Anda di halaman 1dari 8

SINDROM MALABSORBSI KARBOHIDRAT

Pembimbing : Intan Dyah R, S.Si.T

Oleh : 1. Latri Aryanti 2. Sulastri 3. Virgin Norma F 4. Watiah

AKADEMI KEBIDANAN GRAHA MANDIRI CILACAP 2012/2013

KATA PENGANTAR

Puji syukur Penyusun panjatkan kehadirat Tuhan YME yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kami dapat menyelesaikan makalah dengan judul Sindrom Malabsorbsi Karbohidrat dengan lancar. Makalah ini disusun sebagai syarat untuk memenuhi tugas ASUHAN KEBIDANAN BAYI DAN BALITA II Dalam penyusunan makalah ini, Penyusun telah menerima bimbingan, bantuan , saran , serta inspirasi dari berbagai pihak. Oleh karena itu , tidak lupa kami ucapkan terima kasih yang setulus-tulusnya kepada : 1) Tuhan YME yang telah memberi kenikmatan sehingga penyusunan karya tulis ini dapat diselesaikan dengan baik. 2) Ibu Intan Dyah, S.SiT selaku Dosen Pengampu yang telah memberi bimbingan, bantuan, dan saran kepada kami dalam belajar ASUHAN KEBIDANAN BAYI DAN BALITA II. Penyusun menyadari sepenuhnya bahwa dalam penyusunan makalah ini belum dapat dikatakan sempurna. Semoga makalah kami dapat mendatangkan manfaat bagi seluruh pihak diantaranya dapat menambah pengetahuan bagi kami dan yang lain. Amin. Cilacap, 8 September 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN LATAR BELAKANG Sindrom malabsorbsi hingga kini masih merupakan salah satu penyakit pada anak dan bayi di Indonesia. Diperkirakan angka kesakitan diantara 150-430 perseribu penduduk setiap tahunnya dan dengan angka kematian yang masih tinggi terutama pada anak umur 1-4 tahun, sehingga memerlukan penatalaksanaan yang tepat dan memadai. Penderita sindrom malabsorbsi merupakan tantangan karena susahnya menilai gejala, sangat bervariasinya tanda-tanda, luasnya diagnosa banding dan beragamnya uji diagnostic yang tersedia. Evaluasinya memerlukan pengenalan tanda khas, penentuan diagnosis banding secara individual, pemakaian uji laboratorium yang tepat dan pada beberapa kasus perlu manajemen empiris untuk mencapai diagnosis yang benar. Malabsorbsi karbohidrat umum pada bayi dan anak anak karena kapasitas / kemampuan mereka dalam menyerap masih terbatas daripada orang dewasa. Karbohidrat malabsorpsi (sering disebut sebagai intoleransi) sangat umum terjadi pada bayi berusia kurang dari 3 bulan karena sistem pencernaan yang belum matang dan pengembangan yang tidak lengkap dari flora usus mereka.

BAB II KAJIAN TEORI DEFINISI Sindroma malabsorbsi adalah kelainan-kelainan yang terjadi akibat penyerapan gizi yang tidak adekuat dari usus kecil ke dalam aliran darah. Sindrom malabsorbsi adalah kumpulan gejala dan tanda-tanda yang diakibatkan oleh absorbs lemak non adekuat didalam usu halus ( Barbara C. Long, 1985 ) Intoleransi karbohirat adalah ketidak mampuan untuk mencerna karbohidrat tertentu karena kurangnya satu atau lebih enzim usus. ETIOLOGI Laktosa merupakan karbohidrat utama dari susu ( susu sapi mengandung 50 mg laktosa perliter ). Maka pada bayi dan balita diare akibat intoleransi laktosa mendapat perhatian khusus karena menjadi penyebab yang cukup sering. Sebagian besar karbohidrat yang dimakan sehari-hari terdiri dari disakarida dan polisakarida. Karbohidrat dapat dibagi dalam monosakarida (glukosa, galaktosa, dan fruktosa ), disakarida ( laktosa atau gula susu, sukrosa atau gula pasir dan maltosa ) serta polisakarida ( glikogen, amilum, tepung ). Setelah masuk ke dalam usus, disakarida akan diabsorbsi dan masuk ke dalam mikrovili usus halus dan dipecah menjadi monosakarida oleh enzim disakarida (lactase, sukrase dan maltase ) yang ada di permukaan mikrovili tersebut. Defisiensi enzim disakaridase selektif menyebabkan gangguan hidrolisis karbohidrat pada membran enterosit meskipun tidak ada cedera mukosa . Pada intoleransi laktosa terjadi defisiensi enzim laktase dalam brush border usus halus, sehingga proses pemecahan laktosa menjadi glukosa terganggu dan akibatnya terjadi gangguan penyerapan makanan atau zat sehingga akan

menyebabkan tekanan osmotik dalam rongga usus meningkat dan akan mengakibatkan tekanan osmotik dalam rongga usus meninggi sehingga terjadi pergeseran air dan elektrolit ke dalam rongga usus. Isi rongga usus yang berlebihan akan merangsang usus untuk mengeluarkannya sehingga timbul diare KLASIFIKASI Intoleransi laktosa dibedakan menjadi 2, yaitu : 1. intoleransi primer yang merupakan kelainan congenital 2. intoleransi sekunder yaitu terjadinya defisiensi enzim laktase akibat kerusakan mukosa usus, mengingat disakarida ditahan di lapisan luar mukosa usus. Hal-hal yang menyebabkan terjadinya defisiensi laktase adalah

penggunaan obat-obatan neomycin dan kanamycin, celliac disease, malnutrisi, giardiasis, defisiensi imunoglobulin, dll PATOFISIOLOGI Disakarida biasanya dibagi menjadi monosakarida oleh disaccharidases ( misalnya lactase, maltase, isomaltase, sukrase ). Disakarida tercerna menyebabkan beban osmotic yang menarik air dan elektrolit ke usus, menyebabkan diare berair. Fermentasi bakteri dari karbohidrat di usus besar menghasilkan gas ( H2, CO2, dan metana ), sehingga flatus berlebihan, kembung, distensi dan nyeri perut TANDA DAN GEJALA Baik pada yang bawaan maupun pada yang didapat, penderita menunjukkan gejala klinis yang sama, yaitu diare yang sangat sering, cair, asam (ph dibawah 4,5), meteorismus, flatulens dan kolik abdomen. Akibat gejala tersebut, pertumbuhan anak akan terlambat bahkan tidak jarang terjadi malnutrisi dengan rasio tinggi dan berat badan kurang dari persentil ke-5.

Jika karbohidrat (gula atau pati) tidak cukup dicerna, ini berarti bahwa ia akan terus lulus meskipun usus (bukan diserap ke dalam aliran darah, karena akan olah itu dicerna).Setelah mencapai usus besar, ia menarik dalam cairan ekstra ke usus melalui proses yang disebut osmosis. Bakteri biasanya hadir dalam usus, memfermentasi karbohidrat tercerna dan sebagai hasilnya gejala lambung dapat berkembang. Gejala ini meliputi:
1. 2. 3. 4.

Diare cair Distensi abdomen atau kembung Haid Berlebihan gas Jus buah yang mengandung sorbitol (gula alkohol yang ditemukan dalam

buah-buahan) mungkin berhubungan dengan malabsorpsi karbohidrat tanpa gejala lambung yang khas. Sebaliknya gejala mungkin termasuk: Peningkatan aktivitas fisik dan lekas marah DIAGNOSA 1. Pengukuran pH tinja (pH < 6, normal pH tinja 7- 8) 2. Penentuan kadar gula dalam tinja dengan tablet "Clinitest". Normal tidak terdapat gula dalam tinja. (+ = 0,5%, + + = 0,75%, +++ = 1%, ++++ = 2%). 3. lactose loading (tolerance) test. Setelah penderita dipuasakan selama semalam diberi minum laktosa 2 g/kgbb. Dilakukan pengukuran kadar gula darah sebelum diberikan laktosa dan setiap 1/2jam kemudian hingga 2 jam lamanya. Pemeriksaan ini dianggap positif (intoleransi laktosa) bila didapatkan grafik yang mendatar selama 2 jam atau kenaikan kadar gula darah kurang dari 25 mg% (Jones, 1968). 4. Barium meal lactose

Setelah penderita dipuasakan semalam, kemudian diberi minum larutan barium laktosa. Kemudian dilihat kecepatan pasase larutan tersebut. Hasil dianggap positif bila larutan barium laktosa terlalu cepat dikeluarkan (1 jam) dan berarti pula hanya sedikit yang diabsorbsi. 5. Biopsi mukosa usus halus dan ditentukan kadar enzim laktase dalam mukosa tersebut. Untuk diagnosis klinis biopsi usus penting sekali, karena banyak hal dapat diketahui dari pemeriksaan ini, misalnya gambaran vilus di bawah dissecting microscope. Gambaran histologis mukosa (mikroskop biasa dan elektron), aktifitas enzimatik (kualitatifdan kuantitatif). Biopsi usus ternyata tidak berbahaya dan sangat bermanfaat dalam menyelidiki berbagai keadaan klinis yang disertai malabsorbsi usus. 6. Sugar chromatography dari tinja dan urin. PENATALAKSANAAN Diberikan susu rendah laktosa (LLM, Almiron, eiwit melk) atau Free lactose milk formula (sobee, Al 110) selama 2-3 bulan kemudian diganti kembali ke susu formula yang biasa. ( kadar laktosa Almiron 1,0%, eiwit melk 1,4%, LLM 0,8%, Sobee 0% dan Al 110 (0%). Pada intoleransi laktosa sementara, sebaiknya diberikan susu rendah laktosa selama 1 bulan sedangkan pada penderita dengan intoleransi laktose primer (jarang di Indonesia) diberikan susu bebas laktosa. Respon klinis terhadap pemberian diet bebas laktosa merupakan suatu alternatif untuk pemeriksaan tinja atau uji diagnostik spesifik. Pembatasan laktosa seharusnya menghasilkan penyembuhan cepat diarenya dalam 2-3 hari, jika ada defisiensi laktase. Harus bisa membedakan intoleransi laktosa dengan keadaan sensitif terhadap protein, gastroenteritis akut tidak memicu sensitivitas susu. Cukup beralasan bila susu sapi diganti dengan susu formula susu kedelai jika dicurigai intoleransi laktosa karena formula susu kedelai mengandung tepung rantai pendek atau sukrosa sebagai sumber gulanya. Orang tua harus dibimbing agar tidak memberikan tambahan cairan bening atau larutan elektrolit encer berlebihan untuk menghindari hiponatremia atau pengurasan kalori pasca infeksi,

yang bisa menyebabkan diarenya berkepanjangan. Diare yang menetap walaupun laktosa dalam diet sudah dikurangi memberi kesan diagnosis bukan defisiensi laktosa2)

DAFTAR PUSTAKA

1. http://www.scribd.com/doc/52808401/Sindrom-Malabsorbsi 2. http://www.merckmanuals.com/professional/gastrointestinal_disorders/ma labsorption_syndromes/carbohydrate_intolerance.html 3. http://www.babycareadvice.com/babycare/general_help/article.php?id=16 4. http://tentangkedokteran.wordpress.com/2009/03/18/malabsorbsi-daninfeksi-sebagai-penyebab-tersering-diare-kronis-pada-bayi-dan-anak/