Anda di halaman 1dari 34

LABORATORIUM LINGKUNGAN uji kualitas air sungai cikapundung

LAPORAN PRAKTIKUM

Disusun oleh : AHMAD HIDAYAT AWALUDIN (103050010) FELLY DWIYANDARI (103050007) SABAR SUPENDI (103050006) SRI FUJI ASTUTI (103050008)

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Air adalah senyawa yang penting bagi semua bentuk kehidupan yang diketahui sampai saat ini di Bumi, tetapi tidak di planet lain. Air menutupi hampir 71% permukaan Bumi. Terdapat 1,4 triliun kilometer kubik (330 juta mil) tersedia di Bumi. Air sebagian besar terdapat di laut (air asin) dan pada lapisan-lapisan es (di kutub dan puncak-puncak gunung), akan tetapi juga dapat hadir sebagai awan, hujan, sungai, muka air tawar, danau, uap air, dan lautan es. Air dalam obyek-obyek tersebut bergerak mengikuti suatu siklus air, yaitu: melalui penguapan, hujan, dan aliran air di atas permukaan tanah (runoff, meliputi mata air, sungai, muara) menuju laut. Air bersih penting bagi kehidupan manusia. Sungai merupakan jalan air alami. mengalir menuju Samudera, Danau atau laut, atau ke sungai yang lain. Pada beberapa kasus, sebuah sungai secara sederhana mengalir meresap ke dalam tanah sebelum menemukan badan air lainnya. Dengan melalui sungai merupakan cara yang biasa bagi air hujan yang turun di daratan untuk mengalir ke laut atau tampungan air yang besar sepertidanau. Sungai terdiri dari beberapa bagian, bermula dari mata air yang mengalir ke anak sungai. Beberapa anak sungai akan bergabung untuk membentuk sungai utama. Aliran air biasanya berbatasan dengan kepada saluran dengan dasar dan tebing di sebelah kiri dan kanan. Penghujung sungai di mana sungai bertemu laut dikenali sebagai muara sungai. Sungai merupakan salah satu bagian dari siklus hidrologi. Air dalam sungai umumnya terkumpul dari presipitasi, seperti hujan,embun, mata air, limpasan bawah tanah, dan di beberapa negara tertentu air sungai juga berasal dari lelehan es / salju. Selain air, sungai juga mengalirkan sedimen dan polutan. Kemanfaatan terbesar sebuah sungai adalah untuk irigasi pertanian, bahan baku air minum, sebagai saluran pembuangan air hujan dan air limbah, bahkan sebenarnya potensial untuk dijadikan objek wisata sungai. Di Indonesia saat ini terdapat 5.950 daerah aliran sungai (DAS). Perlu juga dikemukakan bahwa sodetan sungai kini telah tergolong sebagai alternatif yang primitif jika ditinjau dari konsep ekohidrologi, serta tidak selaras dengan kesepakatan dunia pada KTT Bumi (Earth Summit) di Johannesburg bulan September 2002 yang mengklasifikasikan sodetan sungai (river diversion) sebagai pembangunan yang tidak berkelanjutan. Sungai Cikapundung adalah sungai yang melintas di daerah Bandung. Daerah Aliran Sungai (DAS) Cikapundung adalah salah satu bagian sub dari DAS Citarum dan merupakan sungai yang berfungsi sebagai drainase utama di pusat kota Bandung. Sungai Cikapundung melintasi kota Bandung sepanjang 15,50 km dengan 10,57 km dari panjang total merupakan daerah pemukiman padat penduduk. Saat ini kondisi sungai Cikapundung sangat memprihatinkan. Terlihat dari warna airnya yang keruh. Menunjukan adanya pencemaran. Harus diakui bahwa tercemarnya Sungai Cikapundung merupakan dosa kita bersama. Sebenarnya aturan hukum yang mengatur masalah persampahan di Kota Bandung sudah ada berupa Peraturan Daerah Kota Bandung No. 27 Tahun 2001 tentang Pengelolaan Kebersihan Di Kota Bandung. Dalam perda ini diatur bahwa pengelolaan sampah di Kota Bandung menjadi tanggung jawab bersama antara pemerintah dan masyarakat.

1.2 Tujuan Praktikum 1. Sebagai kewajiban atau prasyarat untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh nilai kelulusan mata Kuliah Praktikum Laboratorium Lingkungan 2. Untuk mempertanggungjawabkan setiap hasil praktikum yang didapatkan. 3. Menganalisis parameter fisika, kimia dan biologi yang terkandung dalam air kran UNPAS (Universitas Pasundan).

BAB II PERCOBAAN DAN PEMBAHASAN 2.1 Parameter Fisik Beberapa parameter fisik yang digunakan untuk menentukan kualitas air meliputi suhu, kekeruhan, warna, daya hantar listrik, jumlah zat padat terlarut, rasa, bau. Tetapi dalam praktikum kali ini parameter yang digunakan hanya warna, daya hantar listrik, dan kekeruhan. 2.1.1 Daya Hantar Listrik Daya hantar listrik (DHL) merupakan kemampuan suatu cairan untuk menghantarkan arus listrik (disebut juga konduktivitas). DHL pada air merupakan ekspresi numerik yang menunjukkan kemampuan suatu larutan untuk menghantarkan arus listrik. Oleh karena itu, semakin banyak garam-garam terlarut yang dapat terionisasi, semakin tinggi pula nilai DHL. Besarnya nilai DHL bergantung kepada kehadiran ion-ion anorganik, valensi, suhu, serta konsentrasi total maupun relatifnya. Pengukuran daya hantar listrik bertujuan mengukur kemampuan ion-ion dalam air untuk menghantarkan listrik serta memprediksi kandungan mineral dalam air. Pengukuran yang dilakukan berdasarkan kemampuan kation dan anion untuk menghantarkan arus listrik yang dialirkan dalam contoh air dapat dijadikan indikator, dimana semakin besar nilai daya hantar listrik yang ditunjukkan pada konduktivitimeter berarti semakin besar kemampuan kation dan anion yang terdapat dalam contoh air untuk menghantarkan arus listrik. Hal ini mengindikasikan bahwa semakin banyak mineral yang terkandung dalam air. Metode Metode yang digunakan dalam percobaan ini dengan menggunakan alat yang disebut conductivity. Prinsip Prinsip dalam pengukuran konduktivitas dengan cara mencelupkan elektrode yang dialiri arus listrik ke dalam air, dan hasil pengukuran konduktivitas sangat dipengaruhi oleh temperatur, oleh sebab itu standar pengukuran pada temperatur 250C. Cara Kerja Pengukuran daya hantar listrik: Ukur temperatur sampel air Putar pengukur temperature sesuai dengan temperature sampel air Celupkan elektroda ke dalam sampela air dan alat tersebut akan memberikan nilai daya hantar listrik untuk contoh air tersebut. Hasil Percobaan Hasil yang didapat berdasarkan pengukuran adalah 404 ms/cm.

2.1.2 Kekeruhan Kekeruhan menggambarkan sifat optik air yang ditentukan berdasarkan banyaknya cahaya yang diserap dan dipancarkan oleh bahan-bahan yang terdapat di dalam air. Kekeruhan disebabkan adanya bahan organik dan anorganik yang tersuspensi dan terlarut (misalnya lumpur dan pasir halus), maupun bahan anorganik dan organik yang berupa plankton dan mikroorganisne lain (APHA, 1976; Davis dan Cornwell, 1991dalam Effendi 2003). Zat anorganik yang menyebabkan kekeruhan dapat berasal dari pelapukan batuan dan logam, sedangkan zat organik berasal dari lapukan hewan dan tumbuhan. Bakteri dapat dikategorikan sebagai materi organik tersuspensi yang menambah kekeruhan air. Padatan tersuspensi berkolerasi positif dengan kekeruhan. Semakin tinggi nilai padatan tersuspensi, semakin tinggi nilai kekeruhan. Akan tetapi, tingginya padatan terlarut tidak selalu diikuti dengan tingginya kekeruhan. Tingginya nilai kekeruhan dapat mempersulit usaha penyaringan dan mengurangi efektivitas desinfeksi pada proses penjernihan air. Secara optis, kekeruhan merupakan suatu kondisi yang mengakibatkan cahaya dalam air didispersikan atau diserap dalam suatu contoh air. Metode Metode yang digunakan dalam percobaan ini dengan menggunakan alat yang disebut Turbidimeter. Prinsip Prinsip dasar pengukuran kekeruhan adalah dengan melewatkan sejumlah cahaya ke dalam air dengan ketebelan tertentu. Banyaknya sinar yang dipendarkan oleh parikel partikel tersuspensi diukur dan dinyatakan sebagai kekeruhan dalam air, semakin tinggi kekeruhan, semakin banyak sinar yang dipendarkan. Cara Kerja Masukkan contoh air yang telah dikocok kedalam tabung turbidimeter 50 mm sampai tanda batas dan tutup (jangan sampai ada gelembung udara) Masukkan kedalam alat turbidimeter dengan posisi cermin terbuka dan gunkan filter dark Tutup pintu turbidimeter dan nyalakan lampunya Putar skala pembacaan sambil dilihat dari atas sehingga kekeruhan air tersebut sesuai dengan standar Baca skala pembacaan dan masukkan ke dalam grafik standar kekeruhan sehingga di dapat nilai kekeruhannya. Jika skala pembacaan melebihi btas grafik standar kekeruhan, maka filternya diganti dengan ururtan sebagai berikut: 1. Filter dark, cermin tertutup dan ukuran tabung 50 mm, 2. Filter light, cermin tertutup dan ukuran tabung 50 mm, 3. Filter none, cermin tertutup dan ukuran tabung 50 mm, 4. Filter none, cermin tertutup dan ukuran tabung 20 mm,
4

Hasil Percobaan Hasil yang didapat berdasarkan pengukuran adalah 10,98 NTU. 2.1.3 Warna Air minum sebaiknya tidak berwarna untuk alasan estetika dan untuk mencegah keracunan dari berbagai zat kimia maupun mikroorganisme yang berwarna. Warna dapat menghambat penetrasi cahaya ke dalam air. Warna pada air disebabkan oleh adanya partikel hasil pembusukan bahan organik, ion-ion metal alam (besi dan mangan), plankton, humus, buangan industri, dan tanaman air. Adanya oksida besi menyebabkan air berwarna kemerahan, sedangkan oksida mangan menyebabkan air berwarna kecoklatan atau kehitaman. Kadar besi sebanyak 0,3 mg/l dan kadar mangan sebanyak 0,05 mg/l sudah cukup dapat menimbulkan warna pada perairan (peavy et al., 1985 dalam Effendi, 2003). Kalsium karbonat yang berasal dari daerah berkapur menimbulkan warna kehijauan pada perairan. Bahan-bahan organik, misalnya tanin, lignin, dan asam humus yang berasal dari dekomposisi tumbuhan yang telah mati menimbulkan warna kecoklatan. Dalam penyediaan air minum, warna sangat dikaitkan dengan segi estetika. Warna air dapat dijadikan sebagai petunjuk jenis pengolahan yang sesuai. Berdasarkan zat penyebabnya, warna air dapat dibedakan menjadi : 1. Warna Sejati (True Color) 2. Warna Semu (Apparent Color) Metode Metode yang dilakukan dalam percobaan warna ini adalah metode Colorimetri. Colorimetri merupakan salah satu metoda pengukuran konsentrasi suatu zat secara kuantitatif dengan melihat karakter warna yang proposional terhadap konsentrasi zat yang diukur. Prinsip Warna air dibandingkan dengan standar yang terbuat dari K2PtCl6 dan Cobalt. Cara Kerja Pengukuran warna sejati (true color) dari sample air dengan cara disentrifuge atau disaring batas larutan baku(standar) yang tersedia dengan cara melihatnya dari bagian atas cairan dengan alas putih Pengukuran warna semu (apparent color) ya sampai tanda batas -warna contoh air tersebut dengan larutan-larutan baku yang tersedia
5

Hasil Percobaan Dikarenakan bahan PtCo sangat mahal maka percobaan ini tidak dilakukan. 2.2 Parameter Kimia 2.2.1 pH pH(Puissance dHydrogen Scale) merupakan parameter untuk menyatakan suatukeasaman air, untuk menyatakan banyaknya ion H+ di dalam air, semakin banyak ion H+ dalam air,semakin rendah pH air. Data pH sangat diperlukan untuk mengetahui apakah air tersebut memenuhi persyaratan tertentu, misalnya untuk air minum dipersyaratkan pH antara pH 6,5 8,5. Metode Metode yang umum dipakai dalam penentuan pH suatu larutan adalah Electrode Potensiometri. Prinsip Eletroda gelas mempunyai kemampuan untuk mengukur konsentrasi H+ dalam air secara potensiometeri. Cara Kerja Masukkan kira-kira 150 ml sampel air ke dalam gelas kimia 250 ml Ukur suhu sampel dengan thermometer, kemuian celupkan elektroda yang telah dibersihkan ke dalam sampel Putar pengatur suhu sesuai dengan suhu sampel Nyalakan pH meter, read out. pH meter akan menunjukan nilai pH sampel air tersebut Selama pengukuran sampel air dikocok dengan menggunakan magnetic stirrer. Setelah selesai pengukuran, matikan pH meter, kemudian bilas elektroda dengan aquadest dan simpan dalam keadaan tercelup di dalam aquadest Hasil Percobaan Hasil yang didapat dari percobaan diatas pHnya adalah 7,38 2.2.2 Asiditas Dan Alkalinitas Asiditas adalah kapasitas kuantitatif air untuk bereaksi dengan basa kuat sehingga menstabilkan pH hingga mencapai 8,3 atau kemampuan air untuk mengikat OH- untuk mencapai pH 8,3 dari pH asal yang rendah. Semua air yang memiliki pH < 8,5 mengandung asiditas. Pada dasarnya, asiditas (keasaman) tidak sama dengan pH. Asiditas melibatkan dua komponen, yaitu jumlah asam, baik asam kuat maupun asam lemah (misalnya asam karbonat dan asam asetat), serta konsentrasi ion hidrogen. Menurut APHA (1976) dalam Effendi (2003), pada dasarnya asiditas menggambarkan kapasitas kuantitatif air untuk menetralkan basa sampai pH tertentu, yang dikenal dengan base-neutralizing capacity (BNC); sedangkan
6

Tebbut (1992) dalam Effendi (2003) menyatakan bahwa pH hanya menggambarkan konsentrasi ion hidrogen. Pada kebanyakan air alami, air buangan domestik, dan air buangan industri bersifat buffer karena sistem karbondioksida-bikarbonat. Pada titrasi beberapa asam lemah, dapat diketahui bahwa titik akhir stoikiometri dari asam karbonat tidak dapat dicapai sampai pH sekitar 8,5. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa semua air yang memiliki pH < 8,5 mempunyai sifat asiditas. Biasanya titik akhir phenophtalein pada pH 8,2 sampai 8,4 digunakan sebagai titik referensi. Alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan tambahan asam tanpa menurunkan pH larutan atau dikenal dengan sebutan acid-neutralizing capacity (ANC) atau kuantitas anion di dalam air yang dapat menetralkan kation hidrogen. Alkalinitas merupakan hasil reaksi terpisah dalam larutan dan merupakan analisa makro yang menggabungkan beberapa reaksi. Alkalinitas merupakan kemampuan air untuk mengikat ion positif hingga mencapai pH 4,5. Alkalinitas dalam air disebabkan oleh ion-ion karbonat (CO32-), bikarbonat (HCO3-), hidroksida (OH-), borat (BO32-), fosfat (PO43-), silikat (SiO44-), ammonia, asam organik, garam yang terbentuk dari asam organik yang resisten terhadap oksidasi biologis. Dalam air alami, alkalinitas sebagian besar disebabkan adanya bikarbonat, karbonat, dan hidroksida. Pada keadaan tertentu, keberadaan ganggang dan lumut dalam air menyebabkan turunnya kadar CO2 dan HCO3- sehingga kadar CO32- dan OH- naik dan pH larutan menjadi naik. Metode Metode yang dapat digunakan dalam mengukur asiditas-alkalinitas adalah Titrasi asam basa. Prinsip Asiditas atau alkalinitas dalam air dinetralkan dengan basa NaOH atau asam HCl menggunakan indicator fenolftalin dan metil orange. Cara Kerja Masukkan 100 ml sampel air kedalam Erlenmeyer, lalu tambahkan 10 - 20 tetes indicator fenolftalin, amati perubahan warna yang terjadi. Jika tidak terjadi perubahan warna (larutan tetap tidak berwarna), lakukan cara kerja untuk asidias Jika cairan berubah warna menjadi merah (merah muda), lakukan cara kerja untuk alkalinitas. Ternyata setelah dilakukan penambahan fenolftalin, tidak terjadi perubahan warna dan larutan tetap tidak berwarna. Oleh karena itu, dilakukan cara kerja untuk Asiditas sebagai berikut: a.Titrasi dengan larutan NaOH 0.1 N sampai cairan berwarna merah muda. Catat banyaknya larutan NaOH 0.1 N yang digunakan (ml) b.Tambahkan 3-5 tetes indicator metyl orange c.Lanjutkan titrasi dengan larutan HCl 0.1 N sampai cairan berubah warna dari kuning menjadi orange (jingga). Catat banyak larutan HCl 0.1 N yang digunakan.

Hasil Percobaan volume titrasi yang didapat: NaOH = 0.5 ml HCL = 7.8 ml Perhitungan 1 ml < 57.3 ml < m, maka: Air mengandung Co2 dan HCo3 Mg/l CO2 = = = 35,2 mg/l CO2 Mg/l HCO3- = = [ [ ] ] HCo3 Co2

= 268.4 mg/l HCo32.2.3 Kesadahan Kesadahan (hardness) disebabkan adanya kandungan ion-ion logam bervalensi banyak (terutama ion-ion bervalensi dua, seperti Ca, Mg, Fe, Mn, Sr). Kationkation logam ini dapat bereaksi dengan sabun membentuk endapan maupun dengan anion-anion yang terdapat di dalam air membentuk endapan/karat pada peralatan logam. Kation-kation utama penyebab kesadahan di dalam air antara lain Ca2+, Mg2+, Sr2+, Fe2+, dan Mn2+. Anion-anion utama penyebab kesadahan di dalam air antara lain HCO3 -, SO42-, Cl-, NO3 -, dan SiO32-. Air sadah merupakan air yang dibutuhkan oleh sabun untuk membusakan dalam jumlah tertentu dan juga dapat menimbulkan kerak pada pipa air panas, pemanas, ketel uap, dan alat-alat lain yang menyebabkan temperatur air naik. Kesadahan air berkaitan erat dengan kemampuan air membentuk busa. Semakin besar kesadahan air, semakin sulit bagi sabun untuk membentuk busa karena terjadi presipitasi. Busa tidak akan terbentuk sebelum semua kation pembentuk kesadahan mengendap. Pada kondisi ini, air mengalami pelunakan atau penurunan kesadahan yang disebabkan oleh sabun. Endapan yang terbentuk dapat menyebabkan pewarnaan pada bahan yang dicuci. Pada perairan sadah (hard), kandungan kalsium, magnesium, karbonat, dan sulfat biasanya tinggi (Brown, 1987 dalam Effendi, 2003). Jika dipanaskan, perairan sadah akan membentuk deposit (kerak). Prinsip Kalsium dan Magnesium dalam air dapat membentuk senyawa komplek dengan Etilen Diamine Tetra Asetat (EDTA) pada suatu pH tertentu. Untuk mengetahui titik akhir titrasi digunakan indikator logam yaitu indicator EBT dan Murexida. Cara Kerja Kesadahan Total 1. Siapkan labu Erlenmeyer
8

2. Masukkan sample 100 ml, lalu tambahkan 2 ml buffer pH 10 dan 1 spatula EBT 3. Lalu titrasikan dengan EDTA Kesadahan Sementara 1. Siapkan labu Erlenmeyer 2. Masukkan sample 100 ml, lalu tambahkan 2 ml buffer pH 12 dan indikator mureksid 3. Lalu titrasikan dengan EDTA Hasil Percobaan volume titrasi yang didapat (kesadahan sementara) : EDTA 4.2 ml Volume titrasi yang didapat (kesadahan total): EDTA 6 ml Perhitungan Kesadahan total = = = 3 G Kesadahan Sementara = = = 4.5 G Kesadahan magnesium Kesadahan mg = kesadahan total kesadahan Ca = 4,5 G 3 G = 1.5 G 2.2.4 CO2 Agresif Karbondioksida (CO2) adalah komponen normal dalam semua air alami dan merupakan gas yang mudah larut dalam air. CO2 di alam terdiri dari CO2 bebas dan CO2 terikat yang tergantung pada pH air. CO2 bebas terdiri dari CO2 yang berada dalam kesetimbangan, diperlukan untuk memelihara ion bikarbonat (HCO3-) dan CO2 agresif yang dapat melarutkan CaCO3 dan bersifat korosif. CO2 terikat hadir dalam bentuk bikarbonat (HCO3-) dan karbonat (CO32-). CO2 agresif merupakan CO2 yang berada dalam keseimbangan dan diperlukan untuk memelihara ion bikarbonat dalam air. Air permukaan pada umumnya mengandung < 10 mg CO2 bebas/liter, namun beberapa air tanah mengandung lebih banyak lagi. Tidak semua CO2 bersifat agresif. CO2 dapat berasal dari beberapa sumber, antara lain : Masuknya CO2 melalui air permukaan oleh absorbsi dari atmosfer. Hal ini hanya terjadi ketika konsentrasi CO2 dalam air lebih kecil daripada konsentrasi CO2 dalam atmosfer dan mengikuti Hukum Henry, yang berbunyi Antara konsentrasi CO2 di udara dengan CO2 terlarut dalam air akan terjadi kesetimbangan (CO2 atm CO2 terlarut).

Proses oksidasi biologi materi organik. Hal ini terutama terjadi pada air tercemar. Oksidasi bakteri tersebut mengeluarkan CO2 sebagai hasil akhir, baik aerob maupun anaerob. Aktivitas fotosintesis yang dibatasi. Hal ini terjadi apabila konsentrasi CO2 dalam air lebih besar daripada konsentrasi CO2 di atmosfer. Perkolasi air ke dalam tanah. Air tanah mengandung 30 50 mg/l CO2. Hal ini disebabkan air mengalami perkolasi dalam tanah yang tidak mengandung cukup kalsium/magnesium karbonat untuk menetralisir CO2 melalui pembentukan bikarbonat. Spesies karbon, misal CaCO3 (kapur). Proses dekomposisi materi organik. Air yang banyak mengandung CO2 akan bersifat korosif karena dapat melarutkan logam yang terdapat pada pipa penyaluran air sehingga dapat terjadi korosi pada pipa distribusi air minum. Korosi disebabkan air mempunyai pH rendah, yang disebabkan adanya kandungan CO2 agresif yang tinggi. Prinsip Perhitungan CO2 agresif berdasarkan kepada grafik MUNDLEIN FRANKFURT Hasil Percobaan Dalam percobaan diatas tidak mengandung CO2 agresif dalam air keran di UNPAS. 2.2.5 Zat Organik Zat organik yang terdapat di dalam air bisa berasal dari : Alam : minyak tumbuh-tumbuhan, serat-serat minyak dan lemak hewan, alkohol, selulosa, gula, pati dan sebagainya. - Sintesa : berbagai persenyawaan dan buah-buahan yang dihasilkan dari proses-proses pabrik. - Fermentasi : alkohol, aseton, gliserol, antibiotik, asam-asam dan sejenisnya yang berasal dari kegiatan mikroorganisme terhadap bahan-bahan organik. Adanya bahan-bahan organik dalam air erat hubungannnya dengan terjadinya perubahan sifat fisik terutama dengan timbulnya warna, bau dan rasa serta kekeruhan yang tidak diinginkan. Adanya zat organik dalam air dapat diketahui dengan menentukan angka permanganatnya. Walaupun KMnO4 sebagai oksidator yang dipakai tidak dapat mengoksidasi semua zat organik yang ada, namun cara ini sangat praktis dan cepat pengerjaannya. Standar kandungan bahan organik dalam air minum menurut Dep.Kes.RI maksimal yang diperbolehkan adalah 10 mg/L. baik WHO maupun U.S. Public Health Service tidak mencantumkan angka standar ini dalam standar kualitas air minum yang ditetapkannya. Tingginya zat organik berakibat :
10

Badan air keruh atau berwarna Badan air berbau akibat penguraian zat organik Rendahnya DO level Zat organik dalam air ditetapkan sebagai angka permanganat, melalui metode permanganimetri. Angka permanganat didefinisikan sebagai mg KMnO4 yang diperlukan untuk mengoksidasi sempurna seluruh zat organik dalam 1 L air. Gangguan dalam proses analisis bisa diakibatkan oleh tingginya ion klorida ion klorida dapat ikut teroksidasi saat pengoksidasian zat organik. Cara Penetapan : Titrasi Cara Asam Konsentrasi Cl- < 300ppm Titrasi Cara Basa Konsentrasi Cl- > 300 ppm

Oksidasi zat organik dilakukan pada kondisi Oksidasi zat organik dilakukan pada kondisi asam basa Titrasi dilakukan pada kondisi asam. Titrasi dilakukan pada kondisi asam.

Metode Metode yang digunakan pada saat praktikum adalah Cara Asam, Titrasi permanganometri.

Prinsip Zat organik dalam sampel air dioksidasi oleh larutan KMnO4 standar terukur berlebih dalam suasana asam, sisa KMnO4 direaksikan dengan larutan H2C2O4 standar terukur berlebih. Sisa H2C2O4 dititrasi dengan larutan standar KMnO4 sampai TA: tidak berwarna ke merah sangat muda. Cara Kerja Pemeriksaan zat oraganik Masukkan sampel air kedalam Erlenmeyer bebas organic Tambahkan 5 ml H2SO4 4N bebas organic dan tetes demi tetes larutan KMnO4 0.01 N sampai cairan berwarna merah muda (ros). Hitung penambahan KMnO4 Panaskan di atas api atau hot palte dan biarkan mendidih selama 10 menit, jika selamapendidihan warna merah muda hilang, tambahkan lagi larutan KMnO4 0.01 N sampaimerah muda tidak hilang. Hitung kembali penggunaan KMnO4 Setelah hamper mendidih, tambhakan 10 ml larutan KMnO4 0.01 N, pemanasanditeruskan selama 10 menit tepat. Jika selama pemanasan warna KMnO4 hilang,tambahkan lagi 10 ml KMnO4 0.01N, penambahan diteruskan sampai cairan tetapberwarna merah
11

Mencari factor ketelitian KMnO4 Masukkan 10 ml asam oxalate 0.01 N ke dalam labu Erlenmeyer yang telah bebasorganic Tambahkan 5 ml H2SO4 4N bebas organic Panaskan sampai hamper mendidih (70C) Titrasi dengan larutan KMnO4 0.01N sampai cairan berwarna merah muda (ros) Catat banyaknya larutan KMnO4 yang digunakan Factor ketelitian

Reaksi : CxHyOz + MnO4-(berlebih) + H+ CO2 + H2O + Mn2+ MnO4- (sisa) + C2O42-(berlebih)+ H+ CO2 + H2O + Mn2+ C2O42-(sisa) + MnO4- + H+ CO2 + H2O + Mn2+

Hasil Pengamatan -Volume Titrasi : 0.70 ml -[KMnO4] : 0.01 N -[H2C2O4] : 0.01 N Perhitungan ZO : O (mg ) = ( 1 Permanganat ) (1 Oksalat ) Permanganat

a = volum titrasi yang dibutuhkan. O (mg ) = ( 1 2.7 1. 8 ) (1 . 1) 31.6

= 4242.75 mg/L Pembahasan 1. Penambahan 10 mL KMnO4 pertama berfungsi untuk mereaksikan sampel air (zat organiknya) dengan KMnO4 yang kemudian sisanya akan direaksikan dengan H2C2O4. Kemudian kelebihan H2C2O4 akan dititrasi dengan KMnO4 standar dan akhirnya dapat diketahui kadar zat organiknya.

12

2. Penetapan zat organik sangat ditentukan dengan kadar klorida, karena jika kadar Cl - < 300 ppm maka penetapan kadar zat organik harus secara asam dan jika kadar Cl- > 300 ppm maka penetapan kadar zat organik harus secara basa.

2.2.6 Klorida Air buangan industri kebanyakan menaikkan kandungan klorida demikian juga manusia dan hewan membuang material klorida dan nitrogen yang tinggi. Kadar Cl- dalam air dibatasi oleh standar untuk berbagai pemanfaatan yaitu air minum, irigasi dan konstruksi. Konsentrasi 250 mg/l unsure ini dalam air merupakan batas maksimal konsentrasi yang dapat mengakibatkan timbulnya rasa asin. Konsentrasi klorida dalam air dapat meningkat dengan tiba-tiba dengan adanya kontak dengan air bekas. Klorida mencapai air alam dengan banyak cara. Kotoran manusia khususnya urine, mengandung klorida dalam jumlah yang kira-kira sama dengan klorida yang dikonsumsi lewat makanan dan air. Jumlah ini rata-rata kira- kira 6 gr klorida perorangan perhari dan menambah jumlah Cl dalam air bekas kira-kira 15 mg/l di atas konsentrasi di dalam air yang membawanya, disamping itu banyak air buangan dari industri yang mengandung klorida dalam jumlah yang cukup besar. Klorida dalam konsentrasi yang layak adalah tidak berbahaya bagi manusia. Klorida dalam jumlah kecil dibutuhkan untuk desinfectan. Unsur ini apabila berikatan dengan ion Na+dapat menyebabkan rasa asin, dan dapat merusak pipa-pipa air. Tingginya Klorida dalam air diakibatkan oleh: Terlarutnya garam-garam klorida disekitar badan air garam klorida umumnya larut baik dalam air Proses disinfektan air oleh Cl2 atau kaporit Akibat tingginya klorida : Rasa asin, jika bertemu dengan garam alkali Sifat korosi pada logam Klorida dalam air ditetapkan melalui metode argentometri, dengan larutan standar AgNO3. Dikenal tiga cara pada Metode tersebut : 1. Cara Mohr 2. Cara Fajans 3. Cara Volhard Dari ketiga cara tersebut, yang paling banyak digunakan pada analisis air adalah cara Mohr lebih mudah dan murah Metode Metode yang umum digunakan dalam menentukan kadar Klorida yang terkandung dalam suatu sampel adalah dengan cara Tirasi argentometri cara Mohr.
13

Prinsip Sejumlah Cl- dalam sejumlah tertentu sampel air dititrasi dengan AgNO3 dalam suasana netral sedikit basa, dengan bantuan indikator K2CrO4 sampai terjadi pembentukan endapan merah bata. Cara kerja Masukkan 100 ml sampel kedalam labu Erlenmeyer. Tambahkan 2 tetes HNO3 pekat dan3-5 tetes K2CrO4 10% Tambahkan sedikit demi sedikit serbuk ZnO atau MgO sambil dikocok sampai cairan berwarna kuning kehijauan Titrasi dengan Larutan AgNO3 1/35 45 N sampai terjadi endapan merah bata Catat banyaknya Larutan AgNO3 1/35 45 N yang digunakan Reaksi Cl- + AgNO3 AgCl(s)putih + NO3CrO42- + 2AgNO3 Ag2CrO4(s)merah bata + 2NO3-

Hasil dan Perhitungan Volume Titrasi : 3.3 ml Faktor AgNO3 : 1

Perhitungan Cl- : lorida (mg ) = lorida (mg ) = = 11 mg/L

Pembahasan 1. Penambahan MgO pada saat percobaan adalah untuk merubah warna dari kuning jingga menjadi kuning jelas. Penambahan ini dilakukan untuk mempermudah dalam melihat perubahan endapan pada saat titik akhir. Penambahan MgO ini tidak perlu dilakukan jika pH sampel air >7. 2. Aquadest yang digunakan harus terlebih dahulu di cek terhadap klorida agar tidak terjadi penambahan kadar klorida dari aquadest yang menyebabkan sampel air tidak ekivalen dengan AgNO3. Cara mengeceknya adalah dengan mengambil beberapa mL aquadest
14

kemudian tambahkan ke dalamnya Ba(OH)2 jika terbentuk endapan putih maka aquadest tidak dapat digunakan dalam penetapan Cl- ini.

2.2.7 Mangan Keberadaan Mangan dalam air Mangan dalam air berada dalam 2 bentuk, yaitu : - Mn2+ yang larut dalam air (air tidak berwarna) - Mn4+ yang tidak larut dalam air (MnO2) menyebabkan kekeruhan dalam air Umumnya dalam air tanah Mangan berada dalam bentuk Mn2+ dan dipermukaan berbentuk MnO2 Tingginya kandungan Mangan menyebabkan : 1. Noda pada pakaian, kertas dan peralatan (> 0,5 ppm) 2. Rasa logam pada air 3. Bau amis/anyir 4. Konsentrasi yang lebih tinggi bersifat racun

Penentuan Mn dalam air Mangan ditetapkan dengan metode kolorimetri, ketinggian tetap (Tabung Nessler & komparator) Ditetapkan sebagai Mn total, dalam bentuk KMnO4

Prinsip Mangan dalam air dioksidasi dengan persulfat dalam keadaan asam menjadi permanganat yang berwarna ungu merah. Warna yang terbentuk diukur dengan spektofotometer. Cara Kerja 100 ml sampel air ditambah 3-2 tetes HNO3 (p) Tambahkan Larutan AgNO3 1/35.45 N sesuai banyaknya AgNO3 yang digunakan pada penetapan Cl Panaskan sampai tepat mendidih Tambahkan serbuk K2S2O8 seujung spatula Biarkan dingin Warna yang terbentuk diukur pada spektrofotometer Reaksi 2Mn2+ + 5S2O82- + 8H2O 2MnO4- + 10SO42- + 16H+

15

Hasil Setelah ditambahkan kalium persulfat, sampel tidak berubah warna, sampel tetap bening, ini menunjukkan bahwa sampel tidak mengandung Mn Pembahasan 1. Fungsi penambahan AgNO3 dan HNO3 adalah untuk mengendapkan ion Cl- yang terdapat dalam air, karena ion Cl- dapat bereaksi dengan ion MnO4-, sehingga kadar mangan dalam sampel air menjadi berkurang sehingga penetapan menjadi tidak benar. 2. Mangan dalam air dioksidasi menjadi ion MnO4- oleh kalium persulfat, sehingga mangan menjadi senyawa berwarna dan dapat ditentukan kadarnya dengan menggunakan standar KMnO4.

Amonium, Nitrat, Nitrit Bentuk persenyawaaan nitrogen dalam air


N I T R O Nitrit (NO2-) Nitrat (NO3-) Gas nitrogen (N2) NH4+ Ammoniak (NH3) NH4+ dalam pH rendah NH4+- Protein

Keberadaan Gas Nitrogen (N2) Dalam Air Gas N2 dalam air berasal dari udara, digunakan oleh ganggang dan beberapa jenis bakteri untuk pertumbuhannya Gas N2 tidak reaktif N2 mudah keluar dalam air tingkat kejenuhannya rendah Keberadaan dalam air tidak berbahaya

Keberadaan Amoniak (NH3) Dalam Air Ammoniak, pada pH rendah NH4+ (amonium), pH tinggi NH3 (amoniak) Dalam air permukaan berasal dari : - Kotoran manusia (air seni dan tinja) - Dekomposisi zat organik secara mikrobiologi C,H,O,N,S + O2 CO2 + H2O + NH3

- Pencemaran dari penggunaan pupuk dalam pertanian

16

Kandungan ammoniak dalam air permukaan (30 mg/L) lebih besar dibanding air tanah Kandungan ammoniak yang tinggi dalam air menunjukkan pencemaran yang tinggi (bau dan rasa) Syarat air minum NH3 harus 0 ppm, dalam air sungai yang baik 0,5 ppm Penghilangan melalui proses aerasi dan klorinasi Penentuan Konsentrasi Amoniak (NH3) Dalam Air Ditetapkan sebagai : - NH4+ (amonium), yang terlarut dalam air - NH4+-Protein, senyawa nitrogen dalam bentuk protein Metode penentuan kolorimetri ketinggian tetap, menggunakan tabung nessler dan comparator Gangguan pada proses analisis : 1. Sulfida yang tinggi tambahkan Zn(CH3COO)2, filtrat dilanjutkan 2. Ca2+ dan Mg2+ yang tinggi tambahkan larutan caustic soda, filtrat dilanjut 3. Kekeruhan tambahkan koagulan (tawas Al), filtrat dilanjut

2.2.8 Ammonium Ammonia adalah bahan kimia dengan formula kimia NH3. Yang mempunyai bentuk segi tiga. Titik leburnya ialah -75 C dan titikdidihnya ialah -33.7 C. Pada suhu dan tekanan yang tinggi, ammonia adalah gas yang tidak mempunyai warna dan lebih ringan daripada udara. 10% larutan ammonia dalam airmempunyai pH 12. Ammonia cair terkenal dengan sifat mudah larut. Ia dapat melarutkan logam alkali dengan mudah untuk membentuk larutan yang berwarna dan dapat mengalirkan elektrik dengan baik. Ammonia dapat larut dalam air. Larutan ammonia dengan air mengandung sedikit ammonium hidroksida (NH4OH). Ammonia tidak menyebabkan kebakaran, dan tidak akan terbakar kecuali dicampur dengan oksigen. Nyala ammonia apabila terbakar adalah hijau kekuningan. Dan meletup apabila dicampur dengan udara. Ammonia dapat digunakan untuk pembersih, pemutih dan mengurangi bau busuk. Larutan pembersih yang dijual kepada konsumen menggunakan larutan ammonia hidroksida cair sebagai pembersih utama. Tetapi, dalam penggunaanya haruslah berhatihati karena penggunaan untuk jangka waktu yang lama dapat mengganggu pernafasan. Amonia umumnya bersifat basa (pKb=4.75), namun dapat juga bertindak sebagai asam yang amat lemah (pKa=9.25)

17

Metode Metode yang dapat digunakan dalam pengukuran kadar Ammonium adalah metoda Nessler dengan Spektofotometri.

Prinsip NH4+ dalam suasana basa ditambahkan pereaksi nessler membentuk senyawa kompleks yang berwarna Kuning sampai Coklat, insensitas warna diukur absorbannya pada panjang gelombang 420 nm. Cara kerja Pipet 25 ml sampel air Tambahkan 1-2 tetes pereaksi garam seignette dan 1.0ml pereaksi nessler, kocok dan biarkan selama 10 menit Warna kuning yang terjadi diukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang maksimum Hitung konsentrasi sampel dari absorban yang didapat dengan menggunakan kurva kalibrasi Reaksi Pereaksi Nessler : HgI2, KI, NaOH (K2HgI4) R-NH2 + H+ + S2O82- CO2 + H2O + (NH4)2SO4 NH4+(*) + 2[HgI4]2- + 4OH- HgO.Hg(NH2)I(s) + 7I- + 3H2O Hasil dan Pengamatan Absorban = 0 Y = 0.0822x r2 = 0.9752 X = 0,024 mg/L 2.2.9 Nitrat Nitrat dibentuk dari Asam Nitrit yang berasal dari ammonia melalui proses oksidasi katalitik. Nitrat adalah bentuk senyawa yang stabil dan keberadaannya berasaldari buangan pertanian, pupuk, kotoran hewan dan manusia dan sebagainya. Dosis letal dari Nitrat pada orang dewasa adalah sekitar 4 sampai 30 g (atau sekitar 40 sampai 300 mg NO3-kg). Dosis antara 2 sampai 9 gram NO3- dapat mengakibatkan methemoglobinemia. Nilai ini setara dengan 33 to 150 mg NO3-/kg. Nitrat yang masuk ke dalam saluran pencernaan melalui makanan atau air minum, tetapi yang
18

Y = 0,822 x o,o24 = 0,002

terbanyak adalah melalui air minum. Belum ada laporan yang jelas mengenai efek racun dari Nitrat. Selama ini yang diketahui efek racunnya adalah konversi dari nitrit. Nitrat pada konsentrasi tinggi dapat menstimulasi pertumbuhan ganggang yang tak terbatas, sehingga air kekurangan oksigen terlarut yang bias menyebabkan kematian ikan. Nitrat yang berlebih dari sisa pemupukan akan mengalir bersama air menuju sungai atau meresap ke dalam air tanah. Nitrat yang berlebih akan terakumulasi di dalam tanah. Keberadaan Nitrat (NO3-) Dalam Air Nitrat senyawa nitrogen yang bersifat stabil Dalam air berasal dari : -Buangan industri bahan peledak, pupuk, cat, dll -Penggunaan pupuk dalam pertanian Kadar nitrat dalam air tidak boleh melebihi 10 ppm Tingginya kandungan nitrat bisa menyebabkan : Stimulasi pertumbuhan ganggang dan tanaman air yang tak terbatas DO level rendah hewan air mati. Penyakit metamoglobinemia (cynose/penyakit biru pada bayi). Nitrat direduksi oleh bakteri asam susu dalam ASI menjadi nitrit. Nitrit berikatan dengan hemoglobin dalam darah. Metode Metode yang umum digunakan dalam penentuan kadar Nitrat adalah metode Brucin- Spektrofotometri. Prinsip Prinsip dari metode tersebut yaitu : Nitrat dalam suasana asam dengan Brusin Sulfat dan Asam Sulfanilat membentuk senyawa kompleks yang berwarna kuning. Warna kuning yang terjadi diukur intensitasnya dengan spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu. Prosedur Percobaan Masukkan 10 ml sampel air ke dalam tabung nessler Tambahkan 2 ml larutan NaCl, 10 ml H2SO4 dan 0.5 ml Brusin Sulfat Panaskan selama 20 menit dalam pemanas air Tambahkan 25 ml Aquadest Dinginkan Waran yang terbentuk diukur dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 420 nm

19

Hasil dan Perhitungan y = 0.0545x r2 = 0.9875 X = 0,247 mg/L

2.2.10 Ortho phosphate Dalam kimia, Orthophosphat atau sering disebut gugus phosphate adalah sebuah ion poliatomik atau radikal terdiri dari 1 atom phosphorus dan 4 oksigen. Setiap senyawa phosphate terdapat dalam bentuk terlarut, tersuspensi atau terikat di dalam sel organism dalam air. Di daerah pertanian, Orthophosphat berasal dari bahan pupuk yang masuk ke dalam sungai melalui drainase dan aliran air hujan. Keberadaan Phosphat dalam air sangat berpengaruh terhadap keseimbangan ekosistem perairan. Bila kadar Phosphat dalam air rendah, seperti alir alam (<0,01 mg P/L), pertumbuhan ganggang akan terhalang. Keadaan ini disebut oligotrop. Sebaliknya bila kadar Phosphat dalam air tinggi, pertumbuhan tanaman dan ganggang tidak terbatas lagi (keadaan eutrop), sehingga dapat mengurangi jumlah oksigen terlarut air. Hal ini tentu sangat berbayaha bagi kelestarian ekosistem perairan. Metode Metode yang biasa digunakan dalam menguji kadar Orthophosphat dalam air adalah Stannous Chlorida-Spektrofotometri. Prinsip Prinsip dari metode ini adalah sebagai berikut : Orthophosphat dengan Ammonium Molibdat membentuk senyawa kompleks yang berwarna kuning. Dengan penambahan reduktor SnCl2 akan tereduksi membentuk senyawa kompleks yang berwarna biru. Intensitas warna biru yang terjadi diukur dengan alat spektrofotometer pada panjang gelombang tertentu. Percobaan: Sampel Air Sungai Cikalimati diambil sampelnya untuk diperiksa kadar Orthophosphat yang terkandung di dalamnya menggunakan metode Spektrofotometri . Air sampel dipipet sebanyak 25 mL. Ditambahkan 1 mL larutan Ammonium Molibdate, dan 0,15 mL SnCl2 (3 tetes). Lalu dikocok dan dibiarkan selama 10 menit. Karena didapat warna biru yang cukup pekat dan dikhawatirkan sampel itu tidak akan terbaca oleh spektrofotometer, maka percobaan diulangi dengan pengenceran sampel 10 kali.
20

Lalu dari hasil pengenceran sampel itu, diambil 25 mL dan ditambahkan 1 mL larutan Ammonium Molibdate dan 3 tetes SnCl2. Dikocok, lalu didiamkan 10 menit. Setelah 10 menit, sampel itu diukur absorbansinya menggunakan spektrofotometer dengan panjang gelombang 660 nm. Hasil Perhitungan y = 0.0277x r2 = 0.9996 Absorban = 0 X=0 2.2.11 DO (Dissolved Oxygen) Oksigen terlarut (Dissolved Oxygen =DO) dibutuhkan oleh semua jasad hidup untuk pernapasan, proses metabolisme atau pertukaran zat yang kemudian menghasilkan energi untuk pertumbuhan dan pembiakan. Disamping itu, oksigen juga dibutuhkan untuk oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik dalam proses aerobik. Sumber utama oksigen dalam suatu perairan berasal sari suatu proses difusi dari udara bebas dan hasil fotosintesis organisme yang hidup dalam perairan tersebut. Kecepatan difusi oksigen dari udara, tergantung sari beberapa faktor, seperti kekeruhan air, suhu, salinitas, pergerakan massa air dan udara seperti arus, gelombang dan pasang surut. Odum (1971) menyatakan bahwa kadar oksigen dalam air laut akan bertambah dengan semakin rendahnya suhu dan berkurang dengan semakin tingginya salinitas. Pada lapisan permukaan, kadar oksigen akan lebih tinggi, karena adanya proses difusi antara air dengan udara bebas serta adanya proses fotosintesis. Dengan bertambahnya kedalaman akan terjadi penurunan kadar oksigen terlarut, karena proses fotosintesis semakin berkurang dan kadar oksigen yang ada banyak digunakan untuk pernapasan dan oksidasi bahan-bahan organik dan anorganik Keperluan organisme terhadap oksigen relatif bervariasi tergantung pada jenis, stadium dan aktifitasnya. Kebutuhan oksigen untuk ikan dalam keadaan diam relative lebih sedikit apabila dibandingkan dengan ikan pada saat bergerak atau memijah. Jenis-jenis ikan tertentu yang dapat menggunakan oksigen dari udara bebas, memiliki daya tahan yang lebih terhadap perairan yang kekurangan oksigen terlarut (Wardoyo, 1978). Kandungan oksigen terlarut (DO) minimum adalah 2 ppm dalam keadaan nornal dan tidak tercemar oleh senyawa beracun (toksik). Kandungan oksigen terlarut minimum ini sudah cukup mendukung kehidupan organisme (Swingle, 1968). Idealnya, kandungan oksigen terlarut tidak boleh kurang dari 1,7 ppm selama waktu 8 jam dengan sedikitnya pada tingkat kejenuhan sebesar 70 % (Huet, 1970). KLH menetapkan bahwa kandungan oksigen terlarut adalah 5 ppm untuk kepentingan wisata bahari dan biota laut (anonimous, 2004). Oksigen memegang peranan penting sebagai indikator kualitas perairan, karena oksigen terlarut berperan dalam proses oksidasi dan reduksi bahan organik dan anorganik. Selain itu, oksigen juga menentukan biologis yang dilakukan oleh organisme aerobic atau anaerobik. Dalam kondisi aerobik, peranan oksigen adalah untuk mengoksidasi bahan organik dan anorganik dengan hasil akhirnya adalah
21

nutrien yang pada akhirnya dapat memberikan kesuburan perairan. Dalam kondisi anaerobik, oksigen yang dihasilkan akan mereduksi senyawa-senyawa kimia menjadi lebih sederhana dalam bentuk nutrien dan gas. Karena proses oksidasi dan reduksi inilah maka peranan oksigen terlarut sangat penting untuk membantu mengurangi beban pencemaran pada perairan secara alami maupun secara perlakuan aerobik yang ditujukan untuk memurnikan air buangan industri dan rumah tangga. Sebagaimana diketahui bahwa oksigen berperan sebagai pengoksidasi dan pereduksi bahan kimia beracun menjadi senyawa lain yang lebih sederhana dan tidak beracun. Disamping itu, oksigen juga sangat dibutuhkan oleh mikroorganisme untuk pernapasan. Organisme tertentu, seperti mikroorganisme, sangat berperan dalam menguraikan senyawa kimia beracun rnenjadi senyawa lain yang Iebih sederhana dan tidak beracun. Karena peranannya yang penting ini, air buangan industri dan limbah sebelum dibuang ke lingkungan umum terlebih dahulu diperkaya kadar oksigennya. Analisis Oksigen Terlarut (DO) Oksigen terlarut dapat dianalisis atau ditentukan dengan 2 macam cara, yaitu : 1. Metoda titrasi dengan cara WINKLER 2. Metoda elektrokimia 1. Metoda titrasi dengan cara WINKLER Metoda titrasi dengan cara WINKLER secara umum banyak digunakan untuk menentukan kadar oksigen terlarut. Prinsipnya dengan menggunakan titrasi iodometri. Sampel yang akan dianalisis terlebih dahulu ditambahkan larutan MnCl2 dan NaOH - KI, sehingga akan terjadi endapan MnO2. Dengan menambahkan H2SO4 atan HCl maka endapan yang terjadi akan larut kembali dan juga akan membebaskan molekul iodium (I2) yang ekivalen dengan oksigen terlarut. Iodium yang dibebaskan ini selanjutnya dititrasi dengan larutan standar natrium tiosulfat (Na2S2O3) dan menggunakan indikator larutan amilum (kanji). Reaksi kimia yang terjadi dapat dirumuskan sebagai berikut : MnCI2 NaOH Mn(OH)2 + 2 NaCI 2 Mn(OH)2+ O2 2 MnO2 + 2 H2O MnO2 + 2 KI + 2 H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH I2 + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2 NaI 2. Metoda elektrokimia Cara penentuan oksigen terlarut dengan metoda elektrokimia adalah cara langsung untuk menentukan oksigen terlarut dengan alat DO meter. Prinsip kerjanya adalah menggunakan probe oksigen yang terdiri dari katoda dan anoda yang direndam dalarn larutan elektrolit. Pada alat DO meter, probe ini biasanya menggunakan katoda perak (Ag) dan anoda
22

timbal (Pb). Secara keseluruhan, elektroda ini dilapisi dengan membran plastik yang bersifat semi permeable terhadap oksigen. Aliran reaksi yang terjadi tersebut tergantung dari aliran oksigen pada katoda. Difusi oksigen dari sampel ke elektroda berbanding lurus terhadap konsentrasi oksigen terlarut. Penentuan oksigen terlarut (DO) dengan cara titrasi berdasarkan metoda WINKLER lebih analitis apabila dibandingkan dengan cara alat DO meter. Hal yang perlu diperhatikan dalam titrasi iodometri ialah penentuan titik akhir titrasinya, standarisasi larutan tiosulfat dan pembuatan larutan standar kaliumbikromat yang tepat. Dengan mengikuti prosedur penimbangan kaliumbikromat dan standarisasi tiosulfat secara analitis, akan diperoleh hasil penentuan oksigen terlarut yang lebih akurat. Sedangkan penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter, harus diperhatikan suhu dansalinitas sampel yang akan diperiksa. Peranan suhu dan salinitas ini sangat vital terhadap akurasi penentuan oksigen terlarut dengan cara DO meter. Disamping itu, sebagaimana lazimnya alat yang digital, peranan kalibrasi alat sangat menentukan akurasinya hasil penentuan. Berdasarkan pengalaman di lapangan, penentuan oksigen terlarut dengan cara titrasi lebih dianjurkan untuk mendapatkan hasil yang lebih akurat. Alat DO meter masih dianjurkan jika sifat penentuannya hanya bersifat kisaran. Metode Metode yang digunakan pada saat praktikum Titrasi Winkler dengan menggunakan Na2S2O3 standar sebagai larutan penitrasi. Prinsip Oksigen dalam air direaksikan dengan Mn2+ dalam suasana basa, MnO2 yang terbentuk direduksi oleh KI berlebih, I2 yang terbentuk dititrasi dengan Na2S2O3 standar dengan bantuan indikator amylum sampai warna biru tepat hilang. Percobaan 1. Dipakai botol bersumbat gelas dari 250 @ 300 mL dan yang telah diketahui betul isinya (telah ditera). Diisi botol ini dengan contoh air. Kemudian ditutupkan sumbatnya dengan hati-hati sehingga tidak terdapat gelembung udara di dalamnya. 2. Ditambah dengan pipet ukur 2 mL larutan MnSO4 dan 2 mL larutan alkali yodida azida (penambahan zat-zat tersebut dimulai dari dasar botol). 3. Ditutup botol dengan hati-hati dan dikocok selama 1 menit dan dibiarkan endapan turun. 4. Dituangkan cairan jernih (dekantasi), kemudian ditambahkan melalui dinding botol 12 mL H2SO4 6N. 5. Dikocok, kemudian dititrasi dengan larutan standar tiosulfat 0,025 N. Ditambahkan 5 mL larutan kanji, apabila titrasi hampir selesai. Dilanjutkan titrasi sampai warna biru tepat hilang.

23

Reaksi MnCI2 NaOH Mn(OH)2 + 2 NaCI 2 Mn(OH)2+ O2 2 MnO2 + 2 H2O MnO2 + 2 KI + 2 H2O Mn(OH)2 + I2 + 2 KOH I2 + 2 Na2S2O3 Na2S4O6 + 2 NaI Hasil dan Perhitungan

O (mg ) =

olum botol 4)

N)tiosulfat

Pembahasan 1. Berat O2 diperoleh hasilnya 8 yaitu dari ( 2.


1 1 x Mr O2), sedangkan diperoleh dari reaksi 4 4 O2 yang melibatkan 4e-, sesuai persamaan reaksi : O2 + 4H+ + 4e- 2H2O Volume Elemeyer berasah harus ditera terlebih dahulu, tujuannya untuk mengetahui dengan pasti volume sampel yang mampu ditampungnya, karena Vsampel akan diikutkan dalam perhitungan Volume sampel dalam elemeyer dikurangi 4, angka 4 didapat dari 2 mL MnSO4 dan 2 mL alkali yodida azida. Penambahan pereaksi MnSO4 dan Alkali yodida azida harus dari dasar, agar pereaksi tersebut tidak keluar dan sampel airlah yang keluar dari erlenmeyer. Pereaksi Alkali yodida azida beracun sehingga pemipetannya harus menggunakan Filler. Pereaksi Alkali yodida azida berfungsi sebagai katalisator, karena zat organik sangat sukar bereaksi. Kalau MnSO4 berfungsi untuk mengikat oksigen menjadi Mn(OH)2 yang kemudian akan teroksidasi menjadi MnO2 berhidrat.

3. 4. 5. 6.

2.2.12 BOD (Biochemical oxygen demand) Biological Oxygen Demand (BOD) atau Kebutuhan Oksigen Biologis (KOB) adalah suatu analisis empiris yang mencoba mendekati secara global proses-proses mikrobiologis yang benar-benar terjadi di dalam air. Angka BOD adalah jumlah oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri untuk menguraikan (mengoksidasikan) hampir semua zat organis yang terlarut dan sebagai zat-zat organis yang tersuspensi dalam air. Kandungan BOD dalam air ditentukan berdasarkan selisih oksigen terlarut sebelum dan sesudah pengeraman selama 5 x 24 jam pada suhu 20oC.BOD digunakan sebagai indikator terjadinya pencemaran dalam suatu perairan. Bila nilai BOD suatu perairan tinggi menunjukkan bahwa perairan tersebut sudah tercemar. Pemeriksaan BOD diperlukan untuk menentukan beban pencemaran akibat air buangan penduduk atau industri, dan untuk
24

mendisain sistem-sistem pengolahan biologis bagi air yang tercemar tersebut. Penguraian zat organis adalah peristiwa alamiah; kalau sesuatu badan air dicemari oleh zat organis, bakteri dapat menghabiskan oksigen terlarut, dalam air selama proses oksidasi tersebut yang bisa mengakibatkan kematian ikan-ikan dalam air dan keadaan menjadi anaerobik dan dapat menimbulkan bau busuk pada air tersebut. Jenis bakteri yang mampu mengoksidasi zat organik biasa, yang berasal dari sisasisa tanaman dan air buangan penduduk, berada pada umumnya disetiap air alam. Jumlah bakteri ini tidak banyak di air jernih dan di air buangan industri yang mengandung zat organis. Pada kasus ini pasti perlu ditambahkan benih bakteri. Untuk oksidasi/penguraian zat organis yang khas, terutama di beberapa jenis air buangan industri yang mengandung misalnya fenol, detergen, minyak dan sebagainya bakteri harus diberikan waktu penyesuaian (adaptasi) beberapa hari melalui kontak dengan air buangan tersebut, sebelum dapat digunakan sebagai benih pada analisa BOD air tersebut. Sebaiknya beberapa zat organis maupun inorganis dapat bersifat racun terhadap bakteri (misalnya sianida, dan sebagainya) dan harus dikurangi sampai batas yang diinginkan. Derajat keracunan ini juga dapat diperkirakan melalui analisa BOD. Prinsip BOD adalah banyaknya oksigen yang dibutuhkan oleh bakteri selama penguraian senyawa organic pada kondisi aerobik. Dalam hal ini dapat didinterpretasikan bahwa senyawa organik merupakan makanan bagi bakteri. Parameter BOD digunakan untuk menentukan tingkat pencemar oleh senyawa organik yang dapat diuraikan oleh bakteri. Percobaan BODadalah peruji hayati (bioassay).

Cara Kerja Membuat Air Pengenceran 1. Terhadap 1 liter aquadest tambahkan 1 ml bibit air kotor, 1 ml larutan buffer fosfat, 1 ml larutan FeCl3, 1 ml larutan CaCl3, dan 1 ml larutan MgSO4. 2. Aerasi selama 30 menit agar air pengencer jenuh dengan oksigen. Pemeriksaan Angka Permanganat 1. Siapkan labu Erlenmeyer 2. Masukan 100 ml sampel, lalu tambahkan 5 ml H2SO4 4 N dan tambahkan KMnO4 0.01 N melalui buret sampai warna berubah menjadi pink muda 3. Panaskan hingga larutan tepat mendidih (pada saat gelembung pertama) 4. Tambahkan 10 ml KMnO4 0.01 N, lalu lanjutkan pemanasan selama 10 menit Melakukan Pengenceran Setelah diketahui angka pengenceran dari sampel air tersebut maka dilakukan pengenceran contoh air tersebut dengan air pengenceran yang telah dibuat. Banyaknya air pengencer tersebut sesuiakan dengan hasil perhitungan diatas. Setelah diencerkan, masukkan kedalam dua botol BOD yang telah di kalibrasi volumenya. Simpan salah satu botol BOD tersebut disimpan dalam incubator 20oC selama 5 hari (untuk kemudian diperiksa oksigen terlarutnya setelah 5 hari), sedangkan botol BOD yang lainnya langsung diperiksa kandungan oksigen terlarutnya dengan metode titrasi winkler.
25

Untuk percobaan blanko siapkan 4-6 botol BOD. Masing-masing botol diisi dengan air pengencer. Dua atau tiga botol pertama inkubasikan selama 5 hari pada temperature 20oC. sedangkan dua atau tiga botol yang lainnya langsung ditentukan kandungan oksigennya ( DO). Hasil Dan Perhitungan
DO0 Blanko Pengenceran 7x Pengenceran 4x Pengenceran 3x 22,5 mL 21,2 mL 21,7 mL 22,1 mL DO6 6,4 mL 2,1 mL 1,8 mL 2,4 mL

Pengukuran DOo untuk Blanko : DO mg/L = = = 7,3 mg/L

Pengukuran DO6 untuk blanko DO mg/L = = = 2,08 mg/L

Pengukuran DO0 untuk sampel 7x DO mg/L = = = 6,88 mg/L

Pengukuran DO6 untuk sampel 7x DO mg/L = = = 0,66 mg/L

BOD 6 hari untuk sampel dengan pengenceran 7x adalah BOD6 mg/L = ((D1-D2) (B1-B2) f ) x p Dimana, D1= DO 0 hari sampel D2= DO 6 hari sampel B1= DO 0 hari blanko B2= DO 6 hari blanko P = Angka pengenceran 26

F = Koreksi untuk seeding = Maka BOD6 mg/L ((6,88 0,66) ( 7,3 2,08 ) x 7 = 7 mg/L Jadi BOD6 untuk sampel yang diencerkan sebanyak 7 x adalah sebesar 7 mg/L Pengukuran DO0 untuk sampel 4x DO mg/L = =

= 0,91

= 7,2 mg/L

Pengukuran DO6 untuk sampel 4x DO mg/L = = = 0,55 mg/L

BOD 5 hari untuk sampel dengan pengenceran 4x adalah F = Koreksi untuk seeding = Maka BOD6 mg/L ((7,2 0,55) ( 7,3 2,08 ) x 7 = 10,01 mg/L Jadi BOD6 untuk sampel yang diencerkan sebanyak 4 x adalah sebesar 10,01 mg/L Pengukuran DO0 untuk sampel 3x DO mg/L = = = 7,18 mg/L = = 0,8

Pengukuran DO6 untuk sampel 4x DO mg/L = = = 0,78 mg/L

BOD 6 hari untuk sampel dengan pengenceran 3x adalah F = Koreksi untuk seeding = Maka BOD6 mg/L ((7,18 0,78) ( 7,3 2,08 ) x 7 = 8,26 mg/L Jadi BOD6 untuk sampel yang diencerkan sebanyak 3 x adalah sebesar 8,26 mg/L = = 0,71

27

2.2.13 Chemical Oxygen Demand (COD) Adanya zat organik yang melebihi dari yang disyaratkan berarti menunjukkan adanya pencemaran atau pengotoran terhadap air tersebut. Zat organik merupakan makanan mikroorganisme yang menyebabkan pesatnya pertumbuhan sehingga membahayakan masyarakat yang menggunakannya. Zat organik dapat pula mengganggu proses pengolahan, disamping menyebabkan air menjadi berwarna, memberikan rasa dan bau yang tak sedap. Untuk mengetahui berapa banyak zat organik dalam air adalah sulit sebab banyak sekali macamnya, maka lalu ditetapkan dengan pemakaian oksigen secara kimia yang dikenal dengan COD. Chemical Oxygent Demand (COD) atau Kebutuhan Oksigen Kimia (KOK) adalah jumlah oksigen (mg O2) yang dibutuhkan untuk mengoksidasi zat-zat organik yang ada dalam 1 Liter sampel air, dimana pengoksidasi K2Cr2O7 digunakan sebagai sumber oksigen (oxidizing agent). Angka COD merupakan ukuran bagi pencemaran air oleh zat-zat organik yang secara alamiah dapat dioksidasikan melalui proses mikrobiologis dan mengakibatkan berkurangnya oksigen terlarut dalam air. COD didefinisikan sebagai mg Oksigen yang diperlukan untuk mengoksidasi semua zat organik secara kimia dalam 1 liter air. COD, sering dijadikan sebagai parameter penentu kualitas limbah/ air buangan. Parameter COD dipengaruhi oleh tingkat pencemaran, khususnya zat organik. COD tinggi, maka zat organik tinggi dan pertumbuhan mikroorganisme tinggi yang menyebabkan kualitas air semakin jelek, hal ini berpengaruh terhadap DO level. COD dapat ditetapkan dengan metode : Titrimetri, Spektrofotometri, pengukuran di 420 atau 600 nm Proses oksidasi zat organik oleh O2 secara kimia berlangsung sangat lambat (perlu waktu yang sangat lama) Pada proses pengerjaannya fungsi O2 digantikan dengan larutan K2Cr2O7 atau KMnO4. Penggantian ini memunculkan berbagai pendapat, diantara : pada saat penetapan COD bukan hanya zat organik yang teroksidasi tetapi termasuk juga zat anorganik. Jadi COD menjadi penunjuk tingkat pencemaran akibat adanya zat organik dan anorganik. Ini didasari oleh sifat K2Cr2O7 sebagai pengganti O2, yang merupakan oksidator kuat. Metode Metode yang digunakan pada saat praktikum Dikromatometri (Titrasi dengan menggunakan K2Cr2O7 standar sebagai larutan penitrasi).

28

Prinsip Zat Organik dalam sampel air dioksidasi oleh K2Cr2O7 berlebih dalam suasana asam dan panas. Kelebihan K2Cr2O7 dititrasi kembali oleh larutan standar (NH4)2Fe(SO4)2 dengan bantuan indikator ferroin sampai terjadi perubahan warna dari biru hijau menjadi coklatmerah. Percobaan Masukkan ke dalam Culture Tube (tabung COD mikro) 2,5 mL sampel air. Tambahkan 1,5 mL Digestion Solution dan 3,5 mL pereaksi Asam Sulfat-Perak Sulfat melalui dinding secara hati-hati. Panaskan tabung dalam COD Reaktor, dan biarkan selama 2 jam pada suhu 150C. Setelah selesai, dinginkan dan pindahkan pada Erlenmeyer 50 mL, bilas dengan sedikit aquadest. Tambahkan 3 tetes indikator Ferroin. Titrasi dengan larutan FAS 0,025 M. Titrasi dihentikan setelah terjadi perubahan warna dari hijau menjadi merah coklat. Dilakukan juga percobaan blanko dengan menggunakan aquadest sebagai sampel dengan cara kerja yang sama seperti di atas.

Reaksi CxHyOz + Cr2O72-(berlebih) CO2 + H2O + Cr3+ Cr2O72-(sisa) + 6Fe2+ + 14H+ 6Fe3+ + 2Cr3+ + 7H2O Fe2+ Ferroin merah

Hasil dan Perhitungan V Blanko : 2.54 ml V titrasi : 2.44 ml [FAS] ; 0.24 N


[ ]

= 76.8 mg/L

29

Pembahasan 1. Pada penetapan COD, kemungkinan zat yang teroksidasi oleh larutan dikromat bukan hanya zat yang dapat teroksidasi secara biologis, melainkan juga zat-zat yang sebenarnya inert. 2. Cl- akan ikut teroksidasi oleh dikromat. Cl- + Cr2O72- + 14H+ 3Cl2 + 2Cr3+ + 7H2O 3. Penambahan larutan HgSO4 dilakukan untuk menghilangkan gangguan Cl- . Cr2O2- yang digunakan untuk mengoksidasi zat organic, karena terdapat Cl dalam air maka Cr2O72- juga habis untuk mengoksidasi Cl-. Jadi untuk menghilangkan gangguan tersebut digunakanlah HgSO4. Penambahan H2SO4 dilakukan untuk memberikan suasana asam, karena reaksi akan berlangsung dalam suasana asam. Sedangkan, AgSO4 digunakan sebagai katalis untuk mempercepat reaksi.

2.2.14 Percobaan Koagulasi Koagulasi adalah proses penggumpalan partikel koloid karena penambahan bahan kimia sehingga partikel-partikel tersebut bersifat netral dan membentuk endapan karena adanya gaya gravitasi. Secara garis besar, mekanisme koagulasi adalah destabilisasi muatan negatif partikel oleh muatan positif dari koagulan, tumbukan antar partikel, dan adsorpsi. Faktor-faktor yang mempengaruhi koagulasi diantaranya pemilihan bahan kimia, penentuan dosis optimum koagulan, dan penentuan pH optimum. Apabila muatan koloid dihilangkan, maka kestabilan koloid akan berkurang dan dapat menyebabkan koagulasi atau penggumpalan. Penghilangan muatan koloid dapat terjadi pada sel elektroforesis atau jika elektrolit ditambahkan ke dalam sistem koloid. Apabila arus listrik dialirkan cukup lama ke dalam sel elektrolisis maka partikel koloid akan digumpalkan ketika mencapai electrode. Jadi, koloid yang bermuatan negatif akan digumpalkan di anode, sedangkan koloid yang bermuatan positif digumpalkan di katode. Koagulan yang paling banyak digunakan dalam praktek di lapangan adalah Alumunium Sulfat [Al2(SO4)3], karena mudah diperoleh dan harganya relatif lebih murah dibandingkan dengan jenis koagulan yang lain. Metode Metode yang umum digunakan dalam percobaan koagulasi adalah Jar-Test. Prinsip Kekeruhan dalam air disebabkan oleh zat-zat tersuspensi dalam bentuk lumpur kasar, lumpur halus dan koloid. Pada permukaan koloid bermuatan listrik sehingga koloid dalam keadaan stabil, akibatnya koloid sulit untuk mengendap. Senyawa koagulan mendestabilisasikan koloid (menetralkan (seperti Tawas Alumunium) berkemampuan

muatan listrik pada permukaan koloid) sehingga koloid dapat bergabung satu sama
30

lainnya membentuk flok dengan ukuran yang lebih besar sehingga mudah mengendap. Tujuan dari percobaan Jartest adalah untuk menentukan dosis koagulan yang optimum dalam pengolahan air. Reaksi Reaksi yang terjadi dalam Percobaan Koagulasi yaitu : Al2 (SO4)3 + 6H2O 2Al (OH)3 + 3H2SO4

Prosedur Siapkan 6 buah gelas kimia ukuran 500 mL. Isi masing-masing gelas dengan 500 mL contoh air. Tambahkan larutan tawas Alumunium (1 mL = 10mg) secara bertingkat mulai dari 1,0 mL; 1,5 mL; 2,0 m ; dst. Kemudian simpan dalam alat Jartest. Kocok dengan kecepatan 100 RPM selama 1 menit dan 60 RPM selama 10 menit. Setelah selesai, biarkan flok mengendap. Amati bentuk flok, kecepatan mengendap flok, volume flok yang terbentuk, dan waktu yang dibutuhkan untuk mengendapkan flok. Periksa kekeruhan dan pH terhadap supernatannya. Jika hasil percobaan tidak memuaskan, dapat diulangi dengan penambahan dosis koagulan yang lebih tinggi atau lebih rendah.

Hasil Hasil dari percobaan diatas yaitu diambil sampel yang kedua pH 8,61 dan kekeruhannya 0,26

31

BAB IV HASIL ANALISA

Hasil pengamatan yang diperoleh dari pemeriksaan sampel air sungai Cikapundung kemudian dibandingkan dengan standar baku mutu yang berlaku. Dalam hal ini peraturan yang digunakan adalah PP No.82 tahun 2001 tentang Pengelolaan Kualitas dan Pengendalian Pencemaran Air. Pembandingan ini dilakukan untuk mengetahui kualitas air sungai, sehingga dapat diketahui peruntukannya. Adapun evaluasi dari hasil analisa dari parameter-pameter yang telah diperiksa adalah sebagai berikut: Tabel 3.1 Perbandingan Hasil Analisa Air Sungai Cikapundung terhadap Baku Mutu PP No.82 tahun 2001 No. 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Parameter DHL Kekeruhan Warna Ph CO2 HCO3CO2 agresif Klorida Zat Organik Mangan Ammonium Nitrat Orthophosphat DO BOD5 Pengenceran 7x 16 Pengenceran COD 4x Pengenceran 3x mg/L 76.8 10 mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L Satuan ms/cm NTU Pt.co mg/L mg/L mg/L mg/L mg/L Hasil Analisa 404 10.98 7,38 35.2 268.4 30 4242.75 0.024 0.247 1 0.5 10 0.2 6 1 6-9 Standar

32

BAB V KESIMPULAN
Berdasarkan hasil evaluasi dari hasil percobaan yang dilakukan terhadap sampel air Sungai Cikapundung, dan setelah dibandingkan dengan baku mutu yang tercantum dalam PP No. 82 Tahun 2001. Hasil menyatakan bahwa ada parameter yang dibandingkan tersebut melebihi batas yang diperbolehkan. Sehingga dapat disimpulkan bahwa air Sungai Cikapundung Tidak Layak Minum.

33