Anda di halaman 1dari 7

BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Hasil dari proses pelayanan kesehatan di instalasi rawat inap
rumahsakit adalah pasien pulang dalam keadaan sembuh dan atau dalam
keadaan meninggal (keadaan yang tidak diharapkan). Pelayanan
dilaksanakan sebagai suatu tahapan dalam struktur Input, proses, dan luaran.
Sebagai suatu proses yang diberikan kepada pasien seharusnya
dilaksanakan dengan tatacara yang sesuai dengan standar dan kode etik
profesi serta terdokumentasi dengan baik dan benar dalam catatan rekam
medik (rm) pasien, proses pelayanan tersebut merupakan interaksi antara
dokter-perawat-pasien dan atau tenaga kesehatan lainnya di instalasi rawat
inap dengan tujuan mencapai tingkat kesembuhan dan mengurangi
kecacatan akibat dari penyakit yang diderita pasien.
Disamping itu, interaksi ini juga bertujuan untuk memenuhi tuntutan
pasien terhadap mutu pelayanan di rumahsakit dan merupakan keharusan
yang mesti dilaksanakan. Jika tujuan tidak tercapai maka pasien pulang
dalam keadaan meninggal dan kematiannya dapat dijadikan gambaran
struktur proses pelayanan yang tidak mencapai tujuan oleh sistem dan
struktur manajemen pelayanan rumah sakit. Kematian pasien dapat dijadikan
penyebab diperlukannya audit medik atau dapat menjadi topik dalam
pelaksanaan audit medik bagi rumah sakit pendidikan (Depkes, 2005).
Dalam indikator kinerja rumah sakit, angka kematian merupakan
salah satu indikator yang berhubungan/mengacu dengan aspek pelayanan
medik (Depkes, 2002). Total kematian pasien > 48 jam atau Neth Death Rate
(NDR) dapat menggambarkan bagaimana mutu pelayanan di rumah sakit dan
bagaimana tenaga pemberi pelayanan melaksanakan standar dan prosedur-
prosedur pelayanan, baik secara klinik maupun secara administrasi kepada
pasien (Goel, 2002). Kematian pasien > 48 jam secara klinik dapat
disebabkan oleh gagalnya tahapan menegakkan diagnosa penyakit, tidak
lengkapnya anamnesa, pemeriksaan fisik dan pemeriksaan penunjang dan
2

dapat pula sebagai akibat dari informasi yang dibutuhkan dokter tidak dapat
diberikan oleh pasien dan atau keluarganya sehingga upaya pelayanan dapat
saja tidak tepat sasaran dan tidak adekuat. Semakin rendahnya NDR maka
semakin baik mutu pelayanan di unit pelayanan tersebut.
Peningkatan angka kematian > 48 jam dan < 48 jam yang terjadi di
Rumah Sakit Daerah Kol. Abundjani Bangko (RSKA), Kabupaten Merangin
Provinsi Jambi dari tahun 2002-2005 pada tabel 1 (satu) memerlukan
evaluasi kritis untuk menilai bagaimana mutu pelayanan rawat inap di RSKA.
Peningkatan angka rujukan dari instalasi rawat inap bagi RSKA yang telah
memiliki 4 (empat) dokter spesialis dasar juga dapat memberikan gambaran
bagaimana kinerja struktur proses manajemen pelayanan di rumahsakit.
Tabel 1. Angka Kematian
RSKA Kol. Abundjani Bangko*

NO URAIAN 2002 2003 2004 2005 Ket


1 Jumlah kematian < 48 jam 55 74 96 69
2 Jumlah kematian > 48 jam 49 45 81 43
3 NDR 2,36 2,83 2,42 1,59
4 GDR 4,46 4,55 4,46 2,58
5 Total kematian 104 119 177 112
6 Kematian Post Operasi 2 3 3 2
7 Jumlah Pasien Keluar Hidup 2226 2496 3785 4216
Jumlah rujukan pasien rawat
8 24 66 224 154
inap
Catatan: * Data Kinerja Rawat Inap RSKA Kol. Abundjani Bangko.
** Standar Nasional = 0,025.

Angka kematian RSKA tahun 2004, tabel 1, jika dibandingkan dengan


angka kematian beberapa RSUD di Provinsi Jambi seperti pada tabel 2,
dapatlah dinyatakan bahwa angka kematian > 48 jam di RSKA masih lebih
tinggi dari 4 (empat) rumah sakit lainnya dan jauh dari angka standar nasional
yaitu: 25/1000 penderita keluar. Berbagai asumsi dapat muncul jika dilakukan
analisa yang mendalam dari data tersebut, antara lain melalui audit kematian.
Proses audit kematian seharusnya dilakukan oleh sebuah rumah sakit yang
telah memiliki komite medik, dilaksanakan dengan dokumentasi yang
3

kemudian dapat digunakan sebagai upaya pengembangan standar pelayanan


dimasa yang akan datang, namun di RSKA hal ini belum pernah dilakukan.
Tabel 2. Angka Kematian Pasien Rawat Inap
Di RSUD dalam Provinsi Jambi tahun 2004*

BANGK BUNGO KERINCI M. BULIAN TUNGKA RSUP


NO URAIAN
O L
1 < 48 jam 96 103 91 122 113 313
2 > 48 jam 81 88 76 94 95 241
3 NDR 2,42 2,35 1,00 1,21 1,40 2,76
4 GDR 4,46 6,08 3,00 2,48 5,50 5,65
5 Total 177 191 167 216 208 554
6 Post Op 18 14 10 11 9 2
Catatan: * Data Kinerja RSUD dari Profil Kesehatan Provinsi tahun 2004

RSKA sebagai rumah sakit daerah yang sedang berbenah


mewujudkan pemenuhan mutu pelayanan telah melakukan kegiatan-kegiatan
untuk mendukung manajemen mutu. Kegiatan itu dilakukan sejak tahun 2000,
diantaranya adalah studi banding ke 3 (tiga) RSUD terbaik di pulau Jawa,
Tahun 2001, Penyusunan Komite Medik dengan SK Bupati, Pelatihan Praktek
Keperawatan Spesialistik di RSUP Dr. M Jamil Padang, Up date Pengetahuan
Dr. Spesialis setiap tahunnya, Penyusunan Standar Asuhan Keperawatan dan
pemberlakuannya dalam asuhan, Penyusunan Pedoman Terapi, 3 (tiga) kali
Self Assessment Akreditasi Rumah Sakit. Pada tahun 2002 dengan kegiatan
Pelatihan Service Excellent, Pelatihan Tugas Pokok dan Fungsi Profesi,
Pengiriman Peserta Pendidikan dan Pelatihan Kepemimpinan bagi Pejabat
Struktural, Seleksi Penerimaan Tenaga Perawat Honor. Pada tahun 2003
dengan kegiatan: Pelaksanaan Hukuman Disiplin Pegawai dan Pemberian
Reward terhadap yang berprestasi, adanya perawat pengawas pada sore dan
malam hari dengan insentif, pemberian insentif dokter jaga IGD, mutasi
internal struktural dan pelayanan dan rapat-rapat evaluasi pelayanan pada
setiap hari Sabtu yang diikuti pejabat struktural dan fungsional.
Pada setiap tahun anggaran selalu ada perencanaan pengadaan
peralatan medis, peralatan keperawatan, peralatan pelayanan penunjang
medis baik itu di rawat jalan maupun di rawat inap dengan metode bottom up,
guna memenuhi upaya peningkatan kemamuan pemberian pelayanan.
4

Kegiatan tersebut sepertinya belum mempengaruhi adanya perbaikan


pada struktur input dan proses pelaksanaan pelayanan rawat inap yang dapat
dilihat dari adanya peningkatan angka kematian > 48 jam dari tahun 2002-
2005 dan masih adanya pasien rawat inap yang dirujuk ke rumah sakit lain
dalam provinsi dan luar provinsi Jambi (Tabel 1). Jika dihubungkan dengan
mutu pelayanan, hal tersebut dapat memberikan gambaran masih tingginya
angka mortalitas, tingginya angka mortalitas dapat memberikan asumsi
rendahnya mutu pelayanan rumah sakit (Wiyono, 1999).
Proses kematian sebagai informasi dapat dilihat dari rm dan
merupakan komponen penting dalam manajemen mutu di rumah sakit.
Rekam Medik harus menyajikan informasi lengkap tentang proses pelayanan
di rumah sakit, baik dimasa lalu, masa kini maupun perkiraan dimasa yang
akan datang tentang apa yang akan terjadi (Muninjaya, 2004). Bervariasinya
kriteria input dan proses ini akan memberikan keragaman luaran yang dapat
dijadikan informasi dalam proses manajemen mutu pelayanan di rumah sakit.
Kondisi rm pasien meninggal dari studi pendahuluan diketahui tidak dapat
memberikan jawaban mengapa pasien pulang dalam keadaan meninggal,
apakah kematian tersebut dapat dibenarkan atau tidak dapat dibenarkan
(sebenarnya secara medis kematian itu dapat dicegah), tidak memuat rinci
dan jelas catatan-catatan klinik perkembangan penyakit dan pengobatan serta
perawatan kepada pasien.
B. Perumusan Masalah
Dari latar belakang masalah tersebut di atas, maka permasalahan
dalam penelitian ini adalah:
1. Adanya trend peningkatan angka kematian di instalasi rawat inap RSKA
dari tahun 2002-2005;
2. Belum diketahuinya persentase kematian yang dibenarkan dan yang tidak
dibenarkan dari total kematian > 48 Jam dari tahun 2002-2005;
3. Belum dijadikannya informasi kematian sebagai masukan dalam
perencanaan perbaikan mutu pelayanan.
5

C. Keaslian Penelitian
Penelitian tentang audit kematian dengan menggunakan Daftar Tilik
Analisis Penyimpangan Mortalitas dari rekam medik pasien pulang meninggal
> 48 jam sepengetahuan penulis belum pernah dilakukan. Berdasarkan studi
kepustakaan ditemui beberapa penelitian dengan menggunakan kata kunci
sejenis yaitu: audit, rekam medik, Standart Operating Procedure, manajemen
mutu pelayanan. Penelitian-penelitian dimaksud dapat dilihat pada tabel 3
berikut ini.
Tabel 3. Tabel Rangkuman Kesimpulan
Tesis IKM UGM Tahun 1996-2002.

No Nama Peneliti Judul Metode Tahun


Penelitian
1 Handaningrum Audit Medik Demam Tifoid Dalam Upaya Eksperimen 1996
Peningkatan Mutu Pelayanan IRNA Time Series
Penyakit Dalam RSU Kudus
2 Marcus Gatot Audit Medik dan Keperawatan Bedah Kuasi 2000
Budi Prihono Caesar dalam Upaya Peningkatan Mutu Eksperimen
Pelayanan di Unit Kandungan dan
Kebidanan RSUD Wonosari
3 Etty Sumiyeti Pengaruh Kegiatan Audit Kematian Before and After 2001
Terhadap Defisiensi dari Standar Baku
Penatalaksanaan Kasus di RSUD KOJA
JAKSEL
4 Abu Bakar A Strategy for Reducing Maternal Deskriftif 1995
Sulaiman Mortality in Malaysia. Analitik
P.W. Fowlie,
C. Delahunty,
5 W.O. Tarnow What do Doctors Record in Medical Retrospective 1997
Mordi Record Notes With the Parents of Sick Review
Premature Infants.

Adapun yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian


sebelumnya adalah:
1. Objek penelitian; adalah rekam medik pasien rawat inap yang meninggal >
48 jam 2002-2005 di Urusan Rekam Medik;
2. Unit analisis adalah 5 kategori yang membenarkan alasan-alasan untuk
membenarkan dan atau tidak membenarkan penyimpangan kematian di
instalasi rawat inap;
6

3. Lokasi penelitian adalah RSKA di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi,


institusi pelayanan kesehatan dengan status Unit Pelaksana Teknis Dinas
Kesehatan dengan beban tugas tenaga kesehatan yang masih dibawah
maksimal; jumlah tempat tidur < 100 buah dan didominasi oleh tenaga
keperawatan yang berstatus tenaga honor daerah; dan,
4. .Manfaat penelitian selain untuk melihat mutu pelayanan di instalasi Rawat
inap juga untuk mengetahui kelengkapan rm dan memperkenalkan audit
kematian guna peningkatan mutu pelayanan melalui evaluasi kritis.
D. Tujuan Penelitian
1. Tujuan umum
Tujuan umum dari penelitian ini adalah: mengetahui penyimpangan
mortalitas dari rm pasien rawat inap yang pulang meninggal > 48 jam tahun
2002-2005 di RSKA.
2. Tujuan khusus
Adapun tujuan penelitian ini secara khusus adalah untuk:
a. Mengetahui distribusi kematian > 48 jam di RSKA,
b. Mengetahui total kematian yang dibenarkan dan yang tidak dibenarkan
di rumah sakit dari angka kematian > 48 jam,
c. Mengetahui penyebab utama kematian yang tidak dibenarkan dari
struktur input atau struktur proses sistem pelayanan di instalasi rawat
inap RSKA,
d. Memperkenalkan audit kematian melalui telaah rm pasien meninggal >
48 jam dalam upaya mendukung manajemen mutu pelayanan.
E. Manfaat Penelitian.
1. Manfaat teoritis:
a. Dapat mengaplikasikan pengetahuan manajemen mutu pelayanan dan
audit medik dalam upaya peningkatan mutu pelayanan di instalasi
rawat inap khususnya dan pelayanan di rumah sakit pada umumnya,
b. Memberikan informasi bahwa ada beberapa struktur input dan proses
dari sistem pelayanan yang masih dapat dijadikan topik dalam
penelitian manajemen mutu pelayanan di rumah sakit.
7

2. Manfaat aplikatif:
a. Dapat menjadi core figure information yang menimbulkan motivasi
profesi dan manajemen dalam melaksanakan tugas pokok, fungsi dan
peran sebagai tenaga kesehatan dan pejabat struktural sehingga
diharapkan terjadi peningkatan mutu pelayanan di masa yang akan
datang di rumah sakit,
b. Dapat digunakan sebagai monitoring dan evaluasi pelaksanaan
standar pelayanan dan prosedur tetap yang telah disusun,
c. Dipahaminya faktor-faktor penyebab disquality pelayanan di instalasi
rawat inap RSKA dari struktur input dan proses manajemen pelayanan,
sehingga dalam perencanaan peningkatan mutu pelayanan dapat
diambil langkah-langkah korektif yang komprehensif.