PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 1 Pendahuluan 5. 3 Persamaan Performance Jaringan 5. 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 6 Metoda Fast Decoupled 5. 6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v . 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 5 Metoda Newton Raphson 5. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5. 1 Umum 6. 3 Representasi Transformator 6.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB. UNSRI 1 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

I. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui. disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang.2-3) 1 . Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer.. Subskrip pertama i.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I. 2. b2. b1. persamaan (I. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak. variabel.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1. x2. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir. Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I. Dalam bentuk matriks. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek. menunjukkan baris dan subskrip kedua j. Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks. koefisien. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. dan b3 parameter-parameter yang diketahui. Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. 1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan.

a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢.. ⎥ ⎢a 51 a 52 ... 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks.......... ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢....... matriks tersebut adalah matriks segitiga atas. Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris.a nm ⎥ ⎣ ⎦ B........... MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j... m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom).BAB 1 .... ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I.... Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar. sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom.. [a11 a12 . sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal.. MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom........ 2.....PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n...... antara lain : A. seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 .. aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal...... seperti dalam contoh berikut...

dan elemen lainnya Nol (aij = 1. seperti 3 . seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D. untuk i = j dan aij = 0. untuk i ≠ j). untuk i ≠ j). seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E.. sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu. matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0.hmymsc C. matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. matriks tersebut disebut matriks diagonal. seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F.

PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G. matriks tersebut disebut matriks simetris.4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. tetapi berlawanan tanda(aij = -aij). untuk semua ij. maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri.BAB 1 . Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama. ⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij . seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. matriks ini disebut matriks skew .5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.6 . tetapi tidak semua elemen aij = 0. MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . seperti : 4 . seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri. MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT. dan elemen diagonal berharga Nol.

MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T . maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri.3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T.j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M. maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*. matriks A disebut matriks orthogonal.2 . MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill. seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L. seperti : 2 . seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 .j2 1 . MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb). MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya. MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ . dimana semua elemen diagonal berharga Nol.5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢.j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 .j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣.j3 ⎦ N.hmymsc ⎡0 . K. seperti : 2 .

Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3. seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 . MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0. sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL. aij = 0.BAB 1 . Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0.PENGKOM O.

Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I.a12 a 21 Langkah berikutnya.AT A = A* A = .3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 .hmymsc Tabel I-1.a12 b 2 a 22 b1 . substitusi harga x1 kedalam persamaan (I.3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 . sebagai berikut : .a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 .a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 .dari pers. dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I. kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 .a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 . 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I.a 21 b1 a11 a 22 .3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel.a 21 b1 a11 a 22 . 3. DETERMINAN I.a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A. 3. Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .

a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21.BAB 1 .. kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij . 3..a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga.PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 . .. untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 . 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i. jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal.. x2 = I. Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya. 2.. Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1. yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1. n.

Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. maka kedua matriks disebut matriks sama. 4. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1. 3. 4 OPERASI MATRIKS I. bilamana elemenelemen aij = bij.hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 . hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1. yaitu : A=B I. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I.1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. lalu matriks tersebut ditranpose. 4.

m (Jml. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. 3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama.PENGKOM 3. Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut..…. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut.. Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n. sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij.2. misal : kA = B. dengan dimensi yang sama pula. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I. 4. akan menghasilkan matriks baru C. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B. Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan.BAB 1 . Baris matrik A) 10 . 4 PERKALIAN MATRIKS A.3-2) dengan : i = 1. 4. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar.

karenanya aturan komutativ tidak berlaku.K)*B(K..hmymsc j = 1. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut. Jika matriks A.J) = C(I.. M DO 20 J = 1. dimana CT = BTAT. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA. namun BA tidak dapat dilakukan. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks.k (Jml.…. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1. kecuali untuk matriks bujur sangkar. tidak berarti A = B Jika C = AB. B.J) = 0 DO 10 K = 1.J) + A(I. L C(I. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian. AB = 0. N C(I.2. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B..2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 . Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan. DO 30 I = 1. ini merupakan aturan reversal.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1.

INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II.BAB 1 . dan x3 sebagai fungsi b1. yaitu : x = Cb (II.PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C. dan berlaku: 12 .4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. b2. tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1. kecuali pembagian matriks dengan skalar. x2. Namn demikian. Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar. dan b3.

matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse. matriks seperti ini disebut matriks singular.4-2). Bila determinan dari matriks berharga Nol. antara lain : C. dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix. bila determinan ≠ 0. maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE. sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ . kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1. maka tidak ada inverse dari matriks tersebut. Sebaliknya.Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II.hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II.I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II. yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks.4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: .4-4) 13 . 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n.

K) DO 20 J = 1.PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II.2.N P = A(K. berikut : DO 30 K = 1.K)THEN P = A(I.BAB 1 .J)/P DO 30 I = 1.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I.P*A(K.J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2.NE. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U. Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan.4-3) menjadi (II. 2*N A(I. C.J) .J) = A(K.K) DO 10 J = 1. N IF(I.J) = A(I.2*N A(K. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 .

metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik. oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II. yaitu : A-1 = U-1 L-1 . dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU. (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C.4-9) . Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar.4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II. C.hmymsc Dengan cara ini. sehingga tidak efisien. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer. invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat. Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II.

.2.L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 .4-13) dan uraian sebelumnya.. didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II.2.4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU.. terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 . k pers) untuk =1. k n (II...BAB 1 .L32L32 Dalam bentuk umum.PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II.n (Jml..4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 ..L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 .∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki .2.4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II...4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II. perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT...∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1. -1 k Dari persamaan (II...L31L31 .4-13) untuki =1. persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk .

J)*A(K. baik dalam bentuk LT atau L.J) A(K. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga. langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L.J)*A(K. K-1 JMLH = JMLH + A(K. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 .I) = (A(K. Selain hal tersebut.I) – JMLH)/A(I.I) CONTINUE DO 60 K = 1. I-1 JMLH = JMLH + A(I. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1.J) A(K. berikut ini : DO 20 I = 1.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris.*)A(J. N READ(1. N DO 10 J = I.K) = SQRT((A(K. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A.K) – JMLH)) Gambar I-3. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja. N DO 40 I = 1.I) JMLH = 0 D0 50 J = 1.

. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← .b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2.2...I) = 1. I-1 18 .. N B(I.. ..n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = .0/L(I.. n dan j = 1. dapat dimisalkan matriks lain B = L-1.. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = . N DO 30 J = 1.I) D0 40 I = 2..... maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II..⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1.BAB 1 . n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4.PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I. Untuk mencari L-1..2. berikut ini.3.(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum.(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = .4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas. 10 DO 10 I = 1. I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1.....

2.3 dan j = i + 3.4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.. sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I. n .(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = ..2. diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = .2 dan j = i + 2. .J) = B(I. .. n .I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4.hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I.n bij = −a ijbij /a ii i = 1.2... berikut: 19 ..J) B(I. dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1..(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum..2.K)*B(K. Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L).1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1. .. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B.. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh. dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1. Untuk mencari(LT)-1. maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II. tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT. n b kj i = 1. n . . n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5. .

J)/L(I.J)*B(J. akan diperoleh elemen matriks L.I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1.K)*B(K.3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian . CONTOH 1. Gambar I-4. J 30 JMLH = JMLH – L(I. Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3. berikut: 20 .Berdasarkan persamaan (II.4-13).PENGKOM DO 10 I = 1. N-2 DO 40 J = I+2.BAB 1 . Gambar I-5 dan Gambar I-1. N 10 B(I.J) = JMLH/L(I.J) =JMLH/L(I. J 60 JMLH = JMLH –L(I.I) D0 20 I = 1.I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5.0/L(I.I) = 1. N-3 DO 70 J = I+3.J) B(I. N-1 J=I+1 B(I.J) = -L(I.J) B(I.I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1. N JMLH = 0 DO 60 K = 2. N JMLH = 0 DO 30 K = 2.K)*B(K.

5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I.+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1. Jika beberapa qr ≠ 0. Sebagai contoh. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}……. I. Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan ().m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ …….2.n).…….{cn}. vektor baris tidak bebas linear.. Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. tinjau matriks A.2.+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya. memenuhi persamaan (). Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ ……. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1. maka determinan A adalah Nol. 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A. Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}. Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear..…. Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A.hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I. 5. Rank kolom sama dengan Rank baris. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya. berikut ini: 21 . vektor kolom tidak bebas linear.. 5.

Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 . dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear. SOAL-SOAL BAB 1 1.BAB 1 .PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear. dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a).3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2. Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I. q2 = 0. p2 = -1. karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 . maka Rank matriks adalah 2 1. 6.⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3.

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian. grs-2 X1 Gambar II-1. dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis.hmymsc II.⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers. 2. Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 . Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = . Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas.⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan. sebagaimana contoh Gambar II-1. dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2.

dan tidak praktis. ILL CONDITIONED Gambar II-2. Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL.2. seperti dalam Gambar II-2c. Pada kasus ini. X2 X2 pers. Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular. yang berlaku untuk i = 1. terdapat solusi yang tidak terbatas.……n 26 . Singular X1 X2 pers. grs-2 pers grs-1 pers. 2. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem.BAB I1 . SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b. Pada kasus lain. berikut ini. Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi . memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel. karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. Pada Gambar II2b. grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. II.PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2. sistem mendekati singular. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED. Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

j) – p * a(1.1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2. dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3.……. a42.n p = a(i. dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 .n a(i. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2..hmymsc • • Baris pivot : baris 1.1)/a(1.an2 Baris pivot : baris 2..j) = a(i.j) a(i. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32.1) do 10 j = 2. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2. elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3.

N A(I.n a(i.j) – p * a(2. 10 20 30 II.j) a(i. 2. sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4. DO 30 K = 1.2)/a(2. N P = A(I.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM). dibutuhkan n-1 langkah eliminasi.J) – P * A(K.j) = a(i.K)/A(K.2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya.BAB I1 .2) do 10 j = 3. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 . Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS.n p = a(i.J) = A(I. N-1 DO 20 I = K+1.J) A(I. 4.K) DO 10 J = K+1. Untuk SPL berukuran n. penyelesaian dilakukan langkah demi langkah. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3.

4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya.4 33 .1x1 + 2 x 2 = 10. PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol. Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya. dapat mengakibatkan pembagian dengan nol. B. demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C. GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1). sebab a11 = 0.5x 1 + 2 x 2 = 10. dan 2) Determinan ≈ NOL. Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1.hmymsc A.3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol. atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = . Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut.

6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2.02000x3 = 70.0.PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2.003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.0.293333x3 = -19.0.2x3 = 7.85 0.003330x2 .3000 / 3.561700 .3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 .40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.000) x(−0.30 0.0.3x3 = -19.1 / 3) x(7.000000x1 .0.1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10. a31 o Baris pivot : baris 1. dengan pivot (p) = a31/a11 = (0. dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.850000 7.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.2) = −0.2 − (0.0000 − (0.10x3 = 71.0.85) = 19.7x2 .200000x3 = 7.561700 2 Operasi pada baris ke 3.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.BAB I1 .000) x(−0.19000x2 .1 / 3) x(−0.1x1 .3 − (0.1000 / 3.293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19. elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.3 − (0.0.020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.1000) = 7.10.1000) = 0. dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.0.2x2 .1x2 . elemen pivot elemen a22 34 .3x1 .100000x2 .

0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3.500000 3.000000x1 .084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut.293333x3 = -19.293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70. untuk harga x1 didapat: x1 = o o II.003330x2 .0. dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3. 2.0. antara lain : A. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 .0000000 Dengan cara sama.00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10.003330x2 .561700 7.(0.850000 7.561700 10.0. didapat: 7. yaitu: x3 = 70.293333x3 = -19.0.084300/10.561700 x2 = -2. SCALLING A.19/7.01200 = 7.100000x2 .003330x2 .293333)(7. dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua. PIVOTING C. Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B. 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).01200x3 = 70. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan.000030) = -19.3 − (0. 2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas. 4.1 / 3) x(−0.hmymsc o Operasi pada baris ke 3.0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0.200000x3 = 7.2) = −0.

sehingga didapat matriks berikut. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n. sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n. Misalkan a11 adalah elemen maksimum. an2}. dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris.PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama. a21. karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3. 36 . a32. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut. an1}.………an-11. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11.………….an-12. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar.BAB I1 . ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua. sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan.

J) A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.J) A(K.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.K)).NE. N IF(ABS(A(I.GT.EPSILON)THEN WRITE(*. N 10 37 .J) A(K.J) = A(K.LE.EPSILON)THEN WRITE(*.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.K)).K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.(ABS(A(L. N DUMMY = A(L.hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1.K)THEN DO 20 J = K.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5. II-4.K)).J) = A(K. Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan.GT.LE. N-1 DO 40 I = K+1. N IF(ABS(A(I.J) A(L. N DUMMY = A(L. yang merupakan gabungan dari Gambar II-5. dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1.K)THEN DO 20 J = K.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.K)).(ABS(A(L.NE.

000)x2 = (1 – (1/0.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.0000x2 = 1.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.K) DO 30 J = K+1.000/0.0000x1 + 10.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0.(1 – (1/0. maka 1.9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2.0000x1 + 1.K)/A(K.0000 .0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.J) A(I.0000x2 = 1.0001 − (3.0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.N) DO 70 I = N-1.000 x2 2.0003 0.0003).I) END Gambar II-6.1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.BAB I1 .PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I.J) = A(I.0000x2 = 2.0001 − 3. N A(I.0001 1. N JMLH = JMLH + U(I.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .0000x1 + 1.J) – P * A(K. 38 . diperoleh: 1.0003)10.0000x1 + 10.0003x1 + 3.

1 0.000)1.333333 0.0001 – (0.3333 0.30000 0.0001 .9998/2.666667 0.9998 Penyelesaian menjadi 2.0000 2.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.0000 0..330000 0.6667 0.01 0.0000 − (1. diperoleh: 0.001 0.9997x2 = 1. persamaan menjadi: 1.6666667 X1 -3.0003x1 + 3.66667 0.9997 = 2/3 x1 = 1.(3 – (0.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.9997x2 = 1.0003x1 + 3.3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.0000 − 1.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.0000x2 = 2.6667 0.0000x2 = 1.667 0.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 .0000x2 = 2.000)x2 = (2.000 x2 1.33333 0.0003/1.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.0000x1 + 1.0003/1.66667 0.0000 1.0001 0.0003/1.9998 x2 = 1.0000x2 = 1.666667 0.0000x1 + 1.000 sehingga persamaan menjadi: 1.1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot.000.33 0.000)1.333 0.667 0.6666667 X1 0.0000 0. Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.

J)/P DO 30 I = 1. sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I). harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7.BAB I1 . N+1 A(I. N IF(I.K) DO 10 J = 1. semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS). berikut ini.J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7.J) . Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu. dengan kata lain.K) DO 20 J = 1. DO 30 K = 1.N P = A(K. Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 .PENGKOM II.J) = A(I.NE. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian. 2.N+1 A(K.K)THEN P = A(I. 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss.J) = A(K.P*A(K. semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya.

0.1x2 .40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas. diperoleh: ⎡1.19. Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena).020000 2.000000 ⎢ ⎢0.2x3 = 7.2. normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.0.000000 .033333 1.000000 .033333 7.100000 ⎢ ⎢0.000000 ⎢0.61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.0.0.hmymsc CONTOH 2.19.000000 ⎢0. diperoleh: ⎡3.000000 7.0. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1. sebagai berikut: .300000 ⎣ .616670 ⎤ .100000 ⎢ ⎢0.003333 .400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya.100000 .793220⎥ ⎥ 70.0666667 . dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.0.2000000 .190000 .000000 ⎣ .0000000 .850000 ⎤ .3000000 10.0.0.0.3000000⎥ ⎥ 71.10x3 = 71.0.0.19.100000 .616670 ⎤ .616670 ⎤ .000000 ⎢0.615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3.5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut.033333 7.0.100000 7. yaitu a11 ⎡1.1x1 .7x2 .5617000 ⎥ ⎥ 70.0666667 .000000 ⎢ ⎢0.0.190000 .0.0.30 0.Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .0.3x3 = -19.0.000000 ⎣ .000000 ⎢0.0.0.3x1 .85 0.3000000 10. sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.0666667 .2x2 .0.3000000⎥ ⎥ 71.020000 2.000000 2.300000 ⎣ .2933333 10. 3x1 .400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut. untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.0418848 10.

2.000000 0. [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 .2.000000 x2 = 3.000003 II. 2.0418848 1.0000000 1.000000 ⎢ ⎢0.000000 ⎢0.793220⎥ ⎥ 70.0120000 2. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II.0000000 0.000000⎤ .0000000 .000000 1.500000 x3 = 7.523560 ⎤ .0.0680624 .0000000 0.000000 ⎢ ⎢0.000000 ⎣ 0.0000000 0. didapat: ⎡1.0.2.2.0000000 2.08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).523560 ⎤ .000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3.000000 3. Pada metoda ini. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ . karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.000000 ⎢0.0680624 .0.000000 ⎣ 0.0000000 . Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut.000000 ⎢0.000000 ⎢ ⎢0.793220⎥ ⎥ 70. normalisir baris ketiga.BAB I1 .Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1.0000000 0.5000 ⎥ ⎥ 7. [x ] = ⎢ x ⎥ .00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua. matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU.0000000 1.4.PENGKOM .0000000 1. metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah. didapat: ⎡1.000000 ⎣ 0.0. dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar. untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini.0418848 10. [b] = ⎢b ⎥ .

Dari L Y = b. Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 . dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ .l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2.u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. [U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1. sebagai berikut : 43 .

I)*U(I.PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1.N) DO 110 I = N-1.I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2.6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ .J)/L(1.1) DO 20 J = 2.1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 .K)*U(K.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.N) = A(N. J-1 JMLH = JMLH + L(J.1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1. I-1 JMLH = JMLH + L(I. N-1 DO 40 I = J. N L(I.J) = A(1.J) . N-1 DO 60 K = J+1.I) X(N) = C(N)/U(N. N JMLH = JMLH + U(I.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I.K) – JMLH)/L(J. N-1 JMLH = JMLH + L(N. N JMLH = 0 DO 80 J = 1. N U(1.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1. N JMLH = 0 DO 50 I = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.K) = (A(J.K)*U(K.1) DO 40 J = 2.1) DO 90 I = 2.J) L(I.K) U(J.J) = A(I.JMLH DO 60 J = 2.1) = A(I. J-1 JMLH = JMLH + L(I.BAB I1 .N) L(N.

J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2.J)/L(1.1) = 3 L(2.1)U(1.2) – L(3. N U(1.J) – JMLH DO 60 J = 2.1)U(1.3) = A(1.1) = A(I. J-1 JMLH = JMLH + L(J.3) + L(3.1) = A(2.3) = A(3.K) – JMLH)/L(J.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2.N) – JMLH Diperoleh: L(3.I)*U(I.1) = 1 L(3.1) = A(1.2) = 2 1/3 U(3. N-1 JMLH = JMLH + L(N. J-1 JMLH = JMLH + L(I.3) – (L(3. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.2) = A(2.K) U(J.3)/L(1.J) = A(1.1) Diperoleh: U(1.2) = A(3.2) = A(1.1) = A(3.1) Diperoleh: L(1. N-1 DO 60 K = J+1.K) = (A(J.1)U(1.N) = A(N.2) = .1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2.2)/L(1.2)U(2.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1. N L(I.hmymsc 10 DO 10 I = 1.K)*U(K. N-1 DO 40 I = J.J) L(I.N) L(N.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .1) = 2/3 U(1.2) – L(2.J) = A(I.K)*U(K. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.

2.1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2.1/3 2/3⎤ ⎥ .BAB I1 . Bila suatu SPL 46 .7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ .1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II. maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan. [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .1/3 2/3⎤ ⎥ .11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y]. 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif.1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .

l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II.hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1. Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3. harga xi dapat dicari.3.2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2. Faktorisasi matriks A 47 . Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .…n Y1 = b1 / l11 2. sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1).

4495 [L] = ⎢6.1106⎥ ⎦ 0 48 .A(I.J)*A(K.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I.*)A(J. I-1 JMLH = JMLH . N JMLH = 0 DO 60 J = 1. N DO 30 I = 1.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian. berdasarkan program dalam Gambar II.I) X(N) = Y(N)/A(N.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I.1) DO 70 I = 2.J) A(K. I-1 JMLH = JMLJ + A(I. menghitung elemen matriks antara Y.N) DO 90 I = N-1. K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1.1237 ⎢ ⎢22. N READ(1.I) JMLH = 0 DO 40 J = 1.J)*A(K.1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1.PENGKOM menjadi matriks L.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2.I) – JMLH)/A(I. diperoleh: ⎡2.454 ⎣ 0 4. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1.BAB I1 .9.I) = (A(K.J) A(K. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6.1833 20. N JMLH = JMLH + A(J.I) DO 50 K = 1. N DO 10 J = I+1.K) = SQRT((A(K. K-1 JMLH = JMLH + A(K.

a13 x 3 . a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II........... untuk semua harga i....... marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 . ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 .. karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik).a 23 x 3 ..... digunakan matriks jarang........ .. dan seterusnya xn untuk persamaan ke n......3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi...a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 ....a n1 x1 . Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan... x2 untuk persamaan kedua........a12 x 2 . presisi diperketat...... ⎥ ⎢.hmymsc II.x 1 -1 ..... Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini.. ⎥ ⎢. sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 . metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar......... x 1 ........ Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 .3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II............... x 0 . a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ...3-2)................a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢.....x 0 -1 .. Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik...........a 21 x1 . Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan. x 0 ) 2 n n (II. aii ≠0. x 3 .. x n = (b n . karena adanya galat pembulatan. x 1 ... sehingga didapat harga xi baru....a 2n x n ) / a 22 ...... 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100... ...a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II. .3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A.. misal : x 1 = (x 1 ..... maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama.................. Akan tetapi.a n2 x 2 ...... x 1 ) i 1 2 3 n n 49 .... digunakan strategi pivoting........

dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A. ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas.3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II. Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. berikut ini : 50 . SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal. kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i.BAB I1 .10. Perhatikan ilustrasi berikut. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan. dari persamaan (II.3-3) Untuk semua i.PENGKOM Harga x 1 . atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B. Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i.3-2) dan (II. lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i.

hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1.0 DO 70 I = 1.(ABS(A(L.EPSILON) THEN WRITE(*.J). Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 .GT.K)). N XB = C(I) DO 60 J = 1.I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT.LE.NE. N X(I) = 0.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10. J = 1.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT. M GALAT = 0.J) = A(K.*)(A(I. N READ(1.I)THEN XB = XB – A(I.K)). N IF(J.J) A(L. N) DO 20 I = 1.NE.EPSILON)THEN WRITE(*. N IF(ABS(A(I.J) A(K.J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I. N DUMMY = A(L.LE.LT. N L=K DO 30 I = K+1.K)THEN DO 40 J = K.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1.0 DO 50 K = 1.

x1 .85 3x1 .0.015%.31% > ε 0 (0.1x2 .0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0. Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 .7.794523.1x1 .0.31%.0. ε 3 ) = (0.100%.000001% < ε 0 (0. didapat: 2 2 x i2 = (x1 .PENGKOM CONTOH 2. x 3 ) = (0.3x3)/7 x3 = (71. x1 ) = (2.2x2)/10 o Tentukan tebakan awal.7x2 .499624684.0.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 . x 2 .3x1 .40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7. 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini. dimana: maks II.30 0. x 3 ) = (2.3x1 + 0.000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 .0.BAB I1 .990556508.1x1 + 0.0.-2.0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1.85 + 0. ε 1 .6166667.0.0001) 1 = ε ik = 0.2x2 .9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7.7.0.0. x 2 .30 .0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi.1x2 + 0. ε 1 ) = (100%. didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 .40 .10x3 = 71.2x3)/3 x2 = (-19.3x3 = -19. misalkan: x i = (x1 . ε 2 .-2.2x3 = 0.100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2.

4020 j0. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a. untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6.3922 j0.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.j1.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢.4126 j0.4872 j0.0. b.4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0.5. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0. 5 SOAL-SOAL BAB II 1.hmymsc Tabel II-1.720 .4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.4232 j0.3706 ⎢ ⎢ j0.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.00 ⎦ 53 .4774 ⎢ j0.000 .00 2x1 – x2 – 9x3 = 26.000 .j1.200⎤ ⎢ ⎥ j0.3992 j0.3706 j0. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II. Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18.200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0.5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas.4020 ⎢ ⎣ j0.j0. Eliminasi Gauss dengan pivoting.4142 j0.4558 j0.0.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40.000 + j0.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB. UNSRI 3 .

.

III. Simpul dapat merupakan insidensi. baik arus maupun tegangan. variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan. Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul). perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan. Oleh karena itu. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan.PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III. dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. yaitu bus atau loop. Pada kerangka acuan bus. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus. Pada kerangka acuan loop. Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik.BAB II1 . Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan.

Jumlah cabang. l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III. Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph.2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. yang tidak harus terhubung disebut cotree. Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a). Jumlah link. Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu. Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 .hmymsc terhubung kepada satu simpul. Graph tersebut disebut Graph berorientasi. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph. Cotree adalah komplemen dari tree. Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 . Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j. Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets. B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1. 4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set.PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1). 3. Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III. bij =-1. bij = 0.3-2) III.3-1) (III. Matriks basic cutset. berdimensi e x b.BAB II1 . berlawanan dengan basic cut-sets. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang.

hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan. Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A.3-2) Link B1 61 . Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III. dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link. BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus.

disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen. G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5. Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 . Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung. Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut.BAB II1 . 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III. Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5.3-3) ˆ III. 3.

Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi. Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p .E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p . Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 . Reprensentasi komponen jaringan (a). ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III. 4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6.E q (b) Gambar III-6.hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular.

Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri. dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III.rs atau ypq.rs antara elemen p-q dan r-s. Dalam kerangka acuan bus. Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq. III.pq.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi.4-1) dan (III.pq atau admitansi sendiri ypq. 1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen. Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z].4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III. Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen. persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 . 5. Dalam notasi matriks.BAB II1 . kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus.4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III. dimana n adalah jumlah bus.

jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol.5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus. sehingga : At i = 0 (III. Menurut hukum Kirchoff untuk Arus. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus.5-2) Hal sama. Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT. 2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi. sehingga : I bus = A t j (III.5-3) 65 . didapat At i + At j = At [ y] v (III. At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus.hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III. 5.

maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III. oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III. karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III.5-6) ke (III.5-2) dan (III.PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III.5-3) kepersamaan (III.5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil.5-8) (III.5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III.BAB II1 .5-6) Substitusi dari persamaan (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 .5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .5-7) kedalam (III. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III.5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j.

1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III. Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 . matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y]. Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut.20 1 – 2 (2) 0. 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.40 0. dimana n = 4.4. dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen. Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3.pq 0. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq.hmymsc Karena matriks insidensi A.60 0.50 0.50 0. dan e = 5.7. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4.20 1 – 2 (1) 0.

Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan.BAB II1 . dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 .8.PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8. 3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III. matriks insidensi bus A.

6 0.042 0.208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .042 ⎤⎢ ⎡2.083 3 4 -1.208 ⎥ 5.1 .5.0.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .2 Dengan melakukan inverse matriks.000 7.1 ⎣ ⎦ .042 0.2.208 2.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ .083 -0.1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8.1⎥ Ybus = ⎢ .1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.5.209 4.0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.5 0. didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.0200 .417 2.209 .417 2.1 0.000 ⎤ = ⎢.000 ⎥ ⎢ .000 3.1 0.1.083 .4 0.hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0. didapat : ⎤ ⎡−1 .0.417 2 -0.2 2 0.000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.0830 0.5 3 4 0.1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.000 .2.0.021 5.1.083 .042 0.0.

9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III.BAB II1 .8.60 0.9 diberikan dalam Tabel III. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut.9.PENGKOM III. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq.50 0. Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan. branch.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.pq 0. rs 70 .20 1 – 2 (1) 0. 1 2 3 Gambar III. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut. 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III.5 berikut. Tentukan matriks [A]. Tabel III-5. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link.

hmymsc 71 .

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB. UNSRI 4 .

Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. 1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan.hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 . Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang.5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada. Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1. 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus. IV.

2-1) Agar tidak membingungkan. maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV.2-1).PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel. Dengan mengatur kembali persamaan (IV. IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus. besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil. Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3.2a IV-2b Gambar IV-2. Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3.BAB IV . sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar. Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama. diperoleh : 74 .

. Ybus . Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang. …. Y13... dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut..V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf ....V2 Yg ..V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV.V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) ..... Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya.... Admitansi Y11..2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.V2 Yh ....2-4) Admitansi lain Y12..….⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV. sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV... Y22. kode bus cabang.V1Yd .hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) .2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus. resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini... Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan.2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV. 75 ..2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus.. sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV.Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan.

Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi.Q) Gambar IV-4.N_AHR(I). JML_CABANG READ(1. masing-masing (p.BAB IV . q.Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P. cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu.y km .y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣.X(I) Y_CB(I) = 1.q) dan (r.y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk .s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y.0/CMPLX(R(I).PENGKOM 10 DO 10 I = 1.Q) = Y_BUS(Q.P) = Y_BUS(P.N_AWL(I).R(I).P) = Y_BUS(P.Y_CB(I) Y_BUS(Q.y kk y km . elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan. dan s. program dalam Gambar IV-4 diatas. misal kita sebut matriks tersebut matriks Z. cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program. karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain.P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q.y km . Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini. Misalkan dua buah cabang.y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p.y km y mm y km . 76 .Q) = Y_BUS(P. Berikutnya. r. Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢.X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P. Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut.*)NOMOR_CB(I).Q) .

atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu.. 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik.... sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu.y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ . ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV... IV.....y km ⎡ ⎤ ⎢(....... Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus.....y kk + y km ) y kk . Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan...... maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar...y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1].. misal bus q dan r adalah bus yang sama.. Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama.. kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan........hmymsc Dengan cara yang sama.....3-2) 77 .......3-1) [Ybus ] = ⎢.... Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j ... dan prosesnya menjadi sangat sederhana. cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan..y + y ) (y + y .2y ) (. Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV. Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks.y km (.... Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j .. Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja.. Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj ... ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj . Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] . maka ( .......

..PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j . matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung.. menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV.....BAB IV .. Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j .. maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama.. Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ]..2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]. maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV.3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah. IV..... Karena [ Z bus ] alat yang penting... Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ]........ Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y . Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan... Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus. nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj . Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y .. 4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV....4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya... Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti.Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai.. sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 ..

... 79 . ⎢ ⎥ ⎢ ....hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru....... Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru..... dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5...... (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya..4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada...... ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV.. 1 Kasus I. Zk2. empat kasus akan kita bahas berikut ini.. dan Zkn ....... Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + ..... sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢. Zk3. + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1..

. Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 . ⎥ = ⎢ ⎥ (IV........ untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV...4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ..BAB IV . bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya... dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1).....4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus....... j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6. j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k ...... Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢.. Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j.. . Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas....PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5. dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II.

dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk .. yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b .4-5) Vk = Zk1I1 + ..2Z jk (IV. dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢.......... dengan memasukkan persamaan (IV.....4-7) Dari persamaan-persamaan diatas...4-6) Karena Ip tidak diketahui.Vk + Vj (IV....4-6) dan (IV....4-8).....4-5) hingga (IV..+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV.... kita memerlukan persamaan lain.hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + .+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV.... + ZkjI j + ZkkIk + ...(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV. + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + .... ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) .. Atau V1 = Z11I1 + ..... + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + .2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib.......2-6) kedalam persamaan (IV. + Z1jI j + Z1k I k + ....4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 ....+ ZjjI j + ZjkIk + ...4-8) Dengan melihat persamaan (IV.

PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1).5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan. sebagai : V1 = I1 Z1 (IV. CONTOH 5. Baris baru adalah transpose dari kolom baru. Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung. Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb.5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya.BAB IV . 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan. pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 .4-10) IV. Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV. maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV. Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian.

dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.00⎥ ⎥ j8.4 0.2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4. sehingga diperoleh ⎡.j9. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.1. bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0.0 j5.9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama.8736⎥ ⎦ CONTOH 5.2222 ⎤ j4.j8. Tabel 4.0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3.1 0.2 Coupled elemen 3 3 83 .5 0.00 Penyelesaian: 0. maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2).5 0.00 ⎢ ⎣ j5. matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1).9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3.30 j2.00 .0736 ⎣ j4.0 j2.50 j5.50 .3889 .00 ⎤ j5.7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6.00 ⎢ ⎢ j4.j8. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: .3-3).hmymsc ⎡.j6.8736 ⎢ j4.7222 ⎥ ⎥ .50 j8. maka pertama dialakukan penghapusan bus 4.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.3 Mutual reactance 0.7222 j6. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama.j4.2222 ⎣ j1.3889 ⎢ ⎢ j6.j4.91111 j4.j14.80 ⎢ 0.2 0.00 ⎥ ⎥ .j18.1 0.00 j4.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No.4111 ⎢ j1.0736⎤ .j10.

14.PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4.1 ⎢ 0 0. yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada.1 .5 .0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 .1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2.BAB IV .0.5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas.1 ⎤ ⎡0.0. didapat: ⎡0.(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0.5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2.7. matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0.5 1.1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.

05 Z =⎢ ⎢0. matrik impedansi menjadi: ⎡0.(Z11 . didapat: Z 41 = Z11 + y11.25 0.09 ⎢0.10 ⎥ ⎥ 0. Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3.25 0.00 0.05 0.00 = Z 34 Z 44 = 0.09 Z =⎢ ⎣0.Z 31 ) y14 = 0.00 0.11 .4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.05 0.00⎥ ⎥ 0. dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.05 0.00 0.00 ⎢ ⎣0.50 0.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3.00 ⎥ ⎥ 0.5 dan 6).05⎤ 0. Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4.26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.08 0.00⎤ 0.00 0.10 0. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.00 ⎣ 0.10 = Z 24 Z 43 = 0.00 0.09 Z = ⎢0.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0.08 ⎤ 0.05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5.05 ⎢ ⎢0.26 ⎦ 85 . yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3.

282 + j0.000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan).015 0.518 0. dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.000 + j0.097 + j0.407 0.133 0.723 + j1.BAB IV .021 0. 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.300 Admitansi shunt 0.000 + j0.000 0.000 + j0.000 0.640 0.370 0.015 0. Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4.050 0.080 + j0.000 + j0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.8.000 0.2. didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 .2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.000 + j0.PENGKOM CONTOH 5.000 + j0.000 + j0.123 + j0.000 + j0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.2.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.000 + j0.

445 – j0.32494 0.080 + j0.000 – j7.333 Elemen matrik Admitansi bus.000 + j0.44486 -j8.99220 − j 4. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.hmymsc Tabel 4.Elemen Off diagonal.32494 -0.616 0.64606 -0.57654 +j0.133 0.370 0.62287 -0.55827 +j2.00000 +j3.558 – j2.050 0.82746 87 .577 – j1.123 + j0.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.00000 +j3.518 0.097 + j0.554 – j2.97650 0.998804 -j7.02140 -j1.000 + j0.41880 0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0.308 0. .414 – j1.99220 -j4.827 0.64606 0.282 + j0.43393 +j1.582 demikian pula dengan elemen lain.30846 0.57654 +j0.518 0.582 0.554100 +j2.37346 1.99220 -j4.58200 -0.16486 0.Elemen Diagonal.300 Admitansi y pq = 1 z pq 0. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .55827 +j2.554100 +j2.95452 demikian pula dengan elemen lain.58200 -0.37346 1.00000 -j8.95452 -0. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0.82746 -0.44486 +j0.02140 − j1.41880 -0.723 + j1.64179 0.407 0.325 0.3.27150 -0.000 – j3.44486 +j0.30846 -0.11237 -j13.43393 +j1.640 0.558 − j 2.57654 -j4.

Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan. dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat. 4.3 j0.9.5 Gambar 4. j0.9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit.BAB IV .PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1.2 j1. Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan.9. 3. Jaringan untuk soal 1 2.2 1 j0. 88 . Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4. Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4.15 3 2 j1.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB. UNSRI 5 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

.

Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. yaitu : 1. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung. disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan.hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. Dalam setiap bus. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. 2. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus . δ dihitung. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan. biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui. 89 . BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban. sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. V dan sudut tegangan. BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui. oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi. sedangkan magnitude tegangan. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. melainkan injeksi daya. 3. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. khususnya dalam penyelesaian aliran beban.

Untuk memilih bus penadah. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV. Selain itu ranting dan impedansi transformator.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 .PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan.BAB V . magnitud tegangan dan sudut fasa. beserta keterangan lain yang diperlukan. V. Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan. Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV. 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus. 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada). cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. rating kapasitor shunt. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. V. Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV.

pq 2 y .pq 2 (V.hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V.3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y .3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y . Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V.3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V. Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah.pq 2 ( ) (V. 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi.3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 .pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V. dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan.3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y .

4-3) menjadi lebih sederhana.4-2) 1 Ykk Persamaan (V. Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V. sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * .PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V.. jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai.∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V.4-3) B. dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah. tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = .BAB V ..2. ….∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V. maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan.4-4) 92 .∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1. antara lain: A.4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan. Misalkan : L k = (V.4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ .

YL14 V4k * V1 KL 3 .YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 .YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1.4-5) * V3 KL 4 .hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V.4-4).YL12 V2 − YL13 V3k . persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 .YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 . dengan bus 1 sebagai bus penadah. sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus. 93 .YL 34 V4k (V.

p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V.BAB V .V.PENGKOM MULAI Masukan data : Bus. YLpq pers.Vold 1 2 3 4 94 .0 Set pencacah bus. Base. k dan dV K=0 dV = 0.V.4-3 .Jaringan.4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew . Tipe bus.4-4 Set pencacah iterasi. Epsilon. Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp. untuk bus p sesuai pers V.

hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V. Dari persamaan (V. 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan. dimana 95 . Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V.3-5 SELESAI Gambar V-1.3-1). Dalam metoda Newton Raphson. dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan.

yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 .5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner.5-1) Dalam bentuk lain. maka persamaan (V.BAB V .5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V.5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p . didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V. sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan.PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V.5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus. Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus. dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V.

..... ⎥ ⎢ .......................... ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢. ...2...5.......⎥ ⎢.. 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 .. .. Daya nyata dari persamaan (V. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. n-1 Diferensiasi persamaan (V.... ⎥ ⎢ ⎢.......∂Qn−1 M ∂Q1 .................5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah..5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V.... ..5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1..................... ⎢..hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 ...5-8) n q=1 q≠p 97 ... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. ⎥ ......5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ..... ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 ........... Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus...... ........∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢.. persamaan (V.... ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢.5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V. ⎥ ... ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e ..-⎥ (V. ……..... ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢...∂e M ∂f .. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢......⎥ = ⎢............ .5-6) p = 1..5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢.............∂e M ∂e ......⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢.. . ................ ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ .⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V. sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V..................∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana......

510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.BAB V . Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p. dari persamaan (V.5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V. elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V.5-4) adalah 98 . yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V.5-6).5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V.

….5-11) terhadap eq. akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V.5-11) disubstitusikan ke (V.5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V.hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.11) p = 1.5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.5-11).5.. n-1 Difrensiasi persamaan (V.2. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 .

disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien. Dalam teknik pemrograman.3-1). yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian. Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V. yaitu : 100 . 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson. selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu. yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut.BAB V . daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V.PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus. Setelah harga Δe i dan Δf i didapat. Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan. kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks.5-4). Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2.5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi. V. Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V.5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan.

Epsilon. Base.3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V. maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers.5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V. dP dan dQ 2. V.6-2) 101 .V. Tipe bus.hmymsc MULAI Masukan data : Bus.5-7 . Qq pers.5.5-12 K = K +1 Selesaikan pers.5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2.Jaringan.V. [G].6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V.4 Hitung : 1. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V. V.5-9 Hitung aliran beban pers V. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus]. [B] Hitung : Pp.

n p ≠ s.6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar..5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V....6-2).⎥ = ⎢. persamaan daya dalam persamaan (V.. kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar.. 2. dalam versi ini..⎥ ⎢.⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V.PENGKOM Konjugasi persamaan (V.6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1. p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢.6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 ... diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V. dan dikalikan dengan Vp. . .BAB V .....

sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P . Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. yakni separuh tempat. pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil. P dan sudut tegangan. Q dengan magnitud tegangan |V|.6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V. selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V. hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif. teknik pemrograman yang lebih sederhana. kopling antara komponen P .δ dan Q –|V| secara terpisah.6-7) Bila kita amati. Dengan penguraian ini. 103 . sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V . banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. δ dan antara daya reaktif. Memperhatikan bahwa.δ dan Q – |V| sangat lemah.

][ΔV] 104 (V. . ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal. dapat disederhanakan i. Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V.. maka [ΔP/V ] = [B . lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya. Selanjutnya. Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0.6-9) dengan demikian persamaan (V. ][Δδ] [ΔQ/V] = [B.6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B.6-6) dan (V.. ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B .BAB V .6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V. dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] .. karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian.0 ii. ][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B .PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi.6-10) .. Metoda Fast Decoupled. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV]. maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B . ][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I].

Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled. 1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR.hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging). 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa. Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus. Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan. Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan. yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal. admitansi bocor Trafo 105 .

Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV.BAB V . MULAI Masukan data : Bus. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v.3-5 Yes SELESAI Gambar V-3.PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3. Epsilon. Base.Jaringan. Tipe bus. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 .

Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.06 0.06 + j0.00 + j0.03 0.1 Tabel 1.02 + j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.00 107 .24 0.00 1. Hitung Aliran daya: a.015 j0.00 + j0.00 1.4.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.020 j0. Data pembangkitan dan pembebanan.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.010 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.00 1.00 1.025 Tabel 2.08 + j0.04 + j0. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1. b.18 0.025 j0.06 + j0.06 + j0. c.01 + j0. 1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.08 + j0.020 j0.hmymsc CONTOH 5.00 + j0.060 j0.12 0.18 0. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2.00 + j0.

25000 – j3. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6.06 + j0.0000 – j30.0000 1.06 0.Elemen Diagonal.PENGKOM Penyelesaian A. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas.055000 j0.06 + j0.04 + j0.6950 108 .50000 10.02 + j0.24 Admitansi y pq = 1 z pq 5.75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.BAB V .18 0.03 0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.24 0.0000 1.50000 – j7.12 0.75000 1.25000 – j3.66667 – j5.08 + j0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.18 0.085000 j0. Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.055000 j0.2.0000 1.25000 − j18.3. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0.055000 j0.0000 – j 15. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .08 + j0.66667 – j5. Metoda Gauss – Seidel 1. Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.0000 2.01 + j0. dimana: y pq = 1 .040000 Elemen matrik Admitansi bus.

00000 0.0000 -1.5000 -1.Elemen Off diagonal.0000 = −0.00891 -0.2500 +j3.00427 + j 0.0000 + j15.2500 + j3.6950 -10.6667 +j5.2500 + j3.20) 1 Y22 1 10.7500 0.7500 -2.0000 -2.6667 +j5.64179 3.00370 -0.6667 +j5.2500 +j3.00000 demikian pula dengan elemen lain.20 − j 0.2500 -j18.6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 .4150 -1. Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.6667 +j5.02413 + j 0.0000 .0000 -1.0000 -j30.0000 10.j15.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain. .00698 + j 0.00740 + j0.6950 -1.00740 + j 0.00000 + j 0.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.0000 -10. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.5000 +j7.0000 12.5000 +j7.2500 .4150 = 0.6950 -5.57654 -j4.5000 -1. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.91667 -j38.0000 -1. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.7500 -5.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.00000 + j15.83334 .0000 + j15.0000 12.83334 -j32.j18.00930 -0.80212 + j 0.0000 -j30.7500 -1.91667 -j38.j32. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0.00071 6.

000180 -0.PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0.09690 + j0.000710 -0. tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) .46263 + j0.09690 + j0. dengan mengikuti cara-cara diatas.00290) .12920 + j0.000040 -0.YL 25 V50 = 1.000004 -0.00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.66881 + j0. misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .BAB V .YL 21 V1 − YL 23 V30 . V4 . Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .80212 + j0.80212 + j0.15241 + j0. 5. V5 } .77518 + j0. perhitungan selesai.000360 -0.000710 4.000710 -0.000060 -0.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 .(1.03752 + j0.000720 -0. Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 .80212 + j0. V3 .000120 -0. Pada 110 .33440 + j0.80212 + j0.03752 + j0.052530 + j0.12920 + j0.23131 + j0.77518 + j0.000180 -0.000710 -0. 1 Jika ΔV2 ≤ ε .03752 + j0.000330 -0.000120 -0. namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4.YL 24 V4 . sampai konvergensi tercapai.000 + j0.00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1.15241 + j0.V2 = (1.000) = 0.000360 -0.000330 -0.20053 + j0.000006 -0.

00000+j0.00000+j0.00000 1. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r.00000 1.00000+j0.00000 4 1. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai.00966+j0.Misal untuk cabang 1.00000 1.00000 1.00000 6.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000+j0.01280 1.00000+j0.00000 1.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus.00000 1.05253+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.(P21 − jQ 21 ) Setelah.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.3-5).00000+j0.00000+j0. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.01579+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.02635 1.00000 1.00000 1. sebagai berikut: .00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1. menggunakan persamaan (V.00000+j0.00000+j0.00000 1.00406 1.00000+j0.00000 3 1.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0. 111 . maka. didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 .00000 1.00000 1. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 5 1. Tabel s. * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) .00000+j0. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan. yang menghubungkan bus 1 dan 2. y12 2 y.00000+j0.

50 -24.50 -3.PENGKOM Tabel r.10 -39.2500 -1.6950 -10.8.20 40.20 6.40 6.6667 +j5.0000 + j15.4150 -1.2500 0.20 24.5000 -1.6667 +j5.2500 +j3.90 3. dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.6667 12.2500 + j3. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.91667 -j38.83334 -j32.6950 -1.64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq . Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.5000 -1.6667 +j5.83334 -1.6667 -1.80 7.90 3.2500 -5.6667 +j5.5000 +j7.50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.0000 -1. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).7500 0.80 . maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6.10 -18.0000 -j30.20 18.40 -53.0000 -1.80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129. Metoda Newton Raphson 1.0000 -1.0000 10.0000 -j30.BAB V .0000 12.0000 12.60 -57.70 3.30 12.5000 -1.6950 -5.0000 + j15.5 .91667 -j38.50 -5. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.2500 + j3.90 -5.30 -2.91667 -1.57654 Dan 112 .57654 -j4.80 27.0000 -1.7500 -5.7500 -1.5000 -1.6667 -2.90 54.0000 -10.30 -6.6667 -10.0000 10.j7.2500 -j18.5000 +j7.0000 -1.70 1.7500 -2.00 -27.0000 12.0000 -2.2500 +j3.70 -7.2500 -2.2500 -5.91667 -10.30 -6.

0000 -7.30000 -0.0000 32.40000 -0.6950 -30.0000 -3.512).0.50000 -0.60000 elemen 1.0000 38.5-7) sampai (V.0000 0.37500 -0.0000 -5.7500 -7.7500 -15.5-12).05500 -0.4150 -5. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .5000 .hmymsc 18. Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0.7500 -5.18500 0. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.9850 2 dengan cara yang sama.6950 -15.0.04000 menghitung 0. dengan cara sebagai 113 .00500 -0.06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V.0000 -5.28000 -0.6950 -3.0000 -30.07500 0.13000 0.30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .5000 -3.0000 adalah -0. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V.5-9).3.0000 38.64179 3.5-4) dan (5.98500 -0.7500 4.

1.66667 -2.0000 0. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.980000 demikian pula untuk bus lain. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 .91667 -1.25000 -2.66667 -1.30000 + j0.28000 0.66667 12.00000 -1.2500 3.0000 0.BAB V .0.66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.0000 0.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.6667 -10.4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = .30000 -0.0000 12.50000 0.5000 -1. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.98500 0.07500 0.84167 -10.05500 0.53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = . untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33.53334 -1. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = .00000 -1.5.

00000 -5. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.0000 -3.13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1.00000 -3.7500 0.0000 -7.4000 -5. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .00000 -5.5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .0000 -5.7500 -3.0000 38. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .0000 -5.9750 -30. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.0000 0.0000 -30.6400 -3.5000 -5.000 38.5.hmymsc 33.2500 J1 J3 -5.7500 11.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.4150 -30.000 0.66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.000 0.7500 11.5000 0.4300 -5.0000 -30.7500 -7.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.11.000 38.0000 -7.0000 38.

5.66667 10.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.25000 -3.00000 0.02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.0.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk.0.7500 1.50000 0.99167 10. dengan berbagai metoda.50000 -12.0.BAB V . seperti Gauss-Jordan.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0.25000 2.00000 1.00000 -12.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.PENGKOM J1 -11.66667 1.13334 1.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0. Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.11284 ⎣ ⎦ 116 .99167 1.66667 2.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0.0. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k . Crout dan sebagainya.66667 J2 1.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢.

09747 1.03136 – j0. Pengujian konvergensi.03136-j0.001. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.08922 V4k 1.00094 7.06563 0.hmymsc 6.05505 – j0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.00000 1.09123 1.06000 + j0.01228-j0.05084 1.04629-j0. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8.00000 1.0000 + j0.00000 -0.0000 + j0.40000-j0. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A).01171-j0.03176-j0.00023+j0.00000 1.00103-j0.00006+j0.06000 0.02652 – j0.02244+j0. Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.5000 + j0.09747 1.00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.03586 -0.03857 -0.11284 1.05505-j0.02652-j0. Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.00037 -0.10909 Tabel q.09123 1.03176 – j0. konvergensi tercapai pada iterasi k3.00073-j0.1300 -0.00010-j0.05084 1. dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan.00000 1.37500-j0. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk .03871 0. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .09508 V5k 1.09342-j0. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.0000 + j0.01930-j0.0050 0. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1.00000 1.0000 + j0.05124 V3k 1.02043-j0.6000+j0.

Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.5000 -1.2500 0. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .0000 -30.0000 38. untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .3.6667 12.6950 -30.18 j0. sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4.18 j0. Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0.83334 -1.24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4.0000 10.5000 -3.6667 -10.2500 -1.7500 -7. sedangkan elemen-elemen Matriks B”.7500 -5.91667 -10.0000 -7.5000 -1.3. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”. Sebagai bus penadah dipilih bus 1. dan menentukan elemen matrik G dan B.91667 -1.6950 -15.0000 12.7500 4.0000 38.BAB V .PENGKOM C.0000 -1. sebagai berikut: 6.12 j0.0000 -3.0000 -1.7500 .5000 -15. untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq .0000 -5.06 j0.64179 2.4150 -5.6950 -3.2500 -5.2500 -2.57654 Dan 18.6667 -2.6667 -1.03 j0.24 j0.0000 -5. FDLF 1.2500 -5.0000 32. dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’.

k + 0. sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus. jika tidak lanjutkan kelangkah 5. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p .055000 j0.6-5).5 ΔPpk + 0.055000 j0.5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4. Cholesky. Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda.6-10).5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.040000 3. sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0. 5. sebagai berikut: 119 . Gauss-Jordan dan sebagainya. seperti Crout. Ppk + 0.6-4) dan (V.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0.085000 j0. Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V.055000 j0.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .

Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7. sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus.6-4) dan (V.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus. sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 . dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0. sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V. k + 0.5 p ΔQ k + 0.5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3.6-10).6-5).BAB V . Cholesky. 8. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif. Gauss-Jordan dan sebagainya. jika tidak lanjutkan kelangkah 8. sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. seperti Crout.5 = δ k + Δδ k p p p 6. Q k + 0.

maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.025 j0.020 j0.5 = Vpk + ΔVpk 9.01 + j0.1 dan Tabel s. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem.03 0.015 j0. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.08 + j0. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1.18 0. masing-masing 100 MVA dan 13. sebaliknya proses kembali kelangkah 6. dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana.060 j0. 11.010 j0. 10.08 + j0. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s. Gambar V.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.8 kV. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya.2.06 + j0.24 0. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.12 0.020 j0.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus.1 Tabel 1.06 0.02 + j0.18 0.04 + j0.06 + j0.025 121 .

00 + j0. 4.00 + j0.00 1. Bila Vq = 1. Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.2 pu secara parallel. Dengan menggunakan program yang saudara desain.1 dan X2 = 0.00 + j0.00 1. c).300 pu .866 + j0. Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi.0∠ .06 + j0. Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan.0∠00 pu .00 1. dan Vp = 1. b).5 pu.00 2.0∠00 pu .00 + j0. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0.BAB V . 3. lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5.1. Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1. dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0.PENGKOM Tabel 2. Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang. Tuliskan: a).00 1. Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1. 122 . Dua buah bus p dan q.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB. UNSRI 6 .

.

tipe bus dirubah menjadi bus PQ. dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian. δ. Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. Aliran antar daerah. 143 . 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. yaitu|V|. |V|. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. atau P dan |V| untuk bus pengendali. 3. Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban. Jika dalam proses perhitungan. Misalkan P dan Q untuk bus beban. dan Q. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI. 4. yaitu: 1. P. 2. dan δ untuk bus penadah. maka pada iterasi berikutnya (k+1). Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian. digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya.

yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan.7-2). Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. atau b.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 . 2. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI. sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi. VI. Tetap mempertahankan rumusan dasar. yaitu : a.2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan. Ada dua cara yang dapat ditempuh. 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. karena itu untuk memenuhi persamaan (V.DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut. Menyertakan kriteria tambahan. Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan.

-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1. Dalam prakteknya. J3. Pada metoda Newton Raphson.5.7-1) menggantikan persamaan daya reaktif. maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI. Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2. batasan daya aktif harus diperhatikan.21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0. dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V. daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 .hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama. Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢.2-1). persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V. J2. Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI. q ≠ p 145 .. lihat kembali penyelesaian sebelumnya.

2. Pada kasus ini.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. maka daya reaktif harus ditetapkan. berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. 2. VI. PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik. oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus. bukan pada terminal sumber daya reaktif. q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan.

Prosedur lain yang dapat dipakai. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. 3. VI.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2. Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan. Setelah perhitungan tegangan pada bus q. menggunakan tegangan yang ditetapkan.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Toleransi tegangan sebesar 0. Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p. 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa. yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p.

Pada bus p. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a).3-1) menjadi y pq a2 (VI.DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban. Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b.maka persamaan (VI.3-1) . t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2. Sirkit ekivalen phi (c). Sirkit ekivalen (b). arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI.3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 . Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya.

karena kedua arus harus sama. maka A= y pq a (VI.3-4) dan (VI.3-2).hmymsc Arus pada terminal lainnya. substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI.3-7) 149 .3-6) Dengan cara sama.3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali. maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama. didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI. maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5a).3-3). pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI. maka y pq = A + C (VI. pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI.

..... + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + ..... maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + ......... + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 .3-6) ke persamaan (VI..... dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c......3-2) dan (VI. + 2 + .DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI.3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI. + 1⎛1 ⎞ + . Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q.3-5a)..

admitansi bocor sadapan Transformator..L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1.Q) = Y_BUS(Q.Q) = Y_BUS(Q. JML_TRAFO READ(1. JML_CABANG READ(1.Q) 10 ENDIF IF(K.EQ. untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran.P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q..Q) .Y_CB(I) Y_BUS(Q.A(J) IF(I. + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + . + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu.. dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1.P) = Y_BUS(P. + N_AHR(I)..*)NOMOR_CB(I).Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q.Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3. Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 ..hmymsc ⎛ 1⎞ + ........N_AWL(I)....0.X(I).NE...Q) = Y_BUS(P.P) = Y_BUS(P.X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0.Q) .Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P..NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P.*)(NLINE_TRF(J)..L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1.P) = Y_BUS(P.Q) = Y_BUS(P. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.0)GOTO 20 Y_BUS(P..R(I).P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.P) = Y_BUS(P.0/CMPLX(R(I).

Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya. dengan A = ypq. 3. Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI.3-4).DAFTAR BACAAN VI. diperoleh : 152 . YLpq. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan.3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI. parameter Lp.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya. dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi.01 sudah cukup memuaskan. dan KLpq harus dihitung ulang pula. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut.3-2) dan (VI.

3. 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4. Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI.3-7) dan (VI.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI. Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI.3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4.3-9) 153 .

arus Transformator pada bus q. serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya. diperoleh: 154 .3-11) Dengan cara sama. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI.. dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 . kecuali untuk r......3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI.. didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q. + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI..3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi.DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal. iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs.3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI. admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu.. + i pr + ..

4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi.. + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq. + y qp + . karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|.hmymsc Ypp = y p1 + y p2 . maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI.. + y pr 2 2 a s + bs + .. dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 ...3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya. dengan asumsi 155 . penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem. + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr..... Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem. karena itu. dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI. Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif........ misalkan Vq = 1 pu... jika tanda dari sudut δ positif...

Berikutnya. dengan menggunakan penyelesaian tegangan.DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. Jadi untuk sistem A. Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. 156 . Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan. seperti dalam Gambar VI-5. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan.

518 0.133 0.123 + j0.640 0.0000 0.909 0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI. dengan bus 1 sebagai bus penadah. Pemrograman dan space yang diperlukan.097 + j0.0076 0. CONTOH 6. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan.300 Admitansi ke tanah 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.000 + j0. 4.723 + j1. 2.282 + j0.000 + j0.6.1 Tabel 1.0000 0.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut.080 + j0.370 0. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi. 3.hmymsc VI.050 0. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.0000 0.407 0. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda. mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1.976 157 .0100 0.0070 0. Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi.6.

5 Tegangan V 1.282 + j0.518 0.0000 j0.0000 0.0170 J0.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.642 0.123 + j0.0000 Off-nominal turn ratio 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.440 – j0.Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.407 0.005 j0.097 + j0.05 1.000 + j0.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.5 15 9 25 2.0100 0.080 + j0.050 0.123 + j0. dengan cara sebagai berikut: 158 .0070 0.370 0.0000 0.282 + j0.976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.640 0.000 + j0.000 + j0.5 6.723 + j1.518 0.407 0.909 0.080 + j0.0000 J0.370 0.723 + j1.005 Tabel 2. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.5 10.580 – j1.0076 0.0000 0.0 - Penyelesaian .DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.570 0.133 0.133 0.0146 0.640 0.097 + j0.560 – j2.300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0.0000 0.642 0.050 0.300 Admitansi jaringan 0.000 + j0.438 – j 0.

642 0..hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + ..58 +j1.YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1..58 +j1.YL 46 V6k +1 .84 -0.555 +j2.. + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + .. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .. + 1⎛1 ⎞ + ..31 J8.993 -j7.18 J8....021 -j1.445 +j0..56 +j2..1 + j 0..3 1. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + . + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0.9980 -j4.0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 .0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1...438 +j1.5800 -0..YL 25 V5k − YL 32 V2 .. + ⎛ 1⎞ + .....Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k .025 0...YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 ...3 -0.44 -j8.42 -0... + 2 + .438 +j1...955 -0.84 .0 + j0..34 +j3.....YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 .56 +j2..555 +j2.5800 -0.58 -j4..YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 .YL 34 V4k .31 -0...445 +j0..115 -j14...642 -0...42 0...63 +j3.413 1..05 + j0.0 V1 = 1..585 -0.34 -0.

0000 + j 0.0000 + j 0.187 = ((0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.j8.47 .3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .065)) = 1.0000 + j 0.0000 + j 0.275) − j (0.13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.00000 0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.0.00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = .56 + j2.0000 + j 0.j2.0 − 0.00000 0.00000 0.00000 0.DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.44 .00000 0.58 j8.0 − 0.0000 + j 0.

Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi.7 berikut ini.8307 -13.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27.02 -2.86560 0.0 9. Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.3805 0. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.1 161 . Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.9058 -12.2.5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48.7.hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.5 6.0 2.91840 0.9310 -9.0 25.1 dan Tabel s6. .00000 1.0395 0.05 0.5 0 0 15.3 11..2 23.8511 -13. dengan bus 2 sebagai bus penadah. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.8 25.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1.

976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0. 3.0070 0.5 6.005 Tabel s6. Untuk sistem yang sama seperti soal 1.8 + j0.05 1.DAFTAR BACAAN Tabel s6. 4.282 + j0.000 + j0.0100 0.080 + j0.1.0000 0.000 + j0.300 Admitansi ke tanah 0. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator. dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta.640 0.0076 0.407 0. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0.5 Tegangan V 1.0 + j0. 5.0000 0. Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.1 162 .0. Kerjakan kembali soal ke 3. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.0 - 2. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan.723 + j1.518 0. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban.123 + j0.909 0.1 pu.370 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.2.097 + j0.0000 Off-nominal turn ratio 0.133 0. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar.6 pu pada tegangan V2 = 1.5 15 9 25 2. Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6.0000 0.5 10.050 0.

Ahmed... Singapore 3. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”. Bandung 2. Stagg. DR. “Komputasi Dalam Sistem Tenaga”.1968. “ Computer Techniques in Power System Analysis”.hmymsc DAFTAR BACAAN 1. Yogyakarta 163 . Suprajitno Munadi. and El-Abiad.Graw-Hill. Glenn W. Gibson Sianipar. Mc. Indiana. New Delhi 4. 2000. 1990. Elektro FTI-ITB. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”. A. 1978. jurusan T. Pai. Andi Offset. M.

A(B+C) = AB+BC. Penjumlahan. Hasil perkalian matriks AB = C.SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1. pengurangan dan inverse 3.pengurangan & perkalian matriks 2. aij = aji 4. Penjumlahan. 1. dimana i dan j masing-masing adalah . Determinan ≠ 0 2..A(BC) = ABC = ABC 3. A(B+C) = AB+BC.. pengurangan dan perkalian 3. AT B = BA. Perkalian matriks 5.matriks disebut matrik singular 144 .Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5. pengurangan 4. 1. dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4. Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi. A(BC) = ABC = ABC 3.Bila determinan dari matriks berharga = nol... 1..A 5.Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku. Ada inverse. A(BC) = ABC = ABC 2. A ≠ . Penjumlahan. Penjumlahan. A(B+C) = AB+BC.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3.A(BC) = ABC = ABC 4.A(BC) = ABC = ABC 5. AB = BA. A(B+C) = AB+BC. AT BT = BA. Determinan = 0 3.maka.. ABT = BAT.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2. 1. Matriks singular adalah matriks dengan kondisi. AT A = U 2. A(B+C) = AB+BC. Tidak ada inverse matriks 2. 1..Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4.

Simetris 3. matriks tipe. Skew 4.Menghemat penggunaan memori. Unitary 8.. Hermitian 4.Menghemat penggunaan memori.waktu hitungan tercepat 3..Dapat digunakan untuk matriks simetri. Skew hermitian 5. menghemat memori 6. Tidak ada inverse. Hermitian 5. Dari segi penggunaan memori.. Segitiga bawah 2.. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda..entry matriks terbatas 2. waktu hitungan terbatas 5.. matriks tersebut disebut matriks. Dari segi jumlah hitungan..Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah. 1. Tidak ada inverse.Hanya untuk matriks simetri.matriks disebut matriks adjoin 4. Konjugate 2. Ada inverse matriks 5. Gauss-Jordan 7.waktu hitungan cepat 4.. 1. 1. Gauss-Seidel 4. Gauss-Naif 5.Jumlah hitungan terbatas. matriks disebut tidak linear 5. Crout 2. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya..hmymsc 3. Segitiga atas 145 .. Doolitle 3. Orthogonal 3..memiliki jumlah hitungan terendah 1.

Menunjukkan SPL 146 . Langkah perhitungan pasti 3.. Jumlah kolom 4....... Jumlah maksimum kolom non linear 3.. Berbentuk segitiga atas 2. Jumlah iterasi pasti 3. Berbentuk segitiga 4.. Mencari solusi SPL 3. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk. Jumlah operasi lebih pendek 4. Berdimensi sama 3. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah.SOAL-SOAL 9.. Jumlah baris 5. 1. Menggambarkan garis 2. Jumlah kolom atau baris 10. Jumlah memori tertinggi 5. 1. Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5. Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah.. Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. 1.. Berjumlah kolom genap 5. Jumlah memori terbatas 11. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan. Tingkat konvergensinya lambat 4. Jumlah maksimum kolom bebas linear 2. b. 1.. Jumlah langkah hitungan pasti 2. 1. Memiliki diagonal > 1 13. Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12.

memperbesar koefisien persamaan. sistem berkondisi buruk 16. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3. 1. scalling. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2.. dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda. 1 Memperbanyak angka bena. karena... dan rounding 17. sistem berkondisi buruk 3... system berkondisi buruk 4. Perambatan galat. angka bena terbatas. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4.. Galat pembulatan. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah. Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah. pembagian dengan nol.hmymsc 4. pembagian dengan nol. Memvisualisasikan sifat persamaan 5. Galat pembulatan. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena. Angka bena terbatas. Mencari dan mengambarkan garis 14.. sistem berkondisi buruk 2. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2.. 1. pembagian dengan nol.. pivoting. pembagian dengan nol. Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . Metoda Gauss lebih sederhana 15. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3. Galat pembulatan. 1.meningkatkan harga epsilon... meningkatkan harga harga epsilon. Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah.. angka bena terbatas 5.

Doolitle 3.. Cholesky 4. Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A. 1. 1.. Doolitle 5. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara.. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda. Gauss-Jordan 21. Crout 2. Eliminasi Gauss 4. Gauss Jordan 3. Cholesky 4. Gauss-Seidel 5.... menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda.. Iterasi Gauss-Seidel 4. Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18...... 148 . 1. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah. Cholesky 5.. 1.SOAL-SOAL 5. Gauss-Seidel 5. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda.. Crout 2. Gauss Naif dengan pivoting 3. Gauss-Seidel 2.. Gauss-Jordan 20. Crout 22. Doolitle 3. Crout 19. Cholesky 2.

matrik jarang dan metoda iterasi 5.pivoting dan presisi diperketat 2. Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya. sublink 149 . Strategi pivoting. Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. 1. Arus loop dan tegangan loop 4.. Elemen matriks jaringan akan berupa. Elemen dan node 5. node. Strategi pivoting. 1. adalah kerangka. Tegangan dan arus 3. Admitansi 4.. Strategi scalling. terdiri dari. Admitansi dan elemen shunt 24.matrik jarang dan scalling 3. Admitansi atau impedansi 2. Loop dan bus 2. 1. elemen 3. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. lingk. cabang 2.scalling dan matrik jarang 4. Subgraph. Impedansi 5... Strategi pivoting. Jaringan primitif 2... Elemen dan cabang 26.. Elemen.. Simpul dan node 4. 1.matrik jarang dan presisi diperketat 23.hmymsc 1... Insidensi 3. Arus bus dan tegangan bus 5. Strategi scalling. Tree. graph 25. Loop atau bus 3. cotree.

yaitu.. Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3.Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3..Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5. Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara. cabang. Simpul.. 1. 1. yaitu..SOAL-SOAL 4. Reduksi matriks 5. Tidak membutuhkan augmented matrik 31. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah. Pembalikan matrik 2. Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2.. tree 27. Transformasi non linear dan secara langsung 2.. Faktorisasi matriks 4. Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan. Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5.. 1.Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4. bus. Simpul.. 150 . Augmented matriks 30.. yaitu... Tidak membutuhkan reduksi matrik 5.Penghapusan bus sekaligus memerlukan. Perkalian matriks 3. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4.. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus. 1.. Transformasi singular dan secara langsung 28. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. Transforamsi non linear dan singular 3.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29. Tidak membutuhkan perkalian matrik 2. dan link 5.

. Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda. 1.. Terdapat sumber daya reaktif 2. Susut daya reaktif dibebankan 2. Susut transmisi dibebankan 4.. Newton Raphson 151 .besaran yang diketahui adalah. 1. Bus PQ.. Terdapat sumber tegangan 3.. Magnitud egangan dan daya aktif 3. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2. Bus PV. bus Beban dan bus berayun 32. Terdapat beban 5. Langsung 4. Susut daya aktif dibebankan 3.. Daya aktif dan sudut fasa 4. Langsung dan iterasi 3. bus PQ dan bus kendali 5. Terdapat pembangkit 4. Susut daya dikurangi 34. Bus PQ... bus kendali dan swing bus 3. 1. bus PV dan bus berayun 2.. 1... Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus. Daya apembangkitan dan daya beban 5. Susut daya dibangkitkan 5. bus penadah dan bus berayun 4. Gauss-Seidel 5.. Bus PQ.hmymsc 1. Bus PV. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini. Dalam bus PQ atau bus beban. Iterasi 2. Daya aktif dan daya reaktif 33. Terdapat beban dan pembangkit 35..

delta P dan delta V 4. Himpunan persamaan daya reaktif 4.SOAL-SOAL 36. Newton Raphson 5.. delta P dan delta I 39. Himpunan persamaan daya aktif 3. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38.... Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan . Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan . semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan... 1. Newton 152 .. Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda. 1. Himpunan persamaan arus 37. delta P dan delta Q 2... Gauss 3.. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2. Gauss-Seidel 4.. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan .. Himpunan persamaan tegangan 2. delta Q dan delta V 5. delta V dan delta I 3. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5. Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4..... Himpunan persamaan daya 5. FDLF 2... Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3. 1... 1...

1. Terdapat data jaringan 5.. Admitansi shunt jaringan 3. Gauss-Seidel 3.. 1. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda... Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja. Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari. Data bus dan data jaringan 153 .hmymsc 40.. Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda... Gauss 5. Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3. Newton 3. Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena... Admitansi bocor hantaran 4.. Gauss 5. Newton Rapshon 4.. FDLF 43. yaitu... Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2. 1.. Gauss-Seidel 4. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2... Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2. Admitansi bocor trafo 5.. 1.. 42..... FDLF 2. Newton Raphson 2. 1.. Susceptansi dari reaktansi transformator 41. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4. Semua metoda 44.

Hermitian 5.. N READ(1.. Data bus dan data tegangan 4. Pada bus terdapat bank kapasitor 5. N DO 10 J = I.I) CONTINUE DO 20 I = 1..I) CONTINUE DO 20 I = 1. Data jaringan dan data beban 45. Data tegangan dan impedansi 3. maka matriks A tersebut disebut matriks. 10 DO 20 I = 1. Skew simetri 2. N DO 10 J = 1. 1..*)A(J. 20 10 3.. N DO 10 J = I.*)A(J. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46. N READ(1. N READ(1. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4.*)A(J. Orthogonal 3. Data beban dan pembangkitan 5. Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose.. Memiliki sumber daya reaktif 3. 1.. 1..1) 154 . Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah. Skew hermitian 47.SOAL-SOAL 2. Skew 4. 10 20 2.

J) 10 20 30 2.J) = 0 DO 10 K = 1.J) 10 20 30 3.J) = C(I. 1. N READ(1. 10 20 5.*)A(J.. N DO 10 J = I. L DO 20 J = 1.. CONTINUE DO 30 I = 1.J) + A(I.K)*B(K.K)*B(K.J) + A(I.hmymsc 20 4.1) CONTINUE 48. M DO 20 J = 1. N C(I.J) = C(I. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut. M DO 20 J = 1. DO 30 I = 1. N C(I. 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1. N DO 10 J = 1. CONTINUE DO 30 I = 1. L C(I.J) CONTINUE DO 20 I = 1.J) = 0 DO 10 K = 1.*)A(1. L C(I.. M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 . N READ(1.

J) = 0 DO 10 K = 1.J) = 0 DO 10 K = 1..K)*B(K.memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama.K)*B(K.. M C(I.K)*B(K. Gauss-Jordan 5.J) + A(I. Inverse matriks simetri dengan metoda. M C(I.J) 10 20 30 5. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi. N C(I.J) + A(I.. LLTrans 156 . N DO 20 J = 1. 1. M DO 20 J = 1. N C(I.J) = 0 DO 10 K = 1. Doolitle 4. 1.J) + A(I. Cholesky 2.J) = C(I.J) = C(I.J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49. L C(I.J) 10 20 30 4.SOAL-SOAL C(I. CONTINUE DO 30 I = 1.J) = C(I. Gauss-Seidel 50.. Crout 3.. CONTINUE DO 30 I = 1.

Dalam solusi SPL.. Gauss dengan pivoting 53. LTrans UTrans 51. (Jumlah bus . Non-singular 5.slack bus .. (jumlah bus.jumlah pv bus) 157 . 1. Gauss 5. LU 3.. apabila koefisien persamaan memebentuk matriks……………. Singular 4. Newton 5. LDU 5. 1. Gauss-Jordan 2. Diagonal 52..hmymsc 2. Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel. UTrans LTrans 4. Gauss-Seidel 4. Non simetri 3. Gauss-Seidel 4. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda. Newton Raphson 54. Gauss 3. Gauss-Naiff 3. Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda.jumlah slack bus) 2. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1... FDLF 2. 1. Simetri 2.

.Vq) ypq + Vq y'pq 4. maka. Konvergensi tidak akan tercapai 58. operasi. 1. maka arus pada cabang tersebut adalah..SOAL-SOAL 3.. Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3. dan kendali STL 2. ipq = (Vp . Operasi dan kendali 4. ipq = (Vp . 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan. 10 4.. 1. ipq = (Vp .. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4. Perencanaan dan kendali 3. (Jumlah bus 4. Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat. 11 3. 1. 2 x (jumlah bus .Vq) ypq ' 5. Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq.Vq) ypq + Vp y'pq 2.. 12 5. Perencanaan.. 9 2. 1. Iterasi yang diperlukan membesar 5.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 . 2 x Jumlah bus 5. ipq = (Vp .Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak.. Perencanaan dan operasi 5. ipq = (Vp . Perhitungan aliran daya 57.slack bus) 55... Kecepatan konvergensi meningkat 2.

.. 1. Faktor kelipatan 4.. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63. 2 x lebih cepat 4. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks.. Gauss 2. Decoupled 62.. Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel. Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda. FDLF 4... Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. Bilangan akselerasi 5. Faktor akselerasi 60.. 8 x lebih lambat 61. Membutuhkan data jaringan 5. 8 x lebih cepat 2. bilangan ini dikenal dengan sebutan... metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi.. 1.... 1. Bilangan pembanding 2. 1. Akselerator number 3. 159 .2.. Newton Raphson 5. Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 .hmymsc 59. 4 x lebih lambat 5. yaitu. Gauss-Seidel 3. 4 x lebih cepat 3. Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah.. Memerlukan pembalikan matriks 3.. Memerlukan perkalian matriks 4.. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan...

SOAL-SOAL 1. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. IF(DELTA_V. IF(DELTA_P.GT. Akurasi yang lebih baik 4. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut. Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64..EPSILON)GOTO 340 3...EPSILON)GOTO 340 2. 1... Pengendalian daya aktif 2... IF(DELTA_V.LE. Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2. Pengendalian frekuensi 3.. Pengendalian daya beban 66.GT.. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2... Pengendalian rugi-rugi 5...EPSILON)GOTO 340 5.. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah. Ypq = -ypq(1-1/a 160 . maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi.EPSILON)GOTO 340 65.LE.GE. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4. Solusi yang lebih cepat 3. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5. IF(DELTA_V... 1. 1. IF(DELTA_P. Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4. Ypq = -ypq/a 2. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3.. 1. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q.EPSILON)GOTO 340 4..

.J = 1. 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69. 60 4. Ypq = ypq(1-1/a 5. Ypq = -ypq 68.. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.IMIN..*)(A(I.ISEC..ISEC..IMIN. CALL TIME (IHR.I100TH.J = 1.I100TH. Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah. 1.IMIN.. N DO 60 I = 1. M DO 60 I = 1.IMIN.J)...ISEC. 1. DO 60 I = 1.IMIN.*)(A(I. Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam.I1000TH 2.I1000TH) 3..J = 1.. CALL GETTIM (IHR.I1000TH) 5...M READ(*..I100TH..M 161 . 60 2.I100TH.M READ(1..J)..I1000TH) 4.hmymsc 3. Ypq = ypq/a 4.ISEC... READ GETTIM (IHR.. N DO 60 I = 1.ISEC.*)(A(I. CALL SETTIME (IHR.I1000TH) 70.I100TH.J). READ TIME (IHR. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.M READ(1. 60 3.

10.. 2..J = 1. 3 5. 3. 6. 4. 8.3 5. 2.12 2.SOAL-SOAL 60 5. dimana susunan data dalam file adalah 162 ..10)(A(I. 3. 60 READ(*.J)..*)(A(I. 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4.4.10.6...M READ(1. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu. Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut.J). 5. 10. 9. 8 9. 1.8 9. N 71. M DO 60 I = 1. 4.J = 1.12 5. 6. 2.

A) CALL PRINT_MAT(M. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.N.hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.M.J).30) WRITE(*.$) FORMAT(6X. N) CLOSE(1) RETURN END 163 . 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X.M.10) READ(*.20)NAMA_FILE_IN WRITE(*.50) READ(*.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X.M 60 READ(1.A) DIMENSION A(M.N.J = 1.*)(A(I. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.*)M WRITE(*.'JUMLAH KOLOM : '.'JUMLAH BARIS : '.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1.40) READ(*.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.N.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*. FILE = NAMA_FILE_IN.

2 -3 . 2. 3. 4.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2. 14.J).$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X. matriks 4 x 4 (MAT44) 2. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 5.A) DIMENSION A(M. 2. 5.90) READ(*. 4.F10.80)(A(I.N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.N. 6.M WRITE(2. 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 . STATUS = 'NEW') WRITE(2.N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X.110) DO 70 I = 1. FILE = NAMA_FILE_OUT.5)) FORMAT(3X.J =1. 3. 5.

*)M WRITE(*. M 70 80 c c c IF((M.10) 10 FORMAT(3X.*)N WRITE(*.EQ.L))THEN DO 100 I = 1.$) READ(*.30) FORMAT(3X.C WRITE(*.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.60) c c c 60 FORMAT(3X.40) READ(*.100). FILE = BACA_MAT.100) CHARACTER BACA_MAT*15.$) READ(*.$) READ(*.50) 50 FORMAT(3X.*)(A(I.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*.*)K WRITE(*. J = 1.100).EQ.100).20) 20 30 FORMAT(3X.J). SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 .'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.B(100.'JUMLAH KOLOM : '.hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.30) READ(*.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.C(100. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.AND.J).HASIL_MAT*15 REAL A.190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1. N) DO 80 I = 1.B.40) 40 FORMAT(3X.'JUMLAH BARIS : '.K).E(100.J = 1.*)(B(I.100).(N.*)L WRITE(*.D(100. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS. K READ(1.

(N. M DO 150 J = 1. N 140 150 160 E(I.0 DO 140 IK = 1. N D(I.170) 170 c FORMAT(3X.L))THEN DO 130 I = 1.IK)*B(IK.EQ. M DO 120 J = 1. N C(I.J) = 0.K)THEN DO 160 I = 1.$) READ(*.J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.110) 110 c c c IF((M.PROGRAM DO 90 J = 1.J) + B(I. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS.110) ENDIF c c c IF(N.J) + A(I.180) 180 190 FORMAT(3X.J) = A(I. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X.B(I.J) = E(I.EQ.EQ. 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*.J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.AND.K).J) . 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 . L E(I.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN.J) = A(I.

3)) WRITE(2. N) FORMAT(4(2X. 2.J).F8. M WRITE(2. 2.3)) WRITE(2.330) 330 340 FORMAT(/2X. 3. M WRITE(2.230) WRITE(2.230) FORMAT(/2X) WRITE(2.320)(D(I.F8. 'MATRIKS B(K.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1.J).320)(E(I.290)(C(I.J = 1.240) 240 FORMAT(/2X. K WRITE(2.J = 1.220)(A(I. L) STOP END Susunan File data.J). FILE = HASIL_MAT. 6. 4. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1. 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1. 'MATRIKS A(M.230) WRITE(2. 3. 3.230) WRITE(2. 6.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1. matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1.J = 1. 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1. 5 6 8 1 6 5 167 .J). L) FORMAT(4(2X.J).hmymsc OPEN(UNIT=2. L) FORMAT(4(2X. N) FORMAT(4(2X. STATUS = 'NEW') WRITE(2.F8. 7.3)) WRITE(2.300) 300 310 320 FORMAT(/2X.3)) WRITE(2.260)(B(I.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X.270) 270 280 290 FORMAT(/2X.J = 1.F8. K 250 260 WRITE(2. 2. 7. M WRITE(2. J = 1.

100).20) FORMAT(3X.100).90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.L(100.10) 10 20 30 c c c WRITE(*. + INVL(100.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.J). J = 1. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.JMLH.100).$) READ(*.'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '. N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X.60) 60 FORMAT(3X.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*.AGJ(100.100).ACY WRITE(*.ACY(100.100) CHARACTER BACA_MAT*15.*)N 168 .HASIL_MAT*15 REAL A. N 70 c READ(1.TL.100).INVL. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.100).30) FORMAT(3X.$) READ(*.AGJ.INVTL(100.INVTL.PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '. FILE = BACA_MAT.L.TL(100.*)(A(I.

EQ.J) = A(I.J = 1. N IF(I.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1.$) READ(*.I) 169 .J+N) = 1.IP) DO 150 J = IP.IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I. N WRITE(2. N DO 130 J = 1. FILE = HASIL_MAT.EQ.J)THEN A(I. 2*N AGJ(I.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1.J).IP)/AGJ(IP.F8. STATUS = 'NEW') WRITE(2.J) = AGJ(I. N DO 140 J = 1.120)(A(I. 'MATRIKS AWAL A(N. N) FORMAT(8(2X.J) + OP * AGJ(IP. N IF(I.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.N) ADALAH : ') DO 110 I = 1. N DO 160 I = 1.80) 80 90 FORMAT(3X.J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1. 2*N AGJ(I. N OP = AGJ(I.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*.

230)(ACY(I. J = 1.F8.259) DO 258 I = 1. N L(I.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1.J = 1.J).0 DO 255 K = 1. N WRITE(2.J) = AGJ(I. J = 1. N ACY(I.J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2. 2*N AGJ(I.3)) WRITE(2.240) 240 250 FORMAT(/2X. N ACY(I. N DO 200 J = 1. N WRITE(2.230)(L(I.K)*L(K. 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1.J) = AGJ(I.PROGRAM DO 180 J = 1.J) + A(I. N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1. N 258 259 WRITE(2.J) = ACY(I.230)(AGJ(I.210) FORMAT(/2X.205) FORMAT(/2X) WRITE(2.J+N). N) FORMAT(/2X. 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 . N DO 256 J = 1. 'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1.J). N) FORMAT(8(2X.J) = 0.

0 DO 290 J = 1.A(J.I)-JMLH)/A(I. J = 1.J) A(K.K) = SQRT((A(K. N IF(A(I.GT. N DO 260 J = 1. N 265 c c WRITE(2. N DO 310 J = 1. N L(I.J).K) .J) = A(J.230)(A(I.J)*A(K.J).JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1.hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1. N DO 280 I = 1.NE.0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1.J) * A(K.I) JMLH = 0.J) 321 CONTINUE 171 . N DO 321 J = 1.I) = (A(K.J) = 0.J) = A(I. K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K.I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1.0 DO 270 J = 1.K-1 JMLH = 0. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I.I)THEN A(I.I) DO 260 I = 1.J) A(K. N IF(J.

N 385 389 WRITE(2. N) FORMAT(/2X. N WRITE(2.J) = ACY(I.0/L(I.3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1.K)*INVL(K. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 . N ACY(I.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH.340)(L(I. N 381 382 WRITE(2.F8.230)(ACY(I.J) INVL(I.I) DO 380 I = 2. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1. INVL WRITE(2. N DO 370 J = 1.0 DO 360 K = 1.J). I-1 JMLH = 0.J) = INVL(I. J = 1.325) 325 330 340 c FORMAT(/2X. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH .J) + L(I.PROGRAM WRITE(2. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L .J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. J = 1. N ACY(I. N) FORMAT(/2X.389) DO 385 I = 1.I) = 1.0 DO 386 K = 1.INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1. N) FORMAT(8(1X.230)(INVL(I.K)*INVL(K. N DO 387 J = 1.J). N 350 INVL(I.J).L(I. J = 1.J) = 0.382) DO 381 I = 1.

I) JMLH = JMLH .J) INVTL(I. N) FORMAT(8(1X.TL(I.F8.J) = JMLH/TL(I.I) = 1.TL(I.0/TL(I.I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1.J). J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1.430)(TL(I. N JMLH = 0 DO 490 K = 2.hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1.I) DO 460 I = 1.J)/TL(I.I) = L(I.J) INVTL(I.N 420 430 WRITE(2.K)*INVTL(K.K)*INVTL(K.410) 410 FORMAT(/2X. N 440 INVTL(I.J = 1.J) = -TL(I. N-2 DO 470 J = I+2. J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH . N-1 J = I+1 INVTL(I. N TL(J. N JMLH = 0 DO 465 K = 2. N DO 390 J = 1.3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1. N-3 DO 500 J = I+3.I) 173 .J) = JMLH/TL(I.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2. 'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1.J)*INVTL(J.

J) + TL(I.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.3)) FORMAT(/2X. J = 1.890) FORMAT(2X. N DO 590 J = 1.J).J) = 0.J). 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1.PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1.F8. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.620)(ACY(I. N ACY(I.J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2. N) FORMAT(8(1X.0 DO 520 K = 1.K)*INVL(K. N ACY(I. J = 1.K)*INVTL(K.J) = 0. N ACY(I.F8.J) + INVTL(I.0 DO 580 K = 1.630) DO 610 I = 1. N ACY(I. N DO 530 J = 1.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 .J) = ACY(I. N 560 570 c WRITE(2.550) 550 FORMAT(/2X. N) FORMAT(8(1X. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.570)(ACY(I.J) = ACY(I.

hmymsc END Susunan File data.SELISIH WRITE(*.$) 175 . 0.$) READ(*.*)N WRITE(*. -1.C(100).'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th.C. -1.HASIL_MAT*15 double precision A.20) 20 FORMAT(3X.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. 4. -1. 0.GALAT.EPS.30) 30 FORMAT(3X. -1.XBARU. -1. 0. matriks 4 x 4 (MAT4S) 4. 4. -1.100).X(100) CHARACTER BACA_MAT*15.X.

LE.70) FORMAT(3X.$) Prosedur Pivoting 176 .*)(A(I. N L=K DO 100 I = K+1.PROGRAM READ(*.K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L.J)= DUMMY X(I) = 0. N 50 READ(1. FILE = BACA_MAT.J) A(L.J) A(K. J = 1.0 : '.J)= A(K. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1.*)(C(I).GT.80) 80 FORMAT(3X. N) READ(1.*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L.NE.K)). 'BATAS ITERASI READ(*.40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1. N DUMMY = A(L.J). 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*. N 90 c c DO 120 K = 1.60) 60 70 FORMAT(3X.*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1. 'BATAS KETELITIAN : '.00000001))THEN WRITE(*.$) READ(*. N) CLOSE(1) WRITE(*.K)THEN DO 110 J = K.ABS(A(L.K)).(0. N IF(ABS(A(I.I = 1.*)EPS WRITE(*.

X(I))/XBARU) IF(GALAT.180) FORMAT(1X.LT. 'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.I)THEN XBARU = XBARU .A(I.$) READ(*. N IF(J. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 .SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT. M GALAT = 0.LT.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1.EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*. FILE = HASIL_MAT.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I.I) SELISIH = ABS((XBARU .160) FORMAT(/2X.190) 190 FORMAT(3X.NE.0 DO 140 I = 1.40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. STATUS = 'NEW') WRITE(*. N XBARU = C(I) DO 130 J = 1.

5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3.200) 200 FORMAT(/2X.40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th. -0. 0. 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2.85. -19.PROGRAM WRITE(2. -0.3 10 71. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 . 0.1. I = 1.F10. 7.210)(X(I).3. -0. 7.2 -0.2.1. N) 210 250 FORMAT(8(2X.30.

LCHARGING(100).Q_GENERATE(100).P(100).Y_BUS.100).V_SPECT(100).V_MAGNITUD(100).V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.RATIOTRF(100).BAWLTRFO(100) .Q_LOAD(100) .NOKPSITOR(100).BUS_AKHIR(100). INTEGER SWITCH.Y_CHARGING(100).BUS_AWAL. + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).KLP.BUS_AKHIR.DX.NFILE_IN 179 .YLP(100.NOMORBUS(100) EI.BAWLTRFO.REAKTANSI.P_LOAD(50 ).EN(100).KLP(100).MAGE.Q_MAKS(10).P_GENERATE(50).BAHRTRFO(100).NOTRAFO(100).hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).TIPEBUS(100).S ALPHA.Q(100 ).Q_MIN(10).YLP.100).Y_BUS(100.BUS_AWAL(100).E(100).EII.TAHANAN.EPSILON.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.SUM.V_SUDUT(100).SR.R.Y_CABANG(100).SUSCEPTAN(10 0).LCHARGING.TAHANAN(100).

V_SPECT(I).V_MAGNITUD(I).I1000TH OPEN(UNIT = 1.BUS_AKHIR(I). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.IMIN.70)IHR.TIPEBUS(I) READ(1. JMLTRAFO 50 READ(1.*)NOMORBUS(I).1H:I2. JMCABANG 30 + READ(1.RATIOTRF(I) READ(1.JMCABANG.I2.*) DO 60 I = 1.I100TH.I1000TH) WRITE(*.1H:I2.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.I100TH.V_SUDUT(I).*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.ISEC.2.I1000TH) WRITE(*.*)NOTRAFO(I).Q_LOAD(I).*)NOKPSITOR(I).PROGRAM WRITE(*.ISEC.BAWLTRFO(I).10) 10 20 FORMAT(3X.JMLKSTOR.*) DO 40 I = 1.EPSILON READ(1.BUS_AWAL(I). + ALPHA.IMIN.*) DO 50 I = 1.70)IHR.2.*)NOCABANG(I).1H:I2.2.2) READ(1.BAHRTRFO(I).Q_MAKS(I). STATUS = 'OLD') READ(1.LCHARGING(I) 180 .20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.I100TH.*) READ(1. JMLHBUS 40 + + READ(1.ISEC.JMLTRAFO.JMLHBUS.IMIN.2.TAHANAN(I).IMIN. Q_MIN(I).1H:I2.JMLPVBUS.P_GENERATE(I). FILE = NFILE_IN.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR.ISEC.I100TH.P_LOAD(I). Q_GENERATE(I).*) DO 30 I = 1.*)MVADASAR. JMLKSTOR 60 READ(1.$) READ(*. REAKTANSI(I).

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

/. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2.I4.336)I.//T6.I3.I1000TH WRITE(2.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.5)) DO 370 I = 1. JMLHBUS DO 334 J = 1.1)K = I DO 360 I = 1. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I)).2X./) 332 FORMAT(10(1X.I100TH. 'PARAMETER BUS : '.IMIN.2F10. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I).2F10./.REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 .0) CALL GETTIM (IHR. JMLHBUS WRITE(2.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.I1000TH) WRITE(2.ISEC.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' . ' ITERATION'.ISEC.) DO 335 I = 1.70)IHR.'-'.) DO 337 I = 1.YLP(I.J) CONTINUE FORMAT(2X.I3.0.0.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.J. 'PARAMETER JARINGAN : '.332)KLP(I) WRITE(2.IMIN.5) DO 350 I = 1.333) 333 FORMAT(2X.EQ.I100TH.331) 331 337 FORMAT(2X.

385) 385 FORMAT(' './/T6.MAGE.0.F9.0.0) WRITE(2.5. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).395)NOCABANG(I).Q(I) 375 FORMAT(' '.Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.E(I).6X.F10.S*MVADASAR 390 WRITE(2.'DAYA PADA BUS BERAYUN '.5.5. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .5.F9.1X.//T6.F9.5.NP.2X.1X.R*MVADASAR 395 FORMAT(' '.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.F10.I2.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.P(I).395)NOCABANG(I).F9.'MVAR') : '.'MW 186 .4.4.5X.1X.F7.NP.5) SUM = CMPLX(0.405)SR 405 + FORMAT(' '.407)P(I)*MVADASAR.F9.//T6.'MW '.R) WRITE(2.2F8.EQ.1X.3I5.5) WRITE(2.1)THEN WRITE(2.6X./) DO 390 I = 1.NQ.375)I.DELT*57.F10.6X.PROGRAM 370 WRITE(2.F10.29578.NQ.'MVAR') DO 406 I = 1.5.5.1X.

JMLHBUS. 10.025 NOCABANG.0 . 0.0 . 0.0 . . .0 . . 0.0 .0 . .0 .24 0. 0 . .00 .VSPECT.06 0.00 0.0. 0. 0.TAHANAN.TIPEBUS 1 .0 .00 1. . 0. 5. .06 1.00 . . . .BUS_AKHIR.BUS_AWAL. 0.0 . NOTRAFOR. . 0.02 0. RATIO(a) NOKAPASITOR. 0. 60. .005 . .0 . . . .ADMITANSI TANAH .REAKTANSI.025 0.06 0. .0 .0.VSUDUT. . 0 . 0.24 . . 0.QGENERATE. .EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 . .00 30. 45.000001 0. 0. 0.0 .4 .DAT) MVADASAR. 0.00 .00 . 0.0 . .0 .00 . .0. .QMAKS. 0. 15. 0 0 1.PLOAD. 10.01 . 0.0 . 0.00 0.PGENERATE. 40.00 1. 0.0 . .020 0.0 .12 0. 1 3 3 3 3 0.JMPVBUS.08 NOBUS. 3 . 0. 1. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 . .03 0.00 .015 0. .020 0. SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th.04 0.0 . 0.06 0. .00 . 0.18 0. 4 .010 0. .0 . 7 2 3 3 4 5 4 5 . .0 .0 .JMLKAPTOR.18 0. .0 . 0. . 0. 0. .08 0. QMIN.00 1. 0. . 40. 0. .030 0. 0 0.0 . . .JMCABANG.VMAGNITUD. 0 . 0. 20.hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL.JMTRAFO.QLOAD. 5 1 1 2 2 2 3 4 . .0 .0.0 . 0. 5 .0.00 0. 2 . . . . 0.ALPHA.

Q(50 ).PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).P_LOAD(50 ).P(50).Q_LOAD(50) 188 .BAWLTRFO(50) .NOTRAFO(50).V_SPECT(50). + + + + + REAKTANSI(50).BUS_AKHIR(50).LCHARGING(50).50).V_SUDUT(50).V_MAGNITUD(50).Y_CABANG(50).P_GENERATE(50).Q_MAKS(10).NOKPSITOR(50).SUSCEPTAN(5 0).Q_MIN(10).Y_BUS(50.TAHANAN(50).RATIOTRF(50).BAHRTRFO(50).BUS_AWAL(50).

BAHRTRFO(I).*)MVADASAR.ARUS_BUS. JACOB_3(100.TEGAN_P.DAYA_P.JACOB_4(100.R.Q_LOAD(I).I1000TH OPEN(UNIT = 1.DELTA_Q(50).Y_CHARGING(50).NFILE_IN 189 .$) READ(*. XPV(50).EPSILON READ(1.100).IMIN.V_SUDUT(I).V_MAGNITUD.NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).BUS_AWAL(I).EPSILON.MAGE.JMLTRAFO.100).70)IHR.BUS_AWAL.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT. REAKTANSI(I). Q_GENERATE(I).V_SPECT.50).DELTA_MAG(50).JACOB_2(50. 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.I100TH.TAHANAN(I).TIPEBUS(I) READ(1.LCHARGING.P_HITUNG(50).SR ALPHA. JMLKSTOR 60 READ(1.SUM.V_SUDUT.JMLH_2.DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG.D_ARUS(50).ISEC.Q_GENERATE(50).50).Y_BUS.C_ARUS(50). JMLHBUS 40 + + READ(1.IMIN.TAHANAN. JMCABANG 30 + READ(1.P_LOAD(I).RATIOTRF(I) READ(1.REAKTANSI. JMLTRAFO 50 READ(1.100).P_GENERATE(I).*) DO 30 I = 1.10) 10 20 FORMAT(3X.A_JACOBI(100.SUSCEPTAN(I) READ(1.*)NOTRAFO(I).I100TH. STATUS = 'OLD') READ(1.BUS_AKHIR.*)NOCABANG(I).JMLPVBUS.S.BUS_AKHIR(I).JMLH_1.I1000TH) WRITE(*.Q_HITUNG(50).B_JA COBI(100).V_SPECT(I).BAWLTRFO(I). G_KONDUK(100.B_SUSCEP(100.ISEC.Q_MAKS(I).JMLHBUS. FILE = NFILE_IN.*) DO 40 I = 1.*) DO 50 I = 1.V_MAGNITUD(I).TIPEBUS(100). Q_MIN(I).DELTA_P(50).*) READ(1.DELTA_PMAK.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.DELTA_ SUDUT(50).*)NOKPSITOR(I).hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*.*)NOMORBUS(I). + ALPHA.100).JMLKSTOR. INTEGER SWITCH.LCHARGING(I) .JMCABANG.BAWLTRFO.100). JACOB_1(50.*) DO 60 I = 1.

2) 190 .1H:I2.NP) = Y_BUS(NP.I).NN) = Y_BUS(NK.I) = Y_BUS(I.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.00/CMPLX(TAHANAN(I).PROGRAM CALL GETTIM (IHR.I100TH.NQ) = Y_BUS(NP.J) = REAL(Y_BUS(I.I100TH.NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.EQ.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN. JMLHBUS DO 100 J = 1. JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1.2.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ.2.00.IMIN.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK.J)) = CMPLX(0.SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.NK) = Y_BUS(NK.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1.CMPLX(0.00.1H:I2.I2. JMLHBUS G_KONDUK(I.ISEC.NN) = Y_BUS(NN.NP) = Y_BUS(NP.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN.ISEC.70)IHR.I1000TH) WRITE(*.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP. JMLKSTOR IF(I.1H:I2.NQ) = Y_BUS(NQ.1H:I2.NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.NK) = Y_BUS(NK.2.EQ.IMIN. JMLTRAFO IF(I.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.2. JMLHBUS DO 110 J = 1.

BUS_AWAL(I)./.4.F8.F8. JMLHBUS.4. + ALPHA.3X.F8.JMLHBUS. EPSILON') WRITE(2.4X.120) 120 FORMAT(3X.J) = -AIMAG(Y_BUS(I. 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '.JMLKSTOR.4X.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1.F8. 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '.SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X.TAHANAN(I).I5.J)) 191 .F6. 3(2X.' -'.180) FORMAT(2X.BAWLTRFO(I).TIPEBUS(I) FORMAT(I4.5X.F8. + REAKTANSI(I).6X. Q_MAKS(I). JMCABANG 160 170 180 WRITE(2.260)NOKPSITOR(I).2X.I5).RATIOTRF(I) FORMAT(2X.I4.3X. +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1.I4) WRITE(2.F5.3(2X. 'MVADASAR. JMLKSTOR 250 WRITE(2.5X.JMCABANG.150) FORMAT(12X.1X.I4).4.I3.F8.F10.4.4.Q_MIN(I).210) FORMAT(2X.240) FORMAT(2X. JMCABANG.V_SUDUT(I).3. JMLTRAFO. 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '.130) 130 FORMAT(2X.JMLKS +TOR.' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1.JMLTRAFO.3X.230)NOTRAFO(I).2) WRITE(2. STATUS = 'NEW') WRITE(2.(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).170)NOCABANG(I). 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '.140)MVADASAR.2X.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*. 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '.F8./.2X./.V_SPECT(I). ALPHA.4). EPSILON 140 150 FORMAT(3X.(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I))./.200)NOMORBUS(I).F8.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2.I3.LCHARGING(I) FORMAT(I5.2) B_SUSCEP(I.$) READ(*.F6.BAHRTRFO(I).4. JMLHBUS WRITE(2. JMLPVBUS.JMLPVBUS.BUS_AKHIR(I).4) WRITE(2. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1.8) WRITE(2.5(5X. FILE = NFILE_OUT.V_MAGNITUD(I).

5)) DO 360 I = 1.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I.330) FORMAT(2X.) FORMAT(10(1X. JMLHBUS) DO 370 I = 1./. J = 1.0 DO 390 J = 1.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X.5)) WRITE(2.70)IHR.IMIN. DELTA_P.IMIN.270) 270 FORMAT(2X.J) .) DO 310 J = 1.F10.5)) WRITE(2.*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2. J = 1.I1000TH) WRITE(2.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X.350)(B_SUSCEP(I.ISEC.I100TH.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 .J).J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I.350)(G_KONDUK(I.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I.F10. JMCABANG WRITE(2.V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2. 'ADMITANSI BUS : '. JMLHBUS WRITE(2. JMLHBUS) 192 .0 DELTA_QMAK = 0.J). dan DELTA_Q DO 400 I = 1. 'ADMITANSI KE TANAH : '.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0. JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).) DO 280 J = 1.EQ./. 'ADMITANSI JARINGAN : '.ISEC.0 c PERHITUNGAN : P.I100TH.F10.PROGRAM WRITE(2. JMLHBUS WRITE(2.300) FORMAT(2X.0 JMLH_2 = 0./.J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I. Q.

I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I.DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).LE.P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI.I) .EQ.V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1.DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 .EQ.1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1.V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.GT.hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1.2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) . JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).1)THEN DELTA_P(I) = P(I) . JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I.EQ.I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI.-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.1)GOTO 450 DO 440 J = 1.EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1.LE.1)GOTO 440 IF(J.EQ.GT.I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.NE.NE.1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).AND.(DELTA_QMAK.I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.EPSILON).I)THEN JACOB_1(I.

1)THEN IF(I.K+1) A_JACOBI(J.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I.J) JACOB_4(I.K) = JACOB_3(I.J)) G_KONDUK(I.J)) JACOB_2(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.EQ.I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.1)THEN WRITE(*.J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K) = JACOB_1(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.NE.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.460) 460 FORMAT(1X.PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I. JMLHBUS-1 A_JACOBI(J. JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.I) .I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.J) JACOB_3(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I.J) .

NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K.J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.ABS(A_JACOBI(L.(0.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L. NBARIS_BUS+1 IF(J.NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.PIVOT*A_JACOBI(K.J) A_JACOBI(L.J) = A_JACOBI(K.K) DO 560 J = 1.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.J)= A_JACOBI(K.J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K.NE. NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.J) ENDIF 195 .K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L.LE.J) = A_JACOBI(I.J)/PIVOT DO 570 I = 1.00001))THEN WRITE(*.GT. NBARIS_BUS DO 510 J = 1.GT.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I.J) A_JACOBI(K. NBARIS_BUS IF(I.K) DO 550 J = 1.K)).hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1.K)THEN DO 540 J = K.NE.K)). NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L.J) .

LT.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '.'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' . NBARIS_BUS DO 590 J = 1.I4) WRITE(2.I4.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I.I100TH.'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2.EQ.650)ITERASI 650 FORMAT(////.JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.ISEC.I100TH.*)I. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 .IMIN.I1000TH) WRITE(2.'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '. + ' ITERATION'.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR.DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1.GT.K./) DO 680 I = 1.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1. NBARIS_BUS+1 IF(J.ISEC.XPV(I).GT.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1.620)ITERASI 620 FORMAT(3X.IMIN.//T6.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.T10.I4.70)IHR.670)ITERASI 670 FORMAT(' '. NBARIS_BUS IF(I.

F9.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.IMIN.1X./) DO 740 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I2.0) WRITE(2.1X.5X.730) 730 FORMAT(' '.EQ.750)NOCABANG(I).5.F9.//T6.2F10.6X.5) SUM = CMPLX(0.4. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).R) WRITE(2.MAGE.I100TH.'MW 197 .1X.29578.70)IHR.F9.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.F10.5.750)NOCABANG(I).'MW +'. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.F9.P(I).5.0.2X.5.COMPLX_TEG(I).780)P(I)*MVADASAR.S*MVADASAR 740 WRITE(2.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.F7.6X.Q(I) 720 FORMAT(' '.1)K = I DO 700 I = 1.1X. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .I100TH.REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2.5.ISEC.1)THEN WRITE(2.5.0. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NQ.//T6.NP.'MVAR') CALL GETTIM (IHR.//T6.IMIN.F9.5.Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.5) WRITE(2.6X.F10.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.760)SR FORMAT(' '.I1000TH : '.720)I.hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).NQ.F10.1X.5.ISEC.DELT*57.EQ.V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1.F10.'MVAR') DO 770 I = 1.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.NP.I1000TH) WRITE(2.3I5.

*) 1000 STOP END 198 .PROGRAM 900 WRITE(*.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful