Anda di halaman 1dari 12

Dapat kita bayangkan betapa berbahayanya HIV/AIDS tersebut.

Berdasar fase perkembangan antara umur 12 tahun sampai 20 tahun adalah fase dimana remaja mengalami beragam masalah. Mulai dari pencarian identitas diri, kebingungan status sebagai remaja beranjak dewasa atau masih remaja yang cenderung kekanak-kanakan. Berbagai proses pencarian identitas tersebut memicu remaja untuk pencarian identitas diri yang sebenarnya. Berbagai media mereka gunakan untuk proses pembentukkan diri. Sangatlah bagus jika media yang dipakai bersifat positif, seperti lewat kesenian yang kreatif dan menuju pengembangan bakat atau agama. Hal tersebut bisa membentuk identitas kepribadian remaja yang baik. Namun jika media pembentukkannya bersifat negatif, seperti melalui perkelahian, geng, pergaulan bebas, bahkan narkoba tentu sangat berdampak buruk. Perilaku tersebut dapat menjerumuskan kelompok muda sebagai golongan potensial yang tertular HIV/AIDS ataupun penular virus mematikan tersebut. Yogyakarta berada di peringkat 15 untuk kasus HIV/ AIDS terbanyak di Indonesia. Remaja merupakan usia yang paling berisiko terhadap HIV/AIDS ini, sehingga harus ada pendampingan untuk menuju kegiatan yang positif dan mendapat pelajaran mengenai HIV/ AIDS agar dapat melakukan tindakan pencegahan. Banyak faktor yang menyebabkan penyakit HIV/ AIDS, antara lain faktor yang paling berisiko penggunaan jarum suntik bergantian dan tidak steril. Selain itu juga perilaku seksual yang menyimpang, seperti seks bebas. Semua itu sangat mungkin terjadi pada remaja, karena pada usia ini manusia sedang mencari identitas dirinya. Dengan fakta tersebut Yogyakarta sebagai kota yang terdiri atas berbagai macam pelajar dan remaja memiliki faktor risiko tinggi terhadap penularan HIV/ AIDS, sehingga tidak bisa tidak harus dicegah. Berdasar data dapat dikalkulasikan bahwa kelompok remaja yang rentan terhadap HIV/AIDS adalah kelompok pengguna narkoba suntik. Ada berbagai hal yang bisa dilakukan untuk pencegahan, baik oleh remaja itu sendiri dan keluarga atau oleh pihak pemerintah, Lembaga Swadaya Masyarakat atau masyarakat umum lainnya, yaitu sebagai berikut: 1. Biasanya pemberian VCT (Visited Control Test) atau kunjungan tes kontrol hanya boleh dilakukan oleh tenaga yang terdidik dan terlatih tapi bukan berarti remaja tidak dapat turut aktif dalam penanggulangan HIV/AIDS. Sebagai remaja, kita dapat melakukan VCT-VCT lainnya. Misalnya Visual Care Technique atau teknik menjaga pandangan agar terhindar dari perilaku-perilaku seks menyimpang yang dapat membuka peluang masuknya HIV ke dalam tubuh kita. Teknik ini antara lain tidak berpacaran secara berlebihan dan tidak mendekati hal-hal yang berbau pornografi dan pornoaksi. 2. Selain itu ada Vertical Chain Technique yaitu teknik penghindaran HIV/AIDS dengan cara meningkatkan hubungan vertikal. Maksud hubungan vertikal disini adalah hubungan antara manusia dengan Tuhannya. Teknik ini dapat ditempuh dengan cara meningkatkan keimanan kepada Tuhan, meningkatkan kualitas dan kuantitas ibadah, dan selalu mengingat Tuhan di setiap langkah hidup kita. 3. Tidak hanya itu, remaja juga dapat menggunakan prinsip Valiant, Cautious and Thinking. Valiant atau berani maksudnya kita harus berani mengatakan ?tidak? untuk narkoba karena narkoba membuka peluang besar penularan HIV (terutama penggunaan narkoba suntik). Cautious atau berhati-hati maksudnya kita harus berhati-hati dalam bergaul. Jangan sampai mengikuti pergaulan yang

menjerumuskan kita kepada narkoba dan seks bebas. Thinking atau berpikir artinya kita harus selalu berpikir jernih sebelum memutuskan untuk melakukan sesuatu. Apalagi jika hal tersebut berkaitan dengan masa depan kita. 4. Ini yang perlu diingat! dalam memperlakukan penderita HIV/AIDS, kita dapat menggunakan VCT (Vast, Chum, and Totalcare). Vast artinya luas. Maksudnya kita harus meluaskan pikiran kita dan pikiran masyarakat tentang apa itu HIV/AIDS serta bagaimana memperlakukan ODHA (Orang Dengan HIV/AIDS). Chum (teman baik), kita harus bisa menjadi teman baik bagi ODHA. Totalcare. Artinya kita harus tetap memperlakukannya dengan wajar, sama seperti kita memperlakukan orang lain, kita harus menyayanginya, mendengar semua keluh kesahnya, membantu agar ia dapat menjalani hidupnya secara positif, dan sebisa mungkin mengajaknya untuk melakukan pengobatan. Melalui cara-cara inilah remaja dapat berperan aktif membantu pemerintah dalam memberantas HIV/AIDS, bukan orangnya 5. Audensi antara remaja dengan pemerintah. Di kalangan pelajar SLTA yang tergabung dalam forum remaja PKBI mengusulkan kesehatan reproduksi, termasuk didalamnya pelajaran tentang HIV/AIDS masuk dalam kurikulum sebagai muatan lokal. Sejak diusulkan awal tahun 2000 pendidikan kespro belum masuk juga jadi mata pelajaran khusus kecuali dalam pembahasan lainnya. Padahal pendidikan kespro tidak bisa diberikan secara terpotong-potong karena bisa mengurangi makna dan pemahaman terhadap HIV/AIDS. 6. Ketahanan keluarga dengan cara menahan budaya asing, puasa seks untuk remaja pra nikah, dan Screening darah donor bagi keluarga. Upaya dini melalui Komunikasi, Informasi dan Edukasi dengan komunikasi interpersonal di keluarga. 7. Dengan mengembangkan Pelayanan Kesehatan Peduli Remaja (PKPR) di Puskesmas yang sangat cocok untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan remaja di sekolah, di jalanan atau di tempat lainnya. PKPR ini melibatkan juga partisipasi remaja sebagai pembawa pesan kesehatan dan menjadi model yang berperilaku hidup sehat bagi teman sebaya.

DAMPAK PERILAKU SEKS BEBAS BAGI KESEHATAN REMAJA

Sudah menjadi maklum, remaja memang sosok yang sangat menarik untuk diperbincangkan. Kenapa?. Remaja masa pencarian jati diri yang mendorongnya mempunyai rasa keingintahuan yang tinggi, ingin tampil menonjol, dan diakui eksistensinya. Namun disisi lain remaja mengalami ketidakstabilan emosi sehingga mudah dipengaruhi teman dan mengutamakan solidaritas kelompok. Diusia remaja, akibat pengaruh hormonal, juga mengalami perubahan fisik yang cepat dan mendadak. Perubahan ini ditunjukkan dari perkembangan organ seksual menuju kesempurnaan fungsi serta

tumbuhnya organ genetalia sekunder. Hal ini menjadikan remaja sangat dekat dengan permasalahan seputar seksual. Namun terbatasnya bekal yang dimiliki menjadikan remaja memang masih memerlukan perhatian dan pengarahan. Ketidakpekaan orang tua dan pendidik terhadap kondisi remaja menyebabkan remaja sering terjatuh pada kegiatan tuna sosial. Ditambah lagi keengganan dan kecanggungan remaja untuk bertanya pada orang yang tepat semakin menguatkan alasan kenapa remaja sering bersikap tidak tepat terhadap organ reproduksinya. Data menunjukkan dari remaja usia 12-18 tahun, 16% mendapat informasi seputar seks dari teman, 35% dari film porno, dan hanya 5% dari orang tua.

Potret Remaja di Usianya Remaja dalam perkembangannya memerlukan lingkungan adaptip yang menciptakan kondisi yang nyaman untuk bertanya dan membentuk karakter bertanggung jawab terhadap dirinya. Ada kesan pada remaja, seks itu menyenangkan, puncak rasa kecintaan, yang serba membahagiakan sehingga tidak perlu ditakutkan. Berkembang pula opini seks adalah sesuatu yang menarik dan perlu dicoba (sexpectation).Terlebih lagi ketika remaja tumbuh dalam lingkungan mal-adaptif, akan mendorong terciptanya perilaku amoral yang merusak masa depan remaja. Dampak pergaulan bebas mengantarkan pada kegiatan menyimpang seperti seks bebas, tindak kriminal termasuk aborsi, narkoba, serta berkembangnya penyakit menular seksual (PMS). Beberapa penelitian menunjukkan, remaja putra maupun putri pernah berhubungan seksual. Di antara mereka yang kemudian hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Jakarta tahun 1984 menunjukkan 57,3 persen remaja putri yang hamil pranikah mengaku taat beribadah. Penelitian di Bali tahun 1989 menyebutkan, 50 persen wanita yang datang di suatu klinik untuk mendapatkan induksi haid berusia 15-20 tahun. Menurut Prof. Wimpie, induksi haid adalah nama lain untuk aborsi. Sebagai catatan, kejadian aborsi di Indonesia cukup tinggi yaitu 2,3 juta per tahun. Dan 20 persen di antaranya remaja, kata Guru Besar FK Universitas Udayana, Bali ini. Penelitian di Bandung tahun 1991 menunjukkan dari pelajar SMP, 10,53 persen pernah melakukan ciuman bibir, 5,6 persen melakukan ciuman dalam, dan 3,86 persen pernah berhubungan seksual. Dari aspek medis, menurut Dr. Budi Martino L., SPOG, seks bebas memiliki banyak konsekwensi misalnya, penyakit menular seksual,(PMS), selain juga infeksi, infertilitas dan kanker. Tidak heranlah makin banyak kasus kehamilan pranikah, pengguguran kandungan, dan penyakit kelamin maupun penyakit menular seksual di kalangan remaja (termasuk HIV/AIDS). Di Denpasar sendiri, menurut guru besar Fakultas Kedokteran Universitas Udayana, per November 2007, 441 wanita dari 4.041 orang dengan HIV/AIDS. Dari 441 wanita penderita HIV/AIDS ini terdiri dari pemakai narkoba suntik 33 orang, 120 pekerja seksual, 228 orang dari keluarga baik. Karena keadaan wanita penderita HIV/AIDS mengalami penurunan sistem kekebelan tubuh menyebabkan 20

kasus HIV/AIDS menyerang anak dan bayi yang dilahirkannya. Tindakan remaja yang seringkali tanpa kendali menyebabkan bertambah panjangnya problem sosial yang dialaminya. Menurut WHO, di seluruh dunia, setiap tahun diperkirakan sekitar 40-60 juta ibu yang tidak menginginkan kehamilan melakukan aborsi. Setiap tahun diperkirakan 500.000 ibu mengalami kematian oleh kehamilan dan persalinan. Sekitar 30-50 % diantaranya meninggal akibat komplikasi abortus yang tidak aman dan 90 % terjadi di negara berkembang termasuk Indonesia.

Dampak Seks Bebas terhadap Kesehatan Fisik dan Psikologis Remaja Pengetahuan remaja mengenai dampak seks bebas masih sangat rendah. Yang paling menonjol dari kegiatan seks bebas ini adalah meningkatnya angka kehamilan yang tidak diinginkan. Setiap tahun ada sekitar 2,3 juta kasus aborsi di Indonesia dimana 20 persennya dilakukan remaja. Di Amerika, 1 dari 2 pernikahan berujung pada perceraian, 1 dari 2 anak hasil perzinahan, 75 % gadis mengandung di luar nikah, setiap hari terjadi 1,5 juta hubungan seks dengan pelacuran. Di Inggris 3 dari 4 anak hasil perzinahan, 1 dari 3 kehamilan berakhir dengan aborsi, dan sejak tahun 1996 penyakit syphillis meningkat hingga 486%. Di Perancis, penyakit gonorhoe meningkat 170% dalam jangka waktu satu tahun. Di negara liberal, pelacuran, homoseksual/ lesbian, incest, orgy, bistiability, merupakan hal yang lumrah bahkan menjadi industri yang menghasilkan keuntungan ratusan juta US dolar dan disyahkan oleh undang-undang. Lebih dari 200 wanita mati setiap hari disebabkan komplikasi pengguguran (aborsi) bayi secara tidak aman. Meskipun tindakan aborsi dilakukan oleh tenaga ahlipun masih menyisakan dampak yang membahayakan terhadap keselamatan jiwa ibu. Apalagi jika dilakukan oleh tenaga tidak profesional (unsafe abortion). Secara fisik tindakan aborsi ini memberikan dampak jangka pendek secara langsung berupa perdarahan, infeksi pasca aborsi, sepsis sampai kematian. Dampak jangka panjang berupa mengganggu kesuburan sampai terjadinya infertilitas. Secara psikologis seks pra nikah memberikan dampak hilangnya harga diri, perasaan dihantui dosa, perasaan takut hamil, lemahnya ikatan kedua belah pihak yang menyebabkan kegagalan setelah menikah, serta penghinaan terhadap masyarakat.

Bagaiamana Remaja Bersikap? Hubungan seks di luar pernikahan menunjukkan tidak adanya rasa tanggung jawab dan memunculkan rentetan persoalan baru yang menyebabkan gangguan fisik dan psikososial manusia. Bahaya tindakan aborsi, menyebarnya penyakit menular seksual, rusaknya institusi pernikahan, serta ketidakjelasan

garis keturunan. Kehidupan keluarga yang diwarnai nilai sekuleristik dan kebebasan hanya akan merusak tatanan keluarga dan melahirkan generasi yang terjauh dari sendi-sendi agama. Sebagaimana apa yang diperingatkan Alloh dalam surat An-Nur: 21: Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengikuti langkah-langkah syetan. Barang siapa yang mengikuti langkah syetan, maka sesungguhnya dia (syetan) menyuruh perbuatan yang keji dan mungkar. Kalau bukan karena karunia Alloh dan Rahmat-Nya kepadamu, niscaya tidak seorang pun diantara kamu bersih dari perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Alloh membersihkan siapa yang dikehendaki... (An-nuur (24):21) Aktifitas seksual pada dasarnya adalah bagian dari naluri yang pemenuhannya sangat dipengaruhi stimulus dari luar tubuh manusia dan alam berfikirnya. Meminimalkan hal-hal yang merangsang, mengekang ledakan nafsu dan menguasainya. Masa remaja memang sangat memperhatikan masalah seksual. Banyak remaja yang menyukai bacaan porno, melihat film-film porno. Semakin bertambah jika mereka berhadapan dengan rangsangan seks seperti suara, pembicaran, tulisan, foto, sentuhan, dan lainnya. Hal ini akan mendorong remaja terjebak dengan kegiatan seks yang haram. Perawatan organ reproduksi tidak identik dengan pemanfaatan tanpa kendali. Sistem organ reproduksi dalam pertumbuhannya sebagaimana organ lainnya, memerlukan masa tertentu yang berkesinambungan sehingga mencapai petumbuhan maksimal. Disinilah letak pentingnya pendampingan orang tua dan pendidik untuk memberi pemahaman yang benar tentang pertumbuhan organ reproduksi. Pemahaman remaja berkaitan dengan organ reproduksinya tentunya ditanamkan sesuai dengan kadar kemampuan logika dan umur mereka. Dengan demikian remaja tidak akan cemas ketika menghadapi peristiwa haid pertama, melewati masa premenstrual syndrome dengan aman, memahami hukum fiqh terkait dengan haid serta peristiwa lain yang mengiringi masa pubertas remaja. Remaja juga harus bisa menjaga diri (istifaaf). Hal ini mampu dilakukan pada remaja yang mempunyai kejelasan konsep hidup dalam menjalani hidupnya. Orang tua sejak usia dini harus menanamkan dasar yang kuat pada diri anak bahwa Alloh menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya. Jika konsep hidup yang benar telah tertanam maka remaja akan memahami jati dirinya, menyadari akan tugas dan tanggung jawabnya, mengerti hubungan dirinya dengan lingkungaanya. Kualitas akhlak akan terus terpupuk dengan memahami batas-batas nilai, komitmen dengan tanggung jawab bersama dalam masyarakat. Remaja akan merasa damai di rumah yang terbangun dari keterbukaan, cinta kasih, saling memahami di antara sesama keluarga. Pengawasan dan bimbingan dari orang tua dan pendidik akan menghindarkan dari pergaulan bebas, komitmen terhadap aturan Alloh baik dalam aurot (pakaian), pergaulan antar lawan jenis, menghindari ikhtilath dan sebagainya. Bagaimana dengan anda? Walloohu alam bisshowab....

Tentang Perempuan dan KerentananNya Terhadap HIV AIDS


Filed under: Teologi Kontekstual admin @ 4:57 am Oleh : Lady P R Mandalika, kategori: Pilihan Dosen I. Pendahuluan 1 Desember adalah tanggal yang diperingati sebagai hari AIDS sedunia. Hari peringatan tersebut merupakan salah satu momentum untuk mengkampanyekan penyadaran terhadap bahaya AIDS dan pencegahannya. Di Indonesia hari tersebut diperingati dengan berbagai bentuk seperti penyebaran satu juta pamflet AIDS di bundaran hotel Indonesia, Jakarta yang dilakukan oleh 300 orang dari berbagai aliansi. Dengan aksi itu mereka mengharapkan adanya kerjasama antara pemerintah dan elemenelemen di masyarakat dalam menghentikan terjadinya satu juta infeksi baru dalam 10 tahun ke depan. Dalam rangka pencegahan AIDS, salah satu bentuk pencegahan yang banyak dikampanyekan adalah langkah ABCD yaitu : A - Anda puasa seks. B - Bersikap saling setia dengan satu pasangan (keduanya berstatus negatif) C - Pakai kondom jika anda atau pasangan anda beresiko tinggi, gunakan juga kondom jika anda tidak tahu status dari diri anda sendiri dan pasangan anda. D - Do not inject, jangan menyuntik (narkoba). Namun apakah langkah-langkah di atas adalah langkah-langkah yang cukup mengakomodir seluruh permasalahan HIV/AIDS dalam konteks Indonesia ? Apakah dengan setia pada satu pasangan itu akan menjamin kita terhindar dari HIV/AIDS ? Bagaimana dengan kenyataan bahwa orang-orang yang rentan terhadap HIV/AIDS adalah para perempuan yang terikat pernikahan, tidak melakukan free sex, selalu setia dengan pasanganya, tidak pernah menyuntik ? Apakah kita akan mampu menghentikan berkembangnya HIV/AIDS hanya dengan mengikuti langkah ABCD yang berfokus pada moralitas dan kesehatan atau ada hal lain yang sangat penting untuk kita perhatikan berkaitan dengan relasi gender dalam masyarakat ? Bertolak dari pertanyaan-pertanyaan di atas, saya tertarik untuk mengkaji tentang perempuan dan kerentanannya terhadap HIV/AIDS dan bagaimana kita berteologi dalam konteks tersebut. II. Suara Pengalaman Perempuan yang Menderita AIDS Gina (26)bukan nama sebenarnya, warga Tebet, Jakarta, yang terinfeksi HIV dari suaminya dua tahun silam. Suaminya terinfeksi virus itu ketika menggunakan jarum suntik bergantian dengan teman-temannya saat menggunakan narkotika, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza). Hal ini baru diketahui ketika suaminya menderita toksoplasma dan harus dirawat inap di rumah sakit. Sebelumnya, suaminya sering sakit panas, berkeringat pada malam hari, dan kaki bengkak. Karena toksoplasma rentan terinfeksi HIV, suaminya lalu disarankan tes. Hasilnya, sang suami dinyatakan positif HIV. Waktu itu aku sedang hamil anak kedua. Setelah dites, ternyata aku juga HIV positif. Rasanya kaget banget, tidak menyangka, kenapa harus terjadi, sementara aku tidak pernah macemmacem. Ini tekanan banget, dunia ini rasanya mau runtuh. Karena, sepengetahuanku, HIV itu tidak

ada obatnya dan mematikan, ujar Gina. Dalam kondisi kalut, ia harus mendampingi suaminya sendirian di rumah sakit. Tidak ada satu pun keluarganya yang menemani karena takut tertular. Lantaran menanggung beban sangat berat, anak keduanya lahir prematur melalui persalinan normal. Mestinya aku dioperasi caesar, tapi keburu pecah ketuban dan lahir. Beruntung ia dinyatakan negatif HIV, tuturnya. Ketidakpahaman tentang HIV/AIDS membuat Gina dan suaminya sempat dijauhi keluarga. Mertuanya pun memisahkan peralatan makan dan mandi mereka berdua. Aku nangis, kok aku diperlakukan seperti ini. Aku kan kena dari anaknya. Ternyata, mertuaku dipeseni sama perawat kalau harus memisahkan semua barangku dengan anggota keluarga lain, tuturnya. Rani juga adalah perempuan yang tertular dari suaminya. Akibat kemiskinan keluarganya sejak kelas 6 SD ia telah dipacari dan dibiayai kebutuhan hidupnya oleh seorang preman pasar dekat rumahnya yang berusia 6 tahun lebih tua darinya. Keluarganya pun bersyukur karena dengan demikian berarti beban ayahnya sebagai tukang parkir di pasar menjadi berkurang, malah ayahnya bilang sudah terima saja kalau perlu kau porotin aja dia. Maka tahun 2003 ketika ia menginjak kelas 3 SMP sang pacar mulai mengajaknya berhubungan seks. Rani yang masih lugu dan merasa berhutang budi tidak berdaya menolak ajakannya. Ketika ternyata hamil pada Februari 2004 mereka sepakat untuk menikah pada Maret 2004. Namun baru 2 minggu menjalani kehidupan berumahtangga sang suami mulai sakit demam tinggi berkeringat malam hari dan batuk parah. Dalam keadaan hamil Rani mesti mondarmandir menunggui dan mengantar suaminya berobat ke berbagai klinik karena ternyata penyakitnya tidak sembuh. Tetangga-tetangga pun curiga akan keadaanya namun karena sang suami dulunya preman pasar yang suka menolong mereka mendapat sumbangan dari para tetangga sebesar Rp 750.000 yang dipakai Rani untuk ongkos berobat. Namun akhirnya suaminya meninggal. Selanjutnya Rani mendapat bantuan sebuah LSM untuk melahirkan bayinya lewat operasi caesar demi mengurangi resiko penularan pada bayinya. Tapi ternyata bayinya telah terinfeksi HIV sejak lahir. Saya gak tahu kalau akibat fatalnya dari narkoba itu AIDS. Dia itu ternyata bandar dan pemakai narkoba juga. Kayaknya dia sering menyuntikkan heroin dengan teman-temannya, makanya kemarin ada 2 lagi temannya yang meninggal dekat rumah saya. Waktu lagvi pacaran sama saya, sebenarnya dia juga pacaran, sebenarnya dia juga pacaran dengan ewek lain malah ceweknya tinggal di rumah Dia. Tapi gimana lagi saya kan udah dibiayain sama dia. Lagian dia bilang ceweknya tinggal di rumah Dia. Tapi gimana lagi saya kan udah dibiayain sama dia. Lagian dia bilang pacaran sama orang yang seumuran tuh gak enak, soalnya biasanya ceweknya udah tahu macam-macam. Kalau sama saya kan gak begitu, katanya saya masih bloon belum ngerti apa-apa. Wah dia itu pinter bener ngerayunya.maklum mbak, saya kan masih kecil banget, belum ngerti diboongin. Apalagi dia kan preman juga di lingkungan rumahnya. Jadi gak berani. Kedua cerita di atas merupakan contoh betapa kompleksnya masalah HIV/AIDS. Masalah HIV/AIDS tidak hanya terkait dengan moralitas seperti klaim yang banyak muncul terhadap orang-orang yang terinfeksi HIV. Aksi pencegahan AIDS sendiri banyak mengkampanyekan kondom dengan programprogram pencegahan yang tampaknya lebih dominan diarahkan pada para pekerja seks. Bahkan ada stigma bahwa pekerja seksual perempuan yang menjadi penyebab penyebaran HIV/AIDS. Hal ini mengungkapkan bahwa masalahnya tidak sesederhana yang dipikirkan dan bisa diselesaikan dengan menempuh langkah ABCD. Berangkat dari contoh kasus seperti di atas kita melihat bahwa kedua

orang perempuan itu adalah perempuan yang melakukan hubungan seksual dengan suaminya dan ia tidak berhubungan seks dengan orang lain. Mereka tertular dari suaminya dan mereka baru mengetahui hal itu setelah sebelumnya suami mereka sakit/meninggal dan dinyatakan positif. Dalam situasi kehidupannya perempuan yang terinfeksi HIV bisa saja menjadi korban perkosaan, incest, trafickking atau hubungan seks yang dipaksakan, tidak diinginkan atau dengan kekerasan dimana perempuan tidak bisa menegosiasikan keinginannya. Perempuan bukanlah pecandu narkoba tapi suami atau pacar adalah pecandu yang sering berganti jarum suntik dengan orang banyak. Oleh karena itu menurut saya kita perlu melihat dan menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kerentanan perempuan terhadap HIV /AIDS. III. Faktor-faktor Penyebab Kerentanan Perempuan terhadap HIV /AIDS Ada berbagai faktor penyebab kerentanan perempuan terhadap HIV /AIDS diantaranya adalah : 1. Ketidaksetaraan gender Ketika hendak menulis paper ini seseorang bertanya pada saya apa hubungannya antara HIV /AIDS dengan masalah gender ? Pertanyaan ini membuat saya diam sejenak. Di benak saya terlintas bagaimana aksi kampanye dan langkah-langkah pencegahan yang dilakukan lebih terfokus pada moralitas dan penggunaan kondom, belum lagi media masa yang cenderung mendiskriminasi dan menghakimi para penderita AIDS bahkan mengukuhkan stigma-stigma tertentu. Contohnya: dalam berita kompas Sabtu 2 Desember 2006 dengan judul berita Hari AIDS momentum gugah kepedulian. Di sana ditekankan angka penderita infeksi HIV pada pengguna narkoba suntik dan perempuan pekerja seks komersial. Kutipan berita tersebut mengatakan Adapun estimasi terhadap 180.000265.000 perempuan pekerja seks komersial 8200-9460 telah terinfeksi HIV. Padahal pelanggan perempuan pekerja seks komersial ini sekitar 25 juta - 38 juta orang dan hanya 15 persen yang membawa kondom. Berita tersebut menurut saya semakin mengukuhkan stigma bahwa para pekerja seks komersial adalah pembawa HIV tanpa mempertanyakan bagaimana HIV itu sampai tertular kepada mereka, tanpa memikirkan bagaimana sampai mereka menjadi pekerja seks, tanpa memperhitungkan pengalaman mereka menjadi pekerja seks itulah yang membuat mereka terinfeksi HIV /AIDS dari laki-laki yang sering berganti-ganti pasangan. Ditambah lagi kalimat yang menyatakan bahwa hanya 15 persen yang membawa kondom seolah-olah para pelanggan sendirilah yang punya kesadaran untuk membawa kondom sementara para perempuan itu tidak punya posisi menentukan apakah pelanggannya perlu memakai kondom atau tidak. Dengan melihat pemberitaan di atas saya sendiri memaklumi pertanyaan teman saya tersebut. Saya pun awalnya memikirkan hal yang serupa hingga saya membaca kisah seorang perempuan penderita AIDS yang ditulari oleh suaminya. Dari kisah tersebut seperti contoh kisah yang telah dipaparkan sebelumnya kita perlu melihat bagaimana lemahnya perempuan dalam mempertahankan hak reproduksinya. Dalam situasi masyarakat dimana perempuan tidak diberi hak penuh untuk membuat keputusan tentang kehidupan mereka seorang remaja perempuan mungkin tidak dapat menolak keinginan pasangannya untuk melakukan hubungan seksual, meskipun mungkin mereka sebenarnya takut tertular infeksi dan takut hamil. Perempuan sesungguhnya memiliki hak-hak reproduksi seperti hak memutuskan dan bertanggung jawab terhadap jumlah, jeda dan waktu untuk mempunyai anak serta informasi yang

berkaitan dengan hal tersebut, hak untuk mendapatkan kehidupan seksual dan kesehatan reproduksi yang terbaik serta hak untuk mendapatkan pelayanan dan informasi agar hal tersebut dapat terwujud dan hak untuk membuat keputusan yang berkenaan dengan reproduksi yang bebas dari diskriminasi pemaksaan dan kekerasan. Dalam contoh kasus Gina, hak reproduksinya telah terenggut oleh karena tidak adanya penjelasan/pengetahuan bahwa kebiasaan suaminya dulu yang sempat aktif menyuntik beresiko terinfeksi HIV. Hampir serupa dengan masalah Gina, cerita Rani pun menggambarkan tentang seorang perempuan yang tidak terjamin dan terlindungi hak reproduksinya. Ada 2 hal yang membuat Rani dalam posisi terjepit dan tidak bisa melindungi dirinya dan hak reproduksinya. Hal pertama adalah ketergantungan ekonomi kepada pacarnya. Ia telah dibiayai oleh pacarnya sehingga ia merasa berhutangbudi dan tak kuasa menolak permintaan pacarnya. Dalam situasi seperti itu, ia sulit untuk mengatakan tidak meskipun itu sebenarnya adalah haknya. Saya pikir dalam dirinyapun ada dilema besar dimana di satu sisi mungkin ia takut kehilangan pacarnya. Rasa takut kehilangan yang mungkin lebih karena faktor ketergantungan ekonomi kepada pacarnya. Di sisi lain, ia merasa masih kecil dan belum tahu apa-apa. Namun apa daya, hutang budi dan ketergantungan ekonomi membuat dia menyetujui saja keinginan pacarnya hingga kehamilan itu pun terjadi dan mereka menikah. Dalam usia sebelia Rani, ia tidak punya banyak pilihan untuk hidup. Terlihat di sini hubungan yang tidak setara antara Rani dan suaminya. Ia terlihat pasif, lemah dan tidak berdaya. Ia ditempatkan pada posisi inferior yang membuatnya tidak memiliki kekuasaan untuk menempatkan diri secara setara dalam hubungan seksual dengan pasangannya tersebut. Hal kedua yang membuat Rani tidak bisa melindungi dirinya dan hak reproduksinya adalah kurangnya pengetahuan mengenai hal ini. Ketidaktahuan dan terbatasnya informasi tentang seksualitas dan reproduksi mengakibatkannya kesulitan menangani seksualitasnya dan membuat ia dalam posisi lemah dari orang yang melanggar hak reproduksinya. Ketimpangan gender yang membuat perempuan rentan terinfeksi HIV sangat jelas di sini. Kedudukan perempuan yang tidak setara mengakibatkan ia tidak kuasa untuk menempatkan diri secara setara dalam hubungan seksual dengan suami atau pasangannya. Keputusan seperti apakah ia hendak atau tidak berhubungan seksual, mempunyai anak, jumlah anak, bagaimana melakukan hubungan seks yang aman, seringkali tidak berada pada dirinya. Dalam hubungan yang tidak setara, tidak ada negosiasi bersama tentang hal-hal terkait dengan reproduksi perempuan sendiri. Sementara itu perempuan tidak berdaya untuk secara aktif melakukan komunikasi seksual. Pendapat perempuan dalam hal ini tidaklah penting karena perempuan dituntut untuk menurut saja, bahkan dianggap bahwa melakukan hubungan seksual adalah kewajiban yang harus dipenuhi istri atau pasangan. Oleh karena itu juga dalam posisi yang tidak setara ini, perempuan rentan terhadap berbagai kekerasan seksual. Ia tidak akan sanggup menolak hubungan seksual meskipun ia tahu suaminya memiliki hubungan dengan sejumlah perempuan lain di luar pernikahan. Relasi yang tidak seimbang ini membuat perempuan tidak memiliki kekuatan untuk melindungi diri mereka sendiri. Ketidaksetaraan gender ini juga membuat perempuan sulit memperoleh akses informasi tentang kesehatan reproduksi maupun hak reproduksinya. Hal ini terkait dengan posisi perempuan yang tidak ikut dalam pengambilan keputusan tentang reproduksi dan seksualitas. Sungguh ironis sebenarnya ketika melihat dalam hubungan yang tidak setara, perempuan tidak bisa menentukan apa yang harus terjadi pada tubuhnya

sendiri. 2. Ekonomi Kasus Rani di atas adalah contoh yang sangat baik untuk melihat bagaimana ketimpangan ekonomi telah membelenggu hak perempuan. Rani atau perempuan lain yang tidak bekerja dan memiliki penghasilan sendiri rentan terhadap ketimpangan ekonomi dan relasi yang tidak setara akibat ketergantungan ekonomi tersebut. Ketergantungan secara ekonomi telah membuat perempuan pasif dan tidak berdaya dalam hubungan yang sebenarnya beresiko tinggi bagi nyawanya. Mereka tidak dimungkinkan untuk menegosiasikan kebutuhan dan hak mereka. Bagaimana dengan para pekerja seks ? apakah mereka bekerja demikian karena mereka senang ? Menurut saya sebaiknya kita tidak cepat memberikan penilaian atau stigma negatif terhadap mereka Sebagian besar dari mereka adalah perempuan-perempuan yang hidup dalam kemiskinan, dimana hidup harus mereka pertahankan lewat cara demikian. Dalam pekerjaan merekapun, mereka banyak mengalami perlakuan tidak adil. Posisi mereka dalam hal ini tidak menguntungkan dimana secara ekonomi, mereka juga tergantung kepada para pelanggan. Ia akan takut kehilangan pelanggannya atau kehilangan sumber mata pencahariannya. Dengan demikian ada juga kecenderungan tidak berani untuk berinisiatif menegosiasikan penggunaan kondom, kepada pelanggannya. Dalam hal ini kita perlu juga menyadari bahwa pada kenyataanya infeksi HIV juga ditularkan melalui jarum suntik ataupun transfusi darah. 3. Sosial-budaya Faktor sosial budaya juga adalah faktor yang mempengaruhi kerentanan perempuan terhadap HIV. Dalam hal ini mereka yang terkena HIV cenderung dikucilkan dan dinilai negatif secara moral. Stigma yang kemudian dilekatkan pada mereka adalah bahwa mereka perempuan nakal. Kecenderungan ini berasal dari pemahaman yang sempit bahwa HIV menyerang mereka yang moralnya bobrok karena suka memakai narkoba, melakukan seks bebas dan tidak setia pada pasangannya. Stigma yang serupa juga dikenakan pada mereka yang menderita penyakit kelamin. Pemahaman negatif ini dihubungkan dengan kesalahan mereka. Padahal dari kedua contoh yang diangkat di awal tulisan ini, masalah yang terkait dengan HIV/AIDS tidaklah sesederhana itu. HIV/AIDS juga diderita oleh para ibu yang tidak melakukan seks bebas, tidak mengunakan suntikan narkoba namun mereka tertular dari pasangan mereka. Ironisnya, tak jarang bayi mereka juga terinfeksi HIV. Seperti apa yang dialami oleh Gina. Ia mengungkapkan bahwa ia tidak pernah macam-macam. Maksudnya ia tidak melakukan seks bebas dan penggunaan suntikan narkoba itu. Dalam situasi seperti ini tak jarang mereka tersisih dari komunitas, mereka dihindari seolah-olah mereka adalah sampah dan bila bersentuhan dengan mereka maka kita pun akan terinfeksi HIV. Kesehatan yang memburuk ditambah dengan pengucilan tentu akan semakin memperburuk hidup mereka. Stigma yang negatif ini sebenarnya akan memperburuk kondisi masyarakat karena orang yang terinfeksi HIV akan cenderung untuk berdiam. Enggan untuk memeriksakan diri karena takut dengan berbagai konsekuensi dan pengaruh sosial dalam relasinya di masyarakat . Selain hal di atas ada juga budaya dalam masyarakat yang menabukan pembicaraan seks dalam keluarga. Ini mengakibatkan kurangnya informasi yang didapat mengenai seksualitas dan hak reproduksi perempuan. Kekurangan informasi sebenarnya berakibat fatal karena dengan demikian remaja putri maupun perempuan dewasa pada umumnya tidak mengetahui bagaimana cara menangani kesehatan reproduksi mereka atau juga seksualitas. Kelemahan ini cenderung dimanfaatkan oleh para

pelanggar hak -hak reproduksi perempuan . IV. Refleksi Teologis Ketika berhadapan dengan AIDS muncul suatu pandangan bahwa AIDS adalah kutukan Tuhan. Hal itu diurai panjang lebar oleh Eka Darmaputera, dimana menurutnya di satu pihak ia dapat mengerti pandangan tersebut dalam arti sepanjang sejarah bukan hanya kali ini penyakit dipakai sebagai kutukan Tuhan. Dalam Alkitab, contohnya penyakit kusta pernah dianggap sebagai kutukan Allah. Terkena penyakit ini akan dianggap dan diperlakukan sebagai orang yang najis dan terkutuk. Di dalam PB orang-orang yang menderita epilepsi tidak jarang disebut orang yang kerasukan setan. Namun demikian menurutnya, pendapat seperti ini adalah suatu pandangan yang salah dan berbahaya. Menurutnya AIDS adalah sesuatu yang amat mengerikan dan berbahaya. Dengan seluruh upaya, seharusnya kita bekerja keras menangkal dan mengatasinya, tetapi bukan dengan menyebarkan ketakutan dan histeria yang lebih besar lagi dengan mengatakan bahwa AIDS adalah kutukan Tuhan. Melihat AIDS sebagai kutukan Tuhan adalah pendekatan yang tidak berpihak pada korban. Apakah bayi-bayi itu dikutuk Tuhan dengan terinfeksi HIV ibu atau ayahnya ? apakah perempuan itu dikutuk Tuhan padahal dia ditulari HIV oleh suaminya ? Meskipun pandangan di atas tidak bisa kita hindari, namun menurut saya pendekatan teologis yang perlu kita kembangkan adalah pendekatan teologis yang berempati terhadap korban yaitu mereka yang terinfeksi HIV/ AIDS. Pendekatan yang menghakimi korban seperti refleksi teologis sebelumnya saya pikir akan semakin memperburuk keadaan korban. Untuk itu pendekatan yang berempati terhadap korban adalah hal yang lebih tepat untuk dikembangkan dalam konteks pergumulan HIV di Indonesia. Dalam hal ini saya menyoroti Lukas 4 : 18-19, pendahuluan isi yang beragam dalam Lukas ini dan hubungannya dengan peristiwaperistiwa sejarah membuktikan bahwa Lukas bersikap serius terhadap usahanya untuk menulis risalah sejarah yang mengikuti suatu alur peristiwa yang seksama dan yang sebagian besar bersifat kronologis. Karya ini terutama ditulis untuk seseorang yang berstatus sosial tinggi yang rupanya adalah seorang petobat baru dan membutuhkan suatu konfirmasi dan penemuan atas apa yang baru saja diajarkan kepadanya. Penulis dengan seksama bekerja dalam tradisi sejarawan helenis, yang tidak hanya menyajikan fakta tetapi juga menafsirkan pentingnya moral mereka. Lukas terlihat ambisius untuk menggali gerakan agama yang baru dari lahirnya agama itu di Betlehem dan stabil menjadi agama dalam kekaisaran Roma. Oleh karena itulah Yesus menjadi sentral dalam sejarah tersebut. Dalam bagian ini Yesus menyatakan bahwa ia datang untuk menyampaikan kabar baik kepada orangorang miskin untuk memberitakan pembebasan kepada orang-orang tawanan dan penglihatan bagi orang-orang buta, untuk membebaskan orang-orang yang tertindas, untuk memberitakan tahun rahmat Tuhan telah datang. Bagian ini adalah bagian yang dikutip oleh Yesus ketika ia ditolak di Nazaret Apa maksud Yesus ? Di sini ia hendak memperingatkan bahwa kerajaan Allah sudah dekat, sudah datang dan bahkan berada diantara kita. Kedatangan kerajaan Allah adalah inti injil. Dalam kerajaan Allah itu tidak akan ada lagi yang kaya dan miskin, yang menindas dan yang tertindas, yang mempermainkan dan yang tidak berdaya . Dalam hal ini Yesus menghadirkan diri bagii mereka yang tak berdaya termasuk mereka yang menderita HIV/ AIDS. Di samping itu kita sebagai murid Yesus, juga berperan untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini. Peran kita untuk menghadirkan kerajaan Allah di dunia ini sangat terkait dengan apa yang telah dikatakan dan diteladankan pada kita oleh Yesus. Itulah

tugas kita sebagai muridnya yaitu menyampaikan kabar baik kepada orang miskin yang menderita dan yang tidak berdaya. Dalam tugas panggilan kita sebagai murid Kristus. Menurut saya tindakan yang perlu dilakukan adalah tindakan yang menopang, menghibur dan mendampingi mereka yang terinfeksi HIV/ AIDS. Penekanan kita terhadap masalah HIV/ AIDS ini hendaknya tidak saja berfokus pada program-program pencegahan yang lebih banyak bersifat medis atau bahkan moralitas. Sementara pendampingan kepada orang-orang yang menderita HIV/ AIDS justru seringkali diabaikan. Penderitaan mereka dipandang sebelah mata. Dalam hal ini menurut saya kita perlu membangun kesadaran untuk hadir bersama dengan mereka yang menderita HIV/ AIDS, menyampaikan kabar baik mengenai Kerajaan Allah lewat kepedulian dan kasih sayang kita kepada mereka. Kepedulian dan kasih sayang kepada mereka hendaknya diwujudkan dalam tindakan-tindakan kongkrit berupa penyadaran dan sosialisasi mengenai hak-hak reproduksi perempuan, penyadaran dan sosialisasi mengenai kesetaraan relasi pria dan wanita, membongkar stigma-stigma yang ada di masyarakat yang selama ini telah mempengaruhi pikiran masyarakat untuk memperlakukan para korban penderita HIV/ AIDS dengan cara yang negatif. Penegakan hukum terhadap kasus-kasus yang melanggar hak reproduksi kaum perempuan perlu untuk diperhatikan. Dengan hukum ini perempuan dapat melindungi diri mereka dari bahaya infeksi HIV dan relasi seksual yang tidak aman. Selanjutnya perlu juga dikembangkan program-program pemberdayaan ekonomi perempuan untuk mengurangi ketergantungan ekonominya kepada pasangannya. Dengan beberapa aksi yang dapat dilakukan bersama tersebut, diharapkan infeksi HIV dapat dicegah penyebarannya.