Anda di halaman 1dari 8

Studi Kasus : Proses Pembuatan Urea di PT PUPUK ISKANDAR MUDA Masalah yang akan ditinjau : Pemaparan gas amonia

ke lingkungan, reaksi setimbang pembuatan urea dan kelangkaan gas.

PT PUPUK ISKANDAR MUDA

PT PIM berkiprah sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidangan produksi pupuk, khususnya pupuk urea di bumi Provinsi Aceh. Proses penciptaan nilai secara berkesinambungan telah dimulai oleh PT PIM pada saat kontruksi pabrik PIM-1 tahun 1982, kemudian memasuki masa komersil tahun 1985, dan menuju ke tahap pengembangan yang ditandai dengan pemancangan tiang pertama pembangunan proyek PIM-2 pada tanggal 23 Maret 1999 hingga sekarang telah berproduksi, namun keterbatasan bahan baku gas sehingga hanya beroperasi satu pabrik untuk tahun 2012 (urea-1 & ammonia-2). PIM sendiri sebenarnya memiliki total kapasitas produksi mencapai di atas 1 juta ton pupuk per tahun. PIM I yang mulai beroperasi pada 1984 memiliki kapasitas produksi sebesar 600.000 ton per tahun .Sedangkan PIM II yang mulai beroperasi tahun 2005 memiliki kapasitas produksi urea granule sebesar 570.00 ton

Permasalahan 1 : Pemaparan Gas Amonia Latar Belakang Masalah : Berdasarkan data, tahun 1988, di Desa Tambon Baroh, ada seorang warga mengalami keracunan amonia dan sempat pingsan tak sempat menghindar. Di tahun 2010, pada 31 Januari mulai pukul 19.30 WIB diduga sekitar 35 warga desa Tambon Baroh, terpaksa dilarikan diri ke rumah sakit dan ratusan lainnya juga terkena imbas dari bocornya gas amoniak. Hingga hal yang serupa berlanjut pada September 2011 kemarin.

Berdasarkan keluhan warga sekitar Krueng Geukuh, pada tanggal 9 Januari 2012, limbah PT PIM diduga mencemarkan sepanjang sungai Krueng Geukuh sehingga menyebabkan ribuan ikan mati. Meskipun demikian, warga yang saat ini tidak tahu harus buat apa melainkan bersabar dan mengeluh kepada pemerintah terkait untuk mendapatkan jalan keluar yang terbaik dan layak diterima warga.

Sebab Pemaparan Amonia : Penyebab pertama, pabrik sering mati mendadak akibat pasokan gas tidak stabil sehingga berulang kali pabrik harus di shut down dan start up, pada saat kondisi tersebutlah amonia lepas secara otomatis. Sementara penyebab kedua, unit amonia PIM 1 sudah 6 tahun tidak produksi akibat ketiadaan gas sehingga pada saat dioperasikan kemungkinan ada alat yang belum berfungsi normal. Menurut Sya;ban, pemaparan ammonia yang terjadi karena katup pengaman (safety valve) tidak berfungsi dengan baik. Alat ini sudah termasuk dalam paket pembangunan pabrik ammonia dan sengaja dipasang untuk mengantisipasi jika terjadi kenaikan tekanan diluar kondisi normal. Semua pabrik ammonia mempunyai safety valve tersebut. Hal hal yang telah disebutkan diatas inilah yang menyebabkan gas amonia meluap ke udara dan terhirup warga. Apalagi ditambah masalahnya lokasi perumahan penduduk terlalu dekat dengan pabrik, idealnya jarak antara pabrik dan pemukiman penduduk sekitar 6 km.

Solusi Pemaparan Gas Amonia 1 : Salah satunya adalah dengan dibangunnya KPPL (Kolam Penampungan & Penimbunan Limbah). Seluruh limbah cair pabrik ditampung dikolam ini untuk dinetralisir sebelum dialirkan ke laut. PIM sangat menyadari pentingnya menjaga ekosistem sehingga manusia dan alam bisa hidup harmonis. Pengolahan limbah cair dengan proses Netralisasi, Stripping dan Aerasi sehingga limbah cair yang dibuang ke media lingkungan memenuhi baku mutu yang ditetapkan dan tidak mencemari lingkungan. Pengendalian dilakukan untuk mewujudkan lingkungan yang baik dan serasi di area pabrik, komplek perumahan, dan lingkungan perusahaan sesuai dengan peraturan dan perundangan yang berlaku. Scrubber System merupakan salah satu alternative untuk mencegah lolosnya uap amonia dari pabrik ke lingkungan, alat ini merupakan alat tambahan yang dipasang untuk menetralisir gas ammonia. Alat ini akan menyemprotkan air secara otomatis apabila ada indikasi terjadi pemaparan ammonia pada saat start-up maupun emergency shut down.

Dijelaskan juga, pencegahan dengan mengurangi limbah dari sumbernya misalnya, pemanfaatan kembali gas buang (purge gas) melalui Purge Gas Recovery Unit yang menghasilkan kembali amonia dan hydrogen, sehingga purge gas yang dijadikan fuel terbebas dari amonia. Pencemaran udara oleh debu urea diminimasi dengan Dust Recovery System dan Dust Scrubber. Pemanfaatan kembali kondensat yang terbebas dari amonia setelah diproses melalui Process Condensate Stripper. Dan pemasangan Oil Skimer untuk memisahkan kembali oli yang terbuang bersama limbah cair. Solusi Pemaparan Gas Amonia 2 : Proses pengolahan limbah cair Urea dapat juga dilakukan dengan menggunakan proses gabungan Nitrifikasi-Denitrifikasi dan Microalgae

Selama ini limbah dari pabrik urea di Indonesia diolah menggunakan proses nitrifikasi denitrifikasi heterotrofik dengan menggunakan bantuan lumpur aktif nitrifying. Sayangn ya proses ini memiliki kelemahan. Kadar COD limbah urea yang rendah, menyebabkan perlu-nya penambahan asupan sumber karbon. Alternatif pengolahan yang diteliti adalah proses yang menggabungkan microalgae dengan lumpur aktif nitrifying. Dengan proses ini penambahan asupan karbon bisa dihindari karena microalgae-nya mampu memanfaatkan (NH)2CO dan NH3-N sebagai sumber nitrogen untuk kemudian difotosinteis dengan bantuan CO 2. Sedangkan microalgae yang terbentuk bisa dimanfaatkan oleh lumpur aktif sebagai sumber karbon. Limbah dengan variasi kadar ammonia yang berbeda dialirkan menuju bak microalgae kemudian dialrkan lagi ke bak lumpur aktif. Respon yang diamati adalah penurunan kadar NH3-N yang terjadi serta kadar NO2-NO3 yang terbentuk dari penguraian ammonia. Dari penelitian ini dapat disimpulkan konsentrasi NH3-N dalam influent berbanding terbalik dengan persentase penurunan NH3N dimana semakin besar konsentrasi NH3-N influent mengakibatkan persentase penurunan konsentrasi NH3-N dalam limbah cenderung semakin turun. Meskipun (NH2)2CO dan NH3-N tidak termasuk senyawa B3, limbah cair pabrik pupuk urea dapat menimbulkan kerusakan ekosistem badan air yang sangat serius. Sampai saat ini, pengolahan limbah cair pabrik pupuk urea dilakukan dengan proses nitrifikasidenitrifikasi heterotrofik dalam kolam-kolam terbuka. Karena kadar COD limbah cair ini rendah, proses nitrifikasi-denitrifikasi heterotrofik tersebut memerlukan banyak masukan

sumber karbon, dalam hal ini adalah metanol. Selain itu, kinerja proses tidak terkendali ketika terjadi fluktuasi karakteristik limbah yang ekstrim. Teknologi yang diterapkan berbasis pada penggabungan activated microalgae dan nitrifikasi-denitrifikasi autotrofik untuk menguraikan limbah cair urea kadar tinggi dan ammonia kadar tinggi. Microalgae merupakan mikroba autotrof yang mampu memanfaatkan (NH2)2CO dan NH3-N sebagai sumber nitrogen (sumber N) dan gas karbon dioksida (CO2) sebagai sumber karbon (sumber C). Dalam skala besar mikroalgae selalu berasosiasi dengan bakteria/mikroba lain. Pada dasarnya, interaksi bakterialgae mampu memurnikan air sungai. Aktivitas metabolisme bakteri heterotropik-aerobik menghasilkan CO2, NH4 +, NO3 -, PO4 3- dan sebagainya. Mikroalgae menyerap senyawa-senyawa tersebut dan menghasilkan bahan organik, O2, dan H2O. Oksigen yang diproduksi mikroalgae digunakan oleh bakteri aerobikheterotrofik diantaranya untuk reaksi nitrifikasi dan bakteri anaerobik-denitrifikasi. Dalam penelitian ini, akan dicoba menggunakan microalgae yang telah di-activated yang digabungkan dengan bakteri alam dalam lumpur aktif yang telah dipra-kondisikan, untuk mengolah air limbah yang mengandung urea dan amonia konsentrasi tinggi. Melalui proses fotosintesis, microalgae menggunakan CO2 dari bakteri aerob dan amonia untuk membentuk protoplasma sel dan melepaskan molekul oksigen [Stein, 1973; Coombs dan Hall, 1992; Danks et al, 1983; Polle et al, 1999]:

Faktor lingkungan yang mempengaruhi pertumbuhan (fotosintesis) microalgae adalah intensitas cahaya, suhu air, pH, makro dan mikronutrien, konsentrasi CO2 [SurkKey & Toshiuki, 2002]. Walaupun mengandung unsur karbon, karbon pada urea tidak bisa digunakan sebagai sumber hara [Stein, 1973; Polle et al, 1999], karena karbon dalam bentuk teroksidasi dan selama hidrolisis terlepas sebagai CO2 dalam reaksi sebagai berikut:

Sumber nitrogen utama yang dapat digunakan oleh microalgae adalah nitrat dan amonia-N, sedangkanpenggunaan nitrit dibatasi oleh toksisitasnya. Bila nitrat dan amoniaN terdapat bersama, maka nitrat tidak akan diabsorpsi sampai semua amonia-N habis terserap. Hampir semua microalgae memiliki enzim urease sebagaimana halnya tumbuhan tingkat tinggi [Barr, 2002].

Urea digunakan sebagai sumber N dalam pertumbuhan berbagai jenis microalgae, bahkan juga oleh microalgae yang tidak mempunyai urease [Syrett, 1962 dalam Morris, 1974]. Bakteri memanfaatkan bahan organik yang dihasilkan oleh microalgae atau berasal dari microalgae mati sebagai sumber karbon untuk mensintesa sel baru dan untuk kebutuhan energi membentuk produk akhir seperti CO2, NH4+ pada proses respirasi dan sintesis, Microalgae memanfaatkan CO2 sebagai sumber karbon untuk fotosintesis. Respirasi

Fotosintesis

Defisiensi CO2 dipenuhi dari alkalinitas alami yang ada di air dan dari pemasukan CO2 gas dengan bantuan sparger, yang sekaligus berfungsi sebagai pengaduk. Proses konvensional untuk menghilangkan ammonium pada umumnya melalui 2 tahap, nitrifikasi aerobik dandenitrifikasi anaerobik. Kajian yang dilangsungkan pada dekade terakhir menemukan bahwa konversi NH4+ menjadigas N2 secara autotrofik meliputi 2 tahap: (i) nitrifikasi aerobik NH4+ menjadi NO2 or NO3 dengan O2 sebagaipenerima electron dan (ii) denitrifikasi anoksik NO2 atau NO3 menjadi gas N2 dengan NH4+ sebagai donor elektron [Anderson & Levine, 1986]. Pada dasarnya pembuatan lumpur aktif nitrifying relatif mudah [Gernaey et al, 1997]. Tetapi bila lumpur itukemudian dapat diinduksi untuk mengkonversi NH4+ menjadi N2 tanpa bantuan sumber karbon organik, maka sebuahlangkah penting dalam pengolahan limbah akan mugkin dilakukan (Dian K. Wardhany, 2008).

Permasalahan 2 : Reaksi Setimbang Pembuatan Urea Latar Belakang Masalah : Pada pembuatan urea, reaksi yang terjadi adalah reaksi setimbang yang mana sangat tidak diharapkan oleh pihak perusahaan. Tujuan kita menggeser kesetimbangan menjadi reaksi searah agar menghasilkan produk yang maksimal

Sebab reaksi setimbang pembuatan urea : 2NH3 (g) + CO2 (g) NH2CONH2 (aq) + H2O (l) H = -118,27 kJ

Reaksi pembuatan urea di atas merupakan reaksi setimbang dengan H negatif yang menunjukkan bahwa rekasi terjadi dalam keadaan eksoterm. Reaksi berlangsung dalam fase cair pada interval temperatur mulai 170-190C dan pada tekanan 130 sampai 200 bar. Panas reaksi diambil dalam sistem dengan jalan pembuatan uap air. Bagian reaksi kedua merupakan langkah yang menentukan kecepatan reaksi dikarenakan reaksi ini berlangsung lebih lambat dari pada reaksi bagian pertama. Solusi reaksi setimbang urea : Tinjauan kesetimbangan reaksi pembuatan urea Azas Le Chatelier : Apabila kedalam sistem kesetimbangan diberikan aksi, maka sistem akan mengadakan reaksi sedemikian rupa , sehingga pengaruh aksi tadi menjadi sekecil kecilnya. Apabila dalam sistem kesetimbangan homogen, konsentrasi salah satu zat diperbesar, maka kesetimbangan akan bergeser ke arah yang berlawanan dari zat tersebut. Sebaliknya, jika konsentrasi salah satu zat diperkecil, maka kesetimbangan akan bergeser ke pihak zat tersebut. Contoh: 2SO2(g) + O2(g) 2SO3(g) - Bila pada sistem kesetimbangan ini ditambahkan gas SO2, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan. - Bila pada sistem kesetimbangan ini dikurangi gas O2, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Jika dalam suatu sistem kesetimbangan dilakukan aksi yang menyebabkan perubahan volume (bersamaan dengan perubahan tekanan), maka dalam sistem akan mengadakan berupa pergeseran kesetimbangan. Jika tekanan diperbesar = volume diperkecil, kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah Koefisien Reaksi Kecil. Jika tekanan diperkecil = volume diperbesar, kesetimbangan akan bergeser ke arah jumlah Koefisien reaksi besar. Pada sistem kesetimbangan dimana jumlah koefisien reaksi sebelah kiri sama dengan jumlah koefisien sebelah kanan, maka perubahan tekanan/volume tidak menggeser letak kesetimbangan. Contoh: Koefisien reaksi di kanan = 2 N2(g) + 3H2(g) 2NH3(g)

Koefisien reaksi di kiri = 4 - Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperbesar (=volume diperkecil), maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan. - Bila pada sistem kesetimbangan tekanan diperkecil (=volume diperbesar), maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri. Menurut Vant Hoff: - Bila pada sistem kesetimbangan subu dinaikkan, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membutuhkan kalor (ke arah reaksi endoterm). - Bila pada sistem kesetimbangan suhu diturunkan, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke arah yang membebaskan kalor (ke arah reaksi eksoterm). Contoh: 2NO(g) + O2(g) 2NO2(g) H = -216 kJ

- Jika suhu dinaikkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kiri. - Jika suhu diturunkan, maka kesetimbangan akan bergeser ke kanan. Derajat disosiasi adalah perbandingan antara jumlah mol yang terurai dengan jumlah mol.

Tinjauan kesetimbangan reaksi pembuatan urea G = - RT ln K Reaksi setimbang G < 1 , K >1 Reaksi searah G >1, K<1. Berdasarkan referensi diatas maka solusi yang ditawarkan adalah 1. Pihak pabrik melakukan proses pembuatan urea dalam sistem kontinu, maksudnya adalah produk yang dihasilkan langsung dikeluarkan dari reaktor sambil umpan reaktan dimasukkan secara terus-menerus. 2. Tekanan sistem dinaikkan, karena akan menggeser kesetimbangan ke arah yang koefisiennya kecil yaitu ke arah produk. 3. Volume sistem diperkecil, karena akan menggeser kesetimbangan ke arah yang koefisiennya kecil yaitu ke arah produk. 4. Menentukan suhu optimum pembuatan urea agar tercapai konversi produk terbesar 5. Nilai Qc < Kc, sehingga reaksi bergeser ke kanan atau memperbanyak produk dimana Qc = nilai koefisien reaksi dan Kc = konstanta kesetimbangan 6. Selektifitas, kostanta kesetimbangan, energi bebas gibbs.

Permasalahan 3 : Kelangkaan gas Latar Belakang Kelangkaan Gas : PIM gencar diisukan terancam kolaps. Perusahaan BUMN ini terancam tak bisa beroperasi pada tahun 2013. Terkait belum adanya kejelasan pemerintah dan Pertamina tentang pasokan gas. Stok gas yang diperoleh PIM sebelumnya hanya akan bertahan hingga akhir 2012. Pabrik PIM selama ini mendapatkan komitmen pasokan gas dari pengalihan gas alam cair (LNG) Kilang Tangguh. Hal ini juga dikarenakan kontrak dengan Arun sudah habis. Solusi Kelangkaan Gas :

PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) Krueng Geukueh, Aceh Utara tahun 2013 dipastikan mendapat delapan kargo gas yang dialokasikan melalui BP Tangguh. Tapi, gas itu tetap diswap (ditukar) dengan gas di ExxonMobil. Dengan kepastian alokasi gas itu, selama 2013 PIM akan bisa terus beroperasi menghasilkan pupuk meski hanya menggunakan satu pabrik yaitu PIM I. Sekretaris PT PIM, T Syaban Daud, kemarin, mengatakan, untuk operasional setahun pihaknya menargetkan hanya menggunakan gas tujuh kargo hingga dapat menyediakan pupuk bersubsidi untuk enam priovinsi di Indonesia yaitu Aceh, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Kepulauan Riau, Jambi. Dengan tujuh kargo gas itu, lanjut Syaban, pihaknya menargetkan akan mampu memproduksi pupuk urea 570 ribu ton. Sedangkan kebutuhan untuk 6 provinsi itu sebanyak 386 ribu ton. T Syaban memastikan sejauh ini tidak ada kendala apapun dalam persiapan operasi PT PIM pada tahun 2013. Untuk pabrik, kondisinya normal karena baru saja selesai perbaikan tahunan jatah tahun 2012, Gas untuk PIM sudah ada sesuai surat dari Satuan Kerja Sementara (SKS) Migas yang ditandatangan Menteri SDM, Jero Wacik pada 14 Desember 2012. Dengan demikian PIM masih tetap beroperasi.