Anda di halaman 1dari 22

Biaya Biaya adalah kas atau nilai yang setara kas yang dikorbankan untuk produk yang diharapkan

dapat membawa keuntungan masa kini dan masa yang akan dating bagi organisasi. Disebut setara dengan kas karena asset non-kas dapat ditukar dengan produk yang diinginkan. Biaya dikeluarkan untuk menghasilkan manfaat dalam bentuk pendapatan di masa kini maupun di masa datang. Dengan demikian biaya digunakan untuk menghasilkan manfaat pendapatan disebut beban. Oleh karenanya Setiap periode, beban tersebut dikurangkan dari pendapatan pada laporan Laba Rugi Kerugian adalah biaya yang kedaluarsa tanpa menghasilkan manfaat pendapatan pada satu periode. Misalnya Persediaan yang rusak akibat kebakaran dan tidak diasuransikan dapat diklasifikasikan sebagai kerugian dalam Laporan Laba Rugi. Sementara Biaya yang tidak kedaluarsa dalam suatu periode tertentu dikelompokkan sebagai aktiva dan muncul pada Neraca. Misalnya Mesin dan komputer adalah contoh aktiva yang berumur lebih dari satu periode. Prinsip utama dalam pembedaan antara biaya sebagai beban atau sebagai aktiva adalah soal penentuan waktu, yakni apakah biaya tersebut digunakan dalam satu periode atau lebih dari satu periode. Obyek Biaya Obyek biaya adalah segala hal seperti produk, pelanggan, departemen, proyek, kegiatan dan yang lain dimana biaya-biaya diukur dan dibebankan. Misalnya, bila ingin menentukan berapa biaya untuk membuat pisang goreng, maka obyek biaya adalah pisang goreng. Bila ingin menentukan biaya operasi sebuah program studi dalam sebuah Universitas maka obyek biaya adalah program studi. Bila tujuannya adalah menentukan biaya proyek pengembangan produk maka obyek biaya adalah proyek pengembangan produk baru. Kegiatan Kegiatan adalah suatu unit dasar dari kerja yang dilakukan dalam suatu organisasi. Definisi lain dari kegiatan adalah keseluruhan tindakan dalam organisasi yang berguna bagi manajer untuk maksud perencanaan, pengendalian dan pengambilan keputusan. Pada masa sekarang, kegiatan telah menjadi isu utama sebagai obyek biaya yang penting.. Kegiatan memainkan peran penting dalam proses pembebanan biaya pada obyek biaya yang lain. Contoh kegiatan yang semacam itu antara lain memelihara peralatan, merancang produk, menagih pelanggan dll. Kegiatan dijelaskan oleh kata kerja tindakan dan obyek yang menerima tindakan. Misal kegiatan merancang produk maka kata kerja tindakannya adalah merancang dan obyek yang menerima adalah produk. Keakuratan Pembebanan Pembebanan biaya secara akurat pada obyek biaya adalah hal yang sangat penting. Pentingnya keakuratan pembebanan tidaklah didadasarkan pada berapa biaya yang terjadi. Namun lebih didasarkan pada konsep relatif yang menyangkut kelogisan metode pembebanan biaya. Tujuannya adalah untuk mengukur dan membebankan seakurat mungkin biaya sumber daya kepada obyek biaya. Artinya bahwa apa yang dibebankan sesuai dengan apa yang dikonsumsi.

Sebagai ilustrasi, misalnya kita ingin mengetahui beban biaya listrik sebuah departemen katakan saja departemen pelatihan pada satu bulan tertentu. Salah satu pendekatan adalah menghitung jumlah biaya listrik yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam bulan tersebut (mis 100.000) kemudian membaginya dengan jumlah departemen yang ada dalam perusahaan (10). Dengan pendekatan yang seperti itu, diperoleh gambaran bahwa departemen peltihan mengkonsumsi listrik sebesar 10.000 pada bulan tersebut. Pedekatan lainnya adalah mencoba mengamati dan menghitung langsung konsumsi listik departemen pelatihan ternyata departemen pelatihan tidaklah menggunakan listrik sepanjang hari dan fasilitas yang menggunakan listrik pun tidak besar. Setelah dihitung ternyata konsumsi listrik departemen pelatihan dalam satu bulan tersebut adalah 7.500. Dengan demikian bila departemen pelatihan dibebankan biaya listrik sebesar 10.000 maka angka tersebut adalah angka yang tyerdistorsi oleh pola penggunaan listrik dari departemen lain. Pembebanan yang terdistorsi dapat menghasilkan evaluasi yang salah dan keputusan yang salah pula. Misalnya pimpinan perusahaan merencanakan perampingan organisasi dengan tetap mempertahankan divisi pemeliharaan atau menutupnya dan menyerahkan pada perusahaan outsourching. Evaluasi yang akurat mengenai biaya yang dikeluarkan dan dikonsumsi oleh divisi pemeliharaan merupakan hal mendasar untuk analisis. Gambaran biaya yang lebih hitung dapat mengarah pada keputusan menutup divisi pemeliharaan dan menyerahkan pada perusahaan outsourching. Namun, pembebanan biaya yang lebih akurat mungkin saja akan merekomendasikan hal yang sebaliknya. Bagaimanapun, pembebanan yang buruk terbukti memakan biaya. Ketertelusuran Biaya Hubungan antara biaya dan obyek biaya dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keakuratan pembebanan biaya, baik biaya yang secara langsung maupun yang tidak langsung berhubungan dengan obyek biaya. Biaya langsung adalah biaya yang dapat dengan mudah dan akurat ditelusuri ke obyek biaya. Mudah ditelusuri berarti biaya-biaya tersebut dapat dibebankan dengan cara seekonomis mungkin. Secara akurat ditelusuri berarti bahwa biaya dibebankan dengan menggunakan hubungan penyebab. Oleh karena itu arti dapat ditelusuri adalah kemampuan untuk membebankan biaya secara langsung pada obyek biaya dengan cara ekonomis yang memungkinkan dengan sarana hubungan penyebab. Semakin banyak biaya yang dapat ditelusuri, semakin akurat pembebanan biaya yang dilakukan. Biaya tidak langsung adalah biaya-biaya yang tidak dapat dengan mudah dan akurat ditelusuri ke obyek biaya. Keakuratan Pembebanan Pembebanan biaya secara akurat pada obyek biaya adalah hal yang sangat penting. Pentingnya keakuratan pembebanan tidaklah didadasarkan pada berapa biaya yang terjadi. Namun lebih didasarkan pada konsep relatif yang menyangkut kelogisan metode pembebanan biaya. Tujuannya adalah untuk mengukur dan membebankan seakurat mungkin biaya sumber daya kepada obyek biaya. Artinya bahwa

apa yang dibebankan sesuai dengan apa yang dikonsumsi. Sebagai ilustrasi, misalnya kita ingin mengetahui beban biaya listrik sebuah departemen katakan saja departemen pelatihan pada satu bulan tertentu. Salah satu pendekatan adalah menghitung jumlah biaya listrik yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam bulan tersebut (mis 100.000) kemudian membaginya dengan jumlah departemen yang ada dalam perusahaan (10). Dengan pendekatan yang seperti itu, diperoleh gambaran bahwa departemen pelatihan mengkonsumsi listrik sebesar 10.000 pada bulan tersebut. Pedekatan lainnya adalah mencoba mengamati dan menghitung langsung konsumsi listik departemen pelatihan ternyata departemen pelatihan tidaklah menggunakan listrik sepanjang hari dan fasilitas yang menggunakan listrik pun tidak besar. Setelah dihitung ternyata konsumsi listrik departemen pelatihan dalam satu bulan tersebut adalah 7.500. Dengan demikian bila departemen pelatihan dibebankan biaya listrik sebesar 10.000 maka angka tersebut adalah angka yang tyerdistorsi oleh pola penggunaan listrik dari departemen lain. Pembebanan yang terdistorsi dapat menghasilkan evaluasi yang salah dan keputusan yang salah pula. Misalnya pimpinan perusahaan merencanakan perampingan organisasi dengan tetap mempertahankan divisi pemeliharaan atau menutupnya dan menyerahkan pada perusahaan outsourching. Evaluasi yang akurat mengenai biaya yang dikeluarkan dan dikonsumsi oleh divisi pemeliharaan merupakan hal mendasar untuk analisis. Gambaran biaya yang lebih hitung dapat mengarah pada keputusan menutup divisi pemeliharaan dan menyerahkan pada perusahaan outsourching. Namun, pembebanan biaya yang lebih akurat mungkin saja akan merekomendasikan hal yang sebaliknya. Bagaimanapun, pembebanan yang buruk terbukti memakan biaya. Ketertelusuran Biaya Hubungan antara biaya dan obyek biaya dapat digunakan untuk membantu meningkatkan keakuratan pembebanan biaya, baik biaya yang secara langsung maupun yang tidak langsung berhubungan dengan obyek biaya. Biaya langsung adalah biaya yang dapat dengan mudah dan akurat ditelusuri ke obyek biaya. Mudah ditelusuri berarti biaya-biaya tersebut dapat dibebankan dengan cara seekonomis mungkin. Secara akurat ditelusuri berarti bahwa biaya dibebankan dengan menggunakan hubungan penyebab. Oleh karena itu arti dapat ditelusuri adalah kemampuan untuk membebankan biaya secara langsung pada obyek biaya dengan cara ekonomis yang memungkinkan dengan sarana hubungan penyebab. Semakin banyak biaya yang dapat ditelusuri, semakin akurat pembebanan biaya yang dilakukan. Biaya tidak langsung adalah biaya-biaya yang tidak dapat dengan mudah dan akurat ditelusuri ke obyek biaya.

Metode Penelusuran Langsung dan Penelusuran Pendorong/ Penggerak dan Alokasi Biaya
Hendra Poerwanto www.hendrakia.web.id Terima kasih telah bersedia mencantumkan alamat web ini sebagai link pada sumber bacaan/ referensi

Penelusuran berarti bahwa biaya-biaya dapat dibebankan dengan mudah dan akurat. Penelusuran adalah pembebanan biaya aktual pada obyek biaya dengan menggunakan ukuran yang dapat diamati dari sumber daya yang dikonsumsi oleh obyek biaya. Penelusuran biaya ke obyek biaya dapat dilakukan dengan salah satu dari dua metode berikut Penelusuran langsung Penelusuran langsung adalah proses indentifikasi dan pembebanan biaya pada obyek biaya yang secara spesifik atau fisik berhubungan dengan obyek biaya. Sebagai contoh Departemen pemasaran adalah obyek biaya. Gaji Sales Supervisor merupakan biaya yang dapat diamati secara fisik. Contoh lain, produk adalah obyek biaya. Biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung untuk membuat produk tersebut merupakan biaya yang dapat diamati dan diidentifikasi secara fisik. Oleh karenanya biaya bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung dapat dikenakan secara langsung pada produk. Idealnya semua biaya harus bisa dikenakan secara langsung pada obyek biaya dengan menggunakan metode penelusuran langsung. Akan tetapi, yang terjadi sering tidak mungkin untuk dapat secara fisik mengamati jumlah pasti sumber daya yang dikonsumsi. Penelusuran Pendorong. Sehubungan dengan kenyataan bahwa tidak semua biaya dapat diamati secara fisik pada obyek biaya, makauntuk mengamati dan mengukur konsumsi sumber daya dari obyek biaya digunakan pendekatan pertimbangan sebab akibat atau disebut pendorong/ penggerak. Pendorong/ penggerak adalah faktor yang menyebabkan perubahan pada penggunaan kegiatan, biaya dan pendapatan. Penelusuran pendorong/ penggerak adalah penggunaan pendorong/ penggerak untuk membebankan biaya-biaya pada obyek biaya. Meskipun kurang tepat dibandingkan penelusuran langsung, namun bila hubungan sebab akibat logis maka tingkat keakuratan yang tinggi dapat diharapkan. Pendorong/ Penggerak Sumber Daya Penelusuran pendorong/ penggerak m,enggunakan dua jenis pendorong/ penggerak untuk menelusuri biaya pada obyek biaya yakni: pendorong/ penggerak sumber daya dan pendorong/ penggerak kegiatan. Pendorong sumber daya mengukur permintaan akan sumber daya oleh kegiatan dan digunakan untuk membebankan biaya sumber daya pada kegiatan. Misalnya kegiatan memelihara mesin. Kegiatan ini mengkonsumsi sumber daya seperti onderdil, peralatan, listrik tenag kerja dll. Biaya peralatan mungkin dapat ditelusuri secara langsung pada kegiatan memelihara. Namun biaya listrik dan tenaga kerja mungkin tidak dapat ditelusuri secara langsung Pendorong Kegiatan. Pendorong kegiatan mengukur permintaan akan kegiatan menurut

obyek biaya dan digunakan untuk membebankan biaya kegiatan pada obyek biaya. Misalnya untuk membebankan biaya kegiatan pemeliharaan pada obyek biaya departemen produksi dapat menggunakan jumlah jam pemeliharaan. Jika biaya untuk melakukan kegiatan pemeliharaan adalah Rp2.000,- per jam pemeliharaan dan departemen produksi menggunakan 100 jam pemeliharaan untuk memelihara mesin-mesin produksinya biaya kegiatan pemeliharaan yang dibebankan ke departemen produksi adalah sebesar 100 jam x Rp2.000,- = Rp.200.000,-

Penelusuran pendorong/ penggerak merupakan kunci dari pendekatanpembebanan biaya yang dikenal dengan Perhitungan Harga Pokok Berdasarkan Kegiatan. Perhitungan Harga Pokok Berdasar Kegiatan membebankan biaya pada obyek biaya dengan penelusuran biaya, pertama, pada kegiatan dan kemudian penelusuran biaya pada obyek biaya.

Alokasi Biaya Biaya tidak langsung tidak dapat ditelusuri ke obyek biaya karena tidak ada hubungan penyebab antara biaya dan obyek biaya. Pembebanan biaya tidak langsung ke obyek biaya disebut Alokasi Biaya. Karena tidak ada hubungan penyebab antara biaya dan obyek biaya maka pengalokasian biaya tidak langsung didasarkan hubungan dekat atau beberapa asumsi. Misalnya biaya penerangan untuk dua produk pisang goreng dan tempe goreng. Untuk melhat hubungan penyebab jelas sulit maka untuk mengalokasikan biaya dilakukan dengan proporsi terhadap penggunaan jam tenaga kerja langsung yang digunakan untuk setiap produk.. Pengalokasian

biaya tidak langsung yang dilakukan secara acak akan mengurangi keakuratan secara keseluruhan dari pembebanan biaya. Yang terbaik mungkin hanya mebebankan biaya tidak langsung yang dapat ditelusuri pada obyek biaya. Namun untuk kepentingan pelaporan eksternal alokasi biaya tidak langsung pada obyek biaya perlu dilakukan. Hubungan antara Metode Penelusuran Langsung dan Penelusuran Pendorong/ Penggerak dan Alokasi Biaya dengan pembebanan pada obyek biaya dapat digambarkan sebagai berikut:

Biaya Produk Berwujud Dan Jasa


Hendra Poerwanto www.hendrakia.web.id Terima kasih telah bersedia mencantumkan alamat web ini sebagai link pada sumber bacaan/ referensi

Keluaran organisasi setidaknya ada satu dari dua jenis yang mewakili obyek biaya, yakni produk berwujud dan jasa. Produk berwujud adalah barang yang diproduksi dengan mengubah bahan baku melalui penggunaan bahan, tenaga kerja dan masukan lain. Organisasi yang memproduksi produk berwujud disebut organisasi pemanufakturan. Jasa adalah tugas atau kegiatan yang dilakukan untuk pelanggan atau kegiatan yang dilakukan pelanggan dengan menggunakan produk atau fasilitas organisasi. Jasa juga diproduksi dengan menggunakan bahan baku, tenaga kerja dan masukan lain. Organisasi yang memproduksi barang tak berwujud disebut organisasi jasa. Ada tiga dimensi perbedaan antara produk berwujud dan jasa, yakni:

1. Tidak berwujud artinya bahwa pembeli jasa tidak dapat melihat, merasakan, mendengar, atau mencicipi jasa sebelum dibeli. Hal sebaliknya adalah produk berwujud. 2. Tidak tahan lama. Tidak tahan lama berarti bahwa jasa tidak dapat disimpan. 3. Tidak terpisahkan. Artinya, produsen jasa dan pembeli jasa biasanya harus berada dalam hubungan langsung agar terjadi pertukaran. Akibatnya jasa sering kali tidak dapat dipisahkan dari produsennya Berikut aspek Barang dan Jasa dalam kaitannya dengan manajemen biaya.

Baik organisasi yang memproduksi produk berwujud maupun yang tidak berwujud berkepentingan untuk mengetahui berapa biaya produk per unit untuk sejumlah kepentingan misalnya penetapan harga, desain produk dll.

Biaya Produk Biaya produk adalah pembebanan biaya yang memenuhi tujuan manajerial yang telah ditetapkan. Dengan demikian biaya produk bergantung pada tujuan manajerial yang hendak dicapai. Artinya biaya yang berbeda untuk tujuan yang berbeda. Misalnya metode pembebanan biaya alokasi untuk tujuan pelaporan keuangan, sedang metode penelusuran langsung dan penelusuran pendorong/ penggerak ditujukan untuk menyediakan pembebanan biaya produk individu yang akurat yang diperlukan untuk perencanaan manajerial dan pengambilan keputusan. Yang perlu diingat adalah bahwa penggunaan perhitungan harga pokok yang lebih banyak dari

yang diperlukan akan dapat menimbulkan kebingungan terutama bagi manajer non-keuangan dan dapat mengurangi kredibilitas sistem informasi manajemen biaya.

Biaya Produksi dan Biaya Non Produksi Salah satu tujuan utama sistem manajemen biaya adalah perhitungan harga pokok produk untuk kepentingan pelaporan keuangan eksternal. Oleh karenanya, kesepakatan eksternal mengharuskan biaya diklasifikasikan berdasarkan funsionalnya yakni biaya produksi dan biaya non produksi. Biaya produksi adalah biaya yang berhubungan dengan produksi barang atau penyediaan jasa. Biaya non produksi adaklah biaya yang berhubungan dengan fungsi penjualan dan administrasi. Untuk produksi barang berwujud, biaya produksi dan biaya non produksi sering mengacu pada istilah biaya manufaktur dan biaya non manufaktur.. Biaya produksi selanjutnya diklasifikasikan menjadi tiga elemen yakni biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Tiga elemen biaya tersebut lah yang dapat dibebankan pada produk untuk kepentingan laporan keuangan eksternal. Biaya Bahan Baku Langsung Biaya Bahan Baku Langsung adalah biaya bahan baku yang dapat ditelusuri pada barang dan jasa yang dihasilkan. Biaya dari bahan-bahan kategori ini dapat secara langsung dikenakan pada produk karena pengamatan secara fisik dapat digunakan untuk mengukur jumlah yang dikonsumsi oleh tiap produk.. Contoh Bahan baku langsung antara lain. Tepung terigu pada roti, pisang pada pisang goreng. Kain kafan untuk jasa penguburan, kawat untuk koreksi gigi, dll. Biaya Tenaga Kerja Langsung Biaya tenaga kerja langsung adalah biaya tenaga kerja yang dapat ditelusuri pada barang atau penyediaan jasa yang dihasilkan. Pengamatan fisik dapat digunakan untuk mengukur jumlah tenaga kerja yang digunakan untuk memproduksi barang berwujud atau penyediaan jasa.. Contoh dari tenaga kerja langsung ini misalnya, juru masak pada rumah makan, juru parkir pada pelayanan parkir, teller pada bank, sopir pada transjogja dll. Biaya Overhead.

Biaya Overhead adalah semua biaya produksi selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Banyak masukan yang diperlukan untuk memproduksi barang atau penyediaan jasa selain bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung, misalnya depresiasi gedung pabrik, depresiasi mesin pengolah, listrik, keamanan pabrik, dan lain-lain perlengkapan. Perlengkapan di sini adalah bahan baku yang diperlukan untuk produksi tetapi tidak menjadi bagian dari produk jadi atau tidak digunakan dalam penyediaan jasa. Misalnya sabun cuci peiring pada rumah makan, minyak pelumas mesin produksi pada perusahaan tekstil, dll. Bahan baku langsung yang hanya membentuk bagian yang tidak signifikan pada produk akhir juga dimasukkan dalam kategori biaya overhead. Hal ini dibenarkan karena biaya penelusuran yang dilakukan dianggap akan lebih besar dari manfaat peningkatan akurasi. Misalnya Lem pada produksi sepatu. Sama halnya, biaya lembur tenaga kerja langsung umumnya juga diklasifikasikan ke dalam biaya overhead. Alasannya karena sulit untuk menelusuri produksi berjalan tertentu yang diidentifikasi sebagai akibat dari lembur.. Perlu diingat dari komponen biaya tenaga kerja langsung, hanya biaya lembur yang dikategorikan dalam biaya overhead. Biaya Penjualan dan Administrasi Biaya Penjualan adalah biaya-biaya yang diperlukan untuk memasarkan dan mendistribusikan barang atau ajasa. Biaya tersebut sering mengacu pada biaya mendapatkan pesanan/ pelanggan dan memenuhi pesanan/ pelanggan. Misalnya gaji tenaga penjual, iklan, pergudangan, pelayanan, pengiriman dll. Biaya Administrasi adalah semua biaya yang berhubungan dengan administrasi umum organisasi yang tidak dapat diestimasi secara tepat baik untuk pemasaran ataupun produksi. Contoh biaya administrasi adalah gaji manajemen puncak, biaya administrasi, pencetakan laporan tahunan, akuntansi umum, penelitian dan pengembangan dll. Biaya Penjualan/ pemasaran dan Administrasi adalah biaya yang tidak dapat disimpan atau disebut biaya periode. Biaya periode yang tidak dapat disimpan dibebankan pada periode dimana biaya tersebut terjadi. Oleh karena itu tidak satupun dari biaya ini tampak sebagai persediaan yang dilaporkan pada nareca. Biaya Utama dan Konversi Biaya utama adalah penjumlahan biaya bahan baku langsung dan biaya tenaga kerja langsung. Sedang biaya konversi adalah penjumlahan biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Untuk perusahaan manufaktur biaya konversi diartikan sebagai biaya mengubah bahan baku menjadi produk akhir.

Klasifikasi biaya berdasarkan fungsinya adalah klasifikasi yang diperlukan untuk membuat laporan eksternal. Dalam menyiapkan laporan, biaya dipisahkan ke dalam biaya produksi dan biaya penjualan/ administrasi. Hal ini dikarenakan biaya produksi dianggap sebagai biaya produk dan diakui sebagai beban dalam laporan laba rugi bila produk tersebut terjual dan yang melekat pada produk yang tidak terjual dilaporkan sebagai persediaan di neraca. Biaya penjualan dan administrasi dianggap sebagai bagian dari periode tersebut dan oleh karenanya dianggap sebagai biaya periode dan harus dikurangkan pada setiap periode sebagai beban sehingga tidak muncul pada neraca. Harga Pokok Produksi Harga pokok produksi mewakili jumlah biaya barang yang diselesaikan pada periode tersebut. Satu-satunya biaya yang diberikan pada barang yang diselesikan adalah biaya produksi dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya lain-lain. Rinciannya dilaporkan dalam laporan Harga Pokok Produksi. Berikut contoh laporan harga pokok produksi untuk perusahaan manufaktur:

Harga Pokok Penjualan Harga pokok penjualan adalah biaya dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan biaya lain-lain yang terkait dengan unit penjualan. Untuk dapat menghitung harga pokok penjualan harus dihitung lebih dulu harga pokok produksi. Barang Dalam Proses Barang dalam proses merupakan barang setengah jadi yang terdapat pada produksi pada saat tertentu. Persediaan awal barang dalam proses terdiri dari barang setengah jadi yang dimiliki pada awal periode. Biaya persediaan awal barang dalam proses mewakili biaya biaya produksi yang dibwa dari periode sebelumnya. Biaya tambahan diperlukan untuk menyelesaikan barang dalam proses tersebut pada periode berjalan. Persediaan akhir barang dalam proses merupakan jumlah barang setengah jadi yang dimiliki pada akhir periode. Biaya persediaan akhir barang dalam proses adalah biaya yang mewakili

biaya produksi yang akan dibawa ke periode berikutnya. Dalam hal ini biaya produksi tambahan diperlukan untuk menyelesaikan produk dalam proses tersebut.pada periode berikutnya. Laporan Laba Rugi Perusahaan Manufaktur Laporan Laba Rugi yang didasarkan pada klasifikasi fungsional mengikuti format tradisional. Artinya, Pendapatan dihitung dengan mengikuti klasifikasi fungsional yang mengacu pada perhitungan pendapatan-biaya absorbsi atau perhitungan pendapatan-biaya menyeluruh karena semua biaya produksi seluruhnya dibebankan pada produk. Berdasarkan perhitungan pendapatan-biaya menyeluruh (absorbsi), pengeluaran dipisahkan berdasarkan fungsi dan kemudian dipotongkan pada keuntungan untuk memperoleh penghasilan sebelum pajak. Laporan memuat Ringkasan, harga pokok penjualan dan biaya operasi yang masing-masing dikeluarkan untuk produksi dan non produksi. Contoh Format Laporan Laba Rugi Manufaktur

Laporan Laba Rugi Perusahaan Jasa Pada organisasi jasa, harga pokok penjualan jasa dihitung dengan cara berbeda dengan harga pokok penjualan pada perusahaan manufaktur. Perusahaan jasa tidak memiliki persediaan barang jadi. Dengan demikian harga pokok penjualan jasa akan selalu berhubungan dengan harga pokok produksi. Namun dalam beberapa kasus, perusahaan jasa dimungkinkan untuk memiliki barang dalam proses, misalnya seorang ortodentis bisa saja memiliki sejumlah pasien pada berbagai tahapan proses pemasangan kawat gisi atau seorang desainer memiliki beberapa gambar yang sedang dalam proses pengerjaan. Contoh Format Laporan Laba Rugi Jasa

Hubungan Antara Pendorong/ Penggerak Kegiatan dan Perilaku Biaya


Hendra Poerwanto www.hendrakia.web.id Terima kasih telah bersedia mencantumkan alamat web ini sebagai link pada sumber bacaan/ referensi

Konsep Masukan dan Keluaran Kegiatan Setiap kegiatan memiliki masukan dan keluaran. Masukan kegiatan dalah sumber daya yang dikonsumsi oleh kegiatan dalam menghasilkan keluaran. Masukan kegiatan adalah semua faktor yang memungkinkan kegiatan tersebut dilakukan. Masukan kegiatan setidaknya dapat diklasifikasikan ke dalam empat kategori yakni bahan baku, energi, tenaga kerja dan modal yang digunakan untuk menghasilkan keluaran. Keluaran kegiatan adalah hasil atau produk dari kegiatan. Misalnya kegiatannya adalah memindahkan barang maka keluarannya adalah perpindahan barang. Ukuran Kegiatan Ukuran keluaran kegiatan merupakan ukuran keluaran yang dikuantifikasi denganmemberikan suatu penilaian jumlah waktu kegiatan yang dilakukan. Misalnya dalam hal kegiatan memindah barang maka jumlah perpindahan adalah ukuran keluaran dari kegitatan tersebut. Ukuran keluaran secara efektif merupakan ukuran permintaan yang dilakukan pada kegiatan dan karenanya pula berhubungan dengan pendorong/ penggerak kegiatan. Identifikasi ukuran keluaran kegiatan dilakukan dengan cara mengklasifikasikan kegiatan ke dalam salah satu empat kategori berikut: Tingkat unit, tingkat batch, tingkat produk dan tingkat fasilitas. Klasifikasi ini berguna karena biaya kegiatan berhubungan dengan tingkat tanggapan yang berbeda terhadap jenis pendorong/ penggerak kegiatan yang berbeda. Kegiatan Tingkat Unit Kegiatan tingkat unit adalah kegiatan yang dilakukan setiap kali suatu unit diproduksi atau dibuat. Contoh kegiatan tingkat unit adalah pencucian, pengasahan, pemolesan merupakan kegiatan tingkat unit. Ukuran keluaran dari kegiatan tingkat unit, mengacu pada pendorong tingkat unit misalnya unit produk, jam tenaga kerja langsung atau jam mesin. Kegiatan Tingkat Batch

Kegiatan tingkat batch adalah kegiatan yang dilakukan setiap kali suatu batch barang diproduksi. Biaya kegitan tingkat batch bervariasi terhadap jumlah batch tetapi bersifat tetap dalam kaitannya dengan jumlah unit pada setiap batchnya. Contoh kegiatan tingkat batch diantaranya pemeriksaan, rencana produksi, penanganan bahan baku dll. Ukuran keluaran untuk kegiatan tingkat batch disebut pendorong tingkat batch. Pendorong tingkat batch mungkin saja dapat dalam bentuk jumlah batch, jam pemeriksaan, jumlah pesanan produksi atau jumlahn perpindahan. Kegiatan (Penunjang) Tingkat Produk Kegiatan (penunjang) tingkat produk adalah kegiatan yang dilakukan jika diperlukan untuk mendukung untuk menghasilakn berbagai produk. Kegiatan-kegiatan ini mengkonsumsi masukan untuk membangun produk dan memungkinkan produk untuk diproduksi dan dijual. Kegiatan-kegiatan ini termasuk biayanya cenderung meningkat seiring dengan peningkatan keragaman produk. Misalnya pengembangan prosedur pengujian produk, pemasaran produk, proses pemasaran, perekayasaan produk. Ukuran keluaran kegiatan untuk kegiatan tingkat produk adalah pendorong/ penggerak tingkat produk, seperti permintaan perubahan, jumlah produk, jumlah proses dll. Kegiatan Tingkat Fasilitas. Kegiatan tingkat fasilitas adalah kegiatan yang menunjang proses produksi umum pabrik. Contohnya penyediaan fasilitas, perawatan taman, kebersihan, kemanan pabrik dll. Kegiatan kategori ini sangat sulit menentukan ukuran keluarannya. Yang mungkin dipakai sebagai ukuran misalnya ukuran ruang, luas taman, jumlah tenaga pengaman dll.

Perilaku Biaya Orang perlu memahami perilaku biaya karena perilaku tersebut dapat menjadi informasi yang sangat berguna untuk membantu dalam penganggaran, menunjang usaha perbaikan berkelanjutan, pengambilan keputusan taktis dan perhitungan harga pokok produk. Perilaku biaya dapat diklasifikasikan sebagai 1. biaya tetap, 2. biaya variabel 3. biaya semi variabel.

Hubungan antara Pendorong/ Penggerak Kegiatan dan Perilaku Biaya dapat digambarkan sebagai berikut:

Sistem Manajemen Biaya Tradisional VS Sistem Biaya Kontemporer


Hendra Poerwanto www.hendrakia.web.id Terima kasih telah bersedia mencantumkan alamat web ini sebagai link pada sumber bacaan/ referensi

Sistem manajemen biaya dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok besar yakni sistem manajemen biaya tradisional dan sistem manajemen biaya kontemporer. Kedua sistem manajemen biaya tersebut, semuanya dapat ditemukan dalam praktek. Pada masa lalu dan mungkin sekarang juga masih khususnya di Indonesia, sistem manajemen tradisional banyak dipraktekkan secara luas di banding sistem manajemen biaya tradisional. Namun, di negaranegara maju dimana perusahaan memiliki visi jauh ke depan untuk menghasil produk berkualitas yang sangat beragam, tingkat persaingan tinggi dan perlindungan maupun kesadaran konsumen juga tinggi, mendorong perusahaan menggunakan sistem manajemen biaya kontemporer.. Hal ini karena pada situasi dimana tuntutan keragaman, kompleksitas produk, persyaratan mutu, tekanan persaingan yang tinggi dan daur hidup yang pendek, sistem manajemen biaya tradisional tidak dapat bekerja dengan baik dalam membeikan informasi yang relevan, akurat dan tepat waktu. Sistem manajemen biaya terdiri dari dua subsistem yakni sistem akuntansi biaya dan sistem pengendalian operasional. Dengan demikian bila membahas sistem manajemen biaya maka kedua subsitem tersebut dibahas secara terpisah. Sistem Manajemen Biaya Tradisional Sistem manajemen biaya tradisional terdisi dari subsistem akuntansi biaya tradisional dan subsistem pengendalian operasional tradisional Sistem akuntansi biaya tradisional mengasumsikan bahwa semua biaya diklasifikasikan menjadi tetap dan variabel berkaitan dengan perubahan unit atau volume produk yang dihasilkan. Oleh karena itu pendorong/

penggerak dalam bentuk unit produk atau lainnya seperti jam tenaga kerja langsung atau jam mesin adalah satu-satunya pendorong/ penggerak yang penting. Sistem biaya yang menggunakan pendorong/ penggerak berdasarkan unit atau volume dalam membebankan biaya pada obyek biaya disebut sistem biaya tradisional. Oleh karena unit produk/ volume produksi bukan satusatunya pendorong/ penggerak yang menjelaskan penyebab maka kegiatan pembebanan biaya produk diklasifikasikan sebagai alokasi. Dan karena banyak alokasi yang harus dilakukan maka sistem tradsional ini sering disebut sistem padat alokasi. Tujuan perhitungan harga pokok dari sistem akuntansi biaya tradisional adalah untuk maksud pelaporan eksternal dan tujuan ini dipenuhi dengan pembebanan biaya produksi pada persediaan dan harga pokok penjualan. Sistem pengendalian operasi tradisional membebankan biaya pada unit organisasi dan membuat manajer unit bertanggung jawab atas pengendalian biaya yang dibebankan kepadanya. Kinerja diukur dengan membandingkan hasil aktual dengan standard atau anggaran hasil dan lebih menekankan pada ukuran keuangan daripada ukuran non keuangan.. Manajer diberi penghargaan berdasarkan kemampuannya mengendalikan biaya. Jadi sistm tradisional menelusuri biaya pada individu yang bertanggung jawab atas timbulnya biaya. Dan digunakan untuk memotivasi individu untuk mengndalikan biaya. Pendekatan ini mengasumsikan bahwa kinerja organisasi secara keseluruhan dicapai dengan memaksimalkan kinerja subunit organisasi individu dengan mengacu pada pusat pertanggungjawaban. Sistem Manajemen Biaya Kontemporer Tujuan keseluruhan dari sistem manajemen biaya kontemporer adalah untuk meningkatkan mutu, isi, relevansi dan ketepatan waktu informasi biaya. Tujuan manajerial akan lebih banyak dapat dipenuhi dengan penggunaan sistem manajemen biaya kontemporer. Sistem akuntansi biaya kontemporer menenkankan pada penelusuran dibanding alokasi. Pernanan pendoron/ penggerak diperluas dengan mengidentifikasi pendorong/ penggerak yang tidak berhubungan dengan volume produk yang diproduksi. Penggunaan pendorong/ pengerak unit dan non unit meningkatkan keakuratan pembebanan biaya, mutu dan relevansi informasi secara keseluruhan.. Sistem akuntansi yang menggunakan pendorong/ penggerak unit dan non unit untuk membebankan biaya ke obyek biaya disebut sistem biaya berdasarkan kegiatan. Contoh misalnya kegiatan memindahkanbarang bahan baku dan barang setengah jadi dari suatu lokasi ke lkasi lain dalam satu pabrik merupakan ukuran yang lebih baik untuk mengukur kegiatan memindahkan barang daripada menggunakan ukuran unit yang diproduksi.

Perhitungan harga pokok produk pada sistem manajemen biaya kontemporer cenderung fleksibel untuk berbagai tujuan manajerial termasuk untuk kepentingan pelaporan eksternal. Perhitungan harga pokok produk lebih menekankan pada perencanaan , pengendalian dan pengambilan keputusan yang lebih baik. Pengendalian biaya kontemporer sangat berbeda dengan sistem tradisional.. Pada sistem tradisional tekanannya adalah pada manajemen biaya, sementara pada sistem kontemporer tekanannya adalah manajemen kegiatan dan manajemen kegiatan bukan lah biaya. Inti jantung sistem pengendalian operasional kontemporer adalah manajemen berdasarkan kegiatan. Manajemen berdasarkan kegiatan memfokuskan pada manajemen kegiatan dengan tujuan meningkatkan nilai yang diterima oleh pelanggan dan laba yang diterima dengan menyediakan seperangkat nilai tersebut. Manajemen berdasarkan kegiatan mencakup analisis pendorong, analisis kegiatan dan evaluasi kinerja. Pendekatan manajemen berdasarkan kegiatan memfokuskan pada pertangungjawaban kegiatan dibanding biaya, menekankan maksimisasi kinerja sistem dibandingkan kinerja individu. Kegiatan yang melintasi fungsi, lini departemen berfokus pada sistem dan membutuhkan pendekatan global untuk pengendaliannya. Sistem pengendalian kontemporer berpandangan bahwa memaksimumkan efisiensi subunit individu tidak selalu berarti mengarah pada efisiensi maksimum sistem secara keseluruhan. Dengan demikian pada sistem kontemporer baik ukuran kinerja keuangan dan non keuangan adalah sama pentingnya. Pilihan Sistem Manajemen Biaya Untuk memutuskan apakah menerapkan sistem manajemen biaya kontemporer atau

tradisional, manajer harus menilai trade off anatara pengukuran biaya dan biaya kesalahan. Biaya pengukuran adalah biaya yang berhubungan dengan kegiatan pengukuran yang diperlukan oleh sistem manajemen biaya. Biaya kesalahan adalah biaya yang berhubungan dengan pengambilan keutusan yang buruk yang didasarkan pada informasi biaya yang tidak akurat karena sistem informasi biaya yang buruk. Perusahaan manufaktur maupun perusahaan jasa, keduanya sangat berkepentingan terhadap informasi biaya per unit. Bagi perusahaan manufaktur, biaya per unit penting untuk penilaian persediaan, penentuan laba, dan pengambilan sejumlah keputusan penting seperti apakah akan membuat atau membeli produk, menerima atau menolak suatu pesanan khusus, atau mempertahankan atau menghentikan suatu lini produk. Kesemuanya memerlukan informasi biaya produk per unit. Biaya per unit juga merupakan hal penting untuk perusahaan jasa, karena perusahaan jasa harus mengidentifikasi unit jasa yang disediakan. Misalnya pada bengkel sepeda motor, unit jasa berupa pekerjaan yang dilakukan pada motor pelanggan secara individu diantaranya servis ringan, ganti oli, turun mesin atau yang lain. Atas setiap pekerjaan harus dibebankan secara individual pada masing-masing pekerjaan.. Perusahaan jasa juga menggunakan informasi biaya per unit untuk menentukan profitabilitas, kelayakan untuk menawarkan layanan baru, membuat keputusan harga dan lain-lain. Perusahaan jasa nirlaba harus melacak biaya-biaya untuk memastikan bahwa mereka memberikan jasa dengan biaya yang efisien. Secara konseptual, penghitungan biaya per unit produk adalah sederhana. Biaya per unit adalah total biaya berkaitan dengan unit yang diproduksi dibagi dengan jumlah unit yang diproduksi. Walaupun secara konsep kelihatan relatif mudah dan sederhana, namun dalam praktek sesungguhnya dapat menjadi lebih rumit dan kompleks. Ada banyak pertanyaan yang akan muncul dalam praktek yang menuntut jawaban semisal apa yang dimaksud dengan biaya total? Apakah hanya terdiri dari biaya produksi saja? Atau biaya produksi ditambah biaya pemasaran? Atau semua biaya organisasi? Bagaimana mengukur biaya-biaya yang dibebankan? Apakah menggunakan biaya yang diestimasi atau menggunakan biaya yang sesungguhnya terjadi? Bagaimana biaya-biaya tersebut dikaitkan dengan produk yang dihasilkan terutama bila produk yang dihasilkan adalah beragam? Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan yang muncul dalam praktek perlu diberikan dan ini bergantung bagaimana biaya produk didefinisikan, dan definisi yang digunakan akan bergantung pada kepentingan tujuan manjerial yang ingin dipenuhi. Semisal, untuk kepentingan laporan eksternal, atau penetapan harga, maka biaya produk didefinisikan sebagai biaya produksi yang terdiri dari komponen biaya bahan baku langsung, biaya tenaga kerja langsung dan biaya overhead. Untuk kepentingan menentukan jumlah nilai moneter dari bahan baku langsung, tenaga kerja langsung dan overhead diperlukan pengukuran biaya. Untuk kepentingan pengendalian biaya, maka nilai estimasi dapat digunakan sebagai elemen agar informasi biaya tepat waktu. Pendek kata, untuk mnghasilkan informasi biaya per unit dibutuhkan definisi biaya produk, pengukuran dan pembebanan. Pengukuran Biaya

Terdapat dua cara yang umum digunakan untuk mengukur biaya yang berhubungan dengan biaya produksi yakni 1. Kalkulasi biaya aktual yang mengharuskan perusahaan menggunakan biaya aktual adari seluruh sumberdaya yang digunakan dalam produksi untuk menentukan biaya per unit.

2. Kakulasi biaya normal yang mengharuskan perusahaan membebankan biaya aktual bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung kepada unit yang diproduksi, sedang biaya overhead dibebankan berdasarkan estimasi yang ditentukan terlebih dulu. Dalam praktek kalkulasi biaya normal paling sering digunakan.

Kalkulasi Biaya Produk Sebagaimana telah disinggung pada topik Konsep Biaya bahwa sistem akuntansi biaya dibagi menjadi dua kelompok yakni tradisional dan kontemporer. Sistem tradisional menggunakan definisi biaya produk tradisional dan hanya menggunakan pendorong kegiatan berdasarkan unit-unit untuk membebankan biaya overhead pada produk. Sedang sitem kontemporer memungkinkan digunakannya berbagai jenis pendorong/ penggerak kegiatan dalam membebankan biaya overhead pada produk.

Kalkulasi Biaya/ Harga Pokok Produksi Tradisional


Hendra Poerwanto www.hendrakia.web.id Terima kasih atas kesediaan mencantumkan alamat web ini sebagai sumber bacaan/ referensi Anda.

Dalam hal perhitungan harga pokok produksi sistem tradisional, pembebanan biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung pada produk tidak memiliki kelemahan berarti. Biayabiaya tersebut telah dibebankan secara akurat dengan menggunakan penelusuran langsung atau penelusuran pendorong/ penggerak yang juga akurat. Masalah muncul pada saat pembebanan biaya overhead yang memiliki karakteristik berbeda dengan biaya bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung. Hubungan masukan keluaran yang secara fisik dapat diamati seperti pada bahan baku langsung dan tenaga kerja langsung, tidak tersedia pada biaya overhead. Oleh karenanya, pembebanan biaya overhead haruslah bergantung pada penelusuran pendorong/

penggerak (dan bisa saja alokasi), namun pada sistem tradisional pembebanan biaya overhead dilakukan hanya dengan menggunakan pendorong/ penggerak kegiatan tingkat unit. Hanya dengan menggunakan pendorong kegiatan berdasarkan unit untuk membebankan biaya overhead pada produk, berarti sistem tradisional mengasumsikan bahwa biaya overhead yang dikonsumsi oleh produk sangat terkait dengan jumlah unit yang diproduksi dan diukur dalam kaitannya dengan faktor-faktor seperti jam tenaga kerja langsung, jam mesin atau biaya bahan baku. Pendorong/ penggerak aktivitas berdasarkan unit membebankan overhead kepada produk melalui penggunaan tarif pabrik secara menyeluruh atau departemental. Tarif Pabrik Menyeluruh. Tarif pabrik adalah tarif dimana biaya overhead terlebih dulu diakumulasikan pada satu kelompok pabrik yang besar Proses pembebanan menyangkup dua tahap. Pada tarif pabrik, tahap pertama, pabrik sebagai obyek biaya dengan penelusuran langsung dilakukan penghitungan akumulasi semua biaya overhead yang diharapkan terjadi di pabrik selama satu tahun. dan selanjutnya menghitung tarif pabrik dengan menggunakan pendorong tunggal yang umumnya adalah jam tenaga kerja langsung. Dalam hal ini produk diasumsikan mengkonsumsi sumber daya overhead sebanding dengan penggunaan jam tenaga kerja langsung. Oleh karena itu pula, pada tahap kedua, biaya overhead dibebankan pada produk dengan mengalikan tarif dengan jam tenaga kerja langsung yang sesungguhnya digunakan oleh tiap produk

Dimisalkan sebuah perusahaan memiliki data estimasi dan data aktual sebagai berikut:

Overhead yang dianggarkan 360.000 Aktivitas yang diharapkan (dalam JTKL) 100.000 Aktivitas aktual (dalam JTKL) 100.000 Overhead aktual 380.000

diasumsikan perusahaan mendasarkan tarif overhead yang ditentukan terlebih dulu pada aktivitas produksi yang diharap yang diukur dalam JTKL, maka Tarif Departemental Tarif departemen adalah tarif dimana biaya dibebankan pada masing-masing departemen produksi dengan menciptakan kelompok biaya overhead departemen. Seperti halnya pada tarif pabrik menyeluruh, proses pembebanan biaya teridiri dari dua tahap. Pertama, biaya overhead pabrik menyeluruh dibagi-agi dan dibebankan ke masing-masing departemen produksi dan menciptakan kelompok biaya overhead departemental. Pada tahap pertama ini, departemen

adalah obyek biaya dan biaya overhead dibebankan dengan menggunakan penelusuran langsung, penelusuran penggerak dan alokasi. Beberapa biaya overhead dibebankan dengan hubungan yang diasumsikan (alokasi). Setelah biaya dibebakan ke departemen produksi, selanjutnya penggerak berdasarkan unit seperti jam tenaga kerja langsung untuk departemen dengan penggunaan tenaga kerja langsung yang intensif, atau jam mesin untuk departemen dengan penggunaan mesin yang intensif, digunakan untuk menghitung tarif departemen. Produk yang prosesnya melewati departemen tertentu diasumsikan menghabiskan sumber daya sesuai proporsi penggerak berdasarkan unit yang digunakan di departemen tersebut. Oleh sebab itu, pada tahap kedua, overhead dibebankan ke produk dengan mengalikan tarif departemen dengan jumlah penggerak yang digunakan departemen yang bersangkutan. Total overhead yang dibebankan ke produk adalah jumlah nilai overhead yang diterima (alokasi) setiap departemen. Dasar pemikiran tarif departemen adalah sederhana yakni beberapa departemen produksi mungkin lebih overhead intensif dibanding departemen produksi lainnya. Oleh sebab itu produk yang menghabiskan waktu lebih banyak pada departemen dengan intensif overhead akan dibebankan biaya overhead yang lebih besar dari pada yang menghabiskan waktu lebih sedikit. Tarif departemen mempertimbangkan hal seperti itu, sedang tarif pabrik menyeluruh tidak mempertimbangkannya karena menggunakan perhitungan rata-rata. Keterbatasan Sistim Tradisional Keterbatasan sistem manajemen biaya tradisional antara lain menyangkut 1. Ketidak cukupan tarif pabrik dan departemen.

Meski tarif pabrik dan departemen telah lama dikenal dan digunakan , namun pada beberapa situasi tarif tersebut tidak berfungsi dengan baik dan menimbulkan biaya produk yang terdistorsi (tidak tepat). Distorsi biaya ini memiliki dampak yang sangat berbahaya terutama untuk lingkungan pemanufakturan tingkat tinggi. Lingkungan pemanufakturan tingkat tinggi bercirikan: persaingan yang ketat perbaikan berkeanjutan, manajemen mutu terpadu, kepuasan pelanggan terpadu, dan teknologi mutakhir

Penggunaan tarif pabrik atau tarif departmen mengasumsikan bahwa produk mengkonsumsi sumber daya overhead dimana seluruh konsumsi tersebut berkaitan dengan unit yang diproduksi. Namun dalam kenyataannya terdapat kegiatan overhead yang tidak terkait dengan jumlah unit yang diproduksi. Misalnya, suatu batch dapat terdiri dari 1.000 atau 10.000 unit dan biaya penyetelannya sama. Namun semakin sering penyetelan dilakukan maka biaya penyetelan akan meningkat. Dari contoh ini dapat dilihat bahwa biaya penyetelan tidak terkait dengan jumlah unit yang diproduksi. Jadi Yang menjadi penyebab biaya penyetelan adalah jumlah penyetelan dan bukan jumlah unit yang diproduksi. Dengan demikian hanya dengan menggunakan pendorong kegiatan berdasarkan unit dalam

membebankan biaya overhead yang terkait dengan non unit, maka akan menimbulkan distorsi. Besarnya distrosi akan bergantung pada berapa proporsi dari keseluruhan biaya overhead yang diwakili oleh biaya berdasarkan non unit. Jika biaya oerhead berdasarkan non unit hanya merupakan persenatase yang kecil dari keseluruhan biaya overhead, maka distorsi biaya produk akan cukup kecil. Distorsi yang relatif kecil dapat menjadi alasan penggunaaan satu pendorong kegiatan berdasar unit untuk pembebanan biaya overhead saja masih bisa diterima.

2. Keragaman Produk Keragaman produk yang dibuat cenderung memberikan pendorong untuk digunakannya sistem kontemporer dalam pembebanan biaya. Namun keragaman produk hanya akan menjadi pemicu digunakannya sistem kontemporer bila kegiatan overhead produk yang dikonsumsi berbeda beda dalam proporsi untuk setiap produk. Sebagai contoh, perbedaan ukuran,kompleksitas produk, waktu penyetelan, ukuran batch meupakan hal-hal yang dapat mengakibatkan produk mengkonsumsi overhead pada jumlah yang berbeda. Apapun sifat keragaman produk, biaya produk akan terdistorsi jika jumlah biaya overhead berdasarakan unit dikonsumsi produk tidak bervariasi dalam perbandingan langsung dengan jumlah biaya overhead non unit yang dikonsumsi.