Anda di halaman 1dari 8

Pertumbuhan dan Perkembangan Orokraniofacial dan Material Cetak

ABSTRAK Perkembangan embrio manusia di dalam uterus merupakan kejadian yang sangat rumit dan mencengangkan. Seiring dengan perkembangan embrio ini orokraniofasial atau mulut dan jaringan sekitarnya juga mengalami perkembangan. Tentu saja, perkembangan orokraniofasial dimulai sebelum gigi dibentuk karena disinilah tempat gigi berada. Perkembangan orokraniofasial sangat berpengaruh pada perkembangan bentuk rahang, ketidaknormalan pada proses pembentukan dan perkembangan orokraniofasial akan menyebabkan anomali berupa tidak tertutupnya palatum atau labial secara sempurna yang dikenal dengan nama schisis atau sumbing. Anomali ini dapat diatasi dengan membuat alat penutup pada bagian yang schisis, hal ini dimulai dengan membuat cetakan dari material cetak agar didapat model rahang dan gigi baru kemudian dibuat penutup dari material gypsum yang dipasang pada bagian yang schisis. Key word : orokraniofasial-material cetak- material gypsum. PENDAHULUAN Pertumbuhan dan perkembangan orokraniofacial terdiri dari rongga mulut(mulut primitif), facial(muka), frontonasalis(bibir), cavum nasi, maxilla, palatum, mandibula, lidah, kelenjar saliva, temporo mandibular joint . Apabila dalam proses pertumbuhan dan perkembangan orokraniofasial terjadi gangguan seperti trauma dan lain-lain maka akan mengakibatkan anomali baik itu pada gigi maupun pada palatum dan bibir. 1 Untuk melihat gambaran anatomi anomali dari palatum maka dapat digunakan bahan material cetak dan material gypsum sedangkan untuk melihat gambaran anomaly pada gigi dapat digunakan evaluasi radiografi, contohnya makrodontia, mikrodontia, missing teeth, gigi supernumerary. 1 TINJAUAN PUSTAKA Orokraniofasial Mulut Pada minggu ketiga dan keempat masa embrio, ektoderm dan endoderm tumbuh dengan pesat dan membentuk lekungan besar pada daerah sevalo kaudal cakram embrio yang lurus, satu pada regio membran bukofaringeal dan satu lagi pada regio membran kloaka. Selama proses pertumbuhan ini membran bukofaringeal membalik dan terletak pada daerah ventral lipatan kepala. Disini membran terletak pada dalam suatu lekukan yang dikenal dengan stomodeum atau mulut primitif. Stomodeum dibentuk dari ektodermal yang telah menyatu dan bertemu dengan endodermal pada minggu ketiga. Stomodeum diliputi oleh ektodermal dan dibawahnya adalah mesenhim, ektodermal akan berkembang menjadi epitel mulut, dan mesenkim berkembang menjadi jaringan ikat dibawah nya.2 Hidung Pada minggu kelima masa perkembangan stomodeum dikelilingi oleh beberapa prosesus dan mesenkim. Sebelah kaudal terdapat prosesus mandibularis yang berasal dari lekungan bronkialis pertama, sebelah lateral terdapat sedikit peninggian berbentuk segitiga yang disebut dengan prosesus maksilaris yang berkembang dari permukaan kranial bagian dorsal prosesus mandibularis dan peninggian ini diliputi oleh ektoderm. Dibagian kranial stomodeum terdapat prosesus frontonasalis. Pada permukaan prosesus frontonasalis, ektoderm membentuk dua penebalan bundar atau plakod nasal. Plakod nasal akan berkembang menjadi epitelium olfaktorius. Dibawahnya terdapat sel-sel mesenkim yang berdiferensiasi menjadi prosesus nasalis medialis dan lateralis. Prosesus nasalis medialis berkembang kearah kaudal dari pada yang lateralis, sehingga bagian medialis lebih menonjol dari pada yang lateralis. Plakod nasal akan menetap dan membentuk dasar cekungan diantara prosesus-prosesus ini. Dan kemudian akan berkembang menjadi bakal rongga hidung. Hidung luar dibentu oleh prosesus nasalis, prosesus nasalis medialis membentuk bagian tengah hidung, prosesus nasalis lateralis

membentuk alae hidung.3 Bibir, Palatum Pada saat yang bersamaan dengan proses terbentuknya rongga hidung. Prosesus maksilaris terus bertambah ukurannya dan tumbuh kearah sentral. Setiap prosesus akan bertemu dengan prosesus nasalis medialis, namun sebelum bersatu terdapat duktus nasolakrimalis diantara keduanya. Pertumbuhan prosesus maksilaris yang lebih kearah ventral akan menutupi tepi bawah rongga hidung dan akan berfusi dengan prosesus nasalis medialis. Sehingga lubang nasal sekarang disebut dengan garis eksterna primitif. Kedua Prosesus nasalis medialis bergabung pada garis tengah dan bagian ujung-ujungnya terdapat proleferasi mesenkim yang akan membentuk regio premaksilaris. Regio inilah yang akan membentuk filtrum bibir atas bagian tengah, prosesus alveolaris atas yang membawa gigi insisivus dan palatum primitif. Jadi bibir atas di bentuk oleh dua prosesus maksilaris dan dua prosesus nasalis medialis. Sedangkan bagian bibir bawah dibentuk oleh gabungan .prosesus mandibularis.3 Material Cetak Material Inelastis (Rigid) Material cetak inelastis biasanya digunakan diarea yang tidak terdapat lubang dalam. Sebab, jika digunakan pada gigi pada yang berkavitas dia akan sulit dikeluarkan tanpa terjadi fraktur. Contohnya material cetak campuran, material gips, zinc oxide-eugenol, dan material wax.4 Material cetak campuran adalah bahan thermoplastis keras yang melunak jika dipanaskan dan menjadi kuat lagi jika memiliki suhu dalam mulut. Komposisinya berupa resin thermoplastis dan wax (40 %), bahan pengisi dan kapur/bedak (50%), asam organic dan pewarna.4 Material Cetak Campuran Sifat dari material ini, jika dipanaskan pada suhu yang terkontrol, ia akan melunak secara keseluruhan. Namun pemanasan pada api secara langsung dapat melelehkan bagian luarnya secara cepat, tetapi tidak dibagian dalamnya. Jika terlalu dinginpun, bahan ini akan menjadi plastis untuk mencetak bentuk jaringan serta tidak membentuk tiruan mulut yang cukup sama.4 Cetakan Plaster (Gips) Cetakan plaster (Gips) memiliki komposisi calcium hemihydrate, potassium sulfat/potassium cloride yang berguna sebagai factor yang mempercepat setting timenya dan batas setting ekspansinya. 4 Zinc Oxide Eugenol (ZOE) ZOE hanya terbatas digunakan pada lengkungan tanpa gigi. ZOE terbagi dalam dua bantuk pasta yang berbeda warna. Yang satu mengandung oksida seng (80%), minyak (15%), pengisi inert (5%). Dan yang satu lagi mengandung eugenol (15%), minyak (65%), resin dan pengisi serta katalisator (Zinc Asetat atau MgCl) yang berguna untuk mempercepat aliran pada setting yang lambat ketika keduanya dicampurkan. Material ini bersifat keras dan rapuh, serta akan patah jika digunakan pada jaringan yang berpola rendah. 4 Material Wax Wax lebih sering mengeras pada suhu ruang dan melelehkan jika dipanaskan. Wax kurang akurat jika digunakan untuk restorasi pada pencetakan akhir serta mudah distorsi pada bagian jaringan yang rendah atau ketika dipengaruhi perubahan suhu ketika dikeluarkan dari mulut. Penggunaannya biasanya pada cetakan preliminary pada pinggiran endetulous. Alas wax digunakan intuk membentuk mahkota sementara dan bridge (jembatan tinggi). Alas wax yang hangat dapat terangkat sebelum mahkota dan bridge mengalami perawatan. Wax juga cukup fleksibel jika ditarik dari rongga rendah pada gigi.4 Material Elastis Hydrocoloid Hydrocoloid terbagi menjadi Agar hydrocollocoid yang bersifat reversible dan agar alginate hydrocolloid yang bersifat irreversible.4 Agar Hydrocolloid Keunggulan dari agar hydorolloid iyalah dapat mengatasi segala kekurangan yang ada pada material in elastis serta menjadi bahan cetak yang akurat untuk mulut dan lengkung rahang sekaligus jaringan pada ronnga yang dalam serta tidak melukai pasien dan tidak rusak ketika dikeluarkan dari mulut.4

Agar hydrocolloid diambil dari rumput laut yang disebut agar-agar, komponennya terdiri dari 1215% agar, 1% polisium sulfat, 0,2% penguat gel yaitu borax 0,1%, media kolaid yaitu 85% air, potassium sulfat yang berfungsi memastiak waktu yang sesuai bagi gips untuk dimasukkan dalam cetakan. Lalu terdapat akil benzoat sebagai anti jamur selama penyimpanan, dan borax dan agar untuk memperlambat setting time gips.4 Sifat dari agar hydrocolloid yang pertama demensinya tidak seimbang. Gel akan kehilangan kelembaban dan mengerut jika di udara terbuka.immpression (cetakan) akan mengalami imbibisi dan bergeelembung jika kelamaan di dalam air. Sifat yang kedua yaitu mudah merusak bentuknya jika tertekan. Jika tekanan terlalu besar, maka perubahan bentuknya akan menjadi permanen. Dan yang terkhir keakuratannya baik, namaun tidak mahal.4 Alginate (irreversible hydrocolloid) Fungsi dari alginate untuk model studi, bagian gigi tiruan, framework (kerangka kerja), memperbaiki seluruh/sebagain gigi tiruan yang patah, peniruan restorasi, sementra floriide dan memutihkan cetakan, mendukung protector, persiapan percetakan untuk bagian paling utama edentulous, dll.4 Komposisi dari alginate terdiri dari postasium/sodium (15-20%), calsium sulfat dehirat (14-20%), potassium sulfat (10%), trisodium fosfat (10%), diatomaceous earth (55-60%) dan bahan tamabhan yaitu glycolorganic, agen pengharum, agen pewarna, dan disinfektan.4 Alginate bersifat tidak mahal, manipulasi mudah dan tidak memerlukan alat-alat khusus dan juga cukup akurat. Apabila alginate tertekan dengan kuat maka akan terjadi perubahan bentuk yang permanen. Alginate bersifat sangat sensitive untuk kehilangan kelembabab dan akan mengerut. Jika mengalami imbisisi air maka akan mengembang dan terjadi distorsi. Work time dari alginte dimulai dari pencampuran sampai dengan diletakknya dalam mulut 2-3 menit (reguler set), 1,25 2 menit (fast-set alginate) dan setting time 2-5 menit, fast set = 1-2 menit. Setting time dapat diperpanjang dengan air dingin dan diperpendek dengan air panas.4 Manipulasi Sediakan rubber bowl, spatula, takaran air/powder,tray (cetakan), model gigi, dan aquades alginate. Takar bubuk dan air, lalu masukkan dalam ruberr bowl (w/p = 1:1) sesuai dengan pabarik. Lalu aduk campuran tersebut sambil ditekan ke tepi bowl dan isikan lah adonan material ke dalam sendok cetak lalu cetakan ke dalam phantom dan terkhir tunggu samapai adonan berubah warna lalu lepas cetakan dari panthom.4 Materail Gypsum Gypsum adalah mineral yang merupakan produk samping dari beberapa proses kimia. Gypsum yang sering digunakan dalam kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dehidrat (CaSO4 2H2O) murni, dan telah dipakai untuk keperluan konstruksi. Jenis dari material gypsum ada 5 yaitu,plaster cetak,bahan ini terdiri atas plaster of paris yang ditambahkan zat tambahan unuk mengatur waktu pengerasan ,bahan ini telah jarang digunakan karna kurang elastis atau kaku. Yang kedua yaitu plaster model plaster jenis ini sering digunakan untuk mengisi kuvet dalam pembuatan protesa bila ekspansi pengerasan tidak penting dan kekuatan cukup. Bahan ini terlihat kontras dibandingkan dengan stone yang pada umumnya berwarna.yang ketiga yaitu stone gigi tipe 3 ini lebih disukai untuk pembuatan model yang digunakan pada kontruksi protesa, karna stone ini memiliki kekuatan yang cukup untuk tujuan itu serta protesa lebih mudah dikeluarkan setelah protesa selesai. Yang ke empat yaitu stone gigi, kekuatan tinggi persyaratan utama bagi bahan stone untuk pembuatan die adalah kekuatan, kekerasan, dan ekspansi pengerasan minimal. Untuk memperoleh sifat ini , digunakan -hemihidrat dari jenis densite.tipe 4 ini memiliki rata-rata kekerasan 92% disbanding stone tipe 3 yang hanya 82%. Meskipun permukaan lebih keras, tapi tetap harus berhati-hati dalam mengukir pola malam. Dan yang terakhir adalah stone gigi, kekuatan tinggi, ekspansi tinggi, ini merupakan produk gypsum yang dibuat akhir-akhi ini, dan memiliki kekuatan kompresi yang lebih tinggi dibadingkan stone gigi tipe 4. Kekuatan ini diperoleh akibat pegurangan rasio W:P, dan dengan penambahan ekspansi kekerasan.4 Proses manipulasi material gypsum ada tiga tahapan. Tahapan pertama menakar,pada proses awal material gypsum harus selalu ditakar, sesuai atau menggunakan rasio W:P yang dianjurkan pabrik sebagai pedoman. Tahapan kedua yaitu mengaduk, bila mengaduk dengan

menggunakan tangan, mangkuk pengaduk harus berbentuk parabolic, halus, dan tahan terhadap abrasi. Terjebaknya udara pada saat pengadukan harus dihindri agar tidak terjadinya porus yang dapat menyebabkan kelemahan dan ketidakakuratan permukaan. Biasanya waktu yang dibutuhkan yaitu satu menit. Dan tahapan yang terakhir adalah penanganan model, bila permukaan model tidak halus dank eras ketika dikeluarkan dari cetakan, keakuratannya dipertanyakan.bila telah sempurna, dimensi akan relative konstan, meskipun dalam temperatur ruangan dan kelembaban biasa.kadang-kadang produk gypsum perlu direndam dalam air,sebagai persiapan untuk tehnik yang lain.4 Embriologi Oromaksilofasial Pertumbuhan dan Perkembangan Rongga Mulut Pertumbuhan dan perkembangan oromaksilofasial (muka & rongga mulut) dimulai pada minggu ke-3 intra uterin. Mula-mula masih terbentuk tube dan terdiri dari 3 unsur yaitu ectoderm, mesoderm dan endoderm/entoderm.5 Pertumbuhan dan perkembangan oral / mulut dimulai dengan proses invaginasi lapisan ectoderm di bagian caudal dan Processus Prontonasalis dan disebut Stomodeum = Primitive Oral Cavry. Di samping itu terjadi pula proses invaginasi pada lapisan endoderm yang disebut Primitive Digestive Tract. Selanjutnya POC dan PDT saling mendekat hingga bertemu pada membran yang tipis disebut : Membrana Bucco Pharyngeal. Membran tersebut akhirnya pecah dan terjadilah hubungan yang sempurna antara POC dan PDT.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Apparatus Selain proses tersebut terjadi pula pula proses pertumbuhan dan perkembangan pembentukan Branchial Apparatus, yaitu terdiri dari : A. Branchial Archess (lengkungan) B. Branchial Pouches (Konjungsi) C. Branchial Grooves (Celah) D. Branchial Membrane (Selaput) Mula-mula dibentu Branchial Arch I / Pharyngeal Arch I, kemudian dibentuk Branchial Arch I hingga IV, namun Branchial Arch V rudimenter / hilang sehingga Branchial Arch IV bergabung dengan Branchial IV. Dari Branchial Apparatus inilah akan dibentuk organ-organ, rahang atas, rahang bawah, lidah larynx, pharynx, os hyoid, otot-otot wajah, ligamentum, arteri, vena, nervus, dll.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Pouches Yang pertama dibentuk adalah: Cavum tympanica Antrum Mastoideum Telinga tengah Tuba Eustachii Lalu lapisan Endoderm berdiferensiasi membentuk Tonsila Palatina dan Fossa Supratonsilaris. Bagian Dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid inferior lalu bermigrasi kea rah dorsal glandula thyroid. Sedangkan bagian ventral berdiferensiasi membentuk primordial glandula thymus kemudian bermigrasi kea rah Caudal & Medial selanjutnya bagian kanan & kiri berfusi membentuk glandula thymus.5 Bagian dorsal berdirensiasi membentuk glandula parathyroid superior kemudian bermigrasi ke dorsal glandula thyroid. Bagian ventral berdiferensiasi membentuk ultimo branchial body lalu

bermigrasi dan berfusi dengan glandula thyroid.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Groove Branchial Groove I akan membentuk meatus acusticus externus, sedangkan Branchial Groove yang lain akan hilang sehinga leher rata.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Branchial Membrane Branchial Membrane I akan membentuk membrane tympanica sedangkan branchial membrane yang lain menghilang.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Fasial (Muka) Pertumbuhan dasn perkembangan fasial (muka) berasal dari 5 buah Fasial Promordia, yaitu : Sebuah tonjolan Processus Fronto Nasalis di atas Stomodeum Sepasang tonjolan Processus Maxillaris yang berasal dari Branchial Arch I, terlet,ak di Cranio Lateral Stomodeum. Sepasang tonjolan Processus Mandibularis yang juga berasal dari Branchial Arch I, terletak di Caudal Stomodeum.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Processus Fronto Nasalis Dimulaik pada minggu ke-4 i.u. sebagai dua buah penebalan ectoderm yang terletak di latero processus fronto dan di atas stomodeumm disebut Nasal Placode. Setelah embrio berumur 5 minggu i.u., terjadi lagi dua buah penonjolan yang mengelilingi Nasal Placoda yang berbentuk tapal kudas yang disebut : Processus Nasalis Medialis (medial) Processus Nasalis lateralis (lateral) Selanjutnya Nasal Placoda akan menjadi dasar lekukan ke dalam dan membentuk Nasal Pit yang nantinya akan merupakan lubang hidung atau Nostril. Sedangkan kedua Processus nasalis medialis akan berfusi membentuk intermaxillary segment. Intermaxillary segmente akan mengalami pertumbuhan dasn pertumbuhan perkembangan dalam 2 arah yaitu : Ke arah caudal akan membentuik Phitrum Ke arah medial akan membentuk Septum nasi Palatum Primer (processus palatinus medialis) Premaxilla (yaitu tulang rahange atas bagian tengah yange menunjang gigi-gigi Sedangkan processus nasalis lateralis akan membentuk Ala Nasi (yang akan dipisahkan dari processus maxillaries oleh sulcus naso lacrimalis).5 Pertumbuhan dan Perkembangan Cavum Nasi Dimulai pada embrio umur kurang dari 6 minggu i.u., sebagai proses invaginasi pada nasal placode sebagai dasar lekukannya. Mula-mula dibentuk nasal pit, kemudian lekukan semakin meluas membentuk Saccus Nasalis. Soccus nasalis ini masih belum berhubungan dengan cavum oris karena masih dipisahkan oleh membrane oro nasal. Setelah embrio berusia 7 minggu itu., membrane oro nasal pecah, hingga terjadilah hubunan antara Cavum Nasi dan Cavum oris. Batas hubungan Cabum Nasi dan Cavum oris di belakang Palatum Primer disebut Primitive Choanae.5 Selain proses tersebut di atas, pada dinding Cavum Nasi terbentuk pula tonjolan-tonjolan yang

disebut : Concha Nasalis Superior Concha Nasalisi Medius Concha Nasalis Inferior Dan dinding epitel atas Cavum Nasi (lapisan ectoderm) juga mengalami diferensiasi membentuk serabu-serabu syafaf N, Olfaccorlus. Setelah palatun sekunder kanan dan kiri selesai berfusi dengan septum nasi, maka terbentuklah Cavum Nasi yang sempurna. Dengan demikian batas hubungan Cavum Nasi dan Cavum Orls kini di belakang palatum sekunder dan disebut Definitive Chonchae.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Atas Tulang rahang atas (os maxilla) berasal dari Branchial Arch I bagian atas. Disebut pula Processus Maxillaris. Pusat ossifikasi terletak pasda percabangan N. infra orbitalis menjadi N. alveolaris superior anterior dan N. alveolaris superior medius. Kemudian proses ossifikasinya berlanjut mula-mula ke arah posterior membentuk Processus Zygomaticus Ossis Maxillaris, kemudian ke arah Caudal membentuk Processus Alveolaris Ossis Maxillaris dan ke arah medial membentuk Processus Palatinus Ossis Maxillaris. Selama proses pertumbuhan dan perkembangan tersebut, di bagian pusat ossifikasinya membentuk Corpus Maxillia, hingga terbentuklah Os Maxilla yang lengkap.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Palatum Pertumbuhan dan Perkembangan palatum terjadi melalui beberapa tahap : Palatum Primer (Processus Palatinus Medialis) Seperti telah diuraikan sebelumnya bahwa palatum primer dibentuk oleh Intermaxillary Segment (fusi dari processus nasalis medialis) yang berkembang ke arah medial dan caudal membentuk Palatum primer,septum nasi, premaxilla (tulang rahang atas yang menunjang gigi , philtrum (alur vertical pada bagian tengah bibir atas).5 Palatum Sekunder (Processus palatines lateralis) Palatum sekunder (processus palatines lateralis) berasal dari processus maxillaries. Mula-mula palatum sekunder berkembang ke arah bawah karena masih adanya lidah embrional. Namun setelah rahang bawah (os mandibula) berkembang, maka ruang bertambah besar, sehingga lidah turun ke bawah. Hal ini mengakibatkan pertumbuhan dan perkembangan palatum sekunder dapat berkembang ke arah mid line dan berfusi. Selain itu septum nasi juga mengadakan fusi tangan kedua palatum sekunder (kanan dan kiri).5 Pertumbuhan dan Perkembangan Selanjutnya dari Paltum Sekunder 1. Dorsal palatum primer Terjadi proses ossifikasi disebut : Processus Palatinus Ossis Maxillaris 2. Dorsal ad.1 Terjadi pula ossifikasi disebut Os Palatinum 3. Dorsal ad.2 Pertumbuhan dan perkembangan pada dorsal ad.2 tidak mengalami proses ossifikasi, disebut : Palatum Molle dan Uvulia.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Os Palatinum Berasal dari bagian medial tulang rawan nasal capsul. Nasal capsul merupakan tulang rawan yang pertama kali dibentuk di daerah muka atas dan analog dengan tulang rawan Meckel rahang bawah. Atas nasal capsul, bagian lateral membentuk Os Ethmoidale, bagian posterior membentuk septal cartilage (pars perpendicularis ossis ethmoidalis). Keduanya mengalami

ossifikasi setelah lahir. Bawah nasal capsul bagian lateral membentuk concha nasalis inferior sedangkan di antaranya mengalami atropi bagian medial membentuk os palatinum .5 Ossifikasi : pada minggu ke 7-8. Lokasi di dekan N. Palatinus Descendeus Ossifikasi ke arah vertical disebut pars perpendicularis ossis palatine, yang akan berfusi dengan os maxillaries membentuk dinding medial sinus maxillaries. Ossifikasi ke arah horizontal disebut pars horizontal ossis palatine yang akan berfusi dengan prosessus palatines ossis maxillaries. Pertumbuhan dan Perkembangan Sinus Maxillaris Pada bulan ke-4 i.u., mula-mula terbentuk kantong mukosa kecil di daerah lateral cavum nasi. Kantong tersebut mula-mula terpisah dari maksila oleh tulang rawan nasa capsul. Setelah nasal capsul bagian bawah atropi, kantong mukosa tersebut menerobos masuk ke dalam os maxilla di atas processus palatines lateral sehingga terbentuk maxillaries. Sinus ini terus berkembang hingga ukuran dewasa. Perkembangan seterusnya ke arah processus alveolaris.5 Proses Pertumbuhan dan Perkembangan Tulang Rahang Bawah Tulang rahang bawah (os mandibula) berasal dari Branchial Arch I bawah atau mandibulaj Arch dan disebut pula Processus Mandubularis. Mula-mula dibentuk tulang rawan Meckel di bagian lingual Processus Mandibularis. Pertumbuhan dan perkembangan tulang Meckel ini berada dekat dengan pembentukan N. Mandibularis. Pada saat N. Mandibularis dibentuk mencapai 1/3 dorsal tulang rawan Meckel, kemudian bercabang menjadi N. Alveolaris inferior ke arah anterior dan bercabang lagi menjadi N.Mentalis dan N. Incisivus. Di Tempat lateral percabangan inilah jaringan ikat pada fibrosa mengalami ossifikasi (minggu ke-7). Pusat ossifikasinya sekitar for. Mentale. Kemudian pertumbuhan dan perkembangan posterior membentuk rumus mandibulae hingga terbentuk mandibula hingga terbentuk mandibula yang lengkap, sedang tulang rawan Meckle menghilang.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Temoro Mandibular Joint Mula-mula os temporalis masih terpisah jauh dari os mandibula. Setelah pertumbuhan conovius mandibula jaringan, dibentuk jaringan ikat padat yang tipis disebut Discus Articularis. Selanjutnya Tuberculum Articulare baru tampak pada saat lahir. Bentuknya khas setelah pembentukan gigi sulung.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Lidah Pertumbuhan dan perkembangan lidah dimulai pada akhir minggu ke-4. Mula-mula dibentuk sebuah tonjolan di dasar pharynx, anterior foramen caecum disebut : Tuberculum Impar. Kemudian dibentuk pula 2 tonjolan di daerah lateral dari Tuberculum Impar, disebut : Tonjolan Lateral Lidah. Ketiga tonjolan tersebut berasal dari Branchial Arch I.5 Kemudian tonjolan lateral lidah berfusi membentuk 2/3 anterior lidah dengan garis fusi pada : Sulcus lingualis media (luar) Septum lingual (dalam) Pertumbuhan dan perkembangan Papilla dan Taste Buds pada Lidah Mula-mula dibentuk papilla filiformis tanpa ada induksi syaraf sehingga tidak ada taste buds. Saat umur 54 hari dibentuk Papilla Circum Vallatae, lalu Papilla Foliatae Fungiformis yang diinduksi oleh chorda tympani (N. VII). Ketiganya terdapat taste buds.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Kelenjar Saliva Pada embrio minggu ke 6-7 dibentuk Glandula Parotis yang berasal dari jaringan ektodermal berlokasi di tepi stomodeum. Sel-sel berpoliferasi membentuk tali padat dan ujung bulat. Tali tersebut berkembang membentuk tumen dan selanjutnya terbentuk duktus, sedangkan ujung

yang bulat berdiferensiasi membentuk acini (khusus menghasilkan saliva) yang akan mengeluarkan secret.5 Glandula Submandibularis yang berasal dari jaringan endodermal berlokasi di dasar mulut di latero-caudal lidah. Cara pembentukannya sama dengan GI. Parotis. Glandula sublingualis berkembang agak akhir, juga berasal dari jaringan endodermal sebagai multiple buds yang nantinya membentuk lobus mayor dan lobus minor. Lokasinya di latero-caudal lidah.5 Pertumbuhan dan Perkembangan Glandulaj Thyroid Glandulaj Thyroid dari penebalan jaringan endodermal di belakang tuberculum impar kemudian melekuk ke caudal yang disebut thyroid diverticulum yang lalu bermigrasi (lidah berkembang) ke caudal. Pada saat bermigrasi ke caudal terbentuklah Ductus Thyroglossus. Ductus Thyroglossus ini akan tersisa sebagai foramen caecum dan lobus Pyramidalis GI. Tyreodea. Bagian ductus yang lain menghilang sedangkan Thyroid Diverticulum yang bermigrasi ke caudal membentuk 2 lobus yaitu GI Thyroidea dan akhir migrasinya berada di antara lateral Trachea.5 Sedangkan tuberculum impar tidak membentuk bangunan yang khas. Pertumbuhan dan perkembangan 1/3 posterior lidah dimulai dengan dibentuknya tonjolan Copula (berasal dari pharyngeal arch ke II) kemudian dibentuk lagi tonjolan Hypobranchial (Branchialk Arch III IV). Caudal dari foramen Caecum. Namun proses selanjutnya tonjolan Copula mengalami rudimeter dan menghilang. Sedangkan tonjolan Hypobranchial tetap berperan membentuk 1/3 posterior lidah dan selanjutnya berfusi dengan 2/3 anterior lidah. Garis fusinya pada Sulcus Terminalis Linguae. Sehingga terbentuklah lidah yang lengkap dan pertumbuhan dan perkembangan selanjutnya ke arah atas dan depan.5 KESIMPULAN Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa proses pembentukan orokraniofacial akan membentuk lengkung-lengkung faring,yang terdiri atas balok-balok jaringan mesenkim dan masing-masing dipisahkan oleh kantung dan celah faring yang akan memberi bentuk awal yang khas pada kepala dan leher. Setelah lahir,munculnya gigi-geligi dan sinus paranasalis pembentuk wajah dengan cirri-ciri yang khas bagi masing-masing individu. Jika terjadi gangguan pada proses pembentukan orokraniofacial tersebut, maka akan terjadi pula kelainan-kelainan atau anomali pada kepala dan leher baik pada bagian wajah, rongga mulut, dan gigi-geligi. REFERENSI 1. T.W. Sadler,embriologi kedokteran langman,Jakarta:EGC, 1997 2. Drg. Ny.itjingningsih W.H, anatomi gigi, Jakarta:EGC, 1991 3. Ivar A. Mjor,Ole fajerskov, embriologi dan histology rongga mulut, Jakarta: widya medika, 1990 4. Kenneth j. anusavice, buku ajar ilmu bahan kedokteran gigi, edisi 10, Jakarta:EGC, 2003 5. Drg.Harun A.GUnawan.Ms,Biologi Oral 1, edisi ketiga, fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia

http://gudangilmugigi.blogspot.com/2010/05/pertumbuhan-dan-perkembangan.html