Anda di halaman 1dari 28

Sejarah Filsafat Ilmu Perencanaan

Tugas Makalah II Filsafat Ilmu Pengetahuan

Muhammad Fathoni

Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Program Studi Doktor Transportasi Institut Teknologi Bandung 2012

SEJARAH FILSAFAT ILMU PERENCANAAN

A. FILSAFAT PERENCANAAN A.1. Definisi Perencanaan menurut Abe (2001, 43) tidak lain dari susunan (rumusan) sistematik mengenai langkah (tindakan-tindakan) yang akan dilakukan di masa depan, dengan didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan yang seksama atas potensi, faktor-faktor eksternal dan pihak-pihak yang berkepentingan dalam rangka mencapai suatu tujuan tertentu. Dalam pengertian ini, termuat hal-hal yang merupakan prinsip perencanaan, yakni : (1) apa yang akan dilakukan, yang merupakan jabaran dari visi dan misi; (2) bagaimana mencapai hal tersebut; (3) siapa yang akan melakukan; (4) lokasi aktivitas; (5) kapan akan dilakukan, berapa lama; dan (6) sumber daya yang dibutuhkan. Bersesuaian dengan pendapat di atas, Tjokroamidjojo (1992, 12) mendefinisikan perencanaan sebagai suatu cara bagaimana mencapai tujuan sebaik-baiknya (maximum output) dengan sumber-sumber yang ada supaya lebih efisien dan efektif. Selanjutnya dikatakan bahwa perencanaan merupakan penentuan tujuan yang akan dicapai atau yang akan dilakukan, bagaimana, bilamana dan oleh siapa. Menurut Ovalhanif (2009), filsafat perencanaan adalah suatu studi tentang prinsipprinsip dalam proses dan mekanisme perencanaan secara mendalam, luas, dan menyeluruh berdasarkan filsafat antologis, epistemologis, dan aksiologis. Filsafat perencanaan juga diharapkan akan dapat menguraikan beberapa komponen penting perencanaan dalam sebuah perencanaan yakni tujuan apa yang hendak dicapai, kegiatan tindakan-tindakan untuk merealisasikan tujuan dan waktu kapan bilamana tindakan tersebut hendak dilakukan.

A.2. Urgensi Perencanaan Pada tahap awal kemunculan perencanaan kota, urgensi dari perencanaan ini adalah menciptakan suatu keteraturan bangunan secara fisik tanpa kompleksitas yang tinggi karena jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak dan kompleksitas masalah yang tidak terlalu tinggi. Pada akhir tahap awal ini, bangunan fisik kota yang teratur merupakan simbol bagi kekuatan pemerintahan yang sedang berlangsung. Persaingan antar kota kerajaan untuk

membuktikan simbol tersebut menjadi urgensi perencanaan kota pada tahap ke dua. Pembangunan kota lebih diarahkan pada pembangunan fisik kota yang mendukung kegiatan perang seperti konstruksi dinding pertahanan kota dan jalan dengan pola radial-concentric. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk maka kompleksitas perkotaan semakin meningkat. Selain itu, penemuan teknologi baru membawa dampak yang sangat signifikan terhadap perencanaan kota. Dalam hal ini, timbul masalah baru yang harus mendapat penyelesaian. Oleh karenanya, urgensi perencanaan kota pada tahap ke tiga ini adalah merespons permasalahan kota yang timbul akibat perkembangan teknologi. Kondisi ini tidak berubah pada tahap ke empat. Hanya saja, dengan kompleksitas masalah yang lebih tinggi dan populasi yang lebih besar. Adapun catatan penting yang diperoleh pada tahapan ini adalah beberapa masalah yang sebelumnya merupakan domain ilmu perencanaan mulai diambil alih oleh disiplin ilmu lain. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan teknologi yang semakin futuristic dan massive. Contohnya adalah inovasi di bidang arsitetur. Beberapa konsep dan design utopis kota masa depan menunjukkan bahwa suatu kota di masa depan dimungkinkan untuk berada pada suatu bangunan saja, dimana penduduknya bisa bertahan hidup di dalam bangunan tersebut mulai dari lahir sampai meninggal. Ketika rancangan ini mulai diterapkan di banyak kota yang berkepadatan tinggi maka masalah perencanaan kota dapat terselesaikan. Hal ini berarti disiplin ilmu arsitektur mulai mengconquer ilmu perencanaan kota. Ketika muncul masalah maka planning bereaksi dengan memberikan usulan rencana pembangunan baik secara fisik. Hal ini berarti bahwa ketika tidak ada masalah maka tidak dibutuhkan perencanaan. Dalam perkembangannya, perencanaan kota mulai berkembang tidak hanya terbatas pada domain perencanaan fisik, tetapi meliputi perencanaan secara fisik, sosial, dan ekonomi yang lebih dikenal dengan konsep comprehensive planning. Pada perkembangan lebih lanjut, masalah yang pada awalnya dapat diselesaikan melalui perencanaan, mampu diselesaikan oleh kemajuan teknologi. Hal ini berarti bahwa perencanaan tidak dibutuhkan lagi. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa ilmu perencanaan akan tetap ada selama ada masalah perkotaan dan kecenderungan arah gerak perencanaan kota mulai berpindah dari perencanaan secara fisik ke perencanaan non-fisik. Gideon Sjoberg (The Pre Industrial City, 1960) mengemukakan adanya adanya tiga tingkatan organisasi manusia menuju kepada terbentuknya pusat-pusat urban, yaitu: Pre-urban feudal society, yakni masyarakat feodal sebelum adanya kota-kota. Pre-industrial feudal society, yakni masyarakat feodal sebelum adanya industri. Modern industrial feudal, yakni masyarakat feodal dengan industri maju.

B. PERKEMBANGAN FILSAFAT PERENCANAAN Kegiatan Sejarah perencanaan kota berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Dalam sejarah perencanaan wilayah, pada awalnya kota dilihat secara fisik dan pada saat itu tipe perencanaan induk (master planning) banyak dipakai. Tipe perencanaan ini berasal dari bidang arsitektur; jadi memang lebih bersifat perencanaan fisik bangunan. Pada saat kehidupan mulai lebih kompleks, kota tidak hanya dilihat secara fisik tapi juga dari aspekaspek lain, dan hal ini mendorong timbulnya tipe perencanaan komprehensif (menyeluruh). Tipe ini berusaha mengatasi setiap persoalan yang datang dari seluruh aspek kehidupan kota. Setelah beberapa dekade, banyak kritik dilontarkan ke tipe ini bahwa cakupan perencanaan komperehensif terlalu luas dan tidak mungkin tercapai, sedangkan banyak keterbatasan yang menjadi kendala dalam mengatasi seluruh permasalahan. Tipe perencanaan strategis menyarankan untuk mengatasi hanya beberapa permasalahan yang utama (yang strategis) saja, karena ketersediaan sumberdaya untuk mengatasi permasalahan juga terbatas. Cara berpikir yang hampir serupa dilontarkan oleh tipe perencanaan inkrimental, yaitu untuk mengatasi sebagian permasalahan saja (tidak perlu seluruhnya). Hanya saja perencanaan inkrimental tidak mengharuskan bagian demi bagian yang diatasi perlu mempunyai konsistensi dan kesinambungan, karena tergantung situasi dan kondisi yang dihadapi (yang mungkin berbeda dari waktu ke waktu). Keempat tipe perencanaan di atas (perencanaan induk, komprehensif, strategis, dan inkremental) menghasilkan satu rencana yang bersifat publik untuk satu wilayah perkotaan. Produk perencanaan berupa (hanya) satu rencana yang disepakati oleh publik. Hal ini dipandang tidak mungkin oleh tipe perencanaan advokasi, karena itu tipe ini mengusulkan adanya banyak rencana yang mewakili banyak kepentingan (terutama kepentingan yang tidak diuntungkan oleh cara pengambilan keputusan publik yang ada saat itu). Kritik terhadap ketidakadilan dalam proses perencanaan juga dilontarkan oleh tipe perencanaan ekuiti. Tipe ini memperjuangkan kepentingan masyarakat miskin dan arus bawah agar dapat masuk ke dalam proses perencanaan (tidak peduli ada satu atau beberapa rencana).

C. KRONOLOGI FILSAFAT PERENCANAAN DUNIA Secara umum, perkembangan sejarah perencanaan di dunia dapat dibagi dalam 7 (tujuh) periode yaitu era pra Yunani, era Yunani, era Romawi, era abad pertengahan, era Renaissance dan Baroque, era Revolusi Industri, dan era milenium saat ini dengan skema sebagai berikut :

C.1. Periode Pra Yunani/Zaman Perunggu (4.000 SM s/d tahun 400 SM) Sejarah perencanaan kota berlangsung sejak ribuan tahun yang lalu. Perencanaan kota pada zaman sebelum Masehi berkaitan dengan sejarah kemunculan kota-kota kuno. Kota diartikan sebagai konsentrasi penduduk pada suatu wilayah yang lebih tinggi dari pada wilayah disekitarnya. Kota dalam artian ini sudah ada jauh sebelum ada perencanaan. Jumlah penduduk yang relatif belum banyak membuat kompleksitas dalam sejarah awal perencanaan kota tidak begitu besar. Para ahli arkeologi kota-kota kuno di dunia mengungkap bahwa terdapat beberapa bukti yang menunjukkan terdapat perencanaan yang disengaja yang dilihat dari penataan perumahan secara teratur, pola-pola persegi, dan peletakan bangunan religius dan sosial di sepanjang jalan utama kota. Kota-kota kuno di Sumeria tercatat sebagai planned cities (kota yang terencana) yang pertama pada tahun 4.000 SM. Kota Mesopotamia kuno ini secara geografis tidak memiliki perlindungan alam suatu kota. Hal ini menyebabkan kota tersebut seringkali dikuasai bangsa asing silih berganti. Meskipun dalam perancangan kotanya sudah menerapkan sistem kota benteng dengan membangun benteng di garis luar kota Mesopotamia dengan dilengkapi parit-parit. Pada umumnya kota ini berpenduduk 3.000 sampai dengan 5.000 jiwa dengan pusat kota berupa bangunan setinggi 30 meter yang dikenal dengan nama ziggurats. Bangunan ini berfungsi sebagai kuil penyembahan dewa dan observatories dengan dikelilingi oleh dinding kokoh bersama istana dan bangunan-bangunan lainnya.

Zigurat sebagai Pusat Kota Babilonia

Salah satu kota yang terkenal adalah Babylonia yang mencapai masa kejayaan saat Nebuchadnezzar membangun ulang kota ini dengan simbol yang terkenal hingga kini, Hanging Gardens Palace (kota taman gantung).

Taman Gantung Babilonia

Secara umum, ciri utama kota dari periode ini seperti Babilon di Irak dan Ur di Turki adalah : 1. Merupakan kota-kota kerajaan 2. Motivasi masyarakat tinggal di kota tersebut adalah untuk jaminan keamanan dan peribadatan.

3. Deskripsi pengaruh iklim dalam penciptaan halaman rumah dan sistem rute kota 4. Dihuni kurang lebih antara 3.000 5.000 orang penduduk 5. Berbentuk kota benteng (dikelilingi benteng-benteng) sebagai benteng pertahanan, 6. Berperan sebagai pusat perdagangan bagi hasil-hasil pertanian daerah sekitarnya, dan tempat pengolahan barang-barang (manufaktur), serta kesenian 7. Selalu berada di tepi sungai-sungai besar seperti Mesopotamia yang berada di antara sungai Eufrat dan Tigris. Hal ini menjadi faktor utama pemilihan lokasi kota dan bermanfaat sekaligus bagi pertanian, pertahanan, dan transportasi)

Berbeda dengan Mesopotamia, kota-kota di Mesir Kuno (Kahun dan Giza) setelah abad ke 14 SM tidak memiliki benteng-benteng yang mengelilingi kota. Hal ini mungkin disebabkan oleh kekuasaan Firaun yang menjadi sentral pemerintahan dan keamanan untuk melindungi seluruh kota dataran rendah Sungai Nil. Beberapa poin ciri perancangan kota di era Mesir kuno antara lain: a. Bentuk kota yang grid-iron b. Perumahan penduduk saling membelakangi

c. Perumahan besar dengan halaman berderet di sepanjang jalan besar d. Penduduk bergerak di bidang pertanian dan konstruksi bangunan

Peradaban Kota Mesir

Adapun kota di India kuno telah membawa pengaruh yang besar terutama ke Asia Timur sejak kelahiran dan penyebaran agama Budha. Sejumlah elemen arsitektur India seperti stupa, sikhara, pagoda (meru), torana (gerbang) telah menjadi simbol terkenal arsitektur Hindu dan Budha yang berkembang dan digunakan di Asia Timur

dan Asia Tenggara. Kota Harappa dengan bangunan Citadel dikelilingi oleh dinding batu bata atau gundukan tanah. Didirikan dengan batu bata dengan ketinggian 40 kaki. Didalam dinding diatas bidang permukaan tanah liat berdiri bangunan citadel.

Peradaban Kota India Kuno

Sementara itu, wilayah Mesoamerika (Amerika Tengah) pada periode ini ditandai juga sebagai tempat berkembangnya beberapa budaya maju pertama di Amerika seperti Olmec, Teotihuacan, Maya, dan Aztec. Budaya-budaya ini telah mengembangkan masyarakat yang kompleks, mencapai evolusi teknologi tingkat tinggi, membangun arsitektur monumental, dan menyumbangkan banyak kondisi dan konsep budaya. Bangsa Aztec adalah bangsa yang gemar berperang, bagi mereka perang merupakan bagian dari budaya sendiri dan bagian dari sistem kepercayaan. Mereka mempercayai bahwa matahari adalah sumber kehidupan dan harus terus dipelihara, agar terus beredar pada orbitnya dan berputar terbit dan tenggelam, mereka harus mengorbankan darah sebagai pelumas yang upacaranya dilaksanakan di atas altar, puncak piramid. Tata ruang kota peradaban Aztec berupa permukiman berpola grid-iron dengan jalur utama (aksis) kota. Bangunan utama berdiri sepanjang jalur jalan utama kota. Dibelakang bangunan utama kota bertebaran perumahan penduduk. Bentuk bangunan sebagian besar berpola geometris-piramid persegi empat.

Peradaban Kota Aztek, Amerika Tengah

C.2. Periode Yunani (tahun 400 SM s/d 100 SM) Era Yunani termasuk salah satu era yang berpengaruh secara berkelanjutan dalam perkembangan kota. Seiring dengan perkembangan sense of order and structure, perkembangan kota pun meningkat dengan kemunculan Hippodamus pada tahun 480 SM sebagai the first city planner (perencana kota yang pertama ) dan peletak dasar teoritis perencanaan fisik kota. Ia mengembangkan filosofi dasar dalam perencanaan kota secara fisik dimana suatu kota harus tertata secara rectangular street system (grid iron pattern) yang membuat kota terbentuk secara geometris. Selain itu ia juga mengembangkan konsep pusat perdagangan kota di tengah rectangular area tersebut. Konsep ini pun dilanjutkan oleh Bangsa Roma dengan membangun bangunanbangunan religious dan sosial di sepanjang jalan utama kota. Pada Era Yunani, tempat tinggi/bukit sangat disakralkan. Tempat tinggi tersebut berupa benteng puncak bukit yang digunakan sebagai tempat peribadatan kepada para dewa. Akropolis merupakan suatu contoh tempat peribadatan orang Yunani pada Dewa yang dipercaya disana terletak harta karun para dewa dan artefak-artefaknya, terletak di puncak bukit dan kota Athena berkembang di bawah bukit tersebut.

Acropolis Yunani Akropolis merupakan salah satu contoh karya Yunani kuno dengan limited entities karena bisa dilihat tata bangunan Acropolis yang berujung pada Partenon tidak memiliki kesatuan/unity. Hal ini dikarenakan dalam perancangan Acropolis, arsitek langsung merancang on site. Perancangan langsung diatas tapak yang berbukit sehingga faktor kontur sangat berpengaruh. Namun, perancangan Acropolis bukan tanpa konseo. Arsitek menggunakan konsep Serial of Vista dalam merancang Acropolis. Konsep disini memainkan emosi pengunjung disana. Bangunan partenon sebagai tujuan akhir dipermainkan visualnya dengan tatanan bangunan di sekitarnya seiring berjalannya pengunjung menuju Partenon. Berikut siteplan dari Acropolis:

Siteplan Akropolis Yunani

Secara umum, ciri utama kota dari periode ini terutama yang berada di negeri peradaban Yunani seperti Athena di Yunani, Miletus dan Priene di Mesir, dan Thurij di Italia adalah : Merupakan kota dengan munculnya wacana demokrasi (kekuasaan tidak di tangan raja)

Memiliki tempat-tempat persidangan demokrasi (pnyx/lapangan terbuka) yang mengganti istana raja sebagai pusat kota Kegiatan yang bersifat publik (pertemuan) lebih banyak di rumah, daripada di ruang yang semestinya menjadi ruang publik seperti jalan. Arsitek di zaman Yunani Kuno dalam merancang kota memiliki pandangan yang dominan tentang keterbatasan sehingga menyikapi keterbatasan tersebut, segala ide harus terukur sehingga komprehensif dan bisa dikerjakan maka perancangan menggunakan skala manusia.

Pandangan keterbatasan juga membuat rumah-rumah hanya bangunan-bangunan kecil di kota yang bercampur-campur. Jaringan jalan bukan merupakan pola pembentuk kota, melainkan lahan-lahan sisa yang digunakan untuk sirkulasi saja, namun memiliki pola sejajar/grid. Terjadi sub urbanisasi karena ditinggal warganya untuk tinggal di daerah pinggiran Jumlah penduduknya diperkirakan antara 40.000-100.000 jiwa Motivasi hidup pada era Yunani adalah untuk berlindung/mencari keamanan.

C.3. Periode Romawi (tahun 100 SM s/d 500 M) Bangsa Romawi berasal dari masyarakat Agrikultur-militer yaitu bangsa/kaum petani yang suka berperang dan berekspansi ke sekitar Laut Tengah, Eropa Utara dan Barat serta sebagian Asia dan Afrika. Kontribusi utama Bangsa Roma atau terkenal dengan pandangan Pax Romano terhadap perkembangan perencanaan kota adalah penempatan pusat pemerintahan di tengah kota sebagai simbol dari kekuatan pemerintah. Pada tahap ini, perkembangan perencanaan kota terfokus pada bentuk bangunan kota dan design kota yang berbasiskan axis style ( gaya poros ). Ciri utama kota pada masa ini adalah jumlah penduduk tidak melebihi batas 50.000 penduduk dengan alasan sistem infrastruktur kota yang dibatasi oleh dinding tebal sebagai benteng dan masalah ketersediaan air. Selain itu, pola jalan yang awalnya berbentuk rectangular berganti menjadi radial-concentric dengan dua alasan: Pertama, karena jalur-jalur jalan yang menghubungkan kota dengan sekeliling daerah tepian kota secara alami menyebar dari permukiman awalnya ke empat arah atau lebih;

10

dengan semakin tumbuhnya kota, jalur-jalur jalan tersebut menjadi jalur-jalur berpola radial yang permanen; Kedua, pola radial concentric tersebut sesuai dengan karakteristik sistem pertahanan luar yang melingkar dari semua kota-kota pada zaman pertengahan.

Peta Kota Pompeii, Romawi

Keberhasilan menaklukkan wilayah lain membuat Romawi membangun jalanjalan di seluruh imperiumnya dari Inggris sampai Babilon dan dari Spanyol sampai Mesir. Pembangunan jalan-jalan tersebut bertujuan untuk memperlancar arus komunikasi dan perdagangan dari Roma dan memudahkah pasukan bergerak untuk mengamankan dan menumpas pemberontakan Secara umum, ciri utama kota dari periode ini terutama yang berada di negeri peradaban Romawi seperti Byzantium di Turki, dan Roma di Italia adalah : penempatan pusat pemerintahan di tengah kota sebagai simbol dari kekuatan pemerintah bangunan kota dan design kota yang berbasiskan axis style ( gaya poros ) dengan pola jalan berbentuk radial-concentric pusat kegiatan terdapat pada bangunan religius seperti gereja dan katedral jumlah penduduk tidak melebihi batas 50.000 penduduk

11

merupakan kota militer di seluruh imperium Romawi dengan maksud untuk menegakkan citra hukum dan ketertiban Para Kaisar Romawi berlomba-lomba membuat bangunan sebagai tanda kebesaran dirinya dengan membuat tempat pertemuan umum (forum) yang sering digunakan untuk pertemuan politik dan bisnis

Kemampuan dalam teknologi bangunan lebih maju dari pada bangsa Yunani, seperti dalam pembuatan saluran air Konsep penataan bangunan dan landscape perkotaan dirancang secara integratif. Perancangan bangunan selalu berorientasi kedalan skala yang lebih luas atau dalam skala kota demikian juga sebaliknya.

Pada era Romawi, penduduk memiliki motivasi hidup selain keamanan juga karena adanya kekuatan politik dan organisasi. Dalam perancangan kota, juga menggunakan modul yang abstrak, berupa deretan rumah-rumah. Dalam suatu kota, benteng merupakan bangunan yang utama untuk dibangun terlebih dahulu, kemudian baru diikuti rumah-rumah penduduk di dalam benteng tersebut.

C.4. Periode Abad Pertengahan (tahun 500 M s/d 1.500 M) Pada era ini, peran agama Kristiani sangat berpengaruh pada perencanaan kota. Asal mula munculnya kota-kota di abad pertengahan adalah kemunduran Romawi yang meninggalkan banyak dampak di penjuru Eropa dimana tumbuh komunitas-komunitas kecil yang berkembang menjadi komunitas baru karena memiliki lokasi tapak yang layak dan subur. Komunitas tersebut tumbuh menjadi kota yang hidup dan terus berkembang, sehingga kota bentengpun terus berkembang. Karakter Kota Abad Pertengahan merupakan proses pertumbuhan kota dari peradaban yang tidak aman kepada peradaban baru. Pada kota-kota awal Abad Pertengahan kebanyakan kota tumbuh tidak terencana (organic growth), contohnya kota Cesky Krumlov. Selanjutnya pada pertengahan Abad Pertengahan kondisi kotakota menjadi tidak aman, sehingga dibangun benteng-benteng sebagai pertahanan, sehingga tumbuh menjadi kota benteng. Perencanaan kota baru pada akhir Abad Pertengahan menggunakan pola grid iron pada lahan kosong contohnya kota Monpazier. Market square dan gereja merupakan ciri khas Kota Abad Pertengahan.

12

Perencanaan kota Abad Pertengahan dipengaruhi oleh kondisi social, ekonomi dan politik. Bangunan-bangunan Kota Abad Pertengahan dibangun dengan skala manusia, sehingga lebih manusiawi. Terjadi kebangkitan ekonomi di masa Abad Pertengahan, ditandai dengan banyaknya kegiatan perdagangan. Akibatnya adalah, square mengalami perubahan fungsi dari simbol kekuasaan pada masa Yunani dan Romawi menjadi pusat kegiatan ekonomi di Kota Abad Pertengahan. Secara umum, dari kota di abad pertengahan antara lain: Motivasi hidup juga untuk keamanan dan mengembangkan persaudaraan (Sosialitas) Kota benteng yang ada, sedikit demi sedikit dikuasai oleh biara-biara, sehingga menjadikan biara tersebut sebagai pusat kota. Benteng yang melindungi kota berbentuk melingkar. Kota kecil di sekitar biara dan benteng tumbuh secara natural dari pintu gerbangnya hingga membentuk jaringan jalan dan berpola radiocentric (radial). Memiliki pandangan keterbatasan ruang seperti era Yunani dan mulai menggunakan penataan abstrak seperti aksis. Menggunakan skala manusia. bersifat tangibel/terlihat atau mudah dikenalidan tidak disorientasi. Sebagai contohnya, suatu koridor jalan akan memperlihatkan suatu menara gereja dimana selalu terlihat sepanjang jalan itu, sehingga bisa digunakan sebagai ancar-ancar sehingga tidak akan tersesat. Tidak memiliki hierarki jalan.

Lukisan Kota Akhir Abad Pertengahan

13

C.5. Periode Renaissance dan Baroque (tahun 1.500 M s/d 1.800 M) Sebelum era Renaissance, di abad XV dimana merupakan fajar ilmu pengetahuan, ditemukan bubuk mesiu sehingga di era Renaissance memiliki motivasi hidup yang berbeda dari era-era sebelumnya, karena kota benteng di era ini sudah tidak berfungsi lagi, karena senjata perang bisa menggunakan bahan peledak yang bisa meledakkan benteng sekalipun. Beberapa ciri yang bisa diambil dari kota di Era Renaissance antara lain: Bentuk kota bintang dengan jalan yang bercabang dari titik pusatnya. Titik pusat kota biasa berupa gereja/biara. Perancangan kota dilakukan on paper (diatas kertas) Bentuk bangunan simetris penuh dan bersifat utopian. Motivasi hidup di kota terutama untuk bersosialitas dan peribadatan ditandai dengan gereja sebagai pusat kota,

Konsep kota di Renaissance

Era baroque merupakan suatu era perubahan dari Renaissance yang cenderung simetris menjadi bentuk-bentuk dinamis, lengkung, dan berlebihan. Baroque merupakan istilah untuk mengkategorikan perkembangan peradaban manusia (termasuk seni) dalam sebuah era yang terjadi di Eropa. Sekitar tahun 1600-1750, gerakan ini terjadi. Oleh karena itu, merupakan bagian akhir dari zaman renaisance dan merupakan awal gerakan protestantism yang terjadi di Jerman bagian utara dan Belanda. Baroque mempunyai arti mutiara pelengkap yang bentuknya tidak teratur atau tidak simetris. Pada masa tersebut, kesalehan diabaikan, sebaliknya uang menentukan segalanya. Dunia materi makin mantap, sedangkan spiritual makin tidak karuan. Sementara percetakan makin menyebarluaskan informasi, humanisme berkembang pesat. Pada era Baroque, juga dikenal hedonisme dan peleburan elemen arsitektural

14

dalam perancangan kota seperti implementasi patung/sculpture dalam perancangan kota di era Baroque. Kota-kota di era Baroque menerapkan konsep bangunan peribadatan sebagai pusat pemerintahan, hal ini bisa diterka bahwa masyarakat era Baroque memiliki motivasi hidup bersosialitas. Beberapa kota yang menganut aristektur Baroque memiliki fungsi sebagai tempat ibadah (San Benedetto, Catania), sebagai pusat pemerintahan, tempat ziarah dan tempat pusat interaksi kegiatan masyarakat baik formal maupun informal.

Era Baroque di Istana Versailles, Perancis

Istana Versailles merupakan bangunan istana terbesar dalam sejarah seni Arsitektur French Baroque. Di areal seluas 18 km persegi di barat daya Paris, kompleks istana ini berdiri megah dengan luas 250 meter persegi. Istana ini dibangun oleh Louis XIV untuk mengenang ayahnya Raja Louis XIII.

C.6. Periode Industrialisasi (tahun 1.800 M s/d Abad 20) Jumlah penduduk yang relatif belum banyak membuat kompleksitas dalam sejarah awal perencanaan kota tidak begitu besar. Dalam perkembangannya jumlah penduduk makin meningkat sejalan dengan pertumbuhan kota. Beberapa penemuan di bidang sains ikut mengubah pola hidup dan bentuk kota di masa lalu. Penemuan mesin uap yang memulai era industrialisasi di daratan Eropa, membawa pengaruh yang sangat signifikan terhadap bentuk kota. Hal-hal ini berimplikasi terhadap peningkatan kompleksitas perencanaan kota. Perubahan moda transportasi menjadi mesin-mesin membawa dampak terhadap pengingkatan permasalahan, bahaya keselamatan, dan polusi air serta polusi udara. Untuk merespons peningkatan kompleksitas dalam kegiatan perkotaan, maka berkembanglah ilmu perencanaan.

15

Mesin uap mengawali era industrialisasi di Eropa yang berarti bahwa tenaga kerja manusia dapat didukung atau bahkan digantikan oleh mesin-mesin. Perubahan yang signifikan terjadi pada pola hidup perkotaan saat itu hingga membawa dampak yang signifikan pula. Kota yang pada awalnya hanya terbatas pada tembok-tembok tinggi mulai meluas ke luar dengan adanya infrastruktur transportasi yang lebih efektif dan efisien. Hal ini mengubah bentuk kota menjadi lebih massive dan kompleks sehingga menimbulkan dampak negatif. Impact yang ditimbulkan berupa peningkatan congestion, new safety hazards, dan polusi air serta polusi udara. Selain itu bentuk kota mulai menjadi tidak teratur dengan akses transportasi yang maju pada masa itu dan munculnya wilayah suburban. Menanggapi hal ini maka berkembanglah ilmu perencanaan kota dengan munculnya gerakan reformasi (akhir abad ke-19), dengan undang-undang kesehatan masyarakat yang berkaitan dengan standar perumahan, pengontrolan penggunaan lahan dan tinggi bangunan muncul beberapa regulasi mengenai standar perumahan di Inggris, improved street and urban railway system di Eropa, dan zoning control di Amerika Serikat. Termasuk di dalamnya adalah gerakan anti revolusi industri, sperti Robert Owen dengan perumahan koperasinya dan JS. Buckingham dengan membentuk masyarakat kehidupan sederhana. Tak kalah juga, beberapa pendukung revolusi industri melahirkan konsepkonsep tentang kota baru seperti Sir Titus Salt yang membangun Kota Saltair di Inggris, Keluarga Krupp mendirikan Kota Essen di Jerman, serta George Cadbury memindahkan ke Kota baru Bournville. Kesemua kota baru tersebut selain untuk pabriknya juga untuk menampung pekerjanya. Pada akhir abad ke 19 muncul gagasan Garden city of Tomorrow atau Kota Taman yang merupakan kristalisasi konsep kota baru dalam mengurangi masalah kota industri). Konsep ini dipopulerkan oleh Ebenezer Howard yang menjadi awal pergerakan perencanaan kota pada abad ke 20. yaitu Ebenezer Howard (1896). Selain itu, muncul juga Patrick Gaddes, yang menyarankan perencanaan fisik tidak dapat meningkatkan kondisi kehidupan kota, kecuali jika diterpakan secara terpadu dengan perencanaan ekonomi dan social yang berkaitan dengan lingkungan. Gaddes menyebutnya urban conurbation. Beberapa ciri yang bisa diambil dari kota di Era Renaissance antara lain:

16

Jumlah pekerja yang bertambah memunculnya persoalan permintaan permukiman bagi pekerja di sekitar pabrik yang pada akhirnya juga memerlukan sarana penunjang lainnya

Munculnya kapal uap dan kereta api uap (1800 an). Kota menjadi lebih terbuka dengan dibangunnya infrastruktur rel kereta api yang dapat menghubungkan ke daerah luar kota

Mulainya periode industrialisasi yang intensif yang ditandai kemacetan lalulintas, polusi udara dan air.

C.7. Periode Modern (Abad 20 s/d sekarang) Perencanaan kota modern berangkat dari isu penurunan standar hidup di perkotaan akibat penurunan kualitas lingkungan perkotaan sebagai implikasi dari penggunaan kendaraan bermotor. Namun dalam perkembangannya muncul masalah baru pada sektor ekonomi dan sosial. Pertumbuhan penduduk yang semakin tinggi tidak sejalan dengan pertumbuhan suplai makanan sehingga menimbulkan masalah ekonomi. Pertumbuhan dan perkembangan kota yang menarik resources dari wilayah sekitarnya menimbulkan kesenjangan kualitas kehidupan antara kota dan desa. Hal ini merupakan contoh masalah sosial yang muncul pada masa itu. Menanggapi kondisi ini maka ilmu perencanaan kota berkembang dengan muncul konsep comprehensive planning, development controls, dan sustainable development. Pada tahap awal kemunculan perencanaan kota, urgensi dari perencanaan ini adalah menciptakan suatu keteraturan bangunan secara fisik tanpa kompleksitas yang tinggi karena jumlah penduduk yang tidak terlalu banyak dan kompleksitas masalah yang tidak terlalu tinggi. Pada akhir tahap awal ini bangunan fisik kota yang teratur merupakan simbol bagi kekuatan pemerintahan yang sedang berlangsung. Persaingan antar kota kerajaan untuk membuktikan simbol tersebut menjadi urgensi perencanaan kota pada tahap ke dua. Pembangunan kota lebih diarahkan pada pembangunan fisik kota yang mendukung kegiatan perang seperti konstruksi dinding pertahanan kota dan jalan dengan pola radial-concentric. Seiring dengan pertambahan jumlah penduduk maka kompleksitas perkotaan semakin meningkat. Selain itu penemuan teknologi baru membawa dampak yang sangat signifikan terhadap perencanaan kota. Sehingga timbul masalah baru yang harus mendapat penyelesaian. Maka urgensi perencanaan kota pada tahap ke tiga ini adalah

17

merespons permasalahan kota yang timbul akibat perkembangan teknologi. Kondisi ini tidak berubah pada tahap ke empat. Hanya saja dengan kompleksitas masalah yang lebih tinggi dan populasi yang lebih besar. Namun catatan penting yang diperoleh pada tahapan ini adalah beberapa masalah yang sebelumnya merupakan domain ilmu perencanaan mulai diambil alih oleh disiplin ilmu lain. Hal ini berkaitan erat dengan perkembangan teknologi yang semakin futuristic dan massive. Contohnya adalah inovasi di bidang arsitetur. Beberapa konsep dan design utopis kota masa depan menunjukkan bahwa suatu kota dimasa depan dimungkinkan untuk berada pada suatu bangunan saja, dimana penduduknya bisa bertahan hidup di dalam bangunan tersebut mulai dari lahir sampai meninggal. Ketika rancangan ini mulai diterapkan di banyak kota yang berkepadatan tinggi maka masalah perencanaan kota dapat terselesaikan. Hal ini berarti disiplin ilmu arsitektur mulai meng-conquer ilmu perencanaan kota. Ketika muncul masalah maka planning bereaksi dengan memberikan usulan rencana pembangunan baik secara fisik. Hal ini berarti bahwa ketika tidak ada masalah maka tidak dibutuhkan perencanaan. Dalam perkembangannya perencanaan kota mulai berkembang tidak hanya terbatas pada domain perencanaan fisik, tetapi meliputi perencanaan secara fisik, sosial, dan ekonomi yang lebih dikenal dengan konsep comprehensive planning. Namun pada perkembangan lebih lanjut, masalah yang pada awalnya dapat diselesaikan melalui perencanaan, mampu diselesaikan oleh kemajuan teknologi. Hal ini berarti bahwa perencanaan tidak dibutuhkan lagi. Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa ilmu perencanaan akan tetap ada selama ada masalah perkotaan dan kecenderungan arah gerak perencanaan kota mulai berpindah dari perencanaan secara fisik ke perencanaan non-fisik. Beberapa poin ciri-ciri perancangan kota modern sebagai pengaruh arsitektur modern antara lain: Motivasi masyarakat untuk hidup memenuhi kebutuhannya, bukan lagi faktor keamanan yang utama. Kota membentuk pola yang jelas seperti linier, grid, radial. Media lahan tidak hanya berupa tanah, terdapat inovasi kota secara ekstrim seperti underwater city dan floating city. Terdapat inovasi seperti garden city, kota ini berpola radial, dengan kota pusat yang dikelilingi kota-kota kecil berkonsep garden city. Kedua jenis kota tersebut dipisahkan oleh area hijau juga dan dihubungkan dengan jalan-jalan.

18

D. KRONOLOGI FILSAFAT PERENCANAAN DI INDONESIA Secara umum, perkembangan sejarah perencanaan di Indonesia dapat dibagi dalam 6 (enam) periode yaitu era Pra Kolonialisme/VOC, era Kolonialisme/VOC, era Awal Kemerdekaan, era Orde Lama, era Orde Baru, dan era Reformasi saat ini dengan skema sebagai berikut :

D.1. Periode Pra VOC (4.000 SM s/d tahun 1.600) Pada tahap-tahap awal perkembangannya, kota-kota di Nusantara tidak memiliki basis perencanaan yang dapat dipelajari oleh generasi saat ini. Untuk menyebutkan sebuah kota pada masa pra-kolonial, berarti kota-kota kerajaan yang berkembang saat ini. Masalah yang terkait dengan urbanisasi sama sekali tidak pernah dicatat dan menjadikan sedikit sekali yang diketahui tentang perencanaan kota prakolonial. Dalam konteks perencanaan kota saat itu, pengaruh kepercayaan terhadap Roh atau Kekuatan Alam menentukan pola pengaturan ruang masyarakat. Meskipun dapat ditelusuri bahwa pola pengaturan ini berkaitan erat dengan praktek kepercayaan yang dimiliki oleh masyarakat dan terkait pula dengan hirarki sosial yang terbentuk saat itu. Pola ruang ditentukan oleh pengetahuan dan persepsi masyarakat terhadap keseimbangan kekuatan alam dan roh. Raja, sebagai penguasa wilayah yang berada di kota, merupakan pusat dari kekuatan penyeimbang tersebut, sehingga menempati kedudukan sentral pada sebuah kota. Dalam hal tersebut, perencanaan kota di Indonesia tidak diawali dari sesuatu yang disebut masalah perkotaan. Pengetahuan dan praktek lokal menentukan pola pengaturan ruang dalam upaya penyeimbangan antara kekuatan roh, alam, dan hubungan antarmanusia. Praktik seperti ini masih sangat kental untuk warga kota di Bali, meskipun diterapkan semakin terbatas karena pengaruh kapitalisme ruang yang tidak dapat dibendung. Pada pengetahuan lokal tersebut, ruang diatur dengan pusat sentral di tengahtengah kota. Ada elemen-elemen umum yang berada di pusat, seperti tempat kediaman raja, alun-alun, atau pasar. Di sekeliling dari pusat adalah rumah kediaman para

19

pembantu raja yang kemudian menyebar ke seluruh bagian kota sebagai permukiman warga kota biasa. Evers dan Korff (2000) menyebut adanya tiga tipe dari kota di Asia Tenggara: 1. Kota di pedalaman yang merupakan pusat pengaruh dari wilayah pinggiran yang tunduk karena kekuatan Ilahi dari penguasa yang berkediaman. 2. Kota di pesisir yang berorientasi kepada perdagangan yang lebih terbuka dari berbagai tempat. 3. Kota-kota kecil yang menjadi simpul perdagangan antara kota dagang dan kota-kota suci.

Dalam bentuk yang paling awal, kota yang pertama muncul lebh banyak, sebelum perdagangan dengan daerah-daerah di seberang lautan semakin intensif, seperti kota-kota Islam awal. Ketika penjelajahan samudera oleh orang Eropa semakin sering dilakukan, maka kota-kota di pesisir (kota dagang) menjadi sasaran empuk bagi penguasaan ekonomi global. Hal ini perlahan-lahan mengurangi pengaruh kekuatan kota-kota di pedalaman (kota suci) yang semakin terputus interaksi ekonomi maupun dukungan atas pajak dan pengaruh politik. Perpindahan penduduk ke pesisir sama sekali tidak diantisipasi sebelumnya, sehingga tidak ada cara-cara sistematis untuk mencegah hal tersebut. Perencanaan kota pada kota-kota Nusantara pada tahal awal ini kurang mampu mengatasi peran strategis yang harus dimiliki sebuah kota. Pergeseran kota-kota ke arah pesisir muncul seiring dengan interaksi dengan warga dari berbagai bangsa. Tumbuhnya kota-kota pesisir pada tahap awal dimulai oleh perdagangan antarbangsa yang kemudian menciptakan struktur penduduk baru yang didasarkan atas pola hubungan dagang. Penyebaran agama Islam yang intensif menciptakan pusat-pusat baru kekuasaan yang semakin mengurangi daya magis kekuasaan lama di pedalaman. Perubahan struktur penduduk ini menciptakan elemenelemen penting sebuah kota, terutama untuk mendukung kehidupan kota. Dibangunnya elemen-elemen utama, seperti pelabuhan, masjid, dan pasar yang lebih besar merupakan tanggapan atas perkembangan baru saat itu. Dalam banyak hal, perencanaan masih belum muncul dalam masyarakat Nusantara yang tengah berubah pesat dalam bidang ekonomi ini.

20

D.2. Periode Kolonialisme VOC (1600 SM s/d tahun 1945) Masuknya penjajah kolonial dimulai dari kota-kota yang menjadi pusat perdagangan utama. Batavia adalah salah satunya. Elite kota adalah orang-orang Belanda wakil VOC. Urbanisasi, meskipun dalam taraf yang masih rendah, memberikan tekanan terhadap kota yang multikultural. Persoalan yang dihadapi oleh pemerintah kolonial untuk menjaga kepentingannya adalah melalui pengaturan ruang kota yang membagi lahan-lahan di dalam kota untuk kelompok-kelompok bangsa. Hal ini digambarkan oleh Karsten dengan kondisi perumahan orang-orang Eropa yang tinggal di rumah-rumah India Kuno yang besar dan luas dengan pekarangan yang terhampar. Kampung-kampung dideskripsikan dengan lingkungan yang sangat luas, tetapi bangunannya tetap primitif dan tidak tertata. Sejumlah kebun berada di atas tanah kosong ini. Areal kampung ini mencerminkan karakter desa yang sangat kental. Sementara itu, orang China diharuskan untuk tinggal di dalam kamp China yang didirikan bersama dengan orang Belanda pada abad ke-17 dan 18, dengan fasilitas yang luas. Golongan kolonial yang kurang beruntung tinggal di koridor jalan utama maupun di kawasan kota lama. Inilah adalah bentuk pengaturan awal yang muncul dari tata kota. Dilihat dari struktur ruang, tidak ada perubahan berarti dibandingkan dengan struktur ruang tradisional yang diambilkan dari kota-kota Jawa. Kota Batiavia dibangun dengan jalan besar yang melingkari kota dan dilengkapi dengan alun-alun yang luas. Sama halnya dengan Bandung yang baru dipindahkan dari Dayeuh Kolot (untuk dijadikan pusat pemerintahan dan mengatasi persoalan banjir di Citarum) dirancang dengan pusat pemerintahan dan agama yang mengelilingi alun-alun, dengan tempat tinggal penduduk biasa berkelompok di sekitarnya. Lorong-lorong kecil menembus kawasan pusat dengan bagian kiri dan kanan berpagar rangkaian bamboo. Jalan-jalan diperkeras dengan pecahan batu atau kerikil yang ditimbris sehingga dapat digunakan untuk berjalan. Rumah-rumah berjarak satu dengan yang lainnya sehingga menyediakan ruang untuk kebun dan pohon. Pemisahan ruang masih merupakan ciri dari kota kolonial, yang terutama didasarkan atas kebangsaan. Orang-orang pribumi menempati bagian selatan beserta alun-alun, Mesjid Agung, yang dibangun dengan biaya pemerintah tahun 1850, beserta rumah bupati dan jabatan penting pribumi. Sementara itu, di bagian utara ditempati oleh orang-orang Eropa, termasuk Asisten Residen. Pengaturan ini, oleh Voskuil (2006)

21

didasarkan terutama oleh tingkat kesejahteraan, namun lebih mencerminkan segregasi spasial. Kini, di permukiman utara pun masih ditemukan adanya kantong-kantong permukiman miskin baru Secara teknis, perencanaan fisik di Indonesia sudah dimulai sejak masa VOC di abad 17 yaitu dengan telah adanya De Statuten Van 1642, yaitu ketentuan perencanaan jalan, jembatan, batas kapling, pertamanan, garis sempadan, tanggul-tanggul, air bersih dan sanitasi kota. Pada masa pemerintahan Hindia Belanda terjadi 2 hal yang dapat dikatakan sebagai dasar perencanaan kota, yaitu : a. munculnya Regeringsregelement 1854 (RR 1854), berisi sistem pemerintahan dengan penguasa tunggal di daerah residen; b. diundangkannya Staatblad 1882 Nomor 40 yang memberikan wewenang kepada residen untuk mengadakan pengaturan lingkungan dan mendirikan bangunan di wilayah (gewent) kewenangannya.

Sejak tahun 1905 yaitu sejak diundangkannya Decentralisatie Besluit Indische Staatblad 1905/137, maka perencanaan kota lebih eksplisit sehubungan dengan pemberian kewenangan otonomi bagi stadsgemeente (kota praja) untuk menyusun perencanaan kotanya. Usaha tersebut diikuti dengan munculnya kewenangan bagi kabupaten (province regentschap) untuk mengatur penataan ruang; Beberapa peristiwa yang cukup berpengaruh pada masa tersebut adalah : Revolusi Industri yang memberikan pengaruh pada terbentuknya kota-kota administratur di pesisir untuk melayani permintaan rempah-rempah, hasil perkebunan dan mineral; serta berpengaruh terhadap landasan konsep kota taman yang dikembangkan oleh Thomas Karsten Politik kulturstelsel pada masa Van den Bosch. Menimbulkan pengaruh dengan munculnya undang-undang agraria (Agrarische Wet 1870) Politik etis. Berpengaruh dengan adanya perbaikan kualitas lingkungan kampung tempat tinggal pribumi (perbaikan kampung/kampong verbeeterings). Munculnya undang-undang desentralisasi yang memungkinkan pemerintah kota mengatur urusan kotanya sendiri dan kemudian memunculkan kewenangan kota praja sebagai daerah otonom, sehingga muncul konsep pembangunan kota-kota di Jawa. Kota-kota di Indonesia kemudian memberlakukan peraturan bangunan, seperti Bataviasche Plannerorderning 1941, Bataviasche Bestemingkringe en Bouwtypenverordening 1941, dan Bataviasche Bouwverordening 1919 1941.

22

Semua peraturan tersebut masih berorientasi kepada fisik kota. Dengan perhatian Thomas Karsten tahun 1920 dalam laporan Town Planning in Indonesia, maka terbentuk Komite Perencanaan Kota oleh pemerintah kolonial yang menghasilkan RUU tentang perencanaan kota pertama di Indonesia yang kemudian menjadi SVV dan SVO.

D.3. Periode Awal Era Kemerdekaan (1945 s/d 1950an) Pada tahun 1948 diterbitkan peraturan perencanaan pembangunan kota sebagai peraturan pokok perencanaan fisik kota khususnya untuk kota Batavia, wilayah Kebayoran dan Pasar Minggu, Tanggerang, Bekasi, Tegal, Pekalongan, Cilacap, Semarang, Salatiga, Surabaya, Malang, Padang, Palembang dan Banjarmasin; Selain itu, muncul gagasan-gagasan tentang pembangunan kota baru, baik kota satelit seperti wilayah Candi di Semarang maupun Kebayoran Baru di Jakarta, serta kota baru mandiri seperti Palangkaraya di Kalimantan Tengah dan Banjar Baru di Kalimantan Selatan. Pembangunan nasional pada saat itu mendapat bantuan dari negara-negara maju.

D.4. Periode Era Orde Lama (1945 s/d 1950an) Kota-kota paska-kemerdekaan adalah kota-kota besar yang menjadi tonggak sejarah perjuangan kemerdekaan nasional. Kota-kota ini mengalami pertumbuhan yang pesat karena migrasi masuk. Selain itu, terjadinya baby boom yang turut melanda Indonesia paska-Perang Dunia Kedua. Pada saat tersebut, kondisi infrastruktur masih kurang baik. Rencana Lima Tahun Pertama (1956 1960) dibuat, yang kemudian dilanjutkan dengan pembentukan Komite Perencanaan Nasional. Komite ini membuat Rencana Pembangunan Delapan Tahun (1961 1968). Kedua rencana tersebut sangat ambisius dengan tidak memperhatikan ketersediaan dana dan daya dukung ekonomi. Masalah yang dihadapi kota-kota di Indonesia adalah bidang ekonomi yang ditandai dengan tingkat inflasi tinggi. Pembangunan infrastruktur pun direncanakan sebagai bagian dari unjuk kekuatan ekonomi Indonesia yang sebenarnya sangat rapuh oleh Presiden Soekarno, sebagai simbol New Emerging Forces of the World.

23

Beberapa hal yang cukup berpengaruh pada masa tersebut adalah : Perkembangan penduduk kota-kota, khususnya di Jawa dan Sumatera berdampak terhadap berbagai segi, baik fisik, budaya, sosial dan politik Terjadinya konflik regional Pembangunan nasional semakin kompleks Peningkatan tenaga ahli perencanaan wilayah dan kota

D.5. Periode Era Orde Baru (1945 s/d 1950an) Pada masa pemerintahan Orde Baru, dengan gaya kepemimpinan nasional yang lebih rasional, maka disusun perencanaan yang sifatnya bertahap atau dikenal dengan Rencana Pembangunan Lima Tahun. Namun, kota-kota masih belum menjadi fokus dari kebijakan di dalamnya. Pada tahun 1970, rencana pada tingkat regional muncul dengan Rencana Jabotabek yang diikuti dengan perencanaan-perencanaan untuk proyek khusus yang didanai oleh lembaga-lembaga internasional. Salah satunya adalah KIP (Kampong Improvement Programme) yang dilaksanakan pada akhir tahun 1970-an. Dari keterangan pemerintah yang ada, dapat sedikit disimpulkan bahwa strategi pembangunan di Indonesia tidak mengenal perbedaan strategi yang ekstrem. Sebagai contoh selain strategi pemerataan pembangunan, Indonesia tidak mengesampingkan strategi pertumbuhan dan strategi yang berwawasan ruang (terbukti dengan dibaginya wilayah Indonesia dengan berbagai wilayah pembangunan I, II, III dan seterusnya). Secara sistematis, kelembagaan perencanaan diwujudkan mulai dari level nasional hingga ke daerah (BAPPEDA). Dengan adanya UU No. 5 Tahun 1974 tentang Pemerintah Daerah, perencanaan daerah berkembang menjadi kewajiban bagi daerah dalam penyelenggaraannya. Periode Orde baru, dibagi dalam : a. Periode 1966 s/d 1958, Periode Stabilisasi dan Rehabilitasi. Pada awal orde baru, strategi pembangunan di Indonesia lebih diarahkan pada tindakan pembersihan dan perbaikan kondisi ekonomi yang mendasar, terutama usaha untuk menekan laju inflasi yang sangat tinggi (hyper inflasi). b. Periode Repelita I : 1969/70 1973/74. Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dan industri yang mendukung sektor pertanian meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya.

24

c. Periode Repelita II : 1974/75 1978/79. Meletakkan titik berat pada sektor pertanian dengan meningkatkan industri yang mengolah bahan mentah menjadi bahan baku meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya. d. Periode Repelita III : 1979/80 1983/84. Meletakkan titik berat pada sektor pertanian menuju swasembada pangan dan meningkatkan industri yang mengolah bahan baku menjadi barang jadi meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya. e. Periode Repelita IV : 1984/85 1988/89. Meletakkan titik berat pada sektor pertanian untuk melanjutkan usaha-usaha menuju swasembada pangan dengan meningkatkan industri yang dapat menghasilkan mesin-mesin industri sendiri, baik industri ringan yang akan terus dikembangkan dalam Repelita-Repelita selanjutnya meletakkan landasan yang kuat bagi tahap selanjutnya. f. Periode Repelita V : 1989/90 1993/94

Pada tahun 1980, Nasional Urban Development Strategy berhasil dirumuskan. Tahun ini adalah tonggak bagi perencanaan spasial yang mengambil gagasannya dari gaya perencanaan di Inggris (Winarso, 1999). Mengintegrasikan rencana

pengembangan dan perencanaan fisik menjadi bagian dari program IUIDP (Integrated Urban Infrastructure Development Program). IUIDP dapat dikatakan berhasil untuk mengintegrasikan investasi publik untuk meningkatkan produktivitas kota dan mengarahkan investasi swasta. Pada tahun 1992, lahir UU No. 24 Tahun 1994 tentang Penataan Ruang yang lebih tegas mengarahkan perencanaan pada berbagai tingkatan dan menciptakan integrasi ruang antartingkatan tersebut. Meskipun sangat kental bercorak top-down, lahirnya UU tersebut mempengaruhi praktek perencanaan di Indonesia berikutnya. Lahirnya PP No. 69 Tahun 1996 tidak banyak berpengaruh terhadap pendekatan perencanaan yang lebih partisipatif karena perencanaan belum mampu mengikutsertakan masyarakat ke dalam bentuk paritisipasi yang lebih nyata, ketimbang sekedar informasi dan konsultasi. Beberapa hal yang cukup berpengaruh pada masa tersebut adalah : Kompleksitas pembangunan nasional, regional dan lokal semakin meningkat; Pengaruh metode-metode dan teknologi negara maju; Peningkatan program transmigrasi untuk membuka lahan-lahan pertanian baru di luar Jawa; Pembangunan yang sentralistik;

25

Industrialisasi mulai digalakkan ditandai dengan munculnya kawasan-kawasan industri; Munculnya UU Tata Ruang Nomor 24 Tahun 1992; Standarisasi hirarki perencanaan dari yang umum, detail dan terperinci untuk tiap daerah tingkat I dan II.

D.6. Periode Reformasi (1997 s/d sekarang) Pada tahun 1997, Indonesia mengalami krisis ekonomi yang sangat berat. Kotakota mengalami masalah akut terkait mandegnya investasi dan kondisi perekonomian warga. Dalam kondisi yang demikian, kota-kota besar justru tidak dapat diharapkan dalam mengatasi kecenderungan terhadap penurunan kualitas kota-kota di Indonesia. Gaya perencanaan yang cenderung top-down dengan menempatkan kota-kota utama sebagai motor penggerak ekonomi ternyata tidak berhasil. Hal ini menunjukkan bahwa pendekatan perencanaan spasial yang demikian telah mengalami kegagalan, yang kemudian memberikan pelajaran berharga dalam menyusun UU Penataan Ruang yang baru (yang dimaksud adalah UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang). UU Pemerintahan Daerah yang dikeluarkan tahun 1999 yang kemudian direvisi di dalam UU No. 32 Tahun 2004, memberikan ketegasan tentang kewenangan pemerintah daerah dalam kerangka otonomi. UU NO. 32 Tahun 2004 memungkinkan pengelolaan kota yang dilakukan bersama antardaerah otonom. Lahirnya UU No. 26 Tahun 2007 memberikan peluang bagi pendekatanpendekatan yang berbeda untuk muncul ke permukaan. Pendekatan didasarkan atas potensi dan kendala yang dihadapi oleh kota-kota, baik itu fisik, ekonomi, dan budaya. Selain itu, secara hubungan spasial antara wilayah tidak lagi didominasi hubungan antara pusat pinggiran, melainkan berkembangkan menjadi hubungan-hubungan yang sifatnya lebih self-sustai dengan memperhatikan peluang pasar ke luar. Disini, perencanaan spasial menjadi bersifat strategis, ketimbang memperkuat hubungan tradisional kota dengan wilayah sekitarnya sebagai hubungan pusat pinggiran. Dibalik perencanaan kota yang disebut mainstream (formal) pengaruh-pengaruh perencanaan yang berkembang di dunia barat pun turut mempengaruhi gagasan perencana di Indonesia. Beberapa perencana bergerak di bidang advokasi dan pendampingan masyarakat yang memungkinkan akses masyarakat terhadap sumbersumber kekuasaan untuk mempengaruhi kebijakan publik. Mereka ini bergabung ke dalam Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Meskipun demikian, praktek-praktek ini

26

pun tidak dapat dilepaskan dari pesanan organisasi-organisasi internasional yang menginginkan perubahan dalam demokrasi masyarakat Indonesia yang tengah mengalami transisi. Beberapa hal yang cukup berpengaruh pada masa tersebut adalah : Berlakunya Otonomi Daerah; Kabupaten dan Kota berlomba-lomba meningkatkan Pendapatan Asli Daerah (PAD); Tingginya wacana pertisipasi masyarakat dan pemberdayaan masyarakat. Tingginya wacana pembangunan berkelanjutan (sustainable development)

27