Anda di halaman 1dari 1

Lauk Pengemis Itupun Paha Ayam Lauk pengemis itupun paha ayam, padahal di sampingnya, aku harus rela

sarapan nasi pecel berlauk tempe goreng. Untung saat duduk bersebelahan di dalam warung sederhana itu saya tidak tahu kalau pemesan opor paha ayam itu pengemis. Sehingga saya tidak merasa gengsi kemudian ikut-ikutan menambahkan dada ayam goreng dalam menu sarapanku pagi tadi. Pagi tadi saya menyempatkan diri untuk menengok seorang sahabat yang merintis usaha di sebuah pasar tradisional. Support seorang sahabat, meskipun hanya menemani duduk sambil ngobrol, saya kira akan menjadi motivasi yang cukup bermakna pada sebuah usaha yang tengah dirintis. Nah, sebelumnya saya menyempatkan diri untuk sarapan nasi pecel berlauk tempe goreng dan segelas the manis di sebuah warung sederhana di depan pasar tradisional. Saat itulah saya duduk bersebelahan dengan seorang anak perempuan berusia belasan tahun yang sarapan berlauk paha ayam. Anak perempuan itu kemudian saya ketahui sebagai seorang pengemis. Tiba di lapak sahabat saya, kami ngobrol ngalor-ngidul. Setengah jam kemudian datang seorang pengemis. Kaget bukan kepalang hatiku ketika menyadari bahwa pengemis yang datang meminta-minta tersebut adalah anak perempuan berusia belasan tahun yang setengah jam silam duduk bersebelahan denganku. Bedanya, saya sarapan nasi pecel berlauk tempe goreng. Anak perempuan yang pengemis itu opor paha ayam. Saya berusaha menyembunyikan mukaku dengan selembar kertas koran agar anak perempuan yang ternyata pengemis itu tidak mengenaliku. Hingga setelah sahabatku yang pemilik lapak memberikan uang receh, baru kuletakkan koran terbitan entah berapa bulan silam itu. Ketika saya menceritakan kejadian di warung depan pasar ketika saya sarapan bersebelahan dengan pengemis kepada sahabatku. Lengkap dengan menu yang kami santap ketika saya sarapan nasi pecel dengan lauk tempe goreng dan anak perempuan yang pengemis itu nasi opor komplit dengan paha ayam. Apa dunia sudah mulai terbalik, ya?, sebuah pertanyaan retorika mengakhiri ceritaku. Sahabatku yang mulai merintis usaha di sebuah pasar tradisional itu hanya tertawa ngakak. Mungkin pekerjaan meminta-minta itu melelahkan dan membutuhkan tenaga yang ekstra, katanya mengakiri tawanya. Untuk itu Sang pengemis membutuhkan nutrisi melebihi kamu yang kerjaannya cuma keluyuran, tambahnya. paha, paha ayam, pengemis, nasi pecel, tempe, lauk, sarapan, sahabat, renungan