Anda di halaman 1dari 11

Makalah 3 PBL Blok 30 Persetubuhan dengan anak dibawah umur

Rosalina Nike Sairlela (102009170) Kelompok B2 Fakultas Kedokteran Universitas Kristen Krida Wacana (UKRIDA) Jalan Arjuna Utara No. 6, Jakarta Barat 11470 Nike_ukrida@yahoo.com

Maraknya pemberitaan mengenai kasus kekerasan seksual pada anak-anak adalah sebuah kisah horor bagi para orangtua. Dan yang paling sulit kita terima, kekerasan seksual pada anak kebanyakan justru dilakukan oleh orang-orang terdekat, yang otomatis sudah dikenal dan dipercaya. Anak-anak mempunyai hak untuk dilindungi, tumbuh dan berkembang secara aman. Kekerasan seksual pada anak tak hanya menimbulkan luka fisik, tapi juga luka psikologis karena trauma. Luka psikologis inilah yang paling berat. Sayangnya, tak mudah mengenali tanda-tanda kekerasan seksual pada anak. Selain karena menyimpan sendiri rahasia tersebut atau takut melapor, ada pula anak yang belum menyadari kalau perbuatan tersebut merupakan tindakan kekerasan seksual.

A. Pemeriksaan Pada umumnya anamnesis yang diberikan oelh orang sakit dapat dipercaya, sebaliknya anamnesis yang diperoleh dari korban tidak selalu benar. Terdorong oleh berbagai maksud atau perasaan, misalnya maksud untuk memeras, rasa dendam, menyesal atau karena takut pada ayah atau ibu, korban mungkin mengungkapkan halhal yang tidak benar. Aanamnesis merupakan suatu yang tidak dapat dilihat atau ditemukan oleh dokter sehingga bukan merupakan pemeriksaan yang objektif sehingga seharusnya tidak dimasukan dalam visum et repertum. Anamnesis dibuat terpisah dan dilampirkan dalam visum et repertum berjudul keterangan yang diperoleh dari korban. Dalam mengambil anamnesis, dokter meminta kepada korban untuk menceritakan segala sesuatu tentang kejadian yang dialaminya dan sebaiknya terarah. Anamnesis terdiri dari bagian yang bersifat umum dan khusus. Anamnesis umu meliputih : Umur Tanggal dan tempat lahir Status perkawinan Siklus haid Penyakit kelamin dan penyakit kandungan serta adanya penyakit lain seperti epilepsy, sinkop dan lain-lain. Cari tahu apakah pernah bersetubuh? Persetubuhan yang terakhir? Apakah menggunakan kondom? Hal khusus yang perlu diketahui adalah waktu kejadian yaitu tanggal dan jam. Bila waktu antara kejadian dan pelaporan kepada yang berwajib berselang beberapa hari atau minggu, dapat diperkirakan bahwa peristiwa itu bukan peristiwa perkosaan, teteapi persetubuhan yang pada dasarnya tidak disetujui oleh wanita yang bersangkutan. Karena berbagai alasan, misalnya perempuan itu merasa tertipu, cemas akan menjadi hamil atau selang beberapa hari baru diketahui oelh ayah atau ibu dank arena ketakutan mengaku bahwa ia telah disetubuhi dengan paksa. Jika korban benar diperkosa biasanya akan segera melapor. Tetapi saat pelaporan yang terlambat mungkin disebabkan karena korban diancam untuk tidak melapor ke polisI. Dari data ini dokter dapat mengerti mengapa ia tidak dapat menemukan lagi spermatozoa, atau tanda-tanda lain dari persetubuhan.

Tanyakan pula dimana tempat terjadinya. Sebagai petunjuk dalam pencarian yang berasal dari tempat kejadian, misalnya rumput, tanah dan sebagainya yang mungkin melekat pada pakaian atau tubuh korban. Sebalinya petugaspun dapat mengetahui di mana harus mencari trace evidence yang ditinggalkan oleh korban atau pelaku. Perlu diketahui apakah korban melawan. Jika korban melawan maka pada pakaian mungkin ditemukan robekan, pada tubuh korban mungkin ditemukan tanda-tanda bekas kekerasan dan pada alat kelamin mungkin terdapat bekas perlawanan. Kerokan kuku mungkin menunjukan adanya sel-sel epitel kulit dan darah yang berasal dari pemerkosa atau penyerang. Cari tahu apakah korban pingsan. Ada kemungkinan korban menjadi pingsan karena ketakutan tetapi mungkin juga korban dibuat pingsan oleh laki-laki pelaku dengan pemberian obat tidur atau obat bius. Dalam hal ini jangan lupa untuk mengambil urin dan darah untuk pemeriksaan toksikologik. Tanyakan apakah terjadi penetrasi dan ejakulasi, apakah setelah kejadian, korban mencuci, mandi atau mengganti pakaian.

Pemeriksaan umum Pemeriksaan pakaian perlu dilakukan dengan teliti. Pakaian diteliti helai demi helai, apakah terdapat robekan lama atau baru sepanjang jahitan atau melintang pada pakaian, kancing terputus akibat tarikan, bercak merah, air mani, lumpur dan sebagainya yang berasal dari tempat kejadian. Catat apakah pakaian dalam keadaan rapi atau tidak, benda-benda yang melekat dan pakaian yang mengandung trace avidence dikirim kelaboratorium kriminologi untuk pemeriksaan lebih lanjut. Pemeriksaan tubuh korban meliputi pemeriksaan umum yaitu lukiskan

penampilannya (rambut dan wajah), rapi atau kusut, keadaan emosional, tenang atau sedih atau gelisah, adakah tanda-tanda bekas kehilangan kesadarn atau diberikan obat tidur atau bius, apakah ada needle marks. Bila ada indikasi jangan lupa untuk ambil urin dan darah. Apakah tanda-tanda bekas kekerasan, memar atau luka lecet pada daerah mulut, leher, pergelangan tangan, paha bagian dalam dan pinggang. Dicatat pula tanda perkembangan alat kelamin sekunder, pupil, reflex cahaya, pupil pin point,

tinggi dan berat badan, tekanan darah, keadaan jantung paruh dan abdomen. Adakah trace evidence yang melekat pada tubuh korban atau pada pakaian yang dipakai ketika terjadi persetubuhan harus diperiksa. Bila fasilitas pemeriksaan tidak ada maka kirim ke lab forensic di kepolisian atau bagian ilmu kedokteran forensic, dibungkus, disegel serta membuat berita acara pembungkusan dan penyegelan.

Pemeriksaan khusus Mencakup daerah genitalia dengan memperhatikan ada tidaknya rambut kemaluan yang saling melekat menjadi satu karena air mani yang mongering, gunting untuk pemeriksaan lab. Cari pula bercak air mani disekitar kelamin, kerok dengan sisi tumpul scapel atau swab dengan kapas dan lidi yang dibasahi dengan larutan fisiologis. Pada vulva diteliti adanya tanda-tanda bekas kekerasan, seperti hiperemi, edema, memar, luka lecet (goresan kuku). Introitus vagina apakah hiperemi atau edema? Dengan kapas lidi diambil bahan untuk pemeriksaan sperma dari vestibulum. Periksa jenis selaput dara, adakah rupture atau tidak. Bila ada tentukan rupture baru atau lama. Ukuran lingkaran orifisium pada seorang perawan kira-kira 2,5 cm dan lingkaran yang memungkinkan persetubuhan adalah 9 cm. Periksa vagina dan serviks dengan spekulum, bila keadaan alat genital mengijinkan. Adakah tanda penyakit kelamin. Lakukan pengambilan bahan untuk pemeriksaan lab. Untuk pemeriksaan cairan mani dan sel mani dalam lendir vagina, lakukan dengan mengambil lendir vagina menggunakan pipet Pasteur atau diambil dengan ose batang gelas, atau swab.bahan diambil dari forniks posterior, bila mungkin dengan spekulum. Pada anak-anak atau bila selaput dra utuh, pengambilan bahan sebaiknya dibatasi dari vestibulum saja. Pemeriksaan terhadap kuman nesseria gonorrhea dari secret urether dan dipulas dengan pewarnaan gram. Pemeriksaan dilakukan pada hari ke 1, 3, 5 dan 7. Jika pada pemeriksaan didapatkan kuman ini berarti terbukti adanya kontak seksual dengan korban penderita, bila pada pria tertuduh juga ditemukan kuman ini. Hal ini merupakan petunjuk yang cukup kuat. Jika terdapat ulkus, secret perlu diambil untuk pemeriksaan serologic atau bakteriologik.

B. Interpretasi hasil Pada kasus yang didapat untuk PBL ke 3 ini yaitu seorang perempuan yang berumur 11 tahun dibawa oleh ibunya karena anak tersebut mengeluh sakit apabila ingin kencing dan hal ini sudah terjadi sejak dua hari yang lalu. Pada pemeriksaan fisik oleh dokter, ditemukan robekan lama selaput dara disertai dengan erosi dan peradangan jaringan vulva sisi kanan. Sehingga dokter berkesimpulan bahwa kemungkinan telah terjadi persetubuhan pada beberapa hari yang lalu.

C. Aspek hukum dan medikolegal

KUHP 285 Barang siapa dengan kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa seorang wnita bersetubuh dengan dia diluar perkawinan, diancam karena melakukan perkosaan dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

KUHP 287 (ayat 1) Barang siapa bersetubuh dengan seorang wanita diluar perkawinan, padahal diketahuinya atau sepatutnya harus diduganya bahwa umurnya belum lima belas tahun, atau kalau umurnya tidak jelas, bahwa belum waktunya untuk dikawin, diancam dengan pidana penjara paling lama Sembilan tahun. (Ayat 2) penuntutan hanya dilakukan atas pengaduan, kecuali jika umur wanita itu belum sampai dua belas tahun atau jika ada salah satu hal berdasarkan pasal 291 dan pasal 294.

Pasal 1. Permenkes No. 585/MenKes/Per/IX/1989 Persetujuan tindakan medik atau informed consent adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarganya atas dasar penjelasan mengenai tindakan medic yang akan dilakukan terhadap pasien tersebut.

Pasal 74 KUHP (ayat 1) Pengaduan hanya boleh diajukan dalam waktu enam bulan sejak orang yang berhak mengadu mengetahui adanya kejahatan, jika bertempat tinggal di Indonesia, atau dalam waktu Sembilan bulan jika bertempat tinggal di luar Indonesia.

D. Tindakan dokter Hal yang perlu diperhatikan sebelum pemeriksaan yaitu bila dokter telah memeriksa seorang korban yang datang dirumah sakit, atau ditempat praktek atas inisiatif sendiri, bukan atas permintaan polisi, dan dalam beberapa waktu kemudian polisi mengajukan permintaaan visum et repertum, maka ia harus menolak karena segala sesuatu yang diketahui tentang diri korban sebelum ada permintaan dibuatkan visum et repertum merupakan rahasia kedokteran yang wajib dismpan (KUHP ps. 322). Dalam keadaan seperti itu dokter dapat meminta kepada polisi untuk korban dibawa kembali padanya dan visum et repertum dibuat berdasarkan keadaan yang ditemukan pada waktu permintaan diajukan. Hasil pemeriksaan yang lalu tidak diberikan dalam bentuk visum et repertum tetapi dalam bentuk surat keterangan. Jelaskan terlebih dahulu Tindakan-tindakan apa yang akan dilakukan pada korban dan hasil pemeriksaan akan disampaikan ke pengadilan. Hal ini perlu diketahui walaupun pemeriksaan dilakukan atas permintaan penyidik tetapi belum tentu korban akan menyetujui pemeriksaan itu. Selain itu bagian yang akan diperiksa merupakan the most private part dari tubuh seorang wanita. Seorang perawat atau bidan harus mendampingi dokter pada waktu memeriksa korban. Pemeriksaan dilakukan secepat mungkin dan jangna terlampau lama, dan semua yang ditemukan harus dicatat, jangan tergantung pada ingatan semata.

Viusm et repertum diselesaikan secepat mungkin jika dalam kasus ini sudah mendapat persetujuan oleh korban untuk membawa kasus ini ke pihak polisi dan supaya perkara dapat diselesaikan dan seorang terdakwa dapat dibebaskan jika ternyata ia tidak bersalah. Kadang-kadang dokter yang sednag berpraktek pribadi diminta oleh seorang ibu atau ayah untuk memeriksa anak perempuannya, karena ia merasa sangsi apakah anaknya masih perawan, atau karena ia merasa curiga kalau-kalau atas diri anaknya baru terjadi persetubuhan. Dalam hal ini sebaiknya ditanyakan dulu maksud pemeriksaan apakah sekedar ingin mengetahui saja atau ada maksud untuk penuntutan. Bila dimaksudkan untuk melakukan penuntutan, maka sebaiknya dokter jangan memeriksa anak itu. Katakan bahwa pemeriksaan harus dilakukan berdasarkan permintaan polisi dan biasanya dilakukan dirumah sakit. Mungkin ada baiknya dokter memberikan penerangan pada ibu atau ayah itu jika umur anaknya sudah 15 tahun dan jika persetubuhan terjadi tidak dengan paksaan makan menurut undang-undang laki-laki bersangkutan tidak dapat dituntut. Pengaduan mungkin hanya akan merugikan anaknya saja. Lebih baik lagi jika orang tua itu dianjurkan untuk minta nasehat dari seorang pengacara. Jika orang tua hanya sekedar mengetahui saja maka dokter dapat melakukan pemeriksaan. Tetapi jelaskan dulu bahwa hasil pemeriksaan tidak akan dibuat dalam bentuk surat keterangan, karena kita tidak mengetahui untuk apa surat keterangan itu. Mungkin untuk melakukan penuntutan atau untuk menuduh seseorang yang tidak bersalah. Dalam keadaan demikian umumnya anak tidak amu diperiksa, sebaliknya orang tua malah mendesaknya. Sebaiknya dokter meminta izin tertulis untuk memeriksa dan memberitahukan hasil pemeriksaan kepada kedua orang tuanya.

E. Aspek Psikososial dan Lembaga Social Masyarakat Komisi Perlindungan Anak Indonesia, disingkat KPAI, adalah lembaga independen Indonesia yang dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak dalam rangka meningkatkan efektifitas penyelenggaraan

perlindungan anak. Keputusan Presiden Nomor 36/1990, 77/2003 dan 95/M/2004 merupakan dasar hukum pembentukan lembaga ini.

Fungsi dari organisasi ini yaitu :

Melakukan pengumpulan data, informasi dan investigasi terhadap pelanggaran hak anak. Melakukan kajian hukum dan kebijakan regional dan nasional yang tidak memihak pada kepentingan terbaik anak. Memberikan penilaian dan pendapat kepada pemerintah dalam rangka mengintegrasikan hak-hak anak dalam setiap kebjijakan. Memberikan pendapat dan laporan independen tentang hukum dan kebijakan berkaitan dengan anak. Menyebarluaskan, publikasi dan sosialisasi tentang hak-hak anak dan situasi anak di Indonesia. Menyampaikan pendapat dan usulan tentang pemantauan pemajuan dan kemajuan, dan perlindungan hak anak kepada parlemen, pemerintah dan lembaga terkait. Melakukan perlindungan khusus.

Ada beberapa pasal yang tercantum dalam undang-undang perlindungan anak yang berkaitan erat dengan kasus yang sedang dibahas diantaranya: Pasal 15 Setiap anak berhak untuk memperoleh perlindungan dari : a. penyalahgunaan dalam kegiatan politik; b. pelibatan dalam sengketa bersenjata; c. pelibatan dalam kerusuhan sosial; d. pelibatan dalam peristiwa yang mengandung unsur kekerasan; dan e. pelibatan dalam peperangan.

Pasal 16 (1) Setiap anak berhak memperoleh perlindungan dari sasaran penganiayaan, penyiksaan, atau penjatuhan hukuman yang tidak manusiawi. (2) Setiap anak berhak untuk memperoleh kebebasan sesuai dengan hukum. (3) Penangkapan, penahanan, atau tindak pidana penjara anak hanya dilakukan apabila sesuai dengan hukum yang berlaku dan hanya dapat dilakukan sebagai upaya terakhir. Pasal 17 (1) Setiap anak yang dirampas kebebasannya berhak untuk : a. mendapatkan perlakuan secara manusiawi dan penempatannya dipisahkan dari orang dewasa; b. memperoleh bantuan hukum atau bantuan lainnya secara efektif dalam setiap tahapan upaya hukum yang berlaku; dan c. membela diri dan memperoleh keadilan di depan pengadilan anak yang objektif dan tidak memihak dalam sidang tertutup untuk umum. (2) Setiap anak yang menjadi korban atau pelaku kekerasan seksual atau yang berhadapan dengan hukum berhak dirahasiakan. Pasal 77 Setiap orang yang dengan sengaja melakukan tindakan : a. diskriminasi terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami kerugian, baik materiil maupun moril sehingga menghambat fungsi sosialnya; atau b. penelantaran terhadap anak yang mengakibatkan anak mengalami sakit atau penderitaan, baik fisik, mental, maupun sosial, c. dipidana dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp100.000.000,00 (seratus juta rupiah). Pasal 78 Setiap orang yang mengetahui dan sengaja membiarkan anak dalam situasi darurat sebagaimana dimaksud dalam Pasal 60, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang tereksploitasi secara ekonomi dan/atau

seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, anak korban perdagangan, atau anak korban kekerasan sebagaimanadimaksud dalam Pasal 59, padahal anak tersebut memerlukan pertolongan dan harus dibantu, dipidanadengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling banyak Rp 100.000.000,00 (seratus juta rupiah). http://komnaspa.or.id/Komnaspa/Tentang_Kami.html http://www.komnasperempuan.or.id/wp-content/uploads/2009/07/UUPERLINDUNGAN-ANAK.pdf

F. Visum et Repertum Umumnya korban kejahatan susila yang dimintakan visum et repertumnya pada dokter adalah kasus dugaan adanya persetubuhan yang diancam hukuman oleh KUHP (meliputi perzinahan, perkosaan, persetubuhan dengan wanita yang tidak berdaya, persetubuhan dengan wanita yang belum cukup umur, serta perbuatan cabul). Untuk kepentingan peradilan, dokter berkewajiban untuk membuktikan adanya persetubuhan atau perbuatan cabul, adanya kekerasan (termasuk keracunan), serta usia korban. Selain itu juga diharapkan memeriksa adanya penyakit hubungan seksual, kehamilan, dan kelainan psikiatrik sebagai akibat dari tindakan pidana tersebut. Dokter tidak dibebani pembuktian adanya pemerkosaan, karena istilah pemerkosaan adalah istilah hukum yang harus dibuktikan di depan sidang pengadilan. Dalam kesimpulan diharapkan tercantum perkiraan tentang usia korban, ada atau tidaknya tanda persetubuhan dan bila mungkin, menyebutkan kapan perkiraan terjadinya, dan ada atau tidaknya tanda kekerasan. Bila ditemukan adanya tanda-tanda ejakulasi atau adanya tandatanda perlawanan berupa darah pada kuku korban, dokter berkewajiban mencari identitas tersangka melalui pemeriksaan golongan darah serta DNA dari benda-benda bukti tersebut.

Contoh: