Anda di halaman 1dari 1

Sepeda telah menjadi moda transportasi yang terpenting bagi saya sejak saya kecil.

Berbagai pengalaman unik, menyenangkan, memilukan maupun memalukan pernah saya rasakan bersama sepeda. Untuk kali ini saya mencoba untuk berbagi pengalaman yang terakhir. Pengalaman memalukan bersama sepeda. Pengalaman memalukan bersama sepeda ini terjadi ketika saya masih duduk di bangku MTs (setingkat SMP) Negeri Winong. Hari itu, suatu Minggu yang cerah saya dan teman-teman anggota pramuka sedang mengadakan touring bersepeda di wilayah Pati bagian selatan. Lewat tengah hari, tiba-tiba perut saya terasa mules. Mungkin lantaran sebelumnya saya terlalu rakus memberikan saus pada bakso yang saya makan saat kami beristirahat siang. Rasa mules semakin lama semakin terasa. Semakinkutahan semakin menyiksa hingga keringat dinginpun membasahi keningku. Karena sudah tidak tahan, ketika melewati sebuah sungai kecil, sayapun berhenti pura-pura membetulkan rantai sepeda. Seorang teman yang berusaha membantu saya persilahkan untuk melanjutkan perjalan. Kecil kalau hanya soal begini, kataku padahal di dalam hati saya tidak ingin ada yang tahu kalau saya berhenti bukannya untuk membenahi rantai sepeda tetapi untuk mengeluarkan isi perut yang terasa diaduk-aduk oleh saus bakso yang terlalu banyak. Tidak menunggu terlalu lama, sayapun segera berlari ke bawah jembatan dan langsung menjongkokkan diri. Ach.... memang sebuah hasrat tidak bisa ditahan terlalu lama, pikirku. Apalagi hasrat untuk (maaf) buang air besar. Puas mengeluarkan isi perut hingga membentuk beberapa gundukan kecil di bawah jembatan, sayapun kembali ke pinggir jalan di mana sebelumnya sepeda kutinggalkan. Dan sayapun terkejut. Sepeda yang tadinya terparkir di tepi jalan kini raib entah kemana. Tengok kanan, kiri, depan maupun belakang, sepeda itu tetap tidak kutemukan. Panik. Padahal sepeda itu adalah sepeda kesayanganku. Lebih tepatnya sepeda yang sangat kusayang karena hanya itulah satu-satunya sepeda yang kupunyai. Sepeda semata wayang. Selain itu, jalan itu sangat sepi. Tanpa sepeda bagaimana saya harus pulang?. Setelah sepuluh menit lebih celingak-celinguk tanpa dapat menemukan sepeda kesayanganku, akupun pasrah. Dengan langkah gontai aku berjalan meninggalkan jembatan tersebut. Alamat bakalan gempor ini kaki, pikirku. Namun belum sampai seratus meter saya berjalan saya dikejutkan oleh penampakan teman-temanku yang beristirahat di tepi jalan, lengkap dengan sepedaku di sana. Gila. Ternyata ketika menyadari saya tidak berada dalam rombongan touring, teman-teman kembali menyusulku khawatir jika terjadi kerusakan yang parah pada sepedaku. Tapi sesampainya di jembatan mereka menemukan sepedaku terparkir rapi di tepi jalan tanpa satu kerusakanpun. Justru bukab sepeda itu yang rusak tetapi perut saya yang kurang beres. Aku hanya bisa cengar-cengir saat teman-temanku bilang, Lain kali kalau ada sepeda yang rusak ngomong, dong. Biar kita-kita bisa bantuin. Apalagi kalau yang rusak perut kamu. Gak tahu deh, kali aja muka saya waktu itu kayak kepetiting rebus. Yang pasti tidak sebiru langit saat itu. *Kisah ini ditulis ulang sebagai bentuk partisipasi atas hajatannya Humberqu dalam mendokumentasikan pengalaman-pengalaman yang mengesankan bersama sepeda..