Anda di halaman 1dari 51

Bahan persentasi

Muhammadiyah Secara Bahasa Muhammadiyah berasal dari bahasa Arab yaitu Muhammad yaitu Nabi Muhammad SAW. Kemudian ditambah ya nisbah yang artinya menjeniskan. Jadi Muhammadiyah berarti umat Muhammad SAW atau pengikut Muhammad SAW. Jadi secara etimologis semua orang yang mengikuti Nabi Muhammad SAW adalah orang Muhammadiyah. Secara Istilah Muhammadiyah adalah sebuah Persyarikatan yang didirikan oleh Kiai Haji Ahmad Dahlan pada tanggal 8 Dzulhijjah 1330 Hijriyah bertepatan tanggal 18 November 1912 Miladiyah di Yogyakarta untuk jangka waktu tidak terbatas. Muhammadiyah adalah Gerakan Islam, Dakwah amar maruf nahi munkar dan Tajdid yang bersumber pada Al-Quran dan As Sunnah. Kelahiran Muhammadiyah tidak lain kerena diilhami, dimotivasi dan disemangati oleh ajaran-ajaran Al Quran. Dan apa yang digerakkan oleh Muhammadiyah tidak ada motif lain kecuali semata-mata untuk merealisasikan prinsip-prinsip ajaran Islam dalam kehidupan yang riil dan konkrit. Gerakan Muhammadiyah hendak berusaha untuk menampilkan wajah Islam dalam wujud yang riil, konkrit dan nyata, yang dapat dihayati, dirasakan dan dinikmati oleh umat sebagai rahmatan lil alamin. Oleh Alasan tersebut Muhammadiyah disebut sebagai gerakan Islam. Di samping itu, Muhammadiyah juga memiliki identitas sebagai gerakan Dakwah maksudnya adalah Muhammadiyah meletakkan khittah atau strategi dasar perjuangannya yaitu dakwah Islam, amar makruf nahi munkar dengan masyarakat sebagai medan atau kancah perjuangannya. Muhamadiyah berkiprah di tengah-tengah masyarakat bangsa Indonesia dengan membangun berbagai amal usaha yang benar-benar dapat menyentuh hajat hidup orang banyak seperti berbagai macam ragam lembaga pendidikan mulai dari tingkat TK sampai Perguruan Tinggi, membangun Rumah Sakit, Panti Asuhan dan sebagainya. Seluruh amal usaha Muhammadiyah itu merupakan manifestasi atau perwujudan dakwah islamiyah. Semua amal usaha diadakan dengan niat dan tujuan yang tunggal, yaitu untuk dijadikan sarana dan wahana dakwah Islam sebagaimana yang diajarkan al-Quran dan as-Sunnah Shahihah. Identitas Muhammadiyah yang ketiga adalah sebagai gerakan Tajdid, maksudnya adalah Muhammadiyah sebagai gerakan pembaharuan atau gerakan reformasi. Secara istilah tajdid memiliki pengertian pemurnian dan peningkatan, pengembangan, modernisasi, dan yang semakna dengannya. Pemurnian maksudnya adalah pemeliharaan matan ajaran Islam yang berdasarkan kepada al-Quran dan as-Shahihah. Muhammadiyah meyakini matan ajaran Islam yang harus dipelihara sebagaimana yang terdapat dalam alQuran dan as-Sunnah adalah yang berkaitan dengan Aqidah dan Ibadah. Dalam sejarah perkembangan umat Islam ditemukan praktek percampuran ajaran 7 Islam antara Aqidah dengan yang bukan Aqidah, misalnya mengkeramatkan kuburan, mengkeramatkan ulama, dan sebagainya. Padahal dalam ajaran Islam yang harus dikeramatkan itu hanyalah Allah SWT. Hal inilah yang menjadi tugas Muhammadiyah untuk memurnikan Aqidah Islam kembali. Dalam masalah aqidah (tauhid), hanya digunakan dalil-dalil yang mutawatir. Rumusan itu terdapat pada pokok-pokok manhaj poin ke-5. Rumusan tersebut tidak kita dapati pada Keputusan Muktamar secara eksplisit. Namun demikian, didasarkan kepada apa yang telah dilaksanakan pada Muktamar, yang telah membicarakan soal iman. Hal ini dapat kita lihat pada

kata penutup: Inilah pokok-pokok aqidah yang benar, yang terdapat pada alQuran dan al-Hadits, dan dikuatkan oleh pemberitaan-pemberitaan yang mutawatir. Kata penutup ini diberitakan pada akhir Kitab-ul-Iman, yang ditulis pada Himpunan Putusan Tarjih (HPT). Peningkatan, pengembangan dan modernisasi maksudnya adalah penafsiran pengamalan dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada al Quran dan al Sunnah shahihah. Bernard Vlekke dan Wertheim sebagaimana yang dikutip oleh Alwi Shihab mengkategorikan Muhammadiyah sebagai gerakan puritan yang menjadikan focus utamanyapemurnian atau pembersihan ajaran-ajaran Islam dari singkretisme dan belenggu formalisme. Sementara seorang Tokoh NU KH. Ahmad Siddiq dari Malang menjelaskan bahwa makna tajdid dalam arti pemurnian (purifikasi) menyasar pada tiga sasaran, yaitu: a. Iadah atau pemulihan; yaitu membersihkan ajaran Islam yang tidak murni lagi b. Ihanah atau memisahkan; yaitu memisah-misahkan secara cermat oleh ahlinya, mana yang sunnah dan mana pula yang bidah c. Ihya atau menghidup-hidupkan; yaitu menghidupkan ajaran-ajaran Islam yang belum terlaksana atau yang terbengkalai. Asas Muhammadiyah adalah Islam, maksudnya adalah asas idiologi persyarikatan Muhamadiyah adalah Islam, bukan kapitalis dan bukan pula sosialis. Dewasa ini idiologi yang berkembang di dunia ada tiga yang dominan, yaitu : kapitalis, sosialis dan Islam. Masyarakat yang beridiologi kapitalis di motori oleh Amerika dan Eropa, setelah usai perang dingin menunjukkan eksistensinya yang lebih kuat. Sedangkan yang beridiologi sosialis di motori oleh Rusia dan Cina. Khusus Rusia mengalami depolitisasi pasca perang dingin, dan cenderung melemah posisi daya tawarnya bagi sekutu-sekutunya. Sementara masyarakat yang beridiologi Islam memag ada kecenderungan menguat namun tidak ada pemimpin yang kuat secara politis. Namun idiologi dalam perspektif Muhammadiyah adalah idiologi gerakan. Idiologi gerakan Muhammadiyah merupakan sistematisasi dari pemikiranpemikiran mendasar mengenai Islam yang diproyeksikan dan diaktualisasikan ke dalam sistem gerakan yang memilki ikatan jamaah, jamiyah dan imamah yang solid. Sejak lahirnya Muhammadiyah memang sudah dapat diketahui asas gerakannya, namun pada tahun 1938-1942 di bawah kepemimpinan Kyai Mas Mansur mulai dilembagakan idiologi Muhammadiyah, yaitu dengan lahir konsep Dua Belas langkah Muhammadiyah. Yaitu memperdalam iman, memperluas faham keagamaan, memperbuahkan budi pekerti, menuntun amalan intiqad, menguatkan persatuan, menegakkan keadilan, melakukan kebijaksanaan, menguatkan tanwir, mengadakan musyawarah, memusyawaratkan putusan, mengawasi gerakan kedalam dan memperhubungkan gerakan keluar. Dengan lahirnya konsep ini maka Muhammadiyah tumbuh menjadi paham dan kekuatan sosial-keagamaan dan sosial politik tertentu di Indonesia. Pada tahun 1942-1953 dibawah kepemimpinan Ki Bagus Hadikusumo dirumuskan konsep idiologi Muhammadiyah secara lebih sistematik yaitu ditandai dengan lahirnya Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah. Muqaddimah Anggaran Dasar Muhammadiyah berisi pokok-pokok pikiran sebagai berikut : Hidup manusia harus berdasar Tauhid, hidup manusia bermasyarakat, hanya ajaran Islam satu-satunya ajaran hidup yang dapat dijadikan sendi pembentuk pribadi utama dan mengatur ketertiban hidup bersama menuju hidup bahagia sejahtera yang hakiki di dunia dan akhirat, berjuang menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam untuk mewujudkan masyarakat utama, adil dan makmur yang diredhai Allah SWT adalah wajib,

sebagai ibadah kepada Allah dan berbuat ihlah dan ihsan kepada sesama manusia, perjuangan menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam hanyalah akan berhasil bila dengan mengikuti jejak perjuangan para nabi terutama perjuangan nabu Muhammamd SAW. Perjuangan mewujudkan pokokpokok pikiran seperti diatas hanya dapat dilaksanakan dengan sebaik-baiknya dan akan berhasil bila dengan cara berorganisasi, dan seluruh perjuangan doarahkan tercapainya tujuan Muhammadiyah, yaitu terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Pada tahun 1968 dalam muktamar Muhammadiyah ke 37 di Yogyakarta perumusan idiologi Muhammadiyah semakin mengental, ditandai dengan lahirnya Matan Keyakinan dan Citra-cita Hidup Warga Muhammadiyah, yang berisi pokok-pokok pikiran sebagai berikut; pertama; Muhammadiyah adalah Gerakan yang berasas Islam, bercita-cita dan bekerja untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya, kedua; Muhammadiyah adalah berkeyakinan bahwa Islam ada;ah Agama Allah yang diwahyukan kepada mulai Nabi Adam smpai kepada Nabi Muhammad SAW. Ketiga; Muhammadiyah dalam mengamalkan ajaran Islam berdasarkan Al Qura, dan Sunnah Rasul, keempat; Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang Aqidah, Akhlak, Ibadah dan Muamalat Diniawiyat dan yang kelima; Muhammadiyah mengajak segenap lapisan bangsa Indonesia untuk berusaha bersama-sama menjadikan suatu Negara yang adil makmur dan diridhai Allah SWT. Maksud dan tujuan Muhammadiyah sebagaimana hasil rumusan Muktamar Muhammadiyah ke 45 di Malang yang berlaku saat ini adalah menegakkan dan menjunjung tinggi agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dalam sejarah perjalanan Muhammadiyah sudah terdapat beberapa kali pergantian rumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah, sebagai berikut : Maksud dan Tujuan Muhammadiyah : Tahun 1914 : 1. Menyebarkan pengajaran Kanjeng Nabi Muhammad saw kepada penduduk bumi putra, di dalam residensi Yogyakarta 2. Memajukan hal agama Islam kepada anggota-anggotanya Tahun 1920 : 1. Memajukan dan menggembirakan pengajaran dan pela-jaran agama Islam di Hindia Belanda 2. Memajukan dan menggembirakan hidup sepanjang kema-uan agama Islam kepada sekutu-seekutunya Tahun 1942 : 1. Hendak menyiarkan agama Islam, serta melatihkan hidup yang selaras dengan tuntunannya 2. Hendak melakukan pekerjaan kebaikan umum 3. Hendak memajukan pengetahuan dan kepandaian serta budi pekerti yang baik kepada anggota-anggotanya. Tahun 1950 : Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga dapat mewujudkan masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tahun 1959 : Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Tahun 1985 Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat utama, adil dan makmur yang diridhai Allah Swt.

Tahun 2000 : Menegakkan dan menjunjug tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Utama, Adil dan Makmur yang diridhai Allah Swt. Tahun 2005 Menegakkan dan menjunjung tinggi Agama Islam sehingga terwujud masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Dari perjalanan sejarah perumusan maksud dan tujuan Muhammadiyah, ternyata sudah mengalami perubahan redaksi sebanyak 8 kali perubahan. Namun bila diperhatikan dengan teliti maka sebenarnya tidak ada yang substansi mengalami perubahan. Pad prinsipnya kesemua redaksional tersebut tetap istiqamah dalam prinsip bahwa masud dari Muhammadiyah adalah Menegakkan Agama Islam. Sedangkan Tujuan Muhammadiyah adalah Kehidupan Islami. Muhammadiyah sebagai gerakan Islam maksudnya adalah Muhammadiyah bukanlah sebuah gerakan parsial yang hanya bergerak dalam satu bidang saja, seperti bergerak di bidang politik, Ekonomi dan lain sebagainya, akan tetapi Muhammadiyah adalah sebuah organisasi yang bergerak di bidang keislaman. Muhammadiyah memahami bahwa ajaran Islam itu mencakup Aqidah, Akhlak, Ibadah dan Muamalat Duniawiyat Bergerak di bidang keislaman adalah sebuah ungkapan yang menunjukkan bahwa Muhammadiyah bergerak dalam segala aspek kehidupan manusia baik untuk kebahagiaan hidup di dunia maupun untuk persiapan hidup bahagia di akhirat. Oleh sebab itu, untuk mencapai maksud dan tujuan, Muhammadiyah melaksanakan Dakwah Amar Makruf Nahi Munkar dan Tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Usaha Muhammadiyah yang diwujudkan dalam bentuk amal usaha, program dan kegiatan meliputi : 1. Menanamkan keyakinan, memperdalam dan memperluas pemahaman, meningkatkan pengamalan, serta menyebar-luaskan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan. 2. Memperdalam dan mengembangkan pengajian ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan untuk mendapatkan kemurnian dan kebenaran. 3. Meningkatkan semangat ibadah, jihad, zakat, infak, wakaf, shadaqah, hibah, dan amal shalih lainnya. 4. Meninkatkan harkat, martabat, dan kualitas sumberdaya manusia agar berkemampuan tinggi serta berakhlak mulia. 5. Memajukan pendidikan, perekonomian, kesehatan, lengkungan, kesejahteraan dan lain sebagainya. Untuk mengemban amanah yang cukup berat dari persyarikatan Muhammadiyah maka dibutuh karakter pimpinan yang mumpuni, sehingga dia menggerakkan dakwah Islam dalam Muhammadiyah maka menjadi persyaratan bagi calon pimpinan Muhammadiyah adalah taat beribadah dan mengamalkan ajaran Islam, setia pada prinsip perjuangan Muhammadiyah dan dapat menjadi teladan dalam Muhammadiyah. Pimpinan yang memenuhi kriteria diharapkan dapat melaksanakan tugasnya dengan sukses dan dapat membinan anggotanya untuk menuju masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sebagai sarana pembinaan anggota Muhammadiyah maka disayaratkan Ranting dan Cabang merupakan pusat pembinaan anggota Muhammadiyah. Atas dasar itulah maka menjadi syarat untuk mendirikan sebuah Ranting Muhammadiyah yaitu harus ada pengajian/ kursus anggota berkala sekurangkurangnya sekali dalam sebulan, pengajian/kursus umum berkala sekurangkurangnya sekali dalam sebulan. Paham Keagamaan dalam Muhammadiyah

Yang dimaksud agama disini adalah Agama Islam (al-Din al-Islam). Pengertian Agama dikalangan Ulama adalah bentuk norma yang berasal dari Tuhan, yang mengajak orang-orang yang berakal menuju kepada kemaslahatan dunia dan akhirat.. Menurut rumusan majelis tarjih berdasarkan keputusan yang ditanfidzkan oleh PP. Muhammadiyah tahun 1955, Agama adalah agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW ialah apa yang diturunkan Allah di dalam Al Quran dan yang tersebut dalam al-Sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Agama adalah apa yang disyariatkan Allah dengan perantaraan nabinabiNya, berupa perintah-perintah dan larangan-larangan serta petunjukpetunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat. Dalam rumusan pertama tentang agama menurut Muhammadiyah dititik beratkan pada sumber al Islam yakni al Quran dan al Sunnah as Shahihah yang dibawa oleh Nabi Muhammad SAW. Adapun isinya ialah perintah-perintah dan larangan dan wajib ditaati dan petunjuk-petunuk yang perlu dipedomani. Sedang tujuan Agama adalah untuk kemaslahatan manusia di dunia dan akhirat. Titik berat pengertian agama disini ialah pada pokok sumbernya al Quran dan al Sunah, Pengertian Islam yang pertama didasarkan pada ayat 19 surat Ali Imran, yang artinya: Sesungguhnya agama (yang diridhai) disisi Allah hanyalah Islam. tiada berselisih orang-orang yang Telah diberi Al Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, Karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. barangsiapa yang kafir terhadap ayat-ayat Allah Maka Sesungguhnya Allah sangat cepat hisab-Nya. Juga ditegaskan dalam ayat 85 pada surat yang sama, artinya : Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi. Nabi Muhammad SAW. Menerima wahyu al-Quran sebagai sumber agama Islam mengajarkan tauhid dan menjauhkan kemusyrikan serta mengamalkan yang baik Quran dan al-Sunnah untuk diikuti dan dipedomani, Allah memberikan janji untuk memberikan kebahagiaan kepada orang-orang yang mentaati Allah dan Rasul-Nya. Allah mengancam orang-orang yang berbuat maksiat (surat AnNisa:14). Muhammadiyah dalam melakukan kiprahnya di berbagai bidang kehidupan untuk kemajuan umat, bangsa dan dunia kemanusiaan dilandasi oleh keyakinan dan pemahaman keagaamaan bahwa Islam sebagai ajaran yang membawa misi kebenaran Ilahiah harus didakwahkan sehingga menjadi rahmatan lil alamin dimuka bumi ini. Islam sebagai wahyu Allah yang dibawa oleh para Rasul hingga Rasul akhir zaman Muhammad SAW. Adalah ajaran yang mengandung hidayah, penyerahan diri rahmat, kemasalahatan, keselamatan, dan kebahagiaan hidup umat manusia di dunia dan akhirat. Keyakinan dan paham Islam yang fundamental itu diaktualisasikan oleh Muhammadiyah dalam bentuk gerakan Islam yang menjalankan misi dakwah dan tajdid untuk kemaslahatan hidup seluruh umat manusia. Misi dakwah Muhammadiyah yang mendasar itu merupakan perwujudan dari semangat awal dari persyarikatan ini sejak didirikannya yang dijiwai oleh pesan Allah dalam al Quran surat Ali Imran 104, yang artinya : dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, itulah orangorang yang beruntung. Kewajiban dan panggilan dakwah yang luhur itu menjadi komitmen utama Muhammadiyah sebagai ikhtiar untuk menjadi kekuatan khaira ummah sekaligus

dalam membangun masyarakat Islam yang ideal, sebagaimana pesan Allah dalam al Quran surat Ali Imran 110 yang artinya : Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar, dan beriman kepada Allah. Sekiranya ahli kitab beriman, tentulah itu lebih baik bagi mereka, di antara mereka ada yang beriman, dan kebanyakan mereka adalah orang-orang yang fasik. Dengan merujuk pada firman Allah dalam surat Ali Imran ayat 104 dan 110, Muhammadiyah menyebarluaskan ajaran Islam yang komprehensif dan muliti aspek melalui dakwah untuk mengajak pada kebaikan (Islam), al amr bil al makruf wa al nahi al munkar (mengajak kepada yang makruf dan mencegah dari yang munkar) sehingga umat manusi memperoleh keberuntungan lahir dan bathin dalam kehidupan ini. Dakwah yang demikian itu mengandung makna bahwa Silam sebagai ajaran selalu bersifat tranformasional; yakni dakwah yang membawa perubahan yang bersifat kemajuan, kebaikan, kebenaran, keadilan dan nilai-nilai keutamaan lainnya untuk kemaslahatan serta keselamatan hidup umat manusia tanpa membeda-bedakan ras, suku, golongan, agama dan lainlain. K.H. Amad Dahlan sebagai pendiri Muhammadiyah dikenal sebagai pelopor gerakan Tajdid (gerakan pembaharuan). Tajdid yang dilakukan pendiri Muhammadiyah itu bersifat pemurnian (purifikasi) dan perubahan ke arah kemajuan (dinamisasi) yang semuanya berpijak pada pemahaman tentang Islam yang kokoh dan luas. Dengan pandangan yang demikian, Kiyai Dahlan tidak hanya berhasil melakukan pembinaan yang kokoh dalam Aqidah, Ibadah dan akhlak kaum muslimin, tetapi sekaligus melakukan pembaharuan dalam amaliah muamalah duniawiyah sehingga Islam menjadi agama yang menyebarkan kemajuan. Semangat Tajdid Muhammadiyah tersebut didorong anatara lain oleh sabda Nabi Muhammad SAW: yang artinya Sesungguhnya Allah mngutus kepada umat manuisa pada setiap kurun waktu 100 tahun untuk memperbaharui ajaran agamanya (HR Abu Daud dari Abu Hurairah). Karena itu melalaui Muhammadiyah telah diletakkan suatu pandangan keagamaan yang kokoh dalam bangunan keimanan yang berlandaskan pada al Quran dan as Sunnah sekaligus mengemban tajdid yang mampu membebasakan manusia Dari keterbelakangan menuju kehidupan yang berkemajuan dan berkeadaban. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya yang menjadi tujuan gerakan merupakan wujud aktualaisasi ajaran Islam dalam struktur kehidupan kolektif manusia yang memiliki corak masyarakat pertengahan (ummatan wasaththan) yang berkemajuan baik dalam wujud sistim nilai sosial budaya, sistim sosial dan lingkungan fisik yang dibangunnya. Masyarakat Islam adalah masyarakat yang memiliki keseimbangan antara kehidupan lahiriah, dan batiniah, rasionalitas dan spritualitas, aqidah dan muamalat, individual dan sosial, duniawi dan ukhrawi, sekaligus menampilkan corak masyarakat yang mengamalkan nilai-nilai keadilan, kejujuran, kesejahteraan, kerjasama, kerjakeras, kedisiplinan, dan keunggulan dalam segala lapangan kehidupan. Dalam menghadapi dinamika kehidupan , masyarakat Islam selalu bersedia bekerjasama dan berlomba-lomba dalam serba kebaikan di tengah persaiangan pasar-bebas di segala lapangan kehidupan dalam semangat berjuang dalam mengahadapi tantangan (al-jihad li al-muwajjahat) lebih dari sekedar berjuang melawan musuh (al-jihad li al-muaradhah). Masyarakat Islam yang dicita-citakan Muhammadiyah memiliki kesamaan karakter dengan masyarakat madani, yaitu masyarakat kewargaan (civil-society) yang memiliki keyakinan yang dijiwai nilai-nilai Ilahiah, demokratis, berkeadilan, otonom, berkemajuan, dan berakhlak-mulia (al-akhlaq al-karimah).

Masyarakat Islam yang semacam itu berperan sebagai syuhada ala al-nas di tengah berbagai pergumulan hidup masyarakat dunia. Karena itu masayarakat Islam yang sebenar-benarnya yang bercorak madaniyah tersebut senantiasa menjadi masyarakat yang serba unggul atau utama (khaira ummah) dibandingkan dengan masyarakat lainnya. Keunggulan kualitas tersebut ditunjukkan oleh kemampuan penguasaan atas nilai-nilai dasar dan kemajuan dalam kebudayaan dan peradaban umat manusia, yaitu nilai ruhani (spritualitas), nilai-nilai pengetahuan (ilmu pengetahuan dan teknologi), nilainilai materi (ekonomi), nilai-nilai kekuasaan (politik), nilai-nilai keindahan (kesenian), nilai-nilai normative berprilaku (hukum), dan nilai-nilai kemasyarakatan (budaya) yang lebih berkualitas. Masyarakat Islam yang sebenar-benarnya bahkan senantiasa memiliki kepedulian tinggi terhadap kelangsungan ekologis (lingkungan hidup) dan kualitas martabat hidup manusia baik laki-laki maupun perempuan dalam relasirelasi yang menjunjung tinggi kemaslahatan, keadilan, dan serba kebajikan hidup. Masyarakat Islam yang demikian juga senantiasa menjauhkan diri dari perilaku yang membawa pada kerusakan (fasad fi al- ardi), kedhaliman, dan halhal lain yang bersifat menghancurkan kehidupan
Kesimpulan Muhammadiyah dalam memahami ajaran Islam membaginya kepada empat; aqidah, akhlak, ibadah dan muamalah duniawiyat. Dalam hal Muamalah yang menjadi pokok perhatian di antaranya adalah mengenai bisnis. Menurut paham Muhammadiyah bahwa masalah bisnis mesti diperhatikan umat Islam. Oleh sebab itu, Muhammadiyah membentuk suatu majelis yang khusus mengurusi bidang perekonomian. Muhammadiyah juga merumuskan tujuan ekonomi adalah terciptanya kehidupan sosial ekonomi umat yang berkualitas sebagai benteng atas problem kemiskinan, keterbelakangan, dan kebodohan pada masyarakat bawah melalui berbagai program yang dikembangkan Muhammadiyah.

Selasa, 24 Februari 2009


*TAJDID GERAKAN MUHAMMADIYAH DALAM MENYIKAPI PEMIKIRAN ISLAM LIBERAL dan pemurnia
Oleh: Fathurrahman Djamil Pengantar Muhammadiyah sering dijuluki sebagai organisasi islam pembaharu, atau gerakan tajdid. Julukan ini tentu tidak datang dari dalam Muhammadiyah, melainkan dari para pengamat dan pemerhati Muhammadiyah. Diantara indikator organisasi pembaharu, menurut mereka, adalah karena organisasi ini berusaha untuk merujuk secara langsung kepada Al-Quran dan Al-Sunnah dan memahaminya secara utuh dan komprehensif. Namun, akhir-akhir ini, ciri dan indikator itu sering dipermasalahkan. Karena itu, predikat mujaddid yang diberikan kepada Muhammadiyah merupakan sesuatu yang harus dikritisi. Kritik itu, tentu harus didasarkan pada kenyataan dan kiprah organisasi ini dalam merspons segala macam persoalan yang semakin kompleks dan canggih ini. Kenyataannya, bukan saja Muhammadiyah yang melakukan pembaharuan dan terobosan baru, bahkan akhir-akhir ini banyak perkumpulan yang telah

melakukan perubahan secara liberal terhadap doktrin dan norma ajaran Islam. Ketika Muhammadiyah didirikan tahun 1912 atau sejak Majlis tarjih dibentuk pada tahun 1928, persoalan yang dihadapinya relative sangat sederhana dan kelihatannya tidak beranjak dari pemurnian aqidah dan ibadah atau dalam masalah-masalah khilafiyah. Itulah sebabnya, majlis ini diberi nama Majlis Tarjih. Tetapi dalam perkembangannya sampai saat ini, persoalan-persoalan baru muncul kepermukaan dan menuntut direspon oleh Muhammadiyah. Tentu, seiring dengan beragam persoalan kontemporer, nama Majlis ini pun mengalami peerubahan atau penambahan. Ada yang menghendaki diubah menjadi Majlis Ijtihad. Namun sejarah mencatat, bahwa ketika Muktamar Tarjih di Aceh pada tahun 1995, Majlis ini diubah menjadi Majlis Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam. Sesuai namanya, tentu Majlis ini semakin berat tugas dan tanggung jawabnya. Pararlel dengan perubahan namanya, Majlis Tarjih dan PPI telah berusaha mengembangkan system dan metode berijtihad, yang berbeda dari metode yang pernah ada sebelumnya. Pendekatan yang digunakan tidak terbatas pada pendekatan normative fiqhiyyah, tetapi sudah mengarah pada pendekatan yang lebih filosofis. Berbagai metode dan pendekatan itu digunakan oleh Muhammadiyah dimaksudkan untuk merealisasikan Islam yang universal sebagai cirri gerakannya. Diyakini oleh Muhammadiyah, bahwa sebagai sebuah agama, Islam memiliki kepentingan untuk mendorong manusia untuk melakukan transformasi ke arah cita dan visi Islam. Dalam hal ini, Islam harus menjadi instrumen ilahiah yang memberikan panduan nilai-nilai moral dan etis yang benar bagi kehidupan manusia. Islam, dibandingkan dengan agama lain, sebenarnya merupakan agama yang paling mudah untuk menerima premis semacam ini. Alasan utamanya terletak pada ciri Islam yang paling menonjol, yaitu sifatnya yang hadir dimana-mana (omnipressence). Ini sebuah pandangan yang mengakui bahwa dimana-mana, kehadiran Islam selalu memberikan panduan moral yang benar bagi tindakan manusia.1 Peradaban modern manusia yang semakin mengglobal akibat pesatnya kemajuan industri, teknologi, dan informasi menuntut tidak saja kecerdasan nalar tetapi juga kematangan dan kecerahan emosional dan spiritual dalam menyikapi, mencermati, menyimak, dan mengevaluasi peradaban sehingga manusia tidak tercerabut dari akar religiusitasnya. Umat Islam, sesungguhnya dapat memberikan responsi pada modernitas secara positif. Islam secara intrinsik memiliki muatan nilai dan ajaran yang mendorong pada pembaharuan dan kemajuan. Sebagai agama universal dan kosmopolitan, Islam memiliki karakter yang menjunjung tinggi pada harkat kemanusiaan dan kepedulian sosial sebagai sesuatu yang selalu tetap dan abadi. Islam selain bersifat transendental, juga harus bersifat immanent, dalam arti harus dapat memberi daya dan pengaruh pada transformasi sosial, budaya, politik, ekonomi yang positif dan konstruktif. Nilai-nilai keagamaan Islam dengan demikian diharapkan memberi energi dan kekuatan yang dapat memotivasi secara terus menerus dan mentransformasikan masyarakat dengan berbagai aspeknya ke dalam skala-skala besar yang bersifaat praktis maupun teoritis. Namun, tentu saja pesan Ilahiah dan kumpulan hkazanah Islam klasik itu harus dapat diterjemahkan dalam sebuah konsep teoritis dan empirik yang siap

diaplikasikan dalam ruang dan waktu kekinian. Akselerasi kemajuan teknologi dan perkembangan informasi begitu cepat harus diimbangi dengan interpretasi dan kajian yang aktual dan bertanggungjawab dari doktrin syariat Islam. Sumber ajaran Islam adalah al-Quran dan Sunnah, artinya segala persoalan kehidupan harus dikembalikan pada kedua sumber tersebut. Akan tetapi, hal itu memerlukan kecerdasan akal untuk menggali dan menkontekstualisasikan secara tepat dengan situasi dan kondisi yang berubah. Upaya reaktualisasi ajaran Islam, menjadi niscaya karena secara doktrinal Islam bersifat universal dan rahmat bagi seluruh alam. Al-Quran memang bersifat doktrin yang mutlak benar, tetapi penafsiran dan pemahaman atasnya tidak bernilai mutlak benar semutlak benarnya doktrin itu sendiri. Di sinilah makna tajdid menjadi tema penting.

Tajdid dalam Muhammadiyah

Apa yang dimaksud dengan tajdd dalam Muhammadiyah dan bagaimana perkembangannya selama satu abad pertama? Kedua persoalan ini perlu dianalisis berdasarkan periodesasi dan kurun waktu yang telah ada. Secara garis besar, perkembangan tajdid dalam Muhammadiyah dapat dibedakan menjadi tiga pase, yakni pase aksi-reaksi, konsepsionalisasi dan pase rekonstruksi. Ketika Muhammadiyah didirikan, para tokoh Muhammadiyah, termasuk K.H. Ahmad Dahlan, belum memikirkan landasan konseosional dan teoritis tentang apa yang akan dilakukannya. Yang terjadi adalah, upaya mereka untuk secara praktis dan pragmatis menyebarkan ajaran Islam yang baik dan benar sesuai dengan tuntunan Rasulullah. Konsentrasi mereka difokuskan pada bagaimana praktek keagamaan yang dilakukan masyarakat waktu itu disesuaikan dengan apa yang dilakukan oleh Rasulullah di satu sisi, tapi juga memperhatikan tradisi agama lain, khususnya kristen, yang kebetulan disebarkan oleh penjajah negeri ini. Kecenderungan yang bersifat reaktif dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi mulai terlihat. Pembetulan arah kiblat dalam pelaksanaan shalat, misalnya, menjadi bukti betapa reaktifnya tokoh Muhammadiyah saat itu. Jargon yang diusung saat itu adalah Kembali Kepada Al-Quran dan Al-Sunnah secara apa adanya terutama dalam masalah aqidah dan ibadah mahdlah. Munculnya istilah TBC (Takhayyul, Bidah dan Churafat) merupakan akibat dari gerakan pemurnian periode ini. Produk pemikiran yang dihasilkan oleh Majlis Tarjih didominasi oleh upaya memurnikan bidang akidah dan ibadah itu. Periode ini berlangsung sampai tahun enam puluhan. Kemudian pada awal tahun enam puluhan sampai tahun sembilan puluhan sudah mulai terasa bagaimana pentingnya untuk membuat dasar dan teori penyelesaian masalah yang dihadapi oleh umat Islam yang didominasi oleh persoalan muamalah dunyawiyyah, baik dalam bidang ekonomi, sosial budaya dan bahkan masalah politik sekalipun. Pedoman bertarjih dalam bentuk kaidah lajnah tarjih mulai disusun pada awal tahun tujuh puluhan. Dalam kaidah ini disebutkan, bahwa tugas pokok lajnha tarjih adalah melakukan pemurnian dalam bidan aqidah dan ibadah serta menyusun rumusan dan tuntunan dalam bidang

muamalah dunyawiyyah. Tentu kaidah ini belum mencakup konsep dan metode penyelesaian masalah secara komprehensif. Sebenarnya sejak tahun 1968 rumusan tajdd di kalangan Muhammadiyah telah ada, dan bahkan tidak pernah ada warga Muhammadiyah yang menggugatnya. Akan tetapi, rumusan tersebut sangat sederhana, tanpa disertai penjelasan yang memadai. Masalah tersebut baru dibahas pada muktamar tarjih XXII di Malang, tahun 1989. Agaknya, pembicaraan ini menjadi agenda muktamar tarjih disebabkan semakin gencarnya kritik yang ditujukan kepada organisasi yang berorientasi pada pemurnian dan pembaharuan ini. Kemudian hasil muktamar tarjih itu ditanfizkan oleh Pimpinan Pusat Muhammadiyah menjadi rumusan yang resmi dan berlaku untuk seluruh warga Muhammadiyah. Adapun rumusan tajdd yang resmi dari Muhammadiyah itu adalah sebagai berikut:2 Dari segi bahasa, tajdid berarti pembaharuan, dan dari segi istilah, tajdd memiliki dua arti, yakni: a. pemurnian; b. peningkatan, pengembangan, modernisasi dan yang semakna dengannya. Dalam arti pemurnian tajdid dimaksudkan sebagai pemeliharaan matan ajaran Islam yang berdasarkan dan bersumber kepada al-Qur'an dan As-Sunnah AshShohihah. Dalam arti peningkatan, pengembangan, modernisasi dan yang semakna dengannya, tajdid dimaksudkan sebagai penafsiran, pengamalan, dan perwujudan ajaran Islam dengan tetap berpegang teguh kepada al-Qur'an dan As-Sunnah Ash-Shahihah. Untuk melaksanakan tajdid dalam kedua pengertian istilah tersebut, diperlukan aktualisasi akal pikiran yang cerdas dan fitri, serta akal budi yang bersih, yang dijiwai oleh ajaran Islam. Menurut Persyarikatan Muhammadiyah, tajdid merupakan salah satu watak dari ajaran Islam. Rumusan tajdd di atas mengisyaratkan, bahwa dalam Muhammadiyah ijtihad dapat dilakukan terhadap peristiwa atau kasus yang tidak terdapat secara eksplisit dalam sumber utama ajaran Islam, al-Qur'an dan Hadits, dan terhadap kasus yang terdapat dalam kedua sumber itu. Ijtihad dalam bentuknya yang kedua dilakukan dengan cara menafsirkan kembali al-Qur'an dan Hadits sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini. Pada prinsipnya Muhammadiyah mengakui peranan akal dalam memahami al-Qur'an dan Hadits. Namun, katakata "yang dijiwai ajaran Islam" memberi kesan bahwa akal cukup terbatas dalam meyelesaikan masalah-masalah yang timbul sekarang ini, dan akal juga terbatas dalam memahami nash al-Qur'an dan Hadits. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa jika pemahaman akal berbeda dengan kehendak zhhir nash, maka kehendak nash harus didahulukan dari pada pemahaman akal. Ada yang berpendapat, bahwa dalam Muhammadiyah fungsi akal tidak dominan dalam menyelesaikan persoalan-persoalan fiqih.3 Agaknya pendapat itu perlu dibuktikan lebih lanjut. Memang benar bahwa Majlis Tarjih Muhammadiyah menegaskan kenisbian akal dalam memahami nash al-Qur'an dan Hadits. Namun, kenisbian akal itu hanya terbatas dalam memahami masalah-masalah ibadah yang ketentuannya sudah diatur dalam nash.4 Sedangkan dalam masalah-masalah yang termasuk "al-umr al-dunywiyyat" penggunaan akal sangat diperlukan, untuk tercapainya kemaslahatan umat manusia.5 Menarik untuk dikaji lebih lanjut, apa yang dimaksud dengan "al-umr al-

dunywiyyat" oleh Muhammadiyah. Secara harfiyah, istilah itu berarti masalahmasalah yang berhubungan dengan dunia. Konsekwensi logisnya, berarti Muhammadiyah menerima istilah "masalah-masalah yang berhubungan dengan akhirat" saja. Hal ini mengesankan adanya dikotomi antara masalah keduniaan yang bersifat profan di satu pihak dan masalah-masalah keakhiratan yang bersifat sakral di pihak lain. Namun, dikotomi itu tidak dijelaskan secara eksplisit oleh Muhammadiyah. Yang ada dalam konsep dasar Muhammadiyah adalah dibedakannya antara mas'alah dunyawiyah di satu pihak dan masalah ibadah di pihak lain.6 Kalau begitu, yang dimaksud dengan mas'alah dunyawiyah itu adalah masalah-masalah yang berhubungan dengan sesama manusia, atau dalam pembagian ilmu fiqih lazim disebut bidang mu'amalah. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa menurut Muhammadiyah peranan akal cukup penting dalam menyelesaikan masalah-masalah mu'amalah itu. Dalam lapangan atau ruang lingkup ijtihad, Muhammadiyah berpendapat bahwa ijtihad, dalam arti menyelesaikan masalah dan mengkaji ulang, berlaku dalam bidang fiqih saja. Masalah aqidah termasuk masalah vang tidak boleh diijtihadkan lagi, apalagi jika dikaji secara rasional.7 Bidang yang disebut terakhir ini oleh Muhammadiyah dimasukkan kepada lahan pemurnian, dan bukan lahan modernisasi. Tentu pendapat ini tidak sepenuhnya disetujui oleh warga Muhammadiyah, terutama para cendikiawan atau pemikirnya. Ada beberapa warga Muhammadiyah yang berkeinginan agar organisasinya melakukan ijtihad secara menyeluruh, tidak terbatas pada masalah fiqih saja. Mereka menginginkan ijtihad Muhammadiyah sama seperti ijtihadnya Muhammad Abduh.8 Tajdd tidak hanya diartikan sebagai purifikasi, tetapi harus diartikan juga sebagai redefinisi dan reformulasi. Masalah-masalah baru harus dipahami secara integralistik.9 Dalam bidang fiqih pun, kelihatannya Muhammadiyah masih membatasi diri pada masalah yang belum diatur berdasarkan dalil yang qathi, baik wurd maupun dallat-nya. Bagaimanapun, Muhammadiyah tetap berpendapat bahwa masalah-masalah yang ada sekarang ini, sebagai akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, perlu diselesaikan dengan baik. Kalau tidak, berarti Muhammadiyah membiarkan masalah-masalah itu terbengkalai dan pada gilirannya akan menjadi "bumerang" bagi umat Islam.10 Salah satu upaya yang ditawarkan oleh Muhammadiyah dalam menyelesaikan masalah-masalah kontemporer adalah digiatkannya cara memahami al-Qur'an dan Hadits melalui pendekatan interdisipliner.11 Dari sini dapat difahami bahwa ijtihad dalam Muhammadiyah dapat diartikan sebagai upaya menyelesaikan masalah yang secara eksplisit tidak terdapat dalam al-Qur'an dan Hadits, atau sebagai upaya reinterpretasi dan kontekstualisasi ajaran dasar Islam, al-Qur'an dan Hadits. Dengan demikian dapat dikatakan, bahwa pemahaman Muhammadiyah tentang ijtihad bertitik tolak dari kerangka berpikir, bahwa Islam diyakini sebagai agama wahyu yang bersifat universal dan eternal. Islam dalam pengertian ini tidak dapat diubah. Kemudian untuk menjadi kesemestaan dan keabadian ajaran Islam di dunia yang senantiasa berubah, diperlukan penyesuaian dan penyegaran dengan situasi baru.12 Kelihatanya bagi Muhammadiyah, ijtihad memberikan kemungkinan adanya penyegaran dan penyesuaian Islam pada situasi baru itu. Dengan ijtihad itulah ajaran Islam, termasuk bidang hukumnya,

dapat diterima oleh umat manusia di mana dan kapan pun mereka berada. Dari sederetan agenda permasalahan yang dibahas dalam satu muktamar tarjih ke muktamar tarjih berikutnya, dapat dipahami bahwa tugas pokok Majlis Tarjih tidak hanya terbatas pada masalah-masalah khilfiyat dalam bidang ibadah, melainkan juga mencakup masalah-masalah mu'amalah kontemporer. Jadi, bidang garapan Majlis Tarjih sudah sangat luas, berbeda dari tugas dan kegiatan yang dilaksanakannya pada saat lembaga itu didirikan. Pada Muktamar Tarjih di Malang tahun 1989 mulai disusun Pokok-pokok Manhaj Tarjih yang merumuskan secara garis besar tentang sumber dalam beristidlal, tidak mengikatkan diri pada satu mazhab tertentu, penggunaan akal dalam menyelesaikan masalah-masalah kduniaan, dan yang penting adalah dirumuskannya metode ijtihad dalam bentuk ijtihad bayani, qiyasi dan istishlahi.Ijtihad bayani dipakai dalam rangka untuk mendapatkan hukum dari nash dengan menggunakan dasar-dasar interpretasi atau tafsir. Kemudian ijtihad qiyasi digunakan dalam rangka untuk menetapkan hukum yang belum ada dalam nash, dengan memperhatikan kesamaan illatnya. Sementara itu, ijtihad istishlahi dipakai untuk menetapkan hukum yang sama sekali tidak diatur dalam nash. Pokok-pokok manhaj tarjih ini dapat dikatakan sebagai upaya awal untuk merumuskan konsep dan metode ijtihad sesuai dengan kebutuhan umat Islam pada masanya. Kemudian pada awal tahun sembilan puluhan, seiring dengan perubahan nama Majlis tarjih, telah dirumuskan Manhaj Tarjih yang lebih komprehensif, dengan menggunakan berbagai pendekatan. Kalau pada pase sebelumnya metode ijtihad diwujudkan dalam bentuk ijtihad bayani, qiyashi dan istishlahi yang berorientasi pada teks atau nash Al-Quran dan Al-Sunnah, maka pada pase yang ketiga ini sudah diperluas menjadi: pendekatan bayani, burhani dan irfani. Pendekatan bayani merupakan pendekatan yang menempatkan teks sebagai kebenaran hakiki, sedangkan akal hanya menempati kedudukan yang sekunder dan berfungsi menjelaskan serta menjasstifikasi nash yang ada. Pendekatan ini lebih didominisai oleh penafsiran gramatikal dan semantik. Pendekatan ini, dalam pandangan Muhammadiyah, masih diperlukan, dalam rangka menjaga komitmennya kembali kepada Al-Quran dan Al-Sunnah. Pendekatan burhani lebih difokuskan pada pendekatan yang rasional dan argumentatif, berdasarkan dalil logika. Pendekatan ini tidak hanya merujuk pada teks, tetapi juga konteks. Sedangkan pendekatan irfani didasarkan pada pengalaman bathiniyyah dan lebih bersifat intuitif, tidak didasarkan pada medium bahasa atau logika. Metode dan pendekatan seperti ini tentu tidak terbatas pada pendekatan normatif, tetapi lebih dari itu mengarah pada pendekatan filosofis dan sufistik, yang sebelumnya tidak dikenal dalam Muhammadiyah. Kelihatannya, upaya rekonstruksi pola fikir dan konsep pemecahan masalah di kalangan Muhammadiyah tidak dapat dipisahkan dari arus global dan lokal yang berkaitan dengan kecenderungan memahami dan menafsirkan sumber ajaran Islam dalam dunia modern. Muhammadiyah di Tengah Arus Perubahan Global Kalau dalam perkembangan pertama sampai pertengahan abad 20

Muhammadiyah berhadapan dengan persoalan khilafiyah dan pemurnian aqidah, maka pada akhir abad 20 menjelang awal abad 21 organisasi ini sudah berhadapan dengan berbagai kecenderungan pemikiran di kalangan umat Islam, baik dalam skala nasional maun internasional. lKecenderungan itu didasarkan asumsi bahwa Islam yang bersumber kepada Al-Quran dan Hadis, difahami oleh umat Islam dengan pemahaman dan cara pandang yang berbeda. Secara garis besar, kecenderungan untuk memehami ajaran dasar Islam dapat dikelompokan menjadi dua kelompok besar, pertama kelompok salafi dan kedua kelompok ashrani. Kelompok pertama biasa disebut sebagian pengamat sebagai kelompok fundamentalis, sedangkan Kelompok yang terakhir dapat disamakan dengan kelompok Islam Liberalis Kemudian, berdasarkan pembagian itu, para ahli dan pengamat keislaman mengklasifikasikan aliran pemikiran di kalangan umat Islam menjadi tiga kelompok, yakni fundamentalis, liberalis dan moderat. 1. Fundamentalis Istilah Fundamentalis yang dihubungkan dengan penganut ajaran Islam garis keras, sering kita dengar dari sumber informasiNegara barat. Hal itu terasa lebih popular ketika telah terjadinya serangan 11 september di New York. Kelompok Al-qaida yang dikomandani Usamah bin Laden termasuk kategori ini. Belakangan diduga ada jaringan yang sangat luas dari kelompok ini di beberapa wilayah di dunia ini, termasuk di Asia Tenggara, tentu Indonesia termasuk di dalamnya. Adanya kelompok garis keras seperti Majlis Mujahidin yang dipimpin oleh Ustaz Abu Bakar Baasyir dan Fron Pembela Islam, yang dipimpin Habib Rizizq Shihab, semakin memperkuat dugaan, bahwa Islam atau muslim fundamentalis itu identik dengan muslim yang mempunyai faham garis keras itu. Apakah memang benar demikian? Tentu persepsi seperti itu perlu ditelusuri kebenarannya. Dalam tradisi kajian Islam, istilah lain dari fundamentalis adala salfiy. Ke;ompok salafi, dari segi bahasa berarti kelompok yang berorientasi kepada masa lampau atau orang-orang yang terdahulu. Maksudnya, kelompok ini berusaha memahami ajaran Islam seperti apa yang difahami oleh Umat Islam generasi awal, termasuk Rasulullah dan para sahabatnya. Karena itu, apa saja yang tertulis secara harfiah dalam Al-Quran dan Hadis merupakan ajaran yang tidak dapat ditawar-tawar lagi, atau merupakan ajaran yang given dari Allah dan Rasul-Nya. Sesuai dengan namanya, kelompok ini mempunyai ciri dan karakteristik sebagai berikut : Pertama, Meyakini bahwa Al-Quran dan Hadis merupakan rujukan utama. AlQuran diyakini sebagai wahyu Allah yang disampaikan kepada Nabi Muhammad SAW dalam bahasa Arab. Kemudian Nabi Muhammad menjelaskan dalam bentuk pernyataan dan praktek beliau. Penjelasan ini merupakan bagian tak terpisahkan dari dari wahyu Allah itu. Kedua, Meyakini bahwa Al-Quran dan Hadis merupakan syariat penyempurna dari syariat sebelumnya. Oleh karena penyempurna, maka syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad dipastikan telah sempurna mengatur berbagai aspek kehidupan, baik yang menyangkut masalah ibadah khusus (ritual), maupun yang menyangkut masalah kehidupan di dunia ini. Karena itu, harus diacu secara keseluruhan (kaffah).

Ketiga, Memahami ayat Al-Quran dan Hadis secara tekstual, apa adanya sesuai dengan apa yang dipraktekan oleh Rasulullah dan sahabatnya. Penafsiran terhadap Al-Quran harus dilakukan dengan memahami kosa kata bahasa ketika Al-Quran diturunkan. Dalam banyak hal, penafsiran otentik, penafsiran ayat dengan ayat lain atau dengan hadis, merupakan ciri dari kelompok ini. Keempat, pendekatan yang digunakan adalah pendekatan normatif. Maksudnya, mereka berkeyakinan bahwa Al-Quran dan Hadis merupakan sumber hukum yang harus difahami sebagai norma yang mengatur, dan karena itu, harus ditaati secara keseluruhan. Tentu, mereka tidak mau menerima pendekatan rasional dan pendekatan historis-sosiologis, sebagaimana yang dilakukan oleh kelompok islam liberal. Dari keempat karakteristik di atas dapat difahami, bahwa kelompok salafi melihat segala persoalan dalam perspektif teks Al-Quran dan Hadis secara ketat. Mereka selalu berusaha mengadakan purifikasi atau pemurnian dari tradisi dan tindakan yang menyimpang dari diktum Al-Quran dan Hadis. Timbul pertanyaan, apakah mereka mungkin dapat mengadakan perubahan dan pembaharuan terhadap syariat yang datang dari Tuhan itu ? Jawabannya sudah dipastikan tidak. Bahkan mereka sering mengibaratkan, perubahan dalam masyarakat di satu sisi dengan syariat (wahyu) di sisi lain, seperti orang yang ingin membeli peci. Kepala orang dianggap sama dengan syariat, sedangkan peci disamakan dengan perubahan masyarakat. Karena itu, apabila terjadi ketidak cocokan antara ukuran kepala dengan peci, maka yang harus disesuaikan adalah pecinya, bukan merombak kepalanya. Begitulah kira-kira tamsil dari betapa kelompok ini berusaha menjaga kemurnian ajaran Al-Quran dan Hadis. Namun demikian, tidak berarti kelompok ini menolak perubahan sama sekali. Mereka meyakini bahwa teks suci yang berupa Al-Quran dan Hadis yang mengatur tentang kehidupan duniawi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu ada ayat yang bersifat pasti (qathi) dan tidak ada penafsiran lain terhadap ayat dimaksud; dan ada ayat yang interpretable dan multi tafsir. Dalam kaitan dengan ayat-ayat jenis pertama tidak ada perubahan dan penafsiran, betapapun kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sedangkan dalam masalah yang diatur oleh ayat-ayat jenis kedua dimungkinkan adanya penafsiran yang berbeda, dan tentu membawa implikasi perbedaan dalam penerapan aturan itu. Betapapun adanya potensi perbedaan penafsiran di kalangan mereka, tapi penafsiran mereka masih terbatas dengan kaidah-kaidah yang telah dirumuskan oleh ulama terdahulu. Bahkan dalam hal tertentu, mereka lebih bersifat kaku dalam menafsirkan ayat atau hadis. Itulah sebabnya kelompok ini disebut orang sebagai kelompok skripturalis atau tekstualis. Implikasi dari kecenderungan ini terkadang mereka bersifat ekslusif, menganggap penafsiran dari kelompoknya yang paling benar, sementara pemahaman orang lain dianggap salah. Tidak jarang juga menganggap umat Islam yang berbeda dengan penafsiran kelompoknya dianggap kafir. Di kalangan mereka diintrodusir istilah bidah yang dipertentangkan dengan istilah sunnah. Istilah ini terutama berkaitan dengan tatacara beribadah (ibadah mahdlah). Bagi mereka, adat atau kebiasaan ibadah yang tidak ada landasannya dari Al-Quran dan Hadis disebut bidah, dan karena itu dianggap

sesat. Konsep bidah itu juga memasuki ranah muamalat, sehingga apa saja yang dilakukan oleh Rasul, tanpa membedakan kedudukan beliau, harus sepenuhnya diikuti. Tidak heran, kalau dalam penampilan sehari-hari mereka harus memakai gamis atau jubah, berjenggot tebal dan seterusnya. Bertitik tolak dari keyakinan dan cara berfikir kelompok ini, maka banyak pandangan atau gagasan yang dikemukakan mereka terkesan kembali ke lima belas abad yang lampau. Dalam masalah kenegaraan, mereka tidak membenarkan wanita menjadi kepala negara. Argumen yang dikemukakannya adalah ayat Al-Quran yang menyatakan bahwa Laki-laki menjadi pemimpin terhadap wanita. Tentu mereka tidak berupaya untuk memehami secara komprehensif apa makna yang sesungguhnya dari ayat tersebut, apa konteks kalimatnya, apalagi memeahami makana di balik teks itu berupa kondisi sosial budaya pada masyarakat Arab waktu itu. Begitu pula masalah hubungan antar umat beragama. Dalam pandangan mereka, tidak dibenarkan menjadikan orang non muslim sebagai orang yang menjadi kepercayaan orang muslim, apalagi menjadikan mereka sebagai pemimpin bagi orang muslim. Memang harus diakui ada ayat yang secara eksplisit menjelaskan hal itu. Tetapi, lagi-lagi tanpa difahami konteks ayat dan kondisi sosial yang ada pada waktu itu. Dari beberapa contoh kasus di atas dapat difahami, betapa konsistennya kelompok ini dalam mengamalkan apa yang tertulis secara literal dalam AlQuran dan Hadis. Kedua sumber ajaran islam ini diyakini mereka merupakan ajaran yang fundamental dan tidak dapat ditawar-tawar lagi. Itulah sebabnya, orang yang di luar kelompok ini, terutama orang barat, menyebut kelompok mereka sebagai kelompok muslim fundamentalis, bahkan sering juga disebut sebagai kelompok militan. Tentu, kita sebagai umat Islam harus memberikan apresiasi terhadap sikap mereka yang konsisten atau istiqamah dalam menjalankan apa yang tertulis dalam Al-Quran dan Hadis. Namun dalam waktu yang sama kita juga harus memperhatikan dan mencermati sumber ajaran Islam dengan menggunakan penalaran dan analisis yangtidak bertentangan dengan misi Al-Quran sebagai agama yang menjadi rahmat bagi semua umat manusia, di mana pun dan kapan pun mereka berada

2. Liberalis Istilah Islam Liberal merupakan salah satu wacana dialektis Islam dalam konteks menghadapi kemoderrnan. Wacana ini menjadi penting dan menonjol akhir-akhir ini, ketika dunia Islam terkepung oleh peradaban dan sains modern yang datang dari barat. Kemunculan Islam liberal berbeda secara kontras dengan Islam fundamentalis yang menekankan pada tradisi salaf. Dalam faham liberal, faham fundamentalis hanya akan membawa keterbelakangan yang akan membawa dunia islam menikmati buah modernitas, berupa kemajuan ekonomi, demokrasi, hak asasi manusia. Lebih dari itu, faham ini meyakini bahwa apabila Islam difahami dengan pendekatan liberal akan menjadi perintis jalan bagi liberalisme di dunia barat.

Dalam memahami sumber ajaran islam, Al-Quran dan Al-Sunnah, kelompok ini berusaha untuk menangkap ajaran moral dan bukan aturan-aturan normatif yang terkandung di dalamnya. Karena itu, ayat-ayat Al-Quran yang berkaitan dengan norma hukum tidak harus difahami apa adanya, melainkan harus dibawa kepada konteks manusia modern.

3. Moderat Sebagaimana telah dijelaskan, bahwa kecenderungan pemahaman umat Islam terhadap Al-Quran dan Al-Sunnah dibedakan menjadi muslim liberal di satu sisi dan muslim fundamentalis di sisi yang lain. Diantara kedua aliran dan kecenderungan ini ada kelompok umat Islam yang memahami kedua sumber itu secara moderat (tawassuth). Artinya, tidak terlalu bebas, seperti kelompok Islam liberal dan tidak juga kaku, seperti kelompok Islam fundamentalis. Kelompok ini melihat persoalan yang muncul saat ini sebagai sebuah keniscayaan, karena sumber ajaran Islam yang utama, Al-Quran dan Al-Sunnah , turun dalam situasi yang berbeda dengan apa yang ada saat ini. Diakui, bahwa kedua sumber itu mempunyai ajaran yang bersifat permanent dan konstan,, tidak berubah dan tidak dapat diubah. Ajaran yang masuk kategori ini umumnya menyangkut masalah akidah (keimanan) dan ibadah ritual (ibadah mahdlah). Namun ada juga ajaran yang mengalami perkembangan dan penyempurnaan, seiring degan perkembangan umat Islam. Ajaran Islam kategori ini lebih bersifat temporer, berubah dan dqapat disesuaikan dengan perkembangan zaman. Kelompok ini membuat adagium al-Nushush mutanahiyah wa al-waqai ghairu mutanahiyah. Artinya, Teks suci, Al-Quran dan Al-Sunnah, bersifat terbatas, sementara kasus dan perstiwa hokum tidak pernah ada batasnya. Bagi mereka, Al-Quran dan Al-Sunnah harus difahami dalam kaitannya dengan perkembangan umat islam yang mengalami pertumbuhan dan perkembangan yang sangat cepat. Secara sosiologis harus diakui bahwa masyarakat berkembang dan tidak statis. Bahkan secara linguistic, bahasa mengalami perubahan sekitar 90 tahun sekali (hampir satu abad). Perubahan ini meniscayakan adanya perubahan dalam pemahaman terhadap norma dasar, Al-Quran dan Hadis. Kelompok ini selalu memperhatikan kepentingan dan kebutuhan manusia yang selalu berkembang, dengan tetap memperhatikan norma yang terdapat dalam teks. Selama telah diatur secara qathiy, maka perkembangan dan kepentingan manusia harus tunduk pada ketentuan teks yang sudah mempunyai nilai pasti itu. Karakteristik kelompok moderat: Pertama, Menggabungkan antara faham salaf dan modernis. Kelompok ini tidak terpaku hanya pada buku-buku yang ditulis oleh ulama terdahulu, sebagaimana dilakukan oleh kelompok fundamentalis, melainkan juga memperhatikan perkembangan pemikiran dan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang ada saat ini. Kedua, Mengambil pendapat para ulama secara selektif, tidak mengikatkan diri dengan mazhab tertentu. Kelompok ini berusaha untuk menyelesaikan masalah sesuai dengan penafsiran genearsi awal, dengan memperhatikan relevansinya

dengan kondisi saat ini. Ketiga, Mendahulukan persoalan yang universal dibandingkan dengan masalah yang particular. Kelompok ini lebih banyak berbicara masalah yang bersifat pokok (ushul) ketimbang yang bersifat cabang (furu) Keempat, Kelompok ini berusaha untuk menggabungkan arti yang secara harfiah ada dalam teks, tetapi berusaha juga memahami apa maksud pemberi syariat dibalik teks itu. Dari empat karakteristik di atas, dapat difahami, bahwa kelompok ini telah berupaya untuk membedakan antara masalah-masalah yang prinsipil dan konstan atau permanent di satu pihak dan masalah-masalah yang tidak prinsipil, berubah dan temporer di sisi yang lain. Mereka memilah ajaran Islam yang ada menjadi dua kategori, yaitu yang tetap dan berubah. Yang termasuk prinsipil dan tidak berubah adalah aqidah (keyakinan) , akhlak dan ibadah mahdlah. Sedangkan dalam masalah muamalah pada umumnya dikategorikan pada masalah yang bersifat berubah, terutama dalam hal yang bersifat oprasional. Setelah diaparkan tiga kecenderungan dalam memahami Al-Quran dan AlSunnah (Hadis), kelihatannya yang menjadi kecenderungan umum adalah sikap moderat dalam mengamalkan ajaran Islam. Sikap dan kecenderungan ini sejalan dengan jiwa dan semangat Al-Quran yang menghendaki umat Islam menjadi umat yang moderat (wasathan). Hal ini dapat dilihat dalam Surat Al-Baqarah ayat 143: Dan demikian pula kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat yang moderat (adil dan pilihan), agar kamu menjadi saksi atas perbuatan manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas perbuatan kamu. Sementara itu Rasulullah SAW bersabda: Janganlah kalian berlebih-lebihan dalam agama, karena sesungguhnya orang-orang yang datang sebelum kamu binasa karena sikap mereka yang berlebihan dalam agama. Kelihatannya menjadi muslim moderat, bukan saja sesuai dengan jiwa ajaran AlQuran dan Hadis, tetapi juga mencerminkan kearifan umat Islam untuk melihat masa sekarang sebagai sebuah kenyataan yang tidak dapat dihindari, namun tetap dapat mengamalkan ajaran dasar Islam dengan peneuh keyakinan atas kebenaran ajarannya. Kelihatannya Muhammadiyah telah faham dan sangat menyadari adanya wacana pemahaman umat Islam tentang doktrin dan penerapannya. Kecenderungan di kalangan warga persyarikatan, kalau boleh jujur apa adanya, telah terbagi menjadi dua arus utama ini. Kelompok Muhammadiyah salafi dalam arti taat asas kembali kepada ajaran Al-Quran dan Al-Sunnah secara literal cukup banyak penganutnya. Bagi kelompok ini, perubahan masyarakat tidak serta merta harus mengubah pemahaman terhadap Al-Quran dan Al-Sunnah. Sementara kelompok ashroni di kalangan warga Muhammadiyah tidak kurang banyak juga penganutnya. Tarik menarik antara dua kelompok kecenderungan ini tidak mustahil akan menimbulkan ideologi keberagamaan baru dalam Muhammadiyah. Mungkin, di tengah pergumulan pemikiran itu, adanya sikap tawassuth atau moderat akan lebih arif dan penting untuk disosialisaikan.

Penutup

Berdasarkan uraian di atas dapat difahami, bahwa tajdid dalam Muhammadiyah mengalami perubahan yang sangat berarti. Pada pase pertama tajdid dalam Muhammadiyah baru pada tataran praktis dan gerakan aksi yang mengarah pada pemurnian akidah dan ibadah, sebagai reaksi terhadap penyimpangan yang dilakukan oleh umat Islam pada saat itu. Tema sentral tajdid pada pase ini adalah pemurnian. Kemudian pada pase kedua sudah mulai terlihat pentingnya menyelesaikan masalah yang sama sekali baru yang dihadapi umat Islam. Pada pase ini mulai dibahas bahkan dirumuskan tajdid dalam arti modernisasi dan dinamisasi. Rumusan dan konsep tajdid diarahkan pada upaya untuk merspon perubahan masyarakat yang berkaitan dengan al-umur al-dunyawiyyah. Pada pase ini tidak lagi berkutat pada pemurnian aqidah dan masalah-masalah khilafiyah dalam fikih, tetapi lebih diarahkan pada ijtihad insyai. Sedangkan pada pase terakhir, tema tajdid dalam Muhammadiyah tidak terbatas pada masalah purifikasi dan dinamisasi, tetapi menuju rekonstruksi dan bahkan dalam batas tertentu melakukan dekonstruksi terhadap ajaran normatif, menuju ajaran islam yang bersifat historis. Persoalannya adalah, apakah semua warga Muhammadiyah, terutama para ulama dan cendikiawannya setuju dengan tema tajdid pase ketiga ini. Tentu, sesuai dengan karakteristik persyarikatan yang menghargai pendapat anggotanya, ragam pandangan dalam merspons persoalan ini tidak dapat dihindari. Kecenderungan fundamentalis sama kuatnya dengan kecenderungan liberalis. Di balik kedua kecenderungan yang ekstrim itu, barangkali kecenderungan moderat menjadi pertimbangan kita semua.

* aqidah islam menurut faham muhammadiyah


Paham Muhammadiyah 1. A. Pendahuluan

Muhammadiyah adalah gerakan Islam yang melaksanakan dakwah dan tajdid untuk terwujudnya masyarakat Islam yang sebenar-benarnya. Sebagai gerakan dakwah, Muhammadiyah mengajak umat manusia untuk memeluk agama Islam (dawah ila al-Khair), menyuruh pada yang maruf (al-amr bi al-maruf), dan mencegah dari yang munkar (al-nahy an al-munkar) {QS. Ali Imran/3: 104}, sehingga hidup manusia selamat, bahagia, dan sejahtera di dunia dan akhirat. Karena itu seluruh warga, pimpinan, hingga berbagai komponen yang terdapat dalam Muhammadiyah, termasuk amal usaha dan orang-orang yang berada di dalamnya, haruslah memahami Muhammadiyah serta mengaktualisasikannya dalam kehidupan nyata. Dalam memahami hakikat Muhammadiyah, karena Persyarikatan ini merupakan gerakan Islam sebagaimana disebutkan di atas, maka merupakan kewajiban bagi seluruh warga dan pimpinan serta segenap pengelola dan pelaksana di lingkungan struktur Persyarikatan termasuk di amal usahanya, untuk memahami Islam sebagaimana paham agama dalam

Muhammadiyah. Tuntutan seperti ini bukan bermazhab dan taklid, tetapi sebagai bentuk ittiba sekaligus keniscayaan menyetujui asas dan tujuan Muhammadiyah, sebagaimana lazimnya siapapun yang berada dalam rumah Muhammadiyah. Dan dalam beragama sebagaimana paham Muhammadiyah, haruslah benar dan lurus, sebagaimana Firman Allah SWT dalam Al-Quran, yang artinya: Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. Al-Rum: 30). Bagaimana paham keagamaan Muhammdiyah itu? Mari kita kaji bersama.

1. B.

Definisi Paham Muhammadiyah

Paham muhammadiyah sebenarnya menjuru pada firman Allah SWT QS. Al Rum : 30 Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama Allah; (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui (QS. AlRum: 30). Dari ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa paham muhammadiyah memiliki paham yang lulus terhadap agama Allah SWT yaitu Islam, dan tidak pernah merubah ajarannya, memiliki pedoman Al Quran dan Sunnah nabi. Dan muhammadiyah sendiri juga mengajarkan kepada umat manusia untuk memeluk agama Islam (dawah ila al-Khair), menyuruh pada yang maruf (al-amr bi al-maruf), dan mencegah dari yang munkar (al-nahy an al-munkar) {QS. Ali Imran/3: 104}. Hal yang penting yang perlu menjadi pemahaman bersama bahwa paham Islam dalam Muhammadiyah bersifat komprehensif dan luas, sehingga tidak sempit dan parsial. Agama dalam pandangan atau paham Muhammadiyah tidaklah sepotong-sepotong, serpihanserpihan, dan hanya hukum/fikih belaka. Paham agama yang ditanamkan bukan ajaran yang terbatas, tetapi luas dan mulsti aspek. Karena Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, maka paham tentang Islam merupakan kewajiban atau keniscayaan yang fundamental, yang intinya pada memperdalam sekaligus memperluas paham Islam bagi seluruh warga Muhammadiyah, kemudian menyebarkan/mensosialisasikan dan mengamalkan dalam kehidupan umat serta masyarakat sehingga Islam yang didakwahkan Muhammadiyah membawa/menjadi rahmatan lil-alamin. 1. C. Cakupan Paham Muhammadiyah

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam Muhammadiyah secara garis besar dan pokok-pokoknya ialah sebagai berikut:

1. Agama, yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. ialah apa

2.

3.

4.

5.

6.

yang diturunkan Allah dalam Alquran dan yang disebut dalam Sunnah maqbulah, berupa perintah-perintah, larangan-larangan, dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang alDin). Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W., sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spirituil, duniawi dan ukhrawi (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah/MKCHM butir ke-2). Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidang-bidang: (a) Aqidah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bidah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam; (b) Akhlaq; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaranajaran Alquran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia; (c) Ibadah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah S.A.W. tanpa tambahan dan perubahan dari manusia; (d) Muamalah dunyawiyat; Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya muamalah dunyawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah S.W.T. (MKCH, butir ke-4). Islam adalah agama untuk penyerahan diri semata-mata karena Allah, agama semua Nabi, agama yang sesuai dengan fitrah manusia, agama yang menjadi petunjuk bagi manusia, agama yang mengatur hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama, dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Islam satusatunya agama yang diridhai Allah dan agama yang sempurna. (Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah/PHIWM, bab Pandangan Islam Tentang Kehidupan). Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah Alquran dan Sunnah. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tak bersangkutan dengan ibadah mahdhah padahal untuk alasan atasnya tiada terdapat nash sharih dalam Alquran dan Sunnah maqbulah, maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istinbath dari nash yang ada melalui persamaan illat, sebagaimana telah dilakukan oleh ulama salaf dan Khalaf (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang Qiyas). Muhammadiyah dalam memaknai tajdid mengandung dua pengertian, yakni pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi) (Keputusan Munas Tarjih di Malang).

1. D.
2.

Pembahasan dan Analisis I. Sumber Ajaran Islam

Muhammadiyah, sebagai gerakan keagamaan yang berwatak sosio kultural, dalam dinamika kesejarahannya selalu berusaha merespon berbagai perkembangan kehidupan dengan

senantiasa merujuk pada ajaran Islam yang bersumber dari dua sumber primer ajaran ini. Yakni Alquran dan Assunnah Almaqbulah. Hal ini bisa kita lihat di dalam Anggaran Dasar Muhammadiyah BAB II Pasal 4 ayat 1. Hanya saja istilah Assunnah Almaqbulah baru digunakan setelah diresmikan istilahnya pada Keputusan Musyawarah Nasional Majlis Tarjih XXV tentang Manhaj Tarjih dan Pengembangan Pemikiran Islam di Jakarta tahun 2000, dan sebelumnya digunakan istilah Assunnah Ashshahihah. Untuk mencapai maksud dan tujuannya yaitu mewujudkan masyarakat Islam yang sebenarbenarnya, maka Muhammadiyah melaksanakan amar maruf nahi munkar dan tajdid yang diwujudkan dalam usaha di segala bidang kehidupan. Dalam pengembangan bidang keagamaan dan dakwah ditangani oleh dua majlis yaitu Majlis Tarjih dan Tajdid (MTT) dan Majlis Tabligh dan Dakwah Khusus (MT-DK).
1.

II.

Pemahaman Ajaran Islam

Hal-hal yang berkaitan dengan paham agama dalam Muhammadiyah secara garis besar dan pokok-pokoknya ialah sebagai berikut: 1) Agama, yakni Agama Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad S.A.W. ialah apa yang diturunkan Allah dalam Alquran dan yang disebut dalam Sunnah maqbulah, berupa perintahperintah, larangan-larangan, dan petunjuk-petunjuk untuk kebaikan manusia di dunia dan akhirat (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang al-Din). 2) Muhammadiyah berkeyakinan bahwa Islam adalah Agama Allah yang diwahyukan kepada para Rasul-Nya sejak Nabi Adam, Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan seterusnya sampai kepada Nabi Muhammad S.A.W., sebagai hidayah dan rahmat Allah kepada umat manusia sepanjang masa, dan menjamin kesejahteraan hidup materiil dan spirituil, duniawi dan ukhrawi (Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah/MKCHM butir ke-2). 3) Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya ajaran-ajaran Islam yang meliputi bidangbidang: (a) Aqidah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya aqidah Islam yang murni, bersih dari gejala-gejala kemusyrikan, bidah dan khurafat, tanpa mengabaikan prinsip toleransi menurut ajaran Islam; (b) Akhlaq; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilainilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi kepada nilai-nilai ciptaan manusia; (c) Ibadah; Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya ibadah yang dituntunkan oleh Rasulullah S.A.W. tanpa tambahan dan perubahan dari manusia; (d) Muamalah dunyawiyat; Muhammadiyah bekerja untuk terlaksananya muamalah dunyawiyat (pengolahan dunia dan pembinaan masyarakat) dengan berdasarkan ajaran Agama serta menjadikan semua kegiatan dalam bidang ini sebagai ibadah kepada Allah S.W.T. (MKCH, butir ke-4). 4) Islam adalah agama untuk penyerahan diri semata-mata karena Allah, agama semua Nabi, agama yang sesuai dengan fitrah manusia, agama yang menjadi petunjuk bagi manusia, agama yang mengatur hubungan dengan Tuhan dan hubungan manusia dengan sesama, dan agama yang menjadi rahmat bagi semesta alam. Islam satu-satunya agama yang diridhai Allah dan agama yang sempurna. (Pedoman Hidup Islami Warga Muhammadiyah/PHIWM, bab Pandangan Islam Tentang Kehidupan).

5) Bahwa dasar muthlaq untuk berhukum dalam agama Islam adalah Alquran dan Sunnah. Bahwa di mana perlu dalam menghadapi soal-soal yang telah terjadi dan sangat dihajatkan untuk diamalkannya, mengenai hal-hal yang tak bersangkutan dengan ibadah mahdhah padahal untuk alasan atasnya tiada terdapat nash sharih dalam Alquran dan Sunnah maqbulah, maka dipergunakanlah alasan dengan jalan ijtihad dan istinbath dari nash yang ada melalui persamaan illat, sebagaimana telah dilakukan oleh ulama salaf dan Khalaf (Kitab Masalah Lima, Al-Masail Al-Khams tentang Qiyas). 6) Muhammadiyah dalam memaknai tajdid mengandung dua pengertian, yakni pemurnian (purifikasi) dan pembaruan (dinamisasi) (Keputusan Munas Tarjih di Malang). Salah satu dari enam prioritas program Muhammadiyah periode 2005-2010 ialah pengembangan tajdid di bidang tarjih dan pemikiran Islam secara intensif dengan menguatkan kembali rumusan-rumusan teologis seperti tauhid sosial, serta gagasan operasional seperti dakwah jamaah, dengan tetap memperhatikan prinsip dasar organisasi dan nilai Islam yang hidup dan menggerakkan (Keputusan Muktamar ke-45 di Malang tahun 2005). Mengingat kecenderungan atau gejala melemahnya dan dangkalnya pemahaman mengenai Islam dalam Muhammadiyah, pada saat yang sama, terdapat fenomena orang Muhammadiyah mengembangkan paham sendiri-sendiri atau malah mengikuti paham lain, maka diperlukan ikhtiar sistematis untuk menanamkan atau memantapkan kembali paham Agama (Islam) dalam Muhammadiyah. Di antara langkah-langkah untuk menanamkan (memantapkan) kembali paham Islam dalam Muhammadiyah ialah sebagai berikut: 1. Majelis Tarjih memproduksi/menghasilkan berbagai pedoman/tuntunan tentang ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan baik yang menyangkut aqidah, ibadah, akhlak, maupun muamalat duniawiyah secara lengkap, mudah dipahami, dan bervariasi untuk dijadikan pedoman dan dimasyarakatkan/dipublikasikan sesuai dengan keputusan-keputusan Muktamar/Munas Tarjih. 2. Pimpinan Persyarikatan diikuti oleh Organisasi Otonom, amal usaha, dan berbagai institusi dalam Muhammadiyah di berbagai tingkatan dari Pusat hingga Ranting menggiatkan kembali Kajian Intensif Islam dalam Muhammadiyah, serta menyelenggarakan Pengajian Pimpinan dan Pengajian Anggota, yang di dalamnya dipaketkan materi khusus secara mendalam dan luas tentang Paham Agama (Islam) dalam Muh mmadiyah. 3. Menggiatkan pengajian-pengajian umum yang membahas tentang Islam multiaspek dalam Muhammadiyah baik secara rutin maupun dengan memanfaatkn momentummomentum tertentu. 4. Menyebarluaskan paham agama (Islam) dalam Muhammadiyah ke berbagai lingkungan serta media publik, termasuk melalui website, internet, dakwah seluler, dan sebagainya sehingga paham Islam yang dikembangkan Muhammadiyah dapat dibaca, dipahami, dan diamalkan oleh umat Islam dan masyarakat luas. 5. Menghidupkan kembali kultum/pengajian singkat di berbagai kegiatan, yang antara lain menjelaskan tentang berbagai aspek ajaran Islam yang dipahami dan dipraktikan Muhammadiyah, sehingga bukan sekadar membahas masalah-masalah organisasi belaka, kendati tetap penting. Hal yang penting yang perlu menjadi pemahaman bersama bahwa paham Islam dalam Muhammadiyah bersifat komprehensif dan luas, sehingga tidak sempit dan parsial. Agama

dalam pandangan atau paham Muhammadiyah tidaklah sepotong-sepotong, serpihanserpihan, dan hanya hukum/fikih belaka. Paham agama yang ditanamkan bukan ajaran yang terbatas, tetapi luas dan mulsti aspek. Karena Muhammadiyah merupakan gerakan Islam, maka paham tentang Islam merupakan kewajiban atau keniscayaan yang fundamental, yang intinya pada memperdalam sekaligus memperluas paham Islam bagi seluruh warga Muhammadiyah, kemudian menyebarkan/mensosialisasikan dan mengamalkan dalam kehidupan umat serta masyarakat sehingga Islam yang didakwahkan Muhammadiyah membawa/menjadi rahmatan lil-alamin.
1.

III.

Bidang Aqidah

Aqidah Islam menurut Muhamadiyah dirumuskan sebagai konsekuensi logis dari gerakannya. Formulasi aqidah yang dirumuskan dengan merujuk langsung kepada suber utama ajaran Islam itu disebut aqidah shahihah, yang menolak segala bentuk campur tangan pemikiran teologis. Karakteristik aqidah Muhammadiyah itu secara umum dapat dijelaskan sebagai berikut: Pertama, nash sebagai dasar rujukan. Semangat kembali kepada Alquran dan Sunnah sebenarnya sudah menjadi tema umm pada setiap gerakan pembaharuan. Karena diyakini sepenuhnya bahwa hanya dengan berpedoman pada kedua sumber utama itulah ajaran Islam dapat hidup dan berkembang secara dinamis. Muhammadiyah juga menjadikan hal ini sebagai tema sentral gerakannya, lebih-lebih dalam masalah aqidah, seperti dinyatakan: Inilah pokok-pokok aqidah yang benar itu, yang terdapat dalam Alquran dan dikuatkan dengan pemberitaan-pemberitaan yang mutawatir. Berdasarkan pernyataan di atas, jelaslah bahwa sumber aqidah Muhammadiyah adalah alquran dan Sunnah yang dikuatkan dengan berita-berita yang mutawatir. Ketentuan ini juga dijelaskan lagi dalam pokok-pokok Manhaj Tarjih sebagai berikut: (5) Di dalam masalah aqidah hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutawatir, (6) Dalil-dalil umum Alquran dapat ditakhsis dengan hadits ahad, kecuali dalam bidang aqidah, (16) dalam memahami nash, makna zhahir didahulukan daripada tawil dalam bidang aqidah dan takwil sahabat dalam hal itu tidak harus diterima. Ketentuan-ketentuan di atas jelas menggambarkan bahwa secara tegas aqidah Muhammadiyah bersumber dari Alquran dan Sunnah tanpa interpretasi filosofis seperti yang terdapat dalam aliran-aliran teologi pada umumna. Sebagai konsekuensi dari penolakannya terhadap pemikiran filosofis ini, maka dalam menghadapi ayat-ayat yang berkonotasi mengundang perdebatan teologis dalam pemaknaannya, Muhammadiyah bersikap tawaqquf seperti halnya kaum salaf. Kedua, keterbatasan peranan akal dalam soal aqida Muhammadiyah termasuk kelompok yang memandang kenisbian akal dalam masalah aqidah. Sehingga formulasi posisi akal sebagai berikut Allah tidak menyuruh kita membicarakan hal-hal yang tidak tercapai pengertian oleh akal dalam hal kepercayaan, sebab akal manusia tidak mungkin mencapai pengertian tentang Dzat Allah dan hubungan-Nya dengan sifat-sifat yang ada pada-Nya. Ketiga, kecondongan berpandangan ganda terhadap perbuatan manusia. Pertama, segala perbuatan telah ditentukan oleh Allah dan manusia hanya dapat berikhtiar. Kedua, jika

ditinjau dari sisi manusia perbuatan manusia merupakan hasil usaha sendiri. Sedangkan bila ditinjau dari sis Tuhan, perbuatan manusia merupakan ciptaan Tuhan. Keempat, percaya kepada qadha dan qadar. Dalam Muhammdiyah qadha dan qadar diyakini sebagai salah satu pokok aqidah yang terakhir dari formulasi rukun imannya, dengan mengikuti formulasi yang diberikan oleh hadis mengenai pengertian Islam, Iman dan Ihsan. Kelima, menetapkan sifat-sifat Allah. Seperti halnya pada aspek-aspek aqidah lainnya, pandangan Muhammadiyah mengenai sifat-sifat Allah tidak dijelaskan secara mendetail. Keterampilan yang mendekati kebenaran Muhammadiyah tetap cenderung kepada aqidah salaf.
1.

IV.

Bidang Hukum

Muhammadiyah melarang anggotanya bersikap taqlid, yaitu sikap mengikuti pemikiran ulama tanpa mempertimbangkan argumentasi logis. Dan sikap keberagaman menumal yang dibenarkan oleh Muhammadiyah adalah ittiba, yaitu mengikuti pemikiran ulama dengan mengetahui dalil dan argumentasi serta mengikutinya dengan pertimbangan logika. Di samping itu, Muhammadiyah mengembangkan ijtihad sebagai karakteristik utama organisasi ini. Adapun pokok-pokok utama pikiran Muhammadiyah dalam bidang hokum yang dikembangkan oleh Majlis Tarjih antara lain:
1. Ijtihad dan istinbath atas dasar illah terhadap hal-hal yang terdapat di dalam nash,

2. 3.

4.

5.

dapat dilakukan sepanjang tidak menyangkut bidang taabbdi dan memang merupakan hal yang diajarkan dalam memenuhi kebutuhan hidup manusia. Tidak mengikatkan diri kepada suatu madzhab, tetapi pendapat madzhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan hukum. Berprinsip terbuka dan toleran dan tidak beranggapan bahwa hanya Majlis Tarjih yang paling benar. Koreksi dari siapa pun akan diterima sepanjang diberikan dalildalil yang lebih kuat. Dengan demikian, Majlis Tarjih dimungkinkan mengubah keputusan yang pernah ditetapkan. Ibadah ada dua macam, yaitu ibadah khusus, yaitu apa yang telah ditetapkan Allah akan perincian-perinciannya, tingkah dan cara-caranya yang tertentu, dan ibadah umum, yaitu segala perbuatan yang dibolehkan oleh Allah dalam rangka mendekatkan diri kepadaNya. Dalam bidang ibadah yang diperoleh ketentuan-ketentuannya dari Alquran dan Sunnah, pemahamannya dapat menggunakan akal sepanjang diketahui latar belakang dan tujuannya. Meskipun harus diakui bahwa akal bersifat nisbi, sehingga prinsip mendahulukan nash daripada akal memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan.

1.

V.

Bidang Akhlak

Mengingat pentingnya akhlaq dalam kaitannya dengan keimanan seseorang, maka Muhammadiyah sebagai gerakan Islam juga dengan tegas menempatkan akhlaq sebagai salah

satu sendi dasar sikap keberagamaannya. Dalam Matan Keyakinan dan Cita-cita Hidup Muhammadiyah dijelaskan Muhammadiyah bekerja untuk tegaknya nilai-nilai akhlaq mulia dengan berpedoman kepada ajaran-ajaran Alquran dan Sunnah Rasul, tidak bersendi pada nilai-nilai ciptaan manusia. Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat yang tertanam dalam jiwa yang menimbulkan perbuatanperbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Imam Ghazali). Nilai dan perilaku baik dan burruk seperti sabar, syukur, tawakal, birrul walidaini, syajaah dan sebagainya (Al-Akhlaqul Mahmudah) dan sombong, takabur, dengki, riya, uququl walidain dan sebagainya (Al-Akhlaqul Madzmuham). Mengenai Muhammadiyah menjadikan akhlaq sebagai salah satu garis perjuangannya, hal ini selain secara tegas dinyatakan dalam nash, juga tidak dapat dipisahkan dari akar historis yang melatarbelakangi kelahirannya. Kebodohan, perpecahan di antara sesama orang Islam, melemahnya jiwa santun terhadap dhuafa, pernghormatan yang berlebi-lebihan terhadap orang yang dianggap suci dan lain-lain, adalah bentuk realisasi tidak tegaknya ajaran akhlaqul karimah. Untuk menghidupkan akhlaq yang islami, maka Muhammadiyah berusaha memperbaiki dasar-dasar ajaran yang sudah lama menjadi keyakinan umat Islam, yaitu dengan menyampaikan ajaran yang benar-benar berdasar pada ajaran Alquran dan Sunnah Maqbulah, membersihkan jiwa dari kesyirikan, sehingga kepatuhan dan ketundukan hanya semata-mata kepada Allah. Usaha tersebut ditempuh melalui pendidikan, sehingga sifat bodoh dan inferoritas berangsur-angsur habis kemudian membina ukhuwah antar sesame muslim yang disemangati oleh Surat Ali Imron ayat 103. Adapun sifat-sifat akhlak Islam dapat digambarkan sebagai berikut: 1. Akhlaq Rabbani : Sumber akhlaq Islam itu wahyu Allah yang termaktub dalam AlQuran dan As-Sunnah, bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Akhlaq Islamlah moral yang tidak bersifat kondisional dan situasional, tetapi akhlaq yang memiliki nilai-nilai yang mutlak. Akhlaq rabbanilah yang mampu menghindari nilai moralitas dalam hidup manusia (Q.S.) Al-Anam / 6 : 153). 2. Akhlak Manusiawi. Akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi fitrah manusia. Jiwa manusia yang merindukan kebaikan, dan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam Islam. Akhlaq Islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya. 3. Akhlak Universal. Sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia baik yang berdimensi vertikal, maupun horizontal. (Q.S. Al-Annam : 151-152). 4. Akhlak Keseimbangan. Akhlaq Islam dapat memenuhi kebutuhan sewaktu hidup di dunia maupun di akhirat, memenuhi tuntutan kebutuhan manusia duniawi maupun ukhrawi secara seimbang, begitu juga memenuhi kebutuhan pribadi dan kewajiban terhadap masyarakat, seimbang pula. (H.R. Buhkori). 5. Akhlaq Realistik. Akhlaq Islam memperhatikan kenyataan hidup manusia walaupun manusia dinyatakan sebagai makhluk yang memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk lain, namun manusia memiliki kelemahan-kelemahan itu yaitu sangat mungkin melakukan kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat. Bahkan dalam keadaan terpaksa. Islam membolehkan

manusia melakukan yang dalam keadaan biasa tidak dibenarkan. (Q.S. Al- Baqarah / 27 : 173). 6. VI. Bidang Muamalah Dunyawiyah

Muamalah : Aspek kemasyarakatan yang mengatur pegaulan hidup manusia diatas bumi ini, baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antar negara dan lain sebagainya. Di dalam prinsip-prinsip Majlis Tarjih poin 14 disebutkan Dalam hal-hal termasuk AlUmurud Dunyawiyah yang tidak termasuk tugas para nabi, menggunakan akal sangat diperlukan, demi untuk tercapainya kemaslahatan umat. Adapun prinsip-prinsip muamalah dunyawiyah yang terpenting antara lain:
1. Menganut prinsip mubah.

2. Harus dilakukan dengan saling rela artinya tidak ada yang dipaksa. 3. Harus saling menguntungkan. Artinya muamalah dilakukan untuk menarik mamfaat dan menolak kemudharatan. 4. Harus sesuai dengan prinsip keadilan. 5. VII. Metodologi Ijtihad

Jalan Ijtihad yang ditempuh Majlis Tarjih meliputi :


1. Ijtihad Bayan : yaitu ijtihad terhadap ayat yang mujmal baik karena belum jelas

maksud lafadz yang dimaksud, maupun karena lafadz itu mengandung makna ganda, mengandung arti musytarak ataupun karena pengertian lafadz dalam ungkapan yang konteksnya mempunyai arti yang jumbuh (mutasyabih) ataupun adanya beberapa dalil yang bertentangan (taarrudl) dalam hal terakhir digunakan cara jama dan talfiq. 2. Ijma: Kesepakatan para imam mujtahid di kalangan umat Islam tentang suatu hukum Islam pada suatu masa (masa sahabat setelah Rasulullah wafat). Menurut kebanyakan para ulama, hasil ijma dipandang sebagai salah satu sumber hukum Islam sesudah Alquran dan Sunnah. Pemikiran tentang ijma berkembang sejak masa sahabat sampai masa sekarang, sampai masa para imam mujtahid. 3. Qiyas: Menyamakan sesuatu hal yang tidak disebutkan hukumnya di dalam nash, dengan hal yang disebutkan hukumnya di dalam nash, karena adanya persamaan illat (sebab) hukum pada dua macam hal tersebut, contoh: hukum wajib zakat atas padi yang dikenakan pada gandum. Untuk Qiyas digunakan dalam bidang muamalah duniawiyah, tidak berlaku untuk bidang ibadah mahdlah. La qiyasa fil ibadah. 4. Maslahah, atau Istislah. Yaitu, menetapkan hukum yang sama sekali tidak disebutkan dalam nash dengan pertimbangan untuk kepentingan hidup manusia yang bersendikan mamfaat dan menghindarkan madlarat. Contoh, mengharuskan pernikahan dicatat, tidak ada satu nash pun yang membenarkan atau membatalkan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kepastian hukum atas terjadinya perkawinan yang dipergunakan oleh negara. Hal ini dilakukan untuk melindungi hak suami istri. Tanpa pencatatan negara tidak mempunyai dokumen otentik, atas terjadinya perkawinan.

Istihsan: yaitu memandang lebih baik, sesuai dengan tujuan syariat, untuk meninggalkan ketentuan dalil khusus dan mengamalkan dalil umum. Contoh: Harta zakat tidak boleh dipindah tangankan dengan cara dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Tetapi kalau tujuan perwakafan (tujuan syari) tidak mungkin tercapai, larangan tersebut dapat diabaikan, untuk dipindah tangankan, atau dijual, diwariskan atau dihibahkan. Contoh : Mewakafkan tanah untuk tujuan pendidikan Islam. Tanah tersebut terkena pelebaran jalan, tanah tersebut dapat dipindahtangankan dengan dijual, dibelikan tanah ditempat lain untuk pendidikan Islam yang menjadi tujuan syariah diatas.

PAHAM AGAMA MENURUT MUHAMMADIYAH

Jun 9, '08 10:08 AM untuk semuanya

Muhammadiyah didalam memahami Islam dilakukan secara komprehensif. Aspek Aqidah, Ibadah, Akhlak, dan Muamalah Duniawiyah tidak dipisahkan satu dengan yang lain, meskipun dapat dibedakan. Dalam memahami Islam akal dapat digunakan sejauh yang dapat dijangkau. Hal-hal yang dirasakan di luar jangkauan akal, diambil sikap tawaqquf dan tatwidh. Memaksa tawil terhadap hal-hal yang dirasakan diluar jangkauan akal, dipandang sebagai menundukkan nash terhadap akal. Aspek aqidah lebih banyak didasarkan atas nash, tawil dipergunakan sepanjang didukung oleh qarinah-qarinah yang dapat diterima. Aspek akhlak mutlak berdasarkan nash, sedangkan akhlak situasional dan kondisional tidak dapat diterima. Ibadah Mahdah berdasarkan nash sedangkan untuk aspek muamalah, jika diperoleh dalil-dalil qothy, dilaksanakan sesuai ajaran nash. Tetapi jika diperoleh dari dalil-dalil dhonny, maka dilakukan penafsiran. Dalam hal ini asas maslahah dapat dijadikan landasan penafsiran. Sifat hati-hati terhadap hal-hal yang belum diperoleh penjelasan, diperlukan guna menjaga keselamatan beragama. Muhammadiyah dalam mamahami dam mengamalkan Islam berdasarkan Al Quran dan Sunnah Rasul dengan menggunakan akal pikiran sesuai ajaran Islam . Pengertian Al- Quran sebagai sumber ajaran Islam adalah kitab Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW sedangkan sunnah rosul adalah sumber ajaran Islam berupa penjelasan dan pelaksanaan ajaran-ajaran Al Quran yang diberikan oleh nabi Muhammad (matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah butir ke 3). Bagi Muhammadiyah memahami Islam secara benar sangatlah menentukan beragama secara benar pula. Apabila faham tentang Islam itu tidak benar maka tidak akan benar menangkap hakekat dan citra ajaran Islam secara benar. Sehingga akan berpengaruh terhadap pengamalannya dalam kehidupan secara benar pula. Oleh karena itu untuk memahami Islam perlu dasar yang kokoh dan benar. Beberapa prinsip yang menjadi dasar paham agama Islam dalam Muhammadiyah, disebutkan dalam penjelasan matan keyakinan dan cita-cita hidup Muhammadiyah adalah sebagai berikut :

a. Agama Islam ialah agama Allah yang diturunkan kepada para Rosulnya sejak nabi Adam sampai nabi terakhir, ialah nabi Muhammad SAW Nabi Muhammad SAW sebagai nabi terakhir diutus dengan membawa syariat agama yang sempurna untuk seluruh umat manusia sepanjang masa maka dari itu agama yang diturunkan kepada nabi Muhammad itulah yang tetap berlaku sampai sekarang dan untuk masa-masa selanjutnya. Agama yakni agama Islam yang di bawa nabi Muhammad SAW ialah apa yang diturunkan Allah dalam Al Quran yang tersebut dalam sunnah yang shahih, berupa perintah-perintah dan larangan serta petunjuk untuk kebaikan manusia dunia dan akhirat (putusan Majelis Tarjih) b. Dasar Agama Islam. 1. Al Quran : Kitab Allah yang diwahyukan kepada nabi Muhammad SAW. 2. Sunnah Rasul : Penjelasan dan pelaksanaan ajaran Al Quran yang diberikan nabi Muhammad SAW dengan menggunakan akal pikiran sesuai dengan jiwa ajaran Islam (Nukilan MKCH) c. Al-Quran dan Sunnah rosul sebagai penjelasannya adalah pokok dasar hukum ajaran Islam yang mengandung ajaran yang benar akal pikiran atau Ar rayu adalah alat untuk : 1 menagngkap dan mengetahui kebenaran yang terkandung dalam Al Quran dan Sunnah Rasul. 2 Mengetahui maksud-maksud yang tercakup dalam pengertian Al Quran dan Sunnah Rasul. Untuk melaksanakan ajaran Al Quran dan sunnah Rasul dalam mengatur dunia guna memakmurkannya, atau pikiran yang dinamis dan progresif mempunyai peranan yang penting dan lapangan yang luas. Begitu pula akal pikiran bisa untuk mempertimbangkan seberapa jauh pengaruh keadan dan waktu terhadap penerapan suatu ketentuan hukum dalam batas maksud-maksud pokok ajaran agama. 3. Hubungan Sunnah dengan Al Quran. : a. Bayan Tafsir : yaitu sunnah menerangkan ayat-ayat yang sangat umum, mujmal, dam musytaraq. Seperti hadis Shallu kama ra aitu munni usholli adalah tafsir dari ayat-ayat : Aqimusholah. b. Bayan taqriri. Yaitu sunnah berfungsi untuk memperkokoh dan memperkuat pernyataan Al Quran seperti hadis : Sumun liru yatihii....adalah memperkokoh surat Al Baqoroh ayat 185. c. Bayan Tadhlihi : yaitu sunnah menerangkan maksud dan tujuan sesuatu ayat seperti pernyataan nabi : Allah tidak mewajibkan zakat melainkan supaya menjadi baik harta-hartamu yang sudah di zakati adalah tadhlihi terhadap surat Attaubah ayat 34. Muhammadiyah berpendapat bahwa pintu ijtihad senantiasa terbuka. d. Kedudukan ijtihad : tidak semua ayat Al Quran yang mengatur hidup dan kehidupan manusia sudah di atur secara terinci. Ada yang diatus secara global (garis besar atau prinsip-prinsipnya.) dan ada yang diatur secara detail. Untuk penjabaran dan pengembangan hal-hal yang diatur secara detail Al-Quran dan As Sunnah memberikan kesempatan kepada para ulama mujtahidin untuk

melakukan ijtihad dan hadist mukadzbinjabbal dan hadist-hadist yang lain. Yaitu menggunakan pikiran untuk menentukan sesuatu hukum yang tidak ditentukan secara eksplisit oleh Al Quran dan As Sunnah, dalam ber-ijtihad para mujtahidin bisa menggunakan metode ijma (sahabi), qiyas, ikhtisan dan maslahir mursalah. Keputusan ijtihad tidak bersifat absolut, karena merupakan produk akal pikiran, tidak berlaku bagi semua orang dan semua masa, dan tentu saja tidak boleh bertentangan dengan Al Quran dan As Sunnah. METOLOGI IJTIHAD : 1. Ijma : Kesepakatan para imam mujtahid dikalangan umat islam tentang suatu hukum islam pada suatu masa (masa sahabat setelah Rasulullah wafat). Menurut kebanyakan para ulama rasul, hasil ijma dipandang sebagai salah satu sumber hukum islam sesudah Al-Quran dan Hadist. Pemikiran tentang ijma berkembang sejak masa sahabat sampai masa sekarang, sampai masa para imam mujtahid. 2. Qiyas : Menyamakan sesuatu hal yang tidak disebutkan hukumnya didalam nash, dengan hal yang disebutkan hukumnya didalam nash, karena adanya persamaan illat (sebab) hukum pada dua macam hal tersebut, contoh : hukum wajib zakat atas padi yang dikenakan pada gandum. Rukun qiyas : a. Al- Ashlu, yaitu hal yang telah disebutkan dalam nash yang menjadi pangkal qiyas, atau pokok dalam hal ini gandum. b. Cabang, dalam hal ini padi c. Wajib zakat gandum adalah hukum asal. d. Bahan makanan pokok adalah illat hukum Al-Ashlu Karena antara padi dengan gandum mempunyai illat yang sama yaitu sebagai makanan pokok, maka padi dikenakan wajib di zakakti seperti wajibnya gandum untuk di zakati. Untuk Qiyas digunakan dalam bidang muamalah duniawiyah, tidak berlaku untuk bidang ibadah mahdlah. La qiyasa fil ibadah. 3. Maslakhah, mursalah atau Istislah Yaitu, menetapkan hukum yang sama sekali tidak disebutkan dalam nash dengan pertimbangan untuk kepentingan hidup manusia yang bersendikan manfaat dan menghindarkan madlarat. Contoh, mengharuskan pernikahan dicatat, tidak ada satu nash pun yang membenarkan atau membatalkan. Hal ini dilakukan untuk memperoleh kepastian hukum atas terjadinya perkawinan yang dipergunakan oleh negara. Hal ini dilakukan untuk melindungi hak suami istri. Tanpa pencatatan negara tidak mempunyai dokumen otentik, atas terjadinya perkawinan. 4. Istihsan : yaitu memandang lebih baik, sesuai dengan tujuan syariat, untuk meninggalkan ketentuan dalil khusus dan mengamalkan dalil umum. Contoh : Harta zakat tidak boleh dipindahtangankan dengan cara dijual, diwariskan, atau dihibahkan. Tetapi kalau tujuan perwakafan (tujuan syari) tidak mungkin tercapai, larangan tersebut dapat diabaikan, untuk dipindah tangankan, atau dijual, diwariskan atau dihibahkan. Contoh : Mewakafkan tanah untuk tujuan pendidikan islam. Tanah tersebut terkena pelebaran jalan, tanah tersebut dapat dipindahtangankan dengan dijual,

dibelikan tanah ditempat lain untuk pendidikan islam yang menjadi tujuan syariah diatas. Secara khusus, pemahaman islam dalam Muhammadiyah, dapat dikaji dalam pokok-pokok Manhaj Trjih yang telah dilakukan dalam menetapkan keputusan sebagai berikut : 1) Dalam beristiddlah, dasar utamanya adalah Al-Quran dan As Sunnah AshShahihah, Ijtihad dan istibath atas dasar illah terhadap hal-hal yang tidak terdapat dalam nash dapat dilakukan sepanjang tidak menyangkut bidang taabuddi, dan memang merupakan hal yang dihajatkan hidup manusia. Dengan perkataan lain Majlis Tarjih menerima ijtihad termasuk Qiyas, sebagai cara dalam menetapkan hukum yang tidak ada nashnya secara langsung. 2) Dalam memutuskan suatu keputusan dilakukan dengan cara musyawarah. Dalam menetapkan masalah ijtihadiyah digunakan sistem ijtihad jamai. Dengan demikian pendapat perorangan dari anggota majelis tidak dapat dipandang sebagai pendapat majelis. 3) Tidak mengikatkan diri pada suatu madzhab, tetapi pendapat imam imam madzhab dapat menjadi bahan pertimbangan dalam menetapkan sepanjang sesuai dengan Al-Quran dan As Sunnah atau dasar-dasar lain yang dipandang kuat. 4) Berpikir terbuka dan toleran dan tidak beranggapan bahwa hanya keputusan Majelis Tarjih yang paling benar. Keputusan diambil atas dasar landasan dalildalil yang dipandang paling kuat yang didapat ketika putusan diambil. Dan koreksi dari siapapun akan diterima, sepanjang dapat diberikan dalil-dalil yang lebih kuat. Dengan demikian Majelis tarjih dimungkinkan merubah keputusan yang pernah ditetapkan. 5) Didalam masalah aqidah (tauhid) hanya dipergunakan dalil-dalil yang mutaasatir. 6) Tidak menolak ijma sahabat sebagai dasar suatu keputusan. 7) Terhadap dali-dalil yang nampak suatu taarudl digunakan cara : Al-jamu wa Taufiq, dan kalau tidak dapat baru dilakukan tarjih. 8) Menggunakan asas Saddudz dzarai untuk menghindari terjadinya fitnah dan mafsadah. 9) Mentalil dapat dipergunakan untuk memahami dalil-dalil Al-Quraan dan As Sunnah sepanjang sesuai dengan tujuan syariah. Adapun qaidah Al Hukmu yaduuru maa illatihi wujudan waadaman dalam hal-hal tertentu dapat berlak. 10) Penggunaan dalil-dalil untuk menetapkan suatu hukum dilakukan dengan cara koprehensif, utuh dan bulat, tidak terpisah. 11) Dalil-dalil umum Al-Quran dapat ditaksir dengan Hadist Ahad, kecuali dalam bidang aqidah. 12) Dalam mengamalkan agama islam menggunakan prinsip At-Tasyir. 13) Dalam bidang ibadah yang diperoleh ketentuan-ketentuan dari Al-Quran dan As Sunnah, pemahamannya dapat menggunakan Al-Quran akal sepanjang diketahui latar belakang dan tujuannya, meskipun harus diakui bahwa akal bersifat nisbi, sehingga prinsipnya mendahulukan nash dari pada akal memiliki kelenturan dalam menghadapi perubahan situasi dan kondisi. 14) Dalam hal-hal termasuk Al-Umurud Dunyawiyah yang tidak termasuk tugas para nabi, menggunakan akal sangat diperlukan, demi untuk tercapainya

kemaslahatan umat. 15) Dalam memahami nash, makna dhahir didahulukan dari takwil dalam bidang aqidah. Dan takwil sahabat dalam hal itu tidak harus diterima. 16) Untuk memahami nash yang musytarak, faham sahabat bisa diterima. 17) Jalan Ijtihad yang telah ditempuh meliputi : a. Ijtihad Bayam : yaitu ijtihad terhadap ayat yang majmal baik karerna belum jelas maksud lafadz yang dimaksud maupun karena lafadz itu, mengndung makna ganda, mengandung arti musytarak ataupun karena pengertian lafadz dalam ungkapan yang konteksnya mempunayai arti yang jumbuh (mutasyabih) ataupun danya beberapa dalil yang bertentangan (taarrudl) dalam hal terakhir digunakan cara jama dan tanfiq. b. Ijtihad Qiyasi : yaitu menyenerangkan hukum yang telah ada nashnya kepada masalah baru yang belum ada hukumnya berdasarkan nash, karena adanya kesaman illah. c. Ijtihad Istishlahy : yaitu ijtihad terhadap masalah yang tidak ditunjukki nash sama sekali secara khusus, maupun tidak adanya mengenai masalah yang ada kesamaannya. Dalam masalah yang demikian penetapan hukum dilakukan berdasarkan illah untuk kemaslahatan.

18) Dalam menggunakan hadits, terdapat beberapa kaidah yang telah menjadi keputusan Majelis Tarjih sebagai berikut : a. Hadits mauquf tidak dapat dijadikan hujjah. Yang dimaksud dengan hadits mauquf ialah apa yang disandarkan kepada sahabat baik ucapan maupun perbuatan semacamnya, baik bersambung maupun tidak. b. Hadits mauquf yang dihukum mafu dapat menjadi hujjah, hadits mauquf yang dihukum marfu apabila ada qarinah yang dapat dipahami dari padanya bahwa Hadits itu marfu. c. Hadits Mursal Sahabi dapat dijadikan hujjah, hadits dapat dijadikan hujjah, jika ada qarinah yang menunjukkan persanbungan sanadnya. d. Hadits Mursal Tabii Semata, tidak dapat dijadikan hujjah. Hadits dapat dijadikan hujjah jika ada qorinah yang menunjukkan persambungan sanad sampai kepada Nabi. e. Hadits-hadits dlaif yang kuat menguatkan, tidak dapat dijadikan hujjah, kecuali jika banyak jalan meriwayatkannya, ada qarinah yang dapat dijadikan hujjah dan tidak bertentangan dengan Al-Quran dan Hadits Shahih. f. Dalam menilai perawi hadits, jarh didahulukan daripada tadil, setelah adanya keterangan yang mutabar berdasarkan alasan syara. g. Periwayatan orang yang dikenal melakukan tadlis dapat diterima riwayatnya, jika ada penunjuk bahwa hadits itu muttasil, sedangkan tadlis tidak mengurangi keadilan.

B. MEMANDANG ISLAM SECARA MENYELURUH. 1. Seorang Islam harus memahami Islam secara utuh dan menyeluruh, tidak secara parsial, karena pemahaman yang parsial menyebabkan Islam tidak fungsional secara kaffah dalam kehidupan.

2. Islam adalah suatu sustem yang menyeluruh (nidhan samil) mencakup selurh aspek kehidupan, rohaniah dan jasmaniah, duniawiyah dan ukhrowiyah. 3. Secara garis besar ajaran Islam mencakup aspek : a. Aqidah : Aspek keyakinan tantang Allah, para malaikat, kitab-kitab suci, para rasul, hari akhir dan taqdir. Makna Kalimat laa ilaaha Illallah Ikrar kalimat thayibah ini memiliki artii koperhensif, mencakup : La Khaliqa Illallah La Raziqa Illallah La Hafidza Illallah La Mudabbira Illallah La Malika Illallah La Waliya Illallah La Hakimu Illallah La Ghiyata Illallah La Ma'badu Illallah Hakekat dan Dampak Dua Kalimat Syahadat. Iqrar La Ilaha Illallah tidak dapat diwujudkan secara benar tanpa mengiguti petunjuk yang disampaikan yang disampaikan oleh Rasulallah SAW. Oleh sebab itu iqrar Lailaha Illallah harus diikuti oleh iqrar Muhammad Rasulallah. Dua iqrar itulah yang dikenal dengan dua kalimat (syahadatain) yang menjadi pintu gerbang seseorang memasuki dien Allah SWT. Kalau syahadat yang pertama adalah beribadah hanya kepada Allah SWT semata, maka inti dari syahadat Rasulallah SAW sebagai titik pusat ketauladanan (Uswatun Khasanah) baik dalam jhubungan dengan Allah SWT (hablum minallah) secara vertikal, maupun dalam hubungan dua kalimat syahadat itu adalah memberikan cinta yang pertama dan utama kepada Allah SWT, kemudian kepada Rosulullah SAW dan jihad fi sabilillah (Q.S.Al-Baqarah (2): 165, Q.S. At-Taubah (9) 24). Berdasarkan ayat diatas Ab Dullah Nasih Ulwan membagi cinta (Al Mahabah), kepada tiga tingkatan : 1. Al Mahabatul Ula, yaitu mencintai Allah, Rosulnya dan Jihad Fisabilillah. 2. Al Mahabutul Wushta yaitu mencintai segala sesuatu yang diperbolehkan oleh Allah dan Rosulnya dengan cara yang diijinkannya, seperti cinta kepada anak, ibu bapak, suami-istri, karib kerabat, harta benda, dan lain sebagainya. 3. Al Mahabatul Adna, yaitu mencintai anak-anak, ibu bapak, suami atau istri, karib kerabat, harta benda dan lain sebagainya melebihi cintanya kepada Allah dan Rosulnya, dan jihad fii sabi lillah (Q.S.At-Taubah/9 : 24) Yang membatalkan dua kalimat syahadat. Menurut Syait hawwa dalam bukunya Al Islam, hal-hal yang membatalkan dua kalimat syahadat : 1. Bertawakal bukan kepada Allah (Q.S. Al Maidah 5 / : 23) 2. Tidak mengakui bahwa semua nikmat lahir maupun batin adalah karunia Allah SWT (Q.S. Luqman / 31 :20, (Q.S.Al-Qashas / 28 : 78)

3. Beramal dengan tujuan selain Allah (Q.S.Al-Anam / 6 :162, 163) 4. Memberikan hak mengharamkan dan menghalalkan, hak memerinah dan melarang, atau hak menentukan syariat atau hukum pada umumnya kepada selain Allah SWT (Q.S. Al-Anam / 6 : 57,(Q.S. At-Taubah (9) 31) 5. Taat secara mutlak kepada selain Allah dan Rosulnya (Hadits, dan Q.S. Asy Syuara / 26 : 151, 152) 6. Tidak menegakkan hukum Allah SWT (Q.S.Al-Maidah /5 : 44 dan (Q.S. AnNisa : / 4 : 65) 7. Membenci Islam seluruh atau sebagiannya (Q.S.Muhammad : / 47 : 8-9) 8. Mencintai kehidupan dunia melebihi akhirat atau menjadikan dunia segelagalanya (Q.S.Ibrahim / 14 : 2-3) 9. Menghalalkan apa yang diharamkan oleh Allah dan mengharamkan apa yang di halalkannya. (Q.S.An-Nahl / 16:105) 10. Tidak beriman dengan seluruh nash-nash Al Quran atau sebagiannya dan sunah (Q.S.Al- Baqarah/ 2 : 85) dan hadits riwayat Turmudzi). 11. Mengangkat orang-orang kafir dan munafik menjadi pemimpin dan tidak mencintai orang-orang yang berakidah Islam ( Q.S.Al-Maidah (5) :5, dan(Q.S. An Nisa / 4 : 138 189) 12. Tidak beradab dalam bergaul dengan Rosulullah SAW (Q.S. Al- Hujurat / 49 : 2) 13. Memperolok-olok Al Quran dan Sunnah atau orang-orang yang menegakkan keduanya, atau memperolok-olok hukum Allah atau syiar islam. (Q.S. At Taubah / 9 : 64 65). 14. Tidak menyenangi Tauhid malah menyenangi Kemusrikan ( Q.S.Az- Zumar (39): 45). 15. Menyatakan bahwa makna yang tersirat (batin) dari suatu ayat bertentangan dengan makna yang tersurat (Sesuai dengan pengertian bahasa (Q.S. Ar -Radu / 13 : 37) 16. Memungkiri salah satu asma, sifat dan afal Allah SWT ( Q.S.Al-Araf / 7 : 180) 17. Memungkiri salah satu sifat Rosulullh SAW yang telah di tetapkan oleh Allah atau memberinya sifat yang tidak baik atau tidak meyakininya, sebagai contoh teladan yang utama bagi umat manusia (Q.S.Al-Ahzab / 33 : 21) 18. Mengkafirkan orang Islam atau menghalalkan darahnya, atau tidak mengkafirkan orang kafir ( HR Bukhari Muslim) dan (HR Bukhari) 19. Beribadah bukan kepada Allah (Q.S.Ar-Radu /13 : 14.) 20. Melakukan sirik kecil (HR ahmad). Ibadah : Segala cara dan upacara pengabdian yang bersifat ritual yang telah diperintahkan dan diatur cara-cara pelaksanaannya dalam Al-Qur'an dan AsSunnah Rasul, seperti shalat, puasa, zakat, haji dan sebagainya. Akhlak : Akhlak adalah nilai-nilai dan sifat yang tentram dalam jiwa yang menimbulkan perbuatan-perbuatan dengan gampang dan mudah, tanpa memerlukan pemikiran dan pertimbangan (Imam Ghazali). Nilai dan perilaku baik dan burruk seperti sabar, syukur, tawakal, birrul walidaini, syaja'ah dan sebagaimana (Al-Akhlakul mahmudah) dan sombong, takabur, dengki, riya', 'uququl walidain dan sebagainya Al-Akhlaqul Madzmuham). Ciriciri akhlak Islam :

1. Akhlaq Rabbani : Sumber akhlaq Islam itu wahyu Allah yang termaktub dalam Al-Qur'an dan As-Sunnah, bertujuan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Akhlaq Islamlah moral yang tidak bersifat kondisional dan situasional, tetapi akhlaq yang memiliki nilai-nilai yang mutlak. Akhlaq rabbanilah yang mampu menghindari nilai moralitas dalam hidup manusia (Q.S.) Al-An'am / 6 : 153). 2. Akhlak Manusiawi Akhlaq dalam Islam sejalan dan memenuhi fitrah manusia. Jiwa manusia yang merindukan kebaikan, dan akan terpenuhi dengan mengikuti ajaran akhlaq dalam Islam. Akhlaq Islam benar-benar memelihara eksistensi manusia sebagai makhluk terhormat sesuai dengan fitrahnya. 3. Akhlak Universal Sesuai dengan kemanusiaan yang universal dan menyangkut segala aspek kehidupan manusia baik yanng berdimensi vertikal, maupun horizontal. (Q.S. AlAn'nam : 151-152). 4. Akhlak Keseimbangan Akhlaq Islam dapat memenuhi kebutuhan sewaktu hiduo didunia maupun diakhirat, memenuhi tuntutan kebutuhan manusia duniawi maupun ukhrawi secara seimbang , begitu juga memenuhi kebutuhan pribadi dan kewajiban terhadap masyarakat, simbang pula. (H.R. Buhkori). 5. Akhlaq Realistik Akhlaq Islam memperhatikan kenyataan hidup manusia walaupun manusia dinyaakan sebagai makhluq yang memiliki kelebihan dibanding dengan makhluk lain, namun manusia memiliki kelemahan-kelemahan itu dia sangat mungkin melakukan kesalahan-kesalahan. Oleh karena itu Allah memberikan kesempatan untuk bertaubat. Bahkan dalam keadaan terpaksa. Islam membolehkan manusia melakukan yang dalam keadaan biasa tidak dibenarkan. (Q.S. Al- Baqarah / 27 : 173). Mua'malah : Aspek kemasyarakatan yang mengatur pegaulan hidup manusia diatas bumi ini, baik tentang harta benda, perjanjian-perjanjian, ketatanegaraan, hubungan antar negara dan lains ebagainya.

*ruang lingkup pembahasan aqidah islam

A. Aqidah Pokok Aqidah Islam berawal dari keyakinan kepada zat mutlak yang Maha Esa yang disebut Allah. Allah Maha Esa dalam zat, sifat, perbuatan dan wujudnya. Kemaha-Esaan Allah dalam zat, sifat, perbuatan dan wujdunya itu disebut tauhid. Tauhid menjadi inti rukun iman.(1) Menurut sistematika Hasan Al-Banna maka ruang lingkup Aqidah Islam meliputi : 1. Ilahiyat, yaitu pembahasan tentang segala susuatu yang berhubungan dengan Tuhan (Allah), seperti wujud Allah, sifat Allah dll 2. Nubuwat, yaitu pembahsan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan Nabi dan Rasul, pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah dll 3. Ruhaniyat, yaitu tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperti jin, iblis, setan, roh dll 4. Sam'iyyat, yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sam'i, yakni dalil Naqli berupa Al-quran dan as-Sunnah seperti alam barzkah, akhirat dan Azab Kubur, tanda-tanda kiamat, Surga-

Neraka dsb. (2) Tidak hanya diatas namun pembahasan Aqidah juga dapat mengikuti Arkanul iman yaitu : 1. Kepercayaan akan adanya Allah dan segala sifat-sifatNya 2. Kepercayaan kepada Malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk rohani lainnya seperti Jin, iblis dan Setan) 3. Kepercayaan kepada kitab-kitab Allah yang diturunkan kepada rasul 4. Kepercayaan kepada Nabi dan Rasul 5. Kepercayaan kepada hari akhir serta peristiwa-peristiwa yang terjadi pada saat itu 6. Kepercayaan kepada takdir (qadha dan qadar) Allah (2) Adapun penjelasan ruang lingkup pembahasan aqidah yang termasuk dalam Arkanul Iman, yaitu: 1. Iman kepada Allah Pengertian iman kepada Allah ialah: Membenarkan dengan yakin akan adanya Allah Membenarkan dengan yakin keesaan-Nya, baik dalam perbuatan-Nya menciptakan alam, makhluk seluruhnya, maupun dalam menerima ibadat segenap makhluknya. Membenarkan dengan yakin, bahwa Allah bersifat dengan segala sifat sempurna, suci dari sifat kekurangan yang suci pula dari menyerupai segala yang baru (makhluk). (3) Dengan demikian setelah kita mengimani Allah, maka kita membenarkan segala perbuatan dengan beribadah kepadanya, melaksanakan segala perintahnya dan menjauhi segala larangannya, mengakui bahwa Allah swt. bersifat dari segala sifat, dengan ciptaan-Nya di muka bumi sebagai bukti keberadaan, kekuasaan, dan kesempurnaan Allah. (4) 2. Iman Kepada Malaikat Beriman kepada malaikat ialah mempercayai bahwa Allah mempunyai makhluk yang dinamai malaikat yang tidak pernah durhaka kepada Allah, yang senantiasa melaksanakan tugasnya dengan sebaik-baiknya dan secermat-cermatnya. Lebih tegas, iman akan malaikat ialah beritikad adanya malaikat yang menjadi perantara antara Allah dengan rasul-rasulNya, yang membawa wahyu kepada rasul-rasul-Nya. (5) Di dalam Al-Quran banyak ayat yang menyeru kita mengimankan sejenis makhluk yang gaib, yang tidak dapat dilihat oleh mata, tidak dapat dirasa oleh panca indera, itulah makhluk yang dinamai malaikat. Malaikat selalu memperhambakan diri kepada Allah dan patuh akan segala perintah-Nya, serta tidak pernah berbuat maksiat dan durhaka kepada Allah swt. Mengenai nama-nama dan tugas para malaikat tidak bisa diperkirakan. Mereka juga ada perbedaan dan tingkatan-tingkatan, baik dalam kejadian maupun dalam tugas, pangkat dan kedudukannya baik yang berada dan tugas di alam ruh maupun ada yang bertugas di dunia. Di antara nama-nama dan tugas malaikat adalah sbb : ? Malaikat Jibril, bertugas menyampaikan wahyu kepada Nabi-nabi dan rasul ? Malaikat Mikail, bertugas mengatur hal-hal yang berhubungan dengan alam seperti melepaskan angin, menurunkan hujan, menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. ? Malaikat Israfil, bertugas meniup terompet di hari kiamat dan hari kebangkitan nanti. ? Malaikat Izrail (Malaikal maut) bertugas mencabut nyawa manusia dan

makhluk hidup lainnya. ? Malaikat Raqib dan Atid, bertugas mencatat amal perbuatan manusia ? Malaikat Ridwan bertugas menjaga surga dan memimpin para pelayan surga ? Malaikat Malik, bertugas menjaga neraka dan pemimpin para malaikat menyiksa penghuni neraka ? Malaikat yang bertugas memikul Arasy ? Malaikat yang menggerakkan hati manusia bentuk berbuat kebaikan dan kebenaran ? Malaikat yang bertugas mendoaka orang-orang yang beriman supaya diampuni oleh Allah segala dosa-dosanya diberi ganjaran surga dan dijaga dari segala keburukan dan doa-doa lain.(5) Dengan beriman kepada malaikat-malaikat-Nya, maka kita akan lebih mengenal kebesaran dan kekuasaan Allah swt. lebih bersyukur akan nikmat yang diberikan dan berusaha selalu berbuat kebaikan dan menjauhi segala larangannya. Karena malaikat selalu mengawasi dan mencatat amal perbuatan manusia. 3. Iman kepada kitab-kitab Allah Keyakinan kepada kitab-kitab suci merupakan rukun iman ketiga. Kitabkitab suci itu memuat wahyu Allah. Beriman kepada kitab-kitab Tuhan ialah beritikad bahwa Allah ada menurunkan beberapa kitab kepada Rasulnya, baik yang berhubungan itikad maupun yang berhubungan dengan muamalat dan syasah, untuk menjadi pedoman hidup manusia. baik untuk akhirat, maupun untuk dunia. Baik secara individu maupun masyarakat. (5) Jadi, yang dimaksud dengan mengimani kitab Allah ialah mengimani sebagaimana yang diterangkan oleh Al-Quran dengan tidak menambah dan mengurangi. Kitab-kitab yang diturunkan Allah telah turun berjumlah banyak, sebanyak rasulnya. Akan tetapi, yang masih ada sampai sekarang nama dan hakikatnya hanya Al-Quran. Sedangkan yang masih ada namanya saja ialah Taurat yang diturunkan kepada Nabi Musa, Injil kepada Nabi Isa dan Zabur kepada Daud. 4. Iman kepada Nabi dan Rasul Yakin pada para Nabi dan rasul merupakan rukun iman keempat. Perbedaan antara Nabi dan Rasul terletak pada tugas utama. Para nabi menerima tuntunan berupa wahyu, akan tetapi tidak mempunyai kewajiban untuk menyampaikan wahyu itu kepada umat manusia. Rasul adalah utusan (Tuhan) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterima kepada umat manusia.(6) Di Al-Quran disebut nama 25 orang Nabi, beberapa diantaranya berfungsi juga sebagai rasul ialah (Daud, Musa, Isa, Muhammad) yang berkewajiban menyampaikan wahyu yang diterima kepada manusia dan menunjukkannya cara pelaksanaannya dalam kehidupan sehari-hari. Sebagaimana manusia biasa lainnya Nabi dan Rasul pun hidup seperti kebanyakan manusia yaitu makan, minum, tidur, berjalan-jalan, mati dan sifat-sifat manusia lainnya. Nabi Muhammad saw. sebagai Nabi sekaligus Rasul terakhir tidak ada lagi rangkaian Nabi dan Rasul sesudahnya. Seorang muslim wajib beriman kepada seluruh Nabi dan Rasul-Nya yang telah diutus oleh Allah SWT, baik yang disebutkan namanya maupun yang tidak disebutkan namanya. Seorang muslim wajib membenarkan semua Rasul dengan sifat-sifat, kelebihan, keistimewaan satu sama lain, tugas dan mukjizatnya masing-masing seperti yang diperintahkan oleh Allah. 5. Iman kepada hari Akhir

Rukun iman yang kelima adalah keyakinan kepada hari akhir. Keyakinan ini sangat penting dalam rangkaian kesatuan rukun iman lainnya, sebab tanpa mempercayai hari akhirat sama halnya dengan orang yang tidak mempercayai agama Islam, itu merupakan hari yang tidak diragukan lagi. Hari akhirat ialah hari pembalasan yang pada hari itu Allah menghitung (hisab) amal perbuatan setiap orang yang suda dibebani tanggung jawab dan memberikan putusan ganjaran sesuai dengan hasil perbuatan selama di dunia. Keimanan kepada Allah berkaitan erat dengan keimanan kepada hari akhir. Hal ini disebabkan keimanan kepada Allah menuntut amal perbuatan, sedangkan amal perbuatan baru sempurna dengan keyakinan tentang adanya hari akhirat. Demi tegaknya keadilan, harus ada suatu kehidupan baru dimana semua pihak akan memperoleh secara adil dan sempurna hasil-hasil perbuatan yang didasarkan atas pilihannya masing-masing. (7) 6. Iman kepada qada dan qadar Dalam menciptakan sesuatu, Tuhan selalu berbuat menurut Sunnahnya, yaitu hukum sebab akibat. Sunnahnya ini adalah tetap tidak berubah-ubah, kecuali dalam hal-hal khusus yang sangat jarang terjadi. Sunnah Tuhan ini mencakup dalam ciptaannya, baik yang jasmani maupun yang bersifat rohani. Makna qadar dan takdir ialah aturan umum berlakunya hukum sebab akibat, yang ditetapkan olehnya sendiri. Definisi segala ketentuan, undangundang, peraturan dan hukum yang ditetapkan secara pasti oleh Allah SWT, untuk segala yang ada.(8) Pengertian di atas sejalan dengan penggunaan qadar di dalam Al-Quran berbagai macam bentuknya yang pada umumnya mengandung pengertian kekuasaan Allah SWT, yang termasuk hukum sebab akibat yang berlaku bagi segala makhluk hidup maupun yang mati. B. Aqidah cabang Yang dimaksud aqidah cabang adalah cabang-cabang aqidah yang pemahamannya bervariasi dari masing-masing aspek rukun iman yang enam. Misalnya munculnya perbedaan pendapat dalam membicarakan zat Tuhan, sifat Tuhan, dan perbuatan Tuhan. Misalnya dalam soal zat Tuhan, muncul pertanyaan apakah Tuhan berjisim atau tidak. Dalam masalah sifat Tuhan apakah Tuhan mempunyai sifat? Dalam soal perbuatan, apakah tuhan wajib melakukan perbuatan? Dalam soal percaya kepada malaikat, apakah iblis termasuk golngan malaikat? Delam soal iman kepada kitab, apakah wahyu makhluk atau bukan. Semua isu tesebut muncul setelah umat Islam terpecah atas beberapa golongan seperti Syiah, Khawarij, dan Ahlus Sunnah wal Jamaah.(9) Referensi : 1. Mohammad Daud Ali, Pendidikan Agama Islam (Cet. III; Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2000), h. 199. 2. http://saktingepet.blogspot.com/2011/04/ruang-lingkup-aqidahislam.html 3. Tengku Muhammad Hasbi Ash-Shiddieqy, Al-Islam (Cet. II; Semarang: Pustaka Rizki Putra), h. 1. 4. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1998), h. 15. 5. http://masbied.com/2011/02/22/aqidah-akhlak/ 6. http://referensiagama.blogspot.com/2011/02/rukun-iman-keempatiman-kepada-rasul.html

7. M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Quran (Cet. VII; Bandung: Mizan, 1998), h. 85. 8. Yunahar Ilyas, Kuliah Aqidah Islam (Cet. VIII; Yogyakarta: LPPI, 2004), 177. 9. Aminuddin, Modul Aqidah (Jakarta: UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, 2009)

Pengertian Aqidah Secara Istilah (Terminologi) Yaitu perkara yang wajib dibenarkan oleh hati dan jiwa menjadi tenteram karenanya, sehingga menjadi suatu kenyataan yang teguh dan kokoh, yang tidka tercampuri oleh keraguan dan kebimbangan. Dengan kata lain, keimanan yang pasti tidak terkandung suatu keraguan apapun pada orang yang menyakininya. Dan harus sesuai dengan kenyataannya; yang tidak menerima keraguan atau prasangka. Jika hal tersebut tidak sampai pada singkat keyakinan yang kokoh, maka tidak dinamakan aqidah. Dinamakan aqidah, karena orang itu mengikat hatinya diatas hal tersebut. Aqidah Islamiyyah: Maknanya adalah keimanan yang pasti teguh dengan Rububiyyah Allah Taala, UluhiyyahNya, para Rasul-Nya, hari Kiamat, takdir baik maupun buruk, semua yang terdapat dalam masalah yang ghaib, pokok-pokok agama dan apa yang sudah disepakati oleh Salafush Shalih dengan ketundukkan yang bulat kepada Allah Taala baik dalam perintah-Nya, hukum-Nya maupun ketaatan kepada-Nya serta meneladani Rasulullah SAW. Aqidah Islamiyyah: Jika disebutkan secara mutlak, maka yang dimaksud adalah aqidah Ahlus Sunnah wal Jamaah, karena itulah pemahaman Islam yang telah diridhai oleh Allah sebagai agama bagi hamba-Nya. Aqidah Islamiyyh adalah aqidah tiga generasi pertama yang dimuliakan yaitu generasi sahabat, Tabiin dan orang yang mengikuti mereka dengan baik. Nama lain Aqidah Islamiyyah: Menurut Ahlus Sunnah wal Jamaah, sinonimnya aqidah Islamiyyah mempunyai nama lain, di antaranya, at-Tauhid, as-Sunnah, Ushuluddiin, al-Fiqbul Akbar, Asy-Syariiah dan alIman. Nama-nama itulah yang terkenal menurut Ahli Sunnah dalam ilmu aqidah. RUANG LINGKUP PEMBAHASAN AQIDAH Kajian aqidah menyangkut keyakinan umat Islam atau iman. Karena itulah, secara formal, ajaran dasar tersebut terangkum dalam rukun iman yang enam. Oleh sebab itu, sebagian para ulama dalam pembahasan atau kajian aqidah, mereka mengikuti sistematika rukun iman yaitu: iman kepada Allah, iman kepada malaikat (termasuk pembahasan tentang makhluk ruhani seperti jin, iblis, dan setan), iman kepada kitab-kitab Allah, iman kepada Nabi dan rasul Allah, iman kepada hari akhir, dan iman kepada qadha dan qadar Allah swt.

Sementara Ulama dalam kajiannya tentang aqidah islam menggunakan sistematika sebagai berikut: 1. Ilahiyat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan ilah (Tuhan, Allah), seperti wujud Allah, nama-nama dan sifat-sifat Allah,perbuatan-perbuatan (afal) Allah dan sebagainya. 2. Nubuwat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan nabi dan Rasul, termasuk pembicaraan mengenai kitab-kitab Allah, mukjizat, karamat dan sebagainya. 3. Ruhaniyat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang berhubungan dengan alam metafisik seperyi Malaikat, Jin, Iblis, Setan, Roh dan lain sebaginya. 4. Samiyat: yaitu pembahasan tentang segala sesuatu yang hanya bisa diketahui lewat sama, yaitu dalil naqli berupa al-quran dan as-sunnah, seperti alam barzakh, akhirat, azab kubur, tanda-tanda kiamat, surga, neraka dan sebaginya. Berbeda dengan dua sistematika di atas, Prof. Dr. H. Syahrin Harahap, MA, dalam Ensiklopedi Aqidah Islam menjabarkan obyek kajian aqidah mengacu pada tiga kajian pokok, yaitu: 1. Pengenalan terhadap sumber ajaran agama (marifatul mabda), yaitu kajian mengenai Allah. Termasuk dalam bidang ini sifat-sifat yang semestinya ada (wajib), yang semestinya tidak ada (mustahil), dan yang boleh ada dan tiada (jaiz) bagi Allah. Menyangkut dengan bidang ini pula, apakah Tuhan bisa dilihat pada hari kiamat (ruyat Allah). 2. Pengenalan terhadap pembawa kabar (berita) keagamaan (marifat al-wasithah). Bagian ini mengkaji tentang utusan-utusan Allah (nabi dan rasul), yaitu kemestian keberadaan mereka, sifat-sifat yang semestinya ada (wajib), yang semestinya tidak ada (mustahil), serta yang boleh ada dan tiada (jaiz) bagi mereka. Dibicarakan juga tentang jumlah kitab suci yang wajib dipercayai, termasuk juga cirri-ciri kitab suci. Kajian lainya ialah mengenai malaikat, menyangkut hakekat, tugas dan fungsi mereka. 3. Pengenalan terhadap masalah-masalah yang terjadi kelak di seberang kematian (marifat al-maad). Dalam bagian ini dikaji masalah alam barzakh, surga, neraka, mizan, hari kiamat dan sebagainya. TINGKATAN AQIDAH Tingkatan aqidah seseorang berbeda-beda antara satu dengan yang lainya tergantung dari dalil, pemahaman, penghayatan dan juga aktualisasinya. Tingkatan aqidah ini paling tidak ada empat, yaitu:

1. Taqlid, 2. Ilmul yaqin, 3. Ainul yaqin, dan 4. Haqqul yaqin.

*hal-hal yang merusak aqidah islam


BAB I PENDAHULUAh

Aqidah adalah bentuk jamak dari kata Aqaid, merupakan beberapa perkara yang wajib diyakini kebenarannya oleh hati, mendatangkan ketentraman jiwa, menjadi keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keragu-raguan. Aqidah adalahsejumlah kebenaran yang dapat diterima secara mudah oleh manusia berdasarkanakal, wahyu (yang didengar) dan fitrah.

Aqidah dalam Al-Quran dapat di jabarkan dalam surat (Al-Maidah, 5:15-16) yg berbunyi Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan dengan kitab itu pula Allah mengeluarkan orang-orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus

Aqidah sendiri dibedakan menjadi aqidah pokok dan aqidah cabang. Aqidah pokok adalah keutuhan aqidah yang termuat dalam rukun iman yang enam. Sedangkan aqidah cabang adalah pemahaman dan penafsiran terhadap aspekaspek yang terdapat dalam rukun iman.

Perbedaan antara aqidah pokok dan aqidah cabang diantaranya, untuk aqidah pokok tidak menimbulkan perbedaan pandangan, tidak ada unsur kepentingan

kelompok, murni berdasar pada al-Quran dan Hadis. Sedangkan untuk aqidah cabang terdapat banyak perbedaan/pendapat, berkembang sejalan dengan kepentingan kelompok, berdasar pada pemahaman atau penfsiran.

Dan salah satu ciri orang yang bertauhid adalah mempunyai aqidah yang baik. Karena jika seseorang itu mempunyai aqidah yang baik, maka orang itu pasti memiliki komitmen utuh kepada Allah SWT, menolak pedoman yang datang bukan dari Allah SWT, tujuan hidupnya jelas hanya untuk mengabdi kepada Allah SWT, dan masih banyak lagi ciri orang yang memiliki aqidah yang baik.

Tapi sebuah aqidah itu bisa rusak oleh beberapa hal, diantara adalah : Syirik dan nifaq Kufur Murtad Khurafat Tahayul Munafiq Bidah

Jadi, kita harus bisa menjaga aqidah kita dari hal-hal yang bisa merusak aqidah yaitu dengan cara selalu beribadah kepada Allah dan melakukan sesuatu yang diridhoi oleh Allah dan menjauhi laranganNya, agar kita bisa terhindar dari halhal yang bisa merusak aqidah dalam diri kita.

BAB II ISI

Hal-hal yang bisa merusak aqidah diantaranya adalah : Syirik dan Nifaq Syirik Syirik adalah menyekutukan Allah dengan yang lain. Syirik dibagi 2: a. Syirik akbar/ syirik jalyy: menyekutukan Allah. Seperti menyembah berhala. Penyembahan berhala dalam sejarah nabi sudah ada sejak Nabi Nuh. b. Syirik asghar/ syirik khafiyy: perbuatan-perbuatan yang berkaitan dengan amalan keagamaan bukan atas dasar keikhlasan untuk mencari ridha Allah, melainkan untuk tujuan lain. Allah SWT berfirman dalam surat An Nisaa` ayat 36: Dan sembahlah Allah dan janganlah kamu mempersekutukan-Nya dengan sesuatupun.

Nifaq Secara bahasa, nifaq berarti lobang tempat keluarnya yarbu ( binatang sejenis tikus ) dari sarangnya, di mana jika ia dicari dari lobang yang satu, maka ia akan keluar dari lobang yang lain. Dikatakan pula, kata nifaq berasal dari kata yang berarti lobang bawah tanah tempat bersembunyi. ( al-Mujamul wasith 2/942). Adapun nifaq menurut syara artinya : menampakkan Islam dan kebaikan, tetapi menyembunyikan kekufuran dan kejahatan. Kufur Kufur merupakan kata kerja lampau (fi`il madhi) yang secara bahasa berarti menutupi. Sedang kata kafir merupakan bentuk kata benda pelaku (isim fail) yang terbentuk dari kata ka-fa-ra yang berarti menutupi. Dalam al-Quran kata kufr terulang sebanyak 525 kali Penyebab terjadinya kekafiran diantaranya :

Faktor Internal a. Kepicikan dan kebodohan b. Kesombongan dan keangkuhan c. Keputusasaan dalam hidup d. Kesuksesan dan kesenangan dunia Faktor Eksternal Faktor lingkungan Lahir dalam keluarga muslim merupakan pemberian Allah di luar kehendak manusia. Jika selanjutnya menjadi muslim juga merupakan hidayah di luar ikhtiar manusia. Hal ini bisa berubah sebaliknya, karena faktor pendidikan, dakwah dsb. Jenis-jenis kufur : 1. Kufr inkar: pengingkaran terhadap eksistensi Tuhan, Rasul dan seluruh ajarannya. Ciri mereka: orientasi hidupnya hanya terfokus pada dunia saja. 2. Kufr Juhud: Pengingkaran terhadap ajaran-ajaran Tuhan dalam keadaan tahu bahwa yang diingkari adalah kebenaran/ meyakini dalam hati mengingkari dengan lidah. Beda antara keduanya terletak pada posisi pengingkarnya. Kufr inkar penolakannya didasarkan pada ketidakpercayaan terhadap

kebenaran. Kufr juhud penolakannya dilandaskan semata-mata karena kesombongan. 3. Kufr Nifaq: orangnya disebut munafiq, yakni pengakuan akan keyakinan kepada Allah dengan lidah tetapi mengingkari dalam hati (kebalikan dari kufr juhud). 4. Kufr syirik: orangnya disebut musyrik, yakni mempersekutukan Tuhan dengan sesuatu yang lain. 5. Kufr nikmat: penyalahgunaan atas nikmat yang telah diperoleh. Dalam alQuran diibaratkan dengn manusia yang sedang berlayar di tengah laut lalu ada amukan badai, lalu berdoa.

6. Kufr riddat: artinya kembali ke kekafiran setelah beriman. Pada masa Nabi terjadi 3 riddat. Murtadnya Banu Mudlaj pimpinan al-Aswad (dibunuh di Yaman oleh al-Fairus addailamy), Bani Hanifah pimpinnan Musaylamah al-Kadhdhab (dibunuh pada masa Abu Bakr) dan Bani Asad pimpinan Tulayhat bin Khuwailid (kembali masuk Islam setelah ditaklukkan pasukan Abu Bakr di bawah pimpinan Khalid bin Walid. Murtad Kata murtad berasal dari kata irtadda menurut wazan iftaala, berasal dari kata riddah yang artinya:berbalik. Kata riddah dan irtidad dua-duanya berarti kembali kepada jalan, dari mana orang datang semula. Tetapi kata Riddah khusus digunakan dalam arti kembali pada kekafiran, sedang kata irtidad digunakan dalam arti itu, tapi juga digunakan untuk arti yang lain (R), dan orang yang kembali dari Islam pada kekafiran, disebut murtad. Khurafat Khurfat secara bahasa berarti takhayul, dongeng atau legenda Sedangkan khurfy adalah hal yang berkenaan dengan takhayul atau dongeng. Khurfat ialah semua cerita sama ada rekaan atau khayalan, ajaran-ajaran, pantang-larang, adat istiadat, ramalan-ramalan, pemujaan atau kepercayaan yang menyimpang dari ajaran Islam . Tahayul Secara bahasa, berasal dari kata khayal yang berarti: apa yang tergambar pada seseorang mengenai suatu hal baik dalam keadaan sadar atau sedang bermimpi. Dari istilah takhayul tersebut ada dua hal yang termasuk dalam kategori talhayul, yaitu: 1. Kekuatan ingatan yang yang terbentuk berdasarkan gambar indrawi dengan segala jenisnya, (seperti: pandangan, pendengaran, pancaroba, penciuman) setelah hilangnya sesuatu yang dapat diindera tersebut dari panca indra kita. 2. Kekuatan ingatan lainnya yang disandarkan pada gambar idrawi, kemudian satu dari unsurnya menjadi sebuah gambar yang baru. Gambar baru tersebut bisa jadi satu hal yang benar-benar terjadi, atau hal yang diluar kebiasaan

(kemustahilan). Seperti kisah seribu satu malam, Nyai Roro Kidul dan ceritacerita khurafat lainnya. "Kami tidak menyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya"... (QS. 39:3). Munafiq Munafiq merupakan apabila berjanji mengingkari, apabila berkasta dusta, dan apabila dipercaya mengkhianati. Nabi saw bersabda : Buatkanlah jaminan enam hal kepadaku tentang dirimu, maka aku akan menjamin kamu masuk surga, (yaitu) : Jujurlah bila kamu berkata, tepatilah bila kamu berjanji, tunaikanlah bila kamu dipercaya, peliharalah kemaluanmu, pejamkanlah matamu, dan jagalah kedua tanganmu Dari dalil diatas terlihat bahwa orang yang bisa melakukan enam hal diatas akan dijamin masuk surga. Sedangkan orang munafik adalah orang yang mengabaikan tiga dari enam hal diatas sehingga orang yang munafik jaminannya adalah kebalikan dari surga yaitu neraka. Diriwayatkan dari Hudzaifah bin Al-Yaman ra., bahwasannya ia berkata : Ada seseorang pada masa Rasulullah saw. yang mengucapkan satu perkataan lantas ia menjadi orang munafiq, dan kini saya mendengar perkataan itu diucapkan seseorang sepuluh kali dalam satu hari. Pernyataan diatas memberikan penjelasan bahwa apabila seseorang itu suka berdusta, maka ia adalah orang munafik. Oleh karena itu, setiap muslim wajib untuk menjaga dirinya dari tanda-tanda orang munafik, karena apabila seseorang terbiasa untuk berdusta, maka ia akan ditulis disisi Allah sebagai orang munafik, dan ia akan dibebani dosa dirinya dan dosa orang-orang yang meniru perbuatannya.

Bidah Jika di tinjau dari sudut pandang bahasa, bidah adalah diambil dari kata bida yaitu al ikhtira mengadakan sesuatu tanpa adanya contoh sebelumnya. Seperti

yang termaktub dalam Kitab Shahih Muslim bi Syarah Imam Nawawi dijelaskan sebagai berikut: . : Dan yang dimaksud bidah, berkata ahli bahasa, dia ialah segala sesuatu amalan tanpa contoh yang terlebih dahulu[1] Sedangkan jika ditujukan dalam hal ibadah pengertian-pengertian bidah tersebut diantaranya: : Bidah adalah suatu jalan yang diada-adakan dalam agama yang dimaksudkan untuk taabudi, bertentangan dengan al Kitab (al qur`an), As Sunnah dan ijma umat terdahulu

BAB III PENUTUP Dari pembahasan yang telah dibahas diatas menyebutkan bahwa ada banyak hal-hal yang bisa merusak aqidah yang diantaranya adalah syirik dan nifaq, kufur, murtad, khurafat, tahayul, munafiq dan bidah. Oleh sebab itu, kita sebagai seorang muslim harus bisa menghindari dan menjauhi hal-hal tersebut dengan cara selalu beribadah kepada Allah dan melakukan hal-hal yang diridhoi oleh Allah seperti berbuat baik kepada sesama manusia dan menjauhi hal-hal yang dilarang olehNya. Selain itu selalu berpegang pada Amar Maruf Nahi Munkar, yang disebutkan pada salah satu dalil Nabi saw. bahwasanya beliau bersabda : Hendaklah kamu sekalian menyuruh untuk berbuat baik meskipun kamu belum bisa mengerjakannya, dan hendaklah kamu mencegah dari perbuatan munkar meskipun kamu belum mampu meninggalkannya.

*langkah_langkah muhmmadiyah dalam mencerdaskan kehidupan bangsa


Persyarikatan Muhammadiyah sedang punya hajatan yang layak untuk diikuti dan dicermati hasilhasilnya. Selama empat hari, mulai 21 sampai 24 Juni 2012 menyelenggarakan sidang tanwir di Bandung. Tanwir, yang berarti pencerahan, menjadi agenda terbesar kedua setelah muktamar sehingga selalu dipandang sebagai momentum yang strategis untuk melahirkan gagasangagasan baru yang segar dan mencerahkan. Tanwir kali ini dinamakan Tanwir Kerja oleh Ketua Umum PP Muhammadiyah Prof Din Samsuddin PhD. Penegasan ini dimaksudkan agar amanat muktamirin Yogyakarta yang baru lalu benar-benar dapat direalisasikan dan hasilnya dapat dirasakan oleh umat,masyarakat,dan seluruh bangsa Indonesia. Ada yang menarik tatkala Wakil Presiden Boediono menyampaikan pidato pembukaan tanwir kemarin. Beliau menyampaikan kesaksiannya saat bersekolah di lembaga pendidikan Muhammadiyah pada era 1950-an. Sekolahsekolah Muhammadiyah tidak hanya mengajarkan ilmu pengetahuan, tetapi juga mendidikkan nilai-nilai yang pada urutannya membentuk karakter dan kepribadian siswa, katanya. Bekal itulah yang kemudian membingkai perjalanan hidupnya di kemudian hari, sampai saat ini masih terasa getarannya. Pengalaman Wakil Presiden di atas tentu tidak sendirian.Kesan serupa juga dirasakan berjuta- juta anak bangsa Indonesia yang sempat mengenyam pendidikan di sekolah-sekolah Muhammadiyah. Sudah sangat jelas bahwa kiprah Muhammadiyah di lapangan pendidikan dimaksudkan untuk berpartisipasi dalam upaya mencerdaskan kehidupan bangsa dan mencerahkan masyarakat. Visi besar inilah yang mendorong dan memotivasi pengelola pendidikan Muhammadiyah untuk terus berkiprah dalam menanam benih-benih kebaikan kepada generasi penerus bangsa di mana pun mereka berada. Membenahi Kualitas Pendidikan

Lembaga pendidikan Muhammadiyah menyapa anak-anak bangsa di perkotaan, di pinggiran kota, di pedesaan, bahkan sampai ke daerah pegunungan di mana tangan-tangan pemerintah tidak mampu menjamahnya. Keadaan ini tentu saja menimbulkan konsekuensi tersendiri. Kualitas pendidikan Muhammadiyah menunjukkan panorama yang beragam. Ada yang bisa mencapai kualitas yang prima, tingkatan menengah, dan tidak sedikit yang berada atau tergolong kurang berkualitas. Kondisi ini tentu saja menjadi agenda yang patut dipikirkan secara serius. Tanwir kali ini merupakan momentum yang paling tepat untuk mengevaluasi dan merevitalisasi pendidikan Muhammadiyah sehingga kualitas lembaga pendidikannya benarbenar kualitas. Di wilayah perkotaan tuntutan untuk berkualitas menjadi tantangan tersendiri. Tanpa upaya itu, tinggal menunggu waktu di mana sekolah Muhammadiyah akan ditinggalkan oleh

pelanggannya. Jika masyarakat sebagai pelanggan sudah tidak percaya lagi, akibatnya tidak akan ada calon peserta didik yang datang mendaftarkan putra-putri mereka ke sekolahsekolah Muhammadiyah. Atau, setidaknya minat pendaftarnya berangsur-angsur akan terus menurun. Persyarikatan Muhammadiyah yang didirikan oleh Kyai Ahmad Dahlan di Yogyakarta satu abad silam memang sejak awal menitikberatkan perhatiannya pada upaya mencerdaskan dan mencerahkan kehidupan umat dan bangsa. Upaya tersebut tidak diutarakan melalui serangkaian gagasan yang muluk-muluk, tapi langsung diaktualisasikan dalam bentuk pelayanan pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pelayanan sosial, yang dikenal dengan istilah Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Di antara ketiga upaya tersebut, bidang pendidikan merupakan Amal Usaha Muhammadiyah yang mengalami kemajuan paling nyata dan fenomenal. Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) di bidang pendidikan ini sangat mudah dilihat kiprahnya di seluruh penjuru Tanah Air, tidak hanya di daerah perkotaan, tetapi juga tersebar sampai ke pelosok pedesaan, bahkan di daerah pegunungan. Dalam laporan Muktamar Ke-46 Muhammadiyah di Yogyakarta,jumlah lembaga pendidikan Muhammadiyah mulai dari tingkat pendidikan anak usia dini (PAUD) sampai perguruan tinggi (PT) sebagai berikut: TK/Bustanul Ahfal 4.623 unit, PAUD (6.723), SD/MI (2.257), SMP/MTs (1.748), SMA/MA (747), SMK (399), Muallimin/ Muallimat (7), pondok pesantren (101), madrasah diniyah (347), sekolah luar biasa (15), dan perguruan tinggi (172). Angka ini sungguh merupakan jumlah yang sangat besar. Pilihan di bidang pendidikan jelas sangat strategis dan visioner. Karena melalui pendidikan dan pembelajaran, calon-calon pemimpin bangsa masa depan ditempa dan diasuh secara konsisten sehingga pada saatnya nanti siap mengambil peran yang tepat bagi pembangunan bangsa. Dalam pandangan Muhammadiyah, pendidikan bukan sekadar mendidik generasi, melainkan juga dialamatkan mempersiapkan calon pemimpin dalam kedudukannya sebagai hamba Allah dan khalifatullah di muka bumi. Dengan posisi pendidikan yang sangat strategis tersebut, segenap jajaran persyarikatan harus benar-benar serius dalam mengelola bidang pendidikan ini. Karena itu, besarnya kuantitas lembaga pendidikan yang dimiliki hanya akan menjadi beban apabila kualitasnya rendah. Tentu saja menjadi beban moral bagi persyarikatan karena tidak mampu mengoptimalkan amanah yang diterima dari masyarakat. Upaya peningkatan mutu pendidikan Muhammadiyah seiring dengan cita-cita pendidikan nasional.Pada puncak acara memperingati Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) 2012 beberapa waktu yang lalu, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI mencanangkan Generasi Emas pada 2035, yaitu generasi yang memiliki ciri inovatif, kreatif, kompetitif, dan berkarakter kuat. Bangunan pendidikan yang diletakkan Kyai Dahlan, yang kemudian menjadi petunjuk arah bagi perjalanan pendidikan Muhammadiyah selanjutnya, memiliki tiga pilar utama yaitu pendidikan keimanan (spiritual),pendidikan individu (intelektual-fisik), dan pendidikan sosial. Tiga pilar tersebut merupakan satu kesatuan organis, dan tidak bisa dipisahkan antara pilar satu dan pilar yanglain. ProfilprodukMuhammadiyah yang diharapkan adalah seorang anak yang seluruh potensinya dapat berkembang secara penuh sehingga bisa tampil menjadi manusia yang berakhlak dan

cerdas. Seluruh kemampuannya itu dicurahkan dan disumbangkan untuk membaguskan kehidupan masyarakat dan bangsa. Wajah pendidikan merupakan cerminan atau pantulan dari situasi masyarakatnya.Karena itu,pengelola pendidikan Muhammadiyah harus lihai membawa arah perkembangan dan gairah perubahan sesuai tuntutan masyarakat. Dengan demikian, laju perkembangan pendidikan Muhammadiyah akan senantiasa bergandengan/ maju seirama dengan perubahan masyarakat. Untuk mencapai kondisi tersebut, setidaknya diperlukan tiga langkah inovasi pendidikan dalam Muhammadiyah: Pertama, prakarsa yaitu melakukan inovasi pada aspek pengelola dan pemangku kepentingan yang ditunjukkan dengan visi bersama dan langkah-langkah yang akan ditempuh secara praktis Kedua, implementasi yaitu mempraktikkan visi bersama itu secara praktis di lapangan dengan tetap mempertimbangkan fleksibilitas. Ketiga, evaluasi yaitu melihat kembali prakarsa dan implementasi yang sudah dijalankan, dengan mencermati berbagai hambatan, tantangan, dan masalah yang muncul untuk dicarikan jalan keluarnya. Pengamatan di lapangan menunjukkan bahwa hampir tidak ada lembaga pendidikan Muhammadiyah yang melakukan inovasi, kemudian mengalami kegagalan.Adapun yang menjadi masalah adalah keberanian berinovasisekolah dan Dikdasmen,PT dan DIKTI Muhammadiyah masih rendah sehingga hampir-hampir tidak ada peningkatan signifikan ke arah perubahan yang lebih progresif. Sering juga sayup-sayup terdengar suara, Begini saja sudah dapat berjalan,mau cari apa lagi?. Selanjutnya,kapan dan dari mana harus memulai? Jawabnya,ya sekarang ini juga harus berani memulai,dari halhal yang sederhana, ditekuni secara cerdas, teliti, hati-hati, insya Allah mendapatkan hasil yang optimal. Nashurn minallah wa fathun qariib

Jauh sebelum negara dan pemerintah Indonesia lahir, sejak 18 November 1912 M atau 8 Dzulhijjah 1330 H, Muhammadiyah telah berjuanng untuk bangsa. Sang Pencerah menghadirkan gerakan Islam pembaru ini untuk membebaskan umat dan bangsa dari belenggu kejumudan, keterbelakangan, dan penjajahan. Dengan senantiasa bersyukur kepada Allah SWT dan terima kasih atas dukungan masyarakat luas Muhammadiyah terus berkiprah dalam kerja-kerja dakwah yang membebaskan, memberdayakan, dan memajukan kehidupan. Ribuan Amal Usaha di bidang pendidikan, kesehatan, pelayanan sosial, ekonomi, dan program-program kemasyarakatan yang sepenuhnya berada dalam pengelolaan (milik) organisasi dibangun dann dikhidmatkan untuk kemajuan bangsa meraih peradaban utama.

Dari rahim Muhammadiyah, Islam bukan hanya diwacanakan, tetapi diwujudkan dalam amaliah karena pada hakekatnya tidak ada manifestasi lain dari Islam kecuali dalam amal. Amal Islam yang berkemajuan. Dari rahim Muhammadiyah, Islam bukan hanya diwacanakan, tetapi diwujudkan dalam amaliah karena pada hakikatnya tidak ada manifestasi lain dari Islam kecuali dalam amal. Amal Islam yang berkemajuan. Para ahli mengakui keberhasilan Muhammadiyah dalam gerakan pembaharuannya, setidaktidaknya dalam empat hal utama yakni: (1) Membersihkan Islam di Indonesia dari pengaruh dan kebiasaan yang bukan Islam; (2) Reformulasi doktrin Islam dengan pandangan alam pikiran modern; (3) Reformulasi ajaran dan pendidikan Islam; dan (4) Mempertahankan Islam dari pengaruh dan serangan luar (Mukti Ali, 1958: 20). Muhammadiyah melahirkan gerakan Al-Ma'un, sebuah teologi amaliah yang menampilkan wajah Islam yang membebaskan, memberdayakan dan memajukann kehidupan. Dari AlMa'un lahirlah amal usaha poliklinik pertama tahun 1922 yang bernama Penolong Kesengsaraan Omoem (PKU) yang menjadi embrio rumah sakit, balai kesehatan, dan lembaga-lembaga pelayanan sosial dan kesehatann yang tersebar di seluruh tanah air. Muhammadiyah menurut Soekarno, Presiden Republik Indonesia pertama, dengan sedikit bicara tetapi banyak bekerja, telah melakukan modernisasi sosial dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Melalui pembaruan pendidikan, Muhammadiyah memperkenalkan sistem pendidikan Islam modern yang holistik. Pendidikan yang memadukan Iman dan kemajuan, intelektualitas dan moralitas, yang bermuara pada pembentukan insan Muslim yang kokoh iman dan kepribadiannya sekaligus prokehidupan. Pendidikan Muhammadiyah telah mencerdaskan kehidupan bangsa, tatkala mayoritas penduduk bumiputratidak mengenal dan mengenyan pendidikan umum. Peran Muhammadiyah melalui 'Aisyiyah sejak tahun 1917 dalam mengangkat harkat martabat perempuan merupakan langkah terobosan. 'Aisyiyah bahkan termasuk salah satu penggagas dan terlibat aktif dalam Kongres Wanita Pertama. Gerakan perempuan Muhammadiyah ini hingga kini bahkan telah mengelola ribuan Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), Taman Kanak Kanak (TK ABA), Rumah sakit, Balai Kesehatan, Panti Asuhan, koperasi, usaha ekonomi mikro-kecil-menengah, dan berbagai amal usaha lainnya. Melalui 'Aisyiyah tersebut Muhammadiyah berperan nyata dalam gerakan perempuan Indonesia menuju pada kemajuan. Dalam situasi paling krusial, Muhammadiyah melalui tokoh puncaknya Ki Bagus Hadikusuma, pada sidang Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI) tanggal 18 Agustus 1945, telah memberikan solusi sangat menentukan di tengah ancaman perpecahan dan keretakan anak bangsa yang baru satu hari merdeka. Dengan penghayatan atas jiwa Piagam Jakarta, Ki Bagus rela berkorban demi keutuhan dan persatuan bangsa, yang menentukan eksistensi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Di belakang hari hikmah dari peran Ki Bagus Hadikusuma itu telah mewakili pengorbanan terbesar umat Islam, yang oleh

Menteri Agama Republik Indonesia, Alamsjah Ratu Perwiranegara, disebut sebagai hadiah terbesar umat Islam untuk bangsa dan negara Indonesia. Pemerintah Indonesia mengakui kiprah Muhammadiyah dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional untuk Kyai Haji Ahmad Dahlan. Melalui Surat Keputusan Presiden Nomor 657 tanggal 27 Desember 1961 pemberian gelar tersebut didasarkan ata empat pertimbangan yaitu: (1) KH Ahmad Dahlan telah memelopori kebangunan Umat Islam Indonesia untuk menyadari nasibnya sebagai bangsa terjajah yang masih harus belajar dan berbuat; (2) Dengan organisasi Muhammadiyah yang didirikannya telah memberikan ajaran Islam yang menuntut kemajuan, kecerdasan, dan beramal bagi masyarakat dan umat, dengan dasar iman dan Islam; (3) Dengan organisasinya Muhammadiyah telah memelopori amal-usaha sosial dan pendidikan yang amat diperlukan bagi kebangunan dan kemajuan bangsa, dengan jiwa ajaran Islam; (4) Dengan organisasinya bagian Wanita atau 'Aisyiyah telah memelopori kebangunan wanita bangsa Indonesia untuk mengecap pendidikan dan berfungsi sosial, setingkat dengan kaum pria. Muhammadiyah sebagai komponen bangsa senantiasa mengutamakan kepentingan dan kemajuan bangsa di atas segalanya. Muhammadiyah sejalan dengan Khittah dan Kepribadiannya menegaskan sikap untuk konsisten dalam beramar ma'ruf dan nahi mungkar. Muhammadiyah senantiasa bekerjasama dengan pemerintah dan seluruh komponen bagnsa secara cerdas dan mengedepankan nasib bangsa. Muhammadiyah tidak pernah egois mementingkann dirinya. Dalam rentang perjalanan 102 / 99 tahun Muhammadiyah telah berkiprah tak kenal lelah untuk bangsa, juga untuk umat Islam dan dunia kemanusiaann universal. Kiprah Muhammadiyah itu lahir dari spirit dakwah Islam yang mengajak pada kebaikan, menyeruh pada yang ma'ruf, dan mencegah dari yang munkar (QS Ali Imran 104) yang dikhidmatkan untuk kejayaa uamt, bangsa, dan kemanusiaann universal. Berbagai rintangan telah banyak dilalui oleh Muhammadiyah dalam rentang usia yang panjang itu. Namun demikian Muhammadiyah tetap tegak berdiri dan terus beramal kebajikan untuk mencerahkan kehidupan. Meskipun sering harus menghadapi rintangan berat pada setiap babakan sejarahnya, kadang disisihkan karena sikap kritis, Muhammadiyah tetap berjuang mengemban misi-dakwah tanpa pamrih. Sehingga sejarah dapat membuktikan betapa Muhammadiyah sejak lahir hingga saat ini dan sampai kapanpun tetap istiqamah dalam berkiprah untuk membawa negara dan bangsa ini menuju Baldatun Thayyibatun w Rabbun ghafur. Muhammadiyah tetap berkomitmen mengusung dakwah dan tajdid yang berkemajuan untuk terwujudnya Islam sebagai rahmatn lil-'alamin

Beri Nilai