P. 1
agraria

agraria

|Views: 13|Likes:
Dipublikasikan oleh A Syahrir Fa
ilmu pengukuran pertanahan dalam masayarakat
ilmu pengukuran pertanahan dalam masayarakat

More info:

Categories:Types, School Work
Published by: A Syahrir Fa on Jan 07, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

03/10/2014

pdf

text

original

Pembantaian Massal di Desa Sungegeneng, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tahun 1965-1966. A.

Pendahuluan Berbagai tulisan mengenai tragedi berdarah tahun 1965 di Indonesia telah banyak ditulis sejarawan dalam maupun luar negeri. Penulisan sejarah terkait dengan peristiwa tersebut, seringkali berkutat pada persoalan siapa yang bersalah atau siapa yang patut disalahkan. Unsur tersebut dapat menjadi penting, sekaligus tidak penting, tergantung dari mana sejarawan melihat peristiwa sejarah tersebut. Agar dapat memberikan informasi yang baru dan tidak sekedar menampilkan tulisan yang relatif sama dengan tulisan lainnya, penulis mencoba menelisik lebih lanjut terkait dimensi lokalitas peristiwa pembantaian massal yang terjadi di Desa Sungegeneng, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tahun 1965-1966. Pembantaian massal terhadap anggota/simpatisan PKI/BTI dipicu oleh beredarnya informasi yang dikeluarkan oleh Soeharto bahwa PKI adalah penghianat. Informasi tersebut dipertegas dengan munculnya dekrit presiden pasca dikeluarkannya Supersemar 1966. Dekrit tersebut menegaskan bahwa PKI merupakan organisasi terlarang dan memerintahkan pembubaran partai dan semua organisasi afiliasinya. Informasi tersebut menimbulkan kekacauan di berbagai daerah di Indonesia. Di Jombang dan kediri misalnya, pembantaian massal terhadap orang-orang yang dianggap anggota/simpatisan PKI/BTI berlangsung sengit. Pengedropan terhadap orang-orang yang dianggap sebagai anggota/simpatisan PKI/BTI dilakukan atas inisiatif dari beberapa pihak dalam masyarakat. Di penghujung tahun 1965, informasi tentang PKI sebagai penghianat dan harus di tumpas sampai ke akar-akarnya mulai menyebar di Desa Sungegeneneg Kecamatan Sekaran Kabupaten Lamongan Jawa Timur. Melalui jaringan militer, informasi tersebut ditindak lanjuti oleh Koramil dan Polsek Kecamatan Sekaran sebagai institusi paling bawah dalam struktur militer. Koramil dan Polsek melakukan koordinasi dengan Kecamatan Sekaran untuk melakukan identifikasi terhadap anggota/simpatisan PKI/BTI dalam masyarakat.

Sebagai institusi pemerintahan yang berada di atas desa, pihak Kecamatan Sekaran melakukan identifikasi anggota/simpatisan PKI/BTI di masyarakat. Pihak-pihak tersebut mengumpulkan organisasi anti komunis di tingkat desa yang ada di wilayah Kecamatan Sekaran. Beberapa organisasi yang dianggap anti komunis adalah NU, Muhammadiyah dan PNI. Beberapa organisasi yang difasilitasi oleh tiga serangkai (Koramil, Polsek, dan Kecamatan Sekaran), kemudian melakukan pembersihan terhadap anggota/simpatisan PKI/BTI. Pada tahap inilah, konflik keluarga, konversi tanah, agama, pemilihan kepala desa atau sekedar tidak suka, terakumulasi cukup lama, sehingga menjadi dendam kesumat. Berbagai faktor pendorong munculnya pembantaian massal di Desa Sungegeneng sangat kompleks. Kompleksitas faktor pendorong tersebut tidak berdiri sendiri. Faktor pendorong yang paling kuat mengalami pergeseran dan simultan. Ketika pemicu dilepas, faktor pendorong utama mengalami pergeseran secara cepat, sehingga meluap dalam bentuk pembantaian massal. Untuk melihat serta menganalisis peristiwa tragedi kemanusiaan di Desa Sungegeneng, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, penulis murni menggunakan sumber lisan. Sumber lisan yang ditampilkan disini tentunya memiliki tingkat kredibilitas yang tinggi, dimana beberapa pelaku sejarah yang masih hidup menjadi sumber utama dalam proses pengumpulan data yang dibutuhkan. Untuk menghindari adanya kebohongan dari para pelaku sejarah, silang informasi menjadi bagian penting dalam menentukan informasi mana yang layak ditampilkan sebagai data. B. Konversi Tanah, Sebuah Upaya Pelaksanaan UUPA 1960 Sebelum tahun 1960, tanah pertanian yang dikelola para petani di Kecamatan Sekaran merupakan tanah pertanian milik desa. Tanah pertanian yang dikelola para petani, tidak menetap dalam satu lokasi pertanian, akan tetapi berpindah-pindah dari lokasi tanah pertanian satu ke tanah pertanian lainnya dalam satu desa. Perpindahan lokasi pertanian ini dilakukan dalam kurun waktu 510 tahun sekali. Terjadinya perpindahan hak kelola para petani atas tanah pertanian yang dikelola, disebabkan belum adanya undang-undang yang mengatur tentang kepemilikan tanah pertanian sebagai hak milik.

Proses perpindahan tanah pertanian dari petani satu ke petani lainnya dilakukan dengan cara menginventarisir tanah pertanian serta para pengelolanya. Pemilihan tanah pertanian difasilitasi oleh kepala desa dan pemilihan tersebut dilakukan di masing-masing desa. Bagi para petani yang sudah mengelola tanah pertanian, mendapat nomor urut dan dapat menentukan lokasi tanah pertanian yang diminati sesuai dengan petakan tanah yang sebelumnya dikelola. Dalam pemilihan lokasi pertanian, dibedakan antara tanah gogol (subur) dan tanah biasa. Di Desa Sungegeneng, petani yang mengelola tanah gogol sebanyak ± 41 orang, sedangkan selebihnya mengolah tanah pertanian biasa, dimana ukuran petak yang dikelola kurang dari 1 ha. Para petani yang mendapat nomor urutan awal pada umumnya, memilih lokasi tanah pertanian subur seperti Balong, Sirahan, Mbajangan, Rowo, dan Bontar. Masing-masing areal pertanian ini berada di sebelah timur perkampungan Desa Sungegeneng. Berbeda dengan para petani yang hanya mengelola tanah pertanian kurang dari 1 ha. Sebagian mereka mendapat sisa tanah pertanian subur, akan tetapi, mereka lebih sering mendapat tempat di areal tanah pertanian kering yang berada di sebelah barat dan selatan perkampungan Desa Sungegeneng. Pada tahun 1964, informasi tentang pelaksanaan UUPA, mulai menyebar sampai di tingkat desa. Informasi tersebut, menjadi sangat menarik untuk diikuti oleh beberapa personal, kelompok, atau partai yang berkepentingan saat itu. Pada tahun yang sama, dimana upaya penerapan UUPA semakin gencar dilakukan, di Desa Sungegeneng telah berlangsung pesta demokrasi pemilihan kepala desa. Para calon kepala desa yang terjaring saat itu berjumlah 11 orang diantaranya adalah 2 orang dari unsur NU yaitu: H. Sa’ed dan H. Ah. Marzuqi; 2 orang dari unsur PNI yaitu: Djamal Mangunjoyo dan Sasmito; 5 orang dari unsur PKI/BTI adalah Kasmolan, Sukadis, Nursalim, Sutompo dan Suwarto; 2 orang lainnya sampai saat ini belum teridentifikasi. Melihat jumlah calon yang demikian padat, H. Marzuqi yang juga sebagai pengurus ranting NU Desa Sungegeneng mengundurkan diri sebagai calon kepala desa. Calon dari unsur NU, tinggal H. Sa’ed. Sampai pada tahap akhir penghitungan suara, posisi H. Sa’ed berada di urutan pertama, sehingga pemilihan kepala desa dimenangkan oleh H. Sa’ed.

Pasca kekalahan kelompok PKI dan PNI dalam pemilihan kepala desa, kedua kelompok tersebut yang sebelumnya juga memiliki hubungan yang harmonis pada masing-masing kadernya, akhirnya merealisasikan organ baru yang bernama BTI. BTI dibentuk dengan tujuan untuk memperkuat barisan petani dalam masyarakat yang sebelumnya belum ada. Beberapa orang yang menggawangi terbentuknya BTI adalah Sudadi, Suwarto, Sutompo, Jamal Mangunjojo dan beberapa kader lainnya. Dalam melakukan pengkaderan di tingkat basis, beberapa kader BTI melakukan pendataan terhadap para petani yang ada di Desa Sungegeneng. Hal serupa juga dilakukan oleh beberapa kader BTI di Desa Siman. Pendataan petani dilakukan dengan cara acak. Selain itu, BTI juga menyediakan pupuk murah untuk petani yang masuk sebagai anggota BTI. Penyediaan pupuk dilakukan karena keberadaannya langka, sehingga pupuk dianggap mampu menarik simpati masyarakat. Pendataan para petani ini membuahkan hasil yang cukup memuaskan. BTI berhasil mendata petani sekitar 200 orang. Oleh karena itu, jumlah anggota/simpatisan BTI Desa Sungegeneng, sampai tahun 1964 mencapai 230 orang. Setelah pendataan dilakukan, para penggagas BTI mempertemukan petani dalam sebuah forum besar yang dilakukan di salah satu rumah penduduk. Pertemuan tersebut dilakukan pada malam hari dan dilakukan secara bergilir dari satu rumah ke rumah yang lain. Pertemuan-pertemuan ini diantaranya dilakukan di rumah Masrun, Sudadi dan Woto. Dalam pertemuan ini, para petani mendapatkan penjelasan tentang program-program yang akan di realisasikan BTI. Selain itu, azas sama rata dan sama rasa diperkenalkan oleh para kader BTI dan selogan tersebut seolah menjadi ritual disetiap pertemuan yang dilakukan oleh BTI. Pengkaderan yang dilakukan oleh kelompok BTI semakin lama, menarik simpati para petani. BTI juga mulai mengarahkan para petani untuk menentang kebijakan yang diterapkan oleh kepala desa berkaitan dengan sertifikasi tanah tanpa melakukan konversi terlebih dahulu. Bagi kelompok BTI, penerapan UUPA 1960 sebagai program besar pemerintah tentunya mendukung secara positif. Akan tetapi, sebelum penetapan tanah pertanian menjadi tanah hak milik, konversi tanah sangat penting untuk dijalankan terlebih dahulu. Konversi tanah yang dimaksud

oleh kelompok BTI adalah mencoba mengembalikan para pengelola tanah pertanian kepada tanah awal yang dulu pernah dikelolanya. Dengan demikian, upaya sertifikasi tanah untuk menjadikan tanah pertanian tersebut sebagai tanah pribadi dapat berjalan seimbang dan tidak hanya menguntungkan bagi sebagian orang yang saat itu kebetulan menempati tanah pertanian subur. Sebagai upaya untuk melakukan perubahan status tanah pertanian, pihak pemerintah desa dan beberapa perangkat desa yang kebetulan didukung oleh kelompok NU, menawarkan jasa dalam proses pembuatan sertifikat tanah pertanian. Proses pembuatan sertifikat tanah pertanian harus mendapat persetujuan dari kepala desa, kecamatan, dan diteruskan ke kantor Agraria Bojonegoro. Proses pengajuan sertifikat tanah dapat diurus secara pribadi atau melalui perantara desa. Bagi para petani, proses urus-mengurus sertifikat tanah dianggap sangat membingungkan dan berbelit-belit, sehingga para petani mengalami kesulitan. Bagi yang memanfaatkan jasa pemerintah desa, para petani hanya cukup membayar segala biaya administrasi dan tinggal menunggu sampai selesainya proses pembuatan sertifikat tanah tersebut. Biaya yang dibutuhkan untuk pembuatan sertifikat tanah pertanian sebesar ± Rp.500.000 (jumlah akumulatif). Sampai pada batas yang dijanjikan, sertifikat tanah yang telah dipesan oleh beberapa petani belum memperlihatkan hasilnya. Berbagai alasan serta banyaknya kekurangan administrasi disana-sini, sehingga biaya operasional terus membengkak. Fenomena ini tidak hanya terjadi pada satu atau dua petani. Jupri misalnya, ia telah mengeluarkan sejumlah uang Rp.400.000, akan tetapi ia belum mendapatkan sertifikat tanah yang dimaksud. Penambahan biaya pun dilakukan, akan tetapi, hasil yang diperoleh tetap sama. Dari berbagai fenomana tersebut, beberapa petani mencoba memberanikan diri untuk mengurus sertifikat tanah secara pribadi. Seperti yang telah dilakukan oleh Masykur, ia mengurus sertifikat tanah pertaniannya mulai dari urusan tingkat desa, kecamatan, Kantor Agrarian Bojonegoro dan Lamongan. Sampai sertifikat tanah tersebut dikeluarkan (durasi waktu ± 6 bulan), total biaya yang dikeluarka berkisar Rp. 200.000. Selisih biaya yang timpang ini mengakibatkan berkurangnya rasa percaya serta simpati masyarakat terhadap perangkat desa (tidak terkecualai kepala desa).

Mahalnya biaya sertifikasi tanah, tidak adanya kejelasan terhadap sertifikat yang dimaksud serta tidak dilaksanakannya konversi tanah pertanian sebelum dijadikan hak milik justru menimbulkan kemarahan besar dari pihak BTI. Mereka menggelar aksi demonstrasi yang ditujukan kepada kepala desa. Beberapa tuntutan yang diusung oleh para demonstran adalah sebagai berikut: 1) diadakannya pemilihan tanah pertanian secepatnya tanpa menunggu 10 tahun kemudian; 2) agar dilakukan konversi tanah, sesuai hak garap pertamakali bagi masing-masing petani; 3) pasar yang semula berada di pusat desa, harus dipindah ke tanah bagian luar Desa Sungegeneng. Beberapa alasan berkaitan dengan harus diadakannya pemilihan tanah pertanian secepatnya tanpa menunggu 10 tahun adalah: (1) bahwa tanah pertanian yang dikelola oleh masyarakat Desa Sungegeneng adalah tanah pertanian umum dan belum menjadi hak milik perseorangan; (2) masyarakat belum memiliki sertifikat tanah pertanian; (3) tanah pertanian yang dikelola oleh Sa’ed yang menempati tanah pertanian subur merupakan keuntungan akibat menjabat sebagai Kepala Desa Sungegeneng; (4) apabila pemilihan tanah pertanian dilakukan dengan menunggu 10 tahun, maka dikhawatirkan para pengelola tanah pertanian subur (seperti Sa’ed) yang pada mulanya menempati tanah pertanian kering, mengajukan sertifikat tanah tersebut sebagai hak milik. Demonstrasi ini dilakukan di depan balai desa Sungegeneng. Ketika kepala desa tidak ditemukan di balai desa, para demonstran yang berjumlah sekitar 20 orang mulai naik pitam dan akhirnya bergerak mendatangi rumah Sa’ed. Kemarahan demonstran semakin memuncak ketika Sa’ed tidak ditemukan juga di kediamannya. Para demonstran hanya bertemu 2 centeng yang sedang berjagajaga di depan rumah Sa’ed. Centeng tersebut adalah Nursalim dan Saleh. Para demonstran menanyakan kepada kedua centeng tersebut tentang keberadaan Sa’ed, akan tetapi kedua centeng ini tidak memberi jawaban atas keberadaan Sa’ed. Keadaan demikian menambah marah para demonstran dan mengakibatkan perkelahian antara dua centeng dengan para demonstran. Perkelahian yang tidak seimbang ini mengakibatkan kedua centeng mengalami luka serius. Luka yang di derita oleh Nursalim dan Saleh adalah di sekitar kepala dan kaki yang mengakibatkan kedua centeng tidak dapat berdiri. Setelah kedua centeng tidak

berdaya, maka sasaran selanjutnya adalah rumah Sa’ed. Akibat amukan para demonstran, kaca rumah, jendela, genteng dan pintu mengalami rusak berat. Sedangkan di pihak demonstran mengalami luka-luka ringan akibat terkena serpihan kaca-kaca. Perusakan terhadap rumah Sa’ed terus berlanjut, namun beberapa saat kemudian, perusakan dihentikan oleh Sutompo, Ketua BTI Desa Sungegeneng. Ia datang di tempat kejadian untuk menghentikan tindakan pengrusakan rumah Sa’ed dan membubarkan para demonstran. Bentrokan yang terjadi di rumah Sa’ed, tidak ada seorang pun dari masyarakat yang menghalang-halangi atau bahkan berusaha membantu dua centeng tersebut. Tidak adanya bantuan untuk melerai perkelahian tersebut karena masyarakat merasa takut terhadap 20 orang demonstran dengan kondisi mengamuk. Pihak Koramil atau Polsek Kecamatan Sekaran tidak melakukan pencegahan terhadap aksi demonstrasi yang dilakukan oleh kelompok BTI, karena demonstrasi dilakukan secara tiba-tiba dan hampir desas-desus tentang aksi demonstrasi tersebut tidak menyebar dalam masyarakat umum. Selain itu, demonstrasi dalam pelaksanaan konversi tanah, dapat dibenarkan. Pasca terjadi demonstrasi yang dilakukan kelompok BTI, pihak Kepala Desa Sungegeneng, Sa’ed mengumumkan kepada masyarakat untuk memenuhi beberapa tuntutan para demonstran tersebut. Walaupun tidak semua tuntutan dapat dipenuhi, tuntutan mengenai pemindahan lokasi pasar dapat secepatnya direalisasikan. Bagi kelompok BTI, dua tuntutan yang pada dasarnya lebih urgen justru tidak terlaksana. Dua tuntutan tersebut yakni: (1) diadakan pemilihan tanah pertanian secepatnya tanpa menunggu 10 tahun kemudian; (2) agar dilakukan konversi tanah, sesuai hak garap pertamakali bagi masing-masing petani sebelum proses sertifikasi tanah pertanian dijalankan. Pasca demonstrasi berlangsung, setiap malam para kader BTI berkumpulkumpul di tempat-tempat setrategis seperti halnya di tepian perempatan jalan, pertigaan dan kedai-kedai di pinggir jalan yang ada di Desa Sungegeneng. Aksi tersebut pada dasarnya diguankan untuk melakukan terror kepada Sa’ed dan juga kelompok NU sebagai pendukungnya. Teror ini dilakukan dengan cara mengolok-

olok, aksi pencurian buah-buahan di pinggir jalan serta raja kaya seperti ayam, kambing yang dilakukan secara diam-diam maupun secara paksa. Hasil curian tersebut dimakan bersama-sama sebagai wujud penerapan azas sama rata-sama rasa. Sambil mengolok-olok, gerombolan tersebut juga melakukan aksi pelemparan terhadap orang yang diangap sebagai anggota/simpatisan NU. Selain itu, aktifitas seperti main kartu, domino dan minum-minuman keras menjadi sesuatu yang biasa. C. Operasi Pengedropan Informasi mengenai PKI sebagai penghianat serta sebagai pihak yang harus di musnahkan sampai ke akar-akarnya, cepat menyebar di berbagai desa di Kabupaten Lamongan. Pembantaian Massal di Kecamatan Sekaran dipicu oleh pernyataan Soeharto yang disebarkan Tentara Nasional Indonesia Angkatan Darat (TNI-AD) bahwa di Jakarta PKI terlibat dalam peristiwa G30S 1965. Pernyataan tersebut ditindak lanjuti oleh Koramil dan Polsek sebagai institusi paling bawah dalam struktur militer. Koramil dan Polsek melakukan koordinasi dengan Kecamatan Sekaran untuk melakukan identifikasi terhadap anggota/simpatisan PKI/BTI di masyarakat. Rapat gabungan pertama kali dilakukan pada hari senin, tanggal 06 Desember 1965. Koordinasi tersebut dimaksudkan untuk melakukan perbersihan terlebih dahulu terhadap para pegawai Kecamatan Sekaran yang diduga sebagai anggota/simpatisan PKI atau BTI. Lasmiran sebagai Rapat gabungan kedua kembali berlangusung, tepatnya pada hari Selasa tanggal 07 Desember 1965. Pada rapat kedua ini yang terlibat tidak hanya dari unsur Koramil, polsek dan kecamatan, akan tetapi beberapa pihak yang dianggap anti PKI turut dilibatkan. Beberapa pihak tersebut adalah NU, Muhammadiyah, dan PNI. Rapat gabungan kedua tersebut dimaksudkan untuk membahas taktis proses pembersihan anggota/simpatisan PKI/BTI secara massal di desa-desa yang masuk dalam Kecamatan Sekaran. Beberapa orang yang dapat diidentifikasi dari masing-masing perwakilan tersebut adalah Bujairi dan Abdul Fattah, dari unsur NU; Abdul Kholiq, dari unsur Muhammadiyah; Suprapto Mangunsudarmo dan Salamun, dari unsur PNI.

Rapat yang dimulai pukul 10.30 WIB sampai dengan pukul 13.00 WIB akhirnya memperoleh kesepakatan tentang taktis pembersihan terhadap anggota/simpatisan PKI/BTI. Hasil pertemuan tersebut adalah sebagai berikut: (1) pembersihan terhadap anggota/simpatisan PKI atau BTI yang ada di masyarakat dilakukan secara berurutan dari desa paling barat di wilayah Kecamatan Sekaran.Pembersihan terhadap anggota/simpatisan PKI atau BTI di Desa Siman ditetapkan pada hari selasa pukul 15.00 WIB. Di Desa Sungegeneng, masih pada hari yang sama, pukul 16.00 WIB. Barisan Anshor Serbaguna (Banser) dari Desa Manyar yang telah mendapat komando sebelumnya bersama dengan aparat militer, sedikit demi sedikit menyisir desa-desa diberbagai desa di Kecamatan Sekaran. Banser dari Desa Manyar serta beberapa Banser gabungan dari beberapa desa seperti Ngareng dan Trosono merupakan salah satu pasukan yang sering mendapat tugas ngedrop di berbagai desa di wilayah Kecamatan Sekaran. Konon, para Banser tersebut terkenal sangat kuat dan pemberani. Setelah melakukan pembersihan di beberapa desa, Ruslam selaku ketua Banser Desa Manyar melakukan koordinasi dengan Ketua Banser Kecamatan Sekaran, Haji Mad yang berasal dari Desa Jugo. Koordinasi ini menghasilkan suatu kesepakatan bahwa Banser Desa Manyar akan bergabung dengan Banser Desa Jugo, sedangkan Banser Desa Jugo melakukan penyisiran terhadap desa lain. Sampai pada akhirnya, Banser gabungan dari Desa Manyar, Ngareng, dan Jugo tersebut melakukan pengedropan di Desa Sungegeneng, sedangkan Banser Desa Sungegeneng melakukan pengedropan di Desa Mertani dan seterusnya secara bergantian. Pengedropan di Desa Sungegeneng, terjadi dua tahap. Tahap pertama dilakukan oleh Banser Desa Sungegeneng dengan identifikasi korban sebanyak 31 orang yang dianggap sebagai anggota/simpatisan PKI/BTI. Dari ke-31 orang tersebut, 21 orang dieksekusi di Bengawan Solo (tepatnya di Desa Pangean), 4 orang dieksekusi di perbatasan desa, 2 orang dibuang ke Pulau Buru, dan 4 orang Selamat. Desas-desus mengenai pembersihan kedua yang akan dilakukan gabungan Banser dari Desa Bulu Tigo, Ngareng, Manyar, dan Jugo di Desa Sungegeneng

mulai tersebar. Isu pembersihan tersebut akan dilakukan pada hari raya Ketupat tanggal 04 Januari 1966. Kabar mengenai pembersihan tersebut ternyata bukan hanya isapan jempol, melainkan kabar nyata. Berbekal informasi dari Haji Riduwan, Supadiq (dianggap sebagai anggota/simpatisan PKI/BTI Desa Sungegeneng) mendapatkan penjelasan bahwa wilayah Desa Sungegeneng yang akn disisir adalah gang Gubandil. Jumlah orang yang akan di bunuh menjelang Hari Raya Ketupat adalah mencapai 200 orang. Selain itu, istilah atau slogan terhadap pembersihan kedua ini adalah “Pembersihan anggota/simpatisan PKI atau BTI sampai akar-akarnya”. Artinya Pembersihan tersebut akan menghabiskan semua orang yang diduga sebagai anggota/simpatisan PKI/BTI. Pada pembersihan kedua yang telah direncanakan sebelumnya, pihak pengedrop mencatat sekitar 200 orang yang dianggap sebagai anggota/simpatisan PKI/BTI. Pada malam hari, masyarakat dihimbau agar tidak keluar rumah oleh Sa’ed selaku Kepala Desa Sungegeneng. Selain itu, bagi orang-orang yang akan ditangkap sekitar pukul 1:00 sampai pukul 04:00 WIB, dilakukan teror dengan menggedor-gedor rumah calon korban yang akan ditangkap. Teror tersebut menimbulkan ketakutan dalam masyarakat yang hebat. Sebagai upaya untuk mengantisipasi sesuatu yang buruk, pihak-pihak yang merasa akan dijadikan korban, secepat mungkin mereka mencari perlindungan dengan segala cara. Seperti halnya Watemo dan Kirno, mereka meminta bantuan kepada famili di luar kota yaitu: Supangkat. Supangkat merupakan salah satu anggota polisi Brigade Mobil (Brimob) yang sedang bertugas di Surabaya. Watemo dan Kirno, sejak dini hari memutuskan untuk pergi ke Surabaya dengan maksud meminta bantuan Supangkat. Selang dua hari sejak kepergian dua orang tersebut ke Surabaya, pada sore hari tepatnya pukul 03:30, Supangkat datang bersama satu kompi pasukan dengan kondisi siap tempur. Sampai di Desa Sungegeneng, masing-masing anggota Brimob tersebut menyebar di penjuru Desa Sungegeneng untuk mengantisipasi adanya pembersihan yang dilakukan oleh Banser. Pengedropan kedua akhirnya dapat digagalkan. D. Konflik Keluarga melahirkan pembantaian massal

Dari beberapa tokoh yang terlibat dalam proses pembantaian massal di Desa Sungegeneng, beberapa dari mereka masih memiliki hubungan kerabat. Suwarto dan Sutompo berstatus saudara kandung. H. Sa’ed dan H. Ahmad Marzuqi berstatus saudara ipar. Antara Suwarto dengan H. Ahmad Marzuqi, mereka memiliki hubungan tertentu, dimana Isa sebagai istri H. Ahmad Marzuqi, sebelumnya telah menikah dengan Suwarto dan dikaruniai 2 orang anak. Sampai proses berikutnya, janda Isa menikah dengan H. Ahmad Marzuqi sembari mengasuh anak -salah satu anak, hasil pernikahan dengan Suwarto- yang bernama Jaiyah. Suwarto, Sutompo dengan H. Ahmad Marzuqi, H. Sa’ed, memeliki jalannya sendiri. Suwarto menjadi pengurus Comite Seksi (CS) PKI Kabupaten Lamongan yang saat itu diketuai oleh Sudadi dari Desa Sungegeneng. Berikut pula Sutompo, ia lebih memfokuskan pada gerakan yang lebih riil di lapangan dengan memimpin BTI di Desa Sungegeneng. Berbeda dengan H. Ahmad Marzuqi dan H. Sa’ed. Keduanya berafiliasi dengan NU. H. Sa’ed adalah ketua Gerakan Pemuda Anshor se-kawedanan Sukodadi. Sedangkan H. Sa’ed merupakan pengurus NU Ranting Desa Sungegeneng. Perbedaan pilihan organisasi serta politik tersebut akhirnya memaksa mereka semua kembali bertemu dalam sebuah arena pencalonan kepala desa Sungegeneng. Suwarto dan Sutompo berangkat dari kelompok yang berbeda, akan tetapi keduanya afiliatif. Suwarto berangkat dari unsure PKI, sedangkan Sutompo berangkat dari unsur BTI. Keduanya memiliki hubungan yang sangat dekat dengan kelompok lain seperti PNI. Jamal Mangunjojo, mantan ketua PNI Cabang Lamongan adalah teman, dan apabila dirunut kebelakang dari beberapa istri Jamal (berjumlah 9), mereka masih memiliki hubungan kerabat. Hubungan mereka sangat dekat, sehingga hubungan Suwarto, Sutompo dengan putera Jamal yang saat itu menjabat sebagai Ketua PNI Ranting Desa Sungegeneng juga baik. Pola hubungan pertemanan serta unsure kerabat menjadikan ketiga organ tersebut hamper sulid dipisahkan. Demikian pula para kadernya. Mereka dengan seenaknya keluar-masuk dari setiap kegiatan yang dilakukan oleh masing-masing organ tersebut. Oleh karena itu, untuk membedakan apakah si A PNI atau si B

PKI atau BTI sangat sulit. Kondisi demikian ditambah dengan menyatunya mereka dalam satu wadah kesenian yaitu Lekra. Sehingga sampai beredar istilah bahwa PKI=PNI=BTI. Berbeda dengan H. Sa’ed dan H. Ahmad Marzuqi. Mereka menetukan pilihan yang sama yaitu Masyumi, akan tetapi ketika NU menarik diri dari Masyumi, keduanya lebih menentukan pilihannya di NU. Keduanya juga memiliki kesamaan dengan Suwarto dan Sutompo. H. Ahmad Marzuqi dan H. Sa’ed pada dasarnya juga memiliki hubungan kerabat dengan Jamal Mangunjojo dari pihak istri. Akan tetapi hubungan mereka tidak sedekat Suwarto dan Sutompo. Dengan demikian, kelima tokoh tersebut masih memiliki hubungan kekerabatan yang dekat. Konversi tanah pertanian yang digulirkan oleh BTI di Desa Sungegeneng, selalu menempatkan dua organ (PKI,PNI,BTI vs NU) yang berbeda tersebut selalu berseberangan. Konversi tanah tersebut pada dasarnya merupakan upaya untuk menghalangi sertifikasi tanah pertanian yang dijalankan oleh H. Sa’ed tanpa melakukan konversi tanah terlebih dahulu. Dari pengakuan Sutompo, bahwa konversi tanah yang digulirkan oleh BTI, memilki motif pribadi, dimana antara Sutompo dengan H. Sa’ed, masing-masing pernah mendapat giliran tanah pertanian di tempat yang sama dan tanah tersebut saat itu dikelola oleh H. Sa’ed. Apabila dirunut lebih lanjut tentang hak kelola pertama, tanah pertanian yang dimaksud, merupakan hak kelola dari orang tua Sutompo. Pada tahap berikutnya, konflik keluarga yang telah terpendam lama bercampur dengan berbagai persoalan seperti tanah, perpolitikan di desa, agama, dan lainnya. Sehingga emosi yang telah terpendam lama tumbuh menjadi dendam yang sifatnya kesumat (laten). Ketika berbagai persoalan di tingkat nasional memanas, dan beredarnya informasi bahwa PKI sebagai penghianat dan harus ditumpas sampai ke akar-akarnya, menjadi pemicu dendam yang telah lama disimpan. Luapan dendam serta adanya dukungan dari militer dan pemerintah kecamatan Sekaran, maka pembantaian massal menjadi pilihan tunggal sebagai jawaban.

Sumber : Kasdi, Aminuddin. Kaum Merah Menjarah, Aksi Sepihak PKI/BTI di Jawa Timur 1960-1965. Yogyakarta: Jendela 2001 http://sungegeneng.wordpress.com/author/sungegeneng. hari Sabtu, 22 September 2012, pukul 15.20 WIB pada hari Sabtu, 22 September 2012, pukul 15.18 WIB INFORMAN SEKALIGUS PELAKU SEJARAH 1. H. Sa’ed 2. H. Ahmad Marzuqi 3. Sutarjo : Kepala Desa Sungegeneng, periode 1964: Mantan Ketua Tanfidliyah NU Ranting Desa Sungegeneng : Anggota Banser Desa Sungegeneng periode 1964-1969 5. Supadeq 6. Masykur 7. Sutompo 8. Sutiani 9. Abdul Hamid 10. Lasmiran 11. Ruslan 12. Suli : Ketua Penghayat Kepribaden Cabang Lamongan : Petani : Mantan pengurus CS PKI Kabupaten Lamongan dan Ketua BTI Desa Sungegeneng : Petani : Mantan Ketua NU Ranting Desa Sungegeneng : Mantan Tapol Pulau Buru : Mantan Ketua Banser Desa Manyar : Putri Sudadi, Mantan Ketua CS PKI Kabupaten Lamongan. 4. Suprapto Mangunsudarmo : Mantan Ketua PNI Ranting Desa Sungegeneng Diambil pada

http://www.scribd.com/ pembantaian massal di desa sungegeneng. Diambil

TUGAS SEJARAH LOKAL
Pembantaian Massal di Desa Sungegeneng, Kecamatan Sekaran, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur tahun 1965-1966.

Oleh : Awam Roisa 104284033

UNIVERSITAS NEGERI SURABAYA FAKULTAS ILMU SOSIAL PENDIDIKAN SEJARAH 2012

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->