Anda di halaman 1dari 21

BAB I PENDAHULUAN

Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glans penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatura yang disebut chordee.1 Pada abad pertama, ahli bedah dari Yunani Heliodorus dan Antilius, pertama-tama yang melakukan penanggulangan untuk hipospadia. Dilakukan amputasi dari bagian penis distal dari meatus. Selanjutnya cara ini diikuti oleh Galen dan Paulus dari Agentia pada tahun 200 dan tahun 400.1 Kelainan hipospadia ini terbatas pada uretra anterior. Pemberian estrogen dan progestin selama kehamilan diduga meningkatkan insidensinya. Jika ada anak yang hipospadia maka kemungkinan ditemukan 20% anggota keluarga yang lainnya juga menderita hipospadia. Meskipun ada riwayat familial namun tidak ditemukan ciri genetik yang spesifik.1,2 Berdasarkan hasil survei, diketahui bahwa hipospadia hanya terjadi pada laki-laki yang dibawa sejak lahir. Insidensinya 3: 1000 atau 3 dari 1000 kelahiran. Berdasarkan data yang dicatat oleh Metropolitan Atlanta Congenital Defects Program (MACDP) dan Birth Defects Monitoring Program (BDMP) insidensi hipospadia mengalami dua kali peningkatan antara tahun 1970-1990.1,3,4,5

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Definisi hipospadia Hipospadia berasal dari bahasa Yunani yang secara terminologi memiliki dua arti kata yaitu hypo yang berati dibawah dan spandon yang berarti lubang. Hipospadia merupakan kelainan abnormal dari perkembangan uretra anterior dimana muara dari uretra terletak ektopik pada bagian ventral dari penis proksimal hingga glans penis. Muara dari uretra dapat pula terletak pada skrotum atau perineum. Semakin ke proksimal defek uretra maka penis akan semakin mengalami pemendekan dan membentuk kurvatura yang disebut chordee.1

2.2. Embriologi Pada embrio yang berumur 2 minggu baru terdapat 2 lapisan yaitu ektoderm dan endoderm. Baru kemudian terbentuk lekukan di tengah-tengah yaitu mesoderm yang kemudian bermigrasi ke perifer, memisahkan ektoderm dan endoderm, sedangkan di bagian kaudalnya tetap bersatu membentuk membran kloaka. Pada permulaan minggu ke 6, terbentuk tonjolan antara umbilical cord dan tail yang disebut genital tubercle. Di bawahnya pada garis tengah terbentuk lekukan dimana di bagian lateralnya ada 2 lipatan memanjang yang disebut genital fold.7 Selama minggu ke 7, genital tubercle akan memanjang dan membentuk glans. Ini adalah bentuk primordial dari penis bila embrio adalah laki-laki, bila wanita akan menjadi klitoris. Bila terjadi agenesis dari mesoderm, maka genital tubercle tak terbentuk, sehingga penis juga tak terbentuk.7 Bagian anterior dari membrana kloaka, yaitu membrana urogenitalia akan ruptur dan membentuk sinus. Sementara itu genital fold akan membentuk sisi-sisi dari sinus urogenitalia. Bila genital fold gagal bersatu di atas sinus urogenitalia, maka akan terjadi hipospadia.7

Gambar 2.1. (A) Genital Fold gagal bersatu di atas sinus urogenitalia (B) Stimulasi androgen

2.3. Anatomi dan fisiologi Anatomi organ genitalia eksterna maskulina

Gambar 2.2. Anatomi organ genitalia eksterna maskulina

a.

Scrotum Scrotum merupakan kantong yang menonjol keluar dari bagian bawah dinding

anterior abdomen. Scrotum berisi testis, epididimis, dan ujung bawah funiculus spermaticus.19
3

Dinding scrotum memiliki lapisan 1. 2. Cutis Fascia superficialis, musculus dartos (otot polos) menggantikan panniculus adiposus. 3. Musculus dartos dipersarafi oleh serabut saraf simpatis dan berfungsi untuk pengerutan kulit di atasnya. Pada saat dingin, tunika dartos akan mengadakan kontraksi sehingga testis akan mendekati tubuh yang temperaturnya lebih tinggi sehingga temperatur dalam testis akan sama dengan temperatur tubuh. Pada saat panas. Tunika dartos mengalami relaksasi sehingga testis akan menjauhi tubuh, scrotum menjadi turun. 4. 5. Fascia spermatica eksterna, cremasterica dan spermatica interna Fascia spermatica eksterna berasal dari aponeurosis musculus obliquus eksternus abdominis. Sedangkan musculus obliquus internus abdominis akan membentuk fascia cremasterica. Fascia spermatica interna berasal dari fascia transversalis. 6. 7. Tunica vaginalis Terletak dalam fascia spermatica dan meliputi permukaan anterior, media, dan lateralis masing-masing testis dan merupakan bagian bawah processus vaginalis dan biasanya sesaat sebelum lahir menutup dan memisahkan diri dari bagian atas processus vaginalis dan cavitas peritonealis kemudian kantung tertutup dan diinvaginasi dari belakang oleh testis.

Aliran limfe Cairan limfe dari tunica vaginalis akan dialirkan ke nodi lymphoidei inguinales superficialis.

Vaskularisasi scrotum 1. R. scrotalis anterior 2. A.spermatica externa 3. R. scrotalis posterior

Inervasi 1. Rr. Scrotales anterior 2. N pudendus eksterna 3. Rr. Scrotalis posterior 4. N. cutaneus femoris posterior

b.

Penis Penis merupakan organ genetalia laki-laki yang berfungsi sebagai alat

kopulasi. Dibedakan atas pars fixa dan pars libera. Pars fixa terdiri dari radix penis (crus penis dan bulbus penis). Pars libera atau batang penis terdiri dari 2 corpora cavernosum penis, 1 corpus cavernosum urethra dan 1 glans penis.19 Bagian-bagian penis 19 1. Radix penis Dibentuk dari tiga massa jaringan erektil, yaitu bulbus penis dan crus penis dextra et sinistra. Bulbus penis terletak di garis tengah dan melekat pada permukaan bawah diaphragma urogenital. Bulbus penis ditembus oleh urethra dan permukaan luarnya dibungkus oleh musculus bulbospongiosus. Masing-masing crus penis melekat pada pinggir arcus pubis dan diliputi oleh musculus ischiocavernosus pada permukaan luarnya. Bulbus melanjutkan diri ke depan sebagai corpus penis dan membentuk corpus spongiosum penis. Di anterior kedua crus saling mendekat dan di bagian dorsal corpus penis terletak berdampingan membentuk corpus cavernosum penis.

2.

Corpus penis Terdiri dari tiga jaringan erektil yang diliputi sarung fascia berbentuk tubular

(fascia buck). Jaringan erektil dibentuk dari dua corpora cavernosa penis yang terletak di dorsal dan satu corpus spongiosum penis yang terletak pada permukaan ventralnya. Pada ujung glans penis terdapat celah yang merupakan muara urethra disebut meatus urethra externus. Preputium penis merupakan lipatan kulit seperti kerudung yang menutupi glans penis. Preputium dihubungkan dengan glans penis oleh

lipatan yang terdapat tepat di bawah muara urethra dan dinamakan frenulum preputii.

Vaskularisasi 1. Arteri - Corpora cavernosa : a. profunda penis cabang a. pudenda interna - Corpus spongiosum penis : a. bulbi penis cabang a. pudenda interna dan a. dorsalis penis cabang a. pudenda interna. 2. Vena Vena bermuara ke vena pudenda interna.

3. Limfe Cairan limfe dialirkan ke nodi superomedialis dan nodi inguinalis superfisicales. Struktur profunda penis mengalirkan cairan life ke nodi iliaci interni. 4. Persarafan Persarafan berasal dari nervus pudendus dan plexus pelvicus.

2.4. Klasifikasi Klasifikasi hipospadia berdasarkan anatomi: 14 a. b. c. Hipospadia anterior : meatus tampak pada bagian inferior dari glans penis Hipospadia coronal Hipospadia distal : meatus tampak pada alur batang penis : meatus tampak pada bagian bawah batang penis

Gambar 2.3. Klasifikasi hipospadia berdasarkan anatomi 6

Klasifikasi hipospadia berdasarkan letak dari meatus uretra: a. Anterior (60-70%) - Hipospadia tipe glans - Hipospadia tipe coronal b. Middle (10-15%) - Hipospadia tipe penil c. Posterior (20%) - Hipospadia tipe penoscrotal - Hipospadia tipe perineal

Gambar 2.4. Klasifikasi hipospadia berdasarkan letak meatus uretra

Namun, klasifikasi berdasarkan letak dari meatus uretra tidak cukup menggambarkan tingkat keparahan dari malformasi. Klasifikasi lain yang praktis untuk menentukan prosedur operasi adalah berdasarkan tingkat divisi dari korpus spongiosum. Pembagian hipospadia berdasarkan kesulitan rekonstruksi: 15 a. Glandular Hypospadias. Meatus terletak pada glans dibelakang tempat meatus normal. Meatus tampak ketat namun jarang sekali menyebabkan obstruksi aliran urine.
7

b.

Hypospadias dengan divisi pada distal corpus spongiosum, bisa disertai sedikit atau tanpa chordee.

c.

Hypospadias dengan divisi pada proksimal corpus spongiosum dengan kelengkungan ventral yang ditandai dengan perkembangan jaringan ventral yang sedikit, dan kadang-kadang terkait dengan perkembangan asimetris dari corpora cavernosa. Tipe ini lebih mudah ditangani karena teknik operasi untuk mengoreksi chordee dan merekonstruksi uretra telah lama diperkenalkan.

d.

Hypospadias cripples. Tipe ini terjadi pada pasien yang telah menjalani beberapa prosedur operasi namun gagal, dan meninggalkan jaringan parut, meatus abnormal, striktur, fistula dan gangguan kosmetis dan psikologis.

Tabel 2.1. Klasifikasi Hipospadia

2.5. Epidemiologi Insidensi kasus hipospadia terbanyak adalah Eropa dan dilaporkan dari Amerika Serikat, Inggris, dan Hungaria menunjukkan peningkatan insiden hipospadia. BDMP menyatakan bahwa insidensi hipospadia meningkat dari 20,2 per 10.000 kelahiran hidup menjadi 39,7 per kelahiran hidup pada tahun 1993.1,3,4

Kajian populasi yang dilakukan di empat kota Denmark tahun 1989-2003 tercatat dari 65.383 angka kelahiran bayi laki-laki, sebanyak 319 bayi dengan kelainan hipospadia.3,4

2.6. Etiopatofisiologi Hipospadia terjadi karena gangguan perkembangan uretra anterior yang tidak sempurna, yaitu sepanjang batang penis sampai perineum. Semakin ke arah proksimal muara meatus uretra, maka semakin besar kemungkinan ventral penis memendek dan melengkung dengan adanya chordee.5,6

Gambar 2.5. Hipospadia

Patofisiologi hipospadia masih belum diketahui dengan pasti, akan tetapi beberapa teori yang menyatakan tentang penyebab hipospadia antara lain: a. Faktor genetik Usia ibu saat melahirkan dapat menjadikan salah satu faktor resiko terjadinya hipospadia. Berdasarkan penelitian, terdapat korelasi antara usia ibu yang tua dengan peningkatan kejadian hipospadia.12 Berdasarkan penelitian, pada keluarga yang memiliki kelainan hipospadia, maka risiko hipospadia yang akan terulang pada saudara laki-laki kurang lebih 7-9%. Jika orangtua kandung laki-laki memiliki hipospadia, maka risiko yang akan diturunkan kepada anak kandung laki-laki 12-14%.2,5

b.

Faktor hormonal Faktor hormon androgen atau estrogen sangat berpengaruh terhadap kejadian hipospadia karena berpengaruh terhadap proses maskulinisasi masa embrional. Estrogen sangat berperan dalam pembentukan genital eksterna lakilaki saat embrional. Perubahan kadar estrogen dapat diakibatkan dari konsumsi kontrasepsi oral dan adanya penurunan hormon androgen.2,8 Penurunan hormon androgen yang dihasilkan oleh testis dan plasenta akan menyebabkan penurunan produksi dehidrotestosterone (DHT) yang dipengaruhi oleh 5--reduktase. Hormon ini berperan dalam pembentukan phallus (penis) sehingga jika terjadi defisiensi androgen akan menyebabkan kegagalan perkembangan dan pembentukan urethra dan terjadi hipospadia.1,7,8

c.

Faktor pencemaran limbah industri Limbah industri berperan sebagai endocrine discrupting chemicals dengan sifat antiandrogenik, seperti polychlorobiphenyls, dioxin, furan, peptisida organochlorin, alkilphenol polyethoxsylates dan phtalites.2 Adanya kontaminasi lingkungan ini dapat mengintervensi jalur androgen yang normal dan dapat mengganggu sinyal seluler. Hal ini dapat diketahui dari beberapa bahan yang sering dikonsumsi oleh manusia yang banyak mengandung aktivitas estrogen, seperti pada insektisida yang sering digunakan untuk tanaman, estrogen alami pada tumbuhan, produk-produk plastik, dan produk farmasi. Selain itu, banyak bahan logam yang digunakan untuk industry makanan, bagian dalamnya dilapisi oleh bahan plastik yang mengandung substansi estrogen.13

2.7. Manifestasi klinis Gejala yang timbul pada kebanyakan penderita hipospadia, biasanya datang dengan keluhan kesulitan dalam mengatur pancaran urine pada saat berkemih (miksi). Chordee dapat menyebabkan batang penis melengkung ke ventral yang dapat mengganggu hubungan seksual. Hipospadia tipe perineal dan penoscrotal

10

menyebabkan penderita harus miksi dalam posisi duduk, dan hipospadia jenis ini dapat menyebabkan infertilitas.9 Tanda-tanda klinis hipospadia: 9,10 a. b. Lubang orifisium urethra externa tidak berada di ujung glans penis. Preputium tidak ada di bagian bawah penis dan menumpuk di bagian punggung penis. c. Biasanya jika penis mengalami kurvatura (melengkung) ketika ereksi, maka dapat disimpulkan adanya chordee, yaitu jaringan fibrosa yang membentang hingga ke glans penis. d. Dapat timbul tanpa chordee, bila letak meatus pada dasar glans penis.

2.8. Penegakan diagnosis Diagnosis hipospadia biasanya jelas pada pemeriksaan fisik inspeksi. Kadangkadang hipospadia dapat didiagnosis pada pemeriksaan ultrasound prenatal. Jika tidak teridentifikasi sebelum kelahiran, maka biasanya dapat teridentifikasi pada pemeriksaan setelah bayi lahir. a. Anamnesis Ketika pasien pertama kali datang, pertanyaan dibuat mengenai riwayat obat-obatan di awal kehamilan, riwayat keluarga, arah dan kekuatan aliran urine dan adanya penyemprotan pada saat buang air kecil. b. Pemeriksaan fisik Kelainan hipospadia dapat diketahui segera setelah kelahiran dengan pemeriksaan inspeksi genital pada bayi baru lahir. Selain pada bayi baru lahir, diagnosis hipospadia sering dijumpai pada usia anak yang akan disirkumsisi (7-9 tahun). Jika pasien diketahui memiliki hipospadia, maka tindakan sirkumsisi tersebut tidak boleh dilakukan karena hal tersebut merupakan kontraindikasi tindakan sirkumsisi.2,9,10 Pemeriksaan fisik meliputi kesehatan umum dan perkembangan pertumbuhan dengan perhatian khusus pada sistem saluran kemih seperti pembesaran salah satu atau kedua ginjal dan amati adanya cacat lahir lainnya. Khas pada hipospadia adalah meatus uretra pada bagian ventral dan

11

perselubungan pada daerah dorsal serta terdapat defisiensi kulit preputium, dengan atau tanpa chordee. 2,9,10 Derajat hipospadia sering digambarkan sesuai dengan posisi meatus uretra terhadap penis dan skrotum. Meatus yang berada di wilayah subcoronal, dekat dengan persimpangan penoscrotal dan setelah koreksi chordee, meatus surut ke daerah proksimal batang penis memerlukan rekonstruksi uretra yang luas. Sebaliknya, meatus yang terletak di wilayah subcoronal yang tidak disertai chordee merupakan hipospadia ringan. 2,9,10

c.

Pemeriksaan penunjang Untuk mengatahui hipospadia pada masa kehamilan sangat sulit. Berbagai sumber menyatakan bahwa hipospadia dapat diketahui segera setelah kelahiran dengan inspeksi genital pasa bayi baru lahir.2,9,10 Beberapa pemeriksaan penunjang yang dapat dilakukan, yaitu

urethtroscopy dan cytoscopy untuk memastikan organ-organ seks internal terbentuk secara normal. Excretory urography dilakukan untuk mendeteksi ada tidaknya abnormalitas kongenital pada ginjal dan ureter.16

2.9. Penatalaksanaan Rekonstrusi phallus (penis) pada hipospadia dapat dilakukan sebelum usia belajar ( 1,5 bulan - 2 tahun). Terdapat beberapa cara penatalaksanaan pembedahan untuk merekonstruksi phallus pada hipospadia.2,6,11 Tujuan penatalaksanaan hipospadia, yaitu untuk memperbaiki kelainan anatomi phallus dengan keadaan bentuk phallus yang melengkung (kurvatura) karena pengaruh adanya chordee dan menghasilkan bentuk yang baik secara kosmetik. Aspek penting lainnya untuk rekonstruksi adalah untuk menghindari penis yang memendek dan penggunaan kulit yang optimal tanpa menggunakan kulit scrotum untuk menutup penis.1

12

Tindakan rekonstruksi hipospadia: a. Chordectomy Chordectomy adalah melepas chordee untuk memperbaiki fungsi dan memperbaiki penempilan phallus (penis). Chordectomy memotong uretra plat distal, meluruskan penis sehingga meatus tertarik lebih proksimal.

Gambar 2.6. Chordectomy

b.

Urethroplasty Urethroplasty membuat osteum urethra externa di ujung glans penis sehingga pancaran urine dan semen bisa lurus ke depan.

Gambar 2.7. Urethroplasty

13

Chordectomy dan urethroplasty yang dilakukan dalam satu waktu operasi yang sama (satu tahap) dan bila dilakukan dalam waktu yang berbeda disebut dua tahap.

Hal yang perlu dipertimbangkan dalam mencapai keberhasilan tindakan operasi bedah hipospadia: 6,11 a. Usia ideal untuk repair hypospadia, yaitu usia 1,5 bulan 2 tahun (sampai usia belum sekolah) karena mempertimbangkan faktor psikologis anak terhadap tindakan operasi dan kelainannya itu sendiri sehingga tahapan repair hypospadia sudah tercapai sebelum anak sekolah. b. c. Tipe hipospadia, besarnya penis, dan ada tidaknya chordee. Tiga tipe hipospadia dan besarnya phallus sangat berpengaruh terhadap keberhasilan operasi. Semakin kecil phallus dan semakin ke proksimal tipe hipospadia semakin sukar teknik operasinya. Beberapa metode operasi yang telah ditemukan: 6 a. Metode Duplay Untuk merekonstruksi hipospadia tipe middle. b. Metode Ombredane Untuk merekonstruksi hipospadia tipe coronal dan tipe distal. c. Metode Nove-josserand Untuk merekonstruksi hipospadia berbagai tipe tapi urethroplastinya menggunakan skin graft. Namun karena metode ini memiliki banyak komplikasi seperti stenosis, maka pada saat ini tidak dipergunakan lagi.

Pada semua tindakan operasi bedah hipospadia dilakukan dengan tahapan sebagai berikut: a. Eksisi chordee Teknik untuk tindakan penutupan luka dilakukan dengan menggunakan preputium yang diambil dari bagian dorsal kulit penis. Tahap pertama ini

14

dilakukan pada usia 1,5 2 tahun. Eksisi chordee bertujuan untuk meluruskan phallus (penis), akan tetapi meatus masih pada tempatnya yang abnormal.6,11

b.

Urethroplasty Urethroplasty yang dikerjakan 6 bulan setelah tahap pertama. Teknik reparasi yang dilakukan oleh dokter bedah plastik adalah teknik modifikasi uretra. Kelebihan jaringan preputium ditransfer dari dorsum penis ke permukaan ventral yang berfungsi menutupi uretra baru.6,11

Penatalaksanaan hipospadia berdasarkan klasifikasi a. Hipospadia anterior Teknik yang dilipih untuk hipospadia anterior tergantung pada posisi anatomi dari penis yang hipospadia. Teknik yang paling sering digunakan adalah MAGPI (meatal advance glansplasty), GAP (glans approximation procedure), dan metode Mathieu. 1) MAGPI (Meatal Advance and Glansplasty Incorporated)

Gambar 2.8. Meatal Advance and Glansplasty Incorporated

Teknik MAGPI dirancang oleh Duckett pada tahun 1981. Teknik ini akan memberikan hasil yang maksimal jika pasien mengikuti dengan tepat. Penis

15

dengan hipospadia yang cocok untuk dilakukan MAGPI adalah dengan jaringan pada punggung dalam glans yang mengalirkan urine baik dari coronal atau sedikit ke meatus subcoronal.13,17 Teknik MAGPI ini dapat digunakan untuk pasien dengan hipospadia glanular distal. Setelah penis terlihat lurus pada tes ereksi artifisial, insisi sirkumsis dilakukan. Skin hook diletakkan pada tepi ujung dari saluran uretra glanular lalu kemudian ditarik ke arah lateral. Gerakan ini dapat meningkatkan transverse band dari mukosa yang nantinya akan diinsisi longitudinal pada garis tengah. Insisi pada dinding dorsal glanular uretra ini nantinya akan ditutup dengan jahitan transversal dengan chromic catgut 6-0. Skin hook ditempatkan pada tepi kulit dari korona pada garis tengah ventral. Dengan traksi distal, ujung glans ditarik ke depan dan dijahitkan pada garis tengah dengan jahitan subkutikuler. Epitel glans ditutup dengan jahitan

interrupted. Kelebihan kulit dari prepusium dorsal dapat dijahitkan untuk penutupan kulit.

2) GAP (Glans Approximation Procedure)

Gambar 2.7. Glans Approximation Procedure

Prosedur GAP berlaku pada pasien dengan hipospadia anterior kecil yang memiliki alur glans luas dan mendalam. Pada pasien ini tidak memiliki jembatan jaringan kelenjar yang biasanya mngalirkan aliran kemih, seperti yang terlihat pada pasien yang akan lebih tepat diobati dengan teknik MAGPI. Dalam teknik

16

GAP, uretra yang berlubang lebar akan dilakukan tubularisasi primer dengan mnggunakan stent.13,17

3)

Insisi tubularisasi urethroplasty

Gambar 2.10. Insisi tubularisasi urethroplasty

Jika alur uretra tidak cukup lebar untuk tubularisasi, seperti pada teknik GAP, flap pedikel dengan vascularisasi bisa dilakukan. Baru-baru ini konsep sayatan di kulit uretra dan dilakukannya tubularisasi dan penyembuhan sekunder telah diperkenalkan oleh Snodgrass. Hasil jangka pendek sangat baik dan prosedur ini memiliki popularitas yang luas. Salah satu aspek yang menarik adalah adanya celah yang menyerupai meatus, yang dibuat dengan sayatan pertengahan garis punggung. Baru-baru ini, teknik ini telah diterapkan untuk bentuk-bentuk hipospadia posterior. Secara teoritis, ada kekhawatiran tentang kemungkinan stenosis meatus dari jaringan parut, dimana sering terjadi striktur uretra pada pasien. Pada hipospadia, pada jaringan dengan suplai darah yang sangat baik dan aliran pembuluh darah yang besar, tampaknya dapat merespon baik terhadap sayatan primer dan sekunder pada penyembuhan tanpa meninggalkan bekas luka.1

17

b.

Hipospadia posterior

Gambar 2.11. Teknik Onlay island flap

. Teknik Onlay island flap telah berhasil diuji dengan hasil jangka panjang yang sangat baik. Tidak membuang kulit uretra pada teknik onlay island flap telah menyingkirkan striktur anastomosis bagian proksimal dan telah mengurangi kejadian formasi fistula.1

2.10. Komplikasi Berdasarkan hasil penelitian meta analisis, disimpulkan bahwa rata-rata 5% komplikasi terjadi pada tipe hipospadia distal dan rata-rata 10% komplikasi terjadi pada tipe hipospadia proksimal.6,11 Komplikasi yang terjadi setelah rekonstruksi phallus dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain 12 a. b. c. Usia pasien Tipe hipospadia Tahapan operasi yang meliputi ketelitian teknik operasi

18

Komplikasi awal yang dapat terjadi meliputi a. Perdarahan Perdarahan post operasi jarang terjadi dan biasanya dapat dikontrol dengan balut tekan. Tidak jarang hal ini membutuhkan eksplorasi ulang untuk mengeluarkan hematoma dan untuk mengidentifikasi dan mengatasi sumber perdarahan. b. Infeksi Infeksi merupakan komplikasi yang cukup jarang dari hipospadia dengan persiapan kulit dan pemberian antibiotika perioperatif hal ini dapat dicegah. c. d. Edema Nekrosis flap

Komplikasi lanjut yang dapat terjadi18 a. Ketidakpuasan kosmetik Komplikasi ini biasa terjadi hasil dari penjahitan yang irregular, gumpalan kulit (skin blobs), atau kulit bagian ventral yang berlebihan. Jika aspek ventral glans pendek dan tidak ada mucosal collar di sekeliling glans, hasilnya adalah mengecewakan. Namun yang harus diingat sering pasien dan ahli bedah masingmasing mempunyai tanggapan yang beda tentang kosmetis.

b.

Striktur uretra, stenosis uretra Stenosis atau menyempitnya meatus uretra karena edema atau hipertropi scar

pada tempat anastomosis. Adanya aliran urine yang mengecil dapat menimbulkan kewaspadaan atas adanya stenosis meatus. Stenosis meatal lazimnya mudah untuk ditangani dengan melakukan operasi meatal revision. Namun, stenosis di proksimal adalah paling parah dan cuma bisa diperbaiki dengan dilatasi uretra, yang mana tidak memungkinkan untuk dilakukan pada anak.

c.

Divertikula uretra Divertikula uretra dapat juga terbentuk ditandai dengan adanya pengembangan

uretra saat berkemih. Striktur pada distal dapat mengakibatkan obstruksi aliran dan

19

berakhir pada divertikula uretra. Divertikula dapat terbentuk walaupun tidak terdapat obstruksi pada bagian distal. Hal ini dapat terjadi berhubungan dengan adanya graft atau flap pada operasi hipospadia, yang disangga dari otot maupun subkutan dari jaringan uretra asal.

d.

Fistula uretrokutan Fistula uretrokutan merupakan masalah utama yang sering muncul pada

operasi hpospadia. Fistula jarang menutup spontan dan dapat diperbaiki dengan penutupan berlapis dari flap kulit lokal. Fistula yang kecil dan tidak berhubungan dengan striktur uretra bisa sembuh secara spontan. Lokasi terjadinya fistula sering di proksimal corona pada sisi lateral. Jika fistula masih bertahan lebih dari 6 bulan setelah prosedur inisial, salurnya harus di eksisi, di jahit, dan ditutup dengan beberapa lapis jaringan. Kombinasi diantara fistula dan stenosis uretra adalah biasa, justru itu uretroplasti perlu diperiksa secara berterusan sebelum fistula ditutup. Fistula yang letaknya di belakang corona tidak mudah untuk di tutup dan sering mengalami rekurensi jika eksisi dan penutupan dengan teknik sederhana dilakukan.

2.11. Prognosis Secara umum hasil fungsional dari one-stage procedure lebih baik dibandingkan dengan multi-stage procedures karena insidens terjadinya fistula atau stenosis lebih sedikit, lamanya perawatan di rumah sakit lebih singkat, dan prognosisnya baik.

20

BAB III KESIMPULAN

Hipospadia merupakan suatu kelainan kelamin akibat penyatuan lipat uretra yang tidak sempurna dan terdapat mulut uretra yang abnormal di sepanjang permukaan anterior phallus (penis). Hipospadia merupakan kelainan kongenital yang dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor genetik, faktor hormonal, dan faktor pencemaran industri. Secara morfologi, hipospadia dibagi menjadi 5 bagian, antara lain glandular hypospadia, subcoronal hypospadia, mediopeneal hypospadia, penescrotal

hypospadia, dan perienal hypospadia. Sedangkan secara klinis, hipospadia dibagi menjadi 3 bagian, antara lain anterior hypospadia, middle hypospadia, dan posterior hypospadia. Penatalaksaan hipospadia dilakukan dengan 2 tahap, yaitu chordectomy dan urethroplasty. Chordectomy dilakukan untuk melepas chordee sehingga

memperbaiki fungsi dan memperbaiki penampilan phallus (penis). Urethroplasty dilakukan untuk membuat ostium urethra externa diujung glans penis sehingga pancaran urine dan semen bisa lurus ke depan.

21