Anda di halaman 1dari 10

LAPORAN RESMI PRAKTIKUM BIOFARMAKA

HERBARIUM

Disusun oleh: Kelompok 3


1. Kuswanti 2. Lusiana Hermawati I 3. Hutri Catur Sad Winarni 4. Arta Puspita Sari 5. Pradito Haryo Yudanto (31091184) (31091190) (31091198) (31091206) (31091215)

Asisten: Theresia Desy. A

FAKULTAS BIOTEKNOLOGI UNIVERSITAS KRISTEN DUTA WACANA YOGYAKARTA 2011

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Tanaman obat adalah tanaman yang memiliki khasiat obat dan digunakan sebagai obat dalam penyembuhan maupun pencegahan penyakit. Namun tidak semua spesies tumbuhan obat ini dikenal oleh masyarakat luas, bahkan ada spesies-spesies tumbuhan obat yang masih belum dikenal, oleh karena itu perlu adanya pembuatan herbarium. Herbarium adalah koleksi referensi suatu jenis tumbuhan yang dapat

merepresentasikan morfologi tumbuhan yang meliputi batang, daun, bunga, dan buah. Pembuatan herbarium dapat dilakukan dalam keadaan kering maupun basah. Peranan herbarium ini penting sekali untuk identifikasi dan inventarisasi jenis-jenis tumbuhan, terutama untuk tumbuhan yang berasal dari hutan dan hidup liar yang belum banyak dikenal serta untuk penelitian lebih lanjut. Herbarium tidak hanya sekedar specimen tumbuhan yang diawetkan, namun dapat digunakan sebagai kegiatan botani lainnya seperti sebagi sumber dasar untuk ahli taksonomi dan ilmu lain yang memerlukan informasi dasar mengenai suatu spesies tanaman. Herbarium juga dapat dijadikan suatu museum sehingga dapat digunakan sebagai pusat penelitian, pengajaran dan pusat infornasi untuk masyarakat umum. Agar kita dapat membuat herbarium dengan cara membuat awetan basah dan kering, maka dilakukan praktikum ini.

B. Tujuan 1. Memahami cara pembuatan koleksi spesimen tanaman obat dan bentuk herbariumnya. 2. Mengetahui cara membuat awetan basah dan kering dari tanaman obat. 3. Mampu memilih spesimen tanaman yang akan dikoleksi dalam bentuk herbarium basah dan kering. 4. Menyimpan koleksi spesimen tanaman obat dalam bentuk herbarium.

BAB II DASAR TEORI

Herbarium Herbarium berasal dari kata hortus dan botanicus, artinya kebun botani yang dikeringkan. Herbarium merupakan spesimen bukti suatu jenis tumbuhan yang memiliki data morfologi, ekologi, dan lain-lain yang diawetkan secara kering dan juga basah. Peranan herbarium ini penting sekali untuk identifikasi dan inventarisasi jenis-jenis tumbuhan, terutama untuk tumbuhan yang berasal dari hutan dan hidup liar yang belum banyak dikenal serta untuk penelitian lebih lanjut. Suatu spesimen dapat terdiri atas bagian vegetatif (akar, batang, dan daun) dan bagian generatif (bunga dan buah) untuk tumbuhan spermatophyta dan bagian vegetatif serta organ reproduksi (bukan biji) untuk tumbuhan yang tidak berbiji. Herbarium digunakan sebagai alat peraga, bahan penelitian, identifikasi, dan juga dokumentasi (Anonim, 2008). Herbarium adalah spesimen yang digunakan untuk studi taksonomi, berupa tumbuhan segar yang masih hidup tapi biasanya berupa bahan tumbuhan yang telah dimatikan dan diawetkan dengan metode tertentu. Berdasarkan cara pengawetannya, herbarium digolongkan atas: 1. Herbarium basah Herbarium basah adalah spesimen tumbuhan yang telah diawetkan dan disimpan dalam suatu larutan yang dibuat dari berbagai macam zat dengan komposisi berbeda. Disamping itu dapat pula ditempatkan zat-zat lain dengan tujuan-tujuan tertentu, untuk sejauh mungkin mempertahankan warna asli bahan tumbuhan yang diawetkan. Biasanya bahan pengawet yang digunakan untuk herbarium basah adalah formalin. 2. Herbarium kering Herbarium kering yaitu herbarium yang cara pengawetannya dengan cara dikeringkan. Sebagian besar spesimen herbarium yang disimpan sebagai awetan dalam herbarium ini diproses melalui pengeringan. Pegeringan biasanya dilakukan dengan sinar matahari. (Anonim, 2011) Koleksi herbarium memiliki beberapa manfaat, diantaranya adalah : 1. Sebagai database yang dapat digunakan untuk acuan dalam mengambil keputusan yang berkaitan dengan pengelolaan kawasan konservasi.

2.

Sebagai bahan informasi baik bagi petugas maupun pengunjung dan pihak lain yang memerlukan.

3.

Merupakan salah satu bahan interpretasi ekowisata dan pendidikan lingkungan terutama untuk pengenalan jenis-jenis tumbuhan (Anonim, 2011).

Terung teter (Solanum verbacifolicum Set. W.) Klasifikasi Ilmiah Kingdom: Plantae Divisi: Spermatophyta Sub divisi: Angiospermae Kelas: Dicotyledoneae Bangsa: Solanales Suku: Solanaceae Genus: Solanum Spesies: Solanum verbacifolium Set. W. Deskripsi Habitus: Perdu, tinggi + 6 m. Batang: Berkayu, penampang bulat, percabangan monopodial, putih kotor. Daun: Tunggal, duduk tersebar, lonjong, panjang 5-20 cm, lebar 3-12 cm, bercangap, bagian bawah berbulu, pertulangan menyirip, uiung runcing, pangkal tumpul, hijau pucat. Bunga: Majemuk, bentuk tandan, kelopak berbulu putik berambut, putih, mahkota berambut, bentuk bintang, bertaju lima, lonjong, ungu. Buah: Buni, bundar, hijau. Biji: Bulat, pipih, masih muda putih setelah tua coklat. Akar: Tunggang, coklat muda. Khasiat Daun Solanum verbacifolium berkhasiat sebagai obat demam dan mengurangi rasa sakit pada luka bakar. Kandungan kimia Daun, buah dan akar Solanum verbacifolium rnengandung saponin, di samping itu daunnya juga mengandung polifenol, sedangkan buahnya mengandung alkaloida dan flavonoida, akarnya juga mengandung tanin dan polifenol. (Anonim, 2011)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Alat dan Bahan Alat yang diperlukan: 1. Gunting/pisau tanaman 2. Moseum jar 3. Alat pengepres 4. Etiket/label gantung dan tempel 5. Kertas pembungkus/koran 6. Oven atau alat pengering Bahan yang digunakan: 1. Solanum sp (akar, batang, daun, buah) 2. Formalin 10% 3. Air B. Cara Kerja 1. Herbarium Basah Diambil bahan (Solanum verbacifolicum) dari kebun yang sehat dan segar

Disortasi, dicuci, dan ditiriskan

Disiapkan larutan formalin 10%

Dimasukkan ke moseum jar

Diberi etiket/ label (nama spesies, nama daerah, asal spesimen, kolektor, tanggal simpan)

2. Herbarium Kering Diambil bahan (Solanum verbacifolicum) dari kebun yang sehat dan segar

Disortasi, dicuci, dan ditiriskan

Dilapisi kertas pembungkus/koran

Dipress dengan alat pengepress

Dikeringkan (sinar matahari 3 hari, dioven pada suhu 40oC 3 hari)

Dikemas dan diberi etiket/label (nama spesies, nama daerah, asal spesimen, kolektor, tanggal simpan)

BAB IV HASIL dan PEMBAHASAN

A. Hasil Herbarium basah dan kering dari tanaman obat Solanum verbacifolicum.

B. Pembahasan Pada percobaan ini kita membuat herbarium kering dan basah dari tanaman obat Solanum verbacifolicum. Herbarium ini selain digunakan untuk mengawetkan spesimen, juga dapat digunakan sebagai alat peraga, bahan penelitian, untuk identifikasi, dan dapat juga dipakai untuk dokumentasi. Untuk membuat herbarium ini, kita mengambil tanaman yang sehat dan segar dari kebun, tanaman yang dipakai yaitu Solanum verbacifolicum. Dipilihnya tanaman ini, karena Solanum verbacifolium merupakan salah satu tanaman obat yang berkhasiat sebagai obat demam dan mengurangi rasa sakit pada luka bakar. Kandungan senyawa aktif yang terdapat pada terung teter ini, yaitu saponin yang terdapat pada daun, buah dan akar, disamping itu daunnya juga mengandung polifenol, sedangkan buahnya mengandung alkaloida dan flavonoida, akarnya juga mengandung tanin dan polifenol. Bagian tanaman yang diambil harus selengkap mungkin, yaitu bagian vegetatif (akar, batang, dan daun) dan bagian generatif (bunga dan buah) untuk tumbuhan spermatophyta dan bagian vegetatif serta organ reproduksi (bukan biji) untuk tumbuhan yang tidak berbiji. Pada pembuatan herbarium basah, ukuran tanaman yang akan dijadikan herbarium tidak boleh terlalu besar, hal ini dikarenakan ukuran moseum jar tidak terlalu besar. Bahan tumbuhan yang diambil merupakan jenis-jenis tumbuhan yang hidup di air (tumbuhan akuatik), karena pada umumnya tumbuhan akuatik mempunyai kadar air yang tinggi, sehingga sangat cocok dijadikan herbarium basah. Tanaman yang hendak dijadikan herbarium ini berikutnya disortasi, yaitu dengan memilih bagian tanaman (akar, batang, daun, bunga, buah) yang sehat/bagus dan dicuci dengan air sampai bersih untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada terung teter seperti tanah dan kerikil kemudian ditiriskan agar mengurangi kadar air yang disebabkan oleh pencucian yang telah dilakukan sebelumnya. Larutan formalin 10% dalam pembuatan herbarium basah ini berfungsi sebagai pengawet tumbuhan tersebut, selain itu juga digunakan untuk merendam spesimen tersebut. Kemudian dimasukkan ke dalam moseum jar, yaitu tempat yang digunakan untuk menyimpan awetan basah dari tanaman terung teter (Solanum verbacifolium). Yang terakhir dilakukan adalah memberi etiket atau label pada herbarium basah dari Solanum verbacifolium

yang telah dibuat, etiket tersebut berisi mengenai nama spesies tanaman, nama daerah, asal spesimen, kolektor, dan tanggal simpan. Selain herbarium basah, kami juga membuat herbarium kering. Cara pembuatan herbarium kering berbeda dengan pembuatan herbarium basah. Seperti pada herbarium basah, bahan yang digunakan yaitu Solanum verbacifolicum atau yang lebih dikenal dengan terung teter yang diambil dari kebun, bahan yang dipilih adalah tanaman yang sehat dan segar. Dilakukan sortasi terlebih dahulu untuk memilih bagian yang bagus pada tanaman tersebut untuk dijadikan awetan kering, proses selanjutnya yaitu dicuci sampai bersih untuk menghilangkan kotoran-kotoran yang menempel pada tanaman yang hendak dijadikan awetan tersebut. Dilakukan penirisan untuk mengurangi kandungan air pada Solanum verbacifolicum setelah dilakukan pencucian sebelumnya. Kemudian dilapisi dengan kertas pembungkus, kertas pembungkus yang dipakai yaitu kertas koran sebagai pelapis dari sampel sebelum dilakukan pengepresan. Pada saat dilapisi kertas koran, sampel diletakkan dengan rapi diatas kertas koran, dimana bagian depan dan bagian belakang dari tanaman agar dapat terlihat pada saat herbarium kering sudah jadi nanti. Pengepresan dilakukan dengan menggunakan alat yang sederhana, walaupun alat yang dipakai masih manual namun hasilnya tetap baik, setelah dipres maka dilakukan pengeringan. Pengeringan bertujuan untuk mencegah kerusakan yang disebabkan oleh serangga mikroorganime, sehingga awetan ini mempunyai daya simpan yang lama. Pengeringan dapat dilakukan dengan menjemur dibawah sinar matahari secara langsung yang dilakukan 3 hari, atau dapat juga dengan cara dioven pada suhu 40oC selama 3 hari. Kemudian awetan tersebut ditempelkan pada kertas manila, dimana bagian ujung dari tanaman diberi selotip agar letak tanaman (ada bagian tanaman yang terlihat dari depan dan belakang) yang telah diawetkan tidak bergeser. Kemudian dikemas yaitu dengan menggunakan plastik transparan dan diberi etiket yang mencakup nama spesies tumbuhan yang dipakai yaitu Solanum verbacifolicum, nama daerah, asal spesimen, kolektor, tanggal simpannya.

BAB V KESIMPULAN

Dari praktikum yang telah dilakukan maka dapat diambil kesimpulan bahwa selain digunakan untuk mengawetan spesimen, herbarium juga dapat digunakan sebagai alat peraga, bahan penelitian, identifikasi, dan dokumentasi. Herbarium dapat dibedakan menjadi dua, yaitu herbarium basah dan herbarium kering. Herbarium basah digunakan untuk mengawetkan spesimen dalam suatu larutan tertentu, dengan bahan pengawet formalin. Sedangkan herbarium kering yaitu herbarium yang cara pengawetannya dengan cara dikeringkan. Pegeringan biasanya dilakukan dengan sinar matahari atau oven masing-masing selama 3 hari.

DAFTAR PUSTAKA

Anonim. 2008. Modul Standarisasi Tanaman Obat. Badan litbangkes: B2P2TOOT Anonim. 2011. http://www.scribd.com/doc/56609221/8/II-2-Herbarium. Diakses pada 30 November 2011. Anonim. 2011. http://www.herbalisnusantara.com/tanamanobat/3-132.pdf. Diakses pada 30 November 2011. Anonim. 2011. http://studifarmasi.com/2011/05/herbarium. Diakses pada 30 November 2011.