Anda di halaman 1dari 38

OBJEK KAJIAN TASAWUF DALAM PERSFEKTIF PSIKOLOGI

Hasanudin Arinta Kusrin

Yayasan Bina Cendekia Indonesia


Membina dan membangun insan cendekia Indonesia dengan Iman, taqwa, ilmu pengetahuan dan teknologi..................................................

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

PENDAHULUAN : Sebagai suatu disiplin ilmu, tasawuf sudah dikenal dan berkembang sejak dahulu, mendahului ilmu psikologi. Tasawuf merupakan aspek esoterime dalam kajian Islam yang perwujudannya adalah adanya kesadaran untuk berkomunikasi atau berdialog dengan Tuhan. Secara harfiyah istilah tasawuf berasal dari beberapa akar kata berikut: alshuffah, shufi, shaff, shuf, dan sophos.1 Al-Shuffah berasal dari istilah "ahl alshuffah" (penghuni serambi masjid Nabawi), kata shufi berarti sekelompok orang yang disucikan, kata shaf berarti "barisan dalam shalat berjamaah", kata shuf berarti "kain terbuat dari bulu domba yang biasa dipakai para sufi", sementara kata sophos -berasal dari istilah Yunani berarti "bijaksana". Kelima substansi dari akar kata tasawuf tersebut ternyata mengandung muatan arti "kehidupan jiwa dan mental seseorang". Istilah "ahl al-shuffah" nampak bersifat materi, yakni sekelompok sahabat Nabi yang berdiam di serambi Masjid Nabawi (dulu rumah Nabi), namun substansinya melekat kepada "makna kejiwaan" untuk memperoleh tausiyah/nasehat-nasehat agama dari Nabi agar jiwanya terjaga dari perbuatan-perbuatan yang akan mengotori jiwanya. Para ahli shuffah masjid nabawi bukanlah sekelompok sahabat Nabi yang berusaha mencari penderitaan hidup, melainkan sekelompok sahabat yang berusaha menyucikan jiwanya untuk selalu siap mendapat "siraman ruhani" dari Nabi dan berperilaku zuhud. Ke empat istilah lainnya juga mengandung arti "kondisi kejiwaan atau mental seseorang". Shaff berarti "barisan dalam shalat berjama'ah". Para sufi mencontoh para sahabat yang senantiasa berebut untuk menempati barisan "shaff" pertama, dengan harapan hatinya dekat dengan Nabi, jiwanya suci seperti Nabi. Shuf yang berarti "bulu" juga melambangkan "hidup sederhana", dimana kesederhanaan hidup para sufi berusaha dalam mencari materi, dan berjuang keras dalam mencapai kesempurnaan ruhani. Demikian pula, kata sophos yang berarti
1

Harun Nasution, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam (Jakarta: Bulan Bintang, 1995), h. 57 Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

"bijaksana" melambangkan bahwa para sufi selalu bersikap bijaksana terhadap siapapun. Sikap bijaksana merupakan sikap jiwa yang adil dan seimbang, jauh dari jiwa zhalim. Dalam pengertian yang cukup jelas di atas, Muhammad Aqil2 menghimpun beberapa rumusan hakekat tasawuf sebagai berikut: (a) tasawuf merupakan kehidupan spiritual (hayat ruhiyat), (b) tasawuf adalah kajian tentang hakekat, (c) tasawuf adalah bentuk dari ihsan, aspek ketiga setelah Iman dan Islam, dan (d) tasawuf merupakan jiwa Islam (ruh Islam). Keempat rumusan tasawuf itu secara keseluruhan menekankan pada aspek kejiwaan, spiritual, dan kehidupan mental. Aspek-aspek esoterik ajaran Islam yang banyak mengkaji tentang nafs, qalb, ruh itu berkaitan dengan pensucian jiwa (tazkiyatun nufus), sehingga sikap spiritualitas dalam Islam adalah upaya manusia untuk berbuat ihsan, sehingga manusia mampu memahami dan menangkap makna hidup dan keberadaannya di dunia ini. Dan ajaran Tasawuf sangat erat dengan upaya pensucian jiwa tersebut. Beberapa penjelasan tentang istilah dan pengertian tasawuf tersebut akan semakin jelas bila dilihat dari sisi tujuan dan intisari ajaran tasawuf. Menurut Harun Nasution,4 tasawuf bertujuan untuk memperoleh hubungan langsung dan disadari dengan Tuhan, sehingga disadari benar bahwa seseorang berada di hadirat Tuhan. Sedangan intisari ajaran tasawuf adalah kesadaran akan adanya komunikasi dan dialog antara ruh manusia dengan Tuhan. Kesadaran akan kedekatan dengan Tuhan, kemampuan berkomunikasi, bahkan berdialog dengan Tuhan tidak mungkin dilakukan oleh manusia, kecuali mereka yang mampu membersihkan dan menyucikan jiwanya dari segala kotoran dan kejahatan. Kebersihan dan kesucian jiwa ini tentu tidak dilihat dari sisi fisik, melainkan sisi jiwa, mental, dan spiritual. Oleh karena itu, bila tasawuf diposisikan sebagai disiplin ilmu, maka tasawuf diartikan "suatu kajian mengenai cara dan
2

Muhammad Aqil bin Ali al-Mahdaliy, Madhal Ila al-Tasawuf al-Isldmiy (Kairo: Dar al-Hadits, 1993), h. 52, sebagaimana dikutip oleh Ikhrom, Titik Singgung antara Tasawuf, Psikologi Agama dan Kesehatan Mental dalam Teologia, Volume 19, No.1, Tahun 2008. Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

jalan yang dilakukan seorang muslim untuk senantiasa berdekatan dengan Tuhannya", karena syarat utama untuk berdekat-dekat dengan Tuhan adalah kesucian jiwa, mental, dan spiritual, maka semua cara dan jalan yang ditempuh haruslah mengacu pada inti ajaran tersebut. Jika ilmu pengetahuan (ilmu psikologi, misalnya) menggunakan "data empirik", ilmu tasawuf menggunakan "data spiritual personal". Ilmu pengetahuan berangkat dari "keraguan" yang merupakan produk akal, ilmu tasawuf berangkat dari "keyakinan" yang merupakan produk qalbu. Ilmu pengetahuan berpijak pada "akal rasional", ilmu tasawuf berpijak pada "hati (alqalb) atau rasa". Selanjutnya ilmu pengetahuan tentang Tuhan bertujuan untuk "mengetahui dan mengenal Tuhan", sedangkan ilmu tasawuf bertujuan untuk "tidak sekedar mengetahui dan mengenal Tuhan semata, tapi juga untuk merasa dan menikmati bertaqorrub dengan Tuhan ".3 William James, seorang psikolog Amerika mengatakan bahwa kondisi bertasawuf dicirikan dalam 4 hal, yaitu 4:
1. Adanya kondisi pencapaian (noetic) yang mampu mengupas hakikat

yang

substansial

berupa

ilham-ilham

(revealations)

dan

bukan

pengetahuan demonstratif.
2. Kondisi bertasawuf tidak mungkin digambarkan atau diungkapkan

(ineffability), sebab merupakan kondisi perasaan (states of feeling). Itlah sebabnya, kondisi tersebut sulit diungkapkan dengan kata-kata terperinci.
3. Kondisi bertasawuf merupakan suatu kondisi cepat hiking (tranciency),

artinya tidak secara terus menerus berada pada diri para sufi dalam rentang waktu yang relatif lama, namun tetap berpengaruh dalam ingatan pelakunya.
4. Suatu kondisi yang pasif , dimana adanya ketundukkan kepada suatu

kekuatan lain yang mendominasi dan menghegemoni dirinya.

3 4

Ikhrom, op.cit. Abu Wafa al-Ghanimi al-Taftazani, Tasawuf Islam, Telaah Historis dan Perkembagannya, Gaya media Pratama, Jakarta, 2008, h.2-3 Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin 5 (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

Sedangkan R.M.Bucke membatasi ciri-ciri kondisi bertasawuf menjadi 7 identifikasi, yakni 5:


1. Cahaya eksisitensi batin (the subjective light) 2. Ketinggian moral (moral elevation) 3. Pancaran Akal (intellectual illumination) 4. Perasaan akan keabadian (sense of immorality) 5. Hilangnya rasa takut dari kematian (less of fear of death) 6. Hilangnya perasaan berdosa (less of sense of sin) 7. Keterkagetan (suddenness).

Menurut

Martin

Lings,

tasawuf

juga

banyak

berurusan

dengan

penyembuhan kalbu dan pensucian serta pemurnian jiwa dari segala sesuatu yang dapat menghalangi seseorang bertaqarub dengan Tuhan. 6. Secara substansial embrio ilmu psikologi memiliki benang merah persinggungan objek kajian dengan ilmu tasawuf yaitu jiwa manusia. Jiwa manusia juga adalah objek kajian tasawuf, sehingga sampai sekarang masih dipertanyakan apa itu jiwa menurut kedua ilmu tersebut. Dalam bukunya berjudul Misticism and Logic, atau Tasawuf dan Ilmu Logika, Bertrand Russel menyatakan bahwa sangat mungkin para filosof dapat menyatukan mainstream tasawuf dan ilmiah, atau kecenderungan harmonisasi keduanya, atau menjadi pemikiran tingkat tinggi sehingga seseorang bisa melakukannya dapat dikatakan sebagai seorang filsuf atau sufi. Ia juga berkata bahwa filsuf-filsuf besar merasakan kebutuhan akan keilmuan dan tasawuf. Sebagaimana diketahui PSIKOLOGI adalah bidang keilmuan yang sangat dekat dengan tasawuf. Sebagai ilmu, PSIKOLOGI yang sampai saat ini sudah sangat jauh mengembara dan menghasilkan banyak produk ilmu turunannya. Ilmu psikologi tumbuh dewasa dan sudah memisahkan diri dengan induknya ilmu, yaitu FILSAFAT, tetapi belum sangat dekat kepada si pemilik ilmu yaitu Yang Maha Mimiliki Ilmu Pengetahuan- Tuhan, Allah SWT. Paling tidak Psikologi telah
5

Abu Wafa, op.cit, h.2-3 Martin Lings, What is Sufism? Membedah Tasawuf (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1987), h. 100 Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
6

Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

melahirkan PSIKOLOGI AGAMA Psychology of Religion. Paling jauh ketika bersentuhan dengan aspek humanisnik dalam dimensi spiritual menjadi PSIKOLOGI HUMANISTIK yang kemudian terus berkembang melampaui kemampuan batin manusia yang terdalam dan bersifat Trans kemudian menjadi PSIKOLOGI TRANSPERSONAL dimana objek kajiannya diantaranya adalah yoga, telepati, alih batin, dan spiritual / emotional Intelligences, dlsb. Ilmu psikologi hingga saat ini belum mengakomodasi dimensi al-Ruh dan al-Fithrah. Artinya Ruh sebagai dimensi khas manusia hampir tidak pernah ditinjau dalam dunia ilmu PSIKOLOGI (BARAT). Selain jiwa manusia, objek kajian tasawuf juga bersinggungan dengan masalah al-ruh, al-qalb, al-aql dan al-nafs pada diri manusia. Dalam al-Quran kita juga akan menjumpai beberapa pemahaman makna bahwa disatu sisi ada esensi kandungan makna yang sama dan senada dari ke 4 objek kajian Tasawuf tersebut yaitu ruh, kalbu, akal dan nafsu, baik dalam dimensi fisik maupun metafisik. Sedangkan kajian ilmu psikologi tidak membahas tentang al-ruh maupun alqalb manusia sebagai bagian terdalam yang bersentuhan pada diri manusia. Kajian Islam tentang jiwa manusia sudah banyak dilakukan oleh para intelektual Muslim, diantaranya dipelopori al-Farabi, Ibnu Sina, dan al-Ghazali. Sekalipun pengkajiannya masih bersifat filosofis, namun setidaknya usaha mereka telah menorehkan dan menelurkan benih bagi studi-studi psikologis di masa mendatang. Al-Gazhali misalnya, sudah mengkaji dimensi struktur ruhaniyah manusia yang meliputi :
1.

Kalbu yang mempunyai dua arti, yakni a) fisik adalah jantung berbentuk segumpal daging terletak di rongga dada kiri, b) metafisik sebagai akrunia Tuhan yang halus (lathifah), bersifat ruhaniah dan ketuhanan (rabbaniyah)

2.

Ruh yang memiliki makna dalam arti fisik merupakan nyawa atau sumber hidup yaitu suatu yang halus dan indah dalam diri manusia yang mengetahui dan mengenal segalanya sebagaimana kalbu dalam arti metafisik. Ruh dalam arti
7

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

metafisik manusia adalah diketahui lebih banyak sebagai urusan Tuhan, dimana manusia hanya diberikan sedikit pengetahuan oleh Allah (QS.al-Israa : 85).
3.

Akal sebagai daya pikir atau potensi intelligensi yang memiliki sifat dan makna yang sama dengan ketiga dimensi kajian lainnya. Menurut al-Ghazali akal adalah yang pertama dijadikan Allah sebelum manusia diciptakan.

4.

Nafsu dalam arti pertama yakni dorongan agresif (ganas) dan dorongan erotik (birahi) yang dapat menjadi sumber malapetaka dan kekacauan bila tidak dikendalikan dan diadabkan. Nafsu dalam arti kedua adalah Nafs almuthmainnah yang lembut, halus dan tenang serta diundang Tuhan masuk ke dalam surgaNya (QS al-Fajar : 27-28). Nafsu dalam arti ini semakna dengan Kalbu dan Ruh dalam arti kedua. Dari pendapat Ghazali tersebut dapat dikatakan bahwa Ruh, Kalbu, Akal dan Nafsu mempunyai dua makna, yakni :
1. 2.

Dalam arti Fisik adalah fungsi-fungsi psikofisik bagi para psikolog. Dalam arti Metafisik adalah kajian atau olahan ahli tasawuf atau sufi. Dalam suatu temuan penelitian memperlihatkan, bahwa filsafat mistis Ibnu

Arabi juga telah banyak menguraikan butir-butir kajian penting tentang kejiwaan yang kelak menjadi embrio bagi lahirnya studi-studi psikologi modern. Pada masa itu, Ibnu Arabi sudah membahas mengenai psikologi empiris, sifat-sifat dan fungsi-fungsi jiwa, dan teori mimpi yang di kemudian hari banyak diungkapkan Sigmund Freud. Pengkajian Ibnu Arabi tentang jiwa manusia mengenai butir-butir psikologis yang tidak terpisahkan dengan penghayatan sufistiknya itu memberikan arti penting bagi pencarian titik persinggungan antara kajian sufistik dan psikologi. Kajian-kajian psikologis Ibnu Arabi dan Al-Farabi memberikan sumbangan cukup strategis bagi pengkajian ilmu psikologi di masa berikutnya. Ilmu Psikologi mencoba menjelaskan mengenai perasaan, motivasi, perkembangan dan kognisi keagamaan yang tampaknya akan sulit dilakukan bila teori tentang daya, sifat, dan fungsi kejiwaan tidak didudukkan terlebih dahulu. Di
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

samping itu, kajian psikologi yang diartikan sebagai ilmu jiwa manusia secara substansial juga sudah banyak dikaji oleh Al-Ghazali. Begitu juga yang dilakukan oleh Ibnu Sina, Al-Farabi, dan Al-Razi yang sudah lebih dulu mengkaji kejiwaan manusia sebelum pakar-pakar psikologi Barat bereksperimentasi dan berspekulasi dengan jiwa manusia. Jadi sesungguhnya para ilmuwan muslim di masa klasik sudah banyak membahas ilmu psikologi secara terpadu. Dikatakan demikian, pemikir muslim yang telah berhasil meletakkan dasar-dasar kontemporer tersebut merupakan para ahli sufi.
Gambar 1 TITIK TEMU TASAWUF dengan Tasawuf : Perjumpaan Psikologi

karena para ilmu-ilmu

Menurut data sejarah, baik Ibnu Sina, Al-Razi, Al-Ghazali, dan lainnya merupakan ahli jiwa yang diakui di Timur dan di Barat. Dan kajian tentang jiwa manusia mereka tidak kering sebagaimana yang dikaji oleh para psikolog Barat saat ini. Karena objek kajian tidak semata diasumsikan sebagai materi (aspek fisik) yang dieksperimentasi dan dimanefestasi dalam sikap, ucap dan gerak tubuh manusia semata, melainkan kepada keterpaduannya dengan pengalaman-pengalaman spiritual jiwa manusia (aspek metafisik) ketika berhubungan dengan Sang Pencipta Jiwa manusia, yaitu Allah SWT.

DGN PSIKOLOGI

Gambar 2 :

Struktur Jiwa Manusia menurut Al-Ghazali

HD.Bastaman7, memaparkan bahwa dari tinjauan psikologisnya melihat apa yang di jelaskan al-Ghazali tentang Kalbu, Nafsu, Ruh dan Akal masih belum dapat membedakan secra tajam antara unsur Raga (Biologis), Jiwa (Psikologis), dan Ruh (Spiritualistis). Makna jasmani (fisik) dari ke empat unsur tersebut masih berbaur antara gambaran biologis dengan psikis, sedangka dalam arti ruhaniyah (metafisik) masih berbaur
7

Hanna Djumhana Bustaman, Integrasi Psikologi dengan Islam, Pustaka Pelajar, Yogyakarta, h.78-79. Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

dalam arti konotasi psikis dan spiritual. Makna jasmani dan ruhaniyah menurut alGhazali, tepatnya dimaknai sebagai makna psikofisik dan metafisik. II.
a.

OBJEK KAJIAN TASAWUF

Al-Ruh. Menurut Hanna Djumhana Bastaman 8 , dapat dijelaskan antara lain : 1. 2. Berasal dari Tuhan, bukan dari tanah atau bumi Ruh bersifat unik, tidak sama dengan akal budi, jiwa dan jasmani, Ruh berasal dari Allah sebagai wahana untuk munajat mendekatiNya. 3. mati) 4. Ruh menjadi kotor dengan noda dan dosa dan dapat dibersihkan serta disucikan. 5. Ruh sangat lembut dan sangat halus, karena itu mengambil tempat/menempati wujud yang serupa dengan wadahnya sebagaimana kita memahami zat cair, gas dan cahaya yang bentuknya serupa dimana ruh berada. 6. Dalam beribadah menurut Tasawuf tidak hanya fisik tapi juga yang terdalam adalah dengan ruh. 7. Tasawuf melatih untuk menyebut kalimat-kalimat Allah (dzikir) tidak hanya dalam taraf kesadaran lahiriah tetapi menembus kesadaran ruhaniyah. Dengan Dzikir, menyebut kalimah Allah, ruh menjadi wahana menuju ke alam ketuhanan. Al Qur'an telah membahas tentang hakekat asal-usul manusia yang di awali dari proses kejadian manusia yaitu dari segumpal darah (QS. 96:1-5), dan setelah melewati beberapa tahapan dan Allah SWT menyempurnakan
8

beberapa karakteristik Ruh

Ruh tetap hidup dalam tidur maupun tidak sadar (pingsan, koma dan

HD.Bastaman, op.cit.h.95. Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

10

kejadiannya dengan dihembuskan-Nya kepada manusia ruh ciptaan Tuhan (QS. 38:71-72). Ruh itu sendiri adalah adalah zat murni yang tinggi, hidup dan hakekatnya berbeda dengan tubuh. Tubuh dapat diketahui dengan pancaindra, sedangkan ruh menelusup ke dalam tubuh sebagaimana menyelusupnya air ke dalam bunga, tidak larut dan tidak terpecah-pecah. Untuk memberi kehidupan pada tubuh selama tubuh mampu menerimanya. ASAL manusia itu sendiri secara esensial bermula dari Allah SWT, bersifat Nur (Cahaya), Ruh (Hidup) dan Ghaib (Tidak tampak oleh mata kasar) ; sulit untuk didefinisikan oleh kata-kata, huruf, bunyi ataupun sesuatu, melainkan hanya Allah saja yang dapat mengetahui dan memahaminya. Sedangkan USUL manusia berasal dari air dan tanah. Jadi jika ditinjau dari asalnya manusia bersifat RUHANIYAH, dan dari usulnya bersifat JASMANIYAH. Misteriusitas al-ruh sudah lama menjadi perdebatan di kalangan ulama Islam (teolog, filosof dan ahli sufi) yang berusaha menyingkap dan menelanjangi keberadaannya. Mereka mencoba mengupas dan mengulitinya guna mendapatkan kepastian tentang hakekat ruh. Dalam bahasa Arab, kata ruh mempunyai banyak arti, diantaranya yakni :
1. 2. 3.

Kata untuk ruh Kata ( rih) yang berarti angin Kata ( rawh) yang berarti rahmat. Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat. Jika kata ruhani dalam bahasa Indonesia digunakan untuk menyebut

lawan dari dimensi jasmani, maka dalam bahasa Arab kalimat : * digunakan untuk menyebut semua jenis makhluk
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

11

halus yang tidak berjasad, seperti malaikat dan jin. Ruh akan tetap menjadi misteri (rahasia) yang kepastiannya hanya diketahui Allah semata. Firman Allah dalam QS.Al-Israa,[16]: 85 :
Dan mereka bertanya kepadamu tentang roh. Katakanlah: "Roh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit". (QS. AlIsra': 85)

Tidak kurang dari 20 ayat yang berbicara tentang ruh atau semakna dengan arti ruh dikabarkan pada beberapa surat dalam al-Quran, diantaranya adalah :
a.

Ruh dalam bahasa Arab juga digunakan untuk menyebut jiwa, nyawa, nafas, wahyu, perintah dan rahmat.

b.

Ruh berarti Malaikat Jibril, atau malaikat lain dalam QS. AlSyu-'ara' 193, al-Baqarah 87, al-Ma'arij 4, al-Naba' 38 dan al-Qadr 4.

c.

Ruh bermakna Rahmat Allah kepada kaum mukminin dalam QS. al-Mujadalah 22.

d.

Ruh bermakna Kitab suci al-Qur'an dalam QS. Al-Shura 52.

Menurut Imam Ghazali dalam kitab Misykat al-Anwar, dijelaskan bahwa al-Ruh memiliki martabat atau peringkat, yakni : 1. Ruh Hassas, yaitu ruh yang menerima perasaan, ia adalah ruh hewan, ia ada dalam rahim ibu.
2.

Ruh Hayal, yaitu ruh yang memelihara segala rupa perasaan, ia tidak terdapat pada anak-anak yang masih muda umurnya

3.

Ruh Akal, yaitu ruh yang mendapat maani yang keluar dari panca indera dan khayal manusia. Ruh ini tidak terdapat pada binatang dan anak-anak. 4. Ruh Kudus, bersifat nabawi, yaitu khusus nagi para Nabi dan

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

12

awliya (wali). Dengan ruh ini dapat diketahui makrifat Malakut langit dan bumi. Sedangkan Syeikh Abdullah bin Husein al-Makki al-Idjlani membagi 4 potensi al-Ruh pada makhluk Allah SWT, yaitu : 1. RUH NAMIYA ; yaitu ada pada manusia, hewan dan tumbuh2an. Pekerjaannya memelihara dan menumbuhkan. 2. RUH MUTAHARRIKA : terdapat pada manusia dan hewan, tidak pada tumbuh2an. Disebut juga Ruh Hewani, karena semua hewan bergerak karenanya. 3. RUH NATIKA : yaitu khusus pada manusia, tidak ada pada tumbuh2an dan hewan; disebut juga Ruh Insan. 4. RUH QUDUS : yaitu penjelmaan dari Nur Dzat Allah bagi semua Nabi dan Awliya yang ada mujizat dan karamah, mereka paham akan semua maani dan batin. Jadi potensi ruh yang berkualitas ilahiyah dari seorang hamba adalah tergantung dari kedekatannya dengan Allah SWT. Dan tasawuf melatih ruh kita agar sampai kepada kualitas ruh ilahiyah.
b.

Al-Qalb Al-Qalb bermakna membalikkan, memalingkan atau menjadikan yang di atas ke bawah yang di dalam keluar. Dalam bentuk masdarnya atau kata benda mengandung arti lubuk hati, akal, kekuatan, semangat dan keberanian. Dalam makna ruhaniyah (metafisik), ia tidak dapat dilihat dengan mata kepala kecuali dengan mata batin (mukasyafah) dan merupakan tempat menerima kasih sayang, pengajaran, pengetahuan, berita, ketakutan, keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhhidan. Menurut al-Ghazali, istilah Qalb mempunyai dua pengertian, yakni :
1.

Mengacu kepada arti fisik yaitu sepotong daging berbentuk buah sanubar (al-lahmu as-sanubari), yang terletak dibagian kiri dada

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

13

manusia. Didalamnya terdapat rongga berisi darah merah yang merupakan pusat vitalitas dari aktivitas manusia. Kata sanubar dalam bahasa Arab berarti buah pohon cemara atau sejenisnya mirip dengan bentuk jantung manusia. Kata tersebut di-Indonesiakan menjadi sanubari untuk menunjukkan perasaan hati yang mendalam, sedangkan terjemahan yang tepat dalam bahasa Indonesia adalah JANTUNG. 9
2.

Menunjuk pada pengertian sebagai sesuatu yang halus (lathifah), yaitu suatu hakekat dasar manusia yang bersifat perasa, mengetahui dan mengenal (haqiqat al-insani al-mudrik al-ilm). Pengertian tersebut mengandung kerohaniahan unsur kualitas dan ketuhanan (rabbaniyah) unsur bersifat (ruhaniyyah) mempunyai pengetahuan

(aqliyyah) yang keduanya mempunyai hubungn dengan hati secara fisik (jantung). Jadi di dalam jantung itu terdapat pusat aktivitas manusia yang bersifat jasmaniyyah dan ruhaniyyah.10 Dari sisi ilmu kedokteran, pengertian jantung sebagai pusat aktivitas manusia tentunya berbeda dengan pengertian dalam arti sufistik menurut al-Ghazali, yang melihat bahwa hati berpengaruh dalam menyaring dan mengendalikan manusia melaksanakan fungsinya sebagai penentu kepada suatu pilihan antara yang baik dan yang buruk. ALLAH menggunakan 3 macam kata yang semakna dengan Qalb dengan arti lubuk hati sebagaiman tercantum dalam al-Quran, yaitu : 1. Al-Qalb berarti lubuk hati yang masih bolak balik dan belum mantap dalam memutuskan suatu keyakinan dan kekuatan untuk menerima batin antara yang haq dan yang bathil. (QS: Al-Hadiid [57]:27, Qaf [50]:37) 2. Ash-Shadr, asal katanya adalah kejadian, kembali, permulaan dari segala sesuatu, kukuh hati dan dada. (QS: Az-Zumar[34]:22, Al-Hijr
9

Lihat E.Hasim, Kamus Istilah Islam, Pustaka, Banung : 1987, h.116 Al-Ghazali, Ihya., juzIII, hal.4, sebagaimana dikutip Dr.Ahmad Ali Riyadi, M.Ag., Psikologi Sufi Al-Ghazali, Panji Pustaka, Yoyakarta :2008, h.25. Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin 14 (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
10

Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

[15]:47) 3. Al-Fuad, arti asalnya kematian, ketetapan, manfaat dan hasil.(QS: AnNajm [53]:11, Al-Israa [17]:36) Ketiga macam kata tersebut sering digunakan dalam al-Quran yang secara umum berfungsi sama sebagai wadah dan media Allah menampakkan ayat-ayat-Nya berupa gambaran/pemandangan batin mengandung isyarat, pelajaran penuh hikmah, wadah terbitnya firasat berupa suara dan bisikan ketuhanan yang mengandung perintah dan larangan, esensi kemanfaatan dan kemudaratan, esensi keimanan dan kefasikan, esensi ketauhidan dan kesyirikan, juga sebagai wadah lahirnya rasa cinta dan kerinduan, sedih dan gembira, rasa keinsanan dan ketuhanan. Apabila hati belum mantap menerima cahaya keimanan, keislaman, keihsanan dan ketauhidan maka dinamakan QALB. Jika sudah mantap dan sadar maka dinamakan SHADR, dan jika kesadarannya kokoh kuat tertanam dalam lubuk hati maka dinamakan FUAD. Al-Quran juga menunjukkan adanya indikasi-indikasi konkrit yang menunjukkan dimilikinya potensi qalb Ilahiyah dalam diri setiap orang, yakni :
1.

Seseorang hatinya akan menjadi tentram dan senantiasa damai, apabila selalu berdzikir menyebut dan mengingat Allah Taala, kapan saja dan di mana saja ia berada (Ar-Rad, 28:29)

2.

Pada diri setiap orang ada

wilayah hati atau kecenderungan untuk

senantiasa menghadirkan ketakwaaan dan menabur kerahmatan dan syiar ajaran Allah Taala baik dalam keadaan lapang maupun tidak (Al-Hajj, 22:32).
3.

Hati seseorang akan senantiasa bahagia karena keimanan semakin bertambah dan terus naik ke hadirat Allah Taala; hati berjumpa dengan-Nya serta merasakan kebahagiaan dan kenikmatan (Al-Fath, 48:1-5).
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

15

4.

Hati manusia juga akan selalu condong dan cinta kepada keimanan, ketaatan dan benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. (AlHujurat, 49:7; Ali Imran, 3:8).

5.

Manusia yang mengasah dan memelihara hatinya menjauhi laranganlarangan Allah SWT danmendekatkan hatinya kepada ketaqwaan, maka hatinya menjadi sangat peka terhadap keimanan dan kecintaan kepada Allah, sehingga hatinya gemetar apabila disebut nama-Nya dan bertambahtambah rasa keimanan apabila dibacakan ayat-ayat-Nya (Al-Anfal, 8:2; AlHajj, 22:35, 54; Az-Zumar , 39:23).

6.

Hati manusia senantiasa dekat dengan malaikat Jibril, karena beliau senantiasa hadir ke dalam hati dengan membawa wahyu, irsyad, hidayah dan firasat ketuhanan untuk membenarkan dan menguatkan keimanan dan ketakwaan. (Al-Baqarah, 2:97, Asy-Syuara, 26:194)

7.

Hati manusia juga dipenuhi dengan hakikat Islam dan ilmu empirik, sehingga kepasrahan dan rasa ingin mengembangkaan aplikasi keislamannya terus tumbuh subur dan berkualitas Ilahiyah. (Al-Anam, 6:125; Az-Zumar, 39:22; Al-Ankabut,29:49).

8.

Hati manusia senantiasa terjaga dan dijaga oleh Allah dengan ditampakkan oleh-Nya kenikmatan dan rahasia surga. (As-Syuara, 26: 8990). Rasullah SAW dalam beberapa haditsnya menyatakan bahwa hati manusia itu ada empat macam, yakni:

1.

Hati yang bening, yaitu di dalamnya terdapat lampu yang bersinar. Inilah hatinya orang-orang yang beriman.

2.

Hati yang tertutup, inilah hati yang dimiliki oleh orang yang ingkar (kafir) kepada Allah;

3.

Hati yang dibalikkan, ini adalah hati yang dimiliki oleh orang yang nifaq;
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

16

4.

Hati yang di dalamnya bercampur dua perkara, yaitu dasar pokok keimanan dan dasar pokok kemunafikan. Hati dalam kondisi seperti inilah yang dapat mengalahkan salah satunya. (H.R. Ahmad dari Hudzaifah bin Al Yaman RA) Hati yang bening itulah yang dapat berfungsi baik dan benar potensi ilahiyahnya, karena ia selalu disinari dengan Cahaya-Nya yang diproduksi dari intisari ketaatan dalam beribadah, memuji serta mensucikan dzat-Nya. Menurut al-Ghazali al-Qalb memiliki potensi yang mengandung muatan-muatan sebagai wadah yang memperkuat potensi tersebut dan disebut dengan tentara hati (junudulqalbi). Menurutnya, tentara hati tersebut ada 3 jenis yaitu :

1.

Al-Iradah (kehendak), berfungsi sebagai pembangkit dan pendorong baik untuk mendatangkan sesuatu yang bermanfaat, seperti naluri syahwat ataupun untk menolak sesuatu yang berbahaya (mudharat) dan merugikan seperti emosi dan amrah (ghadab).

2.

Al-Qudrah (kemampuan), berfungsi sebagai penggerak anggota tubuh untuk berbagai tujuan yang tersebar di seluruh tubuh terutama dalam otot-otot (aladalat) dan urat-urat (al-authar).

3.

Al-Ilm (instrument ilmu pengetahuan) dan al-Idrak (daya gerak dan daya pencerap), berfungsi sebagai instrument yang menerima rangsangan, seperti panca indera(al-khawasis), akni indra penglihatan, pendengaran, penciuman, alat perasa, dan alat peraba yang semuanya tersebar di seluruh tubuh bagian luar dan dalam. Sedangkan fungsi utama al-Qalb menurut al-Ghazali yakni sebagai alat pengetahuan (ilmu) dan kehendak (iradah) :

1.

Sebagai ilmu yaitu ilmu pengetahuan tentang urusan duniawi dan ukhrawi serta hakekat-hakekat yang seharusnya dapat diserap dipahami secara rasional. Pemisalan hati dalam kaitannya dengan ilmu pengetahuan
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

17

diibaratkan cermin dengan gambar-gambar beraneka warna. Benda yang terpantul akan jelas memiliki bentuk, begitu juga dengan segala sesuatu yang diketahui jelas memiliki hakekat. Dan setiap hakekat memiliki gambar yang tercetak jelas dalam cermin. Masing-masing eksistensi tersebut merupakan bentuk yang berlainan antara gambar, cermin dan bayangan. Dengan kata lain, seandainya dikaitkan dengan suatu pengetahuan maka si pemilik pengetahuan, adalah hati yang tercetak, di dalamnya gambaran dari segala sesuatunya. Adapun obyek yang diketahuinya adalah hakekat dari segala sesuatu, sedangka pengetahuan mengenai sesuatu adalah ibarat kehadiran gambar tentang hakekat tersebut dalam cermin hati. Dalam analogi yang lain, al-Ghazali mengilustrasikan bagaimana cara hati untuk mengetahui yang dianalogikan hati dengan kolam. Hati adalah laksana kolam yang kosong. Pengetahuan adalah ibarat air, dan indera yang lima adalah ibarat anak sungai (anhar). Ada dua cara untuk mengisi kolam tersebut, pertama dengan membiarkan atau mengarahkan air ke dalamnya melalui kelima anak sungai itu sampai kolamnya benar-benar penuh dengan air. Proses ini adalah analogi dimana indera menangkap informasi mentah dan kemudian diproses secara internal psikologis sehingga menjadi pengetahuan yang lebih matang. Kedua, dengan menutup rpat-rapat anak sungai yang ada dan menggali dasar kolam lebih dalam lagi sampai air akan memancar dari dasar sungai dan memenuhi kolam. Demikian juga halnya seseorang dapat memperoleh pengetahuan dengan menutup inderanya lalu mengasingkan diri untuk membenahi akhlaknya dan menyelamnya ke dasar jiwanya hingga air pengetahuan memancarkan darinya.11 Al-Ghazali juga mengatakan tidak semua cermin memancarkan dan bisa memantulkan gambar dengan sempurna. Ada lima sebab yang memungkinkan gagalnya sebuah cermin dalam merefleksikan obyek; pertama, sebab kelemahan material cermin itu sendiri. Misalkan bila cermin itu terbuat bahan yang berkualitas rendah. Kedua, adanya sebuah kotoran
11

Ahmad Ali Riyadi, ibid. hal.27-28. Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

18

yang menempel pada cermin, meskipun cerminnya sendiri adalah baik dan sempurna. Ketiga, penempatan focus benda yang kurang tepat. Misalkan, bila obyek yang diinginkan direfleksian diletakkan terlalu jauh dan dibelakang cermin. Keempat, adanya obyek lain di antara cermin dan obyek yang ingin direfleksikan. Kelima, ketidaktahuan orang yang ingin melihat refleksi tentang di mana refleksi harus dicari.
2.

Kehendak (iradah), yaitu suatu keinginan atau kehendak pada diri manusia yang mengetahui dengan akalnya sebagai hasil yang akan diperolehnya dengan jalan melakukan sesuatu untuk memperolehnya. Jadi, hati dalam konteks ini menurut al-Ghazali adalah sebagai alat untuk mencari ilmu pengetahuan sebagai hasil pemikiran dan penalaran secara naluriah.12 Qalb mempunyai sifat dan karakter yang dipengaruhi oleh interaksi yang terjadi antara pemenuhan fungsi memahami realitas dengan campuran potensi yang berasal dari kandungan hati dan melahirkan suatu keadaan psikologis yang menggambarkan kwalitas, tipe dan kondisi qalb. Proses interaksi psikologis ini, oleh al-Ghazali dibagi menjadi dua aspek. Pertama, aspek internal. Aspek ini tercermin dalam sifat dasar hati. Di antaranya; 1) sifat sabuiyyah (binatang buas). Cirri khas yang ada pada sifat ini adalah pemarah dan emosional (ghadab). 2) sifat bahamiyyah (kehewanan). Penekanan pada sifat ini adalah pada sifat syahwah. Seperti perilaku kehewanan dangan menonjolkan kerakusan , ketamakan dan sejenisnya. 3) sifat syaitahaniyyah (setan). Yaitu munculnya sifat-sifat keraguan, keculasan, kelicikan dan penipuan. 4) sifat rabbaniyyah (ketuhanan). Karakter yang muncul pada sifat ini adalah berupa hak ketuhanan termasuk di dalamnya hak kepemimpinan mutlak, otoriter atas orang lain. Sedangkan aspek yang kedua disebut aspek eksternal. Yaitu pengaruh norma-norma baik dan buruk yang ditangkap oleh cermin hati. Bila perbuatan baik yang ditangkap oleh cermin hati itu maka akan bersih dari kotoran. Tapi bila
12

Ahmad Ali Riyadi, op.cit.h.28 Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

19

pengaruh perbuatan jahat terhadap hati atau bekas yang ditinggalkan oleh sifat-sifat tercela ibarat asap hitam yang menutupi cermin hati, sehingga menghalangi dari cahaya ilahi. Al-Quran juga menunjukkan adanya 9 indikasi pada diri manusia

yang hatinya bermasalah mengarah kepada kematian al-Qalb, yaitu :


1.

Qalb menjadi bodoh dan tidak dapat memahami ayat-ayat Allah, sehingga seseorang yang memiliki qalb yang bodoh, suka atau tidak suka ia akan menjadi penghuni neraka jahanam. (Q.S. Al-Araf, 7:179).

2.

Hati merasa ketakutan karena banyak karat-karat dalam hatinya akibat telah mekakukan kedurhakaan dan dosa yang bertumpuk-tumpuk. (Q.S. Ali Imran, 3:151).

3.

Hati menjadi terkunci mati dan disegel oleh Allah Taala, karena terlalu sering menentang dan mendustakan ayat-ayat-Nya. (Q.S. Al-Araf, 7:101).

4.

Allah memerintahkan kepada para malaikat agar melakukan eksekusi dengan pemancungan anggota tubuh orang-orang yang ingkar, karena dalam dada mereka banyak virus kehancuran. (Q.S. Al-Anfaal, 8:12).

5.

Allah akan mengisi hati orang-orang yang ingkar itu rasa yang mendorong untuk melakukan pengingkaran dan memperolok-olok atau mempermainkan kebenaran. (Q.S. Al-Hijr, 15:12).

6.

Hati merasa tidak senang mendengar kebaikan dan kebenaran Allah dan Rasul-Nya, bahkan mereka cenderung untuk menjauhkan diri dari hal itu. Karena merasa khawatir kalau-kalau ayat-ayat-Nya akan menghalangi kesenangan hidupnya di dunia. (Q.S. Az-Zumar, 39:45).

7.

Hati sangat sulit menerima kebaikan, kebenaran dan tersentuh nasehat ketuhanan. (Q.S. Al-Baqarah, 2:6; Al-Baqarah, 2: 74). 8. Hati penuh dengan prasangka-prasangka buruk bagi orang-orang yang munafiq dan takut berjuang di jalan Allah. (Q.S. Al-Fath, 48:12)
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

20

9.

Hati bura, bisu, tuli dari kebenaran sehingga ia tidak dapat menerima dan melihat ayat-ayat Allah, bahkan ia tidak dapat menangkap berita dan peristiwa-peristiwa yang bersifat transendental dari alam Malakut, Jabarut dan Lahut secara mukasyafah (penglihatan alam gaib), melainkan hanya kegelapan yang ditatap oleh hati itu. Baqarah, 2:18; Al-Hajj, 22:46) (Q.S. Al-

c.

Al-Aql (akal)
a. Pengertian akal (al-aql)

Secara etimologis, akal memiliki arti yang bervariasi, misalkan alimsak (menahan), arribat (ikatan), al-hajr (menahan), an-nahyu (melarang) dan al-manu (mencegah). Berdasarkan makna bahasa ini maka yang disebut makna orang yang berakal adalah orang yang mampu menahan dan mengikat hawa nafsunya. Jika hawa nafsunya terikat maka jiwa rasionalitasnya mampu berekspresi. Akal merupakan organ tubuh yang terletak di kepala yang lazimnya disebut otak (ad-dimag) yang memiliki cahaya (an-nur) nurani yang dipersiapkan dan mampu memperoleh pengetahuan (almarifah) dan kognisi (al-mudrikah). Kata akal berasal dari bahasa Arab yang mengandung arti mengikat atau memahami. Akal juga diartikan sebagai suatu energi yang mampu memperoleh, menyimpan dan menelurkan pengetahuan. Akal mampu menghantarkan manusia pada substansi humanistik atau potensi fitriyyah yang memiliki daya-daya pembeda antara hal-hal yang baik dan yang buruk, yang berguna dan yang membahayakan. Pengertian tersebut, dapat dipahami bahwa manusia. Kamus Besar Bahasa Indonesia mengartikan akal dengan 4 (empat) pengertian : (1) Daya pikir (untuk mengerti), pikiran, ingatan; (2) jalan atau cara melakukan sesuatu, dan upaya, ikhtiar; (3) tipu daya, muslihat,
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

akal

merupakan

daya

berpikir

manusia

untuk

memperoleh

pengetahuan yang bersifat rasional dan dapat menentukan eksistensi

21

kecerdikan, kelicikan, dan (4) kemampuan melihat atau cara-cara memahami lingkungan. Arti akal (secara harfiah) menuut Kamus-kamus bahasa Arab : al-

imsak (menahan), al-ribath (ikatan), al-hijr (menahan), al-nahy (melarang) dan manu (mencegah). Ibn Manzhur, mengartikan al-aql dengan 6 macam: (1) akal pikiran, Inteligensi, (2) menahan, (3) mencegah, (4) membedakan, (5) tambang pengikat, dan (6) ganti rugi. Akal juga sering disamakan dengan al-hijr (menahan atau

mengikat). Sehingga seorang yang berakal adalah orang yang dapat menahan diri dan mengekang hawa nafsunya. Kata-kata Hamka----seorang ulama-sastrawan Indonesia----mewakili pengertian itu: mengikat binatang dengan tali, mengikat manusia dengan akalnya. Para sufi memahami kedudukan akal dalam konteks mengikat, melekatkan, dan membatasi. Pilihan makna ini berkaitan dengan penciptaan alam semesta oleh Tuhan. Tuhan dianggap tak terbatas, tak terjangkau. Namun, ketika ia ber-tajalli, maka setiap ciptaan-Nya senantiasa terbatas. Ciptaan itu mengikat dimensi Tuhan yang tak terbatas itu. Jadi, akal cenderung berkaitan dengan segala ciptaan Tuhan, bukan Tuhan sendiri yang maha luas itu. Fungsi pengikatan akal tersebut secara ilmiah-filosofis dipelajari dalam semiotika (ilmu tanda) yang begitu populer di kalangan ahli sastra. Betapapun watak semulanya untuk perbincangan ilmu sastra dan bahasa, sebagaimana itu dimaksudkan oleh Ferdinand de Saussure (1857-1913) dan Charles Sanders Pierce (1839-1913), semiotika sangat berguna bagi semua disiplin ilmu. Makna dasar semeion (Yunani), yakni tanda, memiliki kaitan erat dengan ayat yang hanya dapat dipahami oleh akal. Akal dalam jenis ini yang oleh Al-Farabi dibedakan dengan intelek. Menurut Al-Raghib Al-Isfahani, kata akal itu juga menunjuk pada
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

22

potensi

dalam

diri

manusia

yang

disiapkan

untuk

memperoleh

pengetahuan. Kata itu semakna dengan kekuatan berpikir (al-quwwah al-aqilat), pemahaman (al-fahm), tempat berlindung (al-malja), menahan (manaah), hati (al-qalb) dan ingatan (dzakirah). Makna dasar dan makna sinonim itu menunjukkan bahwa akal adalah sesuatu yang memang sengaja disiapkan Tuhan dalam diri manusia untuk menjalani kehidupannya di dunia, dimana keberhasilan penggunaan akal sangat ditentukan oleh seberapa besar potensi itu di aktualkan. Toshihiko Izutsu berpendapat, dari sudut linguistik (ilmu kebahasaan), kata aql adalah kata yang semitransparan. Maksudnya, sebuah kata yang belum begitu jelas makna sesugguhnya. Kata Arab telefun dan dimuqratiyyah, adalah kata yang transparan dan mudah dimengerti karena diadopsi dari kata Inggris telephon dan democracy. Walaupun sejauh menyangkut persoalan telefon, terdapat kata arab hatif yang bersifat semitransparan. Untuk dapat mengerti kata aql itu, maka ia harus dibuat transparan. Kata nous dalam bahasa Yunani dianggap dapat mewakili kata akal yang telah dibuat transparan itu. Nous itu tepat sekali dimaknai sebagai intelek. Kata intelek atau kata akal yang telah ditransparansi itu memiliki makna intelektual dan spiritual. Kata lain yang semakna dengan itu adalah intellectus (Latin) dan vernunft (Jerman). Kata-kata yang disebut di atas itu menunjuk sesuatu yang melebihi penalaran logis. Jika kecerdasan praktis, rasio, atau reason menunjuk pada kemampuan menalar secara logis, dengan langkah-langkah sistematis, yang tentu membutuhkan fakta dan keterlibatan pancaindra, maka aql dalam pengertian intelek (atau nous) melebihi semua itu. Seyyed Hossein Nasr, menyebut akal (dalam kepala) sebagai proyeksi atau cermin dari hati (qalb), tempat keyakinan dan kepercayaan manusia. Dengan itu, akal bukan hanya instrumen untuk mengetahui, melainkan juga
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

23

menjadi wadah bagi penyatuan Tuhan dan manusia. Teori Akal Aktif dari Ibn Sina dan Al-Kindi maupun hierarki ilmu dari Al-Farabi dapat menjelaskan hal itu. Dalam diri manusia, akal bersifat potent yang kemudian mewujud dalam bentuk jiwa (spirit). Menurut Rhenis Meister Echart, di dalam jiwa seseorang terdapat sesuatu yang tidak diciptakan dan tidak mungkin dibentuk. Sesuatu itu adalah intelect. Dengan mencermati keluasan makna, pada akhirnya secara umum diketahui bahwa penggunaan kata al-aql dalam posisi sebagai kata maupun kalimat mengandung dua potensi dan kecenderungan makna yang bersifat rasional dan intuitif, atau mengandung muatan makna psikofisik dan metafisik. Kata dasar al aql tidak ditemui dalam al Quran. Dipakai sebagai kata kerja dalam 49 kali penyebutan 1 kali dalam bentuk lampau (past tense) dan 48 kali dalam bentuk sekarang (present tense) Penyebutannya meliputi : aqluh 1 kali, taqiluun 24 kali, naqil 1 kali, yaqiluhaa 1 kali dan yaqiluun 22 kali. Menurut Yusuf Qardhawi, penyebutannya dalam bentuk istifham imkari(pertanyaan retoris) afala taqiluun- karena Al Quran bermaksud menarik perhatian manusia dan bertujuan memotivasi, memberi semangat, dan mendorong manusia untuk menggunakan akalnya. Materi al aql mengalami pemadatan makna dalam Al Quran disebut sebanyak 49 kali dalam 28 surah, yakni 31 kali dalam 19 surah yang diturunkan di Makkah dan 18 kali dalam 9 surah yang diturunkan di Madinah. Akal menurut Abi Al-Baqa Ayyub ibn Musa Al-Kufi, tercatat empat nama yang menonjol: (1) al-lub, karena ia merupakan cerminan kesucian dan kemurnian Tuhan. Aktivitasnya adalah berzikir dan berfikir; (2) alhujah, karena akal ini dapat menunjukan bukti-bukti yang kuat dan menguraikan hal-hal abstrak, (3) al-hijr, karena akal mampu mengikatkan
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

24

keinginan seseorang hingga membuatnya dapat menahan diri, dan (4) alnuha, karena akal merupakan puncak kecerdasan, pengetahuan, dan penalaran. Menurut Yusuf Qardhawi, dalam Al Quran akal disebut pula dengan term fuad, baik dalam bentuk tunggal maupun jamak. Karena, ia termasuk dalam salah satu dari tiga perangkat pokok ilmu pengetahuan : pendengaran, penglihatan, dan fuad (kalbu). Allah SWT berfirman : Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati ((fuad) semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya (QS.Al-Israa : 36). Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu apapun, dan Dia memberi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati (fuad) agar kamu bersyukur (QS.An-Nahl : 78). Bentuk-bentuk sama -kalbu pendengaran, abshar penglihatan, dan afidah

disebut dalam Al Quran dalam beberapa surat. Begitu juga

dengan qalb -hati - sebagai ganti fuad juga terdapat dalam beberapa ayat dalam Al Quran. Seperti dalam firman Allah SWT berikut ini : Allah telah mengunci mati hati (qulubihim) dan pendengaran mereka, dan penglihatan mereka ditutup. Dan bagi mereka siksa yang amat berat. (QS. Al Baqarah : 7). Katakanlah, Terangkanlah kepadaku jika Allah mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu (qulubikum), siapakah Tuhan selain Allah yang kuasa mengembalikannya kepadamu?(QS Al Anam : 46). Juga disebutkan dalam QS. Al Araf : 179, QS.An Nahl : 108, QS. Al Isra:46, QS.Al Kahfi : 57, QS. Al Hajj : 46, QS. Al Jaatsiyah : 2342. Qardhawi melihat kata fuad dalam beberapa ayat-ayat tersebut terkait kuat atau merupakan satu kesatuan dengan fungsi pendengaran dan penglihatan yang merupakan fungsi organik dari akal. Sedangkan term
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

25

fuad dan afidata, afidati, afidatu

yang lain karena tidak tersirat

dengan fungsi organik akal, - tercantum dalam Al-Quran seperti : QS.14:37, QS.23:78, QS.32:9, QS.46:26, QS.67:23, QS.104:7, & QS.6:113 dan QS.28:10, QS.53:11, QS.11:120, & QS.25:32 -tidak dijelaskan. Kata Al-Aql banyak memiliki makna yang hampir sama, tetapi berbeda pada segi yang lain. Semuanya membawa satu makna, namun pene-kanan masing-masing kata itu berbeda. Diantaranya terdapat tujuh sinonim kata akal itu: (1) dabbara (merenungkan), (2) faqiha (mengerti), (3) fahima (memahami), (4) nazhara (melihat, dengan mata kepala), (5) dzakara (mengingat), (6) fakkara (berfikir secara dalam), dan (7) alima (memahami dengan jelas). Selain itu, masih ada term lain yang dari segi fungsi yang ditunjukkannya memiliki kemiripan dengan kata akal. Yang paling mendekati adalah kata al-qalb (dalam arti pengganti fuad dan dikaitkan dengan fungsi organik akal) dan beberapa ayat lainnya yang akan dijelaskan terkait dengan Al-Qalb. Dalam bahasa Persia dan Urdu, kata al-Qalb disebut del dan dalam bahasa Inggris disebut Heart. Dalam Al Quran, kata Qalb digunakan untuk menunjuk kepada sesuatu yang berfungsi sebagai pengendali pikiran dan kehendak, yang kita sebut akal. Dalam al-Kafi, kata Qalb dalam surah Qaf ayat 37 ditafsirkan sebagai akal (al-aql). Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan (dzikra) bagi orang-orang yang mempunyai qalb. Beberapa contoh ayat dalam Al Quran tentang al Qalb yang memiliki arti secara tersirat dengan kata akal, yaitu : Tidaklah mereka merenungkan isi Al-Quran, ataukah hati mereka sudah terkunci? . (QS Muhammad [47]: 24) Mereka mempunyai kalbu yang tak dapat dimengerti.
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

26

(QS Al-Araf [7]: 179) Apakah mereka tidak melihat ke langit di atas kepala mereka dan merenungkan bagaimana ia Kami bina dan hiasi. (QS Qaf [50]: 6) Demikianlah Tuhan memberi pertanda-pertanda bagi kamu, semoga kamu berfikir. (QS Al-Baqarah [2]: 219) ...kemudian mereka mengubahnya setelah mereka memahaminya, sedang mereka mengetahui. (QS Al-Baqarah [2]: 75) Lima contoh ayat di atas memperlihatkan bagaimana sinonim kata aql, juga dipakai untuk melukiskan pekerjaan-pekerjaan akal manusia. Luas dan banyaknya pilihan kata (diksi) ini menunjukan perhatian yang sangat dalam terhadap kegiatan berfikir manusia. Sinonim itu juga menunjukan tingkatan-tingkatan berfikir. Dari yang sederhana, seperti melihat dan berfikir praktis, sebagaimana diwakili oleh kata nadzar, sampai pemikiran-pemikiran yang mendalam, seperti diwakili kata fakkara. Bahkan, lebih dari sekadar berfikir, manusia disuruh untuk mengambil pelajaran dan merenungkan apa yang dipikirkannya, sebagaimana ini diwakili oleh kata dabbara, taddabur. Term-term lainnya yang berada dalam medan semantik kata akal sebagaimana dipakai dalam Al Quran diantaranya adalah :

Kata Al Fikr yang dalam bahasa Indonesia kata ini menjadi pikir dan pakar berasal dari Al Fikr yang dalam Al Quran menggunakan istilah fakkara dan tafakkaruun. Menurut Quraish Shihab, kata fikr berasal dari kata fark dalam bentuk faraka yang dapat berarti : (1) mengorek sehingga apa yang dikorek itu muncul, (2) menumbuk sampai hancur, dan (3) menyikat (pakaian) sehingga kotorannya hilang. Salah satu bentuk berfikir adalah tafakur. Kata ini telah mengalami pemadatan makna melebihi sekedar makna harfiahnya, sebagaimana yang diungkapkan oleh Al Fudhail bahwa tafakur adalah cermin yang akan memperlihatkan padamu kebaikan dan
27

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

keburukanmu. Ibnu Qayyim Al-Jauziy juga berpendapat bahwa bertafakur merupakan pekerjaan hati yang paling utama dan paling bermanfaat. Kegiatan berfikir yang diselingi dengan refleksi berupa tafakur akan mengarahkan seseorang kepada kedalaman makna obyek ilmu pengetahuan. Dengan bertafakur dapat dipahami adanya hubungan yang erat antara pikiran dan perasaan hubungan antara fikr dan dzikr.

Kata Al Dzikr, oleh Hanna Kassis (1983) dilihat sebagai hubungan organik antara fikr dan dzikr melalui penulusuran kata fakkara. Kata itu, disamping bermakna seperti disebut di atas, juga mengandung arti to reflect (merenung) sehingga dalam proses berpikir terkandung juga kegiatan yang bersifat refleksi (permenungan) terhadap obyek yang dipikirkan itu. Ketika seseorang berpikir, ia tidak hanya memperoleh informasi (data-data atau fakta-fakta) saja. Ia juga dan ini yang paling utama- memperoleh hikmah dan kebijaksanaan. Banyak orang memiliki ilmu, tetapi sedikit saja yang memiliki kebijaksanaan. Dan seutama-utamanya berfikir adalah berpikir menuju hikmah itu. Semakin dalam seseorang berpikir, semakin tajam kekuatannya, dan itu berarti semakin bijaksanalah dia. Al Quran berulang-ulang menandaskan bahwa hikmah itu dapat diberikan kepada siapa saja. Siapa yang telah memperoleh hikmah, ia sesungguhnya telah diberi nikmat yang banyak (QS Al Baqarah [2]: 269). Tadzakkur adalah salah satu tugas akal yang paling tinggi. Dan dzakirah (ingatan) adalah tempat penyimpanan pengetahuan dan informasi yang diperoleh manusia untuk dipergunakannya pada saat dibutuhkan. Manusia, menurut Qardhawi, tidak bisa hidup tanpa tadzakkur dan dzakirah. Entah di dunia, entah di akhirat. Ada perbedaan penekanan makna antara tafakkur dan tadzakkur. Untuk memperoleh pengetahuan baru dan segar, maka tafakur

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

28

diperlukan. Sedangkan untuk mengingatnya, supaya tidak lupa dan lalai, tadzakkur diperlukan. Imam Al-Ghazali mempertegas posisi keduanya, Setiap orang yang berpikir adalah ber-tadzakkur namun, tidak setiap ber-tadzakkur itu berpikir.

Kata

Ilm . Dari semua pekerjaan akal, akar kata ilm dan kata

turunannya paling banyak disebut. Menurut Quraish Shihab ada sekitar 854 kali disebut. Istilah ini terdapat dalam Surah Makkiyah dan Madaniyah secara seimbang dengan semua kata jadiannya: sebagai kata benda, kata kerja, atau kata keterangan. Kata itu digunakan dalam arti proses percarian pengetahuan dan objek pengetahuan. Dari segi bahasa, ilm berarti kejelasan. Setiap turunannya termaktub makna kejelasan itu. Misalnya, alam (bendera), ulmat (bibir sumbing), alam (gunung-gunung), alamat (alamat). Tiap-tiap kata itu menjadi penjelas bagi apa yang ditunjuk. Misalnya, gunung menjadi jelas karena langsung terlihat pada bibir seseorang. Makna dasar lain dari kata ilm adalah, menjangkau sesuatu sesuai dengan keadaan yang sebenarnya. Ia juga dipakai untuk menyebut suatu pengenalan yang sangat jelas terhadap suatu objek. Karena itu, menurut pandangan Al-Quran, seseorang yang menjangkau sesuatu dengan benaknya, tetapi jangkauannya itu masih disertai keraguan, maka ia tidak bisa disebut sebagai orang yang mengetahui apa yang dijangkaunya itu. Kondisi ini bukan ilm, tetapi zhann. Secara semantik, jalan yang dilalui kata ilm sedikit berbeda dengan kata aql. Bila kata aql mengalami pemadatan makna dalam makna dasarnya, maka kata ilm justru dalam makna relasionalnya. Makna dasar kata ilm sama pada setiap sistem yang memakainya, baik pra-Islam, AlQuran, maupun teologi Islam. Namun, makna relasionalnya menjadi berbeda sejauh menyangkut sumber ilmu itu sendiri.
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

29

Kata

Nazhar, oleh Quraish Shihab, diartikan sebagai nalar,

digunakan secara tegas sebagai memandang dengan mata kepala dan mata hati. Secara harfiah, dekat dengan kata al fahsu (penyelidikan) atau kontemplasi ( al-taammul). Juga semakna dengan melihat (rayu) dan memandang dengan mata (bashar). Secara istilah, ia menggambarkan proses pengertian terhadap sesuatu hal atau objek. Mula-mula melalui pandangan mata (kepala) yang memaksa seseorang memperhatikan suatu objek . Setelah itu, ia akan berpikir untuk meyakinkan dirinya tentang kebenaran objek tersebut. Mungkin makna itu dapat diwakili oleh kalimat pleonastis berikut: melihat dengan mata kepala sendiri. Seseorang akan betul-betul yakin terhadap sebuah objek jika ia melihat secara langsung dengan mata kepalanya sendiri. Metode empiris dalam ilmu pengetahuan dapat dijelaskan melalui penelusuran kata nazhar itu. Pengetahuan yang dihasilkan melalui metode ini cukup akurat, karena telah melalui penyelidikan yang mendalam (al-marifat hashila al-bada fahshi).

Kata

al Albaab atau uqul adalah bentuk jamak dari term lubbu

artinya isi, yaitu antonim dari kulit. Seakan-akan Al Quran ingin menunjukkan bahwa manusia terbagi atas dua bagian yaitu kulit dan isi. Bentuk fisik bagian luar manusia adalah kulit sedangkan isinya manusia adalah akal. Menurut Imam al-Biqai berkata, Albab adalah yang memberi manfaat kepada pemiliknya dengan memilah sisi substansial dari kulitnya. Al Harali berkata, Ia adalah sisi terdalam akal yang berfungsi untuk menangkap perintah Allah dalam hal-hal yang dapat diinderai, seperti halnya sisi luar akal yang berfungsi untuk menangkap hakikat-hakikat makhluk, mereka adalah orang-orang yng menyaksikan Rabb mereka melalui ayat-ayatNya. Term ulul albaab atau ulil albaab terulang dan disebut dalam Al Quran sebanyak 16 kali, 9 diantaranya dalam ayat-ayat Makkiyah, tujuh lainnya terdapat
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

30

dalam ayat-ayat Madaniyah. Empat ayat Madaniyah diantaranya dengan redaksi memanggil yaa ulil-albaab yaitu : [5]: 100, dan 4) QS al Thalaq [65]: 10-11. Al-Ghazali mengartikan akal sebagai potensi yang disiapkan untuk menerima ilmu pengetahuan, tidak menjelaskan bagaimana proses berpikir seperti yang dibahas para psikolog. Menurutnya, ada beberapa pengertian tentang akal, pertama, akal diartikan sebagai suatu sifat yang membedakan manusia dengan hewan dan merupakan potensi yang dapat menerima dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang berdasarkan ilmu nadlari (idrak al-ulum an-nadlariyyah). Kedua, akal diartikan sebagai suatu sifat yang membedakan manusia dengan hewan dan merupakan potensi yang dapat menerima dan memahami pengetahuan-pengetahuan yang telah tersimpan dalam diri anak yang mumayyiz. Sebutan ini, sebagai ilustrasi karena anak tersebut mampu membedakan antra perkara yang memberi dan tidak memahami antara yang baik dengan yang tidak baik atau ilmu-ilmu yang sudah tertanam dalam diri manusia, atau kumpulan pengetahuan aksiomatis tentang kemungkinan segala yang mungkin dan kemustahilan atas segala yang mustahil. Ketiga, akal adalah pengetahuan-pengetahuan yang diperoleh dari pengalaman manusia. Keempat, akal adalah al-gharizah (naluri) yang telah tertanam dalam pribadi seseorang dan mampu memperhitungkan akibat yang akan timbul dari segala sesuatunya dan mampu menundukkan serta mengalahkan hawa nafsu yang mengajak kepada kesenangan sesaat. Gharizah dalam artian etimologis berarti insting, tabiat, perangai, kejadian, ciptaan dan sifat bawaan. Sedangkan dalam arti istilah adalah potensi laten (bawaan) yang ada pada psikofisik manusia yang dibawanya sejak lahir dan yang akan menjadi pendorong serta penentu bagi tingkah laku manusia, baik berupa perbuatan, sikap, ucapan dan sejenisnya. 1). QS al Baqarah [2]: 179, 2) QS. QS al Baqarah [2]: 197, 3) QS al Maaidah

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

31

Dari pengertian keempat tersebut, al-Ghazali menyimpulkan bahwa yang paling merupakan dasar atau pokok pengertian tentang akal adalah sesuai dengan pengertian yang pertama. Sementara pengertian yang kedua adalah cabang pertama. Sedangkan pengertian yang ketiga merupakan cabang dari pengertian pertama dan kedua. Pengertian pertama dan kedua diperoleh secara naluriah (thabii), sedangkan yang ketiga dan keempat diperoleh secara empiris (al-iktisab). Untuk memperkuat pendapatnya tersebut, al-Ghazali mengambil hadis Nabi SAW; tidak ada sesuatu ciptaan Allah SWT yang lebih mulia di sisi-Nya kecuali akal. Sedangkan yang sesuai dengan pengertian terakhir (keempat), mengambil hadis Nabi SAW.; manakala manusia bertakarrub, mendekatkan diri melalui pintu-pintu kebajikan dan berbagai amal bertaqarrublah engkau dengan akalmu. pada Allah, maka shaleh,

b. Fungsi dan Tingkatan-tingkatan Akal

Secara psikologis, al-Ghazali menyebut segala bentuk aktivitas akal mengarah kepada proses berpikir manusia. Akal diartikan sebagai hakikat manusia yang mengetahui, mengenal dirinya sendiri dan mengetahui hal-hal di luar dirinya. Ditinjau dari fungsi dan peranan akal, al-Ghazali membagi akal menjadi dua bagian; akal teoritis (al-aql annadlari) dan akal praktis (al-aql al-amali). Kedua akal tersebut merupakan satu kesatuan yang tidak terpisahkan. Akal teoritis berpusat pada otak sedangkan akal praktis berpusat pada seluruh badan. Akal praktis mempunyai daya-daya jiwa untuk membuat manusia beraktivitas dan menyempurnakan badan sesuai dengan tuntutan manusia. Akal teoritis berguna untuk menyempurnakan substansi pengetahuan immateri dan abstrak. Potensi manusia secara psikologis oleh al-Ghazali dibagi dengan berbagai tingkatan akal, yakni:
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

32

Pertama, akal material (al- aql al-hayyulani). Akal ini adalah tingkatan akal yang paling rendah dan bersifat akal potensi yang belum pernah teraktualisasikan. Akal ini merupakan akal bawaan sejak manusia dilahirkan dan siap menerima perkembangan selanjutnya karena proses lingkungan dan hereditas. Kedua, akal terlatih (al-aql bilmalakah). Akal yang telah memiliki pengetahuan-pengetahuan yang lebih kompleks. Pada tingkat ini seseorang mampu mengetahui sampai kepada pengetahuan-pengetahuan aksiomatis. Yaitu kemampuan berakal tanpa diusahakan seperti perasaan dan naluri manusia. Ketiga, akal abstrak (al-aql bilfili). Akal yang sudah mempunyai kemampuan berfikir sebagai hasil kegiatan berpikir intelek dan tidak hanya mengetahui pengetahuan-pengetahuan aksiomatis tapi mampu mengolah ilmu-ilmu pengetahuan yang didapatkan dari potensi yang dimiliki dan pengaruh dari lingkungan karena perkembangan manusia baik secara fisik maupun praktis. Pada tingkatan ini kegiatan intelek manusia bersifat aktif yakni mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang menguntungkan dan mana yang tidak menguntungkan. Keempat, akal perolehan (al-aql al-mustafad). Akal pada tingkatan ini menyadari pengetahuan-pengetahuan itu secara aktual dan menyadari kesadarannya secara faktual. Akal pada tingkat ini berbeda dengan akal pada tingkat sebelumnya dari segi aktivitasnya. Pada tingkat ini, akal bersifat aktif menciptakan pengetahuan baru dengan berdasarkan pada tingkatan sebelumnya.

d.

Al-Nafs. Dalam perspektif bahasa kata nafs memiliki beberapa arti, seperti:

jiwa, darah, tubuh, dan orang. Dr. M. Quraish Shihab M.A. menyatakan bahwa kata nafs dalam AlObjek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

33

Quran

mempunyai beberapa makna, dapat diartikan sebagai totalitas

manusia, seperti termaktub dalam surat Al-Maidah ayat 32, juga menunjuk maksud surat Al-Maidah ayat 32, serta menunjuk kepada apa yang terdapat dalam diri manusia yang menghasilkan kandungan firman Allah: (Ar-Rad, 13: 11). Selanjutnya beliau menyatakan bahwa kata nafs digunakan juga untuk menunjuk kepada diri Tuhan (kalau istilah ini dapat diterima) seperti firman-Nya: (Al-Anam, 6:12). Pengertian nafs di sini adalah yang berhubungan dengan eksistensi seorang manusia sebagai hamba Allah Taala, hal mana ia memiliki potensi yang khusus dalam diri setiap hamba. Al-Nafs juga disebut sebagai elemen dasar psikis manusia, karena mampu mewadahi dan menampung dimensi-dimensi lainnya, seperti : al-aql, al-qalb, l-ruh, al-fithrah. Secara esensial, al-Nafs mewadahi juga potensi-potensi psikis lainnya seperti taqwa (baik, positif), potensi fujur (buruk, negatif). Pemahaman al-Nafs sebagai elmen dasar psikis manusia seperti yang dijelaskan adalah pemahaman seluruh ayat yang menguraikan jiwa manusia dengan menggunakan istilah al-Nafs. 13 Dalam pandangan Al-Quran, nafs diciptakan Allah Taala dalam keadaan sempurna untuk berfungsi menampung serta mendorong manusia berbuat kebaikan dan keburukan dan karena itu sisi dalam manusia inilah yang oleh Al-Quran dianjurkan untuk diberi perhatian lebih besar, sebagaimana firman-Nya: (Asy-Syams, 91:7-8), dimana pengertian mengilhamkan dalam surat tersebut berarti memberi potensi agar manusia melalui nafs dapat menangkap makna baik dan buruk, serta dapat mendorongnya untuk melakukan kebaikan dan keburukan. Dalam kajian Tasawuf, nafs dikenal memiliki delapan kata ganti, dari kecenderungan yang paling dekat pada tindakan buruk sampai ke tingkat kedekatan kepada kelembutan Ilahi. Yakni:
13

tingkah laku, seperti maksud

Prof.Dr.Baharuddin, M.Ag., Paradigma Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Yogyakarta,2007, h.92 Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

34

1.

Nafsu Ammarah Bissu, yaitu kekuatan pendorong naluri sejalan dengan nafsu yang cenderung kepada keburukan, sebagaimana firman-Nya: (Yusuf, 12:53).

2.

Nafsu Lawwamah, yaitu nafsu yang telah mempunyai rasa insaf dan menyesal sesudah melakukan pelanggaran. Ia tidak berani melakukan pelanggaran secara terang-terangan dan tidak pula mencari-cari secara gelap untuk melakukan sesuatu, karena ia telah menyadari akibat-akibat dari perbuatannya, namun ia belum mampu mengekangnya.(Al-Qiyamah, 75: 2)

3.

Nafsu Musawwalah, yaitu nafsu yang telah dapat membedakan mana yang lebih baik dan mana yang buruk, tetapi ia lebih memilih yang buruk dan belum mampu memilih yang baik, bahkan mencampur adukkan antara yang baik dan yang buruk, sebagaimana firman-Nya: (Yusuf,12:83; AlBaqarah, 2:42).

4.

Nafsu Mulhamah, yaitu nafsu yang memperoleh ilham dari Allah SWT., dikaruniai ilmu pengetahuan. Ia telah dihiasi akhlak mahmudah (akhlak yang terpuji), dan ia merupakan sumber kesabaran, ketabahan, dan keuletan, sebagaimana firman-Nya: (Asy-Syams, 91:7-10)

5.

Nafsu Muthmainnah, yaitu nafsu yang telah mendapat tuntunan dan pemeliharaan yang baik sehingga jiwa menjadi tenteram, bersikap baik, dapat menolak perbuatan jahat dan keji serta dapat menjauhkan diri dari godaan manusia, syetan, jin maupun iblis, dan dapat mendorong untuk melakukan kebajikan dan mencegah kejahatan. Kondisi jiwa yang tenang itu dapat difahami sebagaimana firman Allah Taala: (Ar-Rad, 13:28)

6.

Nafsu Radhiyah, yaitu nafsu yang redha kepada Allah, yang mempunyai peranan yang penting dalam mewujudkan kesejahteraan. (AlMaidah, 5:119; Al-Mujadilah, 58:22; Al-Bayyinah, 98:8).

7.

Nafsu Mardhiyah, yaitu nafsu yang telah mencapai ridha kepada Allah SWT. Keridhaan tersebut terlihat pada anugerah yang telah diberikanNya berupa: senantiasa dapat dengan tulus melakukan dzikir, mendapatkan
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

35

kemuliaan, serta akhlak yang mulia dan agung. (Al-Fajr, 27:30).


8.

Nafsu Kamilah, yaitu nafsu yang telah sempurna bentuk dan dasarnya, sudah dianggap cukup untuk mengajarkan irsyad (petunjuk) dan menyempurnakan penghambaan diri kepada Allah SWT. Orang ini dapat disebut sebagai mursyid dan mukammil (orang yang menyempurnakan) atau Insan Kamil. Dalam taraf ini jiwa orang itu telah demikian dekat dengan Allah SWT, bahkan mereka sudah merasakan diri menyatu dengan-Nya, seperti yang telah dialami oleh Al-Hallaj, Rabiah Al Adawiyah, Syeikh Siti Jenar dari Tanah Jawa dan Syeikh Abdul Hamid Al Banjari dari Kalimantan Selatan. Nafs juga merupakan suatu potensi Ilahiyah yang tugas utamanya adalah:
1.

Menggerakkan dan mendorong jasad dan seluruh anggota jasad melaksanakan dan mengimplementasikan segala bentuk kebenaran yang telah mantap dianalisa oleh akal fikiran, dirasakan oleh qalb dan disaksikan oleh inderawi secara nyata dan integritas.

2.

Aplikasi dan implementasinya berupa perkataan, sikap, gerakgerik dan tingkah laku yang bersifat rahmatan lil alamin.

3.

Integritas itu adalah terpadunya secara utuh dan kokoh antara pemikiran, ucapan, itikad hati dan perilaku dalam aktifitas hidup dan kehidupan yang baik dan benar, baik dalam tatanan horizontal lebih-lebih vertikal. Al-Ghazali melihat al-Nafs atau Jiwa dan potensinya secara garis

besar dalam 3 potensi, yaitu : 1. Jiwa Nabati (jiwa vegetative), berfungsi untuk pertumbuhan (alquwwah almunniyyah) yang menyediakan makanan sebagai subsidi kepada organ tubuh (al-quwwah al-mauludiyyah). 2. Jiwa Hewani (jiwa sensitif), jiwa yang mempunyai organ-organ yang
Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

36

merasakan (al-mudzakarah), dan bergerak dengan kemauan sendiri (almuharrikah). 3. Jiwa Insani (jiwa rasional), jiwa yang mempunyai potensi rasional (alimah) dan memilki kemampuan untuk mengolahnya (amilah). Secara sufistik al-Ghazali membagi tingkatan jiwa menjadi dari yang terendah sampai yang tertinggi, yakni : 1. Jiwa yang memerintah (an-Nafs al-amarah bis as-su); Jiwa ini memerintah dan menyuruh seseorang untuk melakukan kejahatan, yang biasanya jiwa ini dimiliki oleh orang-orang awam pada umumnya. Jiwa ini belum dibersihkan dari segala sumber kejahatan yang menguasai jiwanya (ghadab dan syahwah: dengki/alhasad, pemarah/al-ghadab, sombong/al-khabair, culas/al-ghurur, dan bakhil/al-bukhl, dll.). Allah SWT mengatakan dalam QS. Yusuf [12]:53 yakni : Dan aku tidak membebaskan diriku dari keslahan, kecuali jiwa itu selalu menyuruh kepada kejahatan, kecuali jiwa yang diberi rahmat oleh Tuhanku. Sesungguhnya Tuhanku Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.
2.

Jiwa yang penuh penyesalan (an-Nafs al-lawwamah); Jiwa ini menyadari adanya pikiran-pikiram, keinginan, dan cela diri sendiri. Pada tahap jiwa ini adalah awal perjalanan rohani menuju Allah dan proses penghilangan pelanggaran-pelanggaran dalam kondisi yang terombang ambing antara jalan Tuhan dan jalan Syetan. Yang berujung pada jiwa penyesalan dan akhirnya kembali kepada jalan Tuhan.

3.

Jiwa yang tenang (an-Nafs al-muthmainnah); Jiwa ini adalah jiwa yag tenang membawa ketentraman dan kedamaian bersama Tuhan setelah Allah mengalami mengingatkan proses bahwa interaksi jiwa dengan al37

lingkungannya.

yang

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

mutma-innah adalah jiwa yang akan kembali kepadaNya dalam keadaan tidak gelisah dan mengeluh menuju surganya Allah SWT. (QS.al-Fajr [89]:27). Wallahu alam bishshawab.

DAFTAR PUSTAKA
Ali Riyadi, Ahmad, Psikologi Sufi Al Ghazali, Panji Pustaka, Yogyakarta: 2008 Al-Taftazani, Abu Wafa al-Ghanimi, Tasawuf Islam, Telaah Historis dan Perkembangannya, Gaya Media Pratama, Jakarta:2008. Baharuddin, Paradigma Psikologi Islami, Pustaka Pelajar, Yogyakarta:2007 Daradjat, Zakiah, Ilmu Jiwa Agama, Bulan Bintang, Jakarta: 1970 Ikhrom, Titik Singgung antara Tasawuf, Psikologi Agama dan Kesehatan Mental, Jurnal Teologia, Volume 19, No.1, Tahun 2008 Jalaluddin, H., Psikologi Agama, Rajawali Press, Jakarta: 2008 Jalaluddin dan Ramayulis, Pengantar Ilmu Jiwa Agama, Kalam Mulia, Jakarta: 1996 Lings, Martin, What is Sufism? Membedah Tasawuf , Pedoman Ilmu Jaya, Jakarta: 1987 Nasution, Harun, Filsafat dan Mistisisme Dalam Islam, Bulan Bintang, Jakarta: 1995

Objek Kajian Tasawuf dalam Perspektif Psikologi , Hasanudin Arinta Kusrin (Ketua Yayasan Bina Cendekia Indonesia - Alumni Pascasarjana Kajian Islam & Psikologi
Kajian Timur Tengah & Islam-Universitas Indonesia).

38