Anda di halaman 1dari 7

Review Filsafat Ilmu ILMU PENGETAHUAN DAN MASYARAKAT BAB IX Ilmu Pengetahuan dan Life-World 1.

Permasalahan Dunia ilmu pengetahuan adalah dunia fakta, sedangkan life-world mencakup pengalaman subjektif-praktis manusia ketika ia lahir, hidup, dan mati, pengalaman cinta dan kebencian, harapan dan putus asa, penderitaan dan kegembiraan, kebodohan dan kebijaksanaan. Dunia ilmu pengetahuan juga adalah dunia yang objektif, universal, rasional, sedangkan life-world adalah dunia sehari-hari yang subjektif, praktis, dan situasional. Hal ini dijelaskan oleh C.P. Snow dalam bukunya The Two Cultures, yang memperlihatkan pembedaan cukup tegas antara dunia ilmu pengetahuan dan life world. Snow pun menunjukkan bahwa manusia hidup didalam kedua dunia tersebut dan tidak dapat melepaskan diri antar satu sama lain. Sehingga permasalahan yang muncul kemudian adalah dampak ilmu pengetahuan terhadap lifeworld dan tindakan manusia, apakah dengan adanya ilmu pengetahuan akan mengganti simbol-simbol yang sudah berakar kuat di masyarakat? Dampak ini kemudian diklasifikasi dalam dua kategori, dampak intelektual langsung, yaitu tentang perubahan cara pandang tradisional, serta dampak tidak langsung, terutama teknik produksi dan organisasi sosial 2. Dampak Intelektual Dalam sistem berpikir rasional, ilmu pengetahuan menjadi sebab terdalam yang mengakibatkan banyak kepercayaan tradisional yang lenyap. Secara keseluruhan, dapat dikatakan 4 hal baru dari ilmu pengetahuan yang menyebabkan terjadinya hal tersebut. Hal yang pertama yaitu, pengamatan lawan otoritas, bahwa ilmu pengetahuan didasarkan pada pengamatan bukan lagi pada otoritas. Keadaan ini menyebabkan terjadi perubahan, karena tidak sejalan dengan kepercayaan tradisional yang sangat mengacu pada otoritas dari kepercayaan tersebut. Ilmu pengetahuan menuntut orang agar tidak mudah percaya begitu saja pada tradisi atau otoritas, tapi percaya pada pengamatan dengan teknik-teknik yang rasional.

Kedua, otonomi dunia fisik, selain pengamatan sendiri ilmu pengetahuan pun juga mengacu pada filosofi tentang alam sebagai sesuatu yang otonom dan memiliki hukumnya sendiri. Hal ini yang kemudian membuat ilmu pengetahuan seperti hukumhukum fisika dianggap lebih meyakinkan dibandingkan pemahaman Agama yang bersifat tradisional. Ketiga, disingkirkannya konsep tujuan, berbeda dengan agama, ilmu pengetahuan hanya mengenal sebab efisien dari suatu peristiwa. Bagi ilmu pengetahuan, masa lampau lebih penting dari masa depan, sebab final tidak diberi tempat dalam pandangan ilmiah. Keempat, tempat manusia dalam alam, hal ini menunjukkan bahwa ilmu pengtahuan menjadi seubuah hal yang dibutuhkan untuk keadaan setiap harinya. 3. Dampak Sosial Praktis Munculnya ilmu pengetahuan ini tidak saja memungkinkan manusia untuk mengetahui berbagai hal, namun juga memungkinkan manusia untuk melakukan berbagai hal. Adanya teori, tidak hanya menjadi pengetahuan bagi kita, namun juga mendorong kita untuk memprediksi munculnya suatu akibat setelah mengetahui sebab, yang memungkinkan pula dilakukannya antisipasi yang diperlukan untuk menghadapi akibat tersebut. Oleh karena itu, suatu teori ilmiah di satu sisi dapat menjadi suatu theory of knowledge (teori pengetahuan), di sisi lain menjadi theory of action (teori tindakan). Dalam konteks ini, kita dapat berbicara tentang manfaat ilmu pengetahuan bagi kemajuan umat manusia seperti mengurangi hal-hal buruk, memberikan anugerah yang besar untuk hidup lebih lama, pengurangan kejahatan, dan meningkatkan hal-hal baik. Selain itu, kita juga dapat berbicara tentang manfaat ilmu pengetahuan dalam memperbesar kekuasaan manusia, yang berkaitan dengan banyaknya penemuan-penemuan baru dalam kehidupan manusia. Kekuatan-kekuatan dari teknik ilmiah itu semakin menjadi nyata ketika dikembangkan dalam interaksi komunitas manusia. Namun kemampuan untuk mengontrol alam dengam ilmu pengetahuan merupakan hal yang berbeda dengan kemampuan untuk melakukan enlightened action, sehingga muncul pertanyaan apakah pendidikan ilmiah dan akademik mampu menghasilkan manusia yang enlightened ? Hal ini dapat dijawab dengan membicarakan teori dari Karl Marx dan teori Hans Freyer dan Helmut Schelsky. Marx percaya bawa melalui kontrol teknik, kehidupan sosial akan semakin rasional ,dan dengan begitu, individu-individu di

dalamnya dapat menjadi lebih enlightened. Nmaun Marx tidak pernah membayangkan bahwa suatu masyarakat yang makmur dapat bersifat otoriter, jika kebebasan politik tidak disertakan dalam proses produksi atau dalam sistem ekonomi. Sementara Hans Freyer dan Helmut Schelsky justru melihat bahwa teknologi sebagai kekuatan independen yang memiliki metode dan tujuan yang unforseen. Penerapan teknologi dalam masyarakat dapat membangun suatu masyarakat ayng maju dan bebas. Melalui kedua teori tersebut, dapat disimpulkan bahwa teknologi tidak dengna sendirinya menghasilkan suatu masyarakat yang enlightened, teknologi hanya memperbesar kontrol kita atas alam, atas masyarakat, dan atas diri kita sendiri, sehingga ada bahaya bahwa teknologi justru melayani nafsu akan kekuasaan irasional untuk mendominasi. 4. Watak Intelektual Setiap orang mengembangkan diri sesuai dengna tuntutan masyarakat ilmiah pada umumnya, yaitu taat pada rasio. Inilah watak intelektual nomor satu dan satusatunya. Ciri-cirinya dapat dirinci sebagai berikut. Pertama, adanya keinginan untuk mengetahui fakta-fakta penting dan keengganan untuk menyetujui ilusi-ilusi yang menyenangkan. Kedua, adalah menjunjung tinggi keterbukaan. Seorang ilmuwan harus membuka diri pada fakta-fakta baru dan mencoba berusaha memahaminya demi kebahagiaan umat manusia. Dapat disimpulkan bahwa ilmu pengetahuan dapat menciptakan suatu masyarakat yang enlightened, hanya bila masyarakat itu mengikuti rasionalitas ilmu pengetahuan yang taat pada rasio. Bab X Ilmu Pengetahuan dan Politik 1. Pengantar Ilmu pengetahuan mampu membantu para penguasa utnuk mengembangkan organisasi sosial yang semakin solid yang dapat dipakai untuk kepentingan kekuasaan. Bagian ini akan berbicara tentang beberapa model sientisasi kehidupan politik untuk mengurangi kekuasaan historis yang despostis. 2. Teknik Ilmiah dan Kekuasaan Teknik ilmiah dan kekuasaan memiliki hubungan yang sangat dekat. Kedekatan ini dapat terlihat dalam praktek oligarki dan perang. Oligarki adalah sistem

apa pun dengan kekuasaan tertinggi hanya dimiliki sekelompok orang, bentuk ekstremnya adalah Monarki. Sedangkan perang merupakan suatu praktek kekuasaan dengan tujuan untuk mengalahkan dan menghancurkan potensi musuh. Salah satu keunggulan dari oligarki zaman modern adalah bahwa sistem pemerintahan itu menggunakan teknik-teknik ilmiah utnuk memperkukuh organisasi sosialnya. Akibatnya oligarki ilmiah punya kekuasaan yahg lebih besar daripada kekuasaan yang dimiliki oleh oligarki jenis apapun pada masa prailmiah. Pemerintah Oligarkis dewasa ini mengandung bahaya yang jauh lebih efektif dibandingkan dengan apa yang dilakukan oleh para penguasa yang despostis sebelumnya karena teknik ilmiah dewasa ini memiliki kemampuan untuk menundukkan banyak orang. Dalam situasi semacam ini, barangkali tepat kalau orang menginginkan ditegakkannya demokrasi dan hak-hak asasi manusia. Selain oligarki, teknik ilmiah dapat menimbulkan kejahatan lain yang menghancurkan yaitu perang. Perang dewasa ini tentu tidak dapat lebih menghancurkan dari perang di zaman lampau karena kemajuan dalam bidang teknik persenjataan diimbangi oleh kemajuan ilmu kedokteran dan kesehatan. Namun, ada tanda-tanda kejahatan perang meningkat, disebabkan adanya penggunaan sumbersumber baru sebagai senjata perang. Perang itu tidak akan terjadi hanya dengan satu syarat, yaitu, jika kita tidak mau kehidupan ini punah. Maka di amsa sekarang ataupun di masa depan, kita akan selalu menghadapi pilihan ini : memusnahkan diri kita sendiri, atau harus mengorbankan kebebasan atau nafsu untuk membunuh orang. 3. Demokrasi Ketika ilmu pengetahuan memiliki potensi menghancurkan, maka perlu adanya sebuah penataan baru dalam masyarakat, sehingga ilmu pengetahuan tidak lagi mendatangkan kehancuran. Dari banyak pilihan, tidak dapat dipungkiri bahwa kita menghendaki suatu masyarakat yang demokratis. Demokrasi ini memiliki makna yang berbeda-beda, di abad 18 dan 19, demokrasi biasa dihubungkan dengan gagasan kebebasan, baik kebebasan dari kukungan para penguasa, maupun kebebasan berpikir untuk mengemukakan pendapat. Namun ketika teknik ilmiah mulai dipakai secara luas, maka demokrasi tidak saja menjadi kata kunci untuk melawan penguasas yang depostis, melainkan juga untuk melindungi individu dari masyarakat itu sendiri. Dapat dilihat bahwa demokrasi merupakan urgensi jika kita ingin agar individu terlindung

dari kecondongan teknik yang memperbesar kemungkinan individu untuk menjadi komponen mesin. Ada tiga urgensi dari diterapkannya demokrasi dalam masyarakat ilmiah, (1) yaitu agar individu dapat melihat dirinya berguna, (2) sedapat mungkin terlindungi dari kemalangan yang seharusnya tidak ia terima, (3) dan memiliki kesempatan utnuk berinisiatif dengan segala macam cara positif yang tidak merugikan orang lain. 4. Peranan Ilmuwan Tidak dapat disangkal bahwa dalam proses politik yang sedang berjalan, banyak ilmuwan memainkan peranan yang tidak kecil dalam pengambilan keputusan politik baik dengan menjadi staf dalam bidang penelitian milik pemerintah maupun dengan menjadi staf dalam lembaga konsultasi publik. Mengikuti J. Habermas, setidaknya ada tiga model hubungan kerja antara kedua belah pihak (pihak ilmuwan dan pihak politisi). Yang pertama adalah decisionistic model (model keputusan berdasarkan pertimbangan kepentingan). Menurut model ini keputusan terakhir dari suatu kebijakan publik berada di tangan para pemegang kekuasaan yang pada dasarnya lebih memberikan perhatian pada konflik kepentingan dan nilai. Ilmuwan hanya bertugas melayani kepentingan kekuasaan sehingga kebijakannya dapat dijalankan di masyarakat. Model yang kedua adalah technicratic model. Model ini mengunggulkan peranan ilmuwan yang profesional. Pemegang kekuasaan tergantung pada ilmuwan yang menjadikan dirinya sebagai salah satu organ dari masyarakat. Model yang ketiga adalah pragmatic model. Kunci dari model ini adalah komunikasi antara pihak-pihak yang terlibat. Model ini melihat bahwa antara ilmuwan dan politisi terdapat interaksi kritis dalam suatu diskusi yang dilengkapi dengan informasi dan pertimbangan-pertimbangan ilmiah. Kedua belah pihak tidak saling memanfaatkan dan menguasai. Di antara ketiga model tersebut, yang paling mendekati tuntutan bagi demokratisasi adalah model pragmatis. Hanya pendekatan pragmatis yang menegaskan bahwa komunikasi antara ilmuwan dengan pelaku politik menentukan arah dari perkembangan teknik dengan dasar tradisi untuk memecahkan masalah kebutuhan-kebutuhan praktis. Komunikasi semacam itu berakar pada kepentingankepentingan sosial yang mengandung muatan orientasi nilai dari suatu life-world.

Bab XI Masalah Bebas Nilai dalam Ilmu Pengetahuan 1. Pengertian Bebas Nilai Bebas nilai sesungguhnya adalah tuntutan yang ditujukan kepada ilmu pengetahuan agar ilmu pengetahuan dikembangkan dengan tidak memperhatikan nilai-nilai lain diluar ilmu pengetahuan. Tuntutan dasarnya adalah agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi ilmu pengetahuan, dan karena itu ilmu pengetahuan tidak boleh dikembangkan dengan didasarkan pada pertimbangan lain diluar ilmu pengetahuan. Dengan demikian, yang ingin diwujudkan dengan tuntutan bebas nilai adalah tuntutan agar ilmu pengetahuan dikembangkan hanya demi kebenaran saja, dan tidak perlu tunduk kepada nilai dan pertimbangan lain di luar ilmu pengetahuan. 2. Dua Kecenderungan Dasar Dari penjelasan sebelumnya, memunculkan pertanyaan apakah ilmu pengetahuan mempunyai otonom yang sedemikian mutlak lepas dari campur tangan pihak lain ? Bagaimana jika ilmu pengetahuan dikembangkan secara sedemikian otonom sehingga pada akhirnya tidak memperdulikan berbagai nilai lainnya ? Tujuan akhir ilmu pengetahuan adalah mencari dan memberi penjelasan tentang masalah dan fenomena dalam alam semesta ini. Ada baiknya kita membedakan dua macam kecenderungan dasar dalam melihat tujuan ilmu pengetahuan tersebut. a. Kecenderungan puritan-elitis Kecenderungan ini beranggapan bahwa tujuan akhir dari ilmu pengetahuan adalah demi ilmu pengetahuan. Bagi mereka yang berpandangan puritan elitis ini, ilmu pengetahuan memang hanya bertujuan untuk mencapai penjelasan dan pemahaman tentang masalah-masalah dalam alam ini. Mereka tidak mempersoalkan aplikasinya bagi kehidupan konkret. b. Kecenderungan pragmatis Kecenderungan pragmatis pun beranggapan bahwa ilmu pengetahuan dikembangkan demi mencari dan memperoleh penjelasan tentang berbagai persoalan dalam alam semesta ini. Ilmu pengetahuan memang bertujuan untuk menemukan kebenaran. Namun tidak hanya berhenti sampai di situ saja, yang juga penting adalah ilmu pengetahuan itu pada akhirnya berguna bagi manusia

untuk memecahkan berbagai persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Dari penjelasan tersebut, terlihat jelas bahwa kecenderungan pragmatis tidak bisa bebas nilai seperti puritan-elitis. Ilmu pengetahuan terbebani dengan nilai-nilai lainnya.
3. Sintesis : Context of Discovery dan Context of Justification

Salah satu jalan keluar dari masalah bebas nilai yang telah dijelaskan sebelumnya , yaitu dengan membedakan antara context of discovery dan context of justification. a. Context of discovery Hal ini menyangkut konteks dimana ilmu pengetahuan ditemukan. Yang dikatakan disini adalah ilmu pengetahuan tidak terjadi, ditemukan, dan berlangsung dalam kevakuman. Ilmu pengetahuan selalu ditemukan dan berkembang dalam konteks ruang dan waktu tertentu, dalam konteks sosial tertentu. Termasuk didalamnya adalah kenyataan bahwa ilmu pengetahuan muncul dan berkembang demi memecahkan persoalan-persoalan yang dihadapi oleh manusia. Jadi, ilmu pengetahuan tidak mucul secara mendadak begitu saja. b. Context of justification Yang dimaksudkan adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dan kegiatan ilmiah. Inilah konteks dimana kegiatan ilmiah dan hasil-hasilnya diuji berdasarkan kategori dan kriteria yang murni ilmiah. Dimana yang berbicara adalah data dan fakta apa adanya serta keabsahan metode ilmiah yang dipakai tanpa mempertimbangkan kriteria dan pertimbangan lain di luar itu. Dengan pembedaan tersebut, ingin dikatakan adalah context of discovery ilmu pengetahuan tidak bebas nilai, sementara dalam context of justification ilmu pengetahuan harus bebas nilai.