PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

6 Metoda Fast Decoupled 5. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 1 Umum 6.BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5. 6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v . 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 5 Metoda Newton Raphson 5. 3 Persamaan Performance Jaringan 5. 1 Pendahuluan 5. 3 Representasi Transformator 6.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 1 .

Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui. disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek. koefisien.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1. x2. menunjukkan baris dan subskrip kedua j. I.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks. Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem. 1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan. Subskrip pertama i. dan b3 parameter-parameter yang diketahui. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I. variabel. b2. b1. persamaan (I. Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen. Dalam bentuk matriks. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks.2-3) 1 . 2. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I. Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak..

... Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar.a nm ⎥ ⎣ ⎦ B...... sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal........ ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢......BAB 1 .... seperti dalam contoh berikut. [a11 a12 ...... aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal.a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢.... ⎥ ⎢a 51 a 52 . MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j. seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 ....... matriks tersebut adalah matriks segitiga atas..... MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom...... 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks.. Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris....PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n.. antara lain : A... m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom).... ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I...... sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom.. 2.

seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D. untuk i ≠ j). seperti 3 . MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0. untuk i = j dan aij = 0. untuk i ≠ j). matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F. seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E. sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu.hmymsc C. dan elemen lainnya Nol (aij = 1. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. matriks tersebut disebut matriks diagonal.. TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan.

6 . MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . ⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H.5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. tetapi tidak semua elemen aij = 0. dan elemen diagonal berharga Nol. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij .4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri.PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G. matriks ini disebut matriks skew . tetapi berlawanan tanda(aij = -aij). seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama.BAB 1 . matriks tersebut disebut matriks simetris. MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT. untuk semua ij. seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri. seperti : 4 .

MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill. K. matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*.3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T.j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣.hmymsc ⎡0 . seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L.j3 ⎦ N. matriks A disebut matriks orthogonal. seperti : 2 .j2 1 .j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M. seperti : 2 .2 . MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb).5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢. MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya. maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. dimana semua elemen diagonal berharga Nol. MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T . MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ . maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri. seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 .j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 .

PENGKOM O. seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris. sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0. MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P. aij = 0. Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL. MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal.BAB 1 . Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 .

dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I.a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A.a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 .dari pers. Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 .a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 .A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I.a12 b 2 a 22 b1 . 3.a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 . DETERMINAN I. 3. 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I.a12 a 21 Langkah berikutnya. substitusi harga x1 kedalam persamaan (I. kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 .3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel.AT A = A* A = . sebagai berikut : . Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.hmymsc Tabel I-1.3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 .

n. Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya...a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga. 2.. yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1.PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 .a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij .BAB 1 . jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal.. Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1. Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21. x2 = I. . 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i.. untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 . 3.

1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. 4 OPERASI MATRIKS I. yaitu : A=B I.hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. 3. Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya. 4. Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 . maka kedua matriks disebut matriks sama. hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1. lalu matriks tersebut ditranpose. bilamana elemenelemen aij = bij. 4. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1.

….m (Jml. 3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama. 4. akan menghasilkan matriks baru C. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I.2. Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n. dengan dimensi yang sama pula. 4 PERKALIAN MATRIKS A. Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut. Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B.. sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij.BAB 1 .3-2) dengan : i = 1. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut. 4. misal : kA = B.PENGKOM 3. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan. Baris matrik A) 10 ..

namun BA tidak dapat dilakukan. dimana CT = BTAT. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B. karenanya aturan komutativ tidak berlaku.K)*B(K. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB. Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan.2.…. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1.. L C(I. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut. B. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian.J) = C(I. ini merupakan aturan reversal.k (Jml.J) = 0 DO 10 K = 1. N C(I.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1. AB = 0. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks. M DO 20 J = 1. DO 30 I = 1.J) + A(I. Jika matriks A. kecuali untuk matriks bujur sangkar. tidak berarti A = B Jika C = AB.hmymsc j = 1..2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 ..

x2.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II.BAB 1 .4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. dan b3. tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1. dan berlaku: 12 . yaitu : x = Cb (II.PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C. dan x3 sebagai fungsi b1. Namn demikian. Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar. kecuali pembagian matriks dengan skalar. INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks. b2.

maka tidak ada inverse dari matriks tersebut. sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama.hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II.4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: . dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix. Sebaliknya.4-2). Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks. antara lain : C. yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A. bila determinan ≠ 0. 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n.4-4) 13 . matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse.Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ . Bila determinan dari matriks berharga Nol. matriks seperti ini disebut matriks singular. maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE.I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II. kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1.

N P = A(K.NE.2*N A(K. N IF(I.J)/P DO 30 I = 1.J) .P*A(K.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I. C.J) = A(K.J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U.K)THEN P = A(I.K) DO 10 J = 1.J) = A(I. berikut : DO 30 K = 1. Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 . 2*N A(I.BAB 1 .PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II.K) DO 20 J = 1.2.4-3) menjadi (II.

yaitu : A-1 = U-1 L-1 . Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II. dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU.4-9) . yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat. (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C. metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik.4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II. oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan. perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. C. sehingga tidak efisien. invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer.hmymsc Dengan cara ini. Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar.

4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 . perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT. -1 k Dari persamaan (II...4-13) dan uraian sebelumnya..BAB 1 .4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU.∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1.4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II..2.4-13) untuki =1.... didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II.2...L32L32 Dalam bentuk umum.PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II. persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk .∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki . k n (II..2...n (Jml.. k pers) untuk =1.L31L31 .L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 .L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 . terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 .4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II.

J) A(K.I) JMLH = 0 D0 50 J = 1. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3.I) = (A(K. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1. I-1 JMLH = JMLH + A(I. langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L.J)*A(K.I) CONTINUE DO 60 K = 1. baik dalam bentuk LT atau L. K-1 JMLH = JMLH + A(K.K) – JMLH)) Gambar I-3.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 .J)*A(K. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga. berikut ini : DO 20 I = 1. Selain hal tersebut.I) – JMLH)/A(I. N DO 10 J = I. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A.J) A(K.*)A(J. N READ(1.K) = SQRT((A(K. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja. N DO 40 I = 1.

maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II.I) D0 40 I = 2..PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I.4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.BAB 1 .. dapat dimisalkan matriks lain B = L-1..(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum.... 10 DO 10 I = 1....3.0/L(I.2.. N DO 30 J = 1...2. n dan j = 1.n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = .. N B(I.. I-1 18 .b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2.. I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1..(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = .I) = 1.⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1. .. n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4.. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = . Untuk mencari L-1. berikut ini. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← .

1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1. n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5. sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I. n b kj i = 1. Untuk mencari(LT)-1.J) = B(I.2.2 dan j = i + 2.n bij = −a ijbij /a ii i = 1... n .2..4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas... . dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1.3 dan j = i + 3. .2. Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L). . n .(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum. ..hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I...I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4.. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B. berikut: 19 .K)*B(K.2. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh. n .(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = . dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1. .J) B(I. tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT. diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = . maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II..

3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian .I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1. N 10 B(I. J 60 JMLH = JMLH –L(I.0/L(I.I) D0 20 I = 1. CONTOH 1. N-3 DO 70 J = I+3. J 30 JMLH = JMLH – L(I. N-2 DO 40 J = I+2.J) B(I. N JMLH = 0 DO 60 K = 2.K)*B(K. N-1 J=I+1 B(I. Gambar I-4. Gambar I-5 dan Gambar I-1.J) =JMLH/L(I.J)/L(I.4-13). akan diperoleh elemen matriks L.I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1.J) = -L(I.J) = JMLH/L(I. N JMLH = 0 DO 30 K = 2. Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3.PENGKOM DO 10 I = 1.I) = 1.I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5.J)*B(J. berikut: 20 .K)*B(K.J) B(I.BAB 1 .Berdasarkan persamaan (II.

2.. 5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I. Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ ……. memenuhi persamaan (). I. Rank kolom sama dengan Rank baris.+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya. tinjau matriks A. berikut ini: 21 . maka determinan A adalah Nol.…….hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I. 5.. Jika beberapa qr ≠ 0. Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A. vektor baris tidak bebas linear.m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ ……. Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}..{cn}. Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan (). Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear.+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya. 5. Sebagai contoh. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}……. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1.…. 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A. Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. vektor kolom tidak bebas linear.n).2.

maka Rank matriks adalah 2 1. Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear.PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear.⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3. karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 . SOAL-SOAL BAB 1 1. karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 . p2 = -1. Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a).3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2. dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear. q2 = 0. 6.BAB 1 .

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

hmymsc II. Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = . dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2. sebagaimana contoh Gambar II-1. berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers.⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan. Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas. Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 .⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis. 2. grs-2 X1 Gambar II-1. 1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian.

grs-2 pers grs-1 pers. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi . karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. yang berlaku untuk i = 1. SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b.BAB I1 . Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a. diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. seperti dalam Gambar II-2c. dan tidak praktis. Pada kasus lain. memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel.……n 26 . Singular X1 X2 pers. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c. 2. Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular.PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2. X2 X2 pers. Pada Gambar II2b. grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2. ILL CONDITIONED Gambar II-2. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem. sistem mendekati singular. berikut ini. Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris. Pada kasus ini. II. terdapat solusi yang tidak terbatas.2. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 .j) = a(i.hmymsc • • Baris pivot : baris 1.j) – p * a(1.1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2.n a(i..an2 Baris pivot : baris 2. a42. dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3..…….j) a(i.n p = a(i. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32. elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2.1)/a(1.1) do 10 j = 2.

2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya.BAB I1 . dibutuhkan n-1 langkah eliminasi. 4.j) = a(i.n a(i.K)/A(K.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4.j) – p * a(2. N P = A(I.J) = A(I.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3.j) a(i.2) do 10 j = 3. Untuk SPL berukuran n. N A(I.n p = a(i. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3. sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4. N-1 DO 20 I = K+1. DO 30 K = 1. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 . penyelesaian dilakukan langkah demi langkah.K) DO 10 J = K+1. 2.2)/a(2.J) – P * A(K. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM). 10 20 30 II. Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS.J) A(I.

Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1. Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya. dapat mengakibatkan pembagian dengan nol. B. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut. GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar.5x 1 + 2 x 2 = 10. sebab a11 = 0. dan 2) Determinan ≈ NOL. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya.3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol.1x1 + 2 x 2 = 10. atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = .4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1.hmymsc A. PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol. demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1).4 33 .

30 0.2x2 .000) x(−0.3 − (0.0. elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19.10.1x1 .BAB I1 .7x2 . dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.2x3 = 7.0.1 / 3) x(−0.020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.3x3 = -19.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10.6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2.850000 7.000000x1 .02000x3 = 70.85 0.1000) = 0.0.000) x(−0.85) = 19.0.0. a31 o Baris pivot : baris 1. dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.293333x3 = -19.100000x2 . dengan pivot (p) = a31/a11 = (0.003330x2 .1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7.0.561700 .3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 .40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.0.200000x3 = 7.3 − (0.2) = −0.1000) = 7.561700 2 Operasi pada baris ke 3.1x2 .10x3 = 71.3x1 .003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2.0.1000 / 3.1 / 3) x(7. elemen pivot elemen a22 34 .19000x2 .2 − (0.0000 − (0.3000 / 3.

hmymsc o Operasi pada baris ke 3. antara lain : A.0.000000x1 .561700 10.500000 3.000030) = -19.1 / 3) x(−0.850000 7.00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10. 4.084300/10.084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut.561700 x2 = -2. untuk harga x1 didapat: x1 = o o II. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan. 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).19/7.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua.0. Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B.003330x2 . SCALLING A.01200x3 = 70. yaitu: x3 = 70. dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3.3 − (0.0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3.293333x3 = -19. didapat: 7. PIVOTING C.(0.0.100000x2 .0.200000x3 = 7.293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70.003330x2 .003330x2 . dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 .0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0.0000000 Dengan cara sama.293333)(7.01200 = 7. 2.2) = −0. 2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas.293333x3 = -19.561700 7.

sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3.PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar. karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot. 36 . an1}. a21. Misalkan a11 adalah elemen maksimum. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n.an-12. dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris. ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua. sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan. sehingga didapat matriks berikut. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut.………….………an-11. an2}. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11. a32.BAB I1 .

dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1. II-4.K)).(ABS(A(L. N IF(ABS(A(I.J) A(L. N-1 DO 40 I = K+1.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L. N IF(ABS(A(I.J) = A(K.LE.J) A(K.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.K)).J) A(K. N 10 37 . Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan. N DUMMY = A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.K)).EPSILON)THEN WRITE(*.hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1. yang merupakan gabungan dari Gambar II-5. N DUMMY = A(L.EPSILON)THEN WRITE(*.GT.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.NE.K)THEN DO 20 J = K.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5.K)THEN DO 20 J = K.GT.(ABS(A(L.LE.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.NE.K)).J) A(L.J) = A(K.

J) = A(I. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.(1 – (1/0.0000x1 + 10.0003)10.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0.J) – P * A(K.000)x2 = (1 – (1/0.0000x2 = 2.9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2. maka 1.0001 − 3.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1.000/0. N JMLH = JMLH + U(I.0000 . N A(I.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.0000x2 = 1.0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.BAB I1 .I) END Gambar II-6.K)/A(K.0001 − (3.0000x1 + 1.N) DO 70 I = N-1. diperoleh: 1.0001 1.J) A(I.0003x1 + 3.0000x1 + 10.4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0.000 x2 2.0000x1 + 1.K) DO 30 J = K+1. 38 .0003).0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I.0003 0.0000x2 = 1.

0000x2 = 2.000)1.9998 Penyelesaian menjadi 2.0000x2 = 2.333333 0. persamaan menjadi: 1.0000 − 1. diperoleh: 0.0000 0.000 sehingga persamaan menjadi: 1.0000x2 = 1.0000 − (1.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.0000x2 = 1.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 .0003/1.6667 0.1 0..1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot.(3 – (0.0000x1 + 1.6666667 X1 0.66667 0.000.0003x1 + 3.000 x2 1.0001 0.666667 0.0000x1 + 1.0003/1.000)1. Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.3333 0.667 0.667 0.9997 = 2/3 x1 = 1.0000 1.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.9997x2 = 1.30000 0.0000 2.330000 0.0003x1 + 3.9998 x2 = 1.9998/2.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.333 0.01 0.0003/1.001 0.0000 0.000)x2 = (2.9997x2 = 1.0001 – (0.33333 0.666667 0.0001 .6666667 X1 -3.6667 0.66667 0.33 0.

J) = A(I.J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7. harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7.J)/P DO 30 I = 1. semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya. N+1 A(I.BAB I1 . sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I).N+1 A(K. DO 30 K = 1.K)THEN P = A(I. Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu. dengan kata lain. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian. berikut ini.J) = A(K.K) DO 20 J = 1.P*A(K.NE. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS).J) .N P = A(K.K) DO 10 J = 1. 2. N IF(I. 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss.PENGKOM II. Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 .

3x1 .033333 1.19.0000000 .000000 ⎢0. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1.30 0.3000000 10.0666667 .0.5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut. untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.0.003333 . diperoleh: ⎡1.2x2 .0.850000 ⎤ .100000 7.61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.7x2 .0.000000 ⎢ ⎢0.0.100000 .100000 ⎢ ⎢0.3000000⎥ ⎥ 71.0.Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas.2000000 .616670 ⎤ .3000000⎥ ⎥ 71.400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut.000000 ⎢0.400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya. diperoleh: ⎡3.0. normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.000000 .000000 ⎣ .1x1 .85 0.100000 ⎢ ⎢0.616670 ⎤ .0666667 . 3x1 .0.0666667 .616670 ⎤ .033333 7.000000 ⎢0.0.1x2 .020000 2.5617000 ⎥ ⎥ 70.190000 .000000 ⎣ .300000 ⎣ .2x3 = 7.0.793220⎥ ⎥ 70.0. sebagai berikut: .0. yaitu a11 ⎡1.020000 2. Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena).19.033333 7.0. sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.000000 .2. dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.000000 ⎢0.0.300000 ⎣ .000000 ⎢ ⎢0.3x3 = -19.615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3.0.0.0.000000 2.10x3 = 71.0.100000 .hmymsc CONTOH 2.3000000 10.19.0.0.000000 7.2933333 10.0418848 10.190000 .

metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah.Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1.000000 ⎣ 0. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ . 2.523560 ⎤ . Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut. karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.0120000 2.0.000000 ⎢ ⎢0.793220⎥ ⎥ 70.08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).000000 ⎢ ⎢0.000000 0.0418848 1. didapat: ⎡1.0000000 0.BAB I1 .000000 ⎢0. Pada metoda ini.00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua.000000 ⎢0. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II.0.000000 ⎢ ⎢0. [b] = ⎢b ⎥ .0.0000000 0.000000 ⎣ 0.793220⎥ ⎥ 70. didapat: ⎡1. normalisir baris ketiga.4.000000 ⎢0. [x ] = ⎢ x ⎥ .0000000 1. [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 .000000⎤ .0000000 1.0.0000000 0.0680624 .2.000003 II.0000000 .0680624 .0418848 10.2.0000000 2.0000000 .5000 ⎥ ⎥ 7.000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3. matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU. dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar.000000 ⎣ 0.523560 ⎤ .2.0000000 1.500000 x3 = 7.000000 1.0000000 0.2.PENGKOM .000000 x2 = 3. untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini.000000 3.

[U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1. dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 . Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 .hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ .u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. Dari L Y = b. sebagai berikut : 43 .l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2.

1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.1) DO 20 J = 2.J) = A(I.BAB I1 .JMLH DO 60 J = 2.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 . N-1 DO 60 K = J+1.J) = A(1.I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2. N L(I. J-1 JMLH = JMLH + L(J.1) DO 40 J = 2. N U(1.N) DO 110 I = N-1. N-1 DO 40 I = J.1) = A(I.J) L(I.I)*U(I.1) DO 90 I = 2.6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ . N JMLH = JMLH + U(I. I-1 JMLH = JMLH + L(I. J-1 JMLH = JMLH + L(I.K)*U(K.K)*U(K.J)/L(1.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.N) = A(N.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.N) L(N.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I.K) U(J.I) X(N) = C(N)/U(N.PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1.K) – JMLH)/L(J. N-1 JMLH = JMLH + L(N.K) = (A(J. N JMLH = 0 DO 80 J = 1.J) .

3) = A(3.2) = A(2.1) = A(2.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2.3) = A(1.2) – L(3.3)/L(1.3) + L(3.1) = A(1. N-1 DO 40 I = J.1) = A(3.2) – L(2. J-1 JMLH = JMLH + L(I. N L(I.1)U(1.2) = A(1.1) Diperoleh: U(1.2) = .N) L(N.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .hmymsc 10 DO 10 I = 1.1) = 1 L(3.2)/L(1.K)*U(K.I)*U(I.1)U(1.1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2. J-1 JMLH = JMLH + L(J.1) = 2/3 U(1.1) = 3 L(2.K) U(J.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.N) = A(N.J) – JMLH DO 60 J = 2. N-1 DO 60 K = J+1.1)U(1.J) = A(I. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.3) – (L(3.N) – JMLH Diperoleh: L(3.2) = 2 1/3 U(3.K) = (A(J.2) = A(3.J) = A(1.K)*U(K.J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2.J)/L(1.2)U(2. N U(1.1) = A(I.J) L(I. N-1 JMLH = JMLH + L(N.1) Diperoleh: L(1.K) – JMLH)/L(J.

maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan. Bila suatu SPL 46 . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 . 2. 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif.1/3 2/3⎤ ⎥ .1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II.7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ .PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y].BAB I1 .1/3 2/3⎤ ⎥ .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2.

harga xi dapat dicari. Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3. Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1.2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2. Faktorisasi matriks A 47 .3. sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1).…n Y1 = b1 / l11 2.l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II.

9. N READ(1. N DO 30 I = 1.I) = (A(K. N JMLH = JMLH + A(J. N JMLH = 0 DO 60 J = 1.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6.N) DO 90 I = N-1.1106⎥ ⎦ 0 48 .1833 20. diperoleh: ⎡2. N DO 10 J = I+1. I-1 JMLH = JMLH .J) A(K.I) JMLH = 0 DO 40 J = 1. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.A(I. berdasarkan program dalam Gambar II.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1.K) = SQRT((A(K.PENGKOM menjadi matriks L.4495 [L] = ⎢6.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I.454 ⎣ 0 4.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I.1237 ⎢ ⎢22. I-1 JMLH = JMLJ + A(I.BAB I1 .I) – JMLH)/A(I.*)A(J.J) A(K.1) DO 70 I = 2. K-1 JMLH = JMLH + A(K.1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1. K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1.I) DO 50 K = 1.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian.I) X(N) = Y(N)/A(N.J)*A(K.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1. menghitung elemen matriks antara Y.J)*A(K.

....a 2n x n ) / a 22 .. misal : x 1 = (x 1 .a 23 x 3 ...... marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 ....3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II. Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik................... dan seterusnya xn untuk persamaan ke n. Akan tetapi. Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 .... karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik).. 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100..... x 3 ...... sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 .... digunakan matriks jarang.............3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi.. x 1 ) i 1 2 3 n n 49 .. ... aii ≠0.. untuk semua harga i....... ...3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A.......x 0 -1 ........... digunakan strategi pivoting. Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan.3-2)...a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢.a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 .. x 1 .... sehingga didapat harga xi baru.... a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a .... karena adanya galat pembulatan............hmymsc II.... a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II.. x n = (b n ....a 21 x1 . Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini. . x2 untuk persamaan kedua. x 0 ... presisi diperketat....... ⎥ ⎢.....a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II...a13 x 3 .x 1 -1 ...a n1 x1 ......... maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama....a n2 x 2 . metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar.. ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 ..... ⎥ ⎢.... Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan. x 0 ) 2 n n (II....a12 x 2 ........ x 1 .........

SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal. ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan. kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i. Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i. Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i. atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B. dari persamaan (II. dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A.10.PENGKOM Harga x 1 .3-3) Untuk semua i. Perhatikan ilustrasi berikut.3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II.3-2) dan (II.BAB I1 . berikut ini : 50 .

N) DO 20 I = 1.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.GT. N IF(ABS(A(I. N L=K DO 30 I = K+1.0 DO 50 K = 1. N DUMMY = A(L. Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 .EPSILON) THEN WRITE(*.J).J) = A(K.LE.I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT.*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L. J = 1.J) A(L.LE.0 DO 70 I = 1.J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT.*)(A(I. N IF(J.K)). N X(I) = 0.EPSILON)THEN WRITE(*.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1. M GALAT = 0.NE.(ABS(A(L.LT. N XB = C(I) DO 60 J = 1.NE.hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1.K)THEN DO 40 J = K. N READ(1.I)THEN XB = XB – A(I.J) A(K.K)).

85 + 0.2x2)/10 o Tentukan tebakan awal. misalkan: x i = (x1 .0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0.100%. 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini.0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi.100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2. didapat: 2 2 x i2 = (x1 .-2.0.0.40 .PENGKOM CONTOH 2. didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 . x 3 ) = (0.31%.6166667.0.1x1 + 0. ε 1 .1x2 .015%.499624684.3x3)/7 x3 = (71.0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1.3x1 + 0.0.2x2 .2x3 = 0.0.85 3x1 .000001% < ε 0 (0.0.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 . x1 . ε 2 .30 0.10x3 = 71.30 .7.2x3)/3 x2 = (-19. x 3 ) = (2.0.1x1 .794523. x 2 .7x2 . dimana: maks II.3x3 = -19. ε 3 ) = (0.0. ε 1 ) = (100%. Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 .BAB I1 .9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7. x1 ) = (2.40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7. x 2 .3x1 .1x2 + 0.990556508.0.0001) 1 = ε ik = 0.31% > ε 0 (0.7.-2.000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 .

4142 j0. Eliminasi Gauss dengan pivoting.00 ⎦ 53 .j0.000 .720 . 5 SOAL-SOAL BAB II 1. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a. Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18.0.4558 j0.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢.3922 j0.4020 j0.000 + j0.3706 j0.4126 j0.0.200⎤ ⎢ ⎥ j0.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40.5.00 2x1 – x2 – 9x3 = 26.4232 j0.3992 j0.j1.hmymsc Tabel II-1.4872 j0. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II.4020 ⎢ ⎣ j0. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0.200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0. untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6. b.000 .4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.3706 ⎢ ⎢ j0.j1.5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas.4774 ⎢ j0.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 3 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB.

.

Pada kerangka acuan loop. Pada kerangka acuan bus. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif. Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul).BAB II1 . Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan. perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan.PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III. yaitu bus atau loop. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus. Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan. 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen. Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. Oleh karena itu. baik arus maupun tegangan. variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. III. dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . Simpul dapat merupakan insidensi. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen.

Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III. Graph tersebut disebut Graph berorientasi. Jumlah cabang. tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree.hmymsc terhubung kepada satu simpul. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 . Cotree adalah komplemen dari tree. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph.2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a). Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu. Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung. Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. yang tidak harus terhubung disebut cotree. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph. Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. Jumlah link.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

3. B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1. bij =-1.PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1).BAB II1 .3-2) III.3-1) (III. Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang. Matriks basic cutset. berdimensi e x b. bij = 0. Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j. 4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set. untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 . berlawanan dengan basic cut-sets.

BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus.hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III.3-2) Link B1 61 . Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A. yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan. dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link.

Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen.BAB II1 . Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung. Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5. 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III. Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut.3-3) ˆ III. 3. Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 . G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5.

Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 . Reprensentasi komponen jaringan (a).hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular. ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III. 4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6. Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p . Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi.E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p .E q (b) Gambar III-6.

1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III. III. Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen. 5. Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq. Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri.rs antara elemen p-q dan r-s.4-1) dan (III.pq. Dalam kerangka acuan bus. persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 .pq atau admitansi sendiri ypq. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III. Dalam notasi matriks.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi. kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus. dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III. Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z].BAB II1 .4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III. dimana n adalah jumlah bus.rs atau ypq.4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq.

5-3) 65 .5-2) Hal sama. Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT. 5. At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus.5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus. sehingga : I bus = A t j (III. didapat At i + At j = At [ y] v (III. 2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus. Menurut hukum Kirchoff untuk Arus.hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III. sehingga : At i = 0 (III. jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol.

5-6) Substitusi dari persamaan (III. maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III.5-2) dan (III.BAB II1 .5-7) kedalam (III.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III.5-6) ke (III.5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 .5-3) kepersamaan (III.5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III.5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .5-8) (III.PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III. karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III.5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III. oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant.

7.1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III.4. dan e = 5. Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq. matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y]. dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III.pq 0.60 0. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq.hmymsc Karena matriks insidensi A.20 1 – 2 (2) 0.50 0.20 1 – 2 (1) 0. Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 . 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.40 0.50 0.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen. Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut. dimana n = 4. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4.

Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan. 3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III.8. dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 . matriks insidensi bus A.PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8.BAB II1 .

042 0.417 2.1 0.083 3 4 -1.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.0.0200 .208 ⎥ 5. didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .417 2 -0.2 2 0.000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.021 5.0.2.000 .1 .000 ⎤ = ⎢.5 3 4 0.1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0.417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ . didapat : ⎤ ⎡−1 .5.2 Dengan melakukan inverse matriks.1.417 2.1⎥ Ybus = ⎢ .5 0.1 0.5.000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .4 0.0.000 7.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .000 3.042 0.1 ⎣ ⎦ .083 .1.2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.083 .2.209 .000 ⎥ ⎢ .042 0.208 2.042 ⎤⎢ ⎡2.208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.209 4.1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8.6 0.0830 0.083 -0.0.

Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan.20 1 – 2 (1) 0.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq.5 berikut.pq 0. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut. branch. 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III.9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III. Tabel III-5.9. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III.BAB II1 . Tentukan matriks [A].50 0.9 diberikan dalam Tabel III. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut. rs 70 .8.60 0. 1 2 3 Gambar III.PENGKOM III.

hmymsc 71 .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 4 .

5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan. Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. 1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV. 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 . Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu. kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1. IV. Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus.

2-1). Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr.2-1) Agar tidak membingungkan. maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV. jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama. maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3. IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3. diperoleh : 74 .BAB IV . Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus. besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil. Dengan mengatur kembali persamaan (IV. sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar.2a IV-2b Gambar IV-2.PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel. Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr.

. 75 .. …...⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV..V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) . Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang. sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV.…... kode bus cabang.. Y22.Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan....2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV.. Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya.V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV. Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan... dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut.hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) .2-4) Admitansi lain Y12...V2 Yh ..V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf ...2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus..2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.. Y13...2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus. Admitansi Y11. sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV.V2 Yg .. resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini.. Ybus ..V1Yd .

*)NOMOR_CB(I). Berikutnya.Q) = Y_BUS(Q.Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P.s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y.y km .X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P. misal kita sebut matriks tersebut matriks Z.BAB IV .Q) Gambar IV-4. 76 .R(I). cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu. dan s. program dalam Gambar IV-4 diatas. Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini.P) = Y_BUS(P. Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢.P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q.Q) = Y_BUS(P. cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program.q) dan (r.y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣. q.0/CMPLX(R(I). Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut.N_AWL(I).y kk y km .y km y mm y km . karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain.X(I) Y_CB(I) = 1. r.Y_CB(I) Y_BUS(Q. Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi. JML_CABANG READ(1.PENGKOM 10 DO 10 I = 1. masing-masing (p. Misalkan dua buah cabang.y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p.y km .P) = Y_BUS(P.Q) . elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan.N_AHR(I).y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk .

y kk + y km ) y kk ..3-1) [Ybus ] = ⎢....... Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj . Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV.. cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan..........y + y ) (y + y . misal bus q dan r adalah bus yang sama....2y ) (.. maka ( ...... ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV.. sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu..y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1]... atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu.. ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj . Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja... Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus......y km (.. Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j . Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j . 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik..... Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan. kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan.... IV.....y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ . maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar..hmymsc Dengan cara yang sama. dan prosesnya menjadi sangat sederhana.. Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] .3-2) 77 .... Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks...y km ⎡ ⎤ ⎢(.......... Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama.

.... sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 . Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan.... maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama.PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j ..... 4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV. Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ]...4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya. IV.BAB IV ..Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai. Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus..... Karena [ Z bus ] alat yang penting. matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung. nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj .3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah...... Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y .... Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ]. menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV. Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti.....2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]. Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y ... Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j .. maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV..

. Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + . Zk2.... Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru. dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5. (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya.......... ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV. dan Zkn ... + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1.... ⎢ ⎥ ⎢ .. Zk3. sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢......... empat kasus akan kita bahas berikut ini... 79 .......hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru.....4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada. 1 Kasus I..

bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya....4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus.4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ . Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j.. ⎥ = ⎢ ⎥ (IV..BAB IV ....... dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II....PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5... Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas.... Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 ..... dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1).. j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6.. Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢..... j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k . ... untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV...

2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib....4-8) Dengan melihat persamaan (IV........... ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) .. yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b .4-6) dan (IV.4-5) hingga (IV.......... dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk . + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + .... dengan memasukkan persamaan (IV.4-8). + ZkjI j + ZkkIk + .... Atau V1 = Z11I1 + .....4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 .....(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV.4-5) Vk = Zk1I1 + ... + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + ......Vk + Vj (IV.. kita memerlukan persamaan lain.4-7) Dari persamaan-persamaan diatas..+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV....4-6) Karena Ip tidak diketahui....2-6) kedalam persamaan (IV..2Z jk (IV...hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + ..+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV.. dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢. + Z1jI j + Z1k I k + .+ ZjjI j + ZjkIk + ..

PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1). Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV. sebagai : V1 = I1 Z1 (IV. Baris baru adalah transpose dari kolom baru. Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian.5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya. CONTOH 5. maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 .BAB IV . Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan. pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan. Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb.5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan.4-10) IV.

j8.1 0.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.j4. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama.7222 j6.80 ⎢ 0.9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No.00 ⎤ j5.00 ⎢ ⎢ j4. matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1).00 .hmymsc ⎡.4 0.1.50 .9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama.4111 ⎢ j1.30 j2.3889 ⎢ ⎢ j6.50 j5. maka pertama dialakukan penghapusan bus 4.j14.00 Penyelesaian: 0.2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4.0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3.0 j2.3 Mutual reactance 0.j4. maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2).2 0.00⎥ ⎥ j8.2222 ⎣ j1.0 j5.7222 ⎥ ⎥ .0736⎤ .0736 ⎣ j4.j10.8736⎥ ⎦ CONTOH 5.5 0. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: .00 j4.3889 .j6.8736 ⎢ j4. Tabel 4.7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6.j9. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.j8. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.50 j8.00 ⎥ ⎥ .2222 ⎤ j4.5 0.j18. bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0.00 ⎢ ⎣ j5.2 Coupled elemen 3 3 83 . dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV.1 0.3-3). sehingga diperoleh ⎡.91111 j4.

0.5 .(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0. yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada.0.PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4. didapat: ⎡0.BAB IV .5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2. 14.5 1. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV.1 ⎤ ⎡0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas.5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0.1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2.0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 . matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0.1 .1 ⎢ 0 0.7.

09 Z =⎢ ⎣0.Z 31 ) y14 = 0.00 0.05⎤ 0.00⎤ 0. didapat: Z 41 = Z11 + y11.25 0. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3. yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3.09 Z = ⎢0.4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.09 ⎢0. matrik impedansi menjadi: ⎡0.08 ⎤ 0.00 ⎣ 0.26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.5 dan 6). Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3.00 0.10 0.05 0.hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.00 0.08 0. Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4.00 = Z 34 Z 44 = 0.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0.05 ⎢ ⎢0.25 0.10 = Z 24 Z 43 = 0.50 0.26 ⎦ 85 . dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.00 ⎥ ⎥ 0.00 ⎢ ⎣0.00 0.05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5.05 0.00⎥ ⎥ 0.10 ⎥ ⎥ 0.05 Z =⎢ ⎢0.05 0.00 0.(Z11 .11 .

didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 .8.000 0.000 + j0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.407 0.000 + j0.021 0.000 0.000 + j0.BAB IV . Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.000 + j0.2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.300 Admitansi shunt 0.080 + j0.000 + j0.000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan).015 0.640 0. Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut.000 0.050 0.518 0.2. dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.123 + j0.282 + j0.015 0.000 + j0.000 + j0.097 + j0. 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4.133 0.000 + j0.PENGKOM CONTOH 5.000 + j0.370 0.2.723 + j1.

000 – j3.554 – j2.27150 -0.308 0.Elemen Off diagonal.37346 1.414 – j1.616 0.518 0.82746 87 .133 0.55827 +j2.58200 -0.370 0.97650 0. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0.99220 -j4.32494 -0.hmymsc Tabel 4.02140 − j1.43393 +j1.16486 0.998804 -j7.55827 +j2. .000 + j0.554100 +j2.32494 0.445 – j0.097 + j0.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.582 demikian pula dengan elemen lain.44486 +j0.44486 -j8.333 Elemen matrik Admitansi bus.95452 -0.41880 0.57654 +j0.050 0.02140 -j1.30846 0.57654 -j4. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0.577 – j1.000 – j7.57654 +j0.64179 0.82746 -0.282 + j0.99220 − j 4.44486 +j0.325 0.00000 +j3.11237 -j13. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.00000 +j3.640 0.99220 -j4.64606 0. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .558 − j 2.582 0.30846 -0.37346 1.300 Admitansi y pq = 1 z pq 0.3.518 0.Elemen Diagonal.64606 -0.000 + j0.00000 -j8.58200 -0.95452 demikian pula dengan elemen lain.554100 +j2.827 0.43393 +j1.407 0.080 + j0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0.723 + j1.123 + j0.41880 -0.62287 -0.558 – j2.

88 .9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit. 4.9. 3. dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat.PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1. Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4. Jaringan untuk soal 1 2.5 Gambar 4. j0.BAB IV .2 j1. Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4.2 1 j0. Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan. Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan.15 3 2 j1.3 j0.9.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 5 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB.

.

δ dihitung. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. V dan sudut tegangan. 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui. Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan. yaitu : 1. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung.hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. 89 . BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. khususnya dalam penyelesaian aliran beban. Dalam setiap bus. 3. sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. 2. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. melainkan injeksi daya. disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan. oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi. BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban. bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus . sedangkan magnitude tegangan. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui.

Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada). 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan.BAB V . Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus. rating kapasitor shunt. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. Untuk memilih bus penadah. V. cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. magnitud tegangan dan sudut fasa. Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi. Selain itu ranting dan impedansi transformator. beserta keterangan lain yang diperlukan. Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. V.PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan. Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 .

3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 .pq 2 (V.pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V.hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V.3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y . Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V. dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan.3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y . 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi.3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V.pq 2 ( ) (V.3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y .pq 2 y . Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah.

4-3) menjadi lebih sederhana. dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah.4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ . Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V.4-2) 1 Ykk Persamaan (V. antara lain: A. sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * .∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V.∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1.BAB V .PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V..4-4) 92 . ….∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V..4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan. maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan. Misalkan : L k = (V.2.4-3) B. jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai. tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = .

YL12 V2 − YL13 V3k .4-5) * V3 KL 4 .YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1.YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 .YL14 V4k * V1 KL 3 . 93 .YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 .hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V. persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 . dengan bus 1 sebagai bus penadah. sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus.4-4).YL 34 V4k (V.

0 Set pencacah bus. k dan dV K=0 dV = 0.Jaringan. Epsilon. YLpq pers. Base.BAB V . untuk bus p sesuai pers V.4-4 Set pencacah iterasi.V.V. Tipe bus.PENGKOM MULAI Masukan data : Bus.Vold 1 2 3 4 94 .4-3 . Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp.4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew . p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V.

3-5 SELESAI Gambar V-1. dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan. 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan.hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V. dimana 95 . Dari persamaan (V. Dalam metoda Newton Raphson.3-1).

5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p . sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan.5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus. maka persamaan (V. yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 . didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V.5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V.5-1) Dalam bentuk lain. Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus. dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V.5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner.BAB V .

.............5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V......5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e .5.. 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 .. ⎥ ⎢ ⎢...5-6) p = 1..... ......-⎥ (V....... ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e ........ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢........ . ⎥ ...5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1..... ⎢..... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.. ⎥ ⎢ . ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢.∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana.....∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢..5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V...5-8) n q=1 q≠p 97 ... ⎥ ........ n-1 Diferensiasi persamaan (V..hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 . sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V...2....⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢.. ....∂Qn−1 M ∂Q1 ..∂e M ∂e ....... Daya nyata dari persamaan (V.................. .....⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V.... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.......⎥ = ⎢.. . persamaan (V..5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢.................... ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢............ ....... Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus........5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 ........... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢........ ……....⎥ ⎢....... ...........∂e M ∂f ....... ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ .....

dari persamaan (V.5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V. elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V.510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.BAB V . yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V.5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p. Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.5-6).5-4) adalah 98 .5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V.

5-11).11) p = 1. ….5-11) terhadap eq.2. n-1 Difrensiasi persamaan (V. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 . akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V.5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V.5-11) disubstitusikan ke (V..hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.5.

selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru. 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson. Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V. disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien. Setelah harga Δe i dan Δf i didapat. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu. Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan.PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus.5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut.3-1). Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V. yaitu : 100 . yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. Dalam teknik pemrograman.5-4). daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V. Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2. kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks. yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian.5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan.BAB V . V.

maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus].V. [G].5-7 . V.6-2) 101 .5.hmymsc MULAI Masukan data : Bus. Base. Epsilon.4 Hitung : 1.5-9 Hitung aliran beban pers V.5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V.3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V.5-12 K = K +1 Selesaikan pers.5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2.Jaringan.V. V.6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V. Qq pers. dP dan dQ 2. Tipe bus. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V. [B] Hitung : Pp.

persamaan daya dalam persamaan (V.. p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢..6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar. 2. diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V.5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V.n p ≠ s.⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V.⎥ = ⎢.....6-2)...BAB V ...⎥ ⎢. . .. dalam versi ini.6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1.. kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar. dan dikalikan dengan Vp..PENGKOM Konjugasi persamaan (V.6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 .

kopling antara komponen P . Dengan penguraian ini.δ dan Q – |V| sangat lemah. Memperhatikan bahwa.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V. yakni separuh tempat. selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat. 103 . Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. Q dengan magnitud tegangan |V|. pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil. teknik pemrograman yang lebih sederhana. δ dan antara daya reaktif. sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P .δ dan Q –|V| secara terpisah.6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V.6-7) Bila kita amati. P dan sudut tegangan. banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V . hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif.

0 ii.. ][ΔV] 104 (V. lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya. Metoda Fast Decoupled. dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] . ][Δδ] [ΔQ/V] = [B. Selanjutnya.6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V. ][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I]. maka [ΔP/V ] = [B .BAB V . ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal. Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0.6-6) dan (V... maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B .PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi.6-10) . karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian.. ][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B . ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B .6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV].6-9) dengan demikian persamaan (V. . Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V. dapat disederhanakan i.

admitansi bocor Trafo 105 . Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan. Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging). yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal. Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled. 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa. Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus.hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. 1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR. Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan.

Jaringan.3-5 Yes SELESAI Gambar V-3. Tipe bus.PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3. MULAI Masukan data : Bus. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV. Epsilon. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v.BAB V . Base. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 .

1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.060 j0.06 + j0.18 0.00 1.08 + j0.12 0.00 + j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.06 + j0.00 + j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.1 Tabel 1.025 Tabel 2.00 + j0.01 + j0.020 j0.00 1.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.24 0.4.015 j0.03 0. Hitung Aliran daya: a.00 107 .00 1. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1.06 0. Data pembangkitan dan pembebanan.08 + j0.00 1.020 j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.18 0.06 + j0.025 j0.04 + j0. c. b. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.00 + j0.010 j0.02 + j0.hmymsc CONTOH 5.

Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.BAB V . selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .0000 1.06 + j0.06 + j0.04 + j0.3.0000 – j30.0000 – j 15.25000 – j3.PENGKOM Penyelesaian A. dimana: y pq = 1 .50000 10.75000 1. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.25000 – j3.03 0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4. Metoda Gauss – Seidel 1.18 0.24 0.0000 1.040000 Elemen matrik Admitansi bus.08 + j0. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.12 0.01 + j0.18 0. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0.0000 1.08 + j0.24 Admitansi y pq = 1 z pq 5.06 0.02 + j0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6.6950 108 . Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus.055000 j0.50000 – j7.085000 j0.25000 − j18.Elemen Diagonal.055000 j0.66667 – j5.055000 j0.66667 – j5.0000 2.2.

0000 . Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.2500 .00740 + j0.00930 -0.0000 12.80212 + j 0.2500 +j3.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.00740 + j 0.6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 .0000 -1. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.0000 -j30.0000 -1.7500 -5.5000 -1.j32.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.7500 -1.6667 +j5.02413 + j 0. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.0000 -1.0000 12. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.j15.00427 + j 0.2500 +j3.20 − j 0.00000 0.0000 + j15.83334 .00370 -0.Elemen Off diagonal.00698 + j 0.00071 6.2500 + j3.j18.64179 3.0000 + j15.83334 -j32.5000 -1.2500 + j3.7500 -2.0000 -2.91667 -j38. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0. .20) 1 Y22 1 10.00000 + j15.00891 -0.7500 0.57654 -j4.0000 -10.6667 +j5.5000 +j7.00000 + j 0.5000 +j7.0000 -j30.0000 = −0.0000 10.6667 +j5.4150 -1.91667 -j38.4150 = 0.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain.6950 -5.6950 -10.6950 -1.00000 demikian pula dengan elemen lain.2500 -j18.6667 +j5.

46263 + j0.00290) .BAB V .03752 + j0.09690 + j0.00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.000006 -0.03752 + j0. Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .20053 + j0.000180 -0.80212 + j0.15241 + j0.66881 + j0.000330 -0.000040 -0. V3 . dengan mengikuti cara-cara diatas.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 . Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 .000720 -0.YL 24 V4 .000360 -0.77518 + j0. V5 } .00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1.80212 + j0. misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .80212 + j0.23131 + j0.000120 -0. tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) . Pada 110 .000710 -0. perhitungan selesai.000 + j0. V4 .000120 -0.000710 -0.09690 + j0. 1 Jika ΔV2 ≤ ε .V2 = (1.80212 + j0.052530 + j0.000710 -0.YL 21 V1 − YL 23 V30 .000004 -0.000060 -0.15241 + j0. namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4.(1.03752 + j0. sampai konvergensi tercapai.12920 + j0.77518 + j0.YL 25 V50 = 1. 5.000710 4.000) = 0.000330 -0.PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0.000180 -0.12920 + j0.000360 -0.33440 + j0.

00000 1.00000 1.00000+j0. Tabel s.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1. y12 2 y.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0. menggunakan persamaan (V. yang menghubungkan bus 1 dan 2.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.3-5).(P21 − jQ 21 ) Setelah.00000+j0.00000 6.00000+j0.00000 1.00000+j0.01579+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0. maka.00000+j0.00000+j0. didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 .00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00406 1.00966+j0.00000 1. * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) .00000+j0. 111 .00000 1. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan.00000+j0.00000+j0. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai.00000+j0. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.00000+j0.00000 1.00000 1.01280 1.00000 1.00000 3 1.00000+j0.00000 1.00000+j0. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r.00000 1.00000 1.00000 1.00000 4 1.00000 1.00000+j0.05253+j0.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000+j0.00000 5 1.00000 1.00000+j0.00000 1.Misal untuk cabang 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi.00000 1.00000+j0.00000 1.02635 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah.00000+j0. sebagai berikut: .

0000 12.70 -7.10 -18.91667 -1.7500 -2.20 6.5000 -1.6667 -2.0000 -1.2500 -2.5000 +j7.5000 -1.30 -2.00 -27.70 1.2500 -5.6667 12. maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6.2500 + j3.2500 +j3.6667 +j5.6667 -10.0000 10.7500 -5.20 40.6667 +j5.83334 -1.90 -5.50 -3.6950 -5.10 -39.PENGKOM Tabel r.50 -24.0000 -j30.0000 10.2500 0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.4150 -1.6667 +j5.91667 -j38.6667 +j5.40 -53.80 .0000 12.30 12.0000 12.2500 -j18.70 3.90 54.90 3. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq .50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.7500 -1.0000 -1.57654 -j4.90 3.2500 +j3.2500 -5.0000 + j15. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.6950 -1. Metoda Newton Raphson 1.0000 + j15.0000 -1.80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129.0000 -10.j7. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).91667 -j38.0000 -j30.5000 -1.80 7.0000 -1.8.50 -5.20 24.7500 0.40 6.30 -6.57654 Dan 112 . dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.6950 -10.0000 -2.91667 -10.6667 -1.BAB V .5000 +j7.2500 -1.83334 -j32.20 18.30 -6.5000 -1.80 27.0000 -1.60 -57.2500 + j3.5 .

98500 -0.0000 -5.50000 -0.7500 -7. dengan cara sebagai 113 .9850 2 dengan cara yang sama.5-12).512).60000 elemen 1.28000 -0.64179 3. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .04000 menghitung 0.07500 0.0000 38.6950 -30.7500 4.hmymsc 18.30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .5-9).30000 -0.0000 0.06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V.0.5000 . Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.00500 -0.5000 -3.6950 -15.05500 -0.0000 32.3.5-4) dan (5.5-7) sampai (V.7500 -15.0000 38.7500 -5.18500 0.13000 0.0000 -30.40000 -0.0000 adalah -0.37500 -0.0000 -7.4150 -5.0.0000 -5.0000 -3.6950 -3.

untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.25000 -2.BAB V .53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = .28000 0.53334 -1.2500 3. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.30000 + j0. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33.66667 -1.75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2.1.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.6667 -10.84167 -10.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = . sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 .980000 demikian pula untuk bus lain.5000 -1.50000 0.0.0000 0.00000 -1.98500 0.91667 -1.07500 0. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = .66667 12.0000 12.00000 -1.30000 -0.66667 -2.0000 0.0000 0.5.05500 0.

untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.7500 11.00000 -5.4300 -5. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .5000 0.00000 -5.000 0.9750 -30.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.0000 0.66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.6400 -3.4150 -30.7500 0.11.0000 -5.2500 J1 J3 -5.0000 -7.0000 -7. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .5000 -5.0000 38.5.4000 -5.000 38.7500 -3.00000 -3. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.0000 -5.7500 -7.0000 38.0000 -30.000 0.hmymsc 33.7500 11.000 38.5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1.0000 -30.0000 -3.

0.25000 2.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk.66667 1.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢. 5.7500 1. dengan berbagai metoda.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0.BAB V .00000 1.00000 -12.0.99167 1.0.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢.13334 1.00000 0.66667 2.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0. seperti Gauss-Jordan. Crout dan sebagainya.25000 -3. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k .50000 0.02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0.11284 ⎣ ⎦ 116 .66667 J2 1.0.50000 -12.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.99167 10.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.PENGKOM J1 -11.66667 10. Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.

03136 – j0.04629-j0.01228-j0. Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.00006+j0. dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A).02244+j0.0000 + j0.10909 Tabel q.09342-j0.00094 7. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .03176-j0.00000 1.02043-j0.09508 V5k 1.0050 0.37500-j0.00103-j0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.00000 1.00023+j0. Pengujian konvergensi.0000 + j0.01930-j0.00010-j0.09747 1. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk .05505 – j0.05084 1.11284 1. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.6000+j0.001.03871 0.05505-j0.00000 1.0000 + j0.03857 -0.09747 1.40000-j0. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.00073-j0.06000 0.02652-j0.05084 1.08922 V4k 1. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8. konvergensi tercapai pada iterasi k3.09123 1.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.00000 1.0000 + j0. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1.09123 1.06563 0.06000 + j0.02652 – j0.00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.00000 1.hmymsc 6.03136-j0.05124 V3k 1.1300 -0. Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.03176 – j0.5000 + j0.01171-j0.00037 -0.00000 -0.03586 -0.

untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .7500 -7. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .6950 -3.0000 -1.24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4. Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.7500 .2500 -1.0000 38.0000 -7.6667 -2. Sebagai bus penadah dipilih bus 1.64179 2.0000 12.6667 -10.7500 4.5000 -3.12 j0. untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq . sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4.0000 38.91667 -10.3.5000 -1.6667 -1.2500 -5. dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’.0000 -5.24 j0.5000 -15.2500 -2.03 j0.0000 10. sebagai berikut: 6. sedangkan elemen-elemen Matriks B”.57654 Dan 18. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”.7500 -5.18 j0.0000 32.2500 -5.6667 12.0000 -3.0000 -5. Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0. dan menentukan elemen matrik G dan B.91667 -1.PENGKOM C.0000 -30.6950 -30.06 j0.5000 -1.BAB V . FDLF 1.83334 -1.4150 -5.18 j0.6950 -15.2500 0.0000 -1.3.

k + 0.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p .055000 j0.6-5).5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .040000 3. jika tidak lanjutkan kelangkah 5.5 ΔPpk + 0.6-10). Cholesky. seperti Crout. sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus.085000 j0. Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V.5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6. sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0. Ppk + 0. sebagai berikut: 119 .5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4.6-4) dan (V. 5.055000 j0.055000 j0. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V. Gauss-Jordan dan sebagainya. Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.

sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus.BAB V .6-4) dan (V.5 p ΔQ k + 0.6-5). dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0. 8. Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7. k + 0. jika tidak lanjutkan kelangkah 8.5 = δ k + Δδ k p p p 6.6-10). Gauss-Jordan dan sebagainya. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus. sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. Cholesky. Q k + 0. seperti Crout. sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 .5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V.5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3. sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda.

dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus.06 + j0.24 0.010 j0. Gambar V. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s.025 j0. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.2.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V.1 Tabel 1. sebaliknya proses kembali kelangkah 6.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.020 j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.03 0.1 dan Tabel s.060 j0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.04 + j0. masing-masing 100 MVA dan 13. maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan.08 + j0.020 j0.08 + j0. 10.8 kV.02 + j0.06 0. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem.015 j0. 11. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1.5 = Vpk + ΔVpk 9. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya.01 + j0.12 0.06 + j0.025 121 .18 0.18 0.

PENGKOM Tabel 2. Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.866 + j0.0∠00 pu . c).5 pu. Dengan menggunakan program yang saudara desain. Bila Vq = 1. Dua buah bus p dan q.06 + j0. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0. b).00 2. Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi.00 1.1. Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan.300 pu . Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1. Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang. 3.0∠ . 4.2 pu secara parallel. Tuliskan: a).00 + j0.BAB V . lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5.00 + j0.0∠00 pu . dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0.00 + j0.1 dan X2 = 0. dan Vp = 1.00 1.00 + j0.00 1. 122 . Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.00 1.

UNSRI 6 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB.

.

maka pada iterasi berikutnya (k+1). |V|. Misalkan P dan Q untuk bus beban. yaitu: 1. 4.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI. ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian. δ. P. atau P dan |V| untuk bus pengendali. Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya. dan Q. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban. Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian. 143 . 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. yaitu|V|. 3. tipe bus dirubah menjadi bus PQ. Aliran antar daerah. Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. dan δ untuk bus penadah. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. 2. Jika dalam proses perhitungan.

yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan. VI.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan. Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus.7-2). 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan. 2. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI. Menyertakan kriteria tambahan.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus. Ada dua cara yang dapat ditempuh. Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan. atau b. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 .DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut. karena itu untuk memenuhi persamaan (V. Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi. Tetap mempertahankan rumusan dasar.2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI. yaitu : a.

J2. Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2. maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI. dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V. q ≠ p 145 . Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢.5. Dalam prakteknya. Pada metoda Newton Raphson. lihat kembali penyelesaian sebelumnya.21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0.7-1) menggantikan persamaan daya reaktif.. J3.2-1). Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI. batasan daya aktif harus diperhatikan.-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1. daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 . persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V.hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama.

Pada kasus ini. oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1. maka daya reaktif harus ditetapkan. berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. 2. q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan. bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. 2. PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . VI. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. bukan pada terminal sumber daya reaktif.

VI. Prosedur lain yang dapat dipakai. Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p. namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. Toleransi tegangan sebesar 0. menggunakan tegangan yang ditetapkan. 3. Setelah perhitungan tegangan pada bus q. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI.

3-1) menjadi y pq a2 (VI. Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b.DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban.3-1) . Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a).3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 . t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2.maka persamaan (VI. Sirkit ekivalen (b). Pada bus p. Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya. arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI. Sirkit ekivalen phi (c).

3-4) dan (VI. maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI. maka A= y pq a (VI.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian.3-6) Dengan cara sama. pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI. pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI.3-7) 149 . didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI. maka y pq = A + C (VI.3-3).hmymsc Arus pada terminal lainnya.3-5a). maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama.3-2).3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI. substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI. karena kedua arus harus sama.

......3-5a)..3-2) dan (VI. + 1⎛1 ⎞ + ..DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .. + 2 + . Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q........ dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c......3-6) ke persamaan (VI. + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 ... maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + ..3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI....

hmymsc ⎛ 1⎞ + ..P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q. Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 ...Q) 10 ENDIF IF(K.Q) . + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1.P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q..P) = Y_BUS(P..N_AWL(I).P) = Y_BUS(P. JML_TRAFO READ(1.Q) = Y_BUS(Q.0)GOTO 20 Y_BUS(P..Y_CB(I) Y_BUS(Q.P) = Y_BUS(P...0/CMPLX(R(I). untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran. + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu. + N_AHR(I). + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + . dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1..0.Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3.L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1..Q) = Y_BUS(Q.A(J) IF(I.Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q....Q) = Y_BUS(P.P) = Y_BUS(P.X(I)...NE.X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0.Q) = Y_BUS(P.NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P..R(I)..*)(NLINE_TRF(J). admitansi bocor sadapan Transformator.Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.*)NOMOR_CB(I).EQ. JML_CABANG READ(1....Q) .Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi.DAFTAR BACAAN VI. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus. hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan. 3. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi.01 sudah cukup memuaskan. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup. YLpq. diperoleh : 152 . dan KLpq harus dihitung ulang pula.3-4). parameter Lp. dengan A = ypq. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step.3-2) dan (VI.3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya. Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0. Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut.

3-7) dan (VI. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4. Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI. Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI.3-9) 153 . 3.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI. 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4.3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq.

3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI. didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q. admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu.3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi. iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI.. dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 ... kecuali untuk r. + i pr + .. serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya.. diperoleh: 154 ... + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI...3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI.. arus Transformator pada bus q.DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal.3-11) Dengan cara sama.

. + y pr 2 2 a s + bs + . dengan asumsi 155 .... jika tanda dari sudut δ positif... maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI... + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr. dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 . misalkan Vq = 1 pu. karena itu.. + y qp + ...3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya. penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem. karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|.hmymsc Ypp = y p1 + y p2 .. dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI..... 4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi. Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif.... + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq. Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem..

aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih. Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. Jadi untuk sistem A. seperti dalam Gambar VI-5.DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. 156 . Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. dengan menggunakan penyelesaian tegangan. Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan. Berikutnya.

Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.123 + j0.0070 0. Pemrograman dan space yang diperlukan.370 0.640 0.1 Tabel 1.000 + j0. 3. 4.0000 0.0076 0.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi. dengan bus 1 sebagai bus penadah.000 + j0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.518 0.133 0.909 0.0000 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.050 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.723 + j1. 2.300 Admitansi ke tanah 0.080 + j0.976 157 .6.6.0100 0. CONTOH 6. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan.hmymsc VI.097 + j0.407 0.282 + j0. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda.0000 0. mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1.

300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0.123 + j0.5 Tegangan V 1.133 0.005 Tabel 2.518 0.300 Admitansi jaringan 0.370 0.642 0.000 + j0.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.407 0.DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.050 0.0000 0.050 0.0000 0.0000 j0.560 – j2.5 6.642 0.123 + j0.640 0.580 – j1.5 10.0 - Penyelesaian .976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.000 + j0.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.080 + j0.0100 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.0170 J0.282 + j0.Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.0000 J0.570 0.909 0.000 + j0.407 0. dengan cara sebagai berikut: 158 .440 – j0.0000 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.518 0.05 1.005 j0.723 + j1.282 + j0.0076 0.000 + j0.0070 0.133 0.0000 0.723 + j1. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.5 15 9 25 2.370 0.438 – j 0.097 + j0.097 + j0.0146 0.080 + j0.640 0.

.31 J8.. + ⎛ 1⎞ + .5800 -0.58 +j1.993 -j7.YL 25 V5k − YL 32 V2 .42 0.021 -j1.438 +j1..58 -j4..63 +j3.0 + j0.0 V1 = 1.YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 .YL 46 V6k +1 .34 +j3.3 -0..555 +j2.3 1.....955 -0..025 0.1 + j 0.Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k .........0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1..555 +j2.YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 .hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + .585 -0.445 +j0.9980 -j4...5800 -0...84 -0... + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + .YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1.115 -j14.YL 34 V4k ..84 .YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 ...18 J8.31 -0.642 0.642 -0.44 -j8.05 + j0.42 -0.. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .. + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0..58 +j1. + 2 + ..34 -0.56 +j2.56 +j2.0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 ......445 +j0..... + 1⎛1 ⎞ + ...413 1.... + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + ..438 +j1.

3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .065)) = 1.47 .00000 0.56 + j2.187 = ((0.0 − 0.0000 + j 0.13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.00000 0.j8.DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.44 .58 j8.0000 + j 0.275) − j (0.00000 0.00000 0.0000 + j 0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.0 − 0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.0000 + j 0.00000 0.0000 + j 0.j2.00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = .0.0000 + j 0.

2. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1.0 25.91840 0.2 23.8307 -13.7.86560 0.00000 1.9058 -12. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.0 2. .8511 -13.0 9. Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.5 6.hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.1 161 .7 berikut ini.02 -2.1 dan Tabel s6. Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27.3 11.8 25.5 0 0 15.05 0.9310 -9. dengan bus 2 sebagai bus penadah.0395 0. Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi.3805 0.5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48..

5.000 + j0.5 Tegangan V 1.407 0.DAFTAR BACAAN Tabel s6.5 10.640 0. Untuk sistem yang sama seperti soal 1. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban.8 + j0. Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0. dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta. Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6.1.909 0.005 Tabel s6. Kerjakan kembali soal ke 3.097 + j0.6 pu pada tegangan V2 = 1.123 + j0.05 1.976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.133 0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0.5 15 9 25 2. 3.300 Admitansi ke tanah 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.5 6. 4. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator.1 162 .0100 0.0000 0.0076 0.000 + j0.518 0.723 + j1.2.0000 0.0 + j0.050 0.0070 0.282 + j0. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.1 pu.0.080 + j0.0000 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.0 - 2.370 0.

. 1978. jurusan T.Graw-Hill. Yogyakarta 163 . DR. Andi Offset. 2000. Stagg. Bandung 2. Singapore 3. Glenn W.1968. Ahmed. “Komputasi Dalam Sistem Tenaga”. Indiana. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”. Elektro FTI-ITB. “ Computer Techniques in Power System Analysis”. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”. New Delhi 4. A. M.. Pai. Mc.hmymsc DAFTAR BACAAN 1. and El-Abiad. Gibson Sianipar. Suprajitno Munadi. 1990.

Penjumlahan. 1. Penjumlahan.Bila determinan dari matriks berharga = nol. Determinan ≠ 0 2.Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4. 1. Ada inverse. 1. A(B+C) = AB+BC. Penjumlahan. A(B+C) = AB+BC. A(BC) = ABC = ABC 3.matriks disebut matrik singular 144 . Matriks singular adalah matriks dengan kondisi. AB = BA. Perkalian matriks 5...A(BC) = ABC = ABC 3. AT A = U 2. A(B+C) = AB+BC. A(BC) = ABC = ABC 2. pengurangan dan inverse 3. A(B+C) = AB+BC. A(B+C) = AB+BC.A(BC) = ABC = ABC 5. aij = aji 4. Hasil perkalian matriks AB = C.maka.SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1.. AT B = BA. A ≠ . dimana i dan j masing-masing adalah . dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan. 1. 1.A(BC) = ABC = ABC 4. pengurangan 4. Penjumlahan.. Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi.A 5..Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4. ABT = BAT. Tidak ada inverse matriks 2...Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3.pengurangan & perkalian matriks 2.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2. AT BT = BA. pengurangan dan perkalian 3. Determinan = 0 3.

matriks disebut tidak linear 5. 1. Hermitian 5.memiliki jumlah hitungan terendah 1. Unitary 8. Segitiga atas 145 .. Skew 4.. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya.Jumlah hitungan terbatas. waktu hitungan terbatas 5.Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah. Tidak ada inverse. Dari segi penggunaan memori. Gauss-Jordan 7.Menghemat penggunaan memori.waktu hitungan tercepat 3..Hanya untuk matriks simetri. Dari segi jumlah hitungan.Dapat digunakan untuk matriks simetri.. Segitiga bawah 2.... Gauss-Naif 5. Orthogonal 3. Doolitle 3.. Gauss-Seidel 4.. Simetris 3. matriks tipe. Konjugate 2. Hermitian 4.. matriks tersebut disebut matriks.waktu hitungan cepat 4.Menghemat penggunaan memori..matriks disebut matriks adjoin 4. 1. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda. menghemat memori 6. Skew hermitian 5.hmymsc 3.entry matriks terbatas 2. Tidak ada inverse. 1. Crout 2. Ada inverse matriks 5.

Jumlah langkah hitungan pasti 2. Jumlah operasi lebih pendek 4. Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5. 1.. 1... Jumlah iterasi pasti 3. Menunjukkan SPL 146 . Memiliki diagonal > 1 13. Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan. Jumlah memori tertinggi 5. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk. b. Jumlah memori terbatas 11. 1.. Mencari solusi SPL 3. Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. Berbentuk segitiga 4. 1.. 1. Jumlah maksimum kolom bebas linear 2. Berbentuk segitiga atas 2. Menggambarkan garis 2. Langkah perhitungan pasti 3. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah.. Jumlah maksimum kolom non linear 3... Jumlah kolom 4.. Jumlah baris 5.SOAL-SOAL 9. Berjumlah kolom genap 5. Tingkat konvergensinya lambat 4... Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12.. Jumlah kolom atau baris 10. Berdimensi sama 3. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2..

. 1 Memperbanyak angka bena..meningkatkan harga epsilon.. angka bena terbatas 5.. Mencari dan mengambarkan garis 14. meningkatkan harga harga epsilon.hmymsc 4.. pivoting.. Perambatan galat. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3. 1. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4. Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3. scalling. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. Memvisualisasikan sifat persamaan 5. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah. dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda. pembagian dengan nol. Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . 1. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4.. pembagian dengan nol. Galat pembulatan. pembagian dengan nol.. system berkondisi buruk 4. dan rounding 17. Galat pembulatan.. Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2. Angka bena terbatas.. Galat pembulatan. 1. sistem berkondisi buruk 3.. Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah. memperbesar koefisien persamaan. sistem berkondisi buruk 2. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5. Metoda Gauss lebih sederhana 15. karena.. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda. sistem berkondisi buruk 16. angka bena terbatas. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2. pembagian dengan nol.

Gauss Jordan 3. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara. Gauss-Seidel 2. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda... Gauss-Seidel 5. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda. Gauss-Jordan 21. Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18. 1. Doolitle 3.. Doolitle 5. Gauss-Seidel 5... 1...SOAL-SOAL 5. Crout 2. 1. Crout 2. Crout 19. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah... Iterasi Gauss-Seidel 4. 1.. Doolitle 3. Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A. 148 . Cholesky 4. Gauss-Jordan 20. Cholesky 5. Cholesky 2..... Gauss Naif dengan pivoting 3. Crout 22. Cholesky 4. Eliminasi Gauss 4.. menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda.

Strategi pivoting. cotree. elemen 3. Elemen dan node 5. 1. 1.hmymsc 1. Elemen.. 1. Tegangan dan arus 3. Admitansi atau impedansi 2. Subgraph. Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. graph 25. terdiri dari. Admitansi dan elemen shunt 24. adalah kerangka. Arus bus dan tegangan bus 5. Admitansi 4.scalling dan matrik jarang 4. Elemen matriks jaringan akan berupa. Strategi pivoting... lingk.matrik jarang dan presisi diperketat 23. Tree. Strategi pivoting... Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya. node.. Insidensi 3. Loop dan bus 2. Impedansi 5. Strategi scalling. Arus loop dan tegangan loop 4.matrik jarang dan scalling 3. Elemen dan cabang 26.pivoting dan presisi diperketat 2.matrik jarang dan metoda iterasi 5. 1.. Jaringan primitif 2. Loop atau bus 3.. Simpul dan node 4. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. cabang 2. Strategi scalling... sublink 149 .

SOAL-SOAL 4. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah..Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29.Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4. cabang. Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap... Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara. yaitu. Pembalikan matrik 2..Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5. dan link 5. 150 . Transformasi singular dan secara langsung 28. Tidak membutuhkan perkalian matrik 2. Perkalian matriks 3. Simpul.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2. Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4. 1. Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3.Penghapusan bus sekaligus memerlukan. yaitu. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus. Tidak membutuhkan augmented matrik 31... yaitu.. 1.. Transformasi non linear dan secara langsung 2.. 1. Faktorisasi matriks 4.. bus... Augmented matriks 30. Transforamsi non linear dan singular 3. 1. Tidak membutuhkan reduksi matrik 5. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. Simpul.Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3. tree 27. Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan.. Reduksi matriks 5.

Susut daya dikurangi 34.. Terdapat sumber tegangan 3.. Susut transmisi dibebankan 4. Dalam bus PQ atau bus beban. Magnitud egangan dan daya aktif 3. Bus PQ. Terdapat sumber daya reaktif 2.. 1. Terdapat beban dan pembangkit 35. Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus. Daya aktif dan daya reaktif 33. Susut daya reaktif dibebankan 2. Daya apembangkitan dan daya beban 5. Bus PV.. Susut daya aktif dibebankan 3... 1.. Bus PQ. Daya aktif dan sudut fasa 4. bus penadah dan bus berayun 4. bus PQ dan bus kendali 5. 1. bus Beban dan bus berayun 32.. bus PV dan bus berayun 2.. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2. bus kendali dan swing bus 3. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini.. Newton Raphson 151 . 1. Langsung 4.besaran yang diketahui adalah. Iterasi 2. Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda. Terdapat beban 5. Langsung dan iterasi 3. Terdapat pembangkit 4. Bus PQ. Gauss-Seidel 5. Susut daya dibangkitkan 5.hmymsc 1.. Bus PV...

. Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda... Himpunan persamaan tegangan 2.. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3. Himpunan persamaan daya 5.. 1. Newton Raphson 5... Gauss 3. Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4. delta Q dan delta V 5. delta V dan delta I 3.. 1. 1...... Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan .... Himpunan persamaan arus 37... delta P dan delta Q 2. Himpunan persamaan daya aktif 3. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan . delta P dan delta V 4.. Himpunan persamaan daya reaktif 4. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2. delta P dan delta I 39.. 1.. FDLF 2. Newton 152 .SOAL-SOAL 36. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5.. Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan . Gauss-Seidel 4. semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan.

Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2. Newton Raphson 2.. Data bus dan data jaringan 153 . Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari.. Admitansi bocor hantaran 4. Admitansi bocor trafo 5.. 1.. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4. Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda. Semua metoda 44.... 1.. 1..... Newton 3. yaitu. Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2.hmymsc 40. FDLF 43. Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja. Gauss-Seidel 3.. Terdapat data jaringan 5. FDLF 2. 1.. Newton Rapshon 4. Gauss 5.. Gauss 5. Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3....... Admitansi shunt jaringan 3. Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda. Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2. Susceptansi dari reaktansi transformator 41. Gauss-Seidel 4. 42. 1...

20 10 3.. 10 20 2. N DO 10 J = 1. Skew hermitian 47. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46.*)A(J. 1.. 1. Pada bus terdapat bank kapasitor 5. 1. Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose. N DO 10 J = I.I) CONTINUE DO 20 I = 1. Data tegangan dan impedansi 3.I) CONTINUE DO 20 I = 1. N DO 10 J = I.. Data jaringan dan data beban 45. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah. 10 DO 20 I = 1. N READ(1.*)A(J... N READ(1. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut. N READ(1. Hermitian 5...*)A(J. Memiliki sumber daya reaktif 3. Data bus dan data tegangan 4.1) 154 . Skew 4.. Skew simetri 2. Orthogonal 3.SOAL-SOAL 2. Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2. Data beban dan pembangkitan 5. maka matriks A tersebut disebut matriks.

M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 . DO 30 I = 1. CONTINUE DO 30 I = 1.J) 10 20 30 2. 1. L C(I. 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1.J) = 0 DO 10 K = 1. L DO 20 J = 1. N READ(1.K)*B(K.J) CONTINUE DO 20 I = 1. M DO 20 J = 1.*)A(1.J) 10 20 30 3.J) + A(I. L C(I..J) = C(I..K)*B(K.*)A(J. N DO 10 J = 1. N READ(1. CONTINUE DO 30 I = 1. 10 20 5.J) + A(I. M DO 20 J = 1. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut.J) = 0 DO 10 K = 1.1) CONTINUE 48.. N DO 10 J = I.J) = C(I.hmymsc 20 4. N C(I. N C(I.

LLTrans 156 .J) = C(I.. Gauss-Seidel 50. L C(I.memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama. CONTINUE DO 30 I = 1. Doolitle 4.J) = C(I... 1.J) = C(I. N C(I.K)*B(K. M C(I.J) + A(I.J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49.K)*B(K.SOAL-SOAL C(I. Crout 3. M C(I.J) 10 20 30 5.J) = 0 DO 10 K = 1..J) + A(I. N DO 20 J = 1.J) = 0 DO 10 K = 1.J) = 0 DO 10 K = 1. Inverse matriks simetri dengan metoda. Cholesky 2.J) + A(I. M DO 20 J = 1.. N C(I.J) 10 20 30 4.K)*B(K. 1. CONTINUE DO 30 I = 1. Gauss-Jordan 5. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi.

. Non-singular 5.hmymsc 2. Non simetri 3. LTrans UTrans 51. Gauss-Jordan 2. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda. Newton Raphson 54. 1.jumlah slack bus) 2. FDLF 2..jumlah pv bus) 157 . Gauss-Naiff 3. Simetri 2. LDU 5. 1. Singular 4. Diagonal 52. Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel. 1. (Jumlah bus . LU 3. Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda. (jumlah bus. Gauss-Seidel 4. Dalam solusi SPL.slack bus . Gauss dengan pivoting 53. UTrans LTrans 4. Gauss 3. Gauss-Seidel 4. Newton 5.. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1.. Gauss 5... apabila koefisien persamaan memebentuk matriks…………….

operasi. ipq = (Vp .. 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan. ipq = (Vp .. (Jumlah bus 4. 10 4. Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq. 1.. Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak.Vq) ypq + Vp y'pq 2. 2 x Jumlah bus 5. 1. dan kendali STL 2. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4.. 11 3. ipq = (Vp .Vq) ypq + Vq y'pq 4.slack bus) 55.Vq) ypq ' 5. Perencanaan dan operasi 5. 1. ipq = (Vp . Perhitungan aliran daya 57.. maka arus pada cabang tersebut adalah. 1.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 .. Konvergensi tidak akan tercapai 58. 2 x (jumlah bus . ipq = (Vp ... Operasi dan kendali 4. 12 5..SOAL-SOAL 3. Perencanaan. Perencanaan dan kendali 3.Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. maka.. 9 2. Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat. Kecepatan konvergensi meningkat 2. Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3. Iterasi yang diperlukan membesar 5.

Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. Gauss-Seidel 3. Gauss 2.. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan.. 4 x lebih lambat 5. 1. Memerlukan pembalikan matriks 3... Membutuhkan data jaringan 5. 159 .2. 1. 1.. Decoupled 62. bilangan ini dikenal dengan sebutan. 8 x lebih lambat 61.. Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 . 1.. metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi.... Newton Raphson 5. Faktor akselerasi 60. 8 x lebih cepat 2. Memerlukan perkalian matriks 4. Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda.hmymsc 59. Faktor kelipatan 4. FDLF 4.. 4 x lebih cepat 3. yaitu... Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel. Bilangan pembanding 2.. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks.. Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah.. Akselerator number 3.. Bilangan akselerasi 5. 2 x lebih cepat 4. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63....

. Pengendalian daya beban 66. 1.LE. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah. IF(DELTA_P..GE. Ypq = -ypq/a 2. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q. IF(DELTA_V. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5.EPSILON)GOTO 340 2.. 1. maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi...... Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2.. Solusi yang lebih cepat 3. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut..EPSILON)GOTO 340 5. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5..EPSILON)GOTO 340 3.GT. IF(DELTA_P. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3. Pengendalian rugi-rugi 5. Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64. Ypq = -ypq(1-1/a 160 . IF(DELTA_V. Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai.. 1...SOAL-SOAL 1. IF(DELTA_V. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4.. Pengendalian daya aktif 2.GT.LE. Pengendalian frekuensi 3.. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2.. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. 1.EPSILON)GOTO 340 65..EPSILON)GOTO 340 4. Akurasi yang lebih baik 4.

IMIN. READ GETTIM (IHR..*)(A(I.J).*)(A(I.M READ(*.I1000TH 2.I1000TH) 3.I100TH. Ypq = -ypq 68.ISEC... Ypq = ypq(1-1/a 5..IMIN. CALL TIME (IHR....IMIN.ISEC. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.I100TH.ISEC.J).. Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah. 60 3... N DO 60 I = 1.*)(A(I.J). DO 60 I = 1..hmymsc 3.I100TH. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai. N DO 60 I = 1. Ypq = ypq/a 4... 60 2.ISEC..J = 1.J = 1.I1000TH) 4.IMIN.M READ(1.ISEC. 1. 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69. 1... READ TIME (IHR..I1000TH) 5. CALL SETTIME (IHR.IMIN. M DO 60 I = 1.. Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam.I100TH. CALL GETTIM (IHR. 60 4..M READ(1.I1000TH) 70.I100TH.M 161 .J = 1.

8 9. 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4. 2. 9.J).. 3. N 71. M DO 60 I = 1. 4.12 2.J = 1.3 5.10. 2. dimana susunan data dalam file adalah 162 .J = 1.10.. Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut.. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu. 4..10)(A(I.4.12 5. 10. 2.*)(A(I. 8. 3 5. 8 9.SOAL-SOAL 60 5. 3..M READ(1. 60 READ(*. 1. 5..J). 6.6. 6.

N.30) WRITE(*.40) READ(*.J).20)NAMA_FILE_IN WRITE(*.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X.'JUMLAH BARIS : '.*)M WRITE(*. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.J = 1.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.M 60 READ(1.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*.A) DIMENSION A(M. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.A) CALL PRINT_MAT(M.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1.N.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.50) READ(*. 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.'JUMLAH KOLOM : '.*)(A(I.M.hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. N) CLOSE(1) RETURN END 163 .A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X.N.10) READ(*. FILE = NAMA_FILE_IN.$) FORMAT(6X.M.

110) DO 70 I = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 5. 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 .N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.A) DIMENSION A(M. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data. 4. 3.80)(A(I.J). 5. matriks 4 x 4 (MAT44) 2. 5.N. 2.J =1. 3.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. 2.$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X.F10.M WRITE(2.N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 14. FILE = NAMA_FILE_OUT. 6.5)) FORMAT(3X.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2. 4. 2 -3 .90) READ(*.

AND.40) READ(*.'JUMLAH KOLOM : '.30) FORMAT(3X. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.$) READ(*.$) READ(*. K READ(1.60) c c c 60 FORMAT(3X.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 .100).EQ.B(100.C WRITE(*.*)(A(I.*)N WRITE(*.40) 40 FORMAT(3X.K).190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.E(100. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS.B.*)(B(I.'JUMLAH BARIS : '.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*.EQ.100).J = 1.*)M WRITE(*.20) 20 30 FORMAT(3X.100).J).D(100.*)L WRITE(*.C(100. FILE = BACA_MAT. J = 1.100) CHARACTER BACA_MAT*15.50) 50 FORMAT(3X.L))THEN DO 100 I = 1.$) READ(*.30) READ(*.100). N) DO 80 I = 1.(N.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.*)K WRITE(*.HASIL_MAT*15 REAL A.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.10) 10 FORMAT(3X. M 70 80 c c c IF((M.J). SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1.

J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. N C(I. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.K).J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.K)THEN DO 160 I = 1. N 140 150 160 E(I.J) = A(I.0 DO 140 IK = 1.EQ.J) . L E(I. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X.J) + B(I.$) READ(*.L))THEN DO 130 I = 1.EQ. M DO 150 J = 1.J) = A(I.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN. 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*.110) ENDIF c c c IF(N. M DO 120 J = 1.PROGRAM DO 90 J = 1.110) 110 c c c IF((M.J) = 0.J) + A(I.IK)*B(IK.EQ.AND.'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 .180) 180 190 FORMAT(3X. N D(I.170) 170 c FORMAT(3X.B(I.J) = E(I.(N. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS.J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.

matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1.220)(A(I.J = 1.3)) WRITE(2.3)) WRITE(2. M WRITE(2. 2. 5 6 8 1 6 5 167 .290)(C(I. N) FORMAT(4(2X.3)) WRITE(2. M WRITE(2. J = 1.320)(D(I.F8.320)(E(I. N) FORMAT(4(2X. 3. 2.J = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2.hmymsc OPEN(UNIT=2. M WRITE(2. 3.240) 240 FORMAT(/2X. 'MATRIKS A(M. 3. K 250 260 WRITE(2.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1. 6.300) 300 310 320 FORMAT(/2X.J = 1.F8.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X.230) WRITE(2.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1. 7.270) 270 280 290 FORMAT(/2X.230) WRITE(2.J). L) FORMAT(4(2X. 'MATRIKS B(K.230) FORMAT(/2X) WRITE(2. L) STOP END Susunan File data.330) 330 340 FORMAT(/2X.J).3)) WRITE(2. 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1. 7.J). 6. L) FORMAT(4(2X.260)(B(I.F8. FILE = HASIL_MAT.J = 1.230) WRITE(2. 4. K WRITE(2. 2.J).J). 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1.F8.

$) READ(*.10) 10 20 30 c c c WRITE(*.100).ACY WRITE(*.PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. FILE = BACA_MAT.TL. J = 1.60) 60 FORMAT(3X.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.100).TL(100.100). + INVL(100.AGJ.$) READ(*.90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.INVTL(100.100).AGJ(100.30) FORMAT(3X.L.ACY(100.20) FORMAT(3X.L(100.INVL.'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '. N 70 c READ(1.J).100).INVTL.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.HASIL_MAT*15 REAL A.100).*)(A(I. N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X.100) CHARACTER BACA_MAT*15.*)N 168 . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.JMLH.

N OP = AGJ(I.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.120)(A(I. N WRITE(2.$) READ(*.N) ADALAH : ') DO 110 I = 1.IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I.IP) DO 150 J = IP.3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 2*N AGJ(I.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.EQ. 2*N AGJ(I. N DO 140 J = 1.J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1. FILE = HASIL_MAT.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*.J+N) = 1.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2. N IF(I.J) + OP * AGJ(IP. N IF(I. 'MATRIKS AWAL A(N.J) = A(I.J).F8.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X.J) = AGJ(I. N DO 130 J = 1.IP)/AGJ(IP. N) FORMAT(8(2X.J = 1.I) 169 .J)THEN A(I.EQ. N DO 160 I = 1.80) 80 90 FORMAT(3X.

'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1.205) FORMAT(/2X) WRITE(2. N ACY(I.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2.J) = AGJ(I.F8.259) DO 258 I = 1. N WRITE(2.230)(L(I.K)*L(K.J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J).0 DO 255 K = 1. N 258 259 WRITE(2. N WRITE(2. 2*N AGJ(I. N ACY(I.J) = 0.J) = AGJ(I. 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 . N DO 200 J = 1. 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1.J) = ACY(I.3)) WRITE(2.PROGRAM DO 180 J = 1.J). J = 1. N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1.J+N).230)(ACY(I. N) FORMAT(8(2X.J) + A(I. N L(I.210) FORMAT(/2X.240) 240 250 FORMAT(/2X.J = 1. J = 1.230)(AGJ(I. N DO 256 J = 1. N) FORMAT(/2X.

NE. N DO 280 I = 1.JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1. N 265 c c WRITE(2.I) = (A(K. N IF(J. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I.K) = SQRT((A(K.I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1.0 DO 270 J = 1. N L(I. N DO 310 J = 1.0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1.J)*A(K. N DO 260 J = 1.J) * A(K.J) A(K. J = 1.J) = 0.J) 321 CONTINUE 171 . N IF(A(I. N DO 321 J = 1. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1.I) DO 260 I = 1.K-1 JMLH = 0.I) JMLH = 0.J) = A(I.J) A(K.GT.K) .I)THEN A(I.0 DO 290 J = 1.J) = A(J.J).hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I.230)(A(I.A(J.J). K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K.I)-JMLH)/A(I.

J) INVL(I. N DO 370 J = 1.389) DO 385 I = 1.K)*INVL(K. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L .K)*INVL(K. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH .382) DO 381 I = 1.3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1.340)(L(I. J = 1. N) FORMAT(/2X. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 .J). N ACY(I.0 DO 386 K = 1.I) = 1.L(I. N 381 382 WRITE(2. J = 1. N ACY(I. J = 1.J) = INVL(I. N 385 389 WRITE(2. N DO 387 J = 1. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1.J) = ACY(I.0/L(I. INVL WRITE(2.J).J) = 0.PROGRAM WRITE(2.325) 325 330 340 c FORMAT(/2X.230)(INVL(I.J). N WRITE(2. N) FORMAT(8(1X.INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1.0 DO 360 K = 1.J) + L(I.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH.J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. I-1 JMLH = 0. N) FORMAT(/2X.I) DO 380 I = 2. N 350 INVL(I.230)(ACY(I.F8.

K)*INVTL(K.J) = -TL(I.J).J) = JMLH/TL(I.410) 410 FORMAT(/2X.F8.TL(I. N 440 INVTL(I. N-3 DO 500 J = I+3.I) DO 460 I = 1.I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1.J)/TL(I.430)(TL(I.J)*INVTL(J.I) 173 . N JMLH = 0 DO 465 K = 2.I) JMLH = JMLH .I) = L(I. N DO 390 J = 1.J) INVTL(I.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2.TL(I. N-1 J = I+1 INVTL(I. 'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1.hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1. J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH .N 420 430 WRITE(2. J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1.3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1.J) INVTL(I. N-2 DO 470 J = I+2. N) FORMAT(8(1X.J = 1. N JMLH = 0 DO 490 K = 2.0/TL(I.J) = JMLH/TL(I. N TL(J.K)*INVTL(K.I) = 1.

N ACY(I.F8.J) = 0. J = 1. N) FORMAT(8(1X.K)*INVTL(K.J) + INVTL(I. J = 1. N 560 570 c WRITE(2.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.3)) FORMAT(/2X.J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 . N ACY(I. N DO 530 J = 1.J) = ACY(I. N DO 590 J = 1. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.0 DO 580 K = 1. N ACY(I. N) FORMAT(8(1X.620)(ACY(I.J) = ACY(I.K)*INVL(K. N ACY(I.890) FORMAT(2X.PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1.550) 550 FORMAT(/2X.J) = 0. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.J).0 DO 520 K = 1.630) DO 610 I = 1.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1.570)(ACY(I.J).J) + TL(I.F8. 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1.

4.C(100). 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th.XBARU.100).HASIL_MAT*15 double precision A. -1.30) 30 FORMAT(3X.20) 20 FORMAT(3X.*)N WRITE(*.$) READ(*.EPS. -1. 0.X(100) CHARACTER BACA_MAT*15.SELISIH WRITE(*.X. 4.$) 175 . -1.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. matriks 4 x 4 (MAT4S) 4.hmymsc END Susunan File data.GALAT. 0. 0.'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.C. -1. -1. -1.

'BATAS KETELITIAN : '. N 50 READ(1.J)= DUMMY X(I) = 0.40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1.ABS(A(L.60) 60 70 FORMAT(3X.K)).NE.K)THEN DO 110 J = K.70) FORMAT(3X. N) CLOSE(1) WRITE(*.80) 80 FORMAT(3X.0 : '.K)). N IF(ABS(A(I.*)EPS WRITE(*.$) Prosedur Pivoting 176 .*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1. N 90 c c DO 120 K = 1. 'BATAS ITERASI READ(*.*)(A(I.J) A(L.*)(C(I).K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L. J = 1.PROGRAM READ(*. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1.00000001))THEN WRITE(*.GT.J)= A(K. N) READ(1.J). 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*. N DUMMY = A(L.(0.*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L.$) READ(*.LE. FILE = BACA_MAT. N L=K DO 100 I = K+1.I = 1.J) A(K.

'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*. M GALAT = 0.LT.190) 190 FORMAT(3X.X(I))/XBARU) IF(GALAT. FILE = HASIL_MAT.180) FORMAT(1X.160) FORMAT(/2X.$) READ(*. N IF(J.NE.0 DO 140 I = 1.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 . N XBARU = C(I) DO 130 J = 1.LT.I)THEN XBARU = XBARU . 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.A(I. STATUS = 'NEW') WRITE(*.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1.40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2.I) SELISIH = ABS((XBARU .SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT.

2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 .40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th.2 -0. 7. -0.2.85.3 10 71.5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3. 0.30.1. I = 1. -19.1. N) 210 250 FORMAT(8(2X.200) 200 FORMAT(/2X.3. 0. -0. 7.210)(X(I). 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2. -0.PROGRAM WRITE(2.F10.

Q_GENERATE(100).100). INTEGER SWITCH.P_LOAD(50 ).BAHRTRFO(100).BAWLTRFO.BUS_AWAL.NFILE_IN 179 .SR.SUM.TAHANAN.Y_CHARGING(100).V_MAGNITUD(100).V_SUDUT(100).EN(100).Y_BUS.V_SPECT(100).EPSILON.TAHANAN(100).NOKPSITOR(100).NOMORBUS(100) EI.REAKTANSI.V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.YLP(100.Q(100 ).RATIOTRF(100).BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.Y_CABANG(100).NOTRAFO(100).BAWLTRFO(100) .LCHARGING.Q_LOAD(100) .S ALPHA.P(100).BUS_AWAL(100).EII.TIPEBUS(100).BUS_AKHIR.DX.LCHARGING(100).Y_BUS(100.Q_MIN(10).Q_MAKS(10). + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).P_GENERATE(50).YLP.KLP(100).BUS_AKHIR(100).SUSCEPTAN(10 0).100).MAGE.hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).R.KLP.E(100).

ISEC.P_GENERATE(I).JMCABANG.I1000TH) WRITE(*. JMCABANG 30 + READ(1.LCHARGING(I) 180 . JMLKSTOR 60 READ(1.70)IHR.JMLKSTOR.EPSILON READ(1.ISEC.I100TH. JMLTRAFO 50 READ(1.V_SUDUT(I).*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.*) DO 60 I = 1.*) DO 50 I = 1.10) 10 20 FORMAT(3X.I100TH.Q_LOAD(I).$) READ(*.BAHRTRFO(I).2.IMIN. Q_MIN(I).ISEC.*) DO 30 I = 1. REAKTANSI(I).2.IMIN. STATUS = 'OLD') READ(1.JMLHBUS.*)NOCABANG(I).Q_MAKS(I).I1000TH OPEN(UNIT = 1.PROGRAM WRITE(*. JMLHBUS 40 + + READ(1.*) READ(1. Q_GENERATE(I).JMLPVBUS.I100TH.1H:I2.2.*)MVADASAR.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR.*)NOTRAFO(I).20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.I1000TH) WRITE(*.BUS_AKHIR(I).70)IHR.1H:I2.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.TAHANAN(I).JMLTRAFO.*) DO 40 I = 1.1H:I2.1H:I2.V_SPECT(I).2) READ(1.BAWLTRFO(I). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.V_MAGNITUD(I).IMIN.ISEC.P_LOAD(I). + ALPHA.TIPEBUS(I) READ(1.*)NOMORBUS(I).*)NOKPSITOR(I).I100TH.I2. FILE = NFILE_IN.RATIOTRF(I) READ(1.BUS_AWAL(I).IMIN.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.2.

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

2F10.I1000TH) WRITE(2.0.70)IHR.I100TH. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I).IMIN.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .J) CONTINUE FORMAT(2X.I1000TH WRITE(2.333) 333 FORMAT(2X.ISEC.0) CALL GETTIM (IHR.331) 331 337 FORMAT(2X.//T6.REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 . 'PARAMETER BUS : '.I3.'-'. JMLHBUS WRITE(2. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2.1)K = I DO 360 I = 1.5) DO 350 I = 1.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2.336)I.332)KLP(I) WRITE(2. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I))./.) DO 337 I = 1. JMLHBUS DO 334 J = 1.ISEC. ' ITERATION'.EQ./.YLP(I. 'PARAMETER JARINGAN : '.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.IMIN.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI./) 332 FORMAT(10(1X.0.I3.I100TH.2F10.I4. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0.5)) DO 370 I = 1.J.2X.) DO 335 I = 1. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.

1)THEN WRITE(2.5.2X.F10.E(I).//T6.4.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.5.F9.6X./) DO 390 I = 1.5.395)NOCABANG(I).3I5.R*MVADASAR 395 FORMAT(' '. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .5.F10.F9.F10.0.EQ.5.F9.NQ.407)P(I)*MVADASAR.5.385) 385 FORMAT(' '.R) WRITE(2.I2.0) WRITE(2.375)I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).F9.1X.0.1X.//T6.Q(I) 375 FORMAT(' '.5) WRITE(2.PROGRAM 370 WRITE(2.MAGE.405)SR 405 + FORMAT(' './/T6.DELT*57.F9.NP.Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.'MW '.5.'MW 186 .F7.1X.29578.NP.1X.P(I).F10.1X.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.'MVAR') DO 406 I = 1.5) SUM = CMPLX(0.'DAYA PADA BUS BERAYUN '.5X.'MVAR') : '.4.S*MVADASAR 390 WRITE(2.395)NOCABANG(I).6X.6X.NQ.2F8.

0.0 . .00 .VSUDUT.0 .VMAGNITUD.00 0.06 0. 0.000001 0.00 30. 40.00 . .0 .0 .0 .00 .015 0. 0. 0. .025 0. . . .00 .PGENERATE.00 1.00 1. .01 . 0.0.03 0.ALPHA. 0. .0 .0 .0 .EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 . . 0. . 0. 20.0 . 2 .0 .QMAKS.0.hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL.005 . . . SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th.0 .02 0. .REAKTANSI. 0 0. 0.JMLKAPTOR. 0.DAT) MVADASAR. NOTRAFOR.0 .0. 5 .TAHANAN.08 0.4 . 0. .00 .0 . 0. 0 . .QGENERATE. .0 .JMTRAFO. .0 .06 0.BUS_AKHIR. . 5.025 NOCABANG.VSPECT.08 NOBUS. . .0 . . 0. 7 2 3 3 4 5 4 5 .0 .ADMITANSI TANAH .0 . . 15.BUS_AWAL.PLOAD. .020 0. .00 0.06 1.0 . 0.0 . 40. . 0. .00 . . 0. . 0.010 0. 0. 4 . 10. .12 0. 10. . . 3 . . 45.24 0. .00 0. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 . 0.0. . 5 1 1 2 2 2 3 4 .04 0. 0 0 1.18 0. 0. . . . .06 0. 0 .00 .QLOAD.0 .24 .00 1.030 0.0 .0 .JMLHBUS. 0. 0. 1 3 3 3 3 0. 0. 0. 0. 60.TIPEBUS 1 . QMIN. . 0. RATIO(a) NOKAPASITOR.18 0. 0.0 .JMCABANG. 0 . . 0.020 0.0 .0. . 0. 0. 1.JMPVBUS.

Q_MAKS(10).P_GENERATE(50).50).NOKPSITOR(50). + + + + + REAKTANSI(50).Q_MIN(10).Q(50 ).Q_LOAD(50) 188 .SUSCEPTAN(5 0).V_SPECT(50).V_MAGNITUD(50).BAWLTRFO(50) .PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).LCHARGING(50).P_LOAD(50 ).Y_BUS(50.TAHANAN(50).BUS_AWAL(50).P(50).BUS_AKHIR(50).NOTRAFO(50).Y_CABANG(50).RATIOTRF(50).V_SUDUT(50).BAHRTRFO(50).

*)NOTRAFO(I).SUM.P_LOAD(I).C_ARUS(50).*)MVADASAR.Q_HITUNG(50).*) DO 50 I = 1.100).BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.I100TH.100).50).B_JA COBI(100).SR ALPHA. + ALPHA.B_SUSCEP(100.RATIOTRF(I) READ(1. Q_GENERATE(I).Y_CHARGING(50).I1000TH OPEN(UNIT = 1.V_SUDUT(I).*) DO 40 I = 1.V_MAGNITUD.BAWLTRFO(I).JACOB_2(50.IMIN.I1000TH) WRITE(*. JMCABANG 30 + READ(1.DELTA_PMAK.JMLH_1.JMLTRAFO.hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.10) 10 20 FORMAT(3X.V_SPECT. REAKTANSI(I).JMCABANG. JMLKSTOR 60 READ(1.DELTA_ SUDUT(50).V_SPECT(I).100).70)IHR. JMLTRAFO 50 READ(1.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.DELTA_MAG(50).TIPEBUS(I) READ(1.ISEC. JMLHBUS 40 + + READ(1.EPSILON.TAHANAN(I). FILE = NFILE_IN. STATUS = 'OLD') READ(1.BUS_AWAL(I).R.Y_BUS.JMLHBUS.LCHARGING.*)NOCABANG(I).100). JACOB_3(100.IMIN.D_ARUS(50).BUS_AWAL.TAHANAN. Q_MIN(I).V_MAGNITUD(I).S.JMLPVBUS.JMLH_2.REAKTANSI.*) DO 60 I = 1. XPV(50).TIPEBUS(100).P_HITUNG(50).Q_LOAD(I).P_GENERATE(I).DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG.*)NOKPSITOR(I).Q_MAKS(I).ISEC.EPSILON READ(1.100).$) READ(*.ARUS_BUS. G_KONDUK(100.DELTA_P(50).*) READ(1. INTEGER SWITCH.*) DO 30 I = 1.I100TH.TEGAN_P.NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).BAHRTRFO(I). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.NFILE_IN 189 .A_JACOBI(100. JACOB_1(50.MAGE.BAWLTRFO.LCHARGING(I) .SUSCEPTAN(I) READ(1.BUS_AKHIR.BUS_AKHIR(I).*)NOMORBUS(I).50).Q_GENERATE(50).V_SUDUT.DELTA_Q(50).JMLKSTOR.JACOB_4(100.DAYA_P.

NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.70)IHR.NK) = Y_BUS(NK. JMLTRAFO IF(I.1H:I2.EQ.I100TH.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.IMIN. JMLKSTOR IF(I.NQ) = Y_BUS(NQ.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.ISEC.2) 190 .NN) = Y_BUS(NK.I).NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.1H:I2. JMLHBUS DO 110 J = 1.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1.2.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.2.ISEC.00.2.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK. JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.NQ) = Y_BUS(NP.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I.CMPLX(0.00/CMPLX(TAHANAN(I).PROGRAM CALL GETTIM (IHR.0)GOTO 90 Y_BUS(NP.1H:I2.EQ.J) = REAL(Y_BUS(I.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN.SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.I1000TH) WRITE(*.00.I) = Y_BUS(I.IMIN.NP) = Y_BUS(NP.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1. JMLHBUS DO 100 J = 1.NN) = Y_BUS(NN.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ.J)) = CMPLX(0.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP.EQ.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.NK) = Y_BUS(NK.NP) = Y_BUS(NP.2.I100TH. JMLHBUS G_KONDUK(I.I2.1H:I2.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN.

+ REAKTANSI(I).2) WRITE(2.F8.200)NOMORBUS(I). 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '.' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1.I3.3X.5(5X./.J)) 191 . FILE = NFILE_OUT.2) B_SUSCEP(I. JMLHBUS WRITE(2.I3.JMLHBUS.F8.2X. 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '.3(2X.4. JMCABANG 160 170 180 WRITE(2.170)NOCABANG(I).TAHANAN(I). + ALPHA.4.JMLPVBUS.3.6X.F8.4X.5X. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1.SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X. JMLKSTOR 250 WRITE(2.I5.140)MVADASAR.3X.4) WRITE(2.4).JMLTRAFO./.F6.240) FORMAT(2X. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2.F8./.V_MAGNITUD(I).I5).F8.I4) WRITE(2. 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '.BAWLTRFO(I). 3(2X.JMLKSTOR. JMLTRAFO.F10.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2.4.4.F8.4.(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).TIPEBUS(I) FORMAT(I4. JMLPVBUS. ALPHA.JMLKS +TOR. EPSILON 140 150 FORMAT(3X.3X. +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1.F5. JMCABANG.4.260)NOKPSITOR(I).Q_MIN(I).LCHARGING(I) FORMAT(I5.1X.180) FORMAT(2X.I4.' -'.4X. 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '.5X.130) 130 FORMAT(2X.8) WRITE(2.120) 120 FORMAT(3X.I4). 'MVADASAR. EPSILON') WRITE(2.$) READ(*. JMLHBUS.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*.V_SPECT(I).RATIOTRF(I) FORMAT(2X.J) = -AIMAG(Y_BUS(I.V_SUDUT(I).F8./.210) FORMAT(2X.F8.F6.(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)).2X.JMCABANG.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1.230)NOTRAFO(I).150) FORMAT(12X.BUS_AWAL(I). STATUS = 'NEW') WRITE(2.2X.BUS_AKHIR(I).BAHRTRFO(I). 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '. Q_MAKS(I).

/.J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I.300) FORMAT(2X.5)) WRITE(2.350)(B_SUSCEP(I. J = 1.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X.0 DO 390 J = 1.J) .PROGRAM WRITE(2.F10. JMLHBUS WRITE(2.) FORMAT(10(1X. Q.330) FORMAT(2X. JMLHBUS) 192 ./.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0.F10.5)) DO 360 I = 1.IMIN.ISEC. 'ADMITANSI BUS : '.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 .I100TH. JMLHBUS WRITE(2. JMCABANG WRITE(2. 'ADMITANSI JARINGAN : '.V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2. dan DELTA_Q DO 400 I = 1.350)(G_KONDUK(I.5)) WRITE(2.70)IHR.J)./.ISEC.J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I.I1000TH) WRITE(2.IMIN.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X.I100TH. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). 'ADMITANSI KE TANAH : '.) DO 280 J = 1.EQ. JMLHBUS) DO 370 I = 1.J).*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I.0 DELTA_QMAK = 0. JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR.0 JMLH_2 = 0. DELTA_P.270) 270 FORMAT(2X.) DO 310 J = 1.0 c PERHITUNGAN : P.F10.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0. J = 1.

EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1.EQ.I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI.(DELTA_QMAK.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.EQ.Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I).I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I.EQ.1)GOTO 440 IF(J.LE.hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) .1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I).1)GOTO 450 DO 440 J = 1.1)THEN DELTA_P(I) = P(I) .EQ.LE.I) .V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1.1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI.NE.GT.I)THEN JACOB_1(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).AND.EQ.DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.NE.DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 .GT.EPSILON).I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.

NE.J) .J)) G_KONDUK(I. JMLHBUS-1 A_JACOBI(J.1)THEN WRITE(*.460) 460 FORMAT(1X.K) = JACOB_1(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I.PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.1)THEN IF(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I. JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.K) = JACOB_3(I.EQ.J) JACOB_3(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).K+1) A_JACOBI(J.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .J) JACOB_4(I.I) .J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.J)) JACOB_2(I.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.

NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.J) A_JACOBI(L.J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.00001))THEN WRITE(*.J) A_JACOBI(K. NBARIS_BUS+1 IF(J.ABS(A_JACOBI(L.hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1.GT.J) = A_JACOBI(K.PIVOT*A_JACOBI(K.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L.J)/PIVOT DO 570 I = 1.LE.NE.K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L. NBARIS_BUS DO 510 J = 1.J) .J)= A_JACOBI(K.K) DO 560 J = 1.(0.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I.J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K.GT. NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L.NE. NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.J) = A_JACOBI(I.K)).J) ENDIF 195 . NBARIS_BUS IF(I.K) DO 550 J = 1. NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1.K)THEN DO 540 J = K.K)).

EQ.I100TH.'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). NBARIS_BUS DO 590 J = 1. + ' ITERATION'.DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1./) DO 680 I = 1.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1.620)ITERASI 620 FORMAT(3X.70)IHR.ISEC.I100TH. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 .I4.'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '.670)ITERASI 670 FORMAT(' '.I1000TH) WRITE(2. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '.IMIN.XPV(I).*)I.'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .ISEC.T10.LT.JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.GT. NBARIS_BUS IF(I. NBARIS_BUS+1 IF(J.650)ITERASI 650 FORMAT(////.ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2.K.IMIN.GT.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR.//T6.I4) WRITE(2.I4.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1.

NP.I2.ISEC.F10.1)THEN WRITE(2.I1000TH) WRITE(2.5.hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).MAGE.F9.F9.1X.EQ.//T6.4.I100TH./) DO 740 I = 1.'MVAR') DO 770 I = 1. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.F10.720)I.1X. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.0.F9.6X.750)NOCABANG(I).I1000TH : '.29578.0.F10.5. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .F10.ISEC.Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.6X.1X.1X.F9.1)K = I DO 700 I = 1.2F10.780)P(I)*MVADASAR.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.5.REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2.'MW 197 .//T6.5. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).5X.6X.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.5) WRITE(2.750)NOCABANG(I).NQ.5.R) WRITE(2.NP.I100TH.IMIN.EQ.F7.760)SR FORMAT(' '.IMIN.5.DELT*57.730) 730 FORMAT(' '.NQ.5) SUM = CMPLX(0.0) WRITE(2.'MW +'.70)IHR.5.P(I). JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).1X.2X.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.5.//T6.3I5.S*MVADASAR 740 WRITE(2.COMPLX_TEG(I).Q(I) 720 FORMAT(' '.'MVAR') CALL GETTIM (IHR.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.F9.

*) 1000 STOP END 198 .PROGRAM 900 WRITE(*.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful