Anda di halaman 1dari 40

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN DENGAN FLU BABI

Kelompok 11 :
SITI ANNISA Z.N. SALAS AULADI SRI HANDINI PERTIWI SILVIA JUNIANTY IA SRI MELFA DAMANIK RI SELLA GITA A SUSI HANIFAH SARAH RIDASHA F TIARA RACHMAWATI TIARA TRI P TRIANDINI TAMMY TIARA ARUM KESUMA IARA (220110080145) (220110080138) (220110080105) (220110080097) (220110080079) (220110080052) (220110080035) (220110080013) (220110080118) (220110080108) (220110080095) (220110080053) (220110080050)

UNIVERSITAS PADJADJARAN FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN JATINANGOR 2009

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dengan baik Makalah ini berjudul Makalah Kasus 3 Swine Influenza (Flu Babi) makalah ini disusun untuk memenuhi tugas dan diajukan untuk memenuhi standar proses pembelajaran pada mata kuliah Sistem Hematologi dan Imunitas Dalam penyusunan makalah ini , penulis ingin menyampaikan terima kasih kepada : 1. Ibu Wiwi Mardiah, S.Kp .M.Kes. selaku koordinator sistem hematologi dan imunitas serta dosen yang memberikan bimbingan kepada penulis. 2. Orang tua kami tercinta yang selalu membeikan doa restu dan dukungan dalam proses pembelajaran kami di Fakultas Ilmu Keperawatan. 3. Teman-teman penulis kelompok 11 yang meluangkan waktu untuk menyusun makalah ini. 4. Pihak lain yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu, terima kasih atas dukungannya, Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberikan balasan yang lebih baik. Meskipun telah berusaha segenap kemampuan, namun penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna. Oleh karena itu, penulis sangat mengharapkan saran dan kritik dari semua pihak demi perbaikan di hari kemudian. Akhir kata, penulis berharap makalah semoga makalah ini dapat bermanfaat dalam proses pembelajaran di Fakultas Ilmu Keperawatan. Jatinangor, Oktober 2009

penulis

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar belakang H1N1 flu bentuk babi merupakan salah satu turunan flu Spanyol yang menyebabkan pandemi pada manusia sangat efektif dalam 1918-1919. Seperti halnya dalam persisting babi, keturunan yang memiliki 1918 virus juga diedarkan di manusia di abad ke-20, kontribusi terhadap wabah musiman biasa dari influenza. Namun, transmisi langsung dari babi kepada manusia adalah jarang, dengan hanya 12 kasus di AS sejak 2005. Virus flu yang telah dianggap sebagai salah satu trickiest diketahui kedokteran karena terus perubahan bentuk sehingga eluding yang antibodies pelindung orang-orang yang mungkin telah dikembangkan dalam menanggapi sebelumnya eksposur ke influenza atau untuk vaksin influensa. Setiap dua atau tiga tahun virus undergoes perubahan kecil. Tetapi pada interval kirakira satu dekade, setelah besar dari populasi dunia telah mengembangkan beberapa tingkat perlawanan terhadap perubahan kecil ini, ia undergoes perubahan besar yang memungkinkan untuk dengan mudah menulari populasi di seluruh dunia, sering menjangkiti ratusan juta orang yang memiliki antibodi defenses tidak dapat menolak itu.Virus influenza yang juga telah dikenal untuk mengubah bentuk yang lebih singkat selama jangka waktu tertentu. Sebagai contoh, selama pandemi flu Spanyol, gelombang awal penyakit relatif ringan, sedangkan gelombang kedua dari satu tahun kemudian penyakit ini sangat mematikan. Di tahun 1957, sebuah pandemi flu Asia terinfeksi beberapa 45 juta orang Amerika tewas dan 70.000. Itu disebabkan sekitar 2 juta kematian secara global. Sebelas tahun kemudian, selama 1968-1969, Hong Kong pandemi flu Amerika menderita 50 juta dan 33.000 menyebabkan kematian, biaya sekitar $ 3,9 miliar. Pada tahun 1976, sekitar 500 prajurit menjadi babi terinfeksi flu selama beberapa minggu. Namun, pada akhir bulan penyidik menemukan bahwa virus itu mysteriously hilang. Di US rata-rata selama satu tahun, ada sekitar 50 juta kasus normal yang mengarah ke flu sekitar 36.000 kematian, sebagian besar ke sangat muda, tua, atau orang lemah, dengan persentase yang besar akibat komplikasi seperti radang paru-paru. Peneliti medis di seluruh dunia, mengakui bahwa babi virus flu mungkin lagi mengubah menjadi sesuatu sebagai maut sebagai flu Spanyol, yang hati-hati menonton terbaru 2009 wabah flu babi dan membuat rencana untuk kemungkinan kemungkinan pandemi global. Beberapa

negara telah mengambil langkah-langkah pencegahan untuk mengurangi kemungkinan untuk pandemi global dari penyakit.

B. Tujuan Mahasiswa mengetahui konsep mengenai virus H1N1 Mahasiswa memahami cara kerja virus H1N1 menginfeksi tubuh Mahasiswa mengetahui dan mampu memberikan intervensi keperawatan kepada penderita flu babi

C. Identifikasi kasus Tn. A (35 tahun) masuk rumah sakit dengan keluhan suhu tubuhnya meningkat disertai batuk dan nyeri tenggorokan 2 hari sebelum masuk rumah sakit. Dari hasil pengkajian Perawat X didapatkan suhu tubuh 390, tekanan darah 110/80 mmHg, RR 24 x/menit dan pasien mengeluh myalgia, rinorhea, muntah-muntah, lemas dan diare. Dari hasil pemeriksaan laboratorium dari apus tenggorokan PCR dinyatakan (+) flu babi. Hasil foto rontgen didapatkan adanya pneumonia Terapi :(-) oselatamivir (tamiflu) icapsul (75 mg) x3 perhari Riwayat kesehatan : pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang dirawat di rumah sakit karena menderita flu.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA A. VIRUS Semua virus merupakan parasit obligat intraseluler. Tidak mengandung enzim yang berhubungan dengan metabolisme energi dan secara keseluruhan tergantung dari sel hospes dalam proses biosintesis makromolekul. Virus hanya mengandung satu asam nukleat yaitu DNA atau RNA. 1. Genom DNA mempunyai struktur yang berserat rangkap (dauble stranded). 2. Genom RNA mempunyai struktur yang berserat tunggal (single stranded). 3. Genom viral diselubungi oleh lapisan pelindung yang terdiri atas protein dan lipid. 4. Virus yang terdapat secara alami, sebetulnya menginfeksi semua organisme di alam: a. Virus bakteri biasa ditemukan pada hampir semua golongan bakteri dan biasanya disebut bakteriofage. b. Sel tanaman dapat diinfeksi, baik oleh virus maupun viroid yang merupakan molekul RNA kecil, sirkuler dan tidak berselubung. c. Golongan insekta dari vertebrata dan diinfeksi oleh berbagai virus, bahkan beberapa virus dapat menginfeksi kedua golongan tersebut. Sifat-sifat komponen viral Analisis komponen viral memerlukan proses purifikasi dari partikel viral. Langkah awal meliputi pembuangan debris seluler yang diikuti dengan konsentrasi viral dengan cara presipitasi dan sentrifugasi. Langkah purifikasi akhir pada umumnya meliputi kecepatan atau keseimbangan sentrifugasi gradient densitas. 1. Asam nukleat yang dikonsentrasikan dari virus yang dimurnikan mempunyai variasi yang luas, baik dalam struktur maupun ukuran a. Asam nukleat virus dapat beruapa RNA/DNA yang berserat tunggal (SS) atau berserat ganda (DS).

b. Banyak DNA viral dan bebrapa RNA viral mempunyai urutan nukleotida yang terminally redundant. c. Beberapa DNA viral (contoh Poxvirus) mempunyai ikatan silang (cross-linking) diantara serat dan beberapa asam nukleat viral (exp. Piconavirus) terikat secara kovalent pada protein. d. Kebanyakan dari asam nukleat viral merupakan molekul linear tunggal, kecuali: DNA dari papovavirus mempunyai bentuk lingkaran tertutup secara kovalen yang berserat rangkap dan disebut super coil. Virus RNA seperti orthomyxovirus, reovirus, rotavirus, bunyavirus dan golonan arenavirus mempunyai genom yang bersegmen yang bervariasi antara dua (arenovirus) dan II (rotavirus) segmen tiap virion. 2. RNA berserat tunggal (ss) dari bebrapa golongan virus dapat bergabung dengan ribosom dan bertindak sebagai RNA pesuruh mRNA. a. RNA yang dapat secara langsung bertindak sebagai serat yang mempunyai polaritas positif disebut sebagai RNA serat positif (+ssRNA). b. RNA dengan polaritas negatif atau RNA srat-negatif (-ssRNA) harus mempunyai serat komplementer yang disintesis untuk bertindak sebagai mRNA, zat tersebut dibentuk dengan bantuan enzim polimerase berasal dari virus. 3. Komposisi basa dari DNA viral berkisar antara 36% guanin plus sitosin (G + C) pada poxvirus sampai 70% G + C pada Herpesvirus. 4. Banyak asam nukleat viralnya sendiri yang bersifat infektif, bila diinokulasiakan pada sel herpes yang sesuai. Oleh karena asam nukleat tersebut mengandung semua informasi genetik yang diperlukan untuk memproduksi virus baru. a. Kebanyakan asam nukleat tidak berselubung dari virus RNA erat-positif adalah infektif. b. Asam nukleat tidak berselubung dari kebanyakan golongan virus dna kecuali poxvirus juga bersifat infektif. c. RNA dari virus RNA serat negatif dan juga berserat rangkap ada yang tidak infektif. d. host range dari asam nukleat yang infektif, biasanya adalah lebih lebar bila dibandingkam dengan partikel virusnya.

5. Komponen utama dari sebua virus, menurut beratnya adalah : a. Protein Protein merupakan satu-satunya komponen dari kapsid viral. Protein mrupakan komponen utama dari envelop viral. Protein viral dapat mempunyai fungsi struktural, enzimatik atau keduanya. b. Banyak virus binatang, baik yang tak berenvelop maupun berenvelop dapat menggumpalkan eritrosit (hemaglutinasi) melalui proses interaksi dari protein kapsid atau envelop dengan reseptor pada permuakaan sel darah merah. c. Partikel virus seringkali mengandung enzim: Orthomyxovirus dan paramyxovirus mengandung enzim neuraminidase yang terdapat dalam protein tonjolan (spike) struktur envelop virus. Baik virus ssRNA mupun +ssRNA, keduanya mengandung enzim polimerase RNA, yang RNA directed yang disebut transkiptase. Retrovirus mengandung polimerase DNA yang RNA directed yang disebut transcriptase balik (reserve transkriptase). 6. Envelop viral juga mengandung campuran dari lipid netral, fosfolipid dan glikolipid disamping protein khas. a. Lipid yang ditemukan dalam semua envelop viral, kecuali envelop dari poxvirus, semuanya berasal dari membran sel hospes. b. Komposisi yang pasti dari lipd suatu virus berbeda yang semuanya tergantung dari sel hospes dan komposisi dari media pertumbuhan. Morfologi virus Gambaran struktural yang biasanya ditemukan pada semua virus adalah terutama genom asam nukleat dan protein pembungkus, walupun partikel virus (virion) dapat sangat bervariasi dalam hal bentuk dan ukuran. 1. Kapsid (selubung protein) terdiri banyak sub unit struktural yang berulang-ulang dan tersusun dalam pola yang sangat rapi. a. Komponen struktural yang paling sederhana ialah suatu molekul protein tunggal yang disebut protomer.

b. Protomer individual membentuk unit struktural dasar dari virus yang disebut kapsomer. c. Banyaknya kapsomer yang jumlahnya +3 tergantung dari ukuran dan morfologi virusnya bergantung dan disebut kapsid. 2. Nukleokapsid merupakan gabungan dari inti (ceote) asam nukleat dan protein kapsid. a. Pada banyak virus seperti virus mosaik tembakau dari virus influenza, nukleokapsid helikal, hubungan antara asam nukleat dan molekulprotein menghasilkan suatu rotasi tunggal. b. Bentuk struktural utama kedua dari nukleokapsid viral ialah ikosahedral 9 ikosahedral: ikosa =20, hedron : bidang). Pada virus ikosahedral asam nukleotidanya didapatkan dalam inti dari struktur tersebut dan dikelilingi oleh pembungkus protein. Virus dengan struktur ikosahedral ditandai dengan adanya bidang-bidang segitga samasisi sebanyak 20 buah, 12 verteks, 30 sisi dan simetri rotasi rangkap 2, 3 dan 5 yang tepat. 3. Hanya ada sejumlah kecil virus yang mempunyai struktur yang kompleks dan tidak memperlihatkan bentuk simetri yang teratur (exp. Poxvirus yang berbentuk bata). Nukleokapsid viral dapat merupakan suatu virion lengkap exp. Virus kapsid yang tidak berenvelop atau dapat pula dikelilingi dengan membran tipe seluler, exp. Virus yang berenvelope. a. Envelope viral seperti membran seluler yang mengandung lapisan rangkap lipida dan merupakan protein yang khas virus. b. Protein envelop yang khas virus ada 2 tipe yaitu: Glikoprotein pada umumnya ditemukan sebagai struktur permukaan, exp. Seperti tonjolan atau molekul hemaglutinasi. Protein matriks merupakan protein yang tidak diglikolisasi (nonglycosilated protein) yang membentuk lapisan struktural pada permukaan dalam dari envelop viral.

B. REAKSI INFLAMASI Dalam tubuh manusia yang terinfeksi, virus membangkitkan hampir keseluruhan respon apoptosis -bunuh diri- dalam sistem imunitas. Semakin banyak virus itu menggandakan diri, semakin banyak pula sitokin. Sitokin merupakan protein yang meningkatkan respons imunitas dan berperan penting dalam peradangan yang diproduksi tubuh. Perubahan struktur virus itu mempengaruhi mekanisme sistem imun. Sitokin muncul sebagai reaksi kekebalan tubuh ketika virus menyerang. Ketika virus masuk, tubuh mengeluarkan sitokin yang diproduksi oleh sel-sel sistem imun. Kurkumin TNF adalah sitokin yang dikeluarkan sel darah putih selama infeksi dan membantu tubuh melawan organisme penyerbu. Dalam jumlah berlebih, TNF dan sitokin pro-peradangan berbalik menyerang tubuh. Akibat gangguan pada jalur itu, TNF meningkat sehingga menyebabkan badai sitokin.

C. VIRUS FLU BABI Mekanisme virus H1N1 yang menyerang sistem respirasi manusia pada dasarnya melalui beberapa tahapan yang membentuk siklus, yaitu: 1) Perlekatan, 2) Penetrasi, 3) Endositosis, 4) Pelepasan materi genetik, 5) Transkripsi, 6) Perakitan, dan 7) Pelepasan.

(siklus infeksi virus H1N1)

Tahapan perlekatan merupakan tahapan awal mula virus masuk kedalam sel. Tahapan ini melibatkan reseptor sel inang (Reseceptor Binding Site/RBS). Reseptor sel yang berperan dalam infeksi virus flu tersusun atas glikoprotein atau glikolipid yang mengandung gugus terminal sialyl-galactosyl [Neu5Ac( 2,3)Gal] atau [Neu5Ac( 2,6)Gal]. Kedua reseptor tersebut biasanya disebut 2,3 asam sialat/sialic acid atau 2,6 asam sialat/sialic acid (Thomson et al., 2006). Pada virus avian influenza (AI), haemaglutinin virus cenderung berikatan dengan 2,3 asam sialat sedangkan virus flu manusia berikatan dengan 2,6 asam sialat. Pada kasus flu burung, haemaglutinin virus AI terdapat kemungkinan perubahan akibat mutasi yang menyebabkan kompabilitas dengan reseptor 2,6 asam sialat pada manusia. Sementara pada babi ditemukan dua jenis reseptor yaitu 2,3 asam sialat dan 2,6 asam sialat. Hal ini dapat menimbulkan adanya kemungkinan rearsosi genetik (mixing vesel) antara virus influenza antara unggas dengan virus asal manusia pada tubuh babi. Setelah haemaglutinin virus H1N1 berikatan dengan RBS sel inang (hospes), maka virus akan masuk melalui fusi envelope virus dengan membran endosomal sel inang. Proses ini memerlukan bantuan protease sel inang untuk mengaktivasi prekusor hemaglutinin (HAo) menjadi fragmen 1 (HA1) dan fragmen 2 (HA2) yang dapat menyebabkan virus melepaskan ribonukleoproteinnya ke dalam sel inang, akibatnya akan terjadi replikasi di dalam sel inang. Tahapan selanjutnya adalah pelepasan materi genetik yang kemudian diikuti dengan proses transkripsi menjadi RNAm (RNA messenger) yang siap untuk ditranslasi menjadi bagian-bagian tubuh virus. Tahapan ini membutuhkan mekanisme kaskade yang melibatkan protein kinase, yaitu ERK 1/2 (Extracellulear-signal Regulated Kinase 1 dan 2) melalui jalur RasRafMEKERK (Gambar 2). ERK ini berperan dalam tahap akhir replikasi virus, yaitu pada saat pengiriman ribonukleoprotein (RNP) yang telah direplikasi di nukleus sel inang ke sitosol pada saat fase perakitan. Bagian virus H1N1 yang mengaktivasi ERK adalah hemagglutinin (HA) yang terakumulasi di membran sel pada tahap perakitan. Hemagglutinin menempel pada Lipid Rafts dan kemudian mengaktivasi kaskade ERK melalui PKC (Protein Kinase C). Kondisi ini akan mempercepat pertumbuhan virus H1N1 melalui proses transkripsi gen.

Usai mengalami perakitan virus H1N1, maka virus tersebut akan dilepaskan melalui sai lepaskan proses penguncupan (budding) yang selanjutnya akan menginfeksi sel sel yang lain. sel-sel

Masa Inkubasi Virus Masa inkubasi : 1-7 hari tetapi lebih sering 1 hari 7 1-4 H1N1 pada manusia menular pada satu hari sebelum onset sakit sampai 7 hari se setelah

onset, pada anak dapat menular sampai 10 hari Tahapan Endemik Level 1: virus di dalam tubuh binatang, tidak jelas menyebabkan infeksi pada manusia : manusia. Level 2: flu binatang menyebabkan infeksi pada manusia. enyebabkan Level 3: kasus sporadik atau klauster kecil infeksi pada manusia. Transmisi dari manusia : kecil ke manusia bila ada, tidak cukup menimbulkan wabah di tingkat masyarakat masyarakat. Level 4: risiko untuk pandemi meningkat tapi tidak pasti. Virus penyabab penyakit dapat : menimbulkan level wabah di komunitas dsal suatu negara. dsalam Level 5: masih belum pandemik, penyakit menyebar antar manusia di lebih dari satu : negara. Level 6: pandemi, menyebar di seluruh dunia. emi,

BAB III PEMBAHASAN A. ISTILAH KHUSUS pegal-pegal, 1. Myalgia adalah suatu keadaan dimana badan terasa pegal pegal, mulai diakhibatkan oleh olahraga yang menyebabkan tubuh meregang terlalu banyak. Myalgia tanpa adanya cedera biasanya disebabkan oleh infeksi virus. 2. Rhinorhea adalah discharge bebas berupa le lender cair dari hidung 3. PCR (polymerase chain reaction) adalah reaksi berantai polymerase, merupakan perbanyakan untai DNA panjang tertentu secara in vitro menggunakan enzim polymerase. 4. Tamiflu adalah obat yang digunakan untuk mencegahan penularan viru flu babi jika virus diberikan lebih awal. Tamiflu lebih disukai karena bentuknya berupa tablet. 5. Pneumonia adalah peradangan pada paru paru-paru.

B. GUGUS BIOLOGI VIRUS H1N1 Genetic origins of the en:2009 swine flu outbreak, 8 genes:[1] [1] HA: Hemagglutinine type 1 (or H1), swine, also in the 1918 influenza. Catch host's cell receptors. NA: Neuraminidase type 1 (or N1), swine, eurasian, help start the infection. PA: avian, north america. PB1: human, likely from the 1993 H3N2 influenza. PB2: avian, from north america. NP: swine, north america. M: swine, eurasia.

NS: swine, north america. Source: La fiche d'identit d'un virus indit, LEMONDE.FR, 30.04.2009.

Gambar virion flu babi C. KONSEP PENYAKIT Flu babi adalah penyakit alat pernapasan yang seng kali secara enzootic/endemic kejadian penyakit dalam periode tertentu pada suatu daerah yang sering kali terjadi pada kasus penyakit dalam jumlah yang selalu relative sama dan biasa terjadi. Namun demikian kasus flu babi yang terjadi pada manusia saat ini sudah bersifat pandemic (penyakit sudah tersebar ke mancanegara). Menurut situs Center for Control and Prefention (CDC) AS, normalnya virus flu babi hanya berjangkit pada babi dengan kematian rendah. Namun secara sporadic terjadi infeksi pada manusia.

Penyebab flu babi adalah virus influenza tipe A subtype H1N1 dari familia orthomyxoviridae. Flu atau influenza ada 2 type : 1. Type A : Menular pada unggas (ayam, itik, dan burung) serta babi 2. Type B dan type C : Menular pada manusia Flu babi pertama kali diisolasi dari seekor babi yang terinfeksi pada tahun 1930 di Amerika Serikat. Pada perkembangannya, penyakit ini dapat berpinadah ke manusia terutama menyerang mereka yang kontak dekat dengan babi. Lama tidak terdengar lagi kabarnya ternyata virus ini menaglami serangkaianmutasi sehingga muncul varian baru yang pertama kali menyerang manusia di Meksiko pada awal tahun 2009. Varian baru ini dikenal dengan nama vrus H1N1 yang merupakan singkatan dari dua antigen utama virus yaitu hemagglutinin tipe 1 dan neuraminidase tipe 1. D. ETIOLOGI DAN FAKTOR RESIKO Penyebab penyakit saluran pernafasan pada babi adalah virus influenza tipe A yang termasuk family orthomyxoviridae. Virus ini erat kaitannya dengan penyabab swine flu, equine flu, dan avian influenza (fowl plaque). Ukuran virus tersebut berdiameter 80120 nm. Selain influenza A, terdapat influenza B dan influenza C yang juga sudah dapat di isolasi dari babi. Sedangkan 2 tipe influenza pada manusia adalah tipe A dan B. kedua tipe ini diketahui sangat progresif dalam perubahan antigenic yang sangat dramatic sekali (antigenik shift). Pergeseran antigenic tersebut sangat berhubungan dengan sifat penularan secara pandemic dan keganasan penyakit. Hal ini dapat terjadi seperti adanya genetic reassortment antara bangsa burung dan manusia. Ketiga tipe virus ini adalah virus yang mempunyai bentuk yang sama dibawah mikroskop electron dan hanya berbeda dalam hal kekebalannya saja. Ketiga virus tersebut mempunyai RNA dengan sumbu protein dan permukaan virionnya diselubungi oleh semacam paku yang mengandung antigen hemagglutinin (H) dan enzim neuramidase (N). Peranan hemagglutinin adalah sebagai alat melekatnya virion pada sel dan menyebabkan terjadinya aglutinasi sel darah merah, sedangkan enzim nuromidase bertanggung jawab terhadap elusi, terlepasnya virus dari sel darah merah dan juga mempunyai peranan dalam melepaskan virus dari sel yang terinfeksi. Antibody terhadap hemagglutinin berperan dalam mencegah infeksi ulang oleh virus yang mengandung hemagglutinin yang sama. Antibody juga terbentuk terhadap antigen neurominidase, tetapi tidak berperan dalam pencegahan

infeksi. Influenza babi yang terjadi di Amerika Serikat disebabkan oleh influenza A H1N1, sedangkan di banyak Negara Eropa, dan Asia Tenggara disebabkan oleh virus influenza A H3N2.

E. MANIFESTASI KLINIS 1. Demam yang muncul tiba-tiba lebih dari 38 C 2. Batuk 3. Nyeri otot dan tulang 4. Sakit tenggorokan 5. Kelelahan yang berlebihan 6. Penderita muntah-muntah dan diare serta masalah pencernaan 7. Sakit kepala 8. Menggigil dan lemas 9. Hidung berair (rhinorea) 10. Tidak nafsu makan 11. Bersin-bersin Gejala lain pada anak-anak: 1. Nafas terengah-engah atau susah bernafas. 2. Kulit menjadi kehitaman atau keabuan 3. Malas minum 4. Muntah-muntah 5. Tidak bisa bangun dan berinteraksi dengan baik 6. Tidak mau disentuh 7. Terkadang gejala hilang tapi demam dan batuk maasih ada.

G.ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian 1. Pengumpulan Data a. Bio Data 1) Nama 2) Usia 3) Alamat 4) Jenis Kelamin 5) Pendidikan 6) Agama 7) Suku Bangsa 8) Tanggal pengkajian 9) Diagnosa Medis b. Riwayat Kesehatan 1) Keluhan Utama P : : Suhu tubuh meningkat 2) Riwayat Kesehatan Sekarang (PQRST) : Tn. A : 35 tahun : : Laki-laki : : : : : Flu Babi

Q : R : S T : : : Pasien 5 hari yang lalu pergi ke luar negeri untuk menengok teman bisnisnya yang di rawat di RS karena menderita flu 4) Obat-Obatan c. Pemerikasaan Fisik 1) Inspeksi 2) Palpasi 3) Perkusi 4) Auskultasi : : : : : Tamiflu (1kapsulx3kali/hari)

3) Riwayat Kesehatan Dahulu

Tanda-tanda vital Suhu RR TD HR Keluhan : 39oC : 24x/menit : 110/80 mmHg : : suhu tubuh meningkat, batuk, nyeri tenggorokan, myalgia, rhinorhea, muntahmuntah, lemas, diare d. Pemeriksaan Diagnostik 1) Apus tenggorokan dan PCR : + flu babi

2) Photo rontgen

: pneumonia

2. Analisa Data Data Yang Menyimpang DO : Rhinorhea Pneumonia (hasil poto rontgen) Inflamasi

Etiologi
H1N1

Masalah Bersihan jalan napas tak efektif

Fagositosis oleh makrofage DS : Klien mengeluh batuk

Pengeluaran bradikinin histamin

Eksudat

Suplai O2

Data Yang Menyimpang

Etiologi

Masalah

Kerja napas DO : Diare Replikasi RNA dalam sel DS : hospes H1N1 Kekurangan volume cairan

Transkripsi menjadi RNAm

Translasi menjadi bagian tubuh virus

Sebagian menjadi neuraminidase

Berpisah dari host

Masuk ke lambung

Asam lambung

Iritasi lambung

Data Yang Menyimpang

Etiologi

Masalah

Gerakan peristaltik

Diare DO : H1N1 Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan Replikasi RNA dalam sel DS : Klien mengeluh nyeri tenggorokan dan muntahmuntah Transkripsi menjadi RNAm hospes

Translasi menjadi bagian tubuh virus

Sebagian menjadi neuromini dase

inflamasi

Pengeluar an bradikinin histamin

Berpisah dari host

tumor lambung

Data Yang Menyimpang

Etiologi
Tonsil bengkak

Masalah

Asam lambung

Sulit menelan Iritasi lambung

Mual muntah

anoreksia

DO : Suhu klien 39oC

H1N1

Hipertermi

Inflamasi DS : Klien mengeluh suhu tubuhnya meningkat Fagositosis oleh makrofage

Sitokinin

Terbentuk pirogen endogen

Data Yang Menyimpang

Etiologi

Masalah

Merangsang hipothalamus anterior

Set temperatur DO : H1N1 Intoleransi aktivitas

Inflamasi DS : Klien mengeluh myalgia dan lemas Fagositosis oleh makrofage

Pengeluaran bradikinin histamin

Merangsang reseptor nyeri

Nyeri sendi DO : H1N1 Resiko pola napas tak efektif

Inflamasi DS : Fagositosis oleh makrofag

Data Yang Menyimpang

Etiologi

Masalah

Pengeluaran bradikinin histamin

Eksudat

Radang membran paru

RBC, WBC, dan cairan masuk ke alveoli

Oklusi parsial

Konsolidasi

O2

CO2

3. Diagnosa Keperawatan a) Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare

c) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbsi nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan d) Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri f) Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen

Intervensi Keperawatan DIAGNOSA KEPERAWATAN Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea TUJUAN Jalan nafas efektif INTERVENSI Bebaskan jalan nafas dengan mengatur posisi kepala ekstensi RASIONAL Secara anatomi posisi kepala ekstensi merupakan cara untuk meluruskan rongga pernafasan sehingga proses respiransi tetap berjalan lancar dengan menyingkirkan pembuntuan jalan nafas Ronchi menunjukkan adanya gangguan pernafasan akibat atas cairan atau sekret yang menutupi sebagian dari saluran pernafasan sehingga perlu dikeluarkan untuk mengoptimalkan jalan nafas

Pemeriksaan fisik dengan cara auskultasi mendengarkan suara nafas (adakah ronchi)

Bersihkan saluran nafas dari sekret dan lendir

Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya

Volume cairan seimbang dengan kebutuhan tubuh klien

Tindakan bantuan untuk mengeluarkan sekret, sehingga mempermudah proses respirasi Rencanakan target Mempermudah pemberian asupan cairan memantauan kondisi klien Kaji pemahaman klien Pemahaman tentang

cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare

tentang alasan mempertahankan hidrasi yang adekuat Catat intake dan output cairan

alasan tersebut membantu klien dalam mengatasi gangguan Untuk mengetahui perkembangan status cairan klien Untuk mengontrol intake cairan klien Untuk mengetahui perkembangan status cairan klien Mengidentifikasi defisiensi, menduga kemungkinan intervensi Mengawasi masukan kalori atau kualitas kekurangan konsumsi makanan Makan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan pemasukan Meningkatkan nafsu makan dan pemasukan oral, menurunkan pertumbuhan bakteri, meminimalkan kemampuan infeksi

Pantau intake per oral

Pantau output cairan

Ketidakseimbangan Kebutuhan nutrisi nutrisi kurang dari terpenuhi secara kebutuhan adekuat berhubungan dengan inadekuat absorbsi nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan

Kaji riwayat nutrisi, termasuk makanan yang disukai Observasi dan catat masukan makanan pasien

Berikan makan sedikit dan frekuensi sering dan/atau makan di antara waktu makan Berikan dan bantu higiene mulut yang baik; sebelum dan sesudah makan, gunakan sikat gigi halus untuk penyikatan yang lembut Kolaborasi Konsul pada ahli gizi

Membantu dalam membuat rencana diet untuk memenuhi kebutuhan individual Meningkatkan efektivitas program pengobatan, termasuk sumber diet nutrisi yang dibutuhkan

Pantau pemeriksaan laboratorium seperti Hb, Hct, BUN, Albumin, Protein, Transferin, Besi Serim, B12, Asam Folat,

Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh

Hipertermi dapat teratasi

TIBC, Elektrolit Serum Observasi tanda-tanda vital terutama suhu tubuh Pantau suhu lingkungan

Menentukan langkah intervensi selanjutnya

Suhu ruangan harus di ubah untuk mempertahankan suhu normal Pemahaman tentang alasan tersebut membantu klien dalam mengatasi gangguan

Jelaskan kepada klien pentingnya mempertahankan intake cairan adekuat

Pantau intake dan output Untuk mengetahui cairan perkembangan status cairan klien Kolaborasi Berikan antipireutik seperti aspirin atau asetaminoven

Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas sehari-hari ditandai dengan adanya nyeri

Setelah dilakukan perawatan klien dapat melakukan aktivitas maksimal sesuai kemampuan

Kaji kemampuan pasien untuk melakukan tugas normal, catat laporan kelelahan, keletihan, dan kesulitan menyelesaikan tugas Berikan lingkungan tenang. Pertahankan tirah baring bila diindikasikan. Pantau dan batasi pengunjung, telepon, dan gangguan berulang tindakan yang tak direncanakan

Digunakan untuk mengurangi demam dengan aksisentralnya pada hipotalamus meskipun demam dapat bergun untuk mengatasi pertumbuhan organisme dan meningkatkan autoimun dari sel-sel yang terinfeksi Mempengaruhi pilihan intervensi/bantuan

Meningkatkan istirahat untuk menurunkan kebutuhan oksigen tubuh dan menurunkan regangan jantung dan paru

Prioritaskan jadwal asuhan keperawatan untuk meningkatkan istirahat. Pilih periode istirahat dengan periode aktivitas Berikan bantuan dalam aktivitas bila perlu, memungkinkan pasien untuk melakukannya sebanyak mungkin Rencanakan kemampuan aktivitas dengan pasien, termasuk aktivitas yang pasien pandang perlu. Tingkatkan tingkat aktivitas sesuai toleransi Gunakan teknik penghematan energi

Mempertahankan tingkat energi dan meningkatkan regangan pada sistem jantung dan pernapasan

Membantu bila perlu, harga diri ditingkatkan bila pasien melakukan sesuatu sendiri

Meningkatkan secara bertahap tingkat aktivitas sampai normal dan memperbaiki stamina tanpa kelemahan

Mendorong pasien melakukan banyak dengan membatasi penyimpangan energi dan mencegah kelemahan Regangan/stres kardiopulmonal berlebihan/stres dapat menimbulkan dekompensasi /kegagalan Stabilitas fisiologis pada istirahat penting untuk memajukan tingkat aktivitas individual

Anjurkan pasien untuk menghentikan aktivitas bila palpitasi, nyeri dada, napas pendek, kelemahan, atau pusing terjadi Kaji kesiapan untuk meningkatkan aktivitas contoh: penurunan kelemahan/ kelelahan, TD stabil, frekuensi nadi, peningkatan perhatian pada aktivitas dan perawatan diri Evaluasi frekuensi

Resiko pola napas

Kecepatan upaya

tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen

pernapasan, catat upaya mungkin meningkatkan pernapasan, catat adanya nyeri, takut, demam, dispnea menurunkan volume respirasi, akumulasi secret dan hipoksia, penurunan kecepatan dapat terjadi dri penggunaan analgesic berlebihan Auskultasi bunyi napas, catat area yang menurun, ada tidaknya bunyi napas, dan adanya bunyi tambahan Bunyi napas sering menurun pada dasar paru berhubungan dengan terjadinya atelektasis. Bunyi tambahan seperti crackels/ronchi dapat menunjukkan akumulasi cairan atau obstruksi jalan napas parsial Merangsang fungsi pernapasan atau ekspansi paru, efektif pada pencegahan dan kongesti paru Catat keefektifan terapi atas kebutuhan untuk pemilihan intervensi lebih agresif

Tinggikan kepala tempat tidur, letakkan posisi duduk semi fowler, bantu peningkatan waktu tidur Catat respon pada pelatihan napas dalam atau pengobatan pernapasan lain, catat bunyi napas sebelum atau sesudah pengobatan Kolaborasi Kaji ulang laporan foto dada dan pemeriksaan laboratorium setelah indikasi

H. PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK 1. Umum (laboratorium):

a. Pemeriksaan darah rutin (Hb, leukosit, trombosit, hitung jenis leukosit) b. Spesimen serum Pengambilan spesimen harus memperhatikan Universal Precaaution yang meliputi: Menggunakan alat pelindung diri (jas lab lengan panjang, sarung tangan karet, goggle, masker, dan tutup kepala plastik) Melakukan cuci tangan dengan menggunakan desinfektan sebelum dan sesudah tindakan Menjaga kebersihan rungan dengan menggunakan desinfektan sebelum dan sesudah tindakan

Alat dan bahan pengambilan spesimen: Swab yang terbuat dari dacron/rayon steril dengan tangkai plastik Cryotube (tabung tahan pendinginan) 2 ml media transprt virus (Hanks BSS + antibiotika) Spuit injeksi Kapas Alkohol Wing needle (pengambilan darah anak) Tabung vacutainer nonkoagulan Tabung vacutainer koagulan

Cara pengambilan spesimen darah Pengambilan darah dengan jarum suntik biasa: Masukkan darah yang diperoleh ke dalam tabung darah bertutup karet Letakkan tabung dalam keadaan miring sekitar 30o untuk mendapatkan serum yang optimal. Diamkan darah dalam waktu 1 jam pada suhu kamar, agar darah dalam tabung membeku dengan baik. Pemisahan darah bekuan dari serum pada tabung steril harus dilakukan di Litbangkes atau laboratorium yang ada sentrifus.

Semua tabung dibungkus dengan kertas tissu dan masukkan kertas koran yang telah diremas ke dalam kotak pengiriman primer. c. Pemeriksaan apusan (aspirasi nasofaring atau bilasan/ aspirasi hidung) Kalau tidak bisa dengan cara di atas maka dengan kombinasi apusan hidung dan orofarin. Pada pasien dengan intubasi dapat diambil secara aspirasi endotrakeal. d. Pemeriksaan kimia darah: albumin, globulin, SGOT, SGPT, ureum, kreatinin, analisis gas darah. e. Pemeriksaan radiologik: PA dan lateral. f. Pemerikaan CT-Scan toraks (bila diperlukan).

2. Pemeriksaan khusus a. Pemeriksaan laboratorium virology Untuk mendiagnosis konfirmasi influenza A (H1N1) dengan cara: Real time (RT) PCR Reaksi PCR meniru reaksi penggandaan atau replikasi DNA yang terjadi dalam makhluk hidup. Secara sederhana PCR merupakan reaksi penggandaan daerah tertentu dari DNA cetakan (template) dengan batuan enzim DNA polymerase. PCR terdiri atas beberapa siklus yang berulang-ulang, biasanya 20 sampai 40 siklus. Komponen PCR Selain DNA template yang akan digandakan dan enzim DNA polymerase, komponen lain yang dibutuhkan adalah: Primer Primer adalah sepasang DNA utas tunggal atau oligonukleotida pendek yang menginisiasi sekaligus membatasi reaksi pemanjangan rantai atau polimerisasi DNA. PCR hanya mampu menggandakan DNA pada daerah tertentu sepanjang maksimum 10000 bp saja, dan dengan teknik tertentu bisa sampai 40000 bp. Primer dirancang

untuk memiliki sekuen yang komplemen dengan DNA template, jadi dirancang agar menempel mengapit daerah tertentu yang kita inginkan. dNTP (deoxynucleoside triphosphate) dNTP alias building blocks sebagai batu bata penyusun DNA yang baru. dNTP terdiri atas 4 macam sesuai dengan basa penyusun DNA, yaitu dATP, dCTP, dGTP dan dTTP. Buffer Buffer yang biasanya terdiri atas bahan-bahan kimia untuk mengkondisikan reaksi agar berjalan optimum dan menstabilkan enzim DNA polymerase. Ion Logam

Ion logam bivalen, umumnya Mg++, fungsinya sebagai kofaktor bagi enzim DNA polymerase. Tanpa ion ini enzim DNA polymerase tidak dapat bekerja.

Ion logam monovalen, kalsium (K+).

Tahapan Reaksi Setiap siklus reaksi PCR terdiri atas tiga tahap, yaitu: Denaturasi Denaturasi dilakukan dengan pemanasan hingga 96oC selama 30-60 detik. Pada suhu ini DNA utas ganda akan memisah menjadi utas tunggal. Annealing Setelah DNA menjadi utas tunggal, suhu diturukan ke kisaran 40-60oC selama 20-40 detik untuk memberikan kesempatan bagi primer untuk menempel pada DNA template di tempat yang komplemen dengan sekuen primer. Ekstensi/elongasi

Dilakukan dengan menaikkan suhu ke kisaran suhu kerja optimum enzim DNA polymerase, biasanya 70-72oC. Pada tahap ini DNA polymerase akan memasangkan dNTP yang sesuai pada pasangannya, jika basa pada template adalah A, maka akan dipasang dNTP, begitu seterusnya (ingat pasangan A adalah T, dan C dengan G, begitu pula sebaliknya). Enzim akan memperpanjang rantai baru ini hingga ke ujung. Lamanya waktu ekstensi bergantung pada panjang daerah yang akan diamplifikasi, secara kasarnya adalah 1 menit untuk setiap 1000 bp. Selain ketiga proses tersebut biasanya PCR didahului dan diakhiri oleh tahapan berikut: Pra-denaturasi Dilakukan selama 1-9 menit di awal reaksi untuk memastikan kesempurnaan denaturasi dan mengaktifasi DNA Polymerase (jenis hot-start alias baru aktif kalau dipanaskan terlebih dahulu). Final Elongasi Biasanya dilakukan pada suhu optimum enzim (70-72oC) selama 5-15 menit untuk memastikan bahwa setiap utas tunggal yang tersisa sudah diperpanjang secara sempurna. Proses ini dilakukan setelah siklus PCR terakhir PCR dilakukan dengan menggunakan mesin Thermal Cycler yang dapat menaikkan dan menurunkan suhu dalam waktu cepat sesuai kebutuhan siklus PCR. Pada awalnya orang menggunakan tiga penangas air (water bath) untuk melakukan denaturasi, annealing dan ekstensi secara manual, berpindah dari satu suhu ke suhu lainnya menggunakan tangan. Tapi syukurlah sekarang mesin Thermal Cycler sudah terotomatisasi dan dapat diprogram sesuai kebutuhan.

Aplikasi teknik PCR

Saat ini PCR sudah digunakan secara luas untuk berbagai macam kebutuhan, diantaranya: Isolasi Gen Sebagaimana kita tahu bahwa fungsi utama DNA adalah sebagai sandi genetik, yaitu sebagai panduan sel dalam memproduksi protein, DNA ditranskrip menghasilkan RNA, RNA kemudian diterjemahkan untuk menghasilkan rantai asam amino alias protein. Dari sekian panjang DNA genome, bagian yang menyandikan protein inilah yang disebut gen, sisanya tidak menyandikan protein atau disebut junk DNA, DNA sampah yang fungsinya belum diketahui dengan baik. Kembali ke pembahasan isolasi gen, para ahli seringkali membutuhkan gen tertentu untuk diisolasi. Sebagai contoh, dulu kita harus mengekstrak insulin langsung dari pancreas sapi atau babi, kemudian menjadikannya obat diabetes, proses yang rumit dan tentu saja mahal serta memiliki efek samping karena insulin dari sapi atau babi tidak benar-benar sama dengan insulin manusia. Berkat teknologi rekayasa genetik, kini mereka dapat mengisolasi gen penghasil insulin dari DNA genome manusia, lalu menyisipkannya ke sel bakteri (dalam hal ini E.coli) agar bakteri dapat memproduksi insulin juga. Hasilnya insulin yang sama persis dengan yang dihasilkan dalam tubuh manusia, dan sekarang insulin tinggal diekstrak dari bakteri, lebih cepat, mudah, dan tentunya lebih murah ketimbang cara konvensional yang harus mengorbankan sapi atau babi. Untuk mengisolasi gen, diperlukan DNA pencari atau dikenal dengan nama probe yang memiliki urutan basa nukleotida sama dengan gen yang kita inginkan. Probe ini bisa dibuat dengan teknik PCR menggunakan primer yang sesuai dengan gen tersebut.

DNA Sequencing

Urutan basa suatu DNA dapat ditentukan dengan teknik DNA Sequencing, metode yang umum digunakan saat ini adalah metode Sanger (chain termination method) yang sudah dimodifikasi menggunakan dye-dideoxy terminator, dimana proses awalnya adalah reaksi PCR dengan pereaksi yang agak berbeda, yaitu hanya menggunakan satu primer (PCR biasa menggunakan 2 primer) dan adanya tambahan dideoxynucleotide yang dilabel fluorescent. Karena warna fluorescent untuk setiap basa berbeda, maka urutan basa suatu DNA yang tidak diketahui bisa ditentukan. Forensik Identifikasi seseorang yang terlibat kejahatan (baik pelaku maupun korban), atau korban kecelakaan/bencana kadang sulit dilakukan. Jika identifikasi secara fisik sulit atau tidak mungkin lagi dilakukan, maka pengujian DNA adalah pilihan yang tepat. DNA dapat diambil dari bagian tubuh manapun, kemudian dilakukan analisa PCR untuk mengamplifikasi bagian-bagian tertentu DNA yang disebut fingerprints alias DNA sidik jari, yaitu bagian yang unik bagi setiap orang. Hasilnya dibandingkan dengan DNA sidik jari keluarganya yang memiliki pertalian darah, misalnya ibu atau bapak kandung. Jika memiliki kecocokan yang sangat tinggi maka bisa dipastikan identitas orang yang dimaksud. Konon banyak kalangan tertentu yang memanfaatkan pengujian ini untuk menelusuri orang tua sesungguhnya dari seorang anak jika sang orang tua merasa ragu. I. PENATALAKSANAAN MEDIS 1. Terapi a. Pasien dengan ILI akan dievaluasi apakah termasuk kelompok dengan gejala klinis ringan, sedang atau berat. b. Kelompok dengan gejala klinis ringan dipulangkan dengan diberi obat simptomatis dan KIE untuk waktu istirahat di rumah. c. Kelompok gejala klinis sedang dirawat di ruang isolasi dan mendapat oseltamivir 2 x 75 mg. d. Untuk kelompok dengan gejala klinis berat dirawat di ICU.

e. Pemeriksaan laboratorium sesuai jadwal yang sudah ditentukan. f. Di ruang rawat inap : dilakukan evaluasi keadaan umum, kesadaran, tanda vital, pantau saturasi oksigen. g. Terapi suportif. 2. Medikamentosa Oseltamivir merupakan pro drug dari metabolit aktif Oseltamivir Karboksilat. Metabolit aktif ini merupakan penghambat selektif enzim neuramidase virus influenza yang glycoproteinnya ditemukan di permukaan virion. Oseltamivir karboksilat menghambat neuramidase influenza A dan B secara in vitro. Oseltamivir yang diberikan secara oral menghambat replikasi dan pathogenicity virus influenza A dan B secara in vivo pada binatang percobaan yang terinfeksi influenza yang sama bila terjadi pada manusia dengan pemberian dosis 75 mg dua kali sehari. INDIKASI Terapi influenza (khususnya influenza A) pada anak usia satu tahun keatas yang menderita gejala influenza. Efikasi ditunjukkan jika terapi diberikan dalam 2 hari setelah timbul gejala. Pencegahan influenza pada dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas setelah kontak dengan penderita influenza ketika influenza telah menyebar. Tamiflu tidak dapat menggantikan vaksinasi influenza.

DOSIS Terapi influenza. dewasa dan dewasa muda 13 tahun ke atas: 75 mg oseltamivir 2 kali sehari selama 5 hari. anak di atas 1 tahun sampai 13 tahun dapat digunakan Tamiflu suspensi dua kali sehari selama 5 hari dengan dosis sesuai berat badan sebagai berikut: - 15 kg 30 mg - 15- 23 kg 45 mg, - > 23 kg sampai 40 kg 60 mg, - > 40 kg, dapat diberikan dosis dewasa 75 mg

Pencegahan influenza

dewasa dan dewasa muda 13 tahun keatas 75 mg sekali sehari selama 7 hari. Terapi diberikan sesegera mungkin setelah terpapar secara individual. selama terjadi epidemi influenza: 75 mg sehari sampai dengan 6 minggu. keamanan dan efektifitas oseltamivir pada anak usia dibawah 12 tahun belum dapat dibuktikan. Pada gangguan fungsi hati tidak ada penyesuaian dosis Pada gangguan fungsi ginjal Dosis terapi: penderita dengan creatinin clearens 10 - 30 ml/menit : 75 mg tiap 2 hari. tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens 10 ml/menit dan pasien dialisa. Dosis pencegahan: pada creatinin clearens 10 30 ml/ menit: 75 mg tiap 2 hari atau 30 mg suspensi sekali sehari. tidak dianjurkan pada penderita dengan creatinin clearens 10 ml/menit dan pasien yang mengalami dialisa. Manula tidak ada penyesuaian dosis kecuali jika ada kerusakan ginjal parah

KONTRA INDIKASI Pasien hipersensitif terhadap Oseltamivir dan komponen tablet TAMIFLU PERINGATAN DAN PERHATIAN Keamanan dan efikasi untuk pengobatan pada anak dibawah 1 tahun dan pencegahan pada anak dibawah 12 tahun belum dapat ditentukan. Keamanan dan efikasi pada pasien immunocompromise belum dapat ditentukan. Keamanan dan efikasi untuk pengobatan pada penderita penyakit jantung kronis dan atau penyakit saluran nafas belum dapat ditentukan. Tidak dapat digunakan sebagai pengganti imunisasi influenza. Pada penderita gangguan ginjal berat dilakukan penyesuaian dosis.

INTERAKSI OBAT

Belum ada data yang cukup untuk keamanan penggunaan oseltamivir pada wanita hamil dan menyusui.

Jika menggunakan obat ini, jangan mengemudikan kendaraan atau menjalankan mesin.

EFEK SAMPING Pada terapi dan pencegahan untuk dewasa, dewasa muda dan manula: mual, muntah, diare dan nyeri lambung, bronkhitis, pusing, kelelahan, sakit kepala, insomnia. Pada anak-anak: mual, muntah dan nyeri lambung, otitis media, pneumonia, sinusitis, bronkhitis, asma, mimisan, ear disorder, tympanic membrane disorder, dermatitis, lymphadenophaty dan conjunctivitis. Efek samping yang dilaporkan selama post market: dermatitis, kemerahan, eksema, urtikaria, reaksi hipersensitif termasuk anaphylactic, jarang ditemukan stevens johnson syndrome dan erythema multiforme, kelainan fungsi hati termasuk hepatitis dan peningkatan enzim hati.

J. ASPEK KOMUNITAS Menurut WHO (1959), keperawatan komunitas adalah bidang perawatan khusus yang merupakan gabungan ketrampilan ilmu keperawatan, ilmu kesehatan masyarakat dan bantuan sosial, sebagai bagian dari program kesehatan masyarakat secara keseluruhan, meningkatkan kesehatan, penyempumaan kondisi sosial, perbaikan lingkungan fisik, rehabilitasi, pencegahan penyakit dan bahaya yang lebih besar, ditujukan kepada individu, keluarga, yang mempunyai masalah dimana hal itu mempengaruhi masyarakat secara keseluruhan. Paradigma Keperawatan Komunitas Paradigma keperawatan komunitas terdiri dari empat komponen pokok, yaitu manusia, keperawatan, kesehatan dan lingkungan (Logan & Dawkins, 1987). Sebagai sasaran praktik keperawatan klien dapat dibedakan menjadi individu, keluarga dan masyarakat. 1. Individu Sebagai Klien Individu adalah anggota keluarga yang unik sebagai kesatuan utuh dari aspek biologi, psikologi, social dan spiritual. Peran perawat pada individu sebagai klien, pada dasarnya memenuhi kebutuhan dasarnya yang mencakup kebutuhan biologi, sosial, psikologi dan

spiritual karena adanya kelemahan fisik dan mental, keterbatasan pengetahuan, kurangnya kemauan menuju kemandirian pasien/klien. 2. Keluarga Sebagai Klien Keluarga merupakan sekelompok individu yang berhubungan erat secara terus menerus dan terjadi interaksi satu sama lain baik secara perorangan maupun secara bersama-sama, di dalam lingkungannya sendiri atau masyarakat secara keseluruhan. Keluarga dalam fungsinya mempengaruhi dan lingkup kebutuhan dasar manusia yaitu kebutuhan fisiologis, rasa aman dan nyaman, dicintai dan mencintai, harga diri dan aktualisasi diri. Beberapa alasan yang menyebabkan keluarga merupakan salah satu fokus pelayanan keperawatan yaitu : a. Keluarga adalah unit utama dalam masyarakat dan merupakan lembaga yang menyangkut kehidupan masyarakat. b. Keluarga sebagai suatu kelompok dapat menimbulkan, mencegah, memperbaiki ataupun mengabaikan masalah kesehatan didalam kelompoknya sendiri. c. Masalah kesehatan didalam keluarga saling berkaitan. Penyakit yang diderita salah satu anggota keluarga akan mempengaruhi seluruh anggota keluarga tersebut. 3. Masyarakat Sebagai Klien Masyarakat memiliki ciri-ciri adanya interaksi antar warga, diatur oleh adat istiadat, norma, hukum dan peraturan yang khas dan memiliki identitas yang kuat mengikat semua warga. Kesehatan dalam keperawatan kesehatan komunitas didefenisikan sebagai kemampuan melaksanakan peran dan fungsi dengan efektif. Kesehatan adalah proses yang berlangsung mengarah kepada kreatifitas, konstruktif dan produktif. Menurut Hendrik L. Bulum ada empat faktor yang mempengaruhi kesehatan, yaitu lingkungan, perilaku, pelayanan kesehatan dan keturunan. Lingkungan terdiri dari lingkungan fisik dan lingkungan sosial. Lingkungan fisik yaitu lingkungan yang berkaitan dengan fisik seperti air, udara, sampah, tanah, iklim, dan perumahan. Contoh di suatu daerah mengalami wabah diare dan penyakit kulit akibat kesulitan air bersih. Keturunan merupakan faktor yang telah ada pada diri manusia yang dibawanya sejak lahir, misalnya penyakit asma.

Keempat faktor tersebut saling berkaitan dan saling menunjang satu dengan yang lainnya dalam menentukan derajat kesehatan individu, keluarga, kelompok dan masyarakat. Fokus Keperawatan Komunitas 1. Aspek interpersonal: hubungan didalam keluarga. Pada kasus ini contohnya, dimana keluarga pasien harus memberi perhatian yang lebih untuk si pasien, jangan menjauhinya. Perawat menjelaskan pada keluarga, meskipun penyakit ini menular, tapi si pasien harus diberikan perhatian. 2. Aspek social: hubungan keluarga dengan masyarakat sekitarnya. Teman-temannya jangan menjauhi. Jangan membatasi pergaulan, tapi harus menjaga sikapnya. 3. Aspek procedural: melatih keterampilan dasar keluarga sehingga mampu mengatasi perubahan yang terjadi. Misalnya menjaga asupan gizinya, memberikan pemahaman

kepada keluarga tentang flu babi dengan tapat. 4. Aspek teknis: melatih keluarga teknik teknik dasar yang mampu dilakukan keluarga dirumah Mengajarkan batuk efektif. Pemberian obat yang teratur, jangan sampai lupa, pengompresan saat panas. Menyediakan kamar yg dapat dimasuki cahaya. Konsep pencegahan penyakit pada keperawatan komunitas : 1. Primer: healthy promotion dan spesifik protection Healthy promotion: promosi kesehatan dengan melakukan penyuluhan Spesfik protection: melakukan Vaksin 2. Sekunder: early diagnosis trethment dan disability Early diagnosis trethment: diagnosis lebih awal dan penangan yang tepat. Disability: mengurangi ketidakmampuan pasien. 3. Tersier: rehabilitasi pasien yang sudah sembuh.

BAB IV KESIMPULAN Flu babi adalah penyakit saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus influenza tipe A termasuk family orthomyxoviridae. Penyakit ini menyrang saluran pernapasan atas manusia. Meskipun gejalanya tidak separah virus flu babi namun penyakit ini mempunyai tingkat kematian yang tinggi. Virus ini pertama kali muncul dan diisolasi dari seekot babi pada tahun 1930 di amerika serikat. Pada perkemangannya penyakit ini berpindah kemanusia terutama menyerang mereka yang kontak dengan babi. Lama tak terdengar, virus ini muncul kembali ditahun 2009 da sudah sampai di Indonesia. Sebenarnya untuk penanganan penyakit ini hanya terletak pada pencegahannya. Apabila upaya pencegahan yang dilakukan para petugas kesehatan di Indonesia ini dapat dilakukan dengan maksimal, virus ini dapat diminimalisir penularannya. Diagnosa keperawatan yang muncul pada penderita swine influenza ini antara lain:
a) Bersihan jalan napas tak efektif berhubungan dengan inflamasi ditandai dengan rhinorhea. b) Kekurangan volume cairan berhubungan dengan tidak seimbangnya cairan tubuh dengan kebutuhan ditandai dengan diare. c) Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan berhubungan dengan inadekuat absorbsi nutrient oleh tubuh akibat reaksi inflamasi ditandai dengan anoreksia, sulit menelan. d) Hipertermi berhubungan dengan perubahan pada regulasi temperatur ditandai dengan peningkatan temperatur tubuh. e) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan ketidakmampuan melaksanankan aktivitas seharihari ditandai dengan adanya nyeri.

f) Resiko pola napas tak efektif berhubungan dengan penurunan kapasitas pembawa oksigen.

DAFTAR PUSTAKA Capernito,Linda juall.2001.Buku Saku Diagnosa Keperawatan.Jakarta.EGC Corwin,Ellizabetz,2001.Buku Saku Patofisiologi.Jakarta.EGC Doengoes,1999.Perencanaan Asuhan Keperawatan.Jakartan.EGC http://beingmom.org/index.php/2006/12/08/penjelasan-imunisasi/ http://wikipedia.org http://www.freelists.org/archives/ppi/03-2004/msg00000.html http://www.infeksi.com/articles.php?lng=in&pg=15HI setempat. http://www.pikiranrakyat.com/cetak/0204/26/cakrawala/laput1. http://www.pppl.depkes.go.id/catalogcdc/kamus_detail_klik.asp?abjad=P&id=20051 11810220104830710&count=13&page=1