Anda di halaman 1dari 4

Sejuta Cerita dalam Perjalanan Pulang Kampung Pendekatan sosiologi sastra merupakan perkembangan dari pendekatan mimetik yang

memahami karya sastra hubungannya dengan realitas dan aspek sosial kemasyarakatan. Hal ini didasari fakta bahwa karya satsra tidak pernah terlepas dari realitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. (Wiyatmi, 97: 2009) Bukan Yem dalam kumpulan cerpen berjudul Kumpulan Cerpen Terbaik Kompas 2008 menceritakan pahit getirnya buruh migran di luar negeri. Tak hanya itu cerita yang mengalir dan menghadirkan kesan horor di awal cerita ini, teramu begitu apik dengan menghadirkan latar transisi antara luar negeri dan kampung halaman. Cerpen ini, pada dasarnya merupakan cerpen yang sederhana, menggambarkan ritual pulang kampung buruh migran, yang bertemu dengan buruh migran lain, kemudian saling bercerita, dan sama-sama mengalami kesialan. Kalau kita menilik latar belakang pengarang, maka kita akan menghadirkan permakluman. Etik adalah seorang buruh migran di Hong Kong, namun memiliki hobi menulis. Sebagai pahlawan devisa, tentu dia sudah khatam melantunkan kisah para TKW serta menyitir curhtan teman-temannya. Ibarat gelas, maka cerpen ini seolah tumpah menampung kritik sosial yang begitu menohok. Bagaimana tidak, Etik menggambarkan bahwa ketidakadilan serta tindakan sewenang-wenang yang dialami TKW itu tidak hanya mereka tanggungkan selama mereka berada di luar negeri. Bahkan, ketika mereka menjejak kaki ibu kandungnya, yaitu negerinya sendiri pun, ketidakadilan itu masih mereka rasakan. Ibarat jatuh tertimpa tangga. Diceritakannya, bahwa para buruh urban tersebut seringkali mendapatkan perlakuan yang tidak baik dari majikan mereka. Maka tak heran jika para TKW dari Indonesia sering menyebut majikan mereka dnegan sebutan Mak Lampir, Nini Pelet, Mak Jambrong, bahkan Anjing. Kalau kita menilik pada realitas, beberapa kasus menimpa pahlawan devisa tersebut pada sekitar tahun 2006 an. Tahun 2006 merujuk pada pembuatan cerpen ini. Sebanyak 6 TKI di tembak di Malaysia oleh aparat dengan tuduhan yang tidak jelas. Sampai hari ini, kasus tersebut terkesan dibiarkan. Pertengahan Januari 2006, Kamilah (29) TKW asal Kemranjen, Tewas di Malaysia. Kemudian Maret 2006, dua TKW sekaligus yakni Yuniarti (26) asal Sumpiuh dan Ernawati

juga tewas, masing-masing di Malaysia dan Arab Saudi. Disusul Rosimah (26) yang juga tewas karena kecelakaan lalu lintas di Arab Saudi. Di akhir tahun 2006, masalah TKW kembali mencuat setelah Fita Eka Wardhani (19) asal Baturaden di sandera di Batam, yang membuat Pemkab, DPRD dan sejumlah LSM, terpaksa menjemputnya. Selanjutnya di bulan yang sama, 5 teman-teman Fita meminta perlindungan KBRI Malaysia karena menerima perlakuan sadis dari para majikannya; disiksa, tidak mendapatkan gaji, kerja tidak sesuai dengan yang dijanjikan PJTKI, dijadikan pelacur , dll .(Suara Merdeka, 14 November 2006). Selain itu ada juga kasus traficking yang korbannya mencapai 40.000 TKW pembantu rumah tangga di Syria. Ketidakadilan ini seringkali memicu respon negatif dari para buruh urban. Mereka melakukan hal-hal buruk, seringkali sebagai upaya untuk mempertahankan diri. Kita masih ingat beberapa TKI kita yang mengalami hukum pancung, lantaran diduga membunuh majikannya. Tentu keadilan semacam ini patut dipertanyakan. Apakah iya, seseorang rela diperkosa majikannya, tanpa melakukan perlawanan? Lantas, ketika dalam keadaan terdesak, bukankah hal yang wajar untuk kita menyelamatkan diri? Namun tetap, merekalah yang harus mendapatkan hukuman atau membayar denda. Kalau kita ingat, banyak kasus dialamatkan kepada para TKW kita, mulai dari mengguna-gunai, menyantet, dan berbagai tuduhan lain. Para pekerja itu tidak berkutik. Lebih parahnya lagi, pemerintah juga bersikap seolah-olah tak berkutik. Maka bukan hal yang mengherankan, ketika kita mendengar kabar ada TKW yang ditangkap gara-gara meracuni anak majikannya, ada yang mencampur minuman atau makanan majikannya dengan air perasan celana dalam, agar majikan nurut dan tak cerewet, ada yang menikam majikan laki-lakinya, dan berbagai perlakuan lain. Itu semua adalah bentuk perlawanan atas ketidakadilan yang mereka alami, mereka berupaya menunjukkan eksistensi mereka sebagai semacam hewan liar, yang siap menerkam jika keberadaannya diusik. Mereka ingin menunjukkan bahwa di balik keluguan, mereka menyimpan keganasan yang sangat berakibat vital jika tidak diantisipasi. Mereka yang mengalami nasib kurang beruntung tersebut, kebanyakan erjadi pada mereka yang bekerja di sektor informal, sebagai pembantu rumah tangga. Penempatan TKW

yang tidak memperhatikan standar dan juga kemampuan seringkali menjadi pemicu adanya kekerasan dan ketidakadilan ini. Meski demikian, bekerja di luar negeri tak selalu mengalami nasib malang. Hal ini yang coba digambarkan Etik melalui tokoh saya. Dia menggambarkan bahwa majika tokoh saya itu adalah orang yang baik dan perhatian, maka tak heran bahwa tokoh saya merasa betah. Realitasnya, mungkin kita pernah mendengar kisah TKW yang tidak mau pulang kampung, lantaran merasa sudah nyaman dengan majikannya? Atau kalau kita sempat menengok film Minggu Pagi di Victoria Park, kita akan dapat melihat, bagaimana seorang pembantu rumah tangga atau pengasuh bisa berhubungan sangat dekat dengan majikan. Sebagaimana yang disebutkan di awal, bahwa para TKW umumnya adalah orang yang lugu. Tanpa menjustifikas, mereka yang bekerja di sektor informal kebanyakan adalah wanita-wanita berpendidikan rendah yang tidak mendapatkan pekerjaan di negeri sendiri. Mereka memilih bekerja di luar negeri dengan iming-iming gaji yang tinggi. Terkadang gaji yang cukup menggiurkan mampu mengalahkan akal sehat dan membutakan mata mereka terhadap berbagai kasus yang pernah menggemparkan dunia per kaum migranan negeri ini. Ada yang disiram air panas, ada yang dibuat lumpuh, ada yang disiksa dan diancam, ada yang dibunuh, ada yang tidak digaji selama bertahun-tahun, ada yang diperkosa, bahkan tak jarang ada juga yang mati bunuh diri karena tidak kuasa menanggung derita. Keluguan mereka, tampaknya menjadi sasaran empuk bagi para oknum di negeri sendiri. Ini yang saya sebut sebagai sudah jatuh tertimpa tangga. Bahkan kesialan mereka, sudah diterima sejak mereka menginjakkan kaki di bandara. Sebagaimana yang dilansir dari Antara News. Di sana disebutkan bahwa TKI yang notabene sebagai pahlawan devisa negara, ternyata menjadi korban pungli di negeri sendiri. Mirisnya lagi, hal tersebut mendapatkan legitimasi dari pemerintah. Kejadian ini berlangsung pada tahun 2006. Bahkan di Bandara Soekarno-Hatta, mereka disediakan terminal tersendiri (terminal III) yang terpisah dari terminal penumpang umum. Pemisahan ini beralasan untuk melindungi TKI, tetapi juga menyuburkan pungli, termasuk pungutan liar yang resmi seperti pungutan Rp.25.000,- berdasarkan Surat Menakertrans No 437.HK.33.2003, bagi TKI yang pulang melalui Terminal III wajib membayar uang jasa pelayanan Rp25.000. Untunglah saat ini, kebijakan tersebut sudah dihapuskan.

Dalam cerpen Bukan Yem, pemerasan terhadap TKI digambarkan dimulai dari bandara, kemudian pengelola jasa travel, persinggahan di tiap daerah, belum lagi oleh mereka yang menyebut diri sebagai agen, mereka yang menyebut diri sebagai LSM. Semua itu ujungujungnya uang. Berbagai dalih dikeluarkan, mulai dari jaminan keamanan, untuk melindungi keberadaa TKI, melakukan pengecekan kemungkinan uang palsu, bahkan ancaman tidak akan mendapatkan jaminan keselamatan apabila mereka tidak menyetorkan uang. Untungnya tokoh aku adlaah tokoh yang cerdas dan berpendidikan. Dia sekalipun tak mengerti seluk beluk kelicikan oknum dalam negeri, namun banyak akal dan responsif, sehingga kebusukan petugas dan oknum bisa dikalahkan dengan kebusukannya. Dalam kehidupan sehari-hari, kita sudah tidak asing lagi, bahwa TKI dan TKW menjadi korban gendam di bandara, menjadi korban penjarahan di terminal, menjadi korban pemerasan agen. Segala bentuk ketidakadilan ini, tampaknya hanya dibiarkan saja oleh pemerintah. Bahkan di cerpen ini digambarkan, bahwa para TKW sangat rentan terhadap pelecehan seksual dan tindakan asusila. Hal ini terjadi setiap kali mereka disinggahkan ke barak, mereka didatangi oleh para lelaki berbadan kekar, yang memberikan himbauan dengan nada setengah mengancam. Realitanya, TKW mengalami nasib yang lebih parah. Setidaknya kita mampu menggambarkan hal ini dengan berkaca pada TKW Nganjuk. Asiyah, salah satu TKW Nganjuk, disekap oleh penyalur jasa tenaga kerja Indonesia yang memberangkatkannya ke Malaysia. Dia disergap oleh lima lelaki berbadan kekar dan diberi minuman bercampur obat perangsang. Kedua tangannya diborgol, tak hanya itu dia juga mengalami penyiksaan psikis, dengan dipaksa mandi bersama para laki-laki lain. Dia direndam di dalam bak mandi selama ber jam-jam. Bahkan untuk makan, tiap hari ia dipaksa makan dengan menu seperempat kilogram cabe dicampur bawang putih dan kecap. Dalam cerpen ini Etik sangat lihai memainkan emosi pembaca. Pertama dia menampilkan sesuatu yang horor, seorang bayi yang dimasukkan mesin cuci oleh pembantunya. Namun kemudian dia juga menghadirkan kepedihan, tentang para TKW yang terjajah kemerdekaannya, di sisi lain, dia menghadirkan kondisi yang membuat kita jengkel pada kelakuan manusia negeri ini. Dia meramunya dengan sangat baik. Maka tak heran, kalau dia pernah memenangkan anugerah Pena Kencana pada tahun 2008.