Anda di halaman 1dari 1

Ketika Kamu dan Aku Nggak Bisa Menjadi Kita Hunn.

Rasanya aku punya lebih dari jutaan rasa syukur karena Tuhan telah utus kamu men jadi salah satu bagian di hidupku. Melengkapi apa yang masih belum cukup, mengis i apa yang masih kosong, dan membuka apa yang tak terlihat. Hampir semua tak kuu ngkapkan, Cuma dengan senyum dan tawa lepasku aku ungkapkan itu semua. Tuhan kir im kamu untuk membukakan mataku akan banyak hal, sengaja atau tidak kamu lakukan . Tapi aku merasakannya, aku merasa hidup dan darah kembali mengalir lancar, ser ta rona wajahku tak bohong. Hidupku bertambah warna, dilengkapi dengan warna war na lain yang tak pernah kukira akan tergambar. Hunn. Aku tahu banyak yang tak bisa kuungkapkan. Tapi bukan berarti aku bohong. Kadang pebuatan lebih berharga dari kata kata, kan? Apalagi untuk soal yang satu ini, aku nggak pandai ngomongnya. Aku lebih sering menghindari omongan seperti ini da n mengalihkannya ke topik lain. Sungguh aku nggak bisa ngomongnya, dan memang ak u nggak kepengen. Aku hanya senang merasakannya. Apa ya? Mungkin kata senang terla lu sederhana untuk mendeskripsikannya. Pasti lebih dari itu. Mungkin kamu memang dikirim tuhan untuk membukakan hatiku akan banyak hal. Hunn. Aku nggak berharap apa apa. Aku nggak berkhayal banyak, ya seenggaknya khayalank u masih dalam batas logika ku. Mungkin kamu yang dikirim Tuhan untuk menunjukkan ku ini dan itu. Membuatku mengerti. Dan mungkin, sebatas itu. Nggak lebih. Hunn. kamu dikirim Tuhan untuk sejenak singgah dan isi hidupku, sedikit, sedikit lalu j adi banyak . Aku nggak tau ini untuk sejenak atau nggak. Aku berharap kedekatan in i, akan terus ada, at least masih ada sisanya , karena kamu menikah dengan orang l ain