Anda di halaman 1dari 10

HUKUM PACARAN

DALAM AGAMA ISLAM

DI SUSUN OLEH NAMA STAMBUK KELAS : MUHAMMAD EKY PRASETYO S. : B1 A1 12 080 :B

FAKULTAS EKONOMI UNIVERSITAS HALUOLEO 2013

KATA PENGANTAR
Puji syukur patutlah dipanjatkan kepada Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan karuniaNya sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan makalah yang berjudul Hukum Pacaran Dalam Agama Islam sesuai waktu yang telah di tentukan. Makalah ini disusun berdasarkan dari berbagai sumber melalui internet. Penulisan makalah ini dapat terlaksana dengan baik berkat bantuan dari berbagai pihak. Untuk kesempurnaan makalah ini saya mengharapkan masukan yang positif dari berbagai pihak untuk kesempurnaannya. Dengan segala kerendahan hati penulis mengucapkan banyak terima kasih atas segala kritikannya demi kelengkapan makalah ini. Semoga Makalah ini dapat bermanfaat bagi mahasiswa lainnya.

Kendari, 7 Januari 2013

Penulis

BAB I PENDAHULUAN

Agama Islam adalah agama yang sempurna telah mengatur segala seluk-beluk berkaitan dengan kehidupan manusia, Allah telah memberikan kepada setiap manusia kecendrungan untuk suka kepada lawan jenisnya, kecendrungan seorang laki-laki suka kepada wanita sebagai lawan jenisnya begitu pula sebaliknya, hal itu untuk mendukung serta menjadi penyebab berkembang biaknya anak manusia dan juga menjadi penyebab keberlangsungan kehidupan manusia di dunia ini, walaupun demikian Islam memberikan konsep yang sangat sempurna dan komplit terkait dengan pengaturan kecendrungan tersebut agar tidak menjadi penyebab terjadinya kerusakan serta madharat bagi kelangsungan hidup umat manusia. Istilah pacaran tidak bisa lepas dari remaja, karena salah satu ciri remaja yang menonjol adalah rasa senang kepada lawan jenis disertai keinginan untuk memiliki. Pada masa ini, seorang remaja biasanya mulai "Naksir" lawan jenisnya. Lalu ia berupaya melakukan pendekatan untuk mendapatkan berpacaran. Pacaran dapat diartikan bermacam-macam, tetapi intinya adalah jalinan cinta antara seorang remaja dengan lawan jenisnya. Praktik pacaran juga bermacam-macam, ada yang sekedar berkirim ada yang layaknya pasangan suami istri. surat, telepon, menjemput, mengantar atau menemani pergi ke suatu tempat, apel, sampai kesempatan mengungkapkan isi hatinya. Setelah pendekatannya berhasil dan gayung bersambut, lalu keduanya mulai

Di kalangan remaja sekarang ini, pacaran menjadi identitas yang sangat dibanggakan. Biasanya seorang remaja akan bangga dan percaya diri jika sudah memiliki pacar. Sebaliknya remaja yang belum memiliki pacar dianggap kurang gaul. Karena itu, mencari pacar di kalangan remaja tidak saja menjadi kebutuhan biologis tetapi juga menjadi kebutuhan sosiologis. Maka tidak heran, kalau sekarang mayoritas remaja sudah memiliki teman spesial yang disebut "pacar". Kalau dilihat dari hukum Islam, pacaran yang dilakukan oleh anakanak sekarang adalah haram. Mengapa haram? Karena pacaran itu akan membawa kepada perzinahan dimana zina adalah termasuk dosa besar, dan perbuatan yang sangat dibenci oleh Allah. Oleh karena itu ayatnya berbunyi sebagaimana yang dikutip di awal tulisan ini. Ayat tersebut tidak mengatakan jangan berzina, tetapi jangan mendekati zina, mengapa demikian ? Karena biasanya orang yang berzina itu tidak langsung, tetapi melalui tahapan-tahapan seperti : saling memandang, berkenalan, bercumbu kemudian baru berbuat zina.

BAB II PEMBAHASAN

1. Pacaran Pandangan Islam Istilah pacaran sebenarnya tidak dikenal dalam Islam. Untuk istilah hubungan percintaan antara laki-laki dan perempuan pranikah, Islam mengenalkan istilah "khitbah (meminang)". Ketika seorang laki-laki menyukai seorang perempuan, maka ia harus mengkhitbahnya dengan maksud akan menikahinya pada waktu dekat. Selama masa khitbah, keduanya harus menjaga agar jangan sampai melanggar aturan - aturan yang telah ditetapkan oleh Islam, seperti berduaan, memperbincangkan aurat, menyentuh, mencium, memandang dengan nafsu, dan melakukan selayaknya suami istri. Ada perbedaan yang mencolok antara pacaran dengan khitbah, Pacaran tidak berkaitan dengan perencanaan pernikahan, sedangkan khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan. Persamaan keduanya merupakan hubungan percintaan antara dua insan berlainan jenis yang tidak dalam ikatan perkawinan. Dari sisi persamaannya, sebenarnya hampir tidak ada perbedaan antara pacaran dan khitbah. Keduanya akan terkait dengan bagaimana orang mempraktikkannya. Jika selama masa khitbah, pergaulan antara laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Islam, maka itu pun haram. Demikian juga pacaran, jika orang dalam berpacarannya melakukan hal-hal yang dilarang oleh Islam, maka hal itu haram. Jika seseorang menyatakan cinta pada lawan jenisnya yang tidak dimaksudkan untuk menikahinya saat itu atau dalam waktu dekat, apakah hukumnya haram ?

Tentu tidak, karena rasa cinta adalah fitrah yang diberikan allah, sebagaimana dalam firman-Nya berikut: Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya Dialah menciptakan untukmu isteri - isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikan itu benar-benar terdapat tandatanda bagi kaum yang berfikir. (QS. Ar-Rum : 21) Allah telah menjadikan rasa cinta dalam diri manusia baik pada laki laki maupun perempuan. Dengan adanya rasa cinta, manusia bisa hidup berpasang-pasangan. Adanya pernikahan tentu harus didahului rasa cinta. Seandainya tidak ada cinta, pasti tidak ada orang yang mau membangun rumah tangga. Seperti halnya hewan, mereka memiliki instink seksualitas tetapi tidak memiliki rasa cinta, sehingga setiap kali bisa berganti pasangan. Hewan tidak membangun rumah tangga. Menyatakan cinta sebagai kejujuran hati tidak bertentangan dengan syariat Islam. Karena tidak ada satu pun ayat atau hadis yang secara eksplisit atau implisit melarangnya. Islam hanya memberikan batasan-batasan antara yang boleh dan yang tidak boleh dalam hubungan laki-laki dan perempuan yang bukan suami istri. 2. Etika Pergaulan a) Tidak melakukan perbuatan yang dapat mengarahkan kepada zina. Allah SWT berfirman, "Dan janganlah kamu mendekati zina sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji dan suatu jalan yang buruk." (QS. Al-Isra : 32) Maksud ayat ini, janganlah kamu melakukan perbuatan-perbuatan yang bisa menjerumuskan kamu pada perbuatan zina. Di antara perbuatan tersebut seperti berdua-duaan dengan lawan jenis ditempat yang sepi, bersentuhan termasuk bergandengan tangan, berciuman, dan lain sebagainya.

b) Tidak menyentuh perempuan yang bukan muhrimnya. Rasulullah SAW bersabda, "Lebih baik memegang besi yang panas dari pada memegang atau meraba perempuan yang bukan istrinya (kalau ia tahu akan berat siksaannya). " c) Tidak berduaan dengan lawan jenis yang bukan muhrimnya. Dilarang laki - laki dan perempuan yang bukan muhrimnya untuk berdua - duan. Nabi SAW bersabda, "Barang siapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka jangan sekali -kali dia bersendirian dengan seorang perempuan yang tidak muhrimnya, karena ketiganya adalah setan." (HR. Ahmad) d) Harus menjaga mata atau pandangan. Sebab mata kuncinya hati. Dan pandangan itu pengutus fitnah yang sering membawa kepada perbuatan zina. Oleh karena itu Allah berfirman, "Katakanlah kepada laki-laki mukmin hendaklah mereka memalingkan pandangan (dari yang haram) dan menjaga kehormatan mereka, Dan katakanlah kepada kaum wanita hendaklah mereka meredupkan mata mereka dari yang haram dan menjaga kehormatan mereka." (QS. An-Nur: 3031). Yang dimaksudkan menundukkan pandangan yaitu menjaga

pandangan tidak melepaskan pandangan begitu saja apalagi memandangi lawan jenis penuh dengan gelora nafsu. e) Menutup aurat. Diwajibkan kepada kaum wanita untuk menjaga aurat dan dilarang memakai pakaian yang mempertontonkan bentuk tubuhnya, kecuali untuk suaminya. Dalam hadis dikatakan bahwa wanita yang keluar rumah dengan berpakaian yang mempertontonkan lekuk tubuh, memakai minyak wangi yang baunya semerbak, memakai "make up" dan sebagainya setiap langkahnya dikutuk oleh para Malaikat, dan setiap laki-laki yang

memandangnya sama dengan berzina dengannya. Di hari kiamat nanti perempuan seperti itu tidak akan mencium baunya surga (apa lagi masuk surga) Selagi batasan di atas tidak dilanggar, maka pacaran hukumnya boleh. Sebagaimana kita yakini sebagai seorang muslim bahwa segala sesuatu yang diharamkan oleh Allah, mesti mempunyai dampak yang negatif di masyarakat. Kita lihat saja di Amerika Serikat, bagaimana akibat karena adanya apa yang disebut dengan free sex, timbul berbagai penyakit. Banyak anak-anak yang terlantar, anak yang tidak mengenal ayahnya, sehingga timbul komplikasi jiwa dan sebagainya. Oleh karena itu, jalan keluar bagi para pemuda yang tidak kuat menahannya adalah : 1. Menikah, supaya bisa menjaga mata dan kehormatan. 2. Kalau belum siap menikah, banyaklah berpuasa dan berolahraga 3. Jauhkan mata dan telinga dari segala sesuatu yang akan membangkitkan syahwat 4. Dekatkan diri dengan Allah, dengan banyak membaca Al-Quran dan merenungkan artinya. Banyak berzikir, membaca shalawat, shalat berjamaah di Masjid, menghadiri pengajian-pengajian dan berteman dengan orang-orang yang shaleh yang akan selalu mengingatkan kita kepada jalan yang lurus. 5. Dan ingat bahwa Allah telah menjanjikan kepada para anak muda yang sabar menahan pacaran dan zina yaitu dengan bidadari, yang kalau satu diantaranya menampakkan wajahnya ke alam dunia ini, setiap laki-laki yang memandangnya pasti akan jatuh pingsan karena kecantikannya. Coba bayangkan saja siapa menurut anda wanita yang paling cantik di alam dunia ini, maka pastilah bidadari itu entah berapa juta kali lebih cantik dari wanita yang anda bayangkan itu.

BAB III PENUTUP

KESIMPULAN Dalam islam tiada istilah pacaran, namun hanya dikenal istilah "khitbah (meminang)". Dimana khitbah merupakan tahapan untuk menuju pernikahan yang selama masa khitbah, pergaulan antara laki-laki dan perempuan melanggar batas-batas yang telah ditentukan Islam, maka itu pun haram. Seperti halnya pacaran, apabila melanggar ketentuan agama maka hukumnya adalah haram. Dalam bergaul antara laki-laki dan perempuan memiliki beberapa etika untuk menjaga dari kemaksiatan.

DAFTAR PUSTAKA

https://googleusercontent.com http://blogbaru2011.wordpress.com/2011/12/20/hukumpacaran-menurut-agama-islam/