Anda di halaman 1dari 16

TUGAS ETIKA PROFESI Peran Dan Kompetensi Ahli Gizi Dalam Masyarakat

Di susun oleh :

Aliffia Maygitasari Anggarini Anissa Rachma.S Afriyanti Astrid Amelia Evi Rahmawati

Galih Rakasiwi Hanna Rayechka P.P Indah Nur Fitri Miranti Dwi Anindita Shelly Dwi Septiani Zahra Thunzira

Kelas : 3 A

POLITEKNIK KESEHATAN KEMENKES JAKARTA II JURUSAN GIZI 2012


1

KATA PENGANTAR

Dengan memanjatkan puji syukur ke hadirat Tuhan Yang Maha Esa, atas segala limpahan rahmat dan karunia-Nya kepada tim penulis sehingga dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul Peran Dan Kompetensi Ahli Gizi Dalam Masyarakat Penulisan makalah ini merupakan salah satu tugas dan persyaratan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Etika Profesi. Penulis menyadari bahwa didalam pembuatan makalah ini berkat bantuan dan tuntunan Tuhan Yang Maha Esa dan tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Untuk itu, dalam kesempatan ini penulis menghaturkan rasa hormat dan terima kasih yang sebesarbesarnya kepada semua pihak yang membantu dalam pembuatan makalah ini. Penulis menyadari bahwa dalam proses penulisan makalah ini masih jauh dari kesempurnaan baik materi maupun cara penulisannya. Untuk itu tim penulis dengan rendah hati dan dengan tangan terbuka menerima masukan,saran dan usul dari semua pihak guna penyempurnaan makalah ini. Akhirnya tim penulis berharap semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi seluruh pembaca.

Jakarta, 15 Oktober 2012

Tim Penulis

Bab I Pendahuluan

A. Latar Belakang
llmu gizi didefinisikan sebagai suatu cabang ilmu yang mempelajari hubungan antara makanan yang dimakan dengan kesehatan tubuh yang diakibatkannya serta faktorfaktor yang mempengaruhinya. Dampak globalisasi menuntut tenaga gizi yang handal dan profesional serta tanggap dalam mengantisipasi perkembangan masalah gizi baik nasional maupun internasional. Oleh karena itu diperlukan pengembangan sumberdaya manusia sebagai ahli gizi professional di Indonesia yang berkesinambungan dan mempunyai daya saing internasional

Peran ahli gizi sebagai suatu profesi dalam hal penelitian merupakan salah satu kompetensi yang harus dilakukan oleh ahli gizi, seperti yang tertulis didalam kepmenkes nomer 347 tahun 2007, maka seorang ahli gizi harus selalu melakukan penelitianpenelitian gizi guna untuk meningkatkan pengetahuan serta menemukan sesuatu yang baru untuk kepentingan bersama, dan melalui penelitiannya diharapkan mampu

meningkatkan status gizi pada masyarakat, serta memecahkan masalah gizi di masyarakat.

Bab II Pembahasan
Kompetensi program studi ilmu gizi dilakukan berdasarkan dari peran dan fungsi sarjana gizi/ahli gizi (S.GZ) di masyarakat dan sistem pelayanan gizi dalam aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif serta mengacu kepada tujuan pendidikan sebagai berikut :

Menjelaskan secara benar dasar-dasar ilmu gizi dan kaitannya dengan kesehatan dan pangan;

Mengkaji secara menyeluruh keterkaitan gizi, kesehatan, dan pangan dalam suatu sistem;

Mengkaji, menilai, dan mengidentifikasi keadaan gizi individu, kelompok, atau masyarakat;

Membuat perencanaan intervensi dan pelayanan gizi yang sesuai dengan kebutuhan; Melaksanakan intervensi dan pelayanan gizi sesuai dengan rencana intervensi; Melaksanakan kegiatan monitoring pelaksanaan intervensi dan pelayanan gizi; Melaksanakan kegiatan evaluasi pelaksanaan intervensi dan pelayanan gizi; Melakukan promosi gizi dan melakukan mobilisasi sosial untuk pencegahan dan penanganan masalah gizi;

Memahami pentingnya kerjasama lintas sektor, lintas disiplin dan lintas profesi dalam menangani masalah gizi;

Melakukan persiapan-persiapan yang diperlukan untuk kegiatan advokasi dalam menangani masalah gizi;

Merancang dan melaksanakan penelitian dibawah bimbingan seorang ahli atau kelompok ahli;

Menerapkan hasil-hasil penelitian terbaru pada intervensi dan pelayanan gizi; Memutakhirkan diri dalam perkembangan ilmu dan teknologi bidang gizi..

A. Ahli Gizi Sebagai Tenaga Kerja Profesional Ahli gizi atau Registered Dietitien (RD) adalah sarjana gizi yang telah mengikuti pendidikan profesi gizi (dietetic internship) dan dinyatakan lulus setelah mengikuti ujian kompetensi profesi gizi, yang kemudian diberi hak untuk mengurus ijin memberikan pelayanan dan menyelenggarakan praktek gizi (Persagi, 2010). RD bertugas melakukan pengkajian gizi, menentukan diagnosa gizi, menentukan dan

mengimplementasikan intervensi gizi, dan kemudian melakukan visite berkala untuk memonitor dan mengevaluasi perkembangan kondisi pasien. Selain itu, RD juga bertugas melakukan edukasi gizi untuk pencegahan penyakit dan konseling gizi untuk kondisi kronis (ADA, 2007).

Sebagai ahli gizi profesional, hendaknya memiliki ciri-ciri sebagai berikut : 1. Mengembangkan pelayanan yang unik kepada masyarakat 2. Anggota-anggotanya dipersiapkan melalui suatu program pendidikan 3. Memiliki serangkaian pengetahuan ilmiah 4. Anggota-anggotanya menjalankan tugas profesinya sesuai kode etik yang berlaku 5. Anggota-anggotanya bebas mengambil keputusan dalam menjalankan profesinya 6. Anggota-anggotanya wajar menerima imbalan jasa atas pelayanan yang diberikan 7. Memiliki suatu organisasi profesi yang senantiasa meningkatkan kualitas pelayanan yang diberikan kepada masyarakat oleh anggotanya 8. Pekerjaan/sumber utama seumur hidup 9. Berorientasi pada pelayanan dan kebutuhan obyektif 10. Otonomi dalam melakukan tindakan 11. Melakukan ikatan profesi, lisensi jalur karir 12. Mempunyai kekuatan dan status dalam pengetahuan spesifik 13. Alturism (memiliki sifat kemanusiaan dan loyalitas yang tinggi)

Di Indonesia, Ahli Gizi termasuk Ahli Madya Gizi sebagai pekerja profesional harus memiliki persyaratan sebagai berikut : 1. Memberikan pelayanan kepada masyarakat yang bersifat khusus atau spesialis 2. Melalui jenjang pendidikan yang menyiapkan tenaga profesional 3. Keberadaannya diakui dan diperlukan oleh masyarakat 4. Mempunyai kewenangan yang disyahkan atau diberikan oleh pemerintah 5. Mempunyai peran dan fungsi yang jelas 6. Mempunyai kompetensi yang jelas dan terukur 7. Memiliki organisasi profesi sebagai wadah 8. Memiliki etika Ahli Gizi 9. Memiliki standar praktek 10. Memiliki standar pendidikan yang mendasari dan mengembangkan profesi sesuai dengan kebutuhan pelayanan 11. Memiliki standar berkelanjutan sebagai wahana pengembangan kompetensi.

B. Standar Kompetensi dan Peran Ahli Gizi Standar kompetensi ahli gizi disusun berdasarkan jenis ahli gizi yang ada saat ini yaitu ahli gizi dan ahli madya gizi. Keduanya mempunyai wewenang dan tanggung jawab yang berbeda. Secara umum tujuan disusunnya standar kompetensi ahli gizi adalah sebagai landasan pengembangan profesi Ahli Gizi di Indonesia sehingga dapat mencegah tumpang tindih kewenangan berbagai profesi yang terkait dengan gizi. Adapun tujuan secara khusus adalah sebagai acuan/pedoman dalam menjaga mutu Ahli Gizi, menjaga dan meningkatkan mutu pelayanan gizi yang profesional baik untuk individu maupun kelompok serta mencegah timbulnya malpraktek gizi (Persagi, 2010).

C. Peran Ahli Gizi di bidang masyarakat Secara umum, paling tidak seorang ahli gizi memiliki 3 peran, yakni sebagai dietisien, sebagai konselor gizi, dan sebagai penyuluh gizi (Nasihah, 2010)

1. Dietisien adalah seseorang yang memiliki pendidikan gizi, khususnya dietetik, yang bekerja untuk menerapkan prinsip-prinsip gizi dalam pemberian makan kepada individu atau kelompok, merencanakan menu, dan diet khusus, serta mengawasi penyelenggaraan dan penyajian makanan (Kamus Gizi, 2010).

2. Konselor gizi adalah ahli gizi yang bekerja untuk membantu orang lain (klien) mengenali mengatasi masalah gizi yang dihadapi, dan mendorong klien untuk mencari dan memilih cara pemecahan masalah gizi secara mudah sehingga dapat dilaksanakan oleh klien secara efektif dan efisien. Konseling biasanya dilakukan lebih privat, berupa komunikasi dua arah antara konselor dan klien yang bertujuan untuk memberikan terapi diet yang sesuai dengan kondisi pasien dalam upaya perubahan sikap dan perilaku terhadap makanan (Magdalena, 2010).

3. Penyuluh gizi, yakni seseorang yang memberikan penyuluhan gizi yang merupakan suatu upaya menjelaskan, menggunakan, memilih, dan mengolah bahan makanan untuk meningkatkan pengetahuan, sikap, dan perilaku perorangan atau masyarakat dalam mengonsumsi makanan sehingga meningkatkan kesehatan dan gizinya (Kamus Gizi, 2010). Penyuluhan gizi sebagian besarnya dilakukan dengan metode ceramah (komunikasi satu arah), walaupun sebenarnya masih ada beberapa metode lainnya yang dapat digunakan. Berbeda dengan konseling yang komunikasinya dilakukan lebih pribadi, penyuluhan gizi disampaikan lebih umum dan biasanya dapat menjangkau sasaran yang lebih banyak.

Ketiga peran itu hanya bisa dilakukan oleh seorang ahli gizi atau seseorang yang sudah mendapat pendidikan gizi dan tidak bisa digantikan oleh profesi kesehatan manapun, karena ketiga peran itu saling berkaitan satu sama lain, tidak dapat dipisahkan.
Kemudian, dari mana masyarakat umum dapat memeroleh informasi dan pengetahuanpengetahuan tentang gizi guna memperbaiki pola hidup mereka? Di sinilah peran seorang ahli gizi sebagai penyuluh dan konselor gizi sangat diperlukan. Seorang ahli gizi yang tentu saja harus memiliki kompetensi sebagai seorang dietisien ini juga harus mau membagi ilmu yang dimilikinya kepada masyarakat umum melalui konseling dan penyuluhan. Dengan ilmu yang menjadi keahliannya, ahli gizi dapat membantu masyarakat mengatasi masalah kesehatan mereka dan keluarga terutama yang berkaitan dengan gizi dengan menggunakan bahasa yang umum dan sederhana yang mudah dimengerti oleh masyarakat awam.

Dengan adanya peran ahli gizi di dalam masyarakat, diharapkan dapat membantu memperbaiki status kesehatan masyarakat, khususnya melalui berbagai upaya preventif (pencegahan). Mudahnya begini, jika kita tahu apa saja dan bagaimana makanan yang aman, sehat, dan bergizi untuk dikonsumsi, kemudian mengamalkannya dalam kehidupan sehari-hari, 7

niscaya kita akan terhindar dari berbagi penyakit mengerikan yang sudah disebutkan di atas. Bayangkan jika tidak, dan kemudian kita harus mengobati penyakit-penyakit itu, tentunya akan terasa sangat menyakitkan dan pastinya akan mengabiskan biaya yang tidak sedikit untuk mengobatinya. Kita semua tahu, bahwa mencegah itu lebih baik (dan lebih murah) daripada mengobati. Jika kita bisa menerapkan kebiasaan itu, kita menjadi tidak mudah sakit, dan tidak terlalu tergantung kepada jasa dokter dan perawat, serta tidak perlu mengonsumsi obat-obatan yang umumnya selalu memiliki efek samping terhadap kesehatan. Melalui ahli gizilah salah satu caranya masyarakat dapat mengetahui berbagai informasiinformasi dan isu-isu kesehatan, khususnya yang berhubungan dengan gizi. Jika dilakukan tatap muka, masyarakat pun dapat langsung berinteraksi dengan ahli gizi dan berkonsultasi langsung dengan mudah mengenai permasalahan gizi yang mereka hadapi. Ahli gizi yang memberikan penyuluhan dan konseling pun hendaknya memiliki bekal pengetahuan dan wawasan yang cukup yang harus terus ditambah dan diperbaharui setiap waktu.

Selain memberikan informasi mengenai makanan dan gizi yang dikandungnya, ahli gizi juga wajib menguasai tentang penyakit-penyakit yang berkaitan dengan gizi, seperti penyakitpenyakit degeneratif, penyakit-penyakit akibat malnutrisi, dan penyakit-penyakit infeksi untuk kemudian disebarluaskan kepada masyarakat. Hal-hal yang dapat diinformasikan antara lain dimulai dari pengertian dan penjelasan singkat mengenai penyakit tersebut, kemudian apa saja tanda dan gejalanya, apa penyebabnya, bagaimana cara mengatasi, mengobati, dan mencegahnya, serta apa saja makanan dan minuman yang dianjurkan dan yang tidak dianjurkan.

Sebagai seorang penyuluh, ahli gizi dapat menyampaikan informasi-informasi kesehatan yang khususnya berkaitan dengan gizi serentak kepada audiens yang jumlahnya relatif lebih banyak. Hal ini menguntungkan karena informasi penting tersebut dapat langsung tersebar kepada sasaran yang lebih luas dalam waktu yang relatif lebih singkat. Namun, informasi yang disampaikan biasanya bersifat umum, kurang detail, dan respon dari audiens yang dapat ditanggapi pun terbatas.

Sedangkan dalam melakukan kegiatan konseling gizi, biasanya terjadi komunikasi langsung dua arah antara konselor dan klien. Hal ini lebih efektif, karena informasi yang disampaikan pun dapat lebih detail dan lengkap. Komunikasi yang dibangun pun dapat lebih intens dan mendalam sehingga dapat benar-benar dipahami apa keinginan dan kebutuhan klien. Hanya saja, penyampaian informasi yang dilakukan melalui metode konseling ini akan memerlukan waktu yang lebih lama jika sasaran yang dicapai lebih banyak.

Mengingat betapa pentingnya peran ahli gizi dalam membantu meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia, mari kita dukung mereka dalam menjalankan program-program gizi dan kesehatan guna menuju Indonesia yang lebih sehat.

Selain ketiga peran yang telah dijelaskan diatas, peran ahli gizi juga dapat dikaji pada rincian di bawah ini : 1. Ahli Gizi a. Pelaku tatalaksana/asuhan/pelayanan gizi klinik b. Pengelola pelayanan gizi di masyarakat c. Pengelola tatalaksana/asuhan/pelayanan gizi di RS d. Pengelola sistem penyelenggaraan makanan institusi/masal e. Pendidik/penyuluh/pelatih/konsultan gizi f. Pelaksana penelitian gizi g. Pelaku pemasaran produk gizi dan kegiatan wirausaha h. Berpartisipasi bersama tim kesehatan dan tim lintas sektoral i. Pelaku praktek kegizian yang bekerja secara profesional dan etis

2. Ahli Madya Gizi a. Pelaku tatalaksana/asuhan/pelayanan gizi klinik b. Pelaksana pelayanan gizi masyarakat c. Penyelia sistem penyelenggaraan makanan Institusi/massal d. Pendidik/penyuluh/pelatih/konsultan gizi e. Pelaku pemasaran produk gizi dan kegiatan wirausaha f. Pelaku praktek kegizian yang bekerja secara profesional dan etis (Persagi, 2010)

Namun, bila dibandingkan dengan kondisi di lahan, peran Ahli gizi belum berjalan secara maksimal. Hal ini disebabkan oleh : 1. Kurangnya jumlah tenaga ahli gizi di rumah sakit sehingga belum dapat mencakup semua ruang rawat inap dan masih merangkap tugas yang lain. 2. Belum terbentuknya tim asuhan gizi yang solid, sehingga praktek kolaborasi antara ahli gizi dan profesi yang lain belum berjalan secara maksimal.

3. Tidak adanya nutritional assessment tools di ruangan, seperti microtoa, knee-height caliper, pita LILA. Alat yang dipakai selama ini kebanyakan hanya medline dan timbangan berat badan. 4. Kurangnya kunjungan ahli gizi ke ruang rawat inap yang menjadi tanggung-jawabnya sehingga memungkinkan pasien tidak mengenali ahli gizi rumah sakit. 5. Belum dilakukannya skrining gizi secara menyeluruh terhadap pasien, sehingga memungkinkan pasien yang berisiko malnutrisi tidak terdeteksi. D. Kode Etik Ahli Gizi (Persagi, 2010)

Ahli

Gizi

yang dan

melaksanakan memperbaiki

profesi keadaan

gizi

mengabdikan kesehatan,

diri

dalam

upaya memelihara

gizi,

kecerdasan

dan kesejahteraan rakyat melalui upaya perbaikan gizi, pendidikan gizi, pengembangan ilmu dan teknologi gizi, serta ilmu-ilmu terkait. Ahli Gizi dalam menjalankan profesinya harus senantiasa bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, menunjukkan sikap dan perbuatan terpuji yang dilandasi oleh falsafah dan nilainilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945 serta Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Persatuan Ahli Gizi Indonesia serta etik profesinya.

a. Kewajiban Umum 1. Meningkatkan keadaan gizi dan kesehatan serta berperan dalam meningkatkan kecerdasan dan kesejahteraan rakyat 2. Menjunjung tinggi nama baik profesi gizi dengan menunjukkan sikap, perilaku, dan budi luhur serta tidak mementingkan diri sendiri 3. Menjalankan profesinya menurut standar profesi yang telah ditetapkan. 4. Menjalankan profesinya bersikap jujur, tulus dan adil. 5. Menjalankan profesinya berdasarkan prinsip keilmuan, informasi terkini, dan dalam menginterpretasikan informasi hendaknya objektif tanpa membedakan individu dan dapat menunjukkan sumber rujukan yang benar. 6. Mengenal dan memahami keterbatasannya sehingga dapat bekerjasama dengan pihak lain atau membuat rujukan bila diperlukan. 7. Melakukan profesinya mengutamakan kepentingan masyarakat dan berkewajiban senantiasa berusaha menjadi pendidik dan pengabdi masyarakat yang sebenarnya. 8. Berkerjasama dengan para profesional lain di bidang kesehatan maupun lainnya berkewajiban senantiasa memelihara pengertian yang sebaik-baiknya.
10

b. Kewajiban Terhadap Klien 1. Memelihara dan meningkatkan status gizi klien baik dalam lingkup institusi pelayanan gizi atau di masyarakat umum. 2. Menjaga kerahasiaan klien atau masyarakat yang dilayaninya baik pada saat klien masih atau sudah tidak dalam pelayanannya, bahkan juga setelah klien

meninggal dunia kecuali bila diperlukan untuk keperluan kesaksian hukum. 3. Menjalankan profesinya senantiasa menghormati dan menghargai kebutuhan unik setiap klien yang dilayani dan peka terhadap perbedaan budaya, dan tidak melakukan diskriminasi dalam hal suku, agama, ras, status sosial, jenis kelamin, usia dan tidak menunjukkan pelecehan seksual. 4. Memberikan pelayanan gizi prima, cepat, dan akurat. 5. Memberikan informasi kepada klien dengan tepat dan jelas, sehingga

memungkinkan klien mengerti dan mau memutuskan sendiri berdasarkan informasi tersebut. 6. Apabila mengalami keraguan dalam memberikan pelayanan berkewajiban senantiasa berkonsultasi dan merujuk kepada ahli gizi lain yang mempunyai keahlian.

c. Kewajiban Terhadap Masyarakat 1. Melindungi masyarakat umum khususnya tentang penyalahgunaan pelayanan, informasi yang salah dan praktek yang tidak etis berkaitan dengan gizi, pangan termasuk makanan dan terapi gizi/diet. 2. Memberikan pelayanannya sesuai dengan informasi faktual, akurat dan

dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya. 3. Melakukan kegiatan pengawasan pangan dan gizi sehingga dapat mencegah masalah gizi di masyarakat. 4. Peka terhadap status gizi masyarakat untuk mencegah terjadinya masalah gizi dan meningkatkan status gizi masyarakat. 5. Memberi contoh hidup sehat dengan pola makan dan aktifitas fisik yang seimbang sesuai dengan nilai paktek gizi individu yang baik. 6. Dalam bekerja sama dengan profesional senantiasa lain di masyarakat, Ahli

Gizi berkewajiban

hendaknya

berusaha

memberikan

11

dorongan, dukungan, inisiatif, dan bantuan lain dengan sungguh-sungguh demi tercapainya status gizi dan kesehatan optimal di masyarakat. 7. Mempromosikan atau mengesahkan produk makanan tertentu berkewajiban senantiasa tidak dengan cara yang salah atau, menyebabkan salah interpretasi atau menyesatkan masyarakat

d. Kewajiban Terhadap Teman Seprofesi Dan Mitra Kerja 1. Melakukan promosi gizi, memelihara dan meningkatkan status gizi masyarakat secara optimal, berkewajiban senantiasa bekerjasama dan menghargai berbagai disiplin ilmu sebagai mitra kerja di masyarakat. 2. Memelihara hubungan persahabatan yang harmonis dengan semua organisasi atau disiplin ilmu/profesional yang terkait dalam upaya meningkatkan status gizi, kesehatan, kecerdasan dan kesejahteraan rakyat. 3. Menyebarluaskan ilmu pengetahuan dan keterampilan terbaru kepada sesama profesi dan mitra kerja.

e. Kewajiban Terhadap Profesi Dan Diri Sendiri 1. Mentaati, melindungi dan menjunjung tinggi ketentuan yang dicanangkan oleh profesi. 2. Memajukan dan memperkaya pengetahuan dan keahlian yang diperlukan dalam menjalankan profesinya sesuai perkembangan ilmu dan teknologi terkini serta peka terhadap perubahan lingkungan. 3. Menunjukan sikap percaya diri, berpengetahuan luas, dan berani mengemukakan pendapat serta senantiasa menunjukan kerendahan hati dan mau menerima pendapat orang lain yang benar. 4. Menjalankan profesinya berkewajiban untuk tidak boleh dipengaruhi oleh kepentingan pribadi termasuk menerima uang selain imbalan yang layak sesuai dengan jasanya, meskipun dengan pengetahuan klien/masyarakat (tempat dimana ahli gizi diperkerjakan). 5. Tidak melakukan perbuatan yang melawan hukum, dan memaksa orang lain untuk melawan hukum. 6. Memelihara kesehatan dan keadaan gizinya agar dapat bekerja dengan baik.
12

7. Melayani masyarakat umum tanpa memandang keuntungan perseorangan atau kebesaran seseorang. 8. Selalu menjaga nama baik profesi dan mengharumkan organisasi profesi.

E. Standar Kompetensi Gizi Masyarakat

1. Mengelola Pelayanan Gizi pada populasi yang berbeda dalam daur kehidupan. 2. Melakukan penilaian/ evaluasi dampak program pangan dan gizi yang berbasis 3. masyarakat. 4. Mengembangkan program pangan dan gizi yang berbasis masyarakat 5. Berpartispiasi dalam survailans dan pemantauan gizi pada masyarakat 6. Berpartisipasi dalam penelitian berbasis masyarakat 7. Berpartisipasi dalam pengembangan dan evaluasi kebijakan pangan dan gizi berdasarkan pada kebutuhan dan sumber daya. 8. Berkonsultasi dengan berbagai organisasi yang berkaitan dengan penyediaan pangan pada 9. populasi sasaran 10. Mengembangkan proyek-proyek intervensi, pencegahan penyakit dan promosi kesehatan 11. Berpartisipasi dalam penetapan ambang batas dalam pemeriksaaan laboratorium. 12. Melaksanakan pengkajian kesehahatan umum, seperti tekanan darah.

Berdasarkan kondisi dilahan, ahli gizi sudah berusaha memenuhi peran dan fungsinya sesuai kompetensi dank kode etik profesi yang dimiliki meskipun masih banyak kendala yang ditemukan diantaranya : a. Kurangnya tenaga/jumlah ahli gizi sehingga ahli gizi masih merangkap tugas sehingga asuhan gizi kurang berjalan maksimal b. Keselamatan pasien (Patient Safety) masih belum dilakukan karena masih banyak ditemukan kurang tepatnya diit yang diberikan c. Kegiatan skrining gizi belum dilaksanakan ke seluruh pasien sehingga terdapat kemungkinan tidak terpaparnya pasien yang seharusnya mendapat asuhan gizi karena resiko malnutrisi

13

d. Kurangnya sarana dan prasarana yang mendukung seperti pengukur tinggi badan, tinggi lutut, pengukur Lila sehingga hasil pengukuran kurang valid karena menggunakan metline biasa. e. Konseling gizi terkadang belum berjalan secara maksimal. Beberapa pasien yang mendapatkan lefleat masih mengaku belum mengerti dengan materi yang diberikan. f. Masih banyak pasien yang belum mengenal ahli gizi ruangan terutama pasien yang hanya menerima Medical Nutrition Therapy (MNT) g. Kompetensi dan tingkat pendidikan ahli gizi masih perlu ditingkatkan karena mayoritas tenaga masih Diploma III (Tiga) Gizi h. Tim asuhan gizi belum berjalan optimal

Beberapa kondisi diatas menggambarkan kurang optimalnya kegiatan asuhan gizi diruangan sehingga perlu peningkatan sarana dan prasarana yang mendukung, penambahan tenaga ahli gizi yang proporsional dengan beban kerja yang ada, peningkatan profesionalitas ahli gizi yang salahsatunya dengan meningkatkan pendidikan baik formal maupun informal (Shortcourse, seminar/symposium/work shop), kemitraan dengan profesi lain khususnya tim asuhan gizi juga perlu ditingkatkan sehingga kegiatan asuhan gizi lebih optimal dijalankan.

14

Bab III Penutup


Kesimpulan seorang ahli gizi harus selalu melakukan penelitian-penelitian gizi guna untuk meningkatkan pengetahuan serta menemukan sesuatu yang baru untuk kepentingan bersama, dan melalui penelitiannya diharapkan mampu meningkatkan status gizi pada masyarakat, serta memecahkan masalah gizi di masyarakat. Kewajiban Ahli Gizi terhadap masyarakat diantaranya : Melindungi masyarakat umum khususnya tentang penyalahgunaan pelayanan, informasi yang salah dan praktek yang tidak etis berkaitan dengan gizi, pangan termasuk makanan dan terapi gizi/diet, Memberikan pelayanannya sesuai dengan informasi faktual, akurat dan

dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya, Melakukan kegiatan pengawasan pangan dan gizi sehingga dapat mencegah masalah gizi di masyarakat, Peka terhadap status gizi masyarakat untuk mencegah terjadinya masalah gizi dan meningkatkan status

gizi masyarakat, Memberi contoh hidup sehat dengan pola makan dan aktifitas fisik yang seimbang sesuai dengan nilai paktek gizi individu yang baik, Dalam bekerja sama dengan profesional lain di masyarakat, Ahli Gizi berkewajiban hendaknya senantiasa berusaha memberikan dorongan, dukungan, inisiatif, dan bantuan lain dengan sungguh-sungguh demi tercapainya status gizi dan kesehatan optimal di masyarakat, Mempromosikan atau mengesahkan produk makanan tertentu berkewajiban senantiasa tidak dengan cara yang salah atau, menyebabkan salah interpretasi atau menyesatkan masyarakat.

15

DAFTAR PUSTAKA
Almatsier, Sunita. 2006. Pelayanan Gizi Pasien Rawat Inap dan Rawat Jalan. Penuntun Diet Edisi Terbaru. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama. Nasihah, Fathiya. 2010. Peran Ahli Gizi sebagai Penyuluh dan Konselor Gizi. American Dietetic Association. 2007. The Role Of Registered Dietitian. http://www.eatright.org http://bleumariposa.wordpress.com/2010/07/06/peran-ahli-gizi-sebagai-penyuluhkonselor-gizi/ http://mypersagi.blogspot.com/2010/02/kompetensi-inti-1.html#uds-search-results http://widya-adrianingtias.blogspot.com/2012/03/peran-ahli-gizi.html Persagi. 2010. Standar Profesi Gizi. http://persagi.org

16