Anda di halaman 1dari 49

PSORIASIS

disusun untuk memenuhi salah satu tugas mata kuliah Farmakoterapi

Disususn Oleh : Fauziah Nisa Tanjung Lyra Aulia Arimbie Andri Setiawan Khrisdiany Hidayah Cahyati Purbasari Irwan Hilmy Mei frisda Kelas A 3351121021 3351121030 3351121032 3351121055 3351111420 3351111418 3351111427

Program Profesi Apoteker Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Jendral Ahmad Yani Cimahi 2013

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Psoriasis merupakan sejenis penyakit kulit yang penderitanya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Kemunculan penyakit ini terkadang untuk jangka waktu lama atau timbul/hilang. Berbeda dengan pergantian kulit pada manusia normal yang biasanya berlangsung selama tiga sampai empat minggu, proses pergantian kulit pada penderita psoriasis berlangsung secara cepat yaitu sekitar 24 hari, (bahkan bisa terjadi lebih cepat) pergantian sel kulit yang banyak dan menebal. Psoriasis dapat dijumpai di seluruh belahan dunia dengan angka kesakitan (insidens rate)yang berbeda. Segi umur, Psoriasis dapat mengenai semua usia, namun biasanya lebih kerap dijumpai pada dewasa. Di dunia, penyakit kulit ini diduga mengenai sekitar 2 sampai 3 persen penduduk. Data nasional prevalensi psoriasis di Indonesia belum diketahui. Namun di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, selama tahun 2000 sampai 2001, insiden psoriasis mencapai 2,3 persen. Penyakit ini tidak mengenal usia, semua umur dapat terkena. Tapi puncak insidensinya di usia dua puluhan dan lima puluhan. Tidak ada fakta yang menunjukkan bahwa penyakit ini lebih dominan menyerang salah satu jenis kelamin. Pria maupun wanita memiliki peluang yang sama untuk terserang penyakit ini. B. Tujuan Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk memberikan gambaran yang nyata tentang penyakit psoriasis dan tentang pelaksanaan Askep pada klien dengan psoriasis dengan menggunakan metode keperawatan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA 2.1 definisi Psoriasi adalah suatu penyakit peradangan kronis pada kulit dimana penderitanya mengalami proses pergantian kulit yang terlalu cepat. Penyakit ini secara klinis sifatnya tidak mengancam jiwa dan tidak menular tetapi karena timbulnya dapat terjadi pada bagian tubuh mana saja sehingga dapat menurunkan kualitas hidup seseorang bila tidak dirawat dengan baik. (Effendy, 2005) Psoriasis penyakit kulit kronik residif dengan lesi yang khas berupa bercak-bercak eritema berbatas tegas di tutupi oleh skuama tebal berlapis-lapis berwarna putih mengkilat.(Siregar, 2005). 2.2 Prevalensi Psoriasis merupakan salah satu peradangan kulit yang sering terjadi dan terdapat di seluruh dunia, prevalensi penyakit ini bervariasi pada setiap negara di dunia, hal ini mungkin dikarenakan adanya faktor ras, geografi dan lingkungan. Prevalensinya mulai dari 0,1% hingga 11,8%. Di literatur lain ada yang menyebutkan 1-3% dari penduduk di negara-negara Eropa dan Amerika Utara pernah menderita psoriasis. Dan ada lagi literatur yang melaporkan 1,5-3% populasi di Eropa dan Amerika Utara pernah menderita psoriasis dan jarang dijumpai pada Negara Afrika dan Jepang. Angka kejadian pada laki-laki dan perempuan sama. Insiden pada orang kulit putih lebih tinggi dari pada orang yang memiliki kulit berwarna, kasus psoriasis jarang dilaporkan pada bangsa Indian di Amerika maupun bangsa Afrika. Karena kebanyakan penderita psoriasis memiliki lesi-lesi yang tak hilang seumur hidupnya. Data nasional prevalensi psoriasis di Indonesia belum diketahui. Namun di RSUPN Dr. Cipto Mangunkusumo, selama tahun 2000 sampai 2001, insiden psoriasis mencapai 2,3 persen. Psoriasis dapat terjadi pada semua usia, tetapi umumnya pada orang dewasa muda. Awitan penyakit ini umumnya kurang pada usia yang sangat muda dan orang tua. Dua kelompok usia yang terbanyak adalah pada usia antara 20 30

tahun dan yang lebih sedikit pada usia antara 50 60 tahun. Psoriasis lebih banyak dijumpai pada daerah dingin dan terjadi pada musim hujan. 2.3 kulit Kulit dalah bagian tubuh paling luar. Segala kotoran, sinar matahari, asap kendaraan yang menempel, akan berpengaruh. Kulit terdiri atas tiga bagian utama, yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Epidermis terdiri dari stratum korneum yang kaya akan keratin, stratum lucidum, stratum granulosum yang kaya akan keratohialin, stratum spinosum dan stratum basal yang mitotik. Dermis terdiri dari serabut-serabut penunjang antara lain kolagen dan elastin. Sedangkan hipodermis terdiri dari sel-sel lemak, ujung saraf tepi, pembuluh darah dan pembuluh getah bening. pada kesehatan kulit.

Gambar 2.1 Struktur kulit Epidermis tersusun atas lapisan tanduk (lapisan korneum) dan lapisan Malpighi. Lapisan korneum merupakan lapisan kulit mati, yang dapat mengelupas dan digantikan oleh sel-sel baru. Lapisan Malpighi terdiri atas lapisan spinosum dan lapisan germinativum. Lapisan spinosum berfungsi menahan gesekan dari luar. Lapisan germinativum mengandung sel-sel yang aktif membelah diri, mengantikan lapisan sel-sel pada lapisan korneum. Lapisan Malpighi mengandung pigmen melanin yang memberi warna pada kulit. Lapisan dermis ini mengandung pembuluh darah, akar rambut, ujung saraf, kelenjar keringat, dan kelenjar minyak. Kelenjar keringat menghasilkan

keringat. Banyaknya keringat yang dikeluarkan dapat mencapai 2.000 ml setiap hai, tergantung pada kebutuhan tubuh dan pengaturan suhu. Keringat mengandung air, garam, dan urea. Fungsi lain sebagai alat ekskresi adalah sebgai organ penerima rangsangan, pelindung terhadap kerusakan fisik, penyinaran, dan bibit penyakit, serta untuk pengaturan suhu tubuh. Pada suhu lingkungan tinggi (panas), kelenjar keringat menjadi aktif dan pembuluh kapiler di kulit melebar. Melebarnya pembuluh kapiler akan memudahkan proses pembuangan air dan sisa metabolisme. Aktifnya kelenjar keringat mengakibatkan keluarnya keringat ke permukaan kulit dengan cara penguapan. Penguapan mengakibatkan suhu di permukaan kulit turun sehingga kita tidak merasakan panas lagi. Sebaliknya, saat suhu lingkungan rendah, kelenjar keringat tidak aktid dan pembuluh kapiler di kulit menyempit. Pada keadaan ini darah tidak membuang sisa metabolisme dan air, akibatnya penguapan sangat berkurang, sehingga suhu tubuh tetap dan tubuh tidak mengalami kendinginan. Keluarnya keringat dikontrol oleh hipotalamus. 2.4 Diagnosis Diagnosis dilakukan berdasarkan penemuan lesi psoriasis pada pemeriksaan fisik.
Riwayat medis pasien psoriasis seharusnya meliputi informasi mengenai

onset dan durasi lesi, adanya riwayat keluarga psoriasis, adanya faktor pemicu, adanya faktor terapi antipsoriasis terdahulu (jika ada) yang dilengkapi dengan data efikasi serta efek samping paparan terhadap senyawa kimia dan toksin, serta riwayat alergi (makanan, obat, dan lingkungan). Biopsi kulit terhadap lesi juga berguna dalam mengkonfirmasi diagnosis. 2.5 Gejala Klinis Kulit penderita psoriasis awalnya tampak seperti bintik merah yang makin melebar dan ditumbuhi sisik lebar putih berlapis-lapis. Tumbuhnya tidak selalu di seluruh bagian kulit tubuh, kadang-kadang hanya timbul pada tempat-tempat tertentu saja, karena pergiliran sel-sel kulit bagian lainnya berjalan normal. Lesi kulit yang pertama kali timbul biasanya pada tempat-tempat yang mudah terkena

trauma antara lain : siku, lutut, sakrum, kepala dan genitalia, berupa makula eritematus dengan batas jelas, tertutup skwama tebal dan transparan yang lepas pada bagian tetapi dan lekat di bagian tengah. Skwama ini selalu menunjukkan gambaran menebal yang konstan dan perlekatannya kendor. Bentuk yang paling sering dijumpai adalah bentuk makula yaitu berupa bercak yang dapat bulat atau oval dengan diameter satu sampai beberapa sentimeter. Bentuk ini akan statis dalam jangka waktu yang lama yang apabila terjadi eksaserbasi dapat memberikan perubahan bentuk klinik yang bermacammacam antara lain : bentuk anular, gyrata folikularis, gutara dan punktata. Psoriasis pada kulit kepala dapat menyerupai ketombe. Penyakit psoriasis dapat disertai dengan atau tanpa rasa gatal. Kulit dapat membaik seperti kulit normal lainnya setelah warna kemerahan, putih atau kehitaman bekas psoriasis. Pada beberapa jenis psoriasis, komplikasi yang diakibatkan dapat menjadi serius, seperti pada psoriasis artropi yaitu psoriasis yang menyerang sendi, psoriasis bernanah (psoriasis pustulosa) dan terakhir seluruh kulit akan menjadi merah disertai badan menggigil (eritroderma). Selain itu psoriasis dapat menyerang kuku dimana permukaan kuku menjadi keruh, kekuning-kuningan dan terdapat cekungan-cekungan/pitting atau titik-titik/punctate, menebal dan terdapat subungual hiper keratosis sehingga kuku terangkat dari dasarnya. Dalam hal ini kuku tangan lebih sering diserang daripada kuku kaki. Psoriasis dapat menyerang mukosa dan sendi-sendi terutama sendi kecil. Vlek phernomena (phenomena bercak lilin) yaitu bila skuama psoriasis dikerok akan terlihat warna keruh seperti kerokan lilin. Koebner phernomena : bila pada kulit yang masih normal terkenal trauma maka akan timbul lesi baru yang bersifat sama dengan lesi yang telah ada. Sifat seperti ini juga ditemukan pada lichen planus, lichen nitidus, veruka plana dan eksematoid dermatitis. 2.6 Etiologi Penyebab psoriasis adalah auto imun, terdapat predisposisi genetik tetapi secara pasti diturunkannya tidak diketahui. Psoriasis tampaknya merupakan suatu penyakit keturunan dan juga berhubungan dengan kekebalan dan respon peradangan. Diketahui faktor utama yang menunjang penyebab psoriasis adalah

hiperplasia sel epidermis. Penyelidikan sel kinetik menunjukkan bahwa pada psoriasis terjadi percepatan proliferasi sel-sel epidermis serta siklus sel germinatum lebih cepat dibandingkan sel-sel pada kulit normal. Pergantian epidermis hanya terjadi dalam 3-4 hari sedangkan turn over time epidermis normalnya adalah 28-56 hari.. Faktor genetik sangat berperan, dimana bila orang tuanya tidak menderita psoriasis, resiko untuk mendapat psoriasis 12 %, sedangkan jika salah seorang orang tuanya menderita psoriasis resikonya mencapai 34-39 %. Hal lain yang menyokong adanya faktor genetik ialah bahwa psoriasis berkaitan dengan HLA. Berdasarkan awitan penyakit dikenal dua tipe : Psoriasis tipe I dengan awitan dini bersifat familial dan berhubungan dengan HLA-B13, B17, Bw57, dan Cw6 sedangkan psoriasis tipe II dengan awitan lambat bersifat nonfamilial dan berhubungan dengan HLA-B27 dan Cw2 dan Psoriasis Pustulosa berkorelasi dengan HLA-B27. Psoriasis merupakan kelainan multifaktorial dimana faktor genetik dan lingkungan memegang peranan penting. Ada beberapa faktor faktor yang dapat mencetuskan psoriasis, yaitu :
1.

Trauma: Dilaporkan bahwa berbagai tipe trauma kulit dapat menimbulkan psoriasis. Trauma pada epidermis maupun dermis seperti bekas garukan, bekas luka, dll dapat menimbulkan lesi psoriasis pada tempat tersebut (fenomena Koebner). Infeksi: Sekitar 54 % anak-anak dilaporkan terjadi eksaserbasi psoriasis dalam 2-3 minggu setelah infeksi saluran pernapasan atas. Infeksi fokal yang mempunyai hubungan erat dengan salah satu bentuk psoriasis ialah Psoriasis Gutata, sedangkan hubungannya dengan Psoriasis Vulgaris tidak jelas dan pernah di laporkan kasus-kasus Psoriasis Gutata yang sembuh setelah diadakan tonsilektomi. Streptococcus pyogenes telah diisolasi sebanyak 26 % pada Psoriasis Gutata Akut, 14 % pada pasien Psoriasis Plak, dan 16 % pada pasien Psoriasis Kronik.

2.

3.

Stres : Dalam penyelidikan klinik, sekitar 30-40 % kasus terjadi perburukan oleh karena stres. Stres bisa merangsang kekambuhan psoriasis dan cepat menjalar bila kondisi pasien tidak stabil. Pada anakanak, eksaserbasi yang dihubungkan dengan stres terjadi lebih dari 90 %.

Stres psikis merupakan faktor pencetus utama. Tidak ditemukan gangguan kepribadian pada penderita psoriasis. Adanya kemungkinan bahwa stres psikologis dapat mengakibatkan menurunnya kemampuan menerima terapi dan dapat menyebabkan deteriorasi terutama pada kasus berat.
4.

Alkohol : Umumnya dipercaya bahwa alkohol berefek memperberat psoriasis tetapi pendapat ini belum dikonfirmasi dan kepercayaan ini muncul berdasarkan observasi pecandu alkohol yang menderita psoriasis. Peminum berat yang telah sampai pada level yang membayakan kesehatan sering ditemukan pada pasien psorasis berat laki-laki dibandingkan penderita psorasis lainnya. Kemungkinan alkohol yang berlebihan dapat mengurangi kemampuan pengobatan dan juga adanya gejala stres menyebabkan parahnya penyakit kulit.

5.

Faktor endokrin : Puncak insiden psoriasis pada waktu pubertas dan menopause. Pada waktu kehamilan umumnya membaik, sedangkan pada masa pasca partus memburuk.

2.7 Manifestasi Klinik Lesi psoriasis seringkali asimptomatik, tetapi sekitar 25% pasien mengeluhkan pruritus. Lesi dikarakterisasi dengan adanya garis yang luas, papula, dan plak eritema dengan batas yang jelas yang seringkali dilapisi oleh sisik tipis berwarna perak-putih. Lesi awal biasanya berupa papul kecil yang kemudian membesar dan membentuk plak. Jika sisik tipis tersebut hilang, lesi yang berwarna salmon-pink akan terpapar, mungkin disertai dengan pendarahan yang berasal dari kapiler dermal yang berada dekat sekali dengan permukaan lesi psoriasis. Psoriasis pada kulit kepala bermula dari pengelupasan yang menyebar pada daerah kulit kepala yang eritema hingga plak yang menebal disertai eksudat, mikroabses, serta fisura (retakan). Lesi pada leher, punggung, lengan dan kaki dapat berupa lesi yang menyeluruh, menyebar, atau seperti tetesan atau berupa plak besar. Lesi juga bisa didapati pada telapak tangan, telapak kaki, wajah serta alat genital. Kuku yang diserang seringkali berbintik-bintik

dan dihubungkan dengan material keratotik di bawah lapisan kuku. Dapat terlihat warna kuning di bawah lempeng kuku. Psoriasis artritis merupakan suatu kesatuan yang berbeda secara klinik yang mana terjadi baik lesi psoriasis maupun gejala yang menyerupai artritis inflamasi. Umumnya bagian yang diserang meliputi pergelangan distal interfalangeal dan kuku yang berdekatan, tetapi dapat juga meliputi lutut, siku, pergelangan tangan, serta pergelangan kaki. 2.8 Patofisiologi Mekanisme imun yang diperantai oleh sel memainkan peranan penting dalam perkembangan psoriasis. Aktivasi imun yang diperantai oleh sel T inflamator pada kulit membutuhkan dua sinyal sel T yang dimediasi oleh interaksi sel-sel antara permukaan protein dengan APC (antigen-presenting cells), seperti sel dendritik dan makrofag. Sinyal pertama merupakan interaksi antara reseptor sel T dengan antigen yang diperkenalkan oleh APC, sedangkan sinyal kedua (disebut sebagai konstimulasi) diperantai oleh berbagai interaksi permukaan. Ketika sel T diaktivasi, sel tersebut bermigrasi dari nodus limfa dan aliran darah ke kulit dan mensekresikan berbagai sitokin, terutama interferon- dan interleukin-2, yang menginduksi perubahan patologis yang dikenal sebagai psoriasis. Keratinosit lokal dan neutrofil menginduksi dihasilkannya sitokin lain, seperti TNF- (tumor necrosis factor-) dan IL-8 (interleukin-8). Sebagai akibat dari produksi dan aktivasi sel T patogenik, sel epidermal psoriasis berproliferasi pada laju 7x lebih cepat daripada sel epidermal normal. Proliferasi sel epidermal rupanya meningkat juga pada kulit normal pasien yang beresiko psoriasis. Genetik merupakan komponen yang berpengaruh secara signifikan pada psoriasis. Studi terhadap antigen histokompatibilitas pada pasien psoriasis mengindikasikan hubungan yang signifikan, terutama HLA-Cw6, yakni psoriasis kemungkinan berkembang 9-15 kali lebih tinggi apabila terdapat hubungan keluarga. Iklim, stres, alkohol, merokok, infeksi, trauma, dan obat-obatan tertentu dapat memperburuk psoriasis pada 80% pasien, sedangkan 90% pasien memburuk

pada cuaca dingin. Lesi psoriasis dapat berkembang pada daerah luka (seperti bekas menggosok, pengambilan darah, gigitan serangga, operasi) pada kulit yang nampak normal (respon Koebner). Litium karbonat, inhibitor ACE, tetrasiklin, serta interferon dilaporkan dapat memperparah psoriasis. 2.9 Bentuk Klinis Psoriasis dibagi menjadi bebrapa macam sesuai dengan gejala yang di timbulkan. 1. Plak Psoriasis ( Psoriasis Vulgaris ) Seorang penderita psoriasis vulgaris, umumnya terlihat kulit ketika sedang terkelupas, merah dan mengelupas, kemudian mendapatkan menangis lesi dan skala pada daerah yang terkena. Plak psoriasis, atau psoriasis vulgaris, merupakan jenis yang paling umum terjadi pada hampir 80% pasien psoriasis. Hal ini ditandai dengan merah, keras, patch mengangkat dan benjolan kecil yang memiliki tebal, plak putih dan bersisik keperakan. Para plak sering berkembang pada, kulit kepala punggung bawah, siku dan lutut. Mereka juga dapat muncul pada lengan dada, dan kaki tetapi jarang pada wajah. Dalam beberapa kasus, mereka berada di daerah terisolasi atau terpisah dari tubuh, atau bentuk bersama. Karena banyak kasus psoriasis dirugikan sebagai ketombe pada kulit kepala, psoriasis kulit kepala diciptakan sebagai bentuk psoriasis plak. Psoriasis kulit kepala memberikan ketidaknyamanan fisik seperti gatal tak tertahankan, dengan lesi mengangkat dan membangun-up dari skala yang mengelupas seperti ketombe, membuat kulit kepala meradang dan bengkak. 2. Psoriasis Gutata (Guttate) Psoriasis Guttate (GUH-tate) adalah salah satu bentuk dari psoriasis yang mulai timbul sejak waktu anak-anak atau remaja. kata guttate berasal dari bahasa Latin yang berarti jatuh.(drop). Bentuk psoriasis ini menyerupai bintik-bintik merah kecil di kulit. bercak (lesions) guttate biasanya timbul pada badan dan kaki. Bintik-bintik ini biasanya tidak setebal atau bersisik seperti bercak-bercak (lesions) pada psoriasis plak.

Guttate psoriasis ditandai dengan bintik-bintik kecil dan merah atau benjolan pada kulit yang muncul secara bersamaan sering setelah beberapa infeksi virus pernapasan atas atau infeksi bakteri. Bintik-bintik yang hadir sebagian besar pada bagian dada dan anggota badan. Kadang-kadang, mereka muncul di lengan dan kulit kepala juga. Guttate psoriasis dikaitkan dengan infeksi radang tenggorokan, luka kulit dan cacar air. Dan karena itu ditandai dengan kecil, airdrop-berbentuk luka, bentuk ini sering salah didiagnosis sebagai ruam reaksi alergi atau ruam demam. psoriasis guttate ketika luka tidak hanya biasa tetapi ditutupi oleh sisik halus yang sedikit lebih tipis dari plak yang khas. 3. Psoriasis Inversa Inversa psoriasis ditemukan pada ketiak, pangkal paha, dibawah payudara, dan di lipatan-lipatan kulit di sekitar kemaluan dan panggul. Tipe psoriasis ini pertama kali tampak sebagai bercak (lesions) yang sangat merah. Bercak itu bisa tampak licin dan bersinar. Psoriasis Inverse sangat (particularly irritating) menganggu karena iritasi yang disebabkan gosokan/garukan dan keringat karena lokasinya di lipatan-lipatan kulit dan daerah sensitif tender). Psoriasis inversa, atau psoriasis lentur adalah umum pada orang gemuk dan diperparah oleh gesekan dan keringat. Kondisi ini berkembang di lipatan kulit yang ditandai sebagai halus, bercak mengkilap kulit merah, meradang dan lembab dan bersisik lesi terutama di ketiak, selangkangan, di bawah payudara dan di sekitar alat kelamin. Hampir terjadi sampai 2 - 6% dari orang yang menderita psoriasis memiliki psoriasis inversa. 4. Psoriasis Pustulosa/ Pustular Kasus Psoriasis Pustular (PUHS-choo-ler) terutama banyak ditemui pada orang dewasa. Karakteristik dari penderita PUHS-choo-ler ini adalah timbulnya Pustules putih (blisters of noninfectious pus) yang dikelilingi oleh kulit merah. Pus ini meliputi kumpulan dari sel darah putih yang bukan merupakan suatu infeksi dan juga tidak menular. Bentuk psioriasis yang pada umumnya tidak biasa ini mempengaruhi lebih sedikit dari 5 % dari seluruh penderita psoriasis. Psoriasis ini, bisa terkumpul dalam daerah tertentu pada tubuh, contohnya, pada tangan dan

kaki. Psoriasis Pustular juga dapat ditemukan menutupi hampir seluruh tubuh, dengan kecenderungan membentuk suatu siklus - reddening yang diikuti oleh pembentukan pustules dan scaling. Psoriasis pustular berkembang terutama pada orang dewasa dan disebabkan oleh mengambil beberapa obat seperti kortison dan lithium. Hal ini terjadi kepada orang-orang yang telah diagnozed dengan infeksi strep throat dan wanita hamil. Hal ini ditandai dengan benjolan diisi cairan pada kulit yang gatal dan merah. Patch kulit, ditaburi dengan jerawat atau pustula, dapat menyebar di seluruh tubuh atau lokal hanya untuk kuku, telapak, jari kaki tangan dan telapak kaki. 5. Psoriasis Eritroderma Tipe psoriasis ini sangat berbahaya, seluruh kulit penderita menjadi merah matang dan bersisik, fungsi perlindungan kulit hilang, sehingga penderita mudah terkena infeksi. Hanya 1-2% dari orang yang menderita psoriasis memiliki psoriasis eritroderma. Jenis psoriasis dapat dihitung sebagai yang terburuk dari semua. Hasilnya kemerahan luas, gatal parah, nyeri dan ketidaknyamanan, dehidrasi dan demam. Ini biasanya dipicu oleh kortikosteroid, kulit terbakar parah atau sensitivitas terhadap cahaya selama pengobatan fototerapi, atau jenis lain dari psoriasis yang tidak terkontrol. Jangan meremehkan psoriasis eritroderma karena infeksi yang fatal dan mengancam nyawa juga. Hal ini dapat menutupi seluruh tubuh Anda dengan ruam merah yang dapat mengupas gatal atau terbakar intens. Peradangan kulit yang ekstrim dan pengelupasan kulit mempengaruhi kemampuan tubuh untuk mengatur suhu dan melakukan fungsi lainnya penghalang normal. 6. Psoriasis Eksudativa Bentuk ini sangat jarang. Biasanya kelainan psoriasis kering, tetapi pada bentuk ini kelainannya eksudatif seperti dermatitis akut.

7. Psoriasis Seboroik Psoriasis seboroik merupakan kelainan kulit berupa perdangan superfisial dengan papuloskuamosa yang kronik dengan tempat predileksi di daerah-daerah seboroik yakni daerah yang kaya akan kelenhar sebasea, seperti pada kulit kepala, alis, kelopak mata, naso labial, bibir, telinga, dada, axilla, umbilikus, selangkangan, dan glutea. Pada dermatitis seboroik kelainan kulit yang berupa eritem, edema, serta skuama yang kering atau berminyak dan berwarna kuning kecoklatan dalam berbagai ukuran disertai adanya krusta. Dermatitis seboroik disebabkan oleh adanya peningkatan produksi sebum pada daerah kulit kepala dan daerah wajah yang terdapat banyak folikel sebasea. Meskipun, demikian penyebab pasti dari dermatitis seborik belum diketahui tetapi seringkali dihubungkan antara reaksi inflamasi pada kulit dengan Pityrosporum oval. Beberapa faktor lain turut menjadi predisposisi sebagai pemicu dermatitis seboroik seperti faktor genetic dan lingkungan, hormonal, kelainan imun dan neurologik. Dermatitis seboroik paling sering terjadi pada dua puncak umur yakni pada kelompok anak dan dewasa. Pada kelompok anak sering didapatkan pada 3 bulan pertama kehidupan dan kelompok dewasa dalam decade keempat hingga ketujuh. Dermatitis seboroik pada anak khusunya pada kelompok bayi, dapat sembuh spontan dalam usia 6 hingga 12 bulan, sementara dermatitis seboroik pada orang dewasa dapat bersifat kronik dan membutuhkan perawatan seumur hidup. Gambaran klinis psoriasis seboroik merupakan gabungan antara psoriasis dan dermatitis seboroik, skuama yang biasanya kering menjadi agak berminyak dan agak lunak. Selain berlokasi pada tempat yang lazim, juga terdapat pada tempat seboroik. 8. Psoriasis Lain A. Psoriasis kuku

Salah satu subtipe adalah psoriasis kuku, yang mempengaruhi satu setengah aktif penderita psoriasis pustular. Psoriasis kuku mengacu pada perubahan jari dan / atau kuku kaki yang disebabkan oleh penyakit. Karena rasa sakit, Anda tidak dapat melakukan pekerjaan tangan yang jauh atau berjalan sendiri bahkan untuk jarak pendek. Dalam kasus yang parah, di mana psoriasis pustular dapat merusak kuku, kuku dapat rusak atau hilang secara permanen. Psoriasis dari jari dan kuku dapat menyerupai kondisi lain seperti infeksi jamur kronis atau radang kuku.

B. Psoriasis Artritis Timbul dengan peradangan sendi, sehingga sendi terasa nyeri, membengkak dan kaku, sama persis seperti gejala rematik. Pada tahap ini, penderita harus segera ditolong agar sendi-sendinya tidak sampai terjadi kropos.

BAB III PENGOBATAN PSORIASIS


3.1 Terapi Non Farmakologi Penyakit kronik seperti psoriasis tidak dapat sembuh total, pengobatan secara farmakologi dilakukan untuk mengurangi gejala (rasa gatal, kemerahan) yang timbul akibat psoriasis. Terapi Non Farmakologi dilakukan untuk mencegah kemungkinan munculnya penyakit lain karena psoriasis seperti diabetes, depresi, dan penyakit jantung. Orang dengan psoriasis disarankan untuk melakukan gaya hidup yang sehat seperti : 1) Seimbang antara aktivitas fisik reguler dan istirahat. 2) Menjaga berat badan yang ideal 3) Tidak merokok 4) Sebisa mungkin tidak mengkonsumsi alkohol, jika perlu mengkonsumsi minuman beralkohol hanya boleh meminum dalam jumlah yang sedikit. Karena mengkonsumsi banyak alkohol dapat memperburuk kondisi psoriasis. Yang dapat berarti psoriasis tidak merespon baik terhadap beberapa pengobatan atau beberapa obat tidak dapat digunakan. 5) Menghindari stress 6) Makan makanan yang sehat seperti buah dan sayur, menghindari makanan berlemak. Selain itu, orang dengan psoriasis juga sebisa mungkin menghindari faktor-faktor pemicu yang diketahui dapat menimbulkan psoriasis pada dirinya. Untuk ini sebaiknya menghubungi dokter karena pemicu psoriasis pada orang berbeda-beda.

3.2 Terapi Farmakologi Terapi farmakologi pada penanganan psoriasis ddibagi menjadi 2 pengobatan yaitu secara topical dan sistemik. Pada penanganan topikal dibagi menjadi dua kelompok yaitu lini pertama yang meliputi keratolik, kortikosteroid topikal dan analog vitamin D dan pengobatan topikal lini kedua yang meliputi ter ( batubara), antralin, monografi antharalin. Pada penanganan pengobatan sistemik sama dengan pengobatan okal yaitu di bagi menjadi dua lini, namun dari kedua pengobatan ini ada juga hal lain yang dapat dilakukan yaitu dengan melakukan terapi biologi, di bawah ini merupakan penjelasan dari masing- masing pengobatan secara farmakologi yang isa dilakukan. Tabel 3.1 regimen dan efek samping beberapa terapi topikal psoriasis Regimen dan Efek Samping Beberapa Topikal Psoriasis Terapi Emolien Asam salisilat Ter (batu bara) 2-3 x sehari Regimen Kurang lebih 4 x sehari Efek Samping Folikulitis, dermatitis alergi atau kontak iritan Iritasi, reaksi salisilism (nausea, muntah, tinitus atau hiperventilasi)

Kortikosteroid

Gunakan di sore hari Iritasi, fotoreaksi, bau yang sehingga dapat terus tidak enak, mewarnai kulit dan melekat sepanjang pakaian malam 2-4 x sehari Atropi jaringan lokal, degenerasi, dan stria; penipisan epidermal; erupsi menyerupai akne; infeksi bakteri atau jamur pada kulit; efek sistemik glukokortikoid

Kalsipotrien

Anthralin

1-2 x kali/hari, tidak lebih dari 100 g/minggu. Gunakan pada sore hari agar melekat sepanjang malam, tetapi regimen jangka pendek dapat digunakan

Rasa terbakar dan perih (10% pasien), dermatitis kontak iritan, mewarnai kulit dan pakaian; iritasi

Tazarotene

1 x perhari, biasanya di Gatal, terbakar, sore hari eritema

perih

dan

3.2.1 Terapi Topikal Lini Pertama 1. Keratolik Asam salisilat merupakan salah satu senyawa keratolitik yang paling sering digunakan. Senyawa tersebut menyebabkan kerusakan pada kohesi antar korneosit-korneosit yang berada pada lapisan kulit pasien psoriasis yang keras dan abnormal. Efek keratolitik tersebut meningkatkan penetrasi dan efikasi beberapa zat topikal lain, seperti kortikosteroid. Obat ini tersedia dalam bentuk 2% hingga 10% gel atau losio dan digunakan 2-3 kali perhari. Asam salisilat menghasilkan iritasi lokal. Penggunaan pada area yang luas dan inflamasi dapat menginduksi reaksi salisilism yang ditandai oleh gejala nausea, muntah, tinitus atau hiperventilasi. Keratolitik Agen keratolitik biasanya digunakan untuk menghilangkan pengelupasan, menghaluskan kulit, dan mengurangi hiperkeratosis. Mekanisme kerja asam salisilat, sebagai salah satu keratolitik yang biasa digunakan, ialah mengganggu kohesi antara korneosit-korneosit pada lapisan kulit abnormal dan pasien psoriasis. Secara khusus, asam salisilat bermanfaat pada area dimana terdapat sisik yang tebal. Ketika diaplikasikan pada area inflamasi yang luas, asam salisilat dapat menginduksi reaksi salisilism. Pada reaksi tersebut, terjadi nausea, muntah, tinitus, dan hiperventilasi. Keracunan salisilat pada anak kecil berpotensi jauh lebih serius dibandingkan apabila terjadi pada orang yang lebih tua

sebab anak kecil beresiko lebih besar mengalami metabolik asidosis. Kasus fatal mengenai keracunan salisilat secara perkutan telah dilaporkan terjadi baik pada anak maupun dewasa. Efek keratolitik dari asam salisilat dapat meningkatkan penetrasi dan efikasi beberapa agen topikal, seperti kortikosteroid. Asam salisilat, baik dalam bentuk gel ataupun losio, biasanya digunakan 2 sampai 3 kali sehari dalam konsentrasi 2-10%.

Kortikosteroid topikal dapat menghentikan sintesis dan mitosis DNA pada sel epidermal dan diperkirakan menginhibisi fosfolipase A sehingga menurunkan jumlah asam arakidonat, prostaglandin, dan leukotrien di kulit. Efek tersebut, apabila digabungkan dengan vasokontriksi lokal, mengurangi eritema, pruritis dan pengelupasan. Sebagai zat antipsoriasis, kortikosteroid topikal sangat baik apabila digunakan bersamaan dengan produk yang secara spesifik berfungsi menormalkan hiperproliferasi epidermal.

Produk yang berpotensi rendah, seperti hidrokortison 1%, memiliki efek antiinflamasi yang lemah dan merupakan sediaan yang paling aman untuk penggunaan jangka panjang, untuk penggunaan pada wajah, daerah lain yang mudah bergesekan, serta untuk bayi dan anak-anak kecil.

Produk yang berpotensi medium dapat digunakan untuk dermatosis inflamasi yang sedang. Produk tersebut dapat digunakan pada daerah wajah bagian lain yang mudah bergesekan.

Sediaan yang berpotensi tinggi khususnya digunakan sebagai alternatif untuk kortikosteroid sistemik selama terapi lokal dapat dilakukan. Produk yang berpotensi sangat tinggi dapat digunakan untuk lesi psoriasis yang tebal dan kronis, tetapi hanya untuk waktu yang singkat dan pada area permukaan yang kecil.

Salep merupakan formulasi yang paling efektif untuk psoriasis sebab sediaan tersebut memiliki fase minyak yang oklusif yang memberikan efek hidrasi dan meningkatkan penetrasi kortikosteroid ke kulit. Produk tersebut tidak cocok untuk penggunaan di ketiak, selangkangan, atau daerah lain mudah bergesekan, tempat dimana maserasi dan folikulitis dapat berkembang menjadi efek oklusif sekunder.

Krim merupakan sediaan yang paling disukai oleh beberapa pasien sebab produk tersebut dapat digunakan pada area yang bersentuhan meskipun kandungan minyak yang rendah membuat krim lebih kering daripada salep.

Kortikosteroid topikal digunakan 2-4 x sehari selama terapi jangka panjang. Efek samping meliputi atropi jaringan lokal, degenerasi kulit serta striae. Jika dideteksi secara dini, efek samping tersebut dapat reversibel dan hilang. Penipisan epidermis dapat menyebabkan kapiler tampak menggelembung (telangiectasias) serta purpura. Telah dilaporkan adanya erupsi akneiform dan gejala menyerupai infeksi kulit akibat bakteri atau jamur. Efek sistemik meliputi supresi dari hipotalamus-pituitari-adrenal aksis, hiperglikemi dan berkembangnya gejala cushingoid. Takifilaksis dan munculnya kembali lesi psoriasis setelah penghentian terapi tiba-tiba dapat terjadi.

2. Kortikosteroid topikal Indikasi : Kortikosteroid topikal dipakai untuk mengobati radang kulit yang bukan disebabkan oleh infeksi, khususnya penyakit eksim, dermatitis kontak, gigitan serangga, dan eksim skabies bersama-sama dengan obat skabies. Kortikosteroid menekan berbagai komponen reaksi pada saat digunakan saja; kortikosteroid sama sekali tidak menyembuhkan dan bila pengobatan dihentikan, kondisi semula mungkin muncul kembali. Obat-obat ini diindikasikan untuk menghilangkan gejala dan penekanan tanda-tanda penyakit bila cara lain seperti pemberian emolien tidak efektif. Kortikosteroid topikal tidak berguna dalam pengobatan urtikaria dan dikontraindikasikan untuk rosasea dan kondisi ulseratif karena kortikosteroid memperburuk keadaan. Kortikosteroid tidak boleh digunakan untuk sembarang gatal dan tidak direkomendasikan untuk akne vulgaris. Cara pakai: Kortikosteroid sistemik atau topikal yang kuat sebaiknya dihindari atau diberikan pada psoriasis hanya di bawah pengawasan dokter spesialis karena walaupun obat ini dapat menekan psoriasis dalam jangka pendek, bisa timbul

kekambuhan karena penghentian obat, bahkan kadang memicu psoriasis postula yang hebat. Pemakaian kortikosteroid topikal yang kuat pada psoriasis yang luas dapat menimbulkan efek samping sistemik dan lokal. Cukup meresepkan kortikosteroid yang lebih lemah untuk jangka singkat (2-4 minggu) untuk psoriasis fleksural dan wajah (catatan: pada wajah jangan digunakan yang lebih kuat dari hidrokortison 1%). Pada kasus psoriasis kulit kepala boleh menggunakan kortikosteroid yang lebih kuat, seperti betametason atau fluosinonid. Secara umum kortikosteroid topikal yang paling kuat hanya dicadangkan untuk dermatosis yang sukar diatasi, seperti diskoid kronik lupus eritematosus, lichen simplex chronicus, hypertrophic lichen planus, dan palmoplantar pustulosis. Kortikostreoid yang kuat tidak boleh digunakan pada wajah dan fleksur kulit, tetapi kadang-kadang pada keadaan tertentu, dokter spesialis meresepkannya untuk daerah tersebut dengan pengawasan khusus. Bila pengobatan topikal gagal, injeksi kortikosteroid intralesi khusus digunakan hanya pada kasus-kasus tertentu saja dengan lesi setempat, seperti parut keloid, lichen planus hypertrofik atau alopecia localized areata. Pada lesi perioral, krim hidrokortison 1% dapat digunakan dalam waktu tidak lebih dari 7 hari untuk megatasi lesi radang yang tidak terinfeksi pada bibir dan kulit di sekitar mulut. Salep atau krim hidrokortison dan mikonazol bermanfaat pada inflamasi yang disertai infeksi oleh organisme yang peka, terutama pada awal pengobatan (sampai sekitar 7 hari), misalnya keilitis angular. Organisme yang rentan terhadap mikonazol adalah Candida sp dan beberapa bakteri gram positif, termasuk streptokukokus dan stafilokokus. Untuk pemakaian pada anak-anak, khususnya bayi, mereka sangat rentan terhadap efek samping. Namun, jangan karena profil keamanan kortikosteroid topikal, anak-anak menjadi tidak diobati. Tujuannya adalah untuk mengatasi kondisi sebaik mugkin; pengobatan yang tidak memadai akan memperparah kondisi. Kortikosteroid lemah, seperti salep hidrokortison 1% bermanfaat untuk mengobati ruam popok dan untuk eksim atopik pada masa kanak-kanak. Kortikosteroid sedang sampai kuat cocok untuk eksim atopik parah pada anggota badan, digunakan hanya 1-2 minggu. Bila kondisi membaik, ganti ke sediaan yang kurang kuat. Pada keadaan kambuhan akut eksim atopik, cocok digunakan sediaan

kortikosteroid kuat dalam jangka pendek untuk mengendalikan kondisi penyakit. Penggunaan harian terus-menerus tidak dianjurkan meskipun kortikosteroid ringan, seperti hidrokortison 1% sebanding betametason 0,1% yang digunakan sesekali. Untuk bayi di bawah 1 tahun, hidrokortison merupakan satu-satunya kortikosteroid yang direkomendasikan penggunaannya. Kortikosteroid lain dengan potensi lebih kuat dikontraindikasikan. Untuk anak usia di atas 1 tahun, kortikosteroid topikal dengan potensi kuat-sedang sebaiknya digunakan dengan sangat hati-hati dan hanya digunakan dalam jangka pendek (1-2 minggu). Kortikosteroid yang sangat poten hanya dapat digunakan berdasarkan konsultasi dengan dokter spesialis kulit. Kortikosteroid topikal untuk berikut: a. Gigitan dan sengata serangga kortikosteroid dengan potensi ringan, seperti krim hidrokortison 1%. b. Ruam kulit yang disertai inflamasi berat akibat penggunaan popok pada bayi di atas 1 bulan kortikosteroid dengan potensi ringan, seperti hidrokortison 0,5 atau 1% selama 5-7 hari (dikombinasikan dengan antimikroba jika terjadi infeksi). c. Eksim ringan hingga sedang, fleksural, dan eksim wajah atau psoriasis kortikosteroid ringan, seperti hidrokortison 1%. d. Eksim berat di sekitar badan dan lengan pada anak usia di atas 1 tahun kortikosteroid dengan potensi kuat atau kuat-sedang selama hanya 1-2 minggu, segera ganti ke sediaan dengan potensi lebih ringan pada saat kondisi membaik. e. Eksim di sekitar area kulit yang mengeras, misal telapak kaki, kortikosteroid topikal dengan potensi kuat dalam kombinasi dengan urea atau asam salisilat untuk meningkatkan penetrasi kortikosteroid. Pilihan formulasi : Yang biasa digunakan adalah krim larut air untuk lesi yang lembab atau eksudatif dan salep umumnya dipilih untuk lesi yang kering, bersisik, atau bila efek oklusif diperlukan. Losio mungkin berguna bila aplikasi minimal dibutuhkan anak digunakan pada kondisi sebagai

untuk daerah yang luas atau untuk pengobatan luka eksudatif. Perban oklusif polythene meningkatkan absorpsi, tetapi juga meningkatkan efek samping; karena itu, dipakai hanya di bawah pengawasan dalam jangka waktu pendek untuk daerah kulit yang sangat tebal, seperti telapak tangan dan kaki. Penambahan urea atau asam salisilat meningkatkan penetrasi dari kortikosteroid. Sediaan yang mengandung kortikosteroid paling ringan dengan dosis efektif terendah merupakan salah satu pilihan; sedapat mungkin pengenceran harus dihindari. Peringatan : Hindari penggunaan jangka panjang kortikosteroid topikal pada wajah karena dapat meninggalkan bekas luka dan hindarkan dari mata. Pada anak-anak hindari penggunaan jangka panjang dan penggunaan kortikosteroid kuat atau sangat kuat; apabila digunakan, harus di bawah pengawasan dokter spesialis. Peringatan keras juga ditujukan pada dermatosis pada bayi, termasuk ruam popok, pengobatan sebaiknya dibatasi 5-7 hari. Pada psoriasis penggunaan kortikosteroid kuat dan sangat kuat pada psoriasis dapat menyebabkan penyakit muncul lagi, timbulnya psoriasis pustular yang merata dan toksisitas lokal dan sistemik. Kontraindikasi : Lesi kulit akibat bakteri, jamur atau virus yang tidak diobati; jerawat rosasea dan perioral dermatitis; kortikosteroid kuat dikontraindikasikan untuk plak psoriasis dengan sebaran yang luas. Efek Samping : Kelompok kortikosteroid sedang dan lemah jarang menyebabkan efek samping. Semakin kuat sediaannya, semakin perlu untuk berhati-hati karena absorbsi dari kulit dapat menyebabkan penekanan adrenal dan Cushing syndrome tergantung dari daerah tubuh yang diobati dan lamanya pengobatan. Perlu diingat bahwa absorbsi terbanyak terjadi dari kulit yang tipis, permukaan kasar, serta daerah lipatan kulit dan absorpsi ditingkatkan oleh adanya oklusi.

Efek samping lokal meliputi : Penyebaran dan perburukan infeksi yang tidak diobati Penipisan kulit yang belum tentu pulih setelah pengobatan dihentikan karena strukur asli mungkin tak akan kembali
Striae atrofis yang menetap

Dermatitis kontak Dermatitis perioral Jerawat, perburukan jerawat atau rosasea Depigmentasi ringan yang mungkin hanya sementara, tetapi bisa menetap sebagai bercak-bercak putih Hipertrikosis Catatan : Untuk meminimalkan efek samping kortikosteroid topikal, pemakaian sediaan ini hendaknya dioleskan tipis saja pada daerah yang akan diobati dan gunakan kortikosteroid yang paling kecil kekuatannya, tapi efektif. Frekuensi aplikasi : Sediaan kortikosteroid sebaiknya diberikan sekali atau dua kali sehari saja. Tidak perlu mengoleskan obat ini lebih sering. Kortikosteroid topikal diratakan secara tipis pada kulit. Panjang/ banyaknya salep/ krim yang dikeluarkan dari tube dapat digunakan untuk menentukan banyaknya obat yang dioleskan pada kulit. Mencampur sediaan topikal pada kulit sedapat mungkin dihindari; sekurang-kurangnya sebaiknya berselang 30 menit antara pemakaian sediaan yang berbeda. Penggunaan emolien sesaat sebelum pemakaian kortikosteroid adalah tidak tepat.

Tabel 3.2 Produk Kortikosteroid Untuk Penanganan Psoriasis Obat Aklometason Dipropionat Indikasi Kelainan radang kulit, seperti eksim Kelainan radang kulit berat, seperti eksim yang tidak memberi respon pada kortikosteroid yang kurang kuat Psoriasis, lihat di atas Radang akut yang berat, kelainan kulit alergis dan kronis; psoriasis Radang kulit yang hebat seperti eksim yang tidak menunjukkan respon dengan kortikosteroid kurang kuat, kekuatan tinggi (0,3%), pengobatan jangka pendek untuk ekserbasi yang hebat; psoriasis Kelainan radang kulit yang berat seperti eksim yang tidak menunjukkan respon pada kortikosteroid yang kurang kuat; psoriasis Kelainan radang kulit yang berat seperti eksim yang tidak menunjukkan respon pada kortikosteroid yang kurang kuat; psoriasis Kelainan radang kulit seperti eksim, psoriasis Sediaan Beredar Aloderm, Armoclom, Cloderm, Perderm

Beklametason Dipropionat

Bernocort, Cleniderm, Propaderm

Betametason Dipropionat

Beprosone, Diprosone OV, Mesonta, Oviskin, Scanderma Denomix, Esperson, Dercarson, Topcort

Desoksimetason

Diflukortolon valerat

Nerilon, Nerisona, Valeron, Travacort

Ester betametason

Bethametason, Allphacort, Betason, Fucicort, Nisagon

Fluokortolon

Ultralan, Utrapoct N

Flusinolon asetonid

Bravoderm, Cinolon, Dermasolon

Kelainan radang seperti dermatitis dan eksim yang Flutikason propionat tidak menunjukkan respon pada kortikosteroid yang kurang kuat; psoriasis Hidrokortison Radang kulit ringan sepeti eksim, ruam popok Pengobatan jangka pendek hanya untuk kelainan kulit inflamasi hebat Kelainan radang seperti eksim yang tidak menunjukkan respon pada kortikosteroid yang kurang kuat; psoriasis

Halog, Halog Solution

Hydrocortisone, Berlicort, Kemicort, Omnicort Clobetasol, Kloderma, Primaderm

Klobetasol propionat

Triamsinolon asetonid

Bufacomb, Kenacort, Neolone, New Kenacomb

3. Analog vitamin D Vitamin D dan analognya menginhibisi diferensiasi dan proliferasi keratinosit serta memiliki efek antiinflamasi dengan mengurangi IL-8 dan IL2. Penggunaan vitamin D itu sendiri dibatasi sebab adanya kecenderungan untuk menyebabkan hiperkalsemia. Kalsipotrien (Dovonex) merupakan analog vitamin D sintetik yang digunakan untuk plak psoriasis yang ringan hingga sedang. Perbaikan biasanya nampak dalam 2 minggu setelah terapi dan kurang lebih 70% pasien menunjukkan perbaikan yang signifikan setelah 8 minggu. Efek samping terjadi pada kurang lebih 10% pasien dan meliputi lesi dan sensasi terbakar serta pedih di sekeliling lesi. Kalsipotrien 0,005% baik dalam krim, salep atau larutan digunakan 1-2 kali sehari, tetapi tidak lebih dari 100 gram/minggu. Calcitriol dan Tacalcitol merupakan derivat vitamin D yang lain. Kalsipotriol, Kalsitriol dan Takalsitol biasa digunakan untuk pengobatan plak psoriasis. Penggunaannya sebaiknya dihindari pada pasien dengan

kelainan metabolisme kalsium dan digunakan dengan hati-hati pada psoriasis eksfoliatik eritrodermik atau pustular yang tergeneralisasi (peningkatan resiko hiperkalsemia). Reaksi kulit lokal (gatal, eritema, rasa terbakar, parestesia dan dermatitis) biasa terjadi. Tangan sebaiknya dicuci dengan bersih setelah penggunaan untuk menghindari perpindahan ke lokasi tubuh yang lain. Perburukan psoriasis juga dilaporkan.
Contoh sediaan Kalsipotriol : Daivonex, Daivobet.

4. Tazaroten Tazaroten (Tazorac) ialah retinoid sintetik yang dihidrolisis menjadi metabolit aktif, yakni asam tazarotenat, yang kemudian memodulasi proliferasi dan diferensiasi keratinosit. Tersedia sebagai gel dan krim 0,05% atau 0,1% dan digunakan sekali sehari (biasanya di sore hari) untuk plak psoriasis yang ringan hingga sedang. Gel 0,1% sedikit lebih efektif, tetapi gel 0,05% lebih sedikit menyebabkan iritasi. Efek samping yang terjadi bergantung pada dosis dan frekuensi; meliputi pruritis, rasa terbakar, pedihm dan eritema dengan tingkat keparahan yang ringan hingga sedang. Penggunaan gel pada kulit yang eksim atau lebih dari 20% area permukaan tubuh tidak direkomendasikan sebab dapat memicu absorpsi sistemik secara ekstensif. Tazaroten sering digunakan bersamaan dengan kortikosteroid topikal untuk menurunkan efek samping lokal serta meningkatkan efikasi.

3.2.2. Terapi Topikal Lini Kedua

1. TER (batu bara) Ter (batu bara) mengandung banyak senyawa hidrokarbon yang terbentuk dari distilasi bitumen batu bara. Sinar UV-B (ultraviolet B) mengaktivasi fotoaduksi antara ter batu bara dengan epidermal DNA serta menginhibisi sintesis DNA. Penormalan laju replikasi epidermal dapat mengurangi peningkatan jumlah plak. Formulasi ter (batu bara) tersedia dalam bentuk losion, krim, shampoo, salep, gel, dan larutan dengan konsentrasi 2-5%. Sediaan tersebut biasanya diaplikasikan secara langsung di atas lesi pada sore hari dan dibiarkan sepanjang malam. Dapat juga digunakan dalam air mandi. Terapi dengan ter (batu bara) merupakan penanganan yang efektif, tetapi memiliki beberapa kelemahan, seperti memakan banyak waktu, menyebabkan iritasi lokal, memiliki bau yang kurang sedap, mewarnai kulit dan pakaian, serta meningkatkan sensitivitas terhadap sinar UV (termasuk matahari). Risiko karsinogenisitas rendah, tetapi terdapat kasus yang

mengindikasikan peningkatan laju kanker kulit nonkarsinoma pada pasien yang terpapar ter (batu bara) dan sinar UV secara kronik. 2. Antralin Antralin memiliki aktivitas antiproliferasi terhadap keratinosit,

menginhibisi sintesis DNA dengan menyisipkan dirinya diantara helai DNA. Karena Antralin memberikan efek klinik pada konsentrasi selular yang rendah, terapi biasanya bermula dari konsentrasi rendah (0,1-0,25%) dengan peningkatan secara bertahap ke konsentrasi yang lebih tinggi, yakni 0,5-1%. Formulasi krim dan salep biasanya digunakan pada sore hari dan dibiarkan semalaman.
Sebagai alternatif, terapi antralin kontak singkat (SCAT = short-contact

antralin therapy) dengan durasi penggunaan selama 10-20 menit pada

konsentrasi yang lebih tinggi (1-5%) dalam pembawa yang larut air merupakan pilihan yang efektif dengan efek samping lokal yang lebih kecil. Produk antralin harus diaplikasikan hanya pada area yang terinfeksi sebab kontak dengan bagian kulit yang tidak sakit dapat berdampak pada iritasi dan pewarnaan yang berlebihan yang biasanya dapat hilang dalam 1 hingga 2 minggu setelah penghentian terapi. Pewarnaan plak, pada dasarnya, mengindikasikan respon postif sebab perombakan sel telah cukup diperlambat untuk mengurangi noda/pewarnaan tersebut. Inflamasi, iritasi dan pewarnaan kulit serta pakaian sering menjadi efek samping yang membatasi penggunaan terapi. Table 3.3 Monografi Antralin Indikasi Dosis administrasi Psoriasis kronik Disarankan memulai terapi antraslin dengan konsentrasi paling kecil selama minimal 1 minggu. Untuk aplikasi pada kulit : oleskan hanya pada area yang terkena psoriasis, gosok perlahan hingga terabsorbsi. Untuk aplikasi pada kulit kepala : sisir rambut untuk menghilangkan kulit yang mengelupas, oleskan pada lesi. Pada akhir terapi, bilas rambut dan kulit kepala untuk menghilangkan kelebihan krim. Antralin mengurangi laju mitosis berdasarkan inhibisi terhadap sintesis DNA. Selain itu, antralin mampu menghentikan proses oksidasi metabolik sehingga memperlambat mitosis epidermal. Hipersensitivitas; penggunaan di wajah; erupsi psoriasis yang akut atau inflamasi aktif. Hanya untuk pengguanaan eksternal; gangguan terhadap fungsi liver/ginjal; reaksi hipersensitivitas; karsinogenesitas berdasarkan studi pada mencit; untuk kehamilan berkategori C. Dapat mewarnai pakaian Kortikosteroid topikal : kortikosteroid menyebabkan

Mekanisme kerja

Kontraindikasi Peringatan

Hati-hati Interaksi obat

rebound psoriasis. Efek samping Sangat sedikit yang melaporkan adanya reaksi kontak alergi. Iritasi sementara pada area kulit yang tidak terkena psoriasis. Pewarnaan rambut, kuku dan pakaian mungkin terjadi. Anthramed

Sediaan Beredar

3.2.3 Terapi Sistemik Lini Pertama 1. Acitretin Acitretin (Soriatane) merupakan derivat asam retinoat dan metabolit aktif retinoat. Senyawa ini diindikasikan untuk psoriasis yang parah, meliputi tipe eritrodermik dan pustular yang menyebar. Walaupun demikian, senyawa ini akan lebih berguna apabila dipakai sebagai terapi tambahan dalam penanganan psoriasis. Acitretin telah menunjukkan hasil yang baik ketika dikombinasikan dengan terapi lain, seperti PUVA dan UV-B, siklosporin, dan metotreksat. Dosis mula-mula yang direkomendasikan ialah 25 hingga 50mg, kemudian terapi dilanjutkan hingga lesi sembuh/hilang. Acitretin merupakan senyawa teratogen sehingga dikontraindikasikan untuk perempuan yang sedang hamil atau yang merencanakan kehamilan dalam 3 tahun setelah penghentian obat. Table 3.4 guideline penanganan psoriasis secara sistemik Senyawa Aktif Acitretin Regimen Dosis Efek Samping A (bibir

25-50 mg/ hari hingga Hipervitaminosis

lesi sembuh/membaik. Makanan meningkatkan absorpsi dan tolerabilitas.

kering/seilitis, mulut kering, mata kering/konjungtivitis, kulit kering, pruritis, mengelupas, rambut rontok), hepatotoksik, perubahan skelet, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia.

Table 3.5 Monografi Acitretin Indikasi Dosis administrasi Mekanisme kerja Kontra indikasi Psoriasis 25-50 mg/ hari hingga lesi sembuh/membaik. Makanan meningkatkan absorpsi dan tolerabilitas Diduga memodulasi proses patogenik Kehamilan, gangguan fungsi ginjal atau liver, peningkatan kadar serum kronik, penggunaan bersama metotreksat atau tetrasiklin, hipersensitivitas. Gejala psikiatrik, pankreatitis, hepatotoksik, profil lipid, pseudomotor serebri, efek pada mata, hiperostosis, diabetes, lansia, kehamilan, ibu menyusui, pasien pria, anak-anak. Pemantauan kadar lipid, AST, ALT, LPH. Turunkan dosis fototerapi ketika digunakan bersamaan dengan acitretin sebab dapat menginduksi efek pada stratum kornea dan eritema. Penurunan penglihatan pada malam hari, perparahan psoriasis. Hipervitaminosis A hepatotoksik, perubahan skelet, hiperkolesterolemia, hipertrigliseridemia

Peringatan

Hati-hati

Efek samping

3.2.4 Terapi Sistemik Lini Kedua

1. Siklosporin. Siklosporin menunjukkan aktivitas imunosupresif dengan mengihibisi fase pertama aktivasi sel T. Siklosporin juga menginhibisi pelepasan mediator inflamasi dari sel mast, basofil, dan sel polimorfonuklear Biasanya digunakan dalam penanganan manifestasi kutan dan artritis akibat psoriasis yang parah. Terapi secara terus-menerus selama lebih dari 2 tahun dapat meningkatkan resiko kecacatan yang meliputi kanker kulit dan penyakit limfoproliferatif. Table 3.6 Senyawa aktif Siklosporin Regimen Dosis 2,5-4 mg/kg/hari dalam 2 dosis terbagi; dapat ditingkatkan hingga 5 mg/kg/hari dalam 1 bulan jika tidak ada perubahan Efek Samping Nefrotoksisitas, keganasan, hipertensi, hipomagnesemia, hiperkalemia, perubahan pada fungsi liver, peningkatan kadar serum lipid, intoleransi GIT

2. Metotreksat Diindikasikan untuk psoriasis yang sedang hingga parah begitu juga dengan psoriasis arthritis. Merupakan analog sintetik asam folat yang bertindak sebagai inhibitor kompetitif dari enzim dihidrofolat reduktase yang bertanggungjawab dalam konversi dihidrofolat menjadi tetrahidrofolat. Tetrahidrofolat merupakan kofaktor penting dalam sintetis nukleotida timidilat dan purin yang dibutuhkan dalam sintetis DNA dan RNA. Metotreksat menghambat replikasi dan fungsi sel T dan B serta menekan sekresi berbagai jenis sitokin. Metotreksat juga menekan pembelahan sel epidermal.

Sebaiknya dihindari bagi pasien infeksi aktif sebab adanya aktivitas imunosupresif dari metroteksat.

Tabel 3.7 Monografi Metotreksat Indikasi Dosis Adminitrasi Mekanisme Psoriasis berat yang tidak terkendali dan tidak responsif terhadap terapi konvensional 7,5-15 mg/minggu ditingkatkan sebanyak 2,5 mg secara bertahap tiap 2-4 minggu hingga berespon; dosis maksimal 25 mg/minggu inhibitor kompetitif dari enzim dihidrofolat dan menghambat replikasi dan fungsi sel T dan B serta menekan sekresi berbagai jenis sitokin. Metotreksat juga menekan pembelahan sel epidermal. Ibu hamil dan menyusui, pasien dengan infeksi aktif Diperlukan pemeriksaan darah lengkap, pemeriksaan fungsi ginjal dan liver. Dilakukan pengawasan terusmenerus, untuk efek samping pada saluran cerna dan mukosa pada anak > 12 tahun dan dewasa diberikan asam folat 5 mg setiap minggu untuk menurunkan efek samping. Toksik terhadap darah, paru, sal. cerna. Penggunaan bersama AINS perlu dimonitor. Efek Samping Alopesia, fotosensitivitas, rasa terbakar pada lesi psoriasis, muncul pada efek samping seperti penggunaan metotreksat sebagai antireumatoid artritis.

Kontra indikasi Peringatan

Tabel 3.8 Interaksi Obat Metotreksat Mekanisme Menambah atau sinergis (toksisitas) Menurunkan pada ginjal eliminasi Obat Ethanol Pyrimethamine Trimethoprim-sulfamethoxazole metroteksat Aminoglycoside Cephalotin Colchicines NSAID (naproxen, ibuprofen) Penicillins

Phenylbutazone Probenecid Salicylates Sulfonamides Pemindahan metroteksat dari ikatan Barbiturates protein Phenytoin Probenecid Retinoids Salicylates Sulfonamides Sulfonylureas Tetracycline Hepatotoksisitas Ethanol Retinoids Akumulasi intraselular metroteksat Dipyridamole 3. Takrolimus Table 3.9 Senyawa Aktif Takrolimus Regimen Dosis 0,05 mg/kg setiap hari, ditingkatkan menjadi 0,1 mg/kg setiap hari selama 3 minggu dan menjadi 0,15 mg/kg setiap hari selama 6 minggu tergantung pada hasil yang diperoleh. Efek Samping Nefrotoksisitas, imunosupresi, gangguan GIT, diare, nausea, parestesia, hipertensi, tremor, insomnia.

Agen imunosupresan yang menginhibisi aktivasi sel T, merupakan

obat yang berguna sebagai alternatif pada psoriasis parah yang membandel. Tabel 3.10 Monografi Takrolimus Indikasi Atopi dermatitis (eksim) pada pasien yang tidak memberikan respon atau intoleran pada pengobatan lain untuk dewasa dan anak di atas 2 tahun sebagai pengobatan jangka pendek atau sementara. Dewasa dan remaja > 16 tahun : pada awal pemberian gunakan dengan kekuatan 0,1%, oleskan tipis 2x sehari sampai lesi hilang, turunkan menjadi 1x sehari atau

Dosis

gunakan salep dengan kekuatan 0,03% jika kondisi klinik memungkinkan. Anak 2-15 tahun : awali dengan kekuatan salep 0,03% 2x sehari selama 3 minggu, kemudian turunkan menjadi 1x sehari sampai lesi hilang. Mekanisme Kerja Kontra Indikasi Agen imunosupresan yang menginhibisi aktivasi sel T Hipersensitif, hindari kontak dengan nafas dan membran mukosa, eritroderma secara umum; kehamilan dan menyusui. Reaksi pada tempat pengolesan, kemerahan, iritasi, nyeri dan parestesia, infeksi herpes simplex,tidak umum jerawat, rosasea dan dilaporkan keganasan pada kulit.

Efek Samping

4. Mikofenolat Mofetil Tabel 3.11 Senyawa Aktif Mikofenolat mofetil Regimen Dosis Efek Samping

500 mg 4 kali sehari Toksisitas GIT (diare, nausea, hingga dosis muntah), efek hematologi maksimum 4 g/hari (anemia, neutropenia, trombositopenia), infeksi virus dan bakteri; penyakit limfoproliferatif atau limfoma dapat terjadi

Mikofenolat mofetil (CellCept) menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta telah menunjukkan memiliki efek anti proliferasi yang spesifik terhadap limfosit. Digunakan sebagai bagian dalam terapi kombinasi dalam psoriasis sedang hingga parah dan dermatosis otoimun lainnya. Table 3.12 Monografi Mikofenolat Mofetil Indikasi Profilaksis penolakan organ akut pada pasien yang menerima transplantasi ginjal dan jantung allogenik. Obat ini harus digunakan bersama dengan siklosporin dan kortikosteroid. Dosis 500 mg 4 kali sehari hingga dosis maksimum 4 g/hari

Pada transplantasi ginjal dosis awal digunakan 72 jam setelah transplantasi dengan dosis 2 g/hari Mekanisme Menginhibisi sintesis DNA dan RNA serta memiliki efek Kerja antiproliferasi yang spesifik terhadap limfosit. Kontra Indikasi Peringatan Hipersensitif, kehamilan dan menyusuii Hitung darah total setiap 4 minggu lalu 2x sebulan selama 2 bulan, lalu setiap bulan pada tahun pertama (pengobatan dapat dihentikan jika neutropenia berlanjut). Lansia (resiko infeksi meningkat, perdarahan GI, edema paru). Anak-anak (kemungkinan terjadi efek samping tinggi, diperlukan reduksi dosis). Pasien harus diperingatkan supaya melaporkan gejala supresi sumsum tulang. Diare, gangguan abdominal, gastritis, mual, muntah, konstipasi, batuk, sindroma seperti influenza, sakit kepala, infeksi, leukopenia, anemia, trombositopenia.

Efek Samping

Tabel 3.13 Interaksi Obat Mikofenolat Mofetil Mikofenolat Mofetil Asiklovir, gansiklovir Kolestiramin Takrolimus, probenesid Vaksin hidup Kadar asiklovir, gansiklovir AUC mikrofenolat AUC mikrofenolat Vaksin hidup tidak boleh diberikan pada pasien dengan kerusakan respon imun sebab respon antibodi terhadap vaksin lain dapat berkurang

5. Sulfasalazin Agen antiinflamasi yang menginhibisi 5-lipoksigenase.


Digunakan secara selektif sebagai terapi alternatif, terutama pada pasien

yang mengalami psoriasis artritis. Ketika digunakan efektivitasnya tidak sebaik metotreksat, PUVA atau acitretin, tetapi memiliki tingkat keamanan yang cukup tinggi. Table 3.14

Senyawa Aktif Sulfasalazin

Regimen Dosis

Efek Samping

3-4 gram/hari selama 8 Gangguan GIT minggu

Tabel 3.15 Monografi Sulfasalazin Indikasi Dosis Pengobatan alternatif pasien psoriasis artritis, reumatoid artritis aktif, kolitis ulseratif Oral : berikan atas resep dokter. Sebagai salut enterik, dosis awal 500 mg sehari, naikkan dengan 500 mg pada selang waktu 1 minggu hingga maksimum 2-3 gram/hari dalam dosis terbagi. Agen antiinflamasi yang menginhibisi 5-lipoksigenase Gangguan fungsi ginjal atau liver Pemantauan terhadap jumlah sel darah lengkap termasuk pemeriksaan sel darah putih diferensial dan platelet, dilakukan di awal dan setiap 3 bulan pengobatan. Pasien disarankan untuk melaporkan gejala perdarahan, memar, purpurea, radang tenggorokan, demam. Ruam, intoleransi saluran cerna, terutama pada pasien dengan reumatoid artritis.

Mekanisme Kerja Kontra Indikasi Peringatan

Efek Samping

Tabel 3.16 Interaksi Obat Sulfasalazin Sulfasalazin Siklosporin Digoksin Asam folat Kadar siklosporin , dan resiko nefrotoksisitas Sulfasalazine me absorpsi digoksin Sulfasalazine me absorpsi asam folat di saluran cerna. Jika terjadi defisiensi disarankan untuk me asupan asam folat atau memberikan sulfasalazine diantara waktu makan Sulfasalazine dapat menggantikan ikatan protein

Metroteksat

Sulfonilurea

Tiopurin Warfarin 6. 6-Tioguanin Tabel 3.17

metroteksat dan me klirens ginjal sehingga me efek samping metroteksat yaitu supresi sumsum tulang. Berikan pengawasan terhadap profil darah, kadang kala terjadi pe reaksi merugikan di saluran cerna Sulfasalazine memperparah metabolisme liver yang disebabkan oleh sulfonilurea dan mempengaruhi ikatan protein plasma. Dapat berpengaruh terhadap efek hipoglikemia sulfonilurea, sehingga mungkin diperlukan penyesuaian dosis. Sulfasalazine me resiko efek samping tiopurin karena adanya inhibisi tiopurin Efek warfarin me

Senyawa Aktif Regimen Dosis 6-Tioguanin

Efek Samping

80 mg 2 kali seminggu, Supresi sumsum tulang, dapat ditingkatkan komplikasi GIT, peningkatan sebanyak 20 mg setiap 2- tes fungsi liver. 4 minggu; dosis maksimum 160 mg 3 kali seminggu

Merupakan analog purin yang digunakan sebagai terapi alternatif untuk psoriasis ketika terapi konvensional telah gagal. Sifat hepatotoksik obat ini lebih kecil dibandingkan metotreksat sehingga lebih berguna pada pasien psoriasis parah dengan gangguan liver.

7. Hidroksiurea Table 3.18 Senyawa Aktif Regimen Dosis Efek Samping

Hidroksiurea

1 gram/hari dapat Toksisitas sumsum tulang, ditingkatkan menjadi 2 yang ditandai dengan gram/hari leukopenia atau trombositopenia, reaksi kutan, ulser pada kaki, anemia megaloblastik

Menginhibisi sintesis sel pada fase S dalam siklus DNA. Digunakan secara selektif pada penanganan psoriasis terutama pada pasien dengan penyakit liver, yang beresiko efek samping pada penggunaan agen lain. Walaupun demikian, hidroksiurea kurang efektif apabila dibandingkan dengan metotreksat.

3.3 Terapi Biologi Pada terapi biologis, agen imunomodulator dirancang untuk mempengaruhi respon imun merupakan basis terapi penyakit kutan, seperti psoriasis dan atopik dermatitis. Agen-agen tersebut, yang diproduksi secara in vitro melalui teknologi rekombinan DNA, dibagi menjadi 3 kategori yakni : 1. Sitokin rekombinan manusia 2. Antibodi monoklonal manusia 3. Reseptor molekular yang dapat mengikat target molekul Agen biologis yang telah disetujui FDA untuk terapi psoriasis sedang hingga berat ialah infliksimab, etanercept, alefacept, dan efalizumab. Satu lagi, yakni adalimumab, telah disetujui FDA untuk terapi psoriasis artritis, tetapi belum disetujui untuk psoriasis. Senyawa Aktif Infliksimab Regimen Dosis Efek Samping

5 atau 10 mg/kg untuk Sakit kepala, demam, menggigil, 3x infus intravena pada lelah, diare, faringitis, infeksi minggu ke-0, 2 dan 6 saluran nafas atas dan saluran urin; reaksi hipersensitivitas; penyakit limfoproliferatif 50 mg secara subkutan Reaksi lokal pada daerah injeksi

Etanercept

2x dalam 1 minggu

(terjadi pada 20% pasien); infeksi sal respirasi dan GIT, nyeri abdominal, nausea dan muntah, sakit kepala

Alefacept

15 mg secara Faringitis, gejala menyerupai intramuskular 1x dalam influenza, menggigil, pusing, seminggu nausea, sakit kepala, nyeri pada daerah injeksi dan inflamasi dan infeksi non spesifik 1 mg/kg secara subkutan Sakit kepala, nausea, menggigil, sekali seminggu infeksi non spesifik, nyeri, demam, dan astenia

Efalizumab

1. Infliksimab (remicade) Merupakan antibodi monoklonal chimeric yang ditujukan untuk melawan TNF-. Memiliki afinitas yang tinggi dalam bentuk yang larut dan transmembran TNF-, dengan demikian dapat menginhibisi ikatan antara TNF- dengan reseptornya.
Keuntungan dibanding terapi lain adalah infliksimab tidak secara negatif

berpengaruh terhadap jumlah darah, tingkat enzim liver atau fungsi ginjal. 2. Etenercept
Etanercept (Enbrel) adalah bloker TNF- yang lain berupa protein fusi

yang mengikat TNF- secara kompetitif sehingga mengganggu interaksinya dengan reseptor sel.
Diproduksi dengan menggunakan rekayasa genetik yang menggabungkan

domain ekstraseluler dari reseptor TNF- dengan fragmen kristal Fc IgG1 manusia.
Etanercept

diperoleh

dari

manusia

sehingga

meminimalkan

imunogenisitas.

Baik dikombinasikan dengan metotreksat pada pasien yang tidak merespon baik terapi metotreksat tunggal. Diindikasikan untuk pasien dewasa dengan plak psoriasis kronik yang sedang hingga parah yang menjadi kandidat untuk terapi sistemik atau fototerapi. 3. Alfacept
Merupakan protein fusi dimerik yang mengkombinasikan domain LFA-3

manusia dengan bagian Fc dan IgG1 manusia. Segmen LFA-3 alfacept mengikat CD2 pada sel T secara spesifik sehingga menginhibisi aktivasi dan proliferasi sel T pada jaringan kutan, juga menginduksi apoptosis selektif dari sel T memori-efektor sehingga menurunkan limfosit sirkulasi total yang bergantung pada besarnya dosis. Digunakan untuk terapi plak psoriasis sedang hingga parah juga untuk psoriasis artritis. Respon signifikan biasanya diperoleh setelah 3 bulan terapi. 4. Efalizumab
Merupakan antibodi monoklonal yang diperoleh dari manusia, bekerja

menginhibisi integrin CD11- yang terlibat dalam aktivasi sel T, migrasi ke kulit, serta fungsi sitotoksik.
Efalizumab disetujui untuk terapi pada pasien dewasa dengan plak

psoriasis kronik yang sedang hingga berat yang menjadi kandidat terapi sistemik atau fototerapi.

3.4 Fotokemoterapi Fotokemoterapi umumnya terdiri dari terapi dengan sinar ultraviolet B dan PUVA. Sinar UVB (290-320 nm) terus menjadi salah satu fotokemoterapi yang penting dalam intervensi psoriasis. Panjang gelombang UVB yang

paling efektif untuk terapi psoriasis ialah 310-313 nm. Hal tersebut telah dibuktikan dari berbagai studi klinik pada pasien dengan psoriasis tipe plak. Fototerapi UVB juga memberikan hasil yang lebih efektif ketika ditambahkan dengan terapi sistemik, seperti metotreksat dan retinoid. UV-A yang dikombinasikan dengan metoksalen oral (PUVA) merupakan pendekatan fotokemoterapi. Kandidat untuk terapi PUVA biasanya mengalami psoriasis yang melumpuhkan dengan tingkat keparahan sedang hingga berat yang tidak memberikan respon terhadap terapi konvensional baik topikal maupun sistemik. PUVA sistemik terdiri atas obat oral yang berperan sebagai foto sensitizer seperti 8-metoksipsalen (8-methoxypsoralen). 3.5 Kombinasi, Rotasi serta Urutan Terapi Jika monoterapi dengan agen sistemmik tidak memberikan hasil optimal, kombinasi terapi sistemik dengan metode lain mungkin dapat memberikan manfaat. Kombinasi yang dapat dilakukan meliputi : Acitretin + UV-B Acitretin + fotokemoterapi menggunakan sinar UV-A (PUVA) Metotreksat + UV-B PUVA + UV-B Metotreksat + siklosporin Rotasi terapi melibatkan penggunaan regimen biologi untuk periode tertentu, lalu berganti pada regimen nonbiologi, dan terus demikian. Salah satu tujuan pendekatan ini adalah untuk meminimalkan toksisitas obat yang terakumulasi. Urutan terapi meliputi menghilangkan lesi psoriasis secara cepat dengan terapi agresif seperti siklosporin, kemudian diikuti oleh periode transisi dengan

menggunakan obat-obat yang lebih aman, seperti acitretin, yang dimulai dengan dosis maksimal. Selanjutnya, terapi masuk dalam periode pemeliiharaan dengan menggunakan acitretin pada dosis rendah atau kombinasi dengan UV-B dan UVA.

BAB IV STUDI KASUS


4.1 Studi Kasus Pasien ini berusia perempuan 41 tahun,sudah menikah berasal dari kalimantan dan sengaja datang ke Surabaya untuk mengobati sakit kulitnya yang tidak kunjung sembuh. Keluhan utamanya adalah timbul bercak kemerahan yang awalnya hanya di daerah lengan kedua tangan disertai nanah yang muncul beberapa hari kemudian sejak 3 bulan yang lalu. Dalam perjalanannya bercak meluas hingga ke seluruh tubuh juga disertai nanah. Selain itu pasien juga mengeluhkan panas badan, meriang, mual dan kondisi badan yang lemah. Sebelumnya tidak pernah menderita penyakit yang serupa. dari keluarga juga tidak pernah sakit seperti ini. Pada pemeriksaan fisik secara umum kondisinya lemah namun kesadaran masih baik (GCS 456), didapatkan suhu yang afebris. selain itu vital sign dalam batas normal. Status dermatologis : Regio seluruh tubuh, makula eritematus batas tidak tegas dengan ukuran dan bentuk yang bervariasi tepi tidak meninggi, diatasnya terdapat pustule yang sebagian sudah pecah menjadi krusta, pus (+), sebagian makula juga tertutup skuama. Pemeriksaan Penunjang: - Diusulkan pemeriksaan DL,UL,LFT,RFT, dan Albumin. - Pemeriksaan Gram Staining, dan juga biopsi Diagnosa :

-Psoriasis Pustulosa Terapi : - Paracetamol 3 x 500 mg karena pasien mengeluh panas. - Mebhidrolin napadisilat 3x50 mg,p.o sebagai anti histamin karena pasien mengeluh gatal. - Methotrexate(MTX) 5 mg/12 jam selama 3 kali dalam seminggu karena lesinya udah luas - Terapi lain mungkin diberikan : infus albumin

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan Dari pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa penyakit psoriasis merupakan salah satu penyakit/gangguan sistem integumen dimana kulit mengalami peradangan kronis (sering kambuh) fokal, yang Faktor disebabkan Endokrin, oleh Genetik, Imunologik, Stres Psikik, Infeksi

Gangguan Metabolik, Obat-obatan, Alkohol dan merokok. Penyakit ini terjadi pada setiap usia. Pada psoriasis ditunjukan adanya penebalan epidermis dan stratum korneum dan pelebaran pembuluh-pembuluh darah dermis bagian atas. Selain itu jumlah sel-sel basal yang bermitosis juga meningkat. Penderita biasanya mengeluh adanya gatal ringan pada tempat-tempat predileksi, yakni pada kulit kepala, perbatasan daerah tersebut dengan muka, ekstremitas bagian ekstensor terutama siku serta lutut, dan daerah lumbosakral. Kelainan kulit terdiri atas bercak-bercak eritema yang meninggi (plak) dengan skuama diatasnya.Skuama berlapis-lapis, kasar, dan berwarna putih serta transparan. Pada psoriasis terdapat fenomena tetesan lilin, Auspitz dan Kobner. Ada dua tipe pengobatan pada penderita psoriasis yaitu pengobatan sistemik dan pengobatan topikal dimana pengobatan sistemik lebih banyak memberikan efek samping.

B. Saran
Kepada mahasiswa atau pembaca disarankan agar dapat mengambil pelajaran dari makalah ini sehingga apabila terdapat tanda dan gejala penyakit

psoriasis dalam masyarakat maka kita dapat melakukan tindakan yang tepat agar penyakit tersebut tidak berlanjut ke arah yang lebih buruk.

DAFTAR PUSTAKA
Carpenito, Lynda Jual. 2004. Buku Saku Diagnosa Keperawatan. Jakarta : ECG Doenges, Marilyn E. 2002. Rencana Asuhan Keperawatan Pedoman Untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien. Edisi III. Jakarta : EGC Effendy, B. 2005. Kualitas dan harapan hidup penderita psoriasis dapat ditingkatkandengan terapi dini dan tepat. Siregar, R. 2005. Saripati penyakit kulit edisi 2. Jakarta : Buku Kedokteran EGC Sukandar, Elin Yulinah, dkk. 2008. Iso Farmakoterapi. Jakarta: ISFI Penerbitan.

LAMPIRAN 1. Psoriasis Vulgaris

2. Psoriasis Gutata

3. Psoriasis Inversa

4. Psoriasis Eritroderma

5. Psoriasis Pustulosa

6. Psoriasis Seboroik

7. Psoriasis Kuku

8. Psoriasis Artritis

Guideline Terapi (Spektrum Terapi Psoriasis)