PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

1 Umum 6. 3 Persamaan Performance Jaringan 5. 7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 6 Metoda Fast Decoupled 5. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 3 Representasi Transformator 6. 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v .BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 1 Pendahuluan 5. 5 Metoda Newton Raphson 5. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5.

UNSRI 1 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB.

Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. dan b3 parameter-parameter yang diketahui. koefisien.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I. persamaan (I. Dalam bentuk matriks. 1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak. variabel. x2. disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang. Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I. 2. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I. b1. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem. Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1. Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I.. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir. I. Subskrip pertama i. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I.2-3) 1 . b2.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui. menunjukkan baris dan subskrip kedua j. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks.

.............. MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom........ antara lain : A.. Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar..........PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n. ⎥ ⎢a 51 a 52 ... 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks... matriks tersebut adalah matriks segitiga atas.... m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom).. sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom.. aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal.... seperti dalam contoh berikut....a nm ⎥ ⎣ ⎦ B.. ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I.. MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j.. Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris.. 2.. ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢.a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢.. seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 ...........BAB 1 . [a11 a12 . sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal.

MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu. untuk i ≠ j)..hmymsc C. dan elemen lainnya Nol (aij = 1. matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. matriks tersebut disebut matriks diagonal. seperti 3 . MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan. maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D. matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F. sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. untuk i = j dan aij = 0. seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E. untuk i ≠ j).

tetapi berlawanan tanda(aij = -aij).5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. seperti : 4 . dan elemen diagonal berharga Nol. maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri.6 . matriks tersebut disebut matriks simetris. untuk semua ij.PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij . MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri.4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT. Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama. seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. matriks ini disebut matriks skew . tetapi tidak semua elemen aij = 0. ⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H.BAB 1 .

MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T .5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢.j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 .j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣. seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 . MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ . seperti : 2 . MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya. MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill.hmymsc ⎡0 .j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T. maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*. MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb).j3 ⎦ N. dimana semua elemen diagonal berharga Nol. seperti : 2 .j2 1 . matriks A disebut matriks orthogonal.2 .j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M. K. maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri. seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L.3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.

Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris. Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3. MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal. seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL. MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 . aij = 0. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0. sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0.PENGKOM O.BAB 1 . sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P.

3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel. dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I.a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A.A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I. sebagai berikut : . 3.3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 . 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I.a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 . DETERMINAN I. kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 . Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 . 3.3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 .a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 .a12 a 21 Langkah berikutnya.hmymsc Tabel I-1.AT A = A* A = .dari pers. substitusi harga x1 kedalam persamaan (I.a12 b 2 a 22 b1 . Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.

3. jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal.. kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij . yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1. Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1.BAB 1 ...a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga. Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21.PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 . 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i. . 2...a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . n. Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya. untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 . x2 = I.

Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 . maka kedua matriks disebut matriks sama. lalu matriks tersebut ditranpose. bilamana elemenelemen aij = bij. 4 OPERASI MATRIKS I.1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. 4. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I. Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1.hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. 4. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama. yaitu : A=B I. 3. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1.

3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama.PENGKOM 3. 4. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut.3-2) dengan : i = 1. Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I. 4. misal : kA = B.….. akan menghasilkan matriks baru C. Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut.m (Jml.2. 4 PERKALIAN MATRIKS A. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. dengan dimensi yang sama pula. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B. Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar..BAB 1 . sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij. Baris matrik A) 10 .

B. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1. N C(I.…. tidak berarti A = B Jika C = AB. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut.. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian.K)*B(K.. L C(I.J) = C(I.J) = 0 DO 10 K = 1.. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B.2.hmymsc j = 1.2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 . karenanya aturan komutativ tidak berlaku. AB = 0. dimana CT = BTAT. DO 30 I = 1. Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan.J) + A(I. M DO 20 J = 1. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks.k (Jml. kecuali untuk matriks bujur sangkar. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA. Jika matriks A. ini merupakan aturan reversal. namun BA tidak dapat dilakukan.

x2. dan b3. kecuali pembagian matriks dengan skalar.4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. dan berlaku: 12 . b2. INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II.BAB 1 . yaitu : x = Cb (II.PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1. Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar. dan x3 sebagai fungsi b1. Namn demikian. tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II.

sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama.4-2). yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A. kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1. maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE.Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II. matriks seperti ini disebut matriks singular. antara lain : C. Bila determinan dari matriks berharga Nol. maka tidak ada inverse dari matriks tersebut.4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: . Sebaliknya. matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse. bila determinan ≠ 0. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ .I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II. 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n.4-4) 13 . Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks.hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II. dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix.

K)THEN P = A(I.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I.J) = A(I. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U.K) DO 20 J = 1. berikut : DO 30 K = 1.J) = A(K.PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II.J)/P DO 30 I = 1.4-3) menjadi (II. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 .P*A(K.NE.J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2. C.N P = A(K. 2*N A(I.J) .2*N A(K.2. Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan.BAB 1 . N IF(I.K) DO 10 J = 1.

Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II. C. sehingga tidak efisien. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar. yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II.hmymsc Dengan cara ini. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer. oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan. (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C. invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II.4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle.4-9) . dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU. perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. yaitu : A-1 = U-1 L-1 . 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat.

... didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II.2.∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1.PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II.....2.n (Jml.L32L32 Dalam bentuk umum.∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki . perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT. k n (II.BAB 1 . -1 k Dari persamaan (II.4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II...4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II. k pers) untuk =1.. terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 .. persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk .2.L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 ..4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 .L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 .L31L31 .4-13) untuki =1.4-13) dan uraian sebelumnya..4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU.

I) JMLH = 0 D0 50 J = 1.J) A(K. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1. I-1 JMLH = JMLH + A(I.J) A(K.*)A(J.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris. K-1 JMLH = JMLH + A(K. baik dalam bentuk LT atau L. langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L.I) CONTINUE DO 60 K = 1. Selain hal tersebut. berikut ini : DO 20 I = 1. N DO 10 J = I. N READ(1. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga.I) = (A(K.K) = SQRT((A(K. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 .J)*A(K. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A.J)*A(K. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. N DO 40 I = 1.K) – JMLH)) Gambar I-3.I) – JMLH)/A(I. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3.

.4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas. berikut ini.. N DO 30 J = 1. 10 DO 10 I = 1.. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← . dapat dimisalkan matriks lain B = L-1.... maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II....(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = ....I) = 1.b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2.2. Untuk mencari L-1..n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = .(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum..3. N B(I. I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = . I-1 18 .BAB 1 ..2.0/L(I.⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1. n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4.PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I.. .I) D0 40 I = 2.. n dan j = 1..

J) = B(I.hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I..4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh. tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT. . n . maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II. Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L)...2. n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5.3 dan j = i + 3. berikut: 19 .2. sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I.2 dan j = i + 2.n bij = −a ijbij /a ii i = 1. n . dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1.. n b kj i = 1. n . ... .(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum.(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = ... diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = . Untuk mencari(LT)-1..I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4.2. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B.. . dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1.K)*B(K.2.J) B(I. .

PENGKOM DO 10 I = 1. Gambar I-4. N-3 DO 70 J = I+3.J) = -L(I.0/L(I. CONTOH 1. berikut: 20 . N 10 B(I. akan diperoleh elemen matriks L. Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3.I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1.J) B(I.I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1.Berdasarkan persamaan (II.3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian .J) = JMLH/L(I.I) D0 20 I = 1.K)*B(K.J) =JMLH/L(I. J 60 JMLH = JMLH –L(I. J 30 JMLH = JMLH – L(I.I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5.J)/L(I. N JMLH = 0 DO 60 K = 2. N JMLH = 0 DO 30 K = 2.4-13). N-1 J=I+1 B(I. Gambar I-5 dan Gambar I-1.I) = 1.J)*B(J.J) B(I.K)*B(K.BAB 1 . N-2 DO 40 J = I+2.

Jika beberapa qr ≠ 0. 5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I. berikut ini: 21 . 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}…….m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ ……. 5.{cn}. Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan (). vektor baris tidak bebas linear. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya. vektor kolom tidak bebas linear..n). Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}. Sebagai contoh. Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A. Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear. 5.+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1.hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I.. Rank kolom sama dengan Rank baris. tinjau matriks A..…. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1.+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya. I.2. memenuhi persamaan ().……. Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ ……. maka determinan A adalah Nol.2.

dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear.⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3.BAB 1 .PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear. karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 .3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2. q2 = 0. karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 . SOAL-SOAL BAB 1 1. 6. maka Rank matriks adalah 2 1. p2 = -1. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a). Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear. Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I.

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = . Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas. sebagaimana contoh Gambar II-1. 2. dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis.⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan. berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers. grs-2 X1 Gambar II-1. dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2. Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 . 1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian.hmymsc II.

II. Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2. Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris. Pada kasus ini. memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel. grs-2 pers grs-1 pers.BAB I1 . Pada kasus lain. Pada Gambar II2b. yang berlaku untuk i = 1.……n 26 . ILL CONDITIONED Gambar II-2. terdapat solusi yang tidak terbatas. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED. dan tidak praktis.2. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi . berikut ini.PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2. grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. sistem mendekati singular. seperti dalam Gambar II-2c. diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular. SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b. Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem. X2 X2 pers. Singular X1 X2 pers. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL. 2.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

n a(i. a42. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32. elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3. dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 .hmymsc • • Baris pivot : baris 1. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2.1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2.n p = a(i.j) = a(i.1) do 10 j = 2.an2 Baris pivot : baris 2. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2. dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3..j) a(i.…….j) – p * a(1.1)/a(1..

N-1 DO 20 I = K+1.2)/a(2. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 . 4. Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS. 10 20 30 II.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4.j) = a(i.J) – P * A(K.J) = A(I. penyelesaian dilakukan langkah demi langkah. N A(I. dibutuhkan n-1 langkah eliminasi.K) DO 10 J = K+1. sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4. 2.2) do 10 j = 3. Untuk SPL berukuran n.j) a(i. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM).2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya.J) A(I.n p = a(i.j) – p * a(2.n a(i.BAB I1 . dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3. DO 30 K = 1. N P = A(I.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3.K)/A(K.

GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar. B. sebab a11 = 0. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = . Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya.1x1 + 2 x 2 = 10.4 33 . PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol. demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut.3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1).5x 1 + 2 x 2 = 10. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya. atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1. dapat mengakibatkan pembagian dengan nol.hmymsc A.4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1. dan 2) Determinan ≈ NOL.

1 / 3) x(−0.BAB I1 .2x3 = 7. dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.561700 .1x2 . elemen pivot elemen a22 34 .020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.200000x3 = 7.0.3x1 . dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.0.000) x(−0.1000) = 7.19000x2 .561700 2 Operasi pada baris ke 3. a31 o Baris pivot : baris 1.293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19.85) = 19.1000) = 0.0. dengan pivot (p) = a31/a11 = (0.0.0.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.10.000) x(−0.3 − (0.003330x2 .1 / 3) x(7.85 0.2) = −0.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 .003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2.0000 − (0.2x2 .3x3 = -19.6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2. elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.850000 7.293333x3 = -19.1x1 .0.1000 / 3.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10.30 0.3000 / 3.000000x1 .02000x3 = 70.0.1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7.40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.2 − (0.0.7x2 .3 − (0.10x3 = 71.100000x2 .

293333x3 = -19.01200x3 = 70. 2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas.000000x1 .0.850000 7.00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10.561700 7.0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua. dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3.0. PIVOTING C.2) = −0.084300/10. 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).561700 10.hmymsc o Operasi pada baris ke 3. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan.0.293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 . antara lain : A.0000000 Dengan cara sama.1 / 3) x(−0.293333x3 = -19. dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0.003330x2 .561700 x2 = -2.084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut. untuk harga x1 didapat: x1 = o o II.200000x3 = 7.(0. SCALLING A.003330x2 .500000 3.293333)(7.0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3.19/7.3 − (0.01200 = 7.003330x2 . yaitu: x3 = 70. 2.100000x2 . 4.0. didapat: 7. Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B.000030) = -19.

sehingga didapat matriks berikut. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22.…………. karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot. an2}. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut. ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua. an1}. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11. dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris. Misalkan a11 adalah elemen maksimum. a21.BAB I1 .an-12. a32. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n. sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n.………an-11. sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan.PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama. 36 .

N DUMMY = A(L.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.J) A(L.K)).NE. N 10 37 .K)). Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan.LE.K)). yang merupakan gabungan dari Gambar II-5.J) = A(K. N IF(ABS(A(I.(ABS(A(L.J) = A(K.NE.GT. N-1 DO 40 I = K+1.K)THEN DO 20 J = K.GT.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5.EPSILON)THEN WRITE(*. II-4.hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1.K)).J) A(K. N IF(ABS(A(I.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.J) A(K.EPSILON)THEN WRITE(*.(ABS(A(L. dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1.LE.J) A(L.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L. N DUMMY = A(L.K)THEN DO 20 J = K.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.

1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.K) DO 30 J = K+1.0001 − (3. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.0000x2 = 1.PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I.(1 – (1/0. N JMLH = JMLH + U(I.0003x1 + 3.000/0.0003)10.9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2. diperoleh: 1.0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0. maka 1.K)/A(K.0001 − 3.0000x1 + 1.J) A(I.BAB I1 . N A(I.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.I) END Gambar II-6.000 x2 2.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0.0000 .N) DO 70 I = N-1. 38 .0003 0.0001 1.0003).0000x2 = 2.J) = A(I.0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.0000x2 = 1.J) – P * A(K.000)x2 = (1 – (1/0.0000x1 + 10.0000x1 + 1.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1.0000x1 + 10.

0003/1.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 .000.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.9997x2 = 1.0000 − 1.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0..33 0.01 0.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.667 0.000 sehingga persamaan menjadi: 1.333 0.0001 0.66667 0.0000 1.6667 0.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.30000 0.0000x2 = 2.666667 0.9997x2 = 1.66667 0.0001 .0000x2 = 1.0000x2 = 1.9997 = 2/3 x1 = 1.000)1.666667 0.330000 0.000)1.0003/1.667 0.0000x1 + 1.0000 − (1.0003x1 + 3.0000x2 = 2.9998 Penyelesaian menjadi 2.0003x1 + 3.6666667 X1 0.0000 2.1 0.333333 0.001 0.0003/1.3333 0.000 x2 1.(3 – (0. Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.9998/2.6666667 X1 -3. diperoleh: 0.9998 x2 = 1. persamaan menjadi: 1.3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.0000x1 + 1.6667 0.33333 0.1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot.000)x2 = (2.0000 0.0000 0.0001 – (0.

J) . harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7.P*A(K. DO 30 K = 1.N+1 A(K.K)THEN P = A(I.J)/P DO 30 I = 1. Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 .J) = A(I.N P = A(K.K) DO 20 J = 1. sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I). 2.BAB I1 . N+1 A(I. dengan kata lain.NE. 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss. N IF(I.PENGKOM II. semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian.J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS). berikut ini.K) DO 10 J = 1. Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu.J) = A(K. semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya.

1x1 .615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3. diperoleh: ⎡3.033333 1.300000 ⎣ .000000 ⎢0.2x3 = 7.0000000 .0666667 .616670 ⎤ .400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut.616670 ⎤ .000000 ⎢ ⎢0.40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas.2933333 10.000000 ⎣ .0.10x3 = 71.100000 .0.0.2.000000 7. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1.020000 2.190000 .0.0.100000 ⎢ ⎢0.850000 ⎤ .85 0.003333 .100000 ⎢ ⎢0.100000 7.400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya.000000 ⎢0.1x2 .000000 ⎢ ⎢0.2000000 .000000 ⎢0.0.19.0.000000 ⎢0.033333 7.190000 . sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.0.Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .30 0.0. untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut. 3x1 .19.000000 ⎣ .300000 ⎣ .0.61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.5617000 ⎥ ⎥ 70.033333 7.0.0418848 10.020000 2.0.0666667 .0.7x2 .3000000 10.616670 ⎤ .793220⎥ ⎥ 70.0. yaitu a11 ⎡1.3000000⎥ ⎥ 71.2x2 .0.0.000000 . dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.3x1 .3000000 10. sebagai berikut: .000000 .0666667 .0.000000 2. diperoleh: ⎡1.hmymsc CONTOH 2.3000000⎥ ⎥ 71.0.100000 . Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena).3x3 = -19.19.0.0. normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.

793220⎥ ⎥ 70.000000 ⎢0. Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut.0680624 .0000000 0.08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).0000000 0. normalisir baris ketiga.000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ .000000 ⎢ ⎢0.5000 ⎥ ⎥ 7. matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU.BAB I1 . dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar. untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini.000000 x2 = 3.0120000 2.000003 II.000000 ⎣ 0.0000000 1.PENGKOM . [b] = ⎢b ⎥ .000000 ⎣ 0.000000 1.0680624 .2.000000⎤ .0418848 10. metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah.Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1.0000000 .000000 3.0.0418848 1. [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 .4.2. didapat: ⎡1.0. 2.000000 ⎢0. Pada metoda ini.0. [x ] = ⎢ x ⎥ .500000 x3 = 7.0000000 0.793220⎥ ⎥ 70.523560 ⎤ .00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua. karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.2.0000000 1.000000 ⎣ 0.0000000 .0.0000000 0.000000 0.000000 ⎢ ⎢0. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II.000000 ⎢ ⎢0.0000000 1.0000000 2. didapat: ⎡1.000000 ⎢0.2.523560 ⎤ .

Dari L Y = b.l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2. [U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1. Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 .hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ . dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. sebagai berikut : 43 .

PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1.1) DO 90 I = 2.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.BAB I1 .K) = (A(J. N-1 DO 60 K = J+1.1) = A(I.6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ . N-1 DO 40 I = J.K) U(J.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1.K)*U(K.1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1.J) . N U(1. N L(I.I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2.1) DO 40 J = 2. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.K)*U(K.N) DO 110 I = N-1.I) X(N) = C(N)/U(N. N JMLH = 0 DO 80 J = 1. J-1 JMLH = JMLH + L(J.J) = A(1.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I. I-1 JMLH = JMLH + L(I.1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 . J-1 JMLH = JMLH + L(I. N JMLH = JMLH + U(I.JMLH DO 60 J = 2. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.K) – JMLH)/L(J.J) = A(I.N) L(N.J) L(I. N-1 JMLH = JMLH + L(N.I)*U(I.1) DO 20 J = 2.N) = A(N.J)/L(1.

K) = (A(J. N-1 DO 40 I = J.2) = 2 1/3 U(3.1) = 3 L(2.1)U(1.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .K) – JMLH)/L(J.1) = A(3.J) = A(I.2)U(2.2)/L(1.N) = A(N. N-1 DO 60 K = J+1.J) = A(1.J) – JMLH DO 60 J = 2.1) Diperoleh: L(1.1)U(1.3) + L(3.2) – L(2.K) U(J.1) = A(I.J)/L(1. N U(1.3) – (L(3.1) = A(2.2) = A(1.1) = 1 L(3.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2. N-1 JMLH = JMLH + L(N.3)/L(1.J) L(I.2) = A(3.2) = . N JMLH = 0 DO 50 I = 1.I)*U(I.1)U(1.2) – L(3.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1.K)*U(K.K)*U(K.1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2. J-1 JMLH = JMLH + L(J.N) – JMLH Diperoleh: L(3.N) L(N. N L(I.J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2.3) = A(3.3) = A(1.2) = A(2.hmymsc 10 DO 10 I = 1. N JMLH = 0 DO 30 K = 1. J-1 JMLH = JMLH + L(I.1) = 2/3 U(1.1) = A(1.1) Diperoleh: U(1.

1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 .PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 .1/3 2/3⎤ ⎥ . Bila suatu SPL 46 .1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .1/3 2/3⎤ ⎥ .BAB I1 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 . 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif. maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan.1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II. 2.11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ .11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y].11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2. [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .

3.l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II. sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1).2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2.…n Y1 = b1 / l11 2. Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3.hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1. harga xi dapat dicari. Faktorisasi matriks A 47 . Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .

454 ⎣ 0 4. I-1 JMLH = JMLJ + A(I.J) A(K.1106⎥ ⎦ 0 48 .9. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6. menghitung elemen matriks antara Y.J)*A(K.4495 [L] = ⎢6.I) DO 50 K = 1. N READ(1.I) X(N) = Y(N)/A(N.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian.K) = SQRT((A(K.J)*A(K. N DO 30 I = 1. N DO 10 J = I+1. K-1 JMLH = JMLH + A(K. K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1. diperoleh: ⎡2.1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1.*)A(J.I) JMLH = 0 DO 40 J = 1.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I.1237 ⎢ ⎢22.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2.1) DO 70 I = 2. N JMLH = JMLH + A(J. berdasarkan program dalam Gambar II.N) DO 90 I = N-1.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I. N JMLH = 0 DO 60 J = 1. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1.BAB I1 .I) = (A(K. I-1 JMLH = JMLH .PENGKOM menjadi matriks L.J) A(K.I) – JMLH)/A(I.A(I.1833 20.

3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II. x 1 .3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi... x 0 .... ⎥ ⎢...x 0 -1 ..x 1 -1 . misal : x 1 = (x 1 ..... . Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan....... dan seterusnya xn untuk persamaan ke n.hmymsc II....a 23 x 3 ... digunakan strategi pivoting...... ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 . digunakan matriks jarang..a 2n x n ) / a 22 ... maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama.............. aii ≠0.......... x 1 ) i 1 2 3 n n 49 .....a n1 x1 ...... x 3 .a12 x 2 ....... Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik.... marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 .. ............ x n = (b n ... 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100..... x 0 ) 2 n n (II. Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini...a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II.....a 21 x1 .a n2 x 2 .... ⎥ ⎢.. Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan.. Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 . x2 untuk persamaan kedua... sehingga didapat harga xi baru.... karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik)...... a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II................... karena adanya galat pembulatan.. a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a . . x 1 ....... presisi diperketat... sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 .a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢..........a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 ...3-2).......... untuk semua harga i.3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A.. metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar........a13 x 3 ...... Akan tetapi..

3-3) Untuk semua i.BAB I1 .10. berikut ini : 50 . kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i.3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II. Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A. atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B. lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan. Perhatikan ilustrasi berikut. ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas. SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal. Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i. dari persamaan (II.3-2) dan (II.PENGKOM Harga x 1 .

NE.EPSILON)THEN WRITE(*.0 DO 70 I = 1.J).LT. M GALAT = 0.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.EPSILON) THEN WRITE(*. J = 1.I)THEN XB = XB – A(I.K)).K)THEN DO 40 J = K.J) = A(K. N DUMMY = A(L. N IF(J.I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L. N) DO 20 I = 1. Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 .hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1.*)(A(I.LE.GT. N X(I) = 0.J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I.J) A(K.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT. N L=K DO 30 I = K+1.LE.*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10. N READ(1.J) A(L.0 DO 50 K = 1.K)). N XB = C(I) DO 60 J = 1.(ABS(A(L. N IF(ABS(A(I.NE.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1.

x 2 . ε 1 ) = (100%.0.3x3 = -19.0.015%. misalkan: x i = (x1 .10x3 = 71.0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi.0.6166667.0001) 1 = ε ik = 0.PENGKOM CONTOH 2.794523. 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini. x 3 ) = (0.100%.0.0.30 0. x 3 ) = (2.-2.000001% < ε 0 (0. x 2 .0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0. x1 ) = (2.BAB I1 .-2.990556508.499624684.0.100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2.85 3x1 .40 . ε 3 ) = (0. ε 2 .3x1 + 0.0.1x2 + 0.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 .2x2)/10 o Tentukan tebakan awal. Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 .3x1 .3x3)/7 x3 = (71.0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1.7. x1 .1x1 + 0.1x2 .1x1 .85 + 0.2x3 = 0.2x3)/3 x2 = (-19. didapat: 2 2 x i2 = (x1 . dimana: maks II.30 .31%.2x2 .40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7.9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7.0.31% > ε 0 (0.000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 . ε 1 .0.7x2 .7. didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 .

0.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40.j1.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0.4774 ⎢ j0.4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0.4142 j0.4020 j0.j1. untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a.4126 j0.720 .5.4020 ⎢ ⎣ j0.3706 j0.3992 j0.4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.000 .200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0.4232 j0.4872 j0.j0. 5 SOAL-SOAL BAB II 1.5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas. b. Eliminasi Gauss dengan pivoting.00 2x1 – x2 – 9x3 = 26. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢.4558 j0. Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18.000 + j0.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.hmymsc Tabel II-1. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0.00 ⎦ 53 .200⎤ ⎢ ⎥ j0.0.3706 ⎢ ⎢ j0. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers.3922 j0.000 .

UNSRI 3 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB.

.

PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. Oleh karena itu. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph. dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik. Pada kerangka acuan loop. perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. yaitu bus atau loop. Pada kerangka acuan bus. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus. baik arus maupun tegangan. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan. Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan.BAB II1 . Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul). III. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen. Simpul dapat merupakan insidensi. 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen. variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif.

Jumlah link. Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung. Graph tersebut disebut Graph berorientasi. Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 . Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph. Jumlah cabang. yang tidak harus terhubung disebut cotree.hmymsc terhubung kepada satu simpul. tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree. Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a).2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. Cotree adalah komplemen dari tree. Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph. l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set. Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III.BAB II1 .PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1). Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets. B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1. berdimensi e x b. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j.3-2) III. Matriks basic cutset. berlawanan dengan basic cut-sets.3-1) (III. bij =-1. 3. untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 . bij = 0.

yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan.3-2) Link B1 61 .hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III. BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus. Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset.

Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 .3-3) ˆ III. G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5. Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III. Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5. Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset. disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen. 3.BAB II1 . Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut.

E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p .hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular. Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p . ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III. Reprensentasi komponen jaringan (a). Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi. Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 . 4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6.E q (b) Gambar III-6.

4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III. Dalam kerangka acuan bus. 1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III.rs antara elemen p-q dan r-s. Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen.4-1) dan (III. persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 .pq atau admitansi sendiri ypq. dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III. kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus. Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri. III. Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq. Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z].4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq.pq. dimana n adalah jumlah bus.rs atau ypq.BAB II1 . 5. Dalam notasi matriks.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi.

At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus. Menurut hukum Kirchoff untuk Arus. sehingga : I bus = A t j (III.5-3) 65 . Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT. jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol. didapat At i + At j = At [ y] v (III.hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III.5-2) Hal sama. 5. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus. sehingga : At i = 0 (III.5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus. 2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi.

5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .5-3) kepersamaan (III.5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III.5-7) kedalam (III.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III.5-8) (III. oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III. maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 .5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j.PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III.5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III.5-2) dan (III. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama.5-6) ke (III.5-6) Substitusi dari persamaan (III.BAB II1 . karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III.

Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3.50 0. Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 . dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III.4. matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y].1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III. dimana n = 4. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq. 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4.50 0.pq 0.40 0.20 1 – 2 (2) 0. Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut.20 1 – 2 (1) 0.hmymsc Karena matriks insidensi A.60 0. dan e = 5.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen.7.

3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III. Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan. matriks insidensi bus A.8. dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 .BAB II1 .PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8.

209 .417 2 -0.1. didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.042 0.083 .083 .1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.6 0.4 0.042 ⎤⎢ ⎡2.1 0.0.2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .5.000 .083 -0.0.083 3 4 -1.000 7.208 2.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.2.000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.1 ⎣ ⎦ .0200 .0830 0.042 0.000 ⎤ = ⎢.209 4.000 3.5.2 2 0.208 ⎥ 5.1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8.042 0.1 0.417 2.1.000 ⎥ ⎢ .0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .1⎥ Ybus = ⎢ .5 0.0.000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ .hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0. didapat : ⎤ ⎡−1 .1 .2.2 Dengan melakukan inverse matriks.417 2.5 3 4 0.021 5.0.

20 1 – 2 (1) 0.pq 0. Tabel III-5.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq. 1 2 3 Gambar III.PENGKOM III. branch.9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III. Tentukan matriks [A]. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut.5 berikut.8.9. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III. rs 70 . 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III.BAB II1 . Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq. Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan.9 diberikan dalam Tabel III.50 0.60 0. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link.

hmymsc 71 .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB. UNSRI 4 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV. Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada. IV. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 . 1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III. 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang. kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan.

Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr.BAB IV .PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel. sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar. Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama.2-1) Agar tidak membingungkan. besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil. Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus. IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3.2a IV-2b Gambar IV-2.2-1). maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3. maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV. diperoleh : 74 . Dengan mengatur kembali persamaan (IV.

Y22.2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus.⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV..V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV... sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV. kode bus cabang..2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus..... resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini. Y13.. sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV.V2 Yh ..2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.2-4) Admitansi lain Y12.…. Ybus ...V2 Yg ... Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan.2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV. Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang. …....V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) .... Admitansi Y11.. dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut.hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) .V1Yd .V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf ... 75 ....Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan. Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya.

Y_CB(I) Y_BUS(Q. JML_CABANG READ(1.y km .y kk y km .P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q.q) dan (r.BAB IV .s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y.y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk .Q) = Y_BUS(Q.Q) Gambar IV-4. Misalkan dua buah cabang. r.Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P. Berikutnya. misal kita sebut matriks tersebut matriks Z. masing-masing (p. Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢.P) = Y_BUS(P.y km . dan s. elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan.Q) = Y_BUS(P.y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p. q. program dalam Gambar IV-4 diatas.y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣.y km y mm y km .X(I) Y_CB(I) = 1. Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut.N_AWL(I). karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain.X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P.0/CMPLX(R(I).PENGKOM 10 DO 10 I = 1.P) = Y_BUS(P.N_AHR(I). cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu. 76 . cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program.*)NOMOR_CB(I).Q) . Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini. Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi.R(I).

... Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] . cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan..... Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks. ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj .. Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj . 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik.y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1]. Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan...3-1) [Ybus ] = ⎢. atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu.. maka ( .... Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus... sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu. Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama..hmymsc Dengan cara yang sama........y + y ) (y + y ... Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV. Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j .y kk + y km ) y kk . dan prosesnya menjadi sangat sederhana.......y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ .... ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV.....2y ) (.. misal bus q dan r adalah bus yang sama...y km (.... Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja. IV....... Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j .3-2) 77 ..... maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar.. kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan.....y km ⎡ ⎤ ⎢(.......

. Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti.PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j .. nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ...3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah... sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 ....4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya.. Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y ... maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama.. maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV.... menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV. Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus.... matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung. Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ].2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]. 4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV..... Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ]....... Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j . IV..BAB IV . Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y . Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan..Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai.... Karena [ Z bus ] alat yang penting.

1 Kasus I..... ⎢ ⎥ ⎢ ......... Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + .... (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya........... dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5... empat kasus akan kita bahas berikut ini..hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru.. ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV..4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada... Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru.. Zk2... dan Zkn . sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢... Zk3. + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1... 79 ..

... bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya. ⎥ = ⎢ ⎥ (IV.......4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus..... . j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6. dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II... Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas.... Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j.. Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 .PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5. j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k ..... dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1)..BAB IV ........4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ... Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢. untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV.

.4-7) Dari persamaan-persamaan diatas.. + Z1jI j + Z1k I k + ..2-6) kedalam persamaan (IV.........(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV..4-8)...... dengan memasukkan persamaan (IV..4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 .4-5) hingga (IV..4-6) Karena Ip tidak diketahui.... Atau V1 = Z11I1 + ..... dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢.. + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + ... kita memerlukan persamaan lain.+ ZjjI j + ZjkIk + ............2Z jk (IV. + ZkjI j + ZkkIk + ... dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk ... ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) ..2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib... + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + .4-6) dan (IV..4-5) Vk = Zk1I1 + ..4-8) Dengan melihat persamaan (IV.+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV..+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV.....Vk + Vj (IV.. yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b ....hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + .

4-10) IV. Baris baru adalah transpose dari kolom baru. CONTOH 5.PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1). Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb. Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian.BAB IV . sebagai : V1 = I1 Z1 (IV. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan. Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 . pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan. Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV. maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV.5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya.5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan.

9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3.2222 ⎤ j4.j6.00 ⎢ ⎢ j4.50 j5.8736⎥ ⎦ CONTOH 5.7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6. maka pertama dialakukan penghapusan bus 4. maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2). Tabel 4.7222 j6.4111 ⎢ j1.50 j8.00 .j8.0736 ⎣ j4.4 0.80 ⎢ 0.1 0.9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama.5 0. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.hmymsc ⎡.3889 .1 0.1.5 0. matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1). Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.7222 ⎥ ⎥ .3-3).0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV.00 ⎢ ⎣ j5.0736⎤ .j9.3889 ⎢ ⎢ j6.j14.30 j2.0 j5. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: . dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama.00 j4.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4.91111 j4.0 j2.8736 ⎢ j4.3 Mutual reactance 0.00 ⎥ ⎥ .j8.50 .00 Penyelesaian: 0. bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0. sehingga diperoleh ⎡.2222 ⎣ j1.2 Coupled elemen 3 3 83 .j10.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.j18.j4.2 0.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No.00⎥ ⎥ j8.00 ⎤ j5.j4.

1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.1 ⎤ ⎡0.5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2.BAB IV .5 1.0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 .5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0. matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0.1 ⎢ 0 0.PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4. didapat: ⎡0. yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV.(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0.5 . Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas.1 .0.7. 14.1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2.0.

05 0.10 ⎥ ⎥ 0.00⎤ 0.50 0.00 0.00⎥ ⎥ 0. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.05 Z =⎢ ⎢0.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3.26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.05 ⎢ ⎢0. Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4. dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.00 0.00 0.05 0.08 ⎤ 0.09 Z = ⎢0.26 ⎦ 85 .Z 31 ) y14 = 0.05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5. didapat: Z 41 = Z11 + y11.10 = Z 24 Z 43 = 0.(Z11 .08 0.09 Z =⎢ ⎣0.25 0.00 ⎥ ⎥ 0.00 = Z 34 Z 44 = 0.5 dan 6).05 0.05⎤ 0.00 ⎣ 0. yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3.4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0.11 . Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3.00 0.10 0.00 ⎢ ⎣0.09 ⎢0.00 0. matrik impedansi menjadi: ⎡0.25 0.

dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.000 + j0.300 Admitansi shunt 0.PENGKOM CONTOH 5.015 0. Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut.133 0.000 + j0.000 + j0.015 0.723 + j1.282 + j0.000 + j0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV. 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.000 + j0.2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.000 0. didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 .000 0.000 + j0.123 + j0.8.050 0.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4.000 + j0.518 0.097 + j0.BAB IV .021 0.000 + j0.370 0.2.640 0.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.2.000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan). Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.000 + j0.000 0.080 + j0.407 0.

640 0.82746 87 .44486 +j0.95452 demikian pula dengan elemen lain.82746 -0.723 + j1. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0.30846 -0.02140 − j1.44486 +j0.616 0. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0.95452 -0.41880 -0.300 Admitansi y pq = 1 z pq 0.282 + j0.133 0.57654 +j0.37346 1.518 0.308 0.55827 +j2. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.64606 -0.99220 -j4.407 0.41880 0.558 − j 2.00000 +j3.445 – j0.99220 -j4.55827 +j2.414 – j1.00000 -j8.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.000 + j0.11237 -j13.02140 -j1.558 – j2.554100 +j2.Elemen Off diagonal.27150 -0.000 – j7.554100 +j2.998804 -j7.99220 − j 4.30846 0.000 + j0. .00000 +j3.325 0.080 + j0.Elemen Diagonal.57654 +j0.582 demikian pula dengan elemen lain.518 0.097 + j0.333 Elemen matrik Admitansi bus.58200 -0.370 0.3.43393 +j1.123 + j0.97650 0.32494 -0.16486 0.554 – j2.44486 -j8.577 – j1.37346 1.64179 0.050 0.57654 -j4.64606 0.000 – j3. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0.32494 0.62287 -0.827 0.43393 +j1.582 0.58200 -0.hmymsc Tabel 4. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .

2 j1.5 Gambar 4. 3. Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4.3 j0.2 1 j0.PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1. Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan. 88 . Jaringan untuk soal 1 2.9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit. 4. dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat.BAB IV .9. Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan. j0.15 3 2 j1. Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4.9.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 5 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB.

.

89 . 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui. disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan. sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. δ dihitung. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. khususnya dalam penyelesaian aliran beban. V dan sudut tegangan. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus . sedangkan magnitude tegangan. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban. biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui. yaitu : 1. bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. Dalam setiap bus. BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit. melainkan injeksi daya. 3. 2. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi.hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui.

Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada). Untuk memilih bus penadah. V. Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV. Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV. rating kapasitor shunt. Selain itu ranting dan impedansi transformator.BAB V . V. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus. cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. magnitud tegangan dan sudut fasa.PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan. karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 . Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. beserta keterangan lain yang diperlukan.

dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan.pq 2 (V. 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi. Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah.pq 2 ( ) (V.3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V.3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y . Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V.hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V.3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 .3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y .pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V.pq 2 y .3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y .

dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah..4-2) 1 Ykk Persamaan (V. sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * .4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan. jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai.∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V. Misalkan : L k = (V. ….∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1.BAB V .4-3) menjadi lebih sederhana. Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V. tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = ..4-4) 92 .2.∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V.4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ .PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V. maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan.4-3) B. antara lain: A.

4-4). sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus.YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 .4-5) * V3 KL 4 .hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V.YL 34 V4k (V. dengan bus 1 sebagai bus penadah.YL12 V2 − YL13 V3k .YL14 V4k * V1 KL 3 . persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 .YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1.YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 . 93 .

PENGKOM MULAI Masukan data : Bus.Vold 1 2 3 4 94 .4-3 . p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V. YLpq pers.BAB V . Epsilon.4-4 Set pencacah iterasi.Jaringan.4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew . Base.0 Set pencacah bus.V. Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp. Tipe bus.V. untuk bus p sesuai pers V. k dan dV K=0 dV = 0.

3-1).3-5 SELESAI Gambar V-1. dimana 95 . Dari persamaan (V. 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan.hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V. Dalam metoda Newton Raphson. dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan.

didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V. maka persamaan (V.5-1) Dalam bentuk lain. dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V. sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan.BAB V . yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 . Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus.5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner.5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p .5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V.5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus.PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V.

. n-1 Diferensiasi persamaan (V.. persamaan (V...∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana.... .....5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1.5..........-⎥ (V...∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢.......5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ..2... ........ ⎢.. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.... Daya nyata dari persamaan (V..5-8) n q=1 q≠p 97 ....⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢...∂e M ∂f ........5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V.....∂e M ∂e .... ⎥ ⎢ ⎢.......... ...⎥ = ⎢..... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢... ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢.. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢...... .. ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢.5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V.......................⎥ ⎢... ⎥ . ⎥ ⎢ ........ ............ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 .......................5-6) p = 1......... ⎥ . 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 ...5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah...⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V. ……........ ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ .....hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 . ....... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢........ Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus..................5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢....... sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V.... . ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e .....∂Qn−1 M ∂Q1 . ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.

5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V.510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V.BAB V . yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V.5-6). dari persamaan (V.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p.5-4) adalah 98 . elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V. Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.

5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V. akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V. …. n-1 Difrensiasi persamaan (V. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 .5-11) disubstitusikan ke (V.5.5-11) terhadap eq.5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V.2.5-11).11) p = 1..hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.

Setelah harga Δe i dan Δf i didapat.PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus. Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut. V.5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi. daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V. yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan.3-1).5-4). Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2. Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V. yaitu : 100 . selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru. disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien.BAB V . yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V.5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian. kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks. 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson. Dalam teknik pemrograman.

5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V.V.4 Hitung : 1. [B] Hitung : Pp.5-12 K = K +1 Selesaikan pers.V. Base.5-9 Hitung aliran beban pers V. Tipe bus.5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2. maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers. Qq pers.Jaringan.5-7 .5. V. [G]. Epsilon. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus].6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V.hmymsc MULAI Masukan data : Bus. dP dan dQ 2. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V.3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V. V.6-2) 101 .

⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V.⎥ = ⎢.. 2.⎥ ⎢...PENGKOM Konjugasi persamaan (V. .. persamaan daya dalam persamaan (V.. dan dikalikan dengan Vp.6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 .6-2)..BAB V .n p ≠ s..6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1.6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar.... dalam versi ini. .5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V. p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢.. diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V.. kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar..

selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat. hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V. banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil. teknik pemrograman yang lebih sederhana. sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P . 103 .6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V. Q dengan magnitud tegangan |V|.δ dan Q –|V| secara terpisah. Dengan penguraian ini. yakni separuh tempat. Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. Memperhatikan bahwa. kopling antara komponen P . P dan sudut tegangan.6-7) Bila kita amati. sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V . δ dan antara daya reaktif.δ dan Q – |V| sangat lemah.

][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I].6-9) dengan demikian persamaan (V. . maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B . dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] .0 ii.. lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya. ][ΔV] 104 (V.6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V.6-6) dan (V. Metoda Fast Decoupled. Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V.. karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian. ][Δδ] [ΔQ/V] = [B. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV]. ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal.6-10) . Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0. Selanjutnya. ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B .PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi. ][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B ..BAB V . maka [ΔP/V ] = [B . dapat disederhanakan i..6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B.

Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging). yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal. Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan. 1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR. Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled. Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan. 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa. admitansi bocor Trafo 105 .hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus.

Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV.BAB V .3-5 Yes SELESAI Gambar V-3.Jaringan. MULAI Masukan data : Bus. Epsilon. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v. Tipe bus. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 .PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3. Base.

015 j0.00 107 . Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.060 j0.00 + j0.00 1.01 + j0.06 0.020 j0.020 j0.00 + j0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.010 j0.12 0.02 + j0. Data pembangkitan dan pembebanan. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1. 1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.06 + j0. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1. b.18 0.08 + j0.4.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.00 1.1 Tabel 1.00 1. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2.24 0. c.06 + j0.00 + j0.18 0.025 Tabel 2.hmymsc CONTOH 5.00 + j0.00 1. Hitung Aliran daya: a.03 0.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.06 + j0.025 j0.08 + j0.04 + j0.

75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4.0000 1.055000 j0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6. Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.055000 j0.25000 – j3. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.3.50000 – j7. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.04 + j0. Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.18 0.12 0.02 + j0.040000 Elemen matrik Admitansi bus.03 0.01 + j0.25000 − j18.6950 108 .50000 10.25000 – j3. dimana: y pq = 1 .06 + j0.0000 – j30.06 + j0.055000 j0.0000 1.0000 – j 15.2.Elemen Diagonal.24 0. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4.18 0.08 + j0.0000 2. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas. Metoda Gauss – Seidel 1.PENGKOM Penyelesaian A.0000 1. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus.24 Admitansi y pq = 1 z pq 5.BAB V .085000 j0. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.75000 1.06 0.08 + j0.66667 – j5.66667 – j5. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .

00891 -0.7500 -5.6950 -10.00427 + j 0.2500 + j3.4150 -1.00370 -0. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.0000 -1.02413 + j 0.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.91667 -j38.5000 -1.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.2500 +j3.0000 -1.0000 -10.00698 + j 0.0000 -1.0000 . Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.0000 + j15.0000 -j30.6667 +j5.6667 +j5. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0.5000 +j7.00000 demikian pula dengan elemen lain.83334 .0000 12.20 − j 0. .0000 -j30.j15.5000 +j7.0000 = −0.j18.7500 -1.4150 = 0.6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 .00000 0.6950 -5.0000 10.2500 -j18.Elemen Off diagonal.00930 -0.j32.0000 + j15.91667 -j38.5000 -1.80212 + j 0.20) 1 Y22 1 10.2500 .00071 6.64179 3.57654 -j4.7500 0.00740 + j0.00000 + j 0.6667 +j5.6950 -1.0000 -2.2500 + j3.00740 + j 0.2500 +j3.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.00000 + j15.0000 12.7500 -2.83334 -j32.6667 +j5. Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.

03752 + j0.052530 + j0. 5.12920 + j0.80212 + j0.23131 + j0.V2 = (1.000) = 0.000360 -0.000180 -0.BAB V . Pada 110 .000180 -0.000004 -0.(1.000720 -0.00290) .000330 -0.09690 + j0.12920 + j0.80212 + j0.80212 + j0.000120 -0.000710 -0.000710 -0.77518 + j0.000006 -0. Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .09690 + j0.00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.77518 + j0.000330 -0. dengan mengikuti cara-cara diatas.00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1.000040 -0.000710 -0.20053 + j0.PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0.000060 -0.000710 4.000120 -0.33440 + j0.46263 + j0. namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4. V3 . V4 .15241 + j0. sampai konvergensi tercapai.03752 + j0.YL 25 V50 = 1. misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .000 + j0.YL 21 V1 − YL 23 V30 . V5 } .66881 + j0.03752 + j0.80212 + j0.000360 -0. perhitungan selesai.15241 + j0.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 . Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 . 1 Jika ΔV2 ≤ ε .YL 24 V4 . tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) .

00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1. Tabel s.00000+j0.00000+j0.00000 6.00966+j0.00000+j0. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000+j0.00000+j0.00000 1.05253+j0.00000+j0.00000+j0. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.00000 1.00000 1.00000+j0. didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 .00000 3 1.00000+j0. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.3-5).00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.(P21 − jQ 21 ) Setelah.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.01280 1.00000 5 1.00000 1. yang menghubungkan bus 1 dan 2. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang.00000+j0.00000 1.00000 4 1. y12 2 y.00000 1.00000+j0.00000+j0.01579+j0. menggunakan persamaan (V.00406 1.00000+j0.00000 1.00000 1.Misal untuk cabang 1.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan.00000+j0. * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) . sebagai berikut: .00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1. maka.00000 1. 111 .00000 1.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000+j0.00000+j0.02635 1. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai.00000 1.00000 1.

90 54.7500 -1.6950 -1.0000 -2.j7.40 -53.57654 Dan 112 .64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq .91667 -1.20 40.00 -27.20 24.10 -39.2500 +j3.6950 -5.2500 0.4150 -1.50 -3.5000 -1.6667 +j5.60 -57.2500 -j18.BAB V .80 27.0000 + j15.8.2500 -2.0000 -1.6667 -2.70 1.2500 -1.6950 -10.0000 10.0000 -1.90 -5.0000 + j15.91667 -j38.57654 -j4. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.6667 -10.5000 -1.0000 -1.70 -7.90 3.91667 -j38.0000 12.20 18.2500 +j3.7500 0.30 -6.30 -2. Metoda Newton Raphson 1.30 12.2500 + j3.6667 12.6667 +j5.5000 +j7.83334 -j32.2500 + j3.5000 -1.5 .0000 12.20 6.0000 12.2500 -5.0000 10.6667 +j5.30 -6. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.0000 -j30.50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.83334 -1.7500 -5.50 -24.10 -18.80 7.90 3.50 -5.0000 -1. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.40 6.PENGKOM Tabel r.2500 -5.6667 -1.91667 -10.0000 -10. maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6.0000 -1.5000 -1.80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129.70 3.5000 +j7.0000 -j30. dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.6667 +j5.80 . Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).7500 -2.

37500 -0.13000 0.6950 -30.7500 -7. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.60000 elemen 1.0000 adalah -0.64179 3.0000 38.4150 -5.0000 -5.0000 32.5000 -3.7500 -15.7500 4.5-7) sampai (V.50000 -0. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V.0000 0.5000 .5-12).28000 -0.30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .30000 -0.00500 -0.0000 -7.5-4) dan (5.0000 38.5-9).0000 -3. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .07500 0.0000 -30.9850 2 dengan cara yang sama.6950 -3.04000 menghitung 0.512).98500 -0.6950 -15.7500 -5.06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V.0000 -5.3.0.18500 0.hmymsc 18. dengan cara sebagai 113 .05500 -0.0. Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0.40000 -0.

4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = . untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33.25000 -2.0000 0.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = .66667 12.5000 -1.0000 0.30000 -0.0000 12.00000 -1.5.91667 -1.30000 + j0. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.980000 demikian pula untuk bus lain.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = . sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 .50000 0.00000 -1.6667 -10.53334 -1.66667 -1.BAB V . untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.98500 0. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.0.1.75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2.07500 0.84167 -10.0000 0.2500 3.66667 -2.28000 0.05500 0.

7500 11.5000 -5.0000 38.4150 -30.0000 -30.11.000 0.000 0.00000 -5.000 38. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .7500 11.000 38.00000 -3.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .5.7500 -7.5000 0.0000 -3.7500 -3.4000 -5.0000 -30.66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.4300 -5.7500 0.0000 -7.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.6400 -3.9750 -30.0000 38. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .0000 -5.00000 -5.0000 -5.13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1.0000 -7.hmymsc 33.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.2500 J1 J3 -5.0000 0. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.

dengan berbagai metoda.13334 1.0.99167 1.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢. Crout dan sebagainya.7500 1.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0.0.66667 2.11284 ⎣ ⎦ 116 . Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk. 5. seperti Gauss-Jordan.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0.00000 1.66667 J2 1.0.50000 0.02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢.00000 0.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.66667 10. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k .66667 1.PENGKOM J1 -11.BAB V .25000 2.50000 -12.99167 10.0.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.25000 -3.00000 -12.

40000-j0.0000 + j0.00000 1.05084 1.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.001.03176-j0.00000 1.hmymsc 6.09747 1.00006+j0. Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.09123 1.09342-j0. Pengujian konvergensi.00000 1.0000 + j0.05124 V3k 1.02652-j0.06563 0.6000+j0.00010-j0.00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.00073-j0.00000 1.10909 Tabel q.01171-j0.5000 + j0. Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.03871 0. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.00023+j0. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.04629-j0.09747 1. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .01228-j0.05084 1.00094 7.0000 + j0.05505-j0.0000 + j0.03176 – j0.00037 -0.06000 + j0.0050 0.09123 1.01930-j0.02244+j0. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk .00000 -0. dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan.00103-j0.03136 – j0.09508 V5k 1.06000 0.03136-j0.02652 – j0.08922 V4k 1. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A).02043-j0.05505 – j0. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1. konvergensi tercapai pada iterasi k3.1300 -0.03586 -0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.11284 1.37500-j0.03857 -0.00000 1.

dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’. untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .24 j0.2500 -2.7500 4. Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0. Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.18 j0.5000 -1.57654 Dan 18.06 j0. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .0000 38.7500 -5.91667 -1.12 j0.0000 10.18 j0.64179 2. FDLF 1.BAB V .24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4.0000 32.6950 -3.91667 -10.3.03 j0. dan menentukan elemen matrik G dan B. sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”. sebagai berikut: 6.7500 .PENGKOM C.6950 -30.83334 -1.6667 12.0000 -5. untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq .0000 -1.6667 -2.6667 -10.5000 -1.0000 -30.2500 -5.7500 -7.5000 -15.6950 -15. sedangkan elemen-elemen Matriks B”.5000 -3.2500 0.0000 -3.0000 12.0000 38.3.0000 -1.0000 -7.4150 -5.6667 -1.0000 -5. Sebagai bus penadah dipilih bus 1.2500 -1.2500 -5.

055000 j0. Gauss-Jordan dan sebagainya. Cholesky.055000 j0. Ppk + 0. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p .6-5). jika tidak lanjutkan kelangkah 5.5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6. k + 0.5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4. Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V.5 ΔPpk + 0.055000 j0. seperti Crout.6-10). 5. sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus.6-4) dan (V.085000 j0.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0.040000 3. sebagai berikut: 119 . Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.

6-4) dan (V. sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0. Gauss-Jordan dan sebagainya. sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus. Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V. Q k + 0.BAB V . Cholesky.5 = δ k + Δδ k p p p 6.6-5). sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 .5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3.5 p ΔQ k + 0. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif. Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V. jika tidak lanjutkan kelangkah 8.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . k + 0.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7.6-10).PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus. seperti Crout. sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. 8.

12 0. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s. maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan.08 + j0. sebaliknya proses kembali kelangkah 6.02 + j0.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana.060 j0.06 + j0.18 0.01 + j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0. 10.5 = Vpk + ΔVpk 9.24 0. masing-masing 100 MVA dan 13. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem.1 Tabel 1.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1.04 + j0.08 + j0.020 j0.015 j0. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V. 11.06 0. dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0. Gambar V.010 j0.2.03 0.020 j0. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya.8 kV.18 0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.025 121 .1 dan Tabel s.06 + j0.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus.025 j0.

Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.PENGKOM Tabel 2.1. c).06 + j0.2 pu secara parallel.1 dan X2 = 0. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0.0∠00 pu .866 + j0.0∠ . Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan.300 pu . Dua buah bus p dan q. Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang. b). 122 .00 1.00 1. 3.0∠00 pu . dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0.00 + j0. Dengan menggunakan program yang saudara desain. dan Vp = 1. Tuliskan: a).00 1.00 + j0.00 2.BAB V . Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi. Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1. Bila Vq = 1.00 1.00 + j0. lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5.00 + j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.5 pu. 4. Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB. UNSRI 6 .

.

ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. 3. Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban. Jika dalam proses perhitungan. 2. 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. yaitu|V|. P. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada. dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. |V|. dan Q. yaitu: 1. 143 . δ.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI. dan δ untuk bus penadah. tipe bus dirubah menjadi bus PQ. atau P dan |V| untuk bus pengendali. Misalkan P dan Q untuk bus beban. 4. digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya. Aliran antar daerah. maka pada iterasi berikutnya (k+1). Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa.

Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Menyertakan kriteria tambahan. Tetap mempertahankan rumusan dasar. Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan.7-2). sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan.DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI. VI. Ada dua cara yang dapat ditempuh. yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan. 2. atau b. Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. yaitu : a. 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. karena itu untuk memenuhi persamaan (V. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 .2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan.

2-1).21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0. lihat kembali penyelesaian sebelumnya. Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢. dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V.. Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI.hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama. J3. q ≠ p 145 .5.-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1.7-1) menggantikan persamaan daya reaktif. persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V. batasan daya aktif harus diperhatikan. Pada metoda Newton Raphson. Dalam prakteknya. J2. maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI. daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 . Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2.

maka daya reaktif harus ditetapkan. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus. q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan. VI. bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . 2. Pada kasus ini. PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik. bukan pada terminal sumber daya reaktif. berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. 2.

VI. Prosedur lain yang dapat dipakai. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p. Toleransi tegangan sebesar 0. 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa. menggunakan tegangan yang ditetapkan. 3. namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan. Setelah perhitungan tegangan pada bus q.

3-1) menjadi y pq a2 (VI. Sirkit ekivalen (b).maka persamaan (VI. t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2.DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a). Pada bus p. arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI. Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b. Sirkit ekivalen phi (c).3-1) .3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 . Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya.

maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali.3-3).hmymsc Arus pada terminal lainnya. didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI. pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI. maka A= y pq a (VI.3-7) 149 . maka y pq = A + C (VI. substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5a). maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI.3-6) Dengan cara sama.3-4) dan (VI.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-2). pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian. karena kedua arus harus sama.

..........3-2) dan (VI.....3-6) ke persamaan (VI. maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + .....3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI.. Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q... + 1⎛1 ⎞ + ...3-5a).... + 2 + . dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c.. + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 .

P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.Q) 10 ENDIF IF(K.L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1.Q) = Y_BUS(Q. untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran. Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 .Q) = Y_BUS(P....Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P. + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu...X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0.P) = Y_BUS(P.Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.NE..*)NOMOR_CB(I).P) = Y_BUS(P.. JML_TRAFO READ(1.Q) = Y_BUS(Q... + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + .NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P. admitansi bocor sadapan Transformator.0/CMPLX(R(I).A(J) IF(I.Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q.0)GOTO 20 Y_BUS(P.. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .P) = Y_BUS(P..EQ.Q) = Y_BUS(P..Y_CB(I) Y_BUS(Q..P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q..Q) .hmymsc ⎛ 1⎞ + .. dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1.*)(NLINE_TRF(J). JML_CABANG READ(1...0.P) = Y_BUS(P.N_AWL(I).. + N_AHR(I).X(I).R(I).Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3..Q) ..L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1.

Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI. dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi. dan KLpq harus dihitung ulang pula. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step. dengan A = ypq. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0.3-4). Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan.01 sudah cukup memuaskan. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya.3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI.DAFTAR BACAAN VI.3-2) dan (VI. parameter Lp. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus. 3. YLpq. diperoleh : 152 .

3-7) dan (VI. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4. 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4.3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI. Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI.3-9) 153 . Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI. 3.

arus Transformator pada bus q. iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs.DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal.. diperoleh: 154 . serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya.. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI. dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 .. didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q. + i pr + .. kecuali untuk r. + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI... admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu.3-11) Dengan cara sama..3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI.3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi...3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI..

....... + y qp + ...... maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI.... penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem.hmymsc Ypp = y p1 + y p2 . jika tanda dari sudut δ positif.. Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif.3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya. + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq. karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|. misalkan Vq = 1 pu.. + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr. dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 . + y pr 2 2 a s + bs + . dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI.. 4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi... dengan asumsi 155 . karena itu. Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem.

Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . 156 .DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan. aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih. Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan. Jadi untuk sistem A. Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. Berikutnya. seperti dalam Gambar VI-5. pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. dengan menggunakan penyelesaian tegangan.

909 0.282 + j0. CONTOH 6.6.976 157 .407 0.0100 0. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.518 0.0000 Off-nominal turn ratio 0. dengan bus 1 sebagai bus penadah. 4.300 Admitansi ke tanah 0. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan. mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1. Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi.6.133 0.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.hmymsc VI.1 Tabel 1.080 + j0.000 + j0. 2.000 + j0.123 + j0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI. 3. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.0070 0.0000 0.050 0. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi.640 0. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda.0076 0. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut.0000 0.097 + j0.0000 0.370 0. Pemrograman dan space yang diperlukan.723 + j1.

000 + j0.407 0.909 0.580 – j1.976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.0070 0.0000 0.080 + j0.0 - Penyelesaian .0170 J0.5 15 9 25 2.097 + j0.133 0.080 + j0.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.050 0.000 + j0.642 0.133 0.438 – j 0.097 + j0.560 – j2.0000 j0.282 + j0.370 0.0000 0.570 0.0100 0.5 Tegangan V 1.000 + j0.723 + j1.050 0.0000 0.370 0.0000 0.0076 0.005 j0.5 6.5 10.300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.123 + j0.440 – j0.0146 0.123 + j0.282 + j0.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.407 0.642 0.300 Admitansi jaringan 0.723 + j1.518 0.Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.640 0.0000 J0.05 1.518 0.005 Tabel 2. dengan cara sebagai berikut: 158 .DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.000 + j0.640 0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.

642 0..1 + j 0.9980 -j4...5800 -0.0 + j0.3 -0.34 -0.413 1.YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 ..438 +j1....445 +j0.. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .. + 2 + .445 +j0..42 -0..58 +j1.021 -j1. + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + ....84 ..58 +j1... + ⎛ 1⎞ + ...025 0..YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 .993 -j7..585 -0.0 V1 = 1..63 +j3.56 +j2..YL 46 V6k +1 ..642 -0..YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 .18 J8..115 -j14.44 -j8..34 +j3.56 +j2....438 +j1.YL 25 V5k − YL 32 V2 .Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k ..0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 ..05 + j0..84 -0.YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1...hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + ...31 -0.555 +j2...58 -j4. + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0.955 -0....555 +j2.YL 34 V4k .42 0.3 1.. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .31 J8.5800 -0.0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1.. + 1⎛1 ⎞ + ....

00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = .j2.0.00000 0.0000 + j 0.44 .j8.DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.00000 0.00000 0.47 .187 = ((0.0000 + j 0.56 + j2. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.0000 + j 0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.0000 + j 0.58 j8.3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .0000 + j 0.065)) = 1.00000 0.275) − j (0.0 − 0.13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.0 − 0.00000 0.0000 + j 0.

Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi.7 berikut ini.0 9. Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI. dengan bus 2 sebagai bus penadah.9058 -12.3 11. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.1 dan Tabel s6.8307 -13. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27.3805 0.9310 -9.2.7.91840 0.00000 1.5 6.hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.02 -2.86560 0.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1.0 25.8511 -13.0395 0. ..5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48.5 0 0 15.8 25.1 161 .2 23.05 0. Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.0 2.

370 0.0000 0.909 0.6 pu pada tegangan V2 = 1. Untuk sistem yang sama seperti soal 1.300 Admitansi ke tanah 0. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0.640 0.8 + j0.0 - 2.050 0. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.DAFTAR BACAAN Tabel s6.0076 0.0.1 162 . Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0.5 15 9 25 2.5 Tegangan V 1.407 0.000 + j0.123 + j0. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar.282 + j0.5 10. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.0000 Off-nominal turn ratio 0.0100 0.133 0.05 1.0070 0.0000 0.1 pu.1.2. 4.723 + j1. Kerjakan kembali soal ke 3.976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.0 + j0.005 Tabel s6.080 + j0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator. dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta.5 6.000 + j0.0000 0. 5. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan. Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6. 3.097 + j0.518 0.

“ Computer Techniques in Power System Analysis”. M. 1978. DR. Glenn W.hmymsc DAFTAR BACAAN 1.. Ahmed. Yogyakarta 163 . 2000. “Komputasi Dalam Sistem Tenaga”. A.Graw-Hill. jurusan T. Singapore 3. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”. New Delhi 4. and El-Abiad. Indiana. Suprajitno Munadi.1968. Stagg. Gibson Sianipar. Pai. Mc. Elektro FTI-ITB. 1990.. Andi Offset. Bandung 2. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”.

. A(B+C) = AB+BC..Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4. Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi. Ada inverse.A(BC) = ABC = ABC 4. pengurangan dan inverse 3.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2. Tidak ada inverse matriks 2. 1. A(B+C) = AB+BC. dimana i dan j masing-masing adalah .. A ≠ . pengurangan dan perkalian 3. 1. dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan. Hasil perkalian matriks AB = C. A(B+C) = AB+BC.maka.Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5. Matriks singular adalah matriks dengan kondisi.SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1. Determinan = 0 3. Penjumlahan. 1.. ABT = BAT.. A(B+C) = AB+BC. Determinan ≠ 0 2.A(BC) = ABC = ABC 5. Penjumlahan. 1.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4. AT B = BA.A 5.. A(BC) = ABC = ABC 3.pengurangan & perkalian matriks 2.Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku. AT A = U 2.Bila determinan dari matriks berharga = nol. aij = aji 4. pengurangan 4. A(BC) = ABC = ABC 2. A(B+C) = AB+BC.A(BC) = ABC = ABC 3. 1.. Penjumlahan. AT BT = BA. Penjumlahan. AB = BA. Perkalian matriks 5.matriks disebut matrik singular 144 .

Dari segi jumlah hitungan.. Simetris 3. Tidak ada inverse. 1. Skew 4...entry matriks terbatas 2. Hermitian 4. Gauss-Naif 5. Ada inverse matriks 5..Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah. matriks tersebut disebut matriks.Dapat digunakan untuk matriks simetri. Unitary 8.Menghemat penggunaan memori. 1. Segitiga bawah 2.Hanya untuk matriks simetri.. Gauss-Jordan 7. menghemat memori 6.. 1..Jumlah hitungan terbatas. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda. Gauss-Seidel 4. matriks disebut tidak linear 5. Segitiga atas 145 . Konjugate 2. Orthogonal 3.memiliki jumlah hitungan terendah 1. Hermitian 5. Crout 2... Doolitle 3. matriks tipe.Menghemat penggunaan memori. Skew hermitian 5. Dari segi penggunaan memori.waktu hitungan cepat 4..hmymsc 3. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya.waktu hitungan tercepat 3. waktu hitungan terbatas 5..matriks disebut matriks adjoin 4. Tidak ada inverse.

Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah. Jumlah baris 5. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah.. Jumlah memori terbatas 11. Berdimensi sama 3. Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5.SOAL-SOAL 9. Menggambarkan garis 2.. b. Menunjukkan SPL 146 . Jumlah kolom 4.. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk. 1.. Jumlah iterasi pasti 3. Berjumlah kolom genap 5.... Jumlah maksimum kolom non linear 3.... 1. Jumlah maksimum kolom bebas linear 2. Jumlah operasi lebih pendek 4. 1. Tingkat konvergensinya lambat 4. Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12. Jumlah kolom atau baris 10. Jumlah langkah hitungan pasti 2. Memiliki diagonal > 1 13. 1.. Langkah perhitungan pasti 3... Jumlah memori tertinggi 5. 1. Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2. Mencari solusi SPL 3. Berbentuk segitiga 4. Berbentuk segitiga atas 2. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan.

Mencari dan mengambarkan garis 14. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5. Angka bena terbatas. karena. dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda. angka bena terbatas. pembagian dengan nol. pivoting... 1. meningkatkan harga harga epsilon. Galat pembulatan..hmymsc 4. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena. 1.meningkatkan harga epsilon.. angka bena terbatas 5. 1 Memperbanyak angka bena. pembagian dengan nol. Galat pembulatan.. Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah. sistem berkondisi buruk 3. Metoda Gauss lebih sederhana 15. Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . sistem berkondisi buruk 2. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah. pembagian dengan nol. memperbesar koefisien persamaan. Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah.. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4.. scalling. Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3. Memvisualisasikan sifat persamaan 5. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. 1.. Perambatan galat. system berkondisi buruk 4. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3.. sistem berkondisi buruk 16.. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. Galat pembulatan. pembagian dengan nol... dan rounding 17.

1.. 1. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah. 148 . Crout 2.... Doolitle 5. Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A.. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda.. Cholesky 4. Iterasi Gauss-Seidel 4.. Gauss-Jordan 21. Gauss Jordan 3. Doolitle 3. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda... Doolitle 3.. Gauss-Seidel 5. Cholesky 4. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara. Gauss-Seidel 5. Gauss Naif dengan pivoting 3. Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18. Crout 19. Gauss-Jordan 20.SOAL-SOAL 5. Cholesky 2. Eliminasi Gauss 4... 1.. Cholesky 5. Crout 2... 1. menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda. Gauss-Seidel 2. Crout 22.

.hmymsc 1.. Strategi scalling. Tegangan dan arus 3. elemen 3. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks.scalling dan matrik jarang 4. Admitansi 4.. Insidensi 3. Loop dan bus 2. Elemen matriks jaringan akan berupa. Tree.pivoting dan presisi diperketat 2. Admitansi atau impedansi 2. Strategi pivoting. Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Elemen dan node 5. cabang 2. Jaringan primitif 2.matrik jarang dan scalling 3. Loop atau bus 3. Strategi pivoting.. Elemen dan cabang 26.matrik jarang dan presisi diperketat 23.. Strategi pivoting. 1. Strategi scalling. Subgraph. Arus loop dan tegangan loop 4. Simpul dan node 4. lingk. cotree..matrik jarang dan metoda iterasi 5... 1. 1. 1. node. Admitansi dan elemen shunt 24.. Arus bus dan tegangan bus 5. adalah kerangka. Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya. Impedansi 5. graph 25. Elemen. terdiri dari. sublink 149 ..

1. Transformasi singular dan secara langsung 28. Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan. Reduksi matriks 5.. yaitu.. dan link 5. tree 27. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus.Penghapusan bus sekaligus memerlukan.Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4. Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5. 1.SOAL-SOAL 4. yaitu.Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3. cabang.. 150 .. Tidak membutuhkan perkalian matrik 2.Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5. Tidak membutuhkan reduksi matrik 5. Simpul. Transforamsi non linear dan singular 3. Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3. Pembalikan matrik 2. 1. Transformasi non linear dan secara langsung 2.. Simpul. Faktorisasi matriks 4. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah... Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara..Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2. Augmented matriks 30.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29. Perkalian matriks 3... Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap.. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4. 1. yaitu.. Tidak membutuhkan augmented matrik 31. bus..

.. Bus PQ. Susut daya reaktif dibebankan 2.. Langsung dan iterasi 3. Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda.. Gauss-Seidel 5. 1. 1. 1. Bus PQ. bus PV dan bus berayun 2.. Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus. Susut transmisi dibebankan 4. Susut daya dibangkitkan 5. Newton Raphson 151 . Daya aktif dan sudut fasa 4. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini. bus PQ dan bus kendali 5. Daya aktif dan daya reaktif 33. Bus PV... Terdapat beban 5. Langsung 4. Susut daya dikurangi 34. bus kendali dan swing bus 3. Susut daya aktif dibebankan 3.. Terdapat sumber tegangan 3. Dalam bus PQ atau bus beban. Bus PQ.hmymsc 1. Magnitud egangan dan daya aktif 3.besaran yang diketahui adalah. Bus PV. bus Beban dan bus berayun 32. bus penadah dan bus berayun 4. Terdapat beban dan pembangkit 35.. Iterasi 2.. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2. Daya apembangkitan dan daya beban 5... 1.. Terdapat sumber daya reaktif 2. Terdapat pembangkit 4.

1. Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda. 1. Himpunan persamaan arus 37.. delta V dan delta I 3.SOAL-SOAL 36. semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan. delta Q dan delta V 5.. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3.. delta P dan delta V 4.. Gauss 3....... Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2. Gauss-Seidel 4... Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4. Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan .. Himpunan persamaan daya aktif 3.. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan .... Newton Raphson 5... Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5. FDLF 2. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38. Himpunan persamaan daya reaktif 4. Newton 152 . 1. Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan . 1. Himpunan persamaan tegangan 2. delta P dan delta I 39. delta P dan delta Q 2. Himpunan persamaan daya 5....

1. yaitu.. Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja.. 1. Newton 3. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda. Admitansi bocor trafo 5. Admitansi shunt jaringan 3. 1. 42.. FDLF 43. Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3. FDLF 2. Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena.. Terdapat data jaringan 5.. Data bus dan data jaringan 153 ....hmymsc 40. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4. Gauss-Seidel 3. 1. 1.. Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2.. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2. Newton Raphson 2.. Gauss 5.... Susceptansi dari reaktansi transformator 41. Admitansi bocor hantaran 4. Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda. Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari. Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2. Semua metoda 44. Newton Rapshon 4...... Gauss 5. Gauss-Seidel 4.....

Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2.. 20 10 3. Skew 4. Data jaringan dan data beban 45. 1. Orthogonal 3.1) 154 . Memiliki sumber daya reaktif 3.. 1. N READ(1. Skew hermitian 47. Skew simetri 2. 1. Hermitian 5.. N DO 10 J = 1.*)A(J.I) CONTINUE DO 20 I = 1. Data tegangan dan impedansi 3. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah.. 10 20 2. Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose... 10 DO 20 I = 1..SOAL-SOAL 2. maka matriks A tersebut disebut matriks.. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46. Data bus dan data tegangan 4. N DO 10 J = I.I) CONTINUE DO 20 I = 1. N DO 10 J = I. Data beban dan pembangkitan 5.*)A(J.*)A(J. N READ(1. N READ(1. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4. Pada bus terdapat bank kapasitor 5. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut.

N READ(1. N C(I..1) CONTINUE 48. L C(I. 1. CONTINUE DO 30 I = 1..J) 10 20 30 3. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut. N READ(1.hmymsc 20 4.K)*B(K. 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1. M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 . M DO 20 J = 1. CONTINUE DO 30 I = 1.J) CONTINUE DO 20 I = 1.*)A(1.J) = 0 DO 10 K = 1. N DO 10 J = I. N DO 10 J = 1. N C(I.J) + A(I. L DO 20 J = 1. DO 30 I = 1. M DO 20 J = 1. L C(I. 10 20 5.J) + A(I.*)A(J.J) = 0 DO 10 K = 1.J) = C(I.K)*B(K.J) = C(I..J) 10 20 30 2.

Gauss-Seidel 50.J) + A(I.J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49. 1.J) = 0 DO 10 K = 1. M DO 20 J = 1.memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama.K)*B(K. Inverse matriks simetri dengan metoda. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi. Crout 3. Doolitle 4.J) = C(I.J) 10 20 30 5.K)*B(K. CONTINUE DO 30 I = 1. M C(I. L C(I. N DO 20 J = 1.J) = 0 DO 10 K = 1.J) = C(I.J) + A(I.J) + A(I. N C(I. N C(I... Cholesky 2.. Gauss-Jordan 5.J) = C(I. LLTrans 156 ...J) = 0 DO 10 K = 1.SOAL-SOAL C(I. CONTINUE DO 30 I = 1. M C(I. 1.K)*B(K.J) 10 20 30 4.

Gauss-Seidel 4. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda. UTrans LTrans 4. Singular 4. Dalam solusi SPL. Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel.. Newton 5. Gauss-Naiff 3. Gauss-Jordan 2. Gauss-Seidel 4.. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1.hmymsc 2. LDU 5. 1. Simetri 2. LTrans UTrans 51. 1. Gauss 3. FDLF 2.slack bus .. Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda.jumlah pv bus) 157 . 1. Non-singular 5. Gauss 5. apabila koefisien persamaan memebentuk matriks…………….. LU 3. (jumlah bus. Gauss dengan pivoting 53.. (Jumlah bus .jumlah slack bus) 2. Non simetri 3. Diagonal 52.. Newton Raphson 54.

SOAL-SOAL 3. Perencanaan. Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 . 2 x (jumlah bus . ipq = (Vp .slack bus) 55. 1. ipq = (Vp . Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3. Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq. Iterasi yang diperlukan membesar 5. ipq = (Vp .. 9 2. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4. dan kendali STL 2. ipq = (Vp . 10 4. Perencanaan dan operasi 5.Vq) ypq + Vp y'pq 2...... Perhitungan aliran daya 57. 12 5.Vq) ypq + Vq y'pq 4.... 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan. Perencanaan dan kendali 3.. maka. 1. 1. Kecepatan konvergensi meningkat 2. Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak. 2 x Jumlah bus 5. Konvergensi tidak akan tercapai 58. ipq = (Vp .Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. Operasi dan kendali 4. 11 3.Vq) ypq ' 5. maka arus pada cabang tersebut adalah. operasi. 1. (Jumlah bus 4.

. Membutuhkan data jaringan 5.. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63. Memerlukan pembalikan matriks 3. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan. metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi. 1. 2 x lebih cepat 4.. 4 x lebih cepat 3. Gauss 2. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks... 8 x lebih cepat 2..2. 4 x lebih lambat 5.. Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda.. 159 . 1. 1.hmymsc 59. 1. Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 . 8 x lebih lambat 61... yaitu. FDLF 4..... Akselerator number 3.. Memerlukan perkalian matriks 4.. Decoupled 62. Faktor akselerasi 60.. Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah. Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel. Bilangan pembanding 2. Gauss-Seidel 3.. Bilangan akselerasi 5. Newton Raphson 5.. bilangan ini dikenal dengan sebutan.. Faktor kelipatan 4.

1.. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3.. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2. Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2...GE. Ypq = -ypq(1-1/a 160 .. 1.EPSILON)GOTO 340 65. Akurasi yang lebih baik 4.. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4. Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut.. 1.LE.EPSILON)GOTO 340 2. IF(DELTA_V..GT. Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai. maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5.. Pengendalian frekuensi 3. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q.. IF(DELTA_V... Ypq = -ypq/a 2. Pengendalian daya aktif 2. IF(DELTA_P. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks..EPSILON)GOTO 340 3. Solusi yang lebih cepat 3. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4... 1.EPSILON)GOTO 340 5..EPSILON)GOTO 340 4. IF(DELTA_V.GT. Pengendalian rugi-rugi 5. IF(DELTA_P.LE.SOAL-SOAL 1.. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5. Pengendalian daya beban 66..

Ypq = -ypq 68..hmymsc 3..M READ(*.J = 1.I100TH.....ISEC. 1.. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai. READ GETTIM (IHR..*)(A(I.I1000TH) 5.I100TH. Ypq = ypq/a 4.I1000TH) 70..J = 1..I100TH.J). CALL GETTIM (IHR.IMIN.I1000TH 2. 60 2.J = 1. M DO 60 I = 1. N DO 60 I = 1.IMIN.I100TH.J).M 161 . CALL TIME (IHR. N DO 60 I = 1. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.IMIN. Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah. Ypq = ypq(1-1/a 5..ISEC...IMIN. DO 60 I = 1. CALL SETTIME (IHR..I1000TH) 4. 60 3.I100TH.ISEC.M READ(1.*)(A(I. 1..M READ(1.IMIN. Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam.I1000TH) 3. 60 4..J). 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69..ISEC.. READ TIME (IHR.*)(A(I..ISEC.

dimana susunan data dalam file adalah 162 . 4.SOAL-SOAL 60 5. 3.. 3.12 2. 2. 2. 2.J = 1. 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4.*)(A(I. 8 9.10. 8.6. 6. 4..J). M DO 60 I = 1. 3 5.. N 71..12 5.10. 9.M READ(1.3 5.8 9.J = 1. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu. 10. 5.. 60 READ(*.. Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut.J). 6.4.10)(A(I. 1.

hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.'JUMLAH KOLOM : '. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.N.50) READ(*.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1. N) CLOSE(1) RETURN END 163 .'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X. 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.10) READ(*.A) CALL PRINT_MAT(M.M 60 READ(1.J).M.20)NAMA_FILE_IN WRITE(*.N.*)M WRITE(*.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.*)(A(I.30) WRITE(*.A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X.J = 1.'JUMLAH BARIS : '.M. FILE = NAMA_FILE_IN.N. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.A) DIMENSION A(M.$) FORMAT(6X.*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.40) READ(*.

2. 3. 6. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data. 4.A) DIMENSION A(M.J =1. 3.110) DO 70 I = 1.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X. 5. 2.5)) FORMAT(3X.M WRITE(2.J). FILE = NAMA_FILE_OUT.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2.80)(A(I.N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 14. 2 -3 . 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 5. 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 .F10.90) READ(*. 4. 5.N.N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*. matriks 4 x 4 (MAT44) 2.

HASIL_MAT*15 REAL A. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS.*)L WRITE(*.E(100.100).30) FORMAT(3X. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.*)N WRITE(*.100).EQ.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*.*)K WRITE(*.D(100. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 .J).B. K READ(1.30) READ(*.EQ. J = 1. M 70 80 c c c IF((M.40) READ(*.J).50) 50 FORMAT(3X.(N.100).190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.*)M WRITE(*.AND.B(100.J = 1.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.'JUMLAH BARIS : '.$) READ(*.$) READ(*.60) c c c 60 FORMAT(3X.100). FILE = BACA_MAT.*)(B(I.L))THEN DO 100 I = 1.40) 40 FORMAT(3X.hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.100) CHARACTER BACA_MAT*15.C WRITE(*.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.10) 10 FORMAT(3X.20) 20 30 FORMAT(3X.*)(A(I.'JUMLAH KOLOM : '.K).$) READ(*.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '. N) DO 80 I = 1.C(100. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1.

EQ.J) + A(I.EQ. N C(I.J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS.EQ.J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.J) = E(I.AND.J) = 0. M DO 150 J = 1.J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.180) 180 190 FORMAT(3X. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.L))THEN DO 130 I = 1.$) READ(*.110) 110 c c c IF((M.K). 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN.J) . L E(I. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X.0 DO 140 IK = 1.J) = A(I.110) ENDIF c c c IF(N. N 140 150 160 E(I. N D(I.K)THEN DO 160 I = 1. M DO 120 J = 1.'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 .J) + B(I.J) = A(I.170) 170 c FORMAT(3X.B(I.IK)*B(IK.PROGRAM DO 90 J = 1.(N.

J).F8.F8. N) FORMAT(4(2X. 5 6 8 1 6 5 167 .230) WRITE(2.J). 6.320)(E(I.F8. M WRITE(2. L) STOP END Susunan File data.hmymsc OPEN(UNIT=2. FILE = HASIL_MAT.F8. L) FORMAT(4(2X.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1.320)(D(I. 'MATRIKS A(M. 3. K WRITE(2.240) 240 FORMAT(/2X.290)(C(I.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X. 2.J). M WRITE(2.230) WRITE(2.3)) WRITE(2.J = 1. 4. matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1.330) 330 340 FORMAT(/2X.300) 300 310 320 FORMAT(/2X. J = 1.J). K 250 260 WRITE(2.260)(B(I.J = 1. 'MATRIKS B(K. 3.J = 1. N) FORMAT(4(2X. 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1.270) 270 280 290 FORMAT(/2X. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1.230) FORMAT(/2X) WRITE(2. 7.230) WRITE(2. 2. 6.3)) WRITE(2.3)) WRITE(2. 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1. 2. 7. STATUS = 'NEW') WRITE(2.220)(A(I. 3. M WRITE(2.3)) WRITE(2. L) FORMAT(4(2X.J).J = 1.

2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.*)N 168 .J).ACY(100.'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '.100).AGJ.ACY WRITE(*. + INVL(100. N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X.100) CHARACTER BACA_MAT*15.100).INVTL.*)(A(I.AGJ(100.HASIL_MAT*15 REAL A.60) 60 FORMAT(3X.INVTL(100.90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*.100).10) 10 20 30 c c c WRITE(*.JMLH.L.TL(100.100).PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St. J = 1.TL.INVL.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '. FILE = BACA_MAT. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.$) READ(*.30) FORMAT(3X.L(100.$) READ(*.100).100). N 70 c READ(1.20) FORMAT(3X.

J) = A(I. FILE = HASIL_MAT.I) 169 .J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1.$) READ(*.J+N) = 1.3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1. 2*N AGJ(I.F8.J)THEN A(I.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X.IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I. STATUS = 'NEW') WRITE(2. N DO 160 I = 1. 'MATRIKS AWAL A(N.120)(A(I. N DO 140 J = 1.EQ. N OP = AGJ(I.80) 80 90 FORMAT(3X. N IF(I.J) + OP * AGJ(IP.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.J). N) FORMAT(8(2X.IP)/AGJ(IP.J = 1.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*. 2*N AGJ(I.J) = AGJ(I.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.EQ.IP) DO 150 J = IP. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.N) ADALAH : ') DO 110 I = 1. N IF(I. N DO 130 J = 1. N WRITE(2.

J) = ACY(I.3)) WRITE(2. N 258 259 WRITE(2.0 DO 255 K = 1.J) = 0.J).J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. 2*N AGJ(I.230)(AGJ(I.205) FORMAT(/2X) WRITE(2. 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1.J) = AGJ(I.230)(ACY(I.J+N).J).J) = AGJ(I.J) + A(I.240) 240 250 FORMAT(/2X. N ACY(I. 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 . N L(I.210) FORMAT(/2X. N) FORMAT(8(2X.PROGRAM DO 180 J = 1.230)(L(I. N WRITE(2.259) DO 258 I = 1. J = 1.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2.F8. N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1.J = 1. N) FORMAT(/2X.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1. 'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1. N DO 256 J = 1. N WRITE(2. N DO 200 J = 1. N ACY(I. J = 1.K)*L(K.

I)-JMLH)/A(I.J) = A(J. N L(I.I) = (A(K.J) 321 CONTINUE 171 .0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1.J) A(K. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1.I) JMLH = 0.GT.I) DO 260 I = 1.A(J.K) . N DO 310 J = 1.I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1. N 265 c c WRITE(2.I)THEN A(I.0 DO 290 J = 1. J = 1.J) = A(I.230)(A(I. N IF(A(I. N DO 260 J = 1. N DO 280 I = 1.J) = 0.J) A(K.J) * A(K.hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I.J). N IF(J.K) = SQRT((A(K. K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I.J).NE.J)*A(K.JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1.K-1 JMLH = 0. N DO 321 J = 1.0 DO 270 J = 1.

INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1. INVL WRITE(2.I) = 1. N 350 INVL(I.J) = ACY(I. N) FORMAT(/2X.PROGRAM WRITE(2.389) DO 385 I = 1. I-1 JMLH = 0.J) + L(I.J) = INVL(I.I) DO 380 I = 2. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 .0 DO 386 K = 1.J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. N) FORMAT(8(1X.340)(L(I. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1.J). N ACY(I.K)*INVL(K.J) INVL(I.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH.0/L(I. J = 1. J = 1. N WRITE(2.F8.3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1.0 DO 360 K = 1. N ACY(I.230)(INVL(I. N 381 382 WRITE(2. N) FORMAT(/2X. N DO 370 J = 1. N DO 387 J = 1.J).382) DO 381 I = 1.230)(ACY(I.L(I.J) = 0. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L .325) 325 330 340 c FORMAT(/2X. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH . N 385 389 WRITE(2.K)*INVL(K.J). J = 1.

J) INVTL(I.K)*INVTL(K. N 440 INVTL(I.J) = JMLH/TL(I.J = 1.J)/TL(I.I) DO 460 I = 1.410) 410 FORMAT(/2X.J) = -TL(I.TL(I. N-2 DO 470 J = I+2.N 420 430 WRITE(2.3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1.I) = L(I. N JMLH = 0 DO 490 K = 2. N JMLH = 0 DO 465 K = 2. J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1.TL(I. 'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1. J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH .J).J) INVTL(I.I) JMLH = JMLH .hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1. N DO 390 J = 1.J)*INVTL(J.J) = JMLH/TL(I.I) 173 . N) FORMAT(8(1X.F8. N-3 DO 500 J = I+3. N TL(J.I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1.0/TL(I.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2.430)(TL(I.K)*INVTL(K. N-1 J = I+1 INVTL(I.I) = 1.

J) = 0.J) + INVTL(I.890) FORMAT(2X.3)) FORMAT(/2X.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1.J). N) FORMAT(8(1X. J = 1. N ACY(I.620)(ACY(I. N ACY(I.PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1.J) = 0.F8. 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1. N 560 570 c WRITE(2.F8. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 . N) FORMAT(8(1X.J).0 DO 580 K = 1. N ACY(I.J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2.570)(ACY(I. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.550) 550 FORMAT(/2X. N ACY(I. N DO 530 J = 1.K)*INVTL(K.0 DO 520 K = 1. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J) + TL(I. N DO 590 J = 1.K)*INVL(K.J) = ACY(I.J) = ACY(I.630) DO 610 I = 1. J = 1.

X(100) CHARACTER BACA_MAT*15.X.30) 30 FORMAT(3X.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '. -1.'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. 4.*)N WRITE(*. 0. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. matriks 4 x 4 (MAT4S) 4. -1.C.100).HASIL_MAT*15 double precision A. -1.GALAT.C(100).SELISIH WRITE(*.EPS.$) 175 . 0. -1.hmymsc END Susunan File data.20) 20 FORMAT(3X. 4. 0. -1. 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th.XBARU.$) READ(*. -1.

N 50 READ(1. J = 1.*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1. N) READ(1. N 90 c c DO 120 K = 1.*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L.(0.K)).70) FORMAT(3X.LE.$) READ(*. 'BATAS ITERASI READ(*. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1. FILE = BACA_MAT.ABS(A(L. 'BATAS KETELITIAN : '. N) CLOSE(1) WRITE(*.*)(A(I.J). N L=K DO 100 I = K+1. 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*. N DUMMY = A(L. N IF(ABS(A(I.K)THEN DO 110 J = K.J) A(K.K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L.*)EPS WRITE(*.NE.GT.80) 80 FORMAT(3X.0 : '.K)).J)= A(K.I = 1.J) A(L.00000001))THEN WRITE(*.40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1.*)(C(I).$) Prosedur Pivoting 176 .60) 60 70 FORMAT(3X.J)= DUMMY X(I) = 0.PROGRAM READ(*.

SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 . 'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.0 DO 140 I = 1.X(I))/XBARU) IF(GALAT.$) READ(*. N IF(J. M GALAT = 0. N XBARU = C(I) DO 130 J = 1.NE.190) 190 FORMAT(3X.180) FORMAT(1X.A(I.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I.40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2.EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*.160) FORMAT(/2X.I) SELISIH = ABS((XBARU .LT.I)THEN XBARU = XBARU . STATUS = 'NEW') WRITE(*. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.LT. FILE = HASIL_MAT.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1.

PROGRAM WRITE(2. N) 210 250 FORMAT(8(2X. 0. -0.210)(X(I). I = 1.200) 200 FORMAT(/2X. 7. -0. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 .1.5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3.3 10 71.85.30. 0. 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2. -0.2.3.40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th. -19.F10.2 -0. 7.1.

Q_LOAD(100) . INTEGER SWITCH.TAHANAN.BAHRTRFO(100).S ALPHA.Y_CABANG(100).BUS_AKHIR(100).BUS_AWAL.V_SPECT(100).SUSCEPTAN(10 0).MAGE.YLP(100.BUS_AKHIR.hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.EII.KLP.NOMORBUS(100) EI.DX.LCHARGING.KLP(100).LCHARGING(100).RATIOTRF(100).P_GENERATE(50).Q_GENERATE(100).TAHANAN(100).REAKTANSI.Y_BUS.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.V_SUDUT(100).TIPEBUS(100).E(100).Q_MAKS(10).BAWLTRFO(100) .NFILE_IN 179 .100).P(100).BAWLTRFO.100).SR.Q_MIN(10).EN(100). + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).NOTRAFO(100).EPSILON.BUS_AWAL(100).R.Q(100 ).YLP.Y_CHARGING(100).Y_BUS(100.P_LOAD(50 ).NOKPSITOR(100).SUM.V_MAGNITUD(100).

IMIN.1H:I2.ISEC.I100TH.TAHANAN(I).JMCABANG.BAHRTRFO(I).V_MAGNITUD(I).EPSILON READ(1.I1000TH) WRITE(*.V_SUDUT(I). JMLKSTOR 60 READ(1.*)NOKPSITOR(I).20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.I2.*) READ(1. REAKTANSI(I).2) READ(1. FILE = NFILE_IN.*) DO 40 I = 1. Q_GENERATE(I).I1000TH OPEN(UNIT = 1.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.Q_LOAD(I).1H:I2.ISEC.P_LOAD(I).1H:I2.JMLKSTOR.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.JMLHBUS.70)IHR.*) DO 50 I = 1.*)NOCABANG(I).JMLPVBUS.BAWLTRFO(I).TIPEBUS(I) READ(1. 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.70)IHR.RATIOTRF(I) READ(1.BUS_AKHIR(I). JMCABANG 30 + READ(1.I100TH.IMIN.2.ISEC.$) READ(*.*)MVADASAR.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR. + ALPHA.*)NOTRAFO(I). JMLTRAFO 50 READ(1.JMLTRAFO.I100TH.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.2.*) DO 60 I = 1.PROGRAM WRITE(*.IMIN.I1000TH) WRITE(*. Q_MIN(I). STATUS = 'OLD') READ(1.2.I100TH.1H:I2.*) DO 30 I = 1.Q_MAKS(I).V_SPECT(I).*)NOMORBUS(I). JMLHBUS 40 + + READ(1.BUS_AWAL(I).LCHARGING(I) 180 .IMIN.10) 10 20 FORMAT(3X.2.P_GENERATE(I).ISEC.

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

JMLHBUS WRITE(2.2F10.0.J./.IMIN. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2. 'PARAMETER JARINGAN : '. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I)).YLP(I. ' ITERATION'.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2.I3.333) 333 FORMAT(2X.ISEC. 'PARAMETER BUS : '.5) DO 350 I = 1. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0.I1000TH WRITE(2.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.0.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .0) CALL GETTIM (IHR.IMIN.ISEC.REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 ./.I100TH. JMLHBUS DO 334 J = 1.) DO 337 I = 1.2F10.EQ./) 332 FORMAT(10(1X.336)I.2X.I3.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.'-'.) DO 335 I = 1.5)) DO 370 I = 1.//T6. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I).1)K = I DO 360 I = 1.I100TH.70)IHR.332)KLP(I) WRITE(2.J) CONTINUE FORMAT(2X.I4.I1000TH) WRITE(2.331) 331 337 FORMAT(2X.

'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.407)P(I)*MVADASAR.1)THEN WRITE(2.NQ.5X.375)I.F9.405)SR 405 + FORMAT(' '.5.0.1X.5.NP.0.PROGRAM 370 WRITE(2.'DAYA PADA BUS BERAYUN '.NQ.6X.//T6.R*MVADASAR 395 FORMAT(' '.F10.1X.395)NOCABANG(I).//T6.F7. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).2F8.NP.395)NOCABANG(I).1X.Q(I) 375 FORMAT(' './) DO 390 I = 1.2X.5) SUM = CMPLX(0.R) WRITE(2.E(I).'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.5.4.1X.I2.//T6.'MVAR') : '.5.F9.5.Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.MAGE.5.29578. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .385) 385 FORMAT(' '.F10.'MW 186 .S*MVADASAR 390 WRITE(2.F10.4.5.1X.F9.6X.'MVAR') DO 406 I = 1.P(I).F10.'MW '.5) WRITE(2.0) WRITE(2.EQ.F9.F9.DELT*57.6X.3I5.

0.0 .0 .0 .005 .JMLHBUS.00 1. . 0.0 .0 .24 0.EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 . .0 . 45.ADMITANSI TANAH . 5 1 1 2 2 2 3 4 .0 .0 .0 . SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th.TIPEBUS 1 .06 0. 4 . 60. 0 0 1. .00 . . 0.0 . . . . 0.QLOAD. RATIO(a) NOKAPASITOR. . . 0. 0.0 .PLOAD. 5. 0.00 . 0. .JMLKAPTOR. .JMPVBUS. 0. .06 0.0 .BUS_AKHIR. .18 0.4 . 40. NOTRAFOR. . .0 . 0.0 . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 . .0. 2 .00 . 0. 0 . .01 .00 .00 0.VMAGNITUD.00 . 0. .02 0. 0.18 0. 0. QMIN. . .020 0.hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL. . . .08 NOBUS. . .0. 0. 0. . 1 3 3 3 3 0. 0.00 1. 0. .12 0.00 . . . 0. 0.0 .06 1.0. . 3 . 10. 40. . 5 .0 . 0. 0.06 0. 7 2 3 3 4 5 4 5 . .025 NOCABANG.0 .00 0.REAKTANSI.JMCABANG.0 .015 0.24 . .QMAKS. 0 0.08 0.0 . 0. 0.VSUDUT.0. 0. .0 .025 0.00 1.VSPECT. 0.TAHANAN.00 30. 0. 0. . .PGENERATE.JMTRAFO. 1. . 0. 0.0 . 0 .0 .03 0.030 0.00 . .04 0.000001 0.DAT) MVADASAR.0 . .020 0.ALPHA. . 0 .BUS_AWAL. 20. .0 . 15.QGENERATE.00 0.0.010 0. 10.0 .

P(50).RATIOTRF(50).BAHRTRFO(50).LCHARGING(50).TAHANAN(50).BUS_AKHIR(50).Q_LOAD(50) 188 .Q_MAKS(10).NOKPSITOR(50).50).NOTRAFO(50).BAWLTRFO(50) . + + + + + REAKTANSI(50).PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).Q_MIN(10).SUSCEPTAN(5 0).Y_CABANG(50).Y_BUS(50.Q(50 ).V_MAGNITUD(50).V_SPECT(50).P_LOAD(50 ).P_GENERATE(50).V_SUDUT(50).BUS_AWAL(50).

V_SPECT.BUS_AKHIR(I).I1000TH) WRITE(*.$) READ(*.V_SUDUT.100). XPV(50).100).P_LOAD(I).100).C_ARUS(50).BAHRTRFO(I).*)NOTRAFO(I).50).100).Q_MAKS(I).*)NOCABANG(I).*) DO 40 I = 1.TEGAN_P.TIPEBUS(100).DELTA_P(50).*)NOMORBUS(I). JACOB_3(100.NFILE_IN 189 .*) READ(1.*) DO 30 I = 1.IMIN.MAGE. 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.*) DO 50 I = 1.ISEC.ISEC.Y_CHARGING(50).10) 10 20 FORMAT(3X.P_HITUNG(50).BUS_AWAL.*)NOKPSITOR(I).SUM.B_SUSCEP(100.DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG.DELTA_PMAK.V_MAGNITUD.JACOB_4(100.D_ARUS(50).B_JA COBI(100). JMLKSTOR 60 READ(1.JMLTRAFO.hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*. JMCABANG 30 + READ(1.SR ALPHA.JMLH_2.TIPEBUS(I) READ(1.BAWLTRFO(I).70)IHR.JACOB_2(50.DELTA_Q(50).P_GENERATE(I).EPSILON READ(1.LCHARGING.S.I100TH. STATUS = 'OLD') READ(1.JMLHBUS.EPSILON.IMIN. JACOB_1(50.RATIOTRF(I) READ(1.DAYA_P.BUS_AKHIR.V_SPECT(I).A_JACOBI(100.Q_HITUNG(50).ARUS_BUS.NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).JMLH_1.JMLPVBUS. INTEGER SWITCH.BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.Y_BUS.DELTA_MAG(50).JMCABANG. REAKTANSI(I).100).V_SUDUT(I).I1000TH OPEN(UNIT = 1.BUS_AWAL(I).JMLKSTOR.TAHANAN(I).REAKTANSI. Q_GENERATE(I).DELTA_ SUDUT(50). Q_MIN(I). FILE = NFILE_IN.BAWLTRFO.*)MVADASAR.SUSCEPTAN(I) READ(1.*) DO 60 I = 1.50).20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.TAHANAN.V_MAGNITUD(I). G_KONDUK(100.R.Q_LOAD(I). JMLHBUS 40 + + READ(1.I100TH.LCHARGING(I) .Q_GENERATE(50). JMLTRAFO 50 READ(1. + ALPHA.

0)GOTO 90 Y_BUS(NP.NQ) = Y_BUS(NP.ISEC.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ.NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.CMPLX(0.2.J)) = CMPLX(0.NP) = Y_BUS(NP.1H:I2.NN) = Y_BUS(NK.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK. JMLHBUS DO 100 J = 1.2.I100TH.70)IHR.2.00/CMPLX(TAHANAN(I).J) = REAL(Y_BUS(I.NN) = Y_BUS(NN. JMLKSTOR IF(I.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1. JMCABANG Y_CABANG(I) = 1. JMLTRAFO IF(I.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1.NQ) = Y_BUS(NQ.00.EQ.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I.I).NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.ISEC.I100TH.I) = Y_BUS(I.EQ.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN.NP) = Y_BUS(NP.I1000TH) WRITE(*.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP.2. JMLHBUS G_KONDUK(I.IMIN.NK) = Y_BUS(NK.1H:I2.EQ.2) 190 .NK) = Y_BUS(NK. JMLHBUS DO 110 J = 1.1H:I2.00.I2.SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.IMIN.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.PROGRAM CALL GETTIM (IHR.1H:I2.

2X.210) FORMAT(2X.I4). 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '.5X.2X.Q_MIN(I).3. FILE = NFILE_OUT.I4) WRITE(2.8) WRITE(2.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1.F8. ALPHA.RATIOTRF(I) FORMAT(2X.3X./. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2.140)MVADASAR.2) B_SUSCEP(I. JMLPVBUS.F8.180) FORMAT(2X.BUS_AWAL(I).I5).240) FORMAT(2X.F6.F10. JMLHBUS WRITE(2.2X. EPSILON 140 150 FORMAT(3X.230)NOTRAFO(I).120) 120 FORMAT(3X.F6.(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)). JMCABANG 160 170 180 WRITE(2.4./. +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1.TIPEBUS(I) FORMAT(I4.I3. 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '.4X.V_MAGNITUD(I).4X.F8.V_SUDUT(I).F8. 'MVADASAR. + REAKTANSI(I).BAWLTRFO(I).JMLHBUS.SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X.F8./.3X.' -'. 3(2X. JMLTRAFO.JMLPVBUS.260)NOKPSITOR(I). STATUS = 'NEW') WRITE(2.130) 130 FORMAT(2X.4.$) READ(*.5X. JMCABANG.I4.JMLTRAFO. 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '.F8.F8.200)NOMORBUS(I).5(5X.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2.1X.TAHANAN(I)./.F8.F5. JMLHBUS. JMLKSTOR 250 WRITE(2.4) WRITE(2.BAHRTRFO(I).JMLKS +TOR. + ALPHA. EPSILON') WRITE(2.J) = -AIMAG(Y_BUS(I. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1. Q_MAKS(I).J)) 191 .I3.3(2X.BUS_AKHIR(I). 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '.150) FORMAT(12X.4. 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '.4.JMLKSTOR.' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1.2) WRITE(2.I5.V_SPECT(I).4.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*.4.6X.4).JMCABANG.170)NOCABANG(I).(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).LCHARGING(I) FORMAT(I5.3X.

/. JMCABANG WRITE(2. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I.0 c PERHITUNGAN : P.5)) WRITE(2.70)IHR.0 DO 390 J = 1.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X.0 DELTA_QMAK = 0.350)(G_KONDUK(I.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0.J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I.EQ.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 . 'ADMITANSI BUS : '.ISEC.J) .J).ISEC. J = 1.V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2.) DO 280 J = 1.350)(B_SUSCEP(I.270) 270 FORMAT(2X. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I). JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I.5)) DO 360 I = 1.PROGRAM WRITE(2.I100TH. JMLHBUS) 192 ./. 'ADMITANSI JARINGAN : '.J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I.330) FORMAT(2X.0 JMLH_2 = 0.5)) WRITE(2.IMIN./. J = 1.300) FORMAT(2X.) FORMAT(10(1X.F10.IMIN. 'ADMITANSI KE TANAH : '.I1000TH) WRITE(2.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0.J). Q.F10. JMLHBUS WRITE(2.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X.I100TH. JMLHBUS WRITE(2.*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2.F10. DELTA_P. dan DELTA_Q DO 400 I = 1. JMLHBUS) DO 370 I = 1.) DO 310 J = 1.

EQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1.1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I).I)THEN JACOB_1(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).LE.1)THEN DELTA_P(I) = P(I) .NE.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).AND.hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1.EQ.I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.EPSILON).1)GOTO 450 DO 440 J = 1.LE.Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.EQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.EQ.DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I).EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1.2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) .DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 .P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI.1)GOTO 440 IF(J.GT.V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I.I) .GT.NE.I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.(DELTA_QMAK.I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I.I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI.

K+1) A_JACOBI(J.J) JACOB_4(I.J)) JACOB_2(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.J) . JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).J) JACOB_3(I.1)THEN IF(I.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.I) .I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.J)) G_KONDUK(I.K) = JACOB_1(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I.460) 460 FORMAT(1X. JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I.NE. JMLHBUS-1 A_JACOBI(J.EQ. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.K) = JACOB_3(I.1)THEN WRITE(*.

GT.K)).K)THEN DO 540 J = K. NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L.J) A_JACOBI(L.LE.J) ENDIF 195 . NBARIS_BUS+1 IF(J.J) = A_JACOBI(I. NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1.NE.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L.00001))THEN WRITE(*.J) .K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L.J) = A_JACOBI(K.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I. NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.PIVOT*A_JACOBI(K.(0.hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1.NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.K) DO 550 J = 1.NE.J)/PIVOT DO 570 I = 1. NBARIS_BUS DO 510 J = 1.ABS(A_JACOBI(L.J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.GT.K) DO 560 J = 1.J) A_JACOBI(K.J)= A_JACOBI(K. NBARIS_BUS IF(I.K)).J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K.

'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.ISEC.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1.EQ. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.650)ITERASI 650 FORMAT(////.T10./) DO 680 I = 1.620)ITERASI 620 FORMAT(3X. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I4.670)ITERASI 670 FORMAT(' '.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR.K.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '.70)IHR.I100TH.DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1. NBARIS_BUS IF(I. + ' ITERATION'. NBARIS_BUS DO 590 J = 1.IMIN.//T6.GT. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 .'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '.LT.I1000TH) WRITE(2.*)I. NBARIS_BUS+1 IF(J.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1.IMIN.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.I100TH.GT.ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2.I4.XPV(I).JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I.I4) WRITE(2.ISEC.

F10.DELT*57.F9.5X.IMIN.1X.'MW 197 .5.'MVAR') CALL GETTIM (IHR.//T6.5.REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2.NQ./) DO 740 I = 1.0.//T6. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I2.S*MVADASAR 740 WRITE(2.0) WRITE(2.R) WRITE(2. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.1X.0. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).2X.1)K = I DO 700 I = 1.70)IHR.ISEC.I1000TH) WRITE(2.5.IMIN.EQ.F7.I100TH.F9. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .NP.2F10. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).29578.NP.6X.1X.F10.I100TH.5.I1000TH : '.5.750)NOCABANG(I).6X.F9.5.1)THEN WRITE(2.'MVAR') DO 770 I = 1.F9.5.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.5) WRITE(2.COMPLX_TEG(I).EQ.3I5.hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1.Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.720)I.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.F10.5.NQ.780)P(I)*MVADASAR.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.1X.6X.4.730) 730 FORMAT(' '.F10.MAGE.760)SR FORMAT(' '.'MW +'.ISEC.750)NOCABANG(I).*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.//T6.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.F9.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.Q(I) 720 FORMAT(' '.1X.5) SUM = CMPLX(0.P(I).

PROGRAM 900 WRITE(*.*) 1000 STOP END 198 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful