorong masyarakat untuk melaksanakan PSN. Sedangkan Kartu Menuju Bebas Jentik dapat digunakan untuk evaluasi kedisiplinan jumantik dan kedisiplinan masyarakat untuk mengusahakan rumahnya bebas jentik.

Pengadaan 500 Kartu Menuju Bebas Jentik untuk percontohan diberikan Dusun Sumberbendo oleh peserta CPS. Diharapkan untuk selanjutnya, pengadaan bendera dan kartu dapat dilakukan secara swadaya. h.

Pembuatan “Kartu Menuju Bebas Jentik”

Page 7

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Leaflet PSN 3M digunakan sebagai sarana untuk meningkatkan efisiensi dan efektifitas penyuluhan tentang PSN dan gejala penyakit demam berdarah. Dengan leaflet, diharapkan masyarakat dapat lebih mudah mengingat dan dapat membaca kembali tentang PSN dan gejala penyakit demam berdarah sehingga tidak perlu bertanya kepada jumantik sehingga dapat menghemat waktu dan tenaga jumantik untuk memberikan penyuluhan. i.

Pertemuan informal dengan kader kesehatan, kader jumantik dan Kepala Dusun Sumberbendo untuk sosialisasi program j.

Pengadaan bendera anti jentik.

Pengadaan 50 bendera anti jentik, yang disepakati berwarna oranye, dilaksanakan oleh CPS bekerjasama dengan kader sebagai percontohan. Diharapkan untuk selanjutnya kader dapat mengadakan bendera anti jentik secara mandiri.

Tujuan program tersebut adalah meningkatkan angka bebas jentik di Dusun Sumberbendo. Program ini

Page 8

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

dirancang menyesuaikan hasil survey dan hasil lokakarya, untuk mengatasi kendala-kendala tercapainya ABJ sesuai target. Upaya pemberantasan jentik tersebut adalah bagian dari upaya pengendalian vektor penular DBD. Angka Bebas Jentik (ABJ) yang tinggi diharapkan dapat meminimalkan keberadaan vektor DBD.

Adequacy of effort kegiatan terapi komunitas adalah sebesar 77,8%. Beberapa kegiatan terapi komunitas belum dapat dilaksanakan dengan adalah: a.

Sosialisasi sekaligus persiapan realisasi Program BATIK SIP kepada warga Dusun Sumberbendo pada minggu IV bulan April 2010 b.

Penyuluhan perorangan pada warga mengenai PSN 3M dan pengenalan gejala dini Demam Berdarah c.

Pemasangan bendera anti jentik warna oranye pada rumah warga yang terdapat jentik maupun yang menolak untuk diperiksa jentiknya, dan melepas bendera pada rumah warga yang sudah bebas jentik d.

Pemeriksaan jentik pada semua rumah warga dan pencatatan hasil pemeriksaan jentik pada “Kartu Menuju Bebas Jentik”

Page 9

Dokumen Artikel Penelitian ini milik penulis/peneliti yang diserahkan sebagian (judul dan Abstrak) hak ciptanya kepada Universitas Airlangga untuk digunakan referensi dalam penulisan artikel ilmiah.

Tim Peneliti : Haryanto Husein,dr.MS.,AFK.AKK. Lilik Djuari, dr.M.Kes. Ayunda Imaniar, S.Ked, Tarida Christio E. O. S., S.Ked, Widya Sakti Pratama, S.Ked, Yudhistira Adi Nugroho, S.Ked, Danny Irawan Winoto, S.Ked, Indah Fitria R., S.Ked, Rosalyn Devina S., S.Ked

Efektifitas terapi komunitas yang diukur dengan indikator Angka Bebas Jentik (ABJ) pasca terapi belum dapat dihitung mengingat program direncanakan untuk dilaksanakan mulai bulan April minggu IV sesuai dengan jadwal pemeriksaan jentik berkala dan kesepakatan dari kader Jumantik

Terapi komunitas yang menyeluruh terhadap permasalahan DBD di Dusun Sumberbendo diharapkan dapat meningkatkan pelaksanaan PSN sehingga hasil akhir yang didapat adalah peningkatan ABJ.

Untuk mengatasi hal ini, Kepala Desa Jogoroto diharapkan merintis terbentuknya sebuah peraturan desa yang dapat menjamin konsistensi pelaksanaan PSN di wilayah Desa Jogoroto. Pelaksanaan program PSN dan program pendukungnya akan lebih konsisten jika ada peraturan yang mengikat warga.

Outcome yang diharapkan dari kegiatan kedokteran komunitas ini adalah terbentuknya masyarakat Dusun Sumberbendo yang sehat dan mandiri. Masyarakat sehat berarti masyarakat yang memiliki bio-psiko-sosial yang sehat. Mandiri berarti masyarakat yang mampu memprakarsai dan menyelenggarakan upaya yang mendukung terbentuknya masyarakat sehat.

Keyword : community medicine, BKKM, PSN, ABJ, Jumantik

Page 10