PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5. 5 Metoda Newton Raphson 5. 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 6 Metoda Fast Decoupled 5. 6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v . 1 Pendahuluan 5. 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 1 Umum 6. 3 Persamaan Performance Jaringan 5.BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 3 Representasi Transformator 6.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 1 .

persamaan (I. b1. Subskrip pertama i. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I. menunjukkan baris dan subskrip kedua j. dan b3 parameter-parameter yang diketahui.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1. b2. 1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan. variabel. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I. I. Dalam bentuk matriks. Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir. Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek. 2. disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I. Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I. koefisien.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui.2-3) 1 .. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks. Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. x2.

.. antara lain : A..... Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris.. ⎥ ⎢a 51 a 52 ......a nm ⎥ ⎣ ⎦ B.. MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j.. Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar. seperti dalam contoh berikut.. m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom). matriks tersebut adalah matriks segitiga atas... 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks. sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom. seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 ...... ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I.. MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom..... aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal............... [a11 a12 .....BAB 1 .PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n. ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢.....a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢..... sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal......... 2..

sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. seperti 3 . untuk i ≠ j).. seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D. MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0. maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. untuk i ≠ j). seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E. matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. untuk i = j dan aij = 0. dan elemen lainnya Nol (aij = 1.hmymsc C. seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F. matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan. matriks tersebut disebut matriks diagonal.

untuk semua ij. maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri.BAB 1 .6 . dan elemen diagonal berharga Nol.PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G.4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij . Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama. MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT.5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. matriks ini disebut matriks skew . ⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H. seperti : 4 . MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. tetapi tidak semua elemen aij = 0. tetapi berlawanan tanda(aij = -aij). matriks tersebut disebut matriks simetris. seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri.

maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb).j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 . MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya.2 .j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M.j3 ⎦ N. seperti : 2 . maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri.3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T.5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢.j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣. MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ . matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*.j2 1 . seperti : 2 .hmymsc ⎡0 . MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill. seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 . seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L. MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T . matriks A disebut matriks orthogonal. K. dimana semua elemen diagonal berharga Nol.

PENGKOM O. sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P. seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL.BAB 1 . sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0. MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 . aij = 0. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0. MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal.

Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.a12 b 2 a 22 b1 .a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A.AT A = A* A = .3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 .a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 .3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 . DETERMINAN I.a 21 b1 a11 a 22 . sebagai berikut : .a12 a 21 Langkah berikutnya.A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I. 3.a 21 b1 a11 a 22 . Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel. substitusi harga x1 kedalam persamaan (I. 3.a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 . kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 .hmymsc Tabel I-1.a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 . dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I.dari pers. 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I.

kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij .BAB 1 .PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 ..a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga. x2 = I. Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya.. jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal.. Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21. n.a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . . Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1. yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1.. 2. 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i.. untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 . 3.

hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. maka kedua matriks disebut matriks sama. 4. Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 . Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. 4. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1.1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. 4 OPERASI MATRIKS I. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama. lalu matriks tersebut ditranpose.hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1. bilamana elemenelemen aij = bij. 3. yaitu : A=B I. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I.

Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut. 4.. misal : kA = B. 3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. 4 PERKALIAN MATRIKS A. akan menghasilkan matriks baru C. Baris matrik A) 10 . Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n. Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I.3-2) dengan : i = 1.PENGKOM 3.2. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. dengan dimensi yang sama pula. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I.BAB 1 .….m (Jml. 4. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan.. sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij.

kecuali untuk matriks bujur sangkar. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks.J) = 0 DO 10 K = 1. Jika matriks A.k (Jml.hmymsc j = 1. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B. L C(I. ini merupakan aturan reversal.. DO 30 I = 1.2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 .K)*B(K... tidak berarti A = B Jika C = AB.J) + A(I.…. M DO 20 J = 1. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB. dimana CT = BTAT. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1. Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA. AB = 0. N C(I.J) = C(I. B.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1.2. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut. karenanya aturan komutativ tidak berlaku. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian. namun BA tidak dapat dilakukan.

yaitu : x = Cb (II. Namn demikian. kecuali pembagian matriks dengan skalar.BAB 1 . Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar. x2. b2. dan b3.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II. dan berlaku: 12 . dan x3 sebagai fungsi b1.4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1. tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II.PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C.

Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks. Sebaliknya. bila determinan ≠ 0.I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II. sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama.4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: . maka tidak ada inverse dari matriks tersebut. yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A. antara lain : C.4-2). kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1. maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE. 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n.4-4) 13 . dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ . matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse.hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II. Bila determinan dari matriks berharga Nol. matriks seperti ini disebut matriks singular.

N IF(I.K)THEN P = A(I. berikut : DO 30 K = 1.2*N A(K.K) DO 20 J = 1.J) .N P = A(K. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 . C.4-3) menjadi (II.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I.PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II.K) DO 10 J = 1.BAB 1 .J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2. Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan.2.J) = A(K.P*A(K.J) = A(I.NE.J)/P DO 30 I = 1. 2*N A(I. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U.

sehingga tidak efisien. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II. perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer. Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II. yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L. dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU. (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C. 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat. Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar. oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan.hmymsc Dengan cara ini.4-9) . invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik. yaitu : A-1 = U-1 L-1 .4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. C.

didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II. perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT. terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 .L31L31 . -1 k Dari persamaan (II..4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II.L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 ..∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki . k n (II.4-13) untuki =1.BAB 1 .......4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 .n (Jml...4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU.2..4-13) dan uraian sebelumnya.2.L32L32 Dalam bentuk umum.L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 .. persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk . k pers) untuk =1..2.∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1.4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II.PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II.

N DO 10 J = I. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 . Selain hal tersebut. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja.K) = SQRT((A(K.*)A(J. I-1 JMLH = JMLH + A(I.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris.I) CONTINUE DO 60 K = 1. berikut ini : DO 20 I = 1.J)*A(K.I) = (A(K. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A.K) – JMLH)) Gambar I-3. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. baik dalam bentuk LT atau L. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3.J) A(K.J) A(K. langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L. N READ(1. K-1 JMLH = JMLH + A(K.I) JMLH = 0 D0 50 J = 1.J)*A(K.I) – JMLH)/A(I. N DO 40 I = 1.

. n dan j = 1..n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = .PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I.0/L(I. n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4.2...... Untuk mencari L-1. maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II.BAB 1 ... N DO 30 J = 1. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← ... . 10 DO 10 I = 1. berikut ini.⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1. N B(I.. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = .4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas..2. dapat dimisalkan matriks lain B = L-1.(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = .I) = 1.b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2..(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum..3...I) D0 40 I = 2.. I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1. I-1 18 .

2.2. Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L).... berikut: 19 .2 dan j = i + 2..1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1..n bij = −a ijbij /a ii i = 1..(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum. . .2.K)*B(K..J) = B(I. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B.. . n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5..4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I. n . . sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I. Untuk mencari(LT)-1. .(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = . dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1. maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II.2.. diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = . n . n .3 dan j = i + 3. dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1.I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4.J) B(I. tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT. n b kj i = 1.

PENGKOM DO 10 I = 1.0/L(I.I) = 1.I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5.K)*B(K. N 10 B(I. N-1 J=I+1 B(I.3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian .J)/L(I. N JMLH = 0 DO 30 K = 2.K)*B(K. berikut: 20 .Berdasarkan persamaan (II.J) = -L(I.J) =JMLH/L(I.J) B(I.I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1. J 60 JMLH = JMLH –L(I. Gambar I-5 dan Gambar I-1.J)*B(J. akan diperoleh elemen matriks L. J 30 JMLH = JMLH – L(I. N-3 DO 70 J = I+3. Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3. CONTOH 1.I) D0 20 I = 1. N-2 DO 40 J = I+2.I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1.BAB 1 .J) B(I.4-13). Gambar I-4. N JMLH = 0 DO 60 K = 2.J) = JMLH/L(I.

maka determinan A adalah Nol.n).+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1.. Jika beberapa qr ≠ 0. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1.m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ ……. Sebagai contoh. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}……. vektor kolom tidak bebas linear. Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}..hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I. Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. Rank kolom sama dengan Rank baris. 5. memenuhi persamaan (). Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ …….+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya. tinjau matriks A. 5..2. Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan (). 5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I.2. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya. berikut ini: 21 . vektor baris tidak bebas linear.…….…. Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear. 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A. I. Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A.{cn}.

p2 = -1. Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear.⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3. Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I.PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear. karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 . 6.BAB 1 . dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear. q2 = 0. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a). karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 . SOAL-SOAL BAB 1 1. maka Rank matriks adalah 2 1.3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2.

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

sebagaimana contoh Gambar II-1. Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas. Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = .⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan. berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers.⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . 1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian. Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 . dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2.hmymsc II. 2. dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis. grs-2 X1 Gambar II-1.

diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b. berikut ini. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. Pada Gambar II2b.2. grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. grs-2 pers grs-1 pers. Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular. dan tidak praktis. ILL CONDITIONED Gambar II-2. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem. karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. terdapat solusi yang tidak terbatas. Singular X1 X2 pers. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL. yang berlaku untuk i = 1. Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a.……n 26 . Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2. 2. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c.BAB I1 . II. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi . Pada kasus ini. X2 X2 pers. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED. seperti dalam Gambar II-2c. sistem mendekati singular. memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel. Pada kasus lain. Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris.PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

1) do 10 j = 2.. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2.n a(i.j) a(i.1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2. a42.. elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3.j) = a(i.hmymsc • • Baris pivot : baris 1. dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 .j) – p * a(1. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2. dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3.n p = a(i.an2 Baris pivot : baris 2. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32.…….1)/a(1.

10 20 30 II.BAB I1 .J) – P * A(K.n a(i.j) = a(i.J) = A(I.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4. 4. dibutuhkan n-1 langkah eliminasi.j) – p * a(2. N-1 DO 20 I = K+1. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM). penyelesaian dilakukan langkah demi langkah. DO 30 K = 1. N P = A(I.K)/A(K.K) DO 10 J = K+1.2) do 10 j = 3. Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS. sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4.2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya. 2.n p = a(i.j) a(i.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3. Untuk SPL berukuran n. N A(I.J) A(I.2)/a(2. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 .

atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya.3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut. Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya.4 33 . Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1. dan 2) Determinan ≈ NOL. B. sebab a11 = 0.4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1. demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C. GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar.1x1 + 2 x 2 = 10. PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol.hmymsc A.5x 1 + 2 x 2 = 10. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1). dapat mengakibatkan pembagian dengan nol. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = .

0.2) = −0. dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.200000x3 = 7.40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7. dengan pivot (p) = a31/a11 = (0.293333x3 = -19.BAB I1 .3000 / 3. elemen pivot elemen a22 34 .85 0.561700 .0.1x2 .19000x2 .1000) = 0.PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.0000 − (0.850000 7.293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19.2x2 .000) x(−0.0.000) x(−0.10.30 0.003330x2 .561700 2 Operasi pada baris ke 3.3 − (0.7x2 .1 / 3) x(7.003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.2 − (0.85) = 19.02000x3 = 70.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10.3x1 . a31 o Baris pivot : baris 1.0.1000) = 7. dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.000000x1 .6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.0.020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.1x1 .10x3 = 71.3x3 = -19.100000x2 .3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 . elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.1000 / 3.1 / 3) x(−0.0.2x3 = 7.3 − (0.0.0.

293333x3 = -19.003330x2 .0. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan. antara lain : A.100000x2 .19/7.293333)(7. didapat: 7.561700 x2 = -2.500000 3.hmymsc o Operasi pada baris ke 3.01200 = 7. untuk harga x1 didapat: x1 = o o II.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua.1 / 3) x(−0.084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut.0.561700 7. 2.293333x3 = -19.850000 7.000000x1 . 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).561700 10.000030) = -19.01200x3 = 70.200000x3 = 7.0. 4.003330x2 .0. SCALLING A. dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 .003330x2 . dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0.2) = −0.0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3. 2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas.(0. PIVOTING C.293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70. yaitu: x3 = 70.0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0. Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B.00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10.3 − (0.084300/10.0000000 Dengan cara sama.

karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot. an1}. sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3. a21. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n. 36 .………an-11. sehingga didapat matriks berikut.an-12. sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n. Misalkan a11 adalah elemen maksimum. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22. dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar.PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama. ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua.BAB I1 . an2}. a32.…………. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11.

NE. N IF(ABS(A(I.J) = A(K.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.GT.LE. dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1.J) A(K.K)).J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5.K)). N-1 DO 40 I = K+1.(ABS(A(L.EPSILON)THEN WRITE(*.J) A(L.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.J) A(L.K)).K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.K)THEN DO 20 J = K. N DUMMY = A(L.hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1.J) = A(K.K)).NE.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.LE.GT.K)THEN DO 20 J = K.(ABS(A(L. N IF(ABS(A(I.J) A(K. N DUMMY = A(L. yang merupakan gabungan dari Gambar II-5. II-4. Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.EPSILON)THEN WRITE(*. N 10 37 .

0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.J) A(I. 38 .000 x2 2.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.0000x2 = 1.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1. N A(I.0000x1 + 10.0000 .0003)10. N JMLH = JMLH + U(I.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2.(1 – (1/0.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .0003x1 + 3.4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0.K) DO 30 J = K+1.PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I.J) – P * A(K.I) END Gambar II-6.K)/A(K. maka 1.BAB I1 .J) = A(I.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0.0003 0.0000x2 = 1.0003).1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.0001 1.0000x1 + 1.0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.0000x2 = 2. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.0000x1 + 1.0001 − 3.000/0.N) DO 70 I = N-1.0000x1 + 10.0001 − (3.000)x2 = (1 – (1/0. diperoleh: 1.

9998/2.6667 0.0000 1.3333 0.66667 0.000)x2 = (2. Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.000)1.0000 0.330000 0.0001 – (0.33333 0.0000x2 = 1.0000x1 + 1.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.0003x1 + 3.000 x2 1. diperoleh: 0.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.333 0.0003x1 + 3.667 0.9997 = 2/3 x1 = 1.9998 x2 = 1.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 ..33 0.6666667 X1 0.9997x2 = 1.0000x2 = 2.0000x2 = 1.667 0.01 0.0000 − (1.000.1 0.(3 – (0.0000 − 1.0000x2 = 2.6667 0.66667 0.0003/1.30000 0.1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot. persamaan menjadi: 1.9997x2 = 1.0000 2.666667 0.0000 0.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.0001 .666667 0.000)1.000 sehingga persamaan menjadi: 1.0003/1.0003/1.6666667 X1 -3.0000x1 + 1.001 0.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.0001 0.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.333333 0.9998 Penyelesaian menjadi 2.

N+1 A(K. semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. N IF(I. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS). 2.J)/P DO 30 I = 1. Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu. N+1 A(I.K) DO 20 J = 1.K)THEN P = A(I.J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7. harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7.BAB I1 .K) DO 10 J = 1.P*A(K.NE.N P = A(K. Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 . semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya. dengan kata lain. 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian.J) = A(K. berikut ini. sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I).PENGKOM II.J) = A(I. DO 30 K = 1.J) .

2000000 . diperoleh: ⎡1.300000 ⎣ .100000 7.7x2 .2x3 = 7.000000 ⎢0. diperoleh: ⎡3.616670 ⎤ .85 0.Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .0666667 .0418848 10.3000000⎥ ⎥ 71.19. yaitu a11 ⎡1. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1.190000 .3x3 = -19.020000 2.hmymsc CONTOH 2.3x1 .0.0. Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena).190000 .2933333 10.616670 ⎤ .0.000000 .0666667 .5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut.000000 ⎣ . sebagai berikut: .61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.793220⎥ ⎥ 70. 3x1 .850000 ⎤ .19. normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.2x2 .0.1x1 .40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas.30 0. sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.0.000000 ⎢ ⎢0. dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.0.033333 7.400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut.0.033333 1.0.1x2 .003333 .0.0.000000 ⎢0.3000000⎥ ⎥ 71.0.19.100000 .616670 ⎤ .0.0.0000000 .020000 2.0.0.100000 ⎢ ⎢0. untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.033333 7.0.100000 .0666667 .000000 ⎢ ⎢0.100000 ⎢ ⎢0.000000 ⎣ .0.400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya.615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3.5617000 ⎥ ⎥ 70.0.000000 .000000 2.000000 ⎢0.3000000 10.10x3 = 71.000000 7.0.300000 ⎣ .0.000000 ⎢0.3000000 10.2.

000000 ⎢ ⎢0.08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).BAB I1 . didapat: ⎡1.4.793220⎥ ⎥ 70.0.523560 ⎤ .000000 ⎢0.000000 3.000003 II. 2.0120000 2.000000 1.2.000000 ⎢ ⎢0.5000 ⎥ ⎥ 7.0000000 2. didapat: ⎡1. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ .0418848 1. [x ] = ⎢ x ⎥ .PENGKOM .793220⎥ ⎥ 70.523560 ⎤ .000000 ⎢0.2.0.0680624 .0.0000000 0.0000000 .Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1.000000 x2 = 3.000000 ⎣ 0.0000000 1.0000000 . [b] = ⎢b ⎥ .0000000 0. Pada metoda ini. normalisir baris ketiga.000000 0. karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3.0418848 10. untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini.000000 ⎢0. matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU. [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 . Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut.00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua.500000 x3 = 7. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II.0680624 .000000 ⎣ 0. dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar.000000⎤ .0.0000000 1.2.0000000 0.000000 ⎢ ⎢0. metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah.2.0000000 0.000000 ⎣ 0.0000000 1.

Dari L Y = b.u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. sebagai berikut : 43 .hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ . Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 .l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2. [U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1. dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .

N JMLH = 0 DO 80 J = 1.1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1.1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 .1) DO 20 J = 2.I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2.6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ .N) L(N. N JMLH = JMLH + U(I. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.1) = A(I. N U(1.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.J)/L(1.I) X(N) = C(N)/U(N. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.N) = A(N.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I. I-1 JMLH = JMLH + L(I.N) DO 110 I = N-1.PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1.J) = A(I.J) L(I.I)*U(I. J-1 JMLH = JMLH + L(J.K) U(J.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I. N-1 DO 40 I = J.K) = (A(J. N L(I.K) – JMLH)/L(J.J) .J) = A(1.BAB I1 . N-1 DO 60 K = J+1.1) DO 40 J = 2.K)*U(K. N-1 JMLH = JMLH + L(N.K)*U(K.JMLH DO 60 J = 2. J-1 JMLH = JMLH + L(I.1) DO 90 I = 2.

1) = 3 L(2.I)*U(I.N) = A(N.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2.3) + L(3.1) = A(I.1) = 1 L(3.N) – JMLH Diperoleh: L(3.K)*U(K.K) – JMLH)/L(J.J) = A(1.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .K) = (A(J. N-1 DO 60 K = J+1.1) = A(3.1) = A(1.2)U(2. N U(1.2) = A(1.2) = 2 1/3 U(3.2) – L(3.2) – L(2. J-1 JMLH = JMLH + L(I.J) – JMLH DO 60 J = 2.1)U(1.2) = A(3.1) = A(2.J) L(I.1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2.hmymsc 10 DO 10 I = 1.3) = A(1.J)/L(1.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1.1) Diperoleh: U(1.J) = A(I.3)/L(1.2) = .2) = A(2.1)U(1.1)U(1.K)*U(K. N-1 DO 40 I = J.3) – (L(3.K) U(J. N-1 JMLH = JMLH + L(N. J-1 JMLH = JMLH + L(J.1) = 2/3 U(1.N) L(N.2)/L(1.3) = A(3. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.1) Diperoleh: L(1.J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2. N L(I. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.

maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan.1/3 2/3⎤ ⎥ . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 .11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y].1/3 2/3⎤ ⎥ .BAB I1 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II. Bila suatu SPL 46 . 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif. [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 . 2.1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2.

harga xi dapat dicari.2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2.l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II. Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 . sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1).…n Y1 = b1 / l11 2. Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3.3. Faktorisasi matriks A 47 .hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1.

454 ⎣ 0 4.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6. menghitung elemen matriks antara Y.N) DO 90 I = N-1. K-1 JMLH = JMLH + A(K.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1. N JMLH = JMLH + A(J. N DO 10 J = I+1. I-1 JMLH = JMLJ + A(I. N JMLH = 0 DO 60 J = 1.A(I. berdasarkan program dalam Gambar II.1) DO 70 I = 2. I-1 JMLH = JMLH .9.PENGKOM menjadi matriks L. N READ(1.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian.J)*A(K.1833 20.4495 [L] = ⎢6.BAB I1 .I) = (A(K.1106⎥ ⎦ 0 48 .I) JMLH = 0 DO 40 J = 1.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1.1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1.J)*A(K. N DO 30 I = 1. diperoleh: ⎡2.I) DO 50 K = 1.K) = SQRT((A(K.*)A(J. K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1.J) A(K.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I.I) X(N) = Y(N)/A(N.1237 ⎢ ⎢22.J) A(K. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.I) – JMLH)/A(I.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2.

Akan tetapi. ⎥ ⎢..3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi... karena adanya galat pembulatan... x 1 ..... presisi diperketat..... ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 .................. .3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A... dan seterusnya xn untuk persamaan ke n.......a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢...... Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik... digunakan strategi pivoting. aii ≠0.. x 1 ) i 1 2 3 n n 49 ... marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 .... . sehingga didapat harga xi baru...... x2 untuk persamaan kedua......... sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 .. karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik)...... 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100... x 3 ..a12 x 2 .... x 0 ) 2 n n (II..... digunakan matriks jarang..x 0 -1 ....... metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar..... x 1 ..... Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini............... x n = (b n ...hmymsc II.. misal : x 1 = (x 1 .a13 x 3 .a 23 x 3 ..a 2n x n ) / a 22 ............a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II..a n2 x 2 ... ... maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama.a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 ..... a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ........x 1 -1 .a n1 x1 ..a 21 x1 ... Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan......3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II. Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 ........ x 0 . untuk semua harga i........ a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II.3-2).... ⎥ ⎢...... Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan..

berikut ini : 50 . lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i.10. ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas. Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. Perhatikan ilustrasi berikut. dari persamaan (II. atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B.3-3) Untuk semua i.BAB I1 . Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i.3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II. kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i.PENGKOM Harga x 1 . SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal.3-2) dan (II. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan. dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A.

I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT.hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1. N READ(1.EPSILON) THEN WRITE(*.LE.*)(A(I.K)).0 DO 50 K = 1. N) DO 20 I = 1. N DUMMY = A(L.J) A(K.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT.K)).(ABS(A(L.K)THEN DO 40 J = K. M GALAT = 0.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I. N XB = C(I) DO 60 J = 1. Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 .J).*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10. J = 1. N L=K DO 30 I = K+1.J) A(L.EPSILON)THEN WRITE(*.0 DO 70 I = 1.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1.NE. N IF(ABS(A(I.J) = A(K. N IF(J.LT.I)THEN XB = XB – A(I.NE. N X(I) = 0.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.LE.GT.

499624684. x1 .000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 .3x3 = -19. x 2 .2x2 . x 3 ) = (2.015%. ε 1 .0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0.1x1 .0.0.7. x 2 .7x2 .100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2.40 .0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1.2x3)/3 x2 = (-19.6166667.3x1 .30 .-2.85 3x1 . x1 ) = (2.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 .1x2 + 0. Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 . didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 .31%.30 0.10x3 = 71. ε 3 ) = (0. x 3 ) = (0.7.1x2 .9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7. ε 1 ) = (100%.100%.000001% < ε 0 (0. 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini.31% > ε 0 (0.2x2)/10 o Tentukan tebakan awal.0.0.0.0001) 1 = ε ik = 0.40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7. ε 2 .3x3)/7 x3 = (71.990556508.PENGKOM CONTOH 2.2x3 = 0. didapat: 2 2 x i2 = (x1 .3x1 + 0.0.0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi. dimana: maks II. misalkan: x i = (x1 .0.85 + 0.0.BAB I1 .0.-2.1x1 + 0.794523.

3706 j0.4020 j0.4126 j0.0.4872 j0. b.0.720 .j1. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers.000 . untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6. 5 SOAL-SOAL BAB II 1.4558 j0.5.j0.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.00 ⎦ 53 . Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0.3992 j0. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0.4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0.j1.200⎤ ⎢ ⎥ j0. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a.5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢.000 .200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0.4020 ⎢ ⎣ j0.4774 ⎢ j0.4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.00 2x1 – x2 – 9x3 = 26.4232 j0.hmymsc Tabel II-1.4142 j0.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40.3706 ⎢ ⎢ j0.3922 j0.000 + j0. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II. Eliminasi Gauss dengan pivoting.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 3 .

.

variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . III. Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul). 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen. variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan. Pada kerangka acuan bus. yaitu bus atau loop.BAB II1 . Pada kerangka acuan loop. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan. Oleh karena itu. baik arus maupun tegangan. Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus. Simpul dapat merupakan insidensi. dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph.PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III.

l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 . yang tidak harus terhubung disebut cotree. Jumlah cabang. Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. Jumlah link. Cotree adalah komplemen dari tree. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph. Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung.2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph. Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a).hmymsc terhubung kepada satu simpul. Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu. Graph tersebut disebut Graph berorientasi. tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

3. Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III. Matriks basic cutset. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang.PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1). berdimensi e x b. untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 . 4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set. bij = 0. bij =-1. Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets.BAB II1 . B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1.3-2) III. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j. berlawanan dengan basic cut-sets.3-1) (III.

yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link.3-2) Link B1 61 .hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III. Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A. BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus.

G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III. Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut. 3. Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5. Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen.BAB II1 . Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung.3-3) ˆ III. Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 . 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset.

Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p . ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III.hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular. 4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6.E q (b) Gambar III-6. Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi.E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p . Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 . Reprensentasi komponen jaringan (a).

persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 . dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III. Dalam kerangka acuan bus. 1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen. III. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III. 5. Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq.4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III. kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus.pq.rs atau ypq. Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen.4-1) dan (III.4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq. dimana n adalah jumlah bus. Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III.pq atau admitansi sendiri ypq. Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z].BAB II1 . Dalam notasi matriks.rs antara elemen p-q dan r-s.

5-2) Hal sama. jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol. Menurut hukum Kirchoff untuk Arus. didapat At i + At j = At [ y] v (III. At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus.5-3) 65 . Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT. sehingga : I bus = A t j (III. sehingga : At i = 0 (III. 5.hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus.5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus. 2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi.

karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III.5-2) dan (III.5-6) ke (III.5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III.5-8) (III.5-6) Substitusi dari persamaan (III.5-7) kedalam (III.BAB II1 .5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil. maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III.5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 . oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III.5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .5-3) kepersamaan (III.PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama.

20 1 – 2 (2) 0. Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 .pq 0. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4.7.50 0.4.hmymsc Karena matriks insidensi A. Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq.40 0. Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut. dimana n = 4.20 1 – 2 (1) 0. dan e = 5. dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III. matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y]. 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III.60 0.50 0.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen.

8. 3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III.PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8.BAB II1 . Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan. dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 . matriks insidensi bus A.

042 0.208 2.hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0.2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .4 0.417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ .000 7.1 0.417 2 -0.2 Dengan melakukan inverse matriks.2 2 0.083 .417 2.1.083 -0. didapat : ⎤ ⎡−1 .021 5.1 0.417 2.000 ⎥ ⎢ .1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8.1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.0200 .083 3 4 -1.042 0.208 ⎥ 5.0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .2.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .042 0.0.1 ⎣ ⎦ .000 3.000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.0.5 0.0.1.6 0.1⎥ Ybus = ⎢ .1 .2.209 .5.0.5 3 4 0.1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .083 .0830 0.209 4.000 ⎤ = ⎢.000 . didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.042 ⎤⎢ ⎡2.5.

Tentukan matriks [A]. Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan.9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III. 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III.8. Tabel III-5. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq.pq 0. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut. 1 2 3 Gambar III. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III.60 0. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link.20 1 – 2 (1) 0.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.5 berikut. rs 70 .9.BAB II1 . branch.PENGKOM III.50 0.9 diberikan dalam Tabel III.

hmymsc 71 .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 4 .

hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV. Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada. kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus. IV. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 .5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu. 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang. Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. 1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan.

Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr.2-1) Agar tidak membingungkan. sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar.2a IV-2b Gambar IV-2. IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus. IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3. Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3.PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel.BAB IV . Dengan mengatur kembali persamaan (IV. Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. diperoleh : 74 . maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV.2-1). besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil. jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama.

2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV..... sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV. Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya..... Y22..V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV. Ybus .⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV. sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV.V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf . Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang. 75 ..….V2 Yg . dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut.... Admitansi Y11...2-4) Admitansi lain Y12..hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) .Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan.2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus.V2 Yh ...2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus. Y13.. Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan..V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) ..2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. …. kode bus cabang..V1Yd .. resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini....

y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣.y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p. cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program. elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan. Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢.*)NOMOR_CB(I).N_AWL(I). Misalkan dua buah cabang.X(I) Y_CB(I) = 1.y kk y km .P) = Y_BUS(P.y km .Q) = Y_BUS(P. 76 . misal kita sebut matriks tersebut matriks Z. dan s.Y_CB(I) Y_BUS(Q.0/CMPLX(R(I).y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk . Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut.s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y. cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu.P) = Y_BUS(P.y km y mm y km . karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain.q) dan (r. JML_CABANG READ(1.PENGKOM 10 DO 10 I = 1.Q) = Y_BUS(Q. q.Q) .X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P.R(I).Q) Gambar IV-4. Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini. program dalam Gambar IV-4 diatas. r. Berikutnya. Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi.N_AHR(I).BAB IV .y km . masing-masing (p.P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q.Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P.

IV....y kk + y km ) y kk . Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan... Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama.. dan prosesnya menjadi sangat sederhana.....y + y ) (y + y ... Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV......y km ⎡ ⎤ ⎢(.. ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV. Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj ...3-2) 77 .. Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j ..... Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j . ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ...... sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu... misal bus q dan r adalah bus yang sama..3-1) [Ybus ] = ⎢.... Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks. kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan....y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ .. maka ( ....... Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] ......2y ) (. cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan....... maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar. Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja.y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1].. 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik.... atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu.hmymsc Dengan cara yang sama. Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus...y km (....

..2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]....... Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y . maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV.. Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y .... Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan.PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j ... Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ].. Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti... maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama.. Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j ... IV. Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus.... menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV... nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ..Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai.. Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ].4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya..BAB IV ... 4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV. matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung..3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah. sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 ... Karena [ Z bus ] alat yang penting..

.. empat kasus akan kita bahas berikut ini. Zk2... 79 . ⎢ ⎥ ⎢ .......... Zk3. Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru.. dan Zkn ......... + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1.. ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV. 1 Kasus I......... Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + . sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢.. dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5. (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya......hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru.4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada....

BAB IV ... ⎥ = ⎢ ⎥ (IV.. j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6...PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5.... j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k .. dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II... Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 ... bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya....... Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j... Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢.4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus... Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas.. dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1).... ...4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ..... untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV.

.. kita memerlukan persamaan lain.4-6) Karena Ip tidak diketahui..4-5) hingga (IV..+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV... + ZkjI j + ZkkIk + ..4-5) Vk = Zk1I1 + . Atau V1 = Z11I1 + . + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + .4-6) dan (IV......4-7) Dari persamaan-persamaan diatas..4-8).(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV.....+ ZjjI j + ZjkIk + ...2Z jk (IV.. + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + .+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV................Vk + Vj (IV.....2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib..4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 . ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) ... yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b ....2-6) kedalam persamaan (IV.4-8) Dengan melihat persamaan (IV. dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk .. dengan memasukkan persamaan (IV..... dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢.. + Z1jI j + Z1k I k + .hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + ........

pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan. Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb. CONTOH 5. Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV. maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV.4-10) IV. Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian. Baris baru adalah transpose dari kolom baru. Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 .PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1).BAB IV .5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan. sebagai : V1 = I1 Z1 (IV.5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya.

5 0.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No.00 ⎤ j5.4 0.00 j4. matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1). Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: .j4. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.91111 j4. maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2).9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama.0736 ⎣ j4.2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4.0 j5.00 ⎢ ⎢ j4.30 j2.j18.1 0.50 .j8.00 Penyelesaian: 0. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama. bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0.2222 ⎣ j1.3889 ⎢ ⎢ j6.0 j2.7222 ⎥ ⎥ .8736⎥ ⎦ CONTOH 5.3-3).1. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.80 ⎢ 0.00 ⎥ ⎥ .7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6.7222 j6.j9.50 j5.0736⎤ .j10.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.00⎥ ⎥ j8.2 0.5 0.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.j14.8736 ⎢ j4.hmymsc ⎡.00 .2222 ⎤ j4.00 ⎢ ⎣ j5.j8.50 j8. sehingga diperoleh ⎡.j4.3889 . maka pertama dialakukan penghapusan bus 4.3 Mutual reactance 0.4111 ⎢ j1.2 Coupled elemen 3 3 83 . Tabel 4.1 0.j6.0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3.9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV.

PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4.BAB IV . didapat: ⎡0.1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2. yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada.0. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV.0.5 .5 1.5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2.(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0.7.1 ⎢ 0 0.1 ⎤ ⎡0.1 .5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas. matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0. 14.0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 .1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.

10 ⎥ ⎥ 0. dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.09 ⎢0.Z 31 ) y14 = 0.25 0.05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5. didapat: Z 41 = Z11 + y11.05 0.00⎥ ⎥ 0.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0.00 ⎣ 0.09 Z = ⎢0.10 = Z 24 Z 43 = 0.5 dan 6).00⎤ 0.08 ⎤ 0.00 = Z 34 Z 44 = 0.hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.05 Z =⎢ ⎢0.10 0.(Z11 .4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.00 ⎢ ⎣0.50 0.05⎤ 0.00 0.00 0. Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3.00 ⎥ ⎥ 0.00 0.05 ⎢ ⎢0. yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.09 Z =⎢ ⎣0.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3. matrik impedansi menjadi: ⎡0.00 0.11 .05 0.05 0.25 0.26 ⎦ 85 . Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4.26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.08 0.00 0.

000 + j0.407 0.021 0.BAB IV .282 + j0.015 0.640 0.000 + j0.370 0. dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.2.000 + j0.2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.000 + j0.000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan). Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.000 + j0.000 0. didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 . 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.PENGKOM CONTOH 5.097 + j0.123 + j0.300 Admitansi shunt 0.000 0.000 + j0.518 0.000 + j0.050 0.000 + j0.2.000 0.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4.133 0.723 + j1.8.080 + j0.000 + j0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.015 0.

41880 -0.518 0.050 0.000 – j3. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .44486 +j0.27150 -0.37346 1.64606 0.58200 -0.554100 +j2. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0.44486 -j8.00000 +j3.57654 +j0.02140 -j1.554 – j2.11237 -j13.Elemen Diagonal.41880 0.518 0.00000 +j3.32494 -0.133 0.95452 -0.99220 -j4.37346 1.080 + j0.99220 − j 4.998804 -j7.02140 − j1.723 + j1.55827 +j2.82746 87 .3.97650 0.30846 0.640 0.445 – j0.32494 0.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.43393 +j1.58200 -0.64179 0.16486 0.62287 -0.325 0.558 – j2.00000 -j8.57654 -j4.407 0.616 0.82746 -0.333 Elemen matrik Admitansi bus.558 − j 2.hmymsc Tabel 4.99220 -j4.000 + j0.Elemen Off diagonal. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0.55827 +j2.554100 +j2.827 0. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0. . Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.64606 -0.308 0.000 + j0.95452 demikian pula dengan elemen lain.123 + j0.44486 +j0.414 – j1.30846 -0.43393 +j1.577 – j1.097 + j0.282 + j0.370 0.300 Admitansi y pq = 1 z pq 0.57654 +j0.582 0.000 – j7.582 demikian pula dengan elemen lain.

Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan.PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1. Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan. 3. 4.3 j0.15 3 2 j1. Jaringan untuk soal 1 2.BAB IV .5 Gambar 4. j0. Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4.9.9. Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4. 88 .2 j1.9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit. dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat.2 1 j0.

UNSRI 5 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB.

.

Dalam setiap bus. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan. oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi. disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit. 2. 89 . BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban. yaitu : 1. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus .hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. melainkan injeksi daya. 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. khususnya dalam penyelesaian aliran beban. sedangkan magnitude tegangan. biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui. 3. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. V dan sudut tegangan. bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. δ dihitung.

Untuk memilih bus penadah.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 .PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. rating kapasitor shunt. Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus. magnitud tegangan dan sudut fasa. V. 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada). V. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan. cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan. Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV.BAB V . Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV. Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi. Selain itu ranting dan impedansi transformator. beserta keterangan lain yang diperlukan.

pq 2 (V. dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan. Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V.3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y .pq 2 ( ) (V.3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y .3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V.hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V.pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V.3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y . 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi.3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 .pq 2 y . Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah.

jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai.BAB V . ….4-3) B. tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = . antara lain: A. sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * .4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ .PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V.4-3) menjadi lebih sederhana. dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah. Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V.∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1.∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V.4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan... Misalkan : L k = (V.4-2) 1 Ykk Persamaan (V.∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V.2.4-4) 92 . maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan.

93 .hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V.4-4). sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus. persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 .YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1.YL 34 V4k (V.YL12 V2 − YL13 V3k .4-5) * V3 KL 4 . dengan bus 1 sebagai bus penadah.YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 .YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 .YL14 V4k * V1 KL 3 .

BAB V .0 Set pencacah bus. k dan dV K=0 dV = 0. Epsilon. p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V. untuk bus p sesuai pers V.4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew .4-3 .4-4 Set pencacah iterasi. Tipe bus.PENGKOM MULAI Masukan data : Bus.V.Vold 1 2 3 4 94 .Jaringan. Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp. YLpq pers. Base.V.

Dari persamaan (V.3-5 SELESAI Gambar V-1. dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V.hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V. Dalam metoda Newton Raphson.3-1). dimana 95 . 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan.

5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus.PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V.5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V. maka persamaan (V. yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 . Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus. didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner.5-1) Dalam bentuk lain.5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p . sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan. dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V.BAB V .

......... .∂e M ∂e .. ⎥ ..... ..∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢..................5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢...5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V.-⎥ (V........... .....2...... .......⎥ = ⎢...... ...... ⎢. ....5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e . ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢...........⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V.......5-8) n q=1 q≠p 97 ............... sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V....5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V...5..... n-1 Diferensiasi persamaan (V..5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah.......⎥ ⎢.. Daya nyata dari persamaan (V.. ⎥ ⎢ ⎢......... ⎥ ⎢ ........ ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢.......... Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus........∂Qn−1 M ∂Q1 ....... ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢..∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana........⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢......... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢... ⎥ .. persamaan (V.... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.... 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 ...5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1. ...... …….........hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 .. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.∂e M ∂f .. ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e ...... ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ ...... ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 .....5-6) p = 1. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢....

elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V.5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V.5-6).5-4) adalah 98 . Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V.5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V. dari persamaan (V.BAB V . yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V.510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p.

5-11) terhadap eq.5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V..5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V.5. ….2. n-1 Difrensiasi persamaan (V. akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V.hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.11) p = 1. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 .5-11) disubstitusikan ke (V.5-11).

kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut.5-4). V. yaitu : 100 .PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus. Setelah harga Δe i dan Δf i didapat. yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. Dalam teknik pemrograman. Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V.5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian. yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V. daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V.5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi.3-1). 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson. Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V. Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2. Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan.BAB V . disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien. selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru.

Epsilon.5-9 Hitung aliran beban pers V. [B] Hitung : Pp.3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V.V.5-12 K = K +1 Selesaikan pers. maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers.5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus].5. V.Jaringan.5-7 . [G].5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V.V.6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V. dP dan dQ 2. Base. Tipe bus.4 Hitung : 1. V.6-2) 101 . Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V.hmymsc MULAI Masukan data : Bus. Qq pers.

6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1. 2.⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V..6-2).PENGKOM Konjugasi persamaan (V..⎥ ⎢..⎥ = ⎢.. p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢.5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V... diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V. dalam versi ini.n p ≠ s...6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 .. dan dikalikan dengan Vp. .. persamaan daya dalam persamaan (V... .BAB V ..6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar. kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar.

Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. δ dan antara daya reaktif.δ dan Q – |V| sangat lemah.6-7) Bila kita amati. 103 . pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil. teknik pemrograman yang lebih sederhana. banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif. kopling antara komponen P . P dan sudut tegangan. selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V. sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P . Memperhatikan bahwa. Dengan penguraian ini.δ dan Q –|V| secara terpisah. Q dengan magnitud tegangan |V|. yakni separuh tempat.6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V. sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V .

][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I]. dapat disederhanakan i. Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V..PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi.6-10) . ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal. lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya.6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B.. maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B .BAB V ..0 ii. ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B . maka [ΔP/V ] = [B . Metoda Fast Decoupled. ][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B . Selanjutnya.6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V.6-6) dan (V. ][Δδ] [ΔQ/V] = [B.. . dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] . ][ΔV] 104 (V. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV]. karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian.6-9) dengan demikian persamaan (V. Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0.

1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR. Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus. Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled.hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. admitansi bocor Trafo 105 . Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan. 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa. Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan. yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal. Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging).

Tipe bus. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v. MULAI Masukan data : Bus.3-5 Yes SELESAI Gambar V-3.Jaringan. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV. Base.PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 . Epsilon.BAB V .

03 0.015 j0.hmymsc CONTOH 5.06 + j0.18 0.08 + j0.18 0.02 + j0.00 + j0.01 + j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.1 Tabel 1.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.025 j0.00 107 . 1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.06 + j0.4.00 1.060 j0.04 + j0.00 1.00 + j0. Data pembangkitan dan pembebanan.12 0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.00 1.06 + j0.025 Tabel 2.00 1.020 j0.020 j0. b.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.00 + j0.08 + j0.24 0.06 0.010 j0. c. Hitung Aliran daya: a. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1.00 + j0. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.

01 + j0.06 0.BAB V .0000 – j 15.50000 10.085000 j0. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus.06 + j0.055000 j0.24 0. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4.3.6950 108 .25000 − j18.75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4.50000 – j7.055000 j0.08 + j0.66667 – j5.0000 1.040000 Elemen matrik Admitansi bus.18 0.18 0.0000 2.12 0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6.0000 – j30. Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen. Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.0000 1.Elemen Diagonal.66667 – j5.25000 – j3. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas.25000 – j3. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.0000 1. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .08 + j0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.2.04 + j0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0.02 + j0.06 + j0.75000 1.24 Admitansi y pq = 1 z pq 5.PENGKOM Penyelesaian A.03 0.055000 j0. dimana: y pq = 1 . Metoda Gauss – Seidel 1.

0000 -1.91667 -j38.91667 -j38.2500 -j18.0000 .02413 + j 0.7500 -5.6667 +j5.6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 . Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.0000 -10.00740 + j 0.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.6667 +j5.0000 + j15.6667 +j5.2500 .j32.4150 -1.7500 0.00891 -0.00370 -0.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain.6950 -1.80212 + j 0.7500 -2.0000 10.00000 + j 0.00000 + j15.2500 + j3.6950 -5.Elemen Off diagonal.5000 +j7.00740 + j0.2500 + j3.00000 demikian pula dengan elemen lain.00427 + j 0.0000 -1.5000 -1. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0.0000 -1.00071 6.j18.00000 0.0000 12.0000 + j15.6667 +j5.83334 . berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.0000 -2.j15.0000 -j30.0000 12.83334 -j32.57654 -j4.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.00698 + j 0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.20 − j 0.2500 +j3.64179 3.5000 -1.5000 +j7. .20) 1 Y22 1 10.2500 +j3.6950 -10.0000 -j30.00930 -0.0000 = −0.4150 = 0.7500 -1.

000710 -0.000710 4.46263 + j0. tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) . namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4. 1 Jika ΔV2 ≤ ε .03752 + j0. Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 .PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0.000330 -0.77518 + j0.000) = 0.000060 -0. V3 .15241 + j0. dengan mengikuti cara-cara diatas.000720 -0.000180 -0.000360 -0. Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .80212 + j0.80212 + j0.052530 + j0.V2 = (1.23131 + j0.03752 + j0.000330 -0.000180 -0.09690 + j0.000710 -0.77518 + j0.000006 -0.(1.80212 + j0.YL 21 V1 − YL 23 V30 .000710 -0.66881 + j0.000040 -0.000120 -0.000120 -0. 5. perhitungan selesai.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 .YL 25 V50 = 1.15241 + j0.12920 + j0.80212 + j0.03752 + j0.00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1.YL 24 V4 .09690 + j0.20053 + j0.12920 + j0.000004 -0.00290) . sampai konvergensi tercapai.33440 + j0.BAB V . Pada 110 . V5 } .000 + j0. misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.000360 -0. V4 .

00000 1.00000 1.00000+j0.00000+j0. yang menghubungkan bus 1 dan 2.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r.3-5).00000+j0.00000 1. Tabel s.00000 1.00000 3 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0. sebagai berikut: .00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.(P21 − jQ 21 ) Setelah.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.01579+j0. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000 1.00000 1.00406 1.00000 1.00000 1.00000+j0. 111 .00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.05253+j0.00000+j0.00000+j0. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi.00000 1.00000 5 1.00000+j0. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah.00000 1. y12 2 y.00000 1.Misal untuk cabang 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan.00000+j0.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus.00000 1.00000+j0.00000+j0.01280 1.00000 1. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai.00000 1. didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 . * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) .00000+j0.00000 1.00000 1. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.00966+j0.00000 1. menggunakan persamaan (V.00000+j0. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 4 1.00000+j0.00000+j0.00000 1. maka.00000 1.00000 1.00000 6.00000+j0.00000 1.02635 1.

4150 -1.64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq .7500 -5.2500 +j3.20 18.91667 -1.91667 -10.20 6. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).0000 -j30.30 12.2500 -j18.50 -5.0000 + j15.0000 12.10 -18. dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6. Metoda Newton Raphson 1.2500 -2.57654 -j4.7500 0.50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.5000 +j7.6667 -10.5000 -1.0000 -j30.j7.0000 -1.6950 -10.57654 Dan 112 .90 -5.6667 +j5.2500 -5.0000 -1.83334 -1.0000 -1.5000 -1.0000 -1.00 -27.0000 10.7500 -1.2500 +j3.30 -2.7500 -2.70 1.0000 -2.2500 + j3. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.2500 + j3.50 -3.6950 -5.0000 + j15.91667 -j38.20 40. maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6.2500 0.2500 -5.6667 +j5.60 -57.90 3.2500 -1.5000 -1.30 -6.40 6.0000 12.5000 +j7.BAB V .90 3.80 27.0000 -1.6667 +j5.6667 12.70 -7.5000 -1.90 54.50 -24.40 -53.91667 -j38.30 -6. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.0000 10.6950 -1.70 3.80 .6667 +j5.6667 -2. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.10 -39.5 .80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129.20 24.0000 -10.80 7.6667 -1.0000 12.PENGKOM Tabel r.83334 -j32.8.

Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.5-7) sampai (V.5-4) dan (5.0000 38.07500 0.06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V.0000 32.5000 .3.30000 -0.0000 -7.0000 -3.7500 4.7500 -15.0000 -5.05500 -0.0.6950 -15.60000 elemen 1.0. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .0000 38.9850 2 dengan cara yang sama.4150 -5.6950 -30.5-12).98500 -0.7500 -5.18500 0.5-9).6950 -3. Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0.0000 -5.28000 -0.hmymsc 18. dengan cara sebagai 113 .30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .13000 0.0000 -30.0000 adalah -0.5000 -3.37500 -0.512).40000 -0.00500 -0.04000 menghitung 0.50000 -0.0000 0.7500 -7.64179 3.

66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.5.30000 -0.30000 + j0.0000 0.25000 -2.50000 0.BAB V .75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2.53334 -1.66667 -2.66667 -1.1.2500 3. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.00000 -1.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = . untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = .6667 -10.98500 0.05500 0. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 .0000 0.5000 -1.91667 -1.0.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = .00000 -1.0000 0.0000 12.28000 0. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.980000 demikian pula untuk bus lain.66667 12. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.07500 0.84167 -10.

9750 -30. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .0000 0. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .7500 11.0000 -7.00000 -5.66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.000 0.hmymsc 33.0000 38.7500 -7.000 0.5.0000 38.7500 11.11.000 38.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .7500 0.4300 -5.0000 -5.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.4000 -5.6400 -3.5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.5000 0.00000 -3.0000 -30.0000 -3.000 38.0000 -7.5000 -5.13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.0000 -30.7500 -3.00000 -5.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.4150 -30. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.0000 -5.2500 J1 J3 -5.

66667 10.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k .00000 1.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢. Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.BAB V . Crout dan sebagainya.25000 2.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk. dengan berbagai metoda.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0.0.99167 1.50000 -12.7500 1.11284 ⎣ ⎦ 116 .66667 2.50000 0.02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.99167 10.00000 -12.66667 1.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.PENGKOM J1 -11.66667 J2 1.0.25000 -3.0. seperti Gauss-Jordan.00000 0. 5.13334 1. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0.0.

05505 – j0.00000 1.00103-j0.5000 + j0.00000 1.04629-j0.03176-j0. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .05084 1.03857 -0.00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.09508 V5k 1.00037 -0. Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.05505-j0.01171-j0.02652-j0.09342-j0.03871 0.02043-j0.06000 0.05124 V3k 1.09123 1. Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.0000 + j0.00010-j0.00023+j0.01228-j0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.03136 – j0.00000 1.40000-j0.01930-j0.00000 1. dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk . konvergensi tercapai pada iterasi k3.09123 1. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1.0000 + j0.06563 0.00094 7.02244+j0.09747 1.00073-j0.00006+j0.00000 1.0000 + j0.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.03136-j0. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.37500-j0. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.0050 0. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8.06000 + j0. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A).02652 – j0.05084 1.03586 -0.10909 Tabel q.03176 – j0.11284 1.00000 -0.6000+j0.hmymsc 6.09747 1.0000 + j0. Pengujian konvergensi.08922 V4k 1.001.1300 -0.

untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq .6950 -15.64179 2.7500 -5.0000 -30.0000 -3.57654 Dan 18.03 j0.2500 -5.06 j0.0000 38. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4.4150 -5. FDLF 1.2500 0. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”.2500 -2.0000 38. sebagai berikut: 6.6667 -10.6950 -30.91667 -10.5000 -1.0000 12.BAB V . Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0.3.5000 -1.7500 4. Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.2500 -1.PENGKOM C.6667 12.5000 -3.7500 -7.7500 . untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .0000 -5.2500 -5. sedangkan elemen-elemen Matriks B”.0000 -1.6667 -2.91667 -1.3.12 j0.6667 -1.0000 10.24 j0. dan menentukan elemen matrik G dan B.83334 -1.18 j0.18 j0.6950 -3. sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4. dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’.0000 32.0000 -5.0000 -7. Sebagai bus penadah dipilih bus 1.5000 -15.0000 -1.

sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V.085000 j0.5 ΔPpk + 0. Gauss-Jordan dan sebagainya. Ppk + 0. sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus.055000 j0. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif. k + 0.5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p .040000 3.5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6. jika tidak lanjutkan kelangkah 5.6-5). Cholesky. Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda.6-10).6-4) dan (V. seperti Crout.055000 j0. 5.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V.055000 j0. sebagai berikut: 119 .

Q k + 0. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif. sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7. sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus. Cholesky.BAB V . Gauss-Jordan dan sebagainya. seperti Crout. jika tidak lanjutkan kelangkah 8. sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 . sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0.6-4) dan (V.5 p ΔQ k + 0. Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V.PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus.6-10).6-5). 8.5 = δ k + Δδ k p p p 6.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3. k + 0.

dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.02 + j0. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya. Gambar V.06 0.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus.2. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s.5 = Vpk + ΔVpk 9. sebaliknya proses kembali kelangkah 6.015 j0.24 0.010 j0. 10. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1. maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan.060 j0.025 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.18 0.06 + j0.06 + j0. 11.020 j0.020 j0.01 + j0.04 + j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.1 dan Tabel s.18 0. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem.08 + j0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.1 Tabel 1.08 + j0.8 kV.025 121 .03 0. masing-masing 100 MVA dan 13.12 0. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V.

00 + j0. Dua buah bus p dan q. Tuliskan: a).BAB V .1. Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. 3. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.06 + j0.PENGKOM Tabel 2.0∠00 pu . Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi.00 + j0.300 pu . 122 . Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1. dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0.00 1. lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5.00 1.00 + j0.0∠ . Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. Bila Vq = 1.0∠00 pu .866 + j0.00 1.1 dan X2 = 0.00 2. Dengan menggunakan program yang saudara desain. b). dan Vp = 1. Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan.5 pu.00 + j0. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0. Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang.2 pu secara parallel.00 1. c). 4.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 6 .

.

Misalkan P dan Q untuk bus beban. dan δ untuk bus penadah. yaitu|V|. Jika dalam proses perhitungan. |V|. 3. Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. Aliran antar daerah. dan Q. ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian. 2.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. 4. Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa. Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian. 143 . P. atau P dan |V| untuk bus pengendali. digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya. tipe bus dirubah menjadi bus PQ. maka pada iterasi berikutnya (k+1). Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. δ. yaitu: 1. 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban.

Ada dua cara yang dapat ditempuh. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan. Menyertakan kriteria tambahan. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 .DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut. Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan. 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI. 2.7-2). atau b. Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. Tetap mempertahankan rumusan dasar.2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI. VI. karena itu untuk memenuhi persamaan (V. Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan. yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan. sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi. yaitu : a.

Pada metoda Newton Raphson. dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V. batasan daya aktif harus diperhatikan. Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢.5. persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V. maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI..7-1) menggantikan persamaan daya reaktif. daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 .hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama.-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1. Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2.21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0. J2. Dalam prakteknya.2-1). q ≠ p 145 . J3. Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI. lihat kembali penyelesaian sebelumnya.

2. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus. PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik. oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1. maka daya reaktif harus ditetapkan.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. bukan pada terminal sumber daya reaktif. Pada kasus ini. 2. bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. VI. q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan.

yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p. 3. Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. Prosedur lain yang dapat dipakai.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. menggunakan tegangan yang ditetapkan. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa. namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2. Toleransi tegangan sebesar 0. Setelah perhitungan tegangan pada bus q. VI.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p. 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus.

DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban. Sirkit ekivalen phi (c). Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b. t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2.3-1) menjadi y pq a2 (VI.3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 . Pada bus p. arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI.3-1) . Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya. Sirkit ekivalen (b).maka persamaan (VI. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a).

3-6) Dengan cara sama.3-3).3-5a). didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI. substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-4) dan (VI.3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali. karena kedua arus harus sama. pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI.hmymsc Arus pada terminal lainnya.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI. maka A= y pq a (VI.3-7) 149 .3-2). maka y pq = A + C (VI. pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian. maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama. maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.

...3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI.. dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c.....3-5a)....... + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 .. + 2 + ... maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + ...3-6) ke persamaan (VI.. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + ... Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q. + 1⎛1 ⎞ + ....3-2) dan (VI...DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI.

0)GOTO 20 Y_BUS(P. admitansi bocor sadapan Transformator.Q) = Y_BUS(Q..*)NOMOR_CB(I)..0.NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P.Q) = Y_BUS(P.Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P..P) = Y_BUS(P..EQ.0/CMPLX(R(I).Q) = Y_BUS(P. Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 .L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1.P) = Y_BUS(P.*)(NLINE_TRF(J)...L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1.Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q. JML_TRAFO READ(1.A(J) IF(I.Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q...X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0.NE.P) = Y_BUS(P.Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P...Q) = Y_BUS(Q.P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.P) = Y_BUS(P.N_AWL(I).Q) . dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1. + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu...X(I).. + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + .hmymsc ⎛ 1⎞ + . untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran.Q) 10 ENDIF IF(K.Y_CB(I) Y_BUS(Q...R(I). + N_AHR(I).. JML_CABANG READ(1.....Q) .

dan KLpq harus dihitung ulang pula. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup. parameter Lp.DAFTAR BACAAN VI. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus. diperoleh : 152 .3-2) dan (VI. 3. Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut.3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI. YLpq. Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. dengan A = ypq. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya.3-4). hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step. dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi.01 sudah cukup memuaskan.

3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq.3-9) 153 . Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI.3-7) dan (VI.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI. Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI. 3. 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4.

. arus Transformator pada bus q.. dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 .3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI.. + i pr + . diperoleh: 154 .. kecuali untuk r. + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI..3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi.DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal. admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu.. didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI... serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya.3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI.3-11) Dengan cara sama. iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs...

penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem. + y qp + . dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 ... jika tanda dari sudut δ positif. 4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi. dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI.... + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr.. Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif. maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI....hmymsc Ypp = y p1 + y p2 .... dengan asumsi 155 ... + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq. karena itu. + y pr 2 2 a s + bs + . Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem... karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|...3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya. misalkan Vq = 1 pu...

156 . dengan menggunakan penyelesaian tegangan. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan. Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. Jadi untuk sistem A. seperti dalam Gambar VI-5. Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih.DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan. pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. Berikutnya.

909 0.518 0. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi. 3.282 + j0.0076 0.133 0.097 + j0.723 + j1.640 0.hmymsc VI.123 + j0.0000 0.6.300 Admitansi ke tanah 0.000 + j0. Pemrograman dan space yang diperlukan.000 + j0.6.976 157 . mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1.050 0. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6. 4. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda.1 Tabel 1.0000 0. dengan bus 1 sebagai bus penadah.0070 0. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan. 2. Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi. CONTOH 6.0000 0.407 0.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.0000 Off-nominal turn ratio 0.0100 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.080 + j0.370 0.

123 + j0.438 – j 0.080 + j0.580 – j1.0000 j0.000 + j0.097 + j0.723 + j1.0100 0.005 j0.5 10.0070 0.518 0.000 + j0.642 0.0146 0.370 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.133 0.0170 J0.05 1.5 15 9 25 2.282 + j0.282 + j0.0 - Penyelesaian .909 0.300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0.0000 0.370 0.Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.000 + j0.097 + j0.0000 J0.0000 0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.5 6.640 0.0000 0.133 0.723 + j1.DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.5 Tegangan V 1.0000 0.518 0.0076 0.560 – j2.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.050 0.123 + j0.000 + j0.640 0.440 – j0.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.407 0.570 0.005 Tabel 2.0000 Off-nominal turn ratio 0.300 Admitansi jaringan 0.050 0.080 + j0.642 0.976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.407 0. dengan cara sebagai berikut: 158 .

..YL 34 V4k .955 -0.44 -j8..5800 -0.84 ..0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 ..3 -0......YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 .YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1.58 +j1.56 +j2.445 +j0.YL 25 V5k − YL 32 V2 .445 +j0.34 -0..Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k ...0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1....... + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0...3 1.YL 46 V6k +1 ..31 J8...05 + j0.438 +j1.58 +j1.438 +j1..hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + .42 -0..34 +j3.58 -j4.31 -0....021 -j1.. + ⎛ 1⎞ + .42 0..642 0.413 1.63 +j3.YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 .18 J8.555 +j2. + 1⎛1 ⎞ + ... + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + ... + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + ....0 V1 = 1. + 2 + ...0 + j0. + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + .84 -0..025 0..555 +j2..585 -0..642 -0..5800 -0...9980 -j4.YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 .56 +j2.993 -j7.115 -j14.1 + j 0.

187 = ((0.0000 + j 0.0 − 0.0000 + j 0.00000 0.275) − j (0.065)) = 1.58 j8.j2.47 .0000 + j 0.0.44 .00000 0.00000 0.00000 0.00000 0.0000 + j 0.DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.0000 + j 0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = .j8. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.0 − 0.56 + j2.0000 + j 0.

5 0 0 15.9310 -9.1 dan Tabel s6.2.1 161 .3 11.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1. Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.91840 0.2 23.5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.3805 0.8 25. . 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.5 6.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27. dengan bus 2 sebagai bus penadah.7 berikut ini.7..hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.0 9.8307 -13.0395 0.86560 0. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.9058 -12. Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi.02 -2.8511 -13.00000 1.0 2.05 0. Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.0 25.

dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta.123 + j0.000 + j0.5 10.133 0.1 162 .300 Admitansi ke tanah 0.8 + j0.0. 5.407 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.05 1.909 0.5 6.5 15 9 25 2.005 Tabel s6.1 pu.6 pu pada tegangan V2 = 1. 4. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban.DAFTAR BACAAN Tabel s6. Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan.0000 0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.0000 0. Kerjakan kembali soal ke 3.640 0.097 + j0.976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.0 + j0.0070 0. Untuk sistem yang sama seperti soal 1.723 + j1.050 0.080 + j0. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator.0100 0.0076 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.0 - 2. 3.518 0.0000 0. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0.5 Tegangan V 1.2.1. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar.370 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.000 + j0. Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6.282 + j0.

1968. 2000. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”. “Komputasi Dalam Sistem Tenaga”. “ Computer Techniques in Power System Analysis”.Graw-Hill. DR. Indiana. Elektro FTI-ITB. Bandung 2. 1990. Gibson Sianipar. Singapore 3. Ahmed. Stagg. Pai. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”.. New Delhi 4.. and El-Abiad. Suprajitno Munadi. jurusan T. M. Mc. 1978.hmymsc DAFTAR BACAAN 1. Glenn W. A. Andi Offset. Yogyakarta 163 .

Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi.Bila determinan dari matriks berharga = nol.Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5.A(BC) = ABC = ABC 3. pengurangan dan perkalian 3. A(BC) = ABC = ABC 3. pengurangan dan inverse 3. Penjumlahan. Determinan ≠ 0 2. dimana i dan j masing-masing adalah . Perkalian matriks 5.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2. Tidak ada inverse matriks 2.. A(B+C) = AB+BC.. ABT = BAT. Penjumlahan. A(BC) = ABC = ABC 2. A(B+C) = AB+BC.A(BC) = ABC = ABC 4. Matriks singular adalah matriks dengan kondisi. Penjumlahan.matriks disebut matrik singular 144 . Hasil perkalian matriks AB = C. A ≠ ..Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3. AB = BA.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4. dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan. 1. Determinan = 0 3.. AT B = BA. Ada inverse.pengurangan & perkalian matriks 2..Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku. pengurangan 4. A(B+C) = AB+BC. AT BT = BA.maka. 1.. 1. AT A = U 2. A(B+C) = AB+BC.A(BC) = ABC = ABC 5. 1.A 5.SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1.. 1. Penjumlahan. A(B+C) = AB+BC. aij = aji 4.

memiliki jumlah hitungan terendah 1. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya. Konjugate 2...Menghemat penggunaan memori.. Tidak ada inverse.waktu hitungan cepat 4.. matriks tipe. matriks tersebut disebut matriks. Doolitle 3. matriks disebut tidak linear 5.entry matriks terbatas 2. Hermitian 5.Jumlah hitungan terbatas. Crout 2. 1. Dari segi penggunaan memori.Hanya untuk matriks simetri. Dari segi jumlah hitungan. Gauss-Seidel 4. waktu hitungan terbatas 5. Orthogonal 3. Skew 4. Hermitian 4. Gauss-Naif 5.. Tidak ada inverse.. Gauss-Jordan 7. Ada inverse matriks 5. 1.. Skew hermitian 5.Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah.hmymsc 3.Menghemat penggunaan memori..Dapat digunakan untuk matriks simetri. Simetris 3. menghemat memori 6.. Segitiga bawah 2. Segitiga atas 145 ..waktu hitungan tercepat 3. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda..matriks disebut matriks adjoin 4. Unitary 8. 1.

Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. Jumlah operasi lebih pendek 4. Menunjukkan SPL 146 . 1. Menggambarkan garis 2. Jumlah memori tertinggi 5. Jumlah kolom 4.. Memiliki diagonal > 1 13. Jumlah maksimum kolom bebas linear 2. Jumlah kolom atau baris 10. Berjumlah kolom genap 5.SOAL-SOAL 9. b.. Jumlah maksimum kolom non linear 3.. Jumlah iterasi pasti 3. Berbentuk segitiga atas 2. Langkah perhitungan pasti 3.. 1. Tingkat konvergensinya lambat 4. Jumlah baris 5. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk.. Jumlah langkah hitungan pasti 2. 1. Jumlah memori terbatas 11. Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah.. Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12.. Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5. 1.. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan..... Mencari solusi SPL 3. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah. Berbentuk segitiga 4. Berdimensi sama 3. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2.. 1.

Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah..... dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda.. pembagian dengan nol. karena. meningkatkan harga harga epsilon. Mencari dan mengambarkan garis 14. 1 Memperbanyak angka bena.. Galat pembulatan. Metoda Gauss lebih sederhana 15. angka bena terbatas. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. Perambatan galat. 1. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2... 1. Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4. pivoting. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2.meningkatkan harga epsilon. Galat pembulatan.. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5.hmymsc 4. Angka bena terbatas. 1. Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah. Memvisualisasikan sifat persamaan 5. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda.. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah. angka bena terbatas 5. pembagian dengan nol. pembagian dengan nol. sistem berkondisi buruk 16. sistem berkondisi buruk 2.. system berkondisi buruk 4. Galat pembulatan. dan rounding 17. pembagian dengan nol. sistem berkondisi buruk 3. memperbesar koefisien persamaan. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3. scalling.. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena.

Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A... Crout 19. Cholesky 4.. Gauss Jordan 3. Doolitle 5.... Cholesky 4. Gauss-Seidel 5... Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18.SOAL-SOAL 5. Gauss-Jordan 21. Cholesky 5. 1. menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah. Doolitle 3.. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda.... 1. Crout 2. Cholesky 2. Eliminasi Gauss 4. Gauss-Seidel 5. Doolitle 3. 1. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara. Gauss Naif dengan pivoting 3.. Gauss-Jordan 20.. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda. Gauss-Seidel 2. Crout 22. Crout 2. Iterasi Gauss-Seidel 4.. 1. 148 .

1. Admitansi 4. Simpul dan node 4. Admitansi dan elemen shunt 24. Admitansi atau impedansi 2. Strategi pivoting.. Elemen.. Strategi pivoting. Impedansi 5. Tegangan dan arus 3.. Jaringan primitif 2. cabang 2. Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan.. Subgraph.matrik jarang dan metoda iterasi 5. Elemen dan cabang 26. Arus loop dan tegangan loop 4. lingk. Loop atau bus 3. cotree.. 1.hmymsc 1. terdiri dari. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. 1. 1..matrik jarang dan scalling 3. elemen 3.. graph 25. Strategi scalling.pivoting dan presisi diperketat 2. sublink 149 . Loop dan bus 2. Insidensi 3. Elemen matriks jaringan akan berupa. Elemen dan node 5. node. adalah kerangka.scalling dan matrik jarang 4..matrik jarang dan presisi diperketat 23. Tree.. Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya.. Strategi scalling. Strategi pivoting. Arus bus dan tegangan bus 5.

1.Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5.. Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus.. dan link 5. yaitu. Augmented matriks 30. Tidak membutuhkan perkalian matrik 2. Pembalikan matrik 2. 1. Transforamsi non linear dan singular 3. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4. 1... Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan.Penghapusan bus sekaligus memerlukan. 150 .. Transformasi singular dan secara langsung 28. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. Simpul.Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3. 1.. Faktorisasi matriks 4. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah..Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2. yaitu. Perkalian matriks 3. bus. yaitu. Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3. Tidak membutuhkan augmented matrik 31. Reduksi matriks 5. Simpul. Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap. cabang.. Tidak membutuhkan reduksi matrik 5.. Transformasi non linear dan secara langsung 2..Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29.SOAL-SOAL 4.Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4. tree 27.... Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5.

.. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2. 1. Susut daya dibangkitkan 5. Gauss-Seidel 5. Susut daya aktif dibebankan 3. bus PV dan bus berayun 2. Iterasi 2. Dalam bus PQ atau bus beban. Newton Raphson 151 . 1. Terdapat pembangkit 4. Susut daya reaktif dibebankan 2. Susut daya dikurangi 34. Terdapat beban 5. Daya aktif dan sudut fasa 4. Terdapat sumber tegangan 3. Bus PQ. Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus. Daya apembangkitan dan daya beban 5.hmymsc 1.... Susut transmisi dibebankan 4. bus kendali dan swing bus 3. Bus PQ. 1. bus PQ dan bus kendali 5.. Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda.. Bus PQ. Bus PV. Langsung 4. bus Beban dan bus berayun 32.besaran yang diketahui adalah... Langsung dan iterasi 3. Bus PV. Terdapat beban dan pembangkit 35.. Magnitud egangan dan daya aktif 3. Daya aktif dan daya reaktif 33. bus penadah dan bus berayun 4. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini.... Terdapat sumber daya reaktif 2. 1.

1. 1.... Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38. delta P dan delta Q 2. Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4...SOAL-SOAL 36. delta Q dan delta V 5. 1. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan .. Himpunan persamaan arus 37. FDLF 2. delta P dan delta V 4... Gauss 3. delta V dan delta I 3.. Himpunan persamaan daya 5.. Gauss-Seidel 4. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3..... 1. semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan. Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan ... Newton 152 .. Newton Raphson 5... Himpunan persamaan daya aktif 3.. Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan . Himpunan persamaan daya reaktif 4.. Himpunan persamaan tegangan 2. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5.. delta P dan delta I 39. Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda.

Gauss-Seidel 3.. Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda. Admitansi shunt jaringan 3.. 42. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2.. Admitansi bocor hantaran 4. Semua metoda 44. Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena. yaitu... Admitansi bocor trafo 5... FDLF 2.. 1. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4... Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari.. 1.... Data bus dan data jaringan 153 .. Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja. Gauss-Seidel 4. Gauss 5. Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2... Terdapat data jaringan 5. 1.. 1.. Newton Raphson 2.hmymsc 40. Gauss 5.. Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3. Newton Rapshon 4. Susceptansi dari reaktansi transformator 41. Newton 3. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda. 1. Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2. FDLF 43....

Skew 4.1) 154 .. N DO 10 J = 1. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4. N DO 10 J = I.I) CONTINUE DO 20 I = 1. 1..*)A(J. Data jaringan dan data beban 45. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut. Skew simetri 2.. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah. 10 DO 20 I = 1. Hermitian 5. Data beban dan pembangkitan 5.. Memiliki sumber daya reaktif 3... Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose. 1. N READ(1. Orthogonal 3. Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2. Data bus dan data tegangan 4. Pada bus terdapat bank kapasitor 5. maka matriks A tersebut disebut matriks. 1.SOAL-SOAL 2. N READ(1.. N DO 10 J = I.. Skew hermitian 47.*)A(J.I) CONTINUE DO 20 I = 1. Data tegangan dan impedansi 3. 10 20 2. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46.*)A(J. N READ(1. 20 10 3.

J) 10 20 30 2. L C(I. L C(I. DO 30 I = 1.J) + A(I.. 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut.J) = 0 DO 10 K = 1.*)A(J.J) = C(I.*)A(1. N DO 10 J = 1.J) + A(I.J) CONTINUE DO 20 I = 1. M DO 20 J = 1. N DO 10 J = I. 10 20 5. N C(I. M DO 20 J = 1.J) = C(I. N READ(1.J) 10 20 30 3.. L DO 20 J = 1. N READ(1. CONTINUE DO 30 I = 1. CONTINUE DO 30 I = 1..1) CONTINUE 48.J) = 0 DO 10 K = 1. 1. N C(I.hmymsc 20 4.K)*B(K.K)*B(K. M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 .

M C(I. CONTINUE DO 30 I = 1. Inverse matriks simetri dengan metoda. 1. Cholesky 2. N C(I. Gauss-Seidel 50.J) = 0 DO 10 K = 1.memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama.J) + A(I..J) 10 20 30 5..J) = C(I.J) = C(I.SOAL-SOAL C(I. N DO 20 J = 1. CONTINUE DO 30 I = 1. L C(I. M DO 20 J = 1..K)*B(K..J) = 0 DO 10 K = 1..K)*B(K.J) + A(I. M C(I. Doolitle 4.J) + A(I.J) = 0 DO 10 K = 1.J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49. Gauss-Jordan 5. Crout 3.K)*B(K. LLTrans 156 .J) = C(I. 1. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi. N C(I.J) 10 20 30 4.

Gauss 3. Singular 4. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda. 1.jumlah pv bus) 157 . apabila koefisien persamaan memebentuk matriks……………. Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda. Simetri 2. Dalam solusi SPL. UTrans LTrans 4..slack bus .hmymsc 2. Gauss 5. Gauss-Jordan 2. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1...jumlah slack bus) 2. Non-singular 5. Gauss-Seidel 4. Newton 5.. (jumlah bus. LTrans UTrans 51. (Jumlah bus .. LDU 5. FDLF 2. 1. LU 3. Gauss-Seidel 4. Non simetri 3. Newton Raphson 54. Diagonal 52. Gauss dengan pivoting 53. 1. Gauss-Naiff 3. Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel..

ipq = (Vp ... 1. dan kendali STL 2.slack bus) 55. Perhitungan aliran daya 57. Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq. 12 5. Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3. (Jumlah bus 4. Operasi dan kendali 4. 1. Kecepatan konvergensi meningkat 2. maka arus pada cabang tersebut adalah. Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak. 9 2.. 10 4. Konvergensi tidak akan tercapai 58. 2 x (jumlah bus . operasi.. Iterasi yang diperlukan membesar 5. 1..Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. ipq = (Vp . Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat.Vq) ypq + Vp y'pq 2.Vq) ypq ' 5. ipq = (Vp .SOAL-SOAL 3. 11 3...Vq) ypq + Vq y'pq 4. Perencanaan.. ipq = (Vp . 1.. 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan. maka. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4. Perencanaan dan operasi 5.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 .. Perencanaan dan kendali 3. 2 x Jumlah bus 5. ipq = (Vp .

.. metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi... 1.. Bilangan pembanding 2. 2 x lebih cepat 4... 1. yaitu.... Bilangan akselerasi 5. Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel.hmymsc 59. FDLF 4. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan. 1. 8 x lebih lambat 61. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Decoupled 62. Faktor akselerasi 60.. 159 . Membutuhkan data jaringan 5. Gauss 2. 1... bilangan ini dikenal dengan sebutan. Gauss-Seidel 3. Faktor kelipatan 4. 8 x lebih cepat 2. Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 . Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah... 4 x lebih cepat 3. Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. Memerlukan pembalikan matriks 3.. 4 x lebih lambat 5.... Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63. Newton Raphson 5.2. Akselerator number 3.. Memerlukan perkalian matriks 4.

IF(DELTA_P..EPSILON)GOTO 340 3.. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5.LE.. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5.. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut... IF(DELTA_V.. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q. Ypq = -ypq(1-1/a 160 . Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4. maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi.. Pengendalian daya beban 66. Pengendalian rugi-rugi 5.. 1..EPSILON)GOTO 340 5. Pengendalian frekuensi 3.GT. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2. IF(DELTA_V. Akurasi yang lebih baik 4. Solusi yang lebih cepat 3...EPSILON)GOTO 340 65..EPSILON)GOTO 340 2.GE..SOAL-SOAL 1.GT.LE. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. 1.. 1.. Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64. Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai. IF(DELTA_P. 1. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4. Pengendalian daya aktif 2. Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2.EPSILON)GOTO 340 4.. Ypq = -ypq/a 2. IF(DELTA_V..

IMIN.. M DO 60 I = 1.I100TH..J).hmymsc 3.*)(A(I.M 161 . Ypq = ypq/a 4.I1000TH) 3..I1000TH) 70.. 60 3. 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69.M READ(1.I100TH.... Ypq = ypq(1-1/a 5. CALL GETTIM (IHR..IMIN. 60 2..J = 1. CALL TIME (IHR. CALL SETTIME (IHR.ISEC.*)(A(I. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai. DO 60 I = 1.. 1.I1000TH 2.M READ(1. Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah.J).IMIN.IMIN.ISEC. 60 4.I1000TH) 4. 1. READ GETTIM (IHR.. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.... Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam.J = 1..ISEC.IMIN..J). N DO 60 I = 1.I100TH.ISEC.I100TH.ISEC.J = 1.M READ(*.I1000TH) 5. Ypq = -ypq 68.*)(A(I. READ TIME (IHR.... N DO 60 I = 1.I100TH.

12 2. 3.J = 1. 9. 2.12 5. Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut.. 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4.10)(A(I..3 5. 60 READ(*. 6. 1. M DO 60 I = 1.10. 3 5. 2..J = 1. dimana susunan data dalam file adalah 162 ..SOAL-SOAL 60 5.6.8 9. 5.*)(A(I. 6. 4.J). 8. 4.10.M READ(1.4. 2. N 71... 8 9. 10.J). 3. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu.

hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.20)NAMA_FILE_IN WRITE(*. N) CLOSE(1) RETURN END 163 .A) CALL PRINT_MAT(M. 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.40) READ(*.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.'JUMLAH BARIS : '.N.'JUMLAH KOLOM : '.50) READ(*.M.*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.*)M WRITE(*.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X.A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X.M.30) WRITE(*.A) DIMENSION A(M. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*.*)(A(I.N.J = 1.N.M 60 READ(1.$) FORMAT(6X.J). FILE = NAMA_FILE_IN.10) READ(*.

$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X. matriks 4 x 4 (MAT44) 2. 14. 5.90) READ(*. 3.A) DIMENSION A(M. 2. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data. 5.110) DO 70 I = 1.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2. 3.F10. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 2 -3 . 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 . STATUS = 'NEW') WRITE(2.N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*.N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X.J). 4. 4. 2.N.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.M WRITE(2.80)(A(I. 5.5)) FORMAT(3X.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. 6.J =1. FILE = NAMA_FILE_OUT.

100).hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.20) 20 30 FORMAT(3X.$) READ(*. J = 1. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 .60) c c c 60 FORMAT(3X.E(100.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.J).10) 10 FORMAT(3X.'JUMLAH KOLOM : '.$) READ(*.100).40) 40 FORMAT(3X. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS.40) READ(*.100).AND. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.C(100.J).$) READ(*.*)(A(I. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1.100).*)N WRITE(*.HASIL_MAT*15 REAL A.50) 50 FORMAT(3X.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*. K READ(1.30) FORMAT(3X.*)M WRITE(*. N) DO 80 I = 1.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1. FILE = BACA_MAT.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*.B(100.EQ.'JUMLAH BARIS : '.*)L WRITE(*.*)K WRITE(*.L))THEN DO 100 I = 1.30) READ(*.EQ.*)(B(I. M 70 80 c c c IF((M.K).C WRITE(*.(N.B.J = 1.D(100.100) CHARACTER BACA_MAT*15.

J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.110) ENDIF c c c IF(N.J) = 0.PROGRAM DO 90 J = 1. N C(I.K)THEN DO 160 I = 1.EQ.J) .0 DO 140 IK = 1.J) = A(I. M DO 150 J = 1.110) 110 c c c IF((M. N D(I. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS.180) 180 190 FORMAT(3X.EQ.B(I.J) = E(I.J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. N 140 150 160 E(I.$) READ(*.J) + B(I.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN. 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*.J) + A(I.L))THEN DO 130 I = 1.EQ.IK)*B(IK.AND.J) = A(I. M DO 120 J = 1. L E(I.K).'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 .(N.170) 170 c FORMAT(3X.J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.

3.230) WRITE(2. 'MATRIKS A(M. FILE = HASIL_MAT.J). 6. 'MATRIKS B(K.F8.320)(D(I.230) FORMAT(/2X) WRITE(2.3)) WRITE(2. J = 1.330) 330 340 FORMAT(/2X. 3. M WRITE(2.300) 300 310 320 FORMAT(/2X. L) FORMAT(4(2X.240) 240 FORMAT(/2X. L) FORMAT(4(2X.F8. M WRITE(2. matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1. 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1.hmymsc OPEN(UNIT=2.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1.J).J).J).270) 270 280 290 FORMAT(/2X. L) STOP END Susunan File data.3)) WRITE(2. 3.260)(B(I. 2. 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1. 4. 7. N) FORMAT(4(2X.290)(C(I. N) FORMAT(4(2X.J).320)(E(I. 5 6 8 1 6 5 167 . 2.230) WRITE(2.J = 1. 7.220)(A(I.F8.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X.F8. 2. M WRITE(2. K WRITE(2. 6.J = 1.3)) WRITE(2. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1.J = 1.J = 1.230) WRITE(2. K 250 260 WRITE(2.3)) WRITE(2.

TL(100.ACY WRITE(*.100).*)N 168 .100).$) READ(*.100).AGJ(100. N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.JMLH.60) 60 FORMAT(3X.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*.100) CHARACTER BACA_MAT*15.PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.INVTL(100.100).AGJ.*)(A(I.$) READ(*. FILE = BACA_MAT.J). STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.TL.L.20) FORMAT(3X. N 70 c READ(1.INVL. J = 1.100).'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '.INVTL.HASIL_MAT*15 REAL A.10) 10 20 30 c c c WRITE(*.90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.L(100.30) FORMAT(3X.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.ACY(100. + INVL(100.100).

'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*.$) READ(*. 2*N AGJ(I. 'MATRIKS AWAL A(N.EQ. 2*N AGJ(I. N OP = AGJ(I. FILE = HASIL_MAT. N) FORMAT(8(2X.IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I. STATUS = 'NEW') WRITE(2.J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1. N IF(I.J+N) = 1. N DO 160 I = 1.IP) DO 150 J = IP.J = 1. N DO 130 J = 1.I) 169 .IP)/AGJ(IP.J) = AGJ(I.J).N) ADALAH : ') DO 110 I = 1. N WRITE(2.3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1. N IF(I.F8.EQ.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X. N DO 140 J = 1.J) = A(I.J)THEN A(I.120)(A(I.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.J) + OP * AGJ(IP.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1.80) 80 90 FORMAT(3X.

J) + A(I. N DO 200 J = 1.0 DO 255 K = 1. N L(I. N ACY(I.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1. N DO 256 J = 1.230)(ACY(I.J+N).J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.210) FORMAT(/2X. J = 1.259) DO 258 I = 1. N WRITE(2.J).J) = AGJ(I.J) = ACY(I.205) FORMAT(/2X) WRITE(2. J = 1.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2.240) 240 250 FORMAT(/2X. 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1.J) = AGJ(I. 2*N AGJ(I.PROGRAM DO 180 J = 1.J). N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1.F8. N WRITE(2. 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 .230)(AGJ(I.3)) WRITE(2.J = 1. 'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1.230)(L(I. N ACY(I.J) = 0. N) FORMAT(/2X.K)*L(K. N) FORMAT(8(2X. N 258 259 WRITE(2.

K-1 JMLH = 0. K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K.I) DO 260 I = 1. N DO 280 I = 1. N IF(J.hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I. N DO 260 J = 1.0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1.0 DO 290 J = 1.K) = SQRT((A(K. N DO 321 J = 1. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1.J)*A(K.J) = A(J. N DO 310 J = 1.J) * A(K. J = 1.NE.I) JMLH = 0. N IF(A(I.I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1.J) A(K.K) .I)THEN A(I.J) A(K.J) = A(I.I)-JMLH)/A(I.J) 321 CONTINUE 171 .J) = 0.J). N 265 c c WRITE(2. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I. N L(I.JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1.GT.230)(A(I.I) = (A(K.0 DO 270 J = 1.J).A(J.

3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1. J = 1.389) DO 385 I = 1. INVL WRITE(2.K)*INVL(K.382) DO 381 I = 1. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 . N) FORMAT(8(1X.F8.J) INVL(I. N DO 387 J = 1.0 DO 386 K = 1.230)(INVL(I. N 381 382 WRITE(2. J = 1.I) DO 380 I = 2. N DO 370 J = 1.PROGRAM WRITE(2.J).J) + L(I.J) = 0. N 350 INVL(I. N ACY(I. N WRITE(2.0 DO 360 K = 1. N 385 389 WRITE(2.INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH . I-1 JMLH = 0.340)(L(I. J = 1.J) = ACY(I.230)(ACY(I.J).J). N) FORMAT(/2X.0/L(I.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH.325) 325 330 340 c FORMAT(/2X. N ACY(I. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1.K)*INVL(K.L(I. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L .I) = 1. N) FORMAT(/2X.J) = INVL(I.J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.

0/TL(I. J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1.I) = 1.K)*INVTL(K. N JMLH = 0 DO 490 K = 2.I) 173 . J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH . N 440 INVTL(I.TL(I. N JMLH = 0 DO 465 K = 2.J) INVTL(I.I) = L(I.I) DO 460 I = 1.3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1. N-3 DO 500 J = I+3. N TL(J.F8.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2.J)/TL(I.430)(TL(I. 'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1. N DO 390 J = 1. N-1 J = I+1 INVTL(I.TL(I.J = 1.410) 410 FORMAT(/2X.J) = JMLH/TL(I.N 420 430 WRITE(2.I) JMLH = JMLH .I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1.J)*INVTL(J. N-2 DO 470 J = I+2.hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1.J).K)*INVTL(K. N) FORMAT(8(1X.J) = JMLH/TL(I.J) = -TL(I.J) INVTL(I.

J).J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2. N) FORMAT(8(1X.620)(ACY(I. N ACY(I. N ACY(I. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.890) FORMAT(2X.3)) FORMAT(/2X.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J) = ACY(I.J) = ACY(I.J).PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1. N 560 570 c WRITE(2.F8.570)(ACY(I. N ACY(I. N ACY(I.J) + INVTL(I. N DO 590 J = 1. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.0 DO 580 K = 1. N) FORMAT(8(1X.F8. N DO 530 J = 1.K)*INVTL(K.J) = 0. 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1.550) 550 FORMAT(/2X.J) + TL(I. J = 1.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1.K)*INVL(K.630) DO 610 I = 1. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 .J) = 0. J = 1.0 DO 520 K = 1.

4. 0. -1.100).$) 175 .'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.hmymsc END Susunan File data.XBARU. matriks 4 x 4 (MAT4S) 4.C(100).X(100) CHARACTER BACA_MAT*15.$) READ(*.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '.30) 30 FORMAT(3X. -1.*)N WRITE(*.EPS.HASIL_MAT*15 double precision A. -1.X. 0.C. -1.20) 20 FORMAT(3X. 4.SELISIH WRITE(*.GALAT. 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th. -1. -1. 0.

70) FORMAT(3X. 'BATAS ITERASI READ(*. N IF(ABS(A(I. FILE = BACA_MAT.I = 1.40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1.$) READ(*. N DUMMY = A(L.60) 60 70 FORMAT(3X.K)).*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1. N) READ(1.$) Prosedur Pivoting 176 .J)= DUMMY X(I) = 0.80) 80 FORMAT(3X.*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1.0 : '.J). 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*.J) A(K.K)). N 50 READ(1.00000001))THEN WRITE(*.J) A(L.*)EPS WRITE(*.(0. N L=K DO 100 I = K+1. J = 1.K)THEN DO 110 J = K.PROGRAM READ(*. N) CLOSE(1) WRITE(*.NE.LE.J)= A(K. 'BATAS KETELITIAN : '.ABS(A(L.K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L.*)(C(I).GT. N 90 c c DO 120 K = 1.*)(A(I.

$) READ(*. M GALAT = 0.NE.180) FORMAT(1X.EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*.160) FORMAT(/2X.LT.X(I))/XBARU) IF(GALAT.SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT.A(I. N XBARU = C(I) DO 130 J = 1.40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 .0 DO 140 I = 1.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1.I)THEN XBARU = XBARU .190) 190 FORMAT(3X. 'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.I) SELISIH = ABS((XBARU . 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. FILE = HASIL_MAT. N IF(J.LT. STATUS = 'NEW') WRITE(*.

-0.200) 200 FORMAT(/2X.F10. 7.40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th.1. -19.85. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 . -0. -0. 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2. N) 210 250 FORMAT(8(2X.PROGRAM WRITE(2.1.3 10 71. I = 1.3.5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3. 0. 0. 7.2 -0.30.210)(X(I).2.

BAWLTRFO(100) .EN(100).DX.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.BUS_AKHIR(100).LCHARGING.RATIOTRF(100).P_LOAD(50 ).BAWLTRFO.SUM.V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.Y_BUS.BUS_AKHIR.S ALPHA.Y_BUS(100.SR.Q_MIN(10).BAHRTRFO(100).EPSILON.REAKTANSI.NOTRAFO(100).LCHARGING(100).100).NOKPSITOR(100).NOMORBUS(100) EI.Q_GENERATE(100).TIPEBUS(100).TAHANAN(100).EII.100).MAGE.BUS_AWAL.P_GENERATE(50).KLP.E(100).YLP.TAHANAN.YLP(100.NFILE_IN 179 . INTEGER SWITCH.V_SUDUT(100).Y_CHARGING(100).SUSCEPTAN(10 0).R.Q_MAKS(10).V_SPECT(100).Q(100 ).BUS_AWAL(100).Q_LOAD(100) .P(100).KLP(100).hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).Y_CABANG(100). + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).V_MAGNITUD(100).

70)IHR.70)IHR.ISEC.EPSILON READ(1.BUS_AWAL(I). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. JMLHBUS 40 + + READ(1.RATIOTRF(I) READ(1. REAKTANSI(I).ISEC. FILE = NFILE_IN.*)NOMORBUS(I).I100TH.I100TH. JMLKSTOR 60 READ(1.V_SPECT(I).IMIN.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR.*)MVADASAR.I1000TH) WRITE(*.10) 10 20 FORMAT(3X. JMLTRAFO 50 READ(1.LCHARGING(I) 180 .P_GENERATE(I). Q_MIN(I).2.TAHANAN(I).2.V_SUDUT(I).JMLTRAFO.*) READ(1.V_MAGNITUD(I).PROGRAM WRITE(*.I100TH.IMIN.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.JMLHBUS.ISEC. STATUS = 'OLD') READ(1. Q_GENERATE(I).*)NOTRAFO(I).*)NOKPSITOR(I).JMLKSTOR.P_LOAD(I).*) DO 60 I = 1. + ALPHA.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.*) DO 40 I = 1.*)NOCABANG(I).ISEC.1H:I2.*) DO 50 I = 1.Q_MAKS(I).Q_LOAD(I).$) READ(*. JMCABANG 30 + READ(1.1H:I2.I1000TH) WRITE(*.BAWLTRFO(I).2) READ(1.BUS_AKHIR(I).1H:I2.*) DO 30 I = 1.IMIN.BAHRTRFO(I).IMIN.I100TH.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.1H:I2.JMLPVBUS.2.2.I2.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.I1000TH OPEN(UNIT = 1.TIPEBUS(I) READ(1.JMCABANG.

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.ISEC. 'PARAMETER JARINGAN : './/T6.0.2F10. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I)).5)) DO 370 I = 1.333) 333 FORMAT(2X. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.2X. ' ITERATION'.) DO 335 I = 1.'-'.2F10.IMIN.0./.336)I. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I).EQ.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .IMIN.I4. 'PARAMETER BUS : '.I3. JMLHBUS WRITE(2.I100TH.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.0) CALL GETTIM (IHR.YLP(I. JMLHBUS DO 334 J = 1.) DO 337 I = 1. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0./.1)K = I DO 360 I = 1.331) 331 337 FORMAT(2X.332)KLP(I) WRITE(2.J) CONTINUE FORMAT(2X.70)IHR.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.ISEC.I1000TH WRITE(2.5) DO 350 I = 1.I1000TH) WRITE(2./) 332 FORMAT(10(1X.I100TH.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2.I3.REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 .J.

//T6.I2.F9.PROGRAM 370 WRITE(2.NP.1X.5.6X.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.0) WRITE(2.//T6. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .1X.29578.P(I).5.F10.5) SUM = CMPLX(0.5.S*MVADASAR 390 WRITE(2.NP.'MW '.F9.2X.4.1)THEN WRITE(2.MAGE.5.6X.2F8.405)SR 405 + FORMAT(' '.E(I).R) WRITE(2.5.3I5.4.F10.1X.1X.5.0.375)I.F9.F9.5) WRITE(2./) DO 390 I = 1.395)NOCABANG(I).F7.395)NOCABANG(I).'DAYA PADA BUS BERAYUN '.F9.R*MVADASAR 395 FORMAT(' '.F10.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.5.NQ.Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.1X.5X.F10.385) 385 FORMAT(' '.'MW 186 .DELT*57.EQ.NQ.'MVAR') : '.0.//T6.6X.407)P(I)*MVADASAR. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).Q(I) 375 FORMAT(' '.'MVAR') DO 406 I = 1.

0 .06 0.BUS_AWAL. 0.020 0.00 . . . 2 .0 . 0.00 . 0.JMCABANG.0 . 5 1 1 2 2 2 3 4 . .00 0. . 0.0 .REAKTANSI. 0.0 . . 0.03 0. .QLOAD. 0. .0 . . . 0. 0.ADMITANSI TANAH . 0.ALPHA.025 NOCABANG. .02 0. . .08 0.24 0. 0. .18 0. 0. .VMAGNITUD.08 NOBUS.PGENERATE. . .0 . 60. 0. .BUS_AKHIR.00 30. 0. NOTRAFOR.0 .005 .04 0. 10.JMLHBUS.0 .030 0.0 . . 0.0 . .00 .00 . RATIO(a) NOKAPASITOR.TAHANAN. .VSUDUT.0 . .0. 4 .0 .0 . 5. 0.0 . .0 . 0. 0 . 7 2 3 3 4 5 4 5 . 3 .0. 0.0 . . .DAT) MVADASAR.QMAKS. 0. 0 . . . 1. 0.0 . .00 0.0.18 0. 15.0 . . 0.015 0. 0.12 0. 0 0.00 1. .0 .0 . 0.VSPECT.0 .QGENERATE.hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL.025 0. . . 45.4 . 0. 20. .00 .020 0. 0 0 1.00 . . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 .0 .00 .000001 0. 0.0. 10. 0. . .EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 . .01 .TIPEBUS 1 .06 0.00 1.JMTRAFO. 0. 5 . 0. 1 3 3 3 3 0.0 . 40. .06 0.JMPVBUS. 0. .0 .06 1. 0.24 .010 0. . 40.0.00 1.00 0. .PLOAD. QMIN. . 0 . SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th.JMLKAPTOR.

TAHANAN(50). + + + + + REAKTANSI(50).P_LOAD(50 ).Q_LOAD(50) 188 .NOKPSITOR(50).Y_CABANG(50).50).BAWLTRFO(50) .Q_MAKS(10).V_SUDUT(50).Y_BUS(50.PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).P_GENERATE(50).RATIOTRF(50).NOTRAFO(50).V_MAGNITUD(50).V_SPECT(50).BUS_AWAL(50).BAHRTRFO(50).SUSCEPTAN(5 0).LCHARGING(50).P(50).Q_MIN(10).Q(50 ).BUS_AKHIR(50).

JMCABANG 30 + READ(1.LCHARGING.50).V_MAGNITUD.V_SUDUT(I).V_SPECT(I).RATIOTRF(I) READ(1.$) READ(*.Q_GENERATE(50).P_HITUNG(50).S.DELTA_Q(50). JACOB_1(50.I100TH. JMLTRAFO 50 READ(1.JMLH_1.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.C_ARUS(50).*) DO 50 I = 1.BUS_AKHIR(I).BUS_AWAL(I).*)NOTRAFO(I).SUSCEPTAN(I) READ(1.BUS_AKHIR.JMCABANG.A_JACOBI(100.TIPEBUS(I) READ(1. XPV(50).*)MVADASAR.Q_LOAD(I). G_KONDUK(100.JMLTRAFO. Q_GENERATE(I).50).*)NOKPSITOR(I).DELTA_ SUDUT(50).I1000TH) WRITE(*.JACOB_4(100.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT. JMLKSTOR 60 READ(1.JMLPVBUS.TIPEBUS(100).LCHARGING(I) .EPSILON.BUS_AWAL.*) DO 60 I = 1.*) DO 30 I = 1.TAHANAN(I).EPSILON READ(1. Q_MIN(I).Q_MAKS(I).100).JACOB_2(50.NFILE_IN 189 .SUM.*) READ(1.TEGAN_P.100). JMLHBUS 40 + + READ(1.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.ARUS_BUS.*)NOCABANG(I).Y_CHARGING(50).DELTA_PMAK.B_SUSCEP(100.V_SPECT. JACOB_3(100.R.BAHRTRFO(I).DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG.JMLKSTOR. + ALPHA.*) DO 40 I = 1.*)NOMORBUS(I).DELTA_MAG(50).DAYA_P.ISEC. STATUS = 'OLD') READ(1.P_GENERATE(I).V_SUDUT.NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).Q_HITUNG(50).V_MAGNITUD(I).MAGE.I1000TH OPEN(UNIT = 1.ISEC.TAHANAN.B_JA COBI(100).JMLH_2.IMIN.BAWLTRFO.D_ARUS(50). FILE = NFILE_IN.P_LOAD(I).I100TH.DELTA_P(50).JMLHBUS.100).100).100).REAKTANSI. INTEGER SWITCH.SR ALPHA. REAKTANSI(I).IMIN.70)IHR.hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*.BAWLTRFO(I).Y_BUS. 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.10) 10 20 FORMAT(3X.

SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.NN) = Y_BUS(NN.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK.2.J)) = CMPLX(0.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I.IMIN.NQ) = Y_BUS(NQ.I1000TH) WRITE(*.ISEC.1H:I2.ISEC.NP) = Y_BUS(NP.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN.70)IHR.CMPLX(0.I) = Y_BUS(I. JMLKSTOR IF(I. JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.I100TH.NK) = Y_BUS(NK. JMLHBUS G_KONDUK(I.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ.NN) = Y_BUS(NK.J) = REAL(Y_BUS(I.2.EQ.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN.NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.0)GOTO 90 Y_BUS(NP.NQ) = Y_BUS(NP. JMLTRAFO IF(I.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.I2.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1.1H:I2.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.1H:I2.1H:I2.I100TH.2.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*. JMLHBUS DO 110 J = 1.I).00/CMPLX(TAHANAN(I).00.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1.PROGRAM CALL GETTIM (IHR.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP.NP) = Y_BUS(NP. JMLHBUS DO 100 J = 1.00.2) 190 .EQ.2.NK) = Y_BUS(NK.EQ.IMIN.

3X.210) FORMAT(2X.BUS_AKHIR(I). ALPHA.3X. 'MVADASAR. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2.I4.F6. EPSILON') WRITE(2. 3(2X.F8.TAHANAN(I).6X.4.F8. JMLHBUS WRITE(2.F8.260)NOKPSITOR(I).2) B_SUSCEP(I. EPSILON 140 150 FORMAT(3X. 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '.(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).F8.5X. +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1.V_SUDUT(I).J)) 191 .' -'.I5).150) FORMAT(12X.SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X. FILE = NFILE_OUT.1X.V_MAGNITUD(I).F8.BUS_AWAL(I).F10.4. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1. + REAKTANSI(I).' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2.5(5X. 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '. 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '.3.4.8) WRITE(2.RATIOTRF(I) FORMAT(2X.F5. JMLPVBUS. JMCABANG. 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '.4X. + ALPHA.5X. Q_MAKS(I).Q_MIN(I).170)NOCABANG(I). JMLTRAFO. JMCABANG 160 170 180 WRITE(2.2X.4X.4.F8.4).130) 130 FORMAT(2X.2X.3X.240) FORMAT(2X./.JMLKS +TOR.TIPEBUS(I) FORMAT(I4.I3.BAWLTRFO(I).JMLHBUS. JMLKSTOR 250 WRITE(2.I3.BAHRTRFO(I).4) WRITE(2.4.J) = -AIMAG(Y_BUS(I.2X.I5.$) READ(*./.200)NOMORBUS(I).3(2X.120) 120 FORMAT(3X.F6.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2.I4) WRITE(2.LCHARGING(I) FORMAT(I5. JMLHBUS.V_SPECT(I)./.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*.230)NOTRAFO(I).140)MVADASAR.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1.4.JMLTRAFO.180) FORMAT(2X.I4).2) WRITE(2.F8.JMLPVBUS. 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '.F8.(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I))./.JMLKSTOR.JMCABANG.

0 JMLH_2 = 0.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X.0 DO 390 J = 1.ISEC.J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I.350)(G_KONDUK(I.ISEC.5)) DO 360 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).) DO 280 J = 1.F10. J = 1. JMCABANG WRITE(2. 'ADMITANSI JARINGAN : '.I100TH. Q.J) .IMIN./.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I.PROGRAM WRITE(2.F10.I1000TH) WRITE(2. 'ADMITANSI BUS : '. JMLHBUS WRITE(2.J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X. JMLHBUS) 192 .70)IHR. JMLHBUS) DO 370 I = 1.5)) WRITE(2.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 .J).) DO 310 J = 1.J).F10.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0. dan DELTA_Q DO 400 I = 1.300) FORMAT(2X. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I.350)(B_SUSCEP(I. JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR.0 c PERHITUNGAN : P. 'ADMITANSI KE TANAH : '. J = 1.0 DELTA_QMAK = 0./.270) 270 FORMAT(2X.5)) WRITE(2. DELTA_P.330) FORMAT(2X.IMIN. JMLHBUS WRITE(2.*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2./.EQ.) FORMAT(10(1X.I100TH.V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2.

JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).LE.EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1.I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I.1)THEN DELTA_P(I) = P(I) .DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I).1)GOTO 440 IF(J.GT.Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.LE.I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I.I) .EQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI.P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI.EQ.I)THEN JACOB_1(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).NE.(DELTA_QMAK.EPSILON).EQ.V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).GT.V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.EQ.hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1.DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 .2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) .1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I).I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.AND.-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I).EQ.NE.1)GOTO 450 DO 440 J = 1.1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1.

JMLHBUS-1 A_JACOBI(J.460) 460 FORMAT(1X.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I.J) JACOB_4(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.J) .K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.K) = JACOB_3(I.I) .I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.1)THEN WRITE(*.J)) G_KONDUK(I.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .NE.K+1) A_JACOBI(J.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K) = JACOB_1(I.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I.J)) JACOB_2(I.EQ.J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.1)THEN IF(I.PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I.J) JACOB_3(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS. JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.

J) .K)).K) DO 550 J = 1. NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K. NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K.LE.K)THEN DO 540 J = K.(0. NBARIS_BUS DO 510 J = 1. NBARIS_BUS IF(I.K)).J) A_JACOBI(K.J) = A_JACOBI(K.00001))THEN WRITE(*. NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L.K) DO 560 J = 1.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I.ABS(A_JACOBI(L.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.NE.K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L. NBARIS_BUS+1 IF(J.J)/PIVOT DO 570 I = 1.GT.hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1.NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.PIVOT*A_JACOBI(K.NE.GT.J) ENDIF 195 .J)= A_JACOBI(K.J) A_JACOBI(L.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L.J) = A_JACOBI(I.

IMIN.IMIN.ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '.'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1. NBARIS_BUS DO 590 J = 1.I4. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.70)IHR.K.650)ITERASI 650 FORMAT(////.I100TH.XPV(I).I4) WRITE(2.DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1.ISEC.I1000TH) WRITE(2. + ' ITERATION'.*)I.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I.T10./) DO 680 I = 1.GT.LT.'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .ISEC.GT. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.620)ITERASI 620 FORMAT(3X.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR. NBARIS_BUS+1 IF(J. NBARIS_BUS IF(I.//T6.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1.'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.670)ITERASI 670 FORMAT(' '.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.I4.JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*.I100TH. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 .

JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).5.5.//T6.750)NOCABANG(I).IMIN.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.6X.F10.'MW 197 .*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.NP.'MW +'.5.R) WRITE(2.F9.MAGE.760)SR FORMAT(' '.NP.0.5X.//T6.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.1X.29578. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S . JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).//T6.F9.Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.0) WRITE(2.F9.1X.P(I).5.1X.5.2F10.F10.I100TH.ISEC.6X.EQ.4.'MVAR') DO 770 I = 1.780)P(I)*MVADASAR.DELT*57.V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1.EQ.5) SUM = CMPLX(0.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.ISEC.I100TH.5.F10.NQ.70)IHR.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.Q(I) 720 FORMAT(' '.COMPLX_TEG(I).720)I.5) WRITE(2.1)THEN WRITE(2.3I5.'MVAR') CALL GETTIM (IHR. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.750)NOCABANG(I).5.730) 730 FORMAT(' '.hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).1X.I1000TH) WRITE(2.2X.F9.6X. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).5.S*MVADASAR 740 WRITE(2.0.F9.NQ.1X.I2.IMIN.F10.REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2./) DO 740 I = 1.F7.1)K = I DO 700 I = 1.I1000TH : '.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.

*) 1000 STOP END 198 .PROGRAM 900 WRITE(*.