Anda di halaman 1dari 40

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Di zaman yang semakin maju dan berkembang ini, sudah banyak terjadinya perubahan perubahan gaya hidup khususnya di bidang arsitektur. Berbagai jenis arsitektur berkembang disetiap masing-masing suatu wilayah dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing. Banyak hal yang mempengaruhi perkembangan dan bentuk dari arsitekturnya tersebut, salah satunya adalah faktor adat istiadat dan kebiasaan hidup setiap manusia di masing-masing wilayah yang dia huni. Di Indonesia sendiri memiliki sangat banyak keanekaragaman adat istiadat dan suku budaya di masing-masing wilayah. Dari setiap suku budaya itu tersebut mempunyai cara untuk bertahan hidup yang berbeda - beda pula. Banyak hal yang memperngaruhi mulai dari iklim keadaan topografi dan yang lainnya. Dari sana lah lahir keanekaragaman bentuk arsitektural bangunan dari masing - masing suku budaya dengan dasar-dasar filosofi dan pemikiran yang berbeda - beda pula. Banyak hal dapat dipelajari dari warisan peninggalan nenek moyang yang wajib untuk dilestarikan ini. Disini bahan yang dipilih dalam penulisan disini adalah arsitektur bugis, minahasa, dan tana toraja yang dikenal unik dan mempunyai yang baik untuk di pelajari dengan sistem anti gempanya. 1.2 Rumusan Masalah ~ ~ ~ Bagaimana perkembangan prinsip arsitektur bugis, minahasa dan tana toraja ? Seperti apa arsitektur tradisional bugis, minahasa, dan tana toraja ? Apa yang dapat kita pelajari dari arsitektur bugis, minahasa, dan tana toraja ?

1.3 Tujuan ~ ~ Mengetahui perkembangan prinsip arsitektur bugis, minahasa, dan tana toraja. Mengetahui bentuk dan ragam hias arsitektur tradisional bugis, minahasa, dan tana toraja. ~ Mengetahui local genius dari arsitektur tradisioanl bugis, minahasa, dan tana toraja.

1.4 Manfaat ~ Sebagai suatu sarana edukasi dan media sosialisasi efektif terkait dengan keberadaan Arsitektur Nusantara. ~ Sebagai suatu acuan dalam mengetahui perkembangan arsitektur Nusantara.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

1.5 Metode Penulisan ~ Metode Literatur/Pustaka Mengambil beberapa teori dari kajian pustaka yang memiliki sangkut paut dengan isi makalah, sebagai dasar pembanding kebenaran antara teori dan fakta di lapangan.

1.6 Ruang Lingkup Adapun ruang lingkup dalam penyusunan makalah ini adalah kajian tentang upaya dalam mengetahui konsep arsitektur Nusantara, khususnya arsitektur tradisioanl bugis, minahasa, dan tana toraja .

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

BAB II ISI

2.1 SUKU BUGIS


2.1.1 ADAT ISTIADAT
Suku Bugis adalah salah satu suku yang berdomisili di Sulawesi Selatan. Ciri utama kelompok etnik ini adalah bahasa dan adat-istiadat, sehingga pendatang Melayu dan Minangkabau yang merantau ke Sulawesi sejak abad ke-15 sebagai tenaga administrasi dan pedagang di Kerajaan Gowa dan telah terakulturasi, juga bisa dikategorikan sebagai orang Bugis. Diperkirakan populasi orang Bugis mencapai angka enam juta jiwa. Kini orang-orang Bugis menyebar pula di berbagai provinsi Indonesia, seperti Sulawesi Tenggara, Sulawesi Tengah, Papua, Kalimantan Timur, dan Kalimantan Selatan. Orang Bugis juga banyak yang merantau ke mancanegara seperti di Malaysia, India, dan Australia. Suku Bugis adalah suku yang sangat menjunjung tinggi harga diri dan martabat. Suku ini sangat menghindari tindakan-tindakan yang mengakibatkan turunnya harga diri atau martabat seseorang. Jika seorang anggota keluarga melakukan tindakan yang membuat malu keluarga, maka ia akan diusir atau dibunuh. Namun, adat ini sudah luntur di zaman sekarang ini. Tidak ada lagi keluarga yang tega membunuh anggota keluarganya hanya karena tidak ingin menanggung
Gambar 1 : Denah Sulawesi Selatan

malu dan tentunya melanggar hukum. Sedangkan adat malu masih dijunjung oleh masyarakat Bugis kebanyakan.

Walaupun tidak seketat dulu, tapi setidaknya masih diingat dan dipatuhi. Salah satu daerah yang didiami oleh suku Bugis adalah Kabupaten Sidenreng Rappang. Kabupaten Sidenreng Rappang disingkat dengan nama Sidrap adalah salah satu kabupaten di provinsi Sulawesi Selatan, Indonesia. Ibu kota kabupaten ini terletak di Pangkajene Sidenreng. Kabupaten ini memiliki luas wilayah 2.506,19 km2 dan berpenduduk
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 3

sebanyak kurang lebih 264.955 jiwa. Penduduk asli daerah ini adalah suku Bugis yang taat beribadah dan memegang teguh tradisi saling menghormati dan tolong menolong. Dimanamana dapat dengan mudah ditemui bangunan masjid yang besar dan permanen. Namun terdapat daerah dimana masih ada kepercayaan berhala yang biasa disebut Tau Lautang yang berarti Orang Selatan. Orang-orang ini dalam seharinya menyembah berhala di dalam gua atau gunung atau pohon keramat. Akan tetapi, di KTP (Kartu Tanda Penduduk) mereka, agama yang tercantum adalah agama Hindu. Mereka mengaku shalat 5 waktu, berpuasa, dan berzakat. Walaupun pada kenyataannya mereka masih menganut animisme di daerah mereka. Saat ini, penganut kepercayaan ini banyak berdomisili di daerah Amparita, salah satu kecamatan di Kabupaten Sidrap. Di Sidrap pernah hidup seorang Tokoh Cendikiawan Bugis yang cukup terkenal pada masa Addatuang Sidenreng dan Addatuang Rappang (Addatuang = semacam pemerintahan distrik di masa lalu) yang bernama Nenek Mallomo. Dia bukan berasal dari kalangan keluarga istana, akan tetapi kepandaiannya dalam tata hukum negara dan pemerintahan membuat namanya cukup tersohor. Sebuah tatanan hukum yang sampai saat ini masih diabadikan di Sidenreng yaitu: Naiya Adee Denakkeambo, deto nakkeana. (Terjemahan : sesungguhnya ADAT itu tidak mengenal Bapak dan tidak mengenal Anak). Kata bijaksana itu dikeluarkan Nenek Mallomo ketika dipanggil oleh Raja untuk memutuskan hukuman kepada putera Nenek Mallomo yang mencuri peralatan bajak tetangga sawahnya. Dalam Lontara La Toa, Nenek Mallomo disepadankan dengan tokoh-tokoh Bugis-Makassar lainnya, seperti I Lagaligo, Puang Rimaggalatung, Kajao Laliddo, dan sebagainya. Keberhasilan panen padi di Sidenreng karena ketegasan Nenek Mallomo dalam menjalankan hukum, hal ini terlihat dalam budaya masyarakat setempat dalam menentukan masa tanam melalui musyawarah yang disebut TUDANG SIPULUNG (Tudang = Duduk, Sipulung = Berkumpul atau dapat diterjemahkan sebagai suatu Musyawarah Besar) yang dihadiri oleh para Pallontara (ahli mengenai buku Lontara) dan tokoh-tokoh masyarakat adat. Melihat keberhasilan TUDANG SIPULUNG yang pada mulanya diprakarsai oleh Bupati kedua, Bapak Kolonel Arifin Numang sebelum tahun 1980, daerah-daerah lain pun sudah menerapkannya. Adat panen: Mulai dari turun ke sawah, membajak, sampai tiba waktunya panen raya. Ada upacara appalili sebelum pembajakan tanah. Ada Appatinro pare atau appabenni ase sebelum bibit padi disemaikan. Ritual ini juga biasa dilakukan saat menyimpan bibit padi di possi balla,
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 4

sebuah tempat khusus terletak di pusat rumah yang ditujukan untuk menjaga agar tak satu binatang pun lewat di atasnya. Lalu ritual itu dirangkai dengan massureq, membaca meong palo karallae, salah satu epos Lagaligo tentang padi. Dan ketika panen tiba digelarlah katto bokko, ritual panen raya yang biasanya diiringi dengan kelong pare. Setelah melalui rangkaian ritual itu barulah dilaksanakan Mapadendang. Di Sidrap dan sekitarnya ritual ini dikenal dengan appadekko, yang berarti adengka ase lolo, kegiatan menumbuk padi muda. Appadekko dan Mappadendang konon memang berawal dari aktifitas ini. Bagi komunitas Pakalu, ritual mappadendang mengingatkan kita pada kosmologi hidup petani pedesaan sehari-hari. Padi bukan hanya sumber kehidupan. Ia juga makhluk manusia. Ia berkorban dan berubah wujud menjadi padi. Agar manusia memperoleh sesuatu untuk dimakan, yang seolah ingin menghidupkan kembali mitos Sangiyang Sri, atau Dewi Sri di pedesaan Jawa, yang diyakini sebagai dewi padi yang sangat dihormati. Tapi itu dulu. Ketika tanah dan padi masih menjadi sumber kehidupan yang mesti dihormati dan diagungkan. Sebelum akhirnya bertani menjadi sarana bisnis dan proyek peningkatan surplus produksi ekonomi nasional. Sekadar mengingat kembali lebih dari 30 tahunan yang silam, pemerintah melancarkan program intensifikasi pertanian di desa-desa, yang dikenal dengan revolusi hijau dalam pembangunan pertanian. Program itu, di awal tahun 1970-an, populer dengan nama Bimas Padi Sawah. Nyaris tak ada satu jengkal pun lahan pertanian yang terhindar dari proyek berorientasi swasembada dan bisnis pertanian ini. Segala cara dilakukan para penyuluh dan pegawai Bimas, melalui ancaman maupun paksaan, agar para petani menjalankan program bimas. Kelompok-kelompok petani dibentuk. Modernisasi sistem pertanian dilancarkan. Hingga pengenalan varietas baru yang disebut-sebut sebagai bibit unggul itu wajib ditanam. Sejak saat itu pare riolo yang biasa disemai para petani ini mulai jarang ditanam. Dan digantikan dengan varietas unggul padi sawah. Seperti padi Shinta, Dara, Remaja, yang merupakan produk persilangan yang dikeluarkan Lembaga Pusat Pertanian (LP-3) Bogor. Atau varietas unggul baru macam IR-5 dan IR-8 yang dikenal dengan PB-5 dan PB-8 yang hasil rekayasa Rice Researce Institute (IRRI). Teknik baru berupa mesin-mesin traktor juga menggantikan sistem pengolahan tanah yang mengandalkan tenaga sapi atau kerbau. Seiring dengan modernisasi sistem pertanian dan orientasi pada aktifitas peningkatan income dan produksi nasional. Akhirnya ritual-ritual bercocok tanam yang rutin digelar, lambat laun mulai hilang. Lantaran sistem pertanian pendukung ritual itu semakin ditinggalkan. Tak ada lagi memanen dengan ani-ani. Tak ada lagi katto bokko. Tidak pula
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 5

kelong pare dan mappadendang. Bersamaan dengan itu tiada lagi penghargaan terhadap sumber kehidupan. Praktek menanam tidak berurusan dengan anugerah Sangiyang Sri seperti yang diyakini selama ini. Tapi soal bagaimana produk pertanian dapat mengejar target produksi nasional yang diharapkan para penyuluh pertanian. Mapadendang itu tradisi menumbuk padi. Dulu merontokkan padi itu dengan menumbuk. Sekarang sudah pakai mesin giling. Makanya mapadendang pun semakin jarang dilakukan. Padahal dalam ritual itulah rasa kebersamaan para petani muncul. Bahkan mappadendang menjadi tempat pertemuan muda-mudi yang ingin mencari pasangan hidup. Dalam ritual itu setiap pasangan mulai saling mengenal calon pasangannya, memperhatikan sikap dan tingkah lakunya. Kini penghargaan terhadap padi sebagai sumber kehidupan sudah pudar. Orang-orang sekarang hanya berpikir bagaimana bibit itu bisa cepat tumbuh dan cepat panen. Meski demikian, tidak berarti program pembangunan pertanian masa pemerintahan Suharto yang berhasil mengubah kultur masyarakat pedesaan ini tanpa menuai reaksi dan protes. Di Sidrap, misalnya. Puluhan petani enggan beralih bibit padi baru. Di Kindang yang masuk wilayah Bulukumba, seorang petani bernama Karaeng Haji menantang seorang penyuluh pertanian yang mendatanginya. Cerita yang dituturkan Massewali ini justeru membuktikan hasil panen Karaeng Haji jauh lebih besar ketimbang hasil panen yang dijanjikan para penyuluh pertanian dari Bimas. Di banyak tempat di Sulawesi Selatan, khususnya di daerah-daerah pertanian, kasus-kasus serupa tak sedikit jumlahnya. Alasannya pun bermacam-macam. Dikatakan, misalnya varietas bibit baru unggulan itu kenyataannya cuma unggul sekali panen atau paling banter dua kali panen. Adapun untuk masa tanam berikutnya mereka harus mengganti bibit dengan cara membeli bibit baru melalui unit koperasi yang masih dijalankan secara top-dawn pula. Tentu saja ini menyulitkan para petani yang harus bergonta-ganti bibit baru setiap musim tanam. Respon yang lain juga diperlihatkan oleh komunitas Pakalu. Seperti dituturkan Mustari dan Halima, mereka menerima varietas bibit baru untuk sebagian persawahan mereka. Di pihak lain mereka juga tidak meninggalkan varietas padi lama yang lebih terbukti hasilnya. Dengan cara itu selain memperoleh hasil produksi yang melimpah, mereka pun masih bisa menjalani mappadendang. Ritual yang menjadi bagian dari penghayatan hidup mereka sehari-hari. Di Kabupaten Sidrap dewasa ini, tradisi mappadendang digelar dengan acara makan bersama di balai desa yang dihadiri oleh tetua-tetua, pemuka adat, pemuka agama, tokoh
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 6

masyarakat, dan semua petani-petani. Acara ini dimaksudkan untuk mensyukuri hasil panen mereka. Mereka mensyukuri rejeki yang dilimpahkan oleh Allah SWT kepada mereka. Adat pernikahan: Pernikahan yang kemudian dilanjutkan dengan pesta perkawinan merupakan hal yang membahagiakan bagi semua orang terutama bagi keluarga dan orang-orang di sekitarnya. Di Sulawesi Selatan terdapat banyak adat perkawinan sesuai dengan suku dan kepercayaan masyarakat. Bagi orang Bugis-Makassar, pernikahan/perkawinan diawali dengan proses melamar atau Assuro (Makassar) dan Madduta (Bugis). Jika lamaran diterima, dilanjutkan dengan proses membawa uang lamaran dari pihak pria yang akan dipakai untuk acara pesta perkawinan oleh pihak wanita ini disebut dengan Mappenre dui (bugis) atau Appanai leko caddi (Makassar). Pada saat mengantar uang lamaran kemudian ditetapkan hari baik untuk acara pesta perkawinan yang merupakan kesepakatan kedua belah pihak. Sehari sebelum hari H berlangsung acara malam pacar mappaci (bugis) atau akkorontigi (Makassar), calon pengantin baik pria maupun wanita (biasanya sdh mengenakan pakaian adat daerah masing-masing) duduk bersila menunggu keluarga atau kerabat lainnya datang mengoleskan daun pacar ke tangan mereka sambil diiringi doa-doa untuk kebahagiaan mereka. Keesokan harinya (Hari H), para kerabat datang untuk membantu mempersiapkan acara pesta mulai dari lokasi, dekoasi, konsumsi, transportasi dan hal-hal lainnya demi kelancaran acara. Pengantin pria diberangkatkan dari rumahnya (Mappenre Botting = Bugis / Appanai leko lompo = Makassar) diiringi oleh kerabat dalam pakaian pengantin lengkap dengan barang seserahan erang-erang menuju rumah mempelai wanita. Setibanya di rumah mempelai wanita, pernikahanpun dilangsungkan, mempelai pria mengucapkan ijab kabul dihadapan penghulu disaksikan oleh keluarga dan kerabat lainnya. Setelah proses pernikahan selesai, para pengantar dipersilakan menikmati hidangan yang telah dipersiapkan. Selanjutnya, para pengantar pulang dan mempelai pria tetap di rumah mempelai wanita untuk menerima tamu-tamu yang datang untuk mengucapkan selamat dan menyaksikan acara pesta perkawinan. Pada acara pesta perkawinan biasanya meriah karena diiringan oleh hiburan organ tunggal atau kesenian daerah lainnya. Keesokan harinya, sepasang pengantin selanjutnya diantar ke rumah mempelai pria dengan iring-iringan yang tak kalah meriahnya. Selanjutnya, rumah mempelai pria berlangsung acara yang sama, bahasa Bugis disebut mapparola.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

2.1.2 FILOSOFI & LATAR BELAKANG RUMAH ADAT BUGIS


Rumah panggung kayu adalah salah satu rumah tradisional yang berbentuk persegi empat yang memanjang kebelakang . Kontruksi bangunan rumah ini dibuat lepas pasang (knock down )sehingga dapat dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain. Konsep empat persegi panjang ini bermula dari pandangan masyarakat bugis tentang bagaimana memahami alam semesta secara universal. Dalam falsafah dan pandangan hidup mereka terdapat istilah sulapa eppa yang berarti persegi empat , yaitu sebuah pandangan dunia empat sisi yang tertujuan untuk mencari kesempurnaan ideal dalam mengenali dan mengatasi kelemahan manusia. Menurut mereka,segala sesuatu baru dikatakan sempurna dan lengkap jika memiliki sulapa eppa. Demikian juga pandangan mereka dengan rumah,yaitu sebuah akan dikatakan bola genne atau rumah sempurna jika berbentuk segi empat,yang berarti memiliki kesempurnaan. Orang bugis juga mengenal tingkatan sosial yang dapat mempengaruhi bentuk rumah mereka ,yang ditandai dengan simbol simbol khusus berdasarkan pelapisan sosial tersebut,maka bentuk rumah tradisional orang bugis dikenal saoraja(sallasa) dan bola. Beberapa wasiat yang menjadi perhatian dalam hal menentukan arah rumah pada masyarakat tradisional Bugis-Makassar misalnya: sebaiknya menghadap kearah terbitnya matahari, menghadap kedataran tinggi, atau menghadap ke salah satu arah mata angin. Selain itu salah satu faktor pertimbangan lain yang selalu diperhitungkan adalah pemilihan waktu saat mendirikan rumah. Adapun hari ataupun bulan yang baik, biasanya ditentukan atas bantuan orang-orang yang memiliki kepandaian dalam hal memilih waktu. Untuk pendirian rumah, biasanya didahului oleh serangkaian upacara-ritual. Pada tahap selanjutnya secara berurutan mulailah mendirikan rumah dengan mengerjakan pemancangan tiang pusat rumah yang disebut posibola terlebih dahulu, menyusul pemasangan tiang tiang yang lain, hingga pekerjaan selesai dikerjakan secara keseluruhan. Konsep arsitektur masyarakat tradisional Bugis-Makassar bermula dari suatu pandangan hidup ontologis, bagaimana memahami alam semesta secara universal. Filosofi hidup masyarakat tradisional Bugis Makassar yang disebut Sulapa Appa, menunjukkan upaya untuk menyempurnakan diri. Filosofi ini menyatakan bahwa segala aspek kehidupan manusia barulah sempurna jika berbentuk Segi Empat. Filosofiyang bersumber dari mitos asal mula kejadian manusia yang diyakini terdiri dari empat unsur, yaitu : tanah, air, api, dan angin. Bagi masyarakat tradisional Bugis-Makassar yang berfikir secara totalitas, maka rumah tradisional Bugis Makassar dipengaruhi oleh pemahaman: Struktur kosmos dimana alam terbagi atas tiga bagian yaitu alam atas , alam tengah, dan alam bawah,. Abu
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 8

Hamid (1978:30-31) dalam Bingkisan Budaya Sulawesi Selatan menuliskan bahwa rumah tradisional orang Bugis tersusun dari tiga tingkatan yang berbentuk segi empat, dibentuk dan dibangun mengikuti model kosmos menurut pandangan hidup mereka, anggapannya bahwa alam raya (makrokosmos) ini tersusun dari tiga tingkatan, yaitu alam atas atau banua atas, alam tengah banua tengah dan alam bawah banua bawah . Benua atas adalah tempat dewa-dewa yang dipimpin oleh seorang dewa tertinggi yang disebut Dewata Seuwae (dewa tunggal), bersemayam di Botting-Langik (langit tertinggi). Benua tengah adalah bumi ini dihuni pula oleh wakil-wakil dewa tertinggi yang mengatur hubungan manusia dengan dewa tertinggi serta menggawasi jalannya tata tertib kosmos. Benua bawah disebut Uriliyu (tempat yang paling dalam) dianggap berada di bawah air. Semua pranatapranata yang berkaitan dengan pembuatan atau pembangunan rumah harus berdasarkan kosmologis yang diungkap dalam bentuk makna simbolis-filosofis, yang diketahuinya secara turun-temurun dari generasi kegenerasi.

Gambar 2 : Rumah Tradisional Bugis

Gambar 3 : Rumah Tradisional Bugis

2.1.3 STRUKTUR
Sebagaimana diketahui dalam konsep arsitektur tradisional Bugis- Makassar, memandang kosmos terbagi atas tiga bagian, maka secara struktural rumah tradisional Bugis Makassar terbagi atas : Struktur bagian bawah, Berdirinya tiang ditunjang oleh beberapa konstruksi sambungan yang disebut: Pattoddo (Makassar), Pattolo (Bugis), berfungsi untuk menghubungkan/menyambung antara tiang satu dengan tiang yang lainnya dengan arah melebar rumah. Bahan biasanya dari kayu jati, batang kelapa, dan lain-lain. Palangga (Makassar), Arateng (Bugis), terbuat dari balok pipih yang panjangnya lebih sedikit dari
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 9

panjang rumah. Bahan yang digunakan dari bahan batang kelapa, lontar, bambu dan lain-lain. Fungsinya yaitu: Penahan berdirinya tiang-tiang rumah, dan Sebagai dasar tempat meletakkan pallangga caddi/tunabbe sebagai dasar tumpuan lantai. Pada rumah bangsawan jumlahnya biasanya 5 hingga 6 batang (sesuai petak rumah),untuk rakyat biasa 4 batang. Pondasi/ Umpak, tempat meletakkan tiang agar tidak bersentuhan langsung dengan tanah. Struktur badan rumah, komponen komponen utama bagian ini adalah : 1. Lantai,berdasarkan status penghuninya maka lantai rumah tradisional terdiri dari ; Untuk golongan bangsawan Arung, lantai rumah biasanya tidak rata karena adanya tamping yang berfungsi sebagai sirkulasi, bahan lantai dari papan. Sedangkan untuk golongan rakyat biasa Tosama umumnya rata tanpa tamping. Golongan hamba sahaja Ata umumnya dari bambu. 2. Dindinguntuk bahan penutup digunakan gamacca, papan, dengan sistem konstruksi ikat dan jepit. Konstruksi balok anak, merupakan penahan lantai, dan bertumpu pada balok pallangga lompo/arateng. Jumlahnya ganjil dengan jarak rata-rata 20 hingga 50 cm. Struktur dan konstruksi bagian atas rumah terdiri dari konstruksi kap/atap yang merupakan suatu kesatuan yang kokoh dan stabil untuk menahan gaya. Komponennya terdiri atas : Balok makelar soddu atau suddu. Terletak ditengah antara balok pengerat dan balok skor, berfungsi sebagai tempat kedudukan balok bubungan dan kaki kuda-kuda. Sistem konstruksinya dengan sistem ikat/takik pen, dengan ketinggian disesuaikan dengan status penghuninya. Arung = lebar rumah + 1 siku + 1 jengkal telunjuk + 3 jari pemilik, Golongan Tosama = lebar rumah + 1 telapak tangan, Golongan Ata = lebar rumah + 1 siku + tinggi kepala + kepalan tangan pemilik. Kaki Kuda kuda Pasolle. Berfungsi sebagai tempat kedudukan balok-balok gording dan sebagai penahan bidang atap sistem konstruksinya menggunakan sistem ikat, takik, dan paku pen. Balok pasolla berbentuk pipih 3/12 cm. Balok bangunan Coppo, berfungsi sebagai tempat bertumpunya balok suddu, kaso, dan bahan atap. Sistem konstruksinya, balok bubungan diletakkan diatas balok makelar yang ditakik kemudian diperkuat dengan paku pen, dimensi balok 4/12 cm. Balok pengerat Pattoddo riase atau Pannoddo, adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dari tiap baris arah lebar rumah. Panjangnya lebih sedikit dari lebar rumah, dimensi 4 x 12,5 x 14, atau 6 x 15 cm. Sistem konstruksinya, bila tiang dari bahan bambu maka tiang dan balok pengerat ditakik 1/3 dari diameter, kemudian diikat. Bila segi empat, tiang
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 10

dilubangi setebal penampang balok pengerat kemudian padongko di tusuk pada setiap lubang dari tiang. Bahan biasanya batang lontar, kelapa, jati, dan lain-lain. Balok blander Bare atau Panjakkala, adalah balok yang menghubungkan ujung atas tiang dalam arah memanjang. Fungsinya adalah sebagai ring balok, pendukung kaso, tempat memasang timpalaja dan tempat meletakkan balok rakkeang. Sistem konstruksinya biasanya menggunakan pen, ikat, dan diperkuat dengan pasak. Barakapu, sebagai tempat memakukan / mengikat papan lantai Rakkeang atau Pammakkang. Rakkeang/Pammakkang, sebagai tempat penyimpan barang dan lain-lain, bahannya dapat berupa bambu atau papan. Sistem konstruksinya, jepit dan ikat. Sambulayang atau Timpalaja, merupakan bagian konstruksi atas yang berupa bidang segitiga dan dibuat berlapis. Sistem konstruksinya, rangka utama berpegang, bertumpu pada balok nok, pada kedua ujung bagian bawah terletak pada balok Pattikkeng. Les plank Ciring, berupa papan yang dipasang pada ujung sisi depan dan belakang atap. Fungsinya sebagai penahan angin yang berpegang pada balok gording dengan sistem sambungan pen dan lubang, ujungnya kadang diberi hiasan Ornamen. Atap, bahan dari nipa, rumbia, alang alang, atau daun lontar. Bentuk pelana dengan sudut antara 30 hingga 40.

Gambar 4 : Potongan Memendek Rumah Tradisional Bugis

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

11

2.1.4 ORNAMEN RAGAM HIAS

DAN

Ragam hias Ornamen pada rumah tradisional Bugis-Makassar merupakan

salah satu bagian tersendiri dari bentuk dan corak rumah tradisional Bugis-Makassar. Selain berfungsi sebagai hiasan, juga dapat berfungsi sebagai simbol status pemilik rumah. Ragam hias umumnya memiliki
Gambar 5 : Rangka Rumah Tradisional Bugis

pola dasar yang bersumber dari corak alam,

flora dan fauna.Ornamen corak alam; Umumnya bermotifkan kaligrafi dari kebudayaan islam.Ornamen flora corak tumbuhan , Umumnya bermotifkan bunga/ kembang, daun yang memiliki arti rejeki yang tidak putus putusnya, seperti menjalarnya bunga itu, disamping motif yang lainnya. Ornamen fauna corak binatang, umumnya bentuk yang sering

ditemukan adalah : Kepala kerbau yang disimbolkan sebagai bumi yang subur, penunjuk jalan, bintang tunggangan dan status sosial. Bentuk naga yang diartikan simbol wanita yang sifatnya lemah lembut, kekuatan yang dahsyat. Bentuk ayam jantan yang diartikan sebagai keuletan dan keberanian, agar kehidupan dalam rumah senantiasa dalam keadaan baik dan membawa keberuntungan.Penempatan ragam hias ornamen tersebut utamanya pada sambulayang/timpalaja, jendela, anjong, dan lain-lain. Penggunaan ragam hias tersebut menandakan bahwa derajat penghuninya tinggi.

Gambar 6 : Ragam Hias Bentuk Ayam Jantan

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

12

2.2. SUKU MINAHASA


2.2.1 ADAT ISTIADAT
Dari pendapat, Tandean seorang ahli bahasa dan huruf Cina Kuno, 1997 datang meneliti di Watu Pinawetengan. Melalui tulisan Min Nan Tou yang terdapat di batu itu, ia mengungkapkan, tou Minahasa merupakan turunan Raja Ming dari tanah Mongolia yang datang berimigrasi ke Minahasa. Arti dari Min Nan Tou adalah orang turunan Raja Ming dari pulau itu. Namun aneh juga seperti diketahui Dinasti Ming bukanlah orang Mongolia justru Dinasti Ming adalah yang mengganti Dinasti Yuan yang dipimpin bangsa Mongol, oleh Kubilai Khan. Berdasarkan pendapat para ahli diantaranya A.L.C Baekman dan M.B Van Der Jack yaitu berasal dari ras Mongolscheplooi yang sama dengan pertalian Jepang dan Mongol ialah memiki lipit Mongolia. Memang bangsa mongol terkenal dengan dengan gaya hidup berperang dengan menguasai 1/2 dunia saat dipimpin oleh Genghis Khan, dan bangsa Mongol menyebar tidak terkecuali pergi ke Manado. Persamaan dengan Mongol dalam sistem kepercayaan dapat dilihat pada agama asli Minahasa Shamanisme sama seperti Mongol. Dan juga dipimpin oleh Walian yang langsung dimasuki oleh opo. Agama Shamanisme ini memang dipegang teguh secara turun temurun oleh suku Mongol. Dapat dilihat juga di Kalimantan Dayak, dan Korea. Namun memang orang Minahasa sudah tidak murni dari Mongol saja, namun sudah campuran Spanyol, Portugis, dan Belanda yang diketahui keturunan Yahudi, namun lebih dipengaruhi oleh Kristen. Sebenarnya aslinya Suku Minahasa dari Mongol yang terkenal dengan kehebatan perang, dan Yahudi yang terkenal dengan kecerdasannya. Memang Belanda sebagi Yahudi yang masuk ke Indonesia hanya mendirikan 1 tempat ibadah di Indonesia silahkan lihat Sinagog di Tondano

Seperti kita tahu Manado dalam prosesnya oleh Indonesia dibilang bangsa asing karena sangat dimanja oleh Belanda dan Sekutu. Serta sangat berbeda dengan ciri orang Indonesia pada umumnya.

Suku Minahasa terbagi atas sembilan subsuku:

1. Babontehu 2. Bantik
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 13

3. Pasan Ratahan (Tounpakewa) 4. Ponosakan 5. Tonsea 6. Tontemboan 7. Toulour 8. Tonsawang 9. Tombulu

Nama Minahasa mengandung suatu kesepakatan mulia dari para leluhur melalui musyarawarah dengan ikrar bahwa segenap tou Minahasa dan keturunannya akan selalu seia sekata dalam semangat budaya Sitou Timou Tumou Tou. Dengan kata lain tou Minahasa akan tetap bersatu (maesa) dimanapun ia berada dengan dilandasi sifat maesa-esaan (saling bersatu, seia sekata), maleo-leosan (saling mengasihi dan menyayangi), magenang-genangan (saling mengingat), malinga-lingaan (saling mendengar), masawang-sawangan (saling menolong) dan matombo-tomboloan (saling menopang). Inilah landasan satu kesatuan tou Minahasa yang kesemuanya bersumber dari nilai-nilai tradisi budaya asli Minahasa (Richard Leirissa, Manusia Minahasa, 1995). Jadi walaupun orang Minahasa ada di mana saja pada akhirnya akan kembali dan bersatu, waktu itu akan terjadi pada akhir jaman, yang tidak seorangpun yang tau. Seperti Opo Karema pernah kasih amanat "Keturunan kalian akan hidup terpisah oleh gunung dan hutan rimba. Namun, akan tetap ada kemauan untuk bersatu dan berjaya.

2.2.2 FILOSOFI & LATAR BELAKANG RUMAH TRADISIONAL MINAHASA


Menurut fakta- fakta penyelidikan kebudayaan dunia dan benda- benda purbakala. Di tanah Minahasa sendiri kaum pendatang mempunyai ciri seperti: Kaum Kuritis (berambut keriting),Kaum Lawangirung (berhidung pesek) dan Kaum Malesung/ Minahasa yang menurunkan suku-suku :Tonsea, Tombulu, Tompakewa, Tolour, Bantenan

(Pasan,Ratahan),Tonsawang, Bantik (sekitartahun 1590). Suku Minahasa atau Malesung mempunyai pertalian dengan suku bangsa Filipina dan Jepang, yang berakar pada bangsa Mongol didataran Cina.Hal ini nyata tampak dalam bentuk fisik seperti mata, rambut, tulang paras, bentuk mata, dll. Arsitektur rumah tradisional
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 14

Minahasa dapat dibagi dalam periode sebelum gempa bumi tahun 1845 dan periode pasca gempa bumi 1845-1945. -Tingkatan atau status social Golongan Makasiow (pengatur ibadah yang disebut Walian/ Tonaas) hingga saat ini istilah yang dipakai adalah 2 X 9 ( 9 orang tonaas yang menempati posisi antara Sang penguasa dengan Surga dan Bumi, Baik tidak Baik, dan semua hal tentang keseimbangan Golongan Maka telupitu (pengatur/ pemerintah dengan gelar Patu anatau 3 X 7 Teterusan/ kepala desa dan pengawaldesadisebutWaranei ( 7 orang pengatur/ pemerintah) Golongan Makasiow Telu 9 x 9

Seiring waktu, jumlah penduduk bertambah, tempat tinggal mulai padat dan lahan terbatas, maka keturunan Toar lumimuut berpencar tumani (membuka lahan baru)untuk kelangsungan taranak mereka serta Golongan PasiyowanTelu (rakyat). Sejak awal bangsa Minahasa tiada pernah terbentuk kerajaan atau mengangkat seorang raja sebagai kepala pemerintahan kepala pemerintah adalah kepala keluarga yang gelarnya adalah paedonTuaatauPatuan yang sekarang kita kenal dengan sebutan HukumTua. -Sistem kekerabatan suku minahasa (kota Manado) Kota Manado secara hokum adat merupakan wilayah dari Tanah Minahasa, dimana masyarakatnya sebagian besar berasal dari Suku Minahasa yakni Sub SukuTombulu, Tonsea, Tontemboanatau Tompakewa, Toulour, Tonsawang, PasanatauRatahan, Ponosakan, dan Bantik. Ada juga masyarakat pendatang dari luar negeri, seperti Bangsa Cina yang telah kawin mawin dengan orang Manado Minahasa dan keturunannya disebut Cina Manado, Bangsa Portugis dan Spanyol yang keturunannya disebut Orang Borgo Manado, Bangsa Belanda yang keturunannya disebut Endo Manado serta Bangsa Arab, Jepang, dan India dimana perkawinan mereka bersifat endogam. Disamping itu, ada pula penduduk Kota Manado yang berasal dari Suku Sangihe Talaud, Bolaang Mongondouw, Gorontal oserta daerah lainnya dari seluruh Indonesia yang telah sekian lama menetap. -Sistem mata pencaharian Seperti perikanan darat dan laut, pertanian, peternakan, dan kerajinan.Namun rata-rata masyarakat Kota Manado mempunyai profesi sebagai Pegawai Negeri Sipil (PNS), Anggota TNI dan POLRI, Pengusaha dan Karyawan, Buruh, Sopir, Tukang, dan Pembantu. -SistemKepercayaan Masyarakat Kota Manado masih memiliki kepercayaan lama, yakni kepercayaan kepada dewa-dewa yang menghuni alam, seperti Opo Empung (Tuhan), Opo nenek moyang, Opo
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 15

kerabat, mahluk-mahluk penghuni gunung, sungai, mata air, hutan, bawah tanah, pantai dan laut, hujan, dan mata angin. Selain itu ada juga kepercayaan yang berhubungan dengan mahluk halus lainnya, seperti mukur, pontianak, setang sekitar mangiung-ngiung, pok-pok, panunggu, jin, dan lulu. -Perkampungan Pola perkampungan dari tiap-tiap kelurahan di wilayah Kota Manado pada umumnya terletak diatas tanah dataran, baik dataran tinggi mau pun dataran rendah secara berkelompok padat.Kelurahan yang satu dengan kelurahan yang lainnya sambung-menyambung menjadi satu kesatuan mengikuti jalan raya maupun memanjang mengikuti jalan-jalan kecil dan juga lorong-lorong. -Letak&Orientasi Luas Minahasa pada jaman ini adalah dari pantai likupang, Bitung sampai kemuara sungai Ranoya poke gunung Soputan, gunung Kawatak dan sungai Rumbia Wilayah setelah sungai Ranoya podan Poigar, Tonsawang, Ratahan, Ponosakan adalah termasuk wilayah kerajaan Bolaang Mongondow. Terletak di jazirah semenanjung utara Sulawesi kabupaten Minahasa Termasuk kawasan vulkanik dengan sejumlah gungng berapi yang masih aktif seperti gunung Klabat(tertinggi),Soputan,Lokon dan Mahawu. Orientasi rumah menghadap ke arah yang ditentukan oleh tonaas pemberi petunjuk. -Pengaruh system kekerabatan & kepercayaan pada rumah adat minahasa Rumah tradisional Minahasa berbentuk rumah panggung atau rumah kolong. -Rumah tradisional Minahasa berbentuk rumah panggung atau rumah kolong. Rumah adat Minahasa merupakan rumah panggung yang terdiri dari dua tangga didepan rumah bila ada roh jahat yang mencoba untuk naik dari salah satu tangga maka roh jahat tersebut akan kembali turun di tangga yang sebelahnya. Bentuk kelompok keluarga ialah kerabat (patuari) warganya bejumlah 20-40 orang. Sosio-kultural tertua suku minahasa yaitu pranata mapalus (azas gotong-royong). -Karakteristik ruang dalam rumah, Hanya terdapat satu ruang bangsal untuk semua kegiatan penghuninya.Pembatas territorial adalah dengan merentangkan rotan atau tali ijuk dan menggantungkan tikar.Orientasi rumah menghadap kearah yang ditentukan oleh Tonaas yang memperoleh petunjuk dari Empung Walian Wangko (Tuhan).Karakteristik ruang dalamrumah masa 1845-1945 berbeda dengan sebelumnya, karena sudah terdapat beberapa kamar, seperti badan rumah terdepan berfungsi sebagai ruangtamu/ ruang setup emperan, ruangtengah/ pores difungsikan untuk menerima kerabat dekat, dan ruang tidur untuk orang tua dan anak perempuan, ruang tengah belakang
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 16

tempat lumbung padi (sangkor). Ruang masak terpisah pada bangunan lainnya . Fungsi loteng/ soldor adalah sama dengan masa sebelumnya yang diperuntukkan menyimpan hasil panen.

Gambar 7 : Peta Wilayah Suku Minahasa

Keadaan Penduduk Terdapat 8 suku anak suku yaitu : 1. Tontemboan 2. Tombulu 3. Tonsea 4. Tondano 5. Tonsawang 6. Ratahan 7. Ponosakan 8. Bantik Kemudian kedatangan penduduk asli sehingga melahirkan 4 anak suku yaitu : 1. Tombulu 2. Tonsea 3. Tontemboan 4. Tondano Suku Minahasa disebut Orang Manado,Tou,Wenang,atau Kawanua. Sistem Kekerabatan Bentuk kelompok keluarga ialah kerabat (patuari) warganya bejumlah 20-40 orang.
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 17

Sosio-kultural tertua suku minahasa yaitu pranata mapalus (azas gotong-royong). - Pola Perkampungan Pola perkampungan di desa Pinabetengan bersifat menetap, dalam arti bahwa suatu desa cenderung tidak berkurang penduduknya atau lengkap ditinggalkan akibat ladang-ladang yang makin jauh. Desa ini merupakan pusat aktifitas sosial dari para penduduknya. Aspek lain dari pola desa di Pinabetengan ialah bahwa kelompok rumah-rumah itu mempunyai bentuk memanjang mengikuti arah jalan. Desa yang mulai menjadi besar, pada sebelah menyebelah jalan dihubungkan dengan jalan-jalan samping untuk masuk lebih ke dalam. Pusat-pusat aktifitas desa seperti aktifitas-aktifitas Gereja, balai pertemuan, puskesmas, sekolah-sekolah (tiga SD, satu SMP dan satu SMA ) dan lainnya tidak terletak pada suatu deretan memanjang pada jalan utama tetapi menyebar. Susunan Ruang Loteng 1. Berfungsi sebagai kamar tidur anak laki-laki,tempat menyimpan hasil kebun,menjemur pakaian,menyimpan barang-barang atau gudang. 2. Terletak di bawah atap Serambi (setup) 1. Berfungsi sebagai tempat menerima tamu resmi 2. Terletak paling depan bangunan 3. Tempat bersandarnya tangga Ruang Tamu (leloangan) 1. Berfungsi sebagai tempat menerima tamu 2. Terletak di bagian depan bangunan Ruang Tengah (pores) 1. Berfungsi sebagai ruangan menerima kerabat dekat 2. Terletak di bagian tengah bangunan. Kamar Tidur Orang Tua dan Anak 1. Terletak di kanan-kirinya bangunan ruang tengah 2. Berfungsi sebagai ruang tidur Dapur 1. Berfungsi sebagai ruang memasak,tempat menyimpan peralatan dapur,tempat ruang makan. 2. Terletak di bagian belakang bangunan. Ruang Tengah Belakang
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 18

1. Berfungsi sebagai tempat menyimpan padi (sangkor). Gambar-gambar nya :

Gambar 8 : Rumah Tradisional Minahasa

Gambar 9 : Rumah Tradisional Minahasa

Gambar 10 : Denah Rumah Tradisional Minahasa

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

19

Gambar 11 : Rumah Tradisional Minahasa

2.2.3 STRUKTUR
Karakteristik konstruksinya: Atap: * Rangka atapnya adalah gabungan bentuk pelana dan limas. * Atapnya berupa konstruksi kayu/ bambu batangan yang diikat dengan tali ijuk pada usuk dari bambu. * Badan bangunan menggunakan konstruksi kayu dan system sambungan pen. Tiang: * Kolong bangunan terdiri dari 16-18 tiang penyangga. * Ukuran80-200 cm (ukuran dapat dipeluk oleh dua orang dewasa). * Tinggi tiangnya 3-5 cm. * Tiang tangga terbuat dari akar pohon besar atau bambu. Tiang (thn 1845-1945) * Tiang penyangga berukuran lebih kecil dan lebih pendek, , yaitu sebesar 30/30 cm atau 40/40 cm. * Tinggi 1,5-2,5 meter * Perubahan Fisik Rumah Tradisional Minahasa Perubahan fisik rumah tradisional Minahasa Nampak pada perubahan konstruksi dan material, sebagai berikut:

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

20

1) Perubahan konstruksi atap kasau di DesaTonse alam menjadi

konstruksi atap peran

dengan kuda kuda berdiri, perubahan dilakukan setelah 30-40 tahun pembangunan ( pada waktu daya tahan kayu menurun sesuaidengan umur konstruksi kayu).Di desa Rurukan, masyarakat tetap mempertahankan konstruksi atap rumahnya, baik dalam bentuk konstruksi atap kasau atau pun atap peran. 2)Rangka badan rumah tetap, tetapi perubahan Nampak pada pengisi konstruksi dinding dan konstruksi jendela.Perubahan konstruksi dinding terjadi setelah bangunan rumah berumur 70 tahun. Material konstruksi dinding terpasang horizontal dirubah dengan memasang secara vertical.(khususnya di DesaTonsealama). Konstruksi jendela 2 sayap diubah menjadi jendela kaca nako/ jalusi (di DesaTonsea lama dan Desa Rurukan).Material konstruksi atap rumbia diganti dengan atap seng. Perubahan material konstruksi atap di DesaTonsealama, dilakukan sejak tahun 1920 sampai saat ini, dan di Desa Rurukan perubahan dilakukan sejak 1932 sampai saat ini. Sesuai penuturan penghuni rumah, umur atap rumbia adalah 10-15 tahun, dan saat ini material atap rumbia sulit diperoleh dan kualitasnya menurun karena masa pakainya hanya 1-3 tahun. * Dinding (badan rumah) 1. Material dinding dari papan atau anyaman bambu. 2. Material dinding penyekat dari kayu lunak (kayu cempaka,kayu merah). 3. Mengunakan system sambungan pen. * Bagian kaki rumah (pondasi) 1.Disebut godong 2.Berupa tiang-tiang kayu 3.Bertumpu diatas batu atau umpak * Jendela 1. Konstruksi jendela 2 sayap 2. Terdapat banyak jendela di kiri-kanan. 3. Material jendela dari kaca nako/jalusi * Pintu 1. Tinggi pintu sekitar 1 m 2. Melambangkan penghrmatan pada tuan rumah 3. Material terbuat dari kayu keras -Konsep ruang dalam arsitektur tradisional Bahan material yang dipergunakan umumnya adalah kayu dari jenis pohon yang diambil dari hutan, yaitu kayu besi, linggua, jenis kayu cempaka utanatau pohon wasian, jenis kayu nantu,
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 21

dan

kayu

maumbi.Kayu

besi

digunakan

untuk

tiang,

kayu

cempaka

untuk

dindingdanlantairumah, kayu nantu untuk rangka atap.Bagi masyarakat strata ekonomi rendah menggunakan bambu petung/ bulu jawa untuk tiang, rangka atap dan nibong untuk lantai rumah, untuk dinding dipakai bambu yang dipecah

2.2.4 ORNAMEN

Ornamen hiasan banyak sekali menggunakan warna merah yang mengartikan bahwa keberanian.

Ornamen ada yang berbentuk naga di samping kanan dan kiri rumah,mengartikan arti tak gentar tidak takut.

Ornamen Naga berasal dari negara Cina begitu pun warana merah yang identik dengan Cina.

Gambar 12 : Ornamen Rumah Tradisional Minahasa

Gambar 13 : Ornamen Rumah Tradisional Minahasa

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

22

2.3 SUKU TANA TORAJA


Suku Toraja yang ada sekarang ini bukanlah suku asli, tapi merupakan suku pendatang. Menurut kepercayaan atau mythos yang sampai saat ini masih dipegang teguh, suku Toraja berasal dari khayangan yang turun pada sebuah pulau Lebukan. Kemudian secara bergelombang dengan menggunakan perahu mereka datang ke Sulawesi bagian Selatan. Di pulau ini mereka berdiam disekitar danau Tempe dimana mereka mendirikan perkampungan. Perkampungan inilah yang makin lama berkembang menjadi perkampungan Bugis. Diantara orang-orang yang mendiami perkampungan ini ada seorang yang meninggalkan perkampungan dan pergi ke Utara lalu menetap di gunung Kandora, dan di daerah Enrekang. Orang inilah yang dianggap merupakan nenek moyang suku Toraja. Sistim pemerintahan yang dikenal di Toraja waktu dulu adalah sistim federasi. Daerah Toraja dibagi menjadi 5 (lima) daerah yang terdiri atas : 1. M a k a l e 2. Sangala 3.Rantepao 4. Mengkendek 5. Toraja Barat. Daerah-daerah Makale, Mengkendek, dan Sangala dipimpin masing-masing oleh seorang bangsawan yang bernama PUANG. Daerah Rantepao dipimpin bangsawan yang bernama PARENGI, sedangkan .dae rah Toraja Barat dipimpin bangsawan bernama MA'DIKA. Didalam menentukan lapisan sosial yang terdapat didalarn masyarakat ada semacam perbedaan yang sangat menyolok antara daerah yang dipimpin oleh PUANG dengan daerah yg dipimpin oleh PARENGI dan MA'DIKA. Pada daerah yang dipimpin oleh PUANG masyarakat biasa tidak akan dapat menjadi PUANG,. sedangkan pada daerah Rantepao dan Toraja Barat masyarakat biasa bisa saja mencapai kedudukan PARENGI atau MA'DIKA kalau dia pandai. Hal inilah mungkin yang menyebabkan daerah Rantepao bisa berkembang lebih cepat dibandingkan perkembangan yang terjadi di Makale.

Kepercayaan. Di Tana Toraja dikenal pembagian kasta seperti yang terdapat didalam agama Hindu-Bali. Maka mungkin karena itulah sebabnya kepercayaan asli suku Toraja yaitu ALUKTA ditetapkan pemerintah menjadi salah satu sekte dalam agama Hindu Bali. Kasta atau kelas ini dibagi menjadi 4 (empat) :
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 23

1. Kasta Tana' Bulaan

2. Kasta Tana' Bassi1. 3. Kasta TanaKarurung

4. Kasta Tana' Kua-kua

2.3.1 ADAT ISTIADAT


Suku Toraja adalah suku yang menetap di pegunungan bagian utara Sulawesi Selatan, Indonesia. Populasinya diperkirakan sekitar 600.000 jiwa. Mereka juga menetap di sebagian dataran Luwu dan Sulawesi Barat. Nama Toraja mulanya diberikan oleh suku Bugis Sidenreng dan dari Luwu. Orang Sidenreng menamakan penduduk daerah ini dengan sebutan To Riaja yang mengandung arti Orang yang berdiam di negeri atas atau pegunungan, sedang orang Luwu menyebutnya To Riajang yang artinya adalah orang yang berdiam di sebelah barat. Ada juga versi lain bahwa kata Toraya asal To = Tau (orang), Raya = dari kata Maraya (besar), artinya orang orang besar, bangsawan. Lama-kelamaan penyebutan tersebut menjadi Toraja, dan kata Tana berarti negeri, sehingga tempat pemukiman suku Toraja dikenal kemudian dengan Tana Toraja. Wilayah Tana Toraja juga digelar Tondok Lilina Lapongan Bulan Tana Matariallo arti harfiahnya adalah Negri yang bulat seperti bulan dan matahari. Wilayah ini dihuni oleh satu etnis (Etnis Toraja). Upacara adat Di wilayah Kab. Tana Toraja terdapat dua upacara adat yang amat terkenal , yaitu upacara adat Rambu Solo (upacara untuk pemakaman) dengan acara Sapu Randanan, dan Tombi Saratu, serta Manene, dan upacara adat Rambu Tuka (upacara pernikahan). Upacaraupacara adat tersebut di atas baik Rambu Tuka maupun Rambu Solo diikuti oleh seni tari dan seni musik khas Toraja yang bermacam-macam ragamnya. Rambu Solo Adalah sebuah upacara pemakaman secara adat yang mewajibkan keluarga yang almarhum membuat sebuah pesta sebagai tanda penghormatan terakhir pada mendiang yang telah pergi. Tingkatan Upacara Rambu Solo
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 24

Upacara Rambu Solo terbagi dalam beberapa tingkatan yang mengacu pada strata sosial masyarakat Toraja, yakni:

Dipasang Bongi: Upacara pemakaman yang hanya dilaksanakan dalam satu malam saja.

Dipatallung Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama tiga malam dan dilaksanakan dirumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.

Dipalimang Bongi: Upacara pemakaman yang berlangsung selama lima malam dan dilaksanakan disekitar rumah almarhum serta dilakukan pemotongan hewan.

Dipapitung Bongi:Upacara pemakaman yang berlangsung selama tujuh malam yang pada setiap harinya dilakukan pemotongan hewan.

Upacara tertinggi Biasanya upacara tertinggi dilaksanakan dua kali dengan rentang waktu sekurang kurangnya setahun, upacara yang pertama disebut Aluk Pia biasanya dalam pelaksanaannya bertempat disekitar Tongkonan keluarga yang berduka, sedangkan Upacara kedua yakni upacara Rante biasanya dilaksanakan disebuah lapangan khusus karena upacara yang menjadi puncak dari prosesi pemakaman ini biasanya ditemui berbagai ritual adat yang harus dijalani, seperti : Matundan, Mabalun (membungkus jenazah), Maroto (membubuhkan ornamen dari benang emas dan perak pada peti jenazah), MaParokko Alang (menurunkan jenazah kelumbung untuk disemayamkan), dan yang terkahir MaPalao (yakni mengusung jenazah ketempat peristirahatan yang terakhir). Upacara Adat Rambu Tuka Upacara adat Rambu Tuka adalah acara yang berhungan dengan acara syukuran misalnya acara pernikahan, syukuran panen dan peresmian rumah adat/tongkonan yang baru, atau yang selesai direnovasi; menghadirkan semua rumpun keluarga, dari acara ini membuat ikatan kekeluargaan di Tana Toraja sangat kuat semua Upacara tersebut dikenal dengan nama MaBua, Meroek, atau Mangrara Banua Sura. Untuk upacara adat Rambu Tuka diikuti oleh seni tari : Pa Gellu, Pa Boneballa, Gellu Tungga, Ondo Samalele, PaDao Bulan, PaBurake, Memanna, Maluya, PaTirra, Panimbong dan lain-lain. Untuk seni musik yaitu Papompang, paBarrung, Papelle. Musik dan seni tari yang ditampilkan pada upacara Rambu Solo tidak boleh (tabu) ditampilkan pada upacara Rambu Tuka.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

25

Pemakaman Peti mati yang digunakan dalam pemakaman dipahat menyerupai hewan (Erong). Adat masyarakat Toraja adalah menyimpan jenazah pada tebing/liang gua, atau dibuatkan sebuah rumah (Patane). Beberapa kawasan pemakaman yang saat ini telah menjadi obyek wisata, seperti di :

Londa, yang merupakan suatu pemakaman purbakala yang berada dalam sebuah gua, dapat dijumpai puluhan erong yang berderet dalam bebatuan yang telah dilubangi, tengkorak berserak di sisi batu menandakan petinya telah rusak akibat di makan usia.

Lemo adalah salah satu kuburan leluhur Toraja, yang merupakan kuburan alam yang dipahat pada abad XVI atau setempat disebut dengan Liang Paa. Jumlah liang batu kuno ada 75 buah dan tau-tau yang tegak berdiri sejumlah 40 buah sebagai lambanglambang prestise, status, peran dan kedudukan para bangsawan di Desa Lemo. Diberi nama Lemo oleh karena model liang batu ini ada yang menyerupai jeruk bundar dan berbintik-bintik.

Tampang Allo yang merupakan sebuah kuburan goa alam yang terletak di Kelurahan Sangalla dan berisikan puluhan Erong, puluhan Tau-tau dan ratusan tengkorak serta tulang belulang manusia. Pada sekitar abad XVI oleh penguasa Sangalla dalam hal ini Sang Puang Manturino bersama istrinya Rangga Bualaan memilih goa Tampang Allo sebagai tempat pemakamannya kelak jika mereka meninggal dunia, sebagai perwujudan dari janji dan sumpah suami istri yakni sehidup semati satu kubur kita berdua. Goa Tampang Alllo berjarak 19 km dari Rantepao dan 12 km dari Makale.

Liang Tondon lokasi tempat pemakaman para Ningrat atau para bangsawan di wilayah Balusu disemayamkan yang terdiri dari 12 liang. ToDoyan adalah pohon besar yang digunakan sebagai makam bayi (anak yang belum tumbuh giginya). Pohon ini secara alamiah memberi akar-akar tunggang yang secara teratur tumbuh membentuk rongga-rongga. Rongga inilah yang digunakan sebagai tempat menyimpan mayat bayi.

Patane Pong Massangka (kuburan dari kayu berbentuk rumah Toraja) yang dibangun pada tahun 1930 untuk seorang janda bernama Palindatu yang meninggal dunia pada tahun 1920 dan diupacarakan secara adat Toraja tertinggi yang disebut Rapasan Sapu Randanan. Pong Massangka diberi gelar NeBabu disemayamkan dalam Patane ini. tau-taunya yang terbuat dari batu yang dipahat . Jaraknya 9 km dari Rantepao arah utara.
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 26

Tapan Langkan yang berarti istana burung elang. Dalam abad XVII Tapan Langkan digunakan sebagai makam oleh 5 rumpun suku Toraja antara lain Pasang dan Belolangi. Makam purbakala ini terletak di desa Rinding Batu dan memiliki sekian banyak tau-tau sebagai lambang prestise dan kejayaan masa lalu para bangsawan Toraja di Desa Rinding Batut. Dalam adat masyarakat Toraja, setiap rumpun mempunyai dua jenis tongkonan tang merambu untuk manusia yang telah meninggal. Tapan Langkan termasuk kategori tongkonan tang merambu yang jaraknya 1,5 km dari poros jalan Makale-Rantepao dan juga dilengkapi dengan panorama alam yang mempesona.

Sipore yang artinya bertemu adalah salah satu tempat pekuburan yang merupakan situs purbakala, dimana masyarakat membuat liang kubur dengan cara digantung pada tebing atau batu cadas. Lokasinya 2 km dari poros jalan Makale-Rantepao.

Tempat upacara pemakaman adat Rante yaitu tempat upacara pemakaman secara adat yang dilengkapi dengan 100 buah menhir/megalit yang dalam Bahasa toraja disebut Simbuang Batu. 102 bilah batu menhir yang berdiri dengan megah terdiri dari 24 buah ukuran besar, 24 buah ukuran sedang dan 54 buah ukuran kecil. Ukuran menhir ini mempunyai nilai adat yang sama, perbedaan tersebut hanyalah faktor perbedaan situasi dan kondisi pada saat pembuatan/pengambilan batu. Megalit/Simbuang Batu hanya diadakan bila pemuka masyarakat yang meninggal dunia dan upacaranya diadakan dalam tingkat Rapasan Sapurandanan (kerbau yang dipotong sekurangkurangnya 24 ekor). Tau-tau Tau-tau adalah patung yang menggambarkan almarhum. Pada pemakaman golongan bangsawan atau penguasa/pemimpin masyarakat salah satu unsur Rapasan (pelengkap upacara acara adat), ialah pembuatann Tau-tau. Tau-tau dibuat dari kayu nangka yang kuat dan pada saat penebangannya dilakukan secara adat. Mata dari Tau-tau terbuat dari tulang dan tanduk kerbau. Pada jaman dahulu kala, Tau-tau dipahat tidak persis menggambarkan roman muka almarhum namun akhir-akhir ini keahlian pengrajin pahat semakin berkembang hingga mampu membuat persis roman muka almarhum.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

27

2.3.2 FILOSOFOFI & LATAR BELAKANG RUMAH TRADISIONAL TANA TORAJA Perkembangan Arsitektur Tradisional Perkembangan Arsitektur Tradisional. Rumah asli Toraja disebut Tongkonan, berasal dari kata tongkon yang berarti duduk bersamasama. Tongkonan selalu dibuat menghadap kearah utara, yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Berdasarkan penelitian arkeologis, orang Toraja berasal dari Yunan, Teluk Tongkin, Cina. Pendatang dari Cina ini kemudian berakulturasi dengan penduduk asli Sulawesi Selatan.

Tongkonan berupa rumah panggung dari kayu, dimana kolong di bawah rumah biasanya dipakai sebagai kandang kerbau. Atap tongkonan berbentuk perahu, yang melambangkan asal-usul orang Toraja yang tiba di Sulawesi dengan naik perahu dari Cina. Di bagian depan rumah, di bawah atap yang menjulang tinggi, dipasang tanduk-tanduk kerbau. Jumlah tanduk kerbau ini melambangkan jumlah upacara penguburan yang pernah dilakukan oleh keluarga pemilik tongkonan. Di sisi kiri rumah (menghadap ke arah barat) dipasang rahang kerbau yang pernah di sembelih, sedangkan di sisi kanan (menghadap ke arah timur)
Gambar 14 : Denah Rumah Tradisional Tana Toraja

dipasang rahang babi. Kabupaten Tana Toraja terletak di pedalaman Provinsi Sulawesi Selatan, 340 km ke

arah utara dari Makasar, dengan ibukotanya Makale.Daerah Tana Toraja umumnya merupakan tanah pegunungan kapur dan batu alam, diselingi dengan ladang dan hutan, dilembahnya terdapat hamparan persawahan.Latar belakang arsitektur rumah tradisional Toraja menyangkut falsafah kehidupan yang merupakan landasan dari perkembangan kebudayaan Toraja. Etnis Toraja mendiami dataran tinggi di kawasan utara Sulawesi Selatan.Pada umumnya wilayah permukiman masyarakat Toraja terletak di pegunungan dengan ketinggian 600 hingga 2800m di atas permukaan laut.Temperatur udara kawasan permukiman masyarakat Toraja berkisar pada 150 hingga 300C.Daerah ini tidak berpantai, budayanya unik, baik dalam tari-tarian, musik, bahasa, makanan, dan kepercayaan Aluktodolo yang menjiwai kehidupan masyarakatnya. Keunikan itu terlihat juga pada pola permukiman dan arsitektur tradisional rumah mereka, upacara pengantin serta ritual upacara penguburannya.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

28

Kondisi Tana Toraja, tang dipegunungan dan berhawa dingin diduga mendasari ukuran pintu dan jendela yang relatif kecil, lantai dan dindingnya dari kayu yang tebal. Ukuran atap rumah tradisional Toraja yang terbuat dari susunan bambu sangat tebal.Wujud konstruksi ini sangat diperlukan untuk menghangatkan temperatur udara interior rumah. Masyarakat Tradisional Tana Toraja didalam membangun rumah tradisional mengacu pada kearifan budaya lokalKosmologi mereka yaitu :

Konsep pusar atau pusat rumah sebagai paduan antara kosmologi dan simbolisme Dalam perspektif kosmologi, rumah bagi masyarakat Toraja merupakan

mikrokosmos, bagian dari lingkungan makrokosmos.

Pusat rumah meraga sebagai perapian di tengah rumah, ataupun atap menjulang menaungi ruang tengah rumah dimana atap menyatu dengan asap-father sky Pusat rumah juga meraga sebagai tiang utama, seperti ariri possi di Toraja, possi bola di Bugis, pocci balla di Makassar dimana tiang menyatu dengan mother earth

Pada masyarakat tradisional Toraja, dalam kehidupannya juga mengenal filosofi Aluk Apa Otona yaitu empat dasar pandangan hidup : Kehidupan Manusia, kehidupan alam leluhur Todolo, kemuliaan Tuhan, adat dan kebudayaan. Keempat filosofi ini menjadi dasar terbentuknya denah rumah Toraja empat persegi panjang dengan dibatasi dinding yang melambangkan badan atau Kekuasaan.Dalam kehidupan masyarakat toraja lebih percaya yang arsitektur ruangdengan Selain itu akan kekuatan sendiri, Egocentrum. Hal ini tercermin pada konsep rumah mereka dengan ruang agak tertutup bukaan yang sempit. konsep tradisional banyak budaya
Gambar 15 & 16 : Rumah Tradisional Tana Toraja

arsitektur toraja, oleh tallang ethos atau

dipengaruhi simuane

filosofi harmonisasi dua belahan bambu yang saling terselungkup sebagaimana cara pemasangan belahan bambu pada atap rumah adat dan lumbung. Harmonisasi didapati dalam konsep arsitektur Tongkonan yang menginteraksikan secara keseluruhan komponen tongkonan seperti : Rumah, lumbung, sawah, kombong, rante dan liang, didalam satu sistem kehidupan dan penghidupan orang toraja didalam area tongkonan. Selain itu, makro dan mikro kosmos tetap terpelihara didalam tatanan kehidupan masyarakat tradisional toraja, dimana rumah dianggap sebagai mikrokosmos.
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 29

Berikut merupakan pola perkembangan rumah tradisional tana toraja :

Gambar 17

Gambar 18

Gambar 19

Gambar 20

Gambar 21

Gambar 22

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

30

Gambar 23

Gambar 24

Gambar 25

Rumah Adat Suku Toraja mengalami perkembangan terus sampai kepada rumah yang dikenal sekarang ini. Perkembangan itu meliputi penggunaan ruangan, pemakaian bahan, bentuk, sampai cara membangun. Sampai pada keadaannya yang sekarang rumah adat suku Toraja berhenti dalam proses perkembangan. Sekalipun begitu, sejak asalnya rumah adat ini sudah punya ciri yang khas. Ciri ini terjadi karena pengaruh lingkungan hidup dan adat istiadat suku Toraja sendiri. Seperti halnya rumah adat suku-suku lain di Indonesia yang umumnya dibedakan karena bentuk atapnya, rumah adat Toraja inipun mempunyai bentuk atap yang khas. Memang mirip dengan rumah adat suku Batak, tetapi meskipun begitu rumah adat suku Toraja tetap memiliki ciri-ciri tersendiri. 1. Pada mulanya rumah yang didirikan masih berupa semacam pondok yang diberi nama Lantang Tolumio. Ini masih berupa atap yang disangga dangan dua tiang + dinding tebing (gambar 17). 2. Bentuk kedua dinamakan Pandoko Dena. Bentuk ini biasa disebut pondok pipit karena letak-nya yang diatas pohon. Pada prinsipnya rumah ini dibuat atas 4 pohon yang berdekatan dan berfungsi sebagai tiang. Hal pemindahan tempat ini mungkin disebabkan adanya gangguan binatang buas (gambar 18) .

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

31

3. Perkembangan ketiga ialah ditandai dengan mulainya pemakaian tiang buatan. Bentuk ini memakai 2 tiang yang berupa pohon hidup dan 1 tiang buatan. Mungkin ini disebabkan oleh sukarnya mencari 4 buah pohon yang berdekatan. Bentuk ini disebut Re'neba Longtongapa (gambar 19).

4. Berikutnya adalah rumah panggung yang seluruhnya mempergunakan tiang buatan. Dibawahnya sering digunakan untuk menyimpan padi (paliku), ini bentuk pertama terjadinya lumbung. (gambar 20) .

5. Perkembangan ke~5 masih berupa rumah pangqung sederhana tetapi dengan tiang yang lain. Untuk keamanan hewan yang dikandangkan dikolong rumah itu. tiang-tiang dibuat sedemikian ru pa sehingga cukup aman. Biasanya tiang itu tidak dipasang dalam posisi vertikal tetapi merupakan susunan batang yang disusun secara horisontal (gambar 21).

6. Lama sesudah itu terjadi perobahan yang agak banyak. Perubahan itu sudah meliputi atap, fungsi ruang dan bahan. Dalam periode ini tiang-tiang kembali dipasang vertikal tetapi dengan jumlah yang tertentu. Atap mulai memakai bambu dan bentuknya mulai berexpansi ke depan (menjorok). Tetapi garis teratas dari atap masih datar. Dinding yang dibuat dari papan mulai diukir begitu juga tiang penyangga. Bentuk ini dikenal dengan nama Banua Mellao Langi, (Gambar 22).

7. Berikutnya adalah rumah adat yang dinamakan Banua Bilolong Tedon (Gambar 23). Perkembangan ini terdapat pada Lantai yang mengalami perobahan sesuai fungsinya.

8. Pada periode ini hanya terjadi perkembangan pada lantai dan tangga yang berada di bagian depan (gambar 24).

9. Pada periode ini letak tangga pindah ke bawah serta perubahan permainan lantai (gambar 25)

10. Banua Diposi merupakan nama yang dikenal untuk perkembangan kesembilan ini. Perubahan ini lebih untuk menyempurnakan fungsi lantai (ruang).

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

32

11. Berikutnya adalah perobahan lantai yang menjadi datar dan ruang hanya dibagi dua. Setelah periode ini perkembangan selanjutnya tidak lagi berdasarkan adat, tetapi lebih banyak karena persoalan kebutuhan

akan ruang dan konstruksi. Bagitu juga dalam penggunaan materi mulai dipakainya bahan produk Jadi dapat mutakhir, seperti seng, sirap, paku, dan sebagainya.

disimpulkan bahwa

perkembangan

yang terakhir merupakan puncak

perkembangan dari rumah adat Toraja. Struktur Ruang Struktur dasar tongkonan terdiri atas tiga lapisan, yaitu lapisan atas disebut rattiang banua, lapisan tengah disebut kale banua, dan lapisan bawah disebut sullu banua. 1) Rattiang Banua Bagian Atas Digunakan sebagai tempat menyimpan benda-benda pusaka yang dianggap mempunyai nilai sakral. 2) Kale Banua Bagian Tengah digunakan untuk tempat tinggal dan melakukan aktivitas di dalam rumah. Bagian tengah yang merupakanbadan rumah ini berlantaikan papan kayu uru yang disusun di atas pembalokan lantai, memanjang sejajar balok utama.Dindingnya disusun dengan sambungan pada sisi-sisi papan. Dinding yang berfungsi sebagai rangka dinding yang memikulbeban, terbuat dari bahan kayu uru atau kayu kecapi.Bagian tengah ini dibagi pula menjadi tiga bilik, yaitu : a) Bilik bagian depan disebut Tangdo Berfungsi sebagai tempat beristirahat, tempat tidur nenek, kakak dan anak lakilakiserta tempat mengadakan sesajen. Jendela pada ruang Tangdo berjumlah 2 buah, menghadap ke utara. b) Bilik bagian tengah disebut Sali Dibagi lagimenjadi dua bagian, yakni Bagian timur Tempat kegiatan sehari-hari serta sebagai dapur, ruang menerima tamu, ruang keluarga, dan kamar mandi. Bagian barat Digunakan sebagai tempat persemayaman jenazah pada waktu diadakan upacara kematian.
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 33

c) Bilik bagian belakang disebut Sumbung Digunakan sebagai tempat pengabdian dan tempat tidur kepala keluargabersama anak-anak, khususnya anak gadis, serta untuk menyimpan benda-benda pusaka. Lantainya ditinggikan pertandabahwa penghuni Tongkonan mempunyai kekuasaan dan derajat yang tinggi. Sumbung ini berada di bagian selatan,maksudnya anakanak gadis dan anak kecil memerlukan pengawasan ketat, dengan perlindungan dari anak-anak laki-lakiyang bertempat di ruang Tangdo. 3) Sullu BanuaBagian Bawah Merupakan kolong rumah merupakan tempat hewan peliharaan. Fondasinya menggunakan batuan gunung,diletakkan bebas di bawah Tongkonan, tanpa pengikat antara tanah, kolong dan fondasi itu sendiri.

2.3.3 STRUKTUR
Rumah tongkonan rata-rata dibangun selama tiga bulan dengan sepuluh pekerja. Kemudian ditambah proses mengecat dan dekorasi satu bulan berikutnya. Setiap bagian tongkonan melambangkan adat dan tradisi masyarakat Toraja. Bayangkan bahwa rumah adat ini dibangun dengan konstruksi yang terbuat dari kayu tanpa menggunakan unsur logam sama sekali seperti paku. Ada kepercayaam, kebanggaan, tradisi kuno, dan peradaban dari setiap detail rumah tongkonan yang dibangun masyarakat Toraja, Jadi tidak bisa sembarangan membangunnya. Rumah tradisional atau rumah adat yang disebut Tongkonan harus menghadap ke utara, letak pintu di bagian depan rumah, dengan keyakinan bumi dan langit merupakan satu kesatuan dan bumi dibagi dalam 4 penjuru, yaitu: 1. Bagian utara disebut Ulunna langi, yang paling mulia. 2. Bagian timur disebut Matallo, tempat metahari terbit, tempat asalnya kebahagiaan atau kehidupan. 3. Bagian barat disebut Matampu, tempat metahari terbenam, lawan dari kebahagiaan atau kehidupan, yaitu kesusahan atau kematian. 4. Bagian selatan disebut Pollona langi, sebagai lawan bagian yang mulia, tempat melepas segala sesuatu yang tidak baik.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

34

Bertolak pada falsafah kehidupan yang diambil dari ajaran Aluk Todolo, bangunan rumah adat mempunyai makna dan arti dalam semua proses kehidupan masyarakata Toraja, antara lain: 1. Letak bangunan rumah yang membujur utara-selatan, dengan pintu terletak di sebelah utara. 2. Pembagian ruangan yang mempunyai peranan dan fungsi tertentu. 3. Perletakan jendela yang mempunyai makna dan fungsi masing-masing. 4. Perletakan balok-balok kayu dengan arah tertentu, yaitu pokok di sebelah utara dan timur, ujungnya disebelah selatan atau utara. Pembangunan rumah tradisional Toraja dilakukan secara gotong royong, sesuai dengan kemampuan masing-masing keluarga, yang terdiri dari 4 macam, yaitu: 1. Tongkonan Layuk, rumah adat tempat membuat peraturan dan penyebaran aturanaturan. 2. Tongkonan Pakamberan atau Pakaindoran, rumah adat tempat melaksanakan aturanaturan. Biasanya dalam satu daerah terdapat beberapa tongkonan, yang semuanya bertanggung jawab pada Tongkonan Layuk. 3. Tongkonan Batu Ariri, rumah adat yang tidak mempunyai peranan dan fungsi adat, hanya sebagai tempat pusat pertalian keluarga. 4. Barung-barung, merupakan rumah pribadi. Setelah beberapa turunan (diwariskan), kemudian disebut Tongkonan Batu Ariri.

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

35

Struktur rumah terbuat dari kayu, keseluruhan elemennya saling kait mengkait sehingga menjadi kesatuan yang kaku dan berdiri diatas tiang-tiang. Tiang menumpu pada pondasi-yang berupa sebuah batu alam sebagai tumpuan tiang.

Konstruksi bangunan ini adalah tahan gempa & angin dalam arti kata tidak runtuh. Sebab seluruh bagian merupakan satu kesatuan yang diletakkan diatas batu begitu saja. Untuk bangunan yang ditinjau ini tiangnya 9 buah termasuk Tulak Somba. Selebihnya adalah tiang pembantu yang dihubungkan dengan kasta-kasta ( menggambarkan struktur sosial Tana Toraja) Adapun stratifikasi sosial Tana Toraja yang berhubungan dengan Tana Tana Bulaan Besi ( rumah bulaan = emas adat ) tiang jumlah tiang rumah ialah rumah 27 29 : buah buah

Jumlah

Gambar 26 : Rumah Tradisional Tana Toraja

Tana Tana

Karuru Kua-Kua

Karuru ( Kua

= =

ijuk tebu

jumlah
)) jumlah

tiang
tiang

rumah
rumah

25
23

buah
buah.

Hampir keseluruhan menggunakan bahan kayu. dimulai dari balok tiang, papan untuk dinding dan lantai. Untuk alas runah (pondasi) digunakan batu.

Jenis kayu yang digunakan tergantung dari persediaan. Jenis itu umumnya kayu Bunga, kayu Buangin (cemara) , kayu Kalapi/ Nangka, Cendana, kayu Beringin. Untuk atap menggunakan sistim ikat (dengan rotan) dan jepit. Untuk balok-balok banyak menggunakan sistim pen.

Bahan dari bambu yang dibelah dan dirangkai menjadi bidang-bidang. Pengikat menggunakan rotan dan diantara lapisan bambu diberi ijuk. Untuk hubungan dipakai bambu belah-belah.

Menggunakan bahan papan yang biasanya penyelesaiannya diukir dibagian luarnya. Dari balok yang masih berupa pohon yang hanya diperhalus sedikit, lalu ditaruh begitu saja diatas batu.

Untuk ukir-ukiran dicat yang dipakai ialah tanah merah + tuak, arang + cuka + air. Lanta dari papan, balok kecil yang dipasang saling bersilangan ditambah anyaman kayu. Untuk mengukur kedataran (rata) dipakai perkiraan sejajar permukaan air. Untuk
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 36

mengukur Bangunan

arah

tegak

dipergunakan dengan

pertolongan konstruksi

tali. bambu.

sederhana

Konstruksi sama dengan rumah, tapi strukturnya berbeda dan lebih sederhana. Jumlah tiang lebih sedikit dan tidak memakai tulak somba. Tiang biasanya berjumlah 4 atau 6 buah. -Secara keseluruhan rumah adat atau lumbung merupakan suatu kesatuan struktur. Maksudnya antara bagian tiang dinding dan atap merupakan satu kesatuan konstruksi, oleh karenanya bangunan ini tahan gempa dalam arti kata tidak runtuh, tetapi hanya mengalami pergeseran perletakkan. Hubungan elemen-elemennya menggunakan sistim pengikat, tusuk, coak,dan sebagainya. Materi umumnya memakai jenis kayu URU dan bambu, sebab bahan-bahan ini mudah didapat di daerah itu. Konstruksi pondasi hanya merupakan tempat perletakan yang tidak diikat dan alas yang dipakai ialah batu alam. Perletakan ini hanya berfungsi untuk mencegah turunnya bangunan karena lembeknya tanah. Tiang tiang mencapai kekakuan dengan bantuan tiang pembantu dan ditusuk oleh balok balok horisontal ( Patolok) Lantai merupakan bagian yanmg memakai sistim balok induk dan balok anak. penutupnya adalah bambu yang dipecah. Dan dipasang melintang terhadap balok anak. Perletakan elemen lantai ini dengan memperhitungkan kemungkinan adanya gangguan dari arah kolong. Dinding mempergunakan sistim hubungan papan dalam arah vertikal yang dijepit oleh papan papan horisontal. Dinding ini diukir dengan maksudperlambangan dan dekorasi.

Rangka atap tidak memakai sistim kuda kuda. Untuk mencapai bentuknyayang menjulang ialah dengan menyambung nok ( kandang pemiring) dengan pangoton dan paramak. Sambungan ini menggunakan sistim ikat (berfungsi batang tarik) dimana ikatan itu memakai rotan. Sambungan nok menusuk balok vertikal ( katorok yang ditahan balok horisontal ( lemba-lemba)). lemba lemba ini menahan gerakan vertikal dengan berpegang kepada sepasang tengkek longa yang berposisi miring vertikal. Dan akhirnya noknya ( kadang pemiring) yang menahan semua beban didukung oleh kolom besar ( tulak somba) Penutup atap yang menggunakan bambu dapat berumur relatif lebih lama dibandingkan atap atau seng atau sirap, tetapi konsekwensinya berat dan mahal. Penutup atap dari seng/ sirap umumnya dipakai pada rumah adat yang dibangun belakangan.
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 37

Bentuk Bentuk atap yang khas dari rumah adat Toraja terjadi secara tidak langsung dipengaruhi oleh bentuk tanduk kerbau yang menjadi binatang kebanggan suku Toraja. Juga oleh bentuk kapal nenek moyangnya yang terdampar waktu datang pertama kali kesana. Ekspresi bentuk yang menggunakan atap bambu lebih natural dari pada yang menggunakan seng atau sirap. Bentuk atap mula mula agak datar noknya dan bagian ujungnya tidak begitu menjulang. Bentuk yang dibuat belakangan umumnya mempunyai ujung yang menjulang tinggi dan ramping.

2.3.4 ORNAMEN DAN RAGAM HIAS

1. ORNAMEN Ornamen atau ragam hias rumah tongkonan secara turun temurun mengambil bentuk alam seperti tumbuan dan hewan. Ukiran tradisional yang berfungsi estetis sekaligus mengandung makna simbolis pada rumah Toraja disebut passurak. Passurak merupakan simbol makna hidup orang Toraja. Ukiran-ukiran itu ada yang bermakna hubungan manusia Toraja dengan pencipta-Nya, dengan sesama manusia (lolo tau), ternak (lolo patuon), dan tanaman (lolo tananan). Selanjutnya Perkembangan Arsitektur Tradisional

2. ORNAMEN Klik pada gambar ornamen untuk penjelasan lebih detail Perkembangan Arsitektur Tradisional 3. ORNAMEN NeLimbongan (ukiran danau) Mengandung arti Orang Toraja bertekad mendapat rejeki dari empat penjuru angin bagaikan mata air yang menyatu di satu danau. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional

4. ORNAMEN Pabulu Lodong (ukiran rumbai ayam jago) Mengandung makna keperkasaan dan kearifan Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional 5. ORNAMEN Patedong (ukiran kepala kerbau) Melambangkan kesejahteraan dan kemakmuran. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional 6. ORNAMEN PaBarre Alo (ukiran matahari) Melambangkan kebesaran dan kebanggaan bagi orang Toraja. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional

7. ORNAMEN Paerong (ukiran di peti) Dengan mengukir erong, arwah akan merasa diperhatikan dan memberkati dengan rejeki. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional
Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja 38

8. ORNAMEN Paulu Karua Artinya diharapkan dalam keluarga muncul orang yang berilmu. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional 9. ORNAMEN Pakapu Baka Artinya agar keturunan senantiasa bersatu dan sehati dalam masyarakat. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional 10. ORNAMEN Pasulan Sangbua Melambangkan kebesaran bangsawan Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional 11. ORNAMEN PaBambo Uai (binatang air yang berenang) Bermakna manusia harus cepat dan tepat dalam melaksanakan pekerjaan, tetapi dengan hasil berlipat dan memuaskan. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional

12. ORNAMEN Pakadang Pao (penangkap mangga) Harta benda yang datang dicari dengan jujur. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional 13. ORNAMEN Pamanik manik (perhiasan) Keturunan akan menyerupai butir manik-manik. Keturunan harus bekerja untuk mencapai kesejahteraan. Lihat ornamen lain Perkembangan Arsitektur Tradisional

Gambar 27: Ragam Hias Rumah Tradisional tana Toraja

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

39

DAFTAR PUSTAKA
http://melayuonline.com/ind/culture/dig/2543/rumah-panggung-kayu, diakses pada tanggal 8 April 2012 jam 22:11 WITA http://deedde.wordpress.com/2010/10/31/suku-bugis-adat-istiadat/, diakses pada tanggal 8 April 2012 jam 21:43 WITA http://www.google.co.id/, http://manadominahasa.blogspot.com/2009/02/asul-usul-suku-minahasa.html, diakses pada tanggal 12 April 2012 jam 15:57 WITA http://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/adat-suku-tana-toraja/, diakses pada tanggal 12 April 2012 jam 00:22 WITA http://www.indonesia.travel/id/destination/477/tana-toraja/article/100/tongkonan-rumah-adattoraja-yang-mengagumkan-penuh-makna, diakses pada tanggal 12 April 2012 jam 01:21 WITA http://www.scribd.com/doc/86185092/Tugas-1-Rumah-Tradisional-Tana-Toraja, pada tanggal 12 April 2012 jam 01:22 WITA diakses

Arsitektur Nusantara Bugis, Minahasa dan Tana Toraja

40