Anda di halaman 1dari 25

MAKALAH PENGANTAR FISIKA INTI RADIOAKTIVITAS

Oleh Komang Suardika (0913021034)

JURUSAN PENDIDIKAN PENDIDIKAN FISIKA FAKULTAS MIPA UNIVERSITAS PENDIDIKAN GANESHA SINGARAJA 2011

Radioaktivitas1-

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Secara garis besar inti atom akan berada dalam dua keadaan dasar yaitu Keadaan Stabil dan Keadaan Tidak Stabil yang ditentukan oleh komposisi partikel penyusun inti. Keadaan stabil di capai apabila jumlah proton (Z) lebih sedikit atau sama banyak dengan jkumlah netron. Keadaan ini memungkinkan gaya inti lebih besar dibandingkan dengan gaya elektrostatis. Keadaan tidak stabil dicapai apabila jumlah proton (Z) lebih besar dari jumlah netron (N). Hal ini akan menyebabkan gaya elektrostatis bekerja pada jangkauan yang lebih besar dan gaya inti bekerja pada jangkauan yang kecil. Mengapa gaya elektrostatis pada keadaan Z > N lebih besar? Karena gaya elektrostatis memiliki jangkauan yang lebih luas dibandingkan dengan gaya inti, sehingga pada partikel proton dalam inti berada pada jangkauan yang kecil yang berdekatan dan berseberangan sekalipun. Inti atom seperti inilah yang akan melakukan aktivitas radiasi secara spontan sampai tercapai keadaan stabil. Keadaan inti dengan jumlah proton (Z) lebih besar dari jumlah netron (N) akan menghasilkan zat radioaktif. Gambar di bawah berikut menunjukkan karakteristik gaya inti dan gaya elektroststis di dalam inti atom.

Gambar : Gaya Inti terjadi pada partikel yang saling berdekatan saja

Gambar :Gaya elektroststis terjadi pada partikel yang berdekatan dan berjauhan

Suatu inti atom berada dalam keadaan tidak stabil jika jumlah proton jauh lebih besar dari jumlah netron atau sebaliknya. Berikut akan dibahas secara rinci mengenai zat radioaktif.

Radioaktivitas2-

1.2 Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas, ada beberapa masalah yang perlu dikaji lebih dalam diantaranya: 1.2.1 1.2.2 Bagaimana penemuan dan jenis-jenis Radioaktivitas Bagaimana hukum Peluruhan Radioaktivitas

1.2.3 Bagaimana Peluruhan Radioaktif Berurutan 1.2.4 Bagaimana Keseimbangan Radioaktif 1.2.5 Bagaimana Deret Radioaktif Alam 1.2.6 Bagaimana Satuan Radioaktivitas

1.3 Tujuan Penulisan


1.3.1 Untuk mengetahui asal mula penemuan radioaktivitas dan jenis-

jenis Radioaktivitas
1.3.2 Untuk mengetahui Bagaimana hukum Peluruhan Radioaktivitas 1.3.3 Untuk mengetahui Bagaimana Peluruhan Radioaktif Berurutan 1.3.4 Untuk mengetahui Bagaimana Keseimbangan Radioaktif 1.3.5 Untuk mengetahui Bagaimana Deret Radioaktif Alam 1.3.6 Untuk mengetahui Bagaimana Satuan Radioaktivitas

1.4 Metoda penulisan Metoda yang digunakan dalam penulisan makalah ini adalah metoda kajian pustaka, yakni penulis mengumpulkan beberapa buku sumber yang ada kaitannya dengan isi makalah yang kemudian menulis, menganalisis, merefleksi ulang serta mencoba menguraikan kembali tentang berbagai tulisan yang relevan dengan penulisan makalah ini.

Radioaktivitas3-

BAB II PEMBAHASAN
2.1 Penemuan dan Jenis-jenis Radioaktivitas

Radioaktivitas adalah kemampuan inti atom yang tak-stabil untuk memancarkan radiasi menjadi inti yang stabil. Radioaktivitas merupakan suatu fenomena dimana suatu bahan dapat memancarkan atau mengemisikan radiasi. Materi yang mengandung inti tak-stabil yang memancarkan radiasi, disebut zat radioaktif. Radioaktivitas suatu unsur radioaktif (radionuklida) dicirikan oleh konstanta peluruhan (l), yang menyatakan laju peluruhan tiap detik, dan waktu paro (t) serta kwantitas waktu rata-rata () . Ketiga besaran tersebut bersifat khas untuk setiap radionuklida. Berdasarkan sumbernya, radioaktivitas dibedakan atas radioaktivitas alam dan radioaktivitas buatan. Radioaktivitas buatan banyak digunakan di berbagai bidang. Bahan pertama yang digunakan adalah Uranium. Radioaktivitas ditemukan oleh H. Becquerel pada tahun 1896. Becquerel menamakan radiasi dengan uranium. Dua tahun setelah itu, Marie Curie meneliti radiasi uranium dengan menggunakan alat yang dibuat oleh Pierre Curie, yaitu pengukur listrik piezo (lempengan kristal yang biasanya digunakan untuk pengukuran arus listrik lemah), dan Marie Curie berhasil membuktikan bahwa kekuatan radiasi uranium sebanding dengan jumlah kadar uranium yang dikandung dalam campuran senyawa uranium. Disamping itu, Marie Curie juga menemukan bahwa peristiwa peluruhan tersebut tidak dipengaruhi oleh suhu atau tekanan, dan radiasi uranium dipancarkan secara spontan dan terus menerus tanpa bisa dikendalikan. Marie Curie juga meneliti campuran senyawa lain, dan menemukan bahwa campuran senyawa thorium juga memancarkan radiasi yang sama dengan campuran senyawa uranium, dan sifat pemancaran radiasi seperti ini diberi nama radioaktivitas. Pada tahun 1898, ia menemukan unsur baru yang sifatnya mirip dengan bismut. Unsur baru ini dinamakan polonium diambil dari nama negara asal Marie Curie, yaitu Polandia. Setelah itu H. Becquerel dan Marie Curie melanjutkan penelitiannya dengan menganalisis pitch blend (bijih uranium). Mereka berpendapat bahwa di dalam pitch blend terdapat unsur yang radioaktivitasnya lebih kuat daripada uranium atau polonium. Pada tahun yang sama mereka

Radioaktivitas4-

mengumumkan bahwa ada unsur radioaktif yang sifatnya mirip dengan barium. Unsur baru ini dinamakan radium (Ra), yang artinya benda yang memancarkan radiasi. Detail dari penemuan ini dapat dilihat pada pokok bahasan tentang Penemuan Radioaktivitas Alam. Sampel radioaktif tidak dipengaruhi oleh perubahan fisika maupun perubahan kimia. Perubahan fisika misalnya tekanan, volume dan tempertur atau perubahan kimia itu tidak mengubah tingkat emisi atau pancaran dari radiasi. Perbedaan Sifat dari jenis Radiasi Radioaktivitas merupakan suatu akibat peluruhan spontan pada suatu atom yang menghasilkan unsur yang baru yang berbeda dari unsur semula atau awalnya. Hal ini dikemukakan oleh E. Rutherford dan F. Soddy tahun 1902. Setelah itu maka beberapa peneliti ingin melakukan penelitian tentang sifat radiasi. Adapun sifat radiasi itu adalah: Daya tembus yang kuat Dapat mengionisasi Kelakuan atau sifatnya dibawah pengaruh medan magnet atau

medan listrik. Dari sifat-sifat radiasi tersebut, maka jenis radiasi dapat digolongkan menjadi 3 golongan yaitu: partikel alpha (), partikel betha (), sinar gamma ().

Radioaktivitas5-

Jenis-jenis radiasi tersebut memiliki sifat-sifat sesuai denga sifat dari radiasi yaitu:

Sifat-sifat radiasi partikel alpha ():

Peluruhan alfa adalah salah satu bentuk peluruhan radioaktif dimana sebuah inti atom berat tidak stabil melepaskan partikel alfa dan meluruh menjadi inti yang lebih ringan dengan nomor massa empat lebih kecil dan nomor atom dua lebih kecil dari semula.

Sifat-sifat radiasi sinar apartikel alphaadalah sebagai berikut: 1. Daya tembus yang sangat lemah (dapat menembus selembar kertas). 2. Daya ionisasi tinggi. Sinar alpha bisa mengionisasi gas-gas yang ada disekililingnya yang dilewati. Pada saat melintas, dia akan memberikan energinya sehingga kecepatannya mencapai kecepatan termal sehingga dia tidak bisa mengionisasi lagi dan hanya mampu menangkap electron dan membentuk atom. 3. Mengalami pembelokkan pada medan listrik atau medan magnet. 4. Rasio muatan per massanya dua kali rasio muatan per massa ion hydrogen (H) berarti massanya 4 kali massa ion hydrogen. Rasio ini diperoleh dari pengukuran dengan metoda defleksi oleh medan listrik dan medan magnet. 5. Kecepatan partikel alpha, berada pada jangkauan 1.4 x 10-9 cm/s sampai 2.2 x 10-9 cm/s.

Radioaktivitas6-

6. Partikel

alpha

mengakibatkan

flouresensi.

Flouresensi

adalah

berpijarnya suatu bahan. Hal itu bisa terjadi karena adanya tumbukan partikel pada layar flouresensi. Jika diteliti layar flouresensi pijaran tersebut membentuk deret, pijaran ini berarti partikel alpha bersifat diskrit. Sifat-sifat radiasi Partikel Beta () Peluruhan beta adalah peluruhan radioaktif yang memancarkan partikel beta (elektron atau positron). Pada kasus pemancaran sebuah elektron, peluruhan ini disebut sebagai peluruhan beta minus (), sementara pada pemancaran positron disebut sebagai peluruhan beta plus (+).

Sifat-sifat radiasi sinar beta adalah sebagai berikut: 1. Daya tembusnya lebih kuat dari partikel alpha, yaitu seratus kali lebih kuat dari partikel alpha, tetapi pada selembar aluminium foil. 2. Daya ionisasi lebih kecildari partikel alpha 3. Mengalami pembelokan pada medan listrik dan medan magnet. Pembelokannya lebih besar dari Alpha. Hal itu karena partikel Beta memiliki massa yang lebih kecil dari partikel alpha sehingga lebih mudah dibelokkan. 4. Untuk partikel beta, . Kecepatan partikel beta lebih besar dari partikel alpha. Jangkauan kecepatan paling atas bisa mencapai kecepatan cahaya yakni 0,99c.

Radioaktivitas7-

5. Kemampuan untuk memendarkan bahan sangat bagus. Warnanya itu tergantung pada bahan flouresensi. Sifat-sifat radiasi Sinar Gamma Sinar gamma (seringkali dinotasikan dengan huruf Yunani gamma, ) adalah sebuah bentuk berenergi dari radiasi elektromagnetik yang diproduksi oleh inti radioaktifitas.

Sinar gamma tergolong spektrum elektromagnetik energi-tertinggi. Mereka seringkali didefinisikan bermulai dari energi 10 keV/ 2,42 EHz/ 124 pm, meskipun radiasi elektromagnetik dari sekitar 10 keV sampai beberapa ratus keV juga dapat menunjuk kepada sinar X keras. Adapun sifat-sifat radiasi sinar gamma adalah: 1. Daya tembusnya paling tinggi, yaitu seratus kali partikel beta. 2. Daya ionisasi dalam taraf yang sangat kecil. Bahkan dikatakan bahwa sinar gamma hampir tidak bisa mengionisasi. 3. Tidak mampu dibelokkan oleh muatan listrik dan magnet. Hal itu Karena sinar gamma tidak bermuatan. 4. Kecepatan sinar gamma sama dengan kecepatan cahay dan memiliki energi yang besar. 5. Panjang gelombangnya 1,7 x 10-10 cm sampai 4,1 x 10-8 cm.

Radioaktivitas8-

2.2 Hukum Peluruhan Radioaktif Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah inti atom yang tidak stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Peluruhan terjadi pada sebuah nukleus induk dan menghasilkan sebuah nukleus anak. Ini adalah sebuah proses acak sehingga sulit untuk memprediksi peluruhan sebuah atom. Satuan internasional (SI) untuk pengukuran peluruhan radioaktif adalah becquerel (Bq). Jika sebuah material radioaktif menghasilkan 1 buah kejadian peluruhan tiap 1 detik, maka dikatakan material tersebut mempunyai aktivitas 1 Bq. Karena biasanya sebuah sampel material radiaktif mengandung banyak atom,1 becquerel akan tampak sebagai tingkat aktivitas yang rendah; satuan yang biasa digunakan adalah dalam orde gigabecquerels. Diasumsikan bahwa masing-masing inti yang tidak meluruh jika mempunyai probabilitas maka inti akan meluruh beberapa detik kemudian (asumsikan bahwa <<1). Pada waktu dt probabilitas masing-masing atom menjadi dt yang meluruh. memberikan :
dN = N dt

Jika N atom tidak meluruh pada waktu yang

ditentukan, banyaknya dN, akan meluruh pada waktu yang singkat, dt, dan (1)

Masing-masing ruas dapat diintegrasikan dengan syarat waktu (t) = 0, dan banyaknya atom radioaktif yang belum meluruh N0, yaitu: dN = dt N N0
N

ln N ln N 0 = dt N = N 0 e t Di mana N(t) adalah banyaknya atom radioaktif pada saat t Probabilitas, , yang digunakan pada persamaan di atas disebut konstanta peluruhan. Sehingga dapat digunakan aktivitas radioaktif pada setiap sampel, yang digambarkan dengan banyaknya disintegrasi per detik yang diakibatkan dari sebuah samapel. Dan dari persamaan (3), maka: (2)

Radioaktivitas9-

Aktivitas =

dN = N 0 e t dt N (3)

= N .

a. Waktu paruh (Half-life) Waktu paro (t) adalah waktu yang diperlukan oleh suatu radionuklida untuk meluruh sehingga jumlahnya tinggal setengahnya. Radiasi radionuklida mempunyai sifat yang khas (unik) untuk masing-masing inti. Peristiwa pemancaran radiasi suatu radionuklida sulit untuk ditentukan, tetapi untuk sekumpulan inti yang sama, kebolehjadian peluruhannya dapat diperkirakan. Waktu paro bersifat khas terhadap setiap jenis inti. Waktu paruh (half-life) dari sejumlah bahan yang menjadi subjek dari peluruhan eksponensial adalah waktu yang dibutuhkan untuk jumlah tersebut berkurang menjadi setengah dari nilai awal. Konsep ini banyak terjadi dalam fisika, untuk mengukur peluruhan radioaktif dari zat-zat, tetapi juga terjadi dalam banyak bidang lainnya. Tabel di kanan menunjukan pengurangan jumlah dalam jumlah waktu paruh yang terjadi.
Setelah x Persen jumlah waktu paruh yang tersisa 0 1 2 3 4 5 6 7 ... 100% 50% 25% 12,5% 6,25% 3,125% 1,5625% 0,78125% ...

Hubungan antara konstan peluruhan dan umur paro t1 / 2 dapat ditentukan dengan mudah. Dan untuk waktu-paro akan berlaku, yaitu apabila t = t1 / 2, dan aktivitas N telah menurun menjadi N0. jadi,

Radioaktivitas10 -

N = N 0 e t
t 1 1 N0 = N0 e 2 2

t 1
2

= 1/ 2
2

ln e

t 1

= ln 1 / 2

Dengan mengambil logaritma alamiah kedua persamaan tersebut menjadi:


t 1

e 2 =1 / 2 1t1 / 2 = ln 1 / 2 t1 / 2 = ln 1 / 2 2 = ln 1 1 (4)

Karena t1 / 2 adalah waktu, maka adalah peluang per satuan waktu (det-1). a. Umur rata-rata Untuk mengetahui fenomena statistik alami ini, maka perlu digambarkan kwantitas umur rata-rata (). Umur rata-rata dari inti radioaktif dapat dihitung dengan penjumlahan umur semua inti dan dibagi dengan total jumlah inti. Kira-kira dN1 inti mempunyai waktu hidup t1, dN2 mempunyai t2, dN3 mempunyai t3, dan seterusnya, sehingga:
t1 dN 1 + t 2 dN 2 + t 3 dN 3 + ... . (5) dN 1 + dN 2 + dN 3 + ...

Persamaan (5) diintegralkan menjadi


N0

0 N0

t dN t dN
=
0

N0

dN
0

N0

... (6)

Di mana N0 = dN1 + dN 2 + dN 3 + ... , substitusi untu dN dari persamaan (3) ke persamaan (6) dan integralkan, sehingga mengahasilkan

Radioaktivitas11 -

N 0 e t dt

N0

= t e t dt =
0

1 . (7)

Oleh karena itu

2.3 Peluruhan Radioaktif Berurutan

Banyak inti radioaktif yang mempunyai model peluruhan berbeda. Inti anak yang dihasilkan dari proses peluruhan biasanya juga tidak stabil, kadang lebih tidak stabil dari induknya. Bila kasus ini terjadi, inti anak tadi akan meluruh lagi. Proses kejadian peluruhan berurutan yang menghasilkan hasil akhir inti stabil, disebut rantai peluruhan. Peluruhan radioaktif adalah proses dimana inti mengemisikan atau memancarkan partikel alpha, beta, dan gamma atau partikel lain menangkap elektron dari kulit terluar. Jika mempunyai N1 inti induk kemudian mengalami peluruhan membentuk sejumlah N2 yang kondisinya tidak stabil meluruhan dengan konstanta peluruhannya dan meghasilkan N3 inti yang stabil (sesuai dengan diagram peluruhan). N1 1 N 2 2 N 3 ( stabil ) , atau
N1 Inti induk 1

N2

N3

Inti yang stabil

Gambar 1 Dari skema peluruhan di atas maka :


Radioaktivitas12 -

dN1 = 1 N dt (8)

Keterangan: = probabilitas kejadian per satuan waktu dN1 = jumlah atom yang meluruh dalam waktu dt Persamaan (1) dapat ditulis sebagai berikut.
dN1 (9) = 1 N1 dt dN1 menyatakan laju peluruhan inti induk dengan laju 1 N1 . Tanda dt

negative (-) menyatakan berkurangnya N1 (jumlah inti mula-mula). Dengan bertambahnya waktu, maka:
dN 2 (10) = 1 N1 2 N 2 dt .. dN 2 menyatakan aktivitas pembentukan N2 dengan laju 1 N1 dan dt

pengurangan atau peluruhan N2 dengan laju 2 N 2 .


dN 3 (11) = 2 N 2 dt . dN 3 menyatakan laju pembentukan N3 dengan laju 2 N 2 . dt

Persamaan (8), (9), dan (10) merupakan persamaan diferensial untuk skema peluruhan di atas. Jumlah inti induk, N1 pada saan t diperoleh dengan pengintegralan, sehingga N1 = dN1 = 1dt N1

ln N1 = t + ln c Syarat batas t = 0, N1=N10 masukkan ke persamaan, sehingga menjadi: ln N 10 = 0 + ln c c = ln N 1 0 Sehingga bentuk persamaan (8) menjadi:

Radioaktivitas13 -

ln N1 = t + ln N10 ln N1 ln N10 = t N ln 1 = t N 10 N1 = e t N10 N1 = N10e t

(12)

N1 = N10e t merupakan jumlah inti pada saat t.


Inti untuk meluruh = N10 N1 = N10 (1-e-t). dN 2 = 1 N1 2 N 2 dt dN 2 + 2 N 2 = 1 N1 dt Masukkan persamaan N1 sehingga diperoleh persamaan
dN 2 + 2 N 2 = 1 N10 e t dt ..

(13)

Kedua ruas persamaan (13) dikalikan dengan e 2t , sehingga didapat:


e 2t dN 2 + 2 N 2 e 2t = 1 N10 e 1t e 2t dt

Atau
d N 2 e 2t = 1 N10 e ( 2 1 ) t dt .

(14)

Kemudian persamaan (14) diintegral menjadi


d ( dt ( N e ) = N e
2
2t

10

2 1

)t

(15)

Integral diferensial suatu fungsi adalah fungsi itu sendiri. Sehingga bentuk persamaan (8) menjadi 1 ( 2 1 ) t N 2 e 2t = 1 N10 +c (16) e 1 2 Kedua ruas persamaan (9) dikalikan dengan e 2t , sehingga kita peroleh:

Radioaktivitas14 -

N2 =

1 N10 1t e + ce 2t 2 1 .

(17)

Pada saat t = 0, N2 =0. 0=

1 N10 +c 2 1

c=

1 N10 2 1
1 N10 ( e 1t e 2t ) 2 1

Substitusi nilai C ke persamaan (16), sehingga kita peroleh


N2 =

(18)

Persamaan (18) menyatakan inti anak pada keadaan t. Dengan cara yang sama, persamaan (4) dapat diselesaikan, dimana kondisi N3 = N30 = 0 pada t = 0, kita dapatkan
dN 3 = 2 N 2 dt

Masukkan nilai N2 pada persamaan di atas, sehingga menjadi dN 3 = 2 dt 1 1t 2 t N10 e e 1 2

dN 3 = N10 1 2 e 1t N10 1 2 e 2t (19) dt 2 1 2 1 . Kemudian integral persamaan (19), sehingga :

dN

= N10 1 2 e 1t N10 1 2 e 2t dt , menjadi 2 1 2 1

1 2 2 t 1t N 3 = N10 e e + C (20) 1 2 1 2 Dimana diketahui bahwa kondisi N3 = N30 = 0 pada t = 0, kita dapatkan: 1 2 2 0 0 = N 10 e 1 0 + C, sehingga e 2 1 1 2

Radioaktivitas15 -

1 2 C = - N10 1 2 1 2 Masukkan nilai C pada persamaan (20), sehingga diperoleh nilai N3 1 2 2t 1t N 3 = N10 1 + e e 2 1 2 1

. (21)

Persamaan (21) menyatakan inti atom cucu pada saat t. Persamaan itu khusus pada kondisi hanya inti induk yang ada. Dimana N1 = N10, N20 = N30 = 0, pada t = 0. Langkah selanjutnya adalah menentukan persamaan untuk N1, N2 dan N3, jika N20 dan N30 adalah tidak nol saat t = 0. Adapun persamaannya adalah: N1 = N10 e 1t . N2 = (22) (23)

1 N10 ( e 1t e 2t ) + N 20 e 2t 2 1

1 2 N 3 = N 30 + N 20 1 e 2t + N10 1 + e 2t e 1t (24) 2 1 2 1

2.4 Keseimbangan Radioaktif 1. Keseimbangan Transien Keseimbangan transien terjadi inti induk meluruh dengan konstanta peluruhan yang mendekati konstanta peluruhan inti anak. Khusus untuk kasus inti induk yang meluruh dengan konstanta peluruhan 1 menghasilkan inti anak N2 yang meluruh lagi dengan konstanta peluruhan 2 menghasilkan N3 yang stabil. Untuk mencari waktu yang diperlukan oleh N2 untuk mencapai waktu maksimum tm, yaitu dengan cara mendeferensialkan N2 = 0 sehingga diperoleh persamaan(18)
dN 2 =0 dt

Sehingga diperoleh

Radioaktivitas16 -

dN 2 1 =0= N10 1e 1tm + 2 e 2tm dt 2 1

)
(25)

tm =

1 log 2 2 1 1
Jika 1 < 2

Kemungkinan untuk terpenuhinya 1 2 adalah:


1)

itu berarti konstanta inti induk lebih kecil dari

konstanta inti anak. Berarti umur rata-rata inti induk lebih besar dari inti anak maka dari persamaan 11, e-2t lebih cepat mencapai atau menuju ke nol dibandingkan e-1t , sehingga ini diabaikan.

N2 =

1 ( N10e 1t ) 2 1 1 = ( N1 ) 2 1

(26)

N2 1 = N 1 2 1 Persamaan (26) ini berarti peluruhan inti anak tergantung pada inti induk. Ketika perbandingan aktivitas inti anak dan inti induk dinytakan dlam persamaan berikut. dN 2 / dt 2 / N 2 2 = = .(27) dN 1 / dt 1 / N 1 2 1 Dalam kondisi ini inti induk dan anak dikatakan dalam keadaan kesetimbangan transient.
2)

Jika dalam kondisi lain 2 < 1, berarti


t 1 2 N e 10 2 1

e-2t dapat menjadi nol

sehingga dapa diabaikan.hal ini akan menunjukkan:


N 2 =

Waktu tertentu (certain time) inti anak meluruh dengan laju peluruhan ditunjukkan dengan peluruhan konstan 2 . Setelah waktu tertentu tersebut inti induk lenyap dn inti anak meluruh dengan lajunya sendiri. 2. Kesetimbangan Permanent atau Sekular

Radioaktivitas17 -

Keseimbangan sekuler terjadi jika inti induk meluruh dengan konstanta peluruhan yang jauh lebih kecil dari konstanta inti anak (1 <<< 2). Dari persamaan (11) yang merupakan peluruhan berantai dan perkiraan waktu paro dari inti induk sagat lama jika dibandingkan dengan inti anak (1 <<< 2 ). Dapat dinyatakan:

Disederhanakan menjadi:

Karena dan. e t 1n Selanjutnya, jika t sangat besar dibandingkan waktu hidup inti anak (t 1 ), kemudian e t menjadi tidak berarti dibandingkan dengan 1 dan persaman 2 di atas dapat ditulis

Yang menyatakan kuantitas N2

inti anak adalah konstan. Inti anak

dikatakan dalam keadan kesetimbangan permanen atau sekular terhadap inti induknya. Karena waktu paro dari inti induk sangat lama, N10=N1. Maka:

Kondisi untuk kesetimbangan permanen atau sekular adalah: kesetimbangan dN2/dt=0 menjadi (28)

Persaman (28) dapat dengan mudah diperoleh dengan aplikasi persamaan untuk

Hal ini juga menunjukkan dN1/dt=0-1N1, karena 1 sangat kecil dan hasil 1N10. Untuk kondisi dengan banyak peluruhan berantai yang inti induk memliki waktu hidup lebih lama dari inti anaknya, kita dapat menuliskan kondisi kesetimbanagn sekular menjadi:
Radioaktivitas18 -

3 N 3 =.... = n N n
atau N N1 N 2 N 3 = = = .... = n (29) 1 2 3 n Berdasarkan contoh kesetimabangan sekular, menyatakan peluruhan Ra (t1/2=1620 tahun) dan inti ananknya radon Rn (t1/2=3,82 hari). Setelah dalam waktu lama t dibandingkan dengan dengan waktu paro dari Rn, jumlah Rn menjadi konstan. Fakta ii ditunjukakan pada gambar 3. Di mana pada odinat dari peluruhan dan kurve pertumbuhan menjadi kontan setelah waktu tertentu. Dalam kondisi ini dikatakan Rn mengalami kesetimbangan permanen/sekular dari inti induknya Ra.

0. 5

Gambar 3 (peluruhan dan recovery Radon) 2.5 Deret Radioaktif Alam Berdasarkan asalnya, radioaktivitas dikelompokkan menjadi radioaktivitas alam, dan radioaktivitas buatan, yaitu hasil kegiatan yang dilakukan manusia. Dalam radioaktivitas alam, ada yang berasal dari alam dan dari radiasi kosmik.

Radioaktivitas19 -

peluruhan lambat

Net recovery

N o m or R el at if, N

Kesetimbangan Sekular

1. 0 recovery Waktu dalam unit satuan peluruhan

Slow recovery

Radioaktivitas buatan dipancarkan oleh radioisotop yang sengaja dibuat manusia, dan berbagai jenis radionuklida dibuat sesuai dengan penggunaannya. 2.5.1 Radioaktivitas primordial Pada litosfer, banyak terdapat inti radioaktif yang sudah ada bersamaan dengan terjadinya bumi, yang tersebar secara luas yang disebut radionuklida alam. Radionuklida alam banyak terkandung dalam berbagai macam materi dalam lingkungan, misalnya dalam air, tumbuhan, kayu, bebatuan, dan bahan bangunan. Radionuklida primordial dapat ditemukan juga di dalam tubuh mausia. Terutama radioisotop yang terkandung dalam kalium alam. Uraian lengkap mengenai radioaktivitas alam dijelaskan pada pokok bahasan "inti radioaktif alam (08-0101-02)". 2.5.2 Radioaktivitas yang berasal dari radiasi kosmik Pada saat radiasi kosmik masuk ke dalam atmosfer bumi, terjadi interaksi dengan inti atom yang ada di udara menghasilkan berbagai macam radionuklida. Yang paling banyak dihasilkan adalah H-3 dan C-14. Kecepatan peluruhan dan kecepatan pembentukan radionuklida seimbang, sehingga secara teoritis jumlahnya di alam adalah tetap. Berdasarkan fenomena tersebut, maka dengan mengukur kelimpahan C-14 yang ada dalam suatu benda, dapat ditentukan umur dari benda tersebut dan metode penentuan umur ini dinamakan penanggalan karbon (Carbon Dating). Sebagai hasil penelitian dalam bidang Fisika dan Kimia pada unsur-unsur radioaktif alam, maka terbukti bahwa masing-masing inti radioaktif merupakan salah satu anggota dari tiga rantai panjang atau urutan radioaktif terbentang melalui bagian-bagian terakhir dari sistem periodik. Yang termasuk deret radioaktif alam adalah Uranium, Aktinium, dan Thorium. Sedangkan Neptunium bukan merupakan deret alam. Masing-masing deret ini dapat dinyatakan sebagai berikut: A=4n A=4n + 1 A=4n + 2 A=4n + 3 disebut deret Thorium disebut deret Neptonium disebut deret Uranium disebut deret Actinium

Radioaktivitas20 -

Di mana n adalah bilangan bulat, A menyatakan penggolongan inti anak hasil peluruhan berdasarkan pengurangan nomor massanya. Ini merupakan fakta bahwa proses peluruhan dimulai dari satu kelas dan akan tetap pada kelas yang sama. Keberadaan deret seperti itu erat kaitannya dengan fakta bahwa inti induk pada setiap deret memiliki umur yang sangat panjang, kecuali pada kasus neptunium. Karena secara komparatif waktu paruh inti induk pada deret neptunium sangat pendek (t1/2 = 2,2 x 106 tahun), sehingga pada saat ini, golongan-golongan deret neptunium tidak ditemukan di alam dan tidak terjadi secara alami, unsur ini memiliki peluruhan ketika formasi pada unsur (~5 x 10 9 tahun yang lalu). Pada gambar 4 dan 6 menunjukkan nama-nama deret isotop radioaktif yang berbeda dari nama-nama unsurnya. Selain deret neptunium, deret-deret di atas mempunyai empat sifat, yaitu sebagai berikut. a. Semua deret memiliki satu isotop dengan umur yang sangat panjang, sebagai contoh, a. 99Th232 b. 92U238 c. 92U235 t1/2 = 1,39 x 1010 tahun t1/2 = 4,5 x 1010 tahun t1/2 = 7,15 x 1010 tahun

b. Hasil akhir dari ketiga deret yang stabil adalah beberapa isotop yaitu
82

Pb208, 82Pb206, 82Pb207, berturut-turut untuk deret thorium, deret uranium,

dan deret aktinium.


c. Masing-masing memiliki suatu gas mulia yang terjadi pada Z = 86, yang

mengakibatkan nama dari tiga deret itu menjadi thoron ( 86Rn220), radon (86Rn222), action (86Rn219), berturut-turut untuk deret thorium, deret uranium, dan deret aktinium.
2.6 Satuan Radioaktivitas

Menurut sejarah, satuan radioaktif yang sudah tua disebut curie, yang digambarkan sebagai jumlah dari aktivitas radon mencapai keseimbangannya dengan satu gram radium. Nilai dari curie dapat dihitung dengan cara yang sederhana. Waktu paruh radium adalah 1620 tahun dengan konstan peluruhannya yaitu:

Radioaktivitas21 -

radium =

0,693 = 13,8 10 12 det 1 3 1,62 10 tahun

Massa radium adalah 226 amu dan terdapat 6,02 x 1023 atom pada satu gram atom radium, sehingga satu mol radium berisi : 6,02 x10 23 = 2,26 x10 21 atom / amu 2 2,26 x10 Oleh sebab itu, laju peluruhannya adalah

dN / dt = N = 13,8 10 12 2,66 10 21 3,7 1010 di sin tegrasi / det


Dengan menggunakan perbedaan nilai t1/2, radium dapat ditentukan oleh berbagai percobaan, nomor peluruhan per detik yang diperoleh bervariasi antara 3,4 x 1010 sampai 3,7 x 1010. Namun, curie telah memperkenalkan nilai ekuivalen peluruhan yaitu 3,7 x 1010 peluruhan per detik. Sub-satuan curie adalah milli-curie disimbolkan dengan mc dan mikro-currie, c, yang bersesuaian dengan 3,7 x 107 dan 3,7 x 104 peluruhan per detik. Amerika National Bureau of Standars mengusulkan sebuah satuan baru yang disebut Rutherford (rd), yang sama dengan 106 peluruhan per detik. Subsatuan rd yaitu milli-rutherford (mrd) = 103 peluruhan per deik dan mikrorutherford (rd) = 1 peluruhan per detik.

Radioaktivitas22 -

BAB III PENUTUP 3.1 Kesimpulan Berdasarkan pembahasan di atas, dapat disimpulkan beberapa terkait dengan radioaktivitas yaitu:
3.1.1 Radioaktivitas ditemukan oleh H. Becquerel pada tahun 1896. Becquerel

menamakan radiasi dengan uranium. Dua tahun setelah itu, Marie Curie meneliti radiasi uranium dengan menggunakan alat yang dibuat oleh Pierre Curie, yaitu pengukur listrik piezo (lempengan kristal yang biasanya digunakan untuk pengukuran arus listrik lemah), dan Marie Curie berhasil membuktikan bahwa kekuatan radiasi uranium sebanding dengan jumlah kadar uranium yang dikandung dalam campuran senyawa uranium.
3.1.2 Peluruhan radioaktif adalah kumpulan beragam proses di mana sebuah

inti atom yang tidak stabil memancarkan partikel subatomik (partikel radiasi). Waktu paro (t) adalah waktu yang diperlukan oleh suatu radionuklida untuk meluruh sehingga jumlahnya tinggal setengahnya. Radiasi radionuklida mempunyai sifat yang khas (unik) untuk masingmasing inti. Waktu rata-rata dari inti radioaktif dapat dihitung dengan penjumlahan umur semua inti dan dibagi dengan total jumlah inti. Kirakira dN1 inti mempunyai waktu hidup t1, dN2 mempunyai t2, dN3 mempunyai t3, dan seterusnya, sehingga:
t1 dN 1 + t 2 dN 2 + t 3 dN 3 + ... dN 1 + dN 2 + dN 3 + ...

=
3.1.3

Banyak inti radioaktif yang mempunyai mode peluruhan berbeda. Sebagai contoh adalah Bismuth-212, yang mempunyai tiga. Inti anak yang dihasilkan dari proses peluruhan biasanya juga tidak stabil, kadang lebih tidak stabil dari induknya. Bila kasus ini terjadi, inti anak tadi akan meluruh lagi. Proses kejadian peluruhan berurutan yang menghasilkan hasil akhir inti stabil, disebut rantai peluruhan.
Radioaktivitas-

23 -

3.1.4 Keseimbangan

Radioaktivitas

mempergunakan

perumusan Dari

pada

peluruhan radioaktivitas, pertama di mana keadaannya yaitu 1 2 dan kedua di mana keadaannya yatiu 1 << 2. hal tersebut dua yaitu menjadi keseimbangan radioaktivitas dapat dibedakanmenjadi keseimbangan transien dan keseimbangan sekuler/permanen. 3.1.5 Berdasarkan asalnya, radioaktivitas dikelompokkan radioaktivitas alam, dan radioaktivitas buatan, yaitu hasil kegiatan yang dilakukan manusia. Dalam radioaktivitas alam, ada yang berasal dari alam dan dari radiasi kosmik. Radioaktivitas buatan dipancarkan oleh radioisotop yang sengaja dibuat manusia, dan berbagai jenis radionuklida dibuat sesuai dengan penggunaannya. 3.1.6 Menurut sejarah, satuan radioaktif yang sudah tua disebut curie, yang digambarkan sebagai jumlah dari aktivitas radon yaitu keseimbangannya dengan satu gram radium. Nilai dari curie dapat dihitung dengan cara yang sederhana. Waktu paruh radium adalah 1620 tahun dengan konstan peluruhannya yaitu: 0,693 = 13,8 10 12 det 1 3 1,62 10 tahun

radium =

3.2 Saran Adapun saran yang ingin disampaikan oleh penulis yaitu, bagi pembaca untuk mengetahui materi dari radioaktivitas tidak hanya mengandalkan isi dari makalah ini, untuk itu diperlukan sumber-sumber lain yang menunjang pembelajaran fisika khususnya mengenai radioaktivitas. Dengan mengetahui konsep dari radioaktivitas yang lebih luas diharapkan nantinya mampu menemukan hal-hal yang baru serta mengatasi problema-problema dalam kehidupan sehari-hari.

Radioaktivitas24 -

Allya.

. Physics Nuclear.

Beiser, Arthur. 1982. Konsep fisika modern. Jakarta: Erlangga.

---------. 2008. Peluruhan alfa . Tersedia pada: http://id.wikipedia.org/wiki/Peluruhan_alfa. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2008.

---------. 2008. Partikel Alfa. Tersedia pada: http://wapedia.mobi/id/Wikipedia. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2008.

---------. 2008. Penguraian. Tersedia pada: http://wapedia.mobi/id/Penguraian_eksponensial. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2008.

---------. 2008. Peluruhan beta. Tersedia pada: http://id.wikipedia.org/wiki/Peluruhan_beta. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2008.

---------. 2008. Sinar_gamma. Tersedia pada: http://id.wikipedia.org/wiki/Sinar_gamma. Diakses pada tanggal 15 Oktober 2008.

Radioaktivitas25 -