Anda di halaman 1dari 111

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PENJARINGAN ASPIRASI MASYARAKAT (JARING ASMARA) PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KOTA

BENGKULU

SKRIPSI

UN

RS IVE IT

AS

GKU

Oleh

ADI ARDINAN DID001016

JURUSAN ILMU ADMINISTRASI NEGARA FAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIK UNIVERSITAS BENGKULU
2006

U
L

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PENJARINGAN ASPIRASI MASYARAKAT (JARING ASMARA) PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KOTA BENGKULU

SKRIPSI
Diajukan Guna Memenuhi Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pada Jurusan Ilmu Adminstarsi Negara Fakultas Ilmu Sosial Dan Ilmu Politik Universitas Bengkulu

Oleh ADI ARDINAN DID001016

Telah disetujui dan disahkan oleh :

Pembimbing Utama

Pembimbing Pendamping

Drs. Djonet Santoso, M.A NIP. 131 602 985

Drs. Achmad Aminudin, M.Si NIP. 131 789 990

ANALISIS IMPLEMENTASI PROGRAM PENJARINGAN ASPIRASI MASYARAKAT (JARING ASMARA) PADA BADAN PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH (BAPPEDA) KOTA BENGKULU

Skripsi ini telah dipertahankan di depan tim penguji Jurusan Ilmu Administrasi Negara Universitas Bengkulu

Pada hari Pukul Tempat

: Kamis, 8 Juni 2006 : 11.00 s/d 12.30 WIB : Ruang Sekretariat Jurusan Ilmu Adminstrasi Negara Fisip UNIB

Tim Penguji : Ketua : Drs. Djonet Santoso M.A NIP. 131 602 985 : Drs. Achmad Aminudin M.Si NIP. 131 789 990 : Drs. Jarto Tarigan M.Si NIP. 131 416 240 : Dra. Titiek Kartika M.A NIP. 131 602 984 ( )

Anggota

Anggota

Anggota

Disahkan oleh : Dekan Ketua Jurusan

Drs. Panji Suminar M.A NIP. 131 771 836

Drs. Budiyono M.Si NIP. 131 571 172

Motto Perjuangan tidak pernah akan berhasil tanpa kesabaran dan keistiqomahan (ardinan) Berprestasi dalam dakwah (ardinan)

Persembahan Kekasih tercinta pemilik ruh yang telah memuliakan Hambanya, Allah SWT Kedua orang tua Aba dan Mama tercinta, terima kasih atas doa dan kesabarannya Kak Iwan, Ayuk Ria dan Ayuk Ira, alhamdulilah berkat dukungan dan doanya akhirnya selesai juga serta all my family terima kasih atas semangatnya Ikwah wal akhwat fillah di medan dakwah (KAMMI, ROHIS, IG) Almamaterku

RIWAYAT HIDUP I. Identitas Nama Agama Nama Ayah Nama Ibu Anak ke / Dari : Adi Ardinan Tempat tanggal lahir : Palembang, 17September 1983 : Islam : Muzahari Bastoni : Elmawati : 4 / 4 Saudara

II.

Riwayat Pendidikan Tamat Sekolah Dasar (SD) Negeri 630 Kota Palembang Sumsel 1995 Tamat Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 11 Kota Palembang Sumsel 1998 Tamat Sekolah Menengah Umum (SMU) Negeri 13 Kota Palembang Sumsel 2001 Melanjutkan studi di Universitas Bengkulu Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurusan Ilmu Administrasi Negara melalui jalur UMPTN 2001

III.

Pengalaman Organisasi Staf kaderisasi UKM Rohis Fisip UNIB 2002-2003 Staf Dana dan Usaha IPRS Kota Bengkulu 2002-2004 Ketua Umum UKM Kerohanian Fisip UNIB 2003-2004 Staf Ahli Kaderisasi KAMMI Daerah Bengkulu 2003-2005 Wakil Ketua Umum UKM Kerohanian UNIB 2004-2004 Manajer Bina Rohis Sekolah (BRS) Iqro Generation Bengkulu 2004-2006 Ketua Departemen Kaderisasi KAMMI Daerah Bengkulu 2005-2006

IV.

Seminar, Pelatihan dan kegiatan yang pernah diikuti Pelatihan manajemen Organisasi (PMO) BEM FISIP UNIB 2002 Rapat Kerja Majelis Ulama Indonesia (MUI) se-Sumatera 2003 Penelitian Pengaruh utang luar negeri terhadap pembangunan masyarakat pada bidang kesehatan bersama Dra. Titiek Kartika, MA Latihan Manajeman Dakwah Kampus (LMDK) I UKM Rohis Fisip 2002 Latihan Manajeman Dakwah Kampus (LMDK) II UKM Kerohanian UNIB 2003 Dauroh Marhalah I KAMMI Komisariat FISIP UNIB 2002 Dauroh Marhalah II KAMMI Daerah Bengkulu 2003 Dauroh Marhalah III KAMMI Pusat, Bandar Lampung 2004 Menjadi Voulenter dalam penelitian LIPI kesiap-siagaan terhadap bencana 2006

ABSTRAK Penyelenggaraan demokrasi pasca reformasi 1998 menberikan peluang yang besar pada masyarakat untuk memberikan konstribusi dalam pembangunan daerah. Aspirasi sebagai wujud dari keikutsertaan masyarakat membuat suatu kondisi dimana ada sebuah keikutsertaan masyarakat dalam proses pembangunan. Sehubungan dengan hal tersebut peneliti mencoba melakukan penelitian dengan judul Analisis implementasi program penjaringan aspirasi masyarakat (Jaring Asmara) pada Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Bengkulu. Tujuan dari penelitian ini adalah bagaimana gambaran program jaring asmara secara implentasi yang terjadi pada masyarakat melalui forum forum yang diadakan oleh Bappeda Kota Bengkulu. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif yang digolongkan pada tipe penelitian kualitatif deskriptif dengan menggunakan metode pengumpulan data secara observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam penelitian ini sampel diambil dengan teknik purposi sampling yaitu teknik pemilihan sampel secara khusus berdasarkan tujuan penelitian. Dalam penelitian ini digunakan metode SWOT dan Ansos terutama untuk menganalisis program Jaring Asmara sebagai bagian dari perencanaan pembangunan daerah. Bappeda Kota Bengkulu sebagai bagian perencanaan pembangunan daerah mempunyai tanggung jawab yang besar dalam melihat kondisi dan kebutuhan masyarakat, sehingga program jaring asmara dijalankan untuk mengetahui apa saja yang dibutuhkan oleh masyarakat. Masyarakat memiliki harapan yang besar agar apa saja yang diusulkan oleh mereka dapat masuk dalam program pembangunan daerah sehingga membantu peningkatan kesejateraan masyarakat. Dari hasil penelitian yang dilaksanakan menggambarkan kondisi perencanaan pembanguanan di Kota Bengkulu, bahwa pembangunan berawal dari apa kebutuhan dan kondisi masyarakat sehingga keberhasilan pembangunan dapat dilihat dari aspirasi yang masuk ke pemerintah daerah. Saat ini partisipasi masyarakat telah berjalan walaupun secara implentasi belum dapat berjalan secara optimal.

KATA PENGANTAR

Assalamualaikum Wr. Wb. Puji dan syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan nikmat rahmat, hidaya dan ridho-Nya, alhamdulilah penulis dapat menyelasaikan penulisan skripsi yang berjudul Analisis Implementasi Program Penjaringan Aspirasi Masyarakat pada Bappeda Kota Bengkulu. Shalawat beserta salam kepada pemimpin ummat manusia yang telah membebaskan dari kegelapan menuju cahanya islam yang terang benderang Rasullah Saw serta shalawat dan salam kepada keluarga, sahabat dan para pengikutnya hingga yaumil akhir. Karya ini merupakan hasil penelitian yang panjang tentang bagaimana hak hak masyarakat yang selama ini terlupakan oleh pemerintah. Penulis telah berusaha mencurahkan segenap pemikiran dan tenaga agar karya ini memberikan hasil yang bermanfaat dalam rangka menambah khasanah keilmuan. Dalam penelitian ini penulis menyadari masih banyak kekurangan baik dari segi isi maupun analisisnya sehingga dapat memberikan hasil yang sempurna dengan memberikan kritik dan saran yang konstruktif. Penulis menyadari karya ini tidak akan berhasil tampa bantuan dan masukan dari berbagai pihak, baik berupa informasi, fasilitas, bimbingan, saran, motivasi dan berbagai banntuan sehingga berguna dalam penelitian ini. Atas bantuannya penulis mengucapkan terima kasih kepada: 1. Bapak Drs. Panji Suminar, M.A selaku Dekan FISIP UNIB 2. Bapak Drs. Budiono, M.Si selaku ketua jurusan Ilmu Administrai Negara 3. Bapak Drs. Djonet Santoso, M.A selaku pembimbing utama yang telah mengarahkan bimbingan sumbangan dan pemikiran sehingga selesai skripsi

4. Bapak Drs. Achmad Aminudin, M.Si selaku pembimbing pendamping yang telah memberikan arahan dan bimbingannya. 5. Bapak Jarto Tarigan, M.Si dan ibu Dra. Titiek Kartika, MA sebagai

pembahas yang telah memberikan masukan dalam penyusunan skripsi ini. 6. Bapak dan ibu dosen jurusan Ilmu Administrasi Negara yang telah memberikan penulis ilmu dan pengalaman selama duduk di bangku kuliah. 7. Ibu Kepala Bappeda Kota Bengkulu dan beserta stafnya, terima kasih atas waktu dan kesempatan yang diberikan dalam penelitian ini. 8. Temen temen seperjuangan AN 01 (adip, agus, asep,mitha, mie J, novie, reno, mieza, ari, asti, yunani, gunawan, icha, ikrom, malikin(alm), hairal, gunawan, syaifull, mulya,oji, riki, ardi, indah, santi, wika, uni ari, rahmad) and at all AN terima kasih atas motivasi dan spiritnya. 9. Saudara seperjuangan di UKM Rohis Fisip, UKM Kerohanian, KAMMI Daerah dan Igro Generation keep istoqomah. 10. Tim Nasyid HAMAS sukron atas hiburannya. 11. Geng Bujang di Markas Besar (Abu, Rudi, Marseno, Pak Haji Sulam, Sri Kumpul, Joni) kapan nikahnya?. 12. Mujahid muda di Rohis Sekolah antum ruhul jadid. 13. And my friend dimanapun berada yang tidak dapat disebutkan satu persatu. Sebagai akhir kata, penulis semoga karya ini mendapatkan manfaat dan hasil yang dapat digunakan untuk kemajuan bersama dan mendapatkan rahmad dari Allah SWT, Amin. Wasalamualakium Wr, Wb

Bengkulu,

Juni 2006

Penulis

DAFTAR ISI Halaman HALAMAN JUDUL.. HALAMAN PENGESAHAN PEMBIMBING.. HALAMAN PENGESAHAN PENGUJI ........ HALAMAN MOTTO DAN PERSEMBAHAN RIWAYAD HIDUP ABSTRAK.. KATA PENGANTAR DAFTAR ISI ..................... i ii iii iv v vii viii x

DAFTAR TABEL xii DAFTAR BAGAN xiii

DAFTAR LAMPIRAN xiv BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang. 1

1.2. Rumusan Masalah. 15 1.3. Tujuan Penelitian.. 16 1.4. Manfaat Penelitian. 16

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Implementasi Program. 17 2.2. Partisipasi 21 2.3. Landasan Kegiatan.. 25 BAB III. Metode Penelitian 3.1. Metode Penelitian.. 3.2. Definisi Konseptual........................................................................... 3.3. Definisi Operasional..........................

27 28 28

10

3.4. Sumber Data.. 3.5. Teknik Pengumpulan Data 3.6. Teknik Analisis Data. 3.6. Sasaran Penelitian.. BAB IV. DESKRIPSI WILAYAH 4.1. Umum 4.2. Fungsi dan Tugas Bappeda Kota Bengkulu... 4.3. Struktur Organisasi Bappeda Kota Bengkulu 4.4. Keadaan Kepegawaian.. BAB V. HASIL PENELITIAN dan PEMBAHASAN 5.1. Karakteristik Informan .. 5.2. Hasil Penelitian 5.2.1. Wawancara dengan Responden 5.2.2. Observasi.. 5.3. Pembahasan 5.3.1. Analisis SWOT 5.3.2. Analisis Organisasi Pelaksana Program.. 5.3.3. Interprestasi Terhadap Program.. 5.3.4. Analisis Penerapan Program. 5.3.5. Analisis Pengaruh Masyarakat terhadap Implementasi Program.

29 29 30 31 33 34 35 47

51

53 57

79 85 88 89

90

BAB VI. PENUTUP 6.1. Kesimpulan 94 6.2. Saran 95

DAFTAR PUSTAKA LAMPIRAN

11

DAFTAR TABEL Tabel 1.1. PDRB propinsi tahun 1996-2000 Tabel 1.2. Rekapitulasi program Jaring Asmara tahun 2004 Tabel 1.3. Program Prioritas pemerintah Kota Bengkulu 2005-2007 Table 1.4. Program Prioritas Pemerintah Kota Bengkulu tahun 2005 2007 Tabel 4.4.1. Keadaan Pegawai berdasarkan jenis kelamin Tabel 4.4.2. Keadaan Pegawai berdasarkan jabatan Tabel 4.4.3. Keadaan Pegawai berdasarkan tingkat pendidikan Tabel 4.4.4. Keadaan Pegawai berdasarkan latar belakang pendidikan Tabel 4.4.5. Keadaan Pegawai berdasarkan golongan Tabel 5.1. Karakteristik informan berdasarkan kelompok umur Tabel 5.2. Karakteristik informan berdasarkan tingkat pendidikan Tabel 5.2. Jadwal pelaksanaan Progam jaringn asmara Bappeda Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.2.1. Matrik analisis partisipatif di Kec.Ratu Samban Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.2.2. Matrik analisis partisipatif di Kec.Ratu Agung Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.2.3. Matrik analisis partisipatif di Kec.Gading Cempaka Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.2.4. Matrik analisis kepentingan masyarakat di Kecamatan Kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Tabel 5.2.4. Matrik analisis kekhawatiran masyarakat di Kecamatan Kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Tabel 5.2.4. Matrik analisis Potensi masyarakat di Kecamatan Kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Tabel 5.2.4. Matrik analisis Kelemahan masyarakat di Kecamatan Kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Tabel 5.2.4. Matrik analisis Implikasi masyarakat di Kecamatan Kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006

12

Tabel 5.3.1. Analisis SWOT langkah 1, program Jaring Asmara Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.3.1. Analisis SWOT langkah 2, program Jaring Asmara Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.3.1. Analisis SWOT langkah 3, program Jaring Asmara Kota Bengkulu 2006 Tabel 5.3.2 .Kehadiran Dinas/Instansi dalam program jaring Asmara Kota Bengkulu DAFTAR BAGAN

Bagan 1.1. Persentase PDRB Kota Bengkulu Tahun 2003 Bagan 5.3. Hubungan Antar Pihak

Bagan 5.3.4. Alur Partisipasi Masyarakat dalam Perencanaan Pembangunan Kota Bengkulu

13

DAFTAR LAMPIRAN 1. Pedomam pokok wawancara untuk pelaksana program 2. Pedoman pokok wawancara untuk masyarakat 3. Surat Keterangan Izin Penelitian dari Kesbanglinmas Kota Bengkulu 4. Surat Rekomendasi dari Kesbanglinmas Propinsi Bengkulu 5. Surat Keterangan Penelitian dari Bappeda Kota Bengkulu 6. Panduan Pelaksanaan Kegiatan Jaring Asmara Kota Bengkulu 2006 7. Keputusan Walikota Bengkulu nomor 115 tahun 1005 8. Diagram Alur Usulan Aspirasi Masyarakat 9. diagram pendekatan partisipasi masyarakat 10. Data aspirasi masyarakat 11. Daftar hadir kegiatan Jaring Asmara

14

BAB I PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang Pembangunan merupakan suatu proses menuju perbaikan taraf kehidupan masyarakat secara menyeluruh dan berkelanjutan. Tujuan yang akan dicapai adalah masyarakat adil dan makmur. Untuk mewujutkan cita cita tersebut telah dilakukan berbagai upaya pembangunan terutama melalui pengadaan sarana fisik yang mendukung upaya tersebut. Pembangunan adalah upaya negara dan bangsa dalam rangka pencapaian tujuan negara yang telah ditetapkan. Oleh karena itu pembangunan nasional harus sistematis, konsisten dan berkelanjutan. Pembangunan nasional merupakan

perubahan yang secara luas dalam masyarakat mencakup masalah masalah ekonomi, sosial, budaya dan politik dimana masalah tersebut saling berhubungan satu sama lain. Pembangunan nasional di Indonesia selama ini selalu mengalami perubahan perubahan sistem dari pemerintahan Soekarno sampai dengan pemerintahan Susilo Bambang Yudhoyono. Menurut Wisnu Hidayar (4:2004) pemerintahan Soekarno memberikan sistem desentarliasi kepada masyarakat walaupun sangat sulit terealisai karena ketika itu sedang terjadi kegiatan mempertahan kemerdekaan. Pemerintahan Soeharto dengan orde Baru (Orba) menggunakan menggunakan sistem sentralisasi yang sangat ketat kepada daerah sehingga daerah kesulitan untuk mengembangan potensi daerah karena sudah diatur

15

dari pusat. Runtuhnya Orba dengan reformasi membuka sistem pemerintahan dari rakyat ,oleh rakyat dan untuk rakyat melalui isu otonomi daerah. Pembangunan nasional sejak tahun 1997 mengalami perubahan besar, dengan krisis multidimensi mulai dari krisis yang melandah seluruh masyarakat sampai dengan terjadinya penurunan Presiden Soeharto pada tanggal 27 Mei 1998. Problematika yang sangat besar terjadi pada tatanan pemerintahan, menurut Aty Harun (www.asiaafundasion.org) problem yang paling utama setelah reformasi dengan adanya tuntutan dari daerah dengan otonomi daerah yang seluas luasnya kepada daerah. Otonomi daerah sendiri secara konseptual bertujuan menjadikan penyelenggaraan pemerintahan lebih efisien dan transparan. Daerah memiliki keleluasaan untuk menjalankan sebuah wewenang sesuai dengan kondisi, kebutuhan dan kemampuan daerah, tentu saja pemerintah daerah tidak bisa berjalan sendiri. Ada keharusan keterlibatan masyarakat. Sebagai pihak yang terkena dampak sebuah kebijakan, masyarakat selayaknya ikut menentukan apa yang menjadi kebutuhannya (http://jipi.or.id). Menurut Aty Harun (www.asiaafundasion.org), pembangunan Indonesia terutama di daerah daerah ditinjau dari perekonomian ternyata membuat kondisi yang sangat berbeda antara daerah yang satu dengan yang lain. Dalam konteks pembangunan regional salah satu hal yang mendorong pembangunan daerah yaitu laju pertumbuhan suatu daerah yang akan berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat. Hal ini berdampak pada kondisi masyarakat Indonesia baik langsung maupun secara tidak langsung terlihat dengan pendapatan masyarakat, secara umum

16

dibawah ini memberikan gambaran tentang pendapatan daerah berdasarkan propinsi tiap tiap daerah dapat dilihat pada tabel berikut : Tebel 1.1. Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Propinsi tahun 1996 2000
No 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. 22. 23. 24. 25. 26. Propinsi NAD Sumatera Utara Sumatera Barat Riau Jambi Sumetera Selatan Bengkulu Lampung DKI Jakarta Jawa Barat Jawa Tengah DIY Jawa Timur Kalimantan Barat Kalimantan Tengah Kalimantan Selatan Kalimantan Timur Sulawesi Utara Sulawesi Tengah Sulawesi Selatan Sulawesi Tenggara Bali Nusa Tenggara Barat Nusa Tenggara Timur Maluku Papua Total Indonesia 1996 14637 28173 9515 23855 4024 16986 2206 9239 82587 89405 52505 6393 76567 8454 5206 7294 24118 4791 3024 11833 2102 8621 3986 3333 3634 8264 510754 532568 1997 17056 34006 10745 26865 4592 20156 2540 10570 96651 101101 60296 7104 88824 10193 5946 8040 27305 5614 3497 13538 2387 9897 4534 4083 4008 9482 589110 627696 1998 24957 50706 17643 42838 6859 33072 3610 18482 138564 142764 84610 9864 135753 14635 8610 12245 51505 9449 6630 21951 4377 13526 7549 4868 5226 19053 889345 955753 1999 26992 61958 20515 48570 7950 36036 4044 21868 164309 159350 101509 11763 157275 16300 9554 14778 55739 10781 7257 24065 4732 14531 8187 5618 4271 18249 1016118 1109979 2000 28626 68212 22368 55430 9061 45669 4540 23253 188036 181630 118405 12965 177274 17863 10871 17688 72178 11762 8240 26596 5730 16510 11937 6329 4531 20714 1166418 1290684

Sumber : www.undp.com Berdasarkan tabel 1.1. perkembangan perekonomian pada umumya mengalami peningkatan, tetapi tejadi kesenjangan yang sangat besar antara propinsi yang satu dengan yang lain. PDRB propinsi propinsi di Pulau Jawa sangat berbeda jauh dengan kondisi di daearah di luar Pulau Jawa. PDRB terbesar dimiliki DKI Jakarta sedangkan yang paling kecil pada tahun 1996 1997 propinsi Sulawesi Tenggara, tetapi pada tahun 1998 sampai sekarang tenyata propinsi Bengkulu PDRB

17

paling kecil dibandingkan daerah yang lain padahal terletak di pulau Sumatera yang telah maju. Otonomi daerah ternyata menimbulkan kesenjangan antara daerah yang satu dengan daerah yang lain, kondisi otonomi daerah memberikan kemajuan yang berarti kepada suatu daerah tetapi hal lain terjadi dengan semakin mundurnya dengan adanya otonomi daerah. Permasalahan ini menyebabkan kesenjangan antara daerah yang satu dengan daerah lainnya. Permasalahan yang menjadi sorotan tajam yaitu kinerja pemerintah baik pusat maupun daerah. Seperti pendapat Ryaas Rasyid (2002:15) bahwa tugas pokok dari pemerintahan adalah menyediakan dan menyelenggarakan pelayan terhadap masyarakat. Dari pendapat ini dapat dilihat keberhasilan pemerintah tidak hanya diukur dari terjaminnya stabilitas politik, stabilitas ekonomi dan stabilitas sosial tapi juga kemampuan pemerintah menyediakan dan menyelenggarakan pelayanan terhadap masyarakat. Akses tentang pelayanan masyarakat terutama dari pemenuhan hajat hidup orang banyak pada saat ini menjadi pusat perhatian. Melihat kondisi Indonesia pasca era reformasi ternyata pelayanan terhadap akses akses kepada masyarakat belum juga menunjukan peningkatan sehingga mengundang tanda tanya berbagai kalangan. Berdasarkan laporan the world competitiveness of the year book (dalam Agus Dwiyanto; 2002:45) kemampuan pemerintah Indonesia dalam pelayanan publik berada pada kelompok negara rendah diantara 100 negara yang memilki indeks paling kompetitif di dunia. Penilaian yang sama juga dilakukan oleh Political and economic risk Consultancy (dalam Kompas, 22 juni 2001) dengan meletakan peringkat kualitas pelayanan Pemerintah Indonesia pada tingkat paling rendah di Asia, hal ini di

18

dasarkan atas tingkat korupsi dimana pemerintah yang paling korupsi membuat tingkat pelayanan menjadi rendah. Dari data di atas terjadinya kurangnya pelayanan di Indonesia disebabkan aparatur pemerintahan tidak menjalankan tugas pokoknya dengan baik. Aparatur Pemerintah pada hakekatnya adalah pelayan/abdi masyarakat. Ia tidaklah diadakan untuk melayani dirinya sendiri, tetapi untuk melayani masyarakat. Hal ini harus secara dicarikan jalan pemecahanya, jika tidak dikhawatirkan akan mempunyai dampak negatif bagi kelangsungan pembangunan nasional. Oleh karena itu pemerintah perlu semakin didekatkan pada masyarakat, sehingga pelayanan yang diberikan menjadi maksimal. Menurut Ryas Rasyid (1998:139) salah satu cara untuk mendekatkan pemerintah pada masyarakat adalah dengan menerapkan kebijakan desentralisasi. Asumsinya kalau pemerintah berada dalam jangkauan masyarakat, maka pelayanan menjadi lebih cepat, responsif dan akomodatif. Pelibatan publik dalam partisipasi masyarakat sebenarnya telah

terwakilkan oleh anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) baik di tingkat Pusat sampai daerah tetapi tidak berjalan optimal. Menurut pendapat Ihsan Haerudin (4:2003): Khusus mengenai peranan legislatif, tidak bisa diharapkan sepenuhnya. Hal ini dimungkinkan karena adanya keterbatasan demokrasi perwakilan, yang meliputi tiga hal. Pertama, legislatif mengalami keterbatasan dalam memahami dinamika preferensi publik yang terjadi tiap tahun. Kedua, tingginya asimentris informasi antara legislatif dan masyarakat, dalam memahami kebutuhan pembangunan di daerah. Ketiga, secara ekonomi politik, setiap anggota legislatif bukanlah manusia yang tidak memiliki orientasi individual atau kelompok.

19

Melihat belum berjalannya peran legislatif sehingga kepentingan masyarakat tidak dapat tertampung dengan baik padahal di masa Otonomi Daerah (OTDA) peran masyarakat sangat menentukan. Menurut Rusfi Yunairi

(http://www.apeksi.or.id/), yang menjadi isu

sentral

pada daerah otonom,

seharusnya adalah bagaimana masyarakat bisa menyalurkan aspirasi, dan mekanisme apa yang disiapkan oleh pemda setempat. Substansi paling penting dari otonomi daerah adalah penyerahan kewenangan. Daerah boleh mengatur dirinya sendiri karena kewenangan yang dimilikinya. Namun bukan berarti pemahaman ini hanya berlaku untuk pemerintah daerah saja, melainkan seluruh komponen di daerah. Pentingnya peranan publik dalam konteks kenegaraan dan sosial dalam proses pembangunan selama ini, konteks peran publik masih terkesan termarginalkan oleh penguasa/pemerintah. Peranan publik di sini lebih banyak diterjemahkan dalam wilayah pelayanan (public service), tanpa melihat fungsi publik yang lebih penting, yaitu fungsi partisipasi untuk menentukan nasibnya sendiri di wilayah pembangunan. Hak pelayanan yang diberikan penguasa (pemerintah) kepada masyarakat pun diberikan setengah hati dengan berbagai kesulitan yang entah sengaja atau tidak disengaja diatur dalam aturan birokrasi yang sulit dan panjang. Bahkan dalam banyak hal, pemerintah justru menempatkan dirinya sebagai kelas penguasa yang minta dilayani oleh masyarakat. Ahmad Mony, (http://www.suarakaryaonline.com/news) menjelaskan bahwa terbukanya pintu partisipasi publik tentu memiliki beberapa keuntungan strategis, seperti:

20

(i) Ditinjau dari segi efisiensi fungsi dan wewenang pemerintah, hal ini tentu merupakan penghematan tersendiri bagi sumber daya birokrasi yang terbatas dalam melaksanakan fungsi public service. Konsentrasi sumber daya birokrasi/pemerintahan dapat ditujukkan untuk mengurus kegiatan lain yang lebih besar dan penting ketimbang mengurus hal-hal bersifat publik yang bisa diurus oleh masyarakat sendiri. (ii) Terakomodasinya kepentingan masyarakat yang menuntut peran partisipasi dalam semua proses pembangunan di era otonomi daerah. (iii) Mengembalikan kepercayaan (trust) masyarakat terhadap pemerintah yang selama ini apatis dan pesimis terhadap hegemoni negara/pemerintah dalam perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. (iv) Terjaminnya transparansi dan akuntabilitas perencanaan dan pelaksanaan pembangunan. Praktek penyelenggaraan perencanaan pembangunan partisipatif

terinspirasi oleh keberhasilan penyusunan anggaran partisipatif (partisipatory budgeting) yang dipelopori Pemerintah Kota Porto Alegre di wilayah paling selatan Brazil, sehingga pada tahun 2002 dinobatkan sebagai one of the 40 best practices or urban management oleh PBB berupa penghargaan yang diberikan sebagai kota yang sukses melaksanakan partisipasi publik dalam pengelolaan pemerintah

(www.unhcr.ch). Dalam participatory budgeting warga berpartisipasi secara langsung dalam pembuatan kebijakan di tingkat kota. Pelaksanaan kegiatan ini dibagi menjadi dua putaran, putaran pertama merupakan pertemuan tingkat kecamatan yang merupakan forum memasukan usulan usulan masyarakat sedangkan putaran kedua pertemuan tingkat kota yang menampung usulan dan mempelajarinya setelah diputuskan, forum ini juga menetapkan program prioritas dan alokasi anggaran (www.farn.org.ar). Keberhasilan Porto Alerge dalam penyelenggaraan participatory

budgeting telah menginspirasi beberapa pemerintahan kota diberbagai benua untuk

21

mengikuti jejaknya. Di Indonesia dengan UU no 25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional telah membuka peluang publik untuk ikut terlibat dalam menentukan arah kebijakan pembangunan. Menurut UU no. 25 tahun 2004 pasal 1 butir 21 disebutkan bahwa Musrenbang adalah forum antarpelaku (multi stakeholder) dalam rangka penyusunan rencana pembangunan nasional dan pembangunan daearah (Rahmad Bahari, 20: 2005). Selain UU no. 25 tahun 2004, Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002 tentang Pedoman pengurusan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah terutama pasal 17 ayat 2 disebutkan bahwa : dalam penyusunan arah dan kebijakan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat 1, diawali dengan penjaringan aspirasi masyarakat , berpedoman pada rencana strategi daerah dan/atau dokumen perencanaan lainnya yang ditetapkan daerah, serta pokok-pokok kebijakan nasional di bidang keuangan daerah oleh Menteri Dalam Negeri. Dengan adanya peraturan dari pemerintah berupa UU no 25 tahun 20054 dan Kepmendagri no. 29 tahun 2002 semakin membuka peluang masyarakat untuk terlibat dalam perencanaan pembangunan daerah yang lebih partisipatif dan merakyat. Pelaksanaan perencanaan pembangunan partisipasi juga telah

dilaksanakan di beberapa daerah di Indonesia. Kabutan Maros melaksanakan program Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) setelah mempertimbangkan pembangunan selama ini belum menjawab kebutuhan masyarakat. Pada tahun 2003

22

melalui

Badan

Perencanaan

Pembangunan

(Bappeda)

Kabupaten

Maros

memperkenalkan model Perencanaan Pembangunan Daerah Berbasis Masyarakat (P2DBPM). Kegiatan ini melibatkan peran aktif masyarakat melalui forum adat Bugis Makasar yaitu Tudung Sipulung yang melibatkan perwakilan pemuda, organisasi masyarakat, organisasi perempuan, tokoh agama dan tokoh masyarakat lainnya mulai dari tingkat desa sampai dengan tingkat kabupaten. Hasil dari kegiatan ini dalam Anggran Pendapatan Belanja Daerah (APBD) sebanyak 70 % usulan masyarakat melalui Tudung Sipulung dimuat dalam APBD 2003. Sedangkan pada tahun 2004, menurut laporan Bappeda kabupaten Maros, 80 % program dan kegiatan belanja publik pada APBD merupakan usulan yang dihasilkan melalui forum adat Tudung Sipudung (www.lesung.com). Pemerintah Kota Surakarta juga telah membuat terobosan

penyelenggaraan pembangunan partisipatif selama tiga tahun terakhir. Pelaksanaan kegiatan ini dimulai ditingkat kelurahan melalui forum Musyawarah Kelurahan Membangun (Muskelbang). Hasil muskelbang selanjutnya dibahas di tingkat kecamatan melalui Musyawarah Kecamatan Membangun (Muscambang) dan kemudian dibahas di forum Musyawarah Kota Membangun (Muskotbang) ditingkat kecamatan yang akhirnya dari hasil muskotbang diusulkan kepada pemerintah kota untuk dibahas bersama sama bersama dengan DPRD (www.wilkipedia.org). Dari evaluasi pelaksanaan kegiatan ini selama tiga tahun ternyata belum berjalan secara optimal dan belum memberikan manfaat yang langsung dapat dirasakan masyarakat. Adapun kendala yang terjadi dalam pelaksanaan evaluasi perencanaan pembangunan partisipasi di kota Surakarta, antara lain:

23

Sering terjadi tumpang tindih antara proyek usulan warga dengan proyek pemerintah pusat yang merupakan bagian dari program dekonsentrasi. Warga tidak mengetahui secara persis kemampuan keuangan pemerintah kota, sehingga acap kali mendatangkan kekecewaan karena proyek yang turun tidak sesuai dengan ekspektasi dan keinginan warga. Master plan atau rencana umum tata ruang dan rencana tata ruang wilayah pada umumnya sudah ketinggalan zaman, atau jika ada sering tidak ditetapkan secara konsisten dan tidak dipublikasikan secara transparan. Sebagai akibatnya, warga sering kebingungan untuk menentukan sikap dalam musrenbang. Terjadi manipulasi kepentingan yang dilakukan para utusan dari tingkat bawah ke tingkat yang lebih atas lagi (dari kelurahan ke kecamatan, dari kecamatan ke tingkat kota). Tingkat lanjut keputusan musrenbang oleh lembaga lembaga terkait (sekretariat daerah, Bappeda dan lembaga yang membidangi leading sector) sering tidak transparan. Pelaksanaan Pelaksanaan penjariangan aspirasi masyarakat di Kota

Bengkulu melalui Program Jaring Asmara sebenarnya hampir sama dengan kondisi daerah lain. Pada tahun 2004 melalui keputusan Kepala Bappeda Kota Bengkulu nomor 05 tahun 2004 tentang Penunjukan Tim Penjaringan Aspirasi Masyarakat Kota Bengkulu tahun anggaran 20004. Pertama pembentukkan tim Jaring Asmara yang dibentuk oleh Bappeda Kota Bengkulu yang pelaksanaanya dilaksanakan dengan mengundang masyarakat yang diwakili dari berbagai unsur masyarakat seperti tokoh masyarakat, unsur kelurahan, LSM, LPM dan lain lain yang dimana pelaksanaan dilaksanakan di tingkat kecamatan. masyarakat (Jaring Asmara) Pelaksanaan program penjaringan aspirasi usulan dari masyarakat dengan

menampung

memperhatiakan berpedoman dengan Propeda Kota dan Renstrada Kota Bengkulu yang hasil laporan ini akan diolah menjadi landasan penyusunan Arah Kebijakan Umum (AKU ) Kota Bengkulu. Pelaksanaan pelaksanan program jaring asmara Kota

24

Bengkulu memberikan gambaran dominan terhadap pelaksanaan beberapa sektor sebagi berikut: 1. 2. 3. 4. 5. Sektor infrastruktur Sektor pendidikan Sektor pariwisata Sektor jasa perdagangan dan industri Sektor perikanan dan kelautan Pengambilan kebijakan dalam pemerintah daerah Kota Bengkulu telah disepakati dalam Program perencanaan pembangunan tingkat menegah (Propeda) Kota Bengkulu tahun 2003- 2008. Pemerintah Kota Bengkulu memberikan prioritas terhadap lima bidang ini karena telah menjadi rencana jangka panjang Kota Bengkulu dalam rangka meningkatkan perekonomian masyarakat terutama masyarakat kelas menengah ke bawah. Pembangunan daerah dalam rangka menyusun perencanaan pembangunan diawali dengan penjaringan aspirasi masyarakat sebagai langkah awal dalam menyusun program pembangunan daerah, agar program yang dijalankan berguna dan dapat bermanfaat terutama dalam peningkatan pola dan tata hidup masyarakat umum. Usulan masyarakat sebagai upaya memberikan gambaran tentang kebutuhan mereka dapat menjadikan sebagai acuan dasar terhadap kebijkan yang akan diambil oleh pemerintah daerah Bengkulu. Aspirasi aspirasi yang masuk akan diolah oeh pemerintah dan bila sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan program prioritas pemerintah maka akan segara direalisasikan.

25

Berikut ini beberapa usulan terutama program prioritas dalam program Jaring Asmara yang dilaksanakan oleh Bappeda Kota Bengkulu antara lain : Tabel 1.2. Rekapitulasi Program Jaring Asmara Kota Bengkulu tahun 2004
No 1. Program proiritas Infrastruktur 2. 3. Pendidikan Pariwisata 4. Jasa perdagangan dan industri 5. Perikanan dan kelautan Aspirasi/usulan masyarakat Pembuatan jalan tembus Sukamerindu Kampung Kelawi Penambahan instalasi sambungan rumah ke Surabaya permai Rehab jembatan Tengah Padang Bajak Pembangunan jembatan Sungai Hitam Pasar Bengkulu Rehabilitasi SD, SLTP, SLTA Penambahan SD Penataan kawasan Pantai Sungai Hitam Pemugaran makan peninggalan Inggris dan benteng Marlborough Pembebasan pungutan retribusi masuk lokasi Pantai Panjang Pembinaan usaha industri kecil Bantuan modal usaha Pengembangan pasar kecamatan Penataan Pasar Panorama dan Pasar Minggu Pengoptimalisasi Pasar Pagar Dewa Pembinaan terhadap nelayan Pembangunan dermaga PPI Pemberian bantuan modal, alat tangkap kepada nelayan Implementasi dalam APBD 2004

Sumber : Laporan penjaringan aspirasi masyarakat Kota bengkulu, 2004 Dari tabel 1.2. diatas ternyata masih banyak usulan masyarakat yang belum bisa di implementasikan oleh Pemerintah Kota Bengkulu yang padahal

kondisi tersebut sangat mempengaruhi hajad hidup masyarakat. Implementasi dari pelaksanaan program ini masih sangat sulit dirasakan oleh masyarakat dikarenakan

26

tidak adanya transparansi data dan akses yang memungkinkan masyarakat untuk melihat apa yang telah dilaksanakan oleh pemerintah daerah. Sehingga masih banyak program yang diusulkan oleh masyarakat tetapi belum direalisasikan oleh Pemda Kota Bengkulu sehingga menimbulkan kesan bahwa pelaksanan program Jaring Asmara hanya sebagai penglegalisasian terhadap program yang akan dilaksanakan pemda. Berdasarkan pelaksanaa program Jaring Asmara belum ditemukan mengapa suatu usulan masuk ke dalam kebijakan dan mengapa kebijakan yang lain tidak masuk dalam anggaran pemerintah. Program Jaring Asmara sebagai partisipasi publik apakah menjadi landasan kebijakan, menjadi pertanyaan besar tehadap kebijakan pemerintah apabila tidak masuk dalam pengambilan kebijakan ke depan. Sehingga harud ada singkronisasi antara kebijakan pemerintah dengan kebutuhan rakyat. Maka proses pengambilan kebijakan oleh Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bengkulu. Maka perlu dilihat bagaimana suara publik dapat masuk menjadi kebijakan daerah sehingga menjadi kebijkan daerah. Berdasarkan data PDRB kota Bengkulu ada beberapa sektor yang sangat berpengaruh pada masyarakat antara lain, sebagai berikut : I. II. Tabel 1.3. PERSENTASE PDRB KOTA BENGKULU 2003
bangunan 7% lainnya 8% keuangan 9%

pengangkutan dan komunikasi 32%

jasa - jasa 22% perdagangan hotel dan restoran 22%

Sumber : BPS Kota Bengkulu ,2003

27

Tabel 1.3. memberikan gambaran bahwa ternyata sektor pengangkutan dan komunikasi (32 %) sangat berpengaruh terhadap kondisi masyarakat Bengkulu, diikuti dengan sektor jasa (22%) serta perdagaan, hotel dan restauran (22%) tetapi ternyata kebijakan yang diambil pemerintah berbeda dengan kondisi masyarakat. Secara umum dapat terlihat dari progam prioritas pemerintah Kota Bengkulu tahun 2005 2007 antara lain sebagai berikut: Tabel 1.4. Program Prioritas Pemerintah Kota Bengkulu tahun 2005 -2007

Tahun 2005
1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21. Bid Umum pemerintah Bid Pertanian Bid perikana dan kelautuan Bid pertambangan dan energi Bid Kehutanan dan Pekebunan Bid perindustrian dan perdagangan Bid Perkoperasian Bid Penanaman Modal Bid Ketenagakerjaan Bid Kesehatan Bid Pendidikan dan Kebudayaan Bid Sosial Bid Penataan Ruang Bid Pemukiman Bid Pekerjaan Umum Bid Perhubungan Bid lingkungan Hidup Bid Kependudukan Bid Olahraga Bid Kepariwisataan Bid Pertanahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Tahun 2006
Bid Umum pemerintah Bid Pertanian Bid perikana dan kelautuan Bid pertambangan dan energi Bid Kehutanan danPekebunan Bid perindustrian danperdagangan Bid Perkoperasian Bid Penanaman Modal Bid Ketenagakerjaan Bid Kesehatan Bid Pendidikan dan Kebudayaan Bid Sosial Bid Penataan Ruang Bid Pemukiman Bid Pekerjaan Umum Bid Perhubungan Bid lingkungan Hidup Bid Kependudukan Bid Olahraga Bid Kepariwisataan Bid Pertanahan 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. 17. 18. 19. 20. 21.

Tahun 2007
Bid Umum pemerintah Bid Pertanian Bid perikana dan kelautuan Bid pertambangan dan energi Bid Kehutanan dan Pekebunan Bid perindustrian dan perdagangan Bid Perkoperasian Bid Penanaman Modal Bid Ketenagakerjaan Bid Kesehatan Bid Pendidikan dan Kebudayaan Bid Sosial Bid Penataan Ruang Bid Pemukiman Bid Pekerjaan Umum Bid Perhubungan Bid lingkungan Hidup Bid Kependudukan Bid Olahraga Bid Kepariwisataan Bid Pertanahan

Sumber: Laporan Jaring Asmara, 2003 Berdasarkan tabel 1.4. diatas, Pemda Kota Bengkulu meletakan bidang umum pemerintahan berada dalam prioritas utama diikuti bidang pertanian. Berdasarkan aspirasi yang masuk dalam program Jaring asmara meletakan bidang pekerjaan umum sebagai aspirasi yang paling banyak masuk dalam program Jaring Asmara. Tidak jauh berbeda dalam PDRB Kota Bengkulu menunjukan bidang pengangkutan dan komunikasi pada urutan utama, dalam program prioriatas

28

pemerintah bidang perhubungan diletakkan pada urutan enam belas. Jadi bila pembangunan Kota Bengkulu masih melihat kebutuhan pemerintah sebagai

kebutuhan utama ternyata tidak sesuai dengan data kebutan masyarakat dan aspirasi yang masuk kepada pemerintah. Sehingga akan terjadi distorsi kebutuhan dan pembangunan Kota Bengkulu. Pembangunan yang dilakukan dalam prioritas pembangunan pemerintah ternyata belum menggambarkan pembangunan Kota Bengkulu. Apabila program pemerintah tidak sesuai dengan aspirasi masyarakat dikhawatirkan pembanguann akan tidak tetap sasaran dan dapat menimbulkan kesenjangan pembangunan dalam masyarakat kota Bengkulu. Berdasarakan permasalahan yang ada di atas maka penulis tertarik untuk membahas lebih jauh tentang partisipasi publik yang terjadi pada masyaralat Kota Bengkulu, dengan judul Analisis implementasi program penjaringan aspirasi masyarakat (jaring asmara) pada Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) Kota Bengkulu. kebutuhan dan arah

1.2. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang di atas maka dibuat rumusan masalah Bagaimana proses implementasi program penjaringan aspirasi masyarakat yang dilaksanakan oleh Bappeda Kota Bengkulu ?.

29

1.3. Tujuan Penelitian Adapun tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. 2. Mengetahui mekanisme pelaksanaan program jaring asmara. Mengetahui implementasi program jaring asmara pada Bappeda Kota Bengkulu. 3. Mengetahui dan menganalisis kesenjangan yang terjadi antara mekanisme dan implementasi program jaring asmara pada Bappeda Kota Bengkulu.

1.4. Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini adalah: 1. Diharapkan dari penelitian dapat memperkaya bahan referensi yang berhubungan dengan partisipasi masyarakat. 2. Memberikan masukan bagi Pemerintah Kota Bengkulu ,Bappeda dan Instansi yang terkait dalam partisipasi masyarakat. 3. Memperkaya khasanah keilmuan dan tradisi ilmiah pada jurusan Ilmu Administrasi Negra Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik.

30

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Implementasi Program Kamus Webster, merumuskan secara pendek bahwa to implement (mengimplementasikan) berarti to provide the means for carrying out (menyediakan saran untuk melaksanakan sesuatu). Kalau pandangan ini kita ikuti maka implementasi kebijakan dapat dipandang sebagai suatu proses pelaksanaan keputusaan kebijakan (biasanya dalam bentuk UU, Peraturan Pemerintah, keputusan Peradilan, perintah Eksekutif dan Dekrit Presiden). (dalam Wahab, 1990:64) Presmen (dalam Wahab, 1991:49) mendefinisikan implementasi sebagai sebuah proses interaksi antar suatu perangkat tujuan dan tindakan yang mampu untuk meraihnya. Agak mirip dengan pandangan diatas, Van Meter dan Van Horn (dalam Wahab, 1997:;65) merumuskan proses implementasi itu sebagai those action by public or individuals (or groups) that are directed at the achiment of objectives set forth Indonesian prior decisions (tindakan tindakan yang baik dilakukan oleh individu -individu atau pejabat pejabat atau kelompok kelompok pemerintah atau swasta yang diarahkan pada tercapainya tujuan -tujuan yang telah digariskan dalam keputusan kebijaksanaan). Selain itu Daniel A. Mazmaniaan dan Paul A. Sabatier (dalam wahab, 1997:65) menjelaskan makna implementasi ini dengan menyatakan bahwa : memahani apa yang kenyataanya terjadi sesudah suatu program dinyatakan berlaku/dirumuskan merupakan fokus perhatian implementasi yakni kejadian kejadian dan kegiatan kegiatan yang sesudah disahkan pedoman

31

pedoman kebijaksanaan Negara, yang mencakup baik usaha usaha yang mengadministarsinya maupun untuk menimbulkan akibat/dampak nyata pada masyarakat/ kejadian kejadian. Berdasarkan pendapat para ahli maka dapat disimpulkan bahwa implementasi merupakan proses interaksi antara individu/kelompok//golongan dalam rangka untuk mencapai tujuan tujuan yang telah digariskan keputusan yang dapat menimbulkan dampak nyata pada masyarakat. Perserikatan Bangsa Bangsa (PBB) (dalam Tjokroamidjojo,1985:195) mengartikan program sebagai sesuatu yang diemban dan membentuk suatu aktifitas sosial yang terorganisir pada tujuan tertentu, yang terbatas pada ruang dan waktu. Biasanya pengembangan suatu program berupa proyek kegiatan yang merupakan salah satu bagian dalam program tersebut. Presmen (dalam Jones, 1991:295) mendefinisikan implementasi program sebagai sebuah proses interaksi antara suatu perangkat tujuan dan tindakan yang mampu untuk meraihnya. Dengan demikian implementasi program diperlukan adanya kemampuan untuk membentuk hubungan hubungan lebih lanjut dalam rangka sebab akibat yang menghubungkan tindakan dan tujuan. Selanjutnya Martin (dalam Tjokomadjojo,1989:154) menyatakan kajian terhadap implementasi program dapat dilaksanakan dengan mencatat apa yang telah dicatat program, kemudian mengidentifikasikan permasalahan dalam pelaksanaan program, terutama yang mengakibatkan tidak dapat terealisasinya secara baik sekaligus memberikan arah pemecahan masalah tersebut. George C. Edward III (dalam Abdullah, 1988:400-402) menyatakan untuk mendekati persoalan implementasi program, Edward mengajukan dua pertanyaan

32

pokok, Pertama : apa saja yang menjadi prasyarat untuk berhasilnya suatu implementasi? Kedua: apa saja yang menjadi penghambat utama terhadap berhasilnya implementasi suatu program?. Edward kemudian menjabarkan suatu pertanyaan pokok itu menjadi empat faktor/variable yang merupakan syarat berhasilnya implementasi program. Keempat factor tersebut adalah sebagai berikut : 1. Komunikasi, dimana agar imlementasi program berhasil, maka para eksekutor harus mengetahui apa yang harus mereka lakukan. Hal ini menyangkut proses penyampainan informasi, atau ta\ransmisi, kejelasan dan konsisten informasi. 2. Sumber daya, yang mencakup staf yang cukup, tersedianya informasi yang dibutuhkan, kewenangan dan tanggung jawab serta fasilitas yang tersedia dalam pelaksanaan. 3. Disposisi, komitmen para pelaksanan terhadap program, terytama para aparat birokrasi. 4. struktur birokrasi, yakni terdapat prosedur baku/standar yang mengatur tata aliran pekerjaan dan pelaksanaan program (termasuk di dalamnya mekanisme koordinasi). Selain itu menurut pendapat Jones (1991:296) dalam mengimplemtasikan program ada tiga pilar utama sebagai perangkat utama, dapat diuraikan sebagai berikut : 1. Organisasi pelaksana program Menyangkut masalah organisasi, Waterson (dalam Tjokroamidjojo dkk,1988:40) keberhasilan pembangunan berencana tergantung pada kapasitas struktur administrasi untuk melasanakan rencana rencana, program program dan proyek proyek dalam setiap bidangn kegiatan. Organisasi sebagai wadah dan proses menentukan sekali dalam rangka pencapaian tujuan. Tingginya kemampuan organisasi memberi harapan besar untuk mengimplementasikan program secara efektif. Hal yang senada juga diungkapkan Jones (1991:311) yang menyatakan bahwa tujuan awal dari organisasi adalah menjalankan program program yang

33

direncanakan. Menurut Schein (1983:13-14) gagasan penting yang melingkupi konsep organisasi antara lain berupa koordinasi, tujuan bersama dan pembagian kerja. 2. Interpretasi Pelaksana Program Gibson (1990:56-57) mengartikan persepsi sebagai proses kognitif yang diperlukan oleh seseorang untuk menafsirkan mencakup penafsiran objek, tanda, dan dari sudut pengalaman yang bersangkutan. Interpretasi terhadap program

mempengaruhi keeftifan implementasinya, dalam segala permasalahannya dikatakan oleh Edward (dalam Jones, 1991:320) pihak yang terlibat dalam implementasi program harus tahu apa yang seharusnya dilakukan. Pemahaman secara tepat terhadap program diperlukan untuk mampu menginterprestasikan secara tepat, akibatnya pelaksanaan program akan mempunyai kebijakan tersendiri dalam memberlakukan implementasi program. Menurut Drucker (dalam Nigro dan Nigro, 1980:299) alat yang tepat yang dipergunakan untuk hal tersebut adalah komunikasi. Melalui komunikasi yang baik akan dapat mempengaruhi terhadap sikap para pelaksana program, yang mana Edward III (1980:11) menyatakan bahwa efektifitas implementasi program bukan hanya para implementor mengetahui apa yang akan dilakukan dan mempunyai kemampuan untuk itu, tetapi para implementor melaksanakan kebijakan tersebut. 3. Penerapan Program Dimensi terakhir dari implementasi program adalah analisis terhadap pemindahan rumusan program ke dalam kegiatan. William (dalam Jones, 1991: 295) menyatakan : juga harus berkeinginan

34

Masalah yang paling penting dalam penerapan adalah hal memindahan suatu keputusan ke dalam kegiatan atau pengoperasian dengan cara tertentu. Dan cara tersebut adalah bahwa apa yang dilakukan memiliki kemiripan nalar dengan keputusan tersebut, serta berfungsi dengan baik di dalam lingkup lembaga. Ini mengandung pesan yang lebih jelas dibandingkan dengan kesulitan dalam menjembatani jurang pemisah antara keputusan kebijakan dan bidang kegiatan yang dikerjakan. Dimensi ini menunjukan bahwa implementasi program membutuhkan daya, pikiran dan waktu yang lama, mungkin jauh berbeda dari dugaan para penyusun program. Implementasi bukan sekedar perkiraan hipotesisi dari orang orang yang memperhitungan dan merencanakan.

2.2. Partisipasi Suplan dalam kamus istilah Kesejahteraan Sosial (1983: 86)

mendefinisikan partisipasi adalah sebagai Pengambilan bagian dalam suatu kegiatan tertentu terdidik dari golongan masyarakat dan tunduk sepenuhnya pada pola pola kebiasaan yang berlaku dalam golongan itu. Sedangkan menurut Siagian (dalam Khahar 1996:8) mengemukakan partisipasi sebagai keterlibatan pikiran, mental, emosional dan tindakan tindakan individu dalam suatu kelompok untuk mendorong agar mereka mengeluarkan kemampuan guna mencapai tujuan - tujuan kelompok dan ikut bertanggung jawab atas kelompoknya. Menurut Battacharyya dalam Ndraha (1991:102), partisipasi diartikan sebagai pengambilan bagian dalam kegiatan bersama. Selanjutnya Ndraha (1984:59), mengatakan partisipasi adalah keterlibatan seseorang terhadap kegiatan bersama. kemudian Davis dalam Harsono (1990:4), mengemukakan pendapatnya tentang partisipasi yaitu keterlibatan mental dan emosional seseorang pada situasi kelompok

35

yang mendorongnya untuk ambil bagian terhadap pencapaian tujuan kelompok serta ikut bertanggung jawab atas tercapainya tujuan tersebut. Disamping itu menurut Ndraha, (1987:103) : partisipasi dapat dianggap sebagai tolak ukur apakah proyek yang bersangkutan merupakan kepentingan msyarakat setempat atau bukan, umpamanya proyek pembangunan disuatu daerah, tetapi masyarakat tidak mempunyai kesempatan perpartisipasi didalamnya, maka pada hakekatnya proyek itu bukanlah proyek pembangunan daerah setempat. Dari berbagai pendapat diatas, maka dapat disimpulkan bahwa partisipasi merupakan keterlibatan pikiran, mental, emosional dan tindakan tindakan individu agar mereka mengeluarkan kemampuan untuk ambil bagian terhadap pencapaian tujuan kelompok serta ikut bertanggung jawab atas tercapainya tujuan tersebut guna mencapai tujuan - tujuan kelompok dan ikut bertanggung jawab atas kelompoknya. Hal ini dipertegas dengan pendapat Tjokroamidjojo (1983:225) yang menyatakan bahwa : Partisipasi merupakan keterlibatan berbagai pihak dalam suatu proses yang ditentukan sebelumya. Ditegaskan kembali, bahwa partisipasi adalah terlibatnya atau bergeraknya seluruh masyarakat dalam proses pembangunan yang terencana sesuai dengan arah dan startegi yang telah ditetapkan melalui suatu bentuk partisipasi dalam suatu proses pembangunan. Dari pengertian tersebut dapat dijelaskan bahwa partisipasi masyarakat sangat penting dalam pembangunan. Jadi keberhasilan pembangunan sangat ditentukan peran partisipasi dan keikut sertaan masyarakat. Menurut Hamid (1997:6), partisipasi dapat dibagi dalam tiga bentuk yaitu: 1. Buah pikiran, partisipasi ini merupakan sumbangan yang diberikan seseorang atau kelompok masyarakat terhadap aktivitas aktivitas seperti saran, ide atau pengalaman. 2. Tenaga, partisipasi ini sering dilakukan dalam gotong royong, hajatan, kemalangan dan sebagainya yang bersifat spontan.

36

3. Harta benda atau materi, partisipasi ini erat hubungannya dengan pemberian uang atau harta dengan penuh kerelaan untuk kepentingan bersama. Selain itu menurut Tjokroamidjojo (1985:222-224), ada empat aspek penting dalam rangka partisipasi masyarakat dalam pembangunan yaitu: 1. Terlibat dan ikut serta masyarakat tersebut sesuai dengan mekanisme proses kebijakan dalam suatu negara yang turut menentukan arah, strategi dan kebijakan pembangunan yang dilakukan pemerintah. 2. Meningkatkan artikulasi (kemampuan) untuk merumuskan tujuan - tujuan dan terutama cara cara dalam merencanakan tujuan itu sebaiknya. 3. Partisipasi masyarakat dalam kegiatan kegiatan nyata dan konsisiten dengan arah, startegi dan rencana yang telah ditentukan dalam proses sebelumya. 4. Adapun perumusan dan pelaksanaan program program partisipatif dalam pembangunan yang terencana, yang memberikan kesempatan secara langsung kepada masyarakat untuk berpartisipasi dalam rangka yang memyangkut kesejahteraan mereka, dan juga secara langsung melaksanakan sendiri serta memetik hasil pembangunan tersebut. Hasil penelitian Glodsmith dan Blustain (dalam Ndraha, 1987:105) menyatakan masyarakat bergerak berpartisipasi jika : 1. Partisipasi itu dilakukan melalui organisasi yang sudah dikenal atau yang sudah ada ditengah tengah masyarakat. 2. Partisipasi itu memberikan manfaat langsung pada masyarakat yang bersangkutan. 3. Manfaat yang diperoleh melalui partisipasi itu dapat memenuhi kepentingan masyarakat setempat. 4. Dalam proses partisipasi itu terjamin adanya kontrol yang dilakukan oleh masyarakat. Dari penjelasan penjelasan diatas dapat disimpulkan bahwa partisipasi masyarakat sangat diperlukan dalam pembangunan sehingga dalam pelaksanaanya diperlukan perencanaan perencanaan di dalamnya. Menurut pendapat Paulus Wirotomo (124:2004) antara lain: dalam perencanaan pembangunan keikutsertaan masyarakat bukan merupakan sekedar alat atau cara tetapi merupakan bagian dari tujuan, karena dari keikutsertaan yang aktif dan kreatif itulah hakekat manusia sebagai makhluk yang memilki aspirasi dan harga diri.

37

Selain pendapat tersebut Wisnu Hidayat (5:2005) mengatakan partisipasi stakeholder sangat diperlukan pemerintah dalam membantu pengelolaan sumber daya daerah secara optimal. Menurut Rachmad Bahari (8:2005) mengatakan bahwa : agar partisipasi dapat dirasakan manfaatnya, terdapat tiga prinsip yang harus dipenuhi yakni memiliki kepemilikan akses pada pembuatan kebijakan, akses pada informasi publik dan akses pada proses peradilan sehingga tidak terjadi manipulasi yang dapat merugikan rakyat. Beberapa permasalahan perencanaan baik dari proses maupun hasilnya yang selama ini ada dan berkembang di era desentralisasi adalah (GTZ dan CLEAN Urban, 2000) : Perumusan/perencanaan pembangunan daerah hanya terbatas pada instansi instansi pemerintah Prioritas pembngunan daerah tidak mencakup rencana strategis jangka panjang, tetapi berubah berdasarkan prioritas yang ditetapkan oleh kepala daerah (atau bersama dengan DPRD). Pendekatan peerencanaan partisipatif di tingkat desa/kelurahan tidak berlanjut dan bersambung ke tingkat perencanaan pembanguinan diatasnya. Masyarakat tidak berminat untuk berpartisipasi dalam perencanaan Tidak terintergrasinya perencanaan pembangunan daerah Tidak adanya transparansi atas usulan masyarakat yang masuk atau yang sedang didiskusikan mematikan partisipasi masyarakat dalam menjaga usulan agar dapat diperhatikan. Ketidak jelasan fungsi DPRD dalam perencanaan pembangunan daerah. Tidak tersedianya penjelasan mengenai tingkat, cakupan dan cara partisipasi masyarakat dalam perencanaan yang efektif. Tidak adanya dialog yang efektif antar pelaku pembangunan dalam perencanaan. Perencanaan pembangunan tidak sesuai dengan metodologi perencanaan yang sistematis. Tidak jelasnya peran, fungsi serta kontribusi pemerintah propinsi dalam perencanaan wilayah. Tidak terfasilitasinya potensi dari sektor swasta dan masyarakat dalam perencanaan pembangunan daerah. Kurang validnya dan akurat data yang tersedia untuk pembuatan kebijakanh dan perencanaan.

38

2.3. Landasan Kegiatan kegiatan jaring Asmara merupakan program kerja pemerintah Kota Bengkulu sebagai kegiatan awal yang dilaksanakan Bappeda Kota Bengkulu dalam rangka menyaring aspirasi masyarakat dalam perencanaan pembangunan. Dasar kegiatan ini berdasarkan di Indonesia dengan UU no 25 tahun 2004 tentang sistem perencanaan pembangunan nasional telah membuka peluang publik untuk ikut terlibat dalam menentukan arah kebijakan pembangunan Menurut UU no. 25 tahun 2004 pasal 1 butir 21 disebutkan bahwa Musrenbang adalah forum antarpelaku (multi stakeholder) dalam rangka penyusunan rencana pembangunan nasoinal dan pembangunan daearah. (Rahmad Bahari, 20: 2005). Selain UU no. 25 tahun 2004, Kepmendagri Nomor 29 tahun 2002 tentang Pedoman pengurusan, pertanggungjawaban dan pengawasan keuangan daerah serta tata cara penyusunan Anggaran Pendapatan Belanja Daerah (APBD), pelaksanaan tata usaha keuangan daerah dan penyusunan perhitungan anggaran pendapatan dan belanja daerah terutama pasal 17 ayat 2 disebutkan bahwa : dalam penyusunan arah dan kebijakan APBD sebagaimana dimaksud pada ayat 1, diawali dengan penjaringan aspirasi masyarakat , berpedoman pada rencana strategi daerah dan/atau dokumen perencanaan lainnya yang ditetapkan daerah, serta pokok-pokok kebijakan nasioanl di bidang keuangan daerah oleh Menteri Dalam Negeri. Di Kota Bengkulu dengan adanya Surat Keputusan Kepala Bappeda Kota Bengkulu nomor 05 tahun 2004 tentang penunjukan tim penjaringan aspirasi masyarakat Kota Bengkulu tahun anggrana 2004 dengan memutuskan terbentuknya Tim Jaring Asmara membuka peluaang masyarakat untuk terlibat aktif dalam pelaksanaan perencanaan pembangunan. Adapun tugas tim Jaring Asmara antara lain:

39

1. Melaksanakan Penjaringan Aspirasi masyarakat sebagai media perencanaan Partisipatif dalam rangka penyusunan dan penetapan Arah Kebijakan Umum (AKU) APBD tahun 2005 2. Membuat dan menyampaikan laporan hasil penjaringan aspirasi masyarakat serta rekomendasi dalam penyusunan Arah Kebijakan Umum APBD tahun 2005 kepada Walikota Bengkulu Dalam petunjuk pelaksanan Penjarinagn Aspirasi masyarakat ada tiga instrumen dalam penjaringan aspirasi masyarakat antara lain: 1. Survey melalui Koesioner 2. Observasi dan pengamatan 3. Dialog interaktif

40

BAB III METODE PENELITIAN

3.1 Metode Yang Digunakan Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif. Penelitian yang akan dilakukan ini menggunakan metode kualitatif. Metode kualitatif menurut Bogdan dan Taylor (dalam Moleong, 2004:3) adalah : Sebagai prosedur yang menghasilkan data deskriptif berupa kata-kata atau lisan dari orang-orang dan perilaku yang diamati. Pendekatan kualitatif ini diarahkan pada latar belakang dan individu tersebut secara holistik (utuh), sehingga peneliti tidak boleh mengisolasi individu atau organisasi ke dalam variabel atau hipotesis tetapi melihat individu sebagai bagian dari suatu keutuhan. Jenis penelitian ini adalah kualitatif yang bersifat deskriptif. Menurut Setya Yuwana Sudikan (dalam Bungin, 2004:56) penelitian kualitatif bersifat pemerian (deskriptif), artinya mencatat secara teliti segala (fenomena) yang dilihat dan didengar serta dibacanya (via wawancara atau bukan, catatan lapangan, foto, video tape, dokumen pribadi, catatan atau memo, dokumen resmi atau bukan, dan lain-lain), dan peneliti harus membanding-bandingkan, mengkombinasikan,

mengabstraksikan, dan menarik kesimpulan. Penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif ini bertujuan menggambarkan secara tepat sifat-sifat suatu individu atau kelompok tertentu, keadaan, gejala, dan untuk menentukan frekuensi atau antara suatu gejala dalam masyarakat

(Koentjaraningrat, 1983:29). Diharapkan penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif ini diharapkan metode analisis deskriptif merupakan suatu metode penelitian yang mencoba menggambarkan kejadian, fakta, dan data dari gejala sosial yang ada di lapangan dengan menggunakan teori yang ada. Metode ini digunakan peneliti untuk

41

memperoleh gambaran dan mengungkapkan bagaimana pelaksanaan implementasi program Jaring Asmara pada Bappeda Kota Bengkulu.

3.2 Definisi Konseptual Secara konseptual yang dimaksud dengan implementasi program Jaring Asmara adalah proses interaksi antara perangkat tujuan dan tindakan untuk melakukan penilaian terhadap pelaksanaan kegiatan dalam rangka mencapai tujuan tujuan yang telah diputuskan sehingga menimbulkan dampak nyata dalam masyarakat. 3.3 Definisi Operasional Secara operasional, indikator yang digunakan dalam penilaian terhadap program Jaring Asmara meliputi : 1. Organisasi pelaksana program v Pelaksana kegiatan. v Pembagian tugas dan koordinasi dengan lembagaa/instansi yang terkait dalam pelaksanaan program. v Desentarlisasi wewenang.

2. Interprestasi terhadap program v Pemahaman terhadap program. v Tanggapan terhadap program. v Dukungan terhadap program.

42

3. Penerapan program v Sosialisasi program. v Akses/pelayan terhadap masyarakat. v Pencapaian sasaran

3.4 Sumber Data 3.4.1 Data Primer Merupakan data yang diperoleh langsung dari objek penelitian yaitu berupa hasil wawancara langsung dengan sasaran penelitian. 3.4.2 Data Sekunder Merupakan data yang diperoleh dalam bentuk laporan yang dikumpulkan dari berbagai sumber guna mendukung penelitian ini, seperti data atau dokumen dari Bappeda Kota Bengkulu maupun hasil dari pengamatan langsung dari penelitian lapangan dari program Jaring Asmara. 3.5 Teknik Pengumpulan Data Untuk memperoleh hasil penelitian yang benar dan dapat

dipertanggungjawabkan secara ilmiah maka diperlukan teknik-teknik tertentu dalam rangka pengumpulan data, yaitu: 1. Wawancara Dalam penelitian ini wawancara dapat diberi pengertian sebagai tanya jawab yang dilakukan oleh peneliti dengan informan yang dapat memberikan data untuk

43

mendukung penelitian tersebut. Dalam hal ini yang diwawancarai adalah informan pihak yang terkait dalam penelitian yaitu panitia anggaran, yang tentunya berpedoman pada daftar pertanyaan yang telah disusun. 2. Observasi lapangan Metode yang digunakan dengan cara mengadakan pengamatan secara langsung terhadap fenomena-fenomena yang terdapat pada objek penelitian seperti pelaksanaan program Jaring Asmara yang dilaksanakan oleh Bappeda Kota Bengkulu. 3. Dokumentasi Yaitu suatu upaya mempelajari bahan-bahan tertulis yang diperlukan sehubungan dengan masalah penelitian. Bahan tertulis tersebut dapat berupa arsip, laporan, agenda, perda, dan buku yang berkaitan dengan materi dan objek penelitian. Seperti laporan hasil kegiatan Program Jaring Asmara dari tahun sebelumya maupun kegiatan kegiatan pemerintah dalam menyusun perencanaan

pembangunan.

3.6 Teknik Analisis Data Data yang berhasil diperoleh dalam penelitian kemudian diolah. Menurut Setya Yuwana Sudikan (dalam Bungin, 2004:56) tahap pengolahan ini kegiatannya meliputi pemilihan data menurut klasifikasinya , kemudian dilakukan pemisahan antara data yang tidak diperlukan . Selanjutnya data yang diperlukan di edit agar dapat dianalisis secara deskriptif kualitatif dalam bentuk tekstular atau kalimat.

44

Penelitian ini menggunakan teknik analisis kualitatif dengan metode SWOT (strength, weakness, opportunity, threat). Menurut Noeng Muhajir (2004:113) analisis SWOT digunakan untuk memperoleh gambaran dari suatu keadaan yang berlangsung pada saat ini. Metode ini dilakukan dengan menempuh langkah-langkah seperti pengumpulan data, analisis data, pengolahan data serta pembuatan kesimpulan tentang keadaan secara nyata dan objektif. Setelah merincikan gambaran umum kondisi Pemerintah Kota terutama Bappeda Kota Bengkulu dengan melihat potensi, tantangan, peluangan dan

hambataan yang dialami pada saat ini.

3.7 Sasaran Penelitian Sasaran penelitian atau sample dalam penelitian ini diambil dengan menggunakan tehnik purposive sampling. Penetapan tehnik ini berpedoman pada pendapat Moleong (2002:6) yaitu sebagai berikut: dalam penelitian kualitatif sangat erat kaitannya dengan faktor kontekstual, jadi maksud sample dalam penelitian ini adalah untuk menyaring berbagai sumber dengan demikian tujuannya adalah untuk merinci kekhususan dalam temuan kontekstual yang unik, dan maksud kedua adalah menggali informasi yang muncul oleh sebab itu penelitian kualitatif tidak ada sample acak . Dalam penelitian ini sasaran merupakan orang orang yang terlibat secara langsung dalam kegiatan ini, sesuai dengan spesialisasi kerja dan bidang yang terkait dengan orang yang diteliti. Maka penelitian ini memerlukan orang orang yang menguasi dan memahami prosse yang terjadi pada program jaringn asmara.

45

Menurut Spradly dalam Faisal (1990:45) persyaratan yang harus dimiliki oleh informan atau sample adalah sebagai berikut: 1. Mereka yang menguasai atau memahami sesuatu melalui proses akulturasi sehingga bukan hanya sekedar diketahui, 2. Mereka yang tergolong masih berkecimpung atau terlibat dalam kegiatan yang tengah diteliti, 3. Mereka yang mempunyai kesempatan waktu yang memadai untuk dimintai informasi, 4. Mereka yang mulanya orang yang cukup asing akan peneliti sehingga lebih menggairahkan untuk dijadikan guru atau narasumber. Penentuan sample dalam penelitian ini menggunakan metode purposive sampling (sample bertujuan), yaitu sample yang sengaja dipilih karena ada maksud dan tujuan tertentu yang dianggap dapat mewakili populasi secara keseluruhan. Besarnya jumlah populasi, waktu dan tenaga yang terbatas menjadikan teknik sample diperlukan. Dengan demikian yang menjadi sample dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: 1. Tim Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara). 2. Dinas/Instansi yang berkaitan dengan program Jaring Asmara di Kota Bengkulu. 3. Masyarakat yang terlibat dalam program Jaring Asmara.

46

BAB IV DESKRIPSI WILAYAH

4.1 Umum Berdasarkan dokumentasi kantor Bappeda Kota Bengkulu 2004, secara geografis Bappeda Kota Bengkulu terletak di Jalan Let. Jend Basuki Rahmat No.03 Kota Bengkulu dengan batas-batas sebagai berikut : Sebelah Utara berbatasan dengan Dinas Sosial Provinsi Bengkulu. Sebelah Selatan berbatasan dengan Sekretariat DPRD Kota Bengkulu. Sebelah Timur berbatasan dengan tanah kosong. Sebelah Barat berbatasan dengan Jalan Let. Jend Basuki Rahmat. Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri dan Otonomi Daerah No.50 tanggal 17 November 2000, tentang Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota bahwa visi dari kantor Bappeda Kota Bengkulu adalah Terwujudnya Kota Bengkulu yang maju dan beradab menuju masyarakat madani. Adapun misi kantor Bappeda Kota Bengkulu adalah sebagai berikut : Meningkatkan sumber daya manusia semua lapisan masyarakt. Mewujudkan kesejahteraan rakyat dan meningkatkan kualitas hidup. Memberdayakan masyarakat dan seluruh kekuatan ekonomi serta perwujudan Kota Bengkulu sebagai daerah tujuan wisata. Menegakkan kedaulatan rakyat dalam segala aspek kehidupan masyarakat. Mewujudkan aparatur daerah yang bersih dan bebas KKN.

47

4.2 Fungsi dan Tugas Bappeda Kota Bengkulu Berdasarkan Keputusan Menteri Dalam Negeri No. 50 tanggal 17 November 2000, tentang Organisasi Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten/Kota dan Peraturan Daerah Kota Bengkulu No.26 tahun 2000 tentang Susunan Organisasi Perangkat Daerah Kota Bengkulu, kantor Bappeda Kota Bengkulu memiliki fungsi dan tugas sebagai berikut : Bappeda adalah unsur penunjang pemerintahan Kota Bengkulu yang dipimpin oleh seorang kepala yang berada di bawah dan bertanggungjawab kepada Walikota melalui Sekretaris Daerah Kota dalam rangka mendukung pelaksanaan tugas-tugas Pemerintah Kota baik sebagai unit staf maupun unit lini. Bappeda Kota mempunyai tugas pokok membantu Walikota dalam penyelenggaraan Pemerintahan Kota untuk menentukan kebijakan di bidang Perencanaan Pembangunan Daerah, Penelitian dan Penanaman Modal serta Penilaian atas pelaksanaannya, mengusahakan keterpaduan antara Rencana Nasional dengan Rencana Daerah dan mengkoordinasi aspek-aspek perencanaan di seluruh unit yang terdapat di wilayahnya. Menyusun Pola Dasar Pembangunan Daerah yang selanjutnya dituangkan dalam Program Pembangunan Daerah (Propeda) dan Rencana Strategis Pembangunan Daerah (Renstra). Menyusun Pola Dasar Pembangunan Daerah yang terdiri dari Pola Umum Pembangunan Daerah Jangka Panjang dan Pola Umum Program Tahunan Pembangunan Daerah ( Propetada) Kota Bengkulu.

48

Menyusun Rencana Pembangunan Tahunan Daerah ( Repetada) Kota Bengkulu.

Menyusun program tahunan sebagai pelaksanaan dari rencana-rencana yang dibiayai sendiri maupun yang diusulkan kepada Provinsi untuk dimasukan kedalam program Provinsi dan/atau yang diusulkan kepada Pemerintah pusat untuk dimasukkan ke dalam Program Tahunan Nasional.

Melaksanakan

koordinasi

perencanaan

diantara

Dinas-dinas,

Satuan

Organisasi lain dalam lingkungan Pemerintah Kota, Instansi-instansi Vertikal, Kecamatan-kecamatan dan Badan-badan lain yang berada dalam wilayah daerah Kota Bengkulu. Menyusun Rencana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (RAPBD) bersama dengan Bagian Keuangan Daerah dengan koordinasi Sekretaris Daerah Kota Bengkulu. Melaksanakan koordinasi dan/atau mengadakan penelitian untuk kepentingan Perencanaan Pembangunan di daerah. Mengikuti persiapan dan perkembangan pelaksanaan Rencana Pembangunan di daerah untuk penyempurnaan rencana lebih lanjut. Memonitor pelaksanaan Pembangunan di daerah. Melaksanakan kegiatan-kegiatan lain dalam rangka perencanaan sesuai dengan petunjuk Walikota. 4.3 Struktur Organisasi Bappeda Kota Bengkulu Struktur Organisasi Bappeda Kota Bengkulu berdasarkan peraturan daerah No.26 Tahun 2000, terdiri dari :

49

1. Kepala Bappeda Kota Bengkulu 2. Sekretariat 3. Bidang Statistik dan Pelaporan 4. Bidang Ekonomi dan Sosial Budaya 5. Bidang Fisik dan Prasarana 6. Bidang Penelitian 7. Bidang Penanaman Modal Daerah

Kepala Bappeda
Tugas dan fungsi Kepala Bappeda Kota Bengkulu adalah sebagai berikut : 1. Membantu Walikota Bengkulu dalam menentukan kebijaksanaan di bidang Perencanaan Pembangunan di Kota Bengkulu serta menilai atas pelaksanaannya. 2. Melakukan koordinasi perencanaan diantara Dinas-dinas dalam jajaran

Pemerintah Daerah maupun instansi vertikal di wilayah Kota Bengkulu. 3. Mengikuti persiapan dan perkembangan pelaksanaan rencana pembangunan di daerah untuk menyempurnakan perencanaan di Kota Bengkulu. 4. Melakukan inisiatif dan kegiatan dalam bidang perencanaan untuk kemajuan Kota Bengkulu. 5. Memimpin dan mengkoordinasikan bawahannya serta memberikan petunjuk dan bimbingan tugas sehari-hari. Sekretariat Sekretariat terdiri dari : a. Kepala Sekretariat

50

Tugas dan fungsi Sekretariat adalah sebagai berikut : Memberikan pelayanan tehnis administratif kepada seluruh satuan organisasi dalam lingkungan Bappeda Kota Bengkulu. Mengkoordinasikan Kasubag dalam pelaksanaan kegiatan. Memberikan laporan kepada Kepala mengenai kegiatan yang akan dilaksanakan. Menerima perintah baik lisan maupun tulisan dari kepala. Memberikan saran kepada Kepala untuk kelancaran tugas. Mewakili Kepala baik lisan maupun tertulis apabila berhalangan. b. Kepala Sub Bagian Penyusunan Rencana Kegiatan Tugas dan fungsi Sub Bagian Penyusunan Rencana Kegiatan : 1. Menyusun Program Tahunan Bappeda. 2. Mengikuti pelaksanaan kegiatan diruang lingkup Sekretariat Bappeda berdasarkan Program tahunan Bappeda. 3. Mengumpulkan hasil kegiatan yang berhubungan dengan penyusunan. 4. Menyusun laporan tahunan Bappeda berkenaan dengan kegiatan yang dilaksanakan. c. Kepala Sub Bagian Keuangan Tugas dan fungsi Sub Bagian Keuangan : 1. Menyusun Rencana Penggunaan dana Belanja Pegawai Rutin untuk satu tahun. 2. Menerima SPMU gaji dan rutin dari Bagian Keuangan. 3. Menyimpan dan memelihara arsip yang menyangkut keuangan. 4. Menandatangani SPMU gaji dan rutin untuk diuangkan di Bank.

51

d. Kepala Sub Bagian Umum Tugas dan fungsi Bagian Umum : 1. Mengagendakan surat masuk dan keluar. 2. Mengarsipkan data-data kepegawaian. 3. Mengusulkan peralatan kantor. 4. Membagikan surat-surat ke bidang yang menanganinya. Bidang Statistik dan Pelaporan Bidang Statistik dan Pelaporan terdiri dari : a. Kepala Bidang. Tugas dan fungsi Kepala Bidang Statistik dan Pelaporan yaitu : 1. Koordinator kegiatan-kegiatan di bidang statistik dan pelaporan. 2. Mengkoreksi tugas dari sub bidang sebelum diteruskan kepada yang lebih tinggi. 3. Memberikan masukan kepada kepala Bappeda dalam hal pelaksanaan statistik dan pelaporan di Kota Bengkulu. 4. Memberikan petunjuk kepada Sub Bidang dalam Pelaksanaan tugas sehari-hari. b. Kepala Sub Bidang Pengumpulan Data Tugas dan fungsi Sub Bidang Pengumpulan Data terdiri dari : 1. Mengumpulkan data dalam rangka evaluasi proyek. 2. Mengumpulkan data dalam rangka monitoring proyek. 3. Mengumpulkan data dalam rangka evaluasi proyek sektoral. 4. Membantu mengumpulkan data dalam rangka keperluan Bappeda. c. Kepala Sub Bidang Analisa dan Penilaian.

52

Tugas dan Fungsi Sub Bidang Analisa dan Penilaian terdiri dari : 1. Menginventarisasi data-data kemajuan pelaksanan proyek pembangunan di Kota Bengkulu baik secara fisik maupun keuangan. 2. Merekapitulasi laporan-laporan kemajuan pelaksanaan proyek pembangunan di Kota Bengkulu. 3. Membantu program dan tugas rutin bidang statistik dan pelaporan Bappeda Kota Bengkulu. d. Kepala Sub Bidang Pelaporan. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Pelaporan terdiri dari : 1. Menginventasiskan hasil-hasil pembangunan. 2. Mempersiapkan bahan laporan Kepala Daerah. 3. Membina ketatusahaan hasil hasil pembangunan. 4. Membantu Program dan tugas rutin dari Bidang Statistik dan Pelaporan. e. Kepala Sub Bidang Peraga. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Peraga terdiri dari : 1. Mengolah data yang diterima dari Dinas/Instansi. 2. Membuat data-data hasil pembangunan untuk dokumentsi Pemerintah Daerah. 3. Membina statistik dan kegiatan dokumentasi. 4. Membuat tugas rutin di Bidang Statistik dan Pelaporan. Bidang Ekonomi dan Sosial Budaya a. Kepala Bidang Ekonomi dan Sosial Budaya Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Ekonomi dan Sosial Budaya terdiri dari :

53

1. Menyusun

kegiatan

perencanaan

pembangunan

kesejahteraan

rakyat,

pertanian, koperasi serta industri dan jasa. 2. Mengkoordinasikan rencana pembangunan kesejahteraan rakyat , pertanian, koperasi yang sedang disusun oleh Dinas Daerah dalam lingkungan Pemerintah Daerah, Instansi vertikal dan Badan-badan lain yang berada dalam daerah Kota Bengkulu. 3. Melakukan inventarisasi permasalahan di bidang ekonomi dan sosial budaya. 4. Mengkoordinasikan kegiatan program tahunan di bidang ekonomi dan sosial budaya atau proyek yang diusulkan kepada pemerintah daerah tingkat I dan diusulkan kepada pemerintah pusat. b. Kepala Sub Bidang Kesejahteraan Rakyat. Tugas dan fungsi Sub Bidang Kesejateraan Rakyat terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan pemanfataan sarana pendidikan, kesehatan keluarga berencana. 2. Menginventaris kegiatan perencanaan sektor pendidikan, kesehatan keluarga berencana. 3. Membantu Kepala Bidang Ekonomi dan Sosial Budaya dalam dan

mengkoordinasikan rencana program pembangunan, sektor pendidikan, kesehatan dan keluarga berencana yang diusulkan oleh Dinas/Instansi/ Kecamatan/ Kota Bengkulu. c. Kepala Sub Bidang Pertanian. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Pertanian terdiri dari :

54

1. Menyusun kegiatan perencanaan pembangunan pertanian tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. 2. Menghimpun dan menyiapkan data dan bahan untuk penyusunan dan rencana dan program tanaman pangan, peternakan, perikanan, perkebunan, dan kehutanan. 3. Membantu Kepala Sub Bidang Ekonomi Sosial Budaya dalam

mengkoordinasikan rencana program pembangunan pertanian yang diusulkan oleh Dinas/Instansi yang ada dalam pemerintah daerah Kota Bengkulu. e. Kepala Sub Bidang Industri dan Jasa Tugas dan fungsi Sub Bidang Industri dan Jasa terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan dan perencanan program perindustrian, jasa angkutan, perbankan dan kegiatan sejenis. 2. Menghimpun dan menyiapkan data/bahan untuk menyusun rencana dan program pemanfaatan sarana industri, jasa angkutan dan perbankan. 3. Membantu Kepala Bidang Ekonomi Sosial dan Budaya dalam

mengkoordinasikan rencana program pembangunan sektor produksi dan jasa yang diusulkan oleh dinas dalam jajaran Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. e. Kepala Sub Bidang Koperasi dan Pemasaran. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Koperasi dan pemasaran terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanaan pemasaran. 2. Menghimpun dan menyiapkan data penyusunan rencana program program usaha perkoperasian dan

pemanfaatan sarana koperasi dan pemasaran produksi.

55

3.

Membantu Kepala Bidang Ekonomi Sosial Budaya dalam mengkoordinasikan rencana program pembangunan sektor koperasi dan pemasaran produksi yang diusulkan oleh Dinas/Instansi dalam jajaran Pemerintah Daerah Kota Bengkulu.

Bidang Fisik dan Sarana a. Kepala Bidang Fisik dan Sarana. Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Fisik dan Sarana terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan pembangunan pengairan, perhubungan, telekomunikasi serta tata ruang dan tata guna tanah, lingkungan hidup. 2. Melakukan inventaris permasalahan di Bidang Fisik dan Prasarana serta merumuskan pemecahan permasalahannya. 3. Mengkoordinasikan rencana pembangunan pengairan, perhubungan serta telekomunikasi yang disusun oleh dinas/instansi di lingkungan Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. b. Kepala Sub Bidang Pengairan. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Pengairan terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan di Bidang Pengairan. 2. Menghimpun dan menyiapkan data dan bahan dalam penyusunan rencana dan program di Bidang Pengairan. 3. Membantu Kepala Bidang Fisik dan Prasarana dalam mengkoordinasikan rencana program pembangunan sektor Pengairan, yang diusulkan oleh dinas/instansi dalam jajaran Pemerintah Kota Bengkulu.

56

c. Kepala Sub Bidang Perhubungan dan Telekomunikasi. Tugas dan fungsi Sub Bidang Perhubungan dan Telekomunikasi terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan di sektor Perhubungan dan Telekomunikasi. 2. Menghimpun dan menyiapkan data dan bahan dalam penyusunan rencana dan program di sektor Perhubungan dan Telekomunikasi. 3. Membantu Kepala Bidang Fisik dan Prasarana dalam mengkoordinasikan rencana program pembangunan sektor Perhubungan dan Telekomunikasi yang diusulkan oleh Dinas/instansi lain dalam jajaran Pemerintah Daerah Kota Bengkulu. d. Kepala Sub Bidang Tata Ruang dan Tata Guna Tanah. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Tata Ruang dan Tata Guna Tanah terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan di Bidang Tata Ruang dan Tata Guna Tanah. 2. Menghimpun dan menyiapkan data dan bahan dalam penyusunan rencana dan program di sektor Tata Ruang dan Tata Guna Tanah. 3. Membantu Kepala Bidang Fisik dan Prasarana dalam Mengkoordinasikan rencana program pembangunan sektor Tata Ruang dan Tata Guna Tanah, yang diusulkan oleh dinas/instansi dalam jajaran Pemerintah Kota Bengkulu. e. Kepala Sub Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan di Bidang Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup.

57

2. Menghimpun dan menyiapkan data dan bahan dalam penyusunan rencana dan program di sektor Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup. 3. Membantu Kepala Bidang Fisik dan Prasarana dalam mengkoordinasikan rencana program pembangunan sektor Sumber Daya Alam dan Lingkungan Hidup, yang diusulkan oleh Dinas/Instansi dalam jajaran Pemerintah Kota Bengkulu. Bidang Penelitian. a. Kepala Bidang Penelitian. Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Bidang Penelitian terdiri dari : 1. Menyusun kegiatan perencanan pembangunan Bidang Penelitian untuk perencanaan pembangunan di daerah. 2. Menghimpun dan menyiapkan data dan bahan dalam penyusunan rencana dan program di Bidang Penelitian, Ekonomi, Sosial Budaya, Fisik dan Prasarana. 3. Membantu Kepala Bappeda dalam mengkoordinasikan rencana Program Penelitian yang diusulkan oleh Instansi/Dinas untuk perencanaan

pembangunan daerah. b. Kepala Sub Bidang Sosial dan Budaya. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Sosial dan Budaya terdiri dari : 1. Menginventaris dan mengumpulkan permasalahan Sosial Budaya untuk penelitian dari Dinas/Instansi terkait. 2. Menyiapkan bahan laporan kegiatan penelitian dan tahunan Bidang Sosial Budaya.

58

3. Membantu Kepala Bidang dalam melaksanakan dan mengkoordinasikan kegiatan penelitian dalam rangka perencananaan pembangunan Pemerintah Kota Bengkulu. 4. Membantu Kepala Bidang Penelitian dalam rencana program penelitian Bidang Sosial Budaya yang disusun oleh dinas/instansi penelitian. c. Kepala Sub Bidang Ekonomi. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Ekonomi terdiri dari : 1. Menginventaris dan mengumpulkan permasalahan Ekonomi untuk penelitian dari dinas/instansi terkait. 2. Menyiapkan bahan laporan kegiatan penelitian dan tahunan Bidang Ekonomi. 3. Membantu Kepala Bidang Penelitian dalam rencana program penelitian Bidang Ekonomi yang disusun oleh dinas/instansi penelitian. d. Kepala Sub Bidang Fisik dan Prasarana. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Fisik dan Prasarana terdiri dari : 1. Menginventaris dan mengumpulkan permasalahan Fisik dan Prasarana untuk penelitian dari dinas/instansi terkait. 2. Menyiapkan bahan laporan kegiatan penelitian dan tahunan Bidang Fisik dan Prasarana. 3. Membantu Kepala Bidang Penelitian dalam rencana program penelitian Bidang Fisik dan Prasarana yang disusun oleh dinas/instansi penelitian. Bidang Penanaman Modal Daerah. a. Kepala Bidang Penanaman Modal Daerah . Tugas dan Fungsi Kepala Bidang Penanaman Modal Daerah terdiri dari :

59

1. Mewakili Kepala Bappeada Kota di Bidang Penanaman Modal Derah. 2. Membantu Kepala Bappeda dalam penyusunan program kegiatan bidang Penanaman Modal Daerah. 3. Mengadakan hubungan kerjasama dengan organisasi dalam lingkungan Pemerintah Daerah Kota dan Instansi vertikal dalam kegiatan penanaman Modal Daerah. b. Kepala Sub Bidang Program. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Program terdiri dari : 1. Mengkoordinasikan perencanaan penanaman modal daerah di Kota Bengkulu secara terpadu dengan peraturan peraturan perundangan yang berlaku. 2. Merumuskan program dan melaksanakan pengkajian penelitian terhadap penanaman modal. 3. Mempersiapkan usul pembangunan prasarana yang akan menunjang penanaman modal untuk diprogramkan dalam APBD Kota maupun APBN. c. Kepala Sub Bidang Perizinan. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Perizinan terdiri dari : 1. Membantu melaksanakan tugas mewakili Kepala Bidang Penanaman Modal Daerah Kota mengikuti pertemuan bila yang bersangkutan berhalangan. 2. Mempersiapkan data tersedianya lahan dan bahan baku bagi proyek Penanaman Modal di kota. 3. Melaksanakan penilaian penerbitan perizinan di Kota Bengkulu bagi izin-izin Pemerintah Propinsi dan Kota.

60

d. Kepala Sub Bidang Kerjasama. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Kerjasama terdiri dari : 1. Membantu dan melaksanakan tugas mewakili Kepala Bidang. 2. Melakukan hubungan kerjasama dengan organisasi dalam lingkungan Pemerintah Daerah Kota dan Instansi vertikal. e. Kepala Sub Bidang Pengendalian dan Pengawasan. Tugas dan Fungsi Sub Bidang Pengendalia dan Pengawasan terdiri dari : 1. Melakukan pengendalian dan pengawasan terhadap pelaksanaan penanaman modal yang telah memperoleh persetujuan Pemerintah 2. Mengikuti dan melakukan pengawasan atas penggunaan fasilitas yang telah dimanfaatkan bagi penanaman modal. 3. Melakukan pengkajian dan penilaian atas laporan yang berhubungan dengan penanaman modal daerah. 4.4 Keadaan Kepegawaian Kantor Bappeda Kota Bengkulu dikelola oleh pegawai yang berjumlah 46 orang. Berbagai karakteristik pegawai kantor Bappeda Kota Bengkulu dapat diuraikan dalam bentuk berdasarkan jabatan, jenis kelamin, latar belakang pendidikan, tingkat pendidikan dan berdasarkan golongan. 4.4.1 Keadaan Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin Bila dilihat berdasarkan jenis kelamin (laki-laki dan perempuan) maka pegawai kantor Bappeda Kota bengkulu terdiri dari 15 orang perempuan atau sebesar 32,61 % dan laki-laki sebanyak 31 orang atau sebesar 67,39 %. Hal ini lebih jelas dapat dilihat dari tabel berikut ini.

61

Tabel 4.4.1. Keadaan Pegawai Berdasarkan Jenis Kelamin No. Jenis kelamin Jumlah Persentase 1. Perempuan 15 32,61 2. Laki-laki 31 67,39 Jumlah 46 Orang 100 % (Sumber : Dokumen Bappeda, 2005) 4.4.2 Keadaan Pegawai Berdasarkan Jabatan Keadaan pegawai dilihat berdasarkan jabatan yang dipegangnya, dapat dilihat pada tabel berikut ini : Tabel 4.4.2. Keadaan Pegawai Berdasarkan Jabatan No. Jabatan Jumlah V. 1. Kepala Kantor 1 2. Sekretaris 1 3. Kepala Bidang 5 4. Ka. Sub Bidang 19 5. Ka. Sub Bagian 3 6. Staf Pelaksana 17 Jumlah 46 Orang (Sumber : Dokumen Bappeda, 2005)

Persentase 2,17 2,17 10,87 41,30 6,52 36,96 100 %

Berdasarkan tabel di atas menunjukkan bahwa keadaan pegawai berdasarkan jabatan, ternyata pegawai yang berkedudukan sebagai pelaksana yaitu sebanyak 17 orang atau 36,96 %, sebagai kepala bidang sebanyak 5 orang atau sebesar 10,87 %, sebagai kepala sub bidang sebanyak 19 orang atau 41,30 %, kepala sub bagian sebanyak 3 orang atau 6,52 % dan kepala kantor dan sekretaris masing-masing satu orang atau 2, 17 %. Dengan melihat lebih banyaknya jumlah kepala sub bidang dan pelaksana maka akan memudahkan setiap pekerjaan dan fungsi setiap bidang yang ada.

62

4.4.3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan Pegawai kantor Bappeda Kota Bengkulu bila dilihat dari tingkat pendidikannya masih bervariasi dengan jenjang pendidikan dari tingkat SLTA sampai dengan sarjana Strata 2. Hal ini nampak pada tabel berikut ini : VI. Tabel 4.4.3. Keadaan Pegawai Berdasarkan Tingkat Pendidikan No. Tingkat Pendidikan Jumlah VII. Persentase 1. SLTA 7 15,22 2. S 1 36 78,26 3. S 2 3 6,52 Jumlah 46 Orang 100 % (Sumber : Dokumen Bappeda, 2005) Menurut tingkat pendidikannya, maka sebagian besar adalah tamatan sarjana yaitu sebanyak 36 orang atau sebesar 78,26 %. Sedangkan yang masih berpendidikan SLTA sebanyak 7 orang atau sebesar 15,22 %. Sedangkan pegawai yang telah mencapai pendidikan S 2 baru 3 orang. Hal ini menunjukkan bahwa dari segi pendidikan maka rata-rata pegawai telah memadai, sehingga dalam melaksanakan tugasnya mereka telah memiliki keterampilan dan keahlian yang didasarkan pada latar belakang pendidikan masing-masing. 4.4.4 Keadaan Pegawai Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan Dilihat dari latar belakang pendidikan yang dimiliki pegawai maka komposisi pegawai Bappeda Kota Bengkulu cukup bervariasi. Karena Bappeda sebagai badan perencanaan membutuhkan tenaga jerja yang tidak hanya terpusat dari satu ilmu tetapi berbagai bidang ilmu. Keberadaan keberagaman memberikan nuansa yang variatif dalam menganalisi kondisi darah.Hal ini nampak pada tabel berikut ini.

63

VIII. Tabel 4.4.4. Keadaan Pegawai Berdasarkan Latar Belakang Pendidikan No. Latar Belakang Pendidikan Jumlah Persentase 1. Sosial 10 21,74 2. Hukum 6 13,04 3. Ekonomi 5 10,87 4. Tehnik 6 13,54 5. Pertanian 7 15,22 6. Umum 12 26,09 Jumlah 46 orang 100 % (Sumber : Dokumen Bappeda, 2005) 4.4.5 Keadaan Pegawai Berdasarkan Golongan Berdasarkan golongan, jumlah yang paling banyak adalah golongan III yaitu sebanyak 36 orang atau sebesar 78,26 %. Sedangkan untuk golongan IV sebanyak 3 orang atau sebesar 6,52 % dan golongan II sebanyak 7 orang atau sebesar 15,22 %. IX. Tabel 4.4.5. Keadaan Pegawai Berdasarkan Golongan No. Golongan Jumlah Persentase 1. IV 3 6.52 2. III 36 78,26 3. II 7 15,22 Jumlah 46 Orang 100 % (Sumber : Dokumen Bappeda, 2005)

64

BAB V HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

5.1 Karakteristik Informan Untuk menggali data yang berkaitan dengan implementasi program Jaring Asmara pada Bappeda Kota Bengkulu, berdasarkan metode penelitian yang dipakai, maka peneliti melakukan wawancara mendalam (in-depth interview) kepada beberapa orang informan. Informan ditentukan dengan terlebih dahulu dilakukan penelusuran informan. Dalam penelitian peneliti memperolah beberapa staf Bappeda Kota Bengkulu yang secara umum terlibat dalam kegiatan Jaring Asmara. Peneliti juga melakukan wawancara terhadap mendalam dengan 3 (tiga) orang anggota DPRD Kota Bengkulu khususnya komisi 2 dan komisi 3 yang merupakan pengawas pelaksana kebijakan yang berhubungan dengan pembangunan dan anggaran Kota Bengkulu. Selain itu peneliti juga mengikuti kegiatan Konsultasi publik yang merupakan bagian dari program Jaring Asmara 2006 di kecamatan kecamatan dalam wilayah Kota Bengkulu. Dari keseluruhan informan yang dipilih adalah mereka yang

berkecimpung dan sedang terlibat langsung pada kegiatan yang diteliti serta memiliki waktu yang memadai untuk dimintai informasi. Adapun identitas informan menurut kelompok umur yaitu :

65

Identitas informan berdasarkan kelompok umur adalah mereka yang dalam usia produktif yaitu 20-50 tahun. Untuk jelasnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini. Tabel 5.1 Karakteristik Informan Berdasarkan Kelompok Umur Kelompok Umur 20-30 Tahun 31-40 Tahun 41-50 Tahun Jumlah Sunber : Hasil penelitian Maret 2006 No. 1. 2. 3. Angka 2 5 3 10 Persentase 20 50 30 100,00

Dari tabel 5.1 di atas memperlihatkan bahwa sebagian besar informan berumur 31-40 tahun, sebanyak 5 orang (50 %). sedangkan 41-50 tahun sebanyak 3 orang (30 %), dan 20-30 tahun sebanyak 2 orang (20 %). Hal tersebut di atas menunjukkan bahwa sebagian besar informan adalah mereka yang dalam usia produktif artinya mereka mengerti apa yang ditanyakan kepada mereka ini sudah mampu berpikir dengan baik dan memiliki pemikiran yang kritis terhadap suatu masalah serta memiliki waktu dan wawasan dan memahami materi yang ingin ditanyakan kepada mereka Selain kelompok umur, jenis pendidikan juga mempengaruhi pengetahuan informan. Berikut ini dapat dilihat melalui tabel di bawah ini: Tabel 5.2. Karakteristik Informan Berdasarkan Pendidikan Kelompok Umur S2 S1 SLTA Jumlah Sunber : Hasil penelitian September 2005 No. 1. 2. 3. Angka 1 7 2 10 Persentase 10 70 20 100,00

66

Berdasarkan tingkat pendidikan secara umum para informan merupakan berpendidikan Strata 1 berjumlah 7 0rang (70 %), sedangakan tamatan SLTA berjumlah 2 orang (20 %) dan terakhir tamanatan S2 berjumlah 1orang (10 %). Berdasarkan informasi yang diperoleh secara umum para informan memiliki pengetahuan dan pola piker yang cukup baik sehingga dapat memberikan jawaban yang logis dan relevan.

5.2

Hasil Penelitian 5.2.1 Wawancara dengan responden Responden 1, SS Jaring Asmara merupakan kegiatan dalam rangka menampung dan mengakomodir berbagai aspirasi masyarakat, kegiatan dapat berbentuk dialog interaktif dan konsultasi publik terutama dari masyarakat. Kegiatan Jaring Asmara mengundang tokoh masyarakat, kelurahan, ketua Rt/Rw, LPM dan masyarakat lainnya. Tim Penjaringan Aspirasi Masyarakat merupakan tim yang dibentuk oleh Bapppeda Kota Bengkulu uang meliputi unsur: Bapppeda Kota Bengkulu, DPRD Kota Bengkulu, Dinas Kimpraskot, Kepala Bagian (Kabag) Penyusunan Program (Sunram) Sekretariata Pemerintah Kota Bengkulu. Dari tiga bagian ini yang akan menyusun Rencana Anggaran dan Pendapatan Daerah (RAPBD) Kota Bengkulu dan salah satu dasar dari penyusunan RPABD ini adalah hasil dari program jaring asmara.

67

Responden 2, CH Jaring Asmara merupakan kegiatan dalam rangka

1. Kegiatan

menampung aspirasi masyarakat yang dapat dilakukan melalui diskusi publik, kotak saran atau web side Kota Bengkulu. 2. Jaring Asmara secara out put merupakan pokok -pokok pikiran dalam rangka membuat arah kebijakan umum (AKU) Kota Bengkulu. 3. Jaring Asmara merupakan bahan menentukan kebijakan daerah teutama potensi Kota Bengkulu baik secara SDM maupun SDA. Responden 3, HZ Kegiatan Jaring Asmara di lakukan diawal tahun sebagai kegiatan awal dari perencanaan pembangunan, hal ini dilakukan dalam rangka melihat secara umum kondisi apa saja yang terjadi pada masyarakat serta kebutuhan kebutuhan yang di perlukan masyarakat Pelaksnaan kegiatan ini secara teknis yang melaksanakan adalah Kecamatan sebagai fasilitator dari Bappeda Kota Bengkulu dengan masyarakat. Responden 4, RSN (staf Bappeda) Pelaksnaan program penjaringan aspirasi masyarakat meniti beratkan pada sektor pelayanan umum, sehingga menjadi bagian yang tidak terpisahkan setiap pelaksanaan program jaring asmara program fisik terutama drainase, pengaspalan dan perbaikan jalan menjadi aspirasi yang sering muncul di masyarakat. Dalam pelibatan dengan masyarakat

68

sepenuhnya merupakan hak yang diberikan Bappeda kepada kecamatan jadi Bappeda tidak memili siapa peserta jaring asmara. Responden 5, HF (Kabag Fispra) Kegiatan jaring asmara dilakukan dalam rangka menampung aspirasi masyarakat. Dari aspirasi yang masuk bappeda akan memilhi dan menyeleksi mana saja yang menjadi proiritas program berdarkan rengking kondisi sarana yang akan diperbaiki. Bappeda hanya merekomendasikan sedangkan fungsi teknis diserahkan pada dinas yang bersangkutan seperti perbaikan jalan diserahkan pada Dinas PU Responden 6, AB (Ketua Komisi 2 DPRD Kota Bengkulu) Dengan adanya program jaring asmara, dewan dapat melihat secara nyata apa keinginan masyarakat, dewan akan meninjaklanjuti dari apa saja aspirasi yang masuk kepada kami. Tapi kita harus menyadari bahwa kondisi keuangan daerah yang sangat minim terutama Pendapatan Asli Daerah (PAD) kita yang tauhun 2005 hanya berjumlah 18 milyar rupiah. Sehingga dewan tidak bisa menampung usulan menjadi program dan kalupun tidak bisa akan diprioritaskan pada tahun selanjutnya. Respoden 7, RD (Staf Bappeda) Jadwal pelaksanaan kegiatan ini mengalami kelambatan karena pembahasan yang dilaksanakan oleh dewan yang belum selesai. Sosialisasi dalam kegiatan ini kami tapilkan dalanm kegiatan jaring asmara. Melalui alat tersebut masyarakat dapat melihat apakah daerah

69

mereka masuk dalam program pemda. Selain itu akan ada buku hasil dari jaring asmara tetapi pembuatan buku tergantung dengan dana yang cair ke Bappeda. Responden 8, SJ (Ketua Komisi 3 DPRD Kota Bengkulu)

1. DPRD Kota Bengkulu dalam melihat aspirasi masyarakat biasanya turun ke bawah dengan menemui konstituen yang biasanya dilakukan pada masa reses dimana pada saat itu, anggota dewan melihat kondisi masyarakat terutama dengan menampung aspirasi dan keinginanan masyarakat dalam rangka pemenuhan hajadnya, dalam masa reses dilaksanakan empat kali dalam satu tahun selama enam hari walaupun belum terjadwal. 2. Dalam menentukan program pembangunan yang dilihat antara lain dari segi dana yang tersedia dalam anggaran pemerintah Kota Bengkulu, selain itu melihat skala prioritas yang ada di Kota Bengkulu dengan melihat draf yang diusulkan oleh masyarakat. Responden 9, TT(Kabid Perencanaan Bagian Sunram Pemda) Fungsi bagian (penyusunan program) sunram hanya mencatat program yang masuk dalam program pemerintah yang akan dicocoknan dengan pelaksanaan bidang bidang sekretariat pemerintah daerah. Sunram merupakan salah satu dari satuan tiga yang akan meyusun program pemerintah (eksekutif) sehingga dari program ini menjadi acuan Arah Kebijakan Umum (AKU) sehingga nanti ada hubungan yang sejalan

70

antara bidang maupun Dinas/Instansi di Pemda Kota Bengkulu. Dari usulan ini akan kami tembuskan kepada Walikota Bengkulu. Responden 10, ES(Komisi 3 DPRD Kota Bengkulu)

1. Dalam program Jaring Asmara DPRD dilibatkan dalam program tersebut untuk mengetahui aspirasi yang berkembangn dalam masyarakat. 2. Selain itu dalam mementukan program dibahas dalama komisi 3 Panitia Anggaran Paripurna

3. Dalam penentuan program dilihat dari program prioritas dari pemerintah Kota Bengkulu dengan melihat 5 bidang prioritas yaitu: Pariwisata, Perikanan, Perdagangan, Pendidikan dan infrastruktur. 5.2.2 Observasi Selain mengadakan wawancara dengan para nara sumber dari Bappeda Kota Bengkulu, peneliti juga mengikuti kegiatan Program Penjaringan Aspirasi Masyarakat (Jaring Asmara) tahun 2006 yang dilaksanakan pada tanggal 8 Maret s/d 17 Maret 2006 di mana dilaksanakan pada Kantor Kecamatan di Kota Bengkulu. Adapun jadwalnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini: Tabel 5.2 Jadwal Pelaksnaan Program Jaring Asmara Bappeda Kota Bengkulu Pada Tahun 2004
No. Hari/Tanggal Tempat 1. Rabu, 8 maret 2006 Kecamatan Teluk Segara 2. Kamis, 9 maret 2006 Kecamatan Ratu Agung 3. Jumat, 10 maret 2006 Kecamatan Ratu Samban 4. Senin, 13 maret 2006 Kecamatan Gading Cempaka 1 5. Selasa, 14 maret 2006 Kecamatan Gading Cempaka 2 6. Rabu, 15 maret 2006 Kecamatan Selebar 7. Kamis, 16 maret 2006 Kecamatan Kampung Melaayu Sumber : Data diolah dari Hasil penelitian, 2006

71

Kegiatan Jaring Asmara dalam pelaksanaan dilaksanakan oleh Bapppeda Kota Bengkulu dengan di fasilitasi oleh Camat dari tiap kecamatan di Kota Bengkulu. Dalam pelaksanaan ini selain Bapppeda Kota Bengkulu juga diundang dari Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Bengkulu dari Komisi 2 bidang Pembanguan. Selain itu diundang juga Kepala Kimpraskot Bengkulu dan Bagian Penyusuanan Program (Sunram) Pemda Kota Bengkulu. Pelaksanaan kegiatan dilaksanakan pada pukul 14.00 di tiap kecamatan sebagai moderator dari adalah Camat dari kecamatan. Peneliti dari tujuh tempat pelaksanaan program Jaring Asmara mengikuti 4 tempat antara lain: Kecamatan Teluk Segara, Kecamatan ratu Samban, Kecamatan Gading Cempaka 1 dan Gading Cempaka 2. Adapun uraian kegiatan sebagai berikut : 1. KECAMATAN TELUK SEGARA Kegiatan Jaring Asmara pada tahun 2006 dimulai di Kecamatan Teluk Segara pada tanggal 8 maret 2006 di Aula Kantor Camat Teluk Segara dengan mengadakan persentasi dan diskusi antara Bappeda Kota Bengkulu dengan masyarakat kecamatan Teluk Segara. Acara ini dimulai dengan pembukaan yang di buka oleh Bapak Camat Teluk Segara sekaligus sebagai moderator pada acara tersebut. Di awal kegiatan setelah pembukaan Kepala Bappeda Kota Bengkulu menerangkan bahwa acara ini merupakan konsultasi publik antara Bappeda Kota Bengkulu yang merupakana perwakilan Pemerinta Kota Bengkulu dengan masyarakat Teluk Segara. Menurut Kepala Bappeda kegiatan ini mengagendakan empat agenda antara lain:

72

1. Informasi program 2006 dan rencana program 2007. 2. Informasi kegiatan fisik dan non fisik. 3. Kondisi Kota Bengkulu terutama pemerintah Kota. 4. Jalur Penyampaian aspirasi masyarakat. Kepala Bappeda menyampaikan bahwa masyarakat bila ingin mengusulkan aspirasi hendaknya dilakukan pada bulan November s/d Februari karena pada saat itu Pemerintah sedang menyusun program. Tapi hendaknya juga diawali dengan kegiatan musyawarah rencana pembangunan yang dilaksanakan pada tingkat kecamat dan tingkat kelurahan dan menentukan program prioritas di tingkat kecamatan. Dalam penyampaian aspirasi ternyata kecendrungan masyarakat sangat banyak pada kegiatan kegiatan fisik sedangkan kegiatan non fisik sangat sedikit, padahal dana untuk non fisik setengah dari dana pembangunan. Pada tahun anggaran 2006 Belanja Pembanguan Kota Bengkulu adalah sebagai berikut: o Dana APBD Kota Bengkulu o Dana Alokasi Khusus o Dana Tugas Pembantuan o Dana Hibah NUSSP o Dana Hibah P2KP Sumber : observasi penelitian, 2006 Dari pemaparan tersebut setalah itu dilaksanakan dialog antara Bappeda dengan masyarakat, usulan masyarakat antara lain: Rp. 45.810.796.600,00 Rp. 24.090.600.000,00 Rp. 6.286.632.000,00 Rp. 3.660.000.000,00 Rp. 4.700.000.000,00

73

Salah seorang peserta dari keluhan Pondok Besi mempermasalakan tentang Tapak Paderi. Kondisinya dulu bukitnya hijau dilapisi rumput tapi sekarang denga batu. Bagaimana pengelolaannya dan bagaimana sasaran pengelolaanya sekarang?. Ada juga keluhan dari dari salah seorang ketua rukun tetangga (RT) kel Bajak tentang ujung jalan makam Sentot Ali Basyah tidak ada tempat sampah, bagaimana jalan keluarnya?, beliau uga meragukan usulam akan diterima karena kebijakan yang ada diputuskan oleh orang nomor satu Kota Bengkulu Salah seorang Ketua Rt Kelurahan Kebun Ross mempertanyakan program P2KP tidak ada di Kelurahan Kebun Ross, padahal kondisi jalan sudah sangat parah. Padahal menurut Lurah tinggal realisasi tetapi kenyataanya dan meminta Bappeda untuk memprioritaskan jalan yang dilingkungan mereka. Tidak berbeda ada juga usulan dari ketua Rt Kelurahan Kampung Bali yang juga minta jalan lingkungan mereka juga diproritaskan untuk jadi program pemerintah karena jalan tersebut langsung berhubungan dengan jalan di kelurahan Bajak. Selain dari ketua RT hadir juga ulama yang meminta tentang kebersihan Kota bengkulu yang masih banyak sampah dan tentang Bantuan lnagsung Tunai (BLT) yang selama ini bermasalah. Selain itu hadir juga Perwakilan nelayan dari Kelurahan Pondok Besi yang mempertanyakan dana NUSSP akan dikelola masyarakat, bagaimana dengan juklak dan juklis agar kam siap selain itu juga meminta TPC akan dibangun break water dan pabrik

74

es perlu ditambahkan bahwa juga memfasiltasi beberapa sandaran kapal yang masuk. Selain tentang infrastruktur ada juga masukan kepada tentang Pemerintah Daerah tentang program program dimulai propinsi sampai kota lebih menguatkan infrastruktur yang dapat dilihat, namun dalam hal ini yang paling utama adanya basisnya program tersebut harus memeperhatikan bagian ekonomi kerakyatan seperti pembinaan masyarakat ekonomi kecil dan kebingungan masyarakat tentang program Pemerintah Kota. Masyarakat juga meminta Pembangunan wisata Kota Bengkulu, diharapkan jangan instan perlu penguatan budaya Bengkulu seperti khitanan dan adat pernikahan dan juga penting kebersihan lingkungan, pembentukan poksaling bisa dikembangkan untuk seluruh masyarakat tetapi jangan dilepas oleh pemerintah Kota sehingga ada partisispasi dan potensi masyarakat. Pembangunan yang berdaya guna secara umum memberikan kesempatan kepada masyarakat tampa melihat status dan juga golongan seperti pada program jarring asmara. Keterlibatan semua unsur masyarakat dapat memberikan masukan- masukan yang tidak hanya bersifat golongan tapi juga universal. Secara umum partisipasi masyarakat dapat digambarkan dalam matrik analisis partisipasi masyarakat dibawah ini :

75

Tabel 5.2.1. Matrik analisis partisipatif di Kecamatan Teluk Segara Kota Bengkulu, 2006 No. Kelompok 1. Nelayan Kepentingan Peralatan Kurang Kekhawatiran - Harga Rendah - Cuaca Potensi Peningkatan Produksi Kelemahan Implikasi

- Jenis peralatan Bantuan modal terbatas - Modal yang kurang Program Penyuluhan Bantuan Modal Program kerja pelatihan

2.

Industri kecil

Harga suplay Mendapat Pekerjaan

dan - Pemasaran terbatas

3.

Pencari Kerja

4.

Tokoh adat

Pelestarian Budaya

5.

Ketua RT

Kebersihan daerah

6.

Ulama

Kesejahteraan imam masjid

- Kurang pengetahuan dan keterampilan - Modal rendah Terbatasnya Kemampuan - Tingkat pendidikan baik lapangan kerja rendah - Keterampilan terbatas Hilangnya budaya Wisata - Masyarakat yang Lokal asli Bengkulu apatis - Budaya yang tidak merakyat Kondisi lingkungan Kenyamanan - Kepeulian yang buruk masyarakat minim - Dana kebersihan tidak ada dari pemerintah Minimnya dana Kenyamanan - Mininya dan untuk ibadah beribadah kesejahteraan untuk imam - Masyarakat tidak memelihara masjid Peningkatan

Pekan Budaya Sanggar seni

Penyediaan kotak sampah umum

Alokasi dana untuktempat ibadah

76

2. KEC. RATU SAMBAN Setelah melaksnakan kegiatan Jaring Asmara di kecamatan teluk

segara pada esok harinya, 9 maret 2006 di kecamatan Ratu Agung. Pada acara ini turut hadir Kapela Bappeda Kota Bengkulu dan Ketua Komisi 2 DPRD Kota Bengkulu. Acara ini dimulai dengan pembukaan yang di buka oleh Bapak Camat Ratu Agung sekaligus sebagai moderator pada acara tersebut. Di awal kegiatan setelah pembukaan Kepala Bappeda kota Bengkulu

menerangkan bahwa acara ini merupakan konsultasi publik antara Bappeda Kota Bengkulu yang merupakana perwakilan Pemerinta Kota Bengkulu dengan masyarakat Ratu Agung. Secara umum penyampaian yang disampaikan sama dengan yang disampaikan pada kevamatan Teluk Segara, selain pemaparan di atas disampaikan juga kendala- kendala yang terjadi di lapangan antara lain: b Kurangnya koordinasi, sehingga usulan yang masuk berkali-kali dan tumpang tindih. b Bappeda bukan pengambil kebijakan tapi Bappeda sebagai tim dalam perencanaan pembangunan. b Sampai dengan tahun 2006 belum sampai 25% aspirasi masyarakat tertampung. b Pada perencanaan ke depan diharapkan lebih ke program non-fisik. Pada forum Jaring Asmara ini juga disampaikan program yang usulan masyarakat yang masuk dalam program pembangunan pemerintah Kota Bengkulu tahun 2006 pada Kecamatan Ratu Samban antara lain:

77

- Peningkatan jalan wijaya - Pengaspalan jalan Kz. Abidin I dan II - Pengaspalan jalan Balai Kota - Pembuatan plan beton jalan kantor camat - Rehat Pustu Anggu Dalam - Rehab SD Negeri 27 Kota Bengkulu - Revitalisasi Simpang lima Ratu Samban Dari pemaparan tersebut setalah itu dilaksanakan dialog antara Bappeda dengan masyarakat, usulan masyarakat antara lain: Perwakilan masyarakat dari kelurahan Kebun Geran menanyakan pembangunan siring Jalan Suprapto sampai Pasar Melintang termasuk rehab jalan merpati dan kondisi jalan dianggut yang parah serta lampu di Jalan Nuri gelap gulita, sudah diusulkan beberapa kali tapi tidak ada hasil. Peserta dari kelurahan Penurunan meminta drainase perbatasan Kebun Beler - Penurunan (Ratu Samban Ratu Agung) sampai dengan 2005 belum terealisasi, yang dibangun hanya jembatan sedap malam sampai di belakang pencucian mobil. Masukan juga muncul dari LPM Kebun Geran yang meminta perbaikan jalan karena kondisi jalan yang rusak kalau hujan dan juga meminta bantuan kursi masjid pertanyaan juga muncul dari LPM Anggut Bawah terutama usulan masyarakat yang tidak tertampung di kecamatan dan program NUSSP. Selain itu juga meminta titik-titik lampu hias, Anggut Bawah sampai ke daerah pariwisata usul sampai Hotel Horison, karena diminati pejabat.

78

Masyarakat dalari kelurahan Belakang Pondok dalam program ini juga mengusulkan perwakilan darai kelurahan Belakang Pondok yang melihat banyaknya jalan yang bergelombang dan rehab untuk SD negeri 22 terutama pagar karena sangat penting untuk keselamatan anak anak. Selain bidang fisik juga memninta bagaiman untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat terutama untuk bantuan modal usaha dan juga mempertanyakan kasus PTN yang banyak menimbulkan masalah sampah. Salah seorang masyakarat dari kelurahan Padang Jatinegatakan mereka kurang informasi tentang kegiatan non fisik walaupun kelurahan Padang Jati belum ada PKBM, yang ada di Sawah Lebar. Program keterampilan Home Industri, seperti garment akan mengentaskan kemiskinan.dan juga memenita bantuan untuk perkembangan posyandu. Berdasarkan pertanyaan dan kelurah yang diusulkan dari masyarakat ternyata Bappeda Kota Bengkulu cukup merespon dengan baik usulan masyarakatdan juga memberikan gambaran tentang keterbatasan fungsi Bappeda yang hanya merecanakan tetapi tidak memutuskan, untuk lampu jalan langsung bisa dihubungi kepala Dinas Pertamanan Kota Bengkulu. Untuk program yang belum masuk akan coba diusulkan pada tahun 2007. Untuk Kebun Geran, bidang keagamaan, masalah penambahan kursi perlu peningkatan swadaya masyarakat tidak perlu dari Pemerintah Daerah. Kita lebih condong sektoral, sedangkan dana dari pusat berupa hibah, pembantuan untuk memotivasi PKBM, sanggar-sanggar belajar secara non formal untuk memotivasi pendidikan nasional. PKBM sudah banyak tapi

79

hanya kejar paket. Tapi kalau bisa yang difokuskan pada ibu- ibu pengangguran. Sedangkan permaslahan tentang Posyandu milik camat, bukan milik Dinas Kesehatan. PKBM yang boleh diacu adalah PKBM di Tunas Agung (Tj. Agung) dengan kegiatan jahit, sablon, ibu rumah tangga, anakanak kurang mampu. Mereka dibina dan dimotivasi oleh pendidikan nasional. Memotivasi industri kecil dalam hal ini perindustrian dan perdagangan perlu mengadakan pembinaan. Banyaknya menggambarkan aspirasi bagaimana dan kepentingan masyarakat masyarakat akan dapat

kebutuhan

pentingnya

pembangunan daerah terutama yang berhubungan dengan hajat hidupnya. Masyarakat Kecamatan Ratu Samban yang sebagian besar merupakan pedagang dan nelayan memberikan suatu keinginan adanya peningkatan kesejahteraan masyarakat terutama dari pemerintah daerah. Masyarakat pesisir yang merupakan sebagian besar dari pendudukan kecamatn ini menginiginkan adanya peningkatan taraf hidup hal ini juga berhubungan juga dengan konsep dari gubernur tentang pariwisata internasional. Secara umum gambaran aspirasi masyarakat dalam program

pembangunan dapat dilhat dalam matrik 5.2.2 yang berisi tentang aspirasi dari berbagai kelompok, seperti dibawah ini:

80

Tabel 5.2.2. Matrik analisis partisipatif di Kecamatan Ratu Samban Kota Bengkulu, 2006 No. Kelompok 1. LPM Kepentingan Kekhawatiran Potensi Kelemahan Implikasi

Pembangunan - Kecelakaan jalan - Banjir

Pembangunan jalan Kenyamanan - Jalan umum masyarakat - Belum ada bantuan pemerintah Peningkatan Program Penyuluhan Bantuan Modal Program kerja PKBM pelatihan

2.

Masyarakat pesisir Pencari Kerja

3.

4.

Masyarakat putus sekolah Ketua RT

5.

6.

Industri kecil

- Kurang pengetahuan dan keterampilan - Modal rendah Mendapat - Terbatasnya Kemampuan - Tingkat pendidikan Pekerjaan baik lapangan kerja rendah - Keterampilan terbatas PKBM - Masyarakat tidak Pencerdasan - Tidak punya dana masyarakat - Sarana belajar yang memilki minim keterampilan dasar Kebersihan - Kondisi lingkungan Kenyamanan - Kepeulian daerah yang buruk masyarakat minim - Dana kebersihan tidak ada dari pemerintah Harga dan - Pemasaran terbatas Peningkatan - Kurang pengetahuan suplay dan keterampilan - Modal rendah Berdagang daerah Pantai

- Tidak ada pembeli

Penyediaan kotak sampah umum

Program Penyuluhan Bantuan Modal

81

3. KEC. GADING CEMPAKA Kegiatan Jaring Asmara pada tahun 2006 dimulai dengan mengadakan persentasi dan diskusi antara Bappeda Kota Bengkulu dengan masyarakat Kecamatan Gading Cempaka. Acara yang diadakan di Aula Kantor Camat Gading Cempaka ini dimulai dengan pembukaan yang di buka oleh Bapak Camat Gading Cempaka sekaligus sebagai moderator pada acara tersebut. Di awal kegiatan setelah pembukaan Kepala Bappeda Kota Bengkulu menerangkan bahwa acara ini merupakan konsultasi publik antara Bappeda Kota Bengkulu yang merupakana perwakilan Pemerinta Kota Bengkulu dengan masyarakat Gading Cempaka. Penyampaian informasi pembangunan daerah hampir sama dengan yang sampaikan pada kegiatan sebelumnya, Kepala Bappeda juga menginformasikan program pembangunan Kota Bengkulu tahun 2006 yang ada pada Kecamatan Gading Cempaka, antara lain: Pengaspalan jalan Sadang 1 dan 2 Peningkatan jalan Belimbing Pembangunan Bangsal Rumah Sakit DKT Peningkatan/ rehab drainase dan pelapisan tebing jalan Kampar. Pembangunan gorong gorong dan pelapis jalan Danau Peningkatan jalan Citaruk II Peningkatan jalan Semangka Peningkatan jalan Pelatuk Lingkar Barat Pengaspalan jalan Anggrek II

82

Pengaspalan jalan BPKP Pengaspalan jalan Aren Pengaspalan jalan Muhajirin SMP 14 Pengaspalan jalan Mangga 5 Relokasi Puskesmas jalan Gadang Rehab SDN 60, SDN 99, SDN 55, SDN 44, SDN 42 Pengaspalan jalan Pepabri Pengaspalan jalan Danau Dendam Pengaspalan jalan Jaya Wijaya Pesanten Darusalam Selain pemaparan tentang pembangunan Kota Bengkulu tahun 2006

selanjutnya diadakan diskusi antara Kepala Bappeda, DPRD Kota Bengkulu dengan masyarakat Kecamatan Gading Cempaka, berikut ini beberapa usulan dan masukan masyarakat terhadap pemerintah Kota Bengkulu antara lain: Peserta dari Kelurahan Jembatan Kecil meminta rehab Jalan Danau I RT 06 tembus ke Panorama. Tahun 1992 sudah swadaya. Juga usulan dari kelurahan Jalan Gedang meminta pengerasan gang/ jalan simpang Sri Solo arah ke mesjid, PEMBUATAN siring depan mesjid, kalau hujan air naik ke mesjid dan pembuatan gang depan mesjid tembus Jalan Cimanuk masih diusahakan tanah PGSD supaya tidak seluruhnya ambil tanah warga. Jawaban dari Bappeda terhadap usulan masyarakat memberitahukan tahun 2007 warga mengusulkan sebegitu banyak, mana yang lebih prioritas akan dicek ke lapangan.

83

Pada sese ke II, nada pesimistis muncul dari LPM Kelurahan Lingkar Timur yang meragukan program pemerintah karena tahun 2007 ada Pilkada Kota Bengkulu dan juga mempredikasi hanya 20 % aspirasi masyarakt masuk dalm program pemerintah. Selain itu mengkritik jangan ada proyek pesanan dari pemerintahan. Perwakilan kelurahan Padang Haraparan dan kelurahan lingkar barat memninta Bappeda measukan usulan mereka karena dari tahun 2003 sampai dengan sekarang usulan mereka belum masuk dalam program pemerintah Menanggapi usulan yang masuk Bappeda memberikan gambaran tahun 2006 ini belanja pegawai sangat drastis peningkatannya. i. ii. iii. iv. Ada kenaikan gaji pokok Ada kenaikan tunjangan struktural. Ada penerimaan pegawai. Ada tunjangan non struktural. Masukan kritis juga muncul dari perwakilan masyarakat Lembak yang memberikan apresiasi yang baik terhadap program pemerintah daerah tetapi mekanisme yang selalu berubah-ubah, harus konsisten dengan mekanisme. Mohon usulan yang sudah direkap diberikan lagi kepada masyarakat. Action, ada APBD murni, dekon, dan lain-lain, perlu pemerataan. Selain itu perlu tranpransi terhadap kegiatan yang dilaksnakan oleh pemerintah agar kami masyarakat tidak curiga dan bisa melihat pembangunan yang dilaksnakan oleh pemerintah Kota Bengkulu.

84

Pada sesi III, perwakilan LPM Jembatan Kecil mempertanyakan peningkatan PAD yang sangat minim dan juga usulan irigasi untuk petani dan pembinaan para petani. Usulan terakhir muncul dari perwakilan dari masyarakat cempaka permai yang memintata perbaikan sanitasi terutama sampah dan masyarakat yang dibawah garis kemiskinan. Dari masukan yang masuk Bapppeda tidak memberikan reaksi yang banyak hanya memberikan alasan akan ditampung dan diusulkan untuk pelaksanaan akan diserahkan kepada Walikota dan DPRD karena Bappeda bukan pengambil kebijakan.

4. KELURAHAN SIDOMULYO Kegiatan Jaring Asmara pada senin, 12 mei 2006 pada kecamatan Gading Cempaka dilaksnakan di dua tempat hal ini dikarenakan masih luasnya kecamatan Gading Cempaka dan tempat kedua dihadiri enam perwakilan kelurahan. Dimulai dengan mengadakan persentasi dan diskusi antara Bappeda Kota Bengkulu dengan masyarakat Kecamatan Gading Cempaka. Acara ini dimulai dengan pembukaan yang di buka oleh Bapak Camat Gading Cempaka sekaligus sebagai moderator pada acara tersebut. Di awal kegiatan setelah pembukaan Kepala Bappeda Kota Bengkulu

menerangkan bahwa acara ini merupakan konsultasi publik antara Bappeda Kota Bengkulu yang merupakana perwakilan Pemerinta Kota Bengkulu dengan masyarakat Gading Cempaka.

85

Jalur penyampaian aspirasi masyarakat agar dapat masuk dalam program pemerintah, berikut ini petunjuk pelaksnaannya, antara lain : Januari Maret merupakan perencanaan pembangunan untuk pak camat dan pak lurah tahun 2007 hasil jaring sering prosedur tidak dilalui. November Desember Januari Februari penyampaian aspirasi masyarakat masih jalur yang benar yaitu Musbang kel/ kel untuk

menyampaikan prioritas. April di bawah koordinasi Bappeda propinsi untuk dana yang tidak tertampung di APBD kota Kelemahan yang sering terjadi :

Tidak tahu jalur yang benar dan penentuan prioritas.


Selalu diusulkan fisik, padahal perlu juga non fisik. Dana pembangunan untuk tahun 2004 sampai dengan tahun 2006 belum dapat berbuat banyak, baca kondisi di koral. Tahun 2006 bayar utang. Pada Tahun 2007 semaksimal mungkin untuk menjaring aspirasi masyarakat. Dengan dana 46 Milyar untuk kegiatan fisik dan non fisik. Setelah pemaparan yang diberikan, masyarakat dipersilakan untuk memeberikan usulan dan masukan kepada pemerintah Kota dan menanyakan tentang pembangunan, antara lain:

86

Kepala RT 02 Kelurahan Sidomulyo sangat senang karena jalan Timur Indah 3A sudah diusulkan pada tahun 2005 walaupun ada di tahun 2007 dan meminta untuk penentuan prioritas mohon di cek betul mana yang pantas atau tidak. Jalan tersebut jalan Vital tembus Jalan TI 3A ke TI Raya karena ada lokasi pendidikan SD, SMP, Jalan tersebut sering

dijalani pelajar-pelajar. Begitu juga aspirasi Kepala RW 02 Desa Besar, jalan Amaliah tembus ke SMP 6 dan meminta kalau mendukung Bengkulu Kota Pelajar, tolong diperiksa betul. Berikutnya usulan 03 Kelurahan TI meminta kantor Kelurahan Timur Indah belum ada. Bappeda merespon semua prioritas, tapi dananya tidak cukup. Pengambil kebijakan bukan Bappeda. Dan tahun 2006 banyak masalah. Ditambahkan Ketua Komisi DPRD memberikan masukan bahwa usulan masyakata akan sebagai bahan Aku untuk kebijakan ke depan dan

sebagai forum penting bagi legislatif dan eksekutif kegiatan fisik dan non fisik perlu diakomodir. Masalah fisik, DAK mengalami kenaikan 16

Milyar dari tahun 2005. Untuk seluruh kegiatan butuh 270 M kalo ingin direspon kontribusi PAD hanya 18 Milyar sekitar 7,7%. Untuk

menentukan prioritas, lembaga teknis + Eksekutif + Legislatif. Lembaga PU akan mendata ulang yang sifatnya prioritas untuk fisik, akan dicek dan diranking. Pada sesi ke II masyakarat dari Dusun Besar mempermaslahkan prioritas pemerintah pada perbaikan pada jalan yang menghubungkan fasilitas umum ,mesjid, PUSN dan sekolah. Perwakilan Kelurahan

87

Siomulyo meminta efektifitas dana pembangunan yang hanya 46 M terutama program fisik dan non fisik di Sidomulyo ada pengusahapengusaha kecil bagaimana cara mengefektifkannya dan pemanfaatan tenaga terampil di lingkungan RT RW. Terutama pemberdayaan masyarakat. b pada sese III banyak sekali masyarakat memberikan usulan dalam bidan fisik seperti dari kelurahan Sidomulyo, kelurahan Sumur Meleleh, kelurahan Padang Nangka yang meminta agar progam mereka masuk dalam program pemerintah untuk perbaikan jalan. Jawaban dari Bappeda terhadap masukan yang ada memberikan harapan tahun depan akan dievaluasi. Tahun ini rencana dibagi untuk pemerataan untuk setiap kecamatan. Kebutuhan infrastruktur masih dominan, perlu ditambahkan ekonomi Bengkulu rakyat. pemberdayaan masyarakat dan peguatan

Untuk infrastruktur besar, belum dibutuhkan, kota kecil-kecilan, pemberdayaan masyarakat,

infrastruktur

penguatan ekonomi rakyat dan ini merupakan arah kebijakan umum. Banyaknya aspiarsi yang masuk dari Kecamatn Gading Cempaka baik dari yang diadakan di kelurahan Sidomulyo ataupun Kecamatan Gading Cempaka dapat dilihat dari matrik dibawah ini:

88

Tabel 5.2.3. Matrik analisis partisipatif di Kecamatan Gading Cempaka Kota Bengkulu, 2006 No. Kelompok 1. Masyarakat pasar Kepentingan Perbaikan jalan Kekhawatiran - Kecelakaan - Banjir Potensi Kenyamana masyarakat Kelemahan Implikasi

Pembutan jalan - Jalan umum - Belum ada bantuan pemerintah - Lahan yang tidak ada - Belum ada bantuan pemerintah - Tingkat pendidikan rendah - Keterampilan terbatas - Tidak punya dana Penganggran dana pembangunan sekolah Kursus dan pelatihan

2.

Kepala Rt

Pembuatan sekolah

3.

Industri kecil

Jalan antara sekolah dengan kampung masyarakat jauh Pemberdayaan - Terbatasnya masyarakat lapangan kerja

4.

Pedagang kecil

Penambahan penghasilan

- Masyarakat memilki keterampilan dasar

Kemudahan proses belajar Penambahan pengetahuan dan penghasilan tidak Penambahan

Kredit lunak kepada pengusaha kecil

89

Selain dilakukan analisis matrik yang dilakukan di Kecamatan juga dilakukan analisis yang berdasarkan indicator yang dibutuhkan dalam analisi yang dilakukan ditingkat kecamat yang dilakukan dalammenganalisi kebutuhan masyarakat sesuai dengan kecamatan masing-masing, hal ini dapat tergambar dalam tabel di bawah ini: Tabel 5.2.4. Matrik analisis kepentingan masyarakat di Kecamatan Kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Kepentingan Teluk segara Ratu Samban Gading cempaka Pembangunan jalan Pembangunan jalan Perbaikan jalan Berdagang daerah Berdagang daerah Pembuatan sekolah Pantai Pantai Mendapat Pekerjaan Mendapat Pekerjaan Pemberdayaan masyarakat PKBM PKBM Penambahan penghasilan Kebersihan daerah Kebersihan daerah Harga dan suplay

Tabel 5.2.5. Matrik analisis kekhawatiran masyarakat di Kecamatan kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 kekwahatiran Ratu Samban - Kecelakaan - Banjir - Tidak ada pembeli

Teluk segara - Harga Rendah - Cuaca - Pemasaran terbatas

- Terbatasnya lapangan - Terbatasnya lapangan kerja kerja - Hilangnya budaya asli - Masyarakat tidak Bengkulu memilki keterampilan dasar - Kondisi lingkungan - Kondisi lingkungan yang buruk yang buruk Harga dan suplay - Pemasaran terbatas

Gading cempaka Kecelakaan Banjir Jalan antara sekolah dengan kampung masyarakat jauh Terbatasnya lapangan kerja Masyarakat tidak memilki keterampilan dasar

90

Tabel 5.2.6. Matrik analisis Potensi masyarakat di Kecamatan kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Potensi Ratu Samban Kenyamanan masyarakat Peningkatan Kemampuan baik Pencerdasan masyarakat Kenyamanan

Teluk segara Peningkatan Produksi Peningkatan Kemampuan baik Wisata Lokal Kenyamanan Kenyamanan beribadah

Gading cempaka Kenyamana masyarakat Kemudahan proses belajar Penambahan pengetahuan dan penghasilan Penambahan

Tabel 5.2.7. Matrik analisis kelemahan masyarakat di Kecamatan kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Kelemahan Ratu Samban Jalan umum Belum ada bantuan pemerintah Kurang pengetahuan dan keterampilan Modal rendah Tingkat pendidikan rendah Keterampilan terbatas Tidak punya dana Sarana belajar yang minim Kepedulian masyarakat minim Dana kebersihan tidak ada dari pemerintah Kurang pengetahuan dan keterampilan Modal rendah

Teluk segara - Jenis peralatan terbatas - Modal yang kurang - Kurang pengetahuan dan keterampilan - Modal rendah - Tingkat pendidikan rendah - Keterampilan terbatas - Masyarakat yang apatis - Budaya yang tidak merakyat - Kepeulian masyarakat minim - Dana kebersihan tidak ada dari pemerintah - Mininya dan kesejahteraan untuk imam - Masyarakat tidak memelihara masjid

Gading cempaka - Jalan umum - Belum ada bantuan pemerintah - Lahan yang tidak ada - Belum ada bantuan pemerintah - Tingkat pendidikan rendah - Keterampilan terbatas - Tidak punya dana

- Jalan umum - Belum ada pemerintah

bantuan

91

Tabel 5.2.8. Matrik analisis Implikasi masyarakat di Kecamatan kecamatan pada Kota Bengkulu, 2006 Implikasi Teluk segara Ratu Samban Bantuan modal Pembangunan jalan Program Penyuluhan Program Penyuluhan Bantuan Modal Bantuan Modal Program pelatihan Program pelatihan kerja kerja Pekan Budaya PKBM Sanggar seni Penyediaan kotak Penyediaan kotak sampah umum sampah umum Alokasi dana untuk Program Penyuluhan tempat ibadah Bantuan Modal

Gading cempaka Pembutan jalan Penganggran dana pembangunan sekolah Kursus dan pelatihan Kredit lunak kepada pengusaha kecil Pembutan jalan

Berdasarkan tabel diats terlihat

jelas bagaimana ketergantungan

masyarakat terhadap pemerintah Kota Bengkulu,terutama sektor infrastruktur jalan. Kebutuahan kebutuhan yang mendesak yang merupakan kepentingan umum membuat masyarakat sangat menginginkan adanya perubahan teutama terhadap lingkungan masyarakat yang dapat menggangu elsistensi dan

produktifitas masyarakat. Gambaran lain juga seperti kebuthan masyarakat akan bantuan baikbersifat materie dan inmaterial juga sangat banyak hal ini dapat tergambarkan dengan jelas pada tabel diatas. Dapat terlihat dengan jelas bagaimana masyarakat melihat apa yang dilakukan selama ini belum memberikan hasil yang optimal sehingga masih banyak keluhan dan juga aspirasi masyarakat yang selama ini belum tersampaikan dengan baik sehingga timbulnya sikap anti pembangunan dan tidak percaya kepada pemerintah daerah.

92

5.3 Pembahasan Dengan pelaksananan otomoni daerah membuka kesempatan

masyarakat untuk berpartisipasi secara aktif terutama yang berhubungan dengan kebutuhan masyarakat. Masyarakat mememilki kebutuhan yang merupakan kewajiban pemerintah untuk mengadakannya, seperti dalam program Jaring Asmara banyak masyarakat yang menuntut perbaikan terutama dalam bidang infrastruktur terutama perbaikan jalan, pembuatan drainase dan rehabilitasi bangunan umum. Pembangunan masyarakat yang merupakan tugas dari pemerintah membutuhkan suatu masukan masukan yang penting dan sesuai dengan partisipasi dan adanya proses transparansi dalam proses pembangunan tersebut. Partsipasi yang dilakukan dalam bentuk memberikan masukan, kritik ataupun dukungan kepada pemerintah dapat memberikan ganmbaran bagaimana respon masyarakat terhadap pembangunan yang dilaksanakan oleh pemrintah daerah. Dalam program Jaring Asmara banyak sekali masukan yang dapat dilihat dari repersentasi masyarakat terhadap apa saja yang dibutuhkan sehingga dapat tergambar dengan jelas bagaimana reaksi masyarkat. Masih banyaknya ketidakpuasan masyarakat menggambarkan banyaknya pekerjaan rumah yang harus diselesaikan oleh pemerintah daerah sebagai wujud mereka sebagai pelayann masyarakat. 5.3.1. Analisis SWOT Dalam penelitian ini menggunakan analisis SWOT terutama dalam penelitian ini berhubungan dengan perencanaan pembangunan berdasarkan hasil

93

penelitian yang ditemukan selama mengikuti program Jaring Asmara, hasil berdasarkan indikator indikator yang ada yang menggambarkan bagaimana dapat dilihat sebagai suatu kegiatan pemerintah. Berdasarkan hasil dari program Jaring Asmara yang dilaksanakan di kecamatan dapat dilihat sebagai berikut : Tabel 5.3.1 Analisis SWOT langkah 1, program Jaring Asmara Kota Bengkulu 2006 STRENGTH (kekuatan) Antusiasnya masyarakat. Pelaksanaan di awal tahun anggaran. Pemerintah mengetahu secara real kondisis masyakat. Adanya peran serta secara langsung dari pihak pihak yang terkait seperti DPRD dan Dinas Kimpraskot. Partisipasi langsung terjadi antara masyarakat dan Pemerintah. WEAKNESS (kelemahan) Minimnya dana pembangunan. Informasi yang kurang tentang proses pengajuan usulan/aspirasi. Kurangnya koordinasi antara lembaga Pemerintah dan masyarakat Fokus pembangunan pada pembangunan fisik dan tidak memberikan masukan pada pembangunan non fisik. Dana pembangunan tahun 2006 digunakan untuk membayar pembangunan pada tahun sebelumnya. THREAT (ancaman) Pemilu 2007 yang dapat mengganggu pembangunan kota Bengkulu. Keputusan hanya pada Kepala Daerah dan DPRD bukan pada Bappeda. Adanya intervensi dan program pesanan dari pihak tertentu. Monitoring DPRD yang tidak optimal terhadap aspirasi masyarakat.

OPPORTUNITY (kesempatan) Adanya bantuan dari Pemerintah Pusat dan dana hibah. Sistem pemerintahan yang terbuka melalui program pemberdayaan masyarakat Bengkulu merupakan daerah berkembang Potensi daerah yang banyak belum terkelola terutama Pariwisata dan kelautan.

94

Dari langgkah 1, analisi s ini dilanjutkan dengan langkah dua dengan menggabungkan poin S dan O sebagai kondisi internaln dan poin W dan T sebagai kondisi eksternal sehingga dari kondisi ini dapat dianalisis dengan melihat dan menguraikannya dengan membuat langkah 2, dengan mengurai dan mengurai kelemahan pada W+T , antaralain :

95

Tabel 5.3.2 Analisis SWOT langkah 2, program Jaring Asmara Kota Bengkulu 2006 Kondisi Internal
STRENGTH (kekuatan) Antusiasnya masyarakat tinggi. Pelaksanaan di awal tahun anggaran. Pemerintah mengetahu secara real kondisis masyakat. Adanya peran serta secara langsung dari pihak pihak yang terkait seperti DPRD dan Dinas Kimpraskot. Partisipasi langsung terjadi antara masyarakat dan Pemerintah. WEAKNESS (kelemahan) Minimnya dana pembangunan Informasi yang kurang tentang proses pengajuan usulan/ aspirasi. Kurangnya koordinasi antara lembaga pemerintah dengan masyarakat. Fokus pembangunan pada pembangunan fisik Dana pembangunan tahun 2006 digunakan untuk membayar pembangunan pada tahun sebelumnya.

JARING ASMARA

OPPORTUNITY (kesempatan) Adanya bantuan dari Pemerintah Pusat dan dana hibah. Sistem pemerintahan yang terbuka melalui program pemberdayaan masyarakat Bengkulu merupakan daerah berkembang Potensi daerah yang banyak belum terkelola terutama Pariwisata dan kelautan. THREAT (ancaman) Pemilu 2007 yang dapat mengganggu pembangunan kota Bengkulu. Keputusan hanya pada Kepala Daerah dan DPRD bukan pada Bappeda. Adanya intervensi dan program pesanan dari pihak tertentu. DPRD yang tidak optimal terhadap aspirasi masyarakat

Masyarakat masih peduli terhadap pembangunan Hubungan yang harmonis antara pemerintah dan masyarakat Kesempatan mengembangkan Kota Bengkulu yang besar Pembangunan yang berbasis pada kebutuhan masyarakat Posisi pemerintah sebagai pelayan bukan sebagai pihak yang berkepentingan Pelibatan Kepala derah dalam program jaring asmara Adanya konsultasi publik antara masyarakat dengan dinas/DPRD Pelibata LSM/lembaga independen terhadap proses pembangunan

Optimalisasi dana pembangunan secara tepat guna Pembentukan forum atau wadah untuk mempertemukan pemerintah dengan warga Sosialisasi tentang pembangunan non fisik terutama bidang pendidikan dan UKM

Transparasi terhadap penggunaan dana pembangunan Adanya pertemuann antara masyarakat dan pemerintah secara kontinyu dan berkesimambungan

96

Tabel 5.3.3 ANALISIS SWOT LANGKAH 3, PROGRAM JARING ASMARA


KOTA BENGKULU 2006 Isu strategis Partsipasi masyararakat Problem teridentifikasi Minimnya dana pembangunan. Informasi yang kurang tentang proses pengajuan usulan/aspirasi. Kurangnya koordinasi antara pemerintah dengan Pemerintah. Fokus pembangunan pada pembangunan fisik dan tidak memberikan masukan pada pembangunan non fisik. Dana pembangunan tahun 2006 digunakan untuk membayar pembangunan pada tahun sebelumnya.

Solusi altrernatif

aktivitas

Optimalisasi dana Adanya pertemuann pembangunan secara tepat guna antara masyarakat dan pemerintah secara kontinyu Pembentukan forum atau dan berkesimambungan wadah untuk mempertemukan pemerintah dengan warga Pembuatan situs/majalah atau media lain dari Sosialisasi tentang pemerintah tentang pembangunan non fisik teutam pembangunan daerah bidang pendidikan dan UKM Transparasi terhadap penggunaan dana pembangunan Adanya pertemuann antara masyarakat dan pemerintah secara kontinyu dan berkesimambungan

97

Berdasarkan hasil SWOT di atas dapat dilihat partisipasi masyarakat dalam program Jaring Asmara belum optimal, sehingga diperlukan strartegi dan rencana yang baik tentang sistem perencanaan pembangunan agar masyarakat dapat membantu proses pembangunan. Banyaknya aspirasi yang disampaikan masyarakat yang sebagian besar merupakan kebutuhan memerlukan tugas yang banyak kepada pemerintah daerah yang dimana masyarakat sangat membutuhkan kerja nyata dari pemerintah daerah. Berdasarkan pihak pihak yang terlibat dalam program Jaring Asmara dapat dilhat pada diagram vern berikut ini: BAGAN 5.3.4 HUBUNGAN ANTAR PIHAK Tokoh Masyarakat LPM

Ketua RT

MASYARAKAT

DPRD PEMERINTAH DAERAH/ BAPPEDA

Sumber : hasil penelitian, 2006

Berdasarkan data diatas dapat dilihat bagaimana peranan masyarakat yang sangat minim karena pijakan kebijaksaan terletak pada Pemerintah

Daerah/ Bappeda dan DPRD sehingga bergaining

masyarakat terhadap

kebijaksanaan pemerintah sangat kecil. Sehingga dalam setiap usulan yang diajukan oleh masyarakat tidak dapat langsung menjadi program Pemerintah Daerah. Hubungan yang terjalin antara elemen masyarakat seperti ketua RT, Tokoh Masyarakat dan LPM terlihat walaupun ketika dibenturkan dengan kepentingan kadang kala menimbulkan perbedaan antara elemen tersebut. Fungsi pemerintah melalui Bappeda maupn DPRD memilki fungsi untuk memberikan pelayanan dan komunikasi yang baik sehingag suara masyarakat masuk ke dalam program pemerinta. nyata Tidak adanya NGO/LSM sebagai lembaga yang memantau aspirasi masyarakat memberikan persepsi yang berbeda antara masyarakat dengan pemerintah.

5.3.2. Analisis Organisasi pelaksana program Dalam pelaksanaan kegiatan pemerintah belum berjalan secara optimal kegiatan yang dilaksanakan belum memberikan jadwal yang sistematis dan berkelanjutan dari waktu waktu sepeti dalam program ini persiapakan yang dilaksanakan pemerintah tidak sesuai dengan waktu yang telah ditetapkan. Berdasarkan jadwal tahapan proses penyusunan perencanaan pembangunan kota Bengkulu, bahwa pelaksanaan program Jaring Asmara ternyata tidak berjalan sesuai dengan jadwal yang berdasarkan jadwal dilaksnakan minggu ke III februari 2006 ternyata dilaksnakan pada minggu ke II maret 2006, sebagaimana kutipan dengan Susi Susanti (ketua panitia jaring asmara)

keterlambatan pelaksanaan jaring asmara karena belum disahkannya APBD oleh DPRD sehingga dana yang digunakan untuk Jaring Asmara belum bisa turun sehingga ditunda pelaksanaannya ditambah dengan kesibukan Bappeda Kota dalam pembahasan RAPBD dengan DPRD Kota Bengkulu Berdasarkan penyampaian diatas ternyata belum berjalan sistem yang dibuat dengan pelaksanaan dilapangan, dari hal ini ternyata berpengaruh terhadap aktivitas program lainnya. Berdasarkan pemantauan, dalam program Jaring Asmara ternyata ada tiga lembaga/Dinas/Instansi yang terlibat dalam program Jaring Asmara antara lain: 1. DPRD Kota Bengkulu terutama Komisi 2 2. Dinas Kimpraskot Bengkulu 3. Bagian Penyusunan Program (Sunram) Pemerintah Kota Bengkulu

Dalam kegiatan Jaring Asmara yang dilaksnakan pada tanggal 8 maret 2006 s/d 16 maret 2006 kehadiran ketiga lembaga ini dapat dilihat sebagai berikut: Tabel 5.3.2.1 Kehadiran Dinas/Instansi dalam Program Jaring Asmara Bappeda Kota Bengkulu Pada Tahun 2006
No. 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Hari/Tanggal Rabu, 8 maret 2006 Tempat DPRD Tidak kehadiran Kimpaskot Tidak Tidak Tidak Hadir Hadir Tidak Tidak Sunram Ya Ya Ya Ya Ya Ya Ya

Kecamatan Teluk Segara Kamis, 9 maret 2006 Kecamatan Ratu Ya Agung Jumat, 10 maret 2006 Kecamatan Ratu Ya Samban Senin, 13 maret 2006 Kecamatan Gading Ya Cempaka 1 Selasa, 14 maret 2006 Kecamatan Gading Tidak Cempaka 2 Rabu, 15 maret 2006 Kecamatan Selebar Tidak Kamis, 16 maret 2006 Kecamatan Kampung Tidak Melaayu Sumber : Data diolah dari Hasil penelitian, 2006

Berdasarkan tabel diatas, ternyata kehairan perwakilan DPRD Kota Bengkulu hanya 3 kali (42%) sedangkan kondisi tidak baik ditunjukan oleh ketidak hadiran Kepala Kimpraskot yang hanya 2 kali hadir (28%). Dari data ini membuktikan bahwa belum harmonisnya hubungan antara Dinas/Instansi dengan Bappeda Kota Bengkulu termasuk juga DPRD Kota Bengkulu yang diwakili oleh Ketua Komisi 2 ternya hanya 3kali [adahal jumlah anggota dewan 30 orang untuk DPDR Kota Bengkulu. Bila ketidak optimalan unsure terkait akan mempengaruhi dengan kebijakn yang ambil karena dikhawatirkan apabila usulan disampaikan tapi tidak ada orang menjadi tidak berguna. Ketidak hadiran ini membuktikan bahwa ketidak seriusnya pemerintah dalam melaksanakan program ini sehingga menyulikan dalam rangka menjawab kebutuhan masyarakat. Kehadiran Dinas/Instansi yang berhubungan dengan program ini ternyata masih sangat minim terbukti dengan banyaknya tidak hadir dari DPRD kota Bengkulu dan Dinas Kimpraskot bengkulu, dapat dilihat ini terjadi karena belum terjadi singkroniasi antara lembaga- lembaga tersebut. Berdasarkan pernyataan ketua Komisi 2. Ahmad Badawi Saluy antara lain: maaf saya datang terlambat kerena di dewan sedang ada rapat tentang APBD Kota Bengkulu dan juga saya baru mendapatkan informasi tentang program jaring asmara ini baru sampai ke meja saya baru kemaren, sekali lagi saya minta maaf

Pemaparan dari ketua Komisi 2 DPRD Kota Bengkulu dapat memberikan gambaran bagaimana ketidaksiapan Bappeda Kota Bengkulu

dalam mempersiapakan agenda kegiatan ini terbukti dari Dinas/Instansi lain ternyata belum serius dalam program ini. Kehadiran bagian Sunram Pemda Kota Bengkulu hanya menjadi pemamtau dan mencatat masukan dari masyarakat sehingga belum dilihat peranan bagian Sunram dalam program ini, tidak berbeda dengan Dinas Kimpraskot Bengkulu, berdasarkam penamtauan ternyata siknifikansi kehadiran Dinas Kimprakot hanya mendengar usulan masyarakat tapi tidak menjabab masukan masyarakat, dalam kegiatan ini banyak dimonopoli oleh ketua Bappeda dan DPRD Kota Bengkulu dalam menjawab masukan dari masyarakat.

5.3.3. Interprestasi terhadap program Persepsi dari masyakat dalam pelaksnaan program Jaring Asmara sangat beragam dan mempunyai interprestasi yang berbeda antara satu dengan yang lain seperti Karno (LPM Kelurahan Jitra) Program program dimulai propinsi sampai kota lebih menguatkan infrastruktur yang dapat dilihat, namun dalam hal ini yang paling utama adanya basisnya program tersebut harus memeperhatikan bagian ekonomi kerakyatan seperti pembinaan masyarakat ekonomi kecil dan kebingungan masyarakat tentang program Pemerintah Kotaa. Pembangunan wisata Kota Bengkulu, diharapkan jangan instan perlu penguatan budaya Bengkulu seperti khitanan dan adat pernikahan Selain itu juga ada juga yang memdukung program ini seperti Ahmad (masyarakat Lembak) Langkah awal yang baik, mekanisme yang selalu berubah-ubah, harus konsisten dengan mekanisme. Mohon usulan yang sudah direkap diberikan lagi kepada masyarakat. Action, ada APBD murni, dekon, dan lain-lain, perlu pemerataan. Selain itu perlu tranpransi terhadap kegiatan yang dilaksnakan oleh pemerintah agar kami masyarakat tidak curiga dan

bisa melihat pembangunan yang dilaksnakan oleh pemerintah Kota Bengkulu. Tetapi ada juga masyarakat yang belum mendukung program ini dam pesisim dengan pembangunan yang dilaksnakan oleh Pemda Kota Bengkulu, seperti Bapak Nasirun (LPM Kelurahan Lingkar Timur) Setelah melihat program-program yang ada, kita jadi pesimis karena good will kita tidak kesana. Tahun 2007 juga ada pilkada, APBD jangn terlalu besar di rutin. Dari realisasi program paling-paling hanya 20% sedangkan yang lain tidak bisa dilaksnakan oleh pemerintah Kota Bengkulu.

Dari berbagai tanggapan dari masyarakat ternyata secara umum masyarakat memberikan dukungan terhadap keberanian Bappeda Kota Bengkulu dalam menyerap aspirasi masyarakat tetapi implementasi yang dapat diberikan oleh pemerintah Kota Bengkulu terhadap kebutuhan masyarakat belum terlihat jelas.

5.3.4. Analisis Penerapan program

Kepala Bappeda Kota Bengkulu dalam pemaparan program tahun anggaran 2006 mengatakan: kita agak sulit memampung seluruh aspirasi masyarakat yang masuk ke kita, setelah kami totalkan jumlah anggaran pembangunan yang dibutuhkan masyarakat saat ini berjumlah 297 milyar sedangkan dana yang kita miliki untuk anggaran 2006 hanya sebesar 46 milyar jadi program yang dapat direalisasikan pemerintah hanya 20 % dari total usulan yang masuk pada kita

Selain minimnya dana pembangunan Kota Bengkulu, Pendapatan Asli Daerah (PAD) Kota Bengkulu saat ini sangat minim sebagaimana pemaparan ketua Komisi 2 DPRD Kota Bengkulu

Saat ini PAD kita sangat minim hanya berkisar antara 18 milyar sehingga kita dalam pembangunan Kota Bengkulu saat ini masih sangat tergantung dengan DAU yang diberikan oleh pemrintah Pusat, sehingga saat ini kita mencoba bagaimana nanti pembiayaan pembangunan dapat leih efisien dan efektif Berdasarkan pemaparan diatas ternyata penerapan program ini masih sangat terbatas belum dapat memberikan kepuasan terhadap masyarakat, ruang publik yang diberikan ternyata tidak dapat memberikan suatu hasil dalam rangka perbaikan kondisi masyarakt. Alasan alasan kurangnya dana menjadi alasan utama baik dari Pemda Kota dan DPRD sehingga sistem subsidi yang diberikan Pemerintah Pusat sepertinya menjadi harapan yang sangat menjanjikan dalam pembangunan daerah. Disatu sisi ternyata pemberdayaan masyarakat dalam program- program non fisik belum dioptimalkan dalam kemandirian masyarakat.

5.3.5. Analisis Pengaruh Masyarakat dalam Implementasi Program Banyaknya usulan yang masuk di masyarakat ternyata tidak menjamin usulan yang masuk akan langsung masuk dalam program pemerintah daerah. Hal ini dikarenakan tidak adanya masyakat yang mengawal suara mereka sehingga banyak keluhan dan juga kekecewaan dari masyarakat akibat tidak masuknya usulan yang mereka harapkan, berikut ini beberapa usulan masyarakat tentang implemtasi program jaring asmara antara lain:

Kebijakan yang ada diputuskan oleh orang nomor satu Kota Bengkulu Jalan lingkungan sudah diusulkan , kata bapak lurah tinggal realisasi tetapi kenyataanya ?.

Jangan ada proyek pesanan. Selain itu perlu tranpransi terhadap kegiatan yang dilaksnakan oleh pemerintah agar kami masyarakat tidak curiga

Bagaimana pemberdayaan masyarakat? Perlu Juklak, Juknis Untuk penentuan prioritas mohon di cek betul mana yang pantas atau tidak. Dari berbagai keluhan yang ada dari masyarakat ternyata implementasi

yang diberikan oleh pemerintah sangat sulit di masuki oleh masyarakat terutama dalam melihat dan mengakses tentang aspirasi yang mereka sampaikan telah masuk dalam program atau tidak. Sehingga tidak terjalin komunikasi yang harmonis antara pemerintah daerah dengan masyarakat. Pertemuan yang dilaksanakan oleh pemerintah sangat minim jumlahnya dan masyarakat yang mengikuti hanya dalam jumlah yang terbatas. Dengan terbatasnya masyarakat yang hadir maka akan terjadi marginalisasi kebutuah teutama masyarakat kecil Berikut ini alur partisipasi masyarakat dalam tahapan proses penyususnan perencanaan pembangunan Kota Bengkulu yang dan analisis pengaruh masyarakat terhadap program tersebut.

BAGAN 5.3.4.1 ALUR PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PERENCANAAN PEMBANGUNAN KOTA BENGKULU
Kegiatan
Musrenbang Kelurahan

Pengaruh masyarakat

Sangat Kuat

Musrenbang Kecamatan

Kuat

Jaring Asmara

Kuat

Penyususnan AKU

Lemah

Penentuan Program Prioritas

Sangat Lemah

Musrenbang Kota

Sangat Lemah

Penentuan RKPD

Tidak Ada

Penyusunan RAPBD

Tidak ada

Sumber: hasil penelitian, 2006

Berdasarkan bagan di atas ternyata semakin kebijakan akan dikeluarkan ternyata pengaruh masyarakat dalam mengakses dan

mempengaruhi kebijakan yang akan dikeluarkan oleh Pemerintah daerah

semakin lemah. Hal ini memberikan gambaran bahwa wewenang masyarakat untuk melaksnakan apa yang dinginkannya belum berjalan secara optimal sehingga pemerintah hendaknya memberikan gambaran secara umum dan pelibatan masyarkat terhadap usulan usulan yang masuk sehingga masyarakat dapat dengan mudah mengakses aspiarasi yang telah disampaikan. Pemerintah juga melalui Bappeda belum dapat memberikan informasi yang transparansi tentang penetuan program program pemerintah daerah. Perbedaan posisi yang dialami setiap tingkatan partisipasi memberikan gambaran bagaimana akses dan bergaining yang dimilki masyarakat dalam proses pengambilan kebujakan semakin lama semakin sulit. Aspek transparansi dari proses yang telah berlangsung terutama yang berkaitan dengan kebijakan kebijan yanmg diambil kadang kal tidak terekspos media dengan baik. Ketika musrenbang kelurahan masyarakat dapat secara langsung menyampaikan aspirasinya tampa ada yang menghalangi sehingga akses dapat dengan mudah diperoleh, mulai musrenbang kecamatan hanya ada indikaot keterwakilan saja tampa adanya aspirasi yang masuk melalui sisitem yang ada sehing kadang kal usulan dari keluran tidak lagi dibahas di tingkat yang lebih tinggi

BAB VI PENUTUP

6.1. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian Analisis Implementasi Program

Penjaringan Aspirasi Masyarakat pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bengkulu, maka dapat disimpulkan hal hal sebagai berikut: 1. Bahwa dari sekian banyak aspirasi yang masuk dari kegiatan penjaringan aspirasi masyarakat (Jaring Asmara) banyak sekali aspirasi pada sektor pekerjaan umum, hal ini disebabkan sarana dan prasarana yang ada kondisisnya banyak yang rusak dan perlu mendapatkan perbaikan walaupun setiap tahun suadah ada dilakukan perbaikan dan pembangunan. 2. Proses penjariang aspirasi masyarakat pada umumya telah melalui proses yang baik, baik dari tingkat kelurahan, kecamatan sampai dengan tingkat kota tetapi dalam implementasi belum banyak program yang dapat direalisasikan karena minimnya dana pembangunan. 3. Perencanaan pembangunan di Kota Bengkulu belum berjalan secara optimal karena hanya melibatkan pihak dari masyakat yang umum tetapi pelibatan kepada LSM, Ormas dan Perguruan Tinggi belum dilibatkan. 4. Belum berjalannya transparani perencanaan kepada publik sehubungan informasi pembangunan Kota Bengkulu yang menyebabkan kebingungan masyarakat apa yang dilakukan pemerintah.

6.2.Saran Setelah melakukan analisis dan pembahasan dari hasil penelitian yang ada tentang Analisis Implementasi Program Penjaringan Aspirasi Masyarakat pada Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kota Bengkulu, maka hasil dari penelitian perlu disarankan sebagai berikut : 1. Bahwa dasar penyusunan program Pemerintah Kota Bengkulu sekiranya dapat ditentukan dari hasil penjaringan aspirasi masyarakat karena dari hasil yang diperoleh adalah kebutuhan real dari masyarakat. 2. Perlu adanya media dalam perencanaan pembangunan Kota Bengkulu kepada masyarakat umum sehingga adanya semangat yang sama untuk membangun Kota Bengkulu baik berupa webside, pamflet ataupun media lainnya.
3.

Program Jaring Asmara hendaknya dapt dipertahankan dan ditingkatkan agar dapat terjalin komunikasi yang baik dalam perencanaan pembangunan antara pemerintah dengan masyarakat. Saran diatas paling tidak dapat diajukan acuan ke depan baik bagi

Pemerintah Kota terutama Bappeda Kota Bengkulu maupun masyarakat, sehingga dapat mempertahankan apa yang sudah ada dan memperbaiki kekurangan dan yang belum terlaksana selama ini demi kebaikan di masa yang akan datang.

DAFTAR PUSTAKA

Dwiyanto, Agus dkk. 2002. Reformasi Birokrasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Pusat Studi Kependudukan dan Kebijakan UGM Edward, George C. 1980. Implementasi Publik Policy. Wsahinton DC: Consessional Quality Press Gibson, James L. Invencevich . Jiohn & Donelly J. 1990. Organization. Diterjemahkan Savitri dkk. Jakarta. Erlangga Jones, Charles O. 1991. Publik policy. Diterjemahkan Ricky Iswanto. Jakarta: Rajawali Koentjaraningrat. 1983. Kebudayaan Mentalitas dan Pembangunan. Jakarta: PT Gramedia Nigro dan Nigro. 1980. Modern Publik Administration. New York: Harper and ROW Ndraha T. 1983. Pembangunan Masyarakat Desa. Jakarta: Bina Aksara Ndraha T. 1991. Kemampuan Administrasi Masyarakat Desa dan Perannya dalam Pembangunan Desa. Yogyakarta: UGM Rasyid, Ryass. 2000. Makna Pemerintah: Tuinjaunan dari SEgi Etika dan Kepemimpinan. Jakarta: Mutiara Sumber Widya Schein, Edgar H. 1983. Organization Psychology. Diterjemahkan Nurul I. Jakarta: Pustaka Binaman Presindo Siagian, Sondang: 1997. Filsafat Administrasi. Jakarta: Gunung Agung Solihin, Abdul Wahab. 1991. Pengantar Analisis Kebijakan Negara. Jakarta: Rhineka Cipta Suparlan. Y.B. 1983. Kamus Istilah Kesejahteraan Sosial. Yogyakarta: Pustaka Pengarang Tjokroamidjojo, Bintara. 1984. Pengantar Administrasi Pembangunan. Jakarta: LP3ES

Koran, Jurnal dan Peraturan Pemerintah Bahari, Rahmad. 2005. Partisipasi Publik dan Penyelenggaraan Negara Demokrasi. Seri Pendidikan Publik no. 7. Jakarta: IPCOS Katalog BPS no. 117234 PDRB Kota Bengkulu, 2003 Propeda Kota Bengkulu, 2004 Kompas. 2001, Pemerintah dan Pelayanan Publik, Kompasd 23 Juni 2001 Laporan Penjaringan Aspiurasi masyarakat Kota Bengkulu, 2003 Laporan Penjaringan Aspiurasi masyarakat Kota Bengkulu, 2004 Laporan Penjaringan Aspiurasi masyarakat Kota Bengkulu, 2005 Situs Internet http.//www.Apeksi.or.id http.//www.asianfundasion.org http.//www.google.com http.//www.jipi.or.id http.//www.Lesung.com http.//www.suarakarya \online.com/news http.//www.undp.com