Anda di halaman 1dari 231

http://inzomnia.wapka.

mobi

James Herriot SEANDAINYA MEREKA BISA BICARA Penerbit PT Gramedia Jakarta, 1978

Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi Judul asli: "IF ONLY THEY COULD TALK" by James Herriot James Herriot 1970 "SEANDAINYA MEREKA BISA BICARA" Alihbahasa: Ny. Suwarni A.S. GM 78.145 Hak cipta terjemahan Indonesia PT Gramedia, Jakarta Hak cipta dilindungi oleh Undang-undang AU rights reserved Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia, Jakarta 1978 Anggota IKAPI

http://inzomnia.wapka.mobi

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia Jakarta untuk EDDIE STRAITON disertai rasa terima kasih dan persahabatan BAB 1 AKU tak mengenakan baju. Kandang itu tak berpintu. Angin meniup keras. Salju masuk ke dalam, dan bertengger di punggungku. Kurasa, hal seperti ini tak terdapat dalam buku. Aku tertelungkup di lantai, yang terbuat dari batu-batu bulat. Wajahku berbantalkan tahi lembu, yang baunya tak dapat dilukiskan dengan katakata. Lenganku kumasukkan dalam-dalam ke liang peranakan. Kakiku meraba-raba di antara batu mencari tumpuan, karena lembu itu terusmenerus menggeliat. Tubuhku penuh salju yang bercampur kotoran serta darah kering, karena aku hanya memakai celana. Di luar lingkaran nyala lampu, aku tidak dapat melihat sesuatu. Lampu minyak itu dipegang oleh petani pemilik lembu. Nyalanya tidak begitu terang dan berasap. Hal berikut ini juga tak terdapat dalam buku. Misalnya tentang mencari tali dan alat-alat di dalam gelap. Tentang berusaha tetap bersih dengan air kotor setengah ember. Tentang batu-batu bulat yang menekan dada. Tentang lengan yang lambat laun membeku. Tentang otot-otot yang sedikit demi sedikit menjadi lumpuh, waktu jariku berusaha keras melawan dorongan kuat dari dalam lembu. Tentang rasa lelah dan rasa putus asa yang makin lama makin berat. Tentang suara panik yang melengking-lengking jauh di dalam hatiku. Ini pun tak disebut-sebut dalam buku! Aku teringat sebuah gambar dalam buku ilmu kebidanan. Seekor lembu sedang berdiri di tengah-tengah lantai yang mengkilat. Dokter hewan mengenakan mantel bidan yang putih bersih. Ia memasukkan tangannya

http://inzomnia.wapka.mobi

ke dalam lembu, dari jarak yang cukup sopan. Ia tampak santai dan tersenyum. Petani dan pembantunya juga tersenyum. Bahkan lembunya juga tersenyum. Tak ada kotoran, darah, atau keringat. Dokter dalam gambar itu baru saja selesai makan hidangan yang lezat. Kemudian ia pergi ke rumah sebelah, untuk menolong lembu beranak. Tugas ini dikerjakan dengan senang hati, seolah-olah suatu hiburan belaka. Ia tak perlu meninggalkan tempat tidur pada pukul dua malam, sambil merangkak-rangkak kedinginan. Ia tak perlu naik mobil sejauh dua belas mil, terbanting-banting di jalan penuh salju. Ia tak perlu meregang-regangkan matanya yang mengantuk, untuk mencari-cari rumah petani di tempat yang terpencil. Ia tak perlu memanjat lereng bukit yang tertutup salju sejauh setengah mil, untuk mencapai tujuannya, ialah kandang tak berpintu, tempat pasiennya berbaring. Aku berusaha menggerak-gerakkan tanganku, supaya masuk lebih dalam. Kepala anak lembu itu tak terjangkau. Dengan susah payah aku memasukkan tali kecil berbentuk kait, untuk mengait rahang bawahnya dengan ujung jariku. Lenganku terus-menerus terhimpit di antara tubuh anak lembu dan tulang pinggul induknya. Setiap kali lembu menggeliat, tekanan pada lengan hampir tak terderita. Bila lembu berhenti menegang, aku mendorong tali lebih dalam lagi. Aku tidak tahu, berapa lama hal ini akan berlangsung, dan apakah aku akan tahan. Jika aku tak berhasil mengait rahang bawahnya, anak lembu itu takkan dapat dikeluarkan. Aku menghela nafas, menggertakkan gigi, dan meraih ke depan lagi. Gumpalan salju tertiup angin ke dalam lagi. Suaranya mendesis-desis di punggungku yang berkeringat. Dahiku berkeringat juga. Setiap kali aku mendesak maju, keringat itu masuk ke dalam mata. Pada saat sial seperti ini, kita kerap kali jadi sangsi, apakah usaha kita akan berhasil. Aku sudah mencapai tingkat ini. Komentar-komentar aneh mulai menyelinap ke dalam hati. 'Mungkin lebih baik lembu ini dipotong saja. Rongga pinggulnya terlalu sempit dan kecil, sehingga tak mungkin anaknya dapat dikeluarkan,' atau, 'lembu ini terlalu gemuk dan termasuk jenis lembu potong, jadi lebih baik

http://inzomnia.wapka.mobi

memanggil tukang jagal, bukan dokter hewan!' atau barangkali, 'ini lembu sial. Rongga pinggulnya terlalu sempit. Pada lembu yang rongga pinggulnya lebar, anaknya dapat lahir dengan mudah. Tapi pada lembu ini, hampir tidak mungkin!' Tentu saja aku dapat mengeluarkan anaknya dengan embriotomi. Ialah mengait lehernya dengan kawat, dan menggergaji kepalanya. Dengan cara begini, jerih payahku akan berakhir dengan potongan-potongan kepala, kaki, dan onggokan isi perut. Banyak buku tebal yang membicarakan hal ini. Ada bermacam-macam cara untuk memotongmotong anak lembu. Tapi di sini, semua cara itu tak ada gunanya, karena anaknya masih hidup. Aku meraih ke dalam sejauh-jauhnya. Aku berhasil menyentuh ujung mulutnya. Aku terkejut, karena lidah anak lembu itu masih bergerak. Hal ini sungguh di luar dugaan, karena anak lembu dalam posisi ini biasanya mati. Tak dapat bernafas, karena lehernya terlipat dan dadanya tertekan kontraksi liang peranakan. Tapi anak lembu ini masih menunjukkan tanda-tanda hidup, jadi harus dikeluarkan utuh. Aku bangkit untuk mengambil air ember. Air itu sekarang dingin dan bercampur darah. Tanpa bicara sepatah kata pun. aku membersihkan tangan dengan sabun. Kemudian aku berbaring lagi. Batu-batu bulat itu terasa makin menekan dada. Aku menjejak-jejakkan ibu jari kaki di sela-sela batu, sambil menggeleng-gelengkan kepala, supaya keringat jangan masuk ke dalam mata. Untuk seratus kalinya, aku memasukkan tanganku ke dalam perut lembu. Mungkin bagi lembu, lenganku rasanya sudah seperti spageti. Kulit lenganku terasa pedih, karena tersayat kaki anak lembu, yang kering dan tajam seperti kertas pasir. Kemudian tanganku sampai di lehernya, telinganya, dan dengan susah payah sampai di kepalanya. Tujuanku yang terakhir adalah mencapai rahang bawahnya. Sungguh tak masuk akal, bahwa aku tahan dalam keadaan begini selama hampir dua jam! Aku tetap berjuang, meskipun tenagaku makin habis, hanya untuk mengait rahang bawah anak lembu dengan tali! Segala usaha telah kukerjakan, antara lain menahan kakinya, menarik lekuk matanya

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan hati-hati sekali. Tapi akhirnya aku terpaksa menggunakan kait tali lagi! Seluruh pertemuan ini sungguh menyedihkan. Pak Dinsdale, pemilik lembu ini, adalah seorang pria yang bertubuh tinggi. Ia mudah bersedih hati, dan sedikit bicara. Ia selalu mengharapkan nasib sial. Anaknya lakilaki, juga bertubuh tinggi dan berwajah sedih. Seperti ayahnya, ia juga pendiam. Kedua orang ini memperhatikan jerih payahku dengan hati yang murung. Tapi yang paling menyakitkan hati adalah sang paman, ialah adik Pak Dinsdale. Waktu mobilku merayapi lereng bukit, aku terkejut karena melihat seorang tua duduk dengan enaknya di atas tumpukan jerami. Matanya sempit menyala-nyala. Topinya jelek seperti pastel daging babi. Ia sedang mengisi pipanya, dan jelas ia sedang mengharapkan tontonan yang mengasyikkan. "Ha, selamat datang, Anak muda!" serunya. Suaranya sengau seperti nada bahasa penduduk sebelah barat. "Kenalkan, aku adik Dinsdale. Rumahku di Listondale." "Terima kasih! Nama saya Herriot," jawabku, sambil menganggukkan kepala dan meletakkan alat-alat. Kemudian orang itu memandangku dengan tajam, sambil berkata, "Nama dokterku Pak Broom-field. Kukira kau sudah pernah mendengar namanya. Tiap hidung kenal dia, karena dia orang hebat. Apalagi di bidang menolong lembu beranak. Kau belum tahu? Dia tidak pernah gagal!" Aku hanya tersenyum kecut. Di lain kesempatan, aku pasti merasa gembira mendengar teman sepro-fesiku dipuji. Tapi hendaknya jangan sekarang! Dan jangan pada saat sial ini! Kata-kata itu sungguh menghancurkan semangatku! "Maaf, saya tidak kenal Pak Broomfield," jawabku, sambil melepaskan jaket. Lebih menyegankan lagi adalah menanggalkan baju. "Tapi saya belum lama mengenal daerah ini." Paman itu terkejut. "Apa? Kau belum kenal dia? Ya, ampuuun! Tentu hanya kau yang belum mengenalnya. Di Listondale dia terkenal sekali,

http://inzomnia.wapka.mobi

kalau kau mau tahu!" Kemudian ia diam, karena sedang menyulut pipanya. "Pak Broomfield tubuhnya kuat seperti petinju. Aku belum pernah melihat orang berotot sekekar itu!" Aku merasa lemah-lunglai. Kakiku tiba-tiba terasa berat seperti dibebani timah dan tak berdaya. Waktu aku mulai meletakkan tali dan alat-alat di atas handuk yang bersih, orang tua itu bicara lagi, "Kalau aku boleh bertanya, sudah berapa lama kau praktek?" "Belum lama, baru tujuh bulan." "Baru tujuh bulan?!" seru Paman sambil tersenyum mengejek. Ia menjejalkan tembakau ke dalam pipa dan meniupkan asapnya yang biru dan berbau tak sedap. "Itu belum dapat dikatakan pengalaman. Pak Broomfield telah berpengalaman sepuluh tahun, dan benar-benar ahli! Mungkin kau lebih pandai menghafalkan buku. Tapi tentang pengalaman, kau kalah!" Aku menuangkan beberapa tetes antiseptik ke dalam ember dan menyabun lenganku dengan cermat. Kemudian aku berlutut di belakang lembu. "Pak Broomfield lebih dulu selalu melumas lengannya dengan minyak khusus. Katanya, kalau hanya sabun dan air, akan menimbulkan infeksi," kata Paman, sambil mengisap pipanya sepuas-puasnya. Aku mulai memeriksa. Pada saat seperti ini semua dokter hewan merasa berat. Yang paling me-nyegankan adalah waktu pertama kali memasukkan tangan ke dalam lembu. Dalam waktu beberapa detik saja bisa diketahui, apakah pekerjaan ini akan segera selesai, ataukah akan memakan waktu berjam-jam lamanya. Kali ini nasibku sungguh sial. Kelahiran anak lembu ini sungguh sulit. Kepala anaknya terbalik, dan liang peranakan sempit sekali. Lebih menyerupai lembu yang salah tumbuh. Dan lembu ini terasa kering sekali, seperti kehabisan air beberapa jam yang lalu. Rupanya ia baru saja disuruh bekerja berat di ladang, dan melahirkan anaknya seminggu sebelum waktunya. Itulah sebabnya ia dibawa ke kandang yang hampir

http://inzomnia.wapka.mobi

roboh ini. Namun, bagaimanapun juga, aku takkan dapat segera kembali ke tempat tidurku. "Nah, Anak muda, sekarang apa yang telah kautemukan?" tanya paman itu. Suaranya lantang memecahkan kesunyian malam. "Kepalanya di belakang, eh? Terbalik atau melintang? Itu soal mudah! Aku sudah pernah melihat Pak Broomfield mengatasi soal seperti itu. Sama sekali tak ada kesukaran. Anak lembu diputar, kemudian kaki depannya ditarik paling dulu!" Aku sudah pernah mendengar omong kosong seperti ini. Meskipun aku belum begitu berpengalaman, aku mengerti bahwa semua petani merasa lebih tahu tentang lembu orang lain. Tapi jika lembunya sendiri dalam kesulitan, mereka terburu-buru menelepon dokter. Tapi jika lembu orang lain mendapat kesukaran, mereka sok tahu, merasa lebih pandai, lebih berpengalaman, dan murah memberikan nasihat. Dan fenomen lain yang kuamati ialah, nasihat mereka lebih dihargai daripada pendapat dokter hewan. Seperti sekarang misalnya. Paman dianggap dewa, dan Dinsdale serta anaknya dengan hormat mendengarkan semua yang dikatakannya. "Cara lain untuk mengatasi kesulitan seperti ini ialah dengan menggunakan salep pelebar, dan tali untuk menarik kepalanya dan seluruh tubuhnya!" sambung Paman. Aku terengah-engah waktu aku meraba-raba sekitarnya. "Dalam ruang sesempit ini, tak mungkin dapat memutar kepala anak lembu ini. Dan menarik badannya tanpa memutar kepalanya lebih dulu akan mematahkan tulang pinggul induknya." Dinsdale dan anaknya menyempitkan matanya. Jelas mereka berpendapat, bahwa aku sedang berusaha menangkis serangan Paman, yang dianggap lebih berpengalaman. Dan sekarang, dua jam kemudian, aku sudah di ambang kekalahan. Aku betul-betul akan terpukul. Aku sudah berguling-guling dan merendahkan diri di atas batu-batu bulat yang kotor, sementara Dins- -dale dan anaknya menonton dengan wajah muram, tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Sedang paman itu tak henti-hentinya memberi komentar yang

http://inzomnia.wapka.mobi

menyakitkan hati. Wajah Paman jadi merah berseri-seri karena gembira. Matanya yang sipit bersinar-sinar, karena selama bertahuntahun baru malam ini ia merasa sangat bahagia. Jerih payahnya mendaki bukit sungguh tak sia-sia, bahkan mendapat ganti rugi seratus kali. Ia tampak makin lama makin bahagia! Sementara aku tertelungkup di situ, mata tertutup, wajah terasa kaku karena kena kotoran, dan mulut ternganga, Paman duduk di atas onggokan jerami, sambil memegang pipanya. Ia mencondongkan badannya dan berkata, "Sebentar lagi kau menyerah, Anak muda!" katanya dengan nada sangat puas. "Padahal aku belum pernah melihat Pak Broomfield kalah. Tapi karena dia memang berpengalaman. Dan lagi ia kuat, tubuhnya sungguh kuat. Ia manusia yang tak kenal lelah!" Mendengar kata-kata itu, aku marah bukan main. Aku merasa seperti baru saja disiram dengan air keras. Sebenarnya aku ingin bangkit, melemparkan ember berisi air bercampur darah ke kepala orang tua itu, lalu melompat ke dalam mobil dan melarikan secepat-cepatnya menuruni lereng bukit, menjauhi Yorkshire, Paman keparat, Dinsdale dan anaknya, dan lembu sialan ini! Tapi itu tidak kulakukan. Bahkan aku menggertakkan gigi, menjejakkan kaki, dan menjangkau ke depan sejauh-jauhnya. Di luar dugaan sama sekali, taliku berhasil mengait gigi seri anak lembu dan masuk ke dalam mulutnya. Dengan hati-hati sekali, sambil berdoa, aku menarik tali itu dengan tangan kiri. Aku merasa, ikatannya makin erat. Aku telah berhasil mengait rahang bawahnya! Akhirnya aku bisa memulai sesuatu.' "Sekarang pegang tali ini, Pak Dinsdale. Tarik hati-hati, jangan sampai kendur. Aku akan menahan tubuhnya. Jika Bapak menarik dengan tetap, kepalanya pasti terputar." "Bagaimana kalau talinya putus?" tanya Paman penuh harap. Aku tidak menjawab. Tanganku menahan bahu anak lembu dan mulai mendorong kontraksi induknya. Aku merasa tubuh anaknya mulai menjauhiku. "Terus, Pak Dinsdale, tarik perlahan-lahan, jangan disentak-sentak." Dan kepada diriku sendiri,-"O Tuhan, tolonglah, jangan sampai kait ini terlepas!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kepala anak lembu mulai berputar. Aku merasa lehernya mulai lurus dan sejajar dengan lenganku. Kemudian telinganya menyentuh sikuku. Bahunya kulepaskan, dan dengan cepat aku memegang mulutnya yang mungil. Sambil menjaga jangan sampai giginya menyentuh dinding liang peranakan, aku mengarahkan kepala supaya terletak di atas kaki depannya. Dengan cepat aku melebarkan kait itu hingga mencapai belakang telinga. "Sekarang tarik kepalanya, jika induknya menggeliat!" "Salah! Yang harus kautarik adalah kakinya!" teriak Paman. "Tarik ujung talinya, tahu! Jangan hiraukan dia!" bentakku sekeraskerasnya. Aku merasa lega, ketika kemudian Paman mundur dan duduk kembali ke jerami, karena kalah gertak. Dengan hati-hati kepalanya kutarik ke luar dan seluruh tubuhnya mengikutinya dengan mudah. Anak lembu itu terletak di lantai, tak bergerak, matanya berkaca-kaca tapi tak memandang sesuatu, lidahnya biru dan sangat bengkak. "Sebentar lagi mati! Pasti mati!" seru Paman, menyerang kembali. Aku membersihkan lendir pada mulutnya, kemudian membuat pernafasan buatan. Tenggorokannya kutiup keras, tulang rusuknya kutekan beberapa kali. Anak lembu itu terengah, kelopak matanya berkedip. Kemudian ia mulai menarik nafas yang menjejakkan kakinya. Paman melepaskan topinya dan menggaruk-garuk kepala. Ia tercengang. Ia tak percaya apa yang dilihatnya. "Ajaib, ia hidup! Padahal aku yakin, ia pasti mati, karena telah kaulumatkan selama itu!" Api pipanya telah padam, dan pipa itu tergantung pada bibirnya. Tembakaunya sudah habis. "Aku tahu apa yang diinginkan bayi mungil ini," jawabku. Kaki depannya kupegang dan anak lembu itu kudekatkan kepala induknya. Lembu itu terbaring di lantai yang kasar, kepalanya terkulai lemah. Tulang rusuknya terangkat, matanya hampir tertutup. Perhatiannya tampak lenyap sama sekali. Tapi waktu kepalanya tersentuh tubuh anaknya, terjadi perubahan besar. Matanya terbuka lebar, hidungnya mendengusdengus mencari makhluk baru. Perhatiannya timbul dan minatnya makin

http://inzomnia.wapka.mobi

lama makin besar. Ia berusaha bangkit dan mengangkat kepalanya. Ia menderam-deram sambil meraba seluruh tubuh anaknya dengan moncongnya. Kemudian ia mulai menjilati anaknya dengan teratur. Pada saat seperti ini, alam telah menyediakan tukang pijat yang ahli. Dan anak lembu itu melengkungkan punggungnya, waktu kulitnya didorong-dorong papil lidah yang kasar itu. Sebentar kemudian anak lembu itu menggeleng-gelengkan kepalanya dan berusaha berdiri. Aku tersenyum lebar. Itulah yang kuharapkan: mukjizat kecil. Aku tak akan merasa jemu menyaksikan peristiwa semacam ini, betapapun sering terjadinya. Aku lalu membersihkan tubuhku yang penuh kotoran dan darah kering. Tapi tak bisa. Kotoran itu telah jadi kerak, bahkan dengan kuku pun tak dapat disingkirkan. Aku terpaksa harus menunggu sampai di rumah. Kotoran itu harus dihilangkan dengan air panas. Waktu aku mengenakan baju, seluruh tubuhku terasa seperti baru saja dipukuli dengan tongkat besar. Semua otot terasa sakit. Mulutku kering. Bibirku hampir lekat. Tiba-tiba Dinsdale yang bertubuh tinggi dan berwajah murung itu terhuyung-huyung mendekat dan bertanya, "Bagaimana kalau saya beri minum?" Aku terpaksa tersenyum, meskipun mukaku terasa kaku karena kotoran yang mengering itu. Dalam benakku terbayang teh panas yang bercampur wiski. "Terima kasih, Pak Dinsdale. Memang aku haus, sesudah berjuang selama dua jam!" "Bukan itu maksud saya! Yang saya maksud, apakah lembu saya boleh diberi minum?" tanyanya, sambil menatapku. Karena kecele, mulutku lalu berkicau semaunya, "O ya, begitu, betul memang, berilah ia minum. Ia tentu haus. Itu perlu, memang perlu, ya ya betul, berilah ia minum....." Aku mengumpulkan alat-alatku dan berjalan terhuyung-huyung ke luar kandang. Di luar masih gelap dan angin meniup keras memedihkan mata. Waktu aku berjalan terseok-seok menuruni lereng bukit, Paman menyerang lagi. Nadanya melengking, tak mau kalapi dan merupakan pukulan terakhir. Serunya,

http://inzomnia.wapka.mobi

"Pak Broomfield tak pernah memberi minum lembu beranak! Itu akan membuat perutnya kedinginan!" BAB 2 WAKTU itu bulan Juli, sinar matahari sangat panas. Aku naik bis kecil yang sudah reyot. Aku duduk di tempat yang keliru, di dekat jendela. Aku mengenakan pakaian yang terbaik. Pakaian itu kugerak-gerakkan dan jariku kumasukkan ke dalam kerah, untuk mengurangi rasa panas. Sebetulnya pakaian ini kurang tepat dalam cuaca semacam ini. Tapi aku sedang dalam perjalanan untuk bertemu dengan calon majikanku. Jadi aku harus membuat kesan yang baik. Banyak yang akan dibicarakan. Tahun 1937 adalah tahun sial bagi pencari kerja. Sebagai dokter hewan, yang baru saja lulus, aku harus menghadapi keadaan ini. Pertanian terlantar, karena selama sepuluh tahun pemerintah tidak menghiraukannya. Kuda tarik, yang merupakan mata pencaharian utama, mulai menghilang. Sungguh mudah jadi nabi yang meramalkan kesuraman masa depan, pada waktu pemuda-pemuda yang baru lulus dari perguruan tinggi harus berhadapan dengan dunia yang dingin. Dunia yang acuh tak acuh. Dunia yang tak menghiraukan semangat dan pengetahuan mereka yang hampir meledak. Di harian Record seminggu-nya ada dua atau tiga iklan lowongan kerja. Tapi yang melamar biasanya sampai delapan puluh orang. Sungguh tak kuduga sama sekali, waktu suratku mendapat jawaban dari Darrowby di Yorkshire Dales. Pak Siegfried Farnon MRCVS ingin bertemu denganku pada hari Jum'at siang. Aku disuruh datang untuk diwawancarai, sambil minum teh. Jika kedua pihak setuju, aku akan diangkat jadi asistennya. Tentu saja tawaran ini kusambut dengan gembira sekali, karena banyak teman yang lulus bersamaku sekarang menganggur. Ada yang jadi pelayan toko atau kuli pelabuhan. Dan aku sebenarnya telah putus asa menghadapi masa depanku sendiri. Waktu bis menanjak dan berbelok, sopir memindahkan persneling lagi. Sudah lima belas mil bis yang kutumpangi naik terus, makin lama makin

http://inzomnia.wapka.mobi

mendekati Pegunungan Pennines, yang tampak megah, biru, dan sayupsayup. Baru sekali ini aku pergi ke Yorkshire. Nama itu selalu menimbulkan gambaran yang keliru. Menurut bayanganku, Yorkshire adalah daerah yang tak menyenangkan, tak enak seperti pudingnya. Daerah itu kaku, membosankan, dan sama sekali tak menarik. Tapi waktu bis men-deru-deru makin ke atas, aku mulai merasa kagum. Pegunungan yang tinggi dan tak berbentuk itu mulai terurai jadi bukit-bukit hijau dan lembah-lembah luas. Di dasar lembah tampak sungai yang berlikuliku di antara pepohonan. Rumah-rumah petani yang terbuat dari batu yang kokoh dan berwarna kelabu, tampak seperti pulau di tengah ladang yang diusahakan. Ladang itu terbentang ke atas seperti tanjung yang hijau cerah di lerang bukit. Aku mulai melihat pagar kayu dan pagar tanaman yang berselang-seling dengan dinding batu, membatasi jalan raya, menyekat ladang, dan menanjak ke atas tak habis-habisnya di lereng-lereng bukit sekitarnya. Di mana-mana tampak pagar batu, bermil-mil panjangnya, membuat polapola batik hingga ke puncak-puncak bukit. Tapi waktu aku hampir sampai di tempat tujuan, ceritera-ceritera yang mengerikan menghantui diriku. Ceritera itu berasal dari kakak kelasku yang marah dan kecewa sesudah menyelesaikan masa prakteknya. Bagi majikan, seorang asisten tak ada harganya. Ia disuruh bekerja keras dan tidak diberi makan cukup. Sebab majikan itu kebanyakan kejam dan tak punya peri kemanusiaan. Temanku yang bernama Dave Stevens misalnya, sambil menyulut rokok dan tangan gemetar, berkata, "Aku tak boleh istirahat, baik siang maupun malam. Aku disuruh mencuci mobil, mencangkul di kebun, mencukur rumput, dan berbelanja ke pasar! Tapi waktu aku disuruh membersihkan cerobong asap, aku minggat!" Willie Johnstone lain lagi ceriteranya. "Tugas pertama yang harus kukerjakan ialah memasukkan selang pompa ke dalam lambung lembu. Tapi selang itu salah jalan. Tidak masuk ke dalam lambung, tapi ke dalam paru-paru. Baru dipompa beberapa kali saja, lembu itu roboh dan mati seketika! Itulah pengalamanku yang pertama!" Yang paling mengerikan adalah pengalaman Fred Pringle. Fred harus mengempiskan perut lembu yang

http://inzomnia.wapka.mobi

kembung. Waktu udara yang tertekan lama dalam perut menyembur ke luar, petani pemilik lembu begitu terkesan oleh keahlian Fred, hingga ia menyulutkan korek apinya yang menyala ke mulut pipa udara. Api yang tersembur itu menyambar tumpukan jerami dan membakar seluruh kandang hingga menjadi abu. Tak lama kemudian Fred dijatuhi hukuman buang ke daerah jajahan - ke Kepulauan Leeward. Oh, ceritera brengsek! Mudah-mudahan ini semua bohong belaka! Aku memaki-maki khayalanku yang melantur-lantur dan berusaha memadamkan api neraka yang berkobar-kobar, ialah ternak yang menjerit-jerit ketakutan waktu sedang ku-sembuhkan penyakitnya. Tidak, pasti tidak seburuk itu keadaannya. Aku menggosok-gosokkan telapak tanganku yang berkeringat ke atas lutut. Aku berusaha memusatkan pikiranku pada calon majikan yang akan kukunjungi. Siegfried Farnon. Sebuah nama yang aneh bagi dokter hewan di Yorkshire Dales. Mungkin ia seorang Jerman, yang baru latihan di daerah ini dan lalu membuka praktek. Tapi kalau dia orang Jerman, nama pertamanya tentu bukan Farnon. Seharusnya Farrenen. Ya, Siegfried Farrenen. Orangnya mulai terbayang: tubuhnya pendek, gemuk, bulat, dan gendut. Matanya riang, ketawanya ramah. Tapi pada saat itu juga khayalanku terdesak oleh gambaran lain: tubuhnya tinggi besar, matanya dingin, rambutnya kaku seperti sikat, bertengkorak suku Teuton. Pendek kata punya bentuk yang tidak menyenangkan, tidak seperti kebanyakan ketua praktek. Sekarang bis berderak-derak melalui jalan sempit yang menuju ke sebuah lapangan kota. Inilah terminalnya. Di atas jendela toko sederhana terbaca tulisan "Koperasi Darrowby'. Aku sudah sampai di tempat tujuan. Aku turun dari bis dan berdiri di samping koperku yang peyot. Sambil memandang sekitarnya. Ada yang mengherankan, hingga aku tak bisa meraih koper. Tanganku terhenti. Kemudian aku sadar, bahwa kelinglunganku ini disebabkan oleh..... kesunyian! Betapa sunyinya! Penumpang lain telah lenyap. Sopir telah mematikan mesin. Tak ada suara, bunyi, atau orang bergerak. Satu-satunya tanda kehidupan

http://inzomnia.wapka.mobi

hanyalah sekelompok orang tua yang se-dang duduk mengelilingi menara jam di tengah lapangan. Itu pun agaknya patung-patung belaka! Dalam buku pariwisata, Darrowby tidak banyak disebut-sebut. Tempat ini hanya dilukiskan sebagai kota kecil tak penting, yang terletak di tepi Sungai Darrow. Pasarnya juga tak begitu penting, dan lantainya terbuat dari batu-batu bulat. Tak ada yang menarik, kecuali dua buah jembatan kuno. Tapi jika diperhatikan dengan teliti, kota ini sesungguhnya indah. Tepi sungainya berbatu-batu kerikil. Rumah-rumah berdesak-desakkan, berderet-deret tak teratur di lereng Bukit Herne. Di mana-mana, di jalan-jalan, melalui jendela-jendela rumah, kita dapat melihat bukit itu melatarbelakangi deretan rumah. Bukit itu tampak besar dan megah, setinggi dua ribu kaki lebih di atas atap-atap rumah yang berdesakan. Udaranya bersih dan segar. Aku merasa lega sehabis melalui jalan sepanjang dua puluh mil. Kesesakan kotaku, asap beserta debunya, terasa telah lenyap dari dalam dada. Dari lapangan aku masuk ke Jalan Trengate yang lengang. Di ujung jalan tampak Rumah Skeldale. Betul, itu tempat yang akan kukunjungi. Dari jauh telah tampak tulisan 'S. Farno MRCVS' pada papan kuningan model kuno, yang tergantung agak miring pada pagar besi. Dari tumbuhan menjalar yang memanjat pada batu-batu yang lunak hingga ke jendela paling atas, aku tahu inilah rumah yang kucari. Sebab dalam surat disebutkan 'satu-satunya rumah yang ditumbuhi tanaman menjalar'. Inilah tempat kerjaku yang pertama, sebagai dokter hewan. Waktu aku sampai di tangga pintu, aku terengah-engah, seperti orang habis lari. Jika la-maranku diterima, inilah tempat untuk menunjukkan kemampuan dan kwalitasku. Bentuk rumah itu menyenangkan. Bergaya Georgia, gangnya dicat putih dan bagus. Jendela-jendela di tingkat bawah lebar, putih, dan sedap dipandang mata. Tapi jendela di bawah atap kecil-kecil, persegi, dan menjorok ke luar. Cat temboknya telah pudar dan semen di antara batu bata telah keropos.

http://inzomnia.wapka.mobi

Namun ada keindahan pada seluruh bangunan itu, meskipun tak ada kebun depannya. Rumah ini hanya dipisahkan dua meter dari jalan oleh pagar besi. Aku membunyikan bel. Seketika itu juga kesunyian siang itu jadi berantakan. Dari dalam rumah, agak jauh, terdengar salak dan raung sekawan anjing, seperti lolongan serigala yang sedang marah. Pintu bagian atas tertutup kaca. Waktu aku menjenguk ke dalam, sekawanan anjing berbondong-bondong melalui tikungan sebuah gang yang panjang, menyerbu dengan geramnya ke arah pintu. Salaknya melengking-lengking memekakkan telinga. Seandainya aku tidak biasa bergaul dengan binatang, aku pasti sudah lari terbirit-birit untuk menyelamatkan diri. Meskipun begitu aku melangkah mundur dengan waspada, sambil memperhatikan anjing-anjing itu waktu tampak di kaca pintu. Kadangkadang dua ekor bersama-sama melompat ke kaca. Matanya berapi-api, rahangnya ternganga, air liurnya menetes. Beberapa saat kemudian aku baru tahu jumlah sebenarnya. Ternyata aku salah hitung, dan terlalu melebih-lebihkan. Bukan empat belas seperti yang kuduga, tapi hanya lima ekor! Yang paling sering tampak pada kaca adalah seekor anjing greyhound yang sangat besar. Karena ia tak perlu melompat tinggi seperti teman-temannya. Yang kedua anjing cocker spaniel, anjing kecil yang berbulu panjang. Yang ketiga anjing scottie, yang keempat whippet. Yang terakhir terrier, anjing pemburu yang bertubuh kecil dan berkaki pendek. Terrier ini jarang tampak pada kaca, karena kaca terlalu tinggi. Tapi waktu ia berhasil melompat ke kaca, sebelum menghilang kembali, ia menyalak begitu keras dan mengerikan. Aku mau mengebel lagi waktu aku melihat seorang wanita bertubuh besar berjalan di gang panjang itu. Ia mengucapkan sepatah kata, dan anjing-anjing itu diam seketika, seperti kena sihir. Waktu wanita itu membuka pintu, kawanan anjing itu menyelinap di sekitar kakinya, seperti tingkah laku para penjilat. Matanya tampak putih minta dibelaskasihani dan ekornya melengkung ke bawah di antara kakinya, sambil dikibas-kibaskan. Baru kali ini aku melihat binatang piara begitu patuh dan setia.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Selamat siang," kataku dengan tersenyum seramah mungkin. "Nama saya Herriot." Waktu pintu terbuka, wanita itu tampak jauh lebih besar. Umur sekitar enam puluhan, tapi rambutnya yang ditarik ke belakang, masih hitam legam. Sehelai uban pun tak tampak. Ia mengangguk, dan memandangku dengan ramah. Tapi rupanya ia menunggu orang lain, karena namaku tak menimbulkan reaksi apa pun. "Aku disuruh ke mari oleh Pak Farnon dengan surat. Aku disuruh datang hari ini." "Herriot?" tanyanya, sambil mengingat sesuatu. "Operasi antara pukul enam hingga pukul tujuh. Kalau Anda membawa anjing, itulah waktunya yang tepat." "Tidak, tidak," jawabku, sambil memperlama senyumku. "Saya melamar pekerjaan asisten. Pak Farnon menyuruh saya datang tepat pada waktu minum teh." "Asisten? Wah, ya, itu bagus!" Ketegangan garis-garis wajahnya mulai berkurang. "Kenalkan, nama saya Hall. Saya yang mengurus rumah ini, karena Pak Farnon belum beristri. Mari masuk, nanti saya ambilkan teh. Pak Farnon tentu lekas pulang." Aku mengikutinya di antara dinding yang dikapur putih. Sepatuku berdecit-decit di atas tegel. Di ujung gang kami membelok ke kanan masuk gang lain. Aku mulai bertanya dalam hati, berapa panjang rumah ini. Akhirnya kami sampai di kamar yang langsung mendapat sinar matahari. Kamar itu besar dan luas, langit-langitnya tinggi. Perapiannya besar, di dalam ruangan yang melengkung seperti gapura. Ujung kamar itu berakhir pada jendela besar, yang menghadap ke kebun yang dikelilingi tembok tinggi dan panjang. Dari sini aku dapat melihat halaman rumput yang tak terpelihara, beberapa onggok batu karang, dan pohon buahbuahan. Jauh di ujung kebun ada semak-semak bunga yang kena sinar matahari yang panas. Beberapa burung gagak berkaok-kaok di cabangcabang pohon elm yang tinggi. Jauh di sebelah sana tampak bukit-bukit hijau yang dijalari dinding-dinding batu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di lantai ada permadani tua dan perabot rumah yang sederhana. Di tembok tergantung gambar-gambar orang berburu. Buku-buku berserakan di mana-mana. Sebagian di atas rak, sebagian tertumpuk di lantai di sudut kamar. Sebuah jambang-an timah terletak di atas rak tungku api. jambangan ini menarik perhatianku, karena isinya cek dan surat-surat bank yang berjejal-jejal hingga terhambur ke luar dan jatuh di lantai. Aku sedang terpesona oleh kertas-kertas berharga ini, waktu Bu Hall masuk sambil membawa minuman. "Mungkin Pak Farnon sedang dipanggil orang," kataku. "Tidak. Dia pergi ke Brawton untuk menengok ibunya. Saya tidak tahu kapan kembalinya," jawabnya sambil meletakkan teh. Anjing-anjing itu lalu mencari tempat sendiri-sendiri dan duduk di kursi dengan tenang. Hanya Scottie dan cocker spaniel bertengkar sebentar memperebutkan kursi cekung. Kebuasannya lenyap sama sekali. Mereka memandangiku dengan keramahan yang membosankan, dan berusaha menahan rasa kantuknya. Sebentar kemudian mereka menganggukanggukkan kepalanya, dan mendengkur bersama-sama. Suaranya riuh memenuhi kamar, seperti paduan suara. Tapi aku tak bisa setenang mereka. Aku gelisah dan kecewa. Aku sudah berusaha datang dengan tepat untuk diwawancarai, tapi ternyata ditinggal pergi. Ini sungguh menjengkelkan. Mengapa ia menulis surat, mencari asisten, menentukan waktu, tapi pergi mengunjungi ibunya?! Kecuali itu, aku disuruh tinggal di sini, tapi pengurus rumah tak tahumenahu, dan tidak menyiapkan kamarku. Bahkan belum pernah mendengar namaku. Renunganku terganggu oleh bunyi bel, dan anjing-anjing itu, seperti ditusuk kawat menyala, melompat sambil melolong-lolong dan lari berebutan menyerbu pintu. Aku berharap mereka tidak bersungguhsungguh dalam menjalankan tugasnya. Karena Bu Hall tak tampak, aku pergi ke luar ke pintu depan. Anjing-anjing itu dengan ganasnya sedang melakukan serangannya. "Diam!" bentakku. Anjing-anjing itu tenang seketika. Kelimanya merangkak-rangkak di sekeliling tumitku, hampir berjalan di atas

http://inzomnia.wapka.mobi

lututnya. Yang paling patuh adalah greyhound. Ia berhenti memperlihatkan taringnya dan meringis minta maaf. Aku membuka pintu dan tampak wajah bulat yang penuh harap. Orang itu bertubuh gemuk dan mengenakan sepatu bot. Sambil bersandar pada pagar besi dengan santai, ia bertanya, "Halo, hai, Pak Farnon ada?" "Pada saat ini: tidak! Ada perlu apa?" "Ayaa, sampaikan pesan jika ia pulang. Katakan, bahwa saya, Bert Sharpe dari Barrow Hills, punya lembu yang bocor!" "Bocor?" "Ya, betul. Ia sudah ngowos tiga kaleng!" "Tiga kaleng?" "Aiyaa, jika tidak segera ditolong, pentilnya terlanjur nyenyeh, bukan?" "Kemungkinan besar." "Dibedel?" "Tentu." "Baik, kalau begitu. Beritahu dia. Tatata." Aku kembali ke kamar tadi sambil berpikir. Aku malu dan bingung, karena aku telah berhadapan dengan suatu kasus dalam tugasku yang pertama di sini, tanpa mengerti sepatah kata pun, apa yang dia katakan. Aku baru saja duduk, bel berbunyi lagi. Seketika itu juga aku membentak sekeras-kerasnya, hingga anjing-anjing yang sudah di tengah perjalanan, karena ketakutan, berhenti mendadak, dan kembali ke kursinya, sambil malu tersipu-sipu. Kali ini tamunya seorang bapak berpakaian rapi, yang memakai topi hingga sampai ke telinganya, mengenakan kain leher yang lipatannya menutupi jakunnya, dan mengulum pipa tanah liat tepat di tengah mulutnya. Ia mencabut pipanya dan bicara. Kata-katanya penuh tekanan yang aneh. "Nama saya Mulligan. Saya ingin bertemu Pak Farnon dan minta obat anjing." "Anjing Bapak sakit apa?" Ia mengangkat alisnya, karena ingin tahu apa yang kukatakan, sambil menunjuk telinganya. Aku lalu berteriak sekeras-kerasnya, "Anjing Bapak sakit apa?" Dengan sangsi ia memandang kepadaku sesaat, lalu menjawab,

http://inzomnia.wapka.mobi

"Anjing saya muntah-muntah, Nak. Muntah berat!" Sekarang aku mengerti, dia tuli, dan otakku mulai meramu diagnose. "Sesudah makan, sudah berapa lama dia muntah?" Tangannya menunjuk ke telinga lagi. "Ap-phfaa?" Mulutku kutempelkan telinganya. Sesudah menarik nafas, aku berteriak sekuat-kuatnya, "Kapan dia muntah, - maksudku muntah? Mengerti?" Lambat laun Pak Mulligan mengerti apa yang kukatakan. Ia tersenyum lembut. "O ya, dia muntah. Muntah hebat, Nak!" Aku tidak ingin berteriak-teriak lagi. Oleh karena itu kukatakan kepadanya, bahwa aku akan mengurusnya dan dia akan kupanggil lagi nanti. Rupanya dia bisa membaca bibirku, karena dia tampak puas dan pergi. Aku kembali ke kamar tamu dan menjatuhkan diriku di atas kursi. Aku menuang teh dan meminumnya sedikit. Bel berdering lagi. Kali ini mataku melotot seketika, melototi anjing-anjing itu. Untunglah mereka tahu maksudku dan dengan cepat melingkar kembali di kursinya. Di luar pintu depan berdiri seorang gadis cantik yang berambut merah. Ia tersenyum, memamerkan rentetan giginya yang putih bersih. "Selamat siang!" sapanya dengan suara keras dan sopan. "Saya Diana Brompton. Saya diundang minum teh oleh Pak Farnon." Sambil memegang handel pintu, mulutku ternganga. "Apa? Dia mengundang ANDA untuk minum teh?" Senyumnya jadi tegas. "Ya, betul begitu," jawabnya, sambil mengeja kata-katanya dengan cermat, "Dia mengundang saya untuk minum teh." "Sayang, Pak Farnon sedang pergi. Saya tidak tahu kapan dia kembali." Senyumnya lenyap seketika. "Oh," katanya, dan dia mencari-cari obat kecewa, "tapi, saya boleh masuk, bukan?" "Oh, maaf, tentu saja boleh. Mari masuk, silakan!" Jawabku tak karuan, karena aku tiba-tiba sadar bahwa mataku terbelalak dan mulutku ternganga. Pintu kubuka dan kupegangi. Ia masuk dan berjalan di mukaku tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Ia tahu liku-liku rumah ini, karena waktu aku sampai di tikungan pertama, dia telah menghilang di dalam kamar

http://inzomnia.wapka.mobi

tamu. Aku berjingkat-jingkat melewati pintunya, kemudian lari secepatcepatnya sejauh tiga puluh meter sepanjang gang yang berliku-liku, dan masuk ke dalam dapur batu yang sangat besar. Di situ Bu Hall sedang menaruh panci di atas kompor dan aku menghampirinya. "Bu, ada gadis ke sini, namanya Brompton. Katanya, dia diundang minum teh juga!" kataku, sambil memberanikan diri menarik lengan baju Bu Hall. Wajah Bu Hall tidak berubah. Kukira ia akan mengayunkan lengannya. Tapi ternyata tak ada reaksinya sama sekali. "Ajak saja dia bicara, nanti saya ambilkan kue lagi," jawabnya. "Tapi apa yang akan saya bicarakan? Kapan Pak Farnon pulang?" "Mungkin sebentar lagi. Tapi ajaklah dia omong-omong dulu," jawabnya dengan tenang. Perlahan-lahan aku berjalan kembali ke kamar tamu. Waktu aku membuka pintu, dengan segera gadis itu menengok dan tersenyum selebar-lebarnya. Waktu yang datang ternyata hanya saya, dengan terangan-terangan ia menunjukkan rasa jijiknya. "Kata Bu Hall, Pak Farnon akan segera pulang. Sementara itu Anda dapat minum teh bersama saya." Ia memandangku dengan cepat. Kilasan pandang itu mencakup seluruh tubuhku, mulai dari rambutku yang kusut hingga sepatuku yang tua dan lecet. Sekejap mata aku sadar betapa kotor dan berkeringat tubuhku sehabis perjalanan jauh. Kemudian dia mengangkat bahunya dan memalingkan kepalanya. Anjing-anjing itu memandangnya dengan acuh tak acuh. Suasana kamar itu sunyi-se-nyap. Aku menuang teh dan menawarkannya kepadanya. Ia pura-pura tidak tahu dan menyulut rokoknya. Keadaannya sungguh gawat, tapi aku berusaha mengatasinya. Aku batuk-batuk membersihkan tenggorokanku dan bicara dengan lembut. "Saya baru saja datang. Saya ingin jadi asistennya." Kali ini dia tidak mau menengok. Dia hanya menjawab 'Oh' dan pertanyaanku selanjutnya hanya dijawab dengan satu kata saja. "Daerah ini menyenangkan, bukan?" kataku, menyerang kembali.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya." "Aku baru pertama kali ke Yorkshire. Tapi pemandangannya bagus." "Oh." "Anda sudah kenal Pak Farnon lama?" "Ya." "Mungkin ia masih muda, sekitar tiga puluhan, bukan?" "Ya." "Di sini udaranya segar." "Ya." Dengan tabah dan berani, selama lima menit, aku berperang mulut seperti ini, sambil mencari bahan pembicaraan yang kena dan lucu. Tapi akhirnya Miss Brompton mencabut rokok dari mulutnya, berpaling padaku, terus-menerus menatapku, tanpa memberi jawaban satu huruf pun. Aku tahu, pertempuran telah berakhir dengan perdamaian, dan aku diam. Setelah itu, dia memandang ke jendela besar, sambil menghisap rokoknya dalam-dalam. Waktu menghembuskan asap dari bibirnya, matanya di-pincingkannya. Aku dianggap hantu, atau dianggap tidak ada di situ. Sekarang aku dapat mengamat-amatinya dengan tenang. Memang dia cukup menarik hati. Aku mengamatinya seperti sedang mengamati gambar gadis pada sampul majalah sosial. Roknya dari linen yang sejuk, kainnya cardigan yang mahal, kakinya cantik, rambutnya yang merah indah tergerai di bahunya. Kemudian timbullah pikiranku yang menarik. Ia duduk di sini tentu karena sedang dirundung rindu atau sedang tergila-gila kepada dokter Jerman yang gemuk kecil itu. Pak Farnon tentu cukup mempesonakannya. Sandiwara bisu ini akhirnya bubar, karena Miss Brompton tiba-tiba berdiri. Rokoknya dicampak-kannya tanpa ampun sedikit pun ke dalam tungku. Kemudian dia angkat kaki dari kamar. Dengan lemah lunglai aku bangkit dari kursi. Kepalaku mulai berdenyutdenyut karena pusing. Aku berjalan ke jendela besar dan masuk ke kebun. Aku menjatuhkan diri di antara rumput yang tingginya mencapai lutut, dan menyandarkan punggungku pada pohon akasia yang sangat

http://inzomnia.wapka.mobi

tinggi. Di mana Farnon sialan ini? Betulkah dia memanggilku ke mari, atau aku dipermainkan orang? Tiba-tiba aku merasa kedinginan. Aku sudah kehabisan uang, dan jika aku salah alamat, aku bisa celaka. Tapi waktu aku memperhatikan sekitarnya, hatiku mulai tenang. Sinar matahari terpantul pada dinding tua yang tinggi itu. Lebah berdengungde-ngung di antara untaian bunga yang berwarna cerah. Angin sepoisepoi berembus dan menggerak-gerakkan rangkaian bunga layu di pohon wistaria yang megah, yang hampir menutupi bagian belakang rumah. Aku merasa tenteram di sini. Aku menyandarkan kepalaku pada kulit pohon dan menutup mataku. Dalam bayanganku aku dapat melihat Herr Farrenen, berdiri di dekatku. Ia terkejut dan menghujankan tuduhan yang bukan-bukan. "Apa yang baru saja kaukerjakan?" tanyanya. Daging dagunya yang gemuk bergetar karena marah. "Kau datang ke rumahku dengan alasan yang dicari-cari! Kau menghina calon istriku! Kau minum tehku! Kau makan kueku! Apa lagi yang kaukerjakan? Mungkin kau mencuri sendok, cangkir, dan rokokku! Kau bicara soal asisten, padahal aku tak membutuhkannya!. Aku terpaksa harus memanggil polisi!" Dengan tangannya yang gemuk itu Herr Farrenen menyambar telepon. Bahkan dalam mimpiku itu dia dapat bicara dengan tekanan kata yang ringan. Aku mendengar suaranya yang berat itu memanggil-manggil, "Helo, helo!" Aku membuka mataku. Memang betul ada orang mengatakan 'Halo', tapi bukan Herr Ferrenen. Orang itu tinggi, kurus, bersandar pada dinding, tangannya dimasukkan ke dalam saku. Ia tampak gembira. Waktu aku berusaha berdiri, dia meninggalkan dinding dan mengulurkan tangannya, sambil berkata, "Maaf, Anda terpaksa menunggu. Nama saya Siegfried Farnon." Tak ada tanda-tanda sedikit pun yang menyatakan bahwa ia orang Jerman. Ia betul-betul Inggris tulen. Wajahnya panjang, lucu, dan berahang kuat. Kumisnya kecil, dipangkas pendek. Rambutnya tak teratur, berwarna pirang pasir. Ia mengenakan jas wol yang agak lusuh

http://inzomnia.wapka.mobi

dan celana flanel yang tak ada bentuknya. Kerah bajunya berjumbai dan simpul dasinya tak rapi. Jelas, ia tak begitu suka berkaca. Setelah mengamat-amati dia, aku merasa sedikit terhibur, meskipun leherku terasa sakit, karena tadi kusandarkan pada batang pohon. Aku menggeleng-gelengkan kepala, supaya mataku betul-betul terbuka. Rumput-rumput kering berjatuhan dari kepalaku. "Tadi ada tamu. Namanya Miss Brompton," jawabku semampuku. "Katanya ia diundang minum teh. Saya katakan kepadanya, bahwa Bapak sedang pergi." Farnon termenung, tapi tampak riang. Ia menggosok dagunya perlahanlahan. "Mm, ya - ya, betul, memang. Tapi saya ingin minta maaf sebesarbesarnya, karena waktu Anda datang, saya tidak ada di rumah. Saya memang sudah jadi juara pelupa. Hal itu memang hanya karena saya lupa." Bahasa Inggris-nya juga bahasa Inggris tulen. Farnon lama mengamat-amatiku, kemudian tersenyum. "Mari masuk dan melihat-lihat rumahku." BAB 3 BAGIAN rumah di sebelah belakang ini panjang, dan dulu bekas kamar pelayan. Di sini segalanya tampak sempit dan gelap, tampaknya seperti disengaja, supaya ada kontras dengan bangunan depan. Farnon mengantarkan aku melalui beberapa pintu, yang menuju sebuah gang, yang penuh bau eter dan karbol. "Ini," katanya, matanya berkedip penuh rahasia, seolah-olah akan membuka tabir misteri gua Aladin, "Ini adalah kamar obat." Apotik atau kamar obat itu adalah ruangan yang penting sebelum penicilan dan sulphonamides ditemukan orang. Deretan botol Winchester yang mengkilat, berjajar di dinding putih mulai dari lantai hingga langit-langit. Aku sudah kenal nama-nama obat itu: Sweet Spirits of Nitre, Tincture of Camphor, Chlorodyne, Formalin, Salammoniac, Hexamine, Sugar of Lead, Linimentum Album, Per-chloride of Mercury, Red Blister. Deretan etiketnya cukup memuaskan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku adalah anggota baru di antara teman-teman tua. Dengan susah payah aku telah mengumpulkan adat dan pengetahuan mereka, memburu rahasia mereka selama bertahun-tahun. Aku tahu dari mana obat-obat ini, kemanjurannya, pemakaiannya, dan dosisnya. Mempelajari dosis ini mau jadi gila rasanya. Suara pengujiku masih terngiang-ngiang di telingaku, "Beberapa dosis untuk kuda? - dan untuk lembu? - dan untuk biri-biri? - dan untuk babi? - dan untuk anjing? - dan untuk kucing?" Rak ini merupakan gudang senjata melawan penyakit. Di bangku bawah jendela ada alat-alat untuk mencampurnya: bejana bersusun dan tabung kimia, alas menumbuk dan penumbuknya, lesung dan alunya. Di sebelah bawah ada lemari terbuka. Isinya: botol obat, onggokan gabus segala macam ukuran, peti pil, dan kertas pembungkus obat. Waktu kami berjalan terus, tingkah laku Farnon makin lama makin bersemangat. Matanya bersinar-sinar dan bicaranya cepat. Kerap kali ia meraih botol dan membelai-belainya. Kadang-kadang ia mengambil pil kuda atau electuary dari dalam kotak. Ia menepuk-nepuknya dengan ramah dan mengembalikannya dengan lemah lembut. "Lihat bahan ini, Herriot," teriaknya dengan tiba-tiba. "Ini namanya Adrevan! Obat ini sangat manjur untuk membunuh cacing kuda. Tapi, ingat, harganya sedikit mahal - satu bungkus sepuluh dolar. Dan spiral ternak ini. Jika benda ini dimasukkan ke dalam rahim lembu, warna kotoran yang dikeluarkannya jadi sangat bagus. Sungguh-sungguh punya pengaruh baik. Kau telah melihat kecerdikan ini?" Ia menaruh beberapa' kristal yodium yang telah diperhalus ke dalam mangkuk kaca dan menambahkannya setetes terpentin. Sesaat tidak terjadi sesuatu. Tapi kemudian asap ungu yang padat bergelung-gelung dengan lamban ke langit-langit. Ia lalu tertawa terbahak-bahak karena melihat wajahku tercengang-cengang. "Seperti sihir, bukan? Ini untuk mengobati kaki kuda yang luka. Reaksi kimianya menyebabkan yodium itu menyerap dalam-dalam ke jaringan." "Betul begitu?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, menurut teori, tapi aku sendiri tidak tahu dengan pasti. Namun, bagaimanapun juga, kecerdikan ini tampak mengagumkan. Langganan yang paling rewel pun dapat terkesan atau terpengaruh!" Beberapa botol di rak tidak memenuhi standar yang saya pelajari semasa kuliah. Misalnya sebuah etiket yang berbunyi 'Obat Perut', dengan gambar kuda berguling-guling kesakitan. Wajah kuda itu menengadah ke atas, seperti orang yang sangat menderita. Etiket lain berbunyi 'Obat Segala Ternak' dengan huruf-huruf yang dihiasi. Tampaknya seperti obat ajaib dalam dongeng. 'Obat mujarab untuk batuk, pilek, masuk angin, pneumonia, demam susu, mencret dan segala gangguan pencernaan'. Di bagian bawah etiket, dengan huruf-huruf hitam mengkilat, ada tulisan yang meyakinkan, 'Sangat Manjur'. Tiap obat, tiap botol, dipuji kemanjurannya. Masing-masing punya peranan selama masa prakteknya lima tahun. Masing-masing mengandung keampuhan dan kesaktian. Kebanyakan botol itu indah bentuknya, dengan tutup gelas yang berat. Dengan nama-nama Latin yang dipahat dalam. Nama itu sudah terkenal di kalangan para dokter selama berabad-abad, seperti obat-obat dalam dongeng jaman dulu. Kami berdua berdiri, sambil memandang ke deretan botol yang mengkilat, tanpa menduga sedikit pun, bahwa benda-benda itu sebentar lagi tak berguna, dan bahwa masa kejayaan obat-obat kuno hampir berakhir, karena terdesak oleh arus penemuan obat baru. Obat-obat kuno itu akan segera dilupakan orang, dan tak akan muncul kembali. "Ini tempat penyimpanan alat-alat," kata Farnon waktu memperlihatkan kepadaku kamar sempit lain. Peralatan binatang kecil terletak di rak hijau yang sangat rapi. Kerapiannya sungguh mengesankan. Suntikan, forcep, skala gigi, alat pemeriksa, dan yang menduduki tempat utama adalah ophtalmoscope, alat pemeriksa mata. Dengan kasih sayang, alat itu diangkatnya dari kotaknya yang hitam. "Ini baru saja kubeli," gumamnya, sambil membelai-belai batangnya. "Menakjubkan. Coba tolong, periksa mata saya." Aku menyalakan lampunya dan dengan penuh perhatian mengamati mata Farnon. Di bagian mata yang terdalam terlihat gambar permadani

http://inzomnia.wapka.mobi

berwarna yang berkilau-kilauan. "Mata Bapak masih sangat bagus. Saya dapat membuat surat keterangan dokter, yang menyatakan mata Bapak sangat sehat." Ia tertawa dan menepuk-nepuk bahuku. "Hebat! Saya gembira mendengar komentar Anda. Saya selalu mengira, mata sebelah ini agak bular." Ia lalu memperlihatkan alat-alat binatang besar yang tergantung pada dinding. Besi pemotong, alat pengebiri, tali pengikat kaki, tali pengait anak lembu dan kait. Alat embriotomi baru yang terbuat dari perak, terletak di tempat yang terhormat. Tapi kebanyakan alat-alat itu, seperti obat-obatnya, adalah benda-benda museum. Lebih-lebih alat penyalur darah, merupakan benda peninggalan jaman pertengahan. Tapi masih dipergunakan untuk menuangkan darah ke dalam ember. "Tanpa benda ini kita tak dapat menyembuhkan laminitis," katanya dengan sungguh-sungguh. Akhirnya aku dibawa ke kamar operasi yang dindingnya putih bersih. Di sini ada meja tinggi, gas asam, alat pembiusan dan alat penstiliran. "Di daerah ini pengobatan binatang kecil jarang terjadi," kata Farnon, sambil melicinkan meja dengan telapak tangannya. "Tapi saya berusaha menganjurkannya. Ini merupakan selingan yang menyenangkan sehabis tertelungkup di kandang lembu. Yang penting kita dapat bertindak tepat. Ajaran tentang minyak kastor dan asam prusik tak ada gunanya sama sekali. Anda mungkin tahu, bahwa banyak dokter tua tidak mau memeriksa anjing atau kucing. Kebiasaan ini harus kita ubah." Ia lalu menghampiri lemari di sudut dan membuka pintunya. Di atas rak kaca tampak beberapa pisau bedah, gunting pembuluh nadi, jarum penjahit luka, botol-botol berisi spiritus dan benang usus kucing. Ia mengambil sapu tangannya. Sebelum menutup pintu ia menjentik auroscope. "Ya, bagaimana pendapat Anda tentang ini semua?" tanyanya waktu keluar dari kamar dan masuk ke dalam gang. "Hebat," jawabku. "Perlengkapan Bapak sangat lengkap. Saya sungguh terkesan."

http://inzomnia.wapka.mobi

Jelas ia sangat bangga. Pipinya yang tipis jadi merah dan ia bersenandung perlahan-lahan. Kemudian tiba-tiba menyanyi keras dengan nada bariton yang bergetar. Iramanya sesuai dengan langkah kakinya. Waktu kami berdua tiba di kamar tamu lagi, aku bicara tentang Bert Sharpe. "Lembunya bocor dan telah mengeluarkan tiga kaleng. Ia bicara tentang pentil, nyenyeh, dan dibedel. Saya tidak bisa menangkap yang dimaksud." Farnon tertawa. "Kukira, aku tahu maksudnya. Pentil artinya ambing, dan nyenyah adalah istilah setempat. Artinya radang buah dada. Ia minta supaya lembunya dioperasi, karena putingsusunya tersumbat." "O begitu. Kemudian ada orang Irlandia, namanya Mulligan, ia tuli....." "Sebentar," kata Farnon sambil mengangkat tangannya. "Kalau tak salah, anjingnya muntah, bukan?" "Ya, muntah hebat." "Memang. Dia harus kuberi bismuth carb lagi. Aku suka mengobati anjing ini. Ia serupa dengan anjing terrier tapi sifatnya murung. Mulligan sudah beberapa kali datang ke mari, dan mengutarakan keluhannya. Ia sungguh sedih jika anjingnya tidak sembuh, karena ia mencintainya." "Mengapa anjing itu muntah?" "Biasa saja. Karena salah makan atau akibat makan sembarang kotoran. Lebih baik kita pergi ke rumah Sharpe. Kemudian mengunjungi satu dua orang lagi. Lebih baik Anda ikut dan melihat-lihat daerah ini." Setiba di luar rumah, Farnon mengajakku ke sebuah mobil yang sudah peot. Waktu aku berputar ke tempat duduk aku heran, karena benangbenang pada ban sudah habis, body-nya telah berkarat, kaca depannya yang hampir persegi itu retak-retak seperti jala. Yang tidak kuperhatikan adalah tempat duduknya. Tempat duduk ini tidak terpaku pada lantai seperti mobil pada umumnya. Tapi terlepas dan bisa meluncur seperti kereta ski. Waktu aku duduk, aku terpelanting ke belakang. Kepalaku terbentur pada kursi belakang, dan kakiku menyepak

http://inzomnia.wapka.mobi

atap mobil. Farnon mengangkatku, sambil minta maaf dengan hormatnya. Lalu kami berdua berangkat. Sesudah meninggalkan pasar, jalan turun dengan curam, dan aku bisa melihat seluruh Dale, yang jauh terbentang dalam sinar matahari petang itu. Tapi bukit-bukit besar tampak lunak dalam sinar yang lembut, dan garis perak yang terputus-putus menunjukkan Sungai Darrow yang mengembara di dasar lembah. Farnon adalah sopir yang luar biasa. Mungkin karena terpesona oleh pemandangan, mobilnya dijalankan perlahan-lahan, sikunya disandarkan pada setir, dan dagunya bertumpu pada tangannya. Di dasar bukit dia bangun dari mimpinya. Mobilnya dilarikan dengan kecepatan 100 km sejam. Mobil tua ini meronta-ronta dengan gilanya di atas jalan yang sempit, dan tempat dudukku meluncur ke sana ke mari, sementara aku menjejakkan kakiku kuat-kuat pada lantai papan. Kemudian dia tiba-tiba menginjak remnya, menunjuk ke seekor kuda di tengah ladang, lalu melarikan mobilnya lagi. Ia tidak pernah melihat ke depan. Yang diperhatikannya adalah pemandangan di sekitarnya dan di belakang mobil. Ini sungguh mencemaskan, karena mobilnya meluncur cepat, dan ia kerap kali menengok ke belakang. Kami meninggalkan jalan raya dan berbelok masuk jalan kecil yang mendaki. Jalan itu melalui beberapa buah pintu pekarangan. Waktu aku masih jadi mahasiswa, selama tahun-tahun praktek, aku sudah biasa keluar-masuk mobil dengan tangkas, karena tugas utama mahasiswa adalah seperti monyet pembuka pintu yang ahli. Namun, Farnon setiap kali mengucapkan terima kasih dengan sungguh-sungguh. Tentu saja mula-mula aku heran, tapi kemudian aku merasa hal itu memang menyegarkan hati. Kami masuk ke pekarangan seorang petani. "Di sini ada kuda pincang," kata Farnon. Seekor kuda Clydesdale yang sudah dikebiri dan bertubuh kuat dibimbing ke luar. Petani pemiliknya melarikannya mondar-mandir, sementara kami menyaksikannya dengan penuh perhatian.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kaki mana yang pincang?" tanya Farnon. "Yang depan sebelah sini? Ya, saya kira itu. Ingin memeriksanya?" Aku memegang kaki itu. Kaki itu terasa lebih panas daripada lainnya. Aku minta palu dan mengetuk-ngetuk dinding kukunya. Kuda itu menyentak, mengangkat kakinya dan tergantung beberapa detik dengan gemetar, sebelum meletakkannya kembali di atas tanah. "Rupanya ada nanah di dalam kakinya." "Saya berani bertaruh, Anda betul," kata Farnon. "Tapi orang di daerah sini menyebutkan kerikil. Apa yang akan Anda lakukan?" "Melubangi tapak kukunya dan mengeluarkan nanahnya." "Betul," katanya, sambil mengulurkan pisau pe-lubang kuku. "Saya ingin melihat cara Anda bekerja." Aku merasa tidak enak, karena sedang diuji. Aku menerima pisau itu, mengangkat kaki kuda dan mengapitnya di antara lututku. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Ialah mencari bintik hitam pada tapak kuku. Bintik hitam itu adalah lubang tempat masuknya infeksi. Aku harus mengikuti lubang itu, hingga mencapai tempat nanah. Aku menggores kotoran yang sudah mengerak, dan tidak hanya menemukan satu lubang, tapi beberapa buah. Sesudah mengetuk sana-sini untuk mencari tempat yang sakit, aku memilih sebuah yang mungkin merupakan jalan infeksi, dan mulai mengiris kuku. Kuku ini terasa sekeras batu marmar. Aku hanya dapat mengirisnya sedikit demi sedikit. Rupanya kuda itu tahu menghargai jasa orang yang akan menyembuhkan kakinya yang sakit. Buktinya, untuk menyatakan terima kasihnya, dia bersandar penuh pada punggungku. Mungkin dia menganggap punggungku sejenis kasur atau bantal yang maha-empuk. Atau mungkin dia sepanjang hari belum sempat beristirahat senikmat sekarang. Aku mengaduh, dan menyodok tulang rusuknya dengan siku. Meskipun akibat sodokan ini dia mengubah posisinya, tapi sebentar kemudian dia bersandar lagi. Bintik hitam makin lama makin kabur. Waktu aku mencungkil terakhir kalinya, bintik itu lenyap. Dalam hati aku memaki-maki, dan mulai mencungkil bintik yang lain. Punggungku terasa hampir patah, dan

http://inzomnia.wapka.mobi

keringatku menitik ke dalam mataku. Jika bintik ini berakhir pada jalan buntu lagi, kukira aku harus melepaskan kaki kuda ini dan beristirahat. Tapi karena mata Farnon mengawasiku terus, aku tidak berani berbuat begitu. Sambil mendukung daging kuda, aku mencungkil terus. Waktu lubang makin dalam, lututku mulai bergetar dan tak terkuasai lagi. Kuda itu dengan santainya menempelkan tubuhnya yang beratnya dua kwintal ke atas punggungku. Aku bertanya-tanya dalam hati, bagaimana kalau aku tidak kuat, dan jatuh tertelungkup, serta wajahku terbentur lantai. Waktu aku sedang melamun demikian, tiba-tiba di ujung pisau, aku melihat nanah menyemprot dan kemudian menetes dengan teratur. "Itu penyakitnya, "gumam petani. "Ia akan merasa lega." Lubang kulebarkan dan kaki kuda kulepaskan. Dengan susah payah aku bangkit. Waktu aku melangkah mundur, ternyata bajuku melekat pada punggungku. "Bagus, Herriot!" serunya, sambil mengambil pisau dan memasukkannya ke dalam saku. "Memang tidak lucu, kalau kukunya sekeras itu." Ia menyuntik kuda itu dengan antitoksin tetanus dan berpaling kepada petani. "Tolong angkat kakinya sebentar. Lubangnya akan kuhapushamakan." Petani yang kecil gemuk itu mengapit kaki kuda di antara lututnya, sambil memperhatikan Farnon dengan penuh minat, waktu Farnon memasukkan kristal yodium dan terpentin ke dalam lubang kuku kuda. Kemudian dia hilang tertelan oleh gumpalan asap ungu yang bergelung-gelung. Aku terpesona waktu melihat asap tebal ini membubung ke atas dan tersebar ke sana ke mari. Aku hanya bisa mendengar petani kecil itu dari bicaranya yang tak menentu. Waktu asap mulai menipis, aku melihat dua butir mata yang terbelalak. "Hebat, Pak Farnon! Saya kagum akan apa yang baru terjadi ini tadi!" seru petani itu sambil batuk-batuk. Ia mengamat-amati lagi lubang kuku yang hitam sambil berkata kehe-ran-heranan, "Sungguh mengagumkan apa yang telah dicapai oleh ilmu pengetahuan jaman sekarang!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian kami berkunjung ke tempat lain. Yang pertama menjahit kaki anak lembu yang luka, mengobati dan membalutnya. Yang kedua ke lembu yang ambingnya tersumbat. Pak Sharpe sudah menunggu dengan penuh harapan. Ia mengantar kami ke kandang dan Farnon menunjuk ke lembu, sambil berkata, "Coba periksa, apa yang bisa Anda lakukan." Aku berjongkok dan memijit-mijit ambing. Jaringan ambing itu makin ke atas makin terasa menebal. Ini harus dioperasi. Aku mulai memasukkan spiral logam ke dalam ambing (puting susu). Sebentar kemudian aku terduduk sambil terengah-engah di saluran tahi lembu. Lembu itu menyepakkan kakinya dan bekas kukunya mencap pada baju depan. Ini memalukan, tapi apa boleh buat. Aku terpaksa duduk sambil megapmegap, mulutku terbuka tertutup seperti ikan yang terdampar. Pak Sharpe mengangkat tangannya untuk menutupi mulutnya. Ia berusaha keras menahan keta-wanya. Ia ingin bersikap sopan, meskipun di dalam hati ia merasa sangat geli, karena dokternya dalam kesulitan. "Maaf, Anak muda, sebetulnya Anda harus saya beritahu sebelumnya, bahwa lembu saya lembu yang sangat ramah. Mungkin dia ingin berjabat tangan dengan Anda." Kemudian, setelah memberikan penjelasan itu, ia membaringkan dahinya di punggung lembu, sambil diam seribu bahasa, padahal dalam hati gembiranya bukan main. Aku mengerahkan tenaga dan bangkit dengan sopan dari saluran tahi lembu. Pak Sharpe memegang hidungnya dan Farnon mengangkat ekornya. Dengan bantuan mereka aku dapat memasukkan alat itu lewat jaringan yang berserabut. Setelah alat itu kutarik ke bawah beberapa kali, sumbatnya tercabut. Lembu itu mungkin merasa geli atau sakit. Ia menyepak lengan dan kakiku beberapa kali. Setelah operasi selesai, Pak Sharpe dengan cepat memegang ambing, yang menyemprotkan buih putih ke lantai. "Hebat! Ia bocor empat kaleng sekarang!" BAB 4

http://inzomnia.wapka.mobi

KITA akan pulang melalui jalan lain," kata Farnon sambil bersandar pada setir dan menghapus kaca depan dengan lengan bajunya. "Kita lewat Brenkstone Pass dan turun ke Sildale. Tidak begitu jauh, supaya Anda mengenal daerah itu." Kami melalui jalan yang berbelok-belok dan menanjak makin lama makin tinggi. Jalan itu mendaki terus, dan lereng bukit seperti terlempar ke bawah dan jatuh di jurang yang gelap. Di sini ada sungai yang deras airnya dan bergegas ke dataran rendah. Setiba di puncak, kami keluar dari mobil. Waktu itu musim panas. Matahari baru saja terbenam. Lereng-lerang bukit yang tidak teratur tampak seperti berjatuhan, puncaknya seperti berguling-guling tertelan oleh langit sebelah barat, yang bentuknya seperti beberapa pita kuning, dan merah tua. Di sebelah timur ada pegunungan hitam yang menjulang tinggi. Pegunungan batu yang sangat besar, yang bentuknya persegi, didukung oleh lerenglerangnya. Seperti hantu raksasa yang mengancam dan menyeramkan. Aku bersiul perlahan-lahan waktu melihat sekelilingnya. Daerah ini tidak seramah daerah perbukitan yang telah kulalui waktu aku menuju Darrowby. Farnon berpaling kepadaku, dan berkata, "Ya, daerah ini daerah yang paling menakutkan di Inggris. Apalagi di musim dingin. Aku pernah melihat jalan ini tertutup salju selama berminggu-minggu." Aku menghirup udara bersih ini dalam-dalam, supaya memenuhi paruparuku. Di daerah yang seluas ini tak ada yang bergerak. Hanya terdengar burung trinil berteriak lemah. Di kejauhan terdengar pula suara gemuruh yang disebabkan oleh arus sungai yang mengalir dengan deras seribu kaki di bawahku. Waktu aku masuk ke dalam mobil lagi, hari sudah gelap. Kemudian kami menuruni bukit ke Sil-dale. Lembah ini hanya tampak samar-samar, tapi di beberapa tempat tampak cahaya lampu. Lampu-lampu itu menunjukkan pusat-pusat pertanian yang terpencil di lereng bukit. Kami sampai di sebuah desa yang sunyi dan Farnon dengan keras menginjak remnya. Aku meluncur tak berdaya di atas tempat dudukku dan kepalaku membentur kaca depan mobil dengan suara gemeretak.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi Farnon pura-pura tidak tahu, dan berkata, "Di sini ada warung. Mari singgah dan memesan bir." Aku baru pertama kali melihat warung seperti itu. Karena memang bukan warung, tapi dapur sederhana yang luas, berbentuk persegi dan berdinding batu. Di bagian ujung ada perapian yang sangat besar dan tungku kuno yang hitam. Di atas api ada ketel, di dalam tungku hanya ada sebuah balok kayu yang besar, yang mendesis-desis dan gemeretak. Baunya yang seperti bau damar memenuhi seluruh ruangan. Kira-kira ada dua belas orang duduk di bangku panjang. Bangku itu bersandaran tinggi sejajar dengan dinding. Di depan mereka ada mangkuk-mangkuk kecil yang terletak di atas meja kayu. Meja itu telah retak-retak dan kisut karena dimakan waktu. Waktu kami berdua masuk, semua diam. Kemudian ada yang bicara, "Oh, Dokter Farnon," katanya dengan sopan, tapi bukan merupakan sambutan hangat. Kata-kata ini diikuti oleh gumam dan anggukan kepala yang ramah dari teman-temannya. Mereka kebanyakan petani atau buruh tani yang sedang menghibur diri tanpa ribut-ribut atau rame-rame. Kebanyakan kulit tubuhnya berwarna merah karena terbakar sinar matahari. Yang lebih muda, bajunya terbuka, tak memakai dasi, dada dan lehernya yang berotot kelihatan. Di sudut ada beberapa orang sedang bermain domino dengan tenang. Yang terdengar hanya gerutu dan suara kartu dibanting di meja. Farnon mengjakku duduk, memesan dua bir, memandangku sambil berkata, "Anda saya terima jadi asisten saya, jika Anda suka. Gajinya empat pound seminggu. Makan dan indekos gratis. Setuju?" Seketika itu juga aku terdiam. Aku diterima! Dengan gaji empat pound seminggu! Itu banyak sekali! Aku teringat ada orang mencari kerja di iklan harian Record. Menyedihkan sekali keadaannya. 'Dokter hewan, sangat berpengalaman, mau bekerja asal diberi makan.' BVMA terpaksa mendesak redaksi harian itu, supaya jangan mencetak jeritan hati seorang dokter hewan. Aku bisa lon-tang-lantung kalau ada teman seprofesi yang menawarkan keahliannya dengan cuma-cuma. Empat pound seminggu, aku bisa kaya!

http://inzomnia.wapka.mobi

"Terima kasih," jawabku, sambil berusaha keras menyembunyikan kegembiraanku. "Saya setuju, Pak Farnon." "Bagus," kata Farnon, sambil terburu-buru meneguk birnya. "Mulai saat ini kau kuanggap temanku, tak perlu memanggilku bapak. Sekarang kuberitahu sejarah praktekku. Rumah itu kubeli dari seorang dokter tua setahun yang lalu. Dokter itu sudah berumur delapan puluh tahun, tapi masih bekerja. Sungguh pribadi yang ulet. Tapi pada suatu malam ia meninggal dunia. Hal ini tidak mengherankan, karena ia sudah tua. Tentu saja barang-barangnya ditinggalkan begitu saja. Barang-barang yang sudah ketinggalan jaman. Sebagian alat-alat kuno itu bekas miliknya. Boleh dikatakan sudah tidak ada langganan atau pasien lagi. Tapi aku sekarang berusaha mencari langganan baru. Sebegitu jauh, keuntungannya hanya sedikit. Tapi jika kita selama beberapa tahun tetap tekun, aku yakin usaha kita akan maju. Petani-petani itu senang melihat dokter muda membuka praktek. Dan mereka menyambut gembira operasi dan pengobatan baru. Tapi aku harus mendidik mereka. Mereka biasa membayar tiga puluh enam pence kepada dokter tua itu, untuk tiap pengobatan. Ini kebiasaan yang cukup sukar untuk diubah. Penduduk Dale ini ramah dan menyenangkan. Tapi mereka tidak mau keluar uang tanpa imbalan. Artinya kau harus membuktikan, bahwa mereka akan menerima keuntungan yang setimpal." Dengan penuh semangat, Farnon bicara terus terang rencana masa depannya. Minuman mengalir terus dan suasana dalam warung makin meriah. Ruangan itu makin lama makin penuh orang, karena datang langganan baru dari desa. Suasananya makin gaduh dan udaranya makin panas. Beberapa saat sebelum warung ditutup, aku terpisah dari Farnon. Aku duduk di tengah sekelompok orang yang tertawa-tawa, seolah-olah aku sudah mengenalnya bertahun-tahun. Tapi ada seorang yang tingkah lakunya aneh. Orang itu berkali-kali berusaha memandangku. Seorang tua yang bertubuh kecil, mengenakan topi panama yang berwarna putih tapi sudah kotor. Wajahnya licin, cokelat, dan lusuh seperti sepatu tua. Ia mondar-mandir mencari sela-

http://inzomnia.wapka.mobi

sela orang yang berkerumun itu, sambil mengerdip-ngerdipkan matanya, untuk memberi isyarat kepadaku. Aku tahu maksudnya. Ia tentu ingin mengatakan sesuatu. Oleh karena itu aku meninggalkan kelompokku dan mengikuti orang aneh itu ke sudut warung. Orang tua ini duduk di depanku, menyandarkan tangan dan dagunya pada tongkatnya, dan memandangku dari bawah kelopak matanya yang mengantuk. "Nah, Anak muda, sekarang aku akan mengatakan sesuatu. Selama hidupku aku bergaul dengan binatang. Aku punya sebuah rahasia!" Ibu jari kakiku mulai melengkung. Aku pernah tertangkap basah seperti ini. Pada masa praktekku yang pertama semasa masih kuliah, aku menemukan, bahwa petani-petani tua mengira mempunyai pengalaman yang tak ternilai harganya. Pengalaman ini harus diceriterakan kepada orang lain. Dan ini biasanya berjam-jam lamanya. Aku melihat sekelilingnya dengan cemas, karena aku merasa terperangkap. Orang tua ini menggeser kursinya ke depan, dan mulai berbisik-bisik seperti orang yang mengajak berkhianat. Nafasnya yang berbau bir menusuk-nusuk wajahku dari jarak lima belas senti. Tidak ada barang baru dalam ceritera orang tua itu. Hanya ceritera khayal tentang pengobatan dan penyembuhan ajaib. Tentang obat-obat manjur yang hanya dia ketahui sendiri. Tentang usaha beberapa orang jahat yang ingin mengetahui rahasia pengalamannya. Dan tentang usaha mereka yang gagal. Ia hanya berhenti bicara untuk meneguk minumannya. Tubuhnya yang kecil itu sungguh mengagumkan, karena bisa menyerap bir begitu banyak. Ia tampak sangat gembira dan kubiarkan bicara melantur-lantur. Bahkan aku memberinya semangat, dengan jalan menyatakan kekagumanku dan keherananku atas prestasinya. Orang bertubuh kecil ini belum pernah mendapat perhatian sedemikian besar. Dulu ia pernah jadi orang yang agak terhormat, karena memiliki sebidang ladang, dan bukan jadi petani penyewa tanah. Tapi itu bertahun-tahun yang lalu. Kepalanya dimiringkan, matanya dipicingkan

http://inzomnia.wapka.mobi

sebelah. Mata itu beranjak-anjak lincah dengan ramah. Tapi tiba-tiba ia jadi serius dan duduk dengan tegak. "Nah, sebelum kau pergi, Anak muda, aku akan mengatakan sesuatu, yang tak diketahui orang lain, kecuali aku sendiri. Aku sebenarnya bisa kaya karena ini. Bertahun-tahun lamanya orang memburu rahasia ini, tapi usaha mereka sia-sia belaka." Ia minum beberapa teguk lagi, memicingkan matanya, sambil berkata, "Ini obat eksim lutut lembu." Aku terkejut dan bangkit seperti orang takut kejatuhan atap runtuh. "Tentu bukan itu maksudmu!" jawabku terengah-engah. "Bukan eksim lutut lembu." Orang tua itu tampak puas. "Betul, memang itu yang kumaksud. Yang perlu kaukerjakan hanyalah menggosokkan salepku, dan lembu sehat seketika. Bahkan lebih sehat dari semula!" Suaranya melengking kecil dan tangannya menampar gelas yang hampir kosong hingga jatuh ke lantai. Dengan ragu-ragu dan perlahan-lahan aku bersiul dan memesan minuman lagi. "Betul, kau akan memberi tahu aku nama salep itu?" bisikku. "Betul, Anak muda! Tapi dengan syarat. Kau tidak boleh mengatakannya kepada orang lain. Hanya kau dan aku saja yang boleh tahu!" Ia meneguk lagi minumannya. Bir itu meluncur ke dalam kerongkongannya dengan mudah. Isi gelas itu tinggal separo. "Ingat, hanya kau dan aku boleh tahu!" "Baik, aku berjanji tidak akan mengatakannya kepada orang lain. Apa nama obat ajaib itu?" Orang tua itu dengan curiga melihat ke sekelilingnya, karena ruangan penuh orang. Kemudian ia menghela nafas dalam-dalam, meletakkan tangannya di atas bahuku, dan mendekatkan bibirnya di telingaku. Ia mendehem sekali, dengan khidmat, dan berbisik, dengan suara parau, "Minyak, Marshmallow!" Aku menjabat tangannya dengan hangat tanpa bicara sepatah kata pun. Orang tua itu, karena sangat terharu, menumpahkan separo isi gelas sisanya, dan mengguyur dagunya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi Farnon memberi isyarat dari pintu. Sekarang waktunya pulang. Kami berbondong-bondong keluar bersama teman-teman baru, memecahkan kesunyian dan kegelapan malam di jalan desa yang sunyi itu. Seorang pemuda yang berambut pirang dan tak mengenakan jas membuka pintu mobil dengan sopan. Waktu dia mengucapkan selamat malam dengan melambaikan tangannya, aku melompat ke dalam mobil. Kali ini tempat duduk meluncur lebih cepat dari biasanya. Aku terpelanting ke belakang. Kepalaku mendarat di atas sepatu, dan daguku terjepit lututku sendiri. Sederet wajah yang tercengang mengintai dari jendela belakang. Tapi dengan segera orang-orang yang ringan tangan menolongku bangkit lagi. Dan kursi sialan itu diletakkan di tempatnya semula. Dalam hati aku bertanya, sudah berapa lama hal ini berlangsung dan apakah sang majikan tidak punya niat memperbaikinya. Mobil menderu masuk ke kegelapan malam dan aku menengok kebelakang. Sekelompok orang melambai-lambaikan tangannya. Aku dapat melihat orang tua bertubuh kecil itu. Topi panamanya tampak berkilau-kilau seperti topi baru, karena kena sinar dari pintu warung. Ia meletakkan jarinya di atas bibir. BAB 5 LIMA tahun aku kuliah, sambil menunggu suatu saat. Tapi saat yang kutunggu ini belum tiba. Aku sudah ada di Darrowby selama dua puluh empat jam, tapi belum sempat mengadakan kunjungan sendiri. Hari berikutnya aku juga masih dikawal Farnon. Ini sungguh aneh. Sebab Farnon tampaknya orang yang sembrono, pelupa dan ada beberapa kelemahan lainnya. Tapi ia sangat hati-hati dalam melepaskan asistennya yang baru. Hari ini aku dan Farnon berkeliling di Lidderdale dan menjumpai beberapa langganan. Mereka adalah petani yang ramah, sopan, menyambutku dengan gembira, dan mengharapkan tugasku berhasil. Tapi bekerja di bawah pengawasan Farnon adalah seperti kembali ke bangku

http://inzomnia.wapka.mobi

kuliah dan diawasi mata sang profesor. Aku merasa dengan jelas, bahwa karirku yang profesionil tidak akan mulai, sebelum aku, James Herriot, pergi ke luar dan mengobati binatang sakit, tanpa ditolong dan diawasi. Namun, waktu yang kutunggu-tunggu itu segera tiba, karena Farnon pergi ke Brawton untuk mengunjungi ibunya lagi. Sungguh sayang terhadap ibunya, pikirku keheran-heranan. Dan katanya, dia baru pulang malam. Jadi Bu Hall terpaksa harus jaga malam. Tapi itu tak perlu dipusingkan. Yang penting, aku mendapat tugas. Aku duduk di kursi malas, yang alasnya telah kendur dan berjumbai. Aku memandang jendela besar di depan kebun, sambil memperhatikan bayang-bayang pohon yang disebabkan oleh sinar matahari sore itu, dan jatuh di dalam rumput yang tak terurus. Aku merasa bahwa akan ada banyak pekerjaan. Dengan santai aku bertanya-tanya dalam hati, tugas apa kiranya yang akan kuterima. Mungkin suatu antiklimaks sesudah menunggu bertahuntahun. Anak lembu yang batuk atau babi yang sembelit misalnya. Mungkin tidak begitu mengecewakan seandainya aku mulai dengan pengobatan yang mudah. Waktu aku sedang di tengah lamunan yang menggembirakan ini, tiba-tiba telepon di gang berdering keras sekali. Deringnya melengking-lengking luar biasa, karena rumah ini sedang kosong. Pesawat penerimanya kuangkat. "Apakah itu Mr Farnon?" suaranya dalam agak parau. Tekanan katanya agak lunak. Mungkin sedikit terpengaruh bahasa daerah tenggara. "Maaf, bukan, dia sedang keluar. Ini asistennya. "Kapan dia pulang?" "Nanti malam katanya. Apa Anda perlu bantuan?" "Saya tidak tahu, apakah Saudara bisa membantu atau tidak," jawab suara itu, dengan nada angkuh. "Saya Mr. Soames, menejer peternakan Lord Hulton. Kuda saya yang sangat berharga sakit perut. Padahal itu kuda untuk berburu. Apakah Anda tahu tentang penyakit perut?" Aku mulai marah dan menjawab, "Saya dokter hewan. Oleh karena itu saya kira, saya tahu tentang penyakit semacam itu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Lama dia tidak menjawab, kemudian dia menyalak lagi. "Baik, kalau begitu Anda bisa menyembuhkannya. Namun saya tahu injeksi yang dibutuhkan kuda itu. Bawalah arecoline. Mr. Farnon biasa memakainya. Dan demi Tuhan, jangan terlalu malam pergi ke sini. Kapan berangkat?" "Sekarang juga." "Baik." Aku mendengar pesawat penerimanya diletakkan dengan kasar. Wajahku terasa panas waktu aku meninggalkan telepon. Jadi kasusku yang pertama bukan sekedar formalitas. Sakit perut adalah sukar ditentukan. Dan aku harus berhadapan dengan orang yang sifatnya keras yang bernama Soames sebagai batu ujian. Sambil menempuh jarak sejauh delapan mil, aku membaca kembali dalam ingatanku buku klasik yang tebal, berjudul Penyakit Perut Kuda. Dalam tahun kuliahku yang terakhir, aku sudah berkali-kali membacanya, sehingga aku dapat menceritera-kannya kembali, seperti mendeklamasikan beberapa halaman syair. Sambil melarikan mobilku, lembaran-lembaran kertas yang telah lusuh itu melayang-layang di depanku, seperti hantu. Sakit perut kuda itu mungkin disebabkan oleh urat yang terjepit atau kejang. Mungkin juga disebabkan pergantian makanan atau terlalu banyak makan rumput. Ya, itu mungkin. Kebanyakan sakit perut seperti itu. Obatnya suntikan arecoline atau mungkin chlorodyne, untuk mengurangi rasa sakit. Dan kemudian segalanya akan beres. Ingatanku kembali ke kasus-kasus yang pernah kualami sementara kuliah praktekku. Kuda itu berdiri dengan tenang, hanya kadang-kadang merentangkan kaki belakangnya atau memandang ke samping. Sesungguhnya tak ada yang berarti. Waktu sudah sampai, aku sedang membayangkan peristiwa yang menyenangkan ini. Aku masuk ke dalam sebuah halaman berbatu-batu kecil yang bersih. Di ketiga sisinya dikelilingi oleh petak-petak luas yang kokoh. Ada orang lelaki berdiri di situ. Dadanya bidang, tubuhnya Besar, jaket dan topinya sangat rapi, potongan celananya bagus, tepinya mengkilat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mobilku berhenti tiga yar jauhnya dari orang itu. Waktu aku turun, perlahan-lahan tapi dengan sengaja, orang itu memutar punggungnya untuk mem-belakangiku. Aku berjalan menyeberangi halaman itu, dengan tenang-tenang saja, sambil menunggu orang itu, memutar kembali punggungnya. Tapi dia bahkan berdiri tak bergerak, tangannya dimasukkan ke dalam saku, sambil melihat ke arah lain. Aku berhenti dalam" jarak satu dua meter. Tapi orang itu tetap tidak mau berpaling. Setelah cukup lama, karena aku sudah jemu melihat punggungnya, aku berkata, "Mr. Soames?" Mula-mula orang itu tidak bergerak, kemudian ia berpaling perlahanlahan. Lehernya merah dan tebal. Wajahnya yang kecil juga merah. Matanya berapi-api. Ia tidak menjawab, tapi mengamat-amati diriku dengan teliti, mulai dari ubun-ubun hingga ke telapak kaki, termasuk jas hujanku yang lusuh, usiaku yang masih muda, dan sikapku yang kurang pengalaman. Waktu penyelidikannya telah selesai, ia berpaling lagi ke arah lain. "Ya, saya Mr. Soames," jawabnya, sambil menekankan kata 'MR' seolaholah itu yang paling penting. "Saya sahabat karib Mr. Farnon." "Kenalkan, nama saya Herriot." Rupanya Soames tidak mendengar, sebab ia berkata, "Ya, betul, memang Mr. Farnon pandai. Ia sahabat saya." "Saya mengerti, kuda Anda sakit perut," jawabku, sambil berusaha jangan sampai nada suaraku terlalu tinggi dan gemetar. Soames masih memandang ke langit. Ia bersiul perlahan-lahan sebelum menyahut. "Di dalam sana!" katanya, sambil menyentakkan kepalanya ke arah sebuah petak. "Seekor kuda pemburu yang hebat. Saya kira, perlu ditangani oleh orang yang ahli." Ia agak menekankan kata 'ahli'. Pintu kubuka dan aku masuk. Kemudian aku berhenti, karena rasanya aku menabrak tembok. Petak ini sangat besar, di alasi lumut bahan bakar yang tebal. Seekor kuda pemburu yang berjalan terhuyung-huyung mengelilingi batas pinggiran, dan menimbulkan bekas-bekas kaki yang dalam pada alas lumut itu. Dari ujung hidung hingga ujung ekornya,

http://inzomnia.wapka.mobi

badannya basah kuyup karena berkeringat. Lubang hidungnya melebar dan matanya menatap ke depan tanpa melihat sesuatu. Setiap melangkahkan kaki, kepalanya diputar-putarkan-nya. Dari celah-celah giginya yang digertakkan, gumpalan buih jatuh ke lantai. Tubuhnya menguapkan bau yang tak sedap seperti kuda yang baru saja lari cepat. Mulutku terasa kering dan sukar untuk bicara. Waktu aku bicara, kedengarannya hanya seperti berbisik. "Sudah berapa lama kuda ini dalam keadaan begini?" "Oh, sejak tadi pagi. Tapi tadi pagi sakitnya agak ringan. Sepanjang hari telah kuberi minuman pahit, atau sekurang-kurangnya oleh orang itu. Tak mengherankan kalau keadaannya semakin buruk, memang sifat dia begitu." Di sebuah sudut, di bagian yang kena bayang-bayang, aku melihat orang gemuk bertubuh besar sedang berdiri sambil memegang ban kepala. "Oh, sudah cukup banyak kuberi minum kuda itu, Mr. Soames. Tapi keadaannya tidak semakin baik," jawab orang itu, ketakutan. "Katamu kau pemelihara kuda! Pemelihara ku-dan macam apa!" ejek Soames. "Seandainya aku tahu akibatnya jadi begini, kuda itu pasti kuberi minum sendiri! Dan dia sekarang pasti sudah sembuh!" "Ini bukan sakit perut biasa," bantahku. "Tidak cukup hanya diberi minuman pahit." "Kalau bukan sakit perut biasa, lalu sakit apa?" "Saya belum bisa mengatakannya, sebelum saya memeriksanya. Tapi kesakitan terus-menerus seperti itu menunjukkan bahwa ususnya terpilin." "Apa? Usus terpilin? Itu sakit perut ringan, habis perkara! Sehari penuh dia belum mengerjakan sesuatu. Dia menginginkan selingan. Apa Saudara membawa arecoline?" "Jika ini usus terpilin, arecoline tak ada gunanya. Bahkan akan membuatnya makin parah. Ia kesakitan sekarang. Arecoline akan menyebabkan dia gila, karena obat itu menyusutkan otot usus." "Brengsek!" bentak Soames. "Jangan memberi kuliah. Saudara mau mengobati atau tidak?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku berpaling ke orang bertubuh besar itu dan berkata, "Kalungkan ban itu. Saya akan memeriksanya." Sesudah ban leher dipasang, kuda itu berhenti. Ia berdiri di tempat, sambil mengerang dan gemetar. Aku meraba-raba di antara tulang rusuk dan sikunya, mencari urat nadi. Ternyata nadinya berdenyut cepat tapi lemah. Pelupuk matanya kubalikkan. Tampak ada selaput lendir yang berwarna merah gelap. Termometer menunjukkan suhu seratus tiga derajat. Aku memandang ke arah Soames. "Saya minta seember air panas, sabun, dan handuk." "Untuk apa? Belum apa-apa sudah mau cuci tangan!" "Saya akan memeriksa duburnya. Apakah saya boleh minta air?" "Minta ampun! Baru kali ini ada dokter minta macam-macam!" Dengan malas Soames mengusap alis matanya, lalu bergerak mendekati orang itu. Katanya, "Cepat, jangan bengong saja! Ambilkan air, biar cepat selesai!" Sesudah air datang, aku menyabun lenganku. Kemudian dengan hati-hati lengan itu kumasukkan ke dalam dubur kuda. Dengan mudah dapat kuraba, bahwa usus halusnya berpindah tempat ke sebelah kiri. Di situ ada selaput pekat yang seharusnya tidak ada. Waktu aku menyentuhnya, kuda itu menyentak dan mengerang lagi. Ketika aku mencuci dan mengeringkan lenganku, jantungku berdebardebar. Apa yang harus kukerjakan? Apa yang harus kukatakan? Soames menghentak-hentakkan kakinya keluar-masuk petak, sambil menggerutu. Sedang kuda yang kesakitan bukan main itu terus-menerus meliuk dan menggeliat. "Pegang benda itu!" teriaknya kepada orang itu, yang sedang memegangi ban leher. "Apa yang sedang kaukerjakan?" Orang itu diam saja. Ia merasa tidak bersalah. Oleh karena itu dia hanya membalas tatapan Soames tanpa mengucapkan sepatah kata pun. Aku menarik nafas dalam-dalam, lalu berkata, "Semua gejala membuktikan satu hal. Saya yakin, kuda itu ususnya terpilin."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Terserah apa yang kaukatakan. Usus terpilin atau usus terlipat. Tapi demi Tuhan, kerjakan sesuatu. Apakah saya harus berdiri di sini semalam suntuk?" "Tak ada yang bisa dikerjakan. Tak ada obatnya. Yang paling penting ialah menghilangkan rasa sakitnya secepat mungkin." Wajah Soames seketika berubah. "Apa? Tak ada obatnya? Menghilangkan rasa sakit? Ocehan macam apa ini? Katakan, apa maksud Saudara!" Aku berusaha bicara dengan tegas. "Saya sarankan Anda mengijinkan saya menenangkan kuda ini." "Apa maksud Saudara?" tanya Soames. Mulutnya ternganga. "Maksud saya, kuda ini harus ditembak sekarang juga. Saya membawa pembunuh manusia di mobil." Soames tampak seolah-olah akan meledak. "Apa? Ditembak? Apakah Saudara sudah gila? Kuda ini sangat mahal harganya!" "Peduli apa dengan harga, Mr. Soames! Sepanjang hari ia sudah tersiksa dan sebentar lagi ia akan mati. Seharusnya Anda memanggil saya lama sebelumnya. Memang ia masih bisa hidup beberapa jam lagi. Tapi akhirnya akan sama juga. Dan dia dalam kesakitan hebat, kesakitan terus-menerus." Soames tertunduk, dan menelungkupkan kepalanya di atas tangannya. "Oh Tuhan, mengapa hal ini terjadi padaku? Majikan sedang pergi atau beliau harus kupanggil, supaya menyembuhkan sakit gila Saudara? Camkan ini, seandainya Mr. Farnon, bos Saudara ada di sini, dia hanya akan menyuntik kuda ini, dan setengah jam kemudian, kuda ini sehat kembali. Apakah saya tak boleh menunggu sampai Mr. Farnon pulang nanti malam, dan menyuruh dia memeriksanya?" Usul itu menggembirakan hatiku. Lebih baik kuda ini kusuntik morfin lalu aku pulang. Tanggung jawab biar ditanggung orang lain. Ini mudah. Aku melihat kuda lagi. Kuda itu mulai berputar-putar di dalam petak. Tersandung-sandung dan terhuyung-huyung. Ia tampak sudah putus asa. Namun demikian ia berusaha membuang rasa sakitnya. Waktu kuperhatikan, ia mengangkat kepalanya yang sudah lunglai dan mengaduh

http://inzomnia.wapka.mobi

perlahan-lahan. Suaranya memilukan, tak bisa dipahami, tapi bernada ketakutan. Aku tak tahan lagi. Dengan cepat aku lari ke mobil mengambil pistol. "Pegang kepalanya, jangan sampai bergerak," kataku kepada orang itu, sambil mengarahkan moncong pistol di antara matanya yang berkaca-kaca. Sesaat kemudian terdengar letusan tembakan dan kuda itu roboh. Suaranya berdebuk di atas lumut dan mati seketika. Aku berpaling ke Soames yang memandang tubuh kuda itu dengan rasa tidak percaya. "Besok pagi Mr. Farnon akan ke sini untuk memeriksa bangkainya. Mudah-mudahan Tuan Hulton membenarkan diagnosa saya." Aku mengenakan jaket dan keluar menghampiri mobil. Waktu mesin kuhidupkan, Soames membuka pintunya dan menjenguk ke dalam mobil. Ia bicara dengan tenang, tapi nadanya sangat marah. Katanya, "Saudara akan saya laporkan majikan saya. Juga kepada Mr. Farnon! Akan saya tunjukkan kepadanya, betapa rendah mutu asistennya! Dan camkan apa yang kukatakan ini. Saudara akan terbukti bersalah pada pemeriksaan bangkai besok! Kemudian Saudara akan saya tuntut!" Ia menutup pintu mobil dengan kasar sekali dan berjalan pergi. Setelah sampai di rumah, aku memutuskan untuk menunggu Farnon. Aku duduk sambil berusaha menghindarkan perasaan bersalah, karena aku telah menghancurkan karirku pada waktu baru saja mulai. Tapi kalau kupertimbangkan kembali, aku tahu tak bisa berbuat lain. Berapa kali pun aku mengulanginya, kongklusinya selalu sama. Pukul satu malam Farnon baru pulang. Rupanya perjumpaan dengan ibunya sangat menggembirakan hatinya. Pipinya yang tipis kemerahmerahan dan nafasnya berbau jenewer. Aku heran ia memakai jas malam. Jaket itu sudah ketinggalan jaman dan terlalu longgar karena tubuhnya kurus, namun begitu dia tampak seperti duta besar. Waktu aku menceriterakan kuda itu, ia mendengarkannya tanpa menjawab sepatah kata pun. Waktu ia akan memberikan komentar, telepon berdering. "Tengah malam begini," bisiknya, kemudian, "Oh, Anda, Mr. Soames!" Ia menganggukkan kepala kepadaku lalu duduk di

http://inzomnia.wapka.mobi

kursi. Lama ia menjawab 'Ya', 'Tidak', dan 'O begitu'. Kemudian ia duduk tegak dan mulai bicara, "Terima kasih, Mr. Soames, karena Anda menelepon saya. Memang itu satu-satu tindakan yang mungkin bisa dilakukan Mr. Herriot dalam keadaan seperti itu. Tidak, saya tidak setuju. Itu hanya akan menyiksa. Sedangkan tugas kami adalah mencegah penderitaan. Sayang, Anda merasa demikian. Tapi menurut pertimbangan saya, Mr. Herriot adalah seorang dokter hewan yang sungguh-sungguh cakap. Seandainya waktu itu saya juga ada di situ, saya kira saya juga akan melakukan hal yang sama. Selamat malam, Mr. Soames, besok kita bertemu." Aku merasa begitu lega, hingga aku ingin membuat pidato terima kasih. Tapi akhirnya, aku hanya berkata 'Terima kasih'. Farnon meraih ke dalam lemari bertutup kaca di atas perapian dan mengambil sebotol wiski. Dengan sembrono ia menuangkan isinya separo ke sebuah gelas, hingga penuh dan melimpah, lalu me-nyorongkannya ke arah saya. Ia berbuat sama untuk dirinya sendiri dan menjatuhkan diri lagi ke dalam kursi malas. Ia meneguk banyak-banyak, menatap beberapa saat pada benda cair yang kekuning-kuningan warnanya di dalam gelas itu, lalu mengangkat wajahnya dengan tersenyum. "Yah, tentunya kau di tengah malam sial ini merasa terpukul atau tak dihargai orang. Padahal kasus pertama! Dan harus berhadapan dengan Soames!" "Kau sudah lama mengenalnya, Farnon?" "Oh, banyak yang sudah kuketahui tentang dia. Perkara kecil yang kurang beres saja, sudah cukup menjerakan siapa saja! Percayalah, dia bukan temanku. Sebenarnya, kata orang sedikit banyak ia seorang bajingan, karena dengan diam-diam mempergunakan kekayaan majikannya untuk menggendutkan kantongnya sendiri. Mudah-mudahan, pada suatu hari kecurangannya akan terbongkar." Wiski yang jernih itu terasa membakar jalan makanan sampai ke perutku. Tapi aku memang membutuhkannya. "Aku jarang mengalami peristiwa seperti malam ini. Saya kira praktek dokter hewan tidak akan seperti itu selamanya."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Kukira tidak," jawab Farnon. "Tapi kita tidak pernah tahu apa yang akan menimpa kita. Kau tahu, jabatan kita adalah jabatan yang aneh. Jabatan ini memberikan kesempatan yang terbilang banyaknya untuk memperlihatkan ketololan kita sendiri." "Tapi saya kira itu banyak tergantung pada kecakapan kita juga." "Ya, sampai batas tertentu. Tentu saja, ini merupakan pekerjaan yang akan membuat kita jadi ahli. Namun, betapa hebatnya keahlian kita, penghinaan dan ejekan bisa terjadi di sembarang tempat. Saya pernah menyuruh seorang spesialis-kuda yang kenamaan, untuk melakukan operasi tulang rusuk. Tapi kudanya mati, sebelum operasi selesai. Orang itu gemetar ketakutan di atas tulang rusuk pasiennya. Pengalaman ini memberikan pelajaran berharga bagi saya. Ialah bahwa selama jadi dokter hewan, pada suatu saat, saya akan tampak mahatolol seperti dia." Aku tertawa. "Kalau begitu, paling baik aku mengundurkan diri saja, sebelum karirku mulai!" "Ya, itu hanya sebuah gambaran saja. Binatang adalah makhluk yang tidak dapat diramalkan. Demikian pula seluruh hidup kita ini. Hidup kita merupakan sebuah' kisah yang panjang, kisah mengenai kemenangankemenangan kita yang kecil, dan kisah tentang bencana yang menimpa kita. Supaya dapat bertahan, kita harus betul-betul menyukainya. Malam ini dengan Soames, tapi malam berikutnya mungkin dengan orang lain. Yang jelas, kau tak akan merasa jemu. Ini wiskinya, silakan menambahnya lagi!" Aku minum seteguk, kemudian minum lebih banyak lagi, sambil bercakapcakap. Tak terasa waktu merayap dengan cepat. Pohon akasia yang besar dan gelap itu mulai tampak di fajar pagi yang kelabu di depan jendela. Seekor burung hitam mulai bersiul-siul. Farnon dengan kecewa menggoncang-goncangkan sisa wiski di dalam botol dan menuangkannya ke dalam gelasnya. Ia menguap, menarik simpul dasinya yang berwarna hitam dan memandang arlojinya. "Wah, sudah pukul lima! Cepat benar! Tapi saya

http://inzomnia.wapka.mobi

gembira, karena kita bisa minum bersama, untuk merayakan. Kasusmu yang pertama! Dan tindakanmu tepat bukan?!" BAB 6 TIDUR dua setengah jam sebetulnya kurang. Tapi aku ingin bangun pukul setengah delapan, lalu turun, mencukur kumis, dan pukul delapan menyisir rambut. Tapi aku makan pagi sendirian. Bu Hall, dengan tenang meletakkan telor dadar di depanku, sambil memberi tahu, bahwa bos beberapa saat yang lalu telah berangkat ke peternakan Lord Hulton, untuk memeriksa bangkai kuda yang kutembak itu. Aku bertanya dalam hati, apakah Farnon tadi sudah pergi tidur. Mungkin dia tidak tidur sama sekali. Waktu aku sedang sibuk makan roti panggang, pada suap yang terakhir, Farnon tiba-tiba masuk ke dalam kamar. Aku sudah biasa melihat dia masuk dengan mendadak, dan tidak heran kalau dia memutar handel pintu, lalu melompat ke tengah permadani. Ia tampak berseri-seri dan sangat gembira. "Apakah ceret itu masih ada kopinya? Saya ingin minum bersama lagi!" Ia menghempaskan diri pada kursi yang keras. "Nah, kau tak perlu bersedih hati. Pemeriksaan bangkai, menunjukkan dengan pasti bahwa kuda itu ususnya terpilin. Beberapa bagian usus penuh dengan selaput berwarna hitam. Saya gembira kau segera membunuh kuda itu." "Apakah kau bertemu dengan Soames?" "Ya. tentu saja. Ia sudah siap di situ. Ia berusaha mencari-cari kesalahan untuk menjatuhkan namamu. Tapi mulutnya kubungkam. Bahkan kutegaskan, bahwa dialah yang bersalah, sebab tidak segera meneleponmu. Kutekankan juga, bahwa Lord Hulton pasti akan marah, karena kudanya dibiarkan menderita. Kemudian saya pulang, sambil membiarkan dia memamah biak kata-kataku itu." Berita ini sungguh melegakan hati. Aku pergi ke bangku untuk mengambil buku harian. "Ini ada beberapa panggilan. Aku akan kausuruh apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Farnon menentukan tempat-tempat yang harus kukunjungi, menuliskannya pada secarik kertas dan memberikannya kepadaku. "Ini," katanya, "beberapa kasus yang menyenangkan dan mudah. Kau boleh mengerjakannya sendiri." Waktu aku akan berangkat, dia memanggilku. "Herriot, ada lagi yang perlu kaukerjakan. Hari ini adikku akan numpang kendaraan dari Edinburgh. Ia juga mahasiswa kedokteran hewan, dan kemarin kuliahnya berakhir. Jika ia sudah sampai di dekat sini, mungkin ia akan menelepon kita. Bagaimana kalau kau keluar dan menjemputnya?" "Ya, lebih baik kujemput." "Tapi namanya Tristan." "Tristan?" "Ya, seharusnya ini saya katakan kemarin. Kau tentu heran kalau mendengar nama saya. Sebenarnya itu nama ayah saya. Wagnerian Agung! Nama itu hampir menguasai hidupnya. Seluruh hidupnya hanyalah musik, terutama Wagner." "Aku sendiri juga sedikit suka." "Ya, ya. ya. tapi kan tidak seperti kami. Pagi, siang, dan malam! Dan kemudian lalu terlekat dengan nama seperti Siegfried. Tapi masih ada yang lebih buruk. Wotan, misalnya. "Atau Pogner." Farnon tampak kaget. "Ya, kau benar! Saya sudah melupakan Pogner tua itu. Saya kira, saya banyak berhutang budi kepadanya." Baru sekitar pukul empat siang telepon yang kutunggu berdering. Suara di ujung yang lain seperti suara yang sudah lama kukenal. "Ini Tristan Farnon." "Wah, suaramu seperti suara kakakmu!" Lalu terdengar suara tertawa riang. "Tiap orang bilang begitu. Terima kasih, kau mau menjemputku? Aku di warung Holly Tree di jalan raya utara." Di belakang suara itu aku mengharap akan bertemu dengan kembaran Farnon. Tapi Tristan ternyata hanyalah seorang pemuda kecil berwajah kanak-kanak, yang sedang duduk di atas ransel, dan sama sekali tidak serupa dengan Farnon. Ia bangkit, mengusap rambutnya yang hitam ke belakang dan mengulurkan tangannya. Senyumnya ramah.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sudah berjalan berapa jauh?" tanyaku. "Sedikit jauh, karena aku membutuhkan gerak badan. Tadi malam ada pesta perpisahan yang melelahkan." Ia membuka pintu mobil dan melemparkan ranselnya ke belakang. Waktu mesin kuhidupkan, ia duduk dengan santai di kursi mobil, seolah-olah kursi itu kursi malas yang mewah. Ia mencabut sebungkus rokok Woodbines, menyulutnya dengan acuh tak acuh dan menelan asapnya dengan puas. Ia mengambil majalah Daily Mirror dari saku sebelah dan menggoyang-goyangkannya supaya terbuka, sambil menghembuskan nafas karena merasa lega. Asapnya yang sudah lama ditelan baru sekarang keluar dari hidung dan mulutnya. Aku membelok ke barat, meninggalkan jalan raya dan keributan lalu lintas itu tertinggal jauh di belakang. Aku berpaling kepadanya, dan bertanya, "Kau habis ujian?" "Ya, patologi dan parasitologi." Aku hampir saja melanggar larangan berat, dengan bertanya kepadanya, apakah dia lulus. Untunglah aku berhenti pada waktunya. Lulus itu untung-untungan. Namun meskipun begitu, tidak kekurangan bahan pembicaraan. Ada saja yang ia katakan tentang berita itu. Kemudian ia dengan keras membacakan sari beritanya dan mendiskusikannya denganku. Lama-kelamaan aku yakin, bahwa aku sedang ada di dekat orang yang lebih lincah dan lebih hidup pikirannya daripada aku sendiri. Perjalanan itu terasa sangat cepat. Tahu-tahu mobil telah kuhentikan di samping Rumah Skeldale. Waktu aku masuk ke dalam rumah, Siegfried sedang keluar. Ia baru pulang menjelang petang. Ia masuk melalui jendela besar, mengangguk dengan ramah, dan melemparkan dirinya di kursi malas. Waktu Tristan masuk, ia mulai bicara tentang salah satu kasusnya Keadaan di dalam kamar berubah seolah-olah ada orang menekan tombol. Senyum Siegfried jadi tak ramah dan lama ia memandang adiknya seperti sedang menilai prestasinya. Ia mengucapkan 'Halo', kemudian meraih dan meraba-raba judul buku di rak. Rupanya perhatiannya terbenam sebentar di sini. Terasa mulai adanya suasana

http://inzomnia.wapka.mobi

tegang. Muka Tristan juga berubah dengan jelas. Wajahnya tak menunjukkan perasaan apa pun dan matanya penuh kewaspadaan. Akhirnya Siegfried menemukan buku yang ia cari, mengambilnya dari rak, dan dengan tidak tergesa-gesa sedikit pun, ia mulai membuka-buka halamannya. Kemudian, tanpa mengangkat wajahnya, ia berkata dengan tenang, "Bagaimana hasil ujiannya?" Tristan menelan ludah dengan hati-hati dan menarik nafas dalam-dalam. "Parasitologinya lulus," jawabnya dengan nada yang datar. Rupanya Siegfried tidak mendengar, la menemukan sesuatu yang menarik dan mulai membaca lagi. Ia membacanya agak lama, kemudian menaruhnya kembali di atas rak. Ia mulai lagi sibuk mencari judul. Punggungnya masih membelakangi adiknya. Ia bertanya lagi dengan nada lembut, "Bagaimana patologinya?" Sekarang Tristan ada di pinggir kursinya, seolah-olah bersiap-siap akan lari. Matanya berganti-ganti memandang kakak dan rak buku. "Tidak lulus," jawabnya dengan dingin. Siegfried tak memperlihatkan reaksi. Dengan tekun ia mencari bukunya, kadang-kadang menarik sebuah, melihatnya sepintas, lalu mengembalikannya dengan hati-hati. Kemudian ia menghentikan pemburuannya, berbaring lagi di kursinya, tangannya tergantung bebas hingga akan menyentuh lantai dan memandang Tristan. "Jadi patologimu tidak lulus," katanya dengan datar. Aku sendiri heran, mengapa secara tidak sadar lalu memberikan komentar seperti orang hampir histeris. "Yah, kau mengerti itu cukup baik, karena ia menempuhnya di akhir tahun. Ia akan bisa menempuhnya lagi pada hari Natal. Itu takkan membuang-buang waktu, karena memang mata pelajaran itu sukar." Siegfried memandangku dengan dingin. "Jadi kau berpendapat itu cukup baik, bukan?" Ia diam lama, kemudian kesunyian ini berantakkan karena ia dengan tak terduga-duga memarahi adiknya dengan bertubi-tubi. "Menurut pendapat saya, tidak! Saya kira itu keterlaluan! Ini sungguh memalukan, itu soalnya. Apa yang kaukerjakan selama semester terakhir

http://inzomnia.wapka.mobi

ini? Minum-minum, mengejar-ngejar wanita, menghambur-hamburkan uang saya, mengerjakan apa saja kecuali belajar! Dan sekarang kau berani berjalan ke sini hanya untuk memberi tahu kalau tak lulus! Kau pemalas! Itulah soalnya! Anak keparat!" Tingkah laku Siegfried Farnon berubah sama sekali. Mukanya jadi merah kehitam-hitaman. Matanya berapi-api. Ia menghujan lagi hardikan yang sangat pedas. "Tapi kali ini aku sudah bosan! Aku muak melihatmu! Aku tak mau lagi bekerja memeras keringat untuk membiayai orang yang bermalas-malasan! Sampai disini saja! Kau bukan adikku lagi! Buka telingamu lebar-lebar, mulai detik ini juga kau bukan adikku lagi, tahu?! Oleh karena itu kau harus pergi dari sini! Pergi, dan jangan ke mari lagi! Ayo pergi! Cepat keluar!" Tristan yang sudah menahan hujan makian itu dengan tabah, pergi dengan tenang. Aku memandang Siegfried dan merasa malu. Ia sangat tegang karena marah. Kulit wajahnya berubah, jadi berbelang-belang hitam dan merah. Ia menggerutu dan mengomel, sambil memukul-mukulkan jarinya ke lengan kursi. Aku sangat terperanjat menyaksikan adegan ini, tapi merasa lega waktu Siegfried menyuruhku berangkat bertugas dan dapat meninggalkan kamar itu. Aku baru pulang waktu hari hampir malam. Aku masuk lewat jalan belakang ke halaman di kaki kebun. Bunyi pintu garasi mengejutkan burung-burung gagak di pohon elm, yang cabang-cabangnya tergantung di atas bangunan itu. Sayup-sayup di atas pohon terdengar kepakan sayap, dan suara burung, kemudian tak terdengar apa-apa lagi. Waktu aku berusaha mendengarkannya, aku melihat sosok tubuh manusia sedang berdiri di tempat gelap di depan pintu halaman, melihat ke bawah ke arah kebun. Ketika wajah itu berpaling, aku tahu, itu Tristan. Aku merasa malu lagi. Kedatanganku ke sini yang tak kusengaja telah mengganggu anak malang itu yang sedang merenungkan nasibnya sendirian. "Maaf, aku tak menduga sama sekali bahwa akan begini jadinya," kataku dengan canggung.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ujung rokok membara dengan terang, waktu Tristan menghisapnya dalam-dalam. "Tidak, tidak, tidak apa-apa. Bisa lebih buruk sebenarnya." "Lebih buruk? Ini sudah cukup buruk, bukan? Apa yang akan kaulakukan?" "Apa yang akan kulakukan? Apa maksudmu?" "Kau kan sudah diusir! Nanti malam kau akan tidur di mana?" "Nah, aku tahu sekarang. Kau tidak mengerti!" jawab Tristan. Ia mengambil rokoknya dari mulutnya dan aku melihat sekilas giginya yang sangat putih waktu tersenyum. "Kau tidak perlu sedih. Aku akan tidur di sini dan besok pagi aku akan turun untuk makan." "Tapi bagaimana kakakmu?" "Siegfried? Oh, besok dia sudah lupa!" "Kau yakin?" "Yakin sekali. Ia selalu mengusirku, kemudian lupa! Apa pun yang terjadi, akhirnya baik juga. Satu-satunya pembalasanku yang harus dia telan ialah tentang parasitologi." Aku memandang bayangan hitam di sampingku itu. Burung-burung gagak di pohon yang tinggi itu gemerisik mengatur bulunya, kemudian diam lagi. "Parasitologi?" "Ya. Kalau kau mau memperhatikan apa yang akan kukatakan. Semuanya pasti beres. Tak ada ke-cualinya!" "Lalu apa maksudmu......?" Tristan tertawa perlahan-lahan dan menepuk bahuku. BAB 7 SELIMUTKU kutarik rapat-rapat ke tubuhku waktu dering telepon melengking-lengking memenuhi seluruh rumah tua itu. Ini terjadi tiga minggu kemudian sesudah kedatangan Tristan, dan kehidupan di Rumah Skeldale berjalan seperti biasa, dengan teratur. Tiap hari selalu dimulai dengan dering telepon antara pukul tujuh dan delapan, setelah para petani memeriksa ternaknya. Di rumah itu hanya ada satu telepon. Telepon itu terletak di gang di tingkat bawah. Siegfried telah menegaskan kepadaku, bahwa aku tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

boleh turun dari tempat tidur hanya untuk melayani telepon tersebut. Siegfried telah menyerahkan mandat kepada Tristan. Tanggung jawab ini merupakan pendidikan baik baginya. Siegfried telah menekankan betapa pentingnya! Aku mendengarkan dering itu. Telepon itu berbunyi terus, makin lama makin keras. Tak terdengar suara atau gerak dari kamar Tristan. Dan aku menunggu adegan berikutnya dari drama harian ini. Yang terjadi biasanya pintu yang dibanting dengan keras dan Siegfried lari ke bawah menuruni tangga. Suaranya berdebum-debum karena ia melompati dua atau tiga anak tangga. Kemudian suasana sunyi lagi. Aku lalu dapat menggambarkan apa yang dialami Siegfried. Siegfried pasti kedinginan di gang. Karena gang itu banyak anginnya. Kakinya yang tak beralaskan sandal pasti beku, waktu mendengarkan ocehan petani, yang dengan santai melaporkan gejalagejala binatang piaraannya. Kemudian terdengar suara Siegfried meletakkan pesawat penerima dengan kasar, dan debam-debum kaki waktu Siegfried terburu-buru menyerbu kamar adiknya. Kemudian terdengar handel pintu diputar dan pintu terbuka, lalu diikuti ledakan-ledakan orang marah, yang bernada kemenangan. Artinya Tristan tertangkap basah, betul-betul basah kuyup. Suatu kemenangan gilang-gemilang bagi Siegfried! Sebab kemenangan seperti ini jarang terjadi. Biasanya, Tristan memperlihatkan kemahirannya mengenakan pakaian dengan cepat. Siasat ini mempunyai keuntungan psikologis. Ia sudah berpakaian lengkap sewaktu Siegfried masih memakai piyama. Tapi kali ini Tristan sedang sial. Waktu ia sedang berusaha mempergunakan detik-detik yang berharga, ia terbalut selimut. Aku mendengar bentakan Siegfried, "Mengapa kau tidak menjawab telepon seperti perintahku? Apakah kau sudah tuli? Kapan sifat malasmu itu kaubuang? Ayo bangun! Bangun, berdiri, keluar!" Tapi aku tahu. Biasanya Tristan akan segera melancarkan pembalasan. Jika ia tertangkap basah masih tidur, ia mengejar kekalahannya. Ia segera makan pagi dulu, sebelum kakaknya masuk ke dalam kamar makan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian, waktu Siegfried masuk, aku memperhatikan wajahnya. Tristan tampak sedang mengunyah roti panggangnya dengan lahapnya, sambil membaca majalah Daily Mirror, yang menyentuh-nyentuh gelas kopinya. Gayanya memamah biak seperti orang yang sedang sakit gigi! Semua itu menimbulkan suasana tegang. Aku merasa lega jika bisa mengumpulkan alat-alatku dan menyelinap berangkat ke tugas pagi hari itu. Aku menuruni gang yang sempit, yang penuh bau eter dan karbol, lalu keluar ke kebun yang dikelilingi tembok tinggi. Kebun itu menuju halaman tempat parkir mobilku. Tiap pagi terjadi hal yang sama. Namun rasanya, selalu terjadi hal yang tak terduga-duga. Jika aku melangkahkan kaki ke sinar matahari dan mencium harum bunga, aku merasa hal ini baru pertama kali kualami. Udara yang bersih ini mengandung kesegaran udara padang rumput di dekatnya. Setelah terbenam di kota selama lima tahun, rasanya sukar untuk menelan semua ini dengan sekali teguk. Aku tidak pernah tergesa-gesa di bagian ini. Mungkin ada kasus mendesak yang menunggu, tapi aku selalu setenang-tenangnya. Mulamula melalui bagian sempit di antara dinding yang tertutup tanaman menjalar dan cabang rumah yang memanjang. Di sini tumbuh pohon Wistaria yang ranting dan bunganya menjulur masuk ke dalam kamar. Kemudian dengan perlahan-lahan aku berjalan melalui kebun yang dihiasi batu-batu karang. Di sini kebun ini melebar jadi halaman rumput yang tidak dipangkas dan tak terpelihara. Namun menimbulkan kesejukan dan kelembutan pada batu-batu bata yang dimakan waktu. Di sekitarnya ada bunga-bunga berwarna menyala yang berlimpah-limpah dan tak teratur, berdesak-desakan dengan rumpun semak-semak. Aku sampai di taman bunga mawar. Kemudian ke taman asparagus, yang cabangnya gemuk-gemuk dan tumbuh jadi pohon yang tinggi. Lebih jauh ada pohon arbei dan tumbuhan frambus. Pohon buah-buahan terdapat di mana-mana, cabang-cabangnya terkulai rendah di atas jalan setapak. Buah persik, buah per, buah ceri, buah prem, bergantungan di atas tembok selatan, berebut tempat dengan bunga-bunga mawar yang tumbuh liar.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lebah sibuk bekerja di antara bunga-bunga dan kicau burung hitam dan murai berlomba dengan suara burung-burung gagak yang bertengger tinggi di puncak pohon elm. Hidupku penuh dengan kesibukan. Banyak sekali yang harus kuselidiki dan kubuktikan sendiri. Hari berjalan cepat' dan penuh tantangan, seolah-olah aku dijejali dengan hal-hal baru. Tapi semua itu berhenti di sini, di kebun ini. Rupanya semuanya telah lama berhenti di sini. Aku menengok ke belakang sebelum pintu yang menuju ke halaman. Rasanya seperti tiba-tiba berhadapan dengan sebuah gambar dalam buku. Kebun yang tak terpelihara dan kosong serta rumah di sebelah sana yang tinggi dan sunyi. Aku tak pernah bisa percaya, bahwa semua itu ada di sini, dan aku merupakan bagiannya. Aku penuh perasaan ini waktu masuk ke halaman. Halaman ini persegi empat, dialasi batu-batu bulat, yang sela-selanya ditumbuhi rumput tebal. Bangunan-bangunan terletak di kedua sisi. Dua garasi, dulu bekas kandang kereta, sebuah kandang kuda dan kamar pelana, petak terbuka dan kandang babi. Pada bagian tembok yang tak ada bangunannya ada pompa besi berkarat yang tergantung di atas bak air yang terbuat dari batu. Di atas kandang kuda ada loteng penyimpan jerami dan di atas salah satu garasi ada kandang merpati. Dan ada Boardman, pembantu yang sudah tua. Ia juga rupanya telah ditinggalkan oleh masa-masa jaya, berjalan keliling terpincang-pincang, karena kakinya" lumpuh sebelah, tak mengerjakan sesuatu yang penting. Ia mengucapkan selamat pagi dari kamarnya yang sempit, tempat menyimpan alat-alat dan peralatan kebun. Di atas kepalanya tergantung kenang-kenangan semasa perang. Sederet gambar kartun Bruce Bairnsfather. Ia memasang gambar itu waktu pulang pada tahun 1918. Gambar itu sudah berdebu dan tepinya melengkung, tapi masih bicara kepadanya tentang Kaiser Bill, lubang-lubang bom dan parit-parit berlumpur. Kadang-kadang Boardman mencuci mobil atau mengejarkan tugas-tugas ringan di kebun. Ia puas dengan gaji satu atau dua pound dan kembali ke

http://inzomnia.wapka.mobi

halamannya. Sebagian besar waktunya dihabiskannya untuk duduk di kamar sadel. Kadang-kadang ia memandang ke sekitarnya, kemudian ia akan menggosok-gosokkan tinjunya pada telapak tangannya. Ia kerap kali membicarakan masa-masa jaya kepadaku. "Saya dapat melihat dua orang dokter, yang berdiri di tangga teratas, menunggu keretanya. Dia bertubuh besar, dan tampak cerdas. Alius memakai topi tinggi dan jas panjang. Saya dapat mengingatnya waktu saya masih muda. Ia berdiri di situ, sambil menarik kaos tangannya dan memiringkan topinya sementara menunggu." Roman muka Boardman tampak melunak dan matanya bercahaya seolaholah ia berbicara kepada dirinya sendiri, dan tidak bicara kepadaku. "Waktu itu rumah tua ini berlainan. Ada seorang pengurus rumah tangga dan enam pembantu dan segala sesuatunya seperti itu. Dan ada tukang kebun yang bekerja sehari penuh. Tak ada sehelai rumput pun yang tidak ada pada tempatnya. Bunga-bunga berderet-deret dengan teratur, pohon-pohon dipangkas rapi. Dan halaman ini, adalah tempat kesayangan dokter tua itu. Ia akan datang dan menjenguk saya melalui pintu waktu saya sedang membersihkan pakaian kuda dan melewatkan waktu dengan tenang. Ia orang lelaki sejati tapi Anda tidak akan dapat menentangnya. Ada kotoran debu sedikit saja ia akan sangat marah. "Tapi setelah perang selesai, orang suka terburu-buru. Mereka tak mempedulikan akan kerapian lagi. Mereka tak punya waktu, dan sama sekali tak punya waktu." Ia lalu melihat sekitarnya dengan perasaan tidak percaya ke batu-batu bulat yang penuh ditumbuhi rumput, ke pintu-pintu garasi yang tergantung miring pada engselnya, ke kandang kosong dan ke pompa yang tidak pernah mengalirkan air. Ia selalu ramah terhadapku, dan gaya bicaranya seperti orang agak linglung. Tapi terhadap Siegfried seperti melangkah kembali ke wataknya yang dulu, bisa menguasai diri sepenuhnya dan berkata 'Sangat baik, Tuan,' dan berulang-ulang memberi hormat dengan satu jari. Dengan sikap itu seolah-olah ia teringat sesuatu - suatu kekuatan

http://inzomnia.wapka.mobi

dan kewibawaan dokter tua - dan menjangkau jauh ke masa lampau yang silam. "Selamat pagi, Boardman," kataku, waktu aku membuka pintu garasai. "Apa kabar?" "Oh, biasa, Nak, hanya biasa saja." Ia berjalan terpincang-pincang dan memperhatikan aku memegang handel stater. Dan mulailah tugasku sehari-hari berikutnya. Mobil yang diberikan kepadaku adalah mobil Austin, yang modelnya sudah hampir dilupakan orang dan salah satu tugas sukarela Boardman adalah menghidupkan mesin dengan tali, jika mobil tak mau distater. Tapi pagi ini, aku heran, mesinnya mau hidup sesudah batuk-batuk dan diputar enam kali. Waktu aku menjalankan mobil melalui sudut jalan sebelah belakang, seperti biasanya setiap pagi, aku punya perasaan bahwa memang dari sinilah semuanya mulai. Di luar sana masalah dan tekanan pekerjaanku menunggu dan pada saat itu memang banyak pekerjaan. Menurut perasaanku, aku datang di Dales pada saat yang sial. Setelah diterlantarkan selama satu generasi, para petani melihat ada nabi datang, dokter hewan baru yang mengagumkan, ialah Mr. Farnon. Ia tampak seperti bintang berekor, yang ingin melaksanakan ide-idenya yang baru. Ia cakap, bersemangat besar, menarik dan mereka menyambutnya seperti seorang gadis menyambut kekasihnya. Dan sekarang pada puncak bulan madunya, aku harus mencari jalan untuk melaksanakan idenya. Tapi malang, aku tidak diinginkan. Aku mulai biasa mendengar pertanyaan seperti ini: "Di mana Mr. Farnon?" - "Apakah dia sakit atau ada sesuatu?" - "Saya mengharapkan Mr. Farnon." Aku merasa sedikit berkecil hati bila melihat wajah mereka masam waktu melihat aku berjalan ke peternakan mereka. Biasanya mereka melihat ke mobilku dengan penuh harapan dan bahkan beberapa orang mendekati dan menjenguk ke dalam mobil untuk melihat apakah orang yang sangat mereka butuhkan sedang bersembunyi di dalamnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sungguh tugas yang berat memeriksa binatang tapi pemiliknya merasa kesal di belakang punggungku, karena mereka dengan seluruh hatinya menginginkan Farnon, bukan aku. Tapi harus diakui pula bahwa mereka jujur. Aku memang tidak mendapat sambutan hangat. Bila aku mulai mengemukakan pendapatku mengenai sebuah kasus, mereka terang-terangan mendengarkan dengan penuh kesangsian. Namun jika aku melepaskan jaketku dan mengerjakan tugasku dengan sungguh-sungguh, kesangsian mereka mulai mencair. Dan mereka suka menjamu orang. Meskipun mereka kecewa karena yang datang aku, bukan Farnon, namun mereka mempersilakan aku supaya singgah dan makan di rumahnya. "Silakan masuk dan makan dulu," adalah kalimat yang kudengar hampir setiap hari. Kadang-kadang aku dengan senang hati mau menerima ajakan itu dan makan bersama mereka. Suatu peristiwa yang dapat dijadikan kenangan. Kerap kali juga dengan diam-diam mereka meletakkan setengah losin telur atau setengah kilo mentega di dalam mobilku. Beberapa waktu aku akan berangkat pulang. Keakraban ini sudah jadi tradisi di Dales. Dan aku tahu, mereka tentu berbuat begitu juga kepada tamu-tamu lain. Ini menunjukkan adanya rasa persahabatan yang tersembunyi di balik wajah mereka yang tak mau tersenyum. Ini benar-benar menghiburku. Aku mulai mengenal dan menyukai kehidupan petani. Mereka adalah orang-orang yang tabah dan mempunyai filsafat yang baru bagiku. Jika ada bencana, yang bisa membuat orang kota putus asa dan membenturkan kepalanya'pada tembok, mereka hanya mengangkat bahu sambil berkata, "Ya, itu biasa. Memang harus terjadi begitu." Pada suatu hari, udara sangat panas. Aku membuka jendela mobilku lebar-lebar. Aku sedang dalam perjalanan untuk membuat tes tuberkulin. Rencana pemerintah mulai mendapat pengaruh di Dales. Dan petani-petani yang progresif minta tes survey. Ini bukan ternak sembarangan. Mr. Copfield's Galloway terkenal, karena mempunyai ternak yang liar. Aku telah diberitahu Siegfried tentang mereka. "Praktek yang paling sulit. Ada delapan puluh lima ekor dan tidak pernah diikat. Bahkan binatang-binatang itu belum pernah

http://inzomnia.wapka.mobi

disentuh oleh tangan manusia. Lembu-lembu itu hidup bebas di lerenglereng bukit, melahirkan dan membesarkan anaknya di luar kandang, dan jarang sekali didekati orang. Pendek kata, binatang-binatang itu masih liar." "Apa yang kaukerjakan, jika ada yang sakit?" tanyaku. "Minta bantuan Frank dan George, ialah anak Copfield. Sejak kecil, kedua pemuda itu telah dibesarkan di tengah-tengah kawanan lembu itu. Mereka mengurus anak lembu segera sesudah bisa berjalan. Kemudian mereka mengurus lembu yang besar. Keluarga Copfield seulet keluarga Galloways." Peternakan Copfield terletak di daerah yang tandus. Tempat penggembalaannya hanya ditumbuhi rumput sedikit. Padang rumput ini merayap ke atas ke daerah yang gundul, dan hanya ditumbuhi pepohonan di sana-sini. Oleh karena itu dengan mudah dapat dimengerti, mengapa Copfield memilih lembu yang tabah, dan bukan lembu setempat yang bertanduk pendek. Tapi pagi ini, daerah perumput-an yang tandus itu mendapat sinar matahari yang lembut, dan ketenangan menyelimuti padang rumput yang sangat luas ini, yang berwarna hijau dan berbecakbecak coklat. Frank dan George tidak seperti yang kubayangkan semula. Kukira mereka berkulit putih dan gemuk, ternyata berkulit hitam dan kurus. Keduanya tabah dalam membantuku menjalankan tugas sehari-hari. Otot-ototnya seperti sudah keriput. Tapi anak-anak Copfield lain, rambutnya keemasan dan kulit tubuhnya licin. Mereka tampan, dan masih sebaya denganku. Lehernya padat. Kepalanya tampak kecil, karena bahunya lebar. Tubuhnya pendek. Tapi jika lengan bajunya digulung ke atas, mereka tampak hebat, karena lengannya kuat seperti lengan jago gulat. Kakinya besar, dan selalu memakai celana kasar dan sandal kayu. Kawanan lembu itu telah dikumpulkan ke dalam gedung dan hampir memenuhi tempat yang tersedia. Jumlahnya kira-kira dua puluh ekor, dan ditaruh di sebuah gang yang panjang. Kepalanya tersembul di atas jeruji, dan tubuhnya mengeluarkan uap. Yang dua puluh ekor

http://inzomnia.wapka.mobi

ditempatkan di kandang tua. Lebih dari dua puluh lima ekor lagi berdesak-desakan di petak-petak besar yang terbuka. Lembu-lembu itu berwarna hitam dan belum jinak. Waktu aku memandangnya, mereka membalas pandanganku. Matanya merah berkilauan di antara rambut kepalanya yang kasar, yang menutupi mukanya. Ekornya dikibas-kibaskan dengan keras, untuk memperlihatkan kemarahan dan ancamannya. Tidak akan mudah memberikan injeksi intradermal kepada masingmasing lembu. Aku berpaling kepada Frank. "Kau bisa menangkap tuan-tuan besar itu?" tanyaku. "Akan saya coba," jawabnya dengan tenang, sambil melemparkan kain penutup dada ke atas bahunya. Sebelum memanjat masuk ke dalam gang, tempat lembu besar berdesakan, ia dan adiknya menyulut rokok. Aku mengikutinya, dan segera terbukti, bahwa ceritera-ceritera yang kudengar tentang lembu Galloways tidak dilebih-lebihkan. Jika kau mendekatinya dari depan, lembu itu menyerang dengan kepalanya yang berjumbai. Jika aku mendekati dari belakang, binatang itu menyepakkan kakinya sebagai peringatan. Tapi aku kagum melihat ketangkasan Frank dan George. Mereka menjatuhkan kain penutup dada ke atas kepala lembu. Kemudian mereka memasukkan jari tangannya ke dalam hidung lembu. Tentu saja lembu itu meronta-ronta ingin terlepas dari kain. Frank dan George diayunkan ke sana ke mari seperti boneka, tapi tak mau melepaskan kepala lembu. Kepala Frank dan George yang tampan itu, tampak aneh waktu muncul di antara punggung-punggung lembu yang berwarna hitam. Dan yang mengherankan, meskipun diayunkan ke sana ke mari dengan kasar, rokoknya tidak pernah terlepas dari mulutnya. Makin lama suhu dalam gedung itu makin panas seperti dalam tungku. Dan lembu itu, karena perutnya penuh rumput yang sangat lumat, menyemprotkan tahi coklat kehijau-hijauan seperti pancuran. Aku merasa seperti sedang menonton pertandingan gulat, sambil memberi semangat kepada pemain kesayanganku, "Nah, dia kena, Frank! Jangan menyerah George!" Dalam keadaan terjepit, kedua kakak-

http://inzomnia.wapka.mobi

beradik itu memaki perlahan-lahan dan tidak marah, "Singkirkan kakinya, ke sana sedikit." Jika wajahku kena cambuk ekor lembu yang basah kuyup, mereka tertawa terbahak-bahak, penuh penghargaan terhadap jerih payahku. Selingan yang juga menggembirakan ialah jika aku sedang mengisi suntikan, dengan mengangkat tangan ke atas, seekor sapi jantan yang ketakutan kain, membenturkan pantatnya yang keras ke perutku. Aku lalu terbatuk-batuk, dan lembu itu ingin berputar di gang sempit. Maka aku lalu tergencet seperti lalat terhimpit papan. Mataku terasa seperti akan keluar, waktu lembu itu memutar tubuhnya dengan paksa. Aku tidak tahu, apakah suara benda retak itu berasal dari tulang rusukku atau dari kayu di belakangku. Yang terakhir adalah menyuntik anak-anak lembu yang terkecil. Ini hampir sama sulitnya dengan menyuntik lembu-lembu dewasa. Lembulembu kecil yang berbulu kusut ini melawan, menyepak, melompat ke atas, dan lari di antara kakiku, bahkan meluncur dengan cepat ke arah tembok. Kerap kali Frank dan George harus menerkamnya, seperti harimau menerkam kambing, dan menindihnya ke lantai, supaya dapat kusuntik. Waktu merasa tertusuk jarum, anak lembu itu melengking keras sekali. Di luar, induknya dengan cemas menjawabnya, dengan melenguh bersama-sama. Waktu aku terhuyung-huyung keluar dari bangunan itu, sudah tengah hari. Rasanya sudah satu bulan di dalam gedung itu, karena panasnya yang menyesakkan dada, karena gaduhnya yang terus-menerus, dan karena berondongan tahinya. Frank dan George mengambil ember berisi air, sikat, lalu membersihkan tangan dan kakiku. Kemudian aku pulang. Satu mil dari peternakan itu, aku berbelok memasuki jalan yang tak berpagar, keluar dari mobil, dan menjatuhkan diri di lereng bukit yang sejuk. Sambil membentangkan lenganku lebar-lebar, aku menggerak-gerakkan bahu dan bajuku yang basah kuyup oleh keringat, lalu berbaring ke atas rumput yang kasar, dan membiarkan tubuhku ditiup angin sepoi-sepoi yang lembut. Dengan menentang sinar matahari dan sambil memicingkan mata, aku memandang langit yang berwarna kebiru-biruan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tulang rusukku terasa sakit dan aku dapat merasakan luka memar pada kaki, bekas sepakan-sepak-an lembu. Aku tahu, bauku tak sedap. Aku menutup mataku dan tersenyum geli, waktu teringat mengapa aku mengadakan pemeriksaan diagnostik untuk tuberkulose. Suatu cara yang aneh untuk melakukan prosedur ilmiah. Dan sesungguhnya, suatu cara yang aneh untuk mencari nafkah. Tapi kemudian terlintas dalam pikiranku. Mungkin juga aku sedang duduk di sebuah kantor dengan jendela-jendela yang tertutup rapat, jauh dari asap lampu minyak dan kegaduhan lalu lintas. Sinar lampu itu menerangi sederetan angka, dan topiku yang bundar tergantung di tembok. Dengan malas aku membuka mataku kembali dan memandang ke arah bayangan awan yang merayap di lereng bukit hijau menyeberangi lembah. Tidak, tidak! Aku tidak mengeluh! BAB 8 WAKTU mobilku berderak-derak di jalan di tengah-tengah padang, untuk menjalankan tugasku, aku tidak merasa bahwa beberapa minggu telah lewat. Daerah itu mulai jelas bagiku. Orang-orang mulai terasa sebagai pribadi. Hampir tiap hari ban mobilku bocor. Karet ban itu telah habis, yang tampak tinggal kanvasnya. Aku heran, bahwa mobil itu masih bisa meluncur ke mana-mana. Yang masih tampak agak baru hanyalah 'pelindung sinar matahari' yang sudah karatan. Jika ditarik ke belakang, bunyinya berdecit-decit menyedihkan. Tapi pada umumnya kubuka terus bersama semua jendela. Dan aku mengemudikan mobil hanya dengan mengenakan baju berlengan, sambil menikmati hembusan angin yang nyaman. Pada waktu hujan, menutup pelindung itu hampir tidak ada gunanya, karena air hujan masuk melalui sambungannya, menggenang di atas pangkuanku dan tempat duduk. Makin lama aku makin tangkas menghindari genangan-genangan air di sepanjang jalan. Menerobos secara membabi buta adalah keliru, karena air berlumpur itu menyembur ke atas melalui celah-celah lantai mobil.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi waktu itu musim panas. Karena berhari-hari aku kena sinar matahari, kulit tubuhku dapat menandingi warna kulit petani yang kecoklat-coklat-an. Bahkan menambal ban di jalan-jalan tak berpagar di dataran tinggi, tak merupakan siksaan lagi. Karena angin menghembuskan harum bunga dan bau pepohonan dari lembah-lembah, dan burung-burung melayang-layang berputar-putar menemaniku. Kecuali itu, aku punya alasan untuk keluar dari mobil dan duduk di atas rumput yang segar dan kering, sambil menikmati pemandangan yang luas di atas Yorkshire. Benar-benar seperti memanfaatkan waktu. Waktu untuk melihat perspektif hidupku dan untuk menilai kemajuanku. Semuanya serba berlainan, hingga membingungkan. Dulu, selama bertahun-tahun, aku hidup di antara jalan-jalan kota. Sekarang aku hidup di daerah pegunungan, bebas dari ulangan, ujian, dan kuliah; punya tugas sehari-hari besar tantangan-tantangannya. Dan kemudian majikanku. Siegfried Farnon menjalankan tugasnya dengan semangat besar. Ia bekerja dari fajar hingga malam. Aku kerap kali bertanya dalam hati, apakah yang mendorongnya. Jelas bukan uang, karena ia tampak acuh tak acuh terhadap uang. Jika jerih payahnya dibayar, uang itu segera dilemparkan ke dalam jambangan di atas rak. Jika membutuhkannya, ia mengambilnya segenggam. Aku tidak pernah melihat dia membawa dompet. Tapi sakunya menggembung penuh mata uang perak dan uang kertas yang kusut. Jika ia mengambil termometer, uang itu jatuh berhamburan. Setelah bekerja terburu-buru selama satu atau dua minggu, kemudian Farnon menghilang. Mungkin selama petang hari, mungkin satu malam, dan kerap kali tanpa mengatakan ke mana perginya. Bu Hall lalu menyiapkan makan untuk dua orang. Tapi jika melihat aku makan sendirian, ia lalu menyingkirkan makan itu tanpa komentar. Tiap pagi Siegfried Farnon membaca daftar petani yang harus dikunjungi dengan begitu tergesa-gesa, sehingga aku kerap kali disuruh ke rumah petani yang keliru, atau mengerjakan hal yang salah. Kalau aku

http://inzomnia.wapka.mobi

kemudian menceriterakan betapa maluku, ia hanya tertawa terbahakbahak. Pada suatu ketika, dia mengalaminya sendiri. Aku baru saja mendapat panggilan dari orang yang bernama Mr. Heaton di desa Bronsett, tentang pemeriksaan domba mati. "Kau harus ikut, James," kata Siegfried." Pagi ini Semua masih serba tenang. Aku yakin mereka akan memberi pelajaran tentang cara memeriksa mayat. Aku ingin melihat kau beraksi." Kami naik mobil pergi ke desa Bronsett dan Siegfried tiba-tiba membanting setir ke kiri masuk sebuah pintu gerbang. "Mau ke mana kau?" tanyaku. "Rumah Heaton kan di ujung desa!" "Tapi tadi kau berkata Seaton!" "Tidak! Aku tak berkata begitu!" "Ingat, James, waktu kau bicara dengan orang itu, aku tepat ada di sampingmu! Dengan jelas aku mendengar, kau menyebut namanya!" Aku membuka mulutku. Maksudku untuk melanjutkan perdebatan ini. Tapi mobil meluncur dengan cepat dan Siegfried mengetatkan mulutnya. Dia kubiarkan membuktikannya sendiri. Kami tiba di luar rumah petani. Mobil dihentikan mendadak, diikuti bunyi rem yang menjerit. Siegfried bangkit dari tempat duduknya, dan mencari-cari di dalam sepatu botnya, sebelum mobil berhenti bergetar. "Sialan!" teriaknya. "Pisauku ketinggalan! Tapi, tak apa. Aku mau pinjam saja!" Ia membuka pintu mobil dengan kasar dan terburu-buru ke pintu rumah petani. Isteri petani keluar, dan wajah Siegfried berseri-seri. "Selamat pagi, Mrs. Seaton. Apakah Ibu punya pisau tajam?" Ibu itu mengangkat alis matanya. "Apa? Bapak tadi mengatakan apa?" "Pisau tajam, Mrs. Seaton! Pisau pahat yang tajam!" "Bapak membutuhkan pisau tajam?" "Ya, betul, pisau tajam!" teriak Siegfried. Kesabarannya mulai habis. "Dan harap agak cepat. Saya tergesa-gesa!" Ibu yang kebingungan itu menghilang ke dalam dapur. Aku mendengar dia berbisik-bisik dan menggerutu. Berganti-ganti kepala anak-anak

http://inzomnia.wapka.mobi

tersembul, karena ingin melihat sepintas tampang Siegfried, yang sedang kesal menghentak-hentakkan kakinya di depan pintu. Beberapa saat kemudian, salah satu anak perempuannya maju ke depan dengan takut-takut, sambil mengulurkan sebuah pisau panjang yang menyeramkan tampaknya. Siegfried merebutnya dan memeriksa dengan ibu jarinya, berapa tajam pisau itu. "Ini kurang tajam!" teriaknya dengan jengkel. "Apakah kau tidak tahu? Aku membutuhkan pisau yang betul-betul tajam! Ambilkan pisau dan baja!" Anak itu lari kembali ke dapur dan terdengar gerutu beberapa suara. Setelah agak lama, ada anak perempuan lain muncul ke pintu. Ia maju perlahan-lahan ke arah Siegfried dan memberikan pisau dan baja sepanjang lengannya, kemudian lari menyelamatkan diri. Siegfried membanggakan diri karena merasa pandai mengasah pisau. Itu memang kegemarannya. Waktu mengasah pisau di atas baja, ia berbicara dengan semangat tentang pekerjaannya, dan akhirnya menyanyi keras-keras. Tak terdengar suara dari dalam dapur. Hanya suara pisau berdencing-dencing karena digosok-gosokkan pada baja, dan diiringi nyanyian yang tak ada lagunya. Setiap kali ia memeriksa pisau itu, sudah tajam atau belum, suasana jadi sunyi senyap. Kemudian terdengar suara pisau diasah lagi. Setelah selesai mengasah pisau ia merasa puas dan menjenguk ke dalam rumah. "Di mana suami Ibu?" teriaknya. Karena tak ada jawaban, ia masuk ke dalam dapur. Pisaunya berkilatkilat di depan dadanya. Aku mengikutinya dan melihat Mrs. Seaton dan anak-anaknya gemetar di sebuah sudut, sambil memandang Siegfried. Matanya terbelalak ketakutan. Siegfried mengayunkan pisaunya ke arah mereka. "Nah, sekarang bisa segera dimulai!" "Dimulai apa?" bisik ibu itu, sambil memeluk anak-anaknya. "Saya ingin memeriksa domba yang mati. Ibu punya domba mati, bukan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Pertanyaan itu lalu diikuti penjelasan dan permintaan maaf. Kemudian Siegfried memprotesku dengan keras, karena aku memberikan alamat yang salah. "Lain kali kau harus lebih hati-hati, James!" katanya dengan serius. "Kejadian seperti itu memberi kesan sangat buruk!" Dalam hidupku yang baru, hal lain yang menarik hati adalah lalu lintas wanita yang dengan teratur mengunjungi Rumah Skeldale. Mereka semua dari kalangan tinggi, kebanyakan cantik, dan punya kepentingan yang sama, ialah ingin tahu. Mereka datang untuk minum-minum, untuk minum teh, untuk makan, tapi alasan sebenarnya untuk memandang wajah Siegfried. Mereka seperti pelancong di padang pasir yang kehausan dan ingin melihat oase. Aku merasa harga diriku diinjak-injak, bila mata mereka lewat begitu saja, tanpa melihat dan mengacuhkan diriku dan memandang Siegfried seperti harimau kelaparan. Aku tidak cemburu, tapi aku kehabisan akal. Dengan diam-diam aku mulai menyelidiki Siegfried, apakah rahasia daya tariknya. Jaket yang tergantung pada bahunya yang kurus, sudah lusuh. Kerah bajunya sudah kelihatan benang-benangnya yang terlepas. Dasinya tak ber-bentuk lagi. Jika melihat ini semua, aku berkesimpulan, bahwa rahasia daya tariknya tak terletak pada pakaiannya. Memang ada yang menarik perhatian, ialah wajahnya yang panjang dan bertulang. Matanya biru penuh humor. Tapi pada umumnya pipinya begitu kurus dan cekung, sehingga aku heran, apakah dia tidak sakit. Di antara wanita yang antri itu, aku kerap kali melihat Diana Brompton. Tiap kali melihatnya, aku merasa seperti harus berjuang keras melawan diriku, jangan sampai aku menjatuhkan diri dan merangkak ke bawah sofa. Di waktu sore Diana tidak mudah dilihat, karena kecantikannya, rambut dan kulitnya serba kuning. Ia terpesona memandang Siegfried, mendengarkan apa yang dikatakannya, dan tertawa terkekeh-kekeh seperti anak SD. Kerap kali semangatku jadi beku, jika membayangkan mungkin Siegfried akan memilih Diana dari deretan wanita itu dan mengawininya. Pikiran itu

http://inzomnia.wapka.mobi

menggelisahkan hatiku, karena aku tahu, bahwa aku harus segera meninggalkan Darrowby. Padahal aku sudah mulai kerasan. Tapi tak ada tanda yang menunjukkan bahwa Siegfried akan memilih salah satu dari mereka. Dan pawai wanita itu berjalan terus dengan penuh harapan. Akhirnya aku merasa biasa saja dan tak gelisah lagi. Aku juga tak heran lagi, jika tingkah laku Siegfried tiba-tiba berubah. Pada suatu pagi, Siegfried turun, karena ingin makan pagi. Dengan lesu ia menggosok-gosok matanya yang masih merah. "Pukul 4 pagi harus keluar!" keluhnya. Dengan acuh tak acuh, ia melumasi roti panggangnya dengan mentega. "Sebetulnya aku tak suka mengatakannya, James. Tapi semua ini kesalahanmu!" "Kesalahanku?" tanyaku, terkejut. "Ya, betul, kesalahanmu! Ini tentang lembu yang sakit perut itu. Selama berhari-hari pemiliknya telah mengobatinya sendiri. Pada suatu hari lembu itu diobati minyak setengah, liter. Hari berikutnya bikarb sedikit dan jahe. Dan pukul empat pagi ia memutuskan untuk memanggil dokter hewan. Waktu kutegaskan bahwa dia dapat menunggu beberapa jam lagi, ia menjawab, 'Maaf Mr. Farnon, menurut Mr. Herriot, saya tak perlu ragu-ragu menelepon Anda. Katanya, Anda akan keluar setiap saat baik siang maupun malam'." Ia mengetuk-ngetuk ujung telor yang dipegangnya, seolah-olah hal ini terlalu berat baginya. "Yah, memang baik jadi orang penuh kesadaran. Tapi jika petani itu bisa menunggu beberapa hari, mengapa dia tak bisa menunggu hingga matahari terbit. Kau memanjakan orang ini, James! Dan saya yang kena getahnya! Saya sudah muak dan bosan bangun pagi hanya karena soal sepele!" "Aku minta maaf sebesar-besarnya, Siegfried! Aku sungguh tidak sengaja menjebakmu. Mungkin ini disebabkan karena aku belum berpengalaman. Jika aku tidak berangkat, mungkin aku akan menyesal karena binatang itu mati. Jika aku menundanya hingga matahari terbit dan lembu itu mati, bagaimana perasaanku?" "Itu betul," jawab Siegfried. "Memang satu-satunya hal yang paling menyedihkan petani, jika ternaknya mati. Sesudah ternaknya mati,

http://inzomnia.wapka.mobi

mereka baru sadar, lalu bila ternak lainnya sakit, mereka segera memanggil dokter." Aku menelan kuliah ini dan bermaksud melaksanakannya. Seminggu kemudian, Siegfried memanggilku. "James, saya tahu, kau tidak akan berkeberatan jika saya mengatakan ini. Sumner tua hari ini mengeluh. Katanya, ia meneleponmu beberapa malam yang lalu, tapi kau tak mau datang untuk memeriksa lembunya. Kau tahu, ia langganan yang baik, dan orang yang menyenangkan. Tapi ia mudah marah. Saya tidak ingin kehilangan langganan seperti itu." "Tapi itu hanya radang puting yang kronis," jawabku. "Susunya sedikit mengental. Hanya itu. Dan telah diobati sendiri selama satu minggu, dengan obat yang dibeli dari tukang obat. Selera makan lembu itu masih baik. Oleh karena itu, menurut pendapat saya, bisa saya tunda hingga hari berikutnya." Siegfried memegang bahuku. Dari wajahnya tampak, bahwa dia berusaha keras untuk bersikap sabar. Aku berusaha menahan diri. Aku tidak menghiraukan kejengkelannya. Aku sudah biasa menghadapi kekesalan hatinya. Tapi kesabaran yang dipaksakan seperti itu sukar kuterima. "James," katanya dengan suara lembut, "dalam pekerjaan kita ada pedoman yang fundamental yang mengatasi segala tugas yang lain, ialah KAU HARUS SELALU SIAP. Kata-kata ini harus kaupahat di dalam jiwamu, dengan huruf-huruf yang terbuat dari api." Ia menggoyanggoyangkan telunjuknya. "KAU HARUS SELALU SIAP! Camkan kata-kata itu, James! Itu dasar segala-galanya. Bagaimanapun keadaannya, apakah cuaca baik atau buruk, apakah siang atau malam, kalau ada langganan memanggil, kau harus berangkat. Dan berangkatlah dengan gembira! Tadi kaukatakan, kasus itu tidak mendesak. Padahal kau hanya diberitahu oleh pemiliknya. Dan orang itu tak punya wewenang untuk memutuskan, apakah kasus itu mendesak atau tidak. Tidak, James, aku harus berangkat! Bahkan meskipun mereka telah mengobatinya sendiri. Sebab hal itu mungkin malah berakibat buruk. Dan jangan lupa,"

http://inzomnia.wapka.mobi

katanya, sambil mengayun-ayunkan jarinya dengan serius, "ternak itu bisa mati." "Tapi seingat saya, seminggu yang lalu kau berkata, bahwa ternak mati menyadarkan petani!" bantahku. "Apa katamu?" salak Siegfried karena sangat terkejut. "Jangan ambil pusing kata-kata itu. Lupakan saja. Tapi ingat: KAU HARUS SELALU SIAP!" Kadang-kadang dia memberi nasihat bagaimana aku harus menghadapi kesulitan hidup. Seperti misalnya jika ia melihatku sedang duduk membungkuk di atas telepon yang baru saja kuletakkan dengan kasar. Aku sedang memandang tembok, sambil memaki-maki diriku dengan suara tidak begitu keras. Siegfried tersenyum dengan aneh. "Ada apa, James?" "Sepuluh menit yang lalu aku merasa jengkel terhadap Rolston. Anakanak lembunya terserang radang paru-paru. Aku berjam-jam sibuk menyuntiknya dengan obat-obat mahal. Akibatnya tak ada yang mati. Sekarang dia mengeluh tentang ongkosnya dan tidak mau mengucapkan terima kasih sedikit pun! Brengsek! Tak mau menghargai jerih payahku!" Siegfried menghampiriku dan memeluk bahuku. Ia berusaha keras bersikap sabar. "James," lenguhnya. "Coba lihat dirimu sendiri. Wajahmu merah dan tegang. Kau tidak boleh jengkel seperti itu. Kau harus berusaha hidup dengan santai. Mengapa banyak orang penting sakit jantung dan menderita borok usus? Menurut pendapatmu karena apa? Karena mereka menghadapi soal-soal kecil dengan tegang, seperti kau sekarang. Ya, ya, ya aku tahu, ini menjengkelkan. Tapi itu harus kauhadapi dengan tenang. Tenang, James, tenang! Tak ada gunanya menegangkan urat saraf. Seratus tahun lagi keadaannya akan tetap begitu!" Ia berkhotbah dengan tersenyum ramah, sambil menepuk-nepuk bahuku supaya aku mau menerima nasihatnya, seperti dokter jiwa yang sedang membujuk-bujuk pasiennya yang buas. Beberapa hari kemudian aku sedang menulis etiket pada botol obat merah. Tiba-tiba Siegfried masuk ke dalam kamar, seperti orang yang

http://inzomnia.wapka.mobi

baru saja terpelanting dari kendaraan. Rupanya pintu kamar ditendangnya, sebab pintu itu terbuka dengan keras dan melanting kembali hampir menghantam kepalanya. Ia terburu-buru ke tempat dudukku, lalu memukul meja dengan keras. Matanya berapi-api dengan buas, dan wajahnya merah padam. "Saya baru dari rumah Holt si keparat itu!" teriaknya. "Maksudmu Ned Holt?" "Ya, betul, si bangsat itu!" Aku heran. Mr. Holt adalah orang bertubuh pendek yang membuat jalan raya untuk dewan daerah. Ia memelihara empat ekor lembu sebagai kerja sambilan, dan sudah terkenal tidak pernah mau membayar dokter hewan. Tapi dia orang yang selalu gembira. Dan selama bertahun-tahun Siegfried dengan sukarela mau mengobati lembu-lembunya. "Dia langganan kesayanganmu, bukan?!" tanyaku. "Ya, dulu!" jawabnya cepat. "Aku baru saja mengobati lembu Muriel. Kau tahu, lembu merah yang kedua dari kandang paling ujung. Telinganya kambuh tympany. Tiap malam, jika pulang dari ladang dan tertiup angin dengan keras, telinganya keluar air. Sudah saya obati dengan berbagai cara. Tapi tak ada hasilnya. Kemudian, saya ingat, mungkin itu actinobacillosis reticulum. Lembu itu kusuntik dengan sodium iodide, ke dalam vena. Waktu aku memeriksanya hari ini, hasilnya luar biasa. Lembu itu berdiri, sambil mengunyah rumput. Nafsu makannya sangat besar. Saya baru saja akan menepuk-nepuk dada karena diagnosa saya jitu. Tiba-tiba Holt mengatakan, lembu itu hari ini sembuh, karena tadi malam ia beri garam Inggris seperempat kilo dan bubur kulit padi! Itulah yang menyembuhkannya, bukan jerih payah saya!" Siegfried mengambil beberapa bungkus rokok yang telah kosong dan beberapa botol. Benda-benda itu dibantingnya dengan kejam ke dalam keranjang sampah. Ia lalu berteriak lagi. "Kau tahu, dua minggu lebih saya pusing dan gelisah memikirkan lembu itu, bahkan sampai muncul dalam mimpi. Setelah saya menemukan sebab penyakitnya, dan menggunakan obat paling mo-deren, lembu itu sembuh.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dan apa yang terjadi? Apakah pemiliknya mengucapkan terima kasih atas Keakhlian saya? Apakah dia tidak...... brengsek?! Semua pujian ditumpahkannya pada garam Inggris seperempat kilo itu! Dan jerih payah saya tak dihargai sama sekali!" Sekali lagi ia menghantam meja sekeras-kerasnya. "Tapi ia ketakutan, James!" sambungnya. Matanya terbelalak. "Betul, James, dia ketakutan sekali! Waktu dia menyebut-nyebut garam sialan itu, dia saya bentak 'Kau setan!' dan dia saya pegang erat-erat. Bahkan dia akan saya cekik lehernya, tapi dia lari secepat kilat ke dalam rumah dan tak muncul-muncul lagi!" Siegfried membantingkan dirinya ke atas kursi, dan mengaduk-aduk rambutnya. "Garam Inggris!" keluhnya. "Oh, Tuhan! Garam itu menyebabkan saya putus asa!" Aku bermaksud mengingatkan dia, supaya hidup santai sesuai dengan nasihatnya, bahwa hal semacam itu akan tetap berlangsung selama seratus tahun lagi. Tapi dia masih memegang botol serum yang kosong. Aku takut kalau botol itu dilemparkan ke kepalaku. Oleh karena itu, aku membatalkan niatku. *** Kemudian datang waktunya Siegfried memutuskan akan memperbaiki mobilku. Mobil itu tiap hari menghabiskan oli satu liter. Tapi menurut pendapatnya, ini hal biasa saja. Waktu sehari menghabiskan oli setengah galon, ia baru merasa bahwa harus bertindak. Mungkin yang menyebabkan dia lalu mengambil tindakan, laporan seorang petani. Pada suatu hari, pada hari pasaran, seorang petani berkata kepada Siegfried, bahwa dia selalu tahu, bahwa akan ada dokter hewan datang. Sebabnya, dari jarak berpuluh kilometer, ia telah melihat asap mobilnya. Waktu mobil Austin kecil itu kembali dari bengkel, Siegfried mondarmandir seperti ayam mau ber-telor. "Ke sini, James!" teriaknya. "Saya ingin bicara!" Aku melihat wajahnya lagi yang menahan kejengkelan. Dan aku bersiapsiap untuk mempertahankan diri.

http://inzomnia.wapka.mobi

"James," katanya, sambil mondar-mandir sekeliling mobil reyot itu dan menghapus kotoran pada cat mobil. "Kau melihat mobil ini?" Aku menganggukkan kepala. "Ingat, James, mobil ini baru saja diperbaiki, dan ongkosnya sangat mahal. Dan itulah yang ingin saya bicarakan denganmu. Kau sekarang memiliki mobil yang boleh dikatakan masih baru," katanya, sambil membuka tutup mesin dengan susah payah. Tutup mesin itu terbuka dengan bunyi berderak dan diikuti hujan kotoran dan debu karat. Ia menunjuk ke arah mesin yang berwarna hitam dan berminyak. Mesin itu penuh dengan kabel simpang siur dan pipa-pipa karet yang berantakan. "Mesin ini masih bagus dan aku ingin supaya kau memperlakukannya dengan sopan. Aku sering melihatmu melarikan mobil ini seperti orang gila. Itu tidak boleh. Kau harus menjaga mesin ini selama belum mencapai dua atau tiga ribu kilometer. Empat puluh kilo satu jam itu sudah cukup berat. Saya kira itu suatu kejahatan, jika ada orang menyalahgunakan mesin baru. Orang itu harus dimasukkan ke dalam sel. Oleh karena itu, ingat, James, jangan ngebut! Awas, kalau sampai saya tahu!" Ia menutup kembali tutup mesin itu dengan hati-hati, dan menggosokgosok kaca depannya yang retak-retak dengan ujung lengan bajunya, lalu pergi. Kata-kata keras itu membekas dalam-dalam di hatiku, hingga tiap hari aku terpaksa menjalankan mobil ke tempat tugas dengan perlahan-lahan hampir secepat orang berjalan kaki. Pada suatu malam, aku baru akan pergi tidur. Tiba-tiba Siegfried masuk. Dia membawa dua orang petani, yang kedua-duanya tersenyum kecut. Bau bir yang keras memenuhi seluruh ruangan. Siegfried bicara dengan penuh wibawa, dan mengucapkan kata-katanya dengan jelas. "James, sore tadi saya bertemu dengan bapak-bapak ini di warung Banteng Hitam. Kami bertiga baru saja main domino dengan gembira sekali. Tapi malang, bapak-bapak ini ketinggalan bis yang terakhir. Tolong keluarkan mobil dari garasi dan bapak-bapak ini akan saya antar pulang."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku mengambil mobil dan kuhentikan di depan rumah. Kedua petani itu berdesakan masuk. Satu di depan, satu di belakang. Aku menyaksikan Siegfried yang masuk ke dalam mobil sambil membungkuk. Ia duduk di belakang kemudi. Gerak-geriknya agak terhuyung-huyung. Sedang aku duduk di kursi belakang. Kedua orang itu tinggal di daerah pertanian sebelah utara. Lima kilometer dari kota. Kami meninggalkan jalan raya dan dari lampu mobil aku dapat melihat jalan berliku-liku di lereng bukit yang gelap. Siegfried terburu-buru. Kakinya menekan pedal gas. Suara mesinnya meraung-raung seperti binatang yang sedang disiksa. Dan mobil itu meluncur ke dalam kegelapan. Sambil berpegangan erat-erat, aku menjulurkan badanku ke depan supaya aku dapat berteriak ke telinga Siegfried. "Ingat, mobil ini baru saja diperbaiki!" Suaraku mengatasi deru mobil. Siegfried menengok ke belakang mobil tersenyum gembira. "Ya, ya, ya, aku ingat, James! Apa yang kauributkan?" Waktu dia menjawab, mobil melesat di atas jalan kemudian meronta-ronta di atas rumput dengan kecepatan tujuh puluh lima kilometer per jam. Kami semua terbantingbanting seperti gabus sampai mobil itu kembali meluncur di atas jalan lagi. Tanpa menghiraukan itu semua Siegfried tetap mempertahankan kecepatan mobil itu. Kedua petani itu tidak dapat tersenyum konyol lagi dan duduk sambil berpegangan erat-erat, tanpa komentar sepatah kata pun. Setelah muatannya dibongkar di sebuah rumah yang sunyi, mobil itu lalu mengadakan perjalanan pulang. Karena jalannya turun, Siegfried dapat ngebut lebih cepat. Mobil itu melompat-lompat dan terbanting-banting di atas permukaan yang tak datar. Mesinnya melengking-lingking seperti ringkik kuda. Beberapa kali mobil itu terpelanting ke luar jalan, tapi untunglah kami sampai di rumah. Sebulan kemudian Siegfried memanggilku dan melemparkan kata-kata ini, "James," katanya dengan sedih, "kau memang anak cerdas, tapi minta ampun, kau kejam terhadap mobil! Lihat mobil ini. Mobil ini baru saja diperbaiki beberapa minggu yang lalu. Tapi sekarang keadaannya

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah tidak memuaskan sama sekali. Lihatlah sendiri, mobil ini menghabiskan oli! Aku tidak tahu, telah kauapa-kan mobil ini! Kau memang tak punya perasaan!" BAB 9 YANG datang paling dulu, silakan masuk," seruku waktu aku menjenguk ke dalam kamar tunggu. Di situ aku melihat seorang wanita tua membawa kucing di dalam kotak karton, dua anak kecil yang sedang berusaha memegang kelinci yang ingin terlepas, dan seseorang yang mula-mula tak kukenal. Kemudian aku ingat. Orang itu Soames! Waktu tiba gilirannya, dia masuk ke dalam kamar bedah. Tapi tingkah lakunya sudah berlainan sama sekali. Senyumnya senyum seorang penjilat. Kepalanya naik turun waktu dia bicara. Gaya bicaranya seperti orang yang sedang merayu. Dan yang paling menarik perhatian adalah matanya yang sebelah kanan. Mata itu bengkak dan terpejam. Daerah sekitar mata berwarna hitam kebiru-biruan. "Mr. Herriot, saya harap Bapak tidak berkeberatan menerima kedatangan saya," katanya. "Sebenarnya saya telah keluar dari perusahaan Lord Hulton, dan sedang mencari pekerjaan lain. Saya harap Bapak dan Mr. Farnon tidak berkeberatan membantu saya mencarikan lowongan pekerjaan." Aku begitu heran melihat sikapnya beruban sama sekali, sehingga tak bisa banyak bicara. Aku menjawab bahwa aku akan berusaha sedapatdapatnya dan Soames mengucapkan terima kasih panjang lebar serta membungkuk dan minta diri. Setelah dia pergi, aku berpaling pada Siegfried. "Nah, sekarang apa pendapatmu?" "Oh, saya sudah tahu segalanya." Siegfried memandangku dengan senyum masam. "Kauingat apa yang telah saya katakan dulu? Dia curang, menipu sana sini. Dia menjual beberapa karung gandum dan pupuk beberapa kwintal. Makin lama, korupsinya makin berani. Tapi ini tak bisa

http://inzomnia.wapka.mobi

berlangsung lama. Ia agak lengah, sehingga ia dipecat, sebelum menyadari apa yang telah terjadi." "Tapi mengapa matanya bengkak seperti tomat busuk?" "Itu hadiah dari Tommy. Kau tentu telah melihat Tommy waktu di sana. Ia pemelihara kuda itu." Ingatanku melayang kembali ke malam yang menjengkelkan itu, dan aku teringat akan orang yang memegangi kepala kuda. "Ya, aku teringat. Orang yang gemuk, besar, dan tenang itu!" "Ya, betul. Dia bertubuh besar dan saya berusaha jangan sampai dia meninju mata saya. Soames telah memperlakukan dia sewenang-wenang dan waktu Tommy mendengar Soames dipecat, dia mengunjunginya dan memberi hadiah tomat busuk itu." *** Sekarang aku benar-benar kerasan tinggal di Rumah Skeldale. Mulamula aku heran, apakah kiranya Tristan dapat menyesuaikan diri. Apakah ia sedang mendapat tugas mencari pengalaman, libur, bekerja atau apa lagi? Tapi segera jadi jelas bahwa dia telah diangkat jadi penyalur dan pengantar obat-obatan, pencuci mobil, dan penerima telepon. Bahkan dalam keadaan terpaksa, dia menangani kasus! Itulah sekurang-kurangnya yang terlihat oleh Siegfried. Siegfried punya bermacam-macam cara untuk mencari kesalahan Tristan. Misalnya pulang mendadak, atau masuk ke dalam kamar dengan tiba-tiba, dengan harapan Tristan dapat tertangkap basah waktu sedang tidak mengerjakan sesuatu. Siegfried tidak pernah sadar, bahwa liburan kuliah telah habis dan Tristan seharusnya kembali ke kampus. Beberapa bulan kemudian aku mengambil kesimpulan, bahwa Tristan tentu mengadakan perjanjian yang luwes dengan para dosen, karena sebagai mahasiswa ia menghamburkan waktu luar biasa banyaknya di rumah. Tristan agak berlainan dengan Siegfried dalam menilai peranannya. Selama tinggal di Darrowby, Tristan memutar otaknya secerdik mungkin supaya dapat menganggur sebanyak mungkin. Memang sebagian waktunya ia gunakan untuk tidur di sebuah kursi. Kalau ia tinggal sendirian di rumah supaya mengatur obat, dan kami sedang keluar untuk

http://inzomnia.wapka.mobi

menjalankan tugas, seperti biasanya ia tidur di kursi. Ia mengisi botol kecil dengan air, hingga mencapai separo, menambahnya dengan chlorodyne dan epicacuanha sedikit, menyumbatnya dengan gabus, dan membawanya ke kamar tengah, lalu meletakkannya di samping kursinya. Kursi itu sungguh kursi yang mengagumkan untuk mencapai maksudnya, karena kursi itu kursi kuno yang berpunggung tinggi dan sisinya dilengkapi dengan sandaran kepala. Ia lalu mengambil majalah Daily Mirror, menyulut rokok Woodbine dan duduk di situ sampai jatuh tertidur. Jika tiba-tiba Siegfried masuk ke kamar itu, Tristan cepat-cepat memegang botol dan mengocoknya sekeras mungkin, sambil sebentar-sebentar memeriksa isinya. Kemudian ia langsung pergi ke kamar obat, mengisi botol itu hingga penuh dan memberinya etiket. Itu memang akal bulus yang diperhitungkan masak-masak, tapi ada kelemahannya. Ia tidak pernah tahu, siapa yang masuk, Siegfried atau bukan, bila pintu dibuka. Kerap kali aku berjalan masuk dan melihat dia sedang berbaring di atas kursinya. Ia tiba-tiba terkejut, matanya yang mengantuk dibelalak-belalakkan, sambil mengguncang-guncang botolnya. Tiap malam waktunya dihabiskannya di warung Drovers' Arms. Ia duduk di kursi tinggi menghadapi meja, sambil mengobrol dengan santainya dengan gadis pelayan warung. Lain kali ia pergi berjalan-jalan dengan salah satu perawat rumah sakit setempat, yang ia pandang sebagai agen penyalur wanita atau pacar. Demikianlah hidupnya sehari-hari. Pendek kata, ia cukup sibuk! Sabtu malam, pukul 10.30, aku sedang mencatat tugas-tugasku. Tiba-tiba telepon berdering. Aku memaki-maki, memukul-mukulkan tinjuku dan mengangkat pesawat penerimanya. "Halo, ini Herriot." "O, Anda?" jawabnya. Suaranya keras menggeram, dengan logat Yorkshire tulen. "Maaf, saya ingin bicara dengan Mr. Farnon." "Maaf kembali! Mr. Farnon sedang keluar. Ada perlu apa?" "Kalau tidak ada perlu, saya tidak menelepon. Tapi saya lebih suka Mr. Farnon. Nama saya Sims, dari Beal Close."

http://inzomnia.wapka.mobi

(Oh tak usah ya, malam Sabtu begini disuruh ke desa Beal Close! Jauhnya bukan main, di atas bukit pula, jalannya jelek, harus melalui delapan gerbang desa! Tak usah ya!), pikirku. "Halo, Mr. Sims! Ada kesulitan apa?" "Kalau tidak ada kesulitan, masakan saya menelepon! Saya punya kuda balap besar. Usianya tujuh belas tahun. Kaki belakangnya, di atas lutut, luka parah. Harap segera dijahit!" (Astaga, di atas lutut! Alangkah berbahayanya menjahit kuda di tempat itu! Kalau kuda itu tidak mau tenang, ini sungguh suatu perjalanan yang mengesankan!), pikirku lagi. "Berapa besar lukanya, Mr Sims?" "Cukup besar, panjangnya kira-kira setengah meter. Dan berdarah terus-menerus! Maaf, kuda ini sulit dikendalikan, selalu meronta-ronta seperti belut! Ia bisa menyepak mata lalat! Tak ada orang yang bisa mendekatinya! Jika melihat orang, kuda itu langsung menabraknya. Baru-baru ini ia saya bawa ke tukang besi dan tukang besi itu ketakutan bukan main. Memang kuda brengsek!" (Kau yang brengsek, Mr. Sims! Mulutmu brengsek, dan kudamu paling brengsek!) "Ya, saya akan datang. Tapi saya minta disediakan beberapa orang yang cukup cekatan. Kalau perlu, orang yang bisa melemparkan kuda itu ke luar!" "Apa? Melemparkan? Anda tak akan bisa melemparkan kuda ini! Bahkan kuda ini akan menendang Anda lebih dulu! Tapi sayang, di sini tidak ada orang. Jadi terserah, bagaimana Anda akan mengobatinya! Seharusnya Anda tahu, bahwa Mr." Farnon tidak pernah membutuhkan bantuan begitu banyak orang!" (Oh, bagus, bagus! Ini akan kucatat dalam buku harianku!) "Baik, Mr. Sims. Saya berangkat sekarang." "Sebentar, ada yang terlupakan. Jalannya kemarin kebanjiran, jadi Anda harus berjalan kaki sejauh dua setengah kilometer setelah hampir sampai di tempat saya. Jadi harap segera berangkat dan jangan membiarkan saya menunggu semalam suntuk!"

http://inzomnia.wapka.mobi

(Ini agak kurang ajar!) "Perhatikan, Mr. Sims, saya tidak suka cara bicara Anda. Saya memang akan segera berangkat dan mencapai rumah Anda secepat mungkin!" "Apa? Anda tak suka cara bicara saya? Kalau begitu, saya juga tidak suka ada dokter hewan muda yang mencari pengalaman atau belajar praktek, dengan mempergunakan kuda saya yang sehat! Oleh karena itu, saya tidak akan gegabah mempercayakan kuda saya! Jelas, Anda tidak cukup berwenang untuk menangani kuda saya!" (Ini betul-betul kurang ajar!) "Buka telingamu lebar-lebar, Sims! Kalau bukan demi kudamu, jangan mengharap aku mau ke rumahmu! Pada sangkamu kau apa? Mulutmu lancang! Kalau kau berani bicara seperti itu lagi....." "Tenang, tenang, Jim, tenang! Kok ngotot! Sabar, Jim! Rilek dan santai! Kok lalu darah tinggi! Apa ingin kepalamu meledak?!" "Brengsek! Siapa kau....?" "Kalem, Jim, kalem! Jangan marah-marah, nanti lekas keriput! Kau harus hidup santai, 'kan?" "Tristan, sialan kau! Dari mana kau bicara?" "Dari kios di luar Drovers. Aku baru saja menghabiskan bir dua setengah liter! Dan kepalaku agak pusing, maka lalu meneleponmu!" "Kurang ajar! Awas, jika kau berani memper-mainkanku sekali lagi, kupotong lehermu! Tapi merugikan, karena sekarang aku merasa jadi lebih tua tiga tahun! Kadang-kadang bergurau memang boleh. Tapi minggu ini saja, kau telah memper-mainkanku tiga kali!" "Yaaaa, tapi yang ketiga ini paling berhasil, 'kan?! Waktu kau ngotot sampai ubun-ubunmu mau meletus, aku sungguh mau pingsan. Oh, Jim, seandainya kau bisa mendengar suaramu sendiri! Hahahahaha....." Dan ia tertawa terbahak-bahak seperti pasien rumah sakit jiwa. Karena ingin membalas dendam, aku lalu keluar dari rumah dan mencari tempat telepon. Karena tidak biasa, aku gemetar. Dengan suara tekak yang kubuat-buat, aku berkata, "Apakah Anda adik Mr. Farnon? Nama saya Til-son dari Bukit Tinggi. Harap segera datang ke rumah saya, karena lembu saya sakit...."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ada apa, Jim? Suaramu kok seperti orang dicekik maling? Apa lidahmu kejepit?! Hebat, Jim! Teruskan omelanmu! Memang menarik!" *** Hanya sekali aku dapat mengadakan pembalasan yang setimpal. Waktu itu hari Selasa, pukul 11.30. Aku baru bekerja setengah hari. Tiba-tiba ada panggilan. Ada lembu mengeluarkan kandungannya. Di pegunungan, ini merupakan suatu tugas yang berat, dan aku mulai merasa menggigil. Kasus seperti ini terjadi, bila sesudah beranak, lembu terus-menerus meregang menggeliat, hingga seluruh kandungan terdorong ke luar, dan tergantung-gantung hampir sejauh lutut. Kandungan atau uterus adalah alat tubuh yang besar dan sukar dikembalikan pada tempatnya. Terutama karena lembu itu, sesudah berhasil mengeluarkan kandungannya, tak menginginkan bahwa kandungan itu dimasukkan kembali ke dalam perutnya. Dan dalam pertarungan langsung antara manusia dan lembu, biasanya lembulah yang menang. Supaya lembu tetap tenang, dokter-dokter yang sudah berpengalaman bisa menggantung kaki belakang lembu. Dokter yang cerdik menggunakan segala macam peralatan yang aneh, seperti misalnya koper kandungan, yang dianggap dapat memadatkan kandungan itu. Tapi hasilnya sama saja. Pekerjaan ini tetap merupakan pekerjaan yang bisa mematahkan tulang punggung. Dengan menggunakan epidural anaesthetic segalanya jadi mudah, karena rasa sakit pada kandungan jadi lenyap, dan lembu berhenti meregangregang. Tapi 'tempat tidur anak lembu keluar' dan melewati perbatasan, sudah pasti melenyapkan senyum dokter hewan pula. Supaya dapat mendorong kandungan itu, aku mengajak Tristan, karena mungkin aku membutuhkan tenaga kulinya. Ia mau ikut, tapi tak punya gairah. Semangatnya runtuh, waktu di kandang ia melihat seekor lembu betina bertanduk pendek, berbaring tenang, dan tak ambil pusing sama sekali. Di belakangnya ada onggokan kandungan yang berdarah, uri, tahi, dan jerami, yang melimpah ke parit.

http://inzomnia.wapka.mobi

Lembu itu sama sekali tak mau bangkit. Tapi setelah kami bentakbentak dan kami dorong-dorong bahunya, ia bangun dan berdiri dengan lesu. Ruang epidural sukar ditemukan di antara belitan lemak. Dan aku tidak yakin, apakah aku sudah menyuntikkan semua anaesthetic ke tempat yang betul. Aku memindahkan uri, membersihkan kandungan, dan meletakkannya di atas kain bersih yang dipegang petani dan adiknya. Kedua orang itu tidak begitu kuat dan yang bisa dilakukannya hanyalah menjaga supaya kain itu tetap datar. Aku tidak banyak mengharapkan bantuan mereka. Aku mengangguk ke arah Tristan. Kami melepaskan baju, mengikatkan kantung-kantung bersih pada pinggang, dan mengumpulkan kandungan ke atas lengan kami. Kandungan itu sangat besar dan bengkak. Untuk memasukkannya, membutuhkan waktu satu jam. Mula-mula kami merasa lama tersiksa, waktu tak ada kemajuan sama sekali. Memasukkan kandungan yang sangat besar ke dalam lubang kecil sungguh menggelikan, rasanya seperti memasukkan sosis ke dalam lubang jarum. Pada saat tertentu kami mengira telah menyelesaikan pekerjaan yang mengagumkan. Padahal yang terjadi, kandungan itu tergelincir ke bawah melalui bagian kain yang sobek. Aku teringat ceritera Siegfried. Ia pernah hampir berhasil memasukkan kandungan seekor lembu. Tapi mendadak ia bersedih hati, karena kandungan itu ternyata dimasukkan ke dalam dubur lembu. Waktu kami sudah hampir putus asa, tiba-tiba datang saat yang menggembirakan. Seluruh kandungan itu mulai terhisap ke dalam, dan di luar dugaan, lenyap dari pandangan. Setelah bergumul satu jam, aku dan Tristan lalu beristirahat. Kami berdua berdiri, sambil terengah-engah. Wajah kami hampir bersentuhan. Pada pipi Tristan terlihat sebuah lukisan indah, ialah akibat semprotan darah dari urat nadi lembu. Aku memandang dalamdalam ke pusat matanya. Aku bisa membaca perasaannya. Ia sungguh muak terhadap pekerjaan seperti ini.

http://inzomnia.wapka.mobi

Seluruh bahu dan punggungku terasa sakit. Sambil menyabun lengan, aku mengamat-amati Tristan. Ia sedang mengenakan baju dengan susah payah, seolah-olah semua tenaganya sudah lenyap. Sedang sang lembu, sambil mengunyah jerami dengan puasnya, merasa telah bebas dari segala penderitaan. Di mobil, Tristan mengeluh, "Kukira, tugas seperti itu bukan bakatku. Aku merasa seperti baru saja digilas mesin giling aspal. Alangkah mengerikannya hidup ini kadang-kadang!" Sesudah makan siang, aku berkata kepada Tristan, "Tris, sekarang, aku akan pergi ke Brawton. Mudah-mudahan kau tak perlu berjumpa dengan lembu itu lagi. Hal seperti itu biasanya terulang, dan kemungkinan besar kandungan itu keluar lagi. Jika itu terjadi, ini tugasmu, karena Siegfried baru pulang nanti sore. Dan tugasku siang ini, tak bisa ditunda-tunda lagi." Kegembiraan Tristan lenyap sama sekali. Ia jadi tampak kurus dan cekung. Ia tampak jadi tua mendadak. "Oh, Tuhan!" serunya. "Hal itu jangan kau-perbincangkan lagi! Aku sudah muak! Aku bisa mati, kalau ada kasus seperti ini lagi! Dan jika aku harus bekerja sendiri, aku bisa mati karena ngeri! Betul itu!" "Kau tak perlu sedih. Mudah-mudahan itu tak terjadi." Aku lalu berangkat ke Brawton. Setelah mobilku meluncur kira-kira sejauh lima belas kilometer, aku melihat gerdu telepon. Seketika itu juga aku mendapat akal. Mobil kuhentikan dan aku turun. "Akan kucoba," bisikku pada diri sendiri. "Mungkin kali ini berhasil." Waktu memegang telepon, aku mendapat ilham bagus. Pesawat bicara kubungkus sapu tangan. Aku memutar nomor. Waktu aku mendengar suara Tristan, aku berteriak sekeras-kerasnya, "Apakah Anda pemuda yang memasukkan kasur anak lembu saya tadi pagi?" "Ya," jawabnya. Suaranya tegang. "Ada apa? Ada yang tidak beres?" "Ada yang tidak beres!" teriakku lagi. "Bendanya keluar lagi!" "Apa? Keluar lagi? Semuanya?" tanyanya, ham-pir menjerit. "Ya, bahkan lebih besar lagi! Dua kali lebih besar daripada tadi pagi, disertai darah berlimpah-limpah! Anda harus segera menolongnya!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Lama tidak ada jawaban. Mungkin ia jatuh pingsan. Kemudian suaranya terdengar lagi, parau tapi tegas. "Baik, aku akan segera datang!" Sunyi sebentar. Lalu ia bicara lagi. Suaranya hampir tak terdengar. "Apakah kandungan itu keluar seluruhnya?" Aku tidak dapat menahan ketawa. Nada bicaranya menggelitik perutku. Ia masih punya harapan tipis, mungkin pemilik lembu dianggapnya hanya membesar-besarkan kasus, atau mungkin kandungan itu hanya keluar sedikit sekali. Aku lalu tertawa. Padahal sebenarnya aku ingin mempermainkannya sedikit lama lagi. Tapi itu tak mungkin. Aku tertawa terbahak-bahak, makin lama makin keras. Dan sapu tangan penutup pesawat bicara kulepaskan, supaya Tristan dapat mendengar suaraku. Aku mendengar maki-makiannya sebentar, kemudian pesawat bicara kuletakkan perlahan-lahan. Mungkin ini takkan terjadi lagi. Tapi bagiku, pembalasan ini manis sekali, maniiis seperti madu!! BAB 10 "ANDA membutuhkan Mr. Herriot? Tentu saja boleh. Sebentar, saya panggilkan." Siegfried menutup pesawat bicara dengan tangannya. "Ke sini, James. Ini ada orang lebih menyukaimu." Aku memandang Siegfried sepintas. Tapi dia tersenyum. Ia gembira. Sesudah selesai menjawab telepon, aku teringat akan ceritera-ceritera yang telah kudengar tentang majikan jenis lain. Lain, tidak seperti Farnon, yang suka melayani. Aku juga teringat akan perubahan yang terjadi beberapa minggu yang lalu. Sikap para petani mulai berubah. Di samping mengharapkan Farnon, mereka mulai memperhatikan dan menghargaiku. Kalau mereka mengundangku makan siang, keramahan mereka keramahan yang murni, bukan lagi basa-basi belaka. Ini berarti, sesudah aku berjerih payah beberapa waktu, usahaku mulai mendapat penghargaan. Penduduk Dales mulai menerima kehadiranku. Mereka mulai mengerti arti persahabatan yang telah kami bina dengan hati-hati. Makin tinggi daerah itu, makin kusukai penduduknya. Di dataran rendah, di mana saja, sifat petani hampir serupa. Tapi makin ke

http://inzomnia.wapka.mobi

atas, sifat petani itu makin menarik. Pondok-pondok mereka berserakan. Tanah pertanian mereka terletak di tempat yang terpencil, dekat puncak yang putih. Petani-petani itu punya sifat paling istimewa. Mereka sederhana, punya harga diri, bebas, dan ramah. Minggu pagi ini, aku dipanggil Keluarga Beller-bys. Mereka tinggal di Halden, sebuah lembah kecil cabang Dale. Waktu hampir sampai di tempat, mobilku terbanting-banting dan berderak-derak satu setengah kilometer di atas tanah. Tiap beberapa meter ada gundukan batu yang cukup tinggi. Setiba di tempat tujuan, aku keluar dari mobil. Tempat ini cukup tinggi. Meskipun tadi kusebut lembah, tapi lembah di dataran tinggi. Kalau aku melihat ke atas, masih ada perbukitan yang semua celah-celahnya berbentuk, aneh, dengan lereng yang curam, ngarai dan jurang yang dalam. Jurang ini dibuat oleh parit dan anak sungai yang tak terhitung banyaknya, yang bermuara di Halden Beck dengan suara gemuruh. Airnya terjun dan tumpah di dasar batu karang jauh di bawah. Di sana, jauh di sebelah bawah tampak pohon-pohon dan ladang-ladang yang diusahakan. Di belakangku tampak hutan belukar yang lebat, di sebuah lekukan seperti waskom besar, tempat petani. Lereng-lerang perbukitan itu sangat besar dan tampak sangat dekat, dengan nama-nama yang aneh, misalnya Halsten Pike, Als-tang, dan Birnside Di sini, di daerah pegunungan yang tinggi, pengaruh peradaban hampir tidak ada. Semua bangunan terbuat dari batu yang usianya sudah beratus-ratus tahun, tampak kokoh dan padat. Dan tujuannya pun sederhana, ialah untuk melindungi hewan. Bangunan itu bangunan kuno, tak berjendela dan tak bergenting kaca. Demikian pula kandang lembunya, hampir tanpa jendela, berdinding tebal, dan agak gelap. Lantainya pecah-pecah dan berlubang-lubang. Masing-masing lembu dipisahkan oleh sekat kayu yang sudah lapuk. Aku masuk, sambil mencari-cari jalan. Akhirnya mataku jadi biasa di ruang yang remang-remang itu. Di dekat pintu tak ada orang, kecuali seekor lembu berwarna abu-abu. Pada ekornya tergantung tulisan,

http://inzomnia.wapka.mobi

karena inilah cara yang mudah untuk memberi tahu dokter hewan. Waktu ekornya kuangkat, terbaca: "Sedikit galak, sakit radang susu". Aku mendorong dan memutar posisi dan mulai memeriksa puting susunya. Waktu aku sedang mengeluarkan susunya, yang bentuknya seperti serabut dan tidak berwarna, tiba-tiba ada orang menyapaku dari pintu, "Oh, Anda, Mr. Herriot! Saya gembira sekali Anda datang pagi ini. Saya ingin minta bantuan, jika Anda tidak berkeberatan." Aku mengangkat kepala dan memandang Ruth. Ruth adalah anak perempuan Pak Bellerby, seorang gadis dewasa yang berusia tiga puluhan tahun. Wajahnya menarik, otaknya cerdas, ingin maju dan suka menyelidiki sesuatu. Cita-citanya ingin jadi pembangun desa, hingga nasib dan keadaan penduduk Dales jadi lebih baik. "Jika mungkin, dengan senang hati saya bersedia membantu Nona. Nona minta bantuan apa, Miss Ruth?" "Begini persoalannya, Mr. Herriot. Nanti sore, di gereja Darrowby, akan ada pagelaran musik The Messiah. Saya ingin sekali mendengarkannya. Tapi naik kuda rasanya terlalu lama, dan lagi untuk mendapatkan kuda yang larinya cepat, ternyata tidak mudah. Oleh karena itu, jika saya boleh ikut mobil Anda, saya akan mengucapkan terima kasih sebesarbesarnya. Tentang pulangnya, saya akan mencari kendaraan sendiri." "Tentu saja Nona boleh ikut mobil saya," jawabku. "Bahkan dengan senang hati. Sebab sebenarnya saya sendiri juga ingin mendengarkannya. Di Darrowby jarang ada musik bermutu. Kesempatan ini sayang kalau dilewatkan begitu saja." Aku gembira dapat menolong orang-orang yang ramah di rumah ini. Sejak perkenalan pertama, keluarga Bellerby memang kukagumi. Bagiku mereka merupakan generasi abad yang lalu yang masih hidup. Dunia mereka mempunyai nilai yang abadi. Mereka tidak pernah tergesa-gesa. Mereka bangun sesudah matahari terbit. Mereka pergi tidur jika merasa lelah, makan jika lapar, dan jarang melihat jam. Sesudah selesai mengurus lembu, Ruth mengantarkanku ke dalam rumah, sambil berkata, "Ayah, Ibu, dan saya, ingin mendengarkan musik itu. Tapi Rob, adik saya, tidak tertarik The Messiah."

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku agak terkejut waktu masuk ke dalam rumah. Keluarga itu baru saja akan makan siang, dan masih memakai pakaian kerja. Aku dengan diamdiam melihat arlojiku. Ternyata sudah pukul dua belas kurang seperempat. Padahal musik itu akan mulai pukul dua siang. Mungkin masih cukup waktu. "Mari, Nak," kata Pak Bellerby yang bertubuh kecil. "Mari makan!" Agak sukar menolak ajakan ini tanpa menyinggung perasaannya. Tapi kepada mereka kujelaskan, bahwa setiba di rumah aku sudah disediakan makan, kalau tidak kumakan, kasihan Bu Hall. Mereka menerima alasan ini dan segera duduk mengelilingi meja dapur yang bersih. Bu Bellerby mengambil bubur Yorkshire yang bentuknya bundar dan besar, memberikannya kepada mereka masing-masing, dan menuangkan kuah daging dari mangkuk porselen ke atas bubur itu. Sepanjang pagi aku telah bekerja berat. Bau kuah lezat yang menyiram bubur yang berwarna keemasan itu, menusuk-nusuk hidung dan merupakan siksaan bagi perutku. Tapi aku merasa terhibur, karena mengira mereka akan makan terburu-buru, karena aku kutunggu. Tapi dugaanku meleset. Mereka makan dengan santai, tanpa bicara sepatah kata pun, dan bubur itu habis. Kemudian Bob, seorang pemuda berusia sekitar dua puluhan tahun, berhati ramah dan bertubuh kekar, mendorong piringnya yang kosong ke depan. Ia tidak mengatakan apaapa. Tapi ibunya menjatuhkan sebungkah bubur kental lagi dan menuanginya dengan kuah daging. Orang tua dan kakak perempuannya memandangnya dengan penuh pengertian, waktu dia dengan sistematis memindahkan gumpalan bubur padat yang lumat itu, ke dalam mulutnya. Berikutnya muncul onggokan daging panggang dari tungku. Pak Bellerby memotong dan menggergajinya, hingga semuanya mendapat setumpuk irisan daging di atas piring masing-masing. Kemudian dari tempat yang mirip waskom cuci, muncul gundukan kentang yang dilumatkan, diikuti irisan lobak. Serbuan mulai lagi. Mereka sama sekali tidak terburu-buru. Mereka makan dengan tenang dan perlahan-lahan, dengan sabar dan santai, tanpa bicara sama sekali. Yang paling cekatan menggugurkan gunung kentang adalah Bob.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka tampak santai dan bahagia. Tapi aku merasa gelisah dan tersiksa. Perutku terasa pedih dan melilit-lilit, karena lapar. Kecuali itu, arlojiku berdetik lambat sekali tanpa ampun. Agak lama kemudian, Bu Bellerby berdiri dan menghampiri tungku api di sudut. Tungku itu sudah tua. Ia membuka tutupnya dan mengeluarkan panci pipih berisi pastel apel yang masih berasap. Ia lalu memotongmotong, membagikannya kepada mereka, dan menuanginya dengan kuah kekuning-kuningan dari mangkuk porselen yang lain. Keluarga itu sibuk lagi, seolah-olah baru saja mulai makan. Sekali lagi kesunyian meliputi kelompok itu. Piring Bob segera bersih tanpa kesulitan apa pun. Tanpa mengucapkan kata sepatah pun, piring didorongnya ke tengah meja Ibunya sudah siap dengan pastel yang besar berbentuk persegi empat, dan limpahan kuah yang disebut custard. Kukira ini akan merupakan penutupan makan, dan acara makan akan berakhir. Mereka akan sadar, bahwa waktu tinggal sedikit, dan akan berganti pakaian. Tapi aku mulai cemas. Bu Bellerby dengan perlahanlahan berjalan dan meletakkan ketel di atas api, sementara Pak Bellerby dan Bob mendorong kursinya ke belakang, lalu menjulurkan kakinya. Keduanya memakai celana corduroy, talinya terlepas, dan kakinya memakai sepatu bot yang sangat besar, yang berpaku hob. Setelah meraba-raba sakunya, Bob mengeluarkan sebungkus rokok yang telah kumal, lalu berbaring di kursinya, seperti orang pingsan di atas pangkuan pacarnya. Sedang ibunya menaruh secangkir teh di depannya. Pak Bellerby mengeluarkan pisau lipat dan mulai memotong tembakau untuk pipanya. Waktu mereka mulai duduk lagi dengan teratur mengelilingi meja, dan dengan perlahan-lahan menghirup tehnya yang masih panas, aku mulai merasa adanya gejala klasik ketegangan jiwa. Nadiku berdenyut-denyut, rahang mengetat rapat, dan kepalaku mulai pusing. Sesudah cangkir kedua habis diminum, baru ada tanda-tanda makan selesai. Pak Bellerby bangkit sambil mengeluh, menggaruk-garuk baju depannya, dan menggeliat dengan nikmatnya. "Sabar, Nak! Kami akan

http://inzomnia.wapka.mobi

mandi-mandi dulu dan berganti pakaian. Bob akan tetap duduk dan menemani Anda, karena dia tak akan ikut." Di ujung dapur ada bak mandi besar terbuat dari batu. Dari situ terdengar kecepak-kecepuk suara air yang memercik waktu mereka mandi. Kemudian mereka menghilang ke tingkat atas. Aku merasa sangat lega, karena ternyata mereka berganti pakaian dengan cepat. Pak Bellerby turun dengan segera. Tampangnya berubah. Ia mengenakan celana dan baju dari kain kepar yang mengkilat dan tampak kaku. Warnanya biru seperti seragam pelaut, dan agak kehijau-hijauan. Ibu dan anaknya juga segera muncul. Mereka memakai rok katun yang meriah dengan bunga berwarna-warni. "Sudah selesai? Sudah siap? Kalau begitu, mari langsung, berangkat! Silakan berjalan dulu!" seruku dengan ramah tapi agak histeris. Tapi Ruth tidak beranjak. Ia sedang menarik-narik kaos tangan dan memandang adiknya yang ter-lentang di kursi. "Bob, kau memang keterlaluan dan memalukan!" bentaknya. "Lihat ini, aku, Ayah, Ibu, semua mau berangkat untuk mendengarkan musik yang bermutu. Tapi kau enak duduk di kursi, masih jorok, dan tak ambil pusing sama sekali! Kau tidak mau menghargai seni sama sekali! Kau tidak ingin maju dan tak ada bedanya dengan lembu-lembu di luar itu!" Bob beranjak dengan gelisah, karena serangan mendadak ini. Tapi masih ada tembakan lagi. Ruth menghentakkan kakinya. "Darahku terasa mendidih melihatmu seperti itu! Aku tahu, sebentar lagi kau tentu tertidur, mendengkur seperti babi sampai petang!" Ruth dengan cepat memutar tubuhnya ke arah ibunya. "Bu, dia tidak boleh begitu! Dia tidak boleh mendengkur di sini! Dia harus ikut!" Peluh mulai membasahi dahiku. Aku mulai mengomel. "Tapi bagaimana menurut pendapat Anda. Mungkin...... kita bisa terlambat..... mulai pukul dua.....saya belum makan siang...." Tapi kata-kataku itu tak masuk ke telinganya sama sekali. Buktinya Ruth lalu menggigit bibirnya, kemudian meledaklah granatnya, "Bob, berdiri!

http://inzomnia.wapka.mobi

Mandi sekarang juga dan ganti pakaian!" Lalu mulut Ruth menutup seketat-ketatnya dan rahang bawahnya terdorong ke depan. Dalam pertempuran ini Bob kalah. Meskipun Bob juara makan, tapi rupanya tak punya pendirian sendiri. Ia bersungut-sungut, dan dengan malas menghampiri bak mandi. Ia melepaskan bajunya, dan mereka semua duduk sambil menonton Bob menyabuni tubuhnya dengan sabun besar mereka White Windsor. Ia menyemprot kepala dan lehernya dengan selang di samping bak mandi. Kamar mandi itu hanya tertutup bagian bawahnya saja. Seluruh keluarga itu memandangnya dengan riang gembira, karena Bob mau ikut, dan itu akan berguna baginya. Ruth memandang percikan air dengan sinar mata penuh kasih sayang. Itu terus-menerus mengerling ke arah saya, seolah-olah berkata, "Apakah itu tidak luar biasa?" Padahal aku merasa sangat jengkel, seperti orang mau sinting. Seandainya aku tidak sadar, seluruh rambut kepalaku pasti kucabut hingga gundul. Aku merasa seperti ingin melompat, menginjak-injak lantai hingga hancur, dan menjerit sekeras-kerasnya. Ini semua menunjukkan bahwa kesabaranku hampir habis. Aku menahan perasaan ini dengan menutup mataku. Tentu lama aku menutup mata itu, karena waktu aku membukanya, Bob sudah berdiri di sampingku mengenakan setelan presis setelan ayahnya. Aku tak begitu banyak ingat tentang perjalananku ke Darrowby. Yang masih kuingat samar-samar adalah mobilku, yang meluncur dengan kecepatan enam puluh kilometer sejam menuruni jalan yang berbatubatu. Mataku memandang jauh ke depan dan rasanya seperti mau jatuh ke luar. Sedangkan keluarga itu, meskipun berimpit-impitan, tampak sangat gembira karena dapat naik mobil. Namun Bu Hall, yang biasanya sangat tenang, tampak sedikit kesal. Buktinya ia mengetatkan bibirnya, karena pukul dua kurang sepuluh aku baru makan siang. Dan pukul dua tepat aku berangkat lagi, sesudah menyikat masakannya yang enak. Aku terlambat. Ketika aku merayap masuk ke dalam gereja, musik The Messiah telah mulai. Semua mata memandangku dengan pandangan

http://inzomnia.wapka.mobi

mencela. Waktu aku mengerling ke arah keluarga Bellerby, yang duduk sangat tegak dalam satu deret, mereka pun tampak menyesal. BAB 11 AKU melihat lagi ke kertas catatan tentang kun-jungan-kunjunganku. 'Dean 3, Thompson's Yard. Anjing tua sakit.' Di Darrowby ada banyak yard seperti itu. Itu sebenarnya gang, seperti gambar-gambar pada novel karya Dickens. Beberapa gang itu menuju ke pasar. Banyak lagi yang berserakan di belakang jalan raya di bagian kota yang lama. Dari luar hanya kelihatan gapuranya. Aku selalu bingung jika mengikuti gang sempit, karena tiba-tiba sampai di deretan rumah kecil yang tak teratur. Di sini tak ada rumah yang sama bentuknya, dan jarak rumah satu dengan lainnya hanya satu setengah meter, sehingga dari jendela masing-masing penghuninya dapat melihat ke dalam rumah tetangganya. Gang sempit ini dialasi batu-batu bulat. Di depan sementara rumah, tanahnya dicangkul dan ditanami bunga marigold dan nasturtium, yang merambat di batu-batu kasar. Tapi di ujung barisan, rumah itu mau roboh, sebagian tak ada penghuninya, dan jendelanya tertutup. Rumah nomor tiga pada ujung gang ini sudah miring, dan tampak seperti tidak akan dapat bertahan lebih lama lagi. Waktu aku mengetuk pintunya, catnya yang sudah mengelupas bergetar seperti akan rontok, karena kayu pintu itu sudah lapuk. Tembok sebelah atas sudah condong ke luar, tiap saat bisa runtuh, karena dinding kedua sisi rumah sudah retak. Seorang laki-laki bertubuh kecil, yang rambutnya sudah putih membuka pintu. Wajahnya kurus dan keriput, tapi tampak cerah karena matanya memancarkan kegembiraan. Ia memakai sandal dan celana cardigan yang penuh jahitan dan tambalan. "Saya ingin memeriksa anjing Bapa," kataku dan orang tua itu tersenyum.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Oh, saya gembira Tuan datang," jawabnya. "Saya sedih memikirkan sahabat saya itu. Silakan masuk!" Aku diantarnya masuk ke dalam kamar tamu yang sempit. "Saya hidup sendirian sekarang, Tuan. Setahun yang lalu istri saya meninggal. Biasanya, dialah yang mengurus anjing tua itu." Di tiap tempat menunjukkah bahwa orang itu sangat miskin. Lino yang lusuh, perapian yang padam, bau yang pengap dan tempat yang lembab. Kain penutup dinding tergantung dan terlepas dari tembok yang basah. Di meja ada makanan untuk dia sendiri. Potongan daging babi yang dikukus, beberapa butir kentang goreng, dan secangkir teh. Itulah suasana di rumah tua ini. Di sudut, di atas selimut, berbaring pasienku, seekor anjing labrador bastar. Dulu anjing itu tentu besar dan kuat, tapi sekarang sudah tua, karena bulu di sekitar mulutnya sudah putih. Demikian pula bagian dalam matanya, tampak putih dan pucat. Anjing itu berbaring dengan tenang dan memandang saya, tanpa menunjukkan rasa permusuhan. "Ia masih lincah, Mr. Dean?" "Ya, memang. Usianya sudah empat belas tahun, tapi masih selincah anak anjing, dan suka berlari-larian. Namun, akhir-akhir ini ia tidur saja. Bob memang anjing tua yang mengagumkan. Selama hidupnya ia belum pernah menggigit orang. Ia suka bermain dengan anak-anak dan sekarang merupakan teman saya satu-satunya. Saya harap Tuan dapat segera menyembuhkannya." "Apakah ia suka makan, Mr. Dean?" "Ya, lahap sekali! Itulah yang mengherankan saya, karena dulu banyak makan. Setiap saya makan, ia selalu menaruh kepalanya di atas lutut saya. Tapi akhir-akhir ini tidak." Waktu memandang anjing itu, aku merasa makin gelisah. Perutnya sangat gembung dan dengan mudah dapat kuketahui, bahwa ia kesakitan. Nafasnya tersendat-sendat, tepi bibirnya ditarik ke belakang. Matanya tampak cemas dan gelisah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Waktu Mr. Dean bicara, anjing itu memukulkan ekornya dua kali di atas selimut. Matanya yang sudah putih memancarkan minat sekejap. Tapi dengan cepat minat itu lenyap, dan sinar matanya kosong dan padam. Dengan hati-hati aku meraba perutnya. Jelas perut itu berisi cairan kental, hingga terasa keras. "Coba berguling, Bob!" perintahku. "Aku ingin memeriksa sisi sebelahnya." Anjing itu menurut dengan patuh waktu kugulingkan. Tapi ketika gerakan itu baru saja selesai, ia mengaduh dan memandang sekitarnya. Dengan mudah sebab penyakitnya dapat kuketahui. Anjing itu ketepuk-tepuk perlahan-lahan. Melalui otot panggulnya aku dapat merasakan adanya gumpalan keras yang bergelombang. Ini tentu kanker hati yang sangat besar dan sama sekali tak dapat dioperasi. Aku membelai-belai kepala anjing itu waktu aku berusaha menenangkan pikiranku. Ini tidak mudah. "Apakah sakitnya akan lama, Tuan?" tanya orang tua itu. Sekali lagi ekor anjing itu memukul-mukul selimut, waktu mendengar suara majikannya. "Dalam mengerjakan tugas sehari-hari, saya selalu ditemani Bob. Dan jika sekarang Bob tidak akan dapat menemani lagi, ini sungguh menyedihkan!" "Maaf, Mr. Dean. Saya kira keadaannya sudah sangat gawat. Bapak dapat melihat sendiri perut yang gembung ini. Ini disebabkan karena ada alat tubuh yang tumbuh." "Maksud Tuan.... kanker?" tanya orang tua itu dengan lesu. "Ya, saya kira kanker. Dan sudah terlambat, hingga tak mungkin lagi diobati. Saya ingin menolongnya, tapi tidak dapat." Orang tua itu tampak bingung dan bibirnya gemetar. "Jadi anjing saya akan mati?" Dengan susah payah aku menelan ludah. "Ya, dan saya kira kita tidak boleh menunggu hingga ia mati dengan sendirinya. Sebab ia sekarang sedang kesakitan. Tapi sebentar lagi sakitnya akan makin payah. Bagaimana menurut perasaan Bapak? Tidakkah lebih baik ia kita suruh tidur saja? Ia sudah terlalu lama menderita!" Aku selalu bicara terus terang, tapi anjuranku tidak mendapatkan sambutan yang cepat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Orang tua itu diam, kemudian berkata, "Sebentar," dan perlahan-lahan dengan susah payah berlutut di samping anjing. Ia tidak mengucapkan kata sepatah pun. Tapi tangannya berkali-kali mengusap moncong dan telinganya, sementara anjing itu memukul-mukulkan ekornya di atas lantai. Ia lama berlutut di situ, sementara aku berdiri di dalam kamar yang muram. Mataku melayang ke gambar-gambar yang sudah pudar di dinding, ke tirai yang suram dan lepas benang-benangnya, dan ke kursi malas yang pernya sudah patah. Akhirnya orang tua itu dengan susah payah berdiri dan menelan udara satu dua kali. Tanpa memandangku dia berkata dengan serak, "Baik, apakah Tuan akan melakukannya sekarang?" Aku mengisi suntikan dan melontarkan kata-kata yang biasa kukatakan. "Bapak tak perlu bersedih hati. Suntikan ini sama sekali tidak sakit. Hanya untuk membius. Inilah cara yang paling baik untuk menidurkan Bob." Waktu jarum kutusukkan, anjing itu tidak bergerak. Ketika obat tidur mulai mengalir dalam urat darahnya, kecemasan pada wajahnya lenyap, dan ototnya mulai mengendur. Sebelum injeksi selesai, anjing itu sudah tidak bernafas lagi. "Ia sudah mati?" bisik orang tua itu. "Ya, ia sudah mati," jawabku. "Ia sekarang sudah tidak menderita lagi." Orang itu berdiri dan tidak bergerak. Tangannya berkali-kali ditangkupkan dan dilepaskan. Waktu ia berpaling dan memandangku, matanya bersinar-sinar. "Tuan betul! Kita tidak boleh membiarkannya menderita. Dan saya merasa berterima kasih atas kebaikan Tuan. Lalu sekarang, untuk membalas budi, Tuan minta apa?" "Jangan repot-repot, Mr. Dean!" jawabku cepat. "Bapak tidak berhutang budi sama sekali. Saya kebetulan lewat di sini. Dan itu soal mudah sekali!" Orang tua itu tercengang. "Tapi Tuan memerlukan biaya untuk membeli obat, bukan?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tidak, Mr. Dean, terima kasih! Harap jangan memikirkan soal itu lagi. Seperti yang saya katakan tadi, saya kebetulan lewat di sini." Aku minta diri, keluar dari rumah, melalui gang dan masuk ke jalan raya. Di tengah kesibukan dan sinar matahari yang cerah, ruang sempit yang muram itu beserta orang tua dan anjingnya yang mati, masih terbayang jelas dalam ingatanku. Waktu berjalan menghampiri mobil, aku mendengar ada orang memanggil. Orang itu, dengan terburu-buru dan sambil menyeret-nyeret sandalnya, mengejarku. Pipinya coreng-coreng dan basah, tapi dia tersenyum. Ia mengulurkan benda kecil berwarna coklat. "Tuan, terimalah ini, sebagai tanda terima kasih saya, karena saya merasa berhutang budi." Ia menunjukkan benda itu dan aku mengamatamati-nya. Benda itu sudah sobek-sobek, tapi masih bisa dikenal sebagai peninggalan kejayaan masa lampaunya. "Silakan ambil, ini untuk Tuan!" kata orang tua itu. "Silakan mengisap cerutu!" BAB 12 SELAMA beberapa waktu, suasana di Rumah Skeldale tenang. Bagiku, suasana ini cukup menenteramkan hati. Tapi sayang, Siegfried pernah punya gagasan menyerahkan pembukuan kepada Tristan, adiknya. Selama hampir dua minggu tidak terdengar Siegfried membentak atau marah-marah. Namun suatu ketika terjadi peristiwa yang kurang menyenangkan. Waktu pulang, Siegfried melihat Tristan naik sepeda di gang di dalam rumah. Siegfried membentak-bentak dan mengucapkan kata-kata yang tidak mudah dimengerti. Asal mulanya begini: Tristan disuruh menyiapkan makan. Tapi jarak dari dapur ke kamar makan cukup jauh. Jadi cukup wajar kalau ia naik sepeda di dalam rumah! Beberapa waktu kemudian, musim gugur tiba. Udara dingin sekali seperti menembus ke tulang. Api di perapian melemparkan bayang-bayang yang menari-nari di tembok sekitarnya, hingga ke langit-langit. Langit-langit ini tinggi dan diukir. Api itu menyala dengan terangnya di kamar yang

http://inzomnia.wapka.mobi

besar itu. Sungguh nikmat bila sesudah bekerja sehari penuh, kami bertiga dapat beristirahat di atas kursi malas yang jorok, sambil menjulurkan kaki ke depan perapian. Tiap malam Tristan sibuk mengisi teka-teki di harian Daily Telegraph. Siegfried membaca dan aku mengantuk. Aku malu bila ditanya tentang jawaban teka-teki. Sesudah berpikir sebentar, Siegfried biasanya dapat langsung menjawab. Tapi sampai Tristan mengisi seluruh tekateki, aku belum dapat menemukan jawaban nomor pertama. Permadani di depan kaki kami penuh anjing. Ada lima ekor. Anjing-anjing itu saling membaringkan kepalanya di tubuh temannya, dan nafasnya men-dengkur-dengkur bersahutan, sehingga menambah suasana damai dan rukun. Ketenangan itu jadi berantakan, waktu Siegfried tiba-tiba bicara. "Besok hari pasaran, dan rekening baru saja saya keluarkan. Mereka akan antri untuk menyerahkan uang. Oleh karena itu, Tristan, besok sehari penuh kau kuberi tugas menerima uang itu. James dan aku banyak pekerjaan, jadi kau harus mengurusnya sendiri. Yang harus kaulakukan hanyalah menerima cek, memberikan tanda terima, dan mendaftar namanya di buku tanda terima. Bagaimana pendapatmu, apakah kira-kira kau dapat melaksanakannya hingga beres?" Aku mengerdipkan mata. Ini adalah suatu nada yang sumbang, yang mengganggu ketenangan selama ini, kalau tidak menghancurkannya. "Kukira, aku cukup mampu," jawab Tristan dengan angkuh. "Baik, kalau begitu mari kita tidur." Tapi keesokan harinya mudah dilihat, bahwa Tristan tidak cukup mampu menjalankan tugasnya. Ia duduk di belakang meja. Uang itu digenggamnya saja. Ia bicara terus-menerus. Tapi bicaranya menurut kebutuhan. Tiap orang diajak bicara menurut sifatnya masing-masing. Dengan berlagak pandai mengatur segalanya, ia memisah-misahkan uang itu. Ini uang dana, ini uang harga lembu, ini uang kegiatan yayasan desa. Ia mengenakan peci kasar. Peci itu diletakkannya miring. Ia berceritera sambil mengisap uap bir yang keras. Tiap kali ceritera berakhir, ia menaruh uang di belakang amplop. Tapi jika berhadapan dengan tamu

http://inzomnia.wapka.mobi

wanita, dia berdiri setegak-tegaknya. Wanita-wanita itu sejak permulaan ada di sampingnya, karena wajah Tristan seperti wajah kanak-kanak, tampak jujur. Dan jika ia menumpahkan seluruh daya tariknya pada mereka, wanita-wanita gunung itu menyerah sama sekali. Aku heran mendengar ketawa terkekeh-kekeh yang berasal dari belakang pintu. Aku gembira, karena Tristan dapat bekerja dengan baik. Kali ini, semuanya beres. Waktu makan siang, Tristan merasa puas dengan dirinya sendiri. Waktu minum teh, ia merasa sangat bangga. Siegfried juga puas dengan penghasilannya hari itu, yang berupa deretan angka yang rapi dan dijumlah dengan teliti di dasar kertas. "Terima kasih, Tris! Kau memang hebat!" Pujian ini kedengarannya sangat manis. Petang harinya aku sedang di halaman, sambil melemparkan botol-botol bekas. Botol itu botol bensin, karena waktu itu belum ada jerigen. Hari ini sangat sibuk, sehingga aku terpaksa harus membawa botol lebih banyak dari biasanya. Tiba-tiba dengan terengah-engah, Tristan datang dari kebun. "Jim, buku tanda terimanya hilang!" "Kau selalu mengajak bergurau!" jawabku. "Mengapa kadang-kadang barang sebentar kau tidak mau menghentikan bakat konyolmu?" Aku tertawa terbahak-bahak sambil melemparkan botol obat ke botol lain, hingga botol itu pecah berhamburan. Tristan menarik lengan bajuku. "Aku tidak bergurau, Jim! Percayalah! Buku tanda terima itu betul-betul hilang!" Kali ini darah dinginnya lenyap. Matanya terbelalak, wajahnya pucat. "Tapi tak mungkin hilang begitu saja," bantahku. "Pada suatu saat pasti muncul kembali!" "Tak mungkin muncul kembali!" tukas Tristan, sambil meremas-remas tangannya dan mondar-mandir di jalan berbatu. "Kalau kau ingin tahu, sudah dua jam aku mencarinya. Aku sudah mengobrak-abrik seluruh rumah! Jelas hilang!" "Tapi tak perlu dipusingkan, bukan? Tentunya semua itu telah kaupindahkan ke buku kas induk."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Justru itu! Aku belum memindahkannya! Aku baru akan memindahkannya nanti malam!" "Jadi itu berarti, bahwa semua petani yang sudah menyerahkan uang kepadamu hari ini, bulan depan akan kautarik rekening lagi?" "Agaknya begitu, karena aku tidak ingat nama-nama mereka. Aku hanya ingat dua atau tiga nama saja!" Aku lalu duduk di atas bak batu. "Kalau demikian, mudah-mudahan Tuhan berkenan menolong kita, lebih-lebih kau! Petani-petani Yorkshire tidak suka kehilangan uang sampai dua kali. Dan kalau kau berani memintanya sekali lagi, oh jangan mengharap apa akibatnya nanti....!" Tiba-tiba timbul akalku untuk menyiksa hatinya dengan sedikit kejam. "Dan bagaimana Siegfried? Apakah telah kauberi tahu?" Wajah Tristan berubah, tampaknya agak cemas. "Belum, karena dia baru saja datang. Tapi sekarang akan kuberi tahu " Ia membusungkan dadanya dan pergi meninggalkan halaman. Aku tidak ingin mengikutinya ke dalam rumah. Aku merasa tidak cukup kuat menyaksikan adegan yang akan segera terjadi. Oleh karena itu, melalui jalan belakang, aku pergi mengelilingi bagian belakang rumah dan pergi ke pasar. Matahari sebentar lagi akan tersenyum. Lampu di gapura Drovers' Arms telah dinyalakan. Aku duduk di belakang sebuah pot. Tak lama kemudian Tristan menyusul. Tampangnya seperti orang yang baru saja dikuras separo darahnya. "Kau diapakan?" tanyaku. "Oh, biasa saja. Hanya saja kali ini lebih keras. Tapi kau perlu tahu, Jim. Aku tidak mengharapkan bulan depan!" *** Buku tanda terima tidak pernah ditemukan. Sebulan kemudian, para petani ditarik rekening lagi. Waktunya tepat seperti biasanya, ialah pagi-pagi pada hari pasaran. Pada hari itu aku tak punya banyak tugas, sehingga menjelang tengah hari sudah selesai. Aku tidak masuk ke dalam rumah, karena melalui jendela kamar tunggu, aku dapat melihat deretan petani, yang sedang

http://inzomnia.wapka.mobi

duduk di sekeliling tembok. Wajahnya menunjukkan bahwa mereka merasa tidak bersalah dan merasa tersinggung. Dengan diam-diam aku menyelinap ke pasar. Tiap kali punya waktu, aku suka berjalan-jalan di antara kios-kios yang memenuhi lapangan kuno itu. Kita dapat membeli buah-buahan, ikan, buku-buku bekas, keju, atau pakaian. Pendek kata hampir segalanya. Tapi yang paling kusukai adalah kios barang-barang porselen. Kios itu milik seorang Yahudi. Dia berasal dari Leeds. Orangnya gemuk percaya pada diri sendiri, berkeringat, dan memiliki teknik penjualan yang memikat. Aku tidak pernah jemu menontonnya. Ia memang memesonakan. Hari ini ia paling berhasil. Ia berdiri di tempat terbuka dan dikelilingi setumpuk barang tembikar. Ia dikerumuni istri-istri petani, yang mendengarkan pidatonya dengan mulut ternganga. "Saya tidak tampan," katanya. "Saya tidak pandai. Tapi berkat Tuhan, saya bisa bicara. Bahkan saya bisa bicara tentang kaki belakang keledai! Tapi, ibu-ibu! Harap melihat ke mari!" Ia memegang cangkir murah dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Tapi dengan lemah lembut ia memegangnya di antara ibu jari dan jari telunjuk. Jari kelingkingnya dikembangkan. "Cantik, bukan? Apakah ini tidak menarik hati?" Kemudian dengan hormat ia meletakkan cangkir itu di atas telapak tangan dan memperlihatkannya kepada penonton. "Nah, Ibu-ibu, kalian bisa membeli satu setel teko bersama cangkirnya di toko besar dengan harga tiga ribu tujuh ratus lima puluh rupiah. Saya tidak bergurau. Saya tidak bercanda. Cangkir itu ada. Dan memang itu harganya. Tapi harga saya, Ibu-ibu?" Di sini ia mengambil tongkat tua yang pangkalnya telah patah. "Berapa harga teko dan cangkir saya?" Ia mengayunkan tongkat itu dan memukulkannya pada teko dan cangkir itu. "Tiga ribu lima ratus rupiah, siapa mau?" Prang! "Tiga ribu." Prang! "Dua ribu." Prang! "Seribu lima ratus." Prang! Bagaimana? Belum mau? Masih terlalu mahal? Seribu." Prang! Tak ada yang bergerak. "Baik, kalau begitu. Lebih baik saya mengalah. Saya turunkan sejadi-jadinya. Saya obralkan saja. Tujuh ratus lima puluh!" Dan ia memberikan pukulan terakhir yang paling keras.

http://inzomnia.wapka.mobi

Ibu-ibu saling mengangguk, saling memberi isyarat, dan meraba-raba ke dalam tasnya. Seorang lelaki bertubuh kecil muncul dari belakang kios dan membagi-bagikan teko beserta cangkir-cangkirnya. Upacara itu dilakukan dengan rapi dan tiap orang merasa gembira. Dengan sangat puas aku sedang menunggu acara berikutnya dari penjual ulung itu. Tiba-tiba aku melihat orang bertubuh besar dan tegap, bertopi check, dengan giat melambai-lambaikan tangannya ke arahku. Ia sedang berdiri di belakang kerumunan orang banyak. Tangannya dimasukkan ke dalam jaket, dan aku tahu apa yang sedang diambilnya. Dengan segera aku menghindar dan bersembunyi di belakang kios bak makan babi dan jaring kawat. Baru saja aku melangkah beberapa meter, ada petani lain yang memanggilku dengan maksud tertentu. Ia melambailambaikan amplop. Aku merasa terjebak. Untunglah aku melihat jalan ke luar. Dengan cepat aku menyusuri meja etalase pertama murahan. Aku masuk lewat gapura Drovers' Arms, menghindari warung yang penuh petani, dan menyelinap ke dalam kamar menejer. Aku merasa aman. Di tempat ini aku selalu mendapat sambutan baik. Menejer itu mengangkat kepalanya, tapi tidak tersenyum. "Lihat ini," katanya dengan tajam. "Beberapa waktu yang lalu aku membawa anjingku ke rumahmu. Kemudian aku mendapat tagihan da-rimu." Dalam hati aku merasa ngeri. "Tagihan itu langsung kubayar. Tapi aku heran, karena pagi ini aku ditagih lagi. Ini tanda terimanya, ditandatangani oleh....." Aku tak tahan lagi. "Maaf, Mr. Brooke. Memang ada kekhilafan. Saya akan membereskannya. Sekali lagi saya minta maaf yang sebesarbesarnya." Beberapa hari berikutnya peristiwa semacam ini terulang lagi. Tapi yang paling pahit adalah pengalaman Siegfried. Peristiwa itu terjadi di bar kesayangannya, yang bernama Angsa Hitam. Ia diham-piri orang yang telah banyak berjasa di Darrowby. Orang itu namanya Billy Breckenridge, yang bertubuh kecil, lucu, dan ramah. "Hai, Siegfried! Kau masih ingat uang yang kubayarkan kepadamu di kamar bedah itu? Tiga ribu enam ratus! Tapi kenapa aku kautagih lagi?"

http://inzomnia.wapka.mobi

Siegfried minta maaf sehalus-halusnya. Ia banyak pekerjaan, katanya. Lalu orang itu diajaknya minum, dan persoalannya beres dengan baik. Yang menimbulkan rasa kasihan ialah karena Siegfried pelupa benar dan tidak ingat akan hal ini. Sebulan kemudian di bar yang sama, Siegfried lari menghampiri Billy Breckenridge lagi. Kali ini Billy tidak begitu berminat melucu. "Siegfried, kau tentu masih ingat, aku sudah kautarik rekening dua kali! Dan sekarang kautagih lagi?!" Siegfried berusaha bersikap seramah mungkin. Tapi Billy tidak bisa menerima sikapnya itu dan merasa tersinggung. "Nah, sekarang jelas, kau tidak percaya bahwa aku telah membayar rekening. Aku sudah punya tanda terimanya, tapi hilang." Ia berusaha mengesampingkan pernyataan Siegfried. "Tidak, tidak! Hanya ada satu jalan supaya perkara ini beres. Aku sudah membayar tiga ribu enam ratus. Dan kau tidak percaya. Baik, kalau begitu. Kita undi saja!" Dengan menyesal Siegfried berkeberatan. Tapi Billy tidak mau mengubah pendiriannya. Ia mengeluarkan mata uang logam, dan dengan penuh harga diri menimang-nimangnya di atas kuku ibu jari. "Coba tebak, kaupilih mana, kepala atau angka?" "Kepala," jawab Siegfried. Dan tebakannya tepat, gambar kepala ada di atas. Siegfried menang. Wajah Billy tidak berubah. Dengan penuh harga diri ia menyerahkan uang tiga ribu lima ratus kepada Siegfried. "Dengan ini persoalan kita sudah beres!" Ia pergi keluar dari bar. Memang benar ada beberapa jenis pelupa. Tapi Siegfried pelupa luar biasa. Meskipun telah terulang tiga kali, ia lupa mencatat pembayaran ini. Pada akhir bulan, Billy Breckenridge menerima tagihan yang keempat, sebanyak jumlah yang telah dibayarnya sampai dua kali! Kira-kira sejak waktu itulah Siegfried tidak ke pergi ke bar itu lagi, dan pindah ke bar Cross Keys. BAB 13

http://inzomnia.wapka.mobi

WAKTU musim gugur berubah jadi musim dingin, puncak-puncak bukit tertutup salju. Bekerja di Dales mulai terasa tidak enak. Berjam-jam aku terpaksa harus mengemudikan mobil dengan kaki beku, mendaki ke kandang di puncak bukit di tengah-tengah angin yang dingin menyayat, sehingga rumput-rumput kurus pun meniarap sedatar tanah karena kencangnya angin. Di bangunan yang banyak angin, aku tak putusputusnya terpaksa harus melepaskan pakaian, mencuci tangan dan dada dengan air ember yang dingin, dengan menggunakan sabun keras, dan sering kali harus menggunakan sepotong karung untuk handuk. Aku tahu betul apa artinya tangan merekah. Jika banyak pekerjaan, tanganku tidak pernah kering dan merekah-rekah berwarna merah, hingga hampir sampai siku. Pada saat seperti inilah mengobati binatang kecil merupakan berkat yang melegakan. Aku dapat beristirahat sebentar dari tugas sehari-hari yang berat dan kasar. Aku dapat berjalan dengan santai masuk ke kamar tamu yang hangat dan bukan masuk ke dalam kandang. Di kamar tamu ini aku dapat mengerjakan pekerjaan lebih ringan daripada mengobati kuda atau lembu jantan. Dan di antara sekian banyak kamar tamu yang enak, tidak ada yang begitu mengesankan seperti kamar tamu Nyonya Pumphrey. Nyonya Pumphrey adalah seorang janda tua. Mendiang suaminya, pengusaha bir yang pabrik dan barnya tersebar luas di dataran rendah Yorkshire, telah meninggalkan warisan besar sekali dan rumah indah di perbatasan Darrowby. Di sini ia hidup bersama pembantu dan pelayannya, tukang kebun, sopir, dan Tricki Woo. Tricki Woo adalah anjing Peking dan merupakan anak emasnya. Waktu aku berdiri di ambang pintu yang megah, dengan diam-diam aku menggosok ujung sepatuku pada bagian belakang celanaku dan meniup tanganku yang dingin. Aku dapat melihat kursi malas yang cekung, cukup dekat dengan perapian yang nyalanya menjilat-jilat, dan cukup dekat dengan baki berisi biskuit cocktail, serta botol anggur istimewa. Karena anggur itu, aku selalu berusaha mengatur waktuku dengan cermat, supaya bisa datang tepat setengah jam sebelum makan siang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Seorang pelayan membukakan pintu. Wajahnya berseri-seri, karena mendapat tamu terhormat dan mengantarkan aku ke kamar. Kamar itu penuh sesak dengan perabot mahal, majalah yang dicetak dengan kertas mengkilat, dan buku-buku novel terbaru. Nyonya Pumphrey yang sedang duduk di kursi bersandaran tinggi di dekat perapian, meletakkan bukunya, dan berteriak kegirangan. "Trick! Trick! Ke sini! Pamanmu Herriot datang!" Aku telah diangkat jadi paman anjing terlalu pagi. Tapi karena hubungan ini menguntungkan, aku tidak berkeberatan. Tricki seperti biasa, melambung dari bantal, melompat ke sandaran sofa, dan menaruh cakarnya di atas bahuku. Kemudian ia menjilati mukaku, tapi segera berhenti karena kecapean. Tricki mudah lelah karena makannya dua kali lipat anjing sebayanya. Dan makanan itu salah pilih. "Oh, Mr. Herriot," kata Mrs. Pumphrey, sambil memandang anjing kesayangannya dengan cemas. "Saya sangat gembira karena Anda segera datang. Tricki lari duduk lagi." Penyakit ini tidak tertulis dalam buku pelajaran. Yang dimaksud lari duduk adalah kelainan pada kelenjar dubur. Bila kelenjar itu penuh dan membesar, Tricki merasa tidak enak. Untuk menghilangkan perasaan tidak enak itu, waktu sedang berjalan, Tricki tiba-tiba duduk. Majikannya tentu saja jadi sangat cemas, dan terburu-buru meneleponku. "Halo, Mr. Herriot! Harap cepat datang! Keponakan Anda lari duduk lagi!" Anjing kecil itu kuangkat ke atas meja. Dengan segumpal kapas, duburnya ku tekan, hingga seluruh isi kelenjarnya keluar. Yang mengherankan ialah bahwa Tricki selalu gembira sekali jika melihatku. Anjing yang masih tetap suka kepada orang yang menangkapnya dan memijit duburnya, setiap kali bertemu, tentu mempunyai sifat mengampuni yang luar biasa. Tapi Tricki tidak pernah menunjukkan rasa dendam. Memang dia seekor anjing kecil yang punya sifat mantap luar biasa, sangat cerdas, dan betul-betul memikatku. Aku senang jadi dokter pribadinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah duburnya selesai kupijit, dia kuangkat dari meja. Ternyata sekarang beratnya bertambah, karena ada lapisan daging tambahan pada tulang rusuk. "Mrs. Pumphrey, Nyonya memberi makan Tricki terlalu banyak. Tidakkah Nyonya kuminta mengurangi semua kue dan memberinya protein lebih banyak?" "O, ya, Mr. Herriot," bantah Mrs. Pumphrey. "Tapi bagaimana? Ia tidak mau makan daging ayam lagi." Aku mengangkat bahu, karena tak ada harapan lagi. Aku diantar pelayan ke kamar mandi yang sangat bagus. Di sini aku selalu melakukan upacara cuci tangan sesudah operasi. Kamar ini besar sekali, berisi meja rias, barang seni yang amat besar dan deretan rak gelas yang penuh dengan alat-alat kecantikan. Handuk yang disediakan untukku tersampir dekat tempat sabun. Kemudian aku kembali ke kamar tamu. Gelas anggurku telah diisi penuh dan aku duduk dekat api untuk mendengarkan Mrs. Pumphrey. Ini bukan percakapan karena Mrs. Pumphrey bicara terus-menerus. Namun menurut pendapatku, ada keuntungannya. Mrs. Pumphrey adalah orang yang ramah. Ia sangat dermawan dan selalu menolong orang yang mengalami kesulitan. Ia cerdas dan menyenangkan, lucu dan disenangi orang. Tapi, seperti kebanyakan orang pula, Mrs. Pumphrey punya kelemahan. Ia begitu mencintai Tricki, sehingga tidak dapat lagi membedakan dirinya dengan Tricki. Ceritera-ceritera tentang kekasihnya ini keterlaluan, hingga melampaui batas fantasinya. Tentu saja aku menunggu dengan penuh gairah akan kelanjutan ceritera bersambungnya. "Oh, Mr. Herriot! Saya mendapat berita yang paling menggemparkan! Tricki mendapat kawan pena! Betul, dia menulis surat kepada redaksi majalah Doggy World sambil menyertakan sumbangan. Tricki mengatakan kepadanya, bahwa meskipun ia keturunan kaisar-kaisar Cina, ia mau merendahkan diri dan bergaul bebas dengan anjing biasa. Ia minta kepada redaksi itu, supaya mencarikan kawan pena, ialah anjinganjing kenalan redaksi Dengan demikian keduanya dapat saling

http://inzomnia.wapka.mobi

berkorespondensi dan saling mendapat keuntungan. Dan untuk maksud ini, Tricki bermaksud berganti nama dengan nama baru, ialah Mr. Utterbunkum. Dan Anda tahu, Mr. Herriot, Tricki menerima surat jawaban dari redaksi itu! Surat itu sangat indah!" (Aku dapat menduga sebelumnya, redaksi yang cerdik itu pasti mengharapkan sumber keuangan yang besar ini.) "Redaksi itu mengatakan, akan memperkenalkan Tricki kepada Bonzo Fothe-ringham, seekor anjing Dalmatia yang kesepian, yang pasti suka berkawan pena dengan Tricki, temannya yang baru dari Yorkshire!" Aku menghirup anggur. Tricki mendengkur di atas pangkuanku. Mrs. Pumphrey melanjutkan ceri-teranya. "Tapi saya kecewa dengan villa saya yang baru. Anda tahu, saya membelinya terutama untuk Tricki. Maksud saya, supaya kami berdua dapat duduk-duduk bersama pada sore hari di musim panas. Rumah itu begitu mungil, menyenangkan, dan tenang. Tapi Tricki sama sekali tidak menyukainya. Bahkan muak, dan sama sekali tidak mau masuk ke dalam. Seandainya Anda dapat melihat wajahnya waktu ia melihat rumah itu. Dan tahukah Anda apa komentarnya kemarin? Oh, saya hampir tidak berani mengatakannya!" Ia melihat sekitarnya, takut kalau ada Tricki, mencondongkan badannya, dan berbisik, "Kata Tricki, rumah itu villa keparat!" Pelayan menambah bahan bakar pada perapian dan mengisi gelasku lagi. Angin menghembuskan hujan dan salju ke jendela. Inilah hidup, pikirku. Aku mendengarkan kelanjutan ceriteranya. "Kecuali itu, Mr. Herriot, Tricki menang lagi kemarin. Saya yakin, dia pasti mempelajari daftar perlombaan. Ia pandai sekali menebak bentuk. Yah, ia menyuruhku menebak Canny Lad pada pukul tiga di Redcar kemarin. Seperti biasanya, Tricki menang! Ia memasang seratus rupiah tiap putaran dan mendapat sembilan ratus rupiah!" Taruhan-taruhan ini selalu dipasang dengan nama Tricki Woo, dan aku merasa belas kasihan terhadap reaksi bandar-bandar setempat. Para akuntan Darrowby adalah sekelompok orang yang curang dan jadi buronan polisi. Orang-orang ini muncul di ujung sebuah gang dan

http://inzomnia.wapka.mobi

mendesak penduduk supaya memasang taruhan bersama Joe Downs. Dengan demikian keamanannya akan terjamin. Selama beberapa bulan Joe terpaksa hidup dalam bahaya. Sementara itu ia mencari akal untuk menge-labuhi rakyat yang tidak bodoh. Tapi akhirnya selalu sama. Beberapa jago menang berurutan dan Joe pada malam harinya terpaksa melarikan diri, sambil mengajak teman-temannya. Seorang penduduk pernah kutanyai, mengapa Joe menghilang dengan mendadak. Ia menjawab biasa saja, "Oh, kita menang, dia bangkrut." Bertaruh pada perlombaan anjing dan kalah terus-menerus, rupanya merupakan beban hidup yang berat bagi orang-orang itu. "Minggu yang lalu saya mengalami peristiwa yang mengerikan," sambung Mrs. Pumphrey. "Saya yakin, saya harus memanggil Anda. Kasihan benar Tricki! Ia lumpuh sama sekali!" Dalam hati aku menghubungkan penyakit lari duduk ini dengan penyakit baru pada anjing itu dan minta penjelasan lebih lanjut. "Betul-betul mengerikan! Saya ketakutan! Tukang kebun melemparkan gelang-gelang supaya diambil Tricki. Ia melakukan ini selama setengah jam tiap hari." Saya telah menyaksikan tontonan ini beberapa kali. Hodgkin, seorang Yorkshire yang sudah tua, berpunggung bongkok dan tidak pernah tersenyum, membenci semua anjing, terutama Tricki. Tiap hari ia harus keluar ke halaman, dan melemparkan gelang-gelang karet berulang-ulang. Tricki melompat, mengejarnya, dan membawanya kembali, sambil menyalak-nyalak. Hal ini dilakukan beberapa kali. Makin lama wajah orang tua itu makin cemberut. Keriputnya makin dalam. Bibirnya bergerak terus-menerus, sambil bersungut-sungut. Tapi aku tak dapat mendengar apa yang dikatakannya." Mrs. Pumphrey melanjutkan ceriteranya, "Ya, Tricki sedang bermainmain. Ia sangat suka permainan itu. Tapi tiba-tiba, tanpa sebab yang jelas, ia lumpuh. Ia lupa gelang-gelang itu, lalu lari berputar-putar, sambil menyalak dan melolong-lolong, dengan cara yang aneh sekali. Kemudian ia jatuh ke samping dan berbaring tenang seperti mati. Betul, Mr. Herriot, saya kira dia sudah mati, karena tak bergerak sama sekali. Yang paling menyakitkan hati adalah Hodgkin. Selama dua puluh empat

http://inzomnia.wapka.mobi

tahun ikut saya, dia tidak pernah tersenyum. Tiba-tiba waktu dia melihat anjing kesayangan saya tak berkutik sama sekali, dia tertawa terbahak-bahak sekeras-kerasnya seperti orang sinting. Peristiwa ini bagi saya sungguh mengerikan. Saya baru saja akan lari untuk menelepon Anda, tapi tiba-tiba Tricki bangkit dan berjalan. Ia tampak seperti biasa lagi." Menurut pendapatku Tricki histeris, karena salah makan dan terlalu gembira. Aku meletakkan gelas dan memandang Mrs. Pumphrey dengan tajam. "Mrs. Pumphrey, itulah yang saya sarankan tadi. Jika Nyonya tetap memberikan sembarang makanan, kesehatan Tricki akan rusak. Makanannya harus diatur dengan ketat. Sehari, berilah makan dua kali saja. Berilah daging sedikit dan roti cokelat, atau biskuit. Juga sedikit saja. Saat lainnya, jangan diberi makan." Mrs. Pumphrey duduk lemas di kursinya. Dari wajahnya tampak bahwa ia merasa bersalah dan malu. "Oh, maaf, Mr. Herriot! Saya minta dengan hormat, harap Anda jangan bicara seperti itu! Saya sudah berusaha keras supaya dapat mengatur makanannya. Tapi sangat sulit. Jika ia merengek-rengek minta sisa makanan, saya tidak sampai hati menolaknya." Ia menghapus air matanya dengan sapu tangan. Tapi aku tak mau menyerah. "Baik Mrs. Pumphrey, terserah kepada Nyonya! Tapi saya peringatkan sebelumnya. Jika Nyonya tidak menghentikan kebiasaan itu, Tricki akan makin sering lumpuh!" Aku meninggalkan rumah yang menyenangkan itu dengan berat hati. Aku berhenti sebentar di jalan setapak yang terbuat dari batu-batu kecil. Aku menengok ke belakang. Mrs. Pumphrey melambai-lambaikan tangannya, dan Tricki seperti biasanya, berdiri pada jendela. Mulutnya dibuka lebar-lebar, seolah-olah sedang tertawa terbahak-bahak. Sambil meluncurkan mobil, aku merenungkan keuntungannya jadi paman Tricki. Waktu dia pergi ke pantai, aku dikirimi sekotak daging ayam yang di-asap. Waktu tomat di rumah kaca berbuah dan masak, tiap minggu aku dikirimi setengah atau satu kilo. Tembakau dikirimkan dengan teratur, kadang-kadang disertai foto dengan surat singkat yang menyatakan kasih sayang.

http://inzomnia.wapka.mobi

Hari Natal aku mendapat kiriman keranjang dari Fortnum dan Mason. Sejak waktu ini aku menyadari, bahwa hubunganku perlu kutingkatkan. Sebab biasanya, aku hanya menelepon dan mengucapkan terima kasih kepada Mrs. Pumphrey atas kado-kadonya. Jawabannya biasanya dingin, sambil menegaskan yang mengirim kado adalah Tricki. Dialah yang seharusnya mendapat ucapan terima kasih. Karena kedatangan keranjang itu, aku lalu membuat kesalahan besar. Aku membuat siasat yang keliru, karena menulis surat kepada Tricki. Tentu saja kuusahakan, jangan sampai hal ini ketahuan Siegfried. Isi surat itu menyatakan, bahwa aku berterima kasih sekali kepada keponakanku atas kado dan semua kemurahan hatinya di masa lampau. Aku mengharap dengan sangat, mudah-mudahan makanan pada pesta itu tidak merusak usus halusnya, dan jika ia merasa tidak enak badan, harap makan tepung hitam menurut resep hasil karya pamannya. Selama menulis surat ini, aku sedikit merasa malu, karena mengomersialisasikan jabatan dengan ikan ayam, tomat, dan keranjang. Surat itu kualamatkan kepada Master Tricki Pumphrey, Barlby Grange, dan kumasukkan ke dalam peti surat, sambil merasa sedikit bersalah. Pada kunjungan berikutnya, Mrs. Pumphrey menarikku ke sampingnya. "Mr. Herriot," bisiknya. "Tricki sangat gembira menerima surat Anda dan bermaksud menyimpan surat itu. Tapi ada hal yang mengecewakannya. Anda mengalamatkannya kepada Master Tricki. Padahal ia ingin sekali dipanggil Mister Tricki. Mula-mula ia sangat tersinggung. Tapi setelah ia tahu bahwa surat itu dari pamannya, kemarahannya segera reda. Saya tidak mengerti mengapa dia punya prasangka seperti itu. Mungkin karena dia hanya seekor anjing. Saya memang berpendapat, bahwa anjing satu-satunya dalam sebuah rumah, lebih cepat berprasangka daripada anjing yang punya saudara banyak." Waktu memasuki Rumah Skeldale, aku merasa seperti sedang kembali ke dunia yang lebih dingin. Siegfried menabrakku di gang. "Ha, siapa ini? Ini tentu Paman Herriot tersayang! Dan apa yang baru saja kaulakukan, Paman? Menjadi kuli di istana Barlby Grange tentunya? Kasihan, kau

http://inzomnia.wapka.mobi

tentu kelelahan! Apakah menurut pendapatmu itu pantas kaulakukan? Bersusah payah menulis surat supaya dikirimi keranjang lagi?!" BAB 14 JIKA melihat ke masa lampau, aku hampir tidak percaya, bahwa kami bertiga, ialah Siegfried, Tristan, dan aku sendiri, menghabiskan sebagian besar waktu kami untuk meramu obat. Tapi obat itu tidak diberi etiket menurut pemiliknya, dan sebelum kami keluar ke jalan raya, kami harus mengisi mobil dengan bermacam ragam obat yang dicampur dengan teliti, tapi sebagian besar tidak ada gunanya. Pada suatu pagi Siegfried menghampiriku. Aku sedang memegang botol dua belas ons sejajar mata, sambil menuangkan sirup coccilina ke dalamnya. Dengan cemberut Tristan sedang mencampur obat perut dengan alat tumbuknya. Ia menumbuk makin cepat, ketika melihat Siegfried sedang mengawasinya. Ia sedang berdiri di tengah-tengah bungkusan obat dan tumpukan pesari yang disusun dengan teratur. Pesari itu ia buat dengan jalan mengisi silinder kertas kaca dengan boric acid. Tristan tampak rajin. Sikunya menyodok-nyo-dok dengan hebatnya, sewaktu ia menggilas amnion carb dan nux vomica. Siegfried tersenyum dengan ramah. Aku tersenyum juga. Aku merasakan adanya ketegangan waktu kedua kakak-beradik itu bertengkar. Tapi kali ini dapat terlihat, bahwa pagi ini akan merupakan pagi yang menggembirakan. Sejak Hari Natal, sejak Tristan kadang-kadang kembali kuliah, rupanya tanpa belajar sedikit pun ia ujian lagi dan lulus, suasana di Rumah Skeldale bertambah baik. Kecuali itu, hari ini tampaknya hati Siegfried penuh dengan rasa puas, seolah-olah ia sudah tahu dengan pasti, bahwa akan terjadi sesuatu yang menggembirakan. Ia masuk dan menutup pintu. "Jame, dan berita gembira!" Aku menyumbat botol dengan gabus. "Apa, Farnon? Cepat katakan dan jangan membuat sarafku tegang!"

http://inzomnia.wapka.mobi

Siegfried memandangku, kemudian memandang Tristan. Dengan sedikit angkuh ia tersenyum dan bertanya, "Kau masih ingat waktu Tristan mengurus pembukuan? Akibatnya kacau balau, bukan?" Tristan mengalihkan pandangan dan mulai menggilas obat makin cepat. Tapi Siegfried memegang bahunya dengan tersenyum ramah. "Jangan sedih. Aku tidak akan menyuruhmu lagi. Dan sebenarnya, mulai saat ini kau tak perlu mengerjakannya lagi, karena pekerjaan itu akan ditangani oleh seorang ahli." Ia berhenti dan berdeham. "Kita akan punya sekretaris!" Waktu mataku dan mata Tristan memandang Siegfried dengan terbelalak, ia melanjutkan. "Ya, dia saya pilih sendiri dan menurut pertimbangan saya, dia sempurna!" "Seperti apa orangnya?" Siegfried mengerutkan bibirnya. "Sukar melukiskannya. Tapi coba pertimbangkan. Apa yang kita inginkan di sini? Saya tidak menginginkan ada gadis berkeliaran di rumah ini. Saya tidak membutuhkan si rambut pirang yang genit duduk di belakang meja, sambil membedaki hidungnya dan main mata dengan tiap orang." "Bukan gadis?" sela Tristan, yang betul-betul tak mengerti. "Ya, bukan gadis!" jawab Siegfried dengan tegas. "Kalau masih gadis, tiap hari ia hanya akan melamunkan pacarnya terus-menerus. Kemudian sesudah berpengalaman dan terlatih, lalu dia lari, kawin!" Tristan masih tetap belum yakin, dan itu menjengkelkan Siegfried. Muka Siegfried jadi merah. "Dan ada hal lain lagi. Bagaimana mungkin kita punya karyawan masih gadis dan cantik, tinggal serumah dengan orang semacam kau. Tak mungkin kau akan tinggal diam!" Tristan tertusuk perasaannya dan menyalak. "Kalau kau akan tinggal diam?!" "Saya bicara tentang kau, bukan tentang saya!" bentak Siegfried. Aku memejamkan mata. Perdamaian akan berantakan lagi. Aku segera melerai. "Baik, ceriterakan tentang sekretaris itu!" Dengan susah payah, Siegfried bisa menguasai emosinya. "Yah, dia berusia sekitar lima puluhan-tahun, dan sudah berpengalaman tiga puluh

http://inzomnia.wapka.mobi

tahun di perusahaan Green dan Moulton di Bradford. Ia sudah pensiun sekarang. Dulu bekas sekretaris, dan aku mendapat referensi paling mengagumkan dari perusahaannya. Mereka mengatakan, bahwa dia karyawan teladan yang sangat efisien. Dan justru itulah yang kita butuhkan di rumah ini: efisiensi! Kita terlalu lamban. Ini suatu keuntungan besar bagi kita, bahwa ia memutuskan untuk tinggal di Darrowby. Kecuali itu, sebentar lagi kau bisa bertemu dengannya. Ia akan datang pukul sepuluh pagi ini." Waktu bel pintu berdering, jam berbunyi sepuluh kali. Siegfried bergegas menyambutnya dan mengantar karyawan pujaannya ke kamar dengan bangga. "Tuan-tuan, silakan memperkenalkan diri dengan Nona Harbottle!" Nona itu bertubuh besar, berdada tinggi, berwajah bulat dan sehat, serta mengenakan kaca mata berbingkai emas. Rambutnya keriting dan sangat hitam, tersembul dari bawah topinya. Mungkin rambut itu disemir dan tidak sesuai dengan sepatu serta pakaiannya yang sederhana. Aku tak perlu kuatir bahwa dia akan terburu-buru kawin. Bukan karena tidak cantik, tapi dagunya menonjol ke depan dan rupanya dia bisa memerintah orang dengan mudah, sehingga orang lelaki pun akan lari terbirit-birit untuk selamanya. Aku berjabatan tangan dengan Miss Harbottle itu, dan pegangannya bukan main kerasnya. Kami berdua saling berpandangan dan aku membalas meremas tangannya beberapa saat. Rupanya angkanya satu lawan satu. Ia melepaskan tanganku dan berpaling ke arah lain. Tristan sama sekali tidak siap tempur, dan waktu Miss Harbottle menjabat tangannya, ia menyeringai kesakitan. Tangannya baru dilepaskan waktu Tristan mau roboh. Ia lalu bertamasya ke dalam kantor. Siegfried jadi penunjuk jalan, sambil menggosok-gosok tangannya seperti penjaga toko dengan langganan kesayangannya. Ia berhenti sebentar di meja, yang penuh dengan tumpukan rekening keluar dan rekening masuk, formulir dari Kementerian Pertanian, serta surat edaran dari perusahaan obat. Di

http://inzomnia.wapka.mobi

sana-sini berserakan kotak-kotak pil yang tersesat dan pipa minyak ambing. Sambil memegang-megang sampah meja dengan muak, ia menarik buku kas induk yang lusuh dan memungutnya seperti memungut benda yang menjijikkan. "Apa ini?" Siegfried melompat ke depan. "Oh, itu buku kas induk. Berisi catatan tentang kunjungan kami, yang berasal dari buku catatan harian, yang mungkin juga ada di sini." Siegfried lalu membongkar-bongkar sampah meja itu. "Nah, ini dia! Ini tentang catatan panggilan tugas." Ia mempelajari kedua buah buku beberapa saat, sambil keheranheranan dan tersenyum kecut. "Jika saya disuruh mengurus ini semua, Tuan-tuan harus belajar menulis. Tapi yang satu ini paling jelek dan paling jorok. Tulisan siapa ini?" Ia menunjuk sebuah catatan dengan garis panjang yang terputus-putus dan kadang-kadang berombak-ombak. "Itu tulisan saya!" jawab Siegfried, sambil menggeser kakinya. "Itu tulisan waktu saya sangat sibuk!" "Tapi semuanya seperti itu, Mr. Farnon. Lihat ini, itu, dan ini lagi. Semua begitu, bukan?" Siegfried lalu menggaruk-garuk punggungnya dan menundukkan kepala. "Laci ini berisi apa? Alat tulis dan amplop?" Miss Harbottle menarik laci meja itu. Apa isinya? Ternyata laci itu berisi bungkusan biji-bijian yang sudah lama, kebanyakan sudah mulai tumbuh. Beberapa butir kacang hijau dan biji boncis menggelinding dari atas bungkusan. Laci berikutnya penuh sesak dengan tali penolong anak lembu yang akan lahir. Tali itu sudah kotor karena lupa mencucinya. Baunya sangat amis sehingga Miss Harbottle segera menutupnya kembali. Tapi ia belum jera, dan menarik lagi yang ketiga. Waktu terbuka, terdengar suara berdenting. Ia menjenguk isinya. Hanya deretan botol bir kosong yang kotor. Ia perlahan-lahan berdiri tegak dan bicara dengan sabar. "Kalau saya boleh bertanya, di mana tempat menyimpan uang tunai?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Saya taruh begitu saja. Itu, di sana!" Siegfried menunjuk jambangan di sudut di atas rak. "Kami tidak punya tempat khusus untuk menyimpan uang, seperti yang Nona maksudkan. Tapi jambangan ini sudah memenuhf kebutuhan." Miss Harbottle melihat jambangan itu dengan ngeri. "Anda jejalkan begitu saja....." Dari mulut jambangan itu terlihat cek dan uang kertas yang kusut dan kumal, sebagian berjatuhan di lantai dekat perapian. "Jadi yang Anda maksud, tiap hari uang itu Anda lemparkan begitu saja dan lalu Anda tinggalkan pergi?" "Saya kira tak pernah ada yang mengambil," jawab Siegfried. "Dan bagaimana tentang uang kecil?" Siegfried tertawa gelisah. "Semuanya di situ. Uang besar dan uang kecil." Tiba-tiba wajah Miss Harbottle yang merah jadi agak pucat. "Saya berkata terus terang, Mr. Farnon. Ini keterlaluan. Saya tidak tahu, bagaimana ini bisa berlangsung begitu lama. Saya sungguh tidak mengerti. Namun, saya percaya, saya dapat membereskan semuanya dengan segera. Jelas, bahwa keadaan kantor ini mudah diatur. Cukup dengan sistem indek pembukuan. Dan tentang uang itu, akan saya bereskan secepat-cepatnya," katanya sambil memandang jambangan dengan heran. "Bagus, Miss Harbottle, bagus!" Siegfried menggosok-gosok tangannya lebih keras lagi. "Saya harap Nona datang Senin pagi." "Pukul sembilan tepat, Mr. Farnon." Sesudah Miss Harbottle pergi, suasana sunyi. Tristan gembira atas kedatangannya dan tersenyum sambil memikirkan sesuatu. Tapi aku sendiri merasa tak menentu. "Kau tentu sudah tahu, Siegfried," kataku, "bahwa dia mungkin setan efisiensi. Tapi apakah kau tidak merasa, bahwa dia agak keras?" "Keras?" jawab Siegfried sambil tertawa terbahak-bahak. "Sama sekali tidak! Serahkan pada saya. Saya pasti dapat mengendalikannya!"

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB 15 HANYA sedikit perabot rumah tangga dalam kamar makan itu, tapi bentuknya yang anggun serta ukuran tempat itu pun sudah cukup memberikan kesan manis pada bupet dinding yang panjang dan meja sederhana dari kayu mahogani, di mana Tristan dan aku duduk sarapan. Satu-satunya jendela yang besar, di bagian luarnya dilapisi embun beku dan di jalan di luar, lang-kah-langkah kaki orang-orang yang lewat, berbunyi dalam salju kering. Aku mengangkat mukaku dari telur rebusku, waktu terdengar sebuah mobil berhenti. Terdengar hentakan kaki di serambi muka, pintu luar terbanting tertutup dan Siegfried menyerbu ke dalam kamar. Tanpa berkata sepatah pun dia langsung pergi ke tungku pemanasan dan bersandar di situ, dengan menopangkan sikunya pada alas tungku dari batu pualam kelabu. Dia terbung-kus sama sekali, hampir-hampir sampai ke matanya dalam sebuah mantel besar dan sebuah selendang, tapi mukanya yang tampak berwarna biru keunguan. Dia berpaling dan memandang ke meja dengan mata berair. "Ada demam susu di tempat Pak tua Heseltine. Salah satu gedung-gedung yang tinggi ini. Tuhanku, dingin benar di sana. Aku hampir tak bisa bernafas." Sambil menarik sarung tangannya dan menggon-cang-goncang jarijarinya yang kaku di depan nyala api, dia mengerling pada saudara lakilakinya. Kursi Tristan memang yang terdekat pada api dan dia sedang menikmati sarapannya, sebagaimana dia menikmati segala-galanya, menghempaskan mentega ke atas roti bakarnya dengan senang dan sambil bersiul-siul menaruh selai. Surat kabar Daily Mirror tersandar pada poci kopi. Kita seakan bisa melihat gelombang perasaan senang dan damai yang terpancar dari dirinya. Siegfried menyeret dirinya dengan enggan dari api dan menghempaskan diri ke sebuah kursi. "Aku minta secangkir kopi saja, James, Heseltine baik hati sekali - mengajakku duduk dan sarapan dengan dia. Dia memberikan sepotong besar lemak babi peliharaan sendiri - mungkin

http://inzomnia.wapka.mobi

agak terlalu berlemak, tapi bukan main sedapnya! Masih terasa-rasa sekarang." Diletakkannya cangkirnya dengan bunyi ge-merincing. "Kau tahu, sebenarnya tak ada alasan kita selamanya harus pergi ke kedai untuk membeli lemak babi dan telur. Di ujung kebun ini ada sebuah kandang ayam yang masih baik sekali dan di halaman masih ada sebuah kandang babi dengan sebuah ketel untuk memasak makanan babi. Semua sisa makanan kita seisi rumah bisa dijadikan makanan babi. Dengan demikian kita mungkin bisa terhemat." Dia berpaling pada Tristan yang baru saja menyalakan rokok Woodbine dan membuka Mirror-nya dengan cara mengibas-ngibaskannya dengan sikap senang tak terperikan yang merupakan sifat khasnya. "Dan itu akan merupakan suatu pekerjaan yang bermanfaat bagimu. Kau tidak memberikan banyak hasil dengan duduk saja di sini seenakmu sepanjang hari. Beternak sedikit akan baik bagi-mu. Tristan meletakkan surat kabarnya, seolah-olah daya tariknya sudah hilang. "Beternak? Tidakkah aku memeliharakan kuda betinamu?" Dia tak senang memelihara kuda pemburu Siegfried yang baru, karena setiap kali dia membawanya ke luar untuk minum di halaman, dia tentu menendangnya sambil bergurau sambil lewat. Siegfried melompat berdiri. "Aku tahu, tapi kan tidak makan waktu sepanjang hari? Kau tidak akan mati kalau kau juga memelihara ayam dan babi beberapa ekor." "Babi beberapa ekor?" Tristan memandang terkejut. "Kusangka kau tadi berkata babi saja?" "Benar beberapa ekor babi. Terpikir olehku. Kalau kubeli seperinduk anak-anak babi yang sudah lepas susu, kita pelihara seekor saja di antaranya dan yang lain kita jual. Dengan cara demikian kita tak perlu modal apa-apa." "Dengan buruh cuma-cuma, tentu saja tak ada modal." "Buruh? Buruh? Kau tak tahu apa artinya! Lihatlah kau itu, berbaring saja dengan merokok tak sudah-sudahnya. Kau terlalu banyak merokok!" "Kau juga!"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan bicarakan aku! Aku sedang membicarakan tentang kau!" teriak Siegfried. Aku berdiri dari meja dengan mengeluh. Suatu hari telah mulai lagi. Kalau Siegfried sudah punya gagasan, dia tak mau berlalai-lalai. Semboyannya adalah: bertindaklah segera! Dalam jangka waktu empat puluh delapan jam, sepuluh ekor babi kecil-kecil telah bermukim dalam kandang dan dua belas ekor ayam jenis Light Sussex sedang mematukmatuk di balik kawat kandang ayam. Dia terutama senang sekali dengan ayam itu. "Lihat ayam-ayam itu, James; te-pat sekali hampir waktu bertelur dan keturunan yang bagus pula. Mula-mula memang sedikit telurnya, tapi kalau ayam-ayam itu sudah mulai, kita akan dihujani dengan telur. Tak ada yang lebih baik dari sebutir telur bagus yang segar dan masih hangat karena baru dari sangkaknya." Sejak semula sudah jelas bahwa Tristan tidak ikut antusias seperti abangnya mengenai ayam-ayam itu. Aku sering melihatnya berkeliaran saja di luar kandang ayam, dia kelihatan merasa bosan dan sekali-sekali melemparkan remah roti ke balik kawat. Tak kelihatan bukti bahwa dia memberinya makan secara teratur, serta aturan makanan yang dinasehatkan oleh para ahli. Ayam-ayam itu tidak menarik baginya, sebagaimana bagi seorang penghasil telur, tapi dia memang agak tertarik pada ayam-ayam "itu sebagai pribadi. Suatu cara berkotek yang lucu, suatu sikap tubuh yang aneh - hal-hal itu lucu baginya. Tapi telur-telur tak juga ada dan dengan berlalunya minggu demi minggu, Siegfried makin menjadi jengkel. "Tunggu kalau aku bertemu orang yang menjual ayam-ayam itu padaku. Penipu sialan. Keturunan yang banyak telurnya, aduhai!" Kasihan kita melihat dia setiap pagi mengelilingi sang-kak-sangkak kosong itu dengan penuh harapan. Pada suatu petang, aku sedang pergi menuju kebun, ketika Tristan berseru padaku. "Mari sini, Jim. Ini ada suatu hal yang baru. Kurasa kau tak pernah melihat sesuatu seperti ini." Dia menunjuk ke atas dan aku melihat sekelompok burung-burung besar yang berwarna aneh bertengger pada dahan pohon-pohon elm. Sedang pada pohon-pohon apel

http://inzomnia.wapka.mobi

kepunyaan tetangga, ada lebih banyak. Aku menatap terkejut. "Kau benar. Aku memang belum pernah melihat yang begituan. Apa itu?" "Alaa, cobalah," Tristan tertawa riang, "masakan tak ada sesuatu yang kaukenali. Coba lihat la-gi." Aku melihat ke atas lagi, "Tidak, aku tak pernah melihat burung-burung sebesar itu apalagi dengan bulu-bulu yang setebal itu. Apa sih itu apakah suatu pindahan burung yang mengerikan?" Tristan tertawa terbahak-bahak. "Itu kan ayam-ayam kita?" "Bagaimana mereka sampai bisa naik ke sana?" "Mereka lari dari rumah. Terbang saja." "Tapi yang kulihat hanya tujuh ekor. Mana yang lain?" "Hanya Tuhan yang tahu. Mari kita lihat ke balik dinding." Lesung besar yang terdapat di antara batu-batu bata itu kami jadikan tempat memanjat dan kami menjenguk ke kebun di sebelah. Kelima ayam yang lain dan di situ, sedang mematuk-matuk dengan tenang di antara beberapa pohon kol. Lama benar kami baru berhasil mengumpulkannya kembali ke kandang dan pekerjaan yang sulit itu harus diulangi beberapa kali setiap hari sesudah itu. Karena ayam-ayam itu sudah jelas bosan hidup di bawah Tristan dan memutuskan bahwa mereka akan hidup lebih senang kalau bebas di luar. Ayam-ayam itu jadi tukang berkelana, berkeliaran makin jauh ke ladang-ladang dalam mencari makanan. Mula-mula para tetangga hanya tertawa saja. Mereka menelepon untuk mengatakan bahwa anak-anak mereka mengejar-ngejar ayam-ayam itu dan minta agar kami datang mengambilnya, tapi makin lama kesabaran mereka makin berkurang. Akhirnya Siegfried harus mendengar laporanlaporan yang menyakitkan hati. Dia diberi tahu bahwa ayam-ayamnya merupakan pengganggu yang tak terperikan. Setelah suatu pertengkaran yang benar-benar tak enak, Siegfried memutuskan bahwa ayam-ayam itu harus dibawa pergi. Hal itu merupakan pukulan yang hebat, dan sebagaimana biasa, kemarahannya itu dilampiaskannya pada Tristan. "Aku dulu itu tentu gila menyangka bahwa ayam yang kaupe-lihara akan mau bertelur. Tapi cobalah,

http://inzomnia.wapka.mobi

tidakkah itu keterlaluan. Kuberi kau pekerjaan mudah yang sederhana ini dan orang tentu akan berpikir bahwa kau akan keterlaluan kalau itu sampai tak beres. Tapi lihatlah keadaannya setelah hanya tiga minggu. Tak ada barang satu pun telur yang kita lihat. Sedang ayam sialan itu berkeliaran saja di seluruh daerah ini seperti burung dara. Kita terusmenerus dijauhi para tetangga. Sungguh bagus benar hasil karyamu itu ya?" Segala kekesalannya sebagai seorang penghasil telur yang gagal meledak dalam nada bicaranya yang melengking. Air muka Tristan menggambarkan perasaan tersinggung, dan dia terburu nafsu dan mencoba membela dirinya. "Kau tahu, kurasa memang ada sesuatu yang aneh tentang ayam-ayam itu sejak semula," gumamnya. Hilanglah daya mengekang diri Siegfried yang sudah tinggal sedikit itu. "Aneh!" pekiknya dengan geram. "Kaulah yang aneh, bukan ayam-ayam sialan yang malang itu. Kaulah makhluk yang paling aneh di dunia ini. Demi Tuhan, keluar - menghilanglah dari pandanganku!" Tristan pergi dengan tenang. Lama juga gema terakhir dari peristiwa ayam itu baru menghilang tapi dua minggu kemudian, waktu duduk di meja makan lagi dengan Tristan, aku merasa segala-galanya sudah dilupakan. Jadi aku sangat terkejut dan heran waktu melihat Siegfried masuk ke dalam kamar makan dan membungkuk dengan kejam sekali pada adiknya. "Kauingat ayam-ayam itu? Kurasa kauingat," katanya hampir berbisik, "kau tentu ingat bahwa aku telah memberikannya kepada Mrs. Dale, pensiunan tua yang tinggal di Brown's Yard. Nah, aku baru saja berbicara dengan wanita itu. Dia merasa puas sekali dengan ayam-ayam itu. Dia memberi ayam-ayam itu makanan campuran siang dan malam dan dia mengumpulkan telur sepuluh butir setiap hari." Suaranya nyaring hampir merupakan suatu teriakan. "Sepuluh butir telur, kaudengar itu, sepuluh butir telur!" Aku cepat-cepat meneguk bagian terakhir dari tehku, lalu cepat-cepat minta diri. Aku berjalan sepanjang lorong rumah, keluar melalui pintu belakang, lalu ke kebun dan ke mobilku. Dalam perjalananku aku melalui kandang ayam yang kosong. Kandang itu tampak murung. Tempatnya jauh dari kamar makan, namun aku masih bisa mendengar suara Siegfried.

http://inzomnia.wapka.mobi

BAB 16 JIM! Coba ke mari dan lihat pengemis-pengemis kecil ini," kata Tristan tertawa berkakakan, sambil bersandar pada pintu kandang babi. Aku berjalan menyeberangi halaman. "Ada apa?" "Aku baru saja memberi mereka makanan dan makanan itu agak panas. Coba lihat babi-babi itu!" Babi-babi kecil itu menangkap makanan itu, melepasnya kembali dan berjalan mengitarinya dengan curiga. Lalu mereka akan mendekat lagi perlahan-lahan, menyentuh kentang-kentang yang panas itu dengan moncongnya dan melompat mundur ketakutan. Tak kelihatan makanan yang berleleran seperti yang terjadi pada waktu makan biasanya; yang ada hanya semacam omelan keheranan. Sejak semula Tristan memang sudah beranggapan bahwa babi-babi itu lebih menarik daripada ayam-ayam itu; dan hal itu memang baik sebab dia harus mengimbangi kesalahannya setelah bencana ayam dulu itu. Banyak waktunya dihabiskannya di pekarangan, kadang-kadang memberi makan atau menyapu kotoran babi, tapi lebih sering menopangkan sikunya di atas pintu, memperhatikan binatang peliharaannya. Seperti juga dengan ayam, dia lebih tertarik pada watak babi-babi itu daripada kesanggupannya menghasilkan daging dan lemak. Setelah dituangkannya makanannya ke dalam tempat makanan yang panjang dia selalu memperhatikan, terpesona, melihat babi-babi itu berlari berebutan menyerbu makanan. Dalam keadaan makan dengan rakus itu, segera tampak kegelisahan. Binatang-binatang kecil itu mulai mengerling kawannya, akhirnya keinginannya untuk mengetahui apakah temannya makan lebih banyak, tak tertahan lagi, hingga mereka lalu mengubah sikapnya cepat-cepat, ada yang saling memanjat punggung temannya sampai-sampai jatuh ke dalam tempat makanan. Pak tua Boardman adalah seorang yang baik yang mau bekerja sama, tapi terutama dalam kesanggupannya memberi nasihat. Sebagaimana semua orang desa, dia menganggap dirinya tahu semua tentang peternakan dan penyakit-penyakit binatang dan ternyata babi adalah keistimewaannya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mereka sering mengadakan pertemuan lama-lama dalam kamar yang gelap di bawah kotak-kotak karton Bairnsfather dan orang tua itu asyiklah melukiskan tentang banyaknya binatang-binatang cantik yang telah dipeliharanya dalam kandang yang sama itu. Tristan selalu mendengarkan dengan rasa hormat, sebab dia punya bukti nyata tentang keahlian Boardman, tentang cara dia menangani tempat masak makanan binatang yang sudah tua dan terbuat dari batu bata merah itu. Tristan memang bisa mengangkut barang itu, tapi barang itu terbalik segera setelah dia membelakanginya; sedang dalam tangan Boardman barang itu jinak benar. Aku sering melihat Tristan mendengarkan dengan heran bunyi makanan yang mendidih itu sedang laki-laki tua itu terus mengaduknya dan bau enak kentang makanan babi itu dibawa angin dan tercium oleh mereka. Tapi tak ada binatang lain yang mengubah makanan itu menjadi daging lebih cepat daripada se-ekor babi dan setelah beberapa minggu berlalu, makhluk-makhluk kecil itu yang berwarna merah muda berubah dengan kecepatan yang luar biasa menjadi sepuluh ekor babi yang gendutgendut dan tegap-tegap. Watak mereka pun berubah menjadi makin buruk pula. Daya tarik mereka hilang. Waktu-waktu makan sudah tidak lucu lagi dan berubah menjadi pertempuran yang makin seru. Aku bisa melihat bahwa hal itu memberi warna pada hidup Pak Tua Boardman dan apa saja pun yang sedang dikerjakannya, dilepaskannya kalau dia melihat Tristan menyendok makanan dari tempat masakmakanan itu. Kelihatannya dia suka memperhatikan perlombaan sehari-hari dari tempat duduknya di atas tempat makanan yang dari batu itu. Tristan yang me-nyelinap-nyelinap mencari jalan, mendengarkan pekik ribut babi-babi itu waktu mendengar bunyi ember kayu; sambil memekikkan teriakan-teriakan untuk menguatkan dirinya, lalu membuka palang pintu dan masuk ke tengah-tengah babi-babi yang ribut dan berdesakdesakan; moncong-moncong yang besar dan rakus yang berebut-rebut masuk ke ember, telapak-telapak kaki yang tajam yang menginjak-injak kakinya dan tubuh-tubuh yang berat yang menindih kakinya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mau tak mau aku tersenyum kalau kuingat betapa riangnya biasanya permainan itu. Tapi kini tak ada tawa. Tristan akhirnya mengambil tindakan dengan memukulkan tongkat yang berat ke babi-babi itu sebelum dia berani masuk. Bila sudah di dalam, satu-satunya harapannya untuk bisa tetap berdiri tegak adalah dengan melapangkan tempat sedikit dengan cara memukul punggung-punggung babi itu Pada suatu hari pekan, ketika babi-babi itu sudah mencapai timbangan yang banyak lemaknya, kutemui Tristan berbaring bermalas-malasan di kursi yang paling disukainya. Tapi ada sesuatu yang tidak bisa pada dirinya; dia tidak tidur, tak ada botol obat, tak ada rokok Woodbines, tak ada Daily Mirror. Tangannya tergantung lunglai di tepi kursi, matanya setengah tertutup dan peluhnya berkilat di dahinya. "Jim," bisiknya. "Petang ini aku telah mengalami pengalaman yang paling buruk selama hidupku." Aku jadi kuatir melihat rupanya. "Ada apa?" "Babi-babi itu," katanya serak. "Mereka sudah melarikan diri hari ini." "Lari! Bagaimana mereka sampai bisa lari?" Tristan menarik-narik rambutnya. "Waktu aku sedang memberi makan kuda. Aku sedang memberinya rumput kering dan aku berpikir sebaiknya aku sekalian memberi makan babi-babi itu. Kau tahu bagaimana babibabi itu akhir-akhir ini - nah, hari ini mereka jadi gila-gilaan. Segera setelah kubuka pintu, mereka mendesak ke luar sebagai suatu kelompok rapat. Aku terlempar ke udara, lengkap dengan ember-emberku, lalu mereka lari dengan menginjak-injak aku." Dia mengangkat bahunya dan memandang padaku dengan mata terbelalak. "Dengarkan, Jim, waktu aku terbaring di atas batu-batu kerikil itu, habis ditumpahi makanan babi dan binatang-binatang itu menginjak-injak aku, kusangka aku sudah mati. Tapi mereka tidak menggigit atau menyepakku. Mereka hanya berlari ke luar melalui pintu halaman dengan kecepatan luar bia-sa. "Terbukakah pintu halaman waktu itu?" "Sialnya, memang terbuka. Entah mengapa justru hari ini aku membiarkannya terbuka." Tristan duduk tegak dan menggosok-gosok tangannya. "Yah, kusangka semula tak apa-apa. Sebab mereka memperlambat larinya waktu sampai

http://inzomnia.wapka.mobi

di jalan dan berjalan dengan tenang berkeliaran ke jalan depan dengan Boardman sedang aku mati-matian mengejarkan. Mereka mengelompok di sana. Kelihatannya tak tahu ke mana dia harus pergi lagi. Aku sudah yakin bahwa kami bisa menggiringnya kembali, tapi tepat pada waktu itu salah satu di antaranya menampak dirinya di kaca toko Robson." Dia menirukan air muka seekor babi yang menatap pantulan bayangannya - beberapa lamanya lalu kemudian melompat mundur dengan suara mendengkur karena terkejut. "Nah, itulah gara-garanya, Jim. Binatang sialan itu menjadi panik dan lari melesat ke tengah pasar dengan kecepatan lebih kurang lima puluh mil per-jam dan yang lain menyusul." Aku terengah. Sepuluh ekor babi yang benar-benar lepas di antara kedai-kedai yang amat berdekat-dekatan dan orang-orang yang begitu banyak pada hari pekan itu, rasanya sulit dibayangkan. "Oh Tuhan, maunya kau melihatnya tadi." Tristan terduduk lagi ke kursinya dengan lemas. "Orang-orang perempuan dan anak-anak berteriak-teriak. Pemilik kedai, polisi dan semua orang yang lain mengumpatku. Kemudian terjadi pula kemacetan lalu lintas - bermil-mil panjangnya deretan mobil membunyikan klaksonnya semau-mau-nya sedang polisi yang bertugas asyik memandangku dengan dahi berkerut." Dia menyeka dahinya. "Kau kan tahu pedagang di kedai Cina yang cepat bicaranya itu - nah, hari ini kulihat dia tak bisa berkata-kata. Dia sedang memegang sebuah cangkir di tapak tangannya dan dia berteriak nyaring waktu salah satu babi itu menaruh kaki-kaki depannya ke kedainya dan menatap mukanya tepat-tepat. Dia terhenti seolah-olah dia ditembak. Dalam keadaan lain hal itu tentu lucu, tapi kupikir binatang perusak itu akan membinasakan kedai itu. Meja tempat membayar sudah mulai bergoyang, lalu babi itu berubah pikiran dan lari." "Bagaimana keadaannya sekarang?" tanyaku. "Sudahkah kau bisa membawanya kembali?" "Aku sudah berhasil mengembalikan sembilan ekor," sahut Tristan sambil bersandar dan menutup matanya. "Dengan bantuan hampir semua

http://inzomnia.wapka.mobi

penduduk laki-laki di daerah ini, aku berhasil membawa kembali sembilan ekor. Yang kesepuluh, yang terakhir, orang melihatnya sedang menuju ke utara dalam jarak yang agak jauh. Hanya Tuhan yang tahu di mana dia sekarang. Oh ya, aku lupa menceritakan - salah satu di antaranya masuk ke kantor pos. Dan beberapa lamanya dia di situ." Ditutupnya mukanya dengan tangannya. "Kali ini aku benar-benar sial, Jim. Nasibku akan ada dalam tangan hukum, setelah kejadian ini. Tak bisa diragukan lagi." Aku membungkuk dan menampar kakinya. "Alaa, tak usahlah disusahkan benar. Kurasa tak ada kerusakan besar." Tristan menyahut dengan mengerang. "Belum selesai, masih ada sesuatu lagi. Waktu aku akhirnya menutup pintu setelah berhasil memasukkan babi-babi itu ke dalam kandangnya, aku hampir saja pingsan. Aku sedang bersandar pada dinding untuk mengumpulkan nafas ketika tampak olehku bahwa kuda hilang pula. Ya, hilang. Aku langsung saja pergi mengejar babi-babi dan lupa menutup pintu kandang kuda. Aku tak tahu di mana dia. Boardman berkata bahwa dia akan melihat-lihat - aku sudah tak kuat lagi." Tristan menyalakan Woodbine dengan tangan gemetar. "Habislah aku sekarang, Jim. Sekali ini Siegfried tidak akan kenal ampun." Sedang dia berkata itu pintu terbuka bagai ditiup angin dan abangnya menyerbu masuk. "Apa yang telah terjadi?" geramnya. "Aku baru saja bercakap-cakap dengan pendeta daerah dan dia berkata bahwa kudaku sedang makan bunga-bunga yang merambat di dindingnya. Dia mengamuk-nga muk dan aku tidak menyalahkan dia. Berangkat setan pemalas. Jangan berbaring saja di situ, pergi ke rumah pendeta itu sekarang juga dan bawa dia kembali!" Tristan tak bergerak. Dia berbaring diam, sambil memandang abangnya. Bibirnya bergerak-gerak de-ngan berat. "Tidak," katanya. "Apa katamu?" teriak Siegfried tak percaya. "Keluar segera dari kursi itu. Pergi dan ambil kembali kuda itu!" "Tidak," sahut Tristan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Terasa dingin badanku karena ngeri. Belum pernah terjadi perlawanan seperti itu. Muka Siegfried menjadi merah padam dan aku menguatkan diriku untuk menghadapi suatu ledakan; tapi Tristan-lah yang kemudian berkata, "Kalau kau memang menginginkan kudamu, ambillah sendiri." Suaranya tenang tanpa ada nada menantang. Dia bersikap seperti seseorang yang tak perduli akan masa depannya. Siegfried sendiri pun melihat bahwa kali ini Tris-. tan pun sudah tak tahan lagi. Setelah membelalakkan matanya pada adiknya beberapa detik lamanya, dia berbalik dan pergi. Dia mengambil kudanya sendiri. Tak pernah lagi dibicarakan tentang kejadian itu, tapi babi-babi itu cepat-cepat dipindahkan ke pabrik perusahaan lemak babi dan tak pernah dibeli babi baru lagi. Maka berakhirlah proyek pemeliharaan ternak. BAB 17 WAKTU aku masuk Miss Harbottle sedang duduk, menghadapi kotak tempat uang yang kosong, dia kelihatannya kesal sekali. Kotak itu merupakan kotak hitam berkilat dengan kata-kata 'uang kas kecil' yang tercetak dalam huruf-huruf putih di atasnya. Di dalamnya terdapat sebuah buku merah dengan catatan uang masuk dan uang keluar yang tertulis dalam kolom-kolom rapi sekali. Tapi tak ada uang di dalamnya. Pundak Miss Harbottle yang tegap itu lunglai. Dengan tak bernafsu diangkatnya buku merah itu dengan jari-jari telunjuk dan ibu jarinya dan satu-satunya mata uang sixpence berguling keluar dari celah-celah halamannya dan jatuh berdenting dalam kotak. "Diambilnya lagi rupanya," bisiknya. Terdengar langkah kaki orang yang berjalan mencuri-curi di lorong. "Mr. Farnon!" panggilnya. Dan pada saya dia berkata, "Sungguh memalukan cara laki-laki itu selalu mencoba melewati pintu dengan diam." Siegfried masuk dengan langkah terseret. Dia sedang membawa selang perut dan pompa, botol-botol kalsium menonjol di saku jasnya sedang

http://inzomnia.wapka.mobi

sebuah alat pengebiri yang tak ada darahnya tergantung-gantung di tangannya yang sebelah lagi. Dia tersenyum ceria tapi aku bisa melihat bahwa dia merasa tak enak, bukan saja disebabkan oleh beban yang sedang dibawanya, tapi juga karena dia merasa bersalah Miss Harbottle telah menempatkan meja tulisnya menyerong di sudut kamar berhadapan dengan pintu dan Siegfried harus menjalani se-panjangpanjang alas lantai dari pintu untuk sampai ke tempat Miss Harbottle. Dari sudut Miss Harbottle tempat itu benar-benar menguntungkan. Dari sudutnya itu dia bisa melihat setiap inci dari kamar besar, sampai ke lorong rumah kalau pintu kamar terbuka sedang dari jendela di sebelah kirinya dia bisa melihat langsung ke jalan depan. Tak ada satu pun yang luput dari pemandangannya - sungguh suatu kedudukan yang kuat. Siegfried memandang ke tubuh lebar di balik meja tulis itu. "Selamat pagi, Miss Harbottle, adakah yang bisa saya bantu?" Mata kelabu itu berkilat di balik kaca mata berbingkai emas. "Memang ada, Mr. Farnon. Anda harus menerangkan mengapa Anda sekali lagi telah mengosongkan kotak tempat uang." "Oh, maaf. Tadi malam aku tergesa-gesa harus pergi ke Brawton dan aku kehabisan uang. Benar-benar tak ada tempat lain bagiku untuk mendapatkan pinjaman." "Tapi Mr. Farnon, selama saya dua bulan berada di sini, sudah dua belas kali kita berkeadaan seperti ini. Apa gunanya saya mencoba mencatat dengan baik-baik selalu uang hasil praktek kalau Anda terus-menerus mencurinya dan menghasilkannya?" "Yah, kurasa aku memang sejak dulu sudah punya kebiasaan untuk pergi minum-minum pada hari-hari tertentu. Dan kurasa itu bukan suatu kebiasaan yang sangat buruk." "Itu sama sekali bukan suatu kebiasaan. Itu suatu pengacauan. Dengan cara itu kita tidak bisa punya perusahaan. Hal itu sudah berulang kali saya katakan pada Anda dan setiap kali pula Anda berjanji untuk mengubah sikap Anda. Saya rasanya tidak tahu lagi akan berbuat apa." "Alaa, sudahlah, Miss Harbottle. Ambil saja suatu jumlah dari bank dan masukkan ke kotak Anda itu. Bereskan." Siegfried menggulung gulungan

http://inzomnia.wapka.mobi

selang perut yang sudah terurai dari lantai lalu ber-balik akan pergi, tapi Miss Harbottle berdehem-de-hem sebagai peringatan. "Ada satu atau dua hal lagi. Saya harap Anda mau memenuhi janji Anda yang satu lagi, yaitu untuk mencatat semua kunjungan-kunjungan Anda dan menuliskan banyaknya bayaran yang Anda terima dari orang-orang itu. Sudah hampir seminggu ini Anda tidak menuliskan apa-apa dalam buku itu. Bagaimana saya bisa mengeluarkan surat-surat penagihannya pada awal bulan? Hal itu penting sekali, tapi bagaimana Anda bisa mengharapkan saya berbuat demikian kalau Anda mempersulit saya seperti itu?" "Ya, ya, maafkan saya, tapi ada serangkaian panggilan menunggu saya. Saya benar-benar harus pergi." Dia sudah sampai di tengah kamar dan selang tadi sudah terurai lagi dari gulungannya, ketika Siegfried mendengar deheman yang jelek bunyinya di belakangnya. "Ada satu hal lagi, Mr. Farnon. Saya masih belum bisa membaca tulisan Anda. Istilah-istilah pengobatan ini sudah cukup sulit, jadi tolonglah supaya Anda lebih berhati-hati dan jangan men-coret-coretnya saja." "Baiklah, Miss Harbottle" Siegfried mempercepat langkahnya melalui pintu dan langsung ke lorong di mana, mungkin, dia merasa aman dan senang. Dia sedang berjalan dengan rasa syukur di ubin ketika suara gemuruh yang dikenalnya itu didengarnya. Miss Harbottle bisa menjadikan agar bunyi itu bisa didengar dalam jarak yang mengherankan jauhnya dengan memberinya suatu tekanan kuat, dan itu merupakan panggilan yang harus dipatuhi. Aku bisa mendengar Siegfried meletakkan selang-selang itu dan pompa itu dengan kesal ke lantai, botol-botol kalsium tentunya telah menekan tulang-tulang rusuknya sebab kudengar botol-botol itu pun diturunkan pula. Siegfried mendatangi meja tulis lagi. Miss Harbottle menggoncanggoncangkan telunjuknya pada Siegfried. "Sementara Anda ada di sini, saya ingin menyebutkan satu hal lagi yang mengganggu saya. Lihat buku harian ini. Adakah Anda lihat carikan carikan kertas yang terselip di antara halaman-halaman ini? Carikan-carikan kertas ini semua merupakan pertanyaan-pertanyaan - saya rasa ada dua puluhan

http://inzomnia.wapka.mobi

banyaknya - dan saya tak bisa melanjutkan pekerjaan saya ini sebelum semua Anda jelaskan pada saya. Kalau saya minta Anda menjelaskannya, Anda tak pernah ada waktu. Bisakah Anda membahasnya dengan saya sekarang?" Siegfried cepat-cepat mundur. "Jangan, Jangan, jangan sekarang. Seperti kata saya tadi, ada beberapa panggilan yang mendesak yang menanti saya. Maafkan saya, tapi itu harus menunggu sampai lain kali. Begitu saya mendapat kesempatan, saya akan datang dan berbicara dengan Anda." Diraba-raba -nya pintu di belakangnya dan dengan pandangan terakhir ke tokoh besar yang bersikap menegur di balik meja tulis itu, dia berbalik lalu lari. BAB 18 KINI aku bisa menoleh ke masa lalu selama enam bulan, penuh pengalaman praktek yang berat. Aku sudah menangani sapi, kuda, babi, anjing dan kucing, selama tujuh hari dalam seminggu; pagi hari, petang, malam dan selama jam-jam orang sedang tidur. Aku sudah menolong sapi beranak dan anak babi lahir sampai tanganku sakit dan kulitnya terkupas. Aku pernah disepak sampai jatuh, diinjak-injak binatang dan disiram banyak dengan kotoran binatang apa pun juga. Aku sudah melihat penampang silang tentang penyakit-penyakit binatang. Namun suatu suara halus mulai mengorek-ngorek dalam otak kecilku; suara itu mengatakan bahwa aku tak tahu, tak tahu apa-apa. Hal itu memang aneh, sebab praktek yang enam bulan itu telah kujalankan berdasarkan lima tahun teori, suatu asimilasi dari beriburibu kenyataan yang lambat dan sulit dan suatu pengumpulan bagianbagian dari pengetahuan seperti seekor tupai yang membawa buah pinangnya. Mulai dengan mempelajari tumbuh-tumbuhan dan bentuk kehidupan yang paling rendah, meningkat sampai ke pembedahan dalam laboratorium anatomi dan ilmu faal serta bidang bahan pengobatan yang amat luas dan tidak berjiwa itu. Kemudian patologi yang menurunkan tirai kebodohanku dan untuk pertama kali memperlihatkan padaku

http://inzomnia.wapka.mobi

rahasia-rahasia yang dalam." Lalu parasitologi, dunia lain lagi yang amat banyak penghuninya tentang cacing-cacing, serangga-serangga dan kuman-kuman kudis. Akhirnya obat-obat dan pembedahan, yang merupakan kristalisasi dari apa-apa yang kupelajari dan penggunaannya pada kesulitan-kesulitan pada binatang-binatang sehari-hari. Dan banyak lagi yang lain, seperti ilmu alam, ilmu kimia, ilmu kesehatan, ilmu-ilmu itu rasanya tak ada kurangnya. Jadi mengapa aku harus merasa bahwa aku tak tahu apa-apa? Mengapa aku mulai merasa sebagai seorang ahli binatang yang melihat melalui teropong bintang ke suatu kumpulan binatang-binatang yang tak dikenal? Perasaan bahwa aku hanya meraba-raba saja pada tepi angkasa yang tak terbatas ini, sangat menyedihkan. Hal itu lucu, karena semua orang lain kelihatan tahu segala-galanya tentang binatang-binatang sakit. Anak muda yang memegang ekor sapi, tetangga dari peternakan di sebelah, orang-orang laki di rumah-rumah minuman, petugas-petugas di kebun, mereka semua tahu dan selalu mau memberikan nasihatnya serta yakin akan kebenarannya. Kucoba memikirkan masa lalu hidupku. Pernahkah ada waktu di mana aku merasa kepercayaan yang seagung ini dalam pengetahuanku. Kemudian aku teringat. Aku kembali berada di Skotlandia. Aku berumur tujuh belas dan aku sedang berjalan di bawah langit-langit dari Sekolah Tinggi Ilmu Kedokteran Hewan ke Jalan Montrose. Aku baru tiga hari menjadi mahasiswa tapi baru petang inilah aku merasa kepanasan. Mengaismengais dengan ilmu tumbuh-tumbuhan dan ilmu hewan tidak apa-apa, tapi petang ini terjadilah yang amat menyenangkan; aku mendapat kuliahku yang pertama dalam pemeliharaan binatang. Mata pelajarannya adalah tentang kuda. Profesor Grant telah menggantungkan sebuah gambar kuda sebesar kuda hidup dan membicarakannya mulai dari hidung sampai ke ekor, sambil menunjukkan pundak kuda itu, sendi lutut belakangnya, tumit kaki belakangnya dan kepalanya dan semua istilah-istilah tentang kuda yang banyak jumlahnya itu. Dan profesor itu pandai, untuk menjadikan kuliahnya lebih menarik

http://inzomnia.wapka.mobi

dia sering menunjukkan hal-hal yang praktis seperti. 'Di sinilah kita memasang tali kekang,' atau 'Di sinilah tempat memasang pakaian kuda.' Dia berbicara pula tentang jenis-jenis kuda dan tulang iga, tentang suban dan alat mengeluarkannya. Kata-kata itu masih berputar-putar di kepalaku waktu aku berjalan perlahan-lahan di sepanjang jalan yang melandai itu. Untuk inilah aku datang. Aku merasa seolah-olah aku sudah menjalani suatu perpeloncoan dan menjadi seorang anggota dari suatu klub khas yang istimewa. Aku benar-benar tahu tentang kuda. Dan aku sedang memakai mantel kulit untuk menunggang kuda yang benar-benar baru dengan segala macam embel-embel dan gesper yang menampar-nampar kakiku waktu aku menikung di sudut dari bukit ke jalan Newton yang ramai. Aku hampir tak percaya betapa beruntungnya aku ketika kulihat kuda itu. Kuda itu berdiri di luar perpustakaan di bawah Salib Queen seperti suatu peninggalan dari abad yang lalu. Dia menunduk saja dengan murung di antara kedua kuk sebuah gerobak pembawa batu bara; gerobak itu berdiri sebagai sebuah pulau di tengah suatu arus mobil-mobil dan bisbis yang melingkar-lingkar. Orang-orang yang berjalan kaki lewat dengan bergegas, tanpa peduli, namun aku punya perasaan bahwa nasib baik sedang tersenyum padaku. Seekor kuda. Bukan hanya gambarnya, melainkan benar-benar kuda sungguhan. Kata-kata peninggalan dari kuliah-kuliah muncul dalam pikiranku tentang tumitnya, tulang peluru, jambul dan semua ciri-ciri itu - bagian putih di kepalanya, noda putih dekat bokongnya. Aku berdiri di trotoar jalan dan memeriksa binatang itu dengan teliti. Pikirku, tentulah istimewa bagi semua orang-orang yang lewat, bahwa di sini ada seorang yang benar-benar ahli. Bukan hanya seorang penonton yang ingin tahu, tapi seorang laki-laki yang tahu dan mengerti semuanya. Aku merasa seakan-akan terbungkus dalam sinar suci yang jelas tentang perku-daan. Aku berjalan hilir-mudik beberapa langkah, tanganku dalam di dalam saku mantelku untuk naik kuda yang baru itu, sedang mataku melihat mencari-cari kalau-kalau ada kesalahan dalam memasang sepatu atau

http://inzomnia.wapka.mobi

luka di dagu atau penyakit kuda lainnya. Demikian telitinya aku memeriksa hingga aku berputar ke sisi kuda di sebelah lain dan berdiri di tempat yang berbahaya di antara lalu lintas yang melaju. Aku menoleh ke belakang melihat orang-orang yang lewat bergegas. Kelihatannya tak seorang pun yang peduli, bahkan kudanya pun tidak. Dia kuda yang besar, sekurang-kurangnya tujuh belas telapak tangan, dan dia memandang tak peduli ke jalan sambil mengistirahatkan kaki belakangnya, berganti-ganti dengan cara yang membayangkan rasa bosan. Aku sebenarnya tak suka meninggalkannya tapi aku sudah menyelesaikan pemeriksaanku dan sudah waktuku untuk pergi. Tapi aku merasa bahwa aku harus memberi tahu sebelum aku pergi; sesuatu yang harus kusampaikan pada kuda itu, bahwa aku mengerti masalahmasalahnya dan bahwa kami senasib. Dengan penuh keyakinan aku melangkah maju dan menepuk-nepuk tengkuknya. Secepat ular yang menyerang, kuda itu menyerang ke bawah dan mencengkeram pundakku dengan giginya yang besar dan kuat. Telinganya ditempelkannya ke belakang, memutar-mutarkan matanya dengan jahat lalu mengangkatku, hingga kakiku hampir terangkat. Aku tergantung saja tak berdaya, seperti boneka yang tergantung miring. Aku menggeliat dan menyepak-nyepak tapi gigi-giginya tertanam tak bergerak dalam bahan mantelku. Kini tak dapat diragukan lagi perhatian dari orang-orang yang lewat. Pemandangan yang luar biasa dari seorang laki-laki yang tergantung dari mulut seekor kuda, tiba-tiba menyebabkan mereka terhenti dan terjadilah suatu kumpulan yang terdiri dari orang banyak yang melihat dari balik pundak orang-orang yang berdiri di depannya sedang yang lain berebut-rebutan di belakang lagi untuk melihat apa yang terjadi. Seorang wanita tua yang ketakutan berteriak, "A-duh kasihan anak yang malang! Tolong dia!" Beberapa orang yang berani mencoba menarikku tapi kuda itu bertahan dengan jahatnya dan tetap menggigit kuat-kuat. Dari segala pihak yang memberikan bermacam-macam petunjuk. Kulihat dua orang gadis menarik di barisan terdepan, tak dapat menahan dirinya tertawa cekikikan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Dikejutkan oleh keadaanku yang memalukan itu, aku mulai memukulmukul ke kiri kanan sem-barangan; leher kemejaku mencekik leherku; suatu arus ludah kuda berleleran di bagian depan mantelku. Kurasa diriku tercekik dan aku sudah putus asa ketika seorang laki-laki mendesak masuk melalui orang-orang banyak itu. Orangnya kecil sekali. Matanya yang marah mendelik di wajahnya yang hitam oleh debu arang. Dua buah karung kosong tergantung pada sebelah tangannya. "Ada apa ini?" teriaknya. Terdengar selusin jawaban kacau balau di udara. "Mengapa kauusik kuda itu?" pekiknya di mukaku. Aku tak menyahut, karena mataku rasanya sudah tersembul, setengah tercekik dan tak ada niatku untuk bercakap-cakap. Tukang arang itu mengalihkan amarahnya pada kuda. "Lepaskan dia, binatang haram sialan! Ayo, lepaskan, lepaskan dia!" Karena tidak mendapat tanggapan ditusuknya perut binatang itu dengan kasar dengan ibu jarinya. Kuda itu segera menanggapi isarat itu dan melepaskan aku seperti seekor anjing yang patuh melepaskan sepotong tulang. Aku jatuh berlutut dan termangu-mangu di selokan sebentar sampai aku bisa bernafas lebih longgar. Sedang dari jarak jauh aku masih mendengar orang laki-laki kecil itu berteriak-teriak padaku. Beberapa lamanya kemudian aku bangkit. Tukang arang itu masih berteriak-teriak dan kumpulan orang banyak itu masih mendengarkan dengan bersungguh-sungguh. "Kausangka apa yang kau-permainkan jangan kausentuh kudaku - kupanggil polisi untuk menangkapmu." Aku melihat mantelku yang baru. Bahunya yang bekas gigitan tinggal merupakan tumpukan basah. Aku merasa bahwa aku harus melarikan diri dan mulai mencari jalan melalui kumpulan orang banyak. Tampak beberapa orang yang mukanya menunjukkan kekuatiran tapi kebanyakan tertawa. Segera setelah aku terlepas dari kumpulan orang banyak, aku segera mulai berjalan cepat-cepat dan waktu aku membelok di tikungan pekikan tukang arang itu yang terakhir masih kudengar samar-samar.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Jangan coba-coba mau campur tangan dalam pekerjaan yang kau tak tahu!" BAB 19 AKU melihat-lihat surat yang datang dengan malas-malasan. Seperti biasa yang ada hanya tumpukan surat-surat penagihan, surat-surat edaran, iklan-iklan berwarna cerah mengenai obat-obat baru; setelah beberapa bulan selalu menerima yang sama saja, aku menjadi tidak tertarik dan aku boleh dikatakan tidak memerlukan untuk membacanya. Aku sudah hampir sampai pada dasar tumpukan itu ketika aku menemukan sesuatu yang lain; sebuah amplop yang tampak mahal dan yang kertasnya bertepi bergerigi, dialamatkan padaku pribadi. Aku merobeknya dan kukeluarkan sebuah kartu berwarna air mas yang kubaca sepintas cepat-cepat. Kurasa mukaku menjadi merah waktu kumasukkan kartu itu ke dalam saku dalamku. Siegfried baru selesai memberi tanda-tanda pada daftar kunjungan yang sudah dilakukannya dan mengangkat mukanya. "Mengapa kau memandang seperti orang bersalah saja, James? Apakah kau teringat masa lampaumu? Ada apa sih - apa itu surat dari ibu yang ngamuk?" "Nih," kataku malu, sambil mengeluarkan kartu tadi dan memberikannya padanya, "tertawalah puas-puas. Kurasa kau pun nanti akan tahu juga." Muka Siegfried tidak membayangkan perasaan apa-apa waktu dia membaca kartu itu nyaring-nyaring. 'Tricky dengan senang hati mengundang Paman Herriot untuk hadir pada hari Jum'at tanggal lima Pebruari. Minum-minum dan dansa.' Dia mengangkat mukanya dan berkata dengan serius. "Bukan main senangnya. Kau tahu, itu tentu satu di antara anjing-anjing Pekingese di Inggris. Rupanya dia merasa tak puas hanya mengirimi kau ikan salai, tomat dan rantang saja - dia rupanya merasa perlu mengundangmu ke rumahnya untuk suatu pesta." Kurebut kartu itu dan kuselipkan ke tempat yang tak kelihatan. "Baiklah, baiklah, aku tahu. Tapi lalu aku harus berbuat apa?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Berbuat apa? Yang harus kaulakukan tidak lain, langsung duduk dan menulis sepucuk surat mengucapkan terima kasih banyak, dan bahwa kau akan berada di sana pada tanggal lima Pebruari. Pesta-pesta Mrs. Pumphrey itu terkenal sekali. Bergunung-gunung makanan yang sedapsedap dan sampanye yang mengalir terus. Bagaimanapun juga, jangan sampai kau tak hadir." "Akan banyakkah orang di sana?" tanyaku sambil menggeser-geserkan kakiku. Siegfried menamparkan telapak tangannya ke dahinya. "Tentu saja akan banyak orang. Apa sangkamu? Apa kausangka hanya kau dan Tricki saja yang akan ada? Apakah kau akan minum bir beberapa gelas lalu kau akan dansa irama foxtrot yang lambat dengan dia? Orang-orang terkemuka dari daerah akan hadir di sana dengan penuh kebesaran, tapi kurasa tidak akan ada tamu yang lebih terhormat daripada Paman Herriot. Mengapa? Karena yang lain itu diundang oleh Mrs. Pumphrey, tapi kau diundang oleh Tricki." "Oke, Oke," erangku. "Aku akan menyendiri dan aku tidak punya pakaian malam yang pantas. Aku......" Siegfried bangkit lalu meletakkan tangannya di pundakku. "Saudaraku, tak usah bingung. Duduklah dan terimalah undangan itu dengan baik lalu pergilah ke Brawton dan sewalah pakaian untuk malam. Kau tidak akan lama perlu menyendiri - gadis-gadis remaja yang baru pertama kali menghadiri pesta, akan berebut-rebutan minta dansa dengan kau." Akhirnya ditepuknya lagi pundakku, sebelum dia berjalan ke pintu. Sebelum pergi dia berpaling lagi dan air mukanya serius. "Dan ingatlah demi keselamatanmu, jangan tujukan suratmu pada Mrs. Pumphrey. Alamatkanlah pada si Tricky sendiri, kalau tidak kau akan gagal." Perasaanku bercampur baur dalam diriku waktu aku memperkenalkan diriku di rumah keluarga Pumphrey pada malam tanggal lima Pebruari. Seorang pelayan mempersilakan aku masuk ke ruang depan dan aku bisa melihat Mrs. Pumphrey sedang menyambut tamunya di pintu masuk ke ruang dansa dan lebih jauh di dalam, berdirilah sekelompok orang-orang yang berpakaian bagus-bagus memegang minuman. Terdengar dengung

http://inzomnia.wapka.mobi

suara bercakap-cakap antara orang baik-baik, suatu suasana umum orang berpunya. Kuluruskan dasi pada pakaian sewaanku, menarik nafas panjang dan menunggu. Mrs. Pumphrey sedang tersenyum manis waktu dia bersalaman dengan suami-isteri yang ada di depanku tapi waktu dia melihatku, wajahnya jadi berseri-seri. "Oh Mr. Herriot, Anda baik sekali mau datang. Bukan main senangnya Tricky menerima surat Anda - sebenarnya kita harus langsung masuk dan melihatnya." Dia mendahuluiku berjalan menyeberangi ruang depan. "Dia ada di kamar-pagi," bisiknya. "Di antara kita saja, baginya pestapesta ini membosankan, tapi dia akan benar-benar marah kalau saya tidak membawa Anda masuk sebentar." Tricky sedang berbaring melengkung di sebuah kursi di samping api yang menyala besar. Ketika dilihatnya aku, dia melompat ke atas sandaran kursi dan menyalak kesenangan, mulutnya yang besar dan tertawa itu, seperti membelah dua mukanya. Aku mencoba mengelakkan usahanya untuk menjilat mukaku, pada saat itulah terpandang olehku dua buah baskom makanan yang besar-besar di atas permadani. Yang sebuah berisi kira-kira satu pon ayam cincang, sedang yang lain seonggok kue yang sudah dihancurkan. "Mrs. Pumphrey!" kataku keras, sambil menunjuk baskom-baskom itu. Wanita malang itu menutupkan tangannya ke mulutnya dan mundur menjauhiku. "Aduh, ampunilah saya," mohonnya, mukanya penuh rasa menyesal. "Itu hanya merupakan jaminan khusus karena malam ini dia harus tinggal sendiri. Dan udara dingin pula." Dia memperkatup-kan kedua belah tangannya dan memandangku dengan kerendahan hati. "Akan saya maafkan Anda," kataku tegas, "kalau Anda mau mengambil setengah dari ayam itu dan semua kuenya." Dengan gugup seperti seorang gadis kecil yang tertangkap basah telah berbuat kenakalan, dia menjalankan perintah saya. Dengan perasaan menyesal aku berpisah dari anjing Peke yang kecil itu. Hari itu aku sibuk sekali dan aku mengantuk karena berjam-jam berada

http://inzomnia.wapka.mobi

dalam udara dingin yang menggigilkan. Kamar dengan apinya dan cahaya lampu yang lembut, kelihatan lebih menyenangkan daripada kemilau di ruang dansa yang ribut, dan aku sebenarnya akan lebih suka melengkung di sini dengan Tricky di lutut saya selama sejam dua jam. Mrs. Pumphrey menjadi tegas. "Sekarang Anda harus ikut dan berkenalan dengan beberapa teman-teman saya." Kami masuk ke ruang dansa di mana lampu-lampu menyorot terang dari tiga buah lampu gantung dari kristal dan yang cahayanya dipantulkan oleh dindingdinding yang berwarna krem dan keemasan serta berkaca banyak, hingga menyilaukan mata. Kami berjalan dari kelompok ke kelompok sedang Mrs. Pumphrey memperkenal-kanku dan aku merasa mual karena malu, karena aku dilukiskan sebagai 'paman si Tricky yang baik hati'. Tapi entah karena mereka adalah orang-orang yang punya daya penguasaan diri yang luar biasa, atau karena mereka sudah biasa olokolok busuk nyonya rumah itu, karena penjelasan itu diterima dengan benar-benar serius. Di sepanjang salah satu dinding sebuah kumpulan musik terdiri dari lima alat, sedang mencocokkan nada; pelayan-pelayan berjas putih bergegas di antara tamu-tamu dengan baki-baki berisi makanan dan minuman. Mrs. Pumphrey menyuruh berhenti salah seorang pelayan. "Francois, sedikit sampanye untuk bapak ini." "Ya, Nyonya." Pelayan itu menyodorkan bakinya. "Tidak, tidak, tidak bukan yang itu. Salah satu gelas yang besar." Francois bergegas pergi dan kembali lagi membawa sesuatu sebesar piring sup yang bergagang. Wadah itu penuh sampanye sampai ke tepinya. "Francois." "Ya, Nyonya." "Ini Mr. Herriot. Kau harus memperhatikannya baik-baik." Pelayan itu memandangku dengan sepasang mata sedih seperti mata anjing dan seperti akan menelanku beberapa saat lamanya. "Kau harus mengurus beliau. Jaga supaya gelasnya penuh selalu dan supaya beliau dapat makanan banyak." "Baik, Nyonya." Dia membungkuk lalu pergi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku membenamkan mukaku dalam sampanye yang sedingin es itu dan ketika aku mendongak, di hadapanku ada Francois yang menyodorkan sebaki sandwich dengan ikan salem yang masih berasap. Demikianlah keadaannya sepanjang malam. Francois seolah-olah selalu ada dekatku, mengisi gelas yang amat besar itu atau menyodorkan makanan kecil. Aku merasa senang; makanan kecil yang asin itu menimbulkan rasa haus yang kuhilangkan dengan meneguk sampanye itu dalam-dalam lalu aku makan makanan asin itu lagi yang membuatku haus lagi dan Francois tak ayal muncul dengan botol besarnya. Baru itulah aku mendapatkan kesempatan minum sampanye dengan gelas besar dan itu merupakan pengalaman yang menguntungkan. Tak lama aku sudah merasakan diriku enak dan ringan dan daya tanggapku meningkat. Aku tidak lagi terlalu ketakutan dalam dunia yang baru ini dan mulai menikmatinya. Aku dansa dengan siapa saja yang kelihatan - gadis-gadis remaja cantik yang ramping-ramping, janda-janda bangsawan berumur dan dua kali dengan Mrs. Pumphrey yang cekikikan. Atau aku hanya bercakap-cakap. Dan percakapannya bersemangat; berulang kali aku terkejut oleh kilatan cahaya dari diriku. Sekali aku menangkap bayangan diriku di kaca - seorang tokoh terkemuka dengan gelas di tangan, pakaian sewaanku tergantung pada tubuhku dengan anggun. Nafasku jadi tertahan. Sambil makan minum, bercakap-cakap, menari, berlalulah malam itu. Ketika sudah tiba waktunya untuk pulang dan aku sudah memakai mantelku dan sedang bersalaman dengan Mrs. Pumphrey di ruang depan, muncullah Francois lagi dengan semangkuk sup panas. Dia kelihatannya kuatir ka-lau-kalau aku pingsan dalam perjalanan pulang. Setelah makan sup, Mrs. Pumphrey berkata, "Nah, sekarang Anda harus ikut dan mengucapkan selamat tidur pada Tricky. Dia tidak akan pernah memaafkan kalau Anda tidak berbuat demikian." Kami pergi ke kamar itu dan anjing kecil itu menguap dari kursi yang besar serta menggoyang-goyang ekornya. Mrs. Pumphrey meletakkan tangannya di lengan bajuku. "Kebetulan Anda ada di sini, maukah kiranya Anda

http://inzomnia.wapka.mobi

berbaik hati untuk memeriksakan kuku-kukunya. Saya kuatir sekali kalau-ka-lau terlalu panjang." Kuangkat kakinya satu demi satu dan kuperhatikan baik-baik kukukukunya seperti Tricky menjilat tanganku dengan malas. "Tidak, Anda tak perlu kuatir, kuku-kukunya beres semua." "Terima kasih banyak, saya merasa amat berterima kasih pada Anda. Sekarang Anda harus mencuci tangan Anda." Dalam kamar mandi yang sudah kukenal dengan bak air berwarna hijau laut dan ikan-ikan yang berkilat berlapis pada dinding-dinding dan meja hias serta botol-botol di atas rak kaca, aku melihat berkeliling sementara air yang berasap mengalir dari kran. Dekat bak air pada handukku sendiri dan potongan sabun baru seperti biasa - sabun yang berbusa seketika dan mengeluarkan bau harum yang mahal. Itu merupakan sentuhan obat gosok yang terakhir pada malam yang amat menyenangkan itu. Itu merupakan jam-jam penuh kemewahan dan kebenderangan dan aku membawa kenangan itu pulang ke Rumah Skeldale. Aku masuk ke tempat tidur, kumatikan lampu dan terbaring menelentang memandangi kegelapan. Nada-nada musik masih terngiangngiang di telingaku dan aku baru akan terbawa arus ke ruang dansa kembali, ketika telepon berdering. "Di sini Atkinson di Beck Cottage," terdengar suara dari jauh. "Babi betina saya tak bisa beranak. Sudah sepanjang malam ini dia kesakitan. Bisakah Anda datang?" Aku melihat jam sambil meletakkan penerima telepon. Waktu itu pukul dua subuh. Aku merasa lumpuh. Suatu pesalinan tepat setelah sampanye dan ikan salem yang masih berasap dan biskuit kecil-kecil dengan bertumpuk-tumpuk telur ikan ka-viar itu. Apalagi di Beck Cottage, satu di antara tanah-tanah perkebunan yang paling primitif di daerah itu. Itu tak adil. Dengan mengantuk, aku membuka piyamaku dan mengenakan kemejaku. Waktu aku menjangkau pakaian dari bahan cordoray yang kaku dan

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah tua yang selalu kupakai untuk bekerja, aku mencoba untuk tidak melihat pakaian sewaan yang tergantung di sudut lemari pakaian. Aku berjalan meraba-raba di kebun yang panjang ke garasi. Dalam halaman yang gelap itu, aku menutup mataku dan bersinarlah lagi lampulampu gantung yang besar, kaca berkilau dan musik bermain. Beck Cottage hanya berjarak dua mil. Tempat itu terletak dalam sebuah lekuk dan dalam musim salju tempat itu merupakan lautan lumpur. Kutinggalkan mobilku dan berjalan dengan bersusah payah dalam gelap ke pintu rumah. Waktu aku menge-tuk tak ada yang membukakan pintu dan aku berjalan menyeberang ke kumpulan gedung-gedung di seberangnya dan membuka pintu yang setengah terbuka masuk ke kandang sapi. Bau sapi yang hangat dan enak menyambutku waktu aku memandang ke cahaya lampu dan di ujungnya tampaklah samar-samar sesosok tubuh yang sedang berdiri. Aku masuk melalui sapi-sapi yang berdiri berderet-deret bersisi-sisian dengan dipisahkan oleh pemisah-pemisah dari kayu yang sudah patahpatah, melalui tumpukan-tumpukan kotoran sapi yang bertumpuk di belakangnya. Mr. Atkinson rupanya berpendirian bahwa dia tak perlu terlalu sering membuang kotoran itu. Dengan tersandung-sandung pada lantai yang sudah rusak, dan melalui bencah-bencah air kencing, sampailah aku ke ujung di mana sudah disiapkan tempat khusus dengan cara membatasi suatu sudut dengan sebuah pintu pagar. Samar-samar sekali aku melihat sesosok tubuh babi, pucat dalam kesuraman lampu, terbaring miring. Tempatnya berbaring adalah selapis tipis rumput kering dan dia berbaring diam sekali, kecuali rusuknya yang gemetar. Waktu kuperhatikan, babi itu menahan nafasnya dan menegang beberapa detik lamanya lalu ketegangan itu berulang lagi. Mr. Atkinson menyambutku tanpa antusias. Orangnya setengah umur, berjanggut yang sudah seminggu tak dicukur dan memakai topi tua yang tepinya melekuk ke bawah menutup telinganya. Dia berdiri membungkuk bersandar pada dinding, sebelah tangannya terbenam dalam di saku yang compang-camping sedang yang sebelah memegang sebuah lampu sepeda yang baterenya cepat habis.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Hanya inikah lampu yang ada?" tanyaku. "Hanya ini," sahut Mr. Atkinson, seperti keheranan. Dia memandang dari lampu ke diriku dengan air muka seolah berkata 'mau apa lagi dia?' "Marilah kita coba." Kuarahkan cahaya yang lemah itu ke pasienku. "Masih muda benar babi ini, ya?" "Memang. Ini anaknya yang pertama." Babi itu menegang lagi, menggigil lalu berbaring diam. "Kurasa ada yang tak beres," kataku. "Tolong bawakan seember air panas, sabun sedikit dan sebuah handuk." "Kami tak punya air panas. Apinya mati." "Baiklah. Bawakan saja apa yang ada." Peternak itu menjauh dengan alas kakinya yang berderak-derak keluar dari kandang sapi itu membawa serta lampunya, dan dalam gelap itu kembalilah musik terdengar. Lagunya adalah lagu waltz Strauss dan aku dansa dengan Lady Franswick; dia muda dan putih sekali dan dia tertawa waktu aku membawanya berputar. Aku bisa melihat pundaknya yang putih dan berlian yang berkilauan di lehernya serta kaca di dinding yang ikut berputar. Mr. Atkinson kembali dengan langkah berat dan mengempaskan seember air ke lantai. Kucelupkan jariku ke air itu, dingin seperti es. Sedang embernya sudah tua sekali - aku akan harus berhati-hati dengan tanganku karena tepinya sudah bergerigi. Setelah membuka jas dan kemejaku cepat-cepat, aku menghirup nafasku waktu kurasa angin jahat menghantam punggungku melalui suatu celah. "Minta sabun," kataku melalui gigi yang terkatup. "Di dalam ember." Kucelupkan lenganku ke dalam air, aku menggigil, dan aku meraba-raba dengan tanganku dalam air itu hingga kutemukan suatu benda bulat kirakira sebesar bola golf. Kukeluarkan benda itu; sabun itu keras dan kasar dan berbintik-bintik seperti sebutir kerikil di tepi pantai dan dengan perasaan optimis, aku mulai menggosok-gosokkannya ke kedua belah

http://inzomnia.wapka.mobi

tangan dan lenganku, menunggu sampai keluar busanya. Tapi sabun itu tak mempan, tak ada apa-apa yang keluar dari sabun itu. Gagasan untuk minta lagi, kubatalkan saja, takut kalau itu akan dianggap suatu keluhan lagi. Aku hanya meminjam lampu dan menjalani sepanjang kandang lalu keluar ke halaman, dengan lumpur yang terasa mengisap sepatu Wellington-ku dan terasa berdiri bulu roma di dadaku. Aku mencari-cari di tempat barang di mobilku, sambil mendengarkan gigiku gemeletak; akhirnya aku menemukan sebotol kecil krim pelumas antiseptis. Setelah aku kembali di tempat babi tadi, krim itu kulumaskan ke lenganku, berlutut di belakang babi itu dan perlahan-lahan memasukkan tanganku ke dalam kemaluannya. Kumasukkan tanganku lebih dalam dan setelah pergelangan dan kemudian sikuku menghilang dalam tubuh babi itu, aku ter-paksa berbaring miring. Lantainya dingin dan basah tapi aku lupa rasa tak enak pada diriku ketika jari-jariku menyentuh sesuatu; sebuah ekor kecil. Seekor anak babi yang gemuk yang hampir melintang letaknya, tersembul seperti sebuah sumbat botol. Dengan menggunakan sebuah jari, kudorong kembali kaki belakangnya hingga aku bisa menggenggamnya dan menarik anak babi itu keluar. "Yang inilah yang menjadi penghalang. Kurasa dia mati - karena terlalu lama terjepit di dalam. Tapi mungkin masih ada beberapa yang hidup di dalam. Coba kurasa dulu." Kusemir lenganku dan berlutut lagi. Tepat dalam kandung peranakan, yang letaknya hampir sepanjang lenganku di dalam, aku menemukan seekor anak babi lagi dan waktu aku meraba-raba mukanya sederetan gigi yang kecil-kecil tapi tajam sekali menggigit jariku. Aku berteriak dan mendongak memandang si empunya babi dari tempatku berbaring itu. "Yang ini pasti hidup. Akan segera kukeluarkan." Tapi anak babi itu punya gagasan lain. Dia tidak memperlihatkan keinginan untuk meninggalkan surganya yang hangat, dan setiap kali aku bisa menangkap kaki kecilnya yang licin dengan tanganku, dia menariknya kembali. Setelah satu atau dua menit mengikuti permainan itu, aku

http://inzomnia.wapka.mobi

merasa tanganku kejang. Aku melemaskan diri dan berbaring, kepalaku terletak di batu, lenganku masih di dalam babi. Kututup mataku dan aku segera berada kembali di ruang dansa, dalam kehangatan dan cahaya cemerlang. Aku sedang mengulurkan gelasku yang besar dan Francois menuang dari botol besar; lalu aku dansa, kali ini dekat tempat orkes dan pemimpinnya yang sedang memukul irama dengan tangan sebelah, berpaling dan tersenyum padaku; tersenyum dan membungkuk seolaholah sudah selama hidupnya dia mencari aku. Aku membalas senyum tapi muka pemimpin band itu hilang dan yang ada hanya Mr. Atkinson yang memandangku dengan air muka polos, rahangnya yang tidak dicukur dan alis matanya yang tebal merupakan bayangan yang aneh dalam sinar lampu sepeda itu. Aku bangun dan mengangkat pipiku dari lantai. Tak beres aku ini. Tertidur sedang dalam pekerjaan, mungkin karena aku terlalu letih atau pengaruh sampanye masih ada dalam diriku. Aku menjangkau lagi dan menangkap kaki itu kuat-kuat dengan dua jariku dan meskipun dia melawan, kali ini anak babi itu berhasil kutarik ke luar ke dalam dunia ini. Begitu keluar, dia kelihatan menerima baik keadaan di sekitarnya dan berjalan mengitari induknya mencari susunya. "Dia sama sekali tak membantu," kataku. "Karena sudah terlalu lama dia kehabisan tenaga. Aku akan memberinya suntikan." Sekali lagi aku harus menjalani perjalanan yang rasanya melumpuhkan karena dinginnya dan melalui lumpur ke mobil, suatu suntikan pituitrin di paha babi betina itu dan dalam beberapa menit saja bekerjalah obat itu merupakan kontraksi yang kuat pada peranakan. Tak ada lagi penghalang sekarang, dan segeralah seekor anak berwarna merah muda yang menggeliat-geliat tergeletak di rumput kering; kemudian cepat berturut-turut seekor dan seekor lagi. "Sekarang semua sudah lepas dari tempatnya berkumpul," kata Mr. Atkinson hampir bersungut. Delapan ekor anak babi yang lahir dan cahaya lampu itu sudah hampir padam, ketika setumpuk gelap ari-ari keluar dari kemaluan babi betina itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku menggosok-gosok lenganku yang dingin. "Nah, kurasa sudah keluar semua sekarang." Tiba-tiba aku merasa dingin sekali; aku tak bisa mengatakan berapa lama aku sudah berdiri di sana memandangi keajaiban yang tak pernah basi bagiku; anak-anak babi itu berusaha untuk berdiri dan tanpa dituntun mencari jalannya sendiri ke dua buah deretan susunya yang panjang; induknya dengan anak-anaknya yang pertama meletakkan tubuhnya demikian rupa, hingga bisa membuka selebar mungkin susunya untuk mulut-mulut yang lapar itu. Sebaiknya aku berpakaian cepat-cepat. Kucoba-kan lagi sabun yang seperti batu pualam itu, tapi gagal seperti yang pertama kali tadi. Aku jadi ter-tanya-tanya sudah berapa lama keluarga itu memakainya. Seluruh badanku sebelah kanan, pipiku dan rusukku penuh dengan kotoran dan lendir. Aku berusaha keras untuk membersihkan sedikit dari kukuku, lalu aku membasuh diriku dengan air dalam ember itu. "Adakah ada handuk di situ?" kataku terengah. Tanpa berkata sepatah pun Mr. Atkinson memberikan sebuah karung kepadaku. Ujung-ujungnya sudah kaku bekas kotoran sapi yang sudah lama dan baunya tengik bekas makanan yang sudah lama tersimpan di dalamnya. Aku menerimanya dan mulai menggosok dadaku dan waktu butir gandum yang sudah masam membedaki kulitku, lenyaplah gelembung-gelembung sampanye yang terakhir, menguap melalui lubanglubang di atas dan lenyap dengan sedih di kegelapan yang jauh. Kutarik kemejaku melalui punggungku yang berpasir, sambil merasa kembali ke duniaku sendiri. Kukancingkan jasku, kupungut alat suntikan dan botol pituitrin dan memanjat keluar dari tempat bersalin itu. Aku menoleh untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi. Lampu sepeda itu sedang memberikan cahaya yang samar terakhir dan aku harus menjenguk melalui pintu pagar untuk melihat deretan babi-babi kecil itu sibuk dan benar-benar asyik menyusu. Induknya mengubah sikapnya dengan berhati-hati dan mendengkur. Suatu dengkur penuh rasa lega. Ya aku sudah kembali dan hal itu baik sekali. Aku harus melalui lumpur mendaki bukit, di mana aku harus keluar dari mobilku untuk membuka pintu pagar sedang angin dingin yang mengandung bau rumput yang

http://inzomnia.wapka.mobi

membeku yang enak baunya memukul mukaku. Aku berdiri sebentar memandang ke seberang padang, sambil berpikir bahwa malam sudah berlalu kini. Pikiranku melayang lagi ke masa sekolahku dan seorang pria tua yang waktu itu berbicara pada kami dalam kelas tentang karir. Katanya, "Kalau kalian memutuskan untuk menjadi seorang ahli bedah hewan, kalian tidak akan pernah menjadi kaya tapi hidup kalian akan penuh dengan hal-hal yang menarik dan bervariasi." Aku tertawa nyaring dalam gelap itu dan waktu aku masuk ke mobilku aku masih tertawa kecil. Orang tua itu benar-benar tak bergurau. Variasi. Itulah dia - variasi. BAB 20 WAKTU aku memeriksa daftar panggilan-pang-gilanku, tampak olehku bahwa Siegried kali ini, tidak lagi bersikap seperti seorang anak sekolah waktu dia menghadapi Miss Harbottle. Satu di antaranya, dia tidak langsung masuk dan berdiri di depan meja tulis; hal itu memang parah benar, dia selalu kelihatan lesu sebelum dia masuk. Kali ini dia membelok sebelum menempuh beberapa meter yang terakhir dan berhenti dengan membelakangi jendela. Dengan cara demikian, Miss Harbottle harus memalingkan kepalanya sedikit untuk menghadapinya dan kecuali itu sinar matahari jatuh ke punggungnya. Dibenamkannya tangannya ke dalam sakunya dan bersandar pada tepi jendela. Dia memandang dengan tenang sekali, matanya ramah dan mukanya disinari senyum yang cerah sekali. Miss Harbottle memicingkan matanya. "Aku ingin berbicara dengan Anda, Miss Harbottle. Ada satu atau dua hal yang ingin kubicarakan. Pertama tentang kotak 'Uang Kas Kecil' Anda itu. Kotak itu bagus dan saya rasa memang tepat Anda menyimpannya, tapi kurasa Andalah orangnya yang pertama-tama membenarkan bahwa guna sebuah kotak tempat uang adalah untuk menyimpan uang kontan." Dia tertawa ringan. "Nah, tadi malam aku menerima beberapa ekor anjing di tempat pemeriksaanku dan pemilik-

http://inzomnia.wapka.mobi

pemiliknya ingin membayar kontan. Aku tak punya uang kecil untuk memberikan uang kembalinya dan pergi mencarinya dalam kotak Anda itu - tapi kotak itu kosong. Aku terpaksa berkata bahwa aku akan mengirimkan mereka kwitansi, padahal itu kan bukan cara berusaha yang baik, Miss Harbottle? Aku malu waktu itu, jadi aku benar-benar minta supaya Anda mau menyimpan sedikit uang kontan dalam kotak itu." Mata Miss Harbottle terbelalak tak percaya. "Tapi Mr. Farnon, Anda sendiri yang mengambil semua isinya untuk pergi ke pesta penutupan perburuan di......" Siegfried mengangkat tangannya dan senyumnya jadi aneh sekali. "Dengar dulu sampai aku selesai. Ada suatu hal yang kecil sekali yang kuingin agar mendapat perhatian Anda. Hari ini sudah tanggal sepuluh dalam bulan ini dan perhitungan keuangan masih belum dikeluarkan. Nah, keadaan begitu itu tentulah amat tak diingini lalu ada pula beberapa hal yang harus dipertimbangkan di sini." "Tapi Mr. Farnon.........!" "Sebentar Miss Harbottle, tunggu sampai kujelaskan ini pada Anda. Adalah suatu kenyataan yang kita ketahui bahwa peternak-peternak itu lebih bersedia membayar tagihan kita bila surat tagihannya mereka terima pada tanggal satu setiap bulan. Dan ada pula satu faktor yang lebih penting." Senyum manis di wajahnya hilang dan digantikan oleh pandangan kesungguhan yang menyedihkan. "Pernahkah Anda berhenti sebentar untuk merenungkan berapa banyak bunga uang yang hilang dari praktek kita ini, karena semua uang pada mereka itu terbengkalai saja gara-gara terlambat dikirimkannya surat-surat tagihan itu." "Mr. Farnon......" "Aku hampir selesai, Miss Harbottle, tapi percayalah aku sebenarnya merasa sedih terpaksa berkata begini. Tapi terus terang, aku tak bisa sampai kehilangan uang dengan cara begini." Diren-tangkannya tangannya dengan gerak yang menunjukkan kejujuran yang menarik. "Jadi kalau soal kecil itu Anda beri perhatian, aku yakin keadaan akan baik."

http://inzomnia.wapka.mobi

"Tapi maukah Anda, memberi tahu saya bagaimana saya bisa mengeluarkan surat-surat tagihan kalau Anda tak menuliskan........" "Sebagai penutup, Miss Harbottle, akan kukatakan ini. Aku selalu merasa puas dengan kemajuan pekerjaan Anda sejak Anda bekerja sama dengan kami, dan aku yakin bahwa di waktu-waktu mendatang Anda akan lebih memperhatikan soal-soal kecil yang baru saja kusematkan." Senyumnya menjadi senyum nakal dan kepalanya dimiringkan sedikit. Jari-jari Miss Harbottle yang kuat mencekam erat-erat sebuah penggaris besar dari kayu arang. "Efisiensi kerja," katanya dengan mengerutkan matanya. "Itu yang harus kita jaga - efisiensi." BAB 21 KULETAKKAN jarum jahitan luka itu ke kaki dan mundur untuk melihat pekerjaanku yang sudah selesai. "Nah, bagus sekali kelihatannya, meskipun aku sendiri yang mengatakannya." Tristan membungkuk di atas anjing yang belum sadar itu dan memeriksa bekas potongan yang rapi dengan jahitan yang rapi berderet-deret halus. "Memang benar-benar bagus, Saudaraku. Aku sendiri pun tak bisa mengerjakannya lebih baik." Anjing labrador hitam yang besar itu terbaring dengan tenang di atas meja, lidahnya terjulur ke luar, matanya suram dan tidak menampak apa-apa. Dia dibawa ke mari dengan sesuatu yang tumbuh di atas tulang-tulang rusuknya dan kupastikan bahwa itu adalah sebuah daging tumbuh biasa, tidak ganas tapi sudah harus dibedah. Dan ternyata memang demikian. Tumor itu dengan amat mudahnya bisa diangkat, rasanya terlalu mudah, bentuknya bulat, utuh dan berkilat seperti telur rebus yang sudah dikupas. Tak ada perdarahan, tak perlu kuatir akan timbul kembali. Benjolan yang tak sedap dipandang mata itu sudah diganti dengan bekas luka yang rapi ini dan dalam beberapa minggu akan tak kelihatan lagi. Aku merasa senang.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Sebaiknya kita biarkan saja di sini sampai dia sadar," kataku. "Bantu aku mengangkat dan memindahkannya ke atas selimut-selimut ini." Kami letakkan anjing itu demikian hingga dia berbaring dengan enak di depan alat pemanas listrik dan aku berangkat untuk menjalankan tugas kelilingku pagi itu. Waktu kami sedang makan siang, kami pertama mendengar bunyi yang aneh itu. Bunyi itu merupakan suatu bunyi antara suara erang dan suara lolong, yang mulai dengan lembut sekali tapi meningkat sampai melengking untuk kemudian menggetar kembali perlahan lalu diam. Siegfried mengangkat mukanya dari supnya dengan terkejut. "Demi Tuhan, apa itu?" "Tentu anjing yang kubedah tadi pagi," sahutku. "Memang ada yang bangun dari keadaan dibius seperti itu. Kurasa dia akan segera berhenti." Siegfried memandangku ragu. "Ya, kuharap saja demikian - aku bisa segera bosan mendengarnya. Seram buluku." Setelah makan sup kami pergi melihat anjing itu. Denyut nadi kuat, pernafasan dalam dan teratur, selaput lendir bagus warnanya. Dia masih terbujur, tak bergerak, dan satu-satunya tanda mulai kembalinya kesadarannya adalah lolongnya yang lalu tetap berulang seperti suatu kebiasaan setiap sepuluh detik sekali. "Ya, keadaannya benar baik," kata Siegfried. "Tapi bukan main ributnya! Ayolah kita keluar dari sini." Kami cepat-cepat menghabiskan makan siang kami tanpa berkata apaapa karena mendengarkan lolong yang tak henti-hentinya di latar belakang kami. Baru saja menghabiskan suapannya yang terakhir, Siegfried sudah berdiri. "Aku harus berlari. Banyak pekerjaanku petang ini. Tristan, kurasa lebih baik anjing itu dibawa ke ruang duduk dan diletakkan dekat tungku pemanasan. Lalu kau bisa tinggal dekat dia dan melihat-lihatnya." Tristan terpana. "Maksudmu aku harus tinggal sekamar dengan suara ribut itu sepanjang petang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, memang itu maksudku. Kita tak bisa mengirimnya pulang dalam keadaannya seperti itu dan aku tak mau ada apa-apa dengan dia. Dia membutuhkan perawatan dan perhatian." "Mungkin kau ingin aku terus menggenggam kaki atau mungkin mendorongnya dalam kereta berkeliling pasar?" "Jangan banyak cingcong. Kau tinggal dengan anjing itu, itu suatu perintah!" Tristan dan aku mengangkat binatang yang berat itu di sepanjang lorong dengan memakai selimut sebagai tandu, kemudian aku pun harus pergi untuk tugas keliling petang. Aku berhenti sebentar dan menoleh tubuh hitam yang besar dekat api itu dan Tristan yang duduk melengkung di kursi dengan jengkel. Suara ribut itu sangat mengganggu. Aku tergesagesa menutup pintu. Waktu aku kembali hari sudah gelap dan rumah tua itu terasa hitam dan sepi dalam udara yang membeku dinginnya itu. Sepi, tentulah kecuali suara lorong yang masih menggema di sepanjang lorong dan menembus ke jalan yang sepi merupakan suara yang mengerikan. Aku memandang arlojiku waktu aku membanting pintu mobilku. Hari pukul enam sore, jadi Tristan sudah empat jam menjalankan tugasnya. Aku berlari menaiki tangga dan di sepanjang lorong dan ketika kubuka pintu kamar duduk suara itu rasanya memecahkan kepalaku. Tristan sedang berdiri membelakangi aku, memandang ke kebun yang gelap melalui jendela. Tangannya terbenam dalam sakunya; sedang di telinganya tersembul gulungan-gulungan kapas. "Nah, bagaimana keadaannya?" tanyaku. Tak ada jawaban, jadi aku mendekatinya dan menepuk pundaknya. Akibatnya sungguh menyo-lok. Tristan terlompat ke udara dan berputar seperti sekerup. Mukanya kelabu dan dia gemetar hebat. "Tuhan Mahakuasa, Jim, hampir mati aku olehmu. Aku tak bisa mendengar apa pun juga gara-gara penyumbat telinga ini - kecuali suara anjing itu tentu. Tak satu pun bisa mencegah suara itu." Aku berlutut dekat anjing labrador itu dan memeriksanya. Keadaan anjing itu baik sekali, tapi tak ada tanda-tanda bahwa kesadarannya

http://inzomnia.wapka.mobi

sudah kembali, kecuali adanya refleks sedikit di matanya. Dan selalu saja terdengar lolong yang melengking dalam jangka waktu yang teratur. "Lama benar dia baru sadar," kataku. "Apakah begini terus keadaannya sepanjang petang?" "Ya, begitulah. Tak ada perubahan sedikit pun. Dan kau tak perlu merasa kasihan padanya, setan pelolong itu. Dia keenakan dekat api itu - dia tak sadar apa-apa. Tapi bagaimana dengan aku? Syarafku rasanya akan putus harus mendengarkan dia selama berjam-jam ini. Kalau lebih lama harus begini, kau akan harus memberiku suntikan juga." Dia melicinkan rambutnya dengan tangan gemetar dan pipinya kelihatan menegang. Kupegang lengannya. "Nah, tinggalkanlah dia dan makanlah. Kau akan merasa lebih baik setelah makan." Aku menuntunnya ke kamar makan tanpa mendapat perlawanan. Keadaan Siegfried baik sekali sesudah makan. Kelihatannya hatinya gembira sekali dan dia bercakap-cakap terus-menerus tapi sekali pun dia tidak menyebut-nyebut soal suara yang melengking dari kamar sebelah itu. Tapi jelas Tristan masih mendengarnya. Waktu mereka akan meninggalkan kamar, Siegfried meletakkan tangannya di pundakku. "Ingat kita harus menghadiri pertemuan di Brawton nanti malam, Jim. Pak tua Reeves yang akan memberikan ceramah tentang penyakit-penyakit biri-biri - biasanya ceramahnya bagus sekali. Sayang kau tak bisa ikut juga, Tristan, aku takut kau akan terpaksa tinggal dengan anjing itu sampai dia sadar." Tristan mundur seolah-olah dia telah ditampar. "Aduh, janganlah aku disiksa dengan binatang setan itu lagi! Aku bisa jadi gila!" "Aku kuatir tak ada jalan lain. Sebenarnya malam ini James dan aku bisa menggantikan, tapi kami harus muncul dalam pertemuan itu. Tak enak kalau kami tak hadir." Tristan masuk dengan lunglai ke kamar itu dan aku mengenakan mantelku. Setelah aku keluar di jalan, aku berhenti sebentar dan memasang telinga. Anjing itu masih melolong. Pertemuan itu berhasil baik. Pertemuan itu diadakan di salah satu hotel Brawton yang sejuk, dan sebagaimana biasa yang terpenting adalah

http://inzomnia.wapka.mobi

pertemuan minum-minum antara para dokter hewan itu sendiri, di bar, setelah pertemuan selesai. Rasanya kita terhibur sekali mendengar masalah dan kesalahan-kesalahan orang lain - lebih-lebih kesalahankesalahannya. Aku senang melihat berkeliling dalam kamar yang penuh itu dan mencoba menebak apa yang dibicarakan oleh kumpulan-kumpulan kecil orangorang itu. Pria yang di sana itu, yang membungkuk sampai tubuhnya seperti dilipat dan mengacung-acungkan tangannya ke udara - dia pasti sedang berceri-ta bahwa dia mengebiri seekor anak kuda jantan dalam keadaan berdiri. Dan yang seorang yang lengannya terentang lurus, sedang jari-jari sibuk bergerak-gerak tak menentu - hampir pasti sedang menceritakan tentang pesalinan seekor kuda betina, mungkin sambil memperbaiki persendian yang terkilir. Dan dia telah melakukan dengan mudah sekali. Pengobatan hewan itu merupakan suatu hal yang sederhana seperti permainan anak saja, kalau kita mendengar hal itu diceritakan dalam bar yang hangat dan setelah kita minum beberapa gelas. Pukul sebelas malam, barulah kami semua masuk ke mobil kami dan menuju ke rumah kami sendiri yang terpencil di Yorkshire - beberapa orang kota-kota industri besar dari West Riding, beberapa orang lagi ke tempat-tempat di tepi laut di pantai Timur sedang Siegfried dan aku bergegas dengan rasa syukur kembali ke jalan sempit yang berbelitbelit di antara dinding-dinding batunya ke Pennine Utara. Beberapa jam lamanya aku sama sekali telah melupakan Tristan dan apa yang harus dijaganya, pikirku dengan rasa bersalah. Namun anjing itu pasti sudah lebih baik malam ini. Dia pasti sudah lebih tenang sekarang. Tapi, waktu aku melompat dari mobil di Darrowby, aku terhenti seperti membeku dalam melangkah karena terdengar suatu suara tangisan lembut dari Rumah Skeldale. Rasanya tak dapat kupercayai; hari sudah lewat tengah malam dan anjing itu masih saja bertingkah. Lalu bagaimana nasib Tristan? Ngeri aku membayangkan bagaimana keadaannya. Dengan rasa ngeri pula ku-putar gagang pintu kamar duduk.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kursi Tristan merupakan sebuah pulau kecil di tengah-tengah botolbotol bir yang kosong. Sebuah peti yang terbalik tersandar di dinding dan Tristan sedang duduk tegak lurus dan kelihatan khidmat. Aku berjalan dengan memilih di antara botol-botol kosong itu. "Bagaimana, mengalami kesulitankah kau, Tris? Bagaimana perasaanmu sekarang?" "Bisa lebih buruk, Saudaraku, bisa lebih buruk. Segera setelah kalian pergi, aku menyelinap pergi ke toko Drover untuk mengambil sepeti minuman ini. Hal itu mengubah keadaan. Setelah minum tiga atau empat botol, anjing itu tidak lagi merupakan gangguan bagiku - bahkan terus terang, selama berjam-jam terakhir ini aku membalas lolongan-nya. Kami telah menjalani malam yang menarik. Pokoknya, dia sudah akan sadar sekarang. Lihatlah dia." Anjing yang besar itu telah mengangkat kepalanya dan matanya sudah kelihatan mengenal. Lolongnya sudah berhenti. Aku mendatanginya dan menepuknya dan ekor panjangnya yang hitam menegang agaknya berusaha akan mengibaskan-nya. "Itu lebih baik, bujang," kataku. "Tapi sebaiknya kau berkelakuan manis sekarang. Kau telah menyebabkan pamanmu Tristan menempuh hari yang buruk, hari ini." Anjing labrador itu segera memberikan reaksi dengan jalan berusaha untuk berdiri. Dia mencoba dan terhuyung-huyung beberapa langkah tapi kemudian jatuh di tengah-tengah botol-botol. Siegfried muncul di pintu dan memandang tak senang pada Tristan, yang masih duduk tegak lurus dengan air muka seperti orang yang menunggu keputusan hakim, lalu dia memandang ke anjing yang sedang mencakarcakar di tengah-tengah botol-botol itu. "Berantakannya seperti dalam neraka di sini! Mengapa kau tak bisa bekerja sedikit tanpa pesta pora yang menyebabkan berantakan begini!" Mendengar suaranya, anjing labrador itu berusaha berdiri lagi dan dengan keyakinan yang lewat batas, dia mencoba berlari mengejarnya, sambil mengibas-ngibaskan ekornya dengan gemetar. Tapi belum jauh

http://inzomnia.wapka.mobi

dia berjalan dia jatuh lagi, dan waktu dia jatuh itu sebuah botol kosong terguling perlahan ke kaki Siegfried. Siegfried membungkuk dan mengelus kepala yang hitam berkilat. "Binatang ramah yang baik hati. Kurasa dia anjing yang hebat kalau dia sedang dalam keadaan biasa. Besok pagi dia akan normal lagi, tapi masalahnya sekarang adalah, harus kita apa-kan dia sekarang. Kita tak bisa membiarkan dia terhuyung-huyung sepanjang" malam di sini, bisabisa patah kakinya." Dia menoleh ke Tristan yang sama sekali tak berubah air mukanya. Duduknya lebih tegak daripada biasa, kaku dan bergerak seperti seorang perwira Prusia. "Kau tahu, kurasa yang terbaik adalah kalau kau membawanya ke kamarmu malam ini. Karena kita sekarang sudah berhasil dengan baik, baiknya kita jaga supaya dia tak apa-apa lagi. Ya, itulah yang terbaik, dia bisa tidur dengan kau." "Terima kasih, terima kasih banyak-banyak sekali," kata Tristan dengan suara datar, sambil terus memandang lurus ke depan. Siegfried memandang tajam padanya beberapa lamanya, lalu berbalik. "Baiklah kalau begitu, bereskan semua sampah ini dan mari kita tidur." Kamar tidurku dan kamar tidur Tristan dihubungkan oleh sebuah pintu. Kamarku merupakan kamar utama, yang besar, luas, dengan langit-langit yang tinggi, tungku pemanasan yang bertiang besar dan ada lekuk-lekuk yang bagus di dinding seperti di lantai bawah. Kalau aku sedang berbaring di kamar itu aku merasa seperti seorang pangeran. Kamar Tristan semula adalah sebuah kamar pakaian dan kamar itu panjang dan sempit dengan tempat tidurnya yang kecil terselip di salah satu ujungnya seolah-olah mencoba untuk bersembunyi. Di lantai kayu yang halus berpernis itu tak ada alas, jadi anjing itu kuletakkan di atas setumpukan selimut-selimut dan bercakap-cakap membujuk sambil melihat wajah Tristan yang pucat di bantal. "Dia sudah tenang sekarang - dia tidur seperti bayi dan kelihatannya dia akan begitu terus. Sekarang kau akan bisa beristirahat sebagaimana mestinya." Aku kembali ke kamarku sendiri, cepat-cepat membuka pakaianku dan masuk ke tempat tidur. Aku segera tidur dan aku tak bisa berkata bila

http://inzomnia.wapka.mobi

tepatnya suara-suara ribut-ribut di kamar sebelah mulai, tapi aku tibatiba sudah bangun karena mendengar pekik amarah. Kemudian terdengar suara menggeser dan suatu benturan yang disusul oleh suatu pekik Tristan yang kebingungan. Aku mempertimbangkan gagasan untuk pergi ke kamar pakaian itu bagaimanapun aku tak bisa berbuat apa-apa - jadi aku lebih meringkuk dalam selimutku dan mendengarkan. Berulang kali aku terlelap lalu terbangun lagi, karena terdengar lagi benturan dan pekikan melalui dinding. Setelah kira-kira dua jam, suara-suara itu mulai berubah. Rupanya anjing labrador itu sudah bisa menguasai kakinya dan berbaris hilir mudik dalam kamar itu, tapak kakinya membuat bunyi yang teratur: tck - a - tck, tck - a - tck, tck - a - tck di lantai kayu itu. Hal itu berlangsung terus tanpa berhenti sebentar pun. Sekali-sekali terdengar suara Tristan yang kini parau memerik. "Hentikan itu, demi Tuhan! Duduklah, anjing sialan!" Aku tentunya telah tertidur nyenyak karena ketika aku terbangun, kamarku sudah kelabu oleh cahaya pagi yang dingin. Aku berguling menelentang dan mendengarkan. Aku masih mendengar bunyi kakinya tck - a - tck, tapi bunyi itu menjadi tak teratur lagi seolah-olah anjing itu sudah berjalan-jalan seenaknya, dan bukannya berjalan sembarangan dari satu ujung ke ujung lain dalam kamar itu. Tidak terdengar suara Tristan. Aku keluar dari tempat tidur sambil menggigil karena dihantam oleh udara yang sedingin es. Aku cepat-cepat mengenakan celana dan kemejaku. Aku berjalan berjingkat-jingkat menyeberangi kamarku lalu membuka pintu penghubung kamar kami; aku hampir saja jatuh tertelentang waktu dua buah kaki yang besar-besar tertanam di dadaku. Anjing labrador itu merasa senang melihat aku dan kelihatan benarbenar merasa betah. Matanya yang bagus berwarna coklat, berseri membayangkan kecerdasannya dan kesehatannya dan waktu dia tertawa lebar dengan terengah-engah, dia memperlihatkan sederetan gigi yang

http://inzomnia.wapka.mobi

berkilat dan lidah yang merah dadu tak bercacat. Jauh di bawahnya, ekornya dikibas-kibaskannya dengan bersemangat. "Nah, kau sudah baik, sobat," kataku. "Coba lihat lukamu." Kulepaskan kaki yang berbelulang itu dari dadaku dan memeriksa deretan jahitan di rusuknya. Tak ada yang bengkak, tak ada rasa sakit dan sama sekali tak ada reaksi buruk apa-apa. "Bagus!" aku berseru. "Cantik. Kau seperti berganti kulit baru saja." Aku memberikan tamparan gurauan di pantatnya yang menyebabkan dia bertambah gembira. Dilompatinya aku, sambil mencakar dan menjilatjilatku. Ketika aku sedang berjuang melepaskan diriku daripadanya, aku mendengar suatu suara erang dari tempat tidur, Tristan kelihatan pucat sekali dalam cahaya yang suram itu. Dia sedang berbaring tertelentang dengan kedua belah tangannya mencengkam selimutnya sedang matanya liar. "Tak sepi-cing pun aku tidur, Jim," bisiknya. "Sungguh sepi-cing pun tidak. Memang abangku itu betul-betul punya perasaan humor yang hebat, menyuruh aku tidur dengan binatang ini. Dia pasti gembira sekali kalau dia mendengar apa yang telah kualami. Coba perhatikan saja dia nanti - aku mau bertaruh apa saja dengan kau, dia pasti senang." Kemudian, waktu Siegfried mendengar tentang penderitaan adiknya sepanjang malam sampai soal-soal yang sekecil-kecilnya, sambil kami sarapan, dia menunjukkan rasa kasihannya. Dia menyatakan rasa kasihannya itu dan minta maaf karena dia telah mendapat kesusahan dari anjing itu. Tapi Tristan benar juga. Dia memang kelihatan senang. BAB 22 WAKTU aku masuk ke kamar pemeriksaan, kulihat Siegfried punya pasien di atas meja. Sambil merenung-renung dia sedang mengusap-usap kepala seekor anjing terrier dari perbatasan, yang sudah agak tua dan kelihatannya sedih sekali. "James," katanya, "kuminta kau membawa anjing kecil ini ke Grier?" "Grier?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Dokter hewan di Brawton. Dialah yang dulu mengobati penyakit anjing ini sebelum pemiliknya pindah ke daerah kita. Sudah beberapa kali aku melihatnya - batu dalam kandung kemihnya. Dia harus segera dibedah dan kurasa sebaiknya kusuruh Grier melakukannya. Dia itu setan yang mudah tersinggung dan aku tak ingin menyinggung perasaannya." "O ya, aku sudah pernah mendengar tentang dia," kataku. "Mungkin saja sudah. Seorang Aberdeen yang suka mencari pertengkaran. Karena dia punya praktek di daerah terkemuka. Dia mendapatkan agak banyak mahasiswa-mahasiswa dan mereka itu ditindasnya mati-matian. Kejadian-kejadian seperti itu tentulah tersiar." Diangkatnya anjing terrier itu dari meja lalu menyerahkannya padaku. "Makin cepat selesai urusanmu di sana, makin baik. Kau boleh melihat pembedahannya dan kalau sudah bawa kembali anjing itu ke mari. Tapi jaga dirimu - jangan kau salah-salah terhadap dia, akan dikata-katainya kau habis-habisan." Waktu melihat Angus Grier untuk pertama kali, aku segera teringat akan wiski. Umurnya kira-kira lima puluh tahun, dan tentu ada sesuatu yang menyebabkan pipinya yang montok dan berbintik-bintik, mata yang berair dan pola urat-uratnya yang ungu yang seolah-olah berkejarkejaran melalui hidungnya yang besar. Air mukanya selalu seperti orang tersinggung. Dia sama sekali tidak berbasa-basi padaku; dia hanya mengangguk dan menggeram lalu langsung merebut anjing itu dari tanganku. Kemudian ditusukkannya jarinya kepada seorang orang remaja bertubuh kecil dan putih yang memakai pakaian dokter yang putih. "Ini Clinton - mahasiswa tingkat terakhir. Tak pernahkah Anda menyangka bahwa bidang kita ini akan dimasuki juga oleh orang-orang busuk yang rupanya seperti bunga halus ini?" Selama pembedahan berlangsung, dia terus saja mencari-cari kesalahan anak muda itu, dan dalam usahaku untuk mengalihkan sedikit pembicaraan, aku bertanya kapan anak muda itu akan kembali kuliah. "Awal minggu depan," sahutnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ya, tapi dia akan pulang besok," gerutu Grier. "Membuang-buang waktu saja, padahal dia sebenarnya bisa mendapatkan pengalaman yang baik di sini." Merah muka mahasiswa itu. "Ya, tapi saya telah ikut praktek selama sebulan lebih dan saya rasa saya harus juga berada bersama ibu saya beberapa hari lamanya sebelum kuliah mulai." "Oh, aku tahu, aku tahu. Kalian semua sama saja - tak bisa jauh dari susu ibu." Pembedahan itu berjalan lancar dan setelah Grier menusukkan jahitan yang terakhir dia mengangkat kepalanya melihat padaku. "Jangan Anda bawa anjing itu kembali sebelum dia sadar dari pembiusannya. Aku harus pergi kunjungan ke pasienku - Anda boleh ikut untuk pelengah waktu." Dalam mobil kami tidak bercakap-cakap sebagaimana layaknya. Percakapan hanya merupakan kisah sepihak, yang merupakan rentetan perlakuan-perlakuan buruk dari para langganan yang jahat dan para rekan yang merampas pasien. Kisah yang paling kusukai adalah tentang seorang pensiunan admiral yang telah minta Grier untuk memeriksa kesehatan kudanya. Grier berkata bahwa binatang mempunyai jantung yang tak kuat dan tak baik di-tunggang. Hal ini menjadikan admiral itu ngamuk dan mencari seorang dokter hewan lain untuk memeriksa kuda itu. Dokter hewan yang kedua itu berkata bahwa jantung binatang itu tidak apa-apa dan menyatakan bahwa binatang itu sehat. Admiral itu menulis sepucuk surat pada Grier yang menyatakan apa pendapatnya tentang Grier dengan menggunakan kata-kata kasar yang biasa dipakai para kelasi di geladak kapal. Setelah mengeluarkan isi hatinya itu, admiral itu merasa puas lalu pergi ke luar naik kuda; dalam perjalanan itu, sedang melangkah panjang, kuda itu jatuh dan langsung mati, hingga admiral itu jatuh terguling yang mengakibatkan kakinya patah di beberapa bagian dan panggul yang hancur. "Aduh," kata Grier dengan amat bersungguh-sungguh. "Aduh, bukan main senangnya aku."

http://inzomnia.wapka.mobi

Kami berhenti di sebuah halaman peternakan yang luar biasa kotornya dan Grier berpaling padaku. "Aku harus mengerjakan pembersihan seekor sapi di sini." "Baiklah," kataku. Aku memperbaiki dudukku dan mengeluarkan pipaku. Grier yang sudah setengah keluar dari mobilnya, berhenti. "Tidakkah Anda akan ikut membantuku?" Aku tidak mengerti orang itu. Yang dinamakan "Pembersihan" sapi, hanya berarti mengeluarkan ari-ari yang masih ketinggalan, dan itu merupakan pekerjaan satu orang. "Bukankah tak ada yang perlu saya kerjakan?" kataku. "Apalagi sepatu Wellington dan jas saya ada dalam mobilku. Saya tadi tak menyangkal bahwa kita akan mengadakan kunjungan ke peternakan - aku takut nanti akan mengganggu saja." Aku segera tahu bahwa aku telah berkata salah. Pipi jelek yang berkulit seperti kulit katak itu memerah dan menjadi lebih gelap dan dia memandangku dengan pandangan jahat sekali sebelum ber-balik; tapi setelah menempuh setengah perjalanan menyeberangi halaman itu dia berhenti dan berdiri beberapa saat dan berpikir lalu kembali ke mobil. "Aku baru ingat. Aku punya sesuatu di sini yang bisa Anda pakai. Sebaiknya Anda ikut masuk dengan aku - Anda akan bisa memberikan apa-apa yang kubutuhkan." Aku sebenarnya sama sekali tidak tertarik, tapi aku keluar dari mobil dan berjalan ke bagian belakangnya. Grier sedang mengeluarkan sebuah kotak kayu besar dari tempat barangnya. "Nah, ini bisa Anda pakai. Ini baju untuk menolong sapi beranak yang kudapat belum lama ini. Aku tak sering memakainya karena kurasa terlalu berat, tapi itu akan menjaga agar Anda tetap bersih." Aku menjenguk ke dalam kotak itu dan melihat seperangkat pakaian dari karet yang tebal, hitam dan berkilat. Kuangkat jasnya; jas itu penuh dengan ritsleting dan kancing-kancing ketup dan beratnya seperti timah hitam. Celananya bahkan lebih berat, dengan banyak jepit-jepitnya dan rits. Keseluruhannya merupakan ciptaan yang sangat menonjol, jelas bahwa itu direncanakan oleh seseorang yang belum pernah melihat

http://inzomnia.wapka.mobi

orang menolong sapi beranak dan keburukan pakaian itu ialah, bila orang memakainya, orang akan benar-benar tak bisa bergerak. Kuperhatikan wajah Grier sebentar, tapi mata yang berair itu polos saja. Aku mulai menanggalkan jasku - memang gila-gilaan, tapi aku tak mau menyinggung orang itu. Dan terus terang, Grier kelihatannya ingin benar agar aku mengenakan pakaian itu karena dia memegangnya untuk membantuku. Memang harus berdua mengenakannya. Mula-mula celana yang berkilat itu yang dikenakan dan dipasang ritsnya di depan dan di belakang, lalu giliran jasnya, suatu hasil karya yang hebat, ketat benar di pinggang dan berlengan pendek yang kira-kira enam inch panjangnya dengan elastik yang kuat mencengkam lengan atasku. Sebelum aku bisa mengenakannya, aku harus menggulung lengan kemejaku sampai ke bahu, kemudian Grier dengan segala susah payah memasangkannya. Kudengar rits dipasangnya, rits yang terakhir terdapat di belakang tengkukku, menutup leher baju yang tinggi dan kaku, hingga sikap kepalaku harus mendongak saja seperti orang memohon dan daguku terangkat menunjuk langit. Rupanya Grier bekerja dengan sepenuh hatinya, dan sebagai tindakan terakhir dikeluarkannya sebuah tutup kepala hitam dari karet. Aku mundur melihat benda itu dan mulai mengeluarkan protes sepanjang yang dimungkinkan oleh leher bajuku, tapi Grier bersikeras. "Berdiri diamlah sebentar saja. Baiknya kita selesaikan sekali pekerjaan ini." Setelah dia selesai dia mundur dan memandang dengan kagum. Rupaku tentu lucu sekali, terbungkus dalam pakaian hitam berkilat dari kepala sampai ke kaki, lenganku telanjang sampai ke pundak dan menonjol di tempat-tempat yang tepat. Kelihatannya Grier puas. "Nah, marilah sudah waktunya kita mulai bekerja." Dia berbalik dan bergegas ke arah kandang sapi; aku berjalan dengan bersu-sah payah menyusulnya seperti manusia mesin. Kedatangan kami di kandang sapi menimbulkan keributan. Yang hadir di sana adalah pemilik peternakan itu, dua orang petugas dan seorang gadis kecil. Orang-orang laki-laki yang semua akan memberi sambutan riang,

http://inzomnia.wapka.mobi

terdiam terkejut waktu tokoh yang mengerikan masuk perlahan-lahan. Gadis kecil itu memekik menangis lalu lari ke luar. 'Pembersihan' merupakan suatu pekerjaan yang kotor dan berbau bagi yang bekerja dan membosankan bagi yang menonton yang mungkin harus berdiri saja selama dua puluh menit tanpa bisa melihat apa-apa. Tapi kali ini yang menonton tidak merasa bosan. Grier sedang mengerjakan isi perut sapi itu sambil bergumam tentang cuaca, tapi orang-orang laki-laki itu tidak mendengarkannya, sekali pun mereka tidak melepaskan pandangannya dari diriku selama aku berdiri tegak seperti baju besi dekat dinding. Dengan terheran-heran mereka memperhatikan setiap bagian dari pakaian secara bergiliran. Aku tahu apa yang sedang mereka pikirkan. Dan aku pun tahu apa yang akan terjadi kalau apa yang hebat dan asing ini mulai bertugas. Seseorang yang berpakaian seperti itu tentulah harus menghadapi tugas yang hebat pula. Tekanan leher baju yang kuat pada jakunku, menyebabkan aku sama sekali tak bisa berbicara dan hal itu tentulah menambah sifat misterius pada diriku. Aku mulai berpeluh dalam pakaian itu. Gadis kecil tadi telah mengumpulkan keberaniannya dan membawa adikkakak laki-laki perempuan untuk melihat aku. Aku bisa melihat deretan kepala yang mengintip di balik pintu dan memutar kepalaku meskipun sakit rasanya, aku mencoba untuk tersenyum pada mereka supaya mereka jangan takut, tapi kepala-kepala itu menghilang dan kudengar kaki-kaki mereka berlari menyeberangi halaman. Aku tak bisa mengatakan berapa lama aku berdiri di sana, tapi Grier akhirnya selesai dengan pekerjaannya dan berseru, "Nah, aku sekarang sudah siap untukmu." Tiba-tiba suasananya menjadi merangsang. Orangorang laki-laki itu menjadi tegang dan menatapku dengan mulut yang sedikit terbuka. Inilah saat yang telah mereka nanti-nantikan. Aku mendorong diriku dari dinding dan membelok dengan tepat meskipun dengan amat bersu-sah payah, lalu menuju ke tempat kaleng peralatan itu. Letaknya hanya beberapa meter dari tempatku tapi rasanya jauh sekali jarak yang harus kutempuh sebelum aku tiba ke tempat itu seperti robot, kepala terangkat, lengan lurus dan kaku di

http://inzomnia.wapka.mobi

sebelah menye-belah. Waktu aku tiba di tempat kaleng itu, aku menemui kesulitan baru; aku tak bisa membungkuk. Setelah menggeliat-geliat beberapa kali barulah aku berhasil memasukkan tanganku ke dalam kaleng itu, lalu aku harus membuka bungkusan kertas alat itu dengan sebelah tanganku, suatu kesulitan baru lagi. Orang-orang itu memperhatikan dengan terpesona tanpa bisa berkata apa-apa. Setelah membuka bungkusan kertasnya, aku berputar berhati-hati dan menjalani sepanjang kandang itu dengan langkah penuh perhitungan. Setelah aku tiba sejajar dengan sapi itu kuulurkan lenganku kaku ke Grier yang mengambil alat itu dan memasukkannya ke dalam kandung peranakannya. Kemudian aku kembali ke tempatku semula dekat dinding sedang rekanku membersihkan dirinya. Aku mengerling memandang orang-orang itu; air muka mereka berubah sama sekali betul-betul membayangkan rasa tak percaya. Tugas manusia misterius itu seharusnya tentu lebih berat daripada itu - dia tak perlu memakai pakaian itu hanya untuk menyampaikan alat. Tapi ketika Grier mulai pekerjaan yang sulit untuk membuka kancing-kancing dan melepaskan rits-rits, sadarlah mereka bahwa pertunjukan itu benar-benar sudah selesai; dan setelah perasaan kecewa mereka berlalu, mereka pun merasakan kelucuannya. Waktu aku mencoba menggosok-gosok lenganku yang bengkak supaya darahnya jalan lagi karena sudah begitu tercekam oleh lengan elastik tadi, aku dikelilingi wajah-wajah yang tertawa lebar. Kurasa mereka sudah tak sabar lagi untuk pergi ke bar setempat malam itu untuk menceritakan kisah itu. Sambil mengumpulkan kembali rasa harga diriku yang sudah hancur, kukenakan jasku dan masuk ke mobil. Grier masih tinggal untuk mengatakan beberapa hal pada orang-orang itu, tapi dia tak berhasil mendapatkan perhatian mereka; semuanya tertuju pada diriku yang sudah meringkuk di tempat dudukku. Mereka tak bisa percaya bahwa aku manusia biasa. Setelah kembali ke tempat pembedahan tadi, anjing terrier tadi sudah sadar dari pingsannya. Dia mengangkat kepalanya dan dengan gagah mencoba mengibaskan ekornya waktu dia melihatku. Ku-bungkus anjing dalam sehelai selimut, kugendong dan bersiap-siap akan pergi, ketika

http://inzomnia.wapka.mobi

kulihat Grier melalui pintu sebuah kamar gudang kecil yang terbuka sedikit. Dia menghadapi peti kayu tadi yang kini ada di atas meja dan dia sedang mengangkat baju itu; lelaki itu seolah-olah diserang semacam gigil - tubuh menggetar-getar dan terangkat-angkat, muka yang berbintik-bintik itu menceng-men-ceng dan terdengar suara seperti setengah tangisan dari mulutnya. Aku menatap keheranan. Aku bisa saja berkata bahwa itu tak mungkin, namun hal itu terjadi di hadapan mataku sendiri. Tak ada sedikit pun yang meragukan - Angus Grier sedang tertawa. BAB 23 DEMAM susu adalah salah satu penyakit yang mudah diobati, tapi waktu aku melihat ke sungai kecil dalam cahaya subuh yang suram itu, aku menyadari bahwa yang ini merupakan jenis yang lebih sulit. Penyakit itu telah menyerangnya segera setelah dia beranak dan sapi itu tergelincir dari tebing yang berlumpur ke dalam sungai. Dia tak sadar waktu aku tiba, dan bagian belakangnya terendam sama sekali sedang kepalanya terletak di atas sebuah batu yang datar. Anaknya yang basah kuyup dalam hujan yang bagai dicurahkan dari langit itu, ketakutan dan menggigil di sampingnya. Mata Dan Cooper membayangkan rasa kuatir sekali waktu kami turun ke sungai. "Aku kuatir kita sudah terlambat. Dia sudah mati kan? Aku tak melihatnya bernafas lagi." "Aku kuatir memang sudah parah," sahutku, "tapi kurasa dia masih hidup. Kalau aku bisa menyuntikkan kalsium ke dalam urat darahnya, dia masih bisa sembuh." "Aku benar-benar berharap demikian," geram Dan. "Dia adalah salah satu sapiku yang paling banyak memberi susu. Penyakit selalu menyerang yang terbaik." "Penyakit demam susu memang begitu. Coba tolong pegangkan botol ini." Kukeluarkan kotak tempat alat suntik dan memilih jarum yang berlubang besar. Jari-jariku yang kaku karena kedinginan, kedinginan khas yang

http://inzomnia.wapka.mobi

kita rasakan awal-awal pagi hari karena peredaran darah kita masih seret dan perut masih kosong, rasanya tak bisa memegang jarum itu. Sungainya lebih dalam daripada dugaanku, dan airnya melewati bagian atas sepatu Wel-lington-ku waktu aku mula-mula turun. Sambil mendesah, aku menunduk dan membenamkan ibu jariku ke dalam lekuk di dasar tengkuk. Urat darahnya keluar dan waktu kutusukkan jarumnya ke dalam urat itu, mengalirlah darah hangat dan gelap di tanganku. Aku meraba-raba mencari botol kecil berisi kalsium itu dalam sakuku, lalu kutusukkan jarum ke ujungnya. Maka mengalirlah kalsium itu ke dalam urat nadinya. Dengan berdiri dalam sungai yang airnya sedingin es itu, sambil mengangkat botol kalsium tinggi-tinggi dengan tangan yang berdarahdarah serta merasakan air hujan mengalir dalam leherku, aku mencoba menghilangkan pikiran jahatku; tentang semua orang yang sedang enakenak tidur dan baru akan bangun kalau jam alarm mereka berdering; lalu mereka akan membaca koran-koran mereka sambil sarapan dan pergi ke kantor-kantor bank atau kantor asuransi mereka yang nyaman itu dengan mobil mereka. Mungkin aku sebaiknya menjadi dokter - mereka mengobati pasien-pasiennya di kamar-kamar tidur yang bagus dan hangat. Kucabut jarumnya dari urat nadinya dan kulemparkan botol yang kosong ke tebing sungai. Tak ada reaksi apa-apa atas suntikan itu. Kuambil botol yang sebuah lagi dan mulai menyuntikkan kalsium lagi ke bawah kulitnya. Mungkin bisa melalui gerakan-gerakan, meskipun kelihatannya sia-sia. Waktu aku sedang menggosok-gosok bekas suntikan di bawah kulit itu, aku melihat kelopak matanya bergerak. Aku langsung merasa lega dan gembira sekali. Aku mendongak memandang peternak itu dan tertawa. "Dia masih bernyawa, Dan." Kusentil telinganya dan matanya terbuka lebar. "Akan kita tunggu beberapa menit, lalu akan kita coba untuk menggulingkannya supaya dia bisa menelungkup." Dalam jangka waktu setengah jam dia mulai menggoyang kepalanya ke kiri dan ke kanan dan tahulah aku bahwa waktunya telah tiba. Kutangkap

http://inzomnia.wapka.mobi

tanduknya dan kutarik, sementara Dan dan anak laki lakinya yang jangkung mendorong dari pundaknya. Sulit sekali kami membuat kemajuan dengan pekerjaan kami itu, tapi setelah mengangkat dengan amat bersusah payah, sapi itu berusaha sendiri lalu berbaring menelungkup. Segera segala-galanya tampak memberi harapan; bila seekor sapi berbaring miring dia selalu kelihatan seperti mati. Waktu itu aku yakin benar bahwa dia akan sembuh, tapi aku tak bisa pergi dan meninggalkannya masih terbaring di sungai kecil itu. Sapi-sapi yang menderita demam susu bisa sakit berhari-hari lamanya, tapi aku punya perasaan bahwa yang ini akan bisa segera bangun. Maka kuputuskan untuk menunggunya sebentar lagi. Dia kelihatannya tak senang berada dalam air berlumpur itu dan mulai berusaha dengan sekuat-kuatnya untuk bangkit, tapi baru setengah jam kemudian dan gigiku sudah gemeletuk tak tertahankan, barulah dia akhirnya berdiri terhuyung. "Wah, beruntung benar!" kata Dan. "Tak kusangka bahwa dia akan pernah bisa berdiri lagi. Tentunya obat yang bagus yang Anda berikan itu." "Kerjanya sedikit lebih cepat daripada pompa sepeda," aku tertawa. Reaksi yang menyolok dari suntikan kalsium melalui urat nadi itu masih merupakan sesuatu yang mengherankan aku. Selama beberapa keturunan, sapi yang menderita demam susu pasti mati. Kemudian pemompaan susunya telah bisa menyelamatkan banyak di antaranya; tapi kalsiumlah obat yang paling tepat - kalau binatang-binatang itu bisa bangun dalam jangka waktu satu jam seperti yang ini, aku selalu merasa seperti seorang ahli sihir yang berhasil. Kami menuntun sapi itu naik ke tebing sungai dan sesampainya di sana, angin dan hujan yang amat keras menghantam kami. Rumah itu hanya beberapa meter jauhnya dari situ dan kami berjuang untuk sampai ke situ. Dan dan putranya berjalan di depan dengan membawa anak sapi dalam karung yang mereka bawa berdua. Binatang kecil itu terayun-ayun ke kiri dan ke kanan; dia memasang matanya tajam-tajam memandang dunia yang keras ke mana dia telah lahir. Dekat di belakangnya,

http://inzomnia.wapka.mobi

menyusul induknya yang penuh kuatir, masih agak terhuyung-huyung tapi berusaha kuat untuk memasukkan moncongnya ke karung. Aku berjalan tercepuk-cepuk di belakangnya. Kami tinggalkan sapi itu di kandang hangat yang beralas rumput kering setinggi lutut, dia menjilat-jilat anaknya dengan asyiknya. Di serambi rumah, orang-orang yang lain membuka sepatu Welling-ton-nya menurut kebiasaan; aku pun berbuat demikian, sambil mengeluarkan air sungai tadi dari setiap sepatu. Mrs. Cooper terkenal selalu berpegang teguh pada peraturan-peraturan itu; tapi dari pengalaman-pengalamanku yang terdahulu dengan dia aku mendapat kesan bahwa Dan menjalankan semua itu dengan senang hati. Gagasan itu timbul kembali waktu aku melihat wanita itu, bertubuh besar tapi manis, sedang menjalin anak perempuannya bersiap-siap untuk ke sekolah. Api kayu yang berderak-derak terbayang di tungku pemanasan dari kuningan yang berkilat dan di samping bau nyaman rumah peternakan itu, tercium bau lemak babi buatan sendiri yang sedang digoreng. Mrs. Cooper menyuruh Dan dan anaknya segera naik ke lantai atas dan memandangku dengan tenang sedang aku berdiri basah kuyup di lantai kayunya yang berkilat. Dia menggeleng-gelengkan kepalanya seolah-olah aku anak nakal. "Ayo, buka kaus kakinya," perintahnya. "Juga mantel Anda dan gulunglah celana Anda, lalu duduk di sini dan keringkan rambut Anda dengan ini." Sebuah handuk bersih terlempar ke pangkuanku dan Mrs. Cooper membungkuk di atasku. "Tak pernahkah terniat di hati Anda untuk memakai topi?" "Aku tak suka topi," gumamku, dan dia menggelengkan kepalanya lagi. Dituangkannya air panas dari ketel ke dalam sebuah baskom besar lalu dibubuhinya mustard dari sebuah kaleng berisi satu pon. "Nih, masukkan kaki Anda ke dalam ini." Aku mematuhi semua perintah-perintahnya dengan rela dan aku memekik tak sadar waktu kakiku kumasukkan ke dalam campuran yang mengge-lembung-gelembung itu. Mendengar itu, dia memandangku

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan garang dan aku berusaha supaya kakiku tetap terendam dalam baskom itu. Aku duduk dengan gigi terkatup rapat, terselubung dalam uap, lalu dia memberikan secangkir besar teh panas. Itu merupakan pertolongan cara lama, tapi bermanfaat sekali. Waktu aku sudah menghabiskan setengah cangkir teh itu, aku merasa seolaholah aku diberi makan api. Rasa dingin di tebing sungai tadi seolah-olah merupakan sebuah impian sirna sama sekali waktu Mrs. Cooper menambah baskomku dengan air mendidih lagi dari ketel. Kemudian, ditangkapnya kursi dan baskom dan memutar aku hingga aku duduk menghadapi meja, dengan kakiku masih terendam dalam air. Dan dan anak-anak sudah mulai sarapan dan di hadapanku ada sebuah piring berisi dua butir telur, sepotong besar lemak babi dan beberapa buah usus babi. Aku sudah cukup tahu tentang adat istiadat Dales supaya tidak bercakap-cakap waktu makan. Waktu aku mula-mula datang ke daerah ini kusangka bahwa sepantasnyalah aku mengadakan percakapan ringan akan menyatakan terima kasihku atas keramah-tamahan mereka, tapi pandangan-pandangan bertanya yang saling mereka lontarkan segera menyuruhku menutup mulutku. Jadi pagi ini, kuserang makanan itu tanpa kata-kata pendahuluan, tapi suap yang pertama hampir saja menyebabkan aku melanggar peraturan yang baru saja kupelajari. Waktu itu adalah pertama kalinya aku merasakan sosis Yorkshire buatan sendiri dan aku harus menahan diriku kuat-kuat untuk mencegah diriku mengucapkan puji-pujian, yang dalam lingkungan-lingkungan lain merupakan suatu yang biasa saja. Tapi Mrs. Cooper memperhatikan aku melalui sudut matanya dan dia tentunya melihat air mukaku yang merasa enak. Dia bangkit seenaknya, kembali membawa sebuah penggorengan lalu menggulingkan beberapa batang sosis lagi ke piringku. "Menyembelih babi minggu yang lalu," katanya, sambil membuka pintu lemari makan. Aku bisa melihat piring-piring berisi bertumpuk-tumpuk daging cincang, tulang rusuk, hati dan kue pastel yang berderet-deret dengan selai yang berkilat-kilat di atas kuenya yang kuning keemasan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Setelah selesai makan aku mengenakan kaus kaki tebal yang kupinjam dari Dan dan sepatuku yang sudah kering. Waktu aku akan pergi, Mrs. Cooper menyelipkan sebuah bungkusan ke bawah lenganku. Aku tahu bahwa bungkusan itu berisi apa-apa yang kulihat dari lemari makan tadi, tapi matanya melarang aku berkata apa-apa. Aku menggumamkan terima kasih saja, lalu keluar ke mobilku. Jam gereja sedang berbunyi, pukul sembilan lima belas menit ketika aku berhenti di depan Rumah Skeldale. Aku merasa puas - hangat, kenyang makan enak dan dengan kenangan yang memuaskan tentang sapi yang cepat sembuh itu. Dan di tempat duduk di belakang ada bungkusanku, memang selalu merupakan nasib baik kalau kita dipanggil ke sebuah peternakan kalau mereka baru saja habis menyembelih babi dan biasanya selalu ada hadiah dari peternak-peternak yang baik hati itu, namun sosis-sosis ini tidak akan pernah kulupakan. Kulompati saja tangga-tangga tempat pemeriksaan dan berjalan langsung ke lorong, tapi waktu aku membelok di suatu sudut, aku terhenti. Siegfried sedang berdiri di sana, tegang dan punggungnya tersandar pada dinding. Pada bahunya tergantung sebuah probang dari kulit yang panjang dan lembut. Di antara aku dan dia terdapat pintu kantor yang setengah terbuka dan melalui pintu itu jelas kelihatan Miss Harbottle yang duduk di meja tulis. Aku melambai gembira. Muka Siegfried menceng seperti tersiksa dan diangkatnya tangannya memberi peringatan. Lalu dia mulai berjalan mengendap-endap melalui pintu dengan menjijit-jinjit seperti pemain sirkus yang berjalan di tali. Dia sudah melewati pintu dan ketegangan tubuhnya sudah mulai melemas ketika ujung kuningan dari probang yang terayun-ayun itu berdentang kena dinding, dan seperti suatu jawaban terdengarlah gemuruh suara Miss Harbottle dari sudutnya. Siegfried memandangku dengan pandangan putus asa, lalu dengan pundak terkulai, dia masuk perlahanlahan ke dalam kamar. Sambil memperhatikannya berjalan, aku berpikirpikir bagaimana persoalan-persoalan jadi berubah sejak kedatangan sekretaris itu. Kini telah merupakan perang terbuka dan hal itu

http://inzomnia.wapka.mobi

memberikan kehidupan suatu-daya tarik baru untuk memperhatikan siasat dari kedua belah pihak. Mula-mula kelihatannya Siegfried-lah yang bisa menjadi pemenang dengan mudah sekali. Dialah yang majikan, dialah yang memegang pucuk pimpinan dan kelihatannya Miss Harbottle akan tak berdaya dalam menghadapi siasatnya yang merusak itu. Tapi Miss Harbottle adalah seorang pejuang dan yang banyak akal pula dan tidaklah mungkin untuk tidak mengagumi caranya memanfaatkan senjata-senjata yang dikuasainya. Kenyataannya, setelah seminggu berlalu, kemenangan berada di pihak Miss Harbottle. Dia mempermainkan Siegfried seperti seorang pemancing yang ahli mempermainkan seekor ikan salem; berulang kali menyuruh Siegfried menghadap ke meja kerjanya untuk mempertanggungjawabkan per-buatan-perbuatannya. Kalau semula dia hanya ber-dehem-dehem saja, kini ia sudah berani membentak-bentak yang bisa menembusi sepanjang rumah. Apalagi dia punya senjata baru, dia telah mulai dengan mencatat kesalahan-kesalahan tulis Siegfried pada carikan-carikan kertas; salah eja, kesalahan menambahkan, kesalahan dalam pembukuan - semuanya itu disalin dengan setia. Miss Harbottle memakai carikan-carikan kertas itu sebagai senjata. Dia tak pernah mengeluarkan catatan itu jika keadaan sedang tak menguntungkan dan majikannya sedang sibuk dengan pemeriksaan. Semuanya itu disimpannya sampai Siegfried dalam keadaan tertekan, maka akan disodorkannya sebuah carikan itu dan berkata. "Bagaimana ini?" Dia selalu bermuka polos dalam keadaan demikian dan tak bisa kita mengatakan betapa besar hatinya melihat Siegfried memandangnya ketakutan seperti seekor binatang yang dilecut. Tapi kejadian-kejadian demikian selalu berakhir dengan cara yang sama - penjelasan-penjelasan yang digumamkan dan permintaan maaf dari Siegfired, dan Miss Harbottle memperbaiki pembukuan dengan sikap sok adil. Aku memperhatikan melalui pintu yang setengah terbuka waktu Siegfried masuk ke dalam kamar. Aku tahu bahwa aku harus

http://inzomnia.wapka.mobi

mengadakan pemeriksaan keliling pagi itu tapi diserang penyakit ingin tahu benar. Miss Harbottle yang kelihatan tegas dan ingin berurusan, sedang menunjuk-nunjuk suatu pembukuan dengan sebuah pena dalam bukunya sedang Siegfried menggumamkan jawaban-jawabannya sambil menggeser-geserkan kakinya. Setelah beberapa waktu berlalu kulihat dia membuat usaha yang sia-sia untuk pergi dan aku bisa melihat bahwa dia sudah hampir tak bisa menguasai dirinya. Giginya terkatup rapat dan matanya sudah mulai menonjol, ke luar. Telepon berdering dan sekretaris yang menerimanya. Majikannya cepatcepat menuju pintu, tapi Miss Harbottle berseru dengan gembira, "Kolonel Brent ingin berbicara dengan Anda." Siegfried kembali seperti orang dalam mimpi. Kolonel itu, seorang pemilik kuda pacuan, sudah lama sangat tidak kami sukai karena banyaknya keluhan-keluhannya dan banyaknya pertanyaan-pertanyaannya; telepon dari dia selalu bisa menaikkan tekanan darah. Kulihat demikian itulah keadaannya pagi ini. Menit-menit berdetik terus dan kulihat muka Siegfried pun bertambah merah. Dia menyahut dengan suara seperti orang tercekik yang akhirnya meningkat menjadi teriakan. Akhirnya dihempaskannya alat penerima telepon itu dan bersandar ke meja, dengan nafas berat. Dan rasanya tak percaya aku waktu melihat Miss Harbottle membuka laci mejanya di mana dia menyimpan carikan-carikan kertasnya. Diambilnya selembar, mendehem lalu disodorkannya ke muka Siegfried. "Bagaimana yang ini?" tanyanya. Ingin aku menutup mataku, tapi kutahan dan menatap ngeri. Beberapa detik lamanya tidak terjadi apa-apa dan ada saat-saat yang menegangkan ketika Siegfried berdiri tak bergerak. Lalu mukanya berubah dan sambil merampas carikan kertas itu dengan sikap menyapu seperti sabit, dari tangan sekretaris itu, dia lalu merobek-robeknya dengan geram. Dia tak berkata sepatah pun tapi dia bersandar pada meja dan matanya yang membelalak makin lama makin mendekati Miss Harbottle yang perlahan-lahan mengundurkan kursinya hingga akhirnya kursi itu terjepit ke dinding.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sungguh suatu pemandangan yang mengerikan. Miss Harbottle yang mundur dengan tegang, mulutnya agak terbuka, rambut keritingnya yang dicat naik ke atas karena ketakutan, dan Siegfried yang dengan muka geram dan garangnya dekat sekali ke muka Miss Harbottle masih terus merobek-robek kertas tadi sampai kecil-kecil. Adegan itu berakhir ketika Siegfried melempar kertas yang sudah diro-bek-robeknya ke dalam keranjang sampah dengan mengumpulkan seluruh tenaganya seperti sikap seorang pelempar lembing. Sobekan-sobekan itu jatuh menghunjam seperti carikan kertas aneka warna yang ditaburkan pada pengantin, ada yang masuk ke keranjang, ada yang jatuh di luarnya, dan Siegfried masih tetap membungkam, melilitkan probang itu ke tubuhnya dan berjalan dengan langkah-langkah panjang ke luar kamar. Di dapur Mrs. Hall membuka bungkusanku dan mengeluarkan sebuah kue pastel, sepotong hati dan seikat sosis yang istimewa. Perempuan itu memandangku dengan pandangan bertanya. "Anda kelihatan senang sekali pagi ini, Mr. Herriot." Aku menyandarkan punggungku pada bupet dari kayu oak. "Ya, Mrs. Hall. Aku berpikir. Kelihatannya tentu senang menjadi pemimpin suatu praktek tapi tahukah kau, menjadi asisten pun tidaklah buruk benar keadaannya." BAB 24 HARI itu telah mulai dengan buruk. Tristan tertangkap basah oleh abangnya, kembali dari 'Bellringer Outing' pukul empat subuh. Peristiwa demikian terjadi setahun sekali; satu bis penuh pemudapemuda yang biasa membunyikan lonceng-lonceng gereja di seluruh daerah bertamasya ke Morecambe. Tapi mereka hanya sebentar sekali di pantai, dan kalau mereka tidak berpindah-pindah tempat dari satu rumah minum ke bar yang lain, mereka menyerang peti bir yang telah mereka bawa serta. Kalau mereka kembali ke Darrowby subuh-subuh, kebanyakan isi bis itu sudah tak sadar. Tristan, seorang tamu terhormat, telah diturunkan di

http://inzomnia.wapka.mobi

jalan kecil di belakang Rumah Skeldale. Dia melambai lemah waktu bis itu berangkat lagi, tapi sama sekali tidak mempedulikan muka-muka orang yang tersembunyi di balik-balik jendela. Sambil menyelinap masuk ke lorong kebun, dia merasa ngeri waktu melihat lampu di kamar Siegfried. Dia tak mungkin bisa melarikan diri dan ketika dimintai penjelasan dari mana dia, dia membuat bermacam-macam gerak tangan untuk menyebutkan 'Bellringer Outing' namun tak berhasil. Siegfried yang melihat bahwa dia membuang-buang waktu, menyimpan caci makinya sampai waktu sarapan. Waktu itulah Tristan menceritakan kisah itu padaku - yaitu sesaat sebelum abangnya masuk ke kamar makan dan mulai ngamuk padanya. Tapi sebagaimana biasa dia harus mendengar banyak dari Siegfried yang berangkat berkeliling dengan muka masih masam dan suara yang serak karena berteriak. Sepuluh menit setelah dia berangkat kudapati Tristan berkurung dengan riang gembira dalam kamar kerja Boardman yang kecil itu, Boardman mendengarkan kejadian-kejadian terbaru sambil melihat-lihat bagian belakang dari amplop-amplop dan ikut tertawa kecil sebagai penghormatan. Orang tua itu menjadi senang sekali sejak Tristan pulang dan mereka berdua menghabiskan banyak waktu berdua dalam kamar yang suram, di mana sinar dari jendela yang kecil sekali menyinari alat-alat berkarat yang berderet-deret, sedang kotak karton Bairnsfather tergantung pada dinding. Tempat itu biasanya terkunci dan dia tidak menerima tamu dengan senang hati, tapi Tristan selalu diterima dengan baik. Sering kali bila aku lewat, aku hanya mengintip dan kulihat Tristan dengan tenang menggulung-gulung rokok Woodbine-nya sedang Boardman berceloteh terus. "Sudah enam minggu lamanya kami bertempur. Orang-orang Perancis di sebelah kanan kami sedang orangorang Skot di sebelah kiri kami......" atau "Kasihan si Fred yang malang itu baru satu menit dia masih berdiri di sampingku dan saat berikutnya dia sudah tiada. Lalu tidak pernah mendapat tanda penghargaan apa-apa......"

http://inzomnia.wapka.mobi

Pagi ini Tristan menyambutku dengan riang dan penuh semangat dan aku kagum melihat daya tahannya dan kemampuannya untuk menyesuaikan diri dalam hal yang tak menyenangkan, seperti sebatang bambu yang melengkung dalam oleh tiupan angin dan kemudian tegak kembali tanpa bekas. Dia mengangkat dua buah karcis. "Pesta dansa di desa malam ini, Jim, dan kuja-min menyenangkan. Beberapa orang dari haremku di rumah sakit akan pergi, jadi akan kuusahakan supaya kau senang. Dan bukan itu saja - lihat nih." Dia pergi ke kamar tempat penyimpanan pelana -pelana, diangkatnya sebuah papan lepas dan dikeluarkannya sebuah botol sherry. "Kita akan minum-minum kalau tidak sedang dansa." Aku tidak bertanya dari mana dia dapat karcis dan sherry itu. Aku suka pesta-pesta dansa di desa itu. Bangsal yang penuh sesak yang di salah satu ujungnya ada band yang beralat musik tiga macam - piano, biola dan drum - sedang di ujung lain wanita-wanita berumur menjaga makananmakanan. Gelas-gelas susu, bertumpuk-tumpuk sandwich, daging babi panggang, otot-otot babi yang dimasak sendiri dan kue-kue kecil yang ditumpahi cream tinggi-tinggi. Malam itu waktu aku pergi kunjungan terakhir, Tristan ikut aku dan dalam mobil kami terus membicarakan pesta dansa. Penyakit yang harus ku-obati sederhana saja - seekor sapi dengan mata yang radang - tapi peternakannya terletak tinggi di atas lembah dan waktu kami selesai, hari sudah gelap. Aku merasa senang dan segala-galanya kelihatan menguntungkan, jelas dan penuh arti. Satu-satunya jalan yang berbatu kelabu yang kini kosong, berkas cahaya matahari yang terakhir di langit dan warna ungu tua dari hutan yang mengelilingi tempat itu. Tak ada angin bertiup, tapi dari padang-pa-dang rumput yang sepi ada tiupan halus, lembut dan segar dan penuh janji. Di antara rumah-rumah, di mana tercium bau nyaman dari asap kayu. Waktu kami tiba di tempat pemeriksaan, Siegfried sedang keluar, tapi. ada surat pendek untuk Tristan yang terselip di atas tungku pemanasan. Bunyinya hanya: 'Tristan. Pulang. Siegfried.'

http://inzomnia.wapka.mobi

Ini sudah pernah terjadi sebelumnya, karena di Rumah Skeldale serba kekurangan persediaan, terutama tempat tempat tidur dan selimutselimut. Kalau ada tamu yang tak diduga datang, maka Tristan disuruh pergi semalam ke rumah ibu mereka di Brawton. Biasanya dia berangkat saja naik kereta api tanpa komentar, tapi malam ini lain halnya. "Tuhanku," katanya. "Tentu ada seseorang yang akan datang bermalam, dan tentulah aku yang harus menghilang. Aku bisa berkata, bahwa itu memang suatu kebiasaan yang bagus! Dan betapa menariknya surat itu! Tak peduli apakah aku sudah ada rencana pribadi! Sama sekali tidak! Tidak ditanyakan padaku apakah tidak menyusahkan kalau aku harus pergi. Cukup dituliskan 'Tristan. Pulang.' Sopan dan penuh pertimbangan bukan?" Tidak biasa dia memberungut seperti itu. Aku mencoba membujuknya. "Begini, Tris. Tidakkah lebih baik kalau kita batalkan saja pesta dansa ini? Yang lain lain nanti tentu ada." Tristan mengepalkan tinjunya. "Mengapa kubiarkan dia memerintahkan seenaknya saja seperti ini?" katanya dengan marah sekali. "Aku ini kan orang? Aku mau hidup dengan caraku sendiri, dan dengarkan aku, aku tidak akan pergi ke Brawton malam ini. Aku sudah punya rencana untuk ke pesta dansa dan demi setan aku akan pergi ke pesta dansa itu." Itu merupakan kata-kata perang, tapi aku agak merasa kecut. "Tunggu sebentar. Bagaimana dengan Siegfried? Apakah katanya nanti kalau dia pulang dan mendapatkan kau masih di sini?" "Persetan dengan Siegfried!" kata Tristan. Jadi aku diam saja. Siegfried datang waktu kami sedang di lantai atas berganti pakaian. Aku yang mula-mula turun dan mendapatkannya duduk dekat tungku pemanasan, membaca. Aku tidak berkata apa-apa melainkan duduk dan menantikan ledakannya. Beberapa menit kemudian, Tristan masuk. Dia telah memilih baik-baik di antara pakaiannya yang terbatas jumlahnya dan kelihatan berseri-seri dalam pakaiannya yang berwarna abu-abu; mukanya berkilat karena digosok bersih-bersih, rambutnya rapi dan dia memakai leher baju yang bersih.

http://inzomnia.wapka.mobi

Muka Siegfried merah waktu dia mengangkat mukanya dari bukunya. "Mau apa kau di sini? Kau kan kusuruh pergi ke Brawton. Joe Ramage akan datang malam ini." "Tak bisa pergi." "Mengapa tidak?" "Tak ada kereta api." "Apa maksudmu tak ada kereta api?" "Ya, hanya - tak ada kereta api." Seperti biasa tanya jawab semacam itu, menimbulkan ketegangan dalam diriku. Dan tanya jawab itu mulai mengikuti pola seperti biasa; Siegfried jadi bermuka merah karena jengkel; sedang air muka adiknya polos saja, menjawab dengan nada datar, berjuang dengan sikap mempertahankan diri, yang sudah menjadi keahliannya karena sudah terlatih. Siegfried bersandar di kursinya. Dia terdiam sebentar, tapi terus memandangi adiknya dengan mata terpicing. Pakaian yang bagus, rambut yang licin dan sepatu yang disemir, semuanya itu rupanya lebih menjengkelkannya lagi. "Baiklah," katanya tiba-tiba, "mungkin malah lebih baik kau tak pergi. Aku ingin kau mengerjakan sesuatu untukku. Kau bisa memotong bisul di telinga babi kepunyaan Charlie Dent." Itulah yang merupakan bomnya. Telinga babi kepunyaan Charlie Dent adalah sesuatu yang tidak kami bicarakan. Beberapa minggu sebelum itu, Siegfried sendiri telah pergi ke tanah peternakan sewaan di tepi kota untuk melihat seekor babi yang telinganya bengkak. Bengkak itu merupakan bisul di telinga dan satusatunya pengobatannya adalah dengan memotongnya, tapi entah dengan alasan apa, Siegfried tidak mengerjakannya sendiri tapi menyuruhku mengerjakannya esok harinya. Aku bertanya-tanya mengapa, tapi tak lama. Waktu aku menaiki kandang babi, seekor babi betina yang terbesar yang pernah kulihat, bangkit dari rumput kering, suara geramnya meledak dan berlari menyerangku dengan mulutnya yang besar ternganga. Aku tidak berhenti untuk berpikir lama. Aku lari ke dinding yang enam inci tingginya dan

http://inzomnia.wapka.mobi

melompatinya langsung ke lorong. Di sana aku berdiri dan mempertimbangkan keadaannya dan memperhatikan mata kecil yang jahat merah itu sambil berpikir, juga ke mulut yang berbusa-busa dengan gigi yang panjang-panjang dan kuning itu. Aku biasanya tidak peduli kalau babi menyalak dan menggeram padaku, tapi yang ini kelihatannya tak main-main. Waktu aku sedang berpikirpikir langkah apa yang harus kuambil berikutnya, babi itu mengaum marah, mundur lalu berdiri pada kaki belakangnya, dan mencoba memanjat dinding akan mengejarku. Aku cepat-cepat ambil keputusan. "Aku kuatir tak punya alat untuk itu sekarang, Mr. Dent. Aku akan datang lagi lain hari dan memotong bisul itu. Tak parah benar - hanya pekerjaan kecil. Selamat tinggal." Dengan demikian berakhirlah persoalan itu; tak seorang pun mau membicarakannya sampai sekarang. Tristan terperanjat. "Maksudmu aku harus pergi ke sana malam ini. Malam Minggu ini? lain kali tentu bisa? Aku akan pergi ke pesta dansa." Siegfried tersenyum pahit dari dalam kursinya. "Harus dikerjakan sekarang. Itu perintahku. Sesudah itu kau bisa pergi ke pesta dansamu." Tristan akan mengatakan sesuatu, tapi dia tahu dia telah mempertaruhkan nasibnya terlalu jauh. "Baiklah," katanya, "aku akan pergi dan mengerjakannya." Ditinggalkannya kamar itu dengan sikap anggun, Siegfried menekuni bukunya lagi, sedang aku menatap api sambil berpikir bagaimana Tristan akan menangani binatang ini. Dia seorang pemuda yang banyak sekali akalnya, tapi kali ini dia betul-betul akan diuji. Dalam waktu sepuluh menit dia sudah kembali. Siegfried memandangnya dengan curiga. "Sudah kaupotong bisul itu?" "Belum." "Mengapa tidak?" "Tak bisa menemukan tempatnya. Kau tentu memberikan alamat yang salah. Nomor sembilan puluh delapan katamu." "Nomor delapan puluh sembilan, kau tahu betul itu nomornya. Ayo kembali dan jalankan tugasmu."

http://inzomnia.wapka.mobi

Tristan menutup pintu dan aku menunggu lagi. Lima belas menit kemudian pintu itu terbuka lagi dan Tristan muncul lagi dan memandang dengan sikap kemenangan. Abangnya mengangkat mukanya dari bukunya. "Sudah?" "Belum." "Mengapa belum?" "Seluruh keluarga sedang ke bioskop. Kau kan tahu ini malam Minggu." "Aku sama sekali tak peduli ada di mana keluarga itu. Masuk saja ke kandang itu lalu potong bisul-bisul itu. Ayo, keluar, dan sekali ini pekerjaan itu harus dikerjakan." Tristan keluar lagi dan aku mengawasi pintu lagi. Siegfried tidak berkata apa-apa, tapi aku bisa merasakan ketegangan meningkat. Setelah dua puluh menit berlalu, Tristan sudah kembali lagi bersama kami. "Sudahkah kaubedah bisul telinga itu?" "Tidak." "Mengapa tidak?" "Gelap gulita di sana. Bagaimana aku harus bekerja? Aku hanya punya dua tangan - sebelah untuk pisau dan sebelah lagi untuk senter. Bagaimana aku bisa memegang telinga itu?" Sejak tadi Siegfried menahan kesabarannya kuat-kuat, tapi kini kesabarannya hilang. "Jangan berikan alasan-alasan sialanmu itu lagi," teriaknya, sambil melompat dari kursinya. "Aku tak peduli bagaimana kau melakukannya, tapi Tuhanku, kau musti memotong bisul itu malam ini, kalau tidak hilang kesabaranku terhadap kau. Ayo keluar dari sini dan jangan kembali sebelum selesai!" Aku kasihan sekali pada Tristan. Dia telah diperlakukan dengan buruk sekali dan telah sanggup menyesuaikan dirinya dengan pandai sekali, tapi dia tak berdaya sekarang. Dia berdiri diam di ambang pintu beberapa saat, lalu dia berbalik lalu keluar. Kini lama kami menunggu. Siegfried kelihatannya sedang menikmati bukunya dan aku sendiri pun mencoba juga; tapi aku tak mengerti apa yang kubaca dan kepalaku jadi pusing, duduk menatap huruf-huruf itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sebenarnya akan lebih baik kalau aku bisa berjalan hilir-mudik di kamar, tapi hal itu tentulah tak mungkin karena ada Siegfried. Aku baru saja minta diri untuk keluar berjalan-jalan, ketika kudengar pintu luar terbuka, lalu kudengar langkah-langkah Tristan di lorong. Sebentar kemudian orang yang kutunggu-tunggu masuk tapi bau babi yang menusuk hidung sudah masuk ke kamar mendahuluinya, dan waktu dia berjalan ke dekat api, dia seperti diselubungi uap udara yang pedas. Bajunya yang bagus penuh bercak-bercak kotoran babi, demikian pula leher bajunya yang bersih, muka dan rambutnya. Di bagian tempat duduk celananya ada kotoran tersapu lebar, tapi meskipun rupanya acak-acakan begitu, sikapnya tetap anggun. Siegfried cepat-cepat mendorong mundur kursinya tapi tidak mengubah air mukanya. "Sudahkah kaupotong bisul itu?" tanyanya dengan tenang. "Sudah." Siegfried meneruskan bacaannya tanpa komentar. Kelihatannya persoalannya sudah selesai dan setelah menatap sebentar ke kepala abangnya yang tertunduk, Tristan berbalik dan keluar dari kamar itu. Tapi meskipun dia sudah pergi, bau kandang babi masih tergantung di kamar itu seperti awan. Kemudian waktu kami berada di bar Drover, aku memperhatikan Tristan menghabiskan gelas besarnya yang ketiga. Dia sudah mengganti pakaiannya lagi dan meskipun dia tidak kelihatan sebagus pada awal malam tadi, dia sekurang-kurangnya bersih dan hampir tak berbau lagi. Aku belum berkata apa-apa, tapi matanya sudah membayangkan sinarnya lagi. Aku pergi ke bar untuk memesan minuman lagi, yang kedua bagiku dan yang keempat bagi Tristan, lalu setelah kuletakkan gelas-gelas itu di meja, kupikir kini sudah waktunya. "Nah, apa yang telah terjadi?" Tristan menghirup minumannya panjang-panjang dengan nikmat dan menyalakan rokoknya. "Yah Jim, yang terpenting, pekerjaannya lancar sekali, tapi aku akan mulai dari awal. Kau bisa membayangkan aku seorang diri di luar kandang dalam gelap gulita sedang binatang setan

http://inzomnia.wapka.mobi

yang besar itu menggeram dan mengaum di pihak lain dari dinding. Terus terang aku takut. "Kusorotkan senterku ke muka binatang itu dan dia melompat lalu mengejarku, sambil bersuara seperti singa dan memperlihatkan semua giginya yang kuning dan kotor itu. Hampir saja aku mengangkat barangbarangku dan berlari pulang pada saat itu juga, tapi aku lalu teringat akan dansa kita segala yang terdorong oleh pikiran itu, aku lompati dinding itu. "Dua detik kemudian, aku sudah tertelentang. Dia tentu menyerang akan menggigitku, tapi tak bisa melihat dengan jelas untuk melihat tempat yang akan digigit. Aku hanya mendengar suara melolong, lalu terasa sesuatu yang berat menimpa kakiku dan aku jatuh. "Yah, memang lucu, Jim. Kau kan tahu bahwa aku bukan orang pemberani, tapi waktu aku berbaring di situ, lenyaplah semua rasa takutku dan yang kurasakan hanyalah kebencian yang tak ter-perikan terhadap binatang sialan itu. Aku melihat bahwa dialah penyebab semua kesusahanku dan sebelum aku tahu apa yang kulakukan, aku sudah bangkit lagi dan kukejar dia berkeliling kandang itu sambil memukul pantatnya. Dan, tahukah kau, dia sama sekali tak memberikan perlawanan. Babi itu sebenarnya berjiwa pengecut." Aku masih tak mengerti. "Tapi telinganya - bagaimana kau bisa memotong bisulnya?" "Tak ada kesulitan, Jim. Bukan aku yang mengerjakannya." "Maksudmu kau bukan...." "Ya," kata Tristan, sambil memegang minumannya dan mengangkatnya ke arah lampu dan memperhatikan sebuah tubuh kecil asing mengambang di dalamnya. "Ya, sungguh-sungguh nasib baik. Dalam pertempuran hebat dalam gelap itu, babi itu terbentur ke dinding dan dengan demikian pecahlah bisul itu. Bagus benar hasilnya." BAB 25

http://inzomnia.wapka.mobi

TIBA-TIBA sekali aku sadar bahwa musim semi telah tiba. Waktu itu akhir bulan Maret dan aku baru saja memeriksa beberapa ekor domba di sebuah lembah dekat bukit. Dalam perjalanan turun, dalam keteduhan sebuah pohon jarum-jarum, aku menyandarkan punggungku ke sebuah pohon dan tiba-tiba sadar akan sinar matahari di kelopak mataku yang tertutup, suara nyanyian burung-burung serta tiupan angin laut yang membisu di dahan-dahan yang tinggi-tinggi. Dan meskipun di sana sini masih terdapat salju dan rumput masih mati dan berwarna kuning karena musim salju, sudah terasa adanya perubahan, semacam rasa pembebasan, karena tanpa kusadari, aku telah membungkus diriku dalam semacam rumah siput terhadap bulan-bulan yang keras itu, karena dingin yang tak tertahan. Musim itu bukanlah musim semi yang hangat tapi kering dengan angin yang tajam yang menjatuhkan bola-bola salju yang putih dan membengkokkan kelompok-kelompok pohon-pohon bunga daffodil di padang-padang rumput desa itu. Dalam bulan April tebing-tebing di tepi jalan, cemerlang oleh bunga primrose yang kuning segar. Dan bulan April tiba pula masanya domba-domba beranak. Masa itu tiba dalam gelombang-gelombang besar, yang merupakan suasana yang paling hidup dan paling menarik dalam pekerjaan dokter hewan selama setahun, puncak dari lingkaran tahunan, dan seperti biasa datangnya waktu kami sedang sibuk-sibuknya dengan pekerjaan kami yang lain. Dalam musim semi itulah binatang-binatang ternak merasakan akibat musim salju yang panjang. Sapi-sapi berbulan-bulan lamanya harus tinggal dalam kandang yang hanya beberapa puluh sentimeter luasnya dan merasakan benar kebutuhannya akan rumput yang hijau dan panas matahari di punggungnya, sedang anak-anaknya punya daya tahan yang sedikit sekali terhadap penyakit. Dan tepat waktu kami sibuk memikirkan bagaimana kami bisa mengatasi segala macam batuk, pilek, pneumonia dan acetonaemia itu, tibalah gelombang beranak itu. Yang anehnya ialah bahwa selama kira-kira sepuluh bulan dalam setahun, domba jarang sekali masuk dalam acara hidup kami. Domba-domba itu hanya merupakan binatang-binatang berbulu wol di bukit-bukit saja.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi selama dua bulan berikutnya, mereka mengalahkan segala sesuatu yang lain. Mula-mula datang kesulitan-kesulitan awal musim, keracunan kehamilan dan keguguran-keguguran. Kemudian harus tergesa-gesa menolongnya beranak yang disusul oleh kurangnya kalk, penyakit gangrenous mastitis, pada waktu masa susunya menjadi hitam dan berubah kulit; belum lagi penyakit-penyakit yang menyerang anak-anaknya sendiri - penyakit kejang, ginjal yang hancur atau disentri. Kemudian gelombang penyakit itu berkurang, tinggal satu-satu dam akhirnya menjelang bulan Mei boleh dikatakan berlalu. Domba menjadi binatang-binatang yang banyak lagi wolnya di bukit-bukit. Tapi dalam tahun pertama ini aku telah menemukan suatu pesona dalam pekerjaan ini yang tetap kukenang. Bagiku, menolong domba beranak memberikan rasa senang dan menarik, tanpa harus bekerja keras seperti menolong sapi beranak. Hal itu biasanya menimbulkan rasa tak enak karena harus dijalankan di alam terbuka; mungkin di tempattempat khusus yang berangin yang hanya dilindungi oleh tumpukantumpukan rumput kering atau pintu pagar atau lebih sering di padangpa-dang rumput saja. Rupanya tak pernah terpikir oleh peternakpeternak itu bahwa domba-domba betina itu mungkin lebih suka beranak di tempat yang hangat atau bahwa bagi dokter hewan mungkin tak enak untuk berlutut selama sejam dalam hujan dengan hanya memakai kemeja. Tapi pekerjaannya sendiri, semudah suatu permainan. Setelah pengalaman-pengalamanku dalam memperbaiki letak bayi-bayi sapi sebelum dilahirkan, rasanya menyenangkan sekali menangani makhlukmakhluk yang lebih kecil itu. Anak-anak domba biasanya dilahirkan dua atau tiga sekali dan kadang-kadang terjadi campuran-campurannya yang mengagumkan; kekacauan-kekacauan antara kepala-kepala dan kaki-kaki dari bayi-bayi itu yang berebutan akan keluar lebih dulu dan di sinilah letak pekerjaan dokter hewan yaitu untuk memilih dan menentukan kaki mana kepalanya yang mana. Itu pekerjaan yang amat menyenangkan bagiku. Adalah suatu perubahan yang menyenangkan untuk sekali-sekali

http://inzomnia.wapka.mobi

merasa diri lebih kuat dan lebih besar daripada pasienku, tapi aku tidak terlalu menekankan kesenangan itu; aku tak pernah mengubah pendirian yang sudah kutetapkan, bahwa ada dua hal yang harus kuingat dalam menolong domba beranak - kebersihan dan kelembutan. Sedang anak dombanya sendiri. Semua anak binatang menarik tapi anak domba telah diberi kelebihan daya tarik yang tak adil. Aku teringat lagi saat-saat itu; waktu itu adalah malam yang bukan main dinginnya dan aku sudah menolong seekor domba beranak kembar di sebuah lereng bukit yang ditiup angin keras; anak-anak domba itu menggon-cang kepalanya kuat-kuat. Dalam jangka waktu beberapa menit salah satu di antaranya berjuang untuk berdiri dan dengan tertatih-tatih dan kadang-kadang jatuh pada lututnya dia pergi ke susu induknya sedang yang seekor lagi segera pula bangkit dan menyusul. Gembala yang mukanya kasar oleh udara dan berwarna ungu kedinginan meskipun hampir tersembunyi sama sekali oleh mantelnya yang berat yang membungkusnya sampai ke telinganya, tertawa kecil. "Bagaimana mereka itu tahu?" Dia telah melihat kejadian semacam itu beribu-ribu kali, namun dia masih ingin tahu. Demikian pula aku. Dan ada suatu kenangan lain tentang dua ratus ekor anak domba dalam sebuah kandang pada suatu petang yang hangat. Kami sedang memberinya suntikan pencegahan terhadap penyakit ginjal hancur dan kami tidak bercakap-cakap karena suara kacau balau melengking yang merupakan protes anak-anak domba itu dan suara baaa yang dalam dan tak kenal ampun dari hampir seratus ekor induknya yang berkeliaran dengan kuatir di luar. Aku tak bisa membayangkan bagaimana indukinduk itu akan pernah bisa memilih yang mana anaknya dari gerombolan anak-anak makhluk kecil-kecil yang semuanya hampir serupa itu. Itu tentu akan makan waktu berjam-jam. Kenyataannya hal itu hanya makan waktu dua puluh lima detik. Setelah kami selesai menyuntik, kami buka pintu-pintu kandang dan anak-anak domba yang mengalir ke luar itu disambut oleh induk-induk mereka yang kebingungan yang menyerbu serentak. Mula-mula keributan itu

http://inzomnia.wapka.mobi

memekakkan telinga, tapi segera suara itu menghilang dan tinggal suara embik sekali-sekali waktu masih ada beberapa ekor yang sesat baru diketemukan. Kemudian dengan berkelompok rapi keluarga masingmasing, mereka pergi menuju padang rumput dengan tenang. Selama bulan Mei dan awal Juni, duniaku menjadi lebih lembut dan lebih hangat. Angin dingin tidak lagi bertiup dan udara yang segar seperti laut, membawa tiupan lembut dari beribu-ribu bunga-bunga liar yang meronai padang-padang rumput. Kadang-kadang aku merasa tak adil bahwa aku harus dibayar untuk pekerjaanku ini; untuk keluar pagi-pagi sekali menempuh padang-padang rumput yang berbinar-binar ditimpa sinar matahari pagi yang masih pucat dan berkas-berkas kabut yang masih tergantung di puncak-puncak yang tinggi. Di rumah Skeldale pohon wistaria seakan-akan meledak menjadi bungabunga yang berwarna biru keunguan yang menjorok masuk ke jendelajendela yang terbuka dan setiap pagi bila aku bercukur kuhirup bau yang harum dari untaian bunga yang panjang-panjang yang tergantung dekat kaca. Sungguh indah hidup ini. Hanya ada satu nada sumbangnya; yaitu musim kuda. Dalam tahun-tahun tiga puluhan masih banyak sekali kuda meskipun traktor sudah mulai dipakai orang. Di tanah-tanah pertanian di Dale di mana terdapat sejumlah besar tanah yang sudah dibajak, kandang-kandang kuda yang berjajar-jajar itu setengahnya kosong, namun masih cukup banyak kuda untuk menjadikan bulan-bulan Mei dan Juni, tidak menyenangkan. Dalam bulan-bulan inilah dikerjakan pengebirian-pengebirian. Sebelum itu adalah waktu kuda-kuda itu beranak dan adalah hal yang biasa kita melihat seekor kuda betina dengan anaknya yang berjalan di sampingnya atau seekor anak kuda terbaring di tanah sedang induknya menggigit-gigit rumput. Jaman sekarang kalau aku terlihat seekor kuda kereta dengan anaknya di padang rumput, aku akan menghentikan mobilku untuk melihat sekali lagi. Banyak pekerjaan yang berhubungan dengan kelahiran anak kuda; membersihkan induknya, memotong ekor anaknya, mengobati bermacammacam penyakit anak yang baru lahir itu - sakit persendian, penyakit

http://inzomnia.wapka.mobi

meconium yang tahan lama. Hal itu sulit tapi menarik, tapi dengan menjadi lebih panasnya udara, peternak-peternak itu mulai berpikir untuk mengebiri anak-anak kuda yang berumur satu tahun. Aku tidak suka pekerjaan itu dan karena mungkin akan mencapai seratus ekor yang harus dikebiri, hal itu akan merupakan bayangan yang tak menyenangkan pada musim semi ini dan musim-musim semi yang akan menyusul. Selama berpuluh-puluh tahun pembedahan itu telah dijalankan dengan cara menyangga anak kuda itu dan mengikatnya dengan kaki ke atas hingga kelihatannya seperti ayam kodok. Pekerjaannya memang agak sulit, tapi bintang itu benar-benar terikat dan kita betul-betul bisa memusatkan perhatian pada pekerjaan itu; tapi menjelang aku akan tamat belajar, pengebirian dalam keadaan berdiri makin banyak dijalankan*. Pekerjaannya seolah-olah hanya merupakan menarik bibir atas anak kuda itu, memberikan suntikan kekebalan setempat ke dua belah buah kemaluannya dan langsung mengerjakan selanjutnya. Tak dapat disangkal bahwa itu lebih cepat. Yang jelas, keburukannya ialah bahwa kemungkinan orang yang mengerjakannya dan pembantu-pembantunya untuk mendapatkan bahaya ditendang kuda itu, sepuluh kali lebih besar, tapi meskipun demikian cara itu makin menjadi populer. Seorang peternak setempat bernama Kenny Bright yang menganggap dirinya seorang pemikir yang maju mengambil langkah untuk memperkenalkannya ke daerah itu. Diupahnya Major Farley, spesialis kuda untuk memberikan demonstrasi atas diri salah satu anak kudanya, dan suatu kumpulan besar terdiri dari peternak-peternak datang untuk menyaksikan. Kenny, seseorang yang perlente dan merasa diri penting sedang memegang alat suntik dan memandang berkeliling dengan berseri-seri pada kumpulan orang-orang itu, sedang anak buahnya bersiap-siap untuk membersihkan dari kuman, bagian yang akan dibedah, tapi begitu major itu menyentuh kemaluannya dengan antiseptiknya, binatang-binatang itu mundur lalu menghantamkan kaki depannya ke kepala Kenny. Dia dibawa pergi dengan pintu pagar sebagai tandu, dengan tulang tengkorak yang retak dan lama di rumah sakit. Peternak-peternak lain berminggu-minggu lamanya tak berhenti

http://inzomnia.wapka.mobi

tertawa tapi contoh itu tidak menyebabkan mereka mundur. Pengebirian dengan sikap berdiri lalu digunakan orang. Kukatakan cara itu lebih cepat. Maksudku, kalau segala sesuatu berjalan lancar, tapi ada pula waktu di mana kuda itu menyepak atau menjatuhkan dirinya di atas kami atau menjadi gila sama sekali. Dari sepuluh pengebirian, yang sembilan kali akan mudah dan yang kesepuluh akan merupakan suatu adu kekuatan dengan kuda. Aku tak tahu berapa besar rasa takut yang ditimbulkan oleh keadaan seperti itu atas diri dari hewan-hewan lainnya, tapi tak bisa dibantah bahwa aku sendiri benarbenar tegang pada setiap pagi bila aku harus mengerjakan pengebirian. Satu dari alasan-alasannya ialah bahwa aku baik dulu, sekarang maupun di masa akan datang, tidak pernah merupakan seorang penunggang kuda. Rasanya sulit untuk menjelaskannya, tapi aku yakin bahwa seorang penunggang kuda itu atau berbakat sejak lahir atau memperoleh bakatnya waktu masih kecil sekali. Aku tahu bahwa aku tak berhasil ketika aku mencobakannya waktu aku berumur dua puluhan. Aku sudah punya pengetahuan tentang penyakit-penyakit kuda dan aku merasa bahwa aku punya kepandaian untuk mengobati kuda-kuda sakit dengan efisien, tapi kemampuan yang dimiliki oleh seorang penunggang kuda untuk membujuknya, memenangkannya dan menguasai mental binatang itu tak dapat kumiliki. Aku bahkan tak mau mencoba untuk menipu diriku. Hal itu tidak menguntungkan, karena tak dapat disangkal bahwa kuda tahu. Hal itu berbeda sekali dengan sapi, sapi-sapi tak peduli apa-apa; kalau seekor sapi ingin menyepak kita, dia menyepak, dia tak peduli sedikit pun apakah kau seorang ahli atau bukan. Tapi kuda tahu. Jadi pada pagi-pagi demikian itu, kepercayaan diriku tak pernah tinggi, kalau aku pergi dengan alat-alat bedahku berdentingan dan bergulingguling di baki di tempat duduk belakang. Apakah dia akan tenang atau buas? Berapakah besarnya dia? Aku pernah mendengar rekan-rekanku berkata dengan mulut besar, bahwa mereka lebih suka kuda yang besar - kuda-kuda yang berumur dua tahun jauh lebih mudah kata mereka,

http://inzomnia.wapka.mobi

kita akan bisa memegang batang kemaluannya lebih mudah. Tapi aku sendiri tak pernah ragu. Aku suka yang kecil, makin kecil makin baik. Pada suatu pagi waktu musim kuda itu sedang ramai-ramainya dan aku sudah merasa bosan dengan bangsa kuda itu, Siegfried memanggilku waktu dia akan keluar. "James, di peternakan Wilkinson di White Cross ada seekor kuda dengan tumor dalam perutnya. Pergilah ke sana dan keluarkan - kalau bisa hari ini, tapi kalau tak bisa atur sendiri; terserah padamu." Dengan perasaan agak kecewa akan nasib burukku yang memberiku tugas lagi di samping tugas-tugas musimanku, akan merebus pisau bedahku, sendok-sendok tumor dan alat suntik dan kuletakkan semuanya itu di bakiku bersama alat bius setempat, yodium dan obat antitetanus. Aku pergi bermobil ke peternakan itu dengan baki itu bergemelinting di belakangku. Bunyi itu selalu mempunyai arti tambahan kegagalan bagiku. Aku berpikir-pikir tentang kuda itu - mungkin dia baru berumur satu tahun; pada umur sekian itu mereka memang kadang-kadang ditumbuhi benda-benda itu - peternak-peternak itu menyebutnya buah nanberry. Setelah menjalani enam mil aku berhasil menciptakan gambaran yang menyenangkan tentang seekor kuda kecil bermata lembut dengan perut yang benjolan merupakan bandulan jam dan rambutnya yang terlalu panjang; mungkin selama musim salju yang lalu dia sakit-sakitan dan kini mungkin penuh cacing - kakinya gemetar karena lemah. Di peternakan Wilkinson keadaannya sepi-sepi saja. Pekarangannya kosong, yang ada hanya seorang anak laki-laki yang berumur kira-kira sepuluh tahun dan tak tahu di mana pemiliknya. "Lalu di mana kudanya?" tanyaku. Anak itu menunjuk ke kandang. "Dia ada di sana. Aku masuk. Di salah satu ujungnya terdapat sebuah peti yang tinggi yang tak bertutup, sedang di sebelah atas dinding peti itu dipasangi batang-batang besi dan dari dalamnya kudengar bunyi ringkik yang dalam dan dengkur yang disusul oleh sejumlah degup-degup yang kuat pada sisi peti itu. Aku merasa ngeri. Itu bukan kuda kecil, di dalam itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku membuka pintu setengah yang di bagian atas dan disana dengan memandang ke bawah pada diriku adalah seekor binatang yang besar sekali; aku tak menyangka bahwa kuda akan bisa mencapai sebesar itu, seekor kuda jantan berwarna coklat dengan tengkuk yang melengkung dengan penuh kebanggaan dan tapak kaki yang besar-besar. Otot-otot besar bertonjolan di pundaknya serta persen-dian-persendiannya. Waktu dia melihat aku, telinganya ditempelkannya ke kepalanya, memandangku dengan putih matanya saja dan mengham-tam dinding peti dengan mengamuk. Sebilah kayu sepanjang tiga puluh sentimeter melayang ke udara waktu sepatu kuda memecahkan kayunya. "Tuhan Mahakuasa," desahku lalu cepat-cepat menutup pintu itu. Aku menyandarkan punggungku pada pintu itu dan mendengarkan jantungku yang berdegup-degup keras. Aku berpaling pada anak laki-laki itu. "Berapa umur kuda itu?" "Enam tahun lebih Pak." Aku mencoba berpikir dengan tenang. Bagaimana caranya menangani binatang pemakan manusia seperti ini. Aku tak pernah melihat kuda seperti itu - beratnya ada satu ton lebih. Aku menyadarkan diriku; aku bahkan belum melihat tumor yang harus kubuang. Kuangkat palang pintunya, kubuka pintunya selebar dua inci, lalu mengintip ke dalam. Aku bisa melihatnya dengan jelas tergantung pada perutnya; mungkin itu sebuah papilloma, besarnya kira-kira sama dengan sebuah bola cricket, permukaannya bergelombang hingga kelihatannya hampir seperti kembang kol. Waktu kuda itu bergerak-gerak, benjolan itu terayun-ayun perlahan-lahan ke kiri dan ke kanan. Tidak akan ada kesulitannya membuangnya. Akan kutarik hingga terdapat seperti lehernya, beberapa cc suntikan pembiusan setempat maka bisalah aku dengan mudah mencopotnya dengan sendok-sendok tumorku. Tapi halangannya jelas sekali. Aku akan harus merangkak ke bawah perut yang seperti tong bulat berkilat itu dan akan dekat sekali dengan kaki yang begap-begap itu dan harus menusukkan jarumku ke kulit yang beberapa inci tebalnya itu. Suatu pikiran yang tidak menyenangkan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tapi kukembalikan pikiranku pada hal-hal yang praktis,; seperti seember air panas, sabun dan handuk. Dan aku akan membutuhkan seorang lelaki kuat untuk membantuku. Aku berjalan menuju rumah. Tak ada yang membukakan waktu aku mengetuk. Kucoba lagi - masih siasia - tak ada orang di rumah itu. Kurasa amatlah masuk akal kalau pergi saja dan kembali lain kali; tak ada masuk dalam akalku, gagasan untuk mengelilingi bangunan-bangunan dan ladang-ladang itu sampai aku bertemu dengan seseorang. Aku boleh dikatakan berlari ke mobilku, mengundurkannya dengan ban yang mencicit-cicit dan menderu ke luar pekarangan rumah itu. Siegfried keheranan. "Tak ada seorang pun di sana? Aneh benar. Aku boleh dikatakan yakin bahwa mereka mengharapkan kedatanganmu hari ini. Tapi biarlah, itu urusanmu, James. Telepon saja mereka dan buat saja perjanjian secepat mungkin." Bukan main mudahnya rasanya melupakan kuda jantan itu dan setelah beberapa hari dan minggu berikutnya; kecuali bila pertahananku sedang lemah. Sekurang-kurangnya satu kali setiap malam, binatang itu mengguruh dalam mimpiku dengan kuping hidung yang lebar dan rambut yang melayang-layang dan aku jadi mendapatkan kebiasaan yang enak yaitu bangun dan langsung duduk pada pukul lima subuh dan langsung mulai membedah kuda itu dalam bayanganku. Rata-rata aku bisa memotong tumor itu dua puluh menit sebelum sarapan setiap pagi. Kukatakan pada diriku bahwa akan jauh lebih mudah untuk menyelesaikan pekerjaan itu supaya beres. Apa sebenarnya yang kutunggu? Apakah ada suatu harapan di bawah sadarku bahwa jika pekerjaanku kuundur cukup lama, mungkin terjadi sesuatu yang melepaskan aku dari tugas itu? Tumor itu mungkin tanggal dan mengempis atau hilang begitu saja, atau kuda itu mungkin jatuh dan langsung mati. Aku bisa saja menyerahkan pekerjaan itu kembali pada Siegfried - dia pandai dengan kuda - tapi tanpa berbuat begitupun kepercayaanku pada diriku sudah cukup rendah.

http://inzomnia.wapka.mobi

Semua keraguanku lenyap ketika Mr. Wilkinson pada suatu pagi menelepon sendiri. Dia sama sekali tak risau karena lamanya hal itu ditunda, tapi dia menegaskan bahwa dia tak dapat menunggu lebih lama. "Soalnya begini, Anak muda, saya akan menjual kuda itu, tapi saya kan tak bisa menjualnya kalau kuda itu ada tumornya?" Perjalananku ke perternakan Wilkinson tidak lagi diramaikan oleh bunyi gemelinting baki seperti biasa di tempat duduk belakang; hal itu mengingatkan aku pada waktu lalu ketika aku ingin tahu apa yang akan terjadi atas diriku. Kali ini aku sudah tahu. Waktu aku melangkah keluar dari mobil, aku merasa seolah-olah tubuhku hilang. Rasanya aku seolah-olah berjalan beberapa inci di atas tanah. Aku disambut oleh bunyi ribut yang menggema hebat -dari kotaknya; terdengar lagi ringkik yang marah dan dinding kayu yang pecah seperti yang kudengar dahulu. Kucoba melemaskan mukaku yang kaku menjadi suatu senyum waktu peternak itu datang. "Anak buahku sedang memasang kekang padanya," katanya, tapi katakatanya terhenti oleh suatu pekikan amukan dari peti itu serta dua buah hantaman yang hebat atas dinding kayu itu. Kurasa mulutku jadi kering. Bunyi ribut itu makin mendekat; lalu pintu kandang terbuka lebar dan kuda yang besar itu bagai dilentingkan ke luar ke halaman, sambil menyeret dua orang muda yang besar di ujung rantai pengekang. Batubatu kerikil terpancar-pancar api dari sepatu bot laki-laki itu waktu mereka terseret kian ke mari, tapi mereka tak bisa menghentikan kuda jantan mundur dan menjatuhkan dirinya itu. Kurasa aku bisa merasa tanah bergetar di bawah kakiku waktu sepatu kuda itu menghantam. Akhirnya, setelah berusaha sekuat-kuatnya, orang-orang laki-laki itu berhasil memaksa kuda itu berdiri dengan sisinya yang sebelah kanan menempel ke dinding kandang itu. Salah seorang di antaranya memegang bibir atasnya lalu mengikatnya dengan cekatan, yang lain mencekam tali pengikatnya yang dari kulit dan berpaling padaku. "Siap untuk pekerjaan Anda sekarang, Pak." Kutusuk penutup karet dari botol cocaine, kucabut pengisap dari alat suntik dan kuperhatikan cairan bersih itu mengalir ke dalam botol kecil

http://inzomnia.wapka.mobi

kaca itu. Tujuh, delapan, sepuluh cc. Kalau aku bisa memasukkan itu ke dalam tubuh kuda itu, selebihnya akan mudah, tapi tanganku gemetar. Waktu berjalan mendekati kuda itu aku rasanya sedang menonton suatu adegan dari film. Sebenarnya bukan aku yang mengerjakan ini semua semuanya ini tak sungguhan. Mata kuda itu berkedip dengan berbahaya padaku waktu aku mengangkat tangan kiriku dan meraba otot tengkuknya, lang-sung ke bokongnya yang lembut dan bergetar, menyelusur perutnya, hingga aku bisa menangkap tumor itu. Kini aku sudah menangkap benda itu, bentuk yang benjol-benjol itu terasa besar dan keras dalam tanganku. Aku menarik benda itu ke bawah perlahan-lahan, menarik kulit yang coklat yang menghubungkan benda tumbuh itu dengan tubuh. Aku akan memasukkan suntikan pembiusan setempat itu. Tidak akan terlalu sulit benar. Kuda itu menempelkan telinganya dan memberikan peringatan dengan suatu gerak. Aku berhati-hati menarik nafas panjang, kuambil alat suntik dengan tangan kananku, kutem-patkan jarum itu ke dekat kulitnya lalu kutusukkan. Tendangannya demikian luar biasa cepatnya hingga mula-mula aku hanya merasa heran bahwa binatang sebesar itu bisa bergerak secepat itu. Tendangan itu merupakan tendangan keras ke samping yang secepat kilat hingga aku bahkan tidak melihatnya dan sepatunya mengenai bagian dalam dari paha kananku, aku terputar tak berdaya. Waktu aku terbanting di tanah aku diam saja, aku hanya merasakan rasa kaku yang aneh. Lalu aku mencoba bergerak dan rasa sakit menusuk kakiku. Waktu kubuka mataku, Mr. Wilkinson datang membungkuk di atasku. "Tak apa-apakah Anda, Mr. Herriot?" suaranya mengandung rasa kuatir. "Kurasa kakiku luka." Aku heran akan ketegasan bunyi kata-kataku sendiri; tapi lebih aneh lagi adalah perasaan tenang dalam diriku yang baru kurasakan sejak berminggu-minggu ini. Aku tenang dan benarbenar bisa menguasai keadaan. "Kurasa aku tak bisa bangun, 'Mr. Wilkinson. Sebaiknya kembalikan saja kuda itu ke dalam petinya sekarang - lain kali saja kita urus dia - dan

http://inzomnia.wapka.mobi

tolong telepon Mr. Farnon supaya dia datang menjemputku. Kurasa aku tak bisa menyetir sendiri." Kakiku tidak patah tapi mengalami perdarahan di dalam gara-gara dihantam kuat, kemudian seluruh kakiku itu berubah menjadi warna yang rasanya tak dapat kupercayai, mulai dari Jingga muda sampai hitam pekat. Dua minggu kemudian, aku masih terpincang-pincang seperti seorang veteran perang Krim, ketika Siegfried dan aku dengan serombongan penolong-penolong kembali ke sana dan mengikat kuda jantan itu, kami bius sama sekali dia dan berhasil membuang barang tumbuh itu. Pada otot pahaku ada sebuah lubang akan mengingatkan diriku pada hari itu, tapi kecelakaan itu ada baiknya juga. Aku menyadari bahwa rasa takut kita lebih parah daripada kenyataannya dan sejak itu pekerjaan dengan kuda tak pernah menyusahkan aku lagi. BAB 26 AKU pertama kali melihat Phin Calvert dijalan di luar tempat pemeriksaan waktu aku sedang bercakap-cakap dengan Brigadir Julian Coutts-Braw-ne tentang anjing-anjing perburuannya. Brigadir itu boleh dikatakan merupakan suatu contoh yang tepat tentang seorang ningrat Inggris: jangkung sekali dengan roman muka serba bungkuk seperti seekor burung rajawali dan hidung tinggi yang besar. Waktu dia sedang bicara, dari celah bibirnya terhembus-hembus asap cari cerutu kecil. Aku memalingkan kepalaku mendengar bunyi gemeretak sepatu bot di trotoar. Sesosok tubuh yang gemuk pendek sedang melangkah dengan cepat ke arah kami, tangannya dimasukkannya ke balik bre-telnya, jas yang compang camping terbuka lebar hingga kelihatan kemeja garis lekuk kemeja yang besar yang tidak berleher baju, sedang helaianhelaian rambut yang kusut tersembunyi di bawah topi yang kotor. Dia tersenyum lebar entah pada siapa dan dia asyik bersenandung sendiri. Brigadir menoleh padanya. "Selamat pagi, Calvert," gumamnya dingin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Phineas mengangkat kepalanya dengan riang karena mengenalinya. "Oh kau, Charlie, apa kabar?" teriaknya. Brigadir itu memandang seolah-olah dia telah meneguk segelas besar cuka sekaligus. Dikeluarkannya cerutunya dengan tangan yang gemetar dan menatap ke punggung yang sedang menjauh. "Setan tak tahu diri," gumamnya. Kalau kita melihat Phin, kita tidak akan menyangka bahwa dia adalah seorang peternak yang kaya. Aku dipanggil ke tempatnya seminggu kemudian dan aku keheranan mendapatkan sebuah rumah mewah lengkap dengan bangunan-bangunan lain dan ternak penghasil susu yang sedang makan rumput di padang rumput. Aku sudah bisa mendengar suaranya sebelum aku keluar dari mobil. "Halo, Halo, halo! Siapa nih yang datang. Anak muda baru ya? Sekarang kita tentu akan mempelajari sesuatu yang baru!" Tangannya masih berada di balik bretelnya dan tertawa lebih besar lagi. "Nama saya Herriot," kataku. "Begitukah?" Phin memiringkan kepalanya dan mengamati diriku, kemudian dia berpaling pada tiga orang laki-laki muda yang siap berdiri. "Bukan main manisnya senyumnya ya, Anak-anak. Benar-benar seorang Bujang Periang!" Dia berpaling dan mulai menunjukkan jalan menyeberangi halaman. "Marilah, kalau begitu, kita mau lihat bagaimana Anda. Kuharap Anda tahu juga sedikit tentang anak sapi, karena aku ada beberapa ekor di sini yang benar-benar buruk keadaannya." Waktu dia mendahuluiku masuk ke kandang anak sapi, aku berharap agar aku bisa berbuat sesuatu yang mengesankan - mungkin dengan menggunakan obat-obat dan suntikan-suntikan baru yang kubawa di mobil; harus ada sesuatu yang istimewa untuk bisa memberikan kesan yang mendalam di sini. Ada enam ekor binatang-binatang muda yang bagus tumbuhnya, besarnya boleh dikatakan biasa-biasa saja, dan tiga di antaranya berkelakuan aneh; mereka itu menggertak-gertakkan giginya, berbuihbuih mulutnya dan berkeliaran sembarangan di tempatnya seolah-olah

http://inzomnia.wapka.mobi

mereka tak bisa melihat. Sedang aku mengamat-amati mereka, salah satu di antaranya berjalan langsung ke dinding dan berdiri dengan hidungnya terhimpit ke batu. Phin, yang kelihatannya tidak merasa kuatir, bersenandung dengan senangnya di sudut. Waktu aku mengeluarkan termometerku dari kotaknya, meledaklah komentarnya. "Hey, mau apa dia itu? Nah, kita mulai, ayo berdiri!" Selama setengah menit waktu termometerku berada dalam alat pelepasan binatang, biasanya pikiranku sibuk sekali. Tapi kali ini aku tak butuh waktu untuk mengerjakan diagnosaku; kebutaan binatangbinatang itu mempermudahnya. Aku mulai melihat berkeliling ke dindingdinding kandang itu; gelap sekali hingga aku harus mendekatkan mukaku ke batu itu. Phin berkata lagi, "Hey, ada apa? Anda sama saja dengan anak sapi itu, mendengus-dengus saja di situ, seperti orang mengantuk. Apa benar yang Anda cari itu?" "Cat, Mr. Calvert. Aku hampir yakin bahwa anak-anak sapi Anda telah menderita keracunan timah." Phin mengatakan apa yang biasa dikatakan oleh semua peternak dalam keadaan demikian. "Tak mungkin. Sudah tiga puluh tahun ini aku memelihara anak sapi di sini dan mereka tak pernah mendapat apa-apa dari tempat ini. Pokoknya, di sini tak ada cat." "Lalu bagaimana dengan ini?" Aku memandang tajam ke sudut yang paling gelap lalu menarik sekeping papan yang lepas. "Ah, itu kan hanya sepotong kayu yang kupakukan di situ minggu yang lalu untuk menutup sebuah lubang. Bekas di kandang ayam buruk." Aku melihat ke cat yang sudah berumur dua puluh tahun yang sudah lepas tapi masih bergantungan seperti serpih salju yang merupakan godaan yang tak tertahankan oleh anak-anak sapi itu. "Inilah yang telah mendatangkan mala petaka ini," kataku. "Lihat, Anda bisa melihat bekas gigi di mana yang sudah digigitnya." Phin mengamat-amati dengan teliti keping kayu itu dan menggerutu dengan ragu. "Baiklah, lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?"

http://inzomnia.wapka.mobi

"Yang pertama-tama ialah membuang keping kayu yang bercat ini, kemudian memberi semua anak-anak sapi ini garam Inggris. Adakah Anda garam Inggris?" Phin tertawa terbahak. "Ada, aku punya satu karung besar penuh, tapi tak bisakah Anda berbuat lebih baik dari itu? Tidakkah Anda akan menyuntiknya?" Keadaannya jadi tak enak. Obat pelawan peracun logam yang tepat, belum diketemukan dan satu-satunya yang kadang-kadang bisa sedikit menolong adalah magnesium sulfat yang bisa menyebabkan pengendapan sulfat timah yang tak bisa larut. Istilah harian untuk magnesium sulfat tentulah, garam Inggris. "Tidak," kataku. "Tak ada satu pun yang bisa saya suntikkan yang bisa benar-benar menolong dan saya bahkan tak bisa menjamin bahwa garam Inggris itu bisa menolong. Tapi saya harap Anda memberikan dua sendok makan, penuh tiga kali sehari pada binatang-binatang itu." "Ah persetan, Anda akan menyebabkan binatang malang itu buang-buang air sampai mati!" "Mungkin begitu, tapi tak ada pertolongan lain untuk itu," kataku. Phin maju selangkah mendekatiku hingga mukanya yang berkulit coklat yang berkerut dalam itu, dekat sekali dengan mukaku. Mata coklat yang berbintik-bintik yang tiba-tiba jadi tajam itu memandangiku tanpa berkedip beberapa detik lamanya, lalu dia berbalik cepat. "Baik," katanya. "Mari masuk, kita minum." Phin berjalan berdegup-degup mendahuluiku ke dalam dapur peternakan itu, mendongakkan kepalanya dan berteriak demikian kerasnya hingga menggoncangkan jendela-jendela. "Bu! Ada orang minta bir nih! Mari kenalkan si Bujang Periang!" Mrs. Calvert muncul dengan kecepatan luar biasa dan meletakkan gelasgelas dan botol-botol. Aku melihat kertas-kertas merk "Smith's Nutty Brown Ale', lalu kuisi gelasku. Saat itu adalah saat yang bersejarah, meskipun pada saat itu aku belum tahu; itu adalah Nutty Brown yang pertama dari serangkaian yang amat banyak yang akan kuminum di meja itu.

http://inzomnia.wapka.mobi

Mrs. Calvert duduk sebentar, melipatkan tangannya di pangkuannya dan tersenyum membesarkan hati. "Lalu, bisakah Anda berbuat sesuatu untuk anak-anak sapi itu?" tanyanya. Sebelum aku bisa menjawab, Phin sudah memotong. "Ah ya, tentu dia bisa. Semua diberinya garam Inggris." "Garam Inggris?" "Benar, Bu. Waktu dia datang kukatakan bahwa kita akan mendapatkan sesuatu yang benar-benar hebat dan yang merupakan penemuan baru. Kita tak bisa menduga orang-orang baru dan gagasan-gagasan moderen ini." Phin menghirup birnya dengan serius. Setelah beberapa hari berikutnya, anak-anak sapi itu berangsur baik keadaannya dan pada akhir minggu kedua semuanya sudah makan seperti biasa. Yang terparah keadaannya masih memperlihatkan bekas-bekas kebutaan, tapi aku yakin bahwa itu pun akan membaik. Tak lama setelah itu aku bertemu Phin lagi. Wak-tu itu kami baru habis makan siang dan aku berada di kantor bersama Siegfried, ketika pintu luar terbanting dan di lorong terdengar gema detak besi sepatu. Kudengar suara nyaring yang bernyanyi - ki - ti - tddy - rum - te - tum. Phineas sekali lagi berada di tengah-tengah kami. "Waduh, waduh!" serunya dengan ramah pada Miss Harbottle. "Flossie rupanya! Lalu apa kerja anak manisku pada hari secerah ini?" Tak ada sedikit pun perubahan pada air muka Miss Harbottle yang seperti batu itu. Dia hanya memberikan tatapan dingin pada penyerbu itu, tapi Phin berputar pada Siegfried dengan senyum lebar yang menunjukkan gigi kuning. "Nah, Sahabat, bagaimana kabarnya?" "Baik-baik saja semua, Mr. Calvert," sahut Siegfried. "Apa yang bisa kami bantu?" Phin menusukkan jarinya padaku. "Ini dia orangku. Aku minta supaya dia ke tempatku sekarang ju-ga. "Ada apa?" tanyaku. "Anak-anak sapi lagikah?" "Bukan! Maunya ya. Sekarang ini sapi betina kesayanganku. Nafasnya sampai terdengar seperti dia menguak - kelihatan seperti pneumonia,

http://inzomnia.wapka.mobi

tapi lebih buruk daripada yang kutahu. Keadaannya buruk sekali. Kelihatannya seperti akan mati." Sesaat lamanya hilang kejenakaan Phin. Aku sudah mendengar tentang sapi betina ini; keturunan tanduk pendek, pemenang pameran dan asal-usul dari semua sapi-sapinya. "Saya akan datang segera setelah Anda, Mr. Calvert. Saya akan menyusul." "Bagus, Nak. Saya pergi dululah kalau begitu." Phineas berhenti di pintu, seorang tokoh yang kasar, tak kenal lelah, berpakaian compang-camping; celana yang kedodoran yang menggembung dari pinggangnya yang besar. Dia berpaling lagi pada Miss Harbottle dan memencengkan roman mukanya yang liat seperti kulit itu menjadi tarikan yang jelek sekali. "Tara, Floss!" serunya, lalu menghilang. Sesaat lamanya kamar itu seperti kosong dan sepi sekali, yang terdengar hanya kata-kata Miss Harbottle yang masam. "Aduh, orang itu! Brengsek! Brengsek benar!" Agak lama aku baru sampai di peternakan itu dan kudapati Phin sudah menunggu dengan ketiga orang anak laki-lakinya. Pemuda-pemuda itu tampak muram, tapi Phin masih tetap tak tergoyahkan keriangannya. "Ini dia!" teriaknya. "Si Bujang periang lagi. Sekarang kita akan tertolong." Dia bahkan sempat menyenandungkan suatu lagu waktu kami menyeberang ke tempat sapi itu, tapi waktu dia menjenguk dari atas pintu, kepalanya terkulai ke dadanya dan tangannya masuk lebih jauh ke balik bretelnya. Sapi itu berdiri seperti terpaku di tengah-tengah tempat itu. Rongga dadanya kembang kempis, merupakan pernafasan yang bukan main sesaknya yang tak pernah kulihat. Mulutnya terbuka, gelembunggelembung busa tergantung di sekeliling bibirnya dan lubang hidungnya yang mengembang; matanya yang menonjol seolah-olah akan-terlepas dari kepalanya karena ketakutan, menatap saja ke dinding di hadapannya. Ini bukan pneumonia, ini adalah pertempuran yang mengerikan -untuk mendapatkan nafas; dan kelihatannya tak ada harapan. Dia tak bergerak waktu aku memasukkan termometerku dan meskipun pikiranku bekerja keras, kurasa bahwa waktu yang setengah menit kali

http://inzomnia.wapka.mobi

ini tidak akan cukup lama. Aku sudah menduga bahwa aku akan mendapati nafas yang terengah-engah tapi sama sekali tidak seperti ini. "Kasihan si nenek tua," gumam Phin. "Dia telah memberiku anak-anak sapi yang terbagus yang pernah kumiliki dan dia tenang sekali seperti domba. Aku sering melihat cucu-cucuku berjalan di bawah perutnya dan dia tak ambil peduli. Aku tak suka melihat dia menderita seperti ini. Kalau Anda tak bisa berbuat apa-apa, segera katakan supaya kuambil bedilku." Kukeluarkan termometer dan kubaca. Seratus sepuluh Fahrenheit. Ini tak masuk akal; kugoncang termometer itu kuat-kuat dan kutusukkan kembali ke alat pengeluaran sapi itu. Kali ini kubiarkan termometer itu hampir satu menit di dalam, supaya aku punya cukup waktu untuk berpikir. Yang kedua kali ini seratus sepuluh lagi dan aku mendapatkan keyakinan tak enak bahwa seandainya termometer itu satu kaki panjangnya, air raksanya masih akan mendesak terus sampai ke atas. Demi Tuhan, apakah ini? Mungkin Anthra bisa juga..... namun..... Aku melihat pada kepala-kepala yang berjajar di atas pintu separo itu; mereka sedang menunggu aku mengatakan sesuatu dan keadaan mereka yang bungkem itu lebih menekankan erang dan sesak nafas yang menyiksa. Aku memandang ke atas kepala-kepala itu ke langit luas yang biru tua dan awan yang bertumpuk-tumpuk kecil bergerak menyeberangi matahari. Setelah awan itu lewat, seberkas sinar menyebabkan aku menutup mataku dan berdentinglah suatu lonceng pemberitahuan kecil dalam otakku. "Keluarkah dia hari ini tadi?" tanyaku. "Ya, dia keluar di rumput sepanjang hari, karena cuaca begitu bagus dan panas." Bunyi lonceng yang kecil tadi berubah menjadi bunyi gong yang nyaring. "Bawa selang air ke mari cepat. Pasangkan di kran air di halaman itu." "Selang air? Untuk apa.....?" "Ya, secepat mungkin - dia kena sengat matahari."

http://inzomnia.wapka.mobi

Dalam waktu kurang dari semenit mereka selesai memasang selang. Kusuruh buka krannya sehabis-habisnya, lalu aku mulai menyemprotkan air ke tubuh yang besar itu - mukanya, tengkuknya, sepanjang rusuknya dan turun naik ke kakinya. Pekerjaan itu kuteruskan lima menit lamanya, tapi kelihatannya aku harus menunggu lebih lama lagi sebelum kelihatan tanda-tanda perbaikan. Aku sudah mulai berpikir bahwa aku keliru, ketika sapi jantan itu menghirup air itu sekali. Itu suatu kemajuan - dia tadi tak bisa menelan liurnya sedang memasukkan udara ke paru-parunya pun bukan main sulitnya; dan aku benar-benar mulai melihat perubahan pada binatang yang besar itu. Dia benar-benar kelihatan kurang menderita dan tidakkah nafasnya agak lebih tenang? Lalu sapi itu menggoncang-goncang tubuhnya, memalingkan kepalanya dan memandang kami. Terdengar bisikan keheranan dari salah seorang anak muda itu. "Demi Tuhan, berhasil!" Aku merasa senang sekali sesudah itu. Selama masa pekerjaanku, rasanya aku tak bisa membayangkan saat yang lebih memberikan kesenangan daripada saat aku berdiri di kandang sapi itu sambil memancurkan semprotan air yang menyelamatkan itu dan memperhatikan sapi itu merasa keenakan. Dia paling suka jika dipancurkan di mukanya, dan kalau aku bekerja dari ekornya melalui sepanjang punggungnya yang seperti beruap panasnya, dia akan menadahkan hidungnya lalu menggeleng-gelengkan kepalanya serta berkedip-kedip keenakan. 'Dalam waktu setengah jam, dia kelihatan hampir normal. Dadanya memang masih berkembang kempis dengan berat, tapi dia tidak merasa sakit. Kucobakan lagi suhu badannya. Turun menjadi seratus lima. "Dia akan baik sekarang," kataku, "tapi kurasa salah seorang di antara kalian harus terus memancurkan air selama kira-kira dua puluh menit lagi. Aku harus pergi sekarang." "Tentu masih sempat minum," gumam Phin.

http://inzomnia.wapka.mobi

Di dapur rumahnya, pekik 'Bu' memanggil isteri-nya, kurang nyaringnya daripada biasa. Dia mengempaskan dirinya ke sebuah kursi lalu menatap gelas Nutty Brown. "Bujang," katanya "dengarkan kau benar-benar telah membingungkan aku kali ini." Dia menarik nafas panjang lalu menggosokgosok dagunya dan nyata benar rasa sulitnya untuk percaya. "Aku benar-benar tak tahu harus berkata apa padamu." Tidak sering Phin kehilangan suaranya seperti itu, tapi dia cepat bisa lagi berbicara pada pertemuan diskusi persatuan para peternak berikutnya. Seorang yang amat terpelajar dan bersungguh-sungguh, sedang menekankan tentang kemajuan-kemajuan obat-obatan dalam ilmu kedokteran hewan dan bagaimana peternak-peternak sekarang bisa mengharapkan binatang ternaknya diobati sebagaimana para dokter mengobati pasien-pasien manusianya, dengan obat-obat dan cara-cara yang terbaru. Phin tak bisa lagi menahan dirinya. Dia melompat berdiri lalu berseru, "Saya rasa Anda banyak omong kosong saja. Ada seorang anak muda di Darrowby yang belum lama keluar dari kuliah dan Anda boleh menyebutnya entah apa, tapi yang dipakainya untuk pengobatan bukan lain dari garam Inggris dan air dingin." BAB 27 PADA suatu kali, Siegfried mengalami dorongan batin untuk bekerja lebih efisien. 'Penyakit' itu biasanya muncul kalau dia habis membaca tulisan tentang teknik atau kalau dia habis melihat film tentang prosedur teknis yang baru. Semua orang terkena susahnya kalau dia sedang mendapat 'penyakit' itu. Dia akan ngamuk-nga-muk pada seisi rumah yang ketakutan, berteriak-teriak menyuruh kami bergerak dan menjadi manusia-manusia yang lebih baik. Beberapa lamanya, dia akan tersiksa sendiri karena tergila-gila akan kesempurnaan.

http://inzomnia.wapka.mobi

Pada salah satu keadaan yang demikian, sapi Kolonel Merrick termakan sepotong kawat. Kolonel itu adalah sahabat pribadinya, maka persoalannya makin tak enak. "Kita harus bisa memperlihatkan cara-cara yang lebih baik pada pembedahan-pembedahan begitu. Kuranglah baiknya kalau kita hanya mengeluarkan alat-alat tua dari tas kita lalu mulai memotong binatang itu begitu saja. Kita harus memperlihatkan kebersihan, kalau mungkin keseterilan, serta teknik yang teratur." Maka semangatnya pun berapi-apilah waktu dia mendiagnosa 'traumatic reticulitis' yaitu suatu benda asing dalam lipatan perut kedua, pada sapi kolonel itu. "Kita betul-betul harus memperlihatkan sesuatu pada Pak tua Hubert. Kita harus memberinya suatu pertunjukan pembedaan hewan yang tak akan pernah dilupakannya." Tristan dan aku dipaksa untuk bertugas sebagai asisten dan kedatangan kami di peternakan itu memang benar-benar mengesankan. Siegfried berjalan di depan sekali dengan jas dari bahan tweed yang baru sekali dan yang amat dibanggakannya. Dia bersalaman dengan girang sekali dengan sahabatnya itu. Kolonelnya pun ramah tamah. "Kudengar kau akan membedah sapiku. Mengeluarkan kawat ya? Aku ingin melihat kau mengerjakannya, kalau boleh." "Tentu saja, Hubert, lihatlah. Kau akan merasa tertarik sekali." Dalam kandang, Tristan dan aku sibuk menjalankan perintahperintahnya. Kami mengatur meja-meja dekat sapi itu dan di atasnya kami menempatkan perintah-perintahnya. Kami mengatur meja-meja dekat sapi itu dan di atasnya kami menempatkan baki-baki logam baru dengan sederetan alat-alat yang berkilat-kilat dan sudah disterilkan. Pisau-pisau bedah, alat-alat penunjuk, alat-alat untuk menyelidiki dalamnya luka, angkup-angkup nadi, alat-alat suntik, jarum-jarum penjahit luka, tali penjahit luka dari usus binatang dan benang sutera dalam botol-botol kaca, berbal-bal kapas dan beberapa botol spiritus serta obat-obat antiseptik yang lain.

http://inzomnia.wapka.mobi

Siegfried sibuk kian ke mari, gembira seperti anak sekolah. Tangannya memang cekatan dan sebagai seorang ahli bedah dia pantas ditonton. Tanpa bersusah payah aku bisa membaca pikirannya. Ini akan hebat sekali, pikirnya. Setelah dia merasa puas dengan segala persiapan, dia menanggalkan jasnya dan mengenakan pakaian kerja dokter yang putih bersih. Diberikannya jasnya pada Tristan, tapi segera menghardik marah. "Hei, jangan lemparkan seenakmu ke kaleng makanan itu! Sini, bawa ke mari. Aku akan mendapatkan tempat yang aman untuk jas itu." Dibuangnya debu di baju itu dengan halus lalu digantungkannya pada sebuah paku di dinding. Sementara itu aku selesai mencukur dan mende-sinfektir daerah yang akan dibedah, yaitu perut bagian sisi dan segala-galanya sudah siap untuk memberikan pembiusan setempat. Siegfried mengambil alat suntiknya lalu cepat-cepat menusukkannya ke daerah itu. "Dari sinilah kita akan masuk, Hubert. Kuharap kau tidak mual." Kolonel itu berseri-seri waktu berkata, "Alaa, aku sudah biasa melihat darah. Tak usah kuatir, aku tidak akan pingsan." Dengan sikap yang berani dengan pisau bedahnya, Siegfried menggores kulitnya, lalu ototnya dan akhirnya dengan amat berhati-hati selaput perut yang berkilat. Maka kelihatanlah dinding yang halus dari lipatan perut pertama. Siegfried menjangkau pisau bedah yang lain lagi dan mencari tempat yang paling baik untuk dipotong. Tapi selagi dia memperbaiki letak pisau di tangannya, dinding perut yang pertama itu tiba-tiba menggembung melalui torehan di kulit. "Tidak biasa," gumamnya. "Mungkin gas perut nih." Tanpa merasa bingung dia perlahan-lahan mendorong kembali gembungan itu dan bersiap-siap lagi untuk memotong-motong; tapi baru saja dia menarik tangannya, perut itu ikut menggembung lagi, suatu gelembung kemerahan yang lebih besar daripada bola sepak. Siegfried mendorongnya lagi dan benda itu segera menonjol lagi, yang menggembung yang besarnya mengejutkan. Kini dia bekerja menggunakan kedua belah tangannya, mendorong dan menekan hingga

http://inzomnia.wapka.mobi

barang itu sekali lagi dipaksakannya hingga tak kelihatan. Sejenak dia berdiri dengan tangannya di dalam perut sapi sambil bernafas dengan berat. Dua tetes peluh menetes dari dahinya. Pelan-pelan ditariknya tangannya. Tak terjadi apa-apa. Rupanya barang itu telah tenang. Waktu dia sedang menjangkau pisaunya lagi, perut itu melompat dan tersembul lagi seperti benda hidup. Kelihatannya seolaholah seluruh bagian tubuh itu telah keluar melalui torehan itu - suatu onggokan yang berkilat yang tersembul dan membengkak terus sampai sejajar dengan matanya. Siegfried tak bisa tetap berpura-pura tenang lagi dan dia kini berjuang dengan nekat, digenggamnya barang itu dengan kedua belah tangannya dan ditekannya ke dalam dengan sekuat tenaga. Aku bergegas maju untuk membantu dan waktu aku tiba ke dekatnya, dia berbisik dengan parau "Apa-apaan sih ini?" Jelas bahwa dia sedang berpikir-pikir apakah onggokan jaringan yang berdenyut itu merupakan bagian dari tubuh binatang yang tak pernah didengarnya. Tanpa berkata apa-apa kami berjuang menekan onggokan itu ke bawah hingga rata dengan kulit. Kolonel itu memperhatikan dengan penuh perhatian. Dia tidak menduga pembedahan itu akan begitu menarik. Alis matanya agak ternaik. "Ini tentu ulah gas," desah Siegfried. "Bawa ke mari pisau dan mundurlah." Ditusukkannya pisau itu ke dalam lapisan perut itu dan memotong ke bawah dengan tajam. Aku senang aku tadi menjauh, karena dari potongan itu memancurlah suatu semprotan yang merupakan isi perut setengah cairan - suatu air mancur berwarna coklat kehijauan dan berbau busuk sekali yang meledak dari dalam tubuh sapi itu seakan-akan dari pompa yang tak kelihatan. Yang kena langsung yang pertama adalah muka Siegfried. Dia tak bisa melepaskan bagian perut itu karena takut kalau perut itu kembali ke rongga perut dan mengotori selaput perut. Jadi dia terus memegang benda itu, sedang curahan yang berbau busuk itu tercurah ke

http://inzomnia.wapka.mobi

rambutnya, mengalir ke lehernya dan habislah seluruh baju dokternya yang putih bersih itu. Kadang-kadang, aliran- yang tak henti-hentinya itu diselingi oleh ledakan yang tiba-tiba yang me-mancurkan dengan tiba-tiba cairan yang beragi, ke segala sesuatu dalam lingkungannya yang terdekat. Dalam waktu satu menit, baki-baki dengan alat-alat yang berkilat itu sudah dipenuhinya sama sekali. Deretan-deretan yang rapi dari kain-kain kesat, berkas-berkas kapas yang seputih salju lenyap tanpa bekas, tapi yang paling menyedihkan ialah waktu suatu semprotan yang terhebat menyembur mengenai jas yang tergantung di dinding. Muka Siegfried habis berlepotan hingga aku tak bisa melihat perubahan air mukanya gara-gara bencana itu, namun aku bisa melihat kesusahan di matanya. Kini alis mata Kolonel benar-benar naik setinggi-tingginya dan matanya terbuka waktu dia memandang seperti tak percaya pada peristiwa kacau itu. Siegfried yang masih tetap bertahan memegang perut itu dengan bersungguh-sungguh, menjadi pusat peristiwa itu. Dia berada di tengahtengah bencah yang berbau busuk yang tingginya sampai setengah sepatu bot Wellington-nya. Rupanya seperti pen-duduk asli Kepulauan Fiji, dengan rambutnya yang kaku dan kusut serta matanya yang putih berputar-putar di mukanya yang coklat. Akhirnya banjir itu berkurang, tinggal sedikit-sedikit, lalu berhenti sama sekali. Aku memegang tepi-tepi luka itu, sementara Siegfried memasukkan lengannya dan meraba-raba dalam lipatan perut yang kedua. Kuperhatikan dia meraba-raba dalam alat tubuh yang bersarangsarang itu yang tak kelihatan dari jauh, dekat sekat rongga badan letaknya. Suatu gumam kepuasan menyatakan bahwa dia sudah menemukan kawat yang masuk itu dan dalam beberapa detik saja dia sudah bisa mengeluarkannya. Tristan benar-benar memperlihatkan manfaat dirinya dengan mencucui alat-alat untuk menjahit hingga potongan pada perut yang pertama itu bisa dijahit segera. Ketabahan Siegfried yang terpuji itu tidaklah siasia; tak ada terjadi pengotoran di selaput perut.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tanpa berkata apa-apa ditutupnya kembali kulit dan ototnya dengan jahitan yang rapi lalu menge-sat sekeliling luka itu. Segala-galanya kelihatan sudah beres. Sapi kelihatan sama sekali tak merasa apa-apa; karena dibius dia sama sekali tak sadar apa-apa tentang perjuangan hebat dengan isi perutnya. Bahkan, karena sudah terlepas dari gangguan dengan sudah dibuangnya kawat, dia sudah kelihatan merasa lebih enak. Membereskannya makan waktu banyak, dan pekerjaan yang paling sulit adalah membersihkan Siegfried supaya dia bisa kelihatan lagi. Kami berusaha keras untuk membasuhnya dengan berem-ber-ember air, sedang dia terus-menerus menyikat jasnya dengan sedih memakai sebilah kayu datar. Hal itu tak banyak mengadakan perubahan. Kolonel itu simpatik dan tak sudah-sudahnya memberi selamat. "Mari kita masuk, Sahabat baik. Mari masuk, kita minum-minum dulu." Namun undangan itu rasanya bernada kosong dan dia menjaga dirinya dan berdiri sekurang-kurangnya tiga ratus sentimeter dari sahabatnya itu. Siegfried menyandangkan jasnya yang sudah berlumuran itu ke pundaknya. "Terima kasih, Hubert, atas kebaikan hatimu itu, tapi kami harus pergi." Dia langsung keluar dari kandang itu. "Kurasa dalam sehari dua lagi kau akan melihat dia makan lagi. Dua minggu lagi aku akan kembali untuk membuka jahitannya." Dalam rongga mobil yang luas itu, Tristan dan aku tak bisa menjauhkan diri dari Siegfried sejauh yang kami ingini. Kami mengulurkan kepala kami ke luar jendela, namun dengan demikian pun masih juga tercium bau busuk itu. Setelah satu atau dua mil menyetir tanpa berkata apa-apa, Siegfried dulu berpaling padaku dan dia tertawa. Tapi keras hatinya masih juga tampak. "Kita tak pernah tahu apa yang akan terjadi dalam pekerjaan kita ini, Saudara-saudaraku, tapi ingat saja ini - pembedahan tadi itu berhasil." BAB 28

http://inzomnia.wapka.mobi

KAMI bertiga di halaman itu, Isaac Cranford, Jeff Mallock dan aku; kami semuanya murung. Yang kelihatan santai hanya Mallock dan itu memang sepatutnya, karena dia, boleh dikatakan adalah tuan rumah. Pemilik perusahaan yang membeli binatang-binatang yang tak berguna lagi, untuk disembelih dan dijual bagian-bagian tubuhnya. Kini dia memandang dengan ramah sedang kami melihat ke dalam mayat sapi yang baru disembelihnya. Di Darrowby nama Mallock merupakan lonceng kematian. Tempat itu merupakan pekuburan binatang ternak, juga menjadi tempat terkuburnya keinginan para peternak dan harapan para dokter hewan. Jika ada seekor binatang yang sakit parah, seseorang akan berkata, "Kurasa tak lama lagi dia akan harus dibawa ke tempat Mallock." Atau "Jeff Mallock juga yang akhirnya mendapatkannya." Dan tempat ini memang sesuai benar dengan manfaatnya; sekelompok bangunanbangunan yang buruk-buruk terbuat dari batu bata merah yang dibangun beberapa jauh dari jalan dengan cerobong besar pendek yang tak henti-hentinya mengepulkan asap hitam. Janganlah hendaknya kita mendatangi tempat Mallock itu terlalu dekat kalau kita tidak punya perut yang kuat, jadi tempat itu dihindari orangorang kota, tapi jika kita memberanikan diri memasuki lorong ke halaman itu dan mengintai melalui pintu-pintu dari logam itu, kita bisa melihat ke dunia yang mengerikan. Di mana-mana tergeletak binatangbinatang mati. Kebanyakan di antaranya sudah tak lengkap lagi alat-alat tubuhnya dan beronggok-gonggok besar daging tergantung pada cantelan-cantelan, tapi di sana kelihatan juga domba yang sudah menggembung badannya atau babi yang sudah bengkak dan berwarna kehijau-hijauan yang Jeff sendiri pun tak tahan menyembelihnya. Tengkorak dan tulang-tulang kering bertumpuk-tumpuk sampai ke atap di sana sini dan tumpukan-tumpukan daging berwarna coklat terdapat di sudut-sudut. Baunya selalu busuk, tapi kalau Jeff sedang merebus kerangka tak tertahan lagi. Rumah tempat tinggal keluarga Mallock berdiri di tengah-tengah bangunan-bangunan itu dan bisa dimengerti kalau orang-orang baru akan

http://inzomnia.wapka.mobi

menyangka bahwa yang tinggal di situ adalah sekumpulan orang-orang kerdil jelek yang layu. Tapi Jeff adalah seorang laki-laki yang mukanya selalu merah dan lucu yang berumur empat puluhan, isterinya gemuk, suka tersenyum dan manis. Keluarganya terdiri dari anak-anak yang berturut-turut mulai dari seorang gadis berumur sembilan belas tahun, dan benar-benar cantik sampai kepada seorang anak - laki-laki berumur lima tahun yang sehat. Ada delapan orang anak-anak Mallock dan sepanjang umur mereka, mereka itu bermain-main di tengah-tengah paru-paru binatang yang sakit tbc dan aneka ragam bakteri mulai dari Salmonella sampai Anthrax. Namun mereka adalah anak-anak yang paling sehat di daerah itu. Di rumah-rumah minum diceritakan orang bahwa Jeff adalah salah seorang yang terkaya di kota itu, tapi sedang mereka minum-minum bir, orang-orang setempat itu harus mengakui bahwa uangnya didapatnya secara halal. Pukul berapa pun dia mau saja pergi dengan gerobaknya untuk mengambil sebuah bangkai, membawanya kembali ke tempatnya dan menyembelihnya. Seorang pedagang makanan anjing datang dua kali seminggu dari Brawton dengan sebuah gerobak dan membeli daging yang baru. Sisa badannya dimasukkan Jeff ke dalam panci besar sekali dan dimasak untuk dibuat campuran makanan babi dan ayam itik yang laku sekali dijual. Tulang-tulangnya dijual pada pengusaha pembuat pupuk, kulitnya untuk pengusaha penyamak serta bagian-bagian lainnya dikumpulkan oleh seseorang yang bermata liar. Kadang-kadang dari bermacam-macam bagian binatang itu, Jeff bisa membuat batangbatangan sabun yang panjang dan berbau aneh, yang banyak sekali pembelinya, untuk menggosok lantai toko. Ya, kata orang, Jeff memang senang hidupnya, tapi demi Tuhan, dia bekerja keras untuk itu. Aku agak sering berhubungan dengan Mallock. Perusahaan pembantai memang merupakan tempat yang bermanfaat bagi seorang dokter hewan. Tempat itu dapat dijadikan tempat pembendahan bangkai darurat, di mana dia bisa menyelidiki benar tidaknya diagnosanya dalam keadaan tak tertolong lagi, dan dalam keadaan di mana dia sama sekali tak tahu, biasanya misterinya tersingkap oleh pisau Jeff.

http://inzomnia.wapka.mobi

Tentu saja sering juga terjadi, di mana peternak-peternak membawa binatang yang baru habis ku-obati dan bertanya pada Jeff ada apa dengan binatang itu, maka hal itu agak menimbulkan keretakan, karena Jeff-lah yang berada dalam kedudukan yang kuat dan dia tak mau mengalah. Meskipun dia buta huruf, dia adalah seorang yang bangga akan pekerjaannya; dia tak suka disebut pembeli binatang-binatang 'bekas', tapi lebih suka dinamai 'pedagang kulit'. Dalam hatinya dia menganggap bahwa setelah dua puluh tahun lamanya berpengalaman menyembelih binatang-binatang yang sakit dia tahu lebih banyak daripada dokter hewan mana pun juga, dan keadaan jadi tak enak karena masyarakat peternakan tanpa ragu membenarkan dia. Aku selalu jadi merasa tak senang sepanjang hari setiap kali ada seorang peternak datang ke tempat pemeriksaan dan mengatakan padaku bahwa sekali lagi, Jeff Mallock telah menyalahkan diagnosaku. "Hei, ingatkah Anda sapi yang Anda periksa dan katakan kekurangan magnesium? Dia tak sembuh-sembuh lalu kubawa pada Mallock. Lalu tahukah Anda apa penyakitnya sebenarnya? Cacing di ekornya. Kata Jeff kalau saja Anda potong ekornya waktu itu, dia tentu segera sembuh." Tak ada gunanya membantah atau mengatakan bahwa tidak ada penyakit namanya cacing di ekor itu. Jeff tahu - itu saja sudah cukup. Kalau saja Jeff mau menggunakan kesempatan-kesempatannya yang selalu berharga itu untuk menambah pengetahuan yang masuk akal, tidak akan terlalu buruk keadaannya. Tapi dia bahkan mencip-takan ilmu penyakitnya yang aneh-aneh sendiri, dan yang didasarkan pada pengobatan-pengobatan ilmu gaib yang dikumpulkannya dari masyarakat peternakan. Ada empat penyakit-penyakit pokoknya yaitu paru-paru yang macet, penyakit domba hitam, penyakit perut dan batu golf. Itulah empat macam penyakit yang membuat para dokter hewan dalam daerah yang meliputi beberapa mil bergidik. Ada lagi sesuatu yang tak enak yang harus ditanggung oleh para dokter hewan yaitu bakatnya yang istimewa yang memungkinkannya segera mengatakan apa penyebab kematian seekor binatang hanya setelan

http://inzomnia.wapka.mobi

melihat binatang itu sekali lintas saja di peternakan. Peternak-peternak yang terpesona oleh kepandaiannya itu, selalu bertanya padaku mengapa aku tak bisa berbuat demikian. Tapi aku tak bisa membenci laki-laki itu. Sebagai manusia, adalah lumrah bahwa dia tak bisa menolak kesempatan untuk dianggap orang penting, apalagi tak ada sikap ingin mencelakakan pada dirinya. Namun kadangkadang timbul juga hal-hal yang tak menyenangkan, dan aku suka berada di tempat waktu dia sedang menyembelih setiap kali ada kesempatan. Lebih-lebih kalau menyangkut Isaac Cranford. Cranford adalah seorang yang keras, seorang yang telah memasukkan dirinya ke dalam pola hidup sederhana yang keras sekali. Seorang yang tajam perhitungannya, seorang tokoh yang ingin menang biar dengan cara apa pun juga, dan termasuk orang yang kikir. Dia bertani di tanah pertanian yang terbaik di Lembah Dale, sapi jenis Shorthorns-nya selalu memenangkan hadiah dalam pameran-pameran, tapi dia tak punya sahabat. Mr. Bateson, tetangganya di sebelah utara tanah pertaniannya, menyimpulkannya sebagai berikut, "Kulit seekor kutu pun berharga bagi laki-laki itu." Mr. Dickon yang bertani di sebelah selatannya, menyatakannya dengan cara yang lain, "Kalau selember mata uang sudah ada dalam tangannya, tidak akan keluar lagi." Pertemuan kami pagi ini terjadi gara-gara kejadian sehari sebelumnya. Mr. Cranford menelepon tengah hari. "Sapiku disambar petir. Sekarang mati di ladang." Aku keheranan. "Petir? Yakinkah Anda? Bukankah tak ada badai hari ini?" "Mungkin di sana tidak, tapi di sini ada." "Mmm, baiklah, aku akan datang dan memeriksanya." Sambil bermobil ke peternakan itu aku tak bisa memaksa diriku untuk merasa antusias dalam menghadapi tanya jawab yang harus kuhadapi. Urusan petir ini mungkin akan menjadi hal yang memusingkan kepala saja. Semua peternak mengasuransikan ternaknya terhadap sambaran petir - itu biasanya merupakan bagian dari asuransi kebakarannya - dan sesudah suatu badai hebat, sudah menjadi kebiasaan kalau telepon para

http://inzomnia.wapka.mobi

dokter hewan mulai berdering dengan pemintaan untuk memeriksa binatang-binatang yang mati. Perusahaan-perusahaan asuransi biasanya tidak banyak rewel dalam hal itu. Asal mereka menerima surat keterangan dari dokter hewan yang menyatakan bahwa berdasarkan pemeriksaannya memang petirlah penyebab kematian itu, mereka biasa mau saja membayar tanpa banyak ribut. Seandainya timbul keraguan mereka akan minta pembedahan mayat atau pendapat lain dari seorang dokter lain. Kesulitannya adalah karena tak ada diagnosa pembedahan mayat yang dapat dilanjutkan; paling-paling hanya adanya jaringan di bawah kulit yang memar, dan boleh dikatakan tidak ada lagi yang lain. Keadaan yang paling menyenangkan adalah bila terdapat ciri yang paling mengesankan pada binatang itu, yaitu hangus mulai dari telinga sampai ke kaki terus ke tanahnya sekali. Sering kali pula binatang itu ditemukan di bawah sebatang pohon yang sudah terang-terang terbakar dan hangus oleh petir itu. Dalam hal itu, mudah saja memberikan diagnosanya. Sembilan puluh sembilan persen dari para peternak tentulah mencari setiap kesempatan yang baik yang sekecil-kecilnya sekalipun dan kalau dokter hewannya menemukan penyebab kematian yang lain, mereka akan menerima keputusan itu dengan tenang, meskipun kurang senang. Tapi tak ada di antaranya yang menyulitkan. Aku pernah mendengar Siegfried menceritakan tentang seorang lakilaki tua yang telah memanggilnya untuk membuktikan suatu kematian oleh petir. Bekas-bekas hangus yang panjang pada bangkai binatang itu benar-benar mengesankan dan setelah Siegfried memeriksanya, hampir saja percaya. "Bagus, Charlie, betul-betul bagus, aku tak pernah melihat bekas yang lebih mengesankan. Tapi ada satu hal." Dia merangkulkan lengannya ke pundak laki-laki tua itu. "Sayang sekali kau telah membiarkan bekas tetesan lilin itu di kulitnya." Laki-laki itu melihat lebih teliti lalu menghantamkan tinjunya ke telapak tangannya. "Sialan, Anda benar, Tuan! Aku sudah berhati-hati sekali mengerjakannya. Dan aku sudah berusaha keras - hampir sejam lamanya aku mengerjakannya." Dia pergi sambil menggumam. Dia tidak

http://inzomnia.wapka.mobi

memperlihatkan rasa malu, hanya kesal dan kekurangan teknik kerjanya sendiri. Tapi pikirku, waktu mobilku melewati dinding batu peternakannya, akan lain sekali keadaannya. Cranford punya kebiasaan mendapatkan apa yang diinginkannya, benar atau salah, dan kalau kali ini keinginannya tidak didapatnya, akan ada kesulitan. Aku melewati pintu pagar peternakan dan sepanjang jalan beraspal yang rapi lalu melalui satu-satunya padang. Mr. Cranford sedang berdiri tanpa bergerak di tengah-tengah halaman dan bukan untuk pertama kalinya aku mendapat kesan, kesamaan laki-laki itu dengan seekor burung besar yang kelaparan. Bahu sempit yang membungkuk, muka yang dagunya terdorong ke depan seperti paruh tajam, mantel hitam yang tergantung longgar di tubuhnya yang kerempeng. Aku tidak akan tercengang seandainya dia membuka sayapnya dan mengepak-ngepak terbang ke atap kandang. Tapi dia hanya mengangguk tak sabar padaku dan bergegas berjalan dengan langkah-langkah pendek ke padang di belakang rumah. Padang itu luas dan sapi yang mati tergeletak boleh dikatakan di tengah-tengahnya. Di padang itu tak ada pohon-pohon, tak ada pagar bahkan tak ada semak-semak. Harapanku untuk menemukan bangkainya di bawah sebatang pohon yang hangus, segera sirna, tinggallah rasa kuatir. Kami berhenti dekat sapi itu dan Mr. Cranford-lah yang mula-mula bicara. "Pasti karena petir. Tak mungkin sebab lain. Badai hebat, lalu binatang, yang baik ini jatuh langsung mati." Aku melihat rumput di sekeliling sapi Shorthorn itu. Rumputnya sudah teraduk dan tercabut, hingga tinggallah bercak-bercak tanah gundul. "Tapi dia tidak jatuh dan mati mendadak, kan? Dia mati setelah mengalami kekejangan-kekejangan - kita bisa melihat bekas-bekas kakinya mengais-ngais rumput." "Baiklah, dia memang kejang-kejang, tapi petirlah yang menyebabkannya." Mata Mr. Cronford kecil tapi galak dan mata itu memandang berpindah-pindah dari leher bajuku, ke ikat pinggang jasku

http://inzomnia.wapka.mobi

dan sepatu Wellington-ku. Dia tak pernah bisa melihat seseorang tepat di matanya. "Aku ragu, Mr. Cranford. Salah satu tanda dari sambaran petir adalah bahwa binatang itu mati tanpa perjuangan. Bahkan ada di antaranya yang mulutnya masih berisi rumput." "Oh, aku tahu semua itu," bentak Cranford, mukanya yang kecil memerah. "Aku sudah setengah abad mengurus binatang ternak dan ini bukanlah pertama kali aku melihat yang disambar. Cara matinya tentu tak sama." "Oh, saya mengerti, tapi kuatir ini bisa disebabkan oleh banyak hal." "Hal-hal apa umpamanya?" "Yah, umpamanya Anthrax, atau kekurangan megnesium atau sakit jantung - ada lagi sederetan nama. Kurasa kita harus mengadakan pembedahan mayat, supaya yakin." "Eh dengarkan, apakah Anda mau mengatakan bahwa aku mencoba berbuat sesuatu yang terlarang?" "Sama sekali tidak. Aku hanya berkata bahwa kita harus mencari bukti yang meyakinkan sebelum aku memberi surat keterangan. Kita akan membawanya ke tempat Mallock dan melihat Mallock membedahnya, dan percayalah jika ternyata tak ada sebab lain dari kematiannya, Anda akan mendapatkan keuntungan dari keraguan ini. Orang asuransi baik dalam hal itu." Muka Mr. Cranford yang berpotongan perampok itu seperti masuk benar-benar ke dalam leher mantelnya. Dengan geram dia membenamkan tangannya ke dalam sakunya. "Aku sudah sering minta bantuan dokter hewan sebelum ini. Dokter-dokter hewan yang layak dan berpengalaman." Mata yang kecil itu berkilat ke telingaku yang kiri. "Mereka tak pernah ribut-ribut seperti ini. Untuk apa bersusah payah begitu? Mengapa Anda harus membuat keistimewaan?" Yah, mengapa, pikirku. Mengapa harus menjadikan laki-laki ini musuhku? Dia punya pengaruh besar di daerah ini. Terkemuka dalam persatuan peternak setempat, seorang anggota dari setiap badan pertanian dalam daerah bermil-mil jauhnya. Dia seorang laki-laki kaya dan berhasil, dan

http://inzomnia.wapka.mobi

meskipun orang tak suka padanya, mereka menghormati pengetahuannya dan mendengarkan kata-katanya. Dia bisa mempersulit kedudukan seorang dokter hewan muda. Mengapa tidak ditulis saja keterangan itu, lalu pulang? Cukup kalau ditulis, 'Dengan ini diterangkan bahwa saya sudah memeriksa binatang tersebut di atas dan menurut pendapat saya, sambaran kilat adalah penyebab kematiannya.' Itu akan mudah, dan Cranford akan puas. Dengan demikian segala-galanya akan berlalu. Mengapa harus melawan tokoh berbahaya ini, padahal percuma saja? Mungkin bagaimanapun juga dia memang disambar petir. Aku memalingkan mukaku ke Mr. Cranford, mencoba keras memandang matanya, tapi gagal, karena mata kecil itu beralih ke lain pada saat terakhir. "Sayang, tapi kurasa kita harus melihat bagian dalam dari sapi ini. Aku akan menelepon Mallock dan memintanya untuk mengambilnya dan besok kita bisa melihat dia memotongnya. Akan kujumpai Anda pukul sepuluh di sana. Baiklah begitu?" "Yah, kalau memang harus," sembur Cranford. "Sebenarnya ini urusan omong kosong saja, tapi kurasa aku harus menyenangkan hati Anda. Tapi baiknya kuperingatkan Anda - sapi ini bagus, bernilai delapan puluh pound. Aku tak rela kehilangan uang sebanyak itu. Aku minta hakku." "Aku yakin Anda akan mendapatkan hak Anda, Mr. Cranford. Dan sebelum dia diangkat, aku sebaiknya, mengambil darahnya sedikit untuk memeriksa apakah dia ada penyakit Anthrax." Peternak itu berada dalam tekanan yang bertumpuk-tumpuk. Sebagai seorang penegak kapel agama methodist, pilihan kata-katanya terbatas, oleh karenanya dia melampiaskan perasaan amarahnya dengan menyepak bangkai itu kuat-kuat. Jari-jari kakinya kena tulang punggung yang tak bergerak dan dia terlompat-lompat berkeliling pada sebelah kaki beberapa detik lamanya. Lalu dia berjalan dengan terpincang-pincang ke rumahnya. Aku tinggal seorang diri dan aku melukai telinga binatang mati itu dengan pisauku lalu menyapukan seoles darah ke beberapa potong kaca. Pertemuan itu merupakan pertemuan yang tidak menyenangkan dan pertemuan esok harinya pun tidak pula menjanjikan keadaan yang

http://inzomnia.wapka.mobi

menyenangkan. Selaput darah itu kumasukkan berhati-hati ke dalam sebuah kotak karton dan pulang ke Rumah Skeldale untuk memeriksanya di bawah mikroskop. Jadi bukanlah suatu rombongan yang riang benar yang berkumpul di tempat pemotongan binatang-binatang pagi berikutnya. Bahkan Jeff yang seperti biasa tetap berair muka seperti Buddha, sebenarnya amat tersinggung. Waktu aku tiba terlebih dahulu di pekarangan itu, Jeff telah menceritakan kejadian kemarinnya secara singkat, tapi aku bisa merangkumkan kejadiannya. Jeff melompat dari kereta pengangkutnya di tempat Cranford dan setelah memandang bangkai itu tajam-tajam sepintas, lalu seperti biasa memberikan diagnosa setempatnya. "Paru-parunya macet. Aku sudah bisa memastikan melihat matanya dan letak rambutnya di punggungnya." Lalu dia menantikan desah-desah kagum dan kata-kata ucapan selamat yang biasanya menyusul pernyataannya itu. Tapi Mr. Cranford yang hampir seperti orang menari karena marahnya berkata, "Tutup mulut besarmu yang bodoh itu Mallock, kau tak tahu apa-apa! Sapi ini disambar petir, ingat itu." Dan kini, sedang aku menundukkan kepalaku di atas bangkai itu, aku tetap tak bisa menemukan bukti. Tak ada tanda memar setelah kulitnya diangkat, sedang alat-alat perutnya bersih dan normal. Aku meluruskan tubuhku dan menyapukan tanganku ke rambutku. Tempat merebus binatang menggelegak perlahan, dengan mengeluarkan berkas-berkas uap yang sedap baunya ke dalam suasana yang sudah padat ini. Dua ekor anjing menjilat dengan asyiknya ke setumpuk daging yang sudah dimasak. Kemudian aku diserang rasa ngeri. Anjing-anjing itu mendapatkan saingan. Seorang anak laki-laki yang berambut - kriting mencelupkan jari telunjuknya ke tumpukan itu, memasukkan jari itu ke dalam mulutnya dan mengisapnya dengan nikmat "Lihatlah itu!" kataku gemetar. Muka laki-laki pembeli binatang bekas itu bersinar-sinar karena rasa bangga seorang ayah. "Memang," katanya senang. "Bukan hanya yang

http://inzomnia.wapka.mobi

berkaki empat saja yang suka masakanku. Makanan yang hebat itu penuh zat-zat makanan!" Setelah rasa senangnya benar-benar pulih, dia menyalakan sebatang korek api lalu kemudian dengan enak mengisap sebuah pipa pendek yang sudah memperlihatkan bukti-bukti banyaknya digunakan. Aku mengembalikan perhatianku ke pekerjaan yang sedang kami lakukan. "Tolong potong jantungnya, Jim," kataku Dengan cekatan Jim memotong alat tubuh yang besar itu dari atas ke bawah, dan aku segera tahu bahwa apa yang kucari sudah bertemu. Baik urat besar yang memompakan darah keluar maupun yang memasukkan darah ke jantung hampir seluruhnya tertutup oleh suatu benda seperti bunga kol yang tumbuh di klep jantung. Penyakit itu namanya Verrucose endocarditis, biasa pada babi tapi jarang pada sapi. "Itu, yang membunuh sapi Anda, Mr. Cranfrod," katanya. Cranford seperti akan memasukkan hidungnya ke jantung itu. "Demi Tuhan! Kau kan tidak akan menceritakan kepadaku bahwa benda sekecil itu bisa membunuh binatang sebesar ini." "Artinya tidak kecil. Dia cukup besar untuk menghentikan aliran darah. Sayang, tapi tak dapat diragukan lagi - sapi Anda mati karena serangan jantung." "Lalu bagaimana dengan petir?" "Tidak ada tanda-tandanya sama sekali. Anda bisa melihatnya sendiri." "Lalu bagaimana dengan uangku yang delapan puluh pound itu?" "Sayang sekali, tapi hal itu tak bisa mengubah kenyataan." "Kenyataan! Kenyataan apa? Aku sudah datang pagi ini dan Anda sudah memperlihatkan padaku, tapi Anda tak bisa mengubah pendapatku." "Yah, tak ada lagi yang dapat kukatakan. Perkaranya sudah jelas." Mr. Cranford. menjadi tegang dalam sikapnya yang seperti bertengger itu. Tangannya diletakkannya di bagian depan bajunya dan jarinya terusmenerus digeser-geserkannya dengan ibu jarinya, seolah-olah mengusap-usap uang kertas yang dicintainya yang sedang meluncur menjauhinya. Mukanya yang terbenam lebih dalam di leher bajunya kelihatan lebih tajam garisnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Kemudian dia berpaling padaku dan tersenyum jelek sekali. Dan matanya yang tertancap pada kerah bajuku, mencoba dengan berani naik seinci demi seinci. Sebentar sekali mata itu membalas pandanganku, tapi kemudian terkedip-kedip memandang ke tempat lain lagi dengan ketakutan. Ditariknya aku ke samping lalu berbicara sambil menatap jakunku. Dalam bisikannya yang parau terdengar nada membujuk. "Coba pikir, Mr. Herriot, kita berdua adalah manusia biasa. Kita samasama tahu bahwa perusahaan asuransi itu lebih mampu menanggung kerugian ini daripada aku. Jadi mengapa tak bisa Anda katakan saja bahwa itu petir?" "Meskipun aku tahu bahwa itu bukan disebabkan oleh petir?" "Apa sih artinya? Anda bisa saja mengatakannya, bukan? Tak seorang pun yang akan tahu." Aku menggaruk kepalaku. "Tapi yang menyusahkan aku, Mr. Cranford ialah, bahwa aku yang akan tahu." "Anda akan tahu?" Peternak itu tak mengerti. "Benar. Dan itu tak baik - aku tak bisa memberi Anda surat keterangan untuk sapi ini, habis perkara." Air muka Mr. Cranford mula-mula membayangkan putus asa, kemudian tak percaya akhirnya frus-tasi. "Yah, kalau begitu dengarkan. Aku tidak akan membiarkan perkara ini sampai di sini. Aku akan menjumpai majikan Anda mengenai Anda." Dia berputar lalu menunjuk sapi itu. "Sama sekali tak ada tanda penyakit di situ. Mau mencoba padaku bahwa kematian itu hanya disebabkan oleh barang kecil dalam jantung. Anda tak ahli dalam pekerjaan Anda - Anda bahkan tak tahu benda apa itu!" Jeff Mallock mengeluarkan pipa yang menghalanginya bicara dari mulutnya. "Tapi aku tahu. Itu seperti - yang kukatakan. Paru-paru yang macet yang disebabkan oleh susu dari urat susu yang kembali ke dalam tubuh. Akhirnya dia masuk ke jantung dan habislah ceritanya. Yang Anda lihat itu adalah gumpalan-gumpalan susu." Cranford berputar ke arahnya. "Tutup mulutmu, Pembual besar! Kau sama saja jahatnya dengan anak muda ini. Petir yang membunuh sapiku!

http://inzomnia.wapka.mobi

Petir!" Dia boleh dikatakan berteriak. Kemudian dia menguasai dirinya dan berbicara dengan tenang padaku. "Anda akan masih mendengar tentang perkara ini, Tuan Kepandaian, dan satu hal lagi akan kukatakan. Anda tidak akan pernah menginjakkan kaki ke peternakanku lagi." Dia berbalik dan bergegas pergi dengan sikap jalannya yang cepat itu. Aku mengucapkan selamat pagi pada Jeff lalu masuk ke mobilku dengan lemah. Yah, segala-galanya telah berakhir dengan baik. Sekiranya kedokteran hewan hanya terdiri dari pengobatan binatang-binatang sakit. Tapi kenyataannya tidak demikian. Banyak hal-hal lain. Kuhidupkan mesin dan akan pergi. BAB 29 MR. CRANFORD tidak menunggu lama dalam memenuhi ancamannya. Dia datang ke tempat pemeriksaan tak lama setelah makan siang esok harinya waktu Siegfried dan aku sedang menikmati rokok kami sehabis makan di kamar duduk. Kami mendengar lonceng depan dibunyikan orang, tapi kami tidak bangkit, karena kebanyakan peternak langsung masuk setelah membunyikan lonceng. Tapi anjing menjalankan tugasnya. Mereka sudah puas berlari-lari di padang rumput pagi itu dan baru saja habis menjilati mangkuk-mangkuk tempat makannya. Karena letih dan kekenyangan, mereka terbaring dan mulai mendengkur di kaki Siegfried. Tiada lain yang lebih mereka ingini daripada waktu istirahat selama sepuluh menit itu, tapi mereka amat tahu kewajiban sebagai pengawal rumah yang galak yang mereka tugaskan pada diri mereka sendiri. Maka tanpa ragu-ragu mereka melompat dari permadani dan sambil menyalak menyerbu ke lorong rumah. Orang-orang sering ingin tahu mengapa Siegfried memelihara lima ekor anjing. Bukan hanya memeliharanya tapi membawanya ke mana pun dia pergi. Kalau dia berkeliling ke tempat binatang-binatang yang harus diperiksanya, dalam mobilnya, sulit melihatnya di antara kepala-kepala yang berbulu dan ekor yang terkibas-kibas itu; dan siapa pun yang

http://inzomnia.wapka.mobi

mendekati mobil itu akan mundur ketakutan karena salak yang garang dan gigi-gigi yang diperlihatkannya serta mata yang mendelik di jendelajendela mobil. "Aku sama sekali tak mengerti," Siegfried menyatakan sambil menghantamkan tinjunya ke lututnya, "mengapa orang suka memelihara anjing sebagai binatang pangkuan. Anjing seharusnya diberi fungsi yang berguna. Biarkan dia dimanfaatkan untuk pekerjaan pertanian, untuk perburuan, untuk penunjuk jalan, tapi mengapa orang suka memeliharanya untuk menganggur saja enak-enakan, aku tak mengerti." Pernyataan itu sering dikeluarkannya, sering kali dari balik telinga yang terkibas atau lidah yang terjulur kalau dia duduk di mobilnya. Pendengarnya akan memandangnya tak mengerti dari anjing greyhound yang besar kepada anjing terrier yang kecil, dari spaniel ke whippet lalu ke Scottie; namun tak seorang pun yang bertanya pada Siegfried mengapa dia memelihara anjing-anjingnya sendiri. Kurasa rombongan anjing itu menyerang Mr. Cranford kira-kira di tikungan lorong dan banyak orang kurang kuat akan melarikan diri; tapi aku bisa mendengar dia berjuang untuk terus berkeras masuk. Waktu dia memasuki pintu kamar duduk, dia sudah membuka topinya dan memukulkannya pada binatang-binatang itu untuk mengusirnya. Itu suatu perbuatan bodoh dan salak anjing makin meningkat. Mata laki-laki itu menatap saja dan mulutnya komat-kamit, tapi tidak terdengar sesuatu pun dari mulutnya itu. Siegfried yang hormat seperti biasanya, bangkit dan menunjuk sebuah kursi. Juga bibirnya bergerak, pasti dia mengucapkan beberapa kata basa-basi. Mr. Cranford mengibaskan mantel hitamnya, mengambil sikap menukik lalu bertengger di kursi. Anjing-anjing duduk pula mengelilinginya dan menyalak ke arah mukanya. Biasanya mereka itu terus tergeletak sesudah perbuatan mereka yang meletihkan itu, tapi ada sesuatu pada muka atau bau Mr. Cranford yang tidak mereka sukai. Siegfried bersandar pada kursinya, mempertemukan jari-jarinya dan air mukanya polos saja. Kadang-kadang dia memicingkan matanya dan mengangguk menunjukkan pengertian. Boleh dikatakan tidak terdengar

http://inzomnia.wapka.mobi

apa-apa dari Mr. Cranford kecuali sekali-sekali sepatah kata atau kalimat pendek yang terputus-putus. ".....harus menyampaikan pengaduan....." ".....tidak ahli dalam pekerjaannya ......" ".....tak mampu.....bukan orang kaya ......" "..... ah, anjing-anjing sialan ini....." ".....tak mau memakainya lagi......" ".....pergi anjing, lari....." ".....sama saja dengan perampokan....." Siegfried yang benar-benar santai dan kelihatan tak ambil pusing segala keributan itu, mendengarkan dengan penuh perhatian, tapi setelah beberapa menit berlalu kulihat muka Mr. Cranford mulai tegang. Matanya seperti akan keluar dari rongganya dan urat-uratnya menonjol seperti tali di lehernya yang kurus kering, waktu dia mencoba menyampaikan pengaduannya itu. Akhirnya dia tak-tahan lagi lalu melompat dan langsung ke pintu. Terakhir dia masih teriak lagi, lalu mengibas lagi dengan topinya dan menghilang. Beberapa minggu kemudian waktu aku membuka pintu kamar obat, kudapati majikanku sedang mengaduk-ngaduk obat. Dia sedang bekerja berhati-hati sekali, membalik-balik bahan yang li-kat itu di sekeping batu marmer. "Apa kerjamu?" tanyaku. Siegfried melemparkan sendok pengaduknya dan meluruskan pinggangnya. "Obat luar untuk seekor babi." Dia memandang melewati diriku pada Tristan yang baru masuk. "Aku tak tahu mengapa harus mengerjakannya kalau ada orang yang duduk menganggur." Dia menunjuk sendok pengaduknya. "Tepat, Tristan, kau boleh meneruskannya. Kalau kau sudah menghabiskan rokokmu tentu maksudku." Air mukanya menjadi lembut waktu Tristan cepat-cepat menjentikkan rokok Woodbine-nya dan mulai bekerja di papan marmer itu. "Suatu adonan yang liat. Harus dicampur baik-baik," kata Siegfried dengan

http://inzomnia.wapka.mobi

puas sambil melihat ke kepala adiknya yang tertunduk. "Tengkukku sudah mulai sakit dibuatnya." Dia berpaling padaku. "Ngomong-ngomong, barangkali akan menarik bagimu kalau kaudengar bahwa itu untuk babi kepunyaan sahabat baikmu Cranford. Babinya yang mendapat hadiah itu. Di punggungnya ada luka besar dan dia susah setengah mati. Babi itu selalu mendapatkan hadiah uang untuknya dan noda di situ akan merupakan bencana." "Jadi Cranford masih datang pada kita." "Ya, lucu ya, tapi kita tak bisa terlepas dari dia. Aku tak suka kehilangan langganan, tapi dengan senang hati aku memberikan keistimewaan pada laki-laki ini. Dia tak mau kau mendekati tempatnya setelah urusan petir itu, dan dikatakannya dengan terus terang pula bahwa dia tidak pula terlalu mengharap banyak dari aku. Dikatakannya bahwa aku tak pernah berbuat pada binatang-binatangnya - katanya akan lebih baik kalau dia tak pernah memanggilku. Dan mengeluh setengah mati waktu menerima surat tagihan. Dia lebih banyak menyusahkan daripada menguntungkan dan lebih-lebih lagi aku agak takut padanya. Tapi dia tak mau pergi benar-benar tak mau." "Dia tahu apa yang menguntungkan dirinya," kataku. "Dia mendapat pelajaran yang baik sekali dan erang keluhannya itu hanya salah satu usahanya supaya kita tetap menekan surat tagihannya rendah-rendah." "Mungkin kau benar, tapi aku berharap ada jalan yang sederhana untuk menjauhkannya dari kita." Dia menepuk pundak Tristan. "Bagus, tapi tak perlu sampai menegangkan urat-uratmu. Cukuplah. Masukkan ke dalam kotak obat ini dan beri label dengan tulisan: 'Gosokkan banyak-banyak ke punggung babi tiga kali sehari sambil memijit-mijit dengan jari supaya meresap.' Lalu kirimkan pada Mr. Cranford melalui pos. Dan sekalian, kirimkan juga contoh kotoran ini ke laboratorium di Leeds untuk mentes penyakit Johne." Diulurkannya sebuah kaleng bekas setrup yang penuh dengan kotoran binatang yang cair dan berbau busuk. "Mungkin kau benar, tapi aku berharap ada jalan yang sederhana untuk menjauhkannya dari kita." Dia menepuk pundak Tristan. "Bagus, tapi tak perlu sampai menegangkan urat-uratmu. Cukuplah. Masukkan ke dalam

http://inzomnia.wapka.mobi

kotak obat ini dan beri label dengan tulisan: 'Gosokkan banyak-banyak ke punggung babi tiga kali sehari, sambil memijit-mijit dengan jari supaya meresap.' Lalu kirimkan pada Mr. Cranford melalui pos. Dan sekalian, kirimkan juga contoh kotoran ini ke laboratorium di Leeds untuk mentes penyakit Johne." Diulurkannya sebuah kaleng bekas setrup yang penuh dengan kotoran binatang yang cair dan berbau busuk. Adalah suatu hal yang bisa mengumpulkan contoh-contoh semacam itu dan mengirimkannya untuk tes Johne, cacing dan sebagainya, dan contoh-contoh itu selalu punya satu persamaan - contoh-contoh itu selalu besar jumlahnya. Yang diperlukan untuk tes itu hanya beberapa sendok teh, tapi peternak-peternak itu selalu memberikan banyakbanyak. Mereka rupanya heran mengapa dokter hewan hanya membutuhkan begitu sedikit dari kotoran yang begitu banyak; maka ditinggalkannya sifat hati-hatinya yang biasa dimilikinya dan disendokkannya barang itu banyak-banyak dengan sekopnya ke dalam wadah yang sebesar-besarnya yang bisa mereka ketemukan. Mereka tidak mempedu-likan segala macam bantahan; mereka selalu bersikap 'ambil saja banyak-banyak, kami punya banyak.' Tristan memegang kaleng itu dengan berhati-hati sekali dan mencaricari di papan-papan rak. "Kita tak punya botol-botol kaca untuk contoh itu la-gi." "Benar, kita sudah kehabisan," kata Siegfried. "Aku baru bermaksud untuk memesannya. Tapi biarlah - pasang saja tutup kaleng itu lalu tekan kuat-kuat, kemudian bungkus baik-baik dalam kertas coklat. Itu tentu akan sampai dengan baik ke laboratorium." Hanya tiga hari kemudian nama Mr. Cranford muncul lagi. Siegfried sedang membuka surat-surat yang datang pagi, menyingkirkan suratsurat edaran dan menumpuk-numpuk surat-surat tagihan dan suratsurat tanda terima, ketika dia tiba-tiba terdiam. Dia seperti membeku dengan sepucuk surat pada kertas surat biru dan dia duduk seperti patung waktu membaca surat itu sampai habis. Akhirnya diangkatnya kepalanya, air mukanya polos. "James, inilah surat yang paling tajam yang pernah kubaca. Dari Cranford. Dia menyatakan berpatah arang

http://inzomnia.wapka.mobi

dengan kita dan bahkan sedang berencana untuk mengambil tindakan yang sah untuk melawan kita." "Apa salah kita kali ini?" tanyaku. "Dia menuduh kita telah terang-terangan menghinanya dan membahayakan kesehatan babinya. Katanya kita telah mengirimkan padanya sekaleng penuh kotoran sapi dengan petunjuk untuk menggosokkannya ke punggung babinya tiga kali sehari." Tristan yang sejak tadi duduk dengan mata setengah tertutup, menjadi betul-betul sadar dan terbelalak. Dia bangkit dengan tenang dan berjalan ke arah pintu. Tangannya sudah memegang pintu waktu suara abangnya menggelegar. "Tristan! Kembali ke mari kau! Duduk - ada sesuatu yang harus kita bicarakan." Tristan mendadak mendongak, menunggu badai meledak, tapi tanpa diduga, Siegfried tenang. Suaranya lembut. "Jadi rupanya telah terulang lagi. Kapan aku akan menyadari bahwa aku tak bisa mempercayakan suatu tugas yang semudah-mudahnya sekalipun padamu. Rasanya tak banyak aku minta. Hanya memasukkan dua buah bungkusan kecil ke pos - sama sekali bukan tugas yang pelik. Tapi masih juga salah kau menjalankannya. Kau salah memasang labelnya ya?" Tristan menggeliat di kursinya. "Maafkan aku, aku tak ingat bagaimana....." Siegfried mengangkat tangannya. "Sudahlah, tak perlu susah. Seperti biasa, nasib baikmu telah menyelamatkan dirimu. Seandainya terjadi atas diri orang lain, ketololan itu akan berarti bencana besar tapi dengan Cranford hal itu merupakan pertolongan Tuhan yang menguntungkan." Dia berhenti sebentar dan merenung. "Seingatku, pada label tertulis supaya mengurut-ngurutkannya dengan jari-jari. Dan kata Mr. Cranford dia membuka bungkusan itu waktu mereka sedang sarapan..... Ya, Tristan, kurasa kau telah mendapatkan jalan keluar yang baik. Aku yakin bahwa hal ini benar-benar menghabisinya." "Lalu bagaimana dengan tindakan sah yang dikatakannya itu?" kataku.

http://inzomnia.wapka.mobi

"Ah. kurasa itu bisa kita lupakan, Mr. Cranford punya rasa harga diri yang tinggi. Pikir saja bagaimana bunyi pengaduannya nanti di pengadilan." Diremukkannya surat itu lalu dilemparkannya ke keranjang sampah. "Ayolah kita mengerjakan pekerjaan lain saja." Dia mendahului berjalan dan sesampai di lorong, mendadak berhenti. Dia berpaling menghadapi kami, "Tentu ada hal lain. Aku ingin tahu bagaimana reaksi di lab, dimintai mentes obat gosok untuk penyakit Johne?" BAB 30 KALI ini aku betul-betul kuatir mengenai diri Tricki. Aku baru saja menghentikan mobilku, ketika kulihat dia di jalan dengan pemiliknya dan aku terkejut sekali melihat rupanya. Dia telah jadi gemuk sekali, seperti sosis yang bengkak yang berkaki di setiap sudutnya. Matanya yang merah darah dan sayu, menatap ke depan saja terus dan lidahnya terjulus ke luar. Mrs. Pumphrey cepat-cepat menjelaskan. "Dia tak berdaya sama sekali, Mr. Herriot. Dia seperti tak punya tenaga. Kupikir dia menderita kekurangan makan, jadi kuberi dia makanan ekstra di samping makanannya yang biasa, untuk menguatkannya. Sedikit bubur dari kaki anak sapi dan jelai dan minyak ikan dan semangkuk makanan Horlick malam hari supaya dia bisa tidur - sebenarnya tak banyak." "Dan adakah Anda kurangi makanan manisnya seperti yang saya nasihatkan?" "O ya, kukurangi sedikit, tapi dia kelihatan begitu lemah. Aku terpaksa mengalah. Dia suka sekali kue cream dan coklat. Aku tak sanggup menolaknya." Kulihat lagi anjing kecil itu. Itulah kesulitannya. Satu-satunya cacat Tricki adalah serakah. Tak pernah kita mendengar dia menolak makanan; makanan apa saja dihantamnya kapan saja siang dan malam. Dan aku teringat semua makanan yang tak disebutkan Mrs. Pumphrey, seperti

http://inzomnia.wapka.mobi

biskuit, coklat lembut dan makanan kecil yang enak-enak - semua itu amat disukai Tricki. "Adakah Anda beri dia cukup gerak badan?" "Yah, dia kadang-kadang berjalan-jalan sedikit dengan saya, seperti sekarang ini, tapi si Hodgkin sakit pinggang, hingga akhir-akhir ini tak bisa melatihnya melompati lingkaran." Aku mencoba berbicara dengan nada keras. "Sekarang saya bersungguh nih. Kalau Anda tidak betul-betul mengurangi makanannya benar-benar, dan Dan tidak memberinya cukup latihan, dia akan benar-benar sakit. Anda harus menguatkan hati Anda dan dengan keras mengurangi makanannya." Mrs. Pumphrey meremas-remaskan tangannya. "Ya, baiklah Mr. Herriot. Aku yakin Anda benar, tapi sulit sekali rasanya." Dia pergi lagi dengan kepala tertunduk, seolah-olah sudah berketetapan hati akan segera mengulangi perbuatannya lagi. Kuperhatikan mereka pergi dengan rasa kuatir yang makin meningkat. Tricki berjalan dengan langkah berat dengan memakai mantelnya dari bahan tweed, dia memang selalu memakai mantel-mantel yang bermacam-macam - mantel-mantel hangat dari bahan tweed dan bahan Skot untuk hari-hari dingin dan jas hujan kalau hari hujan. Dia berjuang terus dengan berjalan terbongkok-bong-kok dalam bajunya itu. Kupikir, tak berapa lama lagi aku pasti mendengar berita dari Mrs. Pumphrey. Panggilan yang memang sudah kuharapkan itu tiba beberapa hari kemudian. Mrs. Pumphrey susah sekali. Tricki tak mau makan apa-apa lagi. Makanan-makanan kesukaannya sekalipun ditolaknya; terkecuali itu, dia juga muntah-muntah. Dia hanya berbaring saja di tikar kecil, nafasnya terengah-engah. Tidak pergi berjalan-jalan, tak mau lagi berbuat apa-apa. Aku sudah membuat rencanaku sebelumnya. Satu-satunya jalan ialah membawa Tricki keluar dari rumahnya untuk beberapa lamanya. Kuanjurkan supaya dia dimasukkan ke rumah sakit selama kira-kira dua minggu untuk observasi.

http://inzomnia.wapka.mobi

Wanita malang itu hampir pingsan waktu mendengar hal itu. Dia belum pernah berpisah dari kekasihnya; dia yakin bahwa kesayangan itu pasti akan menderita dan mati jika dia tidak melihatnya tiap hari. Tapi aku bersikap tegas. Tricki sakit keras dan inilah satu-satunya jalan untuk menyelamatkannya; aku sebenarnya bahkan berpikir sebaiknya kubawa dia tanpa menunda, dan dengan disertai ratap tangis Mrs. Pumphrey, aku keluar ke mobil sambil menggendong anjing kecil itu terbungkus dalam selembar selimut. Seluruh Staf rumah tangga dikerahkan dan pelayan-pelayan berlari-lari keluar masuk, ada yang membawa tempat tidur siangnya ada yang membawa tempat tidur malamnya, bantal-bantal kesayangannya, permainan-permainan dan lingkaran-lingkaran karet, mangkuk sarapan, mangkuk makan siang dan mangkuk makan malam. Karena menyadari bahwa mobilku tidak akan muat semua barang-barang itu, aku cepatcepat berangkat. Waktu mobil mulai bergerak, Mrs. Pumphrey masih sempat melemparkan segumpal mantel-mantel kecil lewat jendela sambil berteriak putus asa. Sebelum aku membelok, aku melihat ke kaca spion dan terlihat bahwa semuanya berurai air mata. Setelah tiba di jalan, aku melirik ke binatang kecil yang sedih yang terengah-engah di tempat duduk di sampingku. Kutepuk-tepuk kepalanya dan Tricki melakukan usaha yang berani, mengibaskan ekornya. "Bujang tua yang malang," kataku. "Kau sudah tak punya kekuatan lagi, tapi aku tahu obat untukmu." Di tempat pemeriksaan, anjing-anjing di rumah mengelilingiku. Tricki memandang ke rombongan yang ribut itu dengan mata lesu dan ketika diletakkan, tergolek tak bergerak di permadani. Setelah anjing-anjing yang lain mendengus-dengus di sekeliling beberapa lamanya, kemudian memutuskan bahwa dia tak menarik lalu tidak mempedulikan-nya. Aku membuatkannya sebuah tempat tidur hangat dari kotak bekas, dekat kotak tempat anjing-anjing yang lain tidur. Selama dua hari dia kuawasi terus, aku tidak memberinya makanan apa-apa kecuali air banyak-banyak. Setelah dua hari berlalu dia mulai menaruh perhatian

http://inzomnia.wapka.mobi

pada keadaan sekelilingnya dan pada hari ketiga dia mulai berkedipkedip kalau mendengar anjing-anjing lain di halaman. Waktu aku membuka pintu, Tricki berjalan ke luar dan segera dikelilingi oleh Joe si anjing gry-hound dan kawan-kawannya. Setelah menggulingkannya dan memeriksanya dengan teliti, anjing-anjing itu pergi ke kebun. Tricki menyusul mereka, tampak masih mengalami kesulitan dengan lemaknya yang berlebihan, tapi jelas tertarik. Siang harinya aku hadir pada waktu mereka diberi makan. Kuperhatikan waktu Tristan menuangkan makanan ke dalam mangkuk. Seperti biasa terjadi penyerbuan terhadap makanan itu yang disusul oleh makan dengan kecepatan tinggi; setiap anjing tahu bahwa kalau dia sampai terbelakang dari yang lain-lain dia pasti akan harus berebutan mendapatkan sisa makanan. Ketika mereka selesai, Tricki berjalan ke mangkuk-mangkuk yang berkilat itu lalu menjilati bagian dalamnya dengan seenaknya. Esok hari sebuah mangkuk tersendiri disediakan untuknya dan aku senang melihat dia ikut berdesak-desak mendatangi mangkuknya. Sejak itu kemajuannya cepat sekali. Dia tidak mendapatkan perawatan dengan obat apa-apa, tapi sepanjang hari dia berkejar-kejaran dengan anjing-anjing yang lain dan ikut dalam pergulatan pura-pura mereka. Dia merasa senang dilemparkan, diinjak dan terjepit setiap beberapa menit. Dia menjadi anggota rombongan yang diterima baik, suatu benda yang bukan main kecilnya dan halusnya di tengah-tengah gerombolan yang besar-besar, dia ikut berjuang seperti harimau untuk mendapatkan makanan pada waktu makan dan memburu tikus-tikus di kandang ayam tua malam hari. Dia tak pernah menjalani hidup yang demikian. Dan selama itu, Mrs. Pumphrey berkeliaran saja di halaman belakang atau menelepon berbelas kali sehari untuk mendengar berita terakhir. Aku mengelakkan pertanyaan-pertanyaannya mengenai, apakah bantalnya dibalikkan secara teratur atau apakah mantel yang tepat yang dikenakan sesuai dengan cuaca; tapi aku bisa melaporkan dengan pasti bahwa anjing kecilnya sudah terlepas dari bahaya yang kesehatannya maju dengan cepat.

http://inzomnia.wapka.mobi

Istilah 'kesehatannya maju' rupanya diartikan lain oleh Mrs. Pumphrey. Dia mulai membawakan telur-telur baru, setiap kali dua lusin, katanya untuk memulihkan kembali kekuatan Tricki. Beberapa lamanya kami senang dan kami masing-masing mendapat dua butir telur untuk sarapan, tapi waktu minuman sherry mulai datang pula, seisi rumah mulai mengerti apa maksudnya. Minuman itu adalah minuman yang enak sekali yang kukenal dengan baik dan dikatakan bahwa itu diberikannya untuk menambah darah Tricki. Makan siang kami menjadi suatu peristiwa berupa acara dengan didahului oleh dua gelas sherry dan beberapa gelas sementara makan. Siegfried dan Tristan bergiliran mengangkat gelas dengan mendoakan kesehatan Tricki dan kata-kata yang diucapkan dalam pidato untuk itu, makin hari makin meningkat. Sebagai sponsor Tricki akulah yang harus memberikan pidato balasan. Kami rasanya tak bisa percaya ketika brendi pula yang datang. Dua botol yang bermerek Cordon Bleu, yang maksudnya sebagai bantuan terakhir terhadap keadaan Tricki. Siegfried mengeluarkan beberapa gelas minuman kepunyaan ibunya. Aku tak pernah melihat gelas-gelas itu sebelumnya, tapi selama beberapa malam gelas-gelas itu mendapat penghargaan karena selalu digunakan untuk diisi minuman yang sedap itu, yang dihirup dan diminum dengan rasa penghargaan. Hari-hari itu benar-benar merupakan hari-hari yang menyenangkan, dimulai dengan baik dengan adanya makanan ekstra telur pagi hari, ditambah dan ditingkatkan kesenangan itu di siang hari dengan minum sherry dan ditutup dengan mewah dengan minum-minum brendi sambil mengelilingi tungku pemanasan. Rasanya timbul keinginan untuk tetap memelihara Tricki sebagai tamu abadi, tapi aku tahu bahwa Mrs. Pumphrey menderita dan setelah dua minggu, aku merasa terpaksa menelepon dan mengatakan padanya bahwa anjing kecil itu telah sembuh dan menunggu penjemputan. Dalam jangka waktu tiga puluh menit, sesuatu yang terbuat dari logam berwarna hitam berkilat dan panjangnya kira-kira sembilan ratus sentimeter, berhenti di luar tempat pemeriksaan. Sopirnya membukakan

http://inzomnia.wapka.mobi

pintunya dan tubuh Mrs. Pumphrey boleh dikatakan tenggelam dalam bagian dalamnya. Tangannya terkatup erat di depannya; bibirnya gemetar. "Aduh, Mr. Herriot, tolonglah katakan yang sebenarnya. Benar-benar sudah sembuhkah dia?" "Ya, dia sudah sehat. Anda tak perlu keluar dari mobil - biar kuambilkan dia." Aku berjalan melalui rumah langsung ke kebun. Suatu kelompok anjinganjing sedang bergumul berputar-putar di rumput dan di tengahtengahnya terdapat tubuh kecil keemasan Tricki, yang telinganya terkepak-kepak dan ekornya melambai-lambai. Dalam waktu dua minggu dia sudah berubah menjadi seekor binatang yang lincah dan berotot keras; dia bisa menyesuaikan dirinya dengan yang lain-lain, mengulurkan tubuh-tubuhnya jauh-jauh hingga dadanya hampir kena tanah. Kugendong dia melalui lorong ke depan rumah. Sopir mobil masih tetap memegang pintu mobil dan waktu Tricki melihat pemiliknya dia memberontak melepaskan dirinya dari tanganku dengan suatu lompatan besar dan tiba di pangkuan Mrs. Phum-prey Wanita itu terkejut dan hanya bisa berteriak, "Oooh!" lalu kemudian dia harus melindungi dirinya waktu Tricki memeluknya sambil menjilat-jilat mukanya dan menyalak. Sementara kegaduhan itu terjadi, kubantu sopir membawa ke luar, tempat-tempat tidur, permainan-permainan, bantal-bantal, mantelmantel dan mangkuk-mangkuk, yang kesemuanya tak pernah dipakai. Waktu mobil mulai bergerak, Mrs. Pumphrey menjenguk ke luar jendela. Air matanya berlinang. Bibirnya gemetar. "Aduh, Mr. Herriot" tangisnya. "Bagaimanakah saya dapat menyampaikan terima kasih pada Anda? Ini adalah suatu hasil perawatan yang gemilang!" Aku terbangun tiba-tiba dan tersentak, jantungku berdegup dan berdebar kuat oleh dering telepon yang tak henti-hentinya. Telepontelepon yang bisa ditaruh di samping tempat tidur ini benar-benar suatu kemajuan dari sistem lama yang mengharuskan kita berlari turun ke tingkat bawah dan berdiri menggigil dengan kaki telanjang di ubin lorong; tapi bunyi yang merupakan ledakan dalam jarak yang hanya

http://inzomnia.wapka.mobi

beberapa inci dari telinga pada jam sesubuh ini pada waktu tubuh kita sedang lemah dan daya tahan sedang rendah, sungguh-sungguh menghancurkan rasanya. Aku merasa telepon itu tak baik bagiku. Suara di ujung yang lain benar-benar ceria. "Aku punya kuda yang akan beranak. Tapi dia mengalami kesulitan. Kurasa anaknya salah letak bisakah Anda datang menolong?" Perutku rasa berkerut menjadi sebuah bola yang terik. Ini rasanya agak keterlaluan; kalau hanya sekali harus keluar dari tempat tidur di tengah malam buta sudah cukup tidak menyenangkan, tapi dua kali rasanya tak adil, bahkan merupakan suatu kekejaman. Aku sudah bekerja keras sepanjang hari dan merasa senang bisa merangkak tidur tengah malam. Pukul satu malam aku diminta bangun untuk menolong sapi yang sukar sekali beranak dan hampir pukul tiga baru kembali. Pukul berapa sekarang? Pukul tiga lima belas menit. Tuhanku, aku baru beberapa menit tidur. Dan kuda beranak pula! Biasanya dua kali lebih sulit daripada sapi beranak. Hidup apa ini! Hidup yang benar-benar malang! "Baik, Mr. Dixon, aku akan segera datang," gumamku di alat penerima, lalu berjalan terseok-seok ke seberang kamar sambil menguap dan merenggangkan tubuh, merasakan sakit di pundak dan lenganku. Aku memandangi pakaian yang tertumpuk di kursi; pakain itu tadi sudah kutanggalkan, lalu kukenakan lagi, dan menanggalkannya lagi tadi, kini dalam diriku memberontak tak mau mengenakannya lagi. Dengan bersungut-sungut lemah, kuambil mantelku dari balik pintu dan kupasangkan saja di luar piyamaku, turun ke tingkat bawah mencari tempat sepatu Willington-ku di luar pintu kamar obat dan kumasukkan saja kakiku ke dalamnya. Malam itu malam yang hangat, jadi tak ada gunanya untuk berpakaian benar-benar; aku pasti akan membuka segalagalanya saja di peternakan nanti. Kubuka pintu belakang dan menggagap-gagap perlahan-lahan di kebun yang panjang itu. Pikiranku yang letih, hanya samar-samar saja menangkap bau harum dalam gelap itu. Aku sampai di ujung halaman, kubuka pintu rangkap ke jalan lalu kukeluarkan mobil dari garasi. Di kota yang sepi itu, bangunan-bangunan memancar putih waktu lampu mobil

http://inzomnia.wapka.mobi

menyorot bagian depan toko-toko yang tertutup rapat dan tirai-tirai yang terkatup pula. Semua orang tidur. Semua orang kecuali aku, James Herriot, yang merayap dengan rasa sakit dan kehabisan tenaga menuju tempat yang menjanjikan kerja keras lagi. Mengapa benar aku dulu memutuskan untuk menjadi seorang dokter hewan di desa? Aku gila dulu itu memilih pekerjaan di mana kita bekerja tujuh hari dalam seminggu sampai-sampai tengah malam pula. Kadang-kadang aku merasa seolaholah tempat praktek itu merupakan suatu wujud hidup yang jahat yang mentes diriku, mengujiku; terus-menerus menambah tekanan atau melihat kapan dan pada saat mana aku akan jatuh dan langsung mati. Suatu reaksi di luar kesadaranku mengangkatku dari kancah menangisi nasibku itu, dan aku mulai menanggapi waktu yang akan kuhadapi ini dengan optimisme yang memang merupakan sifat-sifatku. Pertama-tama, tempat Dixon itu terletak di ujung Dale tak jauh dari jalan raya dan mereka punya kemewahan yang tak biasa yaitu listrik dalam bangunanbangunan mereka. Dan aku pun tidak pula letih setengah mati; bukankah aku berumur dua puluh empat dan kesehatanku tak pernah terganggu? Masih sulit mematikan diriku. Aku tersenyum sendiri dan tenggelam ke dalam keadaan gembira yang agak tertunda yang sebenarnya merupakan kebiasaanku dalam keadaan ini; suatu selaput kantuk yang membungkus semua kesadaran kecuali kesadaran yang diperlukan untuk menjalankan pekerjaanku. Dalam bulan-bulan terakhir ini aku sering-sering bangun tengah malam, bermobil sampai jauh ke desa, mengerjakan pekerjaanku dengan hasil yang baik dan kembali tidur lagi, tanpa merasa betul-betul bangun. Aku tak keliru mengenai Dixon. Kuda betina Clydesdale yang manis berada dalam sebuah tempat yang baik penerangannya dan kuletakkan tali-tali dan instrumen-instrumenku dengan perasaan syukur yang dalam. Sambil menuangkan obat anti ha-ma ke dalam ember yang berisi air panas, kuperhatikan kuda yang sedang kejang dan mendayung-dayung kaki-kakinya itu. Usaha itu tidak menghasilkan apa-apa, tiada kaki yang terjulur dari kemaluannya. Kali ini pasti ada kelainan dalam kelahiran.

http://inzomnia.wapka.mobi

Sambil tetap berpikir keras, aku menanggalkan mantelku dan terbangun dari renunganku oleh pekik tertawa dari peternak itu. "Tuhan Mahakuasa, apa-apaan ini?" Aku memandang ke piyamaku yang berwarna biru muda dengan bertepi lebar. "Ini adalah pakaian tidur saya, Mr. Dixon," sahutku mempertahankan harga diri. "Saya tak sempat berganti pakaian." "O begitu," Mata peternak itu berkilat nakal. "Maafkan aku sesaat tadi kusangka bahwa Anda adalah orang lain. Tahun yang lalu, aku ada melihat seorang pemuda seperti Anda benar di Blackpool - pakaiannya sama benar tapi dia memakai topi dan tongkat juga. Dia pandai sekali menari." "Sayang, aku tak dapat memenuhi keinginan itu," kataku tersenyum masam. "Aku sedang tak punya keinginan untuk itu." Aku membuka pakaianku, sambil memandang luka yang masih merah bekas gigi anak sapi beberapa jam yang lalu. Gigi-gigi itu setajam pisau cukur yang mengelupas kulitku, setiap kali aku memasukkan tanganku ke dalam mulutnya. Kuda betina itu gemetar waktu aku memasukkan tanganku ke dalam tubuhnya. Tak ada apa-apa, tak ada, kemudian hanya ekornya dan tulang panggulnya dan tubuhnya serta kaki belakangnya yang menghilang, terlepas dari jangkauanku. Kelahiran sungsang; pada sapi kelahiran itu mudah bagi orang yang sudah berpengalaman, tapi pada kuda sulit karena panjangnya kaki bayi kuda itu. Setengah jam lamanya aku harus bekerja keras bercucuran peluh, dengan menggunakan tali dan sebuah pengait tumpul yang dipasang di ujung rotan yang lembut, untuk mengeluarkan kaki yang pertama. Kaki yang kedua lebih mudah keluar, dan induknya kini seolah-olah tahu bahwa tak ada lagi kesulitan. Dia memberikan dorongan yang kuat dan bayi itu terpancar ke luar ke rumput kering bersama-sama diriku yang terlempar sambil memeluk bayi itu. Aku senang sekali karena kurasa tubuh kecil itu meronta dan meregang; waktu aku bekerja meraba-raba tadi, aku tidak merasa adanya gerak dan aku memastikan bahwa bayi itu mati, tapi ternyata dia hidup; dia menggelengkan kepalanya dan

http://inzomnia.wapka.mobi

mendengus mengeluarkan air ketuban yang telah terhisap olehnya karena lamanya perjalanan keluarnya. Setelah aku selesai menyeka tubuhku aku berpaling dan melihat peternak itu mengulurkan mantelku yang sudah berwarna aneka ragam dan muka yang tegang sekali seperti seorang pelayan pribadi. "Silakan, Tuan," katanya dengan serius. "Oke, Oke," aku tertawa, "lain kali aku akan datang dengan berpakaian pantas." Sedang aku memasukkan barang-barangku ke tempat bagasi mobil, peternak itu dengan seenaknya melemparkan sebuah bungkusan ke tempat duduk di belakang. "Mentega sedikit," gumamnya. Waktu aku menghidupkan mesin dia membungkuk menjenguk di jendela. "Aku tadi kuatir sekali akan keadaan induk kuda itu dan aku ingin sekali anak dari dia. Terima kasih, Anak muda, terima kasih banyak." Dia melambai waktu mobilku mulai bergerak dan kudengar suara perpisahannya. "Anda tepat sekali kalau menjadi penyanyi pengembara Kentucky!" Aku menjalankan mobil sambil bersandar di tempat dudukku dan memandang melalui kelopak mata yang gelap ke jalan yang kosong yang mulai kelihatan jelas di sinar pagi yang masih suram. Matahari sudah mulai terbit - merupakan sebuah bola Jingga tua yang tergantung rendah di atas padang-padang yang berkabut. Aku benar-benar merasa damai, senang mengenang bayi kuda tadi, yang mencoba berjuang untuk berdiri, dengan kaki yang bukan main panjangnya yang masih belum kokoh. Aku puas bahwa binatang kecil itu ternyata hidup - aku selalu merasa tak senang kalau membantu melahirkan makhluk yang sudah tak bernyawa. Peternakan Dixon itu terletak di tanah rendah di mana daerah Dale melebar dan berakhir di tanah dataran York yang luas. Aku harus menyeberangi suatu lingkaran jalan ramai yang menghubungkan daerah West Riding dengan daerah perindustrian, North East. Suatu lingkaran asap tipis mengepul dari cerobong asap rumah minum yang buka sepanjang malam yang ada di tikungan itu dan waktu aku mengurangi

http://inzomnia.wapka.mobi

kecepatan akan membelok, suatu bau masakan yang menusuk hidung, masuk ke mobilku; timbul bayangan yang jelas dari sosis goreng dan kacang dan tomat dan kentang goreng. Tuhanku, aku lapar sekali. Aku melihat arlojiku; pukul lima lima belas menit, masih lama aku baru akan sarapan. Aku membelok masuk ke tengah-tengah truk di jalan beraspal yang lebar. Sambil berjalan bergegas ke gedung yang masih berlampu itu, aku memutuskan untuk tidak makan terlalu banyak. Aku tak berniat untuk makan yang hebat-hebat, hanya sandwich yang enak. Aku sudah pernah ke mari beberapa kali sebelumnya dan sandwich-nya memang enak; dan aku memang pantas makan sesuatu setelah bekerja begitu keras sepanjang malam. Aku masuk ke dalam suatu ruangan yang hangat, di mana beberapa kelompok sopir truk duduk menghadapi piring-piring yang berisi makanan yang bertumpuk tinggi; tapi baru saja aku melangkah masuk, terhentilah bunyi gemerincing sendok garpu dan keadaan jadi sepi tegang. Seorang laki-laki gendut yang memakai jaket kulit duduk tertegun dengan sebuah garpu yang ada makanannya tak jadi dimasukkannya ke mulutnya, sedang yang duduk di sampingnya, yang sedang mencengkam sebuah gelas yang besar dan tinggi dengan tangannya yang berminyak-minyak, menatapku dengan mata melotot. Aku baru sadar bahwa piyama yang bergaris-garis merah cerah dan sepatu bot Wellington-ku mungkin kelihatan tak wajar di lingkungan itu dan aku buru-buru mengancingkan mantelku yang terombang-ambing di belakangku. Setelah terkancing pun mantel itu ternyata terlalu pendek, hingga kaki piyamaku masih tersembul di atas sepatu botku. Aku berjalan ke meja tempat penjualan dengan langkah-langkah tetap. Sebuah kepala yang berambut pirang yang tersembul dari baju overall putih yang sudah kotor dan yang di saku bajunya dicantumkan nama "Dora", memandangiku dengan muka polos. "Satu sandwich pakai ham dan semangkuk kaldu," kataku parau. Waktu si pirang memasukkan sesendok bubuk kaldu ke dalam mangkuk dan kemudian mengisinya dengan air panas yang masih berbunyi mendesis,

http://inzomnia.wapka.mobi

aku merasa tak enak karena merasa di belakangku sunyi sepi dan aku merasa bahwa serangkaian mata tertuju pada kakiku. Di sebelah kanan aku tepat dapat melihat laki-laki yang berjaket kulit tadi. Diisinya mulutnya dan mengunyah sambil merenung beberapa lamanya. "Macam-macam saja, ya Ernest," katanya dengan tegas. "Memang, Kenneth, memang," sahut sahabatnya. "Apakah kau tahu, Ernest, apakah ini yang dipakai oleh kaum pria daerah Yorkshire dalam musim semi ini?" "Mungkin, Kenneth, mungkin saja." Setelah mendengar celoteh dari belakangku itu, aku berkesimpulan bahwa orang yang berdua ini adalah pembanyol yang sudah diakui di rumah minum itu. Sebaiknya aku cepat-cepat saja menghabiskan makananku dan keluar. Dore menyodorkan sandwich yang berisi daging tebal dan berkata seperti orang yang mengigau. "Satu shilling." Kuselipkan tanganku ke dalam mantelku dan sadar bahwa piyama flanelku itu tak bersaku. Ya Tuhanku, uangku ada dalam saku celanaku yang tinggal di Darrowby! Aku terserang rasa panik waktu aku mulai meraba-raba mantelku dengan gugup. Aku memandang kalap pada gadis pirang itu dan kulihat dia memasukkan kembali sandwich-nya ke bawah meja penjualan. "Dengarkan," kataku, "aku rupanya tak membawa uang. Aku sudah pernah ke mari - kaukenal aku kan?" Dora hanya menggeleng tegas. "Ya, sudahlah," gagapku, "aku akan kembali dengan membawa uang bila aku kebetulan lewat di sini." Air muka Dora tidak berubah tapi dia mengangkat alis matanya sebelah sebentar, dan dia tidak bergerak sedikit pun untuk mengeluarkan kembali sandwich itu dari tempat persembunyiannya. Kepalaku hanya dipenuhi oleh satu rencana, cepat-cepat lari. Dengan rasa putus asa kuhirup cairan yang panas sekali itu. Kenneth menjauhkan piringnya lalu mulai menusuk-nusuk giginya dengan puntung korek api. "Ernest," katanya seolah-olah baru saja mengambil

http://inzomnia.wapka.mobi

suatu keputusan. "Menurut pendapatku, kaum pria di daerah ini eksentrik." "Eksentrik?" kata Ernest sambil tertawa terkekeh-kekeh. "Kalau menurut aku lebih tepat disebut bebal." "Tapi tidak terlalu bebal, Ernest. Tidak cukup untuk membayar apa yang dilahapnya." "Kau tepat, Kenneth. Tepat sekali." "Memang aku tak keliru. Bukan main enaknya dia menikmati semangkuk kaldu. Sayang tak tepat waktunya meraba-raba pakaiannya tadi, kalau tidak dia pasti sudah menyerbu sandwich-nya juga. Dora rupanya lebih cepat daripadanya - lima detik saja lagi, habislah ham itu." "Benar, benar," gumam Ernest, yang rupanya merasa puas dengan peranannya sebagai orang jujur. Kenneth melemparkan puntung korek apinya, mengecap-ngecap giginya nyaring-nyaring lalu bersandar. "Ada satu kemungkinan lain yang belum kita pertimbangkan. Dia mungkin orang buronan." "Narapidana yang melarikan diri, maksudmu Kenneth?" "Ya, Ernest." "Tapi orang-orang itu selalu ada cap anak panah di pakaian seragamnya." "Memang ada beberapa penjara yang memakai itu. Tapi aku pernah mendengar bahwa sekarang ada beberapa penjara dan memakaikan pakaian seragam bergaris-garis." Aku sudah benar-benar tak tahan lagi. Setelah menuangkan tetes-tetes yang terakhir dari kaldu itu ke leherku, aku langsung berlari ke pintu. Waktu aku melangkah ke luar ke sinar matahari pagi, masih terdengar olehku pernyataan Kenneth yang terakhir tentang diriku. "Barangkali dia melarikan diri dari rombongan pekerja. Lihat saja sepatu bot Wellington-nya itu." *** PENUTUP

http://inzomnia.wapka.mobi

Aku ingat suatu petang waktu matahari memancar terang. Anjing-anjing Siegfried kumasukkan ke mobilku, lalu pergi ke tempat di mana saja jalan tikus yang hijau menarik menuju ke sebuah tambang, di lereng jurang yang curam. Kami berjalan semil dua di tanah yang lembut, lalu membelok dan menuju lurus ke lereng bukit melewati suatu tempat yang berbau tak enak dan kumbang men-dengung-dengung, terus ke puncaknya di mana anginnya nyaman dan kita dapat melihat hampir seluruh daerah Dale terbentang di bawah; hampir seluruhnya, mulai dari bagian yang terdekat di mana terdapat bukit-bukit besar yang gundul yang bertepi semak-semak liar, sampai melandai ke bawah ke dataran rendah yang luas, terus ke kakinya yang samar-samar yang hampir kelihatan berkotak-kotak. Aku sedang duduk di rumput dengan anjing-anjing yang mengelilingiku dengan penuh harapan, ketika angin lembut menghembuskan bau dari Dale, dan harum rumput yang terbentang bermil-mil luasnya dan bungabungaan yang seperti malu-malu di padang-padang. Bau yang sama itu telah pula tercium olehku waktu aku turun dari bis di Darrowby setahun yang lalu. Dan aku sadar bahwa selama itu aku telah bekerja keras terus: masa pertama yang ajaib itu telah kulalui. Dan semuanya itu terjadi di bawah sana itu. Banyak di antara peternakan yang termasuk daerah pemeriksaan kami kelihatan dari tempatku duduk; di sana sini kelihatan batu kelabu dengan binatangbinatang ternaknya, yang dari jarak, jauh ini kelihatan seperti bintikbintik tak bergerak, terserak di padang-padang di sekitarnya. Aku tak dapat membayangkan daerah itu sebagai medan pertempuranku selama tahun yang lalu ini, peristiwa-peristiwa perjuanganku yang pertama, di mana segala-galanya telah terjadi, mulai dari sukses yang memuncak sampai pada kegagalan yang amat memalukan. Ada orang-orang di bawah sana itu menganggapku seorang dokter hewan yang cukup baik, ada beberapa yang menganggapku sebagai orang bebal yang baik hati, ada pula yang yakin bahwa aku adalah seorang luar biasa, bahkan satu atau dua orang mau melepaskan anjingnya untuk mengejarku bila aku berani menginjakkan kaki ke dalam batas pagarnya.

http://inzomnia.wapka.mobi

Semua ini dalam setahun. Bagaimana keadaannya dalam tiga puluh tahun? Yah, kalau melihat tanda-tandanya, akan sama saja. Lalu bagaimana dengan binatang-binatang yang di sekitar hidupnya drama ini berputar? Sayang binatang-binatang itu tak bisa berbicara, karena akan menarik sekali mendengar pendapat binatang-binatang itu. Ada beberapa hal yang ingin kuketahui. Bagaimana pandangan mereka tentang hidup mereka yang beraneka ragam itu? Apa pendapat mereka tentang kita manusia? Dan apakah mereka bisa tertawa tentang hal itu? *** TAMAT Edit & Convert: inzomnia http://inzomnia.wapka.mobi