Anda di halaman 1dari 7

Diktat Kuliah Inventory Control

BAB VIII MODEL EOQ DENGAN PRICE BREAK

Model ini menggambarkan adanya Discount apabila pembelian dilakukan dalam partai besar. Artinya harga satuan Barang akan lebih murah apabila pembelian dilakukan dalam jumlah yang lebih besar. Keuntungan dari cara ini adalah : 1. 2. 3. Harga satuan lebih murah kemungkinan terjadi stock out sangat kecil Biaya angkutan lebih murah

Notasi yang digunakan dalam Model ini adalah sebagai berikut : K1 = harga satuan P = holding Cost Cs = Ordering Cost D = kebutuhan selama satu perioda Q = jumlah pesanan tiap awal putaran produksi

Komposisi Biaya pada Model ini terdiri atas : 1. 2. 3. Ordering Cost untuk satu putaran produksi = Cs Harga Pembelian sejumlah Q unit = Q.K1 Holding Cost dihubungkan dengan pemesanan =

1 t.P.Cs 2 1 Q.t.K1.P 2

4.

Holding Cost dihubungkan dengan pembelian =

Dengan demikian Jumlah Ongkos Rata-rata Optimalnya adalah :

JOR =

2.D. 1.Cs.P

+ D.K1 +

Cs.P 2

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

( 8-1 )

halaman 36

Diktat Kuliah Inventory Control


Serta Jumlah Pesanan Optimumnya adalah :

Q0 !

2 . .Cs K1. P

8.1 MODEL PERSEDIAAN DENGAN SATU PRICE BREAK

Pada Model ini terjadi satu kali Discount Price ( Price Break ) Situasi Model ini dapat disajikan dalam Tabel berikut : Tabel 8-1 : Model Persediaan dengan Satu Price Break RANGE D1 D2 BANYAKNYA HARGA SATUAN K11 K12 HOLDING COST P1 P2

Dimana B merupakan Batas pembelian dengan satu Price Break Untuk pembelian sejumlah Q1 unit dalam Range D1 , maka

( JOR ) 1 =

. Cs Q1. K 11. P1 Cs . P1   . K 11  Q1 2 2

Untuk pembelian sejumlah Q 2 dalam Range D 2 , maka

( JOR ) 2 =
Dimana :

K 11 > K 12 dan

P 1 > P2 terdapat

Apabila { Q 1 } 0 merupakan Nilai Optimal dari Q 1 sehingga

{ JOR 1} 0 = min { JOR } 1 dan { Q 2 } 0 merupakan Nilai Optimal dari Q2 , sehingga terdapat { JOR 2 } 0 = min { JOR } 2 , maka untuk menentukan

Keputusan apakah setuju dengan Price Break atau tidak cukup membandingkan Nilai { JOR 1} 0 dengan { JOR 2 } 0 . Apabila nilai { JOR 1} 0 < { JOR 2 } 0 , maka Tidak Perlu menerima

Price Break. Tetapi apabila { JOR 2 } 0 < { JOR 1} 0 , maka tawaran Discount Price diterima.

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

D . Cs Q2

Q 2 . K 12 . P 2 2

( 8-2 )

1 e Q1

Q2 u B

( 8-3 )

D . 12

Cs . P 2 2

( 8-4 )

halaman 37

Diktat Kuliah Inventory Control


Contoh : Sebuah tersebut Perusahaan sudah membutuhkan dan 2.400 ton Bahan Baku setiap tahun. Kebutuhan

tetap

dapat diprediksi sebelumnya. Perusahaan tersebut ditawari

Quantity Discount yantu berupa penurunan harga untuk pembelian seperti dinyatakan dalam Tabel berikut ini :

RANGE D1 D2

BANYAKNYA 1 e Q 1 500 Q2 u 500

HARGA SATUAN 10.000 9.250

HOLDING COST 0,24 0,20

Sebagai tambahan Biaya pemesanan ( Ordering Cost ) = Rp 350.000,00 Ternasuk Ongkos Penawaran dan Lain-lain. Tentukan Jumlah Pesanan Optimal dan JOR Optimal
Pertama kita hitung { Q 2 )
0

sebagai berikut :

{Q2}0 =

2 (2400)(350000) = 952 Unit (9250)(0,20)

Price Break terjadi pada B = 500 unit sehingga { Q 2 ) > B Dengan demikian Pesanan Optimal adalah { Q 2 ) = 952 Unit. Selanjutnya apabila diketahui bahwa Ordering Cost ( Cs ) = Rp 80.000,00 Maka Nilai { Q 2 ) adalah sebagai berikut :

{Q2) =

2 (2400)(80000) (9250)(0,20)

= 456 Unit

ternyata { Q 2 ) < B = 500 , karena itu kita harus menghitung { Q 1 )

{Q1) =

2 (2400)(80000) = 400 Unit (10000)(0,24)

Sekarang bandingkan JOR pada saat Q = 400 Unit dan JOR pada saat Q = 456 Unit. Tetapi kartena { Q 2 )
0

= 456 < 500 = B , maka JOR pada saat Q = 400 Unit harus

dibandingkan dengan JOR pada saat Q = 500 Unit.

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

halaman 38

Diktat Kuliah Inventory Control


JOR { Q = 400 } = Rp 24.969.600,00 sedangkan JOR { Q = 500 } = Rp 23.054.500,00 Ternyata JOR { B = 500 } < JOR { Q 1 = 400 } sehingga Pesanan Optimal adalah Q 0 = B = 500 Unit.

8.2 MODEL PERSEDIAAN DENGAN DUA PRICE BREAK


Pada Model ini terdapat dua quantity discounts atau Double Price Break Situasi Double Price Break dapat dijelaskan sebagai berikut : RANGE D1 D2 D3 BANYAKNYA HARGA SATUAN K11 K12 K13 HOLDING COST P1 P2 P3 ORDERING COST CS1 CS2 CS3

1 e Q1 < B1 B1 e Q2 < B2 Q3 u B2

Dimana Price Break terjadi pada Q = B1 , dan Q = B2 serta Cs1 < Cs2 < Cs3 Langkah-langkah Perhitungan

1. Hitung Q3

Apabila Q3 u B2 , maka pembelian Optimum adalah Q o = Q3

2. Apabila Q3 < B2 , maka hitunglah Q2 Karena Q3 < B2 , maka Q2 < B2 atau B1 < Q2 < B2 Apabila Q3 < B2 dan B1 < Q2 < B2 , maka Bandingkan JOR ( Q2 ) dan JOR ( B2 ). 1. Apabila Q3 < B2 dan Q2 < B1 , maka hitunglah Q1 Dalam hal ini Q1 < B1 , selanjutnya Bandingkan : JOR ( Q1 ) dengan JOR ( B1 ) dan JOR ( B2 )

Pilihlah Q Optimum pada saat Biaya paling Kecil.

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

halaman 39

Diktat Kuliah Inventory Control Contoh : Tentukan Tingkat Pembelian Optimum apabila kebutuhan per Tahun 2400 unit dan Harga Pembelian diberikan Double Discount sebagai berikut :
RANGE BANYAKNYA
1 e Q1 < 500 500 e Q2 < 750 Q 3 u 750

HARGA SATUAN

HOLDING COST

ORDERING COST

D1 D2 D3

10 9 8

0,24 0,24 0,24

350 320 300

Langkah Perhitungan :
1. Menghitung Q3 Q3 =

2 D Cs3 = K13. P3

2(2400)(300) = 850 (8)(0,24)

Ternyata Q3 > B2 , karenanya Q Optimum Qo = Q3 = 850

Contoh :
Tentukan Tingkat Pembelian Optimum apabila Kebutuhan per Tahun 2400 unit dan Harga Pembelian diberikan Double Discount sebagai berikut :

RANGE

BANYAKNYA
1 e Q1 < 500 500 e Q2 < 750 Q 3 u 750

HARGA SATUAN
10 9 8

HOLDING COST
0,24 0,24 0,24

ORDERING COST
90 85 80

D1 D2 D3

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

halaman 40

Diktat Kuliah Inventory Control Langkah Perhitungan :


1. Menghitung Q3 Q3 =

2 D Cs3 = K13. P3

2 (2400) (80) = 447 (8) (0,24)

Ternyata Q3 < B2 , maka lanjutkan ke langkah 2 2. Menghitung Q2 Q2 =

2 D Cs = K 12 . P2

2 (2400 ) (85) = 436 (9) (0,24)

Ternyata Q2 < B1 , maka lanjutkan Ke langkah 3

3. Menghitung Q1 Q1 =

2 D Cs = K 11. P1

2 (2400 ) (90) = 420 (10) (0,24)

Bandingkan JOR ( Q1 ) dengan JOR ( B1 ) dan JOR ( B2 )

JOR ( Q1 ) =

JOR (420 ) =

(90) (0, 24) ( 2400 ) (90) ( 420 ).(10).(0, 24) = 25.018,8   ( 2400 ) (10)  2 420 2 DCs 2 B1.K12.P 2   B1 2 Cs 2.P 2 2

JOR ( B1 ) =

JOR (500 ) =

(85).(0,24) ( 2400 ) (85) (500 ).(9).(0,24)   ( 2400 ).(9)  2 500 2 DCs1 B 2.K13.P3 Cs 3.P3   D.K13  2 B2 2

JOR ( B2 ) =

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

Cs1 Q1.K 11.P1   2 Q1

.K11 

Cs1.P1 2

.K12 

22.558,2

halaman 41

Diktat Kuliah Inventory Control


JOR (750 ) =

(80).(0, 24) ( 2400 ).(80) ( 750 ).(8).( 0,24) = 20.185,6   ( 2400 ).(8)  2 750 2

Ternyata JOR terkecil terjadi pada saat Q = 750 Dengan demikian Q Optimum adalah Q = 750

Soal Latihan 1 :
Tentukan Tingkat Pembelian Optimum apabila Kebutuhan per Tahun 2400 unit dan Harga Pembelian diberikan Double Discount sebagai berikut :

RANGE D1 D2 D3

Banyaknya 1 e Q1 < 500


500 e Q2 < 1000

Harga Satuan 10.000 9.000 8.000

Holding Cost 0,40 0,30 0,20

Ordering Cost 900 800 700

Q3 u 1000

Soal Latihan 2 :
Tentukan Tingkat Pembelian Optimum apabila Kebutuhan per Tahun 2400 Range D1 D2 D3 Banyaknya 1 e Q1 < 3000
3000

Harga Satuan 20.000 17.500 15.000

Holding Cost 0,25 0,30 0,35

Ordering Cost 250.000 200.000 175.000

Q2 < 5000

Q3 u 5000

Jurusan Matematika FMIPA UNPAD

halaman 42