P. 1
Sejarah Marga Munthe

Sejarah Marga Munthe

2.0

|Views: 1,022|Likes:
Dipublikasikan oleh Nasri Zulhaidi
silsilah dari marga Munthe
silsilah dari marga Munthe

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Nasri Zulhaidi on Jan 08, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

04/13/2014

pdf

text

original

Sabtu, 15 Januari 2011.

Posted by: bangpun

Berbicara masalah marga (klan) dalam kebudayaan Indonesia mungkin kita pasti ingatnya ke pulau sumatera dan terfokus ke daerah utara. Marga di pulau sumatera bagian utara ini menjadi bagian khasanah kebudayaan bangsa yang harus dipelihara, daerah yang ditempati oleh sebagian besar suku batak ini memang sangat kental dengan marga. Marga Munthe adalah salah satu marga besar dari sekian banyak marga yang ada, bisa dikatakan marga yang “super big” dengan mempunyai cabang yang sangat banyak dibandingkan dengan marga lain. Marga Munthe memiliki 9 puak yaitu : 1. Marga Munthe dari Puak Tongging-Sipitunihuta 2. Marga Ginting Munthe dari Puak Karo 3. Marga Munthe dari Puak Dolok Sanggul 4. Marga Munthe dari Puak Toba 5. Marga Dalimunthe dari Puak Angkola dan Mandailing 6. Marga Munthe dan Dalimunthe dari Puak Labuan Batu 7. Marga Saragih Munthe dari Puak Simalungun 8. Marga Munthe dari Puak Gayo Lut dan Tanah Alas 9. Marga Munthe dari Puak Dairi. Dari seorang sumber mengatakan bahwa asli Munthe adalah di Karo, perkataan ini dikuatkan dan dibuktikan dengan terdapatnya Kecamatan Munthe di Karo sedangkan klaim atas keturunan Raja Nai Ambaton ditolak oleh seorang bapak bermarga Ginting Munthe tersebut. Di lain pihak, sumber pernah bercerita dengan seorang Simalungun bermarga Saragih Munthe,nah ini lain pernyataannya yaitu Saragih Munthe adalah salah satu bagian dari Saragih asli Simalungun jadi setaraf dengan Saragih Sumbayak, Saragih Garingging, Saragih Jawak dan Saragih Dasalak. Namun sayangnya lawei ini tidak bisa menjelaskan bahwa Saragih Munthe yang diklaimnya sebagai Saragih asli Simalungun itu cabang dari Saragih yang mana? Di Tigaraja Silimahuta seorang bergelar Pa Nambah Munthe (2000) ia berumur 82 tahun. Beiau mengatakan bahwa dari cerita orang-orang yang telah tua yang didengarnya secara turun-temurun (beliau berasal dari Tongging) menyangkal/membantah (bahkan dengan nada marah) bahwa tidak benar Munthe berasal dari orang Toba (Naiambaton). Benar bahwa ada Munthe dari Tongging yang menyeberang ke Toba, bukan dari Toba ke Silimahuta (Tongging). Konon, secara turun-temurun dia mendengar bahwa nenek moyang Munthe ini datang dari pantai timur Sumatera dari sana ke pedalaman sampai ke Ajinembah, Tongging terus ke Toba. Dari Ajinembah ke daerah Simalungun sekarang ini. Menurut beliau tidak ada suku kata “th” di dalam bahasa Batak. Pa Nembah melanjutkan lagi bahwa kata “Munthe” itu adalah nama tempat (suatu lokasi) di daerah Hindia Belakang dan kemudian menjadi nama pengenal nenek moyangnya. Mungkin tempatnya kata beliau berada di daerah Campa (Thailand) sekarang ini. Kesimpulannya kata oppung ini, Munthe itu satu. Baik yang di Simalungun, Toba, Karo dan Pakpak atau Alas. Mereka itu satu nenek moyang dari

Munthe yang dari Campa itu. Jadi jelas Munthe itu bukan diaspora dari Toba, tapi dari Siam sana. Mungkin pihak Munthe perlu mencari kebenarannya ke daerah “Munthe” di Siam sana! Marga Munthe unik bila dibanding dengan nama keluarga lainnya. Pasalnya Munthe digunakan oleh berbagai suku, daerah, wilayah, atau kumpulan penduduk yang mendiami tanah sekitar danau Toba. Meliputi, Tongging Sipituhuta, Tanah Karo Simalem, Dolok Sanggul, Toba, Mandailing dan Angkola, Labuhan Batu, Simalungun, Suku Alas,dan Pakpak Dairi. Dan kabarnya ,Munthe ada juga mengelompok di daerah tertentu pulau Sulawesi Irian.

Di Sulawesi mereka menyebut Muntu dan desanya dinamai Desa Munte. Uniknya Lagi Munthe sudah digunakan oleh 12 orang diantara tahun 1000-1499. Tertua bernama Ascricus van Munte (1072 - …) tinggal di Vlanderen wilayah Belgia sekarang. Di Norwegia, keturunan Ludvig Munthe (1593-1649) disusun rapi silsilahnya oleh Severre Munthe, dalam buku Familiem Munthe In Norge. Kini (1995) jumlah keturunannya lima ratus lebih. Munthe Norwegia menyatakan bahwa Vlanderen adalah tanah asal leluhur mereka. Persinumbahan (ilmu –ilmu gaib dan Oppung Jelak Karo menamakan tempat itu Aji Nembah pertapaan sakti dan keramat) dan ahirnya disanalah ia menetap dan membuka huta yang dia namakan Huta Aji Nembah". Tn Sipinangsori (1395-1435) Berasal dari Ajinembah Karo landen, anak Jelak Karo, tiba di Raya Simbolon sekitar tahun 1428 menunggang horbo Sinanggalutu (Versi FKMMI Puak Simalungun. Buku Kenangan Marga Munthe, hal. 81, 83, 95) Seorang Dalimunthe cerita. Bahwa leluhurnya zaman duhulu kala takkala sampai di daerah Labuhan Batu membawa bibit semacam kacang yang disebut "dali". Kacang ditanam dan panen pada waktunya.Ternyata para tetangga suka akan kacang tersebut. Dan para tetangga menyebut kan "Tolong ambilkan (mungkin barter) kacang "dali-Munthe" ". Begitulah penyatuan kata terus menerus dan menjadi sapaan bersahabat, "Dalimunthe." "Munthe lah leluhur kami" kata penutur cerita menutup ceritanya.. Seorang Saragih Munthe cerita Lagi. "Tolong dalam menuliskan nama saya, ada "Saragih" nya" katanya tegas namun senyum. "Pasalnya, leluhur kami dahulu kala tak boleh punya tanah di Raya kalau tidak menuliskan "Saragih" sebelum Munthe" lanjutnya sambil tersenyum simpul. "Dan leluhur kamilah penunggang "Kerbo Nenggala Lutu" dari Ajinembah itu" timpal

seorang Saragih Munthe lainnya yang duduk disampingnya. David Munthe Seorang Anthrofologi tinggal di Madagaskar asal Norwegia. Mengunjungi Kuta Ajinembah, diantar oleh Pengurus Nomensen dan diterima oleh Pendeta Pantekosta Ajinembah (1971). David mengemukakan bahwa leluhurnya berasal dari Ajinembah . Dia tahu rumah sendi, dan mengatakan "putih" dalam bahasa ibunya dengan "Mbulan". (Penutur, penduduk Ajinembah, 2001). Jadi, mungkin saja terjadi, seorang Munthe petualang naik ke kapal dan kemudian turun pada suatu daerah pelabuhan, kemudian menetap pada suatu daerah tertentu. Tampaknya pelabuhan Barus punya peran. Peran memberangkatkan atau menerima pendatang baru yang kemudian menetap. You might also like:
Kutacane, sebagai Tujuan Wisata. Profil Kutacane Kabubaten Aceh Tenggara Takengon, Tanah Alas (Kutacane) dan Gayo Lues. Obyek Wisata Ketambe, Kutacane Aceh

Rabu, 17 Desember 2008
Sekilas Mengenai Sejarah/Asal-usul Munthe
Tidak kenal maka tidak sayang. Kalimat tersebut merupakan ungkapan klise yang dapat diartikan bahwa apabila kita ingin menyayangi seseorang atau sesuatu, kita perlu mengenal secara mendalam mengenai seseorang atau sesuatu tersebut. Ungkapan tersebut dapat pula kita terapkan untuk menyayangi marga kita, Munthe. Untuk dapat lebih menyayangi marga Munthe maka para pinompar Munthe harus lebih memahami sejarah atau asal usul dari marga kita tersebut. Membahas masalah asal-usul suatu marga bukanlah sesuatu hal yang mudah untuk dilakukan apalagi jika dilakukan oleh seseorang yang tidak memiliki pendidikan formal mengenai sejarah. Hal inipun terjadi dalam membahas asal-usul marga Munthe. Menyadari sulitnya mengetahui asal-usul marga Munthe ini, beberapa utusan Pengurus Marga Munthe dari daerah Tongging telah melakukan pertemuan dengan pihak Universitas Simalungung untuk melakukan penelitian terkait dengan sejarah marga Munthe. Namun demikian, sampai dengan saat ini hasil penelitian tersebut masih belum dipublikasikan. Walaupun secara ilmilah belum dapat diuji kebenarannya, beberapa pinompar Munthe mempunyai semacam sejarah keluarganya yang diceritakan secara turun temurun. Sejarah/ asal-usul Munthe yang berasal dari cerita turun-menurun inilah yang akan penulis coba untuk publikasikan. Berdasarkan Buku Kenangan Marga Munthe yang diterbitkan bertepatan dengan ulang tahun ketiga Forum Komunikasi Marga Munthe Indonesia (FKMMI), diketahui bahwa pada marga Munthe yang ada di Indonesia terdiri dari 9 (sembilan) puak atau daerah. Masing-masing puak atau daerah tersebut adalah: 1. Marga Munthe dari Puak Tongging-Sipitunihuta 2. Marga Ginting Munthe dari Puak Karo 3. Marga Munthe dari Puak Dolok Sanggul

4. Marga Munthe dari Puak Toba 5. Marga Dalimunthe dari Puak Angkola dan Mandailing 6. Marga Munthe dan Dalimunthe dari Puak Labuan Batu 7. Marga Saragih Munthe dari Puak Simalungung 8. Marga Munthe dari Puak Gayo Lut dan Luwes Alas 9. Marga Munthe dari Puak Dairi Pada buku tersebut masing-masing Puak telah mempublikasikan asal usulnya. Namun demikian, baru asal-usul dari 4 (empat) puak yang akan dibahas saat ini, yaitu Puak Simalungun, Puak Toba, Puak Dolok Sanggul, dan Puak Angkola-Mandailing. Menurut buku tersebut, marga Munthe dikeempat puak ini merupakan keturunan dari Naiambaton (Tn. Sorbadijulu). Namun uniknya, marga Munthe dari Puak Dolok Sanggul merupakan keturunan dari Anak Naiambaton yang bernama Tamba Tua sedangkan marga Munthe dari Puak Simalungun dan Puak Toba merupakan keturunan dari Anak Naiambaton yang bernama Munthe Tua. Hal lain lain yang perlu diperhatikan adalah menurut sejarah Puak Dolok Sanggul anak dari Naiambaton ada empat orang, yaitu Simbolon Tua, Tamba Tua, Saragi Tua, dan Munthe Tua. Sedangkan menurut sejarak Puak Simalungun dan Puak Toba, selain keempat orang tersebut masih ada satu lagi anak Naiambaton, yaitu Nahampun Tua. Adapun untuk Puak Angkola-Mandailing, walalupun mereka merupakan keturunan dari Anak Naiambaton yang bernama Munthe Tua tetapi sejarah mereka sedikit berbeda dengan Puak Simalungun dan Puak Toba. Menurut sejarah Puak ini, Munthe Tua mempunyai tiga orang anak, yaitu Ompu Sangap Di Langit, Pariuk Binu Durian, dan Baruang Sodoppahon. Kemudian, Baruang Sodoppahon mempunyai anak yang bernama Ompu Jelak Maribur atau Jolak Maribu, yang mempunyai anak bernama Si Udan Potir. Adapun menurut sejarah dari Puak Simalungun dan Puak Toba, Munthe Tua mempunyai dua orang anak yang bernama Ompu Jelak Karo dan Ompu Jelak Maribur. Selanjutnya Ompu Jelak Karo merupakan nenek moyang dari Puak Simalungun dan Ompu Jelak Maribur merupakan nenek moyang dari Puak Toba. Perbedaan-perbedaan sejarah seperti ini sangat sensitif untuk dibahas oleh sebab itu diperlukan adanya data yang akurat, kejernihan pikiran dan kebesaran jiwa dari masingmasing pihak untuk membahas lebih mendalam. Terkait dengan hal ini, penulis dengan segala kerendahan hati menyadari bahwa tulisan ini jauh dari sempurna. Oleh sebab itu, penulis sangat mengharapkan kritik dan saran membangun dari para pembaca yang mudahmudahan dapat lebih menyempurnakan studi mengenai sejarah marga Munthe. (Penulis : R. Monang PSPH Munthe dari Puak Dolok Sanggul/Parsanti Ulu Balang) Kritik dan Saran dapat disampaikan melalui rmonangpsph@yahoo.com Diposkan oleh R. Monang PSPH Munthe di 20:32 9 komentar:

1. korek7 Maret 2009 00:49 jadi aha do lai, beda ni dalimunthe dohot munthe. biya do lai hubungan munthe dohot saragih,sitepu,simbolon,ginting. Balas

2. ABDE M_The24 Maret 2009 06:59 kalau bisa keterangan munthe yang ada dalam tulisan abang itu di ikut sertakan ama tempat dan lokasi munthe nya. biar lebih jelas. Balas

3. R. Monang PSPH Munthe2 April 2009 22:52 Komentar ini telah dihapus oleh penulis. Balas

4. R. Monang PSPH Munthe2 April 2009 22:54 Buat Bang Korek, Hubungan Munthe dan Dalimunthe sebenarnya sama-sama keturunan Nai Amabaton. Sedangkan Hubungan Munthe dengan Saragih, Sitepu, Simbolon, Ginting adalah sama-sama keturunan Nai Parnapuran (Parna), yaitu tingkatan yang lebih tinggi. Trims Buat Bank Abdem, sebenarnya lokasi munthenya sudah disebutkan di atas. Trims Balas

5. jekaka1 Februari 2010 03:15 Kalau hubungan hubunganya begitu DALIMUNTHE (Munthe parulok)keturunan langsung dari naiambaton,dari op haria raja/martua raja punya anak 3: 1.op suhut nihuta punya anak 1 yaitu :Op Guru Sinanti yg mempunyai anak 5 orang salah satu anaknya yaitu : OP Bisa mandoit yg menyebar kan marga parna sebagian ke muara,humbang,barus,mungkin ketempat lainya dengan Marga Ginting ada juga marga Ginting Munthe ,.....ke 5 anak op Guru Sinanti yaitu :1.Op.Sirupa Ulu balang 2.Op.Sitok-tok Ulu balang 3.Op.pallage Mas 4.Op.Aria Raja 5.Op.Bisa Mandoit ini sedikit yg saya tahu mohon maaf klo salah karena saya ingin membuka tarombo yg sy dapat ,benar atau salah trim's 2.op.sirimbang 3.op.hapotan Balas

6. Hello5 Maret 2011 01:07 Ini saya ada buat blog tentang Sejarah Marga Haro Munte, yang sebenarnya berasal dari Marga Munte, yaitu merupakan cucunya Munte Tua... dan juga diblog trsbt dijelaskan bagaimana penyebarannya. kiranya meluangkan sedikit waktu untuk membaca, dan memberikan komentar di blog tersebut, untuk menyempurnakan isi dari blog trsebut.. www.haro-munthe.blogspot.com maulate.. Balas

7. jekaka2 Juli 2011 00:03 tamba,ginting,...munte-munte juga ga taunya.....munte pollung dan munte sabalanga....sitanggang yg bermarga munte pula,...hehe...wajar aj deh,...semuanya masih pomparaan op rj sitanggangang atau lebih diknal toga munte,....krna byknya bius dan puak marga munte,.....mantap deh... Balas

8. Adiar28 Mei 2012 11:16 saya masih bingung dengan penjelasan diatas karena tidak ada yang pasti menurut saya Balas

9. R. Monang PSPH Munthe9 Agustus 2012 01:59 Buat Appara Adiar itulah sebabnya kita harus banyak berkomunikasi. Balas

Munthe dari Abad Dini Sampai Kini
oleh: gimut
   

Pengarang : Dame Munthe

Summary rating: 3 stars (11 Tinjauan) Kunjungan : 736 kata:900

Summarize It

Marga Munthe unik bila dibanding dengan nama keluarga lainnya. Pasalnya Munthe digunakan oleh berbagai suku, daerah, wilayah, atau kumpulan penduduk yang mendiami tanah sekitar danau Toba. Meliputi, Tongging Sipituhuta, Tanah Karo Simalem, Dolok Sanggul, Toba, Mandailing dan Angkola, Labuhan Batu, Simalungun, Gayo Luas dan Alas, Pakpak Dairi. Dan kabarnya ,Munthe ada juga mengelompok di daerah tertentu pulau Sulawesi Irian.Di Sulawesi mereka menyebut Muntu dan desanya dinamai Desa Munte Uniknya Lagi Munthe Itu. Sudah digunakan oleh 12 orang diantara tahun 1000-1499 .Tertua bernama Ascricus van Munte (1072 - …) tinggal di Vlanderen wilayah Belgia sekarang. Di Norwegia, keturunan Ludvig Munthe (1593-1649) disusun rapi silsilahnya oleh Severre Munthe, dalam buku Familiem Munthe In Norge. Kini (1995) jumlah keturunannya lima ratus lebih. Munthe Norwegia menyatakan bahwa Vlanderen adalah tanah asal leluhur mereka. Tampaknya, penghargaan kepada leluhur tertua itu maka web side dinamai http://www.geocities.com/ascricus/genealogy/surnames.htm

Sitor Situmorang pada buku Toba Na Sae menulis "…terutama Barus yang sejak abad dini (sejak kira-kira abad 5) sudah disinggahi oleh perahu-perahu layar antar benua sebagai pelabuhan pengekspor kemenyan dan kamper (Kapur barus)." Pelabuhan Barus memang merupakan pintu satu satunya wilayah barat Sumatera Utara. Penulis yang sama dalam bukunya Guru Somalaing dan Modigliani Utusan Raja Rom mengemukakan bahwa Barus telah dicatat sebagai berikut: 1. Tahun 150 oleh sarjana Ptolemaeus di Aleksandria (Mesir sekarang). 2. Tahun 692 oleh I-tsing. 3. Tahun 846 oleh Ibnu Chordhadhbeh. 4. Tahun 851 oleh Raja Sulaiman. 5. Tahun 1088 ada pemukiman Bangsa Tamil. 6. Tahun 1292 oleh Marco Polo.

Di Jakarta (1971). Kapten J. Munthe, Mayor David Munthe, Joahan Munthe, Karel Munthe, Tumbungan Munthe, John Munthe, Banuara Munthe, M. Situmorang, Hasugihan dan Polisten Munthe. Sepakat membentuk Pungguan Munthe. Januari 2001 di Kantor Kejaksaan Kebayoran dan sepakat membentuk FORUM KOMUNIKASI MARGA MUNTHE INDONESIA (FKMMI). Terdiri dari, 1. Marga Munthe dari Tongging Sipituhuta, 2. Marga Ginting Munthe dari Puak Karo, 3. Marga Munthedari Dolok Sanggul, 4. Marga Munthe dari Puak Toba, 5. Marga Dalimunthe dari Mandailing dan Angkola, 6. Marga Dalimunthe dari daerah Labuhan Batu, 7. Marga Saragih Munthe dari Puak Simalungun, 8.Marga Munthe dari Gayo Luas dan Alas, 9. Marga Munthe dari Puak Pakpak Dairi, Beserta anakberu masing-masing. Diresmikan pendiriannya pada tanggal 8 April 2001 di Gedung Sejahtera Jakarta . (Deklarasi terlampir} Groups "sadamunthe" di INTERNET Dipasang Maret 2003 dengan alamat http://www.groups.yahoo.com/sadamunthe tampilannya sudah memadai dan diharapkan keluarga muda "Munthe" dan generasi muda "Munthe" menggunakan media ini, sebagai sumbang saran, tempat menyimpan file "Munthe" dan file FKMMI.

Desa Ajinembah, Banyak Disebut Berkaitan Dengan "Munthe". "Disanalah ia menjadi orang sakti yang menguasai segala persinumbahan (ilmu –ilmu gaib dan Oppung Jelak Karo menamakan tempat itu Aji Nembah pertapaan sakti dan keramat) dan ahirnya disanalah ia menetap dan membuka huta yang dia namakan Huta Aji Nembah". Tn Sipinangsori (1395-1435) Berasal dari Ajinembah Karo landen, anak Jelak Karo, tiba di Raya Simbolon sekitar tahun 1428 menunggang horbo Sinanggalutu (Versi FKMMI Puak Simalungun. Buku Kenangan Marga Munthe, hal. 81, 83, 95) Seorang Dalimunthe cerita. Bahwa leluhurnya zaman duhulu kala takkala sampai di daerah Labuhan Batu membawa bibit semacam kacang yang disebut "dali". Kacang ditanam dan panen pada waktunya.Ternyata para tetangga suka akan kacang tersebut. Dan para tetangga menyebut kan

"Tolong ambilkan (mungkin barter) kacang "dali-Munthe" ". Begitulah penyatuan kata terus menerus dan menjadi sapaan bersahabat, "Dalimunthe." "Munthe lah leluhur kami" kata penutur cerita menutup ceritanya.. "Dalimunthe kami ini, turunan dari penunggang kerbo Nengga Lutu dari Ajinembah" kata Ketua FKMMI wilayah/daerah Padanglawas. Seorang Saragih Munthe cerita Lagi. "Tolong dalam menuliskan nama saya, ada "Saragih" nya" katanya tegas namun senyum. "Pasalnya, leluhur kami dahulu kala tak boleh punya tanah di Raya kalau tidak menuliskan "Saragih" sebelum Munthe" lanjutnya sambil tersenyum simpul. "Dan leluhur kamilah penunggang "Kerbo Nenggala Lutu" dari Ajinembah itu" timpal seorang Saragih Munthe lainnya yang duduk disampingnya. "Menurut nenek kami (Oppung) bahwa Marga Munthe yang ada di Pengambatan berasal dari Aji Nembah (Kabupaten Karo)" kata Ketua FKMMI Sipituhuta . (Buku Kenangan Marga Munthe, hal. 221) David Munthe Seorang Anthrofologi. Tinggal di Madagaskar asal Norwegia. Mengunjungi Kuta Ajinembah, diantar oleh Pengurus Nomensen dan diterima oleh Pendeta Pantekosta Ajinembah (1971). David mengemukakan bahwa leluhurnya berasal dari Ajinembah . Dia tahu rumah sendi, dan mengatakan "putih" dalam bahasa ibunya dengan "Mbulan". (Penutur, penduduk Ajinembah, 2001). Jadi, mungkin saja terjadi, seorang Munthe petualang naik ke kapal dan kemudian turun pada suatu daerah pelabuhan, kemudian menetap pada suatu daerah tertentu. Tampaknya pelabuhan Barus punya peran. Peran memberangkatkan atau menerima pendatang baru yang kemudian menetap.

Gimut, Jakarta 04082009 Diterbitkan di: 04 Agustus, 2009 Mohon dinilai :12345
 o  o

Link yang relevan : http://rumahkaro.blogspot.com/ Komentar

Menulis sendiri tulisanmu

Tampil 2 Pertanyaan

1. Menjawab Pertanyaan : termasuk suku apa karo atu mandiling 1. Menjawab Pertanyaan : Sudah berapa generasi marga Munthe di tanah Karo? Kalau marga Dalimunthe di Angkola/Mandailing diperkirakan 39 gnrsi maka apakah konsisten lagi Dalimunthe Angkola/Mandailing disebut berasal dari Karo? ( 1 Jawaban )

Sumber: http://id.shvoong.com/humanities/history/1919046-munthe-dari-abad-dinisampai/#ixzz2FTvNwmW2

Suku Batak Mandailing
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas Langsung ke: navigasi, cari "Mandailing" beralih ke halaman ini. Untuk kegunaan lain dari Mandailing, lihat Mandailing (disambiguasi). Suku Mandailing Jumlah populasi 1.700.000 jiwa (Sensus 2010)[1] Kawasan dengan populasi yang signifikan

Sumatera Utara Sumatra Barat Riau Jakarta Malaysia
Bahasa Mandailing Minangkabau Melayu Agama

1.035.000 214.000 210.000 80.000 30.000[2]

Kristen Islam Parmalim Animisme Kelompok etnik terdekat Suku Minangkabau Suku Melayu Suku Batak Suku Simalungun Suku Pakpak Suku Angkola Suku Alas Suku Gayo

Suku Mandailing merupakan nama suku bangsa yang mendiami Kabupaten Mandailing Natal, Kabupaten Padang Lawas, Kabupaten Padang Lawas Utara, dan sebagian Kabupaten Tapanuli Selatan, Sumatera Utara. Sebagian pihak mengatakan bahwa Mandailing merupakan bagian dari Suku Batak. Namun pihak lainnya berpendapat bahwa Mandailing merupakan kelompok masyarakat yang berbeda. Hal ini terlihat dari perbedaan sistem sosial, asal usul, dan kepercayaan. Pada masyarakat Minangkabau, Mandailing atau Mandahiliang menjadi salah satu nama suku yang ada pada masyarakat tersebut.

Daftar isi
      

1 Asal Muasal Nama 2 Adat Istiadat 3 Kekerabatan 4 Lihat pula 5 Bacaan lanjut 6 Catatan kaki 7 Pranala luar

Asal Muasal Nama
Mandailing atau Mandahiling diperkirakan berasal dari kata Mandala dan Holing, yang berarti sebuah wilayah Kerajaan Kalinga. Kerajaan India tersebut diperkirakan telah membentuk koloni mereka sejak abad ke-12, yang terbentang dari Portibi hingga Pidoli.[3] Dalam Bahasa Minangkabau, Mandailing diartikan sebagai mande hilang yang bermaksud

"ibu yang hilang". Oleh karenanya ada pula anggapan yang mengatakan bahwa masyarakat Mandailing berasal dari Kerajaan Pagaruyung di Minangkabau.

Adat Istiadat
Adat istiadat suku Mandailing diatur dalam Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), yang selalu dibacakan dalam upacara-upacara adat. Orang Mandailing mengenal tulisan yang dinamakan Aksara Tulak-Tulak, yang merupakan varian dari aksara Proto-Sumatera, yang berasal dari huruf Pallawa, bentuknya tak berbeda dengan Aksara Minangkabau, Aksara Rencong dari Aceh, Aksara Sunda Kuna, dan Aksara Nusantara lainnya. Meskipun Suku Mandailing mempunyai aksara yang dinamakan urup tulak-tulak dan dipergunakan untuk menulis kitab-kitab kuno yang disebut pustaha (pustaka). Namun amat sulit menemukan catatan sejarah mengenai Mandailing sebelum abad ke-19. Umumnya pustaka-pustaka ini berisi catatan pengobatan tradisional, ilmu-ilmu gaib, ramalan-ramalan tentang waktu yang baik dan buruk, serta ramalan mimpi.

Kekerabatan
Suku Mandailing sendiri mengenal paham kekerabatan, baik patrilineal maupun matrilineal. Dalam sistem patrilineal, orang Mandailing mengenal marga. Di Mandailing hanya dikenal belasan marga saja, antara lain Lubis, Nasution, Harahap, Pulungan, Batubara, Parinduri, Lintang, Hasibuan, Rambe, Dalimunthe, Rangkuti, Tanjung, Mardia, Daulay, Matondang, dan Hutasuhut.

Lihat pula
  

Sekilas Sejarah Mandahiling Marga Mandahiling Marga Batak

Bacaan lanjut
       

Loebis, Abdoellah (1926). Riwajat Mandailing, dipetik dari Mangaraja Ihoetan, Riwajat Tanah Wakaf Bangsa Mandailing di Soengai Mati, Medan. Medan. Harahap, Basyral Hamidy (14 Desember 1993). Horja, Adat Istiadat Dalihan Na Tolu. PT Grafiti Bandung. Harahap, Basyral Hamidy (2007). Greget Tuanku Rao. Komunikasi Bambu. Parlindungan, Mangaraja Onggang (1967). Pongki Na Ngolngolan gelar Tuanku Rao. Tanjung Pengharapan. Sumatera Utara, Jawatan Penerangan (1953). Republik Indonesia Provinsi Sumatera Utara. Kementrian Penerangan. Tapanuli Selatan, Berita Keluarga (1958). Tampakna Do Rantosna, Rim Ni Tahi Do Na Gogo. Keluarga Tapanuli Selatan. Loebis, A.B. (1998). Adat Perkawinan Mandailing. Keluarga Tapanuli Selatan. Drakard, Jane (2003). Sejarah Raja-raja Barus. Dua Naskah dari Barus.. Gramedia Pustaka Utama.

Catatan kaki

1. ^ Indonesia's Population: Ethnicity and Religion in a Changing Political Landscape. Institute of Southeast Asian Studies. 14 Desember 2003. ISBN 9812302123. 2. ^ viva.co.id Didata Malaysia, Tor-tor Tetap Milik Tapanuli 3. ^ Edi Nasution, Tulila: Muzik Bujukan Mandailing, Areca Books, 2007

Pranala luar
Berita Politik Humaniora Ekonomi Hiburan Olahraga Lifestyle Wisata Kesehatan Tekno Media Muda Green Lipsus Fiksiana Freez Home Berita Unik Artikel

Unik Ilmar Dalimunthe
Jadikan Teman | Kirim Pesan

http://www.ilmar's site
0inShare

silsilah marga DALIMUNTHE SDH
REP | 02 July 2011 | 20:02 Dibaca: 1228 Komentar: 0 Nihil

Kami masih mencari Tarombo yg pas dengan kami,karena kami hanya tau pomparan Ompu PARSONTANG/Parsottang DALIMUNTHE Tampa TAU nama Asli Oppui…Apabila ada Yg tau silsilah kami,..mohon kiranya diinfokan kekami ya afra…sekalian. sedikit info tentang PARSONTANG DALIMUNTHE SDH {saipar dolok hole } 1.Asal usul langsung dari Pulo Samosir singgah diLabuhan Batu 2.Mengaku keturunan Datu Parngo-ngo tetapi bukan dari Tamba karena ? DALIMUNTHE kami Menganggap TAMBA ITU MUNTE Dan GINTING itu MUNTE… 3.Mengakui Marga Simbolon Lebih TUA dari Marga Sitanggang 4.DALIMUNTHE Kami Dari istri Kedua dari Oppu Bolon menurut cerita keluarga kami,Memang kami dilahirkan lebih dahulu dari pada marga Simbolon Tetapi kami ! dari… maaf! apabila ada yg tersinggung,…kami dari selirnya Raja/ISTRI MUDA…Kami

Menerimanya …..ITULAH PERBEDAAN MARGA KAMI CERITA NYA DGN MARGA PARNA YG LAIN 5.KAMI PUNYA PESAN DARI LELUHUR KAMI ,..APABILA ADA YG MERAGUKAN MUNTE KAMI BOLEH DITES KEASLIANNYA DIPULAU SAMOSIR SANA,KARENA DISANA ADA DANAU YG MIRIP DANAU TOBA DAN DITENGAHNYA ADA PULO KECIL MIRIP PULO SAMOSIR BISA DIBILANG ANAKNI PULO SAMOSIR DISITULAH DANAU KECIL TEMPAT BERTUAH KAMI,…ITU MENURUT CERITA KELUARGA KAMI,….YG DISEBUT JUGA KAMI MUNTE PARULOK MARGA MUNTHE YG TERTOLONG OLEH ULAR YG BESAR YG DIKIRA KAYU YG LANDID UNTUK PENYEBRANGAN,…GA TAUNYA ULAR AIR YG BESAR,.. DLL…BANYAK LAGI CERITANYA YG LAINNYA HINGGA SAMPAI DI SDH….MOHON DIKOREKSI DAN DILURUSKAN APABILA ADA YG SALAH PENULISAN ATAU LAINYA HARAP DIMAKLUMI DAN DIBUKAKAN PINTU MAAF YG SEBESAR -BESARNYA. SUMBER : KELUARGA BESAR OMPU PARSONTANG/PARSOTTANG DALIMUNTHE SDH { BINANGA‟ SAIPAR DOLOK HOLE }…TAPSEL. Mengetahui asal usul mandailing, maka kita harus ke masa lalu. Asal usul mandailing dan sejarah mandailing natal harus ditulis berdasarkan data empiris. Asal usul mandailingtidak hanya dicatat berdasar penuturan cerita rakyat. Baiklah, cerita rakyat dibutuhkan sebagai pelengkap data empiris tadi, tetapi bingkai penulisan sejarah asal usul mandailing tetap harus dengan bingkai yang realistis, logis dan sistematis. Sejarah mandailing harus dibebaskan dari sentuhan subjektif, seperti fanatisme keyakinan,dan fatalisme silsilah Raja Batak. Jika kita sudah menyimpulkan suatu hal, “asal usul mandailing dari batak toba”. Maka kita telah berhenti untuk berfikir dan menggali pertanyaan: dari mana asal usul mandailing? Dengan vonis, “asal usul mandailing adalah dari batak toba” kita telah membunuh sejarah asal usul mandailing. Siapa yang tahu pasti asal usul mandailing dari batak toba kecuali nenek moyang mandailing itu sendiri. Dan sayangnya mereka yang telah pergi tidak menitipkan surat wasiat dan catatan yang bisa dimengerti dan jelas mereka berasal dari mana. Jadi seseorang yang hidup di zaman ini tidak punya hak memvonis asal usul mandailing dari batak toba atau tidak. Istilah mandailingnya: “Dont punish if you dont know”. Bagaimana cara mengetahui pasti asal usul mandailing dari mana, adalah menggunakan metode ilmiah, penggalian penggalian situs dan pemetaan daerah perkampungan masa lalu. Dengan cara ini kita bisa meraba asal usul mandailing dari toba atau bukan, selanjutnya jika fakta memungkinkan kita bisa menyimpulkan asal usul mandailing dari daerah mana, baru kita bisa mencatatnya dalam sejarah yang baku. Hanya dengan cara ini asal usul mandailing bisa disingkap, jadi tidak pantas hanya karena seseorang berasal dari batak toba dan punya catatan silsilah (tarombo) menggeneralisir, “asal mandailing dari batak toba”, sebaliknya, sesorang yang merasa tidak punya pertalian darah mengatakan, “asal usul mandailing adalah dari vietnam”. Jadi mari berfikir logis bahwa asal usul mandailing adalah fakta yang terpisah dari kesimpulan siapapun.

Seseorang boleh berpendapat, tentunya berdasarkan logika yang jernih, tentang asal usul mandailing. Sangat bagus membuat diskursus, tesa anti tesa dan sintesa. Ungkapkanlah data dan fakta serta logika, tentu saja akan memperkaya khasanah perbendaharaan asal usul mandailing. Dengan suatu kesadaran, bahwa mandailing bukan milik seseorang, sebaliknya mandailing memiliki orang mandailing. Seperti kesimpulan saya, asal usul mandailing tidak dari batak toba. Seseorang boleh setuju atau tidak. Mari kita berdiskusi dan seperti tadi, ungkapkan fakta yang anda punya. Asal usul mandailing tidak dari batak toba karena tidak mungkin Raja Batak atau siapapun nenek moyang orang batak tiba tiba muncul dari perut bumi atau jatuh dari langit di suatu tempat di tanah toba, lalu beranak pinak menjadi suku batak. Saya banyak mendengar “lelucon” bahwa pada jaman dahulu kala hiduplah seorang Ompu Mula Di Najadi Nabolon, Raja Batak yang memerintah sendirian dan kesepian, karena tidak seorang pun berada selain dirinya dan keluarganya yang berada di puncak gunung itu. Seperti itukah yang masuk akal? Dalam bayangan saya, orang batak yang mendiami toba yang pertama kali adalah sekelompok keluarga yang punya pemimpin dari keluarga itu sendiri. Migrasi massal adalah fakta sejarah yang tercatat di manapun di tanah batak. Migrasi disebabkan perpecahan di satu klan, dan kelompok yang kalah akan pindah dan menempati suatu daerah yang baru. Jika tempat itu “milik” marga tertentu, mereka yang jadi pendatang kemudian menjadi “anak boru”, tetapi tidak menjadi raja. Jika tempat baru itu kosong tanpa otoritas marga apapun, pemimpin mereka itu pun berubah jadi raja. Demikianlah polanya. Asal usul mandailing karena itu tidak dari batak toba, karena orang batak pertama kali tiba di tanah batak akan menempati sisi terluar dari pulau, dan kemudian seperti pola di atas akan menyebar hingga ke tanah toba dan padang bolak. Penyebaran penduduk bisa dari dua sisi pulau Sumatera, pesisi barat dan timur. Jika demikian, batak toba punya dua kemungkinan: berasal dari pantai timur atau barat. Yang pasti adalah, asal usul mandailing tidak dari toba. Patut diakui bahwa fakta, banyak suku marga yang berasal dari batak toba hidup sebagai orang mandailing. Tetapi itu terjadi pada masa berikutnya dalam kronologi sejarah batak. Patut di ingat, orang mandailing tidak homogen, tetapi percampuran darah dari radius 1000 kilometer. Sutan Mahmud, yang leluhurnya berasal dari minangkabau adalah orang mandailing, dan ia telah menjadi marga lubis. Jimmy yang orang tuanya berasal dari mandailing sekarang telah menjadi orang sunda. Semua bisa lebur menjadi siapapun dan marga apapun mengikuti kronologi sejarah. Karena itu, tidak tepat, karena seorang siregar, harahap atau daulay punya silsilah rinci mereka berasal dari batak toba lalu ia memfonis: “Asal usul mandailing dari batak toba”. Fakta untuk melengkapi bahwa Mandailing tidak berasal dari Batak dan Toba adalah tulisan Mpu Prapanca dalam Negarakertagama sekitar 1365 M.

Halak Mandailing marupahaon halak na mambaen huta di baribaan Kabupaten Tapanuli Selatan dohot Kabupaten Mandailing Natal , Sumatera Utara , Halak Batak sabotul na mampunai na gokkan logat, bope markaum dohot Batak na Asing.

Asal Muala Goar Mandailing
Sian Hata Minang namarasal sian dua kata, "mande" dohot "hilang", torus di pasada guarna jadi mandehilang na mararti umak na mago. Dung honok, marubah tutur na saonari jadi Mandailing. Adong juo na marpandapot Mandailing asal na sian kata "Mandala" dohot "Hiling" atau Holing , na mararti pusat nagori Kalinga atau Kalingga . Kalingga marasal sian kata Sanskrta Lingga , na mararti lelaki imbuhan ka atau ha, manjadi Kalingga atau Halingga , na mararti 'kelelakian'.

Adat Istiadat
Surat Tumbaga Holing (Serat Tembaga Kalinga), na jot-jot di bacahon di maso upacaraupacara adat, manurut carito halak najolo, marupahan sumber dohot pedoman halak Mandailing, markaitan tentang Adat istiadat, serta pedoman hangoluan. Alani di Bagasan Surat tumbago on, di pargunahon urup Tulak-Tulak , na marupahon varian sian urup Proto-Sumatera , na marasal sian urup Pallawa , bontukna nangge marbeza dohot urup asli [[Minangkabau dohot urup Rencong sian Aceh , urup Sunda Kuna , dan urup asing di Nusattara on). Bope Halak Mandailing puna urup na margoar urup tulak-tulak dan madung dipargunahon muse mambaen kitab-kitab kuno na idok pustaha / pustaka , tai namaolan do manjalahi catatan sejarah Mandailing sebelum abad ke - 19 M. Umumna pustaha-pustaha on marisi catatan pangobatan tradisional, ilmu-ilmu ghaib, ramalan2 tentang maso na jeges dohot na sujeges, serta ramalan nipi,dan sude naporlu, indagi mengenai sejarah.

Marga-Marga
Sarupo halna di Karo , Nias , Gayo , Alas , marga-marga di Mandailing umumna nangge markaitan dohot Batak. Marga-marga di Mandailing, anttara na : Lubis , Nasution , Pulungan , Batubara , Parinduri , Lintang , Harahap , Hasibuan (Nasibuan), Rambe , Dalimunthe , Rangkuti (Ra Kuti), Tanjung , Mardia , Daulay (Daulae), Matondang , Hutasuhut . Marga-Marga Mandailing, menurut Abdoellah Loebis, di Mandailing Julu dan Pakantan, seperti berikut: Lubis na tarbahagi tu Lubis Huta Nopan dan Lubis Singa Soro, Nasution, Parinduri, Batu Bara, Matondang,Daulay, Nai Monte, Hasibuan, Pulungan.

Marga-marga di Mandailing Godang pula adalah: Nasution na tarbahagi tu Nasution Panyabungan, Tambangan, Borotan, Lancat, Jior, Tonga, Dolok, Maga, Pidoli, dan lain-lain. Lubis, Hasibuan, Harahap, Batu Bara, Matondang (keturunan Hasibuan), Rangkuti, Mardia, Parinduri, Batu na Bolon, Pulungan, Rambe, Mangintir, Nai Monte, Panggabean, Tangga Ambeng dan Margara. (Rangkuti, Mardia dan Parinduri asalnya satu marga). Menurut Basyral Hamidy Harahap dan Hotman M. Siahaan, di Angkola dan Sipirok adong margamarga Pulungan, Baumi, Harahap, Siregar, Dalimunte dan Daulay. Adong juo tardapot marga-marga Harahap, Siregar, Hasibuan, Daulay, Dalimunte, Pulungan, Nasution dan Lubis di Padang Lawas. Menurut Basyral Hamidy Harahap juo, di bagas ni buku na marjudul Horja , marga-marga di Mandailing anttara na: Babiat, Dabuar, Baumi, Dalimunthe, Dasopang, Daulae, Dongoran, Harahap, Hasibuan, Hutasuhut, Lubis, Nasution, Pane, Parinduri, Pasaribu, Payung, Pohan, Pulungan, Rambe, Rangkuti, Ritonga, Sagala, Simbolon, Siregar, Tanjung.

Sejarah Marga Batak
Posted on 30 December, 2008 by _c'q_ SILSILAH ATAU TAROMBO BATAK SI RAJA BATAK mempunyai 2 orang putra, yaitu: 1. Guru Tatea Bulan 2. Raja Isombaon GURU TATEA BULAN Dari istrinya yang bernama Si Boru Baso Burning, Guru Tatea Bulan memperoleh 5 orang putra dan 4 orang putri, yaitu : * Putra (sesuai urutan): 1. Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng), tanpa keturunan 2. Tuan Sariburaja (keturunannya Pasaribu) 3. Limbong Mulana (keturunannya Limbong). 4. Sagala Raja (keturunannya Sagala) 5. Silau Raja (keturunannnya Malau, Manik, Ambarita dan Gurning) *Putri: 1. Si Boru Pareme (kawin dengan Tuan Sariburaja, ibotona) 2. Si Boru Anting Sabungan, kawin dengan Tuan Sorimangaraja, putra Raja Isombaon

3. Si Boru Biding Laut 4. Si Boru Nan Tinjo (tidak kawin). Tatea Bulan artinya “Tertayang Bulan” = “Tertatang Bulan”. Raja Isombaon (Raja Isumbaon) Raja Isombaon artinya raja yang disembah. Isombaon kata dasarnya somba (sembah). Semua keturunan Si Raja Batak dapat dibagi atas 2 golongan besar: 1. Golongan Tatea Bulan = Golongan Bulan = Golongan (Pemberi) Perempuan. Disebut juga golongan Hula-hula = Marga Lontung. 2. Golongan Isombaon = Golongan Matahari = Golongan Laki-laki. Disebut juga Golongan Boru = Marga Sumba. Kedua golongan tersebut dilambangkan dalam bendera Batak (bendera Si Singamangaraja, para orangtua menyebut Sisimangaraja, artinya maha raja), dengan gambar matahari dan bulan. Jadi, gambar matahari dan bulan dalam bendera tersebut melambangkan seluruh keturunan Si Raja Batak. PENJABARAN * RAJA UTI Raja Uti (atau sering disebut Si Raja Biak-biak, Raja Sigumeleng-geleng). Raja Uti terkenal sakti dan serba bisa. Satu kesempatan berada berbaur dengan laki-laki, pada kesempatan lain membaur dengan peremuan, orang tua atau anak-anak. Beliau memiliki ilmu yang cukup tinggi (kira-kira 175 cm), eperti orang barat. Karena itu, dalam memimpin Tanah Batak, secara kemanusiaan Beliau memandatkan atau bersepakat dengan ponakannya/Bere Sisimangaraja, namun dalam kekuatan spiritual etap berpusat pada Raja Uti. * SARIBURAJA Sariburaja adalah nama putra kedua dari Guru Tatea Bulan. Dia dan adik kandungnya perempuan yang bernama Si Boru Pareme dilahirkan marporhas (anak kembar berlainan jenis, satu peremuan satunya lagi laki-laki). Mula-mula Sariburaja kawin dengan Nai Margiring Laut, yang melahirkan putra bernama Raja Iborboron (Borbor). Tetapi kemudian Saribu Raja mengawini adiknya, Si Boru Pareme, sehingga antara mereka terjadi perkawinan incest. Setelah perbuatan melanggar adat itu diketahui oleh saudara-saudaranya, yaitu Limbong Mulana, Sagala Rraja, dan Silau Raja, maka ketiga saudara tersebut sepakat untuk mengusir Sariburaja. Akibatnya Sariburaja mengembara ke hutan Sabulan meninggalkan Si Boru Pareme yang sedang dalam keadaan hamil. Ketika Si Boru Pareme hendak bersalin, dia dibuang oleh saudara-saudaranya ke hutan belantara, tetapi di hutan tersebut Sariburaja kebetulan bertemu dengan dia. Sariburaja datang bersama seekor harimau betina yang sebelumnya telah dipeliharanya menjadi “istrinya” di hutan itu. Harimau betina itulah yang kemudian merawat serta memberi

makan Si Boru Pareme di dalam hutan. Si Boru Pareme melahirkan seorang putra yang diberi nama Si Raja Lontung. Dari istrinya sang harimau, Sariburaja memperoleh seorang putra yang diberi nama Si Raja Babiat. Di kemudian hari Si Raja Babiat mempunyai banyak keturunan di daerah Mandailing. Mereka bermarga Bayoangin. Karena selalu dikejar-kejar dan diintip oleh saudara-saudaranya, Sariburaja berkelana ke daerah Angkola dan seterusnya ke Barus. SI RAJA LONTUNG Putra pertama dari Tuan Sariburaja. Mempunyai 7 orang putra dan 2 orang putri, yaitu: * Putra: 1.. Tuan Situmorang, keturunannya bermarga Situmorang. 2. Sinaga Raja, keturunannya bermarga Sinaga. 3. Pandiangan, keturunannya bermarga Pandiangan. 4. Toga Nainggolan, keturunannya bermarga Nainggolan. 5. Simatupang, keturunannya bermarga Simatupang. 6. Aritonang, keturunannya bermarga Aritonang. 7. Siregar, keturunannya bermarga Siregar. * Putri : 1. Si Boru Anakpandan, kawin dengan Toga Sihombing. 2. Si Boru Panggabean, kawin dengan Toga Simamora. Karena semua putra dan putri dari Si Raja Lontung berjumlah 9 orang, maka mereka sering dijuluki dengan nama Lontung Si Sia Marina, Pasia Boruna Sihombing Simamora. Si Sia Marina = Sembilan Satu Ibu. Dari keturunan Situmorang, lahir marga-marga cabang Lumban Pande, Lumban Nahor, Suhutnihuta, Siringoringo, Sitohang, Rumapea, Padang, Solin. SINAGA Dari Sinaga lahir marga-marga cabang Simanjorang, Simandalahi, Barutu. PANDIANGAN

Lahir marga-marga cabang Samosir, Pakpahan, Gultom, Sidari, Sitinjak, Harianja. NAINGGOLAN Lahir marga-marga cabang Rumahombar, Parhusip, Lumban Tungkup, Lumban Siantar, Hutabalian, Lumban Raja, Pusuk, Buaton, Nahulae. SIMATUPANG Lahir marga-marga cabang Togatorop (Sitogatorop), Sianturi, Siburian. ARITONANG Lahir marga-marga cabang Ompu Sunggu, Rajagukguk, Simaremare. SIREGAR Llahir marga-marga cabang Silo, Dongaran, Silali, Siagian, Ritonga, Sormin. * SI RAJA BORBOR Putra kedua dari Tuan Sariburaja, dilahirkan oleh Nai Margiring Laut. Semua keturunannya disebut Marga Borbor. Cucu Raja Borbor yang bernama Datu Taladibabana (generasi keenam) mempunyai 6 orang putra, yang menjadi asal-usul marga-marga berikut : 1. Datu Dalu (Sahangmaima). 2. Sipahutar, keturunannya bermarga Sipahutar. 3. Harahap, keturunannya bermarga Harahap. 4. Tanjung, keturunannya bermarga Tanjung. 5. Datu Pulungan, keturunannya bermarga Pulungan. 6. Simargolang, keturunannya bermarga Imargolang. Keturunan Datu Dalu melahirkan marga-marga berikut : 1. Pasaribu, Batubara, Habeahan, Bondar, Gorat. 2. Tinendang, Tangkar. 3. Matondang. 4. Saruksuk. 5. Tarihoran.

6. Parapat. 7. Rangkuti. Keturunan Datu Pulungan melahirkan marga-marga Lubis dan Hutasuhut. Limbong Mulana dan marga-marga keturunannya Limbong Mulana adalah putra ketiga dari Guru Tatea Bulan. Keturunannya bermarga Limbong yang mempunyai dua orang putra, yaitu Palu Onggang, dan Langgat Limbong. Putra dari Langgat Limbong ada tiga orang. Keturunan dari putranya yang kedua kemudian bermarga Sihole, dan keturunan dari putranya yang ketiga kemudian bermarga Habeahan. Yang lainnya tetap memakai marga induk, yaitu Limbong. SAGALA RAJA Putra keempat dari Guru Tatea Bulan. Sampai sekarang keturunannya tetap memakai marga Sagala. SILAU RAJA Silau Raja adalah putra kelima dari Guru Tatea Bulan yang mempunyai empat orang putra, yaitu: 1. Malau 2. Manik 3. Ambarita 4. Gurning Khusus sejarah atau tarombo Ambarita Raja atau Ambarita, memiliki dua putra: I. Ambarita Lumban Pea II. Ambarita Lumban Pining Lumban Pea memiliki dua anak laki-laki 1. Ompu Mangomborlan 2. Ompu Bona Nihuta Berhubung Ompu Mangomborlan tidak memiliki anak/keturunan laki-laki, maka Ambarita paling sulung hingga kini adalah turunan Ompu Bona Nihuta, yang memiliki anak laki-laki tunggal yakni Op Suhut Ni Huta. Op Suhut Nihuta juga memiliki anak laki-laki tunggal Op Tondolnihuta. Keturunan Op Tondol Nihuta ada empat laki-laki:

1. Op Martua Boni Raja (atau Op Mamontang Laut) 2. Op Raja Marihot 3. Op Marhajang 4. Op Rajani Umbul Selanjutnya di bawah ini hanya dapat meneruskan tarombo dari Op Mamontang Laut (karena keterbatasan data. Op Mamontang Laut menyeberang dari Ambarita di Kabupaten Toba Samosir saat ini ke Sihaporas, Kecamatan Pematang Sidamanik, Kabupaten Simalungun. Hingga tahun 2008 ini, keturunan Op Mamontang laut sudah generasi kedelapan). Op Mamontang Laut semula menikahi Boru Sinaga, dari Parapat. Setelah sekian tahun berumah tangga, mereka tidka dikaruniai keturunan, lalu kemudian menikah lagi pada boru Sitio dari Simanindo, Samosir. Dari perkawinan kedua, lahir tiga anak laki-laki 1. Op Sohailoan menikahi Boru Sinaga bermukim di Sihaporas Aek Batu Keturunan Op Sohailoan saat ini antara lain Op Josep (Pak Beluana di Palembang) 2. Op Jaipul menikahi Boru Sinaga bermukin di Sihaporas Bolon Keturunan antara lain J ambarita Bekasi, 3. Op Sugara atau Op Ni Ujung Barita menikahi Boru Sirait bermukim di Motung, Kabupaten Toba Samosir. Keturunan Op Sugara antara lain penyanyi Iran Ambarita dan Godman Ambarita TUAN SORIMANGARAJA Tuan Sorimangaraja adalah putra pertama dari Raja Isombaon. Dari ketiga putra Raja Isombaon, dialah satu-satunya yang tinggal di Pusuk Buhit (di Tanah Batak). Istrinya ada 3 orang, yaitu : 1. Si Boru Anting Malela (Nai Rasaon), putri dari Guru Tatea Bulan. 2. Si Boru Biding Laut (nai ambaton), juga putri dari Guru Tatea Bulan. c. Si Boru Sanggul Baomasan (nai suanon). Si Boru Anting Malela melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Djulu (Ompu Raja Nabolon), gelar Nai Ambaton. Si Boru Biding Laut

Si Boru Sanggul Haomasan melahirkan putra yang bernama Tuan Sorbadibanua, gelar Nai Suanon. Nai Ambaton (Tuan Sorba Djulu/Ompu Raja Nabolon) Nama (gelar) putra sulung Tuan Sorimangaraja lahir dari istri pertamanya yang bernama Nai Ambaton. Nama sebenarnya adalah Ompu Raja Nabolon, tetapi sampai sekarang keturunannya bermarga Nai Ambaton menurut nama ibu leluhurnya. Nai Ambaton mempunyai empat orang putra, yaitu: 1. Simbolon Tua, keturunannya bermarga Simbolon. 2. Tamba Ttua, keturunannya bermarga Tamba. 3. Saragi Tua, keturunannya bermarga Saragi. 4. Munte Tua, keturunannya bermarga Munte (Munte, Nai Munte, atau Dalimunte). Dari keempat marga pokok tersebut, lahir marga-marga cabang sebagai berikut (menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W. Hutagalung): SIMBOLON Lahir marga-marga Tinambunan, Tumanggor, Maharaja, Turutan, Nahampun, Pinayungan. Juga marga-marga Berampu dan Pasi. TAMBA Lahir marga-marga Siallagan, Tomok, Sidabutar, Sijabat, Gusar, Siadari, Sidabolak, Rumahorbo, Napitu. SARAGI Lahir marga-marga Simalango, Saing, Simarmata, Nadeak, Sidabungke. MUNTE Lahir marga-marga Sitanggang, Manihuruk, Sidauruk, Turnip, Sitio, Sigalingging. Keterangan lain mengatakan bahwa Nai Ambaton mempunyai dua orang putra, yaitu Simbolon Tua dan Sigalingging. Simbolon Tua mempunyai lima orang putra, yaitu Simbolon, Tamba, Saragi, Munte, dan Nahampun. Walaupun keturunan Nai Ambaton sudah terdiri dari berpuluh-puluh marga dan sampai sekarang sudah lebih dari 20 sundut (generasi), mereka masih mempertahankan Ruhut Bongbong, yaitu peraturan yang melarang perkawinan antarsesama marga keturunan Nai Ambaton.

Catatan mengenai Ompu Bada, menurut buku “Tarombo Marga Ni Suku Batak” karangan W Hutagalung, Ompu Bada tersebut adalah keturunan Nai Ambaton pada sundut kesepuluh. Menurut keterangan dari salah seorang keturunan Ompu Bada (mpu bada) bermarga gajah, asal-usul dan silsilah mereka adalah sebagai berikut: 1. Ompu Bada ialah asal-usul dari marga-marga Tendang, Bunurea, Manik, Beringin, Gajah, dan Barasa. 2. Keenam marga tersebut dinamai Sienemkodin (enem = enam, kodin = periuk) dan nama tanah asal keturunan Empu Bada, pun dinamai Sienemkodin. 3. Ompu Bada bukan keturunan Nai Ambaton, juga bukan keturunan si raja batak dari Pusuk Buhit. 4. Lama sebelum Si Raja Batak bermukim di Pusuk Buhit, Ompu Bada telah ada di tanah dairi. Keturunan Ompu bada merupakan ahli-ahli yang terampil (pawang) untuk mengambil serta mengumpulkan kapur barus yang diekspor ke luar negeri selama berabad-abad. 5. Keturunan Ompu Bada menganut sistem kekerabatan Dalihan Natolu seperti yang dianut oleh saudara-saudaranya dari Pusuk Buhit yang datang ke tanah dairi dan tapanuli bagian barat. NAI RASAON (RAJA MANGARERAK) Nama (gelar) putra kedua dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri kedua tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Rasaon. Nama sebenarnya ialah Raja Mangarerak, tetapi hingga sekarang semua keturunan Raja Mangarerak lebih sering dinamai orang Nai Rasaon. Raja Mangarerak mempunyai dua orang putra, yaitu Raja Mardopang dan Raja Mangatur. Ada empat marga pokok dari keturunan Raja Mangarerak: Raja Mardopang Menurut nama ketiga putranya, lahir marga-marga Sitorus, Sirait, dan Butar-butar. Raja Mangatur Menurut nama putranya, Toga Manurung, lahir marga Manurung. Marga pane adalah marga cabang dari sitorus. NAI SUANON (tuan sorbadibanua) Nama (gelar) putra ketiga dari Tuan Sorimangaraja, lahir dari istri ketiga Tuan Sorimangaraja yang bernama Nai Suanon. Nama sebenarnya ialah Tuan Sorbadibanua, dan di kalangan keturunannya lebih sering dinamai Ttuan Sorbadibanua. Tuan Sorbadibanua, mempunyai dua orang istri dan memperoleh 8 orang putra. Dari istri pertama (putri Sariburaja):

1. Si Bagot Ni Pohan, keturunannya bermarga Pohan. 2. Si Paet Tua. 3. Si Lahi Sabungan, keturunannya bermarga Silalahi. 4. Si Raja Oloan. 5. Si Raja Huta Lima. Dari istri kedua (Boru Sibasopaet, putri Mojopahit) : a. Si Raja Sumba. b. Si Raja Sobu. c. Toga Naipospos, keturunannya bermarga Naipospos. Keluarga Tuan Sorbadibanua bermukim di Lobu Parserahan – Balige. Pada suatu ketika, terjadi peristiwa yang unik dalam keluarga tersebut. Atas ramalan atau anjuran seorang datu, Tuan Sorbadibanua menyuruh kedelapan putranya bermain perang-perangan. Tanpa sengaja, mata Si Raja huta lima terkena oleh lembing Si Raja Sobu. Hal tersebut mengakibatkan emosi kedua istrinya beserta putra-putra mereka masing-masing, yang tak dapat lagi diatasi oleh Tuan Sorbadibanua. Akibatnya, istri keduanya bersama putra-putranya yang tiga orang pindah ke Lobu Gala-gala di kaki Gunung Dolok Tolong sebelah barat. Keturunana Tuan Sorbadibanua berkembang dengan pesat, yang melahirkan lebih dari 100 marga hingga dewasa ini. Keturunan Si Bagot ni pohan melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Tampubolon, Barimbing, Silaen. 2. Siahaan, Simanjuntak, Hutagaol, Nasution. 3. Panjaitan, Siagian, Silitonga, Sianipar, Pardosi. 4. Simangunsong, Marpaung, Napitupulu, Pardede. Keturunan Si Paet Tua melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Hutahaean, Hutajulu, Aruan. 2. Sibarani, Sibuea, Sarumpaet. 3. Pangaribuan, Hutapea. Keturunan si Lahi sabungan melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Sihaloho.

2. Situngkir, Sipangkar, Sipayung. 3. Sirumasondi, Rumasingap, Depari. 4. Sidabutar. 5. Sidabariba, Solia. 6. Sidebang, Boliala. 7. Pintubatu, Sigiro. 8. Tambun (Tambunan), Doloksaribu, Sinurat, Naiborhu, Nadapdap, Pagaraji, Sunge, Baruara, Lumban Pea, Lumban Gaol. Keturunan Si Raja Oloan melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Naibaho, Ujung, Bintang, Manik, Angkat, Hutadiri, Sinamo, Capa. 2. Sihotang, Hasugian, Mataniari, Lingga. 3. Bangkara. 4. Sinambela, Dairi. 5. Sihite, Sileang. 6. Simanullang. Keturunan Si Raja Huta Lima melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Maha. 2. Sambo. 3. Pardosi, Sembiring Meliala. Keturunan Si Raja Sumba melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Simamora, Rambe, Purba, Manalu, Debataraja, Girsang, Tambak, Siboro. 2. Sihombing, Silaban, Lumban Toruan, Nababan, Hutasoit, Sitindaon, Binjori. Keturunan Si Raja Sobu melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Sitompul. 2. Hasibuan, Hutabarat, Panggabean, Hutagalung, Hutatoruan, Simorangkir, Hutapea, Lumban Tobing, Mismis.

Keturunan Toga Naipospos melahirkan marga dan marga cabang berikut: 1. Marbun, Lumban Batu, Banjarnahor, Lumban Gaol, Meha, Mungkur, Saraan. 2. Sibagariang, Hutauruk, Simanungkalit, Situmeang. (Marbun marpadan dohot Sihotang, Banjar Nahor tu Manalu, Lumban Batu tu Purba, jala Lumban Gaol tu Debata Raja. Asing sian i, Toga Marbun dohot si Toga Sipaholon marpadan do tong) ima pomparan ni Naipospos, Marbun dohot Sipaholon. Termasuk do marga meha ima anak ni Ompu Toga sian Lumban Gaol Sianggasana. *** DONGAN SAPADAN (TEMAN SEIKRAR, TEMAN SEJANJI) Dalam masyarakat Batak, sering terjadi ikrar antara suatu marga dengan marga lainnya. Ikrar tersebut pada mulanya terjadi antara satu keluarga dengan keluarga lainnya atau antara sekelompok keluarga dengan sekelompok keluarga lainnya yang marganya berbeda. Mereka berikrar akan memegang teguh janji tersebut serta memesankan kepada keturunan masingmasing untuk tetap diingat, dipatuhi, dan dilaksanakan dengan setia. Walaupun berlainan marga, tetapi dalam setiap marga pada umumnya ditetapkan ikatan, agar kedua belah pihak yang berikrar itu saling menganggap sebagai dongan sabutuha (teman semarga). Konsekuensinya adalah bahwa setiap pihak yang berikrar wajib menganggap putra dan putri dari teman ikrarnya sebagai putra dan putrinya sendiri. Kadang-kadang ikatan kekeluargaan karena ikrar atau padan lebih erat daripada ikatan kekeluargaan karena marga. Karena ada perumpamaan Batak mengatakan sebagai berikut: “Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang; Togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan” artinya: “Teguh akar bambu, lebih teguh akar rumput (berakar tunggang); Teguh ikatan hukum, lebih teguh ikatan janji” Masing-masing ikrar tersebut mempunyai riwayat tersendiri. Marga-marga yang mengikat ikrar antara lain adalah: 1. Marbun dengan Sihotang 2. Panjaitan dengan Manullang 3. Tampubolon dengan Sitompul. 4. Sitorus dengan Hutajulu – Hutahaean – Aruan. 5. Nahampun dengan Situmorang.

(Disadur dari buku “Kamus Budaya Batak Toba” karangan M.A. Marbun dan I.M.T. Hutapea, terbitan Balai Pustaka, Jakarta, 1987) Like Be the first to like this. Filed under: Unique Culture « Komponen Proteksi BAB 1 »

53 Responses
1. Sejarah Marga Batak « dongan’s 2.0 - …pos roham…, on 9 March, 2009 at 04:55 said: [...] Comment! taken from QTop [...]

2. _c'q_, on 30 April, 2009 at 07:16 said: I Love Batak.. “One of the best culture in the world”

3. alvatarz, on 28 May, 2009 at 18:29 said: TIDAK BENAR RAJA HUTI secara fisik tidak sempurna. Tidak benar juga Wujudnya seperti Babi. RAJA HUTI TAMPAN seperti orang barat. TINGGINYA KIRA2 175 CM Itu kerjaan setan yang ngaku-ngaku roh nenek moyang kalian. Si Boru Biding Laut tidak pernah melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon. dari mana jalannya……….?///??///??????? NGAK BENAR ITU SEMUA BOHONG …………..

4.

alvatarz, on 28 May, 2009 at 18:31 said: TIDAK BENAR RAJA HUTI secara fisik tidak sempurna. Tidak benar juga Wujudnya seperti Babi. RAJA HUTI TAMPAN seperti orang barat. TINGGINYA KIRA2 175 CM Itu kerjaan setan yang ngaku-ngaku roh nenek moyang kalian. Si Boru Biding Laut tidak pernah melahirkan putra yang bernama Tuan Sorba Jae (Raja Mangarerak), gelar Nai Rasaon. dari mana jalannya……….?///??///??????? NGAK BENAR ITU SEMUA BOHONG ………alvatarz111@gmail.com

5. _c'q_, on 3 June, 2009 at 03:09 said: Terima kasih atas kritik dan masukannya alvatarz,, dengan ini qtop.wordpress.com minta maaf atas informasi yang kurang tepat,, (sudah diperbaiki kesalahannya) Kepada alvatarz dan saudara-saudaraku yang merasa bahwa ada yang perlu dirubah informasi di atas, tolong diberitahu saja, karena saya sebagai orang batak tidak ingin kehilangan jati diri saya sebagai suku Batak yang menghormati sejarah Batak.. terima kasih.. 6. sharifah hanim Idris harahap, on 20 October, 2009 at 01:42 said: saya yang hilang asal usus keturunan kerana yang tua terlalu cepat perginya. Yang saya tahu saya keturunan maidailing bermarga harahap. Ingin mengetahui sejarah keturunan kerana pernah di beritahu masih ada saudara mara di sana-tapanuli – bukit tinggi. 7. dharma, on 19 December, 2009 at 14:02 said: Anyhow, silsilah batak termasuk yg terbaik dan terlengkap, sehingga anak cucunya dgn marga yg berbeda dapat saling mencari pertemuan hubungan kekeluargaan mereka, horas…

8.

anggiat_tobing, on 16 February, 2010 at 16:57 said: Berbahagialah orang batak karena mempunyai sisilah yang turun temurun kita sandang, jadi saluuut baut penulis, kalau boleh tanbah lagi silsilah marga yg lain ok… BRAVOOOO

9. ApuL, on 5 June, 2010 at 03:20 said: wih,, qitop.. gw ada bukunya top di rumah,, sejarah marga2 batak nanti gw coba liat,, ada yg beda apa gak

10. _c'q_, on 27 June, 2010 at 02:31 said: Mauu dong pul… Gw copy deh bukunya… boleh ngga??

11. leonardo, on 19 November, 2010 at 22:11 said: silahi raja(silalahi) anak silahiasabungan dengan pitahaomasan kok g ada,,,,,,,

12. E Tampubolon, on 27 November, 2010 at 07:36 said: 88% accurat,e 12 % lagi perlu penelitian…Bravo 13. orang jawa, on 9 December, 2010 at 07:35 said: Kalau boleh tanya apakah semua orang batak ber-marga?, apakah marga itu ibarat gelar Raden kalau di Jawa? bahwa penyandang gelar tersebut adalah keturunan raja (darah biru). many thanks

14. Gunawan Sitorus, on 10 December, 2010 at 04:24 said: Semua Orang Batak memang keturunan Raja,begitu juga dengan anda Orang Jawa

15. Mashans, on 23 December, 2010 at 09:11 said: no. coment…masalah suku …tapi menurut saya ikatan yg bagus persaudaraannya adalah bukanlah suku ,tapi iman karena iman tdk mengenal raja , rakyat ,panglima tau org suci ….semua sama dihadapan tuhan…karena ketakwaanya…tapi saya salut atas tertulis nya silsilah tersebut. tapi msh ada yg lebih bagus silsilah nya …adalah bangsa arab dia punya bin dibelakang namanya sampai skg .

16. adewahyuditogarsiregar, on 3 February, 2011 at 20:02 said: aku bangga jadi orang batak….. kebudayaan indonesia……. mari kita jaga agar tak diklaim bangsa lain….

17. sahat sinaga, on 14 February, 2011 at 16:13 said: salah semua, dr lontung sinaga yg anak pertama

18. ovi, on 20 February, 2011 at 17:38 said: batak adalah suku yang masih melestarikan adat-istiadatna.. saya banggaaaaa..

19. Jose Risal DIG Manihuruk, on 16 May, 2011 at 15:00 said: maju terus dan teruslah berkarya, walaupun anda banyak menerima kritikan bahkan caci maki. Jangan pernah terpancing emosi dan karya anda sangat bermanfaat bagi anak cucu kelak.

20. _c'q_, on 18 May, 2011 at 12:52 said: terima kasih Pak Jose… Bila ada info mengenai Sejarah Marga Batak.. tolong dishare yah…

21. abdul maha, on 25 May, 2011 at 15:20 said: I LOVE BATAK. teman2 yg punya TAROMBO marga MAHA tolong kasih link nya ya atau boleh juga YM ke aku

22. abdul maha, on 25 May, 2011 at 15:21 said: teman2 yg punya TAROMBO marga MAHA tolong kasih link nya ya atau boleh juga YM ke aku maha_lgs@yahoo.com

23. mirza, on 13 June, 2011 at 23:06 said: keturunan marga sagala mana

24. roy, on 18 June, 2011 at 09:59 said: Untuk toga pandiangan urutannya sbb:Gultom,Samosir,Pakpahan,Sitinjak.Dan Harianja adalah anak dari Samosir Sidari.Demikian yang saya ketahui agar kiranya bisa diklarifikasi.Terimakasih.HORAS…HORAS…HORAS.

25. Bahrim harahap, on 24 June, 2011 at 02:01 said: Horas ma tu poparan si Raja Batak na adong di luat ni Portibion. Horas horas horas.

26. Otto Silaen, on 25 September, 2011 at 10:45 said: Horas, Sebagai masukan khusus bagian keturunan Tuan Sihubil. Urutan Marganya adalah : Barimbing , Silaen , Tampubolon. Padan (Dongan Saboltok) ke Sitompul adalah dari Sondiraja (Silaen) ke Badiaraja (Sitompul). Sondiraja adalah Nini (Cicit) dari Tuan Sihubil, Cucu dari Sapalatua

Tampuknabolon, anak dari Raja Mataniari. Keturunan dari Sondiraja tidak bermarga Tampubolon tapi marganya adalah “Silaen”. Demikian untuk diperbaiki dan diketahui.

27. Otto Silaen, on 25 September, 2011 at 11:14 said: Berikut ini tarombonya: Tuan Sihubil anaknya 1 yaitu “Sapalatua Tampuknabolon”. Anak Sapalatua 3 yaitu “Raja Mataniari” , “Raja Niapul” , “Raja Soboro”. Raja Mataniari Istrinya 3. Dari Istri pertama (br. Hinalang) bermarga Barimbing. Dari istri kedua (br. Sitorus) ada 2: Sondiraja ( Keturunannya bermarga Silaen) dan Badiaraja (Keturunannya bermarga Sitompul) dan merekalah yang mengadakan parpadanan mardongan saboltok. Dari Istri ke tiga (br. Borbor) bermarga Pohan di Barus. Anak dari Sapalatua Tampuknabolon yaitu Raja niapul dan Raja siboro keturunannya bermarga Tampubolon. Dengan demikian marga-marga keturunan dari Tuan Sihubil adalah : Barimbing ; Silaen ; Pohan (Barus) ; Tampubolon ; Tampubolon.

28. Anggi Sagala, on 29 September, 2011 at 04:45 said: Horas,horas,horas!!!!!!!!!!!!!! Dongan sabutuha nya kt smua,.,.,.,.,.,.,.,.,.,., Mari kt junjung kebersamaan kt sesama orng kt batak,,,,hee 29. Fajri Muhardi, on 30 October, 2011 at 16:33 said: TIDAK BENAR RAJA HUTI secara fisik tidak sempurna. kalau wujudnya seperti babi itu msh mungkin karena jaman sekarang aja banyak wajah orang seperti babi ya,…. horas !!!! 30. Bruclhi Purba, on 17 November, 2011 at 10:15 said:

i like batak

31. Malik Pohan Delapan Sembilan, on 12 February, 2012 at 00:34 said: mari kita jaga parsatuan batak

32. Augustine Lymrimer Nainggolan, on 29 February, 2012 at 09:51 said: mantap bahh….. terimakasih lae buat infonya

33. SIDABUTAR, on 2 March, 2012 at 15:48 said: yang pasti kalo mau tepat atau pas dengan yang anda inginkan BUAT SAMA KALIAN… pertanyaan nya BISA GA KALIAN MEMBUAT/MENCERITAKAN DENGAN BENAR,,??? namanya sejarah itu ga bisa di dapat kepastian nya dari satu orang… HORAS.

34. sandivarera, on 1 April, 2012 at 07:10 said: satukan suara untuk yg terbaik.bukan…sebaliknya.horas………………….

35. Costa Rica Barasa, on 4 April, 2012 at 21:08 said: Salah Smua Tentang Mengenai Pomparan Si Raja Nai Ambaton dan Pompran MPU Bada, klo menurut Oppung q yg masih Hidup inilah yang benar Mengenai Parna & MPU Bada , , , Raja Nai Ambaton

Keturunan Raja Naiambaton dikenal sebagai keturunan yang terdiri dari berpuluhpuluh marga yang tidak boleh saling kawin (ndang boi masiolian). Kumpulan persatuan rumpun keturunan Raja Naiambaton disebut dengan PARNA (Parsadaan Raja Nai Ambaton). Catatan: huruf R dalam kata PARNA bukan representasi „raja‟, tapi PAR=Parsadaan (“persatuan”), NA=Nai Ambaton. Marga-marga keturunan Raja Naiambaton (Datu Sindar Mataniari) , antara lain: Raja Sitempang dan Bolon Tua. Dan cabang-cabangnya: Dari Istri Siboru Biding laut III Pomparan Raja Sitempang 1. Raja Sitempang ( Sitanggang Bau, Sitanggang Lipan, Sitanggang Upar, Sitanggang Silo, Sigalingging, Sitanggang Gusar dari Sitanggang Bau, Sidauruk, Manihuruk dari Sitanggang Silo, Sigalingging Ke Dairi (Banuarea, Manik, Gaja, Tendang, Rampu, Kecupak, Kombi,Boang Manalu, Barasa, Turutan, Siambataon), Simanihuruk ke Tanah Karo (Ginting Manik) Dari IStri SIboru Anting Anting Pomparan Raja Nabolon 1. Simbolon Tua (Simbolon, Tinambunan, Tumanggor, Turutan, Pinayungan, Maharaja, Nahampun) 2. Tamba Tua: Tonggor Dolok, Lumbang Tongatonga, Lumban Toruan. Lumban Tongatonga beranak dua: Rumaganjang dan Lumbanuruk. Rumaganjang beranak 3: Guru Sateabulan, Guru Sinanti dan Datu Parngongo. Datu Parngongo beranak 7, satu diantaranya bernama Guru Sojoloan (Guru Sotindion). Dari Guru Sojoloan/Guru Sotindion inilah Sidabutar, Sijabat, Siadari, Sidabalok yang biasa disebut “pomparan ni si opat ama”. 3. Munte Tua (Munte) 4. Saragi Tua (Saing, Simalango, Simarmata, Nadeak, Sidabungke, Rumahorbo, Sitio, Napitu). Tiga marga dintaranya, yang konon turunan dari satu leluhur, yaitu RumahOrbo, NApitu dan SiTIO, akronim (RoNaTio ).

36. SARDO MARULI AMBARITA RAJA LUMBAN PEA, on 9 May, 2012 at 16:20 said: Dengan adanya grup ini, saya jadi bisa lebih paham dan mengerti ttg asal~usul marga Batak terlebih sejarah Ambarita.Untung org batak sudah hidup dlm pertobatan sehingga tdk ada lagi KANIBALISME Ambarita.Salam kenal smua. By: SMARLP (Sardo Maruli Ambarita Raja Lumban Pea)

37. holy boy, on 5 June, 2012 at 07:25 said: Horas di hita sude bangso batak…. saya bangga keturunan si raja oloan, sebagai cikal bakal pahlawan heroik sisingamangaraja melawan penjajah…

sampai Indonesia merdeka, bangsa batak tidak pernah dijajah secara keseluruhan oleh belanda…

38. ali usman, on 21 June, 2012 at 17:19 said: sisingamangaraja adalah org dari jawa yg bernama sisingo ma adirejo yg merantau ke tanah batak karena perang saudara.

39. holy boy, on 22 June, 2012 at 01:14 said: @ ali usman : hahaha.. nice joke….

40. ali usman, on 23 June, 2012 at 16:04 said: aq jadi bingung,

41. master purba.sosorgonting, on 26 July, 2012 at 15:22 said: mauliate ma lae di akka tarombo on horas jala gabe

42. Au Doi, on 10 August, 2012 at 15:19 said: MAULIATE

43. Rudi Anto, on 28 August, 2012 at 15:18 said: patakas hamu jo lae urutan ni lottung, hami si naga do siakangan…. dohot urutanni pinoppar ni sinaga, naga bonor,padiangan dohot suhut ni huta do nahuboto lae, … jala au ma sinaga siakangan ima bonor… patakas hamu jo lae…???

44. may ziadah, on 23 September, 2012 at 16:00 said: marga lubis adalah big clan di pusuk buhit keturunan dari guru tatea bulana,anda ngarang2,,yang sedikitkagi di toba karena padri army tuanku Rao(pongki nangolngolan Sinambela),

45. PDIkb, on 28 September, 2012 at 05:45 said: Dalimunthe marga Asli batak..hehehe..walaupun sejarah marganya lebih tua..tapi kok..gak..byk komentar ya …Lihat sejarah Op Pasang..salh satu leluhur marga dalimunthe…dan leluhur saya..Op sojungjuangon yg beristri Op boru Zubaedah berangkah thn 701 msehi…dan sudah menyakini Agama islm sebagi keyakinannya yg dianut… Dalimunthe salah satu Sejarah Tua suku bangsa Batak .. mengikuti saja arus… Marga Munte keturunannya tersebar diseluruh dunia… namun yg menurunkan marga tsb… hanya terdiam dan menyakini…Ginting…saragi/h Munte dan tamba sipadannya…diakui satu leluhur Dalimunthe ..saama saina…kecuali simbolon satu ama lain ina…makanya ada didalm parna ..sisada lulu sisada boru….dilarng kawin ya…. sisada lulu sisada boru…bisa kita artikan…satu ayah dan satu ibu ..dilarang kawin ya…. Pahamilah…Pomparran Parna..jgn pandang Marga Dalimunthe Karena keyakinannya mungkin identik beragama Islam …karena Marga Dalimunthe itulah urat nadi Parna dan saudara Tua didalm Parna… Lihat sejarah… keturunannya munte tersebar diseluruh..dunia…

46. PDIkb, on 28 September, 2012 at 06:14 said: Mengapa Tarombo tiap asal kampung beda…Karo ,toba mandailing ,simalungun ,nias tiap asal dan usulnya beda..disebabkan Tarombo yg beredar sudah kebanyakan ada perubahan,pada waktu penyebaran zaman penjajahan sekutu.terutama belanda..ingin mengusai tanah batak dgn berbagai cara..salah stunya politik adu domba… dan agar setatus org yg pro belanda dirubahlah tarombonya agar Org batak yg Pro itu naik statusnya…dan disebarluaskanlah berita tsb..hingga cerita yg aslinya ttg hilang… seperti salah satu hikayat kami marga Dalimunthe adalah yg menjadi Raja sipitu huta… dan karena Raja yg bermarga Dalimunthe ini tidak pro dgn belanda..tetapi pro dgn rakyat dgn berbagai cara..belanda menggunakan taktiknya ..hingga terjadilah pengangkatan Raja Sipitu huta Yg diangkat oleh BELANDA DARI PARSADAAN NAIAMBATON JUGA YAITU YG BERMARGA MANIURUK YG NOTABENE ANAK CABANG-CABANG DALIMUNTHE.. MENJADI RAJA SIPITU HUTA DGN GELAR RAJA MUNTHE… DAN DIKENAL DGN RAJA TONGGING op PANGAMBATAN…. Raja Dalimunthe asli tetap masih dianggap Raja oleh Masyarakatnya…hingga bergerilya …dari kampung kekampung…hingga kepedalaman Hutan Saipar Dolok hole… inilah salah satu taktik belanda memecah belah dalam martarombo…. hingga kini masalah Tarombo…menjadi sangat sensitif

karena ulah para penjajah tsb… datang bagaikan bangsawan ramah tamah..tetapi..hatinya busuk… Tarombo Batak telah diaduk dan diacak-ack oleh…penjajah..terutama Belanda… ini sekedar pandangan saya ..sebagai org batak

47. londo, on 5 October, 2012 at 04:56 said: kenapa orang batak mental & body nya gede? Dibandin orang jawa yg kecil2 item cengeng & males! Jawa itu suku paling mundur! Gk akan maju HORAS !

48. ja bat (jawa batak), on 6 October, 2012 at 17:41 said: babami londo. puk*m*k kau. jangan asal tuduh suku lain yang negatif. pantang orang batak menghina orang lain. horas bah!!

49. londo, on 9 October, 2012 at 15:43 said: woy kau yg komen diatas @ja bat. Sapa suruh kau kawin sama orang suku jawa? Suku jawa mental body kecil dan males. Keturunan keluarga batak w pantang kawin dgn ras/suku sampah kek jawa .Penghianat la kau haha

50. andresnaikosinaga, on 15 October, 2012 at 12:37 said: bohong n asal2, pengetahuan O sdh nulis blog, raja lotung anak pertama omp saribu raja bukan raja bor2, kemudian anak pertama siraja lotung adlh marga sinaga, hapus aja blog mu. The Dragon

51. reza panggabean, on 2 November, 2012 at 12:43 said: raja sobu tu salh. yg bnr hasibuan. panggabean. hutagalung. hutabarat, lumban simorangkir, lumban tobing, hutatoruan. mismis,sitomput tu gk maSuk. 52.

John SheNaga Bonor, on 4 December, 2012 at 00:18 said: klo bicara mengenai turunan si raja lontung, tolong yang benar yea…. jgn pandepandean membalikkan, atau mw kw kubalikkan kepalamu itu jd di bawah…. “sinaga” merupakan turunan siraja lontung yg paling tua , no 2 situmorang, 3 pandiangan, dst…!!!!! NB: klo tdk tw bertanya, jgn sok tw… camkan itu..!!!

53. Desman Santua, on 13 December, 2012 at 19:03 said: marga gue kemane bro,,?
Marga Munthe adalah marga besar,bisa dikatakan adalah marga yang diberkati Tuhan dengan mempunyai cabang yang sangat banyak dibandingkan dengan marga lain yaitu tersebar hingga ke 9 puak yaitu : 1. Marga Munthe dari Puak Tongging-Sipitunihuta 2. Marga Ginting Munthe dari Puak Karo 3. Marga Munthe dari Puak Dolok Sanggul 4. Marga Munthe dari Puak Toba 5. Marga Dalimunthe dari Puak Angkola dan Mandailing 6. Marga Munthe dan Dalimunthe dari Puak Labuan Batu 7. Marga Saragih Munthe dari Puak Simalungun 8. Marga Munthe dari Puak Gayo Lut dan Luwes Alas 9. Marga Munthe dari Puak Dairi. Awalnya saya pikir marga Siboro sudah lumayan banyak karena tersebar hingga ke 4 puak yaitu : 1.Purba Siboro di Simalungun 2.Tarigan Cibero di Karo 3.Siboro di Samosir Toba 4 .Cibro di Pakpak Dairi namun ternyata marga Munthe tampil sebagai benar-benar marga yang terberkati dengan penyebaran hingga ke 9 puak di Sumatra. Saya sempat mengobrol dengan seorang Karo yang tentu saya bermerga Ginting Munthe yang mana mengatakan bahwa asli dari Munthe adalah di Karo,ini dibuktikan dengan terdapat Kecamatan Munthe di Karo sedangkan klaim atas keturunan Raja Nai Ambaton ditolak oleh bapak bermerga Ginting Munthe ini. Lalu saya juga kenalan dengan seorang Simalungun bermarga Saragih Munthe,nah ini lain pernyataannya yaitu Saragih Munthe adalah salah satu bagian dari Saragih asli Simalungun jadi setaraf dengan Saragih Sumbayak,Saragih Garingging,Saragih Jawak dan Saragih Dasalak.Namun sayangnya lawei ini tidak bisa menjelaskan bahwa Saragih Munthe yang diklaimnya sebagai Saragih asli Simalungun itu cabang dari Saragih yang mana? Semoga ke depan ada penjelasan lebih akurat dan masuk akal dari mana marga Munthe ini berasal dan dengan luar biasanya berada pada 12 puak di Sumatra Utara dan Aceh…

link: http://sevilla99.wordpress.com/2009/03/04/mencari-asal-marga-munthe/

Kerajaan Sontang, Sejarah Kerajaan Sontang, Tambo Sejarah Rajo, Daftar Nama Raja Sontang, Raja Sontang

Kerajaan Sontang
Tulisan di

Manaroh al-ilmi
, untuk kemajuan peradaban

Lokasi Kerajaan Sontang Pendahuluan Daftar Nama Raja-Raja

Sebagai keturunan dari waris Raja Sontang, tentu saya harus mengetahui sejarah dari nenek moyang, meskipun saya adalah kelahiran kota, dan untuk mengamalkan sunah Rosul, baiklah akan saya sampaikan ilmu saya yang sedikit tentang sejarah Kerajaan Sontang. Kerajaan Sontang adalah salah satu kerajaan di Provinsi Sumatera Barat, kemudian bergabung kepada Republik Indonesia pada tahun 1945 melalui pernyataan Raja Sontang ke XI (11) secara langsung kepada pemerintah Indonesia, sehingga tidak terjadi revolusi sosial seperti yang terjadi pada beberapa kerajaan di Sumatera yang memihak Belanda. Kerajaan ini terletak di Kabupaten Pasaman, meliputi kecamatan Duo Koto dan kanagarian (desa, kelurahan) Sontang di kecamatan Panti.

Daftar Nama Raja-Raja

a. b. c. d. e.

Si Baroar bergelar Nasaktion (Nasution) Raja Gumanti Porang Raja Lobi Gambir Tuanku Rajo Sontang I Parlagutan Tuanku Rajo Sontang II

f. g. h. i. j. k. l. m. n. o. p. q.

Ninggil Tuanku Rajo Sontang III Nuncang Tuanku Rajo Sontang IV yang mula-mula masuk Islam Karang Beding, Dubalang Raja yang mula-mula Palembang gelar Tongku Tuo, Raja Dubalang yang mula-mula Mutar Tuanku Rajo Sontang V Garang Tuanku Rajo Sontang VI Nanggar Tuanku Rajo Sontang VII Ratus Haji Sulthan Tuanku Rajo Sontang VIII Humala Sutan Sulaiman Tuanku Rajo Sontang IX Djaaman Tuanku Rajo Sontang X Ahmad Dahlan Tuanku Rajo Sontang XI paman (pak tuo) saya

Taufik Arief, S.H
Tuanku Rajo Sontang XII Diposkan oleh Muhammad Abduh Nasution bre Lingga Mukhtirulilmi di 15:54 Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke Facebook Label: Sejarah Reaksi:

9 komentar:

1. jekakaSabtu, 02 Juli 2011 11:09:00 WIB

aku keturunanni ompu parsontang dalimunthe sdh {saipar dolok hole,...apakah ada hubungannya ga ya?..
Balas

2. MukhtirulilmiSenin, 11 Juli 2011 21:56:00 WIB

Terima kasih banyak atas pertanyaan yang bagus. Kata sontang berasal dari kata siontang-ontang yang merupakan nama sebuah pohon. Mungkin di daerah gunung hole ada banyak pohon tersebut sehingga menjadi nama daerah/kerajaan. Menarik sekali untuk diteliti adakah hubungan kerabat bahkan perdagangan. Yang jelas, ada anak muda merantau ke daerah Padang Lawas bermarga Munthe, ia sangat baik dan disukai orang, dalam bahasa Batak, anak muda adalah doli, sehingga ia digelari

Dalimunthe. Adapun si Baroar (nenek moyang marga Nasution), mengambil istri dari Padang Lawas. Wallahu a'kata sontang berasal dari kata siontang-ontang yang merupakan nama sebuah pohon. Mungkin di daerah gunung hole ada banyak pohon tersebut sehingga menjadi nama daerah/kerajaan. Menarik sekali untuk diteliti adakah hubungan kerabat bahkan perdagangan. Yang jelas, ada anak muda merantau ke daerah Padang Lawas bermarga Munthe, ia sangat baik dan disukai orang, dalam bahasa Batak, anak muda adalah doli, sehingga ia digelari Dalimunthe. Adapun si Baroar (nenek moyang marga Nasution), mengambil istri dari Padang Lawas. Wallahu a'k
Balas

3. MukhtirulilmiSenin, 11 Juli 2011 21:58:00 WIB

Terima kasih banyak atas pertanyaan yang bagus. Kata sontang berasal dari kata siontang-ontang yang merupakan nama sebuah pohon. Mungkin di daerah gunung hole ada banyak pohon tersebut sehingga menjadi nama daerah/kerajaan. Menarik sekali untuk diteliti adakah hubungan kerabat bahkan perdagangan. Yang jelas, ada anak muda merantau ke daerah Padang Lawas bermarga Munthe, ia sangat baik dan disukai orang, dalam bahasa Batak, anak muda adalah doli, sehingga ia digelari Dalimunthe. Adapun si Baroar (nenek moyang marga Nasution), mengambil istri dari Padang Lawas. Wallahu a'kata sontang berasal dari kata siontang-ontang yang merupakan nama sebuah pohon. Mungkin di daerah gunung hole ada banyak pohon tersebut sehingga menjadi nama daerah/kerajaan. Menarik sekali untuk diteliti adakah hubungan kerabat bahkan perdagangan. Yang jelas, ada anak muda merantau ke daerah Padang Lawas bermarga Munthe, ia sangat baik dan disukai orang, dalam bahasa Batak, anak muda adalah doli, sehingga ia digelari Dalimunthe. Adapun si Baroar (nenek moyang marga Nasution), mengambil istri dari Padang Lawas. Wallahu a'k
Balas Balasan

1. setan koberSabtu, 03 November 2012 20:27:00 WIB

maaf bang aku mo tanya ..... Kyai H Ahmad Dahlan yang dimaksud apakah dia salah satu kaum pendiri pancur batu .... dapat dikatakan penghulu pertama pancur batu ... apakah ada hubungannya bang dengan raja sontang tersebut
Balas

4. AnonimRabu, 24 Agustus 2011 13:06:00 WIB

bagaimana pertaliannya dengan keluarga raja-raja Padang Nunang, Lubuk Layang di Rao?
Balas

5.

MukhtirulilmiKamis, 25 Agustus 2011 15:11:00 WIB

Terima kasih atas komentarnya. Maaf, sebaiknya anda memberitahukan identitas anda terlebih dahulu, dengan mengirim biodata atau surat, silahkan lihat alamat kami pada halaman 'Tentang Kami Hubungi Kami'. Harap maklumTerima kasih atas komentarnya. Maaf, sebaiknya anda memberitahukan identitas anda terlebih dahulu, dengan mengirim biodata atau surat, silahkan lihat alamat kami pada halaman 'Tentang Kami Hubungi Kami'. Harap maklum
Balas

6. jekakaSabtu, 05 Mei 2012 02:15:00 WIB

Sebelumnya saya minta maaf,..menurut hikayat kami marga Dalimunthe marga asli batak , dia merantau lebih dahulu daripada marga batak lainnya ,.sedikit cerita hingga suatu ketika huta yg ditempatinya didatangi sekelompok orang dan salah satunya ada yg sakti ,..dan menantang marga dalimunthe tersebut,..mungkin ada benarnya yg mendirikan huta tersebut memang org dari saipar dolok hole maka diberi nama sontang dan mungkin yg mendirikan kerajaan sontang ,..yg bergelar mangaraja sontang {jasontang ] hanya ada pada orang batak bermarga dalimunthe dari binanga somba debata dan salah satu opung saya bergelar Baginda bermargakan dalimunthe ,...memang ada hikayat dalam adu tanding yg berkelajutan,apabila ada yg kalah boleh menantang kembali,..dan itu tterjadi secara trus menerus dan tersebut imbang,..entah bagaimana ceritanya,..mereka berdamai,..dgn perjanjian2 mungkin ada perkawinan perkawinan antar kedua belah pihak,, ,..hingga marga dalimunthe pun keturunanni masih ada di desa sontang pasaman,...walaupun tdk lagi mempunyai hak untuk sesuatu itu,..hanya menyandang gelar jasontang [ mangaraja sontang }....itulah cerita keluarga kami,...
Balas

7. novalssonRabu, 22 Agustus 2012 22:24:00 WIB

Wah, baru tahu kalau ada kerajaan yang 'Mandailing' di Sumatera Barat. Oh iya, sekedar info, Revolusi Sosial hanya terjadi di Sumatera Timur, yang meruntuhkan seluruh kerajaan2 Melayu - Karo - Simalungun, kecuali Deli (Melayu), Tanah Jawa (Simalungun) dan Siantar (Simalungun), karena raja dari ketiga kerajaan ini selamat, sedangkan yang lain tewas. Wallahu A'lam.
Balas Balasan

1. Husni Khamel HammeSelasa, 04 Desember 2012 22:51:00 WIB

bg aku mau nanya.. 1-apa benar ada keturunan raja sontang(lebih tepatnya seorang puti)melarikan diri dari kerajaan karna tidak ingin di nikahkan dengan raja tetangga...? 2-apa benar cewek keturunan raja sontang tidak boleh makan belut...? 3-apakah rumah gadang yang di sana sekarang terletak di dalam hutan yang di larang masuk...? terimakasih sebelumnya bang

BATAK
Adat Istiadat Budaya Batak Bonapasogit « Marga-marga Karo Saragi(h) Turnip »

Parna (Pomparan ni si Raja Naiambaton)
Pomparan ni si Raja Naiambaton biasa disingkat menjadi PARNA, yaitu marga-marga yang dipercayai sebagai keturunan dari Raja Naiambaton yang karenanya tidak boleh menikah satu dengan yang lainnya. Hal ini dipertegas dalam tulisan-tulisan pustaha Batak yang berbunyi “Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru” dalam bahasa Batak Toba, yang dapat diartikan dengan ”Keturunan Raja Naiambaton adalah samasama pemilik putra dan putri,” yang dalam arti lebih luas lagi dapat diartikan bahwa ”Putra-putri keturunan marga-marga Naiambaton tidak boleh menikah satu sama lain.”
Raja NaiambatonSatu tulisan menyatakan bahwa Raja Naiambaton merupakan keturunan keenam dari Raja Batak, seperti berikut: Raja Batak memperanakkan Guru Tateabulan, memperanakkan Raja Isumbaon, memperanakkan Tuan Sorimangaraja, memperanakkan Raja Asiasi, memperanakkan Sangkaisomalindang, dan memperanakkan Raja Naiambaton

Marga-marga Parna Terdapat perbedaan pada jumlah marga yang masuk dalam kelompok Parna ini, hal ini disebabkan karena adat kebudayaan Batak yang dapat menggunakan marga leluhur, percabangan marga kakek, ayah, atau bahkan percabangan marga baru. Tetapi walau berbeda marga, semuanya mengaku dipersatukan oleh ucapan di atas (“Pomparan ni si Raja Naiambaton sisada anak sisada boru”). Adapun marga-marga batak yang termasuk dalam Pomparan Ni Raja Nai Ambaton (PARNA) yaitu: 1. Bancin ( sigalingging )

2. Banurea ( sigalingging ) 3. Boangmenalu ( sigalingging) 4. Brampu ( sigalingging ) 5. Brasa ( sigalingging ) 6. Bringin ( sigalingging ) 7. Dalimunthe 8. Gajah ( sigalingging ) 9. Garingging ( sigalingging ) 10. Ginting Baho 11. Ginting Beras 12. Ginting Capa 13. Ginting Guruputih 14. Ginting Jadibata 15. Ginting jawak 16. Ginting manik 17. Ginting Munthe 18. Ginting Pase 19. Ginting Sinisuka 20. Ginting Sugihen 21. Ginting Tumangger 22. Haro 23. Kombih (sigalingging ) 24. Maharaja 25. Manik Kecupak (sigalingging) 26. Munte

27. Nadeak 28. Nahampun 29. Napitu 30. Pasi 31. Pinayungan (sigalingging ? ) 32. Rumahorbo 33. Saing 34. Saraan (sigalingging ) 35. Saragih Dajawak 36. Saragih Damunte 37. Saragih Dasalak 38. Saragih Sumbayak 39. Saragih Siadari 40. Siallagan 41. Siambaton 42. Sidabalok 43. Sidabungke 44. Sidabutar 45. Saragih Sidauruk 46. Saragih Garingging 47. Saragih Sijabat 48. Simalango 49. Simanihuruk 50. Simarmata 51. Simbolon Altong

52. Simbolon Hapotan 53. Simbolon Pande 54. Simbolon Panihai 55. Simbolon Suhut Nihuta 56. Simbolon Tuan 57. Sitanggang Bau 58. Sitanggang Gusar 59. Sitanggang Lipan 60. Sitanggang Silo 61. Sitanggang Upar Par Rangin Na 8 ( sigalingging ) 62. Sitio 63. Tamba 64. Tinambunan 65. Tumanggor 66. Turnip 67. Turuten Sumber: Berbagai sumber

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->