Anda di halaman 1dari 4

Masalah

Apakah landasan analisis perspektif islam terhadap

kasus skenario ini? Analisis :

ANALISIS HUKUM ISLAM Islam merupakan agama yang menjunjung tinggi kesucian kehidupan. Hal ini dapat dibuktikan dengan sejumlah ayat-ayat dalam Al-Quran yang bersaksi terhadap hal tersebut. Ketentuan ini dapat kita lihat dalam beberapa surat antara lain : 1. Surat Al-Maidah ayat 23 bahwa: Barang siapa yang membunuh seorang manusia, bukan karena sebab-sebab yang mewajibkan hukum qishash, atau bukan karena membuat kerusuhan di muka bumi, maka seakan-akan telah membunuh manusia seluruhnya. Dan barang siapa yang memelihara keselamatan nyawa seorang manusia, maka seolah-olah ia telah memelihara keselamatan seluruh manusia semuanya. 2. Surat Al-Isro ayat 31 dan 33 dijelaskan : Dan janganlah kamu membunuh anak-anakmu karena takut melarat. Kamilah yang memberi rezeki kepada mereka dan kepadamu juga.

Sesungguhnya membunuh mereka adalah dosa yang besar. Dan janganlah kamu membunuh nyawa seseorang yang dilarang Allah, kecuali dengan alasan yang benar. Berdasarkan ayat tersebut maka dapat disimpulkan bahwa, Islam memberikan landasan hukum yang jelas bahwa kehidupan manusia itu suci sehingga haruslah dipelihara dan tidak boleh dihancurkan kecuali dilakukan untuk sebab atau alasan yang benar. Berikut adalah beberapa pandangan ulama fiqih tentang kasus Aborsi : 1. Yusuf Qardhawi mengatakan bahwa hal ini merujuk ketentuan hukum islam, praktik aborsi adalah dilarang dan merupakan

kejahatan terhadap makhluk hidup sehingga hukuman sangat berat bagi yang melakukannya. 2. Muhammad Mekki Naciri bahwa semua literatur hukum islam sepakat bahwa aborsi adalah perbuatan aniaya dan sama sekali tidak diperbolehkan kecuali jika aborsi didukung dengan alasan yang benar. 3. Madzhab Hanafi menyimpulkan bahwa membolehkan pengguguran kandungan sebelum kehamilan berusia 120 hari dengan alasan belum terjadi penciptaan. 4. Madzhab Imam Syafii menyimpulakan bahwasanya aborsi dilarang dengan alasan kehidupan dimulai sejak konsepsi, diantaranya dikemukakan oleh Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin. Landasan hukum yang digunakan sebagai argumen bagi ulama-ulama tersebut adalah 2 hadis Nabi berikut : Dari Abi Abd Rahman Abdillah bin Masud RA berkata: Rasulullah menceritakan kepada kami sesungguhnya seseorang dari kamu kejadiannya dikumpulkan dalam perut ibumu selama 40 hari berupa nuthfah, kemudian menjadi segumpal darah (alaqah) dalam waktu yang sama, kemudian menjadi segumpal daging (mudghah) juga dalam waktu yang sama. Sesudah itu malaikat diutus untuk meniupkan ruh ke dalamnya dan diutus untuk melakukan pencatatan empat perkara yaitu mencatat rizkinya, usianya, amal, perbuatannya, dan celaka atau bahagia (HR.Muslim)29. aku mendengar Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila nutfah telah melewati empat puluh dua hari, Allah mengutus malaikat untuk membentuk rupanya, menjadikan

pendengarannya, penglihatannya, kulitnya, dagingnya, dan tulangnya, kemudian malaikat bertanya: wahai tuhanku, apakah dijadikan laki-laki atau perempuan? Lalu Allah menentukan apa yang dikehendaki, lalu malaikat itu pun menulisnya. (HR. Muslim)30. Meskipun demikian dalam konteks Indonesia berdasarkan Keputusan Fatwa Musyawarah Nasionan VI Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor : I/MUNAS VI/MUI/2000 tanggal 29 juli 2000 ditetapkan:

1. Melakukan aborsi sesudah nafkh al-ruh hukumnya adalah haram, kecuali jika ada alasan medis seperti untuk menyelamatkan jiwa si ibu. 2. Mengharamkan aborsi sejak terjadinya pembuahan ovum,

walaupun sebelum nafkh al-ruh, hukumnya adalah haram, kecuali ada alasan medis atau alasan lainnya yang dibenarkan oleh syariat islam. 3. Mengharamkan semua pihak untuk melakukan, membantu, atau mengizinkan aborsi. Ketetapan I tersebut, apabila dicermati bahwa pada dasarnya sebagiman ahli fikh umumnya, MUI mengharamkan praktik aborsi termasuk didalamnya pihak yang turut serta melakukan, membantu, mengizinkan aborsi. Walaupun demikian kebolehan aborsi dapat terjadi apabila terdapat alasan medis dan adanya alasan lainnya yang dibenarkan oleh syariat Islam. Dari uraian diatas maka dapat disimpulkan pendapat beberapa ulama tentang abortus dapat dijadikan petunjuk dalam menganalisis suatu masalah yang berhubungan dengan landasan syariat islam dimana hal-hal ini sejalan dengan tujuan pembentukan hukum islam ( maqaashid al-ahkam al-syariyyah), sebagaiman dikatakan Hasbi Ash-Shiddieqy yaitu mencegah terjadinya

kerusakan dalam kehidupan manusia dan mendatangkan kemaslahatan kepada mereka, mengendalikan dunia dengan kebenaran, keadilan, dan kebajikan serta menerangkan cara yang harus dilalui dengan menggunakan akal pikiran manusia. Prinsip-prinsip di dalam kaidah pembentukan hukum islam tersebut dalam prakteknya hampir sama dengan prinsip-prinsip dasar moral dalam ilmu filsafat, yang harus berpegang pada tiga prinsip dasar yaitu : pertama, prinsip sikap baik yaitu positif dan baik. Sikap ini menjadi kesadaran bahwa kita harus mengusahakan akibat-akibat dan mencegah akibat buruk dari tindakan kita dengan tanpa merugikan pihak lain; kedua, prinsip keadilan yaitu perlakuan yang sama terhadap semua orang sesuai dengan haknya masing-masing.

Prinsip ini menuntut kita agar tindak mencapai tujuan dengan melanggar hak orang lain; ketiga, prinsip hormat diri sendiri yaitu selalu memperlakukan diri sebagai sesuatu yang bernilai pada dirinya sendiri. DAFTAR PUSTAKA Departemen Agama RI. 2003. Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia. Jakarta: Departemen Agama RI. Ebrahim, A.F.M. Biomedical Issues, Islamic Perspective. Terj. Meutia, Sari. 2007.Aborsi, Kontrasepsi, dan Mengatasi Kemandulan. Jakarta: Mizan Guttmacher Institute. 2008. Aborsi di Indonesia. Guttmacher Institute. Seri 2008, No.2 Sahal Mahfudh, M.A. 2003. Fikih Sosial: Upaya Pengembangan Madzhab Qauli dan Madzhab Manhaji. Pidato Promovendus pada Penerimaan Gelar Doktor Honoris Causa dalam Bidang Fikih Sosial di UIN Syarif Hidayatullah. Jakarta, 18 juni. Jakarta: Universitas Islam Negeri.