Anda di halaman 1dari 11

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Menua adalah suatu proses yang wajar, terjadi pada seluruh mahluk hidup tanpa kecuali. Secara sederhana, proses ini sudah dimulai dari sejak awal kehidupan dalam bentuk perubahan-perubahan fungsi sel dan atau organ sejalan dengan meningkatnya umur, sehingga ada istilah penuaan kronologis dan penuaan biologis. Kecepatan perubahan fungsi ini, yang sering dikenal sebagai perubahan biologis, berbeda-beda antara satu individu dengan individu lainnya, bahkan antara sel yang satu dengan sel lainnya juga (Klatz and Goldman, 2003).

Perubahan yang terjadi adalah proses kematian sel yang kemudian diikuti oleh penggantian sel dengan yang baru. Tetapi pada batas tertentu, proses kematian dari sel akan terus berlanjut sehingga terjadi penurunan fungsi organ yang bersangkutan (Constantinides, 1994) Pada manusia, secara subklinik perubahan biologis ini sudah dapat dideteksi pada usia kronologis 35 tahun, dan proses ini mulai tampak jelas secara klinis pada usia 60 tahun keatas. Banyak teori yang dapat dipakai untuk menjelaskan proses ini. Klatz dan Goldman (2003) menyebutkan ada 4 teori pokok ditambah dengan 15 teori lainnya yang mendasari terjadinya penuaan, sementara Philip Lee Miller (2005) mengelompokkannya menjadi 4 (empat)

faktor saja dan kemudian Nicholas Perricone (2004) menyebutkan teori baru yang mendasari proses menua yaitu teori inflamasi. Teori ini diambil berdasarkan temuan yang dilaporkan oleh Libby et al. (2002), yang menyatakan bahwa salah satu risiko aterosklerosis adalah terjadinya proses inflamasi pada pembuluh darah. Berdasarkan teori di atas, maka proses penuaan fungsional dapat dipercepat, tapi juga dapat dicegah, diobati bahkan dapat dibalik yaitu dengan mengembalikan fungsi organ yang sudah mengalami penurunan oleh karena proses menua. Pembuluh darah adalah salah satu organ yang juga mengalami proses menua. Perubahan yang terjadi dalam proses ini meliputi perubahan struktur dan mekanik dan atau fungsi dari dinding pembuluh darah. Akibat yang ditimbulkan dari proses ini antara lain penebalan dinding dengan peningkatan kekakuan, lumen yang melebar dan kemudian diikuti dengan penurunan vascular compliance (Lakatta dan Levy, 2003; Klatz dan Goldman, 2003; Najjar et al., 2005; Jani dan Rajkumar, 2006; Nilson, 2008). Perubahan pada pembuluh darah yang menua ini mengakibatkan peningkatan tekanan darah (hipertensi) dan penumpukan plak aterosklerosis yang berujung pada penyakit kardio vaskuler lainnya seperti penyakit jantung koroner, infark jantung, stroke dan penyakit pembuluh darah lainnya (Najjar et al., 2005; Jani dan Rajkumar, 2006; Nilson, 2008). Seperti pada teori penuaan organ, pada proses penuaan pembuluh darah ini, ada faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi dan ada faktor yang dapat dimodifikasi (Nilson, 2008). Faktor risiko penuaan arteri yang dapat dimodifikasi, oleh Nilson (2008) dianggap sama dengan faktor risiko konvensional untuk penyakit pembuluh darah antara lain merokok, aktifitas fisik yang rendah,

pecandu alkohol, faktor diet, dislipidemia (hiper, rasio HDL : LDL yang rendah) kegemukan dan sebagainya. Sehingga beberapa peneliti memberikan saran yang sama untuk mengurangi risiko penuaan arteri yaitu dengan memperbaiki gaya hidup (Allman-Farinelli & Dawson, 2005; Najjar et al, 2005; Nilson, 2008). Beberapa faktor gizi yang dianggap berpengaruh terhadap penuaan pembuluh darah adalah makanan yang memberikan risiko terhadap kejadian penyakit pembuluh darah. Makanan yang dapat meningkatkan risiko penyakit adalah makanan yang bersifat aterogenik seperti, karbohidrat (Libby et al., 2002; Mozzaffarian et al., 2004) khususnya yang bernilai indek glisemik tinggi, dan atau memberikan jumlah asupan energi yang tinggi; walaupun hal ini hanya terbatas pada timbulnya penyakit stroke hemorrhagic (Levitan et al., 2007). Berikutnya yang termasuk juga makanan yang bersifat aterogenik adalah campuran lemak seperti misalnya kombinasi antara 0.3% kolesterol, 9% minyak kelapa dan 1% minyak jagung (Li H. et al., 1993) atau makanan yang mengandung kolesterol yang tinggi (Henderson et al., 2004). Tetapi di pihak lain, ada nutrient yang dikatakan bersifat ateroprotektif antara lain omega 3, folate, minyak kelapa murni (virgin coconut oil), flavonoid dan atau antioksidan lainnya dan jumlah asupan energi yang dibatasi dapat mencegah proses penuaan pembuluh darah (Balk et al., 2004; Brook, 2005). Indonesia dengan berbagai ragam budayanya, memiliki makanan tradisional yang merupakan makanan khas yang berasal dari daerah itu dan disukai oleh masyarakat pada umumnya yang tinggal di wilayah tersebut. Bali, dikenal memiliki makanan tradisional yang sebelumnya disajikan hanya untuk

upacara, tapi sekarang banyak dikonsumsi oleh masyarakat Bali (Cole, 1983; Indraguna, 2009) yaitu salah satunya babi guling. Keunikan dari makanan ini adalah di satu sisi makanan ini kaya akan kandungan lemak jenuh dari hewan yang berasal dari daging babi (miristat dan stearat) dan karbohidrat yang bersifat aterogenik, tetapi disisi lain makanan ini juga mengandung flavonoid yang berasal dari bumbu yang mengandung antioksidan dan bersifat antiinflamasi sehingga dapat dianggap sebagai bersifat ateroprotektif (Indraguna, 2009). Babi guling adalah salah satu makanan tradisional yang dahulu hanya dikonsumsi pada waktu upacara saja. Babi yang dipanggang secara utuh ini dipergunakan dahulu sebagai persembahan dalam upacara, setelah itu dapat dikonsumsi oleh mayarakat yang mempersembahkannya. Tetapi sekarang makanan ini dapat dijumpai di mana-mana dan diperjualbelikan sebagai makanan favorit, di warung-warung makan yang tersebar hampir di semua kabupaten di Bali (Suter etal., 1999, Gunung, 2008). Secara teoritis daging babi merupakan bahan makanan yang bersifat aterogenik. Kandungan lemak dan kolesterol dagingnya dapat meningkatkan kadar lemak darah yang berakibat kepada aterosklerosis (Katsuda etal., 2000, Alpert, 2001). Namun demikian, di sisi yang lain kandungan lemak dan

kolesterol daging babi dapat diturunkan dengan memanipulasi makanan yang diberikan kepada babi (Sudana, 1999, Katsuda etal., 2000). Jenis babi yang digunakan untuk babi guling yang seharusnya adalah jenis babi lokal dengan berat pada umumnya berkisar antara 7 - 25 kg. Babi jenis ini biasanya mendapat makanan sisa rumah tangga, dedak dan kangkung yang tidak terukur jumlah dan

komposisinya, sehingga sulit untuk memperkirakan bagaimana kandungan lemak dagingnya. Jenis babi yang digunakan sekarang, terutama untuk keperluan komersial adalah jenis babi Landrace dengan berat dapat mencapai 90 kg. Di dalam penyajian makanan babi guling ini, daging babi dimakan sebagai lauk, di samping nasi dan sayur yang biasanya berbentuk lawar yang juga berisi daging dan lemak babi. Daging babi yang disajikan dicampur dengan lemaknya dan sedikit kulit, baru kemudian dituangkan bumbu di atasnya. Bumbu babi guling dibuat dari campuran berbagai bahan yang berasal dari umbi-umbian (jahe, kunir, lengkuas, kencur, bawang merah, bawang putih), biji-bijian (ketumbar, merica), buah (lombok, kemiri, pala), bunga (cengkeh) dan daun-daunan (daun salam, daun belimbing atau daun ubi) (Eiseman, 1998, Suter etal., 1999). Secara teori, mengkonsumsi daging babi dapat dikategorikan mengkonsumsi makanan yang bersifat aterogenik, walaupun tidak diketahui kandungan lemak dari babi yang dimakan. Tetapi bila dilihat komponen bahan yang membentuk bumbu, yang mengandung banyak anti oksidan dan flavonoid, maka dapat dianggap bahwa bumbu babi guling bersifat ateroprotektif. Perkembangan Pola Penyakit di Bali menunjukkan perkembangan dari pola penyakit infeksi ke pola penyakit degenerasi. Pada penelitian yang dilakukan di suatu desa di Bali yang penduduknya memiliki gaya hidup yang dianggap primitif oleh Suastika etal. (2003), ditemukan prevalensi sindroma metabolik yang cukup tinggi yaitu 17,2% dan yang juga menderita hipertensi sebagai salah satu dampak penuaan arteri adalah 32%. Dari hasil data sekunder yang diambil dari test kesehatan rutin (routine general medical check up) pada kelompok

eksekutif kota Denpasar di laboratorium Prodia dan Nikki Medika diperoleh bahwa penderita kegemukan dengan BMI > 25 kg/m2 mencapai 66,7 % (46,2 % overweight dan 20,5% obese) dan yang menderita obesitas sentral adalah 50% nya. Dari kelompok ini yang menderita DM tipe 2 adalah 19,9 % dan yang menderita Hipertensi adalah 14% (Indraguna, 2008). Akan tetapi berdasarkan hasil RISKESDAS 2007 disebutkan bahwa prevalensi Hipertensi di Bali adalah 29,1 %, di bawah yang ditemukan oleh Suastika dan kawan-kawan di desa primitif di Bali dan prevalensi stroke yaitu 6,8%. Dibandingkan dengan propinsi lainnya, maka kedua penyakit, yang merupakan akibat dari penuaan pembuluh darah ini, menempati urutan ke 23 dari 33 propinsi yang ada di Indonesia. Dan ini berarti prevalensi penyakit pembuluh darah di Bali tergolong kecil atau di bawah ratarata nasional. Namun di pihak lain, bila dilihat dari asupan kalori dan lemak yang merupakan faktor risiko dari kedua penyakit pembuluh darah ini, masyarakat di propinsi Bali tergolong berisiko. Untuk asupan kalori, masyarakat di propinsi Bali menempati urutan ke 12 dari 33 propinsi dengan jumlah asupan rata-rata 1706 Kcal/hari, dan urutan ke 11 untuk jumlah penduduk yang sering mengkonsumsi lemak yang jumlahnya mencampai 15,4 % (DepKes R.I., 2007). Berdasarkan hasil diskusi panel Susenas tahun 2007, konsumsi kalori masyarakat Bali yang diukur pada tahun 2002, 2005 dan 2007 terus berada di atas konsumsi rata-rata nasional, yaitu 2.249 berbanding 1.985 pada tahun 2002, 2.289 berbanding 2.007 pada tahun 2005 dan 2.285 berbanding 2014 pada tahun 2007. Dan bila dilihat komponen makanan penyumbang kalori pada tahun-tahun survey yang sama, konsumsi makanan yang bersifat aterogenik seperti lemak, daging dan gula yang

bersumber dari makanan dan minuman jadi, oleh masyarakat bali dapat dikatakan tergolong tinggi (Biro Pusat Statistik, 2007). Apakah perbedaan perkembangan penyakit degenerasi di atas ada kaitannya dengan makanan tradisional Bali yang unik dan lebih bersifat ateroprotektif? Atau dengan kata lain apakah babi guling menjadi lebih bersifat ateroprotektif oleh karena bumbunya? Apakah campuran bumbu babi guling yang bila dilihat per individu bahan dapat dikatakan sebagai bersifat antioksidan dan antiinflamasi tersebut, efektif untuk meredam efek aterogenik bahan makanan yang dipakai? . Laporan penelitian ini sedapat mungkin menjawab pertanyaan krusial di atas oleh karena penelitian ini diharapkan dapat mengungkap faktor risiko yang diperoleh dari mengkonsumsi babi guling yang merupakan salah satu makanan tradisional Bali terhadap kemungkinan menderita penuaan pembuluh darah. Dan secara khusus akan dijelaskan bagaimana efektifitas campuran bumbu yang dipakai di dalam babi guling dapat menurunkan risiko penuaan pembuluh darah sebagai akibat dari mengkonsumsi babi guling, pada binatang coba tikus Wistar. Ukuran yang digunakan untuk menyatakan penuaan pembuluh darah di dalam penelitian ini adalah munculnya Sel Busa (Foam Cell) sebagai cikal bakal dari penuaan

terbentuknya plak aterosklerosis yang merupakan tahap lanjut

pembuluh darah atau dikatakan sebagai penuaan dini pembuluh darah bila hal tersebut terjadi pada usia muda. Selanjutnya bagaimana pengaruh makanan terhadap proses penuaan itu sendiri akan diukur dari F2-isoprostan yang dapat mengukur oxidative damage pada membran sel akibat peroksidasi lemak atau

menjadi apa yang disebut sebagai Reactive Oxygen Species (ROS), total antioksidan dan Glutathion (GSH) untuk mengukur sejauh mana efek proteksi dari bumbu dan tubuh terhadap munculnya radikal bebas, dan Interleukin-6 (IL-6), untuk mempelajari terjadinya proses inflamasi. 1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan uraian di atas maka masalah dapat dirumuskan sebagai berikut 1. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan kadar F2isoprostan dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada serum darah tikus Wistar. 2. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan ekspresi F2isoprostan dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada serum darah tikus Wistar. 3. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan kadar Interleukin-6 (IL-6) menjadi lebih rendah dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada serum darah tikus Wistar. 4. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan ekspresi Interleukin-6 (IL-6) dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada serum darah tikus Wistar 5. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, meningkatkan aktivitas antioksidan total menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada serum darah tikus Wistar.

6. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, meningkatkan kadar Glutathione (GSH) menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada serum darah tikus Wistar. 7. Apakah konsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan jumlah Sel Busa yang terbentuk menjadi lebih rendah dibandingkan dengan tanpa berbumbu, pada dinding pembuluh darah tikus Wistar. 1.3 Tujuan 1.3.1 Tujuan Umum Secara umum penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bahwa mengkonsumsi babi guling yang terdiri dari daging dan campuran bumbu dapat menghambat penuaan pembuluh darah yang diukur dari lebih tingginya anti oksidan total dan GSH, rendahnya F2-isoprostan dan IL-6 dan berkurangnya pembentukan foam cell pada dinding pembuluh darah tikus Wistar. 1.3.2 Tujuan khusus Secara khusus penelitian ini telah dilakukan untuk membuktikan 1. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan kadar F2-isoprostan dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada serum darah tikus Wistar. 2. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan ekspresi F2-isoprostan dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada dinding pembuluh darah tikus Wistar

10

3. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan kadar IL-6 dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada serum darah tikus Wistar 4. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan ekspresi IL-6 dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada dinding pembuluh darah tikus Wistar 5. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, meningkatkan kadar Antioksidan Total menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada serum darah tikus Wistar 6. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, meningkatkan kadar Glutahione menjadi lebih tinggi dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada serum darah tikus Wistar 7. Apakah mengkonsumsi babi-guling yang berbumbu, menurunkan

terbentuknya Sel Busa menjadi lebih rendah dibandingkan dengan tanpa bumbu, pada dinding pembuluh darah tikus Wistar 1.4 Manfaat Penelitian Manfaat yang dapat diambil dengan diketahuinya pengaruh

mengkonsumsi makanan Bali (babi guling) terhadap terjadinya penuaan pembuluh darah antara lain: Manfaat Akademis: telah diketahui keunggulan bumbu bali yang lebih bersifat ateroprotektif dalam meredam sifat aterogenik daging, sehingga dapat menunda kejadian penuaan pembuluh darah yaitu penebalan dinding arteri dan terbentuknya foam cell yang merupakan tanda utama penuaan pembuluh darah dan akibatnya.

11

Selain itu, dengan diketahuinya keterkaitan antara perubahan F2-isoprostan dan IL-6 dalam darah dan dinding pembuluh darah, dengan perubahan ketebalan dinding dan terbentuknya foam cell pada dinding, maka dapat diketahui lebih dalam proses kerusakan endotel pada penuaan pembuluh darah tersebut. Manfaat praktis: Dengan diketahuinya pengaruh bumbu pada makanan Bali khususnya babi guling terhadap kejadian penuaan pembuluh darah secara dini, memberikan informasi kepada masyarakat bagaimana risiko menderita penuaan pada pembuluh darah yang terjadi sebagai akibat dari mengkonsumsi makanan tradisional Bali. Selain memang untuk melestarikan kebudayaan Indonesia khususnya Bali yang menyangkut makanan tradisional Bali, yang berasal dari kearifan lokal masyarakat Bali yang tidak pernah dipikirkan sebelumnya oleh masyarakat bali sendiri. Diharapkan, mulai dari hasil yang diperoleh dari penelitian ini, makanan tradisional Bali khususnya dan mungkin makanan tradisional Indonesia lainnya yang banyak menggunakan bumbu dapat menjadi perhatian untuk dikembangkan dan dilestarikan. Termasuk kemungkinan penggunaannya sebagai obat.