PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v . 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 6 Metoda Fast Decoupled 5. 1 Umum 6. 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 5 Metoda Newton Raphson 5.BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 3 Representasi Transformator 6. 3 Persamaan Performance Jaringan 5. 7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 1 Pendahuluan 5. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB. UNSRI 1 .

Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I. Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. 2.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui. b1. koefisien. Dalam bentuk matriks. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I.2-3) 1 . persamaan (I. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek. I. Subskrip pertama i. Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer. 1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I. dan b3 parameter-parameter yang diketahui.. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I. disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang. Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. x2. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir. variabel. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks. b2. menunjukkan baris dan subskrip kedua j.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1.

seperti dalam contoh berikut...PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n... seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 .... ⎥ ⎢a 51 a 52 .. antara lain : A.. ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I.a nm ⎥ ⎣ ⎦ B.. ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢.. [a11 a12 .... MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j. matriks tersebut adalah matriks segitiga atas.......................... m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom). 2. sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal.a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢.. Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris. MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom..... 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks.BAB 1 ...... Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar..... aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal. sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom..........

matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. untuk i ≠ j). untuk i = j dan aij = 0. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E. maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu. TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan.. matriks tersebut disebut matriks diagonal.hmymsc C. sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. untuk i ≠ j). seperti 3 . seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F. MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0. seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D. matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. dan elemen lainnya Nol (aij = 1.

PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G. untuk semua ij.BAB 1 . seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij . MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . seperti : 4 . tetapi tidak semua elemen aij = 0. ⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H. seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri.4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. matriks tersebut disebut matriks simetris. dan elemen diagonal berharga Nol. tetapi berlawanan tanda(aij = -aij).5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT. matriks ini disebut matriks skew . maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri.6 .

matriks A disebut matriks orthogonal. matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*. MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ . MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill.hmymsc ⎡0 . seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 . seperti : 2 . MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya. K. MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T .2 . dimana semua elemen diagonal berharga Nol. seperti : 2 . maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L.j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 . MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb). maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri.j3 ⎦ N.j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T.3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M.5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢.j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣.j2 1 .

MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal. Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 . sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. aij = 0. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0. sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0.BAB 1 .PENGKOM O. Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3. seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P.

a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 .AT A = A* A = .a12 a 21 Langkah berikutnya.a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A.hmymsc Tabel I-1. Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 .a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 . Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel.a 21 b1 a11 a 22 . DETERMINAN I. substitusi harga x1 kedalam persamaan (I. 3.dari pers.3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 . sebagai berikut : .A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I.a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 . 3. dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I. kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 . 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I.a12 b 2 a 22 b1 .

n. x2 = I. 2.PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 .. 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i.a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga.a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1.BAB 1 . kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij .. untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 .. Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21. . Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya.. yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1. jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal. 3..

hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. bilamana elemenelemen aij = bij. Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 . hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. lalu matriks tersebut ditranpose. maka kedua matriks disebut matriks sama. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1.1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. 4. 4 OPERASI MATRIKS I. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya. 3. Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1. yaitu : A=B I. 4.

Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut.…. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I. 4.. misal : kA = B. Baris matrik A) 10 . PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar.3-2) dengan : i = 1. dengan dimensi yang sama pula. 4 PERKALIAN MATRIKS A. 4.PENGKOM 3. sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut..BAB 1 . Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I.2. 3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama. Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B.m (Jml. akan menghasilkan matriks baru C.

Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan.2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 .. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA..J) = C(I.K)*B(K.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1. L C(I. ini merupakan aturan reversal.J) = 0 DO 10 K = 1. AB = 0. Jika matriks A. M DO 20 J = 1. karenanya aturan komutativ tidak berlaku. kecuali untuk matriks bujur sangkar. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB. tidak berarti A = B Jika C = AB.2. B. DO 30 I = 1. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut.. namun BA tidak dapat dilakukan.J) + A(I. dimana CT = BTAT. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks. N C(I. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B.…. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1.k (Jml.hmymsc j = 1.

tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II. dan berlaku: 12 . dan x3 sebagai fungsi b1. b2. dan b3.BAB 1 .PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C. INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks. yaitu : x = Cb (II. Namn demikian.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II.4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. kecuali pembagian matriks dengan skalar. Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar. x2.

Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II. maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE. dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix.I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II.4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: . yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A. antara lain : C. Sebaliknya. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ . kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1. maka tidak ada inverse dari matriks tersebut. Bila determinan dari matriks berharga Nol.4-2).4-4) 13 . sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama. matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse.hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II. 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n. bila determinan ≠ 0. matriks seperti ini disebut matriks singular.

N IF(I. Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan.P*A(K. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U.J)/P DO 30 I = 1.BAB 1 .N P = A(K.K) DO 10 J = 1.J) .PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I.K) DO 20 J = 1.NE. C. 2*N A(I.K)THEN P = A(I.2*N A(K. berikut : DO 30 K = 1. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 .4-3) menjadi (II.J) = A(I.J) = A(K.2.J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2.

oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan. yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II.4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer. yaitu : A-1 = U-1 L-1 .hmymsc Dengan cara ini. Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II. invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU. C. 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat. (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C. sehingga tidak efisien.4-9) . perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar. metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik.

k pers) untuk =1.n (Jml..L31L31 ....2.. k n (II. persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk ....PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II..2.4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II. didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II..∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki .BAB 1 . -1 k Dari persamaan (II. perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT. terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 ..4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU.4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 .4-13) untuki =1.L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 .∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1..2.L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 .4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II.4-13) dan uraian sebelumnya.L32L32 Dalam bentuk umum..

baik dalam bentuk LT atau L. N DO 40 I = 1. I-1 JMLH = JMLH + A(I. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3.I) JMLH = 0 D0 50 J = 1.K) – JMLH)) Gambar I-3. K-1 JMLH = JMLH + A(K.K) = SQRT((A(K.J)*A(K. berikut ini : DO 20 I = 1.I) – JMLH)/A(I.J)*A(K.*)A(J.J) A(K.I) = (A(K. langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L.I) CONTINUE DO 60 K = 1.J) A(K. Selain hal tersebut. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 . N DO 10 J = I.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1. N READ(1. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A.

(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum.n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = ...BAB 1 .. n dan j = 1.⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1. maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II.0/L(I.. n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4.2.. dapat dimisalkan matriks lain B = L-1... I-1 18 . N B(I. ...(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = .PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I.. 10 DO 10 I = 1.4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas. N DO 30 J = 1. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = . I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1.2.I) D0 40 I = 2......b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2... Untuk mencari L-1..3. berikut ini. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← .I) = 1.

I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4. maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II.(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = .... Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L). .2 dan j = i + 2.hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I. sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I..2. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B. tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh.. Untuk mencari(LT)-1... .J) = B(I.2.(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum. .1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1... dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1. n . n b kj i = 1.2.3 dan j = i + 3. . n . dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1.. .J) B(I.4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.2. n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5. n .K)*B(K. diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = . berikut: 19 .n bij = −a ijbij /a ii i = 1.

J 60 JMLH = JMLH –L(I.Berdasarkan persamaan (II. N-3 DO 70 J = I+3. berikut: 20 .J) = JMLH/L(I. N 10 B(I.J) = -L(I.J) B(I.I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5. N JMLH = 0 DO 60 K = 2. N-1 J=I+1 B(I.J)*B(J.I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1.4-13). N-2 DO 40 J = I+2.PENGKOM DO 10 I = 1.0/L(I. Gambar I-4.BAB 1 . CONTOH 1. Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3. N JMLH = 0 DO 30 K = 2. akan diperoleh elemen matriks L.J)/L(I.K)*B(K.J) B(I.I) D0 20 I = 1.I) = 1. Gambar I-5 dan Gambar I-1.I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1.3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian .K)*B(K. J 30 JMLH = JMLH – L(I.J) =JMLH/L(I.

…. Sebagai contoh..……. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya.{cn}. memenuhi persamaan (). 5. Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}.n)..hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I. Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear. 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A. Jika beberapa qr ≠ 0. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}…….2.m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ ……. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1. Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ …….2. tinjau matriks A.+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya.. 5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I. Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan (). vektor kolom tidak bebas linear. maka determinan A adalah Nol. Rank kolom sama dengan Rank baris.+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1. I. berikut ini: 21 . Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A. vektor baris tidak bebas linear. 5.

PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a). p2 = -1. q2 = 0.3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2.⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3. maka Rank matriks adalah 2 1. karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 . dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear.BAB 1 . Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I. dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear. SOAL-SOAL BAB 1 1. Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 . 6.

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 . Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = .⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis. 2.hmymsc II. grs-2 X1 Gambar II-1. 1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian. Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas. berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers.⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan. dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2. sebagaimana contoh Gambar II-1.

PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c. karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. seperti dalam Gambar II-2c. II. Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2.BAB I1 . grs-2 pers grs-1 pers. terdapat solusi yang tidak terbatas. Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular. dan tidak praktis. X2 X2 pers. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem. grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. 2. memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel. Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. Singular X1 X2 pers. ILL CONDITIONED Gambar II-2. yang berlaku untuk i = 1. sistem mendekati singular. diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. Pada kasus lain.……n 26 . Pada Gambar II2b. Pada kasus ini. berikut ini. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi .2. SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b. Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3.hmymsc • • Baris pivot : baris 1.1) do 10 j = 2.j) a(i..j) = a(i.an2 Baris pivot : baris 2. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2. a42.…….j) – p * a(1. dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3.n p = a(i. dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 .1)/a(1.1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2..n a(i.

2) do 10 j = 3.j) – p * a(2. 10 20 30 II. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM). 4. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3.J) – P * A(K.j) a(i. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 . sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4. Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS. DO 30 K = 1. dibutuhkan n-1 langkah eliminasi.K)/A(K. 2.j) = a(i.BAB I1 . N A(I. Untuk SPL berukuran n.K) DO 10 J = K+1. penyelesaian dilakukan langkah demi langkah.n p = a(i.J) A(I. N P = A(I. N-1 DO 20 I = K+1.J) = A(I.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4.2)/a(2.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3.n a(i.2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya.

sebab a11 = 0. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = . Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1. dapat mengakibatkan pembagian dengan nol. dan 2) Determinan ≈ NOL.4 33 . demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut. B.3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol. PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol.hmymsc A.5x 1 + 2 x 2 = 10. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1). GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya.4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1. atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya.1x1 + 2 x 2 = 10.

561700 .100000x2 .19000x2 .10x3 = 71.BAB I1 .30 0.7x2 .10.1000 / 3.85 0.3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 .0.1x1 .PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2.000) x(−0.2x3 = 7.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.1000) = 0.200000x3 = 7.1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7.6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2.0.3000 / 3.85) = 19.293333x3 = -19.1 / 3) x(7.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.850000 7.3x3 = -19.1000) = 7.000000x1 .1 / 3) x(−0.003330x2 .02000x3 = 70. dengan pivot (p) = a31/a11 = (0. dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.1x2 .2x2 . elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.0.0.0.0.3 − (0.3 − (0.293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19.561700 2 Operasi pada baris ke 3.3x1 .003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.0000 − (0.0.0.2) = −0. elemen pivot elemen a22 34 . dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.2 − (0.000) x(−0. a31 o Baris pivot : baris 1.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10.40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.

100000x2 .084300/10.2) = −0. 2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas.500000 3.561700 10.0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3.850000 7.003330x2 .561700 x2 = -2.0.000030) = -19.0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0.084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut.hmymsc o Operasi pada baris ke 3.0. dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3.19/7.000000x1 .(0.01200x3 = 70. 2. Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 .293333)(7. PIVOTING C.293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70. antara lain : A. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan.200000x3 = 7.3 − (0.0. SCALLING A.0000000 Dengan cara sama.293333x3 = -19.01200 = 7. dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0.293333x3 = -19.1 / 3) x(−0.0. yaitu: x3 = 70. untuk harga x1 didapat: x1 = o o II. 4.003330x2 . 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).003330x2 . didapat: 7.00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10.561700 7.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua.

36 . dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3. a32. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut. sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan. karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22. a21.BAB I1 . an2}. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n.an-12.PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama. an1}. sehingga didapat matriks berikut.………an-11. Misalkan a11 adalah elemen maksimum.…………. ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar. sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n.

K)).J) = A(K. yang merupakan gabungan dari Gambar II-5.LE.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.LE. N 10 37 .K)).GT.J) = A(K.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.J) A(K.NE.J) A(K. Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan.J) A(L. N IF(ABS(A(I.(ABS(A(L. dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1.K)).hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L. N DUMMY = A(L.(ABS(A(L.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5.K)THEN DO 20 J = K.K)THEN DO 20 J = K. N IF(ABS(A(I.EPSILON)THEN WRITE(*. II-4.EPSILON)THEN WRITE(*.GT. N-1 DO 40 I = K+1.K)).J) A(L.NE. N DUMMY = A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.

0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.K)/A(K.(1 – (1/0.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0.0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.000)x2 = (1 – (1/0.0003)10. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.0000x2 = 1.0000x2 = 1.4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.0001 1.PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I. N A(I.0000x1 + 1.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1.0003).9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.0000x2 = 2.K) DO 30 J = K+1.000 x2 2.J) = A(I.0003 0.0001 − 3.0000x1 + 10.0001 − (3.J) – P * A(K. diperoleh: 1.0000x1 + 1.1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.I) END Gambar II-6.000/0.N) DO 70 I = N-1.0000 . 38 .J) A(I. N JMLH = JMLH + U(I.0000x1 + 10.BAB I1 .0003x1 + 3. maka 1.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .

6667 0.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.30000 0.6666667 X1 -3.000)x2 = (2.0000 2.000)1.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.000 sehingga persamaan menjadi: 1.0000x2 = 2.0000 − (1. persamaan menjadi: 1.0003x1 + 3.3333 0.667 0.0000x2 = 1.9998/2.333 0.6667 0.000)1.667 0.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.(3 – (0.000.6666667 X1 0.330000 0..3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.33 0.0003/1.66667 0.0003/1.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.0001 – (0.666667 0.01 0.0000x2 = 2.9997x2 = 1.0000x1 + 1. diperoleh: 0.666667 0.0000x1 + 1.0003/1.9998 x2 = 1.1 0.000 x2 1.0000 0.9997 = 2/3 x1 = 1.0001 . Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot.0000 1.0003x1 + 3.0001 0.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.0000x2 = 1.9997x2 = 1.0000 0.333333 0.001 0.33333 0.9998 Penyelesaian menjadi 2.66667 0.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 .0000 − 1.

N+1 A(I.J) .J)/P DO 30 I = 1. 2. semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. dengan kata lain.P*A(K.J) = A(K.N+1 A(K.J) = A(I. 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss.NE. Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu.BAB I1 .J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7. sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I).K) DO 10 J = 1.K) DO 20 J = 1. N IF(I. semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya.K)THEN P = A(I. DO 30 K = 1.N P = A(K. berikut ini. harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian.PENGKOM II. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS). Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 .

0.000000 ⎢0.020000 2.3000000⎥ ⎥ 71.100000 .0.0666667 .2000000 .190000 .3x3 = -19.61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.0.0.7x2 .100000 .3000000⎥ ⎥ 71.3x1 .5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut. sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.616670 ⎤ .19.000000 ⎢ ⎢0.400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya.0. sebagai berikut: .0.30 0.000000 ⎣ .0.000000 ⎢0.000000 7.0.850000 ⎤ .000000 . diperoleh: ⎡3.000000 ⎢ ⎢0.0. normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.0666667 .000000 ⎣ .2x3 = 7.40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas.10x3 = 71.3000000 10.hmymsc CONTOH 2.793220⎥ ⎥ 70.2.300000 ⎣ .Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .0. dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.0.100000 7.0666667 . Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena).19.85 0.020000 2. yaitu a11 ⎡1. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1.000000 2.616670 ⎤ .0. untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.1x1 .190000 .0.616670 ⎤ .0.0000000 . diperoleh: ⎡1. 3x1 .2x2 .033333 1.033333 7.0.003333 .0.19.000000 ⎢0.5617000 ⎥ ⎥ 70.0.1x2 .0.0.615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3.3000000 10.0418848 10.2933333 10.033333 7.100000 ⎢ ⎢0.000000 .300000 ⎣ .100000 ⎢ ⎢0.0.400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut.000000 ⎢0.

metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah.4.000000 1.0.0000000 0.793220⎥ ⎥ 70.5000 ⎥ ⎥ 7.0120000 2.500000 x3 = 7.000000 0.523560 ⎤ . normalisir baris ketiga.793220⎥ ⎥ 70.0000000 0. dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar.000000 ⎣ 0. [b] = ⎢b ⎥ .2.000000 x2 = 3. didapat: ⎡1.000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3.2.0000000 0.000000 ⎢ ⎢0. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ .0680624 .0. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II.0000000 0.000003 II. karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.0.00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua.0680624 . matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU. untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini.000000 ⎢ ⎢0.000000 ⎢0.000000 ⎢ ⎢0.0000000 2.0000000 . Pada metoda ini.0000000 1.000000 ⎢0.0418848 1.Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1.0000000 1.0418848 10.000000 ⎣ 0.BAB I1 .000000⎤ . Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut.000000 ⎣ 0.000000 3.0. [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 . didapat: ⎡1.000000 ⎢0. 2.2.0000000 .PENGKOM . [x ] = ⎢ x ⎥ .523560 ⎤ .0000000 1.08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).2.

sebagai berikut : 43 .u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2. Dari L Y = b. [U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1.hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ . Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 .

1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 .1) DO 90 I = 2.1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1. N-1 DO 60 K = J+1.J) L(I.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I. I-1 JMLH = JMLH + L(I.J) = A(I. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.J)/L(1. J-1 JMLH = JMLH + L(I.N) DO 110 I = N-1.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1.K) – JMLH)/L(J. N JMLH = JMLH + U(I.1) DO 20 J = 2.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1.BAB I1 .I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2. N JMLH = 0 DO 80 J = 1.K) = (A(J. N L(I.N) = A(N.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.I) X(N) = C(N)/U(N.J) .1) DO 40 J = 2.J) = A(1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.JMLH DO 60 J = 2.I)*U(I.K)*U(K. N-1 DO 40 I = J. N U(1. J-1 JMLH = JMLH + L(J. N-1 JMLH = JMLH + L(N.6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ .1) = A(I.K) U(J.N) L(N.K)*U(K.

N JMLH = 0 DO 50 I = 1.3) – (L(3.1) Diperoleh: L(1. J-1 JMLH = JMLH + L(J.3) = A(1.2) = 2 1/3 U(3.1)U(1.J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2.1) = A(1.K) = (A(J.J) – JMLH DO 60 J = 2.2) = .N) = A(N. N-1 DO 60 K = J+1.2) = A(3.3) + L(3.1) Diperoleh: U(1.I)*U(I.1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2.J)/L(1.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2.K) U(J.hmymsc 10 DO 10 I = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.1)U(1.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .1) = A(I.1) = 3 L(2.2) = A(2.2)U(2. N U(1.3) = A(3.J) = A(I.2) – L(2.K)*U(K.J) L(I.K)*U(K.N) – JMLH Diperoleh: L(3.2) = A(1.N) L(N.2)/L(1. N-1 DO 40 I = J.2) – L(3. J-1 JMLH = JMLH + L(I.1) = A(2.1) = A(3. N L(I. N-1 JMLH = JMLH + L(N.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1.1) = 1 L(3.J) = A(1.1) = 2/3 U(1.K) – JMLH)/L(J.1)U(1.3)/L(1.

11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 .11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y].11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II.1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2. 2.PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 .BAB I1 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .1/3 2/3⎤ ⎥ . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 . 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif. Bila suatu SPL 46 . maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan.1/3 2/3⎤ ⎥ .

hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1. harga xi dapat dicari. Faktorisasi matriks A 47 . sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1).…n Y1 = b1 / l11 2. Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II.3. Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3.2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2.

9.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian. berdasarkan program dalam Gambar II.J)*A(K.I) – JMLH)/A(I.K) = SQRT((A(K. diperoleh: ⎡2. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.454 ⎣ 0 4. N READ(1.BAB I1 . N DO 30 I = 1. N DO 10 J = I+1.J) A(K.1) DO 70 I = 2.J) A(K.N) DO 90 I = N-1.1106⎥ ⎦ 0 48 .1237 ⎢ ⎢22.*)A(J.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I. I-1 JMLH = JMLH . K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1.1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1.J)*A(K. I-1 JMLH = JMLJ + A(I.I) JMLH = 0 DO 40 J = 1. menghitung elemen matriks antara Y.A(I.I) DO 50 K = 1.1833 20. N JMLH = JMLH + A(J.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2. K-1 JMLH = JMLH + A(K.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1. N JMLH = 0 DO 60 J = 1.PENGKOM menjadi matriks L.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6.I) = (A(K.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I.I) X(N) = Y(N)/A(N.4495 [L] = ⎢6.

3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi..a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 . misal : x 1 = (x 1 ........ ⎥ ⎢...... a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a . digunakan strategi pivoting. x n = (b n .. Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan........... Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan.. ⎥ ⎢.. sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 .....a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II.....3-2).. x 1 . x 0 ) 2 n n (II... maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama......... metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar.. x 1 ) i 1 2 3 n n 49 ......a 2n x n ) / a 22 ... . 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100. Akan tetapi.. untuk semua harga i............. Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 .... ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 . x 0 .... karena adanya galat pembulatan....x 0 -1 .. .a n2 x 2 ..........a n1 x1 .......... x 1 ..a12 x 2 . presisi diperketat....a 21 x1 . marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 ....a13 x 3 ......a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢.3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A......... dan seterusnya xn untuk persamaan ke n....3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II.......hmymsc II........ x 3 ..... a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II............x 1 -1 ........a 23 x 3 .. Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik. ... karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik)...... digunakan matriks jarang.... Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini.. aii ≠0. x2 untuk persamaan kedua........ sehingga didapat harga xi baru.

kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i. dari persamaan (II.PENGKOM Harga x 1 .10.3-2) dan (II. Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i. berikut ini : 50 . Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan. SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal. Perhatikan ilustrasi berikut.3-3) Untuk semua i. dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A.3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II. atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B.BAB I1 . lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i. ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas.

M GALAT = 0.*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10.0 DO 50 K = 1. N X(I) = 0.K)).LE. N XB = C(I) DO 60 J = 1. N DUMMY = A(L.J) = A(K.(ABS(A(L.NE.EPSILON)THEN WRITE(*.J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I.K)).*)(A(I.J). N READ(1.0 DO 70 I = 1. N L=K DO 30 I = K+1.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L. N IF(ABS(A(I.J) A(L.J) A(K. Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 .I)THEN XB = XB – A(I.K)THEN DO 40 J = K.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT.NE.LT.GT.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1.I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT.EPSILON) THEN WRITE(*.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.LE. N) DO 20 I = 1. J = 1. N IF(J.hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1.

7.3x3 = -19.10x3 = 71.0001) 1 = ε ik = 0.100%.40 .3x1 .-2.499624684.0.0.0.0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1. x 3 ) = (2.30 .31%. didapat: 2 2 x i2 = (x1 .000001% < ε 0 (0.0.1x2 + 0.0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi.100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2.2x2 .2x3 = 0.85 + 0.0.2x3)/3 x2 = (-19. Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 .0.7.1x2 . x1 .1x1 .0.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 . ε 2 .990556508.30 0.000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 .3x1 + 0.-2.6166667. ε 1 ) = (100%.BAB I1 . ε 1 . x 2 . x 2 .794523.2x2)/10 o Tentukan tebakan awal.3x3)/7 x3 = (71.7x2 .1x1 + 0. x 3 ) = (0.31% > ε 0 (0.40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7.0. didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 . dimana: maks II.0. x1 ) = (2. ε 3 ) = (0.85 3x1 . 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini. misalkan: x i = (x1 .PENGKOM CONTOH 2.015%.9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7.0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0.

3922 j0.4142 j0.000 + j0. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II.hmymsc Tabel II-1. 5 SOAL-SOAL BAB II 1.j1.5.5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas.4126 j0.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0.4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.4774 ⎢ j0.4020 ⎢ ⎣ j0.4872 j0.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.0. Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢.000 .3706 j0. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a. untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6. Eliminasi Gauss dengan pivoting.00 ⎦ 53 .4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0. b.4232 j0.720 .0. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.4558 j0.4020 j0.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40.00 2x1 – x2 – 9x3 = 26.000 .j1.200⎤ ⎢ ⎥ j0.3992 j0.j0.200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0.3706 ⎢ ⎢ j0.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 3 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB.

.

dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif. variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus. Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan. baik arus maupun tegangan.PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III. 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen. Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . III. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen. Pada kerangka acuan bus. Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul). perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan.BAB II1 . Pada kerangka acuan loop. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph. Oleh karena itu. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik. Simpul dapat merupakan insidensi. yaitu bus atau loop.

Graph tersebut disebut Graph berorientasi. Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a). tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree. Jumlah link. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph. Jumlah cabang. Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu. yang tidak harus terhubung disebut cotree.hmymsc terhubung kepada satu simpul.2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 . Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph. l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III. Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. Cotree adalah komplemen dari tree. Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1.BAB II1 .3-2) III. 3. untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 .PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1). 4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set. Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III. bij = 0. berdimensi e x b.3-1) (III. bij =-1. Matriks basic cutset. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j. berlawanan dengan basic cut-sets. Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets.

hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus. yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset.3-2) Link B1 61 . Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A. dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link.

Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5. Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 . 3.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III.3-3) ˆ III. 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset.BAB II1 . Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung. G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5. Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut. disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen.

ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III. 4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6.E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p . Reprensentasi komponen jaringan (a). Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 .E q (b) Gambar III-6.hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular. Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi. Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p .

Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen. III. Dalam kerangka acuan bus. persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 . 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III. Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z]. 5.pq atau admitansi sendiri ypq. Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri.BAB II1 . dimana n adalah jumlah bus. Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq. kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus.rs antara elemen p-q dan r-s.4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq. dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III. 1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi.4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III.4-1) dan (III.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III.pq.rs atau ypq. Dalam notasi matriks.

2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus. didapat At i + At j = At [ y] v (III.5-3) 65 . sehingga : I bus = A t j (III.hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III. Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT.5-2) Hal sama. sehingga : At i = 0 (III.5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus. At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus. jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol. Menurut hukum Kirchoff untuk Arus. 5.

5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III.5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III.5-3) kepersamaan (III.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III.5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .5-6) ke (III. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama. maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III.PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 .5-2) dan (III.BAB II1 .5-7) kedalam (III.5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III. karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III.5-6) Substitusi dari persamaan (III.5-8) (III. oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant.

Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 .40 0. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq. matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y].10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.hmymsc Karena matriks insidensi A.20 1 – 2 (1) 0. Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3.4.1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III. dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III. dan e = 5. 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.60 0. Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen.20 1 – 2 (2) 0. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4.50 0.7.pq 0. dimana n = 4.50 0.

BAB II1 . dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 . 3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III. matriks insidensi bus A.8. Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan.PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8.

0.2 Dengan melakukan inverse matriks.5.1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.000 7.083 -0.1⎥ Ybus = ⎢ .417 2 -0.0.042 0.000 ⎤ = ⎢.0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .6 0.1.000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.209 4.5 3 4 0.0.0830 0.0200 .000 .1.042 0.021 5.083 .1 ⎣ ⎦ . didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.083 3 4 -1.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.417 2.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .5 0.2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .042 ⎤⎢ ⎡2.2.417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ .hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0.209 .417 2.083 .1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8. didapat : ⎤ ⎡−1 .042 0.1 .0.1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.208 2.4 0.2 2 0.1 0.5.1 0.208 ⎥ 5.000 3.2.208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .000 ⎥ ⎢ .

PENGKOM III. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III. Tentukan matriks [A]. branch. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut.pq 0.5 berikut. 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.20 1 – 2 (1) 0.60 0.50 0. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut. rs 70 .9 diberikan dalam Tabel III. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link.9.8. 1 2 3 Gambar III. Tabel III-5.BAB II1 .9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III. Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan.

hmymsc 71 .

UNSRI 4 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB.

Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada.hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV.5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. IV. Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 . 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. 1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III. kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1. Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu.

Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil. maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV. sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar. IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus.PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel. Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3. Dengan mengatur kembali persamaan (IV.2a IV-2b Gambar IV-2. diperoleh : 74 . Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr.BAB IV . jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama.2-1) Agar tidak membingungkan.2-1). IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3.

..V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf ... Y22.. Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan.V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV.. kode bus cabang..V1Yd .⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV..hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) ..2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. Y13. resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini.2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV.2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus..2-4) Admitansi lain Y12.. Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya. Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang. …...…..V2 Yg .. sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV.Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan.. 75 .2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus..... Admitansi Y11.. dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut... sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV.V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) ...V2 Yh .. Ybus .

Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut.0/CMPLX(R(I). misal kita sebut matriks tersebut matriks Z. Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi.Q) Gambar IV-4.Q) = Y_BUS(P.N_AHR(I). masing-masing (p.q) dan (r. JML_CABANG READ(1. elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan. 76 .s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y.P) = Y_BUS(P. Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢.Q) = Y_BUS(Q. cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program. q.R(I).Q) .Y_CB(I) Y_BUS(Q.y kk y km . r. Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini.Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P.X(I) Y_CB(I) = 1.P) = Y_BUS(P. dan s.P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q.X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P.y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk .y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣.y km .BAB IV . program dalam Gambar IV-4 diatas. Misalkan dua buah cabang. cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu. karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain.y km .y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p.PENGKOM 10 DO 10 I = 1.N_AWL(I).y km y mm y km . Berikutnya.*)NOMOR_CB(I).

.y km ⎡ ⎤ ⎢(.....y kk + y km ) y kk .3-1) [Ybus ] = ⎢... Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja..y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ . Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan... Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus. Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj ........... dan prosesnya menjadi sangat sederhana. Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] ....... atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu... misal bus q dan r adalah bus yang sama... Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama.. Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV.hmymsc Dengan cara yang sama.. ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV. kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan... Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j ...y km (...... maka ( ....... 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik..... Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j . ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ....3-2) 77 .. sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu.y + y ) (y + y . cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan...y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1]. maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar... IV. Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks.2y ) (........

. 4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV. menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV.. matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung. Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y ..Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai. Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus..... Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ]..... Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan..PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j ...... Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti... IV... Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y . sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 ..3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah. maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV. Karena [ Z bus ] alat yang penting.....BAB IV ..2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]. Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ].4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya... Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j .. maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama.. nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ....

.... Zk2...... empat kasus akan kita bahas berikut ini. Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + ..... Zk3...... + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1.. dan Zkn .. ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV..4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada. dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5.. sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢...... ⎢ ⎥ ⎢ .. Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru. (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya... 1 Kasus I...... 79 .hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru......

Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢..... untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV.PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5.BAB IV ...4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ . Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas..... dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1). ⎥ = ⎢ ⎥ (IV.... j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k . Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 ......4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus. Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j. .. j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6.. dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II........... bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya....

Atau V1 = Z11I1 + ...+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV.4-7) Dari persamaan-persamaan diatas.+ ZjjI j + ZjkIk + . yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b ......4-8) Dengan melihat persamaan (IV..2-6) kedalam persamaan (IV. + Z1jI j + Z1k I k + ................ + ZkjI j + ZkkIk + ... dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk .... + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + ... dengan memasukkan persamaan (IV..Vk + Vj (IV..4-5) Vk = Zk1I1 + ..2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib....hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + .(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV. dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢....2Z jk (IV...... ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) .4-6) Karena Ip tidak diketahui.. kita memerlukan persamaan lain.+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV.4-8)....4-6) dan (IV.....4-5) hingga (IV...4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 . + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + .....

Baris baru adalah transpose dari kolom baru.5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya. Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung. Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV. CONTOH 5. sebagai : V1 = I1 Z1 (IV.5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan.PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1). Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian.4-10) IV. maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan.BAB IV . Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb. pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 .

bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama.2222 ⎣ j1.7222 j6.3 Mutual reactance 0.0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3.9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama.00 ⎢ ⎢ j4.8736 ⎢ j4.1.2 Coupled elemen 3 3 83 .0736 ⎣ j4.0736⎤ .50 j5.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.hmymsc ⎡.j14.50 j8.7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6.9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3.4 0.j9. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.00 ⎥ ⎥ . maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2). dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV. Tabel 4.00 Penyelesaian: 0. matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1).3-3).2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4.80 ⎢ 0.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.91111 j4. sehingga diperoleh ⎡.1 0.j18.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.3889 ⎢ ⎢ j6.5 0.j10. maka pertama dialakukan penghapusan bus 4.50 .00 j4.00 .00 ⎢ ⎣ j5.30 j2.2222 ⎤ j4.j6. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: .0 j5.1 0.8736⎥ ⎦ CONTOH 5.00 ⎤ j5.2 0.5 0.j8.00⎥ ⎥ j8.j4.j8.0 j2.3889 .j4.7222 ⎥ ⎥ .4111 ⎢ j1.

1 ⎢ 0 0. matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0.1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2.7.5 1.BAB IV .0.5 . 14.(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0.1 .0. yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV. didapat: ⎡0.1 ⎤ ⎡0.1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2.0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 .PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4.5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0.

hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.00⎤ 0.00 ⎥ ⎥ 0.10 0.00 0.00 = Z 34 Z 44 = 0. matrik impedansi menjadi: ⎡0.05 0.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3.09 Z =⎢ ⎣0.05 0.08 0.10 = Z 24 Z 43 = 0.00 0.5 dan 6).00 ⎣ 0.00 ⎢ ⎣0.4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.09 ⎢0.05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5.25 0.(Z11 .26 ⎦ 85 . didapat: Z 41 = Z11 + y11.08 ⎤ 0.Z 31 ) y14 = 0.05 0. dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.11 .09 Z = ⎢0.25 0. yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3.05⎤ 0.00⎥ ⎥ 0. Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3. Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4.05 Z =⎢ ⎢0.00 0.26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.05 ⎢ ⎢0.00 0.00 0.10 ⎥ ⎥ 0.50 0.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.

518 0.000 + j0. Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut.097 + j0.000 + j0.133 0.2. 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.BAB IV .000 + j0.PENGKOM CONTOH 5.407 0.050 0. didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 .000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan).000 + j0.000 + j0.723 + j1.080 + j0.000 + j0.2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.8.370 0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.000 0.000 0.021 0.2.015 0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.000 + j0. dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.123 + j0.640 0.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4.000 + j0.000 + j0.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.282 + j0.300 Admitansi shunt 0.015 0.000 0.

95452 -0.407 0.050 0.64179 0.16486 0.95452 demikian pula dengan elemen lain.30846 0.370 0.080 + j0.37346 1.30846 -0.325 0.44486 +j0.998804 -j7.582 demikian pula dengan elemen lain.Elemen Diagonal.582 0.82746 -0.558 − j 2.64606 -0.577 – j1. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0.02140 − j1.558 – j2. .300 Admitansi y pq = 1 z pq 0.58200 -0.518 0.827 0.123 + j0.414 – j1.44486 +j0.55827 +j2.99220 -j4.000 + j0.43393 +j1.554100 +j2. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.hmymsc Tabel 4.58200 -0.000 – j3.57654 +j0.57654 +j0.518 0.308 0. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .554100 +j2.97650 0.000 – j7.41880 0.11237 -j13.82746 87 .37346 1.00000 +j3.41880 -0.000 + j0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0.097 + j0.27150 -0.554 – j2.Elemen Off diagonal.32494 -0.640 0.333 Elemen matrik Admitansi bus.43393 +j1.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.99220 − j 4.62287 -0.133 0.64606 0.32494 0. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0.55827 +j2.44486 -j8.00000 -j8.99220 -j4.00000 +j3.445 – j0.02140 -j1.282 + j0.723 + j1.57654 -j4.3.616 0.

9.9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit. 4.2 1 j0.BAB IV . Jaringan untuk soal 1 2. Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4. j0.9. 88 . Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan. 3.2 j1. dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat.5 Gambar 4. Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan.3 j0.PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1.15 3 2 j1. Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4.

UNSRI 5 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

.

disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan. yaitu : 1. Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. Dalam setiap bus. 3. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. V dan sudut tegangan. BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit.hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus . biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui. δ dihitung. 2. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. sedangkan magnitude tegangan. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan. melainkan injeksi daya. khususnya dalam penyelesaian aliran beban. BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi. 89 . 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui.

V. Untuk memilih bus penadah. Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. rating kapasitor shunt. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan. Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan.BAB V . Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV. beserta keterangan lain yang diperlukan. Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 . 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus. 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. Selain itu ranting dan impedansi transformator. karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. magnitud tegangan dan sudut fasa. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada). V. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi.PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan.

hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V. Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah. dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan.pq 2 y . Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V. 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi.3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y .3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y .pq 2 ( ) (V.pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V.3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y .pq 2 (V.3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 .3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V.

BAB V .4-3) B.4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan. antara lain: A.2.4-4) 92 .∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V.∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1.∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V. sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * . dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah. Misalkan : L k = (V. Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V.4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ ..4-2) 1 Ykk Persamaan (V. maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan. …. tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = .4-3) menjadi lebih sederhana. jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai.PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V..

hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V.YL 34 V4k (V.YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1. persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 .4-4).4-5) * V3 KL 4 .YL14 V4k * V1 KL 3 .YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 . 93 .YL12 V2 − YL13 V3k . sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus.YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 . dengan bus 1 sebagai bus penadah.

Tipe bus.Vold 1 2 3 4 94 .4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew .V.4-3 .PENGKOM MULAI Masukan data : Bus.Jaringan. k dan dV K=0 dV = 0.BAB V . Epsilon. Base.V. p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V.0 Set pencacah bus. Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp. untuk bus p sesuai pers V.4-4 Set pencacah iterasi. YLpq pers.

3-1). Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V. Dari persamaan (V. dimana 95 . Dalam metoda Newton Raphson. 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan. dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan.hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V.3-5 SELESAI Gambar V-1.

5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p .5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner. dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V. Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus.5-1) Dalam bentuk lain.BAB V . yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 .PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V. maka persamaan (V. sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan.5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus.5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V. didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.

......... ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢......⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V....5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1........ ⎥ ... ⎥ .... ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 ....... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.................. ⎢. ⎥ ⎢ ⎢.∂e M ∂f .5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V. ……..5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V.5.⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢.5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah...................⎥ = ⎢........... Daya nyata dari persamaan (V.................... Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus.. ..... ......5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢.................5-6) p = 1.... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.. 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 .. persamaan (V.....∂Qn−1 M ∂Q1 . ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e ... ......∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana...hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 . .. ...∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢...... sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V............. ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ .... ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢........ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢....5-8) n q=1 q≠p 97 .. ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢..............2........ n-1 Diferensiasi persamaan (V. ⎥ ⎢ ...∂e M ∂e .-⎥ (V.......... ..5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ..⎥ ⎢... ....

dari persamaan (V.5-4) adalah 98 . elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V.5-6).5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V. yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p.5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V. Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.BAB V .

hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.2.5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.5-11) disubstitusikan ke (V.5-11).5-11) terhadap eq.5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V.5. akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V.. n-1 Difrensiasi persamaan (V.11) p = 1. …. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 .

5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi. Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian.5-4). Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan. 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu. yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V. daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V. Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut. selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru. Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V.PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus. Dalam teknik pemrograman. yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. Setelah harga Δe i dan Δf i didapat. kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks. disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien.BAB V .5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan. V. yaitu : 100 .3-1).

V. Base.5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V.6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V. dP dan dQ 2. Epsilon.6-2) 101 . Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus].5-7 . Tipe bus.5-9 Hitung aliran beban pers V.3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V.5-12 K = K +1 Selesaikan pers.V.hmymsc MULAI Masukan data : Bus. maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers. [B] Hitung : Pp.Jaringan.4 Hitung : 1. Qq pers.5. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V.5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2. V. V. [G].

. p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢. dan dikalikan dengan Vp....5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V.6-2). 2.. . .6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1.⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V.PENGKOM Konjugasi persamaan (V. dalam versi ini. diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V.6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar....6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 .. persamaan daya dalam persamaan (V.⎥ ⎢....BAB V .n p ≠ s. kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar..⎥ = ⎢.

teknik pemrograman yang lebih sederhana. selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat. yakni separuh tempat. hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V.6-7) Bila kita amati. Q dengan magnitud tegangan |V|. Memperhatikan bahwa. Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. P dan sudut tegangan.δ dan Q – |V| sangat lemah. δ dan antara daya reaktif.δ dan Q –|V| secara terpisah. 103 . banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V . Dengan penguraian ini.6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V. sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P . kopling antara komponen P . pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil.

Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V. ][ΔV] 104 (V. Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0. Metoda Fast Decoupled. ][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I]. .6-9) dengan demikian persamaan (V.BAB V . Selanjutnya. maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B . dapat disederhanakan i...6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V. dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] . lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya.6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B. ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal.0 ii..6-10) .. karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian. maka [ΔP/V ] = [B .PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi.6-6) dan (V. ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B . ][Δδ] [ΔQ/V] = [B. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV]. ][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B .

Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus. Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled. 1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR. 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa. admitansi bocor Trafo 105 . Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan.hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging). Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan. yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal.

Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 . Epsilon.3-5 Yes SELESAI Gambar V-3. Tipe bus. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v.PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3. MULAI Masukan data : Bus.Jaringan.BAB V . Base.

Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.08 + j0.18 0.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.06 + j0. 1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.06 + j0. Hitung Aliran daya: a. c. b.025 Tabel 2.025 j0.01 + j0.060 j0.12 0.00 1. Data pembangkitan dan pembebanan.24 0.020 j0.010 j0.00 1.1 Tabel 1.02 + j0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.00 + j0.015 j0.hmymsc CONTOH 5.00 107 .00 1. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.4.04 + j0.00 1.03 0.00 + j0.00 + j0.18 0.020 j0.06 + j0.00 + j0. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2.06 0. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1.08 + j0.

040000 Elemen matrik Admitansi bus.0000 1.50000 10.0000 2.3.6950 108 . Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .06 + j0.25000 – j3.03 0.18 0.24 Admitansi y pq = 1 z pq 5. dimana: y pq = 1 .75000 1.25000 – j3.01 + j0.50000 – j7.12 0.08 + j0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.055000 j0. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0.02 + j0.24 0.2.18 0.0000 1.06 0.0000 – j 15. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6.0000 – j30.04 + j0.75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4.08 + j0.Elemen Diagonal.PENGKOM Penyelesaian A. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4. Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus.055000 j0.055000 j0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.085000 j0.25000 − j18.BAB V . Metoda Gauss – Seidel 1.66667 – j5. Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.66667 – j5.06 + j0.0000 1. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas.

0000 -1.5000 -1.4150 -1.00000 demikian pula dengan elemen lain.02413 + j 0.2500 +j3.00370 -0.4150 = 0.6667 +j5.20) 1 Y22 1 10.0000 = −0.2500 +j3. .5000 -1.00000 + j15.0000 -1.0000 .7500 -5.6950 -1.0000 -2.0000 + j15.00891 -0.57654 -j4.00000 0.7500 -2.j18.0000 10.00740 + j0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.00740 + j 0.2500 + j3.0000 + j15.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.0000 12.80212 + j 0.2500 -j18. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.7500 -1.0000 12.83334 .Elemen Off diagonal.64179 3.00071 6.j32.00930 -0.00427 + j 0. Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.20 − j 0.0000 -1. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.j15.91667 -j38.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain.6950 -10.5000 +j7.0000 -10.6950 -5.83334 -j32.5000 +j7.91667 -j38.6667 +j5.00000 + j 0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0.6667 +j5.0000 -j30.6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 .2500 + j3.00698 + j 0.2500 .6667 +j5.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.0000 -j30.7500 0.

00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.03752 + j0.(1.15241 + j0. Pada 110 .000 + j0.052530 + j0. perhitungan selesai.000) = 0.000006 -0.80212 + j0.20053 + j0.00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1. 1 Jika ΔV2 ≤ ε .00290) .000330 -0.46263 + j0. V3 .PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0.77518 + j0.09690 + j0.000710 -0.YL 21 V1 − YL 23 V30 .80212 + j0.12920 + j0.000004 -0. V4 .000710 -0.09690 + j0.000710 4.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 .12920 + j0. Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .66881 + j0.15241 + j0. misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .000180 -0.23131 + j0.000360 -0.000330 -0.000060 -0.03752 + j0.000120 -0.000720 -0. tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) .000040 -0.000120 -0.YL 25 V50 = 1.BAB V . 5.77518 + j0.33440 + j0.80212 + j0.03752 + j0.000180 -0.80212 + j0. Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 .YL 24 V4 . sampai konvergensi tercapai.000360 -0.V2 = (1. V5 } . dengan mengikuti cara-cara diatas. namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4.000710 -0.

didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 .(P21 − jQ 21 ) Setelah.00000 1.00000+j0. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r. * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) .00000 1.00966+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000 3 1.00000 1.00000 1.00000 1.3-5).00000+j0. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000 1.00000+j0.00000 1. y12 2 y.00000+j0.00406 1.00000 1.Misal untuk cabang 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan.00000 1.01579+j0.00000 5 1.00000 1. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah. 111 .00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 4 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1. maka.00000+j0.00000 1. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.00000 1. menggunakan persamaan (V.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus. sebagai berikut: .00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 6.00000+j0. yang menghubungkan bus 1 dan 2.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.01280 1.02635 1. Tabel s.00000+j0.00000 1.05253+j0.00000+j0.

91667 -j38.0000 -10.2500 -5.6950 -5.2500 -2. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).10 -39.0000 -j30.50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.5000 -1.70 3.2500 0.30 12.0000 -1.0000 -1.20 24.91667 -1.80 27.5000 -1.0000 -1.0000 + j15.5000 -1. maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6.6950 -1.0000 -2.83334 -1.50 -24.60 -57.40 -53.0000 + j15.30 -6.30 -2.0000 10.80 7.6667 12.5000 +j7.0000 12.6667 -10.2500 -j18.6667 -2.6667 +j5.8. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.40 6.2500 +j3.2500 + j3.91667 -10.20 40.90 54. dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.BAB V .83334 -j32.7500 -5. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.7500 0.20 18.90 -5.0000 12. Metoda Newton Raphson 1.7500 -2.6667 +j5.0000 10.00 -27.0000 -1.5000 -1.2500 + j3.0000 -j30.4150 -1.90 3.70 -7.57654 Dan 112 .6667 -1. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.80 .PENGKOM Tabel r.20 6.2500 -1.0000 12.57654 -j4.0000 -1.80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129.j7.10 -18.2500 -5.50 -5.6950 -10.64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq .91667 -j38.90 3.5 .30 -6.50 -3.2500 +j3.6667 +j5.7500 -1.70 1.6667 +j5.5000 +j7.

dengan cara sebagai 113 .5-12).37500 -0.6950 -30.9850 2 dengan cara yang sama.0000 -7.7500 4.5-4) dan (5.06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V.18500 0.0000 38.0000 0.0000 38.00500 -0.5000 -3.30000 -0.hmymsc 18.4150 -5.0.0.40000 -0.0000 adalah -0.6950 -3.0000 -30. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.13000 0.30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .0000 -3.04000 menghitung 0.5000 .05500 -0.0000 -5.0000 -5.7500 -15. Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0.28000 -0.64179 3.7500 -5.512).5-9).6950 -15.60000 elemen 1.07500 0.3.0000 32.50000 -0. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .7500 -7.5-7) sampai (V.98500 -0.

25000 -2. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = .30000 -0.6667 -10. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 .2500 3.66667 12.0000 0.00000 -1.50000 0.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = .5.66667 -1.1.84167 -10.00000 -1.0000 0.91667 -1.98500 0. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.05500 0.0000 0.0.28000 0.0000 12.07500 0.75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.66667 -2.5000 -1.30000 + j0.53334 -1.BAB V .53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = .980000 demikian pula untuk bus lain. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.

000 0.0000 -7.7500 -3.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.7500 11. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.9750 -30.000 0.hmymsc 33.5.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.0000 0.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.7500 11.7500 -7.00000 -3.00000 -5.0000 38.0000 -3.0000 -30.5000 -5. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.6400 -3.5000 0. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .11.0000 -5.000 38.13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1.4150 -30.0000 -5.0000 38.0000 -7. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .0000 -30.000 38.7500 0.00000 -5.4000 -5.4300 -5.66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.2500 J1 J3 -5.

99167 1. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢.0.7500 1.66667 J2 1.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0.25000 2.00000 0.00000 -12.00000 1.13334 1. 5.PENGKOM J1 -11.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.99167 10.BAB V . Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢.11284 ⎣ ⎦ 116 . Crout dan sebagainya.50000 0.66667 10. dengan berbagai metoda.25000 -3. seperti Gauss-Jordan.0.66667 2.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k .66667 1.0.50000 -12.0.

03857 -0. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.001.01228-j0.00000 1.01930-j0.0000 + j0.11284 1.05084 1.10909 Tabel q. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A). Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.00000 -0.03176-j0.0050 0.09123 1.1300 -0.00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.05505 – j0.6000+j0.09123 1. Pengujian konvergensi. konvergensi tercapai pada iterasi k3.03586 -0.0000 + j0.04629-j0. Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.03871 0.03136 – j0.00000 1.02043-j0.09747 1.00010-j0.00103-j0.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.00094 7.00006+j0.02652-j0.0000 + j0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.09342-j0.06000 0.00037 -0. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk .00073-j0. dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan.00000 1. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.03176 – j0.02244+j0.00000 1.09747 1.08922 V4k 1.02652 – j0. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8.06000 + j0.5000 + j0.01171-j0. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .03136-j0.06563 0.00000 1. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1.05084 1.09508 V5k 1.05124 V3k 1.40000-j0.05505-j0.0000 + j0.37500-j0.00023+j0.hmymsc 6.

Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.6950 -3.5000 -1.5000 -3.0000 10. sedangkan elemen-elemen Matriks B”.0000 -30. sebagai berikut: 6.2500 -2.2500 -5.57654 Dan 18.5000 -15.18 j0.6667 -1.2500 0.0000 -7. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .64179 2.6950 -15.0000 12.7500 -5.24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4.PENGKOM C.6667 -10.91667 -1.18 j0.BAB V .0000 38.0000 -3.2500 -1.4150 -5. dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’.0000 38.7500 .2500 -5. Sebagai bus penadah dipilih bus 1. untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq . untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .0000 -1.06 j0.5000 -1.3. FDLF 1. dan menentukan elemen matrik G dan B.12 j0.6667 -2.6667 12.0000 -5. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”. Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0.6950 -30.0000 32.7500 -7. sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4.03 j0.0000 -1.83334 -1.3.91667 -10.0000 -5.7500 4.24 j0.

sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0. sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.6-10).6-5). jika tidak lanjutkan kelangkah 5. Gauss-Jordan dan sebagainya. Ppk + 0.055000 j0. Cholesky.085000 j0. sebagai berikut: 119 .5 ΔPpk + 0.6-4) dan (V. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p .5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6.055000 j0. 5. Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0.040000 3. Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .055000 j0.5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4. seperti Crout. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V. k + 0.

Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V. Q k + 0.6-10). sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Cholesky. Gauss-Jordan dan sebagainya. k + 0.6-5). Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0.PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus.5 p ΔQ k + 0. jika tidak lanjutkan kelangkah 8. sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 . seperti Crout.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7.BAB V .5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3. sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. 8.5 = δ k + Δδ k p p p 6.6-4) dan (V. sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.

2.1 Tabel 1.015 j0. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.5 = Vpk + ΔVpk 9. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s.025 j0.06 + j0. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1.06 0.03 0.24 0.01 + j0. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya.02 + j0.04 + j0. masing-masing 100 MVA dan 13. maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan. 10. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V.1 dan Tabel s.010 j0.06 + j0. 11. Gambar V. dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0.020 j0.060 j0.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus. sebaliknya proses kembali kelangkah 6.8 kV.18 0.020 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.12 0.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana.08 + j0.025 121 .18 0.08 + j0.

06 + j0.2 pu secara parallel.00 1.0∠00 pu . b).1 dan X2 = 0.0∠00 pu .00 1. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.00 + j0.00 1.0∠ . Dengan menggunakan program yang saudara desain.00 + j0. dan Vp = 1.PENGKOM Tabel 2.300 pu . Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0.00 2. dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0.866 + j0. Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. Bila Vq = 1.00 1. c). Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1. Dua buah bus p dan q. 3. Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi. 122 . Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang.BAB V . Tuliskan: a).00 + j0. Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.5 pu. lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5. 4.00 + j0.1.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 6 .

.

Jika dalam proses perhitungan. tipe bus dirubah menjadi bus PQ. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban. |V|. yaitu|V|. dan δ untuk bus penadah. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada. yaitu: 1. 2. maka pada iterasi berikutnya (k+1). dan Q. atau P dan |V| untuk bus pengendali. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. 143 . dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. Aliran antar daerah. Misalkan P dan Q untuk bus beban. 3. Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa. ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian. 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. δ. 4. P. digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI.

Ada dua cara yang dapat ditempuh. 2. Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan.2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus. Menyertakan kriteria tambahan. VI.DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut. yaitu : a.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan. Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Tetap mempertahankan rumusan dasar. Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. karena itu untuk memenuhi persamaan (V. sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi. yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan.7-2). 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. atau b. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 .

dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V. Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI. Dalam prakteknya. J3.2-1).-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1. Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢.. q ≠ p 145 . maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI. daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 .21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0.5. Pada metoda Newton Raphson.hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama. batasan daya aktif harus diperhatikan. Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2. persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V. J2. lihat kembali penyelesaian sebelumnya.7-1) menggantikan persamaan daya reaktif.

Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . 2.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1. bukan pada terminal sumber daya reaktif. bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. Pada kasus ini. VI. 2. berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. maka daya reaktif harus ditetapkan. q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus. PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik.

menggunakan tegangan yang ditetapkan. Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p. namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan. Prosedur lain yang dapat dipakai. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . Setelah perhitungan tegangan pada bus q. VI. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. Toleransi tegangan sebesar 0. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2. Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi. 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. 3.

maka persamaan (VI. arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI.3-1) menjadi y pq a2 (VI.DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban. Sirkit ekivalen (b).3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 . Sirkit ekivalen phi (c). Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya. Pada bus p.3-1) . Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a). Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b. t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2.

3-2).3-3).3-7) 149 .3-4) dan (VI.hmymsc Arus pada terminal lainnya. maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5a). didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI. substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI. maka y pq = A + C (VI.3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali. karena kedua arus harus sama. maka A= y pq a (VI.3-6) Dengan cara sama. pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI. pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI. maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama.

. Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q..3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI.3-2) dan (VI......3-5a). + 2 + ...... maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + ..3-6) ke persamaan (VI.... + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 . + 1⎛1 ⎞ + ....... dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c..DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .....

A(J) IF(I.. dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1..hmymsc ⎛ 1⎞ + .. untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran.Q) = Y_BUS(P..Q) = Y_BUS(Q.P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q. JML_TRAFO READ(1.L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1..Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q.0)GOTO 20 Y_BUS(P.Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P..NE.0/CMPLX(R(I)...Q) = Y_BUS(Q.Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3. Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 .*)NOMOR_CB(I)..P) = Y_BUS(P.N_AWL(I).*)(NLINE_TRF(J).P) = Y_BUS(P.Q) .L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1.Q) = Y_BUS(P.P) = Y_BUS(P..EQ..P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.... + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu. admitansi bocor sadapan Transformator..Q) 10 ENDIF IF(K. + N_AHR(I)..R(I). + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0..X(I).NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P.Y_CB(I) Y_BUS(Q.0.P) = Y_BUS(P.Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.... JML_CABANG READ(1.Q) . + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + .

dan KLpq harus dihitung ulang pula.3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. YLpq. 3. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup. Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi.01 sudah cukup memuaskan.DAFTAR BACAAN VI.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya. hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI. diperoleh : 152 .3-2) dan (VI.3-4). dengan A = ypq. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step. dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi. Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. parameter Lp.

Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI. 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4. Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI. 3.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI.3-7) dan (VI.3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4.3-9) 153 .

. serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya.3-11) Dengan cara sama..3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI.DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal. arus Transformator pada bus q....3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI. + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI. didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q... diperoleh: 154 ..3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi. + i pr + . dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 . iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs... kecuali untuk r. admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu.

.. maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI. + y qp + ... dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI. penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem. misalkan Vq = 1 pu.3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya. karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|.... + y pr 2 2 a s + bs + .. + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq. + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr. 4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi.. Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif. dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 . Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem.. karena itu. jika tanda dari sudut δ positif...hmymsc Ypp = y p1 + y p2 .. dengan asumsi 155 ........

Jadi untuk sistem A. Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. seperti dalam Gambar VI-5. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan. Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. Berikutnya. aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih. 156 . Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan.DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. dengan menggunakan penyelesaian tegangan.

0000 0. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.909 0.976 157 .1 Tabel 1. 2.0076 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.282 + j0.6.518 0. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan.370 0.080 + j0. Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut.123 + j0. mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1. 4.133 0.723 + j1. dengan bus 1 sebagai bus penadah. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda.000 + j0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.6. Pemrograman dan space yang diperlukan.0000 Off-nominal turn ratio 0.0000 0.0100 0.0000 0.000 + j0.407 0.hmymsc VI.300 Admitansi ke tanah 0. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi.0070 0.097 + j0.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. 3.050 0. CONTOH 6.640 0.

123 + j0.000 + j0.5 6.300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0.407 0.560 – j2.0170 J0.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.723 + j1.097 + j0.570 0.370 0.0000 J0.5 10.407 0.518 0.723 + j1.640 0.282 + j0.640 0.0000 0.0000 j0.0076 0.909 0.300 Admitansi jaringan 0.0000 0.05 1. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.438 – j 0.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.0000 0.123 + j0.440 – j0.000 + j0.0070 0.050 0.642 0.0 - Penyelesaian .282 + j0.0100 0.642 0.0000 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.580 – j1.370 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.080 + j0.518 0.0146 0.080 + j0.5 Tegangan V 1.005 j0.DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.133 0.050 0.000 + j0.097 + j0.000 + j0.005 Tabel 2.133 0.5 15 9 25 2. dengan cara sebagai berikut: 158 .

42 0...31 J8.993 -j7.025 0.. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + ....3 1.58 +j1.YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 .021 -j1...0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 ..0 + j0...42 -0..18 J8.58 +j1.hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + .YL 25 V5k − YL 32 V2 .. + ⎛ 1⎞ + .445 +j0.642 -0...0 V1 = 1..585 -0.....56 +j2..84 ..438 +j1.3 -0.05 + j0.58 -j4..115 -j14... + 2 + .YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 .....5800 -0..445 +j0.. + 1⎛1 ⎞ + .555 +j2.31 -0..1 + j 0. + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0.56 +j2.642 0..5800 -0...YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 ...YL 34 V4k .34 +j3.555 +j2.0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1.955 -0... + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .84 -0.Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k ..34 -0..438 +j1....413 1.44 -j8.YL 46 V6k +1 ..YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1. + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + .63 +j3..9980 -j4..

00000 0.00000 0.275) − j (0.56 + j2.13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.47 .44 .0000 + j 0.j2.0.00000 0.0000 + j 0.0000 + j 0.DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.0 − 0.00000 0.0000 + j 0.065)) = 1.58 j8.00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = .00000 0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.187 = ((0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.0000 + j 0.j8.3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .0000 + j 0.0 − 0.

5 0 0 15.5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48..hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.9310 -9.1 161 .7 berikut ini.02 -2. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1.8 25. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.8511 -13.9058 -12.91840 0.0 9. Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi.2 23.7.2.86560 0.1 dan Tabel s6.0 25. Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.5 6. . Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.3 11. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.0 2.3805 0.0395 0.05 0.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27.8307 -13.00000 1. dengan bus 2 sebagai bus penadah.

4.1. Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan. Kerjakan kembali soal ke 3.0070 0.097 + j0.5 Tegangan V 1. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator.050 0.080 + j0.0000 0.0000 0.0000 0.5 6.5 15 9 25 2.407 0.976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.0 + j0.133 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.640 0. dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta.1 162 .0 - 2. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban. Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6.1 pu.0100 0. 3. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.909 0.8 + j0.370 0.5 10.005 Tabel s6.123 + j0.000 + j0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.2.282 + j0.000 + j0.DAFTAR BACAAN Tabel s6.723 + j1.0.518 0.300 Admitansi ke tanah 0.0000 Off-nominal turn ratio 0. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar.0076 0.05 1.6 pu pada tegangan V2 = 1. Untuk sistem yang sama seperti soal 1. 5.

“Komputasi Dalam Sistem Tenaga”. A. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”. Ahmed. jurusan T.1968. Indiana. Gibson Sianipar. Mc. Stagg. 2000. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”.. 1978. DR. M. Elektro FTI-ITB. New Delhi 4. “ Computer Techniques in Power System Analysis”. and El-Abiad. 1990. Yogyakarta 163 . Bandung 2.Graw-Hill. Pai. Glenn W. Andi Offset..hmymsc DAFTAR BACAAN 1. Singapore 3. Suprajitno Munadi.

1..Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4. AT BT = BA.Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku. A(B+C) = AB+BC. 1. Penjumlahan. 1. Tidak ada inverse matriks 2. Matriks singular adalah matriks dengan kondisi.pengurangan & perkalian matriks 2.A(BC) = ABC = ABC 3. A(B+C) = AB+BC. A(BC) = ABC = ABC 2. 1.A 5. aij = aji 4.. Ada inverse.A(BC) = ABC = ABC 5. dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2. pengurangan dan perkalian 3. A(B+C) = AB+BC. pengurangan dan inverse 3.. pengurangan 4.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3... Determinan ≠ 0 2.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4. Hasil perkalian matriks AB = C. A(B+C) = AB+BC. Perkalian matriks 5. 1.maka. A(B+C) = AB+BC. A(BC) = ABC = ABC 3. ABT = BAT. Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi. AB = BA. Determinan = 0 3. dimana i dan j masing-masing adalah .matriks disebut matrik singular 144 . Penjumlahan.Bila determinan dari matriks berharga = nol.Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5. AT B = BA. A ≠ . Penjumlahan..A(BC) = ABC = ABC 4. AT A = U 2. Penjumlahan.SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1..

. Tidak ada inverse. Gauss-Seidel 4... Hermitian 5.Menghemat penggunaan memori. Crout 2.. Doolitle 3...memiliki jumlah hitungan terendah 1.entry matriks terbatas 2. 1. waktu hitungan terbatas 5.waktu hitungan tercepat 3. matriks tersebut disebut matriks. Tidak ada inverse.Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya. Konjugate 2. Skew 4. Gauss-Naif 5. matriks tipe. menghemat memori 6.. 1. 1. Segitiga bawah 2.Jumlah hitungan terbatas.. Dari segi jumlah hitungan. Unitary 8. Dari segi penggunaan memori. Simetris 3..Dapat digunakan untuk matriks simetri.Menghemat penggunaan memori.hmymsc 3.waktu hitungan cepat 4. Segitiga atas 145 . Gauss-Jordan 7.Hanya untuk matriks simetri. matriks disebut tidak linear 5.matriks disebut matriks adjoin 4. Skew hermitian 5. Orthogonal 3... Ada inverse matriks 5. Hermitian 4.

Berbentuk segitiga atas 2. 1. Jumlah langkah hitungan pasti 2. Jumlah operasi lebih pendek 4. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2.. Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12. Berbentuk segitiga 4.. Berdimensi sama 3.. 1. Jumlah maksimum kolom non linear 3. Menggambarkan garis 2.. Langkah perhitungan pasti 3. Jumlah iterasi pasti 3. Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah. Memiliki diagonal > 1 13. Berjumlah kolom genap 5. 1.. Mencari solusi SPL 3. 1. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk.. Jumlah maksimum kolom bebas linear 2.. Menunjukkan SPL 146 . Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5. Jumlah kolom 4. Jumlah baris 5. Jumlah kolom atau baris 10. Tingkat konvergensinya lambat 4. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan.SOAL-SOAL 9. Jumlah memori tertinggi 5. 1.... b... Jumlah memori terbatas 11.. Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah.

.. sistem berkondisi buruk 2. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. Metoda Gauss lebih sederhana 15. Galat pembulatan.. 1.. meningkatkan harga harga epsilon.. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena. 1. dan rounding 17.. pembagian dengan nol. sistem berkondisi buruk 16.hmymsc 4. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. angka bena terbatas.... Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah. pivoting. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2. Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah. Galat pembulatan.. Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah. pembagian dengan nol. karena. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2. 1. Galat pembulatan. sistem berkondisi buruk 3. memperbesar koefisien persamaan.. pembagian dengan nol. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4. Memvisualisasikan sifat persamaan 5. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3.meningkatkan harga epsilon. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda. angka bena terbatas 5. pembagian dengan nol. Angka bena terbatas. Perambatan galat. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5. dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda.. system berkondisi buruk 4. 1 Memperbanyak angka bena. Mencari dan mengambarkan garis 14. scalling.

.. Crout 2.. Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara. Gauss-Jordan 20. Crout 19. 148 .. Doolitle 3.. Crout 2. Gauss-Seidel 5. Cholesky 4... Crout 22.. Gauss-Seidel 2. Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A. Gauss-Seidel 5. menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda. Cholesky 2. Gauss-Jordan 21. 1. Doolitle 5.. Cholesky 4. 1.. Cholesky 5.. Iterasi Gauss-Seidel 4. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah... Eliminasi Gauss 4. Gauss Jordan 3. Doolitle 3.. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda. 1.SOAL-SOAL 5. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda. Gauss Naif dengan pivoting 3. 1..

. Admitansi 4. Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya.scalling dan matrik jarang 4. Tree. Impedansi 5.. Arus bus dan tegangan bus 5. 1. Subgraph. Elemen dan cabang 26. Insidensi 3. Tegangan dan arus 3.matrik jarang dan scalling 3. graph 25. Strategi pivoting.matrik jarang dan metoda iterasi 5. Loop dan bus 2.. Admitansi atau impedansi 2. Loop atau bus 3... cotree. 1. Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Strategi scalling.. Elemen matriks jaringan akan berupa.. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Strategi pivoting. Admitansi dan elemen shunt 24. Strategi pivoting.. node.pivoting dan presisi diperketat 2. 1.. adalah kerangka.matrik jarang dan presisi diperketat 23. cabang 2.hmymsc 1. 1. Elemen dan node 5. Strategi scalling.. Elemen. Jaringan primitif 2. lingk. elemen 3. sublink 149 . terdiri dari. Simpul dan node 4. Arus loop dan tegangan loop 4.

yaitu.. Simpul. 1. Reduksi matriks 5..Penghapusan bus sekaligus memerlukan. Simpul.SOAL-SOAL 4.. Transformasi non linear dan secara langsung 2. tree 27. 150 . Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap.. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4... Pembalikan matrik 2.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29..Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2.Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4. Transforamsi non linear dan singular 3.. Tidak membutuhkan perkalian matrik 2. Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5.. Faktorisasi matriks 4. Transformasi singular dan secara langsung 28. yaitu. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah. cabang. dan link 5. Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan... 1. 1.. Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3. Perkalian matriks 3. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara.. yaitu. Augmented matriks 30.Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3.Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5. Tidak membutuhkan reduksi matrik 5. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus. 1. Tidak membutuhkan augmented matrik 31. bus.

Bus PV. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2. Newton Raphson 151 . Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda. bus kendali dan swing bus 3. Bus PV. Bus PQ.. Daya aktif dan daya reaktif 33. Iterasi 2... Daya aktif dan sudut fasa 4.besaran yang diketahui adalah. 1. Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus. Langsung dan iterasi 3. bus PQ dan bus kendali 5. Bus PQ. Bus PQ. Daya apembangkitan dan daya beban 5. Terdapat sumber tegangan 3. Susut daya reaktif dibebankan 2. 1.. Susut daya dikurangi 34.. 1... Dalam bus PQ atau bus beban. Langsung 4.. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini.. Susut transmisi dibebankan 4.. Susut daya aktif dibebankan 3. Terdapat beban 5. bus PV dan bus berayun 2.. Terdapat sumber daya reaktif 2. Gauss-Seidel 5. 1.hmymsc 1. Terdapat pembangkit 4. Magnitud egangan dan daya aktif 3... bus Beban dan bus berayun 32. Terdapat beban dan pembangkit 35. Susut daya dibangkitkan 5. bus penadah dan bus berayun 4.

Gauss-Seidel 4. FDLF 2... 1.. Himpunan persamaan daya reaktif 4.. Newton 152 ..... 1..... delta Q dan delta V 5. Himpunan persamaan daya 5.. Himpunan persamaan tegangan 2.. Newton Raphson 5. Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4.. Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan . delta P dan delta I 39. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5... Himpunan persamaan daya aktif 3. Gauss 3. Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan . Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda.SOAL-SOAL 36. delta P dan delta Q 2. delta V dan delta I 3... 1. delta P dan delta V 4. 1. semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3... Himpunan persamaan arus 37. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan ..

. 1. Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda. 1... Admitansi shunt jaringan 3. Gauss-Seidel 3. Terdapat data jaringan 5. FDLF 43. 1. 1. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4.. Admitansi bocor trafo 5.. Admitansi bocor hantaran 4.. Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3.. Gauss 5. Semua metoda 44. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2... 1. Gauss 5. FDLF 2.. Newton Rapshon 4.hmymsc 40. 42... Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena.. Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2. Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja. Data bus dan data jaringan 153 ... Susceptansi dari reaktansi transformator 41.. Gauss-Seidel 4. Newton Raphson 2.. Newton 3... yaitu. Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari.. Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2....

*)A(J. Skew simetri 2. Hermitian 5. Data bus dan data tegangan 4.I) CONTINUE DO 20 I = 1.. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4.I) CONTINUE DO 20 I = 1. 10 20 2. Orthogonal 3.. Data beban dan pembangkitan 5. 1. 10 DO 20 I = 1.*)A(J. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut.. N READ(1. Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2. Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose. N DO 10 J = I. N DO 10 J = 1. 20 10 3.SOAL-SOAL 2. Pada bus terdapat bank kapasitor 5.. Data tegangan dan impedansi 3. Skew 4.. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46. maka matriks A tersebut disebut matriks. N READ(1. N DO 10 J = I. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah. Data jaringan dan data beban 45.... N READ(1.*)A(J. 1. Memiliki sumber daya reaktif 3.1) 154 . 1. Skew hermitian 47.

DO 30 I = 1.J) 10 20 30 3. M DO 20 J = 1. M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 .J) = 0 DO 10 K = 1.*)A(1. L C(I. 1. N C(I.J) = 0 DO 10 K = 1.J) + A(I. N DO 10 J = 1. 10 20 5..J) 10 20 30 2. M DO 20 J = 1. N READ(1. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut.J) + A(I.. L C(I.1) CONTINUE 48.. CONTINUE DO 30 I = 1. N C(I.hmymsc 20 4.*)A(J.J) = C(I. CONTINUE DO 30 I = 1. N READ(1.K)*B(K.K)*B(K.J) = C(I.J) CONTINUE DO 20 I = 1. 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1. L DO 20 J = 1. N DO 10 J = I.

memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama. LLTrans 156 .J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49..J) = C(I.K)*B(K. Gauss-Seidel 50. N DO 20 J = 1.. N C(I. Doolitle 4. Gauss-Jordan 5.J) + A(I.K)*B(K. CONTINUE DO 30 I = 1. 1.J) 10 20 30 4. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi.K)*B(K. 1.J) = C(I. M C(I.SOAL-SOAL C(I.J) + A(I. M DO 20 J = 1.J) = 0 DO 10 K = 1.J) + A(I. L C(I. N C(I. Crout 3.J) 10 20 30 5.J) = 0 DO 10 K = 1. Cholesky 2. M C(I. Inverse matriks simetri dengan metoda..J) = C(I.J) = 0 DO 10 K = 1.. CONTINUE DO 30 I = 1..

1. Gauss-Naiff 3. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda. Dalam solusi SPL. 1. Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda. 1. Gauss-Seidel 4. LU 3. Gauss 5. UTrans LTrans 4. LDU 5. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1. Gauss dengan pivoting 53. FDLF 2. Non simetri 3. (jumlah bus.. Non-singular 5. Newton 5. LTrans UTrans 51. Singular 4.slack bus . apabila koefisien persamaan memebentuk matriks……………. (Jumlah bus .jumlah slack bus) 2... Simetri 2. Gauss-Seidel 4.jumlah pv bus) 157 . Gauss 3.. Gauss-Jordan 2. Diagonal 52. Newton Raphson 54... Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel.hmymsc 2.

slack bus) 55.. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4. Perencanaan dan kendali 3... 1.Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan. Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq. ipq = (Vp . 10 4. Konvergensi tidak akan tercapai 58. ipq = (Vp .. 12 5.. 9 2.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 . 2 x Jumlah bus 5. 2 x (jumlah bus . operasi. Perhitungan aliran daya 57. Perencanaan dan operasi 5. ipq = (Vp . Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat. 1. maka arus pada cabang tersebut adalah.Vq) ypq ' 5.. maka. ipq = (Vp .. Operasi dan kendali 4.. (Jumlah bus 4. 11 3. 1.Vq) ypq + Vq y'pq 4. ipq = (Vp . Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3.SOAL-SOAL 3. Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak. 1.Vq) ypq + Vp y'pq 2.. Kecepatan konvergensi meningkat 2. Iterasi yang diperlukan membesar 5. Perencanaan.. dan kendali STL 2.

. Faktor kelipatan 4. 159 . 1. Akselerator number 3. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan.. Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah. Membutuhkan data jaringan 5.. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks.hmymsc 59.. Memerlukan perkalian matriks 4.. Bilangan akselerasi 5. Memerlukan pembalikan matriks 3.. Newton Raphson 5.. Gauss 2... 4 x lebih cepat 3. 4 x lebih lambat 5. 8 x lebih lambat 61.. Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 . Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi. 1. Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel. Gauss-Seidel 3. Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda. Faktor akselerasi 60... bilangan ini dikenal dengan sebutan.2. 1.... 2 x lebih cepat 4. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63. yaitu. Bilangan pembanding 2.. 8 x lebih cepat 2.. Decoupled 62. 1.... FDLF 4.

Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai. Pengendalian frekuensi 3. 1..SOAL-SOAL 1. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks.. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4.GE.. IF(DELTA_P.. maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi..EPSILON)GOTO 340 2. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5. Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2.. Pengendalian rugi-rugi 5.EPSILON)GOTO 340 3. Pengendalian daya aktif 2. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut. IF(DELTA_P. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4. IF(DELTA_V. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2.. Solusi yang lebih cepat 3. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q..EPSILON)GOTO 340 5.EPSILON)GOTO 340 4. IF(DELTA_V.LE.. Pengendalian daya beban 66. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5.. 1. Ypq = -ypq/a 2.LE.GT. Akurasi yang lebih baik 4. 1. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3. 1.. IF(DELTA_V... Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64.EPSILON)GOTO 340 65... Ypq = -ypq(1-1/a 160 ...GT.. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah.

M READ(1. 1.J = 1..I1000TH 2... 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69.. 60 3.I1000TH) 3.I1000TH) 5.M 161 . N DO 60 I = 1..I100TH.I100TH....IMIN.J = 1.I100TH.IMIN. N DO 60 I = 1.IMIN... Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah.ISEC.I100TH. READ TIME (IHR. Ypq = ypq(1-1/a 5.ISEC.. Ypq = ypq/a 4...I1000TH) 70. M DO 60 I = 1.*)(A(I.*)(A(I. Ypq = -ypq 68.IMIN.ISEC. CALL GETTIM (IHR..I100TH..J).I1000TH) 4.J). 60 2. Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam.J = 1. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai. DO 60 I = 1. 60 4.J).M READ(*. CALL TIME (IHR.. CALL SETTIME (IHR..ISEC.hmymsc 3.M READ(1.. 1. READ GETTIM (IHR. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.*)(A(I.IMIN.ISEC..

6. 8. 8 9.8 9.J = 1. 5. N 71.J = 1.4.J). Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut. 2. 2.12 2. 60 READ(*. 1. 4. 3 5.J). M DO 60 I = 1. 4... 3. 3. 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4.6.10. 10..10)(A(I.3 5.*)(A(I. dimana susunan data dalam file adalah 162 . 6.12 5. 9...M READ(1. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu.SOAL-SOAL 60 5.. 2.10.

A) CALL PRINT_MAT(M.40) READ(*. N) CLOSE(1) RETURN END 163 .*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.N.A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X.*)(A(I.M 60 READ(1.50) READ(*.'JUMLAH KOLOM : '.*)M WRITE(*.20)NAMA_FILE_IN WRITE(*.$) FORMAT(6X.A) DIMENSION A(M.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.N. FILE = NAMA_FILE_IN.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1.10) READ(*.'JUMLAH BARIS : '.30) WRITE(*.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X.M. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.N. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.J = 1.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*. 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.M.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.J).hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.

80)(A(I. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 2.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2. 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 .5)) FORMAT(3X. matriks 4 x 4 (MAT44) 2. 4.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X. 2.M WRITE(2.F10. 5. 5.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.N. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data.90) READ(*. 6. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 14. FILE = NAMA_FILE_OUT. 4. 3.$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X. 3. 5.N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*.J =1. 2 -3 .A) DIMENSION A(M.J).110) DO 70 I = 1.

100).30) READ(*. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1. J = 1.$) READ(*.J).'JUMLAH BARIS : '. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1.*)(A(I.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*.$) READ(*.*)N WRITE(*. N) DO 80 I = 1. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 .*)L WRITE(*. M 70 80 c c c IF((M.100).20) 20 30 FORMAT(3X.HASIL_MAT*15 REAL A.EQ.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.$) READ(*.30) FORMAT(3X.L))THEN DO 100 I = 1. K READ(1.B.C WRITE(*.10) 10 FORMAT(3X.E(100.40) READ(*.J).*)(B(I.(N.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.100).J = 1.100).'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.60) c c c 60 FORMAT(3X.*)M WRITE(*. FILE = BACA_MAT.hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.K).D(100. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS.190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.100) CHARACTER BACA_MAT*15.40) 40 FORMAT(3X.C(100.B(100.EQ.*)K WRITE(*.'JUMLAH KOLOM : '.50) 50 FORMAT(3X.AND.

IK)*B(IK. M DO 120 J = 1.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.EQ.$) READ(*.J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 . M DO 150 J = 1.180) 180 190 FORMAT(3X.110) ENDIF c c c IF(N. N C(I.EQ.(N.110) 110 c c c IF((M.J) = A(I.J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. N 140 150 160 E(I. N D(I.K)THEN DO 160 I = 1.L))THEN DO 130 I = 1.J) + B(I.EQ.J) + A(I. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS. L E(I.K).AND.J) .B(I.J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X.170) 170 c FORMAT(3X.PROGRAM DO 90 J = 1.0 DO 140 IK = 1.J) = A(I.J) = E(I.J) = 0. 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*.

320)(D(I. 3. 7.3)) WRITE(2. M WRITE(2.J).F8.230) WRITE(2.240) 240 FORMAT(/2X.320)(E(I.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1.3)) WRITE(2. 'MATRIKS A(M.J).hmymsc OPEN(UNIT=2.220)(A(I. 6.F8.J).F8.3)) WRITE(2. 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1.230) WRITE(2.260)(B(I.230) FORMAT(/2X) WRITE(2. N) FORMAT(4(2X.J = 1. 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1. L) FORMAT(4(2X. K 250 260 WRITE(2.3)) WRITE(2.300) 300 310 320 FORMAT(/2X. L) FORMAT(4(2X.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X. 2.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1.230) WRITE(2. 6. M WRITE(2. K WRITE(2.J = 1.270) 270 280 290 FORMAT(/2X. 3. FILE = HASIL_MAT.290)(C(I.J = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 3.330) 330 340 FORMAT(/2X.F8.J = 1. 7. J = 1.J). 4. 2. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1. matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1. M WRITE(2. 'MATRIKS B(K. L) STOP END Susunan File data.J). 5 6 8 1 6 5 167 . 2. N) FORMAT(4(2X.

N 70 c READ(1.J).100).20) FORMAT(3X. N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X. FILE = BACA_MAT.100). J = 1.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.30) FORMAT(3X.INVL.HASIL_MAT*15 REAL A.ACY(100.10) 10 20 30 c c c WRITE(*.PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.100). 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*.L.*)(A(I.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.TL.INVTL.100). STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.ACY WRITE(*.INVTL(100.100).100) CHARACTER BACA_MAT*15.$) READ(*.60) 60 FORMAT(3X.90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.AGJ(100.'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '.$) READ(*. + INVL(100.AGJ.*)N 168 .L(100.JMLH.100).TL(100.

3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1. FILE = HASIL_MAT. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.IP)/AGJ(IP.F8. N DO 160 I = 1.EQ.J+N) = 1.J) = A(I.EQ.J) = AGJ(I.IP) DO 150 J = IP.80) 80 90 FORMAT(3X.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1.J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1. N DO 140 J = 1. 'MATRIKS AWAL A(N.J)THEN A(I. N DO 130 J = 1.120)(A(I.N) ADALAH : ') DO 110 I = 1.$) READ(*. N) FORMAT(8(2X.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X. N OP = AGJ(I. 2*N AGJ(I.J) + OP * AGJ(IP. STATUS = 'NEW') WRITE(2. N IF(I.J). 2*N AGJ(I. N IF(I. N WRITE(2.J = 1.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*.I) 169 .IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I.

N WRITE(2. N 258 259 WRITE(2.205) FORMAT(/2X) WRITE(2.J+N). 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2. N DO 200 J = 1.230)(L(I. N L(I.259) DO 258 I = 1. 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 .J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. 2*N AGJ(I.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1.210) FORMAT(/2X.J) = AGJ(I. N) FORMAT(8(2X.J) = ACY(I.3)) WRITE(2. N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1.J) = AGJ(I. N) FORMAT(/2X.230)(AGJ(I.J).0 DO 255 K = 1. J = 1. N ACY(I.PROGRAM DO 180 J = 1.J).230)(ACY(I.K)*L(K.J) = 0.J = 1. N ACY(I. N DO 256 J = 1.240) 240 250 FORMAT(/2X. 'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1. N WRITE(2.F8. J = 1.J) + A(I.

I) JMLH = 0. N DO 280 I = 1. N DO 260 J = 1.I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I.J).J) A(K.J) = 0. N L(I.I)-JMLH)/A(I. N 265 c c WRITE(2.0 DO 270 J = 1.K) = SQRT((A(K.J) = A(I.I) DO 260 I = 1. N DO 321 J = 1.0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1.A(J.JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1.I)THEN A(I.I) = (A(K.hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I.K-1 JMLH = 0.K) .J) 321 CONTINUE 171 . J = 1. N IF(A(I. N DO 310 J = 1.NE. N IF(J.J)*A(K. K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K.230)(A(I.0 DO 290 J = 1.J) * A(K.J).GT.J) A(K.J) = A(J. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1.

J = 1.J) = INVL(I.230)(INVL(I. I-1 JMLH = 0.J) + L(I.I) DO 380 I = 2. N) FORMAT(/2X.J) = ACY(I.L(I.0 DO 386 K = 1. N ACY(I.382) DO 381 I = 1.0 DO 360 K = 1. N DO 370 J = 1. N 385 389 WRITE(2. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1.INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1.J).F8.389) DO 385 I = 1.J) INVL(I.PROGRAM WRITE(2. N WRITE(2. J = 1.3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1. N 381 382 WRITE(2. N ACY(I.340)(L(I. N) FORMAT(/2X. INVL WRITE(2. N DO 387 J = 1.K)*INVL(K. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH .J) = 0. N 350 INVL(I. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L . N) FORMAT(8(1X. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 .J).325) 325 330 340 c FORMAT(/2X.J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.K)*INVL(K.J).I) = 1.0/L(I.230)(ACY(I.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH. J = 1.

'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1.J) INVTL(I. J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH . N-2 DO 470 J = I+2. N DO 390 J = 1.J = 1. N JMLH = 0 DO 465 K = 2.TL(I. N JMLH = 0 DO 490 K = 2.J) = JMLH/TL(I.hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1. N-1 J = I+1 INVTL(I.I) JMLH = JMLH .0/TL(I.F8.J) = JMLH/TL(I.J).3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1.TL(I.J) = -TL(I.I) DO 460 I = 1.N 420 430 WRITE(2. N-3 DO 500 J = I+3.I) 173 .K)*INVTL(K. N TL(J.I) = L(I. N 440 INVTL(I.K)*INVTL(K.I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1. N) FORMAT(8(1X.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2.410) 410 FORMAT(/2X.J)/TL(I.J) INVTL(I.I) = 1.J)*INVTL(J. J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1.430)(TL(I.

N DO 590 J = 1.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J) = 0.3)) FORMAT(/2X.570)(ACY(I. N DO 530 J = 1. N 560 570 c WRITE(2.J).0 DO 580 K = 1. 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1. N ACY(I.J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2.K)*INVTL(K.F8. N ACY(I. N) FORMAT(8(1X.J) = 0. N ACY(I.620)(ACY(I.630) DO 610 I = 1.K)*INVL(K.PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1.J) + TL(I.J) = ACY(I. N ACY(I.J). J = 1.J) + INVTL(I. J = 1. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.J) = ACY(I.550) 550 FORMAT(/2X. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1.0 DO 520 K = 1. N) FORMAT(8(1X.890) FORMAT(2X.F8. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 .

100).'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. -1. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. matriks 4 x 4 (MAT4S) 4.X.hmymsc END Susunan File data. -1. -1. 0.$) 175 .HASIL_MAT*15 double precision A.GALAT.SELISIH WRITE(*. 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th. 0.C(100). -1.20) 20 FORMAT(3X.C.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '. 4. 0.X(100) CHARACTER BACA_MAT*15.XBARU.30) 30 FORMAT(3X. -1. -1. 4.*)N WRITE(*.$) READ(*.EPS.

N IF(ABS(A(I. 'BATAS ITERASI READ(*. FILE = BACA_MAT.*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1.J)= DUMMY X(I) = 0.J)= A(K. 'BATAS KETELITIAN : '.J) A(L.00000001))THEN WRITE(*. N L=K DO 100 I = K+1.70) FORMAT(3X.(0. N 90 c c DO 120 K = 1.K)THEN DO 110 J = K.GT. N 50 READ(1.J).K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L.*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L.*)(A(I.$) Prosedur Pivoting 176 .40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1. J = 1.$) READ(*. 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*.J) A(K.80) 80 FORMAT(3X.LE.K)).*)(C(I).PROGRAM READ(*. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1. N) CLOSE(1) WRITE(*.*)EPS WRITE(*.60) 60 70 FORMAT(3X.I = 1.ABS(A(L.NE. N DUMMY = A(L.K)).0 : '. N) READ(1.

N XBARU = C(I) DO 130 J = 1.LT.LT. FILE = HASIL_MAT.160) FORMAT(/2X. N IF(J.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(*.SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT.A(I. 'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.X(I))/XBARU) IF(GALAT. M GALAT = 0.EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*.190) 190 FORMAT(3X.$) READ(*.NE.I)THEN XBARU = XBARU .0 DO 140 I = 1. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 .40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I.I) SELISIH = ABS((XBARU .180) FORMAT(1X.

PROGRAM WRITE(2. -0.85.210)(X(I).2 -0.200) 200 FORMAT(/2X.30. -19. I = 1.F10.1. -0.2. 0. 0. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 .40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th.3 10 71.3.1. N) 210 250 FORMAT(8(2X. 7. -0. 7. 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2.5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3.

BAWLTRFO(100) .SUSCEPTAN(10 0).BUS_AWAL.V_SPECT(100).TAHANAN.Y_CHARGING(100).BUS_AWAL(100).KLP(100).P(100).Q_MIN(10).TAHANAN(100). INTEGER SWITCH.SR.E(100).V_SUDUT(100).LCHARGING.REAKTANSI.Y_CABANG(100).DX.KLP.BUS_AKHIR(100).Y_BUS.BUS_AKHIR.P_LOAD(50 ).V_MAGNITUD(100).hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).YLP(100.Q_GENERATE(100).BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.MAGE.YLP.BAHRTRFO(100).BAWLTRFO.100).LCHARGING(100).Q_MAKS(10).V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.SUM.Y_BUS(100.Q(100 ).S ALPHA. + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).R.EN(100).TIPEBUS(100).Q_LOAD(100) .EII.NFILE_IN 179 .NOKPSITOR(100).P_GENERATE(50).NOMORBUS(100) EI.RATIOTRF(100).NOTRAFO(100).EPSILON.100).

1H:I2.2. JMLTRAFO 50 READ(1.2.2.*)NOCABANG(I).PROGRAM WRITE(*.1H:I2.BUS_AWAL(I).JMLTRAFO. JMLHBUS 40 + + READ(1. 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.I100TH.I100TH.*) DO 40 I = 1. + ALPHA. Q_GENERATE(I).JMLKSTOR.*) DO 50 I = 1.TIPEBUS(I) READ(1.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.*)NOTRAFO(I). FILE = NFILE_IN.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.I2.EPSILON READ(1.IMIN.P_GENERATE(I). Q_MIN(I).70)IHR.*)NOMORBUS(I). JMCABANG 30 + READ(1.IMIN.ISEC.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR.*)NOKPSITOR(I).P_LOAD(I).1H:I2.LCHARGING(I) 180 . JMLKSTOR 60 READ(1.V_SUDUT(I).ISEC.*)MVADASAR.I1000TH) WRITE(*.BAWLTRFO(I).JMCABANG.I100TH.2) READ(1.V_MAGNITUD(I).Q_LOAD(I).10) 10 20 FORMAT(3X.IMIN. REAKTANSI(I).ISEC.BAHRTRFO(I).I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.1H:I2.$) READ(*.IMIN.JMLPVBUS.BUS_AKHIR(I). STATUS = 'OLD') READ(1.I100TH.I1000TH) WRITE(*.V_SPECT(I).JMLHBUS.2.I1000TH OPEN(UNIT = 1.Q_MAKS(I).RATIOTRF(I) READ(1.TAHANAN(I).*) DO 60 I = 1.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.70)IHR.ISEC.*) READ(1.*) DO 30 I = 1.

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

ISEC.336)I.1)K = I DO 360 I = 1.5)) DO 370 I = 1. JMLHBUS DO 334 J = 1.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.I4.J.2X.REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 .2F10.70)IHR.333) 333 FORMAT(2X./. JMLHBUS WRITE(2.I1000TH) WRITE(2. ' ITERATION'. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0.0./.I1000TH WRITE(2.I100TH. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I)).331) 331 337 FORMAT(2X. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.2F10. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I).) DO 337 I = 1.'-'.) DO 335 I = 1.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .332)KLP(I) WRITE(2.EQ.J) CONTINUE FORMAT(2X. 'PARAMETER BUS : '.IMIN.I3.0.5) DO 350 I = 1.ISEC.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2./) 332 FORMAT(10(1X.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.0) CALL GETTIM (IHR.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2. 'PARAMETER JARINGAN : '.I100TH.I3.YLP(I.//T6.IMIN.

2X.'DAYA PADA BUS BERAYUN '.Q(I) 375 FORMAT(' '.F9.NP.F9.3I5.I2.6X.F10.29578.//T6.1X.PROGRAM 370 WRITE(2.5.5X.4.395)NOCABANG(I).Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.F9.5.407)P(I)*MVADASAR.5.2F8./) DO 390 I = 1.NQ.EQ.NQ.385) 385 FORMAT(' '.375)I.F10.F9.S*MVADASAR 390 WRITE(2.0) WRITE(2.4.5.5.F7.NP.F10.DELT*57.'MVAR') DO 406 I = 1.1X.5) SUM = CMPLX(0.//T6.E(I).F10.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.5.1X.1X.5.6X.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.'MVAR') : '.'MW '.MAGE.F9.395)NOCABANG(I).P(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).6X.//T6.1X.5) WRITE(2.405)SR 405 + FORMAT(' '.'MW 186 .1)THEN WRITE(2.0.0.R) WRITE(2.R*MVADASAR 395 FORMAT(' '. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .

. .00 30.0 . 40. .0.0 .020 0. 0. 5 . .0 . 1.TIPEBUS 1 .JMTRAFO. .0 .0 .TAHANAN.24 0. .PGENERATE.0 . 0.0 .00 1. 0 0 1. 0. 5 1 1 2 2 2 3 4 . 20. .0 . 0.0 .00 0. . 0. .0 .18 0. 0. NOTRAFOR. .06 1. .12 0. 0. 0.00 .00 1.00 1.ADMITANSI TANAH .03 0.0 .EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 . . 0 0.JMCABANG.VSPECT. 0. .04 0.0. 0.06 0. 15.0 .08 0. 0. 0.000001 0.QLOAD. 10.025 0. .0. 0 . 5.VSUDUT. .0 .00 .0 . 40. . 4 . 45.0 . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 .02 0. . .BUS_AWAL. . 0 . .00 .01 .JMLKAPTOR.0 . .00 . 0. 1 3 3 3 3 0. . 0. .DAT) MVADASAR. .00 0. 0. .0.0 .0 .REAKTANSI. .0 . . 0. 0 .JMLHBUS.00 . QMIN. 0.QGENERATE. 60. .0.PLOAD.VMAGNITUD.025 NOCABANG.ALPHA. 0. 2 . 0.0 .QMAKS.0 .005 .0 .06 0. 0.0 . . 10. RATIO(a) NOKAPASITOR. .0 .015 0.0 .18 0. . . . . 0. .BUS_AKHIR. 0. . 0.00 .06 0.24 . 0. .020 0. 3 . 0. .JMPVBUS.4 . . 0. 7 2 3 3 4 5 4 5 . 0.hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL.08 NOBUS. . 0. .00 0.030 0. 0. 0.010 0.00 . SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th.

NOTRAFO(50).V_SPECT(50).BAWLTRFO(50) .P_LOAD(50 ).LCHARGING(50).Q_LOAD(50) 188 .RATIOTRF(50).P_GENERATE(50).V_MAGNITUD(50).Q_MIN(10).TAHANAN(50).Q_MAKS(10).BAHRTRFO(50).50).V_SUDUT(50).P(50).Q(50 ).PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).NOKPSITOR(50). + + + + + REAKTANSI(50).BUS_AWAL(50).SUSCEPTAN(5 0).BUS_AKHIR(50).Y_BUS(50.Y_CABANG(50).

ARUS_BUS.DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG.D_ARUS(50).BAWLTRFO.JMLH_1.C_ARUS(50).EPSILON READ(1.100). JMLTRAFO 50 READ(1.SUSCEPTAN(I) READ(1.100).I1000TH OPEN(UNIT = 1.SUM.DELTA_Q(50).DELTA_PMAK.JMLTRAFO.IMIN.*) DO 30 I = 1.REAKTANSI. XPV(50).*)NOTRAFO(I).100).JMCABANG.100).*)NOCABANG(I).*)NOKPSITOR(I).EPSILON.ISEC. INTEGER SWITCH.V_MAGNITUD(I). JACOB_3(100. JMCABANG 30 + READ(1.LCHARGING(I) . Q_GENERATE(I).JACOB_2(50.P_LOAD(I). G_KONDUK(100.JMLHBUS.JMLH_2.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.B_JA COBI(100). + ALPHA.S.V_SUDUT(I).Y_BUS.50).*) DO 50 I = 1.A_JACOBI(100.NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).BUS_AKHIR.JMLPVBUS. JMLHBUS 40 + + READ(1.*) READ(1.BUS_AWAL(I).NFILE_IN 189 . JACOB_1(50.TEGAN_P. 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.*) DO 40 I = 1. FILE = NFILE_IN. JMLKSTOR 60 READ(1.LCHARGING.*)MVADASAR.V_SPECT.Q_LOAD(I).ISEC.V_SPECT(I).*)NOMORBUS(I).DELTA_MAG(50).BUS_AKHIR(I).B_SUSCEP(100.Q_HITUNG(50).RATIOTRF(I) READ(1.70)IHR.BAWLTRFO(I).I1000TH) WRITE(*.TAHANAN.JACOB_4(100.SR ALPHA.JMLKSTOR. REAKTANSI(I).DELTA_P(50).I100TH.R.TIPEBUS(100).hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*.DAYA_P.$) READ(*.10) 10 20 FORMAT(3X.V_MAGNITUD.I100TH.TAHANAN(I). Q_MIN(I). STATUS = 'OLD') READ(1.100).P_HITUNG(50).*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.Q_GENERATE(50).Y_CHARGING(50).MAGE.IMIN.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.Q_MAKS(I).V_SUDUT.BAHRTRFO(I).*) DO 60 I = 1.DELTA_ SUDUT(50).BUS_AWAL.TIPEBUS(I) READ(1.P_GENERATE(I).50).

JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.PROGRAM CALL GETTIM (IHR.2.NN) = Y_BUS(NK.SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.NN) = Y_BUS(NN.1H:I2.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1.EQ.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.IMIN.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.ISEC.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ.2.1H:I2.0)GOTO 90 Y_BUS(NP.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.J)) = CMPLX(0.IMIN.I100TH.2.00/CMPLX(TAHANAN(I).00.00.NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.I100TH. JMLHBUS DO 110 J = 1.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1.NQ) = Y_BUS(NP.NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.I) = Y_BUS(I. JMLHBUS DO 100 J = 1.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP.CMPLX(0.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN.EQ.NP) = Y_BUS(NP.1H:I2.NK) = Y_BUS(NK.EQ.NK) = Y_BUS(NK.70)IHR.NP) = Y_BUS(NP.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I. JMLKSTOR IF(I.2. JMLHBUS G_KONDUK(I.I1000TH) WRITE(*.I).NQ) = Y_BUS(NQ.J) = REAL(Y_BUS(I.1H:I2.2) 190 . JMLTRAFO IF(I.I2.ISEC.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK.

'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '.2X. 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '.140)MVADASAR.3X.4) WRITE(2. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1. EPSILON') WRITE(2.4X. JMLHBUS WRITE(2.F6.F8.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1. + REAKTANSI(I).I3.5X. STATUS = 'NEW') WRITE(2.150) FORMAT(12X.5(5X. + ALPHA.V_SUDUT(I).4.4.2X./. JMCABANG 160 170 180 WRITE(2.3X.F8.F8.(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)).SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X.230)NOTRAFO(I).(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).2) B_SUSCEP(I. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2.3. +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1.F8.200)NOMORBUS(I). 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '.260)NOKPSITOR(I).JMCABANG. JMLTRAFO.F8.3X.2) WRITE(2.1X.BAHRTRFO(I).V_MAGNITUD(I).LCHARGING(I) FORMAT(I5. JMCABANG.F8.3(2X. Q_MAKS(I).120) 120 FORMAT(3X.6X. JMLKSTOR 250 WRITE(2.180) FORMAT(2X.J)) 191 .2X.' -'.JMLKSTOR.F5.TIPEBUS(I) FORMAT(I4. ALPHA.F6.TAHANAN(I).$) READ(*.I4).J) = -AIMAG(Y_BUS(I.4.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2.8) WRITE(2.JMLHBUS.' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1.I5). 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '.JMLKS +TOR.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*.210) FORMAT(2X.4.F8.4X.BUS_AKHIR(I). 3(2X.RATIOTRF(I) FORMAT(2X. JMLPVBUS. 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '. 'MVADASAR.I5.BUS_AWAL(I).Q_MIN(I).BAWLTRFO(I).5X./. EPSILON 140 150 FORMAT(3X.F10.130) 130 FORMAT(2X./.JMLTRAFO.240) FORMAT(2X./.170)NOCABANG(I).I3.F8.4.I4) WRITE(2.V_SPECT(I). FILE = NFILE_OUT.4.JMLPVBUS. JMLHBUS.I4.4).

IMIN.350)(B_SUSCEP(I./.300) FORMAT(2X.J).0 DELTA_QMAK = 0.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X.J).F10.*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2.I1000TH) WRITE(2. JMLHBUS WRITE(2.0 DO 390 J = 1.J) .350)(G_KONDUK(I. J = 1.) FORMAT(10(1X. 'ADMITANSI KE TANAH : '.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I. J = 1.) DO 280 J = 1.) DO 310 J = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). 'ADMITANSI BUS : '.I100TH. Q.EQ.70)IHR.5)) WRITE(2./. 'ADMITANSI JARINGAN : './.5)) WRITE(2.F10.0 JMLH_2 = 0.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0.IMIN.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0. JMLHBUS) 192 .J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I. JMCABANG WRITE(2. JMLHBUS WRITE(2. JMLHBUS) DO 370 I = 1. dan DELTA_Q DO 400 I = 1.I100TH.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 .V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2.270) 270 FORMAT(2X.ISEC.330) FORMAT(2X. JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR.5)) DO 360 I = 1. DELTA_P.ISEC.0 c PERHITUNGAN : P.F10.J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I.PROGRAM WRITE(2. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X.

EQ.LE.V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1.EPSILON).1)GOTO 450 DO 440 J = 1.-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I).I)THEN JACOB_1(I.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1.GT.DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 . JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1.LE.DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I).I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I).NE.EQ.(DELTA_QMAK.I) .1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1.I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.EQ.EQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) .P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI.NE.AND.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.GT.I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).1)THEN DELTA_P(I) = P(I) .EQ.1)GOTO 440 IF(J.

1)THEN IF(I.NE.J) . JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). JMLHBUS-1 A_JACOBI(J.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.J) JACOB_4(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.460) 460 FORMAT(1X.1)THEN WRITE(*.J)) G_KONDUK(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .K) = JACOB_1(I.I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.K+1) A_JACOBI(J.EQ.J) JACOB_3(I.J)) JACOB_2(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I. JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.K) = JACOB_3(I.I) .

J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L.(0.K)).ABS(A_JACOBI(L.00001))THEN WRITE(*. NBARIS_BUS IF(I.J) .PIVOT*A_JACOBI(K.K)THEN DO 540 J = K.hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1.J) = A_JACOBI(K.NE. NBARIS_BUS+1 IF(J. NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1.J) ENDIF 195 .J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.K)).GT.K) DO 550 J = 1.J) A_JACOBI(L.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.J) A_JACOBI(K.J)/PIVOT DO 570 I = 1.J)= A_JACOBI(K.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L. NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L.J) = A_JACOBI(I. NBARIS_BUS DO 510 J = 1. NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I.LE.NE.GT.K) DO 560 J = 1.

GT. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.ISEC.I4.650)ITERASI 650 FORMAT(////.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.670)ITERASI 670 FORMAT(' '.JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*.GT.XPV(I).DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1.ISEC.620)ITERASI 620 FORMAT(3X.'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '. NBARIS_BUS IF(I.I100TH.IMIN.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1.I1000TH) WRITE(2.*)I.EQ.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .I4) WRITE(2. + ' ITERATION'.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I. NBARIS_BUS DO 590 J = 1./) DO 680 I = 1.I4.//T6.LT.ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2.70)IHR.'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.K.IMIN.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR.I100TH.T10. NBARIS_BUS+1 IF(J. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 .

NP.R) WRITE(2.730) 730 FORMAT(' '.5) WRITE(2.0.F10.0) WRITE(2. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .4.1X.F9.I100TH.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.760)SR FORMAT(' '.5.5.//T6.ISEC.NQ.'MVAR') CALL GETTIM (IHR.COMPLX_TEG(I).Q(I) 720 FORMAT(' '.EQ.F9.//T6.'MVAR') DO 770 I = 1.750)NOCABANG(I).6X.5.Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.5.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.MAGE.F10.2X.'MW +'.1X.1X.F9.6X. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).F9.DELT*57.S*MVADASAR 740 WRITE(2.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.NQ.NP.5.29578.F9.IMIN.780)P(I)*MVADASAR.5.//T6.1X.P(I).5.F7.'MW 197 .1)K = I DO 700 I = 1.I2. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I)./) DO 740 I = 1.V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.EQ.5.5X.IMIN.F10. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2.720)I.F10.I100TH.hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).0.2F10.1)THEN WRITE(2.750)NOCABANG(I).1X.5) SUM = CMPLX(0.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.ISEC.70)IHR.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.I1000TH) WRITE(2.I1000TH : '.6X.3I5.

*) 1000 STOP END 198 .PROGRAM 900 WRITE(*.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful