Anda di halaman 1dari 38

PENETAPAN KADAR METANOL DAN ETANOL DARI SAMPEL MINUMAN BERALKOHOL (BIR BINTANG) DENGAN GC-FID I.

TUJUAN
1.1 Untuk mengetahui cara pengoperasian instrument Kromatografi Gas. 1.2 Untuk memahami cara kerja instrumen Kromatografi Gas untuk analisis

kualitatif dan kuantitatif.


1.3 Untuk menentukan kadar metanol dan etanol dalam sampel menggunakan instrumen

Kromatografi Gas.

II. DASAR TEORI 2.1 Kromatografi Gas Kromatografi gas (KG) merupakan metode yang dinamis untuk pemisahan dan deteksi senyawa-senyawa yang mudah menguap dalam suatu campuran. Kromatografi gas merupakan teknik instrumental yang dikenalkan pertama kali pada tahun 1950-an, dan saat ini merupakan alat utama yang digunakan oleh laboratorium untuk melakukan analisis. Perkembangan teknologi yang signifikan dalam bidang elektronik, komputer, dan kolom telah menghasilkan batas deteksi yang lebih rendah serta identifikasi senyawa menjadi lebih akurat melalui teknik analisis dengan resolusi yang meningkat (Gandjar dan Rohman, 2007). Kromatografi gas merupakan teknik analisis yang telah digunakan dalam bidang-bidang: industri, lingkungan, farmasi, minyak, kimia, klinik, forensik, makanan dan lain-lain. Kegunaan umum kromatografi gas adalah untuk melakukan pemisahan dinamis dan identifikasi semua jenis senyawa organik yang mudah menguap dan juga untuk melakukan analisis kualitatif dan kuantitatif senyawa dalam suatu campuran. Kromatografi gas dapat bersifat destruktif dan dapat bersifat non-destruktif tergantung pada detektor yang digunakan (Gandjar dan Rohman, 2007).

Dasar pemisahan secara kromatografi gas ialah penyebaran cuplikan diantara dua fase. Salah satu fase ialah fase diam yang permukaannya luas, dan fase yang lain ialah gas yang mengelusi fase diam. Kromatografi gas adalah suatu cara untuk memisahkan senyawa atsiri dengan meneruskan arus gas melalui fase diam. Bila fase diam berupa zat padat, kita menyebut cara itu sebagai kromatografi gas padat. Ini didasarkan pada sifat penjerapan kemasan kolom untuk memisahkan cuplikan, terutama cuplikan gas. Kemasan kolom yang lazim dipakai ialah silika gel, ayakan molekul, dan arang (McNair dan Bonelli, 1988). Bila fase diam berupa zat cair, cara tadi disebut kromatorgafi gas cair. Fase cair disaputkan berupa lapisan tipis pada zat padat yang lembam dan pemisahan didasarkan pada partisi cuplikan yang masuk dan keluar dari lapisan zat cair ini. Banyaknya macam fase cair yang dapat digunakan sampai suhu 400C mengakibatkan kromatografi gas cair merupakan bentuk kromatografi gas yang paling serbaguna dan selektif. Kromatografi gas cair digunakan untuk menganalisis gas, zat cair, dan zat padat (McNair dan Bonelli, 1988). Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang mana solu-solut yang mudah menguap (dan stabil terhadap panas) bermigrasi melalui kolom yang mengandung fase diam dengan suatu kecepatan yang tergantung pada rasio distribusinya. Pada umumnya solut akan terelusi berdasarkan pada peningkatan titik didihnya, kecuali jika ada interaksi khusus antara solut dengan fase diam. Pemisahan pada kromatografi gas didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua interaksi yang mungkin terjadi antara solut dengan fase diam. Fase gerak yang berupa gas akan mengelusi solut dari ujung kolom lalu mengahantarkannya ke detektor. Penggunaan suhu yang meningkat (biasanya pada kisaran 50-350C) bertujuan untuk menjamin bahwa solut akan menguap dan karenanya akan cepat terelusi (Gandjar dan Rohman, 2007).

(Hollenhorst,2011) Gambar 1. Alat Kromatografi Gas 2.2 Komponen dalam Kromatografi Gas a. Gas Pembawa Tangki gas bertekanan tinggi berlaku sebagai sumber gas pembawa. Pada kromatografi gas suhu tetap kolom tidak berubah selama analisis. Suatu pengatur tekanan digunakan untuk menjamin tekanan yang seragam pada pemasok kolom sehingga diperoleh laju aliran gas yang tetap. Pada sembarang suhu tertentu, laju aliran yang tetap akan mengelusi komponen campuran pada waktu yang khas (waktu tambat). Karena laju aliran tetap, komponen mempunyai volume gas pembawa yang khas (volume tambat). Gas yang biasa dipakai adalah gas hidrogen, helium dan nitrogen. Gas pembawa harus memiliki persyaratan sebagai berikut: Lembam untuk mencegah interaksi dengan cuplikan atau pelarut (fase diam) Dapat meminimumkan difusi gas Mudah didapat Murni Cocok untuk detektor yang digunakan (McNair and Bonelli, 1988) Untuk setiap pemisahan dengan kromatografi gas terdapat kecepatan optimum gas pembawa yang utamanya tergantung pada diameter kolom. Kecepatan alir gas kira-kira 50-70 ml/menit untuk kolom dengan diameter 6 mm, 25-30 ml/menit untuk kolom dengan diameter 3 mm, dan 0,2-2 ml/menit untuk kolom kapiler (Gandjar dan Rohman, 2007). b. Ruang suntik sampel Lubang injeksi didesain untuk memasukkan sampel secara cepat dan efisien. Desain yang populer terdiri atas saluran gelas yang kecil atau tabung logam yang dilengkapi dengan septum karet pada satu ujung untuk mengakomodasi injeksi dengan semprit (syringe). Karena helium(gas pembawa)

mengalir melalui tabung, sejumlah volume cairan yang diinjeksikan (biasanya antara 0,1-3,0 L) akan segera diuapkan untuk selanjutnya di bawa menuju kolom. Berbagai macam ukuran semprit saat ini tersedia di pasaran sehingga injeksi dapat berlangsung secara mudah dan akurat. Septum karet, setelah dilakukan pemasukan sampel secara berulang, dapatdiganti dengan mudah. Sistem pemasukan sampel (katup untuk mengambil sampel gas) danuntuk sampel padat juga tersedia di pasara. Pada dasarnya, ada 4 jenis injektor pada kromatografi gas, yaitu:
-

Injeksi langsung (direct injection), yang mana sampel yang diinjeksikan akan diuapkan dalam injector yang panas dan 100 % sampel masuk menuju kolom.

Injeksi terpecah (split injection), yang mana sampel yang diinjeksikan diuapkan dalam injector yang panas dan selanjutnya dilakukan pemecahan.

Injeksi tanpa pemecahan (splitness injection), yang mana hampir semua sampel diuapkan dalam injector yang panas dan dibawa ke dalam kolom karena katup pemecah ditutup.

Injeksi langsung ke kolom (on column injection), yang mana ujung semprit dimasukkan langsung ke dalam kolom.Teknik injeksi langsung ke dalam kolom digunakan untuk senyawa-senyawa yang mudah menguap; karena kalau penyuntikannya melalui lubang suntik secara langsung dikhawatirkankan terjadi peruraian senyawa tersebut karena suhu yang tinggi atau pirolisis (Hendayana, 1994).

c.

Kolom Kolom merupakan tempat terjadinya proses pemisahan karena di

dalamnya terdapat fase diam. Ada dua jenis kolom pada kromatografi gas yaitu kolom kemas dan kolom kapiler. Kolom kemas terdiri atas fase cair yang tersebar pada permukaan penyangga yang lembam yang terdapat pada tabung yang relatif besar. Fase diam hanya dapat dilapiskan saja pada penyangga atau terikat secara kovalen pada penyangga yang menghasilkan fase terikat. Kolom kapiler jauh lebih kecil dan dinding kapiler bertindak sebagai penyangga lembam untuk fase

diam cair. Fase diam ini dilapiskan pada dinding kolom atau bahkan dapat bercampur dengan sedikit penyangga lembam yang sangat halus untuk memperluas permukaan efektif (Gandjar dan Rohman, 2007). Pipa kolom dapat dibuat dari tembaga, baja nirkarat, aluminium, dan kaca yang berbentuk lurus, lengkung, atau melingkar. Tembaga kurang cocok karena dapat menyerap atau bereaksi dengan komponen cuplikan tertentu (amina, asetilena, terpena, dan steroid) (McNair dan Bonelli, 1988). Panjang kolom yang dikemas cukup beragam, dapat beberapa cm sampai 15 meter. Panjang kolom analitik biasanya 1-3 meter. Kolom yang lebih panjang menghasilkan jumlah plat teori dan daya pisah yang lebih besar. Kecepatan gas pembawa berubah selama bergerak melalui kolom, jadi hanya bagian kolom yang pendek saja bekerja pada laju aliran yang optimal. Disamping itu kolom panjang membutuhkan tekanan yang lebih tinggi, menimbulkan masalah pada cara penyuntikkan dan pencegahan kebocoran gas. Keuntungan kolom panjang ialah kapasitas cuplikan sebanding dengan banyaknya fase cair dalam kolom (McNair dan Bonelli, 1988). Suhu kolom dapat berkisar antara -100 sampai 400C. Beberapa fase diam dapat menjadi padat pada suhu rendah. Selain itu suhu pemakaian kolom yang mengandung fase diam ini dibatasi juga oleh kestabilannya. Beberapa fase diam jika digunakan suhu yang terlalu tinggi akan terurai secara perlahan-lahan (Gandjar dan Rohman, 2007). Kolom kemas terbuat dari gelas atau logam yang tahan karat atau dari tembaga dan aluminium. Panjang kolom jenis ini adalah 1-5 meter dengan diameter dalam 1-4 mm. Kolom kapiler sangat banyak dipakai karena kolom kapiler memberikan efisiensi yang tinggi (harga jumlah pelat teori yang sangat besar > 300.000 pelat). Kolom preparatif digunakan untuk menyiapkan sampel yang murni dari adanya senyawa tertentu dalam matriks yang kompleks.

Gambar 2. Kolom Kromatografi gas Fase diam yang dipakai pada kolom kapiler dapat bersifat non polar, polar, atau semipolar. Fase diam non polar yang paling banyak digunakan adalah metil polisiloksan (HP-1; DB-1; SE-30; CPSIL-5) dan fenil 5%-metilpolisiloksan 95% (HP-5; DB-5; SE-52; CPSIL-8). Fase diam semi polar adalah seperti fenil 50%metilpolisiloksan 50% (HP-17; DB-17; CPSIL-19), sementara itu fase diamyang polar adalah seperti polietilen glikol (HP-20M; DB-WAX; CP-WAX; Carbowax20M) (Hendayana, 1994). d. Detektor Detektor merupakan perangkat yang diletakkan pada ujung kolom tempat keluar fase gerak (gas pembawa) yang membawa komponen hasil pemisahan. Detektor pada kromatografi adalah suatu sensor ellektronik yang berfungsi mengubah sinyal gas pembawa dan komponen-komponen di dalamnya menjadi sinyal elektronik. Sinyal elektronik detektor akan sangat berguna untuk analisis kualitatif maupun kuantitatif terhadap komponen-komponen yang terpisah diantara fase diam dan fase gerak. Detektor yang sering digunakan dalam kromatografi gas antara lain: Detektor Hantar Panas (Termal Conductivity Detector=TCD) Detektor ini didasarkan bahwa panas dihantarkan dari benda yang suhunya tinggi ke benda lain disekelilingnya yang suhunya lebih rendah. Kecepatan penghantaran panas ini tergantung susunan gas yang mengelilinginya. Jadi setiap gas memiliki daya hantar panas yang kecepatannya merupakan fungsi dari laju pergerakan molekul gas yang pada suhu tertentu merupakan fungsi dari berat molekul gas. Gas yang mempunyai berat molekul rendah mempunyai daya hantar yang lebih tinggi.

Detektor Ionisasi Nyala (Flame Ionization Detector=FID)

Pada dasarnya senyawa organik bila dibakar akan terurai menjadi pecahan sederhana bermuatan positif, yang biasanya terdiri atas satu karbon (C+). Pecahan ini meningkatkan daya hantar disekitar nyala, tempat yang telah dipasangi elektroda, dan peningkatan daya hantar ini dapat diukur dengan mudah dan direkam. Dengan demikian gas efluen dari kolom dialirkan ke dalam nyala hidrogen yang terbakar diudara. Sampel yang dibawa oleh gas pembawa mengalir ke dalam nyala dan diuraikan menjadi ion. Ion ini akan meningkatkan daya hantar dan karenanya akan meningkatkan arus listrik yang mengalir diantara dua elektroda. Arus itu selanjutnya diperkuat diamplifier dan direkam oleh rekorder. FID mengukur jumlah atom karbon dan bukan jumlah molekul seperti pada detektor hantar panas. FID pada dasarnya bersifat umum untuk hampir semua senyawa organik (senyawa fluoro tinggi dan karbon disulfida tidak terdeteksi). Disamping itu respon FID sangat peka, dan linier ditinjau dari segi ukuran, cuplikan, serta teliti (McNair and Bonelli, 1988). Pada pemakaian FID, ada beberapa hal yang harus diperhatikan: pertama, kecepatan alir O2 (udara) dan H2. Untuk memperoleh tanggapan FID yang optimal sebaiknya kecepatan aliran H2 30 ml/menit dan O2 sepuluh kalinya. Kedua adalah bahwa suhu Detektor ionisasi nyala FID harus di atas 100C. Hal ini bertujuan untuk mencegah kondensasi uap air yang mengakibatkan FID berkarat atau kehilangan sensitivitasnya (McNair and Bonelli, 1988). Detektor Tangkap Elektron (Electron Capture Detector=ECD)
63

Detektor ini dilengkapi dengan radio aktif yaitu tritium (3H) atau

Ni, yang

diletakkan diantara dua elektroda. Dasar kerja detektor ini adalah penangkapan elektron oleh senyawa yang mempunyai afinitas terhadap elektron bebas, yaitu senyawa yang mempunyai unsur-unsur elektronegatif. Bila fase gerak (gas pembawa N2) masuk ke dalam detektor maka sinar akan mengionisasi molekul N2 menjadi ion-ion N2+ dan menghasilkan elektron bebas yang akan bergerak ke anoda dengan lambat. Detektor Nitrogen-Fosfor (Nitrogen Phosphorous Detector =NPD)

Pada prinsipnya NPD mirip dengan FID hanya saja fenomena mekanisme nyala plasma belum jelas. NPD sangat selektif terhadap nitrogen dan fosofor karena adanya elemen aktif di atas aliran kapiler yang terbakar oleh plasma (1600C). 2.3 Minuman Beralkohol Bahan utama dari pembuatan minuman berakohol adalah etanol yang mempunyai batas 1%-55%, dan etanol yang ada dalam minuman beralkohol tersebut bukan etanol yan digunakan atau untuk industri tetapi etanol yang diproses dari bahan hasil pertanian yang mengandung karbohidrat dengan cara fermentasi dan destilasi atau fermentasi tanpa destilasi dari buah dan biji- bijian misalnya anggur, gandum, beras dan lain- lain. Dari informasi tersebut dapat dipahami bahwa etanol merupakan bahan yang dapat digunakan untuk minuman keras sedangkan metanol dilarang padahal kedua zat tersebut merupakan golongan alkohol untuk digunakan atau ditambahkan dalam makanan atau minuman termasuk minuman keras (Anonim b, 2009). Golongan minuman beralkohol sebagaimana dimaksud peraturan BPOM RI tahun 2011 didasarkan atas kandungan alkohol sebagai berikut:

Golongan A : 1 5% Golongan B : lebih dari 5 20% Golongan C : lebih dari 20 55% Tulisan sebagaimana dimaksud pada angka 1) dan angka 2) dicantumkan pada bagian yang paling mudah dilihat oleh konsumen (Anonim c, 2011).

2.4 Metanol Pemerian Kelarutan : Cairan tidak berwarna, jernih, bau khas. : Dapat bercampur dengan air, membentuk cairan jernih tidak berwarna. Bobot Jenis : (15,5O/15,5O) 0,796 sampai 0,798. Jarak Didih : Tidak kurang dari 95% tersuling pada suhu antara 64,5O dan 65,5O.

Indeks Bias : 1,328 sampai 1,329 (Depkes RI, 1995).

Gambar 4. Struktur Metanol Metanol adalah bentuk paling sederhana dari alkohol yang biasa digunakan sebagai pelarut di industri dan sebagai bahan tambahan dari etanol dalam proses denaturasi sehingga etanol menjadi toksik. Rumus kimia dari Metanol adalah CH3OH dan dikenal dengan nama lain yaitu metil alkohol, metal hidrat, metil karbinol, wood alkohol atau spiritus. Metanol merupakan senyawa kimia yang sangat beracun bila dibandingkan dengan etanol. Metanol sering disalah gunakan sebagai bahan pembuat minuman keras. Ia digunakan sebagai pengganti etanol karena disamping harganya yang relatif lebih murah juga akibat ketidakpahaman akan bahaya yang dapat ditimbulkan oleh kedua zat tersebut, sehingga banyak yang beranggaban bahwa sifat dan fungsi metanol adalah sama, sehingga orang yang sudah kecanduan minuman keras dan kurang memiliki dana untuk membeli minuman keras yang legalcenderung membuat atau membeli minuman keras yang illegal yaitu minuman keras oplosan yang dicampur dengan methanol (Anonim, 2009). 2.5 Etanol Etanol atau yang sering disebut etil alkohol, alkohol absolut, berupa cairan yang tidak berwarna, tidak mudah terbakar, dengan bau yang lembut. Etanol memiliki rumus molekul C2H5OH dengan massa molar 46,1 gram/mol. Etanol terdiri atas 52,1% C; 13,1% H; dan 34,7% O. Titik leleh etanol sangat rendah, yaitu -114,1oC sehingga berada dalam bentuk cair pada suhu ruangan. Titik didihnya 78,5oC (Myers, 2007). Etanol encer atau aethanolum dilutum adalah campuran etanol P dan air. Berupa cairan jernih mudah menguap dan mudah bergerak, tidak berwarna, bau khas, rasa terbakar pada lidah, mudah terbakar. Bobot jenis antara 0,882 dan 0,886, lakukan penetapan pada suhu 25 (Depkes RI, 1995).

Gambar 5. Struktur Etanol


Etanol atau etil alkohol kadang disebut juga alkohol atau ethanolum merupakan cairan bening tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, dan mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Sifatnya larut dalam air, kloroform, eter, gliserol, dan hampir semua pelarut organik. Titik didih etanol adalah 78,4 oC. Pada tekanan >

0,114 bar (11,5 kPa) etanol dan air dapat membentuk larutan azeotrop (larutan yang mendidih seperti cairan murni:komposisi uap dan cairan sama). Pada keadaan atmosferik (1 atm) campuran ini terdiri dari etanol 95,57% (massa) atau 97,3% (volume) atau 89,43% (mol), dan air 4,43% (massa) atau 2,7% (volume) atau 10,57% (mol) (Putro dan Ardhiany, 2010). Ikatan hidrogen menyebabkan etanol murni sangat higroskopis, sedemikiannya ia akan menyerap air di udara. Sifat gugus hidroksil yang polar menyebabkan dapat larut dalam banyak senyawa ion, utamanya natrium klorida dan natrium bromide. Oleh karena etanol juga memiliki rantai karbon non polar, ia juga larut dalam senyawa non polar. Alkohol adalah istilah yang umum dipakai oleh masyarakat, sedangkan istilah kimia dari alkohol adalah etil alkohol (etanol) dengan rumus C2H5OH. Alkohol murni adalah alkohol yang hanya mengandung etil alkohol dan sedikit air serta bebas dari bahan-bahan lain yang berbahaya bagi manusia.Alkohol ini biasa digunakan untuk pembuatan minuman keras, pelarut minyak, pelarut obat-obatan serta untuk keperluan industri lainnya. Alkohol teknis adalah alkohol yang selain mengandung etil alkohol dan juga masih mengandung bahan ikutan lain yang membahayakan manusia antara lain metal alkohol, aldehid, ester dan lain-lain (Underwood, 1981). Menurut keputusan Menteri Kesehatan Republik Indonesia nomor 1516/A/SK/V/81, pasal 1: Anggur, arak dan sejenisnya termasuk dalam jenis minuman keras dan harus memenuhiperaturan perundang-undangan yang berlaku

untuk minuman keras. Minuman keras menurutmenteri Kesehatan RI nomor 86/Menkes/Per/IV/77 adalah semua jenis minuman beralkoholtetapi bukan obat, meliputi minuman keras golongan A, minuman keras golongan B, danminuman keras golongan C. Minuman anggur termasuk dalam minuman keras golongan B(kadar etanol 5-20 %v/v).Minuman anggur dibuat dari fermentasi buah anggur atau jus buah anggur dengan Saccharomyces ellipsoideus. Minuman keras atau sering disebut dengan minuman beralkohol diproduksi dari setiap bahan yang mengandung karbohidrat (pati) seperti bijibijian, umbi-umbian, atau pun tanaman palma (seperti legen, kurma). Adapun alkohol yang sering disebut sebagai konsentrasi dari minuman keras ini sebenarnya adalah senyawa etanol, yaitu suatu jenis alkohol yang paling popular digunakan dalam industri. Buah-buah anggur itu dipanen ketika kandungan substrat yang bisadifermentasi, yaitu gula angguratau glukosa berada pada kadar yang tinggi. Material yangdisiapkan dari buah anggur sebelum fermentasi disebutmust. Prosesnya tidak lainmenghancurkan buah yang sudah matang dan berwarna ungu hingga etanol yang dihasilkan sudahcukup dan tidak beracun (Bowman dan Rand, 1980). Etanol yang nama lainnya alkohol, aethanolum, etil alcohol adalah cairan yang bening, tidak berwarna, mudah mengalir, mudah menguap, mudah terbakar, higroskopik dengan karakteristik bau spiritus dan rasa membakar, mudah terbakar dengan api biru tanpa asap. Larut dengan air, kloroform, eter, gliserol dan hampir semua pelarut organik lainnya. Penyimpanan pada suhu 8-15C, jauh dari api, dalam wadah kedap udara dan dilindungi dari cahaya.
2.6 Water For Irrigation (WFI)

WFI adalah air yang telah dimurnikan dengan destilasi atau reverse osmosis dan tidak mengandung substansi tambahan (USP, 1995). 2.7 Internal Standar Standar internal digunakan untuk mengurangi variasi dalam respon alat dan volume injeksi. Pemilihan standar internal ini dipilih berdasarkan kemudahan diperolehnya dengan kemurnian tinggi, harus terpisah sempurna dari senyawa pada pemisahan, stabil dan tidak bereaksi dengan sampel atau fase gerak,

memiliki respon terhadap detektor serupa dengan respon analit pada konsentrasi yang digunakan, memiliki polaritas dan struktur yang mirip dengan analit (Pardosi, 2008). Baku internal merupakan senyawa yang berbeda dengan analit, meskipun demikian senyawa ini harus terpisah dengan baik selama proses pemisahan. Baku internal dapat menghilangkan pengaruh karena adanya perubahan-perubahan pada ukuran sampel atau konsentrasi karena variasi instrumen. Salah satu alasan utama digunakan baku internal adalah jika suatu sampel memerlukan perlakuan sampel yang sangat sifnifikan. Sering kali perlakuan sampel memerlukan tahapan-tahapan yang meliputi derivatisasi, ekstraksi, filtrasi, dan sebagainya yang dapat mengakibatkan berkurangnya sampel. Jika baku internal ditambahkan pada sampel sebelum dilakukan preparasi sampel maka baku internal dapat mengkoreksi hilangnya sampel-samel ini. Syarat-syarat suatu senyawa dapat digunakan sebagai baku internal adalah: 1. terpisah dengan baik dari senyawa yang dituju atau puncak puncak yang lain. 2. mempunyai waktu retensi yang hampir sama dengan analit 3. tidak terdapat dalam sampel 4. memiliki kemiripan sifat sifat dengan analit dalam tahapan-tahapan penyiapan sampel 5. tidak mempunyai kemiripan secara kimiawi dengan analit 6. tersedia dalam perdagangan dengan kemurnian yang tinggi 7. stabil dan tidak reaktif dengan sampel atau dengan fase gerak 8. mempunyai respon dektektor yang hampir sama dengan analit pada konsentrasi yang digunakan (Gandjar dan Rohman, 2007).

III. ALAT DAN BAHAN

3.1 -

Alat Alat-alat gelas Labu alas bulat Pemanas mantel Seperangkat alat kromatografi gas Seperangkat alat destilasi Pipet volume Ball filler Botol vial Pipet tetes Bahan Minuman beralkohol Aquadest Etanol standar Metanol standar

3.2

IV.

Prosedur Kerja I.1. Destilasi 1. Sampel diambil sebanyak 25 ml. 2. Dimasukkan ke dalam labu alas bulat yang telah berisi WFI sebanyak sampai dieproleh volume 50 ml.
3.

Dilakukan destilasi dengan suhu 780C sampai diperoleh destilat sebanyak 23 ml.

4. Destilat yang diperoleh disaring. I.2. Penyiapan Seri Larutan Standar Etanol dan Metanol 0,5%, 1%, 2%, 4%, dan 6%
1.

Larutan standar 0,5%, 1%, 2%, 4%, dan 6% dipipet secara berurutan diambil dari larutan induk etanol dan metanol 20% v/v sebanyak:

Konsentrasi larutan seri = 0,5 % Volume yang dibuat = 10 ml M1. V1 = M2. V2 20%.V1 = 0,5 % . 10ml V1 = 0,25 ml

Konsentrasi larutan seri = 1% Volume yang dibuat = 10 ml M1. V1 = M2. V2 20% . V1 = 1% .10ml V1 = 0,5 ml

Konsentrasi larutan seri = 2% Volume yang dibuat = 10 ml


M1. V1 = M2. V2 20% .V1 = 2 % . 10ml V1 = 1 ml

Konsentrasi larutan seri = 4% Volume yang dibuat = 10 ml


M1. V1 = M2. V2 20% .V1 = 4% .10ml V1 = 2 ml

Konsentrasi larutan seri = 6% Volume yang dibuat = 10 ml


M1. V1 = M2. V2 20% .V1 = 6% . 10ml V1 = 3 ml

2. 3.

Masing-masing dimasukkan ke dalam labu ukur 10ml Ditambahkan WFI hingga tanda batas

4.

Digojog hingga homogen, disaring, dimasukkan ke dalam botol vial.

I.3. Analisis dengan GC-FID 1. Disiapkan sampel, alrutan seri etanol dan metanol, dan larutan kontrol positif 2. 0,5L larutan standar seri 1% diinjeksikan pada injektor GC 3. Dilakukan running sampel 4. Dilakukan hal yang sama dilakukan untuk semua larutan seri 5. Diamati peak-peak yang keluar dari detektor, dibuat persamaan regresi liniernya, dan ditentukan nilai r 6. Sampel dan kontrol positif diinjek sebanyak 0,5L pada injektor GC-FID 7. Diamati peak-peak yang keluar dari detektor 8. Dihitung kadar metanol dan etanol dengan menggunakan persamaan regresi linier yang diperoleh dari larutan standar seri.

V.

Skema Kerja
a. Destilasi

Sampel diambil sebanyak 25 ml.

Dimasukkan ke dalam labu alas bulat yang telah berisi WFI sebanyak sampai dieproleh volume 50 ml.

Dilakukan destilasi dengan suhu 780C sampai diperoleh destilat sebanyak 23 ml.

Destilat yang diperoleh disaring

5.2 Pembuatan seri larutan standar etanol dan metanol 0,5%, 1%, 2%, 4%, dan 6% Larutan standar 0,5%, 1%, 2%, 4%, dan 6% dipipet secara berurutan diambil dari larutan induk etanol 20% v/v sebanyak: 0,25 ml, 0,5 ml, 1 ml, 2 ml dan 3 ml

Dimasukkan dalam labu ukur 10 ml

Ditambahkan WFI hingga tanda batas

Digojog hingga homogen, disaring, dimasukkan ke dalam botol vial.

5.4

Analisis Dengan GC-FID Disiapkan sampel, larutan seri etanol dan metanol, dan larutan kontrol positif, disaring dengan microfilter

0,5L larutan standar seri 1% diinjeksikan pada injektor GC

Dilakukan running sampel

Dilakukan hal yang sama untuk semua larutan yang digunakan dalam analisis GC

Diamati peak-peak yang keluar dari detektor, dibuat persamaan regresi liniernya, dan ditentukan nilai r

Sampel diinjekdan kontrol positif sebanyak 0,5L pada injektor GC-FID

Diamati peak-peak yang keluar dari detektor

Dihitung kadar metanol dan etanol dengan menggunakan persamaan regresi linier yang diperoleh dari larutan standar seri.

VI. HASIL DAN PERHITUNGAN 6.1 Tabel Penentuan Bobot Jenis Destilat No. 1. 2. 3. Berat bahan Piknometer kosong (W0) Piknometer + WFI (W1) Piknometer + destilat: Berat (gram) 16,127 26,0353 25,9707

6.2 Tabel Hasil pengukuran larutan seri dengan kromatografi gas Seri (v/v) 0,5 % 1 2 1% 1 2 2% 1 2 4% 1 2 6% 1 2 Puncak Waktu Retensi 2,354 2,488 2.333 2,467 2,345 2,479 2,319 2,455 2,331 2,467 156246,6 479549,2 147966,5 688062,4 187469,4 387354 546636,3 924724,1 878939,5 0 0 0 0 0 0 0 0 0 7612,363 9667,995 6751,151 9114,442 8964,376 12093,054 16812.342 22602,443 16990,993 25117,581 2,097 AUC HETP N Tailling

1368809,7 0

Larutan seri merupakan campuran dari etanol dam methanol. Methanol memiliki titik uap yang lebih rendah daripada etanol, sehingga methanol akan lebih cepat melewati kolom dan waktu retensinya lebih kecil dari etanol. Dari hasil pengukuran dengan kromatografi gas didapatkan dua puncak. Puncak 2 dari masing-masing seri diduga sebagai puncak etanol karena memiliki waktu retensi yang lebih lama daripada puncak 1 yang diduga methanol.

6.3 Tabel Hasil pengukuran larutan sampel dan kontrol positif dengan kromatografi gas Pengulanga n Punca k 1 1 2 3 4 Sampel 1 2 2 3 1 3 2 3 Kontrol 1 2 Waktu Retensi 2,309 2,389 2,445 4,501 2,294 2,342 2,478 2,345 2,479 4,529 2,352 2,486 AUC 1506,8 7646,3 598460,6 1291,8 8133,6 9535,0 287871,3 1966,8 899112,3 1965,0 15603,8 2825877,8 HETP 0 0 0 0 0 0 0 0 0 N 26355,014 32303,541 99611,931 43067,897 21146,382 25888,220 75809,160 14756,564 22490,548 Tailling 2,101 1,110 1,515 3,790 1,895 2,467

Dari tabel dapat diketahui bahwa waktu retensi pada puncak 3 pengulangan pertama, puncak 3 pengulangan 2, puncak 2 pengulangan 3, dan puncak 2 kontrol yang mendekati waktu retensi etanol pada seri. Jadi puncak-puncak tersebut diduga sebagai puncak dari etanol. Sedangkan waktu retensi puncak 2 pengulangan 1, puncak 2 pengulangan 2, puncak 1 pengulangan 3 diduga sebagai puncak dari methanol karena memiliki waktu retensi yang hamper sama dengan waktu retensi methanol pada seri maupun control.

6.4 Perhitungan bobot jenis destilat dan penetapan kadar etanol menurut bobot jenis Diketahui : Bobot piknometer kosong (W0) = 16,3127 gram Bobot piknometer + air suling (W1) = 26,0353 gram Bobot piknometer + destilat (W2) I = 25,9707 gram

Ditanya Jawab :

Bobot jenis () Sampel = ?

Bobot jenis ( ) =

W2 W0 W1 W0

25,707 gram 16,3127 gram 26,0353 gram 16,3127 gram 9,394 gram 9,722gram

= 0,966
Tabel 6.4. Daftar Bobot Jenis dan Kadar Etanol (Depkes RI,1979) Kadar Etanol Koreksi Bobot Jenis untuk Perbedaan Suhu 1, berlaku untuk suhu antara 10 dan 20 0,00012 0,00012 15 dan 20 0,00018 0,00018 20 dan 25 0,00024 0,00024 25 dan 30 0,00028 0,00028

Bobot Jenis

% b/b 5,0 4,4

% v/v 6,4 5,6

0.9910 0,9920

0,9930 0,9940 0,9950

3,8 3,2 2,7

4,8 4,1 3,4

0,00012 0,00012 0,00012

0,00018 0,00018 0,00018

0,00024 0,00024 0,00024

0,00028 0,00028 0,00028

Jadi dari perhitungan bobot jenis destilat, kadar etanol dapat ditetapkan yaiutu 3,4% v/v.

6.5 Perbandingan Luas Area (PLA) dan sampel dengan kontrol positif

Seri 0,5%

Seri 1%

Seri 2%

Seri 4%

Seri 6%

Sampel Pengulangan I

Sampel Pengulangan II

Sampel Pengulangan III

6.6

Linieritas larutan seri Tabel Data PLA dan AUC dari larutan seri etanol No. 1. 2. 3. 4. 5. Senyawa Seri 0,5% Seri 1 % Seri 2 % Seri 4 % Seri 6 % AUC 479549,2 688062,4 387354,3 924724,1 1368809,7 PLA 0,169 0,243 0,137 0,327 0,484

Dari data di atas, dibuat sebuah garis regresi linier hubungan PLA dengan konsentrasi. Data yang digunakan untuk menentukan garis linier adalah larutan seri 2%, 4%, dan 6% karena ketiga data tersebut yang menunjukkan hubungan linear. Kurva garis regresi etanol adalah sebagai berikut:

Persamaan regresi yang diperoleh menggunakan data-data tersebut adalah: y = 0,086x - 0,031 dengan nilai korelasi R = 0,999

6.7 Penentuan Kadar Etanol dalam Sampel Tabel Data PLA sampel pada penyuntikan 1 dan 2 Sampel Pengulangan I Pengulangan II Pengulangan III PLA 0,211 0,010 0,318

Kadar etanol pada Pengulangan I y = 0,086x - 0,031 Dengan subtitusi nilai PLA pada persamaan garis linier, maka didapat: 0,211 0,242 = 0,086x - 0,031 = 0,086x

= 2,81 %

Jadi kadar etanol dalam sampel penyuntikan pertama adalah 2,81 %


Kadar etanol pada Pengulangan II

y = 0,086x - 0,031 Dengan subtitusi nilai PLA pada persamaan garis linier, maka didapat: 0,010 0,041 x = 0,086x - 0,031 = 0,086x = 0,476 %

Jadi kadar etanol dalam sampel penyuntikan pertama adalah 0,476 %


Kadar etanol pada Pengulangan III

y = 0,086x - 0,031 Dengan subtitusi nilai PLA pada persamaan garis linier, maka didapat: 0,318 0,349 x = 0,086x - 0,031 = 0,086x = 4,05 %

Jadi kadar etanol dalam sampel penyuntikan pertama adalah 4,05 %


Kadar Rata-rata

= = 2,44 %

6.8

Perolehan Kembali

Perolehan kembali sampel Pengulangan I Bila dalam kemasan sampel tertera kadar alkohol sebanyak 4,7% v/v,

maka perolehan kembalinya adalah: % perolehan kembali = = 59,7 % Perolehan kembali sampel Pengulangan II Bila dalam kemasan sampel tertera kadar alkohol sebanyak 4,7% v/v, maka perolehan kembalinya adalah: % perolehan kembali = = 10 % Perolehan kembali sampel Pengulangan III Bila dalam kemasan sampel tertera kadar alkohol sebanyak 4,7% v/v, maka perolehan kembalinya adalah: % perolehan kembali = = 86,1 %

Rata-rata Perolehan kembali = = 51,9 %

6.9

Penentuan LOD dan LOQ Etanol

Dimana: y1 : PLA etanol sampel dengan etanol kontrol positif yang terukur alat y2 : PLA etanol sampel dengan etanol kontrol positif hasil perhitungan garis lurus. N : jumlah sampel yang diukur Jika y = 0,086x - 0,031, maka subtitusi nilai x pada persamaan menhasilkan nilai y2 sebagai berikut: y2 y2 y2 = 0,086x - 0,031 = 0,086(0,02) - 0,031 = -0,0292

degan cara yang sama didapatkan data sebagai berikut: Lautan seri 2% v/v 4% v/v 6% v/v x 0,02 0,04 0,06 y1 0,127 0,327 0,484 y2 -0,0292 -0,0275 -0,0258 (y1-y2)2 0,024398 0,12567 0,259896 0,409965

= = = 0,6402 Maka nilai LOD dan LOQ adalah: LOD = = = 22,3

LOQ

= = = 74,4

VII.

Pembahasan Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan kadar etanol dan

metanol dalam sampel minuman beralkohol menggunakan metode kromatografi gas dengan detector FID. Kromatografi gas merupakan teknik pemisahan yang mana solut-solut yang mudah menguap dan stabil terhadap panas bermigrasi melalui kolom yang mengandung fase diam dengan suatu kecepatan yang tergantung pada rasio distribusinya. Pada umumnya, solut akan terelusi berdasarkan pada peningkatan titik didihnya, kecuali jika ada interaksi khusus antara solut dengan fase diam. Pemisahan pada kromatografi gas didasarkan pada titik didih suatu senyawa dikurangi dengan semua interaksi yang mungkin terjadi antara solut dengan fase diam. Fase gerak yang berupa gas akan mengelusi solut dari ujung kolom lalu menghantarkannya ke detektor. Penggunaan suhu yang meningkat (pada kisaran 50-350C) bertujuan untuk menjamin bahwa solut akan menguap dan cepat terelusi Gandjar dan Rohman, 2007). Pemilihan metode ini untuk menetapkan kadar metanol dan etanol didasarkan atas sifat fisika kimia dari metanol dan etanol. Metanol dan etanol merupakan cairan yang mudah menguap, dimana metanol memiliki titik didih 63.5 - 65.7 C, sedangkan etanol memiliki titik didih 78 C (Depkes RI, 1995). Sebelum dilakukan penetapan kadar menggunakan komponen kromatografi gas, sampel didestilasi terlebih dahulu. Destilasi merupakan metode pemisahan berdasarkan titik didih, dimana campuran senyawa dididihkan sehingga menguap kemudian uap didinginkan kembali ke dalam bentuk cairan. Zat yang memiliki titik didih lebih rendah akan menguap lebih dulu. Pada sampel minuman beralkohol yang digunakan mengandung berbagai komponen tambahan seperti gula, pengawet dan air. Untuk memisahkan metanol dan etanol dari campuran senyawa lainnya. Dipasang alat destilasi kemudian sebanyak 25 mL sampel ditambahkan dengan 25 mL WFI , larutan ditempatkan pada labu alas bundar kemudian dipasang ke alat destilasi. Pada saat destilasi suhu diatur pada suhu 80oC dan tidak lebih dari 100oC. Hal ini bertujuan agar senyawa-senyawa

tambahan selain etanol dan metanol seperti air tidak ikut menguap karena dapat menggangu hasil pemisahan. Destilasi dilakukan sampai diperoleh destilat sebanyak 23 mL. Untuk menentukan linearitas dilakukan pembuatan larutan seri s pada konsentrasi 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6%. Masing-masing sebanyak 0,25; 0,5; 1; 2 dan 3 mL dari larutan standar yang tersedia dengan konsentrasi 20% dimasukan ke dalam vial kemudian ditambahkan WFI sampai 10mL. Selanjutnya larutan seri disaring 2 kali dari konsentrasi paling rendah ke konsentrasi tinggi. Penyaringan bertujuan untuk menghilangkan zat zat pengotor yang terdapat pada larutan seri. Larutan seri digunakan untuk memperoleh persamaan regresi linier yang digunakan untuk menghitung kadar sampel. Destilat yang diperoleh kemudian dihitung berat jenisnya. Penetapan bobot jenis etanol dilakukan dengan menggunakan piknometer. Bobot piknometer kosong yang digunakan sebesar 16,3127 gram, piknometer kemudian diisi dengan WFI dan didapatkan bobot sebesar 26,0363 gram, selanjutnya piknometer dikeringkan lalu diisi lagi dengan destilat kemudian ditimbang dan didapatkan bobot sebesar 25,9707 gram. Dari perhitungan bobot jenis smpel, diketahui sampel memiliki bobot jenis sebesar 0,966. Menurut farmakope 3, kadar etanol yang memiliki bobot jenis 0,9950 adalah sebesar 3,4% v/v. Tabel 7.1. Daftar Bobot Jenis dan Kadar Etanol (Depkes RI,1979) Kadar Etanol Koreksi Bobot Jenis untuk Perbedaan Suhu 1, berlaku untuk suhu antara 10 20 0,00012 0,00012 0,00012 dan 15 20 0,00018 0,00018 0,00018 dan 20 25 0,00024 0,00024 0,00024 dan 25 30 0,00028 0,00028 0,00028 dan

Bobot Jenis

% b/b 5,0 4,4 3,8

% v/v 6,4 5,6 4,8

0.9910 0,9920 0,9930

0,9940 0,9950

3,2 2,7

4,1 3,4

0,00012 0,00012

0,00018 0,00018

0,00024 0,00024

0,00028 0,00028

Setelah didapat berat jenis, kemudian dilakukan penetapan kadar dengan menggunakan kromatografi gas. Dibuat sampel dengan mengambil masing masing sebanyak 5 mL destilat ditambah dengan 5 mL WFI dan disaring 2 kali dengan menggunakan penyaring kapiler, dilakukan pengenceran agar konsentrasi tidak terlalu pekat sehingga dapat mengganggu proses pemisahan. Penyaringan berfungsi untuk menghilangkan zat zat pengotor yang dapat mengganggu pemisahan. Fase diam yang digunakan pada praktikum Fase diam yang digunakan adalah capillary column RTX-WAX sedangkan gas pembawa yang digunakan adalah helium. Detektor yang digunakan yaitu Flame Ionization Detektor (FID) dengan gas pembakar hidrogen. Pada alat GC diatur suhu gas pembawa 1200 C, tekanan 100 Kpa, aliran 61,3 mL/menit, suhu kolom 700C, suhu pada detector FID 1200C dengan aliran gas hydrogen 40mL/menit. Setelah larutan seri dan sampel telah siap, syringe dicuci terlebih dahulu dengan WFI untuk menghilangkan zat-zat pengotor yang masih terdapat pada syringe. Kemudian dilakukan injeksi ke dalam kolom GC melalui injector port. Pertama diinjeksikan 0,5L larutan seri dari konsentrasi rendah hingga konsentrasi tinggi. Hal ini dilakukan karena bila terdapat sisa larutan konsentrasi lebih rendah pada syringe, konsentrasi larutan yang selanjutnya diinjeksikan yang memiliki konsentrasi lebih tinggi tercampur tidak akan mempengaruhi kadarnya secara signifikan sehingga tidak mengganggu proses analisis. Setelah injeksi diperoleh data berupa AUC, waktu retensi, dan tinggi puncak. Pada proses analisis diperoleh AUC etanol dari larutan standar dengan konsentrasi 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6% sebesar 479549,2 ; 688062,4 ; 387354,3 ; 924724,1 ; 1368809,7 dan diperoleh AUC metanol dari larutan standar dengan

konsentrasi 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6% sebesar 156246,6 ; 147966,5 ; 187469,4 ; 546636,3 ; 878939,5 . Berdasarkan data AUC kontrol positif dan AUC etanol yang dihasilkan dilakuka perhitungan PLA, sehingga dapat dibuat garis regresi linier hubungan PLA dengan konsentrasi alrutan seri. Garis regresi dibuat dari 3 data terakhir karena pada data tersebut dihasilkan garis linier dengan nilai korelasi 0,999. Waktu retensi methanol dari larutan standar dengan konsentrasi methanol dan etanol 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6% yang diperoleh 2,354 ; 2,333 ; 2,345 ; 2,319 ; 2,331 dan waktu retensi etanol dari larutan standar dengan konsentrasi methanol dan etanol 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6% yang diperoleh 2,488; 2,467 ; 2,479; 2,455; 2,67. Berdasarkan waktu retensi yang dihasilkan, dapat diamati bahwa peak I untuk tiap-tiap kromatogram kromatografi gas adalah metanol, sedangkan pada peak II adalah etanol. Metanol memiliki waktu retensi yang lebih cepat dikarenakan suhu didihnya yang relatif lebih rendah dibandingkan dengan etanol, sehingga metanol memiliki waktu retensi yang lebih singkat menuju detektor. Tinggi puncak methanol dari larutan standar dengan konsentrasi methanol dan etanol 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6% yang diperoleh ; 23174,0 ; 156679,1 ; 212694,7 ; 300253,3 dan Tinggi puncak etanol dari larutan standar dengan konsentrasi methanol dan etanol 0,5%; 1%; 2%; 4%; 6% 79482,4 ; 84506,8 ; 237853,8 ; 334382,1 ; 494540,7. Dari analisis yang dilakukan pada seri 6% terdapat tailing pada peak etanol dengan tailing factor sebesar 2,097. Ada 2 jenis puncak asimetris yakni membentuk puncak yang berekor (tailing) dan adanya puncak pendahulu (fronting). Baik tailing maupun fronting tidak dikehendaki saat dilakukan analisis karena dapat menyebabkan pemisahan kurang baik dan data retensi kurang reprodusibel (Gandjar dan Rohman, 2007). Terdapatnya tailing pada konsentrasi 6% peak etanol disebabkan karena terlalu pekatnya larutan seri 6% sehingga gas pembawa tidak mampu membawa solut dengan sempurna. yang diperoleh

Setelah larutan larutan seri diinjeksikan, selanjutnya dilakukan injeksi larutan sampel dan kontrol positif. larutan sampel dinjeksikan sebanyak 0,5 L. Penginjeksian sampel diakukan 3 kali untuk menentukan presisinya. Pada proses analisis diperoleh 4 peak pada pengulangan I, 3 peak pada pengulangan II dan 3 peak pada pengulangan III. Data sampel dan sampel yang diperoleh adalah sebagai berikut:

Pengulanga n

Punca k 1

Waktu Retensi 2,309 2,389 2,445 4,501 2,294 2,342 2,478 2,345 2,479 4,529 2,352 2,486

AUC 1506,8 7646,3 598460,6 1291,8 8133,6 9535,0 287871,3 1966,8 899112,3 1965,0 15603,8 2825877,8

HETP 0 0 0 0 0 0 0 0 0

N 26355,014 32303,541 99611,931 43067,897 21146,382 25888,220 75809,160 14756,564 22490,548

Tailling 2,101 1,110 1,515 3,790 1,895 2,467

2 3 4

Sampel

1 2 2 3 1 3 2 3

Kontrol

1 2

Terdapat tailing pada beberapa peak disebabkan karena terlalu pekatnya larutan sampel sehingga gas pembawa tidak mampu membawa solut dengan sempurna.. Pada pengulangan I, senyawa etanol ditunjukkan oleh peak 3 dengan AUC 598460,6 dan waktu retensi 2,445. Pada pengulangan II, senyawa etanol ditunjukkan oleh peak 3 dengan nilai AUC 287871,3 dan waktu retensi 2,478.

Sedangkan pada pengulangan III, senyawa etanol ditunjukkan oleh peak 3 dengan nilai AUC 899112,3 dan waktu retensi 2,479. Selanjutnya dilakukan perhitungan Perbandingan Luas Area (PLA) seri etanol dan sampel dengan kontrol positif. Pada seri 0,5% diperoleh PLA sebesar 10,02 ; seri 1% diperoleh PLA sebesar 9,482 ; seri 2% diperoleh PLA sebesar 12,01 ; seri 4% diperoleh PLA sebesar 35,03 ; seri 6% diperoleh PLA sebesar 56,32 ; Sampel pengulangan I diperoleh PLA sebesar 0,211, sampel pengulangan II diperoleh PLA sebesar 0,010, dan sampel pengulangan III diperoleh PLA sebesar 0,318. Dibuat sebuah garis regresi linier hubungan PLA dengan konsentrasi. Data yang digunakan untuk menentukan garis linier adalah larutan seri 2%, 4%, dan 6% karena kurva yang terbentuk dari tiga data ini menunjukkan hubungan linearitas. Kurva garis regresi etanol adalah sebagai berikut:

Gambar kurva kalibrasi larutan seri etanol

Untuk menentukan kadar etanol pada sampel, nilai AUC dimasukkan dalam persamaan linier dari kurva baku etanol yaitu y = 0,086x - 0,031. Kadar etanol pada sampel yang diperoleh pada sampel pengulangan I yaitu 2,81 % v/v , pengulangan yaitu 0,476 v/v, dan pengulangan III 4,05 % v/v. Kadar rata-rata yang diperoleh adalah 2,44 % v/v. Kurva baku etanol memiliki linieritas yang baik yaitu memiliki regresi R2= 0,997 nilai regresi 0.9 - 1 menunjukan linieritas kurva yang baik. Dari konsentrasi yang diperoleh dilakukan perhitungan perolehan kembali serta nilai LOD dan LOQ untuk validasi data. Perolehan kembali pada pengulangan I, II, III berturut turut adalah yaitu 59,7% ; 10% ; 86,1%. Validasi pada praktikum ini dilakukan dengan linieritas, LOD & LOQ, perolehan kembali. Pada linieritas ditentukan dari garis regresi yang dihasilkan, dimana nilai korelasi menunjukkan nilai 0,997. Perolehan kembali pada pengulangan I, II, III berturut turut adalah yaitu 59,7% ; 10% ; 86,1% dengan rata rata 51,9 %. Dari hasil perolehan kembali hasil yang diperoleh belum akurat karena perolehan kembali baru mencapai 51,9 %, LOD adalah batas deteksi adalah jumlah terkecil analit dalam sampel yang dapat dideteksi yang masih memberikan respon signifikan. Sedangkan LOQ adalah kuantitas terkecil analit dalam sampel yang masih dapat memenuhi kriteria cermat dan seksama (Harmita, 2004). Dari perhitungan LOD dan LOQ didapatkan nilai LOD sebesar 22,3 dan LOQ sebesar 74,4.

VIII. KESIMPULAN Pada praktikum penetapan kadar etanol dan metanol ini didapatkan kadar etanol dalam sampel pengulangan I yaitu 2,81 % v/v , pengulangan yaitu 0,476 v/v, dan pengulangan III 4,05 % v/v dengan rata-rata yang diperoleh adalah 2,44 % v/v. Senyawa metanol tidak ditemukan dalam sampel manapun.

DAFTAR PUSTAKA BPOM RI. 2010. Siker Informasi Keracunan (SIKer) Pedoman Penatalaksanaan Keracunan Untuk Rumah Sakit. Jakarta: Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik Indonesia. Day, R.A dan Underwood. 1987. Analisis Kimia Kuantitatif. Jakarta: Erlangga. Depkes RI. 1979. Farmakope Indonesia Edisi Ketiga. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Depkes RI. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Gandjar, Ibnu Gholib, Abdul Rohman. 2007. Kimia Farmasi Analisis. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Pardosi, Jasmer L. 2009. Perbandingan Metode Kromatografi Gas dan Berat Jenis pada Penetapan Kadar Etanol. Medan: Departemen Kimia Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Sumatera Utara. Putro, A.N.H dan S.A. Ardhiany. 2010. Proses Pengambilan Kembali Bioetanol Hasil Fermentasi dengan Metode Adsorpsi Hidrophobik. Semarang: Jurusan Teknik Kima Fakultas Teknik Universitas Diponegoro.

USP. 1995. The United States Pharmacopeia Convention. USA: Twinbrook ParkWay Rockville Inc.

LAPORAN PRAKTIKUM ANALISIS FARMASI II PENETAPAN KADAR METANOL DAN ETANOL DARI SAMPEL MINUMAN BERALKOHOL (BIR BINTANG) DENGAN GC-FID

OLEH: KELOMPOK 6 GOLONGAN I Putu Pebri Cayana Ni Wayan Restika Noviyanti I Putu Gede Surya Dian Wiguna Luh Rasmita Dewi (1008505021) (1008505022) (1008505023) (1008505024)

JURUSAN FARMASI FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM UNIVERSITAS UDAYANA 2012