PENGGUNAAN T KOMPUTER DALAM E ANALISIS SISTEM TENAGA K N I HENDRA MARTA YUDHA K

E L E K T R O

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2008

1 2 3 4

a1 a2 a3 a4

b1 b2 b3 b4

5 6 7 8

GND 0

Sistem DG

PF1
Sistem A

PF2
Sistem C G Sistem G B

G

PF3 PF4

© 2008, Edisi ke 3, dipublikasikan oleh Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Universitas Sriwijaya TIDAK SATUPUN DARI BAGIAN BUKU INI DAPAT DIREPRODUKSI DALAM BENTUK APAPUN TANPA SEIZIN PENULIS

DITULIS OLEH ALAMAT

: Hendra Marta Yudha, Ir, MSc. : Jurusan Teknik Elektro Fakultas Teknik Unsri Jl. Raya Prabumulih KM 32 Inderalaya OI – 30662; Telp (0711) 580283- 318373 E-mail : hmymsc@yahoo.com hendra@unsri.ac.id Website : http://hendra.unsri.ac.id

KATA PENGANTAR Puji dan syukur tak lupa selalu kita panjatkan kehadirat Ilahi Rabbi, berkat rakhmat, hidayah dan hinayahNYA maka Diktat/CD interaktif ini dapat diselesaikan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini disusun dengan maksud memberikan suatu bahan acuan bagi mahasiswa jurusan Teknik Elektro, dan atau para peminat dalam bidang Komputasi Sistem Tenaga. Penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga adalah sebuah ilmu yang sedang dan akan terus berkembang selaras dengan kemajuan teknologi komputer maupun munculnya algoritma-algoritma baru. Beberapa buku rujukan yang tersedia, seperti buku Stagg dan Albiad [2], dan MA. Pai [3] yang tertua dan lengkap, maupun buku Gibson Sianipar [1] yang terbaru dan berisi algoritma-algoritma baru masih sangat sulit untuk dipahami dengan cepat, terutama bagi para mahasiswa. Untuk mencoba menjejaki kemajuan dan tetap memberikan kemudahan kepada mahasiswa maka dihadirkanlah Diktat/CD pembelajaran interaktif ini. Diktat/CD ini berisi program-program yang penulis anggap paling mudah dipelajari, namun usaha-usaha memasukkan algoritma-algoritma terbaru tetap diusahakan. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini tersusun dari kumpulan babbab yang membahas aspek dari penggunaan komputer dalam analisis sistem tenaga, diawali dengan bab yang memberikan pengetahuan dasar mengenai dasar pemrograman, teknik programming, dasar-dasar operasi matriks, dan perumusan sistem jaringan, dilanjutkan dengan pembahasan mengenai metoda penyelesaian Sistem Persamaan Linear. Aspek utama yang dibahas dalam buku ini yakni perhitungan dan pengaturan aliran beban. Diktat/CD pembelajaran interaktif ini akan mudah dipahami, terutama bagi mahasiswa atau peminat lainnya yang memiliki pengetahuan dasar tentang pemrograman dan bahasa pemrograman FORTRAN dan pemahaman tentang metoda numerik. Mudah-mudahan sumbangan ini dapat bermanfaat. Penulis, Hendra Marta Yudha, Ir, MSc.

iii

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR DAFTAR ISI BAB I Aljabar Matris 1.1. Pendahuluan 1.2. Konsep Dasar dan Definisi 1.3. Determinan 1.4. Operasi Matrik 1.5. Ketidakbebasan Linear dan Rank Matriks 1.6. Soal-Soal Bab I BAB II Penyelesaian Sistem Persamaan Linear 2. 1 Pendahuluan 2. 2 Metoda Langsung 2. 3 Metoda Iterasi Gauss-Seidel 2. 4 Perbandingan Antar Metoda 2. 5 Soal-Soal Bab II BAB III Matriks Jaringan dan Insidensi 3. 1 Pendahuluan 3. 2 Graph 3. 3 Matrik Insidendi 3. 4 Jaringan Primitif 3. 5 Pembentukan Matrik Jaringan Dengan Transformasi Singular 3. 6 Soal-Soal Bab III BAB IV Algoritma Pembentukan Matriks Ybus 4. 1 Pendahuluan 4. 2 Pembentukan Matriks Admitansi Bus 4. 3 Penghapusan Bus 4. 4 Matrik Impedansi Bus dan Perubahan Matrik ZBUS 4. 5 Pembentukan Matrik Impendansi Bus 4. 6 Soal-Soal Bab IV 73 73 77 78 82 88 56 56 59 65 66 72 26 26 51 54 55 1 1 7 10 23 24

iv

7 Soal-Soal Bab V BAB VI Penyesuaian Dalam Penyelesaian Aliran Beban 6. 4 Metoda Gauss-Seidel 5. 2 Pengendalian Tegangan Bus 6. 5 Perbandingan Antar Metoda 6. 4 Pengendalian Jaringan Penghubung 6. 3 Representasi Transformator 6. 1 Umum 6. 6 Soal-Soal Bab VI DAFTAR PUSTAKA SOAL-SOAL PROGRAM 121 123 124 127 135 137 141 143 144 163 89 90 90 91 95 100 v . 6 Metoda Fast Decoupled 5.BAB V Perhitungan dan Penyesuaian Aliran Beban 5. 1 Pendahuluan 5. 3 Persamaan Performance Jaringan 5. 2 Data Untuk Studi Aliran Beban 5. 5 Metoda Newton Raphson 5.

UNSRI 1 . SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 0 3 0 0 3 1 4 0 0 0 0 ALJABAR MATRIKS LAB.

. Dalam bentuk matriks.2-2) diatas dapat ditulis Ax = b (I.a33 adalah koefisienkoefisien dari variabel tidak diketahui.2-2) ⎢ 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dalam notasi matriks.2-1) a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 x1. 1 NOTASI MATRIKS Notasi matriks adalah suatu cara yang digunakan untuk memudahkan penulisan bentuk persamaan simultan. persamaan (I. koefisien. x2. Notasi subskrip ganda aij selalu dipergunakan untuk menunjukkan sebuah elemen matriks. dan parameter dapat ditulis sebagai berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ (I. 2. 1 PENDAHULUAN Dalam decade terakhir. b1. I. 2 KONSEP DASAR DAN DEFINISI I. Penggunaan notasi matriks memberikan perubahan yang signifikan dalam mengekspresikan banyak masalah. disusun secara khusus dalam bentuk m baris dan n kolom sehingga membentuk empat persegi panjang. Matriks didefinisikan sebagai jajaran bilangan-bilangan yang disebut elemen. Penggunaan operasi-operasi matriks memberikan tingkatan logika proses yang dapat beradaptasi dengan baik dalam solusi persamaan simultan bagi sistem-sistem besar menggunakan komputer. Elemen-elemen ini dapat berupa bilangan riil atau komplek. menunjukkan kolom dimana elemen tersebut terletak. b2. dan x3 variabel tidak diketahui a11 a12 a13……. variabel. penggunaan aljabar matriks dalam formulasi dan solusi masalah-masalah rekayasa enjinering yang komplek menjadi sangat penting sejalan dengan perkembangan penggunaan teknologi komputer dijital dalam perhitungan dan analisis sistem.hmymsc BAB I ALJABAR MATRIKS I. Subskrip pertama i. dan b3 parameter-parameter yang diketahui.2-3) 1 . menunjukkan baris dan subskrip kedua j. Dalam suatu sistem persamaan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 (I.

.. sedangkan elemen-elemen dimana i ≠ j disebut elemen-elemen off-diagonal... antara lain : A. matriks tersebut adalah matriks segitiga atas...BAB 1 ..... m = n matriks tersebut disebut matriks kuadrat atau matriks bujur sangkar dengan orde sama dengan jumlah baris (atau kolom).. Elemen-elemen matriks dalam sebuah matriks bujur sangkar... aij dimana i = j disebut elemen-elemen diagonal... seperti contoh berikut: ⎡u11 u12 u13 ⎤ ⎢ u 22 u 23 ⎥ U = ⎢0 ⎥ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎣ ⎦ 2 ...PENGKOM Matriks dengan jumlah baris m dan kolom n disebut matriks berdimensi m x n. MATRIKS BUJUR SANGKAR Apabila jumlah baris sama dengan jumlah kolom.... ⎡a11 a12 a13 a14 a15 ⎤ ⎢a a 22 a 23 a 24 a 25 ⎥ 21 ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 a 35 ⎥ Amxn = ⎢ ⎥ ⎢........a nm ⎥ ⎣ ⎦ B.. 2 TIPE MATRIKS Beberapa matriks dengan karakteristik khusus yang sangat berarti dalam operasi matriks... ⎥ ⎢a 51 a 52 ..... Sebuah matriks dengan baris tunggal dengan lebih dari satu kolom disebut matrik baris atau vektor baris......... [a11 a12 ..... 2.... sedangkan matriks dengan kolom tunggal dan lebih dari satu baris disebut matriks kolom atau vektor kolom.... MATRIKS SEGITIGA ATAS Apabila elemen-elemen aij dari sebuah matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i > j.a1n ] ⎡a 11 ⎤ ⎢a ⎥ dan ⎢ 21 ⎥ ⎢...... seperti dalam contoh berikut..... ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 ⎦ I..

TRANSPOSE MATRIKS Bilamana baris dan kolom matriks m x n saling dipertukarkan. seperti contoh ⎡l11 ⎢ L = ⎢l 21 ⎢l 31 ⎣ 0 l 22 l 32 0⎤ 0⎥ ⎥ l 33 ⎥ ⎦ D.hmymsc C. seperti: ⎡1 0 0⎤ ⎡0 0 0 ⎤ ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ ⎥ dan O = ⎢0 0 0⎥ I =⎢ ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎢0 0 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ F. untuk i = j dan aij = 0.. MATRIKS SEGITIGA BAWAH Apabila elemen-elemen aij dari matriks bujur sangkar berharga Nol untuk i < j. MATRIKS KESATUAN ATAU MATRIKS IDENTITAS dan MATRIKS NOL Apabila semua elemen diagonal matriks bujur sangkar berharga Satu. untuk i ≠ j). matriks tersebut disebut matriks diagonal. untuk i ≠ j). matriks tersebut adalah matriks segitiga bawah. sedangkan matriks nol adalah matriks bujur sangkar dimana semua elemen matriks berharga NOL. seperti: ⎡d 11 0 0 ⎤ ⎥ ⎢ D = ⎢ 0 d 22 0 ⎥ ⎢ 0 0 d 33 ⎥ ⎦ ⎣ E. seperti 3 . maka resultannya matriks n x m adalah transpose dari matriks tersebut yang dinyatakan dengan AT. dan elemen lainnya Nol (aij = 1. matriks tersebut disebut matriks satuan atau matriks identitas. MATRIKS DIAGONAL Bilamana elemen-elemen off-diagonal dari suatu matriks bujur sangkar berharga Nol (aij = 0.

⎡1 5 3 ⎤ [A] = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ dan ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ H.6 . matriks ini disebut matriks skew .BAB 1 . MATRIKS SKEW SIMETRI Bila suatu matriks bujur sangkar A = -AT. seperti : ⎡ 7 5 6⎤ A = ⎢. MATRIKS SKEW ⎡1 5 3⎤ [A]T = ⎢5 2 6 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢3 6 4 ⎥ ⎣ ⎦ Apabila dari suatu matriks bujur sangkar aij = -aij .PENGKOM ⎡a11 a 21 a 31 ⎢a ⎢ 12 a 22 a 32 AT = ⎢a a a 33 13 23 ⎢ ⎣a14 a 24 a 24 a 41 ⎤ a 42 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎦ G.4 2 ⎥ ⎣ ⎦ I. seperti : ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ [ A] = ⎢ ⎥ dan ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡a 11 ⎢a 21 T [ A] = ⎢ ⎢a 31 ⎢ ⎣a 41 a12 ⎤ a 22 ⎥ ⎥ a 32 ⎥ ⎥ a 42 ⎦ Transpose dari sebuah matriks simetris identik dengan matrik itu sendiri. untuk semua ij. tetapi tidak semua elemen aij = 0. maka matriks A tersebut disebut matriks skew simetri. MATRIKS SIMETRIS Bila elemen-elemen matriks bujur sangkar aij = aji . Hubungan antara elemen-elemen luar diagonal sama. tetapi berlawanan tanda(aij = -aij). seperti : 4 . matriks tersebut disebut matriks simetris.5 0 4 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢. dan elemen diagonal berharga Nol.

seperti : 2 . maka matriks A disebut matriks Hermitian Skew Simetri.j3⎤ ⎡ 0 A= ⎢ 0 ⎥ ⎣. seperti : 2 . MATRIKS UNITARY (UNITER) Sebuah matriks bujur sangkar A disebut juga matriks uniter bilamana transposenya sama dengan konjugate inversenya. MATRIKS HERMITIAN dan 5⎤ ⎡ .hmymsc ⎡0 . dimana semua elemen diagonal berharga Nol.j3 ⎦ N.j5⎤ ⎡ 4 A=⎢ 5 ⎥ ⎣2 + j3 ⎦ M.2 . MATRIKS SKEW-HERMITIAN Bilamana berlaku A = -(A*)T . matriks A disebut matriks orthogonal.3 6 0 ⎥ ⎣ ⎦ J.5 3 ⎤ ⎢ ⎥ A = ⎢5 0 6⎥ ⎢.j1⎦ * Bilamana suatu matriks bujur sangkar kompleks berlaku A = (A*)T. seperti : (A*)T A = U = A (A*)T 5 . maka matriks A disebut matriks Hermitian dimana semua elemen diagonal adalah bilangan rill. K. MATRIKS KONJUGATE Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya (a + jb → a – jb). MATRIKS ORTHOGONAL Jika AT A = U = A AT untuk suatu matriks bujur sangkar dengan elemen rill.j3 A = ⎢ ⎥ ⎣4 .j2 1 . seperti : 5 ⎤ ⎡ j3 A= ⎢ ⎥ ⎣4 + j2 1 + j1⎦ L. matriks tersebut disebut matriks konjugate dan ditulis dengan cara A*.

MATRIKS PITA Matrik pita adalah matrik bujur sangkar yang semua elemennya berharga NOL kecuali pada suatu pita berpusat pada diagonal. Untuk │i- a 54 a 55 j│> 2 Matrik pita dengan lebar pita = 3. MATRIKS SINGULAR DAN NON SINGULAR Matriks singular adalah matriks yang nilai determinannya = 0. seperti contoh dibawah ini: ⎡a 11 a 12 ⎢a ⎢ 21 a 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ 0 a 23 a 33 a 43 0 ⎤ 0 ⎥ ⎥ a 34 ⎥ ⎥ a 44 ⎥ ⎦ P. disebut dengan matrik TRIDIAGONAL.BAB 1 . aij = 0. Ringkasan tipe-tipe matriks khusus diberikan dalam Tabel I-1 berikut : 6 . MATRIKS JARANG Matrik jarang adalah matrik bujur sangkar dimana lebih dari 50% elemen matriks tersebut berharga sama dengan NOL. Lebar pita adalah maksimum elemen yang tidak NOL pada sebuah baris.PENGKOM O. sebagai berikut: ⎡a 11 ⎢ ⎢a 21 ⎢a 31 ⎢ ⎢0 ⎢0 ⎢ ⎢0 ⎣ a 12 a 22 a 32 a 42 0 0 a 13 a 23 a 33 a 53 0 0 a 24 a 34 a 54 0 0 a 35 a 45 a 55 0 ⎤ ⎥ 0 ⎥ 0 ⎥ ⎥ a 46 ⎥ a 56 ⎥ ⎥ a 56 ⎥ ⎦ a 43 a 44 Lebar pita = 5. seperti contoh berikut: ⎡a 11 a 12 ⎢ ⎢a 21 a 22 ⎢a 31 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎢0 0 ⎢ 0 ⎢0 ⎣ a 13 0 a 33 a 43 0 0 0 0 a 34 a 44 0 0 0⎤ ⎥ 0 0⎥ 0 0⎥ ⎥ 0 0⎥ a 55 0 ⎥ ⎥ 0 a 56 ⎥ ⎦ 0 Q. sedangkan matriks non singular adalah matriks yang nilai determinannya ≠ 0.

DETERMINAN I.dari pers.a12 b 2 a 22 b1 .3-1) akan diperoleh x1 = x2 = a 22 b 2 .3-1) a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 Dapat diselesaikan dengan cara mengeliminasi salah satu variabel.a 21 b1 a11 a 22 .a12 a 21 Ekspresi ( a11 a 22 . dimana A menunjukkan determinan a 21 a 22 Penyelesaian persamaan (I.a12 a 21 x1 = a 22 b1 (a11 a 22 .hmymsc Tabel I-1. kedua : ⎛b ⎞ a a 21 x1 + a 22 x 2 = b 2 → x 2 = ⎜ 2 − 21 x1 ⎟ ⎜a ⎟ ⎝ 22 a 22 ⎠ a11 a 22 x1 + a12 b 2 .3-1) dengan cara determinan didapat : A= a11 a12 7 .a12 a 21 ) adalah harga determinan dari koefisien matriks A.a12 a 21 ) x1 = a 22 b1 . 3. sebagai berikut : .a 21 b1 a11 a 22 .A* A = (A*)T A = (A*)T ATA = U (A*)TA = U Tipe Matriks Nol Simetris Skew Simetris Real Imajiner murni Hermitian Skew Hermitian Orthogonal Uniter I. Menyelesaikan x2 kedalam x1 dari persamaan kedua dan mensubstitusikan ekspresi ini kedalam persamaan pertama.AT A = A* A = . Ringkasan karakteristik tipe-tipe matriks Kondisi A=-A A = AT A = .a12 a 21 Langkah berikutnya. substitusi harga x1 kedalam persamaan (I. 3. 1 DEFINISI DAN SIFAT-SIFAT DETERMINAN Penyelesaian dua persamaan simultan a11 x1 + a12 x 2 = b1 (I.

a12 a 21 a 21 a 22 Suatu determinan didefinisikan hanya untuk matriks bujur sangkar yang memenuhi satu harga.BAB 1 .PENGKOM b1 a12 x1 = Dan b 2 a 21 a b -a b = 21 1 12 2 a11 a12 a11 a 22 . 3.. jadi : a11 a12 a13 A = a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33 Minor a 21 = a12 a13 a 32 a 33 Orde dari minor tersebut lebih kecil satu dari orde determinan asal.a12 a 21 a 21 a 22 a11 b1 a 21 b 2 a b -a b = 11 2 21 1 a11 a12 a11 a 22 . untuk n > 1 Sedangkan kofaktor Kij dapat dicari dari minor Mij 8 . Determinan dapat dicari dengan cara berikut: • Kofaktor dari suatu elemen adalah (-1)i+j (Minor dari aij) dimana orde dari minor aij adalah n-1. 2 MINOR DAN KOFAKTOR Determinan diperoleh dengan cara mengeluarkan elemen-elemen baris i. ... kolom j disebut dengan Minor dari elemen aij .. n. yaitu: K 21 = (-1)2 +1 a12 a13 a 32 a 33 =- a12 a13 a 32 a 33 Secara ringkas determinan A adalah DET A = ∑ a ij K ij i =1 n j = 1. x2 = I.. Dengan mengeluarkan dua baris dan kolom suatu minor dengan orde 2 lebih kecil dari asalnya. 2. Kofaktor dari a21 dinyatakan dengan K21.

lalu matriks tersebut ditranpose. 4 OPERASI MATRIKS I. 3. dimana: ⎡K11 K 21 K 31 ⎤ ⎢ ⎥ A+ = ⎢K12 K 22 K 32 ⎥ ⎢K13 K 23 K 33 ⎥ ⎣ ⎦ CONTOH 1. maka kedua matriks disebut matriks sama. hasilnya disebut matriks adjoint yang dinyatakan dengan A+. 3 ADJOINT Jika setiap elemen dari matriks bujur sangkar dipertukarkan dengan kofaktornya. determinan dapat dihitung A = a 11 K 11 + a 21 K 21 + a 31 K 31 sebagai berikut: Didapat: 7 1 -2 4 1 1 -2 1 -2 1 4 1 =7 + 1(−1) + (−2) = 162 1 7 1 7 4 1 -2 1 7 I. 4.hmymsc K ij = (-1)i + j Mij I. 2 OPERASI BARIS ELEMENTER (OBE) Beberapa operasi baris elementer atau OBE yang sering dilakukan adalah: 1. yaitu : A=B I. bilamana elemenelemen aij = bij. Pertukaran antar dua baris bi ↔ bj 9 .1 Hitung determinan berikut ini: 7 1 -2 1 4 1 -2 1 7 Penyelesaian Dengan menggunakan aturan diatas. 1 MATRIKS SAMA Bila A dan B adalah matriks berdimensi sama. Suatu baris dikalikan dengan konstanta ≠ 0 bi ← k b i 2. 4.

Baris matrik A) 10 .PENGKOM 3.…. Suatu baris ditambahkan dengan kelipatan baris lainnya bi ← bi + k bj I. 4.m (Jml. misal : kA = B. dimana bij = k x aij untuk semua i dan j Perkalian matriks dengan skalar mengikuti aturan komutativ dan distributiv berikut : → komutativ kA = B k (A + B) = kA + kB = (A + B) k → distributiv B. 3 OPERASI PENJUMLAHAN DAN PENGURANGAN MATRIKS Matriks berdimensi sama.. dengan dimensi yang sama pula. A +B= B+A → komutativ A + B + C = A + (B + C) = (A + B) + C → assosiatif I. 4. Penjumlahan atau pengurangan dua matriks berdimensi m x n.. sebagai berikut : Am x n Bn x k = Cm x k Dalam bentuk umum dapat dituliskan cij = ∑ a ik b kj k =1 n (I. 4 PERKALIAN MATRIKS A. Aturan komutatif dan assosiatif berlaku bagi penjumlahan matriks sebagai berikut.2. elemen dari hasil perkalian tersebut sama dengan perkalian elemen-elemen asal matriks dengan skalar tersebut.BAB 1 . akan menghasilkan matriks baru C.3-2) dengan : i = 1. PERKALIAN MATRIKS DENGAN MATRIKS Perkalian dua matriks AB = C hanya dapat dilakukan apabila jumlah kolom dari matriks A sama dengan jumlah baris dari matriks B. sebagai berikut: A ±B=C Dimana masing-masing elemen matriks C adalah cij = aij ± bij. PERKALIAN MATRIKS DENGAN SKALAR Bilamana sebuah matriks diperkalikan dengan skalar. dapat diperjumlahkan atau diperkurangkan.

J) = 0 DO 10 K = 1. AB = 0. ini merupakan aturan reversal. tidak berarti A = B Jika C = AB. dan C memenuhi syarat dimensional untuk suatu perkalian dan penjumlahan matriks. M DO 20 J = 1. Kolom matriks B) Sebagai contoh ⎡a11 a12 ⎤ ⎡(a11b11 + a12 b 21 ) ⎢a a ⎥ ⎡b11 b12 ⎤ = ⎢(a b + a b ) AxB = ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 22 21 ⎥ ⎢ 21 11 ⎣b 21 b 22 ⎦ ⎢(a b + a b ) ⎢a 31 a 32 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 31 11 32 21 (a11b12 + a12 b 22 ) ⎤ (a 21b12 + a 22 b 22 )⎥ ⎥ (a 31b12 + a 32 b 22 ) ⎥ ⎦ Meski AB dimungkinkan.J) CONTINUE CONTINUE CONTINUE 10 20 30 Gambar I-1. dimana CT = BTAT. karenanya aturan komutativ tidak berlaku. DO 30 I = 1. namun BA tidak dapat dilakukan..…. tidak menunjukkan bahwa A = 0 atau B = 0 CA = CB. sehingga secara umum berlaku AB ≠ BA..hmymsc j = 1.. kecuali untuk matriks bujur sangkar.2. dan transpose C sama dengan hasil perkalian transpose matriks A dan B. B. maka berlaku sifat-sifat berikut : A (B + C) = AB + BC → aturan distributiv A (BC) = (AB) C = ABC → aturan asosiatif Namun demikian.k (Jml.J) = C(I. L C(I. Jika matriks A. N C(I.2 Hitung perkalian antara dua matrik berikut ini: 11 . Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) CONTOH 1. Program sederhana perkalian matriks disajikan dalam Gambar I-1 berikut.K)*B(K.J) + A(I.

yaitu : x = Cb (II. INVERSE MATRIKS Pembagian tidak dikenal dalam aljabar matriks. x2.4-2) Bila diperoleh penyelesaian yang unik bagi persamaan (II. Operasi ini dilakukan dengan cara membagi semua elemen matriks dengan skalar.4-1) Adalah dimungkinkan untuk menulis harga x1. kecuali pembagian matriks dengan skalar.4-1) artinya matriks C ada dan merupakan inverse dari matriks A yang dapat ditulis dengan notasi A-1. dan x3 sebagai fungsi b1. b2. dan berlaku: 12 . Namn demikian. tinjaulah suatu persamaan simultan berikut : a11 x1 + a12 x 2 + a13 x 3 = b1 a 21 x1 + a 22 x 2 + a 23 x 3 = b 2 a 31 x1 + a 32 x 2 + a 33 x 3 = b3 Atau dalam bentuk matriks Ax = b (II.BAB 1 . dan b3.PENGKOM ⎡2 ⎢4 ⎣ orde ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡c11 c12 c13 ⎤ ⎥ ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢c 1 0⎦ ⎣ 21 c 22 c 23 ⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ 2x3 3x3 2 x 3 3 ↓ sama ↓ Penyelesaian c11 = 2 x 1 + 3 x 2 + 6 x 0 = 8 c12 = 2 x 1 + 3 x 5 + 6 x 1 = 23 c13 = 2 x 3 + 3 x 9 + 6 x 0 = 33 c 21 = 4 x 1 + 1 x 2 + 0 x 0 = 6 c 22 = 4 x 1 + 1 x 5 + 0 x 1 = 9 c 23 = 4 x 3 + 1 x 9 + 0 x 0 = 21 Sehingga ⎡1 1 3 ⎤ 6⎤ ⎢ ⎥ ⎡8 ⎥ ⎢ 2 5 9 ⎥ = ⎢6 1 0⎦ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎡8 23 33⎤ [C ] = ⎢ ⎥ ⎣6 9 21⎦ ⎡2 ⎢4 ⎣ 3 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ C.

maka AI akan dapat ditransformasikan menjadi IA-1 (Misalkan dengan menggunakan OBE. bila determinan ≠ 0. Sebaliknya.I= ⎢ a 22 ⎥ ⎣0 1⎦ ⎦ a12 1 0⎤ a 22 0 1 ⎥ ⎦ (II. antara lain : C. matriks seperti ini disebut matriks singular.hmymsc AA-1 = A-1A = U Untuk menyelesaikan persamaan (II. maka tidak ada inverse dari matriks tersebut. Beberapa metoda yang dapat dilakukan untuk menghitung harga inverse matriks. kedua sisi dapat dikalikan dengan A-1. dalam hal ini I adalah matriks satuan) AI adalah matriks eksistensi atau augmented matrix. matriks disebut matriks non singular dan mempunyai matriks inverse. Bila determinan dari matriks berharga Nol. yaitu matriks yang dibentuk dengan meletakkan matrik I disebelah kanan matriks A. seperti : ⎡a11 A= ⎢ ⎣a 21 ⎡a11 AI = ⎢ ⎣a 21 ⎡1 0⎤ a12 ⎤ ⎥ .4-3) Bila dengan transformasi elementer dapat diusahakan AI menjadi sebagaimana ilustrasi berikut: . sehingga : Ax = b A-1Ax = A-1 b Ux = A-1 b x = A-1 b orde dari kesemua matriks diatas harus dijaga sama.4-2).Misalkan matrik A yang diperluas adalah sebagai berikut: ⎡a 11 AI = ⎢a ⎣ 21 Maka a 12 a 22 a 13 a 23 a 14 ⎤ a 24 ⎥ ⎦ (II.4-4) 13 . 1 METODA GAUSS-JORDAN Bila A adalah sebuah matriks bujur sangkar non singular berdimensi n x n.

N IF(I.J) ENDIF CONTINUE 10 20 30 Gambar I-2.4-4) dapat dipergunakan metoda GAUSS-JORDAN dengan Program sederhana pada Gambar I. 2 METODA DOOLITLE Metoda ini bertitik tolak dari dekomposisi matriks A menjadi matriks L dan U.P*A(K. sebagai berikut : A=LU Karena untuk suatu matriks inverse harus dipenuhi A A-1 = I Maka (L U) (L U)-1 = I L U U-1 L-1 = I L L-1 = I Dengan demikian A-1 = U-1 L-1 14 . Program Inverse matriks dengan metoda Gauss-Jordan.J)/P DO 30 I = 1.2*N A(K. 2*N A(I.PENGKOM ' ' ' ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥→ ⎥→⎢ ⎢a ⎣ 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎣a 21 a 22 a 23 a 24 ⎦ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ⎡1 ⎢ ⎢0 ⎣ ' a 12 ' a 13 a '22 a '23 ' ' ' ' a 14 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 a 14 ⎤ ⎥ →⎢ ⎥→ ' ' a '24 ⎥ ⎢0 1 a '23 a '24 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ '' '' 0 a 13 a 14 ⎤ ⎥ → dengan demikian '' '' 1 a 23 a 24 ⎥ ⎦ '' ⎡ a11 A-1 = ⎢ '' ⎢ a 21 ⎣ '' a12 ⎤ '' ⎥ a 22 ⎥ ⎦ Cara yang dapat digunakan untuk penyelesaian dari persamaan (II.N P = A(K.4-3) menjadi (II.J) . berikut : DO 30 K = 1.J) = A(K.BAB 1 .K) DO 20 J = 1.J) = A(I. C.NE.K)THEN P = A(I.2.K) DO 10 J = 1.

4-9) . 4 METODA CHOLESKY Metoda ini bermanfaat untuk mencari inverse matriks simetris berdiagonal kuat. dengan memanfaatkan teknik dekomposisi A = LU. metoda Crout memerlukan waktu dan ingatan komputer yang cukup besar dalam penyelesaian inverse matrik. 3 METODA CROUT Metoda ini mirip dengan metoda Doolitle. invers A-1 dapat dicari dengan menghitung invers matriks segitiga atas U dan segitiga bawah L dan mengalikan kedua invers matriks tersebut. perbedaannya hanya terletak pada pendefinisian matriks L dan U. berharga positif yang umumnya terdapat pada matriks admitansi bus suatu sistem tenaga elektrik. C.hmymsc Dengan cara ini. karena mampu menghemat penggunaan ingatan komputer. yakni memanfaatkan inverse dari matriks U dan L. sehingga tidak efisien. seperti berikut ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡ 1 0 0⎤ ⎡U11 U12 U13 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢L 1 0 ⎥ ⎢ 0 U22 U23 ⎥ → Doolitle (II. yaitu : A-1 = U-1 L-1 . (Cara ini tidak dibahas lebih lanjut) C. Metoda ini juga dapat digunakan untuk sistem-sistem besar. Untuk matriks simetris berlaku : A = AT Maka L U = (L U)T atau L U = UT LT Artinya L = UT dan U = LT Jadi dekomposisi menjadi A=LU A = L LT Maka 15 (II.4-7) ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 1 ⎥ ⎢ 0 0 U33 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎦ ⎣ ⎣ ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡1 U12 ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 1 ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ U13 ⎤ U 23 ⎥ → Crout ⎥ 1 ⎥ ⎦ (II. oleh karena itu pembahasan tentang kedua metoda ditiadakan.4-8) Seperti halnya dengan metoda Doolitle.

persamaan umum untuk memperoleh elemen-elemen matriks L adalah : Lkk = akk . perhatikan hal berikut : ⎡a11 a12 a13 ⎤ ⎡L11 0 0 ⎤ ⎡L11 L 21 L31 ⎤ ⎢a a a ⎥ = ⎢ L L 0 ⎥ ⎢0 L L ⎥ 22 32 ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢L31 L32 L33 ⎥ ⎢0 0 L33 ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Apabila kita perkalikan kedua matriks LLT.4-10) Dekomposisi dari matriks simetris A menjadi LLT dapat dilakukan dengan lebih cepat daripada dekomposisi LU. k pers) untuk =1..L32L32 Dalam bentuk umum....BAB 1 .4-12) (L31L31 + L32L32 + L33L33)⎥ ⎦ penyelesaian dari persamaan (II. -1 k Dari persamaan (II. k n (II.4-13) dan uraian sebelumnya.∑Lij Lkj ⎟ Lki = ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ k -1 untuk =1.L31L31 .4-11) ⎤ ⎥ (L21L31 + L22L32) ⎥ (II.∑Lkj Lkj j =1 i -1 ⎛ ⎞ ⎜aki .4-12) diperoleh hubungan berikut ini : a 11 = L11 L11 → L11 = a 11 a 12 = a 21 = L11 L 21 → L12 = L 21 = a 12 /L11 a 13 = a 31 = L 11 L 31 → L 13 = L 31 = a 13 /L 11 a 22 = L 21 L 21 + L 22 L 22 → L 22 = a 22 .2.L 21L 21 a 23 = a 32 = L31 L21 + L32 L22 → L23 = L32 = (a32 .n (Jml. terlihat bahwa hargaharga elemen matriks dapat dihitung langsung secara berurutan dengan urutan sebagai berikut : 16 .... didapat : ⎡(L11L11) [A] = ⎢(L21L11) ⎢ ⎢(L31L11) ⎣ (L11L21) (L22L22 + L21L21) (L31L21 + L32L22) (L11L31) (II.PENGKOM A-1 = (L LT)-1 A-1 = (LT)-1 L-1 (II...4-13) untuki =1..2.2..L31L21 ) / L22 a33 = L31 L31 + L32 L32 + L33 L33 →L33 = a33 ...

langkah berikut adalah melakukan hal berikut : 1 Mencari L-1 2 Mencari (LT)-1 3 Memperkalikan (LT)-1 L-1 Andai matriks segitiga bawah L. K-1 JMLH = JMLH + A(K.I) – JMLH)/A(I.I) JMLH = 0 D0 50 J = 1.*)A(J. baik dalam bentuk LT atau L. K-1 JMLH = 0 DO 30 J = 1. urutan operasi memungkinkan kita menggunakan file yang sama untuk menyimpan data hasil dekomposisi atau data matriks L dan kita hanya memerlukan entry-entry matriks segitiga.K) = SQRT((A(K. N READ(1. dan kita hanya memerlukan entry-entry matrik A sebaris demi sebaris. Program sederhana dekomposisi Cholesky Setelah diperoleh dekomposisi matriks A. sehingga jika diperlukan data matriks A dapat disimpan dalam file dan dibaca saat dibutuhkan saja. N DO 40 I = 1. Selain hal tersebut. N DO 10 J = I. yang diperoleh adalah sebagai berikut: 17 10 20 30 40 50 60 .I) = (A(K.J)*A(K. I-1 JMLH = JMLH + A(I.K) – JMLH)) Gambar I-3.J) A(K. seperti ditunjukkan dalam Program sederhana pada Gambar I-3.J)*A(K. berikut ini : DO 20 I = 1.J) A(K.I) CONTINUE DO 60 K = 1.hmymsc ⎡1 ⎤ ⎡1 2 4 ⎤ ⎢2 3 ⎥ ⎢ 3 5⎥ ⎥ ⎢ ⎥ atau ⎢ ⎢4 5 6⎥ ⎢ 6⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ tergantung pada cara entry matriks A Pada metoda Cholesky ini jelas terlihat ada keuntungan tambahan yang dapat diperoleh dari proses baris demi baris.

. N B(I..n kj i -1 ⎞ ⎟ / L ii = .. Untuk mencari L-1... berikut ini.b ii ( ∑ L ik b kj ⎟ k = j ⎠ Un tuk i = 2.2. rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B adalah : bii ← 1/Lii ⎛ i -1 b ij ← .. I-1 18 .. dapat dimisalkan matriks lain B = L-1.PENGKOM ⎡L11 ⎤ ⎢L L ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎣ ⎦ Inverse dari matriks L adalah L-1 yang memenuhi LL-1 = I. N DO 30 J = 1..I) = 1. 10 DO 10 I = 1..⎜ ∑ L ik b ⎜ ⎝k=j i = 1.3... n dan j = 1...2..0/L(I.4-14) Jika kita perkalikan matriks LB diatas. n Program sederhana inverse matriks segitiga bawah diberikan dalam Gambar I-4.BAB 1 .(L32b21 + L33b31) / L33 Dalam bentuk umum. diperoleh hubungan berikut : 0 0 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎡(L11b11) ⎢(L b + L b ) (L22b22 ) 0 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎢ 21 11 22 21 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢(L31b11 + L32b21 + L33b31) (L32 b22 + L33 b32 ) (L33b33 )⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Atau L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 L 21 b11 + L 22 b 21 = 0 L 32 b 22 + L 33 b 32 = 0 → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 → b 21 = .(L 21 b11 ) / L 22 → b 32 = -(L 32 b 22 ) / L 33 L31b11 + L32b21 + L33b31 = 0 → b31 = .. I-1 JMLH = 0 DO 20 K = 1. . maka : ⎡L11 ⎤ ⎡b11 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎢L L ⎥ ⎢b b ⎥ = ⎢0 1 0 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ 21 22 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢L 31 L 32 L 33 ⎥ ⎢b 31 b 32 b 33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ (II....I) D0 40 I = 2.

rumus-rumus untuk memperoleh elemen-elemen matriks B.(L12 b 22 ) / L11 L 22 b12 + L 23b 33 = 0 → b 23 = -(L23b33 ) / L 22 L31b13 + L32b23 + L13b33 = 0 → b13 = . dapat ditulis dalam empat bagian berikut : bii ← 1/Lii i = 1.2. .. n b kj i = 1. berikut: 19 .(L12b23 + L13b33) / L11 Dalam bentuk umum.n bij = −a ijbij /a ii i = 1.. tahap berikut adalah menghitung inverse dari LT.. Untuk mencari(LT)-1.3 dan j = i + 3. maka : ⎡L11 L12 L13 ⎢ L 22 L 23 ⎢ ⎢ L33 ⎣ L11 b11 = 1 L 22 b 22 = 1 L 33 b 33 = 1 ⎤ ⎡b11 b12 b13 ⎤ ⎡1 0 0⎤ ⎥⎢ b 22 b 23 ⎥ = ⎢0 1 0⎥ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ b33 ⎥ ⎢0 0 1⎥ ⎦ ⎦ ⎣ ⎦⎣ → b11 = 1/L11 → b 22 = 1/L 22 → b 33 = 1/L 33 (II. .. .J) B(I.J) = B(I. .K)*B(K.2.. n k =2 ik Program sederhana inverse matriks segitiga atas diberikan dalam Gambar I-5.2. n .. Program sederhana inverse matriks segitiga bawah Setelah inverse matriks segitiga bawah diperoleh. n . Andai kita memiliki matriks segitiga atas (transpose dari matriks segitiga bawah L). dapat dimisalkan matriks lain B = (LT)-1. .2 dan j = i + 2. sebagai beikut : ⎡L11 L12 L13 ⎤ ⎢ L 22 L 23 ⎥ ⎥ ⎢ ⎢ L33 ⎥ ⎦ ⎣ Inverse dari matriks LT adalah (LT)-1 yang memenuhi LT (LT)-1 = I.2.4-14b) Jika kita perkalikan matriks LB diatas.. diperoleh hubungan berikut : L11b12 + L12 b 22 = 0 → b12 = . n .I)*JMLH CONTINUE Gambar I-4...hmymsc 20 30 40 JMLH = JMLH – L(I..1 dan j = i + 1 bij = − bij = − 1 a ii 1 a ii k =2 j ∑a ∑a j ik b kj i = 1.

J) B(I.K)*B(K. akan diperoleh elemen matriks L.PENGKOM DO 10 I = 1. berikut: 20 .J) B(I. N-2 DO 40 J = I+2.J) = JMLH/L(I. N JMLH = 0 DO 30 K = 2.J)/L(I.0/L(I. N 10 B(I.I) D0 20 I = 1.J) =JMLH/L(I.J) = -L(I.I) CONTINUE 70 80 CONTINUE Gambar I-5. CONTOH 1.J)*B(J. Gambar I-4. J 30 JMLH = JMLH – L(I. N-1 J=I+1 B(I.Berdasarkan persamaan (II. Gambar I-5 dan Gambar I-1.I) = 1.K)*B(K.4-13). Program sederhana inverse matriks segitiga atas Dengan demikian penyelesaian inverse matriks A dengan metoda Cholesky dapat dikerjakan dengan menggabungkan program pada Gambar I-3. N JMLH = 0 DO 60 K = 2.3 Gunakan metoda Cholesky untuk menentukan inverse matrik berikut: ⎡4 ⎢2 ⎢ ⎢2 ⎣ 2 4 2 2⎤ 2⎥ ⎥ 4⎥ ⎦ Penyelesaian .I) 20 CONTINUE DO 50 I = 1. J 60 JMLH = JMLH –L(I.BAB 1 .I) 40 CONTINUE 50 CONTINUE DO 80 I = 1. N-3 DO 70 J = I+3.

5. Adalah mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih vektor kolom (vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear atau lainnya..+ qm {rm} = 0 Adalah tidak mungkin untuk mengekspresikan satu atau lebih lebih vektor kolom bebas (atau vektor baris) sebagai suatu kombinasi linear lainnya.2.{cn}. vektor baris tidak bebas linear.n). maka determinan A adalah Nol. Jika beberapa pk ≠ 0 memenuhi persamaan (). Masing-masing disebut Rank kolom dan rank baris. 5. Jika beberapa qr ≠ 0. tinjau matriks A. 2 RANK MATRIKS Rank matriks A berdimensi m x n adalah sama dengan jumlah maksimum dari kolom-kolom bebas linear dari A atau jumlah maksimum baris-baris bebas linear dari A. memenuhi persamaan (). I.. Rank matriks sama dengan orde terbesar non vanishing determinan A. 1 KETIDAK BEBASAN LINEAR Kolom-kolom dari matriks A berdimensi m x n dapat ditulis sebagai vektor-vektor n kolom {c1}{c2}……. Rank kolom sama dengan Rank baris. Sebagai contoh.…….2. Demikian pula halnya vektor baris adalah bebas linear jika hanya harga Nol skalar qr (r =1.m) memenuhi persamaan q1 {r1}+ q2 {r2}+ …….+ pn {cn} = 0 memenuhi hanya untuk semua pk = 0 (k = 1. vektor kolom tidak bebas linear. berikut ini: 21 .hmymsc ⎡ ⎢2 ⎢ [L] = ⎢1 ⎢ ⎢ ⎢1 ⎣ 0 3 1 3 ⎤ 0⎥ ⎥ 0⎥ ⎥ 8⎥ 3 ⎥ ⎦ I.. Bilamana vektor kolom (vektor baris) dari matriks A adalah tidak bebas linear. Vektor kolom adalah bebas linear jika persamaan: p1 {c1}+ p2 {c2}+ …….…. Demikian pula baris-baris matriks A dapat ditulis sebagai vektor-vektor m baris {r1}{r2}…{rm}. 5 KETIDAK BEBASAN LINEAR DAN RANK MATRIKS I.

q2 = 0. Gunakan beberapa metoda yang dikemukan dalam beberapa subbab diatas untuk menghitung inverse matrik-matrik berikut ini: 22 . SOAL-SOAL BAB 1 1.3 untuk menghitung determinan berikut ini: 2 1 4 3 -1 4 2 1 5 6 7 2 1 3 4 5 2. Gunakan metoda yang dikemukan dalam subbab I. maka Rank matriks adalah 2 1. karena persamaan ⎧1 ⎫ ⎧2 ⎫ ⎪ ⎪ p 1 = ⎨ 2 ⎬ + p2 = ⎪ 4 ⎪ + p3 ⎨ ⎬ ⎪3 ⎪ ⎪8 ⎪ ⎩ ⎭ ⎩ ⎭ ⎧4 ⎫ ⎪ ⎪ ⎨8 ⎬ = 0 ⎪10⎪ ⎩ ⎭ Memenuhi untuk p1 = 6 . p2 = -1. dan p3 = -1 Karena tidak 2 kolom bebas linear.PENGKOM ⎡1 ⎢ A = ⎢2 ⎢3 ⎣ 2 4 8 4⎤ 8⎥ ⎥ 10⎥ ⎦ Baris-baris adalah tidak bebas linear. Tentukan inverse dari matriks-matriks berikut ini: ⎡1 (2a). 6.BAB 1 . karena persamaan q1 {1 2 4} + q2 {2 4 8} + q3 {3 8 10} = 0 Memenuhi untuk q1 = 0 .⎢ ⎣3 2⎤ 4⎥ ⎦ ⎡1 1 3 ⎤ (2b) ⎢ 2 5 9⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 1 0 ⎥ ⎣ ⎦ ⎡8 (2c) ⎢ ⎣6 23 9 33⎤ 21⎥ ⎦ 3. dan q3 = 0 Sama halnya dengan kolom-kolom tidak bebas linear.

hmymsc

⎡12 ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣

-6 5 -1

0⎤ - 1⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡1 - 2 ⎢2 0 ⎢ ⎢1 1 ⎣

3 ⎤ - 3⎥ ⎥ 1⎥ ⎦

⎡2 ⎢3 ⎢ ⎢2 ⎢ ⎣4

4 6 5 5

3 5 2 14

2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

4. Periksa apakah diantara matriks-matriks berikut yang dapat diperkalikan, tuliskan hasil perkalian yang didapat:
⎡12 [A] = ⎢- 6 ⎢ ⎢0 ⎣ -6 5 -1 ⎡2 3 ⎤ ⎢ ⎥ ; [C] = ⎢3 - 3⎥ ⎢2 1⎥ ⎢ ⎦ ⎣4 ⎡1 - 2 3 ⎤ ⎢2 0 - 3⎥ 0⎤ ⎢ ⎥ ⎥ ; [F] = ⎢1 1 1 ⎥ - 1⎦ ⎢ ⎥ 3 4⎦ ⎣2 0⎤ ⎡1 - 2 ⎥ ; [B] = ⎢2 0 - 1⎥ ⎢ ⎢1 1 1⎥ ⎦ ⎣ 4 6 5 5 3 5 2 14 2⎤ 2⎥ ⎥ - 3⎥ ⎥ 14⎦

⎡12 [E] = ⎢ ⎣- 6

-6 5

23

T E K N I K E L E K T R O

PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA

PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI

2

BAB I1 - PENGKOM

BAB II PENYELESAIAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR

II. 1 PENDAHULUAN
Sistem Persamaan Linear atau sering disingkat SPL (Selanjutnya hanya disebut SPL) dapat diselesaikan dengan dua cara, yaitu : metoda langsung dan metoda iterasi. Untuk SPL dengan jumlah persamaan terbatas, misal n ≤ 3, penyelesaian dapat dilakukan dengan teknik sederhana tanpa memerlukan alat bantu hitung, akan tetapi untuk SPL yang lebih besar penyelesaian semakin rumit dan membutuhkan alat bantu. Beberapa metoda, baik langsung maupun iterasi, sseperti metoda Cramer’s, eliminasi Gauss-Naif, Gauss-Jordan, Crout, dan iterasi Gauss-Seidel dapat digunakan untuk menyelesaikan SPL. Untuk memahami penggunaan metoda-metoda diatas dibutuhkan pengetahuan mengenai matriks. Metoda langsung untuk penyelesaian SPL memiliki kelebihan dibandingkan dengan metoda iterasi, karena jumlah langkah perhitungannya yang pasti. Jumlah operasi hitungan sangat tergantung pada teknik komputasi yang digunakan dan jumlah persamaan itu sendiri. Apabila koefisien persamaan membentuk matriks simetri, penyelesaiannya memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit dibandingkan dengan matriks non-simetri. Strategi preconditioning dengan cara melakukan pemilihan elemen tumpuan atau yang disebut dengan pivoting yang dapat digunakan dalam metoda Gauss dan Gauss-Jordan, serta penggunaan teknik vektor jarang (akan dibahas kemudian) merupakan kemajuan yang dicapai dalam penyelesaian SPL dengan metoda langsung. Metoda iterasi, yang dari segi ingatan komputer yang dibutuhkan tidak akan pernah dapat tersaingi oleh metoda langsung. Kelemahan utama dari metoda ini terletak pada konvergensinya yang sangat lambat. Penggunaan teknik matriks preconditioning akan sangat mempercepat konvergensi.

II. 2 METODA LANGSUNG
Sebelum membicarakan cara bekerja dengan metoda komputasi, akan dijelaskan beberapa metoda yang digunakan untuk menyelesaikan SPL orde kecil (n ≤ 3) yang tidak membutuhkan komputer, seperti metoda Grafis, aturan Cramer’s.

24

dimana absis dan ordinat berhubungan dengan variabel x1 dan x2. 1 METODA GRAFIS Penyelesaian secara grafis untuk persamaan dengan 2 bilangan anu dilakukan dengan cara menggambarkan kedua persamaan pada koordinat kartesian. sebagaimana contoh Gambar II-1. 2. Harga x1 dan x2 dimana kedua garis berpotongan merupakan penyelesaian SPL diatas.⎜ 11 ⎜a ⎝ 12 ⎛a x 2 = . grs-2 X1 Gambar II-1. Untuk lebih jelas tinjau persamaan berikut ini : a 11 x 1 + a 12 x 2 = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 = b 2 Selanjutnya rubah kedua persamaan menjadi bentuk berikut : ⎛a x 2 = . dengan x2 sebagai ordinat dan x1 absis.⎜ 21 ⎜a ⎝ 22 ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 1 ⎜a ⎟ ⎝ 12 ⎠ ⎛ b ⎞ ⎟x 1 + ⎜ 2 ⎜a ⎟ ⎝ 22 ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ ⎞ ⎟ ⎟ ⎠ Kedua persamaan sekarang menjadi dua persamaan garis lurus dengan bentuk umum berikut : x 2 = (slope) x 1 + intercept Kedua garis dapat digambarkan.hmymsc II. Penggunaan metoda grafis pada n = 2 25 . berikut : X2 pers grs-1 X2 X1 pers.

sistem mendekati singular.BAB I1 . Pada keadaan ini dikatakan kedua sistem adalah singular.PENGKOM Metoda grafis sukar dilakukan untuk n > 2. seperti dalam Gambar II-2c. grs-2 pers grs-1 pers. grs-2 pers grs-1 X1 Gambar II-2c. dalam keadaan ini tidak ada penyelesaian yang didapat. grs-2 pers grs-1 Gambar II-2a. X2 X2 pers. memperlihatkan kasus dimana kedua persamaan menghasilkan dua garis paralel. berikut ini. Beberapa contoh diperlihatkan dalam Gambar II-2.……n 26 . Singular X1 X2 pers. ILL CONDITIONED Gambar II-2. dan tidak praktis. Pada kasus lain.2. Beberapa Contoh Kasus SPL dengan n = 2 Pada Gambar II-2a. SPL tanpa penyelesaian X1 II-2b. Pada kasus ini. 2. II. Ill-conditioned sangat berpengaruh dalam penyelesaian SPL secara numeris. karena sangat sensitif terhadap kesalahan pembulatan. terdapat solusi yang tidak terbatas. Pada Gambar II2b. yang berlaku untuk i = 1. namun demikian Metoda grafis sangat membantu dalam memvisualisasikan sifat penyelesaian SPL. kasus ini disebut ILL-CONDITIONED. 2 METODA CRAMER’S Apabila bilangan anu dari suatu SPL orde n adalah sebagai berikut: xi . diperlihatkan dua buah persamaan yang menghasilkan sebuah garis yang hampir sama. dan sangat sukar menentukan penyelesaian exact dari sistem.

hmymsc

Dengan bentuk persamaan Ax = b, maka menurut aturan Cramer’s penyelesaian SPL tersebut adalah : xj = Misal DET j (A) DET (A) dimana j = nomor kolom

⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦
maka
b1 b2 x1 = b3 a 11 a
21

a 12 a
22

a 13 a
23

a 11 b1 a 13 a 21 b 2 a 23 x2 = a 31 b 3 a 33 a 11 a 12 a 13 a 21 a 22 a 23 a 31 a 32 a 33

a 32 a 12 a
22

a 33 a 13 a
23

a 31

a 32

a 33

Teoritis penyelesaian SPL dengan aturan Cramer’s cukup sederhana, namun jumlah operasi akan meningkat bilamana persamaan menjadi besar sehingga tidak efisien. Selain itu cara ini juga sulit dilaksanakan untuk n > 3.
CONTOH 2.1.

Gunakan aturan Cramers untuk menyelesaikan sistem persamaan berikut ini: 0,3 x1 + 0,52x2 + x3 = - 0,01 0,51x1 + x2 + 1,9x3 = 0,67 0,1 x1 + 0,3x2 + 0,5x3 = - 0,44 Penyelesaian Dalam bentuk matriks persamaan diatas
⎡0,3 0,52 1 ⎤ ⎡ x1 ⎤ ⎡- 0,01⎤ ⎢0,51 1,0 1,9⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ 0,67⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0,1 0,3 0,5 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢- 0,44⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦

27

BAB I1 - PENGKOM

Determinan dari SPL diatas

0,3

0,52

1 1,9 0,5

A = 0,51 1,0 0,1 0,3

Minor dari Determinan diatas
a 11 = 1,0 1,9 = (1.0 x0,50) − (1,9 x0,3) = −0,07 0,3 0,5 0,5 0,1 1,9 = (0.5 x0,50) − (1,9 x0,1) = 0,06 0,5

a 22 =

0,5 1,0 = (0.5 x0,30) − (1,0 x0,1) = 0,05 0,1 0,3 Dengan demikian determinan dari SPL diatas dapat dihitung sebagai berikut: a 33 =
A = (0,3 x − 0,07) − (0,52 x0,06) + (1,0x0,05) = −0,0022

Berikutnya adalah menghitung harga-harga xi :
b1 b2 x1 = b3 a 12 a 22 a 32 A a 13 a 23 a 33 = - 0,01 0,67 - 0,44 0,52 1,0 0,3 1,0 1,9 0,5

- 0,0022

= -14,9

a 11 =

b1

a 13 a
23

a 21 b 2 x a 31 b 3 A a 11 x = a 12
2

0,3 0,5 = 0,1

- 0,01 0,67 - 0,44 - 0,0022

1,0 1,9 0,5 = -29,5

a 33

b1 b2 b3 =

a 21 a 22 a 31 a 32 A
2

0,3 0,5 0,1

0,52 1,0 0,30 - 0,0022

- 0,01 0,67 - 0,44 = 1 9 ,8

II. 2. 3 METODA ELIMINASI BILANGAN ANU
Secara umum sebuah SPL berukuran n variabel dapat dituliskan sebagai berikut:

28

hmymsc

a 11 x 1 + a 12 x 2 + ......... + a 1n x n = b1 a 21 x 1 + a 22 x 2 + ......... + a 2n x n = b 3 a 31 x 1 + a 32 x 2 + ......... + a 3n x n = b 3 .................................................... a n1 x 1 + a n2 x 2 + ......... + a nn x n = b n
Yang dapat dinyatakan dalam bentuk matriks : (II.2-1)

Ax=b
anu, dan b vektor kolom konstanta. Penyelesaian persamaan (II.2-1) dilakukan

(II.2-2)

Dimana A adalah matriks koefisien aij berdimensi n x n, x matriks kolom dari bilangan dengan metoda langsung

menggunakan OBE yang secara bertahap mengeliminasi variabel-variabel dari suatu persamaan ke persamaan. Bentuk antara yang paling disukai untuk mencapai penyelesaian yang memenuhi kriteria tertentu adalah bentuk segitiga berikut :
u 11 x 1 + u 12 x 2 + .......... .......... ..... + u 1n x n = c 1 u 22 x 2 + .......... .......... .... + u 2n x n = c 3 u 32 x 2 + ......... + u 3n x n = c 3 u nn x n = c n

(II.2-3)

u mm x m + u mn x n = c m

Atau dalam bentuk matriks
Ux=c

(II.2-4)

Bentuk persamaan (II.2-3) dapat diselesaikan secara bertahap dari persamaan ke n, xn dapat dihitung langsung. Berikutnya adalah xn-1 dihitung dari persamaan n-1, demikian seterusnya sehingga sampai pada persamaan pertama. Program sederhana perhitungan ini diberikan dalam Gambar II-3, berikut ini : X(N) = C(N)/U(N,N) DO 20 I = N-1,1 JMLH = 0 DO 10 J = I+1, N JMLH = JMLH + U(I,J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I,I) Gambar II-3. Program sederhana Penyulihan Surut (PS)

10 20

29

BAB I1 - PENGKOM

Langkah-langkah penentuan harga xi seperti program diatas disebut Penyulihan Surut atau disingkat PS.
CONTOH 2.2

Gunakan metoda eliminasi bilangan anu untuk menyelesaikan persamaan berikut ini: 3x1 + 2x2 = 18 -x1 + 2x2 = 2 Penyelesaian
b1 x1 = b2 a 12 a 21 = a 21 b1 - a 12 b 2 =4 a 11 a 22 - a 12 a 21

a 11 a 12 a 21 a 22 a 12 b1 b2

x2 =

a 21

a 11 a 12 a 21 a 22

=

a 12 b 2 - a 21 b1 =3 a 11 a 22 - a 12 a 21

II. 2. 4 METODA ELIMINASI GAUSS-NAIF
Untuk mencapai bentuk antara seperti pada persamaan (II.2-3) dari bentuk awal persamaan (II.2-1), dapat dilakukan dengan eliminasi Gauss yang bekerja menghilangkan variabel xi dari persamaan ke i + 1 samapai ke n, dengan menggantikannya dengan pernyataan dalam variabel lain yang diperoleh dari persamaan ke i sebagai baris tumpuan, dan elemen aii sebagai elemen tumpuan, untuk lebih jelasnya perhatikan ilustrasi berikut ini:
⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 1 1⎥ 1 1 1⎥ ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢ 0 a 22 a 23 b 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢ 0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎢ 0 0 a 2 b 2 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ 23 33 3 ⎦ 33 3 ⎦ ⎣

Adapun urutan operasi perhitungan dari ilustrasi diatas adalah 1. LANGKAH PERTAMA • Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21, a31,……..,an1

30

1) do 10 j = 2. a42.. elemen pivot elemen a11 Operasi pada baris ke 2.n p = a(i.hmymsc • • Baris pivot : baris 1.j) = a(i. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o o a 1 ← a 33 − p a 13 33 a 1 ← a 34 − p a 14 34 b1 ← b 3 − p b1 3 Secara umum langkah pertama diatas dapat dinyatakan dalam program sederhana adalah sebagai berikut : do 20 i = 2.j) a(i.n a(i..1) = 0 c(i) = c(i) – p * c(1) 10 20 2.an2 Baris pivot : baris 2.……. LANGKAH KEDUA • • • Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32. dengan pivot (p) = a21/a11 o o o o o a 1 ← a 21 − p a 11 = 0 21 a 1 ← a 22 − p a 12 22 a 1 ← a 23 − p a 13 23 a 1 ← a 24 − p a 14 24 b1 ← b 2 − p b1 2 a 1 ← a 31 − p a 11 = 0 31 a 1 ← a 32 − p a 12 32 • Operasi pada baris ke 3.1)/a(1. dengan pivot (p) = a32/a22 o o o o 2 a 32 ← a 32 − p a 22 = 0 2 a 33 ← a 33 − p a 23 2 a 34 ← a 34 − p a 24 2 c3 ← c3 − p c 2 31 .j) – p * a(1. elemen pivot elemen a22 Operasi pada baris ke 3.

DO 30 K = 1.K) DO 10 J = K+1. Untuk menyelesaikan SPL dengan metoda Gauss-Naif diperlukan langkah-langkah PM dan PS. N P = A(I.n a(i.j) a(i. 1 PERANGKAP-PERANGKAP Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif tidak efektif dan mengalami penyimpangan adalah : 32 . 4.BAB I1 . 2.j) – p * a(2.n p = a(i. Program Penyulihan Maju Langkah-langkah eleiminasi variabel x seperti program diatas disebut dengan Penyulihan Maju (PM).J) A(I. dengan pivot (p) = a31/a11 o o o o a 2 ← a 42 − p a 22 = 0 42 a 2 ← a 43 − p a 23 43 a 2 ← a 44 − p a 24 44 c2 ← c4 − p c2 4 Secara umum langkah kedua diatas dapat dinyatkan dalam program sederhana sebagai berikut: do 20 i = 3. Untuk SPL berukuran n.PENGKOM • Operasi pada baris ke 3.j) = a(i. N-1 DO 20 I = K+1.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) CONTINUE Gambar II-4. 10 20 30 II. N A(I.2) = 0 c(i) = c(i) – p * c(2) 10 20 Demikian seterusnya.K)/A(K.J) – P * A(K.J) = A(I.2) do 10 j = 3. sehingga secara keseluruhan proses operasi menjadi seperti dalam Gambar II-4. penyelesaian dilakukan langkah demi langkah. dibutuhkan n-1 langkah eliminasi.2)/a(2.

demikian pula halnya bilamana a11 ≈ 0 C. SISTEM BERKONDISI BURUK Suatu sistem berkondisi buruk (lihat ilustrasi Gambar II-2c) memiliki ciri antara lain sebagai berikut : 1). dapat mengakibatkan pembagian dengan nol. Ilustrasi berikut ini akan menunjukkan hal tersebut. B. atau salah satu koefisien persamaan berharga nol. Bila terjadi perubahan-perubahan kecil pada koefisiennya akan mengakibatkan perubahan besar dalam solusinya.4 Penyelesaian x1 = x2 = a 22 c1 − a 12 c 2 =4 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =3 a 11a 22 − a 21a 12 Bilamana persamaan dirubah menjadi x 1 + 2 x 2 = 10 1.4 33 .3 2x 1 + x 2 + 6x 3 = 5 Normalisasi kolom 1 akan menyebabkan pembagian dengan nol.5x 1 + 2 x 2 = 10.hmymsc A. 2x 2 + 3x 3 = 8 4x 1 + 6x 2 + 7x 3 = . sebab a11 = 0. PEMBAGIAN DENGAN NOL Apabila koefisien persamaan terlalu kecil mendekati nol. GALAT PEMBULATAN Galat pembulatan akan sangat berpengaruh bagi SPL ukuran besar.1x1 + 2 x 2 = 10. dan 2) Determinan ≈ NOL. Sebagai ilustrasi perhatikan SPL berikut : x1 + 2 x 2 = 10 1. karena setiap hasil perhitungan akan dipengaruhi oleh hasil perhitungan sebelumnya.

6150 LANGKAH KEDUA o Eliminasi x2 atau menolkan koefisien : a32 o Baris pivot : baris 2.19000x2 .0000 − (0.40 Penyelesaian 1) Bagian pertama dari solusi dengan menggunakan metoda Gauss-Naif adalah penyulihan maju.3 a 22 c1 − a 12 c 2 =8 a 11a 22 − a 21a 12 a 11c 2 − a 21c1 =1 a 11a 22 − a 21a 12 Gunakan metoda eliminasi Gauss-Naif untuk menyelesaikan persamaan berikut ini dengan menggunakan enam angka bena 3x1 .1x1 .000) x(−0.BAB I1 .10x3 = 71.2 − (0.7x2 . dengan langkah-langkah sebagai berikut: LANGKAH PERTAMA o Eliminasi x1 atau menolkan koefisien : a21.1000 / 3.0.0.561700 .293333x3 = -19.0.85 0.3x1 . dengan pivot (p) = a21/a11 = (0.1/3) o a 1 = a 21 − p a 11 = 0 21 o o o o a 1 = a 22 − p a 12 = 7.0.000000x1 .3000 / 3.0.1000) = 7.850000 7.02000x3 = 70.200000x3 = 7.85) = 19.1900000 32 a 1 = a 33 − p a 13 = 10. dengan pivot (p) = a31/a11 = (0.3x3 = -19.293333 23 b1 = b 2 − p b1 = −19.3/3) o a 1 = a 31 − p a 11 = 0 31 o o o a 1 = a 32 − p a 12 = −0.3 − (0.003330 22 a 1 = a 23 − p a 13 = −0.2x2 .2) = −0.PENGKOM Penyelesaian menjadi x1 = x2 = CONTOH 2. elemen pivot elemen a22 34 .2x3 = 7.0.1x2 . a31 o Baris pivot : baris 1.0.561700 2 Operasi pada baris ke 3.100000x2 .3 − (0.6150000 3 Setelah langkah pertama persamaan menjadi: 3.020000 33 b1 = b 3 − p b1 = −70.10.1000) = 0.000) x(−0.1 / 3) x(−0. elemen pivot elemen a11 o Operasi pada baris ke 2.30 0.0.1 / 3) x(7.003330x2 .

084300 2) Bagian kedua dari penyelesaian adalah penyulihan surut.000000x1 .293333x3 = -19.003330x2 . SCALLING A.00333) 2 2 o a 32 = 0 a 33 = a 1 − p a 1 = 10. dengan pivot (p) = a32/a22 = (-0.293333x3 = -19. antara lain : A.1 / 3) x(−0.0843000 3 2 Setelah langkah kedua persamaan menjadi: 3.003330x2 .0. didapat: 7.293333)(7.200000x3 = 7.19/7.561700 x2 = -2.0120 33 23 o o a 1 = a 23 − p a 13 = −0. 2 PERBAIKAN-PERBAIKAN Beberpa metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi perangkapperangkap diatas. untuk harga x1 didapat: x1 = o o II. 1 Pivoting Parsial Strategi pemilihan elemen pivot pada awal eliminasi baik dari elemen baris atau kolom (pivoting total).293333 23 2 b 3 = b1 − p b1 = 70.003330x2 .0000000 Dengan cara sama.2) = −0. 2.(0.561700 10. yaitu: x3 = 70.100000x2 . PIVOTING C.084300/10. atau hanya pada elemen baris atau elemen kolom saja (pivoting parsial) dengan memilih elemen yang memiliki nilai mutlak pada kolom yang bersangkutan.01200x3 = 70.3 − (0.561700 7.500000 3.000030) = -19.01200 = 7. 4.000030 Substitusi hasil tersebut kedalam persamaan kedua.850000 7. dengan langkahlangkah sebagai berikut: o Dari persamaan ketiga dapat diperoleh x3.hmymsc o Operasi pada baris ke 3.0.0.0. dengan cara sebagaimana ilustrasi berikut: Misal : 35 . Memperbanyak Penggunaan Angka Bena B.

an-12. a32. sehingga didapat matriks berikut. 36 . sehingga matriks menjadi : ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ dan ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 a 43 a 44 b 4 ⎦ ⎡ a 11 a 12 a 13 a 14 b 1 ⎤ ⎢0 a a a b ⎥ [Ab ] = ⎢ 32 33 34 3 ⎥ ⎢ 0 0 a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ 0 0 0 a 44 b 4 ⎦ o Demikian seterusnya sampai proses eliminasi dapat diselesaikan. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a22. dengan demikian tidak dibutuhkan pertukaran baris. Langkah berikutnya adalah mengeliminasi x1 dari persamaan pada baris ke 2 sampai ke n. sehingga matriks menjadi : ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 32 ⎢ 0 a 22 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ Berikutnya adalah mengeliminasi x2 dari persamaan baris ke 3 sampai ke n. Misalkan a32 merupakan elemen terbesar. an1}. dengan mencari harga maksimum dari elemen-elemen {a11. a21. an2}.………an-11. maka diperlukan pertukaran antara baris 2 dan 3.BAB I1 . karena elemen tersebut tidak berada dalam baris pivot. ⎡a 11 a 12 ⎢0 a [Ab] = ⎢ 22 ⎢ 0 a 32 ⎢ ⎣ 0 a 42 a 13 a 14 b1 ⎤ a 23 a 24 b 2 ⎥ ⎥ a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎥ a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 2 adalah memilih elemen pivot pada kolom kedua.………….PENGKOM ⎡a 11 a 12 a 13 a 14 b1 ⎤ ⎢a a a a b ⎥ [Ab] = ⎢ 21 22 23 24 2 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 a 34 b 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a 41 a 42 a 43 a 44 b 4 ⎦ o Langkah 1 adalah memilih elemen pivot dari kolom pertama. Program sederhana pivoting parsial disajikan dalam Gambar II-5 berikut. Misalkan a11 adalah elemen maksimum.

J) A(L.J) = DUMMY 20 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY DO 40 K = 1.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY Gambar II-5.K)THEN DO 20 J = K. Program sederhana pivoting parsial Dengan demikian program eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial dapat disajikan. yang merupakan gabungan dari Gambar II-5. II-4.(ABS(A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.K)).J) A(K.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.J) A(K. N DUMMY = A(L.EPSILON)THEN WRITE(*.K)). N 10 37 .NE.(ABS(A(L. N DUMMY = A(L. dan II-3 seperti disajikan dalam Gambar II-6 berikut ini L=K DO 10 I = K+1.J) = A(K. N IF(ABS(A(I.LE.EPSILON)THEN WRITE(*.hmymsc 10 10 L=K DO 10 I = K+1.K)).J) = A(K.GT. N IF(ABS(A(I.GT.NE.K)).LE. N-1 DO 40 I = K+1.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 90 ENDIF IF(L.K)THEN DO 20 J = K.J) A(L.

9999x2 = -6666 x2 = -6666/9999 = 2/3 x1 = 2.J) – P * A(K.0000x2 = 6667 Eliminasi dari x1 dari persamaan kedua.000 x2 2.000)x2 = (1 – (1/0.0000x2 = 6667 9999x2 = -6666 Penyelesaian menjadi .0000x2 = 1.4 Selesaikan persamaan berikut menggunakan metoda eliminasi Gauss-Naif dengan pivoting parsial 0.0003 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.0003 0. diperoleh: 1. 38 .K)/A(K.PENGKOM 30 40 60 70 90 P = A(I.0000 .1 JMLH = 0 DO 60 J = I+1.0001 − 3.0000x2 = 1.0003)10.K) = 0 C(I) = C(I) – P * C(K) X(N) = C(N)/U(N.0000x1 + 10.0000x1 + 1. maka 1.J) A(I.0000x1 + 10.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 0.0000x1 + 1.K) DO 30 J = K+1.0001 − (3.0003x1 + 3.0000x2 = 2.J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I.BAB I1 .N) DO 70 I = N-1.0001 1. N A(I. N JMLH = JMLH + U(I.0003).I) END Gambar II-6.000/0. Penyelesaian SPL dengan Eliminasi Gauss menggunakan pivoting parsial CONTOH 2.J) = A(I.0003) 6667 sehingga persamaan menjadi: 1.(1 – (1/0.0000 Penyelesaian 1) Penyelesaian tanpa pivoting o Kalikan persamaan pertama dengan (1.

666667 0.330000 0.30000 0.00001 o Hasil ini memperlihatkan bahwa strategi pivoting lebih baik 39 .0000x2 = 1.9997x2 = 1.0001 o Eliminasi baris 2 dengan p = 0.000)1. diperoleh: 0. persamaan menjadi: 1.9998/2.3330000 Kesalahan relative untuk x1 1099 100 10 1 0.33 0.0001 .667 0.6666667 X1 0.0000x1 + 1.001 0.0000x1 + 1.9998 x2 = 1.(3 – (0.6667 0.0000 0.9998 Penyelesaian menjadi 2.000.0003/1.0000x2 = 2.9997x2 = 1.66667 0.3333333 Kesalahan relative untuk x1 0.000)1.667 0.0001 0.0000x2 = 2.6666667 X1 -3.33333 0.000)(2 / 3) = > hasil tergantung jumlah 1.0000 2.333333 0. Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.0000x2 = 1.0000 − (1.333 0..0000 − 1.3333 0.000 x2 1.0001 – (0.666667 0.0003x1 + 3.1 Penyelesaian dengan pivoting parsial o Pilih a22 sebagai element pivot.000 sehingga persamaan menjadi: 1.0000 1.9997 = 2/3 x1 = 1.1 0.0003/1.0003/1.6667 0.0000 0.000)x2 = (2.0003x1 + 3.01 0.66667 0.0000 angka bena yang digunakan o o o Berikut diberikan hasil perhitungan dengan beberapa kombinasi angka bena.hmymsc o Jumlah angka bena 3 4 5 6 7 X2 0.

J) . 5 METODA GAUSS-JORDAN Metoda Gauss-Jordan adalah variasi dari metoda eliminasi Gauss. N+1 A(I. semua elemen dieliminasi dari seluruh persamaan. Konsekuensi dari hal ini adalah penyelesaian akhir tidak membutuhkan Penyulihan Surut (PS).P*A(K. harga xi akan diperoleh : → ⎢ x 2 ⎥ = ⎢b 3 ⎥ 2 ⎢ x ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ 3⎦ ⎣ 3⎦ Program sederhana untuk melaksanakan prosedur yang digambarkan dalam ilustrasi diatas dengan melaksanakan prosedur pivoting lebih dahulu disajikan dalam Gambar II7.BAB I1 . N IF(I. dengan kata lain.PENGKOM II. Perhatikan ilustrasi berikut : 1 1 1 1 1 1 ⎡a 11 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡ 1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎡1 a 12 a 13 b1 ⎤ ⎢ ⎥ [Ab] = ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢a 21 a 22 a 23 b 2 ⎥ → ⎢0 a122 a123 b12 ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 a 1 a 1 b1 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ 32 33 3 ⎥ ⎦ ⎢ ⎣ ⎦ 2 2 2 2 3 ⎡1 a 1 a 1 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 a 13 b1 ⎤ ⎡1 0 0 b1 ⎤ 12 13 1 ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 a 2 b 2 ⎥ → ⎢0 1 0 b 3 ⎥ 23 2 23 2 23 2 2 ⎢ ⎢ ⎢ ⎢ 3⎥ 1 1 1⎥ 2 2⎥ 3 ⎥ ⎢0 a 32 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 a 33 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎢0 0 1 b 3 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 3 ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ Dengan demikian. 2.J) ENDIF CONTINUE Gambar II-7.J)/P DO 30 I = 1.NE.J) = A(K.K)THEN P = A(I. Perbedaan utama dari metoda ini adalah pada waktu eliminasi bilangan anu.K) DO 10 J = 1. berikut ini. sehingga bentuk akhir yang didapat adalah matriks satuan (lihat kembali bab I). Program penyelesaian SPL dengan metoda GJ 10 20 30 40 . semua kolom dinormalisir dengan membagi masing-masing elemen dengan bilangan pivotnya.N P = A(K. DO 30 K = 1.J) = A(I.K) DO 20 J = 1.N+1 A(K.

000000 ⎢0.19.5 Gunakan metoda Gauss-Jordan untuk menyelesaikan persamaan berikut.0.400000 ⎥ ⎦ 2) Berikut.2000000 .0.0. 3x1 .30 0.0. diperoleh: ⎡1.0.000000 .3x1 . normalisir baris pertama dengan cara membaginya dengan elemen pivot.0.000000 ⎢0. Gunakan paling sedikit enam angka dibelakang koma (Enam angka bena). diperoleh: ⎡3.3000000 10.100000 ⎢ ⎢0.0.0000000 .100000 7.616670 ⎤ .0. untuk baris selanjutnya dan mengeliminasi xi yang berhubungan.000000 7.000000 ⎢ ⎢0.190000 .3000000⎥ ⎥ 71.2x3 = 7. dengan cara membagi semua elemen baris kedua dengan a22.615000⎥ ⎦ 4) Langkah berikutnya adalah mengulangi prosedur 2 dan 3.0418848 10.2933333 10.033333 7.000000 ⎢0.7x2 .003333 .40 Penyelesaian 1) Langkah pertama adalah menuliskan matriks lengkap [Ab] sebagai matrik augmented dari persamaan diatas.3000000⎥ ⎥ 71.300000 ⎣ .020000 2.19.000000 .0666667 .0.2.85 0.000000 2.0666667 .300000 ⎣ .0. eliminasi x1 dari baris kedua dan ketiga dengan cara sebagai berikut: o Untuk baris kedua: a 2j = a 2j − (a 21/a11 )(a1j ) o Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 11 )(a 1j ) ⎡1.19.0.2x2 .020000 2.100000 ⎢ ⎢0.000000 ⎣ .hmymsc CONTOH 2.400000 ⎥ ⎦ 3) Selanjutnya.000000 ⎢0.000000 ⎢ ⎢0.100000 .793220⎥ ⎥ 70.0.190000 . sebagai berikut: .0.1x2 .033333 7. sebagai berikut: o Normalisir baris ke 2.3x3 = -19.5617000 ⎥ ⎥ 70.0. yaitu a11 ⎡1.033333 1.0.3000000 10.616670 ⎤ .1x1 .61500 ⎥ ⎦ o Selanjutnya eliminasi x2 dari baris pertama dan ketiga.10x3 = 71.100000 .0.616670 ⎤ .0666667 .Untuk baris pertama: a 1j = a 1j − (a 21 /a 22 )(a 1j ) 41 .0.0.0.850000 ⎤ .0.000000 ⎣ .

793220⎥ ⎥ 70.0000000 0. 2.00003 ⎥ ⎦ 6) Akhirnya Eliminasi x3 dari persamaan pertam dan kedua. 6 METODA CROUT Seperti terlihat pada Subbab II. matriks A difaktorisasi menjadi matriks LU atau LDU.0000000 0.0. Metoda Crout adalah salah satu upaya tersebut.793220⎥ ⎥ 70. [A] = ⎢ 21 22 23 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎢x 3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ 42 .0.0000000 .000000 ⎣ 0.523560 ⎤ . didapat: ⎡1. dimana setiap langkah eliminasi seluruh entry matrik telah terlibat sehingga penyelesaian membutuhkan waktu dan memori yang relatif besar.Untuk baris kedua: a 3j = a 3j − (a 31 /a 22 )(a 1j ) ⎡1.000000 ⎣ 0.000000 ⎢0. Pada metoda ini. normalisir baris ketiga.0000000 0.500000 x3 = 7.0000000 .0000000 1. didapat: ⎡1.08430 ⎥ ⎦ 5) Ulangi langkah 2).000000⎤ .000000 ⎢ ⎢0.0000000 1.000000 0.000003 II.0418848 1.000000 1.0120000 2.0418848 10.000000 ⎢ ⎢0.000000 ⎢ ⎢0.523560 ⎤ .5000 ⎥ ⎥ 7.0000000 1.0.000000 3.000000 ⎣ 0.0.0000000 2. Suatu SPL A x = b atau L U x = b Dengan ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ ⎡x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a ⎥ .BAB I1 .0680624 .2.0680624 . karena itu dilakukan upaya-upaya untuk mengurangi hal tersebut.2.000000 ⎢0.4. [x ] = ⎢ x ⎥ . untuk memberikan gambaran lebih jelas perhatikan ilustrasi dibawah ini.2.000000 x2 = 3.000000 ⎢0.2.0000000 0.PENGKOM .000003⎥ ⎦ 7) Dengan demikian: x1 = 3. [b] = ⎢b ⎥ . metoda eliminasi Gauss terdiri dari dua langkah.

Dari L Y = b.hmymsc ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡l11 0 0 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ . sebagai berikut : 43 . dimana ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎢ 21 22 ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ didapat ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 . Dari U x = Y ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡(Y1 .u 12 x 2 − u 13 x 3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢(Y − u x ) ⎥ 23 3 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ 2 ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ Program sederhana dekomposisi Crout diperlihatkan dalam Gambar II-8. [U ] = ⎢0 1 u ⎥ [L] = ⎢ 21 22 ⎥ 23 ⎥ ⎢ ⎢0 0 u 33 ⎥ ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎣ ⎦ Solusi Ax=b LUx=b Ux=Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan sebagai berikut : 1.l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ 2.

BAB I1 . I-1 JMLH = JMLH + L(I.J) = A(I.1) DO 40 J = 2.K) = (A(J. N JMLH = JMLH + U(I.N) = A(N.J) L(I.I) Gambar II-8 Program solusi SPL dengan Crout CONTOH 2. N JMLH = 0 DO 80 J = 1.PENGKOM 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 110 DO 10 I = 1. N U(1.I) X(N) = C(N)/U(N.JMLH DO 60 J = 2.K) U(J.J) JMLH = 0 DO 70 K = 1.1) DO 90 I = 2.1) = A(I. J-1 JMLH = JMLH + L(I.N) – JMLH Y(1) = C(1)/L(1.N) L(N.K)*U(K.1⎥ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 44 .6 Gunakan Algoritma Crout untuk memperoleh matriks L dan matriks U dari matriks berikut: ⎡3 [A] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ 3⎥ ⎥ .1 JMLH = 0 DO 100 J = I+1.J)/L(1.N) DO 110 I = N-1. N-1 JMLH = JMLH + L(N. N-1 DO 60 K = J+1.K)*U(K.I)*U(I. N L(I. J-1 JMLH = JMLH + L(J. N JMLH = 0 DO 30 K = 1. N-1 DO 40 I = J.K) – JMLH)/L(J.J) = A(1.J)*(Y(J) Y(I) = (C(I) – JMLH)/L(I.J) .J)*X(J) X(I) = (C(I) – JMLH)/U(I. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.1) DO 20 J = 2.

K) U(J.2) = 2 1/3 U(3.3) = -1 Sehingga elemen-elemen matriks L dan U diperoleh sebagai berikut: 45 .1) = A(3. N U(1.1) Diperoleh: U(1.K) = (A(J. N JMLH = 0 DO 50 I = 1.J) 30 40 50 60 Diperoleh: L(2.2) – L(2.3) = A(1.1)U(1.3) – (L(3.2)U(2.1) = 2/3 U(1. J-1 JMLH = JMLH + L(J.1)U(1.N) L(N.3) + L(3.2) = A(2.2) – L(3.1) = -1/3 Dari DO 40 J = 2.2)/L(1.1 1/3 Dari 70 DO 70 K = 1.2) = A(3.1) = A(2.N) – JMLH Diperoleh: L(3.K)*U(K. J-1 JMLH = JMLH + L(I.1) = A(I.3)/L(1.K) – JMLH)/L(J.1) = A(1.J) = A(I. N-1 JMLH = JMLH + L(N.3) = A(3. N-1 DO 40 I = J.N) = A(N.hmymsc 10 DO 10 I = 1.1)U(1.J) L(I.1) = 3 L(2.1) Diperoleh: L(1.J) = A(1.2) = .K)*U(K. N-1 DO 60 K = J+1.J) – JMLH DO 60 J = 2.2) = A(1.1) = 1 L(3.I)*U(I. N JMLH = 0 DO 30 K = 1.1) = 2 Dari 20 DO 20 J = 2.J)/L(1. N L(I.

1/3 2/3⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡4⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡3 ⎤ ⎢0 1 u ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢Y ⎥ → ⎢0 1 3 ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢3 ⎥ → ⎢ x ⎥ = ⎢1 ⎥ 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢ 2⎥ 1 ⎥⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎢0 0 1 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢0 0 ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ II.11/3 1 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢ 3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan prosedur penyulihan diperoleh: ⎡Y1 ⎤ ⎡4⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢3 ⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢2⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dari [U][x] = [Y].11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 .11/3 ⎣ 0⎤ ⎡1 . 7 METODA CHOLESKY Jika matriks A simetri dan definit positif.7 Gunakan Algoritma Crout untuk menyelesaikan SPL dengan parameter matriks sebagai berikut: ⎡3 [A ] = ⎢1 ⎢ ⎢2 ⎣ -2 2 -2 1⎤ ⎡12⎤ ⎥ dan [b] = ⎢11⎥ 3⎥ ⎢ ⎥ ⎢3⎥ . 2.1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ Penyelesain berdasarkan Algoritma/program: dari 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 . maka faktorisasi dengan metoda ini dapat pula digunakan.1/3 2/3⎤ ⎥ .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ CONTOH 2.PENGKOM 0 ⎡3 ⎢1 2 1/3 [L] = ⎢ ⎢2 .1⎥ 1⎥ ⎣ ⎦ ⎦ dimana 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡12⎤ ⎡3 ⎢1 2 1/3 0⎥ ⎢Y ⎥ = ⎢11⎥ ⎢ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢2 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 . [U ] = ⎢0 1 0⎥ 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢0 0 .1/3 2/3⎤ ⎥ .BAB I1 . Bila suatu SPL 46 . didapat ⎡1 u 12 u 13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡1 .

harga xi dapat dicari. Dari LT x = Y Dimana ⎡l11 l12 l13 ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎢0 l l ⎥ ⎢ x ⎥ = ⎢ Y ⎥ 22 23 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢0 0 l 33 ⎥ ⎢ x 3 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎣ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Dengan Penyulihan Surut seperti dalam Gambar II-3. sehingga SPL dapat diselesaikan dengan langkah-langkah : 1). Dari ⎡l11 0 0 ⎤ ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢l l 0 ⎥ ⎢ Y ⎥ = ⎢ b ⎥ ⎥⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 21 22 ⎢l 31 l 32 l 33 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢b 3 ⎥ ⎦⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎣ didapat ⎡Y1 ⎤ ⎡b1 / l11 ⎤ ⎢Y ⎥ = ⎢(b − l Y ) / l ⎥ ⎢ 2 ⎥ ⎢ 2 21 1 22 ⎥ ⎢Y3 ⎥ ⎢(b 3 .hmymsc Ax=b Penyelesaian adalah Ax=b A = L LT Sehingga L LT x = b LT x = Y LY=b Dengan demikian SPL dapat diselesaikan dengan cara sebagai berikut 1. Faktorisasi matriks A 47 .2-4) Secara umum persamaan x dapat dirumuskan sebagai berikut : ⎛ ⎞ Yi = ⎜ b i − ∑ l ij Yj ⎟ / l ii ⎜ ⎟ ⎝ ⎠ untuk i = 2.l 31 b1 − l 32 b 2 ) / l 33 ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ (II.3.…n Y1 = b1 / l11 2.

J)*A(K.I) – JMLH)/A(I.1833 20. N JMLH = 0 DO 60 J = 1.N) DO 90 I = N-1.4495 [L] = ⎢6.I)*X(J) X(I) = (Y(I) – JMLH)/A(I.I) JMLH = 0 DO 40 J = 1.1106⎥ ⎦ 0 48 . N DO 30 I = 1. Program lengkap solusi SPL dengan metoda Cholesky diberikan dalam Gambar II-9 DO 10 I = 1.J) A(K.I) 10 20 30 40 50 60 70 80 90 Gambar II-9 Program Solusi SPL dengan metoda Cholesky CONTOH 2.J) A(K.I) = (A(K. menghitung elemen matriks antara Y.9.I) DO 50 K = 1.916 ⎤ 0 ⎥ ⎥ 6. dan menghitung penyelesaian bilangan anu.A(I. N DO 10 J = I+1.1237 ⎢ ⎢22.1) DO 70 I = 2.J)*Y(J) Y(I) = (B(I) + JMLH)/A(I. N JMLH = JMLH + A(J.1 JMLH = 0 DO 80 J = I+1.8 Diberikan matriks [A] sebagai berikut: 15 55 ⎤ ⎡6 ⎢15 55 225 ⎥ [A ] = ⎢ ⎥ ⎢55 225 979⎥ ⎦ ⎣ Tentukan elemen-elemen matriks [L] dari matriks [A] diatas dengan menggunakan metoda Cholesky: Penyelesaian. K-1 JMLH = JMLH + A(K.K) – JMLH)) Y(1) = C(1)/L(1.K) = SQRT((A(K.BAB I1 .J)*A(K. berdasarkan program dalam Gambar II. diperoleh: ⎡2. I-1 JMLH = JMLJ + A(I. I-1 JMLH = JMLH .PENGKOM menjadi matriks L. K-1 JMLH = 0 DO J 20 = 1.454 ⎣ 0 4. N READ(1.*)A(J.I) X(N) = Y(N)/A(N.

........ metoda eliminasi tidak cukup untuk sistemsistem besar... x 0 ... .... presisi diperketat..... ⎥ ⎢.a n1 x1 .......... x 1 ) i 1 2 3 n n 49 ... digunakan matriks jarang.....x 0 -1 ..a12 x 2 ........ karena adanya galat pembulatan.. ⎥ ⎢....... Metoda iterasi sangat berguna dalam mengurangi munculnya galat pembulatan.a nn -1 x n -1 ) / a nn Persamaan-persamaan (II.a ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ b 2n ⎥ ⎢ x 2 ⎥ ⎢ 21 22 23 = ⎢ 2⎥ ⎢.. Untuk dapat lebih mudah memahami metoda ini.x 1 -1 ....... Jumlah ini dapat diperbesar jika sistem berkondisi baik....... x n = (b n .....a n2 x 2 .a 2n x n ) / a 22 . karena dengan metoda ini kita mampu mengendalikan galat yang ada (Lihat kembali kuliah Metoda Numerik).... 3 METODA ITERASI GAUSS-SEIDEL Metoda eliminasi Gauss seperti yang dibahas terdahulu dapat dipakai untuk penyelesaian SPL dengan n = 100. x 1 .. .a 21 x1 .. ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎣a n1 a n2 a n3 ...3-2) Harga awal ini selanjutnya disubstitusikan kedalam persamaan (II...a1n x n ) / a11 x 2 = (b 2 .......3-2)...hmymsc II....... x2 untuk persamaan kedua... untuk semua harga i.. a nn ⎦ ⎣ x n ⎦ ⎣b n ⎦ (II.............. sehingga diperoleh bentuk seperti : x1 = (b1 ..a 23 x 3 ... x 0 ) 2 n n (II.. maka langkah pertama untuk menyelesaikan SPL diatas adalah menyelesaikan harga x1 untuk persamaan pertama.. aii ≠0........ Akan tetapi... dan seterusnya xn untuk persamaan ke n..... x 1 .............. misal : x 1 = (x 1 .......... a 1n ⎤ ⎡ x 1 ⎤ ⎡b1 ⎤ ⎢a a a .a13 x 3 ... Metoda Gauss-Seidel adalah salah satu metoda iterasi yang umum digunakan...3-2) dapat diselesaikan dengan cara memberikan harga awal (tebakan awal) untuk masing-masing harga xi.. marilah kita lihat SPL berikut ini : ⎡a 11 a 12 a 13 . . digunakan strategi pivoting.. Misal diberikan harga awal sebagai berikut : 0 0 x i0 = (x 1 ....... sehingga didapat harga xi baru......3-1) Bilamana elemen-elemen diagonal matrik A...... x 3 .....

3-2) dan (II. ALGORITMA GAUSS-SEIDEL Berdasarkan uraian-uraian diatas. kemudian digunakan kembali untuk menghitung i x i2 i.10. Konvergensi dapat diperiksa dengan menggunakan kriteria berikut: x ik − x ik -1 x 100% ≤ ε s x ik εi = (II. Prosedur ini dilakukan secara berulang dan dihentikan bilamana tercapai konvergensi yang diharapkan. Untuk matriks A ⎡a 11 a 12 a 13 ⎤ [A] = ⎢a 21 a 22 a 23 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢a 31 a 32 a 33 ⎥ ⎣ ⎦ Konvergensi akan tercapai bilamana harga elemen diagonal matriks aii pada baris ke i. Perhatikan ilustrasi berikut. dari persamaan (II. dimana superskrip k dan k-1 menunjukkan urutan iterasi ke k dan k-1 A.3-3) Untuk semua i. lebih besar dari nilai absolut aij pada baris ke i.PENGKOM Harga x 1 .3-3) dapat dituliskan persamaan umum sebuah SPL dengan n bilangan anu sebagai berikut: n ⎛ ⎞ x ik = ⎜ b i − ∑ a ij x j ⎟ / a ii ⎜ ⎟ j =1 ⎝ ⎠ εi = x ik − x ik -1 x ik Sehingga program penyelesaian SPL dengan metoda Gauss-Seidel dapat dituliskan sebagaimana dalam Gambar II.BAB I1 . SYARAT KOVERGEN Konvergensi akan tercapai bilamana matriks koefisien dominan secara diagonal. atau secara umum : a ii > n ∑a j =1 ij Untuk semua harga i B. berikut ini : 50 .

N DUMMY = A(L. N L=K DO 30 I = K+1. N IF(J.K)).(ABS(A(L. N IF(ABS(A(I.J)*X(J) ENDIF CONTINUE XB = XB/A(I. M GALAT = 0.LE.K))) THEN L=I ENDIF CONTINUE IF(ABS(A(L.J).I)THEN XB = XB – A(I.GT.0 DO 50 K = 1.NE.*)’PROSES GAGAL’ GOTO 30 ENDIF IF(L.*)(A(I.0 DO 70 I = 1.J) A(L.I) SELISIH = ABS((XB-X(I))/XB) IF(GALAT. N READ(1. N) DO 20 I = 1.NE.*)’PROGRAM SELESAI” GOTO 90 ENDIF CONTINUE END Gambar II-10.EPSILON) THEN WRITE(*.hmymsc 10 20 30 40 50 60 70 80 90 DO 10 I = 1.EPSILON)THEN WRITE(*. J = 1. N XB = C(I) DO 60 J = 1. Program Solusi SPL dengan Metoda Gauss-Seidel 51 .K)).J) = A(K. N X(I) = 0.J) A(K.J) = DUMMY CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY CONTINUE DO 80 ITER = 1.K)THEN DO 40 J = K.LT.LE.SELISIH) THEN GALAT = SELISIH ENDIF X(I) = XB IF(GALAT.

7x2 . 4 PERBANDINGAN ANTAR METODA Dalam Tabel II-1 berikut disajikan perbandingan antara metoda-metoda yang dikemukakan dalam bab ini.30 .31% > ε 0 (0.85 3x1 .30 0.0001) o Proses iterasi dilanjutkan sehingga tercapai konvergensi. didapat: 0 0 0 0 x1 = (x1 .0.2x3)/3 x2 = (-19. x 2 .0.000001% < ε 0 (0.0. x 3 ) = (0.0012%) 2 ε i2 ε ik maks = ε 1 = 0.000290811) 2 2 2 ε i2 = ( ε 1 .100%) i 1 2 3 ε1 i maks = ε 1 = 100% 3 o Iterasi 2.1x1 + 0.005609) i 1 2 3 εi = x ik − x ik -1 x ik x 100% ≤ ε s ε 1 = ( ε 1 . Pada tabel karakteristik ini terlihat bahwa jumlah persamaan terbanyak yang dapat diselesaikan adalah dengan metoda GS dengan syarat koefisiennya berdiagonal kuat 52 .0001) 1 = ε ik = 0.7.PENGKOM CONTOH 2.BAB I1 . didapat: 2 2 x i2 = (x1 .85 + 0.794523.0.-2.2x2 . x1 .-2.1x2 + 0.0.3x3)/7 x3 = (71. ε 1 .1x2 .3x3 = -19.0.40 Penyelesaian Langkah pertama adalah merubah bentuk persamaan diatas menjadi sebagai berikut: x1 = (7. ε 3 ) = (0.0) o Lakukan iterasi o Iterasi 1. ε 2 . misalkan: x i = (x1 . x 2 .499624684.3x1 + 0.40 .7. dimana: maks II. x1 ) = (2.0. ε 1 ) = (100%.0.1x1 .10x3 = 71.2x2)/10 o Tentukan tebakan awal.3x1 .015%.6166667.31%.2x3 = 0.990556508.9 Selesaikan SPL berikut ini dengan menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel 7.0.100%. x 3 ) = (2.

3706 ⎢ ⎢ j0.4232 j0.3706 j0.4142⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡0.4020 ⎢ ⎣ j0.5. Metoda Gauss-Jordan 7x1 – 2x2 – 5x3 = 18.00 2x1 – x2 – 9x3 = 26.3922 j0.4142 j0. 4 Selesaikan persamaan-persamaan bus berikut: ⎡ j0.960⎥ ⎥ ⎥ =⎢ j0.3992 j0.4020 j0. 5 SOAL-SOAL BAB II 1.j0.4774 ⎢ j0.4232 ⎥ ⎢V3 ⎥ ⎢0.j1.000 .00 ⎦ 53 .5] 3 Dengan menggunakan program yang saudara desain sendiri selesaikan kedua soal diatas.200⎤ ⎢ ⎥ j0.4558 j0.00 x1 + 5x2 – 3x3 = -40. Perbandingan Karakteristiks Metoda Solusi SPL Metoda Grafis Cramer’s Eliminasi Bilangan Anu GJ Cholesky GS Pers.4126⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢. (n) 2 3 3 100 100 1000 Presisi Poor Infact by round of errors Infact by round of errors Influenced by roe Influenced by roe Perfect Aplikasi Limited Limited Limited General General Untuk sistem berdiagonal kuat Program Moderate Moderate Easy Keterangan Time comsumming Tc for n >3 Memungkinkan inverse matriks - II. Selesaikan persamaan dibawah ini dengan menggunakan metoda: a.4126 j0. b.720 .200⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ j0. untuk parameter persamaan sebagai berikut: [b] = [-6.j1.0.hmymsc Tabel II-1. Eliminasi Gauss dengan pivoting.00 2 Gunakan Metoda Crout untuk menyelesaikan persamaan pada soal 1.000 + j0.000 .4872 j0.4733⎦ ⎣V4 ⎦ ⎣0.0.

SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI LAB. UNSRI 3 .

.

Oleh karena itu. variabel yang dipergunakan adalah tegangan loop dan arus loop. Sebuah Graph memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. dimana elemen matrik jaringan akan berupa matriks admitansi ataupun impedansi. baik arus maupun tegangan. tidak memberikan informasi pada hubungan jaringan. Suatu lintasan adalah sebuah subgraph dari elemen terhubung dengan tidak lebih dari dua elemen 54 . Pada kerangka acuan bus. perlu menstransformasikan matriks primitife menjadi matriks jaringan yang akan menjelaskan kinerja dari interkoneksi jaringan. Matriks ini menggambarkan karakterisitik masing-masing komponen. Elemen-elemen matriks jaringan tergantung pada pemilihan variabel bebas yang digunakan. Pada kerangka acuan loop. Model harus mampu menggambarkan karakteristik komponen masing-masing jaringan beserta hubungan-hubungan antara masing-masing elemen. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dengan baik dalam bentuk suatu matriks jaringan primitif. Sebuah subgraph asalah setiap subset dari elemen suatu Graph. Simpul dan elemen adalah insidensi jika simpul tersebut adalah suatu terminal dari elemen. 2 GRAPH Untuk memberikan gambaran mengenai struktur geometris dari suatu jaringan cukup dengan jalan mengganti komponen-komponen jaringan dengan sekmen-sekmen garis tidak berurut dari karakteristik komponen.PENGKOM BAB III MATRIKS JARINGAN DAN INSIDENSI III. Matriks jaringan adalah model matematis yang paling cocok untuk diselesaikan dengan bantuan komputer digital. variabel yang dipergunakan adalah tegangan bus dan arus bus. 1 PENDAHULUAN Pembentukan model matematis merupakan langkah awal dalam analisis jaringan elektrik. Bentuk matriks jaringan yang dipergunakan dalam membangun persamaan tergantung pada kerangka acuan yang digunakan. III. yaitu bus atau loop. Dalam buku ini hanya akan dibahas kerangka acuan bus. Simpul dapat merupakan insidensi. Sekmen garis ini disebut elemen dan terminalnya disebut bus (simpul).BAB II1 .

Elemen-elemen dari tree disebut cabang dan membentuk suatu subset elemen dari suatu Graph terhubung. Subgraph terhubung yang mengandung semua simpul dari suatu Graph. Digram segaris (b) Diagram jaringan urutan positif (c) Graph berorientasi terhubung 55 . Reprensentasi Sistem Tenaga Elektrik (a).2-1) G G G 1 2 4 3 0 6 1 2 4 5 2 1 3 4 3 0 Gambar III-1. yang tidak harus terhubung disebut cotree.hmymsc terhubung kepada satu simpul. Cotree adalah komplemen dari tree. Representasi dari suatu sistem tenaga elektrik dan orientasi Graphnya diperlihatkan dalam Gambar III-1. Jumlah cabang. l dari Graph terhubung dengan e elemen adalah : (III. b yang dibutuhkan untuk membentuk suatu tree adalah b=n–1 dimana n adalah jumlah simpul dari Graph. tetapi tanpa lintasan tertutup disebut tree. Sebuah Graph adalah terhubung jika dan hanya jika terdapat lintasan antara setiap pasangan simpul. Jumlah link. Graph tersebut disebut Graph berorientasi. Semua elemen Graph terhubung yang tidak termasuk dalam tree disebut link dan membentuk suatu subgraph. Jika setiap elemen dari Graph terhubung memiliki arah tertentu.

BAB II1 - PENGKOM

l = e –b Dari persamaan (III.2-1), dapat dituliskan : b=e–n+1 (III.2-2)

Tree dan cotree yang berhubungan dengan Graph pada Gambar III-1c ditunjukkan dalam Gambar III-2.

6
1

2

4

5 2 1

3

4 3

0

Gambar III-2. Tree dan Cotree dari Sebuah Graph berorientasi terhubung

Jika suatu link ditambahkan dalam tree, Graph yang akan dihasilkan mengandung satu lintasan tertutup yang disebut dengan loop. Penambahan setiap subsequent link akan menghasilkan satu atau lebih loop tambahan. Loop yang hanya mengandung satu link adalah independen dan disebut dengan basic loop, konsekuensinya jumlah basic loop sama dengan jumlah link, berdasarkan persamaan (III.2-2). Orientasi dari suatu basic loop dipilih sesuai dengan link itu sendiri. Basic loop dari Graph pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-3.

6
1

2

4

5 F 1 2

3

E

4 G 3

0

Gambar III-3. Basic Loop Sebuah Graph berorientasi terhubung

56

hmymsc

A 1

6

D 2 4

5
B

3

4 3
C

2
A

1

0

Gambar III-4. Basic cut-sets Graph berorientasi terhubung

Suatu cut-set adalah suatu set dari elemen yang dipisahkan, dibagi dari suatu Graph terhubung kedalam dua subgraph terhubung. Suatu group cut-set yang unik dan independen dapat dipilih bilamana masing-masing cut-set hanya mengandung satu cabang. Cutset independen disebut basic cutset. Jumlah basic cutset sama dengan jumlah cabang. Basis cutset dari Graph yang ada pada Gambar III-1 diberikan dalam Gambar III-4.

III. 3 MATRIKS INSIDENSI

ˆ III. 3. 1 ELEMEN SIMPUL MATRIKS INSIDENSI A
Insidensi dari elemen terhadap simpul dari suatu Graph terhubung diperlihatkan oleh elemen-simpul matriks insidensi. Elemen matriks mengikuti aturan berikut ini : aij = 1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi meninggalkan simpul j aij = -1, Jika elemen i insidensi ke dan orientasi menuju simpul j aij = 0, Jika elemen i tidak insidensi ke simpul j Dimensi dari matriks adalah e x n, dimana e merupakan jumlah elemen dan n jumlah simpul dalam Graph tersebut. Elemen matriks insidensi dari Graph pada Gambar III-2 adalah sebagai berikut :

e

n

0

1

2

3

4

57

BAB II1 - PENGKOM

1 2 3 4 5

1 1 1

-1 -1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

ˆ A =

6 7

Karena

∑a
j= 0

4

ij

=0

untuk i = 1,2, ......., e

ˆ ˆ Kolom dari matriks A adalah linear dependen, karena itu rank matriks A < n

III. 3. 2 MATRIKS BUS INSIDENSI A

Setiap simpul dari suatu Graph terhubung dapat dipilih sebagai simpul acuan, lalu variabel dari simpul lain diacu sebagai bus dapat terukur terhadap kerangka acuan
ˆ yang dipilih. Matriks yang diperoleh dari matriks A dengan cara menghilangkan

kolom yang berhubungan simpul acuan adalah elemen-elemen matriks insidensi bus, yang disebut matriks insidensi bus A. Ukuran matriks tersebut adalah e x (n-1) dan rank
matriks adalah n-1 = b, dimana b adalah jumlah cabang dari Graph. Dengan memilih bus 0 sebagai acuan matriks A yang didapat adalah
bus

e

1 -1

2

3

4

1 2 3
A=

-1 -1 -1 1 1 -1 1 -1 -1 1

4 5 6 7

58

hmymsc

Matriks ini adalah matriks persegi panjang oleh karenanya singular. Bila baris matriks A ditata berdasarkan kepada bagian-bagian tree, matriks dapat dipartisi menjadi submatriks Ab dengan orde b x (n-1) dan Al berdimensi l x (n-1), dimana baris dari matriks Ab berhubungan dengan cabang dan baris dari matrik Al berhubungan dengan link. Partisi matriks dari Graph pada Gambar III-1 sebagai berikut.
bus

e

1

2

3 Ab

4

Branches

A=

Matriks Ab adalah sebuah matriks non singular, matriks bujur sangkar dengan rank sebesar (n-1)

III. 3. 3 MATRIKS INSIDENSI-CABANG-LINTASAN K

Insidensi cabang terhadap lintasan dalam sebuah tree diperlihatkan dengan matriks insidensi cabang-lintasan, dimana suatu lintasan berorientasi dari suatu bus kepada bus acuan. Elemen-elemen matriks ini memenuhi : kij = 1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan dan orientasinya memiliki arah yang sama kij = -1, Jika cabang ke i merupakan lintasan dari bus j menuju acuan, tetapi orienta sinya memiliki arah yang berlawanan. kij = 0, Jika cabang ke i bukan merupakan lintasan dari bus j ke bus acuan. Dengan simpul 0 sebagai simpul acuan matriks insidensi cabang lintasan yang behubungan dengan tree pada Gambar III-1 adalah :

Link
e path

Al

1 -1

2

3

4

1 2 3

-1 -1 -1

59

Matriks insidensi cabang-lintasan dan submatriks Ab menghubungkan cabang dan lintasan dan cabang dengan bus karena keduanya memperlihatkan hubungan satu-ke satu antara lintasan dan bus : AbK t = U Karenanya − K t = A b1 (III. berdimensi e x b. 4 MATRIKS INSIDENSI BASIC CUT SET B Insidensi elemen-elemen basic cutset dari suatu Graph terhubung ditunjukkan dengan matriks insidensi basic cut set. 3.3-2) III. Matriks basic cutset. B dengan elemen-elemen sebagai berikut : bij = 1. Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang sama sebagaimana basic cut-sets ke j. bij = 0.BAB II1 . berlawanan dengan basic cut-sets. bij =-1. Jika elemen ke i tidak insidensi terhadap basic cut-sets.3-1) (III. untuk Graph pada Gambar III-4 adalah : b e Basic cut-sets A 1 1 1 B C D 1 2 3 60 . Jika elemen ke i adalah insidensi dan berorientasi dengan arah yang.PENGKOM 4 -1 K= Matriks ini adalah matriks bujur sangkar non singular dengan rank (n-1).

Insidensi link ke bus ditunjukkan oleh submatriks Al dan insidensi cabang ke bus diperlihatkan oleh submatriks Ab karena hanya hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset.hmymsc 4 5 6 7 B= 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 Matriks B dapat dipartisi menjadi submatriks Ub dan Bl. Matriks hasil partisi adalah : Basic cut-sets A Cabang b e B C D Ub B= Matriks insidensi Ub memperlihatkan hubungan satu ke satu dari cabang dan basic cutset. yaitu : Bl A b = A l Karenanaya B l = A l A -1 b Dengan tambahan. Submatriks Bl dapat ditentukan dari suatu matriks insidensi bus A.3-2) Link B1 61 . dimana baris-baris matriks Ub berhubungan dengan cabang-cabang dan baris-baris matriks Bl berhubungan dengan link. seperti yang dikemukakan dalam persamaan (III. BlAb menunjukkan insidensi dari link ke bus.

Suatu tie cut set berorientasi pada arah yang sama dengan link yang berhubungan. G A 1 6 F 2 E D 4 3 5 B 4 3 C 2 A 1 0 Gambar III-5. Setiap tie cutset mengandung hanya satu link dari Graph terhubung.3-3) ˆ III. 5 MATRIKS INSIDENSI CUT-SET DIPERLUAS B Fictitious cutset. Basic dan tie cut-sets Graph berorientasi terhubung Matriks insidensi cutset diperluas dibentuk dengan cara menggabungkan matriks insidensi cutset ditambah kolom-kolom yang berhubungan dengan tie cutset tersebut.PENGKOM A -1 = K t b oleh karena itu : Bt = A t K t (III. 3. Tie cutset dari Graph pada Gambar III-4 diperlihatkan pada Gambar III-5. Matriks insidensi cutset diperluas bagi Graph pada Gambar III-5 adalah : Basic cut-sets A 1 1 1 1 -1 -1 1 -1 1 1 1 1 1 1 1 B C D E b e Tie cut-sets F G 1 2 3 ˆ C = 4 5 6 7 62 .BAB II1 . disebut tie cutset dapat diperkenalkan dimana jumlah cutset sama dengan jumlah elemen-elemen.

Bentuk impedansi (b) Bentuk admitansi.hmymsc Matriks tersebut adalah matriks bujur sangkar berdimensi e x l dan non singular.E q (a) jpq G Eq q Ep p ypq v pq = E p . Eq q vpq : jatuh tegangan cabang p-q epq : tegangan sumber 63 . Kinerja dari komponen-komponen dapat diekspresikan dengan kedua cara variabel dan parameter yang digunakan adalah : Link Ep p B1 U1 ipq zpq epg Vpq = E p . ˆ Matriks B dapat dipartisi menjadi sebagai berikut : b e Basic cut-sets A B C Ub D Tie cut-sets E F 0 G Branches ˆ B = III. 4 JARINGAN PRIMITIF Komponen-komponen direpresentasikan baik dalam bentuk impedansi maupun admitansi seperti diperlihatkan dalam Gambar III-6.E q (b) Gambar III-6. Reprensentasi komponen jaringan (a).

Matriks admitansi primitif [y] dapat dicari dengan membalikan matriks impedansi primitif [z]. dimana n adalah jumlah bus. III.4-1) dan (III. Matriks [z] dan [y] adalah matriks diagonal jika tidak ada kopling bersama antar elemen.BAB II1 . Elemen luar diagonal adalah impedansi atau admitansi bersama zpq.rs atau ypq. persamaan kinerja dalam bentuk impedansi adalah : E bus = Z bus I bus 64 .rs antara elemen p-q dan r-s. Dalam kasus ini impedansi sendiri sama dengan kebalikan dari impedansi sendiri.pq. dimana : jpq = − y pq epq Persamaan (III.pq atau admitansi sendiri ypq. Dalam kerangka acuan bus.PENGKOM ipq : arus yang mengalir pada cabang p-q Jpq : sumber arus paralele dengan cabang p-q zpq : impedansi cabang p-q ypq : admitansi cabang p-q Dalam bentuk impedansi hubungan arus dan tegangan : v pq + e pq = z pq i pq (III.4-2) Sumber-sumber arus paralel dalam bentuk admitansi berhubungan dengan sumber tegangan seri dalam bentuk impedansi.4-1) Atau dalam bentuk admitansi hubungan arus dan tegangan adalah : i pq + jpq = y pq v pq (III. kinerja dari satu jaringan terinterkoneksi dapat dijelaskan oleh n-1 persamaan bus. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS JARINGAN DENGAN TRANSFORMASI SINGULAR III.4-2) dapat ditulis dalam bentuk matriks berikut : v + e = [ z ] i atau i + j = [ y ] v Elemen diagonal matrik [z] atau [y] dari jaringan primitif adalah impedansi sendiri zpq. Dalam notasi matriks. 5. 1 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Jaringan yang terbuat dari hubungan-hubungan sekumpulan elemen.

hmymsc Atau dalam bentuk admitansi I bus = Ybus Ebus Dimana Ebus : Vektor tegangan yang diukur terhadap bus acuan I bus : Vektor arus menuju bus Ybus : Matriks admitansi bus Z bus : Matriks impedansi bus III. sehingga : At i = 0 (III. 2 MATRIKS IMPEDANSI DAN ADMITANSI BUS Matriks admitansi bus [ Ybus ] dapat ditentukan dengan menggunakan matriks insidensi bus [A] yang berhubungan dengan variabel dan parameter dari jaringan primitif terhadap besaran bus dari jaringan terinterkoneksi. Menurut hukum Kirchoff untuk Arus.5-1) Mengingat matriks A menunjukkan insidensi dari elemen-elemen terhadap bus. 5.5-2) Hal sama. sehingga : I bus = A t j (III. A t i adalah sebuah vektor dimana setiap elemen merupakan jumlah aljabar dari arus yang melalui elemen jaringan yang bermuara pada bus. Persamaan kinerja dari jaringan primitif adalah : i + j = [ y] v Bila diperkalikan dengan AT.5-3) 65 . jumlah aljabar dari arus yang menuju bus sama dengan nol. At j merupakan jumlah aljabar dari sumber-sumber arus pada masingmasing bus dan sama dengan vektor arus bus. didapat At i + At j = At [ y] v (III.

5-6) ke (III.5-4) * Daya pada jaringan adalah I bus Ebus dan jumlah daya pada jaringan primitif adalah ( ) t (j ) v .5-7) kedalam (III.5-9) Maka analogi kedua persamaan dapat ditulis bahwa : Ybus = A t [ y ] A 66 .5-6) Substitusi dari persamaan (III.5-3) (I ) = ( j ) A t * bus * t * Karena A adalah matriks bilangan riil.5-7) Mengingat bahwa persamaan kinerja jaringan adalah : I bus = Ybus Ebus (III.5-2) dan (III.5-1) diperoleh : I bus = A t [ y ] v (III.5-4) I bus = A t [ y ] A Ebus (III.5-8) (III. karenanya (I ) E t * bus bus = j* v ( ) t (III.5-5) didapat (j ) A E * t bus = ( j* ) v t Karena persamaan ini berlaku untuk semua harga j.5-3) kepersamaan (III. oleh karena itu transformasi variabel-variabel harus power invariant.5-5) Menggunakan konjugate transpose dari persamaan (III. maka A* = A dan (I ) = ( j ) A * t bus * t (III.BAB II1 . maka A Ebus = v Substitusi dari persamaan (III. t * bus Daya pada primitif dan jaringan terhubung harus sama.PENGKOM Substitusi ketiga persamaan (III.

dimana n = 4. Jumlah cabang dan basic loop adalah: 67 . Tentukan Matriks Admitansi bus dari sistem tersebut. dan e = 5.20 1 – 2 (1) 0.50 0. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 4 5 1 – 2 (1) 1–3 3–4 1 – 2 (2) 2–4 impedansi z pq.20 1 – 2 (2) 0.rs Jaringan mengandung 4 bus dan 5 elemen.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq. matriks singular dan karena itu Ybus = A t [ y ] A Adalah suatu transformasi singular dari [y]. Contoh Jaringan Sistem Tenaga Elektrik Tabel III-4. 3 4 G (1) (2) 1 2 Gambar III-7.4.50 0.1 Untuk sistem Transmisi yang disajikan dalam Gambar III. Matriks impedansi bus dapat dihitung dari hubungan −1 Z bus = Ybus = A t [ y ] A ( ) −1 CONTOH 3. dengan data jaringan seperti disajikan dalam Tabel III.7.hmymsc Karena matriks insidensi A.pq 0.40 0.60 0.

matriks insidensi bus A.PENGKOM b = n – 1 = 3 dan l = e – n + 1 = 2 Cabang dan link dari orientasi Graph terhbung dari jaringan ditunjukkan dalam Gambar III-8. 3 3 4 2 5 1 1 4 2 Gambar III.8. dapat dibentuk sebagai berikut : bus e 2 -1 3 4 1 2 A= -1 1 -1 1 -1 -1 3 4 5 68 .BAB II1 . Tree dan cotree dari Graph berorientasi terhubung dari contoh ˆ Elemen-elemen matriks insidensi A adalah e n 1 1 1 1 2 -1 3 4 1 ˆ A = 2 3 4 5 -1 1 -1 1 -1 -1 dengan memilih bus 1 sebagai bus acuan.

417 2.0.000 Matriks admitansi bus yang diperoleh dengan cara trasformasi singular adalah Ybus = A T y A .021 5.083 .417 2 -0.2.417 2.1.208 5 1 2 [y]= 3 4 5 -1.042 ⎤⎢ ⎡2.0.4 0.1 ⎣ ⎦ .000 7.083 3 4 -1.042 0.1.208 ⎥ 5. didapat : ⎤ ⎡−1 .2 5 1 2 [z] = 3 4 5 0.6 0.042 0.5.000 ⎥ ⎢ .208 2.000 3.083 .1⎥ ⎦ ⎣ Ybus ⎡8.000 ⎦ ⎢1 ⎣ .5 3 4 0.1 0.000 ⎤ = ⎢.209 .208 ⎥⎢ ⎥ ⎢ 1 .0.083 -0.209 4.2.1⎥ Ybus = ⎢ .1 1 ⎢ ⎥⎢ ⎥⎢ 2.5 0.2 2 0.000 .2 Dengan melakukan inverse matriks.0200 .000 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.0830 0.0.1 0. didapat matriks admitansi primitif [y] adalah : e e 1 2.042 0.1 .417 ⎥ -1 1⎤ ⎢ ⎡−1 ⎥ ⎢ -1 ⎥ .0000 ⎥ ⎣ ⎦ 69 .5.1⎥ ⎢ ⎥ ⎢.hmymsc Matriks impedansi primitif dari contoh jaringan diatas berdasarkan data Tabel III-4 adalah sebagai berikut : e e 1 0.

60 0.10 Mutual Kode bus r-s Impedansi z pq. dan transpormasi nodal dari sistem tersebut. Tabel III-5.BAB II1 . rs 70 .9 Sistem Tenaga Elektrik terdiri dari 3 bus 2 Tinjau kembali Graph pada Gambar III. 6 SOAL-SOAL BAB 3 1 Tinjau sebuah sistem yang terdiri dari tiga buah bus seperti disajikan dalam Gambar III. Gambarkan Graph dari sistem dan tentukan link. 1 2 3 Gambar III.20 1 – 2 (1) 0. [Ab]dan [Al] 3 Bila data impedansi dari pada Gambar III. branch.PENGKOM III. tentukan matrik admitansi bus dari system tersebut.9.8. Data Impedansi jaringan Sistem Gambar III-7 SELF Nomor elemen Kode bus p-q 1 2 3 1–2 1–3 2–3 Impedansi z pq.9 diberikan dalam Tabel III.50 0. Tentukan matriks [A]. Kemudaian pilih bus 2 sebagai simpul acuan.5 berikut.pq 0.

hmymsc 71 .

T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT. UNSRI 4 .

1 PENDAHULUAN Metoda yang dikemukakan pada bab III seksi III.hmymsc BAB IV ALGORITMA PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI SIMPUL IV. kita akan melihat suatu sistem tenaga elektrik yang lebih lengkap seperti disajikan dalam Gambar IV-1.5 memerlukan transformasi dan inverse matriks untuk memperoleh matriks jaringan. Apabila Gambar IV-2 digambarkan kembali dengan terlebih dahulu menggantikan 73 . IV. Dalam hal kopling ini dapat diabaikan. Metoda lain yang dapat dipergunakan untuk membentuk matriks admitansi bus secara langsung berdasarkan parameter dan kode bus yang ada. Prinsip utama algoritma pembentukan matriks admitansi bus ini adalah dengan jalan menambahkan elemen-elemen jaringan satu persatu. Diagram segaris Suatu Sistem Tenaga Elektrik Diagram reaktansi dari sistem pada Gambar IV-1 diberikan dalam Gambar IV-2. 1 a 3 c 2 4 b Gambar IV-1. Untuk dapat mempelajari beberapa ciri persamaan bus. penyusunan akan lebih baik dengan cara yang akan dikemukakan berikut. Penyusunan matriks admitansi bus Ybus seperti yang dikemukakan dalam bab sebelumnya sangat bermanfaat bilamana ada kopling elektro magnetik antara cabangcabang. 2 PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITASNSI YBUS Marilah kita lihat kembali komponen-komponen jaringan dalam bentuk impedansi atau admitansi seperti yang telah dikemukakan sebelumnya.

2-1) Agar tidak membingungkan. Ea 1 Ea 1 Za Zd Ec 0 3 4 0 Ec Zc 3 Zf Ze Zg 4 Eb 2 Eb Zb 2 Zh IV. maka Gambar IV-2 dapat digantikan dengan Gambar IV-3. Dengan mengatur kembali persamaan (IV.2-1). IV-2b Sesuai dengan hukum Kirchoff arus. Diagram Reaktansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr. IV-1 I1 1 Yd Ya 3 Yf Ye 0 I3 Yc 2 4 Yg Yh I2 Yb Gambar IV-3. maka persamaan arus untuk masing-masing bus pada Gambar IV-3 adalah : I1 = V1Ya + (V1 − V3 )Yf + (V1 − V4 )Yd I 4 = 0 = (V4 − V1 )Yd + (V4 − V2 )Yh + (V4 − V3 )Ye I 3 = V3 Yc + (V3 − V1 )Yf + (V3 − V2 )Yg + (V3 − V4 )Ye I 2 = V2 Yb + (V2 − V3 )Yg + (V2 − V4 )Yh (IV. besaran-besaran cabang selalu dinyatakan dengan huruf kecil.BAB IV . sedangkan besaran-besaran bus dengan huruf besar.PENGKOM sumber tegangan dan impedansi seri dengan sumber arus dan admitansi paralel. Diagram Admitansi Untuk Sistem Tenaga Elektrik pada Gbr.2a IV-2b Gambar IV-2. diperoleh : 74 . jumlah aljabar dari arus yang masuk dan keluar pada suatu titik simpul tertentu harus sama.

Ybus untuk cabang-cabang tersebut dapat dilakukan dengan efisien cukup dengan membaca data cabang sekali jalan.V3Ye I3 = V3 (Yc + Yf + Yg + Ye ) − V1Yf .2-2) dalam bentuk matriks adalah : Y1n ⎤ ⎡V1 ⎤ ⎡ I1 ⎤ ⎡Y11 Y12 ⎢I ⎥ ⎢ Y2n ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ 2 ⎥ = ⎢Y21 Y22 ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.Ymn dan Ypq adalah admitansi bersama bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah negatif semua admitansi cabang yang dihubungkan langsung antara bus yang disebutkan.V2 Yg .V3 Yf − V4 Yd I 4 = 0 = V4 (Yd + Yh + Ye ) ..V2 Yh ....2-5) Program sederhana pembentukan matriks admitansi bus..... kode bus cabang.. sehingga untuk unsur-unsur diagonal dapat dituliskan : Ypp = q∈Γp ∑y pq (IV. Admitansi Y11.. Matriks ini simetris terhadap diagonal utamanya..... Misalkan data disusun terdiri dari nomor cabang.. 75 .⎥ ⎢I 3 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ Ynn ⎦ ⎣V4 ⎦ ⎢ I n ⎥ ⎣Yn1 Yn2 ⎣ ⎦ (IV. dan Ypp dinamakan admitansi sendiri pada bus tersebut dan masing-masing sama dengan jumlah semua admitansi yang berujung pada bus tersebut.. Ybus ...2-3) Matriks Y dinamakan matriks admitansi bus.2-4) Admitansi lain Y12. ….V3Ye I 2 = V2 (Yb + Yg + Yh ) − V3Yg − V4 Yh (IV.. Y13... resistansi dan reaktansi cabang maka program pembentukan matriks disajikan dalam Gambar IV-4 berikut ini.V1Yd .2-2) Bentuk umum dari persamaan (IV.. Y22.. sehingga untuk elemen luar diagonal dituliskan : Ypq = Yqp = − y pq (IV.hmymsc I1 = V1 (Ya + Yf + Yd ) ..…...

karena masing-masing cabang selain memiliki admitansi sendiri juga memiliki admitansi bersama dengan cabang lain.Q) = Y_BUS(P. Misalkan dua buah cabang. Berikutnya. JML_CABANG READ(1.X(I) Y_CB(I) = 1.N_AHR(I).P) = Y_BUS(P. Untuk lebih mudah perhatikan ilustrasi berikut ini.Q) = Y_BUS(Q. 76 . program dalam Gambar IV-4 diatas.R(I). Caranya yaitu pertama kali membentuk matriks admitansi bus untuk ujung-ujung cabang yang bergantungan secara magnetis yang hanya melibatkan parameter cabang-cabang tersebut.X(I)) P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) Y_BUS(P.PENGKOM 10 DO 10 I = 1.s) yang bergantungan secara magnetis dan akan disertakan kedalam Y. cabang-cabang yang terhubung secara magnetis tidak dapat disertakan langsung dalam program.Y_CB(I) Y_BUS(Q.y km ⎤ y km ⎥ ⎥ y mm ⎥ ⎥ y mm ⎦ y kk .y km y mm y km .y km . masing-masing (p. elemen-elemen Z yang bersesuaian dengan elemen-elemen matriks Y dijumlahkan.Q) + Y_CB(I) Y_BUS(P. q.y km .Q) .y mm Maka [Y]baru = [Y]lama + [N ][Z][N]T Dengan N adalah matriks yang terdiri dari 4 vektor kolom singleton berukuran n (jumlah bus seluruh jaringan) yang elemen-elemen tak nolnya adalah satu dan berada masing-masing pada posisi p.BAB IV . r. Program Penyusunan Matriks Ybus Dalam aplikasi.y kk y km .N_AWL(I).Q) Gambar IV-4. dan s.y kk Z =⎢ ⎢ y km ⎢ ⎣. misal kita sebut matriks tersebut matriks Z.P) = Y_BUS(P.P) + Y_CB(I) Y_BUS(Q. Dapat diperlihatkan bahwa matriks admitansi simpul dengan hanya memperhitungkan parameter-parameter kedua cabang tersebut adalah : ⎡ y kk ⎢.*)NOMOR_CB(I). cabang ini dapat disertakan kemudian setelah [ Ybus ] untuk cabang-cabang yang bebas secara magnetis terbentuk lebih dahulu.0/CMPLX(R(I).q) dan (r.

dan prosesnya menjadi sangat sederhana.... Y2n ⎥ ⎥ = ⎡K L ⎤ (IV..... cabang-cabang yang bergantungan secara magnetis yang jumlahnya lebih dari dua dapat disertakan..y + y )⎥ Z = ⎢ kk km kk mm km mm km ⎥ ⎢ ⎥ ......3-2) 77 . atau dapat dilaksanakan bertahap dengan menghapuskan bus dengan nomor terbesar lebih dahulu.. maka ( . IV. sehingga bilamana bus yang akan dihapus lebih dari satu...... maka pembalikan matriks yang harus dicaripun menjadi besar.....2y ) (....3-1) [Ybus ] = ⎢.y km ⎡ ⎤ ⎢(.. ⎥ ⎢ Y(n -1)j ⎥ ⎢Y(n -1)1 Y(n -1)2 ⎦ ⎣ (IV.... Penghapusan bus sekaligus memerlukan pembalikan matriks. Penghapusan bus dapat dilakukan sekaligus untuk seluruh bus.. Ynn ⎥ ⎣ ⎦ Dan matriks yang direduksi menjadi berdimensi (n-1) x (n-1) sebagai berikut : Y12 Y1j ⎤ ⎡ Y11 ⎥ ⎢ Y22 Y2j ⎥ ⎢ Y21 [Ybus ] = ⎢ ⎥ = [K ] . kerapkali kita dihadapkan pada keadaan dimana bus harus dihapuskan........ Dapat terjadi bahwa sebagian dari ujung-ujung cabang adalah sama.y mm + y km ) y km ⎣ ⎦ Untuk membuktikan kebenaran ini lihat daptar bacaan [1]...y kk + y km ) y kk ......hmymsc Dengan cara yang sama. Ynn ⎥ ⎢ ⎥ ⎢Yn1 Yn2 Ynj ....y + y ) (y + y ...... misal bus q dan r adalah bus yang sama. Pembalikan matriks dapat dihindarkan dengan cara menghapuskan setiap kali satu bus saja..y km (.... Untuk itu prosedur tetap seperti diatas namun kolomkolom dan baris-baris yang sama dapat disatukan.... Y1n ⎤ ⎢ ⎥ ⎢Y21 Y22 Y2j ... 3 PENGHAPUSAN BUS Dalam analisis sistem tenaga elektrik. Matriks admitansi asli yang disekat untuk dihapuskan bus ke n adalah : ⎡Y11 Y12 Y1j . ⎢ ⎥ ⎢LT M ⎥ ⎣ ⎦ ⎢Ym1 Ym2 Ymj .....

4 MATRIKS IMPEDANSI BUS DAN PERUBAHANAN MATRIKS [ Z bus ] Pada seksi IV.....Y nj ⎥ n1 n2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎣Ymn ⎦ [ ] Setelah manipulasi ini selesai. Ynn ⎥ ⎦ ⎣ ⎡Y1n ⎤ ⎢Y ⎥ ⎢ 2n ⎥ Y Y . maka elemen-elemen pada baris ke m dan kolom ke j dari matriks yang akan dihasilkan adalah : Ymj(baru) = Ymj(lama) − Ymn Ynm Ynn (IV. Elemen-elemen [ Z bus ] pada diagonal utama dinamakan impedansi titik penggerak bus dan elemen-elemen diluar diagonal dinamakan impedansi pemindah bus.2 kita sudah memperoleh cara membentuk matriks admitansi bus [ Ybus ]...... sekarang akan kita lihat bagaimana suatu [ Z bus ] yang telah ada dapat dirubah untuk 78 ........ nn ⎥ ⎢ ⎢Ym1 Ym2 Ymj ......... Penerapan metoda penghapusan elemen matriks admitansi bus secara bertahap dapat dituliskan..... menurut definisi : [Z bus ] = [Ybus ]−1 (IV.4-1) Karena [ Ybus ] simetris terhadap diagonal utamanya.BAB IV . maka [ Z bus ] juga harus simetris dengan cara yang sama. Y2n ⎥ − 1 [Ybus ] = ⎢ ⎥ Y .PENGKOM dengan unsur –unsur sebagai berikut : ⎡Y11 Y12 Y1j .. Matriks [ Z bus ] sangat penting dan berguna sekali dalam membuat perhitungan gangguan seperti yang akan dipelajari nanti. IV.. Matriks impedansi bus dapat diperoleh dengan membalikan matriks [ Ybus ]. Karena [ Z bus ] alat yang penting. Y1n ⎤ ⎥ ⎢ ⎢Y21 Y22 Y2j ... Selain dari pembalikan matriks [ Ybus ].3-3) Semua elemen dalam matriks asal K harus dirubah sehingga seluruh elemen matriks dapat dirubah... matriks [ Z bus ] dapat pula dibentuk secara langsung.

.. + I n Z kn + (I p Z kk + I p Z b ) Dengan demikian baris baru yang harus ditambahkan pada matriks Zasli agar dapat memperoleh Vp adalah Zk1. 79 ............. 1 Kasus I.. sehingga : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ = ⎢. dengan arus Ip diinjeksikan pada bus p akan menyebabkan arus yang memasuki jaringan asli pada bus k menjadi jumlah Ik yang diinjeksikan pada bus k ditambah Ip yang mengalir melalui Zp seperti dalam Gambar IV-5.4-2) 2 Kasus II : Menambahkan Zb dari bus baru p pada suatu bus Penambahan rel baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada.. (Zkk + Zb) atau persamaan matriksnya.. ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢ V ⎥ ⎢0 0 0 0 ⎣ p⎦ ⎣ 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎥ ⎥=⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ 0 ⎥ ⎢I n ⎥ Z b ⎥ ⎢I p ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ (IV... Zk2..... ⎢ ⎥ ⎢ .. Menambahkan Zb dari suatu bus baru p pada bus acuan Penambahan rel baru p yang akan dihubungkan pada bus p pedoman melalui impedansi Zb tanpa ada hubungan dengan bus lain dari jaringan aslinya tidak akan merubah tegangan bus asli bila suatu arus Ip diinjeksikan pada bus yang baru. Arus Ip yang mengalir ke bus k akan menaikkan Vk asli menjadi : Vk(baru) = Vk(asli) − I p Z kk Sedangkan Vp = Vk(asli) + I p Z kk + I p Z b Dan Vp = I1 Z k1 + I 2 Z k2 + ..... dan Zkn ..... Zk3... empat kasus akan kita bahas berikut ini.......hmymsc menambahkan bus-bus baru atau menghubungkan saluran-saluran baru.

Penambahan bus baru p yang dihubungkan melalui impedansi Zb pada bus k yang telah ada ⎡V1 ⎤ ⎡ Z1k ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ Z 21k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢V2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ = ⎢....... Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ ⎢Vn ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ Z Z ⎥ ⎢ ⎥ ⎣ p ⎦ ⎣ k1 k2 Z kn (Z kk + Z b )⎦ ⎣I p ⎦ 3 Kasus III : Menambahkan Zb dari suatu bus p yang ada ke bus acuan Untuk melaksanakan hal diatas. j Ij Zb Ib Ij+Ib Jaringan asli dengan bus k .4-4) 4 Kasus IV : Menambahkan Zb diantara dua bus... dan selanjutnya menghilangkan baris ke (n+1) dan kolom (n+1). ....... Penambahan impedansi Zb diantara bus k dan yang telah ada 80 .BAB IV .. bus j dan bus k yang ada Tinjau Gambar IV-6 yang menunjukkan bus-bus yang dikeluarkan dari jaringan aslinya..PENGKOM k Ik Ip Zb p Ik+Ip Jaringan asli dengan bus k dan bus pedoman dukeluarkan 0 Gambar IV-5... Arus Ib mengalir dari bus k ke bus j.4-3) ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎥ .. ⎥ = ⎢ ⎥ (IV..... dimulai dengan membuat suatu baris baru seperti dalam kasus II.. untuk memperoleh elemen-elemen Zhi dalam matriks baru digunakan persamaan berikut : Z hi(baru) = Z hi(asli) − Z h(n +1) Z (n +1)i Z kk + Z b (IV......... j dan bus pedoman dukeluarkan k Ik Ik-Ib 0 Gambar IV-6..

.............. ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Vj ⎥ = ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ k⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ n⎥ ⎢ ⎢0 ⎥ ⎢(Z − Z ) .4-7) Dari persamaan-persamaan diatas....4-5) Vk = Zk1I1 + .....+ Ib (Zkj − Zkk ) (IV.+ Ib (Zjj − Zkj ) (IV.(Z − Z ) (Z − Z ) ⎣ ⎦ ⎣ j1 ⎢ k1 jj jk kj kk Z1j − Z1k ⎤ ⎡I ⎤ 1 ⎥ Z 2j − Z 2k ⎥ ⎢I 2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ (IV.... dan menamakan jumlahnya dengan Zbb didapat : Z bb = Z b + Z jj + Z kk ..4-5) hingga (IV.4-6) Karena Ip tidak diketahui....... + Z1jI j + Z1k I k + .Vk + Vj (IV.4-8) Dengan melihat persamaan (IV.. + I b (Zij − Zik ) Sedangkan Vj = Zj1I1 + ..4-8).... + ZkjI j + ZkkIk + .4-6) dan (IV. kita memerlukan persamaan lain.........4-9) ⎥ ⎢ ⎥ Z jj − Z jk ⎥ ⎢I j ⎥ ⎥= Z kj − Z kk ⎥ ⎢I k ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ ⎥ ⎢ ⎥ Z nj − Z nk ⎥ ⎢I n ⎥ (Z bb ) ⎥ ⎢I b ⎥ ⎥ ⎦ ⎣ ⎦ 81 .2-7) dengan mengumpulkan koefisien-koefisien Ib..... + Z1j (I j + I b ) + Z1k (I k − I b ) + .. dapat dituliskan persamaan matriks berikut : ⎡V1 ⎤ ⎡ ⎢V ⎥ ⎢ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢..... Atau V1 = Z11I1 + ... dengan memasukkan persamaan (IV. yaitu : Vk − Vj = I b Z b Atau 0 = I b Z b ..2Z jk (IV.hmymsc Persamaan bus menjadi : V1 = Z11 I1 + .2-6) kedalam persamaan (IV.+ ZjjI j + ZjkIk + ...

Proses yang dilakukan selain lebih singkat juga sederhana bila dibandingkan dengan proses pembalikan matriks [ Ybus ] Bila kita memiliki data impedansi dan kode bus dimana impedansi tersebut terhubung.BAB IV . Misal bus berikut adalah bus 2 yang terhubung ke bus 1 melalui impedansi Zb.4-10) IV.5-1) Selanjutnya kita mulai menambahkan elemen-elemen bus baru yang terhubung pada bus pertama atau pada bus acuan. pembentukan matriks [ Z bus ] dapat kita mulai dengan menuliskan persamaan untuk suatu bus yang terhubung pada bus acuan.PENGKOM Kolom baru adalah kolom j dikurangi kolom k dari Zasli dengan Zbb pada baris yang ke (n+1). Algoritma dan penulisan program pembentukan matriks Z bus akan dibahas kemudian. CONTOH 5. 5 PEMBENTUKAN MATRIKS IMPEDANSI LANGSUNG Pembentukan matriks impedansi bus [ Z bus ] dengan cara langsung dapat pula dilakukan. Baris baru adalah transpose dari kolom baru.5-2) Dan selanjutnya kita dapat meneruskan prosedur diatas yang telah dijelaskan pada seksi sebelumnya. sebagai : V1 = I1 Z1 (IV.1 Lakukanlah penghapusan simpul pada matrik admitasi bus berikut ini: 82 . maka persamaan matriks yang baru adalah : ⎡V1 ⎤ ⎡ Z 1 0 ⎤ ⎡I1 ⎤ ⎢ V ⎥ = ⎢0 Z ⎥ ⎢ I ⎥ b ⎦⎣ 2 ⎦ ⎣ 2⎦ ⎣ (IV. Dengan menghilangkan baris (n+1) dan kolom (n+1) dari matriks dengan cara yang sama seperti sebelumnya kita lihat bahwa : Zhi(baru) = Zhi(asli) − Zh(n+1) Z(n+1)i Zb + Z jj + Zkk − 2Z jk (IV.

3-3).00 Penyelesaian: 0.j4.j18. Tabel 4.7222 j6.50 . matriks direduksi menjadi berdimensi (4-1) x (4-1).1.91111 j4.2 Coupled elemen 3 3 83 .50 j8.00 ⎥ ⎥ .2222 ⎤ j4. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan (IV.0736 ⎣ j4. dimana elemen-elemen matrik yang baru dihitung menggunakan persamaan yang sama.00 ⎢ ⎣ j5. sehingga diperoleh ⎡.00 .hmymsc ⎡.j8.30 j2.1: Data Jaringan No elemen 1 2 3 4 5 6 No.2 Perhatikan contoh sistem dalam Gambar 4.2 0.9111 Y44 Y44 Unsur-unsur matrik yang lain dihitung dengan cara yang sama.4111 ⎢ j1.3889 .j6.Contoh untuk Y32 dan Y22 didapat: Y32 = Y32 − Y34 Y42 Y Y = j4.7222 dan Y22 = Y22 − 24 42 = − j6.j4. maka matriks direduksi menjadi berdimensi (4-2) x (4-2). Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: ⎡.5 0.5 0.7 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.00 ⎢ ⎢ j4.9444⎥ ⎦ Selanjutnya dilakukan penghapusan bus 3.j10.0736⎤ .50 j5. Tentukan matriks Zbus dari sistem tersebut.00⎥ ⎥ j8.j9.8736 ⎢ j4.j8.0 ⎦ Misalkan penghapusan dilakukan pada bus 4 dan 3.3 Mutual reactance 0.3889 ⎢ ⎢ j6.j14. Kita akan mendapatkan unsur-unsur matrik yang baru sebagai berikut: .1 0.2222 ⎣ j1. bus 0-1 0-2 1-2 0-3 1-4 4-3 Self reactance 0.8736⎥ ⎦ CONTOH 5.00 ⎤ j5.1 0. maka pertama dialakukan penghapusan bus 4.0 j5.80 ⎢ 0.00 j4.0 j2.4 0.7222 ⎥ ⎥ .

1] Langkah 2: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 2 pada bus acuan (kasus 2) Matrik impedansi pada langkah ini menjadi berukuran 2 x 2.7.5⎦ Langkah 3: Menambahkan elemen Zb sebuah link yang menghubungkan bus 1 dan 2. 14. matrik Z dapat dibentuk selangkah demi selangkah sebagai berikut: Langkah 1: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 1 pada bus acuan (kasus 1) Matrik impedansi pada langkah ini hanya terdiri dari sebuah elemen cabang Z = [Zb] = [0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 4 bus Penyelesaian Dengan mengikuti prosedur seperti dikemukakan diatas.1 0 ⎤ Z =⎢ ⎥ ⎣ 0 0.BAB IV . didapat: ⎡0.1 . yang tidak memiliki kopling dengan elemen lain dari sistem yang ada.0.5 ⎥ Z =⎢ ⎥ ⎢0.1 ⎢ 0 0.(kasus 2) Matrik impedansi pada awal langkah ini menjadi: 0 0. elemen cabang baru dihitung menggunakan persamaan IV.5 .PENGKOM 4 3 2 1 Gambar 4.0 ⎥ ⎣ ⎦ 84 .5 1.0.1 ⎤ ⎡0.

26 = Z 44 Dengan demikian matrik impedansi bus dari sistem diatas adalah: ⎡0.05⎤ 0.05 0.4-10) kemudian dihitung impedansi yang menghubungkan cabang 1-4.08 ⎤ 0.Z 31 ) y14 = 0. Matrik impedansi menjadi: ⎡0.5 dan 6).10 ⎥ ⎥ 0.00 0.00 = Z 34 Z 44 = 0.25 0. dimana impedansi primitifnya adalah: ⎡ 60 − 30 ⎢ 13 13 ⎢ − 30 80 y=⎢ ⎢ 30 13 ⎢ ⎢ − 40 20 ⎢ 13 13 ⎣ − 40 ⎤ 13 ⎥ ⎥ 20 ⎥ 13 ⎥ ⎥ 70 ⎥ 13 ⎥ ⎦ Berikutnya dengan menggunakan persamaan (IV.00⎤ 0.26 ⎦ 85 .hmymsc Selanjutnya loop yang terbentuk dieliminasi dengan mengeliminir link.00 ⎣ 0. didapat: Z 41 = Z11 + y11.00 0. Perhitungan dilakukan seperti dalam kasus 4.05 0.08 = Z 14 demikian untuk elemen lain: Z 42 = 0.08 0. yaitu sebuah cabang yang menghubungkan bus 1 dan 4 yang memiliki kopling dengan elemen 3.09 Z =⎢ ⎣0.05 0.05 ⎢ ⎢0.10 0.00 0.10 = Z 24 Z 43 = 0.00 0.09 ⎢0.50 0. Langkah perhitungan dimulai dengan membentuk matrik primitife dari ketiga elemen yang terkopling (3.09 Z = ⎢0.00 ⎥ ⎥ 0.05 Z =⎢ ⎢0.00⎥ ⎥ 0.00 0.00 ⎢ ⎣0.25 0.11 . matrik impedansi menjadi: ⎡0.(Z11 .05⎥ ⎦ Langkah 5: Menambahkan elemen ke 5.25⎥ ⎦ Langkah 4: Menambahkan Zb dari suatu bus baru 3 pada bus acuan (kasus 2) (kasus 2) Penambahan bus baru dalam bus acuan akan menaikkan ukuran matrik 1 kali lebih besar menjadi 3 x 3.

2.282 + j0.000 + j0.015 0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.000 0.2. didapat admitansi jarring untuk masing-masing elemen sebagai berikut: 86 .8.000 + j0.640 0.000 + j0.133 0.097 + j0.021 0.300 Admitansi shunt 0. Contoh sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus Tabel 4.370 0.000 q∈Γp ∑y pq dan Ypq = Yqp = − y pq Dengan demikian untuk contoh diatas (untuk sementara admitansi ke tanah diabaikan).000 + j0.407 0.000 + j0.000 + j0.050 0.2: Data Jaringan No Elemen 1 2 3 4 5 6 7 Penyelesaian Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen. dimana: Ypp = Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi 0.8 dengan data jaringan disajikan dalam Tabel 4.518 0.000 + j0.000 0.123 + j0.000 + j0.723 + j1.000 0.080 + j0. Tentukan matriks Ybus dari sistem tersebut.000 + j0.BAB IV .PENGKOM CONTOH 5.015 0. 1 4 3 6 5 2 Gambar 4.3 Sebuah sistem tenaga elektrik 6 bus seperti diberikan dalam Gambar 4.

518 0.640 0.64606 0.554 – j2.414 – j1.558 − j 2.95452 -0.000 + j0.64606 -0.325 0.95452 demikian pula dengan elemen lain.82746 -0.32494 0.445 – j0.37346 Y22 = y 23 + y 25 = 1.000 – j7.11237 -j13.407 0.518 0.3.000 + j0. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y14 = Y41 = − y14 = 0.Elemen Diagonal.558 – j2.41880 -0.00000 +j3.43393 +j1.577 – j1.58200 -0.57654 +j0.050 0.00000 -j8.097 + j0.080 + j0.44486 +j0.02140 − j1.99220 -j4.554100 +j2.30846 0.333 Elemen matrik Admitansi bus.582 0.44486 +j0.99220 -j4.27150 -0. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 0.32494 -0.000 – j3. Admitansi jarring untuk setiap elemen Kode bus 1–4 1–6 2–3 2–5 3–4 4–6 5–6 Impedansi z pq 0.82746 87 .00000 +j3.57654 +j0.44486 -j8.97650 0.827 0.43393 +j1.57654 -j4.02140 -j1.16486 0.998804 -j7.308 0.64179 0. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: .30846 -0.554100 +j2.41880 0.99220 − j 4.123 + j0.582 demikian pula dengan elemen lain.282 + j0. .62287 -0.616 0.55827 +j2.hmymsc Tabel 4.37346 1.55827 +j2. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq q∈Γp Y11 = y14 + y16 = 0.37346 1.133 0.Elemen Off diagonal.370 0.300 Admitansi y pq = 1 z pq 0.58200 -0.723 + j1.

15 3 2 j1. 88 . Tentukan ZBUS untuk jaringan yang diperliahtkan dalam Gambar 4.2 1 j0.9 dimana semua impedansi diberikan dalam perunit.BAB IV . dengan menyelesaikan persamaan yang telah dibuat. Jaringan untuk soal 1 2.5 Gambar 4. 3. 4.3 j0. Rubahlah ZBUS yang diberikan dalam sosl 1 dengan menambahkan sebuah elemen yang menghubungkan bus 2 dengan bus acuan.PENGKOM SOAL-SOAL BAB 4 1. Tentukanlah ZBUS yang baru dari soal 2 bilamana simpul terbesar dihapuskan.9. Carilah tegangan pada bus 1 dan 3 dari rangkaian dalam Gambar 4. j0.2 j1.9.

UNSRI 5 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

.

khususnya dalam penyelesaian aliran beban. Dari persamaan jaringan I bus = Ybus Vbus . sedangkan sudut tegangan δ dan daya reaktif Q dihitung. BUS AYUN Bus ayun atau bus penadah. BUS PQ Lazim disebut dengan bus beban. 1 PENDAHULUAN Keadaan suatu sistem tenaga elektrik dapat diketahui bilamana tegangan pada semua bus diketahui. 2. yaitu : 1. Namun demikian dalam sistem tenaga elektrik. Dalam setiap bus. Dalam bus ini besaran yang diketahui adalah injeksi daya aktif P dan daya reaktif Q. biasanya bukanlah injeksi arus yang diketahui. oleh karena itu penyelesaian hanya dpat dilakukan dengan cara iterasi.hmymsc BAB V PENYELESAIAN DAN PENGATURAN ALIRAN BEBAN V. V dan sudut tegangan. Salah satu keadaan sistem tenaga elektrik yang paling sering menjadi perhatian adalah aliran beban. disini magnitud tegangan V dan sudut tegangan δ diberikan. Aliran beban pada cabang-cabang jaringan dapat dihitung apabila tegangan pada bus diketahui. δ dihitung. melainkan injeksi daya. bila I diketahui maka persamaan dapat diselesaikan untuk menghitung vektor tegangan V. disini injeksi daya aktif P dan magnitud tegangan V diberikan. Masalah utama dalam studi aliran beban adalah bagaimana menghitung tegangan pada masing-masing bus. yakni secara bertahap mencari tegangan bus yang akan menghasilkan injeksi daya yang sama dengan daya yang ditentukan untuk masingmasing bus. 89 . sedangkan magnitude tegangan. BUS PV Bus PV atau bus pengendali atau sering pula disebut bus pembangkit. sedangkan injeksi daya aktif dan reaktif dihitung. paling sedikit ada dua besaran yang harus diketahui. oleh karena itu dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal tiga tipe bus. 3.

karena pada bus ini susut daya reaktif ditimpakan. 2 DATA UNTUK STUDI ALIRAN BEBAN Dalam penyelesaian masalah aliran beban kita dapat menggunakan bentuk admitansi bus maupun impedansi bus.PENGKOM Konsep bus penadah dibutuhkan karena pada bus penadah inilah semua susut daya pada jaringan ditimpakan. V. V. 3 PERSAMAAN PERFORMANCE JARINGAN Persamaan kinerja jaringan sistem tenaga elektrik dengan kerangka acuan bus dalam bentuk admitansi dinyatakan sebagai berikut : I bus = Ybus Vbus (V. beserta keterangan lain yang diperlukan. Kondisi kerja dan data bus harus selalu ditentukan untuk setiap studi. Konsep yang sama berlaku pula pada bus PV. Demikian pula halnya dengan bus pembangkit yang dikatagorikan sebagai bus PV. tidak semua bus pembangkit harus dikatagorikan sebagai bus PV. rating kapasitor shunt. Data bus meliputi daya aktif dan reaktif pembangkitan maupun pembebanan. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi dua bagian yaitu : data bus dan data jaringan.3-1) Hubungan-hubungan daya aktif dan daya reaktif pada bus p dapat dituliskan sebagai: 90 . Dalam pembahasan ini kita hanya memfokuskan penyelesaian aliran beban menggunakan matriks admitansi bus. Selain itu ranting dan impedansi transformator. namun dalam penyelesaian aliran beban hanya diperlukan sebuah bus penadah. magnitud tegangan dan sudut fasa.BAB V . Untuk memilih bus penadah. cukup diteliti bus mana saja yang masih memiliki kapasitas cadangan pembangkitan yang cukup. Data jaringan yang diperlukan mencakup nilai impedansi seri dari masingmasing cabang jaringan dan admitansi shunt yang ada pada saluran transmisi. Meski semua bus yang ada pembangkit dapat dipilih menjadi bus penadah. dan setelan sadapan Transformator juga diperlukan (bila ada).

3-3) sebagai berikut : Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq 91 . Arus injeksi masing-masing bus dihitung dengan persamaan (V.pq 2 y .pq 2 (V.hmymsc Ip = Pp − jQ p * Vp (V. dimana tegangan awal diberikan dan harus dijaga konstan. Penyelesaian aliran beban diawali dengan asumsi tegangan masing-masing bus diketahui kecuali untuk bus penadah.3-4) Aliran daya aktif dan reaktif antara kedua bus menjadi * Ppq − jQ pq = Vp i pq Atau Ppq − jQ pq = V (Vp − Vq )y pq + V Vp * p * p y .3-2) Atau Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑ (G pq + jB pq )Vq (V.3-3) Persamaan arus dalam jaringan yang menghubungkan bus p dengan bus lain (misal bus q) dapat dinyatakan dengan i pq = Vp − Vq y pq + Vp y .pq = total admitansi pengisian tanah (line charging) V.pq 2 ( ) (V.3-5) Pqp − jQ qp = V (Vq − Vp )y pq + V Vq * q * q Dimana : y pq = admitansi jaringan (bedakan dengan admitansi bus) y . 4 METODA GAUSS-SEIDEL Penyelesaian aliran beban merupakan penyelesaian yang hanya dapat dilakukan dengan metoda iterasi.

Misalkan : KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn Persamaan (V.PENGKOM Atau dalam bentuk lain Pp − jQ p * Vp = q∈Γ (p) ∑Y pq Vq (V. dan bus 1 ditetapkan sebagai bus penadah.4-4) 92 .∑ Ykn Vn ⎟ ⎜ * Ykk ⎜ Vk n =1 ⎟ k≠n ⎝ ⎠ k = 1.4-3) B. antara lain: A. ….. jumlah bus k ≠ bus penadah untuk meningkatkan efisiensi waktu perhitungan diperlukan beberapa modifikasi operasi aritmatik sebanyak mungkin sebelum perhitungan iteratif dimulai. Misalkan : L k = (V. tegangan untuk bus k dapat dituliskan sebagai berikut: ⎛ ⎞ ⎟ 1 ⎜ Pk − jQ k n Vk = .∑ Ykn Vn L k ⎟ * Vk n =1 ⎟ ⎜ k≠n ⎠ ⎝ (V.4-1) apabila ground diambil sebagai bus acuan.2.4-3) menjadi lebih sederhana.4-2) 1 Ykk Persamaan (V.4-2) akan menjadi : ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ (Pk − jQ k )L k n Vk = ⎜ . sebagai berikut: ⎞ ⎛ ⎟ ⎜ KL k n Vk = ⎜ * .∑ YL kn Vn ⎟ ⎟ ⎜ Vk n = 1 k≠n ⎠ ⎝ (V.BAB V . maka n-1 persamaan simultan dapat dituliskan..

sehingga untuk sistem tenaga elektrik yang terdiri dari 4 bus.4-5) * V3 KL 4 . 93 .YL 43 V3k +1 * V4 Adapun urutan perhitungan aliran daya dengan metoda Gauss-Seidel disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-1.YL 34 V4k (V.hmymsc Dengan demikian persamaan umum yang akan diselesaikan adalah persamaan (V.YL 31 V1k +1 − YL 32 V2 .YL12 V2 − YL13 V3k . persamaan yang akan diselesaikan adalah : V1k +1 = V3k +1 = V4k +1 = KL1 .YL 41 V1k +1 − YL 42 V2 . dengan bus 1 sebagai bus penadah.YL14 V4k * V1 KL 3 .4-4).

PENGKOM MULAI Masukan data : Bus.BAB V . p p =1 Is p equal slack bus ? Yes No Hitung harga V.Jaringan. untuk bus p sesuai pers V.4-4 Set pencacah iterasi. Asumsi tegangan Bentuk Matriks Admitansi bus [Ybus] Hitung Parameter bus dan jaringan KLp. Epsilon. YLpq pers.0 Set pencacah bus.4-3 . Tipe bus.Vold 1 2 3 4 94 .4-4 Hitung perubahan tegangan dV dV = Vnew .V. Base.V. k dan dV K=0 dV = 0.

Dari persamaan (V.3-5 SELESAI Gambar V-1. 5 METODA NEWTON-RAPHSON Bila dalam metoda Gauss-Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan himpunan persamaan tegangan.hmymsc 1 2 3 4 Periksa harga dVmak <Epsilon Yes No Pertukarkan harga V lama dengan V baru p=p+1 No p=p+1 Rubah harga dV = dVmak Periksa harga dVmak <Epsilon No Pertukarkan harga V lama dengan V baru No Is dVmak < epsilon? Yes Hitung aliran daya pers V. dipergunakan himpunan persamaan non-linear untuk mengekspresikan daya aktif dan reaktif dalam bentuk tegangan. dimana 95 . Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda GS menggunakan matirks admitansi bus V.3-1). Dalam metoda Newton Raphson.

maka persamaan (V.5-4) Formulasi ini akan menghasilkan masing-masing dua persamaan untuk masing-masing bus. didapat Pp = ∑{ ep (eq Gpq + f pqBpq ) + f p (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s Qp = ∑{ f p (eq Gpq + f pqBpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.5-2) Mengingat bahwa : Ypq = G pq − jB pq dan Vp = e p + jf p . dapat pula dituliskan ⎛ ⎞ * Pp − jQ p = Vp ⎜ ∑ Ypq Vq ⎟ ⎜ ⎟ ⎝ q∈Γp ⎠ (V.PENGKOM Ip = Pp − jQ p * Vp Atau * Pp − jQ p = I p Vp (V.5-2) dapat ditulis menjadi : ⎛ n ⎞ ⎜ ⎟ Pp − jQp = (e p − jf p ) ⎜ ∑(G pq − jBpq )(eq + jfq )⎟ ⎜ q=1 ⎟ ⎝ q≠s ⎠ (V. Metoda Newton Raphson membutuhkan himpunan persamaan linear yang menggambarkan hubungan antara perubahan daya aktif dan reaktif terhadap komponen-komponen tegangan bus. yang dapat dinyatakan sebagai berikut : 96 .5-3) Bilamana bagian real dipisahkan dengan imajiner.BAB V . sehingga akan diperoleh 2(n-1) persamaan yang harus diselesaikan.5-1) Dalam bentuk lain.

. .. ⎥ ..... ⎥ ⎢ΔQ ⎥ ⎢ ∂Q1 .⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ (V...... ⎥ ⎢ ..5-6) terhadap eq akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J1...5.∂Qn−1 ⎥ ⎢Δf ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎢ ∂e ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎥ ⎣ n−1 ⎦ ⎣ 1 ⎦ Dalam bentuk yang lebih sederhana..............5-5a) ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q1 ⎥ ∂Q1 ∂Q1 ∂Q1 ⎥ ⎢ ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e .............5-6) p = 1...... ⎢. 1 ⎥ ⎡Δe1 ⎤ ⎡ΔP1 ⎤ ⎢ 1 . ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.⎥ = ⎢ 1 ⎥ ⎢.. .∂e M ∂e .... ....2........∂Qn−1 M ∂Q1 ... ..⎥ ⎢. ⎥ ⎢ ⎢..-⎥ (V... ⎥ ∂Pn−1 ∂P ∂Pn−1 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂Pn−1 ⎥ 1 ⎢ΔPn−1 ⎥ ⎢ ∂e ........5-4a) Pp = ep (eq Gpp + f p Bpp ) + f p (f pGpp − ep Bpp ) + ∑{ e (e G n q=1 q≠s p q pq + f q Bpq ) + f q (f q Gpq − eq Bpq ) } (V....∂f ⎢Δen−1 ⎥ ⎥ 1 n−1 n−1 ⎢................. sebagai berikut : ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pq (V... ∂e ⎥ ⎢Δf1 ⎥ 1 1 n−1 ⎢. ……..... n-1 Diferensiasi persamaan (V.... Daya nyata dari persamaan (V. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.....⎥ = ⎢........ persamaan (V............................. ⎥ ⎢ ∂e1 ⎥ .............. ........5-8) n q=1 q≠p 97 ....... ⎥ ⎢ ⎥ ⎢..... ∂en−1 ∂f1 ∂f n−1 ⎢ ⎢.5-5b) Dimana koefisien matriks adalah Jacobian dan bus ke n adalah bus penadah.. ⎥ ⎢ ⎥ ⎢.∂e M ∂f ... Persamaan-persamaan untuk menentukan elemen Jacobian dapat diturunkan dari persamaan daya bus...5-7) q≠p Sedangkan untuk elemen diagonal didapat ∂Pp ∂eq = 2epGpq + f p Bpq − f p Bpq + ∑(epGpq − f q Bpq ) (V...... ..............5a) dapat ditulis : ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡Δe ⎤ ⎢. .........hmymsc ∂P ∂P ∂P ⎤ ⎡ ∂P 1 M 1 ........... ⎥ ....... ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢..

5-4) adalah 98 . elemen-elemen luar diagonal submatriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal matriks J2 adalah ∂Pp ∂f q = ep Bpp + f pGpp − ep Bpp + ∑(fq Gpq − eq Bpq ) (V.PENGKOM Persamaan arus untuk bus p. Ip adalah I p = c p + jd p = (G pp − jB pp )(e p + jf p ) + ∑ (G pq − jB pq )(e q + jf q ) n q =1 q≠p yang dapat dipisah dalam dua bagian.BAB V .5-9) Oleh karena itu ekspresi elemen diagonal submatriks J1 dapat disederhanakan menjadi: ∂Pp ∂e q = e p G pq − f p B pp + c p Dari persamaan (V.5-10) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V.510) didapat : ∂Pp ∂f q = e p B pp + f p B pp + d p Daya reaktif Q.5-6).5-9) disubstitusikan kedalam persamaan (V. yaitu bagian real dan imajiner berikut ini : c p = e p G pp + f p B pp ) + ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p n d p = f p G pp − e p B pp ) + ∑ (f q G pq − e q B pq ) q =1 q≠p (V. dari persamaan (V.

5-12) n q=1 q≠p Komponen imajiner dari persamaan (V. …. akan diperoleh elemen-elemen luar diagonal dari submatriks J3 adalah ∂Q p ∂e q = e p B pq + f p G pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J3 adalah: ∂Qp ∂ep = f pGpp − f pGpp + 2ep Bpp − ∑(fqGpq − eq Bpq ) (V.2.5-11) disubstitusikan ke (V.5-11).11) p = 1.5-12) didapat ∂Qp ∂e p = e p B pp + f p G pp − d p Dari persamaan (V. n-1 Difrensiasi persamaan (V.hmymsc Qp = f p (ep G pp + f p Bpp ) − ep (f p G pq − ep Bpp ) + ∑{ f p (eq Gpq + f q Bpq ) − ep (f q Gpq − eq Bpq ) } n q=1 q≠s (V.5..5-11) terhadap eq. elemen-elemen luar diagonal submatriks J4 adalah : ∂Q p ∂f q = −e p G pq + f p B pq q≠p Dan elemen-elemen diagonal submatriks J4 ∂Q p ∂f p = e p G pp + 2f p B pp − e p G pp − ∑ (e q G pq + f q B pq ) n q =1 q≠p Atau dapat ditulis menjadi ∂Q p ∂f p = −e p G pp + f p B pp + c p 99 .

Mari kita lihat kembali persamaan jaringan pada persamaan (V. Prosedur penyelesaian aliran beban dengan metoda Newton Raphson disajikan dalam diagram alir pada Gambar V-2. selanjutnya dihitung harga estimasi tegangan bus yang baru.5-12) k Proses perhitungan dilanjutkan hingga ΔPpk dan ΔQp untuk semua bus mencapai batas ketelitian (toleransi) yang diizinkan. V.BAB V . kedua metoda terdahulu memerlukan suatu solusi bilangan kompleks. 6 METODA FAST-DECOUPLED Metoda ini adalah kulminasi dari usaha-usaha menyederhanakan implementasi sekaligus memperbaiki efisiensi perhitungan dari metoda Newton Raphson.5-5) dapat diselesaikan secara langsung maupun iterasi. Setelah harga Δe i dan Δf i didapat. disamping itu metoda Newton Raphson memerlukan teknik pemrograman yang relatif rumit untuk mendapatkan program yang efisien. yaitu : e k +1 = e k + Δe k p p p f pk +1 = f pk + Δf pk (V. kemudian digunakan untuk menghitung arus guna mengevaluasi/menghitung elemen-elemen matriks Jacobian. sebaliknya metoda Fast Decoupled tidak memerlukan hal tersebut.PENGKOM Bila diberikan harga inisialisasi himpunan tegangan bus. Dalam teknik pemrograman. yang meskipun terkenal memiliki konvergensi kuadratik namun terlalu banyak memerlukan tempat dan memakan waktu.3-1).5-4). Perubahan daya ΔP dan ΔQ dihitung dari selisih antara daya terjadual dan daya hasil perhitungan. daya aktif dan daya reaktif dapat dihitung berdasarkan persamaan (V. Persamaan linear yang didapat dari persamaan (V. yaitu: ΔPpk = Pp(terjadual) − Pp(hitungan) ΔQ k = Q p(terjadual) − Q p(hitungan) p Hasil estimasi tegangan bus dan perhitungan daya. yaitu : 100 .

[G]. Qq pers.5-12 Pertukarkan harga ep dan fp Gambar V-2.5. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda NR menggunakan matriks admitansi bus −1 Vbus = Ybus I bus (V.V.V.4 Hitung : 1.6-2) 101 .hmymsc MULAI Masukan data : Bus. [B] Hitung : Pp. Tipe bus. Epsilon. V.3-5 Hitung Elemen Jacobi pers V.5-12 K = K +1 Selesaikan pers. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [Ybus].Jaringan.5-9 Hitung aliran beban pers V.6-1) Dengan persamaan injeksi arus Ip = Pp − jQ p * Vp = q∈Γp ∑Y pq Vq (V.5-5 SELESAI Hitung Tegangan Bus yang baru pers V. maks dP dan dQ Is maks dP and dQ > epsilon ? No Yes Hitung arus bus Ip pers.5-7 . dP dan dQ 2. Base. V.

.. dalam versi ini. ... .. persamaan daya dalam persamaan (V. kita nyatakan harga-harga [V] dan [Y] sebagai berikut: Vp = Vp ∠δ p dan δ pq = δ p − δ q Ypq = G pq + jB pq Dengan koordinat Polar.5-4) dapat ditulis menjadi: Pp = Vp ∑ (G pq cos δ pq + B pq sin δ pq ) Vq n q =1 n ( ) ) (V. 2. p ≠ pv bus Dan ⎡ΔP ⎤ ⎡ J 1 M J 2 ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢...BAB V .⎥ = ⎢.⎥ ⎥ ⎥⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ⎢Δ V / V ⎥ ⎢ΔQ⎥ ⎢ J 3 M J 4 ⎥ ⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ ⎦ Atau (V.. diperoleh * * Vp I * = S p = Vp ∑ Ypq Vp p q∈Γp ( ) (V..6-2). dan dikalikan dengan Vp.6-5) ⎡ΔP ⎤ ⎡H N ⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢M L⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦⎣ ⎦ Dengan elemen-elemen Jacobian 102 .⎥ ⎢...n p ≠ s..6-4) Q p = Vp ∑ ((G q =1 pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) Vq Sedangkan ΔPpk = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) ΔQ k = Q p(ditentukan) − Pp(dihitung) p p = 1.6-3) Untuk menjelaskan metoda Fast Decoupled akan lebih enak bila persamaan-persamaan yang digunakan dinyatakan dalam koordinat Polar.PENGKOM Konjugasi persamaan (V..

103 .6-6) Untuk p = q H pp = −Q p − B pp Vp Vp L pp = Q p − B pp M pq = Pp − G pp N pp = Pp + B pp Vp Vp Vp ( (V p Vp ) ) ) ) (V. banyak keuntungan yang dapat diperoleh dibanding metoda Newton. teknik pemrograman yang lebih sederhana. Dengan penguraian ini. pada umumnya |Gpq| < |Bpq| dan δpq sangat kecil. Dalam hal ini nyata terlihat bahwa penyelesaian dapat dilakukan secara decoupled. Memperhatikan bahwa.δ dan Q – |V| sangat lemah. P dan sudut tegangan. Q dengan magnitud tegangan |V|. selain itu kecepatan hitung menjadi dua kali lipat. sehingga ada kecenderungan untuk menyelesaikan masalah P .6-7) Bila kita amati.δ dan Q –|V| secara terpisah. sehingga G pq sin δ pq − B pq cos δ pq > G pq cos δ pq − B pq sin δ pq Maka submatriks M dan N dapat diabaikan sehingga persamaan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡H 0⎤ ⎡ Δδ ⎤ ⎢ΔQ⎥ = ⎢0 L ⎥ ⎢Δ V/V ⎥ ⎦⎣ ⎣ ⎦ ⎣ ⎦ Atau ΔP = H Δδ ΔQ = L ΔV Dimana ΔV adalah cara penulisan ringkas vektor Δ V /V . kopling antara komponen P . δ dan antara daya reaktif. hal yang sangat menarik dari karakteristik sistem Transmisi daya elektrik yang beroperasi dalam keadaan tunak adalah interdefendenses antara daya aktif. yakni separuh tempat.hmymsc Untuk p ≠ q H pq = L pq = Vp Vq (G pq sin δ pq − B pq cos δ pq ) N pq = M pq p q pq ) = ( V V )(G ( (V p ( cos δ pq − B pq sin δ pq ) (V.

][ΔV] 104 (V. ][Δδ] [ΔQ/V] = [B. Bila [V][ ΔV] digantikan dengan [ΔV]. Selanjutnya. ][ΔV] Dimana [ΔP/V] = V −1ΔP = (Pp /Vp ) [ΔQ/V] = V −1ΔQ = (Q p /Vp ) Penyederhanaan berikutnya adalah pendekatan [V] = [I]. Qp << Bpp |Vp|2 Dengan ekspresi diatas persamaan (V.0 ii.6-9) dengan demikian persamaan (V. karena proses yang paling memakan waktu adalah pembentukan dan solusi Jacobian.6-10) ...PENGKOM Penyederhanaan lebih lanjut terhadap kecepatan hitung adalah digunakannya matriks Jacobian yang sama untuk semua iterasi.BAB V . Metoda Fast Decoupled. dengan mengalikan kedua [ΔP/ V ] = [B ][V][Δδ] [ΔQ/ V ] = [B ][V][ΔV] . Dasar-dasar penyederhanaan adalah: cos δ pq = 1 dan sin δ pq = 0.6-8) menjadi [ΔP] = [Vp ][B. ][V][Δδ] [ΔQ/V] = [B . ][Vp ][Δδ] [ΔQ] = [Vp ][B . ][Vp ][ΔV] persamaan diatas dengan [Vp]-1 didapat dimana [Vp] adalah matriks diagonal. lebih jauh tanpa mengurangi ketelitiannya. dapat disederhanakan i.6-6) dan (V.. maka diperoleh bentuk umum persamaan yang terkenal dengan nama FAST DECOUPLED LOAD FLOW (FDLF): [ΔP/V ] = [B ..6-7) dapat ditulis menjadi Untuk p ≠ q H pq = L pq = − Vp Vq (B pq ) Untuk p = q ( ) H pp = L pp = − B pp Vp Vp ( ) (V. . maka [ΔP/V ] = [B .

Pendekatan-pendekatan yang berdasarkan pengalaman berikut meski selintas sepele ternyata sangat menekan dalam memperbaiki keandalan dan konvergensi metoda Fast Decoupled. Mendapatkan unsur-unsur B’ langsung dari susceptansi dari reaktansi cabang jaringan. 2 3 Menghilangkan dari B” pengaruh pemutaran sudut yang dihasilkan oleh pemutar fasa. 1 Menghilangkan dari B’ unsur yang lebih utama mempengaruhi daya reaktif MVAR. Pembentukan matriks [B’] dan [B”] adalah sebagai berikut : 1 Elemen-elemen Matriks B’ Luar diagonal b 'pq = 1 x pq Diagonal b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq 2 Elemen-elemen Matriks B” Luar diagonal ' b 'pq = (r x pq + x2 pq 2 pq ) Diagonal ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp dimana : ∑ysh adalah jumlah admitansi shunt di bus p baik yang berasal dari separuh admitansi bocor hantaran (half line charging). yakni reaktansi-reaktansi shunt seperti yang berasal dari kapasitor hantaran dan reaktansi sebagai akibat setelan sadapan transformator diluar nominal. admitansi bocor Trafo 105 .hmymsc Dimana unsur-unsur matrik B’ dan B” diperoleh dari unsur-unsur matriks Ybus yang bersamaan. Sampai pada tahap ini pendekatan yang dilakukan masih bersifat penyederhanaan perumusan. Bagian ini adalah bagian imajiner dari matriks Ybus.

Epsilon. Diagram Alir Penyelesaian Aliran Beban dengan Metoda Fast Decoupled 106 .PENGKOM akibat posisi tap diluar nominal atau admitansi kapasitor/reaktor shunt yang ada di bus Diagram alir metoda FDLF diberikan dalam Gambar V-3.Jaringan. dan perbaiki V No Is kP = 0 Yes Hitung Aliran daya pers v.BAB V . Tipe bus. MULAI Masukan data : Bus.3-5 Yes SELESAI Gambar V-3. Base. Asumsi tegangan Bentuk Matriks : [B'] dan [B"] Set kP = kQ = 0 Hitung : dP/V Is dP < epsilon ? No Hitung perubahan sudut theta Perbaiki harga sudut theta Yes kP = 0 Is kQ = 0 ? No Hitung : dQ/V Yes kQ = 0 Is dQ < epsilon ? No Hitung dV.

1 Menggunakan Metoda Gauss-Seidel Metoda Newton Raphson FDLF 3 4 2 5 Gambar V.00 + j0.01 + j0.06 + j0. Hitung Aliran daya: a. serta estimasi tegangan bus diberikan dalam Tabel 2.010 j0.020 j0. Data pembangkitan dan pembebanan.04 + j0.020 j0.060 j0.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.00 + j0. dengan data impedansi jaringan dan admitansi charging dalam perunit pada base 100 kVA diberikan dalam Tabel 1.015 j0.03 0. c. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.00 107 .06 0.06 + j0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.hmymsc CONTOH 5.00 1.06 + j0.1 Sebuah sistem seperti disajikan dalam Gambar V.00 1.4.08 + j0.08 + j0.18 0.025 j0.18 0.00 1.12 0.24 0.025 Tabel 2.00 + j0. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.02 + j0. b.1 Tabel 1.00 + j0.00 1.

24 Admitansi y pq = 1 z pq 5.66667 – j5.BAB V .0000 – j30.PENGKOM Penyelesaian A.75000 Sedangkan untuk admitansi ketanah pada masing-masing bus adalah: Tabel 4. selanjutnya dapat dihitung sebagai berikut: . Hasil perhitungan Admitansi jaring untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.0000 2.0000 1.24 0.03 0. Metoda Gauss – Seidel 1.18 0.02 + j0.50000 – j7.25000 – j3. dimana: y pq = 1 .75000 1.0000 1.08 + j0.055000 j0. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2. Hasil perhitungan Admitansi shunt pada setiap bus Bus 1 2 3 4 5 Admitansi shunt y sh(p) = ∑ y 'pq / 2 j0. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus. y sh(p) = z pq ∑y ' pq /2 Dengan demikian untuk contoh diatas.08 + j0.040000 Elemen matrik Admitansi bus.3. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.085000 j0. didapat admitansi jaring untuk masing-masing Cabang sebagai berikut: Tabel 4. Bilamana tidak terdapat kopling antara masing-masing elemen.06 + j0.06 + j0.2.055000 j0.06 0. berdasarkan persamaan Ypp = ∑ y pq + y sh(p) q∈Γp Y11 = y12 + y13 + y sh(1) = 6.0000 – j 15.01 + j0.66667 – j5.12 0. pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan dengan cepat seperti yang dikemukakan dalam subbab IV.25000 – j3.50000 10.0000 1.055000 j0.Elemen Diagonal.25000 − j18.04 + j0.6950 108 .18 0.

83334 -j32.0000 -1.6950 -5.02413 + j 0.2500 + j3.0000 -1.00071 6.0000 .00000 0.j18.6667 +j5.80212 + j 0.6950 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: 109 .20) 1 Y22 1 10.0000 + j15.7500 0.5000 +j7.00370 demikian pula untuk parameter bus yang lain.00370 -0.7500 -5.Elemen Off diagonal.7500 -1.0000 -j30.6950 -1. Sehingga matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6.83334 . .00000 + j 0.hmymsc demikian pula dengan elemen lain.2500 +j3.j32.2500 .6667 +j5.00930 -0.00740 + j 0.0000 -2.00000 demikian pula dengan elemen lain.6950 -10.4150 -1.0000 -10.5000 +j7.0000 -j30.00698 + j 0.00000 + j15.57654 -j4.j15.91667 -j38.0000 10.0000 -1. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 2 = ((PG2 − PL2 ) − j (Q G2 − Q L2 )) = (0.64179 3.2500 -j18.6667 +j5.5000 -1.2500 +j3.91667 -j38. berdasarkan persamaan Ypq = Yqp = − y pq Y12 = Y21 = − y12 = −5.0000 12.7500 -2.0000 + j15.5000 -1.2500 + j3.04545 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL12 = Y12 L 2 = Y12 = 1 Y22 5.00427 + j 0.0000 12.4150 = 0. Langkah berikutnya adalah menghitung parameter bus (KLp) dan parameter jaringan (YLpq) KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.20 − j 0.0000 = −0.6667 +j5. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 KLp 0.00740 + j0.00891 -0.

000360 -0.000060 -0.000120 -0.77518 + j0.000180 -0.03752 + j0.80212 + j0.YL 24 V4 .00290) . Pada 110 .000710 -0.23131 + j0. 1 Jika ΔV2 ≤ ε .052530 + j0.33440 + j0.80212 + j0.80212 + j0.12920 + j0. V4 .46263 + j0.00290 1 0 1 V2(accelerated) = V2 + α ΔV2 = 1. perhitungan selesai.66881 + j0.YL 25 V50 = 1. sampai konvergensi tercapai.000006 -0. namun sebaliknya maka perhitungan dilanjutkan mengikuti langkah ke 4.12920 + j0.00290 1 1 0 ΔV2 = V2 . dengan mengikuti cara-cara diatas.20053 + j0. Pengecekan konvergensi 1 1 1 1 Setelah perhitungan semua bus didapat Vi1 = { V2 .V2 = (1.000330 -0.03752 + j0.000040 -0.000360 -0.000 + j0.15241 + j0. 5.000720 -0.000180 -0. V3 . Langkah selanjutnya adalah menghitung tegangan masing-masing bus sesuai dengan persamaan berikut: Untuk bus 1 : V1 (bus penadah) tidak dihitung Untuk bus 2 dan lainnya: 1 V2 = KL 2 * V2 0 .000120 -0.09690 + j0. tentukan 1 harga ΔVik(Maksimum) . misalkan didapat ΔVik(Maksimum) = ΔV2 .PENGKOM Bus P–q 1–2 1–3 2–1 2–3 2–4 2–5 3–1 3–2 3–4 4–2 4–3 4–5 5–2 5–4 1–2 1–2 1–2 YLpq -0.00406 1 Tegangan ini menggantikan tegangan V2 dan digunakan untuk menghitung tegangan bus selanjutnya.BAB V .000) = 0.80212 + j0.000710 -0.000710 -0.03752 + j0.15241 + j0. V5 } .77518 + j0.YL 21 V1 − YL 23 V30 .000710 4.(1.000004 -0.09690 + j0.000330 -0.

00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0. menggunakan persamaan (V. 111 .00000+j0.00000 5 1. langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya pada masing-masing cabang.Misal untuk cabang 1.00406 1. maka.00000+j0.01280 1.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1. * * = V2 (V2 − V1 )y12 + V2 V2 12 2 Susut daya pada cabang dihitung dengan cara: ΔPQ12 = (P12 − jQ12 ) .00000+j0.00000+j0. dan tegangan pada masing-masing bus sudah ditentukan.00000+j0.00000+j0.01579+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1. y12 2 y.00000+j0. Tabel s.00000+j0.00000+j0.00000 1. aliran daya pada setiap cabang dapat dihitung.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.(P21 − jQ 21 ) Setelah.00000 1.00000 1.00966+j0. sebagai berikut: .00000 3 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1. setelah dilakukan perhitungan sampai 10 iterasi.00000 1.00000 6.00000+j0.00000+j0.00000+j0. Rekaman Perubahan Tegangan Bus pada berbagai Iterasi K 0 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 Tegangan bus 2 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1. yang menghubungkan bus 1 dan 2.05253+j0.00000 1.00000 4 1.00000 1.00000+j0. Perhitungan Aliran Daya Setelah konvergensi tercapai.00000+j0.3-5).00000+j0. berikutnya adalah menghitung daya pada bus penadah.00000 1.00000 1.02635 1. didapat: P12 − jQ12 = V1* (V1 − V2 )y12 + V1* V1 P21 − jQ 21 .00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.hmymsc Tabel s berikut ini disajikan rekaman perubahan tegangan untuk masingmasing bus.00000+j0.00000+j0.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1.00000 1.00000+j0.00000 1.00000+j0. dengan cara sebagai berikut: Daya pada bus penadah adalah: Ps − jQ s = q∈Γp ∑ (P sq − jQ sq ) Secara lengkap hasil perhitungan aliran daya setiap cabang disajikan dalam Tabel r.00000 1.00000+j0.00000+j0.

64179 Mengingat bahwa Ypq = G pq − jB pq .50 P1 − jQ1 = {P12 − jQ12 ) + (P13 − jQ13 ) B.60 -57.90 3.40 6.57654 Dan 112 .5000 +j7. Metoda Newton Raphson 1.0000 -10.57654 -j4.0000 -j30.6667 +j5.50 -5.6667 -2.0000 10.91667 -j38.6950 -10.6950 -5.0000 + j15.7500 -1.2500 -j18.20 24.2500 + j3.30 -2.j7.91667 -10.30 12.91667 -j38.2500 +j3.40 -53.2500 + j3.2500 -2.0000 -2.0000 -1.8. maka matriks G dan B dari sistem diatas dapat ditentukan yaitu sebagai berikut: 6.5000 -1.50 -3.20 18.6667 +j5.20 40.10 -39.20 6.80 27. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi bus (Lihat jawaban A).2500 -5.00 -27. Hasil Perhitungan Aliran Daya Setiap Cabang Cabang 1–2 2–1 1–3 3–1 2–3 3–2 2–4 4–2 2–5 5–2 3–4 4–3 4–5 5–4 Aliran Daya Ppq (MW) Qpq(MVAR) 88.4150 -1. Sebagai bus penadah dipilih bus 1: 2.5000 -1.0000 -1.7500 -2.5000 -1.0000 + j15.5 .90 -5.80 ΔPQ pq Daya nyata pada bus penadah adalah: = 129.90 3.70 3.0000 12.0000 12.91667 -1.6667 -1.83334 -1.0000 -1.80 .70 -7.6950 -1.83334 -j32.0000 10.90 54.10 -18.6667 +j5.7500 0. dimana matrik admitansi bus dari sistem diatas adalah: 6. Langkah pertama: Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan.0000 12.6667 +j5.PENGKOM Tabel r.30 -6.BAB V .2500 -1.2500 -5.30 -6.2500 0.80 7.50 -24.0000 -1.6667 -10.70 1.5000 +j7.2500 +j3.0000 -j30.6667 12.0000 -1.7500 -5.5000 -1.

Misalkan untuk bus 2: berikutnya Ppk Qk p ΔPpk ΔQ k p -0.0000 -30.0000 -5.7500 -15.6950 -30.64179 3.28000 -0.0000 -3.0000 38.98500 -0.9850 2 dengan cara yang sama.18500 0.0000 32.13000 0. untuk bus yang lain akan diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4 Langkah berikut: Menghitung elemen arus cp dan dp menggunakan persamaan (V.5000 -3.5-9).50000 -0.5000 .06000 matriks Jacobian menggunakan persamaan (V.0000 -7.3.30000 -0.0000 38. dengan cara sebagai 113 .0.512).4150 -5.5-12).37500 -0.07500 0.7500 -5.hmymsc 18.0000 0.7500 4.5-7) sampai (V.60000 elemen 1.04000 menghitung 0.40000 -0.0000 -5.0000 adalah -0.0. Langkah berikutnya adalah menghitung besarnya perubahan daya aktif dan reaktif dari masing-masing bus menggunakan persamaan (V.6950 -15. sebagai berikut: Misalkan untuk bus 2 k ΔP2k = P2(ditentukan) − P2(dihitung) ΔQ k = Q 2(ditentukan) − Q k 2 2(dihitung) dengan : 1 0 0 0 0 0 P2 ={e0 (e1 G21 + f10 B21 ) + f 2 (f10 G21 − e1 B21 )}+{e0 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 0 f 2 (f20 G22 − e0 B22 )} +{e0 (e3 G23 + f3 B23 ) + f 2 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 0 0 0 0 0 {e0 (e4 G24 + f4 B24 ) + f 2 (f40 G24 − e0 B24 )}+{e0 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 2 0 0 f 2 (f50 G25 − e5 B25 )}= .6950 -3.5-4) dan (5.30000 sedangkan 0 0 0 0 0 0 Q1 ={f2 (e1 G21 + f10 B21 ) + e 0 (f10 G21 − e1 B21 )}+{f 2 (e2 G22 + f2 B22 ) + 2 2 0 0 0 0 e 0 (f20 G22 − e0 B22 )} +{f2 (e3 G23 + f3 B23 ) + e0 (f30 G23 − e3 B23 )}+ 2 2 2 0 0 0 0 0 0 {f 2 (e4 G24 + f4 B24 ) + e 0 (f40 G24 − e0 B24 )}+{f2 (e5 G25 + f5 B25 ) + 2 4 0 e 0 (f50 G25 − e5 B25 )}= .05500 -0.00500 -0.7500 -7.

84167 -10.66667 12. sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 ck p dk p -0.0000 12.53334 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 G 23 − f 2 B 23 = .30000 -0. untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 G 22 − f 2 B 22 + c 2 = 10.00000 -1.0.BAB V .1.PENGKOM I 0 = c 2 + jd 2 = 2 0 P2 − jQ 0 2 0 (V2 ) * = .6667 -10.0000 0.00000 -1.53334 -1.05500 0.5.66667 2 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.91667 -1.2500 3.75000 J2 J4 J3 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J2: Misalkan untuk bus 2.98500 0. sehingga diperoleh elemen matrik J1 sebagai berikut: 10.0000 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.66667 -1. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: 114 . untuk elemen diagonal ∂P2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 + d 2 = 33.25000 -2.5000 -1.50000 0.0000 0.0000 0.28000 0.30000 + j0.07500 0.66667 -2.980000 demikian pula untuk bus lain.04000 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J1: Misalkan untuk bus 2.4000 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂P2 = e1 B 23 + f 2 B 23 = .

untuk elemen diagonal ∂Q 2 = −e 2 G 22 + f 2 B 22 + c 2 = .5000 -5.0000 -3.hmymsc 33.11.7500 11.4000 -5.5000 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J3: Misalkan untuk bus 2.5000 0. sehingga diperoleh elemen matrik J4 sebagai berikut: 115 .0000 38.4300 -5.0000 -5.00000 -5.0000 -30.0000 38.5. sehingga diperoleh elemen matrik J2 sebagai berikut: J1 31.0000 -30.6400 -3.0000 -5.000 38.0000 0.4150 -30.1700 J2 J4 Tahap berikutnya menghitung elemen submatriks J4: Misalkan untuk bus 2.7500 -7.000 38.0000 -7.7500 0.7500 11.7500 -3.0000 ∂e 3 demikian pula untuk bus lain.2500 J1 J3 -5.13334 ∂f 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 = −e1 G 23 + f 2 B 23 = 1.000 0. untuk elemen diagonal ∂Q 2 = e 2 B 22 + f 2 G 22 − d 2 = 31.9750 -30.00000 -3.00000 -5.66667 2 ∂f 3 demikian pula untuk bus lain.000 0.0000 -7.4300 ∂e 2 dan untuk off diagonal ∂Q 2 1 = f 2 G 23 + e 2 B 23 = .

25000 2.00000 1.03176 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δe4 ⎥ ⎢0.99167 1.BAB V .02652 ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf2 ⎥ ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥ ⎢. Langkah berikutnya adalah menghitung perubahan tegangan dengan menyelesaikan persamaan berikut ini: 1 ⎡ΔP2 ⎤ ⎡ ∂P2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ΔP1 ⎥ ⎢ ∂P3 ⎢ 3 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂P4 ⎢ΔP4 ⎥ ⎢ ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂P 1 ⎢ΔP5 ⎥ ⎢ 5 ⎢ ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥=⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q 2 ⎢ΔQ2 ⎥ ⎢ ∂e 2 ⎢ ⎥ ⎢ ⎢ 1 ⎥ ⎢ ∂Q3 ⎢ΔQ3 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ ⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q 4 ⎢ΔQ1 ⎥ ⎢ ∂e ⎢ 4⎥ ⎢ 2 ⎢ ⎥ ⎢ ∂Q5 ⎢ 1⎥ ⎢ ΔQ5 ⎦ ⎣ ∂e 2 ⎣ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂e 3 ∂e 4 ∂e 5 ⎤ ⎡Δe1 ⎤ 2 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ∂P3 ∂P3 ∂P3 ∂P3 ⎥⎢ 3 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂P4 ∂P4 ∂P4 ∂P4 Δe4 ⎥ ⎥⎢ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂P5 ∂P5 ∂P5 ∂P5 ⎥ ⎢Δe1 ⎥ 5 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ∂Q 2 ⎥ ⎢ 1 ⎥ Δf 2 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ∂Q3 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎥⎢ ⎥ ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ∂Q 4 ⎥ ⎢ ⎥ 1 ⎥ ⎢Δf 4 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎥⎢ ⎥ ⎥ ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ∂Q5 ⎥ ⎢ ⎥⎢ 1 ⎥ ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 ⎦ ⎣Δf5 ⎦ ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂P2 ∂f 2 ∂f 3 ∂f 4 ∂f 5 Persamaan diatas dapat diselesaikan.13334 1.05084 ⎥ ⎢Δf3 ⎥ ⎢.05505 ⎤ 2 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ Δe3 ⎥ ⎢0.0.0.25000 -3.PENGKOM J1 -11.66667 1. untuk iterasi pertama diperoleh: ⎡Δe1 ⎤ ⎡0.03136 ⎥ ⎥ ⎢Δe1 ⎥ ⎢ ⎢ 5 ⎥ = ⎢0.99167 10.00000 -12. seperti Gauss-Jordan.11284 ⎣ ⎦ 116 .66667 10.09123 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎢Δf4 ⎥ ⎢.66667 2.09747 ⎥ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎥ ⎣Δf5 ⎦ ⎢.50000 0. Crout dan sebagainya.00000 0.00000 J3 Dengan demikian matriks Jacobian pada iterasi pertama dapat dibentuk.50000 -12. dengan berbagai metoda.0.7500 1. sehingga dapat diperoleh harga-harga Δeik dan Δf i k . 5.66667 J2 1.0.

00044 k ΔP5k − jΔQ 5 -0.05124 V3k 1.08922 V4k 1. Berikutnya adalah menghitung Vik berdasarkan persamaan Vpk +1 = Vpk + ΔVpk .11284 1.37500-j0.00023+j0.0000 + j0.02652 – j0. Dari rekaman perubahan daya dapat dilihat bahwa untuk batasan ketelitian sebesar 0.00094 7.001. sebaliknya ulang prosedur perhitungan dari langkah ke 3 8.00000 1.40000-j0.10909 Tabel q.11284 (Harga ini digunakan kembali untuk menghitung perubahan daya aktif dan reaktif pada iterasi berikutnya) Rekaman hasil perhitungan tegangan dan perubahan daya untuk masingmasing iterasi disajikan berikut ini: Tabel t.03176 – j0.05505 – j0.00010-j0. Langkah berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk setiap cabang (lihat penyelesaian A). dengan membandingkan perubahan daya maksimum yang terjadi dengan batasan ketelitian yang ditetapkan.0000 + j0. konvergensi tercapai pada iterasi k3.0000 + j0.00000 1. Rekaman Perubahan Daya Pada Setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 ΔP2k − jΔQ k 2 0.hmymsc 6.5000 + j0.00037 k ΔP3k − jΔQ 3 ΔP4k − jΔQ k 4 -0.01171-j0.00000 1.09747 1. Bila ΔPQ k p(maksimum) ≤ ε 0 maka konvergensi tercapai lanjutkan ke langkah 8.01930-j0.00000 -0.06000 0.03136-j0.00000 1.03871 0.03176-j0.00073-j0.0000 + j0.03857 -0.02652-j0. Hasil perhitungan disajikan dalam Tabel r 117 .00103-j0.02244+j0.06563 0.03136 – j0.00037 -0.06000 + j0.05505-j0.03586 -0. Rekaman Perubahan Tegangan pada setiap Iterasi Tegangan bus k 0 1 2 V2k 1.05084 1.0050 0. didapat: Bus p 1 2 3 4 5 Vik 1.09342-j0.09747 1.04629-j0.6000+j0.01228-j0. Pengujian konvergensi.00006+j0.00000 1.09123 1.09123 1.09508 V5k 1.05084 1.1300 -0.02043-j0.

0000 10.0000 12. untuk luar (r x pq +x 2 pq 2 pq ) ' ' dan diagonal b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq .6950 -15.5000 -1. FDLF 1.06 j0.0000 -30.0000 -3.0000 38.03 j0. Langkah pertama : Memilih bus penadah dan membangun persamaan tegangan. Langkah berikutnya menghitung matriks Admitansi B’ dan B”.2500 -1.0000 32.6667 12.91667 -1.7500 .83334 -1.6667 -1. Sebagai bus penadah dipilih bus 1.57654 Dan 18. dengan menggunakan persamaan berikut ini: Elemen-elemen Matriks B’.18 j0.BAB V .12 j0.0000 -1.0000 -5. sedangkan elemen-elemen Matriks B”.6667 -10. sehingga p q∈Γp besar masing-masing elemen matriks diberikan dalam Tabel berikut: ' Tabel 4.6950 -30.64179 2.6950 -3.3.24 j0.0000 -5.2500 -2. Hasil perhitungan b 'pp dan b 'pp shunt pada setiap bus 118 .5000 -1.3. dan menentukan elemen matrik G dan B.2500 -5.5000 -3.18 j0.0000 38.91667 -10.0000 -7.PENGKOM C.7500 4.7500 -7.7500 -5.0000 -1.2500 0.2500 -5.6667 -2. Hasil perhitungan b 'pq dan b 'pq untuk setiap Cabang No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 x pq j0.24 b 'pq = 1 x pq ' b 'pq = x pq 2 (rpq + x2 ) pq ' Tabel 4. sebagai berikut: 6. untuk elemen luar diagonal b 'pq = diagonal b 'pp = ' diagonal b 'pq = q∈Γp ∑b 1 dan x pq ' pq .5000 -15.4150 -5.

jika tidak lanjutkan kelangkah 5. Menghitung besarnya perubahan daya aktif dengan menggunakan persamaan (V.055000 j0.040000 3.5 = Pp(ditentukan) − Pp(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 4.hmymsc Bus 1 2 3 4 5 b 'pp = q∈Γp ∑b ' pq ' ' b 'pp = ∑ y sh(p) − ∑ b 'pq p q∈Γp j0. sebagai berikut: Pp = Vp ∑ ((G 5 pq cos δ pq + B pq sin δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan k ΔPpk + 0.055000 j0. k + 0. sebagai berikut: [ΔP /V ] = [B ][Δδ] p p . Gauss-Jordan dan sebagainya.6-10). Langkah berikutnya adalah menghitung Δδ dengan cara menyelesaikna persamaan (V.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 .5 sebaliknya lanjutkan kelangkah 6.6-4) dan (V. sehingga didapatperubahan tegangan untuk masing-masing bus. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif. 5. seperti Crout.6-5). Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda. Ppk + 0. Cholesky.055000 j0.5 ΔPpk + 0. sebagai berikut: 119 .085000 j0.

PENGKOM 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ Berikutnya adalah memperbaiki δ untuk berbagai bus.6-10). sehingga didapat perubahan tegangan untuk masing-masing bus. k + 0. Menghitung besarnya perubahan daya reaktif dengan menggunakan persamaan (V.5 = Q p(ditentukan) − Q k p p(dihitung) sehingga diperoleh: Bus p 2 3 4 5 7. Langkah berikutnya adalah menghitung ΔV dengan cara menyelesaikan persamaan (V.BAB V . sebagai berikut: 1 ⎡Δδ 2 ⎤ ⎡ ⎢ 1⎥ ⎢ ⎢Δδ 3 ⎥ ⎢ ⎢ 1⎥ = ⎢ ⎢Δδ 4 ⎥ ⎢ ⎢Δδ 1 ⎥ ⎢ ⎣ 5⎦ ⎢ ⎣ ⎤ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎥ ⎦ 120 .5 p ΔQ k + 0.5 = δ k + Δδ k p p p 6. Gauss-Jordan dan sebagainya. sebagai berikut: Q p = Vp ∑ ((G 5 pq sin δ pq − B pq cos δ pq Vq ) ) q =1 sedangkan ΔQ k + 0. sebagai berikut: [ΔQ/V] = [B" ][ΔV] Penyelesaian persamaan ini dapat dilakukan dengan berbagai metoda.6-5). 8. seperti Crout. jika tidak lanjutkan kelangkah 8. Q k + 0. Langkah berikutnya adalah memeriksa konvergensi untuk daya aktif.5 dengan menguji apakah ΔPp(maksimum) ≤ ε 0 . Cholesky.6-4) dan (V.5 p sebaliknya lanjutkan kelangkah 3. dengan persamaan sebagai berikut: δ k + 0.

1 Tabel 1. 11.015 j0.24 Admitansi ketanah y 'pq / 2 j0.08 + j0. maka proses berikutnya adalah menghitung aliran daya untuk masing-masing cabang jaringan.02 + j0. Data jaringan dan data bus dari sistem tersebut diberikan dalam Tabel s.08 + j0. Dengan menggunakan nilai-nilai dasar untuk sistem.18 0.5 = Vpk + ΔVpk 9.020 j0.24 0.03 0.01 + j0.025 j0. Gambar V.2. Bila konvergensi telah tercapai untuk kedua besaran daya.4 Contoh sistem tenaga untuk soal 5.06 + j0.06 + j0. hitung aliran daya pada sistem tersebut: 1 3 4 2 5 Gambar V.010 j0.06 0.020 j0.1 dan Tabel s.5 memperlihatkan diagram segaris suatu sistem tenaga elektrik sederhana.12 0.8 kV.hmymsc Berikutnya adalah memperbaiki V untuk berbagai bus.18 0. dengan persamaan sebagai berikut: Vpk + 0.04 + j0. sebaliknya proses kembali kelangkah 6.060 j0. Data Impedansi dan admitansi tanah No cabang 1 2 3 4 5 6 7 Bus P–q 1–2 1–3 2–3 2–4 2–5 3–4 4–5 Impedansi z pq 0.025 121 . masing-masing 100 MVA dan 13. Proses Selesai SOAL-SOAL BAB V 1. 10. Bilamana daya reaktif belum konvergen proses perhitungan dilanjutkan ke langkah 3.

0∠ .5 pu.1.00 1.00 1.00 + j0.00 2. 4. Hitunglah Vq untuk berbagai kondisi.00 1. Jika impedansi beban pada bus q dari soal 2 adalah 0.866 + j0.00 + j0.1 dan X2 = 0. c). Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 Tipe Bus Slack PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 40 30 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 20 10 45 25 40 5 60 10 Tegangan V 1.0∠00 pu .BAB V . 122 . Jumlah iterasi yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. Dua buah bus p dan q. Jumlah memori yang dibutuhkan untuk masing-masing metoda. 3. Bus q adalah bus beban yang mencatu arus sebesar I = 1.00 + j0. Hitunglah P dan Q yang mengalir kedalam bus q melalui masing-masing cabang. Waktu eksekusi dan waktu iterasi yang diperlukan.06 + j0. Bila Vq = 1.00 + j0.2 pu secara parallel.PENGKOM Tabel 2. Tuliskan: a). lakukan studi aliran beban dari sistem yang diberikan dalam contoh 5. dihubungkan satu sama lain melalui impedansi X1 = 0.0∠00 pu .00 1. Dengan menggunakan program yang saudara desain. b).300 pu . dan Vp = 1.

UNSRI 6 .T E K N I K E L E K T R O PENGGUNAAN KOMPUTER DALAM ANALISIS SISTEM TENAGA 1 2 3 4 a1 a2 a3 a4 b1 b2 b3 b4 5 6 7 8 GND 0 Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem G B G PF3 PF4 PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN LAB. SISTEM DAN DISTRIBUSI TENAGA ELEKTRIK FT.

.

dan Q. yaitu: 1. 143 . δ. 2. 4. tipe bus dirubah menjadi bus PQ. Pengendalian posisi sadapan Pemutar Fasa. sedangkan dua besaran lainnya belum diketahui dan akan diperoleh dari hasil penyelesaian persamaan aliran beban. |V|. ketentuan masing-masing jenis simpul diatas tidak berubah maka cara ini disebut penyelesaian tanpa penyesuaian. Ada 4 jenis pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban. 3. atau P dan |V| untuk bus pengendali. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV agar jangan melampaui batas pembangkit yang ada disana Q min ≤ Q hitung ≤ Q mak Dalam hal harga Q hasil perhitungan disebuah bus PV pada iterasi ke k melampaui batasan yang ada. P. Jika penyesuaian sadapan Transformator dilaksanakan dalam iterasi tujuannya adalah mengendalikan besar tegangan salah satu bus Transformator agar tetap pada besar harga tertentu. yaitu|V|.hmymsc BAB VI PENYESUAIAN DALAM PENYELESAIAN ALIRAN BEBAN VI. dan δ untuk bus penadah. Aliran antar daerah. Misalkan P dan Q untuk bus beban. digunakan untuk mengendalikan aliran daya aktif yang melaluinya. dengan injeksi daya reaktif ditentukan berdasarkan batas kemampuan yang dilampaui tersebut. Pegendalian posisi sadapan Transformator yang dipakai untuk mengendalikan besar tegangan bus. maka pada iterasi berikutnya (k+1). 1 UMUM Dalam perumusan persamaan aliran beban dua diantara empat besaran yang ada yang dimiliki oleh bus. Jika dalam proses perhitungan. Sebaliknya bilamana pada saat dilakukan proses penyelesaian persamaan aliran beban diwajibkan dilakukan penyesuaian-penyesuaian ketentuan besaran-besaran tertentu disebut penyelesaian dengan penyesuaian.

Estimasi harga ep dan fp harus disesuaikan. seperti: * Pp − jQ p = Vp ∑ Ypq Vq q∈Γp Daya reaktif Q adalah Qp = e2Bpp + fp2Bpp + ∑(fp (eqGpq + fqBpq ) − ep (fqGpq − eqBpq )) (VI.2-2) Dalam rangka menghitung daya reaktif yang diperlukan untuk menghasilkan tegangan yang ditentukan. 2 PENGENDALIAN TEGANGAN BUS VI. daya reaktif pada bus pengendali p harus dihitung sebelum proses dilaksanakan.1 PENGENDALIAN TEGANGAN PADA TERMINAL SUMBER DAYA REAKTIF Modifikasi prosedur perhitungan normal perlu dilakukan dalam penyelesaian masalah aliran beban guna memasukkan pengendali tegangan bus. yaitu : a.2-1) p q∈Γp Harga ep dan fp harus memenuhi persamaan e 2 + f p2 = Vp p 2 (VI. VI. Menyertakan kriteria tambahan. karena itu untuk memenuhi persamaan (V.DAFTAR BACAAN Sekarang yang menjadi masalah adalah bagaimana menyelenggarakan penyesuaian tersebut. atau b. sudut fasa dari tegangan bus adalah: δ k = arc tan p f pk ek p 144 . yang tentunya beserta dengan besaran/parameter yang terlibat sebagai bagian dari sistem persamaan.7-2). Pemisahan bagian real dan imajiner dari persamaan daya. Dalam metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Ada dua cara yang dapat ditempuh. Tetap mempertahankan rumusan dasar. 2. sedangkan perubahan yang diperlukan yang menyangkut harga parameter atau struktur sistem diganti dengan injeksi.

Urutan perhitungan dengan penyesuaian harus dilakukan pada seperti dalam Gambar V-2.7-1) menggantikan persamaan daya reaktif. Elemen-elemen luar diagonal submatriks J5 didapat dari persamaan (VI. J3. J2.. Dalam prakteknya. Pada metoda Newton Raphson.2-1).5. persamaan tegangan pada bus pengendali p adalah Pp = dan e 2 + f p2 = Vp p 2 q∈Γp ∑ (e (e G p q pq + f q B pq ) + f p (f q G pq − e q B pq )) Dimana persamaan (V.21) adalah ∂ Vp ∂e q 2 = 0. batasan daya aktif harus diperhatikan. daya reaktif Q p dapat k dihitung dan digunakan dengan Vp(baru) untuk menghitung estimasi tegangan Vpk +1 .hmymsc Bila diasumsikan sudut fasa tegangan hasil estimasi dan yang ditentukan sama. q ≠ p 145 . dan J4 dihitung sebagaimana persamaan pada subbab V. lihat kembali penyelesaian sebelumnya. maka penyesuaian bagi e k dan f pk adalah p ek p(baru) = Vp k f p(baru) = Vp (ditentukan) (ditentukan) cos δ k p sin δ k p k k Substitusi e k p(baru) dan f p(baru) kedalam persamaan (VI. Perubahan persamaan matriks yang berhubungan dengan perubahan pada bus daya dan kuadrat dari magnitude tegangan akan merubah bagian real dan imajiner dari tegangan menjadi ⎡ΔP ⎤ ⎡J J ⎤ ⎡Δe ⎤ 2 ⎢ ⎥ ⎢ 1 ⎥⎢ ⎥ ⎢ΔQ ⎥ = ⎢J 3 J 4 ⎥ ⎢.-⎥ ⎢ 2⎥ ⎢ ⎥⎢ ⎥ ⎢Δ V ⎥ ⎣J 5 J 6 ⎦ ⎣Δf ⎦ ⎣ ⎦ Elemen-elemen submatriks J1.

PENGENDALI TEGANGAN PADA BUS JAUH Dalam operasi sistem tenaga elektrik. 2. 2. bukan pada terminal sumber daya reaktif. Pada kasus ini.DAFTAR BACAAN Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂e q 2 = 2e p Demikian pula halnya dengan elemen-elemen submatriks J6 adalah ∂ Vp ∂f q 2 = 0. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh 146 . q ≠ p Dan elemen-elemen diagonal ∂ Vp ∂f q 2 = 2f p Perubahan magnitude tegangan kuadrat pada bus p adalah Δ V pk 2 = Vp 2 ( ditentukan ) − V pk 2 Bilamana kemampuan daya reaktif tidak memungkinkan untuk mempertahankan agar tegangan bus sesuai dengan yang ditentukan. VI. maka daya reaktif harus ditetapkan. bus diperlakukan sebagaimana sebuah bus beban. berikut ini Pp G Eq(dijadualkan) Qp p r q Gambar Vi-1. kerap pula digunakan pengendalian tegangan bus dilakukan pada bus. oleh karena itu dalam penyelesaian aliran beban perlu menentukan daya reaktif pada bus p yang dapat mempertahankan magnitud tegangan pada bus q seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-1.

yaitu dengan melakukan perubahan kecil terhadap Vpk +1 ditentukan pada setiap iterasi sampai magnitud Δ Vqk lebih kecil dari batas toleransi. Toleransi tegangan sebesar 0. daya reaktif pada bus p dihitung dengan cara biasa. namun demikian deviasi dari magnitud tegangan yang ditetapkan dihitung dari: Δ Vqk = Vq − Vqk (ditentukan) (dihitung) Jika harga Δ Vqk lebih besar dari toleransi yang diberikan. Sirkit π pengganti dapat ditentukan dari representasi 147 . Selama proses iterasi perubahan magnitud tegangan yang ditentukan pada bus p tidak mempengaruhi langsung tegangan hitungan pada bus q. VI. 3 REPRESENTASI TRANSFORMATOR VI.hmymsc Prosedur yang dikembangkan untuk memenuhi asumsi magnitud tegangan pada bus p. Setelah perhitungan tegangan pada bus q.1 SETING SADAPAN TETAP TRANSFORMATOR Transforamtor dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan Autotransformator ideal seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-2. menggunakan tegangan yang ditetapkan. Percobaan memperlihatkan bahwa dibutuhkan 5 iterasi untuk memperoleh perubahan yang akurat dalam perhitungan tegangan bus q untuk mengestimasi tegangan baru pada bus p. tegangan pada bus p dihitung kembali dari persamaan Vqk +1 = Vpk + Δ Vqk (ditentukan) (ditentukan) Prosedur ini dapat dipergunakan pada metoda Gauss-Seidel menggunakan Ybus. Pendekatan pertama yang dimungkinkan adalah: Vp 0 (ditentukan) − Vq (ditentukan) Selama proses iterasi. 3.005 pu dapat dipakai dengan hasil yang sudah dapat diterima. Prosedur lain yang dapat dipakai.

Pada bus p.maka persamaan (VI. Sirkit ekivalen phi dengan parameter diekspresikan dalam besaran admitansi dan ratio of-nominal Parameter-prameter sirkit ekivalen π diperlihatkan pada Gambar VI-2b. Diagram segaris sumber daya reaktif dan bus pengendali tegangan jauh (a).3-2) I p = (Vp − aVq ) 148 . t p a:1 ypq itq q Iq Ip (a) p q p q Ip A itq Iq Iq Ip Ypq/a itq 1/a(1/a-1)ypq (1/a-1)ypq B (b) C (c) Gambar VI-2. Sirkit ekivalen phi (c).3-1) . Sirkit ekivalen (b).3-1) menjadi y pq a2 (VI. arus Ip pada terminal Transformator adalah Ip = i tq a Dimana a adalah ratio lilitan dari Transformator ideal dan itq adalah arus yang mengalir dari t ke q adalah : i tq = (Vt − Vq )y pq Oleh karena itu I p = (Vt − Vq ) Karena Vt = Vp a y pq a (VI.DAFTAR BACAAN ini yang dapat dipakai dalam studi aliran beban. Elemen dari sirkit pengganti π diperlakukan sama dengan elemen jaringan lainnya.

maka A= y pq a (VI.3-3) Substitusi harga Vt kedalam persamaan (VI. pada sirkit pengganti ekivalen π adalah sebagai berikut: I p = (Vp − Vq )A + Vp B I q = (Vq − Vp )A + Vq B (VI. didapat I q = (aVq − Vp ) y pq a (VI.3-5b) didapat : I q = y pq dan I q = A + C Kembali. karena kedua arus harus sama.3-4) Arus-arus pada terminal yang berkesesuaian. maka I p = −A Karena arus terminal pada Transformator dan sirkit ekivalen penggantinya harus sama.3-4) dan (VI.3-7) 149 . pada bus q Iq adalah I q = (Vq − Vt )y pq (VI.3-5a).3-3). substitusi Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-2). maka Ip = − y pq a Bila Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI.3-5) Misalkan Vp = 0 dan Vq = 1 pada persamaan (VI. maka y pq = A + C (VI.hmymsc Arus pada terminal lainnya.3-6) Dengan cara sama.

...... + 2 + . Bila suatu ratio lilitan off-nominal diberikan pada sebuah jaring yang menghubungkan bus p dan bus q.. maka admitansi sendiri pada bus p akan menjadi Ypp = Yp1 + ..3-7) dan selesaikan C didapat C = y pq y pq a ⎛ 1⎞ C = ⎜1 − ⎟ y pq ⎝ a⎠ Berdasarkan persamaan (VI... dapat ditulis (V p − aVq ) y pq a 2 = (Vp − Vq ) y pq a + Vp B Penyelesaian untuk B adalah B= = (V p − aVq ) y pq y pq a 2 − (Vp − Vq ) y pq a Vp y pq − a a2 1⎛1 ⎞ = ⎜ − 1⎟ y pq a⎝a ⎠ Sirkit ekivalen pengganti π dengan parameter-parameter yang diekspresikan terhadap a ditunjukkan dalam Gambar VI-2c........DAFTAR BACAAN Substirusi harga A dari persamaan (VI.. + 1⎛1 ⎞ + .3-6) ke persamaan (VI. + Ypn a Ypq Admitansi bersama dari bus p ke q menjadi Ypq = − y pq a Sedangkan admitansi sendiri pada bus q menjadi 150 .3-5a). + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + ......3-2) dan (VI.....

Y_CB(I)/ A(J) Y_BUS(Q..P) = Y_BUS(P. JML_CABANG READ(1. JML_TRAFO READ(1....NE. + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + .Q) + Y_CB(I)+/(A(J))*A(J)) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P.X(I).N_AWL(I)...hmymsc ⎛ 1⎞ + .L_CHARGE(I) Y_CB(I) = 1.L_CHARGE(I) K=0 P = N_AWL(I) Q = N_AHR(I) DO 10 J = 1. + Yqn Yqp Ypq = Yq1 + .NLINE_TRF(J))THEN K = K +1 Y_BUS(P. + N_AHR(I)..R(I).....Q) = Y_BUS(Q.P) = Y_BUS(P.0/CMPLX(R(I)..Q) 10 ENDIF IF(K..P) + Y_CB(I) +Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.P) + Y_CB(I)+Y_SHUNT(I) Y_BUS(Q.A(J) IF(I. Program Penyesuaian Penyusunan Matriks Ybus 151 .*)NOMOR_CB(I).P) = Y_BUS(P.0)GOTO 20 Y_BUS(P.Q) = Y_BUS(P.Q) . dan admitansi kapasitor atau reaktor shunt yang terdapat disimpul modifikasi pembentukan matriks admitansi bus seperti yang disajikan dalam program pada Gambar IV-4 harus dimodifikasi seperti dalam Gambar VI-3 berikut ini : DO 20 I = 1... admitansi bocor sadapan Transformator.Q) = Y_BUS(P.X(I)) Y_SHUNT(I) = CMPLX(0..Q) + Y_CB(I) + Y_SHUNT(I) Y_BUS(P. untuk jaringan yang mengandung elemen-elemen admitansi bocor hantaran.0.P) = Y_BUS(P.Q) 20 CONTINUE Gambar VI-3. + Admitansi bersama dari bus q ke p menjadi Yqp = − y qp a Karena itu..*)(NLINE_TRF(J)..EQ.Q) = Y_BUS(Q...Q) .Y_CB(I) Y_BUS(Q.

3-8) Dengan cara yang sama persamaan arus Iq berdasarkan persamaan (VI. parameter Lp. Toleransi magnitud tegangan ε sebesar 0. bilamana magnitud tegangan bus q seperti: Vqk − Vq > ε Perubahan standar pada penyetelan sadapan TCUL adalah ± 5/8%/step.3-2) dan (VI. iterasi tambahan diperlukan untuk memenuhi hal tersebut. dan KLpq harus dihitung ulang pula. 3. dengan A = ypq.01 sudah cukup memuaskan. Sedangkan pemeriksaaan magnitud tegangan dari bus-bus yang dikendalikan oleh TUCL tidak diperlukan dalam setiap iterasi. maka: (V Didapat p − Vq )y pq + Vp B = (Vp − aVq ) y pq a2 y pq ⎫ 1 ⎧ B = ⎨(Vp − aVq ) 2 − (Vp − Vq )y pq ⎬ a ⎭ Vp ⎩ ⎪ ⎪ ⎛ 1 ⎞⎧⎛ 1 ⎞ Vq ⎫ = ⎜ − 1⎟⎨⎜ + 1⎟ − ⎬ y pq ⎝ a ⎠⎪⎝ a ⎠ Vp ⎪ ⎩ ⎭ (VI. Harga ini cukup memuaskan untuk kenaikan daya. Misalkan A = ypq dan persamaan yang berhubungan dengan arus-arus terminal dari persamaan (VI. Admitansi sendiri Ypp dan admitansi bersama Ypq = Yqp harus dikalkulasi ulang untuk setiap perubahan penyetelan sadapan Transformator yang menghubungkan bus p dan q. 2 PENGENDALI SADAPAN DIBAWAH TRANSFORMATOR BEBAN Representasi TCUL Transformator dibutuhkan untuk merubah ratio lilitan guna memperoleh magnitud tegangan sesuai yang diinginkan pada bus yang telah ditetapkan.DAFTAR BACAAN VI. YLpq. hal ini dilakukan sebelum iterasi lanjutan dilakukan. diperoleh : 152 . dengan tingkat perubahan Δa pada setiap iterasi.3-5a) untuk Transforamtor dan ekivalennya. Pada metoda iterasi Gauss-Seidel menggunakan Ybus.3-4). Hal ini dapat dilakukan dengan cara merubah ratio lilitan. Pemeriksaan tegangan pada iterasi alternatif sudah cukup.

3.3-9) 153 . 3 TRANSFORMATOR PENGGESER FASA Transformator penggeser fasa dapat direpresentasikan dalam studi aliran beban dengan impedansi atau admitansi yang terhubung seri dengan suatu Autotransformator ideal yang memiliki ratio lilitan kompleks seperti diperlihatkan dalam Gambar VI-4. Persamaan pembebanan bus adalah: Pp − jQ p * Vp Ip = Iq = ⎛ 1 ⎞⎛ ⎛ 1 ⎞ Vq − y p Vp − ⎜ − 1⎟⎜ ⎜ + 1⎟ − ⎝ a ⎠⎜ ⎝ a ⎠ Vp ⎝ ⎛1 ⎞ − y q Vq − ⎜ − 1⎟ y pq Vp ⎝a ⎠ ⎞ ⎟ y pq Vq ⎟ ⎠ Pq − jQ q V * q VI.3-8) pada bus p dan q berturut-turut merupakan fungsi dari tegangan Vp dan Vq.3-7) dan (VI. Representasi Transformator penggeser Fasa Tegangan terminal Vp dan Vs keduanya berhubungan sebagai: Vp Vs = a s + jb s (VI.hmymsc (V p − Vq )y pq + Vq C = (aVq − Vp ) y pq a Didapat harga C y pq ⎧ ⎫ 1 C = ⎨(aVq − Vp ) − (Vq − Vp )y pq ⎬ a ⎩ ⎭ Vq ⎛ 1 ⎞ y pq Vp = ⎜ − 1⎟ ⎝ a ⎠ Vq Admitansi shunt (VI. p r as + jbs : 1 s ypq q ipr isq Gambar VI-4.

3-11) Dengan cara sama. kecuali untuk r. admitansi sendiri pada bus p dapat dihitung dengan cara menganggap Vp = 1 pu..3-10) Sehingga i pr i sq Vs* 1 = * = Vp a s + jb s Mengingat bahwa i sq = (Vs − Vq )y pq Maka i pr = (Vs − Vq ) y pq a s − jb s Substitusi Vs dari persamaan (VI.. + i pn Substitusi ipr dari persamaan (VI. maka * Vp i pr = Vs* i sq (VI... arus Transformator pada bus q....3-9) i pr = (Vs − (a s − jb s )Vq ) y pq 2 a + bs 2 s (VI.. dengan demikian: Ypp = i p1 + i p2 .3-11) dan mengingat bahwa ipi = ypi. serta menghubung singkatkan semua jaringan bus lainnya.. diperoleh: 154 . + i pr + .. didapat i qs = ((a s + jb s )Vq − Vq ) y pq a s + jb s Bilamana Transformator penggeser fasa terpasang antara bus p dan q.DAFTAR BACAAN Karena tidak ada susut daya pada Transformator ideal. iqs adalah i qs = (Vq − Vs )y pq Substitusi untuk Vs.

dengan demikian admitansi bersama menjadi: Yqp = −i sq = − y qp Vq Dan dari persamaan (VI. + y pn Arus mengalir keluar bus q menuju bus p adalah isq... dan hubung singkatkan bus lain didapat: Yqq = y q1 + y q2 . misalkan Vq = 1 pu..3-9) didapat Yqp = − y pn a s + jb s Selanjutnya.hmymsc Ypp = y p1 + y p2 .. penyelesaian aliran beban harus dapat memenuhi sebuah pertukaran daya bersih yang ditetapkan untuk semua sistem... + y pr 2 2 a s + bs + .. dengan asumsi 155 ... karena itu... Langkah pertama prosedur penyelesaian masalah adalah menghitung penyelesaian tegangan untuk keseluruhan sistem. maka tegangan pada bus p mendahului tegangan pada bus s VI..... Penggeser fasa dari bus p ke bus s positif. jika tanda dari sudut δ positif. 4 PENGENDALI JARINGAN PENGHUBUNG Dalam studi yang melibatkan beberapa sistem tenaga yang terinterkoneksi.. + y qn Arus mengalir keluar bus p menuju bus q adalah ipr.. + y qp + .. karenanya admitansi bersama: Sehingga harga Ypq = i pr sehingga Ypq = − y pq a s − jb s Ratio lilitan kompleks untuk suatu pergeseran angular dan penyetelan sadapan dapat dihitung dari : a s + jb s = a (cos δ + j sin δ ) Dimana |Vp| = a|Vs|...

pertukaran daya bersih aktual adalah: k k k k k PT = PF1 + PF2 − PF3 + PF4 Perbedaan antara perubahan daya aktual dan ditentukan adalah: k k ΔPT = PT(ditentukan) − PT(dihitung) Sistem DG PF1 Sistem A PF2 Sistem C G Sistem B G PF3 PF4 G Gambar VI-5. Selanjutnya pertukaran daya aktual ditentukan dibandingkan untuk memperoleh pengaturan sehingga memenuhi jadual pembangkitan. Proses diulang sampai semua ΔPT ≤ ε . Toleransi sebesar 5 MW sudah cukup untuk digunakan. Pemilihan salah satu Generator pada masing-masing sistem sebagai Generator pengendali adalah cara yang praktis dan dibutuhkan untuk mempengaruhi perubahan yang dibutuhkan. Setiap Generator pengendali diatur agar memenuhi pertukaran daya bersih yang ditentukan. aliran antar daerah dihitung dan secara aljabar dijumlahkan oleh sistem untuk menentukan pertukaran daya bersih. 156 . Jadi untuk sistem A.DAFTAR BACAAN jadual pembangkitan untuk setiap sistem. Berikutnya. seperti dalam Gambar VI-5. dengan menggunakan penyelesaian tegangan. Pengaturan Generator Estimasi baru dari daya keluaran untuk Generator pengendali pada sistem A adalah sebagai berikut: k+ k k Preg1 = Preg + ΔPT Perhitungan yang sama dibuat untuk sistem yang lain dan suatu iterasi baru k penyelesaian tegangan dibutuhkan.

909 0.133 0. CONTOH 6.0000 Off-nominal turn ratio 0. 5 PERBANDINGAN ANTAR METODA Suatu evaluasi untuk masing-masing metoda.6.976 157 .640 0. dengan bus 1 sebagai bus penadah. 4.6. Waktu perhitungan keseluruhan sampai mencapai hasil yang diharapkan.123 + j0. Waktu perhitungan yang dibutuhkan untuk memproses data guna memperoleh parameter sebelum dilakukan iterasi.000 + j0. Waktu yang diperlukan untuk masing-masing iterasi.0100 0.080 + j0.0076 0. mencakup hal-hal berikut perlu dilakukan: 1.hmymsc VI.282 + j0.723 + j1. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.000 + j0.1 Tabel 1.0000 0.370 0. Gunakan metoda iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan solusi aliran daya dari sistem tersebut.0000 0.0000 0. Pemrograman dan space yang diperlukan.0070 0.300 Admitansi ke tanah 0. 3.407 0.050 0.097 + j0.1 Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.518 0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI. 2. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.

560 – j2.5 Tegangan V 1.640 0.282 + j0.000 + j0.123 + j0.370 0.570 0.518 0.0 - Penyelesaian .000 + j0.642 0.438 – j 0.0176 • Menghitung elemen matrik admitansi bus.000 + j0.Langkah pertama adalah membentuk matrik admitansi bus: Menghitung admitansi masing-masing jaringan dengan persamaan • y pq = y pq 1 dan admitansi ketanah dengan persamaan y sh(p) = z pq q∈Γp 2 ∑ ' didapat: Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 No line 1 2 3 4 5 6 7 Impedansi jaringan 0.0000 j0.300 Admitansi jaringan 0.310 Off nom trafo Line charging Off nom trafo Admitansi ke tanah 0.050 0.050 0.005 Tabel 2. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.407 0.909 0.123 + j0.407 0.0100 0.0170 J0.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6.080 + j0.642 0.097 + j0.300 No bus 1 2 3 4 5 6 Admitansi akibat akibat adanya kapasitor Admitansi ke tanah y sh(p) = q∈Γp ∑ y 'pq 2 j0.640 0.5 6.723 + j1.0000 0.723 + j1.5 15 9 25 2.005 j0.580 – j1.5 10.0000 0.0000 J0.DAFTAR BACAAN Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.0000 0.05 1.0070 0.440 – j0. dengan cara sebagai berikut: 158 .0000 0.000 + j0.080 + j0.0076 0.370 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.518 0.133 0.976 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0.097 + j0.133 0.282 + j0.0146 0.

84 .42 0.445 +j0.438 +j1..58 -j4.0 V1 = 1....56 +j2....18 J8. + Ypn + ⎜ − 1⎟Ypq a a ⎝a ⎠ Ypq = Yp1 + Yp2 + .555 +j2....42 -0.445 +j0..... + Yqn + ⎜1 − ⎟Yqp a ⎝ a⎠ = Yp1 + Yp2 + ...413 1..34 -0.YL 46 V6k +1 ..YL 25 V5k − YL 32 V2 .585 -0..YL 61 V1k +1 − YL 64 V4k +1 . + Ypn a Ypp = ∑ y pq tanpa off ratio transformator dan line charging Ypp = q∈Γp Ypq ∑y q∈Γp pq + y sh(p) Dengan demikian diperoleh matrik admitansi bus sebagai berikut: 0...642 0.5800 -0.. + 2 + ..9980 -j4.44 -j8.Langkah berikutnya adalah menyelesaikan persamaan tegangan berikut: V2k +1 = V3k +1 = V4k +1 = V5k +1 = V6k +1 = KL 2 * V2 − YL 23 V3k .56 +j2... + ⎛ 1⎞ + .021 -j1.58 +j1.31 -0.955 -0..1 + j 0.84 -0.0 Hitung parameter bus dan parameter jaringan menggunakan persamaan berikut: 159 ..34 +j3...3 -0.YL 65 V5k +1 KL 3 * V3 KL 4 * V4 KL 5 * V5 KL 6 * V6 • • V2 = 1.....642 -0.438 +j1..YL 52 V2k +1 − YL 56 V6k +1 ..0 + j0....58 +j1.993 -j7...025 0.hmymsc • Off diagonal: o Admitansi bersama dari bus p ke q : Ypq = Yqp = − y pq jaringan tanpa adanya off rational trans Ypq = Yq1 + .31 J8. + 1⎛1 ⎞ + .05 + j0.115 -j14.0 0 V30 = V4 = V50 = V60 = 1.YL 34 V4k .63 +j3.YL 41 V1k +1 − YL 43 V3k +1 .555 +j2..5800 -0.. + Yqn Yqp • Diagonal Ypp = Yp1 + ..3 1.....

DAFTAR BACAAN KL k = (Pk − jQ k ) L k dan Ykn L k = YL kn misalkan untuk bus 2.13 demikian pula untuk parameter bus yang lain.00000 0.3 demikian pula untuk parameter jaringan yang lain sehingga didapat: Bus P-q 1–4 1–6 2–3 2–5 3–2 3–4 4–1 4–3 4–6 5–2 5–6 6–1 6–4 6–5 YLpq 160 .j8.00000 0.0 − 0. parameter bus dihitung sebagai berikut: KL 3 = ((PG3 − PL3 ) − j (Q G3 − Q L3 )) 1 Y33 1 0.j2.44 .0000 + j 0.0000 + j 0.00000 1 Y44 Sedangkan parameter jaringan adalah: YL14 = Y14 L 4 = Y14 = .065)) = 1. sehingga diperoleh: Bus p 1 2 3 4 5 6 KLp 0.0000 + j 0.0.275) − j (0.0000 + j 0.00000 0.47 .58 j8.00000 0.0000 + j 0.56 + j2.0 − 0.187 = ((0.0000 + j 0.00000 0.

5 0 0 15.5 Bus 1 2 3 4 5 6 SOAL-SOAL BAB VI 1. Gunakan iterasi Gauss-Seidel untuk menentukan penyelesaian aliran beban dari sistem tersebu bila data jaringan dan data bus sistem diberikan dalam Tabel s6.00000 1.8307 -13.0 25.9058 -12.02 -2.5 6.0395 0. 1 4 T1 3 T2 6 5 2 Gambar VI.. Konvergensi diperoleh setelah mencapai 17 iterasi. Sistem Tenaga elektrik untuk contoh 6.2. dengan bus 2 sebagai bus penadah. dengan masingmasing tegangan sebagai beikut: Tegangan V Sudut 1.0 2.7.hmymsc • Langkah berikutnya menghitung tegangan untuk masing-masing bus.05 0.5114 Pembangkitan P(MW) Q(MVAR) 48.3805 0.0 9.3 11. Untuk jaringan seperti dalam Gambar VI.7 berikut ini.8 25.1 dan Tabel s6.91840 0.86560 0.2 23.0 0 0 0 0 0 0 0 0 Pembebanan P(MW) Q(MVAR) 0 0 0 0 27. .8511 -13.9310 -9.1 161 .

6 pu pada tegangan V2 = 1.5 15 9 25 2.407 0.0000 Off-nominal turn ratio 0.0 - 2.0 + j0.000 + j0.5 6.123 + j0. Transformator kedua memiliki peningkatan sebesar 105% dari Ta dengan impedansi yang sama besar.0100 0.0076 0. 4.0070 0.370 0.050 0. Gambarkan Aliran daya P dan Q pada masing-masing bus dari sistem pada contoh 6.8 + j0.0.909 0.0000 0.2.282 + j0. Untuk sistem yang sama seperti soal 1.518 0.1 162 .0000 0.097 + j0.723 + j1. hitung besarnya aliran daya bila kapasitor statis pada bus 4 dikeluarkan.640 0.976 Kapasitor statis pada bus 4 sebesar: j0.000 + j0.DAFTAR BACAAN Tabel s6.5 Tegangan V 1.1. dan memiliki perbandingan tegangan yang sama dengan perbandingan tegangan dasar pada kedua sisi Transformator.05 1. Data Jaringan Sistem No line 1 2 3 4 5 6 7 Kode Bus 1–4 1–6 2–3 2–5 4–3 4–6 6–5 Impedansi jaringan 0. 3.080 + j0.133 0. Dua buah Transformator dihubungkan secara parallel guna mencatu suatu impedansi ke netral perfasa sebesar 0. 5.10 Batas daya reaktiv QMin Qmax 6. Data Bus No Bus 1 2 3 4 5 6 Tipe Bus Slack PV PQ PQ PQ PQ Pembangkitan P Q 25 Pembebanan P Q 27.300 Admitansi ke tanah 0.5 10.1 pu.005 Tabel s6. Kerjakan kembali soal ke 3. Transformator pertama memiliki impedansi sebesar j0. Tentukan daya yang dikirimkan kebeban.0000 0. dengan Tb yang memiliki perbandingan belitan yang sama dengan Ta.

Graw-Hill. Stagg. Singapore 3. 1978. and El-Abiad. 2000. 1990. Andi Offset. A. “ Computer Techniques in Power System Analysis”. Yogyakarta 163 ..hmymsc DAFTAR BACAAN 1. jurusan T. ”Computer Methods in Power Systems Analysis”. M. New Delhi 4. DR. Gibson Sianipar. “Perhitungan Matriks Dengan Fortran”.1968. Ahmed. Elektro FTI-ITB. Indiana. “Komputasi Dalam Sistem Tenaga”.. Suprajitno Munadi. Mc. Pai. Bandung 2. Glenn W.

Penjumlahan. A(B+C) = AB+BC.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks A 4.A(BC) = ABC = ABC 4.. dimana i dan j masing-masing adalah . A(B+C) = AB+BC..SOAL-SOAL SOAL-SOAL PILIHAN BERGANDA 1. Penjumlahan. aij = aji 4. Aturan komutativ dapat berlaku pada operasi. 1. Perkalian matriks 5.A(BC) = ABC = ABC 5.Jumlah kolom matriks A dan jumlah kolom matriks B 3.A 5. AT B = BA. Hasil perkalian matriks AB = C.Jumlah baris matriks A dan jumlah baris matriks B 2. pengurangan dan perkalian 3. 1.maka. pengurangan 4. AT BT = BA.. Determinan ≠ 0 2. A(B+C) = AB+BC.. A(BC) = ABC = ABC 3. Penjumlahan.Bila determinan dari matriks berharga = nol. 1. 1. A ≠ .. ABT = BAT. A(B+C) = AB+BC. A(BC) = ABC = ABC 2.Jumlah baris matriks B dan jumlah kolom matriks B 5. AB = BA. Matriks singular adalah matriks dengan kondisi. Tidak ada inverse matriks 2.matriks disebut matrik singular 144 . pengurangan dan inverse 3.pengurangan & perkalian matriks 2. Determinan = 0 3... A(B+C) = AB+BC. Ada inverse. 1. dalam bentuk umum dapat dinyatakan seperti dalam persamaan.Untuk matriks bujur sangkar sifat-sifat berikut dapat berlaku.A(BC) = ABC = ABC 3. AT A = U 2.Jumlah baris matriks A dan jumlah kolom matriks B 4. Penjumlahan.

waktu hitungan terbatas 5.entry matriks terbatas 2. Tidak ada inverse. Gauss-Seidel 4. Tidak ada inverse.memiliki jumlah hitungan terendah 1. Gauss-Naif 5.. Jika semua elemen matriks dipertukarkan dengan konjugatenya.waktu hitungan cepat 4.Beberapa keuntungan yang didapat dari penggunaan metoda Cholesky adalah. Segitiga bawah 2. Segitiga atas 145 . Crout 2. Unitary 8. Hermitian 4. Doolitle 3. Konjugate 2..Hanya untuk matriks simetri. metoda yang paling rendah dalam penggunaan memori untuk menghitung inverse matriks adalah metoda.Jumlah hitungan terbatas.. 1... menghemat memori 6. matriks tipe.hmymsc 3..Menghemat penggunaan memori. Skew 4. Skew hermitian 5. Ada inverse matriks 5. Dari segi penggunaan memori. Dari segi jumlah hitungan.. Simetris 3.Dapat digunakan untuk matriks simetri. Hermitian 5. 1. Orthogonal 3.matriks disebut matriks adjoin 4.. matriks disebut tidak linear 5. matriks tersebut disebut matriks. 1..waktu hitungan tercepat 3... Gauss-Jordan 7.Menghemat penggunaan memori.

Jumlah ingatan dan operasi aritmatik terbatas 12. Ingatan komputer yang dibutuhkan besar 2. Jumlah memori tertinggi 5. Menunjukkan SPL 146 . Mencari solusi SPL 3.. Jumlah kolom atau baris 10. Penyulihan surut hanya dapat diterapkan langsung pada SPL yang koefisien matriks A memenuhi kriteria berikut. 1. 1.. Berbentuk segitiga atas 2. Berjumlah kolom genap 5. Menggambarkan garis 2. Tingkat konvergensinya lambat 4.. Jumlah memori terbatas 11. 1. Kelemahan utama dari metoda tidak langsung adalah. Metoda grafis sangat cocok dipakai untuk. Salah satu kelebihan metoda langsung dalam solusi Sistem Persamaan Linear adalah.. Berdimensi sama 3. 1.... Berbentuk segitiga 4. Jumlah baris 5.. Memiliki diagonal > 1 13. 1.SOAL-SOAL 9. Jumlah langkah hitungan pasti 2. Langkah perhitungan pasti 3.. b. Rank matriks berdimensi m x n adalah sama dengan.... Jumlah maksimum kolom bebas linear 2. Jumlah operasi lebih pendek 4.. Jumlah maksimum kolom non linear 3. Jumlah iterasi pasti 3. Jumlah operasi aritmatik dapat dibatasi 5. Jumlah kolom 4.

. angka bena terbatas.hmymsc 4. pembagian dengan nol. 1. pembagian dengan nol. Metoda GJ adalah metoda tidak langsung 3.. meningkatkan harga harga epsilon.. 1... angka bena terbatas 5. 1 Memperbanyak angka bena. dan rounding 17. sistem berkondisi buruk 2. sistem berkondisi buruk 3. Galat pembulatan. Memvisualisasikan sifat persamaan 5. Angka bena terbatas.. Metoda GJ tidak memerlukan penyulihan surut 5.. Bentuk akhir merupakan matriks segitiga 3. Perambatan galat....meningkatkan harga epsilon.. Mencari dan mengambarkan garis 14. sistem berkondisi buruk 16. Metoda GJ tidak dapat mengendalikan galat 4. Perbedaan utama antara metoda eliminasi Gauss dan Gauss-Jordan dalam solusi SPL adalah. Bentuk akhir yang diperoleh adalah matriks satuan 2. Galat pembulatan. 1. Galat pembulatan. Bentuk akhir sudah merupakan solusi 4. Matriks yang dihasilkan matriks diagonal 147 . system berkondisi buruk 4. pivoting. Metoda Gauss lebih sederhana 15. Beberapa hal yang dapat menjadikan metoda eliminasi Gauss-Naif mengalami penyimpangan adalah. Metoda GJ memerlukan penyulihan surut 2.. pembagian dengan nol. Metoda perbaikan yang dapat dilakukan untuk mengatasi penyimpangan metoda eliminasi Gauss Naif adalah. Metoda Gauss Jordan tidak membutuhkan penyulihan surut dalam solusi SPL. pembagian dengan nol. dan scalling 3 Memperbanyak angka bena. dan scalling 4 Mempergunakan presisi ganda. dan memperbesar koefisien persamaan 5 Memperbanyak angka bena. memperbesar koefisien persamaan. karena. dan scalling 2 Menggunakan presisi ganda. scalling.

Crout 2. 1.. Doolitle 3. Doolitle 3.SOAL-SOAL 5. Salah satu metoda solusi SPL yang dapat mengendalikan galat adalah metoda.. Metoda solusi SPL yang dalam operasinya tidak membutuhkan keterlibatan entry matrik adalah metoda. Gauss Naif dengan pivoting 3.. Gauss-Seidel 5. Gauss-Seidel 5... Bentuk akhir merupakan matrik orthogonal 18. Cholesky 4. Crout 2. Jumlah persamaan dan akurasi hasil penyelesaian sebuah SPL dapat ditingkatkan dengan cara.. 1... Gauss-Jordan 20. menjadi 2 atau tiga matriks baru adalah metoda. Doolitle 5. Crout 22.. Cholesky 2. Iterasi Gauss-Seidel 4. 1.. Gauss-Jordan 21. Metoda solusi SPL yang memiliki karakteristik terbaik adalah. Crout 19. Metoda solusi SPL yang membutuhkan operasi faktorisasi matrik A... Cholesky 4.. Eliminasi Gauss 4.. Cholesky 5.. 148 . 1. Gauss Jordan 3. Gauss-Seidel 2.

. Admitansi atau impedansi 2.pivoting dan presisi diperketat 2. Kerangka acuan yang dapat digunakan untuk membangun persamaan tegangan atau arus dalam aliran daya. Elemen matriks jaringan akan berupa. Arus loop dan tegangan loop 4. Admitansi 4. terdiri dari... elemen 3. Jaringan primitif 2. Strategi pivoting. Admitansi dan elemen shunt 24. Tree. Simpul dan node 4. 1. lingk..hmymsc 1. 1. node.. Insidensi 3. graph 25. cotree..matrik jarang dan metoda iterasi 5. cabang 2. Elemen dan node 5. Karakteristik elektrik dari komponen jaringan individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. 1.. Loop dan bus 2. Sebuah Graph yang memperlihatkan interkoneksi geometris dari elemen-elemen jaringan. Elemen dan cabang 26. sublink 149 . adalah kerangka..matrik jarang dan presisi diperketat 23. Impedansi 5. Strategi scalling. Tegangan dan arus 3.matrik jarang dan scalling 3. 1. Strategi pivoting. Strategi scalling. Loop atau bus 3. Elemen.scalling dan matrik jarang 4. Arus bus dan tegangan bus 5. Strategi pivoting.. Subgraph..

Augmented matriks 30. bus. yaitu. Perkalian matriks 3. Simpul. tree 27.. Dalam penyelesaian dan pengaturan aliran beban dikenal 3 tipe bus. Tidak membutuhkan faktorisasi matrik 4. 1. cabang. yaitu. Tidak membutuhkan pembalikan matrik 3.SOAL-SOAL 4...Penghapusan bus sekaligus memerlukan. Penghapusan bus secara bertahap lebih umum dipakai karena memiliki kelebihan. Transformasi singular dan inverse matrik impedansi 4. Matriks admitansi bus dapat diperoleh dengan dua cara. 1.. Tidak membutuhkan perkalian matrik 2. Penghapusan bus dapat dilakukan secara sekaligus atau bertahap. 1..Jumlah semua admitansi pada cabang tersebut 4.. Transformasi singular dan secara langsung 28.Jumlah semua impedansi cabang yang berujung ke p 5.. Transformasi non linear dan secara langsung 2.Jumlah semua admitansi bus yang berujung ke bus tsb 3.. Admitansi sendiri pada sebuah bus adalah..Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke bus tsb 2.Jumlah semua admitansi cabang yang berujung ke p 29. 1.... Tidak membutuhkan reduksi matrik 5. Tidak membutuhkan augmented matrik 31. Pembalikan matrik 2. Reduksi matriks 5. Inverse matrik impedansi dan secara langsung 5. 150 . Transforamsi non linear dan singular 3. Simpul. dan link 5. Faktorisasi matriks 4. yaitu..

Iterasi 2. bus Beban dan bus berayun 32. Terdapat pembangkit 4. Susut daya dibangkitkan 5. Gauss-Seidel 5. Susut daya reaktif dibebankan 2. Bus PV dibutuhkan karena pada bus ini. 1. Syarat sebuah bus dapat dipilih atau ditetapkan menjadi sebuah bus pengendali atau bus PV adalah pada bus. 1.. Magnitud egangan dan daya aktif 3. bus PQ dan bus kendali 5.. Daya aktif dan sudut fasa 4. Bus PV. Dalam bus PQ atau bus beban. 1.hmymsc 1..... Susut daya aktif dibebankan 3. 1. Terdapat sumber daya reaktif 2. Susut transmisi dibebankan 4.. Penyelesaian aliran beban hanya dapat dilakukan dengan metoda.. Langsung 4. Bus PQ. Newton Raphson 151 .. Terdapat beban 5. Bus PV. bus penadah dan bus berayun 4... bus PV dan bus berayun 2. Terdapat sumber tegangan 3.. Bus PQ. Terdapat beban dan pembangkit 35. bus kendali dan swing bus 3. Bus PQ. Magnitud tegangan dan sudut fasa 2.besaran yang diketahui adalah.. Susut daya dikurangi 34. Daya aktif dan daya reaktif 33. Daya apembangkitan dan daya beban 5. Langsung dan iterasi 3.

Gauss-Seidel 4.. delta P dan delta Q 2..... Newton Raphson 5. semua bus mencapai batas keteliti an yang diharapkan.. 1. delta V dan delta I 3. Himpunan persamaan tegangan 2. 1... Kriteria konvergensi penyelesaian aliran beban dengan menggunakan metoda NR akan tercapai bila perhitungan . Himpunan persamaan non linear dari arus dalam bentuk persamaan tegangan 4. Himpunan persamaan daya reaktif 4. Himpunan persamaan arus 37.. 1. delta P dan delta V 4. Newton 152 .. Dalam metoda Newton Raphson penyelesaian aliran beban dilakukan menggunakan ..SOAL-SOAL 36.... FDLF 2. Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 38... Himpunan persamaan daya aktif 3.. delta P dan delta I 39. Gauss 3. Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan arus 5. Metoda solusi aliran beban yang tidak memerlukan suatu solusi bilangan kompleks adalah metoda. Dalam metoda Gauss Seidel penyelesaian aliran beban dilakukan dengan menggunakan ... Himpunan persamaan linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 3... Himpunan persamaan non linear dari daya dalam bentuk persamaan tegangan 2.. Himpunan persamaan daya 5. delta Q dan delta V 5. 1.

FDLF 43. 1.. 1... Data bus dan data jaringan 153 .. 1. Newton 3. Admitansi shunt jaringan 3.. Data yang diperlukan dalam studi aliran beban dapat dikelompokkan menjadi 2.. FDLF 2... 1. Terdapat data jaringan 5..... Susceptansi dari reaktansi transformator 41... Unsur-unsur matriks B’ didapat langsung dari.. Saluran transmisi dimodelkan seperti trafo 2. Gauss 5. 1.. Admitansi bocor hantaran 4. Pembentukan matriks admitansi bus dapat dilakukan secara langsung karena.hmymsc 40.. Semua metoda 44.... Model yang dipergunakan mengabaikan line charging 3.. Susceptansi dari reaktansi cabang jaringan 2. Gauss-Seidel 3. 42. Jumlah persamaan terkecil yang diperlukan untuk solusi aliran beban terdapat pada metoda.. Elemen sistem tenaga dimodelkan secara sederhanan 4. Newton Raphson 2. yaitu. Metoda penyelesaian aliran beban yang memiliki akurasi dan iterasi terbaik adalah metoda. Gauss 5.. Admitansi bocor trafo 5. Gauss-Seidel 4. Newton Rapshon 4. Saluran transmisi hanya dimodelkan berdasarkan jaringan urutan positif saja.

N READ(1. Memiliki kapasitas cadangan pembangkit terbesar 2. Memiliki sumber daya reaktif 3. Skew simetri 2.*)A(J.. N DO 10 J = I. Orthogonal 3. Data beban dan pembangkitan 5..*)A(J.. Skew hermitian 47.. 20 10 3.I) CONTINUE DO 20 I = 1. Skew 4. N DO 10 J = 1. Hermitian 5... Data bus dan data tegangan 4. 10 20 2. 1.SOAL-SOAL 2.. Salah satu syarat sebuah bus dapat dipilih sebagai bus penadah adalah. 1. Entry matriks segitiga bawah dapat dilakukan dengan program berikut.1) 154 .*)A(J.. Pada bus terdapat beban dan bank kapasitor 46. N DO 10 J = I. N READ(1. Bila suatu matriks bujur sangkar memenuhi A = -ATranspose.I) CONTINUE DO 20 I = 1. Data jaringan dan data beban 45. 10 DO 20 I = 1. Data tegangan dan impedansi 3. 1. maka matriks A tersebut disebut matriks. N READ(1. Pada bus tersebut tidak terdapat beban 4. Pada bus terdapat bank kapasitor 5.

N READ(1. CONTINUE DO 30 I = 1.J) 10 20 30 3. Program perkalian matrik berdimensi (m x n) dan (n x l) dalam FORTRAN dapat dituliskan sebagai berikut.K)*B(K.hmymsc 20 4. CONTINUE DO 30 I = 1. DO 30 I = 1. N C(I. L C(I. M CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 155 . 10 20 CONTINUE DO 20 I = 1.J) = C(I. N C(I.J) = 0 DO 10 K = 1.*)A(J.J) + A(I.J) = C(I. 10 20 5. L DO 20 J = 1.J) + A(I. M DO 20 J = 1. M DO 20 J = 1. 1..*)A(1.K)*B(K. N READ(1. N DO 10 J = I.J) 10 20 30 2. N DO 10 J = 1..J) = 0 DO 10 K = 1.. L C(I.J) CONTINUE DO 20 I = 1.1) CONTINUE 48.

J) + A(I.. N C(I. Crout 3.J) = 0 DO 10 K = 1.J) = 0 DO 10 K = 1..J) = C(I.J) = 0 DO 10 K = 1. Gauss-Jordan 5.K)*B(K.J) + A(I. Inverse matriks simetri dengan metoda. Dalam metoda Cholesky dekomposisi matriks A dapat dilakukan lebih cepat bila matriks Adifaktorisasi menjadi. LLTrans 156 . L C(I.J) = C(I. Cholesky 2. M DO 20 J = 1.. N C(I.memungkinkan penghematan penggunaan ingatan komputer karena memanfaatkan space matriks yang sama.SOAL-SOAL C(I.J) 10 20 30 4.J) = C(I. M C(I. M C(I. 1. Gauss-Seidel 50.K)*B(K. CONTINUE DO 30 I = 1..J) 10 20 30 5. CONTINUE DO 30 I = 1.J) + A(I. 1. N DO 20 J = 1.J) 10 20 30 CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE CONTINUE 49. Doolitle 4.K)*B(K..

Salah satu metoda langsung yang dapat mengendalikan galat dalam operasi penyelesaiannya adalah metoda. Gauss 3. (Jumlah bus . Newton Raphson 54.. Jumlah persamaan yang dibutuhkan dalam solusi aliran daya menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel. Simetri 2.. Non-singular 5. Non simetri 3..jumlah pv bus) 157 . 1.hmymsc 2. LTrans UTrans 51.. penyelesaian memerlukan memerlukan operasi aritmatik yang lebih sedikit 1. Gauss-Seidel 4. 1. 1.. Singular 4. LU 3. Gauss-Seidel 4. apabila koefisien persamaan memebentuk matriks……………. Diagonal 52. Gauss 5. Gauss-Jordan 2. Gauss dengan pivoting 53.jumlah slack bus) 2.slack bus .. (jumlah bus. LDU 5. Dalam solusi SPL. UTrans LTrans 4. Newton 5. Solusi aliran daya yang dilakukan dengan cara melakukan pemisahan antara daya aktif dan daya reaktif hanya dapat dilakukan dengan metoda. FDLF 2. Gauss-Naiff 3.

Misalkan cabang yang menghubungkan bus p-q memiliki admitansi seri ypq dan total line charging sebesar y'pq.... Solusi aliran beban dari sebuah STL yang terdiri dari 6 bus dengan 2 bus pengendali menggunakan metoda NR membutuhkan jumlah persamaan sebanyak.Vq) ypq + Vp y'pq/2 158 . ipq = (Vp .. 1.Vq) ypq + Vq y'pq/2 3. (Jumlah bus 4.. Kecepatan konvergensi meningkat 2.. Perencanaan. 1..Vq) ypq ' 5.SOAL-SOAL 3. Memori yang dibutuhkan lebih banyak 3. ipq = (Vp .. 2 x Jumlah bus 5. Perhitungan aliran daya 57.Vq) ypq + Vq y'pq 4. 1. maka arus pada cabang tersebut adalah. maka. Konvergensi tidak akan tercapai 58... dan kendali STL 2. Iterasi yang diperlukan membesar 5.Vq) ypq + Vp y'pq 2. ipq = (Vp . ipq = (Vp . 1. 8 56 Perhitungan aliran daya digunakan untuk keperluan. 2 x (jumlah bus . operasi. 10 4. Bila matriks admitansi bus merupakan sebuah matriks berdiagonal kuat. ipq = (Vp . Operasi dan kendali 4. 11 3. Perencanaan dan kendali 3.slack bus) 55. Solusi memerlukan waktu lebih panjang 4. 12 5. 9 2. Perencanaan dan operasi 5.

1.. 4 x lebih cepat 3.. 1. 8 x lebih lambat 61. 4 x lebih lambat 5.hmymsc 59.. Akselerator number 3.. Faktor akselerasi 60.... individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks... bilangan ini dikenal dengan sebutan.. Memerlukan perkalian matriks 4.. yaitu. Gauss-Seidel 3. Memerlukan perhitungan turunan orde pertama 2. Newton Raphson 5.. Untuk mempercepat konvergensi dalam solusi aliran beban dilakukan teknik akselerasi dengan metoda SOR menggunakan sebuah bilangan yang besarnya antara 1 .. Faktor kelipatan 4.. Memerlukan perhitungan integral lapis dua 63.. Bilangan akselerasi 5. Memerlukan pembalikan matriks 3. Decoupled 62. 1. Dibandingkan dengan metoda Gauss-Seidel. 1. Meski memiliki kecepatan konvergensi yang rendah metoda iterasi Gauss-Seidel memiliki 2 keunggulan. 8 x lebih cepat 2.. Kelemahan metoda NR dalam solusi aliran beban adalah.2. metoda iterasi NR memiliki kecepatan iterasi. FDLF 4. Gauss 2.. Bilangan pembanding 2. 2 x lebih cepat 4.. Membutuhkan data jaringan 5. Salah satu metoda solusi aliran daya yang memiliki jumlah iterasi berupa bilangan fraksional adalah metoda.. 159 ..

.. Teknik pemrograman yang mudah dan tanpa inverse matriks 2. Pengendalian penyediaan daya reaktif bus PV 4.LE.. 1. Solusi yang lebih cepat 3.GT.. 1..EPSILON)GOTO 340 3... Pengendalian daya beban 66. 1..SOAL-SOAL 1. Pengendalian frekuensi 3. Ypq = -ypq/a 2... Impedansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 2. IF(DELTA_P... Transformator dengan ratio belitan off-nominal dapat direpresentasikan sebagai.EPSILON)GOTO 340 2. Reaktansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 5. Impedansi yang terhubung paralel dengan autotransformator ideal 3.. Solusi dan akurasi yang lebih baik 5. Ypq = -ypq(1-1/a 160 .EPSILON)GOTO 340 65.. IF(DELTA_V.GT. individu dapat dinyatakan dalam bentuk matriks. Pengujian konvergensi dalam solusi aliran beban menggunakan metoda iterasi Gauss-Seidel dilakukan dalam program berikut.. maka admitansi bersama dari bus p ke q akan menjadi.EPSILON)GOTO 340 5. Resistansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 67 Bila suatu ratio belitan diberikan dalam sebuah cabang yang menghubungkan bus p-q. IF(DELTA_V.GE. Pengendalian daya aktif 2.. Salah satu tipe pengendalian yang lazim diterapkan dalam perhitungan aliran beban adalah.. Teknik pemrogram mudah dan akurasi baik 64. Reaktansi yang terhubung seri dengan autotransformator ideal 4. Pengendalian rugi-rugi 5. 1. IF(DELTA_V.EPSILON)GOTO 340 4. Akurasi yang lebih baik 4. IF(DELTA_P..LE.

Ypq = -ypq 68.....*)(A(I. 60 4.M READ(1. CALL GETTIM (IHR.I100TH. READ GETTIM (IHR.M READ(*.J)..I100TH..J = 1.I1000TH) 4..I1000TH) 70. M DO 60 I = 1.I1000TH) 5..IMIN. 60 3.I100TH.I1000TH) 3...ISEC.IMIN.M 161 . CALL SETTIME (IHR. Program yang dipergunakan untuk mengakses matrik berdimensi m x n dari sebuah file diberikan dalam. Statemen yang dipergunakan untuk mengakses waktu dari komputer adalah.IMIN... 1 2 3 4 5 Impedansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Impedansi terhubung paralel dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung seri dengan auto transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Reaktansi terhubung paralel dengan auto-transformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks Resistansi terhubung seri dengan autotransformator ideal yang memiliki ratio belitan kompleks 69.IMIN... DO 60 I = 1.. Ypq = ypq/a 4.I100TH.J = 1. N DO 60 I = 1.ISEC.hmymsc 3.I1000TH 2. 1. N DO 60 I = 1. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai.IMIN.J).ISEC.J). 60 2.ISEC.*)(A(I. CALL TIME (IHR..*)(A(I.M READ(1.. Ypq = ypq(1-1/a 5..ISEC.I100TH. 1. Transformator penggeser fasa dalam studi aliran daya dapat direpresentasikan atau dimodelkan sebagai..J = 1. READ TIME (IHR.

SOAL-SOAL 60 5. M DO 60 I = 1. 3 5. 2. 12 2:4:3 5:6:8 9:10:12 4. 6.. 3.3 5. 2.8 9. 4. 8 9. 3.J). 10.12 2.. Program ringkas diatas dapat digunakan untuk sebagai berikut. 60 READ(*.M READ(1.12 5. 2 4 3 5 6 8 9 10 12 mengakses sebuah file penyimpanan data dengan nama tertentu. 8.10. 6.10)(A(I.10.J). dimana susunan data dalam file adalah 162 .. 5..J = 1. 2. 4..6. 9. N 71.4..*)(A(I.J = 1. 1.

M.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.N.J = 1.A) DIMENSION A(M.M.N) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 OPEN(UNIT=1. FILE = NAMA_FILE_IN.J). 'MASUKKAN DIMENSI MATRIKS') FORMAT(6X.*)N CALL READ_MAT(NAMA_FILE_IN.'JUMLAH BARIS : '.20)NAMA_FILE_IN WRITE(*.N.N.100) CHARACTER NAMA_FILE_IN*15 REAL A WRITE(*.50) READ(*. 2002 DEFINITION OF VARIABLES NAMA_FILE_IN: Nama File Data : Matriks [A] : Jumlah baris matriks A : Jumlah kolom matriks A ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100. STATUS = 'OLD') DO 60 I = 1.M 60 READ(1.*)(A(I.30) WRITE(*.A) CALL PRINT_MAT(M.A) 10 20 30 40 50 FORMAT(3X. N) CLOSE(1) RETURN END 163 .*)M WRITE(*.40) READ(*.10) READ(*.'JUMLAH KOLOM : '.$) FORMAT(6X.$) STOP END SUBROUTINE READ_MAT(NAMA_FILE_IN.hmymsc PROGRAM cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c A M N CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.$) FORMAT(A15) FORMAT(3X.

5. 4. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '. 6.80)(A(I. STATUS = 'NEW') WRITE(2.2 14 PROGRAM OPERASI MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.100)NAMA_FILE_OUT OPEN(UNIT=2. 2002 DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT : Nama File Keluaran A B C D E M N : Matriks A : Matriks B : Matriks hasil operasi penjumlahan [A]dan [B] : Matriks hasil operasi pengurangan [A]dan [B] : MAtriks hasil operasi perkalian [A] dan [B] : Jumlah baris matriks A/E : Jumlah kolom matriks A c ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c 164 .N) 70 80 90 100 110 CONTINUE CLOSE(2) FORMAT(8(2X.5)) FORMAT(3X.J =1.110) DO 70 I = 1. 3. matriks 4 x 4 (MAT44) 2. 14. 'KOEFISIEN MATRIKS [A] ADALAH : ') RETURN END Susunan File data. FILE = NAMA_FILE_OUT.A) DIMENSION A(M. 5. 4.90) READ(*.M WRITE(2. 2 -3 .F10. 5. 2. 2.J).N) CHARACTER NAMA_FILE_OUT*15 WRITE(*. 3.PROGRAM SUBROUTINE PRINT_MAT(M.$) FORMAT(A15) FORMAT(/2X.N.

'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*. FILE = BACA_MAT.B(100.30) FORMAT(3X.20) 20 30 FORMAT(3X.'OPERASI MATRIKS A(MxN) DAN B(KxL)') WRITE(*. K READ(1.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS B : ') WRITE(*.10) 10 FORMAT(3X. N) DO 80 I = 1.30) READ(*.100) CHARACTER BACA_MAT*15.*)(A(I.60) c c c 60 FORMAT(3X.100).J). STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.(N.C(100.AND.EQ.HASIL_MAT*15 REAL A.*)N WRITE(*.$) READ(*.50) 50 FORMAT(3X.*)K WRITE(*.hmymsc c c K L : Jumlah baris matriks B : Jumlah kolom matriks B/E ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.'JUMLAH BARIS : '.$) READ(*.C WRITE(*. SYARAT DIMENSI HARUS SAMA READ(1.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.K).*)(B(I.190)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.J).100).B.'JUMLAH KOLOM : '.L))THEN DO 100 I = 1.40) 40 FORMAT(3X. M 70 80 c c c IF((M. L) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS A DAN B DARI FILE YANG TELAH DIBUAT 165 .$) READ(*.*)M WRITE(*.J = 1.100).E(100.100). J = 1.*)L WRITE(*.40) READ(*.EQ. M OPERASI PENJUMLAHAN MATRIKS.D(100.

SYARAT DIMENSI HARUS SAMA FORMAT(3X.K).J) 90 100 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*. M DO 150 J = 1.IK)*B(IK.110) 110 c c c IF((M.J) CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.170) 170 c FORMAT(3X.J) + B(I. M DO 120 J = 1.J) = E(I.0 DO 140 IK = 1.B(I.L))THEN DO 130 I = 1.EQ.J) = A(I.J) .EQ. N D(I.J) 120 130 CONTINUE CONTINUE ELSE WRITE(*.AND. SYARAT KOLOM MATRIKS A = BARIS MATRIK B OPERASI PENGURANGAN MATRIKS.110) ENDIF c c c IF(N.$) READ(*.J) = 0.190)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPERASI PERKALIAN.J) + A(I.(N.'PROSES TIDAK DAPAT DILAKUKAN DIMENSI BEDA') ENDIF 166 . N 140 150 160 E(I. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.EQ.180) 180 190 FORMAT(3X. N C(I. 'SYARAT DIMENSI MATRIKS TIDAK TERPENUHI') ENDIF PENULISAN HASIL OPERASI WRITE(*. L E(I.PROGRAM DO 90 J = 1.K)THEN DO 160 I = 1.J) = A(I.

J).300) 300 310 320 FORMAT(/2X. K 250 260 WRITE(2. 3.F8. L) FORMAT(4(2X.3)) WRITE(2. M WRITE(2.3)) WRITE(2. L) FORMAT(4(2X.230) WRITE(2. 'MATRIKS A(M.3)) WRITE(2. 4. M WRITE(2.240) 240 FORMAT(/2X.L) ADALAH : ') DO 250 I = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2.J = 1.320)(D(I.N) ADALAH : ') DO 210 I = 1.J = 1.J).320)(E(I. 2. K WRITE(2. 'MATRIKS B(K. 7. 3.230) WRITE(2.3)) WRITE(2. 2.290)(C(I.200) 200 210 220 230 FORMAT(/2X.270) 270 280 290 FORMAT(/2X.hmymsc OPEN(UNIT=2.230) WRITE(2. M WRITE(2. 'MATRIKS [D] = [A]-[B] ADALAH : ') DO 310 I = 1. 5 6 8 1 6 5 167 .J). FILE = HASIL_MAT. 3.J = 1.J).F8.330) 330 340 FORMAT(/2X.260)(B(I.J).F8. matriks 4 x 4 (MAT33_33) 1. N) FORMAT(4(2X. 2. 6.220)(A(I. L) STOP END Susunan File data.J = 1.230) FORMAT(/2X) WRITE(2. 'MATRIKS [C] = [A]+[B] ADALAH : ') DO 280 I = 1. 6. N) FORMAT(4(2X. J = 1. 'MATRIKS [E] = [A] [B] ADALAH : ') DO 340 I = 1.F8. 7.

INVTL(100.20) FORMAT(3X.'MASUKKAN DIMENSI MANTRIKS A : ') WRITE(*.JMLH. J = 1. STATUS = 'OLD') DO 70 I = 1.'INVERSE MATRIKS A(NxN)') WRITE(*.ACY(100.100).100).*)(A(I.100).INVL.100).HASIL_MAT*15 REAL A.J). N) CLOSE(1) PEMBACAAN DATA MATRIKS BUJUR SANGKAR BERDIMENSI N x N FORMAT(3X.L. + INVL(100.L(100.INVTL.$) READ(*.30) FORMAT(3X.AGJ.PROGRAM PROGRAM INVERSE MATRIKS ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 21St.$) READ(*. N 70 c READ(1.60) 60 FORMAT(3X.TL.'JUMLAH BARIS DAN KOLOM : '.100).90)BACA_MAT OPEN(UNIT = 1.'MASUKKAN NAMA FILE INPUT : '.TL(100. FILE = BACA_MAT.100) CHARACTER BACA_MAT*15.10) 10 20 30 c c c WRITE(*.ACY WRITE(*.100).AGJ(100.*)N 168 . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES BACA_MAT : Nama File Data MAsukkan HASIL_MAT A N AGJ L TL INVL INVTL ACY : Nama File Keluaran : Matriks A : Dimensi Matriks A : Inverse matrik [A] dng Gauss Jordan method : Dekomposisi [A] jadi matriks segitiga bawah [L] : Transpose matriks [L] : Inverse Matriks L : Inverse matriks TL : Hasil inverse [A] dengan metoda Cholesky ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.

N WRITE(2. STATUS = 'NEW') WRITE(2. 'MATRIKS AWAL A(N. N OP = AGJ(I.J = 1. 2*N AGJ(I.hmymsc c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS KEDALAM FILE WRITE(*. N IF(I. N DO 140 J = 1.IP) DO 150 J = IP.J) 150 160 170 CONTINUE CONTINUE CONTINUE DO 190 I = 1. N DO 130 J = 1.120)(A(I. N) FORMAT(8(2X.IP) GOTO 160 OP = -AGJ(I.100) 100 110 120 c c c INVERSE MATRIKS DENGAN METODA GAUSS-JORDAN PERLUASAN MATRIKS A(NxN) MENJADI MATRIKS AI(Nx2N)C DO 130 I = 1.IP)/AGJ(IP.J) 140 c CONTINUE CONTINUE FORMAT(/2X.J) = AGJ(I.0 ENDIF 130 c DO 140 I = 1.J+N) = 1. N IF(I.F8. FILE = HASIL_MAT.$) READ(*.J) + OP * AGJ(IP.EQ.EQ.N) ADALAH : ') DO 110 I = 1.80) 80 90 FORMAT(3X. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.90)HASIL_MAT FORMAT(A15) OPEN(UNIT=2.J) = A(I.3)) PROSES INVERSE MATRIKS DO 170 IP = 1.I) 169 . 2*N AGJ(I.J).J)THEN A(I. N DO 160 I = 1.

230)(ACY(I. N) c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN A DENGAN L DO 257 I = 1.210) FORMAT(/2X.J) = ACY(I.J) + A(I.259) DO 258 I = 1. J = 1. N 258 259 WRITE(2.230)(AGJ(I.230)(L(I. N DO 256 J = 1.J) = AGJ(I.205) FORMAT(/2X) WRITE(2. N ACY(I. 'INVERSE MATRIKS A(NxN) YANG TERBENTUK ADALAH : ') DO 220 I = 1. J = 1. N ACY(I.J). N DO 200 J = 1.J)/OP 180 190 c CONTINUE CONTINUE PENYUSUNAN ULANG MATRIKS AGJ SEBAGAI INVERSE MATRIKS A DO 200 I = 1. N L(I.PROGRAM DO 180 J = 1.J) = 0.J = 1.J) 255 256 257 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2.J).0 DO 255 K = 1.F8. N) FORMAT(8(2X. 'MATRIKS [L] YANG TERBENTUK ADALAH :') DO 250 I = 1.J+N) 200 205 210 220 230 CONTINUE WRITE(2.3)) WRITE(2. N WRITE(2.240) 240 250 FORMAT(/2X. N) FORMAT(/2X.K)*L(K. 'HASIL PENGUJIAN HARUS MATRIKS SATUAN BERIKUT :') 170 . 2*N AGJ(I. N WRITE(2.J) = AGJ(I.J+N).

N DO 260 J = 1. N IF(J.I) DO 260 I = 1. N DO 280 I = 1.0 DO 290 J = 1.J) * A(K.230)(A(I.GT. J = 1.J) A(K.JMLH)) c PROSEDUR PENULISAN MATRIKS HASIL DEKOMPOSISI L DAN TRANSPOSE L DO 320 I = 1. N L(I. I-1 270 280 JMLH = JMLH + A(I. N DO 321 J = 1.J) A(K. N) CONTINUE INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY PROSES INVERSE METODA CHOLESKY PROSEDUR DEKOMPOSISI MATRIKS A DO 300 K = 1.J) = A(J.J) = A(I.J)*A(K.I) = (A(K.I)-JMLH)/A(I.NE.I)THEN A(I.J).K) . N 265 c c WRITE(2.J) 321 CONTINUE 171 .I))GOTO 880 260 c DO 265 I = 1.0 DO 270 J = 1.hmymsc c c c c PENGUJIAN SYARAT A(I.0 ENDIF 310 320 CONTINUE CONTINUE DO 321 I = 1.K) = SQRT((A(K.A(J. N DO 310 J = 1.K-1 JMLH = 0.I) JMLH = 0. N IF(A(I. K-1 290 300 JMLH = JMLH + A(K.J).J) = 0.

N 350 INVL(I.230)(ACY(I. N DO 370 J = 1.I) = 1.J) INVL(I.0/L(I. 'HASIL PENGUJIAN [L][INVL] = [I] :') 172 .K)*INVL(K. N) FORMAT(/2X.PROGRAM WRITE(2.J).J) = 0.340)(L(I.L(I.J). INVL WRITE(2.J) + L(I.I) DO 380 I = 2. ' HASIL DEKOMPOSISI MATRIKS A MENJADI L') DO 330 I = 1. 'HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH L . N DO 387 J = 1. N 381 382 WRITE(2.INVL : ') c PROSEDUR PENGUJIAN HASIL DENGAN MENGALIKAN L DENGAN LINV DO 388 I = 1. I-1 360 370 380 JMLH = JMLH .0 DO 386 K = 1.K)*INVL(K. N ACY(I.J) = ACY(I. J = 1.230)(INVL(I.0 DO 360 K = 1.3)) PROSEDUR INVERS MATRIKS SEGITIGA BAWAH DO 350 I = 1.382) DO 381 I = 1. N 385 389 WRITE(2.J). I-1 JMLH = 0.I)*JMLH CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS SEGITIGA BAWAH.F8.325) 325 330 340 c FORMAT(/2X. N ACY(I. N) FORMAT(/2X.J) 386 387 388 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. N WRITE(2.389) DO 385 I = 1. N) FORMAT(8(1X. J = 1. J = 1.J) = INVL(I.

hmymsc c PROSEDUR TRANSPOSE MATRIK L-TL DO 400 I = 1. N JMLH = 0 DO 465 K = 2.J).0/TL(I. N DO 390 J = 1.TL(I.J) INVTL(I.I) DO 460 I = 1.410) 410 FORMAT(/2X. N-2 DO 470 J = I+2.3)) c PROSEDUR INVERSE MATRIK SEGITIGA ATAS TL JADI INVTL DO 440 I = 1.J) 390 400 c CONTINUE CONTINUE PENULISAN TRANSPOSE MATRIK L JADI TL WRITE(2. N 440 INVTL(I.J)*INVTL(J. N) FORMAT(8(1X.J) = -TL(I. N TL(J.I) JMLH = JMLH .F8. 'TRANSPOSE DARI L JADI TL : ') DO 420 I = 1.K)*INVTL(K.K)*INVTL(K.J) = JMLH/TL(I.I) = L(I.430)(TL(I.J) INVTL(I.I) 460 CONTINUE DO 480 I = 1. N-3 DO 500 J = I+3. N-1 J = I+1 INVTL(I.J)/TL(I.TL(I. N JMLH = 0 DO 490 K = 2. J 465 470 480 CONTINUE DO 510 I = 1. J 490 500 510 CONTINUE JMLH = JMLH .I) 173 .I) = 1.J) = JMLH/TL(I.N 420 430 WRITE(2.J = 1.

N ACY(I.890) FORMAT(2X.620)(ACY(I.K)*INVTL(K.550) 550 FORMAT(/2X. N) FORMAT(8(1X.J) = 0.3)) PROSEDUR PERHITUNGAN INVERSE CHOLESKY DO 600 I = 1.J).3)) FORMAT(/2X.J) + TL(I. N) FORMAT(8(1X.0 DO 520 K = 1.J) = ACY(I.J).J) 580 590 600 CONTINUE CONTINUE CONTINUE c PENULISAN HASIL INVERSE MATRIKS WRITE(2. N ACY(I. J = 1.J) 520 530 540 CONTINUE CONTINUE CONTINUE WRITE(2. N 610 620 630 880 890 900 WRITE(2.J) + INVTL(I.F8.PROGRAM c PROSEDUR PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL MENJADI INVTL DO 540 I = 1.J) = ACY(I. N DO 530 J = 1.0 DO 580 K = 1. N ACY(I. 'MAAF CHOLESKY GAGAL') STOP 174 .570)(ACY(I. 'INVERSE MATRIKS DENGAN METODA CHOLESKY ADALAH : ') GOTO 900 WRITE(2.F8. N DO 590 J = 1.J) = 0.K)*INVL(K. N ACY(I. J = 1. 'HASIL PENGUJIAN INVERSE MATRIKS TL JADI INVTL : ') DO 560 I = 1. N 560 570 c WRITE(2.630) DO 610 I = 1.

30) 30 FORMAT(3X.SELISIH WRITE(*.GALAT.X(100) CHARACTER BACA_MAT*15. -1. -1.$) 175 . -1. -1.$) READ(*.C. 4.hmymsc END Susunan File data. matriks 4 x 4 (MAT4S) 4. 0. -1. 0. 4. 0 -1 -1 4 PROGRAM PENYELESAIAN SPL ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c BACA_MAT HASIL_MAT A N C X XBARU EPS GALAT SELISIH M DUMMY CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : MARCH 26th.'MASUKKAN JUMLAH PERSAMAAN : '.HASIL_MAT*15 double precision A.XBARU.100).*)N WRITE(*.'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.EPS. -1.X.C(100).20) 20 FORMAT(3X. 0. 2002 DEFINITION OF VARIABLES : Nama File Data Masukkan : Nama File Hasil Keluaran : Matriks koefisien persamaan : Jumlah persamaan : Matriks/vektor konstanta persamaan : Variabel yang dicari/yang dihitung : Variabel X pada iterasi ke k+1 : Batas ketelitian : Variabel bantu pengujian antar iterasi : Variabel pengujian batas ketelitian : Batas iterasi/iterasi maksimum : Variabel bantu ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION A(100.

80) 80 FORMAT(3X. N) CLOSE(1) WRITE(*.00000001))THEN WRITE(*.J)= A(K. N IF(ABS(A(I.K)))THEN L=I ENDIF 100 CONTINUE IF(ABS(A(L.LE. N L=K DO 100 I = K+1.GT.0 : '.K)). J = 1.PROGRAM READ(*.K)THEN DO 110 J = K. N 90 c c DO 120 K = 1.70) FORMAT(3X.NE. 'BATAS ITERASI READ(*.K)).40)BACA_MAT 40 FORMAT(A15) OPEN(UNIT = 1.*)(A(I.$) Prosedur Pivoting 176 .J) A(L. N 50 READ(1.*)EPS WRITE(*.(0.60) 60 70 FORMAT(3X.J). N DUMMY = A(L.ABS(A(L.*)M c Nilai Awal Harga X DO 90 I = 1.*)(C(I).J)= DUMMY X(I) = 0.I = 1. STATUS = 'OLD') DO 50 I = 1.*) "PROSES GAGAL" GOTO 250 ENDIF IF(L. 'MASUKKAN BATAS KETELITIAN DAN ITERASI') WRITE(*.J) A(K.$) READ(*. N) READ(1. 'BATAS KETELITIAN : '. FILE = BACA_MAT.

EPS)GOTO 170 CONTINUE WRITE(*.160) FORMAT(/2X.40)HASIL_MAT OPEN(UNIT=2. STATUS = 'NEW') WRITE(*. M GALAT = 0.X(I))/XBARU) IF(GALAT. N XBARU = C(I) DO 130 J = 1.190) 190 FORMAT(3X.J)*X(J) ENDIF 130 CONTINUE XBARU = XBARU/A(I.0 DO 140 I = 1. 'MASUKKAN NAMA FILE OUTPUT : '.$) READ(*. 'PROSES TIDAK KONVERGEN ') GOTO 250 170 180 c c WRITE(*.180) FORMAT(1X.I)THEN XBARU = XBARU .SELISIH)THEN GALAT = SELISIH ENDIF 140 150 160 X(I) = XBARU IF(GALAT.LT. 'PENULISAN HASIL') CONTINUE PENULISAN HASIL PEMBACAAN MATRIKS KEDALAM FILE 177 .NE. N IF(J.I) SELISIH = ABS((XBARU .LT.A(I.hmymsc 110 CONTINUE ENDIF DUMMY = C(L) C(L) = C(K) C(K) = DUMMY 120 c c Prosedur Iterasi Menurut G-Seidel DO 150 ITER = 1. FILE = HASIL_MAT.

1.F10.3. -0.PROGRAM WRITE(2. 7.3 10 71. 0. I = 1.30.2 -0. N) 210 250 FORMAT(8(2X.5)) STOP END Susunan data dalam File (PV33) 3. 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan 178 . -0. -0.85.2.200) 200 FORMAT(/2X. -19.1. 7. 'SOLUSI YANG DIPEROLEH ADALAH : ') WRITE(2.210)(X(I).40 PROGRAM LFS BY GS METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 16th. 0.

KLP(100).E(100).NOMORBUS(100) EI.100).EN(100).YLP.BAWLTRFO.100).Q_MAKS(10).Y_BUS.BAWLTRFO(100) .EII.NOTRAFO(100).Y_CABANG(100).Q_LOAD(100) .P_GENERATE(50).V_SUDUT(100).BAHRTRFO(100).NFILE_IN 179 .V_SPECT COMPLEX Y_CABANG.KLP. INTEGER SWITCH.RATIOTRF(100).P_LOAD(50 ).BUS_AWAL.V_MAGNITUD(100).V_SPECT(100).Q_GENERATE(100).YLP(100.SUSCEPTAN(10 0).LCHARGING(100).BUS_AWAL(100). + + + + + + + REAL c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA REAKTANSI(100).REAKTANSI.BUS_AKHIR(100).S ALPHA.TAHANAN(100).BUS_AKHIR.Y_CHARGING(100).R.SR.SUM.Q(100 ).TAHANAN.MAGE.P(100).LCHARGING.Y_BUS(100.hmymsc c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c NOTRAFO RATIOTRF BAWLTRFO BAHRTRFO NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SUDUT V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q KLP YLP DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Nomor sadapan transformator : Ratio sadapan transformator : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Konstanta bus : Konstanta jaringan : Selisih daya maksimum : Nama file DATA : Nama file OUTPUT : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE cccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(100).NOKPSITOR(100).BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.EPSILON.Q_MIN(10).TIPEBUS(100).DX.

*)NOCABANG(I).BUS_AKHIR(I).IMIN.2.I100TH.IMIN.JMLTRAFO.ISEC. Q_GENERATE(I).BAHRTRFO(I).2. FILE = NFILE_IN.I100TH.1H:I2. REAKTANSI(I).*) DO 40 I = 1.IMIN.BAWLTRFO(I).PROGRAM WRITE(*.SUSCEPTAN(I) CALL GETTIM (IHR.TAHANAN(I).IMIN.I2.JMLHBUS.P_LOAD(I).10) 10 20 FORMAT(3X. Q_MIN(I). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '. JMLTRAFO 50 READ(1.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.$) READ(*.I1000TH OPEN(UNIT = 1.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.Q_LOAD(I).I100TH.*) DO 30 I = 1.JMCABANG.*) DO 50 I = 1.ISEC.2.2) READ(1.*) DO 60 I = 1.*)NOKPSITOR(I).1H:I2.JMLKSTOR.V_SPECT(I).TIPEBUS(I) READ(1.I1000TH) WRITE(*. STATUS = 'OLD') READ(1.70)IHR.*) READ(1.BUS_AWAL(I).I100TH. + ALPHA.V_SUDUT(I).*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.RATIOTRF(I) READ(1.70)IHR.EPSILON READ(1.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS FORMAT(2X.ISEC. JMCABANG 30 + READ(1.ISEC. JMLHBUS 40 + + READ(1. JMLKSTOR 60 READ(1.JMLPVBUS.*)NOTRAFO(I).*)MVADASAR.Q_MAKS(I).1H:I2.1H:I2.I1000TH) WRITE(*.P_GENERATE(I).LCHARGING(I) 180 .2.*)NOMORBUS(I).V_MAGNITUD(I).

hmymsc
DO 90 I = 1, JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.00/CMPLX(TAHANAN(I),REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1, JMLTRAFO IF(I.EQ.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK,NK) = Y_BUS(NK,NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN,NN) = Y_BUS(NN,NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK,NN) = Y_BUS(NK,NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN,NK) = Y_BUS(NK,NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH.EQ.0)GOTO 90 Y_BUS(NP,NP) = Y_BUS(NP,NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ,NQ) = Y_BUS(NQ,NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP,NQ) = Y_BUS(NP,NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ,NP) = Y_BUS(NP,NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1, JMLHBUS DO 100 J = 1, JMLKSTOR IF(I.EQ.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I,I) = Y_BUS(I,I)- CMPLX(0.00,SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*,105) 105 FORMAT(3X, 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : ',$) READ(*,20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2, FILE = NFILE_OUT, STATUS = 'NEW') CONTINUE = CMPLX(0.00,LCHARGING(I))

181

PROGRAM

WRITE(2,115) 115 FORMAT(2X, 'MVADASAR, JMLHBUS, JMCABANG, JMLTRAFO, JMLPVBUS,JMLKS + TOR, ALPHA, EPSILON') WRITE(2,125)MVADASAR,JMLHBUS,JMCABANG,JMLTRAFO,JMLPVBUS,JMLKSTOR, + ALPHA, EPSILON 125 FORMAT(3X,I4,5(5X,I4),5X,F5.3,1X,F10.8) WRITE(2,135) 135 FORMAT(12X, 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : ',/,' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 140 I = 1, JMCABANG 140 145 155 WRITE(2,145)NOCABANG(I),BUS_AWAL(I),BUS_AKHIR(I),TAHANAN(I), + REAKTANSI(I),LCHARGING(I) FORMAT(I5,3X,I3,' -',I3,3X,F8.4,4X,F8.4,6X,F8.4) WRITE(2,155) FORMAT(2X, 'DATA BUS SISTEM TENAGA : ',/,' N_BUS V_MAGNITUD V_S + UDUT P 160 + + 165 Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 160 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,165)NOMORBUS(I),V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I),(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)),(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)),V_SPECT(I),Q_MIN(I), Q_MAKS(I),TIPEBUS(I) FORMAT(I4,3X,F8.4,5X,F8.4,4X,F8.4,2X,F8.4,3(2X,F8.4),2X,I4) WRITE(2,175) 175 + 180 FORMAT(2X, 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') WRITE(2,185)NOTRAFO(I),BAWLTRFO(I),BAHRTRFO(I),RATIOTRF(I) DO 180 I = 1, JMLTRAFO 185 FORMAT(2X, 3(2X,I5),2X,F6.2) WRITE(2,195) 195 + 200 FORMAT(2X, 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : ',/, 'Nomor Kapasitor Susceptansi') WRITE(2,205)NOKPSITOR(I),SUSCEPTAN(I) DO 200 I = 1, JMLKSTOR 205 FORMAT(2X,I5,F6.2) WRITE(2,206) 206 FORMAT(2X, 'ADMITANSI JARINGAN : ',/,)

182

hmymsc
DO 201 J = 1, JMCABANG 201 WRITE(2,207)Y_CABANG(J) WRITE(2,208) 208 FORMAT(2X, 'ADMITANSI KE TANAH : ',/,) DO 202 J = 1, JMCABANG 202 209 211 212 213 c c INISIALISASI PERHITUNGAN : P, Q, KLP, dan YLPQ CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH DO 210 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).NE.1)P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR IF(TIPEBUS(I).EQ.3)Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 210 CONTINUE DO 230 I = 1, JMLHBUS E(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I),V_SUDUT(I)) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)Q(I) = 0.000 IF(TIPEBUS(I).EQ.3)KLP(I) = CMPLX(P(I),-Q(I))/Y_BUS(I,I) DO 220 J = 1, JMLHBUS 220 230 IF(I.NE.J)YLP(I,J) = Y_BUS(I,J)/Y_BUS(I,I) CONTINUE CALL GETTIM (IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH) WRITE(2,*) 'WAKTU SELESAI INISIALISASI/MULAI ITERASI :' WRITE(2,70)IHR,IMIN,ISEC,I100TH,I1000TH c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI ITERMAK = 1000 WRITE(2,209)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X,F10.5)) WRITE(2,211) FORMAT(2X, 'ADMITANSI BUS : ',/,) DO 212 I = 1, JMLHBUS WRITE(2,213)(Y_BUS(I,J), J = 1, JMLHBUS) FORMAT(10(1X,F10.5)) 207 FORMAT(10(1X,F10.5))

183

PROGRAM ITERASI = 0 240 DELTAMAK = 0.0

DO 320 I = 1, JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 320 EII = E(I) IF(TIPEBUS(I).EQ.2)THEN E(I) = (E(I)/CABS(E(I))) * CMPLX(V_SPECT(I),0.0) SUM 250 = CMPLX(0.0,0.0) DO 250 L = 1, JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(I,L) * E(L) Q(I) = -AIMAG(SUM * CONJG(E(I))) IF(Q(I)-Q_MAKS(I)/MVADASAR)260,300,270 260 270 280 290 300 IF(Q(I)-Q_MIN(I)/MVADASAR)280,300,300 Q(I) = Q_MAKS(I)/MVADASAR GOTO 290 Q(I) = Q_MIN(I)/MVADASAR E(I) = EII KLP(I) = (CMPLX(P(I),-Q(I)))/Y_BUS(I,I) ENDIF SUM = CMPLX(0.0,0.0) EI = E(I) DO 310 L = 1, JMLHBUS 310 IF(L.NE.I)SUM = SUM + YLP(I,L) * E(L) EN(I) = KLP(I)/CONJG(E(I)) - SUM DX = EN(I) - EI E(I) = EI + CMPLX(ALPHA,0.0) * DX DELE = CABS(EN(I) - EII) IF(DELE.GE.DELTAMAK)DELTAMAK = DELE 320 c ITERASI = ITERASI + 1 IF(DELTAMAK.LE.EPSILON)GOTO 340 IF(ITERASI.LT.ITERMAK)GOTO 330 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI WRITE(2,325)ITERASI 325 FORMAT(////,T10,'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : ',I4,'ITERATION') CONTINUE

184

ISEC.IMIN.0. JMLHBUS 350 360 IF(TIPEBUS(I).) DO 337 I = 1.I1000TH WRITE(2.EQ.2F10.331) 331 337 FORMAT(2X.'-'.336)I. 'PARAMETER JARINGAN : '.I100TH.2F10.//T6.J. JMLHBUS 334 335 336 WRITE(2.ISEC.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.365)ITERASI 365 + FORMAT(' '.'GAUSS ITERATIVE TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .I1000TH) WRITE(2./.I) * E(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(E(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(E(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL WRITE(2.333) 333 FORMAT(2X. ' ITERATION'. 'PARAMETER BUS : './.I3./) 332 FORMAT(10(1X. JMLHBUS WRITE(2.70)IHR. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 340 SUM = CMPLX(0.J) CONTINUE FORMAT(2X.5) DO 350 I = 1.) DO 335 I = 1.IMIN.0) CALL GETTIM (IHR.I4.0.I100TH.I3.2X.1)K = I DO 360 I = 1. JMLHBUS DO 334 J = 1.YLP(I.5)) DO 370 I = 1.332)KLP(I) WRITE(2.REAL(E(I))) MAGE = CABS(E(I)) 185 . JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.hmymsc GOTO 600 330 GOTO 240 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(E(I)).

//T6.5) WRITE(2.4./) DO 390 I = 1.385) 385 FORMAT(' '.E(I).'DAYA PADA BUS BERAYUN '.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.F10.3I5.Q(I) 375 FORMAT(' '.5) SUM = CMPLX(0.5.NP. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = E(NP)*CONJG((E(NP)-E(NQ))*Y_CABANG(I)+E(NP)* + + (Y_CHARGING(I))) R = E(NQ)*CONJG((E(NQ)-E(NP))*Y_CABANG(I)+E(NQ)* (Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .//T6.'MVAR') DO 406 I = 1.5.1X.2X.EQ.1X.375)I.F9.DELT*57.395)NOCABANG(I).NQ.0) WRITE(2.5.6X.//T6.S*MVADASAR 390 WRITE(2.F10.'MW '.1X.R) WRITE(2.0.5.I2.407)P(I)*MVADASAR.'MVAR') : '.395)NOCABANG(I).P(I).R*MVADASAR 395 FORMAT(' '.0.5X.1)THEN WRITE(2.405)SR 405 + FORMAT(' '.NP.5.'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.Q(I)*MVADASAR 406 407 + 600 STOP END ENDIF FORMAT(' '.5.5.F7.PROGRAM 370 WRITE(2.F9.F9.1X.4.NQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).'MW 186 .1X.F10.6X.F9.MAGE.F9.6X.29578.2F8.F10.

10. 1 3 3 3 3 0.08 0. RATIO(a) NOKAPASITOR.18 0. . 40. 0.TIPEBUS 1 .0 . 20.000001 0.0 . 1. .12 0.00 .0.0.REAKTANSI.020 0.010 0. 4 .030 0. .QLOAD.0 . 0.24 .0 .0 .18 0. 0.0 . 0. .005 . 0 .00 0. . . .VSPECT. SUSCEPTANSI PROGRAM LFS BY NR METHOD ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c c c c c c c c c c c c CREATED BY DATE : HENDRA MARTA YUDHA : APRIL 29th. .00 1. 40.4 . 10.ADMITANSI TANAH . 0. .QGENERATE.03 0.0. 0. 0 0 1. 0.0 .0 . 0. . 0.04 0. . 0.025 NOCABANG. . 0.JMLKAPTOR.PGENERATE. . .0.JMPVBUS.PLOAD. 3 .QMAKS. 0.0 .hmymsc Susunan data dalam File (LOADFL. .06 0. . . . . 0 0. 0. 0 .0. . .0 . 0. 60.08 NOBUS.00 30.025 0. .0 . .0 . 5 . . 0.02 0. . 2 . . . 0 .0 .DAT) MVADASAR. .BUS_AKHIR. . 2002 ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc DEFINITION OF VARIABLES MVADASAR JMLHBUS : Daya Dasar : Jumlah Bus Sistem JMCABANG : Jumlah Cabang jaringan JMLTRAFO : Jumlah Transformator JMLPVBUS : Jumlah bus pengendali JMLKSTOR : Jumlah Kapasitor shunt TIPEBUS ALPHA EPSILON : Jenis bus pada sistem : Konstanta percepatan : Batas Ketelitian 187 . . 15.00 1.JMTRAFO. 7 2 3 3 4 5 4 5 . 5 1 1 2 2 2 3 4 .JMCABANG.24 0. . .0 .ALPHA.0 .00 .00 .0 . 5.VSUDUT. 0. 0.BUS_AWAL. 0. 0. 0.020 0. . 0.0 .EPSILON 100 1 2 3 4 5 6 7 . .0 . 45. 0. 0.0 .00 .06 1. NOTRAFOR. 0.VMAGNITUD.0 .0 .0 .00 . . 0.015 0.0 .01 . . .00 . 0. 0. .06 0. . . 0.0 .TAHANAN.00 0.00 .00 0. QMIN.0 .JMLHBUS.00 1. 0.06 0. . 0.

BUS_AWAL(50).P_GENERATE(50).Q_LOAD(50) 188 .BAHRTRFO(50).RATIOTRF(50).PROGRAM c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c c Y_BUS Y_CHARGING NOCABANG REAKTANSI BUS_AKHIR LCHARGING NOTRAFO : Admitansi bus : Admitansi shunt akibat line charging : Nomor Cabang : Harga reaktansi cabang : Nomor bus akhir cabang jaringan : Half line charging : Nomor sadapan transformator Y_CABANG : Admitansi Cabang TAHANAN : Harga tahanan cabang BUS_AWAL : Nomor bus awal cabang jaringan RATIOTRF : Ratio sadapan transformator BAWLTRFO : Nomor bus awal cabang jaringan yang ada Trafo BAHRTRFO : Nomor bus akhir cabang jaringan yang ada Trafo NOKPSITOR SUSCEPTAN NOMORBUS V_MAGNITUD V_SPECT P_LOAD Q_LOAD Q_MAKS Q_MIN P Q : Nomor bus yang ada kapasitor : Besar susceptansi kapasitor : Kode bus : Magnitude Tegangan V_SUDUT : Sudut fasa tegangan : Tegangan yang ditetapkan : Daya aktif beban : Daya aktif pembangkitan : Daya reaktif pembangkitan : Batas daya reaktif terendah : Daya aktif : Daya reaktif : Daya reaktif beban : Batas daya reaktif tertinggi P_GENERATE Q_GENERATE P_HITUNG : Daya Aktif hasil perhitungan Q_HITUNG : Daya Reaktif hasil perhitungan DELTAMAK NFILE_IN NFILE_OUT : Selisih daya maksimum : Nama file OUTPUT : Nama file DATA ccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccccc c234567 DIMENSION NOCABANG(50).BAWLTRFO(50) .P_LOAD(50 ).P(50).Q_MIN(10). + + + + + REAKTANSI(50).TAHANAN(50).BUS_AKHIR(50).Y_CABANG(50).Q(50 ).V_SPECT(50).V_MAGNITUD(50).Y_BUS(50.NOTRAFO(50).Q_MAKS(10).V_SUDUT(50).NOKPSITOR(50).SUSCEPTAN(5 0).50).LCHARGING(50).

STATUS = 'OLD') READ(1.Q_GENERATE(50).BUS_AWAL.*)NOMORBUS(I).I1000TH OPEN(UNIT = 1.RATIOTRF(I) READ(1.V_MAGNITUD(I). JMCABANG 30 + READ(1.EPSILON READ(1.*) READ(1.$) READ(*.DAYA_P.V_SPECT.70)IHR.TAHANAN(I).Y_BUS.*) DO 50 I = 1.SUSCEPTAN(I) READ(1.JMLKSTOR.hmymsc + + REAL + + + + + + c c PEMBACAAN DATA BUS DAN DATA JARINGAN DARI FILE YANG ADA WRITE(*.TIPEBUS(100).EPSILON.V_MAGNITUD.100).100).TEGAN_P.B_SUSCEP(100.Q_HITUNG(50).IMIN.SR ALPHA. REAKTANSI(I).A_JACOBI(100. XPV(50).V_SUDUT(I).100). 'MASUKKAN NAMA FILE DATA : '.50). Q_GENERATE(I).JACOB_4(100. JMLTRAFO 50 READ(1.D_ARUS(50).BAHRTRFO CHARACTER*15 NFILE_OUT.Q_MAKS(I).*) DO 30 I = 1.P_LOAD(I).P_GENERATE(I).JMLTRAFO.*) DO 60 I = 1.V_SPECT(I).DELTA_ SUDUT(50).JACOB_2(50. JACOB_1(50. FILE = NFILE_IN.*)MVADASAR.*)NOCABANG(I).NFILE_IN 189 . JMLKSTOR 60 READ(1.100).B_JA COBI(100). + ALPHA.BUS_AWAL(I).I1000TH) WRITE(*.JMLPVBUS.I100TH.*) 'WAKTU MULAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.TAHANAN.ISEC. JACOB_3(100.SUM.10) 10 20 FORMAT(3X.I100TH.C_ARUS(50).P_HITUNG(50).REAKTANSI.BAWLTRFO.100).DELTA_QMAK COMPLEX Y_CABANG.DELTA_Q(50).50).Q_LOAD(I).JMLH_1.S.DELTA_P(50).ARUS_BUS.MAGE.IMIN.*)NOTRAFO(I).NOMORBUS(50) COMPLX_TEG(50).LCHARGING.TIPEBUS(I) READ(1.DELTA_MAG(50). G_KONDUK(100.JMLH_2.20)NFILE_IN FORMAT(A15) CALL GETTIM (IHR.*) DO 40 I = 1.JMLHBUS.R.LCHARGING(I) .BUS_AKHIR(I). INTEGER SWITCH.Y_CHARGING(50).DELTA_PMAK.ISEC.BAWLTRFO(I). JMLHBUS 40 + + READ(1.JMCABANG. Q_MIN(I).BAHRTRFO(I).V_SUDUT.BUS_AKHIR.*)NOKPSITOR(I).

PROGRAM CALL GETTIM (IHR.SUSCEPTAN(J)) ENDIF 100 CONTINUE DO 110 I = 1.1H:I2.2) 190 .I1000TH) WRITE(*.NN)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NK.CMPLX(0.NP)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NQ.EQ. JMLHBUS G_KONDUK(I.NK)+Y_CABANG(I)/(RATIOTRF(J))**2+ + Y_CHARGING(I) Y_BUS(NN. JMLHBUS DO 110 J = 1.00.LCHARGING(I)) FORMAT(2X.NN) ENDIF 80 CONTINUE IF(SWITCH. JMCABANG Y_CABANG(I) = 1.1H:I2. JMLTRAFO IF(I.ISEC.NOKPSITOR(J))THEN Y_BUS(I.NQ) 90 CONTINUE DO 100 I = 1.I1000TH 70 c c PEMBENTUKAN MATRIKS ADMITANSI BUS DO 90 I = 1.00.NK) = Y_BUS(NK.70)IHR.I100TH.1H:I2.NN) = Y_BUS(NN.J) = REAL(Y_BUS(I.J)) = CMPLX(0.ISEC. JMLHBUS DO 100 J = 1.2.*) 'WAKTU SELESAI PEMBACAAN DATA :' WRITE(*.NQ)+Y_CABANG(I)+Y_CHARGING(I) Y_BUS(NP. JMLKSTOR IF(I.0)GOTO 90 Y_BUS(NP.NK) = Y_BUS(NK.EQ.NN)-Y_CABANG(I)/RATIOTRF(J) Y_BUS(NN.EQ.2.I).1H:I2.NQ) = Y_BUS(NQ.NP) = Y_BUS(NP.IMIN.NOTRAFO(J))THEN SWITCH = 0 NK = BAWLTRFO(J) NN = BAHRTRFO(J) Y_BUS(NK.00/CMPLX(TAHANAN(I).2.NQ)-Y_CABANG(I) Y_BUS(NQ.NP) = Y_BUS(NP.NN) = Y_BUS(NK.I) = Y_BUS(I.I100TH.REAKTANSI(I)) Y_CHARGING(I) NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) SWITCH = 1 DO 80 J = 1.2.NQ) = Y_BUS(NP.I2.IMIN.

FILE = NFILE_OUT.2) B_SUSCEP(I.2X. 'DATA JARINGAN SISTEM TENAGA : '. 'MVADASAR.4. ALPHA.F8.TIPEBUS(I) FORMAT(I4. JMLTRAFO 220 230 240 WRITE(2. EPSILON 140 150 FORMAT(3X.JMCABANG.200)NOMORBUS(I).' N_LINE KODE BUS + TAHANAN REAKTANSI ADMITANSI TANAH') DO 160 I = 1.20)NFILE_OUT OPEN(UNIT = 2.F8.4X.2X. JMLHBUS WRITE(2.170)NOCABANG(I).(P_GENERATE(I) -P_LOAD(I)). 'DATA SADAPAN TRANSFORMATOR DARI SISTEM TENAGA : '. Q_MAKS(I).2X.5(5X.' N_BUS V_MAGNITUD V_S +UDUT 190 + + 200 210 P Q V_SPEC QMIN QMAKS TIPE BUS') DO 190 I = 1.I4).I5).2) WRITE(2.TAHANAN(I)./.180) FORMAT(2X.8) WRITE(2. 'MASUKKAN NAMA FILE HASIL PERHITUNGAN : '.BAWLTRFO(I).V_MAGNITUD(I). 3(2X. JMLPVBUS./.BUS_AKHIR(I). JMLHBUS.1X. +'Nomor Trafo Kode Bus Ratio Sadapan (a)') DO 220 I = 1. STATUS = 'NEW') WRITE(2.JMLKS +TOR.150) FORMAT(12X.' -'.210) FORMAT(2X.230)NOTRAFO(I). EPSILON') WRITE(2.$) READ(*.6X.SUSCEPTAN(I) 260 FORMAT(2X.3X. + REAKTANSI(I).Q_MIN(I).LCHARGING(I) FORMAT(I5.I3.I4) WRITE(2. JMCABANG.F8.140)MVADASAR.J)) 191 . +'Nomor Kapasitor Susceptansi') DO 250 I = 1. 'DATA KAPASITOR YG TERPASANG PADA SISTEM TENAGA : '.BAHRTRFO(I).JMLTRAFO.4.4. JMLTRAFO.5X.F5.4X.260)NOKPSITOR(I).F8.F6.F6.F10.F8.3X.4)./.3.5X.JMLPVBUS.120) 120 FORMAT(3X.J) = -AIMAG(Y_BUS(I.JMLHBUS.3(2X.BUS_AWAL(I).4.F8.V_SUDUT(I).4.I5.240) FORMAT(2X. + ALPHA.(Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I)).JMLKSTOR.F8.V_SPECT(I).F8. JMLKSTOR 250 WRITE(2.3X. JMCABANG 160 170 180 WRITE(2./.I3.RATIOTRF(I) FORMAT(2X. 'DATA BUS SISTEM TENAGA : '.130) 130 FORMAT(2X.4.hmymsc 110 c c PENULISAN DATA SISTEM DAN MATRIKS ADMITANSI BUS WRITE(*.4) WRITE(2.I4.

J) + V_SUDUT(J) * + + 390 (B_SUSCEP(I. dan DELTA_Q DO 400 I = 1. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).300) FORMAT(2X. 'ADMITANSI KE TANAH : '.I1000TH) WRITE(2.5)) WRITE(2.J) ./.) FORMAT(10(1X.350)(B_SUSCEP(I.EQ. J = 1.F10. JMCABANG WRITE(2.) DO 280 J = 1.J)) CONTINUE P_HITUNG(I) = (V_MAGNITUD(I) * JMLH_1 + V_SUDUT(I) * JMLH_2) Q_HITUNG(I) = (V_SUDUT(I) * JMLH_1 .0 DELTA_QMAK = 0. 'ADMITANSI BUS : '. J = 1.*) 'WAKTU MULAI INISIALISASI PERHITUNGAN :' WRITE(2.J)./.1)GOTO 400 JMLH_1 = 0.5)) DO 360 I = 1.F10.J)) JMLH_2 = JMLH_2 + V_SUDUT(J)*G_KONDUK(I. DELTA_P.IMIN. Q. JMCABANG 280 290 300 310 320 330 350 360 370 c c PERHITUNGAN ITERATIF DIMULAI CALL GETTIM (IHR. JMLHBUS WRITE(2.ISEC.0 DO 390 J = 1.290)Y_CABANG(J) FORMAT(10(1X.270) 270 FORMAT(2X.320)Y_CHARGING(J) FORMAT(10(1X. JMLHBUS) DO 370 I = 1.0 c PERHITUNGAN : P. JMLHBUS WRITE(2.I100TH.V_MAGNITUD(J) * (B_SUSCEP(I. JMLHBUS) 192 .5)) WRITE(2./. JMLHBUS JMLH_1 = JMLH_1 + V_MAGNITUD(J)*G_KONDUK(I.350)(G_KONDUK(I.V_MAGNITUD(I) * JMLH_2) WRITE(2.) DO 310 J = 1.PROGRAM WRITE(2.F10.330) FORMAT(2X.I1000TH ITERMAK = 1000 ITERASI = 1 380 DELTA_PMAK = 0.0 JMLH_2 = 0.I100TH.70)IHR.J).IMIN.ISEC. 'ADMITANSI JARINGAN : '.

I) .2)THEN DELTA_Q(I) = Q(I) .EPSILON). JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I))+V_SUDUT(I)* PENGECEKAN KONVERGENSI = ABS(DELTA_Q(I)) IF(DELTAQI.I) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.NE.DELTA_QMAK)DELTA_QMAK = DELTAQI 193 .hmymsc 400 CONTINUE DO 410 I = 1.-Q_HITUNG(I)) TEGAN_P = CMPLX(V_MAGNITUD(I).EQ.V_SUDUT(I)) ARUS_BUS = DAYA_P/TEGAN_P C_ARUS(I)= REAL(ARUS_BUS) D_ARUS(I)= AIMAG(ARUS_BUS) 430 CONTINUE DO 450 I = 1.EQ.EQ.NE. JMLHBUS IF(TIPEBUS(J).DELTA_PMAK)DELTA_PMAK = DELTAPI ENDIF IF(TIPEBUS(I).GT. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).EQ.1)GOTO 450 DO 440 J = 1.EQ.P_HITUNG(I) DELTAPI = ABS(DELTA_P(I)) IF(DELTAPI.1)GOTO 430 DAYA_P = CMPLX(P_HITUNG(I).EPSILON))GOTO 660 PERHITUNGAN ELEMEN MATRIKS JACOBIAN DO 430 I = 1.GT.V_SUDUT(I) * + + (-B_SUSCEP(I.Q_HITUNG(I) DELTAQI ENDIF 420 c c CONTINUE IF((DELTA_PMAK.(DELTA_QMAK.I)THEN JACOB_1(I.LE.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I)) + C_ARUS(I) JACOB_2(I.I))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).1)GOTO 440 IF(J.I) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.AND.I) + D_ARUS(I) JACOB_3(I.LE.1)GOTO 410 P(I) = (P_GENERATE(I)-P_LOAD(I))/MVADASAR Q(I) = (Q_GENERATE(I)-Q_LOAD(I))/MVADASAR 410 CONTINUE DO 420 I = 1.1)THEN DELTA_P(I) = P(I) .

JMLHBUS J=I-1 DO 490 K = 1.K) = JACOB_1(I.J) = V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.I) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.J) = -V_MAGNITUD(I)*G_KONDUK(I.V_SUDUT(I) * + + + + ENDIF 440 450 c CONTINUE CONTINUE (-B_SUSCEP(I.I) .460) 460 FORMAT(1X.J) JACOB_4(I.J) .J) JACOB_3(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.D_ARUS(I) JACOB_4(I.J)) G_KONDUK(I.I)) + C_ARUS(I) PENYUSUNAN ELEMEN-ELEMEN MATRIKS JACOBI YANG BERKESESUAIAN DO 470 I = 1.J) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I.J))+V_SUDUT(I)* G_KONDUK(I.K+1) A_JACOBI(J. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.PROGRAM + + ELSE JACOB_1(I. JMLHBUS-1 A_JACOBI(J.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_4(I.1)THEN IF(I.1)THEN WRITE(*.K+NKOLOM_BUS) = JACOB_2(I.NE.J) = V_MAGNITUD(I)*(B_SUSCEP(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.J)) JACOB_2(I.I) + V_SUDUT(I)* (-B_SUSCEP(I. 'SLACKBUS BUKAN PADA BUS 1 !!!!') GOTO 1000 ELSE GOTO 480 ENDIF ENDIF 470 480 CONTINUE NKOLOM_BUS = JMLHBUS-1 NBARIS_BUS = 2*JMLHBUS-2 DO 500 I = 2.K) = JACOB_3(I.K+1) A_JACOBI(J+NKOLOM_BUS.K+1) 490 CONTINUE B_JACOBI(J) = DELTA_P(I) 194 .EQ.

J) = B_JACOBI(I) ENDIF 510 520 CONTINUE CONTINUE DO 580 K = 1.NE.NBARIS_BUS)THEN A_JACOBI(I.PIVOT*A_JACOBI(K. NBARIS_BUS+1 IF(J.J) .K)).J) = A_JACOBI(K. NBARIS_BUS+1 550 A_JACOBI(K.NE.*) "PROSES GAGAL" GOTO 1000 ENDIF IF(L. NBARIS_BUS DO 510 J = 1.K)THEN DO 540 J = K.K) DO 550 J = 1.J) = A_JACOBI(I.J) A_JACOBI(L. NBARIS_BUS IF(I.ABS(A_JACOBI(L.K)))THEN L=I ENDIF 530 CONTINUE IF(ABS(A_JACOBI(L. NBARIS_BUS L=K DO 530 I = K+1.00001))THEN WRITE(*.NBARIS_BUS+1 560 A_JACOBI(I. NBARIS_BUS IF(ABS(A_JACOBI(I.J)/PIVOT DO 570 I = 1. NBARIS_BUS+1 DUMMY = A_JACOBI(L.K)).LE.J) ENDIF 195 .J) A_JACOBI(K.J)= DUMMY 540 CONTINUE ENDIF PIVOT = A_JACOBI(K.K) DO 560 J = 1.GT.J)= A_JACOBI(K.(0.K) THEN PIVOT = A_JACOBI(I.GT.hmymsc B_JACOBI(J+NKOLOM_BUS) = DELTA_Q(I) 500 c c CONTINUE PERHITUNGAN HARGA DELTA_E DAN DELTA_F DENGAN GJORDAN PIVOTING PROSEDUR SOLUSI SPL DENGAN METODA GJ + PIVOTING DO 520 I = 1.

GT.PROGRAM 570 580 CONTINUE CONTINUE DO 590 I = 1.ITERMAK)GOTO 640 GOTO 380 c BILA SOLUSI GAGAL DICAPAI 640 WRITE(2. NBARIS_BUS IF(I.I1000TH ITERASI = ITERASI + 1 IF(ITERASI.'CONVERGENCE NOT OBTAINED IN : '.'WAKTU SELESAI ITERASI KE : '.'NEWTON RAPHSON TECHNIQUES CONVERGEN IN : ' .DELTA_SUDUT(K) ENDIF 600 CONTINUE DO 610 I = 1.670)ITERASI 670 FORMAT(' '.T10. JMLHBUS = V_SUDUT(I) + DELTA_SUDUT(I) 196 . NBARIS_BUS+1 IF(J.70)IHR.650)ITERASI 650 FORMAT(////.'ITERATION') GOTO 900 c BILA KONVERGENSI TERCAPAI.EQ. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).I100TH.I4) WRITE(2.I4.1)GOTO 610 V_MAGNITUD(I) = V_MAGNITUD(I) + DELTA_MAG(I) V_SUDUT(I) 610 CONTINUE CALL GETTIM (IHR.GT.ISEC.*)I.I100TH. NBARIS_BUS DO 590 J = 1.NBARIS_BUS)THEN XPV(I) = A_JACOBI(I.IMIN.JMLHBUS)THEN J = I+1 DELTA_MAG(J) = XPV(I) ELSE K = I-(JMLHBUS-2) DELTA_SUDUT(K) = XPV(I) WRITE(*.XPV(I).K.ISEC.LT.J) ENDIF 590 CONTINUE DO 600 I = 1.//T6. + ' ITERATION'./) DO 680 I = 1.620)ITERASI 620 FORMAT(3X.I4.I1000TH) WRITE(2. PROSEDUR PERHITUNGAN ALIRAN DAYA 660 WRITE(2.IMIN.

DELT*57.F9.I) * COMPLX_TEG(I) P(K) = REAL(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) Q(K) = -AIMAG(SUM*CONJG(COMPLX_TEG(K))) c PERHITUNGAN ALIRAN BEBAN DAN PENULISAN HASIL DO 710 I = 1.S*MVADASAR 740 WRITE(2.hmymsc 680 690 700 COMPLX_TEG(I) = CMPLX(V_MAGNITUD(I).ISEC.NQ.5.F9.IMIN.Q(I) 720 FORMAT(' '.5.5.0.'MW 197 .1X.5.EQ.I1000TH : '.F7.R*MVADASAR 750 760 FORMAT(' '.5. JMLHBUS SUM = SUM + Y_BUS(K.'ALIRAN DAYA PADA MASING-MASING CABANG'.1)K = I DO 700 I = 1.ISEC.1X.COMPLX_TEG(I).P(I).'SUSUT DAYA PADA SALURAN TRANSMISI : '.2F10./) DO 740 I = 1.NP.0) WRITE(2. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).F10.5) WRITE(2.I2.29578.MAGE.0.70)IHR.5) SUM = CMPLX(0.F9.'MVAR') CALL GETTIM (IHR.'MW +'.I100TH.3I5.F9.5. JMLHBUS IF(TIPEBUS(I).6X.F9.Q(I)*MVADASAR 770 ENDIF 780 FORMAT(' '.'DAYA PADA BUS BERAYUN +'.//T6.V_SUDUT(I)) DO 690 I = 1.750)NOCABANG(I).6X.F10.750)NOCABANG(I).2X.760)SR FORMAT(' '.1X.'MVAR') DO 770 I = 1.I1000TH) WRITE(2.IMIN.R) WRITE(2.4.730) 730 FORMAT(' '.*) 'WAKTU SELESAI SELURUH PERHITUNGAN :' WRITE(2.NP.5X.5. JMCABANG NP = BUS_AWAL(I) NQ = BUS_AKHIR(I) S = COMPLX_TEG(NP)*CONJG((COMPLX_TEG(NP)-COMPLX_TEG(NQ))* + + Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NP)*(Y_CHARGING(I))) R = COMPLX_TEG(NQ)*CONJG((COMPLX_TEG(NQ)-COMPLX_TEG(NP))* Y_CABANG(I)+COMPLX_TEG(NQ)*(Y_CHARGING(I))) SR = SUM + (S .//T6.NQ.F10.REAL(COMPLX_TEG(I))) MAGE = CABS(COMPLX_TEG(I)) 710 WRITE(2.I100TH.F10.1X. JMLHBUS DELT = ATAN2(AIMAG(COMPLX_TEG(I)).6X.5.1X.//T6.EQ.1)THEN WRITE(2.720)I.780)P(I)*MVADASAR.

*) 1000 STOP END 198 .PROGRAM 900 WRITE(*.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful