Anda di halaman 1dari 6

BIROKRASI SEBAGAI PELAYAN MASYARAKAT (PUBLIK SERVANTS)

1.

Latar Belakang

Istilah Bureaucratie (Perancis) pertama kali dipakai oleh Menteri perdagangan Perancis dalam abad 18, untuk menunjukan Tindakan dalam pemerintahan (Government in action). Sejak itulah istilah tersebut kemudian menyebar ke Jerman yang dipakai oleh Max Weber dalam istilah Jerman Burocratie. Perdebatan mengenai birokrasi diperbincangkan oleh para ahli sehingga adanya pro-kontra mengenai birokrasi itu sendiri. Selama tiga abad, sejak abad kedelapan belas hingga abad keduapuluh, birokrasi dipercaya menjadi satu-satunya organisasi yang bisa mengatur mekanisme pemerintahan dengan efisien. Bahkan sistem politik di pelbagai negara identik dengan birokrasi. Terutama negara-negara yang menganut paham sosialisme atau negara yang disebut Blok Timur, kelompok yang kini telah Almarhum. Karena birokrasi yang diidealkan oleh Weber ternyata berubah menjadi sebuah monster yang kejam. Istilah Birokrasi identik dengan cara kerja yang sama dengan cara kerja aparatur pemerintah. Artinya, cara kerja aparatur pemerintah sendiri sudah dinilai tidak bekerja sebagaimana mestinya. Mereka dianggap bukan menjadi pelayan masyarakat, tetapi menjadi kekuasaan yang harus dilayani oleh masyarakat. Alasanalasan ini yang mendorong saya untuk menyampaikan makalah mengenai studi kasus BIROKRASI SEBAGAI PELAYAN MASYARAKAT (PUBLIC SERVANTS)

2. Birokrasi: Suatu Pandangan Konseptual Max Weber dalam Stephen P. Robbins (1994 : 337-338) memandang birokrasi sebagai hubungan kolektif bagi golongan pejabat, yakni kelompok tertentu yang pekerjaan dan pengaruhnya dapat dilihat dalam semua jenis organisasi. Selanjutnya, menurut Weber birokrasi merupakan proses yang tidak dapat dihindari. Weber mengartikan birokrasi dengan pertumbuhan. Administrasi dalam bentuknya yang paling rasional, terlebih dahulu mensyaratkan proposisi-proposisi menurut legitimasi dan otoritas, serta memiliki ciri tertentu seperti : 1. Pembagian Kerja. 2. Hierarki kewenangan yang jelas. 3. Formalisasi yang tinggi. 4. Bersifat tidak pribadi (impersonal). 5. Pengambilan keputusan mengenai penempatan pegawai yang didasarkan atas kemampuan.

6. Jenjang Karier bagi pegawai. 7. Kehidupan organisasi yang dipisahkan dengan jelas dari kehidupan pribadi. Selanjutnya Friedrich (1963) dalam Sampara Lukman (2000 : 136) mendefinisikan birokrasi sebagai suatu bentuk organisasi yang ditandai oleh hierarki, spesialisasi peranan, dan tingkat kompetensi yang tinggi yang ditunjukan oleh para pejabat yang terlatih untuk mengisi peran tersebut. Michel Grozier dalam Riggs yang dikutip oleh Sampara Lukman, (2000 : 135) membedakan birokrasi kedalam tiga pengertian, Yaitu: Pertama, yang paling tradisional, adalah pemerintahan oleh sejumlah biro, yakni pemerintahan sejumlah departemen negara yang diisi oleh staf yang ditunjuk dan bukan dipilih, diorganisasikan secara hierarkis dan keberadaannya bergantung pada otoritas yang mutlak. Kekuasaan birokrasi dalam pengertian ini menggambarkan tentang berkuasanya hukum dan tatanan. Kedua, pengertian yang diidentifikasi oleh Grozier yang dikemukakan oleh Weber. Pengertian ini telah populer, yang menyatakan bahwa birokrasi Weber mengingatkan akan rasionalisasi kegiatan kolektif. Ketiga, Mengingatkan akan sisi buruk negara yang wujudnya berbentuk kelambanan, kelemahan, kerutinan, dan kerumitan prosedur yang secara terus-menerus mengecewakan karena peraturan birokratik. Lebih lanjut Victor Thompson dalam Stephen P. Robbins,(1994 : 345) melihat birokrasi yang sangat diformalisasi menciptakan ketidakpastian pada yang berwenang yang mengakibatkan apa yang disebut Perilaku Biropatik. Kasus lemahnya birokrasi sudah lama dibahas habis, bahkan di negara yang pertama kali secara kolosal menjalankan birokrasinya Weber, yakni Amerika Serikat. Pada tahun 1992 David Osborne dan Ted Gaebler mengkritik peran birokrasi di Amerika dengan menuntutnya untuk melakukan Reinventing Government. Menekankan sepuluh ciri pemerintahan baru yang kewirausahaan (enterpreneur), dengan ciri ciri adanya kompetisi, adanya wewenang kepada masyarakat untuk mengontrol birokrasi, berorientasi kepada hasil dan bukan kepada masukan, digerakan oleh misi dan bukan oleh ketentuan dan peraturan, klien sebagai kostumer, lebih cenderung mencegah daripada mengobati setelah muncul, tidak hanya membelanjakan uang tetapi juga mencari uang, mendesentralisasi wewenang dengan mengedepankan pola yang partisipatif, menyukai mekanisme pasar, dan menjadi katalisator dari proses yang ada di dalam masyarakat-antarorganisasidalam masyarakat, (David Osborne dan Ted Gaebler, 1996). Bahkan, bukunya yang dirilis lima tahun kemudian oleh Gaebler dan Plastrik yang berjudul Banishing Bereucracy yang mengedepankan lima strategi untuk Reinventing Government, yaitu menentukan strategi inti (core strategy) melalui perumusan tujuan sistem dan organisasi pemerintah yang jelas, menyusun strategi konsekuensi yakni menentukan sistem insentif pemerintah, strategi pelanggan yakni memusatkan pada akuntabilitas, pertanggungjawaban, strategi kontrol yakni menentukan kekuasaan pengambilan keputusan dalam sistem birokrasi, dan strategi budaya yakni menciptakan budaya kewirausahaan di dalam birokrasi pemerintahan, (David Osborne dan Peter Plastrik,2000).Walaupun ada perbedaan pendapat oleh para ahli namun Nugroho Dwidjowijoto, (2001 : 195) mengatakan Di masa depan, birokrasi tidak perlu dihapus, seperti usul para radikalis seperti Osborne, Gaebler, Plastrik (Reinventing Government dan Banishing Bereaucracy), menurut mereka karena birokrasi adalah satu-satunya teknik untuk menjalankan organisasi yang sangat besar, yang bahkan setiap organisasi yang secara alamiah semakin besar pun akan cenderung menjadi birokratis. Penyebabnya, pada organisasi yang teramat besar maka cara pada akhirnya mengalahkan tujuan, karena begitu banyak ornamen di dalam organisasi yang harus dikelola dan dikendalikan. Birokrasi harus mampu melihat fakta terkini bahwa mereka perlu menyesuaikan diri disini dan disana.

Melihat kondisi birokrasi seperti diatas, apa yang diperlukan oleh sebuah organisasi pemerintahan adalah penataan kembali manajemen yang mengacu pada lingkungan sekarang dan masa depan, yaitu lingkungan yang berubah dengan sangat cepat. Tepatnya organisasi yang harus mengelola perubahan, atau mengelola ketidakpastian, karena tidak ada satupun yang pasti. Satu-satunya yang pasti adalah ketidakpastian itu sendiri. Apalagi dalam era globalisasi nanti yang sarat dengan ketergantungan, tanpa batas, pergeseran nilai, kompetitif, adaptasi dan keunggulan. Tentunya masyarakat menghendaki adanya suatu bentuk pelayanan birokrasi pemerintahan yang cepat, tepat dan praktis sesuai dengan prosedur yang berlaku.

3. Perubahan Paradigama Birokrasi Pemerintahan

Masa pemerintahan orde baru yang berlangsung selama 32 tahun telah menggiring pemerintahan Indonesia kearah paradigma pembangunan sebagai landasan nilai yang menjadi acuan dari seluruh kebijakan pamerintahan. GBHN dan Repelita/Pelita sebagai instrumen utama penyelenggaraan pemerintahan orde baru sarat dengan konsep dan rencana pembangunan. Karena itu pemerintah mengambil peran sebagai agen utama dalam pembangunan nasional. Tujuannya jelas yakni akselerasi pembangunan. Pilihan ini diambil karena dibawah pemerintahan Soekarno, ekonomi nasional memang terpuruk dengan tingkat kemiskinan dan pengangguran yang tinggi. Sebagai contoh inflasi yang sudah mencapai 650% di tahun 1967, sektor agraria tetap menjadi andalan utama, tanpa terobosan produksi yang membawa rakyat keluar dari lingkaran kemiskinan. Pengangguran semakin merajela dimana-mana dan investasi asing hapir-hampir nihil. Karena itu ketika orde baru terbentuk, Soeharto menghimpun para teknokrat dan ekonom dalam pemerintahannya dan mendeklarasikan pembangunan sebagai misi utamanya, (Ryaas Rasyid dalam Jurnal Ilmu Pemerintahan Edisi No.14 Tahun 2001). Menurut pemakalah, sebenarnya tidaklah salah dengan paradigma pembangunan itu, kita boleh melihat bahwa pembangunan lima tahun (pelita) dari pertama sampai keempat telah menunjukan hasil yang baik dimana titik berat pembangunan diletakan pada sektor agraria dengan dukungan sektor industri. Hanya saja memasuki pelita kelima, hal ini berbalik dimana titik berat pembangunan dialihkan pada sektor industri dengan dukungan sektor pertanian. Sebagai contoh berdirinya PT.PAL di surabaya, IPTN di bandung yang tentunya menyedot dana negara yang sangat besar, dimana pembelian perangkat lunak maupun keras lebih banyak merupakan hasil impor dengan nilai dolar USA, seiring dengan begitu maraknya lahan-lahan pertanian dijadikan sebagai lahan industri karena tuntutan. Apa yang terjadi? Krisis moneter melanda bangsa kita yang ditandai dengan merosotnya nilai tukar rupiah terhadap dolar USA, berlanjut dengan krisis multidimensional. Hal inilah yang memporak-porandakan sistem perekonomian bangsa kita. Peran Pemerintah yang terlalu menonjolkan pembangunan mengharuskan adanya sistem perencanaan yang terpusat (Central planning). Kendali birokrasi pemerintahan dan pembangunan berada di tangan pusat (sentralistik). Ini diperlukan agar pemerataan pembangunan berjalan dengan lancar (Trilogi Pembangunan). Perencanaan dan pengendalian yang terpusat itu juga mengharuskan adanya penyeragaman sistem organisasi pemerintahan daerah dan manajemen proyek yang ada di daerah. Sebagai contoh penyeragaman nama desa, pola struktur

minimal dan maksimal pemerintah kecamatan, proyek bantuan presiden (Banpres), Inpres dan lain sebagainya. Tujuannya agar mudah diukur, dikendalikan, diawasi dan dievaluasi. Akibat dari penerapan pembangunan dengan cara perencanaan terpusat itu adalah semakin kuatnya ketergantungan daerah kepada pemerintah pusat. Inilah akar dari hubungan pusat-daerah yang bersifat patronisasi. Hal ini berimplikasi pada berkurangnya kemampuan prakarsa serta daya kreativitas pemerintah dan masyarakat daerah. Sebagai contoh dengan adanya budaya minta petunjuk yang sering diperlihatkan oleh pemerintah daerah ketika menghadapi masalah yang menyangkut pelaksanaan tugas-tugas pemerintahan, pembangunan dan kemasyarakatan. Penerapan sistem birokrasi pemerintahan yang sentralistik itu ternyata mengalami kegagalan dalam memahami berbagai tuntutan masyarakat daerah sehingga adanya upaya disintegrasi yang dilakukan oleh beberapa propinsi yang menghendaki adanya keadilan dari pemerintah pusat. Pemerintah pusat dianggap terlalu banyak campur-tangan sehingga terkuras waktu dan enerjinya hanya terbuang untuk mengurus masalah-masalah domestik yang sebenarnya dapat diurus oleh pemerintah daerah. Akibatnya, mereka tidak punya cukup waktu dan enerjinya untuk mempelajari kecendrungan-kecendrungan global. Lahirnya Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 dan Undang-Undang Nomor 25 Tahun 1999 Tentang Pemerintahan Daerah membawa angin segar dalam birokrasi pemerintahan Indonesia, dimana pemerintah daerah lebih banyak diposisikan sebagai PELAYAN MASYARAKAT, dengan fungsi utama menjadi fasilitator, pengendali serta penjaga kepentingan masyarakat luas. Sedangkan kegiatan pembangunan lebih banyak dilakukan oleh masyarakat sendiri. Ini tidak berarti bahwa pemerintah sudah tidak lagi memiliki komitmen pembangunan, tetapi mendudukan tugas pembangunan itu diatas landasan nilai pelayanan. Artinya tidak akan ada lagi kebijakan pembangunan yang mengandung nilai ketidak-adilan dan yang bersifat mematikan kreativitas masyarakat. Selain itu mari kita melihat bahwa birokrasi kita, mau tak mau harus menyadari ada perubahan global di dunia. Era globalisasi yang akan ditandai dengan liberalisme perdagangan dan investasi di kawasan ASEAN (2003) dan Asia Pasifik (2020). Seperti disadari oleh semua pihak, lokomotif kemajuan bangsa adalah pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi secara lebih khusus ditarik oleh masyarakat, untuk itu birokrasi harus berorientasi kepada masyarakat yang merupakan pasar birokrasi. Artinya yang dilayani oleh birokrasi bukan saja pejabat pemerintah ataupun pimpinan birokrasi itu sendiri tetapi masyarakat. Dengan demikian ukuran keberhasilan manajemen dari birokrasi bukan sejauh mana ia memuaskan pejabat atau politisi yang terpilih, tetapi sejauh mana ia berhasil memuaskan konstumernya, yaitu masyarakat. Masyarakat pun dalam arti luas: masyarakat awam, pelaku bisnis, politikus, bahkan juga anggota birokrasi itu sendiri yang notabene pastilah warga negara yang menjadi kostumer birokrasi. Dalam makna yang lebih luas, birokrasi harus dikelola sebagaimana sebagaimana layaknya badan usaha. Dengan demikian, ia membawa konsekuensi untuk menciptakan kompetisi antara departemen (Untuk pusat), antar kantor (untuk propinsi/kabupaten/kota, antar kecamatan dan hingga sampai tingkat kelurahan. Seiring dengan peran birokrasi pemerintahan dengan tugas yang begitu kompleks dalam persaingan pasar nanti, sudah waktunya birokrasi untuk berbenah diri dengan menyadari arogansinya selama ini bisa mengerjakan semuanya seorang diri tidak ada gunanya. Dalam

melakukan tugas dan fungsinya melayani masyarakat, birokrasi justru bisa makin tanggap-efisien jika bermitra dengan masyarakat yang dilayaninya.

4. Manajemen Pelayanan Umum Birokrasi Pemerintahan

Penyelenggaraan birokrasi pemerintahan Indonesia merupakan pekerjaan yang kompleks dan berkesinambungan, Untuk itu diperlukan manajemen yang baik. Dwight Waldo dalam Sampara Lukman, (2000 : 2) mendefinisikan manajemen sebagai suatu rangkaian tindakan dengan maksud untuk mencapai hubungan kerjasama rasional dalam suatu sistem administrasi. Lebih lanjut Moenir, (2001 : 204) menjelaskan bahwa manajemen pelayanan umum adalah manajemen proses yang kegiatannya diarahkan secara khusus pada terselenggaranya pelayanan guna memenuhi kepentingan umum/kepentingan perorangan, melalui cara-cara yang tepat dan memuaskan pihak yang dilayani. Jadi, manajemen merupakan alat vital yang dipakai dalam memberikan pembaharuanpembaharuan dalam birokrasi pemerintahan guna memberikan pelayanan umum. Tanpa manajemen pelayanan umum yang baik, tujuan penyelenggaraan birokrasi pemerintahan yakni pemberdayaan dan pelayanan masyarakat merupakan sesuatu hal yang abstrak. Akan muncul sumber-sumber inefisiensi dan inefektivitas serta ketidakadilan yang baru yang dapat memicu untuk terjadinya krisis multidimensional lagi bagi bangsa indonesia. Sadu Wasistiono dalam Orasi ilmiah: Menata Ulang Manajemen Pemerintahan Daerah (2002), lebih lanjut mengatakan bahwa perubahan paradigma diatas perlu diikuti dengan pembaharuan manajemen pelayanan umum melalui berbagai strategi sebagai berikut : 1. Mewajibkan semua paratur pemerintah memahami filosofi, strategi dan teknis pemberian pelayanan umum dengan baik; 2. Menyusun standar pelayanan minimal (SPM) untuk semua jenis pelayanan umum yang diberikan oleh pemerintah daerah; 3. memperkuat unit-unit organisasi yang memberikan pelayanan langsung kepada masyarakat (Business Unit) seperti dinas daerah, dengan memberikan kewenangan yang lebih luas, fasilitas yang lebih memadai, mempermudah akses pada pengambil keputusan di tingkat puncak; 4. Mengembangkan iklim kompetisi diantara unit-unit pemberi pelayanan umum, dengan memberi imbalan yang memadai bagi yang berprestasi; 5. Secara periodik mengadakan survey kepuasan konsumen untuk memperbaiki kinerja unit pemberi pelayanan umum; 6. Membuka kotak pengaduan/kotak saran untuk menampung keluhan masyarakat konsumen; 7. Memberikan penyuluhan kepada masyarakat mengenai hak dan kewajibannya sebagai konsumen. Manajemen pelayanan umum yang diselenggarakan oleh pemerintah tentunya mempunyai dampak luas dalam masyarakat baik dalam arti positif maupun negatif. Oleh karena itu, boleh dapat dikatakan bahwa melalui pembaharuan manajemen pelayanan umum yang memadai dan baik, penyelenggaraan birokrasi pemerintahan akan dapat berjalan lancar dan dapat mendorong dinamika masyarakat untuk bergerak maju.

5. Penutup Keberhasilan birokrasi dalam melakukan pembaharuan manajemen pemerintahan justru akan membuat integrasi sosial yang semakin solid antara birokrasi sebagai pelayan masyarakat dengan masyarakat yang dilayaninya. Hubungan keduanya dalam jangka panjang diharapkan laksana suami-istri modern. Untuk itu birokrasi pemerintahan harus dapat menampilkan citra yang terbaik dalam memberikan pelayanan kepada masyarakat walaupun Penanganan terhadap masing-masing pelanggan mungkin berbeda namun yang harus senantiasa diutamakan adalah sentuhan manusiawi karena manusia adalah mahluk sosial yang perlu disentuh dengan rasa kasih sayang dan penuh perhatian.

Daftar Pustaka Osborne, David. dan Ted Gaebler. (1996), Mewirausahakan Birokrasi. Penerjemah: Abdul Rosyid, Jakarta: Pustaka Binaman Pressindo. Osborne, David dan Peter Plastrik.(2000), Memangkas Birokrasi. Penerjemah: Abdul Rosyid, Jakarta: Penerbit PPM. Dwidjowijoto, Nugroho. (2001), Reinventing Indonesia. Jakarta: PT Elex Media Komputindo. Robbins, Stephen P. (1994), Teori Organisasi: Struktur, Desain dan Aplikasi. Alih Bahasa: Jusuf Udaya. Jakarta: Arcan. Sampara, Lukman. (2000), Manajemen Kualitas Pelayanan. Jakarta: STIA-LAN Press. Moenir, H.A.s. (2001), Manajemen Pelayanan Umum Di Indonesia. Jakarta: Bumi Aksara. Sumber Referensi Lainnya Rasyid, Ryaas M.(2001), Kebijakan Otonomi Daerah: Konsepsi, Implementasi dan Masalah. Jakarta: Jurnal Ilmu Pemerintahan Edisi Nomor 14. Wasistiono, Sadu.(2002), Orasi ilmiah: Menata Ulang Manajemen Pemerintahan Daerah. Jatinangor-STPDN.

Anda mungkin juga menyukai