Anda di halaman 1dari 7

Faktor-faktor Kesalahan Hasil Pemeriksaan Darah Lengkap

Nama : Budiono Nama : Fajrina Muflihah Ahmad Nama : Khairunnisa

NIM NIM NIM

: 112010101053 : 112010101054 : 112010101056

Pemeriksaan darah lengkap memiliki beberapa manfaat, diantaranya digunakan untuk membantu diagnosis dan menjadi cermin reaksi tubuh terhadap proses patologis. Pemeriksaan darah lengkap menurut FK UNAIR terdiri dari: Pemeriksaan hemoglobin Laju Endap Darah (LED) Jumlah leukosit Diff count dan evaluasi apusan darah tepi

Sedangkan menurut Barbara A Brown, pemeriksaan darah lengkap terdiri dari: Pemeriksaan hemoglobin PVC atau hematokrit Jumlah leukosit Diff count dan evaluasi apusan darah tepi

Berikut ini adalah beberapa factor yang menyebabkan kesalahan hasil pemeriksaan darah lengkap.

Pemeriksaan Hemoglobin

Pengukuran Hb yang disarankan oleh WHO ialah dengan cara cyanmet, namun cara oxyhaemoglobin dapat pula dipakai asal distandarisir terhadap cara cyanmet. Sampai saat ini baik di PUSKESMAS maupun dibeberapa Rumah sakit di negara kita masih menggunakan alat Sahli. Sering pula alat ini tidak pernah ditera. Alat ini sebenarnya sudah tidak dianjurkan lagi; apalagi untuk kepentingan klinik, survey/penelitian. Kesalahan yang ditimbulkan oleh alat ini cukup besar yaitu 20%.

Pada metode Sahli, hemoglobin dihidrolisis dengan HCl menjadi globin ferroheme. Ferroheme oleh oksigen yang ada di udara dioksidasi menjadi ferriheme yang akan segera bereaksi dengan ion Cl membentuk ferrihemechlorid yang juga disebut hematin atau hemin yang berwarna cokelat. Warna yang terbentuk ini dibandingkan dengan warna standar (hanya dengan mata telanjang). Untuk memudahkan perbandingan, warna standar dibuat konstan, yang diubah adalah warna hemin yang terbentuk. Perubahan warna hemin dibuat dengan cara pengenceran sedemikian rupa sehingga warnanya sama dengan warna standar. Karena yang membandingkan adalah dengan mata telanjang, maka subjektivitas sangat berpengaruh. Di samping faktor mata, faktor lain, misalnya ketajaman, penyinaran dan sebagainya dapat mempengaruhi hasil pembacaan. Meskipun demikian untuk pemeriksaan di daerah yang belum mempunyai peralatan canggih atau pemeriksaan di lapangan, metode sahli ini masih memadai dan bila pemeriksaannya telat terlatih hasilnya dapat diandalkan

Bentuk-bentuk kesalahan yang lain pada pemeriksaan hemoglobin :

Hasil-hasil analisa kimia kuantitatif selalu tak lupu dari kesalahan-kesalahan yang diakibatkan oleh berbagai sebab. Untuk dapat mengenal lebih baik dan menghindari kesalahan-kesalahan maka GAUSS membagi tiga kesalahan sebagai berikut : 1. Kesalahan kasar Kesalahan kasar timbul akibat kekeliruan-kekeliruan. Pada penanganan sampel, pipetasi, reageagensia, panjang gelombang pengukuran, dan lain-lain. Hasil yang diukur biasanya tidak masuk akal, misalnya konsentrasi glukosa yang negatif. Maka dari itu, kesalahn demikian pada umumnya dapat diketahui. Namun tidak dapat dilupakan kekeliruan pada sampel dapat menimbulkan akibat yang sangat fatal, misalnya pada pemeriksaan-pemeriksaan darurat. Pada umumnya kesalahan kasar dapat dihindari melalui sistem organisasi laboratoriun yang baik dan teratur. 2. Kesalahan acak Apabila kita mengukur konsentrasi suatu zat pada kondisi yang sama untuk beberapa kali dalam satu sampel, maka kita tidak akan mendapatkan hasil

yang sama. Hasil-hasil yang didapat pasti berdeviasi secara sempurna, namun dapat dibatasi pada suatu angka minimum dengan cara melaksanakan pemeriksaan dengan cermat dan teliti, menggunakan reagensia dan alat-alat yang berkualitas tinggi. 3. Kesalahan sistematik Kesalahan sistematik biasanya disebabkan oleh pipet yang kurang akurat, penyimpangan dari suhu pengukuran (terutama pada penentuan aktivitas enzim), reagensia yang sudah rusak serta fotometer yang tidak akurat. Pada umumnya nilai-nilai yang diukur dapat dikenali dengan suatu trend (searah). Nilai-nilai tersebut terletak secara sistematik di atas atau di bawah niali yang sebenarnya (misalnya niali rujukan).

A. Ketelitian

Ketelitian terutama dipengaruhi oleh kesalahan acak yang tak dapat dihindari. Untuk mendapatkan hasil analsa dengan ketelitian yang baik, dibutuhkan peralatan dan reagensia yang berkualitas tinggi, pelaksanaan pemeriksaan yang cermat oleh petugas yang terampil dan terlatih. Dalam hal ini yang terpenting misalnya pemipetan yang eksak. Terutama pada teknik semimikro dan mikro. Apabila pipet-pipet yang digunaka tidak sesuai dan tidak akurat, maka mudah sekali menimbulkan penyimpangan- penyimpangan yang relatif besar.

B. Keakuratan/Ketepatan

Ketepatan suatu analisa terutama tergantung dari distribusi kesalahan sistematik di dalam keseluruhan tahapan dalam analisa. Oleh karena itu peningkatannya hanya dapat dicapai dengan membatasi-membatasi kesalahan sistematik. Dalam hal ini tindakan-tindakan yang perlu diambil antara lain adalah kalibrasi secara tepat dari pipet-pipet, mengusahakan ketepatan dari suatu

pengukuran, pengontrolan secara kontinyu dari fotometer, dan tentunya juga pelaksanaan dari pemeriksaan yang teliti dan cermat. Laju Endap Darah (LED)

Yang dimaksud LED adalah kecepatan pengendapan eritrosit dari suatu sampel darah yang diperiksa dalam suatu alat tertentu yang dinyatakan dalam mm per jam. LED menggambarkan komposisi plasma dan perbandingan antara eritrosit dan plasma. Darah dengan antikoagulan yang dimasukkan dalam tabung berlumen kecil dan diletakkan tegak lurus akan menunjukkan pengendapan eritrosit dengan kecepatan yang disebut dengan Laju Endap Darah ( LED ). Nilainya pada keadaan normal relatif lebih kecil karena pengendapan eritrosit disebabkan karena gravitasi diimbangi oleh tekanan keatas ( Frances K, Th 1997 )

Faktor- faktor yang mempengaruhi LED

1. Perbandingan Anti Koagulan Perbandingan anti koagulan dan darah yang tidak tepat dapat menyebabkan terjadinya defibrinasi atau partial cloting yang akan memperlambat LED .

2. Suhu Bila suhu semakin tinggi maka LED akan rendah ( Dep Kes RI,Th1995 )

3. Waktu Pemeriksaan Untuk pemeriksaan LED harus dikerjakan maximal 2 jam setelah sampling darah . Apabila dikerjakan setelah 2 jam maka bentuk eritrosit akan menjadi spheris , keadaan ini menyulitkan terjadinya rouleaux dan akibatnya akan memperlambat LED

4. Cara dan Faktor Tehnik Tabung LED harus benar benar tegak, kemiringan 3
0

dapat menyebabkan

kesalahan diatas 30 % .Perubahan besar pada temperatur juga dapat menyebabkan

kenaikkan ukuran sedimentasi sehingga akan mempengaruhi hasil pemeriksaan ( Frances K Th 1997 ) Apabila tabung diletakkan miring maka eritrosit lebih dahulu beralih kepada pembentukkan rouleaux . Dari azas ini kadang digunakan juga untuk menentukan LED
0

dengan cepat , tetapi cara ini tidak dibenarkan , kedudukan tabung yang miring 3 akan mempercepat LED sebanyak 30 % ( DJ Th Wagener Th 1990 )

5. Penampang Tabung Makin besar diameter tabung maka hasil LED akan rendah

6. Adanya gumpalan dalam darah menyebabkan hasil LED tidak betul 7. Gelembung gelembung udara pada tabung juga akan menyebabkan adanya kesalahan

8. Temperatur ruang yang tinggi menyebabkan nilai LED meningkat dan penurunan temperatur akan menyebabkan nilai LED semakin turun

Hematokrit

Hematokrit dapat diukur dengan menggunakan darah vena atau darah kapiler dengan teknik makro maupun mikro. Pada teknik mikro, darah ditampung dalam tabung kapiler dengan panjang 7 cm dan diameter 1mm yang kemudian di centrifuge dengan kecepatan tertentu dalam waktu tertentu. Plasma dan eritrosit yang sudah terpisah diukur dengan menggunakan alat baca berskala khusus. Cara ini cepat dan mudah tetapi gaya sentrifugal centrifus harus di control untuk menghindari kesalahan. Selain itu, kesalahan juga dapat terjadi ketika membaca dengan skala, sehingga diperlukan ketepatan dalam membaca.

Evaluasi Hapusan Darah Tepi Prinsip : setelah darah dipaparkan di atas gelas objek lalu di cat dan di periksa di bawah mikroskop. Pemeriksaan : menggunakan lensa objektif 100x dengan minyak emersi a. Eritrosit (3S : size, shape, staining) Apakah ada kelainan dari ertrosit Dalam keadaan normal eritrosit tidak berinti, bila kita jumpai eritrosit yang berinti maka harus dihitung jumlahnya per 100 leukosit b. Trombosit Pada hapusan darah yang baik, sukar ditemukan trombosit (menandakan jumlah trombosit berkurang) Bila dalam lapangan pandang dijumpai beberapa trombosit (4-10) menandakan bahwa jumlah trombosit ini normal Bila jumlah trombosit terlihat banyak sekali (menandakan jumlah trombosit naik) c. Leukosit Menggunakan perhitungan differential count (hitung jens leukosit) Prnsip : menghitung dan mengelompokkan leukosit yang tampak pada hapusan darah tepi untuk menentukan jumlah relatif tiap jenis leukosit. Jumlah sel yang dihitung adalah 100 sel.

Diff count

Hitung jenis leukosit menyatakan berbagai jenis leukosit yang ada dalam darah. Hitung jenis ini sering kali diabaikan bila jumlah leukosit normal, dan tidak ada kelaunan hematologik, baik klinin maupun laboratories. Namun demikian, banyak kelainan seperti keganasan, inflamasi dan kelainan imunologik menyebabkan perubahan persentase ini, walaupun jumlah sel masih dalam batas normal. Pemeriksaan sediaan apus masih merupakan cara yang disukai untuk melakukan hitung jenis, tetapi cara automatik sekarang sudah mulai bisa diterima

Hitung leukosit

Leukosit dibedakan dari eritrosit karena leukosit itu berinti. Pada hitung sel, jumlah sel berinti dianggap sama dengan jumlah leukosit. Bila dalam darah tepi dijumpai banyak eritrosit berinti, hitung leukosit tadi harus dikoreksi, tetapi biasanya hitung leukosit dapat dilakukan dengan mudah. Pada hitung jumlah leukosit, sampel yang digunakan sangat sedikit dan ada kemungkinan kesalahan dalam pengenceran dan sampling. Karena darah mengandung lebih banyak eritrosit di banding leukosit, pengencerannya lebih kecil dengan volume sampel yang digunakan lebih besar. Hampir semua laboratorium besar menggunakan cara automatik untuk hitung leukosit, baik dengan cara menghitung partikel secara elektronik maupun dengan prinsip pembauran cahaya, cara manual dengan menggunakan hemositometer masih dapat dipercaya bila dilakukan dengan teliti.

DAFTAR PUSTAKA Cermin Dunia Kedokteran No. 18 Tahun 1980. Widmann, Frances K.1995. Tinjauan Klinis atas Hasil Pemeriksaan Laboratorium. Jakarta : EGC

Anda mungkin juga menyukai