Anda di halaman 1dari 56

Ringkasan

RINGKASAN PERATURAN
I UMUM 1 Undang - Undang No. 1 Tahun 1970

II

KESEHATAN 1 Nilai Ambang Batas ( NAB ) untuk iklim kerja dan Nilai Ambang Batas ( NAB ) untuk kebisingan tempat kerja 2 Nilai Ambang Batas ( NAB ) bahan kimia. 3 Syarat kesehatan, kebersihan serta penerangan dalam tempat kerja. 4 Pemeriksaan kesehatan tenaga kerja dalam penyelenggaraan Kesehatan Kerja.

III

MEKANIK 1 Kwalifikasi juru las ditempat kerja. 2 Kwalifikasi dan syarat - syarat operator pesawat uap. 3 Pesawat Angkat dan angkut.

Page 1

Ringkasan

ngan tempat kerja

Page 2

UU No. 1 '70

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang di cakup

: Undang - Undang Kesehatan kerja : Undang - Undang No.1 Tahun 1970 : Presiden Republik Indonesia : A. Isi * * * * * * * * * * * Istilah - Istilah Ruang lingkup Syarat - Syarat Keselamatan Kerja Pengawasan Pembinaan Panitia pembina Keselamatan Kesehatan Kerja Kecelakaan Kewajiban dan Hak Tenaga Kerja Kewajiban bila memasuki tempat Kerja Kewajiban pengurus Ketentuan - ketentuan penutup

B.

Istilah Tempat kerja adalah tiap ruangan atau lapangan tertutup atau terbuka, bergerak atau tetap dimana tenaga bekerja atau yang sering di masuki kerja untuk keperluan suatu usaha dan dimana terdapat sumber atau sumber - sumber bahaya. Ruang Lingkup. Keselamatan Kerja dalam segala tempat kerja baik di darat * di dalamtanah, dipermukaan air, di dalam air maupun di udara yang derada didala, wilayah kekuasaan hukum Republik Indonesia. Tempat kerja yang membuat, mencoba, memakai, atau * mempergunakan mesin, pesawat, alat perkakas, peralatan, atau instalasi yang berbahaya atau dapat menimbulkan kecelakaan, kebakaran atau paledakan. * Tempat kerja yang menyimpan bahan atau barang yang dapat meledak, mudah terbakar, beracun, menimbulkan infeksi atau bersuhu tinggi. * Tempat kerja yang dilakukan pekerjaan dibawah tekanan

C.

Page 3

UU No. 1 '70

udara atau suhu yang tinggi atau rendah. Tempat kerja yang terdapat atau menyebar suhu kelemba ban debu, kotoran, api, asap, gas, hembusan angin cuaca, sinar atau radiasi suara atau getaran.

D.

Syarat - Syarat Keselamatan Kerja. * Mencegah dan mengurangi kecelakaan. * Mencegah, mengurangi dan memadamkan kebakaran. * Mencegah dan mengurangi bahaya peledakan. * Memberi kesempatan atau jalan menyelamatkan diri pada waktu kebakaran atau kejadian - kejadian lain yang berbahaya * Memberi pertolongan pada kecelakaan. * Memberi alat alat perlindungan diri pada para pekerja. * Mencegah dan mengendalikan timbul atau menyebarluas kan suhu / kelembaban , debu, kotoran, asap, uap, gas, hembusan angin,cuaca,sinar,atau radiasi,suara dan getaran. * Mencegah dan mengendalikan timbulnya penyakit akibat kerja baik fisik maupun psikis, keracunan,infeksi,penularan. * Memperoleh penerangan yang cukup sesuai. * Menyenggarakan suhu dan lembab udara yang baik. * Menyelenggarakan penyegaran udara yang cukup. * Memelihara kebersihan, kesehatan dan ketertiban. * Ada keserasian antara tenaga kerja alat kerja,lingkungan, cara dan proses kerja. * Mengamankan dan memperlancar pengangkutan orang, hewan, tanaman atau barang. * Menggunakan atau memelihara segala jenis bangunan. * Mengamankan dan memperlancar pekerjaan bongkar muat, melakukan dan menyimpan barang. * Mencegah terkena aliran listrik yang berbahaya. * Menyediakan dan menyempurnakan pengamanan pada pekerjaan yang bahaya kecelakaanya menjadi bertambah tinggi. Kewajiban Dan Hak Tenaga Kerja a. Memberikan keterangan yang benar bila dimintai oleh pegawai , pengawas dan ahli K-3.

Page 4

UU No. 1 '70

b. c. d. e.

Memakai alat-alat perlindungan dari yang diwajibkan. Mematuhi dan mentaati semua syara t- syarat K-3 yang diwajibkan. Meminta pada pengurus agar dilaksanakan semua syarat syarat K-3 yang diwajibkan. Menyatakan keberatan kerja pada pekerjaan dimana syarat K-3 serta alat alat perlindungan dan yang diwajibkan diragu kan olehnya kecuali dalam hal hal khusus ditentukan oleh pegawai pengawas dalam batas batas yang masih dapat di pertanggung jawabkan.

E.

Pengawasan * Pengurus diwajibkan memeriksa kesehatan badan, kondisi mental, dan kemampuan fisik dari tenaga kerja yang akan deterimanya maupun yang akan dipindahkan sesuai dengan sifat sifat pekerjaan yang diberikan padanya. Pembinaan Pengurus diwajibkan menunjukkan dan menjelaskan pada tiap tenaga kerja baru tentang : * Kondisi-kondisi dan bahaya-bahaya serta yang dapat timbul dalam tempat kerjanya. * semua pengamanan dan alat - alat perlindungan yang di haruskan dalam tempat kerjanya. * Alat-alat perlindungan diri bagi tenaga kerja yang bersang kutan. * Cara - cara dan sikap yang aman dalam melaksankan pekerjaan. Kewajiban Pengurus. * Secara tertulis menempatkan dalam tempat kerja yang di pimpinnya semua syarat keselamatan kerja yang diwajibkan. * Memasang semua gambar keselamatan kerja yang diwajibkan dan semua bahan pembinaan lainya, pada tempat tempat yang mudah dilihat dan terbaca menurut petunjuk pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja. * Menyediakan secara cuma cuma semua alat perlindungan diri yang diwajibkan pada tenaga kerja dan orang lain yang

F.

Page 5

UU No. 1 '70

H.

memasuki tempat kerja tersebut. Ketentuan Penutup. * Melaksanakan ketentuan pasal pasal diatur lebih lanjut dengan peraturan perundangan yang memberikan ancaman pidana atas pelanggaran peraturannya.

Page 6

Kebisingan

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang di cakup

: Nilai Ambang Batas ( NAB ) Untuk Iklim Kerja Dan Nilai Ambang Batas ( NAB ) Untuk Kebisingan Tempat Kerja. : SE - 01 / MEN / 1978. : Menteri tenaga Kerja,Transmigrasi dan Koperasi. : * Iklim kerja di tempat diusahakan berada diantara NAB terendah dan tertinggi * NAB terendah untuk iklim kerja adalah 21 0 c Bola Basah dan terendah adalah 30 0 c Bola Basah pada kelembaban nibsi udara diantara 65 % - 95 %. * dalam hal iklim kerja berada di luar daerah antara NAB terendah dan tertinggi supaya pengusaha atau pengurus mengadakan tindakan tindakan secara tek nis untuk mengatur suhu agar tidak lebih rendah dari NAB terendah dan tidak lebih tinggi dari NAB tertinggi. * apabila tindakan tindakan secara teknis tidak dapat mengatur suhu sesuai dengan NAB, pengusaha harus mengadakanperlindungan bagi tenaga kerja terhadap pengaruh iklim kerja dengan cara cara yang memenuhi persyaratan. * NAB untuk kebisingan ditempat kerja ditetapkan 85 dB ( A ), dan kebisingan usahakan agar lebih rendah dari 85 dB ( A ). * Dalam hal intensitas kebisingan dan tempat kerja melebihi NAB, pengusaha atau pengurus hendaknya mengadakan tindakan tindakan secara teknis untuk menurunkan intensitas kebisingan di bawah NAB. * Apabila tindakan tindakan secara teknis tidak memungkinkan, perlindungan tenaga kerja dengan alat pelindung diri yang memenuhi persyaratan harus diadakan oleh pengusaha.

Page 7

Kebisingan

erendah dan tertinggi h dan terendah adalah a 65 % - 95 %. terendah dan tertinggi n tindakan secara tek AB terendah dan tidak

ngatur suhu sesuai an bagi tenaga kerja memenuhi persyaratan. ( A ), dan kebisingan

bihi NAB, pengusaha an secara teknis untuk

inkan, perlindungan persyaratan harus

Page 8

NAB Bahan Kimia

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang di cakup

: : : :

Nilai Ambang Batas ( NAB ) Bahan Kimia. SE - 01 / MEN / 1978. Menteri tenaga Kerja,Transmigrasi dan Koperasi. * Nilai ambang batas bahan bahan kimia adalah kadar bahan kimia dalam udara tempat kerja yang merupakan pedoman pengendalian agar tenaga kerja masih dapat menghadapinya dengan tidak meng kibatkan penyakit atau gangguan kesehatan atau kenikmatan kerja dalam pekerja sehari hari untuk waktu tidak boleh lebih 8 jam sehari atau 40 jam seminggu. * zat-zat yang ditandai nilai KTD dalam daftar menunjukkan tertinggi ( Ceiling Values ), maka NAB tersebut adalah KTD.KTD berarti kadar tertinggi yang diperkenakan, yaitu nilai tertinggi kadar sesuatu zat yang pekerja tidak menderita penyakit atau gangguan kesehatan oleh karenanya, jadi KTD lebih menekankan efek akut dari pada efek komulatif atau menahun. * Untuk 7 ( Tujuh ) zat yaitu air raksa,amonia,asam nitrat,asam sulfida formaldehida,karbon dioksida dan kloroform. Komisi tetap NAB telah memilih kadar yang relatif tinggi dengan demikian perlu pemonitoran lingkungan dan manusiawi yang lebih ketat. * - Pada peraturan ini diuraikan / dilampirkan juga : - Lampiran Nilai Ambang Batas ( NAB ) bahan bahan kimia udara tempat kerja. - Lampiran NAB bahan-bahan kimia berupa debu debu mineral dalam lingkungan kerja. - Lampiran beberapa NAB bahan-bahan kimia dengan nama nama dagangnya.

Page 9

NAB Bahan Kimia

n kesehatan dari pada efek

asam sulfida ap NAB telah pemonitoran

Page 10

Penerangan & Pemeriksaan Kes

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek yang di cakup

: : : :

Syarat Kesehatan, Kebersihan serta penerangan Dalam tempat keria No. 7 Tahun 1964. Menteri Perburuhan. * Syarat Penerangan sesuai jenis pekerjaan. - Penerangan darat harus mempunyai kekuatan paling sedikit 5 Lux - Penerangan untuk halaman jalan kekuatan paling sedikit 20 Lux. - Pekerjaan kasar sampai 500 Lux ( Cahaya yang dapat diterima per M 3 ) - Pekerjaan sedang 500 sampai 1000 Lux. - Pekerjaan halus 1000 sampai 1500 Lux. - Ruang kantor 300 sampai 600 Lux. - Ruang kantor besar 600 sampai 1500 Lux.

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek yang di cakup

: : : A. B. C.

Pemeriksaan Kesehatan Tenaga Kerja dalam Penyelenggaraan Keselamatan Kerja No. 7 Tahun 1964. Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi. Pemeriksaan Kesehatan sebelum kerja. Pemeriksaan kesehatan berkala. Pemeriksaan kesehatan Khusus, dilakukan untuk/terhadap tenaga kerja tertentu. A.1 A.2 B.1 B.2 B.3 B.4 C.1 C.2

Agar tenaga kerja yang diterima berada dalam kondisi kesehatan setinggi tinggin dan cocok untuk pekerjaan yang dilakukannya. Pemeriksaan kesehatan meliputi : - Fisik lengkap,kesegaran jasmani, Rongent paru paru laboratorium . Untuk mempertahankan derajad kesehatan tenaga kerja sesudah berada dalam Dilakukan sekurang kurangnya satu tahun sekali. Pemeriksaan kesehatan meliputi : - Fisik lengkap,kesegaran jasmani, Rongent paru paru laboratorium . Jika ditemukan kelainan / gangguan kesehatan, pengurus wajib mengadakan tindak lanjut untuk perbaikan. Dilakukan untuk menilai adanya pengaruh pengaruh dari pekerjaan tertentu terha tenaga kerja atau golongan tenaga kerja tertentu. Dilakukan terhadap : - Tenaga kerja yang mengalami kecelakaan kerja atau penyakit yang memerluk perawatan yang lebih dari 2 Minggu. - Tenaga kerja yang berusia diatas 40 tahun, tenaga kerja wanita, tenaga kerja

Page 11

Penerangan & Pemeriksaan Kes

n Dalam tempat keria

uatan paling sedikit 5 Lux n paling sedikit 20 Lux. a yang dapat diterima per M 3 )

enyelenggaraan Keselamatan Kerja.

erhadap tenaga kerja tertentu.

m kondisi kesehatan setinggi tingginya

t paru paru laboratorium . tenaga kerja sesudah berada dalam pekerjaanya.

t paru paru laboratorium . tan, pengurus wajib mengadakan

engaruh dari pekerjaan tertentu terhadap

n kerja atau penyakit yang memerlukan

n, tenaga kerja wanita, tenaga kerja cacat.

Page 12

Operator Uap

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek yang di cakup

: : : :

Kualifikasi dan syarat syarat Operator Pesawat Uap. Per - 01 / Men / 1988 Menteri Tenaga Kerja

A. 1. Operator Kelas I a. b. c. d. e. f. g. 2. Pendidikan Min SLTA jurusan Mekanik,Listrik,IPA Pengalaman 2 Tahun dibidangnya. Berkelakuan baik dari Kepolisian. Surat keterangan berbadan sehat dari Dokter. Umur Min 23 tahun. Lulus paket A1 + A2 Lulus ujian yang diselenggarakan U/ Depnaker dan Dirjen Binawan.

Operator Kelas II a. b. c. d. e f. g. Pendidikan Min SLTP jurusan Mekanik,Listrik. Pernah sebagai pembantu Operator selama 1 tahun. Berkelakuan baik dari Kepolisian. Umur Min 20 Tahun. Surat keterangan berbadan sehat dari Dokter. Mengikuti kursus operator paket A 1 Lulus ujian yang diselenggarakan, U/ Depnaker Cg. Dirjen Binawan.

B.

Operator kelas II dapat ditingkatkan menjadi Operator Kelas I : a. b. Pengalaman sebagai operator kelas II Min 2 Tahun terus menerus. Lulus ujian paket A 2.

C. 1.

2.

D 1. 2. 3.

4. 5. E

a. Sebuah ketel Uap dengan kapasitas Uap > 10 Ton / Jam. b. Pesawat uap delain ketel uap untuk semua ukuran. c. Mengawasi kegiatan operator kelas II. Operator Kelas II a. Sebuah ketel uap denagn kekuatan uap paling tinggi 10 Ton / jam. b. Pesawat uap selain Ketel Uap untuk semua ukuran. Kewajiban Dilarang meninggalkan tempat pelayanan selama pesawat uapnya dioperasikan. Melakukan pengecekan dan pangamatan kondisi / kemampuan kerja serta pesawat pesawat uap,alat alat pengaman dan alat alat perlengkapan lainya yang terkait Operator harus mengisi buku laporan harian pengoperasian meliputi data : - tekanan kerja,pruduksi uap, debet air pengisi ketel uap, PH air, jumlah bahan bakar tindakan yang dilakukan operator Menghentikan pesawat uap jika tidak berfungsi dengan baik / rusak dan mela keatasn Operator kelas 1 bertanggung jawab atas seluruh unit instalasi uap.

Operator yang melanggar ketentuan dapat dikenakan hukuman kurungan atau denda sesuai psl 27 UU uap 1930

Page 13

Operator Uap

Nama Peraturan Nomer peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang di cakup

: : : : 1.

Penyediaan data bahan berbahaya thd keselamatan dan kesehatan kerja. Kep - 612 / Men / 1989 Menteri Tenaga Kerja

2. 3. 4.

Perusahaan atau industri yang menggunahkan , menyimpan ,maemakai memproduks mengangkut dan mengedarkan bahan berbahaya,harus mengikuti dan menyediakan bahan berbahaya, yang mencakup data tentang pengaruhnya terhadap keselamatan dan kesehatan tenaga kerja serta petunjuk penanggulangnya. Data bahan berbahaya harus disediakan dipersuhaan dan mudah diketahui u/ tenaga kerja dan pegawai pengawas. Tembusan data ke : Kandeptnaker,Kanwil Deptnaker, Kanwil Perindustrian dan Kanw Perusahaan harus menunjuk penanggungjawab bahan berbahaya baik data maupun

Page 14

Operator Uap

ker dan Dirjen Binawan.

ker Cg. Dirjen Binawan.

perator Kelas I : Tahun terus menerus.

10 Ton / Jam.

ng tinggi 10 Ton / jam.

pesawat uapnya dioperasikan. / kemampuan kerja serta pesawat engkapan lainya yang terkait operasian meliputi data : etel uap, PH air, jumlah bahan bakar

engan baik / rusak dan mela keatasnya unit instalasi uap.

kan hukuman kurungan atau denda

Page 15

Operator Uap

matan dan kesehatan kerja.

menyimpan ,maemakai memproduksi , ,harus mengikuti dan menyediakan data engaruhnya terhadap keselamatan ggulangnya. aan dan mudah diketahui u/

aker, Kanwil Perindustrian dan Kanwil Kesehatan ahan berbahaya baik data maupun penanggulangan bahaya yang timbul.

Page 16

Radiasi

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan oleh Subyek Umum Yang dicakup

: Keselamatan Kerja Terhadap Radiasi :

No. 11 Tahun 1975

: Presiden Republik Indonesia : A. Isi

* * * * * * *

Ketentuan Umum Nilai Batas Yang Diizinkan Petugas dan Ahli Proteksi Radiasi Kesehatan Ketentuan-Ketentuan Kerja Dengan Zat-Zat Radioaktif Dan Atau Sumber Lainnya Pembagian Daerah Kerja Dan Pengurus Sampah Radioaktif Kecelakaan

B. Ketentuan Umum * Dosis radiasi adalah jumlah energi yang dipindahkan dengan jalan ionisasi kepada suatu volume tertentu atau kepada seluruh tubuh, yaitu biasanya disamakan dengan jumlah energi yang diserap oleh jaringan atau zat lainnya tiap satuan masa pada tempat pengukuran, masa pada tempat pengukuran, sedangkan satuannya ialah rad * Nilai Batas Yang Diizinkan adalah dosis radiasi yang masih dapat diterima oleh seseorang tanpa menimbulkan kelainan-kelainan genetik atau somatik yang berarti menurut tingkat kemajuan/pengetahuan pada dewasa ini, tidak termasuk untuk tujuan kedokteran. * Petugas Proteksi Radiasi adalah petugas yang ditunjuk oleh Penguasa Instalasi Atom dan oleh Instansi yang berwenang dinyatakan mampu melaksanakan pekerjaan-pekerjaan yang berhuibungan dengan persoalan proteksi radiasi. * Ahli Proteksi Radiasi adalah seorang yang telah mendapat pendidikan khusus dalam keselamatan kerja terhadap radiasi yang menurut penilaian Instansi yang berwenang dianggap mempunyai cukup keahlian dan kemampuan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang berhubungan dengan proteksi radiasi dan dianggap oleh Departemen Tenaga Kerja , Transmigrasi dan Koperasi sebagai Ahli Keselamatan Kerja atas usul Instansi yang berwenang * Pekerja Radiasi adalah setiap orang yang karena jabatannya atau tugasnya selalu berhubungan dengan medan radiasi dan oleh Instansi yang berwenang senantiasa memperoleh pengamatan tentang dosis-dosis radiasi yang diterimanya * Penguasa Instalasi Atom adalah Kepala / Direktur Instalasi Atom atau orang lain yang ditunjuk untuk mewakilinya * Kecelakaan adalah suatu kejadian di luar dugaan yang memungkinkan timbulnya bahaya radiasi, kontaminasi, baik bagi pekerja radiasi maupun bukan pekerja radiasi.

Page 17

Radiasi

* Sampah Radioaktif adalah zat-zat radioaktif dan bahan-bahan serta peralatan yang telah terkena zat-zaty radioaktif atau menjadi radioaktif karena operasi-operasi nuklir dan tidak dapat dipergunakan lagi. * Instansi yang berwenang adalah Badan Tenaga Atom Nasional C. Nilai Batas Yang Dizinkan Untuk menentukan Nilai Batas Yang Diizinkan ditetapkan dosis tertentu sehingga menurut tingkat pengetahuan dewasa ini, kemungkinan luka somatik dan kerusakan genetik dapat dihindarkan. Ketentuan-ketentuan Nilai Batas Yang Diizinkan akan diatur lebih lanjut oleh Instansi yang berwenang. D. Petugas dan Ahli Proteksi Radiasi * Setiap Instalasi Atom harus mempunyai sekurang-kurangnya seorang Petugas Proteksi Radiasi * Petugas Proteksi Radiasi berkewajiban menyusun Pedoman Kerja , Instruksi dan lain-lain yang berlaku dalam lingkungan Instalasi atom yang bersangkutan * Untuk mengawasi ditaatinya peraturan-peraturan keselamatamn kerja terhadap radiasi perlu ditunjuk Ahli Proteksi Radiasi oleh Instansi Yang Berwenang E. K e s e h a t a n * Pemeriksaan Pemeriksaan Calon Pekerja dan Pekerja Radias Pemeriksaan berkala bagi pekerja radiasi dilakukan 1 (satu) kali dalam setahun * Kartu Kesehatan Setiap pekerja radiasi mempunyai kartu kesehatan guna mencatat secara teratur hasil pemeriksaan medis dan disimpan dibawah pengawasan dokter yang ditunjuk oleh Instalasai Atom setempat. F. Ketentuan-Ketentuan Kerja Dengan Zat-Zat Radioaktip Dan Atau Sumber Radiasi Lainnya Wanita hamil tidak diperkenankan menerima dosis radiasi yang melebihi Nilai Batas Yang Diizinkan G. Pembagian Daerah Kerja Dan Pengurusan Sampah Radioaktip Sampah radioaktip harus dikumpulkan, disimpan, dan dibuang pada tempat dan dengan cara yang ditentukan dalam peraturan yang dikeluarkan oleh Instansi yang berwenang

H. K e c e l a k a a n * Dalam hal terjadi kecelakaan, setiap Instalasi Atom diwajibkan mengambil tindakan dan menyelenggarakan pengamanan untuk keadaan darurat * Sebab-sebab kecelakaan harus segera diselidiki oleh suatu team yang terdiri dari Ahli Proteksi Radiasi dan Penguasa Instalasi Atom yang bersangkutan atau wakil yang ditunjuknya, yang ditunjuk oleh Instansi yang berwenang serta

Page 18

Radiasi

hasilnya dilaporkan kepada Instansi yang berwenang

Page 19

Pengend Penc Air

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh

Pengendalian Pencemaran Air

: Peraturan Pemerintah RI Nomor 20 Tahun 1990 : Presiden Republik Indonesia

Subyek umum yang dicakup : A. Isi * Inventarisasi Kualitas dan Kuantitas Air * Penggolongan Air * Upaya Pengendalian * Perizinan B. Inventarisasi Kualitas dan Kuantitas Air * Data kualitas dan kuantitas air disusun dan didokumentasikan pada instansi teknis yang bertanggungjawab dibidang pengelolaan lingkungan hidup di daerah. * Data kualitas dan kuantitas air dipakai sebagai : a. Dasar pertimbangan penetapan peruntukan air dan baku mutu air pada sumber air yang bersangkutan b. Dasar perhitungan daya tampung beban pencemaran air pada sumber air yang telah ditetapkan peruntukannya c. Dasar penilaian tingkat pencemaran air C. Penggolongan Air Penggolongan air menurut peruntukannya ditetapkan sebagai berikut : Golongan A : Air yang dapat digunakan sebagai air minum secara langsung tanpa pengolahan terlebih dahulu Golongan B : Air yang dapat digunakan sebagai air baku air minum Golongan C : Air yang dapat digunakan untuk keperluan perikanan dan peternakan Golongan D : Air yang dapat digunakan untuk keperluan pertanian, dan dapat dimanfaatkan untuk usaha perkantoran, Industri, pembangkit listrik tenaga air D. Upaya Pengendalian * Baku mutu air, daya tampung beban pencemaran dan baku mutu limbah cair ditinjau secara berkala sekurang-kurangnya sekali dalam lima tahun. * Pembuangan limbah dengan kandungan radioaktif diatur oleh Pimpinan Lembaga pemerintah yang bertanggung jawab dibidang tenaga atom setelah berkonsultasi dengan menteri * Pembuangan limbah cair ke tanah dapat dilakukan dengan izin Menteri berdasarkan hasil penelitian. E. Perizinan * Pembuangan limbah cair ke dalam air dilakukan dengan izin yang diberikan oleh Gubernur Kepala Daerah Tingkat I

Page 20

Pengend Penc Air

F. Sanksi Barang siapa yang melanggar ketentuan dalam pasal 17, 19, 20, 32 peraturan Pemerintah ini dikenakan tindakan administratif oleh Bupati/Walikotamadya Kepala Daerah Tingkat II

Page 21

P2K3-3

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Pembentukan Panitia Persiapan Bagi Penyelenggaraan Pembentukan P2K3 Di
Perusahaan-Perusahaan

: Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.3 Tahun 1970 : Menteri Tenaga Kerja RI : * * Pemebentukan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja di Perusahaan-Perusahaan agar sesuai dengan program kerja yang telah ditetapkan perlu diadakan persiapan-persiapan yang teratur dan terarah Panitia persiapan dimaksud terdiri atas : - Kepala Kantor Daerah yang bersangkutan sebagai anggota merangkap Ketua - Kepala Inspeksi Keselamatan Kerja pada Kantor Daerah yang bersangkutan sebagai sekretaris - Tiga petugas dari Kantor Resort di Wilayah perusahaan dimana akan dibentuk Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja, sebagai anggota. Panitia persiapan dimaksud bertugas : - Menyelenggarakan pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja bagi para manager dan buruh darui perusahaan yang bersangkutan - Setelah pembinaan selesai segera menyelenggarakan pembentukan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja dalam perusahaan yang bersangkutan - Kepala Kantor Daerah Departemen Tenaga Kerja yang bersngkutan sekaligus melaksanakan ayat 2 pasal 1 dari Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No, 1 tahun 1970 - Setelah Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja yang dimaksud terbentuk maka tugas Panitia Persiapan bagi Perusahaan yang bersangkutan selesai - Hal tersebut di atas berlaku bagi tiap perusahaan dimana diadakan Pembinaan Keselamatan dan Kesehatan Kerja dan Pembentukan Panitia Pembina Keselamatan dan Kesehatan Kerja

Page 22

PUIL

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi Berlakunya Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 1977 Di Tempat Kerja : Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi No. PER-04/MEN/1978 : Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi : * * * Peraturan Menteri Tenaga Kerja, Transmigrasi dan Koperasi tentang berlakunya Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 1977 di tempat kerja Instalasi listrik yang sudah dipakai atau dipergunakan sebelum Peraturan Menteri ini ditetapkan, pengurus diwajibkan untuk menyesuaikannya dalam waktu 1 (satu) tahun dengan Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) 1977 Bagi pengurus yang tidak mentaati ketentuan-ketentuan dalam Peraturan Umum Instalasi Listrik (PUIL) diancam dengan hukuman sesuai dengan pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 1 tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja

Page 23

Kons.Bang

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Keselamatan dan Kesehatan Kerja Pada Konstruksi Bangunan : Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER-01/MEN/1980 : Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : A. Isi * * * * * * * * * * * * Tempat Kerja dan Alat-Alat Kerja Perancah Tangga dan Tangga Rumah Alat-Alat Angkat Kabel Baja, Tambang, Rantai dan Peralatan Bantu Mesin-Mesin Peralatan Konstruksi Bangunan Konstruksi Di Bawah Tanah Penggalian Pekerjaan Memancang Penggunaan Perlengkapan Penyelamatan dan Perlindungan Diri Hukuman

B. Tempat Kerja dan Alat-Alat Kerja * Disetiap tempat kerja harus dilengkapi dengan sarana untuk keperluan keluar masuk dengan aman * Tempat-tempat kerja, tangga-tangga, lorong-lorong dan gang-gang tempat orang bekerja atau sering dilalui, harus dilengkapi dengan penerangan yang cukup sesuai dengan ketentuan yang berlaku * Semua tempat kerja harus mempunyai ventilasi yang cukup sehingga dapat mengurangi bahaya debu, uap dan bahaya lainnya. * Semua peralatan sisi-sisi lantai yang terbuka, lobang-lobang lantai yang terbuka, atap-atap atau panggung yang dapat dimasuki, sisi-sisi tangga yang terbuka semua galian-galian dan lubang-lubang yang dianggap berbahaya harus diberi pagar atau tutup pengaman yang kuat. * Orang yang tidak berkepentingan, dilarang memasuki tempat kerja C. Perancah * Perancah harus diberi lantai papan yang kuat dan rapat sehingga dapat menahan dengan aman tenaga kerja, peralatan dan bahan yang dipergunakan * Lantai perancah harus diberi pagar pengaman, apabila tingginya lebih dari 2 meter * Perancah tiang kayu yang terdiri dari sejumlah tiang kayu dan bagian atasnya dipasang gelagar sebagai

Page 24

Kons.Bang

* * *

tempat untuk meletakkan papan-papan perancah harus diberi palang penguat pada semua sisinya Perancah gantung harus terdiri dari angker pengaman, kabel-kabel baja penggantung yang kuat dan sangkar gantung dengan lantai papan yang dilengkapi pagar pengaman Keamanan perancah gantung harus diuji tiap hari sebelum digunakan Perancah yang digerakkan dengan mesin, harus menggunakan kabel baja

D. Tangga dan Tangga Rumah * Tangga harus terdiri dari 2 kaki tangga dan sejumlah anak tangga yang dipasang pada kedua kaki tangga dengan kuat * Tangga yang dapat dipindah-pindahkan (portable stepladders) dan tangga kuda-kuda yang dapat dipindahpindahkan, panjangnya tidak boleh lebih dari 6 meter dan pengembangan antara kaki depan dan kaki belakang harus diperkuat dengan pengaman * Tangga bersambung dan tangga mekanik, panjangnya tidak lebih dari 15 meter * Tangga tetap harus terbuat dari bahan yang tahan terhadap cuaca dan kondisi lainnya, yang panjangnya tidak boleh lebih dari 9 meter E. Alat-Alat Angkat * Setiap kran angkat harus dibuat dan dipelihara sedemikian rupa sehingga setelah diperhitungkan besarnya, pengaruhnya, kondisinya ragamnya muatan dan kekuatan, perimbangan dari setiap bagian peralatan bantu yang terpasang maka tegangan maksimum yang terjadi harus lebih kecil dari tegangan maksimum yang diinginkan dan harus ada keseimbangan sehingga dapat berfungsi tanpa melampaui batas-batas pemuaian, pelenturan, getaran, puntiran, dan tanpa terjadinya kerusakan sebelum batas waktunya. * Setiap kran angkat yang tidak direncanakan untuk mengangkut muatan kerja maksimum yang diizinkan pada semua posisi yang dapat dicapai, harus mempunyai petunjuk radius muatan dan petunjuk tersebut harus dipelihara agar selalu berkerja dengan baik. F. Kabel Baja, Tambang, Lantai dan Peralatan Bantu * Semua tambang, lantai dan peralatan bantunya yang digunakan untuk mengangkut, menurunkan, atau m menggantungkan harus terbuat dari bahan yang baik dan kuat dan harus diperiksa dan diuji secara berkala untuk menjamin bahwa tambang, rantai dan peralatan bantu tersebut kuat untuk menahan beban maksimum yang diizinkan dengan faktor keamanan yang mencukupi. G. Mesin-mesin * Mesin harus dihentikan untuk pemeriksaan dan perbaikan pada tenggang waktu yang sesuai dengan petunjuk pabriknya. * Operator mesin harus terlatih untuk pekerjaannya dan harus mengetahui peraturan keselamatan kerja untuk

Page 25

Kons.Bang

mesin tersebut. H. Peralatan Konstruksi Bangunan * Alat penembak paku (powder actu tools) digunakan untuk operator yang berumur 18 tahun dan terlatih. * Traktor dan truk hanya boleh dijalankan oleh pengemudi yang terlatih. I. Konstruksi Di Bawah Tanah * Setiap tenaga kerja dilarang memasuki konstruksi bangunan dibawah tanah kecuali tempat kerja telah diperiksa dan bebas dari bahaya-bahaya kejatuhan benda, peledakan, uap, debu, gas atau radiasi berbahaya * Terowongan harus cukup penerangan dan dilengkapi jalan keluar yang aman dan direncanakan dan dibangun sedemikian rupa sehingga dalam keadaan darurat terowongan harus segera dapat dikosongkan. * Pada konstruksi bangtunan di bawah tanah harus disediakan sarana penanggulangan bahaya kebakaran * Untuk keperluan diatas, harus disediakan alat pemberantasan kebakaran * Tenaga kerja dilarang masuk ke tempat dimana kadar debunya melebihi ketentuan nilai ambang batas yang berlaku, kecuali apabila mereka memakai respirator J. Penggalian * Pinggir-pinggir dan dinding-dinding pekerja galian harus diberi pengaman dan penunjang yang kuat untuk menjaminkeselamatan orang yang bekerja didalam lobang, atau parit K. Pekerjaan Memancang * Mesin pancang dan peralatan yang dipakai, harus diperiksa dengan teliti secara berkala dan tidak boleh digunakan kecuali sudah terjamin keamanannya * Tenaga kerja yang tidak bertugas menjalankan mesin pancang dilarang berada disekitar mesin pancang yang sedang dijalankan L. Penggunan Perlengkapan Penyelamatan dan Pelindung Diri * Alat-alat penyelamat dan pelidung diri yang jenisnya disesuaikan dengan sifat pekerjaan yang dilakukan oleh masing-masing tenaga kerja harus disediakan dalam jumlah yang cukup * Tenaga kerja dan orang lain yang memasuki tempat kerja diwajibkan menggunakan alat-alat yang termaksud diatas M. Hukuman * Dipidana selama-lamanya 3 (tiga) bulkan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) pengurus yang melakukan pelanggaran atas ketentuan pasal 102. * Menteri dapat meminta Menteri yang membawahi bidang usaha konstruksi bangunan guna mengambil sanksi ketentuan atau ketentuan-ketentuan peraturan Menteri ini.

Page 26

APAR

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi Syarat-Syarat Pemasangan Dan Pemeliharaan Alat Pemadam Api Ringan : Peraturan Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi No. PER-04/MEN/1980 : Menteri Tenaga Kerja dan Transmigrasi : * Kebakaran dapat digolongkan : - Kebakaran bahan padat kecuali logam (golongan A) - Kebakaran bahan cair atau gas yang mudah terbakar (golongan B) - Kebakaran instalasi listrik bertegangan (golongan C) - Kebakaran logam (golongan D) Jenis alat pemadam api ringan - Jenis cairan (air) - Jenis busa - Jenis tepung kering - Jenis gas (hydrocarbon berhalogen dan sebagainya) Setiap satu atau kelompok alat pemadam api ringan harus ditempatkan pada posisi yang mudah dilihat dengan jelas mudah dicapai dan diambil serta dilengkapi dengan pemberian tanda pemasangan Tinggi tanda pemasangan adalah 125 cm dari dasar lantai tepat di atas satu atau kelompok alat pemadam api ringan bersangkutan Penempatan antara alat pemadam api yang satu dengan lainnya atau kelompok satu dengan lainnya tidak boleh melebihi 15 meter, kecuali ditetapkan lain oleh pegawai pengawas atau ahli keselamatan kerja Semua tabung alat pemadam api ringan sebaiknya berwarna merah Pemasangan alat pemadam api ringan harus sedemikian rupa sehingga bagian paling atas (puncaknya) berada pada ketinggian 1,2 meter dari permukaan lantai kecuali jenis CO2 dan tepung kering (dry chemical) dapat ditempatkan lebih rendah dengan syarat, jarak antara dasar alat pemadam api ringan tidak kurang 15 cm dari permukaan lantai. Alat pemadam api ringan tidak boleh dipasang dalam ruangan atau tempat dimana suhu melebihi 40 OC atau turun sampai 44 OC kecuali apabila alat pemadam api ringan tersebut dibuat khusus untuk suhu diluar batas tersebut Alat pemadam api ringan yang ditempatkan di alam terbuka harus dilindungi dengan tutup pengaman Setiap alat pemadam api ringan harus diperiksa 2 (dua) kali dalam setahun yaitu : - pemeriksaan dalam jangka 6 (enam) bulan - pemeriksaan dalam jangka 12 (dua belas) bulan Pengurus yang tidak mentaati ketentuan tersebut pasal 24 diancam dengan hukuman kurungan sekurang-kurangnya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,- (seratus ribu rupiah) sesuai dengan pasal 15 ayat (2) dan (3) Undang-Undang No. 1 Tahun 1970

* * * * *

* * *

Page 27

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Pesawat Angkat dan Angkut : Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No : PER.05/MEN/1985 : Menteri Tenaga Kerja RI : A. Isi * Ketentuan Umum * Ruang Lingkup * Peralatan Angkat * Pita Transpot * Pesawat Angkutan Diatas Landasan dan Diatas Permukaan * Alat Angkut Jalan Ril * Pemeriksaan dan Pengujian * Ketentuan Pidana B. Ketentuan Umum * Setiap pesawat angkat dan angkut harus dilayani oleh operator yang mempunyai kemampuan dan telah memiliki keterampilan khusus tentang pesawat angkat dan angkut C. Ruang Lingkup * Pesawat angkat dan angkut dimaksud adalah : - Peralatan Angkat - Pita Transport - Pesawat Angkutan Diatas Landasan dan Diatas Permukaan - Alat Angkut Jalan Ril D. Peralatan Angkat * Peralatan angkat antara lain adalah : Lier, Takel, Peralatan angkat listrik, pesawat pneumatik, gondola, keran angkat, keran magnit, keran lokomotif, keran dinding, dan keran sumbu putar. E. Pita Transport Antara lain : eskalator, ban berjalan, dan rantai berjalan F. Pesawat Angkutan Di Atas Landasan dan Diatas Permukaan Antara lain : truk, truk derek, traktor, gerobak, forklift, dan kereta gantung

G. Alat Angkut Jalan Ril Antara lain : lokomotif, gerbong dan lori H. Pemeriksaan dan pengujian * Pemeriksaan dan pengujian ulang pesawat angkat dan angkut harus selambat-lambatnya 2 (dua) tahun setelah pengujian pertama dan pemeriksaan pengujian ulang selanjutnya dilaksanakan 1 (satu) tahun sekali. I. Ketentuan Pidana * Pengurus harus bertanggung jawab terhadap ditaatinya Peraturan Menteri ini * Pengurus yang melanggar ketentuan tersebut pasal 142 diancam dengan hukuman kurungan selama-lamanya 3 (tiga) bulan atau denda setinggi-tingginya Rp. 100.000,-

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: : : :

Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI Pembentukan P2K3 di Tempat Kerja Peraturan Menteri Tenaga Kerja RI No.2 Tahun 1970 Menteri Tenaga Kerja RI * Menteri Tenaga Kerja membentuk P2K3 di perusahaan-perusahaan/proyek proyek vital/instansi-instansi/ lembaga-lembaga yang dilakukan oleh Kepala Kantor Daerah Departemen Tenaga Kerja, setelah P2K3 dibentuk oleh Kepala Kantor Daerah Departemen Tenaga Kerja segera memberikan laporan kepada Menteri Tenaga Kerja dan memberikan pengesahan. Kepala Kantor Daerah Dept. Tenaga Kerja setiap triwulan membuat laporan tentang perkembangan P2K3 di wilayahnya kepada Menteri Tenaga Kerja cq.Direktur Pembinaan Norma-norma Keselamatan Kerja.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Ambang Batas Emisi Gas Buangan Kendara Bermotor : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. KEP-35/MENLH/10/1993 : Menteri Negara Lingkungan Hidup : * Kandungan CO (karbon monoksida) dan HC (hidrocarbon) dan ketebalan asap pada pancara gas buang : A. Sepeda Motor dua langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana lebih da dengan 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 3000ppm untuk HC. B. Sepeda Motor empat langkah dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oksana lebih sama dengan 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 2400ppm untuk HC C. Kendaraan bermotor selain sepeda motor dengan bahan bakar bensin dengan bilangan lebih dari sama dengan 87 ditentukan maksimum 4,5% untuk CO dan 1200ppm untuk H D. Kendaraan bermotor selain sepeda motor dengan bahan bakar solar/disel dengan bilang lebih dari sama dengan 45 ditentukan maksimum equivalen 50% Bosch pada diameter 1 atau 25% Opasiti untuk ketebalan asap * Ambang Batas Emisi Gas Buang Kendaraan Bermotor ditinjau kembali sekurang-kurangnya d 5 tahun sekali.

idup Ambang Batas Emisi Gas Buangan Kendaraan

idup No. KEP-35/MENLH/10/1993

HC (hidrocarbon) dan ketebalan asap pada pancaran

bahan bakar bensin dengan bilangan oktana lebih dari sama ,5% untuk CO dan 3000ppm untuk HC. an bahan bakar bensin dengan bilangan oksana lebih dari mum 4,5% untuk CO dan 2400ppm untuk HC motor dengan bahan bakar bensin dengan bilangan oktana an maksimum 4,5% untuk CO dan 1200ppm untuk HC motor dengan bahan bakar solar/disel dengan bilangan setana an maksimum equivalen 50% Bosch pada diameter 102 mm

raan Bermotor ditinjau kembali sekurang-kurangnya dalam

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: : : :

Pedoman Mengenai Ukuran Dampak Penting Keputusan Ka Bapedal RI No. KEP-056 Tahun 1994 Kepala Bapedal A. Isi * Pengertian * Ukuran Dampak Penting terhadap Lingkungan B. Pengertian * Dampak Penting adalah perubahan lingkungan yang sangat mendasar yang diakibatkan oleh suatu usaha atau kegiatan C. Ukuran Dampak Penting Terhadap Lingkungan 1 Ukuran dampak penting terhadap lingkungan, perlu disertai dengan dasar pertimbangan sebagai berikut : a. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan berkaitan secara relatif dengan besar kecilnya rencana usaha atau kegiatan, hasil guna dan daya gunanya, bila rencana usaha atau kegiatan tersebut dilaksanakan. b. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan dapat pula didasarkan pada dampak usaha atau dapat juga terhadap kesatuan dan tata kaitannya dengan aspek-aspek lingkungan lainnya dalam batas wilayah studi yang telah ditentukan c. Bahwa penilaian pentingnya dampak terhadap lingkungan atas dasar kemungkinan timbulnya dampak positif atau dampak negatif tidak boleh dipandang sebagai faktor yang masing-masing berdiri sendiri, melainkan harus diperhitungkan bobotnya guna dipertimbangkan hubungan timbal baliknya untuk mengambil keputusan. 2 Pedoman mengenai ukuran dampak penting a. Jumlah manusia yang akan terkena dampak Jumlah manusia yang terkena dampak menjadi penting bila : manusia di wilayah studi AMDAL yang terkena dampak lingkungan tetapi tidak menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan, jumlahnya sama atau lebih besar dari jumalh manusia yang menikmati manfaat dari usaha atau kegiatan yang ada diwilayah studi. b. Luas Wilayah Persebaran Dampak Rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan adanya wilayah yang mengalami perubahan mendasar dari segi intensitas dampak, atau tidak berbaliknya dampak, dampak, atau segi kumulatif dampak. c. Lamanya Dampak Berlangsung Dampak lingkungan bersifat penting bila : Rencana usaha atau kegiatan mengakibatkan timbulnya perbahan mendasar dari segi intensitas dampak atau tidak berbaliknya dampak, atau segi kumulatif dampak, yang berlangsung hanya pada satu atau lebih

tahapan kegiatan. d. Intensitas Dampak Dampak lingkungan penting bila : 1. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan pada sifat-sifat fisik dan atau hayati lingkungan yang melampaui baku mutu lingkungan menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku. 2. Rencana usaha atau kegiatan akan menyebabkan perubahan mendasar pada komponen lingkungan yang melampaui kriteria yang diakui, berdasarkan pertimbangan ilmiah. 3. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan spesies-spesies yang langka dan atau endemik, dan atau dilindungi menurut peraturan perundang-undangan yang berlaku terancam punah, atau habitat alaminya mengalami kerusakan 4. Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan kerusakan atau gangguan terhadap kawasan lindung ( hutan lindung, cagar alam, taman nasional, suaka margasatwa, dan sebagainya) yang telah ditetapkan menurut peraturan perundang-undangan. 5. Rencana usaha atau kegiatan akan merusak atau memusnahkan benda-benda dan bangunan peninggalan sejarah yang bernilai tinggi. 6. Rencana usaha atau kegiatan akan mengakibatkan konflik atau kontroversi dengan masyarakat, pemerintah daerah, atau pemerintah pusat; dan atau menimbulkan konflik atau kontroversi dikalangan masyarakat, pemerintah daerah atau pemerintah pusat. 7. Rencana usaha atau kegiatan mengubah atau memodifikasi areal yang mempunyai nilai keindahan alami yang tinggi. e. Banyaknya komponen Lingkungan Lain Yang Terkena Dampak. Dampak tergolong penting bila : Rencana usaha atau kegiatan menimbulkan dampak sekunder dan dampak lanjutan lainnya yang jumlah komponennya lebih atau sama dengan komponen lingkungan yang terkena dampak primer. f. Sifat kumulatif dampak Dampak suatu usaha atau kegiatan tergolong penting bila : 1. Dampak lingkungan berlangsung berulangkali atau terus menerus, sehingga pada kurun waktu tertentu tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. 2. Beragam dampak lingkungan bertumpuk dalam suatu ruang tertentu, sehingga tidak dapat diasimilasi oleh lingkungan alam atau sosial yang menerimanya. 3. Dampak lingkungan dari berbagai sumber kegiatan menimbulkan efek yang saling memperkuat (sinergitik). g. Berbalik atau Tidak Berbaliknya Dampak. Dampak bersifat penting bila : Perubahan yang akan dialami oleh suatu komponen lingkungan tidak dapat dipulihkan kembali walaupun dengan intervensi manusia.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: : : :

Indeks Standar Pencemar Udara Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. Kep-45/MENLH/10/1997 Menteri Negara Lingkungan Hidup Kategori Baik Sedang Tidak Sehat Sangat tidak sehat Berbahaya Rentang 0 - 50 51 - 100 101 - 199 200 - 299 300 - lebih

Penjelasan Tingkat Kualitas Udara yang tidak memberikan efek bagi keseha tidak berpengaruh pada tumbuhan, bangunan ataupun nilai este Tingkat kualitas Udara yang tidak berpengaruh pada kesehatan tetapi berpengaruh pada tumbuhan yang sensitif, dan nilai estet Tingkat Kualitas Udara yang bersifat merugikan pada manusia a sensitif atau bisa menimbulkan kerusakan pada tumbuhan ataup Tingkat Kualitas Udara yang dapat merugikan kesehatan pada s populasi yang terpapar. Tingkat Kualitas Udara berbahaya yang secara umum dapat me serius pada populasi

ENLH/10/1997

Penjelasan emberikan efek bagi kesehatan manusia atau hewan dan bangunan ataupun nilai estetika. rpengaruh pada kesehatan manusia ataupun hewan yang sensitif, dan nilai estetika. merugikan pada manusia ataupun kelompok hewan yang sakan pada tumbuhan ataupun nilai estetika merugikan kesehatan pada sejumlah segmen pada

ang secara umum dapat merugikan kesehatan yang

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup Baku Mutu Emisi Sumber Tidak Bergera : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No: KEP. 13/MENLH/3/1995 : Menteri Negara Lingkungan Hidup : PARAMETER BATAS MAKSIMUM 1995 (mg/m3) Bukan Logam 1. Ammonia (NH3) 1 2. Gas Klorin (Cl2) 15 3. Hidrogen Klorida (HCL) 10 4. Hidrogen Fluorida (HF) 20 5. Nitrogen Oksida (NO2) 1700 6. Opasitas 40% 7. Partikel 400 8. Sulfur Dioksida (SO2) 1500 9. Total Sulfur Tereduksi 70 (Total Reduced Sulphur) Logam 10. Air Raksa (Hg) 11. Arsen (As) 12. Antimon (Sb) 13. Kadmium (Cd) 14. Seng (Zn) 15. Timah Hitam (Pb)

10 25 25 15 100 25

Mutu Emisi Sumber Tidak Bergerak EP. 13/MENLH/3/1995

EFEKTIF 2000 (mg/m3) 0.5 10 5 10 1000 35% 350 800 35

5 8 8 8 50 12

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Baku Tingkat Kebisingan : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No: KEP. 48/MENLH/11/1996 : Menteri Negara Lingkungan Hidup : Peruntukan Kawasan Industri adalah : 70 dB (A)

EP. 48/MENLH/11/1996

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Baku Tingkat Getaran : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No: KEP. 49/MENLH/11/1996 : Menteri Negara Lingkungan Hidup : Baku tingkat getaran mekanik berdasarkan jenis bangunan Kelas Tipe Bangunan Kecepatan Getaran (mm/detik) Pada Bidang Datar Dilantai Pada Fondasi paling atas < 10 Hz 1 Bangunan untuk keperluan niaga bangunan industri dan bangunan sejenis < 10 Frekuensi 10-15 Hz 20-40 Campuran 50-100 Hz*) frekuensi 40-50 40

Baku tingkat getaran kejut Kelas Jenis Bangunan Bangunan "kuat" (misalnya : bangunan industri 4 terbuat dari beton atau baja)

Kecepatan getaran maksimum (mm/detik) '10-14

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Baku Tingkat Kebauan : Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No: KEP-50/MENLH/11/1996 : Menteri Negara Lingkungan Hidup : A. Bau dari odoran tunggal No. Parameter Satuan Nilai Metode Peralatan Batas Pengukuran 1 Amoniak (NH3) ppm 2,0 Metoda Indofenol Spektrofotometer Metil Merkaptan ppm 0.002 Absorpsi gas Gas Khromatografi 2 (CH3SH) 3 Hidrogen Sulfida ppm 0.02 a. Merkuri tiosianat Spektorfotometer (H2S) b. Absorpsi gas Gas Khromatografi 4 Metil Sulfida ppm 0.01 Absorpsi gas Gas Khromatografi (CH3)2)S 5 Stirena ppm 0.1 Absorpsi gas Gas Khromatografi (C6H5CHCH2) B. Bau dari odoran campuran Tingkat kebauan yang dihasilkan oleh campuran odoran dinyatakan sebagai ambang bau yang dideteksi secara sensorik oleh lebih dari 50 % anggota penguji yang berjumlah minimal 8 (delapan) orang.

Nama Peraturan Nomor Peraturan

: Tata Cara Memperoleh Izin Penyimpanan, Pengumpulan, Pengoperasian Alat Pengolahan, Dan Penimbunan Akhir Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun : Keputusan Kepala Bapedal No: KEP-68/BAPEDAL/05/1994

Dikeluarkan Oleh : Kepala Bapedal Subyek umum yang dicakup : * Setiap usaha atau kegiatan dibidang penyimpan, pengumpulan, pengoperasian alat pengolahan, dan penimbunan akhir limbah bahan berbahaya dan beracun wajib mengajukan permohonan tertulis kepada Bapedal * Apabila berdasarkan hasil penelitian Bapedal : a. Dokumen dinyatakan tidak lengkap maka Bapedal akan memberitahukan kepada pemohon dalam waktu selambatlambatnya 10 hari sejak diterimanya permohonan izin dan pemohon wajib melengkapinya dalam waktu selambat-lambatnya 10 hari b. Dokumen dinyatakan lengkap maka Bapedal akan segera melakukan penelitian lapangan terhadap permohonan yang diajukan * Apabila dari hasil penelitian terhadap semua kelengkapan dokumen dan persyaratan yang diwajibkan telah dipenuhi, maka Bapedal akan mengajukan Surat Kepurusan Pemberian Izin * Penerbitan izin sebagaimana diatas diberikan selmbat-lambatnya dalam waktu 30 hari sejak diterima permohonan izin.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Tata Cara Dan Persyaratan Teknis Penyimpanan Dan Pengumpulan Limbah Bahan berbahaya dan Beracun : Keputusan Kepala Bapedal No: KEP-01/BAPEDAL/09/1995 : Kepala Bapedal : A. ISI * Pendahuluan * Persyaratan Pengemasan * Persyaratan Penyimpanan Limbah B3 * Persyaratan Pengumpulan Limbah B3 B. Pendahuluan Penyimpanan limbah B3 harus dilakukan jika limbah B3 belum dapat diolah dengan segera. C. Persyaratan Pengemasan Ketentuan dalam bagian ini berlaku bagi kegiatan pengemasan / pewadahan limbah B3 di fasiilitas : - Penghasil, untuk disimpan sementara di dalam lokasi penghasil - Penghasil, untuk disimpan sementara di luar lokasi penghasil tetapi tidak debagai pengumpul - Pengumpu, untuk disimpan sebelum dikirim ke pengelolaan - Pengolah, sebelum dilakukan pengolahan dan atau penimbunan * Persyaratan Pra pengemasan, persyaratan umum kemasan dan prinsip pengemasan limbah B3 a. Persyaratan pra pengemasan 1 Setiap penghasil/pengumpul limbah B3 harus dengan pasti mengetahui karakteristik bahaya dari setiap limbah B3 yang dihasilkan / dikumpulkannya. 2 Bagi penghasil yang menghasilkan limbah B3 yang sama secara terus menerus, maka pengujian karakteristik masing-masing limbah B3 dapat dilakukan sekurang-kurangnya satu kali. 3 Bentuk kemasan dan bahan kemasan dipilih berdasarkan kecocokannya terhadap jenis dan karakteristik limbah yang akan dikemasnya. b Persyaratan umum kemasan 1 Kemasan untuk limbah B3 harus dalam kondisi baik, tidak rusak dan bebas dari pengkaratan serta kebocoran 2 Bentuk, ukuran, dan bahan kemasan limbah B3 disesuaikan dengan karakteristik limbah B3 yang akan di kemasnya dengan mempertimbangkan segi keamanan dan kemudahan dalam penanganannya. 3 Kemasan dapat terbuat dari bahan pelastik (HDPE, PP atau PVC) atau bahan logam (Teflon, Baja Karbon, SS304, SS316, atau SS440) dengan syarat bahan kemasan yang digunakan tersebut tidak berreaksi dengan limbah B3 yang disimpannya. c Prinsip Pengemasan Limbah B3 1 Limbah-limbah B3 yang tidak saling cocok atau limbah dan bahan yang tidak saling cocok tidak boleh disimpan bersama-sama dalam satu kemasan. 2 Untuk mencegah resiko timbulnya bahaya selama penyimpanan, maka jumlah pengisian limbah dalam

kemasan harus mempertimbangkan kemungkinan terjadinya pengembangan volume limbah, pembentukan gas atau terjadinya kenaikan tekanan. 3 Jika kemasan yang berisi limbah B3 sudah dalam kondisi yang tidak layak (misalnya terjadi pengkaratan, atau terjadi kerusakan permanen) atau jika mulai bocor, maka limbah B3 tersebut harus dipindahkan ke dalam kemasan lain yang memenuhi syarat sebagai kemasan bagi limbah B3. 4 Terhadap kemasan yang telah berisi limbah harus diberi penandaan sesuai dengan ketentuan yang berlaku dan disimpan dengan memenuhi ketentuan tentang cara dan persyaratan bagi penyimpanan limbah B3. 5 Terhadap kemasan wajib dilakukan pemeriksaan oleh penanggung jawab pengelolaan limbah B3 fasilitas (penghasil, pengumpul atau pengolah) untuk memastikan tidak terjadinya kerusakan atau kebocoran pada kemasan akibat korosi atau faktor lainnya. 6 Kegiatan pengemasan penyimpanan dan pengumpulan harus dilaporkan sebagai bagian dari kegiatan pengelolaan limbah B3. * Tata cara pengemasan/pewadahan limbah B3 a Persyaratan Pengemasan limbah B3 1 Kemasan (drum, tong atau bak kontainer) yang digunakan harus : a. Dalam kondisi baik ,tidak bocor, berkarat atau rusak b Terbuat dari bahan yang cocok dengan karakteristik limbah B3 yang akan disimpan c Mampu mengamankan limbah yang disimpan di dalamnya. d Memiliki penutup yagn kuat untuk mencegah terjadinya tumpahan saat dilakukan pemindahan atau pengangkutan. 2 Pengisian limbah B3 dalam satu kemasan hatus dengan mempertimbangkan karakteristik dan jenis limbah, pengaruh pemuaian limbah, pembentukan gas dan kenaikan tekanan selama penyimpanan. 3 Kemasan yagn telah diisi atau terisi penuh dengan limbah B3 harus : a Ditandai dengan simbol dan label yang sesuai dengan ketentuan mengenai penandan pada kemasan limbah B3. b Selalu dalam keadaan tertutup rapat dan hanya dapat dibuka jika akan dilakukan penambahan atau pengambil an limbah dari dalamnya. c Disimpan ditempat yang memenuhi persyaratan untuk penyimpanan limbah B3 serta mematuhi tata cara penyimpanannya. 4 Terhadap drum/tong atau bak kontainer yang telah berisi limbah B3 dan disimpan ditempat penyimpanan harus dilakukan pemeriksaan kondisi kemasan sekurang-kurangnya 1 (satu) minggu satu kali. 5 Kemasan yang telah rusak (bocor atau berkarat) dan kemasan yang tidak digunakan kembali sebagai kemasan limbah B3 harus diperlakukan sebagai limbah B3. b Persyaratan pewadahan limbah B3 dalam tangki 1 Sebelum melakukan pemasangan tangki penyimpan limbah B3, pemilik atau operator harus mengajukan permohonan rekomendasi kepada kepala Bapedal dengan melampirkan laporan hasil evaluasi terhadap rancang bangun dari sistem tangki yang akan dipasang untuk dijadikan sebagai bahan pertimbangan. 2 Untuk mencegah terlepasnya limbah B3 ke lingkungan, tangki wajib dilengkap dengan penampungan sekunder. Penampungan sekunder dapat berupa satu atau lebih dari ketentuan berikut : pelapisan (dibagian luar tangki), tangul (vault;berm) dan atau tangki berdinding ganda.

3 Pemilik atau operator harus melakukan pemeriksaan sekurang-kurangnya 1(satu) kali sehari selama sistem tangki dioperasikan. D Persyaratan Penyimpanan Limbah B3 * Tata Cara Penyimpanan Limbah B3 a Penyimpanan kemasan limbah B3 1 Penyimpanan kemasan harus dibuat dengan sistem blok 2 Lebar gang antar blok harus memenuhi persyaratan peruntukannya 3 Penumpukan kemasan limbah B3 harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan. 4 Jarak tumpukan kemasan tertinggi dan jarak blok kemasan terluar terhadap atap dan dinding bangunan penyimpanan tidak boleh kurang dari 1 (satu) meter. 5 Kemasan-kemasan berisi limbah B3 yang tidak saling cocok harus disimpan secara terpisah, tidak dalam satu blok, dan tidak dalam bagian penyimpanan yang sama. b Penempatan Tangki Penyimpanan limbah cair dalam jumlah besar disarankan menggunakan tangki dengan ketentuan sbb : 1 Dibuat tanggul dengan dilengkapi saluran pembuangan yagn menuju bak penampung. 2 Bak penampung harus kedap air dan mampu menampung cairan minimal 110% dari kapasitas maksimum volume tangki. 3 Tangki harus diatur sedemikian rupa sehingga bila terguling akan terjadi di daerah tanggul dan tidak akan menimpa tangki lain. 4 Tangki harus terlindung dari penyinaran matahari dan masuknya air hujan secara langsung.. * Persyaratan Bangunan Penyimpanan Limbah B3 a Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 1 Bangunan tempat penyimpanan kemasan limbah B3 harus : a Memiliki rancang bangun dan luas ruang penyimpanan yang sesai dengan jenis, karakteristik dan jumlah limbah B3 yagn dihasilkan/akan disimpan. b Terlindung dari masuknya air hujan baik secara langsung maupun tidak langsung c Dibuat tanpa plafon dan memiliki sistem ventilasi udara yang memadai untuk mencegah terjadinya akumulasi gas didalam ruang penyimpanan, serta memasang kasa atau bahan kimia lain untuk mencegah masuk burung atau binatang kecil lainnya ke dalam ruang penyimpanan. d. Memiliki sistem penerangan (lampu/cahaya matahari) yang memadai untuk operasional penggudangan atau inspeksi rutin/jika mengunakan lampu, maka lampu penerangan harus dipasang minimal 1 meter diatas kemasan dengan sakelar (stop contaact) harus terpasang disisi luar bangunan. e Dilengkapi dengan sistem penangkal petir. f Pada bagian luar tempat penyimpanan diberi penandaan (simbol) sesuai dengan tata cara yang berlaku. 2 Lantai bangunan penyimpanan harus kedap air, tidak bergelombang, kuat dan tidak retak. 3 Saran lain yang harus tersedia adalah : a Peralatan dan sistem pemadam kebakaran b Pagar pengaman c Pembangkit listrik cadangan

d Fasilitas pertolongan pertama e Peralatan komunikasi f Gudang tempat penyimpanan peralatan dan perlengkapan g Pintu darurat h Alarm b Persyaratan Khusus Bangunan Penyimpanan Limbah B3 1 Persyaratan bangunan penyimpanan limbah B3 mudah terbakar a Jika bangunan berdampingan dengan gudang lain maka harus dibuat tembok pemisah tahan api, berupa : a) Tembok beton bertulang, tebal minimum 15 cm, atau b) Tembok bata merah, tebal minimum 23 cm, atau c) blok-blok (tidak berongga) tak bertulang, tebal minimum 30 cm b Jika bangunan dibat terpisah dengan bangunan lain, maka jarak minimum dengan bangunan lain adalah 20 meter. c Struktur pendukung atap terdiri dari bahan yang tidak mudah menyala. * Persyaratan lokasi untuk tempat penyimpanan limbah B3 Lokasi bangunan tempat penyimpanan kemasan drum/tong, bangunan tempat penyimpanan bak kontainer dan bangunan tempat penyimpanan tangki harus : a Merupakan daerah bebas banjir, atau daerah yagn diupayakan melalui pengurugan sehingga aman dari kemungkinan terkena banjir. b. jarak minimum antar lokasi dengan fasilitas umum adalah 5o meter. E. Persyaratan Pengumpulan Limbah B3 * Persyaratan lokasi pengumpulan a Luas tanah termasuk untuk bangunan penyimpanan dan fasilitas lainnya sekurang-kurangnya 1 (satu) hektar. b Area secara geologis merupakan daerah bebas banjir tahunan. c Lokasi harus cukup jauh dari fasilitas umum dan ekosistem tertentu. Jarak terdekat yang diperkenankan adalah : 1 150 meter dari jalan utama atau jalan tol, 50 meter dari jalan lainnya. 2 300 meter dari fasilitas seperti : daerah pemukiman, perdagangan, rumah sakit, pelayanan kesehatan atau kegiatan sosial, hotel, restoran, fasilitas keagamaan, fasilitas pendidikan, dll 3 300 meter dari perairan seperti : garis pasang tertinggi laut, badan sungai, daerah pasang surut, kolam, danau, rawa, mata air, sumur penduduk, dll 4 300 meter dari daerah yang dilindungi seperti : cagar alam, hutan lindung, kawasan suaka, dll. * Persyaratan bangunan pengumpulan Fasilitas pengumpulan merupakan fasilitas khusus yang harus dilengkapi dengan berbagai sarana untuk penunjang dan tata ruang yang tepat sehingga kegiatan pengumpulan dapat berlangsung dengan baik dan aman bagi lingkungan. * Fasilitas tambahan

a Laboratorium 1 Melakukan pengujian jenis dan karakteristik dari limbah B3 yang diterima. 2 Melakukan pengujian kualitas terhadap timbulan dari kegiatan pengelolaan limbah yang dilakukan sehingga dapat penanganan sebelum dibuang ke lingkungan dapat ditetapkan. b Fasilitas untuk bongkar muat 1 Fasilitas bongkar muat harus dirancang sehingga memudahkan kegiatan limbah dari dan ke kendaraan pengangkut. 2 Lantai untuk kegiatan bongkar muat harus kuat dan kedap air serta dilengkapi dengan saluran pembuang an menuju bak penampung untuk menjamin tidak ada tumpahan atau ceceran limbah B3 yang lepas ke lingkungan. * Tata cara penyimpanan/pengumpulan 1 Tata cara pengemasan dan tata cara pengumpulan/penyimanan limbah untuk kemasan drum dan atau tong dan atau tong dan atau bak kontainer. 2 Tata cara pewadahan dan tata cara penempatan tangki limbah B3 di fasilitas pengumpul dan atau pengolah.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Tata Cara dan Persyaratan Penyimpanan dan Pengumpulan Minyak Pelumas Bekas : Keputusan Ka Bapedal No. KEP-255/Bapedal/08/1996 : Kepala Bapedal : A Isi * Tata cara Penyimpanan * Persyaratan Bangunan Pengumpulan * Kewajiban Pengumpul Minyak Pelumas Bekas * Simbol dan Label, Dokumen dan Regristrasi * Pl+E41aporan+E61 B. Tata Cara Penyimpanan Tata cara penyimpanan minyak pelumas bekas harus memperhatikan : a. Karakteristik pelumas bekas yang disimpan b. Kemasan harus sesuai dengan karakteristik pelumas bekas dapat berupa drum atau tangki c. Pola penyimpanan dibuat dengan sistem blok, sehingga dapat dilakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap setiap kemasan jika terjadi kerusakan dan apabila terjadi kecelakaan dapat segera ditangani. d. Lebar gang antar blok harus diatur sedemikian rupa sehingga dapat digunakan untuk lalulintas manusia, dan kemndaraan pengangkut (forklift). e. Penmpukan kemasan harus mempertimbangkan kestabilan tumpukan kemasan.Jika berupa drum (isi 200 L), maka tumpukan maksimum 3 (tiga) lapis dengan tiap lapis dialasi dengan palet dan bila tumpukan lebih dari 3 (tiga) lapis atau kemasan terbuat dari plastik, maka harus dipergunakan rak. f. Lokasi penyimpanan harus dilengkapi dengan tanggul disekelilingnya dan dilengkapi dengan saluran pembuangan air menuju bak penampungan kedap air. g. Mempunyai tempat bongkar muat kemasan yang memadai dengan lantai yang kedap air. C. Persyaratan Bangunan Pengumpul a. Lantai harus kedap terhadap minyak pelumas bekas tidak bergelombang, kuat dan tidak retak b. Konstruksi lantai dibuat landai turun kearah bak, penampungan dengan kemiringan maksimum 1 % c. Bangunan harus dibuat khusus untuk fasilitas pengukuran minyak pelumas bekas d. Rancang bangun untuk penyimpanan/pengumpulan dibuat beratap untuk mencegah terjadinya tampias air hujan kedalam tempat penyimpanan atau pengumpulan. e. Bangunan dapat diberi dinding atau tanpa dinding, dan apabila bangunan diberi dinding bahan bangunan dinding dibuat dari bahan yang mudah didobrak.

D. Kewajiban Pengumpul Minyak Pelumas Bekas Pengumpul minyak pelumas bekas wajib : a. Mempunyai izin dari Bapedal b. Membuat catatan tentang penerimaan dan pengirim minyak pelumas bekas kepada pengolah atau pemanfaat. c. Mengisi permohonan lembar izin E. Simbol dan Label, Dokumen dan Regristrasi Setiap alat angkit minyak plumas bekas wajib dilengkapi dengan simbol dan label yang menunjukkan karakteristik minyak pelumas bekas Pelaporan Pengumpul minyak pelumas bekas wajib melaporkan kegiatan yang dilakukannya kepada Bapedal dengan tembusan Bupati/Walikotamadya Daerah Tingkat II dan Gubernur Daerah Tingkat I yang bersangkutan sekurangkurangnya sekali dalam 3 (tiga) bulan

F.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: : : : * *

Persyatan Teknis Pengolahan Limbah B3 Keputusan Ka Bapedal No. KEP-03/Bapedal/09/1995 Kepala Bapedal Pengelolahan limbah B3 adalah proses untuk mengubah karakteristik dan komposisi limbah B3 menjadi tidak berbahaya dan/atau tidak berracun. Persyaratan pengolahan limbah B3 meliputi persyaratan : a Lokasi pengolahan limbah B3 b Fasilitas pengolahan limbah B3 c Penanganan limbah B3 sebelum diolah d. Pengolahan limbah B3 e Hasil pengolahan limbah B3 Persyaratan teknis pengolahan limbah B3 meliputi : a Fisika dan Kimia b Stabilisasi/solidifikasi c Insinerasi Setiap karyawan atau operator yang langsung berhubungan dengan unit operasi pengolahan limbah B3 wajib mengikuti pelatihan pengelolaan limbah B3. Pengolah limbah B3 wajib membuat dan menyampaikan laporan tentang pengolahan limbah B3 secara berkala sekurangkurangnya dalam waktu 3 bulan sekali kepada kepala Bapedal dengan tembusan Bupati/Wali Kotamadya Kepala Daerah Tingkat II dan Gubernur Kepala Daerah Tingkat I yang bersangkutan, tentang : a Jenis, karakteristik, jumlah timbunan limbah B3 dan waktu diterimanya limbah B3 b. Jenis, karakteristik jumlah dan waktu limbah B3 yang diolah c Jenis, Karakteristik, jumlah dan waktu timbulan limbah B3 (cair dan/atau padat) hasil pengolahan d Jenis, karakteristik, jumlah dan waktu limbah B3 yang ditimbun (landfill)

* *

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: : : : *

Dokumen Limbah B3 Keputusan Ka Bapedal No. KEP-02/Bapedal/09/1995 Kepala Bapedal

Dokumen Limbah B3 terdiri dari 7 rangkap apabila pengangkutan hanya 1x dan apabila pengangkutan lebih dari 1x (antar moda), maka dokumen terdiri dari 11 rangkap dengan perincian sbb: a. Lembar asli (pertama) disimpan oleh pengangkut limbah B3 setelah ditandatangani oleh penghasil, pengumpul, dan pengolah limbah B3 (warna putih). b. Lembar kedua yang sudah ditandatangani oleh pengangkut limbah B3, oleh penghasil limbah B3 atau pengumpul dikirim kepada Bapedal (warna kuning). c Lembar ketiga yang sudah ditandatangani oleh pengangkut limbah B3 disimpan oleh penghasil atau pengumpul limbah B3 yang menyerahkan limbah B3 untuk diangkut oleh pengangkut limbah B3 (warna hijau) d Lembar keempat setelah ditandatangani oleh pengumpul atau pengolah limbah B3 oleh pengangkut diserahkan kepada pengumpul limbah B3 atau pengolah limbah B3 yang menerima limbah B3 dari pengangkut limbah B3 (warna merah muda). e Lembar kelima dikirim kepada Bapedal setelah ditandatangani oleh pengumpul limbah B3 atau pengolah limbah B3 (warna biru). f Lembar keenam dikirim oleh pengangkut kepada penghasil limbah B3 oleh pengumpul limbah B3 atau pengolah limbah B3, setelah ditandatangani oleh pengumpul limbah B3 atau pengolah limbah B3 (warna krem). g Lembar ketujuh dikirim oleh pengangkut kepada penghasil limbah B3 oleh pengumpul limbah B3 atau pengolah limbah B3 setelah ditandatangani oleh pengumpul limbah B3 atau pengolah limbah B3 (warna ungu). h Lembar kedelapan sampai dengan lembar kesebelas dikirim oleh pengangkut kepada penghasil atau pengumpul setelah ditandatangani oleh pengangkut terdahulu dan diserahkan kepada pengangkut berikutnya (antar moda). * Waktu penerimaan kembali dokumen limbah B3 Penghasil limbah B3 akan menerima kembali dokumen limbah B3 dari pengumpul atau pengolah selambat-lambatnya 120 hari sejak limbah B3 diangkut untuk dibawa kepengumpul atau kemanfaat atau pengolah limbah B3.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Pedoman Teknis Pengendalian Pencemaran udara Sumber Tidak Bergerak : Keputusan Ka Bapedal No. KEP-205/Bapedal/07/1996 : Kepala Bapedal : * Pedoman teknis pengendalian pencemaran udara sumber tidak bergerak sebagaimana untuk : a. Pelaksanaan pemantauan kualitas udara sebagaimana tersebut dalam lampiran I 1. Mekanisme kunjungan pendahuluan 2. Periode pemantauan 3. Penetapan lokasi pemantauan emisi dan embien 4. Pemasangan alat pemantauan kualitas udara 5. Pelaporan b. Pengambilan contoh uji dan analisis sebagaimana tersebut dalam lampiran II yang meliputi : 1. Metoda penentuan tempat pengambilan contoh uji dan titik-titik lintas dalam emisi sumber tidak bergerak 2. Metoda penentuan kecepatan aliran dan tingkat aliran dan tingkat aliran volumetrik gas dalam emisi sumber tidak bergerak 3. Metoda penentuan komposisi dan berat molekul gas dalam emisi sumber tidak bergerak 4. Metoda penentuan kandungan uap air gas buang dalam cerobong dari emisi sumber tidak bergerak. 5. Metode pengujian kadar partikulat dalam emisi sumber tidak bergerak secara isokinetik. 6. Metode pengujian opasitas dalam emisi sumber tidak bergerak secara Visual. 7. Metode pengujian kadar sulfur dioksida (SO2) dalam emisi sumber tidak bergerak dengan alat spektofotometer secara turbidimetri. 8. Metode pengujian kadar sulfur dioksida (SO2) dalam emisi sumber tidak bergerak secara titrimetri. 9. Metode pengujian kadar nitrogen oksida (Nox) dalam emisis sumber tidak bergerak dengan alat spektrofotometer secara kolorimetri. 10.Metode pengujian kadar Total sulfur tereduksi (TRS) dalam emisi sumber tidak bergerak secara oksida termal. 11.Metode pengujian kadar Total Sulfur Tereduksi (TRS) dalam sumber tidak bergerak secara titrimetri. 12.Metode pengujian kadar Hitrogen Klorida (HCl) dalam emisi sumber tidak bergerak dengan alat spektrofotometer secara merkuri tiosianat. 13.Metode pengujian kadar Hitrogen Klorida (HCl) dalam emisi sumber tidak bergerak secar titrimetri.

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Simbol dan Label Limbah Bahan Berbahaya dan Beracun : Keputusan Ka Bapedal No. KEP-05/Bapedal/09/1996 : Kepala Bapedal :

Nama Peraturan Nomor Peraturan Dikeluarkan Oleh Subyek umum yang dicakup

: Tata Cara Persyaratan Penimbunan Hasil Pengolahan, Persyaratan Lokasi Bekas Pengolahan, Dan Lokasi Bekas Penimbunan Limbah Bahan Berbahaya Dan Beracun : Keputusan Ka Bapedal No. KEP-04/Bapedal/09/1995 : Kepala Bapedal : Jenis Industri/Kegiatan Limbah B3 dari Sumber Yang Spesifik Yang Tempat Penimbunannya Harus di Landfill Kategori I Kode Limbah Jenis Industri Uraian Limbah D218 Aki - Sludge - Debu

Total Kadar Maksimum Limbah B3 Yang Belum Terolah Dan Tempat Penimbunannya Bahan Pencemar Total Kadar Maksimum (mg/kg berat kering) KOLOM A Lebih Besar dari atau Sama Dengan Tempat Penimbunannya di Landfill KATEGORI I Lebih Kecil Dari - Tempat Penimbunannya di Landfill KATEGORI II 3000 Total Kadar Maksimum (mg/kg berat kering) KOLOM B Lebih Kecil Dari Atau Sama Dengan - Tempat Penimbunannya di Landfill KATEGORI II

catatan :

Lead

300

BAKU MUTU UJI TCLP (HASIL EKSTRAKSI/LINDI) Parameter Lead Konsentrasi dalam ekstraksi limbah (mg/L) 5,0

BAKU MUTU LIMBAH CAIR KEGIATAN PENGOLAHAN LIMBAH B3 (BMLCKPPLIB3) Parameter Nilai Kimia Timbah (Pb) 0,1 mg/l Konsentrasi Maksimum Satuan