Anda di halaman 1dari 177

komprehensif

Rabu, 18 Juli 2012


komprehensif pada Ny. N

BAB I PENDAHULUAN A. Latar belakang Kehamilan dan persalinan merupakan proses normal, alamiah dan sehat. Namun bila tidak dipantau secara intensif dapat terjadi penyimpangan, karena setiap kehamilan mempunyai resiko. Pelayanan kesehatan maternal dan neonatal merupakan salah satu unsur kesehatan, AKI merupakan barometer kemajuan pelayanan kesehatan. Penurunan angka kematian ibu per 100.000 kelahiran hidup masih terlalu lambat untuk mencapai target tujuan pembangunan milenium (Milenium Development Goals/ MDGs). Jumlah kematian ibu pada th 2007 yaitu 440 per 100.000 kelahiran hidup, di Asia 330 per 100.000 kelahiran hidup dan di Asia tenggara 210 per 100.000 kelahiran hidup. (who.A maternal mortality in 2000: estimates developed by WHO,UNICEF n UNFPA Geneva,2004) Kematian ibu masih merupakan masalah besar yg dihadapi diberbagai negara berkembang, AKI pada tahun 2002 di Thailand tercatat 129 per 100.000 Kelahiran hidup, Malaysia yaitu 39 per 100.000 kelahiran hidup dan Singapura 6 per 100.000 kelahiran hidup, AKI di indonesia merupakan urutan pertama untuk jumlah kematian maternal di Asean yaitu 307 per 100.000 kelahiran hidup (Herianto, 2003) Berdasarkan Survey Demografi Kesehatan Indonesia (SDKI) 2007, AKI di Indonesia masih berada pada angka 228/100.000 kelahiran hidup. (http://www.sinarharapan.co.id/berita/0805/24/kesra01.html). Menurut SDKI tahun 2007 angka kematian bayi (AKB), masih

berada pada kisaran 25 per 1.000 kelahiran hidup. (http://www.bkkbn.go.id/jabar/program_detail.php?prgid=14). Jika dibandingkan dengan target yang ingin dicapai pemerintah pada tahun 2010 yaitu angka kematian ibu sebesar 125/100.000 kelahiran hidup dan angka kematian bayi 16/1000 kelahiran hidup. Pemerintah DKI Jakarta akan terus menekan AKI dan AKB. Pada tahun 2008 AKI dan AKB masih tergolong tinggi yaitu 41/100.000 kelahiran hidup dan 13/1000 kelahiran ibu. ( Humas DinKes DKI Jakarta 2008 ). AKI Jakarta Selatan 68/100.000 kelahiran hidup, AKB 4/1000 kelahiran hidup. (http://www.sumekes.co.id/=artid.php?=angka kematian-ibu-da-bayi-jkt-selatan). Dari laporan tahunan jumlah AKI dan AKB yang didapatkan dari laporan tahunan Puskesmas Mampang Prapatan sd bulan juli tahun 2011 jumlah AKI sebesar 0/100.000 kelahiran hidup dan AKB sebesar 0/1000 kelahiran hidup. Melihat AKI yang masih cukup tinggi di Indonesia, departemen kesehatan membuat intervensi dalam upaya mempercepat penurunan AKI yang mengacu pada intervensi strategis empat pilar safe motherhood. Bidan sebagai ujung tombak asuhan pelayanan kebidanan harus dapat berperan lebih besar yaitu : program keluarga berencana, pelayanan asuhan antenatal, persalinan yang bersih dan aman, dan pelayanan obstetric yang essensial. (Saifuddin, 2006:5 ) Penyebab utama angka kematian ibu secara langsung adalah pendarahan (45,2%), eklamsia ( 12,9 %), komplikasi aborsi ( 11.1%), sepsis pasca persalinan ( 9,6%), partus macet (6,5 %) anemia (1,6 %), dan penyebab tidak langsung (14,1%). Dilihat dari kematian ibu tersebut berarti kehamilan dan persalinan yang seharusnya merupakan peristiwa aman yang di alami oleh wanita usia produksi dapat berubah menjadi peristiwa yang membahayakan jiwa ibu dan anak yang di kandungnya. (depkes RI, 2004) Oleh sebab itu dalam upaya menurunkan angka kematian ibu

dan bayi baru lahir diharapkan senua tenaga penolong persalinan dilatih agar mampu mencegah komplikasi yang mungkin terjadi, dan menerapkan asuhan persalinan secara tepat guna dan waktu, baik sebelum atau saat masalah terjadi dan segera melakukan rujukan saat kondisi ibu masih optimal. (depkes,2002) Hal ini membuat penulis tertarik untuk mengambil kasus ini, dikarenakan kehamilan, persalinan, dan nifas serta bayi baru lahir merupakan satu rangkaian yang saling berkaitan. Dimana masa kehamilan sangat menentukan pada saat persalinan juga akan menentukan pada saat nifas dan bayi yang dilahirkan. Maka diambilah kasus ini secara komprehensif yang berjudul Asuhan Kebidanan Komprehensif Pada Ny N G2P1A0 dengan persalinan normal.

B. Tujuan penulisan 1. Tujuan umum Mampu menatalaksanakan asuhan kebidanan secara komprehensif dengan penerapan manajemen asuhan kebidanan pada ibu hamil, bersalin, nifas dan bayi baru lahir. 2. Tujuan khusus 1) Dapat melakukan pengkajian secara langsung pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir, nifas, dan KB guna mendapatkan data yang benar serta adekuat. 2) Dapat menginterpretasikan data untuk mengidentifikasi diagnosa serta kebutuhan pada Ny. N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir, nifas dan KB. 3) Dapat menegakkan diagnosa dan masalah potensial yang terjadi pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir, nifas, dan KB. 4) Dapat mengidentifikasi masalah potensial yang terjadi pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir,

nifas dan KB. 5) Dapat mengidentifikasi kebutuhan tindakan segera atau kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain yang mungkin terjadi pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir, nifas dan KB. 6) Dapat menyusun rencana asuhan kebidanan secara menyeluruh pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, nifas, dan bayi baru lahir. 7) Dapat melaksanakan asuhan kebidanan sesuai dengan perencanaan asuhan secara tepat dan efesien pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir, nifas dan KB. 8) Dapat mengevaluasi keefektifan dari asuhan kebidanan yang di berikan pada Ny.N selama masa kehamilan, persalinan normal, bayi baru lahir, nifas dan KB. 9) Dapat mendokumentasikan asuhan yang diberikan secara benar dengan menggunakan metode Varney atau SOAP.

C. Waktu dan tempat pelaksanaan kasus Tempat melakukan asuhan kebidanan komprehensif adalah puskesmas kecamatan mampang prapatan, sedangkan waktu pengambilan kasus adalah sebagai berikut : 1. Waktu pengambilan kasus a. Kehamilan : 5 kali kunjungan

2. Tempat pengambilan kasus a. Lahan praktek

b. Rumah pasien

D. Gambaran kasus Ny.N umur 32 tahun G2P1A0 hamil 31 minggu 5 hari. HPHT 3Febuari 2011, TP 10 november 2011, ANC pada trimester III sebanyak 5kali, tidak ada keluhan dan tidak ada kelainan. Gerakan janin positif, pertama kali dirasakan pada usia kehamilan 16 minggu. Pada saat bersalin tanggal 10 november 2011 jam 00.00 wib ibu datang dengan keluhan mules mules disertai dengan keluar lendir bercampur darah sejak pukul : 23.00 wib. Pada saat datang ke Puskesmas mampang, keadaan umum ibu baik, kesadaran : Compos Mentis, keadaan emosional : stabil, TD:110/70 mmHg, S : 36,6C, Respirasi : 19x/menit, N : 82 x/menit. Dilakukan pemeriksaan fisik, muka tidak pucat, konjungtiva tidak pucat, sklera tidak ikterik, kelopak mata tidak oedema, dan pemeriksaan fisik lainya tidak ada kelainan. Hasil pemeriksaan obstetri, palpasi TFU 32 cm (Mc. Donald), LeopoldI : bagian fundus teraba bulat, lunak, dan tidak melenting (bokong), Leopold II : sebelah kiri perut ibu teraba keras dan memanjang seperti papan (Puki), bagian kecil berada disebelah kanan ibu, Leopold III : bagian terendah janin teraba bulat keras dan tidak melenting (kepala), Leopold IV : kepala sudah masuk PAP (4/5) divergen, asukultasi DJJ (+), frekuensi 136 x/menit, terdengar jelas dan teratur. Kontraksi uterus ada, his 2x/10 menit lamanya 25 detik. Pengeluaran pervaginam ada, lendir bercampur darah 10 cc, perineum tidak ada luka parut, vulva vagina warna kemerahan, kelenjar bartolini tidak ada pembengkakan, anus hemoroid tidak ada. Dilakukan periksa dalam pada pukul 00.10 wib, dinding vagina tidak ada benjolan, keadaan portio tebal, konsistensi lunak, pembukaan serviks 3 cm, ketuban (+). Presentasi fetus kepala, penurunan bagian terendah kepala HI, posisi UUK kiri depan. Pada pukul 04:10 WIB dilakukan periksa dalam ulang dinding vagina tidak ada benjolan, portio tipis, konsistensi lunak,

pembukaan serviks 4 cm, ketuban (+), presentasi fetus kepala, penurunan bagian terendah kepala H II, posisi UUK kiri depan. Pada pukul 07.10 wib Ibu mengatakan adanya dorongan ingin meneran terus menerus dan ingin buang air besar. Dilakukan pemeriksaan dalam dinding vagina tidak ada benjolan, portio tidak teraba, pembukaan serviks lengkap ketuban (+), kepala H III, posisi ubun-ubun kecil didepan. Dilakukan amniotomi, air ketuban jernih 200cc. Mengatur posisi ibu dengan cara kedua tangan merangkul kedua paha sampai batas siku, kepala diangkat, dagu menempel kedada, mata melihat kearah perut, gigi dirapatkan dan menganjurkan ibu untuk meneran pada saat ada his dan pada saat kepala sudah mulai terlihat 5 - 6 cm di vulva ibu dipimpin untuk meneran. Pukul 07 : 25 WIB bayi lahir spontan, letak belakang kepala, jenis kelamin perempuan, menangis kuat. Kala III berlangsung selama 5 menit perineum utuh tidak ada robekan dengan jumlah pendarahan 250cc. Kala IV berjalan normal dengan keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 88 x/menit, pernafasan 20x/menit, suhu 36,6c, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong. Keadaan bayi baik, salep mata sudah didapatkan setelah 1 jam Inisiasi Menyusu Dini (IMD) melakukan pemeriksaan berat badan: 3000 gram, panjang badan 49 cm, lingkar kepala 32 cm, lingkar badan: 32 cm, lingkar dada: 33 cm, caput negatif, dan imunisasi Hepatitis B sudah diberikan. 6 jam post partum penulis melakukan pemeriksaan masa nifas, keadaan umum ibu baik, pengeluaran lochea rubra, ASI keluar dengan baik dengan jumlah yang cukup banyak. selama pemeriksaan TD: 110/70 mmHg, N:81 x/mnt, Rr: 22 x/mnt, S: 36,8oC selama 6 jam post partum kondisi ibu dalam keadaan baik. Hari ke 2 past partum penulis melakukan pemeriksaan masa nifas, keadaan umum ibu baik, pengeluaran lochea rubra, ASI keluar dengan baik dengan jumlah yang cukup banyak. selama pemeriksaan TD: 110/70 mmHg, N:83 x/mnt, Rr: 20 x/mnt, S:

36,8oC. Pada tanggal 15 november 2011 penulis melakukan pemeriksaan masa nifas dan neonatus 6 hari. Ibu mengatakan tidak ada keluhan, pengeluaran ASI sudah banyak dan masih keluar darah berwarna merah kekuningan dan didapatkan hasil pemeriksaan TD: 110/80 mmHg, Nadi: 80x/menit, Pernafasan: 20 x/menit, Suhu : 36,5 oC, TFU : 3 jari atas sympisis, kontraksi uterus baik, pengeluaran lokea Sanguinolenta, tidak berbau, puting susu menonjol tidak lecet dan pengeluaran ASI banyak. Keadaan bayi baik, Pernafasan 44 x/menit, denyut nadi : 125 x/menit, Suhu 36,8 oC dan menyusu dengan kuat. Tali pusat sudah puput pada pukul 08.00 wib. Pada saat nifas dilakukan kunjungan rumah sebanyak 2 kali, 2 minggu post partum dan 6 minggu post partum. Pada tanggal 23 november 2011 dilakukan kunjungan rumah nifas dan neonatus 2 minggu. Ibu mengatakan Asinya sudah banyak dan hanya memberikan ASI pada bayinya, dan didapatkan hasil pemeriksaan TD : 110/70 mmHg, Nadi : 80 x/menit, Suhu : 36,6 oC, Pernafasan : 20x/menit, TFU sudah tidak teraba, pengeluaran lokea serosa, puting susu menonjol dan tidak lecet, ASI banyak. Keadaan bayi baik, Pernafasan 44 x/menit, denyut nadi : 138 x/menit, Suhu 36,7 oC BB: 3500gram, PB: 52cm dan menyusu dengan kuat. Pada tanggal 21 desember 2011 dilakukan kunjungan rumah pada 6 minggu post partum, keadaan umum ibu baik, kesadaran compos mentis, keadaan emosional stabil, tekanan darah 110/80 mmHg, nadi 80x/menit, pernafasan 21x/menit, suhu tubuh 36,7C, TFU tidak teraba, lochea alba, bayi sudah mendapatkan imunisasi BCG, keadaan umum bayi baik, kesadaran compos mentis, pernafasan 40x/menit, nadi 120x/menit, suhu 36,6C, bayi tampak sehat dan bergerak aktif.

BAB II TINJAUAN TEORI A. KEHAMILAN

1. Definisi kehamilan Menurut Federasi Obstetri Ginekologi Internasional. Kehamilan di definisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan di lanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila di hitung dari saat fertilisasi hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan terbagi dalam 3 trimester, dimana trimester ke satu berlangsung dalam 12 minggu, trimester kedua 15 minggu ( minggu ke-13 hingga ke27 ), dan trimester ketiga 13 minggu ( minggu ke-28 hingga ke-40 ).( sarwono, 2008 :213 ) Menurut Manuaba (2002), Proses kehamilan merupakan matarantai yang berkesinambungan dan terdiri dari ovulasi, migrasi spermatozoa dan ovum, konsepsi dan pertumbuhan zigot, nidasi (implementasi) pada uterus, pembentukan plasenta, dan tumbuh kembang hasil konsepsi sampai aterm. Kehamilan 40 minggu ini disebut kehamilan matur (cukup bulan). Bila kehamilan lebih dari 43 minggu disebut kehamilan postmatur. Kehamilan antara 28 dan 36 minggu disebut premature. Kehamilan yang terakhir ini akan mempengaruhi viabilitas (kelangsulangan hidup) bayi yang di lahirkan, karna bayi yang terlalu muda mempunyai prognosis buruk. (Hanifa Wiknjosastro,2005:125).

2. Proses terjadinya kehamilan Wanita pada umumnya mempinyai 2 indung telur ( ovarium ) yaitu di sebelah kanan dan kiri, dan di perkirakan dalam ovarium wanita terdapat kira-kira 100,000 folikel primer. Pada setiap bulannya indung telur akan melepaskan 1 atau 2 sel telur ( ovum ) yang kemudian di tangkap oleh fimbria dan di salurkan ovum tersebut ke dalam tuba. Untuk setiap kehamilan yang di butuhkan adalah spermatozoa, ovum, pembuahan ovum, dan nidasi hasil konsepsi. Pada waktu

koitus, jutaan spermatozoa pria di keluarkan di forniks vagina dan di sekitar pirtio wanita, hanya beberapa ratus ribu spermatozoon saja yang dapat bertahan hingga kavum uteri dan tuba, dan beberapa ratus yang dapat sampai ke bagian ampula tuba dimana spermatozoon dapat memasuki ovum yang telah siap untuk di buahi. Di sekitar sel telur terdapat zona pellucida yang melindungi ovum, ratusan spermatozoon tersebut berkumpul untuk mengeluarkan ferment (ragi) agar dapat mengikis zona pellucida dan hanya satu spermatozoon yang mempunyai kemampuan untuk membuahi sel telur, peristiwa ini di sebut pembuahan ( konsepsi ). Dalam beberapa jam setelah pembuahan terjadi, di mulailah proses pembelahan zigot sambil bergerak menuju kavum uteri oleh arus serta getaran sillia pada permukaan sel-sel tuba dan kontraksi tuba. Pada umumnya jika hasil konsepsi telah sampai kavum uteri maka akan terjadi perlekatan pada dinding depan atau belakang uterus dekat fundus uteri, perlekatan itu di sebut nidasi dan jika terjadi nidasi barulah dapat di katakan adanya kehamilan. Setelah adanya kehamilan di butuhkan sesuatu untuk membuat janin tumbuh dengan baik yaitu plasenta, umumnya plasenta terbentuk dengan lengkap pada usia kehamilan kurang lebih 16 minggu. Plasenta ini sebagian besar berasal dari janin dan sebagian kecul dari ibu. (Wiknjosastro , 2006)

3. Tanda kehamilan Tanda pasti kehamilan Indikator pasti hamil adalah penemuanpenemuan keberadaan janin secara jelas, antara lain: 1) Pada palpasi dirasakan bagian janin dan balotemen serta gerakan janin. 2) Pada auskultasi terdengar bunyi jantung janin (BJJ): a) Dengan Stetoskop-Monoral Leannec BJJ baru terdengar pada kehamilan 18-20 minggu.

b) Dengan alat Doppler dicatat dan didengar pada kehamilan 12 minggu. c) Dicatat dengan Feto-Elektro Kardiogram 3) Dengan Ultrasonografi (USG) atau scanning dapat dilihat gambar janin. 4) Pada pemeriksaan sinar X/Foto-Rontgen tampak kerangka janin. Tidak dilakukan lagi sekarang karena dampak radiasi terhadap janin. (Mansjoer,2009)

4. Perubahan Fisik Pada Kehamilan Kehamilan menyebabkan terjadinya perubahanperubahan baik anatomis maupun fisiologis pada ibu. Berikut ini akan di bahas mengenai perubahan fisik pada ibu hamil. Trimester III 1) Sistem reproduksi a) Uterus Pada trimester III ithmus lebih nyata menjadi bagian korpus uteri dan berkembang menjadi segmen bawah rahim (SBR). SBR menjadi lebih lebar dan tipis, tampak batas yang nyata antara bagian atas yang lebih tebal dan segmen bawah yang lebih tipis. Batas itu di kenal sebagai lingkaran retraksi fisiologis dinding uterus, diatas lingkaran ini jauh lebih tebal daripada dinding SBR. (1) 28 minggu : fundus uteri terletak kirakira tiga jari diatas pusat atau 1/3 jarak pusat ke prosesus xifoideus (25 cm). (2) 32 minggu : fundus uteri terletak kirakira antara jarak pusat dan prosesus xifoideus (27 cm).

(3) 36 minggu : fundus uteri kirakira 1 jari di bawah prosesus xifoideus (30 cm). (4) 40 minggu : fundus uteri terletak kirakira 3 jari di bawah prosesus xifoideus (33 cm). Setelah minggu ke-28 kontraksi brakton hicks semakin jelas, terutama pada wanita yang langsing. Pada minggu-minggu terakhir kehamilan kontraksi semakin kuat sehingga sulit dibedakan dari kontraksi untuk memulai persalinan. 2) Sistem traktus uranius Pada akhir kehamilan kepala janin mulai turun ke pintu atas panggul. Keluhan sering kencing akan timbul lagi karena kandung kencing akan mulai tertekan kembali. Selain itu juga terjadi hemodilusi menyebabkan metebolisme air menjadi lancar. Pada kehamilan tahap lanjut, pelvis ginjal kanan dan ureter lebih berdilatasi daripada pelvis kiri akibat pergeseran uterus yang berat ke kanan akibat terdapat kolon rektosigmoid di sebelah kiri. 3) Sistem respirasi Pada 32 minggu ke atas karena usususus tertekan uterus yang membesar ke arah diafragma sehingga mengakibatkan kebanyakan wanita hamil mengalami derajat kesulitan bernafas.(http://harnawatiaj.wordpress.com/perubahan-anatomidan-fisiologi-wanita) 4) Kenaikan berat badan Menurut Winknjosastro (2008) berat badan wanita hamil akan naik kira-kira diantara 6,5-16,5 kg. 5) Sirkulasi darah Hemodilusi penambahan volume darah sekitar 25% dengan puncak pada usia kehamilan 32 minggu, sedangkan hematokrit mencapai level terendah pada minggu 3032 karena setelah 34

minggu massa RBC terus meningkat tetapi volume plasma tidak. Aliran darah meningkat dengan cepat seiring pembesaran uterus. Pada kehamilan cukup bulan, seperenam volume darah total ibu berada didalam sistem pendarahan uterus. 6) Sistem muskuloskeletal Peningkatan distensi abdomen yang membuat panggul miring ke depan, penurunan tonus otot perut dan peningkatan beban berat badan pada akhir kehamilan membutuhkan penyesuaian ulang (realigment) kurvatura spinalis. (Sumarah 2009:66-68)

5. PENGAWASAN KEHAMILAN (ANTENATAL CARE) a. Definisi Antenatal Care Antenatal care adalah pemeriksaan kehamilan yang dilakukan pada ibu hamil sejak ibu mulai merasakan kehamilannya sampai saat bersalin. (Saefuddin, 2002) b. Tujuan asuhan atenatal 1) Memantau kemajuan kehamilan untuk memastikan kesehatan ibu dan tumbuh kembang bayi. 2) Meningkatkan dan mempertahankan kesehatan fisik, mental dan social ibu dan bayi. 3) Mengenali secara dini adanya ketidaknormalan atau komplikasi yang mungkin terjadi selama hamil, termasuk riwayat penyakit secara umum, kebidanan dan pembedahan. 4) Mempersiapkan kehamilan cukup bulan, melahirkan dengan selamat, ibu maupun bayinya dengan trauma seminimal mungkin. 5) Mempersiapkan ibu agar masa nifas berjalan normal dan pemberian asi ekslusif.

6) Mempersiapkan peran ibu dan keluarga dalam menerima kelahiran bayi agar dapat tumbuh kembang secara normal.(pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,Sarwono:2009) c. Kebijakan program Menurut depkes (2009) Pelayanan / asuhan standar minimal termasuk 10T: 1) Timbang berat badan dan ukur tinggi badan 2) Ukur tekanan darah 3) Nilai Status Gizi 4) Ukur tinggi fundus uteri 5) Tentukan presentasi janin dan denyut jantung janin (DJJ) 6) Imunisasi Tetanus Toksoid (TT) 7) Pemberian Tablet zat besi minimal 90 tablet selama kehamilan 8) Test laboratorium (rutin dan khusus) 9) Tatalaksana kasus 10) Temu wicara (konseling), termasuk Perencanaaan Persalinan dan Pencegahan Komplikasi (P4K) serta KB pasca persalinan. d. Kebijakan teknis Setiap kehamilan dapat berkembang menjadi masalah atau komplikasi setiap saat. Itu sebabnya mengapa ibu hamil memerlukan pemantauan selama kehamilannya. Penatalaksanaan ibu hamil secara keseluruhan meliputi komponen-komponen sebagai berikut ; a) Mengupayakan kehamilan yang sehat

b) Melakukan deteksi dini komplikasi, melakukan penatalaksanaan awal serta rujukan bila di perlukan c) Persiapan persalinan yang bersih dan aman d) Perencanaan antisipasif dan persiapan dini untuk melakukan rujukanjika terjadi komplikasi. (Saifuddin, 2006 ) e. Informasi pada kunjungan ANC menurut Saifuddin (2010) Trimester 1 ( sebelum minggu ke 14 ) 1) Membangun hubungan saling percaya antara petugas kesehatan dan ibu hamil. 2) Mendeteksi masalah dan menanganinya 3) Melakukan tindakan pencegahan seperti tetanus neonatorum, anemia kekurangan zat besi, penggunaan praktek tradisional yang merugikan 4) Memulai persiapan kelahiran bayinya dan kesiapan untuk menghadapi komplikasi 5) Mendorong prilaku sehat ( gizi, kebersihan, istirahat dan sebagainya

Trimester II ( sebelum minggu ke 28 ) Sama seperti di atas, di tambah kewaspadaan khusus mengenai preeklampsi (tanya ibu tentang gejala gejala preeklampsia, pantau tekanan darah, evaluasi oedema periksa untuk mengetahui protein urine)

Trimester III ( antara minggu ke 26 36 ) Sama dengan yang di atas , kewaspadaan terhadap eklampsia,

pemeriksaan palpasi abdominal untuk mengetahui apakah terdapat hamil ganda. Setelah 36 minggu pada trimester III : Sama halnya dengan di atas, pada hamil lebih dari 36 minggu di lakukan pemeriksaan pendeteksian letak bayi yang tidak normal atau kondisi lainnya yang mengharuskannya untuk melahirkan di rumah sakit f. Tanda-Tanda Bahaya Pada Kehamilan (Depkes, 2008) 1. Perdarahan pervaginam 2. Sakit kepala yang hebat , menetap dan tidak hilang 3. Perubahan visual secara tiba-tiba : pandangan kabur. 4. Nyeri abdomen yang hebat 5. Bengkak pada muka atau tangan 6. Bayi kurang bergerak seperti biasanya

g. Standar Asuhan 1. Identifikasi ibu hamil Bidan mengadakan kunjungan rumah dan berinteraksi dengan masyarakat secara berkala untuk memberikan penyuluhan dan motivasi ibu, suami dan keluarga agar mau memeriksakan kehamilannya. 2. Pemeriksaan dan pemantauan ANC Menurut Saefuddin (2010) kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan sedikitnya 4 kali selama masa kehamilan : a. Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu) b. Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14

28 ) c. Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 36 dan sesudah minggu ke 36) 3. Palpasi Abdomen Bidan melakukan pemeriksaan palpasi untuk memperkirakan usia kehamilan, memeriksa posisi, bagian terendah janin, masuknya kepala ke dalam rongga panggul, dan untuk mencari kelainan serta melakukan rujukan tepat waktu. Palpasi dapat dilakukan menurut teori leopold, yaitu: 1) Leopold I a) Menentukan tinggi fundus uteri b) Meraba bagian yang ada di atas rahim Menyimpulkan :Tuanya kehamilan,Bagian apa yang terdapat di atas rahim. 2) Leopold II Meraba bagian samping dan merasakan bagian mana terasa tahanan yang lebih keras dari atas ke bawah dan sebelah mana teraba bagianbagian kecil dari janin. Menyimpulkan: letak punggung janin pada letak membujur, kepala janin di sebelah kiri atau kanan pada letak lintang. 3) Leopold III Meraba bagian bawah rahim dengan satu tangan.Menyimpulkan: a) Letak kepala: teraba bagian yang besar, keras, bulat dan melenting.Letak sungsang: teraba bagian besar tidak bulat, b) Tidak rata dan tidak melenting. c) Letak lintang: tidak teraba bagian besar (kosong).

4 ) Leopold IV Meraba bagian janin yang berada di bawah rahim dengan dua tangan. Dan sejauh mana kepala janin masuk ke PAP.Menyimpulkan: menentukan sampai dimana bagian terdepan janin sudah masuk PAP. (DepKes RI,2002)

h. Pengolahan Anemia pada Kehamilan Bidan melakukan tindakan pencegahan, penemuan, penanganan semua kasus anemia pada kehamilan sesuai dengan ketentuan yang berlaku. Tiap tablet mengandung FeSO4 320 mg (zat besi 60 mg) dan asam folat 500 mg, minimal masingmasing 90 tablet. Tablet besi sebaiknya diminum bersamaan dengan vitamin C atau air jeruk agar cepat dalam penyerapan dan tidak diminum bersama teh atau kopi karena akan mengganggu penyerapan. (DepKes RI,2002) i. Pengolahan Dini Hypertensi Pada Kehamilan Bidan menemukan secara dini kenaikan tekanan darah pada kehamilan dan mengenali tanda gejala pre-eklampsi, serta mengambil tindakan yang cepat dan merujuknya. (DepKes RI,2002)

j. Persiapan Persalinan Bidan memberikan saran yang tepat pada ibu hamil, suami serta keluarga pada trimester II untuk memastikan bahwa persiapan persalinan yang bersih dan aman serta suasana yang menyenangkan direncanakan dengan baik, transportasi, biaya dan merujuk bila ada kegawatan. (DepKes RI,2002) k. Senam hamil Senam hamil di mulai pada umur kehamilan 22 minggu. Senam hamil bertujuan untuk mempersiapkan dan melatih otot-otot

sehingga dapat berfungsi secara optimal dalam persalinan. Senam hamil ditujukan pada ibu hamil tanpa kelainan atau tidak terdapat penyakit yang menyertai kehamilan seperti penyakit jantung, ginjal, dan penyulit dalam kehamilan. Syarat senam hamil : a. Telah dilakukan pemeriksaan kesehatan dan kehamilan oleh dokter atau bidan. b. Latihan dilakukan setelah kehamilan 22 minggu. c. Latihan dilakukan secara teratur dan disiplin. d. Sebaiknya latihan di lakukan di rumah sakit atau klinik bersalin di bawah pimpinan instruktur senam hamil. Cara latihan senam hamil : 1. Latihan Pendahuluan Tujuan latihan pendahuluan ini adalah untuk mengetahui daya kontraksi otot-otot tubuh, luas gerakan persendian, dan mengurangi serta menghilangkan nyeri dan kekakuan tubuh. Latihan 1 Sikap : duduk tegak bersandar di topang kedua tangan, kedua tungkai kaki diluruskan dan di buka sedikit, seluruh tubuh lemas dan rileks Latihan : a. Gerakkan kaki kiri jauh ke depan, kaki kanan jauh ke belakang, lalu sebaliknya gerakkan kaki kanan jauh ke depan, kaki kiri jauh ke belakang. Lakukan masing-masing 8 kali b. Gerakkan kaki kanan dan kiri sama-sama jauh ke depan dan belakang ( fleksi plantar dan dorsal) c. Gerakkan kaki kanan dan kiri bersama-sama jauh ke kanan

dan kekiri d. Gerakkan kaki kanan dan kaki kiri bersama-sama kearah dalam (endorotasi) sampai ujung jari menyentuh lantai, lalu gerakkan kedua kaki ke arah luar (ektsorotasi) e. Putarkan kedua kaki bersama-sama (sirkumduksi) kekanan dan kekiri masing-masing 4 kali f. Angkat kedua lutut tanpa menggeser kedua tumit dan bokong, tekankan kedua tungkai kaki ke lantai sambil mengerutkan otot dubur, lalu tarik otot-otot perut sebelah atas simfisis kedalam (kempiskan perut) kemudian rileks. Lakukan sebanyak 8 kali Latihan 2 Sikap : duduk tegak, kedua tungkai kaki lurus dan rapat. Latihan : Letakkan tungkai kanan diatas tungkai kiri, kemudian tekan tungkai kiri dengan kekuatan seluruh tungkai kanan sambil mengempeskan dinding perut bagian atas dan mengerutkan liang dubur selama beberapa saat, kemudian istirahat. Ulangi gerakan ini dengan tungkai kiri diatas tungkai kanan. Lakukan gerakangerakan tersebut masing-masing 8 kali. Latihan 3 Sikap : duduk tegak, kedua kaki lurus, rapat dan rileks. Latihan : Angkat tungkai kanan ke atas, lalu letakkan kembali; angkat tungkai kiri keatas, lalu letakkan kembali, lakukan hal ini berganti-ganti sebanyak 8 kali. Lakukan pula latihan seperti di atas dalam posisi berbaring terlentang, kedua tungkai kaki lurus, angkat kedua tungkai bersama-sama, kedua lutut jangan ditekuk, kemudian turunkan kembali perlahan-lahan. Lakukan gerakan ini sebanyak 8 kali.

Latihan 4 Sikap : duduk bersila, badan tegak, kedua tangan di atas bahu, kedua lengan di samping badan Latihan : Tekan samping payudara dengan sisi lengan atas, lalu putarkan kedua lengan tersebut kedepan, keatas samping telinga, teruskan sampai kebelakang dan akhirnya kembali kesikap semula, lakukan gerakan-gerakan diatas sebanyak 8 kali. Latihan 5 Sikap : berbaring telentang kedua lengan di samping badan dan ke dua lutut di tekuk. Latihan : Angkat pinggul sampai badan dan kedua tungkai atas membentuk sudut dengan lantai yang di tahan oleh kedua kaki dan bahu. Turunkan pelan-pelan. lakukan sebanyak 8 kali. Latihan 6 Sikap : berbaringlah telentang, kedua tungkai lurus, kedua lengan berada di samping badan, keseluruhan badan rileks. Latihan : Panjangkan tungkai kanan dengan menarik tungkai kiri mendekati bahu kiri, lalu kembali ke posisi semula. Ingat kedua lutut tidak boleh di tekuk (dibengkokkan). Keadaan dan gerakan serupa dilakukan sebaliknya untuk tungkai kiri. Setiap gerakan dilakukan masing-masing dua kali. Latihan ini di ulang sebanyak 8 kali. Latihan 7 Panggul di putar kekanan dan kekiri masing-masing 4 kali

gerakkan panggul kekiri yang dilakukan sebagai berikut: tekankan pinggang ke lantai sambil mengempiskan perut dan mengerutkan otot dubur, gerakkan panggul kekanan, angkat pinggang, gerakkan panggul kekiri dan seterusnya. Cara-cara pendahuluan di atas dilakukan beberapa hari sampai wanita hamil ini dapat menjalankan latihan-latihan inti. 2. Latihan Inti Klasifikasi dan tujuan dari latihan ini adalah : a. Latihan pembentukan sikap tubuh untuk mendapatkan sikap tubuh yang baik selama hamil, karena sikap tubuh yang baik menyebabkan tulang panggul naik, sehingga janin berada dalam kedudukan normal. Sedangkan sikap tubuh yang tidak baik menyebabkan tulang panggul turun, sehingga kedudukan janin kurang baik. b. Latihan kontraksi dan relaksasi Untuk memperoleh sikap tubuh dan mengatur relaksasi pada waktu yang di perlukan. c. Latihan pernafasan Untuk melatih berbagai tehnik pernafasan supaya dapat di pergunakan pada waktunya sesuai kebutuhan. Syarat guna mendapatkan pernafasan yang sempurna adalah rileksasi seluruh tubuh, berkonsentrasi, dan untuk melemaskan otot-otot dinding perut dan pernafasan maka kedua lutut harus ditekuk selama kehamilan. Bentuk-bentuk latihan ini dilakukan secara terpadu dan cara latihannya di bagi menurut umur kehamilan yaitu latihan pada kehamilan minggu ke 22-25, 26-30, 31-34 dan minggu 35 ke atas. Minggu ke-26-30 1. Latihan pembentukan sikap tubuh

Sikap : merangkak, kedua tangan sejajar bahu. Tubuh sejajar dengan lantai, sedangkan tangan dan paha tegak lurus. Latihan: a. Tundukkan kepala, sampai terlihat ke arah vulva, pinggang di angkat sambil mengempiskan perut bawah dan mengerutkan dubur. b. Lalu turunkan pinggang, angkat kepala sambil lemaskan otototot dinding perut dan dasar panggul. Ulangi kegiatan di atas sebanyak 8x. 2. Latihan kontraksi dan relaksasi Sikap: berbaring telentang, kedua tangan di samping badan, kedua kaki di tekuk pada lutut dan santai Latihan : Lemaskan seluruh tubuh, kepalkan kedua lengan dan tegangkan selama beberapa detik , lalu lemaskan kembali. Kerjakan sebanyak 8 x. 3. Latihan pernafasan Sikap : berbaring, telentang, kedua kaki di tekuk pada lutut, kedua lengan di samping badan dan lemaskan badan. Latihan: a. lakukan pernafasan thorax (dada) yang dalam selama 1 menit, lalu ikuti dengan pernafasan diafragma. Kombinasi kedua pernafasan ini dilakukan interval 2 menit. b. Latihan pernafasan bertujuan untuk mengatasi rasa nyeri (sakit) his pada waktu persalinan Minggu ke 31-34 1. Latihan pembentukan sikap tubuh

Sikap : berdiri tegak, kedua lengan di samping badan, kedua kaki selebar bahu dan berdiri rileks. Latihan : a. lakukan gerakan jongkok perlahan- lahan, badan tetap lurus, lalu tegak berdiri perlahan-lahan b. pada mula berlatih, supaya jangan jatuh, kedua tangan boleh berpegangan pada misalnya sandaran kursi. Lakukan sebanyak 8x. 2. Latihan kontraksi dan relaksasi Sikap : tidur terlentang, kedua tangan di samping badan, kedua kaki di tekuk dan lemaskan badan. Latihan : Lakukan pernafasan diafragma dan dada yang seperti telah dibicarakan 3. Latihan pernafasan Latihan pernafasan seperti telah diharapkan tetap dengan frekuensi 26-28/menit dan lebih cepat. Gunakan untuk menghilangkan rasa nyeri. Minggu ke 35 sampai akan partus 1. Latihan pembentukan sikap tubuh Sikap : berbaring telentang, kedua lengan disamping badan, kedua kaki ditekuk pada lutut dan relaks. Latihan : Angkat badan dan bahu, letakkan dagu di atas dada melihatlah ke arah vulva. Kegiatan ini pertahankan beberapa saat, lalu kembali ke sikap semula dan santailah. Latihan ini di ulang 8 x

dengan interval 2 menit. 2. Latihan kontraksi dan relaksasi Angkat kedua tangan, tegangkan bahu tegangkan otot-otot perut, kerutkan dubur Sikap : tidur telentang kedua lengan disamping badan kedua kaki lurus lemaskan seluruh tubuh lakukan pernafasan secara teratur dan berirama. Latihan : Tegangkan seluruh otot tubuh dengan cara : katubkan rahang kerutkan dahi, tegangkan otot-otot leher kepangkan kedua tungkai kaki dan tahan nafas, setelah beberapa saat kembali ke sikap semula dan lemaskan seluruh tubuh. Lakukan kegiatan ini 9x. 3. Latihan pernafasan Sikap : tidur telentang, kedua lutut dipegang oleh kedua lengan (posisi litotomi) dan rileks. Latihan : Buka mulut sedikit dan bernafaslah sedalam-dalamnya. Lalu tutup mulut latihan mengejan seperti buang air besar (defekasi) ke arah bawah dan depan. Setelah lelah mengejan, kembali ke posisi semula. Latihan ini diulang 4 kali dengan interval 2 menit. Latihan Penenangan Dan Relaksasi a. Latihan penenangan Tujuan : latihan ini berguna untuk menghilangkan tekanan (stres) pada waktu melahirkan. Sikap : berbaring miring ke arah punggung janin, misalnya kekiri, maka lutut kanan diletakkan di depan lutut kiri keduanya di tekuk. Tangan kanan di tekuk di depan badan, sedangkan tangan kiri di belakang badan.

Latihan : Tenang, lemaskan seluruh badan, mata di picingkan, hilangkan semua suara yang mengganggu, atasi tekanan. Kerjakan latihan ini 5-10 menit. b. Latihan relaksasi, Syarat : 1. Tutuplah mata dan tekukkan semua persendian 2. Lemaskan seluruh otot-otot badan termasuk muka 3. Pilihlah tempat yang tenang atau tutuplah mata dan telinga 4. Pusatkan pikiran pada suatu titik, misalnya pada irama pernafas

B. PERSALINAN 1. Definisi Persalinan Persalinan adalah proses membuka dan menipisnya servik, dan janin turun dalam jalan lahir. kelahiran adalah proses dimana janin dan ketuban di dorong keluar melalui jalan lahir. (pelayanan kesehatan maternal dan neonatal,Sarwono:2009) Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. (saifuddin, 2009) 2. Tujuan persalinan normal Tujuan asuhan persalinan normal adalah menjaga kelangsungan hidup dan memberikan drajat kesehatan yang tinggibagi ibu dan bayinya, melalui berbagai upaya yang terintegrasi dan lengkap tetapi dengan intervensi yang seminimal mungkin agar prinsip keamanan dan kualitas pelayanan dapat terjaga pada tingkat

yang diinginka (optimal). (APN,YNPK-KR:2008) 3. Tanda dan Gejala Sebelum terjadi persalinan sebenarnya beberapa minggu sebelumnya wanita memasuki Bulannya, minggunya dan Harinya yang disebut kala pendahuluan (preparatomi satge of labor) memberikan tanda-tanda sebagai berikut: a. Ligehtening/settling/dropping yaitu kepala turun memasuki pintu atas panggul (PAP) terutama pada primigravida. b. Perut kelihatan lebih melebar, fundus uteri turun c. Perasaan sering atau susah kencing, karena kandung kemih tertekan oleh bagian terendah janin d. Rasa sakit perut dan pinggang oleh adanya kontraksi-kontraksi lemah dari uterus kadang-kadang disebut false labor pains Serviks menjadi lembek mulai mendatar dan sekresinya bertambah dan bisa bercampur darah (bloody show). (Manuaba,2002) Tanda dan gejala inpartu seperti adanya penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan servik (frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit), dan cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina.( JNPKKR 2008) 4. Lima benang merah Ada lima aspek dasar atau lima benang merah, yang penting dan saling terkait asuhan persalinan yang bersih dan aman. Berbagai aspek tersebut melekat pada setiap persalinan, baik normal maupun patologis. Lima benang merah tersebut adalah (APN,YNPK-KR:2008): a. Keputusan klinik Langkah dalam membuat keputusan klinik antara lain:

1) Pengumpulan data utama dan relevan untuk membuat keputusan 2) Menginterprestasikan data dan mengidentifikasi masalah. 3) Membuat diagnosis atau menentukan masalah yang terjadi/dihadapi 4) Menilai adanya kebutuhan dan kesiapan intervensi untuk mengatasi masalah. 5) Menyusun rencana pemberian asuhan atau intervensi untuk solusi masalah. 6) Melaksanakan asuhan/intervensi terpilih. 7) memant au dan mengevaluasi efektifitas asuhan atau intervensi. b. Asuhan sayang ibu dan bayi Beberapa prinsip dasar asuhan sayang ibu adalah dengan mengkutsertakan suami dan keluarga selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Banyak hasil menunjukkan bahwa jika para ibu diperhatikan dan diberi dukungan selama persalinan dan kelahiran bayi serta mengetahui dengan baik mengenai proses persalinan dan asuhan yang akan mereka terima, mereka akan mendapatkan hasil rasa aman dan hasil yang lebih baik. Disebutkan pula bahwa hal tersebut pula dapat mengurangi terjadinya persalinan dengan vakum, cunam, dan seksio sesar, dan persalina berlangsung lebih cepat. c. Pencegahan infeksi Pencegahan infeksi adalah bagian esensial dari asuhan lengkap yang di berikan kepada ibu dan bayi baru lahir serta harus di laksanakan secara rutin pada saat menolong persalinan dan kelahiran. Saat memberikan asuhan dasar selama kunjungan antenatal atau post partum, dan saat menatalaksana penyulit. 1) Tujuan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan

a. Meminimalkan infeksi yang di sebabkan oleh mikroorganisme b. Menurunkan resiko penularan penyakit yang mengancam jiwa seperti hepatitis, HIV/AIDS 2) Tindakan tindakan pencegahan infeksi dalam pelayanan asuhan kesehatan a. Cuci tangan b. Memakai sarung tangan c. Memakai perlengkapan pelindung ( celemek/ baju penutup, kacamata, sepatu tertutup ) d. Menggunakan asepsis atau teknik aseptic e. Memproses alat bekas pakai f. Menangani peralatan tajam dengan aman g. Menjaga kebersihan dan kerapian lingkungan serta pembuangan sampah secara benar d. Pendokumentasian Pendokumentasian adalah bagian penting dari proses membuat keputusan klinik karena memungkinkan penolong persalinan untuk terus menerus memperhatikan asuhan yang di berikan selama proses persalinan dan kelahiran bayi. Catat semua asuhan yang telah di berikan kepada ibu dan bayi, jika asuhan yang telah di berikan tidak di catat maka maka dapat di anggap bahwa tidak prnah di lakukan asuhan yang di maksud. e. Rujukan Rujukan adalah kondisi optimal dan tepat waktu ke fasilitas kesehatan rujukan atau yang memiliki sarana lebih lengkap di

harapkan mampu menyelamatkan jiwa ibu dan bayinya Singkatan BAKSOKU dapat di gunakan dalam mempersiapkan rujukan a. B : ( Bidan ) Pastikan bahwa ibu dan bayi di dampingi oleh penolong persalinan saat di bawa ke fasilitas kesehatan rujukan b. A : ( Alat ) Bawa perlengkapan dan bahan-bahan untuk asuhan persalinan ke tempat rujukan, perlengkapan dan bahan-bahan tersebut mungkin di perlukan dalam perjalanan c. K : ( Keluarga ) Beritahu ibu dan keluarga mengenai r ibu dan janin, suami atau keluarga yang lain harus menemani ibu dan bayi ke tempat rujukan d. S : ( Surat ) Berikan surat ke tempat rujukan, surat ini harus memberikan identifikasi mengenai ibu dan bayi e. O : ( Obat ) Bawa obat-obatan esensial pada mungkin di perlukan selama perjalanan f. K : ( Kendaraan ) Siapkan kendaraan yang paling mungkin untuk merujuk dalam kondisi yang cukup nyaman g. U : ( Uang ) Ingatkan pada keluarga agar membawa uang dalam jumlah yang cukup.

5. Faktor Penting Dalam Persalinan a. PASSAGE (JALAN LAHIR) Adalah jalan lahir yang harus dilewati oleh janin terdiri dari rongga panggul, dasar panggul, serviks dan vagina. Agar janin dan plasenta dapat melalui jalan lahir tanpa ada rintangan, maka jalan lahir tersebut harus normal Rongga-rongga panggul yang normal adalah : pintu atas panggil hampir berbentuk bundar, sacrum lebar dan melengkung, promontorium tidak menonjol ke depan, kedua spina ischiadica tidak menonjol kedalam, sudut

arcus pubis cukup luas (90-100), ukuran conjugata vera (ukuran muka belakang pintu atas panggul yaitu dari bawah simpisis ke promontorium) ialah 10-11 cm, ukuran diameter transversa (ukuran melintang pintu atas panggul) 12-14 cm, diameter oblique (ukuran sserong pintu atas panggul) 12-14 cm, pintu bawah panggul ukuran muka melintang 10-10,5 cm. Jalan lahir dianggap tidak normal dan kemungkinan dapat menyebabkan hambatan persalinan apabila : panggul sempit seluruhnya, panggul sempit sebagian, panggul miring, panggul seperti corong, ada tumor dalam panggul. Dasar panggul terdiri dari otot-otot dan macam-macam jaringan, untuk dapat dilalui bayi dengan mudah jaringan dan otot-otot harus lemas dan mudah meregang, apabila terdapat kekakuan pada jaringan, maka otot-otot ini akan mudah ruptur. Kelainan pada jalan lahir lunak diantaranya disebabkan oleh serviks yang kaku (pada primi tua primer atau sekunder dan serviks yang cacat atau skiatrik), serviks gantung (OUE terbuka lebar, namun OUI tidak terbuka), serviks konglumer (OUI terbuka, namun OUE tidak terbuka), edema serviks (terutama karena kesempitan panggul, sehingga serviks terjepit diantara kepala dan jalan lahir dan timbul edema), terdapat vaginal septum, dan tumor pada vagina. b. POWER (KEKUATAN) Power adalah kekuatan atau tenaga untuk melahirkan yang terdiri dari his atau kontraksi uterus dan tenaga meneran dari ibu. Power merupakan tenaga primer atau kekuatan utama yang dihasilkan oleh adanya kontraksi dan retraksi otot-otot rahim. His adalah kontraksi otot-otot rahim pada persalinan. Kontraksi adalah gerakan memendek dan menebalnya otot-otot rahim yang terjadi diluar kesadaran (involuter) dan dibawah pengendalian syaraf simpatik. Retraksi adalah pemendekan otot-otot rahim yang bersifat menetap setelah adanya kontraksi. His yang normal adalah timbulnya mula-mula perlahan tetapi teratur, makin lama bertambah kuat sampai kepada puncaknya yang paling kuat kemudian berangsur-angsur menurun menjadi lemah. His tersebut makin lama makin cepat dan teratur jaraknya sesuai dengan proses persalinan sampai anak dilahirkan. His yang normal mempunyai sifat : kontarksi otot rahim mulai dari salah satu tanduk rahim, kontraksi bersifat simetris, fundal dominan yaitu menjalar ke seluruh otot rahim, kekuatannya seperti

memeras isi rahim, otot rahim yang berkontraksi tidak kembali ke panjang semula sehingga terjadi retraksi dan pembentukan segmen bawah rahim, bersifat involunter yaitu tidak dapat diatur oleh parturient. Tenaga meneran merupakan kekuatan lain atau tenaga sekunder yang berperan dalam persalinan, tenaga ini digunakan pada saat kala 2 dan untuk membantu mendorong bayi keluar, tenaga ini berasal dari otot perut dan diafragma. Meneran memberikan kekuatan yang sangat membantu dalam mengatasi resistensi otot-otot dasar panggul. Persalinan akan berjalan normal, jika his dan tenaga meneran ibu baik. Kelainan his dan tenaga meneran dapat disebabkan karena hypotonic/atonia uteri dan hypertonic/tetania uteri c. PASSANGER Passenger terdiri dari janin dan plasenta. Janin merupakan passanger utama, dan bagian janin yang paling penting adalah kepala, karena kepala janin mempunyai ukuran yang paling besar, 90% bayi dilahirkan dengan letak kepala. Kelainankelainan yang sering menghambat dari pihak passanger adalah kelainan ukuran dan bentuk kepala anak seperti hydrocephalus ataupun anencephalus, kelainan letak seperti letak muka atau pun letak dahi, kelainan kedudukan anak seperti kedudukan lintang atau pun letak sungsang d. PSYCHE (PSIKOLOGIS) Faktor psikologis ketakutan dan kecemasan sering menjadi penyebab lamanya persalinan, his menjadi kurang baik, pembukaan menjadi kurang lancer. Menurut Pritchard, dkk perasaan takut dan cemas merupakan faktor utama yang menyebabkan rasa sakit dalam persalinan dan berpengaruh terhadap kontraksi rahim dan dilatasi serviks sehingga persalinan menjadi lama .(http://lenteraimpian.wordpress.com/2010/02/12/faktor-faktoryang-mempengaruhi-persalinan/) e. PENOLONG (TENAGA KESEHATAN) Meliputi pengalamannya dalam memimpin persalinan, kesabaran

dan pengertiannya dalam menghadapi pasien terutama terhadap primpara. (Mochtar,2002) 6. Mekanisme Persalinan Normal Mekanisme persalinan merupakan gerakan janin dalam menyesuaikan dengan ukuran dirinya dengan ukuran panggul saat kepala melewati panggul. Yaitu: a. Engangement Engangement pada primigravida terjadi pada bulan terakhir kehamilan, dan pada multigravida terjadi pada awal persalinan. Engangement adalah peristiwa ketika diameter biparietal melewati pintu atas panggul dengan sutura sagitalis melintang/oblik didalam jalan lahir dan sedikit fleksi. (Sumarah,2009:88-91) b. Penurunan kepala Menurut Cuningham (1995) dan Varney (2002) seperti dikutip pada sumarah (2009), kekuatan yang mendukung yaitu: tekanan cairan amnion, tekanan langsung fundus pada bokong, kontraksi otot-otot abdomen, ekstensi dan pelurusan badan janin atau tulang belakang janin menyebabkan penurunan kepala. c. Fleksi Gerakan fleksi disebabkan karena janin terus didorong maju tetapi kepala janin terhambat oleh serviks, dinding panggul atau dasar panggul. Pada kepala janin, dengan adanya fleksi maka diameter oksipitofrontalis 12cm berubah menjadi suboksipitobregmatika 9 cm. posisi dagu bergeser kearah dada janin. (Sumarah,2009:92) d. Rotasi dalam Rotasi dalam atau putar paksi dalam adalah pemutaran bagian terendah janin dari posisi sebelumnya kearah depan sampai dibawah simpisis. Gerakan ini adalah upaya kepala janin untuk menyesuaikan dengan bentuk jalan lahir yaitu bentuk bidang

tengah dan pintu bawah panggul. Rotasi ini terjadi setelah kepala melewati hodge III (setinggi spina) atau setelah didasar panggul. Pada pemeriksaan dalam ubun- ubun kecil mengarah ke jam 12. (Sumarah,2009:93-94)

e. Ekstensi Penyebab dikarenakan sumbu jalan lahir pada pintu bawah panggul mengarah ke depan dan ke atas, sehingga kepala menyesuaikan dengan cara ekstensi agar dapat melaluinya. Pada saat itu ada dua gaya yang mempengaruhi, yaitu: 1) Gaya dorong dari fundus uteri kearah belakang 2) Tahanan dasar panggul dan simpisis kearah depan. Hasil kerja dari dua gaya tersebut mendorong ke vulva dan terjadilah ekstensi. Maka berangsurangsur lahirlah ubun-ubun kecil, ubun-ubun besar, dahi, mata, hidung, mulut, dan dagu. Pada saat kepala sudah lahir seluruhnya, dagu bayi berada di atas anus ibu. (Sumarah,2009: 95-96) f. Rotasi luar Terjadinya gerakan rotasi luar atau putar paksi luar dipengaruhi oleh faktor-faktor panggul,sama seperti pada rotasi dalam. (Sumarah,2009:97) g. Ekspulsi Setelah terjadinya rotasi luar, bahu depan berfungsi sebagai hypomochlion untuk kelahiran bahu belakang. Kemudian setelah kedua bahu lahir disusul lahirlah trochanter depan dan belakang sampai lahir janin seluruhnya. Gerakan kelahiran bahu depan, bahu belakang, badan seluruhnya. (Sumarah,2009:97-98)

7. Langkah Pertolongan Persalinan dan Manajemen Kebidanan

Pada Ibu Bersalin Berlangsungnya proses persalinan normal dibagi menjadi 4 kala, yaitu: a. Kala I (Kala Pembukaan) Berlangsung antara pembukaan nol sampai pembukaan lengkap (10 cm). Pada fase aktif Lamanya kala 1 untuk primigravida berlangsung 13 jam, sedangkan multigravida sekitar 7 jam dengan perhitungan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam. (Saifuddin, 2002) 1) Kala I ini dibagi menjadi 2 fase, yaitu: a) Fase laten Dimana pembukaan servik berlangsung lambat, sampai pembukaan 3 cm berlangsung dalam 78 jam. b) Fase aktif Berlangsung selama 6 jam dan dibagi atas 3 subfase, yaitu fase akselerasi berlangsung selama 2 jam (pembukaan terjadi 4 cm), fase dilatasi maksimal selama 2 jam pembukaan berlangsung cepat menjadi 9 cm, fase deselerasi berlangsung lambat dalam waktu 2 jam (pembukaan menjadi 10 cm atau lengkap). Fase-fase tersebut diatas dijumpai pada primigravida pada multigravida pun demikian, tetapi fase laten, fase aktif dan deselerasi terjadi lebih pendek. (Prawirohardjo, 2006) 2) Asuhan Kala I Persalinan a) Menghadirkan orang yang dianggap penting oleh ibu seperti suami, dan keluarga untuk memberikan dukungan kepada ibu. b) Mengatur aktifitas dan posisi yang nyaman bagi ibu. c) Membimbing ibu untuk rileks sewaktu ada his dengan cara ibu diminta untuk menarik nafas panjang, kemudian dilepaskan

dengan meniup sewaktu ada his. d) Menjaga privasi ibu antara lain dengan menggunakan penutup atau tirai dan tidak menghadirkan orang lain tanpa pengetahuan ibu dan seizin ibu. e) Menjelaskan kemajuan persalinan, perubahan yang terjadi dalam tubuh ibu, prosedur yang akan dilaksanakan dan hasil pemeriksaan. f) Menjaga kebersihan diri dengan membolehkan ibu untuk mandi dan menganjurkan ibu untuk membasuh kemaluannya seusai buang air besar atau kecil. g) Mengatasi rasa panas ibu bersalin biasanya merasa panas dan banyak keringat. Bidan dapat mengatasinya dengan meggunakan kipas angin/AC. h) Masase dengan melakukan pijatan pada punggung dan mengusap perut dengan lembut. i) Pemberian cukup minum untuk memenuhi kebutuhan energi dan mencegah dehidrasi. j) Mempertahankan kandung kemih tetap kosong dengan menyarankan ibu untuk berkemih sesering mungkin. k) Memberikan support pada ibu dan keluarga. (Saifuddin,2006)

b. Kala II (Kala Pengeluaran Janin) Dimulai dari pembukaan lengkap (10cm) sampai bayi lahir. pada kala ini his terkoordinir, kuat, cepat, dan lebih lama, kira-kira 2 3 menit sekali, kepala janin telah turun masuk ruang panggul sehingga terjadilah tekanan pada otot-otot dasar panggul yang secara reflektoris menimbulkan rasa mengedan karena tekanan pada rektum, ibu merasa seperti ingin BAB, dengan tanda anus terbuka, kepala janin mulai kelihatan, vulva membuka dan perineum meregang. Dengan his mengedan yang terpimpin dan

lahirlah kepala, diikuti oleh seluruh badan janin, kala II pada primi: 2 jam pada multi: 1 jam. (sumarah, 2008) Asuhan Kala II 1) Memberikan dukungan pada ibu dalam menghadapi persalinan. 2) Memberikan ibu makanan dan minuman jika tidak ada his. 3) Mendampingi ibu dengan keluarga atau suami saat melahirkan. 4) Memantau DJJ setelah setiap kontraksi untuk memastikan janin tidak mengalami bradikardi (nadi 12x/menit). Selama mengedan yang lama akan terjadi pengurangan aliran darah dan oksigen ke janin. 5) Memimpin persalinan jika sudah ada tanda-tanda Kala II. 6) Memakai sarung tangan saat kepala bayi terlihat 7) Menjaga kebersihan ibu jika ada kotoran keluar dari rektum, bersihkan dengan kain bersih. 8) Bantu kepala bayi lahir perlahan, sebaiknya diantara his. 9) Begitu kepala bayi lahir, usap mulut dan hidung bayi dengan kasa bersih dan biarkan kepala bayi memutar. 10) Begitu bahu sudah pada posisi anterior-posterior yang benar, bantulah persalinan dengan cara tepat. 11) Segera setelah lahir, periksa keadaaan bayi, letakkan di perut ibu, dan segara keringkan bayi dengan handuk bersih yang hangat. Setelah bayi kering, selimuti bayi dengan handuk baru yang bersih dan hangat. 12) Minta ibu memegang bayinya. Tali pusat di klem di dua tempat, lalu potong diantara dua klem dengan gunting steril.

13) Letakkan bayi dalam pelukan ibu dan mulai menyusui. (JNPK,2008) c. Kala III (Kala Pengeluaran Uri) Dimulai segera setelah bayi lahir sampai lahirnya plasenta, yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. Setelah bayi lahir uterus teraba keras dengan fundus uteri agak diatas pusat. Beberapa menit kemudian uterus berkontraksi lagi untuk melepaskan plasenta dari dindingnya. (sumarah, 2008) Tanda-tanda pelepasan plasenta adalah uterus yang membundar dan keras, uterus terdorong keatas, tali pusat bertambah panjang, ada semburan darah. Setelah plasenta lahir harus diperiksa untuk melihat apakah ada bagian plasenta yang tertinggal di dalam uterus, dan biasanya eksplorasi kavum secara manual. (Prawirohardjo, 2006) Manajemen aktif Kala III: Penatalaksanaan aktif Kala III (Pengeluaran Aktif Plasenta) membantu menghindarkan terjadinya perdarahan pasca persalinan. Adapun penatalaksanaan kala III meliputi: a) Pemberian oksitosin dengan segera (2 menit setelah bayi lahir). b) Pengendalian tarikan pada tali pusat. c) Pemijatan uterus segera setelah pada tali pusat. Asuhan Kala III a) Memberikan oksitosin untuk merangsang uterus berkontraksi yang juga mempercepat pelepasan plasenta 2 menit setelah kelahiran bayi guna menghasilkan oksitosin alamiah atau memberikan ergometrin 0,2 mg IM. b) Melakukan penegangan tali pusat terkendali (PTT), PTT dilakukan hanya kalau uterus berkontraksi. c) Segera setelah plasenta dan selaputnya dikeluarkan, masase

fundus agar menimbulkan kontraksi. Hal ini dilakukan untuk mengurangi pengeluaran darah dan mencegah perdarahan pasca persalinan. d) Jika menggunakan manajemen aktif Kala III dan plasenta belum lahir dalam 15 menit, berikan oksitosin 10 unit IM dosis kedua. e) Periksa kandung kemih dan lakukan katerisasi jika kandung kemih penuh. f) Periksa adanya tanda-tanda pelepasan plasenta. d. Kala IV (Kala Pengawasan atau Observasi) Kala IV dimaksudkan untuk melakukan observasi karena perdarahan postpartum paling sedikit terjadi pada 2 jam pertama. Hal-hal yang diobservasi adalah tingkat kesadaran pasien. Pemeriksaan tanda-tanda vital: tekanan darah, nadi, suhu dan pernapasan, kontraksi uterus dan perdarahan yang terjadi. Darah yang keluar harus ditukar sebaik-baiknya. Kehilangan darah pada persalinan biasanya disebabkan oleh luka pada pelepasan uri dan robekan pada serviks dan perineum. Perdarahan masih normal bila jumlahnya tidak melebihi 400500 cc. Bila perdarahan lebih maka harus dicari penyebabnya. (Manuaba, 2002) Sebelum meninggalkan wanita pospartum petugas harus memantau ibu setiap 15 menit pada jam pertama setelah kelahiran plasenta dan 30 menit pada jam kedua setelah persalinan. (Saifuddin, 2002). WHO/UNICEF/IVACG Task Force, 2006 merekomendasikan pemberian 2 dosis vitamin A 200.000 IU dalam selang waktu 24 jam pada ibu pasca bersalin untuk memperbaiki kadar vitamin A pada ASI dan mencegah terjadinya lecet puting susu. Selain itu suplementasi vitamin A akan meningkatkan daya tahan tubuh ibu terhadap infeksi perlukaan atau laserasi akibat proses persalinan (JNPK-KR 2008)

Asuhan Kala IV 1) Evaluasi fungsi fundus dengan meletakkan jari tangan anda secara melintang antara pusat dan fundus uteri. 2) Perkirakan kehilangan darah secara keseluruhan. 3) Periksa perenium perdarahan aktif (misalnya, apakah dari laserasi atau episiotomi). Laserasi diklasifikasikan berdasarkan luasnya robekan, yaitu: a) Laserasi derajat 1: Robekan terjadi pada mukosa vagina, komisura posterior, dan kulit perineum. Tidak perlu dijahit jika tidak ada perdarahan dan aposisi luka baik. b) Laserasi derajat 2: Robekan terjadi pada mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, dan otot perineum. Diperlukan penjahitan. c) Laserasi derajat 3: Robekan terjadi pada mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot perineum, dan otot sfingter ani. d) Laserasi derajat 4: Robekan terjadi pada mukosa vagina, komisura posterior, kulit perineum, otot perineum, otot sfingter ani, dan dinding depan rektum. Penolong APN tidak dibekali keterampilan untuk reparasi laserasi perineum derajat 3 atau 4. Segera rujuk ke fasilitas rujukan. (APN,2007) 4) Evaluasi kondisi secara umum. 5) Dokumentasikan semua asuhan dan temuan selama kala IV persalinan. e. Pertolongan persalinan menggunakan metode Asuhan Persalinan Normal 58 langkah Asuhan Persalinan Normal : 1) Mendengar dan melihat adanya tanda persalinan kala dua

2) Memastikan kelengkapan alat pertolongan persalinan termasuk mematahkan ampul oksitosin dan memasukkan alat suntik sekali pakai 2 ml ke dalam wadah partus set. 3) Memakai celemek plastik. 4) Memastikan lengan tidak memakai perhiasan, mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir. 5) Menggunakasn sarung tangan DTT pada tangan kanan yang akan digunakan untuk pemeriksaan dalam. 6) Mengambil alat suntik dengan tangan yang bersarung tangan, isi dengan oksitosin dan letakkan kembali ke dalam wadah partus set. 7) Membersihkan vulva dan perineum dengan kapas basah dan gerakan vulva ke perineum. 8) Melakukan pemeriksaan dalam, pastikan pembukaan sudah lengkap dan selaput ketuban sudah pecah. 9) Mencelupkan tangan kanan yang bersarung tangan ke dalam larutan clorin 0,5 %, membuka sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan clorin 0,5 %. 10) Memeriksa denyut jantung janin setelah kontraksi uterus selesai, pastikan DJJ dalam batas normal (120-160 x/menit). 11) Memberitahu ibu pembukaan sudah lengkap dan keadaan janin baik, meminta ibu untuk meneran saat ada His apabila ibu sudah merasa ingin meneran. 12) Meminta bantuan keluarga untuk menyiapkan posisi ibu untuk meneran (pada saat ada His, bantu ibu dalam posisi setengah duduk dan pastikan ia meneran nyaman). 13) Melakukan pimpinan meneran saat ibu mempunyai dorongan yang kuat untuk meneran. 14) Menganjurkan ibu untuk berjalan, berjongkok atau

mengambil posisi nyaman, jika ibu belum merasa ada dorongan untuk meneran dalam 60 menit. 15) Meletakkan handuk bersih (untuk mengeringkan bayi) di perut ibu, jika kepala bayi telah membuka vulva dengan diameter 5-6 cm. 16) Meletakkan kain bersih yang dilipat 1/3 bagian bawah bokong ibu. 17) Membuka tutup partus set dan memperhatikan kembali kelengkapan alat dan bahan. 18) Memakai sarung tangan DTT pada kedua tangan. 19) Saat kepala janin terlihat pada vulva dengan diameter 5-6 cm, memasang handuk bersih untuk mengeringkan janin pada perut. 20) Memeriksa adanya lilitan tali pusat pada leher janin. 21) Menunggu hingga kapala janin selesai melakukan putaran paksi luar secara spontan. 22) Setelah kepala melakukan putaran paksi luar, pegang secara biparental. Menganjurkan kepada ibu untuk meneran saat kontraksi. Dengan lembut gerakan kepala kearah bawah dan distal hingga bahu depan muncul dibawah arkus pubis dan kemudian gerakan arah atas dan distal untuk melahirkan bahu belakang. 23) Setelah bahu lahir, geser tangan bawah kearah perineum ibu untuk menyanggah kepala, lengan, dan siku sebelah atas. 24) Setelah badan dan lengan lahir, tangan kiri menyusuri punggung kearah bokong dan tungkai bawah janin untuk memegang tungkai bawah (selipkan jari telunjuk tangan kiri diantara kedua lutut janin) 25) Menilai penilaian selintas:

a. Apakah bayi menangis kuat dan atau bernapas tanpa kesulitan. b. Apakah bayi bergerak aktif. 26) Mengeringkan tubuh bayi mulai dari muka, kepala, dan bagian tubuh lainnya kecuali bagian tangan tanpa membersihkan verniks. Ganti handuk basah dengan handuk/kain yang kering. Membiarkan bayi atas perut ibu. 27) Memeriksa kembali uterus untuk memastikan tidak ada lagi bayi dalam uterus. 28) Memberitahu ibu bahwa ia akan disuntik oksitosin agar uterus berkontraksi baik. 29) Dalam waktu 1 menit setelah bayi lahir, suntikan oksitosin 10 unit IM (intramuskuler) di 1/3 paha atas bagian distal lateral (lakukan aspirasi sebelum menyuntikkan oksitosin). 30) Setelah 2 menit pasca persalinan, jepit tali pusat dengan klem kira-kira 3 cm dari pusat bayi. Mendorong isi tali pusat ke arah distal dan jepit kembali tali pusat pada 2 cm distal dari klem pertama. 31) Dengan satu tangan. Pegang tali pusat yang telah dijepit (lindungi perut bayi), dan lakukan pengguntingan tali pusat diantara 2 klem. 32) Mengikat tali pusat dengan benang DTT atau steril pada satu sisi kemudian melingkarkan kembali benang tersebut dan mengikatnya dengan simpul kunci pada sisi lainnya. 33) Menyelimuti ibu dan bayi dengan kain hangat dan memasang topi di kepala bayi. 34) Memindahkan klem tali pusat hingga berjarak 5-10 cm dari vulva. 35) Meletakkan satu tangan diatas kain pada perut ibu, di tepi atas simfisis, untuk mendeteksi. Tangan lain menegangkan tali pusat..

36) Setelah uterus berkontraksi, menegangkan tali pusat dengan tangan kanan, sementara tangan kiri menekan uterus dengan hati-hati kearah dorsokranial. Jika plasenta tidak lahir setelah 30-40 detik, hentikan penegangan tali pusat dan menunggu hingga timbul kontraksi berikutnya dan mengulangi prosedur. 37) Melakukan penegangan dan dorongan dorsokranial hingga plasenta terlepas, minta ibu meneran sambil penolong menarik tali pusat dengan arah seejajar, mengikuti poros jalan lahir (tetap lakukan tekanan dorso-kranial). 38) Setelah plasenta tampak pada vulva, teruskan melahirkan plasenta dengan hati-hati. Bila perlu (terasa ada tahanan), pegang plasenta dengan kedua tangan dan lakukan putaran searah untuk membantu pengeluaran plasenta dan mencegah robeknya selaput ketuban. 39) Segera setelah plasenta lahir, melakukan masase pada fundus uteri dengan menggosok fundus uteri secara sirkuler menggunakan bagian palmar 4 jari tangan kiri hingga kontraksi uterus baik (fundus teraba keras). 40) Periksa bagian maternal dan bagian fetal plasenta dengan tangan kanan untuk memastikan bahwa seluruh kotiledon dan selaput ketuban sudah lahir lengkap, dan masukan kedalam kantong plastik yang tersedia. 41) Evaluasi kemungkinan laserasi pada vagina dan perineum. Melakukan penjahitan bila laserasi menyebabkan perdarahan. 42) Memastikan uterus berkontraksi dengan baik dan tidak terjadi perdarahan. 43) Membiarkan bayi tetap melakukan kontak kulit ke kulit di dada ibu paling sedikit 1 jam. 44) Setelah satu jam, lakukan penimbangan/pengukuran bayi, beri tetes mata antibiotik profilaksis, dan vitamin K1 1mg intramaskuler di paha kiri anterolateral.

45) Setelah 1 jam pemberian vitamin K1 berikan suntikan imunisasi Hepatitis B di paha kanan anterolateral. 46) Melanjutkan pemantauan kontraksi dan mencegah perdarahan pervaginam. 47) Mengajarkan ibu/keluarga cara melakukan masase uterus dan menilai kontraksi. 48) Evaluasi dan estimasi jumlah kehilangan darah. 49) Memeriksakan nadi ibu dan keadaan kandung kemih setiap 15 menit selama 1 jam pertama pasca persalinan dan setiap 30 menit selama jam kedua pasca persalinan. 50) Memeriksa kembali bayi untuk memastikan bahwa bayi bernafas dengan baik. 51) Menempatkan semua peralatan bekas pakai dalam larutan klorin 0,5% untuk dekontaminasi (10 menit). Cuci dan bilas peralatan setelah di dekontaminasi. 52) Buang bahan-bahan yang terkontaminasi ke tempat sampah yang sesuai. 53) Membersihkan ibu dengan menggunakan air DTT. Membersihkan sisa cairan ketuban, lendir dan darah. Bantu ibu memakai pakaian bersih dan kering. 54) Memastikan ibu merasa nyaman dan beritahu keluarga untuk membantu apabila ibu ingin minum. 55) Dekontaminasi tempat persalinan dengan larutan klorin 0,5 %. 56) Membersihkan sarung tangan di dalam larutan klorin 0,5% melepaskan sarung tangan dalam keadaan terbalik dan merendamnya dalam larutan klorin 0,5%. 57) Mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir.

58) Melengkapi partograf. 8. PARTOGRAF Partograf adalah catatan grafik kemajuan persalinan untuk memantau keadaan ibu dan janin tanpa menghiraukan apakah persalinan tersebut normal atau dengan komplikasi ( Saifuddin, 2006 ) Partograf adalah alat bantu yang di gunakan selama fase aktif persalinan. (JNPK-KR, 2007 ). Partograf di pakai untuk memantau kemajuan persalinan dan membantu petugas kesehatan dalam mengambil keputusan dalam penatalaksanaan. ( Saifuddin, 2002 ) Tujuan dari partograf menurut Saifuddin, ( 2006 ) adalah : a. meningkatkan mutu dan keteraturan pemantauan janin dan ibu selama persalinan b. untuk mencatat hasil observasi dan kemajuan persalinan dengan menilai pembukaan serviks melalui pemeriksaan dalam. c. untuk mengetahui lebih awal adanya persalinan abnormal dan mencegah terjadinya persalinan lama yang dapat menurunkan resiko perdarahan post partum dan sepsis, mencegah persalinan macet, robekan rahim dan infeksi bayi baru lahir d. membantu mengambil keputusan lebih awal, kapan seorang ibu harus di rujuk, di percepat dan di akhiri persalinannya. Partograf di mulai pada pembukaan 4 cm ( fase aktif ). Partograf sebaiknya di buat untuk setiap ibu bersalin, tanpa menghiraukan apakah persalinan tersebut normal atau dengan komplikasi. Menurut JNPK-KR, 2007 partograf harus di gunakan : a. untuk semua ibu dalam fase aktif kala I persalian sebagai elemen penting asuhan persaliann b. selama persalianan dan kelahiran di semua tempat c. secara rutin oleh semua penolong persalinan yang memberikan

asuhan kepada ibu selama persalinan dan kelahiran Petugas harus mencatat kondisi ibu dan bayi sebagai berikut : 1) Denyut jantung janin, di periksa setiap jam 2) Air ketuban, catat air ketuban setiap pemeriksaan vagina : i.U : Selaput utuh ii.J : Selaput pecah iii.M : Air ketuban bercampur mekonium iv.K : Tidak ada cairan ketuban atau kering Perubahan kepala janin ( Molding atau Molase ) a) O : Sutura terpisah b) 1 : Sutura ( pertemuan dan tulang tengkorak ) Bersesuaian c) 2 : Sutura tumpang tindih tetapi dapat di perbaiki d) 3 : Sutura tumpang tindih dan tidak dapat di perbaiki 3) Pembukaan mulut rahim (serviks) di nilai setiap 4 jam dan di berikan tanda silang (x) 4) Penurunan : mengacu pada bagian kepala (di bagi 5 bagian) yang teraba pada pemeriksaan abdomen / luar di atas simfisis pubic. Catat dengan lingkaran (O) pada setiap pemeriksaan dalam. Pada posisi O/5 sinsiput (S) atau paruh atas kepala berada di simfisis pubis 5) Waktu : menyatakan berapa jam waktu yang telah di jalani sesudah pasien di terima

6) Jam ; catat jam sesungguhnya 7) Kontraksi : catat setiap setengah jam; lakukan palpasi untuk menghitung banyaknya kontraksi dalam 10 menit dan lamanya tiap kontraksi dalam hitungan detik a. kurang dari 20 detik ; kontraksi lemah b. antara 20 40 detik : kontraksi sedang c. lebih dari 40 detik : kontraksi kuat 8) Oksitosin ; jika memakai oksitosin catatlah banyaknya oksitosin per volume cairan infuse dan dalam tetesan per menit 9) Catat semua obat yang di berikan 10) Nadi catatlah setiap 30 60 menit dan tandai dengan sebuah titik besar 11) Tekanan darah cacatlah setiap 4 jam dan tandai dengan anak panah 12) Suhu badan catatlah setiap 2 jam 13) Protein aseton dan volume urine catatlah setiap 2 jam. Jika temuan temuan melintas kearah kanan dari garis waspada, petugas kesehatan harus melakukan penilaian terhadap kondisi ibu dan janin dan segera mencari rujukan. ( Saifuddin, 2002)

C. Bayi Baru Lahir 1. Definisi bayi baru lahir Bayi baru lahir adalah bayi yang lahir dari kehamilan yang aterm (37 42 minggu) dengan berat badan lahir 2500 4000 gram. (Wiknjosastro, 2005)

Bayi baru lahir normal adalah bayi yang lahir dalam presentasi belakang kepala melalui vagina tanpa melalui alat, pada usia kehamilan genap 37 minggu sampai dengan 42 minggu, dengan berat badan 2500 4000 gram, nilai Apgar > 7 dan tanpa cacat bawaan. (Yulianti, 2010:2) a. Ciri-ciri bayi normal 1) Berat badan 2500-4000 gram. 2) panjang badan lahir berkisar 45-55 cm. 3) lingkar dada 30-38 cm. 4) lingkar kepala 33-35 cm. 5) bunyi jantung 120-140 x/menit 6) pernafasan antara 35-50 x/menit. 7) Reflek menghisap, reflek menelan, rooting reflek, walking reflek, plantar reflek, moro reflek dan tonic neck reflek dapat berjalan dengan baik. 2. Reflek- reflek pada bayi a. Reflek moro Reflek ini adalah salah satu reflek yang di dapat oleh bayi sebab reflek ini menunjukkan status neurologist, ini juga sering disebut reflek kejutan b. Reflek palmar grap Refleks ini adalah suatu reflek ketika sebuah benda diletakan ditelapak tangan noenatus, reflex menggenggam menyebabkan jari menggenggam benda tersebut, reflex ini dapat terlihat sampai umur satu tahun. c. Reflek tonic neck

Reflek ini dapat di observasi pada neonatus dalam posisi terlentang. Reflek ini tidak dapat dilihat pada bayi berusia 1 hari meskipun reflek ini dapat di amati sampai usia bayi 3-4 bulan. d. Reflek rooting Refleks ini ditandai dengan penghisapan secara kuat jari atau putting susu ketika dimasukan ke dalam mulut e. Refleks Menelan Refleks ini ditandai dengan menelan secara tepat cairan yang di masukkan kedalam mulut, reflek ini sangat mudah di observasi pada saat menyusui.

f. Reflek babinski Reflek ini juga disebut reflek hiperektensi jari kaki terjadi ketika bagian lateral dari telapak kaki bayi di gores dari tumit ke atas dan menyilang pada kaki, reflek ini akan menghilang setelah satu tahun. g. Reflek menginjak Bayi dapat membuat gerakan menginjak yang kadang kadang disebut garakan menari. Reflek ini kadang kadang sulit di peroleh sebab tidak semua bayi kooperatif, dan menghilang berangsurangsur pada usia 4 bulan (Wiknjosastro, 2006) Asuhan segera bayi baru lahir adalah asuhan yang di berikan pada bayi tersebut selama jam pertama setelah kelahiran. (Saifuddin, 2002). Menurut Saifuddin, (2002) tujuan utama perawatan bayi segera sesudah lahir 1 Membersihkan jalan nafas 2 Memotong tali pusat dan merawat tali pusat

3 Mempertahankan suhu tubuh bayi 4 Identifikasi yang cukup 5 Pencegahan infeksi 3. Perubahan Fisik Pada Bayi Baru Lahir Menurut Pusdiknakes (2003) perubahan fisiologis pada bayi baru lahir adalah : 1) Perubahan sistem pernapasan / respirasi Selama dalam uterus, janin mendapatkan oksigen dari pertukaran gas melalui plasenta. Setelah bayi lahir, pertukaran gas harus melalui paru paru. a) Perkembangan paru-paru Paru-paru berasal dari titik tumbuh yang muncul dari pharynx yang bercabang dan kemudian bercabang kembali membentuk struktur percabangan bronkus proses ini terus berlanjit sampai sekitar usia 8 tahun, sampai jumlah bronkus dan alveolusnakan sepenuhnya berkembang, walaupun janin memperlihatkan adanya gerakan napas sepanjang trimester II dan III. Paru-paru yang tidak matang akan mengurangi kelangsungan hidup BBL sebelum usia 24 minggu. Hal ini disebabkan karena keterbatasan permukaan alveolus, ketidakmatangan sistem kapiler paru-paru dan tidak tercukupinya jumlah surfaktan. b) Awal adanya napas Faktor-faktor yang berperan pada rangsangan nafas pertama bayi adalah : (1) Hipoksia pada akhir persalinan dan rangsangan fisik lingkungan luar rahim yang merangsang pusat pernafasan di otak. (2) Tekanan terhadap rongga dada, yang terjadi karena kompresi paru - paru selama persalinan, yang merangsang masuknya

udara ke dalam paru - paru secara mekanis.Interaksi antara system pernapasan, kardiovaskuler dan susunan saraf pusat menimbulkan pernapasan yang teratur dan berkesinambungan serta denyut yang diperlukan untuk kehidupan. (3) Penimbunan karbondioksida (CO2) Setelah bayi lahir, kadar CO2 meningkat dalam darah dan akan merangsang pernafasan. Berurangnya O2 akan mengurangi gerakan pernafasan janin, tetapi sebaliknya kenaikan CO2 akan menambah frekuensi dan tingkat gerakan pernapasan janin. (4) Perubahan suhu Keadaan dingin akan merangsang pernapasan. c) Surfaktan dan upaya respirasi untuk bernapas Upaya pernafasan pertama seorang bayi berfungsi untuk : 1). Mengeluarkan cairan dalam paru-paru 2) Mengembangkan jaringan alveolus paru-paru untuk pertama kali. Agar alveolus dapat berfungsi, harus terdapat survaktan(lemak lesitin /sfingomielin) yang cukup dan aliran darah ke paru paru. Produksi surfaktan dimulai pada 20 minggu kehamilan, dan jumlahnya meningkat sampai paru-paru matang (sekitar 30-34 minggu kehamilan). Fungsi surfaktan adalah untuk mengurangi tekanan permukaan paru dan membantu untuk menstabilkandinding alveolus sehingga tidak kolaps pada akhir pernapasan. Tidak adanya surfaktan menyebabkan alveoli kolaps setiap saat akhir pernapasan, yang menyebabkan sulit bernafas. Peningkatan kebutuhan ini memerlukan penggunaan lebih banyak oksigen dan glukosa. Berbagai peningkatan ini menyebabkan stres pada bayi yang sebelumnya sudah terganggu. d) Dari cairan menuju udara

Bayi cukup bulan mempunyai cairan di paru-parunya. Pada saat bayi melewati jalan lahir selama persalinan, sekitar sepertiga cairan ini diperas keluar dari paru-paru. Seorang bayi yang dilahirkan secar sectio sesaria kehilangan keuntungan dari kompresi rongga dada dan dapat menderita paru-paru basah dalam jangka waktu lebih lama. Dengan beberapa kali tarikan napas yang pertama udara memenuhi ruangan trakea dan bronkus BBL. Sisa cairan di paru-paru dikeluarkan dari paruparu dan diserap oleh pembuluh limfe dan darah. e) Fungsi sistem pernapasan dan kaitannya dengan fungsi kardiovaskuler Oksigenasi yang memadai merupakan faktor yang sangat penting dalam mempertahankan kecukupan pertukaran udara.Jika terdapat hipoksia, pembuluh darah paru-paru akan mengalami vasokontriksi. Jika hal ini terjadi, berarti tidak ada pembuluh darah yang terbuka guna menerima oksigen yang berada dalam alveoli, sehingga menyebabkan penurunan oksigen jaringan, yang akan memperburuk hipoksia. Peningkatan aliran darah paru-paru akan memperlancar pertukaran gas dalam alveolus dan akan membantu menghilangkan cairan paru-paru dan merangsang perubahan sirkulasi janin menjadi sirkulasi luar rahim. 2) Perubahan pada sistem peredaran darah Setelah lahir darah BBL harus melewati paru untuk mengambil oksigen dan mengadakan sirkulasi melalui tubuh guna mengantarkan oksigen ke jaringan.Untuk membuat sirkulasi yang baik, kehidupan diluar rahim harus terjadi 2 perubahan besar : a. Penutupan foramen ovale pada atrium jantung b. Perubahan duktus arteriousus antara paru-paru dan aorta. Perubahan sirkulasi ini terjadi akibat perubahan tekanan pada seluruh sistem pembuluh. Oksigen menyebabkan sistem

pembuluh mengubah tekanan dengan cara mengurangi /meningkatkan resistensinya, sehingga mengubah aliran darah. Dua peristiwa yang merubah tekanan dalam system pembuluh darah 1) Pada saat tali pusat dipotong resistensi pembuluh sistemik meningkat dan tekanan atrium kanan menurun, tekanan atrium menurun karena berkurangnya aliran darah ke atrium kanan tersebut. Hal ini menyebabkan penurunan volume dan tekanan atrium kanan itu sendiri. Kedua kejadian ini membantu darah dengan kandungan oksigen sedikit mengalir ke paru-paru untuk menjalani proses oksigenasi ulang. 2) Pernafasan pertama menurunkan resistensi pada pembuluh darah paru-paru dan meningkatkan tekanan pada atrium kanan oksigen pada pernafasan ini menimbulkan relaksasi dan terbukanya system pembuluh darah paru. Peningkatan sirkulasi ke paru-paru mengakibatkan peningkatan volume darah dan tekanan pada atrium kanan dengan peningkatan tekanan atrium kanan ini dan penurunan pada atrium kiri, toramen kanan ini dan penusuran pada atrium kiri, foramen ovali secara fungsional akan menutup. Vena umbilikus, duktus venosus dan arteri hipogastrika dari tali pusat menutup secara fungsional dalam beberapa menit setelah lahir dan setelah tali pusat diklem. Penutupan anatomi jaringan fibrosa berlangsung 2-3 bulan. Perbedaan sirkulasi darah fetus dan bayi a. sirkulasi darah fetus 1). Struktur tambahan pada sirkulasi fetus a). Vena umbulicalis : membawa darah yang telah mengalami deoksigenasi dari plasenta ke permukaan dalam hepar b). Ductus venosus : meninggalkan vena umbilicalis sebelum mencapai hepar dan mengalirkan sebagian besar darah baru yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior.

c). Foramen ovale : merupakan lubang yang memungkinkan darah lewat atrium dextra ke dalam ventriculus sinistra d). Ductus arteriosus : merupakan bypass yang terbentang dari venrtriculuc dexter dan aorta desendens e). Arteri hypogastrica : dua pembuluh darah yang mengembalikan darah dari fetus ke plasenta. Pada feniculus umbulicalis, arteri ini dikenal sebagai ateri umbilicalis. Di dalam tubuh fetus arteri tersebut dikenal sebagai arteri hypogastica. 2). Sistem sirkulasi fetus a) Vena umbulicalis : membawa darah yang kaya oksigen dari plasenta kepermukaan dalam hepar. Vena hepatica meninggalkan hepar dan mengembalikan darah ke vena cava inferior b) Ductus venosus :adalah cabang cabang dari venaumbilicalis dan mengalirkan sejumlah besar darah yang mengalami oksigenasi ke dalam vena cava inferior c) Vena cava inferior : telah mengalirkan darah yang telah beredar dalam ekstremitas inferior dan badan fetus, menerima darah dari vena hepatica dan ductus venosus dan membawanya ke atrium dextrum d) Foramen ovale : memungkinkan lewatnya sebagian besar darah yang mengalami oksigenasi dalam ventriculus dextra untuk menuju ke atrium sinistra, dari sini darah melewati valvula mitralis ke ventriculuc sinister dan kemudian melaui aorta masuk kedalam cabang ascendensnya untuk memasok darah bagi kepala dan ekstremitas superior. Dengan demikian hepar, jantung dan serebrum menerima darah baru yang mengalami oksigenasi e). Vena cava superior: Mengembalikan darah dari kepala dan ekstremitas superior ke atrium dextrum. Darah ini bersama sisa aliran yang dibawa oleh vena cava inferior melewati valvula tricuspidallis masuk ke dalam venriculus dexter f) Arteria pulmonalis : mengalirkan darah campuran keparu -

paru yang nonfungsional,yanghanya memerlukan nutrien sedikit g) Ductus arteriosus : mengalirkan sebagian besar darah dari vena ventriculus dexter ke dalam aorta descendens untuk memasok darah bagi abdomen, pelvis dan ekstremitas inferior h) Arteria hypogastrica: merupakan lanjutan dari arteria illiaca interna, membawa darah kembali ke plasenta dengan mengandung leih banyak oksigen dan nutrien yang dipasok dari peredaran darah maternal b. Perubahan pada saat lahir a) Penghentian pasokan darah dari plasenta b) Pengembangan dan pengisian udara pada paru-paru c) Penutupan foramen ovale d) Fibrosis (1) Vena umbilicalis (2) Ductus venosus (3) Arteriae hypogastrica (4) Ductus arteriosus 3) Pengaturan suhu Bayi baru lahir belum dapat mengatur suhu tubuhnya, sehingga akan mengalami stress dengan adanya perubahan lingkungan dari dalam rahim ibu ke lingkungan luar yang suhunya lebih tinggi. Suhu dingin ini menyebabkan air ketuban menguap lewat kulit, pada lingkungan yang dingin, pembentukan suhu tanpa mekanisme menggigil merupakan usaha utama seorang bayi untuk mendapatkan kembali panas tubuhnya. Pembentukan suhu tanpa menggigil ini merupakan hasil penggunaan lemak coklat untuk produksi panas. Timbunan lemak coklat terdapat di seluruh tubuh dan mampu meningkatkan panas tubuh sampai

100%. Untuk membakar lemak coklat, sering bayi harus menggunakan glukosa guna mendapatkan energi yang akan mengubah lemak menjadi panas. Lemak coklat tidak dapat diproduksi ulang oleh seorang BBL. Cadangan lemak coklat ini akan habis dalam waktu singkat dengan adanya stress dingin.Semakin lama usia kehamilan semakin banyak persediaan lemak coklat bayi. Jika seorang bayi kedinginan, dia akan mulai mengalami hipoglikemia, hipoksia dan asidosis.Sehingga upaya pncegahan kehilangan panas merupakan prioritas utama dan bidan berkewajiban untuk meminimalkan kehilangan panas pada BBlL 4) Metabolisme Glukosa Untuk memfungsikan otak memerlukan glukosa dalam jumlah tertentu. Dengan tindakan penjepitan tali pusat dengan klem pada saat lahir seorang bayi harus mulai mempertahankan kadar glukosa darahnya sendiri. Pada setiap bayi baru lahir, glukosa darah akan turun dalam waktu cepat (1 sampai 2 jam). Koreksi penurunan kadar gula darah dapat dilakukan dengan 3 cara : a. melalui penggunaan ASI b. melaui penggunaan cadangan glikogen c. melalui pembuatan glukosa dari sumber lain terutama lemak. BBL yang tidak mampu mencerna makanan dengan jumlah yang cukup, akan membuat glukosa dari glikogen (glikogenisasi).Hal ini hanya terjadi jika bayi mempunyai persediaan glikogen yang cukup.Bayi yang sehat akan menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen terutama di hati, selama bulan-bulan terakhir dalam rahim. Bayi yang mengalami hipotermia, pada saat lahir yang mengakibatkan hipoksia akan menggunakan cadangan glikogen dalam jam-jam pertama kelahiran. Keseimbangan glukosa tidak sepenuhnya tercapai dalam 3-4 jam pertama kelahiran pada bayi cukup bulan. Jika semua persediaan glikogen digunakan pada jam pertama, maka otak dalam keadaan berisiko. Bayi yang lahir

kurang bulan (prematur), lewat bulan (post matur), bayi yang mengalami hambatan pertumbuhan dalam rahim dan stres janin merpakan risiko utama, karena simpanan energi berkurang (digunakan sebelum lahir). Gejala hipoglikemi dapat tidak jelas dan tidak khas,meliputi; kejang-kejang halus, sianosis,, apneu, tangis lemah, letargi,lunglai dan menolak makanan. Hipoglikemi juga dapat tanpa gejala pada awalnya. Akibat jangka panjang hipoglikemi adalah kerusakan yang meluas di seluruh di sel-sel otak. 5) Perubahan sistem gastrointestinal Sebelum lahir, janin cukup bulan akan mulai menghisap dan menelan. Reflek gumoh dan reflek batuk yang matang sudah terbentuk baik pada saat lahir. Kemampuan bayi baru lahir cukup bulan untuk menelan dan mencerna makanan (selain susu) masih terbatas. Hubungan antara esofagus bawah dan lambung masih belum sempurna yang mengakibatkan gumoh pada bayi baru lahir dan neonatus, kapasitas lambung masih terbatas kurang dari 30 cc untuk bayi baru lahir cukup bulan. Kapasitas lambung ini akan bertambah secara lambat bersamaan dengan tumbuhnya bayi baru lahir. Pengaturan makanan yang sering oleh bayi sendiri penting contohnya memberi ASI on demand. 6) Sistem kekebalan tubuh/ imun Sistem imunitas bayi baru lahir masih belum matang, sehingga menyebabkan neonatus rentan terhadap berbagai infeksi dan alergi. Sistem imunitas yang matang akan memberikan kekebalan alami maupun yang di dapat. Kekebalan alami terdiri dari struktur pertahana tubuh yang mencegah atau meminimalkan infeksi. Berikut beberapa contoh kekebalan alami: a. perlindungan oleh kulit membran mukosa b. fungsi saringan saluran napas c. pembentukan koloni mikroba oleh klit dan usus

d. perlindungan kimia oleh lingkungan asam lambung Kekebalan alami juga disediakan pada tingkat sel yaitu oleh sel darah yang membantu BBL membunuh mikroorganisme asing. Tetapi pada BBL se-sel darah ini masih belum matang, artinya BBL tersebut belum mampu melokalisasi dan memerangi infeksi secara efisien. Kekebalan yang didapat akan muncul kemudian. BBL dengan kekebalan pasif mengandung banyak virus dalam tubuh ibunya. Reaksi antibodi keseluruhan terhadap antigen asing masih belum dapat dilakukan sampai awal kehidupa anak. Salah satu tugas utama selama masa bayi dan balita adalah pembentukan sistem kekebalan tubuh. Defisiensi kekebalan alami bayi menyebabkan bayi rentan sekali terjadi infeksi dan reaksi bayi terhadap infeksi masih lemah. Oleh karena itu, pencegahan terhadap mikroba (seperti pada praktek persalinan yang aman dan menyusui ASI dini terutama kolostrum) dan deteksi dini serta pengobatan dini infeksi menjadi sangat penting. (http://bidandhila.blogspot.com/2009/01/perubahan-fisiologiadaptasi-fisik-pada.html)

4. ASUHAN PADA BAYI BARU LAHIR Penatalaksanaan awal pada bayi baru lahir meliputi: a. Pencegahan infeksi Bayi baru lahir sangat rentan terhadap infeksi, maka saat melakukan penanganan bayi baru lahir diusahakan cuci tangan secara seksama, pakai sarung tangan bersih saat menangani bayi yang belum dimandikan, pastikan bahwa semua pakaian, handuk, selimut yang akan digunakan bayi bersih. b. Penilaian awal

Segera lakukan penilaian awal pada bayi baru lahir secara cepat dan tepat (030 detik). (1) Apakah bayi menangis kuat atau bernafas tanpa kesulitan. (2) Apakah bayi bergerak aktif atau dalam keadaan lemas. (3) Apakah warna kulit bayi merah muda, pucat atau biru. c. Pencegahan kehilangan panas Pada bayi dalam keadaan basah atau tidak di selimuti mungkin akan mengalami hipotermi apalagi pada bayi premature, BBLR, maka untuk menghindari kehilangan panas pada bayi yaitu: 1) Keringkan bayi dengan seksama. 2) Selimuti bayi dengan selimut atau kain bersih dan hangat. 3) Selimuti bagian kepala bayi. 4) Jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir. 5) Tempatkan bayi dilingkungan hangat. d. Rangsangan taktil Mengeringkan tubuh bayi juga merupakan tindakan stimulasi. Hal ini biasanya untuk merangsang terjadinya pernafasan spontan. e. Merawat tali pusat Klem tali pusat dengan menggunakan dua buah klem. Ikat pada titik kira-kira 2-3 cm dari pangkal pusat bayi, (tinggalkan kirakira 1 cm diantara klem-klem tersebut). Kemudian potonglah tali pusat dengan menggunakan gunting yang steril, diantara kedua klem sambil melindungi bayi dari gunting dengan tangan kiri penolong kemudian diikat dengan pengikat steril. Periksa tali pusat setiap 15 menit apabila masih terjadi perdarahan maka

lakukan pengikatan ulang. f. Mengukur dan menimbang berat badan bayi. Menimbang berat badan sebaiknya dilakukan setiap hari dengan alat timbang yang akurat. Dalam 3 hari pertama berat badan akan turun oleh karena bayi mengeluarkan air kencing dan mekonium. Sedangkan cairan yang masuk belum cukup, dan pada hari ke 4 berat badan akan naik lagi. Pada minggu pertama tidak ada penurunan berat badan atau kurang dari 10%. Pada 2-4 minggu naik setidak-tidaknya 160 gram perminggu (setidak-tidaknya 15 gram perhari). Pada bulan pertama naik setidak-tidaknya 300gram dari berat badan lahir. (JNPK-KR,2008) g. Antropometri dan memeriksa anus, genitalia eksterna dan jenis kelamin. h. Membersihkan badan bayi. i. Memberikan Obat Tetes atau Salep Mata. Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk mencegah penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. j. Memberikan Vit K Untuk mencegah perdarahan karena defisiensi vitamin K pada bayi baru lahir. k. Identitas Bayi Apabila bayi dilahirkan ditempat bersalin yang lebih dari satu ibu yang bersalin maka sebuah alat pengenal yang efektif harus diberikan pada setiap bayi baru lahir dan harus tetap ditempatnya sampai bayi dipulangkan. (Saifuddin,2002)

5. Manajemen Kebidanan Pada Bayi Baru Lahir a. Yang Perlu Diperhatikan Pada Bayi Baru Lahir Menurut Wiknjosastro (2001) yang perlu diperhatikan pada bayi baru lahir meliputi: 1) Kesadaran dan reaksi terhadap reaksi sekeliling. 2) Keaktifan bayi normal melakukan gerakan tangan dan kaki yang simetris saat bangun. 3) Simetris: apakah secara keseluruhan badan seimbang. 4) Kepala: apakah simetris, ada atau tidak ada tumor, ukuran lingkar kepala. 5) Muka: wajah tampak ekspresi. 6) Mata: apakah ada perdarahan berupa bercak merah yang menghilang dalam 6 minggu. 7) Mulut: hipersalivasi tidak terdapat pada bayi normal 8) Leher: apa ada cedera akibat persalinan 9) Abdomen: tidak ada asites ukuran lingkar perut. 10) Punggung: ada atau tidak ada benjolan atau tumor. 11) Ekstremitas: perlu diperhatikan bentuk, gerak dan fraktur. 12) Kulit dan Kuku: dalam keadaan normal kulit berwarna kemerahan. 13) Kelancaran menghisap dan pencernaan: harus diperhatikan. 14) Tinja dan Kemih: diharapkan keluar dalam 24 jam pertama. 15) Refleks: rooting refleks, refleks hisap, refleks moro, refleks

mengeluarkan lidah. b. Tanda Bahaya Bayi Baru Lahir 1) Malas minum 2) Bayi tertidur 3) Tampak gelisah 4) Pernapasan cepat 5) Berat badan cepat turun 6) Terjadi diare dengan segala manifestasinya 7) Panas badan bervariasi dapat meningkat, menurun atau dalam batas normal. 8) Pergerakan aktivitas bayi makin menurun 9) Pada pemeriksaan mungkin dijumpai: bayi berwarna kuning, pembesaran hepar dan lien (hepatosplenomegali), purpura (bercak darah dibawah kulit), dan kejang-kejang.

6. Inisiasi Menyusu Dini Segera setelah bayi lahir dan tali pusat diikat, letakkan bayi tengkurap di dada ibu dengan kulit bayi bersentuhan langsung ke kulit ibu. Biarkan kontak kulit ke kulit ini berlangsung setidaknya 1 jam atau lebih, bahkan sampai bayi dapat menyusu sendiri. Bayi diberi topi dan diselimuti ayah atau keluarga dapat memberi dukungan dan membantu ibu selama proses ini. Ibu diberi dukungan untuk mengenali saat bayi siap untuk menyusu, menolong bayi bila diperlukan. sebagian besar bayi akan berhasil malakukan Inisisasi Menyusu Dini dalam waktu 30-60 menit.(JNPK-KR, 2008). Menurut JNPK-KR, (2008), langkah inisiasi menyusu dini dalam

Asuhan Bayi Baru Lahir adalah : 1. Lahirkan, keringkan dan lakukan penilaian pada bayi 2. Lakukan kontak kulit dengan kulit selamapaling sedikit satu jam 3. Biarkan bayi mencari dan menemukan putting ibu dan mulai menyusu Selain itu ada lima urutan perilaku bayi saat menyusu pertama kali menurut JNPK-KR (2008), yaitu: 1) Bayi beristirahat dan melihat dengan perkiraan waktu 30 menit pertama 2) Bayi mulai mendecakkan bibir dan membawa jarinya ke mulut dengan waktu 30 60 menit setelah lahir dengan kontak kulit dengan kulit terus menerus tanpa terputus 3) Bayi mengeluarkan air liur 4) Bayi menendang, menggerakkan kaki, bahu, lengan dan badannya kearah dada ibu dengan mengandalkan indra penciumannya 5) Bayi melekatkan mulutnya ke puting ibu 7. Pemberian ASI Rangsangan isapan bayi pada putting susu ibu akan diteruskan oleh serabut syaraf ke hipofise anterior untuk mengeluarkan hormone prolaktin. Prolaktin inilah yang memacu payudara untuk menghasilkan ASI. Semakin sering bayi menghisap putting susu akan semakin banyak prolaktin dan ASI dikeluarkan. Pada hari-hari pertamakelahiran bayi, apabila pengisapan putting susu cukup adekuat maka akan dihasilkan secara bertahap 10 100 ml ASI. Produksi ASI akan optimal setelah 10 14 usia bayi. Bayi sehat akan mengkonsumsi 700-800 ml ASI perhari (kisaran 600-1000

ml) untuk tumbuh-kembang bayi. Produksi ASI mulai menurun (500-700 ml) setelah 6 bulan pertama dan menjadi 400-600 ml pada 6 bulan kedua usia bayi. Produksi ASI akan menjadi 300500 pada tahun kedua usia anak. (JNPK-KR, 2008) a. Refleks Laktasi Menurut JNPK-KR, (2008), dimasa laktasi, terdapat 2 mekanisme reflex pada ibu yaitu refleks prolaktin dan refleks oksitosin yang berperan dalam produksi ASI dan involusi uterus (khususnya pada masa nifas). Pada bayi terdapat 3 jenis refleks yaitu: 1. Refleks mencari putting susu (rooting reflex) Bayi akan menoleh kearah dimana terjadi sentuhan pada pipinya. Bayi akan membuka mulutnya apabila bibirnya disentuh dan berusaha untuk menghisap benda yang disentuhkan tersebut.

2. Refleks menghisap (suckling reflex) Rangsangan putting susu pada langit-langit bayi menimbulkan refleks menghisap. Isapan ini akan menyebabkan areola dan putting susu ibu tertekan gusi, lidah dan langit-langit bayi sehingga sinus laktiferus dibawah areola dan ASI terpancar keluar. 3. Refleks menelan (swallowing reflex) Kumpulan ASI didalam mulut bayi mendesak otot-otot didaerah mulut dan faring untuk mengaktifkan refleks menelan dan mendorong ASI kedalam lambung bayi Keuntungan pemberian ASI 1 Mempromosikan keterikatan emosional ibu dan bayi 2 Memberikan kekebalan pasif yang segar kepada bayi melalui kolostrum

3 Merangsang kontraksi uterus. JNPK-KR, (2008) b. Memulai pemberian ASI Prinsip pemberian ASI adalah sedini mungkin dan ekslusif. Bayi baru lahir harus mendapat ASI dalam waktu satu jam setelah lahir. Anjurkan ibu untuk memeluk bayinya dan mencoba segera menyusukan bayi setelah tali pusat diklem dan dipotong. Beritahu bahwa penolong akan selalu membantu ibu untuk menyusukan bayi setelah plasenta lahir dan memastikan ibu dalam kondisi baik (termasuk menjahit laserasi). Keluarga dapat membantu ibu untuk memulai pemberian ASI lebih awal (JNPK-KR, 2008). pemenuhan ASI dilakukan Eksklusif dalam 6 bulan pertama dan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) untuk 6 bulan kedua.(JNPK-KR, 2008). Selain itu menurut JNPK-KR, (2007), memulai pemberian ASI secara dini akan merangsang produksi susu dan Memperkuat refleks menghisap bayi. Refleks menghisap awal pada bayi paling kuat dalam beberapa jam pertama setelah lahir. c. Posisi menyusui 1. Lengan ibu menopang kepala, leher dan seluruh badan bayi (kepala dan tubuh berada pada satu garis lurus), muka bayi menghadap ke payudara ibu, hidung bayi didepan putting susu ibu. Posisi bayi harus sedemikian rupa sehingga perut bayi menghadap ke perut ibu 2. Ibu mendekatkan bayinya ke tubuhnya (muka bayi ke payudaara ibu) dan mengamati bayi siap menyusu: membuka mulut, bergerak mencari dan menolehIbu menyentuhkan putting susunya ke bibir bayi, menunggu hingga mulut bayi terbuka lebar kemudian mengarahkan mulut bayi ke putting susu ibu sehingga bibir bayi dapat menangkap putting susu tersebut. (JNPK-KR, 2008) . d. Tanda posisi menyusu Menurut JNPK-KR, (2008) tanda-tanda posisi bayi menyusu dengan baik adalah :

1. Dagu menyentuh payudara ibu 2. Mulut terbuka lebar 3. Hidung bayi mendekati dan kadang-kadang menyentuh payudara ibu 4. Mulut bayi mencaku sebanyak mungkin areola (tidak hanya putting saja), lingkar areola atas terlihat lebih banyak dibandingkan lingkar areola bawah 5. Lidah bayi menopang puting dan areola bagian bawah 6. Bibir bawah bayi melengkung keluar 7. Bayi menghisap kuat dan dalam secara perlahan dan kadangkadang disertai dengan berhenti sesaat. Manajemen Laktasi Menurut JNPK-KR, (2008), Setiap fasilitas kesehatan yang bersentuhan dengan kesehatan ibu dan anak harus melakukan Sepuluh Langkah Menuju Keberhasilan Menyusui (LKKM) yang terdiri dari : a. Ada kebijakan tertulis tentang menyusui b. Setiap petugas memiliki keterampilan yang terkait dengan manajemen laktasi c. Menjelaskan manfaat menyusui kepada ibu hamil d. Membantu ibu untuk mulai menyusukan bayinya dalam waktu 30 menit setelah melahirkan e. Memperagakan cara menyusui serta menerapkan ASI dini dan eksklusif f. Tidak memberi makanan atau asupan apapun selain ASI pada bayi baru lahir

g. Melaksanakan rawat gabung h. Memberikan ASI sesuai kebutuhan bayi (on demand) i. Tidak memberi dot atau kempeng pada bayi j. Membentuk dan membantu pengembangan kelompok pendukung ASI

8. Jadwal kunjungan bayi baru lahir Jadwal kunjungan pada bayi baru lahir menurut Saefudin (2002): 1) Kunjungan I: a) Pemberian makan (1) Memberikan ASI sesering keinginan bayi atau kebutuhan ibu (jika payudara penuh), biasanya bayi baru minta makan setiap 23 jam. (2) Memastikan bahwa bayi menyusu paling tidak setiap 4 jam. (3) Memastiakan bahwa bayi mendapat cakupan kolostrum selama 24 jam pertama. ASI pertama ini memberikan perlindungan terhadap infeksi dan membantu pengeluaran mekonium (tinja pertama) (4) Memberikan ASI saja.

b) Mempertahankan kehangatan tubuh bayi Seperti yang kita ketahui Bayi Baru Lahir (BBL) kehilangan panas terutama karena evaporasi (oleh sebab bayi basah) dan radiasi. Untuk mengatasi hal tersebut maka bayi harus segera dikeringkan dan dibungkus dengan handuk kering dan diletakan di ruangan dengan suhu 28-30C untuk mengurangi kehilangan

panas karena radiasi. (Prawiroharjo,2002) memandikan bayi dalam beberapa jam pertama setelah lahir dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakan kesehatan bayi baru lahir. Maka jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir. (JNPK,2008) c) Tidak menggunakan penghangat buatan di tempat tidur seperti botol berisi air panas. Benda-benda ini bisa membakar kulit bayi. (1) Tidak sekali-kali meninggalkan bayi tanpa ada yang menunggu. (2) Menghindari pemberian apapun melalui mulut bayi selain ASI karena bayi bisa tersendak. (3) Membaringkan bayi pada alas yang keras pada punggungnya atau sisi badannya. d) Mencegah infeksi (1) Mencuci tangan sebelum memegang bayi, setelah menggunakan toilet. (2) Menjaga tali pusat bayi agar dalam keadaan bersih. (3) Ibu perlu menjaga kebersihan bayi, terutama payudaranya dengan mandi setiap hari. (4) Muka, bokong, tali pusat perlu dibersihkan dengan air bersih, hangat dan sabun setiap kali mandi. (5) Manjaga bayi dari orang-orang yang terkena infeksi. e) Pemberian imunisasi (1) BCG, hepatitis B dan polio oral (2) Imunisasi penting untuk perlindungan bayi terhadap infeksi/penyakit. (3) Kolostrum memberikan perlindungan dini pada bayi terhadap

infeksi. (4) Bayi memerlukan imunisasi sepanjang hidupnya. Imunisasi berikutnya akan diberikan pada umur 6 minggu. Ibu jangan lupa untuk membawa ke klinik untuk mendapatkan suntikan yang penting.

2. Kunjungan II: Kunjungan ke-2 Pada 3 hari pasca kelahiran dintaranya bertujuan untuk memantau menyusu, buang air besar, tidurnya, berat badan, suhu, denyut, jantung, aktivitas, kulit, mata dan tali pusat.

3. Kunjungan III: Kunjungan ke-3 pada 2 minggu pasca kelahiran sama dengan kunjungan II.

4. Kunjungan IV: Kunjungan ke-4 pada 6 minggu pasca kelahiran diantaranya untuk memantau buang air besar, tidurnya, berat badan, suhu, denyut jantung, aktifitas, kulit dan mata.

9. Imunisasi a. Pengertian Imunisasi Dalam Kamus Besar Bahasa Indonsia, imunisasi diartikan pengebalan terhadap penyakit. Kalau dalam istilah kesehatan imunisasi diartikan pemberian vaksin untuk mencegah terjadinya penyakit tertentu. Biasanya imunisasi bisa diberikan dengan cara

disuntikkan maupun diteteskan pada mulut anak balita (bawah lima tahun). (Depkes RI, 2005) Vaksin adalah suatu obat yang diberikan untuk membantu mencegah suatu penyakit. Vaksin membantu tubuh untuk menghasilkan antibodi. Antibodi ini berfungsi melindungi terhadap penyakit. Vaksin tidak hanya menjaga agar anak tetap sehat, tetapi juga membantu membasmi penyakit yang serius yang timbul pada masa kanak-kanak. Vaksin secara umum cukup aman, keuntungan perlindungan yang diberikan vaksin jauh lebih besar daripada efek samping yang mungkin terjadi. Dengan adanya vaksin maka banyak penyakit kanak-kanak yang serius, sekarang ini sudah jarang ditemukan. 1. Tentang penyakit dan vaksin yang diberikan a) Vaksinasi BCG memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit tuberkulosis (TBC). BCG diberikan 1 kali sebelum bayi berusia 2 bulan. Vaksin ini mengandung bakteri Bacillus Calmette-Guerrin hidup yang dilemahkan, sebanyak 50.000 1.000.000 partikel/dosis. b) Imunisasi DPT adalah suatu vaksin 3-in-1 yang melindungi terhadap difteri, pertusis dan tetanus. Difteri adalah suatu infeksi bakteri yang menyerang tenggorokan dan dapat menyebabkan komplikasi yang serius dan fatal. Pertusis (batuk rejan) adalah infeksi bakteri pada saluran udara yang ditandai dengan batuk hebat yang menetap serta bunyi pernapasan yang melengking. Tetanus adalah infeksi bakteri yang bisa menyebabkan kekakuan pada rahang serta kejang. c) Imunisasi Campak memberikan kekebalan aktif terhadap penyakit campak (tampek). Imunisasi campak diberikan sebanyak 1 dosis pada saat bayi berumur 9 bulan. d) Imunisasi Hepatitis B memberikan kekebalan terhadap penyakit Hepatitis B. Hepatitis B adalah suatu infeksi hati yang bisa menyebabkan kanker hati dan kematian.

2. Manfaat dan kemungkinan efek samping imunisasi a) Dapat mencegah penyakit-penyakit, seperti : polio, campak, TBC, tetanus, pertusis, difteri dan Hepatitis B. b) Efek samping yang mungkin terjadi : vaksin menyebabkan tubuh memproduksi antibodi, tetapi tidak menimbulkan penyakit, akan tetapi anak menjadi kebal terhadap penyakit tersebut. Setelah di vaksinasi kadang-kadang terjadi panas dan ini bukanlah penyakit, tetapi reaksi dari vaksinasi yang akan hilang dalam 1 atau 2 hari. Panas yang terjadi pada anak ini tidak seberapa, bila dibandingkan anak terserang salah satu penyakit tersebut jika anak tidak diimunisasi. 3. Imunisasi apa saja yang diberikan pada bayi dibawah usia 1 tahun Jadwal imunisasi berdasarkan umur pemberian (Satgas Imunisasi Ikatan Dokter Anak Indonesia, 2005) Umur Vaksin Keterangan Saat lahir Hepatitis B-1

Polio-0 HB-1 harus diberikan dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada umur 1 dan 6 bulan. Apabila status HbsAg-B ibu positif dalam waktu 12 jam setelah lahir diberikan HBIg 0,5 ml bersamaan dengan vaksin HB-1, apabila semula tidak diketahui dan diketahui selanjutnya maka masih diberikan.

HB-Ig 0,5 ml sebelum bayi berumur 7 hari. Polio-0 diberikan saat kunjungan pertama dengan dosis 2 tetes, untuk menghindari transmisi virus vaksin kepada bayi lain.

1 bulan Hepatitis H-2 HB-2 diberikan pada umur 1 bulan, interval HB-1 dan HB-2 adalah 1 bulan dengan dosis 0,5 ml. 02 BCG BCG dapat diberikan sejak lahir dengan dosis 0,05 secara IC. Apabila BCG akan diberikan pada umur > 3 bulan sebaiknya dilakukan uji tuberculin, dan BCG dapat diberikan apabila uji tuberculin negative. 2 bulan DPT- 1

Hib-1

Polio-1 DPT diberikan pada umur > 6 minggu, dapat dipergunakan DTwP atau DTaP atau diberikan secara kombinasi dengan Hib (PRP-T). Hib diberikan mulai umur 2 bulan dengan interval 2 bulan. Hib dapat diberikan secara terpisah atau dikombinasikan dengan DPT. Polio-1 dapat diberikan bersamaan dengan DPT-1.

4 bulan DPT-2 Hib-2 Polio-2 DPT-2 (DTwP atau DTaP) dapat diberikan terpisah Atau dikombinasikan dengan Hib-2 (PRP-T) Polio-2 diberikan bersamaan dengan DPT-2 6 bulan DPT-3 Hib-3

Polio-3 DPT-3 dapat diberikan terpisah atau dikombinasikan dengan Hib-3 (PRP-T) Apabila mempergunakan Hib-OMP, Hib-3 pada umur 6 bulan tidak perlu diberikan Polio 3 diberikan bersamaan dengan DPT-3 6 bulan Hepatitis B-3 HB-3 diberikan pada umur3-6 bulan. Untuk mendapat respons imun optimal interval HB-2 dan HB-3 minimal 2 bulan, terbaik 5 bulan. 9 bulan Campak Campak-2 Campak-1 diberikan pada umur 9 bulan.

Merupakan program BIAS pada SD kelas 1, umur 6 tahun. Apabila telah mendapat MMR padaumur 15 bulan, Campak-2 tidak perlu diberikan. 15-18 bulan MMR

Hib-4 Apabila sampai umur 12 bulan belum mendapat imunisasi Campak, MMR dapat diberikan pada umur 12 bulan Hib-4 diberikan pada 15 bulan (PRP-T atau PRP-OMP) 18 bulan DPT-4

Polio-4 DPT-4 (DTwP atau DTaP) diberikan 1 tahun setelah DPT-3 Polio-4 diberikan bersamaan dengan DPT-4 2 tahun Hepatitis A Vaksin Hep A direkomendasikan pada umur > 2 tahun, diberikan dua kali dengan interval 612 bulan 23 tahun Tifoid Vaksin tifoid polisakrida injeksi direkomendasikan untuk umur > 2 tahun. Imunisasi tifoid polisakrida injeksi perlu diulang setiap 3 tahun 5 tahun DPT 5 Polio 5 DPT5 diberikan pada umur 5 tahun (DTwP/DTaP)

Polio5 diberikan bersamaan dengan DPT-5 6 tahun MMR Diberikan untuk cacth-up immunization pada anak yang belum mendapat MMR1. 10 tahun dT/TT

Varisela Menjelang pubertas vaksin tetanus ke5 (dT/TT) diberikan untuk mendapat imunitas selama 25 tahun. Vaksin varisela diberikan pada umur 10 tahun

4. Tempat Memperoleh Imunisasi Imunisasi dapat diperoleh di semua tempat pelayanan kesehatan seperti : 1) Rumah sakit 2) Klinik Swasta 3) Puskesmas 4) Posyandu D. Nifas Normal 1. Definisi nifas Masa nifas (puerperium) adalah masa yang di mulai segera setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat

kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil. Lama masa nifas ini yaitu 6 8 minggu (Wiknjosastro, 2006) Masa nifas adalah di mulai setelah kelahiran plasenta dan berakhir ketika alat-alat kandungan kembali seperti keadaan sebelum hamil, nifas berlangsung selama kira-kira 6 minggu ( Saifuddin, 2006 ) Tujuan asuhan masa nifas menurut Saifuddin, (2002 ) adalah : a. menjaga kesehatan ibu dan bayinya, baik fisik maupun psikologis b. melaksanakan skrining yang komprehensif, mendeteksi masalah, merujuk setelah terjadinya komplikasi pada ibu maupun bayinya c. memberikan pendidikan kesehatan tentang perawatan kesehatan diri, nutrisi, keluarga berencana, menyusui, memberikan imunisasi kepada bayi dan perawatan bayi sehat d. memberikan pelayanan keluarga berencana

2. Perubahan Fisiologis Yang Terjadi Pada Masa Nifas Perubahan-perubahan yang terjadi pada masa nifas adalah : a. Involusi uterus Involusi uterus adalah perubahan organ tubuh yaitu uterus yang berangsur-angsur pulih kembali menjadi ukuran normal sesudah persalinan. ( Wiknjosastro, 2005 ) Pada saat janin di lahirkan fundus uteri kira-kira setinggi pusat, setelah plasenta lahir tinggi fundus uteri sekitar lebih kurang 2 jari di bawah pusat. Pada hari ke 5 post partum uterus tingginya 7 cm di atas simfisis atau setengah jarak simfisis ke pusat, dan setelah 12 hari uterus tidak dapat di raba lagi di atas simfisis.

Otot-otot uterus akan segera berkontraksi saat post partum, pembuluh-pembuluh darah yang berada di antara anyaman otototot uterus akan terjepit dan proses ini dapat menghentikan perdarahan setelah plasenta di lahirkan. (Wiknjosastro, 2005) Tinggi fundus uterus dan berat uterus menurut masa involusi ; Involusi Tinggi fundus uteri Berat uterus Bayi lahir Uri lahir 1 minggu 2 minggu 6 minggu 8 minggu Setinggi pusat 1 jari dibawah pusat Pertengahan pusat simfisis Tidak teraba atas simfisis Bertambah kecil Sebesar normal 1000 gram 750 gram 500 gram 350 gram 50 gram

30 gram

b. Lochea Lochea adalah secret yang berasal dari kavum uteri dan vagina dalam masa nifas, biasanya lochea berbau agak sedikit amis, kecuali bila terdapat infeksi maka akan berbau busuk dan keluar cairan seperti nanah dan di sebut lochea purulenta . selain itu terdapat juga lochea yang keluarnya tidak lancer dan terdapat infeksi dan di sebut lokiostasis. Lochea yang ada dalam masa nifas menurut Wiknjosastro, ( 2005 ) yaitu ; 1. lochea rubra ( cruenta ) : terjadi pada hari pertama dan kedua post partum yang terdiri atas darah segar dan sisa-sisa selaput ketuban, sel-sel desidua, verniks kaseosa, lanugo dan mekonium. 2. lochea sanguinolenta : terjadi pada hari ke 3 7 hari post partum yang berwarna merah kuning berisi darah bercampur lender 3. lochea serosa ; terjadi pada hari ke 7 14 , lochea ini berwarna agak kuning, cairan tidak berdarah lagi 4. lochea alba ; terjadi setelah 2 minggu post partum, lochea ini hanya berupa cairan putih c. Serviks Saat post partum bentuk serviks agak menganga seperti corong, bentuk ini di sebabkan oleh korpus uteri yang dapat mengadakan kontraksi, sedangkan serviks tidak dapat berkontraksi, sehingga terlihat seperti ada pembatas antara korpus dan serviks yang berbentuk seperti cincin. Serviks berwarna merah kehitamhitaman karena penuh dengan pembuluh darah, setelah janin di lahirkan tangan pemeriksa dapat di masukkan ke dalam kavum

uteri, setelah 2 jam hanya dapat di masukkan 2-3 jari ke dalam kavum uteri, dan setelah 1 minggu hanya dapat di masukkan 1 jari ke dalam kavum uteri. ( Wiknjosastro, 2005 ) d. Ligamen-ligamen dan diafragma pelvis Ligamen, fasia, diafragma pelvis yang meregang pada waktu persalinan dan setelah bayi lahir, secara berangsur-angsur menjadi ciut dan pulih kembali. Dan tidak jarang ligament rotundum menjadi kendor sehingga mengakibatkan uterus jatuh ke belakang dan menjadi retrofleksi, untuk memulihkannya kembali di perlukan latihan-latihan tertentu dan pada 2 hari post partum sudah dapat di berikan fisioterapi. ( Wiknjosastro, 2005 ) e. Rasa sakit ( After pain ) Rasa sakit biasanya terjadi meriang atau mules-mules sesudah partus hal ini di sebabkan oleh kontraksi rahim, biasanya berlangsung 2-4 hari pasca persalinan. Perasaan mules ini lebih terasa bila wanita tersebut sedang menyusui. ( Wiknjosastro, 2005 ) f. Laktasi Sejak kehamilan muda sudah terdapat persiapan-persiapan pada kelenjar mammae untuk menghadapi masa laktasi. Perubahan yang terdapat pada kedua mammae menurut wiknjosastro, ( 2005 ) antara lain : 1. proliferasi jaringan terutama pada kelenjar-kelenjar dan alveolus mammae dan lemak 2. pada duktus laktiferus terdapat cairan yang kadang-kadang dapat di keluarkan, berwarna kuning ( kolostrum ) 3. hipervaskularisasi terdapat pada permukaan maupun pada bagian dalam mammae di mana vena-vena berdilatasi dengan tampak jelas. 4. setelah melahirkan pengaruh menekan dari estrogen dan progesterone terhadap hipofisis hilang sehingga timbul pengaruh

hormone-hormon hipifisis kembali, antara lain lactogenic hormone ( prolaktin ) yang akan di hasilkan oleh hipofisis, pengaruh oksitosin menyebabkan miopitelium kelenjar-kelenjar susu berkontraksi sehingga pengeluaran air susu dapat di laksanakan, umumnya produksi air susu baru berlangsung pada hari 2-3 post partum. g. Perubahan psikis Rangsangan psikis merupakan refleks dari mata ibu ke otak, mengakibatkan oksitosin dapat di hasilkan sehingga air susu ibu dapat di keluarkan dan efek sampingnya dapat memperbaiki involusi uterus. ( Wiknjosastro, 2005 )

3. Asuhan kebidanan pada masa nifas Menurut Saifuddin ( 2002 ) tujuan dari kunjungan nifas adalah : a. Kunjungan 1 : ( 6 - 8 jam setelah persalinan ) Tujuannya : 1. Mencegah perdarahan pada masa nifas oleh karena Atonia uteri 2. Mendeteksi dan merawat penyebab lain jika terjadi perdarahan, merujuk jika perdarahan terjadi terus-menerus 3. Memberikan konseling pada ibu atau salah satu keluarga bagaimana mencegah terjadinya perdarahan pada mas nifas oleh karena Atonia uteri 4. Membantu ibu dalam pemberian ASI awal pada bayinya 5. Membantu ibu dalam menjalin hubungan dengan bayinya 6. Menjaga bayi agar tetap sehat dengan cara mencegah terjadinya hipotermi, dan jika petugas kesehatan menolong persalinan ia harus tinggal dengan ibu dan bayi untuk 2 jam

pertama setelah kelahiran atau sampai ibu dan bayi dalam keadaan stabil. b. Kunjungan II : ( 6 hari setelah persalinan ) Tujuannya : 1. Memastikan involusi uterus berjalan normal : uterus berkontraksi, fundus di bawah umbilikus, tidak ada perdarahan abnormal, dan tidak ada bau 2. Menilai adanya tanda-tanda demam, infeksi atau perdarahan yang abnormal 3. Memastikan ibu mendapatkan cukup makanan, cairan dan istirahat 4. Memastikan ibu menyusui dengan baik dan tidak memperlihatkan tanda-tanda adanya penyulit 5. Memberikan konseling pada ibu mengenai bagaimana cara merawat tali pusat, menjaga bayi agar tetap hangat dan perawatan bayi setiap harinya 6. Menganjurkan ibu membawa bayinya ke unit kesehatan setempat (posyandu) untuk di timbang dan di imunisasi

c. Kunjungan III : ( 2 minggu setelah persalinan ) Tujuannya : Sama seperti kunjungan 6 hari setelah persalinan

d. Kunjungan IV : ( 6 minggu setelah persalinan ) Tujuannya :

1. Menanyakan pada ibu tentang adakah penyulit-penyulit yang ibu atau bayi alami 2. Memberikan konseling untuk KB secara dini Pemeriksaan fisik yang dilakukan pada masa nifas menurut Wiknjosastro (2002) : 1. Keadaan umum 2. Keadaan payudara dan putingnya 3. Dinding perut apakah ada hernia 4. Keadaan perineum 5. Kandung kencing apakah ada sistokel dan prolaps uretra pada wanita 6. Keadaan rektum dan pemeriksaan tonus muskulus sfingter ani 7. Adanya fluor albus 8. Keadaan serviks, uterus dan adneksa harus di periksa apakah ada erosi, radang atau kelainan

4. Beberapa periode yang terjadi pada masa nifas : 1) Periode Taking In a) Periode ini terjadi 1-2 hari post partum, ibu baru pada umumnya pasif dan tergantung, perhatiannya pada kekhawarinnya akan tubuhnya. b) Ia akan mengulang-ulang pangalamannya waktu bersalin. c) Tidur tanpa gangguan sangat penting, bila tidak tidur terasa pusing.

d) Peningkatan nafsu makan bertambah selera makan meningkat. 2) Periode Taking Hold a) Periode ini berlangsung pada hari ke 2-4 post partum. Perhatiannya menjadi orang tua yang sukses, meningkatkan tanggung jawab pada bayinya. b) Ibu berkonsentrasi pada pengontrolan fungsi tubuh, BAB, BAK dan kekuatan. c) Ibu berusaha keras untuk menguasai tentang keterampilan perawatan bayi, menggendong, menyusu, memandikan, mengganti popok. Bila terasa tidak mahir pada penyuluhan dari bidan, perlu menerima kritikan. Pada tahap ini bidan penting memperhatikan perubahan yang mungkin terjadi 3) Periode Letting Go a) Periode biasanya terjadi setelah ibu pulang ke rumah. b) Sangat berpengaruh terhadap waktu dan perhatian yang diberikan oleh keluarga. c) Ibu mengambil tanggung jawab terhadap perawatan bayi, ibu harus beradaptasi dengan kebutuhan bayi.

d) Dengan adanya kebutuhan bayi yang menyebabkan berkurangnya hak ibu, kebebasan, dan hubungan sosial. e) Depresi post partum umumnya terjadi pada periode ini.

5. Tanda Bahaya Nifas Menurut Manuaba (2002), tanda-tanda bahaya nifas antara lain : a. Peningkatan perdarahan, bekuan darah atau keluar jaringan. b. Perdarahan pervaginam merah terang setiap waktu setelah kelahiran. c. Nyeri lebih hebat dari yang seharusnya. d. Kenaikan suhu lebih dari 38o C. e. Merasa kandung kemih penuh disertai ketidakmampuan untuk berkemih. f. Kontraksi uterus tidak baik. g. Perasaan gelisah disertai kulit yang pucat, dingin, dan lembab, denyut jantung cepat, pusing dan gangguan penglihatan. h. Nyeri, kemerahan dan hangat disertai dengan area yang keras pada betis. i. Sulit bernafas, denyut jantung cepat, nyeri dada, batuk, persaan gelisah, telapak tangan pucat, dingin atau kebiruan. Menurut Saifuddin ( 2002 ) tanda-tanda bahaya pada nifas : a. Perdarahan pervaginam yang luar biasa / tiba-tiba ( dalam jam 2 kali ganti pembalut

b. Pengeluaran pervaginam yang baunya busuk c. Rasa sakit di bagian bawah abdomen / punggung d. Sakit kepala terus-menerus, nyeri epigastrik / ada masalah dengan penglihatan e. Pembengkakan pada wajah / di tangan f. Demam, muntah, sakit waktu buang air kecil g. Payudara yang menjadi merah, panas dan sakit h. Kehilangan nafsu makan dalam waktu yang lama i. Rasa sakit, merah, lembek, atau pembengkakan pada kaki j. Merasa sangat sedih atau tidak dapat mengasuh bayinya sendiri k. Merasa sangat letih atau nafas terengah-engah

6. Perawatan pada post partum menurut Wiknjosastro, ( 2006 ) a. Mobilisasi Umumnya wanita setelah melahirkan harus cukup istirahat selama 8 jam postpartum ibu tidur terlentang untuk mencegah terjadinya perdarahan postpartum. Sesudah 8 jam, ibu boleh miring ke kiri atau ke kanan untuk mencegah terjadinya trombosis. Ibu dan bayi dapat di tempatkan dalam satu kamar di sebut rooming in, pada hari kedua dapat di lakukan latihanlatihan senam ringan. Umumnya pada hari ketiga ibu dapat duduk, berjalan dan dapat di pulangkan. b. Diet Diet makanan yang di berikan harus bermutu, bergizi dan kalori sebaiknya makan-makanan yang mengandung protein, banyak cairan, sayur-sayuran dan buah-buahan

c. Berkemih Miksi harus secepatnya dapat di lakukan sendiri, bila kandung kemih penuh dan ibu tidak dapat miksi sendiri sebaiknya dilakukan kateterisasi dengan memperhatikan jangan sampai terjadi infeksi d. Buang air besar Buang air besar harus sudah dalam 3 hari postpartum, bila ada obstipasi dapat di berikan obat pencahar e. Perawatan payudara Kedua payudara harus sudah di rawat selama kehamilan, areola payudara dan puting susu dicuci teratur dengan sabun dan di beri minyak atau cream, agar tetap lemas, jangan sampai kelak mudah lecet atau pecah-pecah sebelum menyusui payudara harus di buat lemas dengan melakukan massage secara menyeluruh. Setelah areola payudara dan puting susu di bersihankan baru bayi di susui f. Keluarga berencana Idealnya pasangan menunggu sekurang-kurangnya 2 tahun untuk hamil kembali. Disini petugas kesehatan memiliki peran untuk memberikan pengertian kepada ibu dan suami tentang KB dan mencegah kehamilan yang tidak di inginkan ( Saifuddin, 2002 )

7. Menyusui ASI mengandung semua bahan yang di perlukan bayi, mudah di cerna, memberi perlindungan terhadap infeksi, selalu segar, bersih dan siap untuk di minum. Tanda ASI cukup ; a. Bayi kencing setidaknya 6 kali dalam 24 jam dan warnanya

jernih sampai kuning muda b. Bayi sering buang air besar berwarna kekuningan c. Bayi tampak puas, sewaktu-waktu merasa lapar, bangun dan tidur cukup, bayi yang selalu tidur bukan pertanda baik d. Bayi setidaknya menyusu 10 12 kali dalam 24 jam e. Payudara ibu terasa lembut dan kosong setiap kali selesai menyusu f. Ibu dapat merasakan rasa geli karena aliran ASI setiap kali bayi mulai menyusu g. Bayi bertambah berat badannya

ASI tidak cukup Bayi harus di beri ASI setiap kali ia merasa lapar (setidaknya 10 12 kali dalam 24 jam). Dalam 2 minggu pasca persalinan jika bayi di biarkan tidur lebih dari 34 jam atau bayi di beri jenis makanan lain, atau payudara tidak di kosongkan dengan baik tiap kali menyusu maka pesan hormonal yang di terima otak ibu adalah untuk menghasilkan susu lebih sedikit. Meningkatkan suplai ASI Untuk bayi ; a. Menyusui bayi setiap 2 jam, siang dan malam hari dengan lama menyusui 10-15 menit di setiap payudara b. Bangunkan bayi, lepaskan baju yang menyebabkan rasa gerah dan duduklah selama menyusui c. Pastikan bayi menyusu dengan posisi menempel yang baik dan dengarkan suara menelan yang aktif

d. Susui bayi di tempat yang tenang Untuk ibu : a. Ibu harus meningkatkan istirahat dan minum b. Petugas kesehatan harus mengamati ibu yang menyusui bayinya dan mengoreksi setiap kali terdapat masalah pada posisi penempelan c. Yakinkan bahwa ia dapat memproduksi susu lebih banyak dengan melakukan hal-hal tersebut di atas Perawatan payudara : a. Menjaga payudara tetap bersih dan kering, terutama puting susu b. Menggunakan BH yang menyokong payudara c. Apabila puting susu lecet, oleskan kolostrum atau ASI yang keluar pada sekitar puting susu yang tidak lecet d. Apabila lecet sangat berat dapat di istirahatkan selama 24 jam, ASI di keluarkan dan di minumkan dengan menggunakan sendok e. Untuk menghilangkan nyeri, ibu dapat minum paracetamol 1 tablet setiap 4-6 jam f. Apabila payudara bengkak akibat pembendungan ASI lakukan : 1 Pengompresan payudara dengan menggunakan kain basah dan hangat selama 5 menit 2 Urut payudara dari arah pangkal menuju puting atau gunakan sisir untuk mengurut payudara dengan arah z menuju puting 3 Keluarkan ASI sebagian dari bagian depan payudara sehingga puting susu menjadi lunak

4 Susukan bayi setiap 2-3 jam, apabila tidak dapat mengisap seluruh ASI sisanya keluarkan dengan tangan 5 Letakkan kain dingin pada payudara setelah menyusui (Saifuddin, 2002) 8. Gizi Ibu menyusui harus : a. Mengkonsumsi tambahan 500 kalori tiap hari b. Makan dengan diet berimbang untuk mendapatkan protein, mineral dan vitamin yang cukup c. Minum sedikitnya 3 liter air setiap hari (anjurkan ibu untuk minum setiap kali menyusui) d. Pil zat besi harus di minum untuk menambah zat gizi setidaknya selama 40 hari pasca bersalin e. Minim kapsul vitamin A (200.000 unit) agar bisa memberikan vitamin A kepada bayinya melalui ASI nya.

9. Kontrasepsi a. Pengertian Kontrasepsi adalah usaha-usaha untuk mencegah terjadinya kehamilan, (Wiknjosastro, 2002) b. Jenis kontrasepsi: 1. Kondom Adalah sarung tipis penutup penis yang menampung cairan sperma pada saat pria berejakulasi

Keuntungan : a) Murah, mudah di dapat, tidak perlu resep dokter b) Mudah di pakai sendiri c) Dapat mencegah penularan penyakit kelamin Kerugian : a) Harus selalu memakai kondom yang baru b) Selalu harus ada persediaan c) Tingkat kegagalan cukup tinggi bila terlambat memakainya d) Sobek bila memasukkannya tergesa-gesa e) Mengganggu kenyamanan bersenggama 2. Suntikan Adalah suatu hormon progesteron yang di suntikkan ke bokong / otot panggul lengan atas setiap bulan Keuntungan : a) Praktis, efektif dan aman b) Tidak mempengaruhi ASI, cocok di gunakan untuk ibu menyusui c) Tidak terbatas umur Kerugian : a) Kembalinya kesuburan agak lama b) Harus kembali ke tempat pelayanan c) Tidak di anjurkan bagi penderita kanker, darah tinggi, jantung

dan lever 3. Pil KB Adalah hormon yang mengandung progesteron yang di minum setiap hari selama 21 atau 28 hari Keuntungan : a) Kesuburan segera kembali b) Mengurangi rasa kejang / nyeri perut waktu haid c) Terlindung dari penyakit radang panggul dan kehamilan di luar rahim d) Mudah menggunakannya e) Mengurangi resiko kanker rahim f) Tidak mempengaruhi produksi ASI Kerugian : a) Pemakai harus disiplin meminum pil setiap hari, jika tidak kemungkinan hamil tinggi b) Dapat meningkatkan resiko infeksi klamidia / jamur di sekitar kemaluan wanita c) Tidak di anjurkan pada wanita yang berumur di atas 35 tahun dan perokok karena akan mempengaruhi keseimbangan metabolosme tubuh 4. Susuk KB / implant Adalah 1 atau 6 kapsul ( seperti korek api ) yaang di masukkan ke bawah kulit lengan atas secara perlahan melepaskan hormon progesteron selama 3 atau 5 tahun Keutungan :

a) Tidak menekan produksi ASI b) Praktis, efektif c) Tidak harus mengingat-ingat d) Masa pakai jangka panjang e) Kesuburan cepat kembali setelah pengangkatan Kerugian : a) Susuk KB / implant harus di pasang dan diangkat oleh petugas kesehatan yang terlatih b) Dapat menyebabkan pola haid berubah c) Pemakai tidak dapat menghentikan pemakainnya Sendiri 5. IUD Adalah alat kontrasepsi yang di masukkan ke dalam rahim Keuntungan : a) Praktis dan ekonomis b) Efektif tonggi ( angka kegagalan kecil ) c) Kesuburan segera kembali jika di buka d) Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi pil e) Tidak mengganggu produksi ASI Kerugian : a) Dapat keluar sendiri jika ukuran IUD tidak cocok dengan

ukuran rahim pemakai 6. Tubektomi Adalah kontrasepsi permanen wanita untuk mereka yang tidak menginginkan anak lagi Keuntungan : a) Efektif langsung setelah sterilisasi b) Permanen c) Tidak ada efek jangka panjang d) Tidak mengganggu hubungan seksual Kerugian : a) Resiko dan efek samping bedah tetap ada ( Wiknjosastro , 2002 )

C .langkah langkah konseling KB Dalam memberikan konseling, khususnya bagi calon klien KB yang baru, hendaknya dapat di terapkan enam langkah yangsudah dikenak dengan kata kunci SATU TUJU. Penerapan SATU TUJU tersebut tidak perlu dilakukan secara berurutan karena petugas harus menyesuaikan diri sesuai dengan kebutuhan klien. Beberapa klien membutuhkan lebih banyak perhatian pada langkah yang satu dibanding dengan langkah yang lainnya. Kata kunci SATU TUJU adalah sebagai berikut: 1) SA: SApa dan SAlam pada klien secara terbukadan sopan. Berikan perhatian sepenuhnya kepada mereka yang berbicara di tempat yang nyaman serta terjamin privasinya. Yakinkan klien untuk membangun rasa percaya diri. Tanyakan kepada klien apa yang perlu dibantu serta jelaskan pelayanan apa yang dapat

diperolehnya. 2) T: Tanyakan pada klien informasi tentang dirinya. Bantu klien untuk berbicara mengenai pengalaman Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi, tujuan,kepentingan, harapan, serta keadaan kesehatan, dan kehidupan keluarganya. Tanyakan kontrasepsi yang diinginkan klien. Berikan perhatian kepada klien apa yang disampaikan klien sesuai dengan kata-kata, gerak isyarat,dan caranya. Coba tempatkan diri kita di dalam hati klien. Perhatikan bahwa kita memahami. Dengan memahami pengetahuan, kebutuhan keinginan klien, kita dapat membantunya. 3) U : Uraikan kepada klien mengenai pilihannya dan beritahu apa pilihan reproduksi yang paling mungkin, termasuk pilihan beberapa jenis kontrasepsi. Bantulah klien pada jenis kontrasepsi yang paling dia ingini, serta jelaskan pula jenis-jenis kontrasepsi yang ada. Juga jelaskan alternatif kontrasepsi yang mungkin diingini klien. Uraikan mengenai resiko penularan HIV/AIDS dan pilihan metode ganda. 4) TU : banTUlah klien menentukan pilihannya. Bantukah klien berfikir mengenai apa yang paling sesuai dengan keadaan dan kebutuhannya. Doronglah klien untuk menunjukkan keinginan dan mengajukan pertanyaan. Tanggapilah secara terbuka. Petugas membantu klien mempertimbangkan kriteria dan keinginan klien terhadap setiap jenis kontrasepsi. Tanyakan juga apakah pasangannya akan memberikan dukungannya dengan pilihan tersebut. Jika memungkinkan diskusikan mengenai pilihan tersebut kepada pasangannya. Pada akhirnya yakinkan bahwa klien telah membuat suatu keputusan yang tepat. Petugas dapat menanyakan apakah anda telah memutuskan pilihan jenis kontrasepsi? Atau apa jenis kontrasepsi terpilih yang akan digunakan?. 5) J : Jelaskan secara lengkap bagaimana menggunakan kontrasepsi pilihannya. Setelah klien memilih jenis kontrasepsinya, jika diperlukan perhatikan alat/obat kontrasepsi tersebut digunakan dan bagaimana cara penggunaannya. Sekali lagi doronglah klien untuk bertanya dan petugas menjawab dengan jelas dan terbuka. Beri penjelasan juga tentang manfaat

ganda metode kontrasepsi, misalnya kondom yang dapat mencegah infeksi penularan seksual (IMS). Cek pengetahuan klien tentang penggunaan kontrasepsi pilihannya dan puji klien apabila dapat menjawab dengan benar. 6) U : perlunya di lakukan kunjungan Ulang. Bicarakan dan buatlah perjanjian kapan klien akan kembali untuk melakukan pemeriksaan lanjutan atau permintaan kontrasepsi jika di butuhkan. Perlu juga selalu mengingatkan untuk kembali apabila terjadi suatu masalah.( buku panduan praktis pelayanan kontrasepsi,Sarwono:2006)

d. Prosedur Klinik Proses Pemasangan IUD Untuk mengurangi risiko infeksi pasca pemasangan yang dapat terjadi pada klien petugas klinis harus berupaya untuk menjaga lingkungan yang bebas dari infeksi dengan cara sebagai berikut: 1) Keluarkan AKDR dari kemasan sterilnya (gunakan klem ovum seperti teknik insersi dengan klem) 2) Ambil AKDR tersebut dengan cara menjepitnya diantara jari telunjuk dan tengah 3) Perbaiki posisi AKDR pada jari-jari penjepit sehingga batang AKDR terpegang baik diantara jari-jari tersebut 4) Angkat klem porsio (sudah disiapkan sebelumnya) 5) Arahkan AKDR yang ada diantara 2 jari tangan yang lain ke introitus dan jalan lahir yang telah dibilas dengan larutan antiseptik sebelumnya 6) Masukkan AKDR melalui vagina dan ostium hingga mencapai daerah fundus uteri 7) Sesuaikan posisi ibu jari, jari manis dan kelingking dengan kondisi jalan lahir sehingga diperoleh akses yang memadai bagi jari tekunjuk dan tengah (AKDR) untuk mencapai fundus 8) Lepaskan jepitan pada AKDR dengan jalan mengangkat (menjauhkan) jari telunjuk dari jari tengah dan memutar tangan sekitar 30 9) Setelah ADKR lepas dan menyentuh dinding fundus, tarik tangan dalam sambil menekan fundus uteri (dengan tangan luar) hingga keluar seluruhnya

e. Mengambil AKDR dalam kemasan steril (tekhnik tanpa

sentuh) 1) Buka penutup plastik AKDR hingga setengah bagian 2) Keluarkan inserter dan pendorong AKDR 3) Masukkan ujung klem ovum (menelusuri benang) hingga mencapai AKDR 4) Buka ujung klem ovum untuk menjepit AKDR (bila perlu, tahan dengan ujung jari tangan yang lain sehingga AKDR tidak bergerak ke atas) 5) Pastikan AKDR terpegang oleh klem ovum pada kedua lengan dan batangnya 6) Jepit (jangan mengunci gagang klem ovum) dan tarik AKDR hingga ke luar dari kemasannya 7) Perhatikan posisi AKDR sudah tepat (ujung klem ovum pada bagian tengah lengan dan arah batang AKDR sejajar dengan lengan klem ovum) 8) Bawa AKDR ke depan vulva yang telah disiapkan dengan bilasan larutan antiseptik 9) Perhatikan ketepatan aplikasi jepitan agar AKDR tidak jatuh (JARINGAN NASIONAL PELATIHAN KLINIK KESEHATAN REPRODUKSI)

E. PENDOKUMENTASIAN MANAJEMEN ASUHAN KEBIDANAN 1. Asuhan Kebidanan Dengan Metode Varney a. Definisi Manajemen asuhan kebidanan adalah suatu proses pemecahan

masalah yang digunakan sebagai metode untuk mengorganisasikan pikiran dan tindakan berdasarkan teori ilmiah, penemuanpenemuan, keterampilan dalam rangkaian tahapan logis untuk pengambilan keputusan yang berfokus pada klien. (varney, 1997) Manajemen kebidanan dituntut untuk merencanakan, mengorganisir, memimpin dan mengevaluasi sarana dan prasarana yang tersedia untuk dapat memberikan asuhan kebidanan yang efektif dan efisien. b. Langkah-langkah Manajemen Kebidanan Menurut Varney Proses manajemen varney terdiri dari 7 (tujuh) langkah yaitu : Langkah I : Pengumpulan Data Dasar Pada langkah pertama ini dikumpulkan semua informasi yang akurat dan lengkap dari semua sumber yang berkaitan dengan kondisi klien. Untuk memperoleh data dilakukan dengan cara : 1. Anamnesis. a. Biodata. b. Riwayat menstruasi. c. Riwayat kesehatan. d. Riwayat kehamilan, persalinan dan nifas e. Bio- Psiko- Sosio- Spritual f. Pengetahuan klien. 2. Pemeriksaan fisik sesuai dengan kebutuhan dan pemeriksaan tanda-tanda vital

3. Pemeriksaan khusus a. Inspeksi b. Palpasi c. Auskultasi d. Perkusi 4. Pemeriksaan penunjang a. Laboratorium b. Catatan terbaru dan sebelumnya Langkah II : Analisa/ diagnosa Masalah Pada langkah ini dilakukan identifikasi yang benar terhadap diagnosa atau masalah dan kebutuhan klien berdasarkan interpretasi yang benar atas data-data yang telah dikumpulkan. Data dasar yang sudah dikumpulkan diinterpretasikan sehingga ditemukan masalah atau diagnosis yang spesipik. Kata masalah dan diagnosa kedua digunakan, karena beberapa masalah tidak dapat diselesaikan seperti diagnasa tetapi sungguh membutuhkan penanganan yang dituangkan kedalam sebuah rencana asuhan kedalam klien. Masalah sering berkaitan dengan wanita yang di identifikasi oleh bidan sesuai dengan pengarahan, masalah ini sering menyertai diagnosa. Diagnosa kebidanan adalah diagnosa yang ditegakkan bidan dalam lingkup praktek kebidanan dan memenuhi standard nomenklatur diagnosis kebidanan. Langkah III : Mengidentifikasi Diagnosa atau Masalah Potensial Pada langkah ini kita mengidentifikasi masalah atau diagnosa potensial lain berdasarkan rangkaian masalah dan diagnosa yang sudah diidentifikasi. Langkah ini membutuhkan antisipasi, bila memungkinkan dilakukan pencegahan, sambil mengamati klien bidan diharapkan dapat bersiap-siap bila diagnosa/masalah

potensial ini benar-benar terjadi. Pada langkah ini penting sekali melakukan asuhan yang aman. Pada langkah ini bidan dituntut untuk mampu mengantisipasi masalah potensial tidak hanya merumuskan maslah potensial yang akan terjadi tetapi juga merumuskan tindakan antisipasi agar masalah atau diagnosis potensial tidak terjadi sehingga langkah ini benar merupakan langkah yang bersifat antisipasi yang rasional/logika. Kaji ulang diagnosis atau masalah potensial yang diidentifikasi sudah tepat. Langkah IV : Identifikasi kebutuhan yang memerlukan tindakan segera Pada langkah ini bidan menetapkan kebutuhan terhadap tindakan segera, melakukan konsultasi, kolaborasi dengan tenaga kesehatan lain berdasarkan kondisi klien. Pada langkah ini, mengidentifikasi perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter dan untuk dikonsultasikan atau ditangani bersama dengan anggota tim kesehatan yang lain sesuai dengan kondisi klien. Langkah keempat ini mencerminkan kesinambungan dari proses manajemen kebidanan. Jadi manajemen bukan hanya selama asuhan primer periodic atau kunjungan prenatal saja tetapi juga selama wanita tersebut bersama bidan terus-menerus, misalnya pada wanita tersebut dalam persalinan. Langkah V : Perencanaan Asuhan Pada langkah ini direncanakan asuhan yang ditentukan berdasarkan langkah-langkah sebelumnya. Langkah ini merupakan kelanjutan terhadap masalah atau diagnosis yang telah diidentifikasi atau diantisipasi. Merencanakan asuhan kebidanan dengan penjelasan yang rasional sebagai dasar untuk mengambil keputusan, rencana asuhan merupakan lanjutan dari masalah atau diagnosa, mencari informasi yang hilang, informasi tambahan, gambaran umum dan antisipasi, teaching, konseling dan rujukan. Langkah VI : Melaksanakan Perencanaan

Pada langkah ini dilakukan pelaksanaan asuhan langsung secara efisien dan aman. Perencanaan ini bisa dilakukan seluruhnya oleh bidan atau sebagian lagi oleh klien, atau anggota tim kesehatan lainnya. Walaupun bidan tidak melakukannya sendiri, ia tetap memikul tanggung jawab untuk mengarahkan pelaksanaannya. Mengarahkan/melaksanakan rencana asuhan kebidanan secara efisien dan aman dapat dilakukan : a. Seluruhnya oleh bidan b. Sebagian oleh klien c. Sebagian oleh bidan atau tim kesehatan lain, bidan bertugas mengarahkan tapi tetap bertanggung jawab. Langkah VII :Evaluasi Pada langkah ini dilakukan evaluasi keektifan asuhan yang sudah diberikan. Hal yang sudah dievalusi meliputi apakah kebutuhan telah terpenuhi dan mengatasi diagnosis dan masalah yang telah diidentifikasi. Adapun langkah yang digunakan adalah sebagai berikut: Pengecekan yaitu pemenuhan kebutuhan akan bantuan efektif atau tidak efektif, Kontinum yaitu mengulang kembali, Refisit pertama yaitu review catatan, riwayat, keluhan-keluhan dan pemeriksaan fisik.

2. Pendokumentasian Manajemen Asuhan Kebidanan Menggunakan SOAP Metode yang tepat menurut Helen Varney alur berpikir bidan saat menghadapi klien meliputi 7 langkah Varney agar diketahui orang lain apa yang telah dilakukan oleh seorang bidan melalui proses berpikir sistematis, maka didokumentasikan dalam bentuk SOAP, yaitu :

S : SUBJEKTIF Menggambarkan pendokumentasian hasil pengumpulan data klien melaui anamnesa sebagai langkah I Varney. O : OBJEKTIF Menggambarkan pendokumentasian hasil pemeriksaan fisik klien, hasil laboratorium dan test diagnostic lain yang dirumuskan dalam data focus untuk mendukung asuhan sebagai langkah I Varney. A : ASSESMENT Menggambarkan pendokumentasian hasil analisa dan interpretasi data subjektif dan objektif dalam suatu indentifikasi : 1. Diagnosa/masalah, 2. Antisipasi diagnosa/masalah potensial, 3. Perlunya tindakan segera oleh bidan atau dokter, konsultasi/kolaborasi dan atau rujukan sebagai langkah 2, 3 dan 4 Varney. P : PLANNING Menggambarkan pendokumentasian dari perencanaan, tindakan dan evaluasi berdasakan assessment sebagai langkah 5, 6 dan 7 Varney

BAB IV PERKEMBANGAN KASUS A. MANAJEMEN KEBIDANAN PADA IBU HAMIL ( ANC I PADA TANGGAL 13 SEPTEMBER 2011 )

1. PENGKAJIAN IDENTITAS : Nama klien : Ny.N Nama Suami Klien : Tn. A Umur : 32 tahun Umur : 40 tahun Kebangsaan : Indonesia Kebangsaan : Indonesia Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMK Pendidikan : SMA Pekerjaan : ibu rumah tangga Pekerjaan :Karyawan swasta Alamat Rumah : Tegal parang utara1 Rt 06/05 no 33a ANAMNESE : Pada tanggal : 13 september 2011 Pukul : 09.30 wib Oleh : Septiantini 1. Alasan kunjungan saat ini : kunjungan ulang 2. Riwayat kehamilan saat ini: 1. Riwayat menstruasi : Hari Pertama Haid Terakhir: Tanggal: 3-2-2011 Lamanya: 5 Hari Banyaknya: 2 kali ganti pembalut Siklus: 28 hari , Teratur Konsistensi: cair Taksiran Persalinan:10-11-2011 2.2. Tanda-tanda kehamilan: Hasil tes kehamilan : Positif

Tanggal dilakukan tes : 20-3-2011 2.3. Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : 16 minggu Pergerakan fetus dalam 24 jam terakhir : > 10 x/ 12 jam 2.4. Keluhan yang dirasakan (bila ada jelaskan): Rasa Lelah : Tidak ada Mual / muntah yang lama : Tidak ada Nyeri Perut : Tidak ada Panas Menggigil : Tidak ada Sakit Kepala Berat / Terus-menerus : Tidak ada Penglihatan Kabur : Tidak ada Rasa Nyeri / Panas Saat Buang Air Kecil : Tidak ada Pengeluaran Cairan Pervaginam : Tidak ada Nyeri Kemerahan, Tegas Pada Tungkai : Tidak ada Oedema : Tidak ada 2.5. Diet/makan : 2.6. Makaman sehari-hari : Nasi, Sayur, Ikan, tahu, tempe, ayam dan daging 2.7. Pola eliminasi : BAB = 1x serhari BAK = >5x sehari 2.8. Aktivitas sehari-hari : mengerjakan pekerjaan rumah tangga

2.9. Pola Istirahat & tidur : 8 Jam istirahat di malam hari ditambah 1 jam di siang hari 2.10. Seksualitas : Normal 2.11. Imunisasi TT I : 2-6-2011 TT II : 28-7-2011 2.12. Kontrasepsi yang pernah digunakan : 3. Riwayat Kehamilan, Persalinan, Nifas yang lalu: No Tgl/Th Partus Tempat Partus Usia Kehamilan Jenis Partus Penolong Penyulit Jenis Kelamin BB (Gram) Pb (Cm) 1 2003 BPS Aterm Spontan bidan Tidak

ada Laki2 3500 50 2 Hamil ini

4. Riwayat kesehatan : 4.1 Riwayat penyakit yang pernah atau sedang diderita Jantung : tidak pernah Tekanan darah tinggi : tidak pernah Hepar : tidak pernah Diabetes meallitus : tidak pernah Anemia berat : tidak pernah Penyakit hubungan sexual : tidak pernah Campak, Rubella : tidak pernah Malaria : tidak pernah Tuberculosis : tidak pernah

Gangguan mental : tidak pernah Operasi, Sectio caesaria : tidak pernah

Perilaku kesehatan: Pengguna alkohol : tidak pernah mengkonsumsi Obat-obatan / jamu : tidak pernah mengkonsumsi Merokok / makan sirih : tidak pernah mengkonsumsi Irigasi vagina / ganti pakaian dalam : 2 x sehari 5. Riwayat sosial a. Apakah kehamilan ini direncanakan / diinginkan? : ya b. Jenis kelamin yang diharapkan? : apa saja c. Status perkawinan? Jumlah :1x Lama perkawinan : 9 tahun 6.1.Susunan keluarga yang tinggal serumah No. Umur Jenis Kelamin Hubungan Keluarga Pendidikan Pekerjaan Keterangan 1 40 tahun

Laki-laki Suami SMA Karyawan

2 8 tahun Laki-laki Anak SD

6.2.Kepercayaan yang berhubungan dengan kehamilan, persalinan, nifas: tidak ada 7. Riwayat kesehatan keluarga: Tidak ada penyakit keturunan II. PEMERIKSAAN 1. Keadaan umum : Baik Kesadaran : Compos Mentis Keadaan emosional : Stabil 2. Tanda-tanda vital: Tekanan darah : 110/80mmhg Denyut nadi : 88x/mnt Suhu badan : 36,8 OC Pernafasan : 18x/mnt 3. Tinggi badan : 151 cm Berat badan : 62 kg LILA : 27 cm Sebelum hamil : 58 kg Kenaikan BB selama hamil : 4 kg

4. Pemeriksaan sistematis: 4.1. muka Konjungtiva : Tidak pucat Kelopak mata : Tidak oedeme Sklera :Tidak ikterik 4.2. mulut dan gigi Lidah dan geraham : Bersih Gigi : Tidak karies 4.3. Kelenjar Thyroid Pembesaran kelenjar : Tidak ada pembengkakkan 4.4. Kelj. Getah Bening Pembesaran : Tidak ada pembengkakkan 4.5. Dada 4.5.1 Jantung : Berbunyi normal tidak ada mur-mur 4.5.2 Paru : Berbunyi normal tidak ada whezing 4.5.3 Payudara : 4.5.3.1. Pembesaran : Ada 4.5.3.2. Puting susu : Menonjol kanan & kiri 4.5.3.3. Simetris : Ya kanan & kiri 4.5.3.4. Benjolan : Tidak ada

4.5.3.5. Pengeluaran : belum di temukan

4.6. Punggung dan Pinggang: Posisi tulang belakang : Normal Nyeri pinggang : Tidak ada 4.7. Ekstermitas atas dan bawah: Oedeme : Tidak ada Kekakuan otot dan sendi : Tidak ada 4.8. Abdomen Bekas luka operasi : Tidak ada Pembesaran : Sesuai usia kehamilan Konsistensi : Kenyal Benjolan : Tidak ada Pembesaran lien/ liver : Tidak ada Kandung kemih : Kosong 5. Pemeriksaan Kebidanan 5.1 Palpasi uterus TFU : 27cm (mc. Donald) Leopold I : Pada fundus teraba bagian lunak, bulat dan tidak melenting (bokong) Leopold II : Teraba bagian keras memanjang dan rata seperti

papan pada bagian kiri abdomen (punggung kiri) dan teraba bagian- bagian kecil disebelah kanan (ekstremitas) Leopold III : Teraba bagian keras, bulat dan melenting pada perut bagian bawah (kepala) Leopold IV : bagian terendah janin belum masuk PAP (5/5) konvergen TBJ : (27 - 13) x 155 = 2170 gram 5.2 .Auskultasi: BJJ : + Frekuensi : 136 x/menit Puntum max : terdengar jelas pada1 tempattepat di 2 jari di bawah pusat sebelah kiri ibu 5.3. Ano-genital : warnanya kemerahan, tidak ada fistula. Tidak ada varises, tidak ada pembengkakkan

V. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah : Hb : 13,5 gr % Golongan darah : A/+ Urine : Protein : Negatif Reduksi : Negatif Pemeriksaan penunjang lain :

LANGKAH II : INTERPRETASI DATA / DIAGNOSA

Ibu : Ny. N G2P1A0 Hamil 31 minggu 5 hari Janin : Tunggal, hidup, intra uterin, letak Kepala

LANGKAH III : IDENTIFIKASI MASALAH POTENSIAL Tidak ada

LANGKAH IV : TINDAKAN SEGERA / KONSULTASI / KOLABORASI Tidak ada

LANGKAH V : RENCANA ASUHAN KEBIDANAN Informed Concent pada ibu, bahwa ibu akan dijadikan pasien untuk study kasus dan jelaskan prosedur pemeriksaan. Beritahukan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan. Jelaskan kepada ibu tentang tanda bahaya umum pada kehamilan Jelaskan pada ibu mengenai nutrisi seimbang serta memperbanyak minum air putih 8 gelas sehari. Anjurkan ibu untuk istirahat cukup dan tidur teratur. 6. Beri tablet Fe ( 1 x 200 mg/ hari ), Vit C ( 2 x 250 mg/ hari ), dan kalk X Tablet, dan beri tahu cara meminumnya. 7. Sarankan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu kemudian 8. Dokumentasikan hasil pemeriksaan.

LANGKAH VI : PENATALAKSANAAN ASUHAN Menjelaskan pada ibu bahwa ibu dijadikan sebagai pasien untuk studi kasus secara komprehansif dan menjelaskan pada ibu prosedur pemeriksaan yang akan dilakukan mulai dari pemeriksaan fisik dari kepala sampai kaki, pemeriksaan kebidanan yaitu pemeriksaan abdominal dan anogenital, serta menjelaskan tujuan pemeriksaan yaitu untuk pengawasan kesejahteraan ibu dan janin mulai dari ibu hamil sampai nifas agar dapat berjalan dengan baik. 2. Memberitahukan pada ibu mengenai hasil pemeriksaan kehamilannya bahwa keadaan ibu dan janin saat ini baik, Td : 110/80 mmHg, Bb :62 Kg, TB : 151 cm, HB : 13,5 gr%, dan usia kehamilan ibu saat ini 31 minggu 5 hari. 3. Menjelaskan kepada ibu apabila merasakan tanda bahaya umum pada kehamilan seperti sakit kepala yang berat, penglihatan kabur, bengkak muka dan tangan, nyeri ulu hati, gerakan janin berkurang atau tidak ada, keluar cairan pervaginam, segera secepatnya datang ke petugas kesehatan setempat. Menjelaskan mengenai nutrisi seimbang (nasi, sayur, lauk pauk, buah-buahan dan susu yang diberikan) serta memperbanyak minum air putih 8 gelas sehari. Menganjurkan ibu untuk cukup istirahat dan cukup tidur (tidur malam 8 jam dan tidur siang 2 jam) agar ibu tidak mudah lelah. Memberitahukan ibu untuk minum vitamin Fe setiap hari sekali, diminum sebelum tidur malam untuk menghindari rasa mual, jangan meminumnya dengan teh ataupun kopi dan memberitahukan efek samping yang lainnya yaitu dapat menyebabkan faeces menjadi berwarna kehitaman, minum vitamin C setiap hari dua kali, pagi dan sore jangan meminumnya dengan teh ataupun kopi, dan Calsium Laktat satu hari sekali pada malam hari. Menganjurkan ibu untuk datang kunjungan ulang pada tanggal 27 september 2011. Mencatat semua hasil pemeriksaan

LANGKAH VII: EVALUASI Ibu bersedia menjadi pasien untuk studi kasus secara komprehansif dan bersedia dilakukan seluruh pemeriksaan serta telah mengisi dan menandatangani informed concent. Ibu telah telah diberitahukan hasil pemeriksaan saat ini. Ibu mengeri dan merasa tenang dan senang. Ibu mengerti dan akan segera datang ke petugas kesehatan apabila merasakan tanda bahaya umum pada kehamilan seperti yang telah di jelaskan. Ibu telah dijelaskan tentang nutrisi simbang, ibu mengerti dan dapat mengulang kembali Ibu telah dianjurkan untuk cukup istirahat dan tidur teratur, ibu mengerti dan bersedia untuk cukup istirahat dan tidur teratur. Ibu telah diberikan tablet Fe, Calsium Laktat dan vitamin C dan telah dijelaskan aturan minum dan efek sampingnya, ibu mengerti dan dapat mengulang kembali efek samping dan aturan minum tablet Fe, Calsium Laktat dan aturan minum vitamin C dan ibu berjanji untuk meminumya sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Telah menganjurkan ibu untuk datang kembali, 2 minggu kemudian tepatnya pada tanggal 27 september 2011 atau bila ada keluhan, ibu mengatakan akan datang kunjungan ulang pada tanggal 27 september 2011 atau bila ada keluhan. Pendokumentasian telah terisi penuh.

Kunjungan ANC ke 2 Selasa, 27 September 2011 pukul 10:00 WIB, ibu datang ke Puskesmas Mampang Prapatan sesuai dengan yang dianjurkan. S : Ibu mengatakan tidak ada keluhan dan gerakan janin semakin aktif. O : Kedaan umum: baik, kesadaran : Compos Mentis, keadaan emosional : stabil, TTV : TD : 100/80 mmHg, nadi : 84 x/menit, pernapasan : 20x/menit, suhu : 36,7 C, berat badan : 63 kg. pemeriksaan fisik : mata : kelopak mata tidak oedeme, konjungtiva : tidak pucat, sclera : tidak ikterik, TFU : 29 cm,

Leopod 1 : Pada fundus teraba bulat lunak tidak melenting (bokong) Leopod 2 : Sebelah kiri abdomen ibu teraba lebar keras seperti papan (punggung) dan di sebelah kanan abdomen ibu teraba bagian-bagian kecil (ekstremitas) Leopod 3 :Teraba bagian bulat, keras, melenting (kepala) diatas simfhisis Leopod 4 :Bagian terendah janin belum masuk PAP. TBJ : (29-13) X 155 = 2480 gram. Auskultasi DJJ (+), frekuensi: 142 x/menit, teratur, puctum maximum:terdengar jelas pada 1 tempat tepat di 2 jari di bawah pusat sebelah kiri ibu. Ekstremitas bawah : oedeme -/-, varises: -/-, dan refleks patella (+) kanan dan (+) kiri. A : Ibu : G2P1A 0 hamil 33 minggu 5 hari Janin : Tunggal, hidup intrauterin, letak kepala P: Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan, bahwa ibu dan janin saat ini dalam keadaan baik, TD : 100/80 mmHg, BB : 63 Kg, DJJ (+) frekuensi 142x/menit, usia kehamilan ibu 33 minggu 5 hari, TBJ : 2480 gram. Ibu mengerti tentang keadaan ibu dan janin saat ini dan ibu merasa senang. Menjelaskan kembali tentang tanda bahaya umum pada kehamilan: perdarahan pervaginam, nyeri kepala yang hebat lebih dari biasanya, nyeri epigastrium, bengkak pada wajah dan tangan, penglihatan kabur dan pergerakan janin kurang dari biasanya. Bila ibu merasakan salah satu dari tanda bahaya tersebut agar segera datang ketempat pelayanan kesehatan terdekat. Ibu mengerti dan dapat menyebutkan kembali tanda bahaya umum pada kehamilan dan ibu berjanji bila merasakan salah satunya ibu akan segera datang ke tempat pelayanan kesehatan.

Memberitahukan ibu mengenai posisi nyaman pada ibu hamil trimester 3 yaitu tidur miring kekiri dan saat bangun tidur jangan bangun dengan posisi terlentang melainkan miring terlebih dahulu, agar tidak terjadi penekanan uterus, ibu mengerti dan dapat menjelaskan dan mempraktekan posisi yang nyaman pada ibu hamil trimester 3. Memberikan dan menjelaskan aturan minum dan efek samping dari tablet Fe, Calsium Laktat dan vitamin C. Minum tablet Fe 1x sehari sebelum tidur malam agar ibu tidak merasa mual setiap minum obat, dan apabila ibu mengkonsumsi Fe maka fecesnya akan berwarna kehitaman, dan meminum Fe dengan air putih, minum vitamin C 2x sehari setelah makan pagi dan siang, minum Calsium Laktat 1x sehari pada pagi hari. Ibu mengerti dan dapat mengulang kembali aturan minum dan efek samping dari tablef Fe, vitamin C, dan Calsium Laktat.Ibu berjanji untuk meminumnya sesuai dengan dosis yang dianjurkan. Menjelaskan hal yang fisiologis tentang ibu sering BAK karena uterus yang semakin besar serta kepala yang sudah turun menekan kandung kemih dan menganjurkan ibu untuk tidak menahan BAK setiap kali ingin BAK dan menyarankan ibu bahwa celana dalam harus tetap dalam keadaan kering. Ibu mengerti tentang apa yang telah dijelaskan dan mengatakan akan segera BAK bila ingin BAK dan menjaga agar celana dalamnya dalam keadaan kering. Menganjurkan ibu untuk sering berjalan di pagi hari agar dapat menghirup udara pagi yang bersih dan segar, dan dapat menguatkan otot dasar panggul. Ibu mengerti dan dapat mengulang kembali manfaat berjalan di pagi hari, ibu bersedia untuk mulai berjalan di pagi hari. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu kemudian tepatnya pada tanggal 11 oktober 2011 atau segera jika ada keluhan. Ibu mengatakan akan datang untuk kunjungan ulang pada tanggal 11 oktober 2011 atau segera bila ada keluhan.

Kunjungan ANC ke3 Selasa 11 oktober 2011 pukul 10:00 WIB, datang ke Puskesmas Mampang Prapatan sesuai dengan yang dianjurkan.

S : : Ibu mengatakan gerakan janin semakin aktif dan merasakan sering BAK. O : Kedaan umum: baik, kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Stabil, TTV : TD : 100/80 mmHg, Nadi : 86 x/menit, Pernapasan : 22 x/menit, Suhu : 36,7C, Berat badan : 65 kg. Pemeriksaan fisik : Mata : kelopak mata tidak bengkak, Konjungtiva : tidak pucat, Sclera : tidak ikterik. TFU : 29 cm, Leopod 1 : pada fundus teraba bulat lunak tidak melenting (bokong), Leopod 2 :Sebelah kiri abdomen ibu teraba lebar keras seperti papan (punggung), dan sebelah kanan ibu teraba bagian kecil janin (ekstremitas) Leopod 3: Teraba bulat, keras dan melenting di atas simfisis (kepala), Leopod 4: Bagian terendah janin belum masuk PAP (5/5). TBJ : (29-13) X 155 = 2480 gram. Auskultasi DJJ ( + ), frekuensi 155 x/menit, teratur, Puctum maximum : terdengar jelas tepat di 3 jari di bawah pusat sebelah kiri ibu. Ekstremitas bawah : odeam -/-, varises : -/-, dan refleks patella (+) kanan dan (+) kiri. A : Ibu : G2 P1A 0 hamil 35 minggu 3 hari. Janin : Tunggal, hidup intrauterin, letak kepala. P: 1. Memberitahu ibu tentang hasil pemeriksaan, bahwa ibu dan janin dalam keadaan baik, dengan TD : 100/80 mmHg, Nadi : 86 x/menit, Pernapasan : 22 x/menit, Suhu : 36,7C, Berat badan : 65 kg, TBJ: 2480 gram, usia kehamilan ibu 35 minggu 5 hari. Dan setelah dijelaskan ibu mengerti tentang keadaannya sekarang. 2. Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup dan mengurangi

kegiatannya sehari-hari dan menganjurkan ibu untuk tidak berdiri terlalu lama dan bekerja terlalau keras. Ibu mengerti dan berjanji untuk cukup istirahat dan tidak bekerja terlalu keras. 3. Mengingatkan kembali pada ibu tanda bahaya kehamilan seperti : perdarahan pervaginam, nyeri kepala yang hebat lebih dari biasanya, nyeri epigastrium, bengkak pada wajah dan tangan, penglihatan kabur dan pergerakan janin kurang dari biasanya. Bila ibu menemukan salah satu dari tanda bahaya tersebut agar segera datang ketempat pelayanan kesehatan terdekat. Ibu mengerti dan dapat menyebutkan kembali tanda bahaya pada kehamilan dan berjanji akan segera datang ke tempat pelayanan kesehatan bila mengalaminya. 4. Memberikan dan menjelaskan aturan minum tablet Fe yang di minum 1 kali sehari dan Calsium Laktat diminum 1 kali sehari. Ibu berjanji untuk minum tablet Fe dan Calsium Laktat sesuai dengan yang dianjurkan. 5. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 2 minggu kemudian yaitu pada tanggal 25 oktober 2011 atau bila ada keluhan. Ibu mengatakan akan datang pada tanggal 25 oktober 2011 atau bila ada keluhan. 6. Mencatat semua hasil pemeriksaan, pendokumentasian telah terisi lengkap

KUNJUNGAN ANC KE 4 Selasa 25 oktober 2011 pukul 09:00 WIB, datang ke Puskesmas Mampang Prapatan sesuai dengan yang dianjurkan.

S : Ibu mengatakan tidak ada keluhan. O : Kedaan umum: baik, kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Stabil, TTV : TD : 100/70 mmHg, Nadi : 86 x/menit, Pernapasan : 22 x/menit, Suhu : 36,5C, Berat badan : 64 kg.

pemeriksaan fisik : mata : kelopak mata tidak bengkak, konjungtiva : tidak pucat, sclera : tidak ikterik. TFU : 31 cm, Leopod 1: pada fundus teraba bulat lunak tidak melenting (bokong), Leopod 2: sebelah kiri abdomen ibu teraba lebar keras seperti papan (punggung) dan sebelah kanan ibu teraba bagian kecil janin (ekstremitas) Leopod 3: Teraba bulat keras dan melenting di atas simfisis (kepala) Leopod 4 : Bagian terendah janin kepala belum masuk PAP TBJ : (31-13) X 155 = 2790 gram. Auskultasi DJJ (+), frekuensi 140 x/menit, teratur, puctum maximum : terdengar jelas tepat di 3 jari di bawah pusat sebelah kiri ibu. Ekstremitas bawah : oedema: -/-, varises : -/-, dan refleks patella (+) kanan dan (+) kiri. A : Ny.N G2P1A0 hamil 37 minggu 5 hari Janin : Tunggal. Hidup, intrauterine letak kepala P: 1. Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini kondisi ibu baik dengan TD : 100/70 mmHg, S : 36,5C, BB : 64 Kg, BJJ : (+) 140 x/menit, Kepala belum masuk PAP, TBJ : 2790 gram. Ibu mengerti dan merasa tenang. 2. Menjelaskan pada ibu tanda-tanda persalinan seperti keluarnya blood show, his yang semakin sering kuat dan teratur, dan keluarnya cairan ketuban ketika telah ada pembukaan. Ibu mengerti dan dapat menjelaskan kembali tanda-tanda persalinan.

3. Menjelaskan dan memberitahukan ibu persiapan persalinan seperti perlengkapan ibu (kain panjang/sarung, baju atasan kancing depan. Celana dalam, pembalut, handuk dan perlengkapan mandi), perlengkapan bayi ( baju, popok, bedong/pernel, handuk, minyak telon dan perlengkapan mandi bayi), dan kantong plastik untuk pakaian kotor. Ibu mengerti dan dapat menyebutkan kembali persiapan persalinan. 4. Memberitahukan pada ibu bila ingin berhubungan seksual dengan suami tidak menjadi masalah bahkan bermanfaat untuk mematangkan serviks/mulut rahim. Ibu mengerti. 5. Memberi penyuluhan tentang KB pasca salin (IUD), tentang keuntungan dan kerugian KB pasca salin (IUD), ibu memahami dan mau menjadi akseptor KB pasca salin (IUD) 6. Memberikan dan menjelaskan aturan minum tablet Fe diminum 1 kali sehari, Calsium Laktat diminum 1 kali sehari. Ibu mengerti dan mengatakan akan minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan. 7. Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 1 mingggu kemudian yaitu pada tanggal 1 november 2011 atau bila ada keluhan. Ibu mengerti dan berjanji akan datang untuk kunjungan atau bila ada keluhan.

KUNJUNGAN ANC KE 5 Selasa 8 november 2011 pukul 09:00 WIB, datang ke Puskesmas Mampang Prapatan sesuai dengan yang dianjurkan.

S : Ibu mengatakan pinggul, pinggang terasa agak sakit, dan perut terasa mules, tapi belum keluar lendir dan air-air. Dan mulesnya masih jarang. Ibu mengatakan telah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran bayinya. Dan telah memberitahukan suami untuk selalu siap mengantar ke puskesmas apabila ada

tanda-tanda persalinan. Ibu mengatakan gerakan janin semakin sering. O : Kedaan umum: baik, kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : Stabil, TTV : TD : 100/70 mmHg, Nadi : 88 x/menit, Pernapasan : 20 x/menit, Suhu : 36,6C, Berat badan : 65 kg. pemeriksaan fisik : mata : kelopak mata tidak bengkak, konjungtiva : tidak pucat, sclera : tidak ikterik. TFU : 32 cm, Leopod 1: pada fundus teraba bulat lunak tidak melenting (bokong), Leopod 2: sebelah kiri abdomen ibu teraba lebar keras seperti papan (punggung) dan sebelah kanan abdomen ibu teraba bagian kecil janin (ekstremitas) Leopod 3: teraba bulat keras sedikit melenting di atas simfisis (kepala) Leopod 4: bagian terendah janin kepala sudah masuk PAP 4/5 TBJ : (32-12) X 155 = 3100 gram. Auskultasi : DJJ (+), frekuensi 131 x/menit, teratur, puctum maximum : terdengar jelas tepat di 3 jari di bawah pusat sebelah kiri ibu. Ekstremitas bawah : oedema: -/-, varises : -/-, dan refleks patella (+) kanan dan (+) kiri. A : Ny.N G2P1A0 hamil 39 minggu 5 hari Janin : Tunggal. Hidup, intrauterine letak kepala

P:

1. Menjelaskan hasil pemeriksaan kepada ibu bahwa keadaan ibu dan janin saat ini baik, usia kehamilannya 39 minggu 5hari, taksiran berat janin 3100 gram, ibu sudah mengetahui hasil pemeriksaan. 2. Mengingatkan kembali pada ibu tandatanda persalinan seperti: keluar darah bercampur lendir, adanya mules yang sering dan keluar airair. Ibu sudah mengetahui tandatanda persalinan. 3. Mengingatkan kembali pada ibu tentang persiapan persalinan, ibu mengatakan akan melahirkan di puskesmas dan telah mempersiapkan segalanya untuk kelahiran bayinya. 4. Memberitahukan kepada ibu untuk melakukan olah raga ringan seperti jalan pagi hari untuk membantu penurunan kepala janin kebawah, ibu mengatakan akan mengikuti saran dari bidan 5. Mengingatkan kembali kepada ibu untuk mengkonsumsi makanan yang bergizi, banyak mengandung zat besi, dan banyak minum air putih, ibu mengerti dan akan melakukannya. 6. Mengingatkan kembali kepada ibu tentang aturan minum tablet Fe diminum 1 kali sehari, Calsium Laktat diminum 1 kali sehari. Ibu mengerti dan mengatakan akan minum obat sesuai dengan dosis yang dianjurkan. 7. Menganjurkan ibu kontrol kembali 1 minggu kemudian pada tanggal 15 november 2011 atau jika ada keluhan, ibu berjanji akan kontrol kembali.

MANAJEMEN KEBIDANAN PADA PERSALINAN LANGKAH I ( Pengkajian ) IDENTITAS : Nama klien : Ny. N Nama Suami Klien : Tn. A

Umur : 32 tahun Umur : 40 tahun Kebangsaan : Indonesia Kebangsaan : Indonesia Agama : Islam Agama : Islam Pendidikan : SMK Pendidikan : SMA Pekerjaan : ibu rumah tangga Pekerjaan : pegawai Swasta Alamat Rumah : Tegal parang utara1 Rt 06/05 no 33a ANAMNESA : Pada tanggal : 10 november 2011 Pukul : 00.00 WIB Oleh : Septiantini 1. Keluhan utama waktu masuk : Ibu datang pkl 00.00 WIB dengan keluhan mules-mules sejak pukul 23.00 WIB dan keluar lendir darah. 2. Riwayat kehamilan ini 2.1 Riwayat menstruasi: Hari pertama haid terakhir: tanggal: 3 febuari 2011, pasti, lamanya: 5 hari, Banyak: 2 x ganti pembalut/hari, siklus: 28 hari, teratur, konsistensi : cair 2.2 Pergerakan fetus dirasakan pertama kali : pada usia kehamilan 16 minggu Pergerakan fetus dalam 24 jam terahir : >10 kali 2.3 Keluhan yang dirasakan pada kehamilan (bila ada jelaskan)

rasa lelah : tidak dirasakan mual dan muntah yang lama : tidak dirasakan nyeri perut : tidak dirasakan panas, menggigil : tidak dirasakan lain lain : tidak ada 2.4 Tanda-tanda persalinan His : ada, sejak jam 23.00 wib Frekuensi : 2 x/ 10 menit Lamanya : 25 detik, kekuatannya: sedang 2.5 Pengeluaran per vaginam Lendir, jumlah : 10cc, warna : merah kecoklatan 2.6 Riwayat imunisasi : TT lengkap 2.2 Buang air besar dan buang air kecil (kapan terakhir, ciri khas) Bab = pk. 20.00 wib bak = 10 menit yang lalu 2.3 Pola tidur : 7 jam pada malam hari dan 1 jam siang hari 2.4 Kelompok lain : tidak ada

3.Riwayat kehamilan, persalinan, nifas yang lalu : No Tgl/Th Partus Tempat

Partus Usia Kehamilan Jenis Partus Penolong Penyulit JK BB (Gram) Pb (Cm) 1 2003 BPS Aterm Spontan Bidan Tidak ada 3500 50 2 Hamil ini

III. PEMERIKSAAN 1. Keadaan umum : baik Kesadaran : compos menthis Keadaan emosional : stabil 2. Tanda-tanda vital Tekanan darah : 110/70 mmHg Nadi : 82x/ menit Suhu Tubuh : 36,7o c Pernafasan : 19x/menit 3. Tinggi badan : 151 cm 4. Pemeriksaan fisik : 4.1 Muka Kelopak mata : tidak oedem Konjungtiva : tidak pucat Sclera : tidak kuning 4.2 Mulut dan Gigi Lidah dan geraham : bersih Gigi : tidak karies 4.3 Kelenjar Tyroid Pembesaran kelenjar : Tidak ada pembengkakkan 4.4 Kelenjar getah bening

Pembesaran : Tidak ada pembengkakkan 4.5 Dada Jantung : Tidak ada mur-mur Paru : Tidak ada wheezing dan ronchi Payudara Pembesaran : Normal Putting susu : Menonjol kanan & kiri Simetris : Simetris kanan & kiri Benjolan : Tidak ada Pengeluaran : Ada, kolostrum Rasa nyeri : Tidak ada Lain-lain : Tidak ada 4.6 Punggung dan pinggang Posisi tulang belakang : Lordosis fisiologis Pinggang (nyeri ketuk) : Tidak ada nyeri ketuk

4.7 Ekstremitas atas dan bawah Oedem : Tidak ada Kekuatan otot dan sendi : Tidak ada Varises : Tidak ada Reflek : (+) kanan / (+) kiri

5. Pemeriksaan kebidanan 5.1 Palpasi: TFU = 32 cm (McDonald) Leopold I : Pada fundus teraba bagian lunak, bulat dan tidak melenting (bokong) Leopold II : Teraba bagian keras memanjang dan rata seperti papan pada bagian kiri abdomen (punggung kiri) dan teraba bagian-bagian kecil disebelah kanan (ekstremitas) Leopold III :Teraba bagian keras, bulat dan tidak melenting pada perut bagian bawah (kepala) Leopold IV : bagian terendah janin sudah masuk PAP (4/5) divergen Kontraksi : Positif 5.2 His Frekuensi : 2x /10 menit Lama : 25 detik Kekuatan : sedang 5.3 Auskultasi Bjj : positif Frekuensi : 136 x/menit Punctum max : 3 jari dibawah pusat sebelah kiri 5.4 Ano-genital (inspeksi) Perineum (luka parut) : tidak ada jahitan : tidak ada Vulva vagina : warna : kemerahan luka : tidak ada

Fistula :tidak ada varises : tidak ada Pengeluaran pervaginam : lendir darah warna : kemerahan Konsistensi : cair jumlah : 10 cc Kelenjar bartolini (pembengkakan) : tidak ada Anus ( hemoroid ) : tidak ada 5.5 Pemeriksaan dalam atas indikasi : Pengumpulan data awal persalinan pukul : 00.10 wib, oleh : septiantini Dinding vagina : tidak ada benjolan Portio : 2cm (tebal) Posisi portio : axial Konsistensi : lunak Pembukaan serviks : 3 cm Ketuban : positif Presentasi fetus : kepala Penurunan bag. Terendah : H I Posisi : UUK kidep IVP : Baik IV. PEMERIKSAAN LABORATORIUM Darah : Hb : tidak dilakukan Golongan darah : Tidak dilakukan Urine : Protein : Negatif Reduksi : Negatif

Pemeriksaan penunjang lain : Tidak ada LANGKAH II : INTERPRETASI DATA Ibu : Ny. N G2 P1 A0 usia kehamilan 40 minggu inpartu kala I fase laten Janin : Janin, tunggal, hidup, interauterine, presentasi kepala

LANGKAH III : MENGIDENTIFIKASI DIAGNOSA MASALAH Tidak ada

LANGKAH IV : TINDAKAN SEGERA Tidak ada

LANGKAH V (Perencanaan) 1) Berikan inform consent setelah di jelaskan akan masuk dalam persalinan 2) Beritahukan hasil pemeriksaan 3) Anjurkan ibu untuk duduk sila atau mobilisasi di sekitar RB 4) Anjurkan ibu untuk menambah cairan dan nutrisi 5) Anjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemih 6) Tanyakan kepada ibu ingin di dampingi oleh siapa saat persalinan

7) Observasi His dan DJJ setiap 1 jam, TTV dan pemeriksaan dalam ulang 4jam kemudian pukul 04.10 WIB atau bila ada indikasi 8) Lakukan pendokumentasian.

LANGAKAH VI (Pelaksanaan) 1) Memberikan penjelasan inform consent pada ibu dan keluarga sebagai persetujuan atas tindakan untuk persalinan 2) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu dan keluarga bahwa saat ini ibu dan janin dalam keadaan baik dengan TD 110/70 mmHg, suhu 36,6oC, nadi 82x/menit, pernafasan 19x/menit, BJJ (+) frekuensi 136x/menit, pembukaan 3 cm dan ketuban positif 3) Menganjurkan ibu untuk menambah cairan dan nutrisi dengan makan maknan gizi seimbang (nasi, sayur, lauk pauk, buah) dan minum air putih atau teh manis agar mendapat asupan energi yang cukup untuk proses persalinan 4) Menganjurkan ibu untuk duduk sila atau mobilisasi di sekitar RB Puskesmas agar mempercepat penurunan kepala dan menambah pembukaan 5) Menganjurkan ibu untuk mengosongkan kandung kemih agar tidak ada yang menghalangi penurunan kepala 6) Menanyakan kepada ibu ingin di dampingi siapa saat persalinan 7) Mengobservasi his dan BJJ setiap 1 jam, TTV dan pemeriksaan dalam ulang 4 jam kemudian pada pukul 04.10 WIB atau bila ada indikasi 8) Melakukan pendokumentasian

LANGKAH VII (Evaluasi) 1) Inform consent telah ditandatangani oleh keluarga 2) Ibu dan keluarga telah diberitahukan hasil pemeriksaan, ibu merasa tegang 3) Ibu dianjurkan untuk menambah cairan dan nutrisi, ibu mengerti dan mau menambah cairan dan nutrisi dengan makan makanan gizi seimbang dan minum air putih 4) Ibu dianjurkan untuk duduk sila atau mobilisasi di sekitar RB puskesmas, ibu mengerti dan mau untuk duduk sila dan mobilisasi di sekitar RB puskesmas 5) Ibu dianjurkan untuk mengosongkan kandung kemih, ibu mengerti dan mau untuk BAK 6) Ibu ingin di dampingi suaminya 7) Observasi his dan BJJ setiap 1 jam, TTV dan pemeriksaan dalam ulang 4 jam kemudian pukul 04.10 atau bila ada indikasi 8) Semua data yang diperoleh telah didokumentasikan. Jam DJJ His Lama Nadi 00.10 Wib 136 x/mnt 2 x/10 mnt 25 detik 82 x/mnt 01.10 Wib 138 x/mnt 2 x/10 mnt 25 detik

80 x/mnt 02.10 Wib 138 x/mnt 3 x/10 mnt 25 detik 82 x/mnt 03.10 Wib 139 x/mnt 3 x/10 mnt 30 detik 81 x/mnt

SOAP 4 JAM KEMUDIAN Kamis, 10 november 2011 pukul : 04.10 WIB S : Ibu mengatakan perutnya terasa lebih mules dan teratur dari sebelumnya. O : keadaan umum : baik kesadaran : compos mentis keadaan emosional : stabil Tanda tanda vital : TD : 110/70 mmHg Nadi :82x/ menit Suhu : 36,6 c Pernafasan :19x/ menit DJJ : 138x/ menit teratur His : 3x/10 menit lamanya 30 detik kekuatan : sedang

Pemeriksaan dalam atas indikasi menilai kemajuan persalinan Dinding vagina : Tidak ada benjolan

Tebal portio : tipis Posisi portio : axila Konsistensi : Lunak Pembukaan : 4 cm Ketuban : ( + ) Penurunan : Hodge II Presentasi : Kepala Posisi : UUK kidep A : Ny. N G2 P1 A0 hamil 40 minggu inpartu kala 1 fase aktif Janin tunggal, hidup, intrauteri, presentasi kepala P : 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa kondisi ibu dan janin saat ini baik dengan TD 110/70 mmHg, suhu 36,6oC, nadi 82x/menit, pernafasan 19x/menit, BJJ (+) frekuensi 144x/menit, pembukaan 4 cm, ketuban positif. Ibu mengerti penjelasan yang telah diberikan. 2) Menyiapkan alat-alat partus, obat-obatan, dan perlengkapan ibu dan bayi. Alat-alat partus, obat-obatan dan perlengkapan ibu dan bayi telah disiapkan. 3) Menganjurkan ibu untuk mobilisasi di tempat tidur. Ibu mengerti dan hanya akan mobilisasi di tempat tidur. 4) Menganjurkan ibu untuk menambah cairan dan nutrisi, ibu mau minum teh manis hangat. 5) Memberikan dukungan/support pada ibu dengan memberikan semangat dan sentuhan pada pinggang ibu saat ibu sedang mules. Ibu merasa lebih baik.

6) Menganjurkan ibu tekhnik relaksasi yang benar dengan cara tarik nafas dari hidung dan dikeluarkan perlahan-lahan lewat mulut. Ibu dapat mempraktekannya dengan benar. 7) Observasi his dan BJJ setiap 1 jam, TTV dan pemeriksaan dalam ulang 3 jam kemudian pukul 07.10 atau bila ada indikasi. 8) Mengevaluasi kemajuan persalinan dengan partograf dan melakukan pendokumentasian.

KALA II Kamis, 10 november 2011 pukul 07.10 WIB S : Ibu tampak gelisah dan mengatakan ingin meneran seperti buang air besar. O : keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis Tanda tanda vital : TD : 110/80 mmHg Pernapasan : 20x/menit N : 88x/menit Suhu : 36,6C Terlihat tanda gejala kala II 1. Adanya dorongan meneran 2. Tekanan pada anus 3. Perineum menonjol 4. Vulva membuka Pemeriksaan dalam atas indikasi menilai kemajuan persalinan Dinding vagina : Tidak ada benjolan

Tebal portio : tidak teraba Posisi portio : tidak teraba Konsistensi : tidak teraba Pembukaan : lengkap Ketuban : + Penurunan : Hodge III-IV Presentasi : Kepala Posisi : UUK didepan DJJ : 143x/ menit teratur His : 4x/10 menit lamanya 45 detik kekuatan : kuat

A : Ny. N G2 P1 A0 hamil 40 minggu partus kala II Janin tunggal, hidup, intra uteri, presentasi kepala, UUK didepan

P :1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa pembukaan sudah lengkap dan terdapat tanda-tanda persalinan maka ibu akan dipimpin untuk bersalin. Ibu mengerti dan siap untuk dipimpin bersalin. 2) Mendekatkan partus set dan menggunakan APD ( Alat Proteksi Diri), partus set telah didekatkan dan APD telah digunakan. 3) Memberikan dukungan/suppport pada ibu dengan memberikan semangat dan sentuhan pada ibu saat ibu sedang mules, ibu merasa lebih baik

4) Mengatur posisi sesuai dengan keinginan ibu, ibu dalam posisi terlentang dengan tangan merangkul kedua kaki, ibu mau melakukannya dan merasa nyaman dengan posisi tersebut 5) Menghadirkan pendamping persalinan, yaitu suami 6) Melakukan amniotomi saat his mulai berkurang, warna ketuban putih keruh, 50 cc. 7) Mengajarkan ibu cara meneran yang baik dan efektif yaitu meneran di saat puncak his seperti saat buang air besar, mata ibu melihat ke perut dan istirahat saat tidak ada his dan memuji ibu, ibu mengerti dan dapat mempraktekannya dengan benar 8) Memberikan ibu minum saat ibu tidak mules untuk memenuhi nutrisi ibu, ibu mau minum teh manis. 9) Memantau BJJ saat tidak ada his/ 15 mnt, BJJ positif frekuensi 138x/menit, teratur 10) Meletakkan tangan kanan dialasi duk untuk menahan perineum ketika ibu mengedan dengan kemajuan kepala yang mulai nampak di vulva setelah diameter 5-6 cm, dan tangan kiri memegang belakang kepala untuk menahan kepala bayi agar tidak terjadi defleksi maksimal, lalu lahirlah seluruh kepala bayi, kemudian cek apakah ada lilitan tali pusat atau tidak, tidak ada lilitan tali pusat. 11) Kemudian tunggu kepala mengadakan putaran paksi luar, kepala bayi dipegang secara biparietal kemudian ditarik curam kebawah untuk melahirkan bahu depan, tarik curam ke atas untuk melahirkan bahu belakang kemudian tangan kanan menyangga dan tangan kiri menyusuri dada bayi sehingga lahirlah seluruh badan bayi. Pukul 07.25 WIB, bayi lahir spontan dengan presentasi letak belakang kepala, bayi segera menangis kuat, warna kulit kemerahan, aktifitas aktif, jenis kelamin Perempuan, caput (-). Kala III Kamis, 10 november 2011 pukul 07.25 WIB

S : Ibu mengatakan perutnya masih terasa mulas, lemas dan merasa senang O : Keadaan umum : baik, Kesadaran : Compos Mentis, Keadaan Emosional : stabil, Palpasi ulang tidak terdapat janin kedua, TFU sepusat, kontraksi uterus baik, kandung kemih kosong, perdarahan : 150 cc, Tanda-tanda pelepasan Plasenta : adanya semburan darah, uterus globular, dan tali pusat memanjang. A : Ny.N P2A0 Partus Kala III P: 1) Memberitahukan prosedur pemeriksaan bahwa plasenta akan dikeluarkan 2) Melakukan palpasi untuk mengetahui adanya janin kedua,hasil tidak ada janin kedua. 3) Melakukan manajemen aktif kala III. Menyuntikan oksitosin 10 IU/IM, oksitosin telah disuntikan. 4) Melakukan PTT, tangan kiri mendorong uterus dengan arah dorso kranial sedangkan tangan kanan meregangkan tali pusat, setelah plasenta tampak di depan vulva dipilin searah. setelah itu langsung melakukan massase fundus uteri dengan 4 jari palmar secara sirkuler selama 15 detik, massase fundus uteri telah dilakukan selama 15 detik atau 15 kali dan kontraksi uterus baik. 5) Mengecek kelengkapan plasenta, tidak ada pengapuran, kotiledon lengkap, selaput amnion dan korion utuh, 2 arteri 1 vena, berat : 500 gram, Insersi : centralis, Panjang : 50 cm, Tebal 2 cm, diameter 20cm. 6) Mengobservasi kontraksi uterus dan perdarahan, kontraksi uterus baik dan perdarahan 150 cc.

Kala IV

Kamis, 10 november 2011 pukul 07.30 WIB S :Ibu mengatakan lelah, masih terasa mulas dan merasa sangat bahagia atas kelahiran puterinya. O :Keadaan umum : baik keadaan emosional : stabil Kesadaran : compos mentis TTV : TD : 110/80 mmHg Nadi : 88x/menit Rr : 20x/menit S : 36,6C Kontraksi uterus : baik TFU : 2 jari bawah pusat Kandung kemih : kosong Perineum : utuh Perdarahan : 40 cc A : Ny.N P2A0 Partus Kala IV

P: 1) Mengecek adanya laserasi jalan lahir, perineum utuh 2) Memberitahu ibu tentang pemasangan KB pasca salin (IUD), ibu mengerti dan bersedia untuk pemasangan KB pasca salin (IUD) 3) Melakukan pemasangan KB IUD dengan menggunakan tekhnik tanpa sentuh, IUD telah terpasang 4) Membersihkan ibu dari darah dan mengganti pakaiannya, ibu telah bersih dan merasa nyaman.

5) Mengajarkan ibu cara massase yang benar, ibu dapat mempraktekannya dengan benar 6) Mengajarkan ibu cara melakukan personal hygene yaitu membersihkan daerah kelamin dengan menggunakan sabun, mengeringkannya dengan handuk kering dan sering mengganti pembalut minimal 3-4 jam sekali, ibu mengerti dan dapat menjelaskan kembali tentang cara personal hygene. 7) Mencukupi kebutuhan cairan dan nutrisi dengan memberikan teh manis, ibu mau minum teh manis. 8) Membantu ibu pada posisi yang nyaman untuk istirahat, ibu telah nyaman 9) Memotivasi ibu untuk memberikan ASI eksklusif dan mengajarkan posisi menyusui yang benar, ibu termotivasi untuk memberikan ASI eksklusif dan ibu dapat menyusui dengan benar 10) Menganjurkan ibu untuk mobilisasi dini dengan miring kiri atau kanan, ibu dapat melakukannya 11) Melakukan rooming in yaitu ibu dan bayi dirawat dalam satu ruangan agar bayi lebih sering disusui dan menjalin kedekatan atau kasih sayang antara ibu dan bayi 12) Mengobservasi TTV, kandung kemih, perdarahan, dan tinggi fundus setiap 15 menit pada jam pertama dan 30 menit pada jam kedua 13) Memberikan dan menjelaskan aturan minum: Memberikan ibu vitamin Vit. A II 1 X 200.000 iu, yang pertama di minum segera setelah lahir yang kedua 24 jam kemudian, vitamin b.com X di minum 3 kali sehari, tablet fe XXX diminum 1 kali sehari diminum tidak boleh dengan air teh dan kopi karena akan mengganggu penyerapan. Ibu mengerti dan akan meminumnya setelah makan. 12) Mencatat dan melengkapi laporan dan partograf.

B. MANAJEMEN KEBIDANAN PADA BAYI BARU LAHIR PENGKAJIAN I. IDENTITAS 1. Bayi Nama Bayi : Bayi Ny. N Jenis kelamin : Perempuan Tanggal/Jam Lahir : 10 November 2011/07.25 WIB Tanda Pengenal : terpasang pink 2. Orang Tua Nama ibu : Ny.N Umur : 32 tahun Agama : Islam Pendidikan : SMK Pekerjaan : IRT Alamat : Tegal parang utara I Rt 6/5 no 33a

II. RIWAYAT KEHAMILAN,PERSALINAN, DAN NIFAS SEKARANG 1. Riwayat Kehamilan

a. Pemeriksaan kehamilan Triwulan I : 3 kali Tempat Pemeriksaan : Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan Keluhan : Mual, Pusing Triwulan II : 3 kali Tempat Pemeriksaan : Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan Keluhan : Tidak ada Triwulan III : 5 kali Tempat Persalinan : Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan Keluhan : tidak ada b. Imunisasi selama kehamilan : imunisasi Tetanus Toxid 2 kali c. Penyakit yang diderita selama hamil : tidak ada

2.RIWAYAT PERSALINAN a. Persalinan ditolong oleh : Septiantini b. Jenis Persalinan : Normal c. Tempat Persalinan : Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan d. Lama Persalinan : 7 jam 30 menit Kala I : 7 jam 10 menit

Kala II : 15 menit Kala III : 5 menit e. Masalah yang terjadi selama persalinan : Tidak ada f. Keadaan air ketuban : Jernih

3. RIWAYAT NIFAS : Normal

III. PEMERIKSAAN FISIK 1.Antropometri a. Berat badan : 3000 gram b. Panjang badan : 49 cm c. Lingkar badan : 32 cm d. Lingkar kepala Fronto occipitalis : 32 cm Mento occipitalisbregmatika : 33 cm Sub mento bregmatika : 33 cm e. Lingkar dada : 33 cm 1. Reflek a) Moro : Positif b) Tonic neek : Positif

c) Walking : Positif d) Rooting : Positif e) Sucking : Positif f) Plantar : Positif g) Babinski : Negative 2. Menangis : Kuat 3. Tanda Vital a) Suhu : 36,6 C b) Nadi : 140 X / menit c) Pernafasan : 49 X / menit 4. Kepala a) Simetris : Ya, simetris b) UUB cembung/cekung : Cekung c) UUK cembung/cekung : Cembung d) Caput sccedaneum : Tidak ada e) Cepal hematoma : Tidak ada f) Sutura : Tidak ada penyusupan g) Luka di kepala : Tidak ada h) Kelainan yang dijumpai : Tidak ada 5. Mata a) Posisi : Simetris

b) Kotoran : Tidak ada c) Perdarahan : Tidak ada d) Sclera : Tidak Ikterik e) Bulu mata : Ada 6. Hidung a) Lubang hidung : ada dua b) Cuping hidung : Tidak ada c) Secret : Tidak ada

7. Mulut a) Simetris : Ya, simetris b) Palantum mole : Tidak ada kelainan c) Palantum durum : Tidak ada kelainan d) Saliva : Ada e) Bibir : Merah muda dan Basah f) Gusi : Ada g) Lidah bintik putih : Tidak ada 8. Telinga a) Simetris : Ya

b) Daun telinga : normal c) Lubang telinga : Ada, kiri dan kanan d) Secret : Tidak ada 9. Leher a) Kelainan : Tidak ada b) Pergerakan : Ada 10. Dada a) Simetris : Ya b) Pernafasan : Normal 49 x / menit c) Retraksi : Tidak ada d) Denyut jantung : Normal 140 x / menit

11. Perut a) Bentuk : Normal, bulat agak datar b) Bising usus : Ada c) Kelainan : Tidak ada 12. Tali Pusat a) Pembuluh darah : 1 vena umbilikus dan 2 arteri b) Perdarahan : Tidak ada c) Kelainan : Tidak ada 13. Kulit

a) Warna : Kemerahan b) Turgor : Normal c) Elastisita : Kenyal d) Lanugo : Ada sedikit pada daerah tangan e) Vernik caseosa : Tidak ada f) Kelainan : Tidak ada 14. Punggung a) Bentuk : Normal b) Kelainan : Tidak ada 15. Ekstremitas a) Tangan : normal kanan / kiri b) Kaki : normal kanan / kiri c) Gerakan : Aktif d) Kuku : normal e) Bentuk kaki : Normal f) Bentuk tangan : Normal g) Kelainan : Tidak ada 16. Genetalia a. Perempuan Hymen : Normal

Labia : labia mayora menutupi labia minor Kelainan : Tidak Ada Anus : belum BAB

Langkah II Interpretasi Data Neonatus cukup bulan sesuai usia kehamilan Langkah III Identifikasi masalah potensial Tidak ada Langkah IV Intervensi Segera Tidak ada Langkah V : Perencanaan 1) Letakkan bayi diatas perut ibu, nilai tangisan, warna kulit, dan tonus otot 2) Bersihkan darah dan lendir dari badan bayi kecuali tangan dan kaki bayi. 3) Klem tali pusat bayi dengan 2 klem tali pusat. 4) Potong tali pusat bayi sambil melindungi bayi dari gunting tali pusat. 5) Ikat tali pusat dengan erat 6) Bungkus tali pusat bayi dengan kassa kering 7) jaga bayi tetap hangat 8) lakukan IMD

9) lakukan pemeriksaan antropometri pada bayi 10) Pakaikan bayi baju dan bedong bayi 11) beritahukan hasil pemeriksaan pada ibu 12) berikan salep mata pada bayi (oxytetraciclyn 1 %) 13) Suntik Vitamin K1 1 mg 14) Merawat gabung ibu dan bayi 15) berikan imunisasi HBO pada pukul 13.25 WIB 16) mandikan bayi 6 jam setelah lahir 17) lakukan observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital bayi. Langkah VI : Pelaksanaan 1) Meletakkan bayi dengan posisi terlentang dengan kepala sedikit lebih rendah dan selimuti dengan handuk diatas perut ibu, serta menilai tangisan bayi, warna kulit, dan tonus otot. 2) Membersihkan darah dan lendir dari badan bayi kecuali tangan dan kaki bayi 3) Mengklem tali pusat bayi dengan 2 klem tali pusat 4) Memotong tali pusat bayi sambil melindungi bayi dari gunting tali pusat 5) Mengikat tali pusat dengan erat 6) Membungkus tali pusat dengan kassa kering. 7) Selimuti bayi agar tetap hangat 8) Melakukan Inisiasi Menyusui Dini selama 1 jam agar terjalin kedekatan dan kasih sayang antara ibu dan bayi

9) melakukan pemeriksaan antropometri pada bayi 10) memakaikan bayi baju dan bedong bayi 11) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa kondisi bayi dalam keadaan baik dan normal dengan JK : perempuan, BB: 3000 gram, PB: 49cm. 12) Memberikan salep mata (oxytetraciclyn 1 %) pada bayi untuk mencegah infeksi 13) Memberikan suntikan Vitamin K 1 mg secara IM di 1/3 paha kiri untuk mencegah perdarahan kranial 14) Merawat gabung ibu dan bayi agar bayi lebih sering disusui dan terbentuk kedekatan antara ibu dan bayi 15) Imunisasi HBO secara IM pada pukul 13.25 WIB, dan memandikan bayi untuk mencegah hipotermi 16) Mengobservasi keadaan umum dan tanda-tanda vital bayi.

Langkah VII : Evaluasi 1) Darah dan lendir telah dibersihkan dari mulut, hidung, dan mata bayi dengan kain bersih atau kassa. 2) Bayi telah diletakkan diatas perut ibu. 3) Tali pusat bayi telah diklem dengan 2 klem tali pusat. 4) Tali pusat bayi telah dipotong sambil dilindungi dari gunting tali pusat 5) Tali pusat telah terikat erat 6) Tali pusat bayi telah dibungkus dengan kassa kering. 7) Bayi terlindung dari hipotermi

8) IMD telah berhasil pada 1 jam pertama 9) Telah dilakukan pemeriksaan antropometri 10) Bayi telah di pakaikan baju dan sudah di bedong 11) Ibu telah diberitahukan hasil pemeriksaan dan ibu merasa senang 12) Bayi telah diberikan salep mata (oxytetraciclyn 1 %), infeksi dapat dicegah 13) Vitamin K 1mg telah diberikan, perdarahan kranial dapat dicegah 14) Ibu dan bayi telah dalam satu ruangan, ibu dan bayi terlihat nyaman 15) Bayi belum di imunisasi HB0, bayi akan di imunisasi pada pukul 13.25 WIB 16) bayi belum dimandikan untuk mencegah hipotermi karena 6 jam setelah bayi lahir jatuh pada pukul 13.25 WIB 17) Observasi keadaan umum dan tanda-tanda vital bayi pada pukul 13.25 WIB. C. MANAJEMEN KEBIDANAN PADA IBU NIFAS PENGKAJIAN IDENTITAS Nama klien : Ny. N Nama Suami Klien : Tn. A Umur : 32 tahun Umur : 40 tahun Kebangsaan : Indonesia Kebangsaan : Indonesia Agama : Islam Agama : Islam

Pendidikan : SMK Pendidikan : SMA Pekerjaan : Ibu rumah tangga Pekerjaan : pegawai Swasta Alamat Kantor : - Alamat Kantor : Alamat Rumah :Tegal parang utara I Rt 6/5 no 33a ANAMNESA Pada tanggal : 10 november 2011 Pukul : 13.25 WIB Oleh : Septiantini 1. Keluhan : Perut masih terasa mulas 2. Riwayat persalinan dan kelahiran 2.1 Jenis persalinan : Spontan Indikasi : Pada tanggal : 10 november 2011 Pukul : 07.25 WIB 2.2 Jenis kelamin anak yang dilahirkan : , BB :3000 gram PB : 49cm Keadaan Bayi : sehat anus : (+), cacat : negatif 2.3 Proses Persalinan Ketuban pecah jam : 07.10 WIB (amniotomi) Kala I : 7 jam 10 menit Kala II : 15 Menit Kala III : 5 Menit Kala IV : perineum : utuh

3. Jumlah perdarahan Kala I : 10cc Kala II : 50 cc Kala III : 150 cc Kala IV : 40 cc Total : + 250 cc 4. Penyulit dan komplikasi Tekanan darah tinggi : Tidak ada Kejang : Tidak ada Infeksi : Tidak ada Lain-lain : Tidak ada 5. Tindakan/pengobatan pada masa persalinan : Injeksi oksitosin 10 IU / IM 6. BAB : Belum 7. BAK : sudah, terakhir pukul: 08.30 WIB PEMERIKSAAN FISIK : 1. Keadaan Umum : Baik Kesadaran : compos mentis 2. Keadaan Emosional : Stabil 3. Tekanan Darah : 120/70 mmHg Nadi : 80 x/menit

Pernafasan : 20 x/menit Suhu : 36,8 C 4. Payudara Pembesaran : Ya Pengeluaran : Kolostrum 5. Uterus TFU : 2 jari dibawah pusat Kontraksi : Baik Konsistensi Uterus : Keras 6. Pengeluaran Lochea : Rubra Warna : merah Jumlah : 30 cc Bau : Khas Konsistensi : cair 7. Perineum : Utuh 8. Kandung kemih : Kosong 9. Ekstremitas Odema : Tidak oedem Reflek Patella : +/+ kanan dan kiri Kemerahan : Tidak ada Langkah II Diagnosa Ny.N P2A0 Post partum 6 jam Langkah III Potensial Masalah Tidak ada

Langkah IV Tindakan Segera Tidak ada Langkah V Perencanaan 1) Informasikan pada ibu hasil pemeriksaan. 2) Jelaskan pada ibu bahwa mulas yang dirasakan ibu adalah hal yang fisiologis. 3) Anjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI 4) Anjurkan ibu untuk menambah cairan dan nutrisi 5) Anjurkan ibu untuk istirahat yang cukup 6) Anjurkan ibu untuk tetap menjaga kebersihan badan dan ajarkan perawatan vulva hygien. 7) Observasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, jumlah perdarahan dan kontraksi uterus. 8) Lakukan pendokumentasian

Langkah VI Pelaksanaan 1) Menginformasikan pada ibu hasil pemeriksaan, bahwa keadaan ibu saat ini baik dengan TD : 120/70 mmHg, nadi 80x/menit, suhu36,8 C . 2) Menjelaskan pada ibu bahwa mulas yang dirasakan ibu adalah hal yang fisiologis yang disebabkan karena kontraksi uterus yang dapat membuat keadaan uterus kembali ke keadaan semula sebelum hamil dan mencegah perdarahan. Dan darah yang keluar pervaginam dinamakan lochea. 3) Menganjurkan ibu untuk menyusui bayinya sesering mungkin

tanpa dijadwal, sesuai keinginan bayinya dengan tetap memberikan ASI Ekslusif (hanya diberikan ASI saja tanpa makanan tambahan lainnya sampai umur bayi 6 bulan), dan menilai serta mengajarkan ibu tehnik menyusui yaitu dengan teori CALM caranya: C = Chin/dagu. Dagu bayi menempel pada payudara ibu A = Areola mamae harus dimasukan kedalam mulut bayi hingga membentuk gambaran seperti bulan sabit. L = Line/garis. Telinga dan tangan bayi membentuk suatu garis lurus M = Mouth/mulut. Mulut harus benar-benar terbuka lebar. 4) Menganjurkan ibu untuk menambah cairan dan nutrisi dengan makan makanan gizi seimbang cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral seperti nasi, lauk pauk terutama yang tinggi protein (ikan, telur, tempe), sayur mayur, buah, dan susu. 5) Menganjurkan ibu untuk istirahat yang cukup, tidur selagi bayi tidur agar ibu tidak lelah dan tekanan darah ibu tidak rendah. 6) Menganjurkan ibu untuk bergerak atau mobilisasi sedini mungkin dan BAK/BAB secara mandiri ke toilet 7) Observasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, jumlah perdarahan dan kontraksi uterus. 8) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian Langkah VII Evaluasi 1) Ibu telah diberitahukan hasil pemeriksaan saat ini, ibu mengerti dan merasa tenang

2) Ibu telah dijelaskan bahwa mulas yang ibu rasakan adalah hal yang fisiologis, ibu mengerti dan merasa tenang 3) Ibu berjanji akan tetap memberikan ASI ekslusif, dan ibu dapat menyusui dengan baik dan benar. 4) Ibu dianjurkan untuk menambah cairan dan nutrisi, ibu mau minum susu dan roti 5) Ibu dianjurkan untuk istirahat yang cukup, ibu berjanji untuk istirahat yang cukup 6) Ibu sudah bisa BAK sendiri ke toilet 7) Observasi keadaan umum ibu, tanda-tanda vital, jumlah perdarahan dan kontraksi uterus. 8) pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NEONATUS 6 JAM Hari/Tanggal : kamis 10 november 2011 Pukul : 13. 25 WIB S : Ibu mengatakan tidak ada keluhan pada bayinya, bayi sudah BAB O : Keadaan Umum : baik Kesadaran : compos mentis Pergerakan bayi : aktif Warna tubuh : kemerahan, tidak ikterik Mata : tidak ada infeksi TTV : suhu : 36,8 C nadi : 138x/menit Pernafasan : 48x/menit, tidak sesak, tidak sianosis Tali pusat : tidak ada perdarahan, bersih, tidak berbau

Reflek menghisap : baik dan kuat Anus : (+) A : Neonatus 6 jam P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu, kondisi bayi ibu saat ini baik dengan suhu : 36,8 C, nadi 138x/menit, pernafasan 48x/menit, bayi tidak ikterik, tali pusat bersih dan tidak berbau, mata tidak ada infeksi, anus (+). Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Memandikan bayi dan mengajarkan ibu cara memandikan bayi dengan menggunakan 2 bak berisi air hangat, 1 untuk sabun dan 1 untuk membilas. Kepala Bayi di keramas terlebih dahulu kemudian menyabuni badan bayi, bersihkan tubuh bayi di bak kedua bagian depan tubuh bayi dan tengkurapkan bayi untuk membersihkan bagian belakang. Ibu mengerti dan dapat menjelaskan kembali cara memandikan bayi dan persiapannya. 3) Melakukan perawatan tali pusat dengan mengajarkannya pada ibu dan keluarga serta mengobservasi keadaannya. Caranya yaitu tali pusat dibersihkan setiap hari agar kering dan bersih tidak boleh memakai alkohol, betadine, atau ramuan apapun. Sebelum tali pusat puput bayi mudah terkena infeksi. Ibu dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan kembali cara perawatan tali pusat 4) Melakukan perlindungan terhadap hipotermi dengan membungkus bayi dengan kain bersih dan kering dan menganjurkan agar bayi dimandikan dengan air hangat. Ibu mengerti dan bayi terlihat nyaman dan tenang 5) Mengimunisasi HB0 0.5 ml dengan menyutikkannya di 1/3 paha kanan luar, bayi telah di imunisasi HB0 6) Mengimunisasi polio secara oral 2 tetes (chas program), bayi telah di imunisasi polio

7) Menganjurkan ibu untuk memberikan ASI sesuai dengan kemauan bayi, tidak perlu dibatasi atau dijadwalkan serta tidak menambah dengan susu formula. Ibu mengerti dan mau melakukan pemberian ASI sesuai dengan kemauan bayi 8) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap. SOAP NIFAS 2 HARI Hari/Tanggal : Jumat, 11November 2011 Pukul : 07.25 WIB S : Ibu mengatakan perutnya terasa mules saat menyusui dan ibu sudah BAK. O : Keadan umum : baik Kesadaran : compos mentis Keadaan emosional : stabil TTV : TD : 100/70 mmHg Nadi : 83x/menit Suhu : 36,8C Pernafasan : 20x/menit Payudara : Pembesaran : ada Pengeluaran : Colostrum Uterus : TFU : 2 jari di bawah pusat Konsistensi : keras Kontraksi : baik Pengeluaran : Lochea : Rubra Warna : merah Jumlah : 20cc Bau : khas Konsistensi : cair Perineum : Utuh Kandung kemih: Kosong Ekstremitas : Oedem : negatif Kemerahan : negatif

Reflek : +/+, kanan dan kiri A : Ny.N P2A0 nifas 2 hari P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini ibu dalam keadaan baik dengan TD : 100/70mmHg, N : 83x/menit, S : 36,8C. Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Menjelaskan pada ibu bahwa mulas yang ibu rasakan adalah hal yang normal karena otot polos pada payudara berkontraksi untuk mengeluarkan ASI maka otot polos yang ada pada uterus/rahim pun berkontraksi untuk mengembalikan uterus ke ukuran sebelum hamil. Ibu mengerti dan merasa tenang. 3) Mengingatkan kembali pada ibu untuk membersihkan daerah kelaminnya dengan sabun dan air hangat, mengeringkannya dengan handuk, dan sering mengganti pembalut minimal 3-4 jam sekali. Ibu dapat menjelaskan kembali cara membersihkan daerah kelamin. 4) Mengingatkan kembali pada ibu untuk makan makanan gizi seimbang cukup karbohidrat, protein, lemak, vitamin, dan mineral terutama yang kaya protein seperti ikan, daging, dan telur agar luka perineum cepat kering serta makanan tinggi serat seperti sayur, mangga, jeruk, dan pepaya agar BAB lancar dan tidak sakit. Ibu masih mengingatnya dan dapat menjelaskan kembali makanan dengan gizi seimbang 5) Mengingatkan kembali ibu untuk tetap memberikan ASI sampai 6 bulan agar bayi mendapat cukup nutrisi dan kekebalan tubuh yang baik. Ibu mengerti dan mau memberikan ASI eksklusif 6) Mengajarkan ibu cara melakukan perawatan payudara dengan massase dan kompres air hangat bergantian dengan air dingin. Ibu mengerti dan dapat mempraktekannya dengan benar 7) Memberitahukan ibu dan keluarga tentang tanda-tanda

bahaya pada ibu nifas seperti kepala pusing yang terus-menerus, suhu tubuh panas lebih dari 380C, tidak ada mules, konsistensi rahim tidak keras, pengeluaran darah bau, terdapat gumpalan darah, perdarahan banyak, tidak bisa BAK. Segera memberitahu petugas kesehatan, ibu telah mengerti dan bersedia memberitahu petugas kesehatan jika ada tanda tersebut. 8) Menyelesaikan administrasi, dan menyerahkan surat kontrol. Administrasi telah diselesaikan, dan surat kontrol telah diberikan 9) Menganjurkan ibu untuk kunjungan ulang 6 hari post partum yaitu pada tanggal 15 november 2011 atau bila ada keluhan. Ibu mengatakan akan datang untuk kunjungan ulang pada tanggal 15 november 2011 10) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NEONATUS 2 HARI Hari/Tanggal : Jumat, 11 november 2011 Pukul : 07.25 WIB S : Ibu mengatakan bayi sudah menyusu kuat, sudah BAB dan BAK O : Keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis Pergerakan : aktif TTV : Nadi : 130x/menit Suhu : 37,2C Pernafasan : 42x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis. Warna tubuh : kemerahan Tali pusat : tidak ada perdarahan, bersih, tidak berbau Mata : tidak ada infeksi

Reflek menghisap: (+), baik dan kuat Anus : (+) Tidak ada tanda bahaya pada bayi A : Neonatus 2 hari P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini bayi dalam kondisi baik dengan Nadi : 130x/menit, Suhu : 37,2C, Pernafasan : 42x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis, bayi tidak ikhterik, tali pusat bersih dan tidak ada tanda infeksi, mata tidak ada infeksi, anus (+), tidak ada tanda bahaya pada bayi. Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Memandikan bayi pada pukul 05.30 WIB dan mengingatkan ibu cara memandikan bayi dengan menggunakan 2 bak berisi air hangat, 1 untuk sabun dan 1 untuk membilas. Kepala Bayi di keramas terlebih dahulu kemudian menyabuni badan bayi, bersihkan tubuh bayi di bak kedua bagian depan tubuh bayi dan tengkurapkan bayi untuk membersihkan bagian belakang. Ibu mengerti dan dapat menjelaskan kembali cara memandikan bayi dan persiapannya. 3) Mengajarkan ibu cara melakukan perawatan tali pusat yaitu dengan hanya ditutup menggunakan kassa yang diganti setiap kali mandi atau lembab tanpa menggunakan alkohol, betadine, atau ramuan apapun Sebelum tali pusat puput bayi mudah terkena infeksi, hubungi bidan bila tali pusat merah, bengkak, basah, dan berbau. Ibu mengerti dan dapat mempraktekannya dengan benar. 4) Menganjurkan pada ibu untuk tidak memakaikan gurita pada bayinya karena akan menggangu pernafasan, pertumbuhan, dan perkembangan bayi. Ibu mengerti dan berjanji tidak akan memakaikan gurita lagi pada bayinya. 5) Mengajarkan pada ibu cara menjemur bayi yaitu dengan melepaskan pakaiannya kecuali popok, dijemur pukul 08.00

dengan mata bayi tidak menghadap ke matahari, 15 menit dalam posisi teerlentang dan 15 menit dalam posisi tengkurap. Ibu mengerti dan dapat mempraktekannya dengan benar. 6) Memberitahu ibu dan keluarga tanda tanda bahaya pada bayi baru lahir, seperti perdarahan tali pusat, panas tinggi, kulit kuning. Meminta ibu dan keluarga untuk segera menghubungi bidan jika menemukan tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir, Ibu dan keluarga mengerti tentang tanda tanda bahaya pada bayi baru lahir, dan mengatakan akan segera menghubungi Bidan jika menemukan tanda-tanda bahaya pada bayi baru lahir. 7) Memberikan dan menandatangani berita acara penyerahan bayi, berita acara penyerahan bayi telah ditandatangani. 8) Menjadwalkan untuk kunjungan ulang 6 hari setelah bayi lahir yaitu pada tanggal 15 november 2011 atau bila ada keluhan pada bayi. Ibu mengatakan akan kunjungan ulang pada tanggal 15 november 2011 atau bila ada keluhan pada bayi. 9) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NIFAS 6 HARI Hari/Tanggal : Selasa, 15 november 2011 Pukul : 09.00 WIB S : Ibu mengatakan tidak ada keluhan. O : Keadan umum : baik Kesadaran : compos mentis Keadaan emosional : stabil TTV : TD : 110/80 mmHg Nadi : 80x/menit Suhu : 36,5C Pernafasan : 20x/menit Payudara : Pembesaran : ada Pengeluaran : ASI

Uterus : TFU : 3 jari di atas syimpisis Konsistensi : keras Kontraksi : baik Pengeluaran : Lochea : Sanguinolenta Warna : merah kecoklatan Jumlah : 5cc Bau : khas Konsistensi : cair Perineum : Utuh Kandung kemih: Kosong Ekstremitas : Oedem : Tidak Oedem Kemerahan : Tidak ada Reflek : +/+ kanan dan kiri A : Ny.N P2A0 nifas 6 hari P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini ibu dalam keadaan baik dengan TD : 110/80mmHg, N : 80x/menit, S : 36,5C, tidak ada tanda-tanda infeksi. Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Menganjurkan ibu untuk tetap mengkonsumsi makanan menu gizi seimbang terutama tinggi protein ( ikan, telur, daging). Ibu mengerti, dapat menjelaskan kembali setelah dilakukan feedback dan mengatakan akan tetap mengkonsumsi makanan yang telah dianjurkan. 3) Menjelaskan pada ibu manfaat senam nifas yaitu: Memperbaiki elastisitas otot-otot dasar panggul yang telah kendur, meningkatkan ketenangan, memperlancar peredaran darah, Menghindari pembengkakan pada pergelangan kaki, Mengembalikan rahim pada posisi semula, mengembalikan kerampingan tubuh, Membantu kelancaran pengeluaran ASI 4) Menjadwalkan untuk kunjungan rumah 2 minggu post partum pada tanggal 23 november 2011. Ibu bersedia untuk dikunjungi

5) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NEONATUS 6 HARI Hari/Tanggal : selasa, 15 november 2011 Pukul : 09.30 WIB S : Ibu mengatakan bayi menyusu kuat, , BAK > 5x sehari, BAB 2-3x sehari, dan tali pusat telah puput. O : Keadaan Umum : baik Kesadaran : compos mentis BB : 3100 gram PB : 49 cm Suhu : 36,5C Nadi : 125x/menit Pernafasan : 44x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis Warna tubuh : kemerahan, tidak ikhterik Tali Pusat : sudah puput, kering, tidak berbau pada pukul 08.00 WIB Tidak ada infeksi dan tidak ditemukan tanda bahaya pada bayi A : Neonatus 6 hari P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini bayi dalam kondisi baik dengan BB : 3100 gram, PB : 49cm, Nadi : 125x/menit, Suhu : 36,5C, Pernafasan : 44x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis, bayi tidak ikhterik, tali pusat puput, kering dan tidak ada tanda infeksi, tidak ada tanda bahaya pada bayi. Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Menganjurkan ibu untuk menengkurapkan bayi sesekali sebagai posisi tidur bayi untuk melatih gerak motorik bayi dan pernafasan bayi serta agar kepala bayi tidak cekung karena selalu tidur terlentang memakai bantal. Ibu mengerti dan dapat

mempraktekannya dengan benar. 3) Menanyakan pada ibu apakah bayi sering dijemur dan berapa lama bayi dijemur. Ibu mengatakan bayi setiap pagi dijemur pukul 08.00, 15 menit dalam posisi terlenteng dan 15 menit dalam posisi tengkurap dengan hanya menggunakan popok dan mata bayi tidak menghadap ke matahari. 4) Menjadwalkan untuk kunjungan rumah 2 minggu setelah bayi lahir yaitu pada tanggal 23 november 2011. Ibu bersedia untuk dikunjungi. 5) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NIFAS 2 MINGGU Hari/Tanggal : Rabu, 23 november 2011 Pukul : 13.00 WIB S : Ibu mengatakan tetap memberikan ASI saja. O : Keadan umum : baik Kesadaran : compos mentis Keadaan emosional : stabil TTV : TD : 110/70 mmHg Nadi : 80x/menit Suhu : 36,6C Pernafasan : 20x/menit Payudara : Pembesaran : ada Pengeluaran : ASI Uterus : TFU : tidak teraba Pengeluaran : Lochea : Serosa Warna : kekuningan Jumlah : 3cc Bau : khas Konsistensi : cair Kandung kemih: Kosong

Ekstremitas : Oedem : Tidak oedem Kemerahan : Tidak ada Reflek : +/+, kanan dan kiri A : P2A0 nifas 2 minggu P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini ibu dalam keadaan baik dengan TD : 110/70mmHg, N : 80x/menit, S : 36.6C, TFU : tidak teraba, Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Mengingatkan kembali pada ibu untuk tetap mengkonsumsi tambahan kalori dengan gizi seimbang dan tidak ada pantangan, ibu mengatakan sehari makan 3-4 kali dengan sayur dan laukpauk. 3) Mengingatkan kembali agar ibu dapat beristirahat yang cukup, ibu mengatakan jika bayinya tertidur maka ibupun beristirahat/tidur secukupnya 4) Mengingatkan kembali pada ibu untuk memberikan ASI Ekslusif tanpa memberikan makanan tambahan apapun selama 6 bulan. Ibu berjanji akan tetap memberikan ASI Ekslusif. 5) Memberitahu ibu boleh melanjutkan hubungan seksualnya apabila ibu nyaman, ibu mengatakan masih tetap akan menunggu sampai 40 hari atau masa nifas selesai. 6) Membuat janji dengan ibu untuk pertemuan selanjutnya pada tanggal 21 desember 2011, ibu bersedia untuk dikunjungi. 7) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NEONATUS 2 MINGGU Hari/Tanggal : Rabu, 23 november 2011 Pukul : 13.00 WIB

S : Ibu mengatakan bayi tampak sehat, kuat menyusu, dan tidak diberikan makanan apapun kecuali ASI, BAK lancar, BAB normal. O : Keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis Pergerakan : aktif Warna tubuh : kemerahan Mata : tidak ada infeksi Reflek menghisap: (+), baik dan kuat BB : 3500 gram PB : 52cm TTV : Nadi : 138x/menit Suhu : 36,7C Pernafasan : 44x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis. Tidak ada infeksi dan tidak ditemukan tanda bahaya pada bayi A : Neonatus 2 minggu P: 1) Memberitahukan hasil pemeriksaan pada ibu bahwa saat ini bayi dalam kondisi baik dengan BB : 3500gram, PB : 52cm, Nadi : 138x/menit, Suhu : 36,7C, Pernafasan : 44x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis, bayi tidak ikhterik, tidak ada infeksi dan tidak ada tanda bahaya pada bayi. Ibu mengerti dan merasa tenang. 2) Mengingatkan kembali pada ibu untuk menjemur bayinya setiap pagi hari, ibu mengatakan selalu menjemur bayi tiap pagi jam 08.00Wib. 3) Mengingatkan kembali pada ibu untuk mengganti popok setelah bayi BAB/BAK dan membersihkannya dengan air bersih

dan sabun bayi, ibu sudah mengerti untuk menjaga kebersihan bayinya 4) Mengingatkan kembali kepada ibu untuk tetap memberikan ASI Ekslusif pada bayinya dan sendawakan bayinya setelah disusui, ibu mengerti tentang penjelasan yang telah diberikan. 5) Mengingatkan kembali pada ibu tentang tanda-tanda bahaya pada bayi antara lain bayi tidak mau menyusu, badan bayi panas, keluar cairan pada tali pusat dan berbau, bayi kejang, menangis terus menerus, tidak BAB, muntah terus, dan menganjurkan pada ibu segera membawa ketempat pelayanan kesehatan bila terjadi tanda bahaya. Ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan. 6) Memberitahu pada ibu untuk menindik bayinya di puskesmas. Ibu mengatakan akan membawa bayinya kepuskesmas untuk di tindik. 7) Memberikan konseling tentang imunisasi dan menganjurkan ibu untuk mengimunisasi bayinya, ibu mengerti dan akan membawa bayinya untuk imunisasi. 8) Membuat janji dengan ibu untuk pertemuan selanjutnya pada tanggal 21 desember 2011, ibu bersedia untuk dikunjungi. 9) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NIFAS 6 MINGGU Hari/Tanggal : Rabu, 21 desember 2011 Pukul : 17.00 WIB S :Ibu mengatakan tidak ada keluhan O : Keadan umum : baik Kesadaran : compos mentis Keadaan emosional : stabil TTV :

TD : 110/80 mmHg Nadi : 80x/menit Suhu : 36,7C Pernafasan : 21x/menit Payudara : Pembesaran : ada Pengeluaran : ASI Uterus : TFU : tidak teraba Pengeluaran : Lochea : Alba Warna : putih Jumlah : sedikit Bau : khas Konsistensi : cair Kandung kemih: Kosong Ekstremitas : Oedem : Tidak oedem Kemerahan : Tidak ada Reflek : +/+, kanan dan kiri A : Ny.N P2A0 nifas 6 minggu P: 1) Menjelaskan hasil pemeriksaan, bahwa masa nifas ibu berakhir dalam keadaan normal, ibu mengerti tentang penjelasan yang diberikan. 2) Mengingatkan kembali pada ibu untuk tetap mengkonsumsi tambahan kalori dengan gizi seimbang dan tidak pantangan, ibu mengatakan sudah melakukannya. 3) Mengingatkan kembali agar ibu dapat beristirahat yang cukup, ibu mengatakan jika bayinya tertidur maka ibupun beristirahat/tidur secukupnya. 4) Mengingatkan kembali pada ibu tentang ASI Ekslusif tanpa memberikan makanan tambahan apapun selama 6 bulan. Ibu berjanji akan tetap memberikan ASI Ekslusif. 5) Menganjurkan ibu untuk kontrol teratur kb iudnya, ibu akan

kontrol secara teratur iud nya di puskesmas. 6) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap SOAP NEONATUS 6 MINGGU Hari/Tanggal : Rabu, 21 desember 2011 Pukul : 17.00 WIB S : Ibu mengatakan masih menyusui bayinya secara ekslusif. O : Keadaan umum : baik Kesadaran : compos mentis Pergerakan : aktif Warna tubuh : kemerahan Mata : tidak ada infeksi Reflek menghisap: (+), baik dan kuat BB : 4500 gram PB : 53cm LK : 33cm LD : 34cm TTV : Nadi : 120x/menit Suhu : 36,6C Pernafasan : 40x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis. Tidak ada infeksi dan tidak ditemukan tanda bahaya pada bayi A : Neonatus 6 minggu P: 1) Memberitahu ibu bahwa bayinya saat ini sehat dengan BB : 4500gram, PB : 53 cm, LK : 33 cm, LD : 34 cm, Nadi : 120x/menit, Suhu : 36,6C, Pernafasan : 40x/menit, tidak sesak dan tidak sianosis, bayi tidak ikhterik, tidak ada infeksi dan tidak ada tanda

bahaya pada bayi. ibu telah diberitahu bahwa bayinya dalam keadaan sehat dan ibu mengeri bahwa bayinya dalam keadaan sehat. 2) Memberikan imunisasi BCG 0,05 ml di lengan sebelah kanan secara IC, bayi telah di imunisasi BCG 3) Menganjurkan ibu untuk tetap memberikan ASI saja kepada bayinya tanpa batas waktu, ibu akan tetap memberi ASI kepada bayinya tanpa batas waktu. 4) Memberitahu ibu manfaat Imunisasi dan penimbangan serta menganjurkan ibu agar bayi di imunisasi dan di timbang setiap bulan. Ibu dapat menjelaskan kembali tentang manfaat imunisasi dan pentingnya penimbangan dan akan menimbang bayinya setiap bulan. 5) Mengingatkan kembali pada ibu dan keluarga agar segera menghubungi bidan apabila mengenali tanda-tanda bahaya pada bayi seperti : bayi tidak mau menyusu, badan bayi panas, keluar cairan dari tali pusat dan berbau, bayi kejang, menangis terusmenerus, muntah terus. Ibu dan keluarga mengerti dan dapat menjelaskan kembali tentang tanda-tanda bahaya pada bayi dan akan segera menghubungi bidan apabila terdapat tanda-tanda bahaya pada bayinya. 6) Mencatat hasil pemeriksaan dalam pendokumentasian, pendokumentasian telah terisi lengkap. BAB V PEMBAHASAN Setelah penulis melakukan Asuhan Kebidanan pada Ny. N mulai dari kehamilan, persalinan, nifas dan bayi baru lahir di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan, yang di mulai pada usia kehamilan 31 minggu 5 hari sejak tanggal 13 september 2011 sampai dengan tanggal 21 desember 2011. Maka pada bab ini penulis mencoba membahas kesenjangan antara teori dengan kenyataan pada lahan praktek.

I. KEHAMILAN Selama masa kehamilan Ny. N melakukaan pemeriksaan sebanyak 11 kali di Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan yakni 3 kali pada triwulan 1, 3 kali pada triwulan 2, dan 5 kali pada triwulan 3. Hal ini merupakan sebuah kesadaran klien akan pentingnya pemeriksaan kehamilan. Hal ini sesuai dengan kebijakan program Menurut Saefuddin (2010) kunjungan antenatal sebaiknya dilakukan sedikitnya 4 kali selama masa kehamilan : Satu kali kunjungan selama trimester pertama (sebelum 14 minggu), Satu kali kunjungan selama trimester kedua (antara minggu 14 28), Dua kali kunjungan selama trimester ketiga (antara minggu 28 36 dan sesudah minggu ke 36) Kenaikan berat badan Ny. N selama kehamilan sebanyak 7 kg, hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa kenaikan berat badan ibu hamil normal berkisar 6,5 kg 16,5 kg. (Winknjosastro 2008) Pelayanan ANC yang dilakukan pada Ny. N menggunakan Standar 10T yaitu Timbang berat badan dan Tinggi badan, mengukur Tekanan darah, mengukur status gizi ibu hamil/ukur lingkar lengan atas, mengukur tinggi fundus uteri, menentukan persentasi dan denyut jantung janin, pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT), pemberian tablet zat besi 90 tablet, tes penyakit menular seksual, tatalaksana kasus dan temu wicara. Hal ini sesuai dengan teori, pemberian pelayanan ANC menggunakan Standar 10 T yaitu Timbang berat badan dan Tinggi badan, mengukur Tekanan darah, mengukur status gizi ibu hamil/ukur lingkar lengan atas, mengukur tinggi fundus uteri, menentukan persentasi dan denyut jantung janin, pemberian imunisasi tetanus toxoid (TT), pemberian tablet zat besi 90 tablet, tes penyakit menular seksual, tatalaksana kasus dan temu wicara (Depkes, 2009). Pada pemeriksaan kehamilan yang dilakukan pada Ny.N tidak ditemukan adanya tanda-tanda bahaya pada kehamilan seperti Perdarahan pervaginam, Sakit kepala yang hebat , menetap dan

tidak hilang, Perubahan visual secara tiba-tiba : pandangan kabur., Nyeri abdomen yang hebat, Bengkak pada muka atau tangan, Bayi kurang bergerak seperti biasanya Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa dalam kehamilan yang dapat membahayakan ibu dan janin seperti Perdarahan pervaginam, Sakit kepala yang hebat , menetap dan tidak hilang, Perubahan visual secara tiba-tiba : pandangan kabur., Nyeri abdomen yang hebat, Bengkak pada muka atau tangan, Bayi kurang bergerak seperti biasanya (Depkes, 2008).

II. PERSALINAN Pada tanggal 10 November 2011, Ny.N datang ke Puskesmas Kecamatan Mampang Prapatan dengan keluhan mules-mules, HPHT pada tanggal 3 Febuari 2011 berarti usia kehamilan Ny.N pada saat ini berusia 40 minggu. Hal ini sesuai antara teori dan kasus dimana dalam teori Saifudin (2009) menyebutkan Persalinan dan kelahiran normal adalah proses pengeluaran janin yang terjadi pada kehamilan cukup bulan (37-42 minggu), lahir spontan dengan presentasi belakang kepala yang berlangsung dalam 18 jam tanpa komplikasi baik pada ibu maupun janin. A. KALA I Pada kasus Ny. N sebelum persalinan sudah ada tanda-tanda persalinan seperti ibu mengeluh mules-mules dan keluar lendir, hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR 2008 yang menyebutkan tanda dan gejala inpartu seperti adanya penipisan dan pembukaan serviks, kontraksi uterus yang mengakibatkan perubahan servik ( frekuensi minimal 2 kali dalam 10 menit), dan cairan lendir bercampur darah (show) melalui vagina. Pada saat pengkajian kala I pada Ny.N didapatkan kemajuan persalinan tidak melewati garis waspada pada partograf. Kala I pada Ny. N berlangsung selama 7 jam lewat 10 menit, keadaan tersebut menunjukkan bahwa tidak terdapat penyimpangan atau komplikasi pada kecepatan pembukaan serviks 1 cm per30 menit selama persalinan fase aktif. Hal ini sesuai dengan teori Saifuddin, 2002 pada fase aktif Lamanya kala 1 untuk

primigravida berlangsung 13 jam, sedangkan multigravida sekitar 7 jam dengan perhitungan pembukaan primigravida 1 cm/jam dan pembukaan multigravida 2 cm/jam. Penatalaksanaan yang diberikan adalah melakukan observasi keadaan umum, tanda tanda vital, keadaan janin dan kemajuan persalinan. Hal ini sesuai dengan teori menurut Saifudin (2006) dalam penggunaan partograf bahwa observasi kemajuan persalinan adalah utuk memantau keadaan ibu dan janin tanpa menghiraukan apakah persalinan itu normal atau dengan komplikasi. B. KALA II Pada Ny. N persalinan kala II berlangsung selama 15 menit. Hal ini sesuai dengan teori. Dalam teori, lama kala II maksimal pada multipara berlangsung 1 jam dan pada primi 2 jam. (sumarah, 2008). C. KALA III Kala III pada Ny. N berlangsung 5 menit, hal ini sesuai dengan teori sumarah, 2008 yang menyebutkan pelepasan plasenta yang berlangsung tidak lebih dari 30 menit. D. KALA IV Menurut Saifuddin, 2002, observasi yang dilakukan pada kala IV yaitu setiap 15 menit dalam satu jam pertama dan setiap 30 menit dalam satu jam kedua. Terdapat kesesuaian antara teori dan kasus dimana pada kasus Ny. N, pemantauan kala IV semua dilakukan dengan baik dan hasilnya di dokumentasikan dalam bentuk catatan dan pengisian partograf dengan lengkap. Ibu diberikan vitamin A 200.000 IU sebanyak 2 kapsul yang diminum segera setelah melahirkan dan kapsul kedua dibe rikan selang waktu 24jam dari pemberian kapsul pertama. Hal ini sesuai dengan teori WHO/UNICEF/IVACG Task Force, 2006 merekomendasikan pemberian 2 dosis vitamin A 200.000 IU dalam selang waktu 24 jam pada ibu pasca bersalin untuk memperbaiki kadar vitamin A pada ASI dan mencegah

terjadinya lecet puting susu. Selain itu suplementasi vitamin A akan meningkatkan daya tahan tubuh ibu terhadap infeksi perlukaan atau laserasi akibat proses persalinan (JNPK-KR 2008) Metode kontrasepsi yang di pilih Ny.N adalah KB IUD pasca salin. Hal ini sesuai dengan pernyataan bahwa keuntungan kontrasepsi IUD pasca salin antara lain: Praktis dan ekonomis, Efektif tinggi (angka kegagalan kecil), Kesuburan segera kembali jika di buka, Tidak harus mengingat seperti kontrasepsi pil, Tidak mengganggu produksi ASI. Hal ini sesuai dengan kebutuhan ibu menyusui yang mempunyai anak 6 bulan untuk memberikan ASI ekslusif. (Wiknjosastro , 2002) III. BAYI BARU LAHIR Pada pengkajian bayi Ny. N diperoleh data bayi baru lahir spontan dengan letak belakang kepala pada tanggal 10 november 2011 pukul 07.25 WIB dengan berat 3000 gram dan panjang 49 cm pada usia kehamilan ibu 40 minggu. Pada pemeriksaan tidak ditemukan adanya kelainan dan bayi dalam keadaan sehat. Hal ini sesuai dengan teori bahwa bayi baru lahir normal adalah bayi yang dilahirkan dari kehamilan 37 minggu sampai 42 minggu dan berat lahir dari 2500-4000 gram. (Wiknjosastro,2005). Pelaksanaan IMD pada bayi Ny.N berlangsung selama 60 menit dan bayi berhasil mencari puting susu ibunya pada 60 menit pertama. Hal ini sesuai dengan teori yang mengatakan bahwa sebagian besar bayi akan berhasil malakukan Inisisasi Menyusu Dini dalam waktu 30-60 menit.(JNPK-KR, 2008). Penatalaksanaan yang diberikan adalah melakukan perawatan bayi baru lahir yaitu, membersihkan jalan nafas, memotong tali pusat dan merawat tali pusat. Hal ini sesuai dengan pernyataan menurut Saifudin (2002), bahwa tujuan utama perawatan segera setelah lahir ialah membersihkan jalan nafas, memotong dan merawat tali pusat serta mempertahankan suhu tubuh bayi. Bayi di berikan salep mata antibiotik oxytetracycline 1 %, hal ini sesuai dengan teori Saefuddin (2002), bahwa Pemberian obat mata eritromisin 0,5% atau tetrasiklin 1% dianjurkan untuk mencegah penyakit mata karena klamidia (penyakit menular

seksual). Obat mata perlu diberikan pada jam pertama setelah persalinan. Bayi Ny.N dimandikan setelah usia 6 jam. Hal ini sesuai dengan teori yang menyebutkan bahwa memandikan bayi dalam beberapa jam pertama setelah lahir dapat menyebabkan hipotermi yang sangat membahayakan kesehatan bayi baru lahir. Maka jangan memandikan bayi setidak-tidaknya 6 jam setelah lahir. (JNPK,2008) Pada kunjungan hari ke 6 keadaan bayi baik, tali pusat sudah puput, berat badan bayi ada kenaikan menjadi 3100 gram. Hal ini sesuai dengan teori JNPK-KR (2008) yang mengatakan dalam 1minggu pertama tidak ada penurunan berat badan atau kurang dari 10 %. Pada kunjungan 2 minggu keadaan bayi baik dari hasil pemeriksaan diperoleh hasil adanya kenaikan berat badan bayi menjadi 3500 gram dan tidak ditemukan adanya masalah pada bayi, ibu hanya memberikan ASI saja tanpa pemberian makanan pendamping ASI dan ASI diberikan setiap saat bayi membutuhkan. Hal ini sesuai dengan teori pemenuhan ASI Eksklusif dalam 6 bulan pertama dan MP-ASI (Makanan Pendamping ASI) untuk 6 bulan kedua.(JNPK-KR, 2008). Pada kunjungan 6 minggu, bayi sudah mendapat imunisasi BCG pada tanggal 21 desember 2011 dan polio pada tanggal 10 November 2011 di puskesmas untuk mengikuti crass program,. Hal ini tidak sesuai dengan teori BCG dan polio oral diberikan 1 kali pada bayi berusia 1 bulan.(Depkes, 2005). IV. NIFAS Menurut Saifuddin, 2002 bahwa kunjungan masa nifas paling sedikit dilakukan sebanyak 4 kali yaitu 6 8 jam setelah persalinan, 6 hari setelah persalinan, 2 minggu setelah persalinan dan 6 minggu setelah persalinan. Hal ini sesuai dengan yang dilakukan penulis yaitu melakukan kunjungan masa nifas sebanyak 5 kali, yaitu 6 8 jam setelah persalinan, 2 hari setelah persalinan, 6 hari setelah persalinan, 2 minggu setelah persalinan dan 6 minggu setelah persalinan. Hal tersebut menunjukkan

kesesuaian antara teori dengan kasus yang ada. Pada nifas hari pertama, 2 jam postpartum didapati TFU 2 jari bawah pusat, nifas hari ke enam TFU 3 jari di bawah pusat, nifas 2 minggu TFU sudah tidak teraba. Lochea pada hari pertama terdapat lochea rubra, hari ke enam terdapat lochea sanguinolenta, nifas 2 minggu terdapat lochea serosa,dan hal ini sesuai dengan teori Wiknjosastro, ( 2005 ).