Anda di halaman 1dari 17

BAB I LAPORAN KASUS

I.1

IDENTITAS PENDERITA Nama Umur Jenis kelamin Alamat Status MRS : An. Marcello : 3 bulan : Laki - laki : RT 03 RW 01 Banjarsari - Trucuk - Bojonegoro : Anak pertama : 22 agustus 2011

Tgl Pemeriksaan : 22 agustus 2011

I.2

KELUHAN UTAMA Sesak

I.3

RIWAYAT PENYAKIT SEKARANG Sesak mulai 10 hari yang lalu, sesak tidak disertai bunyi mengi dan bersifat terus menerus sampai MRS. Sesak tidak dipengaruhi oleh udara dingin maupun perubahan posisi. Setiap pasien bernafas terdengar suara nafas grok grok. Batuk-batuk juga bersamaan dengan sesak, batuk bersifat hilang timbul tidak tentu dengan waktu, munculnya tiba-tiba, paling sering batuk pada malam hari. Dahak kadang keluar, kental berwarna putih kekuningan sebanyak 1 sdt. Batuk-batu tidak disertai muntah, panas (-), pilek (-), mual (-), muntah (-). Selama sakit sudah dibawa berobat ke bidan dan mendapat obat berupa sirup, tetapi tidak ada perubahan. Selama 5 hari minum obat dari bidan tapi tidak ada perubahan, kemudian di bawa ke RSUD Sosodoro Djatikoesoemo di nusa indah dan langsung di tangani di ruang PICU. Pasien belum di beri makan, hanya diberi ASI dan PASI, tapi selama sakit tidak lagi minum ASI. BAB (+) normal, berjumlah sedikit warna

kuning, dalam sehari BAB 2-3 kali. BAK normal lancar warna putih sebanyak gelas.

I.4

RIWAYAT PENYAKIT DAHULU Riwayat sakit sebelumnya tidak pernah , baik batuk maupun sesak. Riwayat sakit panas waktu umur 2 bln setelah imunisasi. Riwayat sakit sariawan karena botol yang tidak bersih.

I.5

RIWAYAT PENYAKIT KELUARGA Orang tua laki-laki (bapak) batuk-batuk selama 2 minggu, tapi sekarang sudah sembuh.

I.6

RIWAYAT SOSIO EKONOMI Pasien tinggal satu rumah hanya dengan ayah dan ibu. Kebiasaan ayah pasien merokok, satu hari biasanya menghabiskan 3-5 batang rokok.

I.7

RIWAYAT IMUNISASI - DPT - BCG 1 kali - Polio 1 kali

I.8

RIWAYAT PERSALINAN Lahir normal dan cukup bulan, dengan berat badan lahir 3300 gram.

I.9

PEMERIKSAAN FISIK a. Keadaan umum dan vital sign - Kesan keadaan - Kesan gizi - HR - Suhu - RR : lemah : baik : 120 x / menit : 36,6 C : 44 x / menit (pakai O2)

b. Status Antropometri : - Berat Badan - Panjang Badan - Lingkar kepala - Lingkar Lengan Atas - BB/U - PB/U - BB/PB c. Kepala dan leher : - Kepala Mata : Isokor, tidak dijumpai anemis, ikterus, maupun mata cowong : 7,7 Kg : 66 cm : 40 cm : 14 cm : > 95 persentil : > 95 persentil : 50-75 persentil

Hidung : Tidak dijumpai sekret, dijumpai pernafasan cuping hidung Mulut : Tidak dijumpai bibir kering maupun cianosis - Leher Tidak dijumpai peningkatan tekanan vena jugularis Tidak dijumpai pembesaran KGB d. Thorax : dijumpai retraksi intercostalis dan subcostalis - Pulmo : Inspeksi Palpasi Perkusi : Tampak simetris : Pergerakan dinding dada simetris : Sonor seluruh lapang paru

Auskultasi : - Suara nafas bronkial - Terdapat wheezing diseluruh lapang paru pada fase ekspirasi. - Terdapat ronkhi diseluruh lapang paru baik pada fase inspirasi maupun ekspirasi. - Cor : S1 S2 tunggal reguler. e. Abdomen : - Inspeksi : Cembung, distended (-) M (-), G (-), ES (-)

- Auskultasi : Bising usus normal - Palpasi : Soepel, tidak teraba pembesaran hepar dan lien, turgor kulit normal - Perkusi : Meteorismus (-)

f. Ekstremitas : Akral hangat , CRT 2 dtk, oedem (-)

I.10 PEMERIKSAAN PENUNJANG Hasil Laboratorium Hasil Darah lengkap HGB 10,7 g / dl L:13 - 18 g/dl P:11,5-16,5 g/dl MCV MCH MCHC HCT 74,0 fl 24,7 pg 33,3 / dl 32,1 % 10,26 (103/l) 324 (103/l) 82,0 92,0 27,0 31,0 32,0 37,0 L : 40,0 50,0 P : 37,0 45,0 WBC PLT 4,011,0 (103/l) 150 - 400(103/l) Nilai rujukan

I.11 PROBLEM LIST - Sesak terus menerus, disertai batuk-batuk. - Bunyi nafas grok - grok, terdengar suara mengi - Nafas cuping hidung, retraksi intercostalis dan subcostalis - Suara wheezing dan ronkhi penuh diseluruh lapang paru. - HGB : 10,7 g/dl

I.12 ASSEIGMENT - Suspect Bronkiolitis DD : Pneumonia

- Obs. Anemia

I.13 PLANNING : a. Planning diagnosa : DL, UL, Golongan darah, Foto thorak.

b. Planning terapi : 1. Pasang oksigen nasal 2 lpm 2. Infus D1/4S 8 tpm makro 3. Injeksi cefotaxime 2 x 1/3 g IV 4. Injeksi Dexamethasone 2 x 2 mg IV 5. Nebulasi nairet amp diencerkan dalam normal salin sampai 2 cc, diberikan 3 x sehari 6. Ambroxol 3 x 3 mg (puyer) 7. Salbutamol 3 x 0,5 mg (puyer) 8. CTM 3 x 0,5 mg (puyer) c. Diet : ASI d. Edukasi : - Ayah pasien bila merokok jangan disekitar pasien. - Selama Ayah batuk, pasien dijauhkan dari ayahnya. - Menghindarkan bayi dari kontak dengan penderita ISPA.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

II.1 PENDAHULUAN Bronkiolitis akut adalah infeksi saluran pernapasan yang ditandai oleh obstruksi inflamasi saluran napas kecil (bronkiolus). Sering mengenai anak usia di bawah satu tahun dengan insiden tertinggi umur 6 bulan. Bronkiolitis akut yang terjadi di bawah umur satu tahun kira-kira 12% dari seluruh kasus, sedangkan pada tahun kedua lebih jarang lagi, yaitu sekitar setengahnya. Penyakit ini menimbulkan morbiditas infeksi saluran napas bawah terbanyak pada anak. Penyebab yang paling bayak adalah virus Respiratory syncytial, kira-kira 45--55% dari total kasus. Sedangkan virus lain seperti Parainfluenza, Rhinovirus, Adenovirus, dan Enterovirus sekitar 20%. 1 Bakteri dan mikoplasma sangat jarang menyebabkan bronkiolitis pada bayi. Sekitar 70% kasus bronkiolitis pada bayi terjadi gejala yang berat sehingga harus dirawat di rumah sakit, sedangkan sisanya biasanya dapat dirawat di poliklinik. Sebagian besar infeksi saluran napas ditularkan lewat droplet infeksi. Infeksi primer oleh virus RSV biasanya tidak menimbulkan gejala klinik, tetapi infeksi sekunder pada anak tahun-tahun pertama kehidupan akan bermanifestasi berat. 1

II.2 DEFINISI Bronkiolitis merupakan suatu sindroma obstruksi bronkiolus yang sering di derita bayi dan anak kecil yang berumur kurang dari 2 tahun. Angka kejadian tertinggi rata-rata ditemukan pada usia 2-6 bulan. 2,3

II.3 ETIOLOGI Bronkiolitis merupakan penyakit yang terutama disebabkan oleh virus, yang biasanya lebih berat pada bayi muda. Terjadi epidemic setiap tahun dan ditandai
6

dengan obstruksi saluran pernapasan dan wheezing. Penyebab paling sering adalah Respiratory Sincytial Virus. Penyebab lainnya ialah parainfluenza virus, Eaton agent (Mycoplasma pneumonia), adenovirus dan beberapa virus lain . 2,3,4 Virus RSV lebih virulen daripada virus lain dan menghasilkan imunitas yang tidak bertahan lama. Infeksi ini pada orang dewasa tidak menimbulkan gejala klinis. RSV adalah golongan paramiksovirus dengan bungkus lipid serupa dengan virus parainfluenza, tetapi hanya mempunyai satu antigen permukaan berupa glikoprotein dan nukleokapsid RNA helik linear. Tidak adanya genom yang bersegmen dan hanya mempunyai satu antigen bungkus berarti bahwa komposisi antigen RSV relatif stabil dar tahun ke tahun. 1

II.4 PATOFISIOLOGI Mikroorganisme masuk melalui droplet mengadakan kolonisasi dan replikasi di mukosa bronkioli terutama pada terminal bronkiolus sehingga terjadi kerusakan atau nekrosis sel-sel bersilia pada bronkioli. 2

Gambar 1. Penyempitan pada bronkiolus Respon imun tubuh yang terjadi di tandai dengan proliferasi limfosit, sel plasma dan makrofag. Akibat dari proses tersebut terjadi edema sub-mukosa, kongesti, serta penumpukan debris seluler (eksudat) dan mukus (plugging), sehingga terjadi penyempitan lumen bronkiloi. maka sedikit penebalan dinding bronkus sudah memberikan akibat cukup besar terhadap aliran udara pada saluran nafas, terutama pada saluran nafas bawah. Penyempitan ini mempunyai distribusi

tersebar dengan derajat bervariasi (total/sebagian). Obstruksi parsial bronkiolus menimbulkan emfisema dan obstruksi total menimbulkan atelektasis. 1,2,3 Gambaran yang terjadi adalah atelektasis yang tersebar dan distensi yang berlebihan (hyperaerated) sehingga dapat terjadi gangguan pertukaran gas yang serius, gangguan ventilasi/perfusi dengan akibat terjadi hipoksemia (PaO2 turun) dan hiperapnea (PaCO2 meningkat). Kondisi yang berat dapat terjadi gagal nafas.2,5 Resistensi aliran udara pada saluran napas kecil sama-sama meningkat baik pada fase inspirasi maupun ekpirasi. Tetapi, oleh karena radius pada saluran napas lebih kecil selama fase ekpirasi bial dibandingkan dengan fase inspirasi, maka terdapat suatu mekanisme klep, dimana udara yang ada akan terperangkap (air trapping). Keadaan ini pada akhirnya dapat menimbulkan hiperinflasi dari rongga dada. 1 Bayi yang menderita bronkiolitis berat mungkin oleh karena kadar antibodi maternal (maternal neutralizing antibody) yang rendah. Ternyata, bronkiolitis juga bisa diderita oleh anak yang agak besar atau bahkan dewasa. Hanya saja, bronkiolitis pada mereka biasanya tak memberikan keluhan. Hal Ini terjadi karena saluran napas mereka relatif besar, hingga saat meradang pun masih bisa dilalui udara pernapasan,dan dapat mentoleransi edem saluran napas dengan lebih baik. Oleh karena itu, angka morbiditas untuk terjadinya bronkiolitis pada anak besar dan orang dewasa jarang terjadi. 1,7

II.5 GAMBARAN KLINIS Mula-mula terjadinya bronkiolitis akut didahului dengan infeksi saluran napas bagian atas yang relatif ringan. Infeksi saluran nafas ini dapat berupa batukbatuk paroksismal, pilek encer, bersin-bersin dan bisa disertai demam subfebril atau tanpa demam. Kadang-kadang, pada bayi yang tidak mempunyai riwayat ataupun demam sama sekali, dapat terjadi suatu keadaan hipotermi. Gejala-gejala ini biasanya berlangsung beberapa hari. 1,2,3

Kemudian timbul distres pernafasan yang ditandai dengan keadaan dimana anak-anak menunjukkan gejala, seperti sesak nafas yang sifatnya progresif, pernafasan cuping hidung yang disertai dengan retraksi interkostal dan suprasternal. Pada keadaan yang berat dapat terdengar suara mengi. Keadaan ini dikompensasi dengan pernafasan Kussmauls (pernafasan cepat dan dalam). Pada akhirnya, anak-anak menjadi gelisah, iritabel dan tampak sianosis. 1,2,3 Selain itu, gejala lainnya dapat berupa kesulitan minum terutama pada bayi. Hal ini disebabkan karena frekuensi napas yang cepat sehingga menghalangi terjadinya proses menelan dan menghisap. Pada kasus yang ringan, gejala-gejala tersebut menghilang dalam kurun waktu satu sampai tiga hari hari. Sementara, pada kasus yang berat, gejalanya dapat tetap ada sampai beberapa hari dan perjalanan penyakitnya berlangsung cepat. 1 Pada pemeriksaan fisik, dapat dilihat adanya distres pernapasan (keadaan dimana frekuensi napas sekitar 60 x/menit, dengan pernapasan cuping hidung, penggunaan otot pernapasan tambahan, retraksi dan juga sianosis). Namun, pada bronkiolitis akut retraksi biasanya tidak dalam karena adanya hiperinflasi paru (terperangkapnya udara dalam paru). Hepar dan limpa dapat teraba karena terdorong oleh diafragma akibat hiperinflasi paru-paru. Kadang terdengar ronki basah byaring halus pada akhir fase inspirasi atau pada permulaaan fase ekpirasi. Fase ekpirasinya memanjang dan mengi pada keadaan tertentu dapat terdengar dengan jelas. Pada keadaan yang amat beratm suara pernafasan dapat tidak terdengar, napas cepat dan dangkal, wheezing berkurang bahkan hilang. Hal ini dapat dikarenakan obstruksi yang terjadi sifatnya hampir menyeluruh. 1,2,3,4 Pada pemeriksaan penunjang, pemeriksaan laboratorium ditemukan gambaran darah tepi dalam batas normal, Pada keadaan yang berat, gambaran analisis gas darah akan menunjukkan tanda-tanda asidosis respiratorik maupun metabolik, yang dapat ditandai dengan hiperkapnia, karena karbondioksida tidak dapat dikeluarkan, akibat edem dan hipersekresi bronkiolus. Pada usapan nasofaring hanya didapat flora bakteri normal. 1,3,5 Pada pemeriksaan Radiologi foto thorax AP dan lateral dapat terlihat gambaran hiperinflasi paru (emfisema) dengan diameter anteroposterior

membesar pada foto lateral serta dapat terlihat bercak konsolidasi yang tersebar disebabkan atelektasis atau radang. 1,2,3

II.6 DIAGNOSIS Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan gambaran klinis yang khas seperti tersebut di atas. Keadaan ini harus dibedakan dengan Asma yang kadang-kadang juga timbul pada usia muda. Anak dengan asma akan memberikan respon terhadap pengobatan bronkodilator, sedangkan anak dengan bronkiolitis tidak atau kurang respon terhadap bronkodilator. Bronkiolitis juga harus dibedakan dengan bronkopneumonia dan gagal jantung. 1,3

Tabel 1 : Respiratory Distress Assessment Instrument (RDAI) 5

SKOR
0 Wheezing : -Ekspirasi -Inspirasi -Lokasi Retraksi : Supraklavikular -Interkostal (-) -Subkostal TOTAL Ringan Sedang Berat (-) (-) Ringan Ringan Sedang Sedang Berat Berat (-) (-) (-) Akhir Sebagian 2 dr 4 lap paru Semua 3 dr 4 lap paru Semua 1 2 3 4

Skor maksi mal

4 2 2

3 3 3 17

10

II.7 DIAGNOSIS BANDING Keadaan yang paling sering dikacaukan dengan penyakit bronkiolitis akut adalah asma bronkial. Adanya satu atau lebih keadaan yang disebutkan ini, lebih menguntungkan diagnosis asma: riwayat keluarga penderita asma, serangan yang terjadi berulang, munculnya mendadak tanpa suatu infeksi yang mendahului, fase ekspirasi memanjang secara menyolok, eosinofilia dan respons yang

menguntungkan penderita terhadap epinefrin.1,6

pemberian suatu dosis tunggal kecil

Tabel 2. Diagnosis Banding Anak dengan Wheezing. 3 DIAGNOSIS 1. Asma GEJALA - Riwayat wheezing berulang, kadang tidak ber hubunagan dengan batuk pilek. - Hiperinflasi dinding dada. - Ekspirasi memanjang. - Berespon baik terhadap bronkodilator. 2. Pneumonia - Demam. - Batuk dengan nafas cepat. -Crackles (ronki) pada auskultasi. - Tarikan dinding dada bagian bawah ke dalam. - Pernapasan cuping hidung. - Merintih/grunting -sianosis. 3. Gagal jantung - Peningkatan vena jugularis. - Denyut aprx bergeser ke kiri - Irama derap - Bising jantung. - Crackles/ronki di daerah basal paru. - Pembesaran hati. 4. Wheezing berkaitan - Wheezing selalu berkaitan dengan batuk dan pilek. dg - Tidak ada riwayat keluarga dengan asma.

11

batuk/pilek

- Cenderung lebih ringan dibandingkan dengan wheezing akibat asma. - Berespon baik terhadap bronkodilator.

5. Benda asing

- Riwayat tersedak atau Wheezing tiba0tiba. - Wheezing umumnya unilateral. - Air trapping dengan hipersonor dan pergeseran mediastinum. - Tanda kolaps paru.

II.8 TATALAKSANA Pada penatalaksanaan bronkiolitis, apabila terdapat napas saja, pasien dapat rawat jalan dan diberikan kotrimoksazol (4 mg TMP/kgBB/kali) 2 kali sehari, atau amoksisilin (25 mg/kgBB/kali) 2 kali sehari, selama 3 hari. Apabila terdapat tanda distres pernapsan tanpa sianosis tetapi anak masih bisa minum, rawat anak di rumah sakit. Anak harus ditempatkan dalam ruangan dengan kelembaban udara yang tinggi, sebaiknya dengan uap dingin (mist-tent). Keadaan ini dapat mencairkan sekret bronkus yang liat. 2,3 1. Oksigenasi. Beri oksigen pada semua anak dengan wheezing dan distres pernafasan berat. Metode yang direkombinasikan untuk pemberian oksigen adalah dengan nasal prongs atau kateter nasal. Bisa juga menggunakan kateter nasofaringeal. Pemberian oksigen terbaik untuk bayi muda adalah menggunakan nasal prongs. Terapi oksigen diteruskan sampai tanda hipoksia menghilang. 1,3 Perawat harus memeriksa sedikitnya tiap 3 jam bahwa kateter atau prongs berada dalam posisi yang benar dan tidak tersumbat oleh mukus dan semua sambungan terpasang aman. 3 2. Cairan Pemberian cairan sangat penting untuk mengoreksi keadaan asidosis metabolic dan respiratorik yang mungkin timbul dan mencegah terjadinya dehidrasi akibat keluarnya cairan melalui mekanisme penguapan tubuh

12

(evaporasi), karena pola pernapasan yang cepat dan kesulitan minum. Jika tidak terjadi dehidrasi, dapat diberikan cairan rumatan. 1 Cara pemberian cairan ini bisa melalui intravena atau nasogastrik. Akan tetapi, harus kita harus hati-hati, khususnya pada pemberian cairan melalui lambung karena dapat terjadi aspirasi yang dapat memperberat sesak napas yang ada, akibat lambung yang terisi cairan menekan diafragma ke paru-paru. 1 3. Obat-obatan a. Antivirus (Ribavirin) Bronkiolitis paling banyak disebabkan oleh virus sehingga ada pendapat untuk mengurangi beratnya penyakit dapat diberikan antivirus. Ribavirin adalah obat antivirus yang bersifat virus statik. Tetapi, penggunaan obat ini masih kontroversial baik mengenai efektivitas maupun keamanannya. 1 The American of Pediatric merekomendasikan penggunaan ribavirin pada keadaan yang diperkirakan penyakitnya akan menjadi lebih berat seperti pada penderita bronkiolitis dengan kelainan jantung, fibrosis kistik, penyakit paru-paru kronik, immunodefisiensi, dan pada bayi-bayi premature. Penggunaan ribavirin terhadap penderita bronkiolitis dengan penyakit jantung, didapatkan bahwa ribavirin dapat menurunkan angka morbiditas dan mortalitas jika diberikan sejak awal. 1 Penggunaan ribavirin biasanya dengan cara nebulizer aerosol 12 - 18 jam per hari atau dalam dosis kecil. 1 b. Antibiotik Penggunaan antibiotik biasanya tidak diperlukan pada penderita

bronkiolitis, karena sebagian besar disebabkan oleh virus, kecuali bila didapat adanya tanda-tanda infeksi bacterial sekunder. Antibiotik yang dipakai biasanya yang bersifat broad-spectrum. Bila diketahui etiologi penyebabnya adalah Mycoplasma pneumoniae, maka dapat dengan pemberian eritromisin.1 Penggunaan antibiotik justru akan meningkatkan infeksi sekunder oleh kuman yang resisten terhadap antibiotik tersebut. 1 c. Bronkodilator dan Antiinflamasi (kortikosteroid)

13

Kedua macam obat tersebut masih kontroversial penggunaannya pada bronkiolitis. Bronkodilator merupakan kontra indikasi, karena dianggap dapat memperberat keadaan anak, karena menyebabkan anak menjadi lebih gelisah sehingga kebutuhan oksigennya akan ikut meningkat. 1 d. Sedativa. Penggunaan golongan sedative tidak diperbolehkan, karena dapat

menimbulkan depresi pernafasan. Bila memang diperlukan, maka dapat dipertimbangkan untuk penggunaan kloralhidrat.

Bagan : Tatalaksana Bronkiolitis. 5,6

14

II.9 KOMPLIKASI Jika anak gagal memberikan respon terhadap terapi oksigen atau keadaan anak memburuk secara tiba-tiba, lakukan pemeriksaan foto thorax untuk melihat kemungkinan pneumothorax. 3 Tension Pneumothorax yang diikuti dengan distres pernapasan dan pergeseran jantung, membutuhkan penanganan segera dengan menempatkan jarum di daerah yang terkena agar udara bisa keluar ( perlu diikuti dengan insersi kateter dada dengan katub di bawah air untuk menjamin kelangsungan keluarnya udara sampai kebocoran udara menutup secara spontan dan paru mengembang). Komplikasi seperti otitis media akut, pneumonia bakterial, dan gagal jantung jarang di jumpai. 1,3

II.10 PROGNOSIS Serangan bronkiolitis akut ini dapat segera teratasi setelah 48 72 jam. Mortalitas kurang dari 1 %. Anak biasanya meninggal karena jatuh dalam keadaan apnea yang lama, asidosis respiratorik yang tidak terkoreksi atau karena dehidrasi yang disebabkan oleh takipnea dan kurang makan-minum. Makin muda umur bayi menderita bronkiolitis biasanya akan makin berat penyakitnya.. 1,2,6,7

II.11 PENCEGAHAN Beberapa tindakan pencegahan pada bronkiolitis : Jangan membawa bayi berumur kurang dari 3 bulan ke tempat umum, terutama jika banyak anak-anak Penderita infeksi saluran pernafasan harus mencuci tangan atau menggunakan masker jika berdekatan dengan bayi. 6

15

BAB III KESIMPULAN

Bronkiolitis akut adalah infeksi saluran pernapasan yang ditandai oleh obstruksi inflamasi saluran napas kecil (bronkiolus). Sering mengenai anak usia di bawah satu tahun dengan insiden tertinggi umur 6 bulan. Bronkiolitis akut yang terjadi di bawah umur satu tahun kira-kira 12% dari seluruh kasus, sedangkan pada tahun kedua lebih jarang lagi, yaitu sekitar setengahnya. Bronkiolitis merupakan penyakit yang terutama disebabkan oleh virus, yang biasanya lebih berat pada bayi muda. Terjadi epidemic setiap tahun dan ditandai dengan obstruksi saluran pernapasan dan wheezing. Penyebab paling sering adalah Respiratory Sincytial Virus. Penyebab lainnya ialah parainfluenza virus, Eaton agent (Mycoplasma pneumonia), adenovirus dan beberapa virus lain. Mikroorganisme masuk melalui droplet mengadakan kolonisasi dan replikasi di mukosa bronkioli terutama pada terminal bronkiolus sehingga terjadi kerusakan atau nekrosis sel-sel bersilia pada bronkioli. Respon imun tubuh yang terjadi di tandai dengan proliferasi limfosit, sel plasma dan makrofag. Akibat dari proses tersebut terjadi edema sub-mukosa, kongesti, serta penumpukan debris seluler (eksudat) dan mukus (plugging), sehingga terjadi penyempitan lumen bronkiloi. Penyempitan ini mempunyai distribusi tersebar dengan derajat bervariasi (total/sebagian). Obstruksi parsial bronkiolus menimbulkan emfisema dan obstruksi total menimbulkan atelektasis. Diagnosis dapat ditegakkan dari anamnesis, pemeriksaan fisik, pemeriksaan penunjang, dan gambaran klinis yang khas seperti tersebut di atas. Keadaan ini harus dibedakan dengan Asma yang kadang-kadang juga timbul pada usia muda. Anak dengan asma akan memberikan respon terhadap pengobatan bronkodilator, sedangkan anak dengan bronkiolitis tidak atau kurang respon terhadap bronkodilator

16

DAFTAR PUSTAKA

1.

http://www.mail-archive.com/balita-anda@balita-anda.com/msg108483.html

2.

Setiwati. Landia dr.Sp.A (K). Dkk. Pedoman Diagnosis Dan Terapi Bag/SMF Ilmu Kesehatan Anak. Edisi ketiga. Surabya : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, 2008.

3.

Hasan. Rusepno,dr. Alatas. Husein,dr. Buku Kuliah 3 Ilmu Kesehatan Anak. Cetakan kesebelas. Jakarta : Penerbit Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia jakarta, 2005.

4.
5.

Tim Adaptasi Indonesia. Pelayanan Kesehatan Anak Di Rumah Sakit. Cetakan pertama. Jakarta : Penerbit World Health Organization, 2009.
http://www.pediatrik.com/isi03.php?page=html&hkategori=pdt&direktori=pdt &filepdf=0&pdf=&html=07110-lrvz287.htm

6.
7.

http://www.scribd.com/doc/41089966/BRONKIOLITIS.
http://cousbravo.blogspot.com/2009/11/identitas-nama.html.

17