Anda di halaman 1dari 102

Dr.H.

Saifudin Zuhri

SANKSI PIDANA BAGI PELAKU NIKAH SIRI DAN KUMPUL KEBO

Penerbit Bima Sejati Semarang 2013

KATA PENGANTAR Alhamdulillah, dengan tak terlepas anugerah dan rahmat Allah swt. penulis mampu menyelesaikan buku SANKSI PIDANA BAGI PELAKU NIKAH SIRI DAN KUMPUL KEBO. Buku ini ditulis diilhami adanya Pro-Kontra nikah siri dalam RUU Hukum Materi Peradilan Agama Bidang Perkawinan (RUU-HM-PA-BPerkwn) yang banyak dibicarakan bukan saja kalangan akademisi, praktisi hukum, maupun Ulama, tetapi juga di kalangan masyarakat, terutama masyarakat muslim muncul kecemasan dan ketakutan terhadap pelarangan nikah siri. Dalam RUU tersebut pada pasal 143 diformulasikan: Setipa orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak dihadapan pejabat pencatat nikah, di pidana dengan denda paling banyak Rp.6.000.000,00 (enam juta rupiah) atau hukuman kurungan paling lama 6 bulan. Rumusan ini dilandasi ilat hukum bahwa kawin siri lebih banyak merugikan kepada perempuan dan anak. Kawin siri lebih banyak madharatnya dari pada manfaatnya. Melalui statemen ini timbul pertanyaan, apakah setiap kawin siri itu pasti menimbulkan madharat. Apakah dalam mempertimbangkan antara madharat dan manfaat itu sudah pasti banyak madharatnya. Lalu, darimana kita memverifikasi pasti banyak madharatnya. Karena realitas di masyarakat banyak juga seseorang yang kawin secara sarih dicatatkan pada pejabat pencatat nikah justru yang menimbuilkan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) baik terhadap isteri maupun anak. Di sisi lain, realitas dilapangan dari pihak isteri justru banyak yang menimbulkan KDRT. Lihat saja, di TV ada tayangan yang berjudul suami-suami takut isteri. Dengan demikian, apakah dengan dasar konvensi Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang merupakan instrument pokok HakHak Asasi Manusia (HAM) lalu menganggap bahwa nikah siri itu menimbulkan diskriminasi terhadap perempuan, yang pada ujungnya ajaran agama harus ditundukkan oleh HAM. Di sinilah antara lain buku ini ditulis dan dihadirkan kepada para pembaca untuk mengurai persoalan-persoalan di atas.

Semula buku ini adalah penulis di

hasil penelitian lapangan yang dilaksanakan

wilayah Salatiga dan Kabupaten Semarang, yang dibiayai oleh

Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo, Semarang, tahun anggaran 2012. Judul semula adalah Sanksi Pidana sebagai pendidkan bagi pelaku nikah siri kemudian diolah kembali dan ditambah dengan pembahasan kumpul kebo dengan merubah judul sebagaimana di atas. Mudah-mudahan bermanfaat bagi penulis dan para pembacanya. Semoga Allah senantiasa membimbng kita ke arah jalan yang lurus sesuai dengan petunjuk-Nya.Amin.

Semarang, Januari 2013, Penulis,

Dr.H. Saifudin Zuhri, M.Ag

PEDOMAN TRANSLITERASI ARAB - LATIN I. Konsonan Tunggal Huruf Arab II. III. Huruf Latin ........... B T TS| J H Kh D Dz R Z S Sy Sh Dh Th Zh Gh F Q K L M N W Keterangan Tidak dilambangkan Tsaa Sama dengn haa khaa dal Dzal Raa Zaa-saa syaa shaad Dhaad Thaa Zhaa Dengan koma di atas Ghaa

Huruf rangkap, termasuk syaddah ditulis rangkap. Misalnya Ditulis madd Ta marbutah

Bila dimatikan ditulis pakai h, selain yang menunjukkan jama muannas sa>lim dan kata-kata Arab yang sudah asimilasi menjadi bahasa Indonesia seperti berkat, akhirat, salat, zakat dan sebagainya. IV. Fokal panjang Fokal : aa, dipakai sebagai tanda bacaan a yang panjang,m sepero al-maal ii, dipakai sebagai tanda bacaan i yang panjan seperti, amiin uu, dipakai sebagai tanda bacaan u yang panjang, seperti miuun V. Fokal o Transliterasi ini hanya menggunakan ejaan a, i dan u. Karenanya bunyi o ditulis a. Misalnya: Bukhori ditulis bukhari, Solat di tulis salat VI. Alif + lam Misalnya: Misalnya: Bila bacaan Qamariyyah, al- masih tetap dibunyikan, al-badru Bila bacaan syamsiyyah al- tidak dibaca, langsung diighamkan ditulis ar-rahman Untuk nama orang yang dieja dalam satu nama, kata sandangnya Abdurrahman, dan ditulis Najmuddin.

ditiadakan dan langsung diiz\ga>mkan, seperti ditulis

DAFTAR ISI 5

HALAMAN JUDUL ...... PEDOMAN TRANSLITERASI ........ ABSTRAK ......................................................................................................... KATA PENGANTAR ....... DAFTAR ISI .. PROLOG. BAB I KAJIAN HUKUM ISLAM TENTANG NIKAH SIRI A. Pengertian Nikah Siri......................................................................... B. Motivasi Nikah Siri................................................................ .... .. .. C. Macam-macam Nikah Siri................................................................. D. Praktek Nikah Siri di Masyarakat..................................................... BAB II. EKSISTENSI NIKAH SIRI DI INDONESIA . A. Nikah Siri dalam Hukum Adat .. B. Nikah Siri Dalam UU No.1 tahun 1974............................................. C. Pencatatan Perkawinan...................................................................... D. Pandangan Ulama, Praktisi Hukum Islam dan Kalangan Akademisi BAB III SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA .................. A. Tujuan Hukuman................................................................................ B. Macam-Macam Hukuman................................................................... C. Rancangan Ketentuan Pidana bagi pelaku nikah siri dalam RUU- HM-PA-Bperkwn.................................................................... BAB IV.ANALISI PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU NIKAH SIRI......................................................................................... A. Sanksi Pidana Pelaku Nikah Siri dalam Hukum Adat ...................... B. Sanksi pidan Pelaku Nikah Siri dalam Hukum Islam ....................... C. Sanksi Pidana bagi pelaku nikah siri dalam RUU-HM-PABperkwn. ........................................................................................... D. Ijtihad Ulama, Praktisi Hukum dan Akademisi BAB V. PENUTUP.. A. Kesimpulan. B Masukan BAB VI KUMPUL KEBO DAN SANKSINYA 7 53 64 77 77 79 80 48 48 50 45 v vi 12 12 12 14 15 16 21 21 23 25 32 42 42 43 i

A. B. C. D. E. F. G.

Pengertian Kumpul Kebo................................................... Motivasi Kumpul Kebo .................................................... Akibat KumpulKebo. ...................................................... Perbedaan Kumpul Kebodengan Pelacuran.......................... Kedudukan Kumpul Kebo.................................................... Hukum Kumpul Kebo........................................................ Sanksi Pidana bagi pelaku Kumpul Kebo ........................ H. Sanksi Pidana dalam UU Perkawinan dan RUU-HM-PABperkwn .........................................................................

80 82 82 83 84 86 87 89 92 92 93 95

BAB VII PENUTUP.................................................................................. A. .................... B. ..................... DAFTAR PUSTAKA.. DAFTAR RIWAYAT HIDUP Masukan......................................................... Kesimpulan....................................................

SANKSI PIDANA BAGI PELAKU NIKAH SIRI DAN KUMPUL KEBO PROLOG Sebagaimana teori sejarahhistory trend to repeat, Fenomena nikah siri kembali merebak di penghujung tahun 2012. Kehebohan ini dipicu adanya kasus

nikah siri yang menimpa seorang Bupati Garut jawab Barat yang perkawinannya hanya berumur empat hari. Fenomena ini mendapat tanggapan yang beragam dari berbagai pihak, baik yang memahami hukum Islam maupun yang ansich memahami dari satu sisi hukum positip. Ujung-ujungnya ia sebagai Bupati Garut dinilai melanggar aturan maupun melanggar Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974. Sebagai public figure dinilai tidak memberikan contoh yang baik kepada publik. Pada akhirnya dalam sidang paripurna DPRD Garut memutuskan mengajukan pemberhentian Bupati ke Mahkamah Agung dengan surat keputusan nomor 30 Tahun 2012. Pada awalnya di dalam hukum Islam tidak dikenal masalah administrasi dalam perkawinan. Segala sesuatunya dilakukan secara lisan dilandasi saling percaya pada masing-masing pihak, lantaran dalam perkawinan telah dikukuhkan sebuah perjanjian yang dibuat langsung kepada Allah. Melalui kalimat yang indah yang terucap ketika ijab-kabul seorang penganten pria mengucapkan janji bahwa dirinya siap menerima nikah dengan seorang perempuan dengan maskawin yang disepakati. Sepintas kalimat ini memang nampak sederhana, mahkum tetapi secara mafhum isyarah sebenarnya memiliki makna yang sangat mendalam dan mendasar sebagai langkah awal menciptakan keluarga yang sakinah. Dengan ucapak Kabul itu berarti seorang pria siap untuk menanggung semua beban yang sebelumnya dimiliki orang tua/wali perempaun tersebut. Lebih-lebih masih ditambahkan lagi sighat talik yang diucapkannya sesudah akad nikah dihadapan para hadirin yang hadir dalam majelis pernikahan. Dalam akta nikah sighat talik itu dimulai dengan ayat al-Quran surat Bani Israal ayat: 34 . Dan penuhilah janji. Sesungguhnya janji itu pasti dimintai pertanggung jawabannya. Sighat talik itu berisi empat hal : 1) Meninggalkan isteri saya tersebut dua tahun berturut-turut 2) Atau saya tidak memberi nafkah wajib kepadanya tiga bulan berturut-turut 3) Atau saya menyakiti badan/jasmani isteri saya itu 4) Atau saya membiarkan (tidak memperdulikan) isteri saya itu enam bulan berturut-turut.

Dengan demikian, janji itu bukan hanya kepada semua orang yang hadir dalam majelis, tetapi sesunggguhnya terucap kepada Allah, sebab di dalam ijab kabul itu Allah menurunkan para malaikat untuk mengamini doa yang dipanjatkan oleh setiap orang yang hadir dalam majelis itu. Itulah sebabnya, kasus di atas Bupati yang bersangkutan tidak merasa melanggar undang-undang perkawinan nomor 1 Tahun 1974, karena tidak mencatatkan ke petugas pencatat nikah Kantor Urusan Agama. Lebih-lebih ia dinikahkan oleh ketua MUI Kecamatan Limbangan Garut. Ia menuduh lawanlawan politiknya sengaja ingin menjatuhkan citranya. Dalam UU No1/1974 tidak terdapat penyebutan secara tegas mengenai legalitas nikah siri, namun UU itu mengakui legalitas nikah syari termasuk nikah siri. Pasal 2 ayat 1 : Perkawinan adalah sah bila dilakukan menurut hukum agama dan kepercayannya masing-masing. Dalam Kompilasi Hukum Islam disebutkan bahwa pencatatan nikah itu sama dengan pencatatan peristiwa penting lainnya seperti kelahiran dan kematian seseorang. Jadi pencatatan nikah itu hanya untuk terjaminnya ketertiban perkawinan sebagaimana diatur pada pasal 5 ayat 1: Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkawinan harus dicatatkan. Pada pasal 8 ayat 2 menegaskan perkawinan di luar pencatatan ke pencatat nikah tidak mempunyai kekuatan hukum. Sebagian ulama dan pakar hukum Islam dan dari banyak kalangan mengakui tetap sah dan legal nikah siri meski tidak dicatatkan di KUA. Konsekuensinya perkawinan siri ini tidak ada larangan dan sanksi bagi pelakunya. Inilah fakta hukum materiil di Pengadilan Agama selama ini. Tetapi tiba-tiba muncul draf RUU.HM.PA.Bperkwn, yang akan menggantikan UUNo.1/1974 pada pasal 143 mengatur sanksi bagi pelaku nikah siri. Draf ini meresahkan kalangan umat Islam karena dinilai sudah masuk wilayah leberalisasi hukum Islam yang berujung diskriminasi dan dampak negatif yang ditimbulkannya. Misalnya orang lebih senang kumpul kebo dari pada kawin siri yang diancam pidana. Apakah nikah siri itu sama dengan kumpul kebo? Apa dan bagaimana kedudukan kumpul kebo dalam dalam fikih Islam?

10

Menurt sekrtaris Majelis Ulama Pusat, Ichwan Syam draf yang muncul saat itu dinilai liar karena tidak melalui program legislasi nasional (prolegnas). Ini bikinan Musda Mulia ( pegiat kesetaraan gender). Dia juga sudah diberhentikan oleh menteri Agama.1 Bersamaan dengan kasus Bupati ini, diluar perlemen pegiat kesetaraan gender terus mengkritik terhadap poligami yang dibungkus dalam bentuk nikah siri. Beberapa tokoh politik hingga Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menanggapinya, sehingga isu ini tidak hanya menjadi isu nasional, tetapi juga diangkat oleh media internasional. Media internasional di Inggris , The Guardian ( 4/12) memberitakan, Aceng menikah Fany Oktora yang berusia 17 tahun sebagai isteri keduanya. Namun Fikri menceraikan dengan cepat melalui SMS, menuduh wanita itu sudah tidak perawan lagi. BBC, kantor berita pemerintah Inggris menyatakan, Aceng suami dengan tiga anak menikah seorang remaja tanggung. Media besar Amirika Serikat, Hullington Post menulis, kasus Aceng telah menjadi isu nasional yang membuat pemerintah indonesia gerah. Pemberitaan asing itu nampaknya sudah melenceng cenderung menyalahkan poligami. Jadi, masalahnya tidak hanya nikah siri Aceng, tetapi diseret ke ranah benturan kultur dan ideologi keagamaan Pantas saja Eggy Sudjana penasehat hukum Aceng menegaskan pernikahan yang dilakukan Aceng sah menurut syariat Islam. Bahkan ia menyindir, ukuran etikanya sudah jelas ketimbang ukuran etika lain yang belum jelas2 Dalam pada itu, draf RUU hukum Materi Peradilan Agama Bidang Perkawinan terkait dengan nikah siri yang sah menurut UU No 1/74 Tentang Perkawinan pada pasal 2 ayat(1 ) dinilai sudah tidak relevan, perlu dicabut dan diganti dengan pasal yang tidak mengesahkan nikah siri. Sebab tidak mungkin memberikan sanksi pidana bagi pelaku nikah siri kalau nikah siri itu dinilai sah. Lalu timbul pertanyaan, apakah memang dalam diskursus fikih Islam ada celah untuk tidak mengesahkan nikah siri. Apakah pelaksanaan nikah siri yang telah memenuhi sarat dan rukun nikah dapat dinilai tidak sah
1 2

Suara Merdeka, Ketika Kasus Aceng Go International,hlm. 2, 30 Desember 2012. Ibid.

11

lantaran tidak dicatatkan pada pejabat pencatat pernikahan. Apakah pencatatan nikah ini ada hubungan sah dan tidaknya akad perkawinan dalam fikih Islam . Dengan kata lain, apakah pencatatan nikah yang berdasarkan dalil Danni itu dalam tatbiq hukumnya bisa mengalahkan perkawinan yang berdasarkan dalil qati. Di sisi lain, apakah setiap kawin siri itu pasti menimbulkan madarat. Apakah dalam mepertimbangkan antara madarat dan manfaat itu sudah pasti banyak madaratnya. Lalu, dari mana kita memverifikasi pasti banyak madaratnya. Karena realitas di masyarakat banyak juga seseorang yang kawin secara sarih dicatatkan pada pejabata pencatat nikah banyak juga yang banyak menimbulkan KDRT (kekerasan dalam rumah tangga) baik terhadap isteri maupun anak. Di sisi lain, kenyataan di lapangan dari pihak isteri juga yang justru menimbulkan KDRT. Lihat saja, di TV ada tayangan yang berjudul Suami-suami takut isteri. Dengan demikian apakah dengan dasar konvensi Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan yang merupakan instrument pokok Hak Hak Asasi Manusia (HAM) bahwa nikah siri itu menimbulkkan diskrimasi terhadap perempuan, maka ajaran agama harus ditundukkan pada HAM. Ratna Batara Munti, ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negara (state) terhadap individu warga negara yang kemerdekaannya dan hak-hak asasinya harusnya justru dilindungi, yakni hakhaknya untuk hidup aman dan tidak mengalami diskriminasi dan tidak diperlakukan sewenang-wenang.3

BAB I KAJIAN HUKUM ISLAM TENTANG NIKAH SIRI A. Pengertian Nikah Siri

Ratna Batara Munti, Advokasi Kebijakan Pro Perempuan, ( Jakarta: Program Studi Kajian Wanita, PPS, UI, 2008),hlm.238-239

12

Perkawinan siri, ada yang menyebut kawin syari, atau kawin urfi, kawin modin dan kawin kyai. Dalam kamus at-Tarifat disebutkan bahwa nikah siri : :4 Nikah siri adalah pernikahan tanpa reputasi(pesta perkawinan) Sudah lazim, pada awalnya nikah siri itu ditujukan pada perkawinan yang tidak memenuhi rukun dan syarat perkawinan, sebagaimana dikemukakan oleh Umar bin Khattab ketika beliau menerima pengaduan tentang perkawinan yang hanya disaksikan oleh seorang saksi laki-laki dan seorang saksi perempuan. Namun Saat ini yang lazim diketahui orang, bahwa nikah siri dimaknai nikah yang tidak diumumkan. Artinya pernikahan yang secara agama sesuai dengan syarat dan rukun pernikahan tetapi tidak dinyatakan secara umum. Dalam bahasa Syafiiyyah, Malikiyyah dan Hanabillah nikah siri adalah nikah yang tidak disyiarkan atau tidak dilakukan resepsi walau sangat sederhana. Sedangkan bahasa Hanafiyyah nikah siri adalah nikah yang tidak disaksikan oleh dua orang saksi.5 Berbeda dengan Malikiyyah yang berpendapat tegas bahwa nikah siri (tanpa ada saksi) hukumnya tidak sah, karena ada kerahasiaan dalam proses tersebut. Juga tidak sejalan dengan hadis yang mengisyaratkan bahwa pernikahan adalah sesuatu yang wajib diumumkan tidak boleh dirahasiakan.6: Umumkanlah nikah

Asy-Syarif Ali Ibn Muhammad al-Jurjani, Kitab at-Tarifat, (Jiddah: Al-Haramain, t.t.), hlm . 246 5 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islam wa dillatuh, ( Damsik; Dar al-Fikr, 2008), Juz 7, hlm.81-82 6 Ibid.,81, HR. Ahmad, disahihkan olel Al-Hakim dari Amir ibn Abdullah ibn Zubair

13

Umumkanlah pelaklsanaannya.7

nikah

dan

bunyikanlah

terbang

atas

: : Dari Anas bin Malik : Sesungguhnya Muhammad. Saw melihat Abdurrahman bin Auf ada bekas minyak wanginya, lalu beliau bertanya,Ada apa gerangan, Kenapa kamu melakukan itu?. Dia menjawab,:Wahai Rasulullah, saya barusan menikah dengan seorang wanita dengan maskawin sekeping emas. Kemudian beliau berdoa, semoga Allah memberikan keberkatan kepadamu. Adakan walimah walau hanya dengan menyembelih kambing gibas.8 Dalam konteks masyarakat Indonesia, nikah siri dimaksudkan: 1. Perkawinan yang dilaksanakan dengan sembunyi-sembunyi tanpa mengundang orang luar selain dari kedua keluarga mempelai. Kemudian tidak mendaftarkan perkawinannya ke KUA sehingga perkawinan mereka tidak mempunyai legalitas formal dalam hukum positif sebagaimana yang diatur dalam undang-undang perkawinan No 1 Tahun 1974. 2. Perkawinan yang dilakukan sembunyi-sembunyi oleh sepasang laki-perempuan tanpa diketahui oleh kedua pihak keluarganya, bahkan benar-benar dirahasikan sampai tidak diketahui siapa yang menjadi wali dan saksinya. 3. Perkawinan secara sembunyi-sembunyi dilakukan di daerah/kota tempat tinggal mempelai perempuan dengan dihadiri keluarganya tanpa dihadiri keluarga mempelai laki-laki dan tanpa diakhiri dengan mendaftarkan perkawinannya ke KUA setempat.
HR. Tirmizi, Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari Aisah. Hadis tentang ini banyak sekali. Lihat Ash-Shonani, Subul as-Salam, juz 3, ( Bandung: Dahlan, t.t.), hlm.116 dan seterusnya. 8 HR. Bukhari, Muslim, At-Turmuzi dan Ibnu Majah. Ibid.Lihat Muhammd Asmawi, Nikah dalam perbincangan dan Perbedaan, (Yogjakarta:Darussalam, 2004), hlm.176
7

14

4.

Sebuah praktek pernikahan yang dinilai sah secara agama ketika dihadiri oleh mempelai berdua, wali, 2 orang saksi, disertai ijab dan qabul, tidak diumumkan kepada khalayak dan dianggap sebagai sesuatu yang mesti dirahasiakan (kawin di bawah tangan) Praktek nikah siri ini telah berlangsung puluhan tahun, yang kini

masih banyak terjadi di masyarakat pedesaan maupun perkotaan, baik kalangan pejabat maupun rakyat. B. Macam-macam Nikah Siri Sepanjang yang diamati dan diketahui peneliti, macam-macam nikah siri dapat diungkapkan sebagai berikut: 1. Nikah siri dilakukan karena kedua belah pihak belum/ tidak punya biaya pendaftaran/ pencatatan nikah ke KUA 2. Nikah siri dilakukan karena kedua belah pihak atau salah satu pihak calon mempelai belum siap lantaran masih sekolah/kuliah atau masih terikat dengan kedinasan yang tidak diperbolehkan nikah terlebih dahulu. Dari pihak orang tua pernikahan ini dimaksudkan untuk adanya ikatan resmi dan juga untuk menghindari perbutan yang melanggar ajaran agama, seperti zina, maupun kumpulkebo. 3. Nikah siri dilakukan karena kedua atau salah satu pihak calon mempelai belum cukup umur/dewasa, di mana pihak orang tua menginginkan adanya perjodohan antara keduanya sehingga dikemudian hari calon mempelai tidak lagi nikah dengan pihak lain, dan dari pihak calon mempelai perempuan tidak dipinang orang lain. 4. Nikah siri dilakukan sebagai solusi untuk mendapatkan anak apabila dengan isteri yang ada tidak dikarunia anak, dan apabila nikah secara resmi akan terkendala dengan undang-undang maupun aturan lain, baik yang menyangkut aturan perkawinan, maupun yang menyangkut kepegawaian maupun jabatan. 5. Nikah siri dilakukan karena terpaksa di mana pihak calon penganten lakilaki tertangkap basah besenang-senang dengan wanita pujaannya. Karena

15

dengan alasan belum siap dari pihak laki-laki maka untuk menutup aib dilakukanlah kawin siri. 6. Kawin siri dilakukan untuk melegalkan secara agama bagi laki-laki yang sudah beristeri karena kesulitan minta ijin/ tidak berani ijin kepada isteri pertamanya maupun tidak merasa nyaman kepada mertuanya. 7. Kawin siri dilakukan sebagi kedok ataupun ajang trafficking dengan maksud untuk mendapatkan kesenangan dari pihak perempuan dengan mengabaikan hak-hak perempuan. 8. Pernikahan siri trendi ala Saudi yang dikenal dengan istilah nikah misyar. Yaitu pernikahan yang dilakukan oleh pemuda-pemuda Saudi dengan para janda-janda kaya di Cianjur, Bogor. Praktek pernikahan ini berlangsung atas kesepakatan kedua belah pihak tanpa konsekuensi nafkah. Bagi perempuan senang dapat mengajak para suami misyarnya untuk sekedar jalan-jalan, menginap di apartemen dan kemudian ia memberikan sejumlah imbalan materiil, dan membayar sewa apartemen mereka9 C. Motivasi Nikah Siri. Dari macam-macam bentuk perkawinan siri di atas, dapat dirinci adanya motivasi nikah siri sebagai berikut: 1. Karena belum/tidak mempunyai biaya proses pembiayaan Perkawinan di KUA. Karena susungguhnya yang sering kita dengar di masyarakat biaya nikah itu tidak sesuai dengan biaya yang tertulis formal, tetapi masih banyak tambahan biaya lain, yang jumlah rupiahnya bisa berbeda antara satu wilayah dengan wilayah lainnya. 2. Dilakukan nikah siri semata-mata dalam rangka kawin gantung yang memang terjadi dalam masyarakat Indonesia sejak dahulu kala, kendatipun saat ini sudah jarang terjadi. 3. Karena ketatnya syarat-syarat poligami yang harus dipenuhi oleh suami sebagaimana ditentukan pada pasal 3, 4, 5 dan pasal 65 Undang-Undang
Ketika Kalla Menyampaikan Fatwa, dalam Majalah Suara Rahima : Media Islam untuk Hak-Hak Perempuan, No. 13 Th.VI Agustus 2006, hal. 37.
9

16

Perkawinan No. 1 Tahun 1974 juncto pasal 55 sampai dengan pasal 59 KHI ( Kompilasi Hukum Islam) 4. Dilakukan nikah siri karena untuk menutup aib yang sudah terlanjur kumpul kebo. 5. Dilakukan nikah siri, karena pengecut kesulitan/tidak berani minta ijin poligami dari pihak isteri 6. Nikah siri dilakukan sebagi kedok traffikcking semata untuk mendapatkan kesenangan dengan mengabaikan hak-hak perempuan. 7. Nikah siri dilakukan justru dari pihak wanita ( janda) yang menghendaki untuk bersenang-senang dengan laki-laki, tanpa bermaksud minta nafkah lahiriyah. D. Praktek Nikah Siri di Masyarakat Ketika zaman Rasulullah, pencatatan nikah pada lembaga tertentu belum menjadi sesuatu yang urgen. Komunikasi masyarakat masih sangat terbatas, belum terbentuk struktur dalam sebuah komunitas besar seperti negara. Pencatatan nikah sebagai dokumen persaksian dan pembuktian cukup dinyatakan dengan adanya saksi dan acara walimah yang berfungsi sebagai media komunikasi adanya persistiwa perkawinan. Publik menjadi tahu telah terjadi pernikahan yang sah. Dalam pada itu, pencatatan nikah dan cerai belum terkodifikasikan dalam kitab-kitab fikih. Negara belum merasa perlu menerbitkan perundangundangan yang mengatur adanya pencatatan nikah. Hal ini bisa jadi lantaran perkawinan masih masuk domain ahwal al-syahsiyyah yaitu peristiwa keluarga dan masyarakat sekitar. Setelah masyarakat Islam mengalami proses dinamisasi dan sebagai besar wadah masyarakat menjelma menjadi sebuah negara, pernikahan mulai diatur dan dicatat negara. Pada fase ini mulai ada pergeseran, yang semula pernikahan diatur oleh ajaran agama ansich, yang semata-mata mentaati perintah Allah dan Rasull-Nya sebagai bentuk peibadatan dalam domain keluarga, berubah menjadi perkawinan sebagai bentuk perikatan yang harus

17

dicatat berdasarkan domain negara. Pada akhirnya harus diakui bahwa perkawinan itu menempati dua domain, yaitu domain agama dan domain negara. Formalisasi ajaran agama tentang nikah kedalam perundang-undangan negara, ternyata tidak sepenuhnya diikuti masyarakat atau umat. Sebagian masyarakat tetap melakukan pernikahan menurut keyakinan agama tanpa mencatatatkan diri secara administratif ke dalam negara. Pada gilirannya timbullah istilah nikah siri, nikah diam-diam atau disamarkan yang macam dan bentuknya beragam. Akibatnya, nikah siri menjadi praktek jamak atau lazim dan diterima masyarakat karena mereka menilai bahwa nikah siri adalah sah menurut ajaran agama. TV-ONE dalam acara Apa Kabar Indonesia Pagi pada Jumat tanggal 26 Februari 2010, jam 7.45- 8.30 menampilkan Desa Nikah siri, Desa Cingarancang, Kabupaten Cirebon, dari 2000 penduduk sebanyak 60 % atau sekitar 1200 penduduk melakukan nikah siri10 Alasan dilakukannya nikah siri cukup sederhana yaitu karena hal berikut: 1. Faktor biaya di lapangan yang sangat mahal, minimal 500.000.00 sampai dengan 600.000.00 (enam ratus ribu eupiah) 2. Faktor lokasi KUA yang letaknya jauh, 35 km dari desa setempat sehingga cukup jauh untuk dicapai oleh anggota masyarakat yang mata pencahariannya sebagi petani kecil.11 Jamaluddin Marpaung nikah dengan isteri yang kedua dilakukan dengan nikah siri, dengan alasan KUA setempat mengharuskan adanya syarat-syarat berat yang harus dipenuhi oleh suami. Dalam kehidupan perkawinan dan rumah tangganya, meskipun isteri kedua Jamaluddin dengan nikah siri mereka tetap rukun damai tidak saling merendahkan dan tidak ada masalah dan tidak dicemohkan oleh masyarakat sehingga kehidupan perkawinan dan rumah tangganya berjalan baik, anak-anak mereka tetap bersekolah dan berprestasi sehingga tujuan perkawinan sakinah mawaddah
Neng Djubaidah, S.H, M.H, Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Tercatat menurut Hukum Tertulis di Indonessia dan Hukum Islam, (Jakarta: Sinar Grafika, 2010), hlm. 361 11 Ibid., hlm 357.
10

18

tercapai. Jadi, nikah siri di sini adalah perkawinan yang memenuhi syarat dan rukun secara syari yang dalam pelaksanan akad nikahnya disembunyikan. Dengan demikian, nikah siri yang terjadi di dalam masyarakat dan yang menjadi kajian penulis bukan nikah siri yang terjadi pada zaman Umar bin Khattab. Berdasarkan hadis dari Abi Zubair al-Maliki dari Umar bin Khttab, nikah siri adalah perkawinan yang hanya disaksikan oleh seorang saksi laki-laki dan seorang perempuan. Menurut Umar, perkawinan tersebut adalah perkawinan siri yang dilarang, jika perkawinan itu dilanjutkan, maka beliau akan merajam pelakunya, dan kalau Ini perkawinan siri, aku tidak engkau tetap melakukannya tentu memperkenankannya, kurajam.12 Nikah yang mestinya disaksikan 2 orang saksi laki-laki, oleh Umar dengan hanya disaksikan 1 orang saksi laki-laki dan 1 orang saksi perempuan dipandang tidak cukup, karena itu disebut nikah siri. Dan nikah siri yang tanpa saksi dalam hadis Rasulullah riwayat Tarmizi dari Ibnu Abbas ra disebut pelacur. Rasulullah bersabda: Perempuan pelacur yaitu mereka yang menikahkan diri mereka sendiri tanpa saksi.13 Itulah sebabnya Imam Malik mengharamkan nikah siri yang tanpa saksi. Oleh Ibnu Taimiyah, perkawinan siri adalah sejenis perkawinan pelacur karena tanpa wali dan tanpa dua saksi, dan juga termasuk perkawinan perempuan yang mempunyai laki-laki piaraan (zawatil akhdan). Perbuatan tersebut adalah haram berdasarkan al-Maidah, ayat 5:
12 13

Al-Mubarak, Nailul Authar, hlm. 2171Ibi., hlm.2171

19

(Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik. Ketika Ibnu Taimiyah menjawab pertanyaan dari seseorang mengenai seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan dengan cara mushafahah (hanya bersalaman) atau nikah siri, yaitu perkawinan tanpa wali dan tanpa saksi, dengan mas kawin 5 dinar, setiap tahun setengah dinar, dan ia telah tinggal bersamanya dan mencampurinya menurut kesepakatan para imam adalah batil.14 Sayyid Sabiq juga menegaskan bahwa kawin siri, yaitu perkawinan yang tanpa saksi hukumnya haram karena tidak memenuhi syarat dan rukun perkawinan.15 Karena termasuk perkawinan batil, maka perkawinan siri tanpa wali dan saksi itu menurut hukum Islam adalah tidak sah. Jika mereka tetap melanjutkan kehidupan perkawinanya termasuk melakukan zina, maka layak dikenai hukuman had (cambuk). Dalam bahasa Zubaidah kawin siri semacam ini hukumnya haram karena sama dengan samen leven atau kumpul kebo, tetapi kumpul kebo juga berbeda dengan pelacuran.16 Hadis riwayat Imam Syafii dan Daruqutni dari Ikrimah bin Khalid menceriterakan: Pernah terjadi di jalan penuh kendaraan,
14 Ibnu Taimiyah, Hukum-hukum Perkawinan ( Ahkamuz ziwaj), terj. Rusman Yahya, cet.1, ( Jakarta: Pustaka al-Kautsar,1007), hlm.202 15 Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, ( Semarang: Toha Putra, t.t.), juz 2, hlm. 197 16 Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm. 155-156

20

kemudian ada seorang perempuan janda di antara mereka yang menyerahkan urusan dirinya kepada seorang laki-laki yang bukan walinya, lalu laki-laki itu menikahinya. Kemudian sampailah hal itu kepada Umar, maka Umar menjilidnya (mendera) orang yang kawin dan orang yang mengawinkannya serta membatalkan pernikahannya17

BAB II
17

Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm. 155

21

EKSISTENSI NIKAH SIRI DI INDONESIA A. Nikah Siri dalam Hukum Adat Kelahiran Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974, pasal 1 merumuskan perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada pasal 2 ayat (1) dengan sangat jelas dan tegas menyebutkan: suatu perkawinan sah apabila dilakukan menurut masing-masing agama. Dilanjutkan dengan pasal 2 ayat(2), bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut undang yang berlaku. Melalui rumusan pasal 2 (1) diatas, Daud Ali menyatakan bahwa sejak lahirnya Undang-Undang Perkawinan Nasional, maka Hukum Islam menjadi sumber hukum yang langsung tanpa harus melalui hukum adat dalam menilai apakah perkawinan sah atau tidak. Hukum Islam sama kedudukannya dengan hukum adat dan hukum Barat.18 Hukum Islam menjadi salah satu sumber hukum baku dalam pembentukan hukum nasional di samping hukum adat dan hukum Barat. Dengan demikian ketentuan-ketentuan perkawinan baik menurut hukum adat maupun hukum Islam masih tetap berlaku sepanjang yang belum diatur dalam undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974. Dalam perspektif hukum adat, perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga urusan masyarakat, urusan derajat dan urusan pribadi satu sama lain dalam hubungan (tujuan) yang sangat berbeda-beda.19 Dalam masyarakat hukum yang merupakan kesatuan susunan rakyat, masyarakat dusun dan wilayah, maka perkawinan anggotanya itu adalah suatu peristiwa penting dalam proses masuknya menjadi inti dari pada masyarakat tersebut. Karena itu walaupun perkawinan urusan keluarga, urusan kerabat dan urusan masyarakat tetapi juga merupakan urusan hidup bermasyarakat. Dalam pada
18 Abdul Ghofur Ansori, Hukum Perkawinan Islam: Prespektif Fikih dan Hukum Positif, cet1,( Yogyakarta :UUI Press, 2011), hlm.169 19 K.Ng. Soebaktu Poesponoto, Hukum Adat, Terjemah dari Ter Haar, Beginselen en Srelsel van het Adatrecht, ( Jakrta : Pradnya Paramita, 1953), hlm.158.

peraturan undang-

22

itu orang tuanya dan kepala dusunnya ikut campur tangan dalam pemilihan perkawinan, bentuk perkawinan dan dalam pelaksanaan perkawinan. Perkawinan sebagai peristiwa hukum harus mendapatkan tempat dalam ketertiban hukum perlu dihadiri penghulu setempat.20 Dalam hukum adat diperbolehkan mengawinkan (kawin siri) anak yang belum dewasa (baligh), Dalam pelaksanaan perkawinan anak yang belum dewasa, maka perkawinan dilangsungkan ijab-qabul secara Islam (Baca: Bagi umat Islam), kemudian baru disusul perkawinan secara adat ketika telah dewasa untuk berkumpul sebagai suami isteri. Malahan banyak terjadi anak-anak yang belum lahir sudah dijanjikan akan dikawinkan dengan pihak yang diinginkan dan bila telah lahir dalam umur yang masih muda sudah dikawinkan. Ada juga perkawinan pemuda dewasa dengan perempuan yang belum dewasa, kemudian setelah akad perkawinan, si suami menumpang di rumah mertuanya dan bekerja untuk mereka, tetapi pergaulan suami isteri (nikah resmi) ditunda sampai anak perempuan itu dewasa. Terbitnya Ordonnantie-perkawinan tahun 1929. Stbl.No. 348 untuk wilayah Jawa, dan tahun 1932. stbl. N0 482 untuk wilayah luar Jawa, tidak dipandang sebagai peraturan sipil, melainkan peraturan administratif, yang mewajibkan supaya meminta legalitas pemuka agama yang telah ditetapkan sebagi petugas pelaksana perkawinan menurut Islam. Peraturan administratif hanya dipandang sebagai bentuk kepastian hukum dan untuk ketertiban dengan adanya ancaman hukuman terhadap siapa yang melalaikannya. Dengan demikian berkumpulnya dua orang untuk bergaul sebagai suami isteri dan untuk berumah tangga buat selamanya adalah urusan yang sangat bersifat perseorangan. Dengan adanya keaneka ragaman hukum, khususnya dalam kehidupan keluarga begitu bervariasi sebagaimana diakui undang-undang No 1 tahun 1974 tetang perkawinan pasal 2 (1), maka konsekuensinya pilihan hukum dalam bidang perkawinan masih longgar dan cenderung menyerahkan kewenangannya atas setiap pribadi. Atas dasar itu, maka kawin siri dipandang
20

Ibid., hlm. 159

23

sebagai model dalam menolak suatu pergaulan bebas. Artinya dengan melakukan kawin siri hubungan mereka sebagai suami isteri yang biasanya berlangsung sebelum melakukan pernikahan dan boleh jadi melanggar adat dan hukum Islam, bisa berubah menjadi halal karena adanya nikah siri. Tanpa memenuhi persyaratan administrasi yang diwajibkan Undang-Undang, perkawinan siri tetap dilangsungkan dengan tujuan menghindari perbuatan yang melanggar norma adat dan agama. B. Nikah Siri Dalam UU No.1 tahun 1974 Dalam Undang-Undang Perkawinan Nomor. 1 Tahun 1974, pasal 1 merumuskan perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dengan seorang wanita untuk membentuk rumah tangga yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Pada pasal 2 ayat (1) dengan sangat jelas dan tegas menyebutkan: suatu perkawinan sah apabila dilakukan menurut masing-masing agama dan kepercayaannya. Dilanjutkan dengan pasal 2 ayat(2), bahwa Tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan undang-undang yang berlaku. Dalam penjelasan pasal 1 diuraikan,Sebagai Negara yang berazaskan Pancasila, dimana sila yang pertama ialah Ketuhanan Yang Maha Esa, maka perkawinan mempunyai hubungan yang erat sekali dengan agama/ kerohaniaan, sehingga perkawinan bukan saja mempunyai unsur-unsur lahiriyah/jasmani, tetapi unsur batin/rohani juga mempunyai peranan yang penting. Membentuk keluarga yang bahagia rapat hubungannya dengan keturunan yang pula merupakan tujuan perkawinan, pemeliharaan, dan pendidikan menjadi hak dan kewajiban orang tua. Ini berarti perkawinan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa adalah perkawinan berdasarkan agama yang dianut, hal ini sejalan dengan tafsiran Hazairin atas Pasal 29 ayat(1) UUD 4521, maka pengertian pasal 1 Undang-Undang Perkawinan

21

Hazairin, Demokrasi Pancasila, cet.5, (Jakarta: Bina Aksara, 1985), hlm.33-34

24

No.1 tahun 74 yang menetapkan perkawinan berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa dapat ditafsirkan 2 hal berikut: 1. Di dalam negara Republik Indonesia yang berdasarkan Pancasila tidak boleh terjadi dan berlaku hukum Perkawinan yang bertentangan dengan ajaran dan kaidah-kaidah Islam bagi orang-orang Islam, dan demikian pula bagi orang-orang yang beragama Nasrani, Hindu, Buda dan Kong Hu Cu tidak boleh terjadi dan berlaku hukum perkawinan yang bertentangan dengan ajaran dan kaidah-kaidah agama mereka. 2. Negara Republik Indonesia wajib menjalankan syariat atau Hukum Perkawinan Islam bagi orang Islam, dan demikian pula bagi orang Nasrani, Hindu, Budha dan Kong Hu Cu. Negara wajib menjalankan hukum perkawinan sesuai agama mereka, sekedar dalam menjalankan Hukum Perkawinan itu memerlukan bantuan atau perantaraan Negara.22 Terjadinya akad perkawinan menurut hukum masing-masing (Pasal 1 (1) UU No1/74) adalah merupakan peristiwa hukum. Peristiwa hukum tidak bisa dianulir adanya peristiwa penting yang ditentukan padapasal 2 ayat (2) bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraruran perundangundangan yang berlaku. Hal ini sejalan dengan penjelasan pasal 2 dengan perumusan pada pasal 2 ayat (1) tidak ada perkawinan diluar hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu, sesuai dengan Undang-Undang Dasar 45. Yang dimaksud dengan hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu termasuk ketentuan-ketentuan yang berlaku bagi golongan agamanya dan kepercayaannya itu sepanjang tidak bertentangan atau tidak ditentukan lain dalam undang-undang ini. Menurut Neng Jubaidah, dimaksudkan hukum dan ketentuan agama, bagi umat Islam adalah agama yang sesuai dengan Pasal 2 ayat (1) juncto Pasal 1 UU No 1 tahun 74, Juncto pasal 29 ayat (1) UUD 45 23 Karena itu,
Neng Jubaidah, Ibid., hal.213. Ibid., hlm. 214
22

23

25

bagi orang Islam, sah akad perkawinan adalah apabila dilakukan menurut syariat Islam. Dalam syariat Islam rukun nikah itu adalah : 1. Adanya calon suami dan isteri yang kan melakukan perkawinan 2. Adanya wali nikah dari pihak calon pengantin wanita 3. Adanya dua orang saksi 4. Ijab-qabul. Ijab dilaksanakan wali dari pihak dijawab oleh calon pengantin laki-laki Dengan demikian, pada umumnya yang dimaksudkan nikah siri adalah perkawinan yang dilakukan menurut syariat Islam, tetapi tidak/belum dicatat oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN).24 C. Pencatatan Perkawinan 1. Dalam undang-undang Perkawinan nomor 1 Tahun 1974 Pencatatan perkawinan tidak termasuk salah satu rukun nikah. Karenanya pencatatan perkawinan hanya sebagai kewajiban administrasi belaka, yang tidak bisa membatalkan atau tidak mengesahkan perkawinan. Penjelasan Pasal 2 ayat (2) pencatatan kelahiran, pencatatan kematian, demikian pula pencatatan perkawinan sekedar dipandang sebagai suatu peristiwa penting, bukan peristiwa hukum, sama halnya Pesta Perkawinan adalah peristiwa penting, tetapi bukan peristiwa hukum, dan bukan pula menjadi syarat hukum. Perkawinan sebagai peristiwa hukum ditentukan oleh agama. Dalam pada itu, pencatatan perkawinan tidak perlu dipaksakan sebagai alasan untuk mengkriminilasikan pelaku nikah siri karena tidak mempunyai akibat hukum, dan tidak bisa mengesampingkan sahnya perkawinan yang telah dilakukan menurut syariat masing-masing agama. Prof.Dr. Bagir Manan berpendapat bahwa akad nikah dan pencatatan perkawinan bukan satu-satunya alat bukti adanya perkawinan atau keabsahan perkawinan. Benar, akta nikah dan pencatatan nikah adalah sebagai alat bukti adanya pernikahan, tetapi bukan alat bukti yang
24

perempuan, dan

Abdul Ghofur Ansori, Hukum Perkawinan Islam, hlm.210.

26

menentukan. Yang menentukan keabsahan suatu perkawinan adalah perkawinan menurut agama.25 Fungsi dan kedudukan pencatatan perkawinan adalah untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) yang berfungsi sebagai instrumen kepastian hukum, kemudahan hukum, dan juga sebagai salah satu alat bukti perkawinan. Dalam pada itu, jika pasangan yang telah melakukan perkawinan yang sah menurut agama, telah sah pula menurut Pasal 2 ayat(1), tetapi belum dicatat, maka cukup dilakukan pencatatan, dan tidak perlu diharuskan mengulang akad nikahnya, karena tidak sejalan atau bertentangan dengan Pasal 2 ayat (1). Kalau diulang akad nikahnya, maka akad nikah yang baru menjadi tidak sah26 Islam mengenal tajdidun nikah, tetapi bukan berarti nikah sebelumnya dibatalkan. Karena itu perlu ditegaskan lagi, bahwa peristiwa penting bukanlah peristiwa hukum karena itu tidak bisa menggugurkan atau membatalkan perkawinan dan tidak bisa sebagai alat bukti untuk mengkriminalisasikan nikah siri. Sudah jelas bahwa dalam UU No 23 Tahun 2006 tentang Adminsitasi Kependudukan, peristiwa penting adalah kejadian yang dialami seseorang meliputi kelahiran, kematian, lahir-mati, perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status kewarganegaraan. Baqir Manan nenegaskan bahwa dalam memahami status hukum perkawinan dalam Islam Indonesia, harus diketahui terlebih dahulu asas legalitas yang mendasari keberlakuan hukum perkawninan bagi orang Islam Indonesia. Asas legalitas berarti setiap perbuatan hukum harus atau wajib mempunyai dasar hukum tertentu yang telah ada sebelum perbuatan hukum itu dilakukan. Karena itu suatu perbuatan hukum yang sah mengandung makna bahwa hubungan hukum dan akibat hukum menjadi sah pula.27
Bagir Manan, Keabsahan dan Syarat syarat Perkawinan Antar orang Islam Menurut UU NO 1Tahun 1974 ,Makalah Seminar Nasional disampaikan di Hotel Redtop, Sabtu, 1 Agustus 2009, hlm.6 26 Ibid. 27 Ibid., hlm.1-2
25

27

Dengan dilakukan perkawinan menurut agama/syariat Islam bagi pemeluk Islam adalah sah yang berarti pasangan suami isteri tersebut adalah sah demikian pula akibat hukum yang timbul karena perkawinan. Seperti terjadi hubungan kekeluargaan yang berakibat timbulnya larangan perkawinan, perkawinan itu. Pencatatan perkawinan yang ditentukan dalam pasal 2 ayat (2) tidak menunjukkan kualifikasi sederajat yang bermakna sahnya perkawinan menurut agama adalah sama dengan pencatatan perkawinan, sehingga yang satu dapat mmenganulir yang lain. Perkawinan menurut masing-masing agama merupakan syarat tunggal sahnya suatu perkawinan, yang sudah dengan jelas diatur dalam Pasal 2 ayat(1), dan penjelasan Pasal 2 ayat (2) dimana pencatatan hanya berfungsi sebagai pencatat peristiwa penting sebagaimana peristiwa penting lainnya. Dalam pada itu, pencatatan perkawinan tidak perlu dan tidak akan mempunyai akibat hukum, apalagi dapat mengesampingkan sahnya perkawinan yang telah dilakukan menurut agama. 2. PP Nomor 9 Tahun 1975 Peraturan Pemerintah Nomor 9 Tahun 975 tentang Peraturan Pelaksanaan Undang-Undang Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 mengatur tentang tata cara dan tata laksana melaksanakan perkawinan dan pencatatan perkawinan. Pasal-pasal yang penting terkait dengan pencatatan perkawinan ialah Pasal 2 dalam PP Nomor 9 Tahun 1975 ayat (1) menentukan pencatatan perkawinan bagi orang Islam dilakukan oleh PPN ( Pegawai Pencatat Nikah) sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 jo. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954. Pada pasal 45 dalam PP ini menentukan hukuman terhadap orang yang melanggar: juga harta kekayaan, maupun anak yang lahir akibat

28

a.

Melanggar Pasal 3 yang memuat ketentuan tentang orang yang

akan melangsungkan perkawinan harus memberitahukan kehendaknya kepada PPN. b. Melanggar Pasal 10 ayat (3) tentang tata cara perkawinan menurut masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu dilakukan dihadapan PPN dan dihadiri dua orang saksi. c. Melanggar Pasal 40 tentang Poligami oleh suami tanpa izin pengadilan. Pelaku Pelanggaran dihukum dengan hukuman denda paling banyak Rp. 7.500,00 (tujuh ribu lima ratus rupiah) Siapa yang dapat dijatuhi hukuman denda ini? Hukuman denda menurut Pasal 45 dinyatakan dalam ketentuan Pasal 3 PP No.9 tahun 1875, ayat(1) yang menentukan bahwa: Setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan memberitahukan kehendaknya itu kepada PPN di tempat perkawinan akan dilangsungkan. Sejalan dengan rumusan ini berarti yang dimaksud setiap orang yang akan melangsungkan perkawinan adalah calon mempelai baik laki-laki maupun perempuan. Jadi bukan walinya yang harus menyatakan dihadapan PPN, dan karena itu bukan seseorang yang dapat dijatuhi hukuman denda. Dan dengan rumusan calon mempelai, berarti yang dimungkinkan dihukum denda kedua calon mempelai, yaitu calon mempelai laki-laki dan calon mempelai perempuan, atau salah satu dari calon mempelai berdua. Menurut Neng Jubaidah, ketentuan ini berbeda dengan Pasal 3 ayat (1) Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1946 yang hanya menentukan suami saja yang dapat dikenai hukuman denda sebanyak Rp. 50,00 ( lima puluh rupiah).28 3. Dalam Kompilasi Hukum Islam Diktum dalam Pasal Kompilasi Hukum Islam (KHI) menentukan bahwa perkawinan adalah sah, apabila dilakukan menurut Hukum Islam sesuai dengan Pasal 2 ayat(1) UU No. 1 Tahun 1974 yaitu perkawinan yang dilakukan menurut hukum agama. Dengan demikian Pasal 4 KHI ini
28

Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm. 218

29

mempertegas bahwa perkawinan yang sah adalah perkawinan menurut Hukum Islam, sesuai dengan Pasal 2 ayat(1) UU No 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Adapun pencatatan nikah tidak terkait dengan sah dan tidaknya akad perkawinan, karena pencatatan bukan peristiwa hukum, melainkan peristiwa penting biasa. Untuk itu, Pasal 5 KHI mempertegas bahwa pencatatan perkawinan diperlukan untuk: a. b. Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap perkwainan harus dicatat Pencatatan perkawinan sebagaimana tersebut pada ayat (1) dilakukan oleh Pegawai Pencatat Nikah (PPN) sebagaimana diatur dalam UU nomor 22 Tahun 1946. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 1954. Rumusan harus dicatat dalam Pasal 5 (1) KHI merupakan perwujudan dari Penjelasan Umum angka 4 huruf b Undang-undang No.1/1974 tentang perkawinan, karenanya kata harus dicatat tidak berarti pencatatan perkawinan sederajat atau sepadan dengan ketentuan sahnya perkawinan, atau menjadikan tidak sahnya perkawinan lantaran tidak dicatat, Sama sekali tidak, karena jelas ditentukan pada pasal 2 ayat(1) bahwa perkawinan sah adalah perkawinan yang dilangsungkan berdasarkan agama. Dalam pada itu, kata harus dicatat dalam pasal 5 ini harus dipahami hanya untuk bertujuan menjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam samata. Ketertiban perkawinan berarti dengan dicatatnya itu hukum perkawinan berjalan dengan lancar, rapi dan teratur. Agar ada jaminan ketertiban itu, maka pasal 6 KHI merumuskan : (1) Untuk memenuhi Pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan dihadapan dan dibawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah. (2) Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan PPN tidak mempunyai kekuatan hukum. Tidak mempunyai kekuatan hukum pada pasal 6 ayat (2) secara sistemik, ternyata selanjutnya diperkuat oleh pasal 5 ayat(2) juncto Pasal 6 ayat (4) juncto Pasal 143 RUU-HM-PA- BPerkwn Tahun 2007.

30

Pasal 6 ayat(2) KHI ini yang menjadi biang keladi munculnya bencana pelemahan atau perlumpuhan perkawinan yang sah berdasarkan Hukum Islam yang belum dicatat atau perkawinan tidak dicatat, atau yang sering disebut banyak kalangan kawin siri. Diktum Pasal 6 ayat (2) KHI ini bertentangan atau tidak sesuai dengan ketentuan-ketentuan lainnya dalam KHI, misalnya: a) Ketentuan Pasal 2 KHI yang merumuskan bahwa perkawinan menurut Hukum Islam adalah akad yang sangat kuat atau mistaaqan ghalizhan untuk menaati perintah Allah dan melakukannya merupakan ibadah. b) Pasal 3 KHI merumuskan tujuan perkawinan, yaitu untuk mewujudkan kehidupan rumah tangga yang sakinah, mawaddah dan rahmah. c) Pasal 4 KHI yang menentukan sahnya perkawinan menurut Hukum Islam sesuai dengan Pasal 2 ayat(1) undang-undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang perkawinan29. Analisis lain, maksud tidak mempunyai kekuatan hukum pada pasal 6 (2) adalah tidak mempunyai kekuatan hukum administrasi negara, bukan kekuatan hukum pernikahan. Sebab pencatatan ini hanya peristiwa penting biasa, bukan peristiwa hukum pernikahan. Peristiwa hukum pernikahan ditentukan oleh agama Sisi lain, tidak mempunyai kekuatan hukum bukan berarti dapat tidak mengesahkan atau membatalkan hukum pernikahan, karenanya akibat hukum karena adanya pernikahan tidak dicatat/belum dicatatkan tetap berlaku melekat pada sahnya perkawinan tanpa/belum dicatatkan. Catatan perkawinan bukan satu-satunya alat bukti adanya perkawinan. Maka dari itu, tidak seharusnya muncul usulan nikah siri harus dipidana, karena bertentangan dengan pasal 6 (2) KHI ini. Menurt sekrtaris Majelis Ulama Pusat, Ichwan Syam draf yang muncul saat itu dinilai liar karena tidak melalui program legislasi nasional (prolegnas). Ini
29

Ibid.,hlm.220.

31

bikinan Musda Mulia ( pegiat kesetaraan gender). Dia juga sudah diberhentikan oleh menteri Agama.30 RUU hukum Materi Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang notabene dibuat oleh para ahli hukum Islam yang mengkriminalisasikan orang Islam yang melakukan perkawinan berdasarkan Hukum Islam (nikah Siri) sebagai ibadah, tetapi dapat dipidana adalah melanggar hak azasi manusia Indonesia yang beragama Islam.31 Ijtihadnya para ahli hukum Islam ini nampaknya diwarnai dengan pemikiran leberalisai hukum Islam, yang akarnya dapat dilacak dari teori At-Tufi, bahwa apabila nas bertetangan dengan akal, maka akal didahulukan dari pada nas32 Pengaruh ini sangat jelas dilihat dari RUUHM-PA- Bperkwn, dalam pasal 13 ayat (1) ditentukan bahwa untuk melaksanakan perkawinan harus ada: a. Calon suami b. Calon isteri c. Wali Nikah d. Dua orang saksi, dan e. Mahar. Mahar menjadi salah satu rukun nikah dan menjadi salah satu faktor penentu sah tidaknya perkawinan adalah bertentangan dengan nas baik al-Quran maupun hadis. Dan tidak ada seorang ulama pun dari kalangan sunni yang menyatakan demikian. Wahbah Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islam Wa Adillatuh menulis: Bahwa mahar bukanlah salah satu rukun nikah dan bukan pula merupakan syarat nikah.33 Bahkan kalau kedua calon mempelai berdua bersepakat tidak usah membayar mahar lantaran calon mempelai laki-laki miskin, tidak memiliki sesuatu yang halal
Suara Merdeka, Ketika Kasus Aceng Go International,hlm. 2, 30 Desember 2012. Ibid., hlm. 222. 32 At-Tufi, Syarah al-Arbain an-Nawawi, Mulhiq al-Maslahah fi Tasyri al-Islami. ( Kairo: Dar al-Fiqr al-Arabi, 1945), hlm. 18. 33 Wahbah Zuhaili, al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, juz 7, (Damsik: Dar al-Fikr, 2008), hlm 249.
31 30

32

menurut syara, menurut jumhur ulama sah-sah saja akad perkawinannya, kecuali imam Malik yang berpendapat nikahnya fasid.34 D. Pandangan Ulama, Praktisi Hukum dan Kalangan Akademisi Jawahir Thontowi menyatakan, alangkah ganjil pandangan yang membolehkan perkawinan tanpa memenuhi persyaratan hukum negara dianggap sah tetapi mengabaikan hak-hak dan kewajiban sebagai suami isteri. Perkawinan sebagai hubungan hukum mengandung prinsip-prinsip yang harus dipenuhi oleh kedua belah pihak secara seimbang dan adil. Kedudukan suami sebagaimana disebutkan dalam al-Quran sebagai pemimpin dalam rumah tangga oleh karena nafkah yang disediakan oleh suami, mestinya tetap melekat kepada suami sebagai kewajiban hukum. Tidak terpenuhinya suami berperan sebagai pemberi nafkah yang umumnya tidak tertunaikan pada kawin siri jelas-jelas bertentangan dengan keharusan agama, meskipun usaha saling membebaskan hak dan kewajiban dimungkinkan. Pada sisi lain, bilamana kawin siri hanya dimaksudkan sebagai usaha untuk membebaskan diri dari ancaman dosa, bahaya akan senantiasa mengacam atas kedudukan ajaran agama yang dipahami secara parsial bilamana tidak diikuti dengan kesadaran untuk penyelengaraan perkawinan secara resmi. Kepatuhan atas kewajiban agama dan atas kewajiban negara yang legalitasnya diakui oleh petugas keagamaan, bukan saja resiko menimpa penderitaan isteri-isteri yang ditinggalkan oleh suami kurang tanggung jawab akan dapat diminimalisir, juga diharapkan perubahan persepsi dan kesadaran hukum masyarakat Islam atas hukum agama dan negara akan menjadi lebih utuh.35 KH.M. Ali Yafie sebagaimana dikutip Neng Jubaidah berpendapat bahwa pencatatan perkawinan tidak mempengaruhi sah tidaknya perkawinan.
Ibid.,hlm. 250. Jawahir Thontowi, Islam, Politik dan Hukum: Esai-Esai Ilmiah untuk Pembaharuan. ( Yogyakarta: Madyan Presss, 2002) ,hlm.61-62. Jawahir Thontowi adalah Dosen Fakujltas Hukum UII. Dosen Luar Biasa Pasca Sarjana Hukum IAIN dan UMY Yogyakarta.
35 34

33

Karena itu rumusan RUU-HT-PA- Berkwn pasal 6 (1) yang menyatakan bahwa perkawinan hanya dapat dibuktikan dengan Akta Nikah yang dibuat oleh Pejabat Pencatat Nikah adalah rumusan yang masih dipengaruhi oleh pemikiran sekularisme.36 Asrorun Niam, berpendapat bahwa: Perkawinan yang dilaksanakan diluar pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatat nikah tidak memiliki kekuatan hukum dan dianggap tidak sah dimata hukum. Perkawinan dibawah tangan berdampak sangat merugikan bagi isteri dan perempuan umumnya, baik secara hukum maupun sosial. Secara hukum kenegaraan, tidak diakui hak-hak keperdataan yang ditimbulkan oleh pertalian hubungan perkawinan, tidak dianggap sebagai suami isteri sah dan tidak berhak atas nafkah dan waris dan dari suami jika ia meninggal dunia. Disamping itu, juga tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perpisahan, karena secara hukum kenegaraan, perkawinannya dianggap tidak pernah terjadi. Dampak negatif juga dirasakan pada hak-hak sipil dan keperdataan anak yang lahir dari pasangan suami isteri pelaku nikah siri. Anak dianggap tidak sah, anak hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibu dan keluarga ibu, anak tidak mempunyai hubungan keperdataan terhadap ayahnya (sekarang oleh MK anak semacam ini punya hubungan keperdataan kepada ayahnya), dan di dalam akta kelahirannya pun statusnya dianggap sebagai anak luar nikah, sehingga hanya dicantumkan nama ibu yang melahirkannya.37 M. Quraish-Shihab berpendapat: Betapa pentingnya pencatatan pernikahan yang ditetapkan melalui undang-undang, namun disisi lain pernikahan yang tidak dicatat (selama ada dua orang saksi) tetap dinilai sah oleh agama. Bahkan seandainya dua orang saksi itu diminta untuk
Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm. 244 dan 247. KH. Ali Yafie adalah Ulama Besardari Sulawesi. Pada Muktamar ke 28 di Yogyakarta,1989 masih dipercaya sebagai Rois Am PBNU, hingga mengundurkan diri tahun 1991 karena persoalan bantuan SDSB ( Sumbangana Dana Sosial Berhadiah). Juga Menjadi Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia(ICMI), Ketua Majelis Ulama Indonesia( MUI ), dan Anggota Dewan Pengurus Syariat Bank Muamalat Indonesia(BMI). Mujamil Qomar, NU Liberal : Dari Tradisionalisme Ahlussah ke Universalisme Islam,( Bandung : Mizan, 2002),hlm. 178 37 Asrorun Niam, Fatwa-Fatwa Masalah Perkawinan dan keluarga, (Jakarta : elSAS, 2008), hlm.151. Asrarun Niamadalah Wakil Sekretaris Komisi Fatwa MUI.
36

34

merahasiakan pernikahan yang dilaksanakan itu, maka perkawinan tetap dinilai sah dalam pandangan pakar hukum Islam Syafii dan Abu Hanifah.38 Lebih jauh ia katakan: Menurut hemat penulis, dalam kontek keindonesiaan, walaupun pernikahan demikian dinilai sah menurut hukum agama, namun perkawinan dibawah tangan dapat mengakibatkan dosa bagi pelakunya, karena melanggar ketentuan yang ditetapkan oleh Pemerintah dan DPR (Ulil Amri). Al-Quran memerintahkan setiap muslim untuk mentaati ulil Amri selama tidak bertentangan dengan hukum-hukum Allah. Dalam soal pencatatan ini, ia bukan saja tidak bertentangan, tetapi sangat sejalan dengan semangat al-Quran.39 KH.A. Mustofa Bisri (Sering dipanggil Gus Mus), ketika menjawab pertanyaan dari Ny. Hasanah- Klampok, menguraikan : Istilah kawin siri yang secara harfiyah berarti kawin rahasia, agak populer ketimbang istilah kawin urfi yang mempunyai pengertian kawin adat. Gus Mus berpendapat ada dua pengertian dalam istilah kawin siri. Pertama, berarti perkawinan diam-diam tanpa saksi dan ini menurut kesepakatan ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi dan Tabiin, jelas tidak sah. Kedua, perkawinan yang syarat rukunnya secara agama terpenuhi seperti wali, saksi dan maskawin, Cuma belum dicatat secara resmi sesuai peraturan negara yang berlaku. Kawin siri dengan pengertian kedua ini sah menurut agama, seperti dapat dilihat dari kitab-kitab fikih. Menurut UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat (1) : Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masing-masing agamanya dan kepercayaannya itu. Jadi, dalam UU tersebut pun mengesahkan perkawinan siri. Dalam pada itu anda dan perkawinan anda tidak bertentangan dengan agama anda, karena sebagai orang yang beragama anda telah melaksanakan perkawinan sesuai dengan aturan agama

Lihat Ibnu Rusd, Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, ( T.t: Dar al-Kutub alIslamiyah, ttp.), Juz 2, hlm.13. 39 M. Quraish- Shihab, Wawasan al-Quran, ( Bandung : Mizab, cet. Ke10 ), hlm. 204. M. Quraish-Shihab adalah pakar Tafsir al-Quran Indonesia, Doktor dari Universitas Al-Azhar, Kairo. Mantan Rektor IAIN (UIN) Syarif Hidayatulah,Jakarta, dan menjadi dosen Program Pascasarjana di institut yang sama, dan beberapa Perguruan Tinggi lainnya.

38

35

anda, tinggal anda sebagai warga negara, perkawinan sesuai peraturan negara anda?40

apakah sudah melaksanakan

Atho Munzhar berpendapat, masalah pencatatan pekawinan ini tidak hanya diperdebatkan apakah sebagai syarat sah atau syarat administratif, tetapi bagaimana dibangun dengan cara pandang baru dalam kerangka pembaruan hukum keluarga Islam di Indonesia. Atho Munzhar berpendapat bahwa pencatatan perkawinan harus dilihat sebagai bentuk baru cara mengumumkan pernikahan (Ilan). Alasanya pencatatan ini lebih maslahat terutama bagi wanita dan anak-anak,41 dengan memperhatikan KHI pasal 5 yang mengatur: 1) 2) Agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam setiap Pencatatan perkawinan tersebut pada ayat (1) dilakukan oleh perkawinan harus dicatat. Pegawai Pencatat Nikah sebagaimana diatur oleh Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1940. Undang-Undang No 32 Tahun 1954. Kemudian pada pasal 6 dijelaskan teknis pelaksanaan pencatatan pada ayat (4) 3) Untuk memenuhi ketentuan dalam pasal 5, setiap perkawinan harus dilangsungkan di hadapan dan di bawah pengawasan Pegawai Pencatat Nikah. 4) Perkawinan yang dilakukan di luar pengawasan Pegawai Pencatat Prof Ahmad Rofiq berpendapat: bahwa pencatatan tersebut adalah syarat administratif. Artinya perkawinan tetap sah, karena standar sah tidaknya perkawinan ditentukan oleh norma-norma agama dari pihak yang melangsungkan perkawinan. Pencatatan perkawinan diatur karena suatu perkawinan yang tidak dicatatkan tidak mempunyai kekuatan hukum, karena
Mustofa Bisri( Gus Mus), Fikih Keseharian Gus Mus, cet. 2 ( Surabaya: Khalista, 2006),hlm. 264. Gus Mus, lahir di Rembang 10 Agustus 1944 .Belajardi PondokPesantren Lirboyo, Kediri, alMunawir Krapyak,Yogyakarta, dan Universitas al-Azhar, Kairo,Kini Pengasuh Pondok Pesantren Raudlatul Thalibin Rembang menggantikan ayahnya Bisri Mustofa. Beliau terkenal sebagai budayawan dan penyair, banyak karya-karya yang sudah diterbitkan. Saat ini beliau menjadi Wakil Rois Aam PBNU. 41 Saiful Amar, Makalah Seminar Kuliah Usul Fiqh, Pidana bagi pelaku nikah siri, Pascasarjana IAIN Walisongo, Semarang , tahun 2012 , hlm. 9
40

Nikah tidak mempunyai kekuatan hukum.

36

tidak memiliki bukti-bukti yang sah dan otentik dari perkawinan yang dilangsungkannya. Dan ini bertentangan dengan misi perkawinan itu sendiri.42 Praktek Pemerintah yang mengatur pencatatan perkawinan berdasarkan istidlaal menggunakan metode istihlah atau maslahah mursalah, meskipun tidak ada ayat atau sunah yang memerintahkan pencatatan perkawinan, tetapi kandungan maslahahnya sesuai dengan syara yang ingin mewujudkan kemaslahatan bagi manusia. Atau dapat diqiyaskan dengan alBaqarah, 2: 282 tentang utang-piutang/ bermuamalah yang tidak tunai untuk waku yang ditentukan agar ditulis, karena adanya kesamaan illat, yaitu dampak negatif yang ditimbulkannya. Dengan dasar ini, dapat ditegaskan bahwa pencatatan perkawinan merupakan ketentuan yang perlu diterima dan dilaksanakan oleh semua pihak, karena mempunyai landasan metodologi yang cukup kokoh, yaitu maslahah mursalah atau qiyas.43 MUI pada pembahasan Masail Waqiiyyah Muashirah, Ijtima Ulama Komisi Fatwa se indonesia II pada 26 Mei Tahun 2006 terkait dengan Nikah di bawah tangan, menentukan: 1. 2. Pernikahan di bawah Tangan hukumnya sah karena telah terpenuhi syarat dan rukun nikah, tetapi haram jika terdapat mudharat. Pernikahan harus dicatatkan secara resmi pada instansi berwenang, sebagai langkah preventif untuk menolak dampak negatif/ Mudharat (saddan lidz- dzariah)44 Kemudian difatwakan oleh MUI No. 10 Tahun 2008, dengan menimbang ditengah masyarakat sering terjadi adanya praktek pernikahan dibawah tangan (siri) yang tidak dicatatkan sesuai ketentuan peraturan

Ahmad Rofik, Hukum Islam di Indonesia, ( Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet. Ke 6, 2003 ), hlm.110. Dia adalah Guru Besar Hukum Islam, Fakultas Syariah IAIN Walisongo Semarang, Dosen Pascasarja IAIN Walisongo, Jabatan keulamaannya sebagai Sekretaris Umum MUI Jateng. 43 Ibid., hlm. 121 44 Asrarun Niam, Fatwa-Fatwa, hlm. 49.

42

37

perundang-undangan, hukumnya sah sebagaimana rumusan ijtima Ulama Komisi Fatwa di atas.45 Rumusan lengkapnya sebagai berikut: Mengingat beberapa alasan di antaranya : a. al-Quran

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir.46

Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan
Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kumpulan Fatwa MUI sejak 1975, ( Jakarta : Erlangga,2011),hlm. 531-534. 46 Ar-Rum: 21
45

38

pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.47 b. Al-Hadis Laksanakan walimah sekalipun hanya dengan menyembelih kambing.48 Umumkanlah pernikahan, laksanakanlah pernikahan di MasjidMasjid dan pukullah duff ( alat musik) 49 c. Kaidah Fiqh Tidak boleh ada bahaya dan saling membahayakan.50 Mencegah kerusakan lebih didahulukan dari pada menarik kemaslahatan.51 d. Berdasarkan Saddu az- Zariah ( menutup dampak negatif) MUI menetapkan bahwa yang dimaksud dalam fatwanya adalah pernikahan yang terpenuhi semua rukun dan syarat yang ditetapkan
An-Nisa : 59 HR. Ahmad, al-Hakim dan At-Tirmizi dari Amr bin Abdilla ibn Zubair, dlm Wahbah Zuhaili, al-Fiqh Al-Islam waAdillatuh, hlm. 83 49 .HR. At-Tirmizim Ibnu Majah dan al-Baihaqi dari Aisyah, Ibid. 50 Abdul Hamid Hakim, Mabadi al-Awwalaiyah fi usul al-Fiqh wa al-Qawaid alFiqhiyyah, ( Jakarta: Saadiyyah Putra, 1927). Lihat Hasbi Ash-Shiddieqy. Falsafsah Hukum Islam, ( Jakarta: Bulan Bintang,1975), hlm 324 51 Ibid.
48 47

39

dalam fiqih (hukum Islam) namun tanpa pencatatan resmi di Instansi resmi yang berwenang sebagaimana diatur dalam peraturan perundangundangan. Jadi ketentuan hukumannya dijelaskan bahwa pernikahan dibawah tangan kukumnya sah karena telah terpenuhi syarat dan rukun nikah, tetapi haram jika terdapat mudharat. Tindakan preventif harus dicatatkan secara resmi pada instansi berwenang, hal ini secara alternatif untuk menolak dampak negatif mudharat (saddan li-dzariah)52. Menurut Mahmud Syaltut dalam bukunya al-fatawa, hal. 268 dalam konteks ini pernikahan Mesir yang disebut dengan Nikah Urfi yang berarti nikah menurut adat dan kebiasaan. Dalam kajian kitab-kitab fiqh definisi ini terdapat dua bentuk nikah siri, yaitu: 1. Nikah siri yang dilakukan tanpa disaksikan, tanpa dipubliksikan dan tanpa di catatkan dalam catatan resmi. 2. Akad pernikahan yang dihadiri oleh para saksi namun dipesan untuk merahasiakan adanya pernikahan tersebut. Pada nikah siri kelompok pertama, fuqaha telah sepakat bahwa nikah seperti ini adalah tidak sah karena rukunnya tidak terpenuhi yaitu adanya dua orang saksi. Dalil dari pendapat ini adalah: Sedangkan pada nikah siri yang kedua, fuqaha berbeda pendapat tentang keabsahan nikah siri ini. Sebagian ulama seperti Hanafiyyah dan Syafiiyyah berpendapat bahwa pesan agar saksi merahasiakan terjadinya pernikahan tidak berpengaruh terhadap keabsahan akad nikah, disebabkan dengan adanya seorang saksi telah mengeluarkan pernikahan itu dari kategori siriyah menjadi alaniyyah. Sementara itu sebagian ulama lain seperti Imam Malik berpandangan bahwa adanya pesan untuk merahasiakan pernikahan telah mencabut kesaksian dari ruh dan tujuan
Majelis Ulama Indonesia, Himpunan fatwa MUI sejak 1975, ( Jakarta: Erlangga, 2011), hlm. 531-534
52

40

disyariatkannya, yaitu publikasi (ilaan). Oleh karena itu, nikah semacam ini harus di fasakh. Sedangkan menurut Hanabilah, hukum nikah siri semacam ini adalah makruh.53 Wahbah Zuhaili dalam kitabnya al-Fiqh al-Islamu wa Adillatuh, menyembutkan beberapa pandangan Ulama, seperti Imam Malik misalnya, tidak membenarkan adanya nikah siri yang dengan sengaja menyembunyikan pernikahannya baik terhadap isterinya, keluarganya maupun para tetangganya, apabila terjadi nikah siri harus dibatalkan. Mereka dikenai sanksi pidana sebagaimana pidana perzinaan. Berbeda dengan Ahmad ibn Hanbal yang memandang sah tetapi makruh, dan tidak batal demi hukum.54 Sedangkan menurut Abdul Halim, menempatkan pencatatan perkawinan sebagai syarat sah dapat dilakukan dengan penerapan Ijtihad Insyai (Ijtihad bentuk baru) dengan menggunakan kaidah menolak bahaya lebih didahulukan atas mendatangkan kebaikan atau sesuai dengan kaidah pemerintah, suatu tindakan/peraturan pemerintah, berintikan terjaminnya kemaslahatan warga.55 Beberapa dampak negatif nikah siri yang bisa kita temukan antara lain: 1. Merugikan pihak wanita yang bisa dengan mudahnya ditinggalkan oleh suami, dan wanita susah mengajukan gugatan kepada suami karena tidak dapat membuktikan telah terjadinya pernikahan dengan akta nikah. Istri tidak dapat menuntut hak atas harta bersama (gono gini) dan nafkah. 2. Dalam sistem administrasi kependudukan di Indonesia, salah satu syarat dalam pembukuan akta kelahiran anak adalah dengan melampirkan akta nikah, demikian pula dalam pembuatan kartu
Mahmud Syaltut, al-fatawa, hlm.. 268 Wahbah Zuhaili, Al-Fiqh al-Islam wa Adillatuh, ( Damsik; Dar al-Fikr, 2008), Juz 7,hlm.81-82 55 Dr. H. Amin Nuruddin, MA dan Drs. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dan Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI), ( Jakarta, 2004), hlm. 120-136
54 53

41

keluarga, kemudian urusan KT, SIM, mendaftarkan anak sekolah dan sebagainya. 3. Dalam hal perwalian, jika anak akan menikah, maka wali akan diserahkan pada hakim. Karena tidak dapat membuktikan hubungan anak dan orang tuanya. 4. Dalam hal warisan, akan menimbulkan banyak permasalahan sehubungan dengan hak ahli waris.56

BAB III SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA A. Tujuan Hukuman
FORDIS STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Wacana baru Syariah, ( Yogyakarta, cet. Pertama, 2011), hlm. 48
56

42

Dalam syariat Islam, tujuan pokok menjatuhkan sanksi hukuman diorientasikan pada tiga hal : 1. Pencegahan ( ar-Raddu wa az-Zajru). Pencegahan ialah menahan si pelaku agar tidak mengulangi perbuatan jahatnya atau agar ia tidak terus-menerus mengulangi perbuatannya. Pencegahan juga dimaksud kepada penegak hukum agar ia tidak berbuat kejahatan, sebab hukuman yang dikenakan pada penjahat, juga bisa dikenakan kepada dirinya.. Dengan demikian, hukuman itu berfungsi ganda: Mencegah pada penegak hukum agar tidak terlibat kejahatan, dan mencegah atau menahan seseorang untuk tidak berbuat kejahatan atau pelanggaran, dan agar ia menjauhkan diri dari lingkaran kejahatan. Perbuatan jahat yang diancam hukuman adakalanya berupa pelanggaran terhadap larangan dan adakalanya meninggalkan kewajiban. Arti pencegahan pada pelanggaran adalah melarang untuk berbuat, sedangkan arti meninggalkan kewajiban adalah agar berhenti meninggalkan kewajiban. Dijatuhi hukuman agar si pelaku mau mengerjakan perbuatan wajib yang ia tinggalkan. Oleh karena bersifat mencegah, maka besar hukuman harus sedemikian rupa yang mampu memberikan efek jera, tidak boleh melebihi batas yang diperlukan dalam menjatuhkan hukuman. Dalam hal ini harus memperhitungkan aspek keadilan dalam menjatuhkannya. Dengan demikian, hukuman dimungkinkan berbeda-beda sejalan dengan perbedaan si pelakunya, utamanya hukuman tazir. Adakalanya pelaku kejahatan cukup dihukum tazir dengan diberi peringatan, dan ada yang cukup didera (jilid), dan ada kalanya yang perlu dimasukkan penjara. 2. Pengajaran dan Pendidikan( Al-Islah wa al- Tahzib) Dalam hal ini, hukuman dimaksudkan untuk memberi pelajaran dan mengusahakan kebaikan terhadap pelaku, sehingga pelaku kejahatan bukan karena takut akan hukuman, melainkan timbul kesadaran diri , dan

43

menimbulkan kebencian terhadap kejahatan, serta berniat menjauhkan diri dari lingkungan kejahatan. Kesadaran diri pelaku inilah alat yang paling baik untuk memberantas kejahatan. Sisi lain, hukuman itu di samping untuk kebaikan pribadi, juga dimaksudkan hukuman itu dijatuhkan bertujuan untuk membentuk masyarakat yang baik, rasa saking menghormati, mencintai antar sesama dan memahami batas-batas antara hak dan kewajibannya. Dengan hukuman itu, dimaksudkan juga untuk memberikan efek derita yang harus dialami oleh pelaku, sebagai media penyuci dirinya agar kembali pada jalan yang benar. 57\ B. Macam-Macam Hukuman Dalam Syariat Islam, hukuman ditinjau dari segi macamnya tindak pidana kejahatan dibagi menjadi empat macam: Hukuman had (dera) bagi pelaku tindak pidana perzinaan, penuduh zina, peminum khamer dan pencurian, Hukuman qisas dan diyat bagi pelaku pembunuhan, dan Hukuman kifarat, dan Hukuman tazir.58 1. Hukuman had, yaitu didera seratus kali bagi pelaku zina yang dilakukan oleh orang yang tidak mukhsan ( belum kawin). Selain dera pelaku zina ini dapat dikenakan hukuman pengasingan selama selama satu tahun Bagi pelaku penuduh zina, memfitnah orang lain berbuat zina dikenakan hukuman pokok delapan puluh kali dera, dan ditambahkan hukuman tidak diterima persaksiaannya. Bagi peminum minuman keras dikenakan hukuman delapan puluh kali dera. Sedangkankan bagi pencuri hukumannya berupa potong tangan 59 2. Hukuman qisas, yaitu hukuman bagi pelaku pembunuhan diberi hukuman yang setimpal dengan perbuatannya, kalau ia membunuh dihukum mati, dan dianiaya kalau pelaku juga menganiaya. Hukuman mati ini tidak serta-merta dijatuhkan bagi pelaku pembunuhan, tetapi walinya
57 A. Hanafi, Asas-Asas Hukum Pidana Islam, cet ke 2, ( Jakarta : Bulan Bintang, 1976), hlm. 279-281. 58 Maksum, Jinayat, ( Yogyakarta: Fakultas Hukum, UII, 1979), hl, 135. 59 A. Hanafi, Hukum Pidana Islam, hlm 294-295.

44

diberi wewenang memberikan ampunan kepada pelaku, baik dengan diyat(imbalan materi), maupun tidak sama sekali. Sungguhpun demikian, penguasa masih berhak untuk menjatuhkan hukuman tazir yang sepadan. Sedangkan bagi pembunuhan yang semi sengaja dikenakan hukuman diyat, yaitu berupa materi 3. Hukuman Kifarat, dikenakan bagi pembunuh yang tidak sengaja, yaitu membebaskan seorang hamba sahaya yang mukmin, atau wajib berpuasa selama dua bulan berturut-turut, atau memberikan makan 60 orang miskin. Hukuman kifarat ini dikenakan bagi pelaku pembunuhan tidak sengaja dan pada pembunuhan semi sengaja. 4. Hukuman Tazir ialah hukuman yang dijatuhkan atas tindak kejahatan yang hukumannya belum ditentukan oleh hukum, yaitu jarimah hudud dan qishas. Hukuman tazir banyak sekali macamnya, dimulai dari yang paling ringan sampai hukuman yang berat. Hakim diberi wewenang untuk memilih macam hukumannya sesuai dengan tindak kejahatannya. Pada prinsipnya hukuman tazir ini oleh syariat Islam bertujuan untuk memberi pengajaran dan tidak sampai mematikan atau melukai. Karenanya tidak boleh dalam menjatuhkan hukuman tazir dengan cara melukai badan maupun menghilangkan nyawa. Hanya saja kebanyakan ulama mengecualikan, boleh dijatuhkan hukuman mati, jika kepentingan umum menghendaki demikian, atau kalau pemberantasan kejahatan tidak bisa terleksana kecuali dengan cara menghukum mati, seperti mata-mata, pembuat fitnah dan recidivis yang berbahaya.60

C. Rancangan Ketentuan Pidana bagi pelaku nikah siri dalam RUU- HMPA-Bperkwn Pada Pasal 2 Rancangan Undang-Undang Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan Tahun 2007 merumuskan bahwa: Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang
60

Ibid.,hlm. 325.

45

perempuan sebagai suami isteri berdasarkan akad perkawinan yang diatur dalam undang-undang ini dengan tujuan untuk membentuk keluaga sakinah atau rumah tangga yang bahagia sesuai dengan hukum Islam.. Pada pasal 3 menyebutkan bahwa: perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut Islam. Pasal 4 yang erat kaitannya dengan pasal 3 menyebutkan bahwa: Setiap perkawinan wajib dicatat oleh Pejabat Pencatat Nikah(PPN) menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 5 menegaskan cara dan akibat hukum dari perkawinan yang tidak dilakukan( tidak dicatat) di hadapan Pejabat Pencatat Nikah : 1) 2) Untuk memenuhi ketentuan Pasal 4 setiap perkawinan dilangsungkan di hadapan Pejabat Pencatat Nikah Perkawinan yang tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan ayat (1) Penjelasan dari Pasal 5 ayat(2) menguraikan bahwa: Perkawinan yang tidak dilangsungkan di hadapan Pejabat Pencatat Nikah berakibat suami atau isteri tidak mendapatkan Akta Nikah sebagai bukti autentik perkawinan. Perkawinan yang tidak memiliki alat bukti autentik tersebut menyebabkan suami atau isteri tidak memperoleh perlindungan hukum dalam gugatmenggugat di Pengadilan seperti gugatan perceraian, pembagian harta bersama, nafkah, waris-mewaris atau kepentingan lainnya61 Pada Pasal 6 RUU-HM-PA-BPerkwn ini merumuskan: (1) (2) (3) Perkawinan dapat dibuktikan dengan Akta nikah yang dibuat oleh Pejabat Pencatat Nikah Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan permohonan itsbat nikah ke Pengadilan. Permohonan itsbat nikah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diajukan dengan alasan hilangnya Akta nikah dan Kutipannya. tidak mempunyai kekuatan hukum.

Departemen Agama Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Hukum Terapan Peradilan Agama Bidang Perkwinan, ( Jakarta : Departemen Agama Republik Indonesia, 2006), hlm.7 dan hlm. 52-53

61

46

(4)

Perkawinan yang tidak dilaksanakan dihadapan Pejabat Pencatat Nikah dapat di-itsbatkan dengan dikenai sanksi pidana yang ditentukan dalam undang-undang ini.

(5)

Yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah adalah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah, dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu. Penjelasan Pasal 6 ayat(1) menegaskan bahwa: Kepada masing-

masing suami dan isteri diberikan Kutipan Akta Nikah yang dapat digunakan sebagai alat bukti perkawinannya. Perkawinan siri atau perkawinan yang sah sesuai Hukum Islam yang belum/ tidak dicatat dapat dipidana, ditentukan oleh Pasal 143 RUU-HMPA-BPerkwn ini yang berbunyi: Setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak dihadapan Pejabat Pencatat Nikah sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ( 1) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp. 6.000.000,00 (enam juta rupiah) atau hukuman kurungan paling lama 6 (enam) bulan. Dapat dipidana ini sejalan dengan Pasal 151 RUU-HM-PA-BPerkwn tahun 2007 bahwa: setiap orang yang melakukan perkawinan tidak di hadapan PPN merupakan tindak pidana pelanggaran.62 Saat ini, kata Neng Jubaida: tidak ditentukan lagi adanya perbedaan tindak pidana pelanggaran dengan tindak pidana kejahatan, keduanya disebut tindak pidana.63 Ketentuan Pasal 143 dan Pasal 151 tidak sejalan dengan penjelasan umum RUU-HM-PA-BPerkwn tahun 2007 itu sendri, di mana alinia kelima huruf a, bahwa: Sesuai dengan prinsip yang dianut dalam Undang-Undang Nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, maka undang-undang ini mewajibkan pencatatan perkawinan di hadapan Pejabat Pencatat Nikah untuk menjamin ketertiban administrasi perkawinan dan kepastian hukum bagi para pihak yang melangsungkan perkawinan guna membentuk keluarga sakinah. Kewajiban hukum wewenang
62 63

pencatatan perkawinan membebankan tugas dan PPN untuk mencatat perkawinan dan

pada

Ibid., hlm.46-53. Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm.254.

47

mengadminstrasikannya dalam akta nikah dan Buku Pencatatan Rujuk. Selain itu, pencatatan perkawinan merupakan peristiwa penting dari aspek adminstrasi kependudukan, sehingga Akta Nikah merupakan akta autentik dalam sistem administrasi Akta Catatan Sipil berdasarkan undang-undang.64

BAB IV ANALISI PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU NIKAH SIRI A. Sanksi Pidana Pelaku Nikah Siri dalam Hukum Adat Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 197 pada pasal 2 ayat (1) dengan sangat jelas dan tegas menyebutkan: suatu perkawinan sah apabila
DepartemenAgama Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Hukum MaterialPeradilan Agma Bidang Perkawinan, 2007
64

48

dilakukan menurut masing-masing agama dan kepercayaannya. Dilanjutkan dengan pasal 2 ayat (2), bahwa tiap-tiap perkawinan dicatat menurut peraturan undang-undang yang berlaku. Dengan demikian ketentuanketentuan perkawinan baik menurut hukum adat maupun hukum Islam masih tetap berlaku sepanjang yang belum diatur dalam undang-undang perkawinan No. 1 tahun 1974. Dalam perspektif hukum adat, perkawinan itu adalah urusan kerabat, urusan keluarga urusan masyarakat, urusan derajat dan urusan pribadi satu sama lain dalam hubungan (tujuan) yang sangat berbeda-beda. Sungguhpun perkawinan urusan keluarga, urusan kerabat dan urusan masyarakat tetapi juga merupakan urusan hidup bermasyarakat. Orang tuanya dan kepala dusunnya ikut campur tangan dalam pemilihan perkawinan, bentuk perkawinan dan dalam pelaksanaan perkawinan. Perkawinan sebagai peristiwa hukum harus mendapatkan tempat dalam ketertiban hukum, perlu dihadiri penghulu setempat.65 Kehadiran penghulu sebatas agar perkawinan mendapatkan tempat dalam ketertiban hukum, tidak terkait sah dan tidaknya perkawinan. Bahkan bagi yang beragama Islam justru akad perkawinan dilaksanakan sesuai dengan syariat Islam. Sebagaimana disinggung di atas bahwa perkawinan adalah urusan kerabat, urusan keluarga urusan masyarakat, urusan derajat dan urusan pribadi satu sama lain dalam hubungan (tujuan) yang sangat berbeda-beda, maka dalam prakteknya banyak yang mengawinkan (kawin siri) anak yang belum dewasa (baligh), dilangsungkan ijabqabul secara Islam (Baca: Bagi umat Islam), kemudian baru disusul perkawinan secara adat ketika telah dewasa untuk berkumpul sebagai suami isteri. Bahkan banyak terjadi anakanak yang belum lahir sudah dijanjikan akan dikawinkan dengan pihak yang diinginkan dan bila telah lahir dalam umur yang masih muda sudah dikawinkan. Ada juga perkawinan pemuda dewasa dengan perempuan yang belum dewasa, kemudian setelah akad perkawinan, si suami menumpang di rumah mertuanya dan bekerja untuk mereka, tetapi pergaulan suami isteri
65

Ibid., hlm. 159

49

(nikah resmi) ditunda sampai anak perempuan itu dewasa. Dengan demikian pangkat, derajat, status dan harta sanga berpengaruh terhadap terjadinya kawin siri. Terbitnya Ordonnantie-perkawinan tahun 1929. stbl.no. 348 untuk wilayah Jawa, dan tahun 1932. stbl. N0 482 untuk wilayah luar Jawa, tidak dipandang sebagai peraturan sipil, melainkan peraturan administratif, yang mewajibkan supaya meminta legalitas PPN yang telah ditetapkan sebagi petugas pelaksana perkawinan menurut Islam. Peraturan administratif hanya dipandang sebagai bentuk kepastian hukum dan untuk ketertiban dengan adanya ancaman hukuman terhadap siapa yang melalaikannya. Dengan demikian berkumpulnya dua orang untuk bergaul sebagai suami isteri dan untuk berumah tangga buat selamanya adalah urusan yang sangat bersifat perseorangan. Atas dasar ini, maka kawin siri dipandang sebagai model dalam menolak suatu pergaulan bebas. Artinya dengan melakukan kawin siri hubungan mereka sebagai suami isteri yang biasanya berlangsung sebelum melakukan pernikahan dan boleh jadi melanggar adat dan hukum Islam, bisa berubah menjadi halal. Tanpa memenuhi persyaratan administrasi tujuan menghindari perbuatan yang diwajibkankan Undang-Undang, perkawinan siri tetap dilangsungkan dengan yang melanggar norma adat dan agama. Dengan adanya kata perlu dihadiri penghulu, berarti secara adat pencatatan perkawinan itu hanya persyaratan administratif, tidak terkait dengan peristiwa hukum akad perkawinan. Dengan demikian, bentuk-bentuk perkawinan siri, memang masih bersifat rahasia, tetapi tidak dalam artian bermaksud melanggar hukum positif, semata-mata karena alasam ekonomi dan keluarga, serta untuk menghindari pelanggaran susila baik agama maupun adat. Misalnya nikah siri dilakukan karena kedua belah pihak belum/tidak punya biaya pendaftaran/pencatatan nikah ke KUA; karena kedua calon mempelai belum cukup umur nikah; karena sebagai solusi untuk mendapatkan keturuna; atau karena kedua belah pihak atau salah satu pihak calon mempelai belum

50

siap lantaran masih sekolah/ kuliah atau masih terikat dengan kedinasan yang tidak diperbolehkan nikah terlebih dahulu. Dengan demikian, kawin siri dalam pandangan adat sebagai solusi, bukan pelanggaran hukum. Lalu kalau tidak dicatakan atau diurus negara apakah termasuk perbuatan kriminal? Apakah pebuatan mengawinkan/kawin siri atas dasar niat baik dan tidak ada yang dirugikan itu layak dipidana karena sebagai perbuatan kriminal dan pelakunya dianggap penjahat? Pertanyaannya, lalu penjahat terhadap siapa? Tentu, para pelaku nikah siri bukan perbuatan kriminal, karena itu dalam perspektif hukum adat pelaku nikah siri tidak ada sanksi hukumnya. Hanya ada kekeperluan dikemudian hari untuk menghadirkan penghulu sebagai pihak yang berwenang pencatatan perkawinan. B. Sanksi pidan Pelaku Nikah Siri dalam Hukum Islam Dalam prespektif hukum Islam ( fikih) bentuk nikah siri ada 2 macam: 1. Perkawinan yang tidak memenuhi rukun dan syarat perkawinan atau Nikah yang dilakukan tanpa disaksikan, tanpa dipubliksikan dan tanpa di catatkan dalam catatan resmi. 2. Akad perkawinan yang dihadiri oleh para saksi namun dipesan untuk merahasiakan adanya pernikahan tersebut. Berdasarkan hadis dari Abi Zubair al-Maliki dari Umar bin Khattab, yaitu perkawinan yang hanya disaksikan oleh seorang saksi laki-laki dan seorang perempuan. Menurut Umar ra. perkawinan tersebut adalah perkawinan siri yang dilarang. Jika perkawinan itu dilanjutkan, maka beliau akan merajam pelakunya. dan kalau Ini perkawinan tetap siri, aku tidak tentu memperkenankannya, engkau melakukannya

kurajam.66 Itulah sebabnya Imam Malik mengharamkan nikah siri yang tanpa saksi. Oleh Ibnu Taimiyah, perkawinan siri adalah sejenis perkawinan pelacur karena tanpa wali dan tanpa dua saksi, dan juga termasuk perkawinan

66

Al-Mubarak, Nailul Authar, hlm. 2171-

51

perempuan yang mempunyai laki-laki piaraan (zawaatil akhdaan). Perbuatan tersebut adalah haram berdasarkan al-Maidah, ayat 5. Nikah yang mestinya disaksikan 2 orang saksi laki-laki, oleh Umar dengan hanya disaksikan 1 orang saksi laki-laki dan 1 orang saksi perempuan dipandang tidak cukup, karena itu disebut nikah siri. Dan nikah siri yang tanpa saksi dalam hadis Rasulullah riwayat Tarmizu dari Ibnu Abbas ra disebut pelacur. Rasulullah bersabda: Perempuan pelacur yaitu mereka yang menikahkan diri mereka sendiri tanpa saksi. Ibnu Taimiyah berlandaskan kesepakatan para imam, berpendapat nikah batil. Sayyid Sabiq menegaskan hukumnya haram karena tidak memenuhi syarat dan rukun perkawinan. fuqaha telah sepakat bahwa nikah seperti ini adalah tidak sah karena rukunnya tidak terpenuhi yaitu adanya dua orang saksi. Dalil dari pendapat ini adalah hadis Nabi di antaranya:67 Jika mereka tetap melanjutkan kehidupan perkawinanya termasuk melakukan zina, maka layak dikenai hukuman had (cambuk). Dalam bahasa Zubaidah kawin siri semacam ini hukumnya haram karena sama dengan samen leven atau kumpul kebo, tetapi kumpul kebo juga berbeda dengan pelacuran. Dalam pada itu berdasarkan hadis riwayat Imam Syafii dan Daruqutni dari Ikrimah bin Khalid menceriterakan: Pernah terjadi dijalan penuh kendaraan, kemudian ada seorang perempuan janda di antara mereka yang menyerahkan urusan dirinya kepada seorang laki-laki yang bukan walinya, lalu laki-laki itu menikahinya. Kemudian sampailah hal itu kepada Umar, maka Umar menjilidnya (mendera) orang yang kawin dan orang yang mengawinkannya serta membatalkan pernikahannya.
67 Dalam kitab Nail al-Authar, Imam Syaukani berpenapat bahywa hadis di atas yang dijadikan dasar dalam menetapkan keharusan dua orang saksi dalam suatu akad nikah adalah hadis daif, tetapi beberapa hadis yang ada saling menguatkan satu sama lain. Lihat Asnawi, Nikah, ibid.

52

Istilah kumpul kebo sudah lama dikenal oleh masyarakat Indonesia, paling tidak, kata Jubaidah: sejak penelitian salah seorang mahasiswa yang dilakukan di daerah Yogyakarta sekitar tahun 1980-an.68 Bahkan larangan kumpul kebo telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983, dan hukuman yang ditentukan bagi pelaku kumpul kebo dalam pasal 487 RUU-KUHP 2008 adalah pidana penjara paling lama 5 tahun, dan pidana denda paling banyak 75.000.000,00. Sungguhpun demikian, sikap masyarakat untuk menolak kumpul kebo kurang didorong dan didukung oleh berbagai pihak. Dari kalangan perempuan sendiri, seperti yang ditulis Ratna Batara Munti, larangan kumpul kebo dan pidanya dinilai merupakan bentuk intervensi negara terhadap urusan privat individu. Artinya, ada pelanggaran HAM yang dilakukan oleh negarea (state) terhadap individu warga negara yang kemerdekaannya dan hak-hak Asasinya harusnya tidak diperlakukan sewenang-wenang.69 Lalu, apakah kalau negara mengatur warga negaranya demi kebaikan bersama, dikatakan merampas kemerdekaannya? Kemerdekaan pribadi tidak seharusnya mengalahkan kemerdekaan negara dalam mengatur warga negaranya. Dalam kaidah fiqhiyyah disebutkan: Bahaya yang lebih besar dihilangkan dengan (melakukan) bahaya yang lebih kecil.70 1. aturan. Mengatur dan memberikan saksi pidana bagi pelaku zina lebih kecil dibanding membiarkan bahaya meraja lela kumpul kebo tanpa justru dilindungi, yakni hak-haknya untuk hidup aman dan tidak mengalami diskriminasi dan

Jubaidah, Perkawinan,hlm. 350 Ratna Batara Munti, Advokasi Kebijakan Pro Perempuan, ( Jakarta: Program Studi Kajian Wanita, PPS, UI, 2008),hlm.238-239 70 Toha Andiko, Ilmu Qawaid Fiqhiyyah, (Yogyakarta: Sukses 0ffset, 2011), hlm. 126.
69

68

53

Berdasarkan hadis hadis riwayat Imam Syafii di atas, pelaku kumpul kebo dan pihak-pihak yang terlibat dikenakan sanksi pidana pokok maupun tambahan sebagai langkah preventif untuk menolak dampak negatif/ Mudharat (saddan lidz- dzariah).71 C. Sanksi Pidana bagi pelaku nikah siri dalam RUU-HM-PA-Bperkwn Dalam Pasal 151 RUU-HM-PA-BPerkwn tahun 2007 bahwa: setiap orang yang melakukan perkawinan tidak di hadapan PPN merupak tindak pidana pelanggaran.72 Saat ini, kata Neng Jubaida: tidak ditentukan lagi adanya perbedaan tindak pidana pelanggaran dengan tindak pidana kejahatan, keduanya disebut tindak pidana. Karenanya ditegaskan pada Pasal 143 RUU-HM-PA-BPerkwn bahwa: Setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak dihadapan Pejabat Pencatat Nikah sebagaimana dimaksud dalam pasal 5 ( 1) dipidana dengan pidana denda paling banyak Rp.6.000.000,00(enam juta rupiah) atau hukuman kurungan paling lama 6 (enam) bulan. Dengan adanya ketentuan pidana denda dan kurungan ini, implisit dimata hukum seseorang yang melangsungkan kawin siri dinilai oleh RUU tsb melanggat 2 ketentuan, yaitu melanggar pidana dan hukum administrasi negara. Pasal 2 Rancangan Undang-Undang Hukum Materil Peradilan Agama Bidang Perkawinan Tahun 2007 merumuskan bahwa: Perkawinan merupakan ikatan lahir batin antara seorang laki-laki dengan seorang perempuan sebagai suami isteri berdasarkan akad perkawinan yang diatur dalam undang-undang ini dengan tujuan untuk membentuk keluaga sakinah atau rumah tangga yang bahagia sesuai dengan hukum Islam. Pada pasal 3 menyebutkan bahwa: perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut Islam.
71 72

Pasal 4 yang erat kaitannya dengan pasal 3

menyebutkan bahwa: Setiap perkawinan wajib dicatat oleh Pejabat


Asrarun Niam, Fatwa-Fatwa, hlm. 49. Ibid., hlm.46-53.

54

Pencatat Nikah(PPN) menurt peraturan perundang-undangan yang berlaku. Pasal 5 menegaskan cara dan akibat hukum dari perkawinan yang tidak dilakukan ( tidak dicatat) di hadapan Pejabat Pencatat Nikah : 1) 2) Untuk memenuhi ketentuan Pasal 4 setiap perkawinan dilangsungkan di hadapan Pejabat Pencatat Nikah Perkawinan yang tidak dilakukan sesuai dengan ketentuan ayat (1) Penjelasan dari Pasal 5 ayat(2) menguraikan bahwa: Perkawinan yang tidak dilangsungkan di hadapan Pejabat Pencatat Nikah berakibat suami atau isteri tidak mendapatkan Akta Nikah sebagai bukti autentik perkawinan. Perkawinan yang tidak memiliki alat bukti autentik tersebut menyebabkan suami atau isteri tidak memperoleh perlindungan hukum dalam gugatmenggugat di Pengadilan seperti gugatan perceraian, pembagian harta bersama, nafkah, waris-mewaris atau kepentingan lainnya73 Pada Pasal 6 RUU-HM-PA-BPerkwn merumuskan: (1) (2) (3) (4) Perkawinan dapat dibuktikan dengan Akta nikah yang dibuat oleh Pejabat Pencatat Nikah Dalam hal perkawinan tidak dapat dibuktikan dengan Akta Nikah, dapat diajukan permohonan itsbat nikah ke Pengadilan. Permohonan itsbat nikah sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dapat diajukan dengan alasan hilangnya Akta nikah dan Kutipannya. Perkawinan yang tidak dilaksanakan dihadapan Pejabat Pencatat Nikah dapat di-itsbatkan dengan dikenai sanksi pidana yang ditentukan dalam undang-undang ini. (5) Yang berhak mengajukan permohonan itsbat nikah adalah suami atau isteri, anak-anak mereka, wali nikah, dan pihak yang berkepentingan dengan perkawinan itu. tidak mempunyai kekuatan hukum.

Departemen Agama Republik Indonesia, Rancangan Undang-Undang Hukum Terapan Peradilan Agama Bidang Perkwinan, ( Jakarta : Departemen Agama Republik Indonesia, 2006), hlm.7 dan hlm. 52-53

73

55

Penjelasan Pasal 6 ayat(1) menegaskan bahwa: Kepada masingmasing suami dan isteri diberikan Kutipan Akta Nikah yang dapat digunakan sebagai alat bukti perkawinannya. Sesuai dengan prinsip yang dianut dalam Undang-Undang nomor 1 tahun 1974 tentang Perkawinan, maka undang-undang ini mewajibkan pencatatan perkawinan di hadapan Pejabat Pencatat Nikah untuk menjamin ketertiban administrasi perkawinan dan kepastian hukum bagi para pihak yang melangsungkan perkawinan guna membentuk keluarga sakinah. Kewajiban hukum pencatatan perkawinan membebankan tugas dan wewenang pada PPN untuk mencatat perkawinan dan mengadminstrasikannya dalam Akta nikah dan Buku Pencatatan Rujuk. Selain itu, pencatatan perkawinan merupakan peristiwa penting dari aspek adminstrasi kependudukan, sehingga Akta Nikah merupakan akta autentik dalam sistem administrasi Akta Catatan Sipil berdasarkan undangundang.74 Menurut Neng Jubaidah, kewajiban pencatan perkawinan dalam pasal 5 (2) juncto pasal 6 (4) juncto pasal 143 diatas berakibat perkawinan yang sah menurut agama/ hukun Islam sebagaimana ditentukan pada pasal 2 RUUHM-PA-Bperkwn tahun 2007 menjadi tidak mempunyai kekuatan hukum, atau hukum perkawinan Islam menjadi lemah dan lumpuh yang apabila dikaitkan dengan pasal 3 dalam RUU tersebut berarti memperlemahkan Hukum Perkawinan di Indonesia. Dikaitkan dengan Quran surat an-Nisa: 59 dimana kita diwajibkan taat kepada Allah, taat kepada Rasul secara mutlak, tetapi untuk taat kepada Ulil amri tidak bersifat mutlak karena tidak ada kata athiu. Karenanya terhadap ketentuan hukum yang melemahkan atau melumpuhkan hukum Islam dengan segala akibat hukumnya tidak mesti harus diterima, lebih-lebih apabila ketentuan pencatatan perkawinan dengan menganalogikan dengan walimah, yang oleh jumhur ulama hanya dikategorikan hukumnya sunnah.

74

DepartemenAgama, RUU, hm.51

56

Sungguhpun dalam pasal 143 RUU-HM-PA-Bperkwn kata setiap orang telah dibatasi dengan kata dengan sengaja, tentu pada setiap akad perkawinan pasti ada unsur kesengajaan dari lima orang yang terlibat dalam akad nikah, yaitu kedua mempelai, wali nikah dan dua orang saksi, lalu siapa sesungguhnya yang dikenai hukuman denda dan hukuman kurungan itu? Calon mempelai berdua, wali nikah atau para saksinya? Atau semua unsur yang telibat dalam akad? Di sini timbul pertanyaan bahwa ketentuan hukuman pidana atau denda terkait dengan perkawinan yang tidak dicatat atau dicatatkan itu tanpa ada kreteria tertentu. Dengan batasan unsur dengan sengaja disatu sisi agar tidak terjadi pelanggaran hak asasi orang Islam yang tidak atau belum mencatatkan perkawinannya, disisi lain tidak terjadi kesewenang-wenangan terhadap semua perkawinan tidak dicatat itu dikategorikan sebagai perbuatan pidana sebagaimana ketentuan pasal 151 RUU tersebut. Dari 8 macam bentuk kawin siri diatas yang dapat dikategorikan perlu mendapatkan hukuman denda maupun penjara adalah 1) Nikah siri dilakukan karena terpaksa di mana pihak calon penganten laki-laki tertangkap basah besenang-senang dengan wanita pujiaannya. Karena dengan alasan belum siap dari pihak laki-laki maka untuk menutup aib dilakukanlah kawin siri. 2) Kawin siri dilakukan untuk melegalkan secara agama bagi laki-laki yang sudah beristeri karena kesulitan minta ijin/ tidak berani ijin kepada isteri pertamanya maupun tidak merasa nyaman kepada mertuanya. 3) Kawin siri dilakukan sebagi kedok ataupun ajang traffikcking dengan maksud untuk mendapatkan kesenangan dari pihak perempuan dengan mengabaikan hak-hak perempuan. 4) Nikah misyar, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh pemudapemuda Saudi dengan para janda-janda kaya di Cianjur, Bogor. Praktek pernikahan ini berlangsung atas kesepakatan kedua belah pihak tanpa konsekuensi nafkah. Bagi perempuan hanya dapat mengajak para suami

57

misyarnya untuk sekedar jalan-jalan, memberikan sejumlah imbalan materiil, dan membayar sewa apartemen mereka. 5) perkawinan siri tanpa wali dan tanpa dua saksi, dan juga termasuk perkawinan perempuan yang mempunyai laki-laki piaraan (zawatil akhdan) Dari 5 macam bentuk perkawinan ini, untuk dapat dijerat hukuman tentu harus dikaitkan dengan motifasi perkawinan siri sebagaimana di atas, yaitu: a) Nikah siri karena untuk menutup aib yang sudah terlanjur kumpul kebo. b) Nikah siri, karena kesulitan/tidak berani minta ijin poligami dari pihak isteri c) Nikah siri dilakukan sebagi kedok traffikcking semata untuk mendapatkan kesenangan denganmengabaikan hak-hak perempuan. d) Nikah siri dilakukan justru dari pihak wanita(janda) yang menghendaki untuk bersenang-senang dengan laki-laki, tanpa bermaksud minta nafkah lahiriyah. Menurut Neng Jubaidah75 sejalan dengan peneliti, ketentuan hukuman penjara hendaknya dihapus, cukup hukuman denda saja karena wilayah pelanggaran administrasi, disertai ketentuan kewajiban memberikan restitusi dari pelaku kepada anggota keluarga yang dirugikan. Disisi lain, karena pelanggaran pencatatan nikah ini bukan perbuatan pidana yang telah diatur khusus dalam perspektif hukum Islam, maka hukuman denda ini masuk wilayah hukuman tazir. Hukuman Tazir ialah hukuman yang dijatuhkan atas tindak pelanggaran yang hukumannya tidak diatur sebagaimana jarimah hudud dan qishas. Hukuman tazir banyak sekali macamnya, dimulai dari yang paling ringan sampai hukuman yang berat. Hakim diberi wewenang untuk memilih macam hukumannya sesuai dengan tindak pelanggarannya. Pada prinsipnya hukuman tazir ini oleh syariat Islam memberi pengajaran dan pendidikan, melangar hak-hak dasar manusia.
75

bertujuan untuk

tidak sampai

pada penistaan dan

Neng Jubaidah, Perkawinan,hlm. 273-274.

58

Hukuman denda sebagaimana yang diatur dalam pasal 143, kata paling banyak perlu mendapat perhatian hakim, artinya pelanggaran pencatatan perkawinan sangat perlu dipertimbangan kondisi ekonomi pelaku nikah siri. Di sisi lain ketentuan hukuman denda ini masih dapat diterima karena tidak berakibat buruk terhadap anak yang dilahirkan akibat perkawinan siri. Mereka tetap mendapatkan perlindungan secara ekonomi, psikis, maupun sosiaologis dari ayahnya. Berbeda apabila ayahnya dijatuhi hukuman penjara, maka akibatnya terhadap kehidupan sosial ekonomi dan psikologi anak dan keluarga adalah sangat tidak nyaman dan merugikan. Banyak korban yang akan muncul akibat dari ketentuan pencatatan perkawinan pasal 6 ayat(4) juckto pasal 143 RUU-HM-PA-Bperkwn tahun 2007. Mereka, anak-anak atau isteri maupun anggota keluarga lainnya, tidak mendapatkan perlindungan hukum dari perbuatan yang tidak mereka lakukan. Hukuman penjara adalah bukan penyelesaian bagi masa depan perkawinan siri yang lantas orang tidak berani melakukan kawin siri, lebihlebih bagi masyarakat pedesaan yang tidak mampu dan belum melek hukum di mana kawin siri dilakukan karena biaya dan kesulitan teknis lainnya seperti Kantor KUA yang cukup jauh. Hukuman juga bukan penyelesaian bagi masa depan anak-anak. Dengan perkawinan siri dengan niat disembunyikan pun tidak boleh diartikan mereka sengaja menyembunyikan anak. Anak-anak tetap tidak boleh menjadi korban. Dicontohkan oleh Neng Jubaidah dalam tayangan bimbingan keagamaan Islam pada salah satu setasiun TV pada sekitar awal tahun 2009, salah seorang peserta pengajian, ia sebagai isteri pertama mengemukanan bahwa ketika almarhum suaminya meninggal dunia, ternyata mempunyai anak dari isteri (siri) lainnya, yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui. Isteri pertama tersebut dengan ikhlas menyatakan bahwa ia bersedia membagi harta warisan almarhum suaminya dengan memasukkan isteri kedua beserta anakanak almarhum suaminya sebagai ahli waris bersama-sama dengan dirinya dan anak-anaknya sebagai hasil perkawinan dirinya76
76

Ibid., hlm.346.

59

Bagi pelaku nikah siri sebagaimana tersebut di atas, yaitu: a) b) Nikah siri dilakukan karena kedua belah pihak belum/ tidak punya Nikah siri dilakukan karena kedua belah pihak atau salah satu biaya pendaftaran/pencatatan nikah ke KUA pihak calon mempelai belum siap lantaran masih sekolah/kuliah atau masih terikat dengan kedinasan yang tidak diperbolehkan nikah terlebih dahulu. Dari pihak orang tua pernikahan ini dimaksudkan untuk adanya ikatan resmi dan juga untuk menghindari perbutan yang melanggar ajaran agama, seperti zina. c) Nikah siri dilakukan karena kedua atau salah satu pihak calon mempelai belum cukup umur/dewasa, di mana pihak orang tua menginginkan adanya perjodohan antara kedua sehingga dikemudian hari calon mempelai tidak lagi nikah dengan pihak lain, dan dari pihak calon mempelai perempuan tidak dipinang orang lain. d) Nikah siri dilakukan sebagai solusi untuk mendapatkan anak apabila dengan isteri yang ada tidak dikarunia anak, dan apabila nikah secara resmi akan terkendala dengan undang-undang maupun aturan lain, baik yang menyangkut aturan perkawinan, maupun yang menyangkut kepegawaian maupun jabatan. Apapun alasan yang memungkinkan dilakukan kawin siri disembunyikan dari khalayak ramai itu bukan dalam rangka menentang hukum Allah dan Rasulnya dan bukan pula bermaksud melecehakan hukum Allah, dan juga bukan pula melecehkan Undang-Undang perkawinan. Maka terhadap mereka selayaknya dan seharusnya tidak ditentukan hukumannya penjara, kecuali hukuman denda, karena ia atau mereka memang telah melanggar kewajiban adminsitrasi sebagai warga negara Indonesia dan tidak melanggar perkawinan sah menurut agama. Para pelaku nikah siri pada kretieria 1 sampai dengan angka 3 diatas hendaknya bagi yang belum paham prosedurnya segera diberikan penyuluhan tentang hukum perkawinan dan bagi yang telah siap hendaknya segera melakukan pendaftaran perkawinan ke KUA Kecamatan setempat. Dalam

60

pada itu, proses dan pembiayaan perkawinan di KUA harus transparan biaya resminya dan biaya lain yang terkait, tidak sebagaimana yang terkesan selama ini antara biaya resminya dengan biaya lainnya lebih banyak biaya lainnya. Bahkan wilayah perkotaan dan perdesaan sangat jauh perbedaan biaya adminstrasi perkawinannya. Bagi pelaku nikah siri pada no 4 yaiu poligami tanpa ijin di tentukan oleh pasal 145 RUU-HM-PA-Bperkwn tahun 2007 yang menentukan bagi suami yang melakukan poligami tanpa ijin Pengadilan Agama yang berarti pula tanpa ijin isteri pertama atau isteri terdahulu lainnya, yang ditentukan hukumannya denda paling banyak Rp. 6.000.000.00 (enam Juta rupiah) atau hukuman kurungan paling lama 6 (enam) bulan adalah bukan solusi terbaik dalam membina setiap keluarga muslim di Indonesia. Jika suami dikenakan hukuman penjara, lalu siapa yang akan memberikan nafkah untuk isteri-isteri dan anak-anak mereka? Apakah hukuman seperti ini yang dikehendaki untuk mewibawakan perkawinan, meningkatkan martabat perempuan, dan untuk melindungi anak. Menurut Neng Jubaidah,77 perlindungan lembaga Perkawinan, meningkatkan martabat perempuan dan melindungi anak dapat dilakujkan dengan : 1. Membuat aturan yang mempermudah dan mempermurah perkawinan 2. Pelayanan yang transparan, menyenangkan dan manusiawi 3. Melakukan pendidikan kepada orang Islam lebih-lebih di pedesaan mengenai pentingnya pencatatan perkawinan bagi dirinya dan keluarganya 4. Menggalakkan sosialisasi kembali Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 karena masih banyak warga muslim yang belum paham benar tentang tatacara perkawinan, sementara udang-undang perkawinan sebagai ijtihad baru, banyak yang tidak sejalan dengan isi kitab mazhab Syafii yang notabene diajarkan di pesantren dan sebagai rujukan pula oleh sebagian besar umat Islam.
77

pencatatan

Neng Jubaidah, Ibid., hlm. 367.

61

5. Dalam sosialisasi ini perlu menggandeng lembaga negara yang terkait maupun menggandeng LSM bidang hukum, Agama dan Lembaga perlidungan yang konsen terhadap Perempuan dan anak. Di sisi lain, untuk menentukan denda bagi pelaku nikah siri perlu kriteria yang jelas unsur tindak pidana dan jenis deliknya sebagai berikut: 1. Perkawinan dengan sengaja bertujuan untuk menyembunyikan perkawina agar tidak diketahui oleh orang lain dan/atau oleh orang tertentu di wilayah tertentu dan/atau lingkungan tertentu dan/ atau masyarakat pada umunya. 2. Perkawinan yang disembunyikan tersebut menyebabkan dan/atau mengakibatkan terjadinya penderitaan dan kesengsaraan lahir dan batin bagi isteri/suami dan anak-anak yang di buahkan dan dilahirkan dalam dan akibat perkawinan yang sah sesuai Hukum Islam, baik pada perkawinan monogami maupun poligami 3. Jenis deliknya harus delik aduan. Dengan delik aduan ini, maka untuk menentukan seseorang melakukan pelanggaran ketentuan pencatatan perkawinan (perkawinan siri) yang dapat dipidana denda adalah masuknya paling tidak memenuhi 5 unsur a. Perkawinan dengan sengaja ditujukan untuk disembunyikan b. Terbukti atau minimal ada bukti awal bahwa perkawinan itu merugikan kaum perempuan dan anak-anak. c. Terbukti perkawinan poligami yang dilakukan suami menyengsarakan kaum perempuan dan anak yang dilahirkan dari perkawinan terdahulu hingga perkawinan selanjutnya. d. Orang yang dapat melakukan pengaduan kepada pihak berwenang ditentukan hanya; 1) isteri 2) suami 3) anak-anak yang lahir dari hasil seluruh perkawinan yang bersangkutan 4) anggota keluarga sedarah lainnya, atau

62

5) pihak lain yang dirugikan oleh perkawinan yang dengan sengaja disembunyikan tersebut. e. Hukuman hanya hukuman denda disertai dengan kewajiban pembayaran restitusi dari pelaku kepada isteri/suami dan anak/atau anak-anak yang dirugikan. Jalan lain untuk menyelesaiakan problem nikah siri baik karena poligami maupun monogami adalah itsbat nikah. Karenanya itsbat nikah tidak perlu ada ketentuan hukuman penjara. Keduduikan anak sebagai anak sah sesuai hukum Islam tetapi tidak berkedudukan sebagai anak sah yang mempunyai kekuatan hukum karena perkawinan orang tuanya belum dicatat. Jika perkawinan orang tanya diajukan itsbat nikah, maka setelah perkawinan itu memenuhi pasal 6 ayat (4) yang megatur tentang nikah siri dapat diajukan itsbat nikah dengan dikenai sanksi pidan, juckto pasal 143 RUU-HM-PABperkwn tahun 2007, yaitu orang tuanya mendapatkan hukuman denda atau hukuman penjara, maka kedudukan anak yang semula tidak berkedudukan hukum yang kuat, dapat berubah menjadi anak yang berkedudukan hukum yang kuat, setelah itsbat nikah ditetapkan oleh Pengadilan Agama. Yang dipersoalan apakah berkedudukan hukum yang kuat secara administrasi negara itu, berakibat membatalkan/tidak mengakui perkawinan sah menurut agama sehingga anaknya tidak sah. Anak sah dan tidak sahnya bukan hanya sekedar diakui oleh Undang-Undang, tetapi lahir karena proses perkawian dan proses terjadinya anak dengan cara yang benar menurut agama. Lalu, bagaimana kalau anak itu dinyatakan oleh Undang-Undang anak yang tidak sah, padahal menurut hukum Islam anak yang sah? Siapa yang berani bertanggung jawab di hadapan hukum Islam(Allah) dengan mentelantarkan nasib anak yang menurut Hukum Islam anak sah? Aturan-aturan tersebut bertentangan dengan hukum Islam dan inkonstitusional karena bertentangan dengan pasal 1 ayat (3) juncto pasal 29 ayat (1), pasal 29 ayat (2) UUD tahun 1945 Dan menghalangi kedudukan dan hak-hak anak sah menurut hukum Islam, lebih-lebih bila diterapkan kepada semua bentuk dan alasan nikah siri.

63

Dalam pada itu hendaknya aturan- aturan itsbat nikah justru lebih diberikan peluang dengan cara: a) Itsbat nikah tidak perlu dibatasi pada alasan-alasan tertentu saja, tetapi tentukan peluang leluas-luasnya bagi para pihakyang berkepentingan. b) Hak untuk mengajukan permohonan itsbat nikah hendaknya juga dapat dilakukan oleh isteri yang lain,dalam hal suami poligamai,untuk keperluan tuntutan isteri terdahulu dalammelaksanakan hak-aknyadan kewajibankewajibannya. c) Alat bukti nikah, jika dalam perkara sengketa(kontentiosa) harus dibuktikan terlebih dahulu adanya perkawinan sah tidak/belum dicatat, sehingga tidak semata-mata alat buki akta nikah d) Alat bukti nikah hendaknya dapat menggunakan alat bukti lain, misalnya saksi-saksi dan /atau pegakuan para pelaku perkawinan yang sah sesuai hukum Islam Langkah lain, pemerintah bersama-sama masyarakat hendaknya secara bersama melakukan langkah positip untuk mengatasi nikah siri ini di antaranya dengan perkawinan massal tanpa biaya. Dan perkawinan massal ini realitasnya sering dilakukan oleh Kementerian Agama bekerja sama dengan masyarakat sebagai solusi positif menjembatani nikah siri. D. Pandangan Ulama, Praktisi Hukum dan Akademisi Dari beberapa pendapat Ulama, cendekiawan muslim dan kalangan praktisi hukum di atas dapat diklasifikasi dan dianalisis bahwa macam kawin siri di bagi menjadi 2 macam, sebagai berikut: 1. Kawin siri yang berarti perkawinan diam-diam tanpa saksi tanpa dipubliksikan dan tanpa di catatkan dalam catatan resmi. Dalam hal ini secara garis besarnya mereka sepakat tidak sah, dengan alasan tidak terpenuhi rukunnya, yaitu saksi dan wali. Hal ini sejalan kesepakatan ahlul ilmi dari kalangan sahabat Nabi dan Tabiin. Perkawinan siri semacam ini adalah sejenis perkawinan pelacur karena tanpa wali dan tanpa dua saksi, dan juga termasuk perkawinan

64

perempuan yang mempunyai laki-laki piaraan (zawatil akhdan). Perbuatan tersebut adalah haram berdasarkan al-Maidah, ayat 5

(Dan dihalalkan mangawini) wanita yang menjaga kehormatan diantara wanita-wanita yang beriman dan wanita-wanita yang menjaga kehormatan di antara orang-orang yang diberi Al Kitab sebelum kamu, bila kamu Telah membayar mas kawin mereka dengan maksud menikahinya, tidak dengan maksud berzina dan tidak (pula) menjadikannya gundik-gundik). Ketika Ibnu Taimiyah menjawab pertanyaan dari seseorang mengenai seorang laki-laki yang menikahi seorang perempuan dengan cara mushafahah atau nikah siri, yaitu perkawinan tanpa wali dan tanpa saksi, dengan mas kawin 5 dinar, setiap tahun setengah dinar, dan ia telah tinggal bersamanya dan mencampurinya menurut kesepakatan para imam adalah batil.78 Sayyid Sabiq juga menegaskan bahwa kawin siri, yaitu perkawinan yang tanpa saksi hukumnya haram karena tidak memenuhi
Ibnu Taimiyah, Hukum-hukum Perkawinan ( Ahkamuz ziwaj), terj. Rusman Yahya, cet.1, ( Jakarta: Pustaka la-Kautsar,1007), hlm.202
78

65

syarat dan rukun perkawinan.79 Karena termasuk perkawinan batil, maka perkawinan siri tanpa wali dan saksi itu menurut hukum Islam adalah tidak sah. Jika mereka tetap melanjutkan kehidupan perkawinanya termasuk melakukan zina, maka layak dikenai hukuman had (cambuk). Hadis riwayat Imam Syafii dan Daruqutni dari Ikrimah bin Khalid menceriterakan: Pernah terjadi di jalan penuh kendaraan, kemudian ada seorang perempuan janda di antara mereka yang menyerahkan urusan dirinya kepada seorang laki-laki yang bukan walinya, lalu laki-laki itu menikahinya. Kemudian sampailah hal itu kepada Umar, maka Umar menjilidnya (mendera) orang yang kawin dan orang yang mengawinkannya serta membatalkan pernikahannya80 Imam Malik berpandangan bahwa adanya pesan untuk merahasiakan pernikahan telah mencabut kesaksian dari ruh dan tujuan disyariatkannya, yaitu publikasi (ilaan). Perlu ditegaskan di sini bahwa Imam Malik berpendapat kedudukan saksi dalam akad perkawinan adalah tidak wajib ( bisa cukup dengan ilaan), tetapi kehadiran dua orang saksi itu wajib dikala suami bermaksud mencampuri isterinya. Jika suami melakukan hubungan seksual dengan isterinya sebelum ia menghadirkan dua orang saksi, maka akad perkawinannya harus dibatalkan secara paksa dan pembatalan perkawinan ini sama kedudukannya dengan talak81. Dalam pada itu, imam Malik tidak membenarkan adanya nikah siri yang dengan sengaja menyembunyikan pernikahannya baik terhadap isterinya, keluarganya maupun para tetangganya. Apabila tertjadi nikah siri harus dibatalkan. Mereka dikenai sanksi pidana sebagaimana pidana perzinaan. Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dimaksudkan perkawinan siri yang menurut hukum Islam tidak sah adalah kawin siri
79 80

Sayyid Sabiq, Fikih Sunnah, ( Semarang: Toha Putra, t.t.), juz 2, hlm. 197 Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm. 155

81 Muhammad Jawad Mughniyah, Fiqih Lima Mazhab, diterjemahkan oleh Masykur A.B. Afif Muhammad, dan Idrus al-Kaff,cet.1 (jakarta: Lentera Basritama, 1996),hlm. 34

66

yang tidak ada saksi tidak ada wali dan tidak diilaankan baik terhadap isterinya, keluarganya maupun para tetangganya. Karena itu Jika mereka tetap melanjutkan kehidupan perkawinanya termasuk melakukan zina, maka layak dikenai hukuman had (cambuk). Kawin siri semacam ini hukumnya haram karena sama dengan samen leven atau kumpul kebo, sungguhpun kumpul kebo juga berbeda dengan pelacuran. 2. Kawin siri yang berarti perkawinan yang syarat rukuNnya secara agama terpenuhi seperti wali, saksi dan maskawin, cuma belum dicatat secara resmi sesuai peraturan negara yang berlaku, yang berarti perkawinan yang memenuhi syarat dan rukunnya secara agama seperti wali, saksi dan maskawin, cuma belum dicatat secara resmi sesuai peraturan negara yang berlaku. Bahasa lain, pernikahan yang terpenuhi semua rukun dan syarat yang ditetapkan dalam fiqih (hukum Islam) namun tanpa pencatatan resmi di Instansi resmi yang berwenang sebagaimana diatur dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku. Bentuk perkawinan kedua ini, secara garis besarnya dalam perkembangan pemikiran ulama, cendikiawan muslim dan praktisi hukum Islam, yang sebelum ada aturan hukum perkawinan yang menentukan adanya pencatatan nikah sepakat bahwa hukumnya sah, tetapi setelah adanya aturan pencatatan nikah ketentuan hukumnya terbelah 2 (dua) 1) Hukumnya sah, karena tidak ada ayat atau sunah yang memerintahkan pencatatan perkawinan. Selama ada dua orang saksi- tetap dinilai sah oleh agama. Bahkan seandainya dua orang saksi itu diminta untuk merahasiakan pernikahan yang dilaksanakan itu, maka perkawinan tetap dinilai sah sejalan pandangan pakar hukum Islam Syafii dan Abu Hanifah. Dan ditegaskan pula Kawin siri dengan pengertian kedua ini sah menurut agama, seperti dapat dilihat dari kitab-kitab fikih dan menurut UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat (1): Perkawinan adalah sah apabila dilakukan menurut hukum masingmasing agamanya dan kepercayaannya itu. Jadi, dalam UU tersebut pun mengesahkan perkawinan siri. perkawinan ini tidak bertentangan

67

dengan

agama,

karena

sebagai

orang

yang

beragama

telah

melaksanakan perkawinan sesuai dengan aturan agama. Tinggal sebagai warga negara, peraturan negara. 2) Hukumnya tidak sah dengan alasan a. Dinilai ganjil pandangan yang membolehkan perkawinan tanpa memenuhi persyaratan hukum negara dianggap sah tetapi mengabaikan hak-hak dan kewajiban sebagai suami isteri b. Perkawinan yang dilaksanakan di luar pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatat nikah tidak memilki kekuatan hukum dan dianggap tidak sah di mata hukum. Perkawinan di bawah tangan berdampak sangat merugikan bagi isteri dan perempuan umumnya, baik secara hukum maupun sosial. c. d. Karena madharat mengabaikan hak-hak dan kewajiban menempatkan pencatatan perkawinan sebagai syarat sah sebagai suami isteri dilakukan dengan penarapan Ijtihad Insyai (Ijtihad bentuk baru) Dari sini dapat dipahami bahwa pendapat mereka tidak mengesahkan perkawinan siri ini dengan menyamakan pencatatan dengan ilaan nikah dan walimah dengan illat hukum madharat sesuai peraturan negara yang berlaku. Landasan berpikir mereka bahwa perkawinan yang tidak dicatatkan, tidak mempunyai kekuatan hukum berdampak madharat, yaitu mengabaikan hak-hak dan kewajiban sebagai suami isteri, yang berdampak sangat merugikan bagi isteri dan perempuan umumnya; serta anak baik secara hukum maupun sosial. Dampak negatif itu antara lain : Tidak diakui hak-hak keperdataan isteri; tidak dianggap sebagai suami isteri; tidak berhak atas nafkah; tidak berhak atas warisan jika suami meninggalkan dunia; dan tidak berhak atas harta gono-gini jika terjadi perpisahan dengan isteri. Karena adanya madharat itu maka pencatatan perkawinan harus dilihat sebagai bentuk baru cara mengumumkan pernikahan (Ilaan) apakah sudah melaksanakan perkawinan sesuai

68

Metode yang digunakan untuk menetapkan hukum pencatatan perkawinan sebagai salah satu rukun nikah dengan beristidlal: 1. 2. 3. maslahah mursalah qiyas. saddan lidz- dzariah pencatatan nikah dengan Ilaan nikah dengan illat tidak tepat karena sudah disepakati para ulama kemudian cabangnya yang akan dihukumi

Mengqiyaskan

hukum madharat adalah

bahwa hukum ilaan nikah adalah sunah. Jadi kalau ilaan nikah sebagai pokoknya, hukumnya sunah peristiwa pencatatan nikah, maka kesimpulan hukumnya justru pencatatan nikah hukumnya sunah, karena hukum pokoknya sunah. Bila diqiyaskan dengan jual-beli/ bermuamalah sebagaimana diatur dalam al-Baqarah, ayat 282 juga tidak tepat, sebab pencatatan bukti utangpiutang atau bermuamalah itu menurut jumhur hukumnya sunah. Jadi kesimpulan hukumnya juga sama bahwa pencatatan nikah hukumnya sunah. Dalam pada itu, perkawinan yang memenuhi rukun dan syarat nikah adalah perbuatan sah, bukan batil, maka sangat layak bila diumumkan/diilankan melalui pesta perkawinan sebagai tanda syukur dan menghindari fitnah. Tetapi karena ilaan nikah itu hukumnya sunnah, maka implementasi dalam perundang-undangan berupa pencatatan perkawinan dengan metode qiyas ditetapkan sebagai sesuatu yang wajib adalah tidak tepat. Pencatatan perkawinan tidak dapat menghapus perkawinan yang sah karena telah memenuhi sarat dan rukun pernikahan. Pandangan yang menyatakan perkawinan yang dilaksanakan di luar pengetahuan dan pengawasan pegawai pencatat nikah tidak memilki kekuatan hukum dan dianggap tidak sah di mata hukum adalah tidak obyektif dan kajian tidak mendalam, sebab pernikahan semacan ini jelas sah dimata hukum agama maupun hukum negara, dan jelas tidak berdosa karena tidak melanggar aturan agama.

69

Maslahah sebagai metode istidlaal diartikan: suatu faktor penyebab yang mengantarkan pada maksud pembuat hukum baik yang berkaitan dengan ibadah maupun muamalah. Dengan kata lain faktor penyebab adanya hukum baru yang membawa kebaikan dan manfaat. Metode yang dipakai adalah menggunakan takhshiis dan tabyin ( bayan) terhadap nas yang bersifat umum, yaitu ilan nikah Dalam menggunakan maslahah sebagai metode untuk menetapkan hukum baru tehadap tidak sah nikah siri atau tidak mempunyai kekuatan hukum, terlebih dahulu, apakah maslahah yang dipakai standar itu masuk pada maslahah muktabarah dan bersifat dharuri sehingga menjadi satu faktor penyebab adanya hukum baru yang ditetapkan dengan cara takhshiis dan yabyiin sehingga mengantarkan maksud pembuat hukum untuk kebaikan dan kemaslahatan umum? Lalu, bagaimana realitas kemaslahatan yang ada (bukan asumsi). Di sini, perlu diorientasikan kajian mendalam, lebih banyak mana antara manfaat dan madharatnya? Untuk menggunakan metode maslahah dengan cara takhshis terhadap syarat dan rukun nikah, khusus umat Islam Indonesia perkawinannya harus dicatakan dengan menambahkan sebagai rukun nikah, atau dengan cara tabyiin dari kata ilaan yang berarti diumumkan menjadi dicatakan dengan alasan menghindarkan madharat dan lebih maslahah belum masuk pada maslahah mutabarah karena belum diakui oleh nas baik al-Quran maupun al-Hadis dan belum ada ijma. Kalau memang tidak ada nas yang mengaturnya tentang pencatatan nikah, tentu untuk masuk maslahah muktabarah harus terlebih dahulu ada Ijma bila diberlakukan untuk umum, minimal ada fatwa hukum dari majelis Ulama Indonesia (MUI) Di sisi lain belum bersifat dharuri karena bukan merupakan kebutuhan pokok dalam akad perkawinan, karena realita perkawinan siri tidak otomasis dan serta-merta membawa madharat dan tidak maslahah. Nikah siri menjadi praktek jamak atau lazim dan diterima masyarakat karena memang nikah siri adalah sah menurut ajaran agama. Seperti tertulis di atas,

70

desa nikah siri, desa Cingarancang, Kabupaten Cirebon, dari 2000 penduduk sebanyak 60 % atau sekitar 1200 penduduk melakukan nikah siri Jamaluddin Marpaung nikah dengan isteri yang kedua dilakukan dengan nikah siri. Dalam kehidupan perkawinan dan rumah tangganya, meskipun isteri kedua Jamaluddin dengan nikah siri, mereka tetap rukun dan damai tidak saling merendahkan, dan tidak ada masalah, dan tidak dicemohkan oleh masyarakat sehingga kehidupan perkawinan dan rumah tangganya berjalan baik, anak-anak mereka tetap bersekolah dan berprestasi sehingga tujuan perkawinan sakinah mawaddah tercapai. Sisi lain, sering didengar berita, baik melalui layar kaca maupun berita media massa betapa banyak para artis, politisi, berokrat yang melaksanakan perkawinan dengan resmi, dengan pesta perkawinan yang meriah, melebihi tuntunan Agama, dengan undangan ribuan orang, dengan disertai hiburan tetapi gagal dalam membentuk keluarga bahagia, sakinah ma waddah wa rahmah. Seperti juga kasus Joko Prasetyo Waki Wali Kota Magelang yang didesak masyarakat agar mundur dari jabatannya karena melakukan KDRT terhadap isterinya yang dinikah secara resmi.82 Karena itu, pencatatan perkawinan bukan otomatis madharat mengabaikan hak-hak dan kewajiban sebagai suami isteri, yang berdampak sangat merugikan bagi isteri dan perempuan umumnya, serta anak baik secara hukum maupun sosial. Tidak ada hubungan yang segnifikan antara kebahagian dengan peristiwa catatan perkawinan. Indikasi ketecapaian keluarga bahagia minimal ditandai dengan 5 indikator: a) b) c) d) e) 5:
82

Menciptakan suasana keagamaan Adanya pembinaan dan pendidikan keluarga Terciptanya kesehatan keluarga Ekonomi keluarga yang stabil Hubungan inter dan antar keluarga harmonis di tandai dengan SM

Suara Merdeka, 10 Dsember 2012,hlm 31.

71

1) 2) 3) 4) 5)

Saling mengerti Saling memahami Saling menghargai Saling mempercayai dan Saling mencintai

Peneliti sependapat bahwa istidlal mnggunakan metode saddan lidzdzariah pada kasus pencatatan nikah dengan tujuan agar terjamin ketertiban perkawinan bagi masyarakat Islam di Indonesia, sejalan undang-undang Perkawinan nomor 1 Tahun 1974. Hanya saja peneliti menguslkan agar Pencatatan perkawinan tidak termasuk salah satu rukun nikah, tetapi sebagai kewajiban hukum adminstrasi belaka bagi warga negara. Kewajiban pencatatan ini tidak bisa membatalkan atau tidak mengesahkan perkawinan. Bahwa Pencatatan perkawinan adalah peristiwa penting, tetapi bukan peristiwa hukum karena itu tidak bisa menggugurkan atau membatalkan perkawinan. Jelas bahwa dalam UU No 23 Tahun 2006 tentang Adminsitasi Kependudukan, peristiwa penting adalah kejadian yang dialami seseorang meliputi kelahiran, kematian, kewarganegaraan. Sama halnya Pesta Perkawinan adalah peristiwa penting, tetapi bukan peristiwa hukum, dan bukan pula menjadi syarat hukum. Pencatatan perkawinan bukan satu-satunya alat bukti adanya perkawinan atau keabsahan perkawinan. Benar, akta nikah dan pencatatan nikah adalah sebagai alat bukti adanya pernikahan, tetapi bukan satu-satu alat bukti yang menentukan. Yang menentukan keabsahan suatu perkawinan adalah perkawinan menurut agama. Fungsi dan kedudukan pencatatan perkawinan adalah untuk menjamin ketertiban hukum (legal order) sebagai instrumen kepastian hukum. Dalam pada itu, jika pasangan yang telah melakukan perkawinan yang sah menurut agama, telah sah pula menurut negara. perkawinan, perceraian, pengakuan anak, pengesahan anak, pengangkatan anak, perubahan nama dan perubahan status

72

Dalam memahami status hukum perkawinan dalam Islam Indonesia, harus diketahui terlebih dahulu asas legalitas yang mendasari keberlakuan hukum perkawinan bagi orang Islam Indonesia. Asas legalitas berarti setiap perbuatan hukum harus atau wajib mempunyai dasar hukum tertentu yang telah ada sebelum perbuatan hukum itu dilakukan. Karena itu suatu perbuatan hukum yang sah mengandung makna bahwa hubungan hukum dan akibat hukum menjadi sah pula. Perkawinan sebagai peristiwa hukum ditentukan oleh ajaran agama. Dalam pada itu, pencatatan perkawinan tidak perlu dipaksakan sebagai alasan untuk mengkriminilasikan pelaku nikah siri karena pencatatan nikah tidak mempunyai akibat hukum, dan tidak bisa mengesampingkan sahnya perkawinan yang telah dilakukan menurut syariat agama. Hanya karena belum dicatat, maka cukup dilakukan pencatatan, dan tidak perlu diharuskan mengulang akad nikahnya. Perlakuan Pencatatan ini sebatas perkawinan sesuai peraturan negara? RUU hukum Materi Peradilan Agama Bidang Perkawinan yang nota bine dibuat oleh para ahli hukum Islam yang mengkriminalisasikan orang Islam yang melakukan perkawinan berdasarkan Hukum Islam (nikah Siri) sebagai ibadah, tetapi dapat dipidana adalah melanggar asal legalitas. Ijtihadnya para ahli hukum Islam ini nampaknya diwarnai dengan pemikiran leberalisai dan pemikiran sekularisme hukum Islam, yang akarnya dapat dilacak dari teori At-Tufi, bahwa apabila nas bertetangan dengan akal, maka akal didahulukan dari pada nas. Dalam hal akad perkawinan siri yang belum dicatakan memang belum tunduk pada undang-undang, tetepi ketundukan kepada undang dengan ketundukan agama tentu di dahulukan ketundukan terhadap agama, karena tunduk kepada aturan negara sepanjang tidak menyalahi aturan agama. Aturan negara tidak bisa begitu saja tetap mengenyampingkan aturan dan kaidah-kaidah Islam bagi orang-orang Islam, tetapi bagaimana aturan negara itu mengatatur warga negaranya terjamin hak asasinya dalam merealisakan ajaran agamanya. yang bersangkutan sebagai warga negara yang tidak terlepas untuk melaksanakan

73

Dengan menggunakan metode saddan lidz- dzariah sebagai langkah preventif, peneliti tidak menafikan bahkan sangat mendukung pencatatan perkawinan sebagai solusi sehubungan dengan kewajiban orang Islam sebagai warga negara Indonesia, tetapi agar tidak menafikan hukum Islam dan tidak pula menjadikan pencatatan perkawinan sebagai salah satu rukun nikah yang akibat hukumnya bertentangan dengan hak asasi umat Islam. Perkawinan siri yang memenuhi sarat dan rukun sesuai syariat Islam adalah sah, dan tetap mempunyai kekuatan hukum, sekalipun belum dicatat, tinggal hendaknya diberikan keleluasaan tanpa diancam pidana untuk mencatatkan perkawinannya ke KUA sebagai kewajiban bagi setiap warga negara Indonesia. Kecuali jika terjadi sengketa perkawinan, maka Pengadilan Agama harus terlebih dahulu menetapkan itsbat nikah. Kewajiban pencatan perkawinan dalam pasa 5 (2) juncto pasal 6 (4) juncto pasal 143 di atas berakibat perkawinan yang sah menurut agama/hukun Islam sebagaimana ditentukan pada pasal 2 RUU-HM-PA-Bperkwn tahun 2007 menjadi tidak mempunyai kekuatan hukum, atau hukum perkawinan Islam menjadi lemah dan lumpuh. Yang apabila dikaitkan dengan pasal 3 nya dalam RUU tersebut berarti memperlemahkan Hukum Perkawinan di Indonesia yang justru menjadi agenda bagi kita untuk mengimplementasikan hukum Islam sesuai koridor negara pancasila ini. Dengan pencatatan perkawinan tanpa ancaman pidana, dimaksudkan agar tidak terjadi kesewenang-wenangan terhadap semua macam perkawinan siri di kategorikan sebagai tindak pidana sebagaimana telah diuraikan pada bab sebelumnya. Dari 8 macam bentuk kawin siri diatas yang dapat dikategorikan perlu mendapatkan hukuman denda maupun penjara adalah 1) Nikah siri dilakukan karena terpaksa di mana pihak calon penganten laki-laki tertangkap basah besenang-senang dengan wanita pujiaannya. Karena dengan alasan belum siap dari pihak laki-laki maka untuk menutup aib dilakukanlah kawin siri.

74

2)

Kawin siri dilakukan untuk melegalkan secara agama bagi laki-laki

yang sudah beristeri karena kesulitan minta ijin/ tidak berani ijin kepada isteri pertamanya maupun tidak merasa nyaman kepada mertuanya. 3) Kawin siri dilakukan sebagi kedok ataupun ajang traffikcking dengan maksud untuk mendapatkan kesenangan dari pihak perempuan dengan mengabaikan hak-hak perempuan. 4) Nikah misyar, yaitu pernikahan yang dilakukan oleh pemudapemuda Saudi dengan para janda-janda kaya di Cianjur, Bogor. Praktek pernikahan ini berlangsung atas kesepakatan kedua belah pihak tanpa konsekuensi nafkah. Bagi perempuan hanya dapat mengajak para suami misya-rnya untuk sekedar jalan-jalan, memberikan sejumlah imbalan materiil, dan membayar sewa apartemen mereka. 5) perkawinan siri tanpa wali dan tanpa dua saksi, dan juga termasuk perkawinan perempuan yang mempunyai laki-laki piaraan( zawatil akhdan) Dari 5 macam yaitu: a) Nikah siri karena untuk menutup aib yang sudah terlanjur kumpul kebo. b) Nikah siri, karena kesulitan/tidak berani minta ijin poligami dari pihak isteri c) Nikah siri dilakukan sebagi kedok traffikcking semata untuk mendapatkan kesenangan denganmengabaikan hak-hak perempuan. d) Nikah siri dilakukan justru dari pihak wanita( janda) yang menghendaki untuk bersenang-senang dengan laki-laki, tanpa bermaksud minta nafkah lahiriyah. Ketentuan hukuman penjara Pasal 143 dan Pasal 151 hendaknya dihapus, disertai ketentuan kewajiban memberikan restitusi dari pelaku kepada anggota keluarga yang dirugikan. Pelanggaran pencatatan nikah ini bukan perbuatan pidana yang telah diatur khusus dalam perspektif hukum bentuk perkawinan ini, untuk dapat dijerat hukuman tettu harus dikaitkan dengan motifasi perkawinan siri sebagaimana di atas,

75

Islam, maka hukuman denda ini masuk wilayah hukuman tazir, dengan tujuan untuk memberi pengajaran dan pendidikan yang mampu memberikan efek jera. Hukuman tazir ini hukuman yang berat. dimulai dari yang paling ringan sampai Hakim diberi wewenang untuk memilih macam

hukumannya sesuai dengan tindak pelanggarannya. Hukuman denda sebagaimana yang diatur dalam pasal 143, kata paling banyak perlu mendapat perhatian hakim, artinya pelanggaran pencatatan perkawinan sangat perlu dipertimbangan kondisi ekonomi pelaku nikah siri. Di sisi lain ketentuan hukuman denda ini masih dapat diterima karena tidak berakibat buruk terhadap anak yang dilahirkan akibat perkawinan siri. Mereka tetap mendapatkan perlindungan secara ekonomi, psikis, maupun sosiaologis dari ayahnya. Berbeda apabila ayahnya dijatuhi hukuman penjara, maka akibatnya terhadap kehidupan sosial ekonomi dan psikologi anak dan keluarga adalah sangat tidak nyaman dan merugikan. Banyak korban yang akan muncul akibat dari ketentuan pencatatan perkawinan pasal 6 ayat(4) juckto pasal 143 RUU-HM-PA-Bperkwn tahun 2007. Mereka, anak-anak dan atau isteri maupun anggota keluarga lainnya, tidak mendapatkan perlindungan hukum dari perbuatan yang tidak mereka lakukan. Hukuman penjara adalah bukan penyelesaian bagi masa depan perkawinan siri yang lantas orang tidak berani melakukan kawin siri, malahan akan membuka luas pintu masuk kempul kebo. lebih-lebih bagi masyarakat pedesaan yang tidak mampu dan belum melek hukum di mana kawin siri dilakukan karena biaya dan kesulitan teknis lainnya seperti Kantor KUA yang cukup jauh. Biaya membengkat tidak sesuai aturan. Biaya diluar aturan yang ada ini oleh M.Yasin mantan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi yang kini menjabat Irjen Kemenag, menegaskan biaya tambahan baik diberikan dengan ikhlas maupun tida ikhlas tatap termasuk suap dan grafitasi, yang muaranya sama denga korupsi. Pegawai Negeri atau Penyelenggara negara tidak boleh menerima hadiah apapun dalam tugasnya83.
83

Suara Merdeka, 30 Desember 2012

76

Kesalahan tidak memberikan hukuman pidan lebih baik dari pada memberikan hukuman pidana ternyata salah dan menyalahi syariat Islam. Perlu ditegaskan bahwa Nikah secara agama adalah merupakan kesalahan dan pelanggaran. Yang perlu diperbaikiadalah parapelaku dalam proses pernikahan itu, dengan menyadarkan dan memberikan tausiyah bahwa pernikahan adalah perjanjian dengan TuhanYang Maha Esa secara langsung. Dengan demikian meskipun tidak dicatat dalam lembaran tertentu, namun mereka sadar bahwa perkawinan itu ada dalam catatan Tuhan. Yang berarti perjanjian itu sudah diabadikan hingga kelak di hari kebangkitan, dimana perjanjian yang sudah dibuat itu akan dimintai pertanggung jawabannya.

BAB VI PENUTUP A. Kesimpulan

77

1. Nikah siri menjadi praktek jamak atau lazim dan diterima masyarakat, seperti desa Cingarancang, Kabupaten Cirebon, dari 2000 penduduk Dari dua macam hukum nikah siri, yaitu yang tidak sah dan yang sah menurut agama, dalam pelaksanaannya terbagi menjadi 8 macam bentuk nikah siri. Lazimnya nikah siri yang sah menurut agama di masyarakat karena beberapa faktor: a. Ajaran agama dan sikap pemahaman keagamaan masyarakat b. Masih terbuka luas nikah siri sesuai dengan Undang-Undang Perkawinan No. 1 Tahun 1974 pasal pasal 2 ayat (1) c. biaya nikah yang tidak transparan, cenderung tidak sesuai tarip d. Pelayanan yang kurang memadai baik sumber daya manusianya maupun berokrasi lingkungannya 2. Garis besar dalam perkembangan pemikiran ulama, mereka sepakat bahwa kawin siri yang memenuhi sarat dan rukun perkawin hukumnya sah, tetapi setelah adanya aturan pencatatan nikah ketentuan hukumnya terbelah 2 (dua). a. Bagi yang berpendapat nikah siri hukumnya sah lantaran tidak ada ayat atau sunah yang memerintahkan pencatatan perkawinan. Selama ada dua orang saksi-tetap dinilai sah oleh agama dan sejalan dengan UU Perkawinan Nomor 1 Tahun 1974 pasal 2 ayat(1). Sebagai orang yang beragama telah melaksanakan perkawinan sesuai dengan aturan agama. Tinggal sebagai warga negara, perlu melaksanakan perkawinan sesuai peraturan negara. b. Bagi yang berpendapat hukum nikah siri tidak sah dan tidak memiliki kuatan hukum berargumentasi dengan beristidlal menggunakan metode qiyas dengan ilan dan walimah nikah, maslahah mursalah dan saddu adz-dzariah dengan berasumsi bahwa nikah siri membawa madharat baik bagi isteri maupun anakanaknya baik menyangkut hak keperdataan maupun sosial. sebanyak 60 % atau sekitar 1200 penduduk melakukan nikah siri

78

3. Mengkriminilasikan pelaku nikah siri melalui Ketentuan hukuman penjara Pasal 143 dan Pasal 151 perlu dihapus, disertai ketentuan kewajiban memberikan restitusi dari pelaku kepada anggota keluarga yang dirugikan. Pelanggaran pencatatan nikah ini bukan perbuatan pidana yang telah diatur khusus dalam prespektif hukum Islam. Alasannya, beritidlal dengan menggunakan qiyas pada ilan nikah dan walimah relevan, karena ilan dan walimah nikah hukumnya sunah. Melalui metode maslahah mursalah alasan madharatnya masih sebatas asumsi dan tidak muktabarah karena bertentangan dengan dalil nas sarih. Karena itu tidak tepat pencatatan perkawinan dimasukkan salah satu rukun nikah, yang apabila tidak terpenuhi akad perkawinan tidak sah. 4. Pelaku nikah siri dimungkinkan dikenai pidana hukuman tazir berupa pidana denda dengan tujuan untuk memberi pengajaran dan pendidikan yang mampu memberikan efek jera. Hukuman penjara bukan menutup pintu bagi masa depan perkawinan siri yang lantas orang tidak berani melakukan kawin siri, melainkan justru membuka luas pintu kempul kebo. 5. Tidak menafikan bahkan sangat mendukung pencatatan perkawinan sebagai solusi sehubungan kewajiban orang Islam sebagai warga negara Indonesia, tetapi tidak menafikan hukum Islam dan tidak pula menjadikan pencatatan perkawinan sebagaim salah satu rukun nikah yang akibat hukumnya bertentangan dengan hak asasi umat Islam. 6. Penyelesaiakan problem nikah siri baik karena poligami maupun monogami adalah itsbat nikah dengan tidak perlu dicantumkan ketentuan hukuman penjara. B. Masukan 1. Kepada Pemerintah C.q. Kementerian Agama RI Untuk menjamin eksistensi hukum Islam bidang pekawinan dan pada waktu yang sama untuk meningkatkan wibawa dan perlindungan lembaga Perkawinan, meningkatkan martabat perempuan dan melindungi anak, hemat peneliti perlu mengedepankan :

79

a) Membuat

aturan

yang

mempermudah

dan

mempermurah

pencatatan perkawinan.SesuaidenganUUNo25Tahun 2009 Tentang Pelayanan Publik, KUA transparansi informasi. b) Pelayanan yang transparan, menyenangkan dan manusiawi, dengan menyediakan Kantor KUA di masing-masing Kecamatan. c) Menggalakkan pendidikan kepada orang Islam lebih-lebih di pedesaan mengenai hukum perkawinan dalam kitab-kitab fiqih maupun dalam undang-undang perkawinan. d) Menggalakkan sosialisasi kembali Undang-Undang Perkawinan No 1 tahun 1974 karena masih banyak warga Muslim yang belum paham benar tentang tatacara perkawinan, sementara udang-undang perkawinan sebagai ijtihad baru, banyak yang tidak sejalan dengan isi kitab mazhab Syafii yang notabene diajarkan di pesantren dan sebagai rujukan pula oleh sebagian besar umat Islam. e) Dalam sosialisasi ini perlu menggandeng lembaga negara yang terkait maupun menggandeng LSM bidang hukum, Agama dan Lembaga perlidungan yang konsen terhadap Perempuan dan anak. 2. Kepada Umat Islam a) Sehubungan dengan kewajiban orang Islam sebagai warga negara Indonesia, maka seharusnya mengindahkan Undang-Undang Perkawinan, dengan tidak terlepas untuk melaksanakan perkawinan sesuai peraturan negara. b) Bagi pelaku nikah siri baik karena poligami maupun monogami perlu mengurus itsbat nikah untuk kenyamanan perkawinan harus punya dasar tarif, harus dipajang terbuka di papan pengumunan yang besar sehingga memenuhi

BAB VI KUMPUL KEBO DAN SANKSINYA

80

A.

Pengertian Kumpul Kebo(samen leven) Kerbau yang sering diucapkan kebo adalah hewan memamah biak yang biasa diternakkan, rupanya mirip lembu, tetapi lebih besar dan pada umumnya berbulu kelabu. Biasa dipakai untuk menggambarkan orang bodoh. Entah kenapa, kerbau ini sering menjadi sasaran sehingga banyak peribahasa yang menggunakan kata kerbau. Seperti kerbau menanduk anak yang berarti hanya pura-pura saja. Kerbau runcing tanduk, orang yang tersohor kejahatannya. Membeli kerbau di ladang, membeli sesuatu tanpa melihat barang yang akan dibeli. Menghalanghalangi kerbau berlabuh, menghalang-halangi sesuatu yang akan mendatangkan keberuntungan bagi orang lain. Kerbau turun berendam, waktu sekitar pukul lima petang. Seperti kerbau dicocok hidung, menurut saja. Kerbau seratus dapat digembalakan, manusia seorang tiada berkawal, menjaga wanita lebih sulit dari pada menjaga banyak binatang. Kempul kerbau, yang berarti dua orang lain jenis bersama-sama menjadi satu atap secara diam-diam. Dengan kata lain wanita tinggal bersama dengan lakilaki di bawah satu atap seperti layaknya suami isteri tanpa ikatan perkawinan. Mereka enggan menikah resmi bisa jadi karena alas an menikah dapat menambah beban dan tanggung jawab hidup yang sudah berat. Karena itu membina keluarga dengan ikatan resmi ibaratnya seperti sabuk pengikat yang menjerat kebebasan pada malam hari dan mendatangkan banyak persoalan di siang hari. Secara instilah kumpul kebo berarti pria dan wanita tinggal bersama di bawah satu atap seperti layaknya suami isteri tanpa ikatan perkawinan.84 Kumpul kebo ini sudah menular penduduk Asia.85 Budaya di daerah Yogyakarta sekitar tahun 1980-an.86 Bila ditelusuri lebih ke lanjut budaya kumpul kebo di Indonesia terjadi di tengah-tengah masyarakat tidak lepas dari perkembangan kawin selir yang dalam bahasa arabnya Itthadzul akhda. Kawin selir atau pergundikan ini sejak dulu
Peter Salim dan Yenny Salim, Kamus Indonesia Kontemporer, Jakarta: Modern Engglish Press,cet.1,thn 1991` 85 .Ibid 86 Neng Jubaidah, Perkawinan, hlm. 350
84

kumpul kebo ini meluas

dikenal masyarakat Indonesia sejak penelitian seorang mahasiswa yang dilakukan

81

sampai sekarang masih tetap berlaku baik di masyarakat timur maupun barat, baik dilakukan oleh bangsawan maupun rakyat biasa. Bahkan ada juga yang disebut dengan kawin tajribah, yang berarti antara laki-laki dan perempuan kumpul dulu alam satu rumah seperti suami isteri untuk masa tertentu tanpa ikatan perkawinan, kemudian kalau tenyata tidak cocok rencana perkawina dibatalkan.87 Budaya kumpul kebo ini menjadi trend mudah menular di Indonesia karena dengan perkembangan dunia modern, masyarakat semakain longgar menjaga norma yang ada. Oleh Koentjaraningrat digambarkan bahwa mentalitas orang Indonesia sebagai negara jajahan mudah meniru budaya asing karena mentalitas yang suka menerabas, sifat tak suka kepada diri sendiri, sifat tak percaya diri dan sifat tak berdisiplin dan sifat yang suka mengabaikan tanggung jawab.88 Lebihlebih dalam alam globalisas ini, secara budaya temuan-temuan teknologi secara diam-diam tetapi pasti akan mengubah kualitas dan intensitas pengalaman kehidupan pibadi dan kehidupan sosial manusia dan ini sekaligus menyentuh dimensi spiritual, moral maupun keagamaan manusia. Sekat-sekat aturan agama, aturan moral dan norma akan sangat terbuka dan relatif. Dengan demikian yang namanya kebebasan seks, zina dan kumpul kebo bukan semakin tertutup, tetapi akan terbuka lebar. Marzuku Umar mengutip pandangan seorang perancang, Paloma Picasso: The world is becoming more and more cosmopolitan, and we are all influencing each other,89 dengan dukungan kemajuan teknologi komunikasi, globalisasi ekonomi dan pola hubungan antara negara kaya yang cenderung menekan negara miskin, menyebabkan pengaruh budaya barat lebih dominan menjajah negaranegara berkembang.90 Pada akhirnya, tidak ketinggalan kebiasaan seks budaya barat mempengaruhi juga budaya seks negara timur, termasuk seks kumpul kebo. Lalu bagaimana hukum dan undang-undang kita bicara, tak kerkecuali undang-undang perkawinan?
Moenawar Chalil, Nilai Wanita, (Solo: CV. Ramadhani, cet. 7.1977).hlm. 153dan 163 Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, (Jakarta:Gramedia. 1992),hlm.45 89 Marzuki Umar Saabah, Perilaku Seks menyimpang dan Seksualitas kontemporer Umat Isam, (Jogjakarta: UII Press, 1997), hlm.13. 90 Ibid.
88 87

82

B.

Motivasi Kumpul Kebo Dari pengertian kumpul kebo di atas, paling tidak motivasi kumpul kebo dapat diungkapkan: a. b. c. d. Mencari kesenangan tanpa beban, karena menambah beban dan tanggung jawab hidup yang sudah berat. Sengaja tidak taat atau menghindar dari ketentuan peraturan maupun perundang-undangan. Menghalalkan hubungan suami isteri tanpa ikatan perkawinan Menolak lembaga perkawinan yang dianggap menghambat kebebasan pribadi untuk menyalurkan hubungan seksual. Akibat Kumpul Kebo Beberapa motovasi kumpul kebo di atas dapat dikatakan bahwa Kumpul kebo pada hakekatnya adalah menentang hukum perkawinan, dan kelembagaannya serta menentang ketentuan-ketentuan syariat agama. Karena itu akibat dari kumpul kebo paling tidak: a. Akan dikucilkan dan menjadi buah bibir masyarakat sehingga pasangan kumpul kebo secara psikologis menderita batin dan tidak merdeka. b. Pasangan kumpul kebo apabila melahirkan anak, maka anak itu merupakan buah dari hasil zina yang hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibu dan keluarga ibunya saja. c. Bila anak hasil kumpul kebo lahir perempuan, maka ayah biologisnya tidak dapat menjadi wali nikahnya. d. Bila pasangan kumpul kebo berpisah/ cerai, maka mudah saja si ayah tidak mengakui anaknya, dan mudah juga melepaskan tanggung jawabnya sebagai ayah. Si anak akan merasa tidak punya ayah, yang berakibat gangguan psikologis. e. Kumpul kebo adalah perbuatan zina yang dikenakan sanksi atau hukuman bagi para pelakunya. menikah dapat

C.

D.

Perbedaan Kumpul kebo dengan Pelacuran

83

Dari sisi perbuatannya, pasangan kumpul kebo tidak sama dengan pelacuran. Ada beberapa perbedaan antara keduanya: 1. pasangan sesuai selera. 2. dalam satu atap 3. Pada kumpul kebo tidak sekedar bersenangsenang, tetapi ada niatan berkeluarga, sehingga suatu saat dimungkinkan untuk diresmikan baik secara massal maupun individual. Berbeda dengan pelacuran yang hanya sekedar jajan, begitu makan kemudian bayar. 4. Pada pasangan kumpul kebo ada ikatan batin seperti nikah resmi sehingga ada rasa bertanggung jawab terhadap pasangan dan keluarganya, berbeda dengan pelacuran yang tidak ada ikatan sama sekali dan tidak ada pertanggung jawaban. Dalam sejarah perkawinan Islam ditemukan dan dikenal beberapa bentuk perkawinan yang serupa dengan Kumpul kebo, pelacuran maupun perzinaan. Semua bentuk-bentuk perkawinan itu tidak dibenarkan dan dilarang dalam Islam karena dinilai sama dengan perzinaan antara lain: a. Nikah istibdha, yaitu nikah dengan cara mengirim isteri yang suci dari hadnya supaya tidur bersama laki-laki yang dipilih. Setelah mengandung barulah kembali kepada suaminya. Tujuanya untuk mendapatkan keturunan dari seorang yang dinilai memiliki bibit unggul b. Nikah isytirak, yaitu seorang perempuan berkumpul dalam satu kelompok laki-laki yang berjumlah kurang dari sepuluh orang kemudian ia melakukan hubungan seksual dengan lakilaki yang menjadi anggota kelompok tersebut. Jika ia hamil dan melahirkan, maka perempuan itu memanggil seluruh laki-laki anggota kelompok tersebut, kemudian perempuan itu menunjuk salah seorang laki-laki yang dipilihnya Pada kumpul kebo berkumpul dalam satu atap, berbeda dengan pelacuran bisa di manapun dan tidak perlu berkumpul Pada kumpul kebo pasangan wanitanya tetap, tidak berganti-ganti pasangan, sementara pelacuran berganti ganti

84

untuk menjadi ayah dari anaknya tanpa seorang pun dapat mengelaknya, kemudian anaknya dinisbatkan kepada laki-laki yang dipilihnya c. Nikah sifah (pelacur), yaitu orang laki-datang kepada orang-orang perempuan yang tidak menolak siapa saja yang butuh hendak berhubungan seksual. Di depan pintu-pintu rumah wanita wanita itu telah diberi tanda-tanda tertentu, bahwa mereka siap dimasuki oleh siapa saja yang membutuhkan. Kalau di antara wanita-wanita itu ada yang melahirkan anak, maka dipanggilkan seorang dukun yang ahli olah rupa anak. Kemudian setelah dilihat baik-baik dan kelihatan bahwa rupa si anak tersebut serupa atau mirip salah satu laki-laki yang pernah bersebadan bisa menolaknya. d. Nikah sighar, yaitu nikah tukar anak di mana seorang laki-laki mengawinkan anak perempuannya kepada laki laki lain, tetapi laki-laki yang lain ini juga mengawinkan anak perempuannya kepadanya. Kedua perkwinan ini tanpa menggunakan maskawin. e. f. Kawin Maqt, yaitu perkawinan seorang laki-laki kepada wanita dari bekas isteri bapaknya.( kawin Pusaka). kawin mubadalah,(tukar pasangan) yaitu dua orang laki-laki masing-masing kawin dengan orang perempuan yang berbeda, kemudian entah itu sudah ada perjanjian atau belum tetapi mereka berteman, kemudian mereka bersepakat bertukar isteri, kapan saja waktunya sesuai dengan yang dikehendaki, kemudian setelah habis waktunya isteri tersebut kembali kepada suami masing-masing.91 E. Kedudukan Kumpul Kebo Perbuatan kumpul kebo adalah perbuatan zina yang secara tegas dilarang oleh agama. Karena hakekatnya hubungan seksual merupakan ibadah jika pelaksanaannya sesuai dengan ajaran Islam. Pada prinsipnya ibadah itu haram sepanjang tidak ada sebab atau illat yang memperbolehkannya secara jelas dan yakin. Dalam pada itu pada prinsipnya hubungan seksual itu haram sehingga ada
Munawwar Kholil, Nilai Wanita, ( Solo-Semarang : Ramadhani,1977), hlm.142-147. Sayid Sabiq, Fikih Sunnah, Juz 2 ( Semarang : Toha Putra, t.t.), hlm.6
91

dengan

wanita itu, maka anak tersebut diserahkan kepada laki-laki itu dan ia tidak

85

sebab yang jelas dan yakin tanpa keraguan yang menghalalkannya, yaitu adanya akad nikah. Sejalan dengan kaidah: Al-Ashlu fi al-ibdhai at-tahriim. (Pada Prinsipnya hubungan seksual itu haram).92 Dalam hadis disebutkan bahwa Rasulullah bersabda: Pada setiap potong anggota badan salah seorang di antaramu ada sedekah. Para ahabat bertanya: Melepas nafsu syahwat pada isteri juga ada pahalanya? Jawab Rasulullah, Tidakkah kamu ketahui, jika ia melepaskan nafsu syahwatnya di tempat yang haram, bukankah ia berdosa? Mereka menjawab.Ya. Lalu beliau bersabda: Maka begitu jugalah jika melepaskannya di tempat yang halal, dia mendapatkan pahala Kemudian beliau bersabda lagi: Apakah kamu hanya memperhitungkan keburukan, tetapi tidak menghitung kebaikannya?"93 Agar hal itu tidak terjadi bagi orang mukmin, maka Rasulullah memperingatkan dengan sebuah hadis: Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah sekali-kali berduaan dengan perempuan lain yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya pihak ketiganya adalah setan.94 Dengan begitu menjadi jelas, bahwa Hubungan seksual yang dilakukan manusia dalam rangka memenuhi hak insaniyahnya ( Right of man) itu harus dalam ikatan perkawinan yang sah. Jika hubungan seksual dilakukan di luar perkawinanyang sah, maka perbutan itu termasuk zina. Islam dengan keras melarang zina dan mengancam hukuman bagi pelakunya. Yang demikian ini karena zina menjadikan tidak terkendalinya nafsu, menjadikan ketidak jelasan regenesasi, keluarga, merusak perwalian, kewarisan, dekadensi moral dan merajalelanya penyakit menular seperti sipilis, gonorhea, virus HIV/AIDS.
Hal ini mengacu pada firman Allah:

Ali Ahmad an-Nadwi, Al-Qawaaid al-Fiqhiyyah, cet. ke 2 (Damsyik :DaralQalam,1991), hlm.114 93 HR.Muslim, Imam Nawawi, Syarah Matan al Ar bain an-Nawawiyah ( t.tp : Dar alFikr, t.t.), hlm.108. Hadis semacam ini banyak,tetapi berbeda-beda redaksinya. 94 HR. Ahmad dari Amir buin Rabiah. Dalam Sahih Bukhari dan Muslim dari Abdullah bin Abbas berbunyi: Janganlah sekali-kali salah seorang dari kalian berduaan dengan wanita kecualibersamaanmahramnya Yusuf Qardhawi,al-Halal wa al- haram fi al-Islam, ( T.t.p : Dar alMuarrrah/dar al-baidha,1987),hlm.146.

92

86


Dan janganlah kamu mendekati zina; Sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. dan suatu jalan yang buruk. Al-Isra : 32

Dengan ungkapan janganlah kamu mendekati zina, yang berarti pelarangan zina bukan sekedar koitus yang tidak sah tetapi segala hal yang mendekatinya juga dilarang, termasuk di dalamnya kumpul kebo. Khalwat dengan wanita yang bukan mahram yang mengarah kekumpulkebo juga dilarang sebagai tindakan nyata untuk menanggulangi bisikan kotor nafsu seksual yang biasanya menggoda kelaki-lakian seorang laki-laki dan keperempuan seorang perempuan Sebagaimana dikatakan pakar seksologi Wimpie Pangkahila bahwa manusia normal baik laki-laki maupin perempuan pasti mempunya dorongan seksual, yang mendorong untuk aktivitas seksual yang berakhir dengan hubungan seks. Sisi lain, apabila kumpul kebo itu didasarkan pada adat (baca hukum adat) di mana kumpul kebo itu sudah terjadi pada masa lampau bukan hanya sekarang, dan masyarakat pun sudah tidak tanggap bukan berarti kempul kebo hukumnya mernjadi halal. Adat yang dapat digunakan sebagai pijaka/ dasar hukuman adalah adat yang tidak bertentangan dengan syariat Islam, dalam hal ini adalah syariat perkawinan. Apabila adat itu adalah adat fasid,( tidak baik) yaitu yang bertentangan dengan syariat Islam maka adat tersebut harus ditolak. Adat yang bisa dijadikan dasar hukum adalah adat yang sahih. Adat yang baik ialah adat yang sesuai akal sehat, sejalan kepribadian bangsan dan budaya bangsa, tidak ada nas khusus yang mengaturnya, dan tidak bertentangan dengan dalil pokok syariat 95 Dengan demikian budaya kumpul kebo adalah praktek seks yang tidak sehat dan beresiko, baik mengancam kesehatan mereka, maupun agama; tidak sesuai dengan hukum Islam, norma sosial dan budaya bangsa Indonesia. Jangan
95

Mahmassani, hlm.197, Toha Handoko, hlm.150

87

hendaknya pihak-pihak tertentu memaksakan budaya asing yang tidak sesuai secara sosiologis, psikilogis maupun filosofis yang dianut masyarakat Indonesia yang agamis. F. Hukum Kumpul Kebo Kumpul kebo sebagai perbuatan zina diancam hukuman sebagaimana tertera dalam suarat an-Nur : 21: Pezina perempuan dan pezinnnna laki-laki hendakalah kamu jilid masing-masing seratuskali. Janganlah kamu dikuasai oleh rasa kasih sayang terhadap keduanya. jika kamu beriman kepadaAllah dan hari ahkir, dan hendaknya menyaksikan penghukumannya segolongan orang mukmin Hukuman jilid ini dijatuhkan agar secara psikologis mempengaruhi seseorang agar tidak berbuat zina karena ingin mendapatan kesenangan tanpa hak. Tetapi apabila hukuman dera itu ternyata tidak membikin jera, dalam praktekmya Rasulullah pernah menambah hukuman bagi pezina dengan hukuman pengasingan selama satu tahun. Rasululah bersabda: Al-Bikru bil bikri jildu miatin wataghribu aamin. Orang muda dengan orang muda dijilid seratus kali dan pengasingan selama satutahun.96 Bahkan untuk pezina muhson (yang sudah beristeri) Rasulullah pernah menambahkan hukumman rajam. Beliau bersabda: Tidak halal darah seseorang muslim kecuali karena salah satu dari tiga hal, yaitu kufur setelah beriman, zina setelah mempunyai isteri dan pembunuhan tanpa hak( Qishas). Rasulullah pernah melaksanakan hukuman rajam kepada Maiz dan orang perempuan dari kampung ghamidi.97 G. Sanksi Pidana bagi pelaku kumpul Kebo Larangan kumpul kebo telah ditentukan dalam Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983, tentang Ijin perkawinan dan Perceraian bagi Pegawai Negeri Sipil yang diubah oleh Peraturan Pemeintah No 9 Tahun 1990, tetapi nampaknya kurang direspon oleh masyarakat luas karena tidak begitu gencar dalam mensosialisasikan, tidak sebagaimana gencarnya sosialisasi nikah siri yang diancam pidana. Dengan demikian sesunguhnya perbuatan kumpul kebo telah
96 97

A.Hanafi, Asas Hukum, hlm. 290. Ibid., hlm. 192

88

dilarang di Indonesia melalui PP tersebut kendatipun masih sangat terbatas hanya pada kalangan warga negara Indonesia yang bekerja sebagai PNS. Pada pasal 14 Peraturan Pemerintah No10 Tahun 1983 yang telah diubah oleh Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1990 hanya merumuskan ketentuan bahwa Pegawai Negeri Sipil dilarang hidup bersama dengan wanita lain yang bukan isterinya atau dengan pria lain yang bukan suaminya sebagai suami isteri tanpa ikatan perkawina yang sah. Karenanya perbuatan kumpul kebo yang dilakukan oleh kalangan selebritis, seniman, kalangan aghniya dan lainnya hampir tidak pernah dicela dan dibesarka-besarkan sebagaimana isu-isu poligami atau pernikahan sah menurut agama yang dikenal dengan nikah siri. Kalangan Media pun nampaknya tidak memunculkan tayangan kempul kebo sebagai perbuatan yang dilarang. Yang sering dibesar-besarkan adalah perceraian dan kumpul kebo dikangan artis yang dikemas sedemikan rupa yang tidak nampak bahwa perbuatan itu adalah kumpul kebo yang dilarang. Kasus artis Luna Maya dan kasus Cut Tari yang di dampingi suaminya secara tegas menunjuk Nazriel Irham alias Ariel Peterpan sebagai pria pasangan kumpul kebonya dalam video mesumnya. Demikian diungkapkannya saat bersaksi dalam sidang tertutup kasus video porno tersebut di PN bandung. Eronisnya, setelah Tari keluar dari ruang sidang, sebelum mengadakan jumpa pers di rumah makan Simpang raya , Pasteur Bandung, ia justru didatangi puluhan ibu-ibu yang berkerudung, mereka menyalami dan memberikan dukungannya untuk Tari.98 Dalam RUU-KUHP Tahun 2008 merumuskan kumpul kebo adalah seorang laki-laki dan seorang perempuan yang melakukan hidup bersama seperti suami isteri tanpa ikatan perkawinan yang sah. Yang kemudian ditentukan hukumannya bagi pelaku kumpul kebo pada pasal 487 RUU-KUHP 2008 adalah pidana penjara paling lama 5 tahun, dan pidana denda kategori IV yaitu 75.000.000,00. Hukuman bersifat kumulatif, yaitu pidana penjara dan pidana denda. Sedangkan bagi Pegawai Negeri Sipil yang melakukan kumpul kebo adalah berupa salah satu hukuman disiplin berat berdasarkan Pasal 6 Peraturan
98

Suara Merdeka, di bawah judul Cut Tari Blak-blakan,Selasa 14 Desember 2011

89

Pemerintah Nomor 30 tahun 1980 tentang Disiplin Pegawai Negeri Sipil, PP No 10 Tahun 1980 juncto PP no. 5 Tahun 1990.99 Kumpul kebo sebagai perbuatan yang tercela yang layak dipidana denda ataupun sanksi penjara yang termuat pada PP No. Tahun 1983 maupun dalam RUU-KUHP Tahun 2008, kenyataannya partisipasi dukungan dari pihak lain tidak segencar dorongan dan dukungan anggota masyarakat yang menolak poligami dan nikah siri. Media pun hanya memunculkan isu-isu perkawinan yang dianggap merugikan pihak perempuan dan anak-anak, tidak pernah memunculkan fenomena kumpul kebo dan ancaman pidanya. Ada apa ini? Sikap masyarakat untuk menolak kumpul kebo kurang greget dan tidak didorong oleh media, sehingga seoalah-olah perbuatan kumpul kebo adalah perbuatan biasa dan tidak bertentangan dengan etika pergaulan dan aturan agama. Akibatnya ketentuan-ketentuan yang mempidanakan perbuatan kumpul kebo tidak perlu diisukan secara nasional bahkan mungkin dikubur saja. Berbeda dengan perkawinan siri atau poligami yang sah menurut agama masyarakat secara implisit digiring agar mencela dan menodai perbuatan halal dengan undang-undang maupun undanag-undang dasar.
100

menurut agama

menjadi perbuatan haram yang harus dihindari bahkan dianggap betentangan Seperti yang terjadi pada penghujung tahun 2012 ini, Bupati Garut Aceng Fikri, tidak boleh merasa bebas dari pelanggaran yang telah dilakukannya walaupun antara dia dan mantan isteri yang dinikahi siri Fanny Octora telah tercapai islah atau perdamaian. Pelanggaran UU yang dilakukan Aceng adalah persoalan norma, etika yang tidak bisa dianggap remeh. Pernikahan Aceng yang digelar pada 14 Juli 2012 di rumah priobadi Aceng di Kawasan Copong, Garut. Keduanya dinikahkan oleh ketua MUI Kecamatan Limbangan Garut, KH.Abdurrozaq. Namun setelah empat hari pernikahan, melalui SMS Aceng mengiirmkan talak/perceraian. Aceng mengaku sudah tidak ada rasa pada Fany. Dengan dukungan Kemendagri (kementerian dalam negeri) puluhan tokoh masyarakat dan pemuda mendatangi DPRD, mereka menyerahkan resolusi yang intinya meminta DPRD mengambil langkah-langkah
99 100

Neng Djubaidah, Pencatatan Perkawinan, hlm. 352 Ibid,.hlm.253

90

politik dan meminta Aceng mundur sebagai Bupati. DPRD

Garut kemudian

berjanji akan melengserkan Aceng. Dan janji itu benar ditepati oleh DPRD dalam sidang paripurna, Jumat, 21 Desember 2012 memutuskan mengajukan pemberhentian Bupati Aceng ke Mahkamah Agung (MA) dengan surat keputusan No. 30 Tahun 2012 tertanggal 21 Desember 2012.101 Dari persoalan ini, hemat kami sangat perlu memposikan perbuatan kumpul kebo pada posisi yang sejalan ajaran agama baik dari sisi status hukum maupun sanksinya, sesuai dengan budaya dan etika bangsa sejalan dengan negara Indonesia sebagai Negara hukum yang berdasarkan atas ketuhanan yang Maha Esa. H. PA.B perkwn Sebagaiamana diuraikan di atas bahwa perilaku kumpul kebo adalah mencari kesenangan tanpa beban, sengaja tidak taat atau menghindar dari ketentuan peraturan maupun perundang-undangan; menghalalkan hubungan suami isteri tanpa ikatan perkawinan dan menolak lembaga perkawinan yang dianggap menghambat kebebasan pribadi untuk menyalurkan hubungan seksual sehingga kempul kebo adalah termasuk tidak taat atau tidak mengindahkan Undang Perkawinan. Dengan demikian perilaku kumpul kebo wilayah pidana khusus, yaitu wilayah perkawinan, tidak pidana umum Undang-Undang Perkawinan No 1 tahum 1974 sampai saat ini sudah berumur 40 tahun, yang secara kontekstual ada beberapa pasal yang perlu dievaluasi dan pembaharuan misalnya tentang prinsip perkawinan, sahnya perkawian, sahnya talak, perkawinan beda agama dan kepercayaan dan lain sebagainya. Dalam pembaharuan ini, perlu dimasukkan pasal-pasal yang mengatur tentang kumpul kebo dan sanksinya. Pada gilirannya, juga harus ada perubahan PPnya. Misalnya pada pasal 14 Peraturan Pemerintah No10 Tahun 1983 yang telah diubah oleh Peraturan Pemerintah No 9 Tahun 1990 yang hanya merumuskan ketentuan bahwa Pegawai Negeri Sipil dilarang hidup bersama dengan wanita lain yang bukan
101

Sanksi Pidana dalam Undang-undang Perkawinan dan RUU- HM-

Undang-

masuk dalam

Suara Merdeka, 22 Desember 2012, DPRD Lengserkan Aceng, hlm 1.

91

isterinya atau dengan pria lain yang bukan suaminya sebagai suami isteri tanpa ikatan perkawina yang sah. diubah menjadi Setiap orang dilarang hidup bersama dengan wanita lain yang bukan isterinya atau dengan pria lain yang bukan suaminya sebagai suami isteri tanpa ikatan perkawina yang sah. Jadi berlaku untuk warga Indonesia tanpa statusnya. Ketika Pembaharuan Undang-Undang Perkawinan telah memasukan pasal-pasal tentang kumpul kebo dan sanksinya, maka tidak diperlukan lagi rumusan pasal-pasal kumpul kebo dan sanksinya dalam RUU- KUHP. Karena itu tidak perlu merumuskan dilanjutkan dan ditetapkan RUU-KUHP Tahun 2008 kumpul kebo yang kemudian ditentukan hukumannya hukum perkawinan, maka yang bagi melalui

pelaku kumpul kebo pada pasal 487 RUU-KUHP 2008 Sebelum ada pembaharuan Kementerian Agama, dimana Pemerintah sedang membuat RUU hukum Materi Peradilan Agama Tentang Perkawinan yang membahas nikah siri, poligami, dan kawin kontrak(mutah), perlu penambahan pembahasan kumpul kebo sebagai pelengkap dari UU No. 1/74 tentang Perkawinan. Dalam RUU tersebut dalam pasal 143 menyatakan: Setiap orang yang dengan sengaja melangsungkan perkawinan tidak dihadapan pejabat pencatat nikah, di pidana dengan denda paling banyak 6 juta atau hukuman kurungan paling lama 6 bulan. Pasal 144 mengatur setiap orang yang melakukan perkawinan dalam jangka waktu tertentu atau kawin kontrak, dihukum penjara selama-manya 3 tahun dan perkawinannya batal demi hukum
102

. Maka perlu penambahan pasal tentang kumpul kebo.

Misalnya pada pasa 145 atau pasal yang lain dirumuskan setiap orang yang dengan sengaja melakukan kumpul kebo, hidup bersama dengan wanita lain yang bukan isterinya atau dengan pria lain yang bukan suaminya sebagai suami isteri tanpa ikatan perkawina yang sah dipidana dengan denda paling banyak 8 juta atau hukuman kurungan paling lama 1 tahun. Dengan dimasukkan aturan kumpuil kebo pada pembahuaruan undangundang perkawinan no 1 Tahun 1974, atau sebelum ada pembaharuan hukum perkawinan dimasukkan salah satu pembahasan dalam RUU- HM-PA.B perkwn,
Amin fauzi, Menimbang kriminalisasi Pelaku nikah Siri, Harian Suara Merdeka, Rabu, 24 Februari 2010, hlm 19
102

92

maka bukan mustahil partisipasi

dari

pihak lain

dan dukungan anggota Media pun

masyarakat luas akan menguat dalam mensosialisasikannya. karena perbuatan kumpul kebo adalah perilaku yang

kemungkinan mau memunculkan fenomena kumpul kebo dan ancaman pidanya, bertentangan dengan Undang-Undang dan etika pergaulan dan aturan agama. Sisi lain, dengan dimasukkan kumpul kebo dalam pembahasan RUUHM-PA. Bperkwn akan menisbikan diskriminasi serta dampak negatif, misalnya seseorang akan lebih memilih kumpul kebo ketimbang nikah siri yang terancam pidana penjara.

BAB VII PENUTUP

93

A. Kesimpulan 1. Perkembangan dunia modern pada alam globalisas

ini, temuan-temuan teknologi secara diam-diam tetapi pasti dari sisi budaya akan mengubah kualitas dan intensitas pengalaman kehidupan pibadi dan kehidupan sosial manusia dan ini sekaligus menyentuh dimensi spiritual, moral maupun keagamaan manusia. Sekat-sekat aturan agama, aturan moral dan norma akan sangat terbuka dan relatif. Budaya kumpul kebo mudah menular di Indonesia lantaran masyarakat semakin longgar menjaga norma yang ada. Lebih-lebih mentalitas orang Indonesia sebagai negara jajahan mudah meniru budaya asing, suka menerabas, tak suka kepada diri sendiri, tak percaya diri, tak berdisiplin dan sifat yang suka mengabaikan tanggung jawab. Dengan demikian yang namanya kebebasan seks, zina dan kumpul kebo bukan semakin tertutup, tetapi akan terbuka lebar bahkan bisa menjadi trend. 2. Kumpul kebo adalah salah satu bentuk perbuatan sanksi atau hukum zina yang dalam hukum Islam sudah sangat jelas Kumpul kebo pada hakekatnya adalah serta

hukuman bagi para pelakunya. Ditegaskan sanksinya ini lantaran menentang perkawinan, dan kelembagaannya menentang ketentuan-

ketentuan syariat agama. Pasangan kumpul kebo apabila melahirkan anak, maka anak itu merupakan buah dari hasil zina yang hanya mempunyai hubungan keperdataan dengan ibu dan keluarga ibunya Dan 3. bila anak hasil kumpul kebo lahir perempuan, maka ayah perilaku kumpul kebo adalah bagian dari fenomena biologisnya tidak dapat menjadi wali nikahnya. perkawinan karena itu sudah seharusnya masuk dalam area pidana khusus, yaitu wilayah hukum perkawinan, bukan masuk wilayah pidana umum yang diatur dalam KUHP. Pembahasan kumpul kebo

94

dimasukkan dalam salah satu draf RUU- MB-PA-Bperkwn baik menyangkut pengertian maupun sanksi hukumnya bagi pelaku kumpul kebo. 4. Dalam draf RUU- MB-PA-Bperkwn, misalnya pada pasal 145 atau pasal yang lain minimal memuat setiap orang yang dengan sengaja melakukan kumpul kebo, hidup bersama dengan wanita lain yang bukan isterinya atau dengan pria lain yang bukan suaminya sebagai suami isteri tanpa ikatan perkawina yang sah dipidana dengan denda paling banyak 8 juta atau hukuman kurungan paling lama 1 tahum. B. Masukan 1. Bagi umat Islam yang sudah terlanjur kumpul kebo harus segera mengakhirinya dengan cara segera melangsungkan perkawian yang sah, dan segera bertaubat. Bila tidak segera diakhiri di samping tidak taat aturan hukum- melecehakan hukum pekawinan- juga berarti tidak kehidupan taat ajaran agama yang sangat beresiko pada di alam berikutnya. Dalam ajaran agama perbuatan

kumpul kebo sama artinya dengan berbuat zina terus-menerus. 2. Bagi remaja/pemuda yang sudah cukup umur dan telah mampu untuk menjaga kesuciannya sudah seharusnya segera melaksanakan perkawinan, dan jangan coba-coba berkhalwat apalagi berbuat kumpul kebo. Sungguhpun seseorang itu sangat kuat imannya, tetapi ingat bahwa iman itu bisa berkurang dan bertambah, maka jangan lantas merasa percaya diri berduaan dengan wanita yang tidak halal baginya. Ingat sabda Rasul: Pada setiap potong anggota badan salah seorang di antaramu ada sedekah. Melepas nafsu syahwat pada isteri juga ada pahalanya jika ia melepaskan nafsu syahwatnya di tempat yang

95

haram, ia berdosa Begitu jugalah jika melepaskannya di tempat yang halal, dia mendapatkan pahala Pada hadis lain dengan tegas Rasulullah memperingatkan : Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, janganlah sekali-kali berduaan dengan perempuan lain yang tidak disertai mahramnya, karena sesungguhnya pihak ketiganya adalah setan.

96

DAFTAR PUSTAKA Andiko, Toha, Ilmu Qawaid Fiqhiyyah, Yogyakarta: Sukses 0ffset, 2011 An-Nadwi, Ali Ahmad, Al-Qawaaid al-Fiqhiyyah, cet. ke 2, Damsyik :DaralQalam,1991 Asmawi, Muhammd, Nikah dalam Yogjakarta:Darussalam, 2004 perbincangan dan Perbedaan,

Bisri, Mustofa, , Fikih Keseharian Gus Mus, cet. 2 , Surabaya: Khalista, 2006
Chalil, Moenawar, Nilai Wanita, Solo: CV. Ramadhani, cet. 7.1977

Departemen Agama RI, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia, 2003 ------------, Kompilasi Hukum Islam di Indonesia, Binbaga Islam, th, 2000. -----------, Usul Fiqh I , Jakarta: Binmbaga Islam, 1986 Djubaidah, Neng, S.H, M.H, Pencatatan Perkawinan dan Perkawinan Tidak Tercatat menurt Hukum Tertulis di Indonessia dan Hukum Islam, Jakarta: Sinar Grafika, 2010 Fauzi, Amin, Menimbang kriminalisasi Pelaku nikah Siri, Harian Suara Merdeka, Rabu, 24 Februari 2010 FORDIS STAIN Syaikh Abdurrahman Siddik Bangka Belitung, Wacana baru Syariah, Yogyakarta, cet. Pertama, 2011 Ghofur, Abdul, Hukum Perkawinan Islam Prespektif Fikih dan Hukum Positip, Yogyakarta: UII Press, 2011 Hanafi,A, MA, Asas- Asas Hukum Pidana Islam, Jakarta : Bulan Bintang, 1978 Hakim, Abdul Hamid, Mabadi al-Awwalaiyah fi usul al-Fiqh wa al-Qawaid alFiqhiyyah, Jakarta: Saadiyyah Putra, 1927 Al-Jurjani, Asy-Syarif Ali Ibn Muhammad, Kitab at-Tarifat, Haramain, t.t. Jiddah: Al-

Koentjaraningrat, Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan, Jakarta:Gramedia. 1992 Mahmasani, Subhi, Falsafah at-Tasyri, Terj. Ahmad Sudjono, Bandung: AlMaarif, 1977

97

Majalah Suara Rahima : Media Islam untuk Hak-Hak Perempuan, No. 13 Th.VI Agustus 2006, Majelis Ulama Indonesia (MUI), Kumpulan Fatwa MUI sejak 1975, Jakarta : Erlangga, 2011 Muhajir, Noeng , Metodologi Penelitian Kualitatif, edisi ke-3, Yogyakarta : Rake Sarasin, 1996 Manan, Bagir, Keabsahan dan Syarat syarat Perkawinan Antar orang Islam Menurut UU NO 1Tahun 1974 ,Makalah Seminar Nasional disampaikan di Hotel Redtop, Sabtu, 1 Agustus 2009 Maksum, Jinayat, Yogyakarta: Fakultas Hukum, UII, 1979 Muhgniyyah, Muhammad Jawad, Fiqih Lima Mazhab, diterjemahkan oleh Masykur A.B. Afif Muhammad, dan Idrus al-Kaff,cet.1 , Jakarta: Lentera Basritama, Munti, Ratna Batara, Advokasi Kebijakan Pro Perempuan, Jakarta: Program Studi Kajian Wanita, PPS, UI, 2008 An-Nadwi, Ali Ahmad, al-Qawaid al-Fiqhiyyah, Damsik: Dar as-Salam, 1991 Nawawi, Imam, Syarah Matan al Ar bain an-Nawawiyah, t.tp : Dar al-Fikr, t.t. Niam, Asrorun, Fatwa-Fatwa elSAS, 2008 Masalah Perkawinan dan keluarga, Jakarta :

Nuruddin, Amin, MA dan Drs. Azhari Akmal Tarigan, M.Ag, Hukum Perdata Islam di Indonesia (Studi Kritis Perkembangan Hukum Islam dan Fikih, UU No. 1/1974 sampai KHI), Jakarta, 2004 Posnoto, K.Ng. Soebaktu, Hukum Adat, Terjemah dari Ter Haar, Beginselen en Srelsel van het Adatrecht, Jakrta : Pradnya Paramita, 1953 Rofikm Ahmad , Hukum Islam di Indonesia, Jakarta : Raja Grafindo Persada, cet. Ke 6, 2003 Rusd, Ibnum Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtasid, t.t: Dar al-Kutub alIslamiyah, ttp. Qomar, Mujamil , NU Liberal : Dari Tradisionalisme Ahlussah ke Universalisme Islam, Bandung : Mizan, 2002

98

Qardhawi, Yusuf, al-Halal wa al- haram fi al-Islam, T.t.p : Dar al-Muarrrah/dar al-baidha,1987 Sabig, Sayyid, Fikih Sunnah, Semarang: Toha Putra, t.t., juz 2 Saabah, Marzuki Umar Perilaku Seks menyimpang dan Seksualitas kontemporer Umat Isam, Jogjakarta: UII Press, 1997 Ash-Shiddieqy, Hasbi. Falsafsah Hukum Islam, Jakarta: Bulan Bintang,1975 Shihab, M. Quraish, Wawasan al-Quran, Bandung : Mizab, cet. Ke10 Shonani, Asy, Subul as-Salam, juz 3 Bandung: Dahlan, t.t

99

DAFTAR RIWAYAT HIDUP A. Nama Tempar/Tgl. Lahir Jabatan Walisongo Semarang Jabatan Pengabdian Alamat Rumah Alamat Kantor B. : Pengasuh Pondok Pesantren Al-Hijrah Salatiga-Sekarang : Klumpit Jl. Tritis Sari 01/01 Sidorejo Kidul, Salatiga : Fak.Tarbiyah IAIN Wali Songo Jl. Raya Ngaliyan Semarang Riwayat Pendidikan 2. C. 1. Karya Ilmiah Buku Zakat Kontekstual Zakat diera Reformasi: Tata kelola baru Zakat : Antara cita dan Fakta Peran akal dalam Hukum Islam Tuntunan Haji Tamattu Tuntunan ahli Sunnah wa al-Jamaah Pedoman Puasa dan Zakat Fitrah Pengembangan Pesantren dan Madrasah (dkk) Sarjana Syariah IAIN Suka 1983/84 S 2 IAIN Suka 1994 S 3 IAIN Suka Pend. Nonformal : API Ponpes Tegal Rejo Mgl. 1971-1976 Jabatan Kewagamaan : Ketua Umum MUI Kota Salatiga- Sekarang Identitas Diri : H. Saifudin Zuhri : Salatiga, 5 Agustus 1958 : Dosen Fiqh/Usul Fiqh Fak. Tarbiyah, IAIN Edukatif

100

Metodologi Pengajaran PAI (dkk) Usul Fiqh (diktat)

101

102