Anda di halaman 1dari 3

Percobaan I Ketonusan Sel Darah Merah

A. Tujuan Percobaan
Menentukan larutan yang isotonus dengan eritrosit.

B. Tujuan Instruksional khusus


1. Memperlihatkan kekuatan membran sel terhadap berbagai konsentrasi larutan NaCl dan Glukosa 2. Memperlihatkan dasar-dasar osmosis dan difusi 3. Menjelaskan ketonusan sebagai bagian dari sifat koligatif 4. Menjelaskan pernyataan konsentrasi % berat, Molaritas, dan Osmolaritas.

C. Hasil dan Pengamatan


Ketonusan Hipertonus Isotonus Hipotonus % larutan NaCl 1,8 0,9 0,18 Molar Osmol Bening/ Haemolisis Lart. NaCl Lart. NaCl Keruh + / 0,3077 0,1538 0,307 0,6154 0,3076 0,0614 Keruh Keruh bening +

Ketonusan Hipertonus Isotonus Hipotonus

% larutan Glukosa 5.54 1,105 11,08

Molar Osmol Bening/ Glukosa Glukosa Keruh 0,3076 0,0614 0,6154 0,3076 0,0614 0,6154 Keruh Keruh bening

Haemolisis + / +

D. Jawaban Pertanyaan
1. Mengapa untuk membersihkan jari (untuk mengambil darah) digunakan alcohol 70 % bukan 90% ? jelaskan jawaban anda ! Karena alkohol 90% bersifat hipertonus terhadap darah, dimana penambahan cairan hipertonis dalam tubuh akan menyebabkan perubahan volume intraseluler dan tekanan osmotik. Selain itu, ketika darah terkena suatu larutan yang bersifat hipertonus, darah akan mengalami krenasi yakni kerutnya dinding eritrosit karena kekurangan cairan yang dalam hal ini disebabbkan karena terjadi difusi dari dalam eritrosit keluar hingga volume berkurang.

2. Mengapa 1 molar NaCl = 2 osmol NaCl Karena NaCl merupakan suatu larutan yang dapat terion menjadi: NaCl Na+ + Cl1osmol 1osmol 1osmol Sehingga jumlah total ion NaCl adalah 2osmol 3. Mengapa 1 molar glukosa = 1 osmol glukosa Karena glukosa merupakan suatu larutan yang tidak dapat terion menjadi ion-ion lainnya. Maka, pada saat bereaksi, glukosa hanya memiliki 1 osmol untuk setiap molar larutan 4. Di klinik / rumah sakit, transfusi diberikan dengan larutan NaCl 0,9 % atau glukosa 5 %. Mengapa tidak diberikan larutan dengan persentasi lebih besar atau lebih kecil. Karena larutan tersebut merupakan larutan yang isotonus dengan darah manusia, sehingga tidak akan terjadi osmosis yang dapat menyebabkan terjadinya perubahan atau berdampak kepada pasien tersebut. 5. Faktor faktor apa saja yang dapat mempengaruhi terjadinya plasmolisis? Plasmolisis akan terjadi apabila sitoplasma terkena atau menemui suatu larutan yang bersifat hipertonus. Maka itu, yang dapat mempengaruhi terjadinya plasmolisis adalah lingkungan dan larutan yang mengenai sitoplasma tersebut yakni kehipertonusan larutan. 6. Transfusi suatu campuran A terdiri dari 1 bagian NaCl 0,9 % + 1 bagian natrium laktat 1/6 mol. Cairan natrium laktat 1/6 mol ini adalah cairan yang isotonus. 1. Berapa % konsentrasi natrium laktat yang isotonus. 2. Berapa osmol natrium laktat yang isotonus ? 1. Rumus molekul natrium laktat adalah C3H5COONa Maka, Mr total larutan adalah 112. Sedangkan n= m/Mr, maka m= n x Mr. maka massa dari natrium laktat adalah 112 x 1/6.= 18,67 gram. 18gram dalam 100ml larutan, sehingga kadarnya menjadi 18% 2. Molaritas suatu larutan memiliki persamaan M=n/V, maka molaritas dari natrium laktat adalah 1/6/0,1 = 0,167 molar. Oleh karena natrium larutan juga terion menjadi Na+ dan C3H5COO-. Sehingga 1 molar natrium laktat bernilai 2 osmol, maka 0,167 molar natrium laktat sama dengan 0,334osmol

E. Kesimpulan Percobaan

Dalam setiap tetes darah manusia, ada yang disbut dengan membran sel. Membran sel memiliki kekuatan tertentu dalam berinteraksi dengan larutan lain. Ketonusan adalah suatu peristiwa difusi dari pelarut yang bergerak dari larutan encer menuju larutan yang lebih pekat melalui membran yang semipermeabel. Makin tinggi konsentrasi, makin tinggi pula ketonusan. Jika 2 macam larutan bertonus sama disebut isotonus, larutan jenis inilah yang dipakai dalam infus agar membran darah tidak mengalami krenasi. Larutan yang lebih tinggi ketonusannya disebut dengan hipertonus dimana akan mengakibatkan terjadinya krenasi pada membran. Larutan yang lebih rendah ketonusannya disebut dengan hipotonus. Dalam percobaan, larutan yang isotonus yang ditetesi dengan darah akan berubah warna menjadi lebih keruh, larutan yang hipertonus akan mengakibatkan darah berwarna merah keruh yang tidak dapat dibedakan oleh mata biasa, harus menggunakan mikroskop untuk mengamati perbedaannya. Sedagkan pada larutan yang hipotonus, darah akan berubah warna menjadi jernih(transparan) karena eritrosit menjadi penuh akibat haemolisis.