Anda di halaman 1dari 19

1

Gelombang dan Optik


GELOMBANG BUNYI








Komang Suardika (0913021034)




Jurusan Pendidikan Fisika
Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam
Universitas Pendidikan Ganesha
Singaraja
2012

2



BAB I
PENDAHULUAN

Mengapa pada malam hari bunyi petir terdengar lebih keras daripada siang hari? Pada
siang hari, udara pada lapisan atas lebih dingin daripada lapisan bawah. Cepat rambat bunyi
pada suhu dingin adalah lebih kecil daripada suhu panas. Dengan demikian, kecepatan bunyi
pada lapisan udara atas lebih kecil daripada kecepatan bunyi pada lapisan udara bawah,
karena medium pada lapisan atas lebih rapat dari medium pada lapisan bawah. Jadi, pada
siang hari, bunyi petir yang merambat dari lapisan udara atas menuju ke lapisan udara bawah
akan dibiaskan menjauhi garis normal ( gambar 1a ). sedangkan Pada malam hari, terjadi
kondisi sebaliknya, udara pada lapisan bawah (dekat tanah) lebih dingin daripada udara pada
lapisan atas. Dengan demikian, kecepatan bunyi pada lapisan bawah lebih kecil daripada
lapisan atas, karena medium pada lapisan atas kurang rapat dari medium pada lapisan bawah.
Jadi, pada malam hari, bunyi petir yang merambat dari lapisan udara atas menuju ke lapisan
udara bawah (mediumnya lebih rapat) akan dibiaskan mendekati garis normal ( gambar 1b ).
Pembiasan bunyi petir mendekati garis normal pada malam hari inilah yang menyebabkan
bunyi guntur lebih mendekat kerumah Anda, dan sebagai akibatnya Anda mendengar bunyi
petir yang lebih keras.


Gambar 1. Pembiasan gelombang bunyi

Gelombang didefinisikan sebagai getaran atau gangguan yang merambat dari suatu
lokasi ke lokasi lainnya. Bunyi yang termasuk gelombang, sehingga bunyi juga mempunyai
3

sifat-sifat gelombang, misalnya dapat mengalami superposisi, pemantulan, transimi dan sifat
gelombang yang lainnya.
Gelombang bunyi timbul akibat bergetarnya suatu benda, yang kemudian getarannya
merambat dalam medium dari suatu lokasi menuju lokasi lainnya. Medium atau zat perantara
ini dapat berupa zat cair, padat, gas. Jadi, gelombang bunyi dapat dapat merambat melalui
medium, misalnya di dalam air, batu bara, atau udara. Medium tempat bunyi merambat akan
memindahkan energi getar dengan arah sejajar atau paralel dengan arah rambat gelombang
Gelombang bunyi terdiri dari molekul-molekul udara yang bergetar maju-mundur.
Tiap saat, molekul-molekul itu berdesakan di beberapa tempat, sehingga menghasilkan
wilayah tekanan tinggi, tapi di tempat lain merenggang, sehingga menghasilkan wilayah
tekanan rendah. Gelombang bertekanan tinggi dan rendah secara bergantian bergerak di
udara, menyebar dari sumber bunyi. Gelombang bunyi ini menghantarkan bunyi ke telinga
manusia,Gelombang bunyi adalah gelombang longitudinal.
Berdasarkan uraian diatas maka kami akan mengkaji dalam makalah ini menganai
pemantulan dan transmisi gelombang pada batas medium, superposisi linier gerak gelombang
yang terdiri dari superposisi gelombang harmonik berfrekuensi sama dan berfrekuensi
berbeda serta membahas mengenai terjadinya efek doppler yang terjadi akibat adanya
perbedaan frekunsi yang didengar oleh pengamat dengan frekuensi yang dipancarkan oleh
sumber.

1.1 Rumusan Masalah
1.1.1 Bagaimanakah karakteristik gelombang bunyi di dalam udara?
1.1.2 Bagaimanakah terjadinya efek Doppler?
1.1.3 Bagaimana pemantulan dan transmisi gelombang pada batas medium?
1.1.4 Bagaimanakah superposisi linier gerak gelombang?






4



BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Gelombang Bunyi di dalam Medium Gas/Udara
2.1.1 Hubungan Tegangan dan Regangan
Sebagaimana telah diketahui, udara atau gas pada umumnya tidak dapat melawan
perubahan bentuk. Karena itu di dalam medium gas ini tidak mungkin terjadi gelombang
geser, shear waves, atau gelombang transversal. Namun demikian, medium ini memiliki
respons terhadap kompresi volume.
Untuk tekanan p tertentu, besarnya respons ini ditentukan oleh modulus elastis bulk, K,
yang didefinisikan sebagai:

o
o
dV
dp
d
dp
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|

o o
V K

( 1 )
dengan modulus K selalu berharga positif karena dp/dV selalu negatif (telah digunakan
hubungan: =m/V, V adalah volume gas).










Gambar 2. Pergeseran dan perubahan dimensi dari elemen volume udara dalam
tabung fiktif yang diambil searah gaya gangguan.
Untuk merumuskan persamaan gelombang bunyi, perhatikan gambar 2. Dalam keadaan
setimbang, tekanan yang bekerja pada kedua sisi elemen volume udara adalah sama besar
P
A
P
0
X
X
dx dx+dy

'

5

(=p
o
), dengan kerapatan udara
o
. Sebagai akibat gangguan luar dari sebelah kiri, tekanan
yang bekerja pada sisi kiri berubah menjadi p (misal: p > p
o
), mengakibatkan dua macam
perubahan, yaitu: pergeseran kedudukan elemen udara , dan perubahan tebal elemen volume
dari dx menjadi dx+d+; rapat massa
o
berubah menjadi .
Berdasarkan hukum kekekalan massa, besaran-besaran tersebut harus memenuhi
persamaan:
A(dx+d)=
o
Adx ( 2 )
atau

dx d
o

+
=
1
( 3 )
Dalam aproksimasi d/dx<<1, persamaan ini menjadi
=
o
(1- d/dx) ( 4 )
atau

dx
d
o
o

( 5 )
Karena pada umumnya proses gerak gelombang dalam udara bersifat adiabatik, maka
untuk medium ini berlaku hubungan
konstan pV =

( 6 )
dengan =C
p
/C
v
.
Dari hubungan =m/V, untuk m berharga tetap, maka p dapat dipandang sebagai fungsi
. Sesuai dengan aproksimasi pada persamaan (4), dapat pula kita abaikan harga selisih (-

o
)
2
dalam jabaran deret Taylor untuk p di sekitar p
o
. Sebagai hasilnya dapat dituliskan
persamaan:

o
o
|
|
.
|

\
|
+ =


d
dp
) ( p p
o
( 7 )
Dengan bantuan persamaan (1), persamaan (7) menjadi:

|
|
.
|

\
|
+ =
o
o
K


o
p p ( 8 )
Selanjutnya dengan hubungan (5), sampailah kita pada persamaan tegangan-regangan,
sebagai berikut:
6


x
K
c
c
=

o
p p ( 9 )
yang mengungkapkan karakteristik respons medium. Dari persamaan ini jelas bahwa p
bergantung pada x, dan p
o
=p(x+dx), p=p(x) sehingga dp=p
o
-p, dan hubungan (9) dapat
diturunkan menjadi

2
2
x
p
x
K
c
c
=
c
c
( 10 )

2.1.2 Persamaan Gelombang
Persamaan gerak lokal bagi elemen medium bermassa dm dalam gambar 2. akan
diturunkan dari hukum II Newton (secara dinamika), sebagai berikut:
dF=(dm)a ( 11 )
dengan dm=Adx, dan a adalah percepatan pusat massa elemen tersebut. Andaikan dalam
jangka waktu t, pergeseran pusat massa seperti diperlihatkan gambar (2) sama dengan ( +
' )/2~ , maka percepatanya adalah:
a=
2
2
t c
c
( 12 )
dan dengan bantuan persamaan (10), maka persamaan (11) menjadi
dF=AK
2
2
x c
c
dx ( 13 )
Resultan gaya pada elemen udara dalam arah +x adalah dF=-Adp, dengan dp=p(x+dx)-p(x)=
dx
x
p
c
c
. Dengan mensubstitusi ungkapan dF, dm, dan a ke dalam persamaan (11)
menghasilkan persamaan gelombang bebas satu dimensi seperti persamaan
0
1
2
2
2 2
2
=
c
c

c
c
t v x

, dengan laju gelombangnya adalah
v=
o

K
( 14 )
Karena gerak osilasi lokal dalam kasus ini berlangsung sejajar arah perambatan, maka
gelombang yang terjadi disebut gelombang pergeseran (displacement) atau longitudinal.

7



2.2 Efek Doppler
Definisi efek Doppler adalah gejala bunyi yang membahas perubahan frekuensi yang
diterima oleh pengamat (pendengar) akibat gerak relative antara sumber bunyi dengan
pendengar.
Sebuah mobil patroli polisi diparkir disuatu tepian jalan tol sambil membunyikan sirine
1000 Hz. Bila kita juga memparkir mobil dekat mobil polisi itu maka akan mendengar bunyi
sirine itu dengan frekuensi yang sama. Tetapi bila kita mengendarai mobil menuju kemobil
polisi itu denga kecepatan 120 km/jam maka kita akan mendengar frekuensi yang lebih tinggi
(1096 Hz), frekuensinya bertambah. Bila kita mengendari mobil menjauhi mobil polisi itu,
kita akan mendengar frekuensi lebih rendah (904), frekuensinya berkurang. Perubahan
prekuensi karena gerak pendengar ataupun sumber bunyi ini disebut efek Doppler.

Gambar 3. Efek Doppler
Perubahan panjang gelombang dan frekuensi ini dapat dihitung dari hubungan
v
T

u
= =
1
( 15 )
Pada gambar 4a memperlihatkan front gelombang yang merambat dari sumber bunyi s yang
diam, dan jarak antar satu front gelombang dengan yang lainnya adalah satu panjang
gelombang . Jadi:
d==vT ( 16 )
dimana v adalah kecepatan gelombang bunyi di udara. Oleh karena itu untuk pengamat yang
diam akan mendengar bunyi dengan frekuensi
8

u
v
= ( 17 )

a. Sumber bergerak dan pengamat diam
Bila sumber bunyi bergerak mendekati pengamat (gambar 4 b), maka dalam waktu T
sumber telah pindah sejauh ds=v
s
.T. dimana v
s
= kecepatan sumber.









Gambar 4.
Oleh karena itu kini jarak antar front gelombang sumber dengan front gelombang yang
mendahuluinya adalah

, dimana


( 18 )


Perubahan panjang gelombang
v
v
s

= = A ' ( 19 )
Frekuensi yang terdengar:
) 1 (
'
'
v
v
v v
s

= =

u ( 20 )
Karena u = / v , maka persamaan diatas dapat ditulis:
) 1 (
.
.
'
v
v
v
v
T v
ds d
s
s
s
=
=
=
=

ds


v
s
ds = v
s
T
a
b
9

s
s
v v
v
atau
v
v

=
(
(
(
(

= u u u u '
1
1
' ( 21 )
Dengan cara yang sama, untuk sumber bergerak menjauhi pengamat maka akan didapat,
s
v v
v
+
=u u' ( 22 )

Secara umum untuk sumber bergerak dan pengamat yang diam, dirumuskan:
s
v v
v

=u u' ( 23 )

b. Sumber diam dan pengamat bergerak
Bila pengamat bergerak mendekati sumber, bunyi terdengar lebih tinggi, dan bila
pengamat menjahui sumber, bunyi terdengar lebih rendah. Dalam hal ini panjang gelombang
tidak berubah, tetapi kecepatan gelombvangnya yang berubah.
Bila pengamat bergerak mendekati sumber, maka kecepatan gelombang relative terhadap
pengamat adalah:
v= v + v
o
( 24 )
dimana
v = kecepatan gelombang suara
v
o
= kecepatan pengamat
oleh karena itu frekuensi yang baru menjadi:

u
o
v v v +
= =
'
' ( 25 )
Karena
u

v
= , maka:
v
v v
o
+
=u u' ( 26 )
Untuk pengamat bergerak menjauhi sumber, kecepatan relative gelombang terhadap
pengamat:
v = v - v
o
( 27 )
10

sehingga frekuensi yang baru menjadi:
v
v v
o

=u u' ( 28 )
Secara umum, untuk sumber diam dan pengamat bergerak, persamaannya dapat ditulis
menjadi:
v
v v
o

=u u' ( 29 )

c. Sumber dan pengamat keduanya bergerak
Bila sumber dan pengamat keduanya bergerak, maka kita dapat mengabung persamaan
s
v v
v

=u u' dan
v
v v
o

=u u' . Dengan mengambil u dalam persamaan


v
v v
o

=u u' dengan
persamaan
s
v v
v

=u u' , didapat:
s
o
v v
v v
+

= u u' ( 30 )

d. Efek Doppler untuk kecepatan diam
Dari persamaan
s
v v
v

=u u' dan
v
v v
o

=u u' kita lihat bahwa efek Doppler untuk


pengamat bergerak berbeda dengan untuk sumber bergerak, meskipun kecepatan geraknya
sama. Akan tetapi bila kecepatan ini sangat rendah (yaitu bila v
o
<<v dan v
s
<<v), maka
perubahan frekuensi yang dihasilkan oleh kedua gerak tersebut pada dasarnya adalah sama.
Dengan menggunakan teorema binominal, persamaan
s
o
v v
v v
+

= u u' untuk kecepatan


rendah menjadi:
(

~
v
v
r
1 ' u u ( 31 )
Dimana ) (
o s r
v v v = adalah kecepatan relative dari sumber terhadap pengamat

2.3 Pemantulan dan Transmisi Gelombang Pada Batas Medium.
11

Dalam bagian ini akan ditinjau perumusan peristiwa yang terjadi pada perbatasan antara
dua medium gelombang yang berbeda sifat, misalnya dua tali yang berbeda kerapatan massa
seperti ditunjukan dalam gambar 5. Dalam gambar ini medium tali bagian kiri (1) yang
berawal dari x=-, bersambung dengan tali kedua pada x=0. Tali kedua (2) memanjang ke
sebelah kanan tanpa batas. Untuk sistem ini perumusan soalnya terdiri dari persamaan
diferensial untuk masing-masing daerah sebagai berikut:

2
1
2
x c
c
-
2
1
2
2
1
1
t v c
c
= 0, x s 0 ( 32 )

2
2
2
x c
c
-
2
2
2
2
2
1
t v c
c
= 0, x > 0 ( 33 )
dengan syarat-syarat kontinuitas:
1) +
1
=+
2
, ( 34 )
2)
t t c
c
=
c
c
2 1

( 35 )
3)
x x c
c
=
c
c
2 1

( 35 )
pada x=0 dan pada setiap saat t. Syarat kedua menyatakan sinkronisasi gerak pada titik temu
kedua media. Syarat batas ketiga menyatakan kontinuitas slope gelombang sesaat.





Gambar 5 Ilustrasi gelombang masuk, gelombang pantul, dan transmisi
pada batas antara dua media tali di x=0.
Membatasi diri pada gelombang harmonis, solusi untuk masing-masing medium
berbentuk umum:
+
1
=+
m
++
r
= gelombang masuk+gelombang pantul
= +
mo
sin (k
1
x-e
1
t)+ +
ro
sin( k'
1
x+e'
1
t) ( 36 )
dan
+
2
=+
t
=gelombang yang diteruskan (transmisi)
m

0
m

12

= +
to
sin (k
2
x-e
2
t) ( 37 )
dengan k=e/v. Berlakunya syarat-syarat batas tersebut untuk setiap t, menghasilkan
pembatasan e
1
=e'
1
=e
2
=e, dan k
1
=k'
1
. Penerapan syarat batas (1) menghasilkan
persamaan:
+
mo
++
ro
=+
to
( 38 )
atau
1 + r = t ( 39 )
dengan definisi:
r
mo
ro
=

= koefisien refleksi ( 40 )
dan
t
mo
tro
=

= koefisien transmisi ( 41 )
Penerapan syarat batas (3) menghasilkan persamaan:
( )
2 1
k k
to ro mo
= ( 42 )
atau
1- r = t
|
|
.
|

\
|
1
2
k
k
( 43 )
Dari persamaan ( 39 ) dan ( 43 ) di atas diperoleh:

2 1
2 1
k k
k k
r
+

= ( 44 )

2 1
1
k k
k 2
t
+
= ( 45 )
Dari rumusan r dan t di atas serta harganya untuk kasus ekstrim k
2
/k
1
dan k
2
/k
1
0,
jelas berlaku batasan kisaran
-1 s r s +1, dan 0 s t s 2
Perhatikan bahwa pemantulan dapat menimbulkan pembalikan fase gelombang. Selanjutnya
dengan mengambil contoh gelombang tali, maka bentuk persamaan ( 44 ) dan ( 45 ) dalam
fungsi impedansi Z, dinyatakan sebagai
13


2 1
2 1
Z Z
Z Z
r
+

= ( 46 )
dan

2 1
1
Z Z
Z 2
t
+
= ( 47 )
Sehubungan dengan perbandingan arus energi, menurut persamaan
2
o
2
o
T
v
T
P
|
.
|

\
|
c
c
=
|
|
.
|

\
|
c
c
= +
x
v
t


dikenal definisi reflektansi , R, serta transmitansi, T, yang
diungkapkan sebagai

2
2
2
m
r
r
P
P
R = =
mo
ro

( 48 )
dan

2
1
2
2
2
1
2
m
t
t
Z
Z
Z
Z
P
P
T
|
|
.
|

\
|
=
|
|
.
|

\
|
=
mo
to

( 49 )
Untuk kedua besaran ini jelas berlaku hubungan kekekalan energi
R + T = 1 ( 50 )
Selanjutnya akan dibahas hubungan antara kecocokan impedansi dan efisiensi
transmisi melalui beberapa kasus khusus, dengan +
1
memenuhi persamaan ( 36 ), seperti
dalam tabel 1.
Tabel 1 Hubungan antara kecocokan impedansi dan efisiensi
transmisi melalui beberapa kasus khusus
No Kasus Khusus
Nilai
Keterangan
r t R T
1 Matching Impedansi
Z
1
=Z
2

0 1 0 1
Seluruh gelombang diteruskan
(transmisi total)
2 Infinite Drag
Z
1
/Z
2
=0
-1 0 1 0
Terjadi pemantulan total dan
menghasilkan gelombang berdiri
3 Infinite Drag
Z
2
/Z
1
=0
1 2 1 0
Terjadi pemantulan total dan
menghasilkan gelombang berdiri

14

Dari kasus-kasus di atas jelas terbaca bahwa kecocokan impedansi antara dua medium
akan menentukan efisiensi transmisi energi gelombang. Makin besar perbedaan impedansi
tersebut, makin rendah efisiensi transmisi energi yang dicapai.
2.4 Superposisi Linier Gerak Gelombang
Kita telah mengetahui bahwa apabila suatu gelombang merambat melalui (datang pada)
suatu titik, maka gelombang tersebut menimbulkan gangguan pada titik tersebut. Gangguan
tersebut dapat berupa vektor (misal: simpangan elemen pada gelombang transversal), dan
dapat pula berupa besaran skalar (misal: perubahan tekanan pada gelombang bunyi). Semua
gangguan tersebut bergantung pada posisi titik yang kita tinjau dan juga terhadap waktu.
Prinsip superposisi sangat penting mengingat prinsip ini muncul dalam berbagai
permasalahan seperti dalam gelombang tegak, kelompok gelombang, dan beberapa gejala
dalam gelombang elektromagnetik (seperti: polarisasi, interferensi, dan difraksi). Dalam
pembahasan ini hanya dibatasi pada gelombang mekanik saja.
Untuk mempelajari lebih lanjut mengenai hal ini, marilah kita tinjau kembali persamaan
gelombang merambat dalam kasus satu dimensi,
2
2
x c
c
-
2
2
2
1
t v c
c
= 0, dengan + = f(xvt).
Suatu sifat yang penting dari persamaan ini adalah persamaan ini linier, artinya + dan
turunannya muncul hanya dalam pangkat satu, konsekuensinya bila +
1
(x,t), +
2
(x,t), .., +
n

(x,t) masing-masing adalah solusi dari persamaan gelombang di atas, maka setiap kombinasi
linier dari fungsi-fungsi tersebut juga merupakan solusi dari persamaan tersebut, maka
) , ( C t) (x,
1
i
t x
i
n
i


=
= ( 51 )
memenuhi persamaan gelombang merambat tersebut. C
i
merupakan tetapan sembarang.
Pernyataan ini dikenal dengan Prinsip Superposisi, yaitu sifat yang menyatakan
Resultan gangguan di setiap titik dalam suatu medium adalah jumlah aljabar dari masing-
masing gelombang yang membentuknya.
Sebaliknya, setiap gerak gelombang selalu dapat diuraikan sebagai kombinasi linier dari
beberapa komponen gerak gelombang yang berlangsung secara serempak pada medium yang
bersangkutan, melalui suatu metode analisis Fourier (tidak dibahas dalam perkulihan ini).

2.4.1 Superposisi Gelombang Harmonik Berfrekuensi Sama
15

Berikut ini kita tinjau superposisi gelombang harmonik berferekuensi sama, sebagai
contoh. Misalkan solusi persamaan diferensial gelombang dengan persamaan
2
2
x c
c
-
2
2
2
1
t v c
c
=0 adalah +(x,t)= +
o
sin (kx-et) dimana +
o
adalah amplitudo dari gelombang harmonik
yang merambat dalam arah x positif. Gelombang harmonik ini menimbulkan gangguan
dalam bentuk gerak harmonik sederhana di setiap titik yang dilaluinya.
Misalkan ada dua gelombang harmonik yang sama ferkuensinya melalui titik x tersebut
pada saat yang bersamaan, masing-masing menimbulkan gelombang harmonik sederhana
+
1
(x,t)= +
o1
sin (k
1
x-et) dan +
2
(x,t)= +
o2
sin (k
2
x-et) ( 52 )
Resultan gannguan di setiap titik yaitu hasil superposisi kedua gelombang tersebut adalah
juga hasil superposisi kedua getaran di setiap titik yang dilalaui kedua gelombang pada saat
yang bersamaan, yaitu:
+
R
(x,t)= +
1
(x,t)+ +
2
(x,t)
= +
o1
sin (k
1
x-et)+ +
o2
sin (k
2
x-et
= +
oR
sin (k
R
x-et) ( 53 )
dengan
x ) k k cos( 2
1 2 o2 o1
2
o2
2
o1
2
oR
+ + = ( 54 )
dan

|
|
.
|

\
|
+
+
=

x k cos x k cos
x k sin x k sin
tan k
2 02 1 01
2 02 1 01 1
R


( 55 )
Persamaan ( 53 ) menunujukan ternyata getaran resultan di setiap titik yang dilalui kedua
gelombang tersebut juga harmonik meskipun amplitudo dan fasanya berbeda.

2.4.2 Superposisi Gelombang Harmonik Berfrekuensi Berbeda
Berikut ini akan ditinjau superposisi dua gelombang harmonis yang berbeda frekuensi,
amplitudo sama, sebagai berikut
+
R
(x,t) = +
1
(x,t)+ +
2
(x,t)
= +
o
sin (k
1
x-e
1
t)+ +
o
sin (k
2
x-e
2
t)
= 2+
o
cos (k
m
x-e
m
t) sin (k
r
x-e
r
t) ( 56 )
dengan :
16

( ) ( )
2 1 m 2 1 m
2
1
dan k k
2
1
k e e e = = ( 57 )
( ) ( )
2 1 r 2 1 r
2
1
dan k k
2
1
k e e e + = + = ( 58 )
Karena beda frekuensi kedua gelombang kecil maka fungsi cos (k
m
x-e
m
t) pada
persamaan ( 56 ) berubah dengan lambat (frekuensi kecil, periode besar). Maka gelombang
kuasi harmonik (hampir harmonik) dengan frekuensi e
r
dan tetapan penjalaran k
r
tetapi
amplitudonya berubah dengan waktu (amplitudo termodulasi) sesuai dengan fungsi
+
oR
(x,t)= 2+
o
cos (k
m
x-e
m
t) ( 59 )
Intensitas (I) juga berubah terhadap waktu ~ +
oR
2
(x,t)
+
oR
2
(x,t)= 4+
o
2

cos
2
(k
m
x-e
m
t)
= 2+
o
2

{ 1 + cos 2 (k
m
x-e
m
t)} ( 60 )
Tampak bahwa intesitas berosilasi sekitar 2I dengan frekuensi sudut 2e
m
=e
1
-e
2
atau
2v
m
=v
1
-v
2
, yang selanjutnya disebut frekuensi per layangan (beat frequency).
Uraian di atas menunjukan bahwa gejala superposisi linier dapat dipandang sebagai suatu
proses modulasi amplitude dan jika digambarkan grafik +=f(x), diperoleh

Gambar 6 Grafik simpangan + sebagai fungsi posisi x.
Tampak dari gambar di atas bahwa gelombang resultan ini membentuk kelompok
gelombang yang selubungnya dinyatakan dengan fungsi gelombang modulasi berfrekuensi
rendah e
m
yaitu yang memodulasi amplitude dari gelombang yang berfrekuensi tinggi e
r

yang disebut gelombang fasa (pembawa gelombang). Kecepatan gelombang ini (kecepatan
fasa) adalah
v
r
=
r
k
r
e
( 61 )
17

Jika kedua gelombang yang bersuperposisi itu sama cepat rambatnya (v
1
=v
2
) tentulah
kelompok gelombang dalam gambar di atas merambat dengan kecepatan v
r
=v
1
=v
2
. Ini
berlaku pada media yang tak dispersif (misalnya gelombang bunyi di uadar, lajunya sama
untuk semua frekuensi). Untuk media yang dispersif (misalnya cahaya dalam gelas) hal ini
tidak berlaku, karena gelombang yang berbeda frekuensinya berbeda pula lajunya. Secara
umum kecepatan kelompok (grup) adalah
v
g
= =
m
k
m
e
=
k A
Ae










Gambar 7. Kurva dispersif untuk gelombang:
(a). dispersive (b). tak dispersif

Pada media yang dispersif e bergantung pada k (atau ). Fungsi yang ,menyatakan
hubungan e dan k disebut hubungan dispersif (e=e(k)). Jika Ae kecil maka

dk
d
v
g
e
= ( 62)
dalam kurva dispersif pada gambar ( 7 ) dapat dilihat bahwa v
g
berkurang atau lebih besar
dari v
r
.Pada gambar ( 7a ) terlihat :
o
e
tan
k
v
r
= = ( 63 )
dan

dk
dv
v tan
dk
d
v
k
r g
+ = = = |
e
( 64 )
sedangkan pada gambar (7b) diperoleh


K
Kurva dispersi

K


18


k
v
r
e
= =
g
v
dk
d
=
e
( 65 )


BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Pada bab sebelumnya telah dibahas beberapa hal mengenai bunyi. Dari pembahasan di
atas dapat ditarik kesimpulan yaitu:
1. Gelombang bunyi timbul akibat bergetarnya suatu benda, yang kemudian
getarannya merambat dalam medium dari suatu lokasi menuju lokasi lainnya,
dimana adanya medium perambatannya ini merupakan salah satu karakteristiknya.
Medium tempat bunyi merambat akan memindahkan energi getar dengan arah
sejajar atau paralel dengan arah rambat gelombang Misalnya merambatnya bunyi
dalam fluida, dimana dalam fluida tersebut terjadi regangan dan tegangan antar
partikel penyusun fluida tersebut.
2. Definisi efek Doppler adalah gejala bunyi yang membahas perubahan frekuensi
yang diterima oleh pengamat (pendengar) akibat gerak relative antara sumber
bunyi dengan pendengar
3. Pemantulan dan efisiensi transmisi gelombang sangat tergantung pada perbedaan
impedansi, dimana semakin besar perbedaan impedansinya, semakin rendah
efisiensi transimi energi yang dicapai.
4. Jika terdapat dua gangguan yang menimbulkan gelombang harmonik sederhana
yang mempunyai frekuensi yang sama maka resultan gangguan di setiap titik
dalam suatu medium adalah jumlah aljabar dari masing-masing gelombang yang
membentuknya.



19




DAFTAR PUSTAKA

Kanginan, Marthen. 2006. Fisika Untuk Sma Kelas XII. Jakarta: Erlangga
Suardana, I Kade. 2003. Gelombang dan Optik bagian Gelombang Mekanik. Singaraja: Ikip
Negeri
Suwitra, Nyoman dan Subratha, Nyoman. 2002. Modul II Gelombang Bunyi. Singaraja: Ikip
Negeri

Anda mungkin juga menyukai