Anda di halaman 1dari 5

TUGAS KELOMPOK

LOCOMOTION

Oleh: Cherelia Dinar P.A., S.Ked Nugroho Jati Dwi N.L., S.Ked Nursanti S., S.Ked Titis Ummi Nur J., S.Ked Yusuf Allan P., S.Ked Shaumy Saribanon, S.Ked Rheza Setiawan, S.Ked G9911112036 G9911112109 G9911112116 G9911112135 G9911112148 G9911112129 G99121037

KEPANITERAAN KLINIK SMF ILMU KEDOKTERAN FISIK DAN REHABILITASI MEDIK FAKULTAS KEDOKTERAN UNS/RSUD DR MOEWARDI SURAKARTA 2012

Pendahuluan Bergerak adalah salah satu sifat dasar dari mahluk hidup. Bisa bergerak dan berpindah tempat merupakan cara dari hewan untuk bertahan hidup. Manusia, walaupun bukan mahluk yang tercepat, memiliki kemampuan daya gerak yang tinggi. Merangkak, berjalan, berlari, berjingkrak dan melompat adalah pola koordinasi manusia secara genetis. Sebagai tambahan, budaya manusia telah menciptakan berbagai pola baru seperti menari dan olahraga. Tetapi tidak seperti hewan, manusia memerlukan waktu bertahun-tahun untuk mengembangkan kemampuan gerak mereka. Manusia memerlukan waktu setahun untuk bisa berdiri pada dua kaki, dan bertahun-tahun berikutnya untuk mempelajari kemampuan gerak lainnya. Asal usul dari daya gerak telah diamati telah diamati dari pergerakan janin di rahim sejak usia 2 bulan kehamilan. Saat lahir, bayi mengalami tantangan dari lingkungan baru dimana gaya gravitasi tiga kali lebih besar dari saat masih di rahim. Dengan otot yang lemah namun tubuh yang berat (sekitar 3-4 kg), pergerakan nenonatus terbatas hanya pada kaki dan tangan. Menggerakkan dada dan kepala jauh lebih sulit. Tidak kurang dari 5 bulan bayi bisa berpindah dari posisi terlentang menjadi tengkurap dengan bantuan. Memerlukan waktu 8 bulan sampai bayi bisa merangkak dan menarik diri sendiri untuk berdiri. Bisa berjalan sendiri merupakan pencapaian pada umur setahun, walaupun biasanya berkisar pada usia 918 bulan. Fungsi dari daya gerak Daya gerak tidak hanya mampu menhindarkan diri dari predator, namun mampu untuk memnjelajahi dunia. Barang-barang dan orang lain dapat terjangkau untuk disentuh, dipegang dan digerakkan. Daya gerak memberikan kekuasaan dan tindakan atas kesadaran sendiri, berpisah dari pengasuh, dan pandangan baru terhadap dunia yang dipercayai para peneliti telah mengubah pandangan seorang bayi terhadap dunia. Psikolog juga sudah sejak lama mempertanyakan apa peran dari pengalaman persepsual-motor untuk perkembangan kognisi. Hampir serupa, para kinesiolog dan rehabilitasi telah mempelajari perkembangan dari tindakan, lebih spesifiknya daya gerak, untuk memahami bagaimana kontrol gerak orang dewasa atau kekurangannya terjadi. Studi dari perkembangan daya gerak mencakup pemahaman dari kontrol neuromotor dan kooordinasi tidak hanya pada berbagai bagian tubuh manusia, tetapi pada tubuh dan pikiran manusia dimana tindakan, persepsi dan kognisinya erat terkait. Perubahan pandangan tentang perkembangan dari berjalan Di negara-negara barat, berjalan tidak mendapat banyak perhatian selain tentang mengajari anak bagaimana cara melakukannya. Namun perkembangan dari berjalan telah menjadi perdebatan tentang perawatan sejak tahun 1930-an. Penjelasan teoritis dari perkembangan behavioral adalah berdasarkan maturasi dan perubahan neurofisiologi di otak. Untuk mendukung teori tersebut, peneliti pada jaman tersebut melatih seorang anak kembar di berbagai kemampuan gerak sedangkan yang seorang lagi menjadi kontrol. Studi tersebut menunjukkan anak kembar tersebut mendapatkan kemampuan gerak meliputi berjalan pada saat yang hampir bersamaan, terlepas dari perbedaan pengalaman. Menariknya, studi tersebut

tidak dikonfirmasi dengan studi dari budaya dimana perkembangan dari berjalan diajarkan, dimana anak-anak dapat berjalan jauh lebih cepat daripada anak-anak yang mendapat pelatihan fisik khusus. Pastinya, semua anak manusia akan belajar untuk berjalan, dengan pola gerak yang hampir sama. Pola berjalan tersebut adalah pola genetis atau kemampuan mendasar dari spesies manusia. Kemiripannya terbentuk dalam satuan ukuran yang luas karena adanya berbagai pembatas dari dan di sekitar anak. Pembatas itu mencakupi tubuh anak tersebut, lingkungan sekitar, dan kebutuhan dari gerak itu sendiri. Tubuh manusia sendiri membatasi anak kepada pola gerak tersendiri, bukan hal-hal lain. Sebagai contoh susunan dari panggul, lutut dan kaki lebih memudahkan manusia untuk bergerak maju daripada mundur. Gravitasi bumi juga merupakan sebuah pembatas gerakan, dimana karena gravitasi anak belajar untuk berusaha berdiri dan kemudian berjalan. Manusia cenerung untuk bergerak secara tegak lurus karena merupakan pergerakan yang efisien untuk lingkungan hidup manusia. Selama bertahun-tahun, stage-like progresi dari kemampuan motor (berputar, merangkak, berdri, bangkit dan berjalan) mendukung pernyataan bahwa pematangan dari sistem saraf pusat (SSP) mendorong perkembangan fungsi motorik. Dari persepsi maturasi, SSP pertama-tama memproduksi reflek seperti menginjak pada bayi, kemudian menghambatnya sehingga berjalan atas keinginan sendiri dapat terjaidi Sejak awal tahun 1980, teori persepsi baru, seperti pendekatan sistem dinamis dan psikologi ekologis, yang lebih condong kepada perkembangan perilaku terjadi karena perubahan pada banyak sistem tidak hanya SSP,telah mengganti pandangan tentrang maturasi. Salah satu tantangan pertama dari teori maturasi datang dari temuan bahwa nekatih kemampuan menginjak dapat mempercepat onset dari kemampuan berjalan sendiri Tantangan selanjutnya datang dari percobaan dimana kemampuan menginjak menghilang jika kaki bayi dibebani. Sebaliknya, pada bayi yang sudah tidak memiliki reflek menginjak akan muncul kembali jika kakinya dimasukkan ke dalam air. Hal ini menyimppulkan bahwa hilangnya reflek menginjak bukanlah hasil dari maturasi saraf, akan tetapi karena kaki bayi terlalu berat untuk menginjak Saat ini, hampir semua peneliti perkembangan setuju bahwa perkembangan sistem saraf mempunyai peran penting dalam kemampuan berjalan, tetapi banyak perkembangan sistem lain yang mempengaruhi pertumbuhan bayi. Untuk dapat berdiri di atas dua kaki kecil dan menyangga tubuh yang berat adalah hal yang sulit. Bayi telah menghabiskan waktu berbulan-bulan untuk dapat duduk, membalikkan tubuh, merangkak, berdiri, bangkit dan berjalan. Dengan dicapainya tiap tnda-tanda pertumbuhan gerak , bayi telah mengembangkan kontrol postur lebih lanjut dimana mereka dapat mempertahankan kepala dan badan di posisi yang mereka inginkan dengan koordinasi dengan kaki. Informasi sensoris dari sistem vestibuler, penglihatan dan propioseptik kemudian terintegrasi kepada perkembangan sistem gerak. Kontrol tubuh multisegmen Seperti perilaku lain yang dilakukan bayi saat tahun pertama sejak lahir, berjalan melibatkan banyak segmen dari tubuh. Struktur ini memiliki ciri khas fisi yang unik yang

mempengaruhi perilaku gerak bayi Saat kelahiran dan beaberapa bulan kemuian bayi terlalu lemah untuk mengangkat kepala dan badan untuk merangkak. Kemudian, menyeimbangkan banyak segmen tubuh diatas bagian lainnya saat akan melangkah maju adalah tantangan yang lebih berat. Setelah itu, berjalan beberapa langkah, berbelok dan melewati rintangan menunjukkan kesulitan dalam berlatih untuk berjalan. Nyatanya, untuk berjalan membutuhkan kontrol dan koordinasi dari ratusan otot, dimana kaki sendiri memiliki sekitar 50, belum termasuk otot pada badan, leher dan tangan yang ikut ambil bagian saat berjalan. Untuk memecahkan masalah, si pejalan baru membekukan derajat kebebasan (seperti banyaknya pilihan yang dapat dilakukan oleh sistem saraf saat berjalan). Pembekuan ini menghasilkan sistem yang rigid secara biomekanikal, dimana kepala-leherbadan bergerak sejajar dan tangan yang diangkat dan tidak bergerak. Saat bayi berjalan, memindahkan berat tubuh dari kaki yang satu ke kaki lainnya, gaya memutar tercipta. Membekukan derajat kebebasan menyederhanakan tugas dan mengurangi gaya. Dengan latihan, bayi dapat memiliki beberapa kebebasan, dan dapat memanfaatkan gaya yang timbul untuk keuntungan biomekanikal mereka. Akan tetapi, butuh waktu untuk otak menyadari adanya tubuh itu sendiri. Jadi, walaupun bayi sudah melangkah untuk pertama kali, membutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum mereka dapat memanfaatkan dinamika tubuh agar dapat berjalan seperti orang dewasa. dimensi tubuh bayi berubah secara dramatis, khususnya dalam dua tahun pertama kehidupan. Ini merupakan tantangan perkembangan untuk bayi yang harus menyesuaikan perilaku lokomotor mereka terhadap perubahan fisik. Later-emerges kemampuan lokomotor Selain merangkak dan berjalan, manusia memiliki empat pola umum lainnya gerak (Clark & Whitall, 1989). Berjalan diduga muncul karena pertama terutama untuk sifat simetris yang memberikan stabilitas yang melekat. Runnig emerges, dan sekali lagi adalah pola simetris dengan koordinasi interlimb yang sama (yaitu, alternatif bilateral di mana langkah kaki satu kaki ini terjadi pada 50 persen dari siklus kaki lain). Kedua gaits berbeda dalam bahwa berjalan memiliki fase penerbangan di mana kedua kaki berada dari tanah pada saat yang sama, sambil berjalan selalu memiliki setidaknya satu kaki dan kadang-kadang dua di tanah. Munculnya berjalan terjadi sekitar enam bulan setelah berjalan saat bayi telah mencapai kekuatan dan kontrol postural diperlukan untuk mengangkat off dan landing dari berlari. Kiprah ketiga muncul adalah berpacu yang muncul hanya setelah berjalan. Ini adalah bentuk kiprah pertama asimetris muncul, dan tampaknya dipilih secara sukarela oleh anak, mungkin sebagai tindakan 'main-main'. Karena itu asimetris, membutuhkan kontrol keseimbangan lebih dari berjalan atau berlari. Gallop ini didefinisikan sebagai langkah berjalan di mana satu tungkai diikuti dengan langkah berjalan (atau lompatan), dengan tungkai terkemuka mulai siklus sekitar 35 persen dari jalan melalui siklus ekstremitas belakang. Munculnya melompat dan kemudian melompat-lompat mengikuti sekitar satu sampai dua tahun kemudian tergantung pada pengalaman anak. Hop adalah gaya berjalan

berkaki satu yang lepas landas dan mendarat berada di kaki yang sama. Hal ini lebih sulit daripada berpacu karena membutuhkan kemampuan untuk menyeimbangkan dengan satu kaki berulang kali, dan juga kekuatan untuk mendorong tubuh dengan hanya satu kaki. Melewatkan berikut melompat karena membutuhkan koordinasi yang simetris lebih kompleks yang melibatkan langkah dan hop pada setiap kaki secara bergantian. Seperti berjalan, semua gaits kemudian muncul waktu berbulan-bulan, jika tidak bertahun-tahun, untuk menjadi terkontrol dengan baik. Kesimpulan Seperti halnya dengan semua kemampuan, kognitif atau motor, anak-anak lebih mampu menyesuaikan gerak mereka untuk berbagai konteks dengan bertambahnya pengalaman. Melalui masa kanak-kanak, kemampuan lokomotor yang dikombinasikan dengan pola pergerakan lain seperti melempar dan mencolok. Bentuk-bentuk budaya spesifik gerak juga mengembangkan di awal masa kanak-kanak akhir. Misalnya, anak-anak belajar keterampilan tari lokomotor, seperti polka dan bisa ditemukan dalam balet, melalui petunjuk khusus yang diberikan oleh orang dewasa. Ada beberapa tantangan untuk penelitian di masa depan perkembangan gerak. Hubungan yang kompleks antara persepsi, kognisi, dan tindakan menyajikan teka-teki penting yang harus diselesaikan. Bagaimana hubungan ini terungkap, interaksi, dan perubahan dari lahir sampai anak nanti belum dikaji secara mendalam. Beberapa telah meneliti peran pengalaman dalam pengembangan kemampuan lokomotor, mungkin, sebagian, karena mereka dianggap baik secara diam-diam atau secara eksplisit akan ditentukan. Namun, tingkat kompetensi anak SKB dalam kemampuan penting mungkin berinteraksi dengan sistem berkembang lainnya (misalnya, kognitif, persepsi, emosi, sosial).