P. 1
Diktat Penggunaan Komputer Dalam Sistem Tenaga 2008

Diktat Penggunaan Komputer Dalam Sistem Tenaga 2008

|Views: 273|Likes:
Dipublikasikan oleh Yudo Heru Pribadi

More info:

Published by: Yudo Heru Pribadi on Jan 08, 2013
Hak Cipta:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/04/2015

pdf

text

original

PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

3 Representasi Transformator 6. 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5. 6 Metoda Fast Decoupled 5. 1 Pendahuluan 5. 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 3 Persamaan Performance Jaringan 5. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 5 Metoda Newton Raphson 5. 1 Umum 6.BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 1 .

1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan. Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen. persamaan (I.. I. koefisien. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir. x2. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek. 2.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1. variabel. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks. b2. dan b3 parameter-parameter yang diketahui. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I.2-3) 1 . disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I. Dalam bentuk matriks. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem. Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I. Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer. Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. b1. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks. Subskrip pertama i. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. menunjukkan baris dan subskrip kedua j.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui.

a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢... seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 .... 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks......... MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom.a nm ⎥ ⎣ ⎦ B....... antara lain : A. MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j..... ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I... [a11 a12 ........... ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢. Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris....... matriks tersebut adalah matriks segitiga atas. Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar....PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n. ⎥ ⎢a 51 a 52 ........ m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom)... seperti dalam contoh berikut..BAB 1 .. 2.. aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal.. sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom...... sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal.

untuk i = j dan aij = 0.hmymsc C. seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D. matriks tersebut disebut matriks diagonal.. seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E. TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan. seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. dan elemen lainnya Nol (aij = 1. sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0. MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu. untuk i ≠ j). matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. seperti 3 . untuk i ≠ j).

tetapi tidak semua elemen aij = 0.6 .BAB 1 . MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT.PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G. matriks tersebut disebut matriks simetris. seperti : 4 . seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij .4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. dan elemen diagonal berharga Nol. maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri. ⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H. MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri. matriks ini disebut matriks skew . untuk semua ij. tetapi berlawanan tanda(aij = -aij).5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama.

seperti : 2 .3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.2 . MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya. MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T . K. maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri.j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T. MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb). matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*.j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 .hmymsc ⎡0 .j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣. dimana semua elemen diagonal berharga Nol.5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢. seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 .j2 1 . MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill. MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ . maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. seperti : 2 . matriks A disebut matriks orthogonal.j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M.j3 ⎦ N. seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L.

BAB 1 . seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P. MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. aij = 0. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL. sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 . sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0. MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal. Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3.PENGKOM O. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0.

sebagai berikut : . 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I. Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 .dari pers. kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 .AT A = A* A = . DETERMINAN I.a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 .3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel.3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 . 3.3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 .a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A. substitusi harga x1 kedalam persamaan (I. 3.a12 a 21 Langkah berikutnya. Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 .A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I.hmymsc Tabel I-1.a 21 b1 a11 a 22 .a12 b 2 a 22 b1 . dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I.

3. untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 .a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga..a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1.. Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21.BAB 1 .. x2 = I. Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1. jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal. n.PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 . Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya. kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij . 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i. 2. ...

Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1. 4 OPERASI MATRIKS I.hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I. bilamana elemenelemen aij = bij. 4. yaitu : A=B I. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1. maka kedua matriks disebut matriks sama. lalu matriks tersebut ditranpose. 3. Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 . 4. hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama.1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya.

…. dengan dimensi yang sama pula.m (Jml. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. 4. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. 4.. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I. 3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama.PENGKOM 3..BAB 1 .2. misal : kA = B. Baris matrik A) 10 . akan menghasilkan matriks baru C. 4 PERKALIAN MATRIKS A. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar.3-2) dengan : i = 1. Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut. Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I. sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B. Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n.

dimana CT = BTAT. N C(I..J) + A(I.hmymsc j = 1. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA.. namun BA tidak dapat dilakukan.K)*B(K. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks. M DO 20 J = 1.k (Jml..J) = 0 DO 10 K = 1. DO 30 I = 1. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut.….J) = C(I. Jika matriks A. L C(I. B. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1.2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 . karenanya aturan komutativ tidak berlaku. AB = 0. kecuali untuk matriks bujur sangkar. Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan. tidak berarti A = B Jika C = AB. ini merupakan aturan reversal. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB.2.

tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1. Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II. dan x3 sebagai fungsi b1. dan b3. x2.PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C. b2. INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks. yaitu : x = Cb (II.4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. Namn demikian.BAB 1 . kecuali pembagian matriks dengan skalar. dan berlaku: 12 .

kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1. 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n. Bila determinan dari matriks berharga Nol. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ . matriks seperti ini disebut matriks singular. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks.4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: . Sebaliknya.4-4) 13 . antara lain : C. sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama. bila determinan ≠ 0. maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE. matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse. maka tidak ada inverse dari matriks tersebut. yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A.I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II.Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II.4-2).hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II. dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix.

J)/P DO 30 I = 1. Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan. 2*N A(I.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I. N IF(I.J) = A(I.J) .2*N A(K.4-3) menjadi (II.N P = A(K.BAB 1 .PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II. C.2.P*A(K. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U.K) DO 10 J = 1.K)THEN P = A(I.J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2.NE. berikut : DO 30 K = 1.K) DO 20 J = 1. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 .J) = A(K.

perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II. yaitu : A-1 = U-1 L-1 . sehingga tidak efisien.hmymsc Dengan cara ini. oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan. invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II. yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L. Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar.4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer. (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C. C. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II.4-9) . dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU.

2.L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 .. terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 ..∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1. perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT. -1 k Dari persamaan (II.L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 .4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II.4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU. k n (II.PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II....BAB 1 ..4-13) untuki =1.4-13) dan uraian sebelumnya. persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk ... k pers) untuk =1...L31L31 ...∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki .n (Jml.2.2.L32L32 Dalam bentuk umum.4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II. didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II..4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 .

berikut ini : DO 20 I = 1. N DO 40 I = 1.I) = (A(K.K) = SQRT((A(K.K) – JMLH)) Gambar I-3. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga.J) A(K.I) CONTINUE DO 60 K = 1.I) JMLH = 0 D0 50 J = 1.J) A(K. I-1 JMLH = JMLH + A(I. Selain hal tersebut.J)*A(K. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja. K-1 JMLH = JMLH + A(K. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A.I) – JMLH)/A(I. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 . langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L.*)A(J. N DO 10 J = I. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3.J)*A(K. N READ(1.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris. baik dalam bentuk LT atau L.

. N DO 30 J = 1..n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = . rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← .... 10 DO 10 I = 1. n dan j = 1..(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = ...2..I) D0 40 I = 2.. n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = . dapat dimisalkan matriks lain B = L-1.b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2. N B(I.. maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II.2..⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1.(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum. I-1 18 .I) = 1.... I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1.BAB 1 . berikut ini. Untuk mencari L-1.4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.....3.0/L(I.PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I.

.2. .J) = B(I. . ... dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1. n . tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT.n bij = −a ijbij /a ii i = 1.2. n b kj i = 1.I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4. .. maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II..2.. n .K)*B(K. dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1.hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I.3 dan j = i + 3. n ..J) B(I. Untuk mencari(LT)-1. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh. Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L).1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1. diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = ..2.4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas. berikut: 19 ..(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum. n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5.(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = .. sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I.2 dan j = i + 2. .

I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5.Berdasarkan persamaan (II.J) B(I. berikut: 20 . N-1 J=I+1 B(I.J) =JMLH/L(I. J 30 JMLH = JMLH – L(I.I) D0 20 I = 1. Gambar I-5 dan Gambar I-1.J)*B(J.J)/L(I.3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian .4-13). N 10 B(I.0/L(I.I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1.I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1. Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3. J 60 JMLH = JMLH –L(I.BAB 1 . N-3 DO 70 J = I+3.K)*B(K. akan diperoleh elemen matriks L.J) = -L(I. Gambar I-4.PENGKOM DO 10 I = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 2.K)*B(K. N-2 DO 40 J = I+2.J) B(I. CONTOH 1.I) = 1.J) = JMLH/L(I. N JMLH = 0 DO 60 K = 2.

. 5. Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}. maka determinan A adalah Nol. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1. 5. tinjau matriks A. 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A.+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1. vektor baris tidak bebas linear. Jika beberapa qr ≠ 0..hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I. Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ …….…. vektor kolom tidak bebas linear..{cn}.+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya. I.m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ …….2. berikut ini: 21 .2. Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear. memenuhi persamaan (). Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan ().…….n). Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}……. 5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I. Rank kolom sama dengan Rank baris. Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. Sebagai contoh. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya.

SOAL-SOAL BAB 1 1. dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a).BAB 1 . maka Rank matriks adalah 2 1. Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I. 6. dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear. karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 . p2 = -1.3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2. q2 = 0. karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 .⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3.PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear.

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

sebagaimana contoh Gambar II-1. dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2.⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas. Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 . grs-2 X1 Gambar II-1. Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = . 2. dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis. berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers.hmymsc II. 1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian.⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan.

grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. X2 X2 pers. Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2.BAB I1 . terdapat solusi yang tidak terbatas. Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a. seperti dalam Gambar II-2c. SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b. Singular X1 X2 pers. Pada kasus ini. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem. 2. diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel. yang berlaku untuk i = 1. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED. Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular. karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. sistem mendekati singular. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL. Pada Gambar II2b. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. grs-2 pers grs-1 pers. Pada kasus lain.……n 26 . Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c. ILL CONDITIONED Gambar II-2. II. dan tidak praktis.PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2. berikut ini. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi .2.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

j) = a(i.1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2. a42.. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32.1) do 10 j = 2..1)/a(1.an2 Baris pivot : baris 2.hmymsc • • Baris pivot : baris 1.j) – p * a(1. elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3.……. dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 . dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2.n a(i.n p = a(i. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2.j) a(i.

J) A(I.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3.2) do 10 j = 3. 4.j) a(i.2)/a(2.J) – P * A(K. dibutuhkan n-1 langkah eliminasi. penyelesaian dilakukan langkah demi langkah. 2.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4.n p = a(i. 10 20 30 II.j) = a(i.n a(i. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 .j) – p * a(2. N P = A(I. Untuk SPL berukuran n.K)/A(K.2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya. N-1 DO 20 I = K+1. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3. Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM). DO 30 K = 1.J) = A(I.K) DO 10 J = K+1. N A(I. sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4.BAB I1 .

PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol. atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar.1x1 + 2 x 2 = 10.3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol. dan 2) Determinan ≈ NOL. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya.4 33 . Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya. B. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = . Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1.5x 1 + 2 x 2 = 10. demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C.hmymsc A.4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut. sebab a11 = 0. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1). dapat mengakibatkan pembagian dengan nol.

3x1 .293333x3 = -19.003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.0.BAB I1 .85 0.0.561700 2 Operasi pada baris ke 3.3000 / 3.020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.100000x2 .293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19.0.7x2 .561700 .003330x2 .000) x(−0.0.PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2.2x2 .1 / 3) x(7. dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.1000) = 7.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10.0.200000x3 = 7.3 − (0.0.2x3 = 7.1x2 .40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.1000) = 0.3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 . elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.0.2 − (0.3 − (0. elemen pivot elemen a22 34 .1000 / 3.0000 − (0.000) x(−0.02000x3 = 70.0.3x3 = -19.1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7.2) = −0.1x1 .85) = 19. dengan pivot (p) = a31/a11 = (0.10x3 = 71.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.000000x1 .850000 7.19000x2 . a31 o Baris pivot : baris 1.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.10.6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2. dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.30 0.1 / 3) x(−0.

2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas.0. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan. SCALLING A. antara lain : A.293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70.293333)(7.084300/10. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 . dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3.100000x2 .293333x3 = -19.000030) = -19.0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3.200000x3 = 7.561700 x2 = -2.01200 = 7.0.003330x2 . untuk harga x1 didapat: x1 = o o II.0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0.0000000 Dengan cara sama.003330x2 .00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10. 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut.01200x3 = 70. 4.2) = −0.561700 10.500000 3.0.293333x3 = -19.561700 7.(0. Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B. didapat: 7.3 − (0. yaitu: x3 = 70.1 / 3) x(−0.003330x2 .850000 7.000000x1 .hmymsc o Operasi pada baris ke 3. PIVOTING C.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua.0.19/7. dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0. 2.

…………. sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan. a21. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22. a32. ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua. sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut. an2}. 36 . dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n. dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris.PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama.………an-11. an1}. Misalkan a11 adalah elemen maksimum. karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot.an-12.BAB I1 . sehingga didapat matriks berikut.

K)).K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.K)).K)).J) A(L. N IF(ABS(A(I.J) A(K.J) A(K.hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1.J) A(L. N-1 DO 40 I = K+1. N DUMMY = A(L.K)THEN DO 20 J = K. Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan.J) = A(K.LE.GT.NE.NE. N IF(ABS(A(I. dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1. II-4. N 10 37 .(ABS(A(L.LE. N DUMMY = A(L.EPSILON)THEN WRITE(*. yang merupakan gabungan dari Gambar II-5.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5.(ABS(A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.K)THEN DO 20 J = K.K)).J) = A(K.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.GT.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.EPSILON)THEN WRITE(*.

4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0.0000x2 = 1.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1.0000 .1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.0000x2 = 1.0001 − (3. diperoleh: 1.0000x1 + 1.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I.0000x1 + 10.0001 1.0003)10.0000x2 = 2.J) = A(I.K)/A(K.000/0.0003).K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.J) A(I. N JMLH = JMLH + U(I.J) – P * A(K.000)x2 = (1 – (1/0. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.0003 0.0000x1 + 10.K) DO 30 J = K+1.0000x1 + 1. maka 1. N A(I.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2.0003x1 + 3.0001 − 3. 38 .0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .000 x2 2.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0.(1 – (1/0.I) END Gambar II-6.0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.BAB I1 .N) DO 70 I = N-1.

0000x2 = 1.0003/1.0000x1 + 1.000 sehingga persamaan menjadi: 1.6667 0.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 .9997x2 = 1.0003x1 + 3.0001 – (0.6666667 X1 0.(3 – (0.9997x2 = 1.1 0.9998 x2 = 1.9998/2.0003x1 + 3.3333 0.001 0.0000x1 + 1.0000 − (1.0001 0.33333 0.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.0000x2 = 2.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.66667 0.3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.333 0.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.0000 − 1.0000 1.0000 0.000)1.9998 Penyelesaian menjadi 2.000)1.6667 0.0001 .000. Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.01 0.0000x2 = 1. persamaan menjadi: 1.0000 0.000)x2 = (2.333333 0.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena..0000 2.9997 = 2/3 x1 = 1.30000 0.66667 0. diperoleh: 0.330000 0.0003/1.666667 0.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.6666667 X1 -3.0000x2 = 2.1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot.667 0.0003/1.33 0.667 0.666667 0.000 x2 1.

sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I). semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS).NE.J)/P DO 30 I = 1.K) DO 20 J = 1. dengan kata lain. harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7. N IF(I. N+1 A(I. Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu.PENGKOM II. 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss. semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya.J) = A(I. berikut ini.J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7.J) = A(K. 2.J) .K) DO 10 J = 1. DO 30 K = 1.N+1 A(K.BAB I1 .K)THEN P = A(I. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian.N P = A(K. Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 .P*A(K.

000000 ⎢ ⎢0.0.000000 7.0000000 .0.0.000000 2.0.003333 .0.0418848 10.5617000 ⎥ ⎥ 70.85 0.61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.033333 7.2x3 = 7.793220⎥ ⎥ 70.100000 ⎢ ⎢0.19. diperoleh: ⎡3.400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut.0.000000 ⎢0.0.0666667 .0.000000 ⎢ ⎢0.10x3 = 71.100000 7. 3x1 .3000000⎥ ⎥ 71.000000 .0.000000 .hmymsc CONTOH 2. sebagai berikut: .000000 ⎢0.616670 ⎤ .020000 2.2933333 10.400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya.020000 2.1x2 .033333 1.3x3 = -19.000000 ⎢0.000000 ⎢0.3000000 10.000000 ⎣ .5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut.7x2 . dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.19.2x2 .30 0.100000 .0666667 .0.616670 ⎤ .0.190000 .850000 ⎤ .2000000 .190000 . normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.0.3000000 10.1x1 . untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas.100000 .033333 7.19. diperoleh: ⎡1.0666667 .615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3.0.100000 ⎢ ⎢0. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1.0.300000 ⎣ .000000 ⎣ .3x1 . yaitu a11 ⎡1. sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.2.0.0.0.0.3000000⎥ ⎥ 71. Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena).Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .300000 ⎣ .0.616670 ⎤ .0.

PENGKOM .4. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ . 2.0680624 .08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).0000000 1.0.BAB I1 .000000 ⎢ ⎢0.2. metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah. didapat: ⎡1.0000000 0. Pada metoda ini.793220⎥ ⎥ 70.523560 ⎤ .0680624 . [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 .0000000 2.000000 ⎢0.793220⎥ ⎥ 70.0.2.000000 0.0000000 1.0000000 1. [x ] = ⎢ x ⎥ .000000 ⎣ 0.523560 ⎤ .0120000 2. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II.000003 II.000000 ⎢0.0000000 .5000 ⎥ ⎥ 7.0.000000 ⎣ 0.000000 1. untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini. karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.2.000000 3. Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut.000000 ⎢ ⎢0.000000⎤ .000000 ⎢0. normalisir baris ketiga.000000 x2 = 3.000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3.0000000 0.0418848 1.00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua.500000 x3 = 7.000000 ⎢ ⎢0.0000000 .0000000 0.0000000 0. matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU.0418848 10. didapat: ⎡1. [b] = ⎢b ⎥ .000000 ⎣ 0.0.Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1. dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar.2.

l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2. dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 . sebagai berikut : 43 . Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 .hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ .u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. Dari L Y = b. [U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1.

K) – JMLH)/L(J. N-1 DO 60 K = J+1.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.N) = A(N.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I.I)*U(I. N-1 DO 40 I = J.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I. N JMLH = 0 DO 80 J = 1. J-1 JMLH = JMLH + L(I.K)*U(K. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.J) .1) DO 40 J = 2.BAB I1 .J) = A(1. J-1 JMLH = JMLH + L(J. N U(1. I-1 JMLH = JMLH + L(I.1) = A(I. N-1 JMLH = JMLH + L(N. N L(I.JMLH DO 60 J = 2. N JMLH = JMLH + U(I.6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ .1) DO 20 J = 2.I) X(N) = C(N)/U(N.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1.PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1.I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2.N) L(N.J) = A(I.1) DO 90 I = 2.N) DO 110 I = N-1.J) L(I.K) = (A(J.K)*U(K.1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 .K) U(J.J)/L(1.

K) = (A(J.2) = 2 1/3 U(3.3) – (L(3.2) – L(2.J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2.2) = .J) – JMLH DO 60 J = 2.I)*U(I.1) Diperoleh: U(1.2) – L(3.3) = A(3.1) = A(3.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .2)/L(1.1) = 2/3 U(1.2) = A(3. N L(I.1)U(1.K)*U(K.1)U(1. N-1 DO 40 I = J.J) = A(I.1) = A(2.1)U(1.N) = A(N.3) + L(3.3) = A(1.J)/L(1.1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2. J-1 JMLH = JMLH + L(I.3)/L(1. J-1 JMLH = JMLH + L(J.2) = A(1.2) = A(2. N JMLH = 0 DO 50 I = 1. N-1 DO 60 K = J+1.K)*U(K.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2.K) – JMLH)/L(J.K) U(J.N) – JMLH Diperoleh: L(3.1) = 1 L(3. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.1) Diperoleh: L(1.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1.J) = A(1.1) = A(I.2)U(2. N-1 JMLH = JMLH + L(N.1) = 3 L(2.J) L(I.N) L(N.hmymsc 10 DO 10 I = 1. N U(1.1) = A(1.

11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y]. Bila suatu SPL 46 .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2.1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II.BAB I1 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 . maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan. 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif.11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .1/3 2/3⎤ ⎥ .1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .1/3 2/3⎤ ⎥ .7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 . 2.

hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1. sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1).l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II. Faktorisasi matriks A 47 .…n Y1 = b1 / l11 2. Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 . Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3. harga xi dapat dicari.3.2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2.

1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1.K) = SQRT((A(K.*)A(J. N JMLH = JMLH + A(J.I) X(N) = Y(N)/A(N.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6.BAB I1 . K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1. diperoleh: ⎡2.J)*A(K.J) A(K.A(I.J) A(K.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I.J)*A(K. berdasarkan program dalam Gambar II.1106⎥ ⎦ 0 48 . N JMLH = 0 DO 60 J = 1. K-1 JMLH = JMLH + A(K.N) DO 90 I = N-1. menghitung elemen matriks antara Y. N DO 10 J = I+1.I) – JMLH)/A(I.1) DO 70 I = 2.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian.I) DO 50 K = 1. N READ(1.454 ⎣ 0 4.I) = (A(K.9.PENGKOM menjadi matriks L.1833 20. I-1 JMLH = JMLH .4495 [L] = ⎢6.1237 ⎢ ⎢22. N DO 30 I = 1. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.I) JMLH = 0 DO 40 J = 1. I-1 JMLH = JMLJ + A(I.

x 1 ...a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 . karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik)....a13 x 3 ... presisi diperketat... ..... a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a .x 1 -1 ........ karena adanya galat pembulatan.... dan seterusnya xn untuk persamaan ke n.. ⎥ ⎢. digunakan strategi pivoting.............3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II.. a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II...... untuk semua harga i......... x 1 ) i 1 2 3 n n 49 ........ Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan.. sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 ... Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 .........a 23 x 3 . maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama...a n1 x1 .... Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini............... metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar... x 0 .. digunakan matriks jarang..... ⎥ ⎢....3-2)...a n2 x 2 .... aii ≠0. x n = (b n ...... ..a 21 x1 .a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II...a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢.....x 0 -1 .. Akan tetapi.. Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan..... misal : x 1 = (x 1 .........hmymsc II....... x 3 . 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100.3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi.. x 0 ) 2 n n (II.a12 x 2 ...a 2n x n ) / a 22 .......3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A... ............ sehingga didapat harga xi baru... ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 ........ marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 . x2 untuk persamaan kedua. x 1 ....... Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik.

berikut ini : 50 . ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas. kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i. lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i.3-2) dan (II. Perhatikan ilustrasi berikut.3-3) Untuk semua i. SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal. Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i. dari persamaan (II. dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A.BAB I1 .3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II.10.PENGKOM Harga x 1 . Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan.

Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 . N IF(ABS(A(I.hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1.J) A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L. N IF(J.0 DO 70 I = 1.*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10.K)THEN DO 40 J = K.J). J = 1.(ABS(A(L.LE.NE. N XB = C(I) DO 60 J = 1.NE.K)).K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L. N X(I) = 0.J) = A(K.0 DO 50 K = 1. N) DO 20 I = 1.I)THEN XB = XB – A(I.J) A(K.EPSILON)THEN WRITE(*.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1.*)(A(I.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT. N DUMMY = A(L.EPSILON) THEN WRITE(*. M GALAT = 0.I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT.LT. N L=K DO 30 I = K+1.GT. N READ(1.LE.K)).J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I.

0001) 1 = ε ik = 0.015%. x1 ) = (2.31% > ε 0 (0. didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 .0.31%.0.40 . x 3 ) = (2.BAB I1 .0.40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7.2x3 = 0.85 + 0. ε 3 ) = (0.-2. ε 2 .3x3)/7 x3 = (71.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 .9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7. dimana: maks II.0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0.0.2x2)/10 o Tentukan tebakan awal.0.6166667.30 0.1x2 + 0.10x3 = 71.0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1.000001% < ε 0 (0.2x2 .7. x 3 ) = (0. x1 . ε 1 ) = (100%.100%.-2.7x2 .1x2 .3x3 = -19.990556508. Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 .0.1x1 .0.85 3x1 . 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini. ε 1 . misalkan: x i = (x1 . x 2 .499624684.0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi. x 2 .1x1 + 0.3x1 + 0.0.30 . didapat: 2 2 x i2 = (x1 .0.000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 .794523.2x3)/3 x2 = (-19.100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2.PENGKOM CONTOH 2.7.3x1 .

4232 j0. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢. Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18.0.hmymsc Tabel II-1.3706 ⎢ ⎢ j0.3706 j0.4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.j1.4020 ⎢ ⎣ j0.j1.3992 j0. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a.0.4126 j0.5. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers. 5 SOAL-SOAL BAB II 1.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.4872 j0.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0.4774 ⎢ j0.00 2x1 – x2 – 9x3 = 26.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0.j0.000 .720 . untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6.4142 j0.00 ⎦ 53 .200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0. b.4558 j0.4020 j0.5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40. Eliminasi Gauss dengan pivoting.200⎤ ⎢ ⎥ j0.000 .000 + j0.3922 j0.

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 3 .

.

BAB II1 . variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. baik arus maupun tegangan. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif. variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik. Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. Oleh karena itu. Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan. perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan. Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul). Simpul dapat merupakan insidensi. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus.PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. yaitu bus atau loop. Pada kerangka acuan loop. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen. Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph. Pada kerangka acuan bus. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. III.

Jumlah cabang. Jumlah link. l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III.hmymsc terhubung kepada satu simpul. Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a). Graph tersebut disebut Graph berorientasi.2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 . Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph. Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung. Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph. Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. Cotree adalah komplemen dari tree. tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree. yang tidak harus terhubung disebut cotree.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang. 3.PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1). 4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set. berlawanan dengan basic cut-sets. berdimensi e x b. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j. bij =-1. untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 . Matriks basic cutset. Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets. B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1.BAB II1 .3-2) III.3-1) (III. bij = 0.

hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus.3-2) Link B1 61 . Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III. Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan. dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link.

BAB II1 . Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut. Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung. disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen. 3.3-3) ˆ III. 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset. G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5. Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 . Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III.

4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6. Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 . ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III. Reprensentasi komponen jaringan (a). Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi. Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p .E q (b) Gambar III-6.E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p .hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular.

persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 . Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri.pq. Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq. kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus. III. dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III. Dalam notasi matriks.4-1) dan (III. dimana n adalah jumlah bus.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi. Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen. 5. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III. 1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen.4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III. Dalam kerangka acuan bus.pq atau admitansi sendiri ypq.rs antara elemen p-q dan r-s.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III. Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z].4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq.rs atau ypq.BAB II1 .

5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus.5-3) 65 . Menurut hukum Kirchoff untuk Arus. sehingga : I bus = A t j (III.hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III. Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT.5-2) Hal sama. At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus. jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol. didapat At i + At j = At [ y] v (III. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus. 2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi. 5. sehingga : At i = 0 (III.

5-6) Substitusi dari persamaan (III.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III.5-6) ke (III. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III.5-3) kepersamaan (III. maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III.5-7) kedalam (III.5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III.5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j.5-8) (III.5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III.5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III.5-2) dan (III.BAB II1 . oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant. karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 .

Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq. Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3.4.pq 0. dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III. dan e = 5.1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III.60 0.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen.20 1 – 2 (2) 0.50 0.7. Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 . Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut.50 0. 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.hmymsc Karena matriks insidensi A. dimana n = 4.40 0. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4.20 1 – 2 (1) 0. matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y].

dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 .BAB II1 . Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan.8.PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8. matriks insidensi bus A. 3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III.

000 7.000 ⎥ ⎢ .5 0.1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8.209 4.1 0.2 Dengan melakukan inverse matriks.5.1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .021 5.000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .209 .042 0.083 .083 3 4 -1.042 ⎤⎢ ⎡2.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0.5.2.417 2.6 0.042 0.0830 0.1⎥ Ybus = ⎢ .1 .1 0.042 0.417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ .083 -0.0.000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.2 2 0.2.1.1.0.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .208 2.417 2 -0.0200 .208 ⎥ 5. didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.0.000 ⎤ = ⎢.417 2.1 ⎣ ⎦ .1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .5 3 4 0.000 .000 3.083 .2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.0. didapat : ⎤ ⎡−1 .4 0.

50 0. Tabel III-5.9.9 diberikan dalam Tabel III. branch.5 berikut. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut.BAB II1 . Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq.8. rs 70 . Tentukan matriks [A]. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III.pq 0. 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III.60 0.9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq.PENGKOM III. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut.20 1 – 2 (1) 0. 1 2 3 Gambar III.

hmymsc 71 .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 4 .

kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1. Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada. Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus. IV. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan.5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 . Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang. Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu. 1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III.hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV.

maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV. jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama. diperoleh : 74 . IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus. besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil. maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3. IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3.2a IV-2b Gambar IV-2.BAB IV . Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar. Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. Dengan mengatur kembali persamaan (IV.PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel.2-1) Agar tidak membingungkan.2-1).

.2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus.hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) .. resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini..... Y13.. Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan. Ybus .V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) . ….V2 Yh ..V2 Yg .2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. kode bus cabang... Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang..2-4) Admitansi lain Y12.Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan. Admitansi Y11. sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV..⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV...... Y22. sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV.V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf .......2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV.V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV.…..2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus..V1Yd . 75 .. dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut. Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya.

Q) .y kk y km .Y_CB(I) Y_BUS(Q. 76 .Q) = Y_BUS(Q. Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi.P) = Y_BUS(P.*)NOMOR_CB(I).Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P.Q) Gambar IV-4.y km y mm y km .s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y. Misalkan dua buah cabang.P) = Y_BUS(P.y km .BAB IV . Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢. masing-masing (p. misal kita sebut matriks tersebut matriks Z.N_AHR(I). program dalam Gambar IV-4 diatas. Berikutnya.y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk .X(I) Y_CB(I) = 1.R(I). elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan.P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q.q) dan (r.PENGKOM 10 DO 10 I = 1. cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu. dan s. karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain. r. Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini.Q) = Y_BUS(P.N_AWL(I).y km . JML_CABANG READ(1. Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut. cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program. q.X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P.y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣.0/CMPLX(R(I).y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p.

....y kk + y km ) y kk .. ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV.y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1].. Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks.. Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan...... Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja. cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan. 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik. sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu........ atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu.... IV. maka ( ...y + y ) (y + y ....... Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus...y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ ..2y ) (..y km ⎡ ⎤ ⎢(.y km (. Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j . Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j ... kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan.hmymsc Dengan cara yang sama... dan prosesnya menjadi sangat sederhana.. misal bus q dan r adalah bus yang sama. ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ... Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj ...3-2) 77 ...3-1) [Ybus ] = ⎢... maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar..... Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] .......... Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV.... Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama....

.....2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]..... menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV.. 4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV.. maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama.. Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ]. Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y . sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 . Karena [ Z bus ] alat yang penting.... IV.PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j ... Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus. Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan..3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah. matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung.. Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j .BAB IV ........ Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y ..Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai....4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya. maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV. Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti. nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj . Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ].....

...... + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1. Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + ..... ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV.hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru.... 79 .4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada.... ⎢ ⎥ ⎢ . empat kasus akan kita bahas berikut ini. Zk2..... dan Zkn ... Zk3. Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru. dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5. (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya.... 1 Kasus I........ sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢.........

...... Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j. dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1)....4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ... untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV.... ..... ⎥ = ⎢ ⎥ (IV. j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k . Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢.... dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II....PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5.4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus.... Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 .. bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya... Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas..BAB IV ... j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6.

...4-8) Dengan melihat persamaan (IV.. dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢. yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b ...2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib..4-6) Karena Ip tidak diketahui. + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + ..... + ZkjI j + ZkkIk + . Atau V1 = Z11I1 + ..+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV....4-5) hingga (IV.. ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) ......4-5) Vk = Zk1I1 + ..4-7) Dari persamaan-persamaan diatas... kita memerlukan persamaan lain..4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 .+ ZjjI j + ZjkIk + ....2-6) kedalam persamaan (IV..........+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV.......4-6) dan (IV........ dengan memasukkan persamaan (IV.4-8).2Z jk (IV. + Z1jI j + Z1k I k + .hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + .......(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV. + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + .Vk + Vj (IV.. dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk ..

Baris baru adalah transpose dari kolom baru. Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung. pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan. Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian. Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 . 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan.4-10) IV.PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1).5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya. Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb. sebagai : V1 = I1 Z1 (IV.BAB IV . CONTOH 5.5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan. maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV.

Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: .8736⎥ ⎦ CONTOH 5.j9.5 0.2222 ⎣ j1.1 0.4 0.3-3).00 ⎢ ⎢ j4.80 ⎢ 0.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No.0 j5. matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1).00 .j8.00 j4.0736 ⎣ j4.30 j2.2 0.50 .1.0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3.9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3.00 ⎥ ⎥ .0736⎤ .j4. maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2). dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV.91111 j4. maka pertama dialakukan penghapusan bus 4.50 j8. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama.8736 ⎢ j4.9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama. bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0.7222 j6.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.j10.00 ⎢ ⎣ j5. sehingga diperoleh ⎡. Tabel 4.2 Coupled elemen 3 3 83 .00 ⎤ j5.j18.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.5 0. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.3 Mutual reactance 0.00 Penyelesaian: 0.j14.2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4.50 j5.hmymsc ⎡.j4.3889 ⎢ ⎢ j6.3889 .j6.7222 ⎥ ⎥ .7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.2222 ⎤ j4.1 0.0 j2.00⎥ ⎥ j8.j8.4111 ⎢ j1.

yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada. matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0. 14. didapat: ⎡0.0. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV.5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0.PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4.(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0.5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2.0.1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.5 .1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2.7.1 ⎤ ⎡0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas.1 ⎢ 0 0.0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 .5 1.BAB IV .1 .

08 ⎤ 0.05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5.(Z11 .00 0.50 0.05 Z =⎢ ⎢0.08 0.25 0.5 dan 6).hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.05⎤ 0.09 Z = ⎢0.00 ⎣ 0. didapat: Z 41 = Z11 + y11.09 ⎢0.10 0.Z 31 ) y14 = 0. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.26 ⎦ 85 .10 = Z 24 Z 43 = 0. dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.00 0.25 0.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0.00⎤ 0.00 = Z 34 Z 44 = 0. matrik impedansi menjadi: ⎡0. yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3. Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4.26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.00 0.05 0.00 ⎥ ⎥ 0.05 0.00 ⎢ ⎣0.11 . Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3.00 0.00⎥ ⎥ 0.05 0.4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.09 Z =⎢ ⎣0.10 ⎥ ⎥ 0.05 ⎢ ⎢0.00 0.

723 + j1.000 0.000 + j0. Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut.080 + j0.282 + j0. dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.000 + j0.000 + j0.000 0.2. didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 .300 Admitansi shunt 0.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.021 0.015 0.097 + j0.518 0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV. 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.BAB IV .000 + j0.640 0.000 0.015 0.000 + j0.050 0.000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan).000 + j0.000 + j0.8.123 + j0.000 + j0.133 0.000 + j0.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.2.407 0.PENGKOM CONTOH 5.2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.370 0.

640 0.333 Elemen matrik Admitansi bus.00000 -j8.723 + j1.99220 − j 4.000 – j3.370 0.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.300 Admitansi y pq = 1 z pq 0.998804 -j7. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.282 + j0. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .02140 − j1.577 – j1.308 0.11237 -j13.95452 demikian pula dengan elemen lain.82746 87 .41880 0.582 demikian pula dengan elemen lain.123 + j0.000 + j0. .Elemen Off diagonal.64606 -0.44486 +j0.554100 +j2.050 0.44486 -j8.097 + j0.27150 -0.16486 0.518 0.133 0.518 0. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0.325 0.00000 +j3.64179 0.57654 +j0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0.445 – j0.58200 -0.558 – j2.32494 0.hmymsc Tabel 4.00000 +j3.080 + j0.57654 +j0.616 0.82746 -0.57654 -j4.30846 -0.43393 +j1.99220 -j4.30846 0.32494 -0.97650 0.827 0.Elemen Diagonal.95452 -0.558 − j 2.407 0.000 – j7.99220 -j4.37346 1.55827 +j2.582 0.000 + j0.414 – j1.37346 1.55827 +j2.3.554 – j2.554100 +j2.41880 -0.64606 0.02140 -j1.44486 +j0.43393 +j1.58200 -0.62287 -0.

15 3 2 j1.5 Gambar 4.2 1 j0.PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1. Jaringan untuk soal 1 2.BAB IV . Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4. 88 . 4. 3. Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4. Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan. j0.9. dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat.3 j0.2 j1.9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit. Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan.9.

UNSRI 5 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

.

bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. 89 . khususnya dalam penyelesaian aliran beban. 3. 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. sedangkan magnitude tegangan. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus . oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi. disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan. V dan sudut tegangan. yaitu : 1. BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. Dalam setiap bus. 2. BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban.hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. δ dihitung. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung. melainkan injeksi daya. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan.

V. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV. Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 . V. rating kapasitor shunt. 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus. 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV. Untuk memilih bus penadah. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. beserta keterangan lain yang diperlukan.BAB V . Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan. magnitud tegangan dan sudut fasa. cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. Selain itu ranting dan impedansi transformator. Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada).PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan. karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV.

3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y .3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V. Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah.3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y .pq 2 (V.3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 . Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V.pq 2 ( ) (V.3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y .hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V.pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V.pq 2 y . 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi. dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan.

maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan.BAB V ..4-3) menjadi lebih sederhana. jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai. Misalkan : L k = (V.∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V.4-2) 1 Ykk Persamaan (V.. dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah. Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V.4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan.2. sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * . tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = .∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1.4-3) B.∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V.PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V. antara lain: A. ….4-4) 92 .4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ .

4-5) * V3 KL 4 .YL14 V4k * V1 KL 3 .YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 .YL 34 V4k (V. 93 .YL12 V2 − YL13 V3k .YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1.YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 .4-4). sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus.hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V. persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 . dengan bus 1 sebagai bus penadah.

Jaringan.V.V.PENGKOM MULAI Masukan data : Bus.0 Set pencacah bus. p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V. k dan dV K=0 dV = 0. Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp.4-4 Set pencacah iterasi. YLpq pers. Base. untuk bus p sesuai pers V. Epsilon. Tipe bus.Vold 1 2 3 4 94 .BAB V .4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew .4-3 .

3-1). dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan. 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V.3-5 SELESAI Gambar V-1. Dari persamaan (V. Dalam metoda Newton Raphson. dimana 95 .hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V.

5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V. maka persamaan (V. dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V.PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V. sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan.5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner. didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p . Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus. yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 .BAB V .5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus.5-1) Dalam bentuk lain.

.5......... ...... ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢.∂e M ∂e .. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V.......................5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V.-⎥ (V.........∂e M ∂f ....5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah.. Daya nyata dari persamaan (V.............. ⎥ ....2....... ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢........⎥ ⎢. ⎥ ⎢ .....⎥ = ⎢....5-6) p = 1.........5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ....5-8) n q=1 q≠p 97 . ⎥ ⎢ ⎢.................... sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V..... ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 . 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 ......... …….. ....... ⎢.5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1... ... ....∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢........................ ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ ... persamaan (V...⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V....... ⎥ ........∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana... n-1 Diferensiasi persamaan (V...... Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus...........hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 . ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.. ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.. ......5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢...⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢..∂Qn−1 M ∂Q1 . . ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e .. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.... ...

5-6). dari persamaan (V.5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V. yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V.5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V.5-4) adalah 98 .BAB V . elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V. Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p.510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.

5.5-11) terhadap eq. akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V.hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.2.5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V. …. n-1 Difrensiasi persamaan (V. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 .11) p = 1.5-11) disubstitusikan ke (V.5-11)..5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V.

PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus.5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan.3-1). 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson. yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu.5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi.BAB V . Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2. kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks. Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan. selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru. daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V. Setelah harga Δe i dan Δf i didapat. Dalam teknik pemrograman. disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian. V. yaitu : 100 . Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V. yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V.5-4).

5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2.5-12 K = K +1 Selesaikan pers. Qq pers. dP dan dQ 2.5-7 . Base. Epsilon.5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V. [B] Hitung : Pp. maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers.V.Jaringan. V. Tipe bus. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus].4 Hitung : 1. [G].5.5-9 Hitung aliran beban pers V.6-2) 101 .3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V.V.hmymsc MULAI Masukan data : Bus. V. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V.6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V.

6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar..5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V.... p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢.⎥ = ⎢..⎥ ⎢. persamaan daya dalam persamaan (V.n p ≠ s.. dalam versi ini.. diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V.PENGKOM Konjugasi persamaan (V..BAB V .6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1. 2.6-2). . . kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar. dan dikalikan dengan Vp....⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V..6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 ..

Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat.δ dan Q – |V| sangat lemah.6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V. Q dengan magnitud tegangan |V|. banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. Memperhatikan bahwa. hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif. teknik pemrograman yang lebih sederhana. δ dan antara daya reaktif. Dengan penguraian ini. pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil.6-7) Bila kita amati. P dan sudut tegangan.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V. sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P .δ dan Q –|V| secara terpisah. 103 . sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V . kopling antara komponen P . yakni separuh tempat.

][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B . maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B . ][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I]. Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V. ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal. maka [ΔP/V ] = [B . lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya..6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B.6-10) . Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0.6-6) dan (V.PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV]. Selanjutnya.0 ii.. .6-9) dengan demikian persamaan (V. ][Δδ] [ΔQ/V] = [B.BAB V . Metoda Fast Decoupled.. dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] . karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian. ][ΔV] 104 (V.. ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B . dapat disederhanakan i.6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V.

Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled. 1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR. yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal. 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa.hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus. Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan. Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan. admitansi bocor Trafo 105 . Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging).

3-5 Yes SELESAI Gambar V-3.Jaringan.PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3. Tipe bus. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 . MULAI Masukan data : Bus. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v. Base. Epsilon. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV.BAB V .

04 + j0.24 0. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2. Hitung Aliran daya: a.00 + j0.02 + j0.010 j0.08 + j0.060 j0.025 j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0. c.00 1. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1.hmymsc CONTOH 5.020 j0.00 1.00 + j0.18 0.06 0.020 j0.00 + j0.00 + j0.1 Tabel 1. 1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.4.06 + j0. Data pembangkitan dan pembebanan.015 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.06 + j0.00 107 .06 + j0.08 + j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.025 Tabel 2. b.18 0.00 1.03 0.00 1.12 0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.01 + j0.

055000 j0.0000 2.04 + j0. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas.040000 Elemen matrik Admitansi bus. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: . Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.66667 – j5.08 + j0.66667 – j5.75000 1.18 0.25000 − j18. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6.PENGKOM Penyelesaian A.0000 – j30.50000 – j7.25000 – j3.24 0.06 + j0.06 0.0000 1. Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen. dimana: y pq = 1 .055000 j0.03 0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4.12 0.24 Admitansi y pq = 1 z pq 5.25000 – j3.085000 j0.50000 10.0000 1.08 + j0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.6950 108 . Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0. Metoda Gauss – Seidel 1.18 0.0000 1. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus.BAB V .055000 j0.2.02 + j0.Elemen Diagonal.06 + j0.3.0000 – j 15.01 + j0.

6667 +j5.80212 + j 0.0000 + j15.02413 + j 0.2500 +j3.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.0000 -2.00740 + j0.20 − j 0. Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.00740 + j 0.5000 -1.00000 + j15.00891 -0.91667 -j38.0000 -10.j18.7500 -5.0000 + j15.6950 -1.0000 -1.5000 +j7.6950 -10. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.2500 + j3.7500 0.0000 .0000 -1.0000 -1.7500 -1.5000 -1.6950 -5.00000 demikian pula dengan elemen lain.4150 -1.00071 6.0000 = −0.2500 +j3.7500 -2. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.6667 +j5.2500 + j3.j32.64179 3.57654 -j4.00427 + j 0.00000 0.00930 -0.4150 = 0.2500 .6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 .00000 + j 0.2500 -j18. .0000 -j30.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.j15.00370 -0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.83334 .00698 + j 0.91667 -j38.83334 -j32.6667 +j5.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain.Elemen Off diagonal.6667 +j5.5000 +j7.0000 12.0000 12.20) 1 Y22 1 10.0000 10.0000 -j30.

00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.03752 + j0.052530 + j0.03752 + j0.(1.12920 + j0.000040 -0.46263 + j0.000 + j0.000120 -0. V4 .000120 -0.YL 25 V50 = 1.80212 + j0.000720 -0.20053 + j0. Pada 110 .000330 -0.YL 24 V4 .80212 + j0.77518 + j0.000710 -0. perhitungan selesai.000710 -0.000060 -0. Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 .33440 + j0. tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) .000710 -0.000180 -0.000180 -0. 5.BAB V .80212 + j0.000004 -0. Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .00290) .09690 + j0.15241 + j0.12920 + j0.66881 + j0.77518 + j0.000) = 0.03752 + j0.80212 + j0. misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .V2 = (1.000360 -0. V5 } . dengan mengikuti cara-cara diatas.15241 + j0.000330 -0.23131 + j0.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 .PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0. namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4.000710 4.09690 + j0.000006 -0. V3 . 1 Jika ΔV2 ≤ ε . sampai konvergensi tercapai.YL 21 V1 − YL 23 V30 .00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1.000360 -0.

00000 4 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00966+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1. maka.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.05253+j0.00000 1.00000+j0. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah. didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 .00000+j0.02635 1.00000 1. * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) .3-5).00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0. Tabel s.00000 6.00000 1.00000+j0. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi.00000+j0. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang.00000+j0. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1. sebagai berikut: . menggunakan persamaan (V.01280 1.00000 3 1. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1. y12 2 y.00406 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0. yang menghubungkan bus 1 dan 2.00000 1.(P21 − jQ 21 ) Setelah.00000 1. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 5 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.01579+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai. 111 .00000 1.00000 1.Misal untuk cabang 1.

20 6.2500 -5.50 -5.6667 +j5.70 -7.6667 -10.BAB V .80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129.80 .0000 -1.0000 10.00 -27.2500 0.60 -57.90 54.5 .0000 -j30.0000 -1. maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6. dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.6667 -1.6667 +j5.20 18.50 -3. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).8.7500 -1.30 -6.2500 -1.0000 10.2500 -j18.0000 -j30.6667 12.0000 -10.0000 -1.6667 -2. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.PENGKOM Tabel r.5000 +j7.5000 +j7.57654 Dan 112 .5000 -1.2500 +j3. Metoda Newton Raphson 1.83334 -1.20 24.6667 +j5.0000 12. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.30 12.0000 -2.40 -53.10 -39.0000 12.2500 +j3.83334 -j32.7500 -2.90 -5.64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq .91667 -10.0000 -1.6667 +j5.70 1.0000 + j15.2500 + j3.40 6.5000 -1.6950 -5.0000 -1.7500 0.57654 -j4.j7.5000 -1.91667 -j38.80 27.30 -6.2500 + j3.7500 -5.80 7.91667 -1.90 3.20 40.0000 12.4150 -1.90 3.30 -2.6950 -10. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.70 3.2500 -2.91667 -j38.0000 + j15.50 -24.5000 -1.2500 -5.10 -18.6950 -1.

0000 -5.4150 -5.0000 adalah -0.60000 elemen 1.5-12).6950 -3.06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V.0.0000 38.0000 0. Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0.512).0000 -30.5-7) sampai (V.6950 -15.7500 -7.07500 0.30000 -0.0000 -7.05500 -0. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .04000 menghitung 0.5000 -3. dengan cara sebagai 113 .98500 -0.0.7500 -5.0000 -3.13000 0.5-9).28000 -0.40000 -0.18500 0.0000 38. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.7500 -15.30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .3.6950 -30.hmymsc 18.00500 -0.5000 .5-4) dan (5.9850 2 dengan cara yang sama. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V.50000 -0.0000 -5.64179 3.37500 -0.7500 4.0000 32.

91667 -1.53334 -1.28000 0.84167 -10.07500 0.00000 -1.53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = .5000 -1.0000 0.30000 -0. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33.980000 demikian pula untuk bus lain.66667 -2.05500 0.6667 -10.0.25000 -2. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 .30000 + j0. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.1.2500 3.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = .66667 12.0000 12.5.98500 0. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.0000 0.66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.50000 0.66667 -1.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.00000 -1.75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.BAB V .0000 0.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = .

66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.000 38.00000 -3.5.0000 -7.0000 38.5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.7500 -7.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.6400 -3.hmymsc 33.2500 J1 J3 -5. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.0000 -30.5000 -5.5000 0.00000 -5.7500 11.0000 -5.000 38.9750 -30.11.7500 11.13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .4000 -5.4300 -5. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.7500 -3.0000 -3.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.7500 0.0000 -7.000 0. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .00000 -5.0000 -5. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .4150 -30.0000 38.0000 0.0000 -30.000 0.

Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.25000 -3.0.50000 0. Crout dan sebagainya.0.0.7500 1.11284 ⎣ ⎦ 116 .02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.00000 -12.00000 1. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k . dengan berbagai metoda.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0.25000 2.66667 1.13334 1.66667 J2 1. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0. 5.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢. seperti Gauss-Jordan.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.0.99167 1.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢.PENGKOM J1 -11.00000 0.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.BAB V .66667 10.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk.50000 -12.99167 10.66667 2.

Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.40000-j0.00000 1.03176-j0.09508 V5k 1.01171-j0.06000 0.00000 1.01930-j0.00000 1. Pengujian konvergensi.02244+j0.02652-j0. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .08922 V4k 1.00000 1.09123 1.37500-j0.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.03871 0.09747 1.00037 -0. konvergensi tercapai pada iterasi k3. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.00000 -0.03586 -0.1300 -0.00010-j0.0000 + j0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.04629-j0. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8.05084 1. dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan.05084 1.03136 – j0.03176 – j0. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk .00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.00103-j0.02652 – j0.03136-j0.09342-j0.00006+j0.5000 + j0. Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.11284 1.0000 + j0.hmymsc 6.00094 7.00000 1. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A).02043-j0.03857 -0.0050 0.09747 1.00023+j0.09123 1. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1.05124 V3k 1.00073-j0.6000+j0.01228-j0.0000 + j0.06000 + j0.06563 0.0000 + j0.001.10909 Tabel q. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.05505-j0.05505 – j0.

12 j0. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .5000 -1.0000 -3.18 j0.4150 -5.91667 -10.6667 -10. Sebagai bus penadah dipilih bus 1.2500 -5. Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0.6667 12. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”. untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .6667 -1.0000 -5.PENGKOM C. FDLF 1.0000 -7.0000 38.91667 -1.3.6950 -3.0000 -1.0000 -1.64179 2.BAB V .7500 -5.2500 0.0000 10.0000 -5.0000 -30.0000 32. Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.3.2500 -2.0000 38.5000 -3. untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq .24 j0.2500 -1.7500 .0000 12.5000 -1.6950 -15. sedangkan elemen-elemen Matriks B”. dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’.7500 -7.6667 -2.18 j0.2500 -5.57654 Dan 18.7500 4. dan menentukan elemen matrik G dan B.06 j0.03 j0. sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4. sebagai berikut: 6.6950 -30.83334 -1.5000 -15.24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4.

5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .5 ΔPpk + 0.040000 3. Gauss-Jordan dan sebagainya. sebagai berikut: 119 . Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.6-5).5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4. Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0. 5.6-10). Cholesky.085000 j0. jika tidak lanjutkan kelangkah 5. Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V.055000 j0.055000 j0. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p . sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0. sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V.5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6.6-4) dan (V.055000 j0. Ppk + 0. seperti Crout. k + 0.

sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 . Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V. Cholesky. k + 0. sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. jika tidak lanjutkan kelangkah 8.6-5).5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V. 8. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.5 p ΔQ k + 0.6-10). Q k + 0. dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0. sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus.5 = δ k + Δδ k p p p 6.6-4) dan (V. Gauss-Jordan dan sebagainya.BAB V .PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7.5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3. seperti Crout.

18 0. dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0.020 j0. sebaliknya proses kembali kelangkah 6.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana. 10.015 j0.2.02 + j0. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1.1 dan Tabel s.5 = Vpk + ΔVpk 9. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem. masing-masing 100 MVA dan 13.06 0.8 kV.025 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.03 0. 11. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.025 121 .24 0.08 + j0.1 Tabel 1.18 0.06 + j0.06 + j0. Gambar V.01 + j0.12 0.060 j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus.04 + j0. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s.020 j0.08 + j0.010 j0. maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V.

2 pu secara parallel. Bila Vq = 1. Tuliskan: a). Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.PENGKOM Tabel 2.1 dan X2 = 0. Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang. Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.00 + j0.300 pu . 4. Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1.00 2.0∠00 pu .06 + j0. b).00 + j0. Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan.00 1.866 + j0. Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi.00 + j0. Dua buah bus p dan q. Dengan menggunakan program yang saudara desain.1.00 1. lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0.00 + j0.0∠ .00 1. dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0. dan Vp = 1. c). Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.5 pu.00 1. 3.BAB V . 122 .0∠00 pu .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 6 .

.

digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya. Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. atau P dan |V| untuk bus pengendali. ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI. |V|. δ. 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. yaitu: 1. 4. Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian. dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada. maka pada iterasi berikutnya (k+1). Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. Jika dalam proses perhitungan. 3. dan Q. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. tipe bus dirubah menjadi bus PQ. P. yaitu|V|. 2. Aliran antar daerah. Misalkan P dan Q untuk bus beban. 143 . dan δ untuk bus penadah.

yaitu : a. Tetap mempertahankan rumusan dasar. Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan.7-2). Menyertakan kriteria tambahan. karena itu untuk memenuhi persamaan (V. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 .2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI. Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI. sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi. 2.DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus. Ada dua cara yang dapat ditempuh.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan. Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. VI. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan. yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan. atau b.

Dalam prakteknya. lihat kembali penyelesaian sebelumnya. maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI. q ≠ p 145 . daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 . J2. Pada metoda Newton Raphson.. J3. Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢. Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI. Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2. batasan daya aktif harus diperhatikan.5. dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V.-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1.2-1).7-1) menggantikan persamaan daya reaktif. persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V.21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0.hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama.

oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus. Pada kasus ini. 2. bukan pada terminal sumber daya reaktif. berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. VI. PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. maka daya reaktif harus ditetapkan. 2.

Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Prosedur lain yang dapat dipakai.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. menggunakan tegangan yang ditetapkan. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. VI. 3. Toleransi tegangan sebesar 0. yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p. 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . Setelah perhitungan tegangan pada bus q. Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2.

arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI. Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b. Sirkit ekivalen phi (c).DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban.maka persamaan (VI.3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 .3-1) . t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2. Sirkit ekivalen (b). Pada bus p. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a).3-1) menjadi y pq a2 (VI. Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya.

3-2). pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5a). substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali. maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.hmymsc Arus pada terminal lainnya. karena kedua arus harus sama.3-4) dan (VI. didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI.3-6) Dengan cara sama. pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI.3-7) 149 .3-3). maka y pq = A + C (VI. maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama. maka A= y pq a (VI.

3-6) ke persamaan (VI. maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + .... + 1⎛1 ⎞ + ...DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI....3-5a)............ + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + ..... + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 ....3-2) dan (VI.3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI.. + 2 + . dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c. Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q.

Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3.X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + ... dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1.Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q.. untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran.NE. admitansi bocor sadapan Transformator.*)(NLINE_TRF(J).Q) = Y_BUS(P...P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.Q) = Y_BUS(P..0/CMPLX(R(I).R(I).hmymsc ⎛ 1⎞ + ... JML_TRAFO READ(1.Q) 10 ENDIF IF(K.Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.Y_CB(I) Y_BUS(Q....0.P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.0)GOTO 20 Y_BUS(P. JML_CABANG READ(1.Q) = Y_BUS(Q.Q) = Y_BUS(Q.P) = Y_BUS(P.L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1. + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu..P) = Y_BUS(P.L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1.N_AWL(I).....NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P.Q) . Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 .EQ..A(J) IF(I...P) = Y_BUS(P.X(I).*)NOMOR_CB(I).Q) . + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + .. + N_AHR(I).Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.P) = Y_BUS(P.

3-4). dengan A = ypq. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi. dan KLpq harus dihitung ulang pula.01 sudah cukup memuaskan. Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan.3-2) dan (VI. Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya. dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi.3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI. 3.DAFTAR BACAAN VI. diperoleh : 152 . YLpq. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut. Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan. parameter Lp. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI.

3-9) 153 .3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq. 3.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4. 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4.3-7) dan (VI. Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI. Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI.

3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI.3-11) Dengan cara sama..DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI.. + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI. admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu.. diperoleh: 154 . iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs... didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q. dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 .3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI.3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi.... + i pr + .. kecuali untuk r. serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya.. arus Transformator pada bus q.

jika tanda dari sudut δ positif.... karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|.. maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI.. Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif. Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem. karena itu. penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem.3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya. dengan asumsi 155 .. dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI.hmymsc Ypp = y p1 + y p2 . 4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi.. + y qp + ... dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 .. + y pr 2 2 a s + bs + . misalkan Vq = 1 pu. + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq......... + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr...

Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. Jadi untuk sistem A. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . 156 .DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih. dengan menggunakan penyelesaian tegangan. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan. Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan. seperti dalam Gambar VI-5. Berikutnya.

976 157 . CONTOH 6.123 + j0.640 0.097 + j0.000 + j0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.080 + j0.050 0. dengan bus 1 sebagai bus penadah. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda.407 0.000 + j0.0100 0.0076 0. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi.6. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan.300 Admitansi ke tanah 0.518 0. mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1.0000 0.370 0.0000 0. 2. Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi.hmymsc VI.133 0.723 + j1.909 0. Pemrograman dan space yang diperlukan.0070 0.0000 Off-nominal turn ratio 0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.282 + j0.1 Tabel 1. 4. 3.6.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.0000 0.

dengan cara sebagai berikut: 158 .Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.438 – j 0.370 0.580 – j1.407 0.0000 0.0076 0.300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0.133 0.976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.0000 0.005 Tabel 2.407 0.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.0000 0.0170 J0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.0100 0.909 0.DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.518 0.5 6.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.560 – j2.0 - Penyelesaian .123 + j0.723 + j1.640 0.097 + j0.642 0.723 + j1.000 + j0.5 10.300 Admitansi jaringan 0.000 + j0.642 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.370 0.097 + j0.0000 j0.0000 0.5 Tegangan V 1.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.000 + j0.282 + j0.000 + j0.640 0.0000 J0.050 0.440 – j0.080 + j0.282 + j0.05 1.133 0.5 15 9 25 2.080 + j0.0070 0.570 0.518 0.0146 0.050 0.005 j0.123 + j0.

642 -0.34 -0.5800 -0...555 +j2. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + ...Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k .56 +j2.YL 46 V6k +1 ...YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 ..... + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .YL 34 V4k ....438 +j1.31 -0.438 +j1.58 +j1..993 -j7. + 2 + ..YL 25 V5k − YL 32 V2 .. + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0.445 +j0.445 +j0....84 . + ⎛ 1⎞ + ..84 -0.YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1.5800 -0. + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + .021 -j1..18 J8...9980 -j4..3 -0...0 V1 = 1.56 +j2...585 -0.05 + j0.0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 ...555 +j2...31 J8.025 0.63 +j3.34 +j3.955 -0......115 -j14..0 + j0.42 0...642 0.44 -j8..YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 .42 -0.hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + .. + 1⎛1 ⎞ + .3 1...413 1.0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1.YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 .58 +j1.58 -j4....1 + j 0.

0 − 0.DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.00000 0.0000 + j 0.0 − 0.56 + j2.00000 0.58 j8.00000 0.j2.44 .3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.0000 + j 0.0000 + j 0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.275) − j (0.0000 + j 0.0.187 = ((0.0000 + j 0.00000 0.00000 0.065)) = 1.j8.47 .0000 + j 0.00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = . parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.

7 berikut ini. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.00000 1.9310 -9.8511 -13. Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi. Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.2 23.0 25. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.0 9.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1..9058 -12.0 2.0395 0.3 11.5 6.86560 0.8307 -13. .5 0 0 15.05 0.91840 0.7.3805 0.1 dan Tabel s6.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27.2.5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.8 25. dengan bus 2 sebagai bus penadah. Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.02 -2.1 161 .

Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6.640 0.723 + j1.1 pu. 4.5 6.282 + j0.000 + j0.000 + j0.0000 0.005 Tabel s6.0000 0. dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator.5 15 9 25 2.0076 0.909 0.123 + j0.8 + j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.097 + j0.133 0. 3.0 + j0.0 - 2.05 1.5 10.976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar.2. Kerjakan kembali soal ke 3. Untuk sistem yang sama seperti soal 1.1 162 .DAFTAR BACAAN Tabel s6.1.370 0.0000 0. 5.5 Tegangan V 1.0000 Off-nominal turn ratio 0. Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0.0100 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.300 Admitansi ke tanah 0. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan.518 0. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.0.080 + j0.407 0.6 pu pada tegangan V2 = 1.0070 0.050 0. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban.

1990. “Komputasi Dalam Sistem Tenaga”. Bandung 2. A. DR. Pai. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”.. Glenn W. Mc. Indiana. Singapore 3.hmymsc DAFTAR BACAAN 1.Graw-Hill. Yogyakarta 163 . Elektro FTI-ITB. Ahmed. Andi Offset. Suprajitno Munadi. New Delhi 4. Stagg. and El-Abiad. M. Gibson Sianipar.. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”. 2000. 1978.1968. “ Computer Techniques in Power System Analysis”. jurusan T.

Penjumlahan.. A(B+C) = AB+BC. AT B = BA. AT A = U 2.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4.maka. Penjumlahan. Tidak ada inverse matriks 2.. A ≠ . ABT = BAT. pengurangan dan perkalian 3. Penjumlahan. Penjumlahan. AT BT = BA. 1. A(B+C) = AB+BC.Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku.. Ada inverse. A(BC) = ABC = ABC 3. Determinan ≠ 0 2.matriks disebut matrik singular 144 . aij = aji 4.. dimana i dan j masing-masing adalah . Perkalian matriks 5.A(BC) = ABC = ABC 3.A 5. 1. pengurangan dan inverse 3.pengurangan & perkalian matriks 2. Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi. A(B+C) = AB+BC.SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1. 1. AB = BA.Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2.. pengurangan 4.Bila determinan dari matriks berharga = nol. Determinan = 0 3.. dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan. 1. A(BC) = ABC = ABC 2. Matriks singular adalah matriks dengan kondisi.A(BC) = ABC = ABC 4. A(B+C) = AB+BC.A(BC) = ABC = ABC 5.. 1.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3. Hasil perkalian matriks AB = C. A(B+C) = AB+BC.

entry matriks terbatas 2.waktu hitungan tercepat 3. Doolitle 3. Simetris 3.waktu hitungan cepat 4.. Orthogonal 3.. Gauss-Seidel 4. Segitiga bawah 2. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya. 1.. Tidak ada inverse. 1.matriks disebut matriks adjoin 4.Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah.Dapat digunakan untuk matriks simetri. matriks tersebut disebut matriks.Menghemat penggunaan memori... Konjugate 2. Skew 4. 1. menghemat memori 6.. Hermitian 4. Ada inverse matriks 5. Dari segi penggunaan memori. Segitiga atas 145 . Gauss-Jordan 7.memiliki jumlah hitungan terendah 1. waktu hitungan terbatas 5. Dari segi jumlah hitungan. matriks disebut tidak linear 5.. Unitary 8. matriks tipe.. Tidak ada inverse.Menghemat penggunaan memori.. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda.Jumlah hitungan terbatas..Hanya untuk matriks simetri. Hermitian 5.hmymsc 3. Crout 2. Skew hermitian 5. Gauss-Naif 5..

Berbentuk segitiga 4.. Jumlah memori tertinggi 5. Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan.. Jumlah maksimum kolom non linear 3.. Memiliki diagonal > 1 13. Jumlah kolom atau baris 10. 1. 1. Jumlah kolom 4. b.. Mencari solusi SPL 3. Jumlah maksimum kolom bebas linear 2. Berjumlah kolom genap 5. 1.SOAL-SOAL 9.. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2. Jumlah baris 5. Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5... Berdimensi sama 3. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah. Menunjukkan SPL 146 . Jumlah iterasi pasti 3. Jumlah operasi lebih pendek 4. Langkah perhitungan pasti 3. Berbentuk segitiga atas 2.. Tingkat konvergensinya lambat 4. 1. Jumlah memori terbatas 11.. Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah. Jumlah langkah hitungan pasti 2.. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk.. Menggambarkan garis 2.. 1..

sistem berkondisi buruk 2..hmymsc 4. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2.. Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3. pembagian dengan nol. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. Memvisualisasikan sifat persamaan 5.. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda.. memperbesar koefisien persamaan. pembagian dengan nol. 1. sistem berkondisi buruk 3. Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah. meningkatkan harga harga epsilon. Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . Galat pembulatan.. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2. Mencari dan mengambarkan garis 14. 1. Galat pembulatan. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah.. scalling. sistem berkondisi buruk 16. system berkondisi buruk 4.. 1. pembagian dengan nol. Metoda Gauss lebih sederhana 15.meningkatkan harga epsilon. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena.. angka bena terbatas 5... dan rounding 17. Perambatan galat. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4. Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah. Angka bena terbatas.. pembagian dengan nol.. Galat pembulatan. angka bena terbatas. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3. pivoting. dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda. karena. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5. 1 Memperbanyak angka bena.

Cholesky 2. Crout 2. Cholesky 4. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda. Crout 2. Gauss-Seidel 5... Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A. Gauss Jordan 3... Gauss-Seidel 5. Iterasi Gauss-Seidel 4. Doolitle 3. Eliminasi Gauss 4. Gauss Naif dengan pivoting 3. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah. 1. Gauss-Jordan 20. menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda....... Doolitle 3. Crout 22. Gauss-Jordan 21. Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18... Doolitle 5. 1. 1.. 148 . Crout 19.. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda. 1. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara.. Gauss-Seidel 2. Cholesky 4.SOAL-SOAL 5. Cholesky 5.

matrik jarang dan metoda iterasi 5. Insidensi 3. Loop dan bus 2. Tegangan dan arus 3.matrik jarang dan presisi diperketat 23.. lingk... 1. adalah kerangka. Subgraph. graph 25.... Elemen matriks jaringan akan berupa. 1. Impedansi 5. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Admitansi atau impedansi 2.. elemen 3. Strategi pivoting. Loop atau bus 3. Strategi scalling. Elemen dan node 5. 1. Strategi scalling. Strategi pivoting. Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya. Admitansi dan elemen shunt 24. Admitansi 4. Jaringan primitif 2..pivoting dan presisi diperketat 2. terdiri dari.matrik jarang dan scalling 3. Elemen. Simpul dan node 4.hmymsc 1. Strategi pivoting. node.. Elemen dan cabang 26. sublink 149 . Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Arus bus dan tegangan bus 5. cotree.scalling dan matrik jarang 4. cabang 2.. Tree. 1. Arus loop dan tegangan loop 4.

Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2. yaitu.Penghapusan bus sekaligus memerlukan.. 1... Transformasi non linear dan secara langsung 2. Faktorisasi matriks 4.. 1. Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara. Tidak membutuhkan reduksi matrik 5.. Perkalian matriks 3.. Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan. yaitu. tree 27.. dan link 5.Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5. Simpul.Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4..Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3. Simpul.. Transformasi singular dan secara langsung 28.... Tidak membutuhkan perkalian matrik 2. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah. bus. 1. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4. cabang. yaitu. 150 . Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3..SOAL-SOAL 4. 1. Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5. Reduksi matriks 5. Transforamsi non linear dan singular 3. Augmented matriks 30.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29. Tidak membutuhkan augmented matrik 31. Pembalikan matrik 2.

. 1. Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda. bus kendali dan swing bus 3. Bus PQ. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2. Bus PV. bus penadah dan bus berayun 4. Terdapat beban 5. Dalam bus PQ atau bus beban.. Daya aktif dan daya reaktif 33. Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus.. bus PV dan bus berayun 2.. Iterasi 2. Newton Raphson 151 . Susut daya aktif dibebankan 3. bus PQ dan bus kendali 5. Terdapat beban dan pembangkit 35.. Terdapat sumber daya reaktif 2. Susut transmisi dibebankan 4.hmymsc 1. 1. Susut daya dikurangi 34...besaran yang diketahui adalah. Terdapat pembangkit 4... Gauss-Seidel 5. Daya apembangkitan dan daya beban 5. Daya aktif dan sudut fasa 4. bus Beban dan bus berayun 32. Langsung dan iterasi 3.. Bus PQ. Susut daya dibangkitkan 5.. Bus PV. Bus PQ.. Langsung 4. Terdapat sumber tegangan 3. Susut daya reaktif dibebankan 2.. Magnitud egangan dan daya aktif 3. 1. 1.

delta V dan delta I 3... FDLF 2. 1.... semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan.. Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan .. Newton 152 .SOAL-SOAL 36. Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4.. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5.. delta P dan delta Q 2. Himpunan persamaan daya 5.. Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan .. Himpunan persamaan daya reaktif 4.. Gauss-Seidel 4.. 1.... Himpunan persamaan daya aktif 3. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan . delta Q dan delta V 5. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3. Gauss 3.... 1.. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38. 1.. Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda. Newton Raphson 5. Himpunan persamaan tegangan 2. Himpunan persamaan arus 37. delta P dan delta I 39.. delta P dan delta V 4.

Newton Raphson 2. Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena.. 42..... Data bus dan data jaringan 153 . Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja.. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda. yaitu. Semua metoda 44. Gauss-Seidel 4. Newton Rapshon 4.hmymsc 40..... 1.. Admitansi shunt jaringan 3... Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda. Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2.. Admitansi bocor trafo 5... Gauss 5. Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2.. Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3. Gauss 5.. Admitansi bocor hantaran 4.. Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2. Susceptansi dari reaktansi transformator 41... FDLF 43. 1. Terdapat data jaringan 5. Newton 3. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4. Gauss-Seidel 3.. 1. 1. FDLF 2. 1..

1. N DO 10 J = 1. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46.. N READ(1. Memiliki sumber daya reaktif 3.I) CONTINUE DO 20 I = 1. Data beban dan pembangkitan 5. N READ(1. Skew 4..SOAL-SOAL 2.1) 154 . N DO 10 J = I.. Hermitian 5. Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose. N READ(1. Skew hermitian 47.. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4. Data bus dan data tegangan 4. Data jaringan dan data beban 45. 10 20 2.*)A(J. Skew simetri 2.. N DO 10 J = I. Data tegangan dan impedansi 3. 1.I) CONTINUE DO 20 I = 1. 1.*)A(J. 10 DO 20 I = 1. Pada bus terdapat bank kapasitor 5. Orthogonal 3.*)A(J. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah. maka matriks A tersebut disebut matriks.. Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2... 20 10 3.

CONTINUE DO 30 I = 1.J) 10 20 30 3. CONTINUE DO 30 I = 1.. L DO 20 J = 1. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut. N DO 10 J = I. N READ(1. 1. L C(I. M DO 20 J = 1..J) = C(I. N C(I.J) = 0 DO 10 K = 1.J) + A(I.. M DO 20 J = 1.K)*B(K.J) + A(I.*)A(J. N READ(1.*)A(1. N C(I.J) = 0 DO 10 K = 1.hmymsc 20 4. 10 20 5. M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 . 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1.J) 10 20 30 2.K)*B(K. N DO 10 J = 1.J) CONTINUE DO 20 I = 1. L C(I. DO 30 I = 1.J) = C(I.1) CONTINUE 48.

M C(I..J) = 0 DO 10 K = 1. L C(I.. Crout 3. 1. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi.J) 10 20 30 4.J) = C(I.K)*B(K. N C(I. M C(I..SOAL-SOAL C(I. N DO 20 J = 1. Gauss-Seidel 50. Doolitle 4. LLTrans 156 .. Gauss-Jordan 5.memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama.J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49. Cholesky 2.J) = 0 DO 10 K = 1.J) + A(I.J) = 0 DO 10 K = 1. Inverse matriks simetri dengan metoda.J) 10 20 30 5.K)*B(K. CONTINUE DO 30 I = 1. CONTINUE DO 30 I = 1. M DO 20 J = 1..K)*B(K.J) = C(I.J) + A(I.J) = C(I.J) + A(I. 1. N C(I.

.. LTrans UTrans 51. Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel. LDU 5. 1. Non simetri 3. Dalam solusi SPL. Gauss-Naiff 3. (Jumlah bus . Gauss-Seidel 4. LU 3. (jumlah bus. FDLF 2. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda.. Gauss 3. 1. apabila koefisien persamaan memebentuk matriks……………. Non-singular 5. Singular 4. Gauss 5.hmymsc 2. 1.slack bus . Diagonal 52. Newton 5... Gauss dengan pivoting 53. Gauss-Jordan 2. Newton Raphson 54. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1..jumlah slack bus) 2. UTrans LTrans 4. Simetri 2.jumlah pv bus) 157 . Gauss-Seidel 4. Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda.

Perencanaan dan operasi 5.Vq) ypq + Vp y'pq 2.SOAL-SOAL 3. 2 x Jumlah bus 5.. 12 5.slack bus) 55.Vq) ypq + Vq y'pq 4. Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak. 1.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 .. maka. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4. 1. Konvergensi tidak akan tercapai 58.. Perhitungan aliran daya 57. ipq = (Vp . Perencanaan dan kendali 3.Vq) ypq ' 5. 10 4. Iterasi yang diperlukan membesar 5.. operasi. ipq = (Vp . (Jumlah bus 4. maka arus pada cabang tersebut adalah... ipq = (Vp . 11 3. 1.. Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat. Perencanaan. 2 x (jumlah bus . Operasi dan kendali 4. ipq = (Vp . 1. 9 2.. Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3. 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan... Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq.Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. dan kendali STL 2. Kecepatan konvergensi meningkat 2. ipq = (Vp .

. Faktor akselerasi 60. metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan... 1. 4 x lebih lambat 5. Newton Raphson 5... Gauss 2. Akselerator number 3. 159 .. FDLF 4..... 1.. bilangan ini dikenal dengan sebutan.hmymsc 59. Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda. Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. Bilangan akselerasi 5. Gauss-Seidel 3. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel. Memerlukan pembalikan matriks 3. yaitu... Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 ... 2 x lebih cepat 4.. 8 x lebih lambat 61. 1.. 4 x lebih cepat 3. 1.. Memerlukan perkalian matriks 4. 8 x lebih cepat 2. Membutuhkan data jaringan 5. Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah.. Bilangan pembanding 2.. Faktor kelipatan 4. Decoupled 62.2.

EPSILON)GOTO 340 65.GE. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut. IF(DELTA_P. Ypq = -ypq/a 2.... Pengendalian daya aktif 2.EPSILON)GOTO 340 3. IF(DELTA_V. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5.. Pengendalian rugi-rugi 5.. maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi..SOAL-SOAL 1.EPSILON)GOTO 340 2.LE. Pengendalian daya beban 66. Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai. IF(DELTA_V. Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q..EPSILON)GOTO 340 4. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4.LE.. 1. Akurasi yang lebih baik 4.GT....GT. 1.. 1. Solusi yang lebih cepat 3.EPSILON)GOTO 340 5... 1.. Ypq = -ypq(1-1/a 160 .. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2.. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5.. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah. IF(DELTA_V. Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4. Pengendalian frekuensi 3. IF(DELTA_P. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3.

..ISEC..J = 1. N DO 60 I = 1. N DO 60 I = 1. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.M 161 ..I1000TH 2.. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai....I100TH. CALL SETTIME (IHR.J = 1.IMIN. Ypq = -ypq 68. Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah. 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69..I100TH.. READ GETTIM (IHR... READ TIME (IHR.*)(A(I..IMIN.*)(A(I. 1.J).I100TH. Ypq = ypq(1-1/a 5.M READ(1..I100TH.ISEC.hmymsc 3.ISEC.M READ(1.I1000TH) 3.*)(A(I.IMIN.J).J). CALL GETTIM (IHR.J = 1. Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam. Ypq = ypq/a 4.I100TH..M READ(*.... 60 2. M DO 60 I = 1.ISEC.I1000TH) 5. 60 3. 1. CALL TIME (IHR.IMIN.I1000TH) 70.ISEC..IMIN.I1000TH) 4. DO 60 I = 1. 60 4.

6.J = 1. 3.10. 9. 4.12 2. 3.*)(A(I. Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut..6.10. 8.12 5.. M DO 60 I = 1.SOAL-SOAL 60 5. 3 5. 10. 5. 2. 1.8 9. 4.3 5.J = 1. N 71.10)(A(I..J). 6. 2. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu. 8 9.4.. 60 READ(*. 2.J). 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4...M READ(1. dimana susunan data dalam file adalah 162 .

N.*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.40) READ(*.A) CALL PRINT_MAT(M.J).N.*)(A(I.'JUMLAH BARIS : '. 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1.N.*)M WRITE(*.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X. N) CLOSE(1) RETURN END 163 .M 60 READ(1.$) FORMAT(6X.J = 1.A) DIMENSION A(M.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X.10) READ(*.'JUMLAH KOLOM : '.20)NAMA_FILE_IN WRITE(*.50) READ(*.30) WRITE(*. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*.M.hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. FILE = NAMA_FILE_IN.M. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.

5.$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X. matriks 4 x 4 (MAT44) 2. 6. 5.110) DO 70 I = 1.J =1.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 .M WRITE(2.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.90) READ(*. 2. 2.A) DIMENSION A(M. 4. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data.80)(A(I. STATUS = 'NEW') WRITE(2.F10. 14. 3.N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2. 3. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 4. FILE = NAMA_FILE_OUT.5)) FORMAT(3X.N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X.N. 2 -3 .J). 5.

*)L WRITE(*.B(100.*)(B(I.EQ. FILE = BACA_MAT. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS.C WRITE(*.*)M WRITE(*.D(100.30) READ(*. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1.100).100).50) 50 FORMAT(3X.*)(A(I.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.$) READ(*.AND.*)N WRITE(*.$) READ(*.40) READ(*.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.'JUMLAH BARIS : '.$) READ(*.'JUMLAH KOLOM : '. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 . J = 1.K).30) FORMAT(3X.40) 40 FORMAT(3X.(N.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.HASIL_MAT*15 REAL A.190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.100) CHARACTER BACA_MAT*15.10) 10 FORMAT(3X. N) DO 80 I = 1.*)K WRITE(*.J). K READ(1.E(100.100).J).60) c c c 60 FORMAT(3X.L))THEN DO 100 I = 1.EQ.J = 1. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.B.100).20) 20 30 FORMAT(3X. M 70 80 c c c IF((M.C(100.hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.

K).EQ.J) + A(I.K)THEN DO 160 I = 1.J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.110) ENDIF c c c IF(N.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN.J) = A(I.J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.IK)*B(IK. M DO 150 J = 1. N C(I. M DO 120 J = 1.B(I.J) + B(I. N 140 150 160 E(I.J) . 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.170) 170 c FORMAT(3X.0 DO 140 IK = 1. L E(I.PROGRAM DO 90 J = 1.180) 180 190 FORMAT(3X. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS.EQ. N D(I.J) = A(I.$) READ(*.(N.AND.J) = E(I.J) = 0. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X.110) 110 c c c IF((M.J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*.EQ.L))THEN DO 130 I = 1.'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 .

F8. L) FORMAT(4(2X.F8. 7.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1. 'MATRIKS A(M.hmymsc OPEN(UNIT=2.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X.230) WRITE(2.3)) WRITE(2.J = 1. L) STOP END Susunan File data. 2. 3.3)) WRITE(2.J). N) FORMAT(4(2X.320)(E(I. matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1.220)(A(I.230) FORMAT(/2X) WRITE(2.300) 300 310 320 FORMAT(/2X.270) 270 280 290 FORMAT(/2X.3)) WRITE(2. 2.J). 'MATRIKS B(K.J = 1. FILE = HASIL_MAT. 6. 3.J). 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1. M WRITE(2.320)(D(I. 7. N) FORMAT(4(2X. K WRITE(2.290)(C(I.J).260)(B(I. J = 1. 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1.J = 1.F8.F8.240) 240 FORMAT(/2X.330) 330 340 FORMAT(/2X. 5 6 8 1 6 5 167 . M WRITE(2. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1. 4.230) WRITE(2. K 250 260 WRITE(2. 6. 2.J = 1. L) FORMAT(4(2X.3)) WRITE(2. 3. M WRITE(2.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2.J).230) WRITE(2.

'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '.*)(A(I.L.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*.HASIL_MAT*15 REAL A.INVTL(100.$) READ(*.AGJ.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.100).100).100).ACY(100.10) 10 20 30 c c c WRITE(*.J).TL(100.L(100.100). 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1. FILE = BACA_MAT. J = 1.60) 60 FORMAT(3X.AGJ(100.JMLH. + INVL(100.$) READ(*.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.TL.20) FORMAT(3X.100).30) FORMAT(3X.INVL. N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X.INVTL.100).*)N 168 . N 70 c READ(1.ACY WRITE(*.PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.100) CHARACTER BACA_MAT*15.

N WRITE(2.J) = A(I.J) + OP * AGJ(IP.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.120)(A(I. 2*N AGJ(I.J = 1. N DO 160 I = 1.3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1.IP) DO 150 J = IP. N DO 140 J = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.$) READ(*.J+N) = 1.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1. 2*N AGJ(I. N) FORMAT(8(2X. N OP = AGJ(I.IP)/AGJ(IP.I) 169 . N IF(I.EQ.IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I.F8. N IF(I.J) = AGJ(I. 'MATRIKS AWAL A(N.80) 80 90 FORMAT(3X.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.J)THEN A(I.J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1. N DO 130 J = 1.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X. FILE = HASIL_MAT.N) ADALAH : ') DO 110 I = 1.EQ.J).

J) = 0.230)(ACY(I.205) FORMAT(/2X) WRITE(2. 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1.J+N). 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 . N 258 259 WRITE(2.0 DO 255 K = 1.PROGRAM DO 180 J = 1.J) + A(I. N ACY(I. N DO 200 J = 1. N DO 256 J = 1. N WRITE(2. N) FORMAT(8(2X.J).230)(L(I.J) = AGJ(I.J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. 2*N AGJ(I.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1. N ACY(I. N WRITE(2.J) = ACY(I. J = 1.230)(AGJ(I.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2.259) DO 258 I = 1.K)*L(K. N L(I. J = 1.240) 240 250 FORMAT(/2X. N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1. 'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1. N) FORMAT(/2X.F8.210) FORMAT(/2X.J = 1.J) = AGJ(I.J).3)) WRITE(2.

J) * A(K. N IF(A(I.GT.I)-JMLH)/A(I.J) = 0.J)*A(K.J) 321 CONTINUE 171 .J) = A(J.NE.0 DO 290 J = 1.230)(A(I.J) A(K. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1.J) A(K. N DO 280 I = 1. N DO 310 J = 1.I) DO 260 I = 1.J).hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I.0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1. N L(I. N IF(J.K-1 JMLH = 0.J) = A(I.0 DO 270 J = 1. J = 1.I) = (A(K.I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1.K) = SQRT((A(K. K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K. N DO 321 J = 1.J).I) JMLH = 0.JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I.K) .I)THEN A(I. N DO 260 J = 1. N 265 c c WRITE(2.A(J.

J).F8.J).0 DO 386 K = 1. INVL WRITE(2. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 . N ACY(I. N DO 387 J = 1. N 350 INVL(I.L(I.J). N ACY(I.J) = 0. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH . N) FORMAT(/2X. N 385 389 WRITE(2.PROGRAM WRITE(2.J) = ACY(I.230)(ACY(I.J) = INVL(I. J = 1.0/L(I. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1.230)(INVL(I.K)*INVL(K.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH. N DO 370 J = 1.J) INVL(I.3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1. N WRITE(2.I) = 1. I-1 JMLH = 0.J) + L(I. J = 1.K)*INVL(K. N 381 382 WRITE(2.382) DO 381 I = 1.0 DO 360 K = 1. J = 1.I) DO 380 I = 2.INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1.325) 325 330 340 c FORMAT(/2X. N) FORMAT(8(1X. N) FORMAT(/2X.340)(L(I. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L .J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.389) DO 385 I = 1.

TL(I.N 420 430 WRITE(2. N 440 INVTL(I.hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1.TL(I. 'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1.I) JMLH = JMLH . N TL(J.I) 173 .J) = -TL(I.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2. N-2 DO 470 J = I+2. J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH .F8. N JMLH = 0 DO 465 K = 2.J)/TL(I. J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1.430)(TL(I.410) 410 FORMAT(/2X.J) = JMLH/TL(I.J) = JMLH/TL(I. N) FORMAT(8(1X.I) DO 460 I = 1.I) = L(I.K)*INVTL(K.I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1. N DO 390 J = 1.J = 1. N-3 DO 500 J = I+3.0/TL(I.J) INVTL(I.3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1.J) INVTL(I.I) = 1.J)*INVTL(J.K)*INVTL(K.J). N JMLH = 0 DO 490 K = 2. N-1 J = I+1 INVTL(I.

3)) FORMAT(/2X.K)*INVTL(K.J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2.630) DO 610 I = 1.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1.J) = ACY(I.J) = 0.550) 550 FORMAT(/2X.J).J) = 0. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.J). N DO 590 J = 1. J = 1. 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1. N) FORMAT(8(1X.J) + INVTL(I. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 . N 560 570 c WRITE(2.PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.890) FORMAT(2X.620)(ACY(I.0 DO 580 K = 1.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J) = ACY(I. J = 1. N) FORMAT(8(1X.0 DO 520 K = 1.F8.K)*INVL(K. N DO 530 J = 1. N ACY(I. N ACY(I. N ACY(I. N ACY(I.J) + TL(I.570)(ACY(I.F8.

-1.'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. -1.GALAT.X(100) CHARACTER BACA_MAT*15.30) 30 FORMAT(3X. 4.20) 20 FORMAT(3X. 4.*)N WRITE(*.EPS. 0.XBARU.SELISIH WRITE(*.100).C(100). matriks 4 x 4 (MAT4S) 4.X.$) READ(*. -1.hmymsc END Susunan File data.HASIL_MAT*15 double precision A. 0.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '. 0. -1. -1.$) 175 .C. -1. 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.

J)= A(K. N) READ(1.K)THEN DO 110 J = K.*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1.J).K)). N) CLOSE(1) WRITE(*.$) Prosedur Pivoting 176 .J) A(K.I = 1.GT. J = 1.00000001))THEN WRITE(*. N DUMMY = A(L. N L=K DO 100 I = K+1.*)EPS WRITE(*. 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*.*)(A(I.*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L.PROGRAM READ(*.LE.K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L.ABS(A(L. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1.80) 80 FORMAT(3X.60) 60 70 FORMAT(3X.J)= DUMMY X(I) = 0.(0. N 90 c c DO 120 K = 1.*)(C(I).70) FORMAT(3X.NE.K)).40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1. N 50 READ(1. FILE = BACA_MAT.$) READ(*.0 : '.J) A(L. 'BATAS KETELITIAN : '. N IF(ABS(A(I. 'BATAS ITERASI READ(*.

'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*.LT.SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1. N IF(J. M GALAT = 0.LT.I) SELISIH = ABS((XBARU .I)THEN XBARU = XBARU .180) FORMAT(1X.A(I.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 .0 DO 140 I = 1.$) READ(*.NE. 'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.X(I))/XBARU) IF(GALAT.40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2. N XBARU = C(I) DO 130 J = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(*. FILE = HASIL_MAT.160) FORMAT(/2X.190) 190 FORMAT(3X.

7.2. -0.1.3. I = 1. 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2.5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3. -19. 7.85.PROGRAM WRITE(2. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 . 0.2 -0.30. N) 210 250 FORMAT(8(2X.1. -0.200) 200 FORMAT(/2X. 0.40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th.210)(X(I).F10.3 10 71. -0.

RATIOTRF(100).Y_BUS(100.Q_LOAD(100) .BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.TAHANAN(100). + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).BUS_AKHIR.Y_CABANG(100).E(100).EII.Q_MAKS(10). INTEGER SWITCH.TIPEBUS(100).NFILE_IN 179 .EN(100).TAHANAN.REAKTANSI.LCHARGING.MAGE.LCHARGING(100).Y_BUS.BUS_AKHIR(100).P_LOAD(50 ).KLP.BAWLTRFO.BUS_AWAL(100).Q(100 ).BAWLTRFO(100) .V_SPECT(100).Q_MIN(10).V_MAGNITUD(100).DX.SUM.SR.YLP.100).BAHRTRFO(100).EPSILON.P_GENERATE(50).NOTRAFO(100).S ALPHA.R.NOKPSITOR(100).Q_GENERATE(100).KLP(100).Y_CHARGING(100).BUS_AWAL.100).YLP(100.SUSCEPTAN(10 0).NOMORBUS(100) EI.P(100).hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).V_SUDUT(100).

'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.IMIN.*)NOMORBUS(I).JMLTRAFO.IMIN.IMIN.*)MVADASAR.P_LOAD(I).2.JMLPVBUS.*) DO 30 I = 1. FILE = NFILE_IN.I1000TH) WRITE(*.*) DO 50 I = 1.70)IHR.2. + ALPHA.ISEC. JMLTRAFO 50 READ(1.I1000TH OPEN(UNIT = 1.Q_MAKS(I).JMLKSTOR.$) READ(*.2.TAHANAN(I). STATUS = 'OLD') READ(1. JMLKSTOR 60 READ(1.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.ISEC.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR.EPSILON READ(1.*)NOTRAFO(I).BUS_AKHIR(I).*)NOKPSITOR(I).ISEC.ISEC.2.I100TH.IMIN.RATIOTRF(I) READ(1.I2.Q_LOAD(I).I100TH. JMLHBUS 40 + + READ(1. Q_GENERATE(I).I100TH.BAWLTRFO(I).V_SPECT(I).I1000TH) WRITE(*.JMCABANG.BUS_AWAL(I).P_GENERATE(I).*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.1H:I2.1H:I2.*) READ(1. Q_MIN(I).1H:I2. REAKTANSI(I).TIPEBUS(I) READ(1.2) READ(1.1H:I2.JMLHBUS.LCHARGING(I) 180 .*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.10) 10 20 FORMAT(3X.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.V_SUDUT(I). JMCABANG 30 + READ(1.*) DO 40 I = 1.70)IHR.BAHRTRFO(I).I100TH.V_MAGNITUD(I).*) DO 60 I = 1.PROGRAM WRITE(*.*)NOCABANG(I).

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

JMLHBUS DO 334 J = 1./) 332 FORMAT(10(1X.ISEC.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI./.) DO 335 I = 1.I100TH.//T6.J.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.2F10.ISEC.I1000TH WRITE(2.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .331) 331 337 FORMAT(2X. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2./.5)) DO 370 I = 1.1)K = I DO 360 I = 1.333) 333 FORMAT(2X. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.I100TH. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0.EQ.'-'. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I). JMLHBUS WRITE(2.) DO 337 I = 1.2X. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I)).REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 .70)IHR. 'PARAMETER JARINGAN : '.2F10.YLP(I.IMIN.336)I.IMIN.332)KLP(I) WRITE(2.J) CONTINUE FORMAT(2X. ' ITERATION'.0.5) DO 350 I = 1.0. 'PARAMETER BUS : '.I1000TH) WRITE(2.I4.I3.I3.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2.0) CALL GETTIM (IHR.

385) 385 FORMAT(' '.395)NOCABANG(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).6X.F10.//T6.R*MVADASAR 395 FORMAT(' '.F9.F9.6X.5.5.2F8.NP.//T6.I2.1X.Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.DELT*57.PROGRAM 370 WRITE(2.5X.P(I).E(I).F10.1X.4.1X.29578.395)NOCABANG(I).F9.6X. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .405)SR 405 + FORMAT(' '.2X.EQ.1X.F10.3I5.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.407)P(I)*MVADASAR.1)THEN WRITE(2.F9.R) WRITE(2.'MVAR') DO 406 I = 1.'MW '.F9.F7.Q(I) 375 FORMAT(' '.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : './/T6.0.S*MVADASAR 390 WRITE(2.1X.5) WRITE(2.0.'MVAR') : '.4.F10.NP.5.'DAYA PADA BUS BERAYUN '.375)I.'MW 186 .5./) DO 390 I = 1.5.0) WRITE(2.MAGE.5.NQ.5) SUM = CMPLX(0.NQ.5.

0. RATIO(a) NOKAPASITOR.BUS_AKHIR.QMAKS.06 0. 10. .01 . .08 0.18 0. 1 3 3 3 3 0.0 . . . 0. 0.VSPECT. NOTRAFOR. 0.0. .06 0. 0. 0. .JMPVBUS. .JMLHBUS.24 0. .0 . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 . .00 . . .00 0.EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 .0 . .0 . 60.00 .0.0 . .0 .0. 0.025 NOCABANG. 5 .00 1.TIPEBUS 1 .0 .REAKTANSI.hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL.0 . .0 . 0.0 . 1. 4 . 7 2 3 3 4 5 4 5 . 0. . 0.VSUDUT. QMIN.0 .0 . 0.020 0.0 . . .06 0.QLOAD. 0.JMCABANG.0 . . 0 0.0. 20.0 . 0.TAHANAN. 0. 0.00 1. 2 . 45.VMAGNITUD.00 0. 0. .0 . .ADMITANSI TANAH .08 NOBUS.JMTRAFO.0. 40.015 0. SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th.00 . .00 .4 . 0.00 0. 10.00 1. 0. 0. . 0. . 3 .0 .PLOAD.005 . 0. 0. .04 0. 0 . .BUS_AWAL.06 1.24 .025 0. 0 . 5 1 1 2 2 2 3 4 . 0. .JMLKAPTOR. 0.0 . . . . . .0 .0 . .00 30.00 . 0. . .QGENERATE. 0.18 0.03 0. 0. 0. .020 0.000001 0.0 . .030 0.0 .00 .DAT) MVADASAR. 0 . 0. 40. .0 . .PGENERATE. 15. 0 0 1.0 .ALPHA. 5.00 . 0. . .12 0.02 0.010 0.0 . .

P_GENERATE(50).Q_LOAD(50) 188 .NOKPSITOR(50).50).Y_BUS(50.P_LOAD(50 ).LCHARGING(50).BAWLTRFO(50) .Q(50 ).TAHANAN(50).NOTRAFO(50).PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).Y_CABANG(50). + + + + + REAKTANSI(50).RATIOTRF(50).Q_MIN(10).BUS_AWAL(50).V_SPECT(50).P(50).BAHRTRFO(50).SUSCEPTAN(5 0).Q_MAKS(10).V_MAGNITUD(50).BUS_AKHIR(50).V_SUDUT(50).

*)NOTRAFO(I).TIPEBUS(100).TIPEBUS(I) READ(1.BAWLTRFO(I).NFILE_IN 189 .D_ARUS(50).100).SUM.*)NOMORBUS(I).DELTA_P(50).DELTA_ SUDUT(50).*) DO 40 I = 1.SR ALPHA.I100TH.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*. FILE = NFILE_IN.B_JA COBI(100).V_SUDUT.JMCABANG. Q_MIN(I).TAHANAN. JMLTRAFO 50 READ(1.70)IHR.*) DO 50 I = 1.Y_CHARGING(50).S.100).100). Q_GENERATE(I).A_JACOBI(100.I100TH.MAGE.*)MVADASAR.JACOB_2(50.*)NOCABANG(I).Q_HITUNG(50). JMCABANG 30 + READ(1.*) DO 60 I = 1.*) READ(1. INTEGER SWITCH.TAHANAN(I). JACOB_1(50.JMLH_1.ISEC.P_GENERATE(I).EPSILON.*) DO 30 I = 1.Y_BUS.DELTA_PMAK.IMIN.NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).50).JMLPVBUS.P_LOAD(I). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.I1000TH) WRITE(*.100).Q_LOAD(I). JACOB_3(100.JACOB_4(100.R.JMLKSTOR.10) 10 20 FORMAT(3X.SUSCEPTAN(I) READ(1.DAYA_P.C_ARUS(50).LCHARGING.BAHRTRFO(I).100).hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*.50).I1000TH OPEN(UNIT = 1.Q_MAKS(I).JMLTRAFO.$) READ(*.JMLHBUS.TEGAN_P.V_MAGNITUD(I).ISEC.BUS_AKHIR.Q_GENERATE(50).V_SPECT.REAKTANSI.IMIN. JMLHBUS 40 + + READ(1.BUS_AKHIR(I).BUS_AWAL(I).DELTA_MAG(50).RATIOTRF(I) READ(1.JMLH_2.LCHARGING(I) .P_HITUNG(50).V_MAGNITUD.DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG. REAKTANSI(I).V_SPECT(I).*)NOKPSITOR(I).ARUS_BUS.BAWLTRFO. JMLKSTOR 60 READ(1.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR. + ALPHA.DELTA_Q(50).BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.V_SUDUT(I). XPV(50).B_SUSCEP(100. G_KONDUK(100.EPSILON READ(1.BUS_AWAL. STATUS = 'OLD') READ(1.

IMIN.1H:I2.1H:I2.EQ.1H:I2.I2. JMLHBUS DO 110 J = 1.EQ.2.NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.CMPLX(0.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN.NP) = Y_BUS(NP.I100TH.ISEC.NK) = Y_BUS(NK.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.2) 190 .70)IHR.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP.00.I100TH.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ. JMLKSTOR IF(I.00/CMPLX(TAHANAN(I).NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN.2.J)) = CMPLX(0.2.NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.I) = Y_BUS(I.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.ISEC.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1. JMLTRAFO IF(I.NK) = Y_BUS(NK.0)GOTO 90 Y_BUS(NP.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.NQ) = Y_BUS(NQ.1H:I2.NN) = Y_BUS(NN.NN) = Y_BUS(NK. JMLHBUS G_KONDUK(I.J) = REAL(Y_BUS(I.NQ) = Y_BUS(NP. JMLHBUS DO 100 J = 1.EQ.PROGRAM CALL GETTIM (IHR.I1000TH) WRITE(*.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1.I).00.IMIN.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I.NP) = Y_BUS(NP. JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.2.SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.

4.130) 130 FORMAT(2X.$) READ(*./.F8.200)NOMORBUS(I).F8.JMLKSTOR.230)NOTRAFO(I).240) FORMAT(2X.F8.BAHRTRFO(I).4).I4. 'MVADASAR.JMLPVBUS.4.(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)). JMLPVBUS.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2.1X.Q_MIN(I).V_SUDUT(I).140)MVADASAR.3X.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1. + REAKTANSI(I).V_MAGNITUD(I). STATUS = 'NEW') WRITE(2.4.5(5X. 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '.4X.2) WRITE(2.F6.120) 120 FORMAT(3X. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1./.JMCABANG. JMCABANG.210) FORMAT(2X.I5).4.JMLKS +TOR. 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '.F8.8) WRITE(2.170)NOCABANG(I).BUS_AKHIR(I).BUS_AWAL(I).3X. JMCABANG 160 170 180 WRITE(2. 3(2X.TIPEBUS(I) FORMAT(I4. + ALPHA.I3.F6.150) FORMAT(12X.V_SPECT(I).2X.F8.LCHARGING(I) FORMAT(I5.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*.6X.' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1.I4). FILE = NFILE_OUT.5X.F8.BAWLTRFO(I). 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '.RATIOTRF(I) FORMAT(2X.2X. JMLKSTOR 250 WRITE(2. 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '. ALPHA.4.I3././. JMLHBUS WRITE(2.(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).180) FORMAT(2X. Q_MAKS(I). JMLHBUS.3(2X.F10.4.F8. 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '.I4) WRITE(2.2X.5X.JMLTRAFO.SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X.JMLHBUS.J) = -AIMAG(Y_BUS(I.F8.F5.2) B_SUSCEP(I.4) WRITE(2.TAHANAN(I).3X. JMLTRAFO.4X. EPSILON') WRITE(2.260)NOKPSITOR(I).3. EPSILON 140 150 FORMAT(3X. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2.I5. +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1.' -'.J)) 191 .

I100TH. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I. dan DELTA_Q DO 400 I = 1.) DO 280 J = 1. 'ADMITANSI JARINGAN : '. DELTA_P.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I.F10.5)) WRITE(2. JMLHBUS WRITE(2.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 .J).ISEC.350)(G_KONDUK(I.0 c PERHITUNGAN : P.0 DELTA_QMAK = 0.PROGRAM WRITE(2.ISEC.350)(B_SUSCEP(I././. JMCABANG WRITE(2. JMLHBUS) DO 370 I = 1.330) FORMAT(2X.5)) WRITE(2.) DO 310 J = 1.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X. Q.) FORMAT(10(1X./.J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X.5)) DO 360 I = 1.0 DO 390 J = 1.270) 270 FORMAT(2X. J = 1.IMIN.J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I. JMLHBUS) 192 .300) FORMAT(2X. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).J). JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0.70)IHR.F10. 'ADMITANSI KE TANAH : '. JMLHBUS WRITE(2.IMIN. J = 1.I1000TH) WRITE(2.J) .*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2.I100TH. 'ADMITANSI BUS : '.0 JMLH_2 = 0.V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2.F10.EQ.

I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1.NE.DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I).I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI.I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I.EQ.EPSILON).Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).1)GOTO 440 IF(J. JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).1)GOTO 450 DO 440 J = 1.I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I).-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I).EQ.I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I.I)THEN JACOB_1(I.LE.EQ.hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1.AND.I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 .GT.I) .EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).1)THEN DELTA_P(I) = P(I) .EQ.V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) .(DELTA_QMAK.NE.LE.EQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).GT.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.

I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K) = JACOB_1(I.I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.460) 460 FORMAT(1X.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS. JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.J)) JACOB_2(I.J) JACOB_4(I.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I.PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I.K+1) A_JACOBI(J.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.J) JACOB_3(I.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).J) .J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.NE.I) .1)THEN WRITE(*.1)THEN IF(I. JMLHBUS-1 A_JACOBI(J.K) = JACOB_3(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.EQ.J)) G_KONDUK(I.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.

J) A_JACOBI(K.PIVOT*A_JACOBI(K.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L.J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K.hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1. NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L. NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K. NBARIS_BUS+1 IF(J.LE.K) DO 550 J = 1.J) = A_JACOBI(K.GT.K)). NBARIS_BUS IF(I.K)THEN DO 540 J = K.J) A_JACOBI(L.J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.J) ENDIF 195 .(0.K)). NBARIS_BUS DO 510 J = 1. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.J) . NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1.J)/PIVOT DO 570 I = 1.K) DO 560 J = 1.J) = A_JACOBI(I.GT.NE.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.NE.K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L.00001))THEN WRITE(*.ABS(A_JACOBI(L.NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I.J)= A_JACOBI(K.

//T6.'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' . PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1.T10.I4.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '.'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.I100TH.I100TH.670)ITERASI 670 FORMAT(' '.IMIN.GT.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1.IMIN. + ' ITERATION'.620)ITERASI 620 FORMAT(3X.XPV(I)./) DO 680 I = 1.I1000TH) WRITE(2.70)IHR.I4.ISEC.I4) WRITE(2. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). NBARIS_BUS+1 IF(J. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 . NBARIS_BUS IF(I.ISEC.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.EQ.650)ITERASI 650 FORMAT(////.GT.JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*. NBARIS_BUS DO 590 J = 1.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I.'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '.K.DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1.ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2.*)I.LT.

Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.EQ.780)P(I)*MVADASAR.R) WRITE(2.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.2X.5.5.NP.F10.5) SUM = CMPLX(0. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .F9.6X.5) WRITE(2.F9.0.1X.COMPLX_TEG(I).P(I).5.5.//T6.1X. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).'MW 197 .hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).750)NOCABANG(I).760)SR FORMAT(' '.NQ.REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2.1X.I2.//T6.ISEC.750)NOCABANG(I).5X.V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1.F10.720)I.Q(I) 720 FORMAT(' '.'MVAR') DO 770 I = 1.NP.DELT*57.5. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).F9.1X.NQ./) DO 740 I = 1.2F10.I1000TH) WRITE(2. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).F9.'MW +'.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.S*MVADASAR 740 WRITE(2.0) WRITE(2.1X.IMIN.1)THEN WRITE(2. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.3I5.730) 730 FORMAT(' '.F7.I100TH.IMIN.F10.I100TH.1)K = I DO 700 I = 1.//T6.6X.I1000TH : '.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.EQ.F9.6X.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.29578.4.0.70)IHR.MAGE.F10.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.ISEC.5.5.'MVAR') CALL GETTIM (IHR.5.

*) 1000 STOP END 198 .PROGRAM 900 WRITE(*.

You're Reading a Free Preview

Mengunduh
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->